TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Istriku beserta keluarga besarnya. Ibu. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Bapak. terima kasih atas doa dan kerjasamanya. Adikku Erna. Haris. terima kasih atas doa dan dukungannya. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. iii .

Bapak Faisol AM. Ir. Bapak Zaenal Arifin. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. 3.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. bapak. Alhamdulillah. H. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. H. Ir. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. iv . 4. ST. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Ibu.WB. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Bapak Tadjuddin BM Aris. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. 5. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. 2. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW.

6. v . 7. Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta.

01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi. RKS. vi .02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.44 dan 58.727.33.26 sedangkan metode SNI Rp 4.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7.18 dan 71. SNI dan Lapangan. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. tenaga kerja. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.859.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian.40. pelayanan maupun waktu.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.32 dan untuk Lapangan Rp 9. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. RAB penawaran kontraktor. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW.696.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.804.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.594. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.35 dan 1. SNI dan Lapangan/Kontraktor.120.

...............................................................2 1..................vii DAFTAR GAMBAR...................3 Tujuan Penelitian......3 Manfaat Penelitian............................................................................3 Rencana Anggaran Biaya….............3..................................17 Biaya Tidak Langsung………....1........................................................iv ABSTRAKSI.........................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.............................5 Latar Belakang................1 Rumusan Masalah........3.1 1..........1 Estimasi Biaya..........................12 Kualitas Perkiraan Biaya……........................iii KATA PENGANTAR................2 Biaya Langsung....................................................................................15 3...3.1 2.................1...........9 BAB III LANDASAN TEORI 3...........1 3....................................19 3.................................................xiii BAB I PENDAHULUAN 1............................................4 1....................xi DAFTAR TABEL...18 3.................1..............................23 Harga Satuan Pekerjaan....................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya.......................................................3 1.............................11 3....1 3.........................................2 Jenis Anggaran Proyek....................3 3..........................................................2..........................................2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan...................14 Biaya Konstruksi Proyek…....24 Analisa Harga Satuan....................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................2 3............3 Volume/Kubikasi Pekerjaan..13 Metode Perkiraan Biaya.........................27 vii ....................................................................................................i HALAMAN PENGESAHAN.......................................ii HALAMAN PERSEMBAHAN..........................................................................................................................2 3........................................................................vi DAFTAR ISI............................2..........................................1 3.....4 Batasan Masalah.

.................................37 3......4.2 4...............36 3.27 Analisa Harga Satuan Upah...........2....................6 Subjek Penelitian…….39 Pekerjaan Pembesian............3.......................................................... Harga Satuan..........2 3..3.............39 3........................2 Bahan – Bahan..........................48 Analisa Metode Lapangan.....44 Analisa Metode SNI.....41 Objek Penelitian…......5 4.........2 5....40 BAB IV METODE PENELITIAN 4..........................................64 5......69 viii .............................................. Pekerjaan Beton Bertulang......3..........2 3...37 Pekerjaan Beton Bertulang...6 Rencana Pekerjaan……...28 Metode Perhitungan..27 Analisa Harga Satuan Alat.................................4..........42 Tahapan Penelitian…….....4...........32 3..42 BAB V ANALISA DATA 5.3 5.........4 Beton Bertulang…...............................3.......1 3..............44 Analisa Metode BOW..............................3 3......40 Pekerjaan Bekisting.......................7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen.............3.............4.....4 5..........................41 Data yang Diperlukan……...............................................4.......3 4.2 3......................................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI..........2...........3................3 Pekerjaan Adukan Beton........................34 Analisa Harga Satuan Metode.................3.....................................................................1 4...3..5 5....1 3..60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio........................................1 5.........................................................................................................2....................4 4...41 Cara Pengumpulan Data…….................52 Komparasi Harga Satuan....4..41 Pengolahan Data……............................3...............................1 3............3 Analisa Harga Satuan Metode BOW...................... Lapangan.................1 3................4.4 Analisa Harga Satuan Material.....4..3........3......

..............2 6....................1.......12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton..........................108 Rasio Harga Satuan Bahan..................105 Selisih Upah Pembesian.6 6.........75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.........................7.................................1..............................7 Harga Satuan Bahan Beton...................................105 6..............103 6....................103 6..........1 Selisih Bahan Adukan Beton.1 5.......105 Selisih Upah Bekisting.2 6.5 6...............89 Bahan Bekisting.......................................69 Indeks SNI.....72 Indeks Lapangan.....……..........92 Upah Pembesian...........7........................10 6............91 Harga Satuan Upah......7.......96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...............1...107 Selisih Harga Satuan Upah Beton...........96 Harga Satuan Upah Beton.............1 6.9 6.......................1 6..........................88 6...............3 Upah Adukan Beton.......................12.................7.............3 5.........3 6.........7...........7..93 Upah Bekisting................3 6....................3 Selisih Upah Adukan Beton..109 ix .....................2 Selisih Bahan Pembesian.....11 6.2 5...........8.........88 Bahan Pembesian.................................................................................8.......2..................109 6.........................8..........4 5.......86 PEMBAHASAN 6..........92 6...................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………...........................................7..............................2 Bahan Adukan Beton...........................1 Harga Satuan Bahan........107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........8 Selisih Bahan Bekisting.........1 6.....2.....3 6..........................5..................................................…........106 6.....................81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks.......2 6...............104 Selisih Harga Satuan Upah..2.....4 6.....................................8 BAB VI Indeks BOW..........................98 Selisih Harga Satuan Bahan....94 6..........................................103 6............1 Rasio Bahan Adukan Beton........

