TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Ibu. Haris. Istriku beserta keluarga besarnya. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Adikku Erna.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Bapak. terima kasih atas doa dan dukungannya. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. iii .

dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Ir. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. 2. 3. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. H. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. bapak. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Ir.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. 5. Ibu.WB. Bapak Zaenal Arifin. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. iv . 4. Bapak Tadjuddin BM Aris. H. ST. Alhamdulillah. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. Bapak Faisol AM.

7.6. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. v . Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis.

RAB penawaran kontraktor.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.727. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.804.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.40. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.594.696. SNI dan Lapangan/Kontraktor. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. vi .64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.32 dan untuk Lapangan Rp 9.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan.18 dan 71. SNI dan Lapangan.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. RKS. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. tenaga kerja.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.35 dan 1.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.859.44 dan 58. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39.33.120.26 sedangkan metode SNI Rp 4. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. pelayanan maupun waktu.

.....xiii BAB I PENDAHULUAN 1......................................................................2 3............................3...............................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .....ii HALAMAN PERSEMBAHAN....................3 Tujuan Penelitian...........................3 Manfaat Penelitian..................................................1 Estimasi Biaya.............9 BAB III LANDASAN TEORI 3..........2 1...3 Rencana Anggaran Biaya….............................vii DAFTAR GAMBAR...................1 3.....................18 3...........................................................4 Batasan Masalah.........................17 Biaya Tidak Langsung………..1 1...........2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan........i HALAMAN PENGESAHAN..........................19 3....................................................14 Biaya Konstruksi Proyek…....................................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya.................................................................................................vi DAFTAR ISI......11 3......................................................1 2.........15 3...2 Jenis Anggaran Proyek.........xi DAFTAR TABEL..................................................................................................................12 Kualitas Perkiraan Biaya…….......2 Biaya Langsung........................................................................1.................................iii KATA PENGANTAR............................1 3....................................................3............................................................24 Analisa Harga Satuan............................................................13 Metode Perkiraan Biaya.....................3..2.............................................1.............................1 Rumusan Masalah...3 3.......1 3...............................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2............................23 Harga Satuan Pekerjaan.iv ABSTRAKSI...................................................2 3.27 vii .......................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan..............4 1.....................................................2.............................5 Latar Belakang.................................3 1................................1.................................

1 3..2 4...............2 3.............32 3.................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI......................3 Pekerjaan Adukan Beton............3....1 3......................27 Analisa Harga Satuan Alat.........2 3........................3...4...1 5........37 3..............3 5..4 4.........1 3....4........................................................................5 4..................1 4........41 Cara Pengumpulan Data……..............39 Pekerjaan Pembesian............4 5..2..37 Pekerjaan Beton Bertulang...4......52 Komparasi Harga Satuan.3 3...................................................64 5....................36 3..............2 Bahan – Bahan...................3...................2...................6 Rencana Pekerjaan…….................3............................................................41 Objek Penelitian….................7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen.........................................................................................44 Analisa Metode SNI...............44 Analisa Metode BOW.................................................................4.4..................4......42 Tahapan Penelitian…….........39 3......2 3........4 Beton Bertulang….......60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio.3..........................................40 BAB IV METODE PENELITIAN 4.......27 Analisa Harga Satuan Upah.......3....2 5...............40 Pekerjaan Bekisting.............................................6 Subjek Penelitian……...............3....34 Analisa Harga Satuan Metode..............................3 4.......1 3...........69 viii ........................4.... Harga Satuan............3........3...41 Pengolahan Data…….............28 Metode Perhitungan.....3.................4.......5 5.................................. Lapangan.....4 Analisa Harga Satuan Material.................41 Data yang Diperlukan……...................................................3.. Pekerjaan Beton Bertulang................2....42 BAB V ANALISA DATA 5..48 Analisa Metode Lapangan...........3 Analisa Harga Satuan Metode BOW........

............97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………...7........91 Harga Satuan Upah..................7......…….................3 6..1 5...2 6........................................107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.......................105 6...........93 Upah Bekisting................................................................1 Rasio Bahan Adukan Beton.....1....…...................................98 Selisih Harga Satuan Bahan.....................................103 6......................12........108 Rasio Harga Satuan Bahan.........109 6....10 6...8 Selisih Bahan Bekisting...........1 6......................................72 Indeks Lapangan...........2.............96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.................92 Upah Pembesian..............................................................................2..........5 6.7...96 Harga Satuan Upah Beton.............................................8....2 Selisih Bahan Pembesian.........8 BAB VI Indeks BOW.2 6.........109 ix ............9 6.88 Bahan Pembesian....107 Selisih Harga Satuan Upah Beton...104 Selisih Harga Satuan Upah..............................7..3 6.................88 6.........1 Selisih Bahan Adukan Beton.....1 Harga Satuan Bahan...8.........2..........7.........2 5..12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton...75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja............7............................89 Bahan Bekisting........................................8.4 5.......................2 6.....................105 Selisih Upah Bekisting.......3 6.......................105 Selisih Upah Pembesian................................3 Selisih Upah Adukan Beton.92 6.........3 5.....4 6.........103 6..............3 Upah Adukan Beton........................7...........1 6.........1 6..106 6.........81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks.......5..................7 Harga Satuan Bahan Beton.........................................................94 6..........................69 Indeks SNI.....................103 6..................2 Bahan Adukan Beton.........................6 6..................1...............................................11 6......86 PEMBAHASAN 6........1........................

.........13.......17...................................................1 7.....115 6...........116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.....................................17.......13....120 x .111 6.............15 6............2 Indeks Tenaga Kerja..................13..............................109 6........17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton......114 Indeks........................2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ..............LAMPIRAN Kesimpulan……..118 Saran..................14 6...........................13 Rasio Harga Satuan Upah..............12..........................113 Rasio Harga Satuan Upah Beton................2 Rasio Bahan Pembesian…….........16 6.....115 6....111 6...110 6..................113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang....................3 Rasio Upah Bekisting..................................12...........................................6......111 6........................1 Indeks Bahan.112 6....................3 Rasio Bahan Bekisting……………………............2 Rasio Upah Pembesian................................…........1 Rasio Upah Adukan Beton.............................

................103 Gambar 6..........21 Skema Harga Satuan Pekerjaan....95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton......................104 Gambar 6............20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian..4..........................DAFTAR GAMBAR Gambar 3................................................................108 Gambar 6..................................14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.............19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian......4 Gambar 6.........110 Gambar 6..............22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..............21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting................. Gambar 3.......104 Gambar 6..........12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.105 Gambar 6................107 Gambar 6....................15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting....5 Gambar 6.......................26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan................5...91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton...........................................1 Gambar 6...........88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)...13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton....16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton...................................13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar..........43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.............1 Gambar 3....111 xi .17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton....20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci..............2...........10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..................................109 Gambar 6.....................92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.........26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir..................................7 Gambar 6...110 Gambar 6...... Gambar 3......................................106 Gambar 6.........3.......18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......6 Gambar 6.............. Gambar 4...... Gambar 3.........................108 Gambar 6..........................................1 Gambar 6......98 Gambar 6................97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........106 Gambar 6........3 Gambar 6.2 Gambar 6......96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton............93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting...8 Gambar 6..

..112 Gambar 6...................................115 Gambar 6.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian..112 Gambar 6.....29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian..114 Gambar 6.......28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian................................114 Gambar 6.....................................113 Gambar 6...................27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.......26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton...................Gambar 6........25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton....................24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.................116 xii ...................

.................67 Tabel 5.15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.........................................67 Tabel 5...........................................................68 Tabel 5..................5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.........1................................................................. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI............11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton........................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.................74 xiii ......66 Tabel 5................63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton............................15 Tabel 5.......... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW.....................................................13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.66 Tabel 5....................8 Tabel 5........6 Tabel 5............66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...................................................... Pembesian Dan Bekisting......14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.....4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.........15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.........................................................68 Tabel 5..............62 Tabel 5.........DAFTAR TABEL Tabel 3..7 Tabel 5.............................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI........45 Tabel 5....................16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang............. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.........................3 Analisa Harga Satuan Bahan...........................2 Analisa Harga Satuan Bahan..................................................71 Tabel 5....9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton........10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. Pembesian Dan Bekisting..........67 Tabel 5... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan......................................53 Tabel 5..................68 Tabel 5....49 Tabel 5.............61 Tabel 5................1 Analisa Harga Satuan Bahan...................

...............101 Tabel 6..84 Tabel 5............Tabel 5.............................20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting....................101 Tabel 6......................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.............................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton....... Pembesian Dan Bekisting............3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ..............22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja....................... Pembesian Dan Bekisting... Pembesian Dan Bekisting...........................85 Tabel 5...100 Tabel 6.............................................17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan............78 Tabel 5....................................................83 Tabel 5.........1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton......................6 Total Selisih Harga Satuan..82 Tabel 5.............................21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..........................87 Tabel 6..... Pembesian Dan Bekisting........................................2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton...............................................................100 Tabel 6................................................5 Tabel 6............

BAB I PENDAHULUAN 1. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. tenaga kerja. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. pelayanan maupun waktu. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. 1 . Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW.

Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. Untuk mengatasi permasalahn tersebut.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. namun hanya untuk perumahan sederhana. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. konsultan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Pada tahun 1987 sampai 1991.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Agar lebih luas cakupannya. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer.

SNI dan penawaran kontraktor. .3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Pada saat ini. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. SNI dan penawaran kontraktor. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. 3. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan.3 kekalahan.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Apakah ada selisih harga satuan material. 1. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. 2. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI.

2. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. 5. Dapat menjadi referensi bagi penulis. profit dan pajak tidak diperhitungkan.4 1. 1. tahun 2007. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. Biaya tidak langsung seperti overhead. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. 4. 3.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 7. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. . indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. 3. 6. 2. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo.4 Manfaat Penelitian 1.

metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.39 %. 103.706.90. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13. 5 . 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan.218.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.232. 15.344. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.40.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.23 %.

. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.

Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. waktu. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. bahan dan biaya. 3. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja.7 2. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- .

Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Metode yang digunakan : Data primer a. Interview. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. Pekerjaan Bekisting Balok 3.26 % = 44. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. 4. produktivitas pekerja. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati.16 % 5. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. . Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat.8 Karyaan.23 % = 63. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat.

206.930. dengan nilai penghematan 2.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.14 2. 31.87.207.10. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.00.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. 11. 99. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.655. 39. dengan nilai penghematan 0.21. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 1.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.437.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.025. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. dengan nilai penghematan 0.184. 53.508. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.214.50. dengan nilai penghematan 1. dengan nilai penghematan 2. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10.217.013.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan . 78.00.348.

sloof. kolom. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. SNI dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. . 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. balok dan tribun menggunakan metode BOW. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. SNI dan Lapangan.

memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. peralatan.BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. material. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. 1995). Dengan kata lain. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. dan lain-lain. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased).

Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. 1995. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). . Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. sesuai dengan fungsinya.1. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. ukuran.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.12 proyek seperti jenis. 3. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. proses penyusunan aggaran biaya definitif. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. 1994). Perencanaan Biaya Bangunan. lokasi. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek.1.

1.Produktivitas .Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan. kemudian . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.1.2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.Satuan harga material curah . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Penawaran dari paket MR/PO .“Quantity take-off” .Eskalasi . 1995.Overhead .13 Tenaga kerja .Standar jam orang . 1995) 3.Harga peralatan . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.

mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Pada metode elemental analysis cost estimating. dan bila telah diberi beban biaya. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Hal ini memerlukan kecakapan. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh.1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). pengalaman serta judgment dari estimator. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. 1995.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. 3.

Listrik .Dinding eksterior .Sistem conveying . Jenis dan intensitas kegiatan .Interior .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek. 1995) 3.Pintu .Pekerjaan lahan (site) . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Listrik .Substruktur .Super struktur . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.Kolom interior .Sistem HVAC .Dinding interior .Sistem HVAC . Tabel 3.Persiapan site .Fixed equipment .Glazed opening .Lantai .Atap .15 gedung.Sistem conveying .Pondasi .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Means Engineering News Record .Kontigensi .Sistem pemipaan .Pemipaan .Pondasi .Eksterior .1. Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.

pengeruk tanah (back-hoe). jenis keterampilan. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. kompresor udara. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. scraper. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. Bila hal ini terjadi. truk. (Iman Soeharto. lengkapkah peralatan. berlumpur atau berdebu. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. Terutama untuk daerah rawa. dan lain-lain. terutama bagi long delivery items. grader. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. atau yang langka tersedia di pasaran. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. Ini dapat berupa crane. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. Bertolak dari kenyataan tersebut. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. 1995). Sama halnya dengan sumber daya manusia.

memotong dan . jadi sudah termasuk biaya angkutan.2. 1995). 3.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. (Iman Soeharto. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. mesin-mesin. pengepakkan. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. alat-alat tangan (tools). Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. biaya menaikkan dan menurunkan. mulai dari membuat spesifikasi.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. penyimpanan sementara di gudang.

pemasangan alat. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. asuransi. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. biaya-biaya notaris. pajak.18 membengkokkan baja-baja tulangan. listrik. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. alat angkut dan lain sebagainya. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. pengangkutan. . Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. asuransi. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. misalnya sewa kantor. air. peralatan kantor dan alat tulismenulis.2. membongkar dan biaya operasi. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. bunga uang. 3. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. surat-surat ijin dan lain sebagainya. telepon. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. pengukuran (survey). 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. telepon yang dipasang di proyek. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. memindahkan.

PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. 1992. 3. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. 1984. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Adapun menurut John W. . rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. Menurut Sugeng Djojowirono. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 1993. cermat dan memenuhi syarat. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja .

A. Soedradjat Sastraatmadja (1984).20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua.2. A. Secara sistematisnya. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih.2. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. dapat dilihat pada gambar 3. Soedradjat Sastraatmadja. Analisa Anggaran Pelaksanaan.

Secara sistematisnya.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Pajak Gambar 3. daftar harga bahan. Profit. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. buku analisis. Mukomoko. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. A. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. dapat dilihat pada Gambar 3. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. Menurut Bachtiar Ibrahim. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan.3. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. daftar upah. 1993.3. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. daftar susunan rencana biaya. . peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti.

pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan.Rencana jalan dan pagar.Rencana halaman . Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0.00 m dari lantai. Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. misalnya : dasar pondasi.00. letak tinggi jendela dan pintu. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi.Rencana garis batas tanah dan roylen. tinggi langit-langit. . hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas.). nok reng balok/muurplat. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. .Rencana letak bangunan. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1.Rencana saluran pembuangan air hujan. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . . 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. 2) Gambar denah PU 1 : 100.

Gambar konstruksi baja.Gambar konstruksi beton bertulang.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. 2007. nok gording. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. muurplat/reng balok. . talang air. RENCANA SANITASI = N 3. TAMPAK MUKA 3. POTONGAN II – II 9. usuk/kasau dan konstruksi penahan. SAMPING KANAN 5. T. TAMPAK BELAKANG 4. cetakan keempat. keilkeper. RENCANA PLAFOND = K 12.3. RENCANA KAP =H =I =J 11. Gambar saluran pembuangan air kotor. POTONGAN III-III 10. 7) Gambar pelengkap. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan.Gambar konstruksi kayu. DENAH 2. TAMPAK SAMPING KIRI 6. Gambar saluran pembuangan air hujan.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. Jakarta. DENAH PONDASI 7. hooker. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. Jadi volume (kubikasi) . Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. DENAH KUSEN 13. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . . . DENAH LISTRIK =L =M 14. dengan jelas. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan.

. lisplank 28 m. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat.3. d. dan sebagainya. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap.Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. 3. . seperti volume pondasi batu kali 25 m3. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . e. Harga bahan didapat di pasaran.Volume atap dihitung berdasarkan luas. . atap 140 m2. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). persegipanjang. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . yaitu panjang x luas penampang yang sama. c. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. seperti segitiga.24 suatu pekerjaan.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. .Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. b. trapezium. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah.

5. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. Upah + H. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.S.25 pemerintah. dan gambar 3. Alat Secara sistematisnya. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.4. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan.S. . Bahan + H. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. dapat dilihat pada gambar 3.S. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.

4. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Manajemen Konstruksi. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.5. 1984) .26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Yogyakarta.

Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. 1994 dalam Dani Kurniawan.3. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. 3.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan.3. 1 m2. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. kecepatan . 3.3. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. upah tenaga kerja. (Bachtiar Ibrahim. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. 2004). serta besarnya biaya yang dibutuhkan. 1993). menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan.3.27 3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. (Bachtiar Ibrahim.3.

28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. 3.3.3. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . Tukang batu. d. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. c. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. selain bertugas sebagai tukang batu. (Bachtiar Ibrahim. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. 2004). Mandor. b. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. Pekerja.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). 1993). jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. Kepala tukang.

W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). D = Faktor angsuran / pengembalian modal. ongkos angkut. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli.002 x B = 0. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. biaya sewa gudang. maka . = 0. Bagi peralatan yang bertugas sedang. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . maka . dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun.

dan lain sebagainya. pelumas power steering. . saringan agregat untuk stone crusher / AMP. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. d. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. c. pelumas hidrolik. pelumas transmisi. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. b. grease. e. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. saringan/filter udara dan lain sebagainya. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. penggantian batere / accu dan perbaikan alat.

Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran.5 s/d 17. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan.5) % x HP Dimana . HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power . Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Karena rumus sifatnya pendekatan.31 3.5% = untuk alat yang bertugas berat b. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

5. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.750. 934.5. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.875.964.00 3.250.02 = Rp. SK SNI S-04-1989-F.520 m3 = 218. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03. = Rp.475.chipping/split .39 Jumlah (1) 5.080 Oh = 0.10 = Rp.2 Tenaga : = 1.kepala tukang x @ Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.650 Oh = 0.00 10.84 x @ Rp. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.00 1.115. 43.777.500.000. = Rp.00 x @ Rp. 239.00 x @ Rp.00 73.00 Jumlah (2) = Rp.tukang batu . 45. 35.pasir beton . 57. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5. = Rp. = Rp. 203.1 5.697.547. 50.000.600.61 .000.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.250 Oh = 0.pekerja .00 x @ Rp. 59.780 m3 = 0.60 x @ Rp. SK SNI S-05-1989.00 kg x @ Rp.892. SK SNI-06-1989-F. 30.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) . Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.Semen Portland = Rp.025 Oh 3 . 421. 187.mandor .75 = Rp.

495. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).777. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara . 3. 2. 313.475. 934.61 + Rp.4. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan. 421. = Rp. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : .39 = Rp. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya.000 kg x @ Rp.955.04 . Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja).00 3.61 73.36 = Rp. 4. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. Menghitung harga satuan bahan dengan cara .semen portland = 336.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah.252.3. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1.

70.312. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.37 .00 Jumlah (2) = Rp. 344.000. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .pasir beton .225.265.750.155.tukang batu . 59.mandor = 2.kepala tukang .00 x @ Rp.000.892.810 m 3 x @ Rp. Jumlah (1) = Rp. 58. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.00 x @ Rp.500.60 540.pekerja .60 = Rp.00 3. 239.. 43.00 x @ Rp.547. 35. = Rp.00 1.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp. 285.15.975.koral beton = 0.00 = Rp. 2) analisis dengan computer.950. = Rp. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.350 Oh = 0. 131. 50.540 m3 = 0. 1991. = Rp.423.035 Oh = 1.10 = Rp. Tenaga kerja : .000.000 Oh x @ Rp. 45.000 Oh = 0.34 x @ Rp.70 194. 32.000.000.00 15. b.00 + Rp. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.00 = Rp.00 45.

I. Bila perlu. 3.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. lanjutan atau tambahan.38 a. b.5 Beton Bertulang J. tanggung jawab atas penyimpangan. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. 1971 N. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. A. semen tahan sulfat. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. semen alumina. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8.5. 3. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Beton adalah campuran antara PC (semen). 1985. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. – 2. dan . c.

Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. c. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. seperti zat-zat yang reaktif alkali. maka agregat halus harus dicuci. 3 atau 4 batang yang . Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. garam-garam. b. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. e. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. alkali. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak.Butir-butir agregat harus bersifat kekal.39 lain-lain. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Untuk beton mutu Bo. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. dapat juga dipakai semen tras kapur. d. seperti terik matahari dan hujan.063 mm. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). asam. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai.

5. air. Jika digunakan concrete mixer. maka tempat penyimpanan. maka campuran bersifat kental. dan lain-lain. kereta dorong. . Kekuatan beton.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. alat timbang bahan. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan.40 sejajar. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. mengangkut. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. Campuran beton terdiri dari semen. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. mengaduk adukan. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). batang-batang tersebut harus saling bersentuhan.2. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio).5. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. Satuan beton yang dipakai adalah m3. berarti campuran basah. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. misalnya mesin pengaduk. memadatkan pengecoran. merawat pengerasan. 3. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. kran dengan alat penyodok (bucket). Dalam perencanaan campuran beton.

2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton.75 liter untuk bidang seluas 10 m2.41 3. minyak pelapis. yaitu .50 m3 untuk setiap 10 m2.5. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut. Menurut Dipohusodo. Sebanyak 50 % . . 1996. pondasi.2. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. 3.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. digunakan tabel berat besi material. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.2. kawat pengikat. pelat lantai dan tangga.10 – 0. Menurut peraturan beton Indonesia (1997).5. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. balok. kolom. sloof.

2. 3. 5. 8. 4. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. 7. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. 4.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 4. 42 .BAB IV METODE PENELITIAN 4. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 6. 4. 9. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. Berita acara penjelasan pekerjaan.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. SNI dan Lapangan.

terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a.43 4. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. c. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. . Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. 4. d. dan g. e. Menghitung harga satuan bahan. upah dan pekerjaan.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. f. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. b.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer.

S.Analisa Harga Satuan Peralatan .Analisa Harga Satuan Peralatan .Analisa Harga Satuan Upah .A.H.Harga Satuan Pekerjaan .A.RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi . Bahan .Harga Satuan Pekerjaan .44 Mulai Data Proyek : .Gambar proyek .Analisa Harga Satuan Bahan . Upah .H.Analisa Harga Satuan Peralatan .S. Peralatan .H.Analisa Harga Satuan Upah .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .A.Analisa Harga Satuan Bahan .Analsis Harga Satuan Bahan .S.Analisa Harga Satuan Upah .

45 .

balok dan tribun. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW.1 Analisa Harga Satuan Bahan.BAB V ANALISA DATA 5. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. 5. sloof. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer. kolom.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. 45 . upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.

Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.2 Analisa Harga Satuan Bahan. .48 5.

upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.52 5. .4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan.3 Analisa Harga Satuan Bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan. Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.

2 dan Tabel 5.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.3. Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5. Tabel 5. .4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5.1. Pembesian Dan Bekisting.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. 2. 4.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. 3.60 5. Tabel 5. Tabel 5.

SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan.602.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.197.Rp.629. bahan tertinggi – H. bahan terendah Selisih H.64 5. 1.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.602.S.20 Rasio perbandingan = Rp.S. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.629.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % . 3.58 = 2.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.S. 1.602. Material = H. Dari Tabel 5. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp. bahan tertinggi Rp. 3.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.197.602.223.223. 3.58 = Rp. 1. upah dan pekerjaan BOW. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.S.629.197.20 .20 = 54. 3.223.197.

4.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. . Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. Tabel 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. 7. 6. 5.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. Tabel 5. 2. Tabel 5. 9. 3.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. 8. Tabel 5.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. Tabel 5.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.

dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.kepala tukang besi = 6.100 Oh = 0. G. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An. Bahan Bekisting (An. G.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.tukang besi .pekerja .semen portland .kayu terentang (papan) .750 Oh = 2.000 Oh = 0.koral beton 2).mandor 5).000 Oh = 1.000 kg = 0.besi beton . G. Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.kepala tukang batu .41) : . Bahan Pembesian (An.300 Oh .250 Oh = 6.750 Oh = 6.pasir beton .7. Upah Pembesian (An.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).400 m3 = 4.tukang batu . G.41) : .41) : . G.820 m3 4).69 5.paku biasa = 0.pekerja .000 kg = 2.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.41) : .00 kg = 110. 5.540 m3 = 0.kawat beton 3).41) : .

mandor 6).pekerja .100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.500 Oh = 0. G.tukang kayu . .mandor = - = 6. Upah Bekisting (An. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.kepala tukang kayu .41) : .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.70 .000 Oh = 0.000 Oh = 5.

2 ) dan ( An.100 Oh = 0.0003 Oh x 150 = 0.pekerja .pekerja .200 m3 = 1. Bahan Bekisting ( An.500 kg = 0. Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.0007 Oh x 150 .2 ) dan ( An. 6.38.semen portland .35. 6.38.minyak bekisting = 0. Bahan Pembesian ( An.300 Oh = 1.35. Upah Pembesian ( An.kep.000 Oh = 1.026 Oh .koral beton 2).mandor = 0.000 Oh = 0.kawat beton 3). 6.72 5. 6.tukang besi .050 Oh = 1. Upah Bekisting ( An. tukang = 0. 6.1 ) : .2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).pekerja .kep.kayu terentang (papan) .38.250 kg = 388.pasir beton . Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.7. 6.25. tukang = 0.tukang kayu .050 Oh = 0. 6.2 ) untuk tukang besi : .300 Oh 5).paku biasa .040 Oh = 0.38.besi beton .650 m3 = 0.650 m3 4).045 Oh 6).1 ) : .000 kg = 2.1 ) : .1 ) : .kepala tukang batu .28.400 ltr = 150.105 Oh = 0. 6.tukang batu .mandor = 6.007 Oh x 150 = 1.000 kg = 0.2 ) untuk tukang kayu : .

mandor = 0.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. .005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.73 .

mandor 5).077 Oh = 0.kep.59 m2 Bekisting) 1).746 Oh .59 .paku biasa = 0.pasir beton .015 kg x 106. tukang = 0.077 kg = 0.05 kg x 106.962 kg = 232.000 kg = 0.007 Oh x 106.mandor 6).tukang kayu = 0.besi beton = 1.75 5.59 .59 4).025 Oh = 0.kawat beton = 0.599 kg 3).0007 Oh x 106.63 = 0.63 = 0.007 Oh x 106.026 Oh x 3. Bahan Bekisting : .59 .260 Oh x 3.pekerja . Bahan Adukan Beton : .650 Oh = 0.359 ltr .520 m3 = 0.040 m3 x 3.300 kg x 3.3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.59 = 1.semen portland .018 Oh = 0.100 ltr x 3. tukang = 0.144 m3 = 1.59 .minyak bekis = 0.63 = 111. Upah Adukan Beton : .koral beton 2).mandor = 0.kayu (papan) = 0.080 Oh = 0.300 Oh x 3.63 = 0.kepala tukang batu . Bahan Pembesian : .pekerja = 0. Upah Bekisting : .63 = 0.093 Oh = 0.tukang besi = 0.kep.pekerja = 0.746 Oh = 1.7.63 kg/m3 + 3.0003 Oh x 106.933 Oh = 0.780 m3 .032 Oh .005 Oh x 3.63 = 1. Upah Pembesian : .59 .075 Oh .250 Oh = 0.tukang batu .

kep.tukang kayu = 0.165 Oh = 0.pasir beton .kawat beton = 0. Upah Pembesian : .64 = 136.paku biasa = 0.907 Oh = 1. tukang = 0.260 Oh x 4.0007 Oh x 129.64 = 0.48 = 1.650 Oh = 0.0003 Oh x 129.48 m2 Bekisting) 1).48 4).besi beton = 1.mandor = 0.122 kg = 232. Upah Adukan Beton : .166 Oh = 0.007 Oh x 129.080 Oh = 0.091 Oh .64 = 0.945 kg 3).007 Oh x 129.344 kg = 0.pekerja .kepala tukang batu .025 Oh = 0.mandor 5).minyak bekis = 0.mandor 6).48 .48 .000 kg = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.kep.040 m3 x 4.64 = 0. tukang = 0.kayu (papan) = 0.64 = 0.koral beton 2).pekerja = 0.022 Oh = 0.pekerja = 0.179 m3 = 1. Bahan Adukan Beton : .64 kg/m3 + 4.520 m3 = 0.48 .tukang batu .48 . Upah Bekisting : .907 Oh .015 kg x 129.448 ltr .tukang besi = 0.300 Oh x 4.026 Oh x 4. Bahan Pembesian : .250 Oh = 0.300 kg x 4.100 ltr x 4.005 Oh x 4.344 Oh = 1.64 = 1.039 Oh . Bahan Bekisting : .48 .semen portland .780 m3 .05 kg x 129.

040 m3 x 7.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.pasir beton .kepala tukang batu .142 Oh = 1.100 ltr x 7.14 .094 Oh .142 kg = 0.186 Oh = 0.260 Oh x 7.32 = 1.780 m3 .094 Oh = 1.05 kg x 156. Bahan Pembesian : .pekerja = 0. tukang = 0.520 m3 = 0.14 m2 Bekisting) 1).250 Oh = 0.0003 Oh x 156.32 = 0.036 Oh = 0.14 4).14 .77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156. Bahan Adukan Beton : .paku biasa = 0.tukang besi = 0.005 Oh x 7.650 Oh = 0.14 .109 Oh .14 .14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.007 Oh x 156.32 = 1. tukang = 0. Bahan Bekisting : .tukang kayu = 0.0007 Oh x 156.tukang batu .kep.000 kg = 0.025 Oh = 0.32 = 164.kep. .714 ltr .080 Oh = 0.mandor = 0.minyak bekis = 0.856 Oh = 0.286 m3 = 2.koral beton 2).047 Oh .pekerja = 0.007 Oh x 156.14 = 2.345 kg 3).32 = 0.300 Oh x 7.32 kg/m3 + 7. Upah Pembesian : .015 kg x 156.pekerja .136 kg = 232.besi beton = 1.semen portland . Upah Bekisting : . Upah Adukan Beton : .mandor 5).kayu (papan) = 0.32 = 2.mandor 6).300 kg x 7.kawat beton = 0.026 Oh x 7.

20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian. Tabel 5. 4. 2.81 5. Tabel 5.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.17.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.16 dan Tabel 5. Tabel 5. . 3.15. Tabel 5. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.7.

00 dan SNI = 150.00 = 26.86 5. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.110. .00 . Dari Tabel 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.00 = 1.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.00.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00 = 150.00 Rasio perbandingan = 110. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.

632.00 500.00 557. 6.35 542.643.00 1.80.717.628.464.82 557.35 1.304.286.000.085.21 594.285. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.78 2.76 1.000.000.178.858. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.442.00 2.575.434.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.739.171. 1.000.78 H.500.000.38 594.285. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.42 1.628.464.500.000. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.19 869.00 0.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.821.BAB VI PEMBAHASAN 6.285.411. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.59 594.76 1.178.575.61 .82 1.1 di atas.1.1.00 1.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.304.38 dan pada SNI adalah Rp 579.336. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.14.000.130.S. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

poer P2 dan poer P3. .4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. balok dan plat (tribun). Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.1. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5.

401.10 3.191.23 4.121. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.00 4.200.00 2.000.20 3.176.000.629.000.197.601. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.297.80 2.000. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.000.558.95 4.74 .23 1.2 di atas.000. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.00 0.197.60 8.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.000. Bahan Pembesian (Rp) 3.258. pada pekerjaan sloof.000. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.522.464.172.298.472. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.90 7. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.000.929. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.00 3.000.000.58 1.58 1.00 6.172.314.802.24 dan pada SNI adalah Rp 2.000.20 7.172.602.00 5.298.223. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.000.904.880.15 4.472.000.757.629.732.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00 2.000.298.S.40 2.447.223.00 1.10.602.183.14 H.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.00 6.

781.617.98 .87 dan pada SNI adalah Rp 872.681.000.000.000.487.881.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.000.000.726.16 5.911.052. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.70 Pondasi Poer 285.S.000.44 1.425.58 871.000.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.00 0.211.00 1.00 6.72 3.00 1.000.150.00 2.402.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.000.000. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan. 6.350.3 di atas.936.726. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.72 Tribun 963.953.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.000.16 1. 8.00 1.131.00 4.576.1.66 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.03 544.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.758.53 2.495.480.000. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.278.00 H.000.701.70 1.000.000.300. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.301.42.600. Bahan Bekisting (Rp) 7.098.052.307.000.86 Sloof 385.88 1.00 3.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5. 575.

00 .000.00 272.00 272.00 272.000.000.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.00 816.000.00 220. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.00 816.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.2.000. Upah Adukan Beton (Rp) 1.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.00 600.900.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.950. Harga rata-rata harga satuan 73.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.000. 6.000.000.000. H.000.200.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.00 200.00 1.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 220.000.00 146.000.088.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.000.S.00 800.00 544.00 272.000. Sebanyak 50 % . Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.00 1.00 272.000.425.000.00 272.00 400.425.4 di atas.00 0.475. 6.00 293.

00 234.000.000.400.00 500.00 H.00 234.569. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.00 1.00 2.500.749.000. Dimana harga rata-rata satuan 61.375.2.750. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian. Upah Pembesian (Rp) 2.000.00 119.768.00.S.600.927.700. 6.60 89.82 89.925.00 1.00 1.927. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.00 104.762.000.84 354.00.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.125.48 .284.500. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 394.125.000.00 642.889.500.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.000.5 dibuat suatu grafik perbandingan.000.30 179.00 dan pada SNI adalah Rp 272.035.00 1.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.733. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 1. 3.200.5 di atas.000.700.00 2.00 0.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.000. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.

Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.81.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256.2. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.175.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.180. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.00.94 upah pada BOW sebesar Rp 1. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.665. . sedangkan SNI adalah Rp 116.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.670.

terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.188.000.925.970.35 457.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 198.00 1.200. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.51 dan pada SNI adalah Rp 108.800.458.00.000.S.371. Upah Bekisting (Rp) 1.00 134.00 600.000.000.200. 113.25 .242.00 2.75 354.828.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.600.00.000.920.00 200.20 155.814. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.000.00 Pondasi Poer 57.371.825.291.128.000.00 800.00 1.00 400.00 Sloof 79. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.00 H.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.000.000.000.400.000.000. Pada tenaga kerja pekerja.000.265. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.00 615.885.95 1.170.00 1.00 1.00 1.000.000.599. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 0.000.00 1.00 326.00 914.6 di atas.00 1.

450.523.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.523. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 6.212.714.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.86 18.00 12.648.33 .003. Dari Tabel 5.000.14 5.904. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.318.000.956.618.637.7 di atas.71 Tribun 3.000.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.055.730.000. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.115.19 8.96 6. 6.00 2.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.714.000.000.640.257.63 9.000.275.333.272.019. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.00 6.32.152.70 3.00 10. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.000.00 8.278.000.000.14 4.130.000.989.692.99 15. Dari Tabel 5.00 16.43 14.029.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.937. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.000.78 3.61.000.809.160.000.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.00 4.472.623.00 6.91 3.369.86 6.952.000.000.000.00 0.26 dan pada SNI adalah Rp 3.56 2.956.000.

000.00 1. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.00 5.17 740.114.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.35 810.012.940.114.000.00 490.84 496.674.00.000.125.32 dan pada SNI adalah Rp 496.8 di atas.485.000.00 1.00 1.485.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.375.907. 4.000.620.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.00 2.00 4.00 418.750.00 5.00 2.500.965. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 4. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.000.071.352. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.575. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.370.565.233. 6.371.000.000.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.00 0. 461.00 3.000.095. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.742.119.125.50 471.000.97 perbandingan.004.00 607.653.000.00. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.00 1.73 .00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.

9 di atas.000.00 11.020.000.756.78 Sloof 3. Selisih dan rasio harga satuan bahan.43 9. upah dan pekerjaan beton bertulang.000.000.070.742. Pembesian Dan Bekisting.86 20.00 2.559. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.255.000.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.32. 2. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.804.458.000.000.000.54 4.690.00 14.16 7.830.677. Pembesian Dan Bekisting. 3.000.000.380.00 6.14 11.00 8.000.000.00 10. Tabel 6.859.885. Tabel 6.93.000.26 dan pada SNI adalah Rp 4.220.000.63 10.653.625.000.696.761.609. 3.00 16.91 4.866. sedangkan pada BOW adalah Rp 9. Tabel 6.839.984.06 .118.839.586.000.00 12. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.36 5.00 0.54 17.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6. 6.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting.71 Tribun 3.000.703.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.123.98 14.070.120.279.000.56 Pondasi Poer 2. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.126. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.594.390.00 4.727.00 18.000.000.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.890.

Tabel 6. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting.99 4. Tabel 6.5 Total Selisih Harga Satuan.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. .6 Total Rasio Harga Satuan. 5. 6.

100 .

101 .

102 .

75 % dibandingkan SNI.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.7 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.103 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Bahan Adukan Beton 48.00% 0.S.94% 60.00% 50.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.94 % dibandingkan SNI dan 19.7.00% 10.00% 19.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 30. 70.00% 58.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5. 6.89% 20.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. .7.10 di atas.00% (%) 40.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00% Selisih H.

00% 50.S.69% 44.00% 10.21% 67.00% Selisih H.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.11 di atas.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 30.42% (%) 30.00% 20.42 % dibandingkan SNI.S.7.49 % dibandingkan SNI dan 36.00% 20.03% 55.00% 50.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .00% 30.00% 10. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.104 60.00% 40.00% 60.00% (%) 40. 80.00% Selisih H. 6.00% 0.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.00% 70.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 0. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Bahan Bekisting 41.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5. Bahan Pembesian 36.

00% 20.13 di atas. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.00% 70.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 80. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.54% 72.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.S.00% (%) 40.00% 60. 6. . 6.77% 61. Upah Adukan Beton 29. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.8.47 % dibandingkan SNI dan 44.00% 50.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.69 % dibandingkan SNI.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.00% Selisih H.8.105 Dari Gambar 6.77 % dibandingkan Lapangan.99 % dibandingkan Lapangan dan 61.00% 10.00% 0.00% 30.12 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.

46% Selisih H.00% 10.00% 40.01% 84. 6.00% 20.66% 54.106 100.S.8.00% 90.00% 20.00% 80.00% (%) 50.00% 90.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting . Upah Bekisting 90.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.01 % dibandingkan SNI dan 84.00% 60.00% 93.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00% 0.00% Selisih H.58% 53.14 di atas.00% 80.89% 80.00% 0.S. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting. 100.00% 30.00% 10.00% 40.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.46 % dibandingkan SNI.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 70. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.00% 30.00% (%) 50. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 70.00% 60.

terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53. Bahan Beton 30.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80. 6.31 % dibandingkan SNI dan 30.00% 60.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% Selisih H.00% 50. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.16 di atas.89 % dibandingkan SNI dan 53.00% 20.107 Dari Gambar 6.15 di atas.89 % dibandingkan SNI.00% 0.00% 39. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.S.00% 30.00% 10.58 % dibandingkan SNI.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39. .16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.89% (%) 40.64% 58. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 70. 6.

00% 0.00% 60.00% 86.05% 57.00% 80. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.S.00% 90.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.54 % dibandingkan SNI. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 50.82% 50.00% (%) 40.05% 57.17 di atas.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang . 70.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00% 60.06% 71.00% (%) 50.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.00% 20.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.00% 30.00% 70.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00% 10.108 100.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.00% 40.00% 30.00% 10.54% Selisih H.00% 20.00% 0.06 % dibandingkan SNI dan 71.

terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.00 Rasio H.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6. 3.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.S.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.24 dan 1.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.12. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. .44 1.05 % dibandingkan SNI.00 Ratio 1.12.50 % dibandingkan SNI dan 1.00 2.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.00 0.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 1.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.25 2.19 di atas. 6.50 2.95. Bahan Adukan Beton 1.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 6.109 Dari Gambar 6.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.18 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 0.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.

50 0. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.25 dan 1.79 3.44 1.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.20 di atas.50 0.00 0.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .S.50 Ratio 2.56 2.44. 6.72 1.50 1.00 2.50 2.110 2.50 1.00 1.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Bahan Bekisting 1.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 Rasio H.00 0.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00 Rasio H.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.S. Bahan Pembesian 1.12.50 3.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 3.

50 0.Upah Adukan Beton 1.111 Dari Gambar 6.00 Rasio H.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.07 dan 1.00 3. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.50 Ratio 2.60 dan 3.00 2.00 1. .13.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.42.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0.50 3.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.50 1.13. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.22 di atas.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.21 di atas.60 3.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5. 6. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 4. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.42 2.S. 6.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.72.

00 Ratio 6.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.S.32 dan 6.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 6.00 14.13.00 Rasio H.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.00 2.15 10.00 8.00 12.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 12.00 4. 6.00 Ratio 8.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 0.20.00 4.00 2.00 0.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.112 16.S.00 10.32 6.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .23 di atas.13 2.20 Rasio H. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.Upah Bekisting 5.52 2.00 14.00 10.

.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.44 2.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.50 0.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.S.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.66 1.50 2.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 Rasio H.40 dan 1. 3.25 di atas.00 2.66. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10. 6.98 dan 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 0. 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.24 di atas.50 1.15.00 Ratio 1.Bahan Beton 1.113 Dari Gambar 6.

55 2.02 Rasio H.00 0. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.00 1.00 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 7.00 5.50 0.33 2.18 3.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.18 dan 3.50 2.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 0.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 Ratio 4.26 di atas.114 8.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 6.50 1.00 6.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang . 2.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.00 1.00 3.00 7.02.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.01 1.

6.00 2.50 0.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.50 3.50 1. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.33.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 4.27 di atas.00 3.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.28 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.17.75 dan 3.13 2.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.75 3.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.36 1. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.94 2.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian. 6.00 1.75 2. Indeks bahan kawat beton pada .50 Ratio 2.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.36.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.35 dan 1.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.115 Dari Gambar 6.00 0.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Dengan demikian baik dari segi biaya. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Lain halnya dengan analisa SNI. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. . Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.79).52) dan Lapangan > SNI (2. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55. b.42).32). c. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58.08 % dibandingkan dengan 120 . BOW > Lapangan (3.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. BOW > Lapangan (6.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. d. BOW > Lapangan (1.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67. e. Lapangan > SNI (2. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.95).60).25) dan BOW > SNI (1.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.44).20). Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.72). Lapangan > SNI (3.07) dan BOW > SNI (1. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.56). f.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.25) dan Lapangan > SNI (1.44).70) dan SNI > Lapangan (1.

33).66). Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.02).13) dan Lapangan > SNI (5. g.35) dan BOW > SNI (2. BOW > Lapangan (2. .18). h.44).40) dan BOW > SNI (1.36). Rasio perbandingan indeks a. SNI dan Lapangan.15). 3. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. i.75) dan SNI > BOW (1. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Lapangan > BOW (3.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. 2.75).64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.01).55) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (3. b.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Lapangan > SNI (2. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.98). Lapangan > SNI (2.

hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian.19) dan Lapangan > SNI (2.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton.43).43). Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. indeks kepala tukang BOW > SNI (21. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2. dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan. Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja. BOW > Lapangan (2. indeks tukang besi BOW > SNI (6.62).46) dan Lapangan > SNI (2.62).122 b.46) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (8. .43). 7.62). pembesian dan bekisting. BOW > Lapangan (2.62).

1984. 1971 N. Sugeng Djojowirono. CV. 2003. 1992. Dani Kurniawan. Joko Waluyo. Penerbit Nova. 2006. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). cetakan kesembilan. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. W. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). Cet. 1993. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Manajemen Konstruksi. Jakarta. 2005. Yogyakarta. 1995. Mukomoko. Departemen Pekerjaan Umum . 2001. 1991. Niron John.DAFTAR PUSTAKA Ir. 2004. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Iman Soeharto. 1984. SNI Edisi Revisi. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan.A. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Soedradjat Sastraatmadja. Jakarta. Rencana dan Estimate Real of Cost. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Jakarta.I. Bachtiar Ibrahim. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. Penerbit Bumi Aksara. A. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Asona. – 2. 9. 1985. Bandung. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Jakarta. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. J. PT. Penerbit Erlangga. 2002. Bumi Aksara. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. 2006.

719.337.10 59.28 17.000.052. Wajo.00 45.00 10.60 10.00 43.00 43.00 10.00 43.000.500.892.00 7.500.500.000. III (Papan) Kayu Kls.00 .115.500.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.000.605.00 105. Juli 2007) 35.40 934.226.00 50.39 239.000.785.000.547. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.80 1.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.70 1.