PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF, DAN PENELITIAN TINDAKAN

RANGKUMAN HAKIKAT PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF, DAN PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH) A.PENELITIAN KUANTITATIF Pada hakikatnya setiap penelitian kuantitatif dalam ilmu-ilmu sosial menerapkan filosofi yang disebut deducto hipothetico verifikatif artinya, masalah penelitian dipecahkan dengan bantuan cara berpikir deduktif melalui pengajuan hipotesis yang dideduksi dari teori-teori yang bersifat universal dan umum, sehingga kesimpulan dalam bentuk hipotesis inilah yang akan diverifikasi secara empiris melalui cara berpikir induktif dengan bantuan statistika inferensial. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas. hasil analisis kuantitatif cenderung membuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada. Ciri-ciri penelitian kuantitatif: 1.Asumsi Penelitian kuantitatif memiliki ciri khas berhubungan dengan data numerik dan bersifat obyektif. Fakta atau fenomena yang diamati memiliki realitas obyektif yang bisa diukur. Variabel-variabel penelitian dapat diidentifikasi dan interkorelasi variabel dapat diukur. Peneliti kuantitatif menggunakan sisi pandangannya untuk mempelajari subyek yang ia teliti (etik). Keunggulan penelitian kuantitatif terletak pada metodologi yang digunakan. 2.Tujuan penelitian Penelitian kuantitatif memiliki tujuan menjeneralisasi temuan penelitian sehingga dapat digunakan untuk memprediksi situasi yang sama pada populasi lain. Penelitian kuantitatif juga digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antar variabel yang diteliti 3.Pendekatan Penelitian kuantitatif dimulai dengan teori dan hipotesis. Peneliti menggunakan teknik manipulasi dan mengkontrol variabel melalui instrumen formal untuk melihat interaksi kausalitas. Peneliti mencoba mereduksi data menjadi susunan numerik selanjutnya ia melakukan analisis terhadap komponen penelitian (variabel). Penarikan kesimpulan secara deduksi dan menetapkan norma secara konsensus. Bahasa penelitian dikemas dalam bentuk laporan.

4.Peran peneliti Dalam penelitian kuantitatif, peneliti secara ideal berlaku sebagai observer subyek penelitian yang tidak terpengaruh dan memihak (obyektif). 5.Pendekatan kuantitatif lebih menitikberatkan pada frekwensi tinggi 6.Kebenaran dari hasil analisis penelitian kuantitatif bersifat nomothetik dan dapat digenrealisasi. 7.Penelitian kuantitatif menggunakan paradgma positivistik-ilmiah. Segala sesuatu dikatakan ilmiah bila dapat diukur dan diamati secara obyektif yang mengarah kepada kepastian dan kecermatan (Sunarto, 1993: 3). Karena itu, paradigma ilmiah-positivisme melahirkan berbagai bentuk percobaan, perlakuan, pengukuran dan uji-uji statistik. 8.Penelitian kuantitatif sering bertolak dari teori, sehingga bersifat reduksionis dan verifikatif, yakni hanya membuktikan teori (menerima atau menolak teori). 9.Penelitian kuantitatif khususnya eksperimen, dapat menggambarkan sebab-akibat. Peneliti seringkali tertarik untuk mengetahui: apakah X mengakibatkan Y? atau, sejauh mana X mengakibatkanY? Jika peneliti hanya tertarik untuk mengetahui pengaruh X terhadap Y, penelitian eksperimen akan mengendalikan atau mengontrol berbagai variabel (X1, X2, X3 dan seterusnya) yang diduga akan berpengaruh terhadap Y. Kontrol dilakukan sedemikian rupa bukan hanya melalui teknik-teknik penelitian melainkan juga melalui analisis statistik.http://tumoutou.net/702_05123/maman_kh.htm - _ftn22 10. Mengenai waktu pengumpulan dan analisis data sudah dapat dipastikan. Peneliti dapat menentukan berbagai aturan yang terkait dengan pengumpulan data; jumlah tenaga yang diperlukan; berapa lama pengumpulan data akan dilakukan; dan jenis data yang akan dikumpulkan sesuai hipotesis yang dirumuskan. Hal ini sejalan dengan instrumen yang sudah baku dan sudah dipersiapkan. Demikian halnya model analisis data, uji-uji statistik, dan penyajian data -- termasuk tabel-tabel yang akan dipergunakan -- sudah dapat ditentukan. B.PENELITIAN KUALITATIF Penelitian kualitatif atau naturalistic inquiry adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati, demikianlah pendapat Bogdan dan Guba, sementara itu Kirk dam Miller mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Fraenkel dan Wallen menyatakan bahwa penelitian yang mengkaji kualitas hubungan, kegiatan, situasi, atau material disebut penelitian kualitatif, dengan penekanan kuat pada deskripsi menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.

Bila diperhatikan, definisi di atas nampaknya hanya menggambarkan sebagian kecil dari suatu konsep penelitian kualitatif yang kompleks dan berdimensi banyak, oleh karena itu untuk pemahaman yang lebih utuh mengenai penelitian kulitatif, maka pengetahuan tentang apa ciriciri (karakteristik) penelitian kualitatif akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan padu tentang penelitian kualitatif. Untuk itu berikut ini akan dikemukakan berbagai ciri penelitian kualitatif. Guba (1985: 39 – 44) mengetengahkan empat belas karakteristik penelitian naturalistik, yaitu : a.Konteks natural (alami), yaitu suatu konteks keutuhan (entity) yang tak akan dipahami dengan membuat isolasi atau eliminasi sehingga terlepas dari konteksnya. b.Manusia sebagai instrumen. Hal ini dilakukan karena hanya manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas dan menangkap makna, sedangkan instrumen lain seperti tes dan angket tidak akan mampu melakukannya. c.Pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan. Sifat naturalistik memungkinkan mengungkap halhal yang tak terkatakan yang dapat memperkaya hal-hal yang diekspresikan oleh responden. d. Metoda kualitatif. Sifat naturalistik lebih memilih metode kualitatif dari pada kuantitatif karena lebih mampu mengungkap realistas ganda, lebih sensitif dan adaptif terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. e.Pengambilan sample secara purposive. f.Analisis data secara induktif, karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan. Yang dimaksud dengan analisis data induktif menurut paradigma kualitatif adalah analisis data spesifik dari lapangan menjadi unit-unit dan dilanjutkan dengan kategorisasi. g.Grounded theory. Sifat naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori diangkat dari empiri, bukan dibangun secara apriori. Generalisasi apriorik nampak bagus sebagai ilmu nomothetik, tetapi lemah untuk dapat sesuai dengan konteks idiographik. h.Desain bersifat sementara. Penelitian kualitatif naturalistik menyusun desain secara terus menerus disesuaikan dengan realita di lapangan tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat. Hal ini terjadi karena realita di lapangan tidak dapat diramalkan sepenuhnya. i.Hasil dirundingkan dan disepakati bersama antara peneliti dengan responden. Hal ini dilakukan untuk menghindari salah tafsir atas data yang diperoleh karena responden lebih memahami konteksnya daripada peneliti. j.Lebih menyukai modus laporan studi kasus, karena dengan demikian deskripsi realitas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari bias. Laporan semacam itu dapat menjadi landasan transferabilitas pada kasus lain. k.Penafsiran bersifat idiographik (dalam arti keberlakuan khusus), bukan ke nomothetik (dalam

arti mencari hukum keberlakuan umum), karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya. l.Aplikasi tentatif, karena realitas itu ganda dan berbeda. m.Ikatan konteks terfokus. Dengan pengambilan fokus, ikatan keseluruhan tidak dihilangkan, tetap terjaga keberadaannya dalam konteks, tidak dilepaskan dari nilai lokalnya. n.Kriteria keterpercayaan. Dalam penelitian kuantitatif keterpercayaan ditandai dengan adanya validitas dan reliabilitas, Menurut Kirk dam Miller cirri-ciri Penelitian Kualitatif adalah sbb: Ciri- ciri pokok Penelitian Kualitatif 1 Naturalistic inquiry Mempelajari situasi dunia nyata secara alamiah, tidak melakukan manipulasi,; terbuka pada apapun yang timbul. 2 Inductive analysis Mendalami rincian dan kekhasan data guna menemukan kategori, dimensi, dan kesaling hubungan. 3 Holistic perspective Seluruh gejala yang dipelajari dipahami sebagai sistem yang kompleks lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannya. 4 Qualitative data Deskripsi terinci, kajian/inkuiri dilakukan secara mendalam. 5 Personal contact and insight Peneliti punya hubungan langsung dan bergaul erat dengan orang-orang, situasi dan gejala yang sedang dipelajari. 6 Dynamic systems Memperhatikan proses; menganggap perubahan bersifat konstan dan terus berlangsung baik secara individu maupun budaya secara keseluruhan 7 Unique case orientation Menganggap setiap kasus bersifat khusus dan khas 8 Context Sensitivity Menempatkan temuan dalam konteks sosial, historis dan waktu 9 Emphatic Netrality Penelitian dilakukan secara netral agar obyektif tapi bersifat empati 10

Adanya batas yang ditentukan oleh fokus (perlunya batas penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalajh dalam penelitian) 9.Anslisa data secara induktif (mengacu pada temuan lapangan) 5. terbuka beradaptasi sesuai perubahan yang terjadi (tidak bersifat kaku) (Sumber : Patton : 1990 :40-41) Setelah mensintesiskan pendapat Bogdan & Biklen dengan pendapat Lincoln & Guba.Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas.Sampling yang purposive 12.Menggunakan audit trial (melacak laporan/informasi sesuai dengan data yang terkumpul) 13.design flexibility Desain penelitiannya bersifat fleksibel.Mengutamakan perspektif emik (menurut pandangan responden) 10.Latar alamiah (penelitian dilakukan pada situasi alamiah dalam suatu keutuhan) 2. reliabilitas dan obyektivitas) 10.Hasil penelitiaan dirundingkan dan disepakati bersama (hassil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama antar peneliti dengan sumber data) sementara itu menurut Nasution ciri-ciri metode kualitatif adalah : 1.Mencari makna 5.Mengadakan analisis sejak awal penelitian 15.Menonjolkan rincian kontekstual 8.Lebih mementingkan proses daripada hasil 8.Desain penelitian tampil dalam proses penelitian Dengan memperhatikan karakteristik penelitian kualitatif yang dikemukakan para ahli sebagaimana dikemukakan di atas.Desain yang bersifat sementara (desain penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan) 11.Metode kualitatif (metode yang digunakan adalah metode kualitatif) 4.Manusia sebagai alat (Manusia/peneliti merupakan alat pengumpulan data yang utama) 3. .Subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti 9.Deskriptif (data yang dikumpulkan berupa kata-kata.Mengutamakan data langsung 6. nampaknya lebih bersifat saling melengkapi dan menambah.Mementingkan proses maupun produk 4. Moleong mengemukakan sebelas karakteristik penelitian kualitatif yaitu : 1.Partisipsi tanpa mengganggu 14.Triangulasi (pengecekan data/informasi dari sumber lain) 7. gambar dan bukan angka-angka) 7.Data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau gambar ketimbang 16.Teori dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori berdasarkan data) 6.Verifikasi (menggunakan kasus yang bertentangan untuk memperoleh hasil yang lebih dipercaya) 11.Sangat deskriptif 3.Sumber data adalah situasi yang wajar atau natural settting Peneliti sebagai instrumen penelitian 2. karakteristik yang dikemukakan oleh Patton lebih bersipat umum yang merupakan ciri-ciri dasar.

karena fenomena-fenomena yang terjadi saling berkaitan dan saling mempengaruhi secara dinamis dalam suatu sistem yang menyeluruh. Pendeskripsian serta pemahaman atas lingkungan sosial (atau lingkungan dalam konteks lainnya) seseorang (informan) merupakan hal yaang sangat penting bagi pemahaman yang menyeluruh atas apa yang diteliti.Sistem yang dinamis Setting penelitian merupakan sesuatu yang dinamis. memahami dan menghayati realitas yang terjadi. Peneliti kualitatif memandang bahwa keseluruhan itu merupakan suatu sistem yang kompleks tidak sekedar penjumlahan bagian-bagiannya.Analisis induktif Metode kualitatif terutama berorientasi pada upaya eksplorasi. catatan lapangan. interaksi yang terjadi secara alamiah. Dengan variasi semacam ini maka akan lebih mempermudah/memperjelas pemahaman tentang penelitian kualitatif a. penemuan dengan menggunakan logika induktif . Perlunya kontak langsung secara personal adalah guna memahami secara personal realitas yang terjadi dalam kehidupan wajar sehari-hari.Kontak personal Metode kualitatif mensyaratkan perlunya kontak personal secara langsung antara peneliti dengan orang-orang dan lingkungan yang sedang diteliti. . f. Menurut Guba inkuiri naturalistik merupakan pendekatan yang berorientasi pada penemuan yang meminimalisir manipulasi peneliti atas obyek penelitian/studi b. data yang dikumpulkan lebih bersifat kualitatif yang mendeskripsikan setting penelitian baik situasi maupun informan/responden yang umumnya berbentuk narasi baik melalui perantaran lisan seperti ucapan/penjelasan responden. dokumen pribadi. hal ini dikarenakan metode kualitatif berusaha memahami fenomena-fenomena dalam kejadian alami yang wajar.Data kualitatif Dalam penelitian kualitatif.Inkuiri naturalistik Desain penelitian kualitatif bersifat alamiah dimana peneliti tidak berusaha memanipulasi setting penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif dimana data yang dikumpulkan merupakan hasil pengukuran atas variabel-variabel yang telah dioperasionalkan (umumnya brbrntuk angka-angka) e.rumusan Moleong sudah menambahkan hal-hal yang bersipat operasional penelitian. sehingga peneliti dapat mengerti dan memahami bagaimana orang-orang mengalami. Perhatian utama peneliti kualitatif adalah menggambarkan dan memahami proses dinamika yang terjadi. terlebih lagi karakteristik yang dikemukakan oleh Nasution. komunitas. d. Peneliti kualitatif berusaha memahami berbagai hubungan antar dimensi/variabel yang muncul dari data-data yang ditemukan tanpa terlebih dahulu membuat hipotesis sebagaimana umum dilakukan dalam penelitian kuantitatif. kondisi/situasi obyek yang diteliti benar-benar merupakan kejadian. c. dan selalu berubah baik secara individual maupun budaya secara keseluruhan. analisis induktif bermakna analisis yang dimulai dengan melakukan observasi spesifik menuju terbentuknya pola umum.Perspektif menyeluruh Metode kualitatif berusaha memahami fenomena sebagai suatu keseluruhan yang padu dan total.

oleh karena itu peneliti harus peka dalam memahami konteks suatu temuan penelitian.Berorientasi pada kasus yang khas Kedalaman metode kualitatif secara tipikal bermula dari kasus-kasus kecil yang menarik sesuai dengan tujuan penelitian. penelitian kualitatif tidak bertolak dari teori. tidak bertolak dari teori secara deduktif (a priori) melainkan berangkat dari fakta sebagaimana adanya. penelitian kualitatif bertolak dari paradigma alamiah. Ia mengamati dengan cermat adanya perbedaan perilaku antara mereka yang taat dengan mereka yang kurang taat beragama. juga dapat dan seringkali tertarik untuk melihat hubungan sebab akibat. dikelompokkan. masalah-masalah khas atau situasi-situasi yang unik secara lebih mendalam. Pentingnya studi kasus ini terutama bila seseorang memerlukan pemahaman atas orang-orang yang istimewa. Peneliti mengamati keaslian suatu gejala sosial. Karena itu. Meminjam istilah Moleong (1989).g. Kemudian dengan cermat ia menelusuri apakah fenomena tersebut mengakibatkan fenomena lain atau tidak. yang disebut grounded theory (teori dari dasar). penelitian kualitatif melihat hubungan sebab-akibat dalam suatu latar yang bersifat alamiah. karena menekankan pada keaslian. sedangkan sikap empati perlu ada mengingat peneliti kualitatif melakukan kontak personal secara langsung dengan sumber-sumber data (informan) j. dan disajikan dapat menghasilkan teori. Penelitian kualitatif. saling terkait satu sama lain. Dalam pengamatan tersebut peneliti menemukan hubungan kausalitas ketaatan . Hanya saja. kenetralan merupakan upaya untuk menjaga obyektivitas. Karena itu. i. penelitian ini mengasumsikan bahwa realitas empiris terjadi dalam suatu konteks sosiokultural. Misalnya: peneliti mengamati keragaman perilaku yang menggambarkan ketaatan beragama. Artinya. tetapi menghasilkan teori. penelitian kuantitatif berusaha mengetahui sebab-akibat dalam latar yang bersifat laboratorium-ilmiah. untuk itu dalam penelitian kualitatif seorang penelity diharapkan bersifat netral tapi empati. setiap fenomena sosial harus diungkap secara holistik. Rangkaian fakta yang dikumpulkan. h. sehingga pengaruh X terhadap Y diusahakan terjadi. baik konteks sosial.Netralitas yang empati Obyektivitas yang sempurna adalah tidak mungkin. maupun konteks waktu. dia biasa mengadaptasi perubahan sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kegiatan penelitian. ditafsirkan. ini berarti bahwa suatu temuan akan banyak bermakna atau akan memberikan makna yang lebih mendalam bila dilihat dalam konteksnya sendiri-sendiri.Desain yang lentur Desain penelitian dalam metode kualitatif tdak bersifat kaku. Penelitian kualitatif. oleh Karena itu dalam penelitian kualitatif desain secara parsial bisa muncul pada saat penelitian sedang berlangsung. Sebaliknya. menurut Moleong (1989). konteks historis. dan sejauh mana suatu fenomena sosial mengakibatkan terjadinya fenomena yang lain.Sensitif pada konteks Temuan-temuan dalam penelitian kualitatif selalu ditempatkan sesuai dengan konteksnya. subyektivitas murni akan merusak keterpercayaan.

interaksi simbolik. ethnometodologi.asumsi Penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika. Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial partisipan (subyek penelitian). justru kadang-kadang diakhiri dengan hipotesis. ethnometodologi.Penelitian kualitatif tidak memerlukan hipotesis. Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur. hermeneutik. heuristik. Perumusan teori berdasarkan data yang telah tersaturasi (grounded theory). Ciri-ciri penelitian kualitatif yang lain: 1. Bahasa penelitian dikemas secara deskriptif. perbedaan tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan serta latar brlakang disiplin ilmunya.tujuan penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan realitas secara kontekstual.beragama dengan produktivitas. 2. oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman partisipan (emik). Penarikan kesimpulan secara induksi dengan menemukan salah satu pola yang berlaku dari pluralitas dan kompleksitas norma. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. interaksi simbolik. ethnometodologi lebih berkembang di lingkungan antropologi dan ditunjang antara lain oleh Bogdan . paradigma naturalistik. matematika dan penelitian kuantitatif. hermeneutik. atau holistik. karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang diteliti. Noeng Muhadjir (1994 : 12) mengemukakan beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif yaitu: grounded research. paradigma naturalistik. 2000: 17) seperti : interpretif grounded research. interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat dikembangkan oleh Blumer. istilah grounded research lebih berkembang dilingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. interpretasi terhadap fenomena yang menjadi perhatian peneliti dan memahami perspektif partisipan terhadap masalah kesehatan. yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif. heuristik. Pemahaman yang demikian tidak selamanya benar. Schleigel dari Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu soaial Banda Aceh pada tahun 1970-an). semiotik. 4. 3. Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. atau holistik . . semiotik.penelitian kualitatif memerlukan keberpihakan dan keterlibatan peneliti agar ia dapat memahami (empati) situasi partisipan penelitian secara holistik. Peneliti menggunakan teknik penggambaran (portrayal) secara alamiah terhadap fenomena yang muncul sekaligus dirinya merupakan instrumen penelitian itu sendiri.

C.Action research adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru. bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.PENELITIAN TINDAKAN Pengertian: 1. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip. pada pokoknya ia merupakan suatu cara eklektik yang dituangkan ke dalam suatu program refleksi-diri (self-reflection) yang ditujuan untuk peningkatan mutu pendidikan. artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti. dan agar mau untuk memperbaikinya. memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. 5.Bersifat partisipatoris.Bersifat emik (bukan etik). 4. artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan. Ini berarti guru berperan ganda. 3. artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 23 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan. 2. dan (c) situasi-situasi (dan lembaga-lembaga) di mana praktek-praktek tersebut dilaksanakan.atau kepala sekolah. Karakteristik PTK PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut : 1.Action research dipandang sebagai suatu cara untuk memberi ciri bagi seperangkat kegiatan yang direncanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. pemberian tindakan.Bersifat siklis. 4. PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif. (b) pengertian mengenai praktek-praktek ini. dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktek mengajarnya sendiri. 3.siswa. yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. 2.action research adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan. 1996). yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula. sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain.) dalam situasi-situsi social (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) preaktek-praktek sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri.Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil.Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis Macam-macam PTK Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya. (Carr dan Kemmis.Bersifat longitudinal. pengamatan dan refleksi). sebagai prosedur baku penelitian. dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. 5.Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru. agar kritis terhadap praktek tersebut. bukan menurut sudut pandang orang luar .

3. 6. dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. 3. Tujuan PTK sebagai berikut : 1.Menumbuhkembangkan kebiasaan. Manfaat PTK 1. bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis. dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran. 9. 7. di kelas. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan. 7. di rumah sakit. Hal ini memperkuat . 4. 8. menggarap masalah-masalah besar. 5. artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan. dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru.Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian. metode.Mengidentifikasi. sekolah. strategi.Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal.Memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac. 6. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.Menggunakan konteks alamiah kelas.Mampu mewujudkan kerja sama.Mencobakan gagasan. menemukan solusi. budaya. 10. dan kelas. Sebab itu. antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah. dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan. kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian. kiat. 2. dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.Bermaksud mengubah kenyataan. cara. artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru.Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. 9. kaloborasi. bukan yang rumit.Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya. artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. di kantor.Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. 1994:27). bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas. 8. 4. pendekatan.Bersifat kaloboratif atau kooperatif.yang berjarak dengan hal yang diteliti. pikiran. dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru. PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana.Menemukan pemecahan masalah yang dihadapi sesorang dalam tugasnya sehari-hari dimana pun tempatnya. bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi. dan seterusnya. 2.Bersifat kasuistik.

Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. action research dapat dianggap sebagai penelitian ilmiah micro. nyaman. menyenangkan. strategi. Dilihat dari ruang lingkup. (b) alat pelatihan dalam-jabatan.Menulis laporan PTK. (5) memilih dan menyusun persfektif. impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan tambahan atau inovatif. pelaksnaan tindakan. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. bahkan bersamaan. Inilah laporan PTK. teknik.Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan . rumusan masalah. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan. 6. 2. pengamatan. (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif. metode. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok. baik pelaksanaan tindakan. yaitu. kegairahan. PTK dapat berfungsi sebagai (Cohen & Manion. dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK. konsep. Setelah itu. ketertarikan. yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah. (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan. dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan. dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.Melaksanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK.Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya. 4. pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan. media. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.Menyusun proposal PTK. Prosedur Pelaksanaan PTK 1. 5. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara. 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi masalahmasalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas. perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran. dan kajian konsep atau teoritis. (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK. menantang. Action research adalah penelitian yang bersifat partisipatif dan . dan melibatkan siswa karena strategi.Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan. kenyamanan. dan prakteknya. maupun refleksi. (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti. tujuan. atau kiat tertentu. khususnya melalui pengajaran sejawat. tujuan. metode. membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadarandiri. 3.

b) tindakan (acting). yaitu . Modal utama peneliti action research adalah pengalamannya dalam bidang yang digeluti dan pengetahuan yang ia miliki. action research dilakukan bersama rekan-rekan seprofesi. 1990:14). karena dialah yang pertama kali memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan. Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen. dan d) refleksi (reflecting). Model-model Penelitian Tindakan Kelas 1. Keterlibatan peneliti action research dalam penelitiannya sendiri itulah yang membuat dirinya menjadi pakar peneliti untuk kelasnya dan keperluan sehari-harinya dan tidak membuat ia tergantung pada para pakar peneliti yang tidak tahu mengenai masalah-masalah kelasnya sehari-hari. action research tidak digunakan untuk menguji teori. Maksudnya. komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan.kolaboratif. Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut: 2. Action research merupakan metode yang handal untuk menjembatani teori dan praktek (dalam pndidikan ). yaitu bajwa peneliti tidak berharap hasil penelitiannya akan dapat digeneralisasi atau berlaku secara umum. Namun kedua macam penelitian ini mempunyai kesamaan. Apabila dicermati. berikut ini dikemukakan bentuk designnya (Kemmis & McTaggart. begitu berlangsungnya suatu tindakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan. Design PTK Model Kemmis & McTaggart Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang diutarakan di atas. a) perencanaan (planning). Design Penelitian Tindakan Model Kurt Lewin Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian tindakan yang lain. kedua kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu. penelitiannya dilakukan sendiri oleh peneliti. Sebenarnya action research dapat juga dilakukan dalam skala besar karena seperti dikatakan di atas. action research dianggap sebagai alternatif dari penelitian tradisional (penelitian yang biasa dilakukan). Maksudya. Action research mendorong para guru agar memikirkan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam menjalankan tugasnya. karena dengan action research para guru dianjurkan menemukan dan mengembangkan teorinya sendiri dari perakteknya sendiri. Action research berbeda dengan studi kasus karena tujuan dan sifat kasusnya yang tidak unik seperti pada studi kasus. model yang dikemukakan oleh Kemmis & McTaggart pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat . sehingga mereka dapat berbagai pengalaman untuk kepentingan mereka misng-masing. Untuk lebih tepatnya. Dalam bidang pendidikan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. dan diamati bersama dengan rekan-rekannya. membuat para guru kritis terhadap apa yang mereka lakukan tanpa tergantung pada teori-teori yang muluk-muluk yang bersifat universal yang ditemukan oleh para pakar penelitian yang sering kali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas. Hanya saja. c) pengamatan (observing). khususnya PTK. Dikatakan demikian.

Keempat. meminta teman sejawat untuk memeriksanya dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat). Untuk pelaksanaan sesungguhnya. Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah). Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut. yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan). baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri). tmapak bahwa didalamnya terdiri dari dua perangkat komponen yang dapat dikatakan sebagai dua siklus. dan riwayat fiksional. riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi. tindakan. perencanaan. yaitu percakapan dengan dirinya sendiri. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri. dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut. dalam bentuk catatan harian dan dialog. dan grafik. (2) percakapan tertulis. yaitu . Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan. pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan). Ketiga. yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya. berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi. Pada gambar diatas. Kedua. maupun pengetahuan teknis prosedural. Kesepuluh. dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan. baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis. jumlah siklus sangat bergantung kepada permasalahan yang perlu diselesaikan. (3) narasi dan cerita. Apabila permasalahan Syarat-syarat agar PTK berhasil: Pertama. Perlu dipastikan bahwa temuan . yang dialogis. yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Kedelapan. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu siklus. tindakan. pengamatan dan refleksi. yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan. tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun. pengertian siklus pada kesempatan ini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan. Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. (2) mempermasalahkan deskripsi terkait. Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual. Keenam. dan (3) teorisasi. dan (4) bentuk visual seperti diagram. Oleh karena itu. Kelima.Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri. gambar. penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya.komponen. khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri. perekaman video and audio. pengamatan dan refleksi. Kutujuh. Kesembilan. dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya.

kelemahan PTK Anda juga memiliki kelemahan: (1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis. (2) rendahnya efisiensi waktu karena Anda harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara Anda masih harus melakukan tugas rutin .validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimimpin demikian. 2. (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat reflektif/evaluatif dalam PTK. baik untuk riset kualitatif maupun riset kuantitatif. Untuk mendapatkan kebenaran tersebut diperlukan serangkaian langkah yang dapat menuntun peneliti untuk menghasilkan sesuatu yang tidak menyimpang dari keadaan yang sebenarnya dari sasaran penelitian. kelebihan: PTK memiliki kelebihan berikut (Shumsky. Riset . Kelebihan dan Kekurangan PTK 1. 1988): (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri. (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat. (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru. 1985). pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali Menurut (Hodgkinson. 1982): (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK. dan Draper. (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru. Serangkaian langkah tersebut antara lain meliputi langkah-langkah untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas. Apa saja persamaan dan perbedaan diantara keduanya? Penelitian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari kebenaran. Miles. (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan. Jika ada perbedaan. FINAL EXAMINATION MATERI December 17th. (3) dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah. (3) konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu. dan (6)pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta penelitian. 2008 by sopianhadi 1. dan (4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (silakan lihat Passow.Diskusikan validitas dan reliabilitas dalam riset kuantitatif dan kualitatif.

atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama. construct validity. pengukuran yang mantap atau konsisten. teknik bentuk pararel dan teknik belah dua. persepsi. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda. Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: teknik ulangan. semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut. Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam bentuk naratif bersifat subjektif menggunakan prosedur dengan pengendalian yang ketat. Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik. maka akan digunakan timbangan untuk berat badan. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua. Pendekatan yang digunakan deduktif. untuk menyusun suatu kuisioner tentang sikap individu terhadap makan tetapi lupa menyanyakan sesuatu tentang pentingnya makanan dalam kehidupan mereka. seperti sikap. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. contoh. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur/ diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan. Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua . Predictive validity adalah seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Content validity adalah suatu keputusan tentang bagaimana instrument dengan baik mewakili karakteristik yang dikaji. bila disajikan pada saat yang sama. face validity. kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Reliabilitas merupakan instrument untuk mengukur atribut penelitian. Pendekatan yang digunakan cenderung ke aspek pengalaman manusia yang dinamik dengan pendekatan yang holistik. proses sistematik dengan menggunakan data numerik untuk mendapatkan informasi.kuantitatif merupakan riset yang bersifat formal. maka ini akan keliru. Makin kecil kesalahan pengukuran. Validitas lebih menekan pada alat pengukur atau pengamat baru setelah itu memikirkan valliditas cara pengukuran. kesadaran beragama. Concurrent validity menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya. maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. biasanya sebagai koefisien. Face validity merupakan validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Construct validity adalah seberapa besar derajat tes mengukur konstruk hipotesis yang dikehendaki untuk diukur. yang menjelaskan perilaku. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkap hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran. ada lima tipe validitas yang digunakan : content validity. concurrent validity. tidak mungkin kita gunakan timbangan dacin. semakin tinggi tingkat reliabilitas sebuah instrument maka semakin rendah kemungkinan terjadi penyimpangan. agak sulit dicapai. objektif. Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut. predictive validity. Semakin besar kesalahan pengukuran. Konstruk adalah perangai yang tidak dapat diamati. apabila tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi. Didalam menilai keakuratan suatu instrument. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. pendapat. semakin reliabel alat pengukurnya. Misalnya kita akan mengukur berat badan. logic dan ciri pengalaman manusia yang dapat di ukur. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial. Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrumen didalam mengumpulkan data.

proses sistematik dengan menggunakan data numerik untuk mendapatkan informasi. Variability yaitu untuk mengetahui bagaimana penyebaran data yang diperoleh yang terdiri dari range dan standart deviasi. prosedurnya tidak baku. Cara yang umum digunakan dalam menghubungkan variable yaitu pearson dan spearmen. Pearson yaitu untuk menhubungkan dan mengukur variable yang bersifat interval atau ratio. Pengukuran tensensi sentral dimulai dari pusat penyebaran variable dengan menggunakan skala ratio atau interval yaitu mean. sedangkan spearmen untuk menghubungkan dan mengukur variable ordinal. Sekalipun demikian penelitian kualitatif tetap saja dapat memperoleh validitas jika dilakukan dengan benar. 2. Fase analisis dalam riset kuantitatif meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial (uji signifikansi). Contingency table merupakan distribusi frekuensi yang bersifat dua dimensi dimana terdapat dua variable yang saling ditabulasi silang. median. Sedangkan bivariate deckriptif statistic untuk menggambarkan hubungan antara dua variable. analisis data di artikan sebagai kegiatan pengolahan data. Analisis inferensial (uji signifikansi). Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Adapun urutannya terletak pada tahap setelah tahap pengumpulan data. Uji signifikansi dapat diaplikasikan tergantung dari tujuan analisis dan jenis data yang ada. Sedangkan korelasi hubungan antara dua variable yang didskripsikan melalui prosedur korelasi. Distribusi frekuensi merupakan pengaturan yang sistematis dari data yang terkumpul mulai dari nilai yang terrendah sampai dengan nilai yang tertinggi. bivariate deckriptif statistic terdiri dari contingency table dan korelasi. pengukuran tendensi sentral. Kedua pendekatan didalam riset kuantitatif dan kualitatif masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. range didapat dengan cara mengurangi nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dalam distribusi data. Statistik inferensial dimaksudkan untuk membuat prediksi atau . objektif. Standart deviasi menggambarkan nilai rata-rata dari mean.Bandingkan dan bedakan fase analisis dalam riset kuantitatif dan riset kualitatif? Salah satu tahap didalam proses penelitian adalah analisa data. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample. yang terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi data. semua di hitung dengan persentase. mode. uji yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitian.kelompok. banyak memakan waktu. Analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang harus dilewati oleh seorang penelitian. desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti. Analisis deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data secara ilmiah dalam bentuk table atau grafik. Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam bentuk naratif bersifat subjektif. reliabilitasnya dipertanyakan. Dalam arti sempit. Statistik ini juga bisa digunakan untuk mengecek kesalahan dalam program computer. variability dan bivariate deckriptif statistic. pengambilan data dan penentuan alat analisanya. hati-hati dan dengan menggunakan prosedur yang sistematis. pengujian statistic yang tidak sesuai akan menimbulkan penafsiran yang salah dan hasil yang tidak dapat digeneralisasi. Kelemahan validitas riset kualitatif adalah tidak bisa mendapatkan validitas yang tinggi karena validitas tidak bisa di ukur dengan angka. Korelasi dapat bersipat positif dan negative. Riset kuantitatif merupakan riset yang bersifat formal. Data yang disajikan termasuk distribusi frekuensi. Demikian juga pada pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran karena dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar.

Analisa Komparasi Konstan (Grounded Theory Research): cara melakukan analisa komparasi konstan adalah sebagai berikut: mengumpulkan data untuk menyusun / menemukan suatu teori baru. Statistik parametrik digunakan apabila memenuhi asumsi bahwa populasi asal sampel didistribusikan secara normal dan data yang dikumpulkan memakai skala interval atau ratio. yaitu peneliti menggabungkan dan menyaring data yang terkumpul secara keseluruhan. nilai dasar / utama. etos. synthesizing. pandangan dunia dan orientasi kognitif. factor analysis. Z test. cluster analysis. Statistik parametrik terbagi lagi menjadi statistik univariat dan statistik multivariate. membuat hipotesa jalinan hubungan antara gejala yang ada. yaitu fase dimana peneliti mensortir data yang ada secara sistematis. meliputi : comprehending . Peneliti berusaha membuat penjelasan alternative dari fenomena yang ada dalam penelitian dan mempertahankan penjelasan yang ada mereka miliki dengan data yang ada. yaitu peneliti berusaha untuk memahami apa yang didapat dari data yang terkumpul dan mempelajari apa yang sebenarnya sedang berjalan. Analisa Taksonomi. Riset kualitatif di analisa dengan cara Analisa domain. Hasil yang diharapkan ialah pengertian di tingkat permukaan mengenai domain tertentu atau kategori-kategori konseptual. Statistik non parametrik dipakai tanpa mensyaratkan asumsi normalitas distribusi populasi dan bisa dipakai untuk data yang berskala nominal atau ordinal. oleh karena itu peneliti dalam menganalisa data sebaiknya menggunakan pendekatan yang utuh (holistic approach). korelasi pearson dan ANOVA. Analisa domain. Analisa berpangkal pada pandangan bahwa segala sesuatu yang kita teliti pada dasarnya merupakan suatu yang utuh (keseluruhan). Peneliti dapat mempersiapkan atau memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang fenomena yang ada dalam penelitian. taksonomi. Analisa Komponensial: analisa komponensial menekankan pada kontras antar elemen dalam suatu domain. komponensial. hanya karakteristik-karaktersitik yang berbeda saja yang dicari. berguna untuk mencari dan memperoleh gambaran umum atau pengertian yang bersifat secara mneyeluruh. Recontextualizing adalah peneliti berusaha mengembangkan teori yang sudah ada dan berusaha mencoba untuk mengaplikasikannya ke setting atau keadaan yang lain. Analisa Tema Kultural: cara melakukan analisa tema kultural ialah dengan mencari benang merah yang ada yang dikaitkan dengan nilai-nilai. Contoh statistik inferensial multivariat adalah discriminat analysis. Uji Chi-square adalah non para metric test yang digunakan untuk mengetahui perbedaan secara significant frekuensi observasi dan frekuensi secara teori. tema cultural. biasanya untuk menguji hipotesa. Contoh statistik inferensial univariat – parametrik antara lain adalah t-test. Theorizing. Bagaimana beberapa variabel independen dapat menjelaskan terjadinya perubahan dalam suatu variabel independen.keputusan mengenai sebuah populasi berdasarkan informasi yang terdapat dalam sebuah sampel. Peneliti juga berusaha untuk menentukan bagaimana type dan variasi tang ada. Anova digunakan untuk menguji perbedaan antara mean dan dipergunakan sebagai suatu indikasi untuk menolak atau menerima Ho. perbedaan dalam suatu variabel antar anggota kelompok yang berbeda. Perhatian statistik inferensial adalah untuk mengetahui atau mengambil kesimpulan dari data melalui analisis : hubungan antar dua variable. korelasi Spearman dan uji chi-square. tidak terpecah-pecah. Fase analisis dalam riset Kualitatif . Mann-Whitnney U test. Synthesizing. Comprehending. orientasi nilai. theorizing dan recontextualizing. Statistik inferensial digolongkan kedalam statistik parametrik dan statistik nonparametrik. dan multidimensional scaling. berkonsentrasi pada deskripsi yang rinci mengenai sifat atau cirri dari data yang dikumpulkan untuk menghasilkan pernyataan teoritis secara umum. . Contoh statistik inferensial – non parametrik antara lain sign test. didasarkan pada focus terhadap salah satu domain (struktur internal domain) dan pengumpulan hal-hal / elemen yang sama. tema Kultural dan Komparasi Konstan (Grounded Theory Research. premis.

Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian. uji t. kesimpulan di cantumkan tetapi tidak jelas. dengan memiliki judul yang spesipik. metode. Abstrak terbagi menjadi dua bagian. Sedangkan cara menganalisa data riset kualitatif yang lain : Analisa data etnografis. tujuan. dengan memiliki judul yang spesipik. Abstrak yaitu penjabaran singkat tentang penelitian yang ada di awal artikel atau jurnal. yaitu dimulai pada saat peneliti terjun kelapangan secara terus nenerus peneliti mencari pola tingkah laku dan pemikiran dari para responden. ada yang namanya abstrak. analisa varian dan covarian. kesimpulan dan kata kunci yang berdiri sendiri. Apabila terlalu lama baru dianalisa maka data menjadi kadaluwarsa. Abstrak 1 merupakan abstrak tradisional yang seharusnya berisi tentang beberapa paragraph kesimpulan yang singkat mengenai gambaran keseluruhan dari penelitian. kemungkinan. mengenai rata-rata. indeks. membandingkan satu pola dengan pola yang lain dan menganalisa pola secara simultan. metode yang digunakan sudah dijelaskan. Ada penjelasan tentang latar kelakang tetapi tidak jelas. tujuan. peneliti mencantumkan hasil penelitian. konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru. Abstrak yang sudah diperbaharui dalam bentuk yang lebih panjang dan informative. tujuan. Peneliti sudah menjelaskan tentang latar belakang. Data diusahakan jangan sampai terkena bermacam-macam pengaruh. ramalan. 3. terdiri dari latar belakang. seperti korelasi. metode. regresi linear dan lain-lain.kemudian mengujinya dengan bagian data yang lain dan didasarkan dari akumulasi data yang telah dihipotesakan. peneliti mengembangkan suatu teori baru. persentasi. kesimpulan dan kata kunci yang berdiri sendiri. Analisa data grounded teori. kalimat atau gambar. kesimpulan . arah. metode. yaitu analisa yng memberikan gambaran arti dari setiap pengalaman melalui identifikasi tema-tema esensial dan mencari pola-pola yang umum terjadi. terdiri dari latar belakang. Perbedaan dalam fase analisis riset kuantitatif dan kualitatif adalah sifat data kuantitatif lebih mengutamakan perhitungan statistic. membandingkan elemen yang ada dalam satu sumber data didalam wawancara. Secara umum isi abstrak 1 membingungkan dan tidak memberikan ringkasan utama dari laporan penelitian. hanya dinyatakan dalam bentuk kata. Analisa data sudah dapat dilakukan semenjak data diperoleh di lapangan. Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif. analisa terus berjalan sampai semua konten dari setiap sumber sudah dibandingkan antara yang satu dengan yang lainnya.Bandingkan dan bedakan kedua abstrak diatas? Di dalam sebuah riset. hasil penelitian. jumlah dan lain-lain. tujuan. walaupun pada abstrak 1 tidak menggambarkan secara keseluruhan dari pada penelitian. antara lain pikiran peneliti sehingga menjadi terpolusi. tetapi tidak menjelaskan untuk apa penelitian/ tujuan tidak ada. perbandingan. kecendrungan. Abstrak terdiri dari 100 sampai dengan 200 kata. analisa faktor. hasil penelitian. uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik. Sedangkan data-data kualitatif tidak bisa diukur dengan angka atau data yang tidak bisa diangkakan. yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan riset dan bagaimana implikasinya terhadap praktik keperawatan. Pada abstrak 2 merupakan abstrak yang sudah diperbaharui karena dalam bentuk yang lebih panjang dan lebih informative. hanya kata kunci yang berdiri sendiri dan dijelaskan. Analisa data phenomenology. yaitu analisa ynag menggunakan metode perbandingan secara konstan. yaitu abstrak tradisional dan abstrak yang diperbaharui. hasil dan kesimpulan tidak berdiri sendiri. hasil penelitian. metode. Abstrak yang tradisional berisi tentang beberapa paragrap kesimpulan yang singkat mengenai gambaran keseluruhan dari penelitian. sedangkan latar belakang.

) (P. penjelasan pertama peneliti bukan tentang latar belakang. D. (2002). S. • Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk dipelajari.T. February 18. maka kita harus tahu terlebih dahulu mengenai: • Populasi adalah seperangkat unit analisa lengkap yang sedang diteliti. & Dempsey A. Walaupun demikian.Philadelphia: Lippincott RANGKUMAN TEKNIK SAMPLING PADA DATA KUANTITATIF DAN CARA MENENTUKAN UKURAN SAMPEL Wednesday. Trans. Appraisal. Wiyastuti. A. abstak 1 merupakan abstrak tradisional dan isi keseluruhan membingungkan dan tidak memberikan ringkasan utama dari laporan penelitian. Pendekatan praktis metodologi riset keperawatan. di bandingkan dengan abstrak 1. Jakarta: EGC. Oleh karena itu.. and Utilization (6th ed. DAFTAR PUSTAKA Dempsey P. melainkan tentang tujuan penelitian.. sebelum pada bahasan teknik sampling pada data kuantitaf dan bagaimana cara menentukan ukuran sampel.). padat dan dapat menyajikan ringkasan tentang hasil penelitian. Riset keperawata: Buku ajar dan latihan (4th ed.). (2008). Jadi. Jakarta : Sagung Seto Polit. sedangkan abstrak 2 merupaskan abstrak yang sudah di perbaharui secara keseluruhan lebih jelas. • Sampling adalah cara-cara atau teknik penarikan sampel dari populasi. Tetapi. C. padat dan dapat menyajikan ringkasan tentang hasil penelitian. abstrak adalah informasi singkat dan padat tentang ringkasan hasil penelitian. Nursalam. Essential of nursing research: Methods.(2006).& Beck. 2009 Pada penelitian kuantitatif Populasi dan sampel merupakan sumber utama untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam mengungkapkan fenomena atau realitas yang dijadikan fokus penelitian kita. (2000). . Perbedaan abstrak 1 dengan abstrak 2 adalah. abstrak 2 secara keseluruhan lebih jelas. Konsep & penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan edisi 2.dan kata kunci. D. F. Jakarta : Salemba Medika Nursalam & Pariani.

dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak). Teknik Sampling pada data kuantitatif 1. Kelemahannya ialah membutuhkan kemampuan untuk membedakan masing-masing anggota populasi secara unik terhadap kluster. makin besar pula perbedaan sifat-sifat antara lapisan tersebut. sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya. maka pengambilan sampelnya dapat dilakukan satu tahap (simple cluster sampling). Dalam keadaan yang demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling). Keuntungan menggunakan teknik ini ialah jika kluster-kluster didasarkan pada perbedaan geografis maka biaya penelitiannya menjadi lebih murah. antara lain (Singarimbun dan Effendi. 1989:162-163): 1. ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Makin heterogen suatu populasi. Probability Sampling (Menggunakan Prinsip Random) a. • Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil. 2. Karakteristik kluster dan populasi dapat diestimasi. • Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar. dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-klaster yang berbeda-beda. maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau homogen. Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ke dalam lapisan-lapisan. maka pengambilan sampel tidak cukup hanya satu tahap. yang akan menyebabkan kemungkinan adanya duplikasi atau penghilangan individuindividu tertentu. b. Cluster Random Sampling Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak diketahui dengan pasti. Untuk dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen. Jumlah satuan elementer dari setiap strata (ukuran . Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi. Stratified Random Sampling Teknik sampling ini digunakan apabila populasinya tidak homogen (heterogen). Untuk dapat menggunakan teknik sampling random strata. melainkan harus beberapa tahap.

Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilih sebagai sampel sebesar n/N. sehingga mengurangi keanekaragamannya. Jika hal tersebut diabaikan maka kesalahan akan muncul. Simple Random Sampling Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Karakteristik-karakeristik masing-masing strata dapat diestimasikan sehingga dapat dibuat perbandingan. antara lain (Singarimbun dan Effendy. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu. yaitu • Sampel strata proporsional Teknik sampling random strata proporsional digunakan apabila proporsi ukuran subpopulasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama besar. Dalam sampel strata proporsional. c. Hal ini diperlukan agar peneliti dapat membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi atau strata yang akan dijadikan sumber dalam menentukan sampel atau responden. 1989): . Cara pengambilan sample dilakukan dengan menyeleksi setiap unit sampling yang sesuai dengan ukuran unit sampling. Perbedaanya ialah terletak pada ukuran sample yang tidak proporsional terhadap ukuran unit sampling karena untuk kepentingan pertimbangan analisa dan kesesuaian. yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi.setiap subpopulasi) harus diketahui dengan pasti. Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. ukuran sampel yang diambil dari setiap subpopulasi (strata) sama besarnya. dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction) yang sama yang digunakan. • Sampel strata disproporsional Pada Sampel Strata Disproporsional. Kerugiannya ialah membutuhka informasi yang akurat pada proporsi populasi untuk masing-masing strata. yang berbeda adalah pecahan samplingnya. Keuntungannya ialah aspek representatifnya lebih meyakinkan sesuai dengan sifat-sifat ynag membentuk dasar unit-unit yang mengklasifikasinya. Sampel strata terdiri dari dua macam. Strategi pengambilan sample sama dengan proporsional.

1. Teknis pelaksanaannya ada dua cara. dari populasi (N) berukuran 500 kita akan mengambil sampel (n) berkuran 50. Penentuan unsur sampling selanjutnya ditempuh dengan cara memanfaatkan interval sampel. Ukuran populasinya tidak tak terbatas. pada teknik sampling sistematik perandoman atau pengundian hanya dilakukan satu kali. sama dengan persyaratan untuk sampel random sederhana. Interval sampel atau juga disebut sampling rasio diperoleh dengan cara membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki (N/n). yakni ketika menentukan unsur pertama dari sampling yang akan diambil. Misalnya. Sifat populasinya harus homogen. Teknik Sampling Random Sistematik (Systematic Random Sampling) Apabila ukuran populasinya sangat besar. 2. Dalam keadaan populasi yang demikian. Bedanya. 3. gunakanlah teknik sampling random sistematik. yakni tersedianya kerangka sampling (ukuran populasinya diketahui dengan pasti). yakni: 1. d. Persyaratan yang harus dipenuhi agar teknik sampling ini dapat digunakan. maka penentuan unsur-unsur sampel berikutnya adalah: . dan populasinya mempunyai pola beraturan yang memungkinkan untuk diberikan nomor urut serta bersifat homogen. hingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan sampel dengan cara pengundian. Andaikan yang terpilih sebagai unsur sampling pertama adalah satuan elementer yang bernomor s. Interval sampel adalah angka yang menunjukkan jarak antara nomor-nomor urut yang terdapat dalam kerangka sampling yang akan dijadikan patokan dalam menentukan atau memilih unsur-unsur sampling kedua dan seterusnya hingga unsur ke-n. artinya harus pasti berapa ukuran populasinya. Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis. maka interval samplingnya adalah 500/50=10 atau k =10. jika tidak. maka teknik sampling random sederhana tidaklah tepat untuk digunakan. Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya (dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih). Dengan menggunakan Tabel Angka Random. 4. kemungkinan akan terjadi bias. Interval sampel biasanya dilambangkan dengan huruf k. Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi. 2. Cara penggunaan teknik sampling random sistematik ini mirip dengan cara sampling random sederhana.

Sampel Purposif (purposeful sampling). sehingga sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan. Ada beberapa jenis sampel nonrandom yang sering digunakan dalam penelitian sosial/penelitian komunikasi. Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan kemudahan bagi peneliti (bukan penelitian). Dasar penentuannya adalah pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. Caranya. Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang sejenis dengan teknik sampling strata. Sampel ini digunakan jika dalam upaya memperoleh data tentang fenomena atau masalah yang diteliti memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus berdasarkan penilaian tertentu.Unsur pertama = s Unsur kedua = s + k Unsur ketiga = s + 2k Unsur keempat = s + 3k. hindari untuk menggunakan sampel ini. Orang-orang ilmu statistika bahkan menyebutnya sebagai sampel kecelakaan. Sampel Bola Salju (Snowball) . karena saking tidak representatifnya sampel tersebut. 4. Teknik ini disebut juga judgemental sampling atau sampel pertimbangan bertujuan. Non Probability Sampling(Tidak Menggunakan Prinsip Random) Dalam menentukan sampel dengan menggunakan taknik sampling nonrandom. 2. Teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian eksploratif atau penelitian deskriptif. 2. Dasar penetuan sampelnya adalah tujuan penelitian. tentukan ukuran sampel dari masing-masing strata lalu teliti siapa sejumlah orang yang sesuai dengan ukuran sampel yang ditentukan tadi. 3. karena rumus uji statistik inferensial tidak dapat diterapkan untuk data yang berasal dari sampel nonrandom. Sebisa mungkin. tingkat signifikansi tertentu. siapa saja asal berasal dari strata tersebut. Sampel Kuota (quota sampling). dan seterusnya hingga unsur ke-n. misalnya penelitian korelasional. Sebagai konsekuensinya. jika kesimpulan penelitian kita ingin memperoleh kemampuan generalisasi yang tepat. teknik sampling nonrandom ini tidak dapat digunakan apabila penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif yang akan menguji hipotesis tertentu. di antaranya adalah: 1. Sampel Aksidental (accidental sampling). tidak menggunakan prinsip kerandoman (prinsip teori peluang). Perbedaannya adalah ketika mengambil sampel dari setiap strata tidak menggunakan cara-cara random. tetapi menggunakan cara-cara kemudahan (convenience).

Rancangan Analisis. Derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity). maka ukuran sampel yang diambil boleh kecil. menyatakan bahwa sebelum kita menentukan berapa besar ukuran sampel yang harus diambil dari populasi tertentu. misalnya keterbatasan waktu. Alasan-alasan tertentu yang berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasn yang ada pada peneliti. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti. Keuntungannya ialah hanya digunakan dalam situasi-situasi tertentu. biaya. terutama digunakan dalam penelitian eksplanatif.Memilih unit-unit yang mempunyai karakterisitik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya. Jika tinggi tingkat homogenitas populasinya tinggi atau bahkan sempurna. dan lain-lain. Rancangan analisis yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengolahan data. Tingkat presisi. penyajian data. 2. pengupasan data. Metode Penelitian Survai (1989). ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu: 1.01 maka ukuran sampel yang diambil harus lebih besar daripada ukuran sampel jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. dan penafsiran data yang akan ditempuh dalam penelitian.05. 3. Jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. misalnya penelitian korelasional. Selain mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Tingkat Presisi (level of precisions) yang digunakan. sehingga keakuratan hasil penelitiannya (selang kepercayaannya) 1–α yakni bisa 95% atau 99%. 4. merupakan salah satu faktor penentu tingkat kerepresentatifan sampel yang digunakan.  Cara Menentukan Ukuran Sampel Ukuran sampel atau besarnya sampel yang diambil dari populasi.01 (1%). yakni suatu pernyataan peneliti tentang tingkat keakuratan hasil penelitian yang diinginkannya.05 (5%) atau 0. Kelemahannya ialah keterwakilan dari karakteristik langka dapat tidak terlihat di sample yang sudah dipilih. tenaga. Rumus Slovin di bawah ini dapat digunakan. Pertanyaannya. Rumus Slovin: N . berapa besar sampel harus diambil dari populasi agar memenuhi syarat kerepresentatifan? Menurut I Gusti Bagoes Mantra dan Kasto dalam buku yang ditulis oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. Tingkat presisi biasanya dinyatakan dengan taraf signifikansi (α) yang dalam penelitian sosial biasa berkisar 0. Untuk menentukan tingkat homogenitas populasi sebaiknya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji statistik tertentu. sebaliknya jika tingkat homogenitas populasinya rendah (tingkat heterogenitasnya tinggi) maka ukuran sampel yang diambil harus besar. beberapa buku metode penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi.

wordpress.= 364 4000 x (0. misalnya 5%. Populasi dan Metode Sampling (Materi VI). atau 10%.n = ——— 1 + Ne² Keterangan. maka kita harus tahu terlebih dahulu mengenai: .000 orang. Misalnya.com/2008/08/populasi-dan-metode-sampling-materivi. Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi. maka besarnya sampel adalah: 4000 n = ————————.com/2008/07/08/ populasi-dan-teknik-sampling / Pada penelitian kuantitatif Populasi dan sampel merupakan sumber utama untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam mengungkapkan fenomena atau realitas yang dijadikan fokus penelitian kita. Oleh karena itu. (2008). Tersedia di http://ssantoso. kita ingin menduga proporsi pembaca koran dari populasi 4.05)² + 1 Sumber: Santoso. n = ukuran sampel N = ukuran populasi e =kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir. maka Rumus Yamane yang harus digunakan. Presisi ditetapkan di antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%. Tersedia di http ://dankfsugiana. Batas kesalahan yang ditolelir ini untuk setiap populasi tidak sama. (2008). Dadang.blogspot.5%. Secuil Tentang Sampling dalam Penelitian Kuantitatif. 4%. sebelum pada bahasan teknik sampling pada data kuantitaf dan bagaimana cara menentukan ukuran sampel. N n = ———– Nd² + 1 d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan.html/ Sugiana. ada yang 1%. 3%. 2%.

yang akan menyebabkan kemungkinan adanya duplikasi atau penghilangan individuindividu tertentu. dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak). Cluster Random Sampling Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak diketahui dengan pasti. Stratified Random Sampling Teknik sampling ini digunakan apabila populasinya tidak homogen (heterogen). melainkan harus beberapa tahap. • Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil. maka pengambilan sampel tidak cukup hanya satu tahap.  Teknik Sampling pada data kuantitatif 1. • Sampling adalah cara-cara atau teknik penarikan sampel dari populasi. maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau homogen. b. • Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk dipelajari. .• Populasi adalah seperangkat unit analisa lengkap yang sedang diteliti. maka pengambilan sampelnya dapat dilakukan satu tahap (simple cluster sampling). Untuk dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen. Keuntungan menggunakan teknik ini ialah jika kluster-kluster didasarkan pada perbedaan geografis maka biaya penelitiannya menjadi lebih murah. makin besar pula perbedaan sifat-sifat antara lapisan tersebut. sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya. Dalam keadaan yang demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling). Probability Sampling (Menggunakan Prinsip Random) a. • Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar. Kelemahannya ialah membutuhkan kemampuan untuk membedakan masing-masing anggota populasi secara unik terhadap kluster. dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-klaster yang berbeda-beda. Makin heterogen suatu populasi. Karakteristik kluster dan populasi dapat diestimasi.

Cara pengambilan sample dilakukan dengan menyeleksi setiap unit sampling yang sesuai dengan ukuran unit sampling. yang berbeda adalah pecahan samplingnya. ukuran sampel yang diambil dari setiap subpopulasi (strata) sama besarnya. yaitu • Sampel strata proporsional Teknik sampling random strata proporsional digunakan apabila proporsi ukuran subpopulasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama besar. • Sampel strata disproporsional Pada Sampel Strata Disproporsional. Karakteristik-karakeristik masing-masing strata dapat diestimasikan sehingga dapat dibuat perbandingan. Kerugiannya ialah membutuhka informasi yang akurat pada proporsi populasi untuk masing-masing strata. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu. Jumlah satuan elementer dari setiap strata (ukuran setiap subpopulasi) harus diketahui dengan pasti. Keuntungannya ialah aspek representatifnya lebih meyakinkan sesuai dengan sifat-sifat ynag membentuk dasar unit-unit yang mengklasifikasinya. Simple Random Sampling Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari . c. 1989:162-163): 1. Dalam sampel strata proporsional. Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi. 2. Hal ini diperlukan agar peneliti dapat membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi atau strata yang akan dijadikan sumber dalam menentukan sampel atau responden. Jika hal tersebut diabaikan maka kesalahan akan muncul. Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ke dalam lapisan-lapisan. Sampel strata terdiri dari dua macam. ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. antara lain (Singarimbun dan Effendi. Strategi pengambilan sample sama dengan proporsional. sehingga mengurangi keanekaragamannya. Perbedaanya ialah terletak pada ukuran sample yang tidak proporsional terhadap ukuran unit sampling karena untuk kepentingan pertimbangan analisa dan kesesuaian. dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction) yang sama yang digunakan.Untuk dapat menggunakan teknik sampling random strata.

1989): 1. Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi. antara lain (Singarimbun dan Effendy. hingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan sampel dengan cara pengundian. yakni: 1. Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Penentuan unsur sampling selanjutnya ditempuh dengan cara memanfaatkan interval sampel. dan populasinya mempunyai pola beraturan yang memungkinkan untuk diberikan nomor urut serta bersifat homogen. Sifat populasinya harus homogen. Cara penggunaan teknik sampling random sistematik ini mirip dengan cara sampling random sederhana.populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis. yakni ketika menentukan unsur pertama dari sampling yang akan diambil. 3. yakni tersedianya kerangka sampling (ukuran populasinya diketahui dengan pasti). Bedanya. yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilih sebagai sampel sebesar n/N. Interval sampel adalah angka yang menunjukkan jarak antara nomor-nomor urut yang terdapat dalam kerangka sampling yang akan dijadikan patokan dalam menentukan atau memilih unsur-unsur sampling kedua dan seterusnya hingga unsur ke-n. 2. 2. Ukuran populasinya tidak tak terbatas. Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya (dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih). sama dengan persyaratan untuk sampel random sederhana. Persyaratan yang harus dipenuhi agar teknik sampling ini dapat digunakan. pada teknik sampling sistematik perandoman atau pengundian hanya dilakukan satu kali. jika tidak. artinya harus pasti berapa ukuran populasinya. Teknis pelaksanaannya ada dua cara. kemungkinan akan terjadi bias. gunakanlah teknik sampling random sistematik. d. Interval sampel biasanya dilambangkan dengan huruf k. 4. maka teknik sampling random sederhana tidaklah tepat untuk digunakan. . Teknik Sampling Random Sistematik (Systematic Random Sampling) Apabila ukuran populasinya sangat besar. Dengan menggunakan Tabel Angka Random. Dalam keadaan populasi yang demikian.

Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang sejenis dengan teknik sampling strata. dan seterusnya hingga unsur ke-n. Dasar penentuannya adalah pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. Misalnya.Interval sampel atau juga disebut sampling rasio diperoleh dengan cara membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki (N/n). Sampel Aksidental (accidental sampling). Teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian eksploratif atau penelitian deskriptif. maka interval samplingnya adalah 500/50=10 atau k =10. 2. di antaranya adalah: 1. Sebisa mungkin. tentukan ukuran sampel dari masing-masing strata lalu teliti siapa sejumlah orang yang sesuai dengan ukuran sampel yang ditentukan tadi. 2. karena saking tidak representatifnya sampel tersebut. dari populasi (N) berukuran 500 kita akan mengambil sampel (n) berkuran 50. tetapi menggunakan cara-cara kemudahan (convenience). siapa saja asal berasal dari strata tersebut. misalnya penelitian korelasional. . Caranya. Ada beberapa jenis sampel nonrandom yang sering digunakan dalam penelitian sosial/penelitian komunikasi. Orang-orang ilmu statistika bahkan menyebutnya sebagai sampel kecelakaan. Non Probability Sampling(Tidak Menggunakan Prinsip Random) Dalam menentukan sampel dengan menggunakan taknik sampling nonrandom. maka penentuan unsur-unsur sampel berikutnya adalah: Unsur pertama = s Unsur kedua = s + k Unsur ketiga = s + 2k Unsur keempat = s + 3k. Andaikan yang terpilih sebagai unsur sampling pertama adalah satuan elementer yang bernomor s. Sampel Kuota (quota sampling). karena rumus uji statistik inferensial tidak dapat diterapkan untuk data yang berasal dari sampel nonrandom. Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan kemudahan bagi peneliti (bukan penelitian). jika kesimpulan penelitian kita ingin memperoleh kemampuan generalisasi yang tepat. Sebagai konsekuensinya. Perbedaannya adalah ketika mengambil sampel dari setiap strata tidak menggunakan cara-cara random. teknik sampling nonrandom ini tidak dapat digunakan apabila penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif yang akan menguji hipotesis tertentu. hindari untuk menggunakan sampel ini. sehingga sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan. tidak menggunakan prinsip kerandoman (prinsip teori peluang).

terutama digunakan dalam penelitian eksplanatif. ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu: 1. Dasar penetuan sampelnya adalah tujuan penelitian. menyatakan bahwa sebelum kita menentukan berapa besar ukuran sampel yang harus diambil dari populasi tertentu. Pertanyaannya. 4. Tingkat presisi. tenaga. biaya. Rancangan analisis yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengolahan data. tingkat signifikansi tertentu. sebaliknya jika tingkat homogenitas populasinya rendah (tingkat heterogenitasnya tinggi) maka ukuran sampel yang diambil harus besar.01 (1%). Rancangan Analisis. 4. dan lain-lain. . Jika tinggi tingkat homogenitas populasinya tinggi atau bahkan sempurna. 3.05 (5%) atau 0.3. Alasan-alasan tertentu yang berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasn yang ada pada peneliti. Tingkat Presisi (level of precisions) yang digunakan. Metode Penelitian Survai (1989). maka ukuran sampel yang diambil boleh kecil. Derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity).05. yakni suatu pernyataan peneliti tentang tingkat keakuratan hasil penelitian yang diinginkannya. sehingga keakuratan hasil penelitiannya (selang kepercayaannya) 1–α yakni bisa 95% atau 99%. Teknik ini disebut juga judgemental sampling atau sampel pertimbangan bertujuan. Tingkat presisi biasanya dinyatakan dengan taraf signifikansi (α) yang dalam penelitian sosial biasa berkisar 0. penyajian data. dan penafsiran data yang akan ditempuh dalam penelitian. merupakan salah satu faktor penentu tingkat kerepresentatifan sampel yang digunakan. Jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. pengupasan data.  Cara Menentukan Ukuran Sampel Ukuran sampel atau besarnya sampel yang diambil dari populasi. 2. misalnya penelitian korelasional.01 maka ukuran sampel yang diambil harus lebih besar daripada ukuran sampel jika kita menggunakan taraf signifikansi 0. berapa besar sampel harus diambil dari populasi agar memenuhi syarat kerepresentatifan? Menurut I Gusti Bagoes Mantra dan Kasto dalam buku yang ditulis oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi. Keuntungannya ialah hanya digunakan dalam situasi-situasi tertentu. misalnya keterbatasan waktu. Sampel Bola Salju (Snowball) Memilih unit-unit yang mempunyai karakterisitik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya. Untuk menentukan tingkat homogenitas populasi sebaiknya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji statistik tertentu. Sampel ini digunakan jika dalam upaya memperoleh data tentang fenomena atau masalah yang diteliti memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus berdasarkan penilaian tertentu. Sampel Purposif (purposeful sampling). Kelemahannya ialah keterwakilan dari karakteristik langka dapat tidak terlihat di sample yang sudah dipilih.

html/ .= 364 4000 x (0.5%. Populasi dan Metode Sampling (Materi VI). kita ingin menduga proporsi pembaca koran dari populasi 4. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti. Tersedia di http://ssantoso. Presisi ditetapkan di antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%. ada yang 1%.Selain mempertimbangkan faktor-faktor di atas. maka besarnya sampel adalah: 4000 n = ————————. beberapa buku metode penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi. n = ukuran sampel N = ukuran populasi e =kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir.000 orang.com/2008/08/populasi-dan-metode-sampling-materivi.05)² + 1 Sumber: Santoso. (2008). 2%. Batas kesalahan yang ditolelir ini untuk setiap populasi tidak sama. Rumus Slovin di bawah ini dapat digunakan. N n = ———– Nd² + 1 d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan. Misalnya. 4%. atau 10%. misalnya 5%.blogspot. 3%. maka Rumus Yamane yang harus digunakan. Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi. Rumus Slovin: N n = ——— 1 + Ne² Keterangan.

paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu. Secuil Tentang Sampling dalam Penelitian Kuantitatif. epistemologi. Dadang.wordpress.Sugiana. Norman K. Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan. Pengertian Paradigma Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962)[1]. Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs. dan metodologi. ontologi. dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan. Menurut Kuhn. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas. Tersedia di http ://dankfsugiana. Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan[3]. Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu. sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970).com/2008/07/08/ populasi-dan-teknik-sampling / Posted by Hariyono at 7:21 AM Labels: Teknik Sampling 0 comments: Post a Comment Newer Post Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) PARADIGMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF Oleh: Parluhutan Siregar A. dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan. (1) apa yang . Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi. (2008). Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980). Dari definisi dan muatan paradigma ini. yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik[2].

Bahkan bisa terjadi dalam satu waktu. yaitu bahwa “A paradigm may be viewed as set of basic beliefs (or metaphisies) that deals with ultimetes or principles[7]. maka dengan sendirinya pemahaman mereka tentang realitas itu juga menjadi beragam. Perbedaan paradigma yang dianut para ilmuan ternyata tidak hanya berakibat pada perbedaan skema konseptual penelitian. Penolakan Kuhn didasarkan pada hasil analisisnya terhadap perkembangan ilmu itu sendiri yang ternyata sangat berkait dengan dominasi paradigma keilmuan yang muncul pada periode tertentu. Keyakinan (beliefs). Paradigma Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Ada pernyataan dari Egon G. karena masing-masing aliran filsafat tersebut memiliki cara pandang sendiri tentang hakikat sesuatu serta memiliki ukuran-ukuran sendiri tentang kebenaran. (2) pandangan filsafat yang berbeda akan menghasilkan obyek yang berbeda. (3) bagaimana metode untuk menjawabnya. Keragaman paradigma ini pada dasarnya adalah akibat dari perkembangan pemikiran filsafat yang berbeda-beda sejak zaman Yunani. Dalam Sosiologi dikenal sejumlah paradigma sosiologi yang cukup dominan. level “middle range” teori. beberapa metode pengetahuan berkembang bersamaan dan masing-masing mengembangkan disiplin keilmuan yang sama dengan paradigma yang berlainan. Sesuatu yang diyakini kebenarannya tanpa didahului penelitian sistematis. dan berbeda dengan Positivisme. dan (3) karena obyek berbeda. Perbedaan dimaksud dapat terlihat terutama pada tiga level yaitu pada. bahwa pengetahuan yang didasarkan pada filsafat Rasionalisme akan berbeda dengan yang didasarkan Empirisme. dan Paradigma Perilaku Sosial. perbedaan aliran filsafat yang dijadikan dasar berpikir oleh para ilmuwan akan berakibat pada perbedaan paradigma yang dianut. (1) pandangan filsafat yang menjadi dasar ilmuwan untuk menentukan tentang hakikat apa yang harus dipelajari sudah berbeda. Guba yang cukup menarik untuk ditanggapi di sini. menurut Guba. Perbedaan paradigma dalam mengembangkan pengetahuan. Paradigma Definisi Sosial. dapat didekati dari berbagai macam paradigma (multi paradigma). Sebab bila cara berpikir (mode of thought) para ilmuwan berbeda satu sama lain dalam menangkap suatu realitas. disebut dengan aksioma atau asumsi dasar. Sosiologi. khususnya dalam menguraikan pengetahuan ke dalam kerangka kerja teoritis. Marxisme dan seterusnya. C. Menurut Ritzer (1980). perkembangan ilmu tidak selalu berjalan linear. maka metode yang digunakan juga berbeda[5]. (2) persoalan-persoalan apa yang harus dijawab. melainkan juga pada perbedaan produk pengetahuan. karena itu tidak benar kalau dikatakan perkembangan ilmu itu bersifat kumulatif. dapat dikatakan bahwa paradigma ilmu itu amat beragam.harus dipelajari. dan (4) aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh[4]. Paling tidak terdapat tiga alasan untuk mendukung asumsi ini. penjernihan epistemologi. antara lain Paradigma Fakta Sosial. dalam filsafat ilmu. maupun dalam cara menganalisisnya --yang hasilnya sudah dapat dipastikan akan berbeda antara satu sama lain. aksioma atau asumsi dasar tersebut menempati posisi penting dalam menentukan . Sebab sudah dapat dipastikan. baik dalam mendefinisikan hakikat obyek itu sendiri. Hampir semua disiplin ilmu menghadapi persoalan keragaman paradigma. Paradigma Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Menurut Kuhn. B. terlebih lagi bidang ilmu-ilmu sosial. merepresentasikan pandangan dunia tentang hakikat sesuatu. Konsekwensi terjauh dari perbedaan mode of thought ini adalah munculnya keragaman skema konseptual pengembangan pengetahuan yang kemudian berakibat pula pada keragaman teori-teori yang dihasilkan. Keragaman paradigma ini sudah jelas memunculkan sejumlah pendekatan yang berlainan terhadap suatu obyek. akan melahirkan pengetahuan yang berbeda pula. misalnya. serta merupakan dasar di dalam nurani dimana ia diterima dengan penuh kepercayaan. menurut Kuhn. Keyakinan itu. Mengacu pada Kuhn. dan tingkat metode dan teknik[6].

Dalam kaitannya dengan poin terakhir. Dalam metode kuantitatif. pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus. mengungkap paradigma penelitian kuantitaif dari dua aspek penting. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera. verifikatif[11]. logico. Paradigma kuantitatif: Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori. Jadi. dianut suatu paradigma bahwa dalam setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Bagaimana pandangan penganut kuantitatif tentang fakta? Dalam penelitian kuantitatif diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar otologisnya dalam melihat fakta atau gejala. karena itu tidak mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. secara epistemologi. cukup banyak. 1. serta korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Julia Brannen. ia merupakan dasar permulaan yang melandasi semua proses dan kegiatan penelitian. yaitu pemikiran rasional data empiris. secara epistemologis. dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science). Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis. struktur. seperti dikutip oleh Tomagola. yaitu: bahwa penelitian . (1) obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain. bahwa secara ontologis. melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori terdahulu. maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen. lebih jauh Russel Keat & John Urry. mengemukakan bahwa setiap individual event/case tidak mempunyai eksistensi sendiri yang lepas terpisah dari kendali empirical regularities. Sejalan dengan penjelasan di atas. Atas dasar itu. penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki perbedaan paradigma yang amat mendasar. obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Hal ini sekaligus mengindikasikan. hypothetico. Variabel dari setiap even/case. Jadi diyakini adanya determinisme atau proses sebab-akibat (causalitas)[9]. Dalam penelitian kuantitatif diyakini. sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926). Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Lebih khusus mengenai metode analisis dan prinsip pengambilan kesimpulan. kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. di sini paradigma kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis. yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason)[8]. paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua. sifat maupun dimensi lainnya. Jadi. Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Penelitian kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857). (2) suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. dan (3) suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. baik yang melekat padanya maupun yang mempengaruhi/dipengaruhinya. Secara epistemologis. baik bentuk. Berkait dengan proposisi di atas. Karena itu. induksi dan observasi. bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi. positivisme kadangkadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme). Tiap individual event/case hanyalah manifestasi atau contoh dari adanya suatu empirical regularities[10].skema konseptual penelitian. Asumsi-asumsi dimaksud adalah. dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma. ketika menjelaskan paradigma kuantitatif dan kualitatif.

Dalam pandangan Weber. mulai dari frekuensi sampai analisa statistik. atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku. Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan. Karenanya. ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. ada sejumlah pengertian. serta tidak dapat disederhanakan ke dalam hukumhukum tunggal yang deterministik dan bebas konteks. melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. secara epistemologis. yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Sedangkan ekstrapolasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan dilakukan . karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu. bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Bertolak dari proposisi di atas. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan. dan Etnometodologi. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya. melainkan dalam bentuk deskripsi. Atas dasar itu. Dalam penelitian kualitatif. yang sasaran utamanya adalah pada individu ‘dengan kepribadian diri pribadi’ dan pada interaksi antara pendapat intern dan emosi seseorang dengan tingkah laku sosialnya[15]. lebih dipertegas lagi tentang batasan tingkah laku manusia sebagai obyek studi. paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan. tetapi karena dalam paradigma kuantitatif terdapat asumsi mengenai adanya “keserupaan” antara obyek-obyek tertentu. sebagai salah satu rujukan penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Keteraturan itu terbentuk secara natural. Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kateori-kategori (bukan frekuensi). yang ditempuh dengan cara merubah data ke formulasi. Paradigma Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik. Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif. Jadi. yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit[13]. 2. Penekanan analisis data dari pendekatan enumerative induction adalah perhitungan secara kuantitatif. paradigma kualitatif menggunakan induksi analitis (analytic induction) dan ekstrapolasi (extrpolation). Jadi simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. paradigma kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial. Selanjutnya pada dasarnya generalisasi adalah pemberlakuan hasil temuan dari sampel terhadap semua populasi. budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata. seperti Fenomenologi. namun demikian ada satu benang merah yang mempertemuan mereka. tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya.kuantitatif menggunakan enumerative induction dan cenderung membuat generalisasi (generalization)[12]. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. secara ontologis. yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku[14]. batasan-batasan. pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah – bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Interaksionisme simbolik. maka generalisasi juga dapat didefinisikan sebagai universalisasi. Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Dalam Interaksionisme simbolis. Di sini ditekankankan perspektif pandangan sosio-psikologis.

dengan pendekatannya menggunakan menggunakan pengamatan yang pengaturan-pengaturan secara bebas (tanpa pengaturan yang ketat). Menggunakan pandangan pengetahuan alam sosial/antropological Lebih lanjut perbedaan paradigma kedua jenis penelitian ini dapat dielaborasi sebagai berikut: Paradigma Kuantitatif 1. dalam pengumpulan dan kualitatif. Perbedaan Paradigma Kuantitatif-Kualitatif Bertolak dari perbedaan-perbedaan disebut di atas. sehingga dalam 3. perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal: KUANTITATIF KUALITATIF 1. 2. yaitu gejala (fenomenologis). termasuk dalam maupun dalam proses analisisnya. dapat dicatat berbagai perbedaan paradigma yang cukup signifikan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif. 4. 3. penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif. penarikan sampel. Peneliti cenderung ingin menegakkan obyektifitas yang tinggi. 5. . Lebih mementingkan penghayat-an 2. 5.secara bertahap dari satu kasus ke kasus lainnya. Seperti dikemukakan sebelumnya. Induktif Holistik Subyektif Berorientasi kpd proses ilmu Menggunakan pandangan ilmu 6. kemudian –dari proses analisis itu--dirumuskan suatu pernyataan teoritis[16]. D. Fenomenologik 2. suatu cara berpikir yang ingin menemukan fakta atau sebab dari sesuatu kejadian dengan mengesampingkan keadaan subyektif dari individu di dalamnya. Paradigma Kualitatif Cenderung menggunakan metode 1. Peneliti berusaha menjaga jarak dari situasi yang diteliti. Deduktif-Hipotetis Partikularistik Obyektif Berorientasi kpd hasil 2. Positivistik 1. 3. Pendekatannya wajar. baik dalam pengumpulan analisa data. Cenderung menggunakan metode kuantitatif. Lebih menenkankan pada proses dan pengertian dalam menangkap berpikir positivisme-logis. Secara garis besar. sehingga peneliti tetap berposisi sebagai orang “luar” dari obyek 4. 4. 3. ketat (obstrusive) dan berusaha mengendalikan stuasi (controlled). 6.

dengan berusaha menempatkan diri serta berpikir dari sudut pandang “orang dalam”. dengan data lebih dipercayakan pada mengandalkan diri peneliti sebagai intrumen (termasuk pengumpul instrumen utama. Fokus yang diteliti sangat spesifik 9. dan pengambilan ditekankan pada segi realibilitas keputusan. 7. Ruang lingkup penelitian lebih ditekankan pada pembuatan dibatasi pada kasus-kasus singular. Mahasiswa HomeBlogPhotosVideoMusicLinks . Fokus penelitian bersifat (particularistik) berupa variabelholistik. DARI: PUSAT PENELITIAN IAIN SUMATRA UTARA MEDAN Zulfikar'Site. 9. 8. Hal ini dinilai cukup data lapangan). Lebih mendekatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada pada sumber data. Jadi tidak luas (tidak dibatasi pada variabel bersifat holistik. Bertujuan untuk menguji suatu teori/pendapat untuk mendapatkan kesimpulan umum (generasilisasi) 5. sehingga tekannya bukan pada segi generalisasinya melainkan pada segi otensitasnya. 4. 5. Keriteria data/informasi lebih menekankan pada segi validitasnya. Keriteria data/informasi lebih kegiatan analisis. Walaupun data diambil dari wakil populasi (sampel).meliputi aspek yang cukup variabel tertentu saja. dari lapangan secara deskriptif dengan menggunakan metode berpikir induktif. 6. dan biasanya cenderung mengambil data konkrit (hard fact). yang berarti juga kegiatan pengumpulan 6.penelitiannya. tertentu). penting karena dalam proses itu sendiri dapat sekaligus terjadi 7. Berorientasi pada proses. Jadi bukan untuk menguji teori atau hipotesis. namun selalu 8. Bertujuan untuk menemukan teori dari sampel yang ditetapkan. generalisasi. Berorientasi pada hasil. yang tidak saja mencakup fakta konkrit saja melainkan juga informasi simbolik atau abstrak. site.

Campbell. 2004). Mereka mengkritisi budaya ilmiah yang obyektif. 40). '08 10:58 PM for everyone Penelitian Kuantitatif Versus Penelitian Kualitatif Statisticians try to measure IT Experimentalists try to control IT Evaluators value IT Interviewers ask questions about IT Observers watch IT Participant observers do IT -. Misalnya asumsi tentang realitas juga bersinggungan dengan realitas sosiologis dan epistemologis (Lubis. Kedua pernyataan . ilmu pengetahuan selalu dimuati oleh asumsi-asumsi lain.from Halcolm’s Evaluation Laws Debat di kalangan peneliti mengenai kebenaran relatifitas antara penelitian kuantitatif dan kualitatif telah berlangsung sejak lama (Patton. 1990). Mereka berkeyakinan bahwa suatu fenomena tidak terjadi secara kebetulan namun oleh karena adanya sebab-akibat (Loiselle & McGrath. 2004). Sedangkan peneliti pro kualitatif memiliki keyakinan “anti-positivisme”. "There's no such thing as qualitative data. Pandangan positivisme meyakini bahwa hanya pembuktian secara logis-empiris saja yang diterima sebagai satu-satunya kebenaran ilmiah (Lubis. Everything is either 1 or 0" (hal. Pada halaman yang sama peneliti lain. Beberapa peneliti mengatakan bahwa salah satu metode penelitian lebih baik atau lebih ilmiah dibanding metode lainnya. Perdebatan berfokus pada perbedaan landasan filosofis dan paradigma yang digunakan pada kedua metode penelitian tersebut. Para peneliti pro kuantitatif berorientasi pada logika positivisme yang dipelopori oleh August Comte (abad ke-19). Dalam buku Qualitative Data Analysis. linear dan universal serta pandangan ilmu pengetahuan yang berkesatuan (unified science) dan bebas nilai. mekanistis.Penelitian Kuantitatif Versus Penelitian Kuantitatif Posted by zulkifli on Mar 28. memberikan penegasan yang berlawanan dengan Fred Kerlinger. 40). Fred Kerlinger. "all research ultimately has a qualitative grounding" (hal. 2004). D. Mereka menganggap mazhab penelitian yang ia anut adalah paling shahih dan tidak dapat diganggu-gugat. Miles dan Huberman (1994). T. mengutip pernyataan seorang peneliti kuantitatif. Menurut Thomas Samuel Kuhn (1922-1996).

yaitu: asumsi. & Carpenter. Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur. Oleh karena itu. Keunggulan penelitian kuantitatif terletak pada metodologi yang digunakan. Denzin & Lincoln. Peneliti kuantitatif menggunakan sisi pandangannya untuk mempelajari subyek yang ia teliti (etik). emosional. Peneliti mencoba berpikir secara mekanis dan dalam menggambarkan fenomena penelitian ia menggunakan pola pikir deduksi dan rasional patofisiologi. Walaupun keberhasilan dalam mengkombinasikan dua metode penelitian tersebut tergantung pada kemampuan dan pengalaman peneliti (Patton. bagaimana (how) dan mengapa (why) (Sofaer. oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman partisipan (emik). Doornbos. Asumsi. Variabel-variabel penelitian dapat diidentifikasi dan interkorelasi variabel dapat diukur. 1995). 1999). Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial partisipan (subyek penelitian). 1990). 1999. Implikasi pertanyaan dalam metode penelitian kuantitatif tersebut adalah pertanyaan whether (misal: apakah sebuah intervensi memiliki efek penyembuhan yang bermakna?) dan how much (misal: seberapa besar pengaruh faktor risiko tertentu terhadap kejadian suatu penyakit?) (Battista. tetapi akan lebih tepat menjelaskan fenomena dengan pertanyaan apa (what). Hodge. tujuan penelitian. Penelitian kuantitatif memiliki tujuan menjeneralisasi temuan penelitian sehingga dapat digunakan untuk memprediksi situasi yang sama pada populasi lain. 1994. Misal: makna dan pengalaman sakit bagi seseorang atau keluarga. dan pengalaman seseorang dalam konteks pelayanan kesehatan (Giacomini & Cook. penelitian epidemiologi dan uji klinik bertujuan untuk menguji kemaknaan hipotesis. Penelitian kuantitatif juga digunakan untuk menjelaskan hubungan . Keduanya dapat saling mengisi keterbatasan masing-masing dan memperkaya perspektif peneliti dalam mengungkapkan fenomena yang diteliti (Streubert.konfrontatif tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah ketidakproduktifan yang mendasar (essentially unproductive). Tujuan penelitian. Penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. karena banyak peneliti lain telah sepakat metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan secara bersamaan. dalam hal ini penelitian kualitatif tidak bisa menggunakan pertanyaan whether atau how much. penelitian kualitatif lebih sesuai untuk menggali fenomena sosial. pendekatan. Misalnya. 2000) Menurut Glesne & Peshkin (1992). & Vineis. 2001). Penelitian kuantitatif memiliki ciri khas berhubungan dengan data numerik dan bersifat obyektif. Namun kadangkala peneliti membutuhkan jawaban interpretatif guna menjelaskan fenomena sosial yang abstrak dan tidak mudah diukur. dan peran peneliti. Fakta atau fenomena yang diamati memiliki realitas obyektif yang bisa diukur. perbedaan mendasar antara penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dijelaskan melalui empat aspek.

tenaga dan sumber daya peneliti lainnya.blogspot. Dalam penelitian kuantitatif. Akhirnya. Selain itu. Bahasa penelitian dikemas dalam bentuk laporan.sebab-akibat antar variabel yang diteliti. populasi yang akan diteliti. http://bondanriset. Peneliti menggunakan teknik penggambaran (portrayal) secara alamiah terhadap fenomena yang muncul sekaligus dirinya merupakan instrumen penelitian itu sendiri. peneliti secara ideal berlaku sebagai observer subyek penelitian yang tidak terpengaruh dan memihak (obyektif). Penelitian kualitatif tidak memerlukan hipotesis. ketertarikan peneliti. Penarikan kesimpulan secara deduksi dan menetapkan norma secara konsensus. Penelitian kuantitatif dimulai dengan teori dan hipotesis. Peran peneliti. Kita tidak bisa mengklaim bahwa paradigma penelitian yang kita anut lebih ilmiah dibanding pandangan orang lain. biaya. Peneliti mencoba mereduksi data menjadi susunan numerik selanjutnya ia melakukan analisis terhadap komponen penelitian (variabel). waktu. justru kadang-kadang diakhiri dengan hipotesis. Bahasa penelitian dikemas secara deskriptif. pilihan metode penelitian perlu mempertimbangkan pengalaman. Pendekatan. Peneliti menggunakan teknik manipulasi dan mengkontrol variabel melalui instrumen formal untuk melihat interaksi kausalitas. Penarikan kesimpulan secara induksi dengan menemukan salah satu pola yang berlaku dari pluralitas dan kompleksitas norma. penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan realitas secara kontekstual. Secara implisit Hukum Evaluasi Halcolm menekankan bahwa pilihan metode yang tepat harus sesuai dengan tujuan yang peneliti inginkan. Perumusan teori berdasarkan data yang telah tersaturasi (grounded theory). Berbeda dengan penelitian kuantitatif. Agaknya kita perlu sepakat dengan ungkapan Glesne dan Peshkin (1992): different approaches allow us to know and understand different things about the world.com GENERALISASI VERSUS TRANSFERABILITY . pilihan metode yang digunakan sangatlah bergantung pada kepentingan peneliti. Sedangkan penelitian kualitatif justru memerlukan keberpihakan dan keterlibatan peneliti agar ia dapat memahami (empati) situasi partisipan penelitian secara holistik. interpretasi terhadap fenomena yang menjadi perhatian peneliti dan memahami perspektif partisipan terhadap masalah kesehatan.

hanya saja tidak “segampang” generalisasi dalam penelitian kuantiatif. karena mereka memahami makna keberlakuan suatu hasil penelitian dari sudut pandang berbeda. Quantitative. Generalisasi diperlukan manakala peneliti tidak menggali informasi dari keseluruhan sumber (populasi) melainkan hanya menggali dari sebagian sumber (sampel) yang dipilih berdasarkan kaidah-kaidah probabilistik dalam ilmu statistika. yaitu derajat keberlakuan suatu temuan yang diperoleh dari sumber tertentu dalam jumlah terbatas kepada sumber yang lebih besar jumlahnya baik terbatas (finite) maupun tidak (infinite). Maka peneliti kualitatif tidak serta merta mengklaim bahwa penemuan tersebut berlaku secara umum dan luas. dua konsep yang maha penting dalam pendekatan kuantitatif. Namun para peneliti kualitatif tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu kelemahan. Jika sebuah penelitian kuantitatif menemukan korelasi kuat dan signifikan secara statistik antara frekuensi pemasangan iklan dengan peningkatan sales maka bagi peneliti kuantitatif temuan ini berlaku bagi siapapun yang ingin meningkatkan sales suatu produk. Generalisasi mengatasi dimensi ruang dan waktu.In Qualitative. bukan persegi panjang apalagi kubus. Sehingga ketika peneliti kuantitatif menemukan bahwa sampel berbentuk trapesium maka dia berkeyakinan dalam derajat tertentu populasi penelitiannya juga berbentuk trapesium. Jika sebuah penelitian kualitatif menyimpulkan bahwa pelanggan yang tidak puas terhadap suatu produk belum tentu mengurangi konsumsi terhadap produk tersebut atau menghentikannya sama sekali. kondisi yang lebih besar. Pendekatan kuantitatif sangat mengagungkan konsep generalisasi. perbanyaklah beriklan. bukan bujur sangkar. Generalisasi mengandung makna penyamarataan. Lalu apa bedanya konsep generalisasi dengan transferability? Sebelum membahas perbedaannya kita cermati dahulu persamaannya. konteks. Validitas on Juni 16. situasi. Generalisasi menjembatani sampel dengan populasi. identik. peneliti kualitatif tidak ambil pusing apakah hasil penelitiannya berlaku secara umum atau tidak. Mereka tetap loyal meskipun tidak puas dengan produk ataupun pelayanan operator karena malas bergonta-ganti nomor hp. Generalisasi dan transferability memiliki tujuan yang sama yaitu memberlakukan hasil penelitian pada populasi. “Titik lemah” ini acap kali diserang oleh penganut fanatik aliran penelitian kuantitatif. Karena bukan generalisasi yang menjadi tujuan utama penelitian kualitatif. Hasil penelitian kualitatif dapat “digeneralisasi”. Namun tidak demikian halnya dengan konsep transferability. Tidak akan ada generalisasi tanpa sampel dan populasi. Kesimpulan ini dapat ditransfer atau diberlakukan pada situasi atau konteks tertentu jika situasi atau konteks tersebut identik dengan situasi atau konteks dimana temuan tersebut diperoleh. pemukulrataan. Sebaliknya. 2008 at 1:40 am Bahwa hasil penelitian kualitatif tidak dapat diterapkan atau diberlakukan secara umum dalam cakupan yang lebih luas dianggap sebagai “titik lemah” penelitian kualitatif. Misalnya kesimpulan di atas didapatkan setelah melakukan wawancara mendalam dan diskusi dengan beberapa pengguna telepon selular. Populasi merupakan batasan konseptual terhadap sumber-sumber yang diasumsikan mengandung informasi yang relevan dengan masalah penelitian. Namun bukan berarti hasil penelitian kualitatif tidak dapat “digeneralisasi”. Peneliti kualitatif menggunakan istilah transferability yang merujuk pada konsep keberlakukan suatu hasil penelitian dalam situasi atau konteks tertentu. Konsep generalisasi tidak dapat dipisahkan dari konsep populasi dan sampel. Kesimpulan ini tidak dapat ditransfer ke konteks pelanggan majalah atau koran misalnya. . caranya gampang. Transferability mengandung makna pentrasferan. umum dan luas. Sedangkan perbedaan kedua konsep ini terletak pada makna dan syarat keberlakuan suatu hasil penelitian. atau pemindahan. bukan lingkaran.

M. rinci dan holistik tentang situasi. apakah kesimpulan suatu penelitian dapat diberlakukan pada situasi atau kondisi tertentu. Selanjutnya berdasarkan kaidah-kaidah statistika yang sistematik. Generalisasi mensyaratkan kesempatan yang sama bagi setiap sumber informasi (sampel) ketika dipilih dari kumpulan total sumber informasi (populasi). dan mapan dapat ditentukan derajat keberlakuan suatu kesimpulan yang diperoleh semata dari sampel terhadap populasi yang lebih besar dan luas. Karwono. 2008 by alexemdi PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (Classroom Action Research) Oleh. ketat.Pd . situasi ataupun latarbelakang yang identik. Dr. ataupun latar belakang dari sekumpulan sumber informasi sehingga pihak lain dapat memberlakukan kesimpulan yang dihasilkan dari sumber informasi tersebut jika menemui konteks. situasi. dimanapun dan dalam situasi apapun maka transferability menyerahkan sepenuhnya pada penilaian pihak lain. dan latar belakang sumber informasi (sampel) selanjutnya terserah pada keyakinan si penilai… ” PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) “ Posted on November 22. rinci dan holistik terhadap konteks. Jika generalisasi dengan penuh percaya diri dapat mengklaim suatu kesimpulan penelitian berlaku kapanpun.Karena konteks pengguna telepon selular berbeda dengan konteks pelanggan majalah atau koran. Si peneliti hanya perlu menyediakan penjelasan yang detil. kondisi. syarat ini dikenal dengan istilah syarat keacakan atau random. H. Sedangkan transferability mensyaratkan pendeskripsian yang detil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful