P. 1
Peranan Pendidikan Kewirausahaan Dalam Pembangunan Nasional

Peranan Pendidikan Kewirausahaan Dalam Pembangunan Nasional

|Views: 2,730|Likes:
Published by sansigner
tulisan ini ingin mengangkat bahwa pendidikan yg berorientasi pada pencibtaan wirausaha-wirausaha baru sangat dibutuhkan agar tujuan pembangunan nasional tercapai
tulisan ini ingin mengangkat bahwa pendidikan yg berorientasi pada pencibtaan wirausaha-wirausaha baru sangat dibutuhkan agar tujuan pembangunan nasional tercapai

More info:

Published by: sansigner on Oct 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2015

pdf

text

original

Peranan Pendidikan Kewirausahaan dalam Pembangunan Nasional1 Sansen Situmorang

Biasanya kecendrungan negara-negara berkembang adalah ditandai dengan masyarakat yang memiliki pendapatan perkapita lebih rendah dibandingkan negara maju dan biasanya memiliki populasi penduduk yang sangat besar.2 Sedangkan dari perspektif Crouch, mengkarakteristikkan kondisi negara-negara baru (negara baru ialah istilah Ia

menggambarkan negara yangg merdeka pasca perang dunia ke II) sangat berbeda dengan negara maju. Menurutnya, negara baru belum mempunyai kondisi ekonomi dan social yang makmur, kebanyakan penduduknya miskin, perekonomian menitik beratkan pada sector pertanian dengan mata pencaharian sebagai petani, pemikiran-pemikiran modern belum menyusup sampai ke desa-desa.3 Melihat kondisi yang dikemukakan oleh kedua ahli diatas, maka maka Indonesia merupakan salah satu Negara yang termasuk di dalamnya. Pendapatan masyarakat yang rendah dan tingkat populasi penduduk yang tinggi menjadi suatu permasalahan yang harus diatasi oleh pemerintah negara berkembang dalam upaya mensejahterakan rakyatnya. Pada sisilainnya jumblah penduduk yang tinggi memiliki berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan PDG Negara berkembang yang semakin lama semakin meningkat dibandingkan dengan PDG di negara maju. misalnya, dalam beberapa tahun terakhir PDG Amerika serikat tumbuh sekitar 3,5%/tahun, sedangkan pada Negaranegara berkembang seperti cina, malaysia, korea selatan telah melebihi 7%/tahunnya. 4 Maka bisa dilihat, pertumbuhan di negara berkembang memiliki potensi untuk menumbuhkan perekonomian, hal ini dikarenakan belum sepenuhnya negara-negara berkembang memamfaatkan sumber-sumber yang mereka miliki terutama sumber teknologi dan SDM, sedangkan pada negara maju pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas karena sumber-sumber yang ada telah maksimal dipergunakan.5 Untuk itu masih ada peluang untuk Negara berkembang seperti Indonesia untuk mencapai kesejahteraan seperti halnya negara maju, tentu dengan upaya memaksimalkan sumber-sumber yang ada, kemudian merumuskannya dalam susunan strategi pembangunan nasional yang ideal terhadap karakter masyarakat.
1

2 3

4 5

Situmorang, Sansen. Tulisan ini merupakan tugas makalah dalam kuliah kewiraan, dilaksanakan di Universitas Indonesia, Depok (2010). Thomson, Boone. Contemporary Busines, Penerbit Salemba Empat, 2007. Hal 152 Crouch, Harol. Masyarakat Politik dan Perubahan: negara baru, Perkembangan Politik & Modernisasi, FISIP UI, 1981. Hal.3 Thomson,ibid Madura, Jeff. Introduction To Busines, Salemba Empat, Jakarta, 2007. Hal 135

Page | 1

Namun dalam penyusunan strategi pembangunan di negara-negara berkembang tidak semuanya berjalan mulus, menurut penulis banyak factor yang terlibat dalam proses penyusunan strategi pembangunan nasional, hal ini dikarenakan cakupannya yang sangat luas dan makro sehingga pertimbangan-pertimbangan stakeholder baik dalam negeri maupun adanya campur tangan pihak lain, di luar pemerintahan turut mempengaruhi arah kebijakan pembangunan nasional. Hal ini mengakibatkan orientasi dalam mengemplementasikan strategi pembangunan nasional salah sasaran bukan tujuannya memberikan keadilan, mensejahterakan dan kemakmuran bagi rakyat sesuai pasal 33 UUD 1945 malah justru kebijakan pembangunan menjerumuskan rakyat pada kemiskinan structural. Maka orientasi dalam strategi pembangunan nasional menurut penulis bersifat dinamis karena dipengaruhi oleh lingkungan pembentuk kebijakan tersebut. Dalam tulisan ini penulis memasukkan aspek politik, karena penulis sendiri merupakan mahasiswa ilmu politik, selain itu pembangunan nasional berkaitan erat dengan lingkungan politik. Dengan masukkan aspek politik dalam menerangkan bagaimana peran pendidikan dalam pembangunan, penulis berharap tidak mengaburkan maksud penulisan. Untuk mengawali penulisan ini penulis awali dengan pendekatan-pendekatan pembangunan untuk melihat pembentukan kebijakan pembangunan nasional di Indonesia.

Perubahan Masyarakat dan Pendekatan Pembangunan Istilah pembangunan pertama kali diperkenalkan oleh Truman (presiden Amerika), dengan dikeluarkannya kebijakan pembangunan. Dalam perkembangannya akhirnya menjadi dokrin, atas reaksi dalam upaya membendung ide sosialisme-komunisme soviet di negara berkembang.6 Runtuhnya soviet pada peran dingin memberikan gambaran bahwa negara eropa barat dan amerika memiliki perekonomian yang mapan dan stabil disamping itu

membuktikkan bahwa sistem demokrasilah yang unggul. Hal ini menjadikan dokrin pembangunan atau biasa dikenal dengan pembangunan dengan pendekatan modernisasi. Konsep utama pendekatan pembangunan modernisasi terletak pada terbentuknya relasi antara negara pusat (negara maju) dan pinggiran (negara berkembang).
7

Menurut

Lerner, proses modernisasi yang terjadi di seluruh negara di dunia memiliki ciri pokok yang sama, hanya kebetulan modernisasi terlebih dahulu terjadi di negara barat. Lenner

menyarankan agar masyarakat di negara-negara asia, afrika, timur tengah dan amerika latin
6

7

Irene, Gendzier. managing Political Change : Social Scientist and The Thir World, Boulder, Corolado, Westview Press, 1985. Crouch, Harol. Masyarakat Politik dan Perubahan: A Comunications theory of Modernisation, FISIP UI, 1981. Hal.20

Page | 2

memasuki proses pembangunan modernisasi, sehingga pada nantinya terjadi perubahan masyarakat dalam banyak hal mirip dengan masyarakat AS dan eropa barat hal ini merupakan strategi memecahkan masalah keterbelakangan negara pinggiran.8 Pendekatan modernisasi dalam pembangunan masyarakat menjadi popular pada decade 1950-an kepopuleran ini dibuktikan dengan keberhasilan doktrin ini meraih simpati 62% negara didunia memilih system pemerintahan demokrasi pasca perang dingin.9 Kemudian atas pilihan ini, menjadi pertanyaan. apakah pembangunan system demokrasi akan berkembang pada negara-negara yang memilihnya terutama negara berkembang? Pendapat Seymour M. Lipset ada Prakondisi yang dapat menimbulkan transisi demokrasi: menurutnya semakin kaya suatu negara, semakin besar peluang negara tersebut melangsungkan demokrasi.10 Kemudian Huntinton memperkuat tesis Lipset yang dalam kajiannya ia mengaitkan antara modernisasi, kesejahteraan dengan demokrasi dengan variable tingkat melek hurup, tingkat pendidikan, urbanisasi dan media massa.11 Tentu prakondisi yang dikemukakan Lipset dan Huntinton mengenai pembangunan system demokrasi kurang sesuai dengan kondisi di negara-negara berkembang. Sebagaimana yang di kemukakan Harold Crouch, mengenai kondisi di negara-negara baru (negara baru ialah istilah Ia menggambarkan negara yangg merdeka pasca perang dunia ke II) menurutnya, ada karakteristik yang berbeda dengan negara maju. sebagai berikut : Belum mempunyai kondisi ekonomi dan social yang makmur, kebanyakan penduduknya miskin, perekonomian menitik beratkan pada sector pertanian dengan mata pencaharian sebagai petani, pemikiranpemikiran modern belum menyusup sampai ke desa-desa.12 Tahun 1960-an lahirlah pendekatan dependensi/ pendekatan keterbelakangan sebagai reaksi atas kegagalan pembangunan yang menyebabkan kemacetan, kemunduran, staknasi maupun keterbelakangan pembangunan di negara-negara Amerika latin. Secara keras pendekatan ini menentang ide dan konsep pembangunan modernisasi. Secara general konsep pemikiran pendekatan ketergantungan melihat konsep yang ditawarkan model modernisasi yang justru menghambat pembangunan negara berkembang yang penyebab timbulnya

8 9

10

11

12

ibid Fareed, Zakaria. The future of freedom :Illiberal Demogracy at Home and abroad, Norton and Company, Inc New York. 2003, hal 13 Seymour M. Lipset. Some Social Requisites of Democracy: Economic Development and Politikal Legitimacy, American Political Science Review, No.53. 1959. Hal 75 Huntington, Samuel. The Third Wave of Democratization in the Late Twentieh Century. (Norman: University of Oklahoma Press, 1991. Hal 199 dalam Widjajanto, Andi. Transnasionalisasi Masyarakat Sipil, LKIS. Yogyakarta, 2007. Hal 72-73 Crouch, Harol. Masyarakat Politik dan Perubahan: negara baru, Perkembangan Politik & Modernisasi, FISIP UI, 1981. Hal.3

Page | 3

kesenjangan dan keterbelakangan.13 Adanya kesenjangan dan keterbelakangan dikarenakan adanya relasi antara negara maju dengan negara berkembang. relasi yang bertemu dalam mekanisme pasar terbuka justru menjadikan negara maju dan perusahaan multi nasional akan mendominasi pasar dampaknya terjadi eksploitasi pada negara-negara berkembang. 14 Wallerstein, salah satu pemikir pendekatan dependensi dengan konsepnya mengenai mengenai system dunia modern (Modren world system) ia menjelaskan hubungan antara negara-negara utara yang maju dengan negara selatan yang sedang berkembang. Wallerstein menggambarkan dengan posisi center - semi periphery - periphery. Negara center merujuk pada negara-negara industry maju dan memiliki capital yang besar. Negara semi periphery adalah negara yang paling banyak memainkan peran perantara perdagangan sedangkan periphery adalah negara miskin sumber eksploitasi.15 mengenai konsepnya Wallerstein menggambarkan, negara-negara center mendominasi negara periphery melalui mekanisme pasar yang timpang, negara center melakukan ekstraksi bahan dasar dari negara periphery pada sisi lainnya negara periphery difungsikan sebagai pasar untuk membuang kelebihan produksi. Gambaran ketiga actor dalam konsepnya akan bertemu dalam mekanisme pasar global.16 Konsep Wallerstein, Nnegara-negara di dunia ketiga yang mengikuti jalan kapitalisme menurutnya, umumnya melaksanakan pembangunan sesuai resep Rostow dalam “ The Strages of Ekonomic Growth: A Non Comunists Manifesto (1960). Dengan adanya bantuan modal, teknis dan managemen dari negara barat, banyak negara berkembang tertarik menjalankan pembangunan ala non komunis ala Rostow. Pembangunan Nasional Priode Pemerintahan Orde Baru, Permasalahan Social Masyarakat pada pemerintahan Pasca Orde Baru dan Peran Wirausaha. Di Indonesia proses industrialisasi berlangsung dalam pemerintahan otoriter orde baru. Naiknya Suharto kepanggung politik pada decade 1960-an mewarnai perubahan orientasi politik luar negeri Indonesia. Jika dimasa sukarno, Indonesia lebih banyak menjalin hubungan dengan negara penganut paham sosialis terutama Soviet dan RCC, dimana pemerintahan Suharto, Indonesia lebih berpaling ke negara barat seperti amerika dan jepang

13

14 15

16

Dapat di lihat dari tulisan : H.W Ardnt. Pembangunan Ekonomi : Studi Tentang Sejarah Pemikiran, LP3S, Jakarta. 1991. Hal 130-151 Winarmo, Budi. Pertarungan negara VS Pasar. Media Pressindo, Yogyakarta. 2009. Hal 54-55 Teotonio Dos Santos. The Structure of Dependece, dalam George, T Crane dan Abla, Amawi. The Theoritical Evolution of International Political Ekonomy. New York, Oxford University Press. Dalam Mohtar Mas‟oet. 1998. Hal 35 Teotonio Dos Santos. The Structure of Dependece, dalam George, T Crane dan Abla, Amawi. The Theoritical Evolution of International Political Ekonomy. New York, Oxford University Press. Dalam Mohtar Mas‟oet. 1998. Hal 34. Dalam Winarmo, Budi. Pertarungan negara VS Pasar. Media Pressindo, Yogyakarta. 2009. Hal 62

Page | 4

dikarenakan ada kepentingan pemerintahan untuk memulihkan perekonomian nasional. salah satu cara pemerintah adalah dengan mengundang kembali para investor asing, terutaman investor yang dulu pernah membangun industrinya di Indonesia. Mengapa para investor asing pergi dari Indonesia? Dimasa pemerintah sukarno tahun 1958, mereka dipaksa untuk menyerahkan usahanya kepada pemerintah Indonesia dimana pada saat itu pemerintahan sukarno mengeluarkan kebijakan untuk memprivatisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia.17 Agar para investor asing mau kembali Suharto mengutus Adam Malik untuk mengundang kembali investor asing dan merundingkan pencairan hutang luar negeri. akhirnya konsolidasi politik dilakukan dengan cara membasmi sisa-sisa kekuatan komunis. Kemudian ilmuan politik Robinson (1995) memberikan gambaran mengenai alasan mengapa pemerintahan ORBA memilih strategi penanaman modal asing sebagai strategi pembangunan saat itu? dan mengapa pemerintah mendominasi kehidupan masyarakat? 18 Menurut Robison, dikarenakan lemahnya kelompok-kelompok sosial ekonomi dalam berinteraksi dengan negara. Kedua gagalnya industrilisasi subsitusi import dimana pengusaha yang di proteksi pemerintah dengan program benteng tidak menghasilkan pengusaha yang mandiri. Ketiga, peran negara dominan sebagai actor penggerak pembangunan. Karena gagalnya penguatan kelompok-kelompok masyarakat, pemerintah juga ambil bagian dalam kehidupan ekonomi melalui BHMN. Keempat, menguatnya pandangan yang menganggap bahwa pembangunan ekonomi hanya efektif bila di jalankan oleh negara yang stabil, kuat dan sentralistis-otoritatif. Alasan lainnya bisa bisa di telusuri dari karya Karl D. Jackson dengan konsepnya Bureaucratic Polity istilah “Bureaucratic Polity” merupakan model untuk menggambarkan pemerintahan Suharto. Ia mendevinisikannya sebagai sebuah system politik dimana kekuasaan dan pembuatan keputusan berada ditangan sejumbelah elit birokrasi yang langsung berada dibawah perlindungan kelompok militer.19 Kemudian ia menggambarkan, mengapa kebijakan pembangunan pemerintahan ORBA lebih condong pada ekonomi liberal? Alasannya karena Suharto dikelilingi oleh para teknokrat (berpendidikan barat) yang sangat berperan dalam penentuan strategi industrialisasi.

17

18

19

Wibisono, Charistianto. Kekuatan Bisnis di Indonesia Dalam Anatomi Empiris – Historis. Kelola, No 10 IV, 1995 hal 9-10 Muhaimen, Yahya. Hubungan penguasa-pengusaha : Dimensi Politik Ekonomi Pengusaha Klien di Indonesia, Kelola, No 10 IV, 1995 hal 22-24 Karl D. Jackson. Bureaucratic Polity: A Theoritical Framework for the Analysis of Power and Communication In Indonesia. Dalam Karl D. Jackson dan Lucian W Pye. Political Power and Communications in Indonesia, University of California Press, Ltd. 1978.

Page | 5

Konsep pembangunan nasional di masa pemerintahan orde baru dengan konsep Program Pembangunan Jangka Panjang (PJP) disusun setiap lima tahun (Repelita) dengan GBHN sebagai landasannya. Kalau diperhatikan konsep pembangunan secara lebih terperinci maka akan sama seperti yang ditawarkan oleh Rostow. Menurut Data-data yang beredar disaat itu, Orde baru telah berhasil mengangkat angka pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan. Namun pada sisi lain, keterlibatan masyarakat baik dalam proses maupun dalam pemanfaatan hasil, belum mencapai tingkatan yang merata (adil). Sebaliknya, proses dan hasil pembangunan masih sangat terkonsentrasi pada sekelompok kecil masyarakat, terutama para pemilik modal pribumi yang terproteksi oleh pemerintah, maka akibatnya terjadi kesenjangan social di tengah-tengah masyarakat, akibat kebijakan pembangunan yang kurang berorientasi pada pembangunan kerakyatan yang berkeadilan.20 Kondisi pasca jatuhnya orba, indonesia memasuki masa transisi demokrasi dengan berlandaskan pada semangat mereformasi. Menuntut bekerja kearah system yang lebih demokrasi, hal ini membuka peluang besar kearah partisipasi masyarakat dalam mengontrol arah gerak pembangunan yang dilakukan pemerintah. Pada sisi lain sistem demokrasi memberikan kesempatan besar dibukanya liberalisasi di segala bidang. maka konsentrasi kekuasaan tidak lagi berada pada sebagian kecil masyarakat dikarena kekuasan menjadi tersebar. sebagai contohnya kekuasaan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah, tidak sebesar seperti halnya pada pemerintahan ORBA, pemerintah daerah memiliki kekuasaan otonom untuk menentukan arah pembangunan daerahnya, pesebaran kekuasaan ini diharapkan daerah-daerah akan lebih mengoptimalkan sumber-sumber yang ada di daerahnya. Contoh diatas menggambarkan bagaimana terjadinya perubahan pada system masyarakat. Dilihat dari pola berfikir, menurut penulis masyarakat telah memiliki pola berfikir masyarakat modern, paling tidak sudah memenuhi beberapa keriteria seperti yang dikemukakan Lipset ataupun Huntinton tentang kondisi berkembangnya demokrasi. Begitupun peraktek liberalisasi ekonomi di Indonesia yang telah ada sejak masa awal pemerintahan ORBA, hal ini memberikan peluang pembelajaran sejak dini pada masyarakat untuk berinteraksi tingkat global, karena pemberlakuan „free trade‟ diwilayah Asia dan Pasifik dimulai pada tahun 2020.

20

Munandar Aris Pembangunan Nasional, Keadilan Sosial dan Pemberdayaan masyarakat, Jurnal Universitas Paramadina Vol.2 No. 1, September 2002, hal 12

Page | 6

Keadaan tersebut mau tidak mau seorang individu harus menggali potensi dirinya karena setiap individu akan di pandang sama seperti individu lainnya, maka tercibtalah iklim persaingan. Mekanisme masyarakat inilah yang diharapkan untuk tercibtanya pembangunan kesejahteraan versi pendekatan pembangunan. Seperti yang penulis singgung sebelumnya bahwa model pembangunan yang hanya menitik beratkan pada pembangunan ekonomi yang lebih memacu pada penanaman modal asing ke Indonesia seperti halnya yang dilakukan masa pemerintahan ORBA tidak mencibtakan kesejahteraan masyarakat secara merata, hanya sebagian kecil saja masyarakat yang menikmatinya sehingga mencibtakan suatu kondisi ketimpangan social di tengah masyarakat. Lalu model pembangunan seperti apa yang ideal untuk mendongkrak peningkatan perekonomian Indonesia dan mencibtakan kesejahteraan secara adil dan merata? Maka model pembangunan ideal menurut penulis harus disesuaikan dengan model yang berkembang dinegara-negara maju. Mengapa?, karena masyarakat Indonesia menerima system demokrasi sebagai landasan menata kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang menguat sejak jatuhnya pemerintahan ORBA. dimasa pemerintahan ORBA, mengapa demokrasi kurang berkembang? bisa dilihat dari alasan Robison, pada penulisan sebelumnya. Secara general menurutnya dikarenakan lemahnya kelompok-kelompok sosial ekonomi dalam berinteraksi dengan negara sehingga peranan negara menjadi dominan dalam pengaturan sistem. Kedua, pemberlakuan „free trade‟ diwilayah Asia dan Pasifik dimulai pada tahun 2020. maka, mau tidak mau masyarakat dipaksa untuk mandiri. Ketiga, menurut Moore tidak ada wirausaha tidak ada demokrasi.21 Dengan kata lain, demokrasi akan berkembang dalam masyarakat yang modern dan sejahtera.22 Menurut penulis actor yang berperan sebagai agen pembangunan adalah wirausaha atau biasa di sebut entrepreneur. Berbagai literaturepun banyak yang menulis peranan wirausaha dalam pembangunan suatu bangsa, Misalnya di USA, para entreprenuer disebut pula sebagai „captain of industry‟, atau „business tycoon ‐ or wealthy and powerfull businessmen or industrialists‟ mereka itu antara lain seperti: • J.P. Morgan (dibidang Finance), • James B Duke (Tobacco), • Andrew Carnegiie (Steel),

21

22

Moore, dalam Sedane, Civil Society, Globalisasi dan Buruh: Kaum Pekerja di Indonesia Pasca Suharto, Sedane Jurnal Kajian Perburuhan, Vol.2 No.2, Juli-Desember 2004. hal 36-37 Seymour M. Lipset. Some Social Requisites of Democracy: Economic Development and Politikal Legitimacy, American Political Science Review, No.53. 1959. Hal 75

Page | 7

• Cornellius Vanderbilt (Railroad), • John D. Rockefeller (oil), dan juga • Edson de Castro (founder of Data General), • An Wang ( founder of Wang Laboratories), Stephen Jobs ( cofounder of Apple Computer), • L.J. Sevin (Founder of Compaq Computer), • Fred Smith (founder of Federal Express (McCan, 1981; Bursch, 1986). Sedangkan literature Indonesia yang berpendapat sama ialah Wirakusumo, penulisannya mengenai peran penting wirausaha dalam menentukan perkembangan ekonomi suatu Negara. Menurutnya wirausaha adalah “the backbone of economy”, yang adalah syaraf pusat perekonomian atau pengendali perekonomian suatu bangsa (Soeharto Wirakusumo, 1997:1).23 Tidak hanya Rirakusumo yang menitik beratkan akan pentingnya wirausaha, peneliti lainnya adalah Alma, menurutnya, semakin maju suatu negara maka semakin dirasakan pentingnya dunia wirausaha. Pembangunan akan lebih berhasil jika ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan pemerintah sangat terbatas (Alma, 2008, p.4). Sukamdani menurutnya wirausahawan unggul dalam kualitasm kehadiran mereka membuat perekonomian negara akan semakin sejahtera dan kuat. Bilamana disimpulkan secara generalnya penulisan mengenai peranan wirausaha sebagai pencipta kesempatan kerja baru, penghasilan baru, inovasi baru, pembayar-pembayar pajak baru dan secara keseluruhan disebut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Sebagai contohnya Matsushita corporation tahun 1993, hanya dengan tenaga kerja sebanyak 48,369 orang perusahaan ini dapat menghasilkan penjualan sebanyak $39.1 Milyar US, dan memperoleh rangking ke 13 di Asia dari 1000 perusahaan yang besar diwilayah Asia (rangking pertama, kedua, dan ketiga masing masing diraih oleh Itochu Corp - General Trading, Sales US $145.09 Milyar ‐ tenaga kerja 7434 orang, Mitshui & Co. sales US $142.6 Milyar‐tenaga kerja 8670 orang, dan Marubeni Corp., sales US $136.2 Milyar ‐ tenaga kerja 7190 orang).24

23

24

Winarningsih, Srihadi. Menyikapi Globalisasi dan Meningkatkan Budaya Kewirausahaan, Disampaikan pada: Seminar Kewirausahaan dan Usaha Mikro Kecil Menengah Gedung Wahana Bakti Pos. Bandung, 25 Maret 2006. Dalam Soeharto Wirakusumo, 1997:1 Asiaweek, November 1994 dalam M. SYAFIIE IDRUS Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Management Kuantitatif Pada Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Berjudul “strategi Pengembangan Kewirausahaan (Entreprenuership) dan Peranan Perguruan Tinggi dalam Rangka Membangun Keunggulan Bersaing (Compotitive Admentage) Bangsa Indonesia Pada Millenium Ketiga Strategi Pengembangan Kewirausahaan”. Hal 5-6

Page | 8

Contoh diatas sekiranya dapat memberikan gambaran betapa pentingnya peran wirausaha dalam membangun ekonomi suatu bangsa. David McClelland pun pernah memperbandingkan jumblah wirausaha dibeberapa Negara, dengan hasil di AS pada tahun 2007 memiliki 11,5 persen wirausahawan, kemudian Singapura 7,2 persen. Sementara Indonesia, tahun 2007 diperkirakan hanya mencapai 400.000 orang atau hanya 0.18 persen dari yang seharusnya 4,4 juta wirausahawan atau sebesar 2% dari total jumbelah penduduk. Untuk itu dibutuhkan suatu strategi pembangunan kewirausahaan kedepannya.

Peranan pendidikan dalam Mencetak Wirausahawan Pada pembahasan sebelumnya telah penulis betapa pentingnya peranan wirausaha dalam meningkatkan perekonomian nagara dan mendorong tercapainya masyarakat yang sejahtera secara merata. Di dalam masyarakat pada umumnya memiliki tingkat perekonomian yang berbeda-beda, baik itu dinegara berkembang maupun di negara maju, ini tidak lain di sebabkan faktor kemampuan atau kesempatan untuk mengelola ekonomi dan juga tidak terlepas kemampuan mencari peluang yang ada didalam masyarakat itu sendiri. 25 Untuk mencapai peluang kesejahteraan, tidak semua orang mampu mencapai kondisi tersebut, orang tertentu dimana mereka mampu mencapainya dan orang-orang dimaksud adalah orang-orang yang terpelajar dimana individu mampu mencari peluang ataupun terobosan-terobosan baru yang ada dalam masyarakat, dan ini disebabkan karena mereka memiliki kemampuan dan pemikiran-pemikiran maju serta mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat dimana meraka berada, sementara orang-orang yang tidak terpelajar tentu meraka kurang memiliki, maka dari itu disinilah letaknya betapa peranan pendidikan itu sangat membantu orang-orang yang ada dalam masyarakat agar bisa lebih sejahtera. 26 Banyak penulis yang lebih menekankan pentingnya pendidikan. seperti halnya Suyatno, lebih menekankan pada aspek globalisasi, pendidikan dan kondisi sumber daya manusia di Indonesia. Menurutnya SDM yang terdidik di Indonesia masih belum mampu untuk bersaing dalam pasar global dikarenakan belum terbentuknya karakter kuat untuk berdayasaing, ini di karenakan pendidikan Indonesia belum mengarahkan pembentukan

25

26

Peranan Pendidikan Formal Terhadap Aspek Kehidupan Ekonomi http://stain-samarinda.ac.id/news/file/Yahya-Peran%20pendidikan.pdf Yahya, H. Peranan Pendidikan Formal Terhadap Aspek Kehidupan Ekonomi (tidak ada data-data lengkap mengenai penulisan)

Page | 9

sampai pada pembentukan karakter dimana proses pendidikan formal, non formal, dan informal tidak saling berkaitan. 27 Dari pernyataan Suyatno ternyata pendidikan di Indonesia kurang mampu mencetak wirausahaan karena arah pemdidikan untuk menghasilkan pekerja. Maka menurut Ciputra, (2008) maka harus merubah pola orientasi pendidikan dengan konsep Pendidikan entrepreneurship. Dengan konsep menurutnya akan mampu menghasilkan dampak nasional yang besar bila kita berhasil mendidik seluruh bangku sekolah kita dan mampu menghasilkan empat juta entrepreneur baru dari lulusan lembaga pendidikan Indonesia selama 25 tahun mendatang.

Kesimpulannya Peranan Pendidikan Kewirausahaan dalam Pembangunan Nasional Ada perbedaan, antara Strategi pembangunan dimasa orde baru dan pasca orde baru keduanya dipengaruhi oleh seting lingkungan yang mempengaruhi bagaimana orientasi setrategi pembangunan berlaku. orde lama meninggalkan kondisi ekonomi yang memperhatikan, sehingga menuntut pemerintahan ORBA menanggulangi kondisi tersebut. Disamping itu menguatnya pengaruh barat dengan konsep strategi pembangunan modernisasi untuk membenahi kondisi ekonomi di negara-negara ketiga. Selain itu struktur social ekonomi masyarakat yang lemah jika berhadapan dengan pemerintah membuat pemerintah lebih dominan dalam system, walaupun negara mendorong masyarakat pribumi dalam berwirausaha dan memproteksi usaha masyarakat dengan berbagai program pemerintah seperti program benteng . namun kebijakan-kebijakan tersebut justru tidak menghasilkan wirausaha-wirausaha pribumi yang professional justru menjadikan para pengusaha pribumi menjadi usaha yang hanya bergantung pada perlindungan dari pemerintah. Akibat berbagai kebijakan pemerintah melahirkan ketimpangan social ekonomi di masyarakat, hanya orang tertentu saja yang menikmati pembangunan ala ORBA. Kondisi pasca Orba, dilandasi atas semangat untuk mereformasi system yang terbentuk dimasa orde baru, system diarahkan pada system yang lebih demokrasi. Demokrasi telah memberikan ruang bagi setiap indidu berpartisipasi mengontrol berbagai kebijakan-

kebijakan pemerintah dalam merumuskan program pembangunan, disamping itu demokrasi juga berkontibusi dalam membuka ruang bagi liberalisasi dalam segala hal, menuntut
27

Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd. Peran pendidikan sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa. Makalah yang disampaikan dalam Sarasehan Nasional “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” oleh Kopertis Wilayah 3 DKI Jakarta, 12 Januari 2010.

Page | 10

individu untuk bisa bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan nasional. Untuk itu di harapkan peranan wirausaha dalam mencibtakan kesejahteraan dan menumbuhkan ekonomi nasional. Disamping itu, Jumbelah wirausaha pribumi yang belum mencukupi angka yang ideal sebesar 2% dari total jumbelah penduduk berkonsekuensi pada masalah-masalah social ekonomi masyarakat Indonesia. Untuk itu dibutuhkan peranan pendidikan yang berorientasi pada pencibtaan wirausahawan-wirausahawan baru, sehingga pada nantinya diharapkan akan terbentuk kekuatan bisnis yang dapat menopang dan membangun ekonomi nasional, mencibtakan kesejahteraan yang berkeadilan dan menumbuhkan system kearah yang lebih demokrasi

Pustaka 1. Thomson, Boone. Contemporary Busines, Penerbit Salemba Empat, 2007 2. Crouch, Harol. Masyarakat Politik dan Perubahan: negara baru, Perkembangan Politik & Modernisasi, FISIP UI, 1981 3. Madura, Jeff. Introduction To Busines, Salemba Empat, Jakarta, 2007 4. Irene, Gendzier. managing Political Change : Social Scientist and The Thir World, Boulder, Corolado, Westview Press, 1985. 5. Fareed, Zakaria. The future of freedom :Illiberal Demogracy at Home and abroad, Norton and Company, Inc New York. 2003 6. Seymour M. Lipset. Some Social Requisites of Democracy: Economic Development and Politikal Legitimacy, American Political Science Review, No.53. 1959 7. Widjajanto, Andi. Transnasionalisasi Masyarakat Sipil, LKIS. Yogyakarta, 2007 8. H.W Ardnt. Pembangunan Ekonomi : Studi Tentang Sejarah Pemikiran, LP3S, Jakarta. 1991 9. Winarmo, Budi. Pertarungan negara VS Pasar. Media Pressindo, Yogyakarta. 2009 10. Teotonio Dos Santos. The Structure of Dependece, dalam George, T Crane dan Abla, Amawi. The Theoritical Evolution of International Political Ekonomy. New York, Oxford University Press. 11. Wibisono, Charistianto. Kekuatan Bisnis di Indonesia Dalam Anatomi Empiris – Historis. Kelola, No 10 IV, 1995 12. Muhaimen, Yahya. Hubungan penguasa-pengusaha : Dimensi Politik Ekonomi Pengusaha Klien di Indonesia, Kelola, No 10 IV, 1995 13. Karl D. Jackson. Bureaucratic Polity: A Theoritical Framework for the Analysis of Power and Communication In Indonesia. Dalam Karl D. Jackson dan Lucian W Pye. Political Power and Communications in Indonesia, University of California Press, Ltd. 1978. 14. Munandar Aris Pembangunan Nasional, Keadilan Sosial dan Pemberdayaan masyarakat, Jurnal Universitas Paramadina Vol.2 No. 1, September 2002 15. Sedane, Civil Society, Globalisasi dan Buruh: Kaum Pekerja di Indonesia Pasca Suharto, Sedane Jurnal Kajian Perburuhan, Vol.2 No.2, Juli-Desember 2004 16. Seymour M. Lipset. Some Social Requisites of Democracy: Economic Development and Politikal Legitimacy, American Political Science Review, No.53. 1959 17. Peranan Pendidikan Formal Terhadap Aspek Kehidupan Ekonomi http://stain-samarinda.ac.id/news/file/Yahya-Peran%20pendidikan.pdf Makalah, Pidato, dll 1. Winarningsih, Srihadi. Menyikapi Globalisasi dan Meningkatkan Budaya Kewirausahaan, Disampaikan pada: Seminar Kewirausahaan dan Usaha Mikro Kecil Menengah Gedung Wahana Bakti Pos. Bandung, 25 Maret 2006 Page | 11

2. Asiaweek, November 1994 dalam M. SYAFIIE IDRUS Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Management Kuantitatif Pada Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Berjudul “strategi Pengembangan Kewirausahaan (Entreprenuership) dan Peranan Perguruan Tinggi dalam Rangka Membangun Keunggulan Bersaing (Compotitive Admentage) Bangsa Indonesia Pada Millenium Ketiga Strategi Pengembangan Kewirausahaan” 3. Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd. Peran pendidikan sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa. Makalah yang disampaikan dalam Sarasehan Nasional “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” oleh Kopertis Wilayah 3 DKI Jakarta, 12 Januari 2010. Sumber Penulisan dengan data tidak lengkap 1. Yahya, H. Peranan Pendidikan Formal Terhadap Aspek Kehidupan Ekonomi

Page | 12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->