ESENSI PENDIDIKAN NILAI MORAL DAN PKN DI ERA GLOBALISME

Posted on Mei 13, 2008 by wjanto Prof.Drs.H.A.Kosasih Djahiri the 20th century has been characterized by three developments of great political importance: The growth of democracy, the growth of corporate power, and the growth of corporate propaganda as a means of protecting corporate power against democracy ( Alex Carey ). My country is the world, and my religion is to do good.(Thomas Paine) Pendahuluan Tidak seorangpun mampu melepaskan diri dari hakekat kodrati manusia sebagai insan yang dapat dididik dan belajar sepanjang hayat (educated human being), sehingga dinamik berubah sepanjang masa.Pengalaman hidup manusia (life experiences) adalah pengalaman belajar manusia yang dari waktu/kondisi/tempat ke waktu/kondisi/tempat mengembangkan potensi diri dan kehidupan kita baik dalam arus posiitif maupun arus negatif. Hakekat lain yang tidak bisa dihindari manusia ialah selaku social and political human being, dimana sejak lahir kita hidup "in group" dalam keluarga dan masyarakat yang ahirnya berbangsa – bernegara (Zoon politicon, organized political man). Lembagalembaga tadi disamping merupakan wadah/rumah bagi manusia juga merupakan institusi pembina – penegak dan pengembang ipoleksosbudag yang amat potensial. Namun makin kini ketiga lembaga itu makin kurang berfungsi (melonggar) dan bahkan ada kecendrungan dihilangkan. Bahwa Potensi diri manusia yang Illahiah yang dibawa setiap manusia meliputi potensi badaniah dan rohaniah. Melalui berbagai kajian pakar pendidikan dan psikologis, potensi rohaniah dikatagorikan kedalam tiga potensi dasar yakni Daya Intelektual/Nalarr (dengan 6 potensi ); daya afektual (8 potensi afektual) dan Psikomtorik (8 potensi), sehingga keseluruhannya meliputi 22 potensi. Dalam Dunia Pendidikan (terutama pendidikan formal) secara kurikuler rumusan sosok keluarannya dinyatakan harus utuh bulat (ragawi dan rohaniah) namun secara programatik – prosedural maupun realita keluarannya (outcomes) bersifat parsial. Totalitas diri anak didik hampir tidak pernah dibelajarkan secara kaffah. Target penyelesaian bahan ajar yang konseptual teoritik – keilmuan/normative atau structural disipliner dan target nilai angka (marking) atau NEM tinggi yang diiringi ketidak tahuan/profesionalan guru melahirkan pendidikan dan pembelajaran parsial. Masalah potensi ragawi dan nilai – moral serta norma hampir tidak pernah masuk hitungan termasuk dalam program khusus MKU (PKN, PAI, dll). Tidak Profesionalnya guru, disamping pola pembelajaran – pelatihan professional skills

selalu berkelompok (group base). Pembelajaran berlandaskan nilai moral yang normative/ luhur/suci/religius kalah oleh pembelajaran theoretic – conceptual based dan perhitungan untung rugi rasional – keilmuan dan atau yuridis formal. Guru dan sekolah. Potret ini sudah juga nampak dalam pendidikan informal cq. guru.l. pembinaan dan pendidikan anak (termasuk agama dan budi luhur) mulai kurang diperdulikan dan sudah sepenuhnya diserahkan kepada instansi lain cq. insan yang terikat dalam sejumlah lingkaran kehidupan (life . apa yang diuraikan di atas boleh dibilang "tabu" dalam pendidikan keluarga. patriotism dan proudnes. gejolak iptek yang kian ganas melalui multi media elektronik – cetak dengan segala "keindahan – kemewahan dan kemudahannya" yang serba "waah" berikut tuntutan materiilnya yang cukup tinggi. wajib mengajar minimal 19 jampel di satu sekolah. Dunia pendidikan formalpun (Program. spiritualizing. Dalam kehidupan masa lampau generasi usia 50/60 th keatas. Allohuma Nauzubillahi min zaalik !. hanya dianggap keharusan otomatik (opinio necesitatic) tanpa diiringi oleh rasa-emosi lain (sense of integrity. valuing dan mental round trip dikalahkan oleh proses thinking and rationalizing. guru SD adalah guru kelas (baca "Guru 7 mata pelajaran" ! ). organized political man). melahirkan kehidupan keluarga yang sarat keinginan dan kesibukan sebagaimana "pola kehidupan (life style) modern" yang pada ahirnya secara perlahan namun pasti membawa kearah rasionalisme. bersifat mono multiplex/pluralistic. Demikian halnya dalam berbangsa dan bernegara. sistim penempatan guru. adat budaya (cultural heritages) dan bahkan nilai moral metafisis dengan segala "pro & contranya" hadir secara utuh menjadi tonggak pokok untuk segala hal serta beruwjud dalam berbagai bentuk (materiil – imateriil. Proses emoting – minding. kontekstual/ kondisional. Rusdi Misnem dll) sekaligus membawakan misi dan isi pesan budi luhur (adat dan agama). system dan kondisional) turut mengukuhkan kehidupan tadi. Maka oleh karenanya tidaklah mustahil apa yang dikemukakan McLuhan (teori Pendulum) besok lusa akan berwujud. insan politik yang terorganisir (zoon politicon. Sekarang ini. personal. Rumah dan keluarga mulai tererosi dari status dan role behavior bakunya (agamis & cultural) dan hanya menjadi "symbol terminal berkumpul dan sumber status social – ekonomi" bagi warganya. termasuk didalam kehidupan keluarga kita ! Norma acuan. Dalam kehidupannya sebagai insan social diperkaya dengan seperangkat kodrat social sesuai dengan status dan peran laku harapannya (expected role behavior). seluruh perangkat tatanan nilai – moral dan norma agama ( dan budaya agama). kehidupan keluarga. buku. pimpinan. dll ). Bagi keluarga yang sudah masuk "super developed/ nuclear – family" perkawinan hanya dimaknai sebagai lembaga/media untuk memenuhi kebutuhan biologis dan social ekonomis saja.yang kurang terutama dikarenakan ketentuan formal dan system seperti a. melukiskan hakekat manusia yang serba potensial dan sarat keterbatasan. Dimensi dan System kehidupan manusia Gambaran hakekat kodrati manusia (Illahiah/Natural dan Sospol) dalam uraian terdahulu. kondisional dan behavioral/ceremonial) . Buku paket IPS ("Matahari Terbit") dan seni budaya daerah (Panyungsi Bahasa. sekulerisme yang materialistic dan egoistic serta mulai menggeser dan mengerosi standard baku yang ada. yakni manusia yang cerdas otaknya namun tumpul emosinya. Beberapa sifat kodrati insan social ini ialah a.l. Didi – Yoyo. Potret ini disejumlah tempat sudah mulai nampak.

Dan setiap norma melahirkan acuan nilai dan moral. yakni: sistem nilai (value system). cinta kekuasaan. dimana menurutnya setiap organisme kehidupan (manusia. Norma adalah perangkat ketentuan/hukum/ arahan. hindari. hukum positif/negara. dan norma metafisis (hal ihwal diluar jangkauan kemampuan manusia. Dari gambaran tadi jelas bahwa diri dan kehidupan manusia sarat/padat norma – nilai dan moral. tanaman dll) memiliki 5 system.l. Kelima hal ini ditampilkan setiap diri manusia yang normal dalam kehidupannya. Ke enam acuan normative tadi ada dalam setiap lingkaran dan aspek serta system kehidupan manusia. dll. binatang. norma keilmuan. Maka karenanya suatu norma dari suatu sumber bisa memuat nilai – moral positif maupun negatif dan jumlahnya amat banyak serta bersifat relatif/subjektif – instrumental yang mungkin pula kontradiktif satu dengan lainnya. system social (social system).cycles) yang multi aspek dan multi waktu. neraka. Kedua hakekat kodrati tadi dengan diintervensi oleh tempat – waktu dan kondisi. dia bisa datang dari luar (eksternal) seperti dari Tuhan/Agama. sok pintar. system budaya (cultural system). Proses perkembangan tadi tidak bersifat normless. Norma yang sudah menjadi bagian dari hati nurani (suara hati = qolbu !) adalah norma dan nilai – moral yang sudah bersatu raga (personalized) dan menjadi keyakinan diri atau prinsip atau dalil diri & kehidupan kita. ingin selamat dan hidup abadi. negara/Hukum. merasa pintar. kondisional. mengemukakan 5 sifat natural manusia dalam posisinya sebagai organized political man. John Locke. alam gaib – kepercayaan).Maka karenanya Diri Manusia dan Astagatra kehidupan manusia yang bersifat organisme hidup tidak luput dari lima system tadi dan setiap system mengacu kepada 6 norma acuan yang ada/dianut/diyakni orang/masyarakat/kehidupannya. moralita yang dituntut jauhi. berinteraksi/berinteradiasi dan menyebabkan proses perkembangan manusia serta melahirkan produk the real thing of man/human being. dan bila tidak dikendalikan kelima hal tadi akan berwujud menjadi: gila hormat. Nilai ( value = valere) adalah kualifikasi harga atau isi pesan yang dibawakan/tersurat/tersirat dalam norma tsb (a. Sedangkan yang kami maksudkan Sistem dalam kehidupan ialah apa yang dikemukakan oleh Talcot Parson. gila kekuasaan. yakni : suka dihormati. dosa. Norma agama memuat nilai/harga haram – halal – dosa – dll) dan melekat pada seluruh instrumental input manusia (hal-hal yng materiil/imateriil. Sedangkan Moral/Moralita adalah tuntutan sikap – perilaku yang diminta oleh norma dan nilai tadi. behavioral). Potret diri dan kehidupan di atas bila kita jabarkan secara matematis akan nampak sebagai berikut: . (silahkan anda renungi/kaji diri anda sendiri ). Contoh simple misalnya Norma agama "dilarang mencuri" memuat nilai a. tidak ada kehidupan yang "value free" (bebas nilai). haram. masyarakat/adat dan bisa pula (yang terbaik ) datang dari dalam diri atau sanubari/qolbu kita sendiri. jangan dikerjakan.l. budaya adat/tradisi. Dalam masyarakat Indonesia ada/berlaku 6 norma acuan pokok yang menuntun/mengendalikan/mengharus kan diri dan kehidupan manusia ialah nroma/syariah agama. system personal (personal system) dan system organic (organic system). budaya agama. cari selamat/aman (anti risiko) dan takut mati. personal/impersonal. melainkan terikat dan atau terkendali oleh seperangkat tatanan normaacuan (norm refrences).

Visi Pendidikan Nilai – Moral disamping membina. ybs memiliki pengalaman belajar (learning experiences) dan kemampuan (kompetensi) bagaimana dan kapan mengoptimalisasi dan meminimalisasikan perangkat NMNr tadi secara instrumental/kontekstual dan balance. Insan/Masyarakat bermoral (morally mature/healthy person) dan masyarakat bangsa berkepribadian. Proses ini makin kini makin rendah (dimensi norm referencesnya maupun value basesnya). 150 NMNr ini masih akan dikaitkan (dikalikan) dengan keberadaan 5 system dalam setiap organisme kehidupan (150 x 5 = 750 ) dan dikaitkan lagi dengan status dan peran laku manusia yang bersifat mono pluralistik yang jumlah n. keluarga. Aspek kehidupannya = 5 dimensi/aspek (Ipoleksosbudag) c. Dalam diri dan kehidupan yang bermoral (berahllak mulia) seluruh sistemnya ( 5 sistem) selalu mengacu kepada seluruh tatanan NMNr yang berlaku/diyakini diri & kehidupan nya. sarat paradoxal dan kontekstual inilah yang menuntut kehadiran Pendidikan Nilai Moral. menegakkan dan Mengembangkan perangkat tatanan NMNr luhur (6 sumber Nr) adalah juga pencerahan diri dan kehidupan manusia secara kaffah dan berahlak mulia serta kehidupan masyarakat Madaniah (Civil Society). Memanusiakan (humanizing). b. orang yang tidak mengenal perangkat tatanan NMNr dan tidak/ jarang dibelajarkan potensi afektualnya (8 potensi) sulit untuk diminta menjadi manusia bermoral. membudayakan (civilizing) dan memberdayakan (empowering) manusia & kehidupannya secara utuh (kaffah) dan beradab (norm/ value based). masyarakat.a sebagai "moral conduct" diri dan kehidupan manusia/masyarakat/bangsa/dunia dimana ybs berada. Mengklarifikasi dan merevitalisasi sub. Dimensi norma acuannya cenderung ke keilmuan (umumnya ekonomik saja) dan atau hukum formal.a. dan hanya mengutamakan proses analisis – penilaian (evaluating bukan valuing) intelektual – rasional – konseptual saja. c. Potret diri & kehidupan manusia dengan perangkat NMNr yang amat kompleks. Memelihara/melestarikan dan membina NMNr menjadi 5 system kehidupan yang kait mengkait. Jelas kiranya. penyesalan. Life Cycles manusia = 5 (diri. spiritualisasi (spiritualizing) dan valuing terhadap seluruh dimensi norm reference yang ada (diyakini ybs dan atau kehidupannya) sebelum pengambilan keputusan (taking position). rasa salah/dosa dll). Sumber Norma acuannya ada 6 Dari tiga dimensi ini saja maka perangkat Nilai – Moral – Norma (NMNr) yang mengikat/mengendalikan diri & kehidupan manusia berjumlah (5 x 5) x 6 = 150 buah. bangsa/negara dan dunia) b. Insan bermoral (berahlak mulia) disamping memakai kemampuan intelektualnya (intellectual intelligence) juga selalu melakukan proses emoting. aspek. . Perhitungan ekonomik "murah – mahal" hanya dihitung rasional sebagai selisih harga dan "legal – illegal" nya juga bersifat rasional "karena secara formal melanggar/memenuhi ketentuan hukum" saja tanpa diiringi suara hati/qolbu (kasihan. Pendidikan NMNr membawakan misi: a. sumber norma dan system) tidak selamanya rujuk dan sering/banyak bersifat kontras/paradoxal. sehinggga manusia tetap value based sebagai insan bermoral (morally mature person atau a healthy person) dan kehidupannya tetap terkendali (conditioned). Yang lebih dahsyat lagi ialah bahwa antara komponen di atas (life cycles.

Khusus di negara kita. moderen dan berkeribadian Indonesia. Laju perkembangan iptek yang kian kini kian cepat dan agresif (melalui media cetak elektronik dan produk iptek yang sarat nilai tambah. UUSPN menjadi kiblat seluruh Program dan Sistem pendidikan ). enjoy. Berikut kami angkat beberapa statements para pakar Pendidikan Nilai yang mengungkapkan esensi Diknil: "Value Education or none at all" (Phlips Comb) "Value education is the central of human being" (Piaget. demokratis dan lawful ness. Sumber normative dari Tuhan/Allah (agama). dll) "Janganlah berfikir sebelum kamu iman. and my religion is to do good" (Thomas Paine) Dan sebagai insan religius. Aristoteles. Iptek dan modernity secara inheren membawakan nilai – moral (karakteristik): added values. kita yakini bahwa dalam rukun iman dan Islam yang diminta adalah percaya akan… HAKEKAT PENDIDIKAN KEWARGAAN NEGARA (PKN) PKN atau Civic Education adalah program pendidikan/pembelajaran yang secara programatik – prosedural berupaya memanusiakan (humanizing) dan membudyakan (civilizing) serta memberdayakan (empowering) manusia/anak didik (diri dan kehidupannya) menjadi warga negara yang baik sebagaimana tuntutan keharusan/ yuridis konstitusional bangsa/negara ybs. Maka oleh karenanya NMNr kontras – paradoxal kian meningkat dan sering melahirkan "ketimpangan" dan atau kesenjangan keadaan/ kehidupan manusia yang kalau tidak mampu diseimbangkan maka muncul aneka keanehan. easiness. Rujukan WNI yang baik dalam NKRI ialah UUD 1945/2003 yang jabarannya termuat dalam TAP MPR dan UU (a. Generation gap. sekulerism. kompetisi & conflict. stress dan strook. Alam dan budaya/adat serta yang metafisis mulai digeser dan atau diubah oleh sumber karya manusia yakni Ilmu dan Hukum serta teknologi. rasionalism. Hippies dll adalah buah pendidikan parsial yang meninggalkan pendidikan nilai – moral. materislism. Misi yang diembannya adalah program pendidikan. dan jangan berbuat sebelum iman dan berfikir" (Imam Al Gazali). damai – tenteram – sejahtera. disamping hal-hal di atas juga membawakan misi pembinaan dan pengembangan manusia/masyarakat/bangsa yang moderen namun tetap berkepribadian Indonesia (sebagaimana kualiifikasi UUSPN 2003). individualism. "My country is the world. Membelajarkan hendaknya dimaknai memberi pembekalan pengetahuan melek politik – hukum. friksi kehidupan rumah tangga dan masyarakat. e. gaya hidup (life style) yang "aneh". yang membelajarkan dan melatih anak didik secara demokratis – humanistic – fungsional. cerdas. Membina dan menegakan "law and Order" serta tatanan kehidupan yang manusiawi – demokratis – taat azas. mudah dan menyenangkan) mulai mereduksi dan mengerosi keberadaan/kelengkapan perangkat sumber norma acuan dan sekaligus pula mengerosi nilai – moralnya.d. Menurut landasan konstitusional di atas. membina jati diri WNI berkepribadian/berbudaya Indonesia. dll. melatih pelakonan diri/kehidupan WNI yang melek politik hukum serta berbudaya Indonesia dalam tatanan . spesialisasi.l. maka Visi PKN NKRI lahirnya manusia/ WNI dan kehidupan masyarakat bangsa NKRI religius.

Dari gambaran di atas maka jelas target harapan pembelajaran PKN NKRI. kegunaannya dan kritis tidaknya. Hakkekat isi pesan program PKN yang utama (lihat UUSPN 2003) harus memuat a. Insan dan kehidupan yang Cinta bangsa negara. c. Bahkan iptek mulai mencoba menundukan alam serta kodrat natural manusia. Banyak hal yang semula bersifat "tidak mungkin atau masa iya" kini ada dan terbuktikan. Insan dan kehidupan Demokratis yang lawfulness dalam NKRI/Pancasila/ berbudaya Indonesia d.l. mengembangkan dan membentuk potensi diri anak didik secara kaffah serta kehidupan siswa & lingkungannya (fisik – non fisik) sebagaimana diharapkan/keharusannya ( 6 sumber normative di Indonesia) serta pelatihan pelakonan pemberdayaan hal tersebut dalam dunia nyata astagatranya secara demokratis. Secara Prosedural target sasaran pembelajarannya ialah penyampaian bahan ajar pilihan – fungsional kearah membina. Dan sebagai bekal pengetahuan tidak mutlak semua hal disampaikan melainkan dipilah dan dipilih berdasarkan tiga criteria dasar yakni: tingkat esensinya. . Pergaulan dunia/antar bangsa yang setara dan damai 2. serta memperpendek jarak waktu antar space. kesemua hal inilah yang menyebabkan manusia "arogan" dan mendewakan dirinya serta melahirkan dalil "I`m nothing but every things" (aku adalah segala – galanya). humanis dan fungsional. Melek politik – hukum tahu/faham hal ihwal keharusan berkehdiupan berbangsa – bernegara baik secara konstitusional maupun secara praksis/ nyatanya (kemarin – kini dan esok hari) Tatanan dan kehidupan Politik – Hukum dan Masyarakat Indonesia. Dan ini berarti tantangan riil yang cukup berat untuk dihadapi para guru PKN. Secara Programatik memuat bahan ajar yang kaffah/utuh (CAP) berupa bekal pengetahuan untuk melek politik & hukum yang ada/berlaku/imperative dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa dan bernegara NKRI yang demokratis sistim perwakilan – konstitusional. Insan dan kehidupan Relgius Imtaq dalam semua gatra kehidupan b. Patriotik: cinta dan bela bangsa negara (hak daulat dan martabat bgs negara) f. PAI bahasa & Budaya Daerah dan semacamnya.kehidupan masyarakat – bangsa – negara yang moderen. Bahan ajar yang kaffah mutlak harus menampilkan politik – hokum NKRI secara factual – teoritiik konseptual dan normative berikut isi pesan (nilai – moral) serta aturan main dan tata cara pelaksanaannya. Tersirat dalam semua uraian di atas sejumlah hal yang secara konseptual dan praksisnya paradox/tabrakan dengan hakekat globalisme dan modernity. modernity adalah Neo Geopolitik yang cyberspace/world wide dan Sekuler Iptek melahirkan temuan konsep/dalil dan produk baru yang serba elektronik – massal meninggalkan ketergantungan manusia dan kehidupannya terhadap tenaga manusia. yakni: 1. Bila kita menyerah berarti kita mengurbankan hakekat kodrati/Illahiah dan social politik diri siswa dan kehidupan Bangsa Negara kita. Jawaban ada di tangan anda ! Globalisme adalah era iptek yang superdeveloped. binatang dan alam. Insan dan kehidupan yang Cerdas. damai dan sejahtera e. : a.

Multy National Corporation. new democracy yang world wide cq.AFTA. yakni perkembangan demokrasi beserta kekuatan korporasisnya. Dan ironisnya karakter iptek – modernisasi ini bila sudah memasuki kehidupan manusia/masyarakat ybs has a beginning but will has no end ! Geo politik lama (wilayah ditentukan oleh kedaulatan/kekuasaan negara) berubah menjadi Neo Geopolitik. Korporasis kubu demokrasi tadi dalam mewujudkan targetnya . dll) yang pada puncaknya digelarnya peragaan kekuatan militer iptek mutahir. Gabungan raksasa industri & negara maju ini dikenal dengan berbagai label. Dalam awal makalah ini kami cantumkan petikan tulisan Alex Carey. Pangsa pasar mereka ialah dunia tanpa batas wilayah (Planetary Territory. semua orang dan bangsa negara digiring menuju dunia baru itu. mulai dari perang Panama. nasionalisme sempit.l. pembentukan Hukum/Lembaga Internasional (WTO. negara super power. Planetary Territory dll yang kesemuanya memaksa manusia/bangsa/negara mengglobal sehingga tercipta tatanan norma baru yang dalam internet disebut dengan Normative Globalism yang berpolakan cyber ipoleksosbud dengan super developed technology dalam kehidupan post modernity yang dikendalikan world dragons & super power countries tadi. traditionalis cultural atau Oriental Despotism. Vietnam samapi perang Teluk . NATO. serta undemocratic democracy lainnya). Neo Geopolitic..World Bank. ialah a. capitalism yang kompetitif serta mendorong meningkatnya pola keadaan yang individualistik dan Utilities – beneficial – universal/ global/world wide. Produksi massal menuntut kapital dan pasar (bahan dan produk) yang meluas dengan tingkat kompitisi kian tajam serta melahirkan sindikat gabungan industri (negara) raksasa yang secara konseptual paradox dengan karakter modernity.Teknologi industri yang sepenuhnya rational and capital base melahirkan tuntutan kehidupan yang ilmiah – rasional. Cyber space). wilayah politik kebangsaan (nation) dan bahkan kedaulatan tererosi melalui pola kehidupan sosio politik Demokrasi Modern. Semua hal ini "memaksa" masyarakat bangsa berkembang menerima/mengadopsi dan atau memasuki kubu baru mereka. sekuler. World Dragons. Paradigma baru bernegara muncul dalam dalil baru Demokrasi Baru. yakni Cyber Politics/ Economics and Modernization (system dan life style) menggunakan berbagai cara dan kekuatan terutama kekuatan ekonomi (bantuan dan atau embargo). materialistic. Transnationalism. IGGI. dimana dikemukakan ada tiga kekuatan dahsyat yang muncul di era post modernity ini. Global Capitalism. Western democracy yang liberalis dan kapitalistik dimana kepentingan ekonomi menjadi penjuru dan primadonanya semua hal.World Peaceful and wealthfare. Pola universalism yang kompetitif ini merupakan tuntutan keharusan (opinio necessitatic) teknologi modern yang berproduksi massal. laju propoganda kekuatan kubu korporasi demokrasi termasuk proteksi kubu demokrasi melawan kubu yang berbeda prinsip (a. Afganistan. world police dll. Suka atau tidak suka. Irak dll yang ujung-ujungnya adalah liberalisasi dan demokrasi yang menyelebungi kepentingan ekonomi dan iptek tinggi (bahan baku dan pangsa pasar). IGGI. Maka melalui berbagai dalih dan dalil (terutama dalih terrorism dan obat bius) maka dunia diwilah-wilah dan diciptakan "aneka conflicts" serta terjadilah berbagai "perang" (war).l. dimana "kepentingan politik suatu/sejumlah negara" (yang adalah kepentingan ekonomi bangsa/negara ybs) menjadi kiblat kekuasaan dengan jalan "menghapuskan batas wilayah nasionalisme .Euro dll) serta sindikat kekuangan (IMF. Euro/Nato.

individualis – utilities dan kontras dengan sejumlah NMNr luhur yang berlaku/ada/baku serta menamakan diri "kehidupan baru yang moderen" Harapan kita tentu saja manusia. Guru serta pelaksana pendidikan. sehingga tercipta proses revitalisasi fungsi peran keluarga/masyarakat. progaramtik curricular dan prosedural pembelajaran harus kaffah dan value base. Melihat kecen-derungan "pergeseran status dan fungsi peran keluarga" (di kota maupun desa) sekarang ini maka nampaknya semua beban itu akan terpulang dan harus terpikul oleh Guru dan pendidik cq. Rem normative yang menjadi direktiva (moral conduct) diri & kehidupan "blong" dan terciptalah proses erosi dan dehumanisasi. materialistik. bangsa negara dan kehidupan Indonesia masuk dalam katagori manusia – bangsa – negara modern super canggih. pemimpin masyarakat dan negara serta tentu saja para pendidik dan guru. kesenangan dan kemudahan serta nilai tambah duniawi semata . sekuler. new democratic style dan world wide. Media cetak elektronik menjadi pendobrak tradional culture and life style. Keterbatasan dan keterpurukan social ekonomi dan politik. Kita tidak berharap kehadiran manusia/ masyarakat & kehidupan yang modern namun kufur dan dolim terhadap diri sendiri. NMNr luhur serta warisan budaya (cultural heritage) Indonesia. Hendaknya sama-sama kita sadari bahwa dunia dewasa ini makin terbuka. Semua harus membuka diri. bangsa Indonesia mampu membinanya? Pertanyaan ini hendaknya menjadi keperdulian semua orang. Bagaimana kita. Perlombaan (musabaqoh) pembaharuan kurikulum dan buku teks harus diperhitung kan secara lebih serius (bukan hanya mengejar target waktu/tahun/proyek ) dan harus diiringi peningkatan keberadaan dan tegaknya profesionalisme Pendidik . Sekolah dengan seluruh instrumental inputs nya.Ini adalah harga mati untuk terpenuhinya harapan lahirnya Manusia dan Bangsa yang religius . dimana martabat diri dan kodrat dirinya "dijual dan dikurbankan" untuk kenikmatan. terutama para orang tua. tergeser dan atau tergusur . untuk itu kembali teknologi berbicara dalam wujud teknologi militer .sempit dan kekuasaan/ kedaulatan territorial lama". namun harus tetap manusia dan bangsa yang berbudi luhur yang tetap mampu tampil dalam kepribadian Manusia/Bangsa Indonesia. media cetak – elektronik dan indsutri. dan sang maha guru Iptek – elektronik – cetak kini kian merajalela membelajarkan dan melatih pengalaman hidup/belajar generasi penerus bangsa negara ini. Sekolah harus kita fungsionalkan menjadi "agent of changes" dan membelajarkan keluarga dan masyarakat. Dalam kehidupan dan generasi inilah keberadaan tatanan norma dengan perangkat nilai – moral luhur goyah. Hari esok bangsa dan negara kita berada pada our next young generations. hendaknya jangan menjadi excuse penyelewengan dan pelacuran pendidikan. cerdas. Muncullah generasi dan kehidupan masyarakat yang serba rasional. dan berahlak mulia yang tentunya harus diiringi system dan mekanisme kerja berbasis profesionalisme dalam dunia pendidikan. Secara institusional. Melalui budaya dan pendidikan (materiil dan sumber serta media pembelajaran) generasi muda (yang umumnya mayoritas populasi bangsa dan dalam kondisi jiwa inovatif – kreatif dan "revolution age") diciptakan a new and modern generation yang cinta/gila modernity. Maka benarlah dalil Phillip Combs Value education or none at all !! .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful