TUGAS AKHIR

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN LAPANGAN
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo)

Working Unity Price Analysis Study in Building Construction with Contractor, SNI, and BOW Method
(Case Study Concrete Working in Wajo Sport Building Development Project)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD KHALID HM
No. Mhs : 00 511 257

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR STUDI ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DENGAN METODE BOW, SNI DAN PENAWARAN KONTRAKTOR
(Studi kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Olah Raga kabupaten Wajo)

Diajukan untuk syarat ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana strata-1 diprogram studi Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indoesia

Oleh : Muhammad Khalid HM 00 511 257

Yogyakarta, Maret 2009 Mengetahui

Ketua Jurusan

Dosen Pembimbing

Faisol AM, Ir, H, MS

Faisol AM, Ir, H, MS

ii

terima kasih atas doa dan kerjasamanya. Istriku beserta keluarga besarnya. terima kasih atas doa dan dukungannya. iii .HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : Keluarga besarku. Adikku Erna. Bapak. Ibu. Segenap warga dan alumni KEPMAWA Jogjakarta. Hasdi terima kasih atas doa dan kasih sayangnya. Haris.

5. Tugas akhir ini dibuat dalam rangka memenuhi sebagian syarat untuk meraih gelar sarjana teknik di program studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia. Alhamdulillah. Bapak Tadjuddin BM Aris. MS selaku Ketua Jurusan dan dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan ilmu dan saran kepada penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan.KATA PENGANTAR Assalamu ala’ikum WR. bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat dan Hidayah-nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir dengan judul “ Studi Analisa Harga Satuan Pekerjaan Pada Konstruksi Gedung Dengan Metode BOW. 3. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Penulis menyadari dalam penyusunan tuga akhir ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan. H. H. ST. 4. Ibu. 2. Ir. Bapak Zaenal Arifin. MT selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan masukan bagi penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. Ir. Seluruh dosen dan staf pengajar FTSP UII yang telah memberikan ilmu selama penulis menempuh pendidikan. iv .WB. SNI Dan Lapangan “ sesuai dengan rencana yang telah dibuat. bapak. Bapak Faisol AM. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah diketahuinya perbandingan harga satuan pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda dan sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi. dan adik-adikku dan keluarga besarku yang telah berkorban serta memberikan doa tulusnya demi keberhasilan penulis.

Keluarga besar KEPMAWA Yogyakarta. v . Istriku beserta keluarga besarnya yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis.6. 7.

40.44 dan 58.50 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.64 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1. Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari sedangkan komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.594. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi.40 sedangkan harga satuan bahan beton metode BOW lebih besar 39. Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat kasus pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.06 % dibandingkan SNI dengan rasio 7. SNI dan Lapangan. Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi.02 dan pada harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 57. upah dan pekerjaan beton bertulang antara metode BOW. pelayanan maupun waktu. RKS.120.804.727. Pada harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86.82 % dibandingkan metode Lapangan dengan rasio 3.05 % dibandingkan metode BOW dengan rasio 1.26 sedangkan metode SNI Rp 4. Hasil perhitungan harga satuan pekerjaan beton bertulang untuk metode BOW sebesar Rp 9. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami kekalahan. tenaga kerja. vi .32 dan untuk Lapangan Rp 9. SNI dan Lapangan/Kontraktor.859.35 dan 1.93 dimana harga satuan yang terbesar terlihat pada harga satuan bahan dan upah pembesian sehingga dapat disimpulkan bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian dan metode yang paling efektif untuk digunakan adalah metode SNI. RAB penawaran kontraktor. akan mengalami kesulitan dibelakang hari oleh karena itu perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek untuk merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material.54 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah.01 sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang metode BOW lebih besar 57.05 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio 2. Untuk mendapatkan harga satuan pekerjaan yang diharapkan maka ketiga metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan anggaran biaya yang efisien dan dapat dipertanggung jawabkan. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi.696. daftar harga bahan dan upah pada daerah penelitian. Dalam penyusunan harga satuan pekerjaan diperlukan data-data yang mendukung diantaranya gambar bestek.ABSTRAKSI Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya.89 % dibandingkan metode SNI dengan rasio 2. Dari perhitungan analisa harga satuan yang dilakukan didapatkan perbandingan harga satuan bahan. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal diantaranya analisa BOW.33.55 sedangkan harga satuan upah beton metode Lapangan lebih besar 50.18 dan 71. Dapat dietahui selisih harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.

......................................................................9 BAB III LANDASAN TEORI 3....................2...1 3..............................1 Estimasi Biaya...................................................................3 1..........................3 3.....................3 Manfaat Penelitian................................2 Jenis Anggaran Proyek...............................................13 Metode Perkiraan Biaya...................12 Kualitas Perkiraan Biaya……......iii KATA PENGANTAR.....................................14 Biaya Konstruksi Proyek…...11 3..........2 3.......................1 3........................................................................................1....15 3............................vii DAFTAR GAMBAR...xi DAFTAR TABEL...............................................................................................3...................5 Latar Belakang............1 2..................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2..........................................................4 Batasan Masalah.....................................................3 Rencana Anggaran Biaya…..........................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...............3 Tujuan Penelitian...........................1 1...................2 Hasil Penelitian Yang Pernah Dilakukan..............................................ii HALAMAN PERSEMBAHAN.......................5 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya...xiii BAB I PENDAHULUAN 1...................................................................................................2 Biaya Langsung........23 Harga Satuan Pekerjaan.................1 3...............................................................iv ABSTRAKSI...................19 3..............................................................................................................3..........................1.......27 vii ............4 1...17 Biaya Tidak Langsung………......3 Volume/Kubikasi Pekerjaan..........1 Rumusan Masalah..2 1................vi DAFTAR ISI......3....................18 3...............i HALAMAN PENGESAHAN.....................................................2..................1.............................24 Analisa Harga Satuan..................................2 3..................................

............................ Lapangan..............44 Analisa Metode SNI..................2 3...............41 Pengolahan Data……....................44 Analisa Metode BOW.3 3...........6 Subjek Penelitian…….4.............................69 viii ..........................................4..................1 3...........................................2...........34 Analisa Harga Satuan Metode................3..4.......................2 4....3.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen..........42 BAB V ANALISA DATA 5.............................2..........3................3 5................28 Metode Perhitungan........48 Analisa Metode Lapangan....3......1 5.......1 3......................41 Cara Pengumpulan Data……....1 4......4..4.....52 Komparasi Harga Satuan............3...................................1 3...............37 Pekerjaan Beton Bertulang................33 Analisa Harga Satuan Metode SNI....................4 5.......................32 3...............2 Bahan – Bahan....2 5..........3.. Pekerjaan Beton Bertulang...........3 Pekerjaan Adukan Beton.......3 Analisa Harga Satuan Metode BOW.................................................39 Pekerjaan Pembesian...4 Analisa Harga Satuan Material.........60 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio............64 5.......37 3........................3.2......................4 4....39 3.........4......................................1 3................3...3 4.27 Analisa Harga Satuan Alat...............................3.................2 3...5 4........3.............6 Rencana Pekerjaan……....42 Tahapan Penelitian……................................................................... Harga Satuan.........................................2 3....................................................................40 BAB IV METODE PENELITIAN 4.......4.............................27 Analisa Harga Satuan Upah..........................4......................5 5.........41 Objek Penelitian…..........41 Data yang Diperlukan……...4 Beton Bertulang….........3..................36 3....40 Pekerjaan Bekisting.............

...............3 6...................................1..............11 6.............................................109 ix ...............1 Selisih Bahan Adukan Beton......................................2..............2 Bahan Adukan Beton...............7.........69 Indeks SNI..................107 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang......................92 6.....103 6.8.......................................1 5..............7.........2..............12...2 6..3 Upah Adukan Beton..............105 Selisih Upah Pembesian...........1 Rasio Bahan Adukan Beton.............8 BAB VI Indeks BOW........................2 6.............................8..........7....1 6................12 Selisih Harga Satuan Bahan Beton.....…................7............107 Selisih Harga Satuan Upah Beton........1 Harga Satuan Bahan................106 6...........109 6....................7....1.............................................2 Selisih Bahan Pembesian.....8.....88 6..........................7....105 6........1 6.5 6..89 Bahan Bekisting............103 6......93 Upah Bekisting..96 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..................108 Rasio Harga Satuan Bahan......................................................1.....72 Indeks Lapangan............105 Selisih Upah Bekisting...............3 6.......................2 6....................................................................................................5.............……............1 6.................2..3 5..........96 Harga Satuan Upah Beton....................................4 5..................................................86 PEMBAHASAN 6......9 6....75 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..........104 Selisih Harga Satuan Upah...........................................97 Selisih Dan Rasio Harga Satuan…………...103 6.....7.............................7 Harga Satuan Bahan Beton...............81 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks...................88 Bahan Pembesian.......92 Upah Pembesian.....6 6......................3 Selisih Upah Adukan Beton..91 Harga Satuan Upah..8 Selisih Bahan Bekisting..............3 6................10 6.94 6...................4 6......98 Selisih Harga Satuan Bahan.....2 5..

.........................................6....3 Rasio Bahan Bekisting…………………….....114 Indeks.....................................2 Indeks Tenaga Kerja...........13............2 Rasio Bahan Pembesian……........17...................................1 Rasio Upah Adukan Beton.............115 6........................17 Rasio Harga Satuan Bahan Beton......................16 6....2 Rasio Upah Pembesian.........................................................................109 6..3 Rasio Upah Bekisting.........…..................110 6....LAMPIRAN Kesimpulan……..............15 6...................................1 Indeks Bahan...................................12...............113 Rasio Harga Satuan Upah Beton...........................112 6..........17................111 6...........2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ..13 Rasio Harga Satuan Upah...118 Saran...............................111 6...............111 6..12.....113 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........120 x ...............115 6................116 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7..13..............13......14 6................1 7........

....................19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.................21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting................. Gambar 3.........103 Gambar 6.................105 Gambar 6..........................106 Gambar 6...26 Analisa Harga Satuan Pekerjaan...................92 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian......7 Gambar 6......88 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian...108 Gambar 6................. Gambar 3............. Gambar 4.4 Gambar 6....1 Gambar 6..........107 Gambar 6............20 Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci.......................21 Skema Harga Satuan Pekerjaan......98 Gambar 6..20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian...........................97 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.....................8 Gambar 6.........17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton......93 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.........................104 Gambar 6.......110 Gambar 6.......109 Gambar 6....111 xi ......90 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.......................DAFTAR GAMBAR Gambar 3.......................9 Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD)..11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian.......................15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting....................4...95 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton............................................................... Gambar 3................................1 Gambar 6.............106 Gambar 6.......26 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir....10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton....5 Gambar 6..12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting....13 Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar.................................18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang..16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton......5.......................................................................110 Gambar 6....104 Gambar 6..2 Gambar 6......6 Gambar 6....2.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton...........43 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton...................96 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.108 Gambar 6......14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian..........91 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton........13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.....1 Gambar 3............................3................3 Gambar 6......................................

..........29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian.................23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian..115 Gambar 6..26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton..............................112 Gambar 6...........25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton................................24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting......114 Gambar 6............................28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian......114 Gambar 6.........................................27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang........116 xii ....Gambar 6......112 Gambar 6..........113 Gambar 6...................

......DAFTAR TABEL Tabel 3..... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW....63 Komparasi Harga Satuan Upah Beton......................68 Tabel 5.63 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton...61 Tabel 5..........74 xiii ........................... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI...67 Tabel 5......................................68 Tabel 5...... Pembesian Dan Bekisting........................66 Tabel 5....8 Tabel 5.........................................9 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton................67 Tabel 5......................1 Analisa Harga Satuan Bahan.........3 Analisa Harga Satuan Bahan...............................49 Tabel 5.................................16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI..15 Tabel 5.............................................................................1.............................................13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting...71 Tabel 5...4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.........14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton........66 Tabel 5..................................67 Tabel 5......6 Tabel 5.............12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.66 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian..........................................................................62 Tabel 5.. Pembesian Dan Bekisting......................45 Tabel 5......................... Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.........................................10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting....53 Tabel 5.............7 Tabel 5.............................15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW................16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang...............................15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton............5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.....................68 Tabel 5.......... Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan.................................................11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton..............2 Analisa Harga Satuan Bahan...........

85 Tabel 5................................21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja..............100 Tabel 6..............................................3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton...................................78 Tabel 5.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton............................101 Tabel 6............................84 Tabel 5.................Tabel 5.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.6 Total Selisih Harga Satuan.............................5 Tabel 6.......................19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.............................87 Tabel 6.............1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton......... Pembesian Dan Bekisting......83 Tabel 5................................4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.......................18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton.......................... Pembesian Dan Bekisting........................82 Tabel 5............100 Tabel 6.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja......17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan..................... Pembesian Dan Bekisting.......................... Pembesian Dan Bekisting...............101 Tabel 6............................102 Total Rasio Harga Satuan…………………………………………102 xiv ..........................................................................

BOW tanggal 28 Pebruari 1921 Nomor 5372 A pada zaman Pemerintahan Belanda. diperlukan suatu sarana dasar perhitungan harga satuan yaitu Analisa Biaya Konstruksi disingkat ABK Analisa biaya konstruksi adalah suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi. Dalam tahapan manajemen konstruksi tersebut. Sedangkan bagi pekerjaan yang mempergunakan peralatan modern/alat berat. analisa BOW belum memuat pekerjaan beberapa jenis bahan bangunan yang ditemukan di pasaran bahan bangunan dan konstruksi dewasa ini. selanjutnya memiliki fungsi dengan spektrum yang amat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material. Analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken) ialah suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan Dir. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk untuk membangun proyek atau investasi. untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi. yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja. Disamping itu analisa tersebut hanya dapat dipergunakan untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional. terdapat berbagai permasalahan mengenai pengelolaan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan.BAB I PENDAHULUAN 1. 1 . sehingga perlu direncanakan suatu rancangan atau estimasi anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan. analisa BOW tidak dapat dipergunakan sama sekali. Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelengaraan proyek. Namun bila ditinjau dari perkembangan industri konstruksi saat ini. Analisa biaya konstruksi yang selama ini dikenal yaitu analisa BOW. tenaga kerja. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pembangunan gedung dan bangunan di bidang konstruksi. pelayanan maupun waktu.1 Latar Belakang Dalam sebuah proyek konstruksi terdapat berbagai tahapan yang berkaitan dengan manajemen konstruksi.

Bila penawaran harga yang diajukan di dalam proses lelang terlalu tinggi. baik bahan maupun upah tenaga kerja. Dalam kondisi perekonomian negara sekarang ini yang sedang mengalami krisis ekonomi. secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada harga upah pekerja serta harga kebutuhan bahan/material. Selain itu analisa SNI dapat dipergunakan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam mengefisienkan dana pembangunan yang dialokasikan. namun hanya untuk perumahan sederhana. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu melalui pengumpulan data sekunder berupa analisa biaya yang dipakai oleh beberapa kontraktor dalam menghitung harga satuan pekerjaan. kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan. Keuntungan finansial yang diperoleh kontraktor tergantung pada kecakapannya membuat perkiraan biaya.2 Ada beberapa analisa BOW yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pembangunan. Pusat penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian untuk mengembangkan analisa BOW. Agar lebih luas cakupannya. melalui penelitian lapangan pada proyek-proyek pembangunan perumahan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan produk analisa biaya konstruksi yang telah dikukuhkan sebagai Standar Nasional Indonesia / SNI pada tahun 1991 – 1992 oleh Badan Standarisasi Nasional / BSN. Pelaksana pembangunan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana. Untuk mengatasi permasalahn tersebut. Pada tahun 1987 sampai 1991. Data primer yang diperoleh dipakai sebagai pembanding / cross. maka pada tahun 2002 SNI dikaji kembali untuk disempurnakan dengan sasaran lebih luas yaitu bangunan gedung dan perumahan.check terhadap kesimpulan data sekunder yang diperoleh. Namun demikian analisa BOW masih dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya bangunan. Di samping itu dilakukan pula pengumpulan data primer. konsultan. maka diperlukan manajemen yang baik dan teratur pada pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi. kemungkinan besar kontraktor akan mengalami .

Mengetahui selisih ( % ) perbandingan harga satuan bahan. Komponen apa saja yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan ? 1. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Pada saat ini. kontraktor umumnya membuat harga penawaran berdasarkan analisa yang tidak seluruhnya berpedoman pada analisa BOW maupun analisa SNI. . akan mengalami kesulitan dibelakang hari.2 Rumusan Masalah Dari uraian diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah pokok sebagai berikut : 1. SNI dan penawaran kontraktor ? 2. Berapa rasio perbandingan harga satuan material.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Sebaliknya bila memenangkan lelang dengan harga terlalu rendah. Mengetahui komponen dominan yang menjadi perbedaan dan persamaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan. SNI dan penawaran kontraktor. 1. Mengetahui rasio perbandingan harga satuan bahan. Para kontraktor lebih cenderung menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan dengan analisa mereka sendiri-sendiri yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. SNI dan penawaran kontraktor. 2. walaupun tidak terlepas dari analisa BOW ataupun analisa SNI. upah dan pekerjaan antara metoda BOW. Apakah ada selisih harga satuan material. 3. SNI dan penawaran kontraktor ? 3.3 kekalahan.

Indeks penawaran kontraktor berdasarkan RAB kontraktor. indeks SNI dan indeks penawaran kontraktor.5 Batasan Masalah Untuk mempermudah pembahasan maka diberikan batasan-batasan masalah sebagai berikut : 1. 7. Dapat menjadi referensi bagi penulis. Dapat mengetahui besarnya harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang diamati berdasarkan analisa yang berbeda. 2. 6. konsultan dan kontraktor dalam perhitungan harga satuan pekerjaan. 5. Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Biaya langsung yang diperhitungkan adalah biaya material dan upah. 3. Penelitian dilakukan pada pekerjaan beton bertulang. 4. tahun 2007. Harga satuan material dan upah yang digunakan adalah harga satuan dari Dinas PU kabupaten Wajo. . 3.4 Manfaat Penelitian 1. 1. profit dan pajak tidak diperhitungkan. Sebagai masukan para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam perencanaan proyek konstruksi.4 1. 2. Biaya tidak langsung seperti overhead. Indeks yang digunakan adalah indeks BOW.

metode SNI lebih efisien dibandingkan dengan metode BOW. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI (Studi kasus proyek perumahan dan proyek irigasi) oleh Joko Waluyo (2006) Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan. 5 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 103.23 %. diperoleh beberapa kesimpulan antara lain : 1) Dari perhitungan didapatkan perbandingan harga total antara metode BOW dan metode SNI pada proyek irigasi dan proyek perumahan.39 %.344.1 Hasil Penelitian yang Pernah Dilakukan Hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Pada proyek irigasi ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI yaitu sebesar 13.706. Pada proyek perumahan ini metode BOW lebih mahal dibanding dengan metode SNI dengan prosentase perbandingan adalah 16. Pada proyek perumahan selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp. Pada proyek irigasi selisih anggaran biaya antara metode BOW dan metode SNI adalah sebesar Rp.232.218.40. 15. 2) Dari hasil perbandingan diatas jelas terlihat baik pada proyek irigasi maupun pada proyek perumahan.90.

perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dari hasil penelitian hampir semua item pekerjaan menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara kedua metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. dimana metode BOW memiliki prosentase yang lebih besar dikarenakan kualitas sumber daya yang ada pada saat itu masih rendah bila dibandingkan dengan sumber daya yang ada sekarang. Perhitungan indeks upah tenaga berdasarkan jam kerja efektif yaitu 5 jam per hari. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda antara kedua metode tersebut adalah harga satuan upah. Besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya. Dalam tabel perbandingan prosentase diatas terlihat satuan upah sangat dominan sebagai pembeda dengan metode SNI. perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan.6 3) No 1 Tabel komponen perbedaan dan persamaan metode BOW dan SNI : Metode BOW Dalam menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. . Dalam menentukan indeks peralatan didapatkan dari perkiraan rata-rata alat berproduksi. serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. dikarenakan pada metode BOW tidak terdapat perhitungan peralatan. Indeks upah tenaga berdasarkan kepada upah harian kerja. 3 Indeks peralatan didapatkan berdasarkan pada perhitungan sesuai dengan kapasitas peralatan berproduksi. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Metode SNI Dalam Menentukan indeks atau besarnya koefisien bahan. berdasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. 2 Indeks upah tenaga berdasarkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan tiap satuan pekerjaan. Dari perbandingan biaya antara metode BOW dan metode SNI.

7 2. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah penelitian secara langsung di lapangan pada obyek penelitian dan melakukan pengamatan serta pencatatan terhadap tenaga kerja. maka dapat diusulkan modifikasi/alternatif dalam melakukan analisa bahan maupun tenaga dan perlu dilakukan pengujian lanjutan untuk mengkaji pekerjaanpekerjaan lainnya ataupun untuk mengetahui keakuratan koefisien pada masingmasing metoda analisa harga satuan. waktu. umur dan upah mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. bahan/material dan biaya pekerjaan kemudian diaplikasikan dengan metode BOW. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Metode BOW dan BPJK (Studi kasus : pekerjaan pasangan batu belah. Hasil yang diperoleh sebagai berikut : 1) Pengalaman. bahan dan biaya. 3. pelatihan dan kontinuitas dalam bekerja. bronjong dan plesteran pada proyek padat karya di kabupaten Tegal) oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) Dari hasil pengujian antara analisa BOW dan BPJK yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu dari segi waktu. 2) Ternyata penggunaan metode BOW di Kabupaten Sleman dalam menghitung harga satuan pekerjaan hanya sesuai untuk pekerjaan ke Cipta- . Setelah dilakukan penelitian analisis data pembahasan tentang hubungan elemen pengalaman kerja dengan produktivitas maka dapat disimpulkan bahwa faktor pengalaman kerja yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah masa kerja. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan Pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman oleh Dani Kurniawan (2004) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan pada tahun 2004 adalah tentang analisis alternatif terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan pada proyek konstruksi di Kabupaten Sleman.

Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini adalah daftar harga satuan bahan bangunan dan daftar upah tenaga kerja.8 Karyaan. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) Hasil penelitian secara umum dapat disimpulkan bahwa indeks tenaga kerja untuk tiap jenis pekerjaan berdasarkan metode analisis lapangan lebih hemat daripada metode analisis BOW dengan efisiensi penghematan berdasarkan harga upah pada masing-masing pekerjaan sebagai berikut : 1. tidak sesuai untuk pekerjaan jalan. sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan metode lain yang layak dengan kondisi setempat. Pekerjaan Bekisting Kolom 2. yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Biaya ini yang kemudian dibandingkan dengan biaya pada analisa PU ( BOW ) untuk mengetahui seberapa besar selisih biaya yang terjadi dan berapa nilai penghematan yang didapat. Interview.26 % = 44. Pekerjaan Bekisting Balok 3. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai = 68. adalah untuk mendapatkan data-data yang berkenaan dengan pekerjaan bekisting mengenai suatu model bekisting bahan dan material yang digunakan. 4. produktivitas pekerja. Metode yang digunakan : Data primer a. dan biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pekerjaan yang diamati. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok Dan Plat Berdasarkan Analisa BOW Dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) Pengamatan terhadap pekerjaan bekisting balok dan plat yang terjadi pada proyek yang ditinjau.16 % 5.23 % = 63. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. .

207.025. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.214. sedangkan penelitian kali ini membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW. 78. Pada Proyek PP Muhammadiyah bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai.655. 2) Penelitian yang dilakukan oleh Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio (2005) membahas kekurangan dan kelebihan penerapan metoda BOW dan BPJK bukan ditinjau dari elemen struktur. 53. 31. dengan nilai penghematan 2. dengan nilai penghematan 0.00.217.2 Perbedaan Penelitian Dengan Penelitian Sebelumnya Adapun perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian kali ini adalah sebagai berikut : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Joko Waluyo (2006) membahas komponen harga satuan upah dan bahan menggunakan perbedaan dan persamaan pada metode BOW dan SNI bukan ditinjau dari elemen struktur. 3) Penelitian yang dilakukan oleh Dani Kurniawan (2004)membahas analisis alternative terhadap produktivitas tenaga kerja dan harga satuan pekerjaan . dengan nilai penghematan 1.348.21.184. dengan nilai penghematan 1.9 Pada Proyek Hotel Yustina Sri Andarini bila penggunaan bahan bekisting satu kali pakai. 99.00. SNI dan Lapangan yang ditinjau dari elemen struktur.82 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.92 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.206. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp. jika nilai purna jual tidak diperhitungkan selisih yang didapat Rp.10.508. sedangkan penelitian kali ini membahas komponen perbedaaan dan persamaan harga satuan bahan dan upah menggunakan metode BOW. 11. dengan nilai penghematan 2.437.66 dan jika nilai purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.48 dan jika niali purna jual diperhitungkan selisih yang didapat Rp.013.930.87. dengan nilai penghematan 0. 39.10.50.14 2.

Untuk metode Lapangan pengamatan dilakukan berdasarkan pengamatan RAB penawaran Kontraktor. 4) Penelitian yang dilakukan oleh Irman Fakhrudin dan Miftahul Iman (2003) menentukan indeks tenaga kerja dan indeks upah pada pekerjaan bekisting dengan pengamatan langsung di lapangan. sedangkan penelitian kali ini membahas analisis harga satuan pekerjaan menggunakan metode BOW dan SNI. kolom. sloof. sedangkan penelitian kali ini menentukan indeks bahan dan upah pada pekerjaan beton bertulang dengan menggunakan daftar analisa BOW. sedangkan penelitian kali ini mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada pekerjaan beton bertulang yang mencakup pekerjaan bekisting. balok dan tribun menggunakan metode BOW. 5) Penelitian yang dilakukan oleh Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho (2002) mengenai analisis harga satuan pekerjaan pada bekisting balok dan plat menggunakan metode BOW dan Lapangan. pembuatan beton bertulang dan penulangan pada pekerjaan pondasi.10 menggunakan metode BOW dengan pengamatan langsung di lapangan. . SNI dan Lapangan. SNI dan Lapangan.

Perkiraan biaya di atas erat hubungannya dengan analisis biaya. Dengan kata lain.1 Estimasi Biaya Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiran biaya terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek ataupun proyek keseluruhan. menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan. 1995). dan lain-lain. Dalam usaha mencari pengertian lebih lanjut perihal perkiraan biaya. maka penting untuk diperhatikan hubungannya dengan disiplin cost engineering. Penekanan utamanya diberikan faktor-faktor 11 . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. peralatan. Setiap komponen pekerjaan dianalisa kedalam komponen-komponen utama tenaga kerja. Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society – USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. material.BAB III LANDASAN TEORI 3. memperhitungkan dan mengadakan prakiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Estimasi analisis ini merupakan metode yang secara tradisional dipakai oleh estimator untuk menentukan setiap tarif komponen pekerjaan. Sedangkan analisis biaya menitik beratkan pada pengkajian dan pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sebagai masukan. yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk untuk menyusun perkiraan biaya. Definisi cost engineering menurut AACE (The American Association of Cost Engineer) adalah area dari kegiatan engineering di mana pengalaman dan pertimbangan engineering dipakai pada aplikasi prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan di dalam masalah perkiraan biaya dan pengendalian biaya (Iman Soeharto. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (time-phased).

1 Jenis Anggaran Proyek Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. Bila angka ABD tidak realistis sudah tentu akan dijumpai kesulitan membuat interpretasi atau menarik kesimpulan yang tidak tepat di dalam kegiatan pengendalian.12 proyek seperti jenis. 1995. perkiran biaya angaran dibuat pada periode tertentu dalam siklus proyek. proses penyusunan aggaran biaya definitif. Salah satu jenis anggaran proyek adalah anggaran biaya definitif. lokasi. 1994). • bagi kontraktor (kontrak harga tetap). Garis besar sistematika penyusunan dapat dilihat pada Gambar 3.1. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. sesuai dengan fungsinya. Anggaran biaya definitif adalah anggaran yang dihasilkan dari usaha optimal dengan fungsi utama: • bagi pemilik (kontrak harga tidak tetap). di mana telah diselesaikan studi kelayakan proyek. Karena fungsi utama pokok ABD adalah sebagai patokan kegiatan pengendalian. Perencanaan Biaya Bangunan.1. akhir tahap perencanaan PP/definisi yang telah dapat memberikan keterangan lebih lengkap dan terinci mengenai keputusan dilanjutkan atau tidaknya investasi untuk membangun proyek. sebagai angka dasar pengendalian biaya internal. Setidaknya terdapat dua titik kritis dari sudut kelayakan dan kelangsungan proyek atau investasi yaitu : • • akhir tahap konseptual. . 3. ukuran. bentuk dan tinggi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya konstruksi (Allan Ashworth. sebagai patokan kegiatan pengendalian biaya. maka hasil pengendalian akan sangat tergantung dari kualitas anggaran biaya definitif.

Proses penyusunan Anggaran Biaya Definitif (ABD) (Sumber : Iman Soeharto.“Quantity take-off” . yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi lingkup kegiatan yang akan dikerjakan.Kontigensi Total biaya proyek Masukan lain Material dan Peralatan .Penawaran dari paket MR/PO .Indeks harga Total biaya material dan peralatan Gambar 3.Harga peralatan .Satuan harga material curah . 1995.Jam-orang efektif Site survey Total biaya tenaga kerja Data bank . 1995) 3.Produktivitas .2 Kualitas Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. kemudian .13 Tenaga kerja . kualitas suatu perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi dan kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada halhal berikut : • • • • Tersedianya data dan informasi Teknik atau metode yang digunakan Kecakapan dan pengalaman estimator Tujuan pemakaian biaya proyek Untuk menghitung biaya total proyek. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Overhead .1.Standar jam orang . Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.1.Eskalasi .

1. mudah diukur atau diperhitungkan dan dinilai perbandingannya (rasio) terhadap data standar. Terlihat di sini yang memegang peranan kunci adalah penentuan angka rasio terhadap dasar atau standar. Misalnya tiang penyangga suatu rumah tinggal dapat dibuat dari kayu. besi atau beton tetapi fungsinya adalah tetap sama sebagai tiang. 1995. dalam arti masukan yang berupa data dan informasi yang baru diperoleh. Pada metode elemental analysis cost estimating. Pengembangan rasio dapat dilakukan dari penelitian atas data proyek terdahulu ataupun informasi dari sumber lain. lingkup proyek diuraikan menjadi unsur-unsur menurut fungsinya. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. dan bila telah diberi beban biaya. salah satu metode perkiraan biaya yang sering dipakai adalah metode menganalisis unsur-unsurnya. • • dapat dibandingkan dengan komponen biaya proyek lain yang sejenis. Klasifikasi fungsi menurut unsur-unsurnya menghasilkan bagian atau komponen lingkup proyek yang berfungsi sama. 3. Hal ini memerlukan kecakapan. berarti menunjukkan komponen biaya proyek lain yang sejenis .3 Metode Perkiraan Biaya Menurut Iman Soeharto dalam bukunya. maka pemilihan fungsi hendaknya didasarkan atas : • jelas menunjukkan hubungan antara komponen-komponen proyek.14 mengkalikannya dengan biaya masing-masing lingkup yang dimaksud. Agar penggunaannya dalam perkiraan biaya efektif. Bila pengelompokan unsur-unsur berdasarkan fungsi tersusun maka perkiraan biaya dapat dimulai sejak awal proyek (membuat perkiraan biaya kasar) sampai kepada anggaran yang amat akurat (anggaran definitif). pengalaman serta judgment dari estimator. Perkiraan biaya dengan metode menganalisis unsur-unsurnya ini sering dijumpai pada proyek pembangunan . dapat ditampung dalam rangka meningkatkan kualitas perkiraan biaya. Struktur yang diperoleh menjadi sedemikian rupa sehingga perbaikan secara bertahap dapat dilakukan sesuai dengan kemajuan proyek.

Kolom interior .Sistem conveying .Dinding eksterior .Sistem HVAC .Pondasi .Atap .Pekerjaan lahan (site) .Kontigensi .Sistem pemipaan . 1995) 3. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional.Mark-up (Sumber : Iman Soeharto.Eksterior . Means Engineering News Record .Persiapan site .Pondasi .2 Biaya Konstruksi Proyek Hal-hal yang yang erat hubungannya dengan biaya konstruksi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Kerja Konstruksi Untuk menyelenggarakan proyek. Jenis dan intensitas kegiatan .Interior .1 tentang pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung.Substruktur .Sistem HVAC .Listrik .Super struktur . Pengelompokan berdasarkan fungsi untuk proyek gedung oleh Means dan Engineering News Record.Pemipaan . Secara sistematisnya dapat dilihat pada Tabel 3.Sistem conveying . salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja.Dinding interior .1.Fixed equipment .Lantai .15 gedung.Pintu .Listrik .Glazed opening . Tabel 3.

supervisor dan pekerja lapangan untuk pabrikasi dan konstruksi. truk. Ini dapat berupa crane. 1995). seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pada tahap desain engineering dan pembelian. kompresor udara. dalam implementasinya akan menghadapi kesulitan. Berbagai faktor harus diteliti sebelum sampai pada satu keputusan seperti adakah bengkel lokal. lengkapkah peralatan. jenis keterampilan. pengeruk tanah (back-hoe). grader. Sama halnya dengan sumber daya manusia. Dalam memperkirakan biaya konstruksi. (Iman Soeharto. 2) Peralatan Konstruksi Yang dimaksud dengan peralatan konstruksi adalah alat / peralatan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan konstruksi secara mekanis. scraper. berbatu di mana peralatan konstruksi harus . sehingga penyediaan jumlah tenaga kerja. adalah perencanaan untuk untuk peralatan dan material proyek. maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja. Bertolak dari kenyataan tersebut. dan lain-lain. Keadaan yang sering dialami adalah keterbatasan jumlah penawaran dibanding permintaan di wilayah yang bersangkutan pada saat diperlukan. tersediakah suku cadang dan personil untuk menanganinya. Dengan mengenal lingkup kerja proyek dan jadwal pelaksanaannya. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya. maka bagaimanapun baiknya rencana di atas kertas. membeli atau memakai milik sendiri tetapi harus mendatangkannya dari tempat jauh. Terutama untuk daerah rawa.16 proyek berubah cepat sepanjang siklusnya. maka dapat dianalisis macam dan jumlah peralatan konstruksi yang diperlukan. maka dapat dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan baik kuantitas maupun kualitas. dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. berlumpur atau berdebu. terutama bagi long delivery items. bila tidak hendaknya dipertimbangkan mendatangkan sendiri suku cadang serta ahli mekanik dari luar berikut menyiapkan fasilitas akomodasinya. Bila hal ini terjadi. atau yang langka tersedia di pasaran. salah satu tugas yang sulit bagi kontraktor adalah memilih antara menyewa.

pengepakkan. (Iman Soeharto.1 Biaya Langsung Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi. Misalnya peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan beton ialah mesin pengaduk beton. pemeriksaan kualitas dan asuransi 2) Biaya upah tenaga kerja Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal seperti panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis pekerjaan keadaan tempat pekerjaan. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek 3) Biaya peralatan Suatu peralatan yang diperlukan untuk suatu jenis konstruksi haruslah termasuk di dalamnya bangunan-bangunan sementara.17 bekerja berat diperlukan perawatan yang intensif agar peralatan selalu siap beroperasi setiap waktu. Terdapat berbagai alternatif yang tersedia untuk kegiatan tersebut. keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan. mesin-mesin. mencari sumber sampai kepada membayar harganya. jadi sudah termasuk biaya angkutan. Biaya langsung terdiri dari : 1) Biaya material Menyusun perkiraan biaya pembelian material amat kompleks. biaya menaikkan dan menurunkan. 1995). alat-alat tangan (tools). Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. 3. alat-alat tangan untuk membuat cetakan. Harga bahan yang dipakai biasanya harga bahan di tempat pekerjaan. mulai dari membuat spesifikasi. penyimpanan sementara di gudang. memotong dan .2. sehingga bila kurang tepat menanganinya mudah sekali membuat proyek menjadi tidak ekonomis.

telepon yang dipasang di proyek. juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya. . Biaya tidak langsung terdiri dari : 1) Overhead umum Overhead umum biasanya tidak dapat segera dimasukkan ke suatu jenis pekerjaan dalam proyek itu. asuransi. gudang dan alat-alat menaikkan dan menurunkan bahan. listrik. supervisi serta jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi bangunan permanen tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. Biaya peralatan termasuk juga biaya sewa. Prosentase ini juga tergantung dari besarnya resiko pekerjaan. biaya-biaya notaris. surat-surat ijin dan lain sebagainya. pajak. pembelian tambahan dokumen kontrak pekerjaan. air. misalnya sewa kantor. memindahkan. asuransi.18 membengkokkan baja-baja tulangan. bunga uang. pengukuran (survey). 2) Overhead proyek Overhead proyek ialah biaya yang dapat dibebankan kepada proyek tetapi tidak dapat dibebankan kepada biaya bahan-bahan. 3. pemasangan alat.2. biaya perjalanan dan pembelian berbagai macam barang-barang kecil. telepon.2 Biaya Tidak Langsung Biaya tidak langsung atau indirect cost adalah pengeluaran untuk manajemen. alat angkut dan lain sebagainya. membongkar dan biaya operasi. peralatan kantor dan alat tulismenulis. 3) Profit Biasanya keuntungan dinyatakan dengan prosentase dan jumlah biaya berjumlah sekitar 8 sampai 15 % tergantung dari keinginan pemborong untuk mendapatkan proyek itu. Jumlah overhead dapat berkisar antara 12 sampai 30 %. pengangkutan. kesukaran-kesukaran yang akan timbul yang tidak tampak dan cara pembayaran dari pemberi pekerjaan. upah tenaga kerja atau biaya alat-alat seperti misalnya.

rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek. Angaran : Perhitungan biaya berdasarkan gambar bestek (gambar rencana) pada suatu bangunan. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang dihitung dengan teliti. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari masing-masing hasil perkiraan volume dengan harga satuan pekerjaan yang bersangkutan. yang dimaksud rencana anggaran biaya (begrooting) suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah. cermat dan memenuhi syarat. 3. Adapun menurut John W. . PPh dan lainnya atas hasil operasi perusahaan.19 4) Pajak Berbagai macam pajak seperti PPN. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah. Biaya : Besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan borongan yang tercantum dalam persyaratan yang ada. disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja . Niron dalam bukunya Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. 1984. serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut.3 Rencana Anggaran Biaya Menurut Bachtiar Ibrahim dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. Menurut Sugeng Djojowirono. 1992. 1993. rencana anggaran biaya mempunyai pengertian sebagai berikut : Rencana : Himpunan planning termasuk detail dan tata cara pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan.

Pengalaman kerja sangat mempengaruhi penafsiran biaya secara kasar.2. A. Bagan perhitungan anggaran biaya kasar. A.20 Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : RAB = Σ (Volume) x Harga Satuan Pekerjaan Menurut Ir. Analisa Anggaran Pelaksanaan. dalam bukunya ”Analisa Anggaran Pelaksanaan“.2. 1) Rencana Anggaran Biaya Kasar Merupakan rencana anggaran biaya sementara dimana pekerjaan dihitung tiap ukuran luas. dapat dilihat pada gambar 3. 1984) Anggaran Tabel Pekerjaan . bahwa rencana anggaran biaya dibagi menjadi dua. hasil dari penafsiaran ini apabila dibandingkan dengan rencana anggaran yang dihitung secara teliti didapat sedikit selisih. yaitu rencana anggaran terperinci dan rencana anggaran biaya kasar. Soedradjat Sastraatmadja. Soedradjat Sastraatmadja (1984). Secara sistematisnya. Bagan Perhitungan Anggaran Biaya Kasar (Sumber : Ir. Daftar Upah Daftar Analisa Daftar Tenaga Daftar Bahan Daftar Harga Satuan Pekerjaan Gambar Anggaran Tiap Pekerjaan Daftar Volume Pekerjaan Spesifikasi Gambar 3.

Mukomoko. buku analisis. kemudian dikalikan dengan harga serta dijumlahkan seluruhnya. dalam bukunya Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. Gambar bestek adalah gambar lanjutan dari uraian gambar Pra Rencana. daftar susunan rencana biaya. 1987 dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja. dapat dilihat pada Gambar 3. peyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti. daftar upah. Secara sistematisnya. Daftar Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Material Analisis Harga Satuan Upah Analisis Harga Satuan Alat Analisis Harga Satuan Pekerjaan Daftar Harga Satuan Bahan Daftar Harga Satuan Alat Volume Tiap Jenis Pekerjaan Anggaran Anggaran Biaya Teliti Overhead. Pajak Gambar 3. Gambar bestek merupakan lampiran dari uraian dan syarat-syarat (bestek) pekarjaan.21 2) Rencana Anggaran Biaya Terperinci Dilaksanakan dengan menghitung volume dan harga dari seluruh pekerjaan yang dilaksanakan agar pekerjaan dapat diselesaikan secara memuaskan.3. dimana semua harga satuan dan volume tiap jenis pekerjaan dihitung. 1993.3. Menurut Bachtiar Ibrahim. daftar harga bahan. dalam bukunya Rencana dan Estimate Real of Cost. dan gambar detail dasar dengan skala (PU = Perbandingan Ukuran) yang lebih besar. Yang kedua adalah dengan harga seluruhnya. Profit. didasarkan atau didukung oleh gambar bestek. . A. Cara perhitungan pertama adalah dengan harga satuan. dalam menghitung anggaran biaya suatu pekerjaan atau proyek. Skema Perhitungan Anggaran Biaya Terperinci Menurut J.

Semua ukuran arah vertikal dari lantai diberi tanda ( + ) dan ukuran di bawah lantai diberi tanda ( . Untuk menjelaskan letak atau kedudukan sesuatu konstruksi. 5) Gambar rencana atap PU 1 : 100 .00 m dari lantai. . Gambar bestek terdiri dari : 1) Gambar situasi. letak tinggi jendela dan pintu. misalnya : dasar pondasi.Rencana halaman .Rencana letak bangunan. . Gambar kolom (tiang) dari beton dibedakan dari pasangan tembok.Rencana jalan dan pagar. sedangkan gambar penerangan atas (bovenlich) digambar dengan garis putus. 4) Gambar pandangan PU 1 : 100 Pada gambar pandangan tidak dicantumkan ukuran-ukuran lebar maupun tinggi bangunan. Pada denah juga digambar garis atap dengan garis-garis putus lebih tebal dan jelas sesuai dengan bentuk atap. Lantai rumah Induk dengan duga (peil) ditandai dengan ± 0. pada gambar potongan harus tercantum duga (peil) dari lantai. maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya. 3) Gambar Potongan PU 1 : 100 Gambar potongan terdiri dari melintang dan membujur menurut keperluannya. tinggi langit-langit.22 Gambar bestek dan bestek merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan skop pekerjaan. Gambar denah melukiskan gambar tapak (tampang) setinggi ± 1. hingga gambar pintu dan jendela terlihat dengan jelas.00.Rencana saluran pembuangan air hujan. nok reng balok/muurplat. PU 1 : 200 atau 1 : 500 terdiri dari : . 2) Gambar denah PU 1 : 100. .Rencana garis batas tanah dan roylen.). Gambar pandangan lengkap dengan dekorasi yang disesuaikan dengan perencanaan.

1 Volume / Kubikasi Pekerjaan Menurut Bachtiar Ibrahim. RENCANA SANITASI = N 3. Jadi volume (kubikasi) . SAMPING KANAN 5.Gambar konstruksi baja. dengan jelas. DENAH LISTRIK =L =M 14. nok gording.Lengkap dengan ukuran-ukuran dan perhitungan konstruksinya. T. yang dimaksud dengan volume suatu pekerjaan ialah menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan. cetakan keempat. TAMPAK MUKA 3. muurplat/reng balok. . POTONGAN III-III 10. TAMPAK BELAKANG 4. 7) Gambar pelengkap. POTONGAN II – II 9. TAMPAK SAMPING KIRI 6. RENCANA PLAFOND = K 12. RENCANA KAP =H =I =J 11. DENAH KUSEN 13. dalam buku Rencana dan Estimate Real of Cost. DENAH PONDASI 7. keilkeper. hooker. usuk/kasau dan konstruksi penahan. 2007.23 Gambar rencana atap menggambarkan bentuk konstruksi rencana atap lengkap dengan kuda-kuda. .3. Gambar pelengkap terdiri dari : Gambar listrik dari PLN Gambar sanitair. Gambar saluran pembuangan air kotor.Gambar konstruksi kayu. Jakarta.Gambar konstruksi beton bertulang. POTONGAN I – I =A =B =C =D =E =F =G 8. 6) Gambar konstruksi PU 1 : 50 Gambar konstruksi terdiri dari : . Gambar saluran pembuangan air hujan. . DENAH 2. Dibawah ini diberikan daftar gambar bestek yang telah diberi nomor seri A sampai N dengan perincian sebagai berikut : 1. Volume juga disebut sebagai kubikasi pekerjaan. talang air.

dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Bahan. lisplank 28 m.2 Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan pekerjaan ialah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. .3. Masing-masing volume di atas mempunyai pengertian sebagai berikut : . d.Volume dikunci dihitung berdasarkan jumlah banyaknya kunci. . Dibawah ini diberikan beberapa contoh sebagai berikut : a. c. dan sebagainya. yaitu panjang x luas penampang yang sama. Harga bahan didapat di pasaran. yaitu jumlah luas bidang-bidang atap. bukanlah volume dalam arti sesungguhnya melainkan volume dalam satuan. seperti segitiga. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan kualitas tersendiri. kecuali volume pondasi batu kali 25 m3 yang merupakan volume sesungguhnya.24 suatu pekerjaan. seperti volume pondasi batu kali 25 m3. b.Volume lisplank dihitung berdasarkan panjang atau luas. 3.Volume atap dihitung berdasarkan luas. yaitu jumlah panjang angker x berat/m. trapezium. Untuk itu sebagai patokan harga biasanya didasarkan pada lokasi daerah bahan tersebut berasal dan sesuai dengan harga patokan dari . bukanlah merupakan volume (isi sesungguhnya).Volume pondasi batu kali dihitung berdasarkan isi. Hal ini menjadi harga material tersebut beragam. angker besi beton 40 kg dan kunci tanam 17 buah. Volume pondasi batu kali Volume atap Volume lisplank Volume angker besi Volume kunci tanam = 25 m3 = 140 m2 = 28 m = 40 kg = 17 buah Dari contoh di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa satuan masingmasing volume pekerjaan. persegipanjang. melainkan jumlah volume bagian pekerjaan dalam satu kesatuan.Volume angker besi dihitung berdasarkan berat. . atap 140 m2. . e.

dan gambar 3. Upah tenaga kerja didapatkan dilokasi.S. . Pada analisa ini sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing. Upah + H. Secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : Harga Satuan Pekerjaan = H. dapat dilihat pada gambar 3.5. dikumpulkan dan dicatat dalam satu daftar yang dinamakan Daftar Harga Satuan Upah.S. Bahan + H.4. dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Alat Secara sistematisnya. Untuk menentukan harga bangunan dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat Daftar Harga Satuan Bahan. Untuk menentukan harga satuan alat dapat diambil standar harga yang berlaku di pasar atau daerah tempat proyek dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU setempat yang dinamakan Daftar Harga Satuan Alat. Misalnya untuk harga semen harus berdasarkan kepada harga patokan semen yang ditetapkan.S. Dari ketiga metoda yang digunakan sudah termasuk peralatan kerja atau setiap pekerja harus mempunyai peralatan kerja sendiri yang mendukung keahlian masing-masing.25 pemerintah. Untuk menentukan upah pekerja dapat diambil standar harga yang berlaku di pasaran atau daerah tempat proyek dikerjakan yang sesuai dengan spesifikasi dari dinas PU.

4.26 Daftar Harga Bahan Harga Satuan Bahan Analisa Harga Satuan Bahan Daftar Harga Upah Kerja Harga Satuan Upah Harga Satuan Pekerjaan Analisa Harga Satuan Upah Daftar Harga Sewa Alat Harga Satuan Alat Analisa Harga Satuan Alat Gambar 3. Manajemen Konstruksi. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (Sumber : Sugeng Djojowirono. Skema Harga Satuan Pekerjaan HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BARANG Koefisien x harga satuan (bahan) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) HARGA BAHAN Koefisien x harga satuan (upah) Harga Satuan Pekerjaan (Rp / Satuan Volume) Gambar 3.5. Yogyakarta. 1984) .

Kebutuhan bahan dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut : Σ Bahan = Volume pekerjaan x Koefisien analisa bahan Indeks bahan merupakan indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut.3. 1993). menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan.1 Analisa Harga Satuan Bahan Analisa bahan suatu pekerjaan. ialah menghitung banyaknya/volume masing-masing bahan. (Bachtiar Ibrahim. dan peralatan untuk membuat satu-satuan pekerjaan tertentu yang diatur dalam pasal-pasal analisa BOW maupun SNI. volume pekerjaan yang akan dikerjakan. Sedangkan analisis Lapangan ditetapkan berdasarkan perhitungan kontraktor pelaksana.3.3. 3. 1994 dalam Dani Kurniawan.2 Analisa Harga Satuan Upah Analisa upah suatu pekerjaan ialah. upah tenaga kerja dan peralatan segala jenis pekerjaan. serta besarnya biaya yang dibutuhkan sedangkan indeks satuan bahan menujukkan banyaknya bahan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 m3. dari hasilnya ditetapkan koefisien pengali untuk material.3.3. kecepatan . (Bachtiar Ibrahim. 1993) Kebutuhan tenaga kerja ialah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan.27 3. 2004). Analisa bahan dari suatu pekerjaan merupakan kegiatan menghitung banyaknya / volume masing-masing bahan. Kebutuhan bahan/material ialah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan (Bachtiar Ibrahim. 1 m2. upah tenaga kerja. serta besarnya biaya yang dibutuhkan. 3.3 Analisa Harga Satuan Analisa harga satuan pekerjaan merupakan analisa material.

(Bachtiar Ibrahim. Tugasnya hanya membantu dalam persiapan bahan atau pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.28 dan penyelesaian suatu pekerjaan tergantung dari kualitas dan kuantitas pekerjaannya (Dani Kurniawan. Pekerja. jenis tenaga ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling tinggi dan tugasnya hanya mengawasi pekerjaan.3 Analisa Harga Satuan Alat Harga satuan dasar alat terdiri dari : Biaya pasti (initial cost atau capital cost) Biaya operasional dan pemeliharaan (direct operational and maintenance cost). jenis tenaga kerja ini adalah tingkatan tenaga kerja yang paling rendah. adalah tenaga kerja yang bertugas dalam hal pemasangan batu pada adukan atau menempelkan adukan pada konstruksi pekerjaan. jenis tenaga ini juga bertugas mengepalai tukang batu yang lain.3. Secara umum jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk suatu volume pekerjaan tertentu dapat dicari dengan rumus : Σ Tenaga Kerja = Volume Pekerjaan x Koefisien analisa tenaga kerja Indeks satuan tenaga kerja adalah besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satuan pekerjaan. selain bertugas sebagai tukang batu. Tukang batu. 1) Biaya Pasti Biaya pasti (pengembalian modal dan bunga) setiap bulan dihitung sebagai berikut : . 1993). Upah yang diterima jenis tenaga ini pun paling rendah. Kepala tukang. Tingkatan dan tugas tenaga kerja pada masing-masing metoda adalah sebagai berikut : a. 3. c. Mandor.3. d. b. 2004).

W = 8 x 250 x 1 = 2000 jam/tahun. maka . ongkos angkut. C = Nilai sisa (salvage value) yaitu nilai/harga dari peralatan yang bersangkutan setelah umur ekonomisnya berakhir.003 x c W = Jumlah jam kerja alat dalam satu tahun Bagi peralatan yang bertugas berat (memungkinkan bekerja secara terus menerus sepanjang tahun) dianggap bekerja 8 jam hari dan 250 hari/tahun. G B = biaya pasti = harga alat setempat bila pengadaan alat tidak melalui dealer. maka . yang dimaksud harga setempat adalah harga dari CIF ditambah biaya masuk. = 0. F = Biaya asuransi pajak dan lain-lain per tahun Besarnya nilai ini biasanya diambil sebesar 2 per mil dari initial cost atau 2% dari nilai sisa alat. dianggap bekerja 8 jam/hari dan 200 hari/tahun. dan lain-lain sampai ke gudang pembeli. D = Faktor angsuran / pengembalian modal. W = 8 x 200 x 1 = 1600 jam/tahun .002 x B = 0.29 G = (B – C) x D + F / (W) Dimana. biaya sewa gudang. Bagi peralatan yang bertugas sedang. = i x (1 + i)^ / / ( (1 + i) A ) – 1 A = Umur ekonomis peralatan (economics life years) dalam tahun yang lamanya tergantung dari tingkat penggunaan dan standar dari pabrik pembuatnya. Biasanya nilai ini diambil 10% dari initial cost (harga pokok setempat). bila membeli setempat artinya lewat dealer/agen adalah harga sampai ke gudang pembeli.

Pelumas (I) Bahan pelumas yang meliputi bahan pelumas mesin. Kebutuhan bahan baker merupakan kebutuhan bahan baker untuk mesin penggeraknya. penggantian batere / accu dan perbaikan alat. saringan agregat untuk stone crusher / AMP. biaya penggantian bagian-bagian yang aus (bukan spareparts) seperti konveyer belt. Kebutuhan pelumas per jam dapat dihitung berdasarkan kebutuhan jumlah oli yang dibutuhkan dibagi beberapa jam oli tersebut harus diganti (sesuai dengan jenis oli dan manual dari peralatan yang bersangkutan). saringan/filter udara dan lain sebagainya. b. Biaya Operator (M) Upah di dalam biaya operasi biasanya dibedakan antara upah untuk operator/driver dan upah pembantu operator. Biaya bahan bakar (H) Kebutuhan bahan baker tiap jam diambil dari manual peralatan yang bersangkutan. dan lain sebagainya. Adapun besarnya upah untuk operator/driver dan pembantunya tersebut diperhitungkan sesuai dengan besar perhitungan upah kerja per jam diperhitungkan upah 1 jam kerja efektif. d. berikut bahan baker yang digunakan untuk proses produksi (misalnya AMP termasuk bahan baker untuk pemanasan dan pengeringan agregat).30 2) Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Teoritis Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan tiap-tiap unit peralatan yang dipergunakan dihitung sebagai berikut : a. . Biaya perawatan meliputi biaya penggantian saringan pelumas. c. e. grease. Biaya perbaikan / Spareparts (K) Biaya ini meliputi biaya penggantian ban. pelumas hidrolik. pelumas power steering. pelumas transmisi.

Untuk memudahkan perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan suatu peralatan dapat digunakan rumus-rumus pendekatan yang berlaku untuk seluruh macam peralatan. maka apabila rumus tersebut ditetapkan untuk menghitung biaya operasi dan pemeliharaan satu macam peralatan hasilnya akan kurang akurat. HP = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power . Biaya bahan bakar (H) Besarnya bahan bakar yang digunakan untuk mesin penggerak adalah tergantung dari besarnya kapasitas mesin yang biasa di ukur dengan HP (horse power) H = (12. H HP = besarnya bahan bakar yang digunakan dalam 1 jam 1 liter = kapasitas mesin penggerak dalam horse-power 12.5% = untuk alat yang bertugas ringan 17. Rumus-rumus perhitungan pendekatan biaya operasi dan pemeliharaan seluruh peralatan hasilnya masih dalam batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : a. Namun kalau dipergunakan untuk menghitung kewajaran.5% = untuk alat yang bertugas berat b.31 3.5) % x HP Dimana . Biaya Pelumas (I) Besarnya pelumas (seluruh pemakaian pelumas termasuk grease) yang digunakan untuk alat yang bersangkutan dihitung berdasarkan kapasitas mesin yang diukur dengan HP I = (1 s/d 2) % x HP Dimana. estimator akan mengalami kesulitan apabila perhitungan biaya operasi dan pemeliharaan menggunakan manual tiaptiap alat yang bersangkutan.5 s/d 17. Karena rumus sifatnya pendekatan. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Cara Pendekatan Mengingat banyak ragamnya peralatan dan berbagai merek yang akan dipergunakan.

32

1% 2% c.

= untuk peralatan sederhana = untuk peralatan cukup kompleks

Biaya Perbaikan dan Perawatan (K) Untuk menghitung biaya spareparts, ban, accu dan perbaikan alat yang berkaitan dengan perbaikan dalam jam kerja dipakai pendekatan : K = (1,25 s/d 17,5) % x (B/W)

Dimana; B W = harga pokok alat = jumlah jam kerja dalam 1 tahun

12,5 % = untuk alat yang bertugas ringan 17,5 % = untuk alat yang bertugas berat Keluaran harga satuan dasar alat adalah Harga Satuan Dasar Alat yang meliputi biaya pasti, biaya operasi dan pemeliharaan dan biaya operatornya.

3.3.4

Metode Perhitungan Sebelum menghitung harga satuan pekerjaan, maka harus mampu

menguasai cara pemakaian analisa BOW, SNI. Dalam analisa BOW, telah ditetapkan angka jumlah tenaga kerja dan bahan untuk suatu pekerjaan. Sedangkan SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW dengan kata lain bahwasanya analisa SNI merupakan analisa BOW yang diperbaharui. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan upah yang berlaku saat itu. Analisa dengan metode SNI, untuk kebutuhan bahan atau material dan kebutuhan upah sama dengan metode BOW, akan tetapi besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja berbeda dengan analisa BOW.

33

Sedangkan dengan metode Lapangan digunakan perhitungan harga satuan pekerjaan dari dari kontraktor pelaksana proyek konstruksi.

3.3.4.1 Analisa Harga Satuan Metode BOW Menurut John. W. Niron dalam buku yang berjudul Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan ( Rencana Anggaran Biaya Bangunan), 1990 analisis BOW merupakan suatu rumusan penentuan harga satuan tiap jenis pekerjaan. Satuannya ialah Rp. .../m3, Rp. …/m2, Rp. …/m1. Tiap jenis pekerjaan tercantum indeks analisis yang paten. Ada 2 (dua) kelompok angka / koefisien dalam analisa. 1. Pecahan / angka satuan untuk bahan (indeks satuan bahan) 2. Pecahan / angka satuan untuk tenaga kerja (indeks satuan tenaga kerja). Kegunaannya : 1. Kalkulasi bahan yang dibutuhkan. 2. Kalkulasi upah yang mengerjakan. Berdasarkan metode percobaan jumlah bahan pembentuk untuk satu satuan bahan pekerjaan, cara penggunaan : angka analisis / koefisien dikalikan dengan bahan / upah setempat. Prinsip yang terdapat dalam metode BOW mencakup daftar koefisien upah dan bahan yang telah ditetapkan. Keduanya menganalisa harga (biaya) yang diperlukan untuk membuat harga satuan pekerjaan bangunan. Dari kedua koefisien tersebut akan didapatkan kalkulasi bahan-bahan yang diperlukan dan kalkulasi upah yang mengerjakan. Komposisi, perbandingan dan susunan material serta tenaga kerja pada satu pekerjaan sudah ditetapkan, yang selanjutnya dikalikan dengan harga satuan material dan harga satuan upah yang berlaku pada daerah setempat. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan pasang pondasi batu kali adalah sebagai berikut: Untuk 1 m3 pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir diperlukan: Bahan : An. G. 32 h 1.2 m3 batu kali 4.0715 zak semen @ Rp. 70,000.00 @ Rp. 46,719.40 = Rp. 84,000.00 = Rp. 190,218.04

34

0.522 m3 pasir

@ Rp. 59,547.60

= Rp.

31,083.85

Rp. 305,301.89 Upah : An. G. 32 a 1.200 Tukang batu 0.120 Kepala tukang 3.600 Pekerja 0.180 Mandor @ Rp. 43,500.00 @ Rp. 50,000.00 @ Rp. 35,000.00 @ Rp. 45,000.00 = Rp. = Rp. 52,200.00 6,000.00

= Rp. 126,000.00 = Rp. 8,100.00

Rp. 192,300.00 Harga satuan pekerjaan = Bahan + Upah = Rp. 305,301.89 + Rp. 192,300.00 = Rp. 497,601.89

3.3.4.2 Analisa Harga Satuan Metode SNI Prinsip pada metode SNI yaitu perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh Indonesia, berdasarkan harga satuan bahan, harga satuan upah kerja dan harga satuan alat sesuai dengan kondisi setempat. Spesifikasi dan cara pengerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah dibakukan. Kemudian dalam pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada gambar teknis dan rencana kerja serta syaratsyarat yang berlaku (RKS ). Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 15 % - 20 %, dimana didalamnya termasuk angka susut, yang besarnya tergantung dari jenis bahan dan komposisi. Jam kerja efektif untuk para pekerja diperhitungkan 5 jam per hari. Prinsip perhitungan harga satuan pekerjaan dengan metode SNI hampir sama dengan perhitungan dengan metode BOW, akan tetapi terdapat perbedaan dengan metode BOW yaitu besarnya nilai koefisien bahan dan upah tenaga kerja. Tata cara ini disusun merujuk kepada hasil pengkajian dari beberapa analisa pekerjaan yang telah diaplikasikan oleh beberapa kontraktor dengan pembanding adalah analisa BOW 1921 dan penelitian analisa biaya konstruksi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman pada tahun 1998 sampai dengan 1993.

115. 35.750.00 x @ Rp.61 . 45.39 Jumlah (1) 5. 934. 59. SNI 03-2445-1991/SK SNI S-05-1990-F.00 x @ Rp. Hasil Penelitian Analisa Biaya Konstruksi – Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman tahun 1988 – 1991.84 x @ Rp.Semen Portland = Rp. 43.547.892.1 5.000. 50.00 kg x @ Rp. 203. = Rp.875. = Rp.75 = Rp.tukang batu . Spesifikasi bahan tambahan untuk beton 3.000.500. Spesifikasi ukuran kayu gergajian untuk bangunan rumah dan gedung 2.chipping/split .00 73.025 Oh 3 . SK SNI S-05-1989.pekerja .964. Spesifikasi bahan bangunan bagian C (Bahan bangunan dari logam bukan besi) 6.02 = Rp.600. Spesifikasi bahan bangunan bagian A (Bahan bangunan bukan logam) 4.00 1.520 m3 = 218.080 Oh = 0. SNI 03-2495-1991/SKSNI S-18-1990-03.mandor . 57. SK SNI S-04-1989-F. = Rp. 239.pasir beton .35 Tata cara ini merujuk pula kepada beberapa SNI-analisa biaya konstruksi antara lain : 1.777.780 m3 = 0. 421. SK SNI-06-1989-F.5.00 x @ Rp. = Rp. Spesifikasi bahan bangunan bagian B (Bahan bangunan dari besi/baja) 5.00 Harga satuan pekerjaan 1 m membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) .650 Oh = 0.250.60 x @ Rp. Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr adalah sebagai berikut: 5.250 Oh = 0.1 1 m3 Membuat beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr Bahan : = 0.2 Tenaga : = 1. 187.697.475.000.5.10 = Rp. 30.00 3.00 Jumlah (2) = Rp.00 10.kepala tukang x @ Rp.

Contoh perhitungan harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr adalah sebagai berikut: 1 m3 beton bertulang dengan campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr Bahan : . Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya (actual cost). Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan. harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi pada suatu konstruksi. Sehingga analisis yang diperoleh langsung diambil dari kenyataan yang ada di lapangan berikut dengan perhitungan koefisien / indeks lapangannya. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan Upah. Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut : 1. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara .39 = Rp.61 73.04 . 421.36 = Rp. = Rp.475.3 Analisa Harga Satuan Metode Lapangan Menurut A.3. 313. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah tenaga kerja). perkalian antara harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja. 4.777.4. Tentang cocok atau tidaknya suatu taksiran biaya dengan biaya yang sebenarnya sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil penaksir berdasarkan pengalamannya. 2.61 + Rp. 3.252.955. 934.000 kg x @ Rp. perkalian antara harga satuan bahan dengan nilai koefisien bahan. Menghitung harga satuan bahan dengan cara .semen portland = 336. 495.00 3.

60 = Rp. b.975.423.00 + Rp.750.pasir beton . 35.000 Oh x @ Rp.70 194.00 45.10 = Rp.00 x @ Rp. 239. dalam perencanaan struktur bertulang harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) analisis struktur harus dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.000.00 Jumlah (2) = Rp. 4) analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematik yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsure-unsurnya.37 . = Rp.000.kepala tukang .00 x @ Rp.koral beton = 0. 45.000. 50. 1991.892. 59.225.000 Oh = 0. 5) bila cara penghitungan menyimpang dari tata cara ini harus mengikuti persyaratan sebagai berikut : .00 = Rp.60 540. harus memberitahukan prinsip dari program dan harus ditunjukkan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.540 m3 = 0.547. = Rp. Tenaga kerja : .155.mandor = 2.265.00 1. 58. Jumlah (1) = Rp. 70.pekerja .00 x @ Rp. 131.34 x @ Rp.950.tukang batu . 344..000.350 Oh = 0.00 3.15.00 = Rp. = Rp. 43.035 Oh = 1.810 m 3 x @ Rp. 2) analisis dengan computer.00 15.4 Struktur Dalam buku SK SNI T – 15 – 1991 – 03 yang berjudul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. 3) percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritik. 285.000. 32.500.00 Harga satuan pekerjaan 1 m3 membuat beton bertulang 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr = Jumlah (1) + Jumlah (2) = Rp.312.

38 a. semen tahan sulfat. semen alumina. – 2. b. penghitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang penting harus dipastikan dulu sifat-sifat tersebut dengan mengadakan percobaan-percobaan. Campuran beton itu tergantung daripada sifat-sifat bahan-bahan yang akan dipergunakan. 1985. Unit harga satuan beton tulang adalah per meter kubik ( m3 ). 3.5 Beton Bertulang J. A. Beton adalah campuran antara PC (semen).I.1 Bahan – Bahan Dalam buku Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Mukomoko dalam bukunya yang berjudul Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Semen Untuk konstruksi beton bertulang pada umumnya dapat dipakai jenis-jenis semen yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-8. dan .5. 3. pasir dan kerikil atau batu pecah dalam perbandingan tertentu. Laporan panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan menggunakan cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata cara ini. tanggung jawab atas penyimpangan. dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan. yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut. bahanbahan beton bertulang adalah sebagai berikut : a. c. Bila perlu. Apabila diperlukan persyaratan-persyaratan khusus mengenai sifat betonnya. lanjutan atau tambahan. konstruksi yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan penghitungan dan atau percobaan cukup aman. maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang ditentukan dalam NI-8 seperti : semen Portland-tras. panitia dapat meminta diadakan percobaan ulang. 1971 N.

Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (ditentukan terhadap berat kering). dapat juga dipakai semen tras kapur. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. d. Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0. Apabila kadar lumpur melampaui 5 %. selain jenis-jenis semen yang disebut di muka. Baja dan batang tulangan Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Agregat halus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras. Berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2. seperti terik matahari dan hujan. asam. e. maka agregat halus harus dicuci. bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan / atau baja tulangan. garam-garam. artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca.Butir-butir agregat harus bersifat kekal. Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak. Agregat kasar (kerikil dan batu pecah) Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. Untuk beton mutu Bo.39 lain-lain. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. b. Agregat halus (pasir) Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu. 3 atau 4 batang yang . Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder (dengan larutan NaOH). c. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. alkali. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng.063 mm. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton.

Jika digunakan concrete mixer. keawetan dan kemudahan untuk dikerjakan tergantung dari perbandingan campuran dan nilai faktor air semen (water cement ratio). kereta dorong. Peralatan yang dibutuhkan sangat beragam tergantung pada besar kecilnya pekerjaan. merawat pengerasan.5.1 Pekerjaan Adukan Beton Untuk menghitung biaya pekerjaan membuat beton dapat dilakukan dengan menghitung volume campuran sejenis.40 sejajar. Pada dasarnya yang diperlukan adalah alat-alat untuk menimbang material.2. Satuan beton yang dipakai adalah m3. maka kekentalan campuran sedang dan bila slump campuran sebesar 10 cm sampai 15 cm. alat penimbang dan alat pengaduk bahan tidak diperlukan. mengaduk adukan. mengangkut. 3. . batang-batang tersebut harus saling bersentuhan. air. berarti campuran basah.2 Pekerjaan Beton Bertulang Pekerjaan konstruksi beton bertulang terdiri dari : Pekerjaan adukan beton dalam satuan meter kubik (m3). alat timbang bahan. Pekerjaan pembesian dalam satuan kilogram (kg). Dalam perencanaan campuran beton. maka campuran bersifat kental. Campuran beton dengan nilai slump rendah sulit dikerjakan dan mudah terjadi keropos. Pekerjaan pasang bekisting dalam satuan meter persegi (m2) 3. harus diperhatikan nilai slump yang terjadi pada campuran. dan lain-lain. kran dengan alat penyodok (bucket). Campuran beton terdiri dari semen. maka tempat penyimpanan. Kekuatan beton. memadatkan pengecoran. Bila slump campuran sebesar 5 cm sampai 10 cm. kerikil dan pasir dengan perbandingan yang dapat didasarkan pada berat atau volume. terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter tidak kurang dari 19 mm.5. misalnya mesin pengaduk. Bila slump campuran kurang dari 5 cm.

5. digunakan tabel berat besi material.50 m3 untuk setiap 10 m2. yaitu . . balok.10 – 0. minyak pelapis. maka jumlah minyak pelumas yang diperlukan sekitar 2 – 3.41 3. pelat lantai dan tangga.75 liter untuk bidang seluas 10 m2. Sebanyak 50 % .2. pembersihan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Pada setiap penggunaan ulang pasti memerlukan reparasi atau perbaikanperbaikan yang biasanya membutuhkan sekitar 0.3 Pekerjaan Bekisting Perhitungan pekerjaan pasang bekisting dibedakan atas beberapa macam. sloof. Biaya yang diperhitungkan sudah termasuk biaya baut.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali. kawat pengikat. yang melingkari batang-batang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6 kali diameter batang dengan minimum 5 cm. Untuk menghitung kebutuhan baja tulangan beton. Bila permukaan cetakan dilapisi minyak pelumas. Menurut peraturan beton Indonesia (1997).2 Pekerjaan Pembesian Tulangan beton dihitung berdasarkan berat dalam kg atau ton. kolom. Menurut Dipohusodo. pondasi. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut. 1996. kait-kait sengkang harus berupa kait yang miring.5.2. 3.

peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS) dan RAB dari proyek. Daftar harga satuan upah untuk daerah penelitian. SNI dan Lapangan.1 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Daftar harga satuan bahan yang digunakan didaerah penelitian.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 6. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo. Berita acara penjelasan pekerjaan. 9. 3.4 Cara Pengumpulan Data Cara pengumpulan data penelitian berdasarkan gambar rencana. 5. 8. Gambar rencana arsitek dan struktur (gambar bestek). 42 . 4. Peraturan pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pembangunan. Peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (RKS).2 Objek Penelitian Objek pada penelitian ini adalah menganalisa harga pekerjaan dengan menggunakan metoda BOW. 4.3 Data yang Diperlukan Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : 1. 4. Daftar pedoman analisa SNI dan BOW. 4. Daftar harga satuan alat berat untuk daerah penelitian. 2. 7.

d. Studi pustaka dari berbagai buku-buku literatur. upah dan pekerjaan. Menganalisa harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti. dan g.5 Pengolahan Data Sebelum dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputer. b. Mengumpulkan data yang didapat dari buku pedoman analisa. terlebih dahulu melewati tahapan-tahapan sebagai berikut : a. c. . f. e. 4. Mengumpulkan data dan penjelasan yang didapat dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Gedung Olah Raga Kabupaten Wajo. Merangkum teori yang saling berhubungan antara manajemen konstruksi dan hal-hal yang terkait.43 4. Mendapatkan perbandingan harga satuan pekerjaan tiap jenis pekerjaan yang diteliti.6 Tahapan Penelitian Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk bagan alur pada halaman berikutnya. Menghitung harga satuan bahan.

A.1 Bagan Alur Penulisan Tugas Akhir .Analisa Harga Satuan Peralatan .RAB proyek Daftar Analisa Daftar Analisa penawaran kontraktor Metode BOW Metode SNI .S.Analisa Harga Satuan Upah .Analisa Harga Satuan Bahan . Peralatan .Harga Satuan Pekerjaan .H.Harga Satuan Pekerjaan Komparasi . Bahan .Analisa Harga Satuan Peralatan .Gambar proyek .Analisa Harga Satuan Peralatan .A.Harga Satuan Pekerjaan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.S.Analisa Harga Satuan Bahan . Upah .A.H.H.44 Mulai Data Proyek : .Analisa Harga Satuan Upah .Analsis Harga Satuan Bahan .Analisa Harga Satuan Upah .Harga Satuan Pekerjaan .S.

45 .

5. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode BOW. balok dan tribun. kolom.1 Rencana Pekerjaan Pada bab ini akan dibahas analisa harga satuan bahan.2 Analisa Metode BOW Perhitungan analisa harga satuan bahan. Penelitian dilakukan pada pekerjaan pondasi poer.1 Analisa Harga Satuan Bahan. 45 . Untuk analisa BOW yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa. upah dan pekerjaan beton bertulang dapat dilihat pada Tabel 5. sloof.BAB V ANALISA DATA 5. upah dan pekerjaan beton bertulang pada proyek pembangunan gedung olahraga kabupaten Wajo.

2 Analisa Harga Satuan Bahan. Untuk analisa SNI yang digunakan dapat dilihat pada Daftar Tabel Analisa.48 5. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 Analisa Metode SNI Perhitungan analisa harga satuan bahan. . Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode SNI.

Untuk analisa Lapangan digunakan RAB penawaran kontraktor yang dapat dilihat pada Lampiran-Lampiran.52 5.4 Analisa Metode Lapangan Perhitungan analisa harga satuan bahan. Upah Dan Pekerjaan Menggunakan Metode Lapangan. upah dan pekerjaan yang dapat dilihat pada Tabel 5. .3 Analisa Harga Satuan Bahan.

Pembesian Dan Bekisting.3. upah dan pekerjaan beton bertulang yang terlihat pada Tabel 5. Tabel 5. Tabel 5. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 5. 3.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton. Tabel 5. Selanjutnya dari hasil perhitungan tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1.1. 2.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.60 5.2 dan Tabel 5.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton. . 4.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.5 Komparasi Harga Satuan Dari perhitungan analisa harga satuan bahan. Tabel 5.

3. 3. 1.602.S. bahan terendah Selisih H.602. 3. pada pekerjaan pembesian pondasi poer diperoleh harga satuan bahan BOW = Rp. 1.629.S.197.6 Prosentase Perbandingan Selisih dan Rasio Harga Satuan Dari harga satuan bahan.629. bahan tertinggi – H.Rp.64 5.20 Rasio perbandingan = Rp.20 dan harga satuan bahan SNI = Rp.197.58 = 2.S. SNI dan Lapangan dihitung selisih harga satuan bahan. 3. Material = H.602.77 % Contoh perhitungan rasio perbandingan harga satuan bahan pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : Rp. Dari Tabel 5.223.197. upah dan pekerjaan BOW.20 = 54.602.197.223. upah dan pekerjaan tiap jenis pekerjaan.58 = Rp.58 Contoh perhitungan selisih perbandingan harga satuan material pada pekerjaan adukan beton adalah sebagai berikut : H.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton.223. 1. dari selisih harga satuan tersebut dapat diketahui mana nilai yang terbesar.S.629.20 .21 Dari selisih perbandingan harga satuan bahan dan upah tiap item pekerjaan bisa dicari selisih perbandingan rata-rata : Σ selisih perbandingan tiap item pekerjaan Selisih perbandingan rata-rata = n item pekerjaan x 100 % x 100 % . bahan tertinggi Rp.

9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.16 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang. Tabel 5.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Tabel 5. 2.15 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton. Tabel 5. 9.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting. 7. Tabel 5. . 6.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. upah dan pekerjaan beton bertulang yang dapat dilihat pada: 1. Tabel 5. 3. Tabel 5. 8.14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton.65 Dengan cara yang sama akan didapatkan selisih dan rasio perbandingan harga satuan bahan.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian. 4. Tabel 5. Tabel 5.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting. 5. Tabel 5.

00 kg = 110.41) : .kepala tukang batu .400 m3 = 4.000 kg = 0.000 Oh = 1.mandor 5). G.000 kg = 2 tong @ 168 kg = 336.300 Oh .540 m3 = 0.semen portland . G.750 Oh = 2.kepala tukang besi = 6. Bahan Bekisting (An.41) : .tukang besi .kayu terentang (papan) . Bahan Pembesian (An.750 Oh = 6.besi beton .pekerja . Bahan Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An.7 Perbandingan Indeks Analisa Harga Satuan Komponen Pekerjaan Beton Bertulang Indeks merupakan faktor pengali / koefisien sebagai dasar perhitungan biaya bahan dan upah kerja.koral beton 2).820 m3 4).41) : . Upah Pembesian (An. Upah Adukan Beton 1 pc : 2 ps : 3 kr (An. G.000 kg = 2. 5.250 Oh = 6.100 Oh = 0.000 Oh = 0.41) : .1 Indeks Metode BOW Contoh indeks bahan dan upah pada pondasi poer P1 dengan metode BOW adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 1).dimana indeks bahan adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan sedangkan indeks tenaga kerja adalah indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan. G.69 5.pekerja .paku biasa = 0. G.41) : .kawat beton 3).pasir beton .tukang batu .7.

mandor = - = 6. .kepala tukang kayu . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.tukang kayu .41) : . Upah Bekisting (An.70 .15 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode BOW. G.pekerja .500 Oh = 0.000 Oh = 5.mandor 6).000 Oh = 0.100 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer P2 dan P3 adalah sama besarnya dengan pondasi poer P1.

2 ) untuk tukang besi : .045 Oh 6). 6.kep.38. tukang = 0.28. Bahan Pembesian ( An. 6.650 m3 = 0.0003 Oh x 150 = 0.25.paku biasa .35.1 ) : . Upah Adukan Beton Mutu K 225 ( An.300 Oh = 1.38.026 Oh .500 kg = 0.0007 Oh x 150 . 6.040 Oh = 0.7.semen portland .000 kg = 2.kayu terentang (papan) .kepala tukang batu .050 Oh = 1.000 Oh = 0.besi beton .000 kg = 0.72 5.300 Oh 5).tukang batu . 6.38.kawat beton 3).2 Indeks Metode SNI Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer 1).kep. Upah Bekisting ( An. 6.650 m3 4).mandor = 0.400 ltr = 150.mandor = 6.pasir beton .2 ) untuk tukang kayu : . 6.200 m3 = 1.007 Oh x 150 = 1. Bahan Adukan Beton Mutu K 225 ( An.2 ) dan ( An.tukang kayu .050 Oh = 0.100 Oh = 0. 6.pekerja .38.1 ) : . tukang = 0.2 ) dan ( An.35. Bahan Bekisting ( An.minyak bekisting = 0.koral beton 2).105 Oh = 0.pekerja .250 kg = 388. Upah Pembesian ( An. 6.tukang besi .pekerja .000 Oh = 1.1 ) : .1 ) : .

005 Oh Indeks analisa bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode SNI tidak didasarkan pada tipe dari jenis pekerjaan beton bertulang.16 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga Kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode SNI.mandor = 0. .73 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.

kep. Upah Pembesian : .780 m3 .260 Oh x 3.semen portland .250 Oh = 0.005 Oh x 3. tukang = 0.minyak bekis = 0.59 .359 ltr .040 m3 x 3.mandor 6).mandor 5).koral beton 2).kepala tukang batu .000 kg = 0. Bahan Pembesian : .746 Oh .59 m2 Bekisting) 1). Upah Adukan Beton : .63 = 0. Bahan Bekisting : .3 Indeks Metode Lapangan Contoh indeks bahan dan tenaga kerja pada pondasi poer dengan metode Lapangan adalah sebagai berikut : 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P1 (106.075 Oh .63 = 0.kawat beton = 0.077 kg = 0.0007 Oh x 106.144 m3 = 1.59 4).080 Oh = 0.mandor = 0.599 kg 3).63 = 111.077 Oh = 0. Bahan Adukan Beton : .100 ltr x 3.63 = 0.018 Oh = 0.59 . Upah Bekisting : .tukang batu .093 Oh = 0.pekerja = 0.520 m3 = 0.026 Oh x 3.300 Oh x 3.933 Oh = 0.59 .746 Oh = 1.tukang kayu = 0.007 Oh x 106.025 Oh = 0.pasir beton .300 kg x 3.63 kg/m3 + 3.63 = 0.59 = 1.7.paku biasa = 0.75 5.962 kg = 232.015 kg x 106.pekerja = 0.007 Oh x 106.0003 Oh x 106.pekerja .kayu (papan) = 0.650 Oh = 0.032 Oh .59 . tukang = 0.59 .05 kg x 106.tukang besi = 0.63 = 1.kep.besi beton = 1.

000 kg = 0. Upah Bekisting : .paku biasa = 0.026 Oh x 4.64 = 136. tukang = 0.007 Oh x 129.mandor = 0.040 m3 x 4.48 = 1.300 Oh x 4.005 Oh x 4.64 kg/m3 + 4.344 kg = 0.300 kg x 4.250 Oh = 0.165 Oh = 0. Upah Pembesian : .48 .kep.448 ltr .091 Oh .05 kg x 129.kepala tukang batu .122 kg = 232.64 = 0.pasir beton .015 kg x 129. tukang = 0.64 = 0. Bahan Bekisting : .007 Oh x 129.kawat beton = 0. Bahan Pembesian : .tukang batu .64 = 1.tukang kayu = 0.tukang besi = 0.100 ltr x 4.48 .kep.besi beton = 1.907 Oh = 1.520 m3 = 0.48 4).semen portland .260 Oh x 4.48 m2 Bekisting) 1).650 Oh = 0.kayu (papan) = 0.76 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P2 (129.344 Oh = 1.mandor 6).0007 Oh x 129.48 .48 .025 Oh = 0.mandor 5).907 Oh .945 kg 3).pekerja = 0.780 m3 .080 Oh = 0.022 Oh = 0.64 = 0. Upah Adukan Beton : . Bahan Adukan Beton : .48 .koral beton 2).166 Oh = 0.039 Oh .64 = 0.0003 Oh x 129.minyak bekis = 0.pekerja = 0.179 m3 = 1.pekerja .

520 m3 = 0.32 = 1. Bahan Pembesian : .kawat beton = 0.780 m3 .186 Oh = 0.05 kg x 156.minyak bekis = 0.tukang batu .250 Oh = 0.100 ltr x 7.kep.mandor 5).kep.besi beton = 1.0007 Oh x 156.32 = 0. Bahan Bekisting : .345 kg 3).036 Oh = 0.mandor = 0.32 = 164.17 Indeks Analisa Bahan Dan Tenaga kerja Pekerjaan Beton Bertulang Menggunakan Metode Lapangan.pekerja .14 . .0003 Oh x 156.kayu (papan) = 0. tukang = 0.kepala tukang batu .tukang besi = 0.300 kg x 7.142 kg = 0.109 Oh .14 = 2.714 ltr . Upah Bekisting : .32 = 1. Upah Adukan Beton : .007 Oh x 156.650 Oh = 0.300 Oh x 7. Upah Pembesian : .mandor 6). tukang = 0.007 Oh x 156.286 m3 = 2.260 Oh x 7.14 .094 Oh .14 m2 Bekisting) 1).pekerja = 0.77 1 m3 Beton Bertulang Pondasi Poer P3 (156.semen portland .14 .026 Oh x 7.015 kg x 156.14 4).14 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.pasir beton .32 kg/m3 + 7. Bahan Adukan Beton : .pekerja = 0.025 Oh = 0.32 = 2.136 kg = 232.paku biasa = 0.142 Oh = 1.040 m3 x 7.005 Oh x 7.094 Oh = 1.080 Oh = 0.koral beton 2).047 Oh .tukang kayu = 0.856 Oh = 0.14 .32 = 0.000 kg = 0.

17. 2. 4. Tabel 5. Selanjutnya indeks tersebut kemudian dikomparasikan yang dapat dilihat pada : 1. 3.81 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.15.7.4 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Dari Tabel 5.21 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja. Tabel 5. Tabel 5.16 dan Tabel 5. Tabel 5.18 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Adukan Beton. . Tabel 5.20 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Bekisting.

86 5.00 dan SNI = 150.67 % x 100 % Contoh perhitungan rasio perbandingan indeks bahan besi beton pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : 150.00 = 1. Contoh perhitungan selisih perbandingan indeks bahan pada pekerjaan pembesian adalah sebagai berikut : Indeks bahan tertinggi – Indeks bahan terendah Selisih Indeks bahan 100 % Indeks bahan tertinggi = x 150.36 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.00 . SNI dan Lapangan dihitung rasio indeks bahan dan tenaga kerja tiap jenis pekerjaan. . diperoleh harga indeks bahan besi polos metode BOW = 110. dari indeks tersebut dapat diketahui mana terbesar.22 Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja.110.8 Prosentase Perbandingan Selisih Dan Rasio Indeks Dari indeks Bahan dan tenaga kerja metode BOW.00 = 26.00 = 150.00 Rasio perbandingan = 110. Dari Tabel 5.19 Komparasi Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja Pembesian.00.

Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.42 1.285.500.S.130.00 557.00 2.628.858.76 1.78 2.BAB VI PEMBAHASAN 6.000.82 557.000.632.1 di atas.442. Harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 88 434.21 594.35 542.00 0.178.821.76 1.35 1.1 Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.14.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. sedangkan Lapangan adalah Rp 1.000.464.304.78 H. 1.00 500. Harga Satuan Bahan Harga satuan bahan merupakan harga yang harus dibayar untuk membeli per-satuan jenis bahan bangunan.285.643.575.000. 6.00 1.82 1.575.336.1.1. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan adukan beton pada BOW adalah sebesar Rp 1.76 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton.38 594.61 .717.411.286.38 dan pada SNI adalah Rp 579.1 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.500.000.000.304.00 1. Bahan Adukan Beton (Rp) 2.80.434.171.628.178.739.59 594.464.19 869.000.085.285.

balok dan plat (tribun). 6.2 Bahan Pembesian Dari Tabel 5. .4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton. Kebutuhan bahan beton pondasi poer merupakan penggabungan antara poer P1.1.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian. Kebutuhan bahan pada SNI didasarkan pada jenis pekerjaan beton bertulang secara keseluruhan tanpa mengacu pada tipe pada jenis pekerjaan tersebut sehingga indeks bahan pada SNI lebih kecil daripada Lapangan dan BOW. P2 dan P3 dan pada metode SNI kebutuhan bahan didasarkan pada Rencana dan SyaratSyarat Kerja (RKS) proyek. Pada metode BOW untuk adukan beton digunakan perbandingan yang sama pada semua elemen struktur yaitu 1 pc : 2 ps : 3 kr sedangkan pada Lapangan perbandingan campuran adukan beton yang dipakai sama dengan BOW tetapi yang membedakan adalah indeks bahan pada Lapangan lebih kecil dibandingkan dengan BOW dan kebutuhan bahan beton pada Lapangan merupakan kebutuhan bahan pondasi poer P1.89 dibandingkan dengan Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI. Mutu beton yang digunakan adalah mutu beton K 225 (1pc : 1½ps : 3kr) pada elemen struktur pondasi dan sloof dan mutu beton K 275 pada elemen struktur kolom. Perbandingan campuran adukan beton yang digunakan pada BOW adalah perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil dimana bahan pada saat itu belum bervariasi seperti sekarang ini. poer P2 dan poer P3. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.

000.74 .000.40 2. Kebutuhan bahan pembesian dihitung berdasarkan per satuan bahan besi lalu kemudian dikalikan dengan kuantitas besi beton pada setiap elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda.10 3.000.258.472.601.58 1.58 1.223.00 3.2 di atas. Besarnya safety factor pada Lapangan adalah 5 % sedangkan kebutuhan bahan pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana melainkan didasarkan pada jenis dan fungsi elemen struktur itu sendiri dimana untuk jenis pekerjaan pondasi dibutuhkan 150 kg besi.24 dan pada SNI adalah Rp 2.757. disebabkan pada saat itu pembesian untuk konstruksi gedung berlantai masih langka.298.06 sedangkan pada BOW adalah Rp 3.297. kebutuhan bahan pembesian untuk pekerjaan beton bertulang sudah ditetapkan sebesar 110 kg.00 5.00 6.298.000.000.20 3.172.10 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.558.880.602.00 1.522.929.000. Kebutuhan bahan pada semua elemen struktur sama besarnya.298.472.121.60 8.176.2 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan pembesian pada Lapangan adalah sebesar Rp 4.401.95 4.000.000.10.629.00 0. Besarnya safety faktor pada SNI adalah 5 % dan pada metode BOW.802.197.464.000.14 H.90 7.00 4.172.000. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.172.000. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah 1.00 2.183.000.15 4. balok dan tangga (tribun) dibutuhkan 200 kg besi dan pada pekerjaan kolom dibutuhkan 300 kg besi.447.80 2.20 7.000. pada pekerjaan sloof.223.00 2.S.000.200.629.314. Harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks bahan pada Lapangan rata-rata lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.23 4. Bahan Pembesian (Rp) 3.191.904.00 6.000.000.197.732.602.23 1.

00 3.42.000.350. 8.402.44 1.58 871.881.000.953.300.87 dan pada SNI adalah Rp 872.487. 6.000. Dimana harga rata-rata harga satuan bahan bekisting pada Lapangan adalah sebesar Rp 2.72 Tribun 963.480.131.88 1.278.000.000.66 6.425.4 Komparasi Harga Satuan Bahan Adukan Beton.16 5.00 1.936.301.00 H.70 Pondasi Poer 285.000.150.18 sedangkan pada BOW adalah Rp 1.911.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting Dari Gambar 6.03 544.53 2.495.307.000.3 di atas.726. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.000.00 4.000.000.052.052.000.72 3.00 1.00 2.86 Sloof 385. Harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan BOW dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.00 1.24 Kolom Balok BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.000.00 0.1.70 1.3 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Bekisting.600.701. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI.000.91 dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Kebutuhan bahan bekisting berdasarkan kuantitas bekisting pada elemen struktur yang sejenis dengan tipe yang berbeda dengan asumsi bahan bekisting dapat dipakai berulang-ulang selama bahan tersebut masih layak untuk digunakan. Kebutuhan bahan bekisting pada Lapangan mengacu pada gambar rencana.000.3 Bahan Bekisting Dari Tabel 5. Bahan Bekisting (Rp) 7.00 6.098.681.000.16 1.758.98 .000.576. 575.211.781.S.617.726. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.

2 Harga Satuan Upah Harga yang harus dibayarkan untuk upah tenaga kerja per-satuan jenis tenaga kerja.92 Sedangkan kebutuhan bahan bekisting pada SNI bukan mengacu pada gambar rencana dan pada BOW kebutuhan bahan bekisting untuk 1 m3 beton bertulang dibutuhkan 10 m2 bekisting dimana jenis bahan yang dipakai pada BOW terbatas.950.00 272.000.1 Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.000. Harga rata-rata harga satuan 73.2. tetapi hal ini tergantung dari cara membongkar cetakan tersebut.000.4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.000.00 272.475.00 .4 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 272.80 % dari kayu cetakan bekisting dapat digunakan kembali.088.000.000.00 400.00 800.00 0.000.00 146.00 1.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.425.000.000.00 1. Perhitungan harga satuan masing-masing metode adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan. Upah Adukan Beton (Rp) 1.425.000.00 272.000.900. H. 6.00 816.000.000. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00 220.00 272.000.200.000.00 600.00 544.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton.00 200.00 272.S. Sebanyak 50 % .00 293. 6.4 di atas.00 816.00 220.000. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan dan SNI.

125.000.569.000.500. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.500.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00 1. sedangkan Lapangan adalah Rp 191. Produktivitas tenaga kerja pada Lapangan lebih rendah daripada BOW dan SNI dikarenakan tenaga kerja pada Lapangan merupakan tenaga kerja yang handal dan berpengalaman dengan dukungan bahan dan peralatan concrete mixer yang siap pakai serta metode pelaksanaan yang efektif berdasarkan pengalaman kerja.00 2.749. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.600.762.035.700.000.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.200.00 2.00 1.00 234.927.S.00.375.48 .00.000.000.30 179.00 H. 3.889. 6. Pada metode Lapangan kebutuhan tenaga kerja didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan.5 di atas.284.00 234.000.5 dibuat suatu grafik perbandingan.00 1.000.93 upah adukan beton pada BOW dan SNI adalah sebesar Rp 707.00 394.925.2 Upah Pembesian Dari Tabel 5. Dimana harga rata-rata satuan 61.125.927.84 354.733.00 119.500.00 1.00 104.00 500.00 1.00 dan pada SNI adalah Rp 272.000.700.60 89.000.82 89.400.2.000.00 642.750.5 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Pembesian.768.00 0. Harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan metode Lapangan dan SNI disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja adukan beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. Upah Pembesian (Rp) 2.

. Kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan disebabkan SDM pada saat itu masih rendah sehingga berpengaruh pada tingkat produktvitas tenaga kerja.670.180.94 upah pada BOW sebesar Rp 1.00 dan pada Lapangan adalah Rp 256. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.5 Komparasi Harga Satuan Upah Adukan Beton. sedangkan SNI adalah Rp 116.81. 6. Pembesian Dan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.2.175. Kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan dan SNI didasarkan pada besarnya kuantitas dan kualitas jenis pekerjaan namun yang membedakannya adalah kebutuhan material pembesian pada Lapangan lebih besar daripada SNI dikarenakan pada SNI hanya didasarkan pada jenis pekerjaan tanpa mengacu pada tipe dari jenis pekerjaan tersebut sehingga produktivitas tenaga kerja pada SNI lebih rendah daripada BOW walaupun tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja yang handal dan berpengalaman.665. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar dibandingkan dengan metode SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja pembesian pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting.3 Upah Bekisting Dari Tabel 5.00.

6 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Bekisting Dari Gambar 6.885.800.188.00 600.000.814.00 Kolom Balok Tribun BOW SNI LAPANGAN Gambar 6.00.200.00 1.00 326.000.000.00 1. kepala tukang dan mandor masing-masing dihitung berdasarkan per satuan kebutuhan bekisiting lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan jenis pekerjaannya kecuali pada tenaga kerja tukang besi dihitung berdasarkan per satuan jenis pekerjaan beton dan kebutuhan tenaga kerja pada Lapangan didasarkan pada per satuan kebutuhan besi lalu kemudian dikalikan dengan kebutuhan besi sesuai dengan gambar rencana.970.265.35 457.200.95 1.000.00 H.000.00 1.599.00.400. Kebutuhan tenaga kerja bekisting pada BOW hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan beton tanpa didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tersebut sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada SNI didasarkan pada tingkat kesulitan pekerjaan tetapi tidak mengacu pada dimensi / tipe pada jenis pekerjaan tersebut.000.600.6 di atas. Pada tenaga kerja pekerja.00 1.170.S.000. sedangkan pada Lapangan adalah Rp 557.000.000.000.371.00 Pondasi Poer 57.00 1.75 354.000. 113.000.242.51 dan pada SNI adalah Rp 108.20 155.825.00 615.00 0.00 198.920.000.00 Sloof 79.00 134.000. Harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh indeks rata-rata tenaga kerja bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan BOW.828.291.25 .000.00 1.128.00 800.00 2.925.00 1.00 200.00 400. Upah Bekisting (Rp) 1. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. Perhitungan harga satuan masing-masing metode berdasarkan upah harian kerja dan produktivitas tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.458. Dimana harga rata-rata satuan upah pada BOW adalah sebesar Rp 1.371.000.000.00 914.

000.272. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.640.130.956.96 6.000.00 4. Dimana harga rata-rata satuan bahan beton pada Lapangan adalah sebesar Rp 8.257.86 18.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton.029.275.730.523.00 2.000. harga satuan upah pembesian dan harga satuan upah bekisting.86 6.989.19 8.152. Dari Tabel 5.00 0.7 Komparasi Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik 2.00 8. 6.472.956.523.00 6.71 Tribun 3.000.000.33 .000.278.000.63 9.000.7 di atas.637.000.26 dan pada SNI adalah Rp 3. sedangkan pada BOW adalah Rp 6.00 12.000.618.714.00 10.00 16.648.00 6.160.809.333. harga satuan bahan pembesian dan harga satuan bahan bekisting.61.450.318.56 2.000.70 3.937.00 6.714.91 3.000.000.212.952.000.623.14 5.69 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.6 Komparasi Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.43 14.003.000.000.78 3.7 Grafik Perbandingan Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.904. Harga Satuan Bahan Beton (Rp) 9. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.32.99 15. Dari Tabel 5.3 Harga Satuan Bahan Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan harga satuan bahan adukan beton.115. Harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan pembesian dan bekisting pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan.692.4 Harga Satuan Upah Beton Harga satuan bahan beton merupakan penjumlahan dari harga satuan upah adukan beton.019.000.000.369.14 4.055.

00 4.653.00 490.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton.071.000.00 1. 461.620.114.00 Harga Satuan Upah Beton (Rp) 6.119.000. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada gambar 6.00 4.000.73 . sedangkan pada Lapangan adalah Rp 1.00 607.095.97 perbandingan. Grafik perbandingan harga satuan beton bertulang dapat dilihat pada gambar 6.32 dan pada SNI adalah Rp 496.00 3. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.965.00.000.000.00 0.352.000.004.50 471.00 418.000.00 1.00 5.000.84 496.00 1.565.485. 4.17 740.00 Pondasi Poer Sloof Kolom Balok Tribun BOW SNI Lapangan Gambar 6.674.000.00.5 Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Harga satuan pekerjaan beton bertulang merupakan penjumlahan antara harga satuan bahan beton dengan dengan harga satuan upah beton.00 5. Harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan dengan SNI dan Lapangan disebabkan oleh harga satuan upah adukan beton.907.940.00 1.012. 6.35 810.500.00 2.114.000. pembesian dan bekisting pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan.742.000.000.8 Grafik Perbandingan Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.125.125.00 2.233. Dimana harga rata-rata satuan upah beton pada BOW adalah sebesar Rp 3.8 di atas.375.371.575.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.750.370.485.

14 HSP Beton Bertulang (Rp) 7.000.00 18.984. upah dan pekerjaan merupakan total dari harga satuan pada semua elemen struktur.000.727. 2.000. Tabel 6.126. 6.696.000.123.000.885.000. 3.2 Total Rasio Satuan Bahan Adukan Beton.00 8.00 11.16 7.14 11. Pembesian Dan Bekisting.756.00 2.91 4.255.559.63 10.54 4. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW.859.78 Sloof 3.830.458.000.000.594. Tabel 6.71 Tribun 3.000.279. Pembesian Dan Bekisting.070.677.9 Grafik Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Gambar 6.866.653. Selisih dan rasio harga satuan bahan.380.000.00 0.586.000. Dimana harga ratarata harga satuan beton bertulang pada Lapangan adalah sebesar Rp 9.93. Tabel 6.020. Harga satuan pekerjaan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan dengan SNI dan BOW disebabkan oleh harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar daripada SNI dan BOW kecuali pada harga satuan upah beton pada BOW lebih besar daripada Lapangan. secara sistematika dapat dapat dilihat pada : 1.06 .9 di atas.890. upah dan pekerjaan beton bertulang.839.1 Total Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.118.000.000.00 6.609.000.26 dan pada SNI adalah Rp 4.00 10.625.56 Pondasi Poer 2. Pembesian Dan Bekisting.6 Selisih Dan Rasio Harga Satuan Perhitungan Selisih dan rasio harga satuan bahan.00 16. sedangkan pada BOW adalah Rp 9.703.00 12.000. 3.690.390.761.000.120.54 17.742.43 9.070.3 Total Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton.000.000.98 14.32.00 14.86 20.220.000.839.36 5.804.69 Kolom Balok BOW SNI Lapangan Gambar 6.00 4.000.

6 Total Rasio Harga Satuan. Pembesian Dan Bekisting. Tabel 6. Tabel 6.99 4. Tabel 6. 6. 5.5 Total Selisih Harga Satuan.4 Total Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton. .

100 .

101 .

102 .

00% 10.10 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.00% (%) 40.7 6.00% Selisih H.103 6. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar 58. 70.00% 0.75 % dibandingkan SNI.89% 20.75% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.S.94 % dibandingkan SNI dan 19.94% 60.10 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton.11 Selisih Harga Satuan Bahan Adukan Beton. 6.00% 50. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 19.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.89 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar 48. Bahan Adukan Beton 48.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.7.00% 58. .7.10 di atas.2 Selisih Bahan Pembesian Dari Tabel 5.1 Selisih Harga Satuan Bahan Selisih Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.

03 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 30.00% 0.3 Selisih Bahan Bekisting Dari Tabel 5.21% 67.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 20.42% (%) 30.00% 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 10.69% 44.49 % dibandingkan SNI dan 36.47% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.49% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. 6.42 % dibandingkan SNI.00% 70.11 di atas.00% 40.S.S. 80.12 Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting.00% 0.03% 55.00% (%) 40.104 60.00% 20. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar 55.00% 30.00% Selisih H.00% Selisih H.12 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Bekisting .00% 50.00% 50. Bahan Pembesian 36.7.00% 60. Bahan Bekisting 41.11 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.00% 10.

8 Selisih Harga Satuan Upah 6.00% (%) 40.00% 70.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 10.8.99% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% Selisih H. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar 72.54% 72.00% 0.47 % dibandingkan SNI dan 44.2 Selisih Upah Pembesian Dari Tabel 5. 6. 80.00% 50.105 Dari Gambar 6. Upah Adukan Beton 29.00% 30.77 % dibandingkan Lapangan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.69 % dibandingkan SNI.13 Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.21 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar 41.00% 60. 6.77% 61.99 % dibandingkan Lapangan dan 61.14 Selisih Harga Satuan Upah Pembesian.13 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.12 di atas.13 di atas.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 20.8. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar 67. .S.1 Selisih Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.54 % dibandingkan SNI sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar 29.

terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar 93.89% 80.106 100.66 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 54.00% 30.00% 80.00% 80.14 di atas.00% 60.15 Selisih Harga Satuan Upah Bekisting.3 Selisih Upah Bekisting Dari Tabel 5.00% 10.46% Selisih H.00% Selisih H. 100.00% 30. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 40. Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 90. Upah Bekisting 90.01 % dibandingkan SNI dan 84. 6.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.66% 54.S.00% 0.00% 40.00% 0.46 % dibandingkan SNI.08% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.58% 53.00% 20.14 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.00% 10.00% 70.8.00% 93.00% 70.S.00% 60.15 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Bekisting .00% 20.00% (%) 50.00% 90.01% 84.00% (%) 50.

S. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.31% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00% 10.64 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 39. 6.89 % dibandingkan SNI dan 53.107 Dari Gambar 6. .13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 0.08 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 80.00% Selisih H. 6.00% 20.64% 58.16 Grafik Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.00% 30.58 % dibandingkan SNI. 70.16 Selisih Harga Satuan Bahan Beton. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar 90.31 % dibandingkan SNI dan 30.16 di atas. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar 53.00% 60.00% 50. Bahan Beton 30.89% (%) 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.15 di atas.00% 39.9 Selisih Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.10 Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.17 Selisih Harga Satuan Upah Beton.89 % dibandingkan SNI.

05% 57.05% 57. 70.00% Selisih HSP Beton Bertulang 1.00% 0.00% 10.00% 60.00% 10.06 % dibandingkan SNI dan 71.00% 30.S.54% Selisih H. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar 86.00% 30.00% 90.00% 20.06% 71.50% BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.1 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.00% 50.00% 60.00% (%) 40.00% 80.82 % dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar 50. 6.54 % dibandingkan SNI.17 Grafik Selisih Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.00% 40. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00% 86.00% 70.18 Grafik Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .00% (%) 50.82% 50. Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.11 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00% 20.17 di atas.00% 0.108 100.18 Selisih Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.

05 % dibandingkan SNI.20 Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian.18 di atas.19 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton Dari Gambar 6.19 di atas. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar 57.05 % dibandingkan BOW sedangkan harga satuan upah pada BOW lebih besar 57. Bahan Adukan Beton 1.25 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan bahan pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.44 1. terlihat bahwa harga satuan bahan adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.24 dan 1.50 1.00 Ratio 1.109 Dari Gambar 6. 3.25 2.19 Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton.12 Rasio Harga Satuan Bahan 6.50 % dibandingkan SNI dan 1.S.1 Rasio Bahan Adukan Beton Dari Tabel 5.00 2.6 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Bahan Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12.00 Rasio H. . 6.2 Rasio Bahan Pembesian Dari Tabel 5. 6.50 0.12.50 2.00 0.95 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.95.7 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.

50 Ratio 2.00 0.56 2.21 Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting.20 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Pembesian Dari Gambar 6.79 3.21 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Bekisting . Bahan Bekisting 1.00 1.110 2.8 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan.07 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.44 1. 6.00 1. 3.00 Rasio H.50 0. terlihat bahwa harga satuan bahan pembesian pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.12.25 dan 1.S.20 di atas.50 3.3 Rasio Bahan Bekisting Dari Tabel 5.25 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.44.56 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.S.50 1.50 1.72 1.00 Rasio H.50 2.00 0.00 2.50 0. Bahan Pembesian 1.

2 Rasio Upah Pembesian Dari Tabel 5.22 Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton.79 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1.10 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Pembesian dapat dibuat suatu grafik perbandingan.22 di atas. 4.13.21 di atas.42.70 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 2.42 2.13 Rasio Harga Satuan Upah 6. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.22 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton Dari Gambar 6.50 1.13.00 3. 6.50 0.1 Rasio Upah Adukan Beton Dari Tabel 5.00 Rasio H.60 dan 3. terlihat bahwa harga satuan bahan bekisting pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 3.72.23 Rasio Harga Satuan Upah Pembesian.50 3. terlihat bahwa harga satuan upah adukan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. .S.07 dan 1.Upah Adukan Beton 1. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.00 1.9 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Adukan Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan.50 Ratio 2.00 0.70 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada SNI lebih besar dibandingkan Lapangan dengan rasio sebesar 1.111 Dari Gambar 6.60 3. 6.

00 6. 12.23 di atas.98 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 10.20 Rasio H.32 6.13.11 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Bekisting dapat dibuat suatu grafik perbandingan. terlihat bahwa harga satuan upah pembesian pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 14.24 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Bekisting .S.00 0.Upah Bekisting 5.00 2.00 0. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.3 Rasio Upah Bekisting Dari Tabel 5.32 dan 6.112 16.S.20.00 14.00 2.00 12. 6.00 4.00 8.Upah Pembesian BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.52 2.00 Ratio 6.00 10.00 14.13 2.00 Rasio H.24 Rasio Harga Satuan Upah Bekisting.00 4.52 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.23 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Pembesian Dari Gambar 6.15 10.00 Ratio 8.

44 2. terlihat bahwa harga satuan bahan beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.26 Rasio Harga Satuan Upah Beton.25 Rasio Harga Satuan Bahan Beton.00 Rasio H.15. 6.14 Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Tabel 5.00 0.25 Grafik Rasio Harga Satuan Bahan Beton Dari Gambar 6.S.24 di atas.13 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Upah Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.25 di atas.40 dan 1.00 2.66 1.00 Ratio 1.50 2.15 Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Tabel 5.Bahan Beton 1. terlihat bahwa harga satuan upah bekisting pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 10.40 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.12 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Material Beton dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. .44 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan bahan beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 1. 6.13 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 5. 3.98 dan 2.66.113 Dari Gambar 6.50 0.50 1.

14 Prosentase Selisih Dan Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang dapat dibuat suatu grafik perbandingan.01 1.50 0.27 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang.02.55 2.50 1.00 5.00 3. terlihat bahwa harga satuan upah beton pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 7. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.S.02 Rasio H.114 8.00 0.55 dibandingkan Lapangan sedangkan harga satuan upah beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.00 Rasio HSP Beton Bertulang 2.27 Grafik Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang .26 Grafik Rasio Harga Satuan Upah Beton Dari Gambar 6.18 3.26 di atas.00 0.00 1.16 Rasio Harga Satuan Pekerjaan Beton Bertulang Dari Tabel 5.00 Ratio 4. 6.00 1.33 2.00 2.00 7.35 Ratio BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.00 7.Upah Beton BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.18 dan 3. 2.00 6.50 2.

28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian.01 dibandingkan BOW sedangkan harga satuan pekerjaan beton bertulang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2. Oleh karena itu sebagai contoh dalam pembahasan ini adalah indeks bahan dan tenaga kerja pembesian.50 1.50 Ratio 2.75 dan 3.36 1. 6.00 3. terlihat bahwa harga satuan pekerjaan beton bertulang pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.75 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan besi beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.75 2.50 0.00 2.17.27 di atas.33. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. terlihat bahwa indeks bahan besi beton pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.50 3. 4. Indeks bahan kawat beton pada .22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan.62 BOW & SNI BOW & Lapangan SNI & Lapangan Gambar 6.1 Indeks Bahan Dari Tabel 5.00 1.28 di atas. 6.35 dan 1.115 Dari Gambar 6.17 Indeks Dari hasil perhitungan harga satuan bahan dan upah terlihat bahwa komponen pekerjaan beton bertulang yang paling signifikan mempengaruhi besarnya harga satuan pekerjaan adalah pekerjaan pembesian.75 3.00 0.36.13 2.28 Grafik Rasio Indeks Bahan Pembesian Dari Gambar 6.94 2.00 Besi Beton Kaw at Beton 1.

116

Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62 dan 2.94 dibandingkan BOW sedangkan indeks bahan kawat beton pada SNI lebih besar dibandingkan BOW dengan rasio sebesar 1.13. Indeks bahan Lapangan lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan SNI disebabkan oleh kebutuhan material pada Lapangan lebih besar daripada BOW dan SNI. Kebutuhan bahan pembesian pada Lapangan berdasarkan pada gambar rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan dan tenaga kerja proyek sedangkan kebutuhan bahan pada BOW dan SNI bukan didasarkan gambar rencana. Perbedaan indeks bahan yang terbesar terlihat pada indeks bahan besi beton. Indeks bahan masing-masing metode didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan, perbedaan terjadi karena terdapat perbedaan kapasitas bahan yang digunakan dalam pekerjaan. menyelesaikan satuan

6.17.2 Indeks Tenaga Kerja Dari Tabel 5.22 Prosentase Selisih Dan Rasio Indeks Bahan Dan Tenaga Kerja dapat dibuat suatu grafik perbandingan. Grafik perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian
25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 Pekerja Tukang Besi Kepala Tukang Mandor 8.19 6.43 2.46 2.62 6.43 2.46 2.62 2.62 2.62 21.43

Ratio

BOW & SNI

BOW & Lapangan

SNI & Lapangan

Gambar 6.29 Grafik Rasio Indeks Tenaga Kerja Pembesian

Dari Gambar 6.29 di atas, terlihat bahwa indeks pekerja dan tukang besi pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 6.43 dan 2.46

117

dibandingkan Lapangan sedangkan indeks pekerja dan tukang besi pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks kepala tukang pada BOW lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 21.43 dan 8.19 dibandingkan Lapangan sedangkan indeks kepala tukang dan mandor pada Lapangan lebih besar dibandingkan SNI dengan rasio sebesar 2.62. Indeks tenaga kerja rata-rata BOW lebih besar dibandingkan dengan indeks BOW dan Lapangan disebabkan oleh kebutuhan tenaga kerja pada BOW lebih besar daripada SNI dan Lapangan. SDM BOW pada saat itu masih sangat rendah sehingga produktivitas tenaga kerja rendah sedangkan pada SNI indeks tenaga kerja berdasarkan pada fungsi dan jenis beton bertulang dengan jam kerja efektif 5 jam per hari dan pada Lapangan berdasarkan gambar rencana dengan jam kerja efektif 7 jam per hari. Perbedaan indeks tenaga kerja yang terbesar terlihat pada indeks kepala tukang. Perhitungan indeks tenaga kerja masing-masing metode berdasarkan kepada upah harian kerja, serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.

6.17.3 Kelebihan Dan Kekurangan Metode SNI Dan BOW Adapun kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari jenis material yang digunakan pada adukan beton, BOW menggunakan kerikil sedangkan SNI menggunakan koral/split yang dimana pada umumnya perencanaan beton bertulang khususnya proyek pemerintah selalu menggunakan material koral/split dengan pertimbangan kualitas adukan beton selain itu material split/koral lebih banyak di produksi daripada kerikil sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri konstruksi bangunan saat ini dengan dukungan alat pemecah batu tentunya. Selain itu pada metode SNI ada beberapa mutu beton diantaranya mutu beton K-175, K-225 dan K275 yang pemakaiannya disesuaikan dengan jenis elemen struktur sedangkan pada BOW hanya dikenal adukan beton campuran 1 pc : 2ps : 3kr (K-225) yang digunakan pada semua jenis elemen struktur. Dengan demikian akan berimplikasi pada besarnya indeks material yang digunakan yang tentunya indeks SNI lebih besar jika menggunakan

118

mutu beton K-275 bila dibandingkan dengan indeks BOW, namun demikian dari segi kualitas SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada BOW. Pada pekerjaan pembesian, material besi dengan metode BOW hanya mengenal satu jenis ukuran besi saja ini terlihat dari besarnya indeks besi yang digunakan pada semua jenis elemen struktur adalah 110 kg sedangkan pada SNI kebutuhan besi pada setiap elemen struktur berbeda-beda sehingga ukuran besi yang digunakan adalah bervariasi sesuai dengan kebutuhan struktur sehingga berimpilikasi pada indeks besi SNI lebih besar daripada indeks besi BOW. Akan tetapi dari segi kualitas, SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan BOW. Adanya beberapa macam ukuran besi disebabkan oleh pada saat ini sudah ada peralatan yang dapat membuat beberapa macam ukuran besi dimana pabrik-pabrik baja memproduksi besi sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Pada pekerjaan bekisting, material papan yang digunakan pada BOW adalah papan klas IV padahal saat ini papan klas IV sudah tidak ada dipasaran sedangkan material papan yang digunakan SNI adalah papan klas III yang banyak ditemukan dipasar konstruksi saat ini. Bekisting dengan metode BOW hanya digunakan sekali saja sedangkan pada SNI, bekisting dapat dipergunakan berulang-ulang karena papan diberi pelumas sehingga indeks BOW lebih besar daripada SNI. Kelebihan dan kekurangan metode BOW dan metode SNI bila ditinjau dari tenaga kerja yang dibutuhkan pada pekerjaan adukan beton, pembesian dan bekisting, indeks tenaga kerja metode BOW lebih besar daripada SNI dikarenakan kualitas SDM pada saat masih rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang disebabkan pada saat BOW ditetapkan SDM pada saat itu tidak pernah diberi pelatihan-pelatihan pertukangan dan kurangnya peralatan yang mendukung proses pekerjaan, sedangkan pada saat SNI ditetapkan SDM telah diberi pelatihan pertukangan sehingga tenaga kerja sudah memiliki skill yang tinggi ditambah pengalaman-pengalaman mereka dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan terdahulu dan juga didukung dengan peralatan pertukangan yang memadai. Secara umum metode BOW memiliki kekurangan yakni hanya dapat dipakai untuk pekerjaan padat karya yang memakai peralatan konvensional dan

Dengan keterbatasan bahan dan peralatan maka berimplikasi pada besarnya indeks/koefisien bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Untuk perhitungan indeks bahan dan tenaga kerja melalui proses penelitian dengan instrumen pengumpulan data sekunder dan data primer. Data sekunder dipakai analisa yang dipakai oleh beberapa kontraktor sedangkan data primer melalui penelitian lapangan pada proyek konstruksi sehingga dengan demikian perhitungan RAB proyek menggunakan analisa SNI akan lebih efisien dan efektif. .119 analisa tersebut belum memuat pengerjaan beberapa jenis bahan bangunan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini. Namun demikian analisa SNI memiliki kekurangan yakni pada pekerjaan beton bertulang. mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan metode SNI lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada metode BOW. Selain itu indeks bahan dan tenaga kerja dapat digunakan pada semua elemen struktur sehingga pemakaiannya lebih efektif. baik indeks bahan maupun indeks tenaga kerja dihitung berdasarkan jenis elemen-elemen struktur sehingga pemakaiannya akan kurang efektif. Pada saat ini kontraktor pada umumnya menggunakan analisa SNI dalam membuat penawaran khususnya pada proyek-proyek pemerintah. Lain halnya dengan analisa SNI. Untuk indeks bahan besarnya safety factor tidak tetap dan tidak tentu besarnya sehingga kualitas suatu konstruksi dapat diragukan sedangkan pada indeks tenaga kerja kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar disebabkan kualitas SDM pada saat itu masih rendah dibandingkan saat ini dan tidak didukung dengan peralatan yang memadai. indeks bahan pembesian lebih kecil dibandingkan analisa SNI. analisa ini memiliki kelebihan diantaranya dapat digunakan pada semua jenis pekerjaan konstruksi yang menggunakan peralatan modern/alat berat. Dengan demikian baik dari segi biaya. Namun demikian analisa BOW memiliki kelebihan yakni untuk pekerjaan beton bertulang khususnya pekerjaan pembesian.

89 % dibandingkan dengan SNI dan 53. d. Harga satuan upah bekisting metode BOW lebih besar 90.25) dan BOW > SNI (1.44). e.66 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (14. Harga satuan bahan bekisting metode Lapangan lebih besar 67. Harga satuan bahan pembesian metode Lapangan lebih besar 55.95).89 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. Lapangan > SNI (3. Harga satuan upah pembesian metode BOW lebih besar 93.99 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (2. c.25) dan Lapangan > SNI (1.01 % dibandingkan dengan SNI dan 84.42).52) dan Lapangan > SNI (2. b.70) dan SNI > Lapangan (1.47 % dibandingkan dengan SNI dan 44.21 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.79).72).BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.08 % dibandingkan dengan 120 . Harga satuan bahan adukan beton metode BOW lebih besar 58. f.49 % dibandingkan dengan SNI dan 36. Harga satuan upah adukan beton metode BOW lebih besar 61.94 % dibandingkan dengan SNI dan 19. Lapangan > SNI (2. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Selisih dan rasio Perbandingan harga satuan a.60). BOW > Lapangan (1.20).54 % dibandingkan dengan SNI dan 72.07) dan BOW > SNI (1. BOW > Lapangan (6.1 Kesimpulan Dari perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan.56). BOW > Lapangan (3.44).32).03 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.

g. Lapangan > SNI (2. Komponen dominan yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam penyusunan harga satuan pekerjaan a.98). 3. Dari hasil penelitian pada pekerjaan adukan beton. b. BOW > Lapangan (3.05 % dibandingkan dengan BOW dan 57.18). Rasio perbandingan indeks bahan pembesain Lapangan > SNI (2.13) dan Lapangan > SNI (5.50 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1.64 % dibandingkan dengan BOW dan 58. i.44). Lapangan > BOW (3. Harga satuan pekerjaan beton bertulang metode Lapangan lebih besar 1. 2. SNI dan Lapangan.36).82 % dibandingkan dengan Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (7.40) dan BOW > SNI (1.75). . Komponen dominan yang menjadi persamaan dalam perhitungan harga satuan adalah dalam menentukan indeks bahan didasarkan pada banyaknya bahan yang digunakan tiap satuan pekerjaan dan indeks tenaga kerja didasarkan pada upah harian kerja dan serta produktivitas pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan per satuan hari.06 % dibandingkan dengan SNI dan 71.02).66).35) dan BOW > SNI (2.75) dan SNI > BOW (1. h. BOW > Lapangan (2. Harga satuan bahan beton metode Lapangan lebih besar 30.01). Harga satuan upah beton metode BOW lebih besar 86. pembesian dan bekisting menunjukkan bahwasanya prosentase perbandingan antara ketiga metode tersebut yang paling dominan adalah harga satuan upah. Lapangan > SNI (2. terlihat bahwasanya komponen dominan yang menjadi pembeda adalah harga satuan upah.31 % dibandingkan dengan SNI dengan rasio perbandingan Lapangan > BOW (1. Rasio perbandingan indeks a.55) dan Lapangan > SNI (2. Dari perbandingan harga satuan pekerjaan antara metode BOW.33).15).121 Lapangan dengan rasio perbandingan BOW > SNI (10.

indeks kepala tukang BOW > SNI (21.62).62). Rasio perbandingan indeks pekerja pembesain BOW > SNI (6. indeks tukang besi BOW > SNI (6.62).46) dan Lapangan > SNI (2.122 b. BOW > Lapangan (2. dengan pemilihan metode perhitungan yang tepat sehingga didapatkan anggaran biaya yang ekonomis serta dapat dipertanggung jawabkan. BOW > Lapangan (8.46) dan Lapangan > SNI (2.2 Saran Di dalam menghitung harga satuan pekerjaan beton bertulang yang terdiri dari harga satuan adukan beton. hendaknya dilakukan perhitungan dengan secermat mungkin khususnya pada pekerjaan pembesian.43). Dengan segala kekurangan metode BOW maka direkomendasikan agar metode BOW tidak dipakai lagi dalam menghitung RAB proyek karena sudah tidak relevan lagi untuk digunakan sesuai dengan perkembangan industri konstruksi saat ini sehingga kedepannya di dalam menghitung RAB proyek khususnya proyek pemerintah hanya digunakan metode SNI dengan pertimbangan efesiensi dan efektivitas kerja.62). 7. pembesian dan bekisting. BOW > Lapangan (2. dan indeks mandor Lapangan > SNI (2.19) dan Lapangan > SNI (2.43).43). .

cetakan kesembilan. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Cet. 2006. PT. SNI Edisi Revisi. Bumi Aksara. Bachtiar Ibrahim. Penerbit Erlangga. Analisa Anggaran Biaya Pelaksanaan. Penerbit Bumi Aksara. Penerbit Nova. Soedradjat Sastraatmadja. W. CV. Joko Waluyo. 1995. Bandung. Iman Soeharto. 1992. 2006. Niron John. Manajemen Konstruksi. 2001. 2004. Jakarta. 9.DAFTAR PUSTAKA Ir. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Analisis Biaya Pekerjaan Bekisting Balok dan Plat Berdasarkan Analisa BOW dibandingkan Dengan Pelaksanaan Di Lapangan. Rencana dan Estimate Real of Cost. Departemen Pekerjaan Umum . 1993. Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Sugeng Djojowirono. Jakarta. 2005. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya Bangunan. 2003. Satriyo Untoro dan Nugroho Fajar Sulistio. J. Analisa Upah dan Bahan (Analisis BOW). – 2. Evaluasi Perbandingan Rencana Anggaran Biaya Antara Metode BOW dan Metode SNI. Irman Fakhruddin dan Miftahul Iman. Dani Kurniawan. Jakarta. Yogyakarta. 2002. 1971 N. Badan Standarisasi Nasional / BSN. Lusena Sansibarta dan Handoyo Sapto Nugroho. Analisis Perbandingan Harga Satuan Pekerjaan berdasarkan Metode BOW dan BPJK. Balok dan Pelat Lantai Berdasarkan Analisis BOW dan Analisis Lapangan. Mukomoko. Jakarta. 1991. 1984. A. 1984. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Ciptakarya. Kumpulan Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI).I. Asona.A. 1985. Studi Komparatif Indeks Pekerjaan Bekisting Kolom. Analisis BOW Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja dan Harga Satuan Pekerjaan pada Proyek Konstruksi di Kabupaten Sleman.

00 45.052.000.500.00 .000.500.337.00 UPAH : Pekerja Tukang Batu Tukang Kayu Tukang Besi Kepala Tukang Mandor Hr/Kj Hr/Kj Hr/KjP Hr/Kj Hr/Kj Hr/Kj (Sumber : Dinas PU Kab.80 1.00 43.70 1.00 43. III (Papan) Kayu Kls.60 10.000.892.500.000.00 50.000.00 105. Juli 2007) 35.40 934.00 7.10 59. Wajo. II (Balok) Paku biasa Plywood 9 mm Dolken kayu Minyak bekisting Satuan Harga (Rp) Zak kg m3 m3 kg kg m3 m3 kg lbr btg ltr 46.719.000.00 10.500.00 43.39 239.115.547.226.00 10.605.DAFTAR HARGA SATUAN BAHAN DAN UPAH KABUPATEN WAJO PROPINSI SULAWESI SELATAN Jenis Bahan Bangunan BAHAN : Semen Portland (50 kg) Semen Portland Splite/Chipping Pasir beton Besi beton kawat beton Kayu Kls.785.28 17.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful