Akuntansi Perpajakan

PEMBUKUAN PAJAK

A. SISTEM PEMBUKUAN PAJAK

Pembukuan secara akuntansi harus mengikuti standar akuntansi yang berlaku umum. Standar akuntansi mengharuskan perusahaan untuk menampilkan laporan keuangan secara multiple purpose sehingga laporan keuangan yang disusun sesuai dengan SAK harus di”rekonsiliasi” supaya sesuai dengan peraturan perpajakan. Oleh karena terdapat perbedaan antara akuntansi dengan pajak maka kemudian timbul istilah akuntansi pajak. Akuntansi pajak sebenarnya merupakan peraturan perpajakan yang ada kaitannya dengan akuntansi. Akuntansi pajak sebenarnya adalah jurnal-jurnal yang diperlukan sehubungan dengan transaksi yang berhubungan dengan pajak.

B. METODE PEMBUKUAN

UU KUP mendefinisikan pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap tahun pajak berakhir. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk pembukukan pajak adalah : » » » suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan. meliputi Asset, Libalilities, Equity, Revenue dan Expenses, serta jumlah Cost (harga perolehan) dan penyerahan barang atau jasa. Proses tersebut menghasilkan laporan keuangan berupa Balance Sheet dan Income Statement.

1
TaxSys

Akuntansi Perpajakan
Aturan pajak mengenai pembukuan secara jelas dan tegas diatur dalam Pasal 28 dan penjelasan UU 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan. Kewajiban pembukuan harus dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas (peredaran usaha setahun mencapai Rp.4,8 miliar dan Wajib Pajak Badan di Indonesia.

Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk mencegah penggeseran laba atau rugi. Prinsip taat asas dalam metode pembukuan misalnya dalam penerapan stelsel pengakuan penghasilan yang digunakan.

Stelsel pengakuan penghasilan yaitu : 1. Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang. Jadi tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar tunai. Definisi ini mencakup pengakuan penghasilan berdasarkan metode % tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai di bidang konstruksi dan metode lainnya yang dipakai di bidang usaha tertentu seperti Build Operate and Transfer (BOT), Real Estate, dan lain-lain. 2. Stelsel kas adalah suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas penghasilan yang diterima dan biaya yang dibayar secara tunai. Menurut stelsel ini, penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan, bila benar-benar telah diterima tunai dalam suatu periode tertentu, serta biaya baru dianggap sebagai biaya, bila benar-benar telah dibayar tunai dalam suatu periode tertentu. Stelsel ini biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa. Dalam stelsel kas murni, penghasilan dari penyerahan barang atau jasa ditetapkan pada saat diterimanya pembayaran dari langganan, dan biaya-biaya ditetapkan pada saat dibayarnya barang, jasa, dan biaya operasi lainnya. Dengan cara ini, pemakaian stelsel kas dapat mengakibatkan penghitungan yang mengaburkan tehadap penghasilan, yaitu besarnya penghasilan dari tahun ke tahun dapat disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Oleh karena itu untuk penghitungan Pajak Penghasilan dalam memakai stelsel kas harus memperhatikan hal-hal antara lain sebagai berikut : 1. Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan, baik yang tunai maupun yang bukan. Dalam menghitung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluru pembelian dan persediaan. 2. Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat diamortisasi, biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi.

2

TaxSys

Akuntansi Perpajakan
3. Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten). Kesimpulan : penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan adalah stelsel campuran.

Persyaratan pembukuan menurut UU 28 Tahun 2007 adalah : 1. Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya (tidak ada penggelapan). 2. Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. 3. Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas, tahun buku, Metode penilaian persediaan, Metode penyusutan dan amortisasi. Perubahan terhadap metode pembukuan dan atau tahun buku, harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.

Pada dasarnya metode-metode pembukuan yang dianut harus taat asas yaitu harus sama dengan tahun-tahun sebelumnya, misalnya dalam hal penggunaan metode pengakuan penghasilan dan biaya (metode kas atau akrual), metode penyusutan aktiva tetap, metode penilaian persediaan dan sebagainya. Namun demikian perubahan metode pembukuan masih dimungkinkan dengan syarat telah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak sebelum dimulainya tahun buku yang bersangkutan dengan menyampaikan alasan-alasan yang logis dan dapat diterima serta akibat-akibat yang mungkin timbul dari perubahan tersebut.

Perubahan metode pembukuan akan mengakibatkan perubahan dalam prinsip taat asas yang dapat meliputi perubahan metode dari kas ke akrual atau sebaliknya atau perubahan penggunaan metode pengakuan penghasilan atau pengakuan biaya itu sendiri. Misalnya dalam metode pengakuan biaya yang berkenaan dengan penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode penyusutan tertentu.

Contoh : Wajib Pajak tahun 2002 menggunakan metode penyusutan garis lurus atau straight line method. Dalam tahun 2003 Wajib Pajak bermaksud mengubah metode penyusutan aktiva dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun atau declining balance method.

3
TaxSys

jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan. serta penjualan dan pembelian. Selain dapat dihitung besarnya Pajak Penghasilan. penghasilan dan biaya. Wajib Pajak harus minta persetujuan terlebih dahulu kepada Direktur Jenderal Pajak (Kantor Pelayanan Pajak) yang diajukan sebelum dimulainya tahun buku 2003 dengan menyebutkan alasan-alasan dilakukannya perubahan metode penyusutan dan akibat dari perubahan tersebut. jumlah pembayaran atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. jumlah harga jual atau nilai ekspor.q Kantor Pelayanan Pajak). Apabila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim. maka penyebutan tahun pajak yang bersangkutan menggunakan tahun yang di dalamnya termasuk 6 (enam) bulan pertama atau lebih. tahun pajaknya adalah tahun 2002. liabilities. jumlah harga jual dari barang yang dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Oleh karena itu perubahan tersebut juga harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak (c. Agar Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dapat dihitung dengan benar maka pembukuan harus mencatat juga jumlah harga perolehan atau nilai impor. Pembukuan dengan 4 TaxSys . Selain itu perubahan periode tahun buku berakibat berubahnya jumlah penghasilan atau kerugian Wajib Pajak. Dengan demikian pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (ada 59 PSAK yang sudah dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia). kecuali peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain. Pembukuan 1 Oktober 2002 sampai dengan 30 September 2003. sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. Contoh : Pembukuan 1 Juli 2002 sampai dengan 30 Juni 2003. Tahun Pajak adalah sama dengan tahun takwim (tahun kalender) kecuali Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim.Akuntansi Perpajakan Untuk keperluan tersebut. tahun pajaknya adalah tahun 2003. modal. pajak-pajak lainnya juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut. Output minimal pembukuan adalah catatan mengenai asset.

bahan pembukuan atau pencatatan yang diperlukan masih tetap ada dan dapat segera disediakan. Buku-buku. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yaitu Wajib Pajak yang beroperasi berdasarkan kontrak dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai pertambangan. catatancatatan.Akuntansi Perpajakan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan. catatan-catatan. d. Bentuk usaha tetap (Pasal 2 ayat (5) UU 36 / 2008 atau menurut Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang terkait. catatan-catatan. PEMBUKUAN DALAM BAHASA DAN MATA UANG ASING Kriteria wajib pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing dan mata uang selain Rupiah adalah : a. Kurun waktu 10 (sepuluh) tahun penyimpanan buku-buku. Buku-buku. dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia yaitu di tempat kegiatan atau di tempat tinggal bagi Wajib Pajak. Orang Pribadi atau di tempat kedudukan bagi Wajib Pajak Badan. dan dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan adalah sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai batas daluwarsa penetapan pajak. e. dengan maksud agar apabila Direktur Jenderal Pajak akan mengeluarkan surat ketetapan pajak. Bahasa asing dan mata uang selain rupiah yang diperbolehkan untuk dipergunakan dalam pembukuan Wajib Pajak adalah bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. Wajib Pajak yang berafiliasi dengan perusahaan induk di luar negeri yaitu perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan induk (parent company) di luar negeri dalam hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan b UU 36 Tahun 2008. b. Penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat oleh Wajib Pajak harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari 5 TaxSys . Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Bagi Hasil yaitu Wajib Pajak yang beroperasi berdasarkan undang-undang yang mengatur mengenai pertambangan minyak dan gas bumi. dan dokumen-dokumen termasuk hasil pengolahan data elektronik yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan harus disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia. c. Wajib Pajak dalam rangka PMA yaitu Wajib Pajak yang beroperasi berdasarkan ketentuan undang-undang yang mengatur mengenai PMA.

3) untuk harta lainnya dan kewajiban menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun buku sebelumnya. atas nilai selisih lebih dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat dilakukannya revaluasi. Wajib Pajak dala rangka Kontrak Karya atau Kontrak Bagi Hasil yang akan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai. Apabila jangka waktu diatas telah lewat. di samping menggunakan nilai histories. Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas permohonan izin penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. Bagi Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat berlaku ketentuan konservasi ke mata uang Dollar Amerika Serikat sebagai berikut : a. atau 3 (tiga) bulan sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak baru. Keputusan Menteri Keuangan atas permohonan diterbitkan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permohonan dari Wajib Pajak. 2) untuk akumulasi penyusutan dan atau amortisasi harta menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta tersebut. Menteri Keuangan tidak memberi suatu keputusan. maka permohonan tersebut dianggap diterima. Pada awal tahun buku Penyelenggaraan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat untuk pertama kali dilakukan dengan bertitik tolak dari Neraca akhir tahun buku sebelumnya (dalam mata uang Rupiah) yang dikonversikan ke mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs : 1) untuk harga perolehan harta berwujud dan atau harta tidak berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta tersebut. 6 TaxSys .Akuntansi Perpajakan Menteri Keuangan kecuali bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontak Karya atau Kontrak Bagi Hasil. berdasarkan sistem pembukuan yang dianut yang dilakukan secara taat asas. 4) apabila terjadi revaluasi aktiva tetap. Izin tertulis dapat diperoleh Wajib Pajak dengan mengajukan surat permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai.

7) dalam hal terdapat selisih laba atau rugi sebagai akibat konversi dari mata uang Rupiah ke mata uang Dollar Amerika Serikat. maka selisih laba atau rugi tersebut dibebankan pada rekening laba ditahan. Pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 serta Pajak Penghasilan Final yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat dapat dilakukan dalam mata uang rupiah. Dalam b. b) apabila dari dokumen transaksi tidak diketahui kurs yang berlaku. Dalam tahun berjalan : 1) Untuk transaksi yang dilakukan dengan mata uang Dollar Amerika Serikat. baik dalam negeri maupun luar negeri. dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun buku sebelumnya. yaitu sebagai berikut : a) apabila dari dokumen transaksi diketahui kurs yang berlaku. maka kurs yang dipakai adalah kurs yang sebenarnya berlaku. dikonversikan ke mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat terjadinya transaksi. maka kurs yang dipakai adalah kurs yang diketahui dari transaksi tersebut. berdasarkan sistem pembukuan yang dianut yang dilakukan secara taat asas. yang menggunakan mata uang selain Dollar Amerika Serikat. 6) untuk modal saham dan ekuitas lainnya menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat terjadinya transaksi. 7 TaxSys . Dalam hal pembayaran pajak dilakukan dalam mata uang rupiah Wajib Pajak harus mengkonversasikan pembayaran dalam mata uang Rupiah tersebut ke mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada tanggal pembayaran. dan ayat (4) UU 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan untuk tahun pajak pertama penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat adalah sebesar Pajak Penghasilan Pasal 25 dalam mata uang Rupiah yang dikonversikan dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir tahun buku sebelum dimulainya pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. 2) Untuk transaksi. ayat (2). pembukuannya dicatat sesuai dengan dokumen transaksi yang bersangkutan.Akuntansi Perpajakan 5) untuk laba ditahan atau sisa kerugian dalam mata uang Rupiah dari tahuntahun sebelumnya. berdasarkan sistem pembukuan yang dianut yang dilakukan secara taat asas. Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1).

SANKSI PELANGGARAN Wajib Pajak yang ternyata : a. Tidak mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat atau permohonannya ditolak atau tidak menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar namun tetap menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. atau b. Dalam penerapan tarif Pasal 17 UU PPh lapisan penghasilan kena pajak dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir Tahun Pajak yang bersangkutan. namun pembukuannya tetap diselenggarakan dalam bahasa Indonesia atau mata uang Rupiah. Telah diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat atau telah memberitahukan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.Akuntansi Perpajakan Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan beserta lampirannya dalam bahasa Indonesia kecuali lampiran berupa laporan keuangan dan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat. Maka izin untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat dicabut dan Wajib Pajak tidak boleh lagi mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. Dalam hal terdapat bukti pembayaran atas pemotongan / pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 dalam mata uang Rupiah yang akan dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan harus dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada tanggal pembayaran atau pemotongan / pemungutan pajak tersebut. Perlakuan tidak dikenakan apabila Wajib Pajak memberitahukan secara tertulis mengenai pembatalan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat dalam batas waktu 3 (tiga) bulan setelah tahun buku berjalan sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Persetujuan Menteri Keuangan. 8 TaxSys .

Akuntansi Perpajakan Sisa kerugian fiskal dalam mata uang Rupiah dari tahun-tahun sebelumnya yang dapat dikompensasikan ke Tahun Pajak dimulainya pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. Bagi Wajib Pajak yang telah mengajukan permohonan untuk memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat sebelum berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini. dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir tahun buku pada saat kerugian fiskal tersebut terjadi. 9 TaxSys . Wajib Pajak yang telah memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat sebelum berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini. maka terhadap pemberian izin tersebut berlaku Keputusan Menteri Keuangan ini. tidak perlu mengajukan permohonan baru dan izin tersebut tetap berlaku.

Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan penghasilan yang dikenakan pajak. Oleh karena itu dalam ketentuan ini diatur bahwa nilai perolehan atau nilai penjualan harta bagi pihak-pihak yang bersangkutan adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau yang seharusnya diterima. Dengan Hubungan Istimewa (Pasal 18 ayat (4) UU PPh) apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima. Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.Akuntansi Perpajakan HARGA PEROLEHAN Pasal 10 UU Pajak Penghasilan mengatur tentang cara penilaian harta termasuk persediaan dalam rangka menghitung penghasilan sehubungan dengan penggunaan harta dalam perusahaan. 10 TaxSys . dan penghitungan penghasilan dari penjualan barang dagangan. pemecahan. Definisi harga perolehan adalah harga yang sesungguhnya dibayar. Adanya hubungan istimewa antara pembeli dan penjual dapat menyebabkan harga perolehan menjadi lebih besar atau lebih kecil di bandingkan dengan jika jual beli tersebut tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa. dan pengambilalihan usaha. seperti bea masuk. peleburan. Selain itu pengalihan tersebut dapat dilakukan pula dalam rangka likuidasi usaha atau sebab lainnya. menghitung keuntungan atau kerugian apabila terjadi penjualan atau pengalihan harta. Pada prinsipnya apabila terjadi pengalihan harta. pemekaran. Dalam jual beli yang dipengaruhi hubungan istimewa maka bagi pihak pembeli nilai perolehannya adalah jumlah yang seharusnya dibayar dan bagi pihak penjual nilai penjualannya adalah jumlah yang seharusnya diterima. Pengalihan harta tersebut dapat dilakukan dalam rangka pengembangan usaha berupa penggabungan. penilaian harta yang dialihkan dilakukan berdasarkan harga pasar. Termasuk dalam harga perolehan adala harga beli dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut. biaya pengangkutan dan biaya pemasangan.

000. 100.00-Rp.000. 450. Penyertaan Wajib Pajak dalam permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan setoran tunai atau pengalihan harta.000.000.000.00 Rp.000. Dengan demikian PT A mendapat keuntungan sebesar Rp. moneter dan kebijakan lainnya. yaitu atas dasar nilai sisa buku (“pooling of interest”).00 (Rp.000.000. 11 TaxSys .00 (Rp.000.000.000.00) dan PT B mendapat keuntungan sebesar Rp.000. 300.000. 500.00 + Rp.000.000.00). 150.00 PT B Rp.000. Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan di bidang sosial. 750.000.000.00-Rp. pemekaran.00 (Rp. pemecahan.000.000.000. Ketentuan ini mengatur tentang penilaian harta yang diserahkan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal dimaksud yaitu dinilai berdasarkan nilai pasar dari harta yang dialihkan tersebut. Dalam hal demikian PT C membukukan penerimaan harta dari PT A dan PT B tersebut sebesar Rp. 450.000. ekonomi. Sedangkan PT C membukukan semua harta tersebut dengan jumlah Rp.000.00 + Rp. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut adalah sebagai berikut : PT A Nilai sisa buku Harga Pasar Rp. peleburan.000. penggabungan. 200.000. Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi.00 (Rp.000.000.000. 300.000.000. kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.000. atau pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. 300. 200. 200.00 Rp.00).00 Pada dasarnya penilaian harta yang diserahkan oleh PT A dan PT B dalam rangka peleburan menjadi PT C adalah harga pasar dari harta. Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan nilai lain selain harga pasar. 450. 300. 300. investasi.Akuntansi Perpajakan Contoh : PT A dan PT B melakukan peleburan dan membentuk badan baru. 300.00).000. yaitu PT C.

Formula MPKP / FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam 12 TaxSys . Persediaan juga mencakupi barang jadi yang telah diproduksi. rata-rata tertimbang (weighted average cost method). dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi (Paragraf 4 PSAK 16). atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan. (Paragraf 5 PSAK 16). atau masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO). Biaya persediaan kecuali yang disebut dalam paragraph 19.Akuntansi Perpajakan PERSEDIAAN A. ASPEK AKUNTANSI PERSEDIAAN Definisi Menurut Paragraf 3 PSAK 16 ruang lingkup Persediaan adalah aktiva tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan atau dalam bentuk badan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali. (Paragraf 20 PSAK 16). atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO). Pengukuran Persediaan Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value). Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan. misalnya barang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali.

total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan. Pada umumnya terdapat 3 (tiga) golongan persediaan barang. (Paragraf 28 PSAK 16). yaitu barang jadi atau barang dagangan. B. Sesuai 13 TaxSys . Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 28. Ketentuan Pasal 10 ayat (5) UU 36/ 2008 mengatur bahwa penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan. bahan baku dan bahan pembantu. barang dalam proses produksi. biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari barang serupa pada awal periode dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode.Akuntansi Perpajakan persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut. termasuk rumus biaya yang dipakai. atau pada setiap penerimaan kiriman. Pengakuan Sebagai Beban Pengakuan ini dicantumkan jika barang dalam persediaan dijual. Rumus MTKP / LIFO mengasumsikan barang yang dibeli atau diproduksi terakhir dijual atau digunakan terlebih dahulu. Dengan rumus biaya rata-rata tertimbang. sehingga yang termasuk dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi terdahulu. dan nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban. Pengungkapan Paragraf 31 PSAK 16 mengungkapkan Laporan keuangan harus mengungkapkan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan. tergantung pada keadaan perusahaan. jumlah tercatat persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi bersih jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai penghasilan selama periode sebagaimana dijelaskan pada paragraf 28 PSAK 16. Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama (“first-in first-out atau disingkat FIFO”). maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi bersih. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala. ASPEK PAJAK PERSEDIAAN Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama.

maka untuk tahun-tahun selanjutnya harus digunakan cara yang sama. cara penilaian tersebut juga diberlakukan terhadap sekuritas. 14 TaxSys . Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok tersebut.Akuntansi Perpajakan dengan kelaziman.

kuasa pertambangan. mesin dll. Berikut ini akan disajikan dampak perpajakan akibat kebijakan ketiga unsur tersebut. b. ASPEK AKUNTANSI AKTIVA TETAP 1. dan sewa. 15 TaxSys .Akuntansi Perpajakan FIXED ASSET MANAJEMEN Perusahaan di dalam menjalankan bisnisnya akan menggunakan beberapa aktiva dalam kegiatan operasinya. tetapi dapat dipisahkan dari aktivitas atau aktiva tersebut. Aktiva tersebut dapat berupa peralatan. pernyataan ini berlaku untuk aktiva tetap yang digunakan untuk mengembangkan atau memelihara aktivitas atau aktiva yang tercakup dalam (a) dan (b) di atas. leasing. gas alam dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui. A. hutan dan sumber daya alam serupa yang dapat diperbaharui. Ruang Lingkup PSAK Aktiva Tetap ini harus ditetapkan dalam akuntansi aktiva tetap dan aktiva lain-lain kecuali bila standar akuntansi keuangan lainnya mensyaratkan suatu perlakuan akuntansi yang berbeda. Pernyataan ini tidak berlaku bagi : a. minyak. Namun demikian. Penggunaan aktiva tersebut akan berdampak dalam : - Initial outlay pada saat pembelian Maintenance cost yang harus dikeluarkan selama masa manfaat Penghapusan aktiva Tampilan neraca dan rugi akibat pemakaian asset Dampak pemakaian asset terhadap pajak Penyediaan aktiva yang sering dilakukan oleh perusahaan adalah dengan pembelian. Terhadap kebijakan tersebut perusahaan mempunyai alasan masing-masing. ekplorasi dan penggalian mineral.

Penyusutan adalah alokasi sistematik jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva sepanjang masa manfaat. yang digunakan dalam operasi perusahaan. dikurangi nilai sisanya. Suatu benda berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap. Lebih jauh lagi. tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya. dan karenanya signifikan dalam penyajian posisi keuangan.Akuntansi Perpajakan Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu. setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian. Masa manfaat adalah periode suatu aktiva diharapkan dapat digunakan oleh perusahaan atau jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh perusahaan. Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aktiva tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan. 16 TaxSys . dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva aktiva tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. penentuan apakah suatu pengeluaran merupakan suatu aktiva atau beban dapat berpengaruh signifikan pada hasil operasi yang dilaporkan perusahaan. Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap bila besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat keekonomian di masa yang akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan dan biaya perolehan aktiva dapat diukur secara handal. Jumlah yang dapat disusutkan (deperciable amount) adalah biaya perolehan suatu aktiva. atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan keuangan. Aktiva tetap sering merupakan suatu bagian utama aktiva perusahaan. termasuk Bea Impor dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi (nonrefundable). pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan.

Biaya dari pos semacam itu diukur pada nilai wajar aktiva yang dilepaskan atau yang diperoleh. hotel. dan d. Pertukaran Aktiva ` Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau petukaran sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. biaya persiapan tempat. Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang memeperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat keekonomian di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas. biaya profesional seperti arsitek dan insyinyur. biaya pemasangan (installation costs). yang mana yang lebih handal. karena proses perolehan penghasilan (earning process) tidak lengkap. Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan harus dicatat sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak dengan mengkreditkan akun “Modal Donasi”. mutu produksi. ini dapat mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak memiliki suatu nilai yang serupa. 17 TaxSys . Tetapi. Dalam kedua keadaan tersebut. tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui dalam transaksi. Jika aktiva lain seperti kas termasuk sebagai bagian transaksi pertukaran.Akuntansi Perpajakan Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah : a. biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat (handling costs). nilai wajar aktiva yang diterima dapat menyediakan bukti dari suatu pengurangan (impairment) aktiva yang dilepaskan. Suatu aktiva tetap juga dapat dijual dalam pertukaran dengan kepemilikan aktiva yang serupa. Contoh dari pertukaran aktiva serupa termasuk pertukaran pesawat terbang. b. harus ditambahkan pada jumlah tercatat aktiva yang bersangkutan. 2. bengkel dan properti real estate lainnya. ekuivalen dengan nilai wajar aktiva yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer. Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atas suatu aktiva yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa dalam bidang usaha yang sama dan memiliki suatu nilai wajar serupa. atau peningkatan standar kinerja. c. Sebaliknya biaya perolehan aktiva baru adalah jumlah tercatat dari aktiva yang dilepaskan. Dalam keadaan ini aktiva yang dilepaskan diturun nilai buku-kan (written down) dan nilai turun nilai buku (written down) ini ditetapkan untuk aktiva baru.

Pengeluaran untuk perbaikan atau perawatan aktiva tetap untuk menjaga manfaat keekonomian masa yang akan datang yang dapat diharapkan perusahaan untuk mempertahankan standar kinerja semula atas suatu aktiva. Metode penyusutan harus mencerminkan pola pemanfaatan keekonomian aktiva (the pattern in which the asset’s economic benefits are consumed by the enterprise) oleh perusahaan. dan c. Contohnya. Contohnya. Contoh peningkatan yang menghasilkan peningkatan manfaat keekonomian masa yang akan datang mencakup : a. b. Contohnya adalah perolehan suatu gedung membutuhkan renovasi. biasanya diakui sebagai beban saat terjadi. peningkatan kemampuan mesin (up-grading machine parts) untuk mencapai peningkatan besar dalam kualitas output. Penyusutan Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan secara sistematis sepanjang masa manfaatnya. pengeluaran setelah perolehan ditambahkan ke jumlah tercatat aktiva sepanjang dapat diperoleh kembali dari manfaat masa yang akan datang dari aktiva. Perlakuan akuntansi yang tepat untuk pengeluaran yang terjadi setelah perolehan suatu aktiva tetap tergantung pada keadaan yang diperhitungkan pada pengukuran awal dan pengakuan pos yang berkaitan dari aktiva tetap dan apakah pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) dapat pulang pokok. Dalam keadaan tersebut. 3. penerapan proses produksi baru yang memungkinkan suatu pengurangan besar biaya operasi. 18 TaxSys . modifikasi suatu pos sarana pabrik untuk memperpanjang usia manfaatnya termasuk suatu peningkatan kapasitasnya.Akuntansi Perpajakan Pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) pada properti. jika jumlah tercatat aktiva tetap telah memperhitungkan suatu kerugian dalam manfaat keekonomian masa yang akan datang yang diharapkan dari dikapitalisasi asalkan saja jumlah tercatat tidak melebihi jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aktiva. pabrik dan peralatan hanya diakui sebagai suatu aktiva jika pengeluaran meningkatkan kondisi aktiva melebihi standar kinerja semula. Ini juga keadaan dimana harga pembelian suatu aktiva telah mencerminkan kewajiban perusahaan untuk membuat pengeluaran dalam masa yang akan datang yang perlu untuk membawa aktiva ke kondisi kerjanya. biaya pemeliharaan dan reparasi (servicing) atau turun mesin (overhauling) pabrik dan peralatan biasanya merupakan beban karena memelihara daripada meningkatkan standar kinerja semula.

oleh karena itu disusutkan. Tetapi faktor lain seperti keusangan teknis dan aus serta rusak (wear and tear) saat suatu aktiva menganggur (iddle). 19 TaxSys .Akuntansi Perpajakan Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan. seperti habisnya waktu dari sewa guna usaha yang berkaitan. dan perawatan aktiva pada saat menganggur (iddle). juga dapat mengurangi manfaat keekonomiannya yang mungkin telah diharapkan tersedia dari aktiva. dan pembatasan hukum atau yang serupa atas penggunaan aktiva. Peningkatan nilai tanah tempat bangunan didirikan tidak mempengaruhi masa manfaat bangunan. Estimasi masa manfaat suatu aktiva tetap merupakan masalah pertimbangan yang berdasarkan pada pengalaman perusahaan dengan aktiva serupa. Bangunan memiliki usia terbatas. yang tergantung pada faktor operasional seperti jumlah pergantian kelompok kerja (shifts) dimana aktiva digunakan dan program perbaikan dan perawatan dari perusahaan. Kebijakan manajemen aktiva suatu perusahaan mempengaruhi jumlah penyusutan aktiva setelah suatu waktu yang ditentukan atau setelah konsumsi dari proporsi tertentu atas manfaat keekonomian yang diwujudkan dalam aktiva. Karenanya. Penggunaan aktiva yang diharapkan oleh perusahaan : • • Penggunaan dinilai dengan pedoman kapasitas aktiva yang diharapkan atau output fisik. Tanah dan bangunan harus diperlakukan sebagai aktiva yang terpisah untuk tujuan akuntansi. oleh karena itu tidak disusutkan. walaupun diperoleh secara sekaligus. seluruh faktor berikut harus dipertimbangkan dalam menentukan masa manfaat suatu aktiva. masa manfaat suatu aktiva dapat lebih pendek daripada usia keekonomiannya. Karenanya. kecuali termasuk sebagai jumlah tercatat aktiva lain. • • Masa manfaat aktiva ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan oleh perusahaan. keusangan fisik yang diharapkan. Bersamaan dengan manfaat keekonomian yang diwujudkan dalam suatu aktiva dikonsumsi oleh perusahaan sepanjang masa manfaat aktiva. keusangan teknis yang timbul dari perubahan atau perbaikan produksi. atau dari perubahan permintaan pasar untuk produk atau jasa yang dihasilkan oleh aktiva. Tanah biasanya memiliki usia tak terbatas.

20 TaxSys . biaya perolehan aktiva yang diperoleh adalah sama dengan jumlah tercatat aktiva yang dilepaskan dan tidak ada keuntungan atau kerugian yang dihasilkan. 5. Aktiva tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif dan ditahan untuk dilepaskan dinilai pada yang terendah antara jumlah tercatatnya dan nilai realisasi neto. Demikian pula. penyusutan aktiva tetap yang digunakan untuk aktivitas pengembangan dapat dimasukkan dalam biaya pengembangan yang dikapitalisasi sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan suatu aktiva tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi. masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan. manfaat keekonomian yang terwujud dalam suatu aktiva diserap perusahaan dalam memproduksi aktiva lain bukan memberikan kenaikan pada suatu beban. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan. Jika suatu aktiva tetap dipertukarkan untuk suatu aktiva yang serupa. Dalam keadaan ini. Tetapi. 4. Jika lebih dari satu dasar yang digunakan.Akuntansi Perpajakan Beban penyusutan untuk suatu periode biasanya diakui sebagai suatu beban. dalam hubungan dengan setiap jenis aktiva tetap : dasar penilaian yan digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. dalam keadaan yang dijelaskan dalam paragraf 21. Pengungkapan Laporan Keuangan harus mengungkapkan. Penghentian dan Pelepasan Suatu aktiva tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aktiva secara permanent ditarik dari penggunaannya dan tidak ada manfaat keekonomian masa yang akan datang diharapkan dari pelepasannya. metode penyusutan yang digunakan. 14 tentang persediaan). beban penyusutan mencakup bagian biaya perolehan aktiva lain dan termasuk dalam jumlah tercatatnya. penyusutan pabrik dan peralatan pabrik termasuk dalam biaya proses produksi persediaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. Sebagai contoh. jumlah tercatat bruto untuk dasar dalam setiap kategori harus diungkapkan. dalam keadaan tertentu.

beda nilai tukar neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan suatu entitas asing. adalah perlu untuk mengungkapkan penyusutan yang dialokasikan dalam suatu periode dan akumulasi penyusutan pada akhir periode tersebut. penurunan nilai tercatat sesuai dengan paragraf 43. pelepasan. Untuk alasan serupa. 21 TaxSys . dan setiap pengklasifikasian kembali. revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Karenanya. jumlah tercatat pada awal dan akhir periode Pemilihan metode penyusutan dan estimasi masa manfaat aktiva adalah masalah pertimbangan. pengungkapan metode yang digunakan dan usia manfaat yang diestimasi atau tarif penyusutan menyediakan pemakai laporan keuangan dengan informasi yang mengijinkan mereka meninjau kebijakan yang dipilih oleh manajemen dan memungkinkan perbandingan dibuat dengan perusahaan lain.Akuntansi Perpajakan jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode. penyusutan. akuisisi melalui penggabungan usaha. suatu rekonsiliasi memperlihatkan: penambahan.

Aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi. A. (Paragraf 2 PSAK 18). atau untuk tujuan administrasi. Penghapusan aktiva berbeda dengan penyusutan. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya. konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan agar dapat menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari period eke periode. Metode manapun yang dipilih. METODE PENYUSUTAN Jumlah yang dapat disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang sistematis. Penyusutan dapat dilakukan dengan dikelompokkan menurut kriteria berikut : berbagai metode yang dapat 22 TaxSys . Penghapusan aktiva adalah penghapusan nilai buku yang tercantum tidak lagi menggambarkan manfaat dari aktiva yang bersangkutan. dan ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang dan jasa. Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu aktiva. untuk disewakan. dan memiliki suatu masa manfaat yang terbatas.Akuntansi Perpajakan PENYUSUTAN Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi.

hak guna usaha. Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva.Akuntansi Perpajakan Berdasarkan waktu : a) metode garis lurus (straight-line method) b) metode pembebanan yang menurun. B. hak guna bangunan. 23 TaxSys . ASPEK PERPAJAKAN PEMBELIAN AKTIVA Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyusutan 1. menagih. dan hak pakai. Dasar penyusutan Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. f) metode jam-jasa (service-hours method) g) metode jumlah unit produkai (productive-output method) Berdasarkan kriteria lainnya : a) metode berdasarkan kelompok dan jenis (group and composite method) b) metode anuitas (annuity method) c) sistem persediaan (inventory systems) d) Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan harus diestimasi setelah mempertimbangkan faktor berikut : e) taksiran aus dan kerusakan fisik (physical wear and tear) f) keuangan g) pembatasan hukum atau lainnya atas penggunaan aktiva. pendirian. yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan. c) metode jumlah-angka-tahun (sum-of-the-years-digit-method) d) metode saldo menurun / saldo menurun-ganda (declining / double-declining balance method). perbaikan. maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali aktiva tersebut. penambahan. e) berdasarkan penggunaan. atau perubahan harta berwujud kecuali tanah yang berstatus hak milik.

dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. menagih. dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus. menagih. 2. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian asuransinya yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta tersebut. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku. ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. 3. Pengalihan harta Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta Pasal 4 ayat (1) huruf d UU 36 / 2008 atau penarikan harta karena sebab lainnya. dengan syarat dilakukan secara taat asas. Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. Apabila hasil penggantian asuransi yang 24 TaxSys . Saat dimulainya penyusutan Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud selain bangunan. seperti pertambangan minyak dan gas bumi. Penyusutan Bidang tertentu Penyusutan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam usaha tertentu. Dalam rangka menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu. Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. perkebunan tanaman keras. dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan.Akuntansi Perpajakan Syarat aktiva (selain tanah) yang dapat disusutkan dan deductible expenses adalah : a) Aktiva tersebut dapat disusutkan b) Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud (selain tanah) c) Mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun d) Untuk mendapatkan. perlu diberikan pengaturan tersendiri untuk penyusutan harta berwujud yang digunakan dalam usaha tersebut yang ketentuannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Saat dimulainya penyusutan. kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. dan memelihara penghasilan dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut melalui penyusutan.

maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yan mengalihkan. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut. maka penerimaan neto dari penjualan harta tersebut. Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti di mana kemudian.Akuntansi Perpajakan akan diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti di masa kemudian. Apabila harta tersebut dijual atau terbakar. Menyimpang dari ketentuan Pasal 11 ayat (8). nilai sisa bukunya tidak boleh dibebankan sebagai kerugian oleh pihak yang mengalihkan. yang berupa harta berwujud. maka dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak c. 25 TaxSys . Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat dalam Pasal 4 (3) huruf a&b. dalam hal pengalihan harta berwujud yang memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) huruf a & b. yaitu selisih antara harga penjualan dengan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau penggantian asuransinya dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau tahun diterimanya penggantian asuransi dan nilai sisa buku dari harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan. Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenakan pajak dalam tahun dilakukannya pengalihan harta tersebut.q KPP jumlah sebesar kerugian Pasal 11 ayat (8) dibukukan sebagai beban masa kemudian tersebut.

013 / 1988 tanggal 20 Desember 1988. Lembaga pembiayaan yang pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia adalah kegiatan sewa guna usaha (Leasing) pada tahun 1974 dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan. Nomor : 32 / M / SK / 2 / 1974 dan Nomor : 30 / Kpb / I / 74 tanggal 7 Februari 1974 tentang “Perijinan Usaha Leasing”. 26 TaxSys . Definisi leasing sebagaimana dituangkan dalam pasal 1 SKB Menteri Keuangan. tabungan. Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian tersebut diatas adalah : Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu prusahaaan untuk suatu jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama. giro dan lain-lain. Namun demikian. Definisi tersebut tampaknya hanya menampung satu jenis leasing yang lazim disebut finance lease atau capital lease atau sewa guna usaha pembiayaan. Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian Nomor : KEP-122 / MK / 2 / 1974. Lembaga pembiayaan ini dalam perkembangannya kemudian dikenal sebagai Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). dengan dkeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 (Paket Kebijaksanaan 20 Desember 1988) serta ditetapkannya Keputusan Menteri Keuangan No. 1251 / KMK.Akuntansi Perpajakan LEASING PENGERTIAN Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat melalui deposito.

Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994 telah mensahkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha.Akuntansi Perpajakan Jenis kegiatan sewa guna usaha tersirat dalam Pasal 1 keputusan tersebut yang menampung definisi-definisi berikut ini : • Leasing Company (perusahaan sewa guna usaha atau lessor) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara finance lease maupun operating lease untuk digunakan oleh penyewa-guna-usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Lessee (penyewa-guna-usaha) adalah perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan sewa guna usaha (lessor). terutama atas transaksi Sales and Leaseback. • Finance lease adalah kegiatan sewa guna usaha. Di samping itu. Padahal sejak dikeluarkannya keputusan Menteri Keuangan tersebut Undang-undang PPh telah 27 TaxSys . Hal ini terkait dengan beberapa kali berubahnya undangundang perpajakan.01 / 1991. Namun demikian. • • Operating lease adalah kegiatan sewa guna usaha dimana penyewa-guna-usaha (lessee) tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha. perlakuan perpajakan atas transaksi leasing ternyata masih berbentur pada berbagai masalah pelik dan rumit yang senantiasa menjadi objek pertentangan / perdebatan. Sampai saat ini acuan tentang ketentuan perpajakan atas transaksi leasing masih berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor :1169 / KMK. tanggal 27 November 1991. dengan terbukanya kemungkinan bagi perusahaan leasing untuk memperluas bidang usaha yang mancakup baik sewa guna usaha pembiayaan (finance lease) maupun sewa-menyewa biasa (operating lease) maka dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan standar akuntansi keuangan yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi sewa guna usaha sesuai dengan karakteristik serta ruang lingkup yangtelah ditetapkan dalam keputusan Menteri Keuangan tersebut. Perubahan undang-undang perpajakan yang ada selama ini tidak dengan segera diiringi perubahan ketentuan perpajakan atas transaksi leasing sehingga dalam praktiknya menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berbeda dalam transaksi leasing. meskipun kegiatan leasing di Indonesia sudah dikenal dan berkembang sejak tahun 1974. dimana penyewa-guna-usaha (lessee) pada akhir masa kontrak mempunyai hak Opsi untuk membeli objek sewa guna usaha berdasrkan nilai sisa yang disepakati bersama. Ketentuan tersebut ternyata tidak banyak mengubah pengertian dasar leasing di Indonesia karena hanya membuka peluang bagi perusahaan leasing untuk melakukan kegiatan usahanya dalam operating lease yang pada hakekatnya merupakan usaha sewa-menyewa biasa. terutama Undang-undang Pajak Penghasilan dan Undang-undang PPN.

lessor membeli barang modal dan selanjutnya disewaguna-usahakan kepada lessee. Pengakuan future tax effects tersebut dilakukan dengan mengakui adanya aktiva pajak tangguhan (deferred tax asset) atau kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liability) dengan menggunakan Balance Sheet Liability Method. Pengurus Pusat Ikatan Akuntansi Indonesia telah mensahkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan yang mengatur agar dilakukan pengakuan terhadap future tax effects yang timbul sebagai akibat adanya transaksi dan peristiwa yang telah diakui dalam laporan keuangan dan SPT yang disebabkan oleh perbedaan temporer. Materi ini dimaksudkan untuk membantu wajib pajak dalam memahami : a. yang merupakan pendapatan perusahaan sewa guna usaha. Lessee biasanya memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas nama perusahaan leasing sebagai pemilik barang tersebut. serta pemeliharaan barang modal yang menjadi objek transaksi leasing. Finance Lease (Sewa Guna Usaha Pembiayaan) Dalam hal ini. pemeriksaan. termasuk dua jenis leasing yang telah ditampung dalam Keputusan Menteri Keuangan tersebut. Mencermati ketentuan akuntansi dan ketentuan perpajakan atas transaksi sewa guna usaha ternyata ada perbedaan-perbedaan. melakukan pemesanan.Akuntansi Perpajakan berubah tiga kali dan Undang-undang PPN telah berubah dua kali. kalau ada. perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah pihak yang membiayai penyediaan barang modal yang dibutuhkan oleh lessee. adalah sebagai berikut: a. Aspek akuntansi atas transaksi Sewa Guna Usaha b. Berbeda dengan finance lease. Operating Lease (Sewa-Menyewa Biasa) Dalam leasing jenis ini. Pajak Tangguhan atas transaksi Sewa Guna Usaha Jenis Leasing Jenis leasing yang sudah dikenal secara umum. Sedangkan pada tahun 1997. Perbedaan ini disebabkan karena lessor mengharapkan keuntungan 28 TaxSys . Selama masa sewa guna usaha berjalan. jumlah seluruh pembayaran sewa guna usaha berkala dalam operating lease tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan bunganya. b. mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang dibiayai serta bunganya. lessee melakukan pembayaran secara berkala dimana jumlah seluruhnya ditambah dengan pembayaran nilai sisa (residual value). Aspek pajak atas transaksi Sewa Guna Usaha c.

d. Tujuan utama lessee adalah mendapatkan pembiayaan melalui leasing untuk memperoleh barang modal yang dapat digunakan dalam proses produksi. Direct Lease (Sewa Guna Usaha Langsung) Dalam transaksi jenis ini lessee belum pernah memiliki barang modal yang menjadi objek sewa guna usaha tersebut. transaksi sewa guna usaha dapat dilaksanakan sebagai berikut : a. Leasing jenis ini seringkali merupakan suatu cara pemasaran bagi produk perusahaan tertentu. dalam operating lease. Berbeda dengan finance lease. Sales-type Lease (Sewa Guna Usaha Penjualan) Sewa guna usaha jenis ini merupakan transaksi pembiayaan sewa guna usaha secara langsung (direct finance lease) di mana dalam jumlah transaksi termasuk laba yang diperhitungkan oleh pabrikan atau penyalur yang juga merupakan perusahaan leasing. lessor membeli barang modal. setidaknya tiga pihak. Leveraged Lease Transaksi sewa guna usaha jenis ini melibatkan. lessor. atau melalui beberapa kontrak sewa guna usaha lainnya. dan kreditor jangka panjang yang membiayai bagian terbesar dari transaksi sewa guna usaha. Pelaksanaan transaksi sewa guna usaha Ditinjau dari teknis pelaksanaannya. Dalam hal ini. c. Sale and Leaseback (Penjualan dan Penyewaan Kembali) Dalam transaksi ini. 29 TaxSys . yakni lessee. sehingga atas permintaannya.Akuntansi Perpajakan justru dari penjualan barang modal yang disewa-guna-usahakan. dibutuhkan keahlian khusus dari lessor untuk memelihara dan memasarkan kembali barang modal yang disewa-guna-usahakan. lessee terlebih dahulu menjual barang modal yang sudah dimiliki kepada perusahaan sewa guna usaha dan atas barang modal yang sama ini kemudian dilakukan kontrak leasing antara lessee (pemilik semula) dengan lessor. pajak maupun pemeliharaan barang modal yang bersangkutan. lessor biasanya bertanggungjawab atas biayabiaya pelaksanaan sewa guna usaha seperti asuransi. b.

Salah satu lessor akan ditunjuk sebagai koordinator sehingga lessee cukup berkomunikasi dengan perusahaan ini untuk melaksanakan segala sesuatu yang menyangkut transaksi sewa guna usaha. Syndicated Lease (Sewa Guna Usaha Sindikasi) Dalam sewa guna usaha sindikasi beberapa lessor secara bersama melakukan transaksi sewa guna usaha dengan satu lessee. 1251 / KMK.013 / 1998 tanggal 20 Desember 1988 dinyatakan bahwa sepanjang perjanjian sewa guna usaha masih berlaku. hak milik atas barang modal obyek transaksi sewa guna usaha berada pada perusahaan sewa guna usaha. Tujuan PSAK 30 Pernyataan ini dirumuskan berdasarkan beberapa alasan berikut ini : a. ditinjau dari aspek akuntansi. Sewa guna usaha ini dilakukan karena nilai tansaksi yang terlampau besar atau karena faktor-faktor lain. Diperlukan ketegasan tentang perlakuan dan pelaporan transaksi leasing yang dapat mengungkapkan status aktiva yang disewa-guna-usahakan baik bagi lessor maupun lessee. Sebaliknya apabila suatu transaksi leasing yang berdasarkan makna ekonominya bukan merupakan suatu pemindahan seluruh manfaat dan resiko yang melekat pada kepemilikan aktiva tersebut. Dengan demikian.Akuntansi Perpajakan c. apabila suatu transaksi leasing yang berdasarkan makna ekonominya merupakan pemindahan dari seluruh manfaat serta resiko yang melekat pada kepemilikan suatu aktiva. Pelaksanaan transaksi ini dapat dilakukan baik melalui direct lease maupun sale and leaseback Dasar Pertimbangan Dalam Pasal 3 ayat (3) Keputusan Menteri Keuangan No. Oleh karena itu. hak milik (legal title) atas aktiva yang disewa-guna-usahakan tetap berada pada perusahaan sewa guna usaha (lessor) meskipun berdasarkan suatu perjanjian sewa guna usaha tanggung jawab atas penggunaan aktiva tersebut diserahkan kepada penyewa guna usaha (lessee). selama jangka waktu sewa guna usaha. 30 TaxSys . maka transaksi tersebut harus dipandang sebagai perolehan suatu aktiva pembiayaan (finance lease) bagi lessor. maka transaksi tersebut harus di pandang sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease) oleh perusahaan sewa guna usaha. Terlepas dari ketentuan tersebut. paragraf 35 Kerangka Dasar Penyusutan dan Penyajian Laporan Keuangan menyatakan bahwa laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomi (economic substance) dari suatu peristiwa / transaksi daripada bentuk hukumnya (legal form).

Perlu adanya pedoman tentang keseragaman pelakuan akuntansi transaksi leasing sehingga data keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dianalisis dan ditafsirkan dengan mudah oleh semua pihak yang berkepentingan. maka suatu transaksi sewa-guna-usaha akan dikelompokkan sebagai capital lease bagi lessee atau finance lease bagi lessor apabila dipenuhi semua kriteria berikut ini : a. c. Finance Lease Penanaman neto dalam aktiva yang disewa-guna-usahakan harus diperlakukan dan dicatat sebagai penanaman neto leasing. d. Kriteria Pengelompokkan Transaksi Sewa Guna Usaha Berhubungan dasar pertimbangan utama yang digunakan adalah asas makna ekonomi.Akuntansi Perpajakan b. b. maka perlu diatur pengungkapan yang layak dalam standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai laporan keuangan. c. Jumlah penanaman neto tersebut terdiri dari jumlah piutang leasing ditambah nilai sisa (harga opsi) yang akan diterima oleh lessor pada akhir masa sewa guna usaha dikurangi dengan Pendapatan Leasing yang Belum Diakui (unearned lease income) dan Simpanan Jaminan (security deposit). Lessee memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewa-guna-usahakan pada akhir masa sewa guna usaha denga harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian leasing. Selisih antara piutang leasing ditambah nilai sisa (harga opsi) 31 TaxSys . Kalau salah satu kriteria tersebut di atas tidak terpenuhi maka transaksi leasing dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease). Dengan meluasnya transaksi leasing di Indonesia setelah kebijakan deregulasi dan debirokratisasi. PERLAKUAN AKUNTANSI OLEH PERUSAHAAN SEWA GUNA USAHA (LESSOR) 1. Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) tahun. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh lessee ditambah dengan nilai sisa (residu) mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang disewa-guna-usahakan serta bunganya sebagai keuntungan bagi lessor (full payout lease).

Pendapatan lain yang diterima sehubungan dengan transaksi leasing harus diakui dan dicatat sebagai pendapatan periode berjalan. Apabila lessor menjual barang modal kepada lessee sebelum berakhirnya masa sewa guna usaha. Pendapatan leasing yang belum diakui harus dialokasikan secara konsisten sebagai pendapatan periode berjalan berdasarkan suatu tingkat pengembalian berkala (periodic rate of return) atas penanaman neto perusahaan sewa guna usaha. PERLAKUAN AKUNTANSI BAGI LESSEE 1. 2. Pembayaran sewa guna usaha (lease payments) selama tahun berjalan yang diperoleh dari lessee diakui dan dicatat sebagai Pendapatan Sewa. maka perbedaan antara harga jual dengan penanaman neto dalam leasing pada saat penjualan dilakukan harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian periode berjalan. Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran sewa guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh lessor atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha. Aktiva yang disewa-guna-usaha harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar berdasarkan taksiran masa manfaatnya. Capital Lease Transaksi leasing diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa sewa guna usaha sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh lessee pada akhir masa sewa guna usaha. Pendapatan sewa harus diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus sepanjang masa sewa guna usaha. Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha dialokasikan dan dicatat sebagai Angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban penyewa guna usaha. 32 TaxSys .Akuntansi Perpajakan dengan harga perolehan aktiva yang disewa-usaha-kan diperlakukan sebagai Pendapatan Leasing yang Belum Diakui (unearned lease income). Penyusutan aktiva yang disewa-guna-usahakan harus dilakukan dalam jumlah yang layak dijual maka perbedaan nilai buku dan harga jual harus diakui dan dicatat sebagai Keuntungan atau Kerugian tahun berjalan. meskipun jumlah pembayaran sewa guna usaha mungkin tidak sama untuk setiap periode. Operating Lease Barang modal yang disewa-guna-usahakan harus diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva sewa guna usaha berdasarkan harga perolehan.

2. xxx xxx (xxx) (xxx) xxx (xxx) xxx 33 TaxSys . Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka panjang sesuai dengan praktek yang lazim untuk jenis usaha lessee. Selisih antara harga jual dan nilai buku aktiva yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan harus dilakukan secara proporsional dengan biaya amortisasi aktiva yang disewa guna usaha apabila leaseback merupakan capital lease atau secara proporsional dengan biaya sewa apabila leaseback merupakan operating lease. Penanaman neto dalam aktiva yang disewa guna usahakan harus dilaporkan dalam neraca dengan rincian sebagai berikut : Piutang Sewa Guna Usaha Nilai Sisa Yang Terjamin Pendapatan Sewa Guna Usaha Yang Belum Diakui Simpanan Jaminan Penanaman Netto Sewa Guna Usaha Penyisihan Piutang Sewa Guna Usaha Yang Diragukan Jumlah Penanaman Rp. Rp. Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sales and leaseback) maka transaksi tersebut harus diperlakukan sebagai dua transaksi yang terpisah yaitu transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. meskipun pembayaran sewa guna usaha dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode. Rp. PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN TRANSAKSI LEASING OLEH LESSOR. maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan dengan sisa kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan. Operating Lease Pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus selama masa sewa guna usaha.Akuntansi Perpajakan Kalau aktiva yang disewa-guna-usaha dibeli sebelum berakhirnya masa sewa guna usaha. 1. Finance Lease Aktiva dilaporkan berdasarkan urutan likuidasinya. kewajiban dilaporkan berdasarkan urutan jatuh temponya tanpa mengelompokkan ke dalam unsur lancar dan tidak lancar (unclassified balance sheet).

Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut : a) Kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi leasing. Jumlah penanaman neto dan pendapatan sewa guna usaha dalam leasing sindikasi dan leveraged lease harus dilaporkan oleh masing-masing pihak secara proporsional sesuai dengan penyertaannya. d) Piutang sewa guna usaha yang dijaminkan kepada pihak ketiga. b) Jumlah pembayaran sewa guna usaha paling tidak untuk 2 (dua) tahun berikutnya. b) Jumlah pembayaran sewa guna usaha paling tidak untuk 2 (dua) tahun berikutnya. Operating Lease Barang modal yang disewa-guna-usahakan dilaporkan berdasarkan harga perolehan setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutannya. Pendapatan sewa guna usaha harus dilaporkan sebagai komponen utama dalam kelompok Pendapatan.Akuntansi Perpajakan Laporan laba rugi disajikan sedemikian rupa sehingga seluruh pendapatan dilaporkan dalam kelompok yang terpisah dari kelompok biaya (single step). e) Leasing sindikasi dan Leveraged Leases. Penyusutan aktiva yang disewa-guna-usahakan dilaporkan secara terpisah dari penyusutan aktiva yang tidak disewa-guna-usahakan. Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut : a) kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha. Perhitungan rugi laba harus disusun sedemikian rupa sehingga seluruh pendapatan dilaporkan dalam kelompok yang terpisah dari kelompok biaya (single step). c) Sifat dari simpanan jaminan yang merupakan kewajiban lessor kepada lessee. d) Aktiva yang disewa-guna-usahakan yang dijaminkan kepada pihak ketiga. c) Sifat dari simpanan jaminan (jika ada). e) Sewa guna usaha sindikasi dan leveraged leases. Aktiva yang disewaguna-usahakan dilaporkan secara terpisah dari aktiva tetap yang tidak disewa-gunausahakan. 2. Pendapatan leasing harus dilaporkan sebagai komponen utama dalam kelompok Pendapatan. 34 TaxSys .

beserta amortisasinya e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha (major covenants). Operating Lease Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut : a) Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan yang dibebankan sebagai biaya sewa. 2. 35 TaxSys . b) Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dilakukan paling tidak untuk 2 (dua) tahun berikutnya. beserta amortisasinya e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian leasing (major covenants). c) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi leasing.Akuntansi Perpajakan TRANSAKSI PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN TRANSAKSI LEASING OLEH LESSEE 1. Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan mengenai hal-hal sebagai berikuut : a) Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dibayar paling tidak untuk 2 (dua) tahun berikutnya. Kewajiban sewa guna usaha yang bersangkutan harus disajikan terpisah dari kewajiban lainnya. d) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan sehubungan dengan transaksi sale and leaseback. Capital Lease Aktiva yang disewa-guna-usaha dilaporkan sebagai bagian aktiva tetap dalam kelompok tersendiri. c) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi leasing. d) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan sehubungan dengan transaksi sale and leaseback. b) Penyusutan aktiva yang disewa-guna-usaha yang dibebankan dalam tahun berjalan.

01 / 1991. 3. c) Perlakuan perpajakan untuk transaksi sewa guna usaha sudah diatur oleh pemerintah baik dari sisi lessor maupun lessee. Ketentuan tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1169 / KMK. harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor. Sedangkan undangundang ini sudah berubah 3 kali sampai saat ini. 2. Kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha tanpa hak opsi apabila memenuhi semua kriteria berikut : a) Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha (lease term) pertama tidak dapat menutupi harga perolehan barang modal yang disewa guna usahakan dan keuntungan yang diperhitungkan oleh lessor. Penggolongan jenis barang tersebut ditetapkan berdasarkan Pasal 11 Undangundang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. b) Perjanjian sewa guna usaha tidak memuat ketentuan mengenai hak opsi bagi lessee.Akuntansi Perpajakan ASPEK PAJAK SEWA GUNA USAHA Menurut ketentuan perpajakan. Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha (lease term) pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal. Masa sewa guna usaha sekurang-kurangnya : • • • 2 tahun untuk barang modal golongan I 3 tahun untuk barang modal golongan II dan III 7 tahun untuk barang modal golongan bangunan. yaitu sebagai berikut: 36 TaxSys . Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai hak opsi bagi lessee. kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha dengan hak Opsi (finance lease) apabila memenuhi semua kriteria berikut : 1.

Ada perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan atas Transaksi Finance Lease dari sudut Lessee. Kerugian dari Piutang Sewa Guna Usaha yang sebenarnya karena tidak dapat ditagih lagi. bukan merupakan Jasa Kena Pajak sehingga tidak terutang PPN. Tidak ada perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan atas transaksi-transaksi Finance Lease dari sudut Lessor. Tanah tidak boleh disusutkan. dibebankan kepada perkiraan Cadangan Penghapusan Piutang Ragu-ragu. Pembayaran sewa guna usaha dengan hak opsi bukan merupakan obyek pemotongan PPh Pasal 23. Selisih dana cadangan dan piutang yang nyata-nyata tidak tertagih dimasukkan ke dalam Rugi / Laba tahun yang bersangkutan (direct expense). Dasar penyusutan setelah lessee menggunakan hak opsi adalah nilai sisa aktiva. (Dalam kasus ini : ada perbedaan pendapat berkaitan dengan pengenaan PPN atas penyerahan aktiva bekas eks Pasal 16D UU PPN). Perbedaan tersebut hanya perbedaan sementara dalam alokasi biaya. Lessor yang melakukan transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi dapat membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-ragu sebesar 2. harus dipisahkan antara transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. TRANSAKSI CAPITAL LEASE DARI SUDUT LESSEE Lessee tidak boleh menyusutkan aktiva. 37 TaxSys . Pembayaran sewa guna usaha merupakan biaya kecuali pembebanan atas tanah. Hal ini akan mempengaruhi dampak pajak di masa mendatang yang harus disajikan dalam laporan keuangan sebagai pajak tangguhan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 46. Jika terjadi transaksi sale and leaseback. Atas penyerahan jasa dalam transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi dari Lessor kepada Lessee.5% dari rata-rata saldo awal dan saldo akhir Jumlah Piutang Sewa Guna Usaha. Angsuran PPh Pasal 25 berdasarkan laporan keuangan triwulan yang terakhir disetahunkan dibagi 12.Akuntansi Perpajakan TRANSAKSI FINANCE LEASE DARI SUDUT LESSOR Atas pembayaran sewa guna usaha yang diterima atau diperoleh dari transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi bukan merupakan obyek pemotongan PPh Pasal 23.

UU Nomor 10 Tahun 1994 mengubah ketentuan penyusutan dilakukan secara individual mulai tahun diperolehnya aktiva. Pada saat Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1169/KMK. merupakan Jasa Kena Pajak sehingga terutang PPN. ketentuan penyusutan masih menggunakan ketentuan berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1983. Atas penyerahan Jasa dalam transaksi sewa guna usaha tanpa hak opsi dari Lessor kepada lessee. Lessee berhak mengkreditkan PPN yang dibayarkannya kepada lessor. dimana penyusutan dilakukan secara gabungan. TRANSAKSI OPERATING LEASE DARI SUDUT LESSEE Lessee tidak boleh menyusutkan aktiva. UU Nomor 17 Tahun 2000 mengubah ketentuan penyusutan dilakukan secara individual mulai bulan diperolehnya aktiva. 38 TaxSys .01/1991. Pembayaran sewa merupakan biaya. Pembayaran sewa wajib dipotong PPh Pasal 23 atau PPh Pasal 4 ayat(2) Final. Lessor membebankan biaya penyusutan. Penyusutan dimulai pada bulan diperolehnya aktiva. Angsuran PPh Pasal 25 berdasarkan laporan keuangan triwulan yang terakhir disetahunkan dibagi 12.Akuntansi Perpajakan TRANSAKSI OPERATING LEASE DARI SUDUT LESSOR Atas pembayaran sewa guna usaha yang diterima atau diperoleh dari transaksi sewa guna usaha tanpa hak opsi merupakan obyek pemotongan PPh Pasal 23.

franchise. melalui penggabungan badan usaha atau dikembangkan sendiri. d. c. dan kesulitan dalam penentuan nilai perolehan serta masa manfaat keekonomiannya. Salah satu karakteristik aktiva tak berwujud yang paling penting adalah tingkat ketidak pastian mengenai nilai dan manfaatnya dikemudian hari. masa manfaatnya. merk dagang dan goodwill. kemampuan untuk dipisahkan dari keseluruhan perusahaan : hak yang dapat dialihkan tanpa bukti pemilikan. b. dapat dijual atau tidak dapat dipisahkan dari perusahaan atau dari bagian pokoknya. Kesulitan yang dihadapi dalam pemecahan masalah perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud pada umumnya disebabkan oleh sifat aktiva tersebut. hak cipta. seperti tidak adanya wujud fisik yang menyebabkan bukti keberadaannya kabur. Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat kekhususannya. Dasar penggolongan aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut : a. secara kelompok.Akuntansi Perpajakan ASPEK AKUNTANSI AKTIVA TIDAK BERWUJUD Aktiva tak berwujud (intangible asset) adalah aktiva tak lancar (non current asset) dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain. kemampuan untuk diidentifikasikan : dapat atau tidak dapat diidentifikasikan secara khusus. dan penghapusannya. atau pada jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak dapat ditentukan di masa depan. pelakuan akuntansi selanjutnya terhadap nilai perolehan tersebut dalam kondisi usaha normal (amortisasi). nilai aktiva tak berwujud antara lain dapat berbentuk hak paten. 39 TaxSys . Dalam banyak kasus. dan perlakuan akuntansi atas penurunan nilai aktiva tak berwujud yang material dan permanen. diantaranya adalah penentuan nilai perolehan. cara perolehan : diperoleh secara individual. hubungannya dengan kegiatan usaha. masa manfaat yang diharapkan : tergantung pada pembatasan yang diatur oleh hukum / perjanjian. Perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud menyangkut masalah yang tidak berbeda dengan perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap. pada faktor keekonomian atau manusia.

d. Laporan keuangan harus mengungkapkan metode dan periode amortisasi yang digunakan.Akuntansi Perpajakan Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh dari individu atau badan usaha lain sebagai aktiva. c. Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu. Pengaruh keusangan. b. dan masa manfaat yang diharapkan tidak dapat ditaksir secara wajar. Taksiran masa manfaat yang wajar biasanya ditentukan dengan membuat batas atas dan batas bawah karena taksiran masa manfaat yang sesungguhnya sulit untuk ditentukan. Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas. Prakiraan tindakan yang akan dilakukan oleh pesaing. dengan syarat tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun dari tanggal perolehan. Ketentuan hukum. persaingan dan faktor perubahan ekonomi dan teknologi yang mempengaruhi masa manfaat. Kemungkinan untuk memperbaharui atau memperpanjang batas masa manfaat yang telah ditentukan. Biaya pemeliharaan atau penyimpanan aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara khusus tidak dapat ditentukan masa manfaatnya / umurnya. Perusahaan harus mengevaluasi periode amortisasi aktiva tak berwujud secara teratur untuk memutuskan apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan taksiran masa manfaat yang ditentukan. Kemungkinan aktiva tak berwujud terdiri dari beberapa jenis / faktor yang mempunyai masa manfaat yang berbeda. atau tidak dapat dihindarkan dalam suatu kegiatan usaha harus dibebankan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. kecuali jika ada metode lain yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan. maka jumlah harga perolehan yang belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa masa manfaat yang baru. Taksiran nilai dan manfaat masa depan suatu aktiva tak berwujud 40 TaxSys . f. sehingga harga perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran masa manfaatnya dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode perolehan. perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum. Jika taksiran masa manfaat berubah. Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar maka hal-hal tersebut diatas harus dianalisa terlebih dahulu. Metode amortisasi aktiva tak berwujud adalah metode garis lurus (Straight Line method). Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut : a. permintaan. pelaksana hukum / peraturan dan lainnya yang membatasi keunggulan dalam daya saing (competitive advantage). peraturan. e.

2. Berdasarkan eksistensinya. misalnya merk dagang. proses dan formula rahasia.5 % 10 % 41 TaxSys . perjanjian yang dibuat antara para pihak atau sifat dari aktiva tersebut. perpetual franchise. dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan. franchise yang terbatas lisensi. peraturan pemerintah. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas. hak sewa. menagih. Aktiva tak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundangundangan. hak cipta. aktiva tak berwujud dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori : 1. Kelompok amortisasi : Kelompok Harta Masa Manfaat Tak Berwujud Tarif Amortisasi metode Garis Lurus Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun 25 % 12.25 % 5% berdasarkan Saldo Menurun 50 % 25 % 12. misalnya hak paten. Jika ada pembebanan luar biasa. goodwill. dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. maka alasan pembebanannya harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.Akuntansi Perpajakan yang belum diamortisasi tersebut harus dikurangi dengan jumlah tertentu sebagai beban usaha dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Meskipun demikian. dan memelihara penghasilan. hak guna usaha.5 % 6. AMORTISASI AKTIVA TAK BERWUJUD Amortisasi terhadap intangible asset adalah atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan. Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat dipastikan masa berakhirnya. kerugian pada satu atau beberapa tahun tertentu secara berurutan tidak dapat dijadikan alasan untuk membebankan semua atau sebagian harga perolehan aktiva tak berwujud yang diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa pada periode yang bersangkutan.

Akuntansi Perpajakan
Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan metode yang dipilihnya berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya dari tiap harta tak berwujud. Tarif amortisasi yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat sebagaimana yang diatur dalam ketentuan ini. Untuk harta tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada, maka Wajib Pajak menggunakan masa manfaat yang terdekat. Misalnya harta tak berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya 6 (enam) tahun dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun atau 8 (delapan) tahun. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5 (lima) tahun, maka harta tak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun.

MacamMacam-macam amortisasi 1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau amortisasi.

2. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan minyak dan gas bumi dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi. Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi. Apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain, maka atas sisa pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang bersangkutan.

3. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain diatas yaitu hak pengusahaan hutan dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi paling tinggi 20 % (dua puluh persen) setahun.

4. Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan, atau hasil alam lainnya seperti hak pengusahaan hasil laut diamortisasi berdasarkan metode satuan produksi dengan jumlah paling tinggi 20 % (dua puluh persen) setahun.

42

TaxSys

Akuntansi Perpajakan
Contoh : Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan, yang mempunyai potensi 10.000.000 (sepuluh juta) ton kayu, sebesar Rp. 500.000.000,00 diamortisasi sesuai dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan. Jika dalam satu tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai 3.000.000 (tiga juta) ton yang berarti 30% (tiga puluh persen) dari potensi yang tersedia, maka walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai 30 % (tiga puluh persen) dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi yang diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan brutopada tahun tersebut adalah 20 % (dua puluh persen) dari pengeluaran atau Rp. 100.000.000,00. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi sesuai dengan ketentuan yang ada. Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaan tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, biaya rekening listrik dan telepon, dan biaya kantor lainnya. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.

PENGALIHAN AKTIVA TIDAK BERWUJUD

Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud maka nilai sisa buku harta atau hakhak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut.

Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) huruf a &b 36 Tahun 2008 yang berupa harta tak berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak oleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan.

43
TaxSys

Akuntansi Perpajakan

ASPEK PPh ATAS JASA KONSTRUKSI

PENGANTAR
Dalam bab ini khusus ditujukan untuk Pengusaha yang kegiatan usahanya melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) berupa Jasa Perencanaan, Jasa Pelaksanaan, dan Jasa Pengawasan Konstruksi, atau yang lebih populer disebut sebagai Kontraktor.

PERATURAN TERKAIT
1. UU Nomor 17 Tahun 2000; 2. PP Nomor 138 Tahun 2000; 3. PP Nomor 140 Tahun 2000; 4. KMK Nomor : 559 / KMK.04 / 2000; 5. Keputusan DJP Nomor : Kep-305 / PJ. / 2001; 6. PP Nomor : 42 Tahun 1995 jo PP Nomor : 63 Tahun 1998 jo PP Nomor : 43 Tahun 2000; 7. KMK Nomor : 239 / KMK.04 / 1995 jo KMK Nomor : 463 / KMK.04 / 1998 jo KMK Nomor : 486 KMK.04 / 2000; 8. Keputusan DJP Nomor : 526 / PJ. / 2000.

ASPEK PEMOTONGAN PPh

Berdasarkan PP 140 Tahun 2000 dan KMK-559/KMK.04/2000 ditegaskan bahwa atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap dari Usaha di Bidang Jasa Konstruksi, dikenakan PPh berdasarkan ketentuan umum UU PPh dan merupakan obyek Pemotongan PPh Pasal 23. Atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap dari Usaha di Bidang Jasa Konstruksi, yang memenuhi kualifikasi sebagai usaha kecil berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, serta yang mempunyai nilai pengadaan 44
TaxSys

00 (satu miliar rupiah). ASPEK PPh BADAN Berdasarkan PP 140 Tahun 2000 dan KMK-559/KMK. yaitu : 1. 4% (empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.000. 45 TaxSys . PP 40 tahun 2009 Jo.Akuntansi Perpajakan sampai dengan Rp. PP 51 tahun 2008 Jo. dikenakan PPh yang bersifat Final.04/2000 ditegaskan bahwa atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap dari Usaha di Bidang Jasa Konstruksi. 2.000. dinyatakan bahwa jumlah imbalan bruto khusus untuk jasa konstruksi adalah jumlah imbalan yang dibayarkan seluruhnya. d. untuk menentukan apakah atas penghasilan jasa konstruksi tersebut dipotong PPh Final atau PPh Pasal 23. termasuk atas pemberian jasa dan pengadaan material / barangnya. dan 6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha. 3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. meskipun tarif pemotongannya sama. 4% dari jumlah imbalan bruto untuk Jasa Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi. 1. Hal ini berarti mulai tahun pajak 2001 Pengusaha Jasa Konstruksi wajib menyusun laporan keuangan fiscal untuk menghitung penghasilan netto-nya pada tahun pajak yang bersangkutan. PMK-187/PMK-03/2008 adapun tarif pemotongannya : a. / 2001. 2% dari jumlah imbalan bruto untuk Jasa Pelaksanaan Konstruksi Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) KEP-305 / PJ. b. c. 4% (empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha. dikenakan PPh berdasarkan ketentuan umum UU PPh. aspek pemotongan PPh atas Jasa Konstruksi harus dilihat terlebih dahulu penerima penghasilan memenuhi kualifikasi sebagai usaha kecil atau tidak. Jadi mulai Tahun 2001.000. Namun ketentuan mengenai aspek pemotongan PPh atas jasa kontruksi berubah menjadi final sesuai ketentuan pasal 4 ayat 2 UU PPh Jo. e. 2% (dua persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa dengan kualifikasi usaha kecil.

000. Tiap-tiap akhir tahun dihitung biaya yang sudah dikeluarkan dan taksiran biaya untuk menyelesaikan.35 2 35. KONSTRUKSI UTAMA menangani proyek konstruksi dengan nilai kontrak Rp.294. yang proses pekerjaan fisiknya meliputi masa beberapa tahun pajak dihitung berdasarkan metode prosentase tingkat penyelesaian pekerjaan.117 132.588 70.117.000.470.235 105. 46 TaxSys . sebagai dasar untuk menghitung taksiran laba.882. 1. 2005).d.Akuntansi Perpajakan Berdasarkan Pasal 6 PP 138 tahun 2000.941) Metode Prosentase Selesai Berdasarkan Prosentase Selesai Fisik. CONTOH : PT.00 (1 milyar rupiah) dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 5 tahun (Tahun 2001 s.D Akhir Tahun Perkiraan Biaya Perkiraan Biaya Sisa 3 700 Juta 450 Juta 250 Juta 100 Juta --- Total 4 850 Juta 850 Juta 850 Juta 850 Juta 875 Juta Perkiraan Total 5 Laba Bruto Akumulasi Laba (2 / 4) x 5 Bruto Laba (Rugi) Bruto Per Tahun 150 Juta 150 Juta 150 Juta 150 Juta 125 Juta 26.470.117 125 Juta 26.352.588.294. diatur bahwa Laba Bruto Usaha dalam suatu tahun pajak yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang berusaha di bidang jasa konstruksi. Metode prosentase tingkat penyelesaian pekerjaan ini dapat di hitung dengan menggunakan 2 pendekatan : Metode Prosentase Selesai Berdasarkan Biaya.94 1 35.588 44.000.352.647 (7. 2001 Actrual Cost 1 150 Juta 150 Juta 2002 250 Juta 400 Juta 2003 200 Juta 600 Juta 2004 150 Juta 750 Juta 2005 125 Juta 875 Juta Akumulasi Biaya 2 S.

tidak dapat dikreditkan Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendapat. Namun. Pajak-pajak yang sudah dipungut/dipotong.Akuntansi Perpajakan CONTOH : 2001 % Selesai Fisik Nilai Kontrak Yang Diselesaikan Biaya Aktual Akumulasi Biaya S. seperti halnya PPh pemotongan/pemungutan yang bersifat final. ASPEK PPh BADAN BERKAITAN DENGAN PROYEK PEMERINTAH YANG DI HIBAH BIAYAI DENGAN HIBAH ATAU DANA PINJAMAN LUAR NEGERI Proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2001 ini telah mengalami beberapa kali perubahan berdasarkan PP no 42 tahun 1995 jo PP Nomor 63 Tahun 1998 jo PP Nomor 43 Tahun 2000 jo PP Nomor 25 Tahun 2001. menagih. aspek PPh badanpun mulai tahun pajak 2008 bersifat final artinya: • • • kalaupun pajak yang sudah dipotong/dipungut atau dibayar/disetor sendiri. Hal penting yang harus mendapat perhatian adalah atas proyek pemerintah yang PPh-nya Ditanggung Pemerintah kontraktor harus menghitung besarnya PPh Ditanggung Pemerintah yang dapat dikreditkan pada tahun pajak berjalan. Dengan demikian.D Akhir Tahun Akumulasi Laba Bruto Laba (Rugi) Bruto Per Tahun 20 % 200 Juta 150 Juta 150 Juta 50 Juta 50 Juta 2002 55 % 550 Juta 250 Juta 400 Juta 150 Juta 100 Juta 2003 65 % 650 Juta 200 Juta 600 Juta 50 Juta (100 Juta) 2004 80 % 800 Juta 150 Juta 750 Juta 100 Juta 50 Juta 2005 100 % 1 Milyar 125 Juta 875 Juta 125 Juta 25 Juta Untuk menghitung penghasilan netto. laba bruto usaha tersebut di atas dikurangi dengan biaya pengeluaran lain yang diperkenankan menurut UU PPh. dan memelihara penghasilan tidak dapat dibiayakan. merupakan pelunasan pajak sehingga tidak akan kena pajak lagi di akhir tahun. 47 TaxSys . bisa dipastikan pajak akhir tahunnya akan nihil. jika penghasilan badan tersebut hanya dari jasa konstruksi saja.

588.941.588.941) Laba (Rugi) Bruto Per 26.588.178 0 (14.294 0 70.117 132.352 35.Akuntansi Perpajakan CONTOH : 2001 Actual Cost 150 Juta 2002 250 Juta 400 Juta 2003 200 Juta 600 Juta 2004 150 Juta 750 Juta 2005 125 Juta 875 Juta Akumulasi Biaya S.941 125 Juta 26.234 10 Juta 60.235.352.117.470.588 Tahun Actual Cost 150 Juta 250 Juta 400 Juta 200 Juta 600 Juta 150 Juta 750 Juta 125 Juta 875 Juta Akumulasi Biaya S.470.647 105.294 10 Juta 78.352.117.588 70.882.588. D. 150 Juta Akhir Tahun Perkiraan Sisa Biaya Perkiraan Total Biaya 700 Juta 850 Juta 450 Juta 850 Juta 150 Juta 250 Juta 850 Juta 150 Juta 100 Juta 850 Juta 150 Juta --875 Juta 125 Juta Perkiraan Total Laba 150 Juta Bruto Akumulasi Laba Bruto 26.589 (7.588 Tahun Jumlah Laba Bruto Deductible expense Penghasilan Netto Kompensasi 52. D.352.470.705.941.294.235 44.941 125 Juta 26.588 70.941.234 0 52.235.882.941. 150 Juta Akhir Tahun Perkiraan Sisa Biaya Perkiraan Total Biaya 700 Juta 850 Juta 450 Juta 850 Juta 150 Juta 250 Juta 850 Juta 150 Juta 100 Juta 850 Juta 150 Juta --875 Juta 125 Juta Perkiraan Total Laba 150 Juta Bruto Akumulasi Laba Bruto 26.178 10 Juta 42.294.176 10 Juta 42.470.235 44.176 0 88.882) 0 48 TaxSys .941) Laba (Rugi) Bruto Per 26.352.589 (7.470.352 35.882) 10 Juta (24.647 105.470.117 132.705.

294 9.625 3.147.100 2.100 2.178 4.147.050 Pemerintah PPh Dibayar Sendiri 2.882) 0 0 PPh Ditanggung 2.941.100 42.294.294.294.294.235.200 3.050 (24.Akuntansi Perpajakan PhKp PPh terutang 42.147.588.941.235.147.176 4.625 60.100 78.588.050 0 49 TaxSys .050 4.617.294 4.705.234 6.617.

Beberapa Terminologi Baru Yang Perlu Dipahami Laba Akuntansi (Accounting Profit) Laba Fiskal (Taxable Profit) Dasar Pengenaan Pajak atau Nilai Nilai Buku – Akuntansi Buku Fiskal (Accounting Base) (Tax Base) Perbedaan Tempore (Temporary Differences) Perbedaan Temporer Kena Pajak (Taxable Temporary Differences) Pajak Kini (Current Tax) Beban Pajak (Tax Expense) Perbedaan Temporer yang Boleh Dikurangkan (Deductible Temporary Differences) Pajak Tangguhan (Deferred Tax) Penghasilan Pajak (Tax Income) 50 TaxSys . Pengakuan pajak tangguhan dalam PSAK 46 dilakukan dengan menggunakan Balance Sheet Liability Method. agar dilakukan pengakuan (recognition) terhadap future tax effects yang timbul sebagai akibat adanya transaksi dan peristiwa yang telah diakui dalam laporan keuangan dan SPT.Akuntansi Perpajakan AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN POKOKPOKOK-POKOK PSAK 46 TUJUAN Mengatur perlakuan akuntansi pajak penghasilan Dalam akuntansi pajak penghasilan. Di samping itu agar dilakukan pengakuan terhadap future tax effects dari kompensasi kerugian fiskal yang belum digunakan (unused tax losses carryforward) apabila persyaratan tertentu dipenuhi. Pengakuan future tax effects diakui dengan mengakui adanya account pajak tangguhan (deferred tax liabilities atau deferred tax assets).

apabila persyaratan tertentu dipenuhi.Akuntansi Perpajakan Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liability) Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset) POKOKPOKOK-POKOK PSAK 46 DAN ASPEK TEKNIS YANG PERLU DIPAHAMI OLEH PERUSAHAAN Balance Sheet Approach For Deferred Taxes Apabila sebelumnya perusahaan lazimnya menggunakan tax payable method dalam akuntansi pajak penghasilan. TD adalah perbedaan antara Accounting Base yaitu nilai buku atas nilai tercatat aktiva dan kewajiban menurut pembukuan (akuntansi) dengan Tax Base yaitu nilai buku fiskal yang digunakan sebagai dasar pelaporan SPT PPh Badan (Formulir 1771). untuk penghasilan yang telah dikenakan PPh final tidak ada pengakuan aktiva dan kewajiban pajak tangguhan atas unsur aktiva dan kewajiban terkait. dilakukan juga pengakuan adanya aktiva pajak tangguhan (defeered tax assets) atas sisa kerugian fiskal yang belum dikompensasikan (tax loss carryforward). Di samping itu. maka kunci utama yang perlu dipahami adalah konsep tentang temporary differences (TD / perbedaan temporer). perlu kiranya diketahui bahwa penghasilan tertentu di Indonesia dikenakan PPh yang bersifat final. Dengan demikian. Untuk dapat menghitung dan mengakui pajak tangguhan berdasarkan balance sheet liability method sebagaimana diadopsi oleh PSAK 46. Di samping itu. perusahaan harus melakukan suatu perubahan mendasar dalam akuntansi pajak penghasilan karena harus menghitung dan mengakui pajak tangguhan (deferred tax) atas future tax effects dengan menggunakan balance sheet liability method atau disebut juga asset / liability method. maka dengan berlakunya PSAK 46. Apabila jumlah TD pada tanggal neraca telah diketahui dari pembandingan antara saldo menurut buku (per books) dan saldo menurut fiskal (per SPT). mengingat selama ini yang lazim diterapkan di berbagai negara dan juga dibahas dalam berbagai literatur adalah pengakuan pajak tangguhan (deferred tax) dengan menggunakan deferred method atau disebut juga income statement liability method. Penggunaan balance sheet liability method merupakan suatu hal yang baru dalam standar akuntansi. maka terhadap unsur aktiva dan kewajiban yang terkait dengan penghasilan yang telah dikenakan PPh final tersebut tidak boleh diakui adanya perbedaan temporer. maka pada tanggal neraca dapat dihitung jumlah aktiva pajak tangguhan (deferred tax assets / DTA) dan kewajiban pajak tangguhan (deffered tax liability / DTL) sebagai akibat TD tersebut. 51 TaxSys . Terhadap penghasilan yang telah dikenakan PPh final.

sedangkan unsur deferred tax sebagaimana dijelaskan pada butir 4 diatas. Periodic Review Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa pajak tangguhan (deferred tax) merupakan future tax effect yang timbul sebagai akibat transaksi dan peristiwa yang telah terjadi dan telah dilaporkan dalam laporan keuangan dan SPT yang diharuskan untuk diakui dalam laporan keuangan periode berjalan. Di samping itu. pengakuan DTA yang dilakukan terhadap rugi fiskal. Dengan berlakunya PSAK 46. dan future tax effect atas rugi fiskal tersebut juga tidak diakui dalam laporan laba-rugi. Dengan demikian. taksiran PPh akan diakui nihil apabila pada suatu tahun pajak perusahaan mengalami kerugian fiskal (tax loss) atau apabila jumlah sisa kompensasi kerugian masih lebih besar dari Penghasilan Kena Pajak tahun berjalan.Akuntansi Perpajakan Apabila saldo akhir DTA dan DTL yang berasal dari perbedaan temporer per tanggal neraca telah diakui. Provision For Income Taxes (Taksiran PPh) Selama ini perusahaan mengakui jumlah taksiran pajak penghasilan (provision for income taxes) di laporan laba rugi sesuai dengan jumlah yang terutang menurut SPT berdasarkan tax payable method. dapat segera diketahui perubahannya (kenaikan / penurunan) DTA / DTL. jumlah beban pajak (tax expense) atau provision for income taxes yang harus diakui terdiri dari dua unsur utama yaitu pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) ditambah satu unsur tambahan (apabila ada) yaitu income for benefit due to loss carryforward. apabila besar kemungkinan laba fiskal periode mendatang cukup memadai untuk dikompensasikan. yang selalu menghasilkan tax expense dalam bentuk Provision for income tax sebagai unsur pengurang Net Income Before Taxes. akan mempengaruhi jumlah penghasilan pajak tangguhan. realisasi DTA atau 52 TaxSys . Current tax merupakan jumlah PPh terutang atas penghasilan kena pajak periode berjalan. Jumlah kenaikan/penurunan DTA / DTL merupakan beban pajak tangguhan atau penghasilan pajak tangguhan (deferred tax expense atau deferred tax income) yang harus diperhitungkan dalam laporan laba-rugi periode berjalan. Bagi perusahaan yang selama ini menghitung taksiran PPh berdasarkan SPT (tax payable method). dengan jumlah minimal nihil. Dengan perkataan lain. maka dengan membandingkannya dengan saldo awal. Hal baru yang perlu diketahui adalah bahwa jumlah agregat current tax dan deferred tax tersebut dapat menghasilkan beban pajak (tax expense) suatu periode atau sebaliknya dapat juga menghasilkan suatu penghasilan pajak (tax income). PSAK 46 menghendaki agar dilakukan pengakuan terhadap future tax e2 t dari kerugian fiskal tersebut dalam laporan keuangan. Hal ini berbeda dengan tax payable method yang selama ini lazim diterapkan oleh perusahaan di Indonesia. rugi fiskal tahun berjalan (current tax loss) dan sisa kompensasi kerugian (tax loss carryforward) tidak diakui sebagai aktiva (assets) dalam neraca. yang menjadi unsur penambah Net Income (Loss) Before Taxes.

seperti tagihan restitusi PPh) dan kewajiban pajak kini (current tax liability. Apabila DTA diperkirakan tidak akan dapat direalisasi sepenuhnya maka harus diturunkan nilainya (write-down) dengan membentuk penyisihan. penyesuaian saldo laba awal periode (sebagai akibat koreksi kesalahan mendasar. Karena langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas. apabila terdapat perubahan tarif PPh atau perubahan ketentuan perpajakan yang secara substansial telah berlaku maka jumlah DTA dan DTL harus merefleksikan perubahan tersebut. 53 TaxSys . pembebanan atau pengkreditannya tidak dilakukan ke laba-rugi tetapi langsung ke ekuitas.Akuntansi Perpajakan penyelesaian DTL akan terjadi pada periode mendatang. dst). seperti selisih penilaian kembali aktiva tetap. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan (DTA / DTL) harus disajikan tersendiri sebagai unsur non current. maka jumlah yang telah diturunkan dapat dipulihkan kembali (write-up). seperti hutang PPh pasal 29. Walaupun deferred tax merefleksikan future tax effects yang diakui dalam laporan keuangan. terhadap DTA harus dilakukan periodic review untuk mengevaluasi realisasinya. DTA dan DTL harus di-offset dan disajikan neto. Perubahan tarif PPh maupun perubahan ketentuan perpajakan dapat mempengaruhi realisasi atau penyelesaian DTA dan DTL. sebagai berikut : 1. maka apabila ada current tax dan deferred tax yang terkait harus dikreditkan atau dibebankan ke ekuitas. Oleh karena itu. Oleh karena itu. DTA / DTL harus dipisahkan dengan aktiva pajak kini (current tax asset. pasal 25. Penyajian Sehubungan dengan penyajian laporan keuangan terdapat beberapa hal penting yang perlu diketahui. selisih kurs penjabaran laporan keuangan dan sebagainya. dsb). Dalam PSAK 46 tidak dinyatakan dengan tegas apakah DTA tidak boleh atau harus dikompensasikan (offset) dengan DTL dalam penyajian di neraca. Apabila DTA maupun DTL terkait dengan pengenaan pajak penghasilan oleh otoritas pajak yang sama dan terhadap entitas pajak yang sama serta terdapat legal right of set-off. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah apakah DTA dan DTL yang berasal dari berbagai entitas pajak yang berbeda dalam suatu laporan keuangan konsolidasi boleh disajikan neto? 2. Selanjutnya apabila pada periode berikut terdapat perubahan keadaan yang menambah tingkat keyakinan terhadap realisasinya. DTA tidak boleh didiskonto (discounted). maka berdasarkan IAS 12 (revised 1996). Direct Charge Or Credit To Equity Perlu pula disadari bahwa terhadap transaksi tertentu. perubahan kebijakan akuntansi yang diterapkan secara retrospektif.Aktiva pajak kini dan kewajiban pajak kini harus dioffset dan yang disajikan di neraca adalah jumlah netonya.

Sehubungan dengan mulai berlakunya PSAK 46. bagi perusahaan yang menerbitkan surat-surat berharga yang diperdagangkan kepada publik. Apabila ternyata terdapat kesalahan mendasar dalam penerapan ketentuan perpajakannya. Perlakuan akuntansi ini berbeda dengan praktek yang lazim berlaku saat ini. maka selisihnya (pokok dan denda) dibukukan sebagai pendapatan atau beban lain-lain. Dengan pemberlakuan PSAK 46 secara retrospektif berarti perlu dilakukan restatement terhadap informasi komparatif dan dilakukan penyesuaian (adjustment) terhadap saldo laba awal periode untuk masa sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif. Beban pajak (tax expense) atas penghasilan yang telah dikenakan PPh final. masing-masing harus disajikan secara terpisah. Tax expense (tax income) untuk aktivitas normal. PSAK 46 mulai berlaku untuk tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 1999. maka perlakuan akuntansi atas selisih tersebut mengacu pada PSAK 25. kecuali diajukan keberatan dan banding (dalam hal ini. Masalah Dalam Implementasi Permulaan PSAK 46 Sebagaimana diketahui. Berdasarkan paragraf 62-65 PSAK 25. 4. KESIMPULAN Harus diakui bahwa pajak tangguhan (deferred taxes) merupakan suatu konsep baru yang belum lazim digunakan dalam praktik akuntansi di Indonesia. Hal ini berarti harus dilakukan Intraperiod Tax Allocation. harus disajikan tersendiri. Selisih antara jumlah PPh Final yang terutang dengan PPh Final yang dibebankan dalam labarugi diakui sebesar PPh dibayar dimuka atau PPh yang masih harus dibayar. penerapan SAK (baru) dilakukan secara retrospektif kecuali apabila dalam masa transisi dinyatakan lain. Pengungkapan Berbagai pengungkapan yang cukup rinci diwajibkan oleh PSAK 46.Akuntansi Perpajakan 3. sedangkan bagi perusahaan lainnya dimulai Januari 2001. Mengingat dalam PSAK 46 harus dilakukan secara retrospektif karena terjadi perubahan kebijakan akuntansi sebagaimana diatur dalam paragraf 62-65 PSAK 25. 54 TaxSys . apabila jumlahnya berbeda dengan SPT. sebagaimana diatur dalam paragraf 77-PSAK 16. Perlakuan Akuntansi Atas SKP Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang diterbitkan oleh DJP. diakui dalam laporan laba-rugi sebagai pajak kini (current tax) secara proporsional dengan jumlah pendapatan periode berjalan yang diakui menurut akuntansi. walaupun opsi penerapan pajak tangguhan dalam akuntansi pajak penghasilan telah diperkenankan di Indonesia sejak 1 Januari 1995. tambahan pokokdan denda ditangguhkan pembebanannya). timbul berbagai pertanyaan tentang apakah implementasi PSAK 46 dilakukan secara prospektif atau retrospektif.

100.Akuntansi Perpajakan Perubahan orientasi dalam pendekatan yang digunakan oleh standar akuntansi dalam akuntansi pajak penghasilan dari pendekatan lama yang masih bersifat income statement approach ke pendekatan baru yang lebih condong ke balance sheet approach telah menambah kompleksitas baru bagi para akuntan.525% Baik secara akuntansi maupun pajak.- 55 TaxSys .000.000. Setelah masa SGU berakhir.000. Rp.00 4 tahun 3 tahun Security Deposit Hak Opsi Taksiran Umur Mesin Masa SGU Angsuran per triwulan dibayar dibelakang Tingkat bunga per triwulan Rp. 250.000. secara akuntansi mesin tersebut disusutkan sesuai dengan sisa masa manfaatnya.00 10. mesin tersebut disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus. Mengingat tahun 1999 merupakan tahun pertama implementasi PSAK 46 bagi emiten di Indonesia.000. Harga Mesin (Tidak termasuk PPN) Taksiran Nilai Residu Rp. CONTOH KASUS Tanggal 1 Juli 2001 PT ABYAN (Lessee yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak) memperoleh mesin (Aktiva Tetap Kelompok I) dari PT AINI (Lessor). Pada tanggal 20 Maret 2009 Mesin tersebut dijual dengan harga Rp. maka tentunya akan ditemukan berbagai masalah teknis baik dalam pemahaman maupun dalam implementasinya.000.000.000.00 5. akhirnya sesuatu yang baru dapat dikuasai dengan konsep “bisa karena biasa”. Rp. Sedangkan secara pajak mesin tersebut masuk Aktiva Tetap Kelompok I.000. Mesin tersebut dibeli oleh PT AINI dari PT BRILIAN (Supplier yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak). Namun demikian.00 10. 15. karena litreratur lama dalam akuntansi pajak penghasilan masih banyak yang menggunakan income statement approach.00 10. 28. Perubahan pendekatan tersebut tentunya akan menuntut perubahan “pola berpikir” par aakuntan dalam upaya memahami esensi PSAK 46. Rp.000.000.

200.680.026 2.000 193.978.421.000 28.358 6.400.408 139.000 337.288.825.200.600.927 70.000 28.625% PER TRIWULAN NO TANGGAL JUMLAH PEMBAYARAN ANGSURAN POKOK 0 14.808.485.415.039 50.000 28.207.311 4.250 16.684.712 19.690.204.120 158.000 28.689 23.680.895.021.200.100.000 112.000 28.000.000 12.100.039 0 56 TaxSys .235.250 30.468 25.060 50.000 56.481 118.200.538.811.000 28.731 7.288 8.283.055 176.198.000 28.987 97.000 209.100.090 22.000 28.172.905.073 41.312.013 240.100.100.750 26.178.974 25.117.269 20.840 97.100.861.100.642 21.842.000 28.194.100.750 01-Jul-01 1 2 30-Sep-01 31-Des-01 Sub Total 3 4 5 6 31-Mar-02 30-Jun-02 30-Sep-02 31-Des-02 Sub Total 7 8 9 10 31-Mar-03 30-Jun-03 30-Sep-03 31-Des-03 Sub Total 11 12 31-Mar-04 30-Jun-04 Sub Total TOTAL 0 28.000 PEMBAYARAN BUNGA 0 13.000 28.892.000 28.419.000 15.274.480.400.910 5.750 11.916.749 74.532 2.100.014 25.066 9.678.047 88.427.934 18.000 SISA POKOK 240.619.000 225.695 17.927.305 10.201.100.953 24.100.000.Akuntansi Perpajakan DAFTAR PEMBAYARAN SGU – DENGAN HAK OPSI TINGKAT BUNGA = 5.916.400.000 112.100.864.000 56.961 5.500.

Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara yang didasarkan pada pertimbangan hukum. Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan penerbitan saham atau dengan penyerahan kas. Penggabungan usaha dapat berupa pembelian saham suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau pembelian aktiva neto suatu perusahaan. 57 TaxSys . Pernyataan ini mengatur akuisisi (acquisition) suatu perusahaan oleh perusahaan lainnya dan juga penyatuan kepemilikan (uniting/pooling of interest) apabila pengakuisisi tidak dapat diidentifikasi. aktiva setara kas. Akuntansi untuk akuisisi mencakup penentuan biaya perolehan (cost of Accuisition). alokasi biaya perolehan (cost) pada aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi. Dalam keadaan demikian. dan akuntansi untuk goodwill yang timbul pada saat setelah akuisisi. perpajakan. maka perlakuan akuntansinya harus mengacu pada pernyataan ini. Kepemilikannya pada anak perusahaan dicatat sebagai investasi (penyertaan) pada anak perusahaan.Akuntansi Perpajakan RESTRUKTURISASI RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN ASPEK AKUNTANSI RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN PSAK ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk penggabungan usaha (business combination). identifikasi terhadap aktiva dan kewajiban. terlepas dari bentuk hukum yang dipilih dalam melakukan penggabungan usaha. Penggabungan usaha dapat menyebabkan timbulnya hubungan induk dan anak perusahaan. Masalah akuntansi lain sehubungan dengan penggabungan usaha adalah penentuan jumlah kepemilikan minoritas. Penggabungan usaha dapat berupa pembentukan suatu badan usaha baru (new enterprise) untuk mengendalikan perusahaan yang bergabung. pengalihan aktiva neto dari satu atau lebih badan usaha yang bergabung kepada badan usaha lain atau pembubaran satu atau lebih badan usaha yang bergabung. dan pengungkapan yang diperlukan. perubahan yang terjadi atas biaya perolehan. Apabila substansi dari transaksi konsisten dengan definisi penggabungan usaha dalam pernyataan ini. atau alasan lainnya. induk perusahaan menerapkan pernyataan ini dalam laporan keuangan konsolidasinya. atau aktiva lainnya. Transaksi dapat terjadi antar pemegang saham perusahaan yang bergabung atau antar suatu perusahaan dengan pemegang saham perusahaan lain. akuntansi untuk serangkaian akuisisi selama suatu periode tertentu.

yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquiree). salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh kendali atas perusahaan lain. aktiva dan kewajiban dari dua atau lebih perusahaan dialihkan ke perusahaan baru dan kedua perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan. Dalam keadaan tersebut. Suatu legal merger biasanya merupakan merger dua badan usaha melalui salah satu cara berikut ini : 1. Akuisisi (Acquisition) Pada dasarnya. aktiva dan kewajiban dari suatu perusahaan dialihkan ke perusahaan lain dan perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan. Penyatuan kepemilikan (uniting of interest / pooling of interest) adalah suatu penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh. mengakui suatu kewajiban. serta dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi. pada semua penggabungan usaha. termasuk goodwill.Akuntansi Perpajakan Penggabungan usaha (busines combination) dapat dilakukan melalui pembelian aktiva neto. atau mengeluarkan saham. dengan memberikan aktiva tertentu. atau secara efektif seluruh aktiva neto dan operasi perusahaan yang bergabung tersebut dan selanjutnya memikul bersama segala risiko dan manfaat yang melekat pada entitas gabungan. Transaksi demikian diluar cakupan pernyataan ini karena merupakan transaksi antar perusahaan dibawah pengadilan yang sama (under common control). Akuisisi (Acquisition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan. sehingga tidak ada pihak yang dapat diidentifikasi sebagai peruahaan pengakuisisi (acquirer). perusahaan pengakuisisi menerapkan pernyataan ini dalam penyusunan laporan keuangannya sendiri. Seringkali legal merger terjadi dalam rangka restrukturisasi atau reorganisasi dari suatu grup. Pengendalian (control) diasumsikan diperoleh apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh 58 TaxSys . Penggabungan usaha (busines combination) dapat mengakibatkan terjadinya legal merger. Penggabungan usaha tersebut tidak menyebabkan timbulnya hubungan induk dan anak perusahaan. atau 2. Penggabungan usaha (Bussines Combination) adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain. dari badan usaha lain dan bukan pembelian saham badan usaha lain tersebut.

akan tetapi terdapat salah satu indikasi berikut untuk menentukan pengakuisisi (acquirer). Dalam hal ini. perusahaan yang lebih besar tersebut adalah pengakuisisi. Reverse Acquisition Kadangkala suatu perusahaan memperoleh saham perusahaan lain tetapi. perusahaan pengakuisisi mungkin tetap dapat diidentifikasi apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh : 1. akan tetapi perusahaan yang pemegang sahamnya sekarang mengendalikan perusahaan gabungan adalah perusahaan pengakuisisi yang menikmati hak suara tersebut atau kekuasaan lainnya seperti dijelaskan pada paragraf 10.Akuntansi Perpajakan lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain. Meskipun secara formal perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dapat disebut sebagai induk perusahaan. Contoh : Nilai wajar suatu perusahaan yang bergabung lebih besar secara signifikan daripada perusahaan lainnya. kecuali apabila dapat dibuktikan sebaliknya bahwa tidak terdapat pengendalian walaupun pemilikan lebih dari 50%. Akuisisi ini disebut Reverse Acquisition. 3. kekuasaan (power) lebih dari 50% hak suara atas perusahaan yang lain tersebut berdasarkan perjanjian dengan investor lain. pengurus perusahaan yang lain tersebut. kekuasaan (power) untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi perusahaan laoin tersebut berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian. Perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dianggap telah diakuisisi oleh 59 TaxSys . perusahaan yang membayar tunai tersebut adalah perusahaan pengakuisisi. atau Penggabungan usaha mengakibatkan manajemen suatu perusahaan mendominasi penentuan anggota manajemen perusahaan gabungan. Dalam hal ini. 2. perusahaan tersebut mengeluarkan sahamnya yang berhak suara (voting shares) dalam jumlah tertentu sehingga menyebabkan pengendalian perusahaan atas perusahaan gabungan beralih ke pemegang saham perusahaan yang sahamnya telah diakuisisi. Dalam hal ini. perusahaan yang dominan tersebut adalah perusahaan pengakuisisi. Walaupun kadangkala sulit untuk mengidentifikasi perusahaan pengakuisisi. Meskipun salah satu dari perusahaan yang bergabung tidak memiliki lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain. sebagai bagian dari suatu transaksi pertukaran. kekuasaan untuk mendapatkan hak suara mayoritas dalam rapat direksi perusahaan yang lain tersebut. Penggabungan usaha dilaksanakan melalui pertukaran saham berhak suara (voting common shares) dengan uang kas.

Tidak ada pihak dominan yang timbul dari penggabungan tersebut.Akuntansi Perpajakan perusahaan lain yang bergabung. relatif sama dengan sebelum perusahaan bergabung. Penyatuan Kepemilikan (Uniting of Interest) Dalam keadaan tertentu mungkin sulit sekali mengidentifikasi pengakuisisi. kesepakatan finansial secara relatif menguntungkan sekelompok pemegang saham dari suatu perusahaan dibandingkan dengan kelompok pemegang saham lainnya. Pembagian bersama risiko dan manfaat secara seimbang biasanya tidak mungkin tanpa adanya pertukaran hak suara yang seimbang antar perusahaan-perusahaan yang bergabung. Meskipun demikian. Di samping itu. para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama berbagi risiko dan manfaat atas perusahaan gabungan tersebut. tidak boleh terjadi penurunan signifikan atas hak suara pada salah satu dari perusahaan yang bergabung. agar keseimbangan pertukaran menjadi efektif. para pemegang saham setiap perusahaan tetap mempertahankan hak suara dan kepemilikan yang seimbang dalam perusahaan gabungan. dan perusahaan lain tersebut dianggap sebagai perusahaan pengakuisisi dan dengan demikian harus menerapkan metode pembelian atas aktiva dan kewajiban perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut. akan tetapi para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama mengendalikan seluruh (atau secara efektif seluruh) aktiva neto dan operasi. Pembagian risiko dan manfaat secara seimbang pada perusahaan gabungan semakin berkurang dan perusahaan pengakuisisi semakin dapat diidentifikasi bila : (a) (b) keseimbangan nilai wajar perusahaan yang bergabung menurun dan persentase saham berhak suara yang dipertukarkan berkurang. dan 60 TaxSys . Akibatnya. Pertukaran tersebut menjamin bahwa porsi pemilikan perusahaan yang bergabung dan juga risiko serta manfaat pada perusahaan gabungan dapat dipertahankan dan wewenang kedua belah pihak dalam pengambilan keputusan tetap terlindungi. Untuk mencapai pembagian risiko dan manfaat secara seimbang antar perusahaan yang bergabung maka : (a) (b) mayoritas dari saham berhak suara perusahaan yang bergabung dipertukarkan atau digabungkan. manajemen perusahaan-perusahaan yang bergabung menjadi bagian dari manajemen perusahaan gabungan. Penggabungan usaha demikian diperlukan sebagai penyatuan kepemilikan (uniting of interest). agar tidak ada salah satu pihak yang pengaruhnya berkurang. Kesepakatan finansial tersebut dapat terjadi baik sebelum maupun setelah penggabungan usaha.

61 TaxSys . Hal ini dilakukan karena dalam akuisisi terjadi transaksi pengalihan aktiva. peleburan atau pemekaran usaha. timbulnya kewajiban atau penerbitan saham dalam rangka memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan lain. peleburan dan pemekaran usaha”. ASPEK ASPEK PAJAK RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN Umum Mulai Juli 1997 sampai sekarang krisis ekonomi Indonesia belum berakhir. peleburan dan pemekaran usaha. Peraturan tentang restrukturisasi diharapkan dapat memberikan stimulus ekonomi dan membangkitkan dunia usaha sehingga ekonomi nasional dapat segera pulih. Peraturan mengenai restrukturisasi perusahaan bertujuan memberikan kelonggaran bagi wajib pajak dalam membayar pajak khususnya dampak perpajakan akibat penggabungan. Peraturan perpajakan ini dikeluarkan mulai tahun 1998. penggabungan dan pemekaran usaha. c. Penggunaan metode pembelian untuk akuisisi suatu perusahaan dibukukan seperti halnya pembelian aktiva lainnya. Peraturan ini untuk mengantisipasi sekaligus menjadi petunjuk bagi wajib pajak yang melakukan penggabungan. Akuisisi (Acquisition) Penggabungan usaha melalui akuisisi harus dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode pembelian. Namun di sisi lain negara akan kehilangan penerimaan pajak akibat adanya peraturan mengenai peleburan. Krisis ekonomi mempunyai dampak yang sangat luas sekali. d. Namun penerimaan pajak yang hilang ini akan dapat ditutup dengan pulihnya perekonomian. perusahaan rugi dan kemudian menutup tempat usahanya perusahaan rugi dan kemudian bergabung dengan perusahaan lain perusahaan rugi dan kemudian membentuk perusahaan baru perusahaan rugi dan kemudian melakukan pemekaran usaha Peraturan perpajakan telah mengantisipasi dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia dengan mengeluarkan seperangkat aturan mengenai “perlakuan pajak bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan penggabungan usaha. Dampak dari krisis ekonomi yang secara nyata dialami dunia bisnis adalah : a. sebagaimana diatur pada paragraf 19-56.Akuntansi Perpajakan (c) bagian ekuitas salah satu pihak pada perusahaan gabungan tergantung pada kinerja yang akan dicapai oleh perusahaan setelah penggabungan terjadi. Metode pembelian menggunakan biaya perolehan (cost) sebagai dasar untuk mencatat akuisisi tersebut. Hal ini sesuai dengan tujuan pajak yaitu sebagai regulator. b.

04 / 1998 tanggal 09 September 1998.04 / 1998 tanggal 09 September 1998. Peraturan ini mengubah Pasal 4 KMK-422 / KMK. Tahap Kedua : Peraturan perpajakan yang keluar adalah : KMK-469 / KMK. Untuk dapat melakukan penggabungan. Kronologis peraturan perpajakan mengenai restrukturisasi perpajakan Tahap Pertama : Peraturan perpajakan yang keluar adalah KMK-422 / KMK.04 / 1995 jo KMK-117 KMK. dan keuntungan karena pengalihan harta. Aspek perpajakan yang ada adalah BPHTB. wajib pajak mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak dan melunasi seluruh utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait.04 / 1998 tidak berlaku lagi. PPN Pasal 16D. Wajib pajak yang melakukan penggabungan. Definisi Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung.04 / 1998 tanggal 30 Oktober 1998. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung. peleburan dan pemekaran usaha akan dapat berdampak bagi pihak yang mengalihkan (transferor company) maupun pihak yang menerima pengalihan (acquiring company). Dengan keluarnya aturan ini maka KMK-637 / KMK. 62 TaxSys . peleburan dan pemekaran usaha tidak boleh mengalihkan kerugian / sisa kerugian badan usaha lama kecuali WP tersebut melakukan revaluasi aktiva tetapnya terlebih dahulu dan masih aktif menjalankan usaha dan WP yang menerima penggabungan usaha atau WP hasil peleburan usaha harus aktif menjalankan usaha sekurang-kurangnya sampai dengan 2 (dua) tahun setelah selesainya proses penggabungan atau peleburan usaha. Pemekaran usaha adalah pemisahan satu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama. PPh Pengalihan Tanah dan Bangunan.04 / 1994 jo KMK-474 / KMK. peleburan dan pemekaran usaha dengan menggunakan nilai buku.Akuntansi Perpajakan Dampak penggabungan.

/ 1999. PMK-43/PMK. Dalam tahap ini Dirjen Pajak mengeluarkan panduan dan petunjuk komprehensif bagi wajib pajak yang ingin menggunakan nilai buku maupun harga pasar dalam penggabungan usaha. KMK-180 / KMK.04 / 1999.42 / 1999 tanggal 26 Mei 1999. KEP-141 / PJ. SE-21 / PJ. KMK-211/KMK. KEP-20 / PJ. 63 TaxSys .03/2008.03/2003 Jo.04 / 1999 tanggal 24 Agustus 1999 Jo. dan SE-118 / PJ. peleburan dan pemekaran usaha. / 1999.Akuntansi Perpajakan Tahap Ketiga : Dikeluarkan peraturan KMK-434 / KMK. / 1999.

kecuali uang kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham yang tidak setuju (disapproving shareholders). Penggabungan Usaha Ke Induk Perusahaan (upstream merger) Dalam penggabungan usaha ke induk perusahaan sebelum penggabungan. Penggabungan Usaha (Merger) a. ruang lingkup dan macam-macam penggabungan usaha. Catatan : dalam penggabungan usaha ke induk perusahaan ini. Para pemegang saham minoritas (minority shareholders) dari anak perusahaan dapat memilih menjadi pemegang saham dari induk perusahaan atau menukarkan sahamnya pada anak perusahaan dengan uang tunai dan anak perusahaan menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam induk perusahaan. dan utang dari satu badan atau lebih (transferor company) dialihkan kepada badan usaha lainnya (acquiring company). dan utang anak perusahaan dialihkan kepada induk perusahaan. suatu induk perusahaan (parent company) memiliki saham pada anak perusahaan (subsidiary company) dalam proses penggabungan maka semua aktiva kecuali uang kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham yang tidak setuju (disapproving shareholders). Buku panduan tersebut dikeluarkan dengan SE-21 / PJ. Bentuk Umum Penggabungan Usaha (Basic Merger) Bentuk umum penggabungan usaha adalah sebagai berikut semua aktiva. induk perusahaan adalah badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring 64 TaxSys . peleburan dan pemekaran mengharuskan Dirjen Pajak mengeluarkan aturan tentang definisi. Isi ringkasnya adalah : 1. Para pemegang saham dari badan usaha yang mengalihkan harta tersebut yang setuju dengan penggabungan usaha (approving shareholders) menjadi pemegang saham dari badan yang menerima pengalihan harta dan badan usaha yang mengalihkan harta tersebut menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam badan usaha yang menerima pengalihan harta. b.Akuntansi Perpajakan JENISJENIS-JENIS PENGGABUNGAN USAHA PENDAHULUAN Banyaknya perusahaan yang melakukan perubahan bentuk usaha dengan melakukan merger. / 999.

kecuali uang kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham yang tidak setuju (disapproving shareholders) dan utang perusahaan induk dialihkan kepada anak perusahaan dan para pemegang saham dari induk perusahaan yang setuju dengan penggabungan usaha (approving shareholders) menjadi pemegang saham dari anak perusahaan serta induk perusahaan menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam anak perusahaan. c. c. sebelum penggabungan suatu induk perusahaan (subsidiary company) dalam proses penggabungan maka semua aktiva. Bentuk-bentuk Transaksi Lainnya dengan Substansi Ekonomis yang Serupa 65 TaxSys .Akuntansi Perpajakan company). kecuali kas yang dibayarkan pada para pemegang saham yang tidak setuju (disapproving shareholders) dan utang dari dua badan usaha atau lebih (transferor companies) dialihkan kepada badan usaha baru (acquiring company). d. Pemegang saham dari masing-masing badan usaha yang menyetujui peleburan usaha (approving shareholders) menjadi pemegang saham dari badan usaha yang menerima pengalihan harta. Dalam proses penggabungan. kecuali uang kas yang dibayarkan pada para pemegang saham yang tidak setuju (disapproving shareholders) dan utang dari badan usaha yang mengalihkan harta dialihkan kepada badan usaha yang menerima pengalihan harta (dengan atau tanpa penerbitan saham baru) dan badan usaha yang mengalihkan harta menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam badan usaha yang menerima pengalihan harta. Penggabungan Usaha Ke Anak Perusahaan (Downstream Merger) Dalam penggabungan usaha ke anak perusahaan. Penggabungan Usaha Horisontal (Brother – Sister Merger) Dalam penggabungan usaha horizontal. maka : a. dan anak perusahaan adalah badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company). b. Semua aktiva. sebelum penggabungan pemegang saham yang sama memiliki saham pada badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring company) dan pada badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company). induk perusahaan adalah badan usaha yang mengalihkan hartanya (transferor company) dan anak perusahaan adalah badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring company). Catatan : dalam penggabungan usaha ke anak perusahaan ini. maka semua aktiva. d. Badan-badan usaha yang mengalihkan harta menghentikan kegiatan usahanya dan dilebur menjadi badan usaha baru. 2. Peleburan Usaha (Consolidation) Dalam peleburan usaha. Kedua badan usaha tersebut merupakan badan-badan usaha yang setara tingkatannya (brother sister companies).

Direktorat Jendral Pajak mempunyai mempunyai kewenangan untuk menentukan apakah suatu transaksi memenuhi definisi penggabungan usaha (merger) atau peleburan usaha (consolidation) apapun bentuk dan nama transaksi tersebut.Akuntansi Perpajakan e. sepanjang dimungkinkan oleh Undang-undang Nomor 1 / 1995 tentang Perseroan Terbatas (atau undang-undang penggantian) dan substansi ekonomisnya serupa dengan salah satu bentuk penggabungan usaha. Pemekaran Usaha (Expansion) Dalam pemekaran usaha (expansion) badan usaha yang telah ada (“parent company”) mengalihkan sebagian harta dan untungnya kepada badan usaha yang baru dibentuk (“subsidiary company”) sebagian pengganti saham dan badan usaha baru tersebut. 3. 66 TaxSys . sehingga dengan demikian induk perusahaan tetap melanjutkan usahanya dengan harta yang tersisa dan anak perusahaan melakukan usaha barunya dengan harta yang dialihkan kepadanya.

sepanjang wajib pajak menyelenggarakan wajib pajak menyelenggarakan pembukuan yang memadai sehingga jelas perbedaan antara nilai buku fiskal dan nilai buku komersial. maka kondisi dan persyaratan yang ada harus dipenuhi.Akuntansi Perpajakan RESTRUKTURISASI SYARAT RESTRUKTURISASI RESTRUKTURISASI DENGAN MENGGUNAKAN NILAI BUKU Penjelasan berikut memberikan penjelasan tentang pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku dalam rangka penggabungan usaha (merger) peleburan usaha (consolidation) dan pemekaran usaha (expansion) yang memenuhi persyaratan. Dalam pemekaran usaha yang memenuhi syarat. 67 TaxSys . 2. 1. Untuk dapat memenuhi syarat sebagai pemekaran usaha dengan menggunakan nilai buku (tax neutral expansion) suatu transaksi harus memenuhi definisi pemekaran usaha (penggabungan. PEMEKARAN EXPANSION) USAHA YANG MEMENUHI PERSYARATAN (QUALIFYING Kondisi Dan Persyaratan Yang Harus Dipenuhi Suatu pemekaran usaha dapat diperlakukan sebagai pemekaran usaha yang memenuhi syarat (tax neutral expansion). harus dicatat oleh anak perusahaan sesuai dengan nilai buku komersial. susunan para pemegang saham boleh berubah. peleburan dan pemekaran) dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan aturan penggabungan. Penggunaan Nilai Buku Fiskal Harta dan induk perusahaan (parent company) yang dialihkan kepada anak perusahaan (subsidiary company) dalam suatu pemekaran usaha. dan nilai utang yang terkait dengan harta yang dialihkan kepada anak perusahaan. Utang Tidak Boleh Melebihi Nilai Buku Fiskal Jumlah dari : nilai utang induk perusahaan yang dialihkan kepada anak perusahaan. tidak boleh melebihi jumlah nilai buku fiskal dari harta yang dialihkan kepada anak perusahaan. pemekaran dan peleburan usaha.

Persetujuan (a) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Dalam pemekaran usaha. Sebelum rencana tersebut dilaksanakan. Penawaran saham kepada publik harus dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun sejak disetujuinya pemekaran usaha oleh Direktorat Jenderal Pajak. Batas waktu 1 tahun tersebut dapat diperpanjang dengan tambahan 2 tahun oleh Kepala Kantor Wilayah karena alasan-alasan diluar kekuasaan wajib pajak. permohonan kepada Kantor Wilayah harus menyertakan fotocopi surat-surat yang telah diajukan ke badan Pemerintah tersebut.Akuntansi Perpajakan 3. selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah proses pemekaran usaha berlaku secara efektif. dan menawarkan penjualan saham-sahamnya dalam public offering. tanpa memperhatikan (dalam hal-hal tertentu) apakah badan Pemerintah lainnya (seperti Departemen Kehakiman / HAM atau BKPM) harus menyetujui aspek rencana pemekaran usaha. jangka waktu 3 tahun ini dapat diperpanjang lagi dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. induk perusahaan (Parent company) harus mengajukan permohonan persetujuan pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang membawahi Kantor Pelayanan Pajak tempat induk perusahaan yang bersangkutan terdaftar. Jika permohona dianggap belum lengkap. dan menjelaskan data / informasi tambahan yang diperlukan untuk melengkapi permohonannya. (c) Surat keputusan Persetujuan / Penolakan Kepala Kantor Wilayah harus menerbitkan surat keputusan persetujuan atau penolakan atau permohonan tersebut dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. Dalam hal tersebut. Persyaratan Penawaran Kepada Publik Sebelum akhir periode baik induk perusahaan atau anak perusahaan harus : Menyerahkan pernyataan pendaftaran kepada BAPEPAM untuk penawaran saham kepada publik (public offering). 4. (b) Kelengkapan Permohonan Permohonan dianggap lengkap dan memenuhi syarat untuk mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah. Kepala Kantor Wilayah tidak menerbitkan surat keputusan dan (dalam hal permohonan tidak lengkap) tidak meminta data / 68 TaxSys . Apabila diperlukan. kepala kantor wilayah harus memberitahukan kepada pemohon secara tertulis segera setelah tanggal penerimaan permohonan yang pertama. Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak diterimanya permohonan secara lengkap.

(d) Hak Untuk Mengajukan Peninjauan Kembali Apabila terjadi perselisihan antara pemohon dengan Kepala Kantor Wilayah mengenai ketentuan yang berlaku. keduanya harus menggunakan laporan hasil pemeriksaan Akuntan Publik yang menyatakan bahwa : akuntan publik telah melakukan pemeriksaan buku dan catatan badan usaha yang bersangkutan dan pembukuan dan catatan tersebut. harus sudah melunasi semua tunggakan ketetapan pajak. telah menyajikan keadaan keuangan badan usaha secara wajar pada akhir tahun pajak yang diperiksa.Akuntansi Perpajakan informasi tambahan secara tertulis. maka permohonan dianggap disetujui dan kepala pemohon diberikan keputusan persetujuan. menurut pendapat akuntan. (e) Akibat / Konsekwensi Penolakan Apabila permohonan untuk persetujuan pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku dalam rangka pemekaran usaha ditolak oleh Direktorat Jenderal Pajak. (f) Pelunasan Tunggakan Ketetapan Pajak Induk perusahaan (parent company). pengalihan harta tersebut harus dinilai berdasarkan harga pasar. (g) Pemeriksaan Akuntan Publik Untuk tahun pajak di mana induk perusahaan (parent company) melakukan pemekaran usaha dan untuk tahun pajak pertama bagi anak perusahaan (subsidiary company) baru. dan atas keuntungan yang diperoleh terutang Pajak Penghasilan. dengan kualifikasi yang harus dinyatakan secara jelas dalam laporan. dan pembukuan dan catatan tersebut dapat direkonsiliasi dengan pembukuan dan catatan untuk tujuan perpajakan. 69 TaxSys . Kepala Kantor Wilayah tidak akan menunda proses pemekaran usaha dalam hal wajib pajak sedang dilakukan pemeriksaan pajak. sebelum mendapatkan persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah. atau dalam hal permohonan di tolak oleh Kepala Kantor Wilayah pemohon dapat mengajukan permasalahannya kepada Direktur Jenderal Pajak.

Pajak Pertambahan Nilai Induk perusahaan terutang Pajak Pertambahan Nilai atas pengalihan harta kepada anak perusahaan dengan dasar pengenaan pajak sebesar nilai buku (sesuai dengan Pasal 16DUU 18 Tahun 2000) 3.000. Induk perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau kerugian atas pengalihan sebagian hartanya kepada anak perusahaan baru dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat. A adalah sebesar Rp. 5. 20. 50. 20. Kompensasi Kerugian Fiskal Induk Perusahaan (Parent Company) Kerugian fiskal dari induk perusahaan tidak dapat dialihkan kepada anak perusahaan dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat. 70 TaxSys . Tidak Ada Keuntungan Atau Kerugian Akibat Pengalihan Harta. dan Utang dengan nilai buku fiskal sebesar Rp. Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Hak&Kewajiban Wajib Pajak (Parent Company) Hak dan kewajiban perpajakan induk perusahaan tidak dapat dialihkan kepada anak perusahaan dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat. Oleh karenanya.000. Nilai Buku Fiskal Saham Anak Perusahaan (Subsidiary Company) Induk perusahaan harus mencatat nilai buku fiskal saham anak perusahaan yang diterimanya sama dengan nilai buku fiskal dari harta yang dialihkan kepada anak perusahaan. B yang harus dicatat oleh PT. termasuk Pajak Penghasilan sebesar 5% atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (PP 27 Tahun 1996) 2. Contoh : PT A (Parent Company) mengalihkan kepada PT B (Subsidiary Company) : harta dengan nilai buku fiskal sebesar Rp.000.000. 30. setelah dikurangi dengan jumlah utang yang dialihkan kepada anak perusahaan.000. Perlakuan Terhadap Induk Perusahaan (Parent Company) 1. 4. Nilai buku fiskal saham PT.000. induk perusahaan tidak terutang Pajak Penghasilan dari pengalihan harta tersebut. 50.Akuntansi Perpajakan Konsekuensi Perpajakan Bagi Pemekaran Usaha Yang Memenuhi Syarat.000).000.000 (Rp.000 – Rp.

Tidak Ada Keuntungan Atau Kerugian Akibat Pengalihan Harta. Pemungutan / Pemotongan Pajak Penghasilan Atas transaksi penjualan saham yang terdaftar di bursa terutang (dipungut / dipotong) Pajak Penghasilan sebesar 0.Akuntansi Perpajakan 6. demikian juga tidak diharuskan untuk melunasi PPN yang ditunda pengenaannya berdasarkan fasilitas “masterlist”. Oleh karena itu. Tambahan PPh final sebesar 0.5% dikenakan terhadap saham pendiri dalam penawaran saham perdana (initial public offering). Anak Perlakuan Terhadap Anak Perusahaan (Subsidiary Company) 1. Badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company) tidak memperoleh keuntungan atau kerugian sebagai akibat dari pengalihan harta. Pajak Pertambahan Nilai Atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha tidak terhutang PPN. badan usaha yang melakukan pengalihan harta tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan. Perlakuan Perpajakan terhadap Badan Usaha Yang Melakukan Pengalihan Harta (Transferor Company) a. Namun perlu diingat bahwa Pasal 16D UU 18 Tahun 2000 menyebutkan pengalihan aktiva bekas merupakan objek PPN. 2. 71 TaxSys . Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) Anak perusahaan terutang BPHTB sebesar 5% atas perolehan atas tanah dan bangunan dan pengalihan harta (Pasal 2 UU 20 Tahun 2000) 3.1% dari nilai transaksi. Nilai Buku Fiskal Harta Anak perusahaan akan mencatat nilai harta yang diterima dari induk perusahaan dengan nilai buku fiskal yang sama sebagaimana yang tercatat dalam pembukuan induk perusahaan pada saat pengalihan. termasuk Pajak Penghasilan sebesar 5% atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (PP 27 Tahun 1996) b. Tidak Ada Keuntungan Ataupun Kerugian Atas Perolehan Harta Anak perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau kerugian dari perolehan harta induk perusahaan dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat.

tahun pajak terakhir bagi PT. maka tidak ada penghasilan maupun biaya yang timbul sebagai akibat kompensasi timbal-balik (offset) atas utang-piutang tersebut. d. Tahun pajak terakhir bagi PT B adalah keseluruhan tahun pajak (2002) yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2002. Tanggal 31 Desember 2002 PT B efektif bergabung ke dalam PT A. B menggunakan tahun buku (1 Oktober-30 September). Contoh (3) : Tahun pajak PT A menggunakan tahun takwim (1 Jan-31 Des) PT. pengurangan. dan PT B melaporkan SPT PPh untuk bagian tahun pajak (2002) tersebut. Kompensasi Timbal-Balik (Offset) Utang-Piutang Apabila sebelum dilakukan penggabungan atau peleburan usaha. Tanggal 30 Nopember 2002 PT B efektif bergabung dengan PT A. Tahun Pajak Terakhir Bagi Badan Usaha Yang Mengalihkan Harta (Transferor Company) Tahun pajak terakhir bagi badan usaha yang melakukan pengalihan harta akan berakhir pada tanggal berlakunya penggabungan atau peleburan usaha. antara badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company) dan badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring company) satu sama lain mempunyai hubungan utang-piutang. 72 TaxSys . B akan merupakan bagian tahun pajak (2002) mulai dari tanggal 1 Januari 2002 sampai dengan tanggal 31 Oktober 2002. Tahun pajak terakhir bagi PT B akan merupakan bagian tahun pajak (2003) mulai dari tanggal 1 Oktober 2002 sampai dengan tanggal 30 Nopember 2002. dan kredit pajak serta seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan kegiatan usaha PT B sejak tanggal 1 Nopember 2002 sampai dengan 31 Desember 2002 harus dimasukkan kedalam SPT PPh PT A untuk tahun pajak 2002. Contoh (2) : Dengan tahun pajak yang sama dengan tahun kalender seperti Contoh (1). Dan PT B masih melaporkan SPT PPh untuk bagian tahun pajak serta seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan kegiatan usaha PT B sejak tanggal 1 Desember sampai dengan 31 Desember 2002 harus dimasukkan ke dalam SPT PPh PT A untuk tahun pajak 2002.Akuntansi Perpajakan c. Dalam hal ini. PT A dan PT B masih melaporkan SPT PPh masing-masing untuk tahun pajak 2002. Seluruh jenis penghasilan. Contoh (1) : PT A dan PT B masing-masing menggunakan tahun takwim (1 Jan-31 Des) sebagai tahun pajaknya. tanggal efektif penggabungan adalah tanggal 31 Oktober 2002.

000. PT. B yang tidak habis dikompensasikan akan diabaikan. 73 TaxSys .Akuntansi Perpajakan e. Apabila penggabungan usaha tidak memenuhi persyaratan. 10.000. 100. badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company) menjalankan kegiatan usahanya. B masing-masing menggunakan tahun pajak sama dengan tahun kalender. A dan PT. Akan tetapi keuntungan ini (serta penghasilan tahun berjalan lainnya) harus dikurangkan terlebih dahulu dengan sisa kerugian fiskal PT.000. B yang masih dapat dikompensasikan. Apabila PT. 150. B berjumlah Rp. Dalam tahun pajak (2002) yang dimulai tanggal 1 Januari 2002. A dan PT. Pada tanggal tersebut nilai buku fiskal untuk seluruh aktiva tetap PT.000.000). A akan memiliki aktiva tetap tersebut dengan nilai buku baru sebesar Rp. badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring company) masih tetap aktif menjalankan kegiatan usahanya. sepanjang dipenuhi persyaratan sebagai berikut : • Pada saat penggabungan atau peleburan usaha akan dilaksanakan. B mempunyai sisa kerugian fiskal yang dapat dikompensasikan sebesar (Rp. dan telah melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya sesuai ketentuan / prosedur yang berlaku.000. B melakukan penggabungan usaha yang memenuhi persyaratan dan PT.000. B akan memperoleh keuntungan sebesar Rp. Sisa kerugian fiskal PT. PT.000 atas pengalihan aktiva tetapnya dalam bagian tahun pajak(2002) yang berakhir pada tanggal 31 Oktober 2002. Setelah penggabungan usaha. Tahun pajak terakhir (2002) PT. 90. 100. PT. atas sisa kerugian fiskal yang masih ada setelah diperhitungkan dengan penghasilan tahun pajak terakhir (termasuk selisih lebih yang diperoleh dari penilaian kembali aktiva tetap) dapat dialihkan kepada badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring company). PT. PTA(acquiring company) menerima pengalihan harta dan utang dari PT.000. maka tidak akan terjadi pengenaan pajak (PPh) atas keuntungan dari aktiva tetap PT. • Contoh : Terhitung sejak tanggal 31 Oktober 2002. Kompensasi Kerugian Fiskal Badan Usaha Yang Mengalihkan Harta (Transferor Company) Apabila Badan Usaha yang melakukan pengalihan harta (Transferor Company) mempunyai kerugian fiskal tahun berjalan atau hak kompensasi kerugian fiskal tahun-tahun yang lalu (termasuk kerugian selisih kurs) pada tahun pajak terakhirnya.000. yang dapat dinilai kembali berdasarkan harga pasar menjadi Rp. B (transferor company) dalam suatu penggabungan usaha. B akan berakhir pada tanggal 31 Oktober 2002. B tidak melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya. dan Sekurang-kurangnya untuk kurun waktu 2 tahun setelah penggabungan atau peleburan usaha.

Tidak Ada Keuntungan Atau Kerugian Akibat Penerimaan Harta. dan untuk 100 lembar sahamnya pada PT. A dan PT. A masih tetap menjalankan usaha tersebut sekurang-kurangnya sampai dengan tanggal 1 November 2004. Badan Usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring Company) tidak memperoleh keuntungan atau kerugian sebagai akibat penerimaan harta dari badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company). Horisontal (brother-sister merger) yang memenuhi persyaratan. Wajib pajak Y tidak memperoleh keuntungan dari penggabungan usaha tersebut. dengan syarat : pada tanggal 31 Oktober 2002. mereka dapat menerima uang pengganti sahamnya pada badan usaha yang mengalihkan harta. B melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya dalam bagian tahun pajak (2002) yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2002. PT.A tidak menerbitkan saham baru kepada wajib pajak Y dan 100 lembar sahamnya pada PT. PT. A akan mempunyai nilai buku baru yaitu menjadi sebesar Rp. PT. B yang tidak habis dikompensasikan akan diabaikan. a. atau kerugian sebesar selisih lebih dari nilai buku saham yang dilepas. B melakukan penggabungan usaha yang memenuhi persyaratan dan PT. Setelah penggabungan usaha. B dibatalkan. Apabila PT. PT. atau kerugian sebesar selisih lebih dari nilai buku saham yang dilepas atas jumlah uang tersebut. dan PT. 35 juta. B masih aktif menjalankan kegiatan usahanya. Pemegang saham yang mempunyai pembukuan atu catatan akan memperoleh keuntungan sebesar selisih lebih dari jumlah uang yang diterima dengan nilai buku saham yang dilepas. B setelah dikompensasi dengan penghasilan dalam tahun pajak terakhirnya.Akuntansi Perpajakan B. Para Pemegang Saham Yang Tidak Setuju (Disapproving Shareholders) Apabila sebagian pemegang saham dari badan usaha yang mengalihkan hartanya (transferor company) tidak menyetujui penggabungan atau peleburan usaha. maka penggabungan usaha tersebut dapat memperhitungkan sisa kerugian fiskal PT. A (acquiring company). c. Menerima Perlakuan Terhadap Badan Usaha Yang Menerima Pengalihan Harta (Acquiring Company). A harus mencatat nilai perolehan harta dari PT. Sisa kerugian fiskal PT. B sesuai dengan nilai bukunya yaitu sebesar Rp. 10 juta. 74 TaxSys . B (transferor company) bergabung dengan PT.

Bagi Pihak Yang Mengalihkan (transferor company).000. dan pengambilalihan usaha. PPh Badan Pasal 4 ayat (1) huruf d angka (3) UU 17 Tahun 2000 yaitu : Pemecahan.00 Rp. Contoh : PT A dan PT B melakukan peleburan dan membentuk badan baru. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan penghasilan yang dikenakan pajak. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut adalah sebagai berikut : PT A Nilai sisa buku Harga Pasar Rp. 300. UU 20 Tahun 2000.00 Rp. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 181 / KMK. c.000. yaitu PT C.00 PT B Rp. 450.Akuntansi Perpajakan b. atas permohonan badan usaha yang bersangkutan (acquiring Company). ASPEK PAJAK RESTRUKTURISASI A.000.000.000.000. Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB). 300.00 75 TaxSys .000.04 / 1999 tanggal 27 Mei 1999. PERATURAN PERPAJAKAN RESTRUKTURISASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN DENGAN 1. Direktur Jenderal Pajak dapat memberikan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar 100% (seratus persen). Selain itu pengalihan tersebut dapat dilakukan pula dalam rangka likuidasi usaha atau sebab lainnya.000. 200. Nilai Buku Fiskal Harta Yang Dialihkan Badan usaha yang menerima pengalihan harta (Acquiring Company) harus mencatat nilai harta yang diterima berdasarkan nilai buku yang sama sebagaimana yang tercatat terakhir pada pembukuan badan usaha yang mengalihkan harta (Transferor Company).

300.00 – Rp.00 (Rp. 100.04 / 1998 tanggal 30 Oktober 1998 adalah : 1.000. Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan nilai lain selain harga pasar. I Nomor 422 / KMK. yaitu dinilai berdasarkan nilai pasar dari harta yang dialihkan tersebut.000.000.000. Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan di bidang sosial.00) dan PT B mendapat keuntungan sebesar Rp. I. pemecahan. Prosedur Persetujuan Apabila permohonan Wajib Pajak sudah lengkap.000.00 (Rp. 450. 500.00).00). Ketentuan ini mengatur tentang penilaian harta yang diserahkan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal dimaksud. menerbitkan surat keputusan persetujuan atau penolakan selambat76 TaxSys .00 – Rp. 200. kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.04 / 1998 tanggal 9 September 1998 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan R. peleburan. pemekaran. Penyertaan Wajib Pajak dalam permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan setoran tunai atau pengalihan harta. 450. moneter dan kebijakan lainnya.00 + Rp.000.000. investasi. Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi.000.000.000. 200.000.00 (Rp.000. 300.Akuntansi Perpajakan Pada dasarnya. Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha.00). 150.000. Dengan demikian PT A mendapat keuntungan sebesar Rp.000. penilaian harta yang diserahkan oleh PT A dan PT B dalam rangka peleburan menjadi PT C adalah harga pasar dari harta.000.000. atau pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.000.000. Kepala Kantor Wilayah atas nama Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan proses penelitian dan konfirmasi yang diperlukan.000.000. Sedangkan PT C membukukan semua harta tersebut dengan jumlah Rp.000.00 + Rp.000. 300.000. penggabungan. ekonomi. 300. 750. Nomor 469 / KMK. Kriteria wajib pajak yang dapat menggunakan nilai buku : Wajib Pajak yang dapat menggunakan nilai buku dalam pengalihan harta menurut Keputusan Menteri Keuangan R. yaitu atas dasar nilai sisa buku (“pooling of interest”).00 (Rp.000. Dalam hal demikian PT C membukukan penerimaan harta dari PT A dan PT B tersebut sebesar Rp.

Dalam hal pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku di atas tidak mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak. dilakukan secara prorata (perhitungan bulanan) berdasarkan masa manfaat yang tersisa sebagaimana tercantum dalam pembukuan Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta. Penyusutan dan amortisasi atas harta yang dialihkan untuk tahun buku di mana pengalihan harta terjadi. Dalam hal Wajib Pajak yang menerima pengalihan harta (setelah penggabungan atau peleburan usaha) mengalami penurunan usaha. peleburan. Wajib Pajak yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sesuai ketentuan/prosedur sebagaimana diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak 77 TaxSys . Jika batas waktu 1 (satu) bulan tersebut telah lewat dan Kepala Kantor Wilayah belum menerbitkan keputusan maka permohonan Wajib Pajak dianggap diterima dan kepadanya diterbitkan surat keputusan persetujuan. maka jumlah angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 Wajib Pajak yang menerima pengalihan harta setelah penggabungan atau peleburan usaha tidak boleh lebih kecil dari penjumlahan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 dari seluruh Wajib Pajak yang terkait sebelum penggabungan atau peleburan usaha. Wajib Pajak yang menerima pengalihan harta tersebut harus mencatat nilai perolehannya sesuai dengan nilai buku sebagaimana tercantum dalam pembukuan Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta. harus diberikan alasannya.Akuntansi Perpajakan lambatnya 1 (satu) bulan sejak diterimanya permohonan secara lengkap dengan menggunakan formulir baku. penyusutan dan amortisasi atas harta yang dialihkan dihitung secara prorate sampai dengan bulan dilakukannya pengalihan harta penghitungan prorata sebanyak sisa bulan sesudah bulan pengalihan harta. maka nilai buku yang dicatat adalah nilai buku setelah dilakukan revaluasi aktiva tetap. Bagi Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta. Dalam hal pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku telah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak. Dalam hal Wajib Pajak sebelum penggabungan. maka pengalihan harta tersebut harus dinilai dengan harga pasar dan atas keuntungan yang diperoleh dikenakan Pajak Penghasilan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2000. dengan menggunakan metode penyusutan dan amortisasi yang dianut Wajib Pajak yang bersangkutan. Tindasan keputusan disampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan Kepala Kantor Pemeriksaan Pajak terkait. Dalam hal keputusan penolakan. Apabila penggabungan atau peleburan usaha dilakukan dalam tahun pajak berjalan. atau pemekaran usaha telah melakukan revaluasi aktiva tetap.

Terhadap pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan dari Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan dari pengenaan PPh sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 jo PP 27 Tahun 1996. 78 TaxSys . Yaitu setelah 3 (tiga) bulan angsuran PPh Pasal 25 dipenuhi. Wajib Pajak yang telah mendapatkan persetujuan untuk menggunakan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dengan persyaratan dalam waktu 1 (satu) tahun sudah harus mengajukan pernyataan pendaftaran kepada BAPEPAM untuk Intial Public Offering / Secondary Offering. MATERI AKUNTANSI PERPAJAKAN DAN PSAK 46 1. c) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta tidak setuju dengan rencana pengalihan harta tersebut dan pemegang saham dimaksud memilih menjual sahamnya. maka : atas selisih lebih antara harga perolehan dengan harga jual merupakan capital gain yang diterima pemegang saham tersebut dan terhutang Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dengan syarat sepanjang pemegang saham yang bersangkutan menyelenggarakan pembukuan. atas selisih kurang antara harga perolehan dengan harga jual yang diterima pemegang saham tersebut dapat dibebankan sebagai biaya. b) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta menerima sejumlah saham baru dan sejumlah uang dari badan usaha yang menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama. Berdasarkan data di bawah ini hitunglah koreksi fiskal laba bruto maksimum & minimum apabila WP menggunakan metode LIFO. / 2000). a) Saham baru tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan dan nilai perolehan saham baru dicatat sebesar nilai saham lama.Akuntansi Perpajakan Nomor 537 / PJ. maka atas penerimaan sejumlah uang tersebut merupakan penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan dengan tarif umum.

000 1. Nopember.400.000 1.250 PENJUALAN 200 250 300 350 400 450 1.B.000. Syarat pengiriman untuk bulan Maret.O.100.000 1.650.350.300.B.B..Akuntansi Perpajakan RINCIAN PENJUALAN DAN PEMBELIAN UNIT PEMBELIAN 250 300 350 400 450 500 2. Shipping point.O.000 1. Mei. 1. Persediaan akhir tahun 2001 yang tersedia di gudang sejumlah 300 unit @ Rp.250.000 1.000 1.000 1. 2002 adalah F.termasuk 100 unit merupakan barang konsinyasi (consigment goods) dan 50 unit merupakan barang yang dipisahkan (segregated goods). dan Desember 2002 adalah F. Destination.600.200.000.000 1.000 TANGGAL KIRIM 2 / 1 / 02 3 / 2 / 02 4 / 3 / 02 5 / 4 / 02 6 / 5 / 02 7 / 6 / 02 8 / 7 / 02 9 / 8 / 02 2 / 11 / 02 3 / 11 / 02 4 / 12 / 02 5 / 12 / 02 TERIMA 17 / 2 / 02 18 / 3 / 02 19 / 4 / 02 20 / 5 / 02 21 / 6 / 02 22 / 7 / 02 23 / 8 / 02 24 / 9 / 02 25 / 1 / 03 26 / 1 / 03 27 / 1 / 03 28 / 1 / 03 Syarat penjualan untuk pengiriman bulan Februari.350. Syarat pembelian untuk pengiriman bulan Januari.500. Juli dan Desember 2002 adalah F.450. Shipping point.000 PENJUALAN 1.000 1.950 HARGA PER UNIT PEMBELIAN 1.B. dan Nopember 2002 adalah F.000 1.000.O.O. Destination Syarat penjualan untuk pengiriman bulan April. 79 TaxSys . Juni. Agustus.

000 13.000 MARKET / UNIT (Rp.500.) 10.000 13. Artha (transferor Company) dibawah ini hitunglah besarnya Depreciation Expenses (menggunakan metode Saldo menurun) untuk tahun pajak 2002 sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU PPh Bagi PT.234 Unit 6 5 4 3 2 1 80 TaxSys .Akuntansi Perpajakan 2.000.000.) JENIS AKTIVA TETAP Eks golongan 2 Eks golongan 3 Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Bangunan Permanen Tahun Beli 27-10-1994 24-12-1994 24-07-1998 04-06-1996 06-06-1997 11-08-1994 Harga Beli / Unit 234 567 123 456 789 1.000 14.000.000 200 400 500 300 200 100 UNIT 3.000.) Beginning Inventory Purchases Sales Purchases Sales Purchases 10. Widya yang merupakan Acquiring Company dan pajak terutang pada saat pengalihan apabila pada saat merger (1 Juli 2002) penggunaan book value telah mendapat persetujuan dari Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Nomor.000 12.000. AKTIVA TETAP 1-7-2002 YANG DIALIHKAN (jutaan Rp.000 15. Berdasarkan data aktiva tetap yang dimiliki PT.000. Berdasarkan data di bawah ini hitunglah besarnya koreksi fiskal maksimum dan minimum apabila Wajib Pajak dalam menghitung Cost of Goods menggunakan metode LIFO dengan sistem pencatatan berdasar physical : Cost / Unit (Rp.

pada tanggal 27 Oktober 2002 ditukar dengan yang baru (berdasarkan KMK No. 5. 120 juta karena harta yang diserahkan hanya dinilai seharga Rp.000 Rp.Akuntansi Perpajakan SOAL 1 AKTIVA TETAP PER 1-1-2001 (Dalam jutaan rupiah) Jenis Aktiva Tetap Eks Golongan 2 Eks Golongan 3 Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Bangunan Permanen Tahun Beli 27-10-1994 24-12-1992 24-07-1998 04-06-1996 06-06-1997 11-08-1993 Harga Beli 1.000 1% 10% 2. 110 juta (termasuk PPN) 81 TaxSys . 520 / KMK. Satu unit aktiva tetap kelompok 2 yang harga perolehannya Rp.000 Biaya asuransi & pengangkutan dari pelabuhan ke pabrik Biaya Pemasangan Biaya penyelesaian dokumen impor dan lain-lain Aktiva eks golongan 2 yang tersisa pada tanggal 1 Juli 2001 dilakukan perbaikan untuk menambah masa manfaat yang diperkenankan mampu mencapai tahun 2004 dengan mengeluarkan biaya Rp.000.678 123 456 789 4.321 Unit 6 5 4 3 2 1 Informasi lainnya berkaitan dengan aktiva tetap : Satu unit aktiva tetap eks golongan 3 yang harga perolehannya Rp.000 Rp. pada tanggal 1-8-2002 terbakar. 30 juta.04 / 2000 termasuk 3) Untuk itu Wajib Pajak harus mengeluarkan lagi uang sejumlah Rp. 2. 75 juta.500. Satu unit aktiva tetap eks golongan 2 yang dibeli dengan harga Rp.000. 5. Sebagai penggantinya pada tanggal 24-12-2002 dilakukan impor aktiva yang sejenis (termasuk kelompok 2 menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 50 juta pada tanggal 11-08-2002 dijual seharga Rp.03 / 2002) dengan mengeluarkan uang dengan rincian sebagai berikut : Cost Insurance Bea Masuk PPN Impor PPh Pasal 22 US$ 200.234 5.04 / 2000 Jo KMK 138 / KMK. 40 juta. 175 juta.5% Rp. 520 / KMK.

000 (777.188) (2.744.096) (140.033. 82 TaxSys .923) (666.478) 4.000) (1.00 Depreciation Expenses mengacu ketentuan Pasal 11 UU PPh berdasarkan metode saldo menurun untuk tahun pajak 2001 dan 2002 apabila Kurs US$ 1 pada saat impor menurut MenKeu adalah Rp.340.270.457.000.515.284.138.201.000.667.913.257.00 136.560) (4.180) 145.162.483.257.650 4.650 (6. 11.168.000.00 sedangkan kurs tengah Bank Indonesia adalah Rp.931 (184.081.000 (1. Besarnya pajak yang harus disetor ke Kas Negara tahun 2001 dan 2002.907 8.317.266 678.165.227.732. 1999 Rp.671) 281.711 1.000) (34.882.200.018) 4.00 136.923) (1.727) 284. Other Income / Other Expenses Nilai yang harus tersaji pada kredit Neraca persidangan 31 Desember 2002 untuk Akun Selisih Lebih Revaluasi apabila appraisal menetapkan harga pasar wajar adalah 60% dari Nilai Buku Fiskal / Harga Perolehan persidangan 1 Juli 2002.502.00. 416 juta dengan rincian sebagai berikut : Biaya bahan (material) Upah PPN yang disetor Hitunglah : Rp.960.000.304.760.992 (1.651.457. Rp.811.000.914.197 193.169.710.317.188) (1.493. KETERANGAN Sebelum Taksiran Penghasilan (1) Tetap Waktu Depresiasi Amortisasi Jangka panjang Laba penjualan Aktiva tetap Laba kena pajak (rugi fiskal) Koreksi Rugi Fiskal 98 Akumulasi rugi fiskal Kompensasi rugi fiskal Laba Kena Pajak Setelah 2. 264. 2000 Rp.000.257.210.502.110 15.118. Rp.391 739.212) 15.811.250.674.950.925 1998 Rp.016.896.Akuntansi Perpajakan Sejak tanggal 27 Oktober 2002 telah digunakan untuk kegiatan operasional satu unit gedung kantor seluas 400 m² yang dibangun sendiri dengan mengeluarkan dana sejumlah Rp.641.985 298. 11. 2001 Rp.314 (274.

885 3.000.000.931 3. taksiran umur 5 tahun tanpa nilai residu.266 SOAL 2 (PSAK) 46 PT.197 1. Pada tanggal 1 November 2003 : 3 (tiga) buah kemdaraan diambil oleh pemegang saham (tidak dibayar) 1 (satu) buah kendaraan dibeli oleh pegawai bukan pemegang saham dengan harga Rp.00 Diminta : Hitung penyusutan untuk tahun 2003 ! Hitung keuntungan (kerugian) pengalihan kendaraan tersebut ! Bagaimana perlakuan perpajakannya atas transaksi pengalihan kendaraan tersebut? 83 TaxSys . 150.971.00 1 (satu) buah kendaraan dijual secara tunai laku Rp. 12.000.496.896.Akuntansi Perpajakan Kompensasi Taksiran Pajak Penghasilan (2) Laba (rugi) Bersih-Komersial (1) – (2) 281. Penyusutan Fiskal saldo menurun. ARTHA didirikan pada tahun 1998 data laporan keuangan perusahaan adalah sebagai berikut : 1.744.016.00 secara akuntansi disusutkan dengan metode garis lurus. MERDEKA bergerak di bidang usaha persewaan ruangan kantor melakukan kegiatan sebagai berikut : Pada 1 Mei tahun 1999 membeli 5 (lima) buah kendaraan semuanya untuk operasional dan antar jemput pegawai.000. 60.761.687. PT.000. harga satu kendaraan Rp.000.

000 1.000 1. Harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp.000 ke PT.000 1.200.000 400. teapi pada laba tahun 2003.000 600. dan bea pemasangan dan sebagainya. 12.600.000 ------------- Diminta : Hitung penyusutan Fiskal dan Nilai Buku Fiskal persidangan 1 Januari 2003 ! Hitung Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan pada akhir tahun 2002 ! Hitung selisih lebih penilaian kembali dan PPh-nya ! Apabila PT.000 1. PT.000.600.000.00. Pada tanggal 1 Mei 1999 melakukan impor mesin pabrik seharga US$ 4.Akuntansi Perpajakan 2.000 ---------- Putusan Pengadilan Pajak 250.000 (satu juta US$) Kurs tengah BI persidangan US$ sebesar Rp. DINO Indonesia (pembukuan rupiah). bea pengangkutan.000 ------- Keputusan Keberatan Nihil 200.800. 2. Pada awal tahun 2003 (1 Januari 2003). MERDEKA bermaksud tidak mengkompensasikan Rugi Fiskal pada selisih lebih Revaluasi. 84 TaxSys .000 500. Inc. Rugi Fiskal (dalam ribuan rupiah) persidangan 31 Desember 2002 : Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 SPT PPh 300.000 termasuk bea masuk.000 SKP Nihil 200. pada awal tahun 1999 menyetor modal sebesar US$ 1. boleh apa tidak ? MERDEKA.000 1.000. 9. mesin tersebut dilakukan penilaian kembali dengan harga pasar wajar berdasarkan penilai sebesar Rp.000.000.000. MERDEKA melakukan usaha dalam bidang industri keramik menyewa gedung pabrik dan kantor di Industri dan kantor di ERA 2000 Bekasi.000.000. Mesin tersebut termasuk kelompok 3 (tiga) metode penyusutan saldo menurun. berkedudukan di Jepang.000.00.400.000 350.

00 8. 85 TaxSys . PT.000 (enam ratus ribu US$). 50. Inc menjual saham PT. Pada akhir tahun 2001 PT MERDEKA menyatakan tidak sanggup membayar lagi. Tanggal Kurs Tengah BI Per 1 US$ 31-12-1997 31-12-1998 31-12-1999 31-12-2000 31-12-2001 Rp.000.000. 2. bunga 2002 tidak dihitung dengan posisi utang persidangan 31 Desember 2001.400.000.400. Singapura dengan harga US$ 600. Rp. MERDEKA.000. 20.650. Harga pasar hotel tersebut 31 Desember 2002 sebesar Rp.000. tetapi hutang pokok tidak pernah diangsur (dibayar). MERDEKA (pembukuan rupiah) mendapat pinjaman US$ 10. Bagaimana cara pengenaan pajaknya atas transaksi tersebut ? Berapa PPh Yang harus dan siapa yang harus membayarnya ? 3. Harga tanah 40% dan harga Bangunan Hotel 60%. untuk membeli hotel.00 Persidangan US$. Rp. Rugi Laba kurs diakui tiap-tiap akhir tahun berdasarkan Kurs tengah BI.00.100.00 Bunga selalu dibayar.00. 4.000.025.00 dan Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan sebesar Rp. Dengan melalui PRAKASA JAKARTA atau KKSK diadakan restrukturisasi utang dengan cara pengalihan harta kepada kreditur untuk penyelesaian utang (DEBT TO ASSET SWAP) yaitu Hotel (tanah dan gedung) diserahkan ke BCA untuk penyelesaian utang yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2002.595.00 Rp. dirupiahkan dengan Kurs Rp. Rp. 9. 10.000 (sepuluh juta US$) – dari BCA Jakarta. Kurs tengah BI persidangan US$ = Rp.00 7.00 9.Akuntansi Perpajakan Pada tanggal 11 Oktober 2003. Pada tanggal 1 Maret 1997. DINO Indonesia ke LCH Ltd.000.

maka atas penerimaan saham baru tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan dan nilai perolehan saham baru dicatat sebesar nilai saham lama. b) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yamh melakukan pengalihan harta menerima sejumlah saham baru dan sejumlah uang dari badan usaha yang menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama. maka jangka waktu tersebut dapat diperpanjang setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. c) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta tidak setuju dengan rencana pengalihan harta tersebut dan pemegang saham dimaksud memilih menjual sahamnya. Ketentuan bagi pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta dalam rangka penggabungan. Apabila setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sebagaimana dimaksud Wajib Pajak belum dapat melaksanakan penawaran umum perdana.Akuntansi Perpajakan Pertanyaan : Hitung nilai buku Fiskal tanah dan bangunan hotel persidangan 31 Desember 2001 ! Hitung jumlah hutang persidangan 31 Desember 2001 ! Bagaimana perlakuan perpajakan atas DEBT TO ASSET SWAP tersebut ? Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada huruf a dapat diperpanjangan karena keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak dengan persetujuan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang paling lama 2 (dua) tahun. Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi ketentuan diatas. peleburan. maka : 86 TaxSys . atau pemekaran : a) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta menerima sejumlah saham baru dari badan usaha yang menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama. maka atas penerimaan sejumlah uang tersebut merupakan penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan dengan tarif umum. maka nilai pengalihan harta atas pemekaran usaha yang dilakukan berdasarkan nilai buku dihitung kembali berdasarkan nilai pasar.

dengan syarat sepanjang pemegang saham yang bersangkutan menyelenggarakan pembukuan. MATERI AKUNTANSI PERPAJAKAN DAN PSAK 46 Berdasarkan data di bawah ini hitunglah koreksi fiskal laba bruto maksimum & minimum apabila WP menggunakan metode LIFO.Akuntansi Perpajakan • atas selisih lebih antara harga perolehan dengan harga jual merupakan capital gain yang diterima pemegang saham tersebut dan terhutang Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 87 TaxSys . Terhadap pengalihan harta berupa tanah dan / atau bangunan dari Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan dari pengenaan PPh sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Jo PP 27 Tahun 1996. Wajib Pajak yang telah mendapatkan persetujuan untuk menggunakan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dengan persyaratan dalam waktu 1 (satu) tahun sudah harus mengajukan pernyataan pendaftaran kepada BAPEPAM untuk Intial Public Offering / Secondary Offering. • atas selisih kurang antara harga perolehan dengan harga jual yang diterima pemegang saham tersebut dapat dibebankan sebagai biaya.

Akuntansi Perpajakan
RINCIAN PENJUALAN DAN PEMBELIAN
UNIT HARGA PER UNIT TANGGAL KIRIM 2 / 1 / 02 3 / 2 / 02 4 / 3 / 02 5 / 4 / 02 6 / 5 / 02 7 / 6 / 02 8 / 7 / 02 9 / 8 / 02 2 / 11 / 02 3 / 11 / 02 4 / 12 / 02 5 / 12 / 02 TERIMA 17 / 2 / 02 18 / 3 / 02 19 / 4 / 02 20 / 5 / 02 21 / 6 / 02 22 / 7 / 02 23 / 8 / 02 24 / 9 / 02 25 / 1 / 03 26 / 1 / 03 27 / 1 / 03 28 / 1 / 03

PEMBELIAN PENJUALAN PEMBELIAN PENJUALAN 250 300 350 400 450 500 2.250 200 250 300 350 400 450 1.950 1.000.000 1.100.000 1.200.000 1.300.000 1.350.000 1.400.000 1.250.000 1.350.000 1.450.000 1.500.000 1.600.000 1.650.000

Syarat penjualan untuk pengiriman bulan Februari, Juni, Nopember, 2002 adalah f.o.b. Destination

Syarat penjualan untuk pengiriman bulan April, Agustus, dan Desember 2002 adalah f.o.b. Shipping point.

Syarat pembelian untuk pengiriman bulan Januari, Mei dan Nopember 2002 adalah f.o.b. Shipping point.

Syarat pengiriman untuk bulan Maret, Juli dan Desember 2002 adalah f.o.b. Destination

Persediaan akhir tahun 2001 yang tersedia di gudang sejumlah 300 unit @ Rp. 1.000.000,- termasuk 100 unit merupakan barang konsinyasi (consigment goods) dan 50 unit merupakan barang yang dipisahkan (segregated goods).

88

TaxSys

Akuntansi Perpajakan
Berdasarkan data di bawah ini hitunglah besarnya koreksi fiskal maksimum dan minimum apabila Wajib Pajak dalam menghitung Cost of Goods menggunakan metode LIFO dengan sistem pencatatan berdasarkan physical :

2. Berdasarkan data di bawah ini hitunglah besarnya koreksi fiskal maksimum dan minimum apabila Wajib Pajak dalam menghitung Cost of Goods menggunakan metode LIFO dengan sistem pencatatan berdasar physical :

Cost / Unit (Rp.) Beginning Inventory Purchases Sales Purchases Sales Purchases 10.000.000 12.000.000 13.000.000 14.000.000

MARKET / Unit (Rp.) 10.500.000 13.000.000 15.000.000 -

UNIT

200 400 500 300 200 100

3. Berdasarkan data aktiva tetap yang dimiliki PT. Artha (transferor Company) dibawah ini hitunglah besarnya Depreciation Expenses (menggunakan metode Saldo menurun) untuk tahun pajak 2002 sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU PPh bagi PT.Widya yang merupakan Acquiring Company dan pajak terutang pada saat pengalihan apabila pada saat merger (1 Juli 2002) penggunaan book valus telah mendapat persetujuan dari Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Nomor.

AKTIVA TETAP 1-7-2002 YANG DIALIHKAN (jutaan Rp.) JENIS AKTIVA TETAP Eks golongan 2 Eks golongan 3 Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Bangunan Permanen Tahun Beli 27-10-1994 24-12-1994 24-07-1998 04-06-1996 06-06-1997 11-08-1994 Harga Beli / Unit 234 567 123 456 789 1.234 Unit 6 5 4 3 2 1

89
TaxSys

Akuntansi Perpajakan
SOAL 1 AKTIVA TETAP PER 1-1-2001 (dalam jutaan rupiah)

Jenis Aktiva Tetap Eks Golongan 2 Eks Golongan 3 Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Bangunan Permanen

Tahun Beli 27-10-1994 24-12-1992 24-07-1998 04-06-1996 06-06-1997 11-08-1993

Harga Beli 1.234 5.678 123 456 789 4.321

Unit 6 5 4 3 2 1

Informasi lainnya berkaitan dengan aktiva tetap :

Satu unit aktiva tetap eks golongan 3 yang harga perolehannya Rp. 50 juta pada tanggal 11-08-2002 dijual seharga Rp. 30 juta.

Satu unit aktiva tetap kelompok 2 yang harga perolehannya Rp. 75 juta, pada tanggal 27 Oktober 2002 ditukar dengan yang baru (berdasarkan KMK No. 520 / KMK.04 / 2000 termasuk 3)

Untuk itu Wajib Pajak harus mengeluarkan lagi uang sejumlah Rp. 120 juta karena harta yang diserahkan hanya dinilai seharga Rp. 40 juta.

Satu unit aktiva tetap eks golongan 2 yang dibeli dengan harga Rp. 175 juta, pada tanggal 1-8-2002 terbakar. Sebagai penggantinya pada tanggal 24-12-2002 dilakukan impor aktiva yang sejenis (termasuk kelompok 2 menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 520 / KMK.04 / 2000 Jo KMK 138 / KMK.08 / 2002) dengan mengeluarkan uang dengan rincian sebagai berikut : Cost insurance Bea Masuk PPN Impor PPh Pasal 22 Biaya asuransi & pengangkutan dari pelabuhan ke pabrik Biaya Pemasangan Biaya penyelesaian dokumen impor dan lain-lain 90
TaxSys

US$ 1% 10% 2,5%

200.000

Rp. 2.500.000 Rp. 5.000.000 Rp. 5.000.000

00 136.00 sedangkan kurs tengah Bank Indonesia adalah Rp.200.00.00 Hitunglah : Depreciation Expenses mengacu ketentuan Pasal 11 UU PPh berdasarkan metode saldo menurun untuk tahun pajak 2001 dan 2002 apabila Kurs US$ 1 pada saat impor menurut MenKeu adalah Rp.000. 110 juta (termasuk PPN) Sejak tanggal 27 Oktober 2002 telah digunakan untuk kegiatan operasional satu unit gedung kantor seluas 400 m2 yang dibangun sendiri dengan mengeluarkan dana sejumlah Rp.000.250.00 136.Akuntansi Perpajakan Aktiva eks golongan 2 yang tersisa pada tanggal 1 Juli 2001 dilakukan perbaikan untuk menambah masa manfaat yang diperkirakan mampu mencapai tahun 2004 dengan mengeluarkan biaya Rp. 11. Rp. 91 TaxSys . 264. 11.000.000.000.000. Other Income / Other Expenses Nilai yang harus tersaji pada kredit Neraca persidangan 31 Desember 2002 untuk Akun Selisih Lebih Revaluasi apabila appraisal menetapkan harga pasar wajar adalah 60% dari Nilai Buku Fiskal / Harga Perolehan persidangan 1 Juli 2002. 416 juta dengan rincian sebagai berikut : Biaya bahan (material) Upah PPN yang disetor Rp. Rp. Besarnya pajak yang harus disetor ke Kas Negara tahun 2001 dan 2002.

711 1.761.985 298.266 TaxSys .502.391 739.227.651.118.907 8.212) 15.257.923) 2. 1999 Rp.165.180) (140.096) (2. Rp.914.931 (184.033.201.000) (34.925 Depresiasi Amortisasi jangka panjang laba penjualan Aktiva Tetap Laba kena pajak (rugi fiskal) koreksi Rugi Fiskal 98 Akumulasi rugi fiscal Kompensasi rugi fiskal Laba Kena pajak setelah kompensasi Taksiran Pajak Penghasilan (2) Laba (rugi) Bersih-Komersial (1) – (2) 92 (1.Akuntansi Perpajakan SOAL 2 (PSAK) 46 PT.560) (4.923) (1. Sebelum Taksiran Penghasilan (1) Tetap waktu 281.882.016.197 193.314 (6.483.496.650 (1.674.515. 2000 Rp.885 3.168.138.960. ARTHA didirikan pada tahun 1998 data laporan keuangan perusahaan adalah sebagai berikut : KETERANGAN 1998 Rp.304.266 678.188) 145.811.340.018) 4.760.457.811.000 (777.162.493.710.110 15.667.744.188) (1.000) (1.270.457.210.971.169.478) 4.000 281.992 (666.016.641.732.931 3.081.896.913.744.896.671) (274.317.727) 284.317.257.257. 2001 Rp.687.950.650 4.197 1.502.284.

Harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp. 9. 12. 60.000. mesin tersebut dilakukan penilaian kembali dengan harga pasar wajar berdasarkan penilai sebesar Rp. MERDEKA melakukan usaha dalam bidang industri keramik menyewa gedung pabrik dan kantor di Industri dan kantor di ERA 2000 Bekasi.00 secara akuntansi disusutkan dengan metode garis lurus.00 Diminta : Hitung penyusutan untuk tahun 2003 ! Hitung keuntungan (kerugian) pengalihan kendaraan tersebut ! Bagaimana perlakuan perpajakannya atas transaksi pengalihan kendaraan tersebut? 2.000.000. 12.000. Pada awal tahun 2003 (1 Januari 2003). bea pengangkutan.000. Penyusutan Fiskal saldo menurun.000.00 1 (satu) buah kendaraan dijual secaar tunai laku Rp. PT. MERDEKA bergerak di bidang usaha persewaan ruangan kantor melakukan kegiatan sebagai berikut : Pada 1 Mei tahun 1999 membeli 5 (lima) buah kendaraan semuanya untuk operasional dan antar jemput pegawai.000. 150.000.000 termasuk bea masuk.000. pada tanggal 1 Mei 1999 melakukan impor mesin pabrik seharga US$ 4. 93 TaxSys .000.000.00.00.600. PT. Mesin tersebut termasuk kelompok 3 (tiga) metode penyusutan saldo menurun. taksiran umur 5 tahun tanpa nilai residu.Akuntansi Perpajakan SOAL 3 1.000. harga satu kendaraan Rp. Pada tanggal 1 November 2003 : 3 (tiga) buah kendaraan diambil oleh pemegang saham (tidak dibayar) 1 (satu) buah kendaraan dibeli oleh pegawai bukan pemegang saham dengan harga Rp. dan pemasangan dan sebagainya.

Pada tanggal 11 Oktober 2003. DINO Indonesia ke LCH Ltd.200. Bagaimana cara pengenaan pajaknya atas transaksi tersebut? Berapa PPh Yang harus dan siapa yang harus membayarnya ? 3.000.000 ------Nihil 200.00 ke PT.800.000 Nihil 200. 2. PT. berkedudukan di Jepang.000 500. pada awal tahun 1999 menyetor modal sebesar US$ 1. Kurs tengah BI persidangan US$ = Rp. Inc. MERDEKA (pembukuan rupiah) mendapat pinjaman US$ 10. tetapi pada laba tahun 2003. menjual saham PT. Pada tanggal 1 Maret 1997.000 400.000 1.000 ------------- Diminta : Hitung penyusutan Fiskal dan Nilai Buku Fiskal persidangan 1 Januari 2003 ! Hitung Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan pada akhir tahun 2002 ! Hitung selisih lebih penilaian kembali dan PPh-nya ! Apabila PT. Singapura dengan harga US$ 600.000 1.Akuntansi Perpajakan Rugi FISKAL(dalam ribuan rupiah) persidangan 31 Desember 2002 : Tahun SPT PPh SKP Keputusan Keberatan 1997 1998 1999 2000 2001 2002 300.000.000 1.000 1. untuk membeli hotel. DINO Indonesia (pembukuan rupiah). Inc.000(sepuluh juta US$) – dari BCA Jakarta.000.000 600. MERDEKA bermaksud tidak mengkompensasikan Rugi Fiskal pada selisih lebih Revaluasi.000 1. MERDEKA.000 ---------Putusan Pengadilan Pajak 250.000 (enam ratus ribu US$). Harga tanah 40% dan harga Bangunan Hotel 60%.000 350.000.400.600.00 Persidangan US$. boleh apa tidak ? MERDEKA.000.00. 2.000 (satu juta US$) Kurs tengah BI persidangan US$ sebesar Rp. 94 TaxSys . dirupiahkan dengan kurs Rp.400. 9.

MERDEKA menyatakan tidak sanggup membayar lagi.400. bunga 2002 tidak dihitung dengan posisi utang persidangan 31 Desember 2001. 50.000.00 8. Pertanyaan : Hitung nilai buku Fiskal tanah dan bangunan hotel persidangan 31 Desember 2001 ! Hitung jumlah hutang persidangan 31 Desember 2001 ! Bagaimana perlakuan perpajakan atas DEBT TO ASS Jangka waktu sebagaimana di maksud pada huruf a dapat diperpanjangan karena keadaan diluar kekuasaan Wajib Pajak dengan persetujuan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang paling lama 2 (dua) tahun.00. Tanggal Kurs Tengah BI Per 1 US$ 31-12-1997 31-12-1998 31-12-1999 31-12-2000 31-12-2001 Rp.595.00 9.00 Rp.000. Dengan melalui PRAKASA JAKARTA atau KKSK diadakan restrukturisasi utang dengan cara pengalihan harta kepada kreditur untuk penyelesaian utang (DEBT TO ASSET SWAP) yaitu Hotel (tanah dan gedung) diserahkan ke BCA untuk penyelesaian utang yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2002. Pada akhir tahun 2001 PT. 4.00 dan Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan sebesar Rp. Rp.025. maka jangka waktu tersebut dapat diperpanjang setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak.650.100. tetapi hutang pokok tidak pernah diangsur (dibayar). 95 TaxSys .000. Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi ketentuan diatas.000. maka nilai pengalihan harta atas pemekaran usaha yang dilakukan berdasarkan nilai buku dihitung kembali berdasarkan nilai pasar.00 7. Harga pasar hotel tersebut 31 Desember 2002 sebesar Rp. Rp.00 Bunga selalu dibayar. 10. 20. Rp.Akuntansi Perpajakan Rugi Laba kurs diakui tiap-tiap akhir tahun berdasarkan Kurs tengah BI.000. Apabila setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sebagaimana dimaksud Wajib Pajak belum dapat melaksanakan penawaran umum perdana.

Atas selisih kurang antara harga perolehan dengan harga jual yang diterima pemegang saham tersebut dapat dibebankan sebagai biaya. atau pemakaran. maka: • Atas selisih lebih antara harga perolehan dengan harga jual merupakan capital gain yang diterima pemegang saham tersebut dan terhutang pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta tidak setuju dengan rencana pengalihan harta tersebut dan pemegang saham dimaksud memilih menjual sahamnya. a) apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta menerima sejumlah saham baru dari badan usaha yang menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama. maka atas penerimaan saham baru tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan dan nilai perolehan saham baru dicatat sebesar saham lama.Akuntansi Perpajakan Ketentuan bagi pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan harta dalam rangka penggabungan. 96 TaxSys . Wajib Pajak yang telah mendapatkan persetujuan untuk menggunakan nilai buku atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dengan persyaratan dalam waktu 1 (tahun) tahun sudah harus mengajukan pernyataan pendaftaran kepada BAPEPAM untuk intial public offering/secondary offering. • Terhadap pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan dari Wajib Pajak yang memenuhi pesyaratan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan dari pengenaan PPh sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1994 Jo 27 tahun 1996. maka atas penerimaan sejumlah uang tersebut merupakan penghasilan yang dikenakan pajak Pajak Penghasilan dengan tarif umum. peleburan. b) Apabila pemegang saham dari badan yang melakukan pengalihan harta menerima sejumlah saham baru dan sejumlah uang dari badan usaha yang menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama. dengan syarat sepanjang pemegang saham yang bersangkutan menyelenggarakan pembukuan.