.....................................LAMPIRAN Kesimpulan…….....1 Rasio Upah Adukan Beton.................17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.....................2 Indeks Tenaga Kerja...............16 6............109 6...........................116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.....111 6......118 Saran...13 Rasio Harga Satuan Upah........112 6....................2 Rasio Bahan Pembesian……...........................13..12....110 6.................................6...3 Rasio Bahan Bekisting……………………................13......2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ....14 6..................…..................................114 Indeks.1 Indeks Bahan...15 6.....115 6.......17..................13................................................113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......................................115 6................120 x ...................111 6...113 Rasio Harga Satuan Upah Beton..............1 7........2 Rasio Upah Pembesian.....3 Rasio Upah Bekisting.............12...........17.................................................111 6...............................................

...............................11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian..98 Gambar 6.........................1 Gambar 3....... Gambar 3......................................106 Gambar 6..95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton...13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton..43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton....13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar......4....8 Gambar 6.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.6 Gambar 6..............88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian........................97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........21 Skema Harga Satuan Pekerjaan...7 Gambar 6.......10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..................17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton.................109 Gambar 6......................90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting........105 Gambar 6....................................................91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.......................................15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton............DAFTAR GAMBAR Gambar 3..96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.............................................26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan.................14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.....93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting..110 Gambar 6.......111 xi ..........92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.........12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting..................18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.......108 Gambar 6.................................................108 Gambar 6..................3 Gambar 6..2 Gambar 6.........22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.............20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci.....104 Gambar 6.........................9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD).......106 Gambar 6...........104 Gambar 6....3........ Gambar 3.....1 Gambar 6.....110 Gambar 6........................................26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir.............107 Gambar 6.............2..........4 Gambar 6............19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton..........5.......1 Gambar 6....................103 Gambar 6...............5 Gambar 6...................................................... Gambar 4.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting....... Gambar 3.

......24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.........................................113 Gambar 6......115 Gambar 6.....25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton....28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian..29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian..Gambar 6.........................................116 xii .....................23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian....................112 Gambar 6........114 Gambar 6....26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton...............112 Gambar 6...114 Gambar 6.....................................................

..................................DAFTAR TABEL Tabel 3..68 Tabel 5..................6 Tabel 5..........................63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...................53 Tabel 5........... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.1..7 Tabel 5................ Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan...........15 Tabel 5.............................49 Tabel 5..................12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian........3 Analisa Harga Satuan Bahan...........16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.............66 Tabel 5.................71 Tabel 5............4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.74 xiii ...................66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.2 Analisa Harga Satuan Bahan.8 Tabel 5.....................1 Analisa Harga Satuan Bahan............................................15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton..67 Tabel 5........................63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton..................................................................................68 Tabel 5................ Pembesian Dan Bekisting............15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW....13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.............................62 Tabel 5........................5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton...67 Tabel 5.................................10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting..........16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......................................................................................................66 Tabel 5................................67 Tabel 5.68 Tabel 5....... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW..... Pembesian Dan Bekisting..........14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.......... Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record........................45 Tabel 5.................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton..........................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton................................................................61 Tabel 5........

....101 Tabel 6........18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton....87 Tabel 6.......102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ........... Pembesian Dan Bekisting............17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan....6 Total Selisih Harga Satuan...................................................100 Tabel 6......1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton..........20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian............... Pembesian Dan Bekisting....................2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.......... Pembesian Dan Bekisting......................................................................................................5 Tabel 6...................................................................................Tabel 5........................................22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.........................................101 Tabel 6..3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.... Pembesian Dan Bekisting........4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton............................................78 Tabel 5....85 Tabel 5...................83 Tabel 5......................100 Tabel 6....82 Tabel 5........................21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja......................84 Tabel 5...

selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. 1 . tenaga kerja. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.BAB I PENDAHULUAN 1. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. pelayanan maupun waktu. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja.

secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. namun hanya untuk perumahan sederhana. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. Agar lebih luas cakupannya. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. konsultan. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. Pada tahun 1987 sampai 1991. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer.

. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. Pada saat ini. SNI dan penawaran kontraktor. 3. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. upah dan pekerjaan antara metoda BOW.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.3 kekalahan. Apakah ada selisih harga satuan material. SNI dan penawaran kontraktor ? 3. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. 1. SNI dan penawaran kontraktor.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. 2.

3. profit dan pajak tidak diperhitungkan. 6. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. Dapat menjadi referensi bagi penulis. 2.4 Manfaat Penelitian 1.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. . Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. Biaya tidak langsung seperti overhead. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. 7. 1. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. tahun 2007. 4.4 1. 5. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 2. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. 3. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW.

Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. 103.232. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan.90. 15.23 %.40.344.706.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.218. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16. 5 .39 %. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW.

3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. . serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan.

bahan dan biaya.7 2. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. waktu. 3.

produktivitas pekerja. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. . Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. Metode yang digunakan : Data primer a. Pekerjaan Bekisting Balok 3. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. 4.8 Karyaan. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom.23 % = 63. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek.16 % 5.26 % = 44. Interview. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati.

dengan nilai penghematan 0.10. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 2.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 99. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 1.206.184.00.348. 53.217.655.437.930. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW. 78.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.00. 11. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10. dengan nilai penghematan 0. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur. 31. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. dengan nilai penghematan 2.14 2.50.87. dengan nilai penghematan 1.214.025.21.508.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.013.207. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan .66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. 39.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.

5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. sloof. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. balok dan tribun menggunakan metode BOW. kolom. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. SNI dan Lapangan. . SNI dan Lapangan.

maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. Dengan kata lain. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. 1995). Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . material. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. dan lain-lain.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. peralatan. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan.BAB III LANDASAN TEORI 3. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi.

di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif.1. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. sesuai dengan fungsinya. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. ukuran. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. 1994). perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. 3. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. . Perencanaan Biaya Bangunan.1. Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). 1995. lokasi. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual.12 proyek seperti jenis. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal.

Satuan harga material curah .Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan . kemudian . 1995.Standar jam orang .Penawaran dari paket MR/PO . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.1.Eskalasi .Overhead . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank . 1995) 3.2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Produktivitas . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek. yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.“Quantity take-off” .Harga peralatan .1.Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.13 Tenaga kerja .

Hal ini memerlukan kecakapan. Pada metode elemental analysis cost estimating. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. 1995. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis .14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. dan bila telah diberi beban biaya. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. 3.1. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. pengalaman serta judgment dari estimator.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan .

Jenis dan intensitas kegiatan .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Listrik .Kontigensi .Pondasi .Pondasi . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.Persiapan site . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Glazed opening . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Sistem HVAC .Sistem HVAC . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.1.Sistem pemipaan .Lantai .Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Substruktur .Dinding interior .Eksterior .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek. Tabel 3.Fixed equipment .Interior .Pekerjaan lahan (site) .Kolom interior .Listrik .Pintu .Super struktur . Means Engineering News Record .Atap .Dinding eksterior .Sistem conveying .Sistem conveying .15 gedung.Pemipaan . 1995) 3.

Bila hal ini terjadi. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. lengkapkah peralatan. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . 1995). atau yang langka tersedia di pasaran. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. (Iman Soeharto. dan lain-lain. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. Ini dapat berupa crane. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. truk. scraper. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. Terutama untuk daerah rawa. Bertolak dari kenyataan tersebut. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. pengeruk tanah (back-hoe). berlumpur atau berdebu. grader. terutama bagi long delivery items. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. jenis keterampilan. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. Sama halnya dengan sumber daya manusia. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. kompresor udara. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan.

Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. 1995). alat-alat tangan untuk membuat cetakan. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. jadi sudah termasuk biaya angkutan. pengepakkan. alat-alat tangan (tools). Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. mesin-mesin. mulai dari membuat spesifikasi. (Iman Soeharto. memotong dan . Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara.2. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. biaya menaikkan dan menurunkan. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. 3. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. penyimpanan sementara di gudang. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi.

supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. misalnya sewa kantor.2. pengukuran (survey). Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. pengangkutan. surat-surat ijin dan lain sebagainya. . membongkar dan biaya operasi. asuransi. alat angkut dan lain sebagainya. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. memindahkan. telepon yang dipasang di proyek. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. biaya-biaya notaris. telepon. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. pajak. 3. asuransi. bunga uang. pemasangan alat. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan.18 membengkokkan baja-baja tulangan. peralatan kantor dan alat tulismenulis. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. listrik. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. air.

cermat dan memenuhi syarat. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. Adapun menurut John W. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. . Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 3. 1992. 1993. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. Menurut Sugeng Djojowirono. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. 1984.

hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. Soedradjat Sastraatmadja. A. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar. A. Soedradjat Sastraatmadja (1984).2. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua. Secara sistematisnya.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. Analisa Anggaran Pelaksanaan.2. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. dapat dilihat pada gambar 3. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas.

serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan.3. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. 1993. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. Menurut Bachtiar Ibrahim. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. Profit. daftar harga bahan. Mukomoko.3. buku analisis. . dapat dilihat pada Gambar 3. daftar susunan rencana biaya. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. Secara sistematisnya. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. A. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. daftar upah. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Pajak Gambar 3. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya.

5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 . nok reng balok/muurplat. tinggi langit-langit.Rencana letak bangunan.Rencana halaman . maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan.). Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok.Rencana garis batas tanah dan roylen. 2) Gambar denah PU 1 : 100. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. letak tinggi jendela dan pintu. . pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai.00. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap.Rencana jalan dan pagar. .00 m dari lantai. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. misalnya : dasar pondasi. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : .Rencana saluran pembuangan air hujan. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. .

nok gording. talang air. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. usuk/kasau dan konstruksi penahan. POTONGAN II – II 9. TAMPAK SAMPING KIRI 6. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. DENAH 2. hooker.Gambar konstruksi kayu. SAMPING KANAN 5. DENAH PONDASI 7. Jakarta.Gambar konstruksi beton bertulang. . 7) Gambar pelengkap. RENCANA SANITASI = N 3. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. TAMPAK MUKA 3. cetakan keempat.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. DENAH LISTRIK =L =M 14. POTONGAN III-III 10. . TAMPAK BELAKANG 4. RENCANA PLAFOND = K 12. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan.3. . dengan jelas. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . muurplat/reng balok. 2007. Jadi volume (kubikasi) . RENCANA KAP =H =I =J 11. DENAH KUSEN 13. keilkeper. Gambar saluran pembuangan air hujan. T. Gambar saluran pembuangan air kotor.Gambar konstruksi baja.

3. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . . Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan.3. c.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. persegipanjang. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. . dan sebagainya. . bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). trapezium.Volume atap dihitung berdasarkan luas. Harga bahan didapat di pasaran. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. yaitu panjang x luas penampang yang sama. lisplank 28 m. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya.Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. e. b. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. . d. seperti segitiga.24 suatu pekerjaan. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. atap 140 m2.

5. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan.S. dan gambar 3.25 pemerintah. Bahan + H. Alat Secara sistematisnya. dapat dilihat pada gambar 3. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.S. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.4.S. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. . Upah + H. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H.

4. Manajemen Konstruksi.5. 1984) . Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3. Yogyakarta.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3.

dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. (Bachtiar Ibrahim. 2004). 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. upah tenaga kerja. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan.3. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan.3.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim.27 3. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material. 3.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. 1 m2. (Bachtiar Ibrahim.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. kecepatan .3. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. 3. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan.3.3. 1994 dalam Dani Kurniawan. 1993). serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut.

1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. Tukang batu.3. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. c. (Bachtiar Ibrahim. 1993).28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. Mandor.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). Kepala tukang. d. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. selain bertugas sebagai tukang batu. Pekerja. b.3. 2004). 3.

yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. Bagi peralatan yang bertugas sedang.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. biaya sewa gudang. = 0. maka . dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. maka . bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat.002 x B = 0. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. ongkos angkut.

saringan agregat untuk stone crusher / AMP. . grease. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. b. d. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. pelumas power steering. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). pelumas hidrolik.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. e. c. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. dan lain sebagainya. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). saringan/filter udara dan lain sebagainya. pelumas transmisi.

5) % x HP Dimana . HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5% = untuk alat yang bertugas berat b.5 s/d 17. Karena rumus sifatnya pendekatan. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a.31 3.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana. Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

10 = Rp.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) . SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.250 Oh = 0.500.475. SK SNI S-05-1989.chipping/split .000. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.pekerja .60 x @ Rp.84 x @ Rp.964.tukang batu .75 = Rp. 421. 187.5.00 10.5. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4. 43. 59.00 73.600.00 x @ Rp.780 m3 = 0.115.875.pasir beton . SK SNI S-04-1989-F.080 Oh = 0.1 5.mandor .00 x @ Rp.00 1. 239.000.547. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2. SK SNI-06-1989-F. = Rp.250. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.00 x @ Rp.892. 203. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5.00 Jumlah (2) = Rp. 934.697. 45. 30. = Rp.00 kg x @ Rp. 35.00 3.650 Oh = 0. 57.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.Semen Portland = Rp. = Rp.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.2 Tenaga : = 1. 50.750. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.520 m3 = 218.777.kepala tukang x @ Rp. = Rp.000. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.025 Oh 3 .61 .39 Jumlah (1) 5.02 = Rp.

Menghitung harga satuan bahan dengan cara .04 .61 + Rp.3. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah. 4.39 = Rp.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. 2. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. 421. 313. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan.00 3. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya.955.61 73. 3. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan.36 = Rp.475.252.000 kg x @ Rp.4. perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. 934. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara .777. 495. = Rp.semen portland = 336. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).

00 3.892.000.kepala tukang . 131.00 x @ Rp.tukang batu .423.pasir beton .00 45. b. 2) analisis dengan computer.00 x @ Rp. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.312. Jumlah (1) = Rp. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.15.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.547.00 + Rp.950.00 Jumlah (2) = Rp.koral beton = 0.350 Oh = 0. 32.00 15.975.37 .70 194.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.00 = Rp.000. 43.000. 70. 50. 59. 344.pekerja .60 = Rp.000.. 45. 58. Tenaga kerja : . = Rp.00 = Rp.34 x @ Rp.265.10 = Rp. 35. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.035 Oh = 1.60 540.000.000 Oh x @ Rp.00 1.000 Oh = 0. = Rp.750. = Rp. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku. 285.mandor = 2.225.155. 239.500. 1991.00 x @ Rp.540 m3 = 0. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .810 m 3 x @ Rp.

Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan.38 a. semen alumina. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. dan . yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. 1971 N. semen tahan sulfat. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. 3. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. 1985. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). 3. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. Beton adalah campuran antara PC (semen). panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. b. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. – 2. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan.5 Beton Bertulang J.I. A. Bila perlu. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. c.5.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. lanjutan atau tambahan. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. tanggung jawab atas penyimpangan.

asam. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. d. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. c. garam-garam. seperti terik matahari dan hujan. b. alkali. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0.063 mm. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. e.39 lain-lain. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). dapat juga dipakai semen tras kapur. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. Untuk beton mutu Bo. maka agregat halus harus dicuci. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. 3 atau 4 batang yang . Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. seperti zat-zat yang reaktif alkali.

Kekuatan beton. Campuran beton terdiri dari semen. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. Dalam perencanaan campuran beton.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. merawat pengerasan. . maka tempat penyimpanan. misalnya mesin pengaduk. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). air.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3).40 sejajar. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. maka campuran bersifat kental. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm.5. dan lain-lain. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. alat timbang bahan. mengangkut. 3. kran dengan alat penyodok (bucket). memadatkan pengecoran. Bila slump campuran kurang dari 5 cm. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. berarti campuran basah. mengaduk adukan. Satuan beton yang dipakai adalah m3. Jika digunakan concrete mixer. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio).2. kereta dorong. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material.5.

sloof. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.10 – 0. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. Sebanyak 50 % . 3.41 3. Menurut Dipohusodo. Menurut peraturan beton Indonesia (1997). yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. pelat lantai dan tangga. . balok. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas.50 m3 untuk setiap 10 m2.2.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. minyak pelapis. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut. yaitu . kawat pengikat. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. 1996.75 liter untuk bidang seluas 10 m2.5. kolom.5. digunakan tabel berat besi material. pondasi.2.

Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 4.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 6. 5. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). 7.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. 3.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). 9.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 4. 42 . 2. 4. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. 8. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 4.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. Berita acara penjelasan pekerjaan. SNI dan Lapangan. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW.

d. Menghitung harga satuan bahan. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. . f. b. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. upah dan pekerjaan. 4. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. e. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. dan g.43 4.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. c. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa.

S.H.Analisa Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Upah .Harga Satuan Pekerjaan .1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .A.S.Gambar proyek .A.S.Analisa Harga Satuan Upah . Bahan .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .Analisa Harga Satuan Bahan .Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.A. Upah .H.Harga Satuan Pekerjaan . Peralatan .Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Peralatan .Analisa Harga Satuan Peralatan .H.44 Mulai Data Proyek : .Analisa Harga Satuan Peralatan .Analsis Harga Satuan Bahan .

45 .

Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. balok dan tribun.BAB V ANALISA DATA 5.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5.1 Analisa Harga Satuan Bahan. sloof. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. kolom. 5. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan. 45 .

. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.2 Analisa Harga Satuan Bahan.48 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.

.3 Analisa Harga Satuan Bahan. Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.52 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.

4.1.2 dan Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. . Pembesian Dan Bekisting.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5. 2.3. 3.60 5. Tabel 5. Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. Tabel 5.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. Tabel 5.

upah dan pekerjaan BOW.223. 1. Material = H.20 .629.S.223.S.629. bahan terendah Selisih H.S. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.602. 1.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan.197.602.S. 3.223.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp. bahan tertinggi – H. 1. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.20 = 54.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % .58 = 2.58 = Rp.197.197.64 5.20 Rasio perbandingan = Rp.629. 3.197. 3. Dari Tabel 5.Rp. bahan tertinggi Rp.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.602.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H. 3.602.

. 9.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. Tabel 5. Tabel 5.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. 4. 2.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton. 6.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. 8. 7. 5. Tabel 5. Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. Tabel 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. Tabel 5. 3.

G.besi beton .kayu terentang (papan) .dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.kepala tukang besi = 6. G.semen portland . G.250 Oh = 6.41) : . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.kawat beton 3).tukang besi .000 Oh = 1.000 kg = 2.7.820 m3 4).750 Oh = 2.00 kg = 110. Bahan Pembesian (An.540 m3 = 0.1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).41) : .41) : . G.000 Oh = 0.koral beton 2). Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.300 Oh .400 m3 = 4.paku biasa = 0.mandor 5).7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.750 Oh = 6. 5.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.kepala tukang batu . Upah Pembesian (An.pekerja .000 kg = 0. G.tukang batu .100 Oh = 0.41) : .pekerja .69 5. Bahan Bekisting (An.pasir beton .41) : .

500 Oh = 0.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.70 .mandor = - = 6. Upah Bekisting (An.pekerja .41) : .kepala tukang kayu . G.mandor 6). . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.000 Oh = 5.tukang kayu .000 Oh = 0.

koral beton 2).7.kep. 6.026 Oh . Bahan Pembesian ( An. Bahan Bekisting ( An.besi beton .000 Oh = 1.tukang kayu .38. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.2 ) dan ( An.kayu terentang (papan) .105 Oh = 0.pekerja . 6. 6.kep.kepala tukang batu .38.tukang besi .pasir beton .2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1). 6.pekerja .2 ) untuk tukang besi : . 6.250 kg = 388.000 kg = 2.minyak bekisting = 0.35. Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.300 Oh = 1.mandor = 0. Upah Bekisting ( An.25.000 kg = 0.38.007 Oh x 150 = 1. 6.500 kg = 0.38.2 ) dan ( An.400 ltr = 150.28.2 ) untuk tukang kayu : .045 Oh 6).semen portland .650 m3 4).0007 Oh x 150 .300 Oh 5).000 Oh = 0.pekerja .050 Oh = 1.650 m3 = 0. 6.040 Oh = 0.paku biasa . 6.kawat beton 3).050 Oh = 0. tukang = 0.tukang batu .1 ) : .1 ) : .100 Oh = 0.1 ) : .35.200 m3 = 1.72 5. tukang = 0.0003 Oh x 150 = 0. Upah Pembesian ( An.1 ) : .mandor = 6.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.mandor = 0. .16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.73 .

077 Oh = 0.780 m3 .mandor = 0.093 Oh = 0.tukang besi = 0.59 . tukang = 0.minyak bekis = 0.tukang kayu = 0.63 = 0.kayu (papan) = 0.144 m3 = 1.pasir beton .359 ltr .018 Oh = 0.59 4).63 = 1.paku biasa = 0.300 kg x 3.025 Oh = 0.59 .63 = 111. Upah Bekisting : .520 m3 = 0.3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106. Upah Adukan Beton : .650 Oh = 0.63 = 0.koral beton 2). Bahan Adukan Beton : .63 = 0.746 Oh .59 .300 Oh x 3.mandor 6).040 m3 x 3.026 Oh x 3.746 Oh = 1.kawat beton = 0.015 kg x 106.0003 Oh x 106.260 Oh x 3.59 = 1.007 Oh x 106.05 kg x 106.semen portland .59 .kep.mandor 5).933 Oh = 0.005 Oh x 3.077 kg = 0.besi beton = 1.250 Oh = 0. Bahan Pembesian : . Bahan Bekisting : .080 Oh = 0.7.007 Oh x 106.599 kg 3). tukang = 0.000 kg = 0.75 5.59 .kepala tukang batu .0007 Oh x 106.tukang batu .63 kg/m3 + 3. Upah Pembesian : .kep.pekerja .075 Oh .962 kg = 232.pekerja = 0.032 Oh .100 ltr x 3.pekerja = 0.63 = 0.59 m2 Bekisting) 1).

Bahan Pembesian : . Upah Bekisting : .pekerja .64 = 1.64 = 0.semen portland .64 = 0.179 m3 = 1.040 m3 x 4.0003 Oh x 129.250 Oh = 0.007 Oh x 129.48 .025 Oh = 0.0007 Oh x 129.pekerja = 0. tukang = 0.kepala tukang batu .kep.780 m3 .026 Oh x 4.344 kg = 0. Bahan Adukan Beton : .48 m2 Bekisting) 1).300 Oh x 4.kawat beton = 0.64 = 0.005 Oh x 4.pasir beton .05 kg x 129.48 .tukang besi = 0.besi beton = 1.448 ltr .mandor 5).koral beton 2).48 4).650 Oh = 0.minyak bekis = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.015 kg x 129.007 Oh x 129.300 kg x 4. Upah Adukan Beton : .945 kg 3).48 .kayu (papan) = 0.64 = 136.091 Oh .039 Oh .260 Oh x 4.022 Oh = 0.kep.64 = 0. Bahan Bekisting : .100 ltr x 4.122 kg = 232.mandor = 0.344 Oh = 1.tukang batu .48 = 1.907 Oh .tukang kayu = 0.080 Oh = 0.48 .64 kg/m3 + 4.000 kg = 0.48 .520 m3 = 0.mandor 6).paku biasa = 0.pekerja = 0.166 Oh = 0. Upah Pembesian : .907 Oh = 1. tukang = 0.165 Oh = 0.

250 Oh = 0.tukang besi = 0.136 kg = 232.semen portland .025 Oh = 0.015 kg x 156.007 Oh x 156.14 4).32 = 0.300 kg x 7.000 kg = 0.32 = 164.14 m2 Bekisting) 1).kawat beton = 0.142 kg = 0.714 ltr .tukang kayu = 0.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. Upah Pembesian : .142 Oh = 1. Upah Bekisting : .mandor 6).026 Oh x 7.14 .14 .260 Oh x 7.32 kg/m3 + 7.05 kg x 156.856 Oh = 0. Bahan Bekisting : .345 kg 3).520 m3 = 0.32 = 2.pekerja = 0.286 m3 = 2.mandor = 0. tukang = 0.109 Oh .094 Oh = 1.650 Oh = 0.pekerja = 0.besi beton = 1.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.kep.300 Oh x 7.080 Oh = 0. Bahan Adukan Beton : .32 = 1.047 Oh .pekerja . Bahan Pembesian : .780 m3 .0007 Oh x 156.paku biasa = 0.100 ltr x 7.32 = 1.007 Oh x 156.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.koral beton 2).pasir beton .14 = 2.14 .32 = 0.036 Oh = 0. tukang = 0.040 m3 x 7.0003 Oh x 156. Upah Adukan Beton : .tukang batu .kepala tukang batu .kayu (papan) = 0.kep.14 . .094 Oh .005 Oh x 7.minyak bekis = 0.186 Oh = 0.mandor 5).

Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting. Tabel 5. 2. Tabel 5.16 dan Tabel 5. Tabel 5.17. 3.7. .19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5. Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.81 5. 4.15. Tabel 5.

Dari Tabel 5.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.00 = 150. .00.00 = 1.00 dan SNI = 150.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.00 .36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.00 Rasio perbandingan = 110.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.110. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.86 5. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.00 = 26.

442.35 1.336.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.82 557.00 2.00 557.178.500.628.575. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.858.821.000.304.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 1.628. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.76 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.464.575. 1.1.000.285.285.21 594.19 869.80.S.000. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.171.BAB VI PEMBAHASAN 6.286. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.00 0.085.130.178.285.00 500.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.1.434.38 594.78 H.61 .000.500. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.411.717.42 1.304.632.00 1.78 2.643.1 di atas.739. 6.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.82 1.14.38 dan pada SNI adalah Rp 579.59 594.464.76 1.000.35 542.

Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. 6. balok dan plat (tribun).2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.1. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1. poer P2 dan poer P3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. .

183.000.000.00 4.60 8.000.176.472.172.464.000. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.522. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.000.880.298.000.447.121.000.000.172.000.298.23 1.200.10 3.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 0.601.258. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.904.20 3.000.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.20 7.000. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.00 6.74 .197.000.297.000. Bahan Pembesian (Rp) 3.191.298.00 1. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.10. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.00 3.472.401.929.00 2.732.223.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.00 6. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.629.00 2.90 7. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.197.14 H.15 4.00 5.000.23 4.602.802.757.629.172.558.000. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.2 di atas.602.58 1.223.S.24 dan pada SNI adalah Rp 2.314.95 4. pada pekerjaan sloof.40 2.80 2.000.58 1.

000.425.88 1.726. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.53 2.000.000.72 3. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.00 H.911.600.617.86 Sloof 385.487.000. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.70 1.150.000.03 544.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.480.000.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.42.211.681.000.300.701.052.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.781.000.16 1. 6.1.000.87 dan pada SNI adalah Rp 872.00 4.936.278.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.000. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.402.00 1.58 871.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.000.66 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 0.S. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.72 Tribun 963.495. Bahan Bekisting (Rp) 7.000.000.953.70 Pondasi Poer 285.00 3.3 di atas. 575.98 . 8.307.00 1.098.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.052.00 2.16 5.131.881.000.00 1.44 1.576.000.726.00 6.350.758.000.301.

92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.00 220.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja. Sebanyak 50 % .00 272.00 800.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.00 293.000.000.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00 272.00 0.00 544.00 272.000.00 1. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.00 146.425.000.950.475.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. Upah Adukan Beton (Rp) 1.900.00 200.00 .425.200.000.000.000. 6.00 816.000.000.4 di atas.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.000.00 220.000. Harga rata-rata harga satuan 73.00 400. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.00 272. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.2.000. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.000. 6.00 816.00 272. H.088.00 1. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.S.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 600.000.00 272.

Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.284.00.000.000. 3.125.600.762.768.00 dan pada SNI adalah Rp 272.200.733.500.000.500.569.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.S.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.60 89.00 1.00 394.84 354.750.889.00 234. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.927.5 dibuat suatu grafik perbandingan.000.000. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.00 1.700.500.00 0.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.00 2. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.5 di atas.00.035.48 .125. Upah Pembesian (Rp) 2.2.375.000.00 500.925.000.000.00 2. 6.82 89.00 1.30 179.00 642.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 119.749.700.00 234. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000. Dimana harga rata-rata satuan 61.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.000.00 104. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00 H.927.400.00 1.

180. sedangkan SNI adalah Rp 116. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.670. 6. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.00. . Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.81.2.175. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.665.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256.

970.200.000.814. Pada tenaga kerja pekerja.000.35 457.600.371.400.920.00 615.00 600.200.599.00 326.000.00 1.00 1.95 1.6 di atas.00 0.00.000.000.25 .00 134.000.800.00 2.00 1.000.S. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.000.00 1.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.00 200.00 198.00 1.828.371.000.000.00. 113.00 1.128.000.000.51 dan pada SNI adalah Rp 108. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000.00 Sloof 79.170.00 400.000.00 800.75 354.000. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.00 H. Upah Bekisting (Rp) 1. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.242.000.291.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00 914.00 Pondasi Poer 57. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.458.000.825.885.00 1.925.265.20 155.188.

956.99 15.000.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.257.000. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.523.96 6.000.000.63 9.14 5.71 Tribun 3.369.00 10.275.450.318.115.937. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.000.640.26 dan pada SNI adalah Rp 3.56 2.272.904.61.019. 6. Dari Tabel 5. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.000.956.14 4.7 di atas.000. Dari Tabel 5.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.714.003.00 2.32.000.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.000.989.692.000.130.000.000. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.212.623.055.00 16.160. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.86 6.00 6.333. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.000.523.730.000.472.00 6.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.029. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.618.86 18.000.000.000.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.714.648.43 14.000.00 0.278.952.91 3.637.19 8.00 6.152.00 4.78 3.00 8.70 3.00 12.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.809.33 .

8 di atas.071.620.00 1.000.674.575.114.00 5.012.750.565.375. 461.370.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.000. 4.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.000.000. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.965.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.114.125.233.000.00 3. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.00 4.17 740.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.84 496.35 810.000.653.00 1.125.352.500.00 2.000.32 dan pada SNI adalah Rp 496.004. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.00 418.000.095. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.119.00 1.00.000.485.73 .00 1.00 5.000.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.940.00.00 2.371.00 607. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 490.485. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.00 0. 6.000.97 perbandingan.00 4.50 471.907.742.

000. Tabel 6.56 Pondasi Poer 2.000.625.677.761.00 4. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.890.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.458.000.126.91 4.63 10. Pembesian Dan Bekisting. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.9 di atas.00 16.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.118.255. upah dan pekerjaan beton bertulang. Pembesian Dan Bekisting. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.000.43 9. Tabel 6. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.26 dan pada SNI adalah Rp 4.000. Pembesian Dan Bekisting.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.690.00 0.000. 2.00 8. Selisih dan rasio harga satuan bahan.984.380.220.742.120.71 Tribun 3.54 4.000.000.14 11.98 14.000.000.696. 6. 3.703.16 7.885.000. Tabel 6.586.866.000.390.00 2.00 10.279.78 Sloof 3.86 20.559.32.00 14.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.000. 3.00 12.123.859.000.609.830.020.000.00 18.00 11.36 5.000.804.756.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.54 17.839.070.00 6.653.000.000.594. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.000.070.727.839. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.06 .69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.000.93.

.6 Total Rasio Harga Satuan. Tabel 6. Pembesian Dan Bekisting. 6.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.99 4. Tabel 6.5 Total Selisih Harga Satuan. 5. Tabel 6.

100 .

101 .

102 .

7.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.7. 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.00% 30.10 di atas.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.75 % dibandingkan SNI.89% 20.00% Selisih H.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% 19.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.103 6. 70.S.00% 58. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. .00% 0.00% (%) 40.00% 10.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.94 % dibandingkan SNI dan 19.94% 60.00% 50.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.7 6. Bahan Adukan Beton 48.

00% 20.00% 30.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30. Bahan Bekisting 41.00% 50.00% Selisih H. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.S.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting . terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.11 di atas.49 % dibandingkan SNI dan 36. Bahan Pembesian 36.42% (%) 30.42 % dibandingkan SNI.03% 55.7.00% Selisih H.00% 0.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.104 60. 6.00% 10.00% 10.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5. 80.00% 40.21% 67.00% 70.00% 50.00% 60.00% 20.00% 0.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% (%) 40.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.69% 44.00% 30.

99 % dibandingkan Lapangan dan 61.00% Selisih H. .21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.12 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.8.13 di atas.00% 10.00% 0.54% 72.00% 20.S.77% 61.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% (%) 40. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.8. Upah Adukan Beton 29.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.00% 30.77 % dibandingkan Lapangan.69 % dibandingkan SNI. 80.47 % dibandingkan SNI dan 44.00% 70.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5.00% 50.00% 60.105 Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.

46 % dibandingkan SNI.00% 70.106 100.00% 70.00% 0.00% 30. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% (%) 50.00% 93.01% 84.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.00% 20. 6.00% Selisih H.00% 80.00% 10. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.00% 0.00% 30.00% 90.14 di atas. Upah Bekisting 90.46% Selisih H.00% (%) 50.00% 80.S.00% 40.00% 90.00% 10. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 20.66% 54.00% 60.89% 80.58% 53.00% 60.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.S.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5. 100.00% 40.01 % dibandingkan SNI dan 84.8.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.

9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.64% 58.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 39.00% 20. Bahan Beton 30.00% 0.00% 30.107 Dari Gambar 6.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39. 70.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton. 6.89% (%) 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 60.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.00% Selisih H.89 % dibandingkan SNI. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.00% 10. .12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.89 % dibandingkan SNI dan 53.31 % dibandingkan SNI dan 30.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.S.00% 50.15 di atas.16 di atas.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.58 % dibandingkan SNI.

00% (%) 50.00% 86.S.00% 60.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 90.00% 40. 6.108 100.05% 57.00% (%) 40. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.82% 50.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .54 % dibandingkan SNI.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.54% Selisih H. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.17 di atas.00% 20. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. 70.00% 70.00% 50.06% 71.00% 0.00% 80.00% 60.00% 10.00% 20.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 10.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.05% 57.00% 30.00% 30.00% 0.

05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.50 2.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.24 dan 1.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.109 Dari Gambar 6.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.18 di atas.19 di atas. Bahan Adukan Beton 1. 6.S.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.12. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 1.00 2.50 % dibandingkan SNI dan 1.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.95.50 0.00 Rasio H. .00 Ratio 1. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.12.05 % dibandingkan SNI.25 2.00 0.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6. 3.44 1.

50 0.00 Rasio H.79 3.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 1.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6. 6.50 Ratio 2.12.00 Rasio H.00 2.44.S.00 0.50 2.110 2.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. Bahan Pembesian 1.00 1.72 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.20 di atas.00 1. 3.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.50 3.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .44 1.56 2.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Bahan Bekisting 1.00 0.S.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.50 1. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.25 dan 1.50 0.

50 3.13.72.13 Rasio Harga Satuan Upah 6.42.00 2. 6.42 2.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.00 3.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.07 dan 1. 4.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 1.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.60 dan 3.50 Ratio 2. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 0.22 di atas. . terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.21 di atas.Upah Adukan Beton 1.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.S.13.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.60 3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.111 Dari Gambar 6.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 1.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00 Rasio H.00 0.

23 di atas.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .20 Rasio H.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.Upah Bekisting 5.00 2.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.15 10.00 0.00 Ratio 6.13 2.00 6.00 4.00 Ratio 8.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.112 16.00 12. 6.52 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.S.00 10.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.00 10. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 4.32 dan 6.13.S.00 14.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.20.32 6.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 2.00 0.00 8.00 Rasio H. 12.00 14.

13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.44 2.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.Bahan Beton 1.66.00 Ratio 1.00 Rasio H.113 Dari Gambar 6.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.25 di atas.15.40 dan 1.00 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.S. 6. 3. 6.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.24 di atas.00 2.98 dan 2. .50 1.66 1.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.50 2.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.50 0.

00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.02.00 Ratio 4.26 di atas.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 0.00 1.00 2.00 5.01 1.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.55 2.02 Rasio H.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 1.18 3. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.00 0.18 dan 3.00 7.50 1.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.114 8.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .00 0.33 2. 2.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6. 6.00 6.50 2.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 3.00 7.

75 2.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.17.27 di atas.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.36.00 Besi Beton Kaw at Beton 1. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 Ratio 2.00 2. 6.115 Dari Gambar 6.75 dan 3.35 dan 1.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 0.00 3.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.94 2.33.13 2.50 3.50 1.00 1.28 di atas.50 0. 4.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian. 6.36 1.75 3. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Indeks bahan kawat beton pada .

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian. . Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Lain halnya dengan analisa SNI. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Dengan demikian baik dari segi biaya.

89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. Lapangan > SNI (3.79).01 % dibandingkan dengan SNI dan 84. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. BOW > Lapangan (3.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.42).70) dan SNI > Lapangan (1. BOW > Lapangan (1.95).21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.07) dan BOW > SNI (1. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.32).72).52) dan Lapangan > SNI (2. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55. c. e. b. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67. BOW > Lapangan (6.60).08 % dibandingkan dengan 120 .94 % dibandingkan dengan SNI dan 19.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.44). Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.56).66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.44). Lapangan > SNI (2.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. d.25) dan Lapangan > SNI (1.89 % dibandingkan dengan SNI dan 53. f.25) dan BOW > SNI (1.20).

b.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.33).44).75). BOW > Lapangan (3. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.18).98). Lapangan > SNI (2.55) dan Lapangan > SNI (2.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.36).05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58.40) dan BOW > SNI (1. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. 3.15). .02). SNI dan Lapangan.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a. Lapangan > BOW (3. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. h. Lapangan > SNI (2. Rasio perbandingan indeks a. 2. BOW > Lapangan (2. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.35) dan BOW > SNI (2.01). g.13) dan Lapangan > SNI (5. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. i.75) dan SNI > BOW (1.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.66).

hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian. 7.46) dan Lapangan > SNI (2. . dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.62).43). indeks tukang besi BOW > SNI (6.46) dan Lapangan > SNI (2.62).62). Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62). Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. indeks kepala tukang BOW > SNI (21. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. BOW > Lapangan (8.43). BOW > Lapangan (2.19) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (2.122 b.43). pembesian dan bekisting.

A. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Penerbit Nova. 2006. 1985. 1995. Penerbit Bumi Aksara. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. – 2. J. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. 1971 N. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Dani Kurniawan. Joko Waluyo. Mukomoko. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. 1991. Jakarta. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. 2004. 2005. 9. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Cet.I. 1984. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan.DAFTAR PUSTAKA Ir. CV. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. 2001. Asona. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). 1992. cetakan kesembilan. 2003. Bandung. Bumi Aksara. SNI Edisi Revisi. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. PT. Departemen Pekerjaan Umum . Jakarta. Manajemen Konstruksi. Soedradjat Sastraatmadja. Iman Soeharto. Jakarta. 1984. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Yogyakarta. A. Bachtiar Ibrahim. Rencana dan Estimate Real of Cost. Sugeng Djojowirono. W. Jakarta. 2006. Niron John. Penerbit Erlangga. 2002. 1993.

60 10. III (Papan) Kayu Kls. Juli 2007) 35.547.00 105.500.000.80 1.00 50.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.39 239.500.226.10 59.00 10.00 45.337.719.000.500.000.892.40 934.00 .00 10.28 17. Wajo.00 43.605.500.00 43.052.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.00 43.000.785.70 1. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.000.115.000.00 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful