P. 1
P.saktidrLembahLiar DewiKZ TMT

P.saktidrLembahLiar DewiKZ TMT

|Views: 415|Likes:
Published by radiaku

More info:

Published by: radiaku on Oct 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2011

pdf

text

original

Sections

Pendekar Saktii Pendekar Sakt Darii Lembah Liiar Dar Lembah L ar

Karya Liu Can Yang Saduran : Liang YL Editor : Adhi H

Sumber DJVU : Manise Ebook oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/ http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com

CERITA SILAT Judul : PENDEKAR SAKTI dari LEMBAH LIAR : Liang J Z : Tunas Mandiri Jaya Saduran Penerbit

Editor : Adhi H Cetakan Ke 1: Juni 2008 ISBN / KDT : 978-979-1489-46-1 JILID KE 1 Bab 1 Jejak keluarga pendekar Air sungai mengalir bagaikan sehelai pita yang berlikuliku melalui ribuan celah-celah gunung, ketika turun kebawah mengeluarkan suara gemuruh, begitu melewati tikungan tajam berubah bagai gelombang dahsyat yang menggoyangkan pegunungan, ibarat "Tiga gelombang dahsyat menerjang dataran dibarengi suara halilintar" pemandangan yang menakjubkan ini terdapat di sebuah tempat yang bernama Liong-bun (Pintu Naga). Di sisi barat Pintu Naga yang berdampingan dengan tikungan tajam tersebut ada sebuah gunung kecil, diatasnya berdiri sebuah bangunan yang berkilauan dengan warna emas nan agung, bangunan itu termasyur dengan julukan nama biara Sai-giok (Singa kumala). Di kala embun subuh masih menghalangi pemandangan, angin bertiup sangat dingin, cakrawala baru menampilkan Pintu Naga yang meupakan tempat idaman pujangga dan

ksatria, saat fajar baru terbit ini, biasanya belum ada pelancong yang datang. Tetapi terdengar suara orang bicara....... "Toako! daerah dekat Pintu Naga ini...." "Ya... kau jangan menganggap kau sudah pagi, buktinya masih ada orang lain yang sudah lebih pagi berangkat, orang-orang itu kelihatannya berselera tinggi juga" "Aku merasa ada yang aneh" "Mengapa? Apa Samte curiga orang-orang itu khusus mencari kita." "Pepatah kuno mengatakan dalam laut bisa diduga, hati orang sukar dibaca, lebih baik kita hati hati....." "Ha ha ha...... biarpun ada kawan-kawan yang tidak memandang pada kita, tapi buat Sin-ciu-sam-coat (Tiga pendekar wahid), tidak ada orang yang kita takuti." Yang barusan berbicara adalah seorang laki-laki yang berumur sekitar 50 tahun bertubuh langsing, mukanya berwarna ungu dan berewokan. sedang temannya lebih muda berpenampilan anggun dan cakap, berbaju biru. t Baru saja mereka berkata, terdengar alunan suara yang diantar angin pagi: Beruban seperti bintang-bintang Menyesal cita-cita menjadi hampa Tubuh ini seperti titipan Tubuh terasa sakit dan menyendiri Menuju Pintu Naga Membangkitkan semangat masa lalu

Dengan senjata sakti dari Liu-yang Melanglangbuana ribuan lie Membasmi Sin-ciu-sam-coat Menguasai dunia Coba tanya siapa yang bisa menandingi." Mendengar alunan suara, kedua orang itu berubah mukanya. Seutas hawa pembunuhan timbul diwajah orang tua berwajah ungu itu. Embun pagi masih seperti semula, angin dingin meniup baju, dalam pemandangan Pintu Naga yang megah, bukan saja bersembunyi tidak sedikit pesilat tinggi dunia persilatan, juga mengandung hawa pembunuhan yang amat pekat. Serentak orang tua yang berwajah ungu tersebut menggoyangkan alis panjangnya, sambil tertawa berkata: "Aku Pouw-ci-sui-beng (Jari sakti penghancur nyawa) Hong San-ceng dan Lam-san-hong-ie (Bulu hong berbaju biru) Cukat Tong menunggu kedatangan tuan, bila sobatsobat berjiwa ksatria, tidak perlu menyimpan kepala menyembunyikan ekor" Baru saja kata-katanya habis diucapkan, tiga bayangan manusia tanpa mengeluarkan suara sedikit-pun menghampiri dua orang itu dengan kecepatan tinggi, gerakannya di ikuti dengan kilauan pedang bagaikan tirai, bayangan pedang saling berhamburan, tiga penyerang itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung menyerang dua orang itu pada bagian tubuh yang mematikan. Orang tua yang bermuka ungu mendengus marah, kedua tangannya didorongkan kemuka tiga penyerang yang

memakai topeng, dan menghalau terbang penyerangnya sehingga satu tombak lebih. Tetapi begitu jatuh tiga orang itu langsung bangun kembali, seperti bola yang telah penuh diisi angin, mereka kembali menerjang kedepan dua orang tersebut. Orang tua itu jadi agak tertegun, tangan kiri yang lima jarinya putih seperti batu giok dengan segera diayunkan dan seketika terdengar dua jeritan memilukan, tiga dari penyerang tersebut dua orang telah roboh tidak bisa bangun lagi, yang seorang lagi dengan gerakan reflek melayang menghilang ke dalam kabut yang tebal. Serangan terselumbung ini seperti hujan badai pada bulan Juni, mendadak datang lalu pergi dengan cepat. Orang tua berwajah ungu yang diserang merasa bingung, dia melihat kedua mayat tersebut, lalu berpaling pada temannya yang berbaju biru, katanya: "Apa yang terj adi........." Temannya yang berbaju biru diam sejenak, sambil mengerutkan alis dia berkata: "Nama Sin-ciu-sam-coat (Tiga Pendekar Sakti) buat pencoleng kecil yang mendengar sudah ketakutan, kakak tadi telah menyebutkan gelaran kita, tapi tiga orang penyerang bertopeng itu masih berani menyerang dengan ganas, aku kuatir masih ada serangan susulan. Sekarang janji bertemu sudah lewat, tapi sampai sekarang kakak kedua belum datang juga, dia......" Orang tua berwajah ungu sejenak terkejut, tidak menunggu teman yang berbaju biru berbicara lagi, dia cepat berkata: "Ayo kita pergi......" dia menggandeng tangannya dan melayang pergi.

Baru saja tubuh mereka melayang, dari dalam kabut tebal terdengar suara sst... sst...sst, dilanjutkan suara cit...cit... bersahutan, disusul luncuran barisan anak panah yang pesat seperti segerombolan belalang datang menyerang. Tetapi dua dari tiga pendekar hebat ini telah memiliki ilmu silat yang sempurna, mereka sudah siap menhadapi perobahan mendadak ini, mereka membuka lengan baju lebarnya, membuat panah-panah yang datang dihalau kembali jatuh ke tanah, dan tubuhnya seperti dua ekor burung bangau raksasa menerobos dalam serangan panah tersebut. Orang tua yang berwajah ungu adalah Toako dari Tiga Pendekar Sakti dengan julukan Pouw-ci-sui-beng, sedang yang berbaju biru adalah Samtenya berjuluk Lam-san-hongie, mereka bertiga tahun lalu telah berjanji untuk bertemu di Pintu Naga dengan saudara kedua mereka Thian-yat-itkiam (Pedang tunggal dari cakrawala.) Pek Ciu-ping, setiap tahun selain saling menceritakan pengalaman masingmasing, juga menikmati pemandangan indah di tempat termasyur tersebut. Orang kedua mereka tinggal di sebuah kota tua yang berjarak kurang lebih ratusan li dari tempat tersebut, sekarang seharusnya dia sudah datang. Selama puluhan tahun, terhadap orang kecil dan pedagang bermodal kecil pun Pek Ciu-ping belum pernah ingkar janji, karena waktunya sudah lewat, kemungkinan besar dia mengalami rintangan yang sangat berat, maka bagi mereka berdua yang seperti kakak beradik, lebih baik meninggalkan penyerang tadi dan keduanya melesai dengan kecepatan tinggi menuju kota tua tersebut. Mereka telah melewati beberapa gunung, cahaya merah menerangi langit di sebelah timur, sambil berlari dengan

kecepatan tinggi Hong San-ceng tanpa sengaja melihat Cukat Tong, sejenak dia berubah jadi kaget dan berkata: "Samte,kauterluka?" Cukat Tong tertawa tawar: "Lengan kiri ku terluka oleh panah, tidak apa-apa, mari kita teruskan......" bicaranya belum selesai, tubuhnya sudah melesat berada di depan sepuluh tombak lebih, seperti anak panah lepas dari busurnya, kecepatannya tetap mengejutkan orang. Pesilat tinggi yang ilmu silatnya sehebat mereka, jarak ratusan li, hanya dalam waktu sekejap sudah sampai. Pekarangan rumah Thian-yat-it-kiam sudah terlihat dari kejauhan, namun langkah mereka men-dadak tertahan, tertegun oleh pemandangan yang mereka li hat. Ternyata di depan lereng gunung di hutan yang lebat, ada sebuah bangunan megah tempat tinggalnya orang kedua dari Sin-ciu-sam-coat, saat ini lapangan di depan pekarangan ada satu sinar pelangi sedang menyambarnyambar dengan kekuatan yang amat dahsyat, sinar pelangi itu menyapu seluruh lapangan, tempat yang dilalui sinar pelangi itu mengeluarkan gemuruh guntur, kekuatannya sangathebat. Sebuah pembantaian manusia yang sangat mengerikan telah terjadi di sisi hutan di celah rerumputan, di depan dan belakang pekarangan, sekelilingnya tergeletak mayat-mayat, bau anyir darah menyengat hidung, tapi pertarungan ini, sepertinya sudah mendekati akhir, kecuali Pek Ciu-ping dan sepuluh lebih pesilat tinggi bertopeng yang mengeroyoknya, liilak terlihat lagi seorang manusia yang masih hidup.

Mendadak, sinar pedang Pek Ciu-ping terhenti, kakinya melangkah beberapa langkah dengan terhuyung huyung, jago pedang yang tiada tandingannya dan telah menggemparkan dunia persilatan ini, dibawah tekanan jumlah musuh yang tidak sebanding, sudah terluka parah dan tampak kehabisan tenaga. Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng yang melihat kejadian itu, darahnya jadi bergolak, dia melirik sekali pada para pemanah yang sembunyi disekitar pekarang-an sambil mengeluh: "Tampaknya Jite walau bisa membunuh habis pesilat tinggi dilapangan, juga sulit menghindarkan bahaya dari para pemanah, kelihatannya hari ini adalah hari terakhir kita bisa berkumpul bersama!" Cukat Tong menengadah dan tertawa keras: "Kita bersaudara sudah bersumpah sehidup semati, demi sahabat tidak ingin hidup sendirian, bisa mati bersama di gunung ternama, matinya juga tidak perlu menyesal, Toako! Mari kita labrak......" Hong San-ceng membalikkan kepala melirik wajah Cukat Tong, mendadak dia melihat pergelangan Cukat Tong sedikit gemetar, di dalam hati timbul kepedihan yang amat sangat, sesaat, dengan nada dalam berkata: "Samte, kau sudah terkena racun, mengapa tidak mau menggunakan tenaga dalammu mengobati dulu!" Cukat Tong menggelengkan kepala, lalu dengan tertawa sedih berkata: "Racun yang terdapat di panah Ngo-tok-tui-hun-cian, adalah Toan-hun-cauw (Rumput pemutus arwah.) yang belum ada obatnya di dunia, kecuali......" perkataannya rada tertahan , mendadak dia mengangkat kepalanya,

berkata, "anak kecil di dalam pelukan Jiko, adalah satusatunya keturunan Sin ciu-sam-coat, Toako harus bertanggung jawab memelihara dan mendidiknya." Habis bicara, dia lalu mengeluarkan bulu Hong putih yang panjangnya sekitar tiga kaki, mulutnya bersiul panjang, tubuh berkelebat menerjang pada para pemanah itu. Hong San-ceng tertegun, matanya meneteskan beberapa tetes air mata, lalu alisnya terangkat sambil berteriak keras sekali, satu kakinya menginjak ke batu gunung, tubuhnya telah melesat datar, di saat tenaganya hampir habis, mendadak tubuhnya berguling, dengan kecepatan yang amat tinggi, melayang turun disisi tubuhnya Thian-yat-itkiam Pek Ciu-ping. Sepuluh lebih pesilat tinggi bertopeng yang ada di lapangan tertegun melihat demontrasi ilmu meringankan tubuh yang hebat ini, semuanya jadi tergetar, mereka tanpa sadar mundur satu tombak lebih. Hong San-ceng mengeluarkan suara Hm...! Dia tidak pedulikan para pesilat tinggi bertopeng itu, sorot matanya menatap pada Jitenya yang memegang sebilah Im-cu-kiam. Tapi dewa pedang ini, sekarang bajunya sudah sobek-sobek dagingnya pun terlihat, tubuhnya tidak ada satu pun yang utuh, kecuali anak kecil di dalam pelukannya, dia hampir telah menjadi manusia darah, Hong San-ceng dengan cepat mengambil satu-satunya keturunan Sin-ciu-sam-coat, dengan kencang diikatkan di punggungnya, lalu mengeluarkan sebutir obat, diberikan pada Pek Ciu-ping sambil berkata: "Jite, istirahatlah dahulu, biar aku yang menghadapi manusia-manusia rendah yang tidak berani menampilkan wajahnya ini."

Pek Ciu-ping mendadak memelototkan sepasang matanya, dia tertawa keras yang panjang berkata: "Toako, Soh-ciu kuserahkan padamu, kita bersaudara...... bertemu lagi di kehidupan yang akan datang......" perkataannya berhenti sejenak, mendadak tubuhnya meloncat, terlihat pelangi panjang muncul, hawa pedang memenuhi langit, dua kepala manusia langsung terlempar sejauh tiga tombah lebih, dibawah tebaran darah segar dia kembali menyambar pada orang-orang bertopeng itu. Gerakannya yang tidak diduga ini, kecepatannya seperti kilat menyambar, saat Hong San-ceng mendekatinya lagi, Pek Ciu-ping yang sudah terluka sangat parah telah meninggal dunia. Pukulan batin yang tidak tanggung-tanggung ini, membuat Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng mengangkat alis membelalakan mata, segaris warna merah darah mengucur dari sepasang mata yang membelalak bulat, mulutnya meraung keras, tubuhnya mendadak meloncat, sepasang telapaknya diayunkan, sebuah hembusan angin yang sangat dingin menusuk tulang, menerjang pada orang-orang bertopeng itu. Tapi orang-orang bertopeng itu tampaknya mempunyai ilmu silat yang tidak rendah, baru saja angin pukulan Hong San-ceng menerjang, tubuh orang-orang bertopeng itu tergetar sadar, lalu sinar golok berkelebatan, empat orang bertopeng maju menghadang nya. Dikala berlompat, Hong San-ceng masih sempat memungut Im-cu-kiam, di sudut mulutnya terdengar suara tertawa bernada sadis, pedang panjangnya di gelarkan menghasilkan tiga suara getaran yang nyaring, sambil

menggerakan dua buah alisnya, dengan suara dingin berkata: "Sin-ciu-sam-coat, tidak berencana meninggalkan tempat ini dengan hidup, bila kalian tidak memperlihatkan roman muka yang sebenarnya, Hong San-ceng tidak akan mati dengan mata tertutup" Di antara yang bertopeng tersebut, ada seorang kurus yang lengannya amat panjang, dan dua telapak tangannya yang lebih besar dari orang biasa, kelihatan-nya seperti pemimpin dari kelompok orang-orang itu, dia maju kedepan setengah langkah, sambil tertawa dengan suara munafik berkata: "Hong Tayhiap tidak perlu bersuara keras, kami semua terpaksa berbuat tidak sopan, mohon dimaafkan, soal......wajah kami, Hong Tayhiap tidak perlu tahu." Hong San-ceng dengan marah membentak: "Melihat kepandaian kalian yang cukup tinggi, pasti kalian adalah pendekar yang punya nama terkenal di dunia persilatan, kalian pasti dari perguruan yang ternama, aku mengharapkan kalian bisa memberi jawaban yang memuaskan." Orang kurus tersebut dengan tertawa yang dibuat-buat berkata: "Inilah yang disebut orang tidak berdosa tetapi punya barang berharga yang berdosa, adik saudara dengan diamdiam mempunyai barang yang sangat berharga, dengan sendirinya mendatangkan bahaya pada dirinya!" Hong San-ceng dengan marah berkata: "Kalian bangsat yang bisanya berbuat licik, sudah menyerang adikku dengan tindakan yang biadab, ternyata

masih berani berkata begitu enak, hmm... perumahan Lengin ini akan jadi tempat kuburan kalian......" Orang kurus itu mencibirkan mulutnya: "Sin-ciu-sam-coat sudah mati dua, Hong Tayhiap lebih baik pikirkan keselamatan keponakan anda......." Dia berhenti sejenak lalu berkata lagi, "seseorang bila sudah tidak bernyawa, biarpun punya barang berharga sebesar gunung pun percuma ha, ha... ha..." "Bila kau bisa berkata jujur, Hong San-ceng ingin mendengarkan penjelasanmu." "Apa Hong Tayhiap betul-betul tidak tahu?" kata orang kurus itu "Kau pasti tahu aku belum pernah berkata bohong," Orang kurus tersebut sambil menggoyangkan kepala berkata: "Benda pusaka persilatan Pouw-long-tui (Bor penghancur) yang berada dalam dada keponakan anda, lebih baik Hong Tayhiap keluarkan pada kami, biar kami puas." Jantung Hong San-ceng tergetar, dia sejenak terdiam, lalu katanya: "Kau bilang apa, Pouw-long-tui?" Orang kurus itu dengan bersuara dingin: "Betul, Pouw-long-tui, bila Hong Tayhiap ingin punya penerus Sin-ciu-sam-coat, lebih baik Hong..." Tidak menunggu orang kurus tersebut berkata habis, mulut Hong San-ceng telah membentak, pedang panjangnya bersamaan melingkar sekali dan bergetar, satu

garis pelangi perak bagaikan bintang melesat dengan dahsyat, menggulung orang bertopeng itu. Orang kurus itu kontan berubah roman mukanya, kedua telapak tangannya disilangkan dan berputar, dengan berturut-turut membalas enam pukulan telapak tangan, tenaganya sangat besar, sungguh jarang ada di dunia persilatan. Sisa tiga orang bertopeng lainnya juga bersamaan bergerak, pemandangan yang seperti bertirai cahaya golok, kilatan dingin menusuk tubuh, tiga golok baja itu bersamaan menyerang titik-titik kelemahan Hong Sanceng. Hong San-ceng memutar tubuhnya sekali, seperti roh halus dia menerobos keluar dari kepungan golok dan pukulan tangan, sambil menggerakkan alis dan bersuara keras: "Tidak disangka, pendekar tersohor Lak-jiu-jin-wan (Manusia monyet tangan pedas) Giam Pouw dan jago dari selatan, tiga jagoan she Bu, berbuat hal yang memalukan dan berlawanan dengan aturan persilatan, bila aku tidak dapat merobek jantung kalian, bagaimana dunia ini masih ada keadilan." Begitu kata-katanya habis, pedang panjangnya langsung melancarkan jurus "daun jatuh bagai salju terbang", langit jadi penuh bayangan pedang pelangi yang cemerlang, dorongan hawa pedang yang dahsyat, menyapu dada dan perut orang yang bertopeng. Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng mempunyai kepandaiannya yang sangat tinggi, untuk membalas dendam atas kematian adik ketiganya, dia telah menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian. Lok-yap-hui-soat (Daun jatuh salju terbang.) adalah jurus yang paling hebat dari ilmu Im-cu-kiam, terlihat kilatan

pedang bagaikan salju terbang di malam musim dingin, tiga saudara she Bu tidak sempat mengeluarkan sebuah juruspun, tahu-tahu telah di babat sebatas pinggang, cipratan darah berterbangan di udara, Lak-jiu-jin-wan biarpun cepat membaca situasi, tapi masih sedikit terlambat, lengan kirinya telah terpotong sebatas bahunya, sepuluh penyerang bertopeng melihat kejadian tersebut masing-masing memusatkan tenaga dalam, bersiaga dengan seluruh kekuatan yang ada, tapi mereka tampak ragu-ragu dan takut untuk menyerang. Lak-jiu-jin-wan pantas di sebut orang yang kuat, biarpun telah luka parah dia masih bisa tertawa enteng, katanya: "Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng belajar ilmu Im-cukiam dari pendekar nomor satu, tanganku sebelah hilang juga tidak memalukan, tetapi biarpun ilmu pedang itu adalah ilmu yang sudah terkenal kehebatannya, akhirnya Pek Ciu-ping pun kehilangan nyawanya, Hong Tayhiap .. .ha.. .ha.. .ha, apa kau yakin masih bisa lolos?" Begitu habis bicaranya, kepada sepuluh orang temannya yang berada di belakang dia berkata: "Biarpun jurus Im-cu-kiam digabung ilmu Pouw-ci-suibeng mempunyai tenaga dahsyat, tetapi ilmu tunggal Hong Tayhiap baru dikuasai sampai tingkat enam, jika dipakai menyerang terus, tenaganya akan cepat habis dan mesti menunggu seperempat jam baru bisa memulihkan tenaganya, bila kalian merasa bukan tandingannya, lebih baik kita bersama-sama menyerang." Hong San-ceng dengan marah berkata: "Bajingan licik, aku akan menghajarmu duluan." pedangnya dipindahkan ke tangan kiri, lengan kanan-nya dijulurkan ke depan, satu tenaga tersembunyi yang dapat memecahkan batu dengan kecepatan kilat meng-hajar dada Giam Pouw.

Walaupun tangan kiri Giam Pouw sudah putus, tabiatnya tetap garang, dan membalikkan telapak tangan kanannya, menghadang dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Tenaga dahsyat kedua pihak langsung bentrok dengan mengeluarkan suara sangat keras, Giam Pouw tampak menahan rasa sakit, dia tergetar sehingga terdorong lima langkah ke belakang, satu aliran darah segar mengalir keluar dari bagian lengan yang putus, dia menggigit giginya, kedua matanya dengan buas memandang Hong San-ceng, lalu berpaling ke belakang, berteriak: "Mengapa kalian masih berpangku tangan, apa kalian ingin melepas harimau pulang ke gunung?" Kesepuluh orang bertopeng itu tertegun sejenak, lalu bersamaan membentak, tiga pedang panjang bersamaan menerjang menuju Hong San-ceng, menggunakan kesempatan ini Giam Pouw menggeser kakinya, menempati posisi yang tepat, telapak tangan kirinya menjulur keluar dengan kecepatan tinggi, menyerang anak kecil yang digendong di belakang tubuh Hong San-ceng. Dada Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng penuh kemarahan, dua matanya berwarna merah, dia berteriak panjang, telapak tangan kanan dibalikkan, Im-cu-kiam dengan kecepatan kilat membabat ke arah samping, jurus pedang ini sulit diduga arahnya. Orang yang bertopeng biarpun jago persilatan, tetap tidak dapat menghindar dari jurus pedang aneh yang digunakan dengan memakai tangan kiri, terlihat kilatan kearah dua pundak orang bertopeng, belum lagi merasakan sakit, kepalanya telah terbang keluar arena pertarungan, sisa dua tubuh yang tidak berkepala, dengan mandi darah jatuh ke tanah.

Salah seorang bertopeng terperanjat sejenak, dengan cepat menggerakkan lengan kanannya, pedang panjang yang dalam telapak tangannya terbang, membawa suara berdesing, menuju dada Hong San-ceng. Hong San-ceng bersuara dingin, tumit kakinya mengayun keatas, telapak tangan kanannya bergetar pada pedang yang menyerang datang, terdengar satu suara jeritan kesakitan, pedang panjang yang menuju ke arah dada Hong San-ceng, telah berbalik arah menembus dada penyerang tersebut. Hanya dalam hitungan detik, Hong San-ceng telah menghabisi tiga orang yang berilmu tinggi, dan telah menghindar dari pukulan Lak-jiu-jin-wan dengan cerdik, sehingga penyerang-penyerang yang lain dengan terkesima berdiri terpaku! Hong San-ceng dengan rambut berdiri, mata seperti macan membelalak mendekati mereka setapak demi setapak, suara langkah tunggal terdengar jelas dalam hembusan angin dingin yang memilukan, mengalunkan irama maut. Tetapi biarpun dalam keadaan marah sekali, dia masih bisa berpikir jernih, dia tahu tujuh orang yang di depannya, kemungkinan adalah pendekar-pendekar tangguh di daerahnya, Lak-jiu-jin-wan Giam Pouw telah kehilangan sebelah tangannya. Dia masih mempunyai tenaga bertarung, tapi laju langkahnya telah melambat, dia harus menggunakan waktu sejenak untuk mengembalikan tenaganya, sesudah tenaganya cukup dia bisa melancarkan Pouw-ci-sin-kangnya untuk menghabisi musuhnya. Tetapi gerak-geriknya, tidak dapat mengelabui mata Giam Pouw yang licik seperti srigala, dengan tertawa yang sinis, dan telapak tangannya membawa angin dingin, dia bersiap menyambutnya, katanya:

"Hong San-ceng jangan harap kau menggunakan Pouwci-sin-kang yang memalukan! Ha, ha, ha, jangan mimpi, terimalah jurusku." Begitu Lak-jiu-jin-wan memusatkan telapak nya, tujuh orang bertopeng juga bergerak, dua pedang, satu cakar dan dua pena besi, dan satu pecut yang seperti ular lincah, dari tiga arah menyerang bagian-bagian tubuh Hong San-ceng, yang lemah, selain itu tubuhnya juga mendapat serangan pukulan telapak tangan yang tersembunyi. Rambut putih Hong San-ceng jadi berdiri, demikian pula bulu jambangnya, tubuhnya bergerak enteng, langsung sudah keluar dari kepungan delapan orang tersebut, tidak menunggu serangan kedua dari mereka datang, dia mengangkat tangan kanannya, tampak lima jarinya membesar seperti batu giok putih. "Jurus Pouw-ci-sui-beng." Lak-jiu-jin-wan bersuara terkejut, kakinya bergerak mundur ke belakang, secepat kilat menghindar, orang-orang yang mengepung Hong Sanceng pun berlompatan mundur ke empat penjuru. Terdengar tiga kali suara mengerang, tiga bayangan orang yang meloncat, telah jatuh dari udara, bersamaan itu satu lingkaran pelangi perak, telah menyapu pinggang dua orang penyerang. Hujan darah berjatuhan di empat penjuru, potongan tubuh berterbangan, di lapangan sudah bertambah lagi lima mayat yang mati panasaran, tetapi hal ini pun tidak membuat Hong San-ceng puas, selain ingin membunuh habis kelompok penjahat tersebut, dia akan mencari otak perencananya. Dia menyilangkan pedangnya, dengan mata yang berwibawa, dan nada dingin berkata: "Hukum ada aturannya, yang membunuh harus mati, kalian bertiga apa mesti aku yang mengerjakannya?"

Tubuh Lak-jiu-jin-wan tergetar, dia tahu betul ilmu yang dikuasai Hong San-ceng, ilmu Im-cu-kiam, atau ilmu jari penghancur nyawa, yang mana pun, sudah cukup membuat mereka bertiga kehilangan nyawa, tetapi, roman mukanya yang munafik tetap tampak tenang, penampilannya sangat santai. Dia tidak menjawab pertanyaan Hong San-ceng, tetapi bersiul dengan suara nyaring, dari sepasang matanya yang arahnya tidak menentu masih terlihat muka yang cerah. Langkah kaki Hong San-ceng berhenti, dengan sinis berkata: "Apa kau memberitahu kawan-kawanmu? Baiklah, bila aku saat ini membunuhmu, kau akan mati panasaran! Tetapi kalian seperti setan bermuka kerbau atau ular berupa dewa, ditambah berapa banyak pun, aku akan menbereskan kalian semua." Giam Pou w dengan tertawa berkata: "Betul, Sin-ciu-sam-coat adalah pendekar paling linggi ilmunya di dunia persilatan, aku yang kepandaian nya masih rendah, sudah pantas dan tidak bisa bertanding dengan kalian bersaudara, tetapi, ha, ha, ha, nanti akan muncul orang-orang baru, bila Hong Tayhiap terlalu percaya diri sendiri, sangat tidak bijaksana memandang rendah orang-orang di dunia ini." Jantung Hong San-ceng bergetar, katanya: "Jadi, di dunia persilatan sudah muncul seorang jago?" Dengan tertawa Lak-jiu-jin-wan berkata: "Dugaan Hong Tayhiap sangat tepat." Dengan dingin Hong San-ceng berkata:

"Yang aku tahu, jago itu pernah kalah, dengan penasaran dia merantau ke perbatasan yang jauh, sekarang mungkiri sudah tua, tubuhnya mungkin sudah penyakitan." Lak-jiu-jin-wan terkejut, berbalik mundur, katanya: tidak berasa langkahnya

"Kau......bagaimana bisa tahu." "Tentu saja aku tahu jelas, sekalian katakan pada majikanmu, dan pemanah-pemanah yang bersebar di sekeliling kampung ini, sudah tidak bisa melindungi keselamatanmu......" Lak-jiu-jin-wan bersuara jalang menutupi rasa takutnya: "Aku tidak percaya............" Hong San-ceng dengan sinis berkata: "Aku hanya menggunakan sedikit tenaga sudah bisa membuatmu berdarah hingga lima langkah, bila tidak percaya, coba saja tajamnya Im-cu-kiam......" Dengan gemetar Lak-jiu-jin-wan berkata: "Kau ingin berbuat apa ...?' "Biarpun bisa mencincang tubuhmu jadi ribuan potong, aku masih belum bisa menghilangkan kesedihan dan kebencian dalam hati, tetapi, bila kau katakan nama otak penyerangan ini, aku akan membiarkan kau mati dengan mayat yang utuh!" Lak-jiu-jin-wan tertawa jalang katanya: "Bagus, bagus, selama hidup aku telah menipu banyak orang, hari ini hampir saja ditipu, Hong Tayhiap, jika dikemudian hari kau mau menipu orang, lebih baik belajar dulu padaku." Dia berhenti sejenak lalu berpaling pada temannya, "saat orang terjepit dia tentu akan berontak, bila

anjing terjepit dia akan sanggup meloncat tembok, saudara, saudara, kita lawan......." Baru saja mereka mulai melangkah, terlihat kilatan baju warna biru, dengan kecepatan tinggi turun dari tengah gunung, seperti naik ke awan mengendalikan embun, begitu sampai di lapangan, pelangi putih berkibar, sebuah bulu hong yang panjangnya hampir dua meter, sudah menyerang dada dari seseorang yang bertopeng. Orang bertopeng tersebut tidak menyangka bahwa orang yang datang itu bisa menyerang dari udara, dia tidak ada waktu menghindar, tetapi orang ini juga bukan orang biasa, bersamaan bulu hong menusuk dadanya, telapak tangannya bergerak memukul, sungguhpun dia mendapat pukulan mematikan, orang yang datang itu juga terkena pukulan telapak tangannya, orang itu muntah darah segar, jatuh di sekitar satu tombak lebih. Perobahan mendadak seperti kilatan api dan halilintar, di saat Hong San-ceng melihat jelas orang itu adalah si jubah biru bersayap bulu burung Hong, Cukat Tong. Hatinya terasa perih, hampir membuat dia pingsan, dia tidak jadi menanyakan otak penyerangan ini, dengan secepat kilat, telah meloncat di samping tempat tubuh Cukat Tong yang roboh. Lak-jiu-jin-wan menarik napas panjang, tersimpul tertawa licik disudut mulutnya, dengan cepat dia mengeluarkan sebuah kotak besi hitam dari dadanya, jari tangannya menekan tombot dengan mengeluarkan suara aneh sebuah panah beracun yang beruntai mutiara telah melesat dengan kecepatan tinggi menuju punggung Hong San-ceng. Biarpun Hong San-ceng dalam keadaan sedih, indra mata dan telinganya terganggu, tetapi reaksi terhadap situasi masih melebihi orang biasa, pada saat panah beracun

mendekat ke tubuhnya, dengan cepat dia berputar, menyelamatkan anak Pek Ciu-ping, tetapi punggung atas kanannya terasa sakit hingga ke menusuk tulang. Melihat sasarannya terkena panah racun, Lak-jiu-jin-wan gembira sekali, dia melangkah ke depan, dengan tertawa menghina dia berkata: "Sin-ciu-sam-coat betul-betul menguasai ilmu hebat, tetapi sayang,......ha......ha......ha......Giam Pouw tidak punya kemampuan menawarkan racun pencabut nyawa dari panah tersebut, terpaksa memohon maaf pada Hong Tayhiap!" Mati atau hidup, bahaya atau selamat, adalah merupakan masalah yang berlawanan. Seseorang dalam keadaan bahaya, mendadak bisa berubah jadi selamat, perasaan hatinya tidak dapat dibayangkan, lebih-lebih orang licik seperti Giam Pouw, kegembiraanya melebihi orang lain. Tetapi, kegembiraannya terlalu pagi diutarakan, begitu tawanya baru berhenti, terlihat sesosok bayangan hitam sudah berada didepan mata, seseorang dengan mata merah, orang tua yang bulu jambangnya berdiri, seperti dewa langit turun ke bumi, telah menghadang jalan Lak-jiu-jin-wan Giam Pouw, raja bandit yang termasyur puluhan tahun ini, tidak menyangka orang yang terkena racun pencabut nyawa dari panahnya, masih bisa mempunyai tenaga sedemikian rupa, dia pun tidak melihat jelas bagaimana Hong San-ceng meloncat, saat ini bila dia diberi tiga bagian keberanian, juga tidak akan berani berbicara. Salah seorang yang bertopeng merasa kagum juga terhadap kepandaian dan keperkasaan Hong San-ceng, dia membungkukkan kepala dengan suara lembut mengucapkan kata-kata Budha.

Hong San-ceng menggoyangkan dua alisnya, dengan riang tertawa: "Sin-ciu-sam-coat sudah puluhan tahun tidak terlibat dalam perselisihan dunia persilatan, tidak disangka temanteman persilatan malah masih ingin berurusan dengan kami, sampai murid dari biara Budha yang seharusnya punya enam akar pikiran yang suci, dan empat tindakan yang tidak boleh diperbuat, masih bisa mencari urusan dengan kami, inilah kehormatan buat kami," katanya lagi, "guru, kau dari biara mana? Apa pantas juga menyimpan kepala dan hanya memperlihatkan ekornya saja?" Setelah orang yang bertopeng tersebut terbongkar identitasnya, dia menjadi ragu-ragu sejenak, akhirnya dia membuka topeng hitamnya, terlihat seorang yang roman mukanya jujur, matanya bersinar bulu alisnya tipis, dia seorang rahib tua, dalam roman mukanya terlihat rasa penyesalan yang hebat. Hong San-ceng tertegun sejenak, dengan suara dingin berkata: "Tidak disangka ketua Siau-lim yang menjadi pemimpin dunia persilatan juga bisa berbuat hal ini, sia-sia aku hidup puluhan tahun, hari ini mataku baru bisa melihat dengan jernih, tetapi guru besar telah menguasai ilmu agama yang tinggi, seharusnya tahu dalam ajaran Budha ada perkataan soal sebab dan akibat, guru telah menanam benih sebab duluan, di kemudian hari tidak boleh menyesal atas dilanggarnya olehku, jika membunuh murid-murid yang ikut serta dalam penyerangan kali ini." Ketua biara Siau-lim Pek Leng taysu dengan nada menyesal berkata: "Teman-teman dari dunia persilatan hampir semuanya telah mati, dendam dan budi mereka, juga sebaiknya

sampai detik ini saja, anda tidak perlu memperbesar jaring pembunuhan!" Hong San-ceng dengan sinis berkata: "Rahib terhormat dari Siau-lim, ternyata masih punya rasa kasihan juga, tetapi perbuatanmu, jika dikatakan sebagai kelompok busuk dari Budha, Tay-suhu Tat-mo juga tidak akan mengelak dan membantah, apa taysu juga punya pandangart demikian?" suaranya berhenti sejenak, dan dengan mata membelalak, terdengar lagi suara nyaringnya, "Kami bersaudara hidup di pengasingan, tidak ada ambisi bermusuhan dengan siapa pun, kalian bangsat teri menggunakan kesempatan kami sedang berkumpul setahun sekali, menghimpun jago-jago dari kalangan hitam dan putih, dengan cara yang licik, menyerang, sekarang Sin-ciusam-coat telah mati dua orang, kau minta aku melepas tangan, apa kau anggap aku ini orang yang takut mati!" Pek Leng taysu batuk-batuk, lalu berkata: "Aku bersedia bunuh diri di hadapan Tuan, untuk mengakhiri masalah besar Siau-lim, aku harap tuan menyayangi yang ingin hidup, budi tuan akan aku kenang........." Hong San-ceng berkata dingin: "Filsafat yang agung... apa Tay-suhu terlibat dengan penghadangan orang bertopeng tadi, sehingga perjalanan Sin-ciu-sam-coat terhalang, dan perumahan Leng-in terbasmi sampai tidak tersisa satu ayam dan anjing pun, bagaimana penjelaskannya?" Pek Leng taysu menutup sepasang matanya berkata: "Aku terpaksa melakukannya...dan juga... aku tidak pernah melukai orang......"

"Hm...!" Hong San-ceng dengan dingin dan hina berkata, "Ketua Siau-lim yang menjadi pimpinan dunia persilatan, malah bisa diancam orang, sungguh hal yang sangat menakutkan orang, Taysu apakah kau bisa katakan orang yang mengancam itu, agar pengetahuan-ku bertambah luas?" Guru besar Pek Leng diam sejenak: "Ini......" Mendadak tiga bayangan titik hitam, dengan kecepatan tinggi menerjang dada Pek Leng taysu, meski hvveesio ini sudah menguasai ilmu tinggi tetapi tidak dapat menghindar dari serangan yang sangat dekat dari Ngo-tok-tui-hun-cian (panah lima racun pencabut nyawa), tetapi pengurus biara Siau-lim, sungguh punya ke-mampuan lebih dari orang lain, dalam keadaan tubuhnya terkena panah beracun, dia masih bisa melayangkan satu pukulan telapak tangan, ini adalah jurus pukulan telapak tangan baja yang telah dikerahkan dengan tenaga penuh, tiga panah beracun yang sangat mematikan itu, membuat hweesio ternama mati ditempat, tetapi orang yang melepaskan panah beracun, Lak-jiu-jinwan Giam Pouw, juga kena pukulan dahsyat tersebut, sehingga urat nadi jantungnya putus seketika, darah pun muncrat kemana-mana. Angin gunung bersiul kencang, hujan lebat jatuh dari langit, bau amis darah dari Perumahan Leng-in sedang disapu bersih, tetapi Hong San-ceng yang berdiri dalam terpaan hujan dan angin, tetap belum bisa mencuci dendam dalam hatinya, dia meraba sebentar keponakan yang telah ditotok jalan darah tidurnya, dia melangkahkan kakinya yang berat, menuju tempat Cukat Tong yang tertelungkup. Cukat Tong yang telah lama pingsan, lukanya di tempat yang vital dan racunnya telah menyerang paru-paru. Air

hujan yang dingin seperti es, membuat dia sadar sejenak, dia berkata dengan suara kecil dan terputus-putus: "Toako........pergi......ke.....arah utara..." Seorang Tayhiap meninggal di tempat setelah mengucapkan kata terakhir. Bagi Hong San-ceng, ini pukulan yang sangat berat, tetapi kata terakhir dari Cukat Tong, dan lagu yang telah terdengar di daerah peninggalan sejarah Pintu Naga dia paham, otak penbunuhan yang sebenarnya belum muncuL saat ini, dia hanya sendirian, dan luka racun di lengan kanannya semakin parah, pepatah mengatakan selama gunung masih hijau, tidak usah takut tidak ada kayu bakar, menimbang situasi dengan kepala dingin, dia mengambil keputusan untuk bersabar, dan setelah mengubur jenasah kedua adik seperjuangannya, dengan hati penuh beban pembalasan, dia segera berlari sangat kencang ke pegunungan arah utara. Angin dingin bagaikan pisau, daun berguguran terbang kemana-mana, pegunungan Lu-liang telah diselimuti oleh warna malam yang tipis, Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng telah menemukan sebuah goa terpencil, dia menurunkan keponakannya dan membuka totokan nadi tidurnya, agar darahnya berjalan normal kembali. Satu-satunya keturunan dari Sin-ciu-sam-coat, adalah seorang anak remaja yang berumur 14-15 tahun, tetapi dari alis matanya yang indah dan matanya yang jernih, terpendam jiwa yang berbeda dari orang banyak. Begitu nadi tidurnya terbuka, kedua matanya yang bagaikan bintang di langit dengan lincah mengawasi situasi sekelilingnya. Angin dingin menusuk tulang, gua tua mengerikan, malam dingin ini tidak saja sangat angker, dan diantara

bunyi binatang kecil, seperti tercampur sedikit suasana setan. Suasana sungguh mengerikan, tetapi di roman muka yang masih terlihat kanak-kanak tersebut tidak terlihat rasa takut, dan akhirnya, matanya yang jernih dengan seksama melihat Hong San-ceng, dengan nada bicara yang sangat datar, bertanya kepada paman tuanya. "Supek....." "Ya...." "Ayahku......" “Dia...” "Bagaimana dia? Supek?" "Soh-ciu, kau bilang dulu, Supek sayang padamu tidak?" "Aku tahu, Supek sayang padaku, tetapi ayahku.........." "Ayahmu......" "Telah terbunuh betulkan?" oleh orang-orang bertopeng itu,

"Ya, Supek tidak becus......" "Waa......" dia menangis, biarpun dia sangat tahan uji, tapi tetap masih seorang anak kecil, dan masih ada pertalian jantung ayah dan anak, bila ayah kandungnya terbunuh dan diam saja, bukankah dia seekor binatang berdarah dingin! Dengan penuh kasih sayang, Hong San-ceng mengusapusap atas kepalanya dan berkata: "Soh-ciu, anak laki-laki tidak pantas mengucurkan air mata, keadaan kita masih belum keluar dari situasi bahaya......."

Pek Soh-ciu menghapus air mata dengan lengan bajunya, menggoyangkan alisnya berkata: "Supek! Apa kita tidak membalas dendam untuk ayah?" Hong San-ceng dengan kedua baris giginya beradu berkata: "Siapa bilang? Hai....." dengan suara lemas melanjutkan katanya, "Supek tidak akan tinggal diam, Supek akan membersihkan dunia persilatan dengan darah, tetapi aku tidak berdaya......" Dengan jawaban pamannya tersebut, Pek Soh-ciu sangat tidak puas, dari hidungnya keluar suara hm... pelan, dan menggetarkan kedua bahunya, berlari dengan kencang ke mulut gua. Hong San-ceng terkejut seketika, lalu segera menekan ujung jari kakinya dengan kecepatan yang tidak terbayangkan, dia memegang bahu Pek Soh-ciu berkata: "A Ciu, dengar kata-kata Supek......" Pek Soh-du berusaha melepaskan pegangannya, dan berteriak: "Lepaskan tangan......" Dengan sedikit nada marah, Hong San-ceng berkata: "A Ciu, kalau kau tidak mau dengar, Supek tidak akan mengurusmu lagi!" Dari mulut kecilnya Pek Soh-du berkata: "Ayahku terbunuh, sudah sepantasnya aku membalas dendam, apa tidak boleh ?" Hong San-ceng dengan memandang atap gua, dengan nada tidak berdaya berkata:

"Persahabatan aku dengan ayahmu seperti darah dan daging, aku bukan tidak mau membalaskan dendamnya, tetapi mereka yang bertopeng, semuanya adalah jagoan dari dunia persilatan jaman sekarang, di belakang mereka ada otaknya yang lebih lihai............" Dengan sinis Pek Soh-ciu berkata: "Kalau begitu, Supek takut pada mereka?" Mata Hong San-ceng dibuka lebar, katanya: "Saat ini, tidak ada orang yang bisa membuat Sin-ciusam-coat takut." "Bila Supek bersembunyi?" tidak takut, mengapa kita harus

Hong San-ceng marah: “Ratusan jagoan yang bertopeng, tidak satupun yang boleh lolos dari tanganku, tetapi aku sekarang sudah terkena panah beracun, belum kuat bertarung, bila bukan Sam-susiokmu yang menggiring orang-orang itu kelain tempat, hai......" Pek Soh-ciu mengalihkan matanya, tampak bahu kanan Supeknya bernoda darah, dengan muka sedih, dia membalikkan tubuh dan memegang kedua kaki Hong Sanceng berkata: "Aku salah menilai Supek, bagaimana lukanya?" Hong San-ceng dengan getir tertawa sejenak katanya: "Racun Toan-hun-cauww tidak akan mengambil nyawa tua Supek, tetapi tenaga dalam dan ilmu silat Supek akan........." Tubuh Pek Soh-ciu bergetar sejenak dan berkata: "Apa yang harus kita perbuat?"

Hong San-ceng memejamkan sepasang matanya berkata: "Jangan terburu-buru, Ciu-ji, walau Supek kehilangan tenaga dalam, dalam sepuluh hari, kau tetap bisa mendapat warisan kepandaian kami bertiga, tetapi kita harus hati-hati, otak penyerangan ini, tidak akan melepaskan kita, kelihatannya dunia ini walau begitu besar, tidak akan ada tempat untuk kita bernaung!" Pek Soh-ciu mengangkat alisnya: "Bila mereka masih berani mengganggu kita, aku akan bertarung sampai titik darah terakhir..." Hong San-ceng menggelengkan kepala: "Kita harus membuat rencana terlebih dulu baru bergerak, sebelum ilmu silatmu berhasil dilatih, kita sama sekali tidak boleh gegabah, Ciu-ji, apa ayahmu benar telah berhasil mendapatkan pusaka Pouw-long-tui yang tiada duanya itu?" Pek Soh-ciu mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna hitam dari dalam dadanya: "Barang ini yang disimpan oleh ayah didalam dadaku, paman lihatlah." Hong San-ceng melihat kotak kayu itu, panjangnya kirakira delapan inci, tingginya empat inci, diatasnya diukir seekor naga kecil yang sedang terbang, ukirannya bagus sekali, seperti benar-benar hidup, dia membuka kotak kayu itu, mengeluarkan sebuah bor besi yang panjangnya kirakira tujuh inci, kepalanya tajam ekornya bulat, dikatakan dia itu adalah besi, sungguh kurang pas, karena dia lebih berat dari pada besi biasa, seluruh tubuhnya hitam kelam, tidak tahu terbuat dari logam apa, dibagian ekornya, disambung dengan sebuah tali yang seperti sutra tapi bukan, dia memegangnya lalu mencoba diayunkan, terlihat sinar

hitam berkilat-kilat, samar-samar ada suara gemuruh, dia tahu Pouw-long-tui ini, sungguh merupakan pusaka dunia persilatan, sehingga dengan hati-hati dia mengembalikannya lagi kedalam kotak, dan memberikan pada Pek Soh-ciu sambil berkata: "Karena pusaka yang tiada duanya ini, Sin-ciu-sam-coat mengalami nasib tragis, dan membuat jalan di depan tidak menentu, baik buruknya nasib sungguh tidak dapat diduga, haiii... dosanya memiliki pusaka, bisa sedemikian kejamnya!" Baru saja habis berkata, mendadak dia mendengar suara kelebatan baju memecah angin, dengan cepat lewat dari mulut goa, dia tahu mulut goa ini sangat tersembunyi, jika tidak dicari secara inci demi inci sangat sulit bisa ditemukan, tapi demi keamanan, dia tetap memaksakan memusatkan tenaga dalamnya, sepasang mata melotot mengawasi, bersiaga penuh menghadap ke mulut goa, lama sekali, dia baru mengeluh dan duduk di mulut goa bersemedi istirahat. Keesokan paginya udara sangat kelabu, angin dingin bertiup dengan liarnya, embun pagi yang menyedihkan, sedang menutupi pegunungan Lu-liang. Hong San-ceng pelan pelan membuka matanya, dia melirik sekali pada Pek Soh-ciu yang sedang menggulungkan tubuhnya, tertidur lelap disisinya, lalu kembali menutup sepasang mata, membereskan pikiran yang kacau sekali. Waktu terus berlalu, Pek Soh-ciu akhirnya bangun dari tidurnya, dia menggosok kulit mata yang masih mengantuk, memperhatikan keadaan di sekeliling...... Goa yang sepi, rumput yang kering, liar dan tandus, sejauh mata memandang, semua ini...... mengingatkan dia,

dirinya adalah anak yatim piatu yang keluarganya telah hancur dan sedang menyelamatkan diri kepelosok dunia. Sehingga dua jalur air mata panas mengucur deras seperti parit dari sudut matanya, tapi dia menutup kuat kuat bibirnya yang merah, sambil tersedu-sedu, tapi sedikitpun tidak mengeluarkan suara tangisan. Hong San-ceng sambil mengeluh berkata: "Ciu-ji, Supek ada satu perkataan yang ingin memberi tahu mu......" "Silahkan katakan, Ciu-ji mendengarkan." "Sin-ciu-sam-coat, adalah pesilat paling hebat jaman sekarang, kau tahu tidak?" "Aku tahu." "Haiii... diatas orang ada orang, diluar langit masih ada langit, Sin-ciu-sam-coat memang punya keberhasilan, tapi juga tidak bisa dikatakan di dalam dunia persilatan tidak ada lagi orang yang melebihi kami." "Supek! Aku......tidak mengerti......" "Di kemudian hari kau akan mengerti, Supek hanya ingin kau tahu, ilmu silat dalamnya sedalam lautan, musuh kita adalah penjahat ulung yang sangat licik, jika kau tidak bisa mengesampingkan hawa amarahmu, dan giat berlatih, kalau tidak dendam ayah dan Sam-susiokmu tidak akan ada harapan bisa membalasnya." Pek Soh-ciu mengangkat alis berkata: "Aku akan dengarkan kata Supek, pasti giat belajar, tapi siapa sebenarnya musuh kita itu?" "Supek juga tidak tahu."

"Lalu mengapa Supek bisa tahu dia adalah penjahat ulung yang sangat licik?" "Itu adalah dugaan Supek atas dasar orang orang bertopeng yang diutus oleh dia." "Mereka itu siapa saja?" "Kebanyakan adalah orang-orang hebat di dunia persilatan, sampai ketua Siau-lim, Pek Leng taysu juga termasuk salah satu diantaranya." "Kita cari murid-murid mereka, pasti akan mendapatkan sedikit keterangan." "Tidak salah, tapi itu artinya kita harus berani melawan zaman, bermusuhan dengan seluruh orang persilatan!" "Aku tidak takut." "Bagus, Supek akan menggunakan waktu sepuluh hari, supaya kau bisa mendapatkan inti ilmu silat dari kami bertiga, selanjutnya hidup mati, jaya atau hancur, semuanya tergantung dirimu sendiri." Pek Soh-ciu adalah satu-satunya keturunan Sin-ciu-samcoat, kecuali ilmu silat ayahnya Thian-yat-it-kiam Pek Ciuping yang telah berhasil dikuasainya, Pouw-ci-sui-beng Hong San-ceng, dan Lam-san-hong-ie Cukat Tong, juga telah mengajarkan seluruh ilmu silatnya pada dia, hanya karena dia usianya masih kecil, terhadap ilmu Pouw-ci-sinkang, dan Co-yang-kiu-tiong-hui (Menantang matahari sembilan lapis.) dua jenis ilmu silat itu masih belum matang dipelajarinya. Dengan kepintarannya yang hebat, dalam sepuluh hari ini dia pasti akan dapat berhasil mematangkan kepandaian itu semuanya. Maka di bawah pengawasan Hong San-ceng, dia berlatih dengan giat tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya,

jika dia haus, dia minum air gunung, jika lapar, dia makan buah buahan, tidak tidur, tidak istirahat terus giat belajar, di hari kesembilan, tengah harinya dia telah berhasil menguasai dua jenis ilmu silat hebat ini. Mungkin sudah takdirnya! Di saat malam tiba, di depan gua yang sepi ini, kembali terjadi perubahan. Saat ini angin sedikit pun tidak berhembus, sinar bulan menyinari seluruh gunung, di hutan yang liar ini, nampak sangat sepi, tapi suara sst.. sst.. yang pelan, tidak henti-henti terdengar di dalam goa, jelas, di dekat persembunyian mereka, telah kedatangan tidak sedikit pesilat tinggi dunia persilatan. Hong San-ceng menatap ke mulut goa sambil mengeluh berkata: "Ciu-ji tadinya Supek ingin kau mempelajari empat jurus hebat yang terukir diatas Pouw-long-tui, tapi waktunya tidak mengizinkan lagi, terpaksa harus kau sendiri yang mempelajarinya." Pek Soh-ciu berkata: "Kita bereskan dulu orang-orang yang datang ini, empat jurus itu, nanti di kemudian hari jika ada waktu senggang, Supek ajarkan lagi pada ku." Hong San-ceng tertawa pahit berkata: "Selanjutnya kau harus seorang diri berkelana di dunia persilatan, Supek, haiii......" "Mengapa? Supek ingin meninggalkan aku?" kata Pek Soh-ciu tertegun. "Sebenarnya Supek tidak mau meninggalkanmu, tapi racun didalam diriku belum ada obatnya, tinggal bersama denganmu hanya menjadi beban buatmu, Supek akan pergi

ke dalam gunung dan dalam rawa besar, mencari obat penawar racun, jika kau ikut dengan Supek, bukankah akan menangguhkan banyak hal penting, yang lebih penting lagi Supek harus memancing keluar orang-orang ini, supaya kau bisa dengan selamat meninggalkan lempat yang berbahaya ini, maka-nya......" "Tidak, Supek! Kita harus bersama-sama menghadapi bahaya, aku tidak bisa biarkan Supek sendirian menghadapi bahaya." Hong San-ceng dengan nada dalam berkata: "Membalas dendam keluarga, mengembalikan nama besar Sin-ciu-sam-coat, ini adalah hal yang sangat penting sekali? satu hal pun kau belum ada yang kau kerjakan, malah dengan enteng berani membicarakan soal hidup mati itu bukankah nanti akan menghapus harapan paman dan ayahmu dialam sana?" Pek Soh-ciu dengan sedih mengucurkan air mata berkala: "Aku salah, tapi......" Hong San-ceng menggoyangkan tangan: "Anak, kau dengar kata-kata Supek, jika Supek berhasil menyembuhkan luka beracun dan bisa mempertahankan hidup, Supek akan kembali ke dunia persilatan mencarimu, ini ada sedikit uang untuk kau pakai, nanti saat aku memancing musuh, kau segera lari ke timur sampai ke Hun-sie, lalu belok ke selatan sampai ke Ho-lok......" Pek Soh-ciu dengan perasaan aneh berkata: "Bukankah itu akan kembali lagi kedekat Ku-seng?" Hong San-ceng menganggukan kepala berkata: "Musuh hanya mengira kita akan melarikan diri ke dalam pegunungan atau perbatasan, pasti tidak akan

mengira kau langsung pergi ke Tionggoan, ini yang disebut di luar dugaan musuh......" dia sejenak menghentikan bicara, lalu dengan wajah serius berkata: "Kita tidak boleh membiarkan musuh menutup mulut goa, nak, harap kau jaga diri baik baik." Baru saja Pek Soh-ciu tertegun, satu bayangan orang telah menembus keluar goa, lalu terdengar teriakan dimanamana, dan diiringi dengan jeritan meregang nyawa, pegunungan Lu-Iiang yang hampir gelap ini, sudah dibuat kacau oleh Hong San-ceng, Pek Soh-ciu tahu ini adalah kesempatan baik, lalu dia membuka rerumputan, dengan perlahan keluar dari goa, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia lari kearah timur. Kiu-tiong-hui (terbang sembilan lapis) adalah ilmu meringankan tubuh yang dia gunakan, adalah ilmu meringankan tubuh kelas satu di dunia persilatan, walau latihan dia belum cukup matang, tapi kecepatannya, seperti angin lewat, kilat berlalu, sekali meluncur ratusan li akan terjangkau, ketika malam lewat dan pagi tiba, sebelum hari terang, dia telah berlari keluar dari pegunungan, jaraknya tidak sampai sepuluh li dari Hun-sie. Bagaimana pun, manusia terbentuk dari darah dan daging, setelah semalaman berlari, tidak minum tidak makan, setinggi apa pun ilmu silatnya, akhirnya akan merasakan sedikit kelelahan, apa lagi dia hanyalah seorang remaja kecil, maka ketika dia sudah dapat melihat Hun-sie dan di sisi jalan tidak ada tempat untuk beristirahat, kelelahan yang dia rasakan, mulai dari kaki den tangan menyebar ke seluruh syaraf, membuat dia merasakan beratnya mengangkat langkah.

Tanpa sadar dia berjalan menuju ke sebuah rumah, tapi menghadapi sepasang pintu yang tertutup rapat, dia jadi sedikit ragu. Ingin minta tolong menginap bukan hal yang memalukan, tapi walau pun hari masih belum terang, tapi malahari sebentar lagi terbit, waktunya untuk bekerja, selain itu dia tidak biasa datang minta tolong menginap, jika tuan rumah menanyakannya, akan menjadi sebuah masalah yang memalukan, apa lagi di musim dingin ini, selimut hangat di pagi hari, adalah hal yang paling dirindukan, buat apa dia merusak suasana ini? Sungguh satu masalah yang sulit dipecahkan, maka, dia hanya bisa berjalan bolakbalik di depan rumah itu. Mendadak, di dalam sorot matanya, dia seperti menemukan sesuatu...... Sebuah jendela yang tidak dikunci, sedang bergoyanggoyang ditiup angin. "Masuk, sembarangan cari tempat untuk istirahat, lalu berterima kasih pada tuan rumah bukan-kah selesai?" di dalam hati dia telah memutuskan ini, sekali meloncat dia masuk ke dalam rumah itu lewat jendela. Perabotan di dalam rumah ini, bisa digambar-kan dengan empat dinding ruang kosong, kecuali satu meja satu ranjang, tidak ada bedanya dengan tanah liar, dan diatas ranjang itu masih ada seorang yang tidur berselimut. Sinar di dalam rumah tidak begitu terang, samar-samar dia melihat orang yang sedang tidur itu adalah seorang anak yang sebaya dengan dirinya, jika memang sama-sama seorang anak kecil, tidak perlu banyak berpikir lagi, apa lagi sekarang kulit matanya seperti digantung dengan dua bola baja yang berat, dia sungguh tidak bisa banyak berpikir lagi, maka langsung saja membaringkan diri.

Tidur pulas setelah kelelahan, adalah satu kenikmatan hidup manusia, hanya saja dia merasakan kenikmatan ini datangnya mendadak, hilangnya juga sangat sebentar, sungguh terlalu singkat waktunya, dia merasa seperti baru saja menutupkan kulit matanya, satu perasaan sakit membuat dia terbangun kembali. "Ada masalah apa?" dia didalam hati berpikir, dalam telinga telah terdengar satu teriakan. "Bangsat kecil, berani sekali kau, ingin mati juga harus memilih tempat, sungguh berani tidur diatas ranjang nona, jika tidak mengupas satu lapis kulitmu, kau tentu mengira nonamu mudah di hina." Dia membuka sepasang mata kebingungan, di dalam sorot matanya, terlihat satu wajah cantik yang sedang melotot, alisnya diangkat tinggi-tinggi, sekarang dia mengerti, ternyata anak yang sedang tidur lelap diatas ranjang itu, adalah seorang nona cilik yang cantik alamiah. Melewati benteng memeluk gadis, menurut tata krama, dosanya besar sekali! Maka dia jadi ketakutan, walau di dalam hatinya tidak ada niat buruk, paling sedikit juga dia harus meminta maaf. Ketika dia ingin bangun, dia baru menyadari dirinya telah ditotok jalan darahnya, yang lebih parah lagi adalah tempat dia berada, adalah satu lantai batu yang dingin dan keras, terpikir lagi kesakitan yang tadi dialami, mungkin karena ditendang ke bawah oleh sinona yang wajahnya penuh amarah. Di tendang oleh seorang wanita, ini adalah satu penghinaan yang besar sekali, tapi karena dirinya yang bersalah, terpaksa dia menahan diri, katanya:

"Maaf, nona! Aku......tidak sengaja......" dia seperti sedang meminta maaf, tapi wajahnya kaku, nada bicaranya dingin, membuat orang yang mendengarnya tidak bisa terima. "Hm.... kau tidak sengaja, tapi naik keatas ranjang nona, jika disengaja, bukankah......bukan-kah......" Wajahnya yang cantik menjadi merah, setelah berkata bukankah... tidak ada kata selanjutnya, saat ini, dua orang pelayan wanita berbaju hijau ringkas, mendengar suara ribut-ribut, datang menghampiri, mereka melihat sekali pada Pek Soh-ciu yang ada diatas lantai dengan sorot mata terkejut, salah satunya membalikan kepala berkata pada nona itu: "Sio......Sam-siocia! Apa yang terjadi?" Nona itu berteriak marah: "Jangan banyak bicara, ikat dulu bangsat kecil ini, biar aku lampiaskan amarahku." Pelayan wanita baju hijau menjawab sekali, lalu menarik Pek Soh-ciu, diikatkan di satu tiang, nona itu mengikutinya, di tangannya malah sudah memegang satu pecut kuda yang panjangnya sekitar dua meter, satu angin dingin lewat dengan cepat di depan hidung Pek Soh-ciu, tenaga yang di kandung oleh ujung pecut, membuat dia merasakan sakit dan panas, jelas dia tidak sembarangan memecut, gerakannya hebat sekali, nona cantik ini mempunyai ilmu silat yang tidak biasa. Tapi, kesabaran seseorang ada batasnya, sebagai keturunan dari Sin-ciu-sam-coat, mana pernah dia menerima penghinaan seperti ini? Maka dia mengangkat sepasang alisnya, dengan dingin berkata:

"Prajurit boleh dibunuh tidak boleh dihina. Kau ingin menghinaku, mungkin akan merugikan kedua belah pihak!" Nona itu melayangkan pecutnya ingin memberi satu pecutan yang keras, saat ini mendengar kata katanya, dia jadi tertegun, ujung pecut yang hampir mengenai wajahnya, mendadak berhenti diudara, dia sedikit merenungkan maksud kata-kata Pek Soh-ciu, mendadak membentak: "Jika aku ingin membunuhmu, hanya tinggal mengangkat tangan saja, ada masalah apa? Coba kau katakan!" "Hm...!" Pek Soh-ciu mengeluarkan suara, lalu berkata, "Aku telah berlari semalaman, tubuh dan hatiku kecapaian, terhadap seseorang yang berada di jalan buntu, nona malah sedikit pun tidak ada rasa iba, ini satu diantaranya. Lagi pula, seorang wanita, seharusnya berkelakuan lemah lembut, nona dengan begini marah mengancam orang, bukankah kehilangan sifat lemah lembutnya seorang wanita......" "Bagus, kau malah mengajari aku, apa masih ada lagi?" Sepasang alis nona itu diangkat, mulutnya tertutup rapat, kelihatannya ingin membunuh orang, padahal sebenarnya pecut dia yang siap dipukulkan diam-tham sudah ditaruhnya ke bawah, ini bukan disebabkan oleh kata-kata Pek Soh-ciu, yang membuat orang jadi tersentuh, perubahan sikap sinona itu disebabkan oleh sikap gagah Pek Soh-ciu yang alamiah itu. Perbuatan Pek Soh-ciu yang tidak sopan terlebih dulu, tadinya akan tidak bisa diterima oleh wanita mana pun, untung mereka itu masih kanak-kanak, taraf keseriusannya masih sangat kurang, ditambah prilaku laki laki dan wanita di dunia persilatan, memang kurang mempedulikan sopan santun, dia hanya merasakan Pek Soh Ciu yang tanpa

minta izin dulu langsung tidur, terlalu tidak memandang dia. Di saat Pek Soh-ciu dengan lantangnya bicara, sepasang sorot mata dia yang jernih bagaikan air di musim gugur, sedang memper-hatikan dia dengan seksama. Penampilan dia yang gagah, tingkahnya yang tenang, wajah yang tampan, semua menampakan sinar yang gemerlap, asalkan sekali melihat, semua orang akan merasakan semua lelaki di dunia ini seperti tidak berharga, maka akhirnya amarah dia menghilang, dan di ganti dengan kehangatan dan kelembutan. Pek Soh-ciu melihat keadaan akan membaik, maka sambil tersenyum dia berkata: "Mengikat dengan tali tampaknya bukan cara untuk menyambut tamu, harap lepaskan aku dulu, nanti aku akan memberi jawaban yang memuaskan buat nona." Nona itu mencibirkan bibir munggilnya, membalikkan kepala, berteriak pada pelayan wanita berbaju hijau: "Lepaskan dia, tapi jaga jangan sampai dia kabur." Lalu dia memutar tubuh, seperti kupu kupu indah masuk ke dalam rumah. Setelah pelayan wanita baju hijau melepaskan ikatannya, dan membuka kembali jalan darahnya, Pek Soh-ciu mengulurkan sepasang tangan, melemaskan otot sebentar, lalu sambil tertawa berkata: "Satu tamu tidak ingin merepotkan dua tuan rumah, apakah kalian punya makanan untuk mengisi perut ini?" Dua pelayan wanita berbaju hijau ini, usianya diantara enam tujuh belasan, penampilan dan ilmu silatnya semua adalah pilihan bagus, mereka berdua saling memandang dan tertawa, seorang diantaranya berkata:

"Setelah mendapat izin dari nona, itu bukanlah hal yang susah, tapi......" Pelayan wanita baju hijau bicaranya belum habis, di dalam kamar sudah terdengar suara merdu berkata: "Kita juga makanannya." sudah waktunya berangkat, siapkan

Pelayan wanita baju hijau tersenyum penuh arti pada Pek Soh-ciu, dia segera menyahut dan lari ke dalam dapur, dalam waktu sebentar saja sudah menyediakan makanan yang panas, walau tidak ada makanan yang mahal, tapi juga tidak bisa dibandingan keluarga biasa, mereka seorang majikan dan dua pelayan wanita, malah mengandung sedikit hal misterius. Disaat nona itu kembali tampil, Pek Soh-ciu merasa matanya menjadi terang, tadi karena dia terlalu tegang, dia tidak memperhatikan nona ini adalah seorang nona cantik, setelah sengaja berdandan dia baru terlihat sangat mencolok? Tapi apa pun alasannya, nona cantik yang berbaju merah sungguh adalah nona yang luar biasa cantik tiada duanya, dan diantara tawa dan tingkahnya, semua mengeluarkan cahaya gemerlapan, luar biasa Anggunnya, saat ini dia tersenyum manis pada Pek Soh-ciu berkata: "Masakannya biasa saja dan nasinya juga tawar, anggap saja sebagai tanda minta maaf atas perbuatan salah tadi mari mari,Siauhiap......" Pek Soh-ciu berkata: "Dengan hormat lebih baik aku menurut saja, aku akan merepotkan." Kehidupan manusia, sulit untuk diduga, Pek Soh-ciu yang bertindak sembrono, malah bisa berteman dengan seorang nona cantik, saat mereka minum-minum setelah

makan, wanita baju merah malah bertanya tidak hentihentinya pada anak muda remaja yang kebetulan bertemu yang tampan tapi dingin. "Aku belum menanyakan nama Siauhiap, sungguh tidak sopan sekali." "Sama, sama, aku......kek......she Ciu, namaku Soh-pek." "Mendengar logatnya Siauhiap, sepertinya kau orang pribumi disini?" "Ooo, benar, aku tinggal di Tong-su, jaraknya dari sini kira-kira dua ratus lie lebih." "Lalu......kemarin malam......" "Aku jarang keluar rumah, makanya......kek tersesat dijalan." "Kau datang ke Hun-sie, apa ada urusan penting?" "Benar, aku ini sedang mencari seorang teman, datang ke Hun-sie hanya untuk main-main saja. Kalau nona? Apakah aku bisa sedikit mengetahuinya?" "Aku she Siau nama Yam, aku disuruh ayahku berkelana ke dunia persilatan, Siauhiap jangan menter-tawakan aku." "Nona sangat sungkan sekali, ayah anda pasti seorang Cianpwee dunia persilatan yang sangat ternama di dunia persilatan?" "Bukan, ayahku hanyalah seorang pesilat yang tidak ternama, mungkin gurumu, baru seorang pesilat ternama di dunia persilatan?" "Dugaanmu hanya benar setengah, guruku seorang ternama, tapi tidak bisa ilmu silat." Siau Yam mengangkat alis, maksudnya tidak percaya berkata:

"Ternyata Siauhiap mahir sastra juga mahir ilmu silat, sungguh aku kurang hormat sekali." Pek Soh-ciu hanya tertawa tawar, tidak menjelaskan lebih lanjut, sepasang remaja yang kebetulan bertemu ini, berbincang-bincang tanpa ketulusan, akhirnya pelayan wanita baju hijau selesai menyiapkan kuda saat minta petunjuk pada Siau Yam, mereka baru berhenti berbincangbincang. Siau Yam pelan-pelan berdiri, di wajahnya yang cantik seperti bunga di musim semi, tampak sekilas warna dingin, mendadak matanya berputar, berkata pada pelayan wanita baju hijau yang berdiri didepannya: "Hu-in......" Seorang pelayan wanita menyahut berkata: "Aku disini, Siocia ada titah apa?" Siau Yam melirik pada Pek Soh-ciu berkata: "Kau pergi dulu ke Hun-sie, pesankan tiga kamar penginapan, kita masih harus istirahat dengan baik." "Baik, Siocia." Kata Hu-in membungkuk "Pergilah berjalan kaki, kudanya tinggalkan untuk kami." Kata Siau Yam "Baik," dia segera membalikan tubuh meloncat, berlari menuju Hun-sie. Melihat Hu-in sudah tidak terlihat lagi, Siau Yam buru membalikkan kepala tertawa manis pada Pek Soh-ciu, katanya: "Mari kita jalan, Ciu Siauhiap." Pek Soh-ciu tertegun berkata:

"Kita? Maksud nona Siau......" "Mmm" Siau Yam berkata, "Ciu Siauhiap bukankah akan pergi ke Hun-sie? Karena tujuan kita sama dengan berjalan bersama, kita jadi bisa berbincang di jalan" Pek Soh-ciu ragu sejenak berkata: "Ini......mungkin tidak pantas!" "Ooo!" Siau Yam berkata, "mengapa?" "Laki-laki sama perempuan berbeda, kita... kita......" Siau Yam mencibirkan bibir munggilnya: "Tidak diduga Ciu Siauhiap adalah seorang yang sopan santun, tapi kejadian kemarin malam... harus bagaimana menjelaskannya?" Wajah Pek Soh-ciu jadi merah, katanya: "Ini......kek, disengaja." itu hanyalah kesalahan yang tidak

Siau Yam mengangkat alis berkata: "Hm... kesalahan tidak disengaja, tapi tidak tahu apakah Ciu Siauhiap pernah memikirkan kedudukanku?" Pek Soh-ciu merasa aneh: "Kedudukan nona?" Siau Yam mengeluarkan suara "Hm...!" berkata dingin, "Mengapa? Tidak harus...?" "Kita belum pernah bertemu, nona ingin aku bagaimana memikirkannya?" Siau Yam memelototkan matanya berkata: "Kau ingin setelah lewat kali lalu membongkar jembatan? Hm... masalahnya sudah begini, itu tidak bisa terserahmu!"

"Sebenarnya nona ingin aku bagaimana, nona jelaskan saja." Pek Soh-ciu tampak bengong Siau Yam menghentakan kakinya, berkata: "Bagus, jika kau sengaja tidak mau mengakuinya, Siau Yam terpaksa membuat kau merasakan sedikit hukuman." Gerakannya nona cantik ini sungguh mengejutkan orang, tidak melihat dia bagaimana bergerak, hanya terdengar sst... satu suara, pecut yang hitam itu sudah menuju bahunya Pek Soh-ciu. Pek Soh-ciu memiliki tiga macam ilmu silat hebat dari tiga guru, walau sabetan pecut ini lebih cepat lagi, jika ingin melukai dia juga akan sulit, tapi terhadap nona C»ntik baju merah yang dalam waktu sekejap bisa berubah sikapnya, dia sungguh merasakan sangat berterima kasih, sehingga dia hanya menghindar, tidak membalas menyerang. Cara menghindarnya, begitu santai dan tidak tergesagesa, kakinya hanya pelan melangkah, pecut yang seperti kilat itu sudah mengenai tempat yang kosong. Tapi sikapnya malah menimbulkan amarah Siau Yam, dia berteriak, pecutnya digetarkan, kembali, seperti hujan datang menyabet. "Kek!" Pek Soh-ciu batuk ringan berkata, "Kita tidak ada dendam dan bukan musuh, buat apa nona terlalu memaksakan orang!" sambil bicara, tapi kakinya tidak sekejap pun berhenti, hanya terlihat baju putihnya berkibarkibar, seperti air mengalir awan bergerak, ruangan yang hanya seluas dua tombak, dia seperti berjalan ditempat yang luas, gerakannya tenang sekali. Siau Yam mengejar ke seluruh pelosok ruang, memecut puluhan kali, tapi setiap serangannya tetap tidak mengenai sasaran, sampai ujung baju Pek Soh-ciu juga tidak

tersentuh, jika terus bertarung, hanya menghabiskan tenaga saja. Rasa ingin menang adalah penyakit umum para nona, setelah tidak bisa memukul lawan, dia merasa ini adalah penghinaan yang tidak bisa diterima. Saat ini dia telah berhenti, tapi di sudut matanya di ujung alisnya di tutupi dengan hawa pembunuhan, mendadak, dia melayangkan tangan halusnya, pecut yang lembut itu dengan kekuatan yang amat dahsyat menancap di papan pintu, lalu dia membalikkan tangannya, sebilah pedang yang bersinar menyilaukan mata, telah berada dalam genggaman tangannya, begitu pedang ada ditangan, sikapnya berubah tidak terburu-buru, sepasang mata bersinar seperti kilat, wajahnya tampak sangat serius. Di dalam hati Pek Soh-ciu diam-diam tergetar, dia tidak menduga nona baju merah yang secantik dewi ini, ternyata adalah seorang ahli pedang, tentu dia keturunan dari seorang jago pedang, berbicara soal pedang, dia merasa lebih yakin, tapi latihannya belum cukup matang, masih belum bisa mencapai menyerang dan menarik diri sesuai dengan keinginan hati, maka kalau dia sampai melukai lawannya bukankah akan menyesal seumur hidup, dia jadi merasa ragu-ragu. Pelayan wanita baju hijau lainnya Cu-soat yang melihat di pinggir, juga merasakan masalahnya jadi serius, di saat Siau Yam memusatkan tenaga dalam akan menyerang, dia tidak tahan berteriak keras: "Siocia tunggu, biar aku bicara dulu dengan Ciu Siauhiap." Bertarung bukanlah maksud hatinya Siau Yam, bisa berunding tentu saja adalah hal yang paling baik, maka dia

mengeluarkan suara dengusan sekali, tenaga dalam yang sudah di pusatkan menjadi buyar kembali. Cu-soat maju dua langkah, menghormat pada Pek Sohciu berkata: "Cu-soat memberi hormat pada Siauhiap." Pek Soh-ciu juga mengepal sepasang tangan berkata: "Nona tidak perlu sungkan." "Tadi nonaku mempersilahkan Siauhiap bersama-sama pergi ke Hun-sie, Siauhiap harap jangan menolaknya." "Hm...!" Pek Soh-ciu dengan dingin berkata, “Apa kau takut pedang nonamu melukai aku?" "Nonaku apakah bisa melukai Siauhiap, aku tidak berani sembarangan mengatakan, tapi jika dua macan berkelahi, pasti ada satu yang terluka, Siauhiap dengan nonaku kan tidak perlu bertarung mati matian!" "Kata-kata ini walau tidak salah, tapi masa-lahnya adalah nonamu tidak bisa menerimanya!" kata Pek Soh-ciu tawar Cu-soat tertawa berkata: "Asalkan Siauhiap mau bersama-sama pergi ke Hun-sie, Siocia kami tentu tidak akan menggunakan pedangnya." Pek Soh-ciu tampak sedikit marah berkata: "Apakah ini ancaman?" "Tidak, karena memang seharusnya." "Aku ingin mendengar penjelasannya." "Kek!" Cu-soat berkata, "Kita orang-orang persilatan yang diutamakan adalah menerima budi harus membalasnya, Siauhiap tentu tidak akan menyangkalnya?”

“Budi Mas makanan?" "Bukan hanya makanan, Siauhiap apakah lupa kejadian semalam?" "Ini......" "Hai... Siauhiap ahli silat juga ahli sastra, seharusnya tahu masalah sopan santun..." "Aku sudah katakan, aku ini tidak sengaja." "Tapi tanpa alasan, sulit menutup mulut orang, kesalahan yang tidak disengaja, bagaimana bisa membuat orang percaya!" "Lalu.. .menurut pendapatmu bagaimana?" "Peristiwa kemarin malam, walau pun Siauhiap tidak menyatakan penyesalan, tapi jika tersebar di dunia persilatan, walau nonaku menggunakan air kali, empat lautan, mungkin tetap tidak akan bisa membersihkan noda yang dia dapat, jika benar demikian, bagaimana Siauhiap bisa begitu saja meninggalkan?" Pek Soh-ciu tidak bisa berbuat apa-apa lagi dia mengeluh: "Dengan demikian, aku terpaksa dengan tubuh yang berdosa, menuruti apa kehendaknya." Siau Yam mencibirkan bibir munggilnya, mendengus perlahan: "Tidak butuh......" Tapi dia menatap dengan sorot mata yang senang, lalu melirik pada Pek Soh-ciu, mencabut pecut yang ada dipapan pintu, membalikkan kepala memberi perintah pada Cu-soat: "Siapkan kuda untuk Ciu Siauhiap, kita berangkat......"

Jarak perjalanan sepuluh lie, dalam sekejap sudah sampai, Hu-in menyambut dan membawa mereka ke satu penginapan yang dinamakan Sang-goan, tiga kamar diatas dengan satu pekarangan, keadaannya tampak sangat tenang. Hun-sie berada dalam kabupaten Yong-an di masa dinasti Han, sampai dinasti Sui baru diganti nama jadi Hunsie, dia termasuk daerah Leng-hun salah saru lembah ilatar dari dua belah provinsi Soa-say, dengan pendapatan daerah yang sangat besar, merupakan daerah penting provinsi ini. Sejak meninggalkan tempat menginap semalam, l'ek Sohciu seperti manusia besi, dia menutup rapat mulutnya, tidak mengeluarkan satu patah kata pun, saat ini dia menjatuhkan diri diatas ranjang, kedua mata melotot besar menatap keatas langit-langit. Seharusnya pada usia seperti dia ini, tidak mengerti apa yang namanya kepusingan, namun kenyataannya rumahnya hancur anggota keluarganya meninggal, tubuh dia dipenuhi bara dendam, satu-satunya orang yang paling dekat, paman Hong juga tidak tahu keberadaannya, juga tidak tahu apakah masih hidup atau tidak, entah kapan dia bisa bertemu lagi, sekarang dia malah mendapat masalah yang tidak enak ini, bagaimana dia bisa tidak pusing, bagaimana dia bisa tenang? Sebelum dia berhenti berpikir lama, mendadak terputus oleh satu suara ringan, dan setelah suara ringan Itu terdengar, melayang keluar satu bayangan yang mengejutkan. Dia merasa aneh, lalu bangkit duduk, menatap bengong pada bayangan cantik yang berdiri di depan pintu, beberapa saat...... "Masih marah padaku?"

Suara yang lembut dan merdu itu, seperti mengandung tenaga gaib yang tidak bisa ditolak, maka dia batuk pelan sekali, berkata: "Aku hanya merasa lelah, mana mungkin marah pada nona Siau." "Kalau begitu, hayo temani aku keluar jalan-jalan, bagaimana?" "Tapi......" "Di kehidupan manusia delapan atau sembilan dari sepuluh adalah hal yang tidak enak, keluar jalan-jalan merupakan satu cara yang bagus untuk meng-hilangkan kepusingan, ayolah.." Dalam keadaan tidak bisa menolak, dia terpaksa mengikuti Siau Yam keluar dari penginapan, tapi pikiran nya tetap seperti kuda yang tidak diikat, terhadap bermacam-macam orang, barang-barang dagangan yang beraneka ragam, dia hampir seperti tidak melihatnya, sedikit pun tidak ada gairah untuk melihatnya. Setelah melewati dua jalur jalan, mereka sampai di sebuah lapangan di depan kelenteng, di sana ada beberapa kelompok orang, sedang menonton pertunjukan berbagai macam akrobat. Siau Yam seperti seekor kupu-kupu indah, di dalam kerumunan orang menerobos kesana menerobos kesini, tapi Pek Soh-ciu malas-malasan, tidak dapat mengikuti kecepatan geraknya, ada beberapa kali hampir saja Pek Sohciu kehilangan jejaknya, karena dia mencarinya terus, baru bisa terhindarkan terpisah di dalam kerumunan orang, sehingga dia mencibirkan bibir, dengan tidak senang berkata dingin:

"Kau ini mengapa? Tidak mau menemani aku bermain ya sudah, jalan, kita pulang saja." Pek Soh-ciu belum keburu menjawab, di dalam kerumunan orang muncul seorang pemuda tampan berbaju biru, sambil tertawa melanjutkan perkataannya: "Adik kecil, tidak perlu marah. Kalau dia tidak mau menemanimu bermain biar aku yang temani, kita main kesana." Siau Yam mengangkat alis, berkata dingin: "Siapa kau?" Pemuda baju biru dengan sombong sambil tersenyum berkata: "Aku adalah Siauya perkumpulan Ci-yan (Walet Ungu.), she Liu nama Ti-kie, adik kecil, siapa namamu?" "Ooo!" Siau Yam bersuara sekali, "Ternyata Liu Siauya, sungguh tidak sopan sekali." "Ha ha ha!" Liu Ti-kie tertawa, "walau aku punya kedudukan tinggi di dunia persilatan, tapi suka berteman dengan adik kecil secantik kau ini, nanti kita bisa bermain ke seluruhnegri, aku pasti bisa membuat-mu senang." Mata Siau Yam yang jeli berputar berkata: "Betulkah?" Liu Ti-kie menepuk dada: "Tentu saja, kau ingin bermain apa pun boleh, orang she Liu tidak akan mengecewakanmu." "Bagus kalau begitu, sekarang silahkan kau itu merangkak tiga putaran ditanah, dan juga harus sambil mengonggong, bagaimana? Siauya."

Wajah Liu Ti-kie berubah warna: "Adik kecil! Aku dangaumu, jika kau he..he..” dengan sengaja tulus ingin berteman mau mempermainkan,

Siau Yam dengan tenang berkata: "Mana berani aku mempermainkan Siau-kaucu Liu yang punya kedudukan tinggi di dunia persilatan, sesungguhnya orang yang ingin berteman dengan aku, harus menuruti aturanku." "Hm...!" Liu Ti-kie berkata lagi: "Bocah yang pakai baju putih itu, apa juga pernah merangkak di tanah sambil menggonggong?" "Aturanku, berbeda-beda tergantung orang-nya." "Apa maksud kata-kata ini?" Siau Yam dengan sinisnya mencibir bibir: "Apa ini masih perlu dijelaskan? Karena kau seperti anjing, tentu saja kau harus menggonggong." Liu Ti-kie jadi naik pitam: "Baik, rupanya jika tidak diberi pelajaran, kau masih belum tahu setinggi apa langit, setebal apa bumi!" Begitu habis perkataannya, telapak tangan kanan nya mendadak diulurkan, lima jarinya seperti kail mirip tinju, seperti kilat menyabet ke arah pundak Siau Yam. Orang mengatakan, seorang ahli sekali bergerak, sudah tahu isi atau tidak lawannya, Liu Ti-kie Siauyanya perkumpulan Ci-yan, rupanya tidak asal gagah-gagahan, melihat dia mengeluarkan jurus, memang cukup berilmu, sayangnya dia bertemu dengan Siau Yam, jika di ganti oleh

orang lain, mungkin cengkeraman hebat ini.

sulit

dapat

menghindarkan

Saat ini Siau Yam sudah tidak tampak main main lagi, sepasang mata seperti senter, dengan tenang menatap telapak kanan yang datang menyerang, benar saja tidak menunggu jurusnya sampai, lengan kanan dia mendadak turun ke bawah, lima jari dengan kuat dijentikan keluar, angin kuat melesat menutup kearah jalan darah penting di bahu Siau Yam. "Hm...!" Siau Yam mendengus, pinggangnya sedikit di turunkan ke bawah, telapak kiri dan kanan disodokkan keatas, sepasang jari disatukan seperti pisau, mengarah jalan darah di lengan Liu Ti-kie memotongnya, serangan balik dia ini, waktu dan tenaganya tepat sekali, tapi lima jarinya Liu Ti-kie, malah bisa berobah dari jurus sebenarnya menjadi jurus tipuan, lengan kanannya mendadak ditekan ke bawah, jalan darah di bawah pinggang Siau Yam hampir semuanya di bawah ancaman tenaga jarinya Liu Ti-kie. Wajah Siau Yam berubah warna, dia tidak menduga Liu Ti-kie dalam satu jurusnya, bisa mengandung perobahan jurus yang begitu hebat, segera dia membentak, telapak kiri dari jarinya berobah jadi kail, dengan kuat mencengkram pergelangan lawan, telapak tangan bersamaan waktu dilayangkan, satu tenaga angin yang kuat, menerjang ke arah dadanya Liu Ti-kie. Mereka berdua adalah angkatan muda yang hebat di antara angkatan muda dunia persilatan masa kini, begitu bertarung jurus-jurus anehnya sudah keluar semua, keadaan sangat menegangkan sekali, sehingga orang yang menonton di sekeliling matanya jadi kabur, sampai nafas pun tidak berani keras-keras.

Adat masyarakat Soa-say kebanyakan panas, disana banyak berdiri perguruan silat, setiap orang hampir bisa dua tiga jurus silat, tapi buat tingkat seperti Siau Yam dan Liu Ti-kie yang berilmu setinggi ini, mereka seumur hidup baru kali ini menyaksikannya, walau tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara, tetap saja orang berkerumun banyak sekali, di depan kelenteng menjadi sesak tidak bisa dilewati orang. Dalam sekejap tiga puluh jurus telah lewat, Liu Ti-kie sudah lebih banyak bertahan dari pada menyerang, dia terjerumus ke dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan, kelihatannya tidak akan bertahan lebih dari dua puluh jurus lagi, Siauya Liok yang angkuh ini, akan mengalami kekalahan, dipermalu-kan oleh remaja wanita yang tidak ternama ini. Mendadak terdengar satu teriakan keras, tiga orang lakilaki besar berbaju ringkas keluar dari kerumunan orang, seorang diantarnya memegang senjata rantai dengan kuat diayunkannya, rantai dijulurkan hingga lurus, menusuk ke arah punggung Siau Yam, dua orang lagi menggunakan golok berpunggung tebal, juga bersamaan dari dua arah kiri dan kanan, menyabetkan goloknya pada kiri dan kanan pinggang Siau Yam. Dengan tingkat ilmu silat Siau Yam, memang lebih tinggi beberapa kelas dari pada Liu Ti-kie, jika kedua belah pihak bertarung dengan tangan kosong, dia pasti bisa mengalahkannya dalam lima puluh jurus, tapi saat ini mendadak lawan bertambah tiga orang, dan semuanya menggunakan senjata, walau ilmu silat dia lebih tinggi juga sulit bisa menahan serangan keroyokan ini, maka serangannya jadi tertahan, sekejap saja keadaannya menjadi berbahaya.

Di depan tontonan banyak orang, empat orang pesilat bertubuh besar, menyerang seorang wanita kecil, sungguh sangat tidak pantas, tapi masing-masing orang itu seperti hanya menyapu es di depan pintu sendiri, walau pun ada orang yang bersimpati, tapi siapa yang mau melibatkan diri pada pertikaian dunia persilatan? Di saat orang membicarakannya, mendadak terlihat satu bayangan putih masuk ke dalam arena pertarungan, kemudian terdengar beberapa jeritan mengerikan, pertarungan yang sengit itu, mendadak berhenti, yang membuat orang jadi heran adalah tiga orang laki-laki besar yang bengis itu, semuanya sudah tergeletak diatas tanah, dibandingkan dengan mayat, mereka hanya punya kelebihan satu nafas saja. Liu Siauya dari perkumpulan Walet Ungu bengong seperti patung, wajahnya penuh dengan sikap ketakutan. Di sisi lain, kecuali wanita baju merah Siau Yam yang ikut bertarung, hanya ada seorang remaja tampan berbaju putih yang berdiri santai. Jelas tiga orang anak buahnya Liu Ti-kie sudah dirobohkan oleh remaja berbaju pulih ini. Liu Ti-kie terdiam lama lalu dengan mendengus berkata: "Tidak diduga anda adalah seorang pesilat tinggi, marga Liu telah salah menilai orang!" Remaja berbaju putih berkata dingin: "Aku orang rendah yang tidak punya nama, tentu saja dipandang sebelah mata oleh anda......" Liu Ti-kie mengangkat sepasang alis berkata: "Bocah jangan sombong, jika berani katakan sebutanmu, marga Liu pasti akan menagih sepuluh kali lipat terhadap apa yang telah kau berikan."

Remaja baju putih berkata: "Bagus, asalkan kau berminat, Pek Soh-ciu setiap saat menantinya." Di dalam hati Liu Ti-kie tahu, remaja berbaju putih yang menyebut dirinya Pek Soh-ciu memang bukan lawannya, hanya dengan mata melotot bengis dia lalu membopong tiga laki-laki besar yang terluka, menyusup masuk ke dalam kerumunan orang. Pertunjukan telah selesai, wajah tampan Pek Soh-ciu kembali menjadi dingin lagi, dia melirik pada Siau Yam, satu kata pun tidak berkata, langsung jalan keluar lapangan. Sifat yang dingin dan sombong itu masih bisa dimengerti, tapi tidak memandang keberadaan seorang remaja cantik, itu adalah hal yang sulit diterima, apa lagi keadaannya dibawah sorotan mata banyak orang, bukankah ini penghinaan yang amat besar sekali? maka setelah Siau Yam tertegun sebentar, lalu berteriak dan melayangkan telapaknya menyerang. Dalam keadaan marah besar, pukulannya menggunakan seluruh tenaganya, Pek Soh-ciu tidak menduga nya, tenaga telapak yang amat dahsyat itu, telah mengenai dengan telak di punggungnya. "Blek!" Pek Soh-ciu mengeluarkan suara sekali, tubuhnya terdorong maju beberapa langkah, baru bisa berdiri, pelanpelan dia membalikan tubuh, menggunakan lengan baju yang putih seperti es, mengelap darah di sudut mulutnya, sepasang sorot mata yang tajam, melihat dingin pada Siau Yam sekali: "Kita masing-masing sudah tidak punya hutang, aku......pamit......" langkahnya sedikit tidak mantap, sepertinya pukulan Siau Yam tadi, telah membuat dia

terluka tidak ringan, tapi dia sedikit pun tidak menghentikan langkahnya, dengan memaksakan diri dia meloncat beberapa kali, menghilang di jalan yang ke arah Leng-hun. Dia telah pergi, tapi hati Siau Yam jadi sangat tidak enak, dua aliran air mata menyesal, tanpa bisa ditahan mengalir keluar dari sepasang matanya. "Nona, jangan pedulikan si sombong itu, kita......pergi saja......" Cu-soat di sampingnya menghibur, tapi tidak ada gunanya, lama, Siau Yam menggigit giginya berkata: "Baik, orang she Ciu, kita melihat buku sambil menunggang keledai, kita lihat sambil berjalan." Malam telah tiba, angin menjadi dingin air pun dingin, di dalam angin gunung dan awan malam itu, melayang satu bayangan orang seperti asap, terlihat tubuhnya berlari naik dan turun dengan lincah, dalam sekejap, sudah sampai di bawah sebuah bukit tinggi, sorot matanya yang seperti bintang dingin, melihat-lihat ke sekeliling, mendadak dia menghentakan kakinya pada batu gunung, satu garis bayangan putih telah naik keatas, tapi tubuhnya yang meloncat keatas, malah mendadak herhenti, lalu seperti bintang jatuh dari langit, berguling guling jatuh ke bawah. Di bawah gunung adalah batu-batu yang tajam, tajam seperti gigi anjing, dia sudah mendapat luka dalam, lidak bisa mengerahkan tenaga dalamnya, jika jatuh ke atas batu yang tajam, maka tidak akan terhindar kan batu lajam akan menembus perut atau dadanya. Manusia siapa yang tidak akan mati, tapi jika dia harus mati digunung liar ini, sungguh dia tidak sudi, tapi luka dalamnya sangat parah, membuat dia tidak bisa mengerahkan tenaga dalam, tidak ingin mati pun

bagaimana bisa! Setelah mengeluh panjang putus asa, sepasang matanya pun dengan sedih di tutupnya. Mendadak, dia merasakan tubuhnya ada yang menarik, sepertinya di udara melayang satu kail dewa, mengail baju putihnya, walaupun dia terluka dalam, dalam keadaan setengah sadar, reaksinya masih tetap gesit, sepasang matanya masih belum dibuka, sepasang tangannya sudah melayang-layang sembarangkan menangkap. Sepasang tangannya yang lemah tidak ada tenaga, sepertinya mengenai sesuatu, di dalam perasaan dia, ini adalah benda yang empuk, sangat elastis, dia baru saja tertegun, terdengar suara 'paak', dan dia jadi pingsan. Angin malam bertiup pelan, bayangan pohon bergoyanggoyang, sinar bulan seperti satu cermin es, menyorot pada wajah cantik yang dingin, dia berdiri bengong, tidak bicara dan tidak bergerak, hampir dua jam lamanya. Lama, alis dia yang hitam indah itu dengan pelan sedikit diangkat, sepasang matanya yang jernih menyorot satu sinar yang sulit diduga, lalu, dia pelan-pelan menggerakan tubuhnya, melihat pada remaja berbaju putih yang pingsan dengan sebalnya. Tapi lirikan menyebalkan ini perlahan berubah, perubahan ini diikuti sorot matanya, dari dingin lambat laun menjadi lembut, dari lembut menjadi emosi, di dalam sekejap perubahan-perubahan ini membuat dia sulit bisa menyesuaikan diri, seperti sumur lama yang terjadi gejolak yang tidak menentu, akhirnya, dia mengangkat remaja berbaju putih yang bernoda darah itu, beberapa kali loncatan masuk ke dalam satu vihara yang megah. Dia menaruh remaja berbaju putih dialas ranjang, diam tidak bicara menatapnya. Wajah dia sedikit pucat sepasang alis yang panjang sampai ke pelipis sedikit mengkerut, di sudut

mulut dan di atas baju di dada, ada bercak-bercak bekas darah. Jelas, dia pernah mengalami satu pukulan yang ganas, sehingga mendapatkan luka dalam yang parah, tadi satu tangkapan yang kurang ajar itu, tentu tidak mengandung sesuatu penghinaan, kalau begitu, dia tadi dengan marah melempar dia, bukankah sudah jatuh tertimpa tangga pula? Menyesal, merasa salah, bercampur dengan kekacauan yang tidak bisa dijelaskan dan tidak tenang, lama... dia mengeluh panjang dengan sedihnya, lalu dia mengeluarkan satu botol giok, menyuapkannya padanya dua butir obat mujarab. Dia sedang menunggu perobahan lukanya, tapi hali yang setenang danau, malah diam-diam terjadi riak yang kecil, dia ingin menekan riak itu, tapi pikirannya bergejolak, amarahnya tidak bisa dihentikan, membentuk satu gelombang yang tidak bisa ditahan. Akhirnya dia membuka mata, sepasang sorot matanya yang penuh kasih, menatap pada wajah yang tampan, alisnya, hidungnya... sepertinya setiap inci mempunyai daya tarik yang membuat orang mabuk, seperti orang minum madu, sehingga dengan bengong, matanya tanpa gerak manatap terus pada dia. Mendadak, remaja berbaju putih menggerakkan tangan dan kakinya, mengeluarkan suara keluhan yang pelan, hati dia jadi tergetar, seperti bertemu dengan ular beracun pinggangnya diputar, tergopoh-gopoh keluar melarikan diri. Angin menggerakan pohon tua, sinar bulan menyinari jendela, remaja berbaju putih itu telah lolos dari ancaman dewa maut, seperti telah bermimpi indah, ketika dia membuka matanya, tempat dia rebah ini, malah membuat dia keheranan.

Ini adalah kamar kecil tempat bersemedi, walau tidak ada selimut sutra, kelambu halus, hio menyala diatas tempat hio berbentuk hewan, tapi satu titik debu pun tidak ada, bau hio samar-samar tercium, berada di dalam membuat hati orang merasa jadi lapang dan segar, tapi, dia tidak ada minat tinggal di tempat yang asing ini, lalu dia berjalan keluar dari kamar semedi, melangkah masuk ke ruang sembahyang yang penuh dengan asap hio. Di depan meja sembahyang, bersujud seorang remaja wanita yang hidungnya mancung, mulut munggil, walau dia memakai jubah nikoh, tapi mempunyai rambut panjang yang hitam bersinar. Lampu bersinar jernih, suara ketokan kayu dan doa-doa, adalah satu penampilan yang serius tidak bisa diganggu, tetapi situasi yang serius ini, tidak menutupi penampilan dia yang cantik, lama, dia pelan-pelan bangkit berdiri, sepasang matanya dengan penuh kasih, menatap tajam pada remaja berbaju putih, lalu berkata: "Sicu, luka dalamnya baru sembuh, masih harus dirawat, angin malam sangat dingin, silahkan kembali ke kamar semedi untuk istirahaf." Dengan sepasang alisnya diangkat, remaja berbaju putih dengan wajah acuh berkata: "Aku masih ada urusan penting, terima kasih atas pengobatannya, budi ini akan kubalas di kemudian hari." Begitu perkataannya habis, orangnya sudah berkelebat pergi, sinar lampu masih bergoyang-goyang, orangnya sudah berada beberapa tombak di luar. Nikoh remaja tidak menduga, sekali berkata pergi dia langsung pergi meninggalkan, begitu tidak tahu sopan santun, saat dia loncat keluar vihara, hanya terlihat sinar

bulan seperti air menerangi bumi, bayangan orang itu sudah menghilang! Malam sangat dingin, gunung kosong hutan tenang, jubah nikohnya yang besar, berkibar-kibar ditiup angin malam, tapi dia seperti batu gunung yang tanpa roh, sedang berdiri tanpa bicara. "Jit-nio (Putri ke tujuh.)......" Hatinya sedikit terkejut, dengan cepat dia menggunakan lengan baju menyeka air mata disudut matanya, lalu membalikan tubuh memberi hormat dengan menyatukan telapak tangan pada seorang pendeta tua berkata: "Bibi guru......" "Jit-nio, siapa dia?" "Tidak tahu......murid tidak tahu......" "Haii... saat gurumu meninggal, pernah mengatakan kau tidak ada jodoh dengan Budha, bajumu ada disini, pergilah." "Bibi guru......aku......" "Anak itu sangat berbakat, bisa dikatakan jarang yang berbakat seperti itu... aku mendoakan kau......" tidak menunggu Jit-nio menjawab, dia sudah membalikan tubuh melayang pergi. 0-dw-0 Suara guntur yang amat keras terdengar, titik hujan sebesar kacang sudah turun ke bawah, tanah liar yang sangat luas, hampir semuanya tertutup hujan, di dalam hujan lebat ini, malah ada satu bayangan putih berlari dengan cepatnya, walau seluruh bajunya sudah basah

kuyup, tubuhnya tetap meloncat-loncat, tetap gesit dan cepat, mengejutkan orang yang melihatnya. Akhirnya, hujan berhenti, bulan bersinar kembali, gunung dan hutan yang sudah dibersihkan oleh hujan, pemandangannya semakin segar. Pek Soh-ciu sudah menemukan satu tempat untuk berteduh, dia mengambil beberapa batang kayu, menyalakan api, lalu melepaskan bajunya dan mengeringkan diatas api. Mendadak ada angin aneh yang bertiup menerbangkan bajunya, dia seperti kupu kupu yang amat besar, melayanglayang di udara. Dia tertegun: "Sungguh sial sekali, setan juga sampai datang mempermainkan orang, sampai angin dan hujan juga mengganggu aku!" dia mengikuti bajunya yang melayanglayang, dia berlari sampai di satu hutan, bajunya di udara mendadak berbelok, masuk ke dalam hutan itu, sungguh sulit dibayangkan, apakah dihutan ini bersembunyi setan? Dia mengangkat alisf menyusup masuk ke dalam hutan, matanya melotot mencari kesegala arah, mendadak hatinya tergetar, ternyata baju putihnya menggantung di atas sebuah cabang pohon besar, dan ada satu kertas merah, menempel di atas baju, melayang-layang ditiup angin. Dia mendengus, mengulurkan tangan menurunkan baju dan kertas itu, dia melihat di bawah sinar bulan, diatas kertas tertulis begini: "Masuk kedalam tanah larangan, harus di beri hukuman kecil, bocah! Kau telah terkena racunku!"

Sungguh mala petaka yang tidak diharapkan, pemilik hutan larangan ini hingga marganya apa, namanya apa dia juga tidak tahu, tahu-tahu dirinya sudah lerkena racun, jangan kata dia masih remaja yang emosinya tinggi, walau seorang tua yang bisa menahan diri, juga sulit bisa menerima hal ini, maka dia mengibaskan telapaknya, dan terdengar suara sst... kertas yang tipis itu, seperti pisau tajam menancap di atas batang pohon besar. "Bocah! Tampaknya kau pemarah sekali, hmm......" Sebuah suara kecil terdengar dari dalam hutan disisi tubuhnya, dia bergerak seperti elang menerjang kearah datangnya suara. Terdengar pohon dan daun bersuara sst... sst... tanah liar ini sangat sepi, sampai seekor burung terbang pun tidak ada, bagaimana mungkin bisa ada orang? Dia mencibirkan bibir, bibir merah yang seperti memakai lipstik merah, tersenyum dingin menakutkan orang, sedikit menggerakan sepasang lengannya, seperti asap tipis, melayang ke atas puncak pohon yang bergoyang-goyang. Matanya mencari ke segala arah, terlihat diatas tanah liar, sepuluh tombak lebih ada satu bayangan hitam sedang berlari dengan cepatnya. "Bangsat keji, jika Siauya bisa menangkapmu, tidak merobek-robek kau itu baru aneh!" didalam hati sedang bicara, tapi kakinya sedikit pun tidak diam, baju putih melayang-layang, cepat laksana angin ribut, mengejar dari belakang orang itu. Namun, bayangan hitam itu seperti air deras awan mengalir, dia hampir mengerahkan tenaga dalam sampai puncaknya, tapi tetap saja tidak bisa memper-pendek jarak satu inci pun, dan juga bayangan hitam itu tidak lari hanya lurus saja, dia lari mengitari rimba ini.

Tanpa alasan meracuni orang, malah masih sengaja mempermainkan orang, bagaimana orang bisa tahan? setelah sekali berteriak, dia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui. Ilmu hebat yang hanya dimiliki oleh Sin-ciu-sam-coat, bagaimana pun tidak seperti ilmu silat biasa, hanya dalam waktu seperminuman teh, dia bukan saja sudah dapat mengejar bayangan hitam itu, dan juga berhasil menghadang jalannya orang yang melarikan diri. "Bocah, kau sungguh hebat, aku sampai bisa dihadang olehmu." Ternyata dia adalah seorang tua yang rambutnya acakacakan, seluruh rubuhnya kotor seorang pengemis, melihat usianya, hanya lima puluh tahun lebih, tapi bicaranya seperti orang tua yang penuh pengalaman sekali. Pek Soh-ciu mengangkat alis berkata: "Kita sama sekali belum pernah bertemu, anda malah mencuri baju dan meracuni aku, melakukan tindakan yang sangat hina, jika anda tidak bisa memberikan alasan yang tepat, jangan salahkan aku bertindak kejam." Pengemis itu membuka mulut tertawa keras beberapa saat berkata: "Bagus, aku orang tua sudah berkelana di dunia persilatan puluhan tahun, akhirnya malah masih membuat seorang angkatan muda meminta pertanggung jawaban, sungguh zaman sudah berubah, hati orang sudah tidak seperti dulu lagi." "Hm...!" Pek Soh-ciu dengan angkuh, "Aku tidak ada minat bertengkar denganmu, berikan obat penawar racunmu, mungkin kita masih bisa merundingkannya."

Pengemis merasa aneh berkata: "Obat penawar? Kau ingin obat penawar racun apa? Aku orang tua sampai haus ingin minum lapar ingin makan juga harus menunggu orang beramal, kau meminta obat penawar racun padaku, bukankah itu salah alamat!" Ssst... terdengar suara aneh, Im-cu-kiam sudah dicabut keluar, dalam getaran hawa pedang nya, samar-samar mengandung hawa pembunuhan, pemuda tampan yang sudah kenyang mendapat ejekan orang, amarahnya seperti sudah sampai puncaknya. Wajah pengemis sedikit berubah, tapi lalu dengan cepat kembali keasal wajahnya, penuh dengan tertawa main-main berkata: "Bocah, aku orang tua kecuali sedikit miskin, tidak berbeda jauh dengan kau bocah kecil, jika kau melihat aku tidak berkenan dihati, kita kakek dan cucu bisa bermainmain beberapa jurus untuk mencobanya." Dia menghentikan wajah tidak seriusnya, membalikan lengan merogoh ke belakang, dari belakang tubuh mengeluarkan sepasang sumpit besar yang hitam pekat, panjangnya sekitar dua kaki lima inci, kakinya dibuka sedikit, menampilkan posisi siap bertarung. Melihat senjata yang jarang terlihat itu, dalam hati Pek Soh-ciu diam-diam terkejut, dia tidak menduga pengemis yang biasa-biasa ini, ternyata adalah Oh-kui (Setan Lapar) Ouwyang Yong-it yang julukannya setingkat dengan Sianput-cie (Dewa Miskin), tiga puluh tahun yang lalu, tapi dia seperti anak sapi yang baru lahir yang tidak takut pada harimau, tidak peduli kau adalah Dewa Miskin kek, Setan Lapar kek, jika sengaja menggodaku, meski bukan lawan seimbang juga harus dihadapinya, setelah dia meneguhkan hati, dia jadi tidak pikir panjang lagi, pedang panjangnya

disabetkan miring, melancarkan jurus Ciu-sui-eng-hong (Angin musim gugur mendadak bertiup), seperti air raksa tumpah ke tanah menerjangnya. Oh-kui Ouwyang Yong-it berdiri tegak sepera gunung, menunggu sinar pedang mengurung tubuhnya, dia baru membagi sepasang sumpitnya ke kiri dan kanan, sekali berputar-putar, menusuk-nusuk, dalam sekejap dia telah menyerang sebanyak sembilan jurus. Di dalam hati Pek Soh-ciu terkejut, dia tidak tahu jurus apa yang digunakan Ouwyang Yong-it, dia hanya merasakan dari lingkaran dan tusukan sepasang sumpitnya, ada angin bertenaga kuat, mengarah pada ke tiga puluh enam jalan darah penting di seluruh tubuhnya, jurus Im-cukiam yang menakutkan setan dan dewa itu, malah tidak bisa leluasa dikembangkan, hampir satu jurus pun tidak bisa dipakai menyerangnya. Tapi walau pun dia baru pertama kali bertemu dengan pesilat yang setinggi ini, dia tetap bisa tenang, jurus-jurus aneh Im-cu-kiam nya segera dikeluarkan semua. Bersamaan itu matanya menatap tajam, memperhatikan arah serangan sepasang sumpit lawannya, dia ingin mengambil kesempatan kekosongan lawan, mencari tilik kelemahan jurus lawannya. Tangan kirinya diam diam mengumpulkan tenaga ilalam, lima jari panjang yang kemerahan, pelan-pelan berubah warnanya, asalkan berubah jadi putih seperti giok, maka dia bisa menggunakan Pouw-ci-sin-kang, membunuh lawan yang kuat ini. Tapi Ouwyang Yong-it orang yang berpengalaman, mana mungkin dia tidak bisa melihat apa tujuannya Pek Soh-ciu, maka dia mempercepat sepasang sumpitnya, menimbulkan suara gemuruh angin, saat sepasang

telapaknya digerakan, menggetarkan awan mengalir embun berputar, rumput dan batang pohon beterbangan. Tekanan yang sebesar gunung ini, memaksa Pek Soh-ciu melangkah mundur ke belakang, tapi Oh-kui Ouwyang Yong-it sepertinya tidak menyerang sepenuh hati, setelah dia menyerang beberapa saat, mendadak tertawa keras, tubuhnya mundur satu tombak lebih, menyimpan sepasang sumpitnya, dengan sorot mata yang dalam menatap PekSoh-ciu berkata: "Siau Pek, kita tidak perlu menghabiskan tenaga dengan sia-sia, aku juga sudah puas bermain, mari kita ber bincangbincang saja." Pek Soh-ciu marah sampai mengangkat alis berkata: "Ilmu silatku walau tidak begitu hebat, juga tidak bisa dihina begitu saja oleh anda, tidak bertarung juga boleh, kita mencoba lagi beberapa jurus dengan tangan kosong." Ouwyang Yong-it tertegun: "Seseorang jika ingin sukses, ilmu silat dan kesabaran satu pun tidak boleh kurang, kau bocah kecil menemani aku bermain beberapa jurus, apakah itu merendahkan harga dirimu?" "Hm...!" Pek Soh-ciu berkata, "kalau begitu Cianpwee yang sudah diam-diam meracuni aku, tidak tahu itu harus bagaimana menjelaskannya?" "Ha ha ha!" Ouwyang Yong-it tertawa keras sejenak, berkata, "bocah bodoh! Jika aku benar meracunimu, apa kau masih punya nyawa sampai sekarang?" Di dalam hati Pek Soh-ciu tertegun, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalam mencobanya, benar saja jalan darah dia lancar semua, sedikit pun tidak ada tanda-tanda

terkena racun, maka dia mengepal sepasang tangannya, membungkukkan tubuh: "Kekesalan Cianpwee telah terpuaskan, aku sekarang pamit saja......" "Kek!" Ouwyang Yong-it batuk sekali kata-nya, "anak muda segalanya bagus, cuma kurang kesabaran saja, baiklah, kaki tumbuh ditubuhmu, jika kau tetap ingin pergi, aku orang tua juga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kita telah bertemu itu artinya ada jodoh, apakah kau bisa menyanggupi dua hal padaku?" Pek Soh-ciu tertegun, berkata: "Silahkan Cianpwee katakan lebih jelas lagi." Ouwyang Yong-it berkata: "Pertama, kau bocah memang orang yang menarik, jika tidak merasa hina berteman dengan Oh-kui, mari kita bersumpah menjadi teman, kedua, dunia persilatan sekarang ini sedang terjadi gejolak, menandakan keadaan akan terjadi pertarungan, kau harus berlapang dada, menanggung tanggung jawab terhadap keselamatan dunia persilatan......" sejenak katanya berhenti lalu melanjutkan, "aku masih punya satu urusan ysmg harus diselesaikan, dua tahun dari sekarang, aku akan ke dunia persilatan lagi mencarimu." Pek Soh-ciu dengan riang berkata: "Perintah Cianpwee, Soh-ciu mana berani tidak menurut, setelah dua tahun kemudian aku tentu akan terhormat mendengar perintahmu, sekarang aku pamit." Setelah Pek Soh-ciu meninggalkan Ouw-yang Yong-it, dia berlari dengan cepatnya, sampai langit di timur menjadi putih, baru dia beristirahat di bawah satu lereng gunung.

Tenaga manusia ada batasnya, semalaman tidak tidur tidak istirahat, dan juga telah mendaki entah berapa banyak bukit, walaupun ilmu silatnya sangat tinggi, tetap saja merasakan seluruh tubuhnya lelah dan lapar, maka akhirnya dia menutup mata tidur di bawah satu pohon besar. Saat sinar matahari menusuk mata, dia baru bangun dari tidur, hal pertama yang harus dikerjakan, tentu saja mencari makanan untuk mengisi perutnya yang lapar, dia menelusuri gunung berjalan ke depan, dia menemukan satu kampung kecil yang terdiri beberapa rumah pemburu, dari dalam bungkusannya dia mengeluarkan sebuah topeng dari kulit manusia, menyamar sebagai seorang sastrawan setengah baya, sesudah itu baru mendatangi sebuah rumah gubuk yang pintunya tidak tertutup rapat. "Apa ada lewat......" orang? Aku......orang yang numpang

Pek Soh-ciu tidak punya pengalaman di dunia persilatan, terhadap hal mengunjungi orang asing untuk minta makanan, lebih-lebih tidak pernah melakukannya, walau pun dia punya uang untuk membayar, tapi kata-katanya tetap ada perasaan tergagap-gagap sulit diucapkan. "Kreek" satu suara pelan terdengar, sepasang daun pintu dibuka, Pek Soh-ciu melirik pada orang yang berdiri di depan pintu, tidak terasa mata jadi merasa terang. Dia adalah seorang nyonya muda yang berhidung mancung beralis seperti bulan, penampilannya anggun sederhana, di dalam penampilannya yang anggun alami itu, sepertinya terselubung sedikit kegusaran, dia melihat pada Pek Soh-ciu mau bicara tapi tidak jadi, lama, baru dengan sedih mengeluh berkata: "Kau......haai......akhirnya kembali juga..."

"Apa?" Pek Soh-ciu seperti patung batu, sedikit tidak bisa meraba kepala sendiri, sehingga dengan perasaan aneh berkata, "Nyonya! Kau berkata......aku akhirnya kembali juga?" Dia baru saja berhenti bicara, nyonya muda itu mendadak menutup wajah dengan sedihnya menangis, Pek Soh-ciu terkejut sekali, tidak tahu ada masalah apa membuat dia jadi menangis sedih, sejenak dia menjadi salah tingkah. Lama... nyonya muda itu menghentikan tangisnya, kepalanya sedikit diangkat, menampakkan bunga Li berteteskan hujan, tingkah yang sangat membuat orang kasihan, dengan sedih menatap dia. Ini adalah situasi yang sulit bisa dimengerti dia, dan juga keadaan yang serba salah, dia terdiam sejenak, baru dengan sekali batuk perlahan berkata: "Hujin ada kesulitan apa, asalkan aku sanggup......" Nyonya muda itu melotot, dengan nada kesal berkata: "Meninggalkan rumah selama lima tahun, tidak mempedulikan ibu yang sudah tua dan istri di rumah, hari ini setelah capai berkelana kembali ke rumah, malah berpura-pura bodoh, tidak mengaku anggota keluarga, kau......kau sungguh keji sekali." "Kek, hujin kau......" Dia di buat bengong oleh nyonya muda, menghadapi situasi yang tidak masuk akal ini, sesaat tidak tahu harus bagaimana menjelas-kannya. Tiba tiba terdengar suara batuk pelan, dari luar pintu jalan mendekat seorang nenek tua beruban yang ineinegang tongkat jalan, seorang pelayan wanita kecil berbaju hijau mengikuti dari belakangnya, berjalan gemetaran mendekati Pek Soh-ciu, dia menghentikan langkah, dengan sepasang

mata berlinang air mata, memperhatikan Pek Soh-ciu dari atas sampai kebawah, 1ama, baru dengan suara gemetar emosi berkata: "Ti-kie! Akhirnya kau kembali juga! Ibu hidup tidak lama lagi, jika kau masih tidak kembali, itu akan Menyulitkan istrimu." Wajah Nyonya muda itu menjadi merah, sorot mata yang menyiratkan benci sayang dan malu, melihat l«jam pada dia, di bibir munggilnya keluar suara pelan " Ibu", lalu dengan malunya menundukan kepala. Sampai sekarang Pek Soh-ciu baru sadar, ternyata putri dan neneknya ini salah mengenal orang, sehingga, dia merubah wajah jadi serius, mengepal sepasang tangan menghormat berkata: "Aku bukanlah putra anda......" Nenek tua menghentakan tongkatnya, dengan suara gemetar berteriak: "Liu Ti-kie! Kau binatang yang tidak tahu balas budi, bagian mana dari istrimu yang tidak baik? Kau malah berani menolak keinginan ibu, sudah lima tahun melarikan diri menghindar perkawinan! Sekarang......heng, malah sampai ibu sendiri juga tidak diakui, oh Tuhan, keluarga Liu sebenarnya telah melakukan dosa apa.. “ Karena terlalu emosi belum lagi perkataannya habis, mendadak tubuh nenek tua itu roboh ketanah. Kejadian ini datang tidak diduga, Pek Soh-ciu tidak bisa diam melihat orang akan mati tidak menolong, tidak menunggu tubuh nenek tua menyentuh tanah, tubuhnya bergerak, dia sudah membopong tubuhnya, lalu mengulurkan telapak tangan kanan, menepuk pelan di

punggungnya, nenek tua itu lalu memuntahkan dahak yang kental, sepasang matanya berlinang air mata. Pek Soh-ciu mengeluh, dia membalikan kepala berkata pada nyonya muda: "Harap kau bopong nenek tua masuk ke dalam untuk beristirahat, aku......" Nenek tua mendadak berteriak: "Tidak, kau ikuti dia, Siau-ceng! Bopong aku masuk ke dalam." Siau-ceng adalah pelayan berbaju itu dia menyahut sekali, lalu maju ke depan membopong nenek tua, berjalan masuk kedalam rumah gubuk. Nyonya muda melirik Pek Soh-ciu sekali, lalu membalikan tubuh melenggok dengan langkah pelan masuk kedalam, melihat Pek Soh-ciu tidak mengikutinya, dia menghentikan langkah dengan sedih berkata: "Rumah ini sederhana, kau tidak sudi masuk?" "Hai...!" Pek Soh-ciu menggelengkan kepala berkata: "Hujin salah paham, aku ini sungguh bukan suami anda Liu Ti-kie......" "Hm...!" nyonya muda mengangkat alis, dingin berkata, "walau dibakar jadi abu, aku Tan Li-ceng tetap bisa mengenalmu, haai......" Mendadak di hati Pek Soh-ciu bergerak, dia terpikir Siauya perkumpulan Ci-yan yang pernah bertarung dengannya, bukankah namanya Liu Ti-kie? Sehingga, dia tertawa tawar, terpaksa melepaskan topeng kulit manusia di wajahnya berkata:

"Tidak diduga topeng ini, malah mirip dengan wajahnya suami anda......" Nyonya muda terkejut dan bengong cukup lama oleh perubahan yang terjadi di depan mata, lalu dengan sedih mengeluh berkata: "Kalau begitu, Liu Ti-kie sudah mati?" Pek Soh-ciu sedikit ragu berkata: "Aku pernah bertemu dengan seorang yang bernama Liu Ti-kie, apakah dia itu adalah suami mu, aku tidak berani sembarangan menuduhnya." Lalu dia menceritakan Liu Tikie yang sekarang ini adalah Siauyanya perkumpulan Ciyan. Nyonya muda Tan terdiam beberapa saat, katanya: "Bisakah beritahukan nama tuan?" "Aku Pek Soh-ciu penduduk kota kuno Soa-say." "Aku ada satu permintaan, tidak tahu apakah Siauya bisa menerimanya?" "Asalkan di dalam kemampuanku, tentu tidak akan mengecewakan hujin." "Haai... nenekku mengharapkan putranya pulang sudah lima tahun, sehingga mata hampir buta oleh air mata, jika mendadak tahu Siauya bukan Liu Ti-kie, pukulan yang sangat berat ini, pasti tidak akan bisa diterima oleh orang tua yang tidak lama lagi akan mati, sehingga,......" "Maksud nyonya, adalah......" "Jika Siauya sementara bisa menggantikan suami ku, bukan saja akan menyelamatkan satu nyawa......" "Ini......Haai, aku punya dendam yang harus dibalas, sungguh tidak bisa tinggal lama disini, apa ......"

"Asalkan menunggu beberapa hari, aku bisa pelan-pelan menjelaskan pada nenek masalah sesungguhnya, mengenai.. .kita.. .Siauya tidak perlu khawatir." Pek Soh-ciu dengan terpaksa mengeluh lagi, diam-diam memakai kembali topeng kulit manusia ke wajahnya. "Siauya, silahkan..." Tan Li-ceng gembira. Dia membawa Pek Soh-ciu ke sebuah kamar tidur, lalu menyiapkan makanan dengan langsung turun tangan sendiri, dia melayani Pek Soh-ciu hingga membuat Pek Soh-ciu jadi merasa tidak tenang, tapi dia telah menyanggupi permintaannya, terpaksa selama beberapa hari ini diam-diam dia menahan diri, di dalam keadaan tidak ada kegiatan ini, dia memusatkan seluruh pikirannya pada empat jurus hebat yang ada di atas Potaw long-tui, setelah siang malam mempelajarinya, akhirnya dia mendapat hasil lumayan. Suatu kali di saat bangun dari bersemedi, tampak Tan Liceng berada di hadapannya sedang memegang cangkir teh, dia berdiri di pinggir ranjang, sepasang matanya yang sejernih air dengan penuh rasa cinta menatapnya. "Hujin seperti......kek, kek, aku sungguh sulit menerimanya......." dengan sopan dia menolaknya, terhadap rasa cinta seperti ini, dia merasa sulit menikmatinya. Tan Li-ceng sedikit tersenyum, lalu duduk disisinya: "Walau pun pura-pura menjadi suami istri, melaksanakan kewajiban suami istri juga tidak halangan, mengapa kau harus begitu sungkan?" "Tidak." Kata Pek Soh-ciu dengan tegas, "ini adalah siasat yang terpaksa dilakukan sementara, kita bukan saja tidak boleh melakukan kewajiban suami istri, orang lain

juga tidak boleh tahu, jika tidak, di kemudian hari nanti, meski kita menjelaskan bagaimana pun suamimu tidak akan bisa mempercayainya!" Tan Li-ceng sudah bertekad, katanya: "Liu Ti-kie berhati kejam, sampai ibu yang sudah tua hampir mati pun ditinggalkan dan tidak dipeduli-kan, mana mungkin bisa dia ingat aku orang yang sial ini, Siauya jika tidak merasa......" Pek Soh-ciu dengan wajah serius berkata: "Hujin salah, orang she Pek bukanlah seorang yang suka merebut istri orang!" dia bangkit meloncat, mengambil bungkusan dan pedang yang digantung di dinding, langsung berlari keluar pintu. Dia sudah mengampil keputusan, ini adalah tindakan yang pintar, dia tidak mau melupakan dendam tanpa membalasnya, dia tidak mau ditempat ini mendapatkan nama buruk, maka dia memilih jalan yang benar, berlari ke arah selatan, menelusuri Leng-hun, kota Keng, langsung menuju Song-ciu 0-0dw0-0 Sinar pagi yang indah, diam-diam merayap naik keatas puncak bukit Siau-su, di dalam kuil Siau-iim yang namanya menggemparkan dunia persilatan, terdengar suara sembahyang. Suara lonceng yang damai dan agung terdengar] berdentangan, menyebar ke segala arah tanpa bisa dihentikan, membuat orang terhadap gunung dengan ternama kuil bersejarah ini, timbul satu perasaan yang memujanya.

Namun suara sembahyang itu, mendadak terhenti di tengah, di depan kuil yang terhormat dan tenang ini, keluar sekelompok hweesjo dengan wajah gelisah, mereka mengangkat kepala melihat jauh ke atas langit, sepertinya di puncak bukit gunung yang ternama ini, terjadi sesuatu hal yang aneh. Memang tidak salah, diatas puncak bukit Siau-su muncul seekor kuda putih, yang meringkik sambil mengangkat kepalanya, penampilannya sangat gagah, sepertinya sedang menantang para hweesio Siau-lim. Dan diatas kuda putih, duduk seorang remaja berbaju putih, bajunya berkibar-kibar ditiup angin di bawah sinar mentari yang menerangi seluruh gunung, lampak gagah seperti dewa, para hweesio Siau-lim yang melihatnya hatinya berdebar-debar, wajah menjadi tegang. Tiba-tiba, satu suara siulan nyaring, terdengar dari kejauhan di puncak bukit Siau-su, tubuh remaja berbaju putih sudah melayang dari atas kuda, di bawah sinar pagi yang cerah persis seperti dewa terbang di siang hari. Di udara dia melakukan satu belokan, sepasang lengannya sedikit dibuka, menggetarkan pelan lengan baju yang besar, rubuhnya bergerak cepat laksana kilat menyambar, dalam sekejap seperti segumpal kapas, melayang ringan turun di depan para hweesio yang wajahnya sedang tegang itu. Hweesio kuil Siau-lim yang mempunyai kepandaian hebat banyak sekali, namun, ilmu meringankan tubuh sehebat remaja berbaju putih ini, mereka baru pertama kali menyaksikannya, maka dalam ketakutannya, mereka menambah kewaspadaannya. Mata remaja baju putih seperti kilat menyambar, dengan angkuh melirik pada para hweesio Siau-lim berkata:

"Siapa yang menjadi ketua perguruan Siau-lim, aku ada hal ingin bertanya padanya." "O-mi-to-hud" sebuah ucapan Budha terdengar, lalu keluar seorang hweesio tua yang wajahnya bulat seperti bulan purnama, dia menegakan telapak tangannya memberi hormat: "Pinceng Pek Hui, sebagai ketua Siau-lim, Sicu kecil ingin bertanya apa?" Remaja berbaju putih melihat pada Pek Hui taysu, wajahnya jadi dingin, lalu berkata: "Aku tidak bermaksud membunuh orang, asalkan hweesio mau menjawab dengan jujur beberapa pertanyaanku." Pek Hui taysu berkata: "Seorang hweesio tidak akan berkata tidak jujur, yang aku tahu pasti aku katakan." "Bagus, mohon tanya, ketua kuil terdahulu anda Pek Leng taysu mengapa bisa menghilang?" "Sicu kecil ada hubungan apa dengan Sin-ciu-sam-coat?" "Harap hweesio jawab dulu pertanyaanku." "Kakak sepergumanku diundang orang untuk mengunjungi Sin-ciu-sam-coat, tapi begitu pergi lalu...” "Ha ha ha... berkunjung! Dengan memakai topeng, berkomplot melakukan pembunuhan, kunjungan apa yang dikatakan oleh hweesio?" Wajah Pek Hui taysu berubah: "Hong-thio Siau-lim terdahulu, kedudukannya sangat tinggi, Sicu kecil bagaimana bisa sembarangan menuduh orang!" Remaja berbaju putih dengan sinis mendengus dingin:

"Aku masih belum mengatakan masalah mereka menggunakan Ngo-tok-cian, dan secara sembunyisembunyi menyerang, terhadap kuil anda aku sudah memberi muka." "Lalu dimana Suhengku sekarang?" "Walau Sin-ciu-sam-coat, tidak bisa lolos dari serangan keroyokan hina ini, tapi para penyerang gelap ini, tidak satu pun bisa menyelamatkan jiwanya......" "Apa Sicu kecil keturunan Sin-ciu-sam-coat? Kalau begitu Suhengku pasti dibunuh oleh Sin-ciu-sam-coat!" "Apakah aku keturunan Sin-ciu-sam-coat atau bukan, aku tidak bisa memberitahukan sekarang, tapi Suhengmu, Pek Leng taysu bukan mati di tangan Sin-ciu-sam-coat." "Siapa yang telah membunuh kakak Suhengku?" "Lak-jiu-jin-wan Giam Pouw." "Sicu kecil menyaksikan dengan mata kepala sendiri?" "Percaya atau tidak terserah." "Sicu kecil masih ada urusan apa?" "Aku ingin tahu, dulu Suhengmu sebenarnya diundang oleh siapa ?" "Aku tidak mengetahuinya." "Kalau begitu terpaksa aku menggunakan kekerasan!" "Sicu kecil ingin bagaimana?" "Gigi dibalas gigi, mencuci kuil Siau-lim dengan darah......" "O-mi-to-hud, Siau-lim bukan tempatnya untuk sicu kecil membuat onar!"

"Ha ha ha, tujuh puluh dua jenis ilmu hebat dari kuil Siau-lim, tidak satu pun yang tidak mengejutkan dunia, jika aku tidak mencobanya sendiri, mungkin seumur hidup aku akan menyesal! Hweesio bersiaplah." perkataannya belum habis, sepasang telapaknya telah melancar-kan serangan, dua tenaga tersembunyi, satu keras satu lembut, seperti gelombang samudra menerjang kearah dada Pek Hui taysu. Pek Hui taysu mendengus, lalu mengibaskan lengan bajunya, pukulannya remaja berbaju putih yang keras dan dahsyat, seperti kerbau tanah, sungai masuk ke laut, segera menghilang tidak berbekas, tapi tenaga yang lembut malah menerobos masuk di antara tenaga dalam Pek Hui taysu, tenaga yang sangat lembut tapi bergelombang itu, tetap menerjang kearah Pek Hui taysu. Pek Hui taysu diam-diam terkejut, tubuhnya tidak goyah Kim-Kong-cu-tee (Kim-kong menancap di tanah.) segera bereaksi, walau demikian tubuhnya bergoyang dua kali, baru dapat menghilangkan tenaga lembut yang dahsyat itu. Seorang ketua perguruan yang begitu agung kedudukannya, ilmu silatnya bisa di bayangkan tinggi apa, tapi hanya dalam satu jurus, telah diungguli oleh seorang remaja yang tidak ternama, kejadian ini membuat wajah para hweesio Siau-lim yang kaku tanpa ekspresi, segera menunjukkan wajah terkejut dan gentar. Wajah tampan remaja berbaju putih yang dingin seperti es, jadi menambah rasa dinginnya, dia memutar telapak tangan kanannya, akan kembali menyerang, tiba-tiba penyambut tamu Siau-lim Pek Kuo taysu meloncat keluar berteriak: "Sicu kecil tunggu dulu, aku masih ada hal yang ingin ditanyakan."

Remaja baju putih menarik kembali lengan kanannya, berkata dingin: "Silahkan katakan." "Tadi ketua kami pernah menanyakan apa hubungannya Sicu kecil dengan Sin-ciu-sam-coat, Sicu kecil masih belum menjawabnya!" "Apa hweesio merasa ini sangat penting?" "Betul, Sicu kecil mengapa mencari perguruan kami untuk balas dendam, pasti ada satu alasan yang sangat penting?" "Apakah tidak bisa karena di dorong oleh rasa ingin tahu?" "Hanya karena rasa ingin tahu, lalu Sicu kecil melakukan pembunuhan besar-besaran?" "Ini harus melihat bagaimana sikap kuil anda, jika kuil anda bisa menjawab dengan jujur pertanyaanku, Pek Sohciu tidak ada minat melakukan pembunuhan besarbesaran." Wajah Pek Kuo taysu berubah, katanya: "Keturunan Sinciu-sam-coat, pasti punya ilmu silat yang mengejutkan orang, aku ingin mencoba ilmu silatnya Sicu dengan Lohan-tin (Barisan Budha suci), tidak tahu Sicu kecil berani tidak?" Pek Soh-ciu mengangkat alis, matanya mengeluarkan hawa membunuh: "Bagus sekali, aku sudah datang ke Siau-lim, jika tidak mencoba Lo-han-tin yang terkenal di dunia persilatan, aku akan menyesal seumur hidup! Hweesio silahkan......" Pek Kuo taysu mengambil satu tongkat hweesio lain seorang murid yang ada di belakangnya, lalu tongkatnya di

angkat dan di ayunkan, satu persatu bayangan yang seperti naga meluncur, dan muncul di depan kuil. Dengan ilmu terhebat yang dimiliki perguruan silat yang sangat ternama di dunia persilatan, menghadapi angkatan yang masih sangat muda, tindakan Pek Kuo taysu ini, bukan saja tidak pantas, malah belum pernah terjadi dalam sejarah, tentu saja, ketua Siau-lim Pek Hui taysu bisa mencegahnya, tapi baru saja bibirnya terbuka ingin berkata tapi tidak ada suara yang keluar, akhirnya terjadi peristiwa yang membuat perguruan Siau-lim mendapat malu. Pek Soh-ciu sedikit pun tidak gentar menghadapi Lohan-tin yang terkenal di dunia persilatan ini, setelah bersiul panjang yang nyaring, tampak baju putihnya melayang miring, tubuhnya menerjang seperti anak panah, dalam sekejap, sudah masuk ke dalam barisan yang penuh bayangan golok dan tongkat. Bayangan tongkat dan golok berputaran, di sekelilingnya terdengar suara shaa... shaa... para murid Budha yang seharusnya penuh welas asih, telah berubah menjadi penjagal yang penuh hawa membunuh, mereka membuat barisan menjatukan tenaga dalam di antara mereka secara aneh. Lalu suara shaa... shaa... yang keluar semakin cepat, dalam barisan Lo-han-tin sudah menggulung angin kencang. Angin kencang itu berputar putar, makin lama makin bertambah kencang, jika orang yang di kurung di dalan Lo-han-tin itu tidak dapat menahannya, hanya dengan tekanan angin kencang ini saja, sudah bisa membuat orang binasa. Pek Soh-ciu jadi terkejut, sekarang dia baru tahu Lo-hantin yang ternama di seluruh dunia persilatan, memang benar-benar hebat bukan nama kosong belaka, tapi dia tidak rela mengaku kalah begitu saja, keturunannya Sin-ciu-samcoat bukan orang yang takut akan mati! Dia berteriak

nyaring, dengan cepat mengayunkan tangan kanannya, memukul dengan sebuah tenaga keras yang amat dahsyat. "Paak!" terdengar suara keras, ternyata pukulannya malah terpental kembali dengan satu tekanan yang sebesar gunung ikut datang menekannya, dia tidak bisa bertahan terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Sebuah sinar pembunuhan muncul di antara alisnya, mendadak tubuhnya berputar, sepasang lengan diayunkan, keturunan Sin-ciu-sam-coat yang wajahnya dingin, dalam sekejap berturut-turut memukul delapan kali, hawa yang dalam seperti lautan, diikuti dengan suara siulan yang menggetarkan hati dari arah berbeda beda menggulung keluar cepat seperti kilat. Serangan cepat beruntun yang menakutkan orang mi, tidak bisa diikuti mata manusia, barisan Lo-han-tin yang amat kuat, menghadapi serangan beruntun yang icpat dan keras, dipaksa berhenti berputar. Hati Pek Kuo taysu tergetar, dia tidak menyangka anak yang masih remaja, bisa memiliki ilmu silat sehebat ini, tanpa sadar dia mengerutkan alis, timbul niat membunuhnya, mulutnya berteriak melancarkan jurus Hudbun-cu-sai-houw (Auman singa dari aliran Budha), dalam Lo-han-tin pun terjadi perubahan yang drastis. Sengatan mengalir awan berputar, sinar golok menyilaukan mata, gulungan hawa yang tidak tampak mendadak seperti muncul dari bawah tanah, dengan dahsyat gelombang pasang, dari segala arah menerjang kepada Pek Soh-ciu, sepertinya di lapangan seluas sepuluh tombak, di dalam barisan Lo-han-tin tidak bisa ditemukan sedikit celah pun. Barisan ini bergerak semakin cepat, begitu berputar satu putaran, gulungan senjata yang dingin menusuk tulang,

menyerang berturut-turut sembilan jurus. Pek Soh-ciu menghunus Im-cu-kiam, juga mengeluarkan jurus Im-cukiam yang terhebat, tapi setiap menerima satu jurus serangan golok, dia harus mengerahkan delapan puluh persen lebih tenaga dalamnya. Waktu terus berlalu, tenaga Pek Soh-ciu juga semakin melemah, keringat bercucuran, menetes ke tanah yang keras. Dia tahu keadaannya sangat tidak menguntungkan, bertarung dengan cara keras lawan keras, dia sendiri pasti sulit bisa menahan sampai seratus jurus lebih, dalam keadaan tidak dapat berbuat apa-apa, terpaksa dia bertarung sekuat tenaga, segera dia memasukkan Im-cu-kiam kedalam sarungnya, dari dalam dadanya dia mengeluarkan senjata Pouw-long-tui, mulutnya berteriak dengan nyaring, Pouwlong-tui yang bersinar hitam, dengan kecepatan kilat dipukulkan kepada sinar golok dan bayangan tongkat yang ada di depannya. Inilah jurus pertama Ciauw-jit-hui-tui (Bor terbang matahari muncul) dari jurus pembuka Pouw-long-kiu-hoat (Sembilan jurus bor membuka dan membelah), baru saja bor menerjang, angin dan geledek seperti bergerak, senjata itu seperti batang besi dibakar sampai merah, mendadak ditancapkan ke air yang dingin, terdengar suara sss... sss... yang mengerikan bagi yang mendengarnya, begitu sinar hitam sampai, darah dan daging berterbangan, Lo-han-tin yang amat sangat kuat, di dalam serangan Pouw-long-tui, jadi seperti kayu lapuk, tidak tahan satu pukulan pun. Hantaman bor besi yang menggetarkan bumi dan langit ini, membuat Lo-han-tin hancur tercerai berai, wajahnya Pek Soh-ciu juga telah berubah penuh senyum, bagaimana pun juga perguruan Siau-lim adalah salah satu perguruan aliran putih, asalkan mau memberitahu siapa otak yang

secara menggelap menyerang Sin-ciu-sam-coat, dia tidak akan tega membunuh semuanya. Tapi, tiba-tiba terdengar suara 'traang' yang pelan, senyuman di wajah Pek Soh-ciu mendadak lenyap, dengan mendengus tertahan tubuhnya maju dua langkah, akhirnya jatuh keatas tanah. Perubahan yang tiba-tiba terjadi ini, buat kuil Siau-lim mulai dari ketua sampai ke bawah, semua wajahnya berubah menjadi pucat, tentu saja, ilmu silat Pek Soh-ciu telah membuat nama besar kuil Siau-lim jatuh, walau pun demikian para penganut Budha ini sama sekali tidak mau menyerang secara menggelap terhadap Pek Soh-ciu. Tapi, anak muda tampan yang berilmu tinggi ini, bukan saja telah terkena sebuah serangan menggelap, diatas pundaknya juga sudah tertancap sebatang anak panah yang samar-samar bersinar biru, sedang bergetar. Para murid Siau-lim yang memimpin dunia persilatan, yang mengaku pembela kebenaran penyapu kejahatan ini, malah menggunakan Ngo-tok-tui-hun-cian (Tanah lima racun mengejar roh) yang dipandang hina di dunia persilatan, sungguh ini merupakan satu aib bagi Siau-lim yang sulit dibersihkan. Seluruh lapangan menjadi hening, ratusan sorot mata yang memandang hina, melotot marah pada Pek Kuo taysu yang sedang memegang kotak besi berwarna hitam. Matahari tidak begitu terik, tapi diatas kepala botaknya para murid Siau-lim, semua bercucuran keringat, sampai Pek Hui taysu yang sudah tinggi ajarannya hampir tidak bisa mengatasi keadaan yang memalukan ini. Lama, Pek Soh-ciu memaksakan diri berdiri, sepasang matanya yang merah darah, seperti dua panah tanpa perasaan, dengan kebencian yang amat sangat, menyapu

keseluruh lapangan, lalu dia berteriak nyaring, mencabut keluar anak panah di atas bahu kirinya, sebelah tangannya dengan kuat diayunkan, satu sinar biru melesat menerjang menuju dada Pek Kuo taysu. Pek Kuo taysu termasuk salah satu dari lima Tianglo Siau-lim, lemparan Pek Soh-ciu ini seharusnya sulit bisa berhasil melukai dia, tapi dibawah sorotan mata orangorang yang memandang hina padanya, telinga dan matanya seperti kehilangan ketajaman, saat angin tajam mengenai tubuhnya, ingin menghindar sudah tidak keburu, terdengar suara 'bluuuk', anak panah beracun itu langsung menancap masuk seluruh-nya di jalan darah Kie-kan-hiat di dadanya. Dalam teriakan marah, terdengar satu suara tertawa yang keras yang memekakan telinga, sinar putih berkelebat, ringan seperti asap, Pek Soh-ciu yang membuat kekacauan yang belum pernah terjadi sebelum nya pada kuil yang bersejarah ini, seperti kilat berkelebat menghilang masuk ke dalam hutan yang lebat. Namun, racun Toan-hun-cauw yang bisa menghilangkan nyawa, adalah racun yang tiada duanya di dunia, walau dia bisa menutup jalan darah supaya racunnya tidak menjalar, tapi di dalam sikapnya, dia sudah kehilangan ketenangannya, sampai tenaga dalamnya juga sudah berkurang banyak. Dia berlari pontang-panting berjalan di antara hutan pegunungan, terhadap harapan hidupnya, dia hampir kehilangan kepercayaannya, sebab pamannya yang ilmu silatnya begitu tinggi, setelah terkena panah Ngo-tok-tuihun-cian, tetap harus menjelajah ke seluruh pegunungan, untuk mencari obat penawarnya, ilmu silat dia tidak setinggi pamannya, dia juga tidak tahu harus mencari obat penawar apa, untuk menawarkan racun iban-hun-cauw.

Jadi dia bertekad, jika dia seperti hidup tidak, mati pun tidak, lebih baik sekalian mati saja. Sebentar dia berlari sebentar berhenti, akhirnya sampai di tepi selatan Huang-ho. Gelombang air sungai yang keruh mengalir deras, sekali melaju seribu li, tidak pedulikan sedih atau senang, berkumpul atau berpisahnya manusia, juga tidak mengurusi perseteruannya di dunia persilatan, tapi ombak itu, putaran air itu, seperti ada semacam kegembiraan yang sulit dirasakan manusia. "Haai... pejabat ombak, biarkan aku berteman denganmu saja!" Pek Soh-ciu yang telah kehilangan semangat hidup, meloncat masuk ke dalam gelombang kisaran besaritu. Setelah itu, tidak tahu berapa lama dia jatuh pingsan dia kembali sadar lagi. Saat dia telah sadar benar, dia menemukan dirinya berada diatas sebuah perahu besar bertiang layar ganda, suara gemercik air sangat jelas terdengar, perahu berlayar dengan cepat, kelihatannya dia telah ditolong orang. "Sahabat kau beruntung sekali, air Huang-ho yang berasal dari langit, tapi tidak bisa membuatmu tenggelam!" Pek Soh-ciu melihat pada laki-laki besar dengan berewok hitam yang bicara, dia menekan tubuhnya dengan entengnya meloncat melayang, katanya: "Aku memang meloncat kesungai untuk bunuh diri, buat apa anda menolongku!" "Ha, ha ha!" Laki-laki berewok hitam tertawa, lalu berkata, "Huang-ho tidak bertuan, silahkan saja kalau kau mau terjun lagi."

Satu hawa amarah naik dari perutnya Pek Soh-ciu, dia mengangkat alis, berkata dingin: "Sekarang ini aku malah tidak mau mati..." Laki-laki berewok hitam dengan nada dalam berkata: "Di mata orang pintar tidak bisa ada pasir, sahabat jika pura-pura jatuh ke dalam air... he he he, itu namanya cari mati sendiri!" "Hm...!" Pek Soh-ciu berkata angkuh, "kalau begitu, aku terpaksa menerima tantanganmu!" Mendadak... "Tuan Tan, mengapa kau ingin mempersulit orang! Nona menyuruh kau siapkan makanan buat Siauya itu." Pek Soh-ciu mendengar suara itu membalikkan kepala, melihat seorang gadis berbaju hijau berlengan baju ketat, dengan pinggang langsing sedang berdiri menatap Pek Sohciu dengan malu-malu penuh rasa cinta. Di dalam hati Pek Soh-ciu sedikit pun tidak ada perasaan khusus pada wanita itu, tapi saat ini di dalam perutnya, malah seperti ada gulungan hawa panas yang sulit ditahan, di dalam hati dia terkejut sekali, bagaimana pun juga dia tidak mengerti dari mana datangnya bara ini. Dia mengepalkan tangannya, matanya melotot, menggunakan gigi yang putih bersih menggigit bibirnya, dia ingin menggunakan kekuatan-nya memadamkan gulungan hawa panas itu. Tapi laki-laki berewok hitam itu mengira sikapnya seperti melecehkan, mulutnya berteriak marah langsung menyerang dada Pek Soh-ciu dengan telapak tangannya. Pek Soh-ciu sama sekali tidak menaruh hati pada lakilaki berewok hitam ini, telapak tangan kanannya dengan

enteng dibalikan, dan berhasil mengunci pergelangan tangan Laki-laki berewok hitam itu, telapak tangan kirinya bersamaan dipukulkan ke depan, laki-laki berewok hitam itu menjerit ngeri, dan roboh mati di tengah sungai. Terdengar suara teriakan terkejut, berturut-turut keluar tiga orang laki-laki besar berbaju ringkas sambil mengayunkan senjatanya, menyerang ke bagian tubuh Pek Soh-ciu. Pek Soh-ciu seperti telah dikendalikan oleh gulungan hawa panas itu, sepasang matanya seperti mengeluarkan api, ingatannya setengah sadar dia mengeluarkan jurusnya, semua adalah jurus-jurus dahsyat yang mematikan. Para pesilat yang ilmunya biasa-biasa ini, mana bisa menahan serangan yang begitu hebat, hanya dalam waktu sekejap, para lelaki yang ada di atas perahu besar ini semuanya sudah menjadi mayat, tidak satu pun yang tinggal, perahu besar itu jadi tidak ada orang yang mengemudikan, hingga perahu itu akhirnya terdampar diatas satu pulau pasir. Pembunuhan ini sangat keji, tapi dia seperti masih belum puas, sekali bersiul panjang seperti naga, dia berkelebat menerjang masuk ke ruang perahu. Mendadak dua buah pedang tajam dari kiri kanan pintu ruangan menyerangnya, Pek Soh-ciu tertawa keras, sepasang telapak tangannya di ayunkan kearah kiri dan kanan, dua orang remaja putri yang memegang pedang, sudah ditotok roboh olehnya. Di dalam ruangan perahu, ada satu ruangan yang diatur dengan mewah, di atas ranjang mewah di sebelah kanan, duduk seorang wanita cantik berbaju kuning yang seperti telah mengenal nya.

Wajahnya berbentuk kwaci, bemulut kecil munggil, sepasang alis yang melengkung di hiasi dengan sepasang mata yang penuh dengan kepintaran. Tubuhnya kecil munggil, seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, hampir tidak ada saru bagian pun yang tidak indah, kecantikannya bisa membuat orang tergila-gila, saking cantiknya membuat orang tidak berani menatapnya. Apa lagi penampilan dia yang menampilkan keanggunan alami, samar-samar mengandung keanggunan yang tidak bisa dilecehkan. Walau Pek Soh-ciu sedang tersiksa oleh gulungan hawa panas yang membakarnya, tetap saja tertahan oleh keadaan yang tidak ada bentuknya ini, dia dipaksa menghentikan langkah-nya dalam jarak beberapa kaki. Nona baju kuning yang seperti pernah dikenal itu, dalam matanya tampak satu perasaan cinta yang besar, menatap Pek Soh-ciu beberapa saat, lalu berkata: "Orang yang membunuh harus mati, hukum tidak pandang famili, walau kau ada kesulitan yang tidak bisa diutarakan, juga tidak bisa sembarangan membunuh orang yang tidak berdosa!" Beberapa kata-kata ini, suaranya seperti suara kicauan burung Huang-eng, malah ada tekanan seperti seberat puluhan ribu kati, dalam sisa kesadaran yang belum hilang, membuat hati Pek Soh-ciu tergetar. Tapi begitu sorot matanya kembali menatap pada tubuh yang menggiurkan itu, gulungan hawa panas di perutnya seketika membakar habis pertahanannya, seperti gunung meletus langsung membakar seluruh wilayah yang terlanda oleh hawa panas yang bergolak, membuat seluruh kesadarannya hilang, sehingga tenggorokannya mengeluarkan satu auman seperti

binatang liar, dia meloncat menerkam tubuh yang menggiurkan diatas ranjang itu. Bersamaan itu suara geledek yang sangat keras mendadak terdengar di atas langit, hujan angin, tanpa ampun menyapu pulau pasir yang tenang ini... Perahu besar bertiang layar ganda ini, sepertinya lulak bisa menahan hujan angin ini, perahunya bergetar dengan kerasnya, diiringi suara rintihan terputus-putus vang membuat darah orang yang mendengar jadi bergolak. Akhirnya, angin berhenti hujan pun reda, dunia kembali hidup, tapi, di pulau pasir ini, di perahu besar ini, inilah tampak berantakan seperti terkena mala petaka, dan di atas ranjang mewah itu, ada noda darah dimana-mana, membuat orang sekali melihatnya akan terkejut. Di atas ranjang tergeletak satu tubuh telanjang yang putih seperti susu kambing, tusuk kondenya terlepas membuat rambutnya jadi berantakan, wajahnya pucat putih, hujan angin yang tanpa perasaan sudah membuat bunga yang cantik ini, mendapatkan luka yang tidak ringan, tapi sikapnya, malah begitu tenang, sepasang mata cantik yang berlinang air mata masih menyorot kasih yang tidak terhingga. Pek Soh-ciu telah mengeluarkan gulungan hawa panas di dalam perutnya, dia sudah kembali menjadi tenang, tapi juga merasakan keletihan yang tiada taranya, lama... dia kembali sadar, setelah melihat dengan jelas kenyataan yang telah dia perbuat, kenyataan ini begitu keji, hampir membuat dia tidak percaya alas kenyataan yang sudah terjadi, namun kenyataan tetap adalah kenyataan yang tidak bisa dihapus, dia terkejut, marah, merasa bersalah, seperti gelombang-gelombang senjata tajam, tidak hentihentinya menyerang kearah dada-nya...

Dia tidak bisa membela dirinya, juga tidak ingin memaafkan perbuatannya yang sangat kejam, dia mengangkat kepalanya bersiul panjang, menyatukan dua jari seperti pisau, ditotokan pada jalan darah kematian di atas kepalanya. Tapi tiba-tiba..... "Berhenti." Sebuah teriakan merdu terdengar, laksana bedug malam lonceng pagi, yang mengandung tenaga getaran yang tidak bisa dibayangkan, Pek Soh-ciu merasakan hatinya tertegun, tanpa sadar menurunkan tangannya. Mulut munggil suara itu sedikit mencibir sepasang matanya melotot, dengan sangat tenang dia berkata: "Kau ingin mati?" "Benar, aku sudah tidak ada muka lagi hidup dunia." "Kau kira dengan demikian akan membersihkan dosadosamu?" "Aku seratus menebusnya....." kali mati pun tidak akan bisa

"Hm... tidak salah kata-katamu, jika kau tidak membunuhku, aku akan memberi satu balasan yang sangat keji padamu." "Balasan apa pun, aku rela menerimanya." "Apa perkataan ini sungguh-sungguh?" "Aku tidak pernah berkata main-main." "Hm...!" setelah tertawa sinis dia melanjut-kan, "Seorang penjahat yang sembarangan membunuh orang tidak berdosa, memperkosa wanita yang lemah, juga berani mengatakan tidak pernah berkata main-main!"

Pek Soh-ciu mengeluh panjang sekali: "Kesalahan besar sudah terjadi, seratus mulut pun tidak bisa membelanya, aku hanya berharap nona dengan cepat bisa memberikan kematian padaku....." "Hm... tidak semudah itu, aku ingin membuatmu bersemangat dan mendapatkan siksaan keji yang tidak bisa diterima oleh manusia, hingga akhir hayatmu." Hati Pek Soh-ciu tergetar, dia tidak menduga wanita ini bisa mempunyai hati sekejam ini, tapi dia memang telah menghancurkan hidupnya, dia ingin membalas dengan cara apa, sepertinya juga tidak keterlaluan. Dia masih berpikir, telinganya mendengar lagi satu bentakan: "Balikan tubuhmu." Dia menurut, dia menghadap ke sungai yang mengalir deras, tidak tahan di dalam hati timbul perasaan sedih melihat air sungai mengalir ke timur, melihat manusia mati, tentu saja, dengan ilmu silat yang dimilikinya, tidak sulit untuk dia untuk pergi begitu saja, kalau ingin membunuh orang menutup mulut, juga dia bisa dengan mudah melakukannya. Namun sebagai keturunan dari Sin-ciu-samcoat, harga diri, semangat berjuang, walau mengalami seratus kali mati, juga tidak bisa melakukan hal seperti yang tidak ada perikemanusiaan. Berpikir sampai disini, tidak tahan dia mengeluh panjang. Mendadak, satu bayangan hitam mendatangi, terbang menuju dia, dengan tanpa perasaan dia menangkapnya, ini adalah bungkusan kain berwarna hitam, dia membukanya dan melihatnya, terlihat di dalamnya ada satu baju panjang putih seputih salju, dan satu stel kaos kaki putih sepatu merah, tidak sadar dia jadi tertawa pahit tanpa suara.

Baru saja selesai mengganti baju lamanya yang robek dan kotor, gorden sudah ada yang membuka, masuk seorang wanita berbaju kuning dengan rok panjang sampai menyentuh tanah, wajahnya dingin seperti salju, sepasang matanya bersinar seterang bulan, hidung sedikit diangkat, mengeluarkan satu suara dengusan dingin berkata: "Seorang Siauya yang tampan sekali, hanya sayang adalah seorang yang berbaju..." "Prajurit boleh dibunuh tidak boleh dihina, Pek Soh-ciu walau telah berbuat salah pada nona, tapi diriku sendiri juga seorang korban!" "Ooo, kalau begitu, aku telah salah menuduhmu!" "Hai..." "Kau telah mendapat kecelakaan apa? Coba kau katakan.""Aku dilukai orang dengan Ngo-tok-tui-hun-cian......" "Dengan kami......ada hubungan apa?" "Ngo-tok-tui-hun-cian telah dilapisi dengan racun Toanhun-cauw, karena sudah putus harapan, maka aku terjun ke sungai untuk bunuh diri, tidak diduga ditolong oleh nona keatas air......" "Ternyata..... hai..." Si nona mengeluh, lalu melanjutkan perkataannya, "Toan-hun-cauw termasuk racun negatif, orang yang terkena racun ini, jika menekannya dengan tenaga dalam, dan berada di dalam suhu yang lebih rendah dari suhu tubuhnya, maka dia akan menyusup masuk ke jalur air, melalui Ci-tang, lalu masuk ke dalam Tan-tian, dan membuat nafsu birahi yang tidak bisa dikendalikan, haai... mungkin ini adalah takdir...."

"Nona, kau...." Pek Soh-ciu tidak menduga wanita lemah ini, malah mengetahui begitu banyak rahasia ilmu silat. Dia membuka mulut ingin bertanya, akhirnya menahan diri tidak menanyakan. Mendadak wajah Nona baju kuning menjadi dingin lagi katanya: "Tidak peduli kau mengatakan apa, bagaimana pun aku adalah korban yang tidak berdosa......" "Benar, selama aku hidup aku pasti akan membayarnya." "Mengapa! Kau ingin membatalkan janjimu untuk menerima balasan?" Pek Soh-ciu sejenak merasa tidak ada harapan berkata: "Aku tidak bermaksud begitu." "Hm... kecuali kau segera membunuh aku, jika tidak kau akan menerima balasan tanpa batas waktu." "Benar, nona......" "Kau tahu siapa aku?" "Harap nona memberi tahukannya." "Ayahku Su Cong-pit, pejabat istana di ibu kota, kakakku bernama Su Yi, panglima yang berjaga di Tong-koan, namaku Su Lam-ceng, baru kembali dari melancong dengan sepuluh lebih pengawal yang kubawa, tapi semuanya telah habis dibunuh olehmu, walau aku tidak berniat membalas dendam, empat lautan yang begini luas, di mana ada tempat kau bisa berdiri.'" Pek Soh-ciu menekan perasaan marah dan tidak bisa berbuat apa-apa, katanya: "Pembunuh harus mati, itu ada didalam hukum, aku tidak ada niat menghindarnya."

Su Lam-ceng mengeluh: "Dua pelayanku itu, juga tidak lolos dari kekejamanmu." Pek Soh-ciu berkata: "Mereka hanya ditotok jalan darahnya, jiwanya tidak terancam." Habis bicara, dari kejauhan dia mengibaskan telapak tangannya dua kali, tubuh dua pelayan itu bergetar pelan, lalu keduanya bangkit berdiri, ketika mereka melihat Pek Soh-ciu, mereka bersamaan mengeluarkan suara terkejut, dan meloncat kesisinya Su Lam-ceng, melotot sambil mengangkat alis, bersikap seperti akan bertarung mati-matian. Mendadak, terdengar suara derap kuda seperti geledek, debu berterbangan keatas, sepasukan kuda berbaju seragam, dalam sekejap sudah sampai di pulau pasir. Su Lam-ceng sedikit tertegun, dia membalikkan kepala berkata pada seorang pelayan yang ada disisinya: "Su-sik, pergilah lihat apakah kakakku yang datang, katakan saja aku ada disini." Su-sik melirik sekali pada Pek Soh-ciu, saat akan meloncat keluar dari ruang perahu, Su Lam-ceng dengan wajah serius berkata: "Sebelum ada izin dari aku, tidak boleh sembarangan berkata pada kakakku, pergilah." Su-sik mengiyakan lalu lari keluar, dalam waktu sekejap sudah membawa masuk seorang laki-laki berperawakan besar, memakai baju panjang membawa pedang, orangnya sangat gagah, memang tidak salah menjadi seorang yang berbakat sebagai panglima, dia mengangkat alis tebalnya, mata macannya menyapu kesekeliling berkata: "Ceng-moi, ada masalah apa ini?"

"Hm...!" Su Lam-ceng berkata, "Kau punya berpuluh ribu tentara yang langsung dipimpin sendiri, disekitar Tongkoan muncul perampok yang merampok dan membunuh orang, kau juga sama sekali tidak tahu, malah masih ada muka bertanya padaku!" Pek Soh-ciu tidak bisa menahan diri lagi, dia mendadak melangkah maju dua langkah, mengepalkan sepasang telapak berkata: "Aku......" "Yaa!" Su Lam-ceng bersuara sekali, mengulurkan tangan mencegah Pek Soh-ciu berkata: "Toako, aku perkenalkan padamu, ini adalah Pek Sohciu Siauhiap, jika bukan dia datang tepat pada waktunya, kau ini sebagai panglima Tong-koan, juga akan terpaksa mengundurkan diri." Su Yi tertawa keras: "Topi hitam Toako ini tidak penting, hanya saja Li Cukat (Wanita pintar) banyak siasatnya, perhitungannya tidak pernah gagal, mengapa bisa kehilangan tentaranya, dan terkurung di pulau pasir, ini sungguh diluar dugaan kakak." Dia menghentikan bicaranya sejenak, sepasang matanya, mendadak menyorot tajam, pada Pek Soh-ciu membungkuk memberi hormat: "Su Yi dengan tulus sangat berterima kasih atas pertolongan anda, tidak tahu saudara Pek berasal dari mana, datang ke Tong-koan ada keperluan apa?" Wajah Pek Soh-ciu sedikit berubah, di dalam hati berpikir orang-orang pemerintahan, memang matanya seperti senter, dia mungkin sudah melihat sedikit keganjilan

dari tingkah lakunya Sursik dan Hu-cen dua pelayan wanita, maka dengan tertawa terbuka, dia berkata: "Aku tidak bermaksud menutupi kesalahan sebaliknya melaporkan jasa..." Wajah Su Lam-ceng jadi dingin, dia memotong dengari berteriak pelan: "Kau ini mengapa, Pek Siauhiap......" Pek Soh-ciu melihat wajah Su Lam-ceng dingin seperti salju, di dalam hati dia tahu, dia tidak ingin dirinya bisa mati dengan tenang, jika dia telah menyanggupi menerima segala balas dendamnya, terpaksa dia menghentikan pembica-raan yang belum selesai. Saat itu juga Su Lam-ceng telah membalikkan tubuh berkata pada Su Yi: "Pek Siauhiap orangnya bertanggung jawab sekali, karena tidak bisa menyelamatkan orang yang mengawal aku jadi merasa bersalah, tapi Toako menanyakan dia sampai keakar-akarnya, apa tidak takut dianggap tidak sopan?" Su Yi dengan hati terbuka, tertawa sebentar: "Baik, baik, semuanya salah Toako, Pek-heng! Mari, kita kembali ke Tong-koan dulu baru bicara panjang lebar." Dia menuntun tangannya Pek Soh-ciu, segera meninggalkan perahu naik kedarat, berangkat menuju Tong-koan. Di Tong-kuan, di istananya jendral muda ini mengadakan pesta, tapi di dalam obrolannya Su Yi terus memancing, berharap terhadap masalah kecelakaan di pulau pasir, bisa mendapatkan kabar yang lebih jelas lagi, tapi Pek Soh-ciu demi menerima balas dendam Su Lamceng, selalu dengan aa ee, tidak mau menjelaskannya, buat

Su Yi terhadap adik kecilnya yang pintar, setiap bertemu masalah dia bisa mengetahui lebih dulu, sudah menjadi kebiasaannya dia sangat percaya pada adiknya, saat ini pakaian yang dikenakan oleh Pek Soh-ciu, semuanya pakaian laki laki yang disukai oleh Su Lam-ceng, tentu saja dia tidak berani kurang ajar terhadapnya, jika Pek Soh-ciu tidak mau mengatakannya, maka dia juga dengan tertawa menyudahinya. 0-0dw0-0 Waktu cepat berlalu, dalam sekejap sudah tiba musim gugur yang menyebarkan harum wangi buah Kwi-ci, istana jenderal di dekor meriah, tamu memenuhi ruangan, dibawah genderang tambur musik, tiba sepasang pengantin baru. Setelah dua orang pelayan, Su-sik dan Hu-cen memberi hormat pada sepasang pengantin mereka mengundurkan diri, di kamar pengatin yang ditata mewah ini, hanya tinggal sepasang pengantin remaja yang berpakaian pengantin. Orang yang melakukan tebak-tebakan yang salah dihukum minum arak, teriakan gembira meme-nuhi setiap pelosok ruangan, di kamar pengantin dengan lilin merah menyala, malah sunyi tidak terdengar suara sedikit pun. Lama... baru terdengar suara keluhan panjang: "Kau tidak mau mempersunting aku?" "Aku tidak ada maksud itu." "Kalau begitu mengapa kau tidak membuka tutup diwajahku?"

Tanpa perasaan Pek Soh-ciu membuka tutup merah yang menutupi wajah istrinya, matanya sedikit melirik, tidak sadar dia jadi tertegun oleh sebuah wajah cantik yang muncul dibalik tutup merah itu. Setelah melakukan kesalahan besar di pulau pasir di Huang-ho, dia selalu menyalahkan dirinya, selalu tidak berani memandang langsung pada Su Lam-ceng, saat dia melihat lagi wajah yang begitu cantik, dia hampir tidak tahu kaki dan tangannya dimana harus ditaruh. Su Lam-ceng dengan genit tersenyum: "Mengapa, sebab pernah mengalami jadi wajah orang baru kalah oleh orang lama, betulkan?" Wajah Pek Soh-ciu jadi merah, katanya: "Nona secantik dewi, sulit bisa melihat wajah secantik ini di dunia, mana bisa dibandingkan, tapi......" "Tapi wanita lemah yang selalu berada di dalam kamar, tidak bisa mendampingi pendekar besar dunia persilatan?" "Bukan, hanya saja cara nona seperti ini membalas dendam, membuat aku jadi bingung." "Terhadap kehidupan sekarang ini, apakah kau merasa puas?" "Kehidupan seperti ini, memakai baju mewah makanan enak, aku seperti duduk diatas karpet jarum." "Tidak salah, baju mewah makanan enak, seperti duduk diatas karpet jarum, ini hanyalah pembukaan balas dendam." Hati Pek Soh-ciu tergetar: "Tujuan nona adalah menghilangkan tujuan besar hidupku, menjadi budakmu?" "Kau menyesal?"

"Harga yang harus dibayar nona membalas dendam dengan cara seperti ini, bukankah terlalu mahal?" "Hm..., wanita mengikuti seorang sampai akhir hayatnya, kau ingin aku menikah dengan orang lain?" "Ini..." "Sudahlah, kita tidak usah membicarakan ini, aku malah ingin mendengarkan rencanamu, tidak ingin kau kehilangan tujuan besar dan semangat hidup." "Seluruh keadaan diriku, sudah diberi tahukan dengan jujur......" "Terjun ke dalam balas dendam saling membunuh di dunia persilatan, membersihkan dan membalas dendam mengangkat nama baik keluarga, itulah tujuan besar semangat hidupmu!" "Dendam pembunuh ayah, tidak bisa tidak harus dibalas, apa lagi aku berada di dunia persilatan, bagaimana bisa tidak mempedulikan kekacauan dan mala petaka yang terjadi di dunia persilatan?" "Kau merasa seorang diri kau mampu menyelamatkan keributan dunia persilatan?" "Manusia berusaha, langit yang menentukan, aku hanya berusaha melakukan semampu diriku." "Hm..., Cukat Liang seumur hidupnya berhati-hati, juga tidak luput mengalami kegagalan di Kie-teng, keberanian seorang manusia biasa, mana bisa selalu berhasil!" "Maksud nona adalah......" "Aku ingin kau memperdalam dulu ilmu silatmu, setelah rencananya matang, baru bergerak."

"Apa nona tidak ingin membalas dendam lagi?" Tanya Pek Soh-ciu "Siapa bilang? Ini juga salah satu cara membalas dendam." Terhadap nona bangsawan yang kelihatannya lemah sampai menangkap ayam juga tidak bisa, sungguh dia tidak bisa menebak dengan betul tujuan isi hatinya, terpaksa dengan sedih mengeluh: "Baiklah, tidak peduli apa tujuan nona, aku hanya bisa menuruti apa maumu saja." "Itu baru betul." Pelan-pelan Su Lam-ceng bangkit berdiri, dari satu peti kayu merah bunga, dia mengeluarkan satu dus sutra yang indah, setelah membuka tutup dus dengan jari munggilnya, menjepit keluar satu botol kecil giok warna putih, dia memberikan botol kecil itu pada Pek Soh-ciu berkata: "Bukalah, lalu makan." Pek Soh-ciu merasa aneh berkata: "Apa isi didalam ini? Nona." Alisnya diangkat, mata melotot memberi dia satu pandangan mata putih yang menggiurkan berkata: "Obat racun." "Asalkan perintah nona, walau pun naik ke gunung pisau, turun ke dalam katel minyak, aku juga wajib melakukan, tidak bisa menolak, apa lagi hanya sebotol obat racun." Dia membuka tutup botol giok, tidak peduli itu adalah racun yang bisa menembus usus merobek perut, langsung dihirupnya sampai habis, tapi baru saja masuk ke mulut terasa ada bau wangi, jelas itu adalah obat, mana mungkin racun! Dia jadi bingung berkata:

"Sebenarnya apa ini? Nona." Su Lam-ceng tersenyum menekan bibir: "Ini adalah sari Leng-san-giok-ki (Giok susu dari gunung kepintaran) dari See-ih (Tiongkok barat), kalau iiiang biasa yang memakannya bisa memperpanjang umur, kalau orang yang berlatih silat jika memakannya, bisa melancarkan jalan darah bagian bawah dan atas, membuat jalan darah Jin dan Tok tembus......" Pek Soh-ciu terbengong berkata: "Benda yang sangat berharga ini, mengapa nona ingin aku memakannya?" "Balas dendam!" "Kek, kek, ini jadi membuat aku seperti berada di kabut sepanjang lima lie, sungguh tidak tahu di mana timur, barat, selatan, utara." Wajah Su Lam-ceng mendadak berubah kembali, dengan wajah serius berkata: "Dengar, pertama, kuberi waktu sepuluh hari untukmu, melancarkan jalan darah atas dan bawah, menembus jalan darah Jin dan Tok." Pek Soh-ciu tertegun berkata: "Ini juga balas dendam?" "Bagaimana kau tahu ini bukan?" "Baiklah, aku akan berusaha sebisanya." "Kedua, mulai dari sekarang, tidak boleh lagi memanggil aku nona, kau sendiri juga tidak boleh menyebut diri hamba." "La......lalu panggil apa?"

"Kapan kau pernah mendengar suami memanggil istrinya nona, dan menyebut diri sendiri hamba?" "Ini hanya cara no......kau balas dendam, bagaimana bisa dihitung benar-benar suami istri?" "Hm... tidak peduli benar atau tidak balas dendam, bagaimana pun kita telah melalui perintah orang tua, dihubungkan oleh mak comblang dan lalu menjadi suami istri, tentu saja harus dianggap benar-benar suami istri." "Perintah orang tua......" "Walau ayahku jauh ada di ibu kota, dengan pos kilat, kurang lebih sebulan sudah bisa sampai, apa kau tidak percaya?" "Ini......" "Masih ada, ketiga, seluruh keluargaku semuanya orang terpelajar, atas kedudukannya tidak satupun yang buta huruf, mulai hari ini kau harus masuk sekolah giat belajar, musim semi tahun depan pergi ke ibu kota ambil ujian." "Apa? Kau ingin aku belajar menulis, mengambil ujian?" "Tidak salah? Apa ini tidak bagus?" "Kek, no......Lam-ceng, aku tidak ada niat duduk di pemerintahan, buat apa kau mempersulit orang!" Su Lam-ceng memelototkan mata cantiknya: "Di bawah sinar bulan membaca puisi, naik kuda sambil baca buku, wanita cantik menemani minum arak, sambil mendengarkan musik minum minum, begitulah hidup yang menyenangkan, kau malah ingin makan ditempat terbuka kalau hujan kehujanan, berkelana di dunia persilatan, seharian berada di dalam situasi berbahaya balas membalas dendam saling membunuh, haai... kalian ini para orang dunia persilatan, sungguh membuat orang tidak mengerti."

Pek Soh-ciu mendengarnya sampai hati tergetar, di dalam hatinya berkata, 'benar saja di dunia ini yang paling beracun adalah hati wanita', malah akan menguning aku di dalam sangkar mas, jadi boneka permainan dia, tidak tahan dengan mendengus berkata: "Aku memang orang bertulang hina, tidak pantas menjadi boneka hidup jadi permainan yang menggembirakan orang." Su Lam-ceng mengeluh sedih, melangkah maju, menggunakan tusuk konde membuang sumbu lilin merah, sesaat dia mengangkat alis hitam, menatap Pek Soh-ciu, katanya: "Menikah dengan ayam turut ayam, menikah dengan anjing turut anjing, baik, aku ikut kau pergi." Pek Soh-ciu mendengarnya jadi tertegun, hampir tidak percaya pada telinga sendiri, lama, baru menggelengkan kepala berkata: "Dunia persilatan adalah tempat yang sangat berbahaya, bukanlah tempat baik untuk wanita lemah sepertimu yang selalu tinggal di dalam kamar!" Su Lam-ceng mencibirkan bibir: "Mengapa? Lupa lagi janji yang telah kau sanggupi?" "Apakah ini juga dianggap balas dendam?" "Bisa dikatakan begitu." Satu keluhan panjang tanpa berucap, mengakhiri perbincangan panjang di malam ini, sepuluh hari kemudian, di jalan raya Koan-lok, berlari datang empat kuda besar, yang memimpin adalah seorang remaja berbaju putih dengan alis tebal naik keatas, sepasang mata bersorot seperti kilat, angin jmusim gugur yang bertiup kencang, meniup

jubah putih peraknya, melarikan kuda melawan angin, tampak gagah sekali. Disisi dia adalah nyonya muda yang masih remaja dengan sanggul rambut tinggi, penampilannya anggun sekali, memakai baju berwarna kuning angsa, menutupi tubuhnya yang langsing seksi, kelihatannya sedikit lemah lembut, tapi dia berkuda beriringan dengan remaja berbaju putih, tetap bisa dengan santai mengendalikannya, apa lagi di dalam tingkah lakunya, sangat alami tampak sangat anggun, bisa membuat orang tanpa sadar, langsung timbul perasaan menghormatinya. Di belakang mereka berdua, adalah sepasang pelayan kecil berbaju putih alami, di punggungnya terselip pedang panjang, ikut melarikan kuda, gerakannya tampak sangat cekatan. Sinar mentari sore, menyorot miring wajah cantik wanita berbaju kuning, diantara alis dia, tampak sedikit warna lelah, dia melihat sebentar ke langit, membalikan kepala berkata pada remaja berbaju putih disisinya: "Soh-ciu, sebentar lagi matahari terbenam waktu nya masak nasi, gunung dikejauhan seperti hitam semua, pemandangan sore hari di musim gugur, sungguh memikat orang." Remaja berbaju putih adalah Pek Soh-ciu, sedang remaja wanita baju kuning tentu saja adalah Su Lam-ceng. Suasana sore ini bagi Pek Soh-ciu seperti tidak ada gairah untuk menikmati nya, dia hanya sedikit mengerutkan alis, di hidungnya mengeluarkan suara pelan. Su Lam-ceng tersenyum pada dia berkata: "Hatimu seperti penuh dengan kesedihan, tampaknya belum sampai kau menentukan arah, mungkin kau sudah terjerumus kedalam lumpur dan tidak bisa bangkit lagi."

Pek Soh-ciu dengan tawar berkata: "Pek Soh-ciu berdosa dan sedang menerima hukuman, ada keputusan apa yang perlu dipikirkan, tapi dunia persilatan ini banyak jebakannya, hati manusia seperti musang, jika kalian majikan dan pelayan sampai terjadi kecelakaan, Soh-ciu semakin malu hidup didunia." Su Lam-ceng dengan wajah serius berkata: "Kalau demikian, demi menerima hukuman, kau tidak peduli lagi pada balas dendam orang tua, dan tidak peduli lagi atas gejolak dunia persilatan?" Pek Soh-ciu tertegun: "Apakah mungkin kau bisa......" "Tidak salah, aku izinkan kau membalas dendam, tapi tidak boleh melibatkan diri pada gejolak dunia persilatan lainnya." "Apa kata-katamu sungguh sungguh?" "Walau pun bukan seorang laki-laki, tapi terhadap menepati janji dan kepercayaan, tidak akan sampai kalah oleh laki-laki sejati." Perkataannya berhenti sebentar: "Tapi di jalan raya Koan-lok ini, halangan sudah tersebar dimana-mana, walau kau berilmu tinggi, mungkin juga sulit bisa menghadapinya." Pek Soh-ciu mendadak menengadahkan kepalanya, tertawa keras: "Jika Pek Soh-ciu bisa membalaskan dendam keluarga, di atas jalan raya Koan-lok walau sudah disiapkan gunung golok, pohon pedang, aku juga akan berusaha melabraknya, tapi......"

"Kau curiga aku yang lemah ini, bagaimana bisa tahu masalah dunia persilatan?" "Pek Soh-ciu memang ada pikiran ini." "Apakah kau tahu manusianya tidak bersalah, salahnya memiliki pusaka?" "Orang she Pek kecuali punya satu bor, satu pedang, bisa dikatakan tidak ada barang lainnya yang berharga." "Im-cu-kiam, salah satu pedang pusaka, Pouw-long-tui, lebih-lebih adalah pusaka tiada duanya, di dunia persilatan lebih banyak orang yang melihat keuntungan, lupa akan kesetia kawanan, lebih baik kau tingkatkan kewaspadaanmu." Terhadap analisa Su Lam-ceng, walau dia merasa masuk akal, tapi dengan sifatnya yang tidak mau mengalah, mana mungkin bisa memperhatikan masalah ini! Hanya dengan mendengus pelan dia berkata: "Orang tidak mengganggu aku, aku tidak mengganggu orang, jika ada siapa yang tidak mempunyai mata......" Perkataannya mendadak berhenti, tiba-tiba dia membalikan tangannya, satu tenaga sekuat geledek, dipukulkan pada satu pohon besar yang berada dua tombak lebih disisinya. Semenjak berhasil melancarkan jalan darah Jin dan Tok, ini adalah pukulan pertamanya, walau dia hanya menggunakan tenaga sebesar tujuh puluh persen, tapi kekuatan tenaga telapaknya, seperti merobek langit, di dalam gulungan angin, melayang satu bayangan orang berwarna abu-abu, tubuhnya jatuh ke bawah, sempoyongan mundur beberapa langkah, baru bisa berdiri memantapkan diri.

Su Lam-ceng melihat pada orang itu, tidak tahan hatinya jadi ciut, dengan ketakutan berdiri disisi Pek Soh-ciu, kepalanya menunduk rendah, tidak berani mengangkat kepala lagi. Ternyata orang ini sepasang matanya berlubang, hanya dua lubang yang tidak ada bola mata, malah pipi tajam hidung bengkok, sepasang bibir terbalik keluar, menampakan dua buah taring besar berwarna kuning hitam, wajahnya bengis, jelek sekali, walau Su Lam-ceng berpengetahuan tinggi, orangnya pintar sekali, seluruh tempat ternama di dalam negeri, sering dikunjunginya, tapi mana dia pernah bertemu dengan orang berwajah sebengis ini. Orang aneh berbaju abu-abu itu mendadak mengangkat tangannya yang kurus kering seperti cakar burung, dengan suara aneh yang tidak enak didengar berteriak aneh: "Bocah! Orang tidak mengganggu aku, aku tidak mengganggu orang, kata-kata ini kau yang ucapkan? Aku beristirahat diatas pohon, tidak mengganggu jalan kudamu, tapi pukulan telapakmu hampir saja mencabut nyawa aku orang buta ini, orang yang tidak mempunyai mata, sudah tersiksa oleh cacatnya, malah masih mendapat pandangan rendah dimana-mana, coba kau katakan, tidakkah kau seharusnya bertanggung jawab atas tindakanmu tadi." Pek Soh-ciu melihat torang buta berwajah buruk ini, malah tingkahnya anggun, wajah jujur, tadi dirinya tanpa alasan memukul dia, sungguh merasa salah sendiri, sehingga dengan perasaan bersalah dia meng-hormat: "Tadi aku memaafkan." sembarangan memukul, harap anda

"Hm... setelah memukul, lalu minta maaf padaku, ini sungguh bisnis yang menguntungkan, tidak ada cara lain,

aku juga menurut pukulanku."

resep

mengambil

obat,

terima

Si buta mengatakan pukulan langsung memukul, cepatnya sulit dibayangkan, bayangan abu-abu berkelebat, angin keras mendadak timbul, cakarnya sudah datang menotok jalan darah Im-ku di kakinya Pek Soh-ciu, kecepatan serangannya, ketepatan mengarah jalan darah, sangat di luar dugaan Pek Soh-ciu. Untung saja dalam sepuluh hari di Tong-koan, dengan bantuan khasiat Leng-san-giok-ki, tenaga dalam Pek Sohciu sudah mencapai tingkat kesempurnaan, jika tidak terhadap cakarnya si buta ini, dia pasti tidak bisa mengelaknya. Di saat angin telunjuk menyentuh tubuh, mendadak dia menjejakkan kaki, jubahnya melayang-layang, tubuhnya sudah terbang ke atas meninggalkan pelana kuda, lalu sepasang kaki mengayun, diatas udara menendang dengan kuat ke jalan darah di pundak sibuta. Si buta adalah seorang pendekar aneh yang sudah ternama di dunia persilatan, saat di tendang oleh Pek Sohim dari udara, timbul rasa ingin menangnya, dia cepat menurunkan pundaknya, tangan ditekan meloloskan diri dari tendangan Pek Soh-ciu, lalu dia membalikkan telapak kanan, dipukulkan ke jalan darah Cau-hai di kaki Pek Soliciu. Pek Soh-ciu berputar di udara, tubuhnya melayang turun satu tombak lebih diluar jangkauan si buta, lalu mengepal sepasang tangan, sedikit membungkuk berkata: "Sekarang kita sudah tidak punya hutang piutang, anda bisa kembali keatas pohon beristirahat."

"Ha ha ha!" si buta tertawa keras, "Boleh tahu, apakah saudara kecil adalah Pek Siauhiap yang membuat ribut di kuil Siau-lim, dan bertarung melawan Lo-han-tin?" Pek Soh-ciu tertegun: "Benar aku adalah Pek Soh-ciu, tidak tahu anda ada urusan apa?" "Aku Ku-bok-it-kai (Pengemis buta), mendapat perintah dari Pangcu perkumpulan kami Sangguan Ceng-hun, untuk menyelidik sekelompok murid penghianat, tiga bulan lalu disekitar Lam-yang, bertemu dengan seorang nona......" "Ooo, apakah nona ini ada hubungannya dengan aku?" "Ada kemungkinan." "Bisakah Cianpwee menceritakan sedikit lebih jelas?" Sepasang lubang matanya Ku-bok-it-kai mendadak membalik, dua sinar tajam menyorot keluar, dia melirik pada Su Lam-ceng, tampak sedikit ragu. Pek Soh-ciu sudah tahu maksudnya, dia tertawa tawar berkata: "Ini adalah istriku Su Lam-ceng, kelakuan aku tidak ada yang perlu disesalkan, Cianpwee ada perkataan apa silahkan katakan saja, tidak apa-apa." "Si buta telah bertemu dengan seorang nona, namanya Siau Yam, dia melanglang buana puluhan ribu lie, hai... seperti terbelit oleh cinta..." "Dia......" Pek Soh-ciu wajahnya tertegun, tidak salah, dia terpikir hari itu karena salah menginap. terjadilah hal yang tidak mengenakan, teringat nona yang ingin menang sendiri itu... tapi masa lalu biasanya tidak enak diingat kembali, dia sendiri hampir saja tewas dibawah telapaknya,

lalu dengan batuk sekali dia berkata: "Aku memang kenal dengan nona ini, tapi kami hanyalah bertemu sekali saja." Ku-bok-it-kai tertawa keras lagi berkata: "Kata-kata Siauhiap, si buta bisa percaya, nona Siau itu mungkin seperti ulat membungkus diri sendiri dengan seratnya, hanya saja dia mencari Siauhiap kemana-mana, si buta akan memberitahukannya sebab sudah bertemu dengan Siauhiap, sudahlah, kita bertemu lagi dilain hari." Perkataannya baru saja habis, tubuhnya sudah meloncat, bayangan abu-abu seperti anak panah, di rerumputan pinggir jalan sekelebat menghilang. Su Lam-ceng melihat kearah menghilangnya bayangan, dia mengeluh: "Benar saja, dunia persilatan yang besar, penuh dengan segala keanehannya, orang ini malah seorang yang purapura buta." Karena tadi Sia-kai menceritakan masalah Siau Yam, didalam hati Pek Soh-ciu jadi merasa sedikit tidak tenang, saat ini dia tidak berani banyak bicara, ujung kaki sedikit dihentakan, maka dia naik lagi diatas kuda, sepasang kaki menjepit perut kuda, mendahului dan menuju jalan raya. Begitu terhambat oleh peristiwa ini, hari sudah jadi gelap, di dalam hati Pek Soh-ciu sudah tahu tidak mungkin mereka bisa sampai ke Han-ku-koan, jadi terpaksa hanya mencapai yang ada tempat menginap di depan sana. Dengan Su Lam-ceng walau sudah menjadi suami istri yang resmi, tapi dia menganggap ini hanyalah cara Su Lamceng membalas dendam, maka dia selalu hanya berpura pura jadi suami, tidak pernah ada pikiran untuk mencumbunya.

Tampat yang menjadi tempat mereka istirahat sementara, adalah tempat istirahatnya para pesuruh dan para pedagang kecil, peralatannya tentu saja sangat sederhana, Pek Soh-ciu dan Su Lam-ceng, Su-sik dengan Hu-cen, masing masing tinggal di satu kamar, di dalam kamar kecuali satu meja dua kursi, dan satu ranjang papan keras yang sempit, tidak ada barang lain lagi, bagusnya Su Lam-ceng walaupun seorang putri bangsawan, tapi terhadap kehidupan berkelana yang situasinya tidak menentu, malah bisa menerimanya dengan tulus. Saat ini sinar bulan menerangi halaman, lampu kamar seperti kacang, angin malam bertiup dingin, sering terdengar suara merintih, keadaannya sungguh menyedihkan. Terhadap ini semua Su Lam-ceng seperti tidak mempedulikan, dia mengganti pakaian dengan pakaian malam, rambut panjangnya yang hitam bersinar, menutup diatas bahunya yang mulus yang seperti minyak kambing, rok panjangnya sampai ke tanah, wajahnya cerah tampak anggun dan sederhana. Dengan wajahnya yang, anggun, cantik seperti dewi, walau pun orang yang pantang terhadap enam nafsu, mungkin juga tidak akan tahan, seperti sumur tua jadi bergelombang, hatinya bergerak, apa lagi sesudah seharian berdampingan dengan dia, demikian juga buat seorang remaja tampan yang gairahnya sedang tinggi! Di antara alis Pek Soh-ciu, sering tampak wajah yang susah menahan diri. Saat ini Su Lam-ceng seperti sengaja memutar tubuhnya, sepasang tangannya memainkan rambut panjangnya, pada Pek Soh-ciu yang sedang bengong dia tertawa pelan dan memikat:

"Soh-ciu, sinar bulan menyinari jendela, suara musim gugur mengejutkan kamar, keadaan ini dan pemandangan ini, tidak heran orang dulu bersemangat sekali membawa lilin melancong di malam hari." "Aaa...! Pek Soh-ciu bersuara, "Ini......kek, benar......" Su Lam-ceng menatap dia dengan tajam, melangkah pelan, mengaet tangan dia duduk berdampingan di sisi ranjang, lalu berkata: "Soh-ciu, suatu kejadian semuanya sudah takdir, kita sudah menjadi suami istri, mengapa kau masih begitu asing terhadapku?" Pek Soh-ciu bengong sesaat dan berkata: "Orang she Pek berhadapan dengan nona cantik seperti dewi, sungguh merasa rendah diri sendiri, apalagi......" Wajah Su Lam-ceng menjadi merah, dengan serius berkata: "Dengan penampilanmu yang tampan dan gagah ini, jika berada di dalam ruangan kuil, bukankah mengambil hio merah semudah mengambil rumput. Mengenai jalan hidup seseorang semua sudah takdir, balas dendamku, juga hanya supaya kau mau jadi seorang suami yang setia." Pek Soh-ciu menatap bengong Su Lam-ceng beberapa saat, mendadak dia tertawa keras, tangannya dengan erat merangkul, dua-duanya berguling di atas ranjang papan, angin kencang masih tetap bertiup, bulan musim gugur menyinari ruangan, di dalam kamar yang sederhana ini, malah terdengar suara-suara yang menggairahkan, yang memabukkan orang. Lama sekali......akhirnya Su Lam-ceng menghela nafas panjang, terengah-engah berkata:

"Ciu koko......" "Ada apa? Adik Ceng." "Kau tahu...... kita...... sebenarnya sudah dua kalinya bertemu?" "Dua kali?" "Kau sudah lupa? Di vihara......" "Ooo! Tidak aneh aku seperti merasa pernah kenal dengan kau, tapi, mengapa kau bisa....." "Gadis telah dewasa tidak bisa tinggal di rumah, seorang gadis jika tumbuh dewasa, harus menikah, betulkan?" "Tentu saja." "Aku belajar buku peramalan, sementara tinggal di vihara hweesio, berlayar di Huang-ho, semuanya berdasarkan dari ramalan di buku peramalan, benar saja dua kali bisa bertemu dergan kau......" Mereka berdua sedang asyik berbincang romantis, di dalam halaman rumput kering itu, terdengar satu suara pelan yang aneh, dengan ilmu silat Pek Soh-ciu seperti sekarang, dalam keadaan bagaimana pun, daun gugur bunga terbang dalam jarak sepuluh tombah, juga sulit lolos dari pendengaran dia, sehingga, dia berbisik pada Su Lamceng: "Adik Ceng! Diluar kedatangan orang jahat, mungkin ditujukan pada kita, kau istirahat disini, biar aku keluar melihatnya." "Mmm." Su Lam-ceng menyahut sekali: "Ciu koko! Kau jangan pergi terlalu jauh, hati-hati penjahat menggunakan siasat menggiring macan meninggalkan gunung."

Pek Soh-ciu berpikir di dalam hati, kata kata ini tidak salah, Su Lam-ceng tidak bisa silat, jika dia sembarangan meninggalkan, bukankah akan memberi kesempatan pada musuh! Maka, dia dengan Su Lam-ceng selesai memakai baju dan sepatu, sambil menuntun tangan dia berkata: "Adik Ceng! Kau takut tidak, kita bersama sama keluar melihatnya, baik tidak?" Dia baru saja selesai bicara, di luar pintu sudah terdengar tawa dingin mengerikan berkata: "Gadis kecil! melindungimu." Jangan takut, Sun Tay-ya akan

Pek Soh-ciu mengangkat alisnya, sebuah tendangannya menerbangkan daun pintu, lalu menuntun Su Lam-eeng meloncat dan berdiri di tengah halaman, tapi ketika matanya menyapu ke sekeliling, dia tidak bisa melihat sekelilingnya. Di dalam halaman yang penuh dengan rumput liar ini, berdiri puluhan orang persilatan yang berpakaian macammacam, dua pelayan Su-sik dan Hu-cen, telah berada dalam cengkraman mereka, Pek Soh-ciu yang belum lama menginjakkan kaki ke dunia persilatan, tidak kenal pada kawanan orang persilatan ini, walau pun mereka adalah penguasa setempat, dia sedikit pun tidak takut, hanya saja dengan ditawannya Su-sik dan Hu-cen, dia jadi tidak bisa bebas bertindak. Saat ini seorang sastrawan setengah baya yang tubuhnya tinggi kurus, berwajah dingin licik, melenggang kehadapan Pek Soh-ciu, berkata: "Apakah kau orang she Pek?" "Betul, kalian ada urusan apa?" "Heh......hanya ingin berunding saja."

"Dengan cara apa berundingnya? Aku ingin mendengar penjelasannya." "Mudah sekali, asalkan anda mengeluarkan Pouw-longtui, biar kami semua melihatnya." "Benar, memang mudah sekali, tapi kita belum pernah kenal, jika ingin berhubungan, anda juga harus memperkenalkan diri dulu pada aku orang she Pek." "He he......betul juga, lo......" Dia pertama menunjuk hidungnya sendiri berkata, "aku......he he, Pek-san-han-tiok (Gunung putih bambu dingin) Sun San-yat, yang itu adalah ketua perkumpulan Ci-yan Oh-siucay (Sastrawan jelek) Liu Giauw-kun, Giam-ong-leng (Perintah raja neraka) Sai Hong, Sai Tayhiap, Kau-gick-hoan (Gelang cantik giok) nona Ku Cu, pendeta To Cu-koan dari gunung Cengseng...... silahkan kalian berakrab-akrab." Pek Soh-ciu mendengar dia melaporkan begitu banyak orang, dia merasa sangat tidak sabar, katanya: "Sepasang pendekar dari Say-gwa (luar perbatasan), satu pendeta To dari Ceng-seng, ditambah satu raja neraka, seekor walet ungu, komposisinya memang sangat besar, hanya sayang kalian tikus-tikus satu sarang ini, masih belum pantas melihat Pouw-Iong-tuiku!" Pek-san-han-tiok katanya: Sun San-yat membentak marah

"Bocah, aku sudah memberi muka, kau masih tidak mau, Tay-ya terpaksa menghabisimu." Orang ini adalah Sun San-yat, dengan Kau-giok-hoan Ku Cu, disebut sebagai Say-gwa-siang-hiap, ilmu silatnya memang tidak bisa dianggap enteng, baru saja selesai membentak, tubuhnya mendadak seperti elang putih menerjang langit, sebatang Han-tiok berwarna hijau

membentuk bayangan tongkat memenuhi langit, dengan kekuatan seperti Tay-san menindih telur bergerak memukul ke arah kepala. "Hm...!" Pek Soh-ciu berkata tawar, "Kau tadi menghina istriku, harus menerima hukuman putus tangan......" Sinar putih mendadak keluar memancar, Im-cu-kiamnya bergerak secepat angin kencang, begitu menerjang langsung sudah kembali, cepat laksana kilat, terlihat Sun San-yat menjerit ngeri, tubuhnya yang seperti bambu dengan bercucuran darah melayang jatuh satu tombak lebih. Gerakan Pek Soh-ciu begitu cepat, jago-jago silat dari aliran putih mau pun hitam di lapangan sampai tidak sempat melihat jelas, bagaimana jurus pedang Pek Soh-ciu menerjang, tahu-tahu sudah kembali. Sun San-yat yang namanya sangat termasyur dikalangan aliran hitam, sudah menjerit kehilangan tangannya, darah bertebaran di rumput liar. Jurus pek Soh-ciu ini menimbulkan pengaruh besar, ibarat membunuh ayam memperingati monyet, para pesilat tinggi dunia persilatan yang berniat tidak baik, warna wajahnya langsung berubah, tapi ketua perkumpulan Ciyan Oh-siucay Liu Giauw-kun malah melangkah maju dua langkah, dengan wajah licik dia tertawa: "Ilmu silat Siauhiap hebat sekali, aku... sangat mengaguminya he he he, tapi, sepasang kepalan sulit melawan empat tangan, pesilat tinggi tidak bisa menahan orang banyak, jika istri anda mendapat sedikit saja kejutan, bukankah Pek Siauhiap akan menyesal seumur hidup!" Sungguh Liu Giauw-kun licik seperti musang, hanya dengan beberapa kata, dia sudah menunjukan kelemahannya Pek Soh-ciu, membuat warna wajahnya

bembah beberapa kali, dalam waktu sesaat, merasa sudah maju mau pun mundur. Giam-ong-leng melanjutkan: Sai Hong juga dengan dingin

"Tidak salah, walau kami tidak bisa mengalah-kanmu, kau juga mungkin sulit melindungi istrimu yang cantik, jika ada orang dengan kasar meraba dia. He he he, kau merasa sakit juga sudah tidak berdaya." Mata Pek Soh-ciu menyorot sinar sadis dengan kesal berkata: "Tadinya aku tidak ada niat membunuh orang, jika kalian terus memaksa......" Semenjak Su Lam-ceng mengikuti Pek Soh-ciu meloncat ke halaman, dia selalu bersembunyi di belakang tubuh Pek Soh-ciu, hatinya tidak tenang melihat pada para pesilat tinggi dunia persilatan ini, tapi saat ini mendadak dia berdiri tegak disisi Pek Soh-ciu, sepasang matanya yang seterang bulan di musim gugur menyapu ke sekeliling, sikapnya tampak tenang sekali. Dia seperti bulan terang di langit yang sinarnya menyorot ke segala arah menerangi seluruh lapangan lebihlebih sepasang matanya yang hitam putihnya terlihat jelas seperti lautan yang dalam dan matahari musim dingin di dalam awan, membuat orang yang melihat sorot matanya tidak bisa dialihkan lagi. Dalam kelompok para pesilat tinggi dunia persilatan, pendeta To Cu-koan dari Ceng-seng yang ilmu silatnya paling tinggi, ketabahan dan pendidikan-nya juga lebih dari pada orang biasa, tapi saat matanya menatap pada matanya Su Lam-ceng, tetap saja tidak tahan, matanya terasa silau, hatinya bergejolak, tidak berani melihat lagi.

Ini adalah situasi yang sulit bisa dipercaya orang, puluhan pesilat tinggi dari kedua aliran, aliran putih dan aliran hitam, semuanya terpesona oleh kecantikannya Su l.am-ceng, seluruh lapangan hening, hampir tidak ada seorang pun mau menghela nafas. Sorot mata Su Lam-ceng menyapu lagi ke sekeliling lapangan, akhirnya berhenti dan menatap pada seorang ketua cabang perkumpulan Ci-yan yang menawan Su-sik dan Hu-cen berkata: "Dua pelayan wanitaku, sekali pun tidak pernah bertemu dengan kalian, kalian adalah orang-orang yang ternama, mana boleh melakukan tindakan menghina orang lemah seperti ini!" Dia mengatakannya dengan santai saja, tapi seperti ada kekuatan gaib yang besar sekali, siapa pun orangnya setelah mendengarkan, semua merasa melepaskan dua pelayan wanita itu adalah hal yang pantas, tentu saja dua orang kepala cabang itu dengan tanpa ragu menepuk membebas kan jalan darah dua pelayan wanita itu, masih berkata: "Silahkan nona." Lalu membiarkan mereka berdua dengan tenang pergi meninggalkannya. Su Lam-ceng tertawa ringan, dia membalikkan tubuh berkata pada Pek Soh-ciu: "Qiu koko! Mari kita pergi." Tapi begitu dia memanggil Qiu koko, seperti satu suara guntur menggelegar, semua para pesilat tinggi dilapangan hatinya bergetar, mereka segera sadar kembali, dan timbul amarah yang tidak tahu ujung pangkalnya, dengan cepat menyebar ke seluruh lapangan, semuanya berteriak, bersamaan maju men-desak mereka.

Yang pertama berteriak adalah Giam-ong-leng Sai Hong berkata: "Mau pergi boleh, tapi harus tinggalkan barang!" Su Lam-ceng memutar tubuhnya berkata: "Kau mau apa?" Begitu mata Sai Hong bertatapan, amarahnya segera menghilang entah kemana, sesaat baru berkata: "Kami sudah mencari puluhan ribu lie, tujuan-nya adalah melihat pusaka dunia persilatan......Pouw-Iongtui......" "Kalian ingin lihat Pouw-long-tui?" "Pusaka alam, siapa pun tentu ingin sekali melihatnya." "Tapi pusaka alam, jugg paling mudah menyesatkan pikiran orang, menambah nafsu serakahnya, kalian lebih baik jangan melihatnya." "Ini......" Mendadak terdengar satu suara aneh dari kaki langit di kejauhan, seluruh pesilat tinggi di lapangan, semua merasakan hatinya bergetar, situasi yang ribut ini, segera menjadi tenang. Suara aneh itu mendadak berhenti, di pintu halaman muncul seorang gadis bertopeng hitam, sambil melenggok dalam sekejap dia sudah berdiri di depan Pek Soh-ciu kurang lebih lima kaki. Mata cantik di belakang topeng hitam berputar, menyapa pada para pesilat di sekeliling, lalu menatap pada Pek Sohciu, lalu berkata: "Apa kau muridnya Sin-ciu-sam-coat, Pek Soh-ciu?" "Hm...!" Kata Pek Soh-ciu, "Tidak salah."

"Aku ingin meminjam Pouw-long-tui." "Maaf, aku belum ada minat meminjamkan pada orang lain." "Hm... sebagai ketua perkumpulan kata-kataku adalah perintah, sekarang ini belum ada seorang pun yang berani membantah perintah aku!" "Yaaw...." Su Lam-ceng berteriak, lalu mengulurkan tangannya, menunjuk ke lapangan: "Kau sombong benar, apakah semua orang-orang mi juga harus mendengar perintahmu?" Wanita berbaju hitam itu tertawa dingin seperti es, pelanpelan mengulurkan tangan yang berwarna putih seperti giok, mendadak menjentik-kan jarinya, seorang pesilat tinggi dari perkum-pulan Ci-yan yang berdiri satu tombak lebih, langsung berteriak ngeri, roboh terlentang jadi mayat di atas rumput, seluruh pesilat tinggi di lapangan, walau wajahnya berubah, tapi semua diam ketakutan, siapa pun tidak berani mencari gara-gara pada wanita berbaju hitam. Su Lam-ceng memutar matanya, tertawa tawar lalu berkata: "Tidak di duga, di dalam dunia persilatan, kebanyakan adalah orang hanya berani menghina yang lemah, takut pada yang kuat, orang-orang yang takut mati......" Orang yang dibunuh oleh wanita baju hitam adalah anak buahnya perkumpulan Ci-yan, Oh-siucay Liu Giauw-kun masih belum bereaksi, malah Giam-ong-leng Sai Hong yang berteriak lebih dulu, maju beberapa langkah, gada mas di tangannya di angkat sambil berkata:

"Membunuh orang bayar nyawa, hutang uang bayar uang, Sai Hong ingin minta keadilan pada ketua perkumpulan Cu." Wanita baju hitam mendengus sekali: "Bagus, bagus, pemberani." Mendadak dia melayangkan tangan kebelakang, "keluarkan satu matanya, putuskan satu lengannya, sebagai peringatan menentang aku." Di belakang tubuhnya entah kapan, sudah berdiri 4 orang bertopeng hitam, seorang bertopeng hitam yang tubuhnya kurus kecil menyahut lalu meloncat keluar, mengulurkan sebelah tangan menangkap pada gada mas Sai Hong. Orang ini menyerang laksana kilat, begitu tubuhnya bergerak, lima jari seperti kail sudah menyentuh pinggir gada mas. Sai Hong terkejut, lengan kanannya cepat diturunkan, ujung kaki dihentakan, tubuhnya terbang mundur kebelakang, baru lolos dari cakaran ringan si orang topeng hitam. Tapi Orang bertopeng hitam gerakannya cepat sekali, sebelum Sai Hong berdiri mantap, orang bertopeng hitam sudah seberti bayangan datang menerkam kembali. 6 0-0dw0-0 BAB 2 Putra-putri dunia persilatan Sai Hong terkejut, dia tidak menduga dalam satu jurus saja, dia sudah tertekan tidak bisa membalas menyerang oleh orang bertopeng hitam, dalam keadaan marah sekali

dan menggigit gigi, gada emasnya segera dilemparkan olehnya, lemparannya menggunakan seluruh tenaganya, terlihat sinar mas berputar-putar cepat, mengeluarkan siulan yang membelah udara, dan dahsyat sekali. Orang bertopeng itu tidak menduga Sai Hong bisa melemparkan senjata andalannya, sesaat dia dibuat kalang kabut, tapi ilmu silat orang ini memang hebat, dalam waktu yang sempit, dia merendahkan tubuhnya, tangannya memukul, meski tergesa-gesa memukul dengan sebelah tangan, terdengar satu suara keras, senjata tunggal Sai Hong yang menggemparkan dunia persilatan itu, sudah terpukul terbang sejauh tiga tombak lebih. "Sobat, masih ada ini." Tiga titik bayangan hitam melesat, seperti meteor mengejar rembulan, menuju dada orang bertopeng, dan titik yang dituju bayangan hitam itu, semuanya jalan darah penting yang begitu terkena paling sedikit akan terluka parah atau mati. Hati orang bertopeng itu tergetar, dia tahu bayangan hitam itu adalah senjata gelap Giam-ong-leng andalannya Sai Hong yang telah mem-buat dirinya ternama di dunia persilatan, walau pun ilmu silat dia hebat, tapi dia tidak berani bertindak sembrono, dia memutar tubuhnya, melangkah ke samping, menghindarkan tiga buah Giamong-leng. Begitu lemparannya tidak mengenai sasaran, Sai Hong mulai merasa ketakutan, dia langsung melayangkan tangan kanan lagi, tiga buah Giam-ong-leng dengan garis melengkung dan kecepatan tinggi, membelah angin menerjang, diikuti dengan ayunan tangan kirinya, enam titik hitam seperti hujan menyebar, mengikuti tiga buah Giam-ong-leng, mengeluarkan suitan, datang menyerang.

Sai Hong bisa ternama di dunia persilatan, memang bukan secara beruntung, cara dia menyerang seperti ini, tiga terbang enam memukul, memang punya kehebatan tersendiri, walau orang bertopeng itu berilmu tinggi, tetap saja tidak bisa menghindar dari serangan Ciam-ong-leng, setelah mengeluarkan satu suara tertahan, dia langsung roboh di atas tanah rumput. Wanita berbaju hitam itu sedikit terkejut, dia tidak mempedulikan hidup mati anak buahnya, sorot matanya malah menyapu pada Sai-wa-siang-sat yang berdiri paling dekat dengan Sai Hong, pendeta To Cu-koan yang mengeluarkan suara dengusan, lalu membalikkan kepala pada tiga orang bertopeng yang berdiri dibelakangnya, dia berkata: "Tiga orang ini berani melihat orang mati tidak menolong, habisi mereka!" Tiga orang bertopeng itu menyahut lalu maju menerjang, mereka sedikit pun tidak bersuara, masing-masing langsung menyerang Sai-wa-siang-sat bertiga, pendeta To Cu-koan tentu saja memandang sebelah mata orang bertopeng itu, tapi Pek-san-han-tiok Sun San-yat lukanya belum pulih, mana bisa melawan orang bertopeng, walau pun sudah sekuat tenaga bertahan, tetap saja dia kewalahan. Wanita baju hitam melihat keseluruh lapangan, mulutnya mengeluarkan tawa dingin, tidak terlihat bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya seperti roh melayang datang di depan Giam-ong-leng Sai Hong, pelanpelan mengulurkan sebelah tangannya yang putih seperti giok, memukul ke arah dadanya Sai Hong, bersamaan waktunya dia membentak:

"Kau berani membunuh pengawalku, kau sangat lancang, apakah kau tahu bagaimana caraku menghukum musuhku?" Terhadap ketua perkumpulan misterius yang bertopeng ini, Sai Hong sudah wanti-wanti dari tadi, saat ini dia berturut-turut mengeluarkan lima jurus serangan, dia sudah merubah gerakan tiga kali, tapi tangan cantik yang mulus itu, tetap seperti belatung menempel di tulang, bagaimana pun caranya, dia tidak bisa melepaskan diri. Wajahnya jadi dingin, seperti seorang terhukum menunggu eksekusi, baju emasnya yang berkilauan, sudah basah kuyup oleh keringat, kaki melangkah dengan terpaksa sambil sempoyongan menghindarkan diri, tapi semua sudah kacau tidak teratur, dia tahu tangan mulus yang terus menempel dekat dadanya itu, asalkan dihentakan sekali, atau jari mufps yang seperti giok itu, jika memukul kedepan dengan tenaga dalam, maka raja neraka dunia yang namanya termasyur di dunia persilatan, akan langsung melapor kehadirannya di istana neraka. Tapi wanita baju hitam tidak buru-buru mengambil nyawanya, seperti kucing mempermain kan tikus sesukanya, lama... dia dengan sekali bersuara hm... dingin berkata: "Pertama aku ingin kau merasakan seramnya menemui ajal, aku akan mencongkel mata, memutuskan lengan, memotong lidah menghancur kan tulang, setelah aku puas, he he he, baru aku membunuhmu......" Giam-ong-leng Sai Hong tahu keadaannya tidak bisa dihindarkan, supaya tidak disiksa lawan, dia malah menggigit gigi, tubuhnya maju menyam-but ujung jari dia. "Hi hi hi!" wanita baju hitam tertawa berkata, "Kau ingin mati? Tidak akan begitu gampang, siapa pun yang berani

melawan aku, akibatnya harus merasakan, mau mati atau hidup pun sulit, kau juga tentu tidak terkecuali! Tapi, kau tenang saja, bagaimana pun akhirnya kau pasti mati, buat apa terburu-buru sekarang!" Pek Soh-ciu menonton di pinggir cukup lama, dia tidak menduga wanita baju hitam itu, mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi, tapi kekejaman hatinya, juga seumur hidup baru dilihatnya, memang Giam-ong-leng Sai Hong juga bukan orang baik, hanya saja cara kejamnya wanita baju hitam ini, sungguh membuat dia tidak bisa menerimanya. Su Lam-ceng sudah tahu maksud hatinya, lengannya dijulurkan, menggait tangan dia berkata: "Kelompok orang ini tidak satu pun yang bertujuan baik pada kita, dengan susah payah aku sudah membuat mereka seperti anjing berkelahi dengan anjing, menghibur sedikit kekesalan hati kita, jadi kau jangan memisahkan mereka, itu tidak boleh, apa lagi jika permusuhan mereka semakin dalam, itu akan lebih menguntungkan kita, Ciu koko, kau jangan bertindak lemah seperti seorang wanita." Habis bicara dia memelotot genit pada Pek Soh-ciu, lalu memanggil Su-sik dan Hu-cen ke depan dirinya, membisikan beberapa kata di telinga mereka, dua pelayan wanita itu langsung membalikkan tubuh dengan cepat berlari pergi. Pertarungan ditengah lapangan, keadaannya sudah jadi berat sebelah, kecuali pendeta To Cu-koan masih menggerakan pedangnya dengan lincah, bertarung imbang dengan seorang bertopeng, Say-gwa-siang-hiap yang lainnya sudah dalam posisi berbahaya. Mendadak...

"Berhenti semua!" sepuluh lebih pesilat tinggi Kai-pang dengan baju compang-camping ratusan tambalan, diringi teriakan menerjang masuk lapangan, yang memimpin adalah seorang laki-laki besar dengan wajah bersemangat, kening seperti burung walet, wajahnya berewokan berusia setengah baya, dari penampilannya yang gagah, tampak sangat disegani orang. Begitu wanita baju hitam melihat laki-laki besar setengah baya, wajahnya sedikit bengong, Giam-ong-leng Sai Hong menggunakan lawannya sedang bengong dia berguling, akhirnya dia terlepas dari kendali wanita baju hitam itu. Saat ini pertarungan yang terjadi di lapangan jadi berhenti, laki-laki besar berewokan dengan sepasang mata bersinar seperti kilat, menatap wanita baju hitam dengan nada dalam berkata: "Cu Kwan-cing, kau melakukan kejahatan lagi..." Wanita baju hitam mengangkat tangan, membetulkan rambut yang ada di keningnya, gerakannya membuat orang terpesona, mulutnya bersuara "Yow...!" lalu berkata, "Ada apa? Sute! Kau malah mengurusi urusan Suci?" Laki-laki besar berewokan berkata dingin: "Siapa Sutemu? Hm... aku sebagai Kai-pang Pangcu, sudah mengejarmu puluhan ribu lie demi membalaskan dendam perguruan....." "Yaaw... Sangguan Sute, mengapa kau begitu galak, ada masalah apa, bicaralah baik-baik, Suci tidak akan mengecewakanmu." Laki-laki besar brewokan mengangkat kepalanya, sambil tertawa keras berkata: "Perbuatan membunuh guru dan mengkhianati perkumpulan akan membuat nama busuk tersebar kemana-

mana, para murid Kai-pang dan semua orang mgin sekali menangkapmu, kau masih berani bertebal muka dan tidak tahu malu, mengaku dirimu Sucinya k etua perkumpulan?' Cu Kwan-cing tampak marah oleh tingkah laki-laki berewokan itu, bajunya jadi bergerak-gerak meskipun Inlak ada angin, sepasang telapaknya pelan-pelan diangkat sambil memusatkan tenaga dalamnya siap menyerang. Para pesilat tinggi yang ada di lapangan, melihat tenaga dalam Cu Kwan-cing sangat hebat, wajah semua orang berubah, laki-laki berewokan itu sedapat mungkin bersikap tenang, diam-diam dia juga memusatkan tenaga dalamnya, bersiap menyambut serangan dari Cu KwanKedua belah pihak tampak bersitegang, pertarungan berdarah tampaknya akan berlangsung sebentar lagi, tapi Cu Kwan-cing tiba-tiba mengeluh panjang dan sedih, sepasang telapaknya yang mulus pelan-pelan diturunkan lagi dan berkata: "Sangguan Ceng-hun, Cu Kwan-cing sudah menjelajahi seluruh dunia persilatan, dan tidak pernah terkalahkan, sampai detik ini belum pernah melihat orang yang berani bicara lantang dihadapanku, hai... mengingat hubungan kita di masa lalu, kau pergilah......" "Ha ha ha!" Sangguan Ceng-hun tertawa keras, "Pergi...? Boleh, tapi aku harus meminjam sebuah benda darimu untuk sembahyang guru." "Hm.....!" Cu Kwan-cing berkata dengan dingin, "kau ingin pinjam apa?" "Kepala murid pengkhianat yang membunuh guru."

"Bagus, jika kau bersikeras ingin mati, Cu Kwan-cing akan mengabulkan, hayo kita bertarung di luar." Habis berkata begitu, tubuhnya sudah meloncat setinggi dua tombak lebih, pinggangnya di putar, seperti seekor burung hitam yang amat besar, hanya sekelebat, sudah keluar seperti menembus langit. Para pesilat tinggi di lapangan, seperti tidak mau ketinggalan menyaksikan pertarungan yang amat jarang terjadi ini, mereka semua melontat berlari mengikuti para murid Kai-pang, dalam sekejap, halaman tempat bertarung para pesilat tinggi ini, sudah menjadi tenang kembali. Melihat para pesilat tinggi sudah menghilang Su Lamceng cepat menarik lengan baju Pek Soh-ciu berkata: "Ciu koko, biarkan mereka saling membunuh, kita pergi saja." Pek Soh-ciu menggelengkan kepala: "Beberapa orang bertopeng hitam itu, mungkin ada hubungannya dengan peristiwa berdarah di perumahan Leng-in, apa tujuan kita berkelana di dunia persilatan? Mana bisa melepaskan kesempatan yang baik ini di lewatkan begitu saja?" "Kelompok orang ini kebanyakan datang untuk Pouwlong-tui, jika saat ini kita tidak pergi, pasti akan mendatangkan kerepotan yang tidak ada habis-habisnya." Pek Soh-ciu tertawa: "Jika takut kerepotan, lebih baik jangan ber-kelana di dunia persilatan, apa lagi... walau pun kita sekarang bisa pergi, belum tentu bisa lolos dari pengejaran mereka."

"Kek!" Su Lam-ceng batuk sekali, "baiklah, tapi ingat, jika kita menemukan bahaya, kau harus ingat mundur kearah tenggara." Pek Soh-ciu tidak mengerti: "Mengapa harus mundur kearah tenggara?" Su Lam-ceng mengalengkan tangannya berjalan keluar dari pos persinggahan, katanya: "Jangan tanya dulu, sampai waktunya kau akan tahu sendiri." Terhadap keberanian dan kepintarannya Su Lam-ceng, Pek Soh-ciu sudah cukup hapal, jadi dia tidak banyak bertanya lagi, dua orang itu bertuntunan tangan, berlari menuju lapangan yang berada di luar pos persinggahan. Saat itu Cu Kwan-cing dengan Sangguan Ceng-hun sedang bertarung sengit, kedua orang itu sama-sama pesilat tinggi dunia persilatan yang paling tinggi kedudukannya, setiap gerakan tangan atau kakinya, semua adalah serangan yang mematikan, hampir semua orang menjulurkan lidah dan mengagumi tontonan yang berbahaya ini. Pek Soh-ciu juga tertarik oleh kehebatan ilmu silat kedua orang ini, angin pukulan mereka yang keras meniup baju putihnya sampai berkibar-kibar, dia memperhatikan dengan seksama dan di dalam hati mengerti bagaimana gerak dan tujuan jurusnya, tapi dia sudah bisa melihat, walau dua orang ini dari satu perguruan, jelas tenaga dalamnya Sangguan Ceng-hun masih kalah satu urat, di dalam lima ratus jurus, dia pasti akan dikalahkan oleh Cu Kwan-cing, terhadap Kai-pang Pangcu yang berkharisma ini, dia mempunyai perasaan dan pandangan baik, mungkin karena orang tuanya mati oleh orang bertopeng, jadi dia merasa sebal, sehingga, diam-diam dia sudah memusatkan tenaga

dalamnya, di saat perlu dia sudah memutuskan akan bergerak membantu. Kepandaian Cu Kwan-cing memang sudah sampai pada tingkat yang mengejutkan orang, setelah lewat tiga puluh jurus, dia sudah sepenuhnya menguasai pertarungan, di antara serangan jari dan telapaknya, semua mengarah pada jalan darah mematikan pada Sangguan Ceng-hun, jurusnya dahsyat dan kejam. Suatu ketika sebuah pukulan Sangguan Ceng-hun tidak berhasil mengenai lawannya, tubuhnya sedikit doyong ke depan, Cu Kwan-cing tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini, berturut-turut dia melancarkan tiga pukulan telapak tangannya, setiap jurusnya mengandung tenaga yang bisa menghancurkan batu dan besi, membuat Sangguan Ceng-hun harus bertahan sekuat tenaga, tubuhnya sampai terhuyung-huyung menyelamatkan diri. Melihat kemenangan sudah diatas tangannya, Cu Kwancing tidak tahan lalu bersiul panjang, mendadak dia menyatukan jari seperti tombak, dengan tenaga sepenuhnya ditonjokkan pada jalan darah Hian-ki di dada Sangguan Ceng-hun, jurus ini di lancarkan dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, walau tubuh Sangguan Ceng-hun terbuat dari besi, tampaknya sulit bisa menahan totokan mematikan yang akan menembus dadanya. Tapi... tiba-tiba sebuah sinar putih menyilaukan mata, bertenaga tidak terlihat seperti gelombang membawa angin aneh yang amat dahsyat, seperti datang dari langit luar menghadang serangan Cu Kwan-cing, hadangan ini membuat tubuh Cu Kwan-cing yang langsing seperti batang pohon Liu yang lemah bergoyang goyang, serangan jarinya yang tidak bisa ditahan, jadi menotok ke tempat yang kosong.

Ini kejadian aneh yang sulit bisa dipercaya orang, Cu Kwan-cing juga jadi berhenti bergerak karena terkejut, dia melihat Pek Soh-ciu yang berada didepan satu tombak lebih, wajahnya jadi terbengong-bengong. Pek Soh-ciu dengan santai, berkata tawar: "Pertarungan antara kalian memang masalah Internal perkumpulan anda, tidak ada hubungannya dengan aku, tapi aku ada satu masalah ingin nona Cu memberi jawaban yang jelas, sehingga, terpaksa mempersilahkan kalian beristirahat sebentar!" "Hm...!" Cu Kwan-cing berkata, "Anda ada masalah apa, apakah tidak bisa menunggu sampai kami selesai bertarung?" "Tidak bisa, jika Shang Goan Pangcu tidak memberi kesempatan kau bicara, bukankah aku akan menyesal kehilangan kesempatan bagus ini!" "Hm...!" dengan dingin Cu Kwan-cing "maksudmu aku bisa mati ditangan dia?" berkata,

"Dalam pertarungan perubahannya sulit diduga, jadi sulit bisa dikatakan." "He... mundurlah, lihat saja dalam seratus jurus aku akan mengambil nyawanya." "Jika nona yakin bisa menang, setiap saat pun bisa memenangkannya, kita membicarakan lebih dulu masalah aku juga tidak apa-apa kan?" "Baik, katakanlah, aku ingin lihat kau ada siasat apa." "Aku dengar nona mengaku sebagai ketua perkumpulan apa itu Oh Kai-pang." "Sembarangan bicara, aku adalah ketua Kai-pang, siapa yang memberitahu jahat atau tidak jahat?"

"Aku mendengar dari jalanan, jahat atau tidak jahat memang tidak ada hubungan denganku, tapi aku dengar nona mempunyai sebuah senjata gelap yang amat keji, yang disebut Ngo-tok-tui-hun-cian, apa betul?" Cu Kwan-cing sepertinya! sudah tidak sabaran, dia berkata: "Tidak salah, perkumpulanku memang punya senjata rahasia ini, tapi tidak pernah meminjamkan pada orang lain, saudara kecil jika perlu senjata ini, kita bisa membicarakannya." Wajah Pek Soh-ciu menjadi dingin, katanya: "Ngo-tok-tui-hun-cian perkumpulanmu tidak pernah dipinjamkan pada orang lain, kalau begitu orang yang secara menggelap menyerang Sin-ciu-sam-coat, perkumpulanmu pasti ikut terlibat didalamnya." Cu Kwan-cing sedikit terbengong: "Apa kau putranya Thian-yat-it-kiam Pek Tayhiap, salah satu dari Sin-ciu-sam-coat? Kau ingin menyelidiki pembunuh ayahmu?" "Betul." "Aku dengar saat itu perguruan yang terlibat di dalamnya tidak sedikit!" "Orang she Pek tidak akan segan-segan, mencuci dunia persilatan dengan darah." Cu Kwan-cing tertawa genit seperti mutiara berjalan di piring giok, katanya: "Di dunia persilatan banyak sekali orang pintar yang berkemampuan hebat dan berilmu tinggi, saudara kecil bicara seperti ini, tidakkah merasa terlalu menyombongkan diri?"

Pek Soh-ciu mengangkat alis pedangnya: "Maksudmu, kau mengaku telah terlibat dalam peristiwa berdarah itu." Cu Kwan-cing membuka lebar sepasang matanya: "Kapan aku pernah mengatakan demikian, kau jangan salah paham." Satu hawa pembunuhan menghiasi wajah Pek Soh-ciu, dia tidak mau lagi berbicara panjang lebar, kakinya dihentakkan, sebelah tangannya diulurkan, lima jarinya mengeluarkan suitan tajam yang mengerikan, secepat kilat menangkap pergelangan Cu Kwan-cing. Dia seperti sembarangan menyerang, tapi akibatnya sangat dahsyat sekali, Cu Kwan-cing berteriak terkejut, sepasang kakinya dijejakkan, tubuhnya terbang mundur, kecepatan reaksinya, sudah mencapai taraf sekali terlintas niat langsung bergerak, tapi ssst... suara robek kain terdengar, lengan baju Cu Kwan-cing, tetap terkoyak sebagian. Dengan kepandaian Cu Kwan-cing yang begitu hebat hanya dalam satu jurus lengan bajunya telah robek, para pesilat tinggi yang melihat di lapangan tidak satu pun tidak mengeluarkan keringat dingin dan wajah terkesima, dalam hati Cu Kwan-cing sendiri diam-diam mengeluarkan keringat dingin, tapi dia juga merasa ini adalah sebuah penghinaan yang besar, maka dia pelan-pelan mengulurkan jari yang seperti bawang muda, putih bagaikan giok, terdengar suara perlahan, dia malah membuka sendiri topeng hitam yang menutupi wajahnya. Seluruh pesilat tinggi di lapangan baik dari aliran lurus maupun sesat, semua terperangah oleh tindakannya yang mengejutkan ini, entah apa maksudnya? Tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya, satu-satunya alasan yang bisa

dihubung-kan, mungkin dia ingin memperlihatkan bahwa kecantikannya melebihi kecantikan Su Lam-ceng. Dengan menghilangnya topeng, wajah yang ditampilkan adalah wajah yang membuat orang tergila-gila, wajah yang sedikit terasa putih pucat, dihiasi oleh sepasang mata yang menggiurkan orang, hidung yang mancung lurus, serasi dengan mulut munggil dan bibir tipis, dua alis panjang yang melengkung hingga ke pelipis, cantiknya hingga ahli perias wajah juga tidak bisa menandinginya. Sebenarnya, dari pada mengatakan dia cantik, lebih tepat mengatakan dia cabul, melihat alisnya diangkat miring, sudut mata melirik penuh arti, pipi tersenyum menantang, dan masih ada dua lesung pipi yang membuat orang mabuk, pinggangnya yang langsing berputar, bokong besarnya ikut bergoyang, seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, hampir tidak satu tempat pun mengeluarkan daya magis yang membuat tulang orang menjadi lemas, hati menjadi gemas. Tapi ini adalah iblis yang menggoda, tidak bisa dibandingkan dengan keanggunannya Su Lam-ceng, buat laki-laki di seluruh dunia kebanyakan mempunyai sifat rendah yang suka mengejar bau busuk, wanita seperti Cu Kwan-cing adalah wanita yang cantik yang tiada taranya, genit menggiurkan, setiap gerakan dan senyumnya, semua membuat orang jadi lupa diri, sehingga, tidak sedikit orang tidak segan membuang nyawa, Cuma hanya ingin mendapatkan tubuhnya. Dua orang wanita cantik yang tiada duanya ini, seperti bunga di musim semi, bulan di musim gugur, masingmasing ada keunggulannya, mereka bersamaan iampil di pos persinggahan, di lapangan yang sepi yang tidak banyak orang, para pesilat tinggi dunia persilatan yang berada di

lapangan, matanya berkunang-kunang, hatinya berdebardebar, bengong dan seperti mabuk. Mata Cu Kwan-cing melihat kesekeliling, dia tertawa genit dengan bangga, lalu menghadap pada Pek Soh-ciu, berkata: "Saat terjadi peristiwa berdarah di perumahan Leng-in, ratusan pesilat yang berilmu tinggi terlibat didalamnya, tidak satu pun ada yang selamat, jika aku ikut terlibat dalam penyerangan itu, tidak mungkin aku masih hidup sampai sekarang, jadi ikut tidaknya aku dalam serangan gelap pada Sin-ciu-sam-coat, dengan sendirinya tidak perlu ditanyakan." Pek Soh-ciu tertegun sebentar, dengan tetap dingin berkata: "Walau benar kau tidak ikut dalam penyerangan, tapi tidak bisa lolos dari dugaan ikut merencanakan, tapi jika kau bisa mengatakan otak yang menjadi penyerang perumahan Leng-in, aku bisa memberi satu jalan hidup buatmu." Wajah Cu Kwan-cing berubah, dia berkata: "Saudara kecil bagaimana bisa memaksa orang seperti ini, dengan terpaksa Cu Kwan-cing ingin melihat kehebatan ilmu silat Sin-ciu-sam-coat." Baru saja habis berkata, sepasang tangannya seperti kilat datang menotok, baru saja bergerak setengah jalan, mendadak sepasang tangannya pecah menjadi dua arah, ke atas menyerang kepala, ke bawah menyerang perut, satu jurus dua serangan, kecepatannya tidak bisa di bayangkan. Pek Soh-ciu mendengus, dia berdiri memasang kudakuda, saat sepasang telapaknya menangkis, dia berturut turut balas menyerang tiga kali...semenjak dia telah berhasil

melancarkan jalan darah atas dan bawahnya, menembus jalan darah Jin dan Tok, kehebatan tenaga dalamnya sudah tidak bisa dibayang-kan, saat ini begitu dia mengerahkan tenaga dalamnya, dia merasakan tenaga dalamnya seperti mata air mengalir seperti gelombang, walau jurus Cu Kwan-cing aneh dan banyak tipuan, tapi begitu bertemu dengan tekanan yang sangat besar ini, dia tidak bisa leluasa melancarkan keunggulan jurusnya. Sebentar saja mereka sudah bergebrak hampir mencapai seratus jurus, Cu Kwan-cing menyerang mengandalkan gerakan lincahnya, mencari celah menempuh bahaya, sekuat tenaga dia bertahan, wajahnya yang putih bersih, sudah berkeringat, dia tahu jika keadaan terus begitu, dia sendiri pasti akan mendapat malu, dalam hatinya, dia merasa sangat gelisah sekali. Tiba-tiba... datang bergulung-gulung asap merah dari arah Tong-koan, dalam sekejap seluruh lapangan sudah tertutup oleh asap merah itu, Pek Soh-ciu dan seluruh pesilat tinggi di lapangan, semua terkurung oleh asap merah, semerah darah itu. Kejadian mendadak ini, membuat seluruh pesilat tinggi di lapangan menjadi terkejut ketakutan, Pek Soh-ciu khawatir Su Lam-ceng terancam bahaya, buru-buru dia mengayunkan telapaknya membuat Cu Kwan-cing mundur, lalu berkelebat meloncat ke samping Su Lam-Ceng, dia tetap sambil memusatkan tenaga dalamnya, dengan tenang menunggu perubahan yang terjadi. Di lapangan sangat hening, hanya di dalam asap merah terdengar suara ssst... ssst... belum lagi suara aneh Itu berhenti, tiga orang aneh berbaju merah telah muncul dari dalam asap merah. Yang memimpin adalah seorang ini bertubuh besar dan tegap, wajahnya putih dengan jenggot perak, di sebelah kirinya berdiri seorang tua berwajah mirip

kuda tidak berjenggot, tubuhnya kurus kering, matanya menggantung bertangan satu, di sebelah kanannya ada seorang kerdil berbaju merah, berwajah seperti wajah bayi, berkepala sangat besar. Di antara para pesilat tinggi di lapangan, walau pun terdapat tidak sedikit ketua ditempatnya dan namanya termasyur di dunia persilatan, tapi begitu melihat tiga orang aneh berbaju merah ini, semua wajahnya berubah hebat, tubuhnya tidak tahan jadi gemetar, ternyata tiga orang itu adalah pembunuh dunia persilatan yang berjuluk Cu-laysam-koay (Tiga aneh misterius) dari perguruan Thian-ho, mereka tadinya adalah tiga orang gembong penjahat yang bergerak sendiri-sendiri. Entah sejak kapan sudah bergabung dengan perguruan Thian-ho. Perguruan Thian-ho adalah sebuah organisasi misterius bagi setiap orang yang begitu mendengar namanya saja sudah merinding ketakutan. Di dunia persilatan memang banyak orang yang berbakat, mereka memiliki kepandaian lebih dari orang lain, tapi terhadap perguruan Thian-ho mereka hanya tahu sedikit, tidak tahu seberapa besar kekuatannya, saat ini, mereka melihat Cu-lay-sam-koay sekaligus dengan ratusan anak buah pesilat tinggi dari Thian-kong-ti-sam-tin (Barisan inti tiga bintang dari tujuh bintang), mereka mau tidak mau jadi menarik nafas dalam-dalam! Orang tua berjenggot perak, adalah Toakonya Cu-laysam-koay, namanya Keng lt-ci, saat ini matanya yang seperti elang menyapu ke sekeliling lapangan, Kemudian mengeluarkan suara siulan panjang yang memekakan telinga, lalu berkata:

"Bertarung di tempat persinggahan, di bukit terlantar ini membicarakan ilmu silat, kalian sungguh bisa menikmati hidup!" Oh-siucay Liu Giauw-kun dengan tertawa terpaksa, mengepal tangan membungkuk: "Keng-heng sudah lama kita tidak bertemu, hari ini kebetulan aku lewat disini, jadi sekalian menonton keramaian, jika Keng-heng merasa terganggu, aku akan segera pamit pergi." Keng It-ci membelalakan sepasang matanya, dia tertawa aneh, katanya: "Ketua Ling adalah orang yang banyak pengalamannya, apakah lupa aturan perguruan Thian-bo?" Tubuh Liu Giauw-kun bergetar: "Aku dengan kalian bersaudara sudah bertemu beberapa kali, Keng-heng......kau tidak seharusnya membuat aku malu." "Ha ha ha!" Keng It-ci tertawa terbahak katanya, Ketua Ci-yan yang namanya sangat termasyur di dunia persilatan, ternyata seorang pengecut yang takut mati, sungguh membuat orang she Keng kecewa sekali." Perkataannya berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi "Siapa pun orang yang terkurung didalam Thian-kong-tisam-tin, jika bukan menyerah maka bagiannya adalah mati, ini adalah aturan keras perkumpulan kami, nah saudara Ling kenal dengan ketua cabang kami, orang she keng juga tidak bisa mengecualikannya." Cu Kwan-cing melihat Keng It-ci tidak memberi jalan padanya, dia jadi tidak tahan maju ke depan, berkata:

"Cu-lay-sam-koay jangan menganggap tiap orang yang bisa ditekan, Thian-kong-ti-sam-tin, belum tentu bisa menahan orang yang berada di lapangan ini, aku lihat saudara Keng lebih baik tarik saja keinginanmu, supaya tidak merusak hubungan diantara kita!" Keng It-ci berkata dingin: "Cu-lay-sam-koay tentu saja tidak bisa di bandingkan dengan ketua Kai-pang yang sahabatnya ada dimana-mana, tapi aturan perguruan Thian-ho sangat tegas, walau orang she keng ada niat membantu, tapi takut tidak ada gunanya bagi kalian." Cu Kwan-cing membentak: "Keng It-ci, kau benar-benar tidak tahu arti persahabatan!" sambil dia membentak, dia sudah melangkah maju dua langkah, mengulurkan lengannya yang telah robek lengan bajunya, berlagak genit, sorot matanya menyorot sinar cabul, penampilannya membuat orang terangsang. Sorot mata Keng It-ci jadi membara, dia melotot pada tubuh Cu Kwan-cing dengan penuh gairah, otot diwajahnya bergerak-gerak, sikapnya gelisah, dia seperti sudah terpengaruh oleh lagak cabul Cu Kwan-cing, tapi masih tidak berani melanggar aturan perguruan, sehingga wajahnya penuh dengan keraguan. Seluruh pesilat tinggi di lapangan, tidak ada satu pun yang tidak pernah mengalami keadaan bahaya, pengalamannya sudah banyak, mereka melihat lagak Cu Kwan-cing, mereka tidak melepaskan kesempatan bagus yang sulit didapat ini, sehingga dibawah bentakan Cu Kwan-cing, Say-gwa-siang-hiap pertama-tama bergerak, pendeta To Cu-koan, Oh Kai-pang, perkumpulan Ci-yan, murid-murid Kai-pang, dan juga Giam-ong-leng Sai Hong

dan kawan-kawan, seperti harimau ganas terlepas dari kurungan, semuanya menerjang keluar, sesaat pertarungan pun terjadi, masing-masing aliran berlari seperti serigala mengejar mangsanya, membuat keadaannya menjadi kacau balau. Tapi Thian-kong-ti-sam-tin, memang punya kekuatan yang tidak bisa di perkirakan orang, baru saja para pesilat tinggi bergerak, terlihat asap merah bergulung-gulung, dalam sekejap api berterbangan ke segala arah, para anak buah dari masing-masing aliran, tidak sedikit yang roboh dan tewas di bawah ayunan senjata dan panah beracun tanpa ampun. Suara jeritan mengerikan terdengar ramai, satu persatu tubuh yang menyemburkan darah, dari atas jatuh ke tanah, di lapangan terjadi penjagalan yang sadis dan mengerikan, tapi keinginan untuk hidup yang besar, membuat mereka menerjang tanpa berhenti, walau pun sadar ini seperti telur menghantam batu, mereka tetap mencari celah kehidupan yang mungkin bisa didapat, di dalam pertarungan berdarah yang sengit ini, hanya ada dua orang yang tidak ikut dalam pertarungan gila ini, mereka berdampingan dengan eratnya, kadang saling memandang dan mengeluarkan tawa pahit yang perlahan. Lama... sepasang mata Su Lam-ceng sedikit ditutup, dengan mengeluh sedih berkata: "Orang-orang ini jika tidak tahu ilmu barisan, mengapa masih bersikeras maju mengantarkan nyawa?" Dalam hati Pek Soh-ciu tergerak berkata: "Toakomu mengatakan ilmu pengetahuanmu amat luas, apakah kau tahu cara menghancurkan Thian-long-ti-sam-tin ini?"

Su Lam-ceng tertawa kecil, berkata: "Kau jangan dengar, dia sembarangan bicara, aku hanya sedikit belajar ilmu barisan." Perkataannya terhenti sejanak lalu berkata lagi: "Ini adalah Su-hiang-ho-tu-tin (Barisan empat lukisan peta sungai), diluar dipecah empat gambar, di dalam ada sembilan perubahan, api datang gali lubang, air penuh tinggalkan perahu, sayang pintunya tidak jelas, gerakannya masih kurang lancar, untuk memecah-kannya semudah membalikan telapak tangan." Dalam hati Pek Soh-ciu merasa senang, saat akan menanyakan cara memecahkannya, para murid dari masing-masing aliran, semuanya sudah mundur kembali, satu persatu wajahnya pucat pasi, wajahnya penuh dengan warna kecewa. Sorot mata Keng It-ci menyapu kesekeliling: "He......he......he!" tertawa dingin, "Thian-ho muncul, semua perkumpulan menyembah, kalian jika tahu diri, lebih baik menyerah saja!" Walau para pesilat tinggi dilapangan merasa marah, tapi tidak ada satu pun yang berani tampil keluar, membiarkan angin sedih hujan pahit, menutupi lapangan yang dipenuhi oleh asap merah ini. Cu Kwan-cing tidak salah disebut sebagai setan wanita sepanjang masa, dalarn keadaan berbahaya seperti ini, dia tetap masih bisa memperhatikan sepasang suami istri remaja yang berdiri dengan tenang. Terhadap kejadian di depan mata, mereka seperti tidak melihatnya, saat ini tidak ada seorang pun berani menjawab kata-kata Keng It-ci, dia malah memberi satu senyuman genit pada Pek Soh-ciu berkata:

"Anggota tubuh berterbangan, bau amis darah menyebar keseluruh lapangan, saudara kecil! Kau malah sedikit pun tidak merasa terganggu?" Pek Soh-ciu belum sempat menjawab, Su Lam-ceng sudah melanjutkan berkata: "Cici, apakah mereka semua mau mendengarkan katakatamu?" Cu Kwan-cing bengong katanya: "Siapa yang kau maksud akan mendengar kata-kataku?" Su Lam-ceng menunjuk pada para pesilat tinggi dilapangan berkata: "Jika mereka mau menuruti kata-katamu, aku bisa membawa kalian keluar dari barisan ini." Sejenak Cu Kwan-cing tertawa genit: "Adik kecil! Apa kata-katamu sungguh-sungguh?" Pembicaraan mereka berdua, tidak bedanya seperti sebuah obor yang menerangi kegelapan, membuat orangorang yang sudah putus harapan, seperti mendapat kehidupan baru, Oh-siucay Liu Giauw-kun perama-tama yang maju ke depan Su Lam-ceng, berkata: "Jika nona bisa memimpin kami keluar dari barisan ini, perkumpulan Ci-yan akan menuruti perintah.? Ketua Kai-pang Sangguan Ceng-hun, juga dengan suara lantang berkata: "Jika nona ada perintah apa, Kai-pang akan berada di depan." Su Lam-ceng melihat para pesilat tinggi ini semua mau perintah, maka dia menyuruh Cu Kwan-cing menyampaikan kepada masing masing perkumpulan

caranya keluar dari barisan, sesudah itu dia tertawa pada Pek Soh-ciu. Kepada pendeta To Cu-koan, dan Say-gwasiang-hiap berkata: "Kalian di pecah jadi tiga grup menahan Cu-lay-samkoay, perkumpulan lainnya, menurut cara yang telah disampaikan, segera membongkar barisan keluar dari kepungan." Pek Soh-ciu melihat dia memberi tugas pada dirinya untuk bertarung dengan Cu-lay-sam-koay, tidak tahan dia jadi merasa kebingungan, tapi Su Lam-ceng sambil tersenyum berkata: "Ciu koko! Kita jalan." Habis bicara, melangkah jalan, menuju ke depan Keng It-ci. langsung

Pek Soh-ciu terkejut, sepasang kakinya dihentakan, secepat anak panah terlepas dari busurnya, tubuhnya seperti kuda terbang, melewati Su Lam-ceng, berdiri didepan Keng It-ci. Ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui dia, saat ini digerakan dengan sepenuh tenaga, gerakannya seperti segaris asap tipis, sampai penjahat seperti Keng It-ci, juga hatinya tidak tahan bergetar keras, ketika sepasang matanya melihat wajah Pek Soh-ciu, kembali langkahnya seperti dipaksa melangkah mundur dua langkah oleh karismanya, setelah dia menenangkan hati, dengan dingin dia berteriak: "Bocah kau cari mati?" Pek Soh-ciu menegakan telapaknya seperti pisau, di dorong ke depan sejajar dengan dada, jurus Hong-han-wielau (Angin jahat menggoyang gedung) dengan cepat dilancarkan, mulutnya membentak: "Aku masih ingin hidup."

Dalam hati Keng It-ci sadar walau Pek Soh ciu masih berusia muda, tapi ilmu silatnya sudah mencapai taraf yang mengejutkan orang, buru-buru dia memiringkan tubuh, menghindarkan jurus yang bisa menghancurkan batu ini, di ikuti sebelah tangannya diayunkan, menotok ke jalan darah Ki-bun yang berada d ibawah dadanya. Pek Soh-ciu tidak mau menyia-nyiakan waktu, begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus hebat Sin-ciusam-coat. Karena dua jalan darah Jin dan Toknya sudah tembus, setiap jurusnya yang dilancarkan hebatnya jadi berlipat-lipat, laksana angin topan, badai salju yang menerjang. Keng It-ci terkejut bukan kepalang, dia tidak menduga di tempat yang terpencil ini, bisa bertemu dengan seorang pesilat muda yang ilmu silatnya tidak bisa di ukur dan sangat hebat. Kelihatannya gelombang belakang sungai Tiang-kang mendorong gelombang didepan, generasi baru menggantikan generasi lama, mungkin sudah waktunya dia mengundurkan diri. Tapi buat Cu-lay-sam-koay yang orang-orangnya berhati keji dan kejam, saat dia loncat menghindar, dia pelihat Su Lam-ceng sedang berdiri satu tombak lebih darinya, sepasang matanya dengan jernih sedang bergerak-gerak, menatap pada Pek Soh-ciu dengan rasa cinta yang besar, hati Keng It-ci jadi tergerak melihat itu, mendadak dia memutar pinggangnya meloncat miring, sekali meloncat jauhnya satu tombak lebih, lima jari dijulurkan, dengan kecepatan laksana kilat, dengan kuat mencengkram bahu Su Lam-ceng. Perubahan besar ini diluar dugaan Pek Soh-ciu, ketika dia berteriak keras maju mengejar, tapi lima jari Keng It-ci seperti baja, sudah hampir menyentuh bahunya Su Lamceng, didalam hati Pek Soh-ciu diam-diam teriak

"Habislah", jika Su Lam-ceng jatuh ke tangan lawan, seluruh persoalannya akan jadi sia-sia! Tetapi, kejadian di dunia sering timbul hal yang tidak diduga, di luar perkiraan orang. Terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu tangkapan Keng It-ci telah menemui tempat kosong. Pek Soh-ciu jadi melotot bengong tidak mengerti, bagaimana pun berpikir dia tidak bisa mendapatkan jawabannya, Su Lam-ceng ternyata bisa meloloskan diri dari cengkraman lawan, Keng It-ci lebih-lebih terkejut, mulutnya sampai menge-luarkan suara liih... hatinya jadi menciut. Di dalam hati dia tahu jika dia tidak bisa segera menangkap Su Lam-ceng, hari ini mungkin dia akan mengalami kekalahan, maka dia segera menggerakan sepasang tangan, cepat laksana angin ribut, segera mengurung Su Lam-ceng dalam bayangan telapaknya, tapi... keinginan dia tetap saja tidak membuahkan hasil, terlihat baju berkibar dan tubuh Su Lam-ceng seperti melayang layang, persis seperti ikan bermain didalam air, sia-sia saja dia mempunyai ilmu silat tinggi, malah sampai ujung bajunya Su Lam-ceng juga tidak bisa menyentuhnya. Pek Soh-ciu juga terpesona oleh gerakan kaki Su Lamceng yang teratur melangkah, malah dengan pikiran takjub dia melihatnya, hingga lupa maju menyelamatkan dia dari bahaya. Mendadak terdengar satu teriakan: "Ciu koko! Kau mengapa? Cepat usir dia!" Pek Soh-ciu terkejut dan sadar, diam-diam berkata, "Aku pantas mati!", Pek Soh-ciu tahu walau pun langkahnya hebat, tapi Su Lam-ceng adalah seorang wanita lemah yang

tidak bisa silat, mengapa dia malah jadi penonton! Di barengi rasa gelisah, mendadak dia mengulurkan lengan kanannya, lima jari yang mulus, segera berubah jadi putih bersih, lalu dengan membentak, "Heh!", satu garis sinar hitam meluncur seperti kilat dan, 'tak' terdengar suara pelan, Keng It-ci langsung roboh terlentang tidak bisa bangun lagi. Segera Pek Soh-ciu melangkah maju beberapa langkah, mengulurkan tangannya memeluk pinggang Su lam-ceng dengan lembut, Su Lam-ceng menyandar ke dadanya yang berotot sambil sedikit terngengah-engah berkata: "Ciu koko! Apakah orang ini mati?" Pek Soh-ciu dengan perasaan sesal berkata: "Karena terus menikmati langkah adik Ceng, hampir saja membuat kau celaka, orang jahat yang hatinya busuk seperti dia, di biarkan hidup, dia membahayakan dunia!" Su Lam-ceng beristirahat sebentar, lalu bangkit dan berkata: "Ciu koko! Mari kita pergi." Asap merah masih tetap menyelimuti tempat ini, tapi Thian-kong-ti-sam-tin yang hebat, yang kekuatannya tiada duanya, malah tidak bisa menahan para pesilat tinggi dari dua golongan putih dan hitam ini, walau pun dua golongan itu ada yang terluka atau tewas, tapi akhirnya bisa mencari lowongan, meloloskan diri keluar dari kepungan. Mentari pagi bersinar indah, angin pagi meniup baju, pagi hari ini adalah pagi keesokan harinya. Su Lam-ceng mengangkat tangan membereskan rambut kacau dipelipisnya, pada Pek Soh-ciu tersenyum mesra berkata:

"Walau pihak perguruan Thian-ho jatuh korban banyak, tapi kekuatannya belum melemah, kita masih harus cepat mundur ke arah tenggara." Pek Soh-ciu mengangkat melihat jauh, benar saja terlihat asap masih bergulung-gulung dengan cepat, Thian-kong-tisam-tin sedang datang menelusuri jalan dengan cepatnya, dia melihat wajah Su Lam-ceng yang kelelahan dan pucat, terpaksa dia menuntunnya mundur dengan cepat ke arah tenggara. Di luar lima lie di sebuah hutan, di depan hutan bukit naik turun, rumput kering tampak dimana-mana, pemandangannya sangat gersang, baru saja mereka berdua sampai disisi hutan, Su-sik dan Hu-cen sudah datang menyambut, mereka membawa mereka ke satu tempat dengan rumput yang hijau lembut, segera mengeluarkan makanan melayani mereka makan, Pek Soh-ciu tertawa penuh cinta pada nona bangsawan ini berkata: "Makannya pelan-pelan saja, adik Ceng, jika tersedak tidak enak rasanya." Su Lam-ceng melirik dengan mata putih berkata: "Gara-gara kau melepaskan kehidupan enak, sekarang kita hanya bisa makan di alam terbuka, beralaskan tanah beratapkan langit......" "Ha......ha......ha!" Pek Soh-ciu tertawa keras, "langit dan bumi sebagai gubuk, empat lautan sebagai rumah, kapan kau pernah menikmati alam terbuka yang nikmat ini." Di saat mereka bersenda gurau, terlihat ketua Kai-pang Sangguan Ceng-hun memimpin puluhan murid murid Kaipang dengan cepat menghampiri, di belakangnya asap menutup langit, anak buahnya perguruan Thian-ho, dengan kekuatan besar sedang mengejar dari belakang.

Su Lam-ceng berkata pada Pek Soh-ciu: "ShangGoan Pangcu dari Kai-pang orangnya terbuka, dia adalah seorang yang suka membantu, Ciu koko berkelana di dunia persilatan, tanggung jawabnya berat, perjalanannya masih panjang, sangat baik kalau bisa bersahabat dengannya, juga bisa dijadikan pembantu." habis bicara, tidak menunggu Pek Soh-ciu menyatakan setuju, dia sudah menyuruh Hucen membawa para murid Kai-pang masuk ke dalam hutan. Pek Soh-ciu tidak mengerti: "Kekuatan kita sangat kecil, orangnya pun sedikit, mengapa saat ini tidak menghindar dari serangan musuh?" Su Lam-ceng tertawa: "Hutan ini nilainya sama dengan sepuluh ribu prajurit, walau perguruan Thian-ho punya ribuan tentara dan puluhan ribu kuda, jangan harap bisa melangkah masuk kedalam." Terhadap istrinya yang cantik penuh misterius ini, Pek Soh-ciu merasakan sangat tidak mengerti? Sebagai seorang wanita lemah yang sama sekali tidak bisa ilmu silat, malah bisa dengan tenang menghindarkan cengkeraman jarinya Keng It-ci, sedikit pun tidak mendapat luka, malah Thiankong-ti-sam-tin yang amat ditakuti oleh dunia persilatan, dia dengan sesuka hati bisa keluar masuk, jika bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin tiada seorang pun yang bisa percaya, tapi, dengan sebuah hutan bisa menangkal puluhan ribu tentara, kecuali Cukat Liang kembali muncul...... "Kek... Ciu koko! Kau mengapa? Pangcu Kai-pang ShangGoan menyapamu lho!" Pek Soh-ciu jadi tertegun mendengar kata-kata ini, baru saja menghentikan pikirannya yang kacau, Sangguan Ceng-

hun yang berdiri dengan hormat di sisinya sudah mengepal tangan memberi hormat dan berkata: "Atas pertolongan kalian suami istri, Sangguan Ceng-hun dengan ini mengatakan terima kasih, di kemudian hari jika Siauhiap memerlukan tenaga Kai-pang, asalkan menulis sehelai kertas memanggilnya, para murid Kai-pang pasti akan melaksanakannya dengan sekuat tenaga." Pek Soh-ciu memberi hormat kembali: "Di dalam satu perahu yang berbahaya, tentu saja sudah menjadi berkewajiban kita saling membantu, ShangGoan Pangcu tidak perlu sungkan." Sangguan Ceng-hun tertawa keras, katanya: "Dengan sikap Siauhiap yang berjiwa besar dan tidak seperti orang biasa, studah berabad-abad dunia persilatan sulit bisa menemukannya......kek, kek, jika Siauhiap tidak merasa hina bergaul dengan pemimpinnya pengemis......" Wajah Pek Soh-ciu jadi serius, dia lalu membungkuk memberi hormat: "Aku menghormat pada Toako." Sangguan Ceng-hun langsung menangkap bahunya Pek Soh-ciu, mengangkat kepala keatas langit tertawa keras, lama... dari dalam dadanya dia mengeluarkan sebuah Seruling Bambu berwarna ungu yang panjangnya hanya tiga cun, menyodorkannya pada Pek Soh-ciu berkata: "Adik! Seruling Bambu ini adalah penakluknya segala racun, Couwsu perkumpulan kami. Dewa Pengemis Sie-ek mengandalkan Seruling Bambu ini, memperoleh julukan Thian-he-te-it-enghiong di dunia persilatan, sayang empat buah lagu Angin, Guntur, Air, Api yang membuat beliau ternama, semuanya telah hilang dan tidak ada yang bisa melakukannya, Toako menyimpan seruling keramat ini,

hanya menyia-nyiakan benda pusaka saja, adik! Aku berikan saja barang ini padamu." Pek Soh-ciu berkata: "Toako! Seruling Bambu adalah benda keramat kai-pang, mana berani adik menerimanya." Sangguan Ceng-hun dengan serius berkata: "Adik! Jika kau memandangku, maka jangan menolaknya." Su Lam-ceng melihat wajahnya Pek Soh-ciu merasa kesulitan, maka pelan menariknya: "Jika ShangGoan Toako begitu tulus memberikan, kau terima saja, di kemudian hari jika kau bisa mendapatkan empat lagu Angin Guntur Air Api, kau bisa kalian kembalikan kepada Toako, bukankah akan lebih baik?” Dalam hati Pek Soh-ciu berpikir, empat lagu Angin Guntur Air Api entah berada dimana, Kai-pang yang muridnya tersebar diseluruh pelosok dunia juga tidak bisa mendapatkannya, dia sendiri mau mencari kemana, tapi Su Lam-ceng sudah menyanggupinya, maka dia tidak baik menolaknya lagi. "Ha...ha...ha...ha" Sangguan Ceng-hun tertawa keras, katanya lagi, "Toako tidak mengharapkan itu, setelah adik mengatakan demikian, jadi menuduh Toako seperti ada maksud tertentu." Mereka berbincang-bincang beberapa saat, lalu Sangguan Ceng-hun mengajarkan cara meniup Seruling Bambu mengumpulkan ular dan serangga, berkata lagi: "Adik! Apakah kau sudah menemukan musuh-musuh yang diam-diam menyerang perumahan Leng-in?" Pek Soh-ciu dengan sedih menggelengkan kepala:

"Adik berkelana di dunia persilatan, dalam sekejap sudah lewat setahun, terhadap musuh yang menghancurkan rumah dan membunuh ayah, malah sedikit pun tidak tahu, tapi......" "Adik jika ada yang ingin dikatakan, katakan saja, biar kita merundingkannya." "Apa Cu Kwan-cing Sucinya Toako?" "Tidak salah, tapi wanita itu kejam seperti ular berbisa, justru karena menginginkan Seruling Bambu ini, dia telah berani meracuni guru hingga tewas, Kai-pang sudah lama menghapus namanya, toako juga tidak bisa lagi menganggap dia Suci lagi, mengapa? Apa Adik curiga pada dia?" "Aku dengar dia mendirikan Oh Kai-pang, dengan Ngotok-tui-hun-cian sebagai senjata gelap nya, padahal para penjahat bertopeng yang diam-diam menyerang perumahan Leng-in, semua menggunakan senjata gelap ini." "Belum tentu, yang kakak ketahui, di dalam dunia persilatan, masih ada orang yang punya senjata gelap semacam ini, salah satunya adalah perguruan Thian-ho." Su Lam-ceng berkata: "Semua perguruan yang memiliki senjata gelap semacam ini, kita jadikan mereka sebagai sasaran penyelidikan, tapi harus berencana, tidak boleh terburu-buru." Sangguan Ceng-hun berkata: "Adik benar, kita memang harus membalas dendam, tapi tidak harus terburu-buru, tentang Cu Kwan-cing biar Toako yang menyelidikinya." Saat ini karena tidak bisa masuk ke dalam hutan, perguruan Tian Huo sudah meninggalkan tempat, Pek Soh-

ciu melihat ke atas langit, lalu membalikan kepala dan I berkata pada Sangguan Ceng-hun: "Jika demikian, penyelidikannya pada Cu Kwan-cing, aku serahkan pada Toako saja, Siaute ingin berjalan-jalan di dunia persilatan mencoba keberuntungan, jika toako tidak ada urusan lain lagi, kita pamit disini......" Sangguan Ceng-hun memegang tangan dia lama sekali, berkata: "Baik, jika ada masalah, setiap saat Adik bisa menyuruh murid Kai-pang memberi kabar padaku." Habis bicara dia mengepal tangan menghormat, setelah saling berpesan supaya hati hati, lalu Pangcu Kai-pang memimpin para muridnya pergi. Menunggu Sangguan Ceng-hun pergi, Su Lam-ceng, melirik Pek Soh-ciu berkata: "Ciu koko, kemana kita mau pergi?" Sekarang Pek Soh-ciu sadar, Su Lam-ceng orangnya jenius, maksud hatinya sendiri, pasti tidak bisa lolos dari perhatiannya, maka dengan mencobanya dia berkata: "Di dunia persilatan itu banyak penipu, hati orang banyak yang jahat, aku......aku......" "Aku tahu kau sudah mulai bosan di dunia persilatan, ingin membawa aku kembali ke Tong-koan, Su-sik cepat bereskan barang barang, Siauya ingin membawa kita kembali pulang." "Pung!" hati Pek Soh-ciu meloncat, buru-buru membela diri berkata, "tidak......kapan aku pernah bilang akan membawa kalian kembali ke Tong-koan..." Su Lam-ceng munggilnya: perlahan menyunggingkan bibir

"Mengapa, apa aku salah menduga? Jika di dunia persilatan banyak penipu, hati orang licik dan kejam, kita menghindar dari mereka, bukankah masuk akal?" Sesaat Pek Soh-ciu sulit bicara: "Ini.. .kek, aku... aku masih belum dapat..." "Hah......!" Su-sik tertawa, "sudahlah, nona Nanti Siauya tambah gelisah, bukan lucu lagi." Pek Soh-ciu melihat tingkah mereka majikan dan pelayan, baru tahu Su Lam-ceng bukan benar-benar ingin kembali ke Tong-koan, dan benar saja, istrinya yang cantik jenius ini tidak mempermainkan dia lagi, beradu siasat dengan dia, sungguh hanya mencari kerepotan sendiri, maka dia dengan tertawa lega dia berkata: "Aku tidak gelisah......aku sedang......kek......berkelakar......" tahu adik Ceng

"Hm!" Su Lam-ceng mendengus, "berkelakar kali ini aku ampuni, jika masih berani berbicara memulai mutar, lihat apa aku masih mengampuni kau tidak?" Pek Soh-ciu sambil tertawa membungkuk menghormat berkata: "Lain kali tidak berani lagi, adik Ceng, menurutmu apakah kita harus mencari perguruan Thian-ho untuk menyelidiki?" "Kau tenang saja, kau tidak perlu pergi mencari perguruan Thian-ho, perguruan Thian-ho juga tidak akan membiarkanmu lolos, Su-sik bongkar barisannya, kita juga sudah harus mencari tempat untuk beristirahat." Su-sik segera membongkar barisan, Hu-cen membawakan kuda, di dalam derap kuda yang seperti hujan deras, mereka tiba di Han-ku-koan yang termasyur sekali

dalam sejarah, tempat ini berada satu li lebih di sebelah barat daya kabupaten Leng-po provinsi Ho-lam, kota penting kerajaan Cin di masa peperangan, karena Koanceng didirikan ditengah lembah, maka disebut Yo-kok, sementaranya dari timur sampai barat sepanjang lima belas li berderet tebing tinggi, di atas tebing tumbuh pohon cemara menjulang tinggi menutup bagian atas, hingga tidak bisa melihat langit, mulai dari Siau-san yang di sebelah timur, sampai Tong-king di sebelah barat, semua disebut Yo-kok, keadaan tempatnya berbahaya, jadi disebut Thianhian. Setelah masuk ke dalam kota, Hu-cen mendapatkan penginapan Hong-lin-khe, sebuah penginapan paling besar di kota ini, dia mengambil satu paviliun, mempersilahkan Pek Soh-ciu suami istri tinggal, Su Lam-ceng segera menjatuhkan diri diatas ranjang dengan lesu mengeluh: "Beberapa hari ini tidak pernah bisa tenang istirahat, hai... sungguh lelah sekali." Pek Soh-ciu duduk di sisinya, tersenyum dan berkata: "Sebenarnya nona bangsawan seperti kau, tidak seharusnya ikut aku berkelana di dunia persilatan......" Su Lam-ceng mendadak bangkit, mata cantiknya melotot: "Menyusahkanmu, betul? Hm......" "Kek, Adik Ceng! kapan aku mengatakan kata-kata ini......" "Kalau begitu selanjutnya kau tidak boleh mengatakan apa itu nona bangsawan segala, apakah nona bangsawan juga terbuat dari tempelan kertas!"

"Baik, tidak mengatakan ya tidak mengatakan, itu sudah bolehkan?" "Tidak bisa, setelah makan masih harus menemani aku keluar jalan-jalan." "Menemani, tentu saja menemani, hai... tidak diduga setelah mendapatkan istri, malah menambah..." Su Lam-ceng memonyongkan mulutnya, baru saja akan membantah, di luar terdengar suara ketokan pintu, mereka berhenti berkelakar, Pek Soh-ciu berkata: "Siapa?" "Su-sik, Siauya! Tuan Gouw pejabat kota datang berkunjung." Pek Soh-ciu merapihkan baju, sambil membalikkan kepala bertanya pada Su Lam-ceng dengan sorot matanya, Su Lam-ceng berbisik: "Han-ku-koan dibawah kekuasaan Toakoku, mungkin dia datang hanya sebagai kunjungan kesopanan, kesopanan tidak bisa diabaikan, kau pergilah menghadapinya." Pek Soh-ciu membuka pintu kamar, terlihat seorang jenderal tua yang rubuhnya tinggi besar, dengan jenggot hitam panjang sampai kedada berdiri di depan pintu, di belakang dia ikut empat orang laki-laki besar setengah baya berpakaian preman, semua orang itu tampak segar bugar, berdiri dengan wajah menghormat. Jenderal tua itu memperhatikan Pek Soh-ciu sebentar, lalu mengepalkan tangan membungkuk dan herkata: "Pek Siauya, aku terlambat menyambut, harap siauya bisa memaafkan." Pek Soh-ciu balik menghormat:

"Tidak berani, aku hanya seorang rakyat biasa, harap Ciangkun jangan terlalu banyak hormat." "Ha......ha......ha" jenderal Gouw tertawa senang, "Siauya adalah seorang yang berbakat, tidak tertarik pada kekuasaan dan kemewahan, dimana Siocia? diluar sudah disediakan kereta, silahkan Siauya dengan siocia pindah ke rumah, supaya aku bisa melayani sebagai seorang tuan rumah." Pek Soh-ciu mengucapkan terima kasih tapi .....nolak dengan halus, katanya: "Istriku kecapaian di perjalanan, sekarang sedang beristirahat, atas perhatian Ciangkun, aku ucapkan terima kasih " Saat mereka saling bersikeras, di luar terdengar lagi suara teriakan istri jendral sudah tiba disana, Pek Soh-ciu membalikkan kepala melihatnya, tampak seorang nyonya setengah baya yang cantik dengan rambut digelung tinggi keatas, memakai rok panjang sampai ke tanah, dengan dituntun oleh empat orang pelayan wanita, melenggang masuk ke dalam ruangan, jenderal Gouw cepat memperkenalkan pada Pek Soh-ciu katanya: "Ini istriku." Kata-katanya berhenti sejenak, lalu berbalik pada nyonya setengah baya, berkata lagi, "Ini adalah Pek Siauya, aku sedang mengundang dia tapi tidak berhasil, Hujin masuk lah ke dalam melihat Siocia, aku menunggu di sini." Nyonya setengah baya yang cantik menghormat pada Pek Soh-ciu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar, Pek Soh-ciu terpaksa berbincang bincang dengan jenderal Gouw di pekarangan, sebentar kemudian nyonya setengah baya yang cantik itu keluar lagi, benar saja dia bisa mengundang

Su Lam-ceng keluar, dia tertawa mantap pada Pek Soh-ciu katanya: "Siauya! Siocia sudah setuju, Siauya berilah kami sedikit muka." Pek Soh-ciu tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa dia menjadi tamu terhormat di kediaman jenderal Gouw, kemudian dia baru tahu, ini adalah pesan yang di sampaikan oleh Su Yi, panglima Tong-koan selalu memperhatikan adiknya yang lemah dan manja dan adik iparnya yang tampan. Setelah makan, mereka sedang berbincang-bincang, jenderal Gouw menatap Pek Soh-ciu berkata: "Siauya! Aku punya satu masalah yang tidak mengerti, tidak tahu Siauya mau tidak menjelaskannya." Pek Soh-ciu dengan wajah serius berkata: "Ciangkun tidak perlu sungkan-sungkan, jika Soh-ciu tahu pasti akan dikatakan." "Siauya masih muda, tidak saja sudah termasyur di dunia persilatan, tapi juga punya dendam yang begitu besar, yang hampir membuat orang tidak bisa percaya, sepertinya seluruh dunia persilatan, semua adalah musuhnya Siauya......" Pek Soh-ciu tertegun: "Termasyur di dunia persilatan, Soh-ciu tidak berani dan malu menerimanya, musuhku dimana-mana, itu memang benar, tapi......" Jenderal Gouw mengusap jenggotnya sambil tertawa sambil berkata:

"Siauya tentu tidak mengerti mengapa aku bisa tahu persoalan di dunia persilatan, ha ha ha, jujur saja, ini semua diberi tahukan oleh istriku." "Ooo!" Pek Soh-ciu berkata, "kalau begitu istri anda pasti seorang Lihiap." “Mertuaku Suma Oey, namanya setara Oh-kui Ouwyang Yong-it di dunia persilatan, Siauya tentu pernah mendengarnya." Pek Soh-ciu jadi tersadar: "Ternyata Hujin adalah putri Suma Tayhiap, Soh-ciu sungguh tidak hormat sekali." Istri jenderal Gouw bernama Suma Hiang, dia tersenyum berkata: "Ayahku adalah Sian-put-cie (Dewa miskin) yang sudah ternama, putrinya malah menikah dengan seorang menantu kaya, harap Siauya jangan mengolok." Su Lam-ceng berkata: "Hujin pasti telah mendengar kabar apa yang tidak bagus, betulkan?" Suma Hiang tertawa berkata: "Adik kecil memang seorang manusia krital berhati cermin, segala sesuatunya tidak bisa lolos darimu, hai.... jika bukan karena telah mendengar kabar, mana kami berani bersikeras pada kalian untuk tinggal di rumahku." Su Lam-ceng merasa gelisah: "Kalau begitu harap Hujin bisa menjelaskan pada kami, supaya kami bisa bersiap-siap." Suma Hiang berkata:

"Gerakan kalian suami istri, semua orang persilatan sudah jelas mengetahuinya, saat ini pesilat tinggi dunia persilatan yang berkumpul di daerah Yo-kok, jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus orang, perguruan yang ikut diantaranya, ada perguruan Thian-ho, Siau-lim, perkumpulan Ci-yan, Bu-tong, Bu-tai, Oh Kai-pang, berikut sejumlah pesilat tinggi yang tidak termasuk dalam perguruan......" Wajah Pek Soh-ciu berubah: "Bagus sekali, hutang bagaimana pun harus dibayar, dengan membuat perhitungan sekaligus, malah bisa menghilangkan banyak kerepotan." "Kek." Jenderal Gouw batuk sekali, "Siauya memiliki warisan ilmu silat dari tiga keluarga, tentu saja tidak takut pada orang-orang ini, tapi Siocia dan dua pelayannya mungkin tidak mampu melindungi dirimya......" Suma Hiang melanjutkan: "Menurut pendapat kami berdua, lebih baik Siauya sementara tinggal dirumah kami, dengan batas waktu selama seratus hari, supaya mereka majikan dan pelayan bertiga bisa menambah sedikit kemampuannya melindungi diri sendiri....." Pek Soh-ciu berkata: "Ilmu silat dalamnya seperti lautan, dengan batas waktu seratus hari, mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa, apa lagi Soh-ciu, terlalu lama tinggal di rumah anda, dalam hati juga merasa tidak bisa tenang." "Ha......Ha......ha" jenderal Gouw tertawa, katanya, "kalau Siauya berkata demikian, jadi menganggap kami bukan orang sendiri, aku hanya takut rumahku tidak bisa melayani kalian dengan baik, Siauya jangan merasa

sungkan, mengenai batas seratus hari.....pasti ku punya pandangan lain." Suma Hiang melanjutkan: "Itu hanyalah satu ideku, betul atau tidak? Siauya bisa mempertimbangkannya." Dia meng-hentikan perkataannya sejenak, katanya: "Siocia punya pengetahuan sangat dalam, tidak bisa disamakan dengan nona lemah yang biasa tinggal di dalam kamar mewah, sampai Thian-kong-ti-sam-tin, dan Keng Itci yang namanya termasyur di dunia persilatan Juga tidak bisa berbuat banyak padanya, aku pikir di dalam seratus hari, dia pasti mendapatkan hasil yang bisa mengejutkan orang." Setelah berpikir cukup lama Pek Soh-ciu jadi setuju. Maka mereka sementara tinggal di Han-ku-koan. Pertamatama dia mengajarkan ilmu tenaga dalam Sin-ciu-sam-coat, lalu setiap hari dengan tenaga dalamnya yang sangat hebat membantu Su Lam-ceng melancarkan jalan arah di seluruh tubuhnya, selanjurnya mengajarkan jurus Im-cu-kiam, Tiga gerakan Ong-hong (angin topan), ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui, seluruhnya diajarkan pada mereka, seratus hari belum sampai, Su Lam-ceng dan pelayannya sudah berubah tidak seperti dulu lagi, Su Lam-ceng juga telah menciptakan dan membuat delapan buah bendera besi kecil diberikan pada setiap orang, Pek Soh-ciu dan dia sendiri berikut pelayannya, berlatih melempar seperti cara melempar senjata gelap, menancapkan bendera besi di dalam radius sepuluh tombak, hingga dalam sekejap bisa membentuk sebuah barisan Pat-bun-tiat-kie-tin (Barisan delapan pintu bendera besi) yang baik dewa maupun setan sulit memecahkannya, walau pun berhadapan dengan musuh yang banyak sekali, asalkan tidak keluar dari barisan, pasti akan selamat.

Setelah lewat seratus hari, mereka meninggalkanl Hanku-koan, menelusuri jalan raya Koan-lok menuju Lok-yang. Hari pertama mereka sampai di kabupaten Hui-seng, sepanjang perjalanan semua berjalan tenang, tidak bertemu dengan orang yang mau cari masalah, baru pagi keesokan harinya, dalam perjalanan ini masalah yang tidak diharapkan, sudah mulai datang. Pertama-tama adalah kuda mereka yang terjadi masalah, untungnya Su Lam-ceng sudah tidak seperti dulu lagi, ketika kudanya tiba-tiba jatuh ke depan, dia sudah meloncat melepaskan diri dengan selamat, walau begitu, dia masih ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat. Sekarang, empat ekor kuda mereka semuanya telah mati, terpaksa Su-sik dan Hu-cen menggendong perbekalan, bersama-sama mulai berjalan kaki kembali, buat Pek Sohciu berjalan jauh seperti ini tidak menjadi masalah, tapi bagi Su Lam-ceng dan pelayannya mungkin tidak akan bisa bertahan, maka Pek Soh-ciu memutuskan, pertama-tama pergi dulu ke kota kabupaten yang berada di depan, menyelesaikan masalah kuda terlebih dulu. Su Lam-ceng malah tersenyum katanya: "Menurut pandanganku, keinginanmu mungkin akan gagal." Pek Soh-ciu merasa heran: "Menurut yang aku tahu, kota yang ada di jalan iaya Koan-lok ini, terdapat pasar kuda, mengapa Adik Ceng berkata demikian?" "Bangsat yang membunuh kuda kita, mereka juga pasti tahu akan hal ini, jika kita bisa membelinya, buat apa mereka berbuat hal bodoh ini!"

Li Cukat ini memang jenius, hingga mereka melewati dua kota, disana sama sekali tidak ada kuda eekor pun, Pek Soh-ciu mengeluh tapi tidak bisa berbuat apa apa, katanya: "Kata-katamu kembali benar, selanjutnya kita harus bagaimana, kau yang atur saja!" Su Lam-ceng mengerutkan alis: "Tadi aku melakukan satu ramalan, di dalam sepuluh hari ini, kita hanya akan mengalami kejadian yang mengejutkan, tapi tidak berbahaya, setelah sepuluh...” Perkataannya tertahan, sepasang matanya, tampak berlinang air mata, Pek Soh-ciu terkejut sekali, katanya: "Mengapa, Adik Ceng......apakah kita akan mengalami suatu bahaya?" Su Lam-ceng mengeluh tanpa bersuara: "Kita suami istri selamanya akan bersatu, hingga seratus tahun, hanya, setelah sepuluh hari, akan berpisah sementara......" "Hay, Adik Ceng......ramalanmu itu, belum tentu bisa selalu tepat." "Aku pun berharap begitu!" dia terdiam sesaat, katanya lagi: "Aku ada dua hal yang ingin memberitahu kau......" "Hal apa?" "Aku sudah dua bulan tidak datang bulan.." "Sungguh? Adik Ceng, ha ha ha......" "Mmm, tapi aku ingin peringatkanmu, selanjutnya kau akan dibelit cinta asmara, akan meninggalkan banyak

hutang asmara yang tidak bisa dibayar, walaupun itu takdir, kau juga harus sedikit waspada." Pek Soh-ciu terbengong berkata: "Soh-ciu bukanlah orang yang tidak punya hati, melihat wanita hati langsung tergerak, Adik Ceng harus bisa percaya padaku." Su Lam-ceng mengangkat kepala berkata: "Sudahlah, kita tidak usah membicarakan ini, di depan ada satu kota, hari ini kita tinggal di sana saja." Saat ini hari baru saja menjelang sore, melewati satu kota lagi seharusnya tidak jadi masalah, tapi Pek Soh-ciu tidak tega menolaknya, dia juga khawatir istrinya kelelahan, maka beristirahatlah mereka di kota yang disebut Koan-intong. Su Lam-ceng bisa meramal, dia tahu setelah lewat sepuluh hari mereka suami istri akan berpisah, hal ini yang membuat dia sulit bisa menerimanya, sehingga, dia ingin dalam sepuluh hari ini, sebisanya menikmati kemesraan suami istri. Tapi... saat mereka sedang berdampingan, dan memadu kasih, sebuah bayangan berwarna merah menembus jendela masuk ke dalam, begitu Pek Soh-ciu tahu, sebuah suara pelan terdengar, bayangan merah itu sudah menancap diatas dinding. Dia lalu mencabut benda berwarna merah itu, begitu melihat wajah tampannya mendadak di selubungi dengan hawa membunuh. Su Lam-ceng mengambil benda itu dari tangannya lalu di lihatnya, tampak ini adalah sebuah bendera merah kecil, di tiangnya terdapat satu kertas surat, di atasnya tertulis 'Para sahabat dunia persilatan menunggu anda di Lo-houw-pai', walau surat ini tidak dibubuhi tanda tangan si pengirim,

tapi Pek Soh-ciu tahu bendera merah kecil ini, adalah milik perguruan Thian-ho. Su Lam-ceng dengan perasaan was-was berkata: "Ciu koko, kita pergi tidak?" Pek Soh-ciu mengangkat alisnya: "Walau pun itu adalah danau naga goa harimau, kita juga akan melabraknya, apalagi jika kita tidak pergi, apakah bisa menjamin mereka tidak datang!" Su Lam-ceng mengeluh, membalikan kepala menyuruh Su-sik menanyakan jalan ke Lo-houw-pai, lalu mereka bersama-sama meninggalkan penginapan, pergi ke arah utara kota, di sebelah kiri sekitar dua li, tibalah di satu gunung yang megah. Di atas lapangan datar di punggung gunung, telah berkumpul sekelompok besar orang, di bagian tengah berdiri orang-orang perguruan Thian-ho, baju merahnya mencolok mata, di sorot matahari senja tampak lebih terang lagi, di sebelah kiri ada orang-orang perkumpulan Ci-yan, berseragam baju ungu, mengeluarkan warna merah padam, di sebelah kanan adalah ratusan pesilat tinggi dari aliran putih dan hitam dunia persilatan, melihat keadaannya, setiap orang itu adalah orang yang sangat ternama. Pek Soh-ciu berhenti di punggung gunung, matanya menyapu, sambil tertawa keras dia berkata: "Kelompok yang sangat besar sekali, Pek......hehe, sungguh beruntung sekali." orang she

Yang menjadi pemimpin perguruan Thian-ho adalah seorang tua bermantel biru, wajahnya persegi dengan telinga besar, di depan dadanya melambai-lambai tiga jenggot panjang, sorot mata orang ini samar-samar menyorot sinar aneh, sikapnya mantap, jelas seorang ahli

silat hebat, di sisinya menempel ketat seorang wanita cantik berkulit putih bersih, sepasang bola matanya bergulir-gulir memandang Fek Soh-ciu, di-belakang mereka berdua, ada orang kedua dan orang ketiga Cu-lay-sam-koay, empat mata yang membawa api kemarahan dengan kebencian memandang musuh pembunuh Toako mereka. Yang memimpin perkumpulan Ci-yan, adalah seorang tua kurus kering, mulutnya tajam pipinya tipis, di belakang dia berdiri tiga laki-laki tegap berbaju ringkas, melihat tampangnya, semuanya jelas para penjahat. Di sebelah kanan ada gabungan dari hweesio, orang biasa, pendeta To, walau mereka tidak terorganisii, tapi kekuatannya mungkin masih di atas perguruan Thian-ho dan perkumpulan Ci-yan. Saat ini orang tua kurus kering dari perkumpulan Ci-yan, dengan batuk kering berkata pada Pek Soh-ciu: "Sungguh menyesal membuat Pek Siauhiap kecewa, karena yang mau kami sambut bukanlah anda." "Ooo!" Pek Soh-ciu berkata, "jadi aku yang suka sok pintar sendiri, baiklah, kita bertemu di lain waktu." Saat dia akan membalikkan tubuh untuk pergi, orang tua kurus itu mendadak tertawa dingin, katanya: "Jangan terburu-buru Pek Siauhiap, yang kami sambut walau bukan kau, tapi berhubungan erat denganmu." Pek Soh-ciu tertegun melirik pada Su Lam-ceng, di dalam hati berkata: "Tidak di sangka istriku yang cantik tiada dua-nya ini, malah memiliki kemampuan menarik dunia persilatan!"

Tapi orang tua kurus itu kembali tertawa dingin: "Pek Siauhiap jangan berpikir ke arah ujung tanduk sapi, yang ingin kami sambut, hanyalah benda di dalam dadamu itu." Pek Soh-ciu sedikit tertegun, lalu sambil tertawa lantas berkata: "Ooo, begitu! Tapi Pouw-long-tui hanya ada satu, buburnya sedikit hweesionya banyak, lalu harus bagai mana membaginya?" Orang tua kurus itu tertegun: "Ini......kek, kek, kita memang harus membuat satu aturan yang adil......" Su Lam-ceng melanjutkan: "Apa yang dikatakan orang tua ini tidak salah, aku punya satu cara yang adil......" suara dia nyaring merdu, seperti burung Eng (elang) keluar dari lembah, seluruh pesilat tinggi dilapangan, sorot matanya segera melihat padanya. Orang tua kurus begitu dipuji, tulangnya seperti menjadi ringan sedikit, lalu dia tertawa, dan berkata: "Aku adalah wakil ketua perkumpulan Ci-yan Elang Botak Liu Peng, jika nona punya cara yang adil, perkumpulan Ci-yan yang pertama menyetujuinya." Satu dengusan dingin terdengar dari sebelah kanan: "Perkumpulan Ci-yan apa, hem... jangan memalukan..." Wajah Elang Botak Liu Peng jadi berubah, katanya: "Sahabat yang mana itu? Jika berani keluar bicara." Bayangan orang berkelebat, seorang laki-laki berotot dengan wajah sombong keluar dari kerumunan orang,

pertama-tama dia melihat pada Su Lam-ceng, lalu mendengus lagi dengan sombong berkata: "Aku sudah keluar, wakil ketua mau apa?" Liu Peng tertawa: "Ternyata Tan-hoa-long-kun (Laki-laki jantan doyan wanita) Ong Lan! Aku kira siapa, pengelana sepertimu yang tahunya mencari wanita, bagaimana bisa tahu situasinya berbahaya atau tidak?" Tan-hoa-long-kun Ong Lan membalikkan tangan merogoh sakunya, mengeluarkan sepasang kail mas yang ada pelindungnya, kakinya melangkah maju langsung menyerang, kail emas dengan membawa angin keras membelah tubuh atas dan bawahnya Liu Peng, mulutnya tertawa sambil berkata: "Tidak salah kata-katamu, sampai istri ketua perkumpulan kalian Ang Sian-yam juga pernah mengundangku menjadi tamu pribadi di kamarnya, sayang kau tidak punya istri, jika tidak, marga Ong juga akan memberi kau sebuah topi hijau untuk dipakai olehmu." Jurus sepasang kail emasnya Tan-hoa-long-kun sangat dahsyat, walau mulurnya berbicara kotor dan terus menghina, Liu Peng malah terdesak tidak berdaya, meski sudah mencoba berturut-turut membalas lima bacokan golok, masih belum dapat menahan serangan kail mas yang sangat dahsyat, dia juga tidak sempat berbantah. Tiga laki-laki tegap yang berada dibelakang Liu Pcng, adalah tiga ketua cabang perkumpulan Ci-yan, mereka semua tahu Tan-hoa-long-kun tidak mudah dihadapi, tapi karena lawan berani menghina istri ketua perkumpulan, juga melihat Elang Bodak akan segera mati dibawah kail

masnya, maka mereka sambil berteriak, segera melakukan serangan beramai-ramai. Mendadak, terdengar dua suara keras, Tan-hoa-Iong-kun dan Elang Botak Liu Peng telah dipisahkan, yang berdiri di tengah lapangan ialah orang tua bermantel biru dari perguruan Thian-ho, sorot matanya yang dingin menyapu pada Liu Peng berdua, lalu dengan tertawa keras berkata: "Maaf, aku tidak bermaksud mengecewakan kalian berdua, jika kalian berdua benar-benar ingin berkelahi, lebih baik kalian cari lapangan lain, atau membuat janji di lain waktu, hari ini harap beri aku orang she Hoan sedikit muka." Perkataannya sangat kebetulan buat Liu Peng untuk mundur, dia menyimpan goloknya, pada orang tua mantel biru mengepalkan tangan membungkuk: "Yang terhormat telah mengatakan begitu, mana berani aku tidak menurut." Dia segera mundur ketempatnya, Tanhoa-long-kun juga tidak mau membuat ulah pada orang yang di panggil terhormat, tanpa buka suara dia langsung meloncat ke kanan ke tempat semula. Setelah selesai orang tua mantel biru kembali tertawa panjang, berkata: "Tidak makan nasi di dalam katel, tidak akan berdiri di sisi katel, para sahabat yang ada di lapangan, mungkin semua berminat pada Pouw-long-tui, tentu berharap ada satu cara yang adil, begini saja, kita semua jangan terburu nafsu, dengarkan dulu apa penjelasan dan cara yang dikatakan oleh Pek Hujin." Masalahnya kembali kepokoknya, maka Su Lam-ceng dengan tertawa tawar yang sangat anggun, membuat orang sulit menahan diri, sepasang matanya yang sejernih air

melihat ke sekeliling, membuat hati setiap orang tidak tahan jadi tergetar tanpa sadar, tapi para pesilat tinggi yang melanglang buana ini, malah tidak satu orang pun yang mau mengeluarkan suara sekecil apa pun, mereka semuanya terdiam, seperti sedang menghadap dewa, sedang diam berdiri dengan horrnat mendengar perintah yang mulia. Su Lam-ceng mengangkat tangan memainkan rambut di pelipisnya, perlahan batuk lalu berkata: "Ratusan tahun yang lalu bangsawan Liu menusuk penguasa kejam Cin, dengan menggunakan Pouw-long, namanya menjadi harum sepanjang sejarah anda sekalian harus tahu Pouw-long-tui adalah senjata sakral jaman dahulu yang digunakan untuk menghancurkan penguasa kejam......" "Nona benar." Teriakan gemuruh terdengar ke seluruh gunung, para pesilat tinggi yang melakukan segala kejahatan ini, seperti sedang mendengar amanat majikannya, mereka menurut seperti sekelompok kucing kecil yang jinak. "Makanya." Su Lam-ceng melanjutkan perkataan nya, "orang yang memiliki Pouw-long-tui, yang utama harus memiliki sifat yang benar, kalian bisa menanyakan pada diri sendiri, orang yang seumur hidup tidak pernah berbuat yang memalukan boleh tinggal ditempat ini, jika tidak dia harus melepaskan haknya untuk bisa memiliki Pouw-longtui." Baru saja dia selesai berkata, di lapangan sudah ada satu orang yang diam-diam meninggalkan lapang, lalu dalam sekejap ratusan pesilat tinggi dunia persilatan telah pergi semua, satu pun tidak ada yang tersisa.

Angin gunung membelai rambut Su Lam-ceng, dia membalikan tubuh pada Pek Soh-ciu yang bengong dengan nada sedih berkata: "Ciu koko, apakah dunia selebar ini, tidak ada satupun orang yang benar-benar baik?" "Hai...!" Pek Soh-ciu mengeluh, "para penjahat ini kejahatan apa pun telah dilakukannya, mengapa mereka bisa berubah jadi begitu penurut? Adik Ceng, apakah kau memilik ilmu gaib?" Su Lam-ceng memonyongkan mulurnya: "Dari mana aku bisa ilmu gaib, orang-orang itu hanya mendadak saja jadi sadar!" Pek Soh-ciu tetap menggelengkan kepala: "Kecuali Budha sendiri yang tampil, baru dapat membuat batu bandel menganggukan kepala, hasil yang demikian, sungguh terlalu aneh......" "Hm... bagus, justru karena kau tidak percaya, maka orang-orang itu kembali lagi." Di ikuti dengan perkataan Su Lam-ceng, kelompok demi kelompok bayangan orang kembali muncul di sekeliling, Pek Soh-ciu mengangkat kepala melihat, benar saja orang-orang yang tadi dilapangan, datang kembali dengan sangat cepat, dalam sekejap telah mengurung mereka kembali. "He...he..." orang tua mantel biru she Hoan tertawa menghadap Pek Soh-ciu berkata: "Istrimu memang hebat, aku sangat mengaguminya, tapi manusia bukan dewa, mana mungkin tidak pernah berbuat salah, Pek Siauhiap sendiri belum tentu tidak pernah melakukan kesalahan, apa lagi kita yang berada di dunia persilatan yang diandalkan adalah yang kuat yang menang, jika Siauhiap berminat, kita main-mainlah beberapa jurus."

Pek Soh-ciu berkata tawar: "Jika anda mengatakan demikian, Pek Soh-ciu juga tidak bisa memuaskan harapan begitu banyak orang, ini sungguh satu hal yang sangat sulit." "Hm...!" dengan dingin orang tua she Hoan berkata, "Sekali Thian-ho muncul, semua perkumpulan menyembah, Hoan Liu tidak percaya ada orang berani menentang aku!" Su Lam-ceng dengan pilu berkata: "Ciu koko, apakah perguruan Thian-ho benar-benar selihay itu? Jika dia tahu kita tidak takut pada Thian-kongti-sam-tin nya, mungkin dia tidak akan bicara seperti ini.” Benar saja, kepintarannya seluas lautan, walau dia berkata dengan tenang dan tawar, tapi seperti jarum ditusukan ke tubuh, langsung terlihat darah, tepat mengenai kelemahannya perguruan Thian-ho, walau pun benar Hoan Liu adalah kepala penjahat yang menggemparkan dunia persilatan, tapi ratusan pesilat tinggi yang ada dilapangan, bukan takut pada dia, tapi mereka takut pada barisan Thian-kong-ti-sam-tin hingga membuat para pesilat tinggi dilapangan tidak berani sembarangah bergerak, tapi Su Lam-ceng pernah memimpin para pesilat tinggi menghancurkan Thian-kong-ti-sam-tin, peristiwa ini telah tersiar ke seluruh dunia persilatan, sekarang setelah dia mengatakan hal itu, tidak berbeda dengan menambah keberaniannya para pesilat tinggi itu. Saat ini seorang laki-laki setengah baya yang berwajah bersih, berpakaian sastrawan, dengan tertawa berkata: "Tidak salah, dengan ada Pek Hujin disini, paling sedikit kita bisa mencoba Thian-kong-ti-sam-tin untuk menambah pengetahuan kita."

Su Lam-ceng melihat orang yang berkata itu, walau dia berpakaian panjang, tapi di pinggangnya terikat delapan kantong sebagai lambang Kai-pang tianglo, dia merasakan keadaannya ada yang tidak betul, dari wajahnya yang kelihatan bersih itu, samar-samar terlihat ada sinar licik, maka dia membalikkan kepala pada Pek Soh-ciu, tidak mempedulikan kata-kata pujiannya. Walau demikian, Hoan Liu yang menyebut dirinya Siau giauw-te-kun (Tuan raja yang tidak terikat) telah menyimpan kesombongannya, sambil tertawa dia berkata: "Sin Bu-ki, bila kau ingin menyaksikan Thian-kong-tisam-tin tentu saja boleh, tapi...... jika kalian semua menurut caranya Pek Hujin, aku akan mengecewakan kalian, he he he......" Sin Bu-ki mengangkat jempol berkata: "Pintar menyesuaikan diri, nama Siau-giauw-te-kun memang bukan omong kosong." Siau-giauw-te-kun tidak mempedulikan ejekkan nya, dia berbalik pada Su Lam-ceng, berkata: "Katakan saja Pek Hujin, kami semua dengan hormat mendengarkan." Su Lam-ceng mendengus perlahan, berkata: "Aku hanya menyarankan prinsipnya saja, setuju atau tidak, kalian boleh mempertimbangkan sendiri." Kata-katanya berhenti sejenak, lalu berkata lagi: "Jumlah kalian begitu banyak, jika ingin bertanding siapa yang lebih tinggi, akan menghabiskan waktu lama, jika bisa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok mengutus satu sampai tiga orang, bertanding dengan sistem gugur, dalam tiga babak jika dua kali kalah

maka yang dua kali kalah tidak berhak memiliki Pouwlong-tui, kelompok terakhir yang berhasil menang, bertanding lagi dengan kami, yang menang boleh memiliki Pouw-long-tui." Usulan dia mendapatkan persetujuan banyak orang, maka mereka membagi diri menjadi 4 kelompok, aliran putih, aliran hitam, perguruan Thian-ho, perkuni pulan Ciyan, wakil dari aliran putih adalah guru besai Tiang Beng dari perguruan Bu-tai, Gin-ie-siu-su (Sastrawan baju perak) Bu Soh-koan, dan pendeta To Hian-ho dari Bu-tang, dari aliran hitam seluruhnya di pimpin perampok Gin-sai-tiang-wan (Monyet keriting berjenggot perak) Tiat Kie-bu, Tui-hun-su-cia (Rasul pengejar roh) Kui Ih-kang, dan Toako dari Kang-pak-siangeng (sepasang pendekar dari Kang-pak)" Cin ciu-hu, dari perguruan Thian-ho adalah Siau-giauw-te-kun Hoan Liu, istrinya Hoan Liu, Giok-ki-Sian-cu (Dewi berkulit giok) SaiHoan, saudara kedua dari Cu-lay-sam-koay Ang-tai-jiu, dari perkumpulan Ci-yan adalah wakil ketua perkumpulan Elang Botak Liu Peng, ketua cabang I.u-kiu, Kim Si, ketua cabang Sui-in, Bun Bun-thian, hasilnya setelah diundi, aliran putih menghadapi perguruan Thian-ho, aliran hitam bertemu dengan perkumpulan Ci-yan, menurut urutan aliran putih yang pertama tampil. Orang pertama yang loncat masuk ke lapangan adalah Sastrawan Baju Perak Bu Soh-koan, orang ini •eluruh pakaiannya berwarna perak, dengan wajahnya vang putih berbibir merah, tubuhnya tinggi, penampilannya hebat sekali, hanya sayang sorot matanya penuh kelicikan, penuh dengan hawa kejam, dia mengeluarkan kipas lipat lapis emas dari dalam lengan bajunya, pada 'Siau-giauw-te-kun dia tertawa katanya:

"Aku she Bu melembar batu memancing Giok (Menantang), siapa yang pertama mau keluar bertarung denganku?" Saudara kedua dari Cu-lay-sam-koay Ang-tai-jiu berebut keluar, berkata: "Sebuah kipas lipat lapis emas Bu Tayhiap, belum pernah mendapat lawan, orang she Ang tidak ingin meewatkan kesempatan bagus ini, untuk menambah pengalaman!" Dua orang ini sama-sama orang yang sudah menggemparkan dunia persilatan, begitu menjawab, langsung memasang kuda-kuda, setelah cukup lama... Bu Soh-koan lalu membentak, kipas lipat lapis emasnya bersuara, ditotokan ke arah dadanya Ang-tai-jiu, Ang-tai-jiu tidak mengelak tidak menghindar, lengan kanannya dibalikan, lima cakarnya mencoba menangkap lengan Bu Soh-koan, telapak kirinya terbang miring, pukulan telapak yang bisa menghancurkan batu dengan kuat dipukulkan pada bahunya Bu Soh-koan. "Ha......ha......ha" Bu Soh-koan tertawa panjang, dia menurunkan bahu menekan pergelangan tangan menghindar pukulan, kipas lipat lapis emasnya mendadak dibuka, pinggir kipas yang seperti pisau tajam, sekali menyapu sekali diangkat, dada Ang-tai-jiu sudah terkena dan mengalirkan darah. Jurus ini dahsyat, kecuali beberapa pesilat tinggi, yang lainnya malah tidak tahu bagaimana cara dia melukai musuhnya, tapi bagaimana pun Ang-tai-jiu bukan orang yang lemah, Bu Soh-koan memang membuat dia terluka, tapi angin telapak dia juga menyapu mengenai bahu lawannya, Bu Soh-koan hanya merasakan sebuah tenaga yang amat dahsyat, menekan sampai dia mundur beberapa

langkah, membuat lengan kirinya hampir saja kehilangan gunanya. Mereka sejenak beristirahat, Bu Soh-koan langsung berteriak keras berkata: "Kali ini tidak dihitung, kita mulai lagi." Dua orang pesilat tinggi yang namanya termasyur di dunia persilatan ini, kembali saling menyerang, suara angin telapak berkesiur, bayangan kipas berkelebat, pertarung an yang Lw judi sengit sekali. Mendadak terdengar saru dengusan dingin, dan bayangan kipas jadi berhenti, kedua orang yang bertarung bersamaan mundur, Ang-tai-jiu melangkah miring beberapa langkah, lalu jatuh keatas tanah, bahu kanannya di dekat lengan, tampak menyemburkan darah segar. Walau Bu Soh-koan bisa menang, tapi menang dengan tidak mudah, dia kecapaian juga setelah menguras tenaganya, dengan tersenyum dia kembali jalan ke kelompoknya. Aliran putih berhasil meraih kemenangan pada pertarungan pertama, seharusnya ini hal yang menggembirakan, tapi malah sulit melihat sinar kegembiraan diatas wajah mereka, sebab hasil kemudian ternyata guru besar Tiang Beng kalah dari tangan mulusnya Giok-ki-sian-cu, pendeta To Hian Ho terpaksa mengaku kalah dari Siau-giauw-te-kun. Selanjutnya pertarungan antara aliran hitam . lengan perkumpulan Ci-yan, perkumpulan Ci-yan tidak berturutturut mengalami kekalahan, malah dua oranng ketua cabang Liu-kiu dan Sui-in sampai kehilangan nyawanya, lalu pertandingan di lanjutkan antara aliran hitam dengan perguruan Thian-ho. Ternyata pertarungan nya terasa berat sebelah, Siau-giauw-te-kun suami istri ternyata tidak ada

yang bisa mengalahkan, sepertinya dari seluruh pesilat tinggi yang ada di lapangan, sulit mencari 'orang yang bisa menahan mereka. Ilmu silatnya sangat hebat, di wajah Siau-giauw-te-kun yang gagah itu, terlihat kesombongan: "Ha ha ha!" dia tertawa pada Pek Soh-ciu berkata, "sekarang giliran kita, Siauhiap! Siapa diantara kalian yang pertama tampil?" Pek Soh-ciu berkata dingin: "Aku sendiri bertarung dua babak, istriku satu babak, perguruan anda sebagai tamu, kalian pilihlah seorang dulu." Saat Siau-giauw-te-kun akan melangkah keluar menantang Pek Soh-ciu, Ang-tai-jiu ber-teriak sambil menerjang keluar, dia ingin membalaskan dendam saudaranya, dia berkata: "Te-kun! Aku ingin membalaskan dendam kakakku, babak ini harap Te-kun mengalah padaku, biar aku tampil duluan." Siau-giauw-te-kun melihat luka Ang-tai-jiu sudah tidak mengganggu, juga dia yakin dia bisa menangkap Pek Sohciu seperti dia merogoh kantongnya sendiri, walau pun babak ini kalah, tidak akan ada pengaruhnya, maka dia menganggukkan kepala: "Baiklah, tapi harus hati-hati sedikit." Ang-tai-jiu mengiyakan lalu meloncat keluar, luka yang didapat tadi, tampak sedikit pun tidak mempengaruhi gerakannya, dia memandang Pek Soh-ciu sambil menggigit gigi berkata: "Serahkan nyawamu, orang she Pek." Baru saja Pek Sohciu akan melangkah keluar, Su Lam-ceng malah menarik dia dengan tertawa manis berkata:

"Biar aku yang memukul anjing yang jatuh ke air, kau awasilah." Dia jalan melenggang, pelan-pelan berjalan menuju tengah lapangan, mantel penahan angin berwarna kuning angsa, melayang-layang ditiup angin gunung, penampilannya yang anggun sulit digambarkan dengan kata-kata, dia segera mendapat perhatian di seluruh lapangan, malah ada orang tidak tahan berteriak: "Pek Hujin! Orang ini punya dendam dengan suamimu, kau harus hati-hati." Sambil tersenyum dia menganggukan kepala, tetap dengan tenang melangkah maju kedepan Ang-tai-jiu berkata: "Aku menggunakan pedang, silahkan siapkan senjatamu." Dia menghunus Im-cu-kiam pemberian Pek Soh-ciu, tersenyum menatap Ang-tai-jiu. Ang-tai-jiu seperti terdesak oleh kecantikan yang menyilaukan mata hingga menundukkan kepala, sepasang mata dia menurun rendah dan mengeluh: "Demi membalas dendam saudara, Hujin! Aku terpaksa harus......" "Aku tahu, kau mulailah." "Hujin lebih baik suruh suamimu keluar?" "Tidak perlu." "Hai kalau begitu aku terpaksa menyerang." "Kusuruh kau mengeluarkan senjata!" "Telapak tangan adalah keahlianku, Hujin hati-hatilah!" Habis bicara, lalu Ang-tai-jiu menyerang, sebuah pukulan seperti gada besi, didorongkan datar di depan

tiada, dia seperti takut jurus telapak ini terlalu dahsyat, saat memukul dia kembali mengurangi tenaganya sekitar sepuluh persen, walau pun demikian, kekuatan pukulan ini, tetap saja tidak akan bisa ditahan oleh tubuh yang terbentuk dari darah dan daging, jika Su Lam-ceng tidak sempat mengelaknya, mungkin dia akan kehilangan nyawanya, sehingga, setelah Ang-tai-jiu memukul langsung menarik kembali pukulannya, dengan mata membelalak bingung, menatap Su Lam-ceng, dengan masih merasa sedikit penyesalan berkata: "Pek Hujin! Kau tidak apa apa kan?" Su Lam-ceng tersenyum berkata: "Aku baik." Ang-tai-jiu seperti merasa lega, sebelah tangan diangkat, kembali akan menyerang, mendadak ter-dengar teriakan: "Berhenti." Giok-ki-sian-cu Sai-hoan sudah meloncat keluar, dengan wajah hijau dia berteriak marah pada Angtai-jiu: "Pergilah, jika kau merasa sayangnya pada wanita cantik, buat apa kau membalaskan dendam kakakmu!" Apa yang dia katakan memang tidak salah, jika Ang-taijiu takut melukai lawannya, lalu bagaimana bisa membalaskan dendam kakaknya? Ang-tai-jiu dengan penuh rasa malu kembali ketempatnya, tapi Giok-ki-sian-cu, Saihoan juga tidak tega dengan tangan keji menghancurkan nyonya cantik yang munggil ini, karena penampilan Su Lam-ceng yang anggun, cantik tiada duanya, walau orang yang paling kejam pun, akan seperti besi bertemu api, dengan sendirinya menjadi lembek, sehingga, dia dengan wajah serius dia berkata:

"Babak ini dihitung seri saja, Pek Hujin! sekarang kau harus meninggalkan lapangan." Su Lam-ceng tertawa berkata: "Baiklah, tapi aku harus ingatkan ciri dulu, suamiku adalah orang yang tidak mengerti menyayangi wanita cantik, jadi cici lebih baik hati-hati." Dia berjalan kembali ketempat asalnya, tapi Pek Soh-ciu dengan perasaan canggung malah tertawa katanya: "Adik Ceng! Mengapa kau berkata itu......" Su Lam-ceng berbisik: "Wanita itu cantik sekali, bukan? maka aku terpaksa menjaganya sedikit." Pek Soh-ciu tertawa pahit, lalu dengan langkah besar masuk ke lapangan, dia memperhatikan Sai-hoan, wanita ini' kulitnya putih seperti salju, tidak salah mendapat julukan Giok-ki, dia tidak berani lama-lama memperhatikan dia, dengan suara serak dan kaku berkata: "Hoan Hujin silahkan mulai." Dari dalam dadanya Giok-ki-sian-cu pelan pelan mengeluarkan sapu tangan wangi, lalu sapu tangan itu dibukanya, dan bau wangi langsung menyebar kemanamana, ditambah pakaiannya yang indah mencolok mata, sungguh seperti tarian pakaian indah, mana ada suasana pertarungan hidup atau mati, saat melangkah tubuhnya Kperti angin, pakaiannya yang berwarna-warni menit >lok mata, sapu tangan wanginya sudah menyerang kearah dadanya Pek Soh-ciu. Pek Soh-ciu tidak menduga dia menyerang begitu tepat, sedikit lengah saja hampir saja dia terkena pukulannya, untung saja ilmu silat dia sangat tinggi, begitu pikirannya bergerak, tubuhnya sudah melayang mundur lima kaki, membalikkan tangan menghunus sebuah pedang panjang

dari baja murni, dengan jurus Ciu-Imng-kai-si (tiba-tiba muncul angin musim gugur), dia membalas menyerang. Sapu tangan wangi Giok-ki-sian-cu terbang miring, menyerang pergelangan tangan kanan yang memegang pedang, mulutnya malah tertawa dan berkata: "Saudara! Kata-kata istrimu, tentu kau sudah mendengarnya, tapi orang yang tampan seperti kau, jika dikatakan tidak menyayangi wanita cantik, sungguh sulit orang bisa percaya, ha ha ha......betulkan? Saudara......" Dihadapan suaminya Siau-giauw-te-kun dan penonton dari segala aliran, wanita ini berbicara dengan kata-kata yang menggelitik, sungguh berani sekali. Tapi jurus sapu tangan wanginya, malah bergerak membelit memukul menotok membelah, sangat ganas sekali. Pek Soh-ciu tidak berani menjawab kata-kata wanita yang kulitnya seperti salju dengan bau wanginya yang menyebar kemana-mana, hidungnya mengeluar-kan nafas keras, serangkaian jurus Im-cu-kiam yang paling hebat telah dia keluarkan. Setelah lewat sepuluh jurus, tampak Giok-ki-sian-j cu kewalahan, jurus sapu tangan wanginya memang aneh tidak diduga, tapi tetap saja bukan lawan jurus Im-cu-kiam, dan juga tenaga dalam dan ilmu silat meringankan tubuhnya, tidak setinggi Pek Soh-ciu. Sehingga begitu terjadi bentrokan, sapu tangan wangi seperti burung walet berwarna-warni terbang keudara, dipukul oleh Pek Soh-ciu hingga terlepas dari tangannya. Mungkin dalam jurus ini Pek Soh-ciu menggunakan tenaga terlalu besar, tubuh langsing Giok-ki sian-cu bergetar sebentar, mulutnya mendehem, rubuh nya roboh ke arah dada Pek Soh-ciu.

Sesaat Pek Soh-ciu tertegun, tanpa sadar dia mengulurkan tangan memeluk tubuhnya, satu suara merdu yang kecil seperti suara nyamuk, terdengar ditelinganya: "Terima kasih." Baju warna-warninya ber-kelebat, dia seperti burung walet terbang, tangan mulusnya diulurkan, tepat menangkap sapu tangan wangi yang hampir jatuh ke tanah, saat turun ke tanah dia sudah berdiri disisi Siaugiauw-te-kun. Dia sudah kalah, tapi dalam beberapa gerakan terakhirnya, tidak saja dia bergerak secepat kilat, gerakannya juga sangat manis tiada duanya, para pesilat tinggi yang menonton, tidak tertahan semuanya bersorak, tapi malah dengan wajah mengandung arti, gelombang mata mengalun, dia melirik pada Pek Soh-ciu dengan genit sekali. Hati orang-orang disana masih terbayang pertarungan yang sengit dan romantis tadi, tapi Siau-giauw-te-kun dengan sorot mata ingin membunuh meloncat masuk ke lapangan, kepala penjahat ini tidak bisa dianggap enteng, dia bukan hanya meloncat begitu saja, malah bisa mengeluarkan suara desingan yang menggetarkan hati orang, sepasang mata dia membelalak, sinar matanya mengeluarkan hawa pembunuh-an yang tebal, membuat wajahnya yang gagah diselimuti oleh warna yang menakutkan orang, dia melangkah maju satu ngkah lagi, otot wajahnya bergerak sekali, begitu berteriak suara yang keluar dari tenggorokannya seperti suara binatang liar. "Orang she Pek, jika aku tidak bisa membunuhmu maka aku akan mengganti she, terima ini.." Satu garis sinar emas keluar dari dalam lengan bajunya yang besar longgar itu, dia seperti meteor jatuh, saking

cepatnya sulit dilihat dengan mata telanjang, hanya sekelebat sudah menutup diatas kepala Pek Soh-ciu. Semenjak Pek Soh-ciu keluar gunung sampai sekarang, dia sudah bertemu dengan tidak sedikit pesilat tinggi yang ternama, tapi pesilat tinggi seperti Siau-giauw-te-kun, baru pertama kalinya di temui, tentu saja, dengan ilmu silatnya sekarang, belum tentu dia kalah oleh Siau-giauw-te-kun, tapi semangat lawan yang dahsyat itu, membuat dia merasa sedikit ngeri, di saat sinar mas datang menyerang, pedang baja di tangannya secara bersamaan didorongnya, tetapi di dalam satu benturan yang amat dahsyat, dia malah tidak bisa menahan diri dan mundur beberapa langkah ke belakang. Sepertinya hanya dalam satu jurus saja, dia sudah berada dibawah angin, dan sinar mas yang mengurung tubuhnya, seperti gelombang laut gunung runtuh, tanpa ampun menyerang dia. Jurus Im-cu-kiam nya tidak bisa dikembangkan, Pouwci-sin-kang yang hebat juga tidak bisa dipusatkan, hanya dengan mengandalkan langkah Co-yang-kiu-tiong-hui, dia bisa menghindar, mengelak, seperti anjing dirumah duka, keadaannya sungguh berbahaya sekali. "Saudara! Bersikap tenanglah, ilmu silatmu tidak kalah dari dia, bertarung yang utama harus bersemangat, tidak boleh sebelum bertarung sudah kalah semangat." Sebuah suara merdu yang pelan seperti suara nyamuk berkumandang pelan ditelinganya. Tidak salah, dia menyadari ilmu silatnya memang tidak kalah dan lawannya, hanya saja semangat bertarungnya tertekan oleh lawan, maka dia segera bersiul nyaring, sebuah jalur hawa pedang yang dingin, seperti salju di musim gugur menebar

keseluruh langit, sinar emas yang seperti naga marah, dihantam oleh pukulan ini sehingga mundur kembali. Kejadian ini di pandang oleh pihak Siau-giauw-te-kun, seperti satu hal aneh yang tidak mungkin terjadi, karena bukan saja tadi dia sudah mengendalikan situasi, juga sudah sepenuhnya menguasai keadaan, membunuh lawan hanya tinggal menanti beberapa saat saja, tidak diduga lawan yang sudah terkurung, malah masih ada kemampuan balik melawan. Dia telah mundur dua langkah, dengan mengangkat tongkat emas yang bersinar mencolok mata, dengan dingin menatap lawan yang masih muda ini, lama... dia baru dengan berteriak marah: "Orang yang akan aku bunuh, pasti tidak akan ada kesempatan bisa melihat matahari terbit besok hari, ayahmu sedang menunggu, bocah...... aku antar kau bertemu dengan ayahmu." Mantel biru mengembang, sinar emas berkilat lagi, Giokgiauw-te-kun dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, melakukan serangan dahsyat, ingin dengan sekali pukul membinasakan lawannya! Ini adalah sebuah serangan dahsyat yang sangat hebat. sinar emas seperti kilat, dengan suara gemuruh membelah angin melintang menghantam, para penonton di lapangan sedang gemetar dingin, Su-sik dan Hu-cen ketakutan sampai menjerit keras, sampai wajah Giok-ti tian-cu Saihoan juga keluar keringat, hanya Su Lam-ceng berdiri seperti satu patung batu, wajahnya tenang, sedikit pun tidak ada emosi. Terdengar sebuah suara keras yang menggetarkan bumi dan langit, membawa hawa kematian yang kental, orangorang membelalakan sepasang mata, menatap tajam pada

debu yang bertebaran di udara, setiap butir pasir kecil muncrat menghantam tubuh orang-orang, menimbulkan rasa pedas, panas. Tidak ada seorang pun yang menggerakan tubuh, malah mata mereka tidak berkedip sekali pun, umpana ada orang menekankan golok diatas leher mereka, setelah mereka menyaksikan akibat dari pukulan yang dahsyat itu, meski kepala mereka terlepas juga mereka tidak akan merasakannya. Perlahan-lahan debu mulai menghilang, sinar senja yang menyorot miring, memperluas pandangan orang-orang disana, ternyata hasil yang terlihat sangat mengejutkan orang, diantara para penonton ada, bersamaan waktu mengeluarkan teriakan gembira. Pek Soh-ciu memang, teriakan gembiranya Su-sik dan Hu-cen, tentu saja sangat wajar, yang tidak diduga adalah Giok-ki-sian-cu Sai-hoan, melihat suaminya kalah dia malah berteriak gembira! Tetapi, tidak ada orang yang memperhatikan dia, setiap pasang mata yang bengong, tetap menatap tajam pada bayangan orang dilapangan. Pek Soh-ciu dengan tenang berdiri tegak, tapi wajahnya yang tampan, yang bisa membuat wanita yang melihat langsung jatuh cinta, sekarang sudah berubah menjadi pucat putih, pedang bajanya, terjatuh sejauh satu tombak lebih, tubuh pedang dan pegangan pedang sudah terpisah, malah terputus jadi tiga bagian. Di tangannya sedang menggenggam bor besi yang berwarna hitam mengkilat, ternyata tadi dalam sekejap mata, dia telah mengganti senjatanya. Balik melihat Siau-giauw-te-kun, orang-orang jadi tidak tahan timbul perasaan pahlawan sudah tiba diujung jalan,

tongkat komando warna emasnya pun telah lepas dari tangannya, darah dari bahu kirinya masih meneteskan darah segar, mantel besarnya robek dari dada hingga perut, di bawah tiupan angin gunung, persis seperti jubah biru, dia tampak marah sekali, tapi dia sudah kehilangan kemampuan bertempur lagi, akhirnya dia membalikkan tubuh, dengan langkah yang berat berjalan kembali ketempat asalnya. "Berhenti, orang she Hoan, aku masih ada satu pertanyaan." Siau-giauw-te-kun memutar tubuhnya dengan cepat, sepasang matanya melotot dengan kesal berkata: "Kau mau apa? Bocah! Apa kau kira aku benar-benar takut padamu!" "Aku tidak ada niat membunuh, asalkan kau bisa menjawab satu pertanyaanku." "Harus dilihat dulu apakah aku mau menjawabnya atau tidak." "Jika aku menukar jawaban itu dengan nyawamu, aku pikir kau akan mau menjawabnya." Satu sinar pembunuhan, sekelebat lewat di atas wajahnya, lalu berkata lagi, "Perguruan Thian-ho memiliki satu jenis senjata gelap yang disebut Ngo-tok-tui-hun-cian, betul tidak?" "Tidak salah." "Ketika diam-diam menyerang Sin-ciu-sam-coat, apakah perguruan Thian-ho ambil bagian." "Terhadap kejadian waktu itu, sampai sekarang aku sedikit pun tidak tahu, apa lagi, walau aku tahu juga tidak akan memberitahukan padamu."

"Bagus, aku pernah mengatakan, ingin menukar nyawamu dengan pertanyaan itu, jika kau berkata demikian, kita terpaksa menentukan dengan pertarungan lagi." Pek Soh-ciu membalikkan pergelangan tangan, sebuah garis sinar hitam, dengan kekuatan dahsyat menerjang, tubuh Siau-giauw-te-kun yang begitu besarnya, malah terbang melayang ke udara, dan 'Bruk', roboh diatas batu satu tombah lebih. Para muridnya perguruan Thian-ho jadi marah, asap merah menggulung seperti api liar datang menerjang, tapi di cegah oleh Giok-ki-sian-cu, dia memberi hormat pada Pek Soh-ciu berkata: "Siauhiap! Mungkin suamiku benar-benar tidak tahu, sekarang dia mengalami luka parah, kau membunuh dia juga percuma, dan Ngo-tok-tui-hun-cian bukan satu-satunya senjata yang hanya dimiliki perguruan kami, harap Siauhiap bisa mengerti." Saat ini Su Lam-ceng tidak ingin ditempat ini menimbulkan pembunuhan yang kacau balau, maka dia menasihati Pek Soh-ciu untuk sementara melepaskan Hoan Liu, akhirnya perguruan Thian-ho telah mengundurkan diri, aliran lairt pun berturut turut meninggalkan lapangan. Sinar senja semakin hilang di belakang gunung malam telah menelan seluruh pegunungan, Su Lam-ceng menghampiri Pek Soh-ciu, dengan lembut mengusap bahu dia, berkata: "Jalanlah, Ciu koko! Selain hari ini, masih ada hari esok, masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat." Pek Soh-ciu mengeluh, dengan perasaan kesal dia membalikan tubuh, mendadak dia jadi tertegun, sepasang

matanya menatap pada satu bayangan orang yang sedang lari mendekat, lalu muncul seorang kakek berambut putih berperawakan tinggi besar, dia terus lari sampai didepan Pek Soh-ciu, mengangkat alis dan berkata dingin: "Kau orang she Pek?" Pek Soh-ciu tertegun: "Cianpwee ada masalah apa?" "Hm... masalah! Dimana putri ku?" Pek Soh-ciu bengong: "Siapa putri Cianpwee itu?" "Hm... bocah kau sudah kebiasaan menarik perempuan, aku tidak peduli, tapi kalau ingin meninggalkan putri ku itu tidak bisa!" dia baru saja selesai bicara, mendadak telapaknya melayang, dengan tepat sekali menangkap pergelangan tangan Su Lam-ceng, kemudian bayangan-nya berkelebat, dia sudah mengapit Su Lam-ceng lari terbang menjauh. Sungguh kejadian yang tidak disangka sangka, mimpi pun Pek Soh-ciu tidak menduga orang tua yang belum pernah bertemu itu, malah bisa menyerang Su Lamceng, dengan sangat marah dia mengejarnya, tapi kecepatan-nya orang tua itu, tidak kalah oleh ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui nya, terakhir, bukan saja dia kehilangan orang tua rambut putih, sampai Su-sik dan Huncen juga kehilangan jejaknya, hanya saja malam yang hening ini terdengar satu suara semut berkata: "Apakah kau masih ingat Siau Yam? Bocah! Cari sampai dapat putriku ini, maka aku akan kembalikan Su Lam-ceng, ini adalah pertukaran, ingat!" "Cianpwee tunggu, aku mau bicara." Sambil berteriak sambil cepat berlari, mulai dari hari gelap sampai hari

terang benderang, tetap saja dia tidak berhasil mengejar, dia mengeluh panjang, diam diam berpikir, 'kembali ramalan Su Lam-ceng tepat, sekarang, kecuali pergi mencari Siau Yam, sungguh tidak ada pilihan lain', sehingga, dia terpaksa seorang diri menuju ke dunia persilatan yang penuh kelicikan itu. 0-0dw0-0 BAB 3 Pesona laki-laki Dunia persilatan sangat luas, dalam lautan manusia mencari seorang gadis yang tidak ternama hanya mudah diucapkan saja! Namun Pek Soh-ciu harus dapat mencari Siau Yam, walau pun harus menjelajahi seluruh empat lautan, sepatu besi pun sampai rusak, dia harus berhasil menyelesaikan pekerjaan ini. Dia masih memakai topeng seorang laki-laki setengah baya, sebilah pedang mengikutinya, berlari dengan lesu, mencari ke seluruh pelosok Lok-yang, melewati Ho-lam yang jalanannya tertutup oleh pasir kuning, dia masih belum berhasil mendapatkan jejak sedikit pun, hari ini di senja hari, dia tiba di Ku-yun-beng, lari menelusuri pantai sungai Yang-ce-yang airnya mengalir deras, dia berharap mendapat satu tempat untuk beristirahat. Malam sudah tiba, langit malam yang hening, kadang terdengar suara gonggongan anjing, dia menghentikan langkahnya, memperhatikan pada arah suara gonggongan anjing.

Mendadak satu bayangan manusia muncul diantara celah pohon Liu, sekali tubuhnya meloncat, loncatannya sudah menjauh beberapa tombak, gesit dan Iincah, sangat cepat. Pek Soh-ciu sedikit tertegun, dia tidak menduga di topi sungai yang liar dan sepi ini, malah bersembunyi seorang yang berilmu setinggi ini, perasaan ingin tahunya bergerak, maka dia langsung mengikutinya. Setelah melalui jalan yang tidak pendek, lalu menerobos sebuah hutan yang lebat, bayangan orang itu sudah menghilang tidak terlihat, tapi di dalam hutan, malah ada tangga tinggi menjulang ke langit, gedung yang besar ratusan jumlahnya, sungguh satu pemandangan yang megah, dia meloncat ke atas sebuah bangunan loteng, sepasang matanya mengawasi ke sekeliling, menyapu sekali pada bangunan besar ini sekali, mendadak terlihat di sebelah kanan ada sinar lampu berkedip-kedip, ada bayangan orang bergerak-gerak, seperti sedang terjadi sesuatu peristiwa besar, dengan ringan dia menghentakan kakinya ke genteng, maka dia melesat kearah tempat sinar lampu. Ada sebuah tanah lapang yang sangat besar, dengan puluhan orang sedang memegang obor, berdiri di sekeliling lapangan, api yang menyala menerangi lapangan, Pek Sohciu bersembunyi diatas satu pohon Kuai tua didekat lapangan, memperhatikan keadaan di lapangan. Kira-kira ada tiga puluh pesilat berbaju ringkas dengan tangan kiri memegang tameng, tangan kanan menggenggam tombak, membentuk sebuah lingkaran, di tengah lingkaran berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi, di tangannya memegang sebuah kipas lipat, kipasnya sebentar dibuka sebentar ditutup.

Laki-laki tinggi itu mendadak berteriak, bayangan orang bergerak-gerak, tameng dan tombak masing-masing diangkat, para pesilat yang berbaju ringkas itu, dengan langkah ringan dan teratur, bergerak saling melintang, bergerak keseluruh lapangan, kerja samanya sangat erat sekali. Pek Soh-ciu memperhatikan cukup lama, dalam hati dia tahu mereka sedang berlatih satu barisan. Dia pernah melawan Lo-han-tin yang sangat ternama di dunia persilatan, hingga Thian-kong-ti-sam-tin juga pernah mencobanya, barisan seperti ini sungguh hanya seperti mainan anak-anak saja. Saat dia akan pergi, satu bayangan pelangi, secepat kilat melayang masuk ke lapangan, setelah bayangan pelangi itu berhenti, seorang remaja berbaju putih dengan wajah dingin angkuh, sudah berdiri d i tengah-tengah barisan. Remaja baju putih yang mendadak turun seperti dari langit luar, membuat gerakan barisan jadi terhenti bergerak, para pesilat berbaju ringkas yang memegang tameng dan tombak, tidak berani menyerang sebelum mendapatkan perintah, tapi dengan wajah serius tampak jelas wajahnya sangat tegang. Mendadak terdengar tawa keras, laki-laki tinggi yang tadi telah keluar dari barisan, di temani seorang wanita berbaju indah, berjalan keluar dari bayangan pohon, setelah tawanya berhenti, laki-laki tinggi itu mendengus dingin dan berkata: "Sungguh dunia ini kecil sekali, orang she Pek, akhirnya kita berjodoh juga!" Pek Soh-ciu mendengarnya jadi tertegun, didalam hati berkata:

"Apa, orang ini juga she Pek?" Saat ini remaja baju putih mengangkat alis, berkata dingin: "Aku dengar ketua muda dari perkumpulan Ci-yan, Toat-hun-san (Kipas perampas nyawa) Liu Ti-kie, adalah seorang yang sekali menghentakan kaki dunia persilatan akan bergetar, Hun-hoan-ik-ki-tin (barisan hawa murni bercampur unsur) dari perkumpulan Ci-yan, juga setara dengan Lo-han-tin dari Siau-lim, malam ini......sungguh aku merasa bangga sekali." Toat-hun-san Liu Ti-kie? Satu peristiwa beberapa waktu lalu, kembali timbul di dalam hati Pek Soh-ciu, dulu jika bukan Liu Ti-kie, dia mungkin tidak akan mendapatkan sebuah pukulan dari Siau Yam, dia juga pernah bertemu dengan istri yang ditinggalkan Liu Ti-kie, Tan Li-ceng, hampir saja terjadi kesalahan menganggap dia adalah Liu Ti-kie, Liu Ti-kie... hubungan dengannya sungguh erat sekali. Mengenai remaja baju putih yang dingin angkuh, juga seseorang yang tidak bisa dianggap enteng, dia she Pek, berpakaian putih lagi, makanya tidak peduli apakah ini kebetulan, juga perlu diselidiki lebih lanjut, sehingga, dia jadi memusatkan perhatian, diam memperhatikan perkembangan keadaan selanjutnya. Pemikirannya belum habis, Liu Ti-kie sudah tertawa dan berkata: "Tidak salah kata-katamu, aku marga Liu memang tidak berani menganggap enteng." Remaja baju putih mencibirkan bibirnya, dengan sinis dan dingin mendengus sekali, katanya:

"Jangan memuji diri sendiri, orang she Liu, menurut pandanganku, Toat-huri-san mu paling banter hanya bisa dihitung masuk kelas tiga saja, mengenai apa itu Hun-hoanitki-tin? Itu hanya vampire yang berjalan saja." Warna wajah Liu Ti-kie berubah: "Kau sendiri yang cari mati, aku she Liu terpaksa mengabulkannya." Dia mengangkat lengan kanannya, saat akan memberi perintah menggerakan Hun-hoan-it-ki-tin menyerang, mendadak dia menurunkan lagi lengan tangan kanannya dan mendengus dingin: "Aku masih ada satu hal belum mengerti?" Remaja baju putih dengan wajah tanpa ekspresi berkata: "Coba kau katakan." "Apa betul kau keturunannya Sin-ciu-sam-coat?" "Kau hanya menginginkan pusaka Pouw-long-tui saja, apakah aku keturunan Sin-ciu-sam-coat atau bukan, sepertinya tidak ada sangkut pautnya." "Kalau begitu kau sendiri mengaku membawa Pouwlong-tui." "Ini------aku tidak akan memberitahu." "Baik, asalkan kau bisa lolos dari Hun-hoan-it-ki-tin perkumpulan kami, orang she Liu tidak akan menahanmu." "Hm... didunia ini mungkin tidak ada hal yang semudah itu." "Lalu, maksudmu......" "Mulai dari kau sendiri, semuanya harus mening galkan satu ciri!"

"Kau sungguh sombong sekali, hanya saja mungkin hari ini di tahun depan adalah hari ulang tahun Kematianmu!" Habis berkata Liu Ti-kie segera mengibaskan telapak kanannya, terdengar suara mendesis, para pesilat Hunhoan-it-ki-tin sudah bergerak menurut cara barisan. Awan hitam bergulung-gulung, ujung tombak mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata, tameng saling beradu, saling mendukung, puluhan pesilat bertombak sepertinya di bawah pengaruh tenaga yang aneh, semakin menyatu, menjadi satu kesatuan. Mata Remaja baju putih itu bersinar, sedikit pun tidak berkedip memperhatikan setiap bayangan tubuh yang bergulung-gulung, wajahnya dingin, mulut mengulum senyum, terhadap barisan yang bisa mem-buat orang pusing hati menjadi getir, seperti tidak melihatnya. Mendadak, satu kelompok bayangan sinar tombak dengan kekuatan dahsyat menusuk seluruh tubuhnya, kekuatan itu seperti gunung golok, seperti papan berpaku, seperti air laksa yang dapat menembus menutupi seluruh tubuhnya, kekuatannya yang dahsyat membuat Pek Soh-ciu yang sembunyi menonton juga merasa tercekat. Tapi, remaja baju putih sepertinya tidak pedulikan segumpal ujung tombak ini, tampak dia melayangkan sebelah tangannya, tubuhnya berputar, dalam sekejap sudah menyerang dengan pedang ke kiri kanan depan belakang, kecepatan dan kelincahannya, sungguh jarang ada di dunia persilatan. Serangan Hun-hoan-it-ki-tin jadi terhenti dan mundur oleh empat tusukan pedang yang digerakan dalam sekejap mata, tapi setelah mereka mundur langsung maju kembali, kekuatannya lebih dahsyat dari pada yang sudah-sudah. .

Remaja baju putih sepertinya tidak menyangka empat serangan pedangnya, sedikit pun tidak berhasil merusak Hun-hoan-it-ki-tin, Saat hatinya tertegun, sinar tombak bayangan tameng dan satu siulan panjang yang nyaring, membuat sinar pedang dan sinar tombak sudah bercampur jadi satu, terlihat awan bergulung gulung terdengar teriakan berturut-turut, penglihatan Pek Soh ciu jadi tidak jelas, hampir tidak bisa melihat dimana keberadaan remaja baju putih. Mendadak, segaris asap putih tipis, seperti pelangi panjang melejit keatas, diudara dia sekali berputar, seperti dewi menyebar bunga, dia melepaskan duri dingin menyilaukan mata yang tidak terhitung banyaknya, para pesilat yang gagah perkasa itu, tidak bisa menahan serangan -duri dingin itu, segera mereka roboh bergelimpangan di tanah liar, Hun-hoan-it-ki-tin yang dengan susah payah dilatih oleh perkumpulan Ci-yan, tampak sudah hancur berantakan. Akibat yang berlangsung cepat ini, sulit bisa dibayangkan oleh Liu Ti-kie, otot hijaunya menonjol, sepasang matanya melotot bulat, amarahnya naik sampai taraf gila, kembali terdengan satu suara pelan "Ahh!", Toat-hun-san nya berturut-turut menyerang tiga jurus. Remaja baju putih dengan angkuh mendengus sekali, pedang panjangnya pelan-pelan digetarkan membalas menyerang melawan tiga jurus pedang ciptaan liu Ti-kie yang menganggap jurusnya terhebat di dunia persilatan. Setelah jurus ciptaannya berhasil di patahkan oleh lawannya, dia jadi sadar, remaja baju putih yang tampan ini, sungguh mempunyai ilmu silat tidak terukur, dia tidak tahan jadi gentar, dengan terkejut ketakutan mundur tiga langkah berturut-turut.

Remaja baju putih itu berdiri ditempatnya, dia tidak maju mendesak, hanya dengan menyunggingkan bibir, dengan sinis sekali: "Hm...!" dingin sekali berkata, "Ketua muda Liu, lebih baik kita persingkat saja." Liu Ti-kie berteriak sekali tapi di dalam hati merasa takut: "Kau mau apa?" "Kau memang orang sibuk hingga cepat lupa, begitu cepat melupakan apa yang aku katakan tadi." "Aku sudah mengaku kalah, kau......" "Jangan banyak bicara, orang she Liu, ucapan ku tidak bisa ditarik kembali, tinggalkan ciri dan cepat pergi sana!" "Hay, adik kecil, kau sungguh keterlaluan, apa bisa melihat mukaku, kali ini lepaskan dia." Tiba-tiba ada seorang nyonya muda yang memegang pedang panjang berwarna hitam pekat, dengan tertawa maju mendekat, dia berhenti lima che di depan remaja baju putih, tawa di wajahnya belum hilang, pedang panjang di tangannya mendadak ditusukan, dengan jurus Sia-cung-cihouw (turun keperkampungan menusuk harimau), dengan cepat dia menusuk dadanya remaja baju putih, di atas sinar pedangnya, masih menyemburkan asap hitam. Remaja baju putih itu terkejut, telapak kiri segera dikibaskan, menimbulkan angin telapak yang amat dahsyat, kakinya pelan dihentakan, mendadak dia mundur lima kaki. Nyonya muda itu tertawa sebentar berkata: "Mengapa adik kecil, cici hanya main-main denganmu."

Wajah remaja baju putih menjadi dingin: "Apa kau Ang-tan-yan (bunga merah cantik) Hong Liuceng?" "Kau tahu aku? Adik kecil, matamu jangan melotot seperti itu, mari ikut cici masuk ke dalam berbincangbincang." "Ang-tan-yan Hong Liu-ceng, adalah istri Oh-siucay Liu Giauw-kun, mertua merangkap kekasihnya Liu Ti-kie, nama busuknya tersebar kemana-mana, bagaimana aku bisa tidak tahu!" Secercah hawa pembunuhan, timbul di wajah Ang-tanyan Hong Liu-ceng, pedang hitamnya segera didorong, menimbulkan angin keras menyambar, sebuah jurus Twiecong-kan-gwat (mendorong jendela melihat rembulan) dengan ganas datang menyerang. Membongkar borok orang adalah larangan besar, apa lagi dihadapannya anak buah perkumpulan Ci-yan, tidak heran saking marahnya dia ingin dengan sekali serangan pedang membelah lawannya jadi dua. Walau remaja baju putih itu berilmu tinggi, tapi karena pedang Hong Liu-ceng berwarna hitam pekat, dia khawatir ada racunnya, dan juga ujung pedangnya bisa menyemburkan asap beracun, makanya saat bertarung, sedikit pun dia tidak berani lengah. Saat dia menyerang, dia tidak mau bersentuhan dengan pedang hitam, pergelangan tangan kanannya diturunkan, tubuh mengikuti jalannya pedang dalam sekejap berturu-turut menusuk tiga jalan darah besar dipunggungnya. Ang-tan-yan Hong Liu-ceng sedikit memi-ringkan tubuh, pergelangan kanan mendadak diputar, pedang hitam

dengan membawa asap hitam, membelah kearah t ubuh remaja baju putih. Jurus ini sangat cepat, remaja baju putih tidak herani bersentuhan dengan pedang hitamnya, mau menghindar juga rasanya sudah terlambat, disaat bahaya yang sekejap ini, dia malah melingkarkan jari telunjuk dengan jari tengah lalu disentilkan, terdengar suara nyaring, pedang hitam Hong Liu-ceng, terlepas dari tangannya oleh sentilan jarinya. "Ah, Pouw-ci-sin-kang!" Di lapangan terdengar teriakan terkejut, nama besarnya Sin-ciu-sam-coat, membuat para anak buah perkumpulan Ci-yan ketakutan, memang para anak buah yang ilmu silatnya masih rendah, tidak tahu apa itu Pouw-ci-sin-kang, mereka hanya terpengaruh oleh remaja baju putih yang dikiranya adalah keturunannya Sin-ciu-sam-coat, jadi tenaga sentilan jari ini disangka-nya adalah sentilan Pouwci-sin-kang. Remaja baju putih juga tidak menjelaskan, hanya dengan dingin menatap pada Ang-tan-yan Hong Liu-ceng yang wajahnya sudah jadi pucat pasi dan Toat-hun-san Liu Ti-kie dan berkata: "Apakah aku harus sendiri melakukannya? Kalian berdua." Liu Ti-kie berkata: "Kita tidak ada permusuhan juga tidak ada dendam, ada buat apa harus begitu kejam?" "Hm...!" remaja baju putih menyunggingkan bibir berkata: dengan sinisnya

"Tidak ada permusuhan tidak ada dendam? Ha ha ha......" setelah tertawa dengan suara merdu, dia berkata lagi, "Apakah kau masih ingat Siau Yam? Ketua muda, dia

adalah famili Siauya ini, kau pernah melecehkan dia, sekarang dia hanya ingin supaya kalian meninggalkan ciri saja, itu sudah sangat ringan, tahu tidak?" Pek Soh-ciu tidak tahan lagi, jelas remaja baju putih itu tidak saja menyamar sebagai dirinya, terhadap masa lalu dirinya, juga begitu mengenalnya, siapa tahu dia itu adalah temannya Siau Yam atau saudara seperguruannya, dia ingin mencari Siau Yam, ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk menyelidik, maka dia mengibaskan pedang panjang, secepat meteor, melayang turun diatas lapangan. Remaja baju putih seperti tidak menduga di atas pohon masih ada penonton, wajahnya sedikit tertegun, dia lalu mengangkat kepala memperhatikan orang yang datang, ketika dia melihat wajahnya yang dingin, tidak tahan dia berteriak terkejut berkata: "Siapa kau?" Pek Soh-ciu dengan tawar berkata: "Aku seseorang yang kebetulan lewat saja." Remaja baju putih malah sepertinya tidak percaya, dia mengawasi, lalu melihat pada Liu Ti-kie dengan mendengus sekali berkata: "Tidak diduga dikeluarga Liu, masih ada seorang yang berilmu setinggi ini, aku sungguh tidak menduga sebelumnya......." Pek Soh-ciu menggelengkan kepala berkata: "Kau jangan salah paham, aku bukan she Liu." Remaja baju putih sedikit ragu. "Kau ingin mengatakan wajahmu, hanya sedikit mirip dengan Liu Ti-kie saja."

"Tidak salah." "Jika demikian, aku memberikan satu nasihat padamu, lebih baik keluar dari tempat yang bermasalah mi." "Ini......kek, aku melibatkan diri juga tidak apa-apa kan?" "Melibatkan diri artinya menantang, apakah anda bersedia melanggar pantangan besar dunia persilatan?" "Tidak, aku tidak bermaksud menantang." "Kalau begitu kau boleh pergi." "Sebagai orang pendamai apakah juga tidak boleh?" "Tidak bisa." "Membunuh orang hanya cukup menganggukkan kepala saja, jika perkumpulan Ci-yan sudah mengaku kalah, mengapa kau tidak bisa mengampuni-nya!" "Maaf sekali, tujuanmu sangat baik, sayang aku tidak berpikir menerimanya." "Kek, permusuhan Liu Ti-kie denganmu tidak besar, kau kan sudah banyak menghabisi nyawa mereka, masih ingin meninggalkan ciri, bukankah akan membuat mereka menyesal seumur hidup!" "Dengan bicara demikian, kau sudah bertekad akan melibatkan diri dalam masalah ini?" "Harap kau bisa mengalah satu langkah." Sepasang mata remaja baju putih bersinar-sinar, menyorot dua sinar dingin katanya: "Ilmu silatmu pasti sangat hebat, jika tidak pasti tidak akan mau melibatkan diri!" "Ha ha ha!" Pek Soh-ciu tertawa, "Di jalan bertemu dengan ketidakadilan, mengangkat golok membantu adalah

pendirian murni orang-orang dunia persilatan, ilmu silat tinggi atau tidak, aku tidak pernah memperhitungkannya!" "Baik, cabut senjatamu." Satu garis pelangi berkelebat di ikuti teriakan ke atas, dia seperti dewa naga melayang di langit, seperti guntur dan hujan, mendadak menyembur membuat hati orang-orang tergetar, dalam sesaat ini, sinar api obor juga jadi meredup karenanya. Jurus pedangnya begitu dahsyat, lincah misterius tampak lebih hebat lagi, tapi wajah tampan Pek Soh-ciu yang ditutupi topeng itu, tetap saja tersenyum misterius, dia tampak dengan santainya melangkah, tahu-tahu sudah lolos dari pukulan yang amat dahsyat itu. "Seranganmu memang luar biasa, tapi jika ingin membandingkan dengan jurus Im-cu-kiam dari Sin-ciusam-coat, sepertinya......kek, kek, masih sedikit dibawahnya......" Wajah remaja baju putih itu tertegun, mendadak dia menurunkan tangannya, menyimpan pedang, mundur beberapa langkah, wajah yang cantiknya tidak kalah dengan Kiu-ie, mendadak timbul warna merah, sepasang mata yang lebih terang dari pada bulan di musim gugur, kembali mengawasi Pek Soh-ciu dengan seksama, lama, dia mendengus: "Di hadapan Budha yang asli tidak perlu berbohong, beri tahu aku, siapa kau?" "Aku?" Pek Soh-ciu tersenyum sedikit kata-nya, "Hanya seorang sastrawan miskin yang menggelandang di dunia persilatan, kau tidak perlu menanyakannya!" "Baik, apa kau mau ikut jalan dengan aku?"

"Ikut jalan denganmu? Ha......tentu saja boleh, kalau di dunia banyak teman, di ujung langit pun seperti tetangga, bisa berteman dengan orang macammu, itu bukanlah hal yang merugikan!" "Hm... kau bicara harus hati-hati, jangan asal bicara pada non......Siauya......" Remaja cantik yang tampangnya cerah, baju putih berkibar-kibar, sepertinya tidak pandai bertengkar, tidak sampai bicara tiga kalimat, tidak saja wajahnya sudah menjadi merah, sampai bicaranya pun terbata-bata. Pek Soh-ciu tidak memperhatikan semua ini, hanya dengan "Iii!" sekali berkata: "Ikut denganmu, kau yang mengatakan sendiri, kalau tidak mau ya sudah, buat apa marah begitu!" Sebuah garis pelangi putih mendadak meloncat ke udara, sekali menghentakan kaki dengan pelan saja dia sudah tiba diatas atap rumah, dengan gaya Pek-ho-cong-thian, sekali berkelebat menghilang di kegelapan malam, hanya terdengar suara yang jernih berkata: "Besok malam jam sepuluh, aku tunggu di penginapan Cing-coan." Pek Soh-ciu melihat pada kegelapan malam yang menelan remaja baju putih, mendadak dia seperti teringat sesuatu, dia mengeluarkan satu keluhan panjang, tubuhnya memutar, akan meninggalkan pekarangan rumah. "Liu Ti-kie dengan hati tulus mengucapkan terima kasih atas pertolongan anda, apakah bisa mengundang Tayhiap sementara mampir ke rumah, supaya perkumpulan kami bisa menjamu anda, sebagai kewajiban seorang tuan rumah."

Setelah lolos dari penghinaan yang amat memalukan, semangatnya Liu Ti-kie sudah merosot drastis, dia tahu pendekar setengah baya yang wajahnya mirip dia, ilmu silatnya yang sulit diukur. Maka dia ingin mengambil kesempatan mendekatinya, mengajak dia membantu dirinya, maka dia langsung mengundang dan sebisanya menahan dia. Pek Soh-ciu dengan tanpa perasaan berkata: "Masalah sekecil ini, ketua muda tidak perlu di pikirkan, tapi......" "Tayhiap masih ada pesan apa?" "Apakah ketua muda kenal dengan seorang wanita yang bernama Tan Li-ceng?" "Ini......kek......tidak kenal......" Pek Soh-ciu jadi kecewa, segera mengangkat kepala tertawa sinis: "Membuang ibu meninggalkan istri, lupa diri lupa kesetia kawanan, walau pun bisa mendapat nama yang menggemparkan dunia, coba tanya pada diri sendiri, apakah kau tidak merasakan perasaan bersalah? Aku sudah selesai bicara, harap ketua muda bisa sadar." Dia sudah lari keluar dari perkumpulan Ci-yan, lari menelusuri jalan raya yang lebar. Saat hari baru saja terang, Pek Soh-ciu sudah tiba di Han-kou yang penuh dengan perahu layar, semalaman belum tidur, dia tidak ada gairah menikmati pemandangan pasar yang ramai dan makmur, dia cepat mencari sebuah penginapan, setelah sedikit sarapan, dia langsung menutup pintu naik ke ranjang, tidur. Tidur di siang hari hanya bisa berlangsung sebentar, suara yang ramai di luar membuat dia tidak bisa tahan lagi,

dia segera mengganti baju dengan baju biru yang bersih, tetap memakai topeng itu, dia melangkah keluar kamar berjalan keluar penginapan. Han Kou juga disebut Han-pu, adalah satu di antara empat kota besar ternama, perniagaannya ramai, adalah kota pelabuhan yang rakyatnya makmur kotanya ramai. Pek Soh-ciu belum lama terjun ke dunia persilatan, baru pertama kali dia datang ke tempat ini, tapi sebelumnya dia sudah menanyakan pada pelayan penginapan, terhadap keadaan rakyat setempat juga sedikit mengenal, yang disebut mengenal, sebenarnya juga sangat sedikit sekali. Dia berjalan di jalan raya tanpa tujuan, mengikuti keramaian orang, tanpa disadari dia sampai di sisi sebuah lapangan, gelombang orang sudah berhenti, walau pun masih ada orang pelan-pelan berdesakan maju kedepan, tapi gerakannya sangat hati-hati sekali, sepertinya takut mengeluarkan suara, orang yang didesaknya juga paling banter hanya melihat dengan mata putih saja, satu orang pun tidak ada yang mengeluarkan suara memarahi dia. Satu keadaan yang sangat aneh sekali, Pek Soh-ciu kebetulan menyaksikan hal ini, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, dia melihat kesekelilingnya, melihat di dekat sebelah kiri ada satu tiang bendera, pelan-pelan dia mendesak mendekatinya, sedikit meng-angkat tenaga dalamnya, segera melesat ke udara, lalu sebelah tangannya memegang tiang dengan mantap turun di dalam sebuah Soh-tou (semacam wadah diatas tiang), untungnya orangorang di sekitar, semuanya sedang tegang, menjulurkan leher memperhatikan ke tengah lapangan, walau pun di siang hari bolong, tidak ada orang yang tahu diatas tiang bendera, disana sudah ada orang. Dia duduk diatas Soh-tou, pandangannya bisa sampai jauh sekali, terlihat pada arah yang di pandang orang-orang,

ternyata ada dua buah kuil yang berdiri berhadapan, dua bangunan kuil itu tidak terhitung besar, tapi bangunannya memang mewah, tiang bendera hanya berjarak satu panahan pada kuil itu, dengan ketajaman pandangannya, sampai tulisan di atas kuil itu juga bisa dilihat dengan jelas. Bangunan sebelah kiri adalah rumah sembahyang nyonya Sun. sebelah kanannya adalah kuil Raja Naga. Di masyarakat tersebar dongeng, pada jaman Sam-kok kaisar Lie-ti dari Han menyerang Gouw tapi kalah dan hancur di kota Pek-ti, nyonya Sun bersembahyang sambil menangis di pinggir sungai, kemudian dia bunuh diri dengan terjun ke dalam sungai untuk menemani suaminya, mayatnya malah naik melawan arus, baru ditemukan di Han-kou, orang yang bertanggung jawab lalu menguburnya di Kanglam, dan mendirikan rumah duka untuk mengenangnya. Rumah dukanya tepat di seberang Liong-ong-am (kuil Raja Naga). Yang tinggal di rumah sembahyang nyonya Sun adalah tokouw, sedang yang tinggal di dalam kuil Raja Naga adalah hweesio, To dengan Budha sebenarnya adalah satu keluarga, bertahun-tahun tidak pernah terjadi masalah. Siapa tahu beberapa tahun terakhir ini rumah sembahyang nyonya Sun tiba-tiba ramai dikunjungi orang beribadah, sedang kuil Raja Naga berubah jadi sepi, keadaan ini membuat iri dalam kenyataan hidup, dua aliran yang samasama menganut empat kosong, malah dari diam-diam bertarung menjadi terang-terangan, sehingga akhirnya sepakat membuat peraturan setahun sekali bertarung, hari ini tepat hari mereka bertarung, hingga mendatangkan begitu banyak penonton yang ingin melihat keramaian.

Pek Soh-ciu mengira, pertarungan orang orang ini adalah pertarungan mengandalkan kekuatan otot, di luar dugaan ternyata diantaranya ada orang yang berilmu tinggi, para hwcesio sepertinya mengandalkan ilmu silat dari Siau-lim, Hok-houw-koan (pukulan menaklukan harimau) dan Lohan-pang (tongkat Lo-han), semuanya sudah cukup terlatih, sedang para tokouw, mengandalkan Gwat-cia-san-sau (tangan rumah Gwat menabur) dan Gwat-lie-kiam-hoat (jurus pedang wanita Gwat), setelah bertarung beberapa babak, pihak nikoh sudah berada diatas angin. Pertarungan yang sengit sudah terjadi berturut-turut, Pek Soh-ciu jadi tidak ingin melewatkan hal ini, dia tetap diatas menikmatinya, tiba-tiba didalam kuil Raja Naga, keluar lagi sekelompok hweesio, yang paling depan memimpin seorang hweesio tua berperawakan kurus kering, alisnya putih seperti salju, Pek Soh-ciu merasa mengenalnya, hweesio tua itu masuk ke lapangan. Setelah hweesio tua itu bertarung, dengan jurus Cap-ie-cap-pwee-tiap (menyentuh baju delapan belas kali jatuh.) salah satu dari tujuh puluh dua macam ilmu hebat Siau-lim, berturut-turut dia memenangkan beberapa babak, pendeta To wanita yang tadinya sudah berada diatas angin, sekarangberbalik menjadi kalah. Orang-orang yang menonton menjadi ramai, mereka seperti merasa bersimpati pada para nikoh, tapi tidak ada seorang pun yang mampu membalikkan keadaan yang sudah terjadi ini, sehingga, sebagian orang sudah dengan sedih meninggalkan lapangan. Tiba-tiba..... "Pertarungan ini sungguh tidak adil sekali, hweesio besar! Mari...aku pelajar ingin mencoba Cap-ie-cap-pweetiap kau sampai dimana kehebatannya." Orang ini menyebut dirinya pelajar, tentu saja bukan pendeta To juga bukan hweesio, tapi seorang manusia

biasa, pertarungan antara pendeta To dengan hweesio, orang luar tidak boleh ikut campur, tampaknya remaja ini terlalu sembrono, sehingga seluruh lapangan jadi ramai, semua orang jadi memperhatikan pada arah orang yang muncul itu. Dia berpakaian putih, tampangnya tenang, berdiri tegak di tengah di antara pendeta To dan hweesio, tampan seperti pohon giok diterpa angin. Pek Soh-ciu melihat orang itu adalah remaja baju putih yang kemarin malam bertemu di perkumpulan Ci-yan, tidak tahan dia mengerutkan alis, didalam hati berkata, 'Ilmu silat orang ini, memang hebat sekali, tapi mengapa dia menyamar jadi dirinya kemana-mana mencari musuh? Apakah dia tampil keluar saat ini juga adalah satu siasat liciknya? Satu suara rendah menyebut nama Budha, menghentikan jalan pikirannya, hweesio tua meng-angkat alis berkata: "Sicu kecil tanpa diundang datang sendiri, sungguh Budha maha penyayang......" Remaja baju putih terbengong berkata: "Hweesio tua kau sedang mencariku?" "Tidak salah, Sicu kecil mengacau di Siau-lim, sudah melanggar larangan Budha, juga membunuh adik seperguruanku Pek Kuo, tidak bisa diampuni......" "Ooo, kalau begitu, kau kenal denganku?" "Keturunan dari Sin-ciu-sam-coat, belum tentu bisa meraja lela di dunia, Sicu kecil begitu sombong, mungkin itu bukan keberuntungannya Sicu kecil!" "Kalau begitu hweesio tua bisa menggunakan tujuh puluh dua macam ilmu Siau-lim untuk membunuh ku, bukankah itu sama sekali tepuk dapat tiga hasil."

"Sekali tepuk dapat tiga hasil? Apa maksud kata kata Sicu kecil?" "Mudah sekali, jika kau berhasil membunuhku, selain bisa menyelesaikan masalah hari ini, juga bisa membalaskan dendamnya Pek Kuo. "Lalu apa hasil ketiganya?" "Hasil ketiga, itu sedikit repot!" "Coba katakan saja." "Jika aku bisa mengalahkanmu, maka hilangnya ketua Siau-lim yang terdahulu, dan siapa otak yang diam-diam menyerang Sin-ciu-sam-coat? Harap kau memberitahukan dengan terus terang." "Ini... walau aku bisa dikalahkan oleh Sicu kecil, mungkin juga akan mengecewakan harapannya Sicu kecil!" "Kalau begitu kau jadi tidak- mau minum arak kehormatan tapi ingin minum arak hukuman." Hweesio tua seperti menjadi marah oleh tampang remaja baju putih yang meremehkannya, mulutnya berteriak marah: "Tunggu setelah Sicu kecil bisa mengalahkan aku baru kita bicara lagi." Sebuah angin pukulan yang amat dahsyat, sudah dilancarkannya. Remaja baju putih menyunggingkan bibir, tubuh nya sedikit bergeser, menghindarkan angin pukulan, saat sepasang tangannya diangkat dan diayunkan, berturut-turut dia menyerang enam jurus telapak tangan, kecepatan jurus, keanehan gerakannya, walau pun pesilat tinggi masa kini juga jarang bisa ditemukan, hweesio tua yang di panggil PekCan walau merupakan salah satu dari lima Tianglo

Siau-lim, dia juga sampai mundur terdesak, tidak mampu balas menyerang. Remaja baju putih tertawa, dia membalikan tangan kcbelakang, satu sinar perak berkelebat, dengan menggunakan jari telunjuk dia menyentil ujung pedang jadi bergetar katanya: "Hweesio tua! Menurut pandanganku, kita harus membicarakan hasil ketiga, betul tidak menurutmu?" Pek Kuo taysu mengambil tongkat hweesio dari seorang hweesio dibelakangnya, dengan nada dalam berkata: "Jurus Im-cu-kiam, adalah jurus pedang paling hebat jaman sekarang, aku beruntung bisa bertemu dengan Sicu kecil, mana mungkin aku melewatkan kesempatan yang bagus ini." Remaja baju putih mendengus sekali dengan dingin berkata: "Kata-kata Hweesio tua tidak salah, jurus Im-cu-kiam memang tiada duanya di dunia persilatan, tapi menyesal sekali, terhadap jurus pedang ini aku tidak sembarangan menggunakannya, terhadap kau hweesio tua......he he he, masih belum perlu menggunakan jurus Im-cu-kiam." Kedudukan Pek Can adalah salah satu dari lima Tianglo Siau-lim, belum pernah dia mendapat penghinaan seperti ini, dia langsung membentak, melintangkan tongkat hweesionya, dengan kekuatan yang amat dahsyat tongkatnya menyapu. Melihat tongkat Pek Can taysu mengeluarkan kekuatan yang begitu dahsyat, dia jadi tidak berani menangkis menggunakan pedangnya, terlihat bayangan putih berkelibat, pedang dengan lincah menyerang seperti kilat, menyabet mengikuti tongkat hweesio, hawa dingin pedang

yang tajam sudah mengarah pada pergelangan tangan Pek Can taysu. Pek Can tidak menduga jurus pedang remaja baju putih begitu hebatnya, beruntung tenaga dalamnya memang luar biasa, cepat dia menurunkan lengan memutar tubuh, dengan ekor tongkat memukul sambil memotong, baru dia bisa terhindar dari jurus berbahaya ini, tapi diatas kepalanya yang botaknya sampai bersinar, sudah muncul keringat sebesar kacang kedele. Sambil tersenyum remaja baju putih berdiri di tempat, dengan sorot mata sinis melirik hweesio tua, berkata: "Hweesio tua, apakah masih mau mencoba lagi?" "Hm...!" dengan marah Pek Can taysu berkata, "Sicu kecil sudah bisa melakukan diam laksana gunung, bergerak laksana kelinci lepas, memang tidak malu sebagai keturunan Sin-ciu-sam-coat, tapi, hanya dengan sedikit jurus ini, aku masih belum sampai harus mengaku kalah." Remaja baju putih mengangkat sepasang alis: "Cianpwee kuil Siau-lim, tentu saja malu mengaku kalah pada seorang angkatan muda, tapi kenyataannya kau tidak mungkin bisa mengalahkan aku, jika menunggu sampai melihat dulu peti mati baru meneteskan air mata, mungkin saat itu waktunya sudah terlambat." Baru saja remaja baju putih selesai berkata, satu bayangan manusia berwarna merah yang tinggi besar, dari arah pantai sungai dengan cepat menghampiri, dalam sekejap mata, bayangan orang itu sudah sampai didepan remaja baju putih, seperti sebuah menara besi, dia menatap tajam pada remaja cantik itu, sesaat kemudian dia membelalakan sepasang mata, berkata: "Bocah! Apa kau sungguh-sungguh keturunan Sin-ciusam-coat?"

Remaja baju putih tanpa perasaan berkata: "Tuan ada masalah apa?" "Aku ingin meminjam Pouw-Iong-tui." "Pouw-long-tui adalah pusaka bersejarah, semacam kau mana boleh menyentuhnya." orang

"Bocah! Kau tahu siapa aku?" orang ini berambut merah, panjangnya menutupi bahu, matanya bersinar hijau seperti mata macan, dibawah hidung elangnya yang seperti kail tajam, ada mulut besar yang seperti baskom, penampilannya yang bengis jelek itu, sungguh tiada duanya, saat sedang teriak marah, rambut merahnya berdiri semua, ilmu silatnya tampak sangat tinggi, cukup mengejutkan orang. Remaja baju putih mundur dua langkah, tampangnya tampak sedikit ketakutan, tapi tetap dengan nada bicara yang tegas berkata: "Tidak peduli kau dewa atau iblis dari mana, jika ingin Pouw-long-tui? Kalahkan aku terlebih dahulu." "Hi hi hi!" orang aneh berambut merah itu tertawa, "aku sudah puluhan tahun tidak terjun ke dunia persilatan, sekarang sudah ada bocah yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, baiklah, jika aku tidak bisa mcngalahkanmu, aku tidak mau lagi pada Pouw-long-tui." Satu aliran hawa yang panasnya seperti api, menyembur dari tengah telapak tangannya orang aneh berambut merah, seperti lahar panas yang menyembur dari mulut gunung berapi, tempat yang dilalui aliran hawa semuanya hangus menjadi terbakar, pukulan telapak tangan seperti ini yang sangat jarang ditemui di dunia persilatan, sungguh mempunyai efek kekuatan yang menakutkan orang, remaja

baju putih itu pun terkejut setengah mati, sampai Pek Sohciu yang menonton dari kejauhan juga hatinya tergetar. Orang aneh berambur merah menghentikan pukulannya, menatap pada remaja baju putih dengan dingin berkata: "Di dunia persilatan sekarang belum ada satu orang pun yang berani mengatakan tidak pada Liat-hwee-sin-kun (Dewa memisahkan api), serahkan Pouw-long-tui itu, aku ampuni kau sekali ini." "Kita masih belum tahu rusa mati ditangan siapa, buat apa kau merasa yakin terlebih dulu." Remaja baju putih sungguh pemberani sekali, dia jelas tahu Liat-hwee-sin-kun, adalah seorang kepala penjahat ulung di dunia persilatan, dia malah menggetarkan pedang panjangnya, sekilas sinar perak menerjang, dengan hawa pedang yang tiada benda yang keras bisa menahannya, berturut-turut menyerang lima jurus pedang pada Liathwee-sin-kun. Liat-hwee-sin-kun berteriak marah berkata: "Jika kau tidak ingin hidup, maka aku kabulkan keinginanmu!" telapak tangan kanannya dibalikan, hawa panas bergulunggulung menerjang, lima jenis pedang yang kekuatannya amat dahsyat, seperti terjun ke dalam lautan luas, tubuhnya juga digulung oleh kekuatan telapak Liat-hwee, tergulung di udara lalu jatuh di tepi sungai. Dalam hati Pek Soh-ciu berteriak celaka, tidak peduli apa tujuannya remaja baju putih, bagaimana pun jangan sampai dia jatuh ditangan penjahat ini, segera dengan satu bentakan keras, dari atas tiang bendera dia terjun menerjang ke bawah, tapi jarak dia ke tempat jatuhnya remaja baju putih itu terlalu jauh, saat dia tiba di tepi sungai, remaja baju putih sudah dibawa oleh Liat-hwee-sin-kun masuk ke dalam perahu, dengan cepat berlayar mengikuti arus sungai.

Pek Soh-ciu mengejar dengan menelusuri pantai, disatu cekungan yang dangkal, terikat sebuah perahu kecil tanpa ada orangnya, maka segera menggunakan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui dia melayang turun di atas perahu, dengan cepat men-dayung keluar dari cekungan, dengan ketat mengejar pada perahu yang jaraknya semakin jauh itu. Saat ini sedang di musim hujan, aliran sungai kuning yang besar, dengan kekuatan ribuan kuda berlari mengalir ke bawah, perahu kecil yang terapung dalam aliran sungai deras, kecepatannya seperti anak panah lepas dari busurnya, di tempat yang berbahaya, hampir saja membuat dia tenggelam. Kira-kira ada dua jam, Liat-hwee-sin-kun menepikan perahunya di bawah bayangan pohon, dia meletakan remaja baju putih di bawah bayangan pohon, dengan sorot mata bengis, menatap pada Pek Soh-ciu. Pek Soh-ciu melihat kepala penjahat itu sedang menunggu dia, maka pelan-pelan dia pun menepi, diam-diam dia menyiapkan tenaga dalamnya, dan berjalan menuju bayangan pohon itu. "Hi hi hi.......bocah! siapa kau? Berani sekali mengejar aku, apa kau telah makan hati naga empedu harimau?" Liat-hwee-sin-kun melihat orang yang mengejar dia, adalah seorang sastrawan setengah baya dengan wajah yang kaku, tidak tahan dia jadi merasa aneh. Pek Soh-ciu tertawa: "Mengapa, sudah mendapatkan Pouw-long-tui, sampai teman lama tiga puluh tahun lalu juga dilupakan?" Liat-hwee-sin-kun bengong, berapa usiamu tahun ini?" dia berkata: "Sahabat,

"Aku......kek, usiaku enam puluh tahun."

"Jangan main-main denganku, siapa dirimu sebenarnya?" "Apakah kau sungguh ingin tahu siapa aku?" "Hm... kalau kau tidak mau mengatakannya, aku akan bunuh kau." "Sebenarnya aku memberitahukan padamu juga tidak apa apa, aku she Pek......" Belum habis perkataannya langsung jarinya menotok, terlihat bayangan merah menggelinding, disertai suaranya seperti longlongan serigala, dalam sekejap, longlongannya sudah berada sejauh satu li lebih. Pek Soh-ciu tidak menduga dengan Pouw-ci-sin-kang dia bisa melukai Liat-hwee-sin-kun, tapi memang ilmu silat penjahat tua ini sungguh hebat, setelah mendapat luka parah, dia masih tetap bisa melarikan diri dengan kecepatan yang mengejutkan. Dia mengeluh merasa sayang, lalu membalikkan kepala melihat sekali pada remaja baju putih yang terlentang pingsan dibawah bayangan pohon, lalu dari kejauhan mengibaskan telapaknya, melancarkan jalan darah yang ditotok oleh Liat-hwee-sin-kun, sambil menghadap pada sungai, dia berkata dingin: "Apakah kau sudah sadar?" "Heh!......" "Apakah kau bisa menjawab beberapa pertanyaan dariku?" "Apa karena jasa pertolongannya?" "Bukan, mau jawab atau tidak, aku tidak memaksa." "Coba kau katakanlah." "Kau kenal dengan Siau Yam?"

"Ini......" "Tidak mau mengatakannya?" "Bisa dikatakan kenal." "Sekarang dimana dia?" "Ini......maaf tidak bisa memberitahukan." "Ada hubungan apa kau dengan Sin-ciu-sam-coat?" "Tidak ada." "Lalu, mengapa kau mau keturunannya Sin-ciu-sam-coat, perhatian orang?" "Bicaramu lebih baik sopan sedikit!" "Kau tidak perlu marah, aku hanya membicarakan apa adanya." Kata Pek Soh-ciu. "Apakah kau pernah dengar aku mengaku keturunannya Sin-ciu-sam-coat" "Diam tidak bicara dan tidak mengaku, seperti tidak ada bedanya!" "Jika saudara berpikiran demikian, itu terserah saja." "Baik, kita tidak membicarakan ini lagi, sekarang, aku ada satu permohonan." "Kau mau apa?" "Jika kau kenal dengan Siau Yam, aku harus mencari Siau Yam, sehingga, aku terpaksa mengikutimu." "Apa, kau mau ikut aku?" "Tidak salah." "Tidak bisa." menyamar sebagai mengapa menarik

"Masalahnya sudah sampai disini, mungkin kau tidak ada pilihan." "H... aku tahu ilmu silatmu sangat tinggi, tapi kalau kau mau ikut aku, kecuali kau bunuh aku baru bisa!" "Aku ikut denganmu, itu tidak ada masalah bagimu, buat apa begitu serius!" "Aku katakan tidak bisa ya tidak bisa." "Apakah ada alasannya?" "Seseorang harus bisa menilai diri sendiri, apakah kau sendiri tidak tahu kau......" "Maaf aku bodoh, katakan saja yang jelas." "Kek... saudara... wajahmu menyebalkan" “Ha ha ha......setelah tertawa terbahak bahak, Pek Sohciu melepaskan topeng kulitnya, lalu dia pelan-pelan membalikan tubuh, berkata: "Ternyata aku begitu menyebalkan, hai... ini sungguh satu hal yang menyedihkan." Remaja baju putih yang tadi menutup matanya, dia mendengar Pek Soh-ciu bicara seperti sangat sedih, tidak tahan dengan simpati melihat sekali, tapi begitu melihat hatinya sangat terkejut, sorot matanya seperti tidak bisa ditarik lagi. Sesaat, dia menghentakan sepasang kakinya, dengan suara benci berkata: "Kau jahat......aku tidak ingin melihatmu..." dia membalikan tubuh lalu lari, baju putihnya melayang-layang menyusup kedalam hutan Liu. Wajah Pek Soh-ciu sedikit tertegun, dia segera mengejar sambil berteriak: "Hey, hey, kau dengar aku......"

Remaja baju putih tidak menerobos keluar hutan Liu, dia hanya memutar di pepohonan, Pek Soh-ciu menggunakan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui, akhirnya dapat menghadang di depannya, lalu mengepal sepasang tangannya berkata: "Supaya bisa bergerak leluasa, maka......" "Hm... mengapa kau justru memakai topeng yang mirip dengan Liu Ti-kie, apa sengaja membuat aku marah, benar tidak?" "Tidak, topeng ini, adalah pemberian supek Hong......" "Kalau begitu......aku ampun......kek, tidak salahkan kau." Remaja baju putih yang misterius ini, tidak saja ilmu ulatnya sangat tinggi, juga tampan tiada duanya, dan juga sering menampilkan gerakan mirip wanita, saat mengatakan 'tidak salahkan kau', dia mengangkat alis tersenyum manis, Pek Soh-ciu yang melihatnya, sepasang matanya jadi melotot, tidak berkedip menatap, mendadak wajah tampan remaja itu jadi merah berkata: "Kau ini mengapa, Pek Toako......" "Aku....." Pek Soh-ciu sedikit ragu ber-kata, "aku ada satu omongan yang tidak pantas..." Mulut kecilnya dimonyongkan, remaja baju putih tersenyum berkata: "Jika kata yang tidak pantas, buat apa dikatakan?" "Kek..... karena seperti tulang yang tersedak tenggorokan, tidak enak kalau tidak dikeluarkan." "Kalau begitu katakanlah!" "Apakah kau she Siau?" di

"Jika she Siau lalu mengapa?" "Kalau begitu kau pasti saudaranya nona Siau!" "Kali ini dugaanmu tepat sekali, nama ku Siau Kun." "Kakakmu dimana dia berada?" "Siapa yang tahu dia ada dimana, mungkin., mungkin dia akan mencariku, eeh kau cari kakakku ada perlu apa?" "Aku dengan dia pernah bertemu sekali......" "Hanya demi ini?" "Tidak, ayahmu menculik istriku, maka aku men cari kakakmu untuk ditukarkan......" "Tidak bisa." Kata-katanya ada nada kebencian, muncul diantara alis Siau Kun, mendadak dia membalik-an tubuh meloncat, menembus hutan lari menjauh. Pek Soh-ciu tidak mengerti sifat Siau Kun, mengapa bisa tidak menentu seperti ini, dia tertegun sebentar, lalu lari mengejarnya. Siau Kun tidak bisa meloloskan diri dari kejaran-nya, maka dia menghentikan langkah, dengan nada dalam teriak: "Kau mau apa! Mengapa menempel terus tidak mau melepaskan? Apa ingin mempermainkan aku, betul tidak?" Pek Soh-ciu tertawa tanda mengalah: "Siau-heng jangan salah paham, aku hanya......" "Hm...!" sekali Siau Kun berkata, "hanya ingin menggunakan aku supaya bisa mencari cici? Hm... tidak semudah itu!" Pek Soh-ciu berkata tawar:

"Kesalahan bukan ada padaku, harap Siau-heng bisa memaafkan." Siau Kun berpikir sebentar, katanya: "Dimanfaatkan orang, itu bukanlah hal yang enak, jika kau mau minta tolong, kau harus membantu aku melakukan satu hal kecil." "Asalkan dalam batas kemampuanku, pasti tidak akan mengecewakan Siau-heng." "Baik, mari kita jalan." Selesai bicara dia langsung berlari kearah tenggara. Sebuah perumahan yang megah, berdiri di dalam hutan pinus, di gerbang perumahan tertulis dua huruf besar warna emas 'Yun-liu'. Sepuluh lebih laki-laki besar berbaju ringkas bergolok, seperti sayap walet berdiri di kedua sisi gerbang, seorang berbaju hitam berusia empat puluh tahunan, dengan wajah tersenyum sedang menyambut seorang tamu yang datang berkunjung. Pek Soh-ciu mengikuti Siau Kun masuk ke dalam Yunliu, di gerbang perumahan mereka melaporkan nama palsu, di dalam perumahan jalannya di hampar batu putih, kebun bunga dimana-mana, sangat luas sekali, sampai di ujung jalan, tiba di satu bangunan besar, terlihat banyak bayangan orang, ruangan sudah dipenuhi oleh orang-orang yang datang dari segala penjuru, kecuali kenal Pek Can taysu dari kuil Siau-lim, ketua para perampok Gin-sai-riang-wan Tiat Kie-bu, Hai-thian-sang-sat, Kang-pak-siang-eng, nyonya ketua perkumpulan Ci-yan Ang-tan-yan Hong Liu-ceng, dan Liu Ti-kie, yang lainnya semua dia tidak kenal. Mereka duduk tidak lama, di dalam kelompok orang berjalan keluar seorang tua berjenggot putih dengan alis panjang matanya sipit, berperawakan gemuk pendek, walau

pun sepasang kakinya kecil pendek, tapi sekali melangkah jauhnya satu kaki lebih, orang tua kecil yang tidak mencolok mata ini, adalah seorang yang hebat di dunia persilatan, dia tertawa dan mengepal sepasang tangan, memberi hormat ke sekeliling berkata: "Para pendekar berkunjung ke tempatku, aku Goan Ang merasa sangat bangga sekali, silahkan para hadirin masuk ke ruang dalam untuk, sarapan, kalau ada pembicaraan apa nanti kita pelanipelan merundingkannya, silahkan." Di bawah undangan tulus dari tuan rumah, para pesilat tinggi di ruangan itu berturut-turut masuk ke ruang dalam, Pek Soh-ciu dan Siau Kun juga terpaksa mengikuti masuk ke ruang dalam, setelah sarapan, orang baju hitam yang menyambut tamu di gerbang perumahan, membawa keluar sebuah kotak kayu Ci-tan yang panjangnya kira-kira delapan inci, lebarnya hanya tiga jari, Goan Ang mengambilnya, setelah itu dengan tertawa keras berkata: "Tahun lalu kebetulan aku berhasil men-dapatkan sebuah pusaka yang berumur ribuan tahun..." Perkataan Goan Ang belum selesai, sudah ada orang dengan gembiranya berteriak: "Ho-leng-ci?" Goan Ang tersenyum: "Tidak salah, memang Ho-leng-ci, barang ini walau adalah barang pusaka, tapi harus di makan bersama dengan air liurnya Sian-giok-!eng-coa (Ular giok yang misterius dan pintar), Sian-giok adalah makhluk pintar perliharaan seseorang Cianpwee, sudah puluhan tahun ular pintar itu tidak muncul, dan usia ku juga sudah tua, aku khawatir sebelum Sian-giok ditemukan, aku sudah meninggal dunia, maka......"

Sepasang sorot matanya yang seperti sinar dingin, menyapu kesekeliling, lalu melanjutkan perkataannya: "Aku ingin memberikan Ho-leng-ci pada orang yang berjodoh dengannya, tapi......aku sulit mendapatkan cara yang bagus untuk melaksana-kannya." "Kita hidup di dunia persilatan, yang dibicara-kan adalah yang kuat hidup yang lemah mati, yang benar hidup yang palsu mati, pendekar besar Yuan jika tidak keberatan, persilahkan saja teman-teman yang ada di lapangan, bertarung dalam ilmu silat menentukan siapa yang paling tinggi!" Yang bicara adalah Gin-sai-tiang-wan Tiat Kie-bu, dengan nada bicara seorang perampok ulung, tapi usulan dia ini yang penuh dengan bau amis darah, malah mendapatkan tepukan tangan tanda setuju. Goan Ang tertawa: "Jika kalian semua setuju dengan usulannya ketua Tie, aku tentu saja tidak bisa menolaknya, dengan demikian tanggung jawabku atas Ho-leng-ci sudah lepas, selanjutnya aku bisa tenang." Ujung kaki dia perlahan di hentakan, tubuhnya yang gemuk pendek seperti anak panah melejit ke udara, dari tempat asalnya naik lurus ke atas, tangan kiri menangkap palang atap, tangan kanan sudah dengan tepatnya ditaruh di atas palang atap. Tangan kiri dia tetap masih memegang palang atap, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya dengan pelan menekan tombol kotak kayu Ci-tan, lalu tutup kotak terbuka. Dia dengan hati hati mengeluarkan Ho-leng-ci, sebuah sinar merah padam, membuat jenggot dan alisnya para pesilat tinggi jadi merah semua. Ini adalah sebatang pohon yang panjangnya sekitar enam cun, warnanya merah api, mulai dari akar sampai

kepucuknya tumbuh tujuh daun merah yang indah, di kepala Ci nya di selubungi oleh asap, berwarna-warni mencolok mata, dilihat dari kejauhan seperti awan warnawarni, di langit berputar putar. Benda pusaka didepan mata, para pesilat tinggi didalam ruangan, semua menyorotkan sinar mata ingin memilikinya, ada orang yang keserakah annya sangat berat, langsung memegang senjata, siap keluar, di dalam ruangan segera terbentuk situasi bergejolak. Mata sipit Goan Ang melihat ke sekeliling, di sudut bibirnya tampak senyum dingin penuh arti, pelan-pelan menaruh kembali Ho-leng-ci ke dalam kotak. tangan kiri dilepaskan, perlahan dia melayang turun di sudut ruangan, tangannya mengusap jenggot perak, dengan tertawa berkata: "Tanggung jawabku sudah selesai, sementara ini aku mengundurkan diri." Dia lalu membalikan tubuh, melayang pergi ke belakang pekarangan. Tidak ada orang yang memperhatikan keberadaannya Goan Ang lagi, seluruh perhatian para pesilat tinggi, sudah terfokuskan pada kotak kayu Ci-tan yang berada di atas palang atap, mereka semua menginginkannya, tapi tidak ada seorang pun yang bergerak. Para pesilat tinggi di dalam ruangan, tidak sedikit adalah ahli silat yang menggemparkan dunia persilatan, dan para pesilat tinggi hebat yang tersohor, tapi tidak peduli siapa dia, asalkan di tangannya menggenggam Ho-leng-ci, maka dia langsung akan menjadi sasaran semua orang, di dalam keadaan demikian, walau pun dia berilmu sangat tinggi, juga tidak berani sembarangan bergerak, sehingga, mereka berada dalam keadaan yang sangat tegang sekali, tetap

bertahan diam, tapi setiap pasang sorot mata yang mengandung permusuhan, tidak henti-hentinya bergulir. Satu jam sudah berlalu, diam-diam suasana tegang mengalir dalam hati semua orang, akhirnya, satu bayangan orang, tanpa suara tanpa gejala meloncat ke atas, ilmu meringankan tubuh orang ini walau pun tidak sehebat ilmu silat meringankan tubuh It-hui-cong-thian (terbang menerjang langit) Goan Ang, tapi juga ringan lincah dan cepat, sudah sampai tingkat yang tinggi sekali, tapi ketika dia mengulurkan tangan akan menangkap tiang palang atap, mendadak dia menjerit ngeri, bergulung jatuh ke bawah, di atas punggungnya, menancap sebuah pisau kecil yang bersinar. Sesaat setelah bayangan orang itu meloncat, para pesilat tinggi diruangan hampir semuanya juga ingin meloncat maju, sekarang mereka kembali menjadi ragu, yang pertama tadi bisa diambil contoh, siapa orangnya yang ingin mempertaruhkan nyawa sendiri! tapi daya tarik Holeng-ci sungguh terlalu besar, asalkan masih ada sedikit harapan, siapa pun tidak mau melepas-kannya, walau pun harapan itu kecil sekali. Gejolak semakin kentara, permusuhan di antara para pesilat tinggi juga semakin dalam, mereka seperti busur yang ditarik penuh, setiap saat juga bisa terjadi pertarungan. Terhadap keadaan ini Pek Soh-ciu sangat tidak sabar, dia sedikit mengerutkan alis berkata: "Siau-heng......" Siau Kun mengangkat wajahnya menyahut: "Ada apa?" "Aku merasa dadaku sedikit sesak." "Ooo, mari kita pergi keluar mencari angin."

"Tapi......" "Aku tahu, Ayolah." Mereka tadinya juga berdiri dibelakang para pesilat tinggi, saat ingin mengundurkan diri dari dalam ruangan juga jadi mudah sekali, Siau Kun menuntun tangan Pek Soh-ciu berkata: "Kak, kita sembunyi diatas pohon yang ada di sebelah kanan itu, dari atas ke bawah, mengawasi seluruh lapangan, menunggu orang yang mendapatkan pusaka keluar dari ruangan, baru kita hadang dia." Tangan Pek Soh-ciu yang di pegang oleh dia, seperti berada di dalam kapas yang lembut hangat, tidak tahan di dalam hati berpikir saudara Siau ini mengapa tangannya begitu lembut seperti tangan wanita? Mungkin dia adalah seorang putra yang hidup di dalam kemewahan, maka dia tidak berpikir ke arah yang lainnya. Mereka meloncat ke atas pohon, duduk berdampingan di satu batang cabang pohon, angin meniup lembut, meniup wangi yang seperti dikenalnya, Pek Soh-ciu jadi merasa sangat heran, dia mengangkat angkat hidung, lama menghirup wewangian itu, tampangnya tampak sangat bingung. Siau Kun menatap dia dengan merasa heran berkata: "Kak, kau menemukan apa?" Pek Soh-ciu tersenyum malu berkata: "Tidak apa, aku mencium bau wewangian, dan merasa sedikit bingung saja." Wajah tampan Siau Kun menjadi merah, lalu melihat dia dengan mata putih berkata:

"Dipekarang banyak ditanami bunga, wewangian itu tentu saja tidak aneh, lihatlah, sudah ada orang yang keluar." Tidak salah apa yang dikatakan Siau Kun, benar ada orang yang keluar, tapi orang yang keluar itu, semuanya roboh ke tanah tidak bisa bangkit lagi, dalam sesaat, di luar pintu ruangan, sudah tergeletak tidak kurang tidak lebih tiga puluh sosok manusia. Saat ini di dalam ruangan sangat ramai suara manusia, benturan senjata dan suara jeritan mengerikan, tidak hentihentinya keluar dari dalam ruangan, setelah satu jam, pertarungan sepertinya sudah berhenti. kembali terdengar suara pertengkaran, Siau Kun jadi bersemangat berkata: "Sudah waktunya, kak, kita masuk kedalam untuk melihatnya." Waktu masuk ke dalam ruangan, Siau Kun melihat ke sekeliling, melihat kota kayu Ci-tan tempat menyimpan Holeng-ci, sudah pecah di atas lantai, tapi Ho-leng-ci tidak ada disitu, tidak tahan dia mengangkat sepasang alis, wajahnya jadi dingin, katanya: "Dimana Ho-leng-cinya? Siapa yang mendapatkannya?" Pek Can taysu, pendeta To Hoan-ho, Ang-tan-yan Hong Liu-ceng, dan Gin-sai-tiang-wan Tiat Kie-bu yang berdiri di sisi pecahan kotak kayu, wajahnya membeku, diam tidak bicara, hanya seorang laki-laki besar berwajah bengis yang berdiri agak jauh dengan mendengus sekali berkata: "Pergilah, bocah, di dalam ruangan ini kau tidak pantas bicara!" Siau Kun memutar sepasang matanya, satu tangan diayunkan pada laki-laki besar itu berkata:

"Kau punya mata anjing hanya melihat orang di bawah, sepasang matamu itu tidak ada gunanya ditinggalkan di situ, lebih baik buang saja." Dua titik sinar berkelebat, laki-laki besar yang lantang itu, dua tangannya segera menutup sepasang matanya, sambil menjerit berguling-guling di lantai. Gin-sai-tiang-wan yang pertama terkejut, Pek Can taysu dan pendeta To Hoan-ho berikut para pesilat tinggi yang ternama di dunia persilatan, juga warna wajahnya berubah, dua titik sinar perak itu mengandung kekuatan yang tiada tandingnya, orang yang julukannya sebesar apa pun, juga harus sedikit mengalah. Sehingga, Pek Can taysu dengan menyebut nama Budha sekali berkata: "Aku menurunkan kotak kayu dari atas tiang palang atap, Sicu Tiat dan kawan-kawan datang merebutnya, dalam keadaan saling berebut, sehingga kota kayu itu jadi pecah, tapi Ho-leng-ci malah sudah hilang entah kemana, tidak ada didalam kotaknya......" Siau Kun balik bertanya pada Gin-sai-tiang-wan: "Apa betul begitu Ketua Tiat." Tiat Kie-bu berbatuk sekali berkata: "Kejadiannya memang begitu, tapi......" "Tapi bagaimana?" "Pek Can taysu pernah memasukan kotak kayu itu ke dalam lengan bajunya......" Pek Can taysu cepat berkata: "Sicu jangan sembarang menuduh orang, bagaimana aku bisa melakukan hal sehina itu!"

Mata Siau Yam menyorot terang, melihat ke seluruh tubuh Pek Can taysu berkata: "Apakah Pek Can taysu pernah menggunakan siasat Tolong-hoan-hong (mencuri naga menukar burung hong.) untuk mencuri Ho-leng-ci, kita jadikan saja itu kecurigaan kita, hanya saja jika Ho-leng-ci sudah hilang, kalian sepertinya tidak perlu lagi tinggal lama-lama disini." Gin-sai-tiang-wan Tiat Kie-bu menyahut: "Kata-kata Siauhiap benar, aku segera mengundurkan diri." Dia mengepal tangan menyapa, langsung memimpin para pesilat tinggi aliran hitam meninggalkan ruangan. Siau-lim, Bu-tong, perkumpulan Ci-yan, dan para pesilat tinggi lainnya, semua masing masing mengepal tangan menyapa Siau Kun, masing-masing memimpin kelompoknya meninggal kan tempat yang berbau amis darah ini. Sekarang, didalam ruangan besar ini, hanya tinggal Pek Soh-ciu dan Siau Kun dua orang, lama, Pek Soh-ciu "kek!" sekali batuk berkata: "Siau-heng......" Siau Kun tawar tertawa berkata: "Kakak ingin menanyakan mengapa mereka ada sedikit segan pada kita?" "Benar." "Guruku berkelana di dunia persilatan menggunakan Pek-lek-bie-sin-ciam (Jarum sakti menghancurkan geledek) sebagai tanda beliau, orang-orang ini hanya melihat muka guru ku saja." "Gurumu pasti seorang pesilat tinggi yang amat lihay?"

"Ini......kek, beliau memang ada sedikit nama, tapi karena larangan perguruan, harap maklum aku tidak bisa memberitahukan sebutan beliau padamu." "Ooo!" sekali, Pek Soh-ciu berkata, "Tidak apa-apa, hanya saja terhadap masalah Ho-leng-ci, aku tidak bisa membantu Siau-heng, sungguh merasa sedikit tidak enak." "Seluruh pesilat tinggi di dunia persilatan juga terperangkap di dalam siasatnya Goan Ang, mana bisa salahkan kakak." Pek Soh-ciu dengan perasaan heran berkata: "Maksudmu, Ho-leng-ci masih berada ditangan-nya Goan Ang?" Siau Kun tertawa: "Jika Toako tidak percaya, bisa naik ketiang palang atap memeriksanya." Terhadap kata-kata Siau-kun, Pek Soh-ciu memang merasa ragu, maka dia menuruti kata-katanya meloncat keatas tempat di mana Wan Hong tadi menaruh kotak kayu Ci-tan, benar saja dia melihat satu lubang yang dalam, dan di bawah lubang, ada sebuah papan hidup yang bisa digerakan, menembus sampai ke dalam dinding, dia lalu turun sambil mengangguk dan mengeluh: "Saudara orang yang sangat pintar, tapi mengapa masih menaruh curiga pada Pek Can taysu?" Siau Kun memonyongkan bibir: "Ketua Siau-lim terdahulu, pernah terlibat peristiwa di perumahan Leng-in, hweesio tua itu tidak tahu malu masih berani mengganggu kita berdua, biarkan dia saja menjadi kambing hitam, anggap saja itu hukuman ringan bagi kuil Siau-lim." Dia habis bicara lalu dia bersiul panjang, beberapa saat kemudian, lima orang laki-laki besar berbaju ringkas hitam

berlari mendekat, mereka berdiri berbaris, bersamaan menyapa pada Siau Kun, dari penampilannya, tampak sangat menghormat sekali. Siau Kun dengan dingin berkata: "Dimana Goan Ang?" Salah seorang laki-laki baju hitam berkata: "Kami dari tadi mengawasi terus, tapi masih belum melihat Goan Ang atau satu orang pun yang meninggalkan Yun-liu......" Wajah Siau Kun menjadi dingin berkata: "Geladah......" Lima laki-laki besar baju hitam segera menerjang masuk ke dalam rumah, kira-kira lewat sepertanakan nasi, lima orang itu berturut-turut kembali melapor: "Siauya, seluruh Yun-liu sekarang sudah kosong tidak ada satu orang pun......" Siau Kun mendengus sekali berkata: "Siau-han-ngo-liong (Lima naga basah) yang namanya menggemparkan dunia persilatan, malah tidak bisa menjaga seorang Goan Ang, hm... apakah terpikir kalian akibat melalaikan tugas?" Semua rubuh lima orang baju hitam itu bergetar, wajah yang tidak gentar apapun terlihat pucat, tidak diduga perkataan marah Siau Kun, membuat laki-laki yang gagah perkasa ini, seperti terhukum yang menunggu eksekusi. Pek Soh-ciu malah merasa tidak tega dia berkata: "Pertemuan di Yun-liu, sudah merencanakan Goan Ang, kita semua bersalah, mana bisa hanya menyalahkan mereka berlima, saudara, sudahlah." Siau Kun berpikir sebentar berkata: "Kalian beruntung, Ada Pek Toako yang membela, tapi jika dalam waktu tiga bulan kalian tidak bisa mendapatkan Goan Ang, kalian bersiap-siap menanggung."

Siau-han-ngo-liong menyahut sekali, lalu membalikan tubuh meloncat dengan cepat meninggal-kan tempat itu. Siau Kun melihat bayangan mereka telah hilang, baru membalikan kepala tersenyum manis pada Pek Soh-ciu berkata: "Toako! Temani aku lagi pergi ke gunung Kwotiang...ya?" Pek Soh-ciu tertegun: "Maksudmu, Goan Ang telah pergi ke gunung Kwotiang?" "Lembah Ceng-eng di gunung Tian-chang, baru benar sarangnya Goan Ang, tapi lembah Ceng-eng tidak saja penuh jebakan tersembunyi, juga sangat dingin sekali, bahayanya, tidak kalah dengan neraka dingin, jika kakak ada minat, kita pergi kesana untuk menambah pengalaman." Pek Soh-ciu tertawa: "Bagus, aku bisa menambah pengalaman, hayo kita jalan." Siau Kun mendapatkan dua ekor kuda tunggang, mereka berdua berdampingan berangkat dari Yun-liu, derap suara kuda, tertawa, berkata keras di daerah Kanglam ini, kembali akan membuat cerita muda mudi dunia persilatan yang mengharukan. 0-0dw0-0 BAB 4 Bersama-sama menunggang kuda ribuan li

Siau Kun menunggang kuda melawan angin, dia tampak bersemangat sekali, ikat kepala putih dikepalanya seperti burung walet sedang terbang, melayang-layang dibelakang kepalanya, sepasang matanya yang hitam bersinar, mulut munggilnya yang seperti dicat merah, dengan tawanya tampak senang, lama... dia mendadak menghentikan kudanya, membalikan kepala pada Pek Soh-jiu sambil tersenyum manis berkata: "Pegunungan di Kanglam ini sungguh indah sekali, penoramanya seperti didalam gambar saja, kali ini kita melancong ke Kwo-tiang, sungguh tidak sia sia." Pek Sohjiu tersenyum, berkata: "Tidak salah, tanahnya bagus pasti orangnya hebat-hebat, mungkin kita bisa bertemu dan berkenalan dengan orang Kanglam yang hebat-hebat." Siau Kun menyunggingkan bibir: "Pemandangan Kanglam yang indah, sungguh keadaan yang nyata, jika mengatakan di Kanglam juga muncul orang hebat, aku tidak sependapat." "Ha...ha...ha!" Pek Soh-jiu tertawa, "Kau tidak percaya? Lihat itu, bukankah sudah datang!" Sst...ssst terdengar beberapa suara, diantara bayangan pepohonan dan celah rumput, berturut-turut meloncat keluar sepuluh lebih laki-laki besar, setiap orang berpakaian ringkas, bersenjata dan wajahnya bengis. Siau Kun melirik sekali pada mereka, mendadak dia tertawa keras berkata: "Kata-kata Toako tidak salah, orang orang ini bertubuh hina, berwajah bengis, memang orang-orang yang luar biasa, ha......" Orang-orang ini dipimpin oleh seorang laki-laki besar yang berkepala musang bermata tikus, tubuhnya kekar sekali, dia melihat pada dua remaja yang lemah lembut

yang sangat berani mengejek pada mereka, tidak tahan dia maju beberapa langkah, dengan marah membentak: "Anjing kecil, kau sedang membicarakan siapa?" Siau Kun mengangkat alisnya, berkata: "Siauya menunggang kuda dijalan raya, tidak mengganggu sarang penyamun, suka membicarakan siapa ya bicara siapa, apa urusannya denganmu?" Traang... seorang laki-laki besar mencabut golong pembelah gunung berpunggung tebal, mcng-getarkan lengannya, membuat ring besi di kepala golok berbunyi suara logam beradu, lalu mengangkat alis tebalnya, berteriak dingin: "Bocah, jika Tay-ya ingin membunuhmu semudah mengangkat tangan saja, maka jika kau sudah bosan hidup, katakan saja pada Tay-ya!" Siau Kun menggoyang-goyangkan sepasang tangannya berkata: "Tunggu, tunggu, laki-laki sejati mulut bicara tangan tidak bergerak, kau jangan galak seperti ini, menakuti orang?" Laki-laki besar itu dengan bangganya bersuara "Hemm!" sekali berkata: "Baik baik, coba jawab pertanyaan Tay-ya, jika tidak, jangan salahkan Tay-ya berlaku kejam." Siau Kun seperti ketakutan: "Kau ingin tanya apa? Raja gunung." Laki-laki besar itu berteriak marah: "Apa? Kau panggil Tay-ya Raja gunung?

"Maaf, aku tidak tahu harus memanggil apa terhadap para Tay-ya yang menghadang jalan." Kata Siau Kun Laki-laki besar bermata tikus itu bersuara "Hemm!" sekali tampak akan marah lagi, akhirnya menahan diri bertanya: "Kalian berasal dari mana?" "Han-kou." "Apa pernah datang ke Yun-liu?" "Pernah, aku bertamu beberapa hari dirumahnya Goan Tayhiap." "Dengan tampang kalian berdua, sastrawan miskin, juga bisa bertamu kerumahnya Goan?" "Ini......kek, karena kami dengan pendekar besar Goan ada sedikit......hubungan keluarga jauh......" "Kalau begitu ya benar.... apa di dalam Yun-liu, ada tidak teman teman dunia persilatan lainnya?" "Ada......" "Siapa saja?" "Aku dengar ada yang dari Siauw-lim, Bu-tong, Tiamcong, Cu apa itu Yan, haii, terlalu banyak, aku seorang sastrawan miskin, bagaimana bisa ingat para pesilat tinggi dunia persilatan......" "Hemm, mereka sedang apa di Yun-liu, seharusnya kau ada dengar beritanya!" "Itu......kek, bukan haik) a dengar beritanya......" "Lalu apa yang sedang mereka kerjakan?"

"Masih bertarung memperebutkan Ho-leng-ci." Warna wajah laki-laki besar segera menjadi tegang, dia kembali maju satu langkah, katanya: "Katakan, Ho-leng-ci akhirnya jatuh ketangan siapa?" Siau Kun seperti sengaja, seperti tidak disengaja mengusap sekali pinggangnya, sambil terbata-bata sebentar berkata: "Tidak ada orang yang bisa mengalahkan Goan Tayhiap, tapi dia juga tidak ingin lagi menyimpan Ho-leng-ci itu, sehingga......sehingga......" "Bagaimana?" "Maka dia memberikannya padaku." "Apa benar kata-kata kau?" "Keberanian sebesar langit pun aku tidak berani membohongi Raja gunung!" Sampai disini laki-laki besar baru sadar remaja tampan yang seperti giok ini, sejak dari awal terus membual, tidak tahan dia berteriak marah, berkata: "Anjing kecil, berani kau mempermainkan aku, aku congkel dulu sepasang mata anjingmu itu baru berurusan." Sepasang kaki dihentakan, telapak melancar kan sebuah pukulan secepat angin, dua jarinya yang besar-besar, dengan dahsyat menotok kearah sepasang mata Siau Kun. Siau Kun dengan menjerit: "Hey, kau tahu aturan tidak? Aku sudah bilang laki-laki sejati hanya menggunakan mulut tidak menggunakan tangan......" Tapi teriak tinggal teriak, serangan laki-laki besar itu datangnya terlalu cepat, dalam sekejap mata, ujung jarinya

sudah menotok di depan mata, hanya terdengar suara teriakan menggelegar, dua buah bola mata dengan darah segar, bercucuran diatas jalan raya, satu bayangan orang bersamaan waktu menjerit bergulung dibawah. Beberapa gerakan ini, cepatnya laksana kilat, saat semua orang melihat jelas, orang yang menutup kepala menjeritjerit, dan wajahnya tampak berlumuran darah, ternyata adalah laki-laki besar bermata tikus, orang-orang yang berkumpul menghadang jalan, berubah semua warna wajahnya. Siau Kun mengeluarkan sapu tangan dari dalam dadanya, dengan pelan mengelap darah diujung jarinya, sesaat kemudian dia mengangkat sepasang matanya, dua sorot matanya yang tajam, menatap pada orang-orang yang menghadang jalan tidak maju maupun mundur: "Kalian ini pesilat tinggi dari perguruan mana?" Diantara para penghadang jalan, ada seorang yang menjawab: "Kami dari perumahan Si-liu." "Kanglam Liu?" "Benar." "Baik, mengingat Kanglam Liu namanya tidak buruk, kalian congkel sepasang mata kalian dengan tangan sendiri, lalu pergilah." "Ini......" para laki-laki besar itu sekarang baru tahu mereka telah bertemu dengan seorang yang berhati kejam, menyumh mereka mencongkel sepasang matanya sendiri, ini sungguh tindakan keterlaluan, baru saja Pek Soh-jiu akan menengahinya, mendadak dari kejauhan terdengar suara siulan aneh, para laki-laki besar itu bangkit kembali

semangatnya, mereka segera mencabut senjatanya masingmasing, dan melakukan pengepungan terhadap Pek Soh-jiu berdua. Suara siulan itu berhenti seorang tua dengan kening lebar berhidung mancung, bermantel sutra, sepatu merah, melayang tunin seperti daun jatuh, dia melirik sekali pada laki-laki besar yang telah kehilangan sepasang matanya, lalu membalikan kepala kepada Pek Soh-jiu dan Siau Kun dingin berkata: "Siapa yang berbuat?" "Hmm!" Siau Kun berkata, "Aku." "Kenapa?" "Tanya saja pada anak buahmu." "Bocah yang sombong sekali, jika aku tidak menghajarmu, kau akan mengira di Kanglam ini tidak ada orang!" "Benar aku justru ingin tahu To-pa-thian-lam (Penguasa tunggal langit selatan.) Liu-cengcu (ketua perumahan Liu), sebenarnya mempunyai ilmu silat hebat apa." "Bagus, terima ini!" Kanglam Liu belum habis bicara, lima jarinya sudah berterbangan, dalam sekejap telapak tangannya yang besar sudah mencengkram ke arah dadanya Siau Kun. Siau Kun bersuara dingin, tubuhnya meloncat keatas, setangkas asap ringan, belum lagi tangan Kanglam Liu ditarik kembali, dia sudah seperti roh melayang ke belakangnya Kanglam Liu, bersamaan itu telapaknya dihantam ke depan, memukul punggung belakang lawan, sambil mulutnya dengan sekali bersuara "Hemm!" sinis berkata:

"Kelihatannya Kanglam Liu yang menguasai daerah selatan ini, hanyalah seseorang yang mencuri nama saja!" Kanglam Liu tidak menduga seorang remaja muda seperti ini bisa memiliki ilmu silat sehebat ini, buru-buru dia menjatuhkan tubuhnya ke depan, lalu membalikan tubuh, telapak kirinya berturut-turut memukul dua kali, begitu dia menghindar dari serangannya Siau Kun, dengan kegesitannya dia membalikan tubuh, melancarkan pukulan balik, menghindar dan membalas serangannya di dunia persilatan terhitung kelas paling top, hanya saja dalam pertarungan ini, dia sepertinya sudah berada di bawah angin, sehingga, ketua perumahan Liu yang namanya termasyur didunia persilatan, menjadi marah tidak terkendali, tubuhnya meloncat, sepasang tangannya dikibaskan bersilang, di bawah ribuan bayangan telapak, dengan kandungan hawa dingin yang menusuk tulang, seperti serat perak yang tidak terhingga banyaknya, menusuk tiga puluh enam jalan darah penting di depan tubuh Siau Kun. Siau Kun terkejut sekali, dia tidak menduga Kanglam Liu yang tampangnya seperti aliran lurus, bisa melancarkan jurus telapak yang sangat keji, buru-buni dia memutar tubuhnya, sepasang telapaknya berturut turut dikibaskan, dia mengerahkan seluruh'kemampuan nya, tapi tetap saja tidak bisa menahan serangan hawa dingin itu, segera dia menjadi kelabakan, keadaannya sangat tidak enak dipandang. Pek Soh-jiu yang melihat jadi terkejut, buni-buru dia mengangkat telapak tangannya, didorong ke depan sejajar dengan dada, satu hembusan angin keras seperti kekuatan gelombang pasang menerpa karang, mener-jang bagian belakang Kanglam Liu.

Tiga jurus telapak Kang-hong (angin yang berkecepatan sangat tinggi) kekuatannya sangat hebat, Kanglam Liu sebagai penguasa tunggal di Thian-lam juga tidak berani menghadapi serangan ini dengan kekerasan, mantel sutranya tampak berkelebat, men-dadak dia mundur tiga tombak lebih. Siau. Kun melihat pada Pek Soh-jiu dengan perasaan terima kasih, lalu berpaling, sepasang matanya dibuka, menyorotkan dua sinar tajam, telapak kanan merogoh ke dalam dada, mengeluarkan sebilah pedang pendek yang bersinar, dingin, berkata: "Hian-im-cap-sa-hoat (Tiga belas jurus gaib hawa dingin) sungguh mengandung kekuatan yang sulit dibayangkan, aku jadi penasaran, aku masih ingin mencoba permainan senjatamu." Begitu sorot mata Kanglam Liu melihat pedang pendek ditangan Siau Kun, warna wajahnya berubah besar, mendadak dia bertepuk tangan, tubuhnya seperti bangau besar melejit kelangit, jagoan yang sangat ternama di Thianlam ini, pergi begitu saja tanpa banyak bicara, puluhan lakilaki besar yang tadi menghadang di jalan, juga mengikutinya berlari tunggang langgang. Siau Kun menyimpan kembali pedang pendeknya lalu mendengus dingin, lalu melihat pada Pek Soh-jiu berkata: "Menunggang kuda di jalan raya sambil mengobrol, seharusnya adalah hal yang menggembirakan, tidak diduga keadaan nyaman ini dirusak oleh para perampok kecil tadi." Pek Soh-jiu tertawa tawar: "Tidak apa, bisa bertemu dengan jago-jago Kanglam, itu juga satu hal yang menggembirakan." Tidak menunggu Siau Kun menjawab, dia sudah meloncat naik keatas kuda,

sepasang kakinya perlahan dihentakan, dengan cepat melarikan kuda menuju Hiu-sui. Terhadap saudara Siau Yamg baru dikenal tidak lama, sungguh Pek Soh-ciu merasa sangat misterius, di Yun-liu, dia dengan dua senjata gelapnya, membuat para pesilat tinggi dunia persilatan menjadi ketakutan seperti bertemu dengan ular berbisa, sekarang kembali dengan sebilah pedang pendeknya, membuat Kanglam Liu yang penguasa tunggal Thian-lam ketakutan dan melarikan diri, tentu saja, walau di dalam hati dia banyak pertanyaan, tapi dia tidak enak menanyakannya, hanya saja terhadap perjalanan ke Kwo-tiang ini, dia jadi ada sedikit menyesal. Saat ini angin tidak bertiup, matahari terik seperti bara api, setelah beberapa saat melarikan kudanya, orang dan kuda pun sudah bercucuran keringat, Pek Soh-jiu melihat wajah Siau Kun menjadi merah, keringat keluar seperti air hujan, maka dia memperlambat lari kudanya dan berkata: "Cuaca di pegunungan sangat sulit diduga, siang dan malam, seperti dua musim yang berbeda, saat ini matahari sangat terik sekali, kenapa saudara Siau tidak melepaskan saja sapu tangan kepala, supaya sedikit jadi dingin!" Wajah Siau Kun menjadi merah, berkata: "Sapu tangan kepala walau menjadikan lebih panas, tapi bisa menahan sinar matahari, aku memilih, lebih baik memakai sapu tangan kepala saja." Terhadap remaja tampan yang sulit diduga sifatnya ini, Pek Soh-jiu merasakan tidak bisa berbuat banyak, jika dia merasa lebih baik memakai sapu tangan di kepalanya, buat apa dia sendiri repot repot, sehingga, dia membiarkannya dengan tersenyum.

Hari semakin larut malam, mereka tiba di depan pohon yang ada bayangannya, Siau Kun menunjuk dengan ujung pecutnya berkata: "Toako! Kita istirahat dulu di bawah bayangan pohon, sekalian mengisi perut sedikit." Setelah Pek Soh-jiu menganggukan kepala tanda setuju, mereka beristirahat di bawah bayangan pohon, mungkin karena penguapan dari keringat, wewangian yang seperti pernah dikenal itu, melayang masuk ke dalam hidung Pek Soh-jiu, dia sedikit mengerutkan alis, melihat kearah datangnya wewangian itu dengan penuh pertanyaan. Ini adalah satu ciptaan Tuhan yang hebat, walau pun Song-ih atau Suto hidup kembali, saudara Siau ini juga tidak akan kalah oleh mereka, dan dari penampilannya seperti ada penampilan genit yang memikat, saat ini pipi dia merah, lesung pipinya samar samar terlihat, sepasang mata yang jelas hitam dan putihnya, bergelimang air jernih, dia sepertinya sudah merasakan tatapan Pek Soh-jiu itu, lalu dengan wajah serius berkata: "Toako. "Eeii— "Hawanya begini panas, kenapa kau tidak melepaskan saja topengmu?" “Aku juga ada Piklran mendatangkan kerepotan." begitu, hanya takut

"Di tempat ini kecuali kita tidak ada orang lain lagi, walau pun ada orang yang menemukan kita, dengan kekuatan kita berdua, apakah masih takut ada orang yang mengganggu!"

"Haai!" Pek Soh-jiu mengeluh berkata, "Jika aku mempunyai perguruan sehebat perguruan saudara Siau, maka tidak perlu lagi menggunakan topeng seperti sekarang." "Kalau begitu, Toako! Aku ajarkan kau cara menggunakan Pek-lek-bie-sin-ciam, nanti kubagi satu kantong Sin-ciam buatmu, mau tidak?" "Tidak, maksud baik saudara Siau, aku terima di dalam hati saja." "Kenapa? Kau masih memandang aku orang luar!" "Aku adalah seorang yang pembawa mala petaka, lebih baik jangan melibatkan teman......apa lagi......" "Kek... Kau malah memandang aku ini seorang yang takut mati." "Aku tahu saudara Siau adalah seorang mementingkan rasa setia kawan, tapi kita berkenalan......" yang baru

"Di dunia ada teman sependirian, bumi dan langit seperti bertetangga, buat apa Toako berpandangan seperti orang biasa saja." Perkataan Siau Kun belum habis,' tiba tiba 'Paak!' terdengar satu suara keras, di dalam hutan tempat mereka istirahat, terdengar suara teriakan orang tua. " Yaaw, kau pukul orang?" "Tua bangka tidak tahu mati, kau teriak apa?" "Kenapa, sudah dipukul masih tidak boleh keluar suara?" "Kau lihat mereka suami istri remaja, tapi kelakuannya tidak seperti kau ini!"

"Orang adalah suami mesra istri setia, dengan apa kau bandingkan mereka?" "Bagus, tua bangka tidak tahu mati, kau berani menghina aku, rasakan kau nanti!" Ssst ssst dua suara pelan terdengar, dua bayangan orang selincah burung terbang, meloncat dari puncak pohon, hanya satu kali loncatan saja, tubuhnya sudah berada dalam sepuluh tombak lebih, ilmu meringankan tubuhnya, bisa dikatakan sangat jarang terlihat di dunia persilatan. Pipi Siau Kun jadi merah, dia meludah sekali pada bayangan orang itu, malunya sampai tidak berani mengangkat kepalanya, lama, dia baru dengan kesal berkata: "Dua setan tua ini sungguh menyebalkan sekali, mereka malah menganggap aku......aku ini perempuan......" Perkataannya terhenti sebentar, dia kembali mengangkat kepala dan tertawa, katanya: "Toako! Hari akan segera gelap, kita lebih baik ke Lamtiang saja, ngobrol disana." Tiba di Lam-tiang, tepat jam sembilan malam, mereka mencari penginapan, tapi tidak bisa mendapatkan dua kamar, Siau Kun seperti tidak biasa satu kamar dengan orang lain, dengan alasan terlalu lelah, dia jadi tidur dengan pakaian lengkap, hari baru saja fajar, dia sudah bangkit duduk, tepat diwaktu itu, di kamar sebelah mereka, terdengar lagi suara yang telah di kenal. "Tua bangka, rubuhmu matanya masih melotot?" terlentang kenapa masih

"Sst......nenek tua, pelan sedikit, aku tidak ada waktu bicara denganmu."

"Puuih, sudah terlentang masih mau sibuk apa? Apakah raja neraka ingin mengundang kau datang?" "Kek, aku ini sedang memperhatikan bocah kecil yang menyamar jadi laki-laki itu." "Orang sudah ada bocah yang menemaninya, urusan apa denganmu? Hemm, kau tidak perhatikan nenek tua ini, malah memperhatikan bocah perempuan itu!" "Kau? Kek, kek......" "Kenapa, dimananya aku tidak pantas buatmu?" "Jangan sembarangan omong, nenek tua, apakah kau tidak berpikir bocah perempuan itu ada sedikit aneh?" "Jangan buat teka teki dengan aku, jika ada yang mau dibicarakan cepat katakan, jika ingin kentut cepat keluarkan." "Kau tentu tahu peristiwa Leng-in?" "Mmm......." "Lalu kau tidak merasa ada yang aneh?" "Aku justru tidak mengerti." "Hai, bocah perempuan itu paling sedikit datang bukan untuk bermesra-mesraan, betul tidak?" "Apa yang kau katakan walau pun ada sedikit masuk akal, tapi aku tetap saja tidak sependapat." "Kek, nenek tua, kau ini sungguh jadi nenek tua yang bodoh." "Kaulah orang tua yang bodoh, hemm, permusuhan antara generasi sebelumnya, tidak ada hubungannya dengan mereka! Coba pikir, aku ini bagaimana caranya bisa cinta padamu?"

"Ini......ha ha......tidak salah, tidak salah, bocah itu juga memang cukup tampan, kecuali aku ini, kek, kek......" "Jangan memuji diri sendiri, tua bangka, kau pernah berkata, akan membawa aku melancong kota Lam-tiang, kau tidak boleh mengingkarinya." "Kapan aku pernah bohong padamu, nenek tua, kita ini adalah......" Percakapan di kamar sebelah ini, Siau Kun bisa mendengar, satu kata pun tidak ada yang lolos, wajah tampannya seperti dilapisi lipstik merah, cantiknya seperti sekuntum bunga To, dengan gerakan yang lincah dan ringan dia menotok jalan darah tidur Pek Soh-jiu, sepasang mata cantiknya, sedikit pun tidak berkedip menatap wajah tampan yang membuat hatinya bergetar. Tidak salah, dia mendekati Pek Soh-jiu, memang dia ada tujuan lain, namun, di Hun-sie, remaja tampan ini telah membuka hatinya, telah mencuri hatinya, kemudian walau dia sudah tahu remaja yang mengaku she Ciu itu, adalah tujuan yang dia cari-cari, tapi cintanya sudah tertanam dalam, sudah tidak bisa dicabut lagi, sehingga, dia meninggalkan dua orang pelayannya Hu-in dan Cu-soat, dengan menyamar sebagai keturunannya Sin-ciu-sam-coat berkelana di Bulim, sekarang, dia telah menguasai dia sepenuhnya, tapi tidak ingin dia mendapatkan sedikit pun luka, lama, wanita cantik yang menyamar sebagai Siau Kun, mengeluarkan keluhan panjang, lalu, dia merapihkan baju, membuka kembali jalan darah tidur Pek Soh-jiu, hari lagi.' Siau Kun tertawa: matanya mengerling, dengan suara malu-malu dia memanggil berkata: "Toako! Hari sudah siang, sudah saatnya kau bangun."

Pek Soh-jiu membuka sepasang mata, meloncat bangun dari tidur, dia melihat matahari dari jendela, dengan bengong berkata: "Aneh, tidur kali ini begitu nyenyaknya......" Siau Kun menutup bibirnya tertawa tertahan: "Daerah ini udaranya lembab panas, tengah hari paling membuat orang tidak tahan, tidur lama sedikit juga tidak apa apa." "Kalau begitu ayo kita cepat pergi dari sini, gunung Kwotiang ribuan li jaraknya dari sini, untuk kesana harus menghabiskan beberapa hari." Siau Kun mengangkat-angkat alis, berkata: "Buat apa harus terburu buru begitu? Pasar di Lam-tiang adalah paling ramai di daerah tenggara, bagaimana pun kita harus melihatnya." Pek Soh-jiu menggelengkan kepala berkata: "Maaf saudara Siau, aku benar benar tidak ada gairah untuk itu." Siau Kun berkata: "Aku telah berjanji dengan Siau-wan-ngo-liong (Lima naga dari berbagai rawa) bertemu ditempai ini, kita berangkat besok pagi saja, bagaimana?')' PekSoh-jiu tidak bisa berbuat apa-apa berkata: "Jika saudara Siau sudah ada janji bertemu dengan Siau-wanngo-liong disini, terpaksa kita tinggal disini satu "Temani aku jalan-jalan di gedung Seng-ong, untuk menghabiskan waktu, mau tidak?" Walau bagaimana pun hari ini dia sedang senggang, pergi menikmati pemandangannya San-kang dan Ngohouw bisa juga menghilangkan kekesalan yang menumpuk didalam hati. Maka, mereka menggunakan waktu sehari

mengunjungi pemandangan yang ternama di Lam-tiang, semuanya meninggalkan jejak mereka. Saat senja hari, mereka kembali dari melancong ke istana Wan-jiu, sambil diterpa angin sore, menikmati matahari terbenam di pegunungan Kiu-leng, sedang mereka santai mengobrol, Pek Soh-jiu tidak disengaja melirik kesamping, dia melihat ada satu bayangan orang, sedang berlari dengan cepat sekali, mendadak kakinya tidak terkontrol, langsung jatuh ke tanah, tapi dia meloncat bangun, kembali berusaha lari, belum ada beberapa tombak, kembali tersungkur jatuh ke bawah, dia merasakan gerakan orang ini sangat mencurigakan, sesaat timbul rasa ingin tahunya, maka bersama Siau Kun dia mendatangi orang itu ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi, setelah mendekat hampir kurang dari satu tombak, Siau Kun berteriak terkejut: "Celaka, Toako! Dia adalah salah satu Siau-wan- ngoliong......" tidak menunggu jawaban dari Pek Soh-jiu, dengan gerakan lincah, dia lari kesisi orang itu, saat membalikan tubuh orang itu, melihat, benar saja orang ini adalah saudara ketiga dari Siau-wan-ngo-liong, tapi seluruh tubuhnya penuh dengan luka, sudah tidak bisa ditolong lagi, walau pun ada obat hebat, juga sulit bisa menolong nyawanya, untuk sesaat, dia malah jadi terdiam bengong. Pek Soh-jiu berkata: "Saudara Siau, orang ini terluka parah, tapi masih berusaha lari, pasti ada hal yang sangat penting yang akan dilaporkan padamu, biar aku bantu dia dengan tenaga dalam, kau perhatikan dia berkata apa." Dia segera mengulurkan telapak tangan kanannya, ditempelkan di jalan darah Ki-ciat-hiat, lalu menyalur-kan tenaga dalam ke tubuh orang yang terluka itu.

Kira kira seperminuman secangkir teh panas, orang yang terluka menghela nafas panjang, kulit matanya juga pelanpelan dibuka, Pek Soh-jiu cepat-cepat menarik tangannya, pergi jalan menjauh. Siau Kun sudah tidak sabar bertanya: "Bagaimana kau bisa sampai terluka separah ini, dimana saudaramu yang lainnya? Apakah sudah mendapatkan beritanya Goan Ang?" Orang yang terluka mengeluh sekali berkata: "Tuan muda......kita......sudah kalah...... kami bersaudara dipancing oleh Goan Ang, gagal...... melaksanakan tugas yang diberikan majikan......" Dia dengan susah payah mengeluarkan satu potongan kain baju dari dalam dadanya, masih belum sampai ketangannya Siau Kun, sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Siau Kun mengambil potongan kain baju itu, terlihat diatasnya adalah peta sederhana yang digambar dengan darah segar, cepat-cepat dia memanggil Pek Soh-jiu berkata: "Toako! Buat apa menghindar? Coba lihat ini!" Pek Soh-jiu mendekat, melihat langsung kain diatas tangannya Siau Kun, lalu melihat ke arah pegunungan Ciuleng, katanya: "Melihat dari kasarnya, sarang sementaranya Goan Ang, pasti di dalam pegunungan Ciu-leng, tapi tepatnya dimana, masih harus diurut menurut peta baru bisa diketahui." Siau Kun berkata: "Jika Toako tidak lelah,......" Pek Soh-jiu dengan lantang tertawa: "Mari kita pergi."

Mereka segera menguburkan mayat ditempat itu, lalu dengan baju berkibar diterjang angin, mereka berdua lari menuju pegunungan Ciu-leng, sampai hari telah menjadi gelap, mereka baru bisa mendapatkan tempat yang mirip dengan peta yang digambar dengan darah segar itu. "Pada saat itu." Satu sinar hitam, mendadak terbang keluar dari dalam hutan, Pek Soh-jiu dan Siau Kun meloncat berlawanan arah, ssst... suara keras, dalam bebatuan telah tertancap sebuah anak panah yang panjang yang masih bergetar. Siau Kun berteriak, dia meloncat masuk kedalam hutan, Pek Soh-jiu takut Siau Kun mendapat luka, juga mengikuti meloncat masuk ke dalam hutan, tapi setelah seluruh hutan diperiksa, setengah bayangan orang pun tidak ada, jelas orang yang diam-diam memanah, dari tadi telah meninggalkan tempatnya, maka mereka berdua kembali berkumpul, tetap mengikuti petunjuk yang ada di dalam gambar peta darah, maju ke depan mencarinya. Mendadak terlihat satu garis bayangan hitam, kembali muncul dari belakang batu besar, tubuhnya bergerak cepat dan lincah, berkelebat masuk kedalam hutan Tho tidak jauh di sebelah kiri, di dalam hati Siau Kun tahu, pasti dia orang yang tadi diam-diam memanah itu, mulutnya langsung berteriak, sekali lagi meloncat segera mengejarnya, Pek Sohjiu juga langsung mengejar, Siau Kun membalikan kepala berkata: "Toako! Orang ini pasti sudah melarikan diri masuk kedalam hutan Tho, bagaimana kalau kita masuk ke dalam hutan mencarinya, baik tidak?" Pek Soh-jiu berpikir sebentar: "Orang ini mungkin sengaja memancing kita masuk kedalam jebakannya, jika

tidak terlalu penting, sepertinya tidak perlu menempuh bahaya." Siau Kun memonyongkan mulutnya: "Aku sungguh tidak percaya ada orang yang mampu meloloskan diri dari kita, begini saja, Toako menjaga diluar biar aku masuk ke dalam memeriksa-nya." Pek Soh-jiu sambil tertawa keras berkata: "Jalanlah, kita lihat sebenarnya mereka punya jebakan lihay apa." Tubuhnya berkelebat, dia pertama-tama meloncat masuk ke dalam hutan. Mereka berdua bersama sama masuk ke dalam hutan, kira kira tidak sampai setengah li, di dalam hutan Tho itu tampaklah perumahan yang sangat luas. Siau Kun berkata: "Toako! Perumahan ini dimana-mana ditumbuhi rumput liar, kelihatannya sudah lama tidak ada orang yang tinggal disini, orang itu memancang kita masuk ke dalam sini, tidak tahu ada tujuan apa." Belum sempat Pek Soh-jiu menjawab, di dalam rumah yang kelihatannya tidak ada penghuninya itu, sudah terdengar suara tawa dingin berkata: "Masuklah ke dalam melihatnya, bukankah akan nona akan segera tahu." Siau Kun merasa malu dan menjadi marah dia berteriak: "Justru kami bersaudara ingin masuk melihatnya." Tubuhnya meloncat, langsung menerjang kearah keluarnya suara. Pek Soh-jiu mengikuti, terlihat Siau Kun berdiri di tengah ruangan sepi yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba, mata cantiknya meneliti kesekeliling, wajahnya tampak kebingungan, tidak tahan dia jadi memegang tangan Pek Soh-ciu berkata:

"Ruangan ini sepertinya sudah lama tidak ditinggali orang, kita lihat-lihat ke tempat lain saja." Siau Kun menggelengkan kepala: "Menurut pendengaranku, orang yang berbicara itu pasti bersembunyi diruangan ini! Kita geledah." "Hemm, kau terlalu percaya diri, nona." Kembali satu kata sindiran terdengar, tapi suara itu sudah pindah ke sebelah kiri. Siau Kun sudah tahu musuh di tempat yang gelap dirinya ditempat yang terang, keadaan dia dan Pek Soh-jiu sangat tidak menguntungkan, tapi dua kali panggilan nona, sudah menimbulkan amarahnya, dia tidak lagi mempedulikan keadaannya berbahaya atau tidak, tubuhnya telah berputar menerkam kearah asalnya suara. Itu adalah halaman yang ditumbuhi rumput setinggi lutut, tapi bangunan dan kebunnya yang sudah lama tidak terurus, masih tampak kemegahannya di waktu dulunya, di belakang halaman ada satu bangunan yang catnya telah terkelupas, satu parit yang air nya jernih mengalir melingkar. Siau Kun memutar matanya, dengan dingin berkata: "Orang yang selalu bersembunyi seperti ini, pasti adalah orang yang hina yang tidak berani bertemu dengan orang, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk ini, Toako! Kita pergi saja." "Diri sendiri tidak punya menyombongkan diri, he he......" mata, masih berani

Saat ini mereka telah mengawasi, suara tawa belum selesai, mereka bersama-sama menerjang masuk ke dalam ruangan itu, tapi huuut..... sebuah jaring baja hitam, seperti petir menutup di atas kepala mereka, tapi dua orang pesilat

tinggi remaja ini, kecepatan gerakannya tidak bisa di samakan dengan orang biasa, sebelum jaring baja menyentuh tanah, tubuh mereka berdua mendadak rebah ke tanah, begitu hampir menempel di lantai dengan cepat meluncur keluar, nyaris dapat meloloskan diri. Namun, ketika mereka mendekati pintu ruangan, paang... sederetan anak panah sudah melesat menyambut mereka, sepertinya sudah diperhitungkan waktu dan jaraknya, tepat menyambut kedatangan tubuh mereka, saat ini, walau pun orang yang berilmu silat amat lihay pun, mungkin tidak bisa menghindarkan serangan mendadak ini. Tapi ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui dari Sin-ciu-sam-coat adalah ilmu meringan-kan tubuh nomor satu di dunia persilatan, di saat yang sangat genting itu dia menangkap lengan Siau Kun, sebelah telapaknya memukul ke arah anak panah itu, tubuhnya seperti sebuah arwah saja, tahu-tahu sudah meloncat kembali kearah yang sebaliknya, anak panah itu sambil mengeluarkan suara siutan lewat dari atas kepala mereka. Setelah dua kali lolos dari jebakan, Pek Soh-jiu baru menghela nafas lega, tapi ketika kakinya menyen-tuh lantai, mendadak injakannya jadi kosong, dia langsung jatuh ke dalam lubang jebakan. Saat ini dia tidak sempat menarik napas, dia berusaha meloncat sekali lagi, tapi tenaganya sudah tidak ada lagi, terpaksa dengan mengeluh sekali, mereka berdua jatuh ke dalam lubang yang gelap. Sebenarnya lubang ini tidaklah terlalu dalam, hanya dua puluh tombak lebih, tapi lubang diatasnya sempit sedang dibawahnya lebar, sulit untuk bisa meloncat keluar, dan didalam lubang masih dipenuhi oleh satu hawa panas yang membuat orang jadi lemas, mereka berdua tidak lama jatuh

kedalam lubang, tapi langsung merasakan tubuhnya jadi lemas tidak bertenaga. Pek Soh-ciu menarik nafas dulu beberapa saat, baru memeriksa kesekeliling, terlihat lubangnya itu dipenuhi oleh asap tebal, panasnya tidak tertahan, tekanan yang menyesakan ini, membuat dia sulit bernafas. Sambil memegang tangan Pek Soh-ciu, Siau Kun mengeluh: "Didalam lubang ini udaranya tipis, panasnya tidak tertahan, mahluk apa pun, akan sulit bertahan hidup lebih dari tiga hari, kelihatannya kita akan mati disini." "Hemm!" Pek Soh-jiu berkata, "Hidup atau mati, orang she Pek tidak pernah menaruh di dalam hati, asal bisa mati bersama dengan saudara Siau di lubang ini, itu malah juga satu jodoh dalam kehidupan ini." "Toako, aku telah mengecewakanmu, tapi enci Su Lamceng apa benar-benar ditangkap oleh ayahku?" Pek Soh-jiu dengan perasaan tidak senang berkata: "Apakah aku mau membohongimu?" "Tapi semenjak aku tumbuh besar dan menjadi mengerti, aku tidak pernah tahu bahwa diriku masih mempunyai seorang ayah." Pek Soh-jiu tertegun: "Mungkin ayahmu terlalu lama meninggalkan rumah, aku pikir kakakmu pasti tahu." Siau Kun berlagak ragu-ragu sebentar, pelan-pelan melepaskan kerudung kepalanya, segera saja rambut hitam yang halus dan panjang terurai, dia dengan menatap Pek Soh-jiu yang tampak wajahnya keheranan, sambil tersenyum manis berkata: "Tidak kenal lagi, betul?"

Sambil mengeluh Pek Soh-jiu berkata: "Nona Yam! Kau sudah lama mengelabui aku!" Siau Yam dengan sedikit kesal melotot, berkata: "Masih mau mengatakan ayahku yang menculiknya?" "Itu adalah apa yang dikatakan, oleh orang tua berambut putih itu, jika nona Yam benar-benar tidak mempunyai ayah, masalahnya jadi membuat orang tidak mengerti." Siau Yam berkata: "Jika kita tidak mati, aku akan kembali ke dunia persilatan dengan wajah asliku, mungkin, pada suatu hari nanti keadaannya akan menjadi jelas, sayang......" dia menghentikan perkataannya sejenak, lalu melanjut-kan, "Sebenarnya dia mendapatkan sebelah, aku mendapatkan sebelah, Tuhan masih adil terhadap kami." Pek Soh-jiu jadi bengong mendengarnya berkata: "Apa maksud kata kata nona Yam?" Siau Yam mengangkat alis berkata: "Kau ini benar benar tidak tahu, atau pura pura tidak tahu?" Pek Soh-jiu berkata: "Tentu saja tidak mengerti." Siau Yam menegakan tubuhnya, lalu dengan perasaan kecewa mengeluh berkata: "Kau benar mau jadi orang yang tidak ada perasaan, hanya ada awal tidak ada akhir?" Pek Soh-ciu buru buru berkata: "Bicara nona terlalu berat, aku tidak merasa pernah berbuat tidak senonoh pada nona!"

Siau Yam berteriak marah: "Apakah kau sudah melupakan malam hari di Hunsie......" Pek Soh-jiu "Ini......haai......" dengan tergagap-gagap berkata:

"Hemm!" Siau Yam berkata, "Walau Siau Yam bukan gadis bangsawan, tapi juga bukan seorang gadis murahan, semalam tidur bersama di satu ranjang, seratus tahun telah ditetapkan, apakah kau menginginkan aku menikah dengan orang lain?" Pek Soh-jiu berkata: "Sekarang ini jiwa kita di dalam bahaya, buat apa adik Yam memperdebatkan masalah ini!" Siau Yam dengan wajah serius berkata: "Justru jiwa kita diambang bahaya, aku baru mau kau mengatakannya sendiri, haai, bisa mati bersamamu, sebenarnya adalah hal yang menggembira-kan, jika kau tidak mengaku aku adalah istrimu, maka aku mati pun tidak akan bisa menutup mata." Pek Soh-jiu berkata: "Tapi......Su......." Mulut Siau Yam dimonyongkan: "Kenapa? Hemm, aku lebih dulu kenal denganmu, dia hanya melangkah lebih dulu dari padaku, atau biar aku mengalah sedikit pada dia, panggil dia enci saja, apakah dengan begini juga dia berani tidak menerima aku?" Pek Soh-jiu mengeluh berkata: "Jika adik Yam sudah bicara begini, aku mengaku saja." Saat ini di dalam lubang sangat panas sekali, sepertinya lebih panas dari pada sebelumnya, mereka berdua bermandi

keringat, bajunya jadi basah semua, Siau Yam dengan lembut merebahkan kepala pada dadanya Pek Soh-jiu, wajahnya tampak tenang sekali. Mereka berdua sulit memusatkan tenaga dalam, hingga tidak mampu melarikan diri dari lubang maut ini, tapi sampai pada saat yang akan benar-benar mati, waktunya masih panjang, rasanya menunggu kematian seperti ini, sungguh terasa menyiksa. Tanpa sadar Pek Soh-jiu mengeluarkan Seruling Bambu ungu pemberian Sangguan Ceng-hun dan meniupnya. "Angin musim semi di bulan kedua, tepat disaat bunga matahari memenuhi jalanan, mana dapat menahan kesedihan perpisahan! Sapu tangan menjadi kotor oleh bedak karena mengusap air mata. Apa boleh buat, dengan cara apa pun membujuknya juga tidak bisa membuat dia tinggal bersama. Arak tidak hentinya ditumpahkan, alis mengerut, hati sedih, kecapi berhenti. Berjumpa lagi di kemudian hari, tidak tahu di dalam impian yang mana, juga harus sering terbang mencarinya." Yang dia nyanyikan adalah Ti-jin-tiauw (cerita asmara wanita cantik.) karangan Yan-su dari dinasti Sung Utara, iramanya menyedihkan sekali, seluruh lubang bawah tanah sudah di penuhi oleh suara yang menyedihkan ini. Sehabis Pek Soh-jiu melantunnya, saat akan menyimpan Seruling Bambu ungu, tiba-tiba Siau Yam berkata: "Aku senang mendengarnya, Toako! Tiuplah beberapa kali lagi, boleh?" Pek Soh-jiu tidak tega menolaknya, kembali dia melantunkan lagi Ti-jin-tiauw. Dia meniup sekali dua kali, malah akhirnya tidak ingat sudah meniupnya berapa kali, hanya dengan lupa diri

meniupnya saja, pikiran mereka berdua, sudah seluruhnya melebur ke dalam sajak lagu itu. Mendadak, Siau Yam bangkit berdiri, teriak berkata: "Toako! Jangan meniupnya lagi, kita cepat keluar dari sini." Pek Soh-jiu berhenti meniup tertegun: "Apa, adik Yam! Kau kata kita keluar dari sini?" Siau Yam tertawa: "Kenapa? Apakah kau benar-benar ingin mati disini?" Pek Soh-jiu berkata: "Tapi......" dia belum habis berkata, mendadak dia merasakan panas yang tidak tertahankan di dalam lubang ini, sudah menghilang dan menjadi sejuk, dia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, dirasakan tenaga dalamnya lancar tidak ada hambatan, seluruh kepandaiannya sudah pulih seperti semula, di dalam hati dia menjadi sangat gembira, dia menduga mungkin semua ini karena seruling ajaib yang dia tiup tadi, segera dia mengeluarkan Pouwlong-tui, dilemparkannya ke atas, sebuah sinar hitam langsung sudah menancap di dinding lubang sekitar setinggi dua tombak, lalu membalikan kepala berkata pada Siau Yam: "Adik Yam! Kau naik terlebih dulu." Siau Yam sedikit mengangguk, kaki munggilnya dihentakan, tubuhnya seperti asap yang ringan, meloncat naik ke atas dinding, lalu menangkap tali yang terurai dari Pouw-long-tui, seperti kera naik ke atas pohon, dengan lincahnya naik sampai ke atas Pouw-long-tui, lalu telapak kirinya menempel ke dinding, telapak tangan kanannya diayunkan, Pouw-long-tui bersuara hut..., jarak ke mulut lubang sudah tidak sampai setengah tombak, mendadak

tubuhnya meluncur ke atas, dengan gaya Hoan-in-congthian (awan menembus langit), dia meloncat keluar dari lubang, dia memperhatikan cuaca dan situasi sebentar, dia tahu tidak lama lagi hari akan terang, disekeliling sunyi senyap, dia menduga orang yang menjebak mereka berdua, pasti mengira mereka tidak mungkin bisa hidup. lalu dengan tenang meninggalkan mereka tanpa ada penjagaan, dia tidak berani membuang-buang waktu, segera melemparkan Pouw-long-tui ke bawah, berteriak kearah mulut lubang: "Cepat naik keatas." Pek Soh-jiu sudah naik ke atas, setelah lolos dari bahaya maut, mereka berdua jadi gembira, hanya saja keringat dan kotoran tanah membuat sepasang remaja yang tampan dan cantik ini, menjadi seperti sepasang suami istri pengemis, Siau Yam tersenyum manis berkata: "Sekarang jika bertemu dengan Sangguan Toako, dan para murid Kai-pang pasti akan mengadakan sambutan yang sangat meriah sekali." Pek Soh-jiu memegang tangan mulus dia sambil tersenyum berkata: "Aku belum ada niat bergabung ke dalam Kai-pang, jika kau sungguh ingin menjadi seorang pengemis, harus tanyakan dulu padaku, apakah aku mengizinkannya tidak." Mereka berkelakar, bersamaan waktu itu juga mereka mencari satu tempat yang sepi, mengganti baju dengan yang bersih, Siau Yam masih tetap menyamar sebagai seorang laki laki, rambut panjangnya dibungkus dengan sapu tangan sutra putih, di belakang kepalanya masih disimpulkan dengan sepasang kupu-kupu terbang, dia memutar tubuhnya, dengan malu-malu kucing melirik Pek Soh-jiu berkata:

"Toako! Bagus tidak?" Pek Soh-jiu menatap dengan mesra pada istri cantik yang baru dipinangnya di dalam goa, mendadak membentangkan tangan, lalu memeluk tubuhnya yang seksi itu ke dalam pelukannya, sepasang kakinya dihentakan, meloncat naik ke atas cabang pohon, di dalam angin sepoi-sepoi pagi terdengar suara tawa yang memikat orang, dengan segera mereka pergi menuju Lam-tiang. Sepasang mata cantik Siau Yam terpejam, dengan manja terlena di dada yang kuat itu, ujung alisnya perlahan bergetar-getar, wajahnya yang merah, tampak begitu cerah dan bahagia. Lama---"Toako! Turunkanlah aku." "Baik, baik, aku terlalu gembira, sehingga mungkin membuat kau tidak nyaman." Dia menurun-kan, lalu mereka berdua jalan berdampingan. "Tidak! Aku sangat nyaman, hanya...... takut membuat kau lelah." berhenti sejenak, lanjutnya, "Toako! Hutan Tho yang misterius itu, apakah kita tidak perlu menyelidikinya?" "Melihat keadaannya, Goan Ang pasti tidak bersembunyi disana, walau pun ada beberapa anak dia, hanya untuk memancing orang ke dalam jalan menyesatkan, atau membunuhnya, buat apa menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna!" akan buah yang kita

"Maksudmu kita tetap langsung menuju ke gunung Kwotiang saja?" "Aku pikir begitu." Mereka berdua mengikuti rencana semula, dengan santai berjalan kembali ke penginapannya, pelayan penginapan

melihat Siau Yam, segera memberikan satu kertas surat berkata: "Tuan muda! Kemarin ada seorang tamu wanita, menyuruh aku memberikan surat ini padamu." Siau Yam menerima surat itu, wajahnya sedikit berubah, dia berkata: "Terima kasih." Lalu dengan tergesa gesa dia masuk ke dalam kamar, Pek Soh-jiu mengikuti dari belakang, menatap wajahnya yang dingin berkata: "Adik Yam! Ada masalah apa?" Siau Yam merobek hancur surat itu, sambil tersenyum berkata: "Jangap khawatir, kita tidak akan ada masalah." Lalu kembali berkata, "Topeng kulit manusia itu, apakah hanya ada satu buah saja?" "Yang laki-laki hanya ada satu buah, tapi yang wanita ada dua buah." Dari dalam dada dia mengeluarkan satu bungkusan kecil diberikannya pada Siau Yam, Siau Yam membuka bungkusan dari kain sutra itu, begitu dilihat, di dalamnya adalah sebuah topeng wajah wanita berusia sekitar tiga puluhan, satu lagi adalah wajah wanita berusia lima-enam belasan remaja wanita, semuanya cantik-cantik, dia menyimpan topeng itu, pada Pek Soh-jiu sambil tertawa genit berkata: "Toako! Kau lihat aku pakai yang mana lebih pantas?" Pek Soh-jiu tanpa pikir berkata: "Tentu saja pakai topeng wanita remaja itu lebih pantas." "Kenapa?"

"Karena hanya dengan topeng itu, baru sesuai dengan wajah adik Yam yang cantik jelita." "Mmm, aku tidak secantik itu! Kau bohong." "Kenapa? Kau ingin jadi wanita yang tua?" "Kau adalah sastrawan setengah baya, kalau aku adalah wanita setengah baya, bukankah itu adalah pasangan yang amat serasi? Hemm, kau ingin aku menyamar jadi wanita remaja, supaya bisa meninggal-kan aku, betul tidak?" "Kek, kek, aku sama sekali tidak ada pikiran itu......" "Masih mau membantahnya, hemm, coba kalau aku menyamar jadi wanita remaja, tentu kita harus menyamar mengaku sebagai kakak beradik, dan malam hari kau jadi terpisah dengan aku, bukankah itu rencanamu!" Pek Soh-jiu jadi sadar, dia lalu menarik tangan-nya yang mulus, dipeluknya erat-erat dan berkata: "Tidak dinyana kau ini banyak curiganya, mari, sekarang biar aku menciummu." Siau Yam memonyongkan mulutnya, tangannya mencubit dengan keras pada lengan pek Soh-ciu berkata: "Toako! Cepat pesan makanan, aku sudah hampir mati kelaparan." Pek Soh-jiu tertawa, segera memanggil pelayan untuk pesan makanan... setelah habis makan, Siau Yam berkata: "Toako! Kau lelah tidak?" Pek Soh-jiu sedikit tertegun berkata: "Apakah adik Yam mau langsung berangkat?" Siau Yam menganggukan kepala: "Aku ingin segera tiba di gunung Kwo-tiang......"

Pek Soh-jiu berpikir sejenak, berkata: "Adik Yam! Suami istri adalah orang yang paling dekat, bukan begitu?" "Benar." "Kalau begitu diantara kita, seharusnya tidak ada yang disembunyikan, betulkan?" "Aku tahu Toako tidak tahu banyak tentang aku, tapi aku harus bagaimana mengatakannya?" "Pertama katakanlah tentang ayahmu." "Aku sungguh tidak tahu aku punya ayah, dari kecil aku dibesarkan oleh guruku." "Siapa guruku?" "Thian-ho-leng-cu, Ang-kun-giok-hui, Hai Keng- sim (ketua api langit, Giok gaib, pakaian merah)." "Ooo, adik Yam benar saja seorang yang mempunyai latar belakang yang hebat, tidak aneh para penguasa setempat itu, sekali melihat senjata rahasia dan pedang pendekmu, semua jadi menghormat, tanpa bertarung langsung mengundurkan diri." "Perguruan Thian-ho sudah menguasai dunia persilatan sampai ratusan tahun, para angkatan tua mau tidak mau memandang wajah guruku." Pek Soh-jiu mengangkat alis berkata: "Itu belum tentu......" Siau Yam melihat warna wajah Pek Soh-jiu mcnunjukan rasa tidak senang, dia segera menyandar-kan dirinya dalam pelukan Pek Soh-jiu sambil ter-senyum manis berkata: "Kau jangan salah paham, yang aku maksud adalah angkatan tua dunia persilatan yang biasa biasa saja, tentu saja tidak bisa disamakan dengan Sin-ciu-sam-coat."

Pek Soh-jiu sambil mengeluh: "Aku tidak menyalahkan kau, Adik Yam, tapi, kau sepertinya pernah mengatakan padaku, ayahmu adalah seorang jago silat." Siau Yam mencibir mulutnya yang munggil, dengan tersenyum ringan berkata: "Kau pun pernah mengatakan bahwa gurumu tidak bisa bersilat!" "Aku memang tidak membohongimu, guruku memang seorang yang tinggi kesusastraannya, ilmu silat ku adalah almarhum ayahku yang mengajarkannya." "Katanya namamu adalah Ciu Soh-pek lho?" dia berhentikan sejenak, lanjutnya lagi: "Sudahlah, kita waktu itu baru pertama kali bertemu, tentu saja tidak akan mengatakan seluruhnya, apakah kau masih ada pertanyaan lain?" "Tidak ada, kita jalan saja." Mereka berdua menyelesaikan rekening penginapan, mengeluarkan kuda dari tempatnya, bersama-sama keluar dari penginapan, Di toko pakaian jadi Siau Yam membeli beberapa setel pakaian wanita, lalu bersama-sama melarikan kuda menuju danau Po-yang. Hingga matahari hampir tenggelam, burung gagak mengitari pohon pulang kesarangnya, Siau Yam masih tidak bermaksud berhenti untuk istirahat, Pek Soh-jiu jadi tak tahan dia bertanya: "Adik Yam! Hari hampir gelap, kita harus mencari penginapan untuk beristirahat." Siau Yam mencibirkan bibirnya sambil tersenyum berkata: "Bumi dan langit sebagai tempat berteduh, empat lautan sebagai rumah, itu yang dinamakan kegembiraan dunia

persilatan, kau sendiri masih menyebut dirimu penerus Sinciu-sam-coat, tapi hal seperti ini kau tidak mengerti!" "Ahh, penerusnya Sin-ciu-sam-coat? Ini sungguh sangat beruntung sekali." "Mmm, dan masih ada seorang gadis kecil yang menyamar jadi seorang laki-laki, hanya dengan melihat tampangnya yang memikat orang, he he, kita bersaudara sungguh beruntung sekali." Diikuti dengan suara perbincangan, muncul dua orang laki-laki besar berpakaian ringkas dengan wajah yang bengis, dengan langkah yang cepat menghampiri ke depan kuda mereka, diatas baju mereka tersulam satu tempat hio mas, sambil membawa golok tersenyum bengis datang menghampiri. "Hemm!" Siau Yam dengan sinis mengeluarkan suaranya, lalu memalingkan kepala berkata pada Pek Sohjiu: "Toako! Apakah kau kenal dengan dua orang tinggi ini?" "Sangat asing." Kata Pek Soh-jiu. "Mereka adalah anak buahnya perumahan Bu-ting yang mengkhususkan diri berdagang tanpa uang, yang baru sepuluh tahun lalu muncul di Bulim." "Ooo begitu!" Pek Soh-jiu berkata, "Aku dulu pernah bertemu dengan seorang yang menggunakan senjata tempat hio emas dengan julukan Giam-ong-leng (Perintah raja neraka) Sai Hong, entah apakah dia ketua perumahan Buting?" "Dia adalah wakil ketua mereka, kepandaian Giam-ongleng cukup hebat."

Dua orang laki-laki besar itu melihat mereka dengan tenangnya berbicara, sama sekali memandangnya, mereka jadi naik pitam dengan membentak berkata: "Turun, biar aku menghadapi kau." Wajah Siau Yam berubah menjadi dingin, pinggangnya sedikit diputar, lalu dengan enteng melayang turun dihadapan mereka berdua, alis di angkat, dengan dingin berkata: "Aku sudah turun, kalian mau apa silahkan katakan." Seorang ahli sekali mengulurkan tangan, sudah tahu isi tidaknya lawan, ilmu meringankan tubuh dia yang melayang turun bagaikan kapas melayang, turun ke tanah tanpa bersuara, segera membuat dua orang laki-laki besar ini ketakutan mundur beberapa langkah, tapi orang yang disebelah kanan memaksakan diri berkata: "Bocah, kau memang punya sedikit kemampuan, tapi, tuan-tuan dari perumahan Bu-ting, bisa besar bukan dari hasil menakut nakuti orang, jika kalian tahu diri, he he......" "Hemm!" Siau Yam berkata, "Penyakit nonamu justru tidak tahu diri, jika kalian mencari masalah dengan menghadang jalan kami, maka kalian harus mengeluarkan kemampuan kalian untuk membuktikannya." Kata-katanya sungguh sangat menghina, laki-laki besar itu mana bisa menahan amarahnya, goloknya langsung diayunkan, disabetkan ke pinggang, Siau Yam sepertinya tidak merasakan sinar golok yang dingin itu, tapi ketika mata golok sudah hampir mengenai tubuhnya, dia baru mengayunkan tangannya, tjari telunjuk dan tengah bergerak menjepit, tepat menjepit di atas mata golok, laki-laki besar itu bersuara hemm sekali, dia menambah tenaga dorong kedepannya, tapi meski dia sudah menggunakan seluruh

tenaganya, tetap saja tidak bisa maju biar satu inci pun, dia tahu rencananya telah menemui halangan keras, lawannya walau pun seorang bocah wanita yang cantik, tapi adalah seorang yang berilmu tinggi, sehingga, seluruh tubuh dia mengucurkan keringat dingin, tapi mulutnya dengan berteriak marah, dia kembali mengerahkan tenaga dalam sekuatnya didorongkan kedepan, tetap saja seperti capung menggoyang tiang batu, golok itu sepertinya sudah tumbuh akar. Satu aliran hawa dingin terasa dari punggung langsung menusuk ke hati, dia tahu jika tidak mengambil kesempatan melarikan diri, mungkin nyawa pun akan hilang, maka dia segera melepaskan golok ditangannya, membalikan tubuh meloncat ke belakang, masuk ke padang rumput menyelamatkan diri. Siau Yam berteriak dingin berkata: "Apa kau kira bisa meloloskan diri? Ambil ini!" sinar golok berkelebat membentuk pelangi, buuk... menancap di belakang punggung laki-laki besar itu. Laki-laki besar lainnya sejenak tertegun, dia juga membalikan tubuh ingin melarikan diri, Siau Yam mendengus sekali berkata: "Kau juga ingin mati?" Kaki kiri laki-laki besar yang telah diangkat itu, cepatcepat diturunkan kembali, dengan ketakutan membalikan tubuh berlutut: "Nona besar, anggap saja hamba telah buta, harap kau jangan bunuhku." "Ampuni kau boleh saja, tapi harus jawab pertanyaanku dengan jujur." Kata Siau Yam "Silahkan tanya saja nona besar, hamba pasti akan menjawabnya."

"Siapa namamu?" "Hamba dipanggil Tiauw Keng-houw (menggantung mata macan) Tan Wan-hiong." "Kenapa kalian menghadang jalan kami?" "Hamba diperintahkan oleh ketua tiga perumahan, mengawasi orang-orang Bulim yang lewat dijalan ini, karena kami mendengar keturunan Sin-ciu-sam-coat, jadi kami ingin melihat Pouw-long-tui......" "Apa kalian pantas bisa melihatnya?" "Benar, hamba pantas mati." "Kenapa perumahan Bu-ting ingin menyelidiki orangorang Bulim yang lewat tempat ini?" "Ini......hamba sungguh tidak tahu." Pek Soh-jiu menyela: "Hasil dari penyelidikanmu sudah berapa banyak orangorang Bulim yang lewat disini?" "Yang sudah lewat, ada dari Siauw-lim, Bu-tong, Tiamcong, Bu-tai, perkumpulan Ci-yan dan yang lainnya, aku dengar masih ada banyak perguruan lainnya juga akan tiba." "Apa kau tahu untuk apa?" "Ini......" Siau Yam mengangkat alis: "Kenapa, tidak mau mengatakannya?" Tubuh Tan Wan-hiong gemetaran, berkata: "Aku dengar demi Ho-leng-ci, dan......itunya Pek Siauhiap......" .

Siau Yam mendengus, mendadak dia menjentikan jarinya, tampak tubuh Tan Wan-hiong bergetar, lalu tersungkur dan mati, Siau Yam mengangkat kepala melihat kesekeliling, dia menemukan di lereng gunung sebelah kiri, sepertinya ada bangunan kuil, baru saja membalikan kepala akan memanggil, dia melihat wajah Pek Soh jin seperti tidak senang dia jadi tidak tahan dengan keheranan berkata : "Kenapa kau” Pek Soh pil mengeluh sedikit: "Golongan jahat dalam dunia persilatan, tidak semuanya adalah para penjahat yang melakukan sepuluh kejahatan besar yang tidak bisa diampuni, dikemudian hari adik Yam bertindak, seharusnya memberi sedikit jalan pada mereka." Siau Yam menundukkan kepala berkata: "Kata-kata Toako benar, tapi orang ini telah mengetahui keberadaan kita, membiarkan dia hidup mungkin akan menimbulkan banyak masalah, dalam dunia persilatan memang penuh dengan tipu muslihat, sulit di ramalkan, ada saatnya kita tidak bisa berhati kasihan, tapi, aku tetap akan mendengarkan nasihatmu." Berhentikan sejenak, lanjutnya lagi: "Toako! Disana ada sebuah kuil, malam ini menginap disana saja, baik tidak?" "Para pendetanya mungkin tidak akan menyambut kedatangan kita menginap di kuil mereka, begini saja, aku lebih dulu mendatanginya dan kau mengikuti setelannya." Setelah tiba di depan kuil, Pek Soh-ciu baru tahu ini adalah sebuah kuil kosong yang telah lama ditinggalkan, dia melihatnya temboknya rusak dimana-mana dan rumput liar tumbuh disekelilingnya, patung dewanya pun tidak ada satu

yang utuh, untungnya ada satu sudut kuil yang cukup untuk berteduh, baru saja selesai menyapu bersih, Siau Yam sudah tiba dihadapannya, dia membuka bungkusan baju, dipaparkannya di dekat bawah jendela, Siau Yam juga sudah mengikat kudanya, membawa kendi air dan makanan kering, berdua sambil melihat lihat bulan, mereka pelan-pelan menikmati makanannya, setelah makan, sambil bergandengan dibawah sinar bulan, mereka menikmati bayangan pohon yang bergoyang-goyang. Suara serangga bercitcitan, kadang diselingi beberapa longlongan binatang liar dan kera, menginap di gunung liar, sungguh ada kenikmatan tersendiri. Lama... Siau Yam mengangkat kepala, berkata: "Toako......" "Ada apa?" "Terhadap perjalanan kegunung Kwo-tiang ini, aku sedikit merasa menyesal." "Kenapa? Bukankah kau menginginkan Ho-leng-ci itu?" "Haai, itu karena perintah perguruan......." "Jika itu perintah dari perguruan, lebih-lebih harus matimatian diperjuangkan." "Tapi perjalanan ini banyak bahayanya, aku sangat pesimis!" "Asalkan kau memperlihatkan pedang pendek itu, bukankah itu akan membuat mereka yang melihat-nya langsung melarikan diri!" "Saat benar-benar dalam keadaan untung rugi, tidak akan semudah itu, jika tidak, bagaimana Siau-wan-ngoliong bisa terpancing sampai mengorbankan nyawanya! Dan juga, aku khawatir kau......"

Pek Soh-jiu dengan lantang tertawa: "Aku berkelana di dunia persilatan, justru tujuan nya mencari otak pembunuh ayahku, walau mereka tidak mencariku, aku tetap tidak akan melepaskan mereka, jadi mengambil kesempatan para jago-jago berkumpul, mungkin harapanku akan terkabul " "Tapi......haai......" Pek Soh-jiu melihat Siau Yam mengerutkan alisnya, akan bicara tapi tidak dilanjutkan, tidak tahan di dalam hatinya bergerak, katanya: "Adik Yam! Tamu tidak diundang yang mengunjungi kau di Lam-tiang itu, apakah dia orang perguruanmu?" Siau Yam sedikit tertegun: "Benar, Oww...Toako! Malam indah mudah berlalu, kita......tidurlah." Dalam hati Pek Soh-jiu mengerti, dia merasa sulit untuk menjawab, maka dia hanya bisa tersenyum. Padang rumput liar, gunung dingin dan kuil rusak yang ditinggalkan orang, pemandangan ini sungguh menyedihkan, namun angin yang bertiup membuat bayangan bergoyang, suara serangga ter-dengar dimanamana, di satu sudut kuil rusak itu, malah samar-samar terdengar suara yang merangsang. Bersambung.... o-odwo-o

JILID KE 2 Bab 5 Di perjalanan Pagi keesokan harinya, saat matahari menyinari jendela, burung pagi berkicauan, ketika Pek Soh-jiu bangun dari tidur, dia merasakan orang yang ada dalam pelukannya sudah tidak ada, saat dia membuka mata terlihat sebuah sinar warna yang gemilang, hampir membuat matanya jadi silau. Seorang wanita yang sangat cantik berpakaian hitam dengan lengan baju berwarna giok, berdiri di hadapannya, matanya yang cantik tapi sayu, bibirnya tersenyum. Diatas pipinya yang merah terlihat sepasang lesung pipi yang samar-samar, rambutnya yang lembut melayang-layang ditiup angin, pinggangnya bergerak gerak-pelan seperti tidak mampu menahan beban tubuhnya. Cantik, cantik sekali tiada duanya. Meski dibandingkan dengan Su Lam-ceng, dia masih kalah sedikit, tapi pendekar wanita dengan penampilan yang liar tetap mempesona siapapun yang melihat. Melihat Pek Soh-jiu bengong menatap, dengan tertawa ringan berkata: "Toako, kau lihat aku persis tidak?" "Persis, persis, persis, persis sekali." "Heng, persis apa?" "Ah, persis......dewi di khayangan." "Dan persis apa lagi?"

"Persis.....astriku." "Toako jahat......" Di dalam kuil yang rusak tampak pemandangan musim semi yang indah, terdengar tawa cekikikan yang merdu, cukup lama... suara tawanya baru berhenti, kemudian terlihat dua ekor kuda tunggangan yang gagah berturutturut keluar dari kuil, yang di depan adalah seorang sastrawan setengah baya berbaju biru, diikuti seorang wanita setengah baya. Tidak lama setelah mereka berdua sampai di jalan raya, dari belakang mereka terdengar suara gerombolan kuda berlari membawa derap yang ramai, dalam sekejap, tiga puluh ekor lebih kuda telah melewati mereka. Siau Yam yang menyamar menjadi seorang wanita setengah baya, sedikit mempercepat lari kuda-nya, hingga kudanya berlari berendengan dengan kuda Pek Soh-jiu, dia memalingkan kepala sambil tertawa berkata: "Toako, mungkin seluruh jago dunia persilatan sudah berkumpul di gunung Kwo-tiang, kekuatan kita masih lemah, kita harus sedikit hati hati." "Kata-kata adik Yam tidak salah, kita lihat keadaan saja." Mereka berdua melewati lembah Poyang, tiba di kota kabupaten Tong-hiang, sepanjang perjalanan tidak terjadi masalah apa-apa, di Tong-hiang mereka menginap semalam. Keesokan harinya baru masuk ke wilayah timur perbukitan, setelah melarikan kuda beberapa saat, orang dan kudanya pun telah mengucur-kan keringat, terpaksa mereka beristirahat dulu di satu warung teh. Dasar memang harus bertemu, tidak disangka-sangka di dalam warung teh, sudah duduk dua puluh lebih para hweesio Siauw-lim.

Pek Soh-jiu pura-pura tidak mengenalnya, dia mengikat tali kudanya di atas cabang pohon, lalu menyuruh Siau Yam duduk di atas batu yang rata, dia mengambil dua gelas teh dingin, berdua dengan santai mereka minum. Mata Siau Yam melirik pada para hweesio Siauw-lim, terus berkata: "Toako, ketua Siauw-lim yang terdahulu, diam-diam pernah ikut dalam penyerangan perumahan Leng-in, kali ini tanpa disengaja bisa bertemu disini, bagaimana pun kita harus minta penjelasannya." "Minta penjelasann memang itu harus, tapi sekarang bukan waktu yang tepat." Kata Pek Soh-ciu. "Kenapa?" "Jika sampai tidak bisa diselesaikan dengan kata kata, maka jati diri kita tidak bisa disembunyikan lagi, lebih baik kita bertindak melihat keadaannya saja." Siau Yam adalah orang yang sedikit liar, dia merasa tidak bisa menerima tekanan ini, amarah di dalam dadanya bagaimana pun tidak bisa dihentikan, tapi Pek Soh-jiu tidak mengizinkan dia bertindak, terpaksa dia disamping memonyongkan mulutnya menahan rasa tidak senangnya. Saat ini didalam kelompok para hweesio Siauw-lim, ada seorang hweesio paling tinggi kedudukannya diantara para murid generasi ketiga, nama hweesio ini adalah Kong Tie, dia pernah ikut dengan Pek Can taysu ke Yun-liu, maka pada kepala ruang Tat-mo yaitu Pek Na taysu dia berkata: "Susiok, sastrawan baju biru setengah baya itu, pernah datang ke Yun-liu, jika kuil kita ingin menjelas-kan hal ikhwal kesalah pahaman paman guru Pek-can, orang ini adalah saksi hidup."

Pek Na taysu bersuara "Ooo!" dia lalu bangkit berdiri, perlahan mengucapkan pujian Budha, sebelah telapak tangannya ditegakan, memberi hormat pada Pek Soh-jiu berkata: "Pinceng Pek-na, permohonan......" ingin mengajukan satu

Pek Soh-jiu tidak menduga hweesio Siauw-lim malah sebaliknya yang bertanya pada dia, dengan perasaan heran dia berkata: "Toa-hweesio jangan sungkan begini, aku merasa sangat terhormat, tapi kita belum pernah ber-temu, permohonan Toa-hweesio seperti terlalu di luar dugaan." Pek Na taysu adalah kepala lima tianglo Siauw-lim, dia juga seorang yang sangat dihormati di dunia persilatan, walau pun seorang pakar ilmu silat di dunia persilatan, tapi dia tidak pernah memandang sebelah mata, melihat jawaban seperti ini, keruan warna wajahnya sedikit berubah, berkata: "Aku cuma ingin bertanya pada Sicu, mau dijawab atau tidak itu terserah Sicu sendiri, aku tidak bermaksud memaksa......." Siau Yam tidak tahan, dengan membentak dingin berkata: "Kau boleh coba memaksa, boleh mencoba kekuatan kami suami istri apakah bisa memecahkan kepala botakmu itu!" Kelakuan Siau Yam terhadap Pek Na taysu, tentu saja menimbulkan rasa tidak senang para hweesio Siauw-lim, saat ini mereka sudah tidak bisa menahan diri lagi, segera dua orang hweesio setengah baya, menerjang maju dari

belakangnya Pek Na taysu, mereka berdiri dihadapan Pek Soh-jiu dan Siau Yam, dengan dingin berkata: "Kong Ceng dan Kong Se ingin minta petunjuk dari anda suami istri." Siau Yam menyunggingkan bibirnya: "Toako minggirlah, biar aku yang menghadapi dua hweesio ini." Pek Soh-jiu tahu bagaimana kepandaian Siau Yam, walau pun dua orang hweesio itu bersama-sama maju, mereka tidak akan bisa mengalahkannya, dia menganggukan kepala sambil tersenyum berkata: "Tujuh puluh dua jenis ilmu silat hebat Siauw-lim jangan dianggap enteng, kau harus hati-hati." Siau Yam pelan-pelan berdiri, lalu melangkah maju dua langkah ke depan, mengangkat alisnya berkata: "Kalian berdua majulah sekaligus, supaya nanti tidak merepotkan aku lagi." Walau bagaimanapun murid-murid Siauw-lim adalah dari aliran lurus dan ternama, mana mau mereka bersamasama menghadapi seorang wanita dengan tangan kosong, Kong Ceng menggoyangkan tangan, memberi isyarat pada Kong Se untuk mundur, baru memasang kuda-kuda, bentaknya: "Sicu, silahkan." Siau Yam mendadak menjulurkan telapak tangan kanannya, dua jari yang putih seperti giok, dengan kecepatan yang sulit dipercaya, menotok ke arah sepasang mata Kong Ceng, dengan enteng mulutnya berkata: "Seorang hweesio memang sangat ramah, maka terpaksa aku lebih dulu menyerangnya."

Kepandaian Kong Ceng, di dalam angkatan ketiga Siauw-lim termasuk seorang yang menonjol, dia melihat begitu Siau Yam melayangkan telapak tangan kanannya, angin jarinya sudah menyentuh kulit dan wajahnya, tidak tahan hatinya jadi terkejut, cepat-cepat dia menyerang dengan kepalannya, bersamaan waktu itu dia meloncat kebelakang, dalam sejurus dia sudah bergerak menyerang dan bertahan, ilmu silat Siauw-lim, memang berbeda dengan ilmu silat cabang perguruan lain. Tapi jurus dia Hok-houw-sin-koan (kepalan dewa penakluk harimau.), seperti batu jatuh ke laut, sepasang jari mungil Siau Yam malah seperti belatung menempel di tulang, selalu bergerak-gerak di depan matanya. Sepasang telapak Kong Ceng tidak henti-hentinya dikebutkan, satu persatu tenaga tamparan yang dapat menghancurkan batu di kerahkan, angin pukulannya membuat debu berterbangan. Namun meski dia sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya, semua sia-sia saja, tubuh Siau Yam yang langsing itu, menari-nari mengikuti gerakannya tangan Kong Ceng, sepasang jarinya yang munggil, tetap berjarak setengah inci dari sepasang matanya. Pesilat tinggi angkatan ketiga Siauw-lim ini menjadi ketakutan, dia tahu dirinya sudah bertemu dengan seorang wanita persilatan yang amat lihay, sehingga akhirnya dia melepaskan usaha bertahannya, sepasang tangannya dijulurkan kebawah, siap menerima nasib kehilangan sepasang matanya, terdengar suara pelan "Hemm!", tubuhnya yang besar itu, berputar di pukul telapak tangan Siau Yam, meski tidak tega menghilangkan sepasang matanya, tapi pukulan telapak tangan yang keras ini, telah membuat dia menerima luka dalam yang cukup parah.

Pesilat tinggi dari angkatan muda Siauw-lim, tidak bisa menahan satu jurus serangan seorang nyonya setengah baya, ini sungguh satu berita yang menakut-kan. Pek Na taysu dengan menyebut nama Budha berkata: "Hebat benar ilmu silat Sicu ini, guru anda pastilah seorang pesilat tinggi yang namanya meng-gemparkan dunia persilatan." Siau Yam mendengus dingin, berkata: "Kalau begitu taysu tidak memandang diriku!" Pek Na taysu berkata: "Aku tidak bermaksud itu, kenapa Sicu berpikir yang lain-lain." Siau Yam kembali mendengua dingin: "Taysu tidak perlu banyak bicara lagi, sekarang kau m.m bagaimana, aku barsedin menerima." Walau Pek Na Taysu seorang petapa yang sudah tinggi kesabarannya, umbul juga sedikit amarah oleh tingkah Siau Yam yang sombong itu, alis panjangnya sedikit diangkat, tapi akhirnya d ia menahan diri berkata: "Aku hanya ada sedikit permintaan pada suami anda, anda tidak perlu mendesak aku seperti ini." Siau Yam berkata dingin: "Berarti taysu ada permintaan pada kami suami istri." Pek Na taysu terdiam sejenak, lalu dengan menghela napas dia berkata: "Anggap saja aku ada permintaan pada suami anda." "Masalah suamiku, aku juga bisa bertanggung jawab setengahnya, hweesio boleh mencoba mengutarakannya."

"Haai!" Pek Na taysu mendesah: "Suami anda pernah ikut dalam perebutan pusaka di Yun-liu......" "Tidak salah, terhadap masalah Ho-leng-ci, suamiku memang pernah menyaksikannya sendiri." Pek Na taysu dengan wajah tegang berkata: "Apa yang telah suami anda saksikan?" Siau Yam mencibirkan bibirnya sedikit: "Suamiku sudah biasa menutup kejelekan, memuji kebenaran, kau tidak perlu terlalu tegang!" Wajah Pek Na taysu berubah: "Murid Siauw-lim sangat taat aturan, harap anda suami istri jangan percaya omongan orang yang menjelekan Siauw-lim......" Siau Yam berkata tawar: "Apa permohonan ini yang taysu inginkan?" "Jika kalian suami istri bisa menjadi saksi yang membersihkan nama baik Suteku, maka aku akan sangat berterima kasih sekali." "Kami suami istri bisa saja menjadi saksi untuk membersihkan nama baik kuil anda, tapi anda harus menyanggupi satu hal padaku sebagai imbalannya." "Asal didalam kemampuan kami, tentu tidak akan membuat Sicu kecewa." "Permintaanku sebenarnya juga hal yang mudah sekali, asalkan taysu mengatakan siapa otak yang pada tahun itu diam-diam menyerang perumahan Leng-in......"

Tubuh Pek Na taysu bergetar, sepasang matanya yang bersinar, menatap pada Siau Yam, setelah beberapa saat baru berkata: "Ada hubungan apa anda dengan Sin-ciu-sam-coat (Tiga pendekar wahid)?" Siau Yam berkata dingin: "Kita hanya membicarakan masalah, buat apa taysu bicarakan hal yang lainnya!" Pek Na taysu menutup sepasang matanya: "Pertanyaan Sicu ini, aku tidak bisa menjawabnya." Siau Yam dengan sinis mendengus: "Kalau begitu keinginan taysu membersihkan nama baik kuilmu, bukankah itu hal yang berlebihan!" Pek Na taysu membuka sepasang matanya berkata: "Otak yang diam-diam menyerang Sin-ciu-sam-coat, aku sungguh tidak tahu." "Kalau begitu hilangnya ketua kuil anda yang terdahulu, kau juga sama sekali tidak tahu!" "Kenyataannya memang begitu." "Maaf, perundingan kita terpaksa selesai sampai disini saja." Pek Na taysu mengangkat alisnya, dia berteriak marah berkata: Apa anda sungguh ingin merusak nama baik kuil Siau Yam dengan sinis mencibirkan bibirnya, berkata: "Masalah siapa benar atau salah, dunia persilat-an tentu akan menilainya sendiri, anda keluar dengan membawa

orang-orang yang begini banyak, bagaimana pun tidak akan bisa menutupi mata telinga seluruh orang-orang persilatan!" Tujuan utama Pek Na taysu sebenarnya berharap Pek Soh-jiu bisa menjadi saksi dan menjelaskan bahwa Pek Can taysu tidak pernah merampas Ho-leng-ci, tidak diduga suami istri ini punya pandangan negatif terhadap Siauwlim-sie, begitu pembicaraannya tidak cocok, maka semakin dibicarakan semakin tegang, sampai saat ini sudah sampai taraf tidak bisa menerima-nya, sehingga akhirnya Pek Na taysu mengebutkan lengan baju besarnya, mengerahkan tenaga dalam yang amat dahsyat, sambil mulutnya bersamaan berteriak marah: "Jika Sicu sengaja ingin menghina kuilku, maka aku terpaksa melanggar larangan membunuh orang." Satu gelombang tenaga dalam ini, di dalamnya mengandung Siau-sai-pit-kim-kong-sin-kang (tenaga sakti Kim-kong menutup kumis kecil) salah satu dari kami? Tujuh puluh dua ilmu silat Siauw-lim yang sangat dahsyat. Pek Soh-jiu khawatir Siau Yam terluka karena menganggap enteng lawan, dia tertawa keras dan melayang, ketika tubuhnya masih melayang, tenaga telapaknya dengan dahsyat membelah udara datang menerjang, mulutnya berkata: "Adik Yam, kau minggir dulu, biar aku yang menghadapi para hweesio yang tidak bersih ini, aku mau lihat sebenarnya mereka mempunyai ilmu silat sehebat apa." Boom.....Pek Soh-jiu seperti layang-layang putus tali, sekali melayang sudah meluncur tiga tombak lebih, baru kakinya menginjak ke bumi.

Siau Yam berteriak terkejut, kakinya dihentakan, berlari kedepan Pek Soh-jiu berkata: "Toako! Apa kau terluka?" Pek Soh-jiu dengan tenang berkata: "Siau-sai-pit-sin-kang walau pun salah satu ilmu silat terhebat di dunia persilatan, tapi tidak lebih tinggi dari pada aku punya Kong-hong-sam-si (tiga jurus angin ribut), mari, kita lihat para hweesio terkenal ini masih punya jurus hebat apa lagi." Siau Yam sedikit tidak tenang, bertanya lagi: "Toako, ini salahku, kita......" Pek Soh-jiu memegang tangannya yang munggil: "Jika para hweesio liar itu sengaja mencari gara-gara pada kita, ingin menghindar juga sulit, kau lihat mereka sudah mengepung kita, kecuali kita bertarung, tidak ada pilihan lain!" Lalu mereka saling bergandengan tangan, melangkah dengan mantap, pelan-pelan berjalan menuju ke tengah kepungan. Mendadak, sebuah sinar kilat berkelebat membelah langit, setelah itu terdengar suara geledek yang menggelegar, lalu turunlah hujan yang lebat, jalan raya lebar yang penuh dengan hawa pembunuhan ini, mendadak terguyur oleh hujan deras dan angin kencang. Walau pun angin sangat kencang, namun tidak bisa menyapu bersih hawa pembunuhan yang kental ini, bayangan orang masih pelan-pelan bergerak, karena pandangannya terhalang, mereka sedang memperketat kepungannya.

Di pihak Siauw-lim kecuali ketua Tat-mo-tong Pek Na taysu, masih ada seorang ketua Lo-han-tong, Pek Keng taysu, dia juga seorang hweesio yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan, sisa dua puluh orang lebih lainnya dari angkatan kedua dan ketiga, tapi semua rata-rata mempunyai ilmu tinggi. Jelas, dalam hal kekuatan Pek Soh-jiu dan istri berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Namun kedua belah pihak tampaknya tidak ada keinginan mengalah, seperti keadaan anak panah yang sudah ditarik pada busurnya, mau tidak mau harus dilepaskan. Pek Na taysu melangkah maju tiga langkah, dia pertama yang menyerang dengan telapaknya ke tengah alisnya Pek Soh-jiu, tangan kanannya dengan kecepatan tinggi dan gerakan yang tidak terduga, mengunci gerak pergelangan tangan Pek Soh-jiu. Tadi ketika dia menggunakan Siau-sai-pit-sin-kang menyerang Pek Soh-jiu dari jauh tidak ada hasilnya, maka sekarang begitu menyerang dia langsung menggunakan salah satu jurus terhebat Siauw-lim lainnya yaitu Jit-cap-ji Kin-na-jiu (tujuh puluh dua jurus cengkeraman tangan kosong), nampak jelas sekali, Pek Na taysu yang merupakan salah satu dari lima tianglo Siauw-lim, sudah memandang sastrawan setengah baya ini sebagai satu lawan yang tangguh. Pek Soh-jiu mendengus, tubuhnya mendadak diputar, telapak tangan kanan ditarik lalu dilontarkan, jurus Honglui-peng-hoat (Angin dan halilintar muncul bersamaan waktu) dilancarkan menghantam Pek Na taysu. Salah satu jurus Kong-hong-sam-si ini bisa dianggap jurus yang tiada tandingannya di dunia persilatan, walau pun terdiri dari tiga jurus, selama Hong San-ceng berkelana di dunia persilatan puluhan tahun, belum pernah bertemu

dengan orang yang sanggup menahan dua jurus serangannya, walau ilmu silat Pek Soh-jiu belum mencapai kesempurnaan, tapi karena dua jalan darah pentingnya yaitu jalan darah Jin dan Tok sudah tembus, jadi tenaga telapaknya sudah tidak bisa disetarakan dengan pesilat tinggi biasa, saat menyerang dengan jurus Kong-hong-samsi, kekuatan tenaganya seperti gunung meletus. Pek Na taysu yang latihannya sudah sangat tinggi, hatinya telah bergetar, mimpi pun tidak terpikir, sastrawan baju biru yang wajahnya asing, ternyata telah mempelajari kepandaian Sin-ciu-sam-coat, tenaga dalam dan kecepatan geraknya untuk pesilat tinggi masa kini, bisa dikatagorikan yang paling hebat, sehingga, dia tidak berani menghadapi lawannya dengan cara keras, dia mengebutkan lengan baju besarnya, sambil melangkah ke samping tiga langkah. Pek Soh-jiu tertawa panjang, dia kembali meneruskan serangan Kong-hong-sam-si, di bawah hujan yang lebat itu, terdengar suara petir menggelegar. Pek Na taysu segera menggunakan jurus Pek-poh-sinkoan (kepalan dewa seratus langkah) dari kuil Siauw-lim, di gabungkan dengan Siau-sai-pit kim-kong sin-kang, dia melakukan pertarungan sengit dengan Pek Soh-jiu, pertarungan yang jarang bisa ditemukan di dunia persilatan, selain itu Pek Soh-jiu meneruskan menyerang dengan ilmu hebatnya lagi, dalam sesaat sulit bisa membedakan siapa yang lebih unggul. Di sisi lain Siau Yam juga bertarung hidup mati dengan Pek Keng taysu, tenaga dalam Siau Yam walau kalah saru tingkat dari Pek Keng taysu, tapi dia sangat gesit, gerakan jarinya hebat sekali, setiap serangan jarinya membuat ketua Lo-han-tong ini sibuk meng-hindari.

Pertarungan ini tampaknya akan menjadi pertarungan panjang, namun Pek Soh-jiu dan istri sudah sedikit lebih diatas angin, ini adalah satu berita aneh yang cukup menggemparkan dunia persilatan, dua orang dari lima tianglo Siauw-lim-sie yang sudah ternama, ternyata tidak bisa memenangkan pertarungan melawan sepasang suami istri yang tidak ternama! Demi melindungi nama baik dan kehormatan Siauw-limsie yang sudah berumur ratusan tahun, dua orang hweesio ternama dari agama Budha ini makin keluar amarahnya, setelah Pek Keng taysu melancarkan serangan telapak yang memaksa Siau Yam mundur, pada para murid Siauw-lim dia mengeluarkan sebuah perintah yang mengejutkan 'siapkan Lo-han-tin1, maka, para murid Siauw-lim-sie yang ada disekeliling, semua langsung bergerak membentuk barisan. Pertarungan sementara jadi terhenti, Pek Na dan Pek Keng, segera memimpin barisan Lo-han itu. Tentu saja, Pek Soh-jiu yang pernah masuk ke kuil Siauw-lim-sie seorang diri, punya pengalaman menghadapi Lo-han-tin yang di bentuk ratusan orang, dia tetap tidak berani memandang enteng terhadap Lo-han-tin yang dibentuk hanya oleh dua puluh orang lebih ini, karena dia tahu lawan yang dihadapinya sekarang, adalah intinya para pesilat tinggi Siauw-lim, sekali barisannya bergerak, pasti sangat berbahaya sekali. Maka dia menyuruh Siau Yam mengeluarkan pedang pendek Siau-suang dan Pek-lek-biesin-ciam yang jarang dia gunakan, dia sendiri juga mengeluarkan Pouw-long-tui nya. Lalu, sambil bersiul panjang, alisnya sedikit di angkat, dia berkata dingin:

"Aku tidak ingin membunuh tanpa ada penjelasan terlebih dulu, sebelum kalian menyerang bersama-sama, paling baik dengarkan terlebih dulu nasihatku." Dia menghentikan perkataannya sejenak, sorot matanya melihat kesekeliling, lalu berkata lagi: "Lo-han-tin adalah salah satu barisan Siauw-lim-sie, sudah ratusan tahun ternama dan tidak pernah melemah, tapi, barisan hebat yang terkenal di dunia persilatan ini, mungkin tidak mampu menahan sebuah serangan Pouwlong-tui, jika kalian tidak cepat lupa, kata-kataku ini bukanlah kata-kata yang menakut-nakuti, sekali Pouw-longtui ini bergerak, maka tidak akan bisa meninggalkan seorang lawan yang hidup. Maka kalian para hweesio, lebih baik pikirkan sekali lagi baik-baik." Baju hweesio yang warnanya abu-abu, masih melayanglayang dan mengeluarkan suara sst....sst di timpa hujan angin, Lo-han-tin tidak melakukan penyerangan, tapi juga tidak berhenti bergerak. Pek-na dan Pek Keng, dua hweesio luhur dari Siauw-limsie memang sedang mempertimbangkan keadaan di hadapan mereka, sesaat tidak mampu mengambil keputusan yang tepat, tentu saja mereka tahu Lo-han-tin sulit menahan sebuah serangan dahsyat dari Pouw-long-tui, apa lagi pedang pendek Siau-suang dari perguruan Thian-ho yang diperlihatkan oleh Siau Yam, sama dengan sebuah lambang perintah pengambil nyawa. Keadaan saat ini adalah pertarungannya belum dimulai, kalah dan menang sudah ditentukan, kecuali membubarkan barisan dan mengaku kalah, para hweesio Siauw-lim sulit bisa memilih satu keputusan yang memuaskan. Akhirnya Pek Na taysu menggerakan tangan menghentikan gerakan Lo-han-tin, alisnya diangkat, dengan suara rendah berkata:

"Sicu, kita kemari tidak disengaja bertemu, bukan begitu?" "Tidak salah." Kata Pek Soh-ciu dingin. "Kalau begitu buat apa kita melakukan pertarungan hidup mati!" "Anda tidak takut nama baik kuilmu rusak?" "Asalkan bertindak sesuai aturan, buat apa takut perkataan orang......" "Seorang hweesio luhur, memang harus berbesar hati, sayang kata-kata taysu sedikit terlambat datangnya." Warna wajah Pek Na taysu berubah: "Hemm!" marah berkata, "Dalam sejarah ratusan tahun, murid Siauw-lim dipaksa membubarkan barisan dan mengaku kalah, kau lah orang yang pertama." Dia menghentikan bicaranya sejenak, dengan sedih berkata lagi, "Aku tidak ada kemampuan, sehingga membuat nama baik ratusan tahun kuilku, hancur dalam sehari, aku......hai, hanya bisa menebus dosa dengan kematian." Ternyata Pek Na taysu yang menjadi kepala dari lima tianglo Siauw-lim, sudah bertekad dengan kematian, membebaskan keadaan yang memalukan untuk nama baik Siauw-lim-sie, baru saja habis bicara, telapak tangan kanannya' dengan cepat diayunkan, buuk...., dia memukulkan kepalanya sendiri, terlentang mati di bawah guyuran hujan angin. Terdengar suara doa yang rendah dan pilu, di saat para hweesio berdoa di dalam hujan ini, Pek Soh-jiu tanpa bicara lagi menuntun kudanya, bergandengan dengan Siau Yam meninggalkan lapangan pertarungan. Waktu berlalu... Siau Yam perlahan mengeluh: "Tidak terpikir hweesio tua itu orangnya sangat keras, hai......"

Perasaan Pek Soh-jiu sangat berat, dia terdiam beberapa saat, katanya: "Melihat kematiannya Pek Na taysu, aku merasa sangat tidak tenang......" Siau Yam mencibirkan bibirnya: "Kita tidak memaksa mereka mengatakan siapa otaknya yang diam-diam menyerbu perumahan Leng-in, terhadap hweesio kuil Siauw-lim ini kita sudah sangat bermurah hati, hweesio tua itu ingin mati sendiri, ada hubungan apa dengan kita?" "Kek!" sekali Pek Soh-jiu berkata, "Adik Yam benar, tapi...... kelihatannya kita sudah terlibat dalam pergolakan dunia persilatan yang sangat dalam, selanjutnya pekerjaan kita, mungkin akan mendapat banyak halangan." "Aku pikir para hweesio itu tidak akan menyiarkan penyamaran kita, karena kematiannya Pek Na, bagaimana pun bukanlah hal yang membanggakan." "Harap saja begitu." Saat ini hujan sudah berhenti, di langit sudah tampak matahari, tubuh mereka berdua seluruhnya basah kuyup, setelah terkena sinari panas matahari, terasa tidak enak, maka mereka melarikan kuda dengan cepat, ingin mencari satu tempat untuk istirahat dan berganti baju, tapi mendadak kuda mereka meringik keras, kedua telinganya berdiri tegak, bagaimana di paksa pun tidak mau maju lagi. Dalam hati Pek Soh-jiu tahu pasti ada masalah lagi, dari atas kuda dia langsung meloncat keatas, sesudah berdiri diatas puncak pohon yang ada disampingnya, matanya melihat ke arah tikungan yang ada di depan, tidak tahan hatinya jadi tergetar.

Ternyata di tengah jalan raya, melingkar seekor ular berbisa yang panjangnya sekitar satu tombak lebih, tubuhnya sebesar lengan anak kecil, lidah merahnya keluar masuk, mengeluarkan suara sst.... sst, bentuknya menyeramkan sekali, dia mematahkan sepotong dahan, sekali tangannya diayunkan, dahannya melesat ke arah bagian tujuh cun ular itu. Dahan yang terlepas dari tangan, kecepatannya laksana kilat, tapi ular berbisa itu mendadak bergoyang, dahan pohon itu malah tidak mengenainya, tak.... menancap diatas tanah jalan raya. Siau Yam juga loncat ke samping Pek Soh-jiu, dia juga melihat ular berbisa itu mampu menghindarkan senjata gelap, dia merasa heran, lalu mengambil dua buah Pek-lekbie-sin-ciam, tangannya diayunkan, dua buah jarum melesat, masing-masing mengarah pada sepasang matanya ular berbisa itu. Walau bentuk jarum itu sangat kecil, tapi karena keahlian melepaskan jarumnya sangat hebat, walau pun seorang pesilat tinggi kelas satu, yang dapat lolos dari serangan Pek-lek-bie-sin-ciam juga tidak banyak, ular berbisa itu walau pun sudah terlatih, tetap tidak bisa lolos dari kematian! Ular berbisa itu setelah berguling-guling, lalu mati terlentang di pinggir jalan, Siau Yam segera menatap ke pepohonan di samping ular, dengan mendengus dingin berkata: "Ayo keluar, biar kami suami istri menghadapimu." "He.. .he.. .he!" terdengar sebuah tawa dingin, lalu melangkah keluar seorang manusia aneh yang berwajah monyet, mulut monyong hidung mancung ke dalam, tubuhnya kurus kecil, di tangannya sedang

mempermainkan seekor ular berbisa sebesar kawat besi, sepasang matanya bersinar hijau, berjalan pelan menuju tengah jalan. Siau Yam dan Pek Soh-jiu bersama-sama meloncat turun dari puncak pohon, dia memperhatikan orang aneh itu beberapa saat, mendadak wajah cantik Siau Yam jadi d ingin berkata: "Apakah anda anggotanya Jit-kaw-kok? (tujuh keahlian)" Orang aneh berwajah monyet itu tertegun, dia menghentikan langkah, sepasang matanya yang bersinar hijau dingin, berputar putar sebentar, lalu berkata: "Mata yang tajam, mantu Sin-ciu-sam-coat ternyata punya sedikit kehebatan." Pek Soh-jiu berkata: "Kami suami istri tidak ada permusuhan dengan Lembah Jit-kaw, kenapa tuan menghadang jalan mencari masalah?" "He...he...he!" orang aneh berwajah monyet tertawa, "Setelah melihat gerakan kalian yang sangat hebat, monyet tua jadi merasa tangan gatal, selain itu, he... he... selain itu aku juga ingin berunding dengan Siauhiap." "Ha.. .ha.. .ha!" Pek Soh-jiu tertawa keras, katanya, "Tuan ini ingin melihat-lihat Pouw-long-tui?" Orang aneh berwajah monyet itu berkata: "Lihat, ini hanyalah salah satu sebab, jika Pek Siauhiap bisa memberikannya, itu akan lebih baik lagi." "Hemm!" Siau Yam berkata dingin, "Ide bagus, ketua lembah kalian Pek-tok-lo-cia (Iblis seratus racun.) Bong San-san, apakah dia sudah ikut datang?"

Orang aneh berwajah monyet membelalakan sepasang matanya: "Kenapa, apakah Tok-hou (Monyet racun) The Hoan masih kurang berbobot?" "Tok-hou The Hoan walau pun seorang yang ternama, tapi terhadap masalah ini mungkin kau tidak bisa memutuskannya." Kata Siau Yam Tok-hou The Hoan berkata: "Ada masalah seperti ini? mohon Pek hujin jelaskan." Siau Yam mengangkat alisnya: "Aku telah kehilangan pelayanku, kehidupan ku seharihari, terasa kurang leluasa, aku dengar Bong San-san itu orangnya sangat pengertian, menjadi pelayanku mungkin akan cekatan." Sepadang mata Tok-hou The Hoan menyorot sinar ganas, dia tertawa dingin berkata: "Berani menghina kokcu kami, kau pantas mati, terima ini." Lengan kanannya mendadak diayunkan, ular berbisa sebesar kawat besi seperti sebuah tombak panjang, menusuk ke arah dada Siau Yam. Tubuh Siau Yam berkelebat, dia sudah melayang mundur tiga tombah, membalikan lengan mencabut pedang panjang di punggungnya, sebuah jurus Ki-hwee-liauw-thian (Mengangkat api membakar langit.) di sabetkan ke arah bagian tujuh inci ular kawatbesi. Tok-hou The Hoan tertawa dingin, lengan kanannya digerakan perlahan, huut... tubuh ular kawat besi itu bergoyang, dengan jurus Coan-thian-it-cu-hiang (Mengarah langit membakar dupa) dari jurus toya Pan-liong, menyerang kearah pipinya Siau Yam.

Siau Yam tidak menduga ular kawat besinya Tok-hou The Hoan begitu gesit, cepat cepat bergeser, kembali mundur tiga langkah. Begitu Tok-hou dapat mendesak, dia tidak memberi nafas pada Siau Yam, sambil mulutnya bersiul aneh, langsung menerjang masuk, ular kawat besi diayunkan secepat angin, segera terlihat berlapis-lapis bayangan ular, bau amis menyebar luas, mengurung rapat Siau Yam. Pek Soh-jiu melihat ular berbisa kawat besi itu lidahnya keluar masuk, tidak henti-hentinya menyemburkan asap beracun, dan juga ilmu silatnya Tok-hou The Hoan juga sangat hebat, dia khawatir Siau Yam mendapat luka, tidak tahan lagi dia mencabut pedang-nya, ingin mendesak masuk kedalam pertarungan. Siau Yam yang melihatnya, lalu berteriak: "Toako mundurlah, menghadapi orang kecil seperti ini, kita tidak perlu melawan bersama-sama!" Pek Soh-jiu menghentikan langkah, dia menggelenggelengkan kepala, terpaksa mundur lagi ke belakang menonton, tapi dia tetap memusatkan tenaga dalam Pouwci-sin-kang, jika Siau Yam benar-benar dalam bahaya, maka dia akan tidak pedulikan apa yang namanya keroyokan. Siau Yam menahan nafas, pedangnya seperti naga menari, walau jurus Tok-hou sangat dahsyat, tapi tetap tidak bisa berbuat banyak, tapi, Siau Yam juga tidak bisa menahan nafas terlalu lama, apalagi harus menggunakan tenaga dalam, keadaannya memang sangat berbahaya sekali. Dalam sekejap sudah lewat tiga puluh jurus, dipelipis Siau Yam sudah nampak ada keringat, melihat keadaan, kekalahannya akan terjadi dalam beberapa saat lagi.

Sebenarnya Siau Yam sendiri juga menyadari keadaannya, ketika pertama dia bertarung, di telapak tangan kirinya sudah menggenggam dua buah jarum Peklek-bie-sin-ciam, jika tidak sampai bahaya sekali, dia tidak mau mempergunakan. Saat ini, dadanya sedang naik turun dengan derasnya, karena terlalu lama menahan nafas, tenaga dalamnya nampaknya akan habis, gerakannya pelan pelan mulai menurun, jurus pedangnya juga nampak tidak segesit semula, tampak seperti lampu yang kehabisan minyak, walau pun sekuat tenaga meronta, juga tidak akan lolos dari kematian. Tok-hou The Hoan tertawa keras, lalu berkata: "Menyerahlah Pek hujin, monyet tua adalah orang yang sayang wanita, pasti tidak akan membuat kau sangat......" Seseorang di saat dalam keberhasilan, tidak luput pemusatan pikirannya akan mengendur, saat inilah yang ditunggu Siau Yam, sebab kesempatan bagus ini yang dalam sekejap akan menghilang dan tidak terulang, segera dia menggetarkan pedang panjangnya, menyebar kan ribuan titik-titik sinar pedang, menyerang kearah wajahnya Tok-hou The Hoan, lalu telapak kirinya diayunkan, terdengar Pek-lek-bie-sin-ciam bersuara dua kali, langsung menancap di mata kiri dan bahu kirinya rbk-hou The Hoan. Perubahan besar ini, sungguh seperti sambaran kilat, Tok-hou The Hoan tidak menduga menyerang balasan Siau Yam di dalam keadaan bahaya, bisa sedahsyat ini. Tapi Tok-hou juga adalah seorang yang nekad, meski mata kirinya dibutakan oleh Pek-lek-bie-sin-ciam, dan lengan kirinya tidak berguna lagi karena terluka, dia unilah dengan berteriak keras, lengan kanannya diayunkan sekuat tenaga, ular kawat besi seperti sebuah panah beracun,

dengan kecepatan yang sulit dibayangkan, langsung mengarah dadanya Siau Yam. Jurus ini sangat diluar dugaan Siau Yam, saat ini lenaga dalam nya sudah habis digunakan, walau pun ?a-l'iiah senjata gelap yang biasa, dia juga sudah tidak bisa menghindar, apa lagi ular kawat besi berbisa yang dilemparkan sekuat tenaga oleh Tok-hou The Hoan. Nampak ular kawat besi dengan kecepatan tinggi akan mengenai dada montoknya Siau Yam, asalkan maju lima ini lagi saja, wanita cantik ini akan tewas di gunung liar ini. Keadaan yang sangat berbahaya ini terjadi dalam sekejap, Pek Soh-jiu yang menonton disisi, hampir saja mati ketakutan, dia berteriak keras, tangan kanannya dengan kuat diayunkan, lima titik sinar hitam dengan kecepatan tidak terbayangkan, mengenai tubuh ular kawat besi, tubuh Pek Soh-ciu juga langsung terbang, mengerahkan ilmu silat meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui sampai puncak tertinggi, hanya terlihat sebuah gumpalan asap tipis menggulung, tubuh Siau Yam yang bergoyang-goyang akan jatuh itu sudah berada di luar sepuluh tombak lebih. Mereka akhirnya dapat lolos dari bahaya, tapi keadaan bahaya yang dialaminya, tetap saja begitu mengge tarkan hati. Wajah Siau Yam menjadi putih pucat, dadanya tidak henti-hentinya kembang kempis, dengan lemah dia menyandar di tangannya Pek Soh-jiu, sepasang matanya terbuka lebar, melihat pada mayat ular di tanah yang hampir merengut nyawanya, lalu melihat pada Tok-hou The Hoan yang wajahnya putih seperti kertas. Beberapa saat, dia baru dapat melancarkan nafas dengan meniup nafas panjang berkata:

"Terima kasih, demi menutupi jejak kita, Tok-hou ini tidak boleh dilepaskan!" Pek Soh-jiu menganggukan kepala, sambil menggandeng tubuh dia, perlahan melangkah maju ke depan Tok-hou The Hoan berkata: "The Tayhiap! Istriku tadi tidak bisa mengendalikan diri, aku sungguh menyesal sekali." Mata Tok-hou The Hoan yang tinggal satu sudah kehilangan sinar, setelah berputar sekali, dia berkata dingin: "Jangan sombong orang she Pek, walau aku mati, lembah Jit-kaw pasti akan membalaskan dendam hari ini." Pek Soh-jiu dengan tawar berkata: "Aku suami istri setelah berani melukai anda, tidak akan takut pembalasan dari lembah Jit-kaw, tapi membicarakan masalahnya, masalah hari ini kau sendiri yang menimbulkannya......" "Hemm!" Tok-hou The Hoan dengan marah berkata, "Tidak salah, memang aku yang mencari mati, tapi kalian juga mendesak sampai tianglo kuil Siauw-lim-sie mati, banyak orang yang menyaksikan, kau lihat saja nanti, bocah......" Baru saja selesai bicara, tubuhnya mendadak gemetar, jatuh ke atas jalan raya, di sudut mulutnya keluar darah yang bau amis, dia sudah menggigit pil beracun, bunuh diri. Pek Soh-jiu tanpa suara mengeluh, dia tahu pertarungan dengan Siauw-lim di warung teh, sudah menimbulkan masalah yang tidak ada ujungnya, kali ini d ia pergi kegunung Kwo-tiang, mungkin setiap langkah-nya akan penuh dengan halangan, tapi mala petaka tidak bisa dihindari, jika bisa dihindari itu bukan mala petaka,

sehingga, mereka berdua tetap mengikuti rencana semula, berjalan melalui Kwie-ciu, lewat Ke-yang, menuju kepegunungan Heng-ih...... Di malam hari yang pekat, Pek Soh-jiu dan Siau Yam tiba di kota kabupaten Ih-san, kota kabupaten Ih-san terletak di lereng selatan gunung Huai-ih, di sebelah tenggaranya adalah pegunungan Hian-sia-leng, karena mereka berdua tiba terlalu malam, setelah mencari ke seluruh kota, juga tidak mendapakan satu penginapan pun. Pek Soh-jiu tidak bisa berbuat apa-apa, menatap pada benteng kota yang megah itu dia tertawa, berkata: "Adik Yam! Kelihatannya kita terpaksa menganggap benteng kota sebagai kamar tidur, angin bertiup menyapu lantai, kegembiraan ini tidak ada di dalam kamar tidur." Siau Yam dengan manisnya tersenyum, kepalanya sedikit tunduk, tubuhnya merendah menghormat berkata: "Benar, harap suamiku......" Perkataan Siau Yam belum habis, di atas benteng kota tiba-tiba terdengar suara tawa yang panjang: "Suami istri yang serasi, wanita ini sungguh baik, nenek tua! Kita harus meninggalkan tempat ini untuk mereka, ayo jalan." Dua bayangan manusia, secepat kilat berkelebat, dengan ilmu silat mereka yang sangat tinggi, sampai wajah mereka juga tidak bisa terlihat dengan jelas, hanya terdengar suara tawa yang memekakan telinga menjauh, dan masih terdengar juga teriakan wanita: "Tua bangka, kau berani tidak menunggu nenek tua, kau lihat mereka begitu mesranya." Suara pembicara itu

menghilang, dalam sekejap sudah berada sejauh seratus tombak lebih jauhnya. Pek Soh-jiu menggeleng gelengkan kepala, memegang lengan Siau Yam sambil tersenyum berkata: "Sungguh masalah aneh yang ada setiap tahun, hanya tahun ini yang paling banyak, mau menginap di benteng kota, malah bisa kebetulan ada yang menginap juga." Siau Yam membantingkan tangannya, bibirnya mencibir, pura-pura marah berkata: "Kau sih......lihat aku nanti masih pedulikan kau tidak......" Pek Soh-ciu menghela napas: "Harap hujin maafkan aku kali ini, hamba tidak berani lagi." Siau Yam psss... tertawa berkata: "Sepasang setan tua ini sungguh sepertinya sengaja terus mengikuti kita." "Siapa mereka? Kau kenal?" Siau Yam mencibirkan mulutnya: "Kau anggap aku sudah setua tujuh, delapan puluh tahun, hemmm!" "Kau jangan salah paham, yang aku maksud adulah mungkin kau tahu merekaitu siapa." "Mereka itu adalah sepasang pendekar yang ln-rkelana puluhan tahun, kalau kau tidak tahu bisa changgap kau kurang pergaulan, masih tanya aku kenal alau tidak!" menyebalkan,

"Ooo!" Pek Soh-jiu berkata, "Ternyata adalah Thian-yahiap-lu (Sepasang pendekar dari ujung langit), tidak aneh ilmu silatnya setinggi ini." Baru saja mereka berdua naik ke atas benteng kota, tibatiba terlihat diatas rumah di pinggir jalan, muncul dua bayangan orang, setelah sebentar memper-hatikan keadaan, lalu dengan cepat lari kearah utara. Pek Soh-ciu tertegun berkata: "Apa... di kota kabupaten Ih-san ini ternyata banyak orang-orang hebat, adik Yam! Kita sedang tidak ada kerjaan, kita ikuti mereka dam melihat ada apa sebenarnya, bagaimana?" "Baik," lalu dua orang itu bersama-sama meloncat, dengan cepat berlari ke utara mengikuti bayangan tadi, setelah melewati sebuah lapangan rumput liar, di depan tampak sebuah kuil yang megah, terlihat bentengnya tinggi, pohonnya hijau rimbun, tapi jejak dua orang itu sudah menghilang. "Toako! Dua orang itu menghilang disini, kau lihat apakah mereka ini hweesio bukan?" "Sulit mengatakannya, mungkin saja mereka itu duaduanya nikoh." "Kau sengaja berkata sebaliknya, aku katakan hweesio, maka itu pasti hweesio." "Dengan alasan apa memastikan mereka pasti hweesio." "Apa kau tidak melihat ini adalah bangunan kuil hweesio?" "Tidak juga." Belum selesai mereka berdebat, mereka sudah sampai di depan pintu, Siau Yam menjejakan kakinya, tubuhnya

sudah meloncat setinggi tiga tombak, seperti daun yang melayang jatuh, dengan pelan berdiri diatas gerbang itu, Pek Soh-jiu mengikuti meloncat keatas, dua orang dengan hati-hati sekali berjalan menuju ke dalam. Setelah melalui lapangan rumput yang halus seperti karpet, lalu meloncat ke atas atap ruangan, mata Pek Sohjiu mendadak melotot, perlahan menarik Siau Yam berkata: "Di kuil hweesio tapi yang tinggal adalah nikoh, kali kau harus mengaku salah." Siau Yam melihat kearah tempat yang ditunjuk Pek Sohjiu, benar saja melihat seorang nikoh yang tubuhnya langsing, sedang berjalan perlahan kearah pintu bundar, dia mendengus sekali berkata: "Kau lihat lagi kesitu." Tidak salah, diatas satu koridor, memang ada seorang nikoh sedang berjalan bolak balik, jelas, di dalam kuil ini, seperti tersembunyi hal yang misterius, mereka berdua demi memuaskan rasa ingin tahunya, dari atap bangunan langsung berlari menuju pintu bundar, apa yang dilihat, malah membuat hati jadi lapang. "Keadaannya indah sekali," Siau Yam memuji, dia memalingkan kepala berkata pada Pek Soh-jiu: "Danau teratai gunung buatan, daun hijau bertebaran, bau harum sepoi-sepoi, tidak diduga di dalam kuil ini ada tempat yang luar biasa ini." Pek Soh-jiu tertawa: "Tidak salah, kau lihat bangunan yang indah itu, l iangnya berukir, indah sekali, kebunnya dipenuhi bunga, pemandangannya luar biasa, walau pun istana bangsawan juga tidak bisa seperti ini."

Mereka berdua jadi ingin menikmati situasi mempesona ini, lalu bersama-sama mereka meloncat ke alas gunung buatan, sambil ditiup angin malam, berbincang-bincang keindahan kebun bunga "O-mi-to-hud", terdengar satu suara pujian Budha, dari dalam rimbunnya pohon bambu melangkah keluar seorang hweesio berusia empat puluhan, dia melangkah lalu berhenti di depan gunung buatan berkata: "Di kuil ini, anda berdua Sicu mana boleh sembarang masuk, malam sudah larut sekali, harap kalian berdua keluar mengikuti jalan semula." Siau Yam tidak menduga perkataan hweesio ini begitu tidak sopan, maka dengan mendengus, dia berkata: "Kuil adalah tempat suci, para pengunjung adalah tuannya para hweesio, kami hanya melihat-lihat pemandangan, kenapa kau melarang!" Hweesio setengah baya itu sedikit tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak, suaranya keras sekali, sampai burung yang pulang kandang pun beterbangan terkejut. Siau Yam mengangkat alis, menatap hweesio setengah baya yang berteriak: "Melihat kelakuanmu yang sombong begini, pastilah seorang hweesio murtad yang tidak menuruti aturan Budha, setelah hari ini bertemu dengan aku, kau ini pasti sedang sial, terimalah ini." Tubuhnya ber-kelebat, jarinya secepat angin menyerang kearah dadanya hweesio itu. Hweesio setengah baya tertawa, kaki dengan ringan bergeser dua langkah ke samping, telapaknya ditegakan seperti pisau, disabetkan kearah pergelangan Siau Yam.

Sebuah jurus memotong melintang dia ini, terbilang cukup hebat, pengambilan waktu dan ketepatannya juga sedikit pun tidak salah, sayang yang dia hadapi adalah seorang wanita yang berilmu tinggi, jurusnya walau pun hebat, tapi malah gagal total. Baru saja sisi telapaknya menempel di pergelangan Siau Yam, mendadak terdengar suara krek... sakit yang menusuk keulu hati, membuat dia tidak tahan menjerit kesakitan, dia balik meloncat kebelakang satu tombak lebih, keringat di atas kepala botaknya, seperti biji kacang bercucuran ke bawah. Hanya satu jurus lawan telah mematahkan telapaknya, hweesio setengah baya ini tahu dia telah bertemu dengan seorang lawan tangguh, yang seumur hidup dia belum pernah ditemui, dengan menahan sakit sepasang matanya melotot benci pada Siau Yam, lalu membalikan tubuh, meloncat masuk ke dalam rumpun bambu. Kembali terdengar suara rendah pujian Budha, di dalam hutan bambu melangkah keluar tiga orang hweesio, langkah mereka mantap, melangkah seperti lerbang, dalam waktu sekejap, sudah berhenti lima kaki di d e pan Siau Yam. Pemimpinnya adalah seorang hweesio tua dengan wajiih seperti cemara tua, rambut dan alisnya sudah putih Kmua, dia memperhatikan Pek Soh-jiu dan Siau Yam sejenak, dengan "kek!" sekali berkata: "Kuil Pel-liong berkat perlindungan Budha, tidak pernah berselisih dengan teman teman Dunia persilatan, anda dua orang Sicu malam ini tanpa permisi masuk kedalam kuil, pasti ada alasan yang kuat." Pe k Soh-jiu mengepalkan tangannya berkata:

"Kami suami istri tersesat jalan, salah masuk ke dalam kuil anda, atas kecerobohannya, harap guru bisa memaafkannya." Mendadak hweesio tua itu melototkan matanya, dua sorot matanya yang tajam, menatap pada Siau Yam berkata: "Tersesat dijalan minta menginap, sebenarnya tidak ada masalah, tapi Sicu wanita ini malah dengan latahnya melukai murid kami yang meronda, ini sepertinya sudah keterlaluan!" Pek Soh-jiu dengan menyesal berkata: "Istriku sedikit ceroboh sehingga melukai murid anda, aku disini meminta maaf, tapi kelakuan kasar murid anda terhadap orang yang tersesat, anda juga harus mengajarkan disiplin padanya!" Hweesio tua berkata dingin: "Sicu malam-malam masuk ke kuil tanpa izin, tidak terhindar murid yang meronda mencurigai sebagai orang yang bermaksud jahat, walau bertemu dengan aku, juga sama akan timbul kecurigaan......" Wajah Siau Yam jadi dingin: "Kalau begitu, hweesio tua mengira kami berdua ini, datang ada maksud tertentu?" Hweesio tua juga tampak sedikit marah berkata: "Malam-malam masuk kuil tanpa izin, semba-rangan melukai orang, apakah aku salah pada Sicu?" Siau Yam berkata:

"Kelihatannya di dalam kuil Pek-liong ini, benar-benar tersembunyi banyak jagoan, rupanya kami suami istri tidak sia-sia dalam perjalanan ini." Masing-masing pihak mempunyai pendirian, keadaannya sudah tidak bisa didamaikan lagi, di belakang hweesio tua, maju melangkah dua langkah dua orang hweesio setengah baya berkata: "Murid minta izin untuk menghadapi dua orang Sicu ini." Hweesio tua sedikit menganggukan kepala, dua orang hweesio setengah baya ini segera membalikan tubuh berkata pada Pek Soh-jiu suami istri: "Bu Can, Bu Ceng, meminta pelajaran dari dua orang Sicu." Pek Soh-jiu berkata tawar: "Agama Budha mementingkan pengampunan, kalian berdua buat apa harus menyelesaikan dengan senjata!" Bu Can bersuara "Hemm!" sekali berkata: "Jika Sicu mau mematahkan sendiri satu pergelangan, kuil Pek-liong juga tidak ingin melanggar larangan membunuh......" Pek Soh-ciu menggelengkan kepala mengeluh berkata: "Tidak disangka seorang hweesio, juga seorang yang suka berkelahi, tidak aneh kekacauan dunia persilatan, selalu tidak ada habisnya!" Bu Can tidak menjawab lagi, mendadak dia maju ke tengah, sepasang telapak disatukan lalu dibalikan, dengan cepat didorong mendatar ke depan dada.

Pek Soh-jiu melihat tenaga dorongan sepasang telapaknya Bu Can, suara anginnya menggelegar, di dalam hati tahu tenaga dalam telapaknya sangat hebat, cepat-cepat dia menarik nafas, lengan kanannya di putar, dengan santainya menyambut datang sepasang telapak Bu Can. Tenaga kedua belah pihak beradu, terdengar satu suara keras, Bu Can merasakan dadanya seperti dipukul martil besar, "Hek —!" Dia mundur miring beberapa langkah, walau pun dia dapat memaksakan tetap berdiri, tapi wajahnya berubah pucat putih, keadaannya sangat kacau. Dalam satu jurus dia sudah kalah, Bu Can jadi marah karena malu, dia mencabut golok di punggungnya, mulutnya berteriak keras, meloncat menerjang menyabetkan goloknya. Pek Soh-jiu memiringkan tubuhnya, telapak kanannya berturut-turut dipukulkan tiga kali, dalam jarak tiga kaki di depan dia, seperti berdiri satu tembok tembaga, sia-sia saja Bu Can memainkan goloknya, tidak bisa menempel sedikitpun pada sudut baju Pek Soh-jiu. Di tempat lain Bu Ceng juga sedang bertarung sengit melawan Siau Yam, keadaan dia, dibandingkan Bu Can malah lebih mengkhawatirkan, hanya terlihat satu bayangan langsing, bermain-main di dalam bayangan goloknya, bayangan jari tampak malang melintang, memukul melintang menotok lurus, dia kecuali sering menjerit, ingin berhenti pun tidak bisa. Hweesio tua alis putih tidak menduga sepasang suami istri setengah baya ini, berilmu silat sedemikian tingginya, didalam hati sadar walau pun dirinya maju bertarung, tatap sulit bisa bertahan sampai seratus jurus, sesaat, dia jadi tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Mendadak, terdengar dua suara gerungan yang tertahan, sinar golok mendadak berhenti, bayangan orang sudah berpisah, dua orang hweesio pesilat tinggi dari kuil Pekliong„ sama sama terjatuh duduk diatas lapangan rumput, golok mereka telah berada di tangan-nya Pek Soh-jiu suami istri. Wajah hweesio tua jadi merah padam berkata: "Ilmu silat Sicu berdua hebat sekali, aku mengaku kalah, tapi kuil Pek-liong memang tempat berkumpulnya para jago, anda berdua jika tidak cepat cepat meninggalkan tempat ini, mungkin akan sangat menyesal......." Sorot matanya melirik kearah bangunan mewah, dengan mengeluh dalam sekali, lalu membawa Bu Can dan Bu Ceng berjalan masuk ke dalam hutan bambu. Siau Yam membuang golok ditangannya, sambil tertawa berkata: "Toako, di dalam bangunan mewah itu, mung-kin tersembunyi seorang jago hebat dunia persilatan, apakah kita perlu melihatnya?" "Jika sudah masuk ke dalam gunung pusaka, mana mungkin pulang tanpa hasil, jalanlah, kita pergi melihatnya." Dua orang itu sambil bergandengan berjalan menuju ke bangunan mewah itu. Dua daun pintu besar cat hitam tampak tertutup rapat, sebuah papan yang bertuliskan huruf besar Tee-cui-ki, berwarna kuning mas berkilauan disorot sinar bulan, mereka berdua ragu-ragu sebentar, berdiri cukup lama, liil a k berani menyentuh dua daun pintu besar cat hitam itu. Mendadak ngeek....., sepasang daun pintu itu terbuka sendirinya, mereka berdua saling berpandangan seka1i, lalu melangkah masuk ke dalam pintu.

Di dalamnya ada satu koridor yang panjangnya kira-kira enam tombak, kedua sisinya ada beberapa pintu yang tertutup rapat, setelah melewati koridor, ada satu kebun bunga yang indah, bunganya berwarna warni, ln rium harum yang diantar tiupan angin, dalam keheningan, tampak sangat tenang sekali. Melintasi kebun bunga ada sebuah gerbang tanpa pintu berbentuk bulan bulat, dua buah lentera istana berselayar, bergoyang goyang ditiup angin. Di dalam gerbang, berdiri seorang nikoh setengah baya berwajah cantik, tubuhnya langsing, dia melihat sekali pada Pek Soh-jiu dan Siau Yam, dengan kaku berkata: "Aku Ih-hun, mendapat perintah menyambut tamu agung, Sicu silahkan......" habis bicara tubuhnya melangkah kesisi pintu, kebutan di tangan pelan diputar, memperagakan posisi mempersilahkan tamu. Baru saja Pek Soh-jiu dan Siau Yam akan melangkah, mendadak merasakan satu tenaga berputar, seperti gelombang datang menerpa, mereka berdua karena tidak waspada, tubuhnya berhuyung-huyung ditarik oleh tenaga itu, untung saja kepandaian mereka sangat hebat, walau pun di dalam hati tergetar, tapi tetap dengan santainya bisa melangkah masuk ke dalam gerbang itu. Di sudut mulut Ih-hun tampak tersenyum ringan, dia membalikan tubuh mengikuti dari belakang Siau Yam berkata: "Majikan ku tinggal di kuil Pek-liong, dalam sepuluh tahun ini sudah banyak tamu yang ingin bertemu, tapi keadaan seperti kalian berdua, sangat jarang terjadi." "Majikan anda pasti adalah seorang pesilat tinggi yang hebat sekali." Kata Siau Yam dengan tawar.

Ih-hun tertawa: "Sepanjang pengetahuanku, dalam sepuluh tahun terakhir, majikanku belum pernah bertemu orang yang mampu menahan lima jurus serangannya" "Jika ada begitu banyak teman persilatan yang datang berkunjung, majikanmu kecuali ilmu silatnya hebat, mungkin juga adalah seorang wanita yang cantik sekali?" ih-hun dengan wajah serius berkata: "Kata-kata Sicu tidak salah, sayang orang-orang yang berkunjung itu, tidak satu pun bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup hidup......" Siau Yam mendengarnya sampai tertegun, mendadak teringat seorang wanita iblis di dalam dongeng, tidak tahan hatinya tergerak, berkata: "Apakah majikan anda itu adalah Hud-bun-it-mo (iblis dari aliran Budha.) Leng-bin-sin-ni (nikoh bermuka dingin)?" Baru saja Siau Yam berkata habis, disisi telinga-nya tibatiba terdengar "Hemm!" dingin, suaranya walau pun kecil, tapi seperti guntur, sampai telinga pun berdengung. Pek Soh-jiu dan Siau Yam sama-sama merasa hatinya tergetar, mereka berdua tahu iblis wanita yang telah menggemparkan dunia persilatan ini, benar saja bukan orang yang mudah dihadapi. Ih-hun tersenyum pada mereka berdua berkata: "Anda berdua silahkan tunggu disini sebentar, .aku sementara pamit dulu." Tidak menunggu mereka menjawab, tubuhnya berkelebat menghilang di belakang timi penghalang angin.

Siau Yam melirik pada tirai penghalang angin itu, dengan wajah yang sangat serius berbisik: "Hud-bun-it-mo, wajah dan hatinya dingin, selain ilmu silatnya hebat, hatinya juga sangat keji, jika kita terpaksa bertarung, maka harus sekuat tenaga menghadapinya." Dia menghentikan bicaranya sejenak, mengulurkan tangan melepaskan topeng diwajahnya, berkata lagi: "Kudengar dia tidak suka terhadap orang yang menyembunyikan wajah aslinya, dia menganggap sangat tidak menghormati, walau pun kita belum tentu takut pada dia, tapi lebih baik jangan menimbulkan masalah yang tidak perlu oleh karena hal ini." Pek Soh-jiu merasa kata-katanya masuk akal, maka dia juga melepaskan topeng diwajahnya, tapi dengan tertawa lepas berkata: "Seorang nikoh, pasti tidak akan terlalu keji, mungkin kabar itu tidak benar." Mereka berdua melewati sekat penghalang angin, tampak sebuah ruangan yang mewah, di belakang ruangan ditutupi oleh gorden sutra, tercium samar-samar bau harum, menembus keluar dari celah gorden, seperti tiba di kamar wanita, sama sekali tidak terlihat suasana tempat pendeta. Baru saja Pek Soh-jiu tertegun, satu angin lembut dengan pelan menggulung gorden, satu sinar biru yang lembut dan warna yang sejuk di mata, membuat mata mereka jadi terang. Ini adalah satu kamar tidur yang sangat mewah, satu tombak lebih diatas ranjang sutra, duduk seorang nyonya muda yang cantik sekali, wajahnya secantik bunga teratai, tingkahnya sejernih air di musim gugur, dia memakai baju

nikoh berwarna biru langit, rambut panjang yang halus, terurai diatas bahunya seperti awan hitam. Pipinya malah dingin sekali, mengawasi seluruh indranya, juga sulit bisa menemukan sedikit gambaran perasaan, tapi hal ini tidak bisa menutupi kecantikannya, sebaliknya, malah membuat orang merasakan kesuciannya, tinggi tidak terjangkau. Tapi, seorang wanita yang memakai baju nikoh, tapi memelihara rambut panjang yang halus, sepertinya sedikit mencolok mata orang, yang membuat Pek Soh-jiu keheranan adalah, Hud-bun-it-mo yang menggempar-kan dunia persilatan ini, kelihatannya sangat muda sekali, dan wajahnya, hampir persis sama dengan Siau Yam, seperti terbentuk dari cetakan yang sama saja. Ketika dia sedang kebingungan memperhatikan, di atas ranjang itu sudah terdengar satu teriakan dingin: "Apakah Sicu datang berkunjung karena mendengar nama besar?" Pek Soh-jiu bersoja membungkuk: "Aku dengan istriku kebetulan lewat di kuil anda, karena menikmati keindahannya Tee-cui-ki, sehingga mengejutkan Cianpwee, atas kecerobohannya, mohon dimaalkan." "Hemm!" nikoh berwajah dingin itu berkata: "Jika Sicu sudah masuk ke dalam Tee-cui-ki, aku terpaksa menyambut kedatangannya dengan aturan biasanya," Dia pelan-pelan bangkit berdiri, mengangkat kepala berjalan keluar, terhadap Pek Soh-jiu dan istri, seperti memandangrendah.

Pek Soh-jiu dan Siau Yam saling pandang sekali, terpaksa mengikuti dia jalan kepekarangan, dia berhenti dan berkata dingin: "Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari orang muda. kalian berdua majulah bersama-sama." Pek Soh-jiu tertegun: "Aku suami istri tidak pernah bertemu muka dengan Cianpwee, buat apa harus menggunakan senjata?" "Jika sudah masuk ke dalam Tee-cui-ki, maka kau harus mengikuti aturannya." "Kenapa? Cianpwee, walau pun kami telah mengejutkan anda, tapi itu juga tidak begitu serius sampai harus diselesaikan menggunakan senjata!" "Sebelum Sicu masuk ke dalam Tee-cui-ki, apakah tidak pernah menyelidik terlebih dahulu?" "Aku telah katakan, kami suami istri kebetulan lewat kuil anda...." "Baik disengaja atau pun tidak disengaja, larangan sepuluh tahun, tidak bisa dibatalkan oleh kedatangan sehari..." "Apa larangan Cianpwee itu?" "Setiap orang yang masuk ke dalam Tee-cui-ki, jika bisa menahan serangan sepuluh jurusku, boleh bebas meninggalkan tempat ini, jika tidak....." "Bagaimana?" "Potong satu lengan, musnahkan ilmu silatnya!" "Ha...ha...ha....sungguh satu larangan yang kejam, memang tidak salah disebut Hud-bun-it-mo......"

Terhadap nyonya muda berpakaian nikoh ini, Pek Sohciu sudah merasa sangat sebal, sehingga perkataannya juga jadi tidak mengandung hormat lagi. Leng-bin-sin-ni menjadi marah dia membentak: "Bocah yang sombong, aku mau lihat kau berani melanggar masuk ke dalam Tee-cui-ki, sebenarnya punya kemampuan apa." Tangannya mendadak diulur-kan... angin pukulan seperti panah dengan tenaga yang lembut, seperti sebuah jaring langit, menutup ke arah kepala Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu melihat Leng-bin sinni dengan ringan melayangkan tangannya, tapi tenaganya terasa sangat dahsyat, hatinya merasa terkejut, namun dia memiliki ilmu dari tiga aliran, walau pun mendadak bertemu dengan lawan kuat, tetap bisa bersikap tenang, sekali menggerakan lengannya, pedang Im-cu sudah dicabutnya. Boom..... dia terdorong mundur beberapa langkah ke belakang, walau pun pedangnya tidak sampai teriepas dari tangannya, tapi lengan kanannya terasa kesemutan, dia baru menyadari wanita iblis ini, memang benar ilmu silatnya sangat tinggi. Tapi Leng-bin-sin-ni juga tidak mendapat keuntungan besar, tubuhnya juga terhuyung-huyung oleh hawa pedang Pek Soh-jiu, setelah lengan bajunya di kibaskan berturutturut dua kali, baru dia bisa menstabilkan dirinya. Sepasang matanya menatap dengan seram, hemm... berkata lagi: "Ternyata Sicu adalah muridnya Sin-ciu-sam-coat, tidak aneh berani kurang ajar padaku, masih ada sembilan jurus, mari kita coba lagi." Bahunya tidak bergoyang, kaki tidak melangkah, begitu tubuhnya bergoyang, dia sudah maju tiga kaki, tangannya

memukul, segulung tenaga dalam yang hangat perlahan menekan ke dada Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu yang melihat gerakan telapak dia walau pun pelan, tapi diam-diam mengandung jurus mematikan yang tiada taranya, membuat orang seperti minum arak keras, seluruh tubuh merasa tidak bertenaga, tidak tahan hatinya menjadi dingin. Tapi dia tahu jika sampai telapak dia mengenai tubuhnya, dia pasti tidak akan selamat, maka dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, pedang ditangan kanan digerakan seperti kilat, telapak kiri digerakan seperti guntur, dalam satu jurus dia sudah menggunakan jurus pedang Im-cu, dan juga jurus Kong-hong-sam-si, memaksa Leng-bin-sin-ni mundur. Wajah Leng-bin-sin-ni berubah, lalu mendengus sekali, berkata lagi: "Sicu sungguh hebat, bersiaplah kembali." Dua jurus menyerang tanpa hasil, membuat Leng-binsin-ni timbul nafsu membunuhnya, sepasang telapak tangan segera bergerak bergantian menyerang, pukulannya mengeluarkan angin keras dan mengeluarkan hawa panas, membuat bajunya Siau Yam yang berdiri satu tombak lebih ikut berkibar-kibar, wajahnya tampak terkejut. Ini adalah pertarungan sengit yang belum pernah dialami oleh Pek Soh-jiu, dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya, sekuat tenaga bertahan sampai sembilan jurus, baju sastrawan yang dipakainya, hampir seluruhnya sudah basah oleh keringat. Leng-bin-sin-ni sudah mengalami ratusan kali pertarungan, di bawah tangannya yang mulus itu, entah sudah berapa banyak pesilat tinggi ternama yang telah dia kalahkan, tidak di sangka Pek Soh-jiu yang begitu muda

malah mampu bertahan sampai sembilan jurus, kejadian ini sungguh membuat dia sangat terkejut. Pada jurus yang paling terakhir, dia telah mengerahkan seluruh kemampuannya, puluhan tahun berlatih silat dengan keras, begitu tenaga telapaknya baru saja keluar, dunia seperti akan kiamat, seluruh mahluk di bumi, dalam sekejap seluruhnya seperti mati. Serangan telapak tangan kali ini, sungguh terlalu hebat, Siau Yam yang menonton di pinggir hatinya pun jadi berdebar keras, dia takut Pek Soh-jiu terluka oleh Leng-binsin-ni, lengan mulusnya diayunkan, tiga titik bintang dingin melepas kearah dadanya Leng-bin-sin-ni. Pek-lek-bie-sin-ciam adalah senjata rahasia perguruan Thian-ho yang paling hebat, walau seorang ahli silat yang manapun begitu mendengar nama jarum lembut ini wajahnya akan menjadi pucat, kepandaian Leng-bin-sin-ni yang sangat tinggi pun, tetap harus berhati-hati menghadapinya, jurus yang baru dilakukan setengah jalan, terpaksa di rubah, dia menurunkan pergrlangan tangannya, memutar tubuh, lengan bajunya digetarkan, tiga buah Peklek-bie-sin-ciam Siau Yam yang sangat dahsyat itu, semua berhasil digulung ke dalam lengan bajunya, namun karena gerakannya tertahan, Pek Soh jiu jadi bisa menarik nafas, dia melayang mundur lima langkah, jari tengahnya dijentikan, tak... terdengar suara ringan, wajah cantik Lengbin-sin-ni yang dingin itu, tampak berubah menjadi merah. Ternyata karena Pek Soh-jiu terdesak mengerahkan tenaga dalam, Pouw-ci-sin-kangnya tidak bisa digerakan dengan sepenuh tenaga, walau pun bisa memecahkan tenaga dalam pelindung tubuh Leng-bin-sin ni, tapi tenaga luncurnya sudah habis begitu menyentuh sasarannya, titik sinar itu dengan tepatnya mengenai tempat yang sangat empuk dan sensitif di bagian dada, hal ini telah membuat

Leng-bin-sin-ni yang menjaga tubuhnya sangat suci itu, tenggelam kedalam perasaan yang belum pernah dirasakan. Siau Yam yang melihat jadi gembira, cepat-cepat mengulurkan tangan menarik Pek Soh-jiu, mereka berdua meloncat kebelakang, dengan beberapa loncatan, mereka melarikan diri menuju kegelapan malam. Setelah Mereka berdua mendapatkan kudanya, langsung lari keluar puluhan lie, sampai terlihat terang diufuk timur, mereka baru bisa merasakan lega, Siau Yam duduk disisi sebuah pohon, dengan memelas sekali berkata: "Kau, kau sungguh jahat." Pek Soh-jiu tertegun berkata: "Aku jahat? Aneh, aku kapan jahat?" Siau Yam melirik dia dengan mata putih, katanya: "Masih berani berkata tidak jahat, kau membawa orang semalaman berlari kesana-kemari, sampai kulit mata pun menjadi berat tidak bisa dibuka......" Pek Soh-ciu duduk disebelahnya, memeluk tubuh Siau Yam, berkata: dengan lembut

"Oh gitu, aku punya satu obat mujarab yang bisa memulihkan rasa lelah, sini, aku berikan padamu!" Siau Yam mengangkat alis, baru saja mau mengatakan tidak percaya, dua bibir munggil semerah delima itu sudah disumbat olehnya, benar saja ini resep obat yang mujarab, semalaman kelelahan, setelah dicium lama, rasa lelahnya jadi tersapu bersih sedikit pun tidak tersisa, lama... dia baru mendorong Pek Soh-jiu, tubuh menggeliat, rebah dalam pelukannya berkata:

"Hemm, masih berkata tidak jahat, sedikit lagi jahatnya akan keluar minyak." berhenti sejenak, berkata lagi, "Hai, Toako, kau tahu Leng-bin-sin-ni, sebenarnya siapa?" "Tentu saja tahu, jika tidak bagaimana masih bisa disebut seorang Bulim kelas satu?" "Kalau begitu siapa dia?" "Hud-bun-it-mo' "Dan?" "Leng-bin-sin-ni." "Omong kosong." "Kau tahu?" "Tentu." "Coba katakan." "Sepuluh tahun lalu, di dunia persilatan muncul m-orang remaja putri berbaju biru langit, dia cantik tiada duanya, sehingga tidak tahu sudah memikat berapa banyak laki-laki, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, hatinya malahan dingin sekali juga sangat kejam, di dalam waktu tidak sampai tiga tahun, para pesilat tinggi dari berbagai aIiran, entah sudah berapa yang mati atau terluka dibawah sepasang tangannya, kemudian tidak tahu apa sebabnya, mawar berduri ini malah menghilang. Menjadi murid Budha, tapi rambut dia dan warna biru langit kesukaannya, tetap menjadi lambang khususnya, dan wajah dingin hati kejam, kecantikannya, tetap tidak memudar, makanya mendapatkan julukan Hudbun-it-mo, Leng-bin-sin-ni, mengenai bagaimana dia menetap di Pek-Iiong, itu jadi misteri." Pek Soh-ciu mengeluh:

"Kepandaianku berasal dari tiga keluarga, malah tidak bisa menahan sepuluh jurus serangannya, tampak ilmu silatnya sungguh susah di ukur, dalam seperti lautan....." Siau Yam berkata: "Semenjak leng bin sin ni masuk kedalam dunia persilatan, hampir belum pernah bertemu dengan lawan seimbang, guruku yang ilmu silatnya sulit diperkirakan, dalam pembicaraan sehari-harinya, juga sangat memuji dia, Toako bisa menahan sepuluh jurus serangannya, sudah cukup menggemparkan dunia." Pek Soh-jiu membalikan tubuh dia berkata: "Nama Thian-hoTeng dan gurumu juga telah menggemparkan dunia persilatan, dan di dalam hati semua orang ada rasa ketakutan, ini menjadi teka tekiku, apa sebabnya?" Siau Yam tertegun: "hal ini aku sendiri juga tidak jelas......, kita jangan hanya berbincang saja, carilah makanan untuk mengisi perut." Pek Soh-jiu melihat Siau Yam tidak mau membicarakan perguruannya, dia tahu pasti ada hal yang sulit dibicarakan, maka dia tidak banyak tanya lagi, pelan-pelan memapah dia, baru saja mau naik keatas kuda, mendadak sebuah garis bayangan merah dengan mengeluarkan suara yang tajam, melesat ke arahnya, bayangan itu berasal dari dalam sebuah hutan lebat disisi jalan, dengan ringan dia mengangkat lengannya, menangkap kearah bayangan merah itu, telapak tangannya merasa panas, hampir saja bayangan merah itu terlepas dari tangannya, cepat-cepat dia melihat kearah telapaknya, telihat sebuah bendera merah berbentuk segi tiga kecil berwarna merah api.

Ketika dia bengong tidak mengerti, Siau Yam tiba-tiba berteriak terkejut, seperti melihat ada ular berbisa, wajah cantik yang tadinya kemerah-merahan sekarang malah menjadi pucat. Pek Soh-jiu terkejut berkata: "Kenapa? Adik Yam." Siau Yam tidak menjawab, sepasang matanya, menatap ketakutan ke arah sisi hutan, Pek Soh-jiu melihat mengikuti arah pandangannya, barulah dia melihat di bawah bayangan pohon, berdiri tiga orang nona berbaju yang satu ungu yang dua hijau, dan dua nona berbaju hijau itu, adalah Hu-in dan Cu-soat yang pernah bertemu di Hun-sie, dia sekarang mengerti, ternyata nona berbaju ungu itu, adalah saudara seperguruannya dari Thian-ho-leng, dia akan maju ke depan, tapi Siau Yam mencegahnya berkata: "Toako, kau tunggu disini, biar aku yang bicara dengan dia." Urusan perguruan orang lain, Pek Soh-jiu tentu saja tidak bisa ikut campur, dia memberikan bendera segi liga merah pada Siau Yam, lalu berdiri dibawah pohon, menunggu perkembangannya. Siau Yam mendatangi nona berbaju ungu, membungkuk menghormat berkata: "Apa kabar Ji-suci." Nona berbaju ungu mendengus dingin: "Sam-sumoi kapan sudah bersuami? Bisa berkelana di dunia persilatan, begitu mesra, sungguh membuat orang ngiler, tapi segelas arak bahagia pun tidak mengundang Suci meminumnya?" Siau Yam berkata tawar:

"Asalkan Ji-suci mau memberi muka, aku pasti mempersembahkannya." Wajah nona berbaju ungu tiba-tiba menjadi dingin, katanya: "Aku tidak seberuntung itu, tapi tiga hal yang guru perintahkan padamu, kau pasti sudah menyelesaikannya, betul?" Siau Yam dengan gagap berkata: "Ini......" "Kenapa, apakah kau sudah melupakan perintah guru?" "Aku tidak berani." "Lalu sudah menyelesaikan berapa?" "Harap Ji-suci bisa memaafkan ketidak mampuanku." "Kau berani membangkang perintah guru?" "Aku tidak ada maksud sedikitpun, tapi......" "Baik, kau ikut aku pergi menghadap guru." "Dimana guru sekarang?" "Thian-ciat-leng." Siau Yam begitu guru tidak keluar gunung, semangatnya naik lagi berkata: "Aku masih ada urusan yang belum selesai, harap Ji-suci memberi aku waktu beberapa hari." Nona berbaju ungu berteriak marah: "Kau berani menghianati perguruan?"

"Keberanian setinggi langit pun, aku tidak berani melakukan penghianatan pada perguruan, ucapan Ji-suci terlalu serius." "Kalau begitu, kau ini bertekad tidak mau ikut bersamasama aku?" "Harap Ji-suci memaklumi." "Baiklah, mengingat sama-sama seperguruan, aku tidak memaksa, tapi kekasihmu ini, bagaimana pun aku harus membawanya pergi!" Wajah Siau Yam berubah: "Harap Ji-suci jangan terlalu memaksa, perbuatanku, nanti pasti akan kutanggung pada guru untuk menerima hukumannya, tapi masalah hari ini, aku tetap berharap Jisuci bisa mengabulkannya." Nona berbaju ungu tertawa dingin: "Baik, baik, karena Sam-sumoi sudah berhasil mempelajari seluruh kepandaian guru, kita kakak beradik bisa saling mengujinya." Tangan mulusnya langsung diayunkan, segera timbul angin kencang, Pek Soh-jiu yang berdiri sejauh satu tombak lebih, juga merasakan seperti dilanda oleh tenaga yang berhawa dingin, tapi Siau Yam sepertinya tidak begitu peduli pada jurus telapak yang hebat ini, hanya setengah memutar tubuhnya, dia sudah menghindar serangan ini, lengan kirinya diputar, telapaknya membalas menyerang ke arah tulang iga kiri nona berbaju ungu. Nona berbaju ungu mendengus, dia menarik tangannya lalu memotong dengan kuat kearah perge-langan tangan Siau Yam, kaki kanannya menendang ke alas, diujung

kakinya yang mulus ternyata dipasang menendang kearah dada Siau Yam.

besi

tajam,

Begitu mereka bertarung dalam sekejap lima puluh jurus lebih sudah lewat, kedua belah pihak walau pun saling mengerahkan jurus jurus hebat, tapi karena masing-masing pihak hafal akan ilmu silat lawannya, selalu hanya sekali menyentuh langsung menghindar, sekali menyerang langsung ditarik kembali, keadaannya sulit bisa menentukan siapa menang siapa kalah. Setelah bertarung lama tidak ada hasilnya, nona berbaju ungu seperti sudah tidak sabaran lagi, mendadak dia merubah jurusnya, setiap jurusnya mengeluar kan gemuruh angin dan kilat, serangannya sangat dahsyat sekali. Siau Yam juga mengerahkan seluruh kemampuannya, setiap gerakan sepasang telapak tangannya, mengeluarkan suara siulan yang memekakan telinga, dua orang kakak beradik seperguruan ini, ilmu silatnya seimbang, bertarung tidak ada keputusannya. Dengan satu teriakan keras, pertarungan di lapangan akhirnya berhenti, Pek Soh-jiu melihat Siau Yam diam berdiri di sisi kiri jalan, baju dibahu kanannya robek, diatas dadanya yang padat itu, ada titik-titik merah bekas darah, tidak tahan dia jadi berteriak terkejut, dia meloncat maju, mengangkat lengannya Siau Yam berkata: "Adik Yam, bagaimana lukamu? Cepat......biar aku lihat." Wajah Siau Yam, terkilas senyum kebahagiaan, sepasang mata cantiknya sedikit memejam, dengan lembut menyandar keatas dadanya Pek Soh-jiu berkata: "Tidak apa-apa, aku hanya terluka ringan, Toako, kita pergi saja."

Pek Soh-jiu berkata baik, sambil memeluk Siau Yam mereka berjalan menuju ke tempat berhentinya kuda, dia melihat kebelakang pada nona berbaju ungu, terlihat wajah dia putih pucat, dadanya kembang kempis dengan cepat, luka yang diderita, sepertinya lebih parah dari pada Siau Yam, mendadak hatinya bergerak, dia melepaskan Siau Yam, sekali meloncat satu tombak lebih, pada nona baju ungu bersoja: "Nona......." Nona berbaju ungu mendadak mengangkat kepala, berkata dingin: "Apakah kau ingin menghabisi aku? Hemm, walau Giok Ie-ko terluka parah, tapi kau belum tentu bisa mengambil keuntungan." Pek Soh-jiu tertawa: "Aku tidak biasa memukul anjing yang jatuh ke air, nona Giok tidak perlu cemas." "Hemm, lalu kenapa menghadang jalanku?" "Aku punya beberapa hal yang tidak mengerti, ingin meminta jawaban dari nona Giok." "Giok Ie-ko selamanya tidak pernah terima ancaman, anda lebih baik tutup mulut saja." "Aku memohon dengan hormat, kenapa nona Giok terus menolaknya!" "Hemm......" "Guru anda menugaskan istriku tiga hal penting, . apakah nona Giok bisa beri tahukan apa isinya?" "Anda bisa tanyakan saja pada istri anda, Giok Ie-ko tidak bisa menjawabnya."

"Istriku tidak berniat mengkhianati perguruannya, nona tanpa penyelidikan terlebih dulu, malah bertarung dengan sesama perguruan, aku sungguh sangat tidak setuju dengan nona." "Masalah perguruanku, orang luar tidak perlu ikut campur, harap anda tahu diri." "Jika nona Giok bersikeras tidak mau memberi tahukan, aku juga tidak akan bertanya, tapi, tidak peduli siapa pun, jika berani melukai sehelai rambut istriku, aku pasti membalasnya sepuluh kali lipat." "Sungguh bermulut besar, sayang perguruan Thian-ho bukan lawan yang bisa anda takut takuti!" Saat ini Siau Yam sudah datang kesamping Pek Soh-jiu, dengan lembut menarik lengan Pek Soh-jiu berkata: "Toako! Urusan kita masih banyak, buat apa berkata siasia, mari jalan." Pek Soh-jiu merasakan tangannya Siau Yam, sedikit gemetaran, lalu melihat wajahnya, tampak sangat gelisah, tidak tahan dia jadi terkejut, katanya: "Ada apa? Adik Yam! Apakah merasa sakit lukanya?" "Aku baik-baik saja! Tempat ini tidak baik untuk tinggal lama-lama, lebih baik kita pergi saja." "Kenapa? Sam -sumoi tidak mau bertemu dengan Toasuci, betul tidak?" Tiba-tiba seorang wanita baju merah, memimpin dua belas laki-laki besar berbaju ketat melangkah keluar dari dalam hutan, dia menyebut dirinya Toa-suci, pasti adalah Toa-sucinya Siau Yam. Ditangannya membawa sebuah bendera merah bertiang besi yang panjangnya sekitar tiga kaki, matanya menyorot sekali pada Pek Soh-jiu, di sudut

mulutnya tampak sebuah senyum dingin mengerikan, kemudian bendera merahnya dikibaskan, dua belas laki-laki besar yang tangan kiri memegang tameng, tangan kanan memegang golok, segera mengurung Pek Soh-jiu dan Siau Yam. Siau Yam menegakan tubuhnya, menghormat sekali pada wanita baju merah berkata: "Siau Yam menghadap Toa-suci." Wanita baju merah menjawab yaa sekali berkata: "Tidak berani, sampai guru pun kau pandang sebelah mata, bagaimana bisa memandang aku." Siau Yam batuk perlahan, berkata: "Aku tidak menghianati perguruan, Toa-suci......" Wanita baju merah mencibirkan bibirnya: "Kalau begitu tiga hal penting yang diperintah guru padamu, pasti telah berhasil kau laksanakan!" "Toaci, kalian berdua terus menerus menekan aku dengan tiga hal penting yang guru perintahkan padaku, aku tanya pada Toa-suci apakah tahu batas waktu yang di tentukan guru padaku untuk menyelesai-kan tiga hal penting itu?" "Aku memang mengatakannya." belum pernah mendengar beliau

"Kalau begitu Toa-suci tidak perlu karena ingin bersenang-senang sesaat, jadi memperbesar masalahnya." "Sungguh mulut yang tajam sekali, walau lidahmu bisa berkembang bunga teratai, tetap saja tidak bisa menghindar dari hukuman menipu guru, dimulut berkata iya tapi kelakuannya bertentangan!"

"Aku tidak berniat mengambil keuntungan sedikit pun dari bersilat lidah, tapi jika Toa-suci bersikukuh mengatakannya, terpaksa persilahkan Ji-suci untuk bertanggung jawab atas memperlambatnya penyelidikan." Walau wanita baju merah diperintahkan untuk menyelidiki tingkahnya Siau Yam, tapi tidak berani menanggung tanggung jawab terlambatnya penyelidikan, maka begitu mendengar ini dia jadi tertegun, lalu dengan wajah tersenyum berkata: "Kalau demikian, jadi ini semua salahku, tapi jika tidak perhatikan masalah tidak apa-apa, begitu memperhatikan masalah maka akan jadi kacau, kata-kataku tadi, semuanya berniat baik......" Wanita baju merah mengibaskan lengan mulusnya, dua belas laki-laki besar baju silat, segera mundur kebelakang dirinya, dia melirik pada Pek Soh-jiu berkata: "Siauhiap ini......kenapa tidak Sam-sumoi perkenalkan padaku?" Siau Yam sudah menduga Toa-sucinya pasti akan menanyakan hal ini, dengan tersenyum tenang berkata: "Siauhiap ini adalah Ciu-bu muridnya Leng-bin-sin-ni, aku juga baru berkenalan." Wanita baju merah berkata yaa sekali, sepasang matanya yang besar dan dalam itu, menatap pada Pek Soh-jiu berkata: "Ciu Siauhiap ternyata adalah muridnya Leng-bin-sin-ni .... Wie Pui-hoa sungguh tidak sopan." Pek Soh-jiu bersifat sombong dan kaku, juga tidak biasa berbohong, apa lagi terhadap wanita cantik yang tidak dikenal, lebih-lebih merasa canggung.

Siau Yam melihat Pek Soh-jiu terdesak malu, cepat-cepat mewakili menjawab: "Ciu Siauhiap baru berkelana ke dunia persilatan, tidak pandai bicara, harap Toa-suci memakluminya." Saat ini Giok Ie-ko sudah selesai mengobati lukanya dia mendengus padd,Wie Pui-hoa berkata: "Aku tadi pernah melihat bocah Yam dengan bocah itu......hemm, sangat menggelikan membuat orang ingin muntah......." Wie Pui-hoa mendadak membelalakan matanya, di sudut mulutnya tampak senyum dingin penuh siasat berkata: "Apa jawaban Sam-sumoi terhadap ini?" Wajah Siau Yam berubah berkata: "Guru mengutus aku berkelana ke dunia persilatan, tidak membatasi tingkah laku pribadiku, terhadap masalah ini aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut." Wie Pui-hoa berkata dingin: "Guru perintahkan aku menyelidiki para murid perguruan kita, boleh melakukan tindakan apapun, jika Sam-sumoi tidak mau menjelaskannya, aku terpaksa persilahkan Ciu Siauhiap datang ke Thian-ciat-leng." "Toa-suci mempersulit orang saja, maaf aku tidak bisa menerimanya." Wie Pui-hoa berteriak lalu berkata: "Perintah Thian-ho sekali keluar, seperti guru sendiri yang datang, jika Sam-sumoi berani tidak memandang perintah bendera dari perguruan, maka maafkan aku jika tidak pedulikan hubungan kita sebagai saudara

seperguruan." Perkataannya belum habis, mendadak dia maju dua langkah, lengan kanannya diayunkan, sebuah sinar merah yang menyilaukan mata, secepat kilat menggulung kearah dada Siau Yam. Dalam hati Siau Yam tahu masalah hari ini, pasti tidak akan bisa diselesaikan baik-baik, untungnya bukan gurunya sendiri yang datang, jika dia dengan suaminya bersamasama menghadapi, mungkin bisa lolos dari maut, saat melihat Wie Pui-hoa menyerang dengan gulungan bendera, segera dia menyabetkan pedang panjangnya, dengan cepat menyerang kearah jalan darah Kut-cie, Kiam-keng, Hian-ki, Hu-tiong. Tapi Wie Pui-hoa adalah murid pertama dari Thian-holeng, murid kesayangannya Ang-kun-giok-hui, di dunia persilatan orang yang dapat menandinginya hanya bisa di hitung jari, walau Siau Yam satu perguruan dengan dia, tetap saja merasa kewalahan menghadapinya, tapi dia sudah tidak pedulikan lagi hidup atau mati, demi cintanya yang abadi, akibat apa pun yang terjadi, dia tidak akan ragu ragu lagi, dia sudah jelas tahu ilmu silat Wie Pui-hoa lebih tinggi darinya, makanya begitu menyerang, dia langsung menggunakan jurus nekad biar sama-sama terluka. "He...he...he!" Wie Pui-hoa tertawa dingin berkata, "Kenapa Sam-sumoi! Suci hanya mewakili guru memberi pelajaran padamu, kau malah bertarung mati matian! Kita kakak beradik, tidak perlu bertarung mengadu nyawa." Dimulutnya bicara enteng, tapi jurusnya sangat keji sekali, benderanya menyerang malang melintang, setiap jurusnya adalah jurus mematikan, hanya terlihat beribu-ribu bayangan bendera, angin pukulannya bergerak ke segala penjuru, dengan tekanan sebesar gunung dari empat penjuru menyerang kearah Siau Yam.

Dalam hati Siau Yam tahu bendera Thian-ho di tangan Wie Pui-hoa, adalah senjata terhebat perguruan yang dikagumi di dunia persilatan, bukan hanya jurusnya saja yang banyak tipuan, tiang benderanya juga terbuat dari baja murni berumur ribuan tahun, walau pun ditangannya ada golok pusaka, jangan harap bisa merusakannya, selain itu benderanya telah diolesi racun. asalkan terkena sedikit saja, meski tenaga dalamnya lebih tinggi pun akan sia-sia, tapi saat ini dia seperti anak panah sudah ditarik diatas busur, mau tidak mau harus dilepaskan, terpaksa dia mengerahkan seluruh kemampuannya, mencari celah menghindar serangan utama, sebisanya bertahan, Pek Sohjiu melihat keadaannya menjadi gelisah, dia berteriak keras, menerjang maju ke arah Wie Pui-hoa, tapi Giok Ie-ko hanya tertawa dingin, dia menghadang Pek Soh-jiu dan berkata: "Ji-ie-sin-kang (tenaga sakti dua penampilan) nya Lengbin-sin-ni, adalah salah satu ilmu silat misterius dunia persilatan, Giok Ie-ko ingin mencoba beberapa jurus dari Ciu Siauhiap, supaya aku bisa menambah pengalaman." Pek Soh-jiu tidak mau bicara banyak lagi, dia mengangkat alisnya, telapak kanan melancarkan jurus Hong-kan-wie-lauw (Angin menggetarkan loteng), sebuah jurus mematikan yang dahasyat dari tiga jurus Kong-hongsam-si, telah menerjang ke arah dadanya Giok le-ko, hati Giok Ie-ko tergetar, kakinya cepat-cepat menjejak, tubuh direbahkan, akhirnya dia dapat menghindar dari serangan yang dahsyat ini, tapi wajahnya, tampak berubah jadi ketakutan. Mendadak, terdengar suara ssst.....ssst.... berkali kali dari empat penjuru arah, di lapangan pertarungan lelah muncul banyak sekali pesilat tinggi yang bertopeng hitam, membuat

lapangan pertarungan yang penuh hawa kematian ini, bertambah selapis hawa setan yang dingin mengerikan. Pohon dan rumput bergoyang tanpa ada angin, sepuluh lebih orang yang bertopeng dengan membawa kotak besi hitam, pelan-pelan mendesak ke medan pertarungan. Pek Soh-jiu dan istri serta dua murid dari perguruan Thian-ho, semuanya terkejut oleh perubahan yang terjadi ini, beberapa saat kemudian Wie Pui-hoa berteriak dan berkata dingin: "Apa maksud kedatangan kalian?" Disaat ini dari belakang pohon keluar seorang bertopeng yang bertubuh tinggi besar, sepasang matanya yang seperti bintang dingin, menyapu ke seluruh lapangan, lalu berkata: "Maaf, nona! Jika kau berkenan, boleh tidak usah melibatkan diri." Wie Pui-hoa mencibirkan bibirnya: "Begitu muncul Thian-ho, dunia persilatan menyembahnya, anda berani sekali menyuruh aku jangan melibatkan diri, keberaniannya sungguh besar sekali." Orang bertopeng itu berkata lagi pada Wie Pui-hoa dengan menggunakan ilmu penghantar suara, lalu tertawa berkata: "Pergilah nona! Di dalam radius seratus li ini, sudah tidak ada satu tempat pun yang aman, sekali kami melakukan serangan, maka tidak terhindar akan mengejutkan anda!" Wie Pui-hoa memutar matanya, lalu berkata: "Baik!", dan pada Siau Yam sambil menekan wajahnya berkata, "Sejarah akan kembali terulang, bocah Yam! Ikutlah

dengan Suci baru kau dapat menyelamat-kan nyawa kecilmu, dengarlah kata-kataku, kemarilah." Siau Yam tertawa keras sambil mengangkat kepalanya berkata: "Sejarah akan terulang kembali sungguh bagus... terima kasih Toa-suci, aku berniat menghadapi para pesilat tinggi ini." Wie Pui-hoa sedikit tertegun berkata: "Jika Sam-sumoi berkepala batu seperti ini, kek, Suci jadi sulit membantu." Dia melihat pada Siau Yam dengan perasaan sayang, lalu membalikan tubuh pergi, membawa para anak buahnya. Setelah orang-orang Thian-ho-leng meninggalkan tempat, Siau Yam tahu orang-orang bertopeng ini segera akan melakukan serangan, pada Pek Soh-jiu yang sedang mengerutkan alisnya dia berbisik: "Toako! Para bangsat ini mengerahkan banyak orang, bertekat menangkap kita, kekuatan kita terbatas, sepertinya tidak baik bertarung dengan mereka......" Kejadian berdarah perumahan Leng-in dulu, sudah membuat Pek Soh-jiu marah sekali, pada saat ini, sekarang, bagaimana dia mau mendengar analisanya Siau Yam, diiringi sebuah teriakan marah yang seperti guntur di musim semi, sinar pedang seperti bintang dingin yang melayang di langit, dengan gerakan tubuh yang cepatnya sulit dibayangkan, dia menerjang ke arah orang bertopeng yang tubuhnya tinggi besar itu. Siau Yam terkejut sekali, dia cepat-cepat mengejarnya, sepasang telapaknya diayun-ayunkan, sinar perak berkelebat, Pek-lek-bie-sin-ciam yang halus yang jumlahnya tidak terhitung, di bawah serangan seluruh tenaganya,

menyerang ke arah menusia bertopeng yang di tangannya memegang Ngo-tok-tui-hun-cian. Orang-orang bertopeng yang ada dilapangan, semua perhatiannya sedang tertuju pada Pek Soh-jiu, tidak menduga Siau Yam bisa menyerang lebih dulu, dua genggam senjata rahasia dari Thian-ho-leng, seperti hujan angin tiba-tiba datang menyerang, sepuluh lebih orang bertopeng yang memegang kotak besi, dalam sekejap sudah jatuh setengahnya, beberapa yang tersisa juga ketakutan sampai bengong, wajahnya menjadi pucat tidak berdarah. Beberapa kejadian ini waktunya sangat singkat, saat mereka sadar kembali, Pek Soh-jiu sudah menerjang sampai di depan orang bertopeng yang rubuhnya tinggi besar, dendam kematian ayah terus terbayang, api amarah di dalam dada, membuat dia lupa akan kesela-matan dirinya. Hawa pedangnya sedang membelah angin, tenaga yang seperti golok menerjang kearah dada orang bertopeng itu, terjangan pedang yang amat dahsyat ini, sepertinya membuat angin dan awan berubah drastis, langit dan bumi seperti kehilangan warna. Tapi ilmu silatnya salah seorang bertopeng itu, tidak kalah dengan seorang ahli silat biasa, meski terkejut sampai hati berdebar oleh kedahsyatannya serangan Pek Soh-jiu. Tapi bagaimana pun juga dia adalah seorang penjahat besar, akhirnya dia bisa juga menggerakan senjatanya, sebuah Kui-jiu (Tangan setan) berhasil menahan tekanan dahsyat hawa pedangnya Pek Soh-jiu, setelah mementahkan hawa pedang yang seperti dahsayat seperti gunung runtuh itu, lalu dia mencoba menotok kearah jalan darah Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu bersiul rendah, mendadak dia melangkah miring dua langkah, pedangnya dipindah-kan ketangan kiri,

pergelangan tangan kanannya digetarkan, sebuah Hong-ie (Bulu burung hong) yang panjangnya tiga kaki, dengan gerakan Loan-tian-huanyang (burung sembarang menghitung) menerjang keluar, bersamaan itu tangan kirinya diayunkan, sinar perak berkelebat miring, dengan tangan kiri memegang pedang, tangan kanan memegang bulu, dia mengerah-kan dua macam ilmu silat yang menggemparkan dunia persilatan, segera menekan orang bertopeng, hingga masuk ke dalam keadaan bahaya. Mendadak, ssst...ssst...ssst, di dalam teriakan, berturutturut meloncat keluar lima orang bertopeng, sinar golok berkilat-kilat, bersamaan menyerang dengan dahsyat pada Pek Soh-ciu. Siau Yam yang melihat jadi gelisah, dia tidak bisa lagi mengawasi orang-orang bertopeng yang memegang Ngo-tok-tui-hun-cian, mulutnya berteriak keras: "Bangsat, beraninya hanya main keroyokan, kalian tahu malu tidak!" pedang digetarkan, masing masing menyerang titik kematiannya tiga orang bertopeng. Orang bertopeng yang bertarung dengan Pek Soh-jiu, mendadak mengeluarkan siulan aneh, jurus Kui-jiu nya berubah, menyesuaikan dengan serangan dua orang lainnya, kembali mengambil alih posisi diatas angin. Siau Yam jadi bertarung dengan tiga orang bertopeng, dia bergerak santai mengayunkan pedang-nya, tapi ketika dia melirik kearah Pek Soh-jiu, tidak tahan hatinya jadi tergetar. Saat ini yang mengeroyok Pek Soh-jiu adalah tiga orang bertopeng, jurus-jurus mereka tampak sangat hebat, sepertinya ilmu silat mereka diatas latihan puluhan tahun. Setelah melihat lagi bayangan orang disekeliling, mereka ini sungguh-sungguh adalah para pesilat tinggi yang banyaknya sulit dihitung, menebar di dalam radius puluhan

lie, ada yang terang-terangan ada yang menggelap, kelihatannya peristiwa perumahan Leng-in akan terulang kembali, keadaannya malah lebih berbahaya melebihi waktu itu. Satu aliran hawa dingin, masuk kearah hatinya, dia sadar, ini bukanlah permusuhan dunia persilatan yang biasa, tapi sebuah siasat busuk menakutkan yang bisa berhenti jika ada satu pihak yang mati. Maka, dia tidak berharap lagi bisa beruntung lolos, mendadak dia menghimpun hawa murninya, pedang panjangnya tambah bersinar menyilaukan mata, dengan sebelah tangan dia membuat lubang di dada dua orang bertopeng sampai tergeletak mati diatas tanah, lalu dia mengayunkan telapak kirinya, seorang bertopeng lagi mati terkena serangan Pek-lek-bie-sin-ciam. Begitu dia bergerak, berturut-turut telah membunuh tiga orang pesilat tinggi lawan, tapi dia bukan saja tidak bisa berkumpul dengan Pek Soh-jiu, malah telah dikepung oleh lautan manusia. Keadaannya Pek Soh-jiu lebih bahaya dari pada Siau Yam, tiga orang bertopeng yang mengeroyok dia, semuanya berilmu sangat tinggi, apalagi orang bertopeng yang tubuhnya tinggi besar, ilmu silatnya sangat hebat, tiga orang itu berkerja sama dengan baik sekali, sedikit celah pun tidak ada. Matahari sudah merah miring ke barat, waktu-nya telah lewat tengah hari, di lapangan gunung liar ini, tetap tertutup oleh bau amis darah yang kejam. Siau Yam sedang bertahan sekuat tenaga, walau setiap gerakan pedangnya, tentu membuat darah dan daging berterbangan, tapi para orang bertopeng makin bertambah terus, membuat tetap bertahan dengan lautan menusia yang menakutkan.

Mendadak, sebuah teriakan yang menakutkan terdengar, hati Siau Yam tergetar, dia tahu Pek Soh-jiu sudah terluka, maka dia berteriak keras, segenggam Pek-lek-bie-sin-ciam segera dilepaskan, sepasang kakinya menjejak, pinggang langsingnya diputar, tubuhnya meloncat ke atas, menerjang kearah para orang ber topeng yang mengeroyok Pek Sohjiu. Ternyata tiga orang pesilat bertopeng yang mengeroyok Pek Soh-jiu, dengan posisi tiga lawan satu, masih tetap tidak bisa mengambil keuntungan. Mereka lalu memberi isyarat gelap, mendadak menyerang satu jurus, kemudian tubuhnya dengan cepat mundur kebelakang satu tombak lebih, bersamaan itu terdengar suara ringan, pang.....panah beracun secepat kilat menyerang ke arah punggung belakangnya Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu terkejut, lengan kirinya bergerak, pedang panjangnya mengeluarkan hawa pedang yang amat kuat, menyapu kearah panah beracun itu, bersamaan kaki menghentak, cepat laksana kilat Hong-ie nya digetarkan, menotok kearah dada orang ber-topeng yang menggunakan golok yang berada di sebelah kiri. Gerakan dia sangat cepat sekali, orang bertopeng itu sama sekali tidak menduga dalam ancaman serangan panah beracun, dia masih mampu membalas serangan, maka segera terdengar satu jeritan mengerikan, Hong-ie di tangan Pek Soh-ciu telah menembus dadanya, namun lengan kiri dia pun terasa sakit yang amat sangat, traang.......pedang panjangnya dijatuhkan di atas batu gunung, di dalam hati dia tahu lengan kirinya telah terluka oleh panah beracun, cepat-cepat dia menotok jalan darah Jang-koan-hiat di lengan kiri, menghambat aliran racunnya, lalu membelitkan Hong-ie dipinggang, dengan cepat mengeluarkan Pouw-

long-tui dari dalam dadanya, mulutnya bersiul panjang, menerjang kearah orang-orang bertopeng. Sinar hitam tampak bergulung-gulung seperti naga bermain, dia menyapu melintang memukul lurus, berkelebat di seluruh lapangan, Pouw-long-tui nya menimbulkan suara guntur dan hawa panas, mematahkan kaki tangan lawan, membuat daerah yang berbau amis darah ini, lebih mengerikan seratus kali dari pada neraka. Orang-orang bertopeng jadi ketakutan, di bawah sapuan Pouw-long-tui, mereka pontang panting melarikan diri ke dalam hutan, maka pertarungan sengit pun berakhir, tapi meninggalkan keadaan yang mengerikan.. 0-0dw0-0 BAB 6 Dibawah telapak tangan raja neraka Diantara celah rumput gunung liar, tergeletak mayatmayat tanpa kaki atau tangan, darah berceceran dimanamana, dalam sinar sore sangat mencolok mata dan mengerikan, namun, di dalam lapangan liar yang mengerikan ini, malah berdiri sepasang remaja yang seluruh rubuhnya penuh dengan bercak darah, mereka adalah Pek Soh-jiu dan Siau Yam yang baru lolos dari pertarungan berdarah. Dengan sepasang mata Pek Soh-jiu yang merah membara, dia melihat pada mayat-mayat yang bergelimpangan cacat itu, dia tertawa keras memekikan telinga dan memilukan:

"Rumah hancur......orang mati......Leng-in meninggalkan kebencian! Ha...ha...ha...kalian tidak melepaskan aku, bagaimana aku bisa melepaskan kalian para bangsat keji ini! Ha...ha......" Dua sorot mata selembut air dimusim semi, diiringi dengan suara merdu yang mesra tapi ketakutan, memanggil-manggil disisi telinganya: "Toako! Lengan kirimu sudah terluka oleh panah beracun, sama sekali tidak boleh emosi, mari, makan dulu obat ini." Tapi dendam baru dan lama, kepedihan di dalam hati, kenyataan yang kejam berdarah ini, hampir membuat dia tidak bisa mengendalikan diri, lama......dia baru bisa tenang, memandang ke gunung yang jauh, dengan sedih dan mengeluh berkata: "Adik Yam! Aku......hanya, merepotkan kau......" Siau Yam mengangkat alis: "Kata-kata apa ini! Toako! Kau lupa kita ini adalah suami istri?" "Benar, adik Yam! Lautan mengering batu melepuh, cinta kita tidak berubah, tapi... para bangsat ini menyiapkan jebakan dalam radius seratus lie, ditambah aku sudah terluka panah beracun, perjalanan kita... haai......" "Jangan putus asa! Para bangsat yang menyiapkan jebakan dalam seratus lie, belum tentu bisa menahan kita, tapi racun dari Toan-hun-cauww, jaman sekarang, hanya guruku dan ketua Kai-pang sesat Cu Kwan-cing yang punya obat penawarnya, kita pergi saja ke Thian-ciat leng mengadu nasib, bagaimana?"

"Haai, adik Yam! Demi aku, kau sudah menjadi murid yang berkhianat pada guru, pergi ke Thian-ciat-leng, bukankah itu sama dengan menyerahkan diri!" "Kalau begitu......kita cari saja Cu Kwan-cing......." "Dunia begitu luas, tidak mudah mencari orang, tapi kau tidak perlu gelisah, untuk mengobati racun Toan-huncauww, masih ada satu cara yang aneh!" "Cara apa itu? Cepat katakan." "Ini......haai......" "Kau ini kenapa? Kak! Apakah......apakah terhadap aku pun merahasiakannya!" "Kau jangan salah paham, adik Yam, sebenarnya cara itu......cara itu......" "Katakan! Kita suami istri apakah masih harus ada pertimbangan." Pek Soh-jiu terdiam sejenak berkata: "Sebenarnya cara aneh itu kau juga sudah tahu, aku pernah terkena panah beracun yang dilakukan oleh Pek Kuo taysu dari Siauw-lim, kemudian meloncat ke dalam Huang-ho, baru......" Wajah Siau Yam jadi merah, perlahan merebahkah diri pada Pek Soh-jiu berkata: "Toako! cepat kita cari air, bagaimana pun......aku ini istrimu......" Demi untuk bisa lolos dari kepungan seratus lie, demi melawan musuh kuat yang akan dihadapi, mengobati racun Toan-hun-cauww, adalah hal yang tidak bisa ditunda, maka mereka berdua di dalam kegelapan malam segera menuju arah Sin-an-kang di tenggara.

Siau Yam mendadak menghentikan langkah berkata: "Toako, cara ini kurang baik......" Pek Soh-jiu merasa aneh: "Apanya yang kurang baik? Adik Yam." "Musuh telah membuat jebakan dimana-mana, dengan dadanan seperti kita ini, bagaimana bisa mengelabui mata mereka!" Pek Soh-jiu melihat pada mayat mayat diatas tanah dan berkata: "Tidak salah, kita pinjam saja baju mereka untuk digunakan." Mereka berdua memilih baju yang pas untuk tubuh mereka, lalu menutup wajah dengan topeng hitam, dengan baju berkibar-kibar mereka bergandengan berlari cepat, ketika kentongan dua berbunyi, akhirnya mereka tiba di tepi Sin-an-kang, Pek Soh-jiu segera melepaskan seluruh bajunya, dengan bertelanjang bulat masuk ke dalam air, Siau Yam sendiri duduk di atas gunung kecil yang ada di pinggir sungai, mengawasi sekeliling, menjadi penjaganya. Kira-kira lewat dua jam lebih, Pek Soh-jiu merasakan timbul panas di Tan-tian, dia tahu racun telah bereaksi, sepasang tangan mendayung air, berenang kearah tepi pantai. Mendadak...... "Pakailah bajumu, binatang kecil." terdengar teriakan merdu, seperti geledek di siang hari, hati Pek Soh-jiu tergetar, dengan cepat menenggelamkan kembali tubuhnya ke dalam air, setelah beberapa saat, pelan pelan dia memunculkan kepalanya ke atas permukaan air, terlihat seorang wanita yang sangat cantik berbaju biru langit,

berdiri dibawah sinar bulan, melihat dari baju dan suaranya, tentu saja tidak salah lagi dia adalah Hud-bun-itmo Leng-bin-sin-ni yang tinggal di kuil Pek-liong, tapi pakaian yang dia pakai sekarang ada pakaian yang ketat, pakaian wanita yang sangat seksi, apakah Sin-ni yang namanya menggemparkan dunia persilatan ini, malah seorang yang tidak bisa mensucikan diri. Tidak peduli wanita cantik ini betul atau bukan Lengbin-sin-ni, dia tidak bisa terus menerus merendam dirinya di dalam air seperti ini, untungnya dia menghadap dengan punggungnya, walau keadaannya serba salah, tapi tidak terlalu memalukan; sehingga diam diam dia naik kepantai, dengan gerakan yang paling cepat, dia memakai bajunya. Saat ini... sesungguhnya tidak perlu tahu siapakah wanita ini, tubuhnya berkelebat, langsung berlari ke arah gunung tempat Siau Yam berjaga. "Ingin pergi? Hemm tidak segampang itu!" bayangan orang berkelebat, wanita yang berbaju biru langit itu, telah menghadang di depan jalannya. Dia melirik pada wajah yang kecantikannya membuat hati orang berdebar, dinginnya membuat hari orang kedinginan, lalu dengan mengepalkan sepasang telapaknya berkata: "Pek Soh-jiu menghormat Cianpwee." Wanita yang berpakaian baju manusia biasa ini, memang betul Hud-bun-it-mo yang ternama di dunia persilatan, dengan wajah dan hatinya yang dingin, dan tindakannya yang kejam, dia mendengus sekali berkata: "Jangan pura-pura, menyeranglah!" Pek Soh-jiu bengong sebentar, lalu berkata:

"Kita ini tidak ada permusuhan dan juga tidak ada dendam, apa maksud Cianpwee ini?" Leng-bin-sin-ni berteriak marah berkata: "Jangan pura pura bodoh, orang she Pek, jika kau tidak menyerang, nonamu terpaksa menghabisimu!" Pek Soh-jiu sedikit tertegun, mendadak tertawa terbahakbahak. Seorang Sin-ni yang termasyur di dunia persilatan, malah memakai baju orang biasa yang seksi memikat, menyebut dirinya sendiri nona, tentu saja ini adalah hal yang aneh juga sangat menggelikan, tetapi tertawa kerasnya mengakibatkan dua akibat yang berbeda, Leng-bin-sin-ni memang mengira dia melecehkan dirinya, dari sorot matanya timbul hawa mem-bunuh, padahal yang paling parah adalah dirinya sendiri, tadinya di dalam Tan-tian nya, sudah terasa ada gulungan hawa yang membara, karena dia menghormati Leng-bin-sin-ni sebagai seorang Lo-cianpwee dunia persilatan, sehingga dia memaksakan diri menahan. siapa tahu setelah tertawa keras beberapa saat, hawa panasnya jadi meluap, dia seperti Huang-ho yang bobol tanggulnya, sekali menerjang seribu lie, membentuk satu situasi yang tidak bisa dikendalikan. Di dalam tenggorokannya mengeluarkan suara auman, sepasang mata yang merah bersinar, menatap tajam bagian tubuh Leng-bin-sin-ni yang memikat itu, sepasang kakinya sedang bergerak, setiap langkah seperti godam memukul tanah, membuat sisi sungai juga bergetar pelan. Wajahnya sangat mengejutkan orang, sampai Leng-binsin-ni yang namanya menggemparkan dunia persilatan, juga sampai tergetar mundur beberapa langkah oleh wajahnya yang kasar seperti binatang buas ini.

Kembali terdengar teriakan rendah, dia meloncat menerjang, sepasang tangannya terbuka lebar, menangkap kearah dada Leng-bin-sin-ni. "Binatang! Kau berani......" Leng-bin-sin-ni dalam teriakannya dapat menghindar dari tangkapannya, lengannya cepat dikibaskan, Ji-ie-sinkangnya dikerahkan keluar dari tangannya, tapi tenaga dalam Pek Soh-jiu, seperti bertambah dua kali lipat lebih tinggi dari biasanya, Ji-ie-sin-kang adalah salah satu ilmu hebat dunia persilatan, jika di kerahkan lawan akan seperti memukul kapas, hingga tidak bisa mengeluarkan tenaga. Mereka melakukan pertarungan yang sangat sengit sekali, kedua belah pihak menggunakan jurus jurus mematikan, setiap jurus diarahkan ketitik yang mematikan, setelah lewat seratus jururs, Leng-bin-sin-ni jadi merasa gentar sendiri, dia tidak mengerti remaja tampan yang memikat ini, kenapa bisa berhasil melatih tubuhnya menjadi begitu kuat hingga tidak bisa terluka? Sudah beberapa kali telapaknya yang mampu menghancurkan batu itu, mengenai tubuhnya, tapi dia seperti tidak merasakan kesakitan, kedahsyatan menyerangnya, malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya, Leng-bin-sin-ni sedikit lengah, bretttt.. baju di depan dadanya sudah dirobek oleh lawannya. Seorang wanita aneh yang amat suci, kesucian seumur hidupnya, malah berantakan hanya dalam sehari, ini adalah penghinaan yang sulit di terima, walau pun di cuci menggunakan seluruh air See-kang, dia jadi tertegun, tapi tubuh nya yang memikat itu, di saat dia tertegun ini, telah di peluk oleh Pek Soh-jiu, sambil tertawa terbahak, dia berlarian, menelusuri pantai lari ke dalam hutan.

Leng-bin-sin-ni benci sekali pada orang yang sombong ini, jari telunjuk dan tengah tangan kanannya dirapatkan, dengan kuat ditatokan kearah titik saluran kematian di belakang tubuh Pek Soh-jiu, tenaga dalam dia belum hilang, jalan darahnya juga tidak ditotok oleh Pek Soh-ciu, jika membiarkan dua jarinya menotok, walau Pek Soh-jiu adalah seorang Kim-kong (pengawal Budha), juga tidak mungkin bisa lolos dari kematian, namun baru saja jarinya mau keluar, segera ditarik kembali olehnya, akhirnya, dia mengeluarkan keluhan tanpa suara, matanya yang cantik perlahan dipejamkan, disudut matanya mengalir dua tetes air mata seputih giok putih. Dia melepaskan pertahanannya, Pek Soh-jiu yang telah lewat dari pintu neraka, dia tetap tidak tahu menahu, hanya dengan kecepatan semampunya, dia berlari ke dalam hutan yang gelap itu. Kemudian Pek Soh-ciu merebahkannya diatas lapangan rumput, sepasang tangannya dengan liar bergerak kesanakemari, membuat Leng-bin-sin-ni berubah menjadi seorang manusia purba yang seutas benang pun tidak ada yang menempel.... "Orang she Pek, kau...... jika...... tidak bertanggung jawab terhadap perbuatanmu, aku jadi setan pun tidak akan mengampunimu." "Apa....? Kau.....ini siapa?" "Nama ku Hun-ni, dulu adalah Leng-bin-sin-ni, haai, kau belum tahu nama dan she ku, apakah kau juga tidak mengenal orangnya? Masalahnya sudah sampai begini, kau......kau masih mau menerangkan apa?" "Tidak, Cianpwee......nona Hun, aku salah lihat, kukira......keek, kau adalah istri ku....... sungguh......maaf sekali......"

Mendengar nama yang terasa asing, mendadak Pek Sohciu jadi tersadar, walau gulungan hawa panas di dalam Tantiannya masih belum habis, bagaimana pun dia tidak bisa setelah berbuat dosa, terus menerus berbuat dosa terhadap seorang wanita melakukan perbuatan memaksa, dia segera membalikan tubuh meloncat lalu berlari menembus hutan, dengan hati penuh penyesalan, dia berlari menuju tempat Siau Yam berjaga. Dia mengira dirinya sudah berhasil menahan dirinya, setelah melakukan kesalahan, tidak melakukan kesalahan lainnya, mana dia bisa tahu, ketika malam hari itu dia masuk ke dalam kuil Pek-liong, dengan menggunakan Pouw-ci-sin-kang tanpa sengaja jarinya menyentuh tempat yang paling sensitifnya dari tubuh Leng-bin-sin-ni, kejadian ini sudah menjadi satu penyebab munculnya masalah, apa lagi ketika seorang wanita yang merasa dirinya sangat suci, telah mengalami kekerasan seksual, telah telanjang bulat di depan mata tanpa berusaha melawan, dan dengan suka rela menyerahkan diri, itu artinya cinta sudah tertanam dalam, kuat tanpa bisa dicabut lagi, sekali dia menahan diri tidak melakukannya, penghinaan yang diberikan padanya jadi sulit bisa dilukiskan oleh kata-kata, dalam sekejap mata, dia seperti sebuah tubuh yang kehilangan jiwanya, air matanya mengalir deras seperti mata air, dirinya telah kehilangan semangatnya. Malam, pelan-pelan menghilang, sinar matahari, menembus masuk dari celah-celah pohon. Leng-bin-sin-ni terbayang kejadian semalam, Pek Soh-ciu dengan bernafsunya melakukan segala sesuatu, juga mencium tubuh yang seperti minyak kambing. Dia membuka kulit matanya, matanya yang cantik yang mengandung api kemarahan yang tidak terhingga, menyemburkan hawa pembunuhan yang dahsyat, lama... hutan yang tenang ini,

telah ditutupi oleh teriak kesedihan yang menyeramkan, lalu teriakan itu menjauh, bayangan biru bergerak seperti kilat, nona Hun-ni yang telah terhina itu, seperti asap tipis menggulung ke arah pantai. Pagi hari tampak tenang sekali, hanya aliran kali sedang berbisik tanpa suara, tapi siapa yang bisa mengatakan dunia yang indah ini, diam-diam menyembunyikan kepedihan yang mendalam! Dia, Leng-bin-sin-ni yang suci, sombong, percaya diri, tadinya mengira laki-laki di seluruh dunia ini seperti tanah busuk, sampai sekarang dia sulit mendapatkan seorang yang pantas untuk dijadikan suami, dia membunuh semua lakilaki yang datang melamarnya, dia tinggal di dalam kuil supaya bisa tenang, tidak di duga takdir mempermainkan manusia, dia malah menemukan sebutir bintang meteor, tentu saja, ketampanan Pek Soh-jiu, memang setampan Song-ih, yang paling memikat hati wanita, adalah karismanya yang sulit digambarkan. Satu jurus Pouw-ci-sin-kang nya, telah membuka hati dia, seperti satu tenaga penggerak yang aneh bin ajaib, membuat sumur tua, timbul gelombang tidak hentinya. Namun dia itu begitu kasar, dan juga sangat tidak berperasaan, penghinaan ini buat wanita mana pun tidak dapat menerimanya, sehingga dalam kemarahannya dia menjerit sedih dengan kerasnya, membuat pagi yang tenang ini menjadi rusak berantak-an. Sebenarnya, di dunia persilatan selamanya selalu ada satu gelombang yang mendera, walau pun tidak ada jeritan sedihnya, pagi ini tetap saja tidak akan bisa tenang sekejap pun.

Saat ini, dia telah menghentikan jeritannya, tapi di atas satu gunung kecil, tidak henti-hentinya terdengar jeritan mengerikan yang mendebarkan hati. Dia berpikir, pasti orang yang menyebalkan itu bertemu lawan tangguh, hemm... aku akan menguliti dia, tapi aku tidak akan membiarkan orang lain melukai nya, dia mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, hampir seperti mengendalikan angin, sekuatnya berlari menuju ke gunung kecil itu. Gunung kecil sudah kelihatan, darah panasnya telah bergolak, segerombolan 'srigala' itu yangbanyak-nya tidak terhitung, sedang menerkam, mengeroyok seekor 'harimau' gila, orang-orang bertopeng hitam berlapis-lapis mengurung gunung kecil itu, segelombang gelombang sedang menyerang satu orang. Pek Soh-jiu, remaja tampan yang membuka hatinya, seperti ikan berenang di dalam tempurung, sedang bergerak tanpa arah menerjang ke segala arah, sungguh tenaganya sangat mengejutkan orang, serangan dahsyat yang dilakukan oleh orang bertopeng hitam terhadapnya, dia seperti membabat rumput, dia bersiul panjang, bertarung dengan penuh semangat, tempat yang dia lewati, seperti gelombang menjadi pecah, tempat yang dilewati Pouwlong-tui, darah dan daging berterbangan, ini adalah pertarungan yang sulit disaksikan dalam kurun waktu berabad-abad, pembunuhan manusia yang sangat mengerikan, walau pun seorang Leng-bin-sin-ni yang disebut orang sangat sadis, juga terkejut menyaksikannya. Namun, perasaan dia seperti bunga mekar di musim semi, karena keperkasaannya orang yang menyebalkan itu seperti dewa langit turun dari langit, membuat hatinya kagum, lalu dia dengan mengeluh berkata:

"Mendapatkan suami seperti ini, mati pun tidak menyesal......" segera pedang panjang di tangan kanannya dengan cepat diayunkan, tangan kirinya mengerahkan Ji-iesin-kang, setelah berteriak dia juga ikut terjun ke dalam pertarungan yang sengit ini. Menghadapi satu Pouw-long-tui saja, orang-orang bertopeng ini sudah banyak yang mati atau terluka, sekarang ditambah lagi seorang Hud-bun-it-mo, kecuali kakek berulang tahun menggantung diri, bosan hidup, hanya ada satu cara terbaik, yaitu melarikan diri. Pertarungan sudah selesai, Pek Soh-jiu sudah berubah menjadi orang darah, tenaga dalam dia sudah terkuras banyak, tapi diluar dugaan gulungan hawa panas di dalam dadanya sudah tertahan, dia diam-diam beristirahat bersemedi sejenak, baru melangkah maju beberapa langkah, sepasang telapaknya dikepal sedikit membungkuk berkata: "Pek Soh-jiu berterima kasih atas bantuannya..." Tentu saja, wajah dia sudah tidak tidak karuan, perkataannya belum habis, dia sudah ingin melangkah meninggalkan tempat, tapi perbuatannya malah membangkitkan lagi amarahnya Hun-ni, alisnya diangkat, wajah cantiknya kembali penuh dengan hawa membunuh berkata: "Ingin pergi boleh, tapi kau harus jelaskan dulu......" "Cianpwee ada petunjuk apa?" "Kata-katamu lebih baik dijaga, siapa yang berhubungan Cianpwee dengan kau." "Itu......"

"Itu apa? Aku ini bukan seorang tua ompong, juga tidak lebih tua dua tiga tahun darimu, hemm... kemarin malam......kau kenapa tidak memanggil Cianpwee?" "Keek, keek, nona......Hun! Aku sungguh ada kesulitan......dan juga, haai, cintanya nona, Pek Soh-jiu mungkin tidak ada rezeki menikmatinya......" Gulungan hawa panas di dalam dadanya, kembali sepertinya akan membara, apa lagi Siau Yam sudah menghilang, hidup matinya tidak jelas, dia harus mengejar para orang bertopeng untuk menyelidikinya, maka katakatanya belum selesai, tubuhnya sudah meloncat, dengan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui, dia seperti terbang berlari ke arah timur laut, dia tidak ingin terlibat dalam asmara lagi, terpaksa dengan berat hati, pergi meninggalkan. Sampai lewat tengah hari, dia baru bisa lolos dari kejarannya Hun-ni, dia mengelap keringat, duduk diatas sebuah batu gunung. Mendadak, ada saru angin pukulan yang diam-diam menyerang punggungnya, walau pun hatinya sedang gundah, tapi serangan gelap itu, tetap tidak bisa lolos dari ketajaman mata dan telinganya, sambil tersenyum dingin, terhadap senjata gelap yang meng-arah kepunggungnya itu, dia seperti tidak merasakan, menunggu saat tenaga angin itu menekan tubuhnya, baru dia mendadak merubah posisi, posisi duduknya tidak berubah, tapi sudah berpindah tempat tiga kaki lebih, sebilah pisau tajam yang bersinar biru ssst... lewat dari samping rubuhnya. "Robohlah, kau." Dia pelan menjentikan jarinya, sepotong gagang rumput kecil, sudah memukul jatuh sebuah benda besar dari atas cabang pohon, saat dia melihat

penyerang gelap itu, tidak tahan tubuhnya meloncat melayang, sepasang alis diangkat, berkata dingin: "Orang bertopeng! Bagus, bagus, tuan muda sedang tidak ada kerjaan, di hari yang mendung memukul anak, kita bisa bermain-main." Baru saja habis bicara, satu jentikan lagi sudah dilakukan, tapi angin jentikan yang mengenai sasaran, seperti menotok pada sebatang pohon, jentikan dia yang bisa membuat kaku otot, malah sepertinya tidak ada fungsinya! Dia tidak percaya ini adalah kenyataan, pedang panjang dengan cepat disabetkan, topengnya orang bertopeng segera terlepas. Tampak sebuah wajah yang buruknya sampai orang tidak ingin melihatnya, ternyata sebuah mayat yang sudah tidak bernyawa lagi, memperkirakan dari bau busuk yang keluar dari rubuhnya, orang ini pasti sebelumnya telah mengulum dulu pil beracun dimulut-nya, begitu gagal dan tertangkap, maka dia menggigit pecah racunnya membunuh diri, entah organisasi apa yang bisa membuat orang tidak menyayangi nyawanya sendiri, hingga rela mengorbankan nyawanya, kedisiplinan organisasi orang bertopeng ini, sungguh sangat mengejutkan orang. Mendadak, dia cepat membalikan tubuh, satu angin pukulan yang dahsyat menghantam kearah pohon cemara yang berada satu tombak lebih. Tempat yang terkena angin pukulan, daun jarum cemaranya ber-terbangan, di dalam potongan cabang pohon masih terselip satu bayangan hitam yang sangat cepat sekali. Bayangan hitam itu begitu turun langsung meloncat lagi, sepertinya ingin melarikan diri ke dalam hutan, Pek Soh-jiu berteriak dingin berkata:

"Apa kau ingin meloloskan diri?" telapak kanannya diayunkan, pedang panjang dilemparkan ssst... sudah menancap dibahu kanan orang itu, tapi karena tenaganya terlalu kuat, membuat orang itu ikut terdorong, tok.... memaku orang itu diatas pohon. Pek Soh-jiu datang mendekati, mengulurkan tangan membuka topeng orang itu, tersiar bau busuk menusuk hidung, membuat dia mundur dengan perasaan kecewa. Gunung kosong hutan hening, di sekeliling sedikit pun tidak ada suara, hanya Pek Soh-jiu seorang diri berdiri bengong, dia bisa memastikan para orang bertopeng ini, pasti ada hubungannya dengan peristiwa perumahan Lengin beberapa tahun lalu, tapi dia tidak bisa menangkap seorang pun yang masih hidup, meski sudah beberapa tahun berkelana, dia masih belum menemukan jejak otak pembunuh ayahnya, dia sendiri bersama istrinya malah mendapatkan serangan gelap dari para bangsat itu, amarah di dalam dada tidak bisa dilampiaskan, sedih tiada teman yang bisa berbagi rasa, dengan kecewa dia duduk diatas satu batu gunung. Angin gunung bertiup, daun pohon melambai-lambai, sebuah suara seruling yang membuat orang jadi sedih, melayang-layang di udara, dia menggunakan seruling Ci-cu pemberian Sangguan Ceng-hun, untuk melampiaskan beban di dalam hati, mengenai apa lagu yang dia tiup, dia sendiri juga tidak tahu, tapi sekali dia meniup seruling ini, maka menimbulkan satu keadaan yang mengejutkan sekali, terlihat sepuluh tombak diluar dia, puluhan ribu kepala bergerak-gerak, lidah merah keluar masuk, puluhan ribu ular telah menguning dia dengan ketatnya. Dia jadi terkejut sekali, dengan usia semuda ini, belum pernah dia melihat lautan ular mengerikan seperti ini

Dia ketakutan sampai tidak tahu harus berbuat liagaimana, suara seruling dengan sendirinya jadi btrhenti, namun keadaan bersitegang seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah, terpaksa dia mencoba lagi menggunakan seruling Ci-cu, meniupkan lagu pengusir ular. Suara seruling kembali terdengar, benar saja sekali suara seruling terdengar langsung ada hasilnya, kelompok ular menjadi bubar, kelompok ular yang besar yang kecil, yang bentuknya aneh-aneh, dalam waktu sekejap, sudah pergi satu pun tidak tertinggal. Tidak, masih tertinggal seekor ular kecil, sedang pelan pelan bergerak, namun arah maju dia, sebaliknya dari arah kelompok ular lainnya, dia sedang menuju kedepan Pek Soh-jiu. Seluruh ular begitu mendengar suara seruling semuanya bubar berpencar, jadi lagu pengusir ular ini tentu tidak salah, lalu kenapa ular kecil ini tidak mundur malah sebaliknya maju? Sungguh membuat Pek Soh-jiu tidak mengerti. Dia melanjutkan meniup seruling, ular kecil itu juga terus maju kedepan. Akhirnya, ular kecil itu sampai di depan kakinya, jika terus meniup seruling, mungkin akan maju keatas tubuhnya. Sehingga dia dengan kecewa menghentikan meniup seruling. Ini adalah seekor ular kecil putih yang seluruh tubuhnya tembus pandang, berkilap seperti giok, dia mengangkat kepalanya, menggoyang-goyangkan ekornya, dua mata ular yang seperti pasir merah, menyorotkan sinar seperti meminta belas kasihan, juga sepertinya jinak sekali, dan juga sangat cantik. Pek Soh-jiu jadi tidak tahan, timbul hati kekanak-kanakannya, ia menyimpan seruling Ci-cu nya, sepasang tangan diulurkan ke arah ular putih kecil itu.

Huut... Pek Soh-jiu kembali merasa pandangannya jadi kabur, ular kecil itu sudah loncat ke atas telapak tangannya, melingkarkan tubuhnya seperti piring, kembali hanya tinggal kepalanya, diangkat tinggi-tinggi, setelah sedikit tertegun, dia jadi tahu ini pastilah ular ini jinak, dan karena bentuknya cantik, maka dengan gembiranya dimainmainkan diatas tangannya. Mendadak, dua bayangan orang, dengan kecepatan yang tinggi, melayang kearah tempat dia berdiri, dalam sekejap mata, sudah berada sepuluh tombak di dekatnya, dari jauh memandang, seperti ketua Kai-pang Sangguan Ceng-hun dan Oh-kui (Setan lapar) Ouwyang Yong-it. Namun, dia tidak mempunyai hati ingin mencelakai mereka, hanya hatinya waspada terhadap mereka, disaat ini dia dalam keadaan bahaya, musuhnya ada dimana mana, terpaksa dia harus hati hati, maka dia bangkit berdiri, berjaga-jaga. Siapa tahu baru saja dia berdiri, ssst.... ular putih kecil itu sudah melayang ke udara, seperti macan menerkam kearah dua orang yang datang mendekat itu. Pek Soh-jiu baru saja tertegun, dua orang itu mendadak berteriak terkejut, bersama-sama meloncat-loncat kesana kemari menghindar, sejengkal pun tidak bisa maju lagi. Pek Soh-ciu merasa aneh lalu maju melihatnya, dia baru tahu seutas bayangan putih, didepan dua orang itu melayang-layang sambil mematuk, tempat yang dipatuk semuanya ditujukan pada jalan darah mematikan, benar-benar bahayanya hanya dalam sebatas rambut. Dia sudah melihat dua orang itu, memang benar Sangguan Ceng-hun dan Ouwyang Yong-it, bayangan putih yang berusaha menggigit mereka, juga benar adalah ular kecil cantik yang jinak itu, tapi dia tidak tahu caranya menghentikan serangan ular putih itu, sesaat, dia jadi gelisah tidak bisa berpikir.

Untungnya walau pun dia berbaju hitam, tapi tidak memakai topeng, akhirnya Oh-kui (Setan lapar) Ouwyang Yong-it dapat mengenalinya, maka dengan gembiranya teriak-teriak: "Adik kecil! Kau ini bagaimana? Cepat tarik kembali Sian-giok, apa benar-benar mau membuat Toako menjadi malu?" Hati Pek Soh-jiu tergerak, tanpa sadar dia berteriak: "Sian-giok kembali." Bayangan putih berkelebat, ular putih kecil itu sudah menurut panggilannya terbang kembali ke telapak tangannya. Ouwyang Yong-it mengusap keringat dikepala-nya, dengan erat memegang lengannya Pek Soh-jiu, berkata: "Adik kecil, kau sungguh hebat, sampai ular pintar Siangiok juga bisa kau jinakan." Wajah Pek Soh-jiu menjadi merah berkata: "Maaf toako, aku mendapatkan Sian-giok, masih belum sampai seperminuman secangkir teh, dan juga......" Sangguan Ceng-hun berkata: "Kau tidak perlu menjelaskannya, menurut perkiraanku, pasti kau tadi saat meniup seruling tanpa di sengaja memanggilnya, mahluk ini pintar memilih majikan, setelah melihat kau tentu saja tidak mau pergi lagi. Kau mungkin saat tadi dari kejauhan melihat aku dan Lo-ko Ouwyang, di dalam hati waspada bersiap-siap, ular pintar yang mengerti maksud manusia, langsung menghadang tidak mengizinkan maju lagi, jika kau ada niat menghabisi kami berdua, mungkin kami sudah pergi melapor ke akhirat!" Pek Soh-jiu bersoja berkali kali berkata:

"Maaf sekali, harap Toako dan Lo-ko Ouwyang memaafkannya, karena banyak musuh berada dimanamana, terpaksa aku meningkatkan kewaspadaan." Ouwyang Yong-it dengan wajah serius berkata: "Diantara kita, tidak perlu sungkan seperti ini, he, adik kecil! Siapa musuhmu itu, apakah sudah berhasil menyelidikinya?" Pek Soh-jiu dengan wajah kecewa berkata: "Aku ini bodoh......" "Kau jangan sedih, terhadap para orang baju hitam bertopeng itu, aku sudah mendapatkan sedikit kejelasan." Kata Sangguan Ceng-hun. "Cepat katakan, Toako! Siapa majikan mereka itu?" kata pek Soh-ciu antusias. "Mereka adalah anak buahnya penjahat nomor satu di dunia Ang-kun-giok-hui (Selir raja giok berbaju merah.) Hai Keng-sim, tapi diantaranya masih ada beberapa hal yang sulit dimengerti, sebelum mendapatkan bukti yang benarbenar jelas, kita masih tidak bisa mengambil kesimpulan!" Ouwyang Yong-it berkata: "Tahun itu yang melakukan serangan gelap terhadap perumahan Leng-in, bukankah orang-orang baju hitam bertopeng?" Sangguan Ceng-hun berkata: "Benar, tapi para orang bertopeng itu tidak satu pun bisa pulang hidup-hidup, dan juga setelah kejadian, terbukti mereka itu semuanya adalah penyamaran dari para pesilat tinggi dari berbagai perguruan, malah ahli silat......" Ouwyang Yong-it menggeleng gelengkan kepala berkata:

"Aku tidak percaya dari ratusan pesilat tinggi itu tidak ada satu pun yang lolos!" Pek Soh-jiu jadi bersemangat berkata: "Kata-kata Lo-ko, aku dengar dari perkataan Hong Supek, orang yang bernyanyi di Liong-bun (Pintu naga), sepertinya adalah musuh almarhum ayahku, dan dia tidak pernah menampilkan diri." "Apakah adik kecil masih ingat syair lagunya?" Kata Ouwyang Yong-it Pek Soh-jiu mengingat-ingat sebentar, berkata: "Aku pernah mendengar Hong Supek mengatakan, yang masih aku ingat, betul atau salahnya tidak bisa dipastikan." Lalu dia membacakan syair lagu itu: Beruban seperti bintang-bintang Menyesal cita-cita menjadi hampa Tubuh ini seperti titipan Tubuh terasa sakit dan menyendiri Menuju Pintu Naga Membangkitkan semangat masa lalu Dengan senjata sakti dari Liu-yang Melanglang buana ribuan lie Membasmi Sin-ciu-sam-cbat Menguasai dunia Coba tanya siapa yang bisa menandingi." Ouwyang Yong-it berkata:

"Orang itu pasti seorang penjahat besar yang mengacaukan dunia persilatan, tidak beruntung dikalahkan oleh Sin-ciu-sam-coat, sehingga angan-angannya tidak terkabulkan......" "Dia kemudian melarikan diri keperbatasan, berlatih ilmu silat hebat, walau tubuhnya sakit, tapi angan-angannya tidak berkurang, dan pada tahun itu......" kata Sangguan Ceng-hun Pek Soh-jiu berteriak gembira, katanya: "Kalian sudah tahu siapa dia itu?" Ouwyang Yong-it berkata: "Tidak, kami hanya tahu ini adalah satu petunjuk saja, adik kecil, apakah kau tahu pamanmu waktu itu punya musuh seperti ini?" Pek Soh-jiu dengan sedih berkata: "Terhadap masalah dunia persilatan, almarhum ayah tidak pernah menceritakannya." "Adik jangan khawatir, kita bisa mencoba mencari Angkun-giok-hui." Kata Sangguan Ceng-hun. Ouwyang Yong-it berkata: "Bukankah kau mengatakan diantaranya masih ada hal yang sulit dijelaskan?" "Karena sampai saat ini, para anak buahnya rhian-holeng belum ada orang yang menggunakan Ngo-tok-tui-huncian sebagai senjata gelap, para orang bertopeng itu walau sering keluar masuk di Thian-ciat-leng, tapi terhadap penjahat seperti Ang-kun-giok-hui, kita tidak bisa hanya berdasarkan dugaan......" Ouwyang Yong-it berkata:

"Kata kata ini tidak salah, menghadapi Ang-kun-giok-hui sungguh tidak bisa tidak harus hati hati." Pek Soh-jiu mengeluh: "Tapi aku telah menjadi orang yang ingin di dapatkan oleh Ang-kun-giok-hui...." Sangguan Ceng-hun merasa aneh berkata: "Kenapa? Adik! Kek, adik ipar Lam-ceng itu kenapa tidak ada disisimu?" "Panjang ceritanya! Sekarang aku sudah lapar, jika kau punya makanan kering, kita berbincang lagi setelah mengisi perut." Lalu, mereka mencari satu batu gunung yang datar, makan makanan kering, minum air gunung. Sambil makan Pek Soh-jiu menceritakan dengan singkat kejadian yang dia alami. Ouwyang Yong-it tertawa terbahak-bahak berkata: "Adik kecil! Kau ini terpojokan oleh asmara! Menurut pikiran aku, Su dan Siau dua adik ipar, semuanya bukanlah orang biasa, walau ada halangan, di kemudian hari pasti akan bertemu lagi, yang sedikit sulit diurus adalah nona Hun, dia adalah seorang yang namanya termasyur di dunia persilatan, pandangannya tinggi sekali, saat itu kau dikendalikan oleh nafsu birahi, kelakuanmu yang melecehkan dia, menurut aturan dan keadaan, seharusnya kau tidak boleh meninggalkannya, adik kecil! Menurutmu betul tidak?" Sangguan Ceng-hun dengan wajah serius berkata: "Kata-kata Ouwyang Lo-ko betul, kesalahan ada dipihak kita, kita bersaudara adalah laki-laki sejati, bagaimana bisa jadi orang yang tidak bertanggung jawab!"

Pek Soh-jiu yang mendengar punggungnya sampai bercucuran keringat, dengan perasaan bersalah buru-buru berkata: "Nasihat kalian berdua betul, aku sudah mengerti." Sangguan Ceng-hun berkata: "Jangan sedih, adik! Tujuanmu adalah baik, kita tidak usah membicarakan ini lagi, selanjutnya kau ada rencana apa?" "Tadinya aku ingin pergi ke gunung Kwo-tiang, sekarang terpaksa pergi ke Thian-ciat-leng mengadu nasib." Ouwyang Yong-it berkata: "Salah, adik kecil! Di gunung Kwo-tiang sekarang ini sedang berkumpul para jago dunia persilatan, tidak peduli untuk menyelidik jejaknya adik ipar Su dan Siau, atau menyelidik otak pelaku serangan gelap ke perumahan Lengin, gunung Kwo-tiang adalah tempat yang paling ideal, apa lagi Ho-leng-ci adalah pusaka, kenapa kita tidak adu nasib di sana." Sangguan Ceng-hun juga setuju dengan pandang annya Ouwyang Yong-it, sehingga mereka bertiga bersama-sama pergi ke arah tenggara, kurang lebih lewat dua jam, mereka telah tiba dilereng timur gunung Hoai-ie. Ouwyang Yong-it tiba-tiba menghentikan langkahnya berkata: "Adik kecil! situasi sepertinya sedikit mencurigakan?" "Tidak salah, ada teman baik yang datang menyambut kita." "Adik! Jumlah mereka terlalu banyak, jika bisa bertarung ya bertarung, jika tidak bisa bertarung kita tinggalkan saja, jangan inginmerasakan kesenangan sesaat!" Kata Sangguan Ceng-hun.

"Toako tenang saja, aku mengerti." Saat ini bayangan orang berkelebatan, orang baju hitam bertopeng yang banyaknya tidak terhitung, seperti arwah meloncat keluar dari belakang batu dan celah pohon. Orang-orang ini gerakannya sangat cekatan sekali, gerakannya seperti setan, bisa dilihat mereka mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, terhadap orang-orang bertopeng ini, Pek Soh-ciu sudah tidak ada niat untuk menangkap hidup-hidup, tangan kanannya mengeluarkan Pouw-long-tui, dengan wajah tersenyum dingin, dia menunggu lawan. Ouwyang Yong-it mengeluarkan sepasang sumpit yang bentuknya seperti koas hakim neraka terbuat dari besi dingin, yang digunakan Sangguan Ceng-hun adalah tongkat bambu hijau dengan jurusnya Tongkat pemukul anjing yang sudah ternama di dunia persilatan itu, mereka membentuk segi tiga, mengawasi gerakannya para orang bertopeng itu. Tapi yang paling sulit di mengerti adalah para orang bertopeng itu setelah maju sampai jarak satu panahan, maka semuanya jadi berhenti, walau pun bersitegang, namun tidak ada gerakan menyerang. Pek Soh-jiu dengan perasaan aneh berkata: "Toako! Para bangsat ini berniat mengurung kita......" Ouwyang Yong-it berkata: "Tidak salah, kedua sisi kita adalah tebing gunung, jika para bangsat itu bisa menghadang dari depan dan belakang kita, situasinya sungguh tidak menguntungkan......." Perkataan dia belum habis, dari depan dan belakang bersamaan waktu terdengar suara menggelegar memekakan telinga, jalan gunung dari depan dan belakang telah ditutup oleh orang-orang bertopeng ini. begitu Ouwyang

Yong-it melihat keadaan ini jadi marah besar, dia membalikan kepala berkata pada Pek Soh-jiu: "Adik kecil! Kita terjang!" Sangguan Ceng-hun berkata: "Tunggu, jika mereka menyiapkan panah beracun di tempat penghadangan, bukankah kita masuk perangkap mereka?" Disaat mereka berdebat, mendadak ada sinar berkelebat, banyak gulungan rumput kering yang menyala api, berguling-guling turun dari atas tebing. Segera saja asap menutupi jalan gunung, kelihatannya kecuali tumbuh sepasang sayap di punggung, mereka sulit bisa lolos dari kematian! Mereka mengandalkan ilmu silat meringankan tubuh yang hebat, sebisanya menghindar, tapi gulungan api rumput kering tidak hentinya berguling ke bawah, walau luas jalanan lebih besar lagi pun, akhirnya juga akan penuh. Ouwyang Yong-it menggunakan sumpit memukul rumput kering, mulutnya juga tidak henti-hentinya menyumpah: "Bangsat sialan, jika berani bertarunglah dengan aku Ohkui tiga ratus jurus, menggunakan siasat busuk bukanlah seorang laki-laki sejati!" Sangguan Ceng-hun tertawa dengan keras: "Lo-ko, tidak ada gunanya kau memaki orang, para bangsat yang orang bukan orang, setan bukan setan Ini, hanya bisa dianggap mayat berjalan, yang disesalkan adalah kita bersaudara malah jatuh ditangan mereka, mati nya sedikit tidak berharga."

Saat ini mereka telah mundur ke bawah tebing yang batu cadasnya bertonjolan, Pek Soh-jiu mengibaskan lengan bajunya, satu garis sinar putih telah melayang keluar, dia membalikan kepala, berkata pada Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun: "Sian-giok sedang membuka jalan untuk kita, kalian berdua ikuti aku......" Benar saja, Sian-giok adalah binatang pintar, di tebing gunung dia bolak-balik melayang-layang, begitu bertemu orang langsung menggigit, diatas gunung walau pun banyak penjahatnya, mereka telah berteriak-teriak menjerit sedih, susana jadi kacau sekali. Pek Soh-jiu bertiga orang menggunakan batu gunung sebagai perisai, dalam situasi kacau menembus keatas gunung, mereka seperti tiga ekor harimau terlepas dari kurungan, segera menerjang masuk ke dalam kerumunan orang. Pouw-long-tui nya menyapu, seperti membabat rumput kering saja, diatas gunung liar ini langsung menggema suara jeritan mengerikan. Suitan yang tajam, menggelagar disana sini tidak berhentinya, orang bertopeng seperti gelombang berkumpul kearah tempat pertarungan. Pelan-pelan, mereka terpisah, tiga orang di tiga tempat yang berbeda, sedang bertarung dengan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipa't lebih banyak. Para penjahat ini walau jumlahnya banyak, tapi Pek Sohciu berada diatas angin sepenuhnya, Pouw-long-tui memang mempunyai kedahsyatan membabat ribuan pasukan, ular pintar Sian-giok berkelebat menggigit orang,

cepat laksana angin, serangannya lebih lebih membuat gentar ha ti orang-orang bertopeng. Pek Soh-ciu membunuh hingga matanya menjadi merah, dia mengayun-ayunkan Pouw-long-tui kesana kemari telah berhasil membunuh musuh-musuhnya, seorang yatim piatu yang telah hancur keluarganya, berkelana di dunia persilatan, setiap saat masih ditekan orang, dendam yang dalam hingga masuk ke dalam tulang ini, sekarang mendapatkan kesempatan melampiaskan dengan baik. Maka dia dengan sepuas hati, dengan senangnya mengubar kesana-kemari, membiarkan darah segar membasahi sepasang tangannya, memerahkan seluruh baju putihnya. Ketika dia melabrak masuk ke lingkaran orang lainnya, dia jadi tertegun, dia melihat seorang wanita yang berbaju biru langit, sedang bertarung mati-matian dengan orangorang bertopeng. Tangan kanan dia melayang-layang membentuk bayangan pedang yang memenuhi langit, telapak tangan kirinya mengerahkan Ji-ie-sin-kang, menyapu melintang menerjang lurus, ganas seperti seekor macan betina, namun, rambut halusnya sudah tidak karuan, bajunya kucai, lengan kiri dan bahu kanannya, terlihat ada bekas luka dibeberapa tempat. Kelihatannya Leng-bin-sin-ni ini yang dulunya menggemparkan dunia persilatan, juga sudah bertarung cukup lama. Karena diantara orang bertopeng, banyak juga yang berilmu silat tinggi, ilmu silat Hun-ni walau pun tinggi, sudah nampak kehabisan tenaga, saat ini dia telah melihat Pek Soh-jiu, wajahnya yang pucat karena kehabisan tenaga, tiba-tiba tampak secercah merah, diisudut matanya, juga tampak gembira malu-malu. "Soh......ciu......kau......bukannya cepat kesini"

Jika bukan ada ular pintar Sian-giok, Pek Soh-jiu sesaat tertegun ini, mana masih bisa bernyawa! Akhirnya dibawah teriakannya Hun-ni, dia jadi sadar, mulutnya menjawab sekali: "Cici jangan marah, aku datang." Begitu Pouw-long-tui diayunkan, sinar hitam seperti panah datang dengan suara menggelegar, berbareng sepasang kakinya dihentakan, menggunakan ilmu meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui yang hebat, dia meloncat kearah Hun-ni. Tapi paak.-.paak... tertengar beberapa kali suara pegas, puluhan panah beracun melesat ke arah tubuhnya yang sedang meloncat, hatinya terkejut, pinggangnya langsung diputar, meluncur seperti anak panah, akhirnya dia bisa lolos dari panah beracun itu, saat dia dalam keadaan tergoncang dia melihat ke bawah, dia jadi terkejut setengah mati. Ternyata tempat bertarung mereka, adalah di pinggir sebuah jurang, ketika dia meluncur, tepat mengarah turun ke jurang yang kedalamannya tidak terlihat, saat ini tenaga dia sudah habis, dia tidak dapat menghentikan arah jatuhnya, terpaksa dengan dia hanya mengeluh, tidak pedulikan lagi mau mati atau hidup. Kecepatan jatuhnya sangat mengerikan, namun kesadaran dia tidak hilang, yang membuat dia jadi ngeri adalah kecuali suara angin kencang yang terdengar akibat turun tubuhnya, suara angin itu masih diselingi suara jeritan menyedihkan: "Soh... Ciu......Soh......Ciu... kau. .dimana..." Akhirnya buuk... terdengar suara yang keras sekali, dibarengi rasa sakit yang sampai ke dalam tulang, dia telah

tidak sadarkan diri, sebenarnya jika bukan karena Sian-giok yang telah menahan tubuhnya, akibatnya dia bukan hanya tidak sadarkan diri saja. Karena bantuan Sian-giok, tidak lama dia telah sadar kembali, tapi suara jeritan sedih itu, tetap masih mendengung ditelinganya: " Soh... Ciu......kau......dimana... Soh......Ciu..." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar, dia menemukan suara jeritan itu walau pun lemah, tapi itu adalah nyata, sehingga, sehingga dia memaksakan diri, berjalan menuju arah suara itu. Di dalam satu rerumputan yang tinggi, dia menemukan orang yang menjerit itu, dia, betul adalah nona Hun-ni yang penyendiri, tenaga dalam dia lebih tinggi dari Pek Soh-jiu, tapi karena jatuh dari jurang yang dalam sekali, siapa pun tidak akan bisa selamat, untung dia masih bernasib baik, beberapa kali tertahan oleh cabang pohon, walau pun terluka, tapi akhirnya tidak tewas, sayang cabang pohon yang tidak berperasaan itu, merubah bajunya menjelma jadi kupu kupu terbang menari, saat ini tubuh dia yang seperti minyak kambing itu, kembali terpampang dihadapan Pek Soh-jiu. Sekarang adalah siang hari bolong, bisa dikata-kan seluruh tempat terlarangnya, semua bisa terlihat jelas, sehingga, hawa birahi Pek Soh-jiu yang terkumpul di Tanan, kembali bergerak lagi, sepasang mata dia melotot, menyorotkan sinar binatang liar. Dengan langkah yang berat, dia berjalan menuju tempat Hun-ni merintih, giginya menggigit bibir bawah, tampak menjadi merah darah.

Dia dengan perlahan duduk disisinya Hun-ni, sepasang matanya dengan sekuat tenaga ditutup, dengan tekad yang sulit ditahan, dia mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan nafasnya yang kacau. Hawa birahi yang terbentuk oleh racun aneh itu, di dalam tubuhnya kembali membara tanpa ampun, dan tubuh bugil itu, rintihan itu, semuanya mengandung pancingan yang sulit ditahan. Tapi kesadarannya mengharuskan dia melakukan pengobatan pada bagian yang terluka, ini adalah hal yang sangat sulit sekali! Akhirnya, dia dapat melancarkan nafasnya, mengulurkan sepasang tangan, meraba di atas tubuhnya yang mulus hangat dan wangi itu, terakhir, dia telah mengetok seluruh tiga puluh enam titik saluran yang ada diseluruh tubuhnya, dan dengan tenaga dalam mengobati luka dalamnya, selesai melakukan pengobatan, dia hampir kehabisan tenaga. Saat dia bangun dari bersemedi, hari sudah gelap, bulan menggantung di timur, mata dia belum dibuka, pertama yang dirasakan adalah wangi hangat dihidungnya, dia segera menggunakan tenaga dalam untuk menahan hawa birahi yang menggelora itu, lalu dengan tenang berkata: "Apakah ini cici Hun? Bagaimana lukamu?" Sesosok tubuh yang panas sekali, menempel kearah dadanya, di dalam desahan yang lembut, terdengar satu suara gemetaran: "Terima kasih, adik! Aku sudah sembuh total, tapi, kenapa kau tidak membuka matamu? Apakah kau tidak sudi melihat cici? Adik......" "Bukan, aku......sungguh diutarakan......" ada masalah yang sulit

"Katakanlah! Aku ini sudah milikmu, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi?" "Keek, aku telah terluka oleh racun Toan-hun-cauw, untuk menghilangkan racun itu aku menggunakan cara sendiri, merubah racun menjadi hawa birahi yang sulit ditahan, waktu dipantai sungai......harap cici bisa memaafkan!" "Haai...! Aku sudah menduga kau bukanlah orang yang tidak tahu diuntung, tapi tidak peduli niatmu itu apa......bagaimana pun kau tidak akan meninggalkan cici, betul?" "Benar! Tapi aku sudah mempunyai dua......" "Aku sudah tahu dua orang perempuan kecil itu, kau tenang saja, aku tidak akan permasalahkan semua ini." "Sungguh terlalu merendahkanmu! Sekarang harap kau menjauh sedikit......" "Kenapa?" "Karena......keek, saat aku......membuka mata, mungkin tidak akan tahan......" "Jangan menahannya lagi, adik! Hawa birahi yang terlalu lama membakar tubuh, itu bisa melukai tubuh, apalagi jika kau ketemu wanita lain, bukankah..." Sebuah desahan, sebuah tubuh yang panas merangsang, menggesek di dadanya yang berotot itu, menimbulkan gemuruh angin kencang, membuat rumput di dalam lembah ini, semuanya gemetaran tidak bisa menahan diri....... Lama... setelah satu helaan nafas panjang: "Adik......" "Mmm......"

"Kau coba salurkan tenaga dalammu." "Aku sangat baik." "Kalau begitu aku akan buat aturan denganmu." "Silahkan ciri katakan!" "Cici berkelana di dunia persilatan, selalu memandang rendah laki-laki, setelah bertemu denganmu, malah mendapatkan kedudukan terkecil......" "Cici sangat ternama di dunia persilatan dengan demikian...... sungguh membuat hatiku tidak bisa tenang." "Aku sudah katakan aku tidak pedulikan masa-lah ini, tapi mulai dari sekarang dan selanjutnya, kau tidak boleh mempunyai wanita keempat! Apakah kau dengar?" Dia sepertinya berusaha membuat suaranya lembut, tapi di dengar di telinganya Pek Soh-jiu, tetap ada mengandung kekuasaan, dia hanya merasakan hatinya sedikit tergetar, lalu tanpa sadar berkata: "Aku dengar! Aku tidak berani lagi......" "Hemm, apa berani tidak berani, kau tidak perlu gunakan siasat ini padaku, jika di dengar orang, mereka akan mengatakan aku merendahkan laki sendiri." "Ya, ya, cici! Aku salah bicara." "Kedua, tidak peduli dua wanita itu siapa yang jadi istri tertua, tapi usia ku lebih tua dari pada mereka, maka mereka harus memanggil cici padaku." "Aku pikir mereka pasti bisa......" "pasti bisa? Hemm jika tidak bisa aku hanya akan berurusan denganmu!" "Baik, baik! Aku pasti bisa melakukannya."

"Ketiga, jika aku adalah yang terbesar, maka di keluarga kita akulah yang memimpin, maka kau dan dua wanita itu, semuanya harus menurut perintahku." "Ya, kami akan menurut." "Walau kau sudah menyanggupi semuanya, aku masih harus peringatkan kau satu kata, jika sampai tidak bisa terlaksana, hemm.. hati-hati akan kukupas kulit-mu." "Ini......keek, keek, bukankah akan jadi pembunuh suami?" "Dimulai dari kuil Pek-Iiong, aku sudah berniat mengulitimu, tidak di duga tidak berhasil menguliti, malah sebaliknya......keek......bangunlah! Tolong carikan bungkusanku, jika tidak sekali ada orang datang, bagaimana aku menemui mereka!" Pek Soh-jiu menyahut sekali, dengan pelan mendorong tubuhnya, lalu memakaikan baju panjang dia diatas tubuhnya, kemudian berkelebat, meloncat keluar dari rerumputan, tapi setelah dia mencari ke seluruh lembah, dua bungkusan baju mereka bayangannya pun tidak ada, dia terpaksa kembali kesisi Hun-ni berkata: "Kak! Sudah dicari keseluruh tempat terdekat, lapi bungkusan kita tidak ada." Hun-ni berkata: menuntun tangan dia duduk bergandengan

"Kenapa kau tidak mencari lebih jauh sedikit?" "Hari terlalu gelap! Mencari terlalu jauh aku juga tidak bisa tenang." Hun-ni mencibirkan bibir, perlahan tubuhnya kepelukan Pek Soh-ciu berkata: merebahkan

"Mulutmu ini manis sekali, tidak heran banyak wanita yang menyukaimu, sudahlah, kita istirahat dulu sebentar, menunggu setelah hari terang baru mencari lagi." Sepasang laki-laki dan perempuan yang mengikat janji di dalam lembah ini, semuanya berilmu sangat tinggi, asalkan bersemedi sebentar, sudah bisa menghilangkan rasa lelah setelah bekerja semalaman, tapi sampai matahari melewati puncak gunung, sinar matahari memenuhi seluruh lembah sunyi, mereka masih belum berniat bangun. Hal ini tidak mengherankan, wanita seperti Hun-ni yang memandang rendah laki-laki, sekali mendapatkan kesenangan yang luar biasa, jadi merasakan hangatnya malam hari terlalu pendek, sampai terakhir, dia merasakan tidak bisa memaksa lagi, baru dengan bermalas-malas bangkit duduk, sorot matanya melirik pada Pek Soh-jiu, wajahnya yang cantik segera timbul warna merah, sesaat, dengan tersenyum manis berkata: "Adik Qiu! Kau telah mencelakai aku." Pek Soh-jiu bengong: "Kak! Kau mengatakan......" Dia memberi sebuah lirikan mata putih padanya berkata: "Hemm... kau pura-pura bodoh, kau lihat aku mirip tidak dengan Leng-bin-sin-ni?" Pek Soh-jiu memeluk tubuhnya, mencium mesra dia lama sekali lalu berkata: "Ini hanya bisa menyalahkan Gwat-sia Lojin (Dewa Jodoh didalam dongeng) yang tidak ada kerjaan, tidak bisa salahkan diriku." Tiba-tiba Hun-ni berteriak genit, katanya: "Apa? Kau bilang Dewa Jodoh tidak ada kerjaan?"

"Tidak, tidak," Pek Soh-jiu buru-buru berkata, "Yang aku maksud adalah mungkin cici bisa menyalahkan Dewa Jodoh tidak ada kerjaan, mengenai aku sih berterima kasih juga takut tidak keburu." Hun-ni melotot dia sekali, lalu pssst... tertawa, Pek Sohjiu baru merasa bisa lega hatinya, berhubungan dengan wanita, dia sudah pengalaman, tapi dihadapan Hun-ni, dia punya perasaan selalu salah gerak, terhadap Su Lam-ceng, Siau Yam, Hun-ni, dia suka semua, karena mereka adalah cantik seperti bidadari, tapi terhadap Hun-ni, di dalam sukanya ada perasaan sedikit segan. Saat ini Hun-ni memakai baju panjang dia, dia sendiri hanya memakai baju dalam saja, mereka bergandengan berjalan keluar dari rerumputan, mendadak mereka berdua mengeluarkan suara iiih... keheranan, keduanya berdiri terbengong bengong. Ternyata jurang ini, bentuknya adalah persegi panjang, empat tebingnya menjulang tinggi ke langit, tidak tahu berapa tinggi, tebingnya tegak lurus, kera pun sulit untuk mendakinya, jika ingin keluar dari jurang ini, mungkin lebih sulit dari pada naik kelangit, tapi yang membuat mereka terkejut, bukan sulitnya keluar dari jurang. Tapi adalah bungkusan yang dicari-cari tidak diketemukan oleh Pek Soh-jiu, saat ini sedang dilempar dipermainkan oleh seekor kera yang besar sekali. Dia menggunakan sepasang tangannya dari tangan kiri dilemparkan ketangan kanan lalu sebaliknya, setiap kali melemparkan, tingginya hampir sepuluh tombak lebih, lalu dia meloncat keatas, di udara dia menangkap bungkusan itu, sekali bersalto dengan ringannya turun diatas satu batu gunung.

Hun-ni memperhatikan beberapa saat, lalu membalikan kepala berkata pada Pek Soh-jiu: "Adik Ciu! Di dalam jurang ini, mungkin ada seorang aneh persilatan yang bertapa disini, kita harus sedikit hatihati." Pek Soh-jiu dengan perasaan keheranan berkata: "Bagaimana cici bisa tahu?" Hun-ni menatap pada kera besar itu berkata: "Kera walau pun kemahirannya adalah meloncat loncat, tapi jelas kera ini mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, mungkin adalah hewan peliharaan seorang pesilat tinggi tua untuk menjaga jurang." "Bagaimana pun juga, kita harus ambil dulu bungkusan itu," kata Pek Soh-ciu. "Baik, biar aku mencobanya dulu." Pek Soh-jiu tertawa: "Tidak perlu kita yang melakukannya, cukup Sian-giok yang melakukannya." Lalu lengan kanannya dengan pelan melemparkan Sian-giok ke udara, bayangan putih itu seperti anak panah, dalam sekejap mata tubuhnya yang kecil, dengan membawa angin kencang menyerang kearah dadanya sikera. Kera besar itu baru saja melemparkan bungkusannya ke atas, ketika Sian-giok sudah datang menyerang dadanya, dia tidak sempat mempedulikan bungkusan itu, cet.cet.. kera itu berteriak, sekali meloncat jauhnya satu tombak lebih, membuat serangan Sian-giok gagal, lalu secepat angin balik menerkam* mengulurkan telapak tangannya yang besar, dipukulkan pada titik tujuh cun nya Sian-giok.

Pek Soh-jiu tahu Sian-giok tidak akan terluka, dia mengambil dulu bungkusan itu, dengan Hun-ni masingmasing mengganti baju dengan yang bersih, lalu bergandengan tangan, menonton seekor ular dengan seekor kera, saling kejar-kejaran diantara bebatuan gunung, kirakira sepertanakan nasi, kera besar itu sudah kewalahan, setiap kali bertarung dia melarikan diri beberapa tombak, selalu di desak mundur kembali oleh Sian-giok, sehingga cet.. cet.. dia berteriak gelisah menyedihkan. Pek Soh-jiu takut kera besar itu benar-benar ada pemiliknya, jika sampai Sian-giok melukainya, pasti akan menimbulkan masalah, dia baru saja akan memanggil kembali Sian-giok, mendadak dia melihat satu bayangan orang berwarna merah, bergerak lebih cepat dari pada panah, dia lari ke dekat pertarungan kera dan ular, sebuah telapak tangannya memukul, suaranya seperti sutra sobek, ular pintar Sian-giok yang terbangnya secepat kilat, sepertinya tidak tahan pada angin pukulan aneh orang itu, tubuhnya dilengkungkan lalu dihentakan, terbang miring beberapa tombak keluar, Pek Soh-jiu cepat-cepat bersiul, Sian-giok yang di udara sekali menghentakan tubuhnya, sudah terbang kembali keatas lengannya. Bayangan orang warna merah itu sedikit tertegun, tubuhnya berkelibat, dia seperti dewa langit berdiri satu tombak didepan Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu dan Hun-ni sama sama merasa terkejut, mereka berdua tidak menduga di lembah yang liar ini, malah bisa bertemu dengan seorang yang berilmu sangat tinggi, apalagi pukulan telapak tangan dia barusan, sungguh sangat hebat sekali, entah dia menggunakan jurus aliran mana. Tapi mereka berdua di dalam hati tahu, maka lawan tidak menyerang tidak ada apa-apa, tapi sekali dia menyerang, pasti dunia seperti akan kiamat, maka diam-

diam mereka memusatkan tenaga dalamnya, bersiap melakukan pertarungan. Tapi orang tua baju merah itu, sepertinya tidak ada niat untuk menyerang, pertama-tama dia melihat sekali pada Pek Soh-jiu, lalu matanya diputar, dengan tanpa berkedip matanya memperhatikan seluruh tubuh-nya Hun-ni. Wajahnya, tadinya sangat serius, tapi dalam sekejap mata, sudah berubah jadi tersenyum, yang lebih lebih membuat orang sulit mengerti adalah sepasang matanya berlinang air mata, seluruh rambut putihnya dan berdiri semua, sampai mantel merah yang besar itu juga berkibarkibar tanpa ada angin, rupanya yang perkasa itu, sungguh membuat orang jadi terkejut. Sesaat, mendadak tubuhnya berkelebat, secepat roh setan, mengulurkan tangan telah menangkap lengan nya Hun-ni, dan dengan suara gemetar emosi yang tidak bisa ditahan berkata: "Anak Yam! Kau... ha...ha...ha akhirnya...... pulang juga, ayah......keek keek......mati pun akan bisa memeramkan mata." Saat orang tua baju merah menangkap lengan Hun-ni, Pek Soh-jiu sudah mengangkat Pouw-long-tui akan menyerang, tapi dia sedikit ragu, karena dia sudah terpikirkan orang tua ini adalah orang tua rambut putih yang membawa lari Su Lam-ceng, karena waktu itu baju nya berbeda dengan sekarang, dia sendiri juga tidak menduga di lembah liar ini bisa bertemu dengannya, setelah terpikirkan ini, dia jadi amat gembira sekali. Tadinya dia ingin maju menjawabnya, tapi sesaat tidak bisa menyela pembicaraan, karena...... "Orang tua, harap lepaskan tanganmu, nama ku Hun-ni, bukan Siau Yam yang kau sebutkan."

"Apa, kau bukan Siau Yam? Keek, ayah ini sungguh ayah yang tidak bertanggung jawab, ini tidak bisa salahkan kau. Tapi, anak Yam...! Tapi juga tidak bisa salahkan ayah, haai......" "Orang tua, kau sungguh telah salah mengenal orang, aku sungguh bukan Siau Yam!" "Hm.., jangan sangka setelah ayah meninggalkan kau sepuluh tahun lebih lalu tidak mengenal, walau kau berubah terus, ayah tetap saja bisa mengenalimu, apa lagi dikaki kananmu......" Saat ini akhirnya Pek Soh-jiu mendapat kesempatan bicara, dia dengan tersenyum berkata: "Paman! Di telapak kaki adik Yam ada tanda lahir berwarna merah, dia bukan adik Yam, tentu tidak ada tanda lahir merah itu ' Orang tua mantel merah tertegun, lalu dengan marah sekali berkata: "Bocah, bagaimana kau bisa tahu? Cepat katakan!" Hun-ni berkata tawar: "Orang tua harap jangan marah, Siau Yam adalah isterinya, apa anehnya dia tahu! Yang lebih aneh lagi adalah mungkin kau orang tua juga tidak bisa percaya, aku juga isterinya, tapi tanda lahir merah di telapak kaki kananku, dia sampai sekarang juga belum tahu!" “Apa...” “Apa...” Begitu Hun-ni mengumumkan ini, tidak ada bedanya dengan menjatuhkan sebuah bom, orang tua bermantel merah dan Pek Soh-jiu hampir bersamaan waktu bengong melotot.

Sesaat, orang tua bermantel merah berteriak marah: "Bocah, dengan cara apa kau bisa berhasil menipu putriku? Dimana orangnya sekarang? Kau sudah apakan dia? Katakan dengan jujur, jika tidak aku bunuh kau!" Pertanyaannya orang tua bermantel merah, seperti rentetan peluru, selain nadanya menekan, juga menghina orang, membuat Pek Soh-jiu sulit bisa menerimanya. Dia mengangkat alisnya, berkata dingin: "Putrimu terpisah denganku di pantai sungai Sin-an, keberadaannya ada dimana, aku tidak bisa menduganya, mengenai masalah aku dengan putrimu, tunggu sampai kau bertemu dengan putrimu, baru tanyakan pada dia juga tidak terlambat, dan masih ada, istriku Su Lam-ceng sekarang ada dimana? bagaimana kau perlakukan dia?" Pek Soh-jiu tanpa tedeng aling-aling membantahnya, hingga menimbulkan hawa membunuh orang tua bermantel merah, dia melepaskan lengan Hun-ni berkata: "Mengingat kau dengan anak Yam banyak miripnya, aku tidak mempersulitmu, tapi bocah ini, aku harus membunuhnya." Sifat kerasnya orang tua ini, sungguh tiada duanya, baru saja selesai bicara dia langsung mengayunkan tangan memukul, diudara seperti timbul guntur, dalam sekejap mata dia berturut turut telah menyerang delapan jurus telapak tangan, kehebatannya tenaga dalam orang tua ini, belum pernah Pek Soh-ciu melihatnya, setiap pukulan yang dikeluarkan, semuanya mampu menghancurkan batu kali, jika bukan ular pintar Sian-giok membantu maju menyerang, hanya dengan kekuatan serangan telapak ini, Pek Soh-jiu mungkin sudah kehilangan muka.

Sifat Pek Soh-jiu yang tinggi hati, bagaimana bisa menerima penghinaan ini, dia mengeluarkan Pouw-longtui, dengan jurus Ciau-ji-hui-tui (Bor terbang matahari bersinar terang), sinar hitam mendadak timbul, ssst... bor besi menembus angin pukulan lawan, menerjang kearah dadanya. Ular pintar Sian-giok juga seperti dewa naga, dia menerkam dari udara, arah yang dituju ular, tidak jauh dari titik mematikan orang tua itu. Serangan dahsyat seorang manusia dan seekor ular ini, walau pesilat tinggi nomor satu masa kini, mungkin juga tidak mampu menahannya, walau tenaga dalam orang tua ini tinggi, dia dipaksa jadi kalang kabut, situasinya berbahaya seperti telur diujung tanduk. Mendadak, terdengar siulan keras seperti geledek, jurus telapak orang tua bermantel merah berubah, tampak bumi dan langit menjadi gelap, sinar matahari seperti kehilangan cahayanya, lembah yang tumbuh subur pohon hijau, dalam sekejap mata, berubah jadi seperti daerah mati tidak bernyawa. Serangannya Pouw-long-tui, tampak seperti tidak bertenaga, kecepatan terbang ular pintar Sian-giok, juga berubah menjadi pelan dan kaku. Hun-ni yang menyaksikan menjadi terkejut, dia tahu pukulan telapak yang aneh dari orang tua itu, pasti ilmu hebat dari aliran aneh yang sudah lama meng-hilang, walau pun dia ikut membantu, mungkin juga tidak ada gunanya, tapi dia tidak ingin setelah semalaman bercinta, lalu menjadi seorang janda yang menghabiskan masa remaja, suami mendapat kesulitan, tidak peduli bagaimana bahayanya, dia juga wajib menemaninya. Maka dia teriak:

"Maaf, orang tua, walau kau tidak mempersulit aku, tapi aku tidak bisa tinggal diam kau membunuh suamiku, apa lagi dia itu juga menantumu! Membunuh dia, mungkin adik Yam juga akan membenci kau seumur hidupnya, pikirkanlah, orang tua." 0-0dw0-0 BAB 7 Mayat bergelimpangan darah Sehabis Hun-ni berbicara, sepasang tangannya tidak tinggal diam, Ji-ie-sin-kangnya dikerahkan sampai puncaknya, sepasang tangannya menyapu melintang memukul lurus, ikut bertarung dengan sangat sengitnya. Ini adalah pertarungan yang sulit bisa disaksikan di dunia persilatan, juga yang paling aneh, tiga orang, tua muda ini, semuanya adalah orang yang top di dunia persilatan masa kini, termasuk ular pintar Sian-giok, juga bukan sembarang jago bisa melawannya. Tapi, setelah lewat tiga ratus jurus, mereka seperti telah melampiaskan amarah di dalam dada mereka, saat menyerang, sudah tidak dengan sekuat tenaga lagi, karena mertua membunuh menantu, tidak bedanya dengan memutuskan sendiri hubungan ayah dengan putrinya. Orang tua bermantel merah yang sangat merindukan putrinya, sama sekali tidak ingin melakukan hal yang bodoh, jika menantu membunuh mertua? Lalu bagaimana mempertanggung jawabkan pada teman seranjang? Sehingga mereka bertarung kesana-kemari, malah makin bertarung semakin tidak bersemangat, tapi siapa pun tidak mau berhenti duluan, orang-orang persilatan, seringkah

bertarung karena mempertahankan gengsi dengan alasan yang tidak masuk akal. Ular pintar Sian-giok telah terbang kembali ke tempatnya, dia berhenti di atas bahunya Pek Soh-jiu, sepasang matanya yang merah tidak berhentinya berputar, sepertinya sedang menikmati pertunjukan ilmu silat yang sulit ditemukan. Memang tepat sekali kalau dikatakan mereka sedang mengadakan pertunjukan, jarak mereka jadi jauh sekali, seperti menari-nari tanpa mengeluarkan tenaga, dan selalu memperhatikan lawannya, sepertinya takut kalau kurang hati-hati bisa melukai lawannya. Lama sekali... sebuah tawa yang seperti bel perak, terdengar di sisi mereka: "Guru! Apa kau ini sedang mengajar ilmu silat pada Ciu koko? Hematlah tenaga, jika mau setelah makan kalian boleh ulangi lagi." Orang tua bermantel merah meloncat menying-kir keluar, kepada seorang wanita yang cantik dan manis berbaju kuning, mendengus, melotot sambil marah berkata: "Anak yang nakal, kau jelas-jelas tahu guru tidak ingin melukai bocah bodoh itu, kau malah diam berdiri di pinggir, ingin melihat guru mendapat malu ya? Henmm ulurkan tanganmu, guru harus memberi pukulan beberapa kali pada telapak tanganmu." "Yaaw!" sekali wanita baju kuning berkata, "Tidak mau, guru berat sebelah, kau tidak mampu mengurus menantu malah mengalihkan marahnya pada murid, aku tidak......" Disaat dua orang guru dan murid ini berbicara, Pek Sohjiu sudah emosi, rasanya dia ingin meloncat, dia menyadari wanita berbaju kuning itu adalah Su Lam-ceng yang sudah cukup lama berpisah, penampilannya masih cantik seperti

dulu, melihat keadaannya, dia telah berhasil belajar ilmu yang hebat, saat ini dia sudah tidak tahan lagi, langsung berteriak: "Adik Ceng' langsung berlari maju, Su Lam-ceng dipeluknya dengan erat. Tentu saja perkataan Su Lam-ceng tidak bisa diteruskan, dia dengan jinaknya diam tidak bicara, merebahkan diri di dalam pelukan Pek Soh-ciu, mengusap-usap, sepasang mata yang berlinang air mata, mulut munggilnya sedikit terbuka, di dalam kepedihannya bercampur rasa bahagia yang sulit diutarakan. Lama, wajah dia jadi sedikit merah, bibirnya dicibirkan dia mendorong dengan lembut berkata: "Ada adik Yam, ada kakak Hun, hemm, kapan kau ingat aku?" Pek Soh-jiu membalikan kepala melirik, melihat orang tua bermantel merah dan Hun-ni sudah tidak ada, baru dia menghembus nafas lega berkata: "Adik Ceng, kau sungguh pintar menyalahkan orang, jika bukan demi kau, aku bagaimana bisa mencari adik Yam,......mengenai kakak Hun itu......" "Sudahlah, kau tidak perlu menjelaskan padaku, haai, setiap peristiwa semuanya sudah ditakdirkan, semua ini aku sudah tahu sejak dulu. Jalanlah, jika kita terlalu lama disini, kakak Hun mungkin tidak mengampuni kau." Hati Pek Soh-jiu meloncat, wajahnya juga tampak serba salah, cinta dia terhadap Su Lam-ceng, jika harus membandingkan, tidak ada orang yang bisa menandinginya, cantiknya memang bisa disetarakan dongan dewi khayangan, dan aura dia yang istimewa, anggun, sulit dicari ada orang kedua, yang paling membuat Pek Soh-jiu mengaguminya, adalah pengalaman dia yang

begitu luas, kepintarannya seluas lautan, masalah apa saja, jangan harap bisa mengelabui dia, tidak bedanya dengan seorang idiot membicarakan mimpi! Maka dia tidak berani mendebat, dituntunnya, diam seribu bahasa lari cepat kedepan, lama, akhirnya dia mendapatkan bahan bicara: "Keek!" katanya, "Adik Ceng, segala sesuatunya setelah kita berpisah, kau harus menceritakan padaku, kau bagaimana bisa jadi muridnya ayahnya adik Yam?" Su Lam-ceng mendengus: "Kenapa bukan ceritakan lebih dulu cerita asmaramu itu padaku?" "Keek, Li Cukat (wanita pintar) bisa meramal segala sesuatu, buat apa menyuruh aku menghambur hamburkan lidah?" "Memperkirakan dengan dasar situasi, hanya bisa tahu garis besarnya saja, aku ini bukan dewa, bagaimana bisa tahu cerita detailnya!" "Apakah kau mau mendengarnya?" "Bukan ingin, tapi suka." "Haai......" "Kau ini kenapa? Ciu koko, kalau tidak mau menceritakannya ya sudah, kenapa harus berkeluh kesah segala." "Ha...ha...ha bukankah Li Cukat bisa tahu sebelum masalah akan terjadi, kali ini malah salah besar, aku beritahukan padamu, adalah gembira kau......" "Kau jangan bicara sembarangan......"

"Baik, aku tidak katakan, aku akan ceritakan pengalaman yang terjadi setelah kita berpisah, itu kan boleh." Maka mereka berdua bercerita, tertawa, mengeluh, mendengarkan, walau sebisanya memperlambat langkahnya, akhirnya tiba juga di goa tempat tinggalnya Su Lam-ceng, Pek Soh-jiu mengangkat kepala melihat pada papan yang bertuliskan melintang dua huruf Ce-hian berkata: "Haai, kenapa begitu cepat sudah sampai, aku masih belum mendengar ceritanya!" Su Lam-ceng tersenyum simpul berkata: "Hari masih panjanglah, buat apa terburu buru?" Didalam goa ada beberapa kamar, kecuali orang tua bermantel merah, Su Lam-ceng, kera besar masing masing satu kamar, masih ada kamar latihan, ruang tinggal, ruang kamar dan lain lain, perabotannya walau pun sederhana, tapi semuanya komplit, tapi yang mereka minum adalah air gunung, makanan mereka adalah buah liar, bukan makanan manusia biasa, mereka hidup seperti kehidupan para dewa. Su Lam-ceng memimpin masuk kedalam ruang tinggal, memonyongkan mulut pada dia, berbisik: "Terhadap mertua, menantu harus ada hormat, cepat temani dia." Pek Soh-jiu segera maju beberapa langkah, bersoja membungkuk sampai ke tanah berkata: "Gak-hu, maaf atas kekurangajaran ku tadi..." Orang tua bermantel merah mendengus berkata:

"Bagaimana hilangnya anak Yam? Kau bocah kecil jika memang suaminya, apakah kau sedikit tanggung jawab, melindungi dia juga tidak bisa?" Su Lam-ceng berkata: "Guru jangan salahkan dia, saat itu dia sedang mengobati lukanya, adik Yam berjaga-jaga untuk dia, saat dia selesai mengobati luka, adik Yam sudah menghilang tidak ada jejaknya." Orang tua bermantel merah kembali bertanya pada Pek Soh-jiu: "Apa kau tidak mencoba mencari, sedikit jejak pun tidak diketemukan?" "Aku sudah datang di tempat jaganya adik Yam, malah menemukan beberapa orang bertopeng, setelah bertarung sengit, walau pun tidak sedikit yang mati, tapi sulit bisa menangkap hidup hidup......" "Orang-orang bertopeng itu berasal dari aliran mana?" "Aku dengar mereka adalah anak buahnya Ang-kungiok-hui Hai Keng-sim." "Apa? Wanita hina itu? Dia......dia......" Rupanya orang tua bermantel merah terhadap Ang-kungiok-hui Hai Keng-sim, seperti punya dendam yang sangat dalam, tampak alis dan jenggotnya berdiri, matanya melotot seperti hampir pecah, sepertinya ingin sekali menguliti dia. Pek Soh-jiu berkata: "Adik Yam adalah murid ketiganya Ang-kun-giok-hui, dia seperti mendapat perintah dari Ang-kun-giok-hui, sepertinya akan mencelakai aku, tapi dia tidak melaksanakan perintah gurunya, maka dia jadi murid yang

mengkhianati guru, makanya, jika benar-benar telah ditangkap oleh Ang-kun-giok-hui, mungkin...... mungkin bisa berbahaya sekali......" Orang tua bermantel merah mendadak mengangkat kepalanya, tertawa keras berkata: "Wanita hina, sudah mencelakai suami, hingga putri sendiri juga tidak mau diakuinya! Ha ha...ha bagaimana pun anak Yam adalah anak yang baik, jika dia benar-benar mencelakai mu, bocah kecil, maka aku tidak menginginkan lagi dia sebagai putriku." Hati Pek Soh-jiu tahu, antara orang tua ber-mantel merah dengan Ang-kun-giok-hui, pasti ada sesuatu hubungan istimewa, tentu saja dia tidak enak menanyakannya, maka matanya memandang pada Su Lam-ceng, berharap mendapatkan sedikit kejelasan, sebenarnya Su Lam-ceng sudah mengikuti guru setahun lebih, belum pernah mendengar orang tua bermantel merah menyebut-nyebut Ang-kun-giok-hui, hanya tahu namanya Siau Ji-po, dulu adalah seorang yang membawa adat sendiri, julukannya Thian-ho-sat-kun (Pembunuh api langit), Siau Ji-po, tidak peduli dari aliran hitam atau putih, siapapun yang mendengar namanya jadi ketakutan, yang dia ketahui hanya segitu saja. Tapi dia juga sungguh berakal banyak, tampak dia tersenyum manis, menarik lengan baju Thian-ho-sat-kun berkata: "Guru, kalau murid punya cara mengembalikan seorang putri yang segar bugar, guru akan memberikan hadiah apa pada murid?" Thian-ho-sat-kun sedikit tertegun, lalu tertawa berkata: "Nona kecil, kau jangan mempermainkan guru, seluruh ilmu guru yang jelek ini, sudah diperas semua olehmu setetes pun tidak tersisa, kecuali tulang tua ini, guru sudah

tidak punya apa-apa lagi, tapi, nona kecil, jika kau benar dapat mencari adikmu, guru masih dapat melakukan satu hal yang bisa menggembirakanmu." Su Lam-ceng mengangkat alisnya berkata: "Hal apa? Katakan dulu biar aku pertimbangkan” "Bocah she Pek ini, semakin dilihat, guru semakin sebal, tadinya aku ingin memukul dia untuk meredakan amarahku, demi supaya kau sedikit gembira, pukulan ini terpaksa dibatalkan." Su Lam-ceng mencibirkan bibir berkata: "Hemm, semakin dilihat semakin menggembirakan itu baru betul, ingin memukulnya? Jangan kata adik Yam, dua orang yang ada ditempat sudah pasti tidak rela." Thian-ho-sat-kun tertawa terbahak-bahak, dia seharian mendapat hal yang tidak menggembirakan, setelah dibuat kelakar oleh Su Lam-ceng, kekesalannya jadi buyar semua, dia melihat Thian-ho-sat-kun masih ada sedikit tidak percaya, maka sambil tertawa berkata: "Guru tenang saja, di dalam waktu seratus hari, pasti aku akan mengembalikan seorang adik Yam padamu, sekarang kita istirahat dulu, besok pagi-pagi kita berangkat." Saat ini kera besar membawakan makanan dan minuman, setelah makan Thian-ho-sat-kun bersemedi, mereka bertiga berbincang-bincang di dalam kamarnya Su Lam-ceng, Pek Soh-jiu tidak tahan bertanya: "Adik Ceng, cepat ceritakan segala kejadian tentang kau, setelah kita berpisah, aku sungguh sudah tidak tahan lagi." Su Lam-ceng tertawa berkata: "Sebenarnya tidak ada apa-apa, guru tadinya menganggap aku ini sebagai sanderanya, kemudian aku bisa

dengan tepat menebak beberapa masalah didalam hati dia, maka dia jadi gembira. Keek, kakak ini, kau tidak perkenalkan padaku?" Setelah diperkenalkan oleh Pek Soh-jiu, Su Lam-ceng segera memberi hormat pada Hun-ni berkata: "Adik menghormat ciri." Hun-ni membalas menghormat: "Kau masuk lebih dulu, kata hormat ini, aku tidak berani menerimanya, seharusnya aku yang harus menghormatimu sebagai istri tertua, namun usiaku lebih tua dari padamu, memanggil aku kakak juga tidak berlebihan, dan juga......" Su Lam-ceng dengan anggunnya tertawa: "Kami turut kau saja, cici masih ada pesan apa?" "Aku dengar kau pandai meramal, bertemu masalah bisa tahu sebelumnya, aku dengan adik Ciu mengalami bahaya jatuh kedalam jurang, kau seharus-nya cepat-cepat datang menolong baru betul!" "Keek, cici jangan menyalahkan orang yang baik hati, jangan kata cepat-cepat datang menolong, walau pun aku datang pagi hari ini......cici tentu akan memaki adik ini pembongkar mimpi indah, tidak tahu perasaan orang." Wajah Hun-ni menjadi merah: "Mulut munggil yang sangat lihai, cici kalah berdebat denganmu." Pek Soh-jiu menonton mereka berdua berdebat, dia melihat kanan menatap kiri, senang tidak terhingga, tiba tiba teringat Hun-ni dengan Siau Yam tidak saja wajahnya mirip sekali, sampai ditelapak kaki kanan juga sama-sama mempunyai tanda lahir merah yang sama, timbul sedikit pertanyaan dalam hatinya, katanya: "Cici Hun, di telapak kakimu apa benar ada sebuah tanda lahir merah?"

Hun-ni mendengus: "Kau tidak percaya?" "Bukan tidak percaya, hanya merasa terlalu kebetulan sekali." Su Lam-ceng berkata: "Di dalam masalah ini mungkin ada sesuatu yang penting, kalian jangan bertengkar dulu, biar aku coba meramal dulu." Yang dia gunakan adalah cara Liu-jin, Liu-jin dengan Tun-kah-tai-it disebut tiga cara. Cara peramalannya berjumlah enam puluh empat pelajaran, berasal dari Ihkeng, setelah lama menghitung, mendadak dengan wajah serius dia berkata: "Cici......" "Mmm......" "Kau lahir diatas air." "Tidak salah." "Gunung tinggi mengalir jauh, airnya deras, mungkin adalah San-sia di sungai Tiang-kang......" "Kek......" "Cu-gouw saling bertentangan, papan mengambang di atas air, ketika cici baru berusia satu tahun, sudah menjadi yatim piatu." "Kek, adik! Aku sungguh kagum padamu." "Beruntung ada seorang yang memelihara, hingga berhasil belajar ilmu silat yang hebat sekali, sayang aku bernasib menyendiri, harus tinggal terlebih dulu di kuil......, kalau sekarang, bulan purnama bunga bagus, suami nyanyi

istri mengikuti, melihat dari ramalan, cici seharusnya she Siau, guruku adalah ayah kandungmu......" Hun-ni jadi tertegun, dia tidak menduga adik Ceng nya memang memiliki ilmu yang mampu menembus langit, dalam sesaat dia malah jadi melongo tidak bisa bicara. Tepat disaat ini, sinar merah berkelebat, Thian-ho-satkun menerjang masuk, dengan bercucuran air mata tuanya menangkap Hun-ni berkata: "Ibumu she Hun namanya Sang-ku?" Hun-ni bengong: "Benar, aku pernah mengatakannya." mendengar almarhum guru

Thian-ho-sat-kun dengan marah berkata: "Hai Keng-sim hatinya sungguh kejam, dia diam diam mencelakai kalian ibu dan anak, malah mem-bohongiku mengatakan kau mendapat musibah perahunya terbalik, Siau Ji-po jika tidak membunuh wanita ini dengan tangan sendiri, bagaimana bisa bertanggung jawab pada arwah ibumu dilangit, anak! Tahun-tahun ini sungguh membuat kau menderita." "Ayah......" wanita yang kesepian menyendiri, kepedihan yang terkumpul didalam hatinya sungguh terlalu banyak, nama yang termasyur di dunia persilatan, tidak bisa menghibur kekosongan di dalam hati. Walau, sekarang dia telah mempunyai seorang suami, mempunyai seorang ayah kandung, tetap saja tidak terhindar merasakan ingin menguatarakan kepedihan hati. Beberapa saat, Thian-ho-sat-kun baru menggandeng Hun-ni sambil tertawa berkata: "Anak Hun, demi memperingati ibumu, nama kau jadikan Siau Hun saja." berhenti sejenak lalu berkata lagi:

"Kita ayah dan anak bisa berkumpul, anak Hun, nona kecil ini berjasa dan sungguh lihay, kau cepat-cepat berterima kasih padanya!" Maka Siau Hun dengan serius menghormat dan berterima kasih, Su Lam-ceng malah memonyongkan mulutnya berkata: "Menjadi orang baik sungguh sulit, guru sendiri mengatakan aku ini sangat lihay, sebenarnya kalau ingin berterima kasih, harus pada Ciu koko, guru jangan lupa, cici Hun dibawa kemari oleh dia." Thian-ho-sat-kun sambil tertawa lalu bersuara "Hemm!" berkata: "Berterima kasih pada dia? Hemm, dua putri guru, satu orang murid, semuanya telah habis dibohongi dia, memarahi dia saja belum cukup!" Ha...ha...... Keek..keek...... Suasana gembira memenuhi lembah sunyi gunung liar ini, sampai kera besar yang namanya Huan-nio itu, juga sedang menari-nari kegirangan. Tiba-tiba Pek Soh-jiu seperti teringat sesuatu, dia menghentikan tawanya, dengan wajah seriusberkata: "Celaka, kita hanya tahu kesenangan, tapi melupakan dua orang teman." Siau Hun berkata: "Yang kau maksud apakah Sangguan Toako, dan Ouwyang Lo-ko?"

"Benar, membiarkan mereka terluka ditangan orangorang bertopeng itu, bukankah kita akan menyesal seumur hidup!" Siau Hun membalikan kepala berkata pada Su Lamceng: "Adik Ceng, di dalam jurang ini ada tidak jalan keluar gunung?" Su Lam-ceng berkata: "Ada, tapi jalan keluarnya berbelok belok dan panjang sekali, kira-kira memerlukan waktu seharian." Kata Su Lam-ceng. "Itu terlalu makan waktu, adik Ceng, tolong kau carikan kertas dan koas, aku ada akal bisa segera mendapatkan mereka." Kata Pek Soh-ciu. Setelah Su Lam-ceng menyediakan kertas dan koas, Pek Soh-jiu segera membuka, menulis surat singkat, berpesan pada Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun datang ke mulut lembah Ce-hian untuk berkumpul, dan juga menggambarkan peta tempat mulut lembah berada, supaya mereka bisa mencari dengan mudah, lalu kertas lipat, diikat dengan benang, menyuruh Sian-giok menggigitnya mencari mereka. Sian-giok dengan cepat melayang menghilang, tidak perlu empat jam, dia sudah kembali dengan membawa surat balasan dari Ouwyang Yong-it, menetapkan setelah lewat tengah hari dihari ketiga bertemu dimulut lembah. Karena masih ada cukup waktu, maka Thian-ho-sat kun menguji ilmu silat mereka bertiga, dan memberikan petunjuk, tentu saja diantara mereka bertiga ilmu silat Siau Hun yang paling tinggi, tapi jika Pek Soh jiu juga bisa mempelajari Ji-ie-sin-kang, lalu digabung dengan Kong-

hong-sam-si, maka kepandaian-nya tentu makin pesat, mungkin Siau Hun juga sulit menandinginya. Siau Hun sangat mencintai Pek Soh-jiu, walau harus mati demi Pek Soh-jiu, dia juga tidak akan mengerutkan alisnya. Tentu saja dia dengan rela mengajarkan ilmunya pada Pek Sohjiu, sehingga, walau waktunya singkat, ilmu silatnya Pek Soh-jiu sudah maju pesat, sudah sulit diukur. Setelah Pek Soh-jiu berhasil, Siau Hun malah berkata pada Thian-ho-sat-kun: "Ayah, mengapa kau menyembunyikan ilmu sendiri, kenapa tidak mengajari adik Ciu, ilmu silatmu yang misterius itu?" Thian-ho-sat-kun membuka sepasang telapak tangannya, menggelengkan kepala berkata: "Benar saja anak perempuan selalu memihak orang luar, jika ayah sendiri berharga dijual, beberapa batang tulang tua ini, pasti akan dibongkar habis habisan oleh kalian putri dan murid!" Su Lam-ceng tertawa: "Ini tidak ada urusannya denganku, dengan satu tongkat guru memukul seluruh perahu, aku tidak terima!" Sepasang mata Thian-ho-sat-kun melotot: "Jangan pura pura jadi orang baik, di dalam hari kecilmu itu, kau kira guru tidak tahu?" "Kalau begitu guru ajarkan saja Yu-bun-si-kang pada dia, bereskan?" Thian-ho-sat-kun dengan wajah serius berkata: "Bukan guru menyimpannya, sesungguhnya Yu-bun-si-kang adalah ilmu silat misterius dari aliran sesat, walau ampuh dan keji, sulit digabungkan dengan ilmu silat aliran kurus, sudut

kepala anak Ciu tampak bersinar, jalan di depannya tidak bisa dibatasi, ilmu silat aliran sesat seperti ini sangat tidak pantas dipelajari, Ji-ie-sin-kang yang diajarkan anak Hun, jika dilatih sampai puncaknya, rasanya didunia persilatan tidak ada orang yang dapat menandinginya." Siau Hun mengerti apa yang dikatakan Thian-ho-sat-kun itu tidak bohong, lalu sambil mencibirkan bibir berkata: "Baiklah, adik Ciu tidak belajar ya sudah, jika tidak kau akan mengatakan lagi wanita memihak orang luar." Mereka berkelakar sebentar, setelah waktunyajuga sudah tidak lama lagi, setelah meninggalkan kera Huan-nio untuk menjaga goa, mereka berempat dan seekor ular, bersamasama meninggalkan lembah Ce-hian, di mulut lembah berkumpul dengan Ouwyang Yong-it dan Sangguan Cenghun, tentu saja, dua orang hebat dunia persilatan ini, juga harus menghormati Thian-ho-sat-kun sebagai orang tua, setelah Pek Soh-jiu memperkenalkan mereka dia berkata: "Toako dan Lo-ko pergi kemana saja, sungguh membuat aku khawatir." Ouwyang Yong-it mengeluh sekali lalu berkata: "Saat aku dengan adik Sangguan bertarung mati-matian bertahan, para bangsat bertopeng itu tiba-tiba semuanya pergi membubarkan diri, haai, kami demi mencari kau dan Hun......keek, keek, adik ipar Hun, kami hampir membalikan seluruh gunung, jika bukan karena Sian-giok, kami sungguh tidak tahu harus bagaimana berbuat." Sangguan Ceng-hun berkata: "Adik, sekarang bagaimana? Pergi kemana ?"

Baru saja Pek Soh-jiu akan meminta nasihat dari Thianho-sat-kun, orang tua yang rambutnya telah putih semua ini tertawa lalu berkata: "Bukankah kau pernah mengatakan Li Cukat ini perhitungannya tidak pernah meleset? Buat apa masih bertanya pada ku?" Su Lam-ceng tersenyum berkata: "Kita pergi saja ke gunung Kwo-tiang, tetapi kembali harus meminta Ciu koko menampilkan kemahirannya merayu orang." Pek Soh-jiu dengan malu-malu berkata: "Adik Ceng kau jangan sembarangan bicara, aku kapan pernah......pernah......" Siau Hun berkata dingin: "Tidak peduli kau pernah atau belum pernah, jika masih mau begitu......hemm, kau harus pikir matang matang!" "Ya, ya, aku akan perhatikan." Su Lam-ceng tertawa sambil mulut ditutup, Thian-ho-sat-kun malah pada Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun mengedipkan mata berkata: "Apakah kalian tahu apa yang disebut burung bodoh terbang duluan? Cepatlah jalan, kalian." Siau Hun melihat wajah Pek Soh-jiu malu-malu, tidak tahan jadi tertawa berkata: "Dia menampilkan wajah lucu supaya ayah mentertawakan kita, hemm, adik Ceng, kita jalan saja jangan pedulikan dia." Sekelompok pendekar dunia persilatan itu, dengan bebasnya berkelakar, bergurau, sambil berlari menuju ke

gunung Kwo-tiang, mereka jumlahnya tidak banyak, tapi kekuatannya tidak bisa di bayangkan, hanya Thian-ho-satkun seorang diri saja, di dunia siapa yang berani mengusiknya? Maka setelah tiba di gunung Kwo-tiang, mereka sedikit pun tidak mendapatkan kesulitan. Gunung Kwo-tiang ada juga yang menyebutnya Yin-san, ada juga yang menyebut gunung Thian-pek, juga disebut Tiang-leng, bukit utamanya di empat puluh lie sebelah tenggara kabupaten Hian-ki Ciat-kang, bukitnya lenai, menghampar tiga ratus lie lebih, walau mereka sudah tiba di daerah pegunungan, ingin mendapatkan Goan Ang, itu bukanlah hal yang mudah. Sore hari ini, mereka tinggal di rumah seorang pemburu, setelah berhari-hari melalukan perjalanan, semua merasa sedikit lelah, maka setelah makan malam, semuanya langsung pergi tidur. Pek Soh-jiu juga merebahkan diri diatas ranjang, tapi pikiran dia tidak tenang, hingga tidak bisa memejam kan matanya, saat ini sinar rembulan menyinari jendela, kiyangan pohon bergoyang goyang, suara serangga dan hewan liar bersahut-sahutan, suara dipegunungan ini membentuk lagu yang indah, dia lalu menerobos keluar jendela, berjalan-jalan di dalam hutan, menikmati indahnya malam hari pegunungan. Mendadak, ada angin keras menerjang kesisi dirinya, dia langsung menangkapnya, ternyata ini adalah sapu tangan hangat yang harum baunya, setelah dibuka dan dilihat dibawah sinar bulan, terlihat diatasnya ada tulisan, dia membacanya: "Ingin melantunkan lagu cinta dengan kecapi tunggal, lagunya ada, tapi tidak ada orang yang menerimanya, mengirim kekesalan hati menggunakan angin musim gugur,

merindukan kanda yang terpisah jauh Setelah berpisah di Huan-lo, sekarang sudah kembali musim berkembangnya bunga Hong, pendekar muda berhasil dalam asmara, apakah masih ingat orang yang sedih ini? Aku ada hal penting untuk dibicarakan, harap datang sendirian sepuluh li sebelah barat daya bukit Ho-wie untuk membicarakannya, masalahnya penting sekali, harap jangan diabaikan." Tanpa ada tanda tangan, juga tidak ada nama, tapi dia menduga dari harumnya sapu tangan, orang yang ingin bertemu dengan dia ini pastilah seorang wanita muda, teringat ramalannya Su Lam-ceng dan peringatannya Siau Hun, dia jadi ragu-ragu sulit melangkah, tapi tulisannya mengatakan, 'masalahnya penting sekali, harap jangan diabaikan' sepertinya dia datang dengan sesuatu ancaman, lalu apa ancaman lawan itu? Apakah dia telah menangkap Siau Yam? Jika benar demikian, maka dia tidak bisa pedulikan peringatannya Siau Hun, keputusannya lebih baik dia percaya, maka dia lari kearahbarat daya. Perjalanan sepuluh li di pegunungan, dalam sekejap sudah sampai, dari kejauhan dia melihat, diatas batu gunung di bukit Ho-wie, duduk seorang wanita cantik berambut panjang sampai menutup bahu. Wajahnya menghadap ke bulan, di bawah sinar bulan tampak cantik bersinar, sepasang matanya yang bersinar menandingi sinar bulan, berputar putar, diatas wajahnya yang seksi, tampak ada sedikit kemarahan, juga tampak sedikit sedih. Pek Soh-jiu melihat wanita itu adalah ketua Oh Kai-pang Cu Kwan-cing, dia jadi merasa keheranan, cepat-cepat menghampiri ke depan batu itu, sepasang tangan dikepalkan berkata: "Ternyata ketua Cu, sungguh beruntung sekali."

Cu Kwan-cing mengangkat alisnya, dengan malasmalasan bangkit berdiri, matanya melirik dia sekali, lalu dengan tertawa genit yang membuat orang jadi gairah berkata: "Apa betul? Saudara." Pek Soh-jiu dengan wajah serius berkata: "Ketua memanggil aku, tidak tahu ada kepentingan apa?" Cu Kwan-cing mencibirkan bibirnya, membalas dengan keluhan sedih dan pelan: "Apakah kita tidak bisa hanya berbincang? Kenapa harus ada hal penting!" Wajah Pek Soh-jiu berubah berkata: "Tidak satu jalan tidak ada yang perlu dibicarakan, kita mungkin sulit bisa berbincang-bincang, sampai jumpa,......" Dia tidak mau berbicara lebih lama lagi dengan wanita yang hina ini, perkataannya belum habis, dia meloncat beberapa tombak ke belakang, dia berlari kembali ke jalan arah datangnya. Tapi...... "Orang She Pek, apakah kau tidak ingin tahu siapa otak pembunuh ayahmu? Walau pun kau bisa tidak pedulikan dendam keluarga, di dunia persilatan menjadi seorang anak yang tidak berbakti sangat hina, dan nona kecil itu juga kau sudah tidak mau lagi?" Pek Soh-ciu terkejut mendengar kata-katanya, memang sampai mati pun dia tidak akan berhenti menyelidik otak penyerangan tempat tinggalnya, Hal yang dikatakan Cu Kwan-cing, adalah hal yang sangat penting yang ingin dia ketahui, terpaksa dia cepat-cepat berlari kembali.

Mulut Cu Kwan-cing tersenyum, menatap wajahnya yang tampan, dia jengah tampak sulit bicara: "Saudara! Kelihatannya kau ingin bicara dengan aku, kalau begitu duduklah, di bawah pemandangan rembulan yang seperti syair cinta ini, kenapa harus seperti ayam jago mau bertarung!" lalu dia mengguna-kan lengan bajunya membersihkan batu, tubuhnya menggeliat lalu duduk diatas batu. Karena membutuhkan kabar, Pek Soh-jiu terpaksa menahan kesebalan dalam hatinya, katanya: "Ketua Cu jika bisa memberitahukan otak pembunuh ayahku dan keberadaan istriku, aku akan sangat berterima kasih sekali." Dengan sepasang tangannya memeluk lutut, Cu Kwancing tersenyum berkata: "Apa semudah itu? Saudara..." "Ini......atas kemurahan hati ketua, aku pasti akan membalasnya......" "Bagaimana cara membalasnya, coba katakan dulu." "Ini......keek, keek, jika ketua Zhu mendapatkan kesulitan, aku pasti dengan sekuat tenaga akan membantu menyelesaikannya." "Apa kata katamu sungguh sungguh?" "Tanpa kepercayaan aku tidak bisa berdiri." "Kalau begitu tampaknya, aku harus percaya padamu." "Betul." "Kalau begitu aku ingin tahu terlebih dulu, satu teka teki yang sulit dipecahkan."

"Teka teki apa yang sulit dipecahkan?" "Teka-teki ini, bila dikatakan juga lucu sekali, yaitu kenapa bisa begitu banyak perempuan yang suka padamu?" "Ketua berkelakar." "Berkelakar? Tidak... kau telah mendapatkan wanita secantik bidadari Su Lam-ceng, ini masih belum cukup mengherankan, yang paling membuat orang tidak mengerti adalah, Leng-bin-sin-ni yang tinggal di dalam kuil, yang pandangannya sangat tinggi itu, sehingga di dalam lautan manusia, juga sulit mendapatkan laki-laki yang pantas dijadikan suami, dalam kekecewaan hatinya membuat dia nekad tinggal di dalam kuil, tapi karena kau dia rela membuka baju nikohnya menjadi istri muda, sehingga itu membuat ......hi...hi...hi......cici berniat mencobanya." Wajah Pek Soh-jiu menjadi dingin, katanya: "Ketua Cu adalah seorang ketua perguruan yang namanya sudah termasyur diseluruh dunia persilatan, katanya lebih baik bisa menyesuaikan diri!" Cu Kwan-cing dengan tenangnya berkata: "Sebutan cici, mana bisa dibandingkan dengan Leng-binsin-ni, saudara terlalu memandang tinggi cici." Pek Soh-jiu marah: "Sebenarnya apa keinginanmu?" Cu Kwan-cing malah tertawa: "Bukankah aku telah mengatakan, hanya ingin mencoba saja." "Bagaimana cara mencobanya?"

"Haai, adik Yang bodoh sekali, kecuali benar benar menikmatinya, antara laki dan perempuan ada cara apa lagi mencobanya?" "Ha...Ha...ha!" Pek Soh-jiu tertawa keras, sesaat berkata, "Seorang wanita yang laki-laki mana pun bisa jadi suaminya, yang nama kotornya tersebar ke seluruh pelosok, ternyata tampangnya hina begini, orang she Pek sekali lagi terbuka matanya." Wajah Cu Kwan-cing berubah, dia berteriak dingin berkata: "Orang she Pek, kau berani tidak menepati janji?" Pek Soh-jiu mendengus dingin berkata: "Orang she Pek adalah seorang laki-laki sejati, mana mungkin bisa menerima ancamanmu!" "Apa kau sudah tidak ingin tahu lagi otak pembunuhan itu?" "Aku tentu mampu mencari sendiri bangsat itu, kau katakan atau tidak bukanlah hal yang penting." "Mungkin kata-katamu benar, tapi bagaimana Siau Yam? Apakah kau tega tidak menolong nyawanya?" "Ha...ha...ha...sudah ada kau, aku sudah tidak risau tidak bisa menolong Siau Yam!" "Kelihatannya kita harus bertarung." "Kenyataannya terpaksa demikian!" "Sayang kau sudah terkena racun, sudah tidak ada kemampuan untuk bertarung!" Begitu Pek Soh-jiu mendengar hati jadi tergetar, diamdiam mencoba tenaga dalamnya, benar saja jalan darahnya telah tersumbat, tanpa sadar dia sudah berubah menjadi

orang yang kehilangan ilmu silatnya, tidak tahan dirinya menjadi marah sekali, paak... telapak telah memukul ke arah wajah Cu Kwan-cing. Cu Kwan-cing tidak menghindar, tangannya diulurkan, dan berhasil mengunci pergelangan tangan Pek Soh-jiu, sedikit menekan pergelangan, Pek Soh-jiu sama sekali tidak bisa berdiri mantap, langsung roboh menindih tubuh Cu Kwan-cing. "Turuti saja! cici tidak akan merugikanmu!" saat dia bicara, sepasang tangannya tidak hentinya bergerak ke alas kebawah, kelakuannya persis seperti orang kelaparan. "Wanita hina, kau sungguh tidak tahu malu, sekarang aku akan menghujat kau!" diperkosa oleh wanita, Pek Sohjiu mana pernah mengalami penghinaan seperti ini, tapi seorang yang kehilangan ilmu silatnya, kecuali menyerah pada kehendak orang, hanya ada satu cara yaitu menghujat orang, tapi Pek Soh-jiu memang punya kelebihannya dari pada orang lain, di saat dia tidak bisa berbuat apa apa, satu benda putih, mendadak meloncat keluar dari dalam bajunya, dia adalah ular pintar Sian giok. Ketika Pek Sohjiu membuka dan membaca sapu tangan itu, hawa beracun yang terdapat di sapu tangan melayang masuk kedalam hidungnya, Sian-giok juga mengalami hal yang sama, sehingga dia merayap masuk kedalam bajunya Pek Soh-jiu, menggunakan racunnya sendiri menawarkan racun yang menyerang dari luar ketika dia belum selesai menawarkan seluruh racunnya, dia tahu majikannya dalam bahaya, tidak bisa ditunda lagi, terpaksa keluar melakukan serangan terhadap musuh majikannya, Cu Kwan-cing mimpi pun tidak terpikirkan, ketika sedang membayangkan pada hal yang cabul, tiba-tiba tenggorokannya terasa sakit sekali, wanita iblis yang sedang meraja lela, mimpi indahnya

belum selesai, nyawanya sudah melayang tanpa tahu sebabnya. Pek Soh-jiu tertolong dari mara bahaya, tapi ular pintar Sian-giok jadi semakin berbahaya, dengan pelan dia merayap kembali ke dalam lengan baju Pek Soh-jiu, lalu menggulung diri tidak bergerak lagi. Pek Soh-jiu memaksakan tubuhnya berdiri, dengan benci melihat sekali pada mayat Cu Kwan-cing, lalu membalikan tubuh, berjalan pulang. Mendadak, dia mendengar teriakan panggilan yang halus seperti suara serangga, seperti semut bicara, juga seperti suara langit yang merdu, mendengung terus tanpa berhenti ditelinganya, dia merasa pikirannya sedikit kacau, tubuhnya juga sangat lelah sekali, tanpa sadar dirinya berjalan mengikuti suara aneh itu. Akhrinya, dia melangkah masuk ke dalam mulut sebuah goa yang ukuran lobangnya hanya sebesar tubuh manusia, dia melangkah di dalam lorong yang gelap, sempoyongan dan tanpa arah, menuju ke arah yang tidak diketahui itu. Di dalam saru ruangan batu, suara aneh itu mendadak berhenti, tapi pemandangan di depan matanya kembali membuat dia tercengang. Sebuah ramput panjang yang awut-awutan seperti rumput liar, tumbuh diatas satu kepala yang besarnya mengejutkan orang- di bawah kepala seperti sebatang tiang pohon, menempel diatas satu batu hitam yang rata mengkilap, ternyata dia adalah seorang aneh yang kepalanya besar tanpa sepasang kaki, jika bukan karena diatas wajahnya yang kurus dan pucat itu, berputar putar dua butir bola mata yang bersinar, dalam keadaan ini, sungguh sulit sekali bisa mengetahui dia adalah manusia hidup.

Pek Soh-jiu melihat pada orang aneh berkepala besar itu, sepatah pun tidak berkata, dia langsung duduk, dia juga ingin beristirahat sebentar untuk mengembalikan tenaganya, terhadap suara aneh tadi, dan orang aneh berkepala besar di depan matanya, dia seperti tidak pernah mendengar, dan tidak melihatnya. Dia ingin beristirahat dengan tenang, tapi satu suara tertawa keras yang mengejutkan hati, membuat dia tidak bisa tenang, dia pelan-pelan membuka matanya, pada orang aneh kepala besar itu berteriak rendah berkata: "Kenapa kau berteriak-teriak? Jika ingin mati juga harus tenang!" Suara tawa itu mendadak berhenti, sepasang mata di atas kepala besar itu melihat sekali pada dia: "Kau mengatakan aku? Bocah." "Di dalam goa ini hanya ada kita berdua, tentu saja yang kukatakan itu untukmu!" kata Pek Soh-ciu "He...he...he tidak diduga sampai sekarang, masih ada orang yang berani berkata begini pada Giam-lo-Cun-cia (Raja neraka yang terhormat.), he.. .he.. .he" "Hemm, kalau begitu, kau tambah satu pengalaman lagi." Giam-lo-cun-cia tertegun: "Bocah! Kau ini cari mati ya? Mmm, jangan ter buruburu, mati, mudah sekali, hanya saja aku tidak Ingin kau mati terlalu enak." Giam-lo-cun-cia baru saja habis bicara, mendadak Pek Soh-jiu merasakan tubuhnya bergetar, ada satu aliran hangat yang lembut mengalir, mengalir dalam jalan darahnya, masuk ke dalam Beng-bun-hiat membuat seluruh

tubuhnya kesemutan, dari dalam dirinya timbul satu perasaan gatal yang aneh. Lalu seperti ada ratusan semut menggigit hatinya, sampai tulang pun seperti retak retak, terhadap seorang yang tidak ada kemampuan melawan, sungguh sakitnya tidak tertahankan. Tubuhnya jadi gemetaran, keringat dingin membasahi seluruh baju putihnya, namun, dia sedikit pun tidak mengeluarkan suara rintihan, juga di wajah-nya, tetap tampak sikap kesombongan yang pantang menyerah oleh kekerasan. Wajah orang tua tanpa kaki yang menyebut dirinya Giam-lo-cun-cia itu jadi berubah: "Bocah kau memang berbakat, tapi aku tetap mau mencobanya siapa yang lebih kuat!" angin lembut keluar dari telunjuknya, mengikuti jarinya yang seperti dahan kering itu, menotok ke arah dada Pek Soh-jiu, tenaga jarinya membelah angin, terdengar ssst...ssst... tidak hentihentinya terdengar di telinga, bisa dibayang-kan betapa mengejutkan kekuatan tenaga jari orang ini. Terhadap orang yang tidak pernah bertemu ini, Pek Sohciu merasa sulit mengerti, tidak terpikir kenapa dia menggunakan suara aneh memancing dirinya datang, dan sekali bicaranya tidak cocok maka langsung ingin membunuh dirinya, sebagai seqrang laki-laki kepala boleh putus, darah boleh mengalir, tapi jangan harap meminta ampun, melakukan hal yang merendah-kan harga diri Maka dengan mendengus dingin, dengan angkuhnya tidak memandang pada tenaga jari yang segera membuat dia tewas.

Tok...... terlihat batu kecil berhamburan, angin kencang menusuk telinga, tenaga jari itu malah menotok di dinding samping tubuhnya hingga membuat satu lubang yang besar. Giam-lo-cun-cia yang telah bertemu dengan seorang bocah yang tidak takluk oleh ancaman hidup atau mati, dia jadi menyerah, sesaat dia teriak keras: "Bocah! semangatmu sungguh membuat aku kagum, keek......bagaimana kalau kita berdamai?" "Jika anda ingin menggunakan cara tolol mengancam atau menyogok, lebih baik tutup saja mulut anda itu!" kata Pek Soh-ciu tawar. Wajah Giam-lo-cun-cia berubah, lama... baru dengan menarik napas berkata: "Demi menebus dosa yang aku lakukan waktu dulu, disini aku menghukum diriku dengan menahan penderitaan selama tiga puluh tahun, kau bocah malah tidak mempercayai aku......" berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Bocah walau dua jalan darah Jin dan Tok mu sudah tertembus, sayang tenaga dalamnya masih agak kurang, ah.. .harapan aku mungkin tidak akan terlaksana, sepertinya kau telah terkena racun yang amat mematikan, jika aku tidak mengobatimu, tidak lewat tiga hari, kau pasti mati oleh racun itu, kelihatannya dalam perdagangan kita ini, aku mungkin akan rugi besar......" Pek Soh-jiu mendengus dingin berkata: "Jika anda merasa takut rugi, aku juga tidak berniat berdagang dengan anda, bukankah itu akan menguntungkan kedua belah pihak!" "Ha... ha... ha!" Giam-lo-cun-cia tertawa terbahakbahak, "Keinginanmu sungguh cantik, harus tahu jika aku

sudah berniat mensukseskan perdagangan ini, kau tidak ada pilihan lain?" Dia mendadak mengulurkan tangan, tubuh Pek Soh-jiu malah terbang ke depan seperti ditarik oleh satu tenaga hisapan aneh yang tidak bisa dilawan, lalu orang itu menyatukan jari seperti tombak, berturut turut menotok pada tiga puluh enam titik jalan darah besar di seluruh tubuh Pek Soh-jiu, dan telapak tangan kanannya di tempelkan di atas jalan darah Pek-hui-hiat pemuda sombong ini, mengalirlah satu hawa hangat tidak putusputusnya ke dalam tubuh Pek Soh-jiu. Cara pengobatan paksaan ini, membuat Pek Soh-jiu jadi merasa sangat malu dan sedih, setelah terdengar suara "Boom!" yang keras, akhirnya dia tidak sadarkan diri. Lama, dia sudah bangun kembali, perasaan pertama dia adalah seluruh jalan darahnya lancar tidak ada halangan, tenaga dalamnya seperti mata air, seluruh tubuhnya terasa nyaman sekali, tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, saat matanya melihat pada orang tua yang mengobatinya, dia malah jadi terkejut sampai tertegun, karena orang tua cacad yang tidak ada sepasang kakinya ini, sudah menciut tidak berbentuk manusia lagi, sepertinya dia telah menyalurkan seluruh tenaga dalamnya pada Pek Soh-jiu, apa sebabnya? Dia tidak bisa mengerti, tapi terhadap orangtua asing dan cacad ini mau tidak mau timbul perasaan menyesal yang mendalam, sehingga sepasang matanya, meneteskan air mata yang mengandung perasaan bermacam macam. 0-0dw0-0

BAB 8 Kasih seorang pendekar Saat ini Giam-lo-cun-cia mendadak membuka sepasang matanya, dua sorot mata yang bersinar gelap namun damai berkata: "Kemarilah, bocah." Pek Soh-jiu dengan perasaan tidak tenang maju kedepan, berkata: "Lo-cianpwee ada nasihat apa?" Giam-lo-cun-cia "keek!" sekali berkata: "Aku telah membalikan aliran darah dan membalikan jalan darahmu, membuat seluruh tenaga dalammu, tidak peduli maju atau mundur jadi lancar, selanjutnya jalan darahmu bisa dengan sekehendak hati berpindah tempat, juga bisa dengan otomatis menahan tenaga dalam lawan yang mengenai dirimu, keek... di dunia persilatan walau pun tidak sedikit orang berbakat dan berkemampuan hebat, yang dapat dengan sukses tenaga dalamnya mencapai tingkat tertinggi ini, kaulah yang pertama." Dia menghentikan bicaranya sejenak, setelah meluruskan nafasnya berkata lagi: "Aku telah menggunakan cara Kai-teng-siu-kang (membuka gunung mengirim keahlian) menyalurkan seratus tahun latihan tenaga dalamku kedalam tubuhmu, sekarang di seluruh dunia persilatan, kau sudah tidak ada lawan lagi." Pek Soh-jiu mendengarnya jadi tergetar berkata:

"Lo-cianpwee, kita tidak saling kenal, pemberian anda ini bukankah sedikit terlalu beresiko!" "Ha...ha...ha" Giam-lo-cun-cia tertawa terbahak bahak sesaat berkata, "Apakah kau melihat aku ini orang yang sembarangan mengambil resiko? Aku beritahu, selama tiga puluh tahun ini orang licik yang mati ditanganku, jumlahnya sudah melebihi tiga puluh, jika aku tidak melihat kau orangnya bisa dipercaya, hemm, bagaimana bisa membiarkanmu hidup sampai saat ini!" "Kalau begitu, Lo-cianpwee ingin aku lakukan apa?" "Tidak perlu terburu buru, bocah! Aku ingin beri tahukan padamu satu hal yang menyakitkan hati dimasa lalu......" berhenti sejenak lalu dilanjutkan lagi: "Apakah kau pernah dengar perguruan Thian-ho?" "Aku pernah mendengarnya." "Apakah kau tahu siapa itu Thian-ho-leng-cu?" "Thian-ho-sat-kun." "Tidak salah, tapi, Leng-cu melampiaskan kegemarannya pada air dan gunung, mendamaikan diri di alam bebas, bukan saja kekuasaannya jatuh ke tangan orang lain, juga membawa mala petaka berdarah bagi dunia persilatan......" "Aku pernah bertemu dengan beliau, dia memang orang tua yang sangat terbuka" "Justru karena itu, istrinya Leng-cu yaitu Ang-kun-giokhui Hai Keng-sim dengan leluasa mengambil kekuasaannya, lalu diam-diam memelihara pengikut setia, di dalam perguruan Thian-ho, mendirikan lagi Hek-it-kau (Aliran baju hitam), yang diketuai oleh dua orang kepercayaannya sebagai ketua dan wakil ketua......"

"Apakah mereka itu adalah para orang baju hitam bertopeng itu?" "Benar, haai... Hek-it-kau meraja lela di dunia persilatan, melakukan segala kejahatan, maka di dalam dunia persilatan timbul keadaan api di dalam sekam." "Berbagai perguruan di dunia persilatan, apakah tidak ada satu orang pun yang berani melawannya?" "Dalam berbagai perguruan tidak ada orang yang berbakat, melindungi diri sendiri saja sudah kewalahan, apalagi melawan Hek-it-kau! Namun akhir-nya masalah mi membuat marah Sin-ciu-sam-coat, di dalam satu pertarungan sengit mereka berhasil menyapu sarangnya, habislah pasukan intinya Hek-it-kau, ketua dan wakil ketuanya juga mengalami luka parah, maka aliran sesat yang melakukan kejahatan di dunia persilatan ini seperti Bunga Eng, hanya sebentar mekarnya, lalu hancur lebur......" "Lalu Ang-kun-giok-hui Hai Keng-sim mengigat luka ketua dan wakil ketua Hek-it-kau, mereka kembali dengan mengancam para pesilat tinggi dari berbagai perguruan untuk melakukan serangan diam-diam ke perumahan Lengin, mengakibatkan Sin-ciu-sam-coat yang sebagai pembela kebenaran di dunia persilatan, dua orang mati satu terluka, keluarga hancur, betul tidak locianpwee?" Ciam-lo-cun-cia melihat mata Pek Soh-jiu mengandung hawa membunuh, alis mengangkat tinggi, wajahnya marah sekali, tidak tahan dia jadi bengong betapa saat berkata: "Apa kau keturunan Sin-ciu-sam-coat?" "Aku telah mengatakan pemberian Lo-cianpwee terlalu berisiko!"

"Ha...ha...ha" Giam-lo-cun-cia tertawa lepas beberapa saat, lalu berkata: "Dulu aku sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, tiga puluh tahun menghadap dinding untuk menyadarkan diri, terhadap kebencian hati pada Sin-ciu-sam-coat sudah lama hilang......" "Harapan Lo-cianpwee telah terkabulkan, kebenciannya tentu saja hilang. Tapi dendam ayah tidak bisa dimaafkan, aku mungkin akan mengecewakan Lo-cianpwee atas budi memberikan kesuksesan padaku!" Giam-lo-cun-cia melototkan sepasang matanya berkata: "Kau mengira aku pembunuh ayahmu?" "Apakah salah?" Kata Pek Soh-ciu dingin. "Bocah, kau sungguh kurang pengalaman, otakmu tampaknya pintar sekali, namun karena niat membalas dendam, malah telah menutupi kepintaran-mu." "Lo-cianpwee sedang menasihati aku?" Giam-lo-cun-cia mendengus berkata: "Dengan usiaku yang sudah setua ini, tidak keterlaluan kalau menasihatimu. Haai... apakah tidak terpikirkan oleh kau aku adalah orang cacad, tinggal di dalam gunung liar, bersembunyi sudah ada tiga puluh tahun?" "Ini......" Pek Soh-jiu diam-diam berpikir, Giam-lo-cuncia memang pernah mengatakan dia telah mengalami siksaan hidup selama tiga puluh tahun, saat itu dia belum tahu dirinya adalah keturunannya Sin-ciu-sam-coat, kelihatannya aku salah menyalahkan dia. Setelah masalahnya jelas, dengan sendirinya timbul penyesalan di dalam hati terhadap orang tua cacad yang asing ini, apalagi pemberiannya sudah terlalu besar. Maka

dia buru-buru berkata:

membungkukkan

tubuh

menghormat.

"Tepat sekali Lo-cianpwee menasihatiku, aku...keek, sungguh bodoh sekali." Sambil menghela napas Giam-lo-cun-cia berkata: "Kecurigaanmu bukan tidak ada alasan, dulu aku adalah ketuanya Hek-it-kau Ho-giam-Io (Raja neraka hidup) Liauw Ji-ang......" "Lalu kenapa Lo-cianpwee sampai jadi sedemikian buruk?" "Waktu itu aku terluka oleh Pouw-ci-sin-kang Hong Sanceng, sudah tidak mampu bertarung lagi, Sin-cin sam-coat sudah tidak mengejar dan mengancam aku lagi, tapi wakil ketua Hek-it-kau Oh-long (Srigala jahat) To Co an malah tidak membiarkan aku, dia bersekongkol dengan istriku, memaksaku menyerahkan cara membuat Ngo-tok-tui-huncian, lalu memenggal sepasang kaki ku, dan melemparkan aku ke dalam jurang......" "Semalam suami istri ratusan hari mengingatnya, Isteriya Lo-cianpwee kenapa bisa sekejam itu!" "Keek, wanita hina itu sudah lama berselingkuh dengan Oh-long,aku......haay......" "Istri Lo-cianpwee, pasti seorang wanita yang cantik sekali." Giam-lo-cun-cia jadi bersemangat lagi berkata: "Bocah, jika kau lahir lebih pagi sepuluh tahun, maka kau akan tahu nyonya ketua Hek-it-kau Cu Kwancing, benar-benar adalah wanita cantik yang memikat dunia." Pek Soh-jiu tertegun: "Cu Kwan-cing......"

Sepasang mata Giam-lo-cun-cia melotot: "Kenapa? Aku tidak pantas? Aku hanya lebih tua lima puluh tahun saja dari dia, hemm, kau jarang melihatnya jadi merasa aneh." Dia baru saja habis bicara, dia seperti teringat Pek Soh-jiu kenal dengan Cu Kwan-cing, kembali berkata, "Beritahu aku, bagaimana kau bisa kenal dengan dia?" Pek Soh-jiu tidak menduga wanita iblis yang cantiknya aduhai itu adalah istrinya Giam-lo-cun-cia, jika bukan mendengar sendiri, dia hampir saja tidak percaya, tapi bicara soal usia mereka, Giam-lo-cun-cia hanya pantas jadi kakeknya Cu Kwan-cing, bunga jatuh ke laut, tidak terhindar kesedihan pun terjadi! Tapi melihat warna wajahnya Giam-lo-cun-cia, terhadap istri mudanya yang cantik, yang selingkuh, yang mencelakai suami, dia masih tetap mencintainya, dia sendiri malah telah membunuh istrinya, harus bagaimana mencerita-kan pada orang tua ini? Sesaat, dia jadi gagu sulit menjawabnya. Giam-lo-cun-cia mendadak mengangkat alisnya berteriak marah: "Bocah, apa yang telah kau lakukan dengan dia? Katakan!" Pek Soh-jiu terpaksa dengan sekali mengeluh berkata: "Harap Lo-cianpwee membunuh dia......" memaafkan, aku......telah

Giam-lo-cun-cia seperti tersambar petir, seluruh semangatnya jadi mati rasa, lama, orang tua cacad yang lama terkurung digunung liar ini, mendadak tertawa keras yang tidak lebih enak di dengar dari pada tangisan, dua baris air mata tua seperti aliran sungai mengalir.

Pek Soh-jiu melihat Giam-lo-cun-cia karena kematiannya Cu Kwan-cing, sedihnya sampai sedemikian parah, jadi tidak tahan buru-buru berkata: "Lo-cianpwee, aku......haay, sungguh terpaksa sekali, jika 'Lo-cianpwee ingin membalaskan dendam istri...” "Tidak," Giam-lo-cun-cia mendadak menghentikan tangisnya berkata, "Aku tidak menyalahkanmu, membunuh wanita hina itu, memang ini juga satu diantara dua hal yang aku ingin kau lakukan untukku, tadi hanya karena terlalu kebetulan sekali, jadi tertawa." Setelah Giam-lo-cun-cia berkata demikian, Pek Soh-jiu baru merasa hatinya sedikit lega, dia sungguh tidak ingin orang tua cacad yang seperti lampu kehabisan minyak ini, saat akan menemui ajalnya, masih menerima siksaan yang pedih, maka dengan lapang dada dia berkata: "Lo-cianpwee masih ada pesan apa?" Karena emosinya bergejolak, Giam-lo-cun-cia yang sudah sampai keadaan lampu kehabisan minyak, tadinya nyawanya masih bisa bertahan tiga sampai lima jam lagi, sekarang dia sudah sampai diujung batas, saat ini dia mulutnya menganga, nafasnya walau pun lemah, namun masih terngengah-engah. Beberapa saat, dia baru mi lanjutkan berkata: "Satu lagi......yaitu......yaitu laki yang selingkuh itu... Ohlong... kau...... bunuhlah dia...... dengar...... bocah, Oh......Long itu......sekarang ini ada di Thian-holeng....mungkin..... dia itu adalah pembunuh ayahmu...... dan juga......wanita hina itu......pernah menangkap......" Menangkap apa? Dia tidak bisa menyelesaikan katakatanya, kepala besar dengan rambutnya yang acak acakan

itu roboh, orang hebat yang aneh ini, telah menyelesaikan hidupnya yang menyedihkan. Ini adalah akibat yang pasti, tapi meninggalkan kesedihan yang berat bagi Pek Soh-jiu, karena Giam-lo-cuncia menyalurkan seratus tahun tenaga dalam pada dirinya, akibatnya jadi begini, dengan berlinang air mata, dia menguburkan jenasah Giam-lo-cun-cia, menghadap pada gundukan tanah kuning, dia sedang memikirkan pesan terakhir Giam-lo-cun-cia: "Oh-long sekarang ada di Thian-ho-leng, mungkin dia adalah pembunuh ayahmu......" Tidak salah, Ngo-tok-rui-hun-cian adalah senjata rahasia khusus Giam-lo-cun-cia, tapi berhasil dikuasai oleh istrinya Cu Kwan-cing dan Oh-long To Cu-an, dan To Cu-an adalah wakil ketuanya Hek-it-kau, nyawa yang lolos dari tangannya Sin-ciu-sam-coat, maka otak yang diam-diam menyerang perumahan Leng-in, sudah tentu Oh-long ini. ' Jejak musuh sudah diketemukan, dia tidak tidak bisa tinggal lebih lama lagi, sekali bersiul ke langit, dia langsung ingin berlari pulang tapi, kakinya jadi tertahan lagi, diamdiam berpikir: "Bukankah Giam-lo-cun-cia pernah mengatakan Cu Kwan-cing pernah menangkap...? Jika yang dia tangkap itu adalah manusia, pasti dikurung di suatu tempat rahasia, sekarang Cu Kwan-cing dan Giam-lo-cun-tia sudah mati, jika dirinya pergi begitu saja, bukankah akan memutuskan harapan orang itu untuk bisa hidup? Keturunannya Sin-ciusam-coat, mana bisa tidak menolong orang yang ada dalam kesulitan?" maka dia balikan tubuh, kembali lagi ke goa tempat tinggalnya Giam-lo-cun-cia. Setelah menyelidiki dengan seksama, dia menemukan batu besar yang bisa digerakan, sepasang tangan pelan

mengangkatnya, maka terlihatlah satu lubang goa kecil yang hanya cukup masuk satu tubuh saja. Sinar bulan tidak bisa mencapai ke dalam, goa kecil itu tentu saja gelap gulita, tapi sekarang dia memiliki tenaga dalam latihan ratusan tahun, matanya jadi sangat tajam sekali? Melihat sebentar, dia sudah dapat melihat sesosok tubuh manusia yang menggulung, memang dia adalah Siau Yam yang hilang di pantai sungai. Dia sangat gembira sekali, dia mengulurkan tangan, dengan cepat menggendong Siau Yam keluar goa, lalu menepuk-nepukan telapaknya dengan cepat, membuka totokannya, menekuk sikutnya, memeluk erat di dalam pelukannya berkata: "Adik Yam, kau sudah mengalami kesusahan..." Siau Yam tersenyum manis: "Wanita itu sungguh jahat, dia diam-diam menebarkan asap beracun, membuat aku jadi tidak sadarkan diri, kemudian dia meminta padaku, ingin dengan kau...... dengan kau......hemm, sungguh tidak tahu malu." "Keek!" sekali Pek Soh-jiu berkata, "Adik Yam kau jangan marah, wanita yang tidak tahu malu itu, sudah mati digigit Sian-giok!" Siau Yam memelalakan mata berkata: "Sungguh? Siangiok itu apa? Dia bisa menggigit orang?" Pek Soh-jiu setelah menceritakan dengan singkat bagaimana pengalaman dia mendapatkan ular pintar Siangiok, berkata: "Tentu saja benar, saat itu aku juga sudah terkena racun yang dia lakukan dengan diam-diam, jika bukan karena Sian-giok, mungkin juga tidak bisa lolos dari tangan jahat dia."

Siau Yam mendadak bangkit berdiri, sepasang mata melotot, menatap Pek Soh-jiu berkata: "Apa Racun Toan-hun-cauww itu sudah sembuh?" Wajah Pek Soh-jiu menjadi merah berkata: "Sudah..." "Bagaimana sembuhnya?" "Keek, adik Yam, aku sudah sembuh bukankah itu bagus? Buat apa bertanya terus seperti ini!" "Tidak, tentu kau kembali mendapatkan seorang wanita busuk, aku tidak mau, kau katakan, siapa wanita busuk itu?" ""Haai, adik Yam, ini tidak bisa salahkan aku, siapa suruh kau tidak baik-baik menjaga aku!" "Hemm, aku hampir saja kehilangan nyawa, kau malah sebaliknya menyalahkan aku, baik, biar aku mengalah pada kalian saja..." benar saja setelah mengatakan langsung pergi, tubuh berkelebat, langsung lari keluar goa. Pek Soh-jiu mengejar keluar goa, menangkap lengan dia berkata: "Adik Yam, kau dengarkan aku dulu " “Dengarkan? Baik, kau katakan siapa wanita itu." Pek Soh-jiu tertawa berkata: "Sebenarnya, keek, dia itu juga bukan orang luar...." "Hemmm, bukan orang luar? Sudah menjadi Istrimu, dia itu tentu saja bukan orang luar." "Haay, bukan itu maksudku, karena... dia itu adalah cicimu." "Puuih, sudah jelas kau tahu aku adalah seorang anak tunggal, dari mana datangnya seorang cici!"

"Sungguh, aku tidak membohongimu." "Ooo, kalau begitu dia itu jika bukan Wie Pui-hoa pasti Giok Ie-ko benar." "Bukan Suci, tapi adalah kakak sedarahmu sendiri...." "Aku tidak percaya, kau menipu aku..." Perkataan Siau Yam belum habis, dalam bayangan gelap saru tombak lebih melangkah keluar tiga sosok bayangan orang, yang paling depan adalah orang tua yang tamburnya beruban, bajunya merah api, dibelakang dia ada dua orang wanita cantik yang satu berbaju kuning yang satunya lagi berbaju biru, dibawah sinar bulan, tampak mempesona, seperti dewi turun dari khayangan. Disaat Siau Yam keheranan, wanita baju kuning itu sudah maju beberapa langkah, tangannya, menggenggam telapak tangan kanannya dengan lembut berkata: "Kau ini pasti adik Yam kan? Sungguh membuat kau menderita saja, namaku Su Lam-ceng, mari, aku perkenalkan." Sifatnya Siau Yam, ada sedikit liar, kecuali guru dia Ang-kun-giok-hui Hai Keng-sim yang dia tidak berani membangkangnya, hanya Pek Soh-jiu yang sedikit bisa membuat dia jadi penurut, namun wajah dan senyumnya Su Lam-ceng yang hangat, bicaranya yang familiar, sepertinya ada satu tenaga yang sulit bisa menahannya, dia malah tanpa sadar ditariknya maju ke depan. Pertama, Su Lam-ceng menunjuk Thian-ho-sat-kun berkata: "Ini adalah ayahmu, ketua sebenarnya dari Thian-holeng, Thian-ho-sat-kun Siau Ji-po." Sepasang mata Siau Yam membelalak, mengawasi Thian-ho-sat-kun, lalu mengawasi Su Lam-ceng, terakhir

menatap Pek Soh-jiu berkata: "Ciu koko, apa ini betul?" Pek Soh-jiu menghela napas: "Menjadi seorang anak yatim piatu hampir selama dua puluh tahun, sekali bertemu dengan ayah kandung dengan mendadak, di dalam hati pasti sulit bisa menerimanya, namun, ini adalah kenyataan yang sebenarnya, dan juga kau masih ada seorang kakak yang sebapa tidak seibu, dia adalah Hud-bun-it-mo yang menggemparkan dunia persilatan. Saat ini Thian-ho-satf-kun dengan berlinang air mata, datang mendekat berkata: "Anak Yam, kau lihat kaki ayah, kita ayah dan anak bertiga di tempat yang sama semuanya sama tumbuh sebuah tanda lahir merah, ini adalah tanda yang diberikan oleh langit pada kita ayah dan anak, kau masih tidak panggil ayah... " Siau Yam tidak bisa menahan lagi, dia maju ke depan, memeluk Thian-ho-sat-kun, dengan emosi berteriak "Ayah!", lalu menangis dengan sedihnya. Lama... Thian-ho-sat-kun menahan tubuhnya, dengan kasih sayang mengusap rambut halusnya berkata: "Beritahu ayah, apakah bocah itu telah menyulitkanmu?" Siau Yam tertegun: "Siapa yang ayah bicarakan?" "Hemm!" Thian-ho-sat-kun berkata, "Kecuali bocah she Pek itu siapa lagi!" Dua baris air mata masih menempel dipipinya Siau Yam, dia malah "Psss!" tertawa berkata: "Benar, ayah tidak katakan aku hampir saja lupa, dia.....sengaja khusus mempersulit aku..." Thian-ho-sat-kun membelalakan mata berkata:

"Anak manis jangan takut, biar ayah hajar dia." Siau Yam buru-buru menarik lengan baju Thian-ho satkun: "Ayah! Dia juga sangat kasihan, kita ampuni dia sekali ini." Thian-ho-sat-kun dengan wajah seperti marah berkata: "Bocah ini semakin dilihat semakin tidak menyenangkan, aku hanya ada dua orang putri, malah semuanya ditipu dia, terakhir malah ditambah kerugian seorang murid lagi. Hemm, jika tidak menghajar dia, sungguh sulit meredakan kekesalan hati." Pek Soh-jiu tersenyum pada Su Lam-ceng berkata: "Mereka ayah dan anak bersatu, aku jadi tidak bisa melawannya! Adik Ceng kau harus bantu aku ya." Su Lam-ceng mencibirkan bibirnya berkata: "Orang yang tahu keadaan baru disebut orang pintar, suruh aku bantu kau lebih baik aku bantu guru saja, lebih aman." "Ha...ha...ha jangan takut, adik kecil, kakak yang tua ini akan membantumu." Diikuti tertawanya, Oh-kui Ouwyang Yong-it, dan Sangguan Ceng-hun bergandengan berjalan keluar, pertama-tama mereka mengedip-ngedipkan mata pada Pek Soh-jiu, lalu membungkuk menghormat pada Thian-ho-sat-kun berkata: "Apa kabar Lo-cianpwee." Thian-ho-sat-kun bersuara "Hemm!" lalu melotot pada Ouwyang Yong-it berkata: "Kau akan membantu bocah itu, betul tidak?" Ouwyang Yong-it menggeleng-gelengkan kepala berkata: "Tidak, aku akan bantu Lo-cianpwee."

"Aku jelas-jelas mendengar kau mengatakan akan bantu dia, kenapa dalam sekejap sudah tidak mengaku lagi?" "Keek, jika Lo-cianpwee benar-benar telah menghajar adik kecilku! Walau memukulnya tidak sakit tidak berasa, masih saja akan ada orang yang merasa sedih beberapa hari, dengan demikian kebencian Lo-cianpwee belum terhapuskan, lalu amarahnya mungkin malah akan meletuskan kulit perut." "Ha...ha...ha...!" Thian-ho-sat-kun tertawa terbahakbakah sejenak berkata, "Betul juga, bocah ini juga kasihan sekali, kita ampuni dia saja kali ini." Pemandangan bahagia sekeluarga ini, malam hari di gunung liar ini telah menimbulkan kegembiraan yang sampai kepuncaknya, lama, Thian-ho-sat-kun baru menghentikan tawanya, sambil memegang tangan Siau Yam berkata: "Anak Yam, bagaimana kabar ibumu?" "Ibuku?" Siau Yam keheranan berkata, "Ayah! Siapa ibuku?" Thian-ho-sat-kun tertegun: "Anak Yam! Kau ini bagaimana? Bukankah kau ini muridnya Thian-ho-leng?" "Betul, aku memang muridnya Thian-ho-leng." "Yang menguasai Thian-ho-leng bukankah Ang-kungiok-hui Hai Keng-sim?" "Benar dia, dia itu adalah guruku." "Apa? Dia itu gurumu? Dia tidak memberitahukan, dia itu adalah ibu kandungmu?" "Aaa......"

Ini sungguh sulit dipercaya, tapi beritanya keluar dari mulutnya Thian-ho-sat-kun, membuat orang tidak bisa tidak percaya, tapi, kenapa Ang-kun-giok-hui melakukan demikian, sebenarnya apa tujuannya? Tentu saja, Ang-kungiok-hui berambisi menguasai dunia persilatan, tapi ini apa hubungannya dengan mengakui anak kandung sendiri? Tidak ada orang yang bisa menjawab teka-teki ini, dan Siau Yam tidak tahan bertanya: "Ayah, jika kau ketuanya perguruan ini, lalu mengapa meninggalkan Thian-ciat-leng? Dan malah sekali meninggalkan hampir dua puluh tahun?" "Haai......" Thian-ho-sat-kun menghela napas panjang berkata, "Ayah meninggalkan Thian-ciat-leng, adalah untuk mengabulkan harapan ayah berkeliling dunia, tidak diduga ketika sampai di pegunungan Hoai-ie, aku diam-diam telah diracun orang, ayah terpaksa memetik beberapa macam rumput obat, mencari satu lembah mati untuk menyembuhkan racun, siapa tahu dasar sedang sial, petaka datangnya bukan hanya satu, walau pun telah menawarkan racun, tapi jalan darahnya jadi tersesat, jika bukan bertemu dengan kera pintar Hoan-nio itu, ayah tidak akan bernyawa lagi!" Dia menghentikan bicaranya mengangkat alis berkata lagi: sejenak, mendadak

"Wanita hina itu jika tidak mengakui anak kandung sendiri, siapa yang tahu dia tidak mencelakai suaminya sendiri, hemm, ayah seumur hidup tidak berselisih dengan orang, kali ini terpaksa menggunakan kekerasan, untuk membersihkan perguruan." "Lalu! Ayah! Apa kita akan pergi ke Thian-ciat- leng? Atau......"

"Ha ha ha!" Thian-ho-sat-kun tertawa, "Jika sudah masuk ke dalam gunung pusaka, bagaimana bisa kita pulang dengan tangan hampa, jalanlah, kita hadapi para teman-teman dunia persilatan dari aliran hitam mau pun putih." Lalu, mereka kembali masuk ke pegunungan Kwo-tiang untuk menyelidiki, pergi mencari sarangnya Goan Ang, tentu saja, mereka bertemu dengan tidak sedikit pesilat tinggi dari berbagai aliran, karena mereka tidak ingin membuat masalah, dengan cepat tiba di Thian-ciat-leng, dengan tidak terjadi pertengkaran, tapi, akhirnya Pek Sohjiu tetap saja bisa dikenali orang, Ho-leng-ci adalah pusaka alam, Pouw-long-tui juga adalah pusaka yang tiata tara, di bawah dorongan ingin memiliki, ada orang yang mulai melakukan penyerangan pada dia, mereka telah menerobos banyak sekali hadangan berbahaya, akhirnya di kepung oleh para pesilat tinggi dari berbagai aliran yang banyaknya sepuluh kali lipat dari mereka, saat itu tepat di hari yang paling gelap saat akan fajar, dalam pertarungan itu mereka kembali terpisah, setelah musuh mundur semua, haripun terang benderang, disisi Pek Soh-jiu, hanya tinggal Su Lamceng seorang, untungnya tempat tujuan sudah tidak jauh, berkumpul lagi tentunya tidak akan sulit, sehingga, mereka berdua bergandengan berlari melanjutkan perjalanan. Mendadak tercium bau amis darah, terbawa mengikuti angin masuk kehidung mereka, Pek Soh-jiu berlari kesamping menuju arah bau aneh itu, belum lagi mereka berlari sampai tiga tombak, sudah melihat mayat mayat bergelimpangan diatas tanah, luka mereka semuanya sama atas kepalanya pecah, mati terkena sekali pukulan. Mulai dari sini terus ke depan, di sepanjang jalan mereka menemukan tidak sedikit mayat yang tewas terkena pukulan keras, sepertinya para pesilat tinggi dari berbagai

aliran yang berniat merebut pusaka tidak ada satu pun yang selamat. Su Lam-ceng dengan menghela napas, perlahan bn kata: "Orang yang berhasil merebut Ho-leng-ci ini, bukan saja ilmu silatnya sudah sampai tingkat teratas, tindakannya yang kejam juga jarang ditemui didunia!" baru saja habis bicara, Pek Soh-jiu mendadak menangkap pelelangan tangan kanannya, tubuhnya bergerak, meloncat melintang lima kaki, tepat berada di belakang satu pohon besar, baru saja dia bengong, di belakang dirinya sudah terdengar satu letusan yang keras sekali, terlihat dahan dan daun-daun berterbangan, debu berhamburan, diatas tanah, sudah tampak satu lubang dalam yang besar sekali. Hati Su Lam-ceng tergetar keras sekali, dia tidak pernah terpikir ada tenaga telapak yang sedahsyat ini, saat dilancarkan sedikit pun tidak mengeluarkan tanda-tanda, tidak aneh begitu banyak orang bisa mati mendadak, dia tertawa manis pada Pek Soh-jiu, berkata: "Ciu koko! Terima kasih, tenaga telapak orang ini terlalu dahsyat, kita harus hati-hati sekali." Pek Soh-jiu mendengus dengan dingin, sorot matanya ditujukan pada sebuah pohon yang ada didepannya dengan sorot mata sinis berkata: "Keluarlah, tuan seorang yang ternama di dunia persilatan, memalukan melakukan tindakan seperti pencuri ayam ini!" "He...he...he" diiringi tawa panjang, keluar seorang tua berusia lima puluh tahunan yang bertubuh pendek gemuk, sepasang mata elangnya yang bersinar, memperhatikan Pek Soh-jiu dari atas sampai kebawah, berkata:

"Membunuh orang demi melindungi diri, apakah itu salah?" Pek Soh-jiu dengan benci mengeluarkan "Heng!" sekali berkata: "Alasannya cukup bagus, tapi tindakannya sangat hina." "Setiap orang yang berani masuk ke bukit Ci-ih, tentu ada alasan untuk mati, kalian berdua juga tidak terkecuali!" "Asalkan kau punya keyakinan itu, nyawa kami berdua akan kami serahkan padamu." "Baik, terima ini." Sebuah cengkeraman meluncur, datangnya laksana kilat, dilangit mengaris seperti lembayung, jurus baru dimulai, ujung cakarnya sudah sampai di depan tubuh. Pek Soh-ciu tidak menghindar juga tidak mengelak, tubuhnya seperti sebatang pohon Liu, bergoyang-goyang terhadap cengkeraman yang amat keji Itu, orang tua bertubuh pendek gemuk berturut-turut beberapa kali merubahnya, akhirnya ditarik kembali tanpa hasil. Sekali tertawa panjang, orang tua pendek itu mundur tiga langkah kebelakang, berkata: "Kepandaian Siauhiap hebat sekali, tidak tahu siapa nama anda?" "Aku Pek Soh-jiu, tampaknya Cianpwee adalah Goan Ang, GoanTayhiap?" "Tidak salah, aku memang Goan Ang, nona ini siapa?" Su Lam-ceng memberi hormat: "Aku Su Lam-ceng, harap Goan Cianpwee memberi petunjuk." "Ha ha ha!" Goan Ang tertawa, "Walau pun aku telah berhasil mendapatkan Ho-leng-ci, tapi tidak berani

menguasai sendirian, setiap teman yang datang ke bukit Giok-hong, asalkan dapat lolos terhadap cengkeraman tanganku, maka dia ada kesempatan mendapatkan Ho-lengcii......" Pek Soh-jiu berkata: "Aku tidak ada niat memiliki Ho-leng-ci, hanya tertarik mendapatkan dua helai daun Leng-ci saja, sudah cukup." "Hemm!" Goan Ang berkata, "Baiklah, kalian ikut aku." Lengan baju yang besar itu sekali diayunkan, tubuhnya yang pendek gemuk sudah melayang naik ke atas, ketika di udara bergerak bayangannya sudah berada tiga tombak lebih, ketinggian ilmu silatnya, sungguh mengejutkan orang. Pek Soh-jiu suami istri mengikuti dari belakang, menempel ketat satu langkah pun tidak tertinggal, dalam sekejap mereka tiba diatas puncak tebing yang tingginya sampai sebuah jejak burung terbangpun tidak ada. Setelah menghentikan langkah, Goan Ang dengan tertawa dingin berkata: "Ho-leng-ci ada di bawah jurang yang tertutup awan ini, kalian berdua jika tidak takut, silahkan ikut aku untuk mengadu keberuntungan." Habis bicara tubuhnya seperti burung bangau terbang, meloncat ke dalam jurang yang dalamnya tidak terlihat, dan ditutupi awan itu, Pek Soh-jiu melirik pada Su Lam-ceng berkata: "Adik Ceng di bawah jurang pasti tempat yang sangat berbahaya, kau......" Su Lam-ceng mencibirkan bibirnya, menghentikan pembicaraan yang belum selesai dia berkata:

"Kau kira aku takut mati? Hemm!" bayangan kuning berkelebat, dia langsung meloncat ke dalam jurang yang dalam itu. Seperti panah yang sudah di tarik diatas busur, mau tidak mau harus dilepas, Pek Soh-jiu bersiul sekali, tubuhnya sudah melayang datar, lalu menghirup nafas, pelan-pelan turun ke dalam jurang yang dalam, yang tidak tahu akan bernasib sial atau beruntung. Terasa sebuah hembusan hawa dingin yang aneh sekali, seperti jutaan benang juga seperti satu jaring ikan yang besar sekali, dari segala arah menciut ke tengah, seluruh otot di tubuhnya bergetar, tenaga dalam yang sudah di pusatkan, hampir saja buyar semua, diam-diam dia berkata, "Celaka." Segera dia mengayunkan telapak tangan kanannya, sekuat tenaga dipukulkan ke tebing di sebelah kiri, tubuh yang melayang, menggunakan tenaga balik turun ke arah kanan, dalam waktu sekejap mata, lima jari tangan kanan telah di tanjapkan ke tebing dingin yang dekat tubuhnya, namun apa yang disentuh lima jari, seperti pasir, sama sekali tidak bisa dipergunakan untuk menahan beban, tidak ada kesempatan untuk dia menggunakan gerakan lain, huut... dia sudah jatuh kedalam jurang dengan anginnya yang dingin itu, untungnya ilmu silat dia sudah sampai tingkat teratas, walau pun jatuhnya tidak ringan, namun lukanya tidak mengganggu. Dia melakukan pernapasan sebentar, lalu dengan kewaspadaan yang tinggi mengikuti jurang yang tandus ini maju ke depan, mendadak, dia menemukan di telapak tangan kanannya, masih menggenggam satu batu kecil yang terbawa saat tadi jatuh ke dalam jurang, karena terlalu tegangnya jadi hingga sekarang belum dibuang, maka dengan tertawa tidak bersuara, melemparkan batu kecil itu.

Batu kecil itu terlepas dari tangan, dia merasakan hawa dingin di dalam jurang sepertinya mendadak jadi meningkat, dengan tenaga dalamnya yang sudah sampai tingkat tertinggi, malah sampai tidak tahan tubuhnya gemetar kedinginan. "Apakah batu kecil itu ada kegunaannya untuk menahan dingin?" diam-diam dia berpikir, lalu membalikan tubuh menuju ke tempat tadi dia melempar batu. Batu itu ternyata sebutir batu kecil bundar sebesar kelereng yang warnanya merah tua, baru saja mengambil batu itu ke dalam tangannya, satu hawa yang hangat menelusuri lengannya naik ke atas, sungguh segala ini seperti yang sudah diatur oleh alam, dia jatuh ke dalam jurang yang dingin, tapi malahan tanpa sengaja mendapatkan batu aneh yang bisa menahan dingin, membuat keberanian dia semakin bertambah, segera dia melakukan pencarian keberadaan-nya Su Lam-ceng, tapi setelah hampir menghabiskan waktu dua jam, satu bayangan orang pun tidak di temukan, mungkin Su Lamceng sudah masuk duluan, dia terpaksa berlari ke depan mengikuti jalan setapak. Di ujung jalan, adalah sebuah pintu batu yang terbuka lebar, dia sedikit ragu tapi lalu melangkah masuk kedalam. Di dalam ternyata adalah lapangan es yang luasnya kurang lebih seratus tombak, ada kebun bunga yang telah diatur manusia, bermacam-macam bunga aneh tumbuh, membuat lapangan es ini menjadi indah, saking indahnya, hampir membuat orang terpesona. Pek Soh-jiu mengikuti jalan kecil di kebun melangkah maju, terhadap harum yang keluar dari pot bunga, dia sedikit merasakan perasaan mabuk.

Di saat dia sedang menikmatinya, mendadak terdengar satu teriakan, delapan orang laki-laki besar dengan menghunus golok bulu tipis, menerjang kearah dia, mereka tanpa basa-basi bergerak bersama-sama mengeluarkan serangan, dia merasa sebuah tekanan yang sangat dahsyat dari atas kepala sampai ujung kaki. Dia dapat melihat jurus delapan orang ini sangat kompak tidak ada celah, bagaimana pun mencoba, sulit bisa menghindar dari serangan ini, tapi wajah dia tampak sangat tenang, dia sedikit pun tidak tampak gelisah menghadapi serangan delapan orang ini, mendadak tubuhnya berputar secepat angin kencang, disekelilingnya segera terdengar suara trang trang trang, delapan bilah golok sayap tipis yang sangat tajam, delapan laki-laki besar yang ilmu silatnya cukup tinggi, bersamaan terbang jatuh sejauh satu tombak lebih, diatas lantai es yang putih itu tinggal sekuntum bunga darah merah yang mencolok mata. "Bocah, sudah sampai keajalnya, masih melakukan kejahatan menggunakan ilmu silat......" berani

Dari sebuah lubang goa, berturut-turut meloncat keluar tiga orang, yang paling depan adalah seorang tua yang kumis dan rambutnya sudah putih semua, memakai baju biru, ditangannya memegang sebuah pipa bako, tampangnya sangat angker. Yang lainnya seorang nyonya tua baju hijau, matanya menonjol keluar hidung terbalik, di lengan kanannya membelit sebuah pecut tujuh bagian wajahnya buruk sekali, langkahnya terlihat mantap sekali. Yang terakhir adalah seorang laki-laki besar setengah baya dengan wajah dingin, di punggungnya ada sepasang Wan-yo-pit (Wan-yo= semacam bebek yang berpasangan

dengan satu pasangannya saja seumur hidupnya; Pit=pena), sepasang matanya bersinar tampak wajahnya keheranan. Sorot mata Pek Soh-jiu menyapu dia sekali, lalu berkata dingin: "Aku tidak ingin lebih banyak lagi membunuh orang tidak berdosa, harap kalian bertiga panggilkan Goan Ang keluar untuk menjawab pertanyaan ku." Orang tua berrambut putih tertawa: "Ketua Goan adalah seorang yang terhormat, bagaimana orang seperti kau ini bisa sembarang bertemu dia!" Pek Soh-jiu dengan angkuhnya mendengus sekali, katanya: "Jika kalian berniat menghalangi jalan, aku terpaksa menggunakan kekerasan." Laki-laki besar setengah baya yang wajahnya dingin mendadak maju selangkah berkata: "Berani bertingkah dihadapan Im-yang-sam-ih (Tiga serangkai Im-yang), kau sudah bosan hidup, mari, biar aku Tiauw Pat-ya menghabisimu." Disaat bicara, Huan-yang-pienya sudah berada ditangan, tapi terhadap Pek Soh-jiu yang bisa menahan hawa dingin, dan dalam satu jurus bisa melukai Peng-kok-pat-hiong (Delapan jago dari lembah es) merasakan sedikit ragu-ragu, dia adalah seorang yang licin, maka dia tidak mau menyerang duluan. Pek Soh-jiu mengangkat alisnya: "Bagus, terima ini." Kaki kirinya melangkah, telapak tangan kanannya memukul dengan jurus Hoa-liong-tian-ceng (Menggambar naga menitik mata), jari telunjuk dan jari tengah dengan

membawa suara ssst... sudah hampir mengenai wajah Tiauw Pat-ya. Angin jarinya seperti senjata tajam, bersuit tajam memecah angin, jurus serangan yang tampak asal-asalan ini, ternyata dahsyatnya luar biasa, wajah Tiauw Pat-ya berubah, tidak tahan dia mundur kebelakang beberapa langkah, tapi sepasang jari pek Soh-ciu seperti belatung menempel di tulang, saat tubuh Tiauw Pat-ya berkelibat menghindar, sepasang Pit ditangannya juga mengeluarkan jurus hebatnya melindungi diri, namun tetap tidak bisa menahan ancaman dari sepasang jari Pek Soh-jiu, wajahnya yang pucat dingin itu mengeluarkan tetes-tetes keringat sebesar kacang. Orang tertua dari Im-yang-sam-ih Thian Ceng, dan orang kedua Lai San-siu melihat pertarungan ini dengan wajah berubah, segera dua suara teriakan terdengar, pipa bako dan pecut bersamaan waktu menyerang Pek Soh-jiu. "Ha...ha...ha" terdengar tawa yang keras, menggema di seluruh lembah es, Im-yang-sam-ih tampak tertegun seperti patung ayam, ternyata semuanya telah tertotok jalan darahnya oleh Pek Soh-jiu dengan jurus yang tidak terbayangkan. Pek Soh-ciu tidak mempedulikan lagi mereka bertiga, tubuhnya berkelebat, berlari mengikuti jalan lorong. Keluar dari lorong, adalah sebuah ruang goa es yang besar sekali, esnya keras berkilauan, putih seperti giok, embun putih yang ditimbulkan oleh hawa dingin menguap keluar dari balok es, segumpal hawa putih yang seperti embun atau asap, menutupi seluruh ruang, bukan saja hawanya sangat dingin sekali, sampai jarak pandang pun tidak bisa mencapai lima kaki lebih. Dengan hati hati dan pelan Pek Soh-ciu maju kedepan, dia juga memindahkan batu kecil berwarna merah itu

kedepan dadanya, diam-diam mengerahkan tenaga dalam, menghisap daya panasnya. Mendadak, langkah dia terhenti, sepasang matanya melotot, menatap tajam pada satu bayangan orang didepannya. Itu adalah satu bayangan seorang tua yang tubuhnya tinggi besar, rambut dan kumisnya berdiri keras, sepasang mata ikannya, melotot seperti bel tembaga, tapi hidungnya bengkok mulut menganga, sedikit pun tidak ada tanda kehidupan, ternyata sebuah mayat yang sudah lama mati kedinginan, selanjutnya setiap jarak yang tidak jauh, dia pasti menemukan mayat yang serupa, mereka ada yang dalam posisi duduk ada yang terlentang, posisinya berbedabeda, menggambarkan suasana yang menyeramkan pada lembah dingin yang aneh ini. Mendadak, mata dia menjadi terang, sepasang kakinya langsung meloncat, dia sudah melewati sepuluh lebih hweesio dan berdiri dibelakang mereka, sepasang matanya bersinar, mengeluarkan sinar keheranan. Tampak dua belas orang hweesio dan tiga orang pendeta To diam seperti patung, mereka semua menutup matanya, duduk bersila sedang mengerahkan tenaga dalam dari aliran Budha dan To melawan dinginnya hawa di dalam goa. Setelah diam-diam dia mengawasi mereka sejenak, tidak terasa dia menghela napas, dia tahu mereka adalah seluruh kekuatan inti dari Siauw-lim-sie di bawah ketuanya, dan tiga tetua dari Bu-tong yaitu Ceng-yang, Cuan-yang, Cuyang, jika membiarkan mereka mati disini, tidak saja membuat dua perguruan aliran lurus dari dunia persilatan ini sulit bisa bangkit kembali, juga akan membuat kerugian yang amat mengerikan bagi dunia persilatan.

Namun saat ini dia seperti Budha tanah menyeberang sungai, melindungi diri sendiri saja sulit, apalagi dengan kekuatan seorang diri, walau pun tenaga dalamnya lebih tinggi lagi juga sulit bisa menghilang-kan racun yang dialami sepuluh lebih orang-orang ini, terpaksa dia sementara melepaskan menolong mereka, pikirnya nanti setelah bertemu dengan Goan Ang, dia akan memaksa menyerahkan Ho-leng-ci, baru menentukan cara menolong mereka. Keluar dari bagian goa ini, hawa dingin sudah tidak sedingin tadi, dengan lega dia menghela nafas, melanjutkan larinya kedepan. Sekarang di hadapannya ada sebaris rumah yang dibangun oleh batu dan papan, pohon bambu tampak di mana-mana, ada satu parit mengalir melintang, pemandangannya luar biasa, segulung hawa yang hangat, ditiup angin menerpa mukanya, dibandingkan dengan ruangan es yang tadi dilalui, benar-benar dunia yang berbeda sekali. Saat ini matahari berada ditengah-tengah kepala, sinar matatari dari atas tebing yang tinggi curam menyinari lembah yang misterius sulit di duga ini, tampak sinarnya sudah lemah tidak bertenaga, saat dia mengawasi kesekeliling, sebaris pasukan pesilat dengan baju ringkas, keluar dari belakang rumpun bambu, orang yang meminpin di depan, alisnya tebal matanya besar, tampangnya sangat galak, dia mengayunkan golok panjang ditangannya, lalu bayangan orang berkelebatan mengepung Pek Soh-jiu di tengah lingkaran. "Hemm!" Pek Soh-jiu berkata dingin, "Panggil Goan Ang keluar menemui aku, jika tidak jangan salahkan aku bertindak kejam!"

Terhadap teriakan Pek Soh-jiu, pengepungnya sedikit pun tidak mempedulikannya, sambil memeluk golok panjang, mereka berdiri tegak tanpa perasaan, diatas wajahnya sedikitpun tidak ada ekspresi. Pek Soh-jiu mendengus, telapak tangan kanannya mendadak dikibaskan, dengan lima puluh persen tanaga dalamnya, didorongkan kedepan, mendadak satu sinar golok berkelebat, sebuah tirai sinar, menahan tenaga telapaknya, di kedua sisi kiri kanan dan belakang tubuh, juga bersamaan waktu datang menyerang tiga kelompok tirai golok, namun gerakan-nya melayang-layang, begitu menyentuh langsung menghindar, Pek Soh-jiu hanya menyerang satu jurus, mereka telah menyerang empat jurus, juga telah berganti tiga tempat. Pek Soh-jiu terkejut, dia tidak menduga di dalam lembah yang misterius ini, ada barisan golok sehebat ini, dia segera mengumpulkan hawa murni kedalam Tan-tian, tenaga dalamnya menyebar keseluruh tubuh, tubuh mendadak berputar, sepasang tangan melayang-layang, dalam sekejap mata, menyerang berturut-turut delapan telapak tangan, sekejap kemudian terdengar beberapa kali suara jeritan mengerikan, sekeliling kembali menjadi hening, namun sepasukan pesilat berbaju ringkas ini, sudah roboh setengahnya. "Ha...ha...ha seumur hidup aku belum pernah mengagumi orang, ilmu silat sehebat Pek Siauhiap ini, sungguh-sungguh belum pernah terlihat dalam seratus tahun, namun......" Akhirnya Goan Ang menampakkan diri, di belakangnya mengikuti seorang laki-laki besar setengah baya yang tampan, bermulut tajam, pipinya tipis, matanya berputarputar. Melihat Pek Soh-jiu yang dapat melalui lorong es, dan kepandaian hebat yang tadi diperagakan, tampaknya

memuji, tapi di dalam kata-katanya, sedikit pun tidak mengadung ketakutan. Pek Soh-jiu berkata dingin: "Maksudmu, orang she Pek terlalu lama hidup?" Goan Ang menyipitkan sepasang matanya, wajahnya yang bulat tampak bersinar dingin, katanya: "Bukan, bukan, aku hanya merasa sedikit sayang saja." Pek Soh-jiu mendengus: "Anda tidak perlu menakut-nakuti, jika masih punya kepandaian lain, silahkan keluarkan biar menambah pengetahuanku." "He he he!" Goan Ang tertawa, "Terhadap orang yang telah keracunan, tidak perlu menggunakan jurus hebat lagi, he......" Hati Pek Soh-jiu tergerak, dia segera mengerahkan tenaga dalam, benar saja diantara Ciu-wie, ada satu hawa yang dingin, wajah dia berubah berkata: "Aku mengikuti anda datang kemari, hanya menginginkan dua helai daun Ho-leng-ci, untuk menyembuhkan penyakit pamanku, tidak diduga anda malah ingin menghabisi orang-orang Bulim dalam satu pukulan, hemm, walau pun aku terkena racun aneh, tapi aku masih mampu menghabisi nyawa orang she Goan dibawah telapak tanganku." "Siauhiap sepertinya terlalu percaya diri.'" "Kalau tidak percaya, boleh kau coba?" "Aku justru menginginkan." "Baik, terima ini."

Kakinya melangkah, menciutkan jarak jadi inci, lima jarinya dibuka, secepat kilat mencengkram perge-langan tangan kanan Goan Ang. Goan Ang melihat Pek Soh-jiu lalu melayangkan telapaknya, tapi angin jari Pek Soh-ciu sudah menyentuh diatas jalan darahnya, kecepatan gerak ini sangat mengejutkan dirinya, tapi ilmu silat dan refleknya berada diatas rata-rata orang, walau jurus Pek Soh-jiu ini dahsyat, tetap saja tidak bisa melukainya, terlihat dia mundur selangkah lalu lengan kirinya diayunkan, sebilah golok lentur seperti seekor ular pintar membabat kearah Pek Sohjiu. Pek Soh-jiu mendengus, gerakan telapak tangan kanannya berubah, lima jari turun kebawah, dari kejauhan dia menjentikan jarinya, lima jalur angin, menotok kearah jalan darah di rubuh bagian bawah Goan Ang. Hati Goan Ang tergetar, kaki kanannya bergeser kesamping, melangkah melintang tiga langkah, sebelah lengannya diputar, golok lentur dengan mengeluarkan bunyi ssst...membelah angin, dengan cepat membabat bahu kiri Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu sedikit memiringkan tubuh, menghindar satu babatan golok ini, mendadak dia membentak keras, telapak tangan kanan diputar lalu didorongkan, tenaganya telah menjelma menjadi ribuan benang perak, seperti air raksa tumpah ke tanah, segera menutup Goan Ang tanpa celah. Goan Ang diam-diam mengeluh, "Celaka." Mendadak tubuhnya terasa kesemutan, seluruh tubuh mendadak kaku tidak bertenaga, selain golok lentur yang tajamnya bisa memotong rambut yang terbang itu, telah jatuh ketangan Pek Soh-jiu, dia sendiri juga seperti sebuah patung kayu, berdiri tertegun tidak bisa bergerak.

Pek Soh-jiu dengan dingin berkata: "Jika kau sayang pada nyawamu, kita bisa berbicara dengan jujur......." Goan Ang mengeluh sedih: "Kepandaian Siauhiap hebat sekali, orang she Goan dengan tulus mengaku kalah, kau ingin bagai-mana, silahkan saja perintahkan." "Dimana istri ku Su Lam-ceng?" "Dia lebih beruntung dibandingkan Siauhiap, dia di bawa oleh Jit-kaw kokcu (ketua lembah tujuh kepandaian) Bong San-san, melalui jalan rahasia lain masuk ke dalam lembah gunung, penjaga lembah dari kami sedang memancing mereka masuk ke daerah mati, keadaan selanjutnya bagaimana, aku masih belum tahu." "Baiklah, kau serahkan dulu delapan belas butir obat penawar padaku, lalu kita bicarakan lebih jelas lagi." "Siauhiap seorang diri, buat apa perlu begitu banyak obat penawar?" "Aku ingin menolong lima belas orang Siauw-lim dan Bu-tong yang ada di goa es, dan meninggalkan dua butir obat untuk istriku......." "Haai!" Goan Ang mengeluh, dengan pelan, berkata pada laki-laki besar setengah baya yang berdiri tertegun satu tombak lebih: "Ji-te, harap berikan obat penawar pada Pek Siauhiap, kita mengaku kalah!" Laki-laki besar itu berkata dingin: "Sisa obat penawar tinggal sedikit, tidak cukup untuk keperluan sepuluh orang lebih."

Goan Ang mendengarnya jadi tertegun berkata: "Tidak peduli isinya ada berapa banyak, semua serahkan saja pada Pek Siauhiap." Laki-laki besar itu bersuara "Hemm!" berkata: "Obat perawar ini sulit membuatnya, ingin memberikan semuanya pada orang ini, maaf aku tidak bisa menurutinya!" Goan Ang bengong: "Adik kedua, kau......" Laki-laki besar itu tidak mempedulikan Goan Ang lagi, dia menepuk tangannya berkata: "Tangkap orang she Pek itu." Segera bayangan orang berseliweran, keluar puluhan orang pesilat berbaju ringkas, namun wajah mereka, tampak merasa ragu-ragu. Goan Ang melihat keadaannya begini jadi marah teriak: "Cuan-ce, berani kau melupakan budi, mengkhianati aku?" Dengan dingin Cuan-ce berteriak pada orang orang yang mengepung Pek Soh-jiu berkata: "Orang ini sudah terkena racun dan segera akan bereaksi, tidak perlu ditakutkan lagi, kalian serang saja dia......" Hati Pek Soh-jiu diam-diam terkejut, buru-buru mencoba tenaga dalamnya, benar saja satu aliran hawa dingin, pelanpelan menyebar ke kaki dan tangan, tenaga dalamnya jadi hanya bisa digunakan lima puluh pemen Saat ini sinar golok dan bayangan pedang, dari segala arah sudah datang menyerang, para pesilat itu tanpa

tanggung-tanggung menyerang ke tempat-tempat yang mematikan. Pek Soh-ciu sadar jika dia bergerak melakukan perlawanan, racun dingin itu bisa lebih cepat menyebar, namun nyawanya sangat berharga, asal masih ada harapan, bagaimana pun tidak akan membiarkan orang sembarangan mengambilnya! maka dia mengerahkan sisa tenaganya, menggunakan golok sebagai pedang, menyerang dengan jurus pedang yang amat dahsyat. Satu jurus Ciu-hong-su-khi (angin musim gugur timbul di empat penjuru), terlihat sinar golok seperti kilat berputar bintang melayang, menimbulkan suara ssst.... yang menakutkan orang, mendadak warna merah herterbangan di barengi suara jeritan kesakitkan, para pesilat yang menyerang dia, ada lima tewas tiga terluka, dalam satu jurus delapan orang telah roboh. Tapi keadaan dia juga semakin parah, kakinya sempoyongan, keringat dingin mengucur dari pelipis-nya, aliran darahnya jadi cepat, membuat dia tidak tahan mengeluarkan dengusan satu kali, ketika orang-orang yang mengepung dia kembali melakukan penyerangan, dia tetap terpaksa melakukan cara bertarung minum arak beracun melepas dahaga. Goan Ang yang melihat, matanya seperti timbul bara, dengan keras membentak: "Berhenti!" Cuan-ce dengan mata dingin melirik dia berkata: "Buat apa berteriak? Nanti juga membereskanmu, sekarang tenanglah dulu!" aku akan

Goan Ang tidak menduga orang kepercayaan-nya, bukan saja memimpin kelompok berkhianat, malah ingin

membunuh dirinya, sesaat kepedihan menyerang jantungnya, saking marahnya hingga memuntahkan darah segar, orang yang seperti dia, penguasa setempat yang menggemparkan dunia persilatan, bagaimana bisa menerima siksaan ini, lebih baik dia mati dari pada hidup seperti ini, maka dengan menghela napas yang panjang, segera akan menggigit lidah mengakhiri hidupnya, tepat disaat ini dua bayangan orang yang bertubuh ramping, dari belakang lembah berlari mendekat, hanya beberapa kali loncatan, orangnya sudah tiba dilapangan pertarungan. Goan Ang melihat orang yang datang itu adalah Jit-kaw Kokcu Bong San-san dan istrinya Pek Soh-jiu Su Lam-ceng, maka dia membatalkan niatnya bunuh diri, dengan keras memanggil: "Bong Kokcu......" Bong San-san melihat Su Lam-ceng sudah berlari pada Pek Soh-jiu yang sedang bertarung, dia jadi menghentikan langkah, dia mendekati Goan Ang, berkata: "Ada perlu apa? Goan Tayhiap." "Keek!" sekali Goan Ang berkata, "Aku ingin......keek, minta pertolongan Bong Kokcu......" Bong San-san dengan genit tertawa berkata: "Maksud Goan Tayhiap ingin aku membuka jalan darahmu?" "Betul......betul......" "Sayang cara menotok Pek Siauhiap, aku tidak mampu membukanya, namun asalkan Goan Tayhiap bisa memberitahukan keberadaan Ho-leng-ci padaku, aku bisa jamin keselamatanmu."

"Keek... kita berhubungan atas dasar kebenaran dan moral, Bong Kokcu tidak seharusnya mengambil kesempatan dalam kesempitan." "Meski perdagangan gagal persahabatan tetap masih ada, aku tidak akan memaksa orang, namun, bisa mempertahankan gunung selama masih hijau, tidak usah takut tidak ada kayu bakar, Goan Tayhiap bisa pertimbangkan lagi." Goan Ang mengeluh: "Ho-leng-ci memang satu pusaka di dunia, tapi jika tidak di minum bersama-sama dengan air liurnya ular Sian-giok, sama saja dengan minum racun yang amat berbisa, ketua walau pun mendapatkan Ho-leng-ci, hanya akan mendatangkan mala petaka yang tidak ada habisnya." Bong San-san mencibirkan mulutnya, berkata: "Lalu kenapa Goan Tayhiap tidak sekalian saja merelakannya!" Goan Ang mengemtkan alis: "Sayang aku telah menjelajahi seluruh ribuan pegunungan, tapi tetap sulit mendapatkan ular Sian-giok itu!" Bong San-san tertawa dingin, berkata: "Jika Goan Tayhiap telah menjelajahi ribuan pegunungan, dan masih belum mendapatkan ular Sian-giok itu, sungguh sulit orang bisa mempercayainya!" Goan Ang menggelengkan kepala sambil menghela napas: "Jika bisa mendapatkan Sian-giok, bagaimana aku bisa berakibat begini......"

Bong San-san pikir, kata-kata dia memang tidak salah, jika dia telah minum Ho-leng-ci, di dunia ini, siapa yang bisa melukai dia, namun, dia tetap dengan tawar berkata: "Baiklah, jika Goan tayhiap tidak punya Sian-giok, aku hanya menginginkan Ho-leng-ci saja." GoanAng dengan serius berkata: "Aku menyimpan Ho-leng-ci di tempat yang sangat rahasia......." "Jika Goan Tayhiap ada kesulitan, maka tidak perlu mengatakannya." "Tidak, aku sudah bertekad memberikan Ho-leng-ci pada Kokcu, hanya saja peta penyimpanan pusakanya ada di dalam pegangan golok ditangan Pek Siauhiap, jika Kokcu ingin mendapatkan Ho-leng-ci, harus menolong Pek Siauhiap terlebih dulu." "Apakah aku tidak boleh merampas senjatanya? Menolong orang bukankah akan sangat repot sekali!" "Tidak, ini adalah satu satunya permintaan aku......" "Baiklah, aku menurut padamu sekali ini......" "Tunggu, Bong kokcu! Di dalam kantongku masih ada sebutir obat penawar racun, harap ambil dan berikan pada Pek Siauhiap untuk menawarkan racun rumput es nya, cepat......" Jit-kaw Kokcu Bong San-san, sebenarnya juga seorang ahli menggunakan racun, di dunia persilatan asal menyebut Pek-tok-lo-cia (iblis seratus racun) Bong San-san, siapa pun akan merasa sakit kepala, dia melihat wajah Pek Soh-jiu yang terlihat hijau ungu, langkahnya kacau, benar saja bahayanya sudah sampai diatas alis, tidak ragu ragu lagi, dengan cepat mengambil obat penawar racun dari

kantongnya Goan Ang, mulutnya berteriak, dia sudah bergerak seperti asap berwarna merah muda. Saat ini Su Lam-ceng sedang sibuk oleh Cuan-ce dan lima orang laki-laki besar, walau pun tahu keadaan Pek Soh-jiu sangat kritis, namun dia tidak mampu membagi tubuh. Datangnya Bong San-san sangat tepat waktu, begitu angin pukulannya sampai, seperti air mendidih menciprat es, hanya dalam waktu singkat, dia sudah menerjang mendekati Pek Soh-jiu, lalu menjentikan jarinya, melemparkan pil mujarab penawar racun itu ke dalam mulut Pek Soh-jiu, sesudah itu sepasang telapak tangannya dikibaskan kekiri dan kekanan, kembali menjatuhkan beberapa pesilat yang datang menyerang, baru dengan tertawa genit berkata: "Obat penawar racun ini diberikan oleh Goan Kokcu untuk saudara kecil. Cepat gunakan tenaga dalam mengusir racunnya, para anak setan ini, serahkan saja pada cici." Di mulutnya berkelakar, tapi sepasang telapak tangannya melancarkan jurus yang mematikan, para anak buah setia yang di pupuk bertahun tahun oleh Cuan-ce, dalam waktu singkat, hampir tidak ada satu pun yang selamat, satu rasa terkejut yang amat sangat, membuat Cuan-ce berniat untuk mundur, namun begitu tekanannya berkurang, Su Lamceng sudah meloncat menghadang jalannya Cuan-ce. "Orang she Cuan, sudah tiba saatnya kita selesaikan, terima ini......" Lima buah bendera besi, dihamburkan dengan jurus Boan-thian-hoa-ie (Hujan bunga memenuhi udara), walau pun Cuan-ce bisa tumbuh dua buah sayap, tetap sulit lolos keluar dari senjata rahasia dia ini, maka dia berikut empat

orang anak buah setianya, bersama-sama menjerit ngeri roboh ke bawah. Pertarungan sengit sudah selesai, di dalam lembah sepi ini, sudah kembali jadi tenang, tapi Goan Ang mengerutkan sepasang alisnya, wajahnya semakin berubah jadi serius berkata: "Lewat dua jam lagi, seluruh lembah akan berubah jadi semakin dingin, jika Pek Siauhiap belum bangun, terpaksa aku menemani dia mati disini." Pek-tok-lo-cia Bong San-san berkata: "Bagaimana jika aku pindahkan kau dulu ke dalam kamar?" Goan Ang menggelengkan kepala berkata: "Pek Siauhiap adalah mutiara terang embun dewa, bunga hebat dunia persilatan, aku sudah tua, bisa menemani dia mati disini, itu malah harapanku." Bong San-san keheranan berkata: "Aku sungguh tidak mengerti, Goan Tayhiap bagaimana bisa ditotok oleh dia......" "Itu tidak bisa salahkan dia, jika bukan aku memancing dia datang kemari, bagaimana dia bisa menempuh bahaya ini!" "Tidak diduga Goan Tayhiap yang disebut-sebut bertangan kejam, bisa berlapang dada seperti ini!" "Kehidupan manusia seperti embun pagi, seluruh ambisi ingin punya nama ingin menang, akhir-nya tetap saja menjadi segunukan tanah kuning! Pengkhianatan Cuan-ce, membuat aku jadi sadar, jika Pek Siauhiap beruntung bisa lolos dari ujian yang sulit ini, aku akan menggunakan sisa hidupku, membantu dia mendirikan satu pahala besar."

Baru saja habis bicara, mendadak satu bayangan orang berkelebat, satu angin lembut yang hangat, mengikutinya datang melayang, dia merasakan seluruh jalan darahnya menjadi lancar semua, seluruh aliran darah sudah terbuka kembali, dia segera bangkit berdiri, sambil memegang tangan berototnya Pek Soh-jiu berkata: "Terima kasih, saudara Pek! Mari kita masuk ke dalam rumah berbincang-bincang......" Ini adalah gedung besar yang sangat mewah, satusatunya yang sangat berbeda, adalah pintu dan jendalanya ditutup rapat dengan karpet kulit, untuk mencegah hawa dingin masuk ke dalam. Goan Ang menggunakan tangannya menekan pelan sebuah bata persegi, memunculkan lubang goa yang kecil, dia mengulurkan tangan mengeluarkan sebuah kotak papan sepanjang kira-kira satu kaki, memberikannya pada Bong San-san berkata: "Inilah Ho-leng-ci yang menggemparkan persilatan, harap ketua menyimpannya baik-baik." dunia

Mata Pek Soh-jiu menyorot sinar aneh, begitu melihat kotak papan, dia mau bicara tapi tidak jadi, kelihatan sekali wajahnya sedikit tidak tenang. Bong San-san menerima kotak papan, sambil tersenyum pada Pek Soh-jiu berkata: "Jika cici tidak salah menduga, adik kecil sudah berhasil mendapatkan ular pintar Sian-giok yang sama berharganya dengan Ho-leng-ci, bisakah cici melihatnya?" Dari dalam dadanya Pek Soh-jiu mengeluarkan ular pintar Sian-giok diserahkan pada Bong San-san berkata:

"Aku tanpa sengaja mendapatkan dia, usianya sudah tua makanya jadi pintar, dapat mengerti maksud manusia, ketua tidak perlu khawatir." Bong San-san setelah memain-mainkannya sebentar, mengembalikan pada Pek Soh-jiu berkata: "Masing-masing barang memiliki masing masing pemilik, manusia sama sekali tidak bisa memaksakan memilikinya, cici meminjam bunga mempersembahkan pada Budha, Ho-leng-ci ini, aku serahkan pada adik kecil saja." Pek Soh-jiu bengong berkata: "Tadi aku sudah mendapat pertolongan dari cici, aku sudah sangat berterima kasih, seumur hidup akan kuingat, jika Ho-leng-ci adalah pemberiannya Goan Tayhiap, aku tidak bisa menerimanya." Goan Ang di pinggir membujuknya, katanya: "Pek-tok-sin-kang nya Bong Kokcu, tiada duanya di dunia, pusaka alam di lembah Jit-kaw, melebihi pusaka yang ada dimana-mana, jika dia dengan tulus memberikan Ho-leng-ci, maka adik kecil tidak perlu sungkan." Di bawah hati yang tulus sulit menolaknya, Pek Soh-jiu terpaksa menerima kotak papan itu, katanya: "Aku tidak tahu, bagaimana cara menggabungkan Holeng-ci dengan air liur ular untuk bisa dipergunakan, mohon penjelasan dari Goan Tayhiap." Goan Ang dengan terperinci menjelaskan menggunaannya, lalu sambil tertawa lega berkata: cara

"Kita menyesalkan pertemuan kita terlambat, saudara Pek jika masih memandang Lo-ko, harap jangan menyebut aku dengan tayhiap lagi."

Pek Soh-jiu membungkukan tubuh menghormat berkata: "Perintah Goan Lo-ko, aku tidak berani tidak menurut, selanjutnya harap Lo-ko jangan bosan-bosan memberi nasihat padaku." Pek-tok-lo-cia tertawa: "Jika telah mengakui Lo-ko, maka harus mengakui juga seorang Lo-ci, jika tidak adik Pek terlalu berat sebelah." Saat ini Su Lam-ceng sedang berdiri disamping Pek Sohjiu, mendengar hal itu, dia langsung menyahutnya: "Cici San telah memberi banyak pada kami suami istri, bisa mendapatkan cici sepertimu, kami suami istri sangat senang, namun cici adalah wanita cantik yang masih muda, kata tua itu, kami suami istri mungkin sulit untuk menurutinya." Pek-tok-lo-cia Bong San-san sambil memegang tangan Su Lam-ceng berkata: "Mulut kecil yang pandai sekali bicara, adik Pek mendapat pembantu sepertimu yang sifatnya keibuan dan setia, tidak tahu dia sudah berapa generasi bertapa-nya." Belum habis Bong San-san bicara, mendadak dia menemukan Pek Soh-jiu sedang membelalakan sepasang matanya, menatap tegang pada Su Lam-ceng, wajahnya, juga nampak sedikit kebingungan, tidak tahan dia jadi merasa heran berkata: "Kenapa adik Pek! Apakah Cici salah bicara apa?" Pipi Su Lam-ceng sedikit merah, menghela napas pelan berkata: "Dia bukan menyalahkanmu, cici San! Tapi aku......berbuat salah pada dia, membuat kandunganku......"

Pek Soh-jiu menjadi emosi berkata: "Kita masih muda, adik Ceng tidak perlu di simpan dihati." Bong San-san dan Goan Ang, tidak tahu ada masalah apa diantara sepasang sejoli pendekar ini. Namun masalah pribadi suami istri orang lain, orang ketiga tentu saja tidak enak terlibat, tapi Bong San-san bagaimana pun adalah seorang wanita, sedikit-sedikit sudah tahu, karena Pek Sohjiu mengatakan mereka masih muda, kebanyakan masalahnya, masalah antar muda mudi, dia hanya tidak enak mengatakannya saja. Terakhir, tetap Pek Soh-jiu yang memecahkan keadaan canggung ini, dia berkata pada Bong San-san: "Cici San! Aku juga punya satu permintaan maaf padamu." Bong San-san tertawa berkata: "Kau tidak perlu sungkan, kecuali meminta cici memetik bintang dilangit, semua permintaanmu akan cici kabulkan." Pek Soh-jiu mengepal tangan membungkuk berkata: "Aku berterima kasih dulu pada Cici......" "Kalau begitu, katakanlah." "Di lembah cici apa ada seorang yang bernama Tok-hou (Monyet racun) The Hoan?" "Tidak salah, apa dia telah menyerangmu?" "Hanya sedikit salah paham, tapi aku kelepasan tangan telah membunuhnya." "Tidak apa-apa! Orang ini sangat liar sulit dikendalikan, cici juga sudah lama ingin menghabisi dia, sekarang kau telah membunuhnya, tidak bedanya dengan telah

menghilangkan satu kanker racun di lembah ini, cici malah harus berterima kasih padamu." Su Lam-ceng berkata: "Ciu koko! Jika cici San tidak menyalahkan kita, rasanya sudah tidak ada urusan lain, hanya kita sampai sekarang masih belum melihat guru dan yang lainnya, aku sungguh tidak bisa tenang." Pek Soh-jiu juga mengkhawatirkan Thian-ho-sat-kun dan putrinya bertiga, mendengar kata kata ini dia berbalik pada Goan Ang berkata: "Lo-ko! Kapan hawa dingin di dalam lembah bisa menghilang?" "Kira-kira masih perlu satu jam lagi, sekarang gelisah juga tidak ada gunanya, adik! Sekarang kita istirahat dulu sebentar, nanti aku antar kalian mencari teman-temanmu itu." Hawa dingin di dalam lembah, tidak bisa di tahan oleh kekuatan manusia, walau hati Pek Soh-jiu gelisah, juga terpaksa menunggu satu jam lagi. Akhirnya, hawa dingin telah lewat, Goan Ang membagikan pada mereka setiap orang sebutir batu warna ungu gelap berkata: "Di lembah ini kecuali setiap hari di waktu tengah malam jam sebelas sampai jam satu dan tengah hari jam sebelas sampai jam satu hawanya sangat dingin sekali, di waktu lainnya hawa dingin yang dikeluarkan-nya, untuk orang yang berlatih silat masih mampu menahannya, hanya ada beberapa gua yang sangat dingin, apalagi orang yang masuk kedalamnya terlebih dulu kena racun rumput es, maka begitu masuk ke dalam goa es, akan kehilangan daya tahannya, tapi sebuah barang pasti ada barang penakluk

lainnya, dengan mempunyai sebutir batu es kecil ini, kecuali waktu yang paling dingin tadi dan terhadap rumput es, bisa dikatakan semua akan lancar tidak ada yang menghalangi. Dari dalam dadanya Pek Soh-jiu mengeluarkan sebuah batu bulat berkata: "Batu bulat aku ini, juga dapat menahan dingin, tidak tahu apakah ini sejenis dengan batu es?" Goan Ang melihat batu bulat itu bersinar ungu, bisa membuat kumis dan alis tersorot, tidak tahan dia tertawa terbahak-bahak, katanya: "Ini sungguh-sungguh sudah ditakdirkan, aku telah menjelajahi seluruh lembah es, tidak pernah mendapatkan sebutir Thian-can-peng-bo (Biang es langit), tidak diduga adik Pek bisa mendapatkannya tanpa disengaja, batu ini bisa menahan api dan air, orang yang memegang batu ini asalkan menggunakan tenaga dalam menggerakan kilap ungunya, tidak saja bisa menahan panas dan dingin, air atau api pun bisa dilaluinya tanpa cidera, selain itu racun apa pun, juga tidak bisa melukai orang yang memegang batu ini, adik kecil! Selamat." Pek Soh-jiu mendengar begitu berharganya batu kecil ini, dia merasa tidak enak hati, maka dia memberikan Thiancan-peng-bo kepada Goan Ang berkata: "Lo-ko! Batu ini tadinya juga milik lembah ini, sepantasnya mengembalikannya pada pemiliknya, apalagi saat ini aku sudah tidak memerlukannya lagi, harap Lo-ko menerimanya kembali." Goan Ang berkata: "Pusaka alam, orang yang berbudi yang baru dapat memilikinya. Jika aku harus mendapatkannya, buat apa

menunggu sampai hari ini, apa lagi adik Pek mempunyai tugas berat, batu pusaka yang didapat karena nasib ini, pasti akan berguna bagi adik Pek, simpanlah, temanmu mungkin sedang dalam bahaya, kita tidak bisa menunggu lagi." Karena Goan Ang bersikeras tidak mau menerimanya, Pek Soh-jiu juga tidak enak memaksa terus, terpaksa dia menyimpan batu pusaka, mengikuti Goan Ang dan lainnya berlari menuju goa es, keadaan goa es tetap seperti semula, yang berbeda adalah orang yang terkena racun dingin, mereka tampak bertambah kepayahan, setelah mendapat pertolongan Goan Ang menggunakan obat penawar khusus, maka mereka berturut-turut sadar kembali, tianglo Siauwlim-sie Pek Can taysu pelan-pelan bangkit berdiri, sambil mengangkat alis panjangnya, menyebutnama Budha berkata: "Goan Sicu akhirnya bisa sadar dan kembali ke jalan benar, aku harus berterima kasih pada Budha atas......" "Ha ha ha!" Goan Ang tertawa keras dan berkata panjang, "Aku tidak berani membohongi taysu, Aku orang she Goan memang sudah sadar, namun kalau taysu mengatakan atas jasanya pada Budha, orang she Goan sulit bisa menyetujuinya." "Hemm!" Pek Can taysu berkata, "Sicu berkata begini, tidak tahu apa tujuannya?" "Mudah sekali, aku menolong kalian semua, hanya untuk menghormati tujuannya adikku saja, ketua tidak tanya dulu sebabnya, malah mengambil kesimpulan sendiri memberikan jasanya pada Budha, bukankah itu akan membuat orang yang memberikan budi, hatinya jadi merasa dingin!" Pek Soh-jiu tersenyum berkata:

"Kau ini kenapa? Loko, Aku tidak bermaksud menolong orang mengharapkan imbalan......" Ketua Siauw-lim-sie Pek Hui taysu menegakan satu telapaknya, menyapa pada Pek Soh-jiu berkata: "Sicu kecil tidak mengingat perlakuan jahat yang telah lewat, kebesaran hatinya begitu besar, selanjutnya aliran Siauw-lim-sie selamanya akan menjadi teman setianya Sicu kecil." "Terima kasih, tapi......" Goan Ang menggoyangkan tangan berkata: "Ketua Siauw-lim-sie sekali bicara akan memegang teguh janjinya, adik kecil tidak perlu menjelaskannya lagi." Sejenak menghentikan kata-katanya, lalu mengepal tangan menghormat pada Pek Can taysu berkata: "Dalam peristiwa Yun-liu, Orang she Goan sama tidak ada niat menfitnah Siauw-lim, hanya saja hweesio kebetulan hadir dipertemuan itu, mengenai baik Toa-hweesio, orang she Goan tentu saja bertanggung jawab menjernihkannya." sekali Toanama akan

Tiga angkatan tua Bu-tong juga bersamaan mengucapkan terima kasih pada Pek Soh-jiu, mereka juga bersedia membantu pekerjaan Pek Soh-jiu di dunia persilatan dengan sekuat tenaganya dan seluruh kekuatan perguruan. Goan Ang mengambil kesempatan ini menjelaskan niat Pek Soh-jiu mengatasi mala petaka dunia persilatan, dan juga membalas dendam kematian ayahnya, akan pergi ke bukit Thian-ciat, berharap Siauw-lim dan Bu-tong bisa bersama-sama mendukung-nya, tentu saja masalah ini tidak bisa ditolak, maka dua perguruan besar yang pemimpin dunia persilatan ini, menggabungkan diri ke dalam rombongan Pek Soh-jiu.

Mereka melalui lorong es, hingga ke mulut goa, tapi tidak menemukan Thian-ho-sat-kun dan putrinya, Ouwyang Yong-it dan Sangguan Ceng-hun, setelah berbelok ke lorong rahasia lain, baru bisa berkumpul dengan mereka, ternyata Thian-ho-sat-kun banyak akalnya, dia tidak saja bisa menghindarkan serangan hawa dingin, juga bisa menemukan jalan rahasia menuju ke belakang lembah, ini malah jadi menghindarkan beberapa kesulitan. Sekarang, serombongan pesilat tinggi yang terdiri dari orang biasa, hweesio dan pendeta To, berada dalam perjalanan menuju ke bukit Thian-ciat, di pimpin seorang tua tinggi besar, rambutnya putih berbaju merah, dibelakangnya mengikuti tiga laki-laki tiga wanita, dengan baju berkibar-kibar, berjalan memimpin di depan. Di belakang mereka ada Jit-kaw Kokcu, Pek-tok-lo-cia Bong San-san dengan delapan pesilat tinggi dari lembah Jitkaw, mereka semuanya adalah laki-laki bertubuh tegap, berrambut panjang terurai menutup bahu, berbaju ketat menyandang pedang, di belakang orang-orang lembah Jitkaw, tampak Goan Ang dan Im-yang-sam-ih, Peng-kok-pathiong, paling belakang adalah murid-muridnya Siauw-lim dan tiga angkatan tua Bu-tong. Kekuatan rombongan ini sangat mengejutkan, jika mengatakan masih ada orang yang berniat mengusik mereka, ini tidak bedanya dengan serangga menerjang api, mencari jalan mati sendiri, tapi Pek Soh-jiu sedikit pun tidak berani berpikiran gegabah, dia tahu di dalam dunia persilatan, banyak sekali orang-orang tidak menggunakan aturan, yang melihat keuntungan lupa kesetia kawanan, dari tempatnya sekarang ke bukit Thian-ciat jaraknya masih ribuan lie, hidup mati beruntung atau mala petaka, masih dalam tanda tanya.

Bukit Thian-ciat tadinya adalah nama gunung Suku, sepuluh li diutara kabupaten Jin-ciu provinsi Su-cuan, di puncak gunung ada tebing batu seperti benteng kota, makanya juga disebut gunung Si-ceng, diakhir dinasti Siwie, pejabat Kang-ciu Lu-teng menyerang pemberontak Liauw-jin, para orang-orang Liauw menduduki gunung untuk bertahan, ada seorang jendral yang mampu menahan serangan ribuan tentara karena keadaan gunungnya, setelah Lu-teng dan The Cu-lo memancing musuhnya dibawah gunung, baru dapat mengalahkannya. Bisa dibayangkan keadaan gunungnya yang begitu strategis, untungnya Thian-ho-sat-kun, tadinya juga pemilik gunung Thian-ciat ini, dia hafal sekali akan keadaan gunungnya, maka kesulitannya tidak terlalu banyak. Mereka merencanakan dari Jin-hoa, melalui selatan Anhwi, menerobos Ho-pak langsung ke Su-cuan, namun baru saja tiba di sebelah tenggara Yam-su, sudah bertemu dengan beberapa orang yang mencari masalah. Masih berjarak setengah lie dari kabupaten Yam-su, di pinggir jalan ada sebuah hutan yang lebat, Wie Pui-hoa dan Giok Ie-ko dari Thian-ho-leng memimpin sepuluh lebih pesilat tinggi, sedang menanti di pinggir hutan menunggu kedatangan mereka. Begitu bertemu musuh, mata menjadi sangat terang, Giok Ie-ko langsung datang menyambut sambil mengangkat alis berkata: "Orang she Pek, hari ini bisa melarikan diri, besok tidak akan lolos, aku akan memberi kau satu kesempatan lagi." Satu sinar membunuh, menyorot keluar dari sepasang matanya Pek Soh-jiu, berkata: "Aku sedang mendengarkannya."

"Bawa istrimu dan ikut aku ke Thian-ciat-leng untuk menerima hukuman......." "Mmm, memang benar satu kesempatan yang bagus sekali, tapi aku juga ada satu permintaan kecil pada nona!" "Ooo, coba katakan." "Nona dengan Sucimu, akan kuberi kelonggaran, kalau orang yang lain? Cukup tinggalkan sedikit tanda mata saja." Selesai berkata itu, terdengar sebuah suara teriakan yang seperti geledek, lalu melayang keluar satu bayangan orang yang kurus, gerakan dia menimbulkan angin keras, keadaannya sangat menakutkan orang, dalam hati Pek Sohjiu tahu ilmu silat orang ini sangat hebat, diam-diam memusatkan tenaga dalamnya, lalu melihat pada orang itu. Dia adalah seorang yang tinggi kurus seperti sebatang bambu, dibawah bajunya yang sampai kelutut, tampak sepasang kaki dibungkus kulit berbulu hitam, tampangnya membuat orang tidak ingin melihatnya, wajahnya yang kurus hanya ada kulit tanpa daging, tertanam dua butir mata yang bersinar, dia melotot pada Pek Soh-jiu, berkata dingin: "Bocah! Kau ini yang ingin kutinggalkan sedikit tanda? He he he, biar aku congkel dulu sepasang matamu." Habis berkata orang ini langsung mengeluarkan serangan, gerakannya sangat lincah, lengan kanannya dijulurkan, malah bisa mencapai lima kaki, lima jarinya yang kurus kering dengan angin serangannya, hampir saja menotok diatas wajahnya Pek Soh-jiu. Wajah Jit-kaw Kokcu Bong San-san sedikit berubah, dia takut Pek Soh-jiu tidak tahu kelihayannya orang ini, buru buru teriak:

"Adik Pek! Dia adalah seekor naga beracung sepuluh jarinya telah dioles dengan racun mematikan, ilmu Tongpik-kang (ilmu memanjangkan tangan) dan Tai-eng-jauw (Elang cakar besar) nya bisa disebut salah satu ilmu terhebat di dunia persilatan! Kau harus hati-hati sedikit!" Tangan yang telah dijulurkan oleh Tok-jauw-kauw-liong (Cakar beracun naga durhaka), mendadak ditarik kembali, sepasang bola matanya berputar-putar, menatap Bong Sansan dengan bangganya berkata: "Nona Bong! Kau mengatakan bocah ini adalah adikmu? Keek, kenapa bukan dari tadi kau katakan, hampir saja Ciang Pu-hai melakukan kesalahan besar!" "Hemm!" dengan dingin sekali Bong San-san berkata, "Kau tidak perlu memuji, Bong San-san juga tidak akan menerima penghormatanmu." Tok-jauw-kauw-liong Ciang Pu-hai "Ha ha ha!" Nona Bong! Kita sama-sama orang ternama di dunia persilatan, sepuluh tahun berhubungan, tidak terhalang oleh panas atau dingin, apakah kau sedikit pun tidak ada perasaan?" Bong San-san mencibirkan bibirnya: "Kau lebih baik mengaca dulu dalam air kencing sendiri, lihat wajahmu yang sejak dilahirkan sudah memalukan." Wajah Ciang Pu-hai berubah, menatap pada Pek Soh-jiu berkata: dengan marahnya

"Bagus, bagus, biar aku bunuhmu dulu, supaya putus harapan wanita kecil itu." Habis bicara, bayangan telapak memecah angin, lima jari sedahsyat gunung runtuh, gelombang laut menerjang, mencengkram ke arah bahu Pek Soh-jiu.

Pertama-tama Pek Soh-jiu mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengerakan sinar ungu Thian-can-cu di dalam dadanya, lalu sembarangan memungut sebatang ranting pohon, pergelangan tangan sedikit digetarkan, dengan cepat menotok keluar, ujung ranting memecah angin seperti anak panah, langsung menusuk kearah telapak tangannya Ciang Pu-hai yang datang. Ciang Pu-hai mendengus, lengan kanannya ditarik, telapak tangan kiri berganti menyerang keluar, meski jaraknya kurang lebih lima kaki, tapi begitu menjulurkan tangan, langsung mencapainya, terlihat hanya dalam sekejap, jari kurus keringnya itu, sudah mencapai dibawah ketiaknya Pek Soh-jiu. Pek Soh-jiu terkejut, dia tidak menduga Tong-pik-kang nya Ciang Pu-hai sedemikian lihaynya, sekali tidak menduganya, hampir saja dia terkena serangan lawan. Untungnya dia memiliki tenaga dalam latihan seratus tahun, jalan darahnya bisa dengan otomatis berubah tempat, jika tidak, hanya dalam satu jurus ini saja, dia sudah tidak bisa mundur dengan selamat. Namun hati Ciang Pu-hai lebih terkejut, sebab dia sudah mengerahkan delapan puluh persen tenaga dalamnya, tepat mengenai jalan darah besar Thian-su lawannya, asalkan tubuh manusia yang dibentuk oleh darah dan daging, walau tidak mati, juga akan mengalami luka parah, apa lagi diatas jarinya, telah dilumuri racun mematikan, walau pun punya tenaga dalam pelindung tubuh, juga sulit menahan serangan racunnya, sekarang dibawah dua serangan mematikan, dia malah sedikit pun tidak berhasil, malah jari tangan kiri dan tulang pergelangannya, telah remuk oleh getaran tenaga dalani, lawannya. Tok-jauw-kauw-liong yang sudah sepuluh tahun meraja lela di dunia persilatan, malah telah diremukan sebelah

tangannya oleh seorang Boanpwee dalam satu jurus, bukan saja ini penghinaan yang tidak pernah dia alami seumur hidupnya, juga hal yang hampir membuat orang sulit untuk bisa mempercayainya, namun kenyataannya sudah terjadi di depan mata, sakit yang menyayat hati membantah keraguan hatinya, tapi dasar sifatnya licik, dia sudah biasa tidak mempedulikan aturan dunia persilatan, dalam hati walau pun bencinya sampai ingin memakan bulat daging Pek Soh-jiu, akhirnya ditahan sebab ilmu silatnya kalah dari musuhnya, sambil memegangi tangan yang remuk dia mundur tiga langkah kebelakang, mulutnya tertawa aneh berkata: "Orang she Pek, berani sekali diam-diam kau melukai orang? Baiklah, lewat hari ini masih ada hari esok, asal aku tidak mati, pasti akan membalaskan dendam ini." Pek-tok-lo-cia dengan sinis berkata: "Aku dengar sekecil apa pun dendam Tok-jauw-kauwliong pasti membalasnya, dendam karena tangan remuk, buat apa menunggu hari lainnya?" Ciang Pu-hai marah sekali, dia teriak: "Wanita hina! Walau pun aku terkena serangan gelap, ingin membunuhmu itu bukan hal yang sulit." "Hemm!" Pek-tok-lo-cia berkata dingin, "Walau aku tidak suka memukul anjing yang sudah jatuh kedalam air, jika kau bersiteguh ingin mencari mati, terpaksa aku meluluskan." Dari dalam satu kantong kulit, dia mengeluarkan sarung tangan yang mengeluar-kan sinar perak, dengan gerakan yang sangat cepat memakainya, lalu dengan wajah dingin, berkata: "Menyesal? Orang she Ciang panggil tiga kali nona besar, merangkak di tanah menyembah dua kali, asal Bong

San-san senang, mungkin akan mengampuni nyawa anjingmu." Ciang Pu-hai jadi sedikit sedikit menyesal, sebab ilmu silatnya tidak lebih tinggi dari Bong San-san, sekarang tangan kirinya tidak bisa digunakan, bagai-mana dia bisa melawan Jit-kaw Kokcu! Hanya saja kata katanya Bong San-san terlalu keji, walau kulit wajah lebih tebal lagi, juga sulit bisa menahan amarah ini. terpaksa sepasang ahli menggunakan racun ini, melaku-kan pertarungan yang amat sengit. Disisi lain, Wie Pui-hoa dengan Siau Yam juga sedang bersitegang, sudah diambang pertarungan. Sebabnya adalah Wie Pui-hoa dengan kedudukannya sebagai kakak tertua di perguruan, ingin Siau Yam menerima hukuman peraturan perguruan, karena Siau Yam sudah tahu akar persoalannya, tentu saja tidak mau menyerah begitu saja, terakhir, Wie Pui-hoa dengan mengeluh panjang berkata: "Sam-sumoi begini keras kepala tidak mau sadar, Suci jadi tidak bisa mempertimbangkan hubungan kita sebagai saudara seperguruan." Thian-ho-leng di tangannya dilambaikan ke belakang, sepuluh lebih pesilat tinggi dari perguruan Thian-ho yang berwajah sadis, semuanya langsung maju menyerang. "Ha ha ha!" Ouwyang Yong-it tertawa, "Adik Sangguan! Mari kita ikut meramaikannya." Sangguan Ceng-hun menyahut: "Baik." Maka mereka bersama-sama keluar maju", menerjang, menyambut pesilat tinggi perguruan Thian-ho bertarung sengit.

Pek Soh-jiu, Siau Hun, Siau Yam, Su Lam-ceng, juga meloncat keluar, masing-masing menghadang beberapa musuh, melakukan pertarungan seru. Pek Soh-jiu tetap dengan ranting pohonnya, melawan lima pesilat tinggi, ranting pohonnya bergerak kemana, menimbulkan angin keras, walau lawannya banyak, dia tetap saja masih kelebihan tenaga. Siau Hun bertarung dengan tiga orang pesilat tinggi, Su Lam-ceng juga menggunakan pedang Im-cu, memaksa dua orang murid perguruan Thian-ho mempertahankan nyawanya, hanya Siau Yam bertarung satu lawan satu, dengan Ji-sucinya Giok Ie-ko, Suci dan Sumoi ini bertarung seimbang, didalam perguruan Thian-ho satu satunya yang tidak bertarung, tinggal Wie Pui-hoa seorang, dengan sepasang alis berkerut, wajahnya serius, diam tidak bersuara mengawasi seluruh lapangan pertarungan, dia tampak terkejut keheranan. Dia didalam hati dia berpikir, prajurit yang berpisah tiga hari, sungguh harus dilihat dengan mata yang berbeda, tingginya kepandaian Pek Soh-jiu, sudah membuat hatinya terkejut, malah dengan penampilan Siau Yam hari ini belum tentu dia bisa menandinginya, kelihatannya pertarungan hari ini, murid-murid perguruan Thian-ho akan mengalami kekalahan total. Tapi, sebagai murid tertua perguruan Thian-ho, walau pun mati berlumuran darah dalam pertarungan, juga tidak boleh melarikan diri, maka dia menghentakan kakinya, akan langsung menerjang ikut kedalam pertarungan. Mendadak, satu tiupan angin yang dingin sekali, pelanpelan meniup kerubuhnya, dalam pikirannya dia ingin menghentakan kaki, melayangkan bendera menyerang musuh, tapi dia tidak bisa memerintahkan tubuhnya, jelas

jelas dia merasakan akan meloncat, hasilnya malah sedikit pun tidak bergerak, keterkejutan ini, hampir membuat dia mati ketakutan, hingga sampai Thian-ho-sat-kun melangkah ke depan dia, baru sadar ketika angin dingin menerpa dirinya, jalan darah dia sudah tertotok. Thian-ho-sat-kun mengambil bendera Thian-ho-leng dari tangannya, mulutnya dengan tegas membentak: "Kau murid perguruan Thian-ho?" "Benar, Cianpwee." "Lalu siapa pemilik Thian-ho-leng ini?" "Guru ku Ang-kun-giok-hui Hai Keng-sim." "Baik, kau pulang beritahu dia, dalam waktu setengah tahun, aku pribadi akan datang ke Su-ceng." "Sebutan Cianpwee adalah......" "Siau Ji-po." "Aku sudah mengingatnya." "Baik, pergilah." Satu angin dingin yang lembut namun tidak bisa ditahan, menerbangkan pada dirinya, dia tidak mampu menghentikan tubuh, tapi merasakan tenaga dalamnya mulai lancar, jalan darahnya sudah terbuka kembali, maka dengan menusatkan tenaga dalamnya, di saat luncuran tubuhnya akan habis, dengan pelan dia turun di atas tanah, tempat dia berdiri, sudah menjauh sepuluh tombak lebih dari lapangan pertarungan. Dengan bengong dia menatap Giok Ie-ko yang lari. sempoyongan mendekatinya, lalu melihat mayat-mayat' anak buah Thian-ho-leng yang bergelimpangan dilapangan pertarungan, rasanya seperti mimpi buruk, lama... dua

orang Suci Sumoi yang lolos dari maut, dengan sedih lari meninggalkan tempat itu. Untuk pertama kalinya Pek Soh-jiu mencoba kepandaiannya setelah dia sukses melatih ilmu silat. Thianho-leng yang disegani oleh ratusan perguruan itu tampak seperti rumput kering, sehingga setelah pertarungan di Yam-su, dia menjadi seorang pesilat hebat yang diketahui oleh semua orang, perguruan yang tidak mau diperbudak Thian ho-Ieng, tidak tanggung lagi datang menggabungkan diri, kekuatan dan ketenarannya bisa dikatakan tidak pernah ada di dalam sejarah. 0-0dw0-0 BAB 9 Pertarungan di pegunungan Thian-ciat. Ci Leng-sia, disebut juga Ih-leng, berada dua puluh lima li di barat daya Ih-tiang provinsi Ho-pak, adalah pintu pertama sungai Kau mengalir masuk ke Cuan, aliran sungai dari hulu turun mengalir deras setelah lewat Ci Leng-sia baru alirannya menjadi datar, makanya Ci Leng-sia biasa disebut juga Peng-san-pa. Saat ini matahari senja bersorot, awan bergelombang di depan Peng-san-pa, berlabuh sepuluh lebih perahu kecil berlayar tunggal, mereka seperti pasukan perahu yang terorganisir, saat bergerak, tampak sangat teratur dan rapi. Satu suara seruling yang memekak seperti membelah batu, terdengar dari salah satu perahu kecil, seperti awan melayang, air mengalir, di langit, di sungai, di bukit yang menjulang ke awan, menggema!

"Gunung menyapa awan tipis, langit menambah gelombang kotor, di sudut gambar suara terputus di pintu. Sementara menghentikan peperangan, untuk memancing keluar gentong mas. Berapa banyak masa lalu di dunia persilatan, hanya gema kosong, asap bergulung gulung. Di luar mentari senja, beberapa gagak terbang, aliran atf memutar di kampung menyendiri..." Ini adalah sebuah Boan-teng-pui, syair yang langsung diciptakan menurut pemandangan yang di lihat, sangat menyentuh hati, sayang di dalam syairnya penuh rasa malas-malasan dan sedih kesepian. "Haai!" baru saja suara seruling berhenti, seorang nyonya muda yang berpakaian ringkas warna biru langit mengeluh: "Adik Ciu! Harapan membalaskan dendam sudah ada di depan mata, dendam akan segera terselesaikan, kau.......seharusnya bisa berlega hati." Remaja baju putih yang meniup seruling terdiam sejenak berkata: "Kata-kata Cici Hun benar, namun di dunia persilatan ini banyak perubahan-dan jebakan, Thian-ciat-leng bukan saja sangat berbahaya seperti goa macan, To Cu-an juga seorang yang tidak mudah dihadapi! Apa lagi membalas dendam adalah masalah kita, sekarang..." "Adik Ciu jadi orang jangan merendahkan diri sendiri, dengan kepandaian kita suami istri, menghadapi para kecoa ini rasanya tidak perlu khawatir." Sepasang suami istri yang sedang berbincang ini adalah Pek Soh-jiu dan Siau Hun yang datang dari lembah es, mereka berdua sambil meniup seruling, berbicara terhadap masalah yang akan datang, tampaknya diam-diam sedikit merasa khawatir, saat ini Su Lam-ceng dan Siau Yam sudah

datang ke depan perahu, mencibirkan bibir munggilnya, Siau Yam berkata: "Ada apa? kita sekarang ini bukan sedang mengadakan pertemuan, Kenapa harus merasa gelisah segala?" Su Lam-ceng melanjutkan: "Perjalanan, kita ini sudah membuat tidak sedikit perhatian teman-teman dunia persilatan, orang orang ini campur aduk, ada yang baik ada yang tidak, maksud tujuannya juga sulit diduga, apa lagi kecuali To Cu-an, hubungan kita dengan Thian-ho-leng sangat rumit, Ciu koko kenapa tidak mengambil sebuah keputusan terhadap orang-orang ini, semua orang ini tolak saja secara halus!" Pek Soh-jiu berkata: "Benar adik Ceng, aku juga sedang berpikir demikian." Dia segera memusatkan tenaga dalamnya, lalu bersiul panjang seperti dengungan naga, diatas perahu perahu kecil itu, tidak lama bayangan orang datang berseliweran, semuanya keluar oleh siulan Pek Soh-jiu, lalu mata Pek Soh-ciu menyapu ke sekeliling, dengan keras berkata: "Kalian jauh-jauh sudah datang kemari, ingin bersamasama melakukan pekerjaan menegakan kebenar an, aku she Pek terlebih dulu mengucapkan banyak terima kasih atas kesetia kawanan kalian." Berhenti sejenak lalu melanjutkan: "Namun membalas dendam, menagih hutang, adalah masalah pribadiku, tujuan kalian walau pun baik, namun aku she Pek sulit menerimanya......" "Menghabisi setan melindungi kebenaran, wajib bagi setiap orang, Pek Siauhiap bagaimana boleh menolak orang?"

Pek Soh-jiu melihat orang yang bicara itu, adalah Gin-iesiu-su (Sastrawan baju perak) Gouw Soh-cian, maka dia mengepal sepasang tangan berkata: "Mana berani aku tidak sopan begitu, hanya saja ? tidak berani menanggung tanggung jawab karena bantuan orang lain, jika kalian berkeinginan keras mendatangi Thian-ciatleng, silahkan kalian melalui jalan lain, bagaimana?" Ketua perkumpulan Ci-yan Liu Giauw-kun yang berada diatas perahu kecil lainnya, berkata: "Sebutan berhasil karena bantuan orang lain, malah kami merasa pantas, tapi seperti anak panah yang sudah di pasang diatas busurnya mau tidak mau harus dilepas, Pek Soh-jiu ingin menghindar dari kita, mungkin sulit memenuhi harapannya." Siau Hun mengangkat alis berkata: "Mungkin hal ini tidak bisa kau putuskan sendiri." perkataannya berhenti sejenak, lalu melanjut-kan: "Jika kalian bisa menuruti apa yang dikatakan suamiku, kami akan tetap menerima persahabatan kalian, tapi jika ada orang yang masih berani mengikuti di belakang kami suami istri, maka jangan salahkan kami berbalik menjadi marah!" Siau Hun mengangkat sepasang alisnya, mata-nya mengandung hawa membunuh, Leng-bin-sin-ni yang namanya telah menggemparkan dunia persilatan, kharismanya masih tetap menakutkan orang, dibawah wajahnya yang serius, Liu Giauw-kun tidak berani berbicara lagi! Perahu-perahu kecil pun bubar, setelah beberapa saat, di depan Peng-san-pa, hanya tinggal orang-orang lembah es,

Jit-kaw-kok, Siauw-lim, Bu-tong, dan Pek Soh-jiu, yang menggunakan empat perahu Keesokan harinya, mereka melaju naik melawan arus, terus sampai tiba di Pat-tong, tidak terjadi peristiwa apaapa, dilanjutkan naik keatas. Bu-sia yang ternama diseluruh negeri itu, panjang keseluruhannya seratus enam puluh li, kedua sisi tebingnya menjulang tinggi ke langit, batu cadasnya berlapis lapis, matahari pun tidak bisa menembus, disaat hari terang, hutan tidak dingin, sering terdengar pekikan suara monyet kesepian, membuat orang merasa pilu, makanya ada dongeng yang mengatakan, "Tiga lembah Pat-tong, panjangnya Bu-sia, kera menyerit tiga kali, air mata membasahi baju". Empat hari kemudian, mereka mendapatkan angin yang searah, sehingga empat perahu berbaris, melaju masuk ke dalam Bu-sia. Di Bu-sia aliran airnya deras dan berputar, sangat berbahaya sekali untuk dilalui, namun pemandangannya indah dan megah, pemandangan indah yang sulit seumur manusia hidup, Pek Soh-jiu yang pertama kali datang kesini, tentu saja sangat menikmati pemandangan ini. Melewati Cian-ce di Bu-sia, pendayung perahu harus menepikan perahu ke pantai, untuk pergi kekota kabupaten membeli perbekalan makanan, setelah pergi beberapa jam, tidak nampak ada tanda-tanda mereka kembali, hingga awak perahu lainnya menyusul pergi kekota kabupaten, tapi dari tengah hari hingga hari menjadi gelap, dua gelombang awak perahu yang mau membeli perbekalan malah seperti burung terbang entah kemana, jelas, kota kecil kabupaten yang terpencil ini, mungkin satu tempat yang mencurigakan, sehingga, Pek Soh-jiu membawa kakak beradik Siau, dengan Goan Ang, Bong San-san, Ouwyang

Yong-it, Sangguan Ceng-hun, pergi kekota kabupaten untuk menyelidiknya. * Kota kabupaten Bu-san tidak besar, namun karena^ berada diantara Ku-tang-sia dan Bu-sia, perahu yang naik turun disungai, kebanyakan berhenti disini sehingga rumah makan dan penginapan, menjadi usaha yang paling menonjol di kota kabupaten ini. Pek Soh-jiu dan kawan-kawannya berkeliling satu putaran di kota kabupaten ini, sepuluh lebih awak perahu itu, seperti mendadak hilang diatas bumi, sampai mencari ke setiap pelosok kota, juga tidak menemukan jejak mereka, yang paling mengherankan adalah muridnya Kai-pang ada diseluruh dunia, tapi dikota ini, malah satu pun tidak ada jejak pengemis, Sangguan Ceng-hun tidak bisa menemukan satu orang pengemis pun. Akhirnya mereka berkumpul di satu rumah makan yang namanya Ki-cian, Ouwyang Yong-it pertama memesan dulu tiga kati arak putih yang paling bagus, lalu ditambah dengan beberapa masak masakan kecil, siapa tahu pelayan rumah makan dengan sekali mendengus dingin berkata: "Maaf, masakan di rumah makan kami telah habis, silahkan ke rumah makan lain saja." Ouwyang Yong-it sedikit tertegun, dia berkata: "Pelayan, kau takut kami tidak mampu bayar?" Pelayan itu dengan kaku berkata: "Walau uang anda segunung, sayang rumah makan kami tidak beruntung bisa menikmatinya!" Ouwyang Yong-it melihat tamu lainnya, masih tetap sedang menambah masakan dan araknya, tidak tahan dia menjadi marah berkata:

"Ini artinya kalian tidak ingin berdagang dengan kami. Betul tidak?" "Anda betul, terhadap orang yang tidak jelas asal usulnya, kami tidak melayani." "Ha ha ha!" Ouwyang Yong-it tertawa katanya: "Tidak diduga kota kecil di gunung ini, bisa ada banyak jagoannya, pelayan! Apakah kau tahu siapa kau ini?" Pelayan melirik padanya dengan dingin berkata: "Ohkui, tidak bisa dihitung sebagai orang yang terpandang, berada dikota kami, anda lebih baik merendah hati sedikit!" Ouwyang Yong-it terkejut, dia menyadari kota kecil ini, benar-benar tidak sederhana, namun orang seperti dia yang namanya sudah termasyur di dunia persilatan, mana bisa menerima penghinaan dari seorang pelayan seperti ini, walau pun tahu lawan tidak mudah ditaklukan, tapi bagaimana pun dia tidak bisa menerima penghinaan ini, maka segera sepasang tangannya menekan meja, tubuh melayang tangan dijulurkan, lima jarinya dibuka, dengan keras mencengkram ke arah bahu pelayan itu. "Aku sudah katakan, anda lebih baik merendah hati, sekarang...he he he, terpaksa aku memberimu sebuah pelajaran." Seorang pelayan, malah bisa bicara dengan nada yang mengejutkan orang, Pek Soh-jiu dan kawan kawan yang melihat dari pinggir, walau semuanya marah, namun Ouwyang Yong-it sudah bergerak duluan, terpaksa mereka sementara jadi penonton, tidak diduga pesilat tinggi ternama seperti Ouwyang Yong-it ini, dalam marahnya mencengkram, malah sudut baju pelayan ini pun tidak terkena.

Ouwyang Yong-it tertegun, lalu dia tertawa keras berkata: "Tidak disangka salah seorang dari Kang-pak-siang-eng (Sepasang pendekar dari utara sungai), malah mau merendahkan diri menjadi seorang pelayan rumah makan! Akhir dari seorang petualang, sungguh mem-buat orang prihatin......" Wajah pelayan itu berubah, katanya: "Ikan yang berenang di dalam tempurung, berani juga berbicara sembarangan, sungguh tidak sayang nyawanya!" Goan Ang tertawa memotong: "Setelah berpisah di Yun-liu, ternyata Ki Tayhiap sudah mendapatkan majikan kuat, sungguh hal yang sangat menggembirakan, kita tidak perlu banyak basa basi lagi, mahon tanya siapa majikan anda itu? Silahkan panggil keluar, biar kita berkenalan." Ki Ie-beng berkata dingin: "Sama-sama, orang she Ki memang rela menjadi bawahan orang, bukankah Goan Tayhiap juga sama menjadi budak orang!" Goan Ang berkata tawar: "Kang-pak-siang-eng bisa dihitung terhebat di antara angkatan muda, tidak diduga sekali jatuh semakin hari semakin dalam, tampaknya kelakuan seseorang sehari-hari, sedikit pun tidak boleh tidak lengah!" Wajah Ki Ie-beng kembali berubah lagi, dari dalam dadanya mengeluarkan sebuah bendera kecil dari sutra, begitu tangannya terayun, bendera sutra itu mengeluarkan suara berdesis terbang kearah dada Pek Soh-jiu.

Ouwyang Yong-it dan Goan Ang melihat dia mengarah ke Pek Soh-jiu, mereka tersenyum saling pandang, lalu mundur ke tempat mereka semula, mereka tahu ilmu silatnya Pek Soh-jiu, di dunia persilatan masa kini, mungkin sudah tidak ada orang yang bisa menandinginya, Ki Ie-beng mengarahkan pada dia, bukankah sama dengan mencari jalan mati sendiri! Tapi sebelum Pek Soh-jiu bergerak, Siau Yam yang ada disisinya sudah mengulurkan tangannya, menerima bendera sutra yang datang dengan kekuatan dahsyat, terlihat diatasnya tertulis: "Orang she Pek, jika bukan kau yang hidup, pasti aku yang hidup, aku tunggu kau di bukit Song-boan, yang tidak datang adalah anak kura-kura." Nada tulisannya kasar, jelas yang menulis sedang marah, di bagian bawah bendera sutra, ada gambar seekor srigala yang sedang beraksi. Wajah Siau Yam menjadi dingin, telapaknya digetarkan sambil berkata: "Kukembalikan." Ssst..... bendera sutra itu dengan bentuk lemparan berbeda, melayang pelan ke arah Ki Iebeng, baru saja Ki Ie-beng akan mengulurkan tangan menangkap, mendadak terdengar suara "Paak!", bendera kecil itu hancur menjadi potongan kecil-kecil, seperti dilemparkan dengan jurus Boan-thian-hoa-ie, semuanya mengarah pada jalan darah kematikannya Ki Ie-beng, saudara tertua dari Kang-pak-siang-eng ini, tidak ada kesempatan membela dirinya, nyawanya begitu saja melayang sia-sia. Tentu saja, di dalam rumah makan Ki-cian ini, bukan hanya ada Ki Ie-beng saja, namun kehebatan ilmu silat Siau Yam tadi terlalu mengejutkan semua orang, kecuali

terdesak sekali, siapa pun tidak berani mempertaruhkan nyawanya, maka pesanan masakan mereka jadi mendapat pelayanan dan menyediakan beberapa masakan untuk orang-orang di dalam perahu. Setelah makan kenyang, mereka berniat akan pergi ke bukit Song-boan, jika Oh-long berani muncul, Pek Soh-jiu bagaimana pun tidak akan melepaskan otak pembunuh ayahnya ini. Dari dua belas bukit Bu-san, bukit Coh-yang paling tinggi, bukit Sin-ni paling indah, bukit Song-boan paling berbahaya. Jika Oh-long menduduki tempat yang paling berbahaya ini, pasti telah menyiapkan satu strategi yang sangat keji. Tapi istilahnya, meski tahu di dalam gunung ada harimau, tetap saja ingin masuk mengambil kayu bakar, mana mungkin Pek Soh-jiu takut pada Oh-long! Berangkat dari kota kabupaten, sampai di pegunungan sudah nampak hari akan gelap, dalam hati Pek Soh-jiu tahu di dalam dua belas bukit yang megah ini, mungkin telah penuh dengan jebakan mematikan, apa lagi jarak pandangan kurang jelas, suasananya tepat untuk menggunakan Ngo-tok-tui-hun-cian, maka dia melepaskan Sian-giok, menyuruh ular pintar itu membuka jalan, membersihkan musuh yang tersembunyi. Mulai dari bukit Sin-cian, ular pintar Sian-giok sudah menampakan kehebatannya, para penyerang gelap yang bertopeng hitam yang menghadang jalan itu, tidak satu pun bisa lolos dari kematian, Sian-giok meloncat-loncat berkelebat, bolak-balik menggigit, di dalam bebatuan yang gelap, tidak henti-hentinya terdengar suara jeritan mengerikan. Hal ini sulit bisa diduga oleh Oh-long To Cu-an, jaringan penyerang gelap yang sudah diatur dengan susah payah,

sebelum melihat bayangan musuh, semua sudah tewas tidak tersisa. Sekarang, Sian-giok sudah kembali, di dalam kegelapan hening sekali. Mereka melewati bukit-bukit Sin-cian, Teng-lung, Ki-in, Hui-hong, masuk ke dalam hutan yang pohon-pohonnya besar-besar. Seperti setan iblis berteriak mengeluh kesedihan, pekikan kera yang kesepian, membuat hati orang menjadi tegang, malam yang gelap terasa menyeramkan, juga mengandung banyak suasana misterius. Tentu saja, dalam pandangan para jago-jago dunia persilatan, semua ini tidak ada pengaruhnya. Tapi yang paling terasa diantara mereka, ada tiga orang wanita yang agak lemah! Malam gelap gulita, takut serangga dan ular, adalah kelemahan umum para wanita. Walau kakak beradik Siau, Bong San-san, adalah orang yang telah menggemparkan dunia. Namun saat di tempat ini, tetap saja tidak bisa terlepas dari kelemahan sifat wanita yang alami, mungkin karena ilmu silat Pek Soh-jiu yang paling tinggi, bukan saja kakak beradik Siau, sampai Jit-kaw Kokcu Bong San-san pun, setiap langkahnya terus menempel di dekat Pek Sohjiu. Setelah lewat dua jam, mereka masih berlari di dalam hutan lebat, yang lebatnya sampai langit pun tidak terlihat, dan jarak pandangnya semakin terbatas, akhirnya sampai mengulurkan tangan juga tidak bisa melihat lima jarinya. Setelah beberapa saat berjalan meraba-raba, dalam hati Pek Soh-jiu berteriak celaka, karena menurut pendengaran dia yang tajam, yang mengikuti di belakang dia, hanya

tinggal satu suara derap kaki yang lemah, dia mendadak menghentikan langkah berkata: "Apakah ini adik Yam? Dimana cici Hun dan yang lainnya?" "Tidak tahu, Ciu......aku takut......" sebuah tangan yang lembutnya seperti tidak ada tulangnya, merangkul lengannya, tubuh yang seperti ular, menempel padanya, menggosok-gosok rubuhnya seperti yang ingin masuk ke dalam tubuhnya saja. "Jangan takut, adik Yam! Di dalam hutan lebat ini, mungkin adalah satu barisan yang sangat rumit, kau duduklah terlebih dulu, biar aku dengan tenang memikirkannya." "Sudah tidak keburu, Ciu koko, kau dengar...." Tidak salah, musuh sudah datang tidak sedikit, terdengar suara langkah kaki yang sangat ringan sekali, mungkin mereka pesilat tinggi yang ilmu silatnya sangat tinggi sekali. Satu hawa pembunuhan yang dahsyat, keluar di wajahnya, dia mendengus sekali, berkata: "Ikuti terus aku, adik Yam, kita......bunuh......" "Tapi...... Ciu koko, aku......telah kehilangan senjata......" "Jangan khawatir, gunakan pedang panjang ku saja." "Tidak, di dalam rimba yang lebat, pedang panjang lebih berguna dari pada Pouw-long-tui, kau berikan saja Pouwlong-tui padaku, aku ikuti kau, mungkin aku tidak perlu ikut bertarung!" "Baik." Dia memberikan Pouw-long-tui pada orang di sisinya, mulutnya berteriak nyaring, langsung menggulung kearah tempat suara langkah kaki.

Pedang panjang seperti naga marah, melakukan serangan dahsyat yang membabi buta, dia hanya mengandalkan pendengarannya, namun gerakan pedangnya tidak satu pun meleset. Musuh walau pun orang orang pilihan, tapi tidak satu pun yang mampu lolos dari tiga jurus serangannya, tubuh seperti batang pohon satu persatu jatuh ketanah. Demi membalas dendam, dia melupakan segalanya, sambil berteriak dia menyerang sengit, membuat hutan lebat yang menutup langit ini, menyebarkan bau amis darah yang menyeramkan. Mendadak, terdengar suara ringan ssst.... Di depan matanya tampak satu garis sinar merah, satu bau khas mesiu, menggulung masuk ke dalam penciumannya, hatinya bergetar keras, matanya pun timbul serat darah. "Oh-long yang sangat keji, asalkan masih ada nafas, aku bersumpah akan menghancurkan dirimu..." Tapi makiannya tidak akan bisa menyelesaikan masalah, letusan mesiu akan menghancurkan harapan dia tanpa ampun, sehingga, dia harus segera memutuskan, cepat kakinya melangkah, lengannya balik merangkul sesosok tubuh yang hangat dan harum, yang telah menempel di dadanya yang berotot itu. "Ke kanan belakang enam belas tombak, cepat......." Ada apa di kanan belakang enam belas tombak? Dia... tubuh yang menempel di dadanya, bagaimana bisa tahu di kanan belakang enam belas tombak ada apa sajat Tapi dia tidak ada waktu memikirkannya, dalam waktu sekejap ini, reaksi di dalam otaknya, hanya merasakan kanan belakang enam belas tombak pasti dapat menghindar dari ledakan mesiu itu. Maka dengan reflek dia menggunakan ilmu

meringankan tubuh Co-yang-kiu-tiong-hui, melayang menempel tanah, kecepatannya seperti kilat, suara ledakan yang menggetarkan telinga, memecahkan gelapnya malam, dia sudah merasakan di bawah tubuhnya kosong, dia telah jatuh di atas jaring yang sangat elastis. "Hmm ini sebuah jebakan lagi, bagaimana aku bisa menyerah begitu saja!" di saat sekejap tubuhnya terlontar ke atas, dia sudah mengerahkan Ji-ie-sin-kang yang disalurkan ke badan pedang, tidak menunggu jatuh kembali di atas jaring, pedang panjangnya sudah diayunkan. "Tidak, kau tidak bisa......" Teriakan terkejut orang di dalam pelukannya, tidak dapat dengan tepat waktu mencegah gerakannya yang sangat cepat, jaring otot sapi yang ada dibawah tubuh mereka, pecah oleh sabetan pedang yang bertenaga, tidak bisa di tahan lagi maka tubuh mereka jatuh kebawah menerobos keluar dari lubang i tu. "Haai......" Tubuh yang lembut hangat itu, di dalam pelukannya bergetar ringan, dua buah lengan lembut, memeluk dia dengan eratnya, suara ledakan sudah lewat, hutan telah kembali menjadi hening, kecuali suara kiblatan baju mereka yang jatuh ke bawah, hanya ada suara keluhan ringan tadi. "Jangan gelisah, adik Yam, walau pun lembah penuh dengan pisau tajam, kita juga akan seperti melangkah di tanah datar, sekarang......peluklah lebih ketat lagi......" Dia memasukan kembali pedangnya ke dalam sarung, dengan lengan kiri memeluk pinggangnya yang langsing dan licin itu, mulutnya bersuara "heh!" dengan sembilan puluh persen tenaga dalamnya dia memukul.

Tenaga pululan sangat dahsyat, aliran angin dari tenaga baliknya, malah membuat tubuh mereka yang jatuh seperti meteor itu terhenti di udara, mengambil kesempatan yang sedetik ini, tubuhnya diayunkan di udara, berputar cepat seperti kincir. Kecepatan jatuhnya sudah melambat, diperkirakan menurut waktunya, tempat mereka jatuh, pasti sebuah lembah maut yang kera pun tidak bisa mencapainya. Terakhir, bluur.... mereka terjun ke dalam air yang dinginnya menusuk tulang, untungnya tenaga dalam dia, sudah mencapai tingkat tertinggi, walau pun beberapa kali mengalami perubahan, tapi masih tetap mampu lolos dari maut, saat ini dia merayap naik keatas sebuah batu cadas, dengan lembut melepaskan orang dalam pelukannya. "Tidak, adik ciu, aku dingin......" Dia tetap merangkulnya dengan erat, tubuhnya bergerakgerak di dalam pelukannya seperti ular, tapi: "Siapa kau?" Sekarang Pek Soh-ciu telah mendengar dengan jelas, dia ternyata bukan Siau Yam, keadaan terkejut dan marah, mendadak dengan kuat dia melontarkan tubuhnya keatas, getaran tenaga dalam ratusan tahun, dahsyatnya bisa dibayangkan, hanya terdengar praak... lalu terdengar rintihan kesakitan, tubuh yang lembut seperti tidak bertulang itu, menjadi pingsan sambil memuntahkan darah segar. Lama.....:....... "Haay....istrimu tidak salah mengatakannya, kau ini sungguh orang yang tidak tahu kasih sayang perempuan......"

"Kau siapa? Apa yang kau perbuat pada Siau Yam?" "Saudara kecil ini sungguh orang penting jadi pelupa, sampai suaraku juga sudah tidak kenal?" "Kau ini Giok-ki-sian-cu (Dewi berkulit giok) Sai-hoan?" "Akhirnya kau ingat, aku ini orang yang tidak beruntung......" "Aku tanya, kau apakan istriku Siau Yam?" "Haai, saudara kecil, walau cici tidak bisa mendapatkan kasih sayangmu, bagaimana pun kau tidak bisa membalas budi dengan dendam! Jika cici tidak menunjukan tempat untuk menghindar, apakah kau mampu menahan ledakan mesiu yang bertenaga ribuan kati itu?" "Hemm, mungkin aku harus membunuhmu, jika aku tidak memecahkan jebakan kalian, sekarang ini mungkin aku telah menjadi tawanan kalian!" "Ini......bukan aku yang mengusulkan......" "Apakah Oh-long To Cu-an?" "Benar." "Apa dia ada di bukit Song-boan?" "Mungkin disana, mungkin tidak." "Apa maksudmu?" "Orang ini licik sekali, banyak siasatnya, walau pun bukit Song-boan adalah sarang Hek-it-kau, tapi bukan markas pusat, di dalam setengah bulan ini cici juga tidak pernah melihat Oh-long." "Istri Siau-yauw-tee-kun, seharusnya punya kedudukan tinggi didalam Thian-ho-leng, kau malah berada dibawah

perintah ketua Hek-it-kau, sungguh membuat orang sulit percayai." "Adik Ciu! Kau benar-benar tidak tahu, atau sudah tahu tapi sengaja bertanya?" "Masalah di dalam Thian-ho-leng, tentu saja aku benarbenar tidak tahu." "Dulu dalam pertarungan di kuil Goan-in, Ang-kun-giokhui merasa kami suami istri telah memalukan perintah perguruan kami, Hoan Liu telah dihukum mati, cici......haai, malah hidup dalam kehidupan yang lebih baik mati dari pada hidup......" "Hal ini sungguh sangat menyesalkan, sebenarnya, ini juga akibat dari orang-orang yang membantu melakukan kejahatan......" "Adik Ciu! Dalam aliran Budha ada kata-kata, lepaskan golok pembunuh, segera berpaling menjadi Budha, apakah kau tidak memberi kesempatan pada cici untuk bertobat?" "Aku adalah angkatan muda di dunia persilatan, terhadapmu mungkin ada keinginan besar tapi tidak ada kemampuan." "Kau tidak ingin menangkap Oh-long?" "Tentu aku percaya aku mampu menangkapnya......kita tidak bicarakan ini, hujin! Teman-teman aku, apakah dalam bahaya?" ' "Jika istrimu dan teman-temanmu tidak maju terus, mungkin tidak akan berbahaya......" "Apakah hujin bisa mengatakan lebih jelas lagi?" "Dari sini pergi ke bukit Song-boan, harus melalui tiga halangan besar yaitu Api pemisah arwah, Racun tanpa bayangan, dan Senjata pemusnah mayat, bagaimana pun

manusia terbentuk dari darah dan daging, adik Ciu walau tenaga dalammu sudah hebat sekali, mungkin juga akan kesulitan melewati jebakan yang sangat sadis dan berlapislapis ini!" "Bagus, aku malah ingin mencoba Senjata pemusnah mayat itu, bagaimana kelihayannya." "Adik Ciu! Jika Oh-long To Cu-an tidak berada di bukit Bu-san, menempuh bahaya secara sembarangan rasanya tindakan yang kurang pintar." "Lalu markas pusat Hek-it-kau sebenarnya berada dimana?" "Bukit Thian-ciat." "Berarti berada di dalam Thian-ho-leng." "Tidak salah." "Terima kasih, aku pamit dulu." "Tempat ini tebingnya curam dan berbahaya, lembahnya dalam sekali, adik Ciu sebagai orang dari aliran lurus, seharusnya tidak meninggalkan orang yang bermaksud bertobat!" "Ini.. .kita laki dan perempuan ada perbedaan..." Benar, tebing curam berbahaya tidak menjadi kesulitan bagi Pek Soh-jiu yang berilmu tinggi, tapi jika harus membawa orang bersama-sama mendaki tebing curam, maka tidak akan terhindarkan terjadi sentuhan tubuh. Terdiam beberapa mengeluh, katanya: saat, Giok-ki-sian-cu perlahan

"Ci-huan menyadari wajahnya jelek, tidak berani ada pikiran yang bukan-bukan pada adik Ciu, tapi melihat

orang dalam kematian dan tidak menolong, apa didalam hatimu tidak akan merasa menyesal? Walau Pek Soh-jiu tidak suka kelakuannya, tapi dia juga tidak tega pergi begitu saja, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia menggendongnya, dengan mengibaskan sepasang lengannya, tubuhnya naik lima tombak, terus mengayunkan tangan menekan tebing, kembali naik tiga tombak lebih, saat tenaganya akan habis, lalu ssst.... lima jarinya sudah ditancapkan pada dinding tebing yang keras, setelah melalui beberapa kali istirahat, akhirnya dia sudah mencapai puncak tebing, lalu menurunkan Giok-ki-sian-cu, berkata tawar: "Kewajiban ku sudah selesai, hujin...." "Terima kasih adik Ciu! kuharap kita masih bisa bertemu lagi." Kata Giok-ki-sian-cu, dia masih merasa sedih terhadap perpisahan ini, tapi dia tahu merindukan nya hanya akan menambah kesedihan, maka dengan sedikit menggigit bibir, dia melayangkan lengan bajunya yang indah, tubuh langsingnya berputar menerobos hutan berlari meninggalkan tempat itu. Pek Soh-jiu terdiam sesaat, lalu bersiul panjang, getaran suara yang dikeluarkan dengan tenaga dalam latihan ratusan tahun, dalam kegelapan malam menggema sampai jauh sekali, dia juga melepaskan ular pintar Sian-giok, menyuruh dia mencari istri dia dan teman-temannya. Yang pertama datang adalah Siau Hun, wanita cantik yang ternama dengan sikap dinginnya, pada wajahnya masih nampak hawa pembunuhan, setelah melihat Pek Soh-jiu, dia seperti telah berhasil memetik bintang, kegembiraannya sulit bisa ditutup tutupi, tapi tetap dengan wajah marah berkata:

"Kau lari kemana saja? Membuat orang bisa mati karena terlalu gelisah, kau seperti tidak punya tanggung jawab saja!" "Toa-ci harus baik-baik tanyakan pada dia, kulihat kebanyakan dia telah terpikat lagi oleh wanita genit sehingga sampai tersesat!" Pek Soh-jiu tidak perlu melihat kebelakang, dia sudah tahu orang yang melanjutkan perkataan itu adalah Siau Yam yang liar, maka dengan wajah tersipu-sipu dia tertawa berkata: "Cici Hun jangan dengarkan dia, karena menghindarkan ledakan mesiu, tidak sadar jatuh ke dalam satu lembah maut, lihat bajuku yang basah kuyup, cici tentu tahu apa yang aku katakan tidak bohong." Saat ini Goan Ang, Bong San-san, Ouwyang Yong-it, dan Sangguan Ceng-hun juga berturut-turut datang, Siau Yam mencibirkan bibir munggilnya: "Aku melihat ada satu bayangan yang ramping, berlari keluar dari hutan ini, Ouwyang Lo-ko! Kau katakan, bayangan itu betul tidak seorang wanita?" "Ha ha ha!" Ouwyang Yong-it tertawa, "Adik ipar sungguh tajam matanya, tidak salah, dia memang adalah seorang wanita....." Wajah Siau Hun berubah: "Hemm!" Dia marah berkata, "Kata-kata Ouwyang Loko, mungkin akan merugikanmu!" Ouwyang Yong-it berkata: "Lo-ko sudah hidup begini tua, bagaimana bisa sembarangan berkata!"

"Keek! Sangguan Ceng-hun batuk-batuk, berkata, "Lo-ko kerjakan masalah serius, buat apa terus banyak bicara yang tidak ada artinya." Ouwyang Yong-it melototkan sepasang matanya berkata: "Siapa bilang aku bicara yang tidak ada guna-nya! Dia memang seorang wanita, hanya saja sedikit tua, jika mundur lima puluh tahun, dijamin pasti seorang wanita cantik, tapi bagaimana pun karena dia terlalu tua jadi mengatakan dia bukan wanita!" Siau Hun mendengarnya jadi tertegun, wajahnya yang dingin penuh salju itu, melebur seperti ditiup angin musim semi, Sangguan Ceng-hun mengambil kesempatan ini tertawa: "Saudara! Kita ini sudah banyak menghabiskan waktu tidak berguna oleh hutan iblis itu, bukit Song-boan masih terhalang oleh beberapa gunung, jika ingin kesana, sudah harus cepat-cepat berangkat." Pek Soh-jiu berkata: "Sebelum aku jatuh ke dalam jurang, pernah menangkap seorang anak buahnya Hek-it-kau, menurut dia Oh-long sama sekali tidak berada di Bu-san, markas pusat mereka ada di bukit Thian-ciat, sepertinya kita tidak perlu membuang-buang waktu disini." Goan Ang berkata: "Aku juga merasa Bu-san hanya satu jebakan Oh-long saja, jika kau sudah mendapatkan kabar yang benar', lebihbaik langsung saja pergi ke bukit Thian-ciat." Mereka menghentikan langkah kuda di tepi tebing ini dan kembali pulang, gerakan ini tidak terduga oleh musuh, sehingga sepanjang perjalanan kembali, sedikit pun tidak

mendapat halangan, tapi, keadaannya kota kabupaten, tetap saja sangat buruk, mereka tidak bisa membeli makanan, juga tidak bisa menemukan sepuluh lebih awak perahu yang hilang, berlayar di sungai pegunungan, harus ada awak perahu yang sudah berpengalaman berlayar di sungai pegunungan. Meski mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, tetap saja masuk dalam situasi maju mundur salah. Yang lebih celaka lagi adalah para pesilat tinggi dari berbagai perguruan yang diusir mereka, semuanya juga telah tiba dikota pegunungan ini, tadinya mereka juga sudah berniat jahat, saat ini menampakan wajah mereka yang bengis, hingga membuat penduduk seluruh kota tidak bisa berdagang, langit marah, manusia gelisah. Tentu saja, Pek Soh-jiu dan kawan-kawan dari aliran pendekar menjadi sasaran mereka, tapi mereka tidak berani terang-terangan berhadapan, dengan cara licik membuat orang sulit menghadapinya, apa lagi seluruh kota dan Busan, sudah dibawah kekuasaannya Hek-it-kau, dalam pemandangan yang indah itu, mengandung bahaya yang tidak terhingga, di pantai sungai, Thian-ho-sat-kun mengadakan pertemuan darurat untuk menghadapi keadaan ini, masalah yang pertama diusulkan oleh orang tua itu adalah bagaimana caranya meninggalkan Bu-san. Kota kabupaten Bu-san berada di sebelah utara Tiangkang, melalui jalan pegunungan bisa langsung menuju kota Pek-tee, jika melalui jalan air, harus melalui Ku-tang-sia, tapi aliran sungai diantara tebing itu baik bahaya atau tidak, karena tidak ada awak kapal, mereka hanya dapat mengeluh memandangi sungai, terpaksa mereka semua setuju, menuju kota Pek-tee melalui jalan pegunungan. Masalah lainnya, para awak kapal yang hilang itu entah hidup atau mati, seharusnya kewajiban mereka menyelidikinya, apa lagi masalah makanan harus bisa

diselesaikan, melalui jalan pegunungan juga harus mempersiapkan perbekalan, sehingga, mereka memutus kan untuk bertarung dengan Hek-it-kau dikota pegunungan. Mereka dibagi jadi empat kelompok, berangkat menuju ke empat arah, kelompok pertama adalah Thian-ho-sat-kun memimpin Pek Soh-jiu dan istri dengan Ouwyang, Sangguan dua orang, langsung menuju ke kantor bupati. Karena orang kota kabupaten melakukan pemogokan, walau di siang hari, di jalan raya sulit bisa menemukan satu orang pun, tapi di ujung jalan dan ganggang yang gelap, sering terlihat ada bayangan orang, tidak perlu ditanya, itu pasti para anak buahnya Hek-it-kau yang mengawasi mereka. Pintu kantor kabupaten adalah terbuka, tapi sepi sampai orang yang menjaga pintu pun tidak ada, Thian-ho-sat-kun pertama-tama yang melabrak masuk, tidak berduli ada orang atau tidak, langsung berlari masuk ke pintu kedua. Mendadak..... "Mundur." Satu rentetan suara pegas terdengar membawa sepuluh lebih anak panah beracun, melesat kehadapan mereka, Thian-ho-sat-kun berteriak marah, lengan bajunya yang besar dikibaskan, bayangan merah menutup udara, anak panah yang seperti kuda lari itu, semuanya telah digulung ke dalam lengan bajunya, bersamaan waktu bayangan orang berkelebat, kakak beradik Siau secara berpasangan menerjang maju, dalam sekejap, sepuluh lebih anak buahnya Hek-it-kau yang sembunyi di balik pintu, semuanya telah ditotok jalan darahnya oleh mereka. Di pintu kedua ada pekarangan yang luas sekali, puluhan orang bertopeng hitam, sedang berdiam berdiri menunggu

mereka, Thian-ho-sat-kun menghentikan langkahnya, dia berkata dingin: "Dimana Bupati disini? Kalian para penjahat, apa bersungguh-sungguh akan memberontak!" Terdengar tawa aneh, dalam kelompok orang bertopeng hitam melangkah keluar seorang yang tubuhnya seperti raksasa, sepasang matanya yang bersinar memperhatikan sejenak pada Thian-ho-sat-kun berkata: "Apakah kau ingin melakukan sidang? Orang tua! Aku inilah Bupati kabupaten ini, ada perkara apa? Katakan saja!" "Hemm!" Thian-ho-sat-kun berkata, "Orang asing juga berani menghina hukum Tionggoan, jika aku tidak memberi sedikit hukuman padamu, kau akan mengira di Tionggoan tidak ada orang." Siau Hun maju dua langkah berkata: "Ayah! Kau mengatakan dia itu orang asing?" "Mendengar logat bicaranya, mungkin adalah bangsa Tong-it." Kata Thian-ho-sat-kun. Orang bertopeng itu tertawa sejenak: "Tidak diduga orang tua ini punya sedikit pengetahuan, tidak salah, aku memang orang Tong-it, memandang remah aku, betul tidak? Mari, kita mencoba nya!" Siau Hun mengangkat alisnya: "Kau tidak pantas bertarung dengan ayahku, biar aku yang habisi kau." Orang Tong-it itu mendengus, kakinya dengan ringan melangkah, dengan kuat memukul, kepalannya yang seperti godam itu, mengeluarkan suara huut... terlepas dari

tubuhnya, terbang datang menyerang, saat bayangan tinjunya melayang, angin tenaganya sudah menyentuh bahu Siau Hun. Hati Siau Hun terkejut kakinya dihentakan ringan, meloncat mundur delapan kaki lebih, reaksinya walau tepat, tapi bagian yang tersentuh bayangan kepalan terasa seperti dibakar api, kakinya jadi sempoyongan, berturutturut dua kali seperti gemetar dingin, usianya walau belum tua, namun tidak sedikit dia melawan pesilat tinggi, ilmu aneh yang diperagakan orang Tong-it ini, sungguh belum pernah dilihatnya. Dia tertegun, matanya muncul dua api dingin, mengawasi kearah kepalan yang super besar orang Tong-it itu. Ototnya menonjol keluar, penuh dengan bulu hitam, sepasang lengannya yang panjang, jelas-jelas tumbuh diatas bahunya, tadi kepalannya yang terbang, apakah karena mata sendiri yang salah lihat? Walau pun ini hal yang aneh yang mengejutkan orang, tapi dengan ilmu silat Siau Hun yang tinggi, pengalamannya yang banyak, akhirnya bisa mengerti bagaimana kepalan itu terbang itu, alasannya adalah lengan orang Tong-it ini panjangnya melebihi orang biasa, kekuatan kecepatan gerakan kepalannya, dari seluruh perguruan yang ada di Tionggoan, tidak terpikirkan perguruan mana yang bisa menandinginya, kalau hanya sekilas melihatnya, maka tidak akan terhindar terjadi salah pemikiran terhadap kepalan terbang itu, tapi sesudah mengerti hal ini, kepalan orang Tong-it yang cepat dan dahsyat itu, sungguh tidak bisa dipandang enteng, untung saja luka bahunya tidak parah, sambil mulutnya berteriak, dia langsung maju menerkam.

Saat ini dia telah mengerahkan tenaga dalam Ji-ie-sinkangnya sampai batas tertinggi, tiga kaki di sekeliling tubuhnya, telah diselimuti oleh hawa keras seperti tong baja, lalu sepasang telapaknya" bersamaan dijulurkan, memukul dengan dua tenaga yang satu lembut yang satunya lagi keras, seperti dua ekor naga marah, menyerang kearah dada orang Tong-it itu. Orang Tong-it berteriak keras: "Bagus." Sepasang tinjunya diayunkan, angin pukulannya bergerak kemana-mana, dalam sekejap telah melancarkan delapan pukulan, setiap jurus seperti godam besi memukul gunung, dahsyanya sungguh bisa membuat angin dan awan berubah warna. "Hujin! Kau hebat, kita......he he......harus bertarung sepuasnya, he he......" Sambil bicara, dia mengerakan tangannya menyerang habis-habisan, berteriak-teriak. Telapak Siau Hun sudah beberapa kali mengenai tubuhnya, tapi semua seperti menggaruk di atas sepatu, dia sedikit pun seperti tidak merasakan sakit. Keringat mulai mengucur di pelipis Siau Hun, wajah yang dingin seperti salju, telah menjadi merah. Dia tidak bisa mempertahankan posisinya, tekanan yang amat dahsyat, memaksa dia mundur ke belakang, keadaan ini sangat mengejutkan orang, dengan ilmu silat Siau Hun yang amat tinggi, malah tidak bisa menahan pukulannya seorang asing, kelihatan-nya di dalam Hek-it-kau, sudah menjaring tidak sedikit orang-orang hebat. Pek Soh-jiu melihat Siau Hun sudah nampak kewalahan, buru-buru meloncat, melayang masuk ke dalam pertarungan, telapaknya dengan ringan diayunkan,

berturut-turut menahan serangan sepasang kepalan orang Tong-it itu, dia sepertinya tidak peduli akibat dari pertarungan ini, segera membalikan tubuh memapah tubuhnya Siau Hun berkata: "Kau tidak apa-apa? Cici istirahatlah dulu, biar aku yang membereskan si bodoh itu." Siau Hun dengan manis tersenyum: "Kau sudah datang, tentu saja tidak apa-apa, hati-hati, orang ini ilmu silatnya rada aneh, kita jangan membiarkan dia lolos!" Pek Soh-jiu tertawa: "Jangan khawatir, kau istirahatlah." Melihat Siau Hun telah mundur, Pek Soh-jiu dengan pelan memutar tubuh, melihat pada orang Tong-it yang seperti tugu besi, terlihat sepasang matanya melotot, mulutnya menganga lebar, dengan bengong melihat pada Pek Soh-jiu, saat ini dia sepertinya baru tersadar, mulutnya berteriak keras berkata: "Jurus apa yang tadi kau gunakan, kita bertaning lagi biar aku bisa melihatnya!" Pek Soh-jiu berkata dingin: "Jurus ini disebut membunuh babi menyembelih anjing, kau ingin melihatnya? bersiaplah." Sebelah telapaknya dihentakan mendatar sejajar dada, satu tenaga yang lembut seperti angin musim semi, berhembus keluar. Orang Tong-it bengong memperhatikan seben-tar, baru saja akan mengejek serangan Pek Soh-jiu yang kelihatannya tidak bertenaga itu, mendadak dia merasakan dadanya menjadi sasak, seperti ada sebuah geledek mendadak menyambar, menyusup masuk ke dalam paru-parunya, dia

hanya merasakan sebuah suara yang menggelegar, bluuk..... dia sudah tidak sempat bereaksi langsung roboh, rohnya sudah berpindah ke dunia lain. Dalam satu jurus saja, Pek Soh-ciu sudah membunuh mati seorang pesilat tinggi kelas wahid Hek-it-kau, di dunia siapa lagi yang mampu menahan sebuah pukulannya? Orang-orang bertopeng hitam yang melihat, jadi ketakutan, mereka semua memegang senjata, tapi tidak ada seorang pun yang berani maju, melawan anak muda tampan yang penuh dengan hawa membunuh ini. "Anak Ciu......" Thian-ho-sat-kun merasa khawatir malam panjang akan banyak mimpinya, dia ingin memerintah melakukan penyerangan total: "Anak buahnya Hek-it-kau, semuanya pantas mati, walau ingat langit yang memberikan kehidupan, tapi tidak bisa membiarkan ilmu silat mereka mencelakai manusia, jangan ragu lagi, kita bertindak." Satu pertarungan yang brutal telah terjadi, para anggota Hek-it-kau demi mempertahankan ilmu silat-nya, melakukan pertahanan mati-matian, dalam jumlah orang, Hek-it-kau berada dalam posisi menguntungkan sekali, dan disekeliling pekarangan, masih tersembunyi tidak sedikit anggota yang memegang Ngo-tok-tui-hun-cian. Tapi karena Pek Soh-jiu pernah mengalami kekejaman panah ini, saat sebelum menyerang ke dalam pekarangan, dia terlebih dulu membersihkan pemanah yang bersembunyi di sekelilingnya, lalu dengan kekuatan seperti membabat rumput kering, dia membabat musuh yang ada di dalam pekarangan. Selain para pemanah, mereka tidak membunuh satu pun musuh, tapi tawanan yang mereka tangkap, malah

jumlahnya mencapai empat puluh sembilan orang, Pek Sohjiu membuka topeng-topeng mereka, dia terkejut menemukan diantara mereka malah termasuk orang-orang penting dari berbagai perguruan, seperti ketua perguruan Ciyan Liu Giauw-kun, Toat-hun-san Liu Ti-kie, Giam-ongleng Sai Hong, Tiam-cong, Bu-tai, dan beberapa orang ternama dari aliran hitam. "Kenapa?" ini pertanyaan yang membingung-kan, seorang yang berkedudukan terhormat di perguruan, seorang penguasa setempat, kenapa sudi membantu melakukan kejahatan, melakukan perbuatan hina yang melanggar rasa setia kawan dunia persilatan, membuat orang merasa jijik? "Haai......" Giam-ong-leng Sai Hong menghela napas panjang berkata, "Atas pertolongannya pendekar muda, orang she Sai sedikit pun tidak berani melupakannya, tapi masalah hari ini, sungguh terpaksa sekali......" Pek Soh-jiu berkata tawar: "Perbuatan yang kumelakukan tidak ada niat mendapat balasan, anda tidak perlu menaruh di dalam hari, jika anda bisa menjelaskan alasan terpaksanya, aku akan sangat menghargai!" Sai Hong mengangkat sepasang matanya, melihat pada seorang laki-laki besar berjanggut pendek berwajah bengis, matanya menyorot sadis, dia ingin bicara tapi tidak jadi, dia hanya menghela napas, tampak tampangnya kesulitan sekali. Sangguan Ceng-hun mendadak maju dua langkah, menyatukan jari telunjuk dan jari tengah, menotok jalan darah mematikan Huan-ki di depan dada orang itu, bersamaan kakinya menyapu, menendang mayat orang itu ke dalam hutan, berkata:

"Apa masih ada yang menghalangi? Saudara Sai." Sai Hong berkata: "Didalam Hek-it-kau, selain pengikut setia Oh-long To Cu-an, kebanyakan perguruan-perguruan melakukan kejahatan dalam keadaan terpaksa......" Sangguan Ceng-hun berkata: "Melakukan perbuatan karena terpaksanya pasti sangat serius sekali." "Haai... istri disandera, diri sendiri dikendalikan oleh racun, mala petaka yang dialami kami semua, tidak ada yang lebih dari ini......" Pek Soh-jiu mengangkat alis: "Seekor Oh-long yang sangat keji sekali, Toako! Aku pikir......" Sangguan Ceng-hun berkata: "Apa kau berniat menggunakan menyembuhkan racun mereka?" "Aku memang berpikir begitu." Holeng-ci adalah benda pusaka, demi sehelai daun, entah sudah mengorbankan berapa banyak nyawa orangorang persilatan, tapi Pek Soh-jiu malah tanpa merasa sayang sedikit pun ingin menggunakan daun Leng-ci menolong musuhnya, seberapa besar lapang dadanya! Seberapa agung sifatnya! Saat ini kebetulan Goan Ang dan kawan-kawan dengan tiga kelompok lainnya telah tiba dikantor kabupaten, Bong San-san mendengar Pek Soh-jiu ingin menggunakan daun Leng-ci menolong orang maka dengan "Keek!" batuk sekali, berkata: daun Leng-ci

"Jangan terburu-buru, biar kakak mencobanya terlebih dulu." Terhadap menggunakan racun Pek-tok-lo-cia memang punya kelebihan dari orang, empat puluh orang lebih, orang-orang dari berbagai perguruan yang terkena racun ini, akhirnya telah tertolong, tapi, apakah mereka bisa bertobat? Apakah dapat menyelesaikan persoalan dengan Hek-it-kau selanjurnya? Pek Soh-jiu sulit bisa memastikannya, dia sudah berusaha semampunya, asal sudah bisa melakukan hal yang tidak menyesalkan hati saja dia sudah merasa cukup. Terakhir, mereka mendapatkan awak perahu yang ditahan, tapi mereka tetap tidak merubah rencana semula, melalui jalan pegunungan menuju ke kota Pek-tee. Jebakan yang telah diatur oleh Hek-it-kau jadi sia-sia, Oh-long To Cu-an mungkin tidak berani menunjukkn kekuatannya lagi, sehingga setelah sampai di kabupaten Jinciu, mereka hampir tidak terlihat satu pun orang-orang Hekit-kau, sedikit pun tidak ada pergerakan dari lawan, namun di dalam kelompok mereka, Thian-ho-sat-kun beserta anaknya, setiap orang merasakan tekanan berat, sebab Ohlong To Cu-an berada di bawah perlindungan Thian-holeng, dan hubungan Ang-kun-giok-hui dengan mereka juga begitu ruwetnya. Di Jin-ciu setelah beristirahat dua hari, mereka akhirnya menginjakan kaki di jalan bukit Thian-ciat, seperti perahu tiba di tengah sungai dengan sendirinya akan berjalan lurus, mereka terpaksa maju selangkah demi selangkah. Di dunia persilatan, Thian-ho-leng tadinya adalah sebuah perguruan misterius yang tidak meng-injakan kakinya di dunia persilatan, Thian-ho-leng sebuah kelompok yang berada diluar lingkaran, tapi semenjak Ang-

kun-giok-hui berhasil mengambil kedudukan ketua, di dunia persilatan, bertambah banyak peristiwa kejahatan dan pembunuhan, sekarang Thian-ho-sat-kun kembali ke bukit Thian-ciat, gunung yang megah pepohonan dan rumput yang menghijau, semua terasa asing olehnya, dalam hatinya, dia merasa-kan satu perasaan kesepian yang sulit diutarakan. Semenjak pagi hingga siang hari, mereka telah tiba di Touw-goan bukit Thian-ciat, ini adalah satu lubang retakan di tengah tebing yang curam, langit hanya terlihat sebuah garis saja, asalkan gerbang ini ditutup, setinggi apa pun ilmu silat orang itu, jika ingin melewati gerbang, mungkin lebih sulit dibandingkan naik keatas langit. Thian-ho-sat-kun melihat sekali pada Touw-goan, lalu membalikan kepala berkata pada Siau Yam: "Anak Yam, apa kode untuk membuka gerbang? Kau pergi mencobanya!" Siau Yam menyahut dia meloncat ke depan gerbang, kaki sedikit dihentakan, tubuhnya seperti burung walet terbang kelangit, sesudah meloncat setinggi tiga tombak lima kaki, satu tangannya dengan cepat menekan, jari telunjuk dan jari tengah tepat menekan diatas sebuah batu bulat berwarna merah gelap. Ini adalah kode untuk memanggil penjaga gerbang, asalkan menggunakan tenaga dalam menekan batu bulat itu, di dalam gerbang akan terdengar serentetan suara bel, penjaga gerbang pertama akan membuka dulu satu jendela batu, setelah melihat dengan jelas siapa yang membunyikan bel, lalu memutar roda besi, membuka pintu batu yang berat sekali. Tapi baru saja Siau Yam menyentuh batu bulat, mendadak terdengar suara ringan ssst.... diatas dinding

tebing itu, menyemprot beberapa asap tebal yang berbau amis menyengat hidung, Siau Yam terkejut dan berteriak keras, lalu seperti layang-layang putus talinya jatuh ke bawah. Kejadian ini sangat mengejutkan orang, siapa pun tidak menduga Siau Yam yang besar di bukit Thian-ciat, bisa mendapat kecelakaan saat membunyikan bel, untung Siau Hun tidak jauh dari dinding tebing, dia segera meloncat, kecepatannya laksana angin, sepasang telapaknya digetarkan, dengan enteng meringankan terlebih dulu tenaga jatuhnya tubuh Siau Yam, lalu membuka lengannya, menyambut tubuh Siau Yam. Rupanya asap tebal itu adalah semacam racun yang sangat mematikan, hanya dalam sekejap, wajah cantiknya Siau Yam sudah berubah menjadi warna ungu tua. Pek-tok-lo-cia membuka kelopak mata Siau Yam, melihatnya sebentar lalu berkata: "Tidak disangka di atas bukit Thian-ciat ini ada ahli racun yang sehebat ini, tidak aneh bibi Siau bisa meraja lela di dunia." Pek Soh-jiu dengan wajah gelisah berkata: "Cici San! Dia......" Bong San-san tersenyum: "Jangan gelisah Adik Ciu! Julukan Pek-tok-lo-cia tidak mudah didapat, Kiu-ih-bi-sin-san (Bubuk sembilan dewa linglung), masih belum bisa menyulitkan cici." Dia membuka kantong kulit dipinggangnya, mengeluarkan sepuluh macam lebih obat penawar racun, menimbang-nimbang dengan teliti lalu mencampurnya,

pekerjaannya menghabiskan tidak sedikit waktu, setelah jadi baru obatnya disuapkan ke dalam mulut Siau Yam. Lama.... Siau Yam siuman kembali, warna di wajahnya juga berubah semakin merah, tapi semangat dia tetap lesu, jelas... bukit Thian-ciat sudah menganggap dia sebagai seorang penghianat. Su Lam-ceng tahu isi hati Siau Yam, maka dia menghiburnya: "Adik Yam tidak perlu khawatir, asalkan kita bisa bertemu dengan bibi, segala kesalah pahaman pasti akan terselesaikan, saat ini yang paling penting adalah bagaimana caranya masuk ke dalam Touw-goan, coba adik Yam pikir! Kecuali tempat ini, apakah masih ada jalan lainnya?" "Ada sih ada, tapi yang aku tahu, dalam sepuluh tahun ini, tidak ada orang yang mampu melewati Thian-cian-ciatih." Thian-ho-sat-kun berkata: "Anak Yam, yang kau katakan itu apakah lembah maut Lam-san, seratus tombak pasir meng-ambang?" "Benar, ayah, tapi di belakang seratus tombak pasir ngambang, sekarang telah ditambah lagi empat barisan besar yang mematikan, yaitu Thian-lui (Guntur langit) Buim (Tanpa bayangan) Sin-liong (Dewa naga) dan Thiankong-tee-sat (pembunuh langit bumi)." Thian-ho-sat-kun tertegun: "Apa yang disebut empat barisan besar mematikan itu?" "Barisan Thian-lui dipasang di belakang seratus tombak pasir mengambang, disana di timbun puluhan ribu kati mesiu, di dalam mesiu, dicampur dengan bahan bakar yang

mudah terbakar, asalkan tersentuh benda yang sangat ringan saja, maka akan mengakibat-kan ledakan dahsyat yang dapat menghancurkan gunung, barisan Bu-im dibangun di belakangnya Thian-lui, adalah barisan racun tanpa bayangan, walau pun merupakan sebuah tempat yang sangat tenang, tapi tingkat bahayanya, lebih dahsyat dari pada barisan Thian-lui, barisan Sin-liong adalah wilayah ular, ular-ular beracunnya ribuan jenis, menutupi seluruh celah bebatuan dan rerumputan, membuat orang sulit untuk menghindar, yang terakhir adalah Thian-kong-tee-sat nya Thian-ho-leng, menurut perhitungan perputaran semesta, dibentuk sebuah barisan Ho-to-si-hiang, ditambah dengan Racun tanpa bayangan dan Ngo-tok-tui-hun-cian, keampuhannya, bisa dikatakan tidak ada yang menandingi di dunia." Orang-orang di lapangan ini tidak ada satu pun yang tidak memiliki ilmu silat hebat, tapi setelah Siau Yam menerangkan dengan singkat empat barisan besar itu, semuanya jadi bengong dengan mulut menganga, terperanjat sampai wajahnya berubah. Empat barisan besar ini, tidak mungkin bisa dilawan dengan kekuatan manusia, hanya bicara seratus tombak pasir mengambang saja, mungkin ketua Siauw-lim yang menguasai tujuh puluh dua macam ilmu silat terhebat di dunia persilatan, juga tidak akan mampu menyeberanginya! Pek Soh-ciu bisa melihat wajah mereka yang putus asa, tidak tertahan dia berteriak marah sambil berkata: "Seratus tombak pasir mengambang, empat barisan besar, belum tentu bisa menghadang kita, silahkan kalian tunggu disini sebentar, biar aku pergi mencoba terlebih dulu, ada seberapa hebat barisan itu."

Siau Yam berteriak terkejut, segera menangkap lengan baju dia berkata: "Kau ini kenapa, Ciu koko? Ini bukan main-main!" Pek Soh-jiu menghela napas: "Tebing disini tidak bisa dibuka, di sana juga ada berlapis-lapis barisan maut menghadang, kita jauh-jauh datang kesini, apakah mau menyerah begitu saja?" Siau Hun batuk sekali berkata: "Kenyataannya memang begitu, kita tidak boleh karena emosi......" Su Lam-ceng berkata: "Menurut pendapatku, jika Ciu koko seorang diri melabrak barisan maut itu, sangat mungkin bisa berhasil, lebih baik kita pergi dulu ke Lam-san, lalu mendiskusikan satu cara yang sempurna." Siau Yam membelalakan sepasang matanya, berkata: "Cici Ceng! Kau sudah gila? Seratus tombak pasir mengambang, burung terbang pun sulit melewati-nya...." Thian-ho-sat-kun menggoyangkan tangannya: "Apa yang dikatakan Lam-ceng tidak salah, kita pergi dulu ke Lam-san." Thian-ho-sat-kun lalu mengayunkan langkah-nya berlari menuju ke Lam-san, yang lainnya walau masih banyak pertanyaan, juga tidak bisa mengajukan pertanyaan, terpaksa mengikuti ke Lam-san. Lam-san adalah lembah mati yang tidak ada rumput atau pohon, bahkan mahluk hidup pun tidak ada, lapangan pasir kuning, luasnya diatas seratus tombak lebih, udara yang dingin, membuat orang bisa merinding.

Di luar lembah, batu-batu tajam bertebaran bersilangan, pemandangannya sangat tandus, Thian-ho-sat-kun mendapatkan satu tempat yang tersembunyi, mempersilahkan semua orang duduk diatas tanah, lalu mengerutkan alis, katanya: "Anak Ciu! Coba kau uraikan terlebih dulu rencanamu." Pek Soh-jiu menenangkan pikirannya, lalu berkata: "Aku bicarakan kemampuan kita terlebih dulu." Sejenak dia menghentikan perkataannya, kemudian melanjutkan perkataannya, "Adik Ceng banyak sekali kepandaiannya, hafal dengan barisan, barisan Thiankong-tee-sat walau pun sangat berbahaya, sebenarnya tidak menakutkan, tiba di barisan Sin-liong, aku bisa menggunakan seruling dewa Cicu mengusir ular, hadangan yang tampak berbahaya ini, sebenarnya bisa diatasi." Pek-tok-lo-cia Bong San-san menambahkan: "Bagus sekali! Untuk Racun tanpa bayangan, biar aku yang mengatasinya. "Aku ucapkan terima kasih dulu pada cici San, sekarangan tinggal barisan Thian-lui, dan seratus Tombak pasir mengambang." Ketua Siauw-lim Pek Hui taysu mengucap Budha berkata: "Di dunia ini, mungkin sulit bisa menemukan seorang yang mampu melintasi seratus tombak pasir mengambang, apa lagi kedahsyatannya Lui-ho itu...... haai......" Pek Soh-jiu tersenyum berkata: "Kata-kata taysu tidak salah, seratus tombak pasir mengambang, burung terbang pun sulit melintasinya. Tapi

jika bisa meminjam tenaga luar, melintas diatasnya, itu bukanlah hal yang tidak mungkin!" Dia sembarangan memungut beberapa potong dahan kering, dan dua butir batu gunung sebesar telur angsa, tubuhnya berkelebat, tampak bayangan putih melintas di udara, menggunakan ilmu meringankan tubuh dari Sin-ciusam-coat yang tiada taranya, dia meloncat melintasi pasir mengambang itu. Gerakan dia yang tiba-tiba ini, sungguh mengejutkan orang, kecuali teriakan-teriakan terkejut, tidak ada orang yang bisa menghentikannya, terlihat satu kilatan putih melayang, dia telah melayang sejauh tiga puluh tombak lebih, tubuhnya bersalto sekali, dengan kecepatan sekali meluncur seribu lie, dia meloncat ke pinggir pasir mengambang, saat tenaga dalam dia akan habis, tubuhnya dari terbang lurus berubah jadi turun ke bawah, mendadak dia melayangkan telapak tangan kanannya, dua butir batu gunung dengan kuat di lemparkan ke arah barisan Thianlui, lalu melemparkan sepotong dahan kering pohon, ujung kakinya menotol meminjam tenaga, maka tubuhnya sudah memutar meloncatkembali balik ke mulut lembah. Pek Soh-ciu dengan gampang bolak-balik melewati seratus tombak pasir mengambang, jika bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin siapa pun sulit mempercayainya, hal ini masih belum terhitung hal yang sangat mengejutkan orang, peristiwa yang mengejutkan orang sedang datang. Sinar api berkilat-kilat tampak di dalam barisan Thianlui, suara ledakan dahsyat yang memekakan telinga sedang menggetarkan bumi. Batu gunung dan debu, berterbangan di atas langit, satu demi satu suara ledakan membuat bumi bergetar.

Barisan Tian-lui sudah menampakan kedahsyatannya, sayang kecuali dua butir batu gunung sebesar telur angsa yang dilemparkan oleh Pek Soh-jiu, satu mahluk hidup pun tidak ada yang dilukainya. Lama... semuanya kembali tenang, dan barisan Thianlui, telah berubah menjadi jalan datar yang lebar. Sekarang.... sedikit demi sedikit kegembiraan timbul di dalam hati, nampak di wajah orang-orang, akhirnya, mereka tidak tahan berteriak tertawa keras. lupa diri, bersorak mengitari Pek Soh-jiu yang telah menciptakan satu keajaiban. Hanya Siau Yam yang terkecuali, dia mengucurkan air mata emosi, mengangkat sepasang kepalannya, seperti memukul genderang dipukulkan di dadanya Pek Soh-jiu. "Ciu koko, aku benci, kenapa kau mau menempuh bahaya, apakah tidak terpikirkan olehmu, tindakan gila itu bisa membuat orang mati gelisah? Aku tidak mau, aku ingin kau menggantinya......" Mengganti apa? Dia tidak menjelaskan, tapi Pek Soh-jiu, Siau Hun, Su Lam-ceng, sampai Jit-kaw Kokcu Bong Sansan itu, sedang tersenyum mengerti. Akhirnya Pek Soh-jiu sambil membopong tubuhnya Siau Yam berkata: "Adik Yam, ayo bantu aku mengambil rotan gunung, kita harus menggunakan untuk menyeberangi seratus tombak pasir mengambang." Siau Yam menyatakan baik, tapi dia tetap berada tidak beranjak, sebab Im-yang-sam-ih, Peng-kok-pat-hiong, dan para pesilat tinggi dari Jit-kawkok, sudah pergi mengambil rotan gunung, tentu saja Siau Yam jadi ongkang-ongkang kaki, tidak perlu bekerja..

Rotan gunung telah terkumpul, lalu Pek Soh-jiu menyambungkannya, ujung satunya diikatkan disatu batu besar di mulut lembah, lalu meloncat terbang, membawa ujung satunya melintasi pasir mengambang. Karena beratnya rotan gunung, beberapa kali dia harus meminjam tenaga dahan pohon kering, baru berhasil tiba diseberang pasir mengambang, hasilnya, sebuah jembatan terbuat dari rotan gunung berhasil dibangun diatas pasir ngambang. Mereka lalu melintas seratus tombak pasir mengambang, berjalan melewati barisan maut Thian-ciat, setelah lewat barisan Racun tanpa bayangan yang dingin mengerikan, kembali menghadang jalan mereka. Bong San-san mengeluarkan sebuah botol giok berwarna kehijauan, menumpahkan sepuluh butir lebih pil berkilap membagi-bagikan, lalu berkata: "Obat penawar racun yang aku bawa tidak banyak, tidak bisa membersihkan seluruh Racun tanpa bayangan, harap kalian menempel di belakangku, siap!" Lalu jarinya dijentikan, sebuah sinar sekelebat timbul di depan dirinya langsung menghilang, pinggang nya sedikit diputar, dia meluncur kedepan beberapa tombak, dengan cara ini, sekelompok para pendekar yang ingin membalas dendam, kembali dengan selamat melintasi satu hadangan maut. Sekarang, angin bau amis menyebar dimana-mana, ular berbisa samar-samar kelihatan, dengan mata hijau lidah merah bergerak gerak diantara bebatuan dan pepohonan, Pek Soh-jiu mengeluarkan seruling dewa Ci-cu, baru saja akan meniupnya, Su Lam-ceng mendadak tertawa berkata: "Tunggu, Ciu koko! Kenapa kita tidak mengguna kan racun menyerang racun!" Pek Soh-jiu keheranan berkata:

"Bagaimana caranya?" Su Lam-ceng berkata: "Kau gunakan seruling dewa Ci-cu mengusir ular, lalu suruh Sian-giok menghadang di sekeliling, supaya para ular berbisa itu berlari masuk ke dalam barisan Thian-kong-teesat, bukankah akan menghemat tidak sedikit tenaga kita!" Pek Soh-jiu menganggukan kepala: "Cara bagus." Dia segera melepaskan Sian-giok, lalu meniup serulingnya dengan lagu pengusir ular yang suaranya menggema ke seluruh gunung. Berpuluh ribu ular berbisa, besar kecil menyusup keluar dari tempat persembunyiannya, di bawah hadangan Siangiok, semuanya menyusup masuk ke dalam strategi Thiankong-tee-sat, puluhan ribu ular berbalik menggigit orangorang di dalam barisan yang mematikan itu, hingga menimbulkan kekacauan yang amat sangat, dalam waktu sekejap, barisan Thian-kong-tee-sat jadi hancur berantakan, anak buah setia Ang-kun-giok-hui yang diandalkan, yang biasa melakukan kejahatan di dunia persilatan, juga berhasil dilukai atau dibunuh dalam jumlah yang amat banyak. Tanpa ada kerja keras berturut turut telah menghancurkan empat barisan besar, sehingga membuat Thian-ho-leng yang meraja Iela di dunia persilatan, pertama kalinya merasa-kan ancaman maut, tentu saja, Ang-kun-giok-hui tidak rela menerima kekalahan ini, dia mengumpulkan orang-orang Hek-it-kau, dan pasukan inti dari Thian-ho-leng, berniat membalas dengan sekuat tenaga. Gedung Thian-ciat adalah tempat tinggal sehari harinya ketua Ang-kun-giok-hui, di dalam Thian-ho-leng, selain tempatnya yang tertinggi, juga adalah markas pusat yang sangat misterius, jika melihat wajah luarnya, gedung itu

memang sangat indah dan megah, tapi bangunan di dalamnya, dimana-mana ada jebakan yang berbahaya. Di atas bukit Thian-ciat sedang dipenuhi oleh hawa pembunuhan yang dahsyat, Ang-kun-giok-hui Hai Kengsim akan melakukan satu serangan habis habisan dengan cara kilat. Lapangan batu di depan gedung Thian-ciat, sedang berdiri lautan manusia dengan tanpa bersuara, mereka adalah para anak buahnya Thian-ho-leng dengan seragam baju ringkas merahnya, setengahnya lain adalah anggota Hek-it-kau yang bertopeng. Ang-kun-giok-hui Hai Keng-sim dengan wajah dingin berdiri diatas lapangan batu, penjahat nomor satu di dunia ini walau pun usianya sudah tua, namun tetap tampak masih cantik, tetap masih ada kelebihannya. Di sebelah kiri dia, adalah seorang tua bertopeng hitam, tubuhnya tinggi kurus, dua sorot mata yang dingin berputarputar di dalam topeng hitamnya. Di belakang orang tua kurus kering, berbaris tujuh orang bertopeng berbaju hitam, tidak berbeda jauh dengan orangorang Tong-it yang berada di kota kabupaten di Bu-san. Di belakang Ang-kun-giok-hui, selain Wie Pui-hoa, Giok Ie-ko dua orang muridnya, masih ada sembilan orang wanita baju merah yang usianya di atas setengah baya, memperkirakan menurut sorot mata mereka yang bersinar, setiap orang pasti memiliki ilmu silat yang mengejutkan. Saat ini Thian-ho-sat-kun memimpin Pek Soh-jiu dan kawan-kawan dengan langkah tenang naik ke atas lapangan batu, dia melihat sekali pada Ang-kun-giok-hui, orang tua yang sangat terbuka ini, wajahnya tampak sedikit emosi, dia

melayangkan tangan menghentikan Pek Soh-jiu dan kawankawan, maju dua langkah berkata: "Keng-sim! Apa maksudnya ini? Apakah tidak senang atas kembalinya aku?" "Heeh!" dengan dingin Ang-kun-giok-hui berkata: "Siapa dirimu? kau bicara lebih baik sedikit hati-hati, bukit Thian-ciat bukan tempat kalian mengacau!" Thian-ho-sat-kun tertegun berkata: "Hai Keng-sim! Kau sungguh sudah tidak kenal aku lagi?" Ang-kun-giok-hui berteriak marah, berkata: "Sembarangan masuk ke dalam bukit Thian-ciat, dosanya sudah tidak bisa diampuni, disini masih berani sembarangan bicara, orang tua tengik, kau sungguh sungguh tidak tahu mati." Thian-ho-sat-kun marah sekali, dia tidak menduga istrinya bisa berbalik muka tanpa perasaan sedikit pun, sesaat amarahnya meledak, tidak tahan dia mengangkat kepalanya menhadap ke langit, sambil tertawa keras berkata: "Wanita hina yang kejam sekali, kau sampai tidak mengakui anak dan suami, lima anak buah setiaku itu juga pasti telah dibunuh olehmu, jika kau sudah mencari jalan mati sendiri, aku jadi tidak perlu mempedulikan perasaan cinta dahulu." Orang tua dengan mantel merahnya jadi mengembang, meski tanpa ada angin berhembus, tampak marah sekali, dia mengangkat lengan kanan, saat akan menghantam, terlihat satu bayangan putih berkelibat, Pek Soh-jiu sudah berdiri disisinya berkata:

"Gak-hu (mertua) harap sabar dulu, nanti setelah aku menyelesaikan perhitungan dengan ketua Hek-it-kau, baru kita perhitungan di dalam perguruan sendiri." Walau Thian-ho-sat-kun marah sekali terhadap Ang-kungiok-hui, tapi tetap masih ada sedikit perasaan hubungan suami istri, apa lagi Pek Soh-jiu ingin membalas dendam ayahnya dulu, seharusnya masalah-nya dikedepankan terlebih dulu, sehingga untuk sementara dia menahan amarahnya mundur kebelakang. Pek Soh-jiu mengangkat alisnya, wajahnya menghadap pada orang bertopeng disisi Ang-kun-giok-hui berkata: "Aku Pek Soh-jiu, berharap ketua Hek-it-kau Oh-long To Cu-an menjawab pertanyaanku." Ang-kun-giok-hui teriak sekali, berkata: "Bocah yang masih bau kencur, juga berani menampilkan cakarnya di bukit Thian-ciat, heh... tidak sulit mau bertemu dengan ketua Hek-it-kau, aku ingin perhitungkan dulu dengan kau, masalah hutang lama diantara kita." Namun Pek Soh-jiu tidak berani kurang ajar terhadap Ang-kun-giok-hui, bagaimana pun, dia adalah ibu mertuanya, sehingga dengan mengepal sepasang tangan dia berkata: "Cianpwee ingin bagaimana menghukumnya, aku tidak akan mengelak, hanya saja dendam mem-bunuh ayah tidak bisa diampuni, harap Cianpwee bisa memakluminya." "Heh!" Ang-kun-giok-hui berkata, "Kata-kataku sekali keluar tidak bisa dirubah, ingin bertemu dengan ketua Hekit-kau, harus lunasi dulu hutang pada perguruanku." Pek Soh-jiu berkata tawar:

"Oh-long To Cu-an, juga adalah seorang yang ternama, Cianpwee demikian melindunginya, walau pun sementara bisa menghindar dari kematian, di dalam dunia persilatan, mungkin tidak akan ada lagi sebutan Oh-long ini!" Orang dunia persilatan, kebanyakan lebih mementingkan nama dari pada nyawa, bagaimana Oh-long To Cu-an bisa menerima hinaan tanpa perasaan dari Pek Soh-jiu! Dia meminta izin dulu pada Ang-kun-giok-hui, lalu meloncat, melesat seperti kilat, dalam jarak lima tombak, seperti hanya dalam satu langkah sudah berada dihadapan. Oh-long To Cu-an bisa menduduki kursi ketua Hek-itkau, dan menjadi alat kejahatannya Ang-kun-giok-hui di dunia persilatan, memang kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng, dia menghentikan langkah, dengan mendengus dingin berkata: "Bocah, apa kau anak haramnya Sin-ciu-sam-coat? Bagus sekali, ini yang disebut ada jalan surga tidak mau kau tempuh, malah ingin masuk neraka, mari.... Biar aku coba, kau sudah berhasil mendapatkan berapa banyak ilmu silat dari tiga setan tua itu!" Pek Soh-jiu dengan sorot mata membunuh, berteriak marah: "Jadi kau bangsat yang menjadi otak serangan gelap di perumahan Leng-in saat itu! Betul tidak?" To Cu-an dengan bangga bersuara "Hemm!" berkata, "Tidak salah." "Giam-lo-cun-cia juga kau bangsat tua yang diam-diam menyiksanya?" "Bocah, kematian kau sudah didepan mata, masih berani menimbulkan masalah, sungguh terlalu tidak tahu diri!"

"Baik, bangsat tua, kau harus mati......" Pek Soh-jiu mengerahkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya, setelah tenaga memenuhi sepasang lengan, telapak tangan kanannya pelan-pelan diangkat, Kong-hongsam-si yang menggemparkan dunia persilat-an dikerahkan, bersiap akan menyerang. Mendadak, "Tunggu." Dua bayangan orang yang seperti pagoda besi, dengan membawa angin kencang bergulung datang, pada Oh-long To Cu-an mereka berkata, "Kami ingin membalaskan dendam kakak kami, harap ketua bisa mengalah untuk kami." To Cu-an melihat pada mereka, lalu membalikan kepala, berkata pada Pek Soh-jiu: "Tiga pengawal pribadiku, satu telah dibunuh olehmu, jika mereka ingin membalaskan dendam, aku tidak bisa menghalanginya, begini saja, jika kau bisa selamat dari tangan mereka, aku yang akan mengantar mu ke akherat." Dia tidak peduli apakah Pek Soh-jiu setuju atau tidak, ujung kaki dihentakan, maka sudah meloncat kembali ke tempat semula, walau dia menghadap pada Pek Soh-jiu, tapi loncatan dia ke tempat semula, jarak dan tempatnya, hampir semili pun tidak salah. Saat ini dua orang Tong-it yang tinggi besar dengan dua telapak yang sangat besar sekali, sudah menyerang dari kiri dan kanan, kekuatan telapaknya dahsyat sekali, seperti kapak putih membelah gunung, kecepatan serangannya, ketepatan mengarah pada jalan darah, dibandingkan dengan Tong-it, sepertinya lebih tinggi tiga puluh persen. Hawa membunuh membayang diantara alisnya Pek Sohjiu, wajahnya yang tampan setampan Goan-ie itu ada sekelumit senyuman yang sulit diartikan, tubuhnya tegak berdiri seperti gunung, terhadap empat buah serangan

telapak yang bisa membelah gunung itu, sepertinya tidak memandangnya, sampai telapak lawannya hampir menyentuh tubuh, anginnya ingin merobek baju, terlihat kilatan putih berkelebat, tubuhnya yang tegap itu, seperti roh melesat keluar dari serangan telapak. Cara dia melepaskan diri ini, sungguh terlalu tiba-tiba, dua orang Tong-it itu ingin menarik kembali pukulannya, tapi bagaimana bisa menariknya, tidak tertahan mereka sudah saling menyerang, sesudah dua telapak nya bentrok baru bisa memisahkan diri, walau tidak mendapatkan luka, tapi juga membuat hal yang memalukan sekali. Setelah berteriakan seperti macan terluka, mereka kembali menyerang, tapi saat menyerang kembali mereka telah bertambah hati-hati. Dalam sekejap puluhan jurus telah lewat, Pek Soh-jiu hanya melenggok di antara dua raksasa itu, bajunya berkibar-kibar, tidak saja tidak membalas menyerang, tampang-nya juga sangat santai sekali. Setelah lewat puluhan jurus, Pek Soh-jiu tidak lagi menghindar, dengan satu siulan nyaring, dua orang raksasa itu diputar oleh sebelah tangannya, malah telah terbang ke udara, jatuh tepat di tempat mereka berdiri semula dibelakangnya Oh-long, ketajaman matanya, penggunaan tenaganya yang tepat, sungguh jarang tandingannya. Oh-long To Cu-an melihat dua orang itu sudah tidak bernyawa lagi, topeng hitamnya tidak tahan bergetar karena marah dan terkejut, walau dia sudah tahu ilmu silatnya Pek Soh-jiu hebat sekali, tapi tidak menduga bisa sehebat ini. dia lalu mengangkat sudut bibirnya, lima orang laki-laki besar yang ada dibelakang dia, bersamaan menerjang keluar. Sangguan Ceng-hun yang melihat berteriak marah berkata:

"Sungguh tidak tahu malu, bertarung menggunakan cara bergilir, sungguh tidak jantan sekali, saudara Ciu! Lima orang ini serahkan saja pada Toako, kau cepat bereskan Ohlong saja." Ouwyang Yong-it, murid murid dari Siauw-lim dan Butong, semuanya meloncat keluar, para pesilat tinggi Hek-itkau, juga bersama sama ikut kedalam pertarungan, lapangan batu yang dikelilingi oleh pegunungan ini, segera terjerumus kedalam pertarungan kacau-balau. Pek Soh-jiu tidak ragu ragu lagi, mendadak tubuhnya berkelebat, seperti kuda langit berjalan dilangit, dalam sekelebat, sudah berada di depan Oh-long, dia mengeluarkan Pouw-long-tui, sepasang alisnya diangkat, berkata dingin: "Bangsat keji, yang pergi ke Liong-bun, bercerita lagi semangat di tahun itu, adalah ucapanmu bukan? Mana semangatmu itu? Heh heh......" Dia pelan-pelan mendesak maju, tapi setiap melangkahnya, menimbulkan angin keras sampai tiga kaki di depan dirinya seperti dinding baja. Sepanjang hidupnya, Oh-long melakukah kejahatan, pesilat tinggi yang telah dia hadapi tidak terhitung banyaknya, kecuali Ang-kun-giok-hui Hai Keng-sim, yang bisa bertahan lebih dari tiga jurusnya, tentu orang itu bisa dihitung orang ternama, tidak salah, ditahun itu dia pernah mengalami kekalahan dari tangan Sin-ciu-sam-coat, tapi sakarang ada berapa banyak pesilat tinggi yang seperti Sin-ciu-sam-coat! Dia sudah terkejut, tapi dia sedikit pun tidak merasa menyesal, sifat jahatnya yang terhimpun dari kejahatan selama bertahun-tahun, membuat keinginannya tidak

pernah gagal, maka dia mengeluarkan senjata khususnya Bu-ceng-put-ho-soat (Senjata pemusnah mayat tanpa ampun), mulutnya teriak: "Bocah, pergilah susul ayahmu!" dalam sinar kuning yang menyilaukan mata, berturut-turut menyerang sembilan jurus dahsyat. Pek Soh-jiu bersiul panjang, Pouw-long-tui dengan sinar kemilau hitam memenuhi langit, memo-tong masuk ke dalam sinar kuning, lalu terdengar suara beberapa bentrokan yang keras sekali, cepat sekali mereka telah bertarung sebanyak dua puluh jurus lebih. Serangan senjata Bu-ceng-put-ho-soat dari Oh-long biasanya tidak pernah gagal, jurusnya telah dia latih dengan keras selama puluhan tahun, tidak di duga, meski telah menyerang dengan sekuat tenaga, sedikit pun dia tidak bisa mendapatkan keuntungan. Dia jadi putus asa, seperti jatuh ke dalam lubang es, dia merinding dua kali. Sebagai laki-laki besar yang bisa tegak bisa bungkuk, jika ilmu silatnya kalah dari orang, terpaksa menggunakan siasat terakhir, maka dia telah memutuskan menggunakan jurus ke tiga puluh enam, yaitu melarikan lari, Put-ho Soat nya di tegakan, dengan seluruh tenaganya, melakukan satu serangan. Ini adalah rencana yang dia siapkan sendiri, asalkan bisa mendesak Pek Soh-jiu mundur beberapa langkah, maka dia tidak akan sulit lari melepaskan diri, sayang perkiraan dia kali ini salah, Pek Soh-jiu justru menggunakan cara bertempur kucing mempermainkan tikus, sejak pertarungan dimulai, dia belum mengerahkan seluruh tenaganya. Serangan Oh-long To Cu-an ini, bisa dikatakan mempercepat kematian sendiri, Pek Soh-jiu melihat dia begitu berani, maka dia tidak ingin lagi menghabiskan

waktu, lengan berototnya diayunkan, Pouw-long-tui seperti gemuruh guntur, di dalam satu bentrokan logam, telapak tangan Oh-long sudah pecah berdarah, Bu-ceng-put-ho-soat sudah terlepas dari tangannya terpental jatuh ke dalam jurang. Terjerumus ke dalam keadaan buntu, dia masih bisa menghadapinya dengan tenang, dia seorang penjahat ulung, memang berbeda dari pada orang biasa, saat Put-ho-soat terlepas dari tangannya, dia dengan cepat mengayunkan sepasang lengannya, melemparkan segenggam jarum baja beracun, rubuhnya bersamaan waktu meloncat ke atas, meloncat ke arah sisi bukit yang banyak batu berserakan. "Hemm!" Pek Soh-jiu marah sekali, membentak: "Tinggalkan nyawamu, bangsat keji." Dengan kuat dia mengayunkan telapak tangan kanannya, jarum baja beracun itu terpukul jatuh semuanya oleh Pouw-long-tui, berbareng telapak tangan kirinya menghantam, Pouw-ci-sin-kang melesat tepat mengenai jalan darah Khi-hai di tubuh Ohlong. Dari kejauhan menjentikan jari, bukan saja telah menahan Oh-long, juga telah menghancurkan jalan darah Khi-hainya, memusnahkan ilmu silat yang biasa digunakan untuk melakukan kejahatan, lalu dia menangkap dan menotok beberapa jalan darah dia. Pek Soh-jiu telah berhasil menangkap otak pembunuhan, harapannya telah terkabul, pertarungan sengit yang terjadi di lapangan, juga bersamaan waktunya selesai,. Karena Hek-it-kau telah kehilangan ketuanya, seperti menjadi naga tidak ada kepalanya, para anggota yang sedang bertarung, juga terpaksa melepaskan perlawanannya. Lalu Su Lam-ceng menggaet tangan Siau Hun, Siau Yam, sambil tertawa menyambut Pek Soh-jiu berkata:

"Selamat, Ciu koko! Kau serahkan dulu Oh-long pada Sangguan toako, aku ingin mendiskusikan satu hal yang sangat penting denganmu." Pek Soh-jiu menurut, menyerahkan Oh-long pada Sangguan Ceng-hun, membalikan kepala bertanya pada Su Lam-ceng: "Hal apa yang sangat penting itu? Adik Ceng." "Menurutmu kenapa Subo mau melakukan hal yang tidak ada perasaan itu?" Pek Soh-jiu diam-diam melihat pada Ang-kun-giok-hui yang wajahnya sangat serius berkata: "Ini......... masih perlu petunjuk hebat dari Li Cukat." Su Lam-ceng tertawa: "Memperkirakan menurut keadaan tadi, ketika kita menghabisi Hek-it-kau, para anggota Thian-ho-leng tidak ada satu pun yang melibatkan diri, pertentangan diantara Suhu dan Subo mungkin terjadi karena masalah sepele, karena berbeda pendapat, sehingga masing masing memaksa berjalan ke ujung yang berbeda, sebenarnya Subo masih sangat mencintai Suhu, jika kita bisa membuat Suhu mengalah sedikit pada Subo, segala salah paham ini pasti akan bisa diuraikan." Siau Hun berkata: "Apakah adik Ceng bisa memperkirakan, apa penyebab yang membuat kedua orang tua berselisih?" "Mungkin karena Suhu hobinya melancong ketempat jauh, membuat Subo merasa kesepian......pokoknya, tidak jauh dari cinta kasih, dua kata ini, wanita lebih memandang penting cinta, betul tidak?" Siau Hun menghela napas berkata:

"Adik Ceng pikiranmu sangat teliti, bisa menguraikan masalah sampai ke masalah yang kecil, memang pantas disebut Li Cukat, tapi bagaimana kita melakukannya?" Su Lam-ceng berkata: "Di pihak Suhu, biar aku yang bertanggung jawab membujuknya, di pihak Subo, harus Ciu koko yang tampil, minta dukungan dari ketua Siauw-lim, tiga tetua Bu-tong pergi membujuknya, pasti akan berhasil membuat keluarga kembali berkumpul." Kata Pek Soh-ciu: "Aku? Kalau ada Siauw-lim dan Bu-tong beberapa Cianpwee yang tampil, tentu saja aku tidak perlu tampil." Su Lam-ceng tersenyum manis: "Siapa bilang? Mertua wanita melihat menantu, semakin melihat semakin senang, kau tidak bisa tidak harus tampil." Perhitungan Li Cukat tidak pernah salah. Setelah Pek Soh-ciu menghadap Ang-kun-giok-hui dan dengan sabar membujuk, dengan kecakapan dan kesopanannya, akhirnya hati Ang-kun-giok-hui yang keras seperti batu, bisa lumer seperti air, rencana Su Lam-ceng telah berhasil, sehingga di atas bukit Thian ciat, akhirnya dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Dunia persilatan menjadi aman dan damai, sekali waktu tampak jejak mereka, muncul di dunia persilatan sebagai pendekar kebenaran. Tamat Bandung, 25 April 2008 Salam Hormat (SeeYanTjinDjin)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->