P. 1
Esensi Pendidikan Nilai Moral Dan Pkn Di Era

Esensi Pendidikan Nilai Moral Dan Pkn Di Era

|Views: 112|Likes:
Published by Vindy Setiawan

More info:

Published by: Vindy Setiawan on Oct 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2010

pdf

text

original

ESENSI PENDIDIKAN NILAI MORAL DAN PKN DI ERA GLOBALISME

Posted on Mei 13, 2008 by wjanto Prof.Drs.H.A.Kosasih Djahiri the 20th century has been characterized by three developments of great political importance: The growth of democracy, the growth of corporate power, and the growth of corporate propaganda as a means of protecting corporate power against democracy ( Alex Carey ). My country is the world, and my religion is to do good.(Thomas Paine) Pendahuluan Tidak seorangpun mampu melepaskan diri dari hakekat kodrati manusia sebagai insan yang dapat dididik dan belajar sepanjang hayat (educated human being), sehingga dinamik berubah sepanjang masa.Pengalaman hidup manusia (life experiences) adalah pengalaman belajar manusia yang dari waktu/kondisi/tempat ke waktu/kondisi/tempat mengembangkan potensi diri dan kehidupan kita baik dalam arus posiitif maupun arus negatif. Hakekat lain yang tidak bisa dihindari manusia ialah selaku social and political human being, dimana sejak lahir kita hidup "in group" dalam keluarga dan masyarakat yang ahirnya berbangsa – bernegara (Zoon politicon, organized political man). Lembagalembaga tadi disamping merupakan wadah/rumah bagi manusia juga merupakan institusi pembina – penegak dan pengembang ipoleksosbudag yang amat potensial. Namun makin kini ketiga lembaga itu makin kurang berfungsi (melonggar) dan bahkan ada kecendrungan dihilangkan. Bahwa Potensi diri manusia yang Illahiah yang dibawa setiap manusia meliputi potensi badaniah dan rohaniah. Melalui berbagai kajian pakar pendidikan dan psikologis, potensi rohaniah dikatagorikan kedalam tiga potensi dasar yakni Daya Intelektual/Nalarr (dengan 6 potensi ); daya afektual (8 potensi afektual) dan Psikomtorik (8 potensi), sehingga keseluruhannya meliputi 22 potensi. Dalam Dunia Pendidikan (terutama pendidikan formal) secara kurikuler rumusan sosok keluarannya dinyatakan harus utuh bulat (ragawi dan rohaniah) namun secara programatik – prosedural maupun realita keluarannya (outcomes) bersifat parsial. Totalitas diri anak didik hampir tidak pernah dibelajarkan secara kaffah. Target penyelesaian bahan ajar yang konseptual teoritik – keilmuan/normative atau structural disipliner dan target nilai angka (marking) atau NEM tinggi yang diiringi ketidak tahuan/profesionalan guru melahirkan pendidikan dan pembelajaran parsial. Masalah potensi ragawi dan nilai – moral serta norma hampir tidak pernah masuk hitungan termasuk dalam program khusus MKU (PKN, PAI, dll). Tidak Profesionalnya guru, disamping pola pembelajaran – pelatihan professional skills

personal. pembinaan dan pendidikan anak (termasuk agama dan budi luhur) mulai kurang diperdulikan dan sudah sepenuhnya diserahkan kepada instansi lain cq. melahirkan kehidupan keluarga yang sarat keinginan dan kesibukan sebagaimana "pola kehidupan (life style) modern" yang pada ahirnya secara perlahan namun pasti membawa kearah rasionalisme. Demikian halnya dalam berbangsa dan bernegara. guru SD adalah guru kelas (baca "Guru 7 mata pelajaran" ! ). gejolak iptek yang kian ganas melalui multi media elektronik – cetak dengan segala "keindahan – kemewahan dan kemudahannya" yang serba "waah" berikut tuntutan materiilnya yang cukup tinggi. Rumah dan keluarga mulai tererosi dari status dan role behavior bakunya (agamis & cultural) dan hanya menjadi "symbol terminal berkumpul dan sumber status social – ekonomi" bagi warganya. Maka oleh karenanya tidaklah mustahil apa yang dikemukakan McLuhan (teori Pendulum) besok lusa akan berwujud. Bagi keluarga yang sudah masuk "super developed/ nuclear – family" perkawinan hanya dimaknai sebagai lembaga/media untuk memenuhi kebutuhan biologis dan social ekonomis saja. Didi – Yoyo.yang kurang terutama dikarenakan ketentuan formal dan system seperti a. Beberapa sifat kodrati insan social ini ialah a. adat budaya (cultural heritages) dan bahkan nilai moral metafisis dengan segala "pro & contranya" hadir secara utuh menjadi tonggak pokok untuk segala hal serta beruwjud dalam berbagai bentuk (materiil – imateriil. kehidupan keluarga. organized political man). guru. kondisional dan behavioral/ceremonial) . bersifat mono multiplex/pluralistic. dll ). spiritualizing. pimpinan. Dalam kehidupan masa lampau generasi usia 50/60 th keatas. hanya dianggap keharusan otomatik (opinio necesitatic) tanpa diiringi oleh rasa-emosi lain (sense of integrity. seluruh perangkat tatanan nilai – moral dan norma agama ( dan budaya agama). Dunia pendidikan formalpun (Program. insan politik yang terorganisir (zoon politicon. Buku paket IPS ("Matahari Terbit") dan seni budaya daerah (Panyungsi Bahasa. insan yang terikat dalam sejumlah lingkaran kehidupan (life . kontekstual/ kondisional. system dan kondisional) turut mengukuhkan kehidupan tadi. termasuk didalam kehidupan keluarga kita ! Norma acuan. Allohuma Nauzubillahi min zaalik !. Pembelajaran berlandaskan nilai moral yang normative/ luhur/suci/religius kalah oleh pembelajaran theoretic – conceptual based dan perhitungan untung rugi rasional – keilmuan dan atau yuridis formal. Sekarang ini. melukiskan hakekat manusia yang serba potensial dan sarat keterbatasan. valuing dan mental round trip dikalahkan oleh proses thinking and rationalizing. Proses emoting – minding.l. selalu berkelompok (group base). buku. Dalam kehidupannya sebagai insan social diperkaya dengan seperangkat kodrat social sesuai dengan status dan peran laku harapannya (expected role behavior). Potret ini disejumlah tempat sudah mulai nampak. patriotism dan proudnes.l. Dimensi dan System kehidupan manusia Gambaran hakekat kodrati manusia (Illahiah/Natural dan Sospol) dalam uraian terdahulu. apa yang diuraikan di atas boleh dibilang "tabu" dalam pendidikan keluarga. wajib mengajar minimal 19 jampel di satu sekolah. sekulerisme yang materialistic dan egoistic serta mulai menggeser dan mengerosi standard baku yang ada. Potret ini sudah juga nampak dalam pendidikan informal cq. sistim penempatan guru. yakni manusia yang cerdas otaknya namun tumpul emosinya. Rusdi Misnem dll) sekaligus membawakan misi dan isi pesan budi luhur (adat dan agama). Guru dan sekolah.

Kedua hakekat kodrati tadi dengan diintervensi oleh tempat – waktu dan kondisi. Dari gambaran tadi jelas bahwa diri dan kehidupan manusia sarat/padat norma – nilai dan moral. dan norma metafisis (hal ihwal diluar jangkauan kemampuan manusia. Norma agama memuat nilai/harga haram – halal – dosa – dll) dan melekat pada seluruh instrumental input manusia (hal-hal yng materiil/imateriil. (silahkan anda renungi/kaji diri anda sendiri ). dimana menurutnya setiap organisme kehidupan (manusia. tanaman dll) memiliki 5 system. binatang. sok pintar. behavioral). hukum positif/negara. dll. Norma adalah perangkat ketentuan/hukum/ arahan. cari selamat/aman (anti risiko) dan takut mati. melainkan terikat dan atau terkendali oleh seperangkat tatanan normaacuan (norm refrences). hindari. merasa pintar. dia bisa datang dari luar (eksternal) seperti dari Tuhan/Agama. Dan setiap norma melahirkan acuan nilai dan moral. Dalam masyarakat Indonesia ada/berlaku 6 norma acuan pokok yang menuntun/mengendalikan/mengharus kan diri dan kehidupan manusia ialah nroma/syariah agama. kondisional. system social (social system). gila kekuasaan. jangan dikerjakan. Contoh simple misalnya Norma agama "dilarang mencuri" memuat nilai a. Proses perkembangan tadi tidak bersifat normless. moralita yang dituntut jauhi. system personal (personal system) dan system organic (organic system). haram. Ke enam acuan normative tadi ada dalam setiap lingkaran dan aspek serta system kehidupan manusia. cinta kekuasaan. neraka. alam gaib – kepercayaan).l. yakni : suka dihormati. John Locke. Sedangkan Moral/Moralita adalah tuntutan sikap – perilaku yang diminta oleh norma dan nilai tadi. system budaya (cultural system). budaya adat/tradisi. Sedangkan yang kami maksudkan Sistem dalam kehidupan ialah apa yang dikemukakan oleh Talcot Parson. dosa. norma keilmuan. Potret diri dan kehidupan di atas bila kita jabarkan secara matematis akan nampak sebagai berikut: . dan bila tidak dikendalikan kelima hal tadi akan berwujud menjadi: gila hormat. yakni: sistem nilai (value system). tidak ada kehidupan yang "value free" (bebas nilai). masyarakat/adat dan bisa pula (yang terbaik ) datang dari dalam diri atau sanubari/qolbu kita sendiri. negara/Hukum. Norma yang sudah menjadi bagian dari hati nurani (suara hati = qolbu !) adalah norma dan nilai – moral yang sudah bersatu raga (personalized) dan menjadi keyakinan diri atau prinsip atau dalil diri & kehidupan kita. personal/impersonal. Maka karenanya suatu norma dari suatu sumber bisa memuat nilai – moral positif maupun negatif dan jumlahnya amat banyak serta bersifat relatif/subjektif – instrumental yang mungkin pula kontradiktif satu dengan lainnya.Maka karenanya Diri Manusia dan Astagatra kehidupan manusia yang bersifat organisme hidup tidak luput dari lima system tadi dan setiap system mengacu kepada 6 norma acuan yang ada/dianut/diyakni orang/masyarakat/kehidupannya. Kelima hal ini ditampilkan setiap diri manusia yang normal dalam kehidupannya. budaya agama.l. Nilai ( value = valere) adalah kualifikasi harga atau isi pesan yang dibawakan/tersurat/tersirat dalam norma tsb (a. ingin selamat dan hidup abadi. berinteraksi/berinteradiasi dan menyebabkan proses perkembangan manusia serta melahirkan produk the real thing of man/human being. mengemukakan 5 sifat natural manusia dalam posisinya sebagai organized political man.cycles) yang multi aspek dan multi waktu.

. rasa salah/dosa dll). Sumber Norma acuannya ada 6 Dari tiga dimensi ini saja maka perangkat Nilai – Moral – Norma (NMNr) yang mengikat/mengendalikan diri & kehidupan manusia berjumlah (5 x 5) x 6 = 150 buah. sumber norma dan system) tidak selamanya rujuk dan sering/banyak bersifat kontras/paradoxal. Aspek kehidupannya = 5 dimensi/aspek (Ipoleksosbudag) c. penyesalan. Pendidikan NMNr membawakan misi: a. membudayakan (civilizing) dan memberdayakan (empowering) manusia & kehidupannya secara utuh (kaffah) dan beradab (norm/ value based). bangsa/negara dan dunia) b. Memanusiakan (humanizing). dan hanya mengutamakan proses analisis – penilaian (evaluating bukan valuing) intelektual – rasional – konseptual saja. Perhitungan ekonomik "murah – mahal" hanya dihitung rasional sebagai selisih harga dan "legal – illegal" nya juga bersifat rasional "karena secara formal melanggar/memenuhi ketentuan hukum" saja tanpa diiringi suara hati/qolbu (kasihan. Dalam diri dan kehidupan yang bermoral (berahllak mulia) seluruh sistemnya ( 5 sistem) selalu mengacu kepada seluruh tatanan NMNr yang berlaku/diyakini diri & kehidupan nya. orang yang tidak mengenal perangkat tatanan NMNr dan tidak/ jarang dibelajarkan potensi afektualnya (8 potensi) sulit untuk diminta menjadi manusia bermoral. sarat paradoxal dan kontekstual inilah yang menuntut kehadiran Pendidikan Nilai Moral.a. b.a sebagai "moral conduct" diri dan kehidupan manusia/masyarakat/bangsa/dunia dimana ybs berada. Life Cycles manusia = 5 (diri. Yang lebih dahsyat lagi ialah bahwa antara komponen di atas (life cycles. aspek. c. keluarga. Insan bermoral (berahlak mulia) disamping memakai kemampuan intelektualnya (intellectual intelligence) juga selalu melakukan proses emoting. menegakkan dan Mengembangkan perangkat tatanan NMNr luhur (6 sumber Nr) adalah juga pencerahan diri dan kehidupan manusia secara kaffah dan berahlak mulia serta kehidupan masyarakat Madaniah (Civil Society). Insan/Masyarakat bermoral (morally mature/healthy person) dan masyarakat bangsa berkepribadian. Potret diri & kehidupan manusia dengan perangkat NMNr yang amat kompleks. Memelihara/melestarikan dan membina NMNr menjadi 5 system kehidupan yang kait mengkait. Visi Pendidikan Nilai – Moral disamping membina. sehinggga manusia tetap value based sebagai insan bermoral (morally mature person atau a healthy person) dan kehidupannya tetap terkendali (conditioned). masyarakat. 150 NMNr ini masih akan dikaitkan (dikalikan) dengan keberadaan 5 system dalam setiap organisme kehidupan (150 x 5 = 750 ) dan dikaitkan lagi dengan status dan peran laku manusia yang bersifat mono pluralistik yang jumlah n. Dimensi norma acuannya cenderung ke keilmuan (umumnya ekonomik saja) dan atau hukum formal. Mengklarifikasi dan merevitalisasi sub. Proses ini makin kini makin rendah (dimensi norm referencesnya maupun value basesnya). ybs memiliki pengalaman belajar (learning experiences) dan kemampuan (kompetensi) bagaimana dan kapan mengoptimalisasi dan meminimalisasikan perangkat NMNr tadi secara instrumental/kontekstual dan balance. spiritualisasi (spiritualizing) dan valuing terhadap seluruh dimensi norm reference yang ada (diyakini ybs dan atau kehidupannya) sebelum pengambilan keputusan (taking position). Jelas kiranya.

Generation gap. Hippies dll adalah buah pendidikan parsial yang meninggalkan pendidikan nilai – moral. spesialisasi. dll) "Janganlah berfikir sebelum kamu iman. UUSPN menjadi kiblat seluruh Program dan Sistem pendidikan ). disamping hal-hal di atas juga membawakan misi pembinaan dan pengembangan manusia/masyarakat/bangsa yang moderen namun tetap berkepribadian Indonesia (sebagaimana kualiifikasi UUSPN 2003). Berikut kami angkat beberapa statements para pakar Pendidikan Nilai yang mengungkapkan esensi Diknil: "Value Education or none at all" (Phlips Comb) "Value education is the central of human being" (Piaget. Sumber normative dari Tuhan/Allah (agama). cerdas. Misi yang diembannya adalah program pendidikan. Khusus di negara kita. membina jati diri WNI berkepribadian/berbudaya Indonesia. e. Aristoteles. and my religion is to do good" (Thomas Paine) Dan sebagai insan religius. easiness. Membina dan menegakan "law and Order" serta tatanan kehidupan yang manusiawi – demokratis – taat azas. Maka oleh karenanya NMNr kontras – paradoxal kian meningkat dan sering melahirkan "ketimpangan" dan atau kesenjangan keadaan/ kehidupan manusia yang kalau tidak mampu diseimbangkan maka muncul aneka keanehan. sekulerism. rasionalism. kita yakini bahwa dalam rukun iman dan Islam yang diminta adalah percaya akan… HAKEKAT PENDIDIKAN KEWARGAAN NEGARA (PKN) PKN atau Civic Education adalah program pendidikan/pembelajaran yang secara programatik – prosedural berupaya memanusiakan (humanizing) dan membudyakan (civilizing) serta memberdayakan (empowering) manusia/anak didik (diri dan kehidupannya) menjadi warga negara yang baik sebagaimana tuntutan keharusan/ yuridis konstitusional bangsa/negara ybs. enjoy. dan jangan berbuat sebelum iman dan berfikir" (Imam Al Gazali). Iptek dan modernity secara inheren membawakan nilai – moral (karakteristik): added values.l. maka Visi PKN NKRI lahirnya manusia/ WNI dan kehidupan masyarakat bangsa NKRI religius. kompetisi & conflict.d. Rujukan WNI yang baik dalam NKRI ialah UUD 1945/2003 yang jabarannya termuat dalam TAP MPR dan UU (a. materislism. Membelajarkan hendaknya dimaknai memberi pembekalan pengetahuan melek politik – hukum. gaya hidup (life style) yang "aneh". demokratis dan lawful ness. Menurut landasan konstitusional di atas. moderen dan berkeribadian Indonesia. yang membelajarkan dan melatih anak didik secara demokratis – humanistic – fungsional. individualism. Alam dan budaya/adat serta yang metafisis mulai digeser dan atau diubah oleh sumber karya manusia yakni Ilmu dan Hukum serta teknologi. damai – tenteram – sejahtera. melatih pelakonan diri/kehidupan WNI yang melek politik hukum serta berbudaya Indonesia dalam tatanan . stress dan strook. friksi kehidupan rumah tangga dan masyarakat. "My country is the world. dll. mudah dan menyenangkan) mulai mereduksi dan mengerosi keberadaan/kelengkapan perangkat sumber norma acuan dan sekaligus pula mengerosi nilai – moralnya. Laju perkembangan iptek yang kian kini kian cepat dan agresif (melalui media cetak elektronik dan produk iptek yang sarat nilai tambah.

humanis dan fungsional. Dan ini berarti tantangan riil yang cukup berat untuk dihadapi para guru PKN. : a. PAI bahasa & Budaya Daerah dan semacamnya. kegunaannya dan kritis tidaknya. Tersirat dalam semua uraian di atas sejumlah hal yang secara konseptual dan praksisnya paradox/tabrakan dengan hakekat globalisme dan modernity. Banyak hal yang semula bersifat "tidak mungkin atau masa iya" kini ada dan terbuktikan. Hakkekat isi pesan program PKN yang utama (lihat UUSPN 2003) harus memuat a. Pergaulan dunia/antar bangsa yang setara dan damai 2.kehidupan masyarakat – bangsa – negara yang moderen. Insan dan kehidupan Demokratis yang lawfulness dalam NKRI/Pancasila/ berbudaya Indonesia d. Insan dan kehidupan yang Cerdas. . Insan dan kehidupan yang Cinta bangsa negara. kesemua hal inilah yang menyebabkan manusia "arogan" dan mendewakan dirinya serta melahirkan dalil "I`m nothing but every things" (aku adalah segala – galanya). yakni: 1. Melek politik – hukum tahu/faham hal ihwal keharusan berkehdiupan berbangsa – bernegara baik secara konstitusional maupun secara praksis/ nyatanya (kemarin – kini dan esok hari) Tatanan dan kehidupan Politik – Hukum dan Masyarakat Indonesia. Bila kita menyerah berarti kita mengurbankan hakekat kodrati/Illahiah dan social politik diri siswa dan kehidupan Bangsa Negara kita. Dari gambaran di atas maka jelas target harapan pembelajaran PKN NKRI. serta memperpendek jarak waktu antar space. Insan dan kehidupan Relgius Imtaq dalam semua gatra kehidupan b. Patriotik: cinta dan bela bangsa negara (hak daulat dan martabat bgs negara) f. damai dan sejahtera e. modernity adalah Neo Geopolitik yang cyberspace/world wide dan Sekuler Iptek melahirkan temuan konsep/dalil dan produk baru yang serba elektronik – massal meninggalkan ketergantungan manusia dan kehidupannya terhadap tenaga manusia. Secara Prosedural target sasaran pembelajarannya ialah penyampaian bahan ajar pilihan – fungsional kearah membina. Jawaban ada di tangan anda ! Globalisme adalah era iptek yang superdeveloped. Bahan ajar yang kaffah mutlak harus menampilkan politik – hokum NKRI secara factual – teoritiik konseptual dan normative berikut isi pesan (nilai – moral) serta aturan main dan tata cara pelaksanaannya. Secara Programatik memuat bahan ajar yang kaffah/utuh (CAP) berupa bekal pengetahuan untuk melek politik & hukum yang ada/berlaku/imperative dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa dan bernegara NKRI yang demokratis sistim perwakilan – konstitusional. Dan sebagai bekal pengetahuan tidak mutlak semua hal disampaikan melainkan dipilah dan dipilih berdasarkan tiga criteria dasar yakni: tingkat esensinya.l. Bahkan iptek mulai mencoba menundukan alam serta kodrat natural manusia. c. mengembangkan dan membentuk potensi diri anak didik secara kaffah serta kehidupan siswa & lingkungannya (fisik – non fisik) sebagaimana diharapkan/keharusannya ( 6 sumber normative di Indonesia) serta pelatihan pelakonan pemberdayaan hal tersebut dalam dunia nyata astagatranya secara demokratis. binatang dan alam.

Maka melalui berbagai dalih dan dalil (terutama dalih terrorism dan obat bius) maka dunia diwilah-wilah dan diciptakan "aneka conflicts" serta terjadilah berbagai "perang" (war). Afganistan.l. traditionalis cultural atau Oriental Despotism. Transnationalism. Euro/Nato. sekuler. Global Capitalism. yakni Cyber Politics/ Economics and Modernization (system dan life style) menggunakan berbagai cara dan kekuatan terutama kekuatan ekonomi (bantuan dan atau embargo). NATO. Neo Geopolitic. materialistic. serta undemocratic democracy lainnya). laju propoganda kekuatan kubu korporasi demokrasi termasuk proteksi kubu demokrasi melawan kubu yang berbeda prinsip (a. Western democracy yang liberalis dan kapitalistik dimana kepentingan ekonomi menjadi penjuru dan primadonanya semua hal.World Peaceful and wealthfare. Planetary Territory dll yang kesemuanya memaksa manusia/bangsa/negara mengglobal sehingga tercipta tatanan norma baru yang dalam internet disebut dengan Normative Globalism yang berpolakan cyber ipoleksosbud dengan super developed technology dalam kehidupan post modernity yang dikendalikan world dragons & super power countries tadi.Teknologi industri yang sepenuhnya rational and capital base melahirkan tuntutan kehidupan yang ilmiah – rasional. Semua hal ini "memaksa" masyarakat bangsa berkembang menerima/mengadopsi dan atau memasuki kubu baru mereka. new democracy yang world wide cq. nasionalisme sempit. ialah a. Pangsa pasar mereka ialah dunia tanpa batas wilayah (Planetary Territory. Produksi massal menuntut kapital dan pasar (bahan dan produk) yang meluas dengan tingkat kompitisi kian tajam serta melahirkan sindikat gabungan industri (negara) raksasa yang secara konseptual paradox dengan karakter modernity.AFTA. dimana "kepentingan politik suatu/sejumlah negara" (yang adalah kepentingan ekonomi bangsa/negara ybs) menjadi kiblat kekuasaan dengan jalan "menghapuskan batas wilayah nasionalisme . Pola universalism yang kompetitif ini merupakan tuntutan keharusan (opinio necessitatic) teknologi modern yang berproduksi massal. Irak dll yang ujung-ujungnya adalah liberalisasi dan demokrasi yang menyelebungi kepentingan ekonomi dan iptek tinggi (bahan baku dan pangsa pasar). Gabungan raksasa industri & negara maju ini dikenal dengan berbagai label. mulai dari perang Panama.. wilayah politik kebangsaan (nation) dan bahkan kedaulatan tererosi melalui pola kehidupan sosio politik Demokrasi Modern.Multy National Corporation. yakni perkembangan demokrasi beserta kekuatan korporasisnya. capitalism yang kompetitif serta mendorong meningkatnya pola keadaan yang individualistik dan Utilities – beneficial – universal/ global/world wide.World Bank. World Dragons. dimana dikemukakan ada tiga kekuatan dahsyat yang muncul di era post modernity ini. Suka atau tidak suka. pembentukan Hukum/Lembaga Internasional (WTO. Dalam awal makalah ini kami cantumkan petikan tulisan Alex Carey. Cyber space).Euro dll) serta sindikat kekuangan (IMF. IGGI. Korporasis kubu demokrasi tadi dalam mewujudkan targetnya . Vietnam samapi perang Teluk . semua orang dan bangsa negara digiring menuju dunia baru itu.l. dll) yang pada puncaknya digelarnya peragaan kekuatan militer iptek mutahir. Dan ironisnya karakter iptek – modernisasi ini bila sudah memasuki kehidupan manusia/masyarakat ybs has a beginning but will has no end ! Geo politik lama (wilayah ditentukan oleh kedaulatan/kekuasaan negara) berubah menjadi Neo Geopolitik. negara super power. world police dll. Paradigma baru bernegara muncul dalam dalil baru Demokrasi Baru. IGGI.

bangsa negara dan kehidupan Indonesia masuk dalam katagori manusia – bangsa – negara modern super canggih. Melalui budaya dan pendidikan (materiil dan sumber serta media pembelajaran) generasi muda (yang umumnya mayoritas populasi bangsa dan dalam kondisi jiwa inovatif – kreatif dan "revolution age") diciptakan a new and modern generation yang cinta/gila modernity. Bagaimana kita. namun harus tetap manusia dan bangsa yang berbudi luhur yang tetap mampu tampil dalam kepribadian Manusia/Bangsa Indonesia. untuk itu kembali teknologi berbicara dalam wujud teknologi militer . dimana martabat diri dan kodrat dirinya "dijual dan dikurbankan" untuk kenikmatan. cerdas. Rem normative yang menjadi direktiva (moral conduct) diri & kehidupan "blong" dan terciptalah proses erosi dan dehumanisasi. individualis – utilities dan kontras dengan sejumlah NMNr luhur yang berlaku/ada/baku serta menamakan diri "kehidupan baru yang moderen" Harapan kita tentu saja manusia. hendaknya jangan menjadi excuse penyelewengan dan pelacuran pendidikan. new democratic style dan world wide. Sekolah dengan seluruh instrumental inputs nya. Melihat kecen-derungan "pergeseran status dan fungsi peran keluarga" (di kota maupun desa) sekarang ini maka nampaknya semua beban itu akan terpulang dan harus terpikul oleh Guru dan pendidik cq. kesenangan dan kemudahan serta nilai tambah duniawi semata . pemimpin masyarakat dan negara serta tentu saja para pendidik dan guru. dan sang maha guru Iptek – elektronik – cetak kini kian merajalela membelajarkan dan melatih pengalaman hidup/belajar generasi penerus bangsa negara ini. Keterbatasan dan keterpurukan social ekonomi dan politik.sempit dan kekuasaan/ kedaulatan territorial lama". bangsa Indonesia mampu membinanya? Pertanyaan ini hendaknya menjadi keperdulian semua orang. Maka benarlah dalil Phillip Combs Value education or none at all !! . materialistik. media cetak – elektronik dan indsutri. Secara institusional. Media cetak elektronik menjadi pendobrak tradional culture and life style. Hari esok bangsa dan negara kita berada pada our next young generations. Dalam kehidupan dan generasi inilah keberadaan tatanan norma dengan perangkat nilai – moral luhur goyah. Semua harus membuka diri. Perlombaan (musabaqoh) pembaharuan kurikulum dan buku teks harus diperhitung kan secara lebih serius (bukan hanya mengejar target waktu/tahun/proyek ) dan harus diiringi peningkatan keberadaan dan tegaknya profesionalisme Pendidik . Sekolah harus kita fungsionalkan menjadi "agent of changes" dan membelajarkan keluarga dan masyarakat. Muncullah generasi dan kehidupan masyarakat yang serba rasional. terutama para orang tua. dan berahlak mulia yang tentunya harus diiringi system dan mekanisme kerja berbasis profesionalisme dalam dunia pendidikan. tergeser dan atau tergusur . sekuler. Kita tidak berharap kehadiran manusia/ masyarakat & kehidupan yang modern namun kufur dan dolim terhadap diri sendiri.Ini adalah harga mati untuk terpenuhinya harapan lahirnya Manusia dan Bangsa yang religius . NMNr luhur serta warisan budaya (cultural heritage) Indonesia. progaramtik curricular dan prosedural pembelajaran harus kaffah dan value base. Guru serta pelaksana pendidikan. sehingga tercipta proses revitalisasi fungsi peran keluarga/masyarakat. Hendaknya sama-sama kita sadari bahwa dunia dewasa ini makin terbuka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->