BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pengertian Geografi Pada asalnya geografi bararti “ uraian atau gambaran” (graphe) mengenai “bumi (geo)”, tetapi sekarang disamping berpegang pada definisi yang sederhana geografi difahamkan berbagai definisi berikut ini: (1) pengkajian mengenai gejalaalam sekitar terhadap kehidupan manusia (Chappell Jr. 1981); (2) suatu disiplin yang mempelajari keberlainan kawasan (Hartshone, 1954); (3) suatu ilmu yang mempelajari tentang organisasi keruangan kehidupan manusia (Haggett, 1965); (4) suatu disiplin ilmu yang mengkaji ruang dari segi struktur, organisasi dan formasi sosialnya ( Peet & Lyons,1981); (5) Suatu anggota pengetahuan mengenai alam kehidupan manusia dalam fenomenologi ruang ( Relph, 1981); (6) mempelajari fenomena ruang sebgai realita kehidupan manusia yang bersifat subyektiv (Guelke, 1981) dan (7) suatu ilmu yang mengkaji keruangan sebagai ekpresi keseluruhan kehidupan sejak manusia (Samuels, 1981). Berbagai definisi maka perkembangan selanjutnya beberapa ahli geografi menggolongkan menjadi: (1) geografi ortodoks; (2) geografi lingkungan; dan (3). geografi terpadu. 1. Geografi Ortodoks Filsafat Fisikal Sistematik Manusia - Geomorfologi Hidrologi Klimatologi Pedologi Lain-lain - Geografi Ekonomi - Geografi Penduduk - Geografi Pedesaan - Geografi Perkotaan - Geografi Kemasyarakatan - Lain-lain - Geografi Daerah Tropika - Geografi Daerah Arid - Geografi Daerah Kutub - Lain-lain - Geografi Asia Tenggara - Geografi Amerika Latin - Geografi Eropa Barat - Lain-lain - Kartografi - Penginderaan Jauh - Metode Kuantitatif dalam Geografi - Lain-lain Geografi Zone Regional Kultur Teknik Gambar 1.1 Struktur Geografi Ortodoks 2. Geografi Terpadu - Teori Interaksi dalam Ruang - Teori Difusi - Teori Jaringan - Lain-lain Teori Analisa Keruangan Aplikasi - Pengembangan Daerah Pengaliran Sungai - Masalah Kekotaan - Masalah Kependudukan - Lain-lain Struktur Lingkungan Ekosistem Teori Korelasi Lain-lain Teori Geografi Analisa Ekologi Aplikasi - Inventarisasi dan Evaluasi Sumberdaya - Penaggulangan Bencana Alam - Penanggulangan Tanah Kritikal - Lain-lain - Teori Pertumbuhan Wilayah - Teori Aliran Antar Wilayah Teori Analisa Wilayah Aplikasi - Peramalan Wilayah Perancangan Wilayah Lain-lain Gambar 1.2 Struktur Geografi Terpadu 3. Lingkungan Geografi Perubahan Gagasan dan Nilai-nilai Geografi Lingkungan Tata Laku Pengaturan ruang dan wilayah yang sesuai dengan gagasan geografi Proses-proses sosial, ekonomi, dan sebagainya yang bervariasi dalam pelbagai wilayah Pandangan dan Pengetahuan Manusia yang Kreatif dan Dinamuk terhadap Lingkungan Geografi Kekotaan Geografi Pedesan Geografi Sosial Geografi Ekonomi Geografi Regional Tanggapan terhadap Lingkungan Geografi Lingkungan (pantai, gunung api, karts, dll) Lingkungan Geografi Wujud fisikal hasil campur tangan manusia Kewajaran penyebaran – pola penggunaan lahan Tata Guna Lahan Geografi Perencanaan Pengelolaan lingkungan Geografi Lingkungan Geografi Perencanaan Lingkungan fenomena Wujud dalam alam yang dihasilkan oleh proses organik Gejala Alam Wujud dalam alam yang dihasilkan oleh proses anorganik Geografi Hayati Geografi Tanah Geomorfologi Hidrologi Meteorologi dan klimatologi Gambar 1.3 Struktur Lingkungan Geografi Salah satu ahli geografi pada periode berikutnya yang berpengaruh adalah “Alexxander Von Humboldt” yang kemudian dikenal sebagai “ founder of modern geography” atau pendiri geografi modern (Rosenberg, 2006 dalan Suharsono 2006). Pada era Hunbolt dan Ritter ditandai oleh mulai dikembangkannya geografi dalan dua cabang, yaitu geografi manusia dan geografi fisik, dan sampai pada tahap sinerginya, maka kombinasi kedua cabang tersebut melahirkan cabang geografi regional. Terapan geografi regional yang dikembangkan di Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakrta perencanaan Pengembangan Wilayah Dengan Pendekatan Analisa Sestem Informasi Geografi (GIS) 1.2. Obyek Material Geografi Obyek material yang umum dan luas, yaitu menekankan geosfir yang meliputi litosfir, atmosfir, hidrosfir, biosfir, pedosfir dan antroposfir. Definisi definisi yang mekankan pada obyek material antara lain: Geosfir ini menurut J.O.M. Broek (1965) dalam Suharsono 2006 menekankan bumi merupakan empat hidup manusia sebagai obyek material yang dikaji didalam disiplin ilmu geografi. Litosfir; obyek yang dikaji yaitu asal mula terbentuknya batuan, jenis batuan sifat fisika dan kimia batuan, mineral penyusun batuan, keberadaan batuan di suatu wilayaah serta hubungan batuaan dengan obyek material yang lain. Atmosfir; yang dikaji meliputi temperatur, kecepatan angin, awan dan jenis awan, curah hujan, meteorology, klimatologi, serta hubungannya dengan dengan obyek material yang lain. Hidrosfir; obyek ini meliputi air permukaan, air tanah, air danau, air laut, kuantitas air di suatu wilayah, kualitas air di suatu wilayah, potensi air di suatau wilayah dan hungan hidrologi dengan obyek material yang lain. Biosfir, kajian meliputi zoology, botani, manusia sebagai makhluk alam, penyebarannya, interaksi intra organisme, interaksi antar organisme, interaksi dengan obyek material yang lain serta potensi nya di suatu wilayah. Pedosfir, kajian ditekankan pada geografi tanah dengan memperhatikan factor pembentuk tanah, klasifikasi tanah, sifat fisika dan kimia tanah, potensi tanah untuk pertanian dan non pertanian serta hubungannya dengan obyek material yang geografi. Antroposfir, peranan antropofir ini dipandang sebagai imanen dan transenden. Sebagai imanen maka manusia adalah merupakan factor egosentris sehingga menjadikan obyek material yang lain menjadi budanyanya. Hasil dari egosentrisnya akan meninggalkan bentukan bentukan permukaan bumi ini menjadi bentukan antropogenik. Bentukan tersebut akan berkembang berkelanjutan, ada yang bersifat distruktif terhadap obyek material geografi yang lain 1.3. Obyek Formal Obyek ini merupakan cara pandang dan cara berfikir terhadap suatu gejala permukaan bumi, baik yang sifatnya fisik maupun social budaya yaitu sudut pandang dari organisasi keruangan “Spatial setting”. Secara sederhana dapat diungkapkan bahwa dalam geografi selalu ditanyakan mengenai nama gejala itu terjadi, mengapa gejala itu terjadi, di tempat atau lokasi tersebut.Contoh Daerah yang kekurangan air; dalam hal ini yang dipelajari bukansaja jumlah air, volume air, tetapi mengapa itu terjadi, dilihat dari segi lokasi, dari segi fisiografi, dan kalitannya dengan lingkungan yang lebih luas. Mengenai obyek formal menurut Heslinga dalam bukunya “Opvatengen van Geografi“ dalam Bintarto, dijelaskan bahwa ada tiga hal pokok yang dipelajari dari obyek formal untuk sudut keruangan yaitu : (1) (2) (3) pola dari sebaran gejala tertentu di muka bumi ( spatial patterns). Keterkaitan atau hubungan sesame antar gejala tersebut ( (spatial system) Perkembangan atau perubahan yang terdiri pada gejala tersebut (spatial proseses); jadi secara konkrit dapat ditegaskan bahwa: a) obyek material geografi dapat mengenai permukiman, desa kota, pariwisata, daerah aliran sungai, bentuklahan, bentang darat, sumberdaya, industri, kependudukan, wilayah atau region, iklim, tanah, air dan masih banyak lagi. Secara ringkas obyek material geografi meliputi gejala yang terdapat dan terjadi di muka bumi ini, dan b) obyek formal geografi adalah cara pandang dan cara berfikir terhadap obyek material dari segi geografi yaitu dari segi keruangan yaitu meliputi pola atau pattern dan system proses. Ruangan di permukaan bumi atau wilayah sebagai fenomena permukaan bumi dapat terbentuk mulai darisederhana sampai yang komplek (Suharsono, dkk., 2006): 1. Ruangan permukaan bumi yang terbentuk oleh dua unsure geosfer yaitu litosfer dan atmosfer. Contoh adalah padang pasir. Karena tidak hadirnya hidrosfir di kawasan ini maka unsure pedosfer, biosfer dan antroposfer tidak atau belum terbentuk.Sebagai contoh fenomena permukaan bumi yang terbentuk oleh unsur litosfer dan atmosfer, maka padang pasir ini harus secara hati hati dibedakan dengan fenomena lain yang terkait padang pasir, seperti perkemahan kafilah di padang pasir apa lagi kota padang pasir. Kota padang pasir misalnya, maka dalam konteks ini kota padang pasir harus berbeda dengan padang pasir karena telah mencakup unsur geosfer dalam pembentukannya, dimana hidrosfer, pedosfer, biosfer dan antroposfer telah melengkapi keberadaan litosfer dan atmorfer. 2. Ruangan permukaan bumi yang terbentuk hanya oleh 3 (tiga) unsur geosfer, yaitu litosfer, atmorfer dan hidrosfer. Contoh padang es/salju karena atmosfer disini tidak mumungkinkan untuk memberi kelangsungan hidup bagi makhluk hidup, maka pedosfer, biosfer dan antroposfer tidak dapat terwujud. Unsur biosfer seperti manusia bukanlah komponen utama pembentuk padang es/salju, karena keberadaanya hanya sementara di wilayah padang salju. 3. Ruangan permukaan bumi yang terbentuk hanya oleh 5 (lima) unsur geosfer yaitu litosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer dan biosfer. Contoh padang rumput, hutan, lautan, 4. Ruangan permukaan bumi yang terbentuk oleh enam unsure geosfer yaitu: litosfer, atmorfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer dan antroposfer. Contoh perdesaan, perkotaan, tempat atau kawasan untuk kegiatan rutin manusia bermasyarakat (missal, lahan pertanian, perkebunan dan kegiatan non pertanian). Dari cara pandang berdasarkan keruangan yang dipandang dari dua atau lebih penyusun keruangan maka obyek formal dapat dikembangkan menjadi cara pandang kelingkungan dan komplek wilayah atau regional komplek. BAB II METODE PENELITIAN GEOGRAFI 2.1. Metode, Sikap, dan Produk Penelitian Ilmiah 2.1.1 Metode Penelitian Ilmiah Penelitian Geografi merupakan penelitian Ilmiah, maka pendekatannya dituntut dilakukannya cara cara atau langkah-langkah tertentu dengan urutan tertentu untuk mencapai pengetahuan yang benar. Dengan pendekatan ilmiah orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah yaitu pengetahuan yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapapun yang ingin mengujinya (Direktorat Jendral Pendidikan tinggi,1983). Menurut Jujun S. Suria Sumantri (1984). Langkah-langkah metode Ilmiah adalah sebagai berikut: 1. Perumusan Masalah, merupakan pertanyaan mengenai obyek yang jelas batas batasnya serta dapat diidentifikasi factor factor yang terkait di dalamnya. 2. Penyusunan kerangka berfikir dalam mengajukan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai factor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berfikir ini disusun secara rasional berdasarkan 3. pernyataan ilmiah yang diuji kebenarannya dengan memperhatikan factor empiris yang relefan dengan permasalahannya. Perumusan hipotesis, m,erupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan- pertanyaan yang diajukan, yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka piker yang dikembangkan. 4. Pengujian hipotesis, merupakan pengumpulan fakta – fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta yang mendukung hipotesis atau tidak. 5. Penarikan kesimpulan, merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Jika dalam proses pengujian hipotesis terdapat fakta yang cukup banyak mendukunghipotesis tersebut diterima. Sebaliknya ditolak. jika tidak cukup fakta yang mendukung maka hipotesis Untuk lebih jelasnya metode ilmiah dapat dilihat diagram alir Gambar 3.1. Perumusan masalah deduksi Khasanah Pengetahuan ilmiah Penyusunan kerangka pikir koheransi Prakmatisme Perumusan hipotesis Induksi korespondensi Pengujian hipotesis diterima Ditolak Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian Ilmiah 2.1.2 Sikap Ilmiah Dalam bekerja dengan menggunakan metode ilmiah, para ahli melandasi dirinya dengan sikap sikap tertentu yang disebut sikap ilmiah. Menurut siti Maryam, dkk (1980); sikap ilmiah meliputi hasrat ingin tahu, rendah hati, jujur, obyektif, kemauan untuk mempertimbangkan data baru, pendekatan positive terhadap kegagalan, bersikap terbuka, tiliti dsb. Sikap ilmiah merupakan perilaku para ahli dalam melakukan kegiatan kegiatan ilmiah. Untuk menjadi ilmiah, seseoarang harus dapat mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, meran-cang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisa data serta menarik kesimpulan. Sapai sejauh mana seorang ilmuwan dapat menerapkan sikap ilmiah dilihat bagaimana ia menggunakan metode ilmiah untuk membuat penemuan yang bermakna. 2.1.3 Poduk Ilmiah Suatu hipotesis yang diterima setelah diuji dengan menggunakan metode ilmiah merupakan produk ilmiah dan akan mejadi bagian ilmu pengetahuan. Produk ilmiah dapat berupa fakta, konsep, prinsip, teori, hukum dan sebagainya. Fakta adalah data nyata yang diperoleh dari pengamatan. Konsep adalah suatu gagasan atau ide yang digeneralisasikan dari pengalaman tertentu yang relevan. Prinsip adalah generalisasi dari konsep-konsep yang saling berhubungan. Teori adalah suatu generalisasi dari prinsip ilmiah yang saling berkaitan, yang menjelaskan gejala-gejala ilmiah. Hedro Darmodjo (1986) merumuskan teori adalah seperangkat pengertian (konsep), definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik dari berbagai fenomena dengan mengungkapkan adanya hubungan yang spesifik antar variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena. Hukum merupakan pernyataan yang mengungkapkan adanya hubungan antar gejala alam yang konsisten. Untuk memberikan gambaran maka produk ilmiah dapat dilihat pada gambar 3.2. Penelitianpenelitian baru terhadap fenomena fenomena alam Proses-proses ilmiah Produk-produk ilmiah baru Penelitian terhadap fenomena alam objek-objek hubunganhubungan dan sebagainya Sikap Ilmiah Hasrat ingin tahu Rendah hati Jujur Objektif Kemauan mempertimbangkan data baru Pendekatan positif terhadap kegagalan Determinasi Bersikap terbuka Teliti dan sebagainya Metode/proses ilmiah Mengidentifikasi problem Mengamati Merumuskan hipotesis Menganalisis Menguji Meramalkan Ekstrapolasi Mensintesis Mengevaluasi Fakta Konsep Prinsip Teori hukum Gambar 3.2 Produk Ilmiah 2.2. Produk Penelitian Geografi Penelitan geografi yaitu penelitian berkaitan dengan atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer dan atau anthroposfer yang cara pandangnya dapat berupa keruangan, kelingkungan atau komplek wilayah. Dalam penelitian sumberdaya lahan biasanya menggunakan pendekatan analitis, pendekatan sintatis atau pendekatan prakmatis. Untuk lebih jelasnya lihat pada Gambar 3. Geomorphology Landform and Geomorphological Processes Terrain Analytical Survey Pragmatic Survey Synthetic Survey Morfometri Morfografi Proses Morfogenesis Morfokronologi Pemetaan lereng Survei keterlintasan jalan Survei penutup jalan Pemetaan morfo-konservasi Pemetaan hidro-morfologi Pemintakatan bahaya banjir Survei kekeringan Bentuk lahan Tanah/sediment Air permukaan/air tanah Vegetasi alami/budaya Iklim 2.3. Latar Belakang Masalah Suatu masalah selalu berada dalam jaringan gejala lain yang menimbulkan masalah tersebut. Jaringan yang menimbulkan masalah itulah yang merupakan latar belakang masalah. Latar belakang masalah mengemukakan berbagai hal yang mengakibatkan munculnya masalah. Berbagai permasalahan yang muncul tersebut harus diidentifikasikan karena suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri, melainkan terkait dengan masalahmasalah yang lain. Disamping itu, latar belakang masalah harus mengemukakan penalaran tentang pentingnya pembahasana masalah atau ulasan yang mendorong pemilihan topik. Hal lain yang harus termuat dalam latar belakang masalah ini adalah terkait dengan persoalan Keaslian Penelitian. Keaslian penelitian dikemukakan dengan menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi belum pernah dipecahkan oleh peneliti terdahulu atau dinyatakan dengan tegas perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sudah dilakukan. 2.4 Pembatasan dan Perumusan Masalah Masalah merupakan problem-problem atau persoalan yang dihadapi yang harus dipecahkan atau harus dicari jawabannya dalam penelitian. Oleh karena itu, kompleksitas permasalahan ini bisa menyulitkan peneliti, maka peneliti perlu melakukan pembatasan masalah agar kedalaman analisisnya tetap terjaga. Setelah masalah dibatasi, maka langkah berikutnya adalah membuat perumusan masalah. Masalah yang bisa dirumuskan dengan jelas sudah merupakan separuh jalan menuju perolehan jawaban. Selain itu, perlu juga diuraikan kedudukan masalah yang akan diteliti itu dalam lingkup permasalahan yang lebih luas. Uraikan pende-katan dan konsep untuk menjawab masalah yang diteliti, hipotesis yang akan diuji (kalau ada) atau dugaan yang akan dibuktikan. Perumusan masalah secara jelas dan eksplisit harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan sehingga bisa lebih mengundang pemikiran ke arah jawaban yang akan dicari melalui penelitian yang dilakukan. Catatan : apabila permasalahan penelitian sudah spesifik, mungkin tidak memer-lukan pembatasan masalah. 2.5. Hipotesis Hipotesis memuat pertanyaan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi dan masih harus dibuktikan kebenarannya. Jawaban sementara itu ditemukan dari teori-teori yang dikaji dengan kerangka berpikir tertentu diramu dan diarahkan untuk bisa dirumuskan. Hipotesis pada dasarnya merupakan suatu dugaan. Dengan demikian, hipotesis bisa terbukti benar atau salah. 2.6. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan Penelitian merupakan upaya pokok yang akan dikerjakan di dalam pemecahan masalah. Tujuan penelitian berisi rumusan secara spesifik tujuan yang ingin dicapai oleh penelitian ini. Tujuan penelitian merupakan jawaban terhadap permasalah yang telah dirumuskan dalam perumusan masalah. Berikan pernyataan singkat mengenai tujuan penelitian. Penelitian dapat bertujuan untuk menjajagi, menguraikan, menerangkan, membuktikan atau menerapkan suatu gejala, konsep, atau dugaan, atau untuk menyusun suatu prototip. b. Manfaat Penelitian. Manfaat penelitian merupakan kegunaan penelitian. Di sini peneliti harus menyebutkan dengan jelas kegunaan penelitian yang akan digunakan. Kegunaan penelitian antara lain: untuk peneliti sendiri, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, pemecahan masalah pendidikan, pemecahan masalah sosial, pemecahan masalah pembangunan dan lain-lain. 2.7. Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis tentang hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu dan ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Penyajian tinjauan pustaka hendaknya menunjukkan bahwa permasalahan yang akan diteliti belum terjawab atau belum terpecahkan secara memuaskan pada penelitian terdahulu. Fakta-fakta yang dikemukan sejauh mungkin diambil dan sumber aslinya. Semua sumber yang dipakai harus disebutkan dengan mencantumkan nama penulis dan tahun penerbitan. Usahakan pustaka terbaru, relevan dan asli semacam jurnal ilmiah. Uraikan dengan jelas kajian pustaka yang menimbulkan gagasan dan mendasari penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan pustaka menguraikan tentang teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh dari berbagai hasil penelitian lain baik yang dilakukan oleh peneliti lain maupun oleh peneliti itu sendiri sebagai landasan bagi penelitian yang diusulkan. Uraian dalam tinjauan pustaka dimaksudkan untuk menunjukkan segi kebaruan dan keaslian penelitian, menunjukkan hubungan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian lain yang sudah ada, dan untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan. Uraikan dengan singkat dan jelas kerangka/landasan teoritik yang digunakan sebagai dasar/acuan untuk melakukan pendekatan terhadap perma-salahan penelitian. 2.8. Landasan Teori/Kerangka Teori Landasan teori/kerangka teori dijabarkan dari tinjauan pustaka dan disusun sendiri oleh mahasiswa sebagai tuntutan untuk memecahkan masalah penelitian dan untuk merumuskan hipotesis. Landasan teori dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis atau persamaan-persamaan yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang diteliti. Landasan teori pada dasarnya merupakan arahan penalaran untuk bisa sampai pada pemberian jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Landasan teori ini dimaksudkan untuk mengungkapkan prinsip prinsip teori yang dapat menggambarkan langkah dan arah analisis sehingga landasan teori ini hanya memuat teori-teori yang dipergunakan dalam suatu penelitian. Catatan: Untuk bidang ilmu tertentu digunakan istilah kerangka pemikiran. 2.9. Rencana Penelitian Rencana penelitian merupakan Jembatan yang menghubungkan antara hipotesis dengan metodologi penelitian dan mengandung uraian singkat langkah-langkah yang akan diambil untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Rancangan penelitian, variabel yang akan diteliti, dan perkiraan kisaran nilainya diuraikan dengan jelas. 2.10. Data dan Metode Penelitian Salah satu komponen utama dalam penelitian ilmiah adalah adanya metode penelitian ilmiah yang harus dijelaskan secara rinci. Uraian dapat meliputi variabel dalam penelitian, model yang digunakan, rancangan penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data, cara penafsiran dan penyimpulan hasil penelitian. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dapat menjelaskan pendekatan yang digunakan, proses pengumpulan dan analisis data, proses penafsiran dan penyimpulan hasil penelitian. Metode penelitian yang digunakan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian metodologi penelitian mengandung uraian singkat tentang: bahan atau materi penelitian, alat yang digunakan dalam penelitian, metode dan teknik, variabel dan data yang akan dikumpulkan, serta analisis hasil. a. Bahan atau materi penelitian. Bahan atau materi penelitian dapat berwujud populasi atau sampel, atau bahan lainnya. Bahan harus dikemukakan dengan jelas dan disebutkan sifat-sifat atau spesifikasinya. b. Alat dan Bahan. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian harus diuraikan dengan jelas dan kalau perlu disertai dengan gambar dan keterangan-keterangan. c. Variabel. Variabel yang akan diteliti dan data yang akan dikumpulkan diuraikan dengan jelas, termasuk Jenis dan kisarannya. d. Metode dan teknik. Metode memuat uraian tentang metode yang digunakan, misalnya: Komparatif, eksperimen, atau yang lain, sedang teknik memuat uraian mengenai cara mengumpulkan data, misalnya: wawancara, obeservasi, kuesi-oner, atau cara yang lain; cara menganalisis data berisi uraian tentang model dan cara menganalisis hasil dan cara mengambil kesimpulan. 2.11. Daftar Pustaka Daftar pustaka merupakan daftar buku, majalah, artikel di dalam majalah atau surat kabar, atau artikel di dalam kumpulan karangan (antologi) yang digunakan sebagai acuan di dalam pengumpulan data, analisis/pembahasan, atau penyusunan usulan penelitian. Daftar pustaka merupakan persyaratan suatu karya ilmlah. Daftar pustaka ini disusun kebawah menurut abjad nama akhir penulis pertama. Buku dan majalah tidak dibedakan, kecuali penyusunannya ke kanan. Judul buku atau majalah diberi garis bawah atau dicetak miring. Antara nama penulis, tahun terbit, judul buku, dan kota terbit dipisahkan dengan tanda titik (.). Antara kota terbit dan penerbit dipisahkan dengan tanda titik dua atau colon (:). a. Buku Pustaka yang berupa buku ditulis secara berturut-turut: nama penulis (tanpa gelar kesarjanaan), tahun terbit, judul buku, jilid, terbitan ke, nomor halaman yang diacu (kecuali kalau seluruh buku), kota tempat buku itu diterbitkan dan nama penerbit. b. Majalah Pustaka yang berupa majalah atau jurnal ditulis secara berturutturut: nama penulis (tanpa gelar kesarjanaan), tahun terbit, judul tulisan, nama majalah dengan singkatan resminya,jilid, dan nomor halaman yang diacu. Judul artikel ditulis di antara dua tanda kutip ("......"), sedangkan nama majalah atau jurnal ditulis dengan diberi garis bawah atau cetak miring. c. Buku lembaga Buku lembaga adalah buku yang dikeluarkan oleh suatu lembaga (pemerintah, swasta, perusahaan) yang ditulis oleh suatu komisi, panitia atau asosiasi tanpa menyebutkan penulis individu. Pustaka yang berupa buku lembaga seperti ini disebutkan secara berturut-turut: nama lembaga (meskipun sekaligus penerbit), tahun terbit, judul buku, kota terbit dan penerbit. d. Buku anonim Buku anonim adalah sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit tertentu tanpa menyebutkan penulisnya. Pustaka yang berupa buku anonim seperti ini jangan disebut dengan istilah anonim melainkan langsung dengan judul, tahun terbit, kota terbit dan nama penerbit. Terdapat beberapa perbedaan cara penulisan daftar pustaka ini antara bidang ilmu yang satu dengan bidang ilmu yang lain, seperti penggunaan tanda baca yang memisahkan nama penulis, tahun terbit,judul buku dan lain-lain. Namun demikian, prinsip prinsip yang digunakan secara garis besar sama. BAB III FUNGSI PETA DAN FOTO UDARA DALAM PENELITIAN GEOGRAFI 3.1. Fungsi Peta Di dalam kehidupan sehari-hari, peta bukanlah sesuatu yang asing didengar, bahkan saat ini oleh banyak kalangan atau lembaga, peta digunakan sebagai sumber informasi mengingat kelebihan informasinya yang menyertakan unsur spatial (keruangan) di dalamnya. Di dunia pendidikan istilah peta telah dikenalkan pada para siswa sejak di bangku sekolah dasar, bahkan taman kanak-kanak. Pengenalan tentang peta sejak dini kepada para siswa sangat bermanfaat dalam menanamkan image, mengenai betapa pentingnya arti sebuah peta dalam menemukan atau menuju suatu lokasi. Peta adalah representasi gambaran unsur-unsur atau kenampakan- kenampakan abstrak yang dipilih di permukaan bumi atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi (benda-benda angkasa), yang umumya digambarkan pada suatu bidang datar dan skalakan/diperkecil (ICA, 1973 dalam Mas Sukoco, 1985). Peta ditinjau dari isinya dikelompokkan menjadi peta umum, peta khusus, dan chart. Peta umum berisi gambaran umum dari permukaan bumi seperti gunung, sungai ,bukit, dan lainnya. Peta khusus adalah peta yang memuat gambaran yang bersifat khusus, seperti produksi pertanian, pariwisata, dan lainnya, dan chart adalah sket permukaan bumi. Mengapa peta diperlukan? Menurut Dickinson (1973) ada beberapa alasan tentang pentingnya penggunaan peta, yaitu : dapat menyederhanakan dan memperjelas aspek/obyek penting yang terpilih, dapat menimbulkan daya tarik yang lebih besar pada obyek yang ditampilkan, dapat mengungkapkan lebih singkat penjelasan dalam uraian atau pembicaraan, dapat berperan sebagai sumber data bagi pengguna. Peta dapat digunakan sebagai sumber informasi/data bagi terlaksananya program pembangunan yang diinginkan. Selain itu dari peta yang dihasilkan dapat dilakukan evaluasi secara geografis, yaitu dapat menguraikan tentang persebaran, jumlah dan perkembangan suatu obyek. Oleh karena peta berperan sebagai media komunikasi, maka pembuat peta harus dapat mengungkapkan obyek dengan benar, mudah dimengerti, dan dapat memberikan gambaran situasi obyek, walaupun dinyatakan dengan simbol kepada pengguna peta. Untuk keperluan tersebut maka pembuat peta perlu memperhatikan prinsip kartografis yaitu tentang tata letak, peta dasar, digunakan ( Keates, 1973). Peta sangat membantu bagi penggunanya, karena dalam peta merupakan hasil pengecilan fenomena geografis yang sangat kompleks. Oleh karenanya dengan menggunakan peta, maka semua data, informasi maupun potensi daerah yang terkandung di dalamnya dapat dengan mudah dan cepat difahami. Pada, era komputerisasi dewasa ini, teknik penggambaran peta secara manual dengan menggunakan alat-alat konvensional (rapido, sablon, rugos d1l) dianggap sudah agak tertinggal, walaupun masih banyak yang tetap menggunakannya. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor keterbatasan, diantaranya adalah: kemampuan, kesempatan, ketersediaan fasilitas (sarana prasarana), biaya serta keterbatasan informasi. Berbicara tentang peta tentunya terkait dengan banyak hal, seperti ilmu dasar (ilmu induk tentang peta), jenis-jenis peta, cara pembuatan dan penyajiannya. Tulisan ini disampaikan untuk sedikit memberikan gambaran tentang beberapa konsep dasar yang berkaitan peta yang dikemas secara singkat dan sederhana berdasarkan beberapa rujukan dan instuisi penulis. Konsepsi dasar yang dimaksud dalam tulisan adalah beberapa, istilah dalam ruang lingkup pembicaraan mengenai peta. Hal ini dirasa penting agar diperoleh suatu pemahaman yang komprehensif tentang peta, sehingga terhindar dari kemungkinan munculnya pembiasan makna dalam mempelajari dan mengkaji peta. Beberapa konsepsi dasar yang dimaksud meliputi; kartografi, peta, pemetaan dan pemetaan digital. penentuan simbol yang a. Kartografi Kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pembuatan peta-peta berikut studinya sebagai dokumen ilmiah dan hasil kerja seni (ICA: 1973). b. Peta Peta adalah suatu representasi unsur-unsur atau kenampakan-kenampakan abstrak yang dipilih di permukaan bumi atau yang berkaitan dengan permukaan bumi, yang umumnya digambarkan dalam sebuah bidang datar dengan penggunaan skala tertentu. Berdasarkan teknologi yang dipergunakan, peta dibagi menjadi dua, yaitu peta, format manual dan peta format digital. c. Pemetaan Segala kegiatan yang berkaitan dengan proses penggambaran ataupun penyusunan peta mulai dari survei awal hingga penyajian hasil, dalam hal ini adalah peta itu sendiri, baik dilakukan dengan metode terestris atau pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat ukur theodolit. Berasarkan sarana/alat yang dipergunakan, pemetaan dibedakan menjadi dua macam, yaitu pemetaan manual dan pemetaan digital. d. Pemetaan Digital Pemetaan Digital adalah suatu teknik penggambaran/penyusunan peta dengan menggunakan fasilitas komputer, baik perangkat keras/hardware (=komputer, plotter/printer dan digitaizer) maupun perangkat lunak/software (=program: mapinfo, arcinfo, arcview dsb) dengan produk/output informasi keruangan (spasial) berupa peta digital yang dapat disimpan dalam suatu CD, disket maupun harddisc. Adapun sistem yang menaungi teknologi pemetaan digital telah dikenal secara luas dengan nama: Sistem Informasi Geografi (SIG/GIS). 3.1.1. Fungsi Peta dalam Penelitian Geografi Peta sebagai suatu data memiliki kelebihan dibandingkan dengan sumber-sumber data lain. Kelebihan tersebut terletak pada informasi yang disajikan, yang menyertakan unsur spatial (keruangan) di dalamnya. Unsur spatial dalam hal ini ditunjukkan dalam bentuk unsur site (lokasi) dari data yang bersangkutan. Secara garis besar, arti penting peta dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu ; arti penting umum dan arti penting khusus. Arti penting umum: peta berperan sebagai media komunikasi, sedangkan arti penting khusus; peta dapat berperan sebagai; media perencanaan dan pengambilan keputusan, media riset/penelitian dan media informasi umum. a. Peta. sebagai.Media Komunikasi Sebagaimana layaknya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya, tentu memerlukan serangkaian proses dari mulai kelurnya suara atau bahasa sampai pada suara atau bahasa tersebut diterima. Sama halnya dengan suara, peta juga dapat berperan sebagai media komunikasi (tidak langsung). Peta sebagai media komunikasi dapat dijabarkan sebagaimana skema pada Gambar 5. Bagaimana agar komunikasi tak langsung melalui peta dapat berjalan dengan baik (komunikatif ?) Jawabnya sederhana, yaitu peta digambar atau disusun berdasarkan aturan/kaidah kartografis. b. Peta sebagai Media Perencanaan Pada umumnya sebagai media atau sarana perencanaan, peta, dipergunakan oleh instansi/pejabat/planner dalam pengambilan keputusan (kebijakan), yang biasa dikaitkan dengan pembangunan. Beberapa pointer kontribusi peta dalam perencanaan, diantaranya adalah : − − − Untuk memberikan informasi pokok dan aspek spatial (keruangan) Sebagai sarana analisis untuk menyimpulkan suatu fenomena Sebagai sarana. menjelaskan rencana-rencana yang diajukan mengenal karaktenstik suatu daerah. kaitannya dengan unsur ruang atau lokasi. c. Peta sebagai Media Riset/Penelitian Adapun sebagai media riset/penelitian/studi, konstribusi peta dapat dijabarkan dalam beberapa hal, diantaranya adalah: − − − − − Bahan orientasi medan untuk memperoleh gambaran/diskripsi Sebagai media pengeplotan data yang diperoleh dari lapangan. Sebagai media untuk menyajikan hasil penelitian atau studi. Sebagai sarana untuk menjelaskan penemuan-penemuan penelitian Sebagai alternatif cara menyajikan data statistik. tentang daerah yang akan diteliti. 3.1.2. Penggunaan Peta Peta mencerminkan berbagai tipe informasi unsur muka bumi atau yang berkaitan dengan muka bumi. Kelebihan penyajian informasi melalui peta adalah bahwa peta secara langsung menginformasikan pola sebaran keruangan dari unsurunsur yang digambarkan. Untuk dapat menggunakan peta secara baik dan benar, sebaiknya dan interpretasi peta. a. Pembacaan Peta Pada tahap ini pengguna peta mencoba mengidentifikasi simbol atau membaca apa arti simbol. Untuk dapat membaca arti simbol pengguna perlu mengenal bahasa peta. Bahasa peta tercermin dalam informasi tepi peta yang meliputi : judul, skala, orientasi arah, sumber pembuat peta, proyeksi, koordinat serta keterangan atau legenda. Sebelum berusaha mengartikan simbol-simbol peta, pengguna disarankan untuk mempelajari dulu informasi-informasi tepi peta, dengan demikian begitu melihat simbol seorang pengguna peta tidak ragu lagi tentang makna atau bentuk unsur lingkungan yang tercermin dalam peta. Suatu langkah yang tidak benar manakala pengguna langsung berusaha menterjemahkan arti simbol-simbol dalam suatu peta tanpa terlebih dahulu menyimak informasi tepinya. b. Analisis Peta Apabila simbol peta telah dapat dimaknai oleh pengguna, maka tahap berikutnya adalah mengukur atau mencari nilai metrik dari unsur-unsur ayang tergambar melalui pentahapan. Ada tiga tahap penggunaan peta, yaitu : pembacaan peta, analisis peta pada peta. Unsur yang tergambar pada peta dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : Posisional (titik ketinggian, sumur, tambang, pusat pelayanan dan lain-lain), Linier (jalan, sungai, rel KA, garis pantai dan lain-lain), Volume (volume waduk, volume gundukan dan lain-lain). c. Interpretasi Peta Tahap ketiga yaitu interpretasi peta, pengguna beusaha mencari jawaban mengapa di bagian tertentu terjadi pengelompokan (pola) yang berbeda dengan pola pada bagian lain dari peta yang sama. 3.1.3. Peta Kartografis Dalam konteks pembicaraan yang sederhana, arti penting peta lebih didefinisikan sebagai media petunjuk mengenai suatu tempat/lokasi atau gambaran tentang bagaimana suatu tempat/lokasi dapat dituju. Batasan sederhana mengenai arti penting peta tersebut tidaklah salah, karena pada dasarnya substansi sebuah peta adalah lokasi (agihan spasial obyek), berbicara tentang peta, maka dengan sendirinya berbicara tentang lokasi atau letak. Dalam perkembangannya, peta telah dimanfaatkan secara meluas dalam berbagai bidang, baik untuk keperluan akademis maupun non akademis; tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu yang berbasis kebumian saja melainkan semua disiplin yang melibatkan unsur lokasi dapat menggunakan peta sebagai penunjang kajiannya. Berbicara masalah pemanfaatan peta tidak akan lepas dari syarat sebuah peta dapat dipergunakan secara baik. Ada beberapa syarat atau kaidah yang harus dipenuhi agar sebuah peta dapat memberikan manfaat yang besar bagi pengguna, dan beberapa syarat tersebut terangkum dalam sebuah kaidah yang dapat disebut “kaidah kartografis”. Peta yang dibuat atau digambar dengan mengikuti aturan atau kaidah kartografis disebut dengan Peta Kartografis. Bagaimanakah seharusnya kriteria suatu peta agar disebut berkaidah kartografis? Peta yang baik adalah peta yang benar penyajian datanya dan menarik visualisasinya. Di dalam suatu peta yang baik, apapun jenis dan temanya; siapapun pembuatnya selalu dapat dijumpai unsur-unsur peta, yang meliputi : Judul atau tema peta, skala peta, orientasi arah utara, legenda/simbol, inset peta, batas (letak) astronomis atau koordinat geografisnya, sumber data, dan pembuat/penyusun peta. Disamping itu dari aspek estetika, faktor leterring penting diperhatikan sehingga visualisasinya menarik a. Judul atau tema peta Peta yang memiliki tema tertentu dalam ilmu kartografi disebut dengan peta tematik. Tema peta tercermin dalam judul peta. Judul peta mencerminkan isi peta. Peta yang tidak mimiliki judul peta disebut peta buta dan tidak dapat dijadikan referensi untuk menurunkan/menyusun peta-peta tematik lain. Kaidah penulisan judul peta diantaranya adalah sebagai berikut : daerahnya; jenis huruf kapital dengan ukuran disesuaikan ukuran kertas atau media penggambaran yang lain, bentuk huruf standar/baku dan tidak boleh bernuansa “art (seni)”; daerahnya; Contoh 1 : KECAMATAN JATINOM KABUPATEN KLATEN Contoh 2 : KABUPATEN KLATEN TAHUN 2005 b. Skala peta Skala peta mencerminkan ukuran-ukuran dalam peta. Unsur-unsur metrik dalam suatu peta, seperti : jarak dan luas tidak dapat dianalisis. Skala peta adalah perbandingan satuan panjang (jarak) antara dua titik di peta dengan jarak riil di penataan baris dengan sistem ‘center’. susunan penulisan judul terpisah antara nama (tematik) peta dengan judul berisi nama (tematik) peta dan daerahnya, sering pula judul peta nama (tematik) peta dibuat dengan ukuran lebih besar dari nama ditambah unsur waktu tergantung sifat kedinamisan data yang dipetakan; PETA ADMINISTRASI PETA KEPADATAN PENDUDUK lapangan. Skala peta adalah kunci analisis kuantitatif peta. Peta yang tidak memiliki skala juga disebut peta buta, tidak dapat dijadikan referensi dan tidak dapat dijadikan pembanding dengan peta lain. Tidak adanya skala menjadikan suatu peta terbatas penggunannya. Skala peta dapat disajikan dalam beragam bentuk atau cara, diantaranya adalah : 1 . dengan ‘kata-kata’, misal : one inch one miles, artinya tiap satu inci di dengan ‘perbandingan angka numeric’, misal : 1 : 100.000 atau 100.000 yang berarti 1 cm di peta mewakili jarak 100.000 cm di lapangan dengan ‘grafis atau garis’, misal : 1 0 2 km 1cm 2cm peta setara atau mewakili jarak satu mile di lapangan; skala tersebut menunjukkan 1 cm = 1 km  1 cm = 1000 meter  1 cm = 100.000 cm, sehingga skala petanya adalah 1 : 100.000; skala ini dapat pula dihitung dari 2 cm = 2 km  2 cm = 2000 meter  2 cm = 2000 meter atau 200.000 cm, sehingga skala petanya adalah 1 : 100.000. Kaidah penulisan atau pencantuman skala dalam suatu peta secara umum adalah sebagai berikut : skala tidak boleh diberi satuan, walaupun tidak bersatuan namun antara pembilang dan penyebut harus berada pada satuan yang yang sama, untuk Indonesia satuan tak tertulis tersebut adalah ‘centimeter’, misal 1 : 10.000, skala ini sebenarnya adalah 1 cm : 10.000 cm pembilang pada skala peta harus ‘1’ pencantuman skala dalam suatu peta yang lengkap adalah cara perbandingan angka numeric selanjutnya cara grafis yang didesain di sebelah bawah skala numeric, contoh : 1 : 100.000 1 - 0 2 km pencantuman skala akan lebih baik jika diletakkan sehabis judul peta, atau dengan kata lain menjadi satu kesatuan dengan judul peta c. Orientasi arah utara Peta dalam pandangan kebanyakan orang selalu dikaitkan dengan letak, lokasi ataupun posisi suatu tempat atau obyek. Letak atau posisi obyek di permukaan bumi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : letak/posisi absolut dan letak/posisi relatif. Penyebutan “sebelah timur, sebelah utara” adalah contoh dalam menyatakan letak relatif. Penyebutan tersebut tidak mungkin dilakukan pada saat membaca peta tanpa mengetahui orientasi arahnya. Orientasi arah juga membantu pengguna/pembaca peta dalam menemukan lokasi yang dicari. Tidak ada kaidah baku dalam mendesain orientasi arah. d. Legenda Legenda atau simbolisasi data dalam peta mutlak harus ada. Peta tanpa legenda juga disebut peta buta. Legenda dalam suatu peta merupakan anak kunci untuk membuka informasi yang terkandung dalam sebuah peta. Pembuatan legenda (simbolisasi) yang baik dan benar memudahkan orang menangkap isi peta. Legenda/simbol berfungsi sebagai sarana mengkomunikasikan data. Sarana komunikasi antara pembuat dan pembaca/pengguna peta adalah simbol/legenda. Berdasarkan bentuknya, ada tiga jenis simbol penyajian data dalam sebuah peta, yaitu : simbol titik, simbol garis dan simbol area; masing-masing jenis simbol menurut sifatnya dibagi menjadi dua, yaitu : kualitatif dan kuantitatif, sehingga ada simbol : titik kualitatif dan kuantitatif, garis kualitatif dan kuantitatif serta area kualitatif dan kuantitatif. Bentuk dari simbol-simbol tersebut dapat dilihat pada contoh-contoh berikut. Contoh 1 : Legenda/simbol titik a. Kualitatif b. Kuantitatif a. Kualitatif : ◘ : : = kantor kecamatan, = 100 = jalan, ☼ = mataair = 200 = batas propinsi Contoh 1 : Legenda/simbol garis b. Kuantitatif a. Kualitatif b. Kuantitatif : : : = 50 km/jam = sawah = rendah = 100 km/jam = hutan = tinggi Contoh 1 : Legenda/simbol area Disamping model simbol di atas ada pula model lain untuk simbolisasi data-data statistik, pada umumnya berupa diagram batang maupun lingkaran. e. Inset peta Inset peta adalah petunjuk letak wilayah yang dipetakan jika dilihat dari wilayah yang lebih luas. Inset peta merupakan orientasi letak peta. Inset penting karena membantu pembaca atau pengguna peta untuk mengetahui lokasi keberadaan wilayah yang dipetakan dilihat dari hirarki wilayah di atasnya. Kaidah umum pencantuman Inset dalam sebuah peta diantaranya adalah : Contoh inset peta : PETA DESA X Inset peta Kec. Ceper Skala 1 : 100.000 : desa X inset digambar dengan skala lebih kecil dan harus meliput daerah pemetaan inset tidak perlu dibuat menonjol dan terlalu besar f. Koordinat geografis Pada dasarnya setiap jengkal tanah di permukaan bumi ini memiliki koordinat geografis yang berbeda-beda, dengan kata lain satu titik di permukaan bumi memiliki satu koordinat geografis. Koordinat geografis dalam sebuah peta berfungsi sebagai petunjuk mengenai posisi peta (wilayah pemetaan) di permukaan bumi. Koordinat geografis dalam sebuah peta dapat berupa letak astronomis dan koordinat UTM. Letak astronomis dinyatakan dalam bentuk derajat bujur dan derajat lintang; untuk wilayah Indonesia dinyatakan dengan : derajat (…°. ….’ ….”) Bujur Timur (BT) dan derajat (…°. ….’ ….”) Lintang Selatan (LS). Adapun koordinat UTM (Universal Traverse Mercator) dinyatakan dengan mU (mewakili arah utara ataupun ordinat) dan mT (mewakili arah Timur ataupun absis). Tidak adanya koordinat geografis dalam suatu peta menjadikan peta yang bersangkutan sulit untuk dirujuk posisinya di permukaan bumi. Kaidah pencatuman koordinat geografis dalam sebuah peta adalah : koordinat dicantumkan pada frame peta sesuai batas riil terluar wilayah/daerah yang dipetakan; bilangan koordinat yang dicantuman pada model ini pada umumnya tidak bulat, misalnya : 7° 25’ 21,15” LS. koordinat dicantumkan pada frame peta mengikuti grid-grid peta; bilangan koordinat yang dicantuman pada model ini pada umumnya bulat, misalnya : 7° 25’; atau dengan koordinat UTM , misalnya : 470000 mT (peta digital dengan koordinat UTM umumnya masuk kelompok ini. Contoh 1 : koordinat sesuai batas riil wilayah 110° 14’ 23” BT 7° 24’17” LS 110° 24’ 11,5” BT 7° 28’22” LS Contoh 2 : koordinat mengikuti grid peta 110° 10’ BT 110° 25’ BT 7° 20’ LS 7° 30’ LS Contoh 3 : koordinat UTM mengikuti grid peta 465000 mT 9200000 mU 470000 475000 480000 9190 000 mU g. Sumber data Sumber data perlu dicantumkan dalam peta agar pembaca atau pengguna peta tahu : (1) data apa saja yang digunakan dalam penggambaran atau penyusunan peta, (2) dari mana data diperoleh atau dikumpulkan. Informasi ini penting karena orang akan tahu ; (1) validitas data yang disajikan, (2) peta yang dibuat tersebut apakah hanya “disalin” (si pembuat hanya menyalin atau menggambar ulang dari sumber yang digunakan), ataukah peta tersebut “disusun” (benar-benar merupakan hasil karya si pembuat peta). Kaidah umum penulisan sumber data diantaranya adalah : teks ditulis sebagaimana umumnya penulisan teks dalam naskah, tidak jenis huruf standar/baku dengan ukuran disesuaikan dengan tempat dibenarkan penulisan dengan huruf besar semua yang tersedia dan banyak sedikitnya jenis sumber data. h. Pembuat peta Informasi mengenai si pembuat peta penting dicantumkan agar peta dapat dirujuk dan dipertanggungjawabkan isinya. Informasi tentang pembuat atau penyusun peta pada umumnya disertai dengan tahun pembuatan. Peta bukanlah sekedar gambar, namun gambar yang dapat memberikan atau menyajikan informasi tentang fenomena-fenomena serta berbagai kemungkinan saling hubungan antar berbagai fenomena di permukaan bumi. Peta akan dapat memerankan fungsinya dengan baik dan optimal manakala peta dibuat dengan mengikuti kaidah penggambaran peta sesuai ilmu yang manaunginya, yaitu kartografi. Peta berkaidah kartografis, baik yang berformat manual maupun digital akan memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan dan pembangunan. Informasi spasial dalam bentuk peta telah diakui secara luas sebagai informasi yang sangat berguna karena kelebihan yang dimilikinya, yaitu data pada peta selalu menyertakan unsur lokasi di dalamnya. Dewasa ini paradigma pemetaan telah mengalami pergeseran dari manual ke digital. Perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (GIS) sebagai perangkat penghasil peta-peta format digital telah menyediakan berbagai fasilitas penunjang dalam mendesain layout sebuah peta, sehingga kaidah kartografisnya dapat terpenuhi secara baik dengan akses cepat. 3.2. Fungsi Foto Udara Di kalangan akedemisi dan praktisi yang menggeluti bidang-bidang yang berbasis kebumian ataupun landscape, seperti : geodesi, geologi, geografi, pertambangan, kehutanan dan planologi, citra foto udara bukanlah sesuatu yang asing didengar. Hal ini disebabkan foto udara merupakan salah satu sumber data spasial yang sangat berguna bagi bidang-bidang tersebut, baik untuk keperluan research maupun proyek. Citra foto udara merupakan salah satu dari sekian banyak citra penginderaan jauh yang sampai saat ini masih dimanfaatkan, mengingat kelebihannya yang dapat menampilkan kenampakan tiga dimensi melalui pengamatan stereoskopis. Sebenarnya kemajuan teknologi pemetaan dan penyadapan data spasial sekarang ini telah cukup maju, dengan hadirnya citra-citra penginderaan jauh yang memiliki resolusi spasial tinggi dengan pereode perekaman pendek, seperti : Citra Ikonos dan Quikbird. Penginderan jauh (remote sensing) adalah ilmu memperoleh informasi permukaan bumi melalui analisis data yang diperoleh dengan menggunakan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek di permukaan bumi. Dalam ilmu penginderaan jauh, citra dibedakan dalam berbagai kategori. Berdasarkan systim atau tenaga perekamnya, citra dibedakan menjadi systim aktif dan pasif, sedangkan berdasarkan wahana yang membawa alat perekamnya, citra dibedakan menjadi dua, yaitu citra foto udara dan citra satelit. Di dalam tulisan ini citra yang akan dibicarakan adalah foto udara. 3.2.1. Kelebihan Foto Udara Berdasarkan panjang gelombangnya foto udara dibedakan menjai tiga, yaitu : ultraviolet, pankromatik dan inframerah. Foto udara pankromatik sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu hitam putih dan berwarna. Di dalam beberapa kegiatan penelitian geografi jenis foto udara pankromatik hitam putih sering digunakan. Ada beberapa kelebihan yang dimiliki jenis citra ini disbanding citra foto lain, diantaranya adalah : (1) kenampakan yang terlihat sesuai aslinya di lapangan sehingga mudah dikenali; (2) pengamatan stereokopis terhadap citra foto ini dapat menampilkan kenampakan tiga dimensi sehingga memudahkan identifikasi obyek di permukaan; (3) rencana pengambilan sample di lapangan dapat dilakukan secara langsung di atas citra; (4) obyek penelitian dapat diinterpretasi langsung di laboratorium tanpa tergantung oleh kondisi lapangan dan keadaan cuaca; (5) foto udara memiliki resolusi temporal yang baik sehingga mampu digunakan untuk mengkaji perkembangan obyek permukaan bumi dari waktu ke waktu. 3.2.2. Interpretasi Foto Udara Interpretasi adalah penafsiran, sehingga bisa benar bisa juga salah. Banyak factor yang mempengaruhi ketepatan interpretasi seseorang terhadap obyek yang terlihat dalam citra foto udara. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah : (1) frekuensi melakukan interpretasi; (2) pemahaman interpreter terhadap obyek kajian; (3) penguasaan interpreter terhadap daerah kajian; (4) penguasaan interpreter terhadap instrument intrpretasi yang digunakan. Gambar 1 dan Gambar 2 adalah contoh foto udara pankromatik hitam putih dan kegiatan interpretasi foto udara di laboratorium Penginderaan Jauh Laboratorium fakultas geogafi UMS. Gambar 1. Foto udara daerah Klaten Gambar 2. Kegiatan interpretasi 4.2.3. Fungsi Foto Udara dalam Penelitian Geografi Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa citra adalah sumber data spasial permukaan bumi. Geografi adalah studi yang mempelajari atau mengkaji tentang fenomena-fenomena permukaan bumi. Fenomena permukaan bumi terutama yang bersifat fisik akan terlihat di dalam citra. Dalam berbagai kegiatan penelitian, penggunaan foto udara sudah mulai dilakukan pada awal penelitian, terutama bagi penelitian-penelitian yang memanfaatkan foto udara untuk penyusunan unit analisis atau satuan pemetaan, seperti unit lahan ataupun satuan bentuklahan. Untuk keperluan ini, terkait dengan obyek kajian seorang interpreter dituntut memiliki pemahaman mengenai konsep satuan pemetaan serta kemampuan dalam penyusunan petanya, sedangkan terkait dengan cara penyadapan data dari foto udara, seorang interpreter dituntut memiliki pemahaman dan kemampuan dalam pengamatan tiga dimensi. Penggunaan foto udara selain untuk penyusunan unit analisis atau satuan pemetaan, misalnya penyadapan data atau variable penelitian seperti kemiringan lereng ataupun penggunaan lahan, seorang interpreter dituntut untuk menguasai teknik penyadapan data sesuai karakteristik datanya. Contoh : data kemiringan lereng hanya dapat disadap jika seorang interpreter menguasai alat slopemeter atau penggunaan dan perhitungan paralaks bar; data penggunaan lahan hanya dapat disadap jika seorang interpreter mengerti tentang kunci-kunci pengenalan obyek dan kunci interpretasi. Penggunaan citra penginderaan jauh pada umumnya dan foto udara pada khususnya memang memiliki kelebihan dalam banyak hal, yaitu efektif dan efisien dalam pengertian data cepat disadap, hemat beaya dan tenaga. Data yang tersadap atau terkumpul adalah data-data hasil penafsiran interpreter yang masih memungkinkan adanya kesalahan, sebab hanya berdasarkan pada rekaman yang tersaji pada sebuah citra. Oleh karena itu, semua kegiatan interpretasi dengan menggunakan citra penginderaan jauh termasuk foto udara harus dilakukan verifikasi atau uji lapangan untuk penyempurnaan hasil interpretasi. Daftar Pustaka Azis, Lukman. 1977. Peta Thematik. Bandung: ITB Bintarto, 1987. Perkembangan Pemikiran Geografi. Makalah. Fakultas Geografi UMS Keates, JS, 1973. Cartographic Design and Production. London: Longma Group Ltd. Philip,C.Muchrhe. 1978. Map Use, Reading, Analisys and Interpretation. London: Longma Group Ltd. Sukoco, Mas., 1985. Kartografi Dasar. Yogjakarta: Fakultas Geografi UGM. Sinaga, M., 1997. Pengetahuan Peta. Yogjakarta: Fakultas Geografi UGM Sutanto, 1995. Penginderaan Jauh Dasar. Yogjakarta: Fakultas Geografi UGM Suharsono, dkk. 2006. Majalah Geografi Indonesia. Vol.20,No.2 September 2005.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful