TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

Ibu. Bapak. Haris. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. iii . terima kasih atas doa dan kerjasamanya. terima kasih atas doa dan dukungannya. Adikku Erna. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Istriku beserta keluarga besarnya.HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku.

3. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis. Alhamdulillah. bapak. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Ibu. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. 2. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. 5.WB. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. 4. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Bapak Tadjuddin BM Aris. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. H. Ir. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Bapak Zaenal Arifin. Ir. H. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. ST. Bapak Faisol AM. iv .

6. 7. Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis. v . Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta.

18 dan 71. tenaga kerja.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39.35 dan 1.804.696. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.859. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9.727.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. RKS.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.32 dan untuk Lapangan Rp 9. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. vi . SNI dan Lapangan. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. SNI dan Lapangan/Kontraktor.40.120.33. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan. RAB penawaran kontraktor.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2.594. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.44 dan 58.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3. pelayanan maupun waktu. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.26 sedangkan metode SNI Rp 4.

...........................2 1....1 3..3 Tujuan Penelitian.............................i HALAMAN PENGESAHAN.....1 3.............................................................................5 Latar Belakang.........1 1..4 1..............3...................2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan.................................................4 Batasan Masalah.................................3....1 3........................................................................................................................18 3....2 3.........................2 Biaya Langsung....1....................................3 Rencana Anggaran Biaya….........................24 Analisa Harga Satuan......................................................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya....................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2..........................xiii BAB I PENDAHULUAN 1............19 3.....................................15 3.........1 Estimasi Biaya...........11 3.........DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...............................................1.........................................................................................vii DAFTAR GAMBAR...........................9 BAB III LANDASAN TEORI 3...................................................ii HALAMAN PERSEMBAHAN.......3 3.......17 Biaya Tidak Langsung……….2....iii KATA PENGANTAR................................................................................................................3 Volume/Kubikasi Pekerjaan..................iv ABSTRAKSI................vi DAFTAR ISI.....27 vii .......................................................2 Jenis Anggaran Proyek...........................................1 Rumusan Masalah..............14 Biaya Konstruksi Proyek…..1 2..............................................3...............2 3..................................................................................................................................................2........................3 Manfaat Penelitian.............................................13 Metode Perkiraan Biaya..1....3 1......................12 Kualitas Perkiraan Biaya……............................23 Harga Satuan Pekerjaan...............................................................xi DAFTAR TABEL...............................................

..........39 Pekerjaan Pembesian.............................................................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI.....................4.......................42 BAB V ANALISA DATA 5...5 4.41 Data yang Diperlukan……..................1 4..3.....48 Analisa Metode Lapangan............41 Cara Pengumpulan Data……...................40 BAB IV METODE PENELITIAN 4................................. Harga Satuan.........6 Subjek Penelitian……..................37 Pekerjaan Beton Bertulang...4....................52 Komparasi Harga Satuan........3..... Lapangan.3.............................................................40 Pekerjaan Bekisting..........4 5..........4 4........1 3.....2 Bahan – Bahan.....................................6 Rencana Pekerjaan……...2 4.. Pekerjaan Beton Bertulang...3 Pekerjaan Adukan Beton........28 Metode Perhitungan...44 Analisa Metode BOW..........................3..........4......................39 3.3...........64 5.............................3 4.............................................36 3.............42 Tahapan Penelitian……..1 5...........41 Objek Penelitian….....................2 3......2........3...3 3........................................................4.......7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen......32 3...............................................69 viii ..4........5 5..............3..........................3 Analisa Harga Satuan Metode BOW.............4 Beton Bertulang….........................1 3..........41 Pengolahan Data…….4.2............................37 3....4 Analisa Harga Satuan Material...........................................................2 3.........1 3.....27 Analisa Harga Satuan Upah......................................4........................................2 3..3.....2 5..........1 3......3...4............3....34 Analisa Harga Satuan Metode...............................27 Analisa Harga Satuan Alat........................................................2................3 5.....60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio.....................44 Analisa Metode SNI..........3..

..........93 Upah Bekisting......92 6......107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.5.............................2........1 6........1 Rasio Bahan Adukan Beton...............4 6............1 Selisih Bahan Adukan Beton......92 Upah Pembesian......91 Harga Satuan Upah..........11 6.......7............................2 5...................................................3 6.69 Indeks SNI...................2..105 6..................1...............................1 6......86 PEMBAHASAN 6.96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....…..................................................8....72 Indeks Lapangan..4 5........7..................1 6...3 Upah Adukan Beton.......103 6.........105 Selisih Upah Pembesian................7.7................................................103 6..............3 5.81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks....................7..............12..........................2 6........88 Bahan Pembesian................…….................9 6..2 6.........................1 5.........................................................5 6.........................107 Selisih Harga Satuan Upah Beton.........................2 Selisih Bahan Pembesian..7..1...........12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton........109 ix ................88 6.......................104 Selisih Harga Satuan Upah...................10 6.....1 Harga Satuan Bahan.......89 Bahan Bekisting............103 6..108 Rasio Harga Satuan Bahan..7.................................................8..........98 Selisih Harga Satuan Bahan.................................................................3 6........7 Harga Satuan Bahan Beton............................3 6...........3 Selisih Upah Adukan Beton......8 BAB VI Indeks BOW...................................................106 6..........................8 Selisih Bahan Bekisting.96 Harga Satuan Upah Beton..............................1.....2...........6 6..8......2 6....................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………........................94 6...............................................109 6......105 Selisih Upah Bekisting.......2 Bahan Adukan Beton..............................75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja....

....6..............................1 7...13.....1 Indeks Bahan............2 Rasio Bahan Pembesian……..........................................................................................................110 6.......................111 6.114 Indeks..................................14 6.....116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.........113 Rasio Harga Satuan Upah Beton.............................13........................17............….......111 6...2 Rasio Upah Pembesian......17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton..............13 Rasio Harga Satuan Upah......12.3 Rasio Bahan Bekisting……………………...................12.....120 x .............115 6...1 Rasio Upah Adukan Beton.........LAMPIRAN Kesimpulan…….........................................115 6....113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..........2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ...........112 6........16 6....................17.............................2 Indeks Tenaga Kerja.................15 6..........................................3 Rasio Upah Bekisting.......13..................118 Saran........................109 6..111 6............

.........90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting....................2...................1 Gambar 6..........13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.........98 Gambar 6.....4...............13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar....17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton.2 Gambar 6.96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.............................4 Gambar 6.......109 Gambar 6.......................1 Gambar 6.................14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian...............11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian.88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian.................93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.....104 Gambar 6..DAFTAR GAMBAR Gambar 3...............95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton...92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.....................................1 Gambar 3.26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir....20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...5................ Gambar 4.. Gambar 3.................97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang....91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.............16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton............................108 Gambar 6.....................6 Gambar 6...... Gambar 3...15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting...............................10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton....12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting......107 Gambar 6............103 Gambar 6.......19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton....................................3 Gambar 6.............108 Gambar 6.......105 Gambar 6......9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)..............................................110 Gambar 6............................................21 Skema Harga Satuan Pekerjaan......7 Gambar 6.....5 Gambar 6.................. Gambar 3........................20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci..26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan............106 Gambar 6................................................43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton......3.....8 Gambar 6...111 xi .........................104 Gambar 6.............................22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.................21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting......................106 Gambar 6...........18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....110 Gambar 6.....

..............................23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian......115 Gambar 6...................28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.113 Gambar 6..............................112 Gambar 6............................27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.............25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton..............112 Gambar 6...........Gambar 6.......24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting...29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian............26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton.....114 Gambar 6............114 Gambar 6.................116 xii ........................

............................................ Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record..........1....45 Tabel 5...15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW....................................63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.................. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW......................................................68 Tabel 5................................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.............49 Tabel 5..10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.......71 Tabel 5.............................................................................................61 Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian........................53 Tabel 5...7 Tabel 5..........1 Analisa Harga Satuan Bahan..... Pembesian Dan Bekisting...................................................6 Tabel 5....................................................................................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton............4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton..........5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton..74 xiii ............DAFTAR TABEL Tabel 3............13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting........15 Tabel 5........66 Tabel 5..............16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang................3 Analisa Harga Satuan Bahan............................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI..........63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton...16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.............................................................67 Tabel 5.66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.67 Tabel 5.......................68 Tabel 5.......................................................14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton................62 Tabel 5...8 Tabel 5......2 Analisa Harga Satuan Bahan............ Pembesian Dan Bekisting............................15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton.......67 Tabel 5.68 Tabel 5...66 Tabel 5..........11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..................

..82 Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton..78 Tabel 5.....22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..................................................83 Tabel 5.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton..................Tabel 5............................................................................................................... Pembesian Dan Bekisting.........................................................17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.............21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.....1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton....5 Tabel 6.............100 Tabel 6....... Pembesian Dan Bekisting....................2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton..........4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..........................................6 Total Selisih Harga Satuan.................20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting..............................................................................87 Tabel 6.. Pembesian Dan Bekisting............84 Tabel 5..19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian................102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ........100 Tabel 6.............................101 Tabel 6......... Pembesian Dan Bekisting....85 Tabel 5.........................................................101 Tabel 6.....

1 . Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. tenaga kerja. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. pelayanan maupun waktu. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek.BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi.

secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. Pada tahun 1987 sampai 1991. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. namun hanya untuk perumahan sederhana. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami . kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. konsultan. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Agar lebih luas cakupannya.

Apakah ada selisih harga satuan material. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. 3.3 kekalahan. 2. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. SNI dan penawaran kontraktor ? 3.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. SNI dan penawaran kontraktor. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. akan mengalami kesulitan dibelakang hari. Berapa rasio perbandingan harga satuan material. Pada saat ini. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. 1. SNI dan penawaran kontraktor. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. .

5.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. 4. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 7. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW.4 1. 3. 1. tahun 2007. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. Biaya tidak langsung seperti overhead. Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. Dapat menjadi referensi bagi penulis. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. . 3. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. profit dan pajak tidak diperhitungkan. 2. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah.4 Manfaat Penelitian 1. 2. 6.

diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.23 %. 15. metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. 103.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.232. 5 . Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.39 %.218. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.706.344.40. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16.90.

Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. . dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan.

pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja.7 2. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . bahan dan biaya. Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. 3. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. waktu. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja.

Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. Interview. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. Pekerjaan Bekisting Balok 3.23 % = 63. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja. . dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. Metode yang digunakan : Data primer a. 4. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek.26 % = 44.8 Karyaan. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. produktivitas pekerja. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. Pekerjaan Bekisting Kolom 2.16 % 5. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau.

78.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.206.655.87. 39.14 2. 53. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. 11. dengan nilai penghematan 1. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW.10.00.50.930.10. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.508.184.348. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.214.217.21. dengan nilai penghematan 0. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur. 99. dengan nilai penghematan 0. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. 31. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan . dengan nilai penghematan 2.207. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.013.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.025.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp. dengan nilai penghematan 1.00. dengan nilai penghematan 2.437.

SNI dan Lapangan. SNI dan Lapangan.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. sloof. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. balok dan tribun menggunakan metode BOW. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. . 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. kolom. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi. Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor.

menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. Dengan kata lain. dan lain-lain. material. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased). Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. peralatan. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. 1995). Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya.BAB III LANDASAN TEORI 3. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto.

1995. sesuai dengan fungsinya. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. . maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Perencanaan Biaya Bangunan.1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian. di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. ukuran. 3. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. 1994). lokasi.12 proyek seperti jenis. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3.1. proses penyusunan aggaran biaya definitif. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal.1.

kemudian .Eskalasi . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan. Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan . 1995) 3.Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.1.Standar jam orang .2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya.Overhead .1. 1995.Satuan harga material curah .Penawaran dari paket MR/PO .“Quantity take-off” .Produktivitas .13 Tenaga kerja .Harga peralatan .

pengalaman serta judgment dari estimator. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek.3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. 1995. Pada metode elemental analysis cost estimating. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud.1. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Hal ini memerlukan kecakapan. dan bila telah diberi beban biaya. 3. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis . salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar.

Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Super struktur . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3. Means Engineering News Record .Sistem HVAC . Tabel 3.Atap .Sistem conveying .Kolom interior .Pondasi .Listrik . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek.Listrik . 1995) 3. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Fixed equipment .Pintu .Sistem conveying .15 gedung.Substruktur .Persiapan site .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Sistem HVAC .1.Interior .Eksterior .Pekerjaan lahan (site) .Pemipaan .Kontigensi . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Dinding eksterior .Lantai .Pondasi .Glazed opening .Sistem pemipaan .Dinding interior . Jenis dan intensitas kegiatan .

lengkapkah peralatan. pengeruk tanah (back-hoe). Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. Bila hal ini terjadi. Sama halnya dengan sumber daya manusia. berlumpur atau berdebu. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. truk. atau yang langka tersedia di pasaran. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. Terutama untuk daerah rawa. 1995). dan lain-lain. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. grader. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. (Iman Soeharto. sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . jenis keterampilan. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. Ini dapat berupa crane. terutama bagi long delivery items. Bertolak dari kenyataan tersebut. kompresor udara. scraper. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas.

mulai dari membuat spesifikasi. 3. biaya menaikkan dan menurunkan. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. penyimpanan sementara di gudang. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan.2. 1995). memotong dan . sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis. alat-alat tangan (tools). Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. mesin-mesin. jadi sudah termasuk biaya angkutan. (Iman Soeharto. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara. pengepakkan.

2. listrik. misalnya sewa kantor. alat angkut dan lain sebagainya. biaya-biaya notaris. bunga uang. pemasangan alat. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. . asuransi. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. 3. air. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. memindahkan. membongkar dan biaya operasi. telepon. peralatan kantor dan alat tulismenulis. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. pajak. pengukuran (survey).18 membengkokkan baja-baja tulangan. telepon yang dipasang di proyek. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. surat-surat ijin dan lain sebagainya. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. pengangkutan. asuransi.

19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. Adapun menurut John W. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut. Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. 1993. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan. 3. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. 1992. . Menurut Sugeng Djojowirono. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. cermat dan memenuhi syarat. 1984. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan.

2. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. dapat dilihat pada gambar 3. Analisa Anggaran Pelaksanaan. A. Secara sistematisnya. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . Soedradjat Sastraatmadja (1984). Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. Soedradjat Sastraatmadja. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“. bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua.2. A. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar.

daftar upah. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. 1993. buku analisis. . A. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. Profit. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J. Secara sistematisnya. Menurut Bachtiar Ibrahim. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar.3. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan. dapat dilihat pada Gambar 3. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. daftar harga bahan. Mukomoko. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. Pajak Gambar 3. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya.3. daftar susunan rencana biaya.

tinggi langit-langit. . sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. . hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : .Rencana letak bangunan.Rencana saluran pembuangan air hujan.Rencana halaman .00. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai. . nok reng balok/muurplat.Rencana jalan dan pagar. 2) Gambar denah PU 1 : 100. letak tinggi jendela dan pintu. misalnya : dasar pondasi.00 m dari lantai. Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 .22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan.). Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok.Rencana garis batas tanah dan roylen. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan.

cetakan keempat.1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. Jadi volume (kubikasi) . 2007. DENAH PONDASI 7.Gambar konstruksi baja. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. TAMPAK MUKA 3. DENAH LISTRIK =L =M 14.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. Gambar saluran pembuangan air hujan. 7) Gambar pelengkap. muurplat/reng balok. SAMPING KANAN 5.Gambar konstruksi beton bertulang. keilkeper. nok gording. usuk/kasau dan konstruksi penahan. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. . 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : .Gambar konstruksi kayu. T. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. DENAH KUSEN 13. DENAH 2. . RENCANA SANITASI = N 3. POTONGAN II – II 9. Jakarta. RENCANA KAP =H =I =J 11. Gambar saluran pembuangan air kotor. POTONGAN III-III 10. TAMPAK BELAKANG 4. RENCANA PLAFOND = K 12. hooker. TAMPAK SAMPING KIRI 6. . talang air. dengan jelas. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan.3.

d.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. lisplank 28 m. Harga bahan didapat di pasaran. . dan sebagainya. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari .Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya). b. 3. persegipanjang. dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. . c. yaitu panjang x luas penampang yang sama. seperti volume pondasi batu kali 25 m3.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis.24 suatu pekerjaan.Volume atap dihitung berdasarkan luas. . seperti segitiga. atap 140 m2. e.3. .Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. trapezium. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap.

Upah + H. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Bahan + H.S. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H.25 pemerintah. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah. dan gambar 3. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. dapat dilihat pada gambar 3. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan.4. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi. Alat Secara sistematisnya. .S. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.S. Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.5.

Yogyakarta.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3. Manajemen Konstruksi. 1984) .5.4.

3. 1 m2.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana.3. Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. 1993). (Bachtiar Ibrahim. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material.3.27 3.3. upah tenaga kerja.3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut. kecepatan . (Bachtiar Ibrahim. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. 1994 dalam Dani Kurniawan. 2004). Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. 3. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. 3. serta besarnya biaya yang dibutuhkan.

jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan. b.3. 2004).28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. selain bertugas sebagai tukang batu. Kepala tukang. Pekerja. Tukang batu. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. 1993). Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain. Mandor. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. d. jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. 3. (Bachtiar Ibrahim.3.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). c. Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : .

29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. ongkos angkut. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun . = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat).003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. biaya sewa gudang. yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. maka . dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. Bagi peralatan yang bertugas sedang. W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli. = 0. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. maka . F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat.002 x B = 0. D = Faktor angsuran / pengembalian modal.

. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. pelumas power steering. Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. e. pelumas hidrolik. pelumas transmisi. c. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. saringan agregat untuk stone crusher / AMP. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. grease. b. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). saringan/filter udara dan lain sebagainya. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. dan lain sebagainya. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat). Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas.30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. d.

31 3. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12.5% = untuk alat yang bertugas berat b.5 s/d 17. Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power .5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat.5) % x HP Dimana . Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. Karena rumus sifatnya pendekatan.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

000.500.Semen Portland = Rp.777. 203. = Rp.080 Oh = 0. 57.964.00 kg x @ Rp. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3. 59. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5. 43. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.61 .1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.115.600. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2. = Rp.02 = Rp.5.tukang batu .000.650 Oh = 0.75 = Rp.750.780 m3 = 0.1 5.mandor .00 73.00 Jumlah (2) = Rp. 30. 50. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.84 x @ Rp. 239.00 10. SK SNI S-05-1989. 934.39 Jumlah (1) 5.60 x @ Rp.00 1.520 m3 = 218. = Rp.00 3.250.892. SK SNI-06-1989-F.35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1. 187.10 = Rp. 35.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) .00 x @ Rp.pasir beton .00 x @ Rp.kepala tukang x @ Rp.pekerja .875.chipping/split .025 Oh 3 . SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.2 Tenaga : = 1. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.5.250 Oh = 0.475. 421.547. 45.697. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991. SK SNI S-04-1989-F.000. = Rp.00 x @ Rp.

3. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya.475. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara . Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya.000 kg x @ Rp. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja).semen portland = 336. 421.04 . perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost).777.252. 2. Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A.61 + Rp. 934. 313. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah.36 = Rp.61 73.39 = Rp. Menghitung harga satuan bahan dengan cara . 495.4.955. = Rp.3. 4.00 3.

00 x @ Rp. 35.975.kepala tukang .547.423.000.155.00 3.000. 50.10 = Rp.892. 70. 344.00 + Rp.00 x @ Rp. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran. Tenaga kerja : .312.00 1.60 = Rp.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.350 Oh = 0.000 Oh = 0.mandor = 2.koral beton = 0. = Rp.00 = Rp.540 m3 = 0. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik.15.000 Oh x @ Rp.750. 45.265.tukang batu . 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .60 540.00 x @ Rp.37 .500. 2) analisis dengan computer.00 45.00 15.000.. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku. 58. 32.810 m 3 x @ Rp.225.70 194. b. 1991. 131.pasir beton . = Rp. 59.035 Oh = 1.950. 285. = Rp.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. 43.34 x @ Rp.000.000.00 Jumlah (2) = Rp. 239.pekerja . Jumlah (1) = Rp.00 = Rp.

semen alumina. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. Bila perlu. dan . tanggung jawab atas penyimpangan. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. lanjutan atau tambahan. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. – 2. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. 3.I. 3. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. 1985. A. c. Beton adalah campuran antara PC (semen). Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. semen tahan sulfat. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia.5.5 Beton Bertulang J. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. 1971 N.38 a. b.

alkali. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. d.063 mm. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca.39 lain-lain. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. seperti terik matahari dan hujan. dapat juga dipakai semen tras kapur. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. asam. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. c. garam-garam. Untuk beton mutu Bo. b. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). e. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). maka agregat halus harus dicuci. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. 3 atau 4 batang yang .Butir-butir agregat harus bersifat kekal.

5. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. Jika digunakan concrete mixer. . 3. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran.5. memadatkan pengecoran. batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. merawat pengerasan.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). dan lain-lain. maka campuran bersifat kental. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). Bila slump campuran kurang dari 5 cm. kran dengan alat penyodok (bucket). Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. misalnya mesin pengaduk. Kekuatan beton. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. Dalam perencanaan campuran beton. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan.2. maka tempat penyimpanan. air. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. Satuan beton yang dipakai adalah m3. alat timbang bahan. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. kereta dorong. Campuran beton terdiri dari semen. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material.40 sejajar. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). berarti campuran basah. mengangkut.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis. mengaduk adukan.

Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0.50 m3 untuk setiap 10 m2. kolom. pondasi. 3. Menurut Dipohusodo. kawat pengikat. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. pelat lantai dan tangga. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton.75 liter untuk bidang seluas 10 m2.10 – 0.2. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3. Sebanyak 50 % . digunakan tabel berat besi material. 1996.41 3. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm.2. Menurut peraturan beton Indonesia (1997). minyak pelapis. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas.5. balok. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. yaitu . kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring. . pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.5.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. sloof.

3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1.BAB IV METODE PENELITIAN 4. SNI dan Lapangan. 5. 9.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS). Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). 4.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 42 . 3. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. 4. 6. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. 8. 4. 7. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 2.2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian. Berita acara penjelasan pekerjaan. 4. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan.

4. d. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. Menghitung harga satuan bahan. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait. e.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. f. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. c. upah dan pekerjaan. b.43 4. dan g. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. .

A.H.RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .Harga Satuan Pekerjaan Komparasi .A.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir . Bahan .A.Analisa Harga Satuan Bahan .S.Analisa Harga Satuan Bahan .H.Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.H.S.Gambar proyek .44 Mulai Data Proyek : .Analisa Harga Satuan Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan .Harga Satuan Pekerjaan .Analsis Harga Satuan Bahan . Upah .Analisa Harga Satuan Upah . Peralatan .Analisa Harga Satuan Upah .S.Analisa Harga Satuan Peralatan .Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Peralatan .

45 .

upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. sloof.BAB V ANALISA DATA 5.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan. Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. kolom.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. 45 . balok dan tribun. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer.1 Analisa Harga Satuan Bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.

Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.48 5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.2 Analisa Harga Satuan Bahan. .

upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.3 Analisa Harga Satuan Bahan. . Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.52 5.

Tabel 5. 3. . Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.1.2 dan Tabel 5. Tabel 5.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. 4.60 5. 2. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton.3. Pembesian Dan Bekisting.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Tabel 5.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. Tabel 5.

6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan. bahan terendah Selisih H.58 = 2. Dari Tabel 5.20 . 3. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan.629.Rp. 3. 3.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H. upah dan pekerjaan BOW.602. 3.S. 1.223.629. Material = H. bahan tertinggi – H.64 5.20 = 54.197.S.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.629. 1.223.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.602.S.197.197.S.58 = Rp.223.197.602. 1. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp.21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % . bahan tertinggi Rp. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.602.20 Rasio perbandingan = Rp.

. 3.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. 2. Tabel 5. Tabel 5. 8. Tabel 5.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. Tabel 5. 7. 6.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan. Tabel 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. Tabel 5. 4. 5.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian. 9. Tabel 5. Tabel 5.

dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan.kepala tukang batu .7.250 Oh = 6.41) : .pasir beton .besi beton .1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1). Upah Pembesian (An. G.pekerja .kayu terentang (papan) . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.000 Oh = 1. G.000 kg = 0.750 Oh = 2. G.300 Oh .7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.41) : . G.kawat beton 3).semen portland .mandor 5).kepala tukang besi = 6.41) : .tukang besi .00 kg = 110.400 m3 = 4.540 m3 = 0.paku biasa = 0.820 m3 4).000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336. Bahan Pembesian (An.koral beton 2).tukang batu . Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.41) : .000 Oh = 0.69 5. G. 5.pekerja .000 kg = 2.750 Oh = 6. Bahan Bekisting (An.100 Oh = 0.41) : .

500 Oh = 0. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. G.000 Oh = 5.pekerja .kepala tukang kayu .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW.70 .mandor 6). Upah Bekisting (An.mandor = - = 6.tukang kayu . .41) : .000 Oh = 0.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.

6.mandor = 6.paku biasa .mandor = 0.2 ) dan ( An.2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).050 Oh = 0.105 Oh = 0.050 Oh = 1. Bahan Pembesian ( An.1 ) : .0007 Oh x 150 . 6.2 ) dan ( An.2 ) untuk tukang besi : .semen portland .kawat beton 3). Upah Pembesian ( An. 6.38.tukang besi . 6. tukang = 0.72 5. 6.000 Oh = 1.38.kepala tukang batu . tukang = 0. 6.28.1 ) : .kep.100 Oh = 0.1 ) : .38.pekerja .pekerja .kep.400 ltr = 150.kayu terentang (papan) .38.1 ) : .tukang batu .000 kg = 2.000 kg = 0.000 Oh = 0.650 m3 = 0.pasir beton .200 m3 = 1.300 Oh 5).35. Upah Bekisting ( An. 6. 6.026 Oh .500 kg = 0.7. Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.650 m3 4). Bahan Bekisting ( An.007 Oh x 150 = 1.minyak bekisting = 0.0003 Oh x 150 = 0.040 Oh = 0. Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.2 ) untuk tukang kayu : .045 Oh 6).300 Oh = 1.pekerja .koral beton 2).tukang kayu .35.25.250 kg = 388.besi beton .

005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. .73 .mandor = 0.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.

koral beton 2).kepala tukang batu . Upah Pembesian : .746 Oh .tukang besi = 0.pasir beton .025 Oh = 0. Bahan Bekisting : .962 kg = 232.semen portland .075 Oh .mandor 5).250 Oh = 0.63 = 0.077 Oh = 0. Bahan Pembesian : .kep.pekerja = 0.144 m3 = 1.005 Oh x 3.minyak bekis = 0.59 .63 = 1.520 m3 = 0.040 m3 x 3.63 = 0.59 .tukang kayu = 0.746 Oh = 1.032 Oh .mandor 6). tukang = 0.63 = 0.75 5.359 ltr .007 Oh x 106. tukang = 0.59 .kawat beton = 0.650 Oh = 0.300 kg x 3.080 Oh = 0.kep.093 Oh = 0.59 4).260 Oh x 3.100 ltr x 3.59 .015 kg x 106.63 kg/m3 + 3.0007 Oh x 106.7.05 kg x 106.59 m2 Bekisting) 1).paku biasa = 0.mandor = 0. Upah Adukan Beton : .007 Oh x 106.780 m3 .63 = 111. Upah Bekisting : .3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.018 Oh = 0.026 Oh x 3. Bahan Adukan Beton : .pekerja .0003 Oh x 106.kayu (papan) = 0.besi beton = 1.000 kg = 0.300 Oh x 3.63 = 0.077 kg = 0.tukang batu .59 .599 kg 3).59 = 1.933 Oh = 0.pekerja = 0.

mandor 6).paku biasa = 0.080 Oh = 0. Bahan Bekisting : . Bahan Pembesian : .122 kg = 232.besi beton = 1.300 Oh x 4.64 = 0.260 Oh x 4.48 . tukang = 0.48 m2 Bekisting) 1).48 4).650 Oh = 0.kep.64 = 0.344 kg = 0.250 Oh = 0.semen portland .040 m3 x 4.520 m3 = 0.tukang kayu = 0.48 .165 Oh = 0.64 = 0.tukang besi = 0.780 m3 . Upah Adukan Beton : .pekerja = 0.000 kg = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.007 Oh x 129.039 Oh .344 Oh = 1.kayu (papan) = 0.48 . Upah Bekisting : .pekerja = 0.022 Oh = 0.mandor = 0.025 Oh = 0.koral beton 2).448 ltr .0003 Oh x 129.166 Oh = 0.907 Oh = 1.pekerja .0007 Oh x 129.300 kg x 4.007 Oh x 129.64 kg/m3 + 4.091 Oh .48 .005 Oh x 4. Bahan Adukan Beton : .minyak bekis = 0.tukang batu .026 Oh x 4.48 .64 = 136.kep.179 m3 = 1. tukang = 0.100 ltr x 4.015 kg x 129.64 = 1.945 kg 3).kawat beton = 0.pasir beton .05 kg x 129.48 = 1.907 Oh .mandor 5).64 = 0.kepala tukang batu . Upah Pembesian : .

32 = 164. tukang = 0.005 Oh x 7.026 Oh x 7.000 kg = 0.05 kg x 156.besi beton = 1.142 kg = 0.780 m3 . Bahan Pembesian : .17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.025 Oh = 0.345 kg 3).mandor 5).14 4).109 Oh .kepala tukang batu .186 Oh = 0. Upah Adukan Beton : .32 kg/m3 + 7.0003 Oh x 156.080 Oh = 0.tukang besi = 0.300 Oh x 7.kawat beton = 0.250 Oh = 0.142 Oh = 1.14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5. Upah Pembesian : .kayu (papan) = 0.007 Oh x 156.136 kg = 232.007 Oh x 156.pekerja = 0.286 m3 = 2. Bahan Bekisting : .paku biasa = 0.14 .14 m2 Bekisting) 1).pasir beton .036 Oh = 0.32 = 1.14 .kep.kep.094 Oh .32 = 0.14 = 2.32 = 0.pekerja = 0. Bahan Adukan Beton : .714 ltr .300 kg x 7. .520 m3 = 0.0007 Oh x 156.14 .77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156. tukang = 0.mandor = 0.semen portland .minyak bekis = 0.856 Oh = 0.650 Oh = 0.047 Oh .100 ltr x 7.14 .094 Oh = 1.040 m3 x 7.32 = 2.tukang batu .32 = 1.260 Oh x 7. Upah Bekisting : .koral beton 2).mandor 6).tukang kayu = 0.015 kg x 156.pekerja .

Tabel 5.16 dan Tabel 5. 3.15. 2.81 5. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton. Tabel 5. .17. Tabel 5.7.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. 4.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.

110. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan.00 Rasio perbandingan = 110.00 dan SNI = 150.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.00 = 150.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW. . Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.86 5.00 .00.00 = 26. diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110. Dari Tabel 5.00 = 1.

336.575.632.82 557.000.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.S.00 1.61 .643. 6.00 2.000.858.38 594. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.178.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.286.35 542.304.717. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.304.00 0.21 594.411.285.1.464.500.59 594.19 869.000.000. 1.82 1.00 557. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.80.000.00 1.1 di atas. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.575.285. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.628.085.464.171.442. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.76 1.78 H.434.285.42 1.38 dan pada SNI adalah Rp 579.78 2.35 1.76 1.BAB VI PEMBAHASAN 6.628.739.500.14.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.178.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.1.00 500. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.000.130.821. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. balok dan plat (tribun). Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. 6. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1. . Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. poer P2 dan poer P3. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.1.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.000.00 3.95 4.000.000.20 7. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.464.258.904.10 3.121. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.757.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.000.2 di atas.176.00 2.602.90 7.00 6.472.298.00 0.522.802. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.000.297.200.60 8.223.401.000.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg. Bahan Pembesian (Rp) 3.629.298.602.880.447.000.00 2.191.000.000.558. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.15 4.58 1.10.000.197.74 .00 1. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI.172.000. pada pekerjaan sloof.000.629.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.298.197.23 4. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.23 1.223.14 H.58 1. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.601.24 dan pada SNI adalah Rp 2.172.00 4.000.000.183.472.20 3.172.80 2.S.732. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.00 6.00 5.929.40 2.000.000.314. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.

300.307.726. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.000. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.3 di atas. 575.00 2.000.72 3.425.00 H.16 5. Bahan Bekisting (Rp) 7.53 2.402.911.278.87 dan pada SNI adalah Rp 872.70 1.617.03 544.S. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.211.480.42.98 .86 Sloof 385.150.88 1.000.936.781.881.000.000.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5.000.000.487.1.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.72 Tribun 963.052.098.681.495.000.600.000.000.00 1.16 1.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.758.052. 6.70 Pondasi Poer 285. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. 8.701.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.000.00 1.350.00 1.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.00 4.00 6.953.000.000.000.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.726.576.00 3.301.000.131.44 1.58 871.66 6.00 0. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.000.

4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.000.00 200.00 146. 6.00 272.000.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.200.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan.00 816.00 272. Harga rata-rata harga satuan 73.00 0.00 272.000.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.000.000.475.000.00 1.000.00 1.00 800.000.000. H.425.000.000.088.00 220.4 di atas.00 .80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.00 544. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.900.000. Upah Adukan Beton (Rp) 1.000. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.00 400. Sebanyak 50 % .00 600. 6.00 816.00 272.425.950. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.2.00 272.S.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.00 220.00 272.00 293.000.2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.000.

035.2. Upah Pembesian (Rp) 2.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.500.284.00 dan pada SNI adalah Rp 272.00 1.500.000.00.762.750.00 234.00 642.927.00 500.000.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.600.82 89.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5.48 . Dimana harga rata-rata satuan 61.125.000. 3. 6.000.00 1.200.30 179.00 H.00 394.00 0.700.000.925.569. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.000.00 234.5 di atas.00 1.927.00 104.84 354. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.733.125.00 119.00.500.000.00 1.000.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6. sedangkan Lapangan adalah Rp 191.375.400.00 2.000. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.889.000. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.768.60 89.749.S.5 dibuat suatu grafik perbandingan.00 1.00 2. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.700.

6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting. 6.2. .00 dan pada Lapangan adalah Rp 256.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.175.00.180.670.94 upah pada BOW sebesar Rp 1. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. sedangkan SNI adalah Rp 116. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.81.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.665. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.00 1.00 Sloof 79.970.00.000. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.000.000.00 1.371.000.51 dan pada SNI adalah Rp 108.828.000.128.599.000.00 400.95 1.800.00 1.000. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.00 800.000.400.00 2.75 354. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.885. Upah Bekisting (Rp) 1. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.000. 113.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.371. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.920.000.200.000.00 1.00 914.00 1.000.00 200.188.35 457.925.00 Pondasi Poer 57. Pada tenaga kerja pekerja.458.20 155.000.825.S.00 134.00 198.000.00.600. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 615.00 600.242.00 326.200.6 di atas.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.000.00 1.00 1.000.291.00 0.25 .265.814.00 H.170.

3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.14 5.714.618.000. Dari Tabel 5.78 3.000.000.623.318.000.029.952.055.14 4.63 9.730.000.00 4. 6.333.000.523.00 8.257.152.00 16.32.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.809.000.160.00 0.00 6. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.000.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.523.472.96 6.637.19 8.26 dan pada SNI adalah Rp 3.937. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.99 15.956.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Dari Tabel 5.130.000. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9.369.272.000.33 .61.989.003.00 6.275.000.000.278.71 Tribun 3.714.692.43 14.70 3.019.86 18.00 6.000. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.00 2.904. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.000.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.648.115.640.212.00 10. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.000.7 di atas. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.450.956.91 3.86 6.56 2.00 12.000.000.

370.371.00.000.940.000.000.00.071.575.35 810.114.00 4.32 dan pada SNI adalah Rp 496.00 4.00 418.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.000.375.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.000.000.125.095.97 perbandingan.00 5.84 496. 6.50 471. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.17 740.00 490.73 . Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.233. 4.8 di atas.352.000.00 1.114.750.00 1.674.00 1.620. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.004. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.00 3.000.00 2.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.653.00 0.000.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.485.119.000.00 5. 461.00 1.565.500.907.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.485.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 607.00 2.012.965. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.742.125.

secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.54 17. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.9 di atas.594.000.00 18.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.78 Sloof 3.06 . Tabel 6.677. Tabel 6. Selisih dan rasio harga satuan bahan.761.16 7.26 dan pada SNI adalah Rp 4.71 Tribun 3.380.000.220.839.070.839.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.625.458.020.000. Pembesian Dan Bekisting.586.93. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.86 20.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.00 10.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.00 8.804. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.559.609.390.866.000. 3.756. upah dan pekerjaan beton bertulang.118.703.830.63 10.653.890.000. Pembesian Dan Bekisting.070. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.36 5.690.859.00 2.000.279.32.000.126.14 11.123.885.000.91 4. 2.727.98 14. 3.00 6.00 16.255.00 11.00 4.120.14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.000.000. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.000.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.742.000.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Tabel 6.000.00 0.000.00 14.000.00 12. 6.56 Pondasi Poer 2.000.984.000. Pembesian Dan Bekisting.000.43 9.696.000.54 4.000.

4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.5 Total Selisih Harga Satuan. . 6. Pembesian Dan Bekisting. 5. Tabel 6. Tabel 6.99 4.6 Total Rasio Harga Satuan. Tabel 6.

100 .

101 .

102 .

terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58.00% 19.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% Selisih H. .00% 30.00% 0.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 70. Bahan Adukan Beton 48.00% 10.103 6.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00% 50.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.94 % dibandingkan SNI dan 19.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.7.10 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.89% 20.S.7.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48.00% 58.00% (%) 40.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.94% 60. 6.7 6.75 % dibandingkan SNI.

00% Selisih H.49 % dibandingkan SNI dan 36.00% Selisih H. Bahan Pembesian 36.00% 10.21% 67.00% 50.00% 40.42% (%) 30.00% 10. 80.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .11 di atas.S.00% 20.00% 0. 6.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.00% 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 70. Bahan Bekisting 41.00% 20.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 50.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.00% (%) 40.69% 44.00% 0.42 % dibandingkan SNI.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00% 30.03% 55.S.00% 60.7. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.104 60.

1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.13 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.105 Dari Gambar 6.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.77 % dibandingkan Lapangan.00% Selisih H.00% 10.S. Upah Adukan Beton 29. 6. 80. .13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.00% 50.8 Selisih Harga Satuan Upah 6.8. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.99 % dibandingkan Lapangan dan 61.00% 60.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.00% 20.69 % dibandingkan SNI.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.77% 61.12 di atas.00% 0. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 30.54% 72.47 % dibandingkan SNI dan 44.8.00% 70.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6.00% (%) 40.

00% 30.00% 20.00% 40.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.01 % dibandingkan SNI dan 84.14 di atas. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 80.00% 0. Upah Bekisting 90.00% 80.00% (%) 50.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.S.00% 10.00% (%) 50.S.8.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% 20.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.00% 40.00% 93.58% 53.00% 0.00% 60.106 100.00% 90.46 % dibandingkan SNI.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00% Selisih H.89% 80. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 70.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .66% 54. 6.00% 30.01% 84.00% 10.00% 60. 100.00% 90.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 70. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.46% Selisih H.

00% 50.31 % dibandingkan SNI dan 30.00% 0.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.00% 30.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.64% 58.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.89 % dibandingkan SNI.00% Selisih H. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.89% (%) 40. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.00% 39. .00% 60.89 % dibandingkan SNI dan 53. Bahan Beton 30.S.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.58 % dibandingkan SNI.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.15 di atas.00% 20. 6.107 Dari Gambar 6.00% 10. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53. 70.16 di atas.

6.00% 0.00% 40. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 90.00% 20.00% 70.00% 50.05% 57.00% (%) 50.00% 30.82% 50.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50.05% 57.00% 0.06 % dibandingkan SNI dan 71. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 60.108 100.S.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.54% Selisih H.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% (%) 40. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.00% 86.06% 71.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00% 60.00% 30.54 % dibandingkan SNI.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00% 10.00% 20.00% 80.00% 10.17 di atas.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1. 70.

3. 6.18 di atas. .00 2. Bahan Adukan Beton 1.12. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.12. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.95.19 di atas.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57.44 1.50 0.00 0.05 % dibandingkan SNI.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.S.50 % dibandingkan SNI dan 1.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.24 dan 1.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5.50 1.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.25 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.109 Dari Gambar 6.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.50 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 Ratio 1.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.00 Rasio H. 6.

3.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting .25 dan 1.44 1.S.110 2.72 1.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.12.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Bahan Bekisting 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.50 1.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.00 Rasio H.44. Bahan Pembesian 1.00 2. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.56 2.00 Rasio H.50 2.50 0.00 1.00 1.00 0.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 Ratio 2.S.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.79 3.50 3.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.50 0.50 1.00 0.20 di atas.

9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 1.S. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. 6.111 Dari Gambar 6.42.00 0.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.21 di atas.72.50 Ratio 2.60 dan 3.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 1.13 Rasio Harga Satuan Upah 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13.13.00 2.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5. 4.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 3.22 di atas.50 0.07 dan 1.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.60 3.2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5. 6.42 2.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. .00 3.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.Upah Adukan Beton 1.00 Rasio H.

23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.112 16.00 0.20 Rasio H.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.S.00 0. 12.13 2.00 8.00 10.20.32 dan 6.00 2.32 6.S.23 di atas. 6.00 Rasio H.Upah Bekisting 5.00 12.00 2.00 4.00 10.00 Ratio 6.00 4.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .00 6. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.13.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.00 Ratio 8.15 10.00 14.00 14.52 2.

98 dan 2. 3.44 2. 6.113 Dari Gambar 6. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 Ratio 1.44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. .40 dan 1.50 1.50 0.S.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.15.50 2. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.00 Rasio H.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5.66 1.25 di atas. 6.00 0.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.66.Bahan Beton 1.00 2.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.24 di atas.

02.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .00 3.00 0.18 dan 3.18 3.02 Rasio H.26 di atas.00 5.00 6.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.50 1.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.01 1.00 7.50 2. 6.00 1.00 7.00 2.26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00 Ratio 4.S.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.50 0.114 8.33 2.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. 2.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.00 0.55 2.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

17.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Indeks bahan kawat beton pada .115 Dari Gambar 6.75 2. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.27 di atas. 6.50 0.00 2.00 0. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.35 dan 1.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.00 3. 6.50 1.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.28 di atas.94 2.13 2.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.33.75 3.00 1.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.36 1.75 dan 3.36.50 3.50 Ratio 2. 4.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian.119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. . Lain halnya dengan analisa SNI. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Dengan demikian baik dari segi biaya.

b.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.08 % dibandingkan dengan 120 . BOW > Lapangan (6.72). Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36. BOW > Lapangan (1. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.20). BOW > Lapangan (3.70) dan SNI > Lapangan (1.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.44).89 % dibandingkan dengan SNI dan 53. c. d.60).47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19. Lapangan > SNI (3. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67.25) dan BOW > SNI (1. Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58.42). Lapangan > SNI (2.52) dan Lapangan > SNI (2.79).99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14.32).25) dan Lapangan > SNI (1. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.44). maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.07) dan BOW > SNI (1.54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.95). f.56). e.

33). Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a. Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.98).31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.75). 3.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71. BOW > Lapangan (2. g.75) dan SNI > BOW (1.44).40) dan BOW > SNI (1.18). Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton.02).55) dan Lapangan > SNI (2. h. b. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30. SNI dan Lapangan.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57. i.36).64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah. Lapangan > BOW (3.13) dan Lapangan > SNI (5.121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. Lapangan > SNI (2. Rasio perbandingan indeks a. 2.82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.35) dan BOW > SNI (2. Lapangan > SNI (2.01).15). .50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. BOW > Lapangan (3. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah.66). Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.

46) dan Lapangan > SNI (2.62). Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja. indeks kepala tukang BOW > SNI (21. Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6.43).62). BOW > Lapangan (8.62). .46) dan Lapangan > SNI (2. BOW > Lapangan (2.62). dan indeks mandor Lapangan > SNI (2. indeks tukang besi BOW > SNI (6. dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton.19) dan Lapangan > SNI (2. 7. BOW > Lapangan (2. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian.43).122 b.43). pembesian dan bekisting.

1992. 1984. 2001. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional / BSN. 2006. – 2.DAFTAR PUSTAKA Ir.I. cetakan kesembilan. 9. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Soedradjat Sastraatmadja. Jakarta. Bandung. 2004. J. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Dani Kurniawan. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Manajemen Konstruksi. Sugeng Djojowirono. Penerbit Erlangga. Jakarta. 1995. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Departemen Pekerjaan Umum . Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Yogyakarta. PT. W. Cet. 2006. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman. 1985. 1991. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). 1971 N. 2005. Penerbit Bumi Aksara. 1984. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI). Mukomoko. Niron John. 2002. Rencana dan Estimate Real of Cost. SNI Edisi Revisi. Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Iman Soeharto. Bachtiar Ibrahim. Penerbit Nova.A. Joko Waluyo. Asona. CV. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Bumi Aksara. A. 2003. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Jakarta. 1993. Peraturan Beton Bertulang Indonesia.

00 43.000.000.80 1.00 43.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.00 10.115.500.500.40 934.719.60 10.785.052.28 17.337.00 50.00 43.00 45.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.892.000. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46. III (Papan) Kayu Kls.000.605.00 .00 7. Juli 2007) 35.547.226.500. Wajo.000.00 10.10 59.70 1.00 105.500.39 239.000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful