P. 1
Tugas Akhir SNI, Ananlisa BOW

Tugas Akhir SNI, Ananlisa BOW

|Views: 4,896|Likes:
Published by dank_oye

More info:

Published by: dank_oye on Oct 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Bapak. terima kasih atas doa dan dukungannya. iii . terima kasih atas doa dan kerjasamanya. Adikku Erna. Haris. Ibu. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Istriku beserta keluarga besarnya.

Alhamdulillah.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. 2. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. iv . Bapak Tadjuddin BM Aris. ST. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. 5. bapak. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. H. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Ir. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. 4.WB. H. Bapak Zaenal Arifin. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. 3. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Ibu. Ir. Bapak Faisol AM. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan.

Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. 7. Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. v .6.

01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.594.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. RAB penawaran kontraktor. RKS.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. pelayanan maupun waktu. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.859.40.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. vi . Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW. tenaga kerja.696.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. SNI dan Lapangan/Kontraktor. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.120.35 dan 1. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.44 dan 58.804. SNI dan Lapangan. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.18 dan 71. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.727.32 dan untuk Lapangan Rp 9.33.26 sedangkan metode SNI Rp 4. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.

..........DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................vii DAFTAR GAMBAR.........................................................4 1.i HALAMAN PENGESAHAN..11 3.....................................................................14 Biaya Konstruksi Proyek…..............2 3...............5 Latar Belakang......................vi DAFTAR ISI........2 1........1 3.................................2 3...........ii HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2....xi DAFTAR TABEL...................2 Biaya Langsung.......1 Estimasi Biaya.......................................................3.......9 BAB III LANDASAN TEORI 3..............................1..............2..........................................24 Analisa Harga Satuan...1 3.................................................23 Harga Satuan Pekerjaan.....iii KATA PENGANTAR.............18 3..................................................................2.2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan.............................2 Jenis Anggaran Proyek.....15 3............................................1 3...................................................................3 1.......................19 3.............................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya........1 Rumusan Masalah.....................1.....................1......................3...............1 1..........1 2...................................................27 vii .......................3 Tujuan Penelitian........iv ABSTRAKSI....................................................................17 Biaya Tidak Langsung………..............................................3 Manfaat Penelitian.......................3 Rencana Anggaran Biaya….......................................................................13 Metode Perkiraan Biaya.....................xiii BAB I PENDAHULUAN 1...3 3..............................................................12 Kualitas Perkiraan Biaya…….................................................................................4 Batasan Masalah......3........................................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan........................................

.3.......3.................................7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen..........................32 3.............................4 4..3...................................44 Analisa Metode BOW............................................27 Analisa Harga Satuan Alat..........................40 BAB IV METODE PENELITIAN 4.........6 Subjek Penelitian……......3 5...52 Komparasi Harga Satuan......2 3..40 Pekerjaan Bekisting.........................................................3......2 Bahan – Bahan...3......41 Pengolahan Data……...........4....60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio........39 3...........37 3................................2 4.........1 3....1 3................................41 Cara Pengumpulan Data……....2 5........2................69 viii .....42 Tahapan Penelitian……...3..................41 Objek Penelitian…..4........64 5........41 Data yang Diperlukan…….......2.........4 Beton Bertulang…..................................................3 4..2.............28 Metode Perhitungan......................................3 3.............................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI........1 3....1 3...........................................3..............................................................................39 Pekerjaan Pembesian.............................4................5 5.......44 Analisa Metode SNI..........................................1 5....................5 4........................6 Rencana Pekerjaan…….27 Analisa Harga Satuan Upah....3 Pekerjaan Adukan Beton....4 5............................2 3...2 3...........34 Analisa Harga Satuan Metode.............4.......4...3....48 Analisa Metode Lapangan.................................... Lapangan...............42 BAB V ANALISA DATA 5............1 4....................................3 Analisa Harga Satuan Metode BOW...........36 3........................4....4.............3...4 Analisa Harga Satuan Material. Pekerjaan Beton Bertulang.....37 Pekerjaan Beton Bertulang........3............. Harga Satuan...............................3.................4..

..............96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...............7....................1 Selisih Bahan Adukan Beton..................92 Upah Pembesian......................................6 6...................3 6...7........108 Rasio Harga Satuan Bahan...1 Rasio Bahan Adukan Beton...............................12...........................8........................................................................................103 6.......................2 Selisih Bahan Pembesian........75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.8 Selisih Bahan Bekisting........89 Bahan Bekisting...........3 6...........72 Indeks Lapangan...........4 6.....98 Selisih Harga Satuan Bahan...............2................8...1...7.......................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton......................2 Bahan Adukan Beton...............4 5.....104 Selisih Harga Satuan Upah.........3 5........105 Selisih Upah Bekisting..............86 PEMBAHASAN 6........1 Harga Satuan Bahan...88 6..................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………...11 6.8.....106 6..........3 Upah Adukan Beton..................3 6.......7..........103 6..92 6..............69 Indeks SNI.............................8 BAB VI Indeks BOW................1 6.....…...............107 Selisih Harga Satuan Upah Beton.2 6.............................2........................103 6..................................1..……......2 6........94 6.........2 5...............................1 6.....3 Selisih Upah Adukan Beton...........5 6.....9 6...1 5..2 6....109 6.........10 6........88 Bahan Pembesian.7 Harga Satuan Bahan Beton...............7....................................91 Harga Satuan Upah............................96 Harga Satuan Upah Beton.............................105 6.................................................................................1 6.....................................7..................109 ix ............7..........................5....81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks............................107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..1.................................................2...105 Selisih Upah Pembesian...........................93 Upah Bekisting............

..............1 Rasio Upah Adukan Beton.2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .15 6.........13.2 Rasio Bahan Pembesian……...........113 Rasio Harga Satuan Upah Beton....LAMPIRAN Kesimpulan……........................................................................…..114 Indeks.............1 Indeks Bahan......................14 6...............13 Rasio Harga Satuan Upah....................1 7..........13..113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang....16 6............................................115 6.........17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.....111 6.120 x ..............12..........................13..............................................112 6...110 6.....17..........111 6......................................3 Rasio Bahan Bekisting……………………........................109 6......116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.........................6.....115 6......2 Indeks Tenaga Kerja.118 Saran..2 Rasio Upah Pembesian..3 Rasio Upah Bekisting........................................12.............................................17.111 6.....................................................................

.........22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton......111 xi ................................20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci..............97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..........43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton....................3..............13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton...........17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton...............10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton........3 Gambar 6..........93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting....2.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian............... Gambar 4.........11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian......................................................90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.........................105 Gambar 6....................15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting..DAFTAR GAMBAR Gambar 3........................8 Gambar 6.....................7 Gambar 6............... Gambar 3.............................12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting........88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian...............................1 Gambar 6.................13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar.............................110 Gambar 6.............96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton..... Gambar 3.....4 Gambar 6.....21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting......2 Gambar 6......103 Gambar 6....110 Gambar 6.........................104 Gambar 6...............106 Gambar 6........98 Gambar 6...95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.....................91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton...14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.......108 Gambar 6.............................9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)...........104 Gambar 6...5............4...................108 Gambar 6...1 Gambar 6.....107 Gambar 6.5 Gambar 6.....................19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...........18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..................109 Gambar 6.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton.26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir.................6 Gambar 6...........92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian..............................................26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan....21 Skema Harga Satuan Pekerjaan........1 Gambar 3...106 Gambar 6... Gambar 3...............................

....23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian...................26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton......................................115 Gambar 6.....................114 Gambar 6...29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian..25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton...112 Gambar 6...................112 Gambar 6...............................Gambar 6....................114 Gambar 6....116 xii ...........27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.........113 Gambar 6...........28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian...............................

.......................1....................4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton...............9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.................................................5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.............................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.......................13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting................................. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW............................14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton............ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan..........DAFTAR TABEL Tabel 3...................45 Tabel 5........................................68 Tabel 5................................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton......................66 Tabel 5....63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton..............66 Tabel 5...62 Tabel 5.........................................74 xiii ..6 Tabel 5................68 Tabel 5......7 Tabel 5............2 Analisa Harga Satuan Bahan...............15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW................3 Analisa Harga Satuan Bahan.............. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.68 Tabel 5.........................67 Tabel 5.........53 Tabel 5...........................................67 Tabel 5............. Pembesian Dan Bekisting.....1 Analisa Harga Satuan Bahan....................49 Tabel 5..........16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.......15 Tabel 5... Pembesian Dan Bekisting.................15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.......................................66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.8 Tabel 5.........71 Tabel 5..67 Tabel 5............................................................................ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.......................................10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting..........12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.............61 Tabel 5............16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang............................

...............................5 Tabel 6............................................................84 Tabel 5........18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton................................85 Tabel 5.............. Pembesian Dan Bekisting.................87 Tabel 6..100 Tabel 6.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton....................102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ..........................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan............20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting............................101 Tabel 6.................................. Pembesian Dan Bekisting............... Pembesian Dan Bekisting........................Tabel 5......101 Tabel 6....100 Tabel 6..................6 Total Selisih Harga Satuan.........................................................................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.......21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.......22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja...................................1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.............................83 Tabel 5............82 Tabel 5......78 Tabel 5.................................3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton............... Pembesian Dan Bekisting..............................

1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. 1 . Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. pelayanan maupun waktu. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.BAB I PENDAHULUAN 1. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. tenaga kerja. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan.

melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. namun hanya untuk perumahan sederhana. konsultan. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Pada tahun 1987 sampai 1991. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. Agar lebih luas cakupannya. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. baik bahan maupun upah tenaga kerja. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami .

SNI dan penawaran kontraktor. SNI dan penawaran kontraktor. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. Pada saat ini. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. 1. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. .2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. 2. 3.3 kekalahan. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. Apakah ada selisih harga satuan material.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1.

Dapat menjadi referensi bagi penulis.4 1.4 Manfaat Penelitian 1. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. 3. 1. 2. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. Biaya tidak langsung seperti overhead. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. 2. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. 4. profit dan pajak tidak diperhitungkan. 3. 6. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. tahun 2007. 5. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. 7. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. .

diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan. 103. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.232.218.706.344.40. 5 . metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.23 %. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. 15.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.39 %. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan.90.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.

Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. . berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.

Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja.7 2. bahan dan biaya. waktu. 3. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- .

8 Karyaan. . yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Pekerjaan Bekisting Balok 3. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Metode yang digunakan : Data primer a.26 % = 44. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat.23 % = 63. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. produktivitas pekerja. 4. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. Interview.16 % 5. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati.

dengan nilai penghematan 2.025. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.214. 31. dengan nilai penghematan 1.184.10.87.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 53. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur.50.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.10. 99. dengan nilai penghematan 2.00.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.348. 78. dengan nilai penghematan 1.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 0.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.437.206.013.217. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW. dengan nilai penghematan 0. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .21.207.508. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW.00.930. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.655. 11. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.14 2. 39.

4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. sloof. kolom. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. SNI dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. SNI dan Lapangan. balok dan tribun menggunakan metode BOW. . 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor.

BAB III LANDASAN TEORI 3. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. dan lain-lain. 1995). Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Dengan kata lain. peralatan. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. material. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan.

perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. 1995. sesuai dengan fungsinya. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual.1. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3.1. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. 1994). lokasi. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). ukuran. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. Perencanaan Biaya Bangunan.12 proyek seperti jenis. 3.

1. kemudian . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.13 Tenaga kerja . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.Overhead . Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Standar jam orang .Produktivitas .2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.“Quantity take-off” .Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan . 1995) 3. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Penawaran dari paket MR/PO .Satuan harga material curah .Harga peralatan .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3. 1995.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .Eskalasi .1.

Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. Pada metode elemental analysis cost estimating. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya.1. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. pengalaman serta judgment dari estimator. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. Hal ini memerlukan kecakapan. dan bila telah diberi beban biaya. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. 1995. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. 3. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya.

Jenis dan intensitas kegiatan .Interior . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3. salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.Substruktur . Means Engineering News Record .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Sistem conveying .1.Fixed equipment .Kolom interior .Sistem HVAC .Dinding interior .15 gedung.Lantai .Pemipaan .Super struktur .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Atap .Pintu .Persiapan site .Eksterior .Pondasi .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Sistem conveying .Pekerjaan lahan (site) .Listrik .Sistem HVAC . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Pondasi . Tabel 3.Listrik . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Dinding eksterior .Kontigensi . 1995) 3.Glazed opening .Sistem pemipaan .

tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. jenis keterampilan. grader. scraper. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. Bila hal ini terjadi. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. Terutama untuk daerah rawa. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. kompresor udara. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. Sama halnya dengan sumber daya manusia. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. atau yang langka tersedia di pasaran. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. (Iman Soeharto. terutama bagi long delivery items.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. Bertolak dari kenyataan tersebut. dan lain-lain. Ini dapat berupa crane. lengkapkah peralatan. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. 1995). berlumpur atau berdebu. pengeruk tanah (back-hoe). 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. truk.

Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. 3. penyimpanan sementara di gudang. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. pengepakkan. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. jadi sudah termasuk biaya angkutan. biaya menaikkan dan menurunkan. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. (Iman Soeharto. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. mesin-mesin.2. memotong dan . Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. 1995). Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. alat-alat tangan (tools). mulai dari membuat spesifikasi.

supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. .2. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. biaya-biaya notaris. pengukuran (survey). telepon yang dipasang di proyek. asuransi. memindahkan. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. pengangkutan. asuransi. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. pemasangan alat. misalnya sewa kantor. bunga uang. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. 3. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. membongkar dan biaya operasi. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya.18 membengkokkan baja-baja tulangan. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. peralatan kantor dan alat tulismenulis. air. surat-surat ijin dan lain sebagainya. listrik. pajak. alat angkut dan lain sebagainya. telepon. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan.

Menurut Sugeng Djojowirono. . Adapun menurut John W. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. 1984.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. cermat dan memenuhi syarat.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. 1993. 3. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. 1992. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan.

Soedradjat Sastraatmadja (1984). 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan .2.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. A. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. Secara sistematisnya. A. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. Soedradjat Sastraatmadja. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar.2. dapat dilihat pada gambar 3. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua. Analisa Anggaran Pelaksanaan. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir.

dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 1993. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J.3. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. daftar susunan rencana biaya.3. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Menurut Bachtiar Ibrahim. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. daftar harga bahan. buku analisis. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. Profit. Mukomoko. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. daftar upah.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. . Pajak Gambar 3. dapat dilihat pada Gambar 3. Secara sistematisnya. A. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja.

00. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . tinggi langit-langit. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. . sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. letak tinggi jendela dan pintu. . Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. misalnya : dasar pondasi. 2) Gambar denah PU 1 : 100. nok reng balok/muurplat. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan.00 m dari lantai. . 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi.Rencana garis batas tanah dan roylen.).Rencana saluran pembuangan air hujan.Rencana halaman . pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.Rencana letak bangunan. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya.Rencana jalan dan pagar.

RENCANA PLAFOND = K 12.Gambar konstruksi baja.Gambar konstruksi beton bertulang. RENCANA KAP =H =I =J 11. dengan jelas.Gambar konstruksi kayu. . . keilkeper. . POTONGAN II – II 9. muurplat/reng balok. Jadi volume (kubikasi) .1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. hooker. TAMPAK BELAKANG 4. T.3. cetakan keempat. Gambar saluran pembuangan air hujan. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. 2007. 7) Gambar pelengkap. POTONGAN III-III 10. DENAH KUSEN 13. nok gording. DENAH PONDASI 7. TAMPAK MUKA 3. usuk/kasau dan konstruksi penahan. DENAH LISTRIK =L =M 14. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. Jakarta. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. Gambar saluran pembuangan air kotor. TAMPAK SAMPING KIRI 6. SAMPING KANAN 5. DENAH 2. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. talang air. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. RENCANA SANITASI = N 3.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda.

Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a.Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. . Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : .2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. .Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . trapezium. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. . Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. d.24 suatu pekerjaan. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. persegipanjang. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). 3. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. dan sebagainya.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. e. b. atap 140 m2. Harga bahan didapat di pasaran. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. . Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. seperti segitiga. yaitu panjang x luas penampang yang sama.Volume atap dihitung berdasarkan luas.3. c. lisplank 28 m.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat.

4. Bahan + H. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.S. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. dan gambar 3.S. dapat dilihat pada gambar 3. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.25 pemerintah. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. . Upah + H.S. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Alat Secara sistematisnya.5. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.

Manajemen Konstruksi.4.5.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Yogyakarta. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. 1984) .

1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan.3. kecepatan . Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. 1994 dalam Dani Kurniawan. 3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan.3.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. upah tenaga kerja. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. (Bachtiar Ibrahim. 1 m2. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. 1993). upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. 3.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. (Bachtiar Ibrahim. 2004).27 3. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut.3.3.3.

Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan.3. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. selain bertugas sebagai tukang batu. (Bachtiar Ibrahim. Kepala tukang. 2004). 1993). 3. Tukang batu. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . Pekerja. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.3. d. c. b. Mandor. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost).

= i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. biaya sewa gudang.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. = 0.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. Bagi peralatan yang bertugas sedang. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. maka . yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk.002 x B = 0. ongkos angkut. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. maka .

pelumas power steering. b. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. c. saringan/filter udara dan lain sebagainya. d. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. pelumas transmisi. e. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. pelumas hidrolik. grease. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). dan lain sebagainya.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. . saringan agregat untuk stone crusher / AMP. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban.

5% = untuk alat yang bertugas berat b. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a.31 3. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5 s/d 17. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Karena rumus sifatnya pendekatan.5) % x HP Dimana .

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

000.780 m3 = 0.777.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) .500. 57.2 Tenaga : = 1. 203.000.964.84 x @ Rp.00 x @ Rp. = Rp. 50. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5.025 Oh 3 .00 10. 239. 59. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F. SK SNI-06-1989-F.875.pekerja .750.mandor .080 Oh = 0. 934. 421.60 x @ Rp.10 = Rp.547.1 5.00 3.kepala tukang x @ Rp.892. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3. = Rp.5. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991. 45. 30.00 Jumlah (2) = Rp.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.5. = Rp.75 = Rp.tukang batu . SK SNI S-05-1989.00 x @ Rp.250.61 .520 m3 = 218.pasir beton .250 Oh = 0. = Rp.115.00 73.00 1.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.Semen Portland = Rp. 35. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.650 Oh = 0. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2. 43.00 kg x @ Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.600.00 x @ Rp.475.697.39 Jumlah (1) 5. SK SNI S-04-1989-F.chipping/split . SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.02 = Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.000. 187.

777. 313.04 .61 + Rp.semen portland = 336.4. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. 421.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. 2.475. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. 3.955. = Rp.000 kg x @ Rp. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah.36 = Rp. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara . perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan.61 73. 495.252. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. Menghitung harga satuan bahan dengan cara .39 = Rp. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).3. 4. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. 934. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1.00 3. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : .

70 194.265.000 Oh x @ Rp. 344.mandor = 2. 239.00 + Rp.540 m3 = 0.00 45.15.00 Jumlah (2) = Rp.000. = Rp. 45. b.00 3. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : . 131.750. 2) analisis dengan computer.10 = Rp.000.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.kepala tukang . 285. = Rp.pekerja .500.035 Oh = 1.60 540.37 . 35.00 15.155.pasir beton . 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.975. Jumlah (1) = Rp.000.950. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik. 58. 59. Tenaga kerja : .810 m 3 x @ Rp. 70.tukang batu .00 = Rp..60 = Rp.00 = Rp.892. 43.423.547.225. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.312.000.00 x @ Rp.350 Oh = 0.00 1. 32.00 x @ Rp. 50. = Rp.000.34 x @ Rp.00 x @ Rp.koral beton = 0.000 Oh = 0. 1991.

Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). tanggung jawab atas penyimpangan. b. A. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan.I. c. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8.5 Beton Bertulang J. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. – 2. 3. dan . 1971 N. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. Beton adalah campuran antara PC (semen). yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. 1985. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. 3. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. semen alumina.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Bila perlu.38 a. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. lanjutan atau tambahan.5. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. semen tahan sulfat.

063 mm. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. asam. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. seperti terik matahari dan hujan. c. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. b. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. dapat juga dipakai semen tras kapur. garam-garam. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. 3 atau 4 batang yang . Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. maka agregat halus harus dicuci. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). Untuk beton mutu Bo. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. e. alkali. d. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori.39 lain-lain.

2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). Bila slump campuran kurang dari 5 cm. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. . maka tempat penyimpanan. Kekuatan beton. kran dengan alat penyodok (bucket). batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. kereta dorong. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material. Campuran beton terdiri dari semen. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. mengangkut. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume.2. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). 3. berarti campuran basah. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. dan lain-lain. mengaduk adukan. alat timbang bahan. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. merawat pengerasan.40 sejajar. air.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. misalnya mesin pengaduk. Satuan beton yang dipakai adalah m3. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos.5. Jika digunakan concrete mixer. memadatkan pengecoran.5. maka campuran bersifat kental. Dalam perencanaan campuran beton.

Menurut peraturan beton Indonesia (1997). kawat pengikat. minyak pelapis. kolom. pelat lantai dan tangga. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. balok. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. 1996.2.10 – 0.50 m3 untuk setiap 10 m2. Sebanyak 50 % . 3. yaitu . digunakan tabel berat besi material. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. pondasi.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. Menurut Dipohusodo. sloof.5. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0.41 3. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. . Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.2.5.

4. 6.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. SNI dan Lapangan. 5. 9.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. Berita acara penjelasan pekerjaan. 2. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. 42 . Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 3.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 4. 7. 4. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 4.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 8. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS).

43 4. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. upah dan pekerjaan. c. .5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. b. dan g. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. Menghitung harga satuan bahan. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. f. e.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. 4. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. d.

Upah .H.Harga Satuan Pekerjaan .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .H.44 Mulai Data Proyek : .Analisa Harga Satuan Upah .S.S. Bahan .A.Analisa Harga Satuan Peralatan .A.Analisa Harga Satuan Bahan .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .Analisa Harga Satuan Upah . Peralatan .Analsis Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Bahan .H.Harga Satuan Pekerjaan .Analisa Harga Satuan Upah .A.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .S.Analisa Harga Satuan Peralatan .Analisa Harga Satuan Peralatan .Gambar proyek .

45 .

2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. 45 . Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. sloof.BAB V ANALISA DATA 5. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer. balok dan tribun. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. kolom.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan. 5.1 Analisa Harga Satuan Bahan.

.48 5. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.2 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.

upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Harga Satuan Bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.52 5.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. . Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.

7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5. 2. Tabel 5. . Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5.3. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Tabel 5.60 5. Pembesian Dan Bekisting.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. Tabel 5. 4.2 dan Tabel 5.1.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. 3.

upah dan pekerjaan BOW. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.602. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan.S.S.197.197.20 . 3.602.629. 3.64 5.S.58 = Rp. 1.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.223. 3.S. 1.20 = 54. 3. bahan tertinggi Rp. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.602. Dari Tabel 5.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.197. 1. Material = H.58 = 2.629.197. bahan terendah Selisih H.223.629. bahan tertinggi – H. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.20 Rasio perbandingan = Rp.Rp.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.602.223.

2. Tabel 5. Tabel 5. 3.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. 6.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. Tabel 5. Tabel 5. .14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. 5.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. Tabel 5. 8.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. 9. Tabel 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. 4.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 7. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.

tukang besi .41) : .kayu terentang (papan) . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.400 m3 = 4.kepala tukang batu .dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.41) : .41) : .pasir beton .00 kg = 110.000 Oh = 1.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).7.820 m3 4). 5. Bahan Pembesian (An. Bahan Bekisting (An.000 kg = 0.41) : .besi beton .mandor 5).750 Oh = 2.540 m3 = 0.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.69 5.750 Oh = 6. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An. G.kepala tukang besi = 6.250 Oh = 6. G.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.100 Oh = 0.kawat beton 3).semen portland .41) : . G.pekerja . G.000 Oh = 0.pekerja .300 Oh . Upah Pembesian (An.000 kg = 2.paku biasa = 0.tukang batu . G.koral beton 2).

G. .41) : . Upah Bekisting (An.pekerja .mandor = - = 6.mandor 6).70 .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.500 Oh = 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.tukang kayu .000 Oh = 5.kepala tukang kayu .000 Oh = 0.

300 Oh = 1.mandor = 0.1 ) : .200 m3 = 1.35.kep.2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1). 6.650 m3 4).1 ) : .1 ) : . tukang = 0.paku biasa .0007 Oh x 150 . Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.500 kg = 0.mandor = 6. 6.pasir beton .0003 Oh x 150 = 0.2 ) untuk tukang besi : .250 kg = 388.000 Oh = 1.38.2 ) untuk tukang kayu : .semen portland .650 m3 = 0. 6. 6.100 Oh = 0.pekerja .040 Oh = 0. Upah Bekisting ( An. Bahan Pembesian ( An.045 Oh 6). tukang = 0.koral beton 2). 6.300 Oh 5).050 Oh = 0.105 Oh = 0.28.35.2 ) dan ( An.besi beton .38.026 Oh .kepala tukang batu .38.kayu terentang (papan) . Upah Pembesian ( An.2 ) dan ( An.tukang besi .tukang kayu .kawat beton 3). 6.38.007 Oh x 150 = 1. 6.minyak bekisting = 0.72 5.tukang batu .000 kg = 0.pekerja . Bahan Bekisting ( An.050 Oh = 1.400 ltr = 150. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An. 6.000 kg = 2.1 ) : .pekerja .7.kep.25.000 Oh = 0.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = 0.73 . .005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.

005 Oh x 3.75 5.599 kg 3).300 kg x 3. Upah Pembesian : .koral beton 2).paku biasa = 0.077 Oh = 0.63 = 111.63 = 0.250 Oh = 0.pekerja .077 kg = 0.59 .0007 Oh x 106.144 m3 = 1. tukang = 0.000 kg = 0.59 4). Upah Adukan Beton : . Bahan Pembesian : .tukang kayu = 0.59 .tukang besi = 0.746 Oh = 1. tukang = 0.075 Oh .3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.mandor = 0.780 m3 .59 .359 ltr .kep.650 Oh = 0.63 = 0.59 = 1.mandor 5).pekerja = 0.007 Oh x 106.100 ltr x 3.63 = 0.040 m3 x 3.mandor 6).015 kg x 106.kawat beton = 0.025 Oh = 0.093 Oh = 0.besi beton = 1.300 Oh x 3.59 . Bahan Bekisting : . Upah Bekisting : .007 Oh x 106.026 Oh x 3.63 kg/m3 + 3.260 Oh x 3.018 Oh = 0.63 = 0.032 Oh .63 = 1.933 Oh = 0.59 m2 Bekisting) 1). Bahan Adukan Beton : .semen portland .tukang batu .59 .7.kepala tukang batu .kayu (papan) = 0.0003 Oh x 106.pasir beton .746 Oh .962 kg = 232.520 m3 = 0.05 kg x 106.kep.minyak bekis = 0.080 Oh = 0.pekerja = 0.

48 .015 kg x 129.007 Oh x 129.kepala tukang batu .semen portland .tukang batu .448 ltr . Upah Bekisting : .pekerja .tukang besi = 0.pekerja = 0.122 kg = 232.250 Oh = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.mandor 6).166 Oh = 0.100 ltr x 4.kep.kawat beton = 0.48 m2 Bekisting) 1).0007 Oh x 129. Bahan Bekisting : .300 Oh x 4.022 Oh = 0.pekerja = 0.64 = 0. tukang = 0.091 Oh .007 Oh x 129.48 .005 Oh x 4.mandor 5).mandor = 0.260 Oh x 4.907 Oh .kep.48 .tukang kayu = 0.165 Oh = 0.64 = 0. Bahan Pembesian : .pasir beton .48 = 1.179 m3 = 1.026 Oh x 4.64 kg/m3 + 4.koral beton 2).64 = 0. Bahan Adukan Beton : . Upah Pembesian : .minyak bekis = 0.0003 Oh x 129.05 kg x 129.48 .344 kg = 0.48 4).64 = 0.paku biasa = 0.kayu (papan) = 0.64 = 136.080 Oh = 0.000 kg = 0.039 Oh . tukang = 0.48 .025 Oh = 0.64 = 1.040 m3 x 4. Upah Adukan Beton : .344 Oh = 1.300 kg x 4.besi beton = 1.650 Oh = 0.780 m3 .945 kg 3).907 Oh = 1.520 m3 = 0.

Bahan Pembesian : .32 = 1.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.14 .300 Oh x 7.142 Oh = 1.05 kg x 156.koral beton 2).109 Oh .14 m2 Bekisting) 1).kayu (papan) = 0.026 Oh x 7.094 Oh .260 Oh x 7.036 Oh = 0.000 kg = 0.286 m3 = 2.780 m3 .520 m3 = 0. tukang = 0.pekerja = 0.mandor 6).14 . Bahan Bekisting : .007 Oh x 156.0007 Oh x 156.32 = 164.714 ltr .345 kg 3).32 = 0.14 = 2.14 4).mandor = 0.14 .040 m3 x 7.0003 Oh x 156.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.005 Oh x 7. .080 Oh = 0.047 Oh .semen portland .tukang besi = 0. tukang = 0. Bahan Adukan Beton : .32 kg/m3 + 7.besi beton = 1.kep.pasir beton .250 Oh = 0.14 .tukang kayu = 0.025 Oh = 0.kepala tukang batu .650 Oh = 0.007 Oh x 156.kep.tukang batu .186 Oh = 0.136 kg = 232.300 kg x 7.minyak bekis = 0.32 = 2.32 = 1.mandor 5). Upah Adukan Beton : .015 kg x 156. Upah Pembesian : .856 Oh = 0.pekerja .32 = 0.100 ltr x 7. Upah Bekisting : .094 Oh = 1.142 kg = 0.kawat beton = 0.paku biasa = 0.pekerja = 0.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.

.15.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.17.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.81 5.7. 4. Tabel 5.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5. Tabel 5.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. 2. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. 3. Tabel 5. Tabel 5.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting. Tabel 5.16 dan Tabel 5.

SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00 = 150.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.86 5.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110.110. . Dari Tabel 5.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.00 dan SNI = 150.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.00.00 = 26. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.00 = 1.00 Rasio perbandingan = 110.00 .

1.575.00 0.35 542.336. 6.76 1.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 1.000.739.821.464.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.82 557. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.717.14.643.19 869.82 1. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.500.00 2.304. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.286.575.59 594.285.464.285.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.858.411.38 dan pada SNI adalah Rp 579.304.78 2.000. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.00 1.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.78 H.285.S.00 500.178.61 . Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.500.628.000.000. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.632.000.BAB VI PEMBAHASAN 6. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.628.1.130.38 594.178.76 1.00 557.21 594.442.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.1.000.35 1.000.434.42 1.1 di atas.085.80.171.

Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1. balok dan plat (tribun). 6. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. . P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. poer P2 dan poer P3.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.1.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.

00 2.629.802.00 4.298.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.000.14 H.000.000.121. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.00 6.20 3. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.223.472.223.197.80 2.10 3.58 1.297.20 7.23 1.000.000.000.172. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.298. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.191.314.601. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.10.15 4.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.172. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.880.183.558.00 5.58 1.929.298.00 0. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.000.000.472. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.000. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.00 3.904.522.23 4.S.447.60 8.000.00 2.732.757.176.000.2 di atas. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.95 4. Bahan Pembesian (Rp) 3.464.00 1.172.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.74 .629.000. pada pekerjaan sloof.401.000.197.000.000.602.200.602.40 2.258. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.000.24 dan pada SNI adalah Rp 2.00 6.90 7.

86 Sloof 385.402.00 1.87 dan pada SNI adalah Rp 872.480.00 6.701.70 1.600.052. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.000.00 H.495.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.72 3.66 6.000.150.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.000.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.00 0.425.278. 575.70 Pondasi Poer 285.000.758.1.16 1.000.000.000.576.936.617.72 Tribun 963.00 4.307.726.000.487.53 2.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.03 544. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.350.953.42. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.000. 8.00 3.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 1.88 1.300.911.000. 6.000.00 1.S.881.000.58 871. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.98 .3 di atas.211.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.131.00 2.098.726.16 5.44 1.781.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.681.301.000.052.000. Bahan Bekisting (Rp) 7.

00 146.000.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000. Sebanyak 50 % .00 400.425.000.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.00 272.000.200.2.00 544. Upah Adukan Beton (Rp) 1.000.000.000.900.000.00 1.00 1.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00 220.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 816.425. H.00 800.4 di atas.00 .5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 293.00 0.000.950.00 816. 6.000.000.00 272.00 272.00 272.00 200. Harga rata-rata harga satuan 73.000.088.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton. 6.000.00 272.475.00 220. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.00 600.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.S.000.00 272. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.

S.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 642.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.00 1.00 dan pada SNI adalah Rp 272. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.700. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.60 89.82 89.000.375.925. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.000.00 394.927.889.00 1.750.000.5 di atas.768.749.00 1.00.00 500.2.00 234.035.200.00 0.700. 6.5 dibuat suatu grafik perbandingan.125.762.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 1.600.500.125.00.569.284.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.000.500.48 .000.000.500. 3.400.00 2.00 104. Dimana harga rata-rata satuan 61.30 179.84 354.00 H.00 234.00 119.733. Upah Pembesian (Rp) 2.00 1.927.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.000.00 2. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.

Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.670. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman. sedangkan SNI adalah Rp 116. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.180.175.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.81. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. . 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.2.665.00.

200.00 1.00 1.00 914.000.458.00 400. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.599.00 800.828.291.00 0. Pada tenaga kerja pekerja.000.S.128.000.188.00.925.000.00 198.00 600.371.35 457.00.000.000.800. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000.920.00 Sloof 79.75 354.885.200. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.00 134.265.00 1.000.000.51 dan pada SNI adalah Rp 108.20 155.000.6 di atas.00 2.00 H.000. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.000.00 326.970.400.25 .371.825.170.00 200.000.000.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.814. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 Pondasi Poer 57.00 1.242.00 1.00 1.95 1. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.00 1.000.00 615.600.000. 113. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1. Upah Bekisting (Rp) 1.

000.152.257.70 3.00 0.714.00 6.130.714.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.000.692.640.956.14 4.523.71 Tribun 3.000.952.989.275.369.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.115.000.86 6.029.00 6.00 16.32.000.472. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.623.019.00 8.00 2.000.14 5.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.000.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.212.937. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.43 14.003.333.000.272. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.000.648. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.000.000.78 3.956. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.7 di atas.318.523.730.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.26 dan pada SNI adalah Rp 3.055.56 2.000.00 4.000. Dari Tabel 5.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.278.000.000.450.00 6.61.86 18.91 3.19 8.637.000.809.33 .00 12.904.63 9.96 6. 6. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.618. Dari Tabel 5.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000.99 15. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.160.00 10.

000.00 1.125.000.00 418.233. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.620.000.00 0.012.907.00 5.00.000.00 1.000.114.00 2. 6. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.071.965.485.32 dan pada SNI adalah Rp 496.00 1. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.17 740.000.73 .5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.84 496.00 2.000.371.00 3.35 810.00.485.674.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.940.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.8 di atas.750.575.653.00 4.114.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.352.00 5.00 4.000.00 607.97 perbandingan. 4. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.500. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.119.50 471.565.125. 461.000.742.375.000.095.00 1.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.370.004.000.000.00 490.

279.000.98 14.000. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.559. 6.000.609.653.761.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.000.458.000.14 11. Pembesian Dan Bekisting.380.63 10.696.43 9.070.000.00 2.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.000. Tabel 6.756.78 Sloof 3.742.26 dan pada SNI adalah Rp 4. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.91 4.00 12.000.703.00 4. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur. Selisih dan rasio harga satuan bahan.00 8.000.00 0.070.32.984.00 16.9 di atas.000.830.839.000. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.000.677. Tabel 6.804.000.16 7. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.000.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.890.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.727. Pembesian Dan Bekisting.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.000.54 17.00 6.866. 2.000.00 10.86 20.220.586.126. 3.000.00 18.118.00 11.93.36 5.255.839.020.000. Pembesian Dan Bekisting.594.000.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton. 3.71 Tribun 3.06 .00 14.123. Tabel 6.56 Pondasi Poer 2.54 4.859.390.690.000.625.120. upah dan pekerjaan beton bertulang.885.

Tabel 6. Tabel 6. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting. .5 Total Selisih Harga Satuan.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. 6. 5.99 4.6 Total Rasio Harga Satuan.

100 .

101 .

102 .

.00% 30.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.103 6.00% (%) 40.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.00% 19. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.94 % dibandingkan SNI dan 19. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.94% 60.00% 50. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.7 6.7.7.89% 20.00% 58.10 di atas. 70.75 % dibandingkan SNI. Bahan Adukan Beton 48.S.00% 10.00% Selisih H.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.00% 0.

49 % dibandingkan SNI dan 36.00% (%) 40.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 30.00% 0.7. 80.00% 0.42 % dibandingkan SNI. Bahan Pembesian 36. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.69% 44.03% 55.00% 30.11 di atas.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.00% Selisih H.00% 40.21% 67.00% 10.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 50.00% 20.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.00% 70.00% 60.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.42% (%) 30.00% 10.S.00% Selisih H.00% 50.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00% 20.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .104 60. Bahan Bekisting 41. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.

80.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.47 % dibandingkan SNI dan 44.99 % dibandingkan Lapangan dan 61. 6.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.69 % dibandingkan SNI.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.00% 10.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.00% 0.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.00% Selisih H.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 60.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian. Upah Adukan Beton 29.54% 72. .105 Dari Gambar 6.77 % dibandingkan Lapangan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13 di atas.00% 30.S.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00% 50.00% 70.00% (%) 40.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.8.77% 61.8 Selisih Harga Satuan Upah 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.12 di atas. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.00% 20.8.

106 100.00% 80.00% (%) 50.00% 30.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.00% 40.01 % dibandingkan SNI dan 84.00% 40.00% 60. 6.00% 70.58% 53. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 10.00% 0.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% 30.8.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.00% 90.66% 54.00% 20.00% 0. Upah Bekisting 90.00% 60.01% 84.46% Selisih H.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.14 di atas.S. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 70.46 % dibandingkan SNI.00% 90. 100.89% 80.00% (%) 50.00% 10.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 80.00% 93.00% Selisih H.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00% 20.

16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00% Selisih H. .13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.89 % dibandingkan SNI.00% 39.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80. 6.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.64% 58.89 % dibandingkan SNI dan 53.58 % dibandingkan SNI.00% 30.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39. 70.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.16 di atas. Bahan Beton 30. 6.15 di atas.00% 10.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 0.107 Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.00% 50.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.S.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.00% 20.31 % dibandingkan SNI dan 30. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.00% 60.89% (%) 40.

00% 60.54 % dibandingkan SNI.00% 90.82% 50.S.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.00% 50.00% (%) 50. 6.00% 20.00% 86.06% 71.00% 10.00% 10. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.05% 57.00% 20.00% 60.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00% 70.00% (%) 40.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.17 di atas.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 40. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.05% 57.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 30.00% 30.108 100. 70.00% 0.00% 80. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 0.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .54% Selisih H.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

50 0.19 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 2.18 di atas. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.109 Dari Gambar 6.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. 6.50 1.44 1.S.05 % dibandingkan SNI. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.12.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.12.00 Ratio 1.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 2.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.95. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 2.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0. 3. Bahan Adukan Beton 1.00 Rasio H.50 % dibandingkan SNI dan 1.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.24 dan 1. . 6.

44 1.79 3.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 1.25 dan 1.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Bahan Pembesian 1.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.44.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.50 2.50 Ratio 2.00 1.00 2.50 0.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6. 6.12.56 2.S.00 0.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 1.00 Rasio H.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.00 0.20 di atas. 3.50 1.110 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Bahan Bekisting 1.50 0. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.S.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .72 1.00 Rasio H.50 3.

13. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 Ratio 2.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.50 0.72.111 Dari Gambar 6.42. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 1.60 3.00 Rasio H.22 di atas.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.42 2. 4. 6.00 0.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. .50 3.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.00 1.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.00 2.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.60 dan 3.07 dan 1.13.Upah Adukan Beton 1.S.21 di atas.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 3.

20.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.112 16.00 8.00 4.00 14.00 0.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.15 10.00 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 12. 6.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0.00 Rasio H.00 2.00 14.00 10.00 Ratio 8.00 6.32 6.00 10. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.13.23 di atas.S.32 dan 6.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 Ratio 6.20 Rasio H.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 12.13 2.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.S.00 4.Upah Bekisting 5.52 2.

50 1.00 2.00 0.40 dan 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 2.00 Rasio H. .24 di atas.Bahan Beton 1. 6.50 0.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.66 1.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.15.44 2. 3.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.66. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 Ratio 1.113 Dari Gambar 6.25 di atas.98 dan 2. 6.S.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.

35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 2.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 6.55 2.00 Ratio 4.00 7.18 3.02.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00 6.01 1.50 1.S.114 8.50 2. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.00 1.50 0.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0.00 3.00 5.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.02 Rasio H.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .00 0.00 1.00 7.26 di atas.33 2. 2.18 dan 3.

Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian. 6.75 3.36 1.27 di atas.36.13 2.50 1.00 1.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 2.33.115 Dari Gambar 6.17. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 3.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.28 di atas.50 0.00 3.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 Ratio 2. 6.94 2.35 dan 1. Indeks bahan kawat beton pada .00 0.75 dan 3. 4. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.75 2.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. . Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Lain halnya dengan analisa SNI. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Dengan demikian baik dari segi biaya. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif.

Lapangan > SNI (2. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. c. b.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72. e.60).08 % dibandingkan dengan 120 . d. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.44).44).42).1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53.70) dan SNI > Lapangan (1. BOW > Lapangan (1.52) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (3.07) dan BOW > SNI (1.72).25) dan Lapangan > SNI (1. f. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.20).56). Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.79). Lapangan > SNI (3. BOW > Lapangan (6.25) dan BOW > SNI (1.32).95).49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.

06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.01). g.44). Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57. b.66). SNI dan Lapangan.33). Lapangan > SNI (2.15).75). Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. Lapangan > SNI (2.40) dan BOW > SNI (1. .36).55) dan Lapangan > SNI (2. 2.75) dan SNI > BOW (1.13) dan Lapangan > SNI (5.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW. Lapangan > BOW (3.02). 3. BOW > Lapangan (3. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.98).82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Rasio perbandingan indeks a. i. BOW > Lapangan (2. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.35) dan BOW > SNI (2.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. h.18). pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.

62). dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.46) dan Lapangan > SNI (2. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2. Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62). BOW > Lapangan (8.122 b.62).43).43). indeks kepala tukang BOW > SNI (21.46) dan Lapangan > SNI (2.62). BOW > Lapangan (2. Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. pembesian dan bekisting.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. 7. BOW > Lapangan (2. indeks tukang besi BOW > SNI (6. .19) dan Lapangan > SNI (2.43).

1971 N. 2004. Yogyakarta.I. Bachtiar Ibrahim. 1985. Penerbit Nova. 1984. Jakarta. 1992. W. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Asona. Jakarta. Niron John. SNI Edisi Revisi. 1991. 1984. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio.A. Rencana dan Estimate Real of Cost. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Penerbit Bumi Aksara. J. Bumi Aksara. 2006. cetakan kesembilan. Mukomoko. 2003. Cet. Iman Soeharto. Joko Waluyo. Soedradjat Sastraatmadja. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Ir. 2006. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Sugeng Djojowirono. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. A. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Manajemen Konstruksi. Jakarta. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. 2001. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Dani Kurniawan. – 2. CV. 1993. PT. Departemen Pekerjaan Umum . 9. 2005. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Bandung. 2002. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Penerbit Erlangga. 1995.

II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.000.28 17.00 7.00 50.892.000.00 . III (Papan) Kayu Kls.000.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.60 10.500.00 43.00 10.547.500.00 43. Juli 2007) 35.337.500.00 43.500.00 45.719.605.115.000.40 934.00 105.80 1.000.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.10 59.39 239.70 1.00 10.226.052.785.000. Wajo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->