TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Haris. iii . Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Adikku Erna. Bapak. Istriku beserta keluarga besarnya. terima kasih atas doa dan dukungannya. Ibu.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. terima kasih atas doa dan kerjasamanya.

5. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. 4. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. Alhamdulillah. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 2. Ibu. H. Bapak Zaenal Arifin. Ir. iv . MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Bapak Tadjuddin BM Aris. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. Bapak Faisol AM. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis.WB. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. 3. bapak. Ir. H. ST.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR.

Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. v . Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta.6. 7.

ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.18 dan 71.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2.859.40. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI. SNI dan Lapangan/Kontraktor.696.35 dan 1. SNI dan Lapangan.804. RAB penawaran kontraktor.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.594.120. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.33. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.26 sedangkan metode SNI Rp 4.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50. tenaga kerja.727.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57. vi . Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan. RKS.32 dan untuk Lapangan Rp 9.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57. pelayanan maupun waktu.44 dan 58.

............18 3................5 Latar Belakang..................................................................................4 Batasan Masalah.......24 Analisa Harga Satuan................................................................ii HALAMAN PERSEMBAHAN.................................iii KATA PENGANTAR.........................4 1...1 2...........................3..............2.............................................1.............................................3 Tujuan Penelitian..............2 Jenis Anggaran Proyek.......................1 Rumusan Masalah.........1 3.............................................................................vii DAFTAR GAMBAR......1 3.............................................................2 1.................................................2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan...............19 3........2 3.............................................1........12 Kualitas Perkiraan Biaya……....................xi DAFTAR TABEL.....................................................................................................................3 1.................................................13 Metode Perkiraan Biaya.................................27 vii ....................................................................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan............5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya...............4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.....9 BAB III LANDASAN TEORI 3...DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......i HALAMAN PENGESAHAN...............3.................3 Manfaat Penelitian..23 Harga Satuan Pekerjaan....................................................15 3....................................................1 Estimasi Biaya.........................2...................xiii BAB I PENDAHULUAN 1....11 3.......................................................................................................................vi DAFTAR ISI...........1 1......................................iv ABSTRAKSI.2 Biaya Langsung..................14 Biaya Konstruksi Proyek…..............2 3..................................................3 3.........................................1....3................................1 3........................................17 Biaya Tidak Langsung……….3 Rencana Anggaran Biaya…...................................................

....52 Komparasi Harga Satuan......................60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio...1 3............3..........3 Pekerjaan Adukan Beton...................................................39 Pekerjaan Pembesian...6 Subjek Penelitian…….......7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen.........4................................................2 4........1 3.4.............................................1 3....4.........32 3...............41 Objek Penelitian….............................3..................................3...........37 Pekerjaan Beton Bertulang...................................48 Analisa Metode Lapangan........3............................................69 viii .................2 3.4 5......42 BAB V ANALISA DATA 5....................... Harga Satuan............41 Cara Pengumpulan Data……..............33 Analisa Harga Satuan Metode SNI..........3....27 Analisa Harga Satuan Alat............... Pekerjaan Beton Bertulang.....................4 4..2..2 Bahan – Bahan......................................4 Analisa Harga Satuan Material.....4.........................................3....3 4.......................64 5.........2 3............................28 Metode Perhitungan........5 5..........................2 3.....................4 Beton Bertulang…............................36 3............................1 5.............1 4.....2.......................................................4.....41 Pengolahan Data…….....39 3..................2 5...34 Analisa Harga Satuan Metode..................................................2.........44 Analisa Metode BOW.3 5..3.........................4..41 Data yang Diperlukan…….........................3.......................................................4..3 Analisa Harga Satuan Metode BOW...............3.........................3......4....37 3...27 Analisa Harga Satuan Upah............40 Pekerjaan Bekisting.............................. Lapangan..40 BAB IV METODE PENELITIAN 4..........44 Analisa Metode SNI...........3 3....42 Tahapan Penelitian……..3.6 Rencana Pekerjaan……..1 3......5 4......

....….........1 6......92 Upah Pembesian......................3 Upah Adukan Beton......................1 6..........4 6.8 Selisih Bahan Bekisting.............2 5...............12...........................3 5................................................8..........................91 Harga Satuan Upah...................11 6.....................108 Rasio Harga Satuan Bahan..2.................92 6...........................2 6...............7..........................81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks.75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.........................................................6 6.105 Selisih Upah Bekisting.109 ix .......................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan………….3 Selisih Upah Adukan Beton..........86 PEMBAHASAN 6.....................1...5..............103 6......88 6.......105 Selisih Upah Pembesian.......94 6.........................72 Indeks Lapangan...................................7.......................7.............................1.........3 6...................2 Bahan Adukan Beton..............107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..............107 Selisih Harga Satuan Upah Beton..................7 Harga Satuan Bahan Beton.......7.7.......................3 6...........................1 Selisih Bahan Adukan Beton....109 6..98 Selisih Harga Satuan Bahan.........89 Bahan Bekisting......103 6........106 6...8.............1 Rasio Bahan Adukan Beton.......105 6............96 Harga Satuan Upah Beton..........104 Selisih Harga Satuan Upah...88 Bahan Pembesian..2 Selisih Bahan Pembesian.................................................................3 6.........2 6.................1...7.......................8 BAB VI Indeks BOW....1 Harga Satuan Bahan.........................2..........................................93 Upah Bekisting.......96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...............2 6.....103 6.2......1 5...........8...........................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton................................................9 6.......................................................................7.5 6...........................……..................1 6............10 6..69 Indeks SNI.4 5.............

....114 Indeks...109 6.................................................….........17....15 6.....115 6...............2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ..12..........111 6.........2 Rasio Upah Pembesian.....................................16 6.................................2 Indeks Tenaga Kerja.......116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.13.................LAMPIRAN Kesimpulan…….................................3 Rasio Upah Bekisting...........1 Rasio Upah Adukan Beton.................2 Rasio Bahan Pembesian……............6..........12............115 6..........................110 6.............14 6..............................................................120 x .......................................3 Rasio Bahan Bekisting…………………….118 Saran...................................113 Rasio Harga Satuan Upah Beton......17.........113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......1 7...............................................................111 6......1 Indeks Bahan......13 Rasio Harga Satuan Upah...112 6...111 6..............13...13........17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.........................

..........20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci.................. Gambar 3.111 xi ....2......... Gambar 4...............11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian...........14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian...1 Gambar 3............13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton........8 Gambar 6................90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting...............................................16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton.............21 Skema Harga Satuan Pekerjaan.................88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian..........105 Gambar 6.........................................20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian..98 Gambar 6.....17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton........................................ Gambar 3...................4 Gambar 6...........108 Gambar 6.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton...110 Gambar 6..106 Gambar 6..................12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting...96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton...97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang....................................95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.. Gambar 3...................104 Gambar 6...15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting....3..................107 Gambar 6...............18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar..........5 Gambar 6.......6 Gambar 6.....106 Gambar 6..................5.......................110 Gambar 6................1 Gambar 6...91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton...........................92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian........................9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)..................43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton...3 Gambar 6............1 Gambar 6......................19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...108 Gambar 6................26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir..........26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan..................................7 Gambar 6........................21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting..104 Gambar 6.......109 Gambar 6.........................................103 Gambar 6.2 Gambar 6...........93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.........................DAFTAR GAMBAR Gambar 3.............4........10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton......

.........25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton.........................114 Gambar 6.....................26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton..112 Gambar 6.....................23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian........Gambar 6..27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.113 Gambar 6...........28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian...................115 Gambar 6........116 xii .............114 Gambar 6..............................................................24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian..112 Gambar 6...........................

.................................. Pembesian Dan Bekisting.......... Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.........................DAFTAR TABEL Tabel 3.15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.....................3 Analisa Harga Satuan Bahan...........................................13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting..15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton..............67 Tabel 5................66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.6 Tabel 5...........49 Tabel 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW.........................53 Tabel 5........................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton............................1 Analisa Harga Satuan Bahan..71 Tabel 5...............68 Tabel 5...............................16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......67 Tabel 5.......................61 Tabel 5.................. Pembesian Dan Bekisting...........8 Tabel 5............14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton........66 Tabel 5..63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton..........5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton............................15 Tabel 5................................7 Tabel 5..........10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting...68 Tabel 5.............................67 Tabel 5.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.........................................................................45 Tabel 5......1.. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI..............74 xiii ........................................................................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton........................................62 Tabel 5.................................................68 Tabel 5..................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI................2 Analisa Harga Satuan Bahan.........................................................66 Tabel 5................12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian............ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.......11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.

..............6 Total Selisih Harga Satuan.................100 Tabel 6.102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ...........................101 Tabel 6........................................................................ Pembesian Dan Bekisting..........83 Tabel 5.........................20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting...........19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian..............5 Tabel 6............................100 Tabel 6.......................... Pembesian Dan Bekisting....87 Tabel 6.......... Pembesian Dan Bekisting.......84 Tabel 5...............101 Tabel 6...Tabel 5......4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton................22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja...........................................17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.............................................................................................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton...............82 Tabel 5..........2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton..................... Pembesian Dan Bekisting.........................1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..............21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja....85 Tabel 5....................3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton...................78 Tabel 5..............................

1 . BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. pelayanan maupun waktu.BAB I PENDAHULUAN 1. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. tenaga kerja. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini.

kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami .check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. Pada tahun 1987 sampai 1991. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. konsultan. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. Agar lebih luas cakupannya. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. baik bahan maupun upah tenaga kerja. namun hanya untuk perumahan sederhana. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan.

3. SNI dan penawaran kontraktor ? 3.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. 1. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. SNI dan penawaran kontraktor.3 kekalahan. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. Apakah ada selisih harga satuan material. Pada saat ini. . Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. akan mengalami kesulitan dibelakang hari.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. SNI dan penawaran kontraktor. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. 2.

indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. 5.4 Manfaat Penelitian 1. 3. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. profit dan pajak tidak diperhitungkan. 3. 2. 6. 7. Biaya tidak langsung seperti overhead. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. 2.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1.4 1. . 1. Dapat menjadi referensi bagi penulis. 4. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. tahun 2007. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah.

1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.344. 5 .706. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW.90.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.232. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13. 103. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan.40.218.23 %. 15.39 %. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.

dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. . Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.

bahan dan biaya. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. waktu. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu.7 2. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. 3.

26 % = 44. Metode yang digunakan : Data primer a. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati.16 % 5. produktivitas pekerja. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Pekerjaan Bekisting Balok 3. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. 4. . Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja.23 % = 63. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. Interview. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan.8 Karyaan.

Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. dengan nilai penghematan 2.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.21. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.025. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 2. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.184.214. 39.14 2.207. dengan nilai penghematan 1. 78. 53.930. dengan nilai penghematan 1.348. 99. 31. 11. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .10.00.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.217.013.50.437.87.508.206.00.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. dengan nilai penghematan 0.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10. dengan nilai penghematan 0. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.655.

10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. kolom. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. sloof. balok dan tribun menggunakan metode BOW. SNI dan Lapangan. SNI dan Lapangan. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. .

Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. 1995). peralatan. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja.BAB III LANDASAN TEORI 3. Dengan kata lain.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. material. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. dan lain-lain. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan.

Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. Perencanaan Biaya Bangunan. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. proses penyusunan aggaran biaya definitif. 1995. lokasi. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. . sesuai dengan fungsinya. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian.12 proyek seperti jenis. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). 3. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). 1994). ukuran. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.1. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal.

1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.13 Tenaga kerja .2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan .Overhead .Standar jam orang . kemudian . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Penawaran dari paket MR/PO .“Quantity take-off” . 1995) 3.1. kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek.Eskalasi .Harga peralatan . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.Produktivitas .Satuan harga material curah .Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank . 1995.Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.

dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. Pada metode elemental analysis cost estimating. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan .1. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. pengalaman serta judgment dari estimator.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. 3. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. dan bila telah diberi beban biaya. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. Hal ini memerlukan kecakapan. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. 1995. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis .

Sistem HVAC .15 gedung.Lantai .1.Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Super struktur .Dinding eksterior .Interior . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Sistem pemipaan . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja. Jenis dan intensitas kegiatan .Sistem conveying .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Pemipaan . Means Engineering News Record . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Eksterior .Kontigensi .Pondasi .Sistem HVAC .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record. 1995) 3.Atap .Fixed equipment .Listrik .Pondasi .Pekerjaan lahan (site) .Listrik .Glazed opening .Substruktur .Pintu .Sistem conveying . Tabel 3.Persiapan site .Dinding interior .Kolom interior .

kompresor udara. terutama bagi long delivery items. Sama halnya dengan sumber daya manusia. Ini dapat berupa crane. Terutama untuk daerah rawa. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. lengkapkah peralatan. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. 1995). berlumpur atau berdebu. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. Bila hal ini terjadi.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. scraper. Bertolak dari kenyataan tersebut. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. (Iman Soeharto. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . truk. grader. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. atau yang langka tersedia di pasaran. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. jenis keterampilan. pengeruk tanah (back-hoe). sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. dan lain-lain.

Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. mulai dari membuat spesifikasi. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. 1995). pengepakkan. alat-alat tangan (tools). 3. (Iman Soeharto.2. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. jadi sudah termasuk biaya angkutan. memotong dan . Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. biaya menaikkan dan menurunkan. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. mesin-mesin. penyimpanan sementara di gudang. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis.

asuransi. misalnya sewa kantor. alat angkut dan lain sebagainya. memindahkan. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. biaya-biaya notaris. telepon. bunga uang.18 membengkokkan baja-baja tulangan. surat-surat ijin dan lain sebagainya. pemasangan alat. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa.2. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. peralatan kantor dan alat tulismenulis. . pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. telepon yang dipasang di proyek. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. pengangkutan. asuransi. 3. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. pengukuran (survey). biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. listrik. air. membongkar dan biaya operasi. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. pajak.

PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. 1992. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. Adapun menurut John W. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. 1993. . serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. cermat dan memenuhi syarat. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. 1984. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . 3. Menurut Sugeng Djojowirono. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek.

dapat dilihat pada gambar 3. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar.2. Analisa Anggaran Pelaksanaan. Soedradjat Sastraatmadja (1984).2. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. A. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Secara sistematisnya.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. A. Soedradjat Sastraatmadja. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua.

peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. daftar upah.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. daftar harga bahan. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar.3. A. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. Pajak Gambar 3. dapat dilihat pada Gambar 3. Menurut Bachtiar Ibrahim.3. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. 1993. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. Secara sistematisnya. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. Profit. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. daftar susunan rencana biaya. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. . buku analisis. Mukomoko. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan.

tinggi langit-langit. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya.Rencana jalan dan pagar.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan.). .Rencana saluran pembuangan air hujan. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. . Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi.Rencana halaman .Rencana letak bangunan. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan.00 m dari lantai. letak tinggi jendela dan pintu. 2) Gambar denah PU 1 : 100. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. nok reng balok/muurplat. misalnya : dasar pondasi. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya.00. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . .Rencana garis batas tanah dan roylen. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.

TAMPAK SAMPING KIRI 6. . 7) Gambar pelengkap. POTONGAN II – II 9. nok gording. usuk/kasau dan konstruksi penahan. 2007. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. Gambar saluran pembuangan air hujan. DENAH 2. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. .Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. DENAH KUSEN 13. hooker. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : .Gambar konstruksi kayu.Gambar konstruksi baja. DENAH LISTRIK =L =M 14. Jakarta. RENCANA SANITASI = N 3. cetakan keempat. Gambar saluran pembuangan air kotor. . T. dengan jelas. keilkeper. RENCANA PLAFOND = K 12.3. talang air. DENAH PONDASI 7.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. POTONGAN III-III 10. RENCANA KAP =H =I =J 11.Gambar konstruksi beton bertulang. TAMPAK MUKA 3. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. muurplat/reng balok. Jadi volume (kubikasi) . TAMPAK BELAKANG 4. SAMPING KANAN 5. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost.

d. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. yaitu panjang x luas penampang yang sama. 3. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. b.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. dan sebagainya. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . persegipanjang. Harga bahan didapat di pasaran.24 suatu pekerjaan. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan.Volume atap dihitung berdasarkan luas. lisplank 28 m. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . . c. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. .3. . melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. .Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. atap 140 m2.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. e. seperti segitiga. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. trapezium.

S. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. dan gambar 3. Upah + H.S.S. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Bahan + H.25 pemerintah. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Alat Secara sistematisnya. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah. dapat dilihat pada gambar 3. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.4. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. . Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi.5.

Manajemen Konstruksi.5.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Yogyakarta. 1984) .4.

menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. 3.3.27 3.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. (Bachtiar Ibrahim.3. 3. 1993). ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. 1994 dalam Dani Kurniawan.3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. upah tenaga kerja. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan.3. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. (Bachtiar Ibrahim. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. 1 m2. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. kecepatan .3. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. 2004). 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim.

2004). Pekerja. 3. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. 1993). 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. Mandor. b. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. (Bachtiar Ibrahim. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah.3. Tukang batu.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). Kepala tukang.3. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. d. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. selain bertugas sebagai tukang batu. c.

F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat.002 x B = 0. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. biaya sewa gudang. Bagi peralatan yang bertugas sedang. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. = 0. ongkos angkut. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. maka . Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). D = Faktor angsuran / pengembalian modal. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. maka . W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun.

c. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). d. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. pelumas power steering. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. . Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). b. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. pelumas hidrolik. saringan/filter udara dan lain sebagainya. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. e. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. grease. pelumas transmisi. saringan agregat untuk stone crusher / AMP. dan lain sebagainya.

Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. Karena rumus sifatnya pendekatan.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5% = untuk alat yang bertugas berat b. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat.5 s/d 17. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan.5) % x HP Dimana . H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.31 3. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

= Rp. 59. 45.1 5.pasir beton .875. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.00 3. 43.520 m3 = 218.5. 57.697.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0. = Rp. 30. SK SNI S-05-1989. = Rp.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) . 187.115. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.mandor . Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.780 m3 = 0.60 x @ Rp.892.250.00 kg x @ Rp.025 Oh 3 .61 .547.080 Oh = 0. 934.00 1.00 x @ Rp.chipping/split .39 Jumlah (1) 5.777.00 10. 35.02 = Rp.tukang batu . SK SNI S-04-1989-F. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2.Semen Portland = Rp.pekerja .650 Oh = 0.000. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03. = Rp.00 73.75 = Rp.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.250 Oh = 0. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5.600. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.00 x @ Rp.475.5. 239.2 Tenaga : = 1. SK SNI-06-1989-F. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4. 421.00 x @ Rp.964.750.000. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F. 203. 50.84 x @ Rp.kepala tukang x @ Rp.00 Jumlah (2) = Rp.500.10 = Rp.000.

04 . 4. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi.777. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya.00 3.36 = Rp. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). 313.61 73.252. 934.semen portland = 336. = Rp. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . 421.475. 2.4.955.61 + Rp.3. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah. 495.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. 3.39 = Rp. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost). Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara .000 kg x @ Rp. Menghitung harga satuan bahan dengan cara . Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan.

b. 70.00 x @ Rp.37 . 239.265.. 344.000.975.00 Jumlah (2) = Rp. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .00 x @ Rp.540 m3 = 0. 59. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.koral beton = 0.892.000. 285. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.70 194.15.000.000.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. = Rp. 1991.tukang batu .kepala tukang . 45. 58.60 540. Tenaga kerja : .312. 50. 43.mandor = 2.950.10 = Rp. 131.000 Oh x @ Rp.000 Oh = 0.547. 2) analisis dengan computer.423.pekerja .00 3. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.750. 32.00 15.00 + Rp. 35.350 Oh = 0.00 1. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.00 x @ Rp.035 Oh = 1.810 m 3 x @ Rp.34 x @ Rp.60 = Rp.00 = Rp.00 = Rp. = Rp.000. Jumlah (1) = Rp.pasir beton .155.00 45.500. = Rp.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.225.

Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu.38 a. 3. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8.I. 3. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. tanggung jawab atas penyimpangan. dan . Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). c. 1985. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a.5. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. semen alumina. A. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. lanjutan atau tambahan. – 2.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini.5 Beton Bertulang J. 1971 N. b. Bila perlu. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. semen tahan sulfat. Beton adalah campuran antara PC (semen). yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut.

Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). e. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. d.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak.063 mm. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. b. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. seperti terik matahari dan hujan. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. alkali. Untuk beton mutu Bo. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. asam. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. seperti zat-zat yang reaktif alkali. dapat juga dipakai semen tras kapur. garam-garam. c. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. 3 atau 4 batang yang . Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering).39 lain-lain. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. maka agregat halus harus dicuci. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm.

.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. mengangkut. kran dengan alat penyodok (bucket). Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan.40 sejajar. berarti campuran basah. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. misalnya mesin pengaduk. maka tempat penyimpanan. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos.5. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). Campuran beton terdiri dari semen. alat timbang bahan. merawat pengerasan. maka campuran bersifat kental. Jika digunakan concrete mixer. air. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. mengaduk adukan. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. Satuan beton yang dipakai adalah m3. Kekuatan beton. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. kereta dorong. 3. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). memadatkan pengecoran. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. dan lain-lain. Dalam perencanaan campuran beton.2. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). batang-batang tersebut harus saling bersentuhan.5.

kawat pengikat. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. pelat lantai dan tangga. Menurut Dipohusodo. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. balok.41 3. 1996. Sebanyak 50 % .5. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm.10 – 0.5.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0. sloof. kolom. Menurut peraturan beton Indonesia (1997). pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.2.50 m3 untuk setiap 10 m2.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.2. pondasi. . digunakan tabel berat besi material. 3. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. yaitu . minyak pelapis. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.

4.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 42 . SNI dan Lapangan.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 8. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). 5. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 4.BAB IV METODE PENELITIAN 4. Berita acara penjelasan pekerjaan. 3.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 4. 2. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. 7. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 6. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. 9. 4.

Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. 4. Menghitung harga satuan bahan. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. .5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. dan g. upah dan pekerjaan. e. c. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. f. d. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo.43 4. b.

Analisa Harga Satuan Peralatan .H.Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Upah . Bahan .H.A.Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Peralatan .A.S.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .Gambar proyek .H.Harga Satuan Pekerjaan .S.Harga Satuan Pekerjaan Komparasi . Upah .Analisa Harga Satuan Bahan .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.A.Analsis Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Upah .44 Mulai Data Proyek : .S.RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .Analisa Harga Satuan Peralatan . Peralatan .

45 .

1 Analisa Harga Satuan Bahan. 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. balok dan tribun. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. sloof. 45 . kolom. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.BAB V ANALISA DATA 5. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.

Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.48 5. .2 Analisa Harga Satuan Bahan. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.

4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. . Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Harga Satuan Bahan.52 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.

6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5.1.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. Pembesian Dan Bekisting. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. Tabel 5. 4.60 5. Tabel 5. 3. 2. Tabel 5.2 dan Tabel 5. Tabel 5. .3. Pembesian Dan Bekisting. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.

602. bahan tertinggi Rp.197.Rp.197. bahan terendah Selisih H.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp. Material = H.S. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.602. 1.20 = 54.602.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.S. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.S.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp. 3. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan. Dari Tabel 5.223.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .629. bahan tertinggi – H.64 5. 1.197. 1.629.20 Rasio perbandingan = Rp. 3.602.58 = 2.223.58 = Rp. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar. upah dan pekerjaan BOW.629.20 .6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.S.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan. 3.197.223. 3.

16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. 8. Tabel 5. 9. 6. .15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. 5.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. 2.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. Tabel 5. 7. 4. Tabel 5. Tabel 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. Tabel 5. 3.

G.250 Oh = 6.7.400 m3 = 4.pasir beton .kepala tukang besi = 6.41) : .tukang batu .tukang besi . Bahan Bekisting (An. G.koral beton 2).000 kg = 2.41) : .41) : .540 m3 = 0. G. Bahan Pembesian (An.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.41) : .000 Oh = 0. G.000 Oh = 1.dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.mandor 5). G.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).paku biasa = 0.kepala tukang batu .besi beton .000 kg = 0.300 Oh .100 Oh = 0.kayu terentang (papan) . Upah Pembesian (An. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.41) : . 5.750 Oh = 6.00 kg = 110.semen portland .750 Oh = 2.pekerja . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.69 5.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.820 m3 4).kawat beton 3).pekerja .

kepala tukang kayu .mandor 6). Upah Bekisting (An.000 Oh = 5.000 Oh = 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. G.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.pekerja .mandor = - = 6.70 .41) : . .tukang kayu .500 Oh = 0.

300 Oh 5).500 kg = 0.040 Oh = 0.000 Oh = 1. 6.tukang batu .tukang kayu .semen portland .7.pekerja . 6. Bahan Pembesian ( An.250 kg = 388.35.2 ) dan ( An.2 ) untuk tukang kayu : . 6.koral beton 2).kawat beton 3).72 5.38.kep.650 m3 = 0.kayu terentang (papan) . Upah Pembesian ( An.mandor = 0. Upah Bekisting ( An. 6.minyak bekisting = 0.38.1 ) : .kep.38.paku biasa .25.000 kg = 2. tukang = 0.045 Oh 6). Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.28. 6.2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).300 Oh = 1.besi beton .35.1 ) : .pekerja .105 Oh = 0.1 ) : .000 kg = 0. 6.kepala tukang batu .400 ltr = 150. tukang = 0.100 Oh = 0.38.200 m3 = 1.pasir beton .2 ) dan ( An.000 Oh = 0.650 m3 4).050 Oh = 0. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.mandor = 6.050 Oh = 1. 6.1 ) : .007 Oh x 150 = 1.0007 Oh x 150 .0003 Oh x 150 = 0. 6.tukang besi .026 Oh .2 ) untuk tukang besi : .pekerja . Bahan Bekisting ( An.

16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI. . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.73 .005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.mandor = 0.

kep.599 kg 3).59 . tukang = 0.080 Oh = 0.05 kg x 106.650 Oh = 0.746 Oh = 1.59 = 1.59 .pekerja .mandor = 0.kawat beton = 0.025 Oh = 0. Upah Bekisting : .63 = 0.746 Oh .semen portland .0003 Oh x 106.63 = 0.040 m3 x 3.077 Oh = 0. Bahan Pembesian : .0007 Oh x 106.mandor 5).005 Oh x 3.kep.59 m2 Bekisting) 1).015 kg x 106.359 ltr .63 kg/m3 + 3.780 m3 .59 4).250 Oh = 0.007 Oh x 106.144 m3 = 1. tukang = 0.59 .100 ltr x 3.tukang kayu = 0.260 Oh x 3. Upah Pembesian : .300 Oh x 3.kepala tukang batu .933 Oh = 0.pekerja = 0.7. Upah Adukan Beton : .63 = 1.59 .018 Oh = 0.koral beton 2).tukang batu .3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.75 5.kayu (papan) = 0.093 Oh = 0.besi beton = 1.tukang besi = 0.63 = 0.026 Oh x 3.300 kg x 3. Bahan Bekisting : .59 .520 m3 = 0.pekerja = 0.000 kg = 0.077 kg = 0.032 Oh .minyak bekis = 0.pasir beton .mandor 6).962 kg = 232. Bahan Adukan Beton : .007 Oh x 106.63 = 111.075 Oh .63 = 0.paku biasa = 0.

tukang kayu = 0.semen portland .040 m3 x 4.100 ltr x 4.64 = 0.0003 Oh x 129.64 = 0.pekerja = 0.48 .780 m3 .besi beton = 1.015 kg x 129.kawat beton = 0.080 Oh = 0.039 Oh .koral beton 2).mandor 6).300 kg x 4. Bahan Pembesian : .mandor = 0.tukang besi = 0.kep.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.64 = 0.pekerja = 0.paku biasa = 0.000 kg = 0.0007 Oh x 129.344 Oh = 1.007 Oh x 129.250 Oh = 0.122 kg = 232.pekerja . Upah Adukan Beton : .64 = 0.48 .260 Oh x 4. tukang = 0.tukang batu .kep.48 = 1.kepala tukang batu .007 Oh x 129.448 ltr .mandor 5).64 = 1.minyak bekis = 0.091 Oh .pasir beton . Upah Bekisting : . Bahan Bekisting : .48 m2 Bekisting) 1).48 .520 m3 = 0.64 kg/m3 + 4.kayu (papan) = 0.179 m3 = 1.026 Oh x 4.907 Oh .005 Oh x 4.650 Oh = 0.48 . Upah Pembesian : .300 Oh x 4.907 Oh = 1.165 Oh = 0.344 kg = 0. tukang = 0.64 = 136.48 4).025 Oh = 0.05 kg x 129. Bahan Adukan Beton : .022 Oh = 0.48 .166 Oh = 0.945 kg 3).

.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.besi beton = 1.250 Oh = 0.14 .094 Oh = 1.300 Oh x 7.286 m3 = 2.14 = 2.tukang kayu = 0.32 = 0.minyak bekis = 0.14 .32 = 1.14 .tukang besi = 0. Bahan Pembesian : .koral beton 2).0003 Oh x 156. Bahan Bekisting : .32 = 0.015 kg x 156.05 kg x 156.32 = 164.080 Oh = 0. Upah Adukan Beton : .856 Oh = 0.14 .paku biasa = 0.142 Oh = 1.186 Oh = 0.semen portland .260 Oh x 7.pekerja = 0.pasir beton .000 kg = 0.kepala tukang batu .pekerja .mandor = 0. Upah Pembesian : .pekerja = 0.kep.040 m3 x 7.025 Oh = 0.mandor 6).007 Oh x 156.32 = 2.007 Oh x 156.520 m3 = 0.036 Oh = 0. tukang = 0.0007 Oh x 156.32 = 1.14 4).mandor 5).109 Oh .32 kg/m3 + 7.100 ltr x 7.300 kg x 7.kayu (papan) = 0.714 ltr .kep.026 Oh x 7.650 Oh = 0.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.780 m3 .047 Oh .136 kg = 232. Bahan Adukan Beton : .tukang batu .094 Oh . tukang = 0. Upah Bekisting : .142 kg = 0.005 Oh x 7.14 m2 Bekisting) 1).345 kg 3).kawat beton = 0.

Tabel 5. .20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.81 5. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.7.15.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.16 dan Tabel 5. Tabel 5.17. Tabel 5. 2.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton. 3.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. 4.

Dari Tabel 5. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.00 = 150.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.00 = 1.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.00 Rasio perbandingan = 110.00. .8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00 = 26. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.00 .110.00 dan SNI = 150. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.86 5.

000.442.304. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.739.643. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.286.717.500.00 557.59 594.19 869. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.464.821.00 1.00 0.82 1.35 1.S.1.00 1.178.628.336.78 2.500.285.00 2.858.000.000.178. 1.82 557.76 1.61 .000.35 542. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.575.000.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.575.085.42 1.304.80.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.BAB VI PEMBAHASAN 6. 6.38 dan pada SNI adalah Rp 579.78 H.14.21 594. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.1 di atas.285.38 594.00 500.628.130.171.411.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.464.434. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.000.76 1.632.000.285. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.1.

Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.1. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. 6.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. balok dan plat (tribun). poer P2 dan poer P3. .2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.80 2.929.90 7.58 1.58 1.464. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.000. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.15 4.000.10 3.000.904.000.629.223.2 di atas. Bahan Pembesian (Rp) 3.S.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.14 H.601. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.172.401.60 8.558.172.23 1.24 dan pada SNI adalah Rp 2.197.298.20 7.00 3. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.121.000.000.314.197.223.00 6.95 4.40 2.00 2.447.200.880.000.602.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.472.00 2. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.20 3.191.000.258.802.23 4.00 6.000.00 1.00 4. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.732.000.298.74 .757.297.629.000. pada pekerjaan sloof.522.00 5.298.472. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.176.10. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.000.172. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.00 0.602.000.000.183.000.000.

Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.000.487.953. 575.495. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.00 2.278.70 1.00 0.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.617.72 Tribun 963.00 4.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.402.000.098.44 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.3 di atas.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.726. Bahan Bekisting (Rp) 7.350.58 871.307.600.000.00 1.1.911. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.000.000.53 2.88 1.000.000.87 dan pada SNI adalah Rp 872.70 Pondasi Poer 285.425.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.16 5.576.052.758.131.000. 6.00 H.00 6.42.98 .052.000.701.301.150.936.000.00 1.000.72 3.00 1.681.000.781.881.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.000.480.000.000.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting. 8.16 1. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.86 Sloof 385.300.03 544.00 3. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.S.726.211.66 6.

tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 400.000.00 816.S. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. 6.00 272. Sebanyak 50 % .4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.000.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.900.200.475.00 200.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5. 6.00 600.00 272.00 .000.00 272.000.000. Upah Adukan Beton (Rp) 1.00 0.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.4 di atas.000.000.425.2.00 816.000.00 800.000.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.000. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000.00 272.000.000.00 146.00 220.000. H.00 1. Harga rata-rata harga satuan 73.00 1.950.00 293.00 544.00 272.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.088.425.00 272.00 220.000.

00 104.500.00.00 119.000.00 1.00 1.00.00 234.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.927. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.700. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.30 179.600.035.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.82 89.749.200.000.927.889.00 642.5 dibuat suatu grafik perbandingan.2.48 .500. 3.000.500. 6. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.84 354.S. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.00 234.000.00 dan pada SNI adalah Rp 272.000.925.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.000. Upah Pembesian (Rp) 2.00 1.000.400. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.5 di atas.768.125.569. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. Dimana harga rata-rata satuan 61.762.375.00 0.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.733.00 2.000.284.700.60 89.00 H.125.00 1.00 500. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 1.00 394.000.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.750.00 2.

2.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.670. 6.175. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja. sedangkan SNI adalah Rp 116.81. .00.665.180. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.94 upah pada BOW sebesar Rp 1. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.

000.00 800.00 0.885.000. 113.00 2.00 1.970.000.00 198.00 H.00 200.00 1.00 1.35 457.000.00 326.000.128. Upah Bekisting (Rp) 1.000. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.400.000.170.00 914. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 134.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00.6 di atas.599.00 1.25 .265.000.00 1.20 155.291.371.000.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.800. Pada tenaga kerja pekerja. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.95 1.00 1.S. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.925.000.825.00 600.51 dan pada SNI adalah Rp 108.188.00 615.00 1.200.000.000.828.458.000. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.000.242.920.000. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.200.00 Sloof 79.00 Pondasi Poer 57.371.000.00.600. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.814.75 354.00 400.000.

6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.71 Tribun 3.714.000.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.450.00 10.956.7 di atas.86 18. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.692.000.96 6.637.14 5.32. Dari Tabel 5.00 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.618.91 3.000.989.00 6.369.000. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.000.472.115.00 4.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.714.000.00 0. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.86 6.000.56 2. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.272.70 3.937.730.000.523.000.956.00 16.26 dan pada SNI adalah Rp 3.000.019.78 3.00 12.000.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.130.904.212.055.648.952.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.000.257.14 4.000.61.523.19 8.003.623.152. Dari Tabel 5.00 8.63 9.278.275.809.33 .000.43 14.640. 6.00 6.000.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.000.318.00 6. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.029.000.99 15.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.160.000. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.333.

pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.095.00 490.125.00 0.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.114. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 1.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.00 607.485.00 418.575.32 dan pada SNI adalah Rp 496.565.125.674.500.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.370.371.653.000.00.97 perbandingan.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.375.119.8 di atas.071. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.750. 461.00 4. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.620.000.84 496.000.00 4.742.000.965.000.73 . sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.352.35 810.00.50 471. 4.00 5.00 2.114.00 1. 6.00 5.00 1.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.907.233.00 3.000.000.000.000.012. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.00 1.485.17 740.000.004.940.000.00 2.

220.677.54 17.559.71 Tribun 3.756. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.00 16.586. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 6.742. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.000.123.761.609.00 12.000.020.00 14.00 10.000.93.839.279.696.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.98 14. Tabel 6. upah dan pekerjaan beton bertulang.703.000.000.86 20.14 11.78 Sloof 3.380.00 8.63 10. Tabel 6.000.000.54 4.118.653.00 4.000.000.830. Pembesian Dan Bekisting.16 7.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.00 6.000.000.126.000.885.36 5.070.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.859.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.594.070.00 18.000.000. Selisih dan rasio harga satuan bahan. 3.839.000.00 2. 3. 2.000. 6.00 11.890.120.727. Pembesian Dan Bekisting.984.32.00 0.625.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.458.390.43 9.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.000. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.9 di atas.26 dan pada SNI adalah Rp 4.804. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.000.56 Pondasi Poer 2.866.91 4.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.06 .690.255. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.000.000.

Tabel 6. 6.5 Total Selisih Harga Satuan. . Pembesian Dan Bekisting. 5.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 6. Tabel 6.99 4.6 Total Rasio Harga Satuan.

100 .

101 .

102 .

75 % dibandingkan SNI.00% Selisih H.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.00% 30.94% 60.S.00% (%) 40.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.00% 0. Bahan Adukan Beton 48.00% 50.10 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6. 70. .7.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.94 % dibandingkan SNI dan 19.7 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% 10.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 19.89% 20. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.7.00% 58.103 6.

42 % dibandingkan SNI.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 30.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 80.00% 10. Bahan Pembesian 36.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 0.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting . Bahan Bekisting 41.11 di atas. 6.00% Selisih H.00% 20.00% 40.21% 67.00% 60.S.104 60.00% 50.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.42% (%) 30.49 % dibandingkan SNI dan 36. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.00% 0.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.7.S.00% 70.00% Selisih H.03% 55.00% 20.00% 50.00% (%) 40.00% 10.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.69% 44.

00% 10.77 % dibandingkan Lapangan.99 % dibandingkan Lapangan dan 61. 80. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.69 % dibandingkan SNI.00% 30.00% 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.S.00% 70.00% 20.8.54% 72.12 di atas.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.13 di atas.00% 60.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.77% 61.00% Selisih H. Upah Adukan Beton 29.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.105 Dari Gambar 6.00% (%) 40.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. 6.00% 50.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.8. .47 % dibandingkan SNI dan 44. 6.

00% 0.00% 20.46% Selisih H.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.14 di atas.00% 0.01 % dibandingkan SNI dan 84.S.89% 80.00% 90.00% 80.00% 60.00% 10.00% Selisih H.00% 80. Upah Bekisting 90. 100.00% 30.106 100.00% 70.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 70.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 60.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.S.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 20.46 % dibandingkan SNI. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 40.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% (%) 50.00% 40. 6.00% 30.8.00% 90.66% 54.00% (%) 50.00% 93.00% 10. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.01% 84.58% 53. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.

terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90. 6. .58 % dibandingkan SNI.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.S.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.107 Dari Gambar 6.00% 60.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.00% 0.89 % dibandingkan SNI dan 53.00% 30.00% Selisih H. Bahan Beton 30. 6.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 10. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.15 di atas.00% 39.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.31 % dibandingkan SNI dan 30.64% 58. 70.00% 20.89% (%) 40.00% 50.89 % dibandingkan SNI.16 di atas.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

00% 30.00% 10.00% 60. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.82% 50.00% 86.00% 90.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 0.00% 30.05% 57.06% 71.00% (%) 50.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang . Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.108 100.05% 57.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 10.00% 70.17 di atas.54% Selisih H.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00% (%) 40. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 60.00% 50.S.00% 0.54 % dibandingkan SNI.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.00% 40.00% 20.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 70.00% 20.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.00% 80.

00 Ratio 1.50 2.00 0.00 Rasio H. 3.19 di atas.18 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 6.25 2.12.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.95.44 1.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.24 dan 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.50 1.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.109 Dari Gambar 6.50 0. 6.S.50 % dibandingkan SNI dan 1.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.12.05 % dibandingkan SNI. .2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Bahan Adukan Beton 1. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.00 2.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.

25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 3.25 dan 1.20 di atas.00 Rasio H.00 1.44 1.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.44.00 Rasio H.00 1.50 Ratio 2.00 0.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.56 2.50 1.50 3.50 1.72 1. Bahan Bekisting 1. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.S.79 3.110 2. 6.50 0.12.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.00 2.S. Bahan Pembesian 1.50 2.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0.50 0.

21 di atas.00 1.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.22 di atas.13. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.60 3.111 Dari Gambar 6.00 3.60 dan 3.07 dan 1.13.42 2.S.50 3.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.00 2.50 Ratio 2.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. 4.Upah Adukan Beton 1.42.72. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.50 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 1.00 Rasio H.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 6. .10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.

6.00 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 Rasio H.00 12.00 2.13 2.00 4.23 di atas.00 8.00 10.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.32 dan 6.00 10.13.00 0.112 16.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.20 Rasio H.Upah Bekisting 5.00 14.00 6.00 4.00 Ratio 8.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 12.20.15 10.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .32 6.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.S.52 2.00 14. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.00 Ratio 6.00 2.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.

25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. .66.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5. 6.40 dan 1. 6.50 0.00 Ratio 1.50 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.44 2.50 1.00 2.S.66 1.15.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 di atas. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.Bahan Beton 1.98 dan 2.00 Rasio H.00 0. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.113 Dari Gambar 6. 3.24 di atas.

00 3.00 7.00 5.00 0.18 3.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.02 Rasio H.50 2.00 1.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.00 Ratio 4.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 2. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.00 2.S.50 1.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.26 di atas. 6.01 1.114 8.50 0.18 dan 3.00 6.00 1.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.55 2.00 7.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.02.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.33 2.00 0.

50 1.50 Ratio 2.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0.17.50 3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.36. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.75 dan 3.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.35 dan 1.13 2.00 2. 4.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.94 2.27 di atas.75 2.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Indeks bahan kawat beton pada .00 Besi Beton Kaw at Beton 1.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.28 di atas.75 3.115 Dari Gambar 6.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.36 1.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6. 6.33.00 3.00 1.50 0. 6.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Dengan demikian baik dari segi biaya. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Lain halnya dengan analisa SNI. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. .

25) dan Lapangan > SNI (1.42).08 % dibandingkan dengan 120 . maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.44).94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84. Lapangan > SNI (2.07) dan BOW > SNI (1.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. BOW > Lapangan (1. b.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.72). Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.79). BOW > Lapangan (6.20). Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.32).52) dan Lapangan > SNI (2.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. c. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.95).49 % dibandingkan dengan SNI dan 36. f.25) dan BOW > SNI (1. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Lapangan > SNI (3.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.44). d. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53. BOW > Lapangan (3.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.56).70) dan SNI > Lapangan (1. e. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.60).

66).05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.40) dan BOW > SNI (1.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. SNI dan Lapangan. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7. . Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. Lapangan > SNI (2. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.15). 2. h.75).36).35) dan BOW > SNI (2.01).13) dan Lapangan > SNI (5. g.55) dan Lapangan > SNI (2. b.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.33). Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.75) dan SNI > BOW (1. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.44). BOW > Lapangan (3.02). Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.18). Rasio perbandingan indeks a. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Lapangan > SNI (2. 3. i. Lapangan > BOW (3. BOW > Lapangan (2.98).

19) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (2.43). dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. 7. Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62). pembesian dan bekisting. BOW > Lapangan (8.46) dan Lapangan > SNI (2.43). Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6.62). indeks tukang besi BOW > SNI (6. BOW > Lapangan (2.62). .46) dan Lapangan > SNI (2.122 b.43). indeks kepala tukang BOW > SNI (21.62). dan indeks mandor Lapangan > SNI (2.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton.

Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Asona. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. cetakan kesembilan. 2006. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Rencana dan Estimate Real of Cost. Manajemen Konstruksi. Bandung. 1984.A. Jakarta. 1995.I. Sugeng Djojowirono. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Penerbit Erlangga. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 2004. SNI Edisi Revisi. 1992. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. 1985. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Penerbit Nova. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Niron John. CV. J.DAFTAR PUSTAKA Ir. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Mukomoko. Joko Waluyo. 1984. 2001. Soedradjat Sastraatmadja. Iman Soeharto. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Bumi Aksara. Yogyakarta. – 2. PT. W. 2006. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Penerbit Bumi Aksara. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. 2003. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Dani Kurniawan. Jakarta. 9. Bachtiar Ibrahim. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. 2005. Departemen Pekerjaan Umum . 1971 N. Cet. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. 1991. A. 2002. Jakarta. 1993.

00 7.00 43.052.60 10.500.00 10.000. Juli 2007) 35.000.000.39 239.70 1.500.000.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.115.500.10 59.605.00 43.000.00 45.547.28 17.00 105.337.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.80 1.785. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.719.00 .00 43. Wajo.00 50. III (Papan) Kayu Kls.500.00 10.000.226.40 934.892.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful