VOL. 2. NO. 2.

SEPTEMBER 2006

ISSN:0216-3705

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadlirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas anugerahnya sehingga jurnal edisi kali ini berhasil disusun dan terbit. Beberapa tulisan yang telah melalui koreksi dari mitra bestari dan revisi dari penulis, pada edisi ini diterbitkan. Adapun jenis tulisan pada jurnal ini adalah hasil pemikiran konseptual dan penelitian. Redaksi mencoba selalu mengadakan pembenahan kualitas dari jurnal dalam banyak aspek. Beberapa pakar di bidangnya juga telah diajak untuk berkolaborasi mengawal penerbitan jurnal ini. Materi tulisan pada jurnal berasal dari dosen tetap dan tidak tetap STMIK AMIKOM serta dari luar STMIK AMIKOM. Tak ada gading yang tak retak begitu pula kata pepatah yang selalu di kutip redaksi, kritik dan saran mohon di alamatkan ke kami baik melalui email, faksimile maupun disampaikan langsung ke redaksi. Atas kritik dan saran membangun yang pembaca berikan kami menghaturkan banyak terimakasih. Redaksi

iv

DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi Lingkungan: Menciptakan Tantangan-tantangan bagi Manajemen Sumber Daya Manusia ................................................................................... 1
Abidarin Rosidi (STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pemberian Insentif terhadap Produktifitas Kerja pada PT. Baja Kurnia Klaten ........................................ 19
Anik Sri Widowati (STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Peran Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasional.............................. 30
Audith M. Tarmudhi (STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Pemberdayaan Ekonomi Rakyat untuk Mengatasi Pengangguran di Indonesia .................................................................................................. 40
Bambang Sudaryatno (STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Pengaruh Kewibawaan Pimpinan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan Kinerja Karyawan STMIK AMIKOM Yogyakarta ... 48
Mei Maemunah (STMIK AMIKOM Yogyakarta)

v

........ 76 Susi Haryanti (STMIK AMIKOM Yogyakarta) Lampiran vi ..........................Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Penentuan Usia Perkawinan pada Wanita Lajang di desa Soropaten kecamatan Karanganom kabupaten Klaten Jawa Tengah ...................................

Sebagai jawaban atas kondisikondisi ekonomi baru yang kompetitif. Kata Kunci: Manajemen SDM. atau untuk membangun suat bisnis dengan cara mengejar strategi baru.LINGKUNGAN : MENCIPTAKAN TANTANGANTANTANGAN BAGI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA Abidarin Rosidi1 Abstraksi Perubahan-perubahan dalam lingkungan sering mendahului perubahan-perubahan dalam organisasi. keluarganya dan kumunitaskomunitas mereka tinggal. perusahaan yang besar mungkin menaksir kembali kas bisnis-bisnisnya. atau dengan kata lain secara fundamental untuk mengubah pengoperasian-pengoperasian dalam suatu perusanaan. atau untuk memperluas melalui target-targetnya. atau untuk berkembang dalam arena global. contohnya. atau untuk membuat beberapa kombinasi penyesuaiannya. Lingkungan 1 Staff Pengajar STMIK AMIKOM Yogyakarta 1 . Taksirantaksiran seperti itu sering memuncak dalam suatu keputusan untuk memutuskan satu atau lebih unit bisnis. Perubahan dunia bisnis dunia yang sangat cepat sekali mempengaruhi kehidupan keseharian para pekerja/karyawan.

permesinan (51 persen penjualan asing) . Tetapi begitu kita memasuki abad ke-21.komputer-komputer dan alat alat kantor (59 persen penjualan asing) . Kondisikondisi sosia. mudah untuk melihat bagaimana banyak perusahaan mencari kesempatan-kesempatan tumbuh dalam pasar yang lainnya. Figurfigur populasi global membantu pasar Amerika Serikat yang prospektif. Ekonomi Global Karena kekayaan relatifnya. Pendahuluan Kondisi bisnis dan ekonomi bukan hanya kekuatan-kekuatan lingkungan yang penting yang harus perusahan penuhi.1.Auto(mobile dan bagian-bagianya (44 pesen penjualan asing) . Oleh karena itu. Konsumen di Amerika Serikat telah dipertimbangkan sebagai pasar paling luas di dunia untuk beberapa decade. penjualan ke luarnegeri/asing sekarang berjumlah antara sepertiga dan eua pertiga dari total penjualan. secara langsung mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja dan karakteristik/sifat orang-orang yang akhirnya disewakan sebagai karyawan. pilihan-pilihan karyawan dan lingkungan legal menghambat cara perusahan mengoperasikan dan cara mereka melayani karyawan-karyawannya.Tembakau (41 persen penjualan asing) 2 . Bagi beberapa industri di AmerikaSerikat. Sebagai tambahan. seperti tingkat populasi dan trend pendidikan. Industri-industri tersebut termasuhk : . perubahan ekonomi dan politik yang bervariasi membuka secara potensial bagi pasar-pasar konsumen yang luas untuk Negara-negara lainnya. Dengan rata-rata pendapatan orang-orang amerika dan pertumbuhan kekuatan tenaga (kerja) dalam langkah yang lebih lambat. pasar dunia mencari naik lebih penting untuk perusahaanperusahaan Amerika baik yang berskala kecil ataupun besar.

dan kekuatan tenaga kerja Amerika hanya 75 juta (orang). perusahaan multinasional Amerika Serikat bahkan menempatkan pos orang-orang luar sebagai langkah penting dlam suatu karir perusahaan.tidaklah hanya mengejutkan bahwa banyak perusahaan yang bermarkas besar di Negara berkembang memiliki proporsi yang besar untuk kekuatan kerja yang terletak dimana-mana. Sebagai misal: . Pasar-pasar kerja asing juga mempengaruhi minat.Indurstri Philips. Pimpinan bisnis AmerikaSerikat berharap utnuk mempercayai pada sumber-sumber tenaga kerja luar negeri.NV. Pada pertumbuahn 1994. kekuatan tenaga kerja dalam mengembangkan Negara akan berkembang sekitar 700 juta orang ditahun 2010. Meninggalkan Negara Asal Meskipun jumlah pendatang diaAmerikaSerikat lebih rendah hati. . Dalam beberapa situasi.- Produk-produk kimia (39 persen penjualan asing) Alat alat transportasi ( 34 persen penjualan asing) Pasar Kerja diseluruh dunia Pasar-pasar yang besar bagi produk-produk dan pelayanan bukan hanya sebagai pemikat perusahaan utuk masuk arena global.Separuh dari staff LM Ericsson bekerja dari luar Swedia. . kekuatan-kekuatan pekerja yang muda dan terdidik dalam menggembangkan Negara sangat attraktif. Bagi para pemberi kerja yang sedang mencari pekerja-pekerja yang dpt menyesuakan diri dan flesibel. Hal seperti itu.Lebih dari separuh karyawan-karyawan Matsushita Electic berasal dari luar Jepang.Perusahaan motor Ford memiliki setengah karyawankaryawannya diluar Amerika Serikat. posisi-posisi yang terjadi lebih penting bagi para perusahaan. 3 . memiliki tiga perempat karyawankaryawanyya yang bekerja dari luar Belanda. .

800 persen. perusahan-perusahaan akan membutuhkan suatu reputasi sebagai mitra/kawan. Mereka juga akan memerlukan orang-orang yang mampu dan termotivasi serta produktif dalam kerja dan tetap setia pada home base/pangkalan induk. globalisasi berarti mengembangkan tempatkerja multinasional dengan benar pada lokasi tunggal. system ganti rugi dan strategi bisnis – yang akan cukup berbeda jika dua perusahaan AmerikaSerikat dilibatkan. kemerdekaan multinasional mungkin menyebar keseluruh bagian bisnis. jumlah orang asing yang masuk di amerikaSerikat untuk bisnis sekitar 2. Join venture dan perserikatan yang strategi mungkin sedang berjalan. 4 . Tentu. Untuk mendapatkan tindakan tersebut.Seseorang dapat juga menjadi pekerja internasional dengan cara bekerja bagi perusahaan non Amerika Serikat yang berberoperasi di AmerikaSerikat. benar-benar dari permulaan tahun1070 sampai pertengahan 1990. staf terdiri atas karyawankaryawan dari 30 negara-negara yang berbeda. Perserikatan Multinasional antar Perusahaan Akhirnya. Tantangan-tantangan ini termasuk menggabungkan budaya-budaya yangberpeda. mereka akan juga memerlukan kompetensi inti dalam sebuah arena seperti tehnologi atau pemasaran. Perusahaan Sebenarnya. Mengembangkan dan mengatur para karyawan di dalam dunia joint venture/patungan serta tantangan persekutuan untuk perusahanperusahan baru dipersiapkan. Contohnya. di Rotterdam yang memproduksi Lipton Tea. jika suatu berusahaan bukan multinasional. TempatKerja Internasional Globalisasi berarti lebih dari sekedar mengirimkan eksekutif keluarnegeri untuk menjalankan sebuah pengoperasian asing yang monokultural. Tetapi juga berarti lebih banyak perjalanan internasional untuk melakukan bisnis. Dan terus meningkat.

perusahaan mulai menyadari betapa pentingnya harus menemukan pemeliharaan sumber daya-sumber daya manusia yang diperlukan bagi strategistrategi global. Perusahaan Swedia Swis –Asea Brown Boveri (ABB) akalah sebuah perusahaan golobal dengan sebuah budaya perusahaan yang kuat. Mengangkut satu budaya perusahaan yang sukses seluruh dunia adalah mungkin tantangan paling besar. Tetapi ini tidak 5 . Budaya Global memfokuskan dalam membuat uang. di lingkungan asing. Seperti kita melangkah di abat 21. dalam suatu analisis final. semakin banyak perusahaan akan melihat kesempatan yang dapat ditangkap hanya dengan mengadopsi persepkive global. mengambil tindakan. Situasi telah dilukiskan seperti ini: ‘Hampir beberpa tipe masalah internasional. PCi (Pepsi-Cola Internasional) adlah peusahaan lain dengan budaya perushaan yang kuat dan bahwa saat ini sedang dengan sukses diangkut melalui batasan-batasan nasional. menggunakan pendekatan. Philosophy dan tehnik-tehnik manajemen yang pasti telah membuktikan kesuksesannya dalam lingkungan domestic: aplikasinya dalam sebuah lingkungan asing terlalu sering mengawali frustasi. Kasus-kasus utama dari kegagalan dalam spekulasi multinasional adalah dari kurangnya suatu pemahaman perbedaan-perbedaan yang penting dalam mengatur sumber daya manusia.Jika kita sukses dalam memecahkan masalah itu…kita dapat mengatasi semuanya’. kegagalan dan tanpa prestasi. diciptakan oleh orang-orang atau harus dipecahkan(masalah) orang-orang. dan melakuakn perjalanan bisnis. Budaya-budaya Perusahaan Global Mengatur sumber daya manusia dalam suatu ekonomi global menghadirkan beberapa tantangan yang substansial.Mengatur Sumber Daya Manusia Di Ekonomi Global Dihadapkan dengan tingkatan-tingkatan yang belum terprediksi dari kompetisi asing di dalam dan luarnegeri. dalam semua tingkatan.

ketidaktahuan perbedaan-perbedaan budaya mengurangi kemampuannya untuk menjadi efektif. Tingkahlaku yang negative terhadap sesame munkin juga menikuti dalam bisnis. Pertimbangkanlah kasus manajer umus Australia yang di kirim ke Indonesia untuk mengatur suatu spekulasi pertambangan yang baru. Namun orangorang yang hidup dan bekerja dalam Negara baru untuk periode yang lama sering menemukan perbedaan. menhargai. mempromosikan. Anggota-anggota sesuatu grup kebudayaan berbagi dengan cara hidup yang ditemukan dalam nilai-nilai umum. seseorang yang meninggalkan Negara asal sedang menjalankan suatu unit yang dipekerjai oleh orang-orang local. Pengaruh-pengaruh Kebudayan pada hubungan Personal Para urban sering mengalami perbedaan-perbedaan kebudayaan seperti sebuah novel yang dapat dinikmati. cara memancang dunia dan perilaku-perilaku. sikap. Pengaruh-pengaruh kebudayaan pada praktek Bisnis Aktivitas-aktivitas seperti merekrut.selalu benar. dan memecat merefleksikan aspek-aspek budaya nasional. Perbedaan-Perbedaan Budaya Nasional Beberapa orang melihat sebuah globalisasi bisnis yang sedang berjalan sedang menciptakan peusahaan seluruh dunia . Apa itu Kebudayaan Kebudayaan memilik beberapa definisi. Sekarang ini secara umum disadari bahwa sikap-sikap yang kurang peka dan tingkah laku dari ketidakpedulian serta dari kepercayaan yang tersesat sering menyebabkan kegagalan bisnis. PCI membuat beberpaa perubahan dengan cara menatur manajernya. Ketika seseorang yang meninggalkan Negara asal mengmbil tugas luarnegeri. tetapi secara umum budaya digunakan untuk mengacu pada kekuatan social yang membentuk perilaku. Manajer local yang bertanggung jawab pada perekrutan tidak dapat memahami mengapa 6 . Seperti sering terjadi.

dia wajib melakukannya juga. 7 . dalam suatu Negara. banyak jasa melibatkan sesuatu yang tidak nyata. Dimensi-dimensi untuk membandingkan Kebudayaan Nasional Kerangkakerja yang diketahui paling luas untuk membandingkan kebudayaan dikembangkan pada awal 1980an oleh Beert Hofstede. Pertama. dan ciri tersebu memiliki implementasi untuk mengatur sumber daya manusia. hukum dan perudndanga. Mengatur Sumber daya Manusia dalam sector Pabrik dan Jasa/Pelayanan. Tiga karakter/sifat menjadi ciri pelayanan dari pabrik. industri dan sifat-sifat organisasi mungkin meliputi beberapa perbedaan dalam praktek manajerial dan tingkah laku-tingkah laku karyawannya. Perbedaan-Perbedaan Dalam Praktek Sumber Daya Manusia Antar Industri Industri mengacu pada suatu kelompok yang terpisah dari perusahaan pencari keuntungan. Dia hanya mengisi tugas/pekerjaan bagi keluarganya – semenjak dia dalam suatu posisi untuk mempekerjakan banyak kenalan-kenalannya. orang Australia menilai tindakantindakan orang-orang Indonesia sebagai Nepotisme. Bagaimanapun. Dua dari sector-sektor tersebut adalah pembuatan dan pelayanan. dan kondisi pasar ketenagakerjaaan.000 pekerja dalam 72 perushaan nasional dan internasional. pelanggan dan konsumen biasanya berkolaborasi dalam produksi dan proses pengantaran jasa. Perbedaan Negara dalam manajemen sumber daya manusia mung kin juga berkaitan dengan system-sistem politik dan ekonomi. daripada merekrut orang-orang dengan kemampuan tennis yang diperlukan. secara umum diklasifikasikan oleh Standard Industrial Classification (SIC). seoran peneliti Belanda yang menyurvei atas 116. Kedua. Ekonomi global Amerika Serikat dapat dilukiskan dalam beberapa sector industri yang berbeda. sebuah praktek negative menurut system nilainya sendiri. 38 penempatan dan 20 bahasa.manajer umum dari luar bingung ketika dia merekrut banyak keluarganya untuk mengisi pekerjaan. Lebih jelasnya.

produksi dan konsumsi jasa biasanya bersama-sama. Perbedaan budaya pabrik dan jasa juga memiliki implementasi praktek sumber daya manusia lainnya termasuk perekrutan. mesinmesin khusus dan tnaga kerja yang berkeahlian setengah/semi-skill. beberapa perusahaan tidak dapat dengan mudah diklasifikasikan sebagai jasa melawan pembuatan(pabrik) karena aktivitas-aktivitas mereka termasuk kedua komponen tersebut. Tehnologi-tehnologi telematik meliputi : 8 . kadang-kadang pelanggan adlah bagian dari karyawan. Dalam teori. Karena mereka penting untuk pengiriman jasa. Pabrik automatis adalah hanya satu contoh bagaimana komputer dapat mengubah suatu organisasi. Hal ini berarti mereka adalah subjek untuk diatur oleh perusahaan dan mereka dapat diharapkan berpartisipasi dalam proses pengaturan karyawan regular. Bagi supervisor. perbedaan-perbedaan ini kadang-kadang dilukiskan/digambar secara tajam. kompensasi/ganti rugi. menggunakan tujuan khusus. Sistem produksi baru bukan hanya sandaran – mereka juga lebih fleksibel. sesegera mungkin suatu jasa diciptakan. Hal ini berarti para karyawan harus secara penuh mampu memonitor hasil kerjanya sendiri. adalah bahwa. ketenagakerjaan dari pekerja temporer. sehinga baik produksi dan karyawan manajerial perlu keahlian-keahlian yang lebih serta tingkatan kemampuan yang lebih tinggi. Dengan tehnologi yang lebih baru. Mengubah Lingkungan Organisasi : Tehnologi-Tehnologi Baru Tehnologi secara umum mengaju pada alat dan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa. Produksi masal digunakan untuk memproduksi baran-barang yang standar dalam harga rendah. Tapi dalam kenyataannya. pekerjaan lebih komplek.Ketiga. pelanggan berperanan unik. dan penekanan manajemen. Dalam jasa/pelayanan. budaya yang tidak nyata dari pelayanan membuatnya sulit untuk memonitor capaian para karyawannya secara langsung. Juga berarti supervisor harus mempercayai karyawankaryawan untuk memonitor mereka sendiri. kemudian siap diterima dan dikonsumsi oleh konsumen.

serta perancangan kembali beberapa pekerjaan termasuk komputer untuk kerja. Pemerintahan federal mendefinisikan organisasi kecil memiliki lebih sedit tari 500 karyawan.Peripheral Komputer memfasilitasi kecepatan.Mainframe Komputer dan sistim informasi yang berhubungan . dan organisasi besar 9 . perekrutanperekrutan baru untuk pendidikan dan kemampuan untuk mengatur kompleksitas. kantornya. desentralisasi dan sentuhan dekat denganpelangan. telematik membantu organisasi mendesentralisasi pembuatan keputusan pembuatan organisasi lebih fleksibel dan tanggung jawab.Tehnologi-tehnologi telekuminkasi . kadang-kadang ukuran mengacu pada petunjuk financial seperti asset total atau penjalan total dan dalam waktu yang lain ukuran mengcu pada jumlah orang-orang yang diperjakan. Bebeberapa tantangan manajemen sumber daya manusia yang diangkat oleh telematik berhubungan dengan keahlian-keahlian baru yang dibutuhkan untuk bekerja dengan tehnologi-tehnologi yang baru. jumlah yang lebih besar dari ilmu pengetahuan dalam setiap kesempatan. dan perjalanan keseluruh dunia.. besar – dapat juga membingungkan. contoh untuk perbankan dan perusahaan perantara. Kesimpulannya. Ukuran Organisasi Ketika perusahaan-perusahaan dibicarakan. menengah.Tehnologi-tehnologi networking/jaringan . Beberapa factor yang perubahan terhadap keahlian baru untuk bekerja : penggunaan tehnologi informasi yang lebih besar. Dalam tek ini ukuran mngacu pada jumpah karyawan Gambaran ukuran – kecil.Mikrokomputer dan word prosesor . Mereka menciptakan beberapa tantangan baru yang berhubungan untuk mengatur sumber daya manusia. Komputer mengubah struktur organisasi dan budaya perusahaan.Reprography dan printing/cetakan . fleksibelitas. komputer memungkinkan para pelanggan untuk melakukan bisnisnya dari rumahnya.

seleksi.memiliki pekerjaan yang terdefinisi yang menggunakan varietas keahlian yang kurang. Ukuran organisasi memiliki beberapa konsekuensi khususnya untuk mengatur sumber daya manusia. . semakin lebih juga pasar kerja internalnya yang dikembangkan dan semakin kurang kepercayaannya dalam pasar kerja eksternal. secara umum. manajernya sering memiliki tanggungjawab yang banyak untuk merancang dan menyelesaikan semua aktifitas yang berhubungan dengan perekrutan. Sebaliknya. perusahaan yang lebih besar lebih memungkinkan untuk : . semakin kurang pasar kerja internalnya yang dibangun dan semakin besar kepercayaannya dalam pasar kerja eksternal. Karena suatu perusahaan tumbuh lebih besar/cepat. karena organisasi dengan lebih sedikit dari seratus pekerja sering tidak memiliki departemen sumber daya manusia dan tidak memiliki Profesional sumber daya manusia. pelatihan. pengukuran pekerjaan.memiliki lebih dari 500 karyawan. karena aktifitasnya mempengaruhi beberapa orang. Contohnya. Contohnya beberapa hukum dan perundangan federal yang mengatur ketenagakerjaan mengaplikasikan hanya untuk perusahaan dengan15 atau lebih karyawan-karyawan.Mengatur ‘keterlibatan yang besar’ dari para karyawannya. beberapa dinamika dapat mengubah pendekatannya utuk mengatur sumber daya manusia. Meskipun pengecualian ada. Pimpinan bisnis dan reporter media sering menggunakan ‘kecil’ berarti lebih sedikit dari 100 pekerja dan ‘menengah’ berarti 100 sampe 5000 pekerja. wawancara. ekonomi yang cukup dari skala ini berarti bahwa perusahaan yang lebih besar mampu lebih baik untuk mengambil keuntungan dari tehnologi sumber daya manusia. semakin kecil organisasi. dsb. semakin besar organisasi. .Mempercayakan yang lebih sedikit pada staf kontemporer 10 . selanjutnya. perusahan yang lebih besar menarik perhatian yang lebih dari median dan dari peraturan pemerintah. secara umum perusahaan lebih dari500 pekerja dipertimbangkans sebagai perushaan yang besar. Juga. serta hal ini meletakan tekanan yang lebih pada mereka untuk lebih tanggung jawab pada social. kompensasi/ganti rugi. Contohnya. Ukuran organisasi juga berpengaruh pada tugas dan tanggung jawab para manajer.

Bentuk Dan Struktur Organisasi Suatu bentuk dan struktur organisasi menggambarkan alokasi tugas-tugas dan tanggung jawab antar induvidu dan department. divisualisasi geography. ukuran dan strategi bisnis. dengan tiap-tiap bos bertanggung jawab atas aspek organisasi yang berbeda. Dalam sebuah structur matrix/acuan.Menggunakan prosedur yang lebih maju untuk merekrut dan menyeleksi para karyawan . dengan tiap-tiap divisi melayani kebutuhan pelanggan yang berbeda (product-based division) atau dasar pelanggan yang berbeda (geographic division). Struktur-struktur yang berbeda muncul sebagai jawaban atas varietas kekuatan internal dan eksternal. beberapa pengaturan network/jaringan. Contohnya . Mereka menunjuk kebudayaan dan alat-alat formal yang melaporkan hubungan kelompok dan individu dalam organisasi. organisasi matrik/acuan. para karyawan melaporkan lebih dari satu bos/pimpinan. Bisnis dengan produk atau jasa tunggal memiliki sebuah struktur department.Membayar lebih resiko melalui penggunaan bonus dan insentif jangka panjang .Mengunakan proses prosedur untuk menangani keluhankeluhan Secara umum perusahaan yang lebih besar memungkinkan untuk memiliki system yang lebih maju untuk mengatur para pekerjanya. Bentuk-bentuk structural secara umum mengenali perusahan domestic termasuk suatu departeman yang fungsional.Memberikan tes para karyawan terhadap obat-obatan/narkoba . kekacauan lingkungan. Tiap-tiap bentuk structural mnciptakan tantangan-tantangan yang unik untuk mengatur sumber daya manusia. produk yang berdasar divisualisasi.Membayar lebih para karyawan . Perusahan-perusahaan Multiproduk dan banyak pelayanan sering mengambil bentuk divisi. pertumbuhan organisasi. termasuk pemintaan tehnologi. suatu perancang pakaian - 11 .Memasukan tingkatan diri sebagai masukan bagi penimbangan prestasi .

Struktur Transnasional mengacu pada satu organisasi yang juga memiliki pengoperasian dalam lebih dari satu Negara tetapi keputusa-keputusan bisnis utamanya mungkin dibuat keluar dunia. Struktur disekitar kerjasama kelompok memiliki konsikuensi utama untuk mengatur sumber daya manusia. Karena perusahaan tumbuh. Banyak terminology dapat digunakan untuk melukiskan struktur-struktur organisasi global termasuk : multinasional. Sebagai misal. manajer harus berkoordinasi satu sama lain dalam menugaskan kerja bawahanya. Pengaruh struktur adalah bukti utama dalam perusahaan multinasional dan patungan/joint venture internasional. proses rancang bangun sering digunakan. Ketika organisasi merestuktur team. Singkatnya. mengefaluasi keja karyawan.dsb. team biasanya dirancang disekitar proses-proses utama. strkture multinasional mengacu pada sebuah organisasi yang memiliki pengoperasian dalam lebih dari satu Negara dan keputusankeputusan bisnis utamanya dibuat di markasbesar. Rancang bangun – juga dinamakan proses manajemen – adalah pendekatan dari dalam untuk rancangan organisasi. Dalam tipe stukture ini. Stuktur ini sering menghasilkan pertumbuhan peusahaan dan kebudayaan bisnis.artis mungkiin melaporkan pada wakil presiden pemasaran dan wakil presiden yang menangani pakaian. Wakil-wakil presiden ini pada gilirannya mungkin melapurkan pada seorang general manajer. transnasional dan campuran.kemudian. Rancang Bangun Kembali. Tujuannya adalah untuk memiliki setiaporang dalam organisasi merasa bagian dari kerja. Untuk merancang tim yang mengatur diri. mereka sering mengadopsi cara berfikir dan beroperasi yang baru secara keseluruhan. mereka mungkin menjalankan pengoprasian 12 . Beberapa perusahaan bahkan muncuk dengan cara baru untk melukiskan stuktur organisasinya. organisasi dengan team berdasar rancangan-rancangan mungkin perlu menggunakan metode baru dari : analisis kerja. perekrutan dan sosialisasi. Hal ini dimulain dengan meraih perspetif pelanggan untuk mengidentifikasi kunci dan memperbaiki strategi. penilaian.

bisnis ini juga mengacu pada divisi bisnis global. suatu perusahaan MNC dengan 90. Starategi Yang Kompetitif Berlomba secara sukses baik di dalam atau di luarnegeri memerlukan strategi competitive yang jelas.California dekat dengan pelanggan-pelanggan utamanya. Contohnya. Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan dalam pendapatan penjualan utuk umur suatu organisasi/perusahaan. Cara berbeda dalam berkompetisi 13 . atau kondisi likalnya mungkin perlu bahwa mereka hampir beroperasi sebagai perusahaan yang independent. Beberapa perusahaan MNC menjadi lebih komplek dengan memiliki lebih dari satu bisnis utama.utamanya dalam Negara yang berbeda. Beberapa divisi ini memiliki pengoperasian di beberapa Negara yang mengakibatkan multiple bisnis yang beroperasi dalam satu Negara. Operasi ini mungkin mencadi sangat besar. Bisnis pertanian dan kimianya bermarkas di Basel. grosir-grosir – hal ini mungkin juga dinamakan suatu struktur multidomestik. Jika struktur ini muncul sebagai sebuah akibat dari tipe produk – misalnya. CIBA. Jalannya Kehidupan Organisasi Konsep jalan hidup organisasi diambil dari konsep dari jalan hidup produk yang dikembangkan dalam pemasaran. Beberapa perusahaan berusaha menawarkan barang dan jasa dengan harga yang paling rendah. tiap-tiap perusahaan bertanggung jawab atas keputusan bisnis utamanya. Karena produk-produk bisnis CIBA dibuat diseluruh dunia. Hal ini menghasilkan satu struktur campuran. tetapi bisnis gabungannya bermarkas di LosAngles. Konsep jalannya hidup organisasi berguna untuk memikirkan bagaimana aktifitas HR dan untuk merancang bagaimana organisasi mungkin perlu mengubah aktifitasnya.Swiss. Beberapa juga menekankan keunggulan kualitas dengan harga sebagai pertimbangan keduanya.000 karyawan bermarkas besar di basel.

Fokus pelanggan Mengantar barang-barang dan jasya yang berkualitas adalah tantangan yang diharuskan pada organisasi dengan pelanggan baik untuk kompetisi domestic atau internasional. yang mana ingin anda beli? Harga mungkin tidak semuanya hal yang anda pertimbangkan. Inovasi Cara ketiga untuk berkompetisi adalah dengan menawarkan produk-produk dan jasa-jasa barunya. Inovasi memerlukan orang-orang yang berbakat untuk menciptakan ide-ide baru yang baik tantangan untuk masa depat bagi banyak perusahaan 14 .penting bagi pengaturan sumber daya manusia karena mereka membantu memutuskan sikap-sikap para karyawannya. Satu cara utnuk lebih efisien adalah dengan harga produksi yang lebih rendahkhususnya harga tenaga kerja. Negaranegara lain dapt meniru dan memperbaiki produk Amerika tapi hal ini memerlukan banyak waktu. tetapi munkin paling tidak jadi satu perhatian. Karena banyak economy kami berdasarkan sector jasa. Para pelanggan meminta produk-produk qualitas tinggi dan akan membeli dari produk-produk tersebut. Pengurangan Harga Kita semua menginginkan kualitas – tapi jika anda meliha dua produk atau jasa dengan sama-sama berkualitas tinggi. Jika kami tidak dapat membuat produk-produk paling murah atau produkproduk qualitas paling tinggi. paling tidak kami dapat mengembangkan produk-produk yang orang lain tidak miliki dan mendapatkanya untuk dipasarkan lebih cepat dari orang lain. Inovasi terjadi melalui orang. Beberapa peninjau percaya bahwa Amerika Serikat seharusnya berkonsentrasi pada inovasi sebaga sebuah strategi untuk berkopetisi diseluruh dunia. Dalam rangka menawarkan produk-produk atau jasa dalam harga yang lebih rendah organisasi mempertimbangkan seefisian mungkin. harga tenaga kerja substansial bagi banyak perusahaan. Perbaikan Qualitas.

Kecepatan dan Kemampuan Reaksi Perhatian terhadap kualitas. beberapa perusahan bereksperimen dengan pendekatan-pendekatan barunya untuk mengatur sumber daya manusia dengan tujuan menaikkan fleksibilitas kekuatan kerja. Pasar yang berubah mungkin juga memerlukan organisasi-organisasi untuk mampu dengan cepat menurunkan. harga dan inovasi mencerminkan isu umum untuk memberikan reaksi terhadap lingkungan. Sebaliknya. atau mengubah kekuatan kerjanya. Dengan kecepatan dan kemampuan reaksi. Pembuatan keputusan yang desentralisasi membatu perusahaan menentukan keputusan lebih cepat dan dengan pengetahuan lebih para pelanggannya. Pada gilirannya mereka yang ada dalam departemen sumber daya manusia akan membentuk aktivitas administrative yang rutin dan membuat usaha-usaha untuk pecobaan dengan ide-ide yang baru. Tujuan-tujuan. Manajemen Yang Top/Baik Manajer yang baik bertanggungjawab atas pengaturan karywannya secara efektif. manajer yang top dapt menjadi juara untuk manajemen sumber daya manusia yang efektif. memperluas. Mereka melatih tangggung jawabnya melalui tindakan mereka sendiri. Suatu strategi inovasi memerlukan pengambilan resiko dan toleransi dari kegagalan yang tidak bisa diacuhkan.untuk menciptakan kondisi-kondisi ini. Didalam perusahaanWeyerhaeuser. dan melalui pesan yang mereka kirim ntuk semua karyawan yang lain. satu nilai yang umum 15 . Meskipun beberapa Trend dapat diprekisi. perubahan menjadi tak dapat ditebak dan memiliki efek yang lebih besar dalam mengatur sumber daya manusia. Visi-visi dan Nilai-Nilai Tujuan dan standar keunggulan adalah bahwa perusahaan memberikan isyarat yang jelas pada karyawan-karyawannya dan menceritakan padanya apa yang penting dan sikap-sikap apa yang diperlukan. Kecepatan dan kemampuan reaksi serta ketepatan telah menjadi kritikal.

Perilaku etis dan adil Manajemen yang top juga berbagi tanggung jawab untuk menyakinkan bahwa para karyawannya diperlakukan secara adil dan bahwa setiap orang bersikap etis. Disini. individu-individu yang bertanggung jawab meinginkan berkontribusi/bersumbangsih. pesaing.Karyawn memegang diri mereka sendiri untuk standar integritas yang tinggi dan etika bisnis. Nilai ini menggambarkan piloshopi perusahaan tentang karyawan-karyawan apa yang dimaksud/diperlukan dan bagaimana mereka diatur. . hal itu berarti . mereka bertanggung jawab terhadap lingkungan. kepuasan pribadi dan kesempatan untuk tumbuh bagi setiap orang. philosophy HR adalah pernyataan resmi untuk menggambarkan bagaimana orangorang diperlakukan dan diatur.karyawan bersikap dewasa.Melanjutkan pendidikan adalah komitmen yang berlangsung yang melibatkan setiap orang. lingkungan dan karyawan. manajer yang top mengeluarkan pernyataan-pernyataan bijaknya. sebagai aspek system manajemen sumberdaya manusia total. . Budaya organisasi menyuguhkan seutu sistim nilai organisasi.Karyawan menyadari bahwa kerja team.adalah orang-orang/karyawan. Pernyataan philosophy HR sangat umum membiarkan penafsiran dalam tingkatan-tingkatan yang lebih spesifik dalam tindakan sebuah peusahaan. Philosofi Sumber Daya Manusia. kerjasama dan tempat kerja yang aman dan bersih adlah penting ntuk mengisi momitmen-komitmen pelanggan kami. Kebijakan-kebijakan yang memandang perlakuan adil dan tingkah laku yang etis dapat mempertajam aspek-aspek khusus dari praktek-praktek perusahaan 16 . Satu aspek budaya oranisasi peusahaan adlah pilosopi sumber daya manusia perusahaan. . .Lingkungan kerja kami berdasar rasa hormat. Secara khusus. Dalam beberapa perusahaan. supplier. Hal ini mencerminkan hormat organisasi pada pelanggan.

dan umur rata-rata populasi dalam Negara-negara yang terindustrialisasi akan naik. tingkatan-tingkatan pencapaian pendidikan seluruh dunia. Beberapa peneliti/peninjau bahkan berargumentasi bahwa kerjasama adlah kekuatan utama yang dapat memperkuat atau mungkin melemahkan dasar social. Beberapa pekerja meksiko bekerja untuk pabrik tumbuh-tumbuhan yang sering disebut dengan Maquiladoras yang dimiliki oleh perusahaan asing. 17 .bahkan pada tingkahlaku para karyawannya. Dari sudut pandang manajemen sumber daya manusia. untuk memfasilitasi transfer dan penyerapan tehnologi yang berhubungan dengan keahlian dan untuk menarik pertukaran orang-orang asing. dan manajemen sumber daya manusia di Meksiko. untuk menaikkan level pendapatan domestic. Maquladoras tumbuh untuk menaikan level orangorang meksiko dalam dunia perindustrian : untuk menciptakan kerja baru. umur rata-rata populasi dalam Negara-negara yang melakukan industri akan turun. Mungkin juga hal ini terjadi dalam perushaanperusahaan untuk membuka banyak toko di belahan dunia. yang beberapa berada di AmerikaSerikat. Perbandingan-Perbandingan Internasional Tiga pasang perbandingan internasional mungkin dibuat bagi manajemen sumber daya manusia: figure-figur populasi seluruh dunia. Antara pertengahan 1990 dan 2020. trend yang diharapkan dalam populasi dunia dan pencapaian pendidikan dapat memfasilitasi globalisasi bisnis. Amerika Serikat dengan cepat mengembangkan suatu hubungan dagang yang kuat dengan Meksiko yang terdapat banyak pekerja yang dapat menyesuaikan keahlian-keahlianya sekitar 70 persen dari pekerja AmerikaSerikat. Karena hal ini terjadi. Negara-negara industri/melakukan industri berharap untuk menaikkan populasinya dalam jumlah yang sama dari total populasi Negara-negara industri.

termotivasi. Kesimpulan Dari paparan tersebut di atas meminta anda untuk memprediksikan beberapa perubahan-perbahan penting dalam ekonomi dan lingkungan bisnis untu abad ke-21. setia. fleksibel dan mampu beradaptasi. enerjik. Mereka juga memerlukan para karyawan yang mampu beradaptasi. memperhatikan harga-harga. baik dalam team dan beretika. sadar dengan kualitas.berkeahlian.3. 4. focus pada pelanggan dan mampu menggunakan inovasi. Kebijakan-kebijakan baru dan praktek harus dikembangkan untuk memandu dan mendukung tipe-tipe baru dari tingkahlaku para karyawannya. ----- Daftar Pustaka 18 . Bagi organisasi dalam abad ke-21 yang ingin sukses. mereka perlu untuk cakap dari rasa tanggungjawab yang cepat.

652% dimana sumbangan efektif dari variabel tingkat pendidikan sebesar 18. Tingkat Pendidikan.518%. pemberian insentif (X2) dan motivasi kerja (X3). pemberian insentif 14. Kata Kunci: Pengaruh. Peningkatan peran tenaga kerja tergantung pada kemampuan dan kemauannya.99% dan motivasi kerja 24. Upaya peningkatan produktivitas tidak dapat lepas dari usaha pemanfaatan sumber daya manusia. Insentif 1 Staff Pengajar STMIK AMIKOM Yogyakarta 19 .PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEMBERIAN INSENTIF TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA PADA PT. Dan setelah diuji dengan F test hubungan diantara variabel itu semua terbukti (signifikan). Hipotesis diuji dilapangan dengan analisa regresi dan hasilnya sebesar 57.209%. Variabel-variabel yang dihipotesiskan berpengaruh pada produktivitas kerja adalah variabel tingkat pendidikan (X1). BAJA KURNIA KLATEN Anik Sri Widawati1 Abstraksi Parameter tinggi rendahnya peranan sumber daya manusia dalam pembangunan andalah tingkat produktivitasnya. Kemampuan tenaga kerja berkaitan dengan pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya Peningkatan pendidikan mengarah pada peningkatan produktivitas sedangkan peningkatan produktivitas tercermin pada imbalan yang diterima karyawan.

Sedangkan kualitas sumber daya manusia yang terus menerus meningkat akan dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan. Di dalam pemanfaatan sumber daya manusia secara maksimal menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia. karena pendidikan akan mendorong kreativitas manusia. Pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan dengan tingkat pendidikan yang sesuai dengan isi kerja akan mendorong kemajuan setiap usaha yang pada gilirannya juga akan meningkatkan pendapatan perorangan maupun pendapatan nasional (Sinungan. 1983:36-37). Kemampuan dari tenaga kerja berkaitan dengan pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya. Peningkatan pendidikan mengarah pada peningkatan produktivitas kerja. sedangkan peningkatan produktivitas kerja tercermin dalam imbalan yang diterima oleh karyawan yang bersangkutan (Tjiptoherijanto. Upaya pengembangan sumber daya manusia merupakan bentuk perilaku dalam rangka pencapaian tujuan yaitu produktivitas kerja. Seperti diungkapkan oleh Sumitro Djojohadikusumo bahwa pendidikan merupakan prasarat untuk mempertahankan martabat manusia. Apabila sumber daya manusia yang ada tersebut didukung oleh kualitas yang memadai akan dapat meningkatkan pendapatan perkapita dan dengan demikian proses pembangunan akan berjalan terus. Usaha meningkatkan pendapatan sebagian besar dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Melalui pendidikan manusia 20 .1. 1992:4). Pendahuluan Indonesia. Dengan tingkat pendidikan yang dimiliki akan dapat mendorong motivasi kerja dalam rangka peningkatan produktivitas kerja. Oleh karena itu perlu diusahakan agar jumlah penduduk yang demikian besar itu dapat digerakkan menjadi sumber daya yang produktif. dengan jumlah penduduk yang besar telah memiliki modal sumber daya yang potensial bagi pembangunan nasional. Di dalam peningkatan produktivitas tidak dapat lepas dari usaha pemanfaatan sumber daya manusia. Sedangkan peningkatan peran dari tenaga kerja tergantung pada dua aspek yaitu kemampuan dan kemauannya.

insentif sebagai stimulus atau daya tarik dengan tujuan untuk membangun. kondisi kerja yang nyaman dan pemberian insentif juga kesempatan untuk maju dan berkembang dalam pekerjaannya (Taufiq. 1979:143). hubungan sosial yang baik dan saling menghargai. Selanjutnya menurut Achmad Ichsan. 1992:328). Motivasi merupakan hal yang sederhana karena orang-orang pada dasarnya akan termotivasi atau terdorong untuk berperilaku dalam cara-cara tertentu yang dirasakan mengarah kepada perolehan ganjaran. Umumnya motivasi seseorang yang produktif adalah untuk selalu berprestasi (Ravianto.diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dan membina kehidupan dalam masyarakat (Djojohadikusumo. Demikian pula dengan adanya pemberian insentif akan dapat meningkatkan produktivitas kerja. usahakan saja untuk mengetahui apa yang dibutuhkan dan gunkan hal itu sebagai kemungkinan ganjaran atau insentif. Bila motivasi ini kuat maka daya dorongnyapun kuat pula. Seperti dikemukakan oleh Sarwoto bahwa insentif sebagai sarana motivasi dapat memberi bantuan sebagai suatu rangsangan ataupun pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada karyawan atau pekerja agar di dalam diri mereka timbul semangat kerja yang lebih untuk berprestasi bagi organisasi (Sarwoto. menurut Keith Davis dalam Taufiq mengatakan bahwa seseorang memiliki harapan-harapan berupa adanya pimpinan yang cakap dan dapat membimbing bawahannya. Dengan demikian memotivasi seseorang tentunya mudah. 1987:167). memelihara dan memperkuat harapan-harapan karyawan agar dengan demikian dapa menghasilkan suatu produktivitas tertentu (Ichsan. 21 . Tujuan dari suatu insentif hendaknya untuk mendorong timbulnya prestasi yang baik dengan mengaitkan prestasi dengan ganjaran (Dessler. Menurut Ravianto bahwa motivasi merupakan daya gerak yang mendorong manusia untuk bertindak. 1986:12). Dalam melakukan aktivitas pekerjaan. Semua pekerjaan memerlukan motivasi yang mengarah pada usaha produktif. 1969:170). yang mendorong kemandirian tenaga kerja sesuai dengan kemampuan dan tingkat pendidikan dimilikinya. 1987:35).

Sedangkan non material incentive adalah daya perangsang atau motivasi yang tidak berbentuk materi. Yang termasuk non material incentive adalah penempatan yang baik. perlakuan ayang wajar dan sebagainya (hasibuan. pekerjaan yang terjamin. 1953:76). Mendapatkan informasi yang akurat mengenai keadaan sebenarnya tentang pengaruh tingkat pendidikan dan pemberian insentif melalui motivasi kerja terhadap produktivitas kerja 2. Dari keduanya yang berperan dalam memberikan motivasi kerja adalah insentif positif yaitu insentif dapat bersifat positif dalam arti mau berbuat sesuatu untuk membantu melancarkan atau mengembangkan terutama bentuk dan tingkah laku sebagaimana hadiah yang berupa material.Bentuk insentif menurut Morris S Viteles ada 2 yaitu insentif positif dan insentif negatif. Yang termasuk material incentive adalah berbentuk uang dan barang-barang. Menurut Malayu SP Hasibuan. bonus. Mengumpulkan data-data dan keterangan-keterangan yang berakitan dengan pengaruh tingkat pendidikan dan pemberian insentif melalui motivasi kerja terhadap produktivitas kerja 22 . dimana peningkatan produktivitas kerja merupakan pembaharuan pandangan hidup dan kultural dengan sikap mental memuliakan kerja serta perluasan upaya meningkatkan mutu kehidupan. pujian merasa berhasil dengan baik dan sebagainya (Viteles. 1990:166) Dengan menjadikan setiap tahap produksi menjadi kepentingan bersama maka akan tercapai peningkatan produktivitas kerja. Material incentive adalah motivasi yang bersifat material sebagai imbalan prestasi yang diberikan kepada karyawan. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Seberapa besarkah pengaruh tingkat pendidikan dan pemberian insentif melalui motivasi kerja terhadap produktivitas kerja ?” Penelitian ini bertujuan untuk : 1. alat motivasi tersebut dapat berupa material incentive dan non material incentive.

Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi motivasi kerja 2. Semakin tinggi motivasi kerja maka semakin tinggi produktivitas kerja Berdasar pendapat tersebut maka berikut diuraikan definisi konseptual sebagai berikut : 1. B. Mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan.3. Sedangkan di dalam pengujian hipotesis dimaksudkan mengarahkan pada penerimaan atau penolakan (Black dan Champion. A. Semakin tinggi pemberian insentif maka semakin tinggi motivasi kerja 3. Pemberian Insentif yaitu pemberian rangsangan atau dorongan secara sengaja kepada karyawan atau pekerja sebagai imbalan atas jasa mereka yang bertujuan agar dalam dirinya timbul semangat kerja yang lebih besar 23 . pemberian insentif melalui motivasi kerja terhadap produktivitas kerja 4. Hipotesis Mayor “ Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pemberian insentif melalui motivasi kerja maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas kerja”. Tingkat Pendidikan yaitu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengembangkan kemampuan. Hipotesis berasal dari teori dipandang sebagai pernyataan sementara mengenai sesuatu hal sampai prakiraan itu diuji. kecakapan. 1990:110). Hipotesis Minor : 1. pengetahuan dan ketrampilan serta pembinaan kepribadian seumur hidup baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah 2. Dalam penelitian ini akan digunakan hipotesis kerja yang merupakan hipotesis yang diambil dari teori penelitian tentang fenomena sosial yang tengah dicermati. Membuktikan kebenaran teori-teori yang selama ini ada dan menjembatani secara metodologis dunia empirik dan dunia teoritis.

Frekuensi dan jumlah pemberian bonus atau hadiah yang berupa uang atau barang b. Motivasi Kerja yaitu kekuatan psikologis yang mendorong seorang pekerja untuk melakukan tindakan guna memperoleh suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai 4. 24 . Ketrampilan yang dimiliki pekerja dalam melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Produktivitas Kerja Indikatornya : a. Pemenuhan kebutuhan fisik dasar b.untuk berprestasi sehingga dapat menghasilkan produktivitas kerja 3. Motivasi Kerja Indikatornya : a. Sedangkan definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Produktivitas Kerja yaitu kemampuan masing-masing pekerja untuk menghasilkan suatu barang atau jasa baik dilihat dari jumlah maupun mutunya dalam jangka waktu tertentu. Rutinitas dalam bekerja selama 1 bulan b. Pendidikan Non Formal c. Pendidikan Informal 2. Pendidikan Formal b. Sikap dan perlakuan pimpinan terhadap pekerja 3. Perasaan diri berhasil mencapai sesuatu 4. Penghormatan dan rasa harga diri c. Tingkatan mutu (kualitas) barang yang diproduksi d. Jumlah satuan barang yang dapat dihasilkan c. Tingkat Pendidikan a. Pemberian kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya c. Pemberian Insentif Indikatornya : a.

1987:189) Seperti dikemukakan oleh Winarno Surachmad bahwa “bila populasi cukup homogen. merupakan teknik pengumpulan data dengan mengajukan daftar pertanyaan kepada responden 2. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah : 1. Bagian permesinan berjumlah 25 orang diambil 12 orang sebagai sampel Dengan demikian jumlah keseluruhan sampel yang diambil adalah 50 orang. untuk jaminan ada baiknya sampel selalu ditambah sedikit dari jumlah matematis tadi (Surachmad. Questionaire. Bagian pembongkaran berjumlah 26 orang diambil 13 orang sebagai sampel d. Pembahasan Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling yaitu metode pengambilan suatu bagian (sampel) dari suatu populasi sedemikian rupa sehingga semua sampel yang mungkin terambil dari n yang besarnya tetap memiliki probabilitas sama untuk terpilih (Kerlinger. Berdasar pernyataan tersebut maka jumlah populasi di bawah 1000 digunakan sampel sebesar 25 persen dengan penambahan sedikit untuk jaminan. Bagian pengecoran berjumlah 25 orang diambil 12 orang sebagai sampel c. dibawah 1000 sebesar 25 persen dan diatas 1000 sebesar 15 persen. Populasi yang akan diteliti berjumlah 116 orang terbagi dalam 2 bagian yaitu bagian administrasi berjumlah 14 orang dan bagian produksi berjumlah 102 orang.2. Pada penelitian ini yang diambil adalah bagian produksi yang dibagi menjadi 4 bagian yaitu : a. terhadap populasi dibawah 100 dapat digunakan sampel 50 persen. digunakan dengan cara tanya jawab secara langsung dengan responden mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan penelitian 25 . Interview/Wawancara. 1978:91). Bagian peleburan berjumlah 26 orang diambil 13 orang sebagai sampel b.

digunakan dengan cara pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena sosial yang tengah dicermati 4. Observasi. Persamaan Garis Regresi Digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari beberapa variabel bebas secara simultan terhadap variabel tergantung dimana dengan cara ini diketahui besarnya perubahan pada setiap variabel bebas (prediktor). Pengukuran Ketepatan Prediksi 26 . Korelasi Parsial Digunakan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel (variabel bebas dan variabel terpengaruh) dengan mengasingkan satu atau lebih variabel konstan. Korelasi Berganda Digunakan untuk mengetahui besarnya hubungan antar variabel bebas secara simultan terhadap variabel tergantung b. sehingga bisa diketahui hubungan tersebut murni atau semu. Analisa Regresi Linear Berganda a. 2. Dokumentasi. 3.3. Analisis Variansi Digunakan untuk menguji signifikansi garis regresi e. d. digunakan dalam keseluruhan proses penelitian ini. Korelasi product moment dinyatakan signifikan apabila hasil Ftest > Ftabel. dilaksanakan dengan cara mengambil data (data sekunder) yang telah tersedia di lokasi penelitian 5. sejak perencanaan sampai dengan pelaporannya. Korelasi Product Moment Digunakan untuk mengetahui hubungan dan besar kecilnya hubungan antara dua variable. Kepustakaan. c. Koefisien Determinasi Digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tergantung. Teknik pengujian hipotesa secara statistik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : 1.

dimana masing-masing variabel tingkat pendidikan (X1) sebesar 18. 5.6900).209 %.759 dan telah melebihi nilai F. dimana korelasi tersebut merupakan korelasi langsung 2. Keterkaitan antara variabel motivasi kerja (X3) dengan variabel produktivitas kerja (Y) terdapat hubungan yang positif dalam kategori sedang (r3y = 0. 3. Keterkaitan antara variabel tingkat pendidikan (X1) dengan variabel motivasi kerja (X3) terdapat hubungan yang positif dalam kategori sedang (r13 = 0. dimana korelasi tersebut merupakan korelasi langsung.6718). pemberian insentif dan motivasi kerja terhadap variabel produktivitas kerja sebesar 57. Dari hasil komputasi Residual dapat diketahui bahwa masih ada variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja diluar variabel yang telah dimunculkan dalam kerangka teori. variabel pemberian insentif (X2) sebesar 14. Dari keseluruhan prediksi dimana nilai R = 0. seperti lingkungan dan iklim kerja.636 %.Digunakan untuk mengetahui cermat atau tidaknya ramalan. Keterkaitan antara variabel pemberian insentif (X2) dengan variabel motivasi kerja (X3) terdapat hubungan yang positif dalam kategori sedang (r23 = 0. Kemungkinan penyebab yang melatarbelakangi ini adalah : a.919 % dan variabel motivasi kerja (X3) sebesar 24. perkembangan teknologi dan sarana produksi 27 . Masih ada variabel lain yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas kerja. Berdasarkan analisa regresi tiga prediktor diperoleh kesimpulan bahwa Sumbangan Efektif varibel tingkat pendidikan. 4.519 %. Hasil Penelitian Berdasarkan analisa data dapat diketahui bahwa : 1. dengan demikian berarti hubungan tersebut dalam kategori tinggi.5337). dimana korelasi tersebut merupakan korelasi langsung.

Agar produktivitasnya meningkat. Penelitian ini masih sangat sederhana. 3.b. 2. 28 . X2. Adapun saran terhadap penelitian tersebut. Responden kurang memahami arti pentingnya penelitian ini dan permasalahan yang ada dalam kuesioner Dengan demikian dapat diketahui bahwa ternyata variabel tingkat pendidikan (X1). Untuk penelitian selanjutnya perlu diungkapkan pengkajian yang lebih mendalam untuk meningkatkan produktivitas kerja. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan. 3. adalah: Kondisi tempat bekerja mempengaruhi produktivitas kerja. sebagai berikut: Berdasarkan analisa regresi linear berganda dapat diketahui hubungan prediktor (X1. dimana 2. pemberian insentif (X2) dan motivasi kerja (X3) terhadap produktivitas kierja (Y) mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dalam taraf 5 %. X3) dengan kriterium yang signifikan dalam taraf 0. maka perluasan tempat bekerja sangat penting sehingga suasana kerja tidak terlalu panas. pemberian insentif dan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja”. Oleh karena itu hipotesisnya menjadi “Ada pengaruh antara tingkat pendidikan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan produktivitas kerja yang terungkap dalam penelitian ini sebesar 57. 1. Responden kurang berani memberikan jawaban seperti yang diharapkan peneliti. Hal ini disebabkan karena variabel motivasi kerja bukan sebagai intervening melainkan hanya sebagai elemen pendukung.652 %. karena dianggap terlalu mengungkap diri responden c. Pelaksanaan pekerjaan tiap bagian pada bagian produksi sering tidak teratur sehingga mengganggu kelancaran proses produksi pada bagian berikutnya. Sehingga hipotesis yang dikemukakan di depan yaitu ada pengaruh antara tingkat pendidikan dan pemberian insentif kerja terhadap produktivitas kerja melalui motivasi kerja tidak terbukti kebenarannya.00 %. 1.

J. Dasar-Dasar Organisasi Dalam Management.. 1991. Bandung. Sumitro. Produktivitas. Eresco. CV Tarsito. 1992. Nur Cahaya. Sinungan. Gary. 4. Yogyakarta. SIUP. 1969. Winarno. dan Elazar J Pedhazur. Dasar dan Teknik Research. Ghalia. Penerbit Erlangga. Dessler. 1986. 1981. Jakarta. Fred N. Djojohadikusumo. Tata Administrasi Kekaryawanan. Korelasi dan Analisa Regresi Ganda.penentuan variabel-variabel yang berkaitan dengan produktivitas kerja belum dapat dikatakan sempurna. Apa dan Bagaimana.. Ekonomi Pembangunan (Pengantar Ilmu Ekonomi). Jakarta.. 1979. Sarwoto. Malayu SP. Muchdarsyah. 1987. Manajemen Sumber Daya Manusia. Daftar Pustaka dan Masalah Penelitian Black dan Champion. Ichsan.. PT. Jakarta. 1992. Ahmad. Metode Sosial. Seri Produktivitas. LP3ES. Jakarta. Jakarta. Bina Aksara. Penerbit Jambatan. 1970. Bandung. Penyunting Agus Darmawan. Produktivitas dan Mutu Kehidupan. Hasibuan. Surachmad. 29 . 1990. CV Haji Masagung. Ravianto. Jakarta. Manajemen Personalia. Kerlinger. Jakarta.

Keywords: Kepemimpinan. economical. globalization. and ethical forces must be responded through appropriate organizational change.PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PERUBAHAN ORGANISASIONAL Audith M Turmudhi1 Abstract The fast changing of organizational environment which is driven by competition. In order that organizational change runs successfully. physical setting. the effort should be led by a strong. political. visionary. and group think and individual obstacle. technology. And the constraints which are able to threat the success of change effort are organizational systems and power. There are four targets of organizational change should be considered i. Perubahan Organisasional 1 Staff Pengajar STMIK AMIKOM Yogyakarta 30 . and people. group norms and cohesiveness. cultural inertia. and development-oriented leadership. organizational structure.e. social-demographical. intelligent. the differences of functional orientation and mechanical organizational structure.

Pendahuluan Perubahan lingkungan organisasi -. kekuatan ekonomi. dan kekuatan etikal. dahulu maupun sekarang. Dan di tengah semua itu mencuat pula di sana-sini kesadaran etik masyarakat yang menuntut ditegakkannya perilaku etis dalam dunia kerja. kompetensi maupun aspirasi karyawan juga mengharuskan respons organisasional yang tepat. kekuatan politik.1. regional maupun global bergerak sangat fluktuatif dan penuh kejutan. Bahkan. yakni kekuatan kompetisi. tanpa perubahan diri secara tepat dan signifikan organisasi tersebut niscaya akan terseok. Makin tingginya tingkat pendidikan rata-rata karyawan. penuh dinamika dan turbulensi. akan menyebabkan meningkatnya aspirasi dan tuntutan mereka dalam bekerja. Perubahan struktur demografik dan sosial berlangsung secara sangat signifikan. kecepatan dan intensitas perubahan lingkungan tersebut pada umumnya berlangsung begitu tinggi. kekuatan sosial-demografik. bahkan akan mati terlindas hukum besi perubahan. perubahanperubahan yang terjadi pada nilai-nilai. Jelaslah. pada lingkungan internal organisasi. Sementara. kekuatan globalisasi. peluang aktualisasi diri yang 31 . Mereka pada umumnya mengharapkan perlakuan kerja yang lebih manusiawi. bisnis. seringkali bersifat diskontinyu sehingga bukan saja menyulitkan. perubahan lingkungan (environmental change) akan mengakibatkan tekanan pada organisasi untuk melakukan perubahan organisasional (organizational change). misalnya. Dewasa ini persaingan dalam dunia bisnis berlangsung semakin sengit. Dinamika ekonomi dan politik nasional. tetapi dapat mengancam keberlangsungan hidup suatu organisasi. George dan Jones (2002) menyebutkan sejumlah faktor lingkungan eksternal yang mendorong perubahan. Globalisasi ekonomi dan budaya yang dipicu oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan transportasi telah menyebabkan dunia ini bagaikan desa global (global village). etos kerja. Namun di masa sekarang.eksternal maupun internal adalah suatu keniscayaan. Di tengah kuatnya arus perubahan lingkungan. dan politik.

pemberian reward yang lebih adil dan lebih motivatif. departemen keuangan yang lebih berorientasi pada efisiensi biaya mungkin akan menolak ide 32 . dan sebagainya. kekhawatiran. ketidakamanan.akan menghasilkan suatu inertia ketika menghadapi perubahan. Pola hubungan-hubungan kekuasaan yang telah mapan dan mendatangkan sejumlah privileges bagi para pelakunya juga dapat menghambat upaya perubahan yang mengarah pada redistribusi wewenang pengambilan keputusan. sistem pengambilan keputusan. dan lain-lain -. Pembahasan Hambatan-hambatan Perubahan Namun. (3) kelembaman (inertia) kultur organisasi. perubahan organisasional bukanlah hal yang mudah dilakukan. suasana kerja yang lebih menyenangkan. sistem reward dan punishment. Orientasi fungsional yang berbeda pada tiap-tiap departemen atau bagian organisasi juga dapat mempersulit terbangunnya kesamaan visi perubahan. Mekanisme yang telah tertanam untuk menghasilkan kemantapan dalam beroperasinya suatu organisasi -. sistem informasi. (4) norma dan kohesivitas kelompok.lebih besar. (2) perbedaanperbedaan dalam orientasi fungsional dan struktur organisasi yang mekanistik. (5) pemikiran kelompok (group think) dan kendala-kendala individual. sistem keuangan. sistem penilaian kinerja. sistem pelatihan.yang diberlakukan dalam sistem seleksi karyawan. cara kerja yang lebih fleksibel. dan retensi kebiasaan. Para manajer dan supervisor yang menikmati kewenangan yang luas mungkin merasa terancam dengan akan diberlakukannya sistem pengambilan keputusan partisipatif atau diterapkannya tim kerja swakelola. kesempatan karir yang lebih terbuka. Ada banyak kendala yang bisa menghadang dan memacetkan program-program perubahan. seperti ketidaksiapan yang mengakibatkan rasa ketidakpastian. 2. persepsi selektif. Sebagai contoh. Sejumlah kendala yang ditengarai oleh George dan Jones (2002:645-646) adalah: (1) kendalakendala sistem keorganisasian dan kekuasaan.

merupakan variabel independen yang sangat memengaruhi perilaku karyawan. dan berorientasi pada keunggulan. dan business ethics yang rendah sudah barangtentu tidak mudah untuk berubah menjadi organisasi yang berbudaya etis. usulan perubahan desain produk oleh departemen pemasaran berdasarkan hasil riset pasar. akan menyulitkan suatu perubahan organisasional yang menuntut berubahnya nilai-nilai inti tersebut. menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Begitulah. 1988). sebagaimana disebutkan hampir 60 tahun yang lalu oleh Selznick (1948).perubahan teknologi yang diusulkan departemen produksi yang ingin mengejar kuantitas dan kualitas poduksi yang lebih tinggi yang akan berakibat pada meroketnya anggaran. yakni yang ditandai dengan dipegang dan dianutnya nilai-nilai inti organisasi secara intensif dan secara luas oleh anggota organisasi tersebut (Wiener. Tekanan kelompok dapat mengerem usaha-usaha individual maupun program perubahan organisasional. Nilai-nilai yang sudah terlembagakan melalui praktik perilaku organisasional dalam kurun waktu yang cukup lama akan menjadi panduan otomatis perilaku para karyawan. suatu organisasi yang sudah berpuluhtahun mempraktikkan nilai-nilai budaya korup. Organisasi yang memiliki budaya yang kuat. formal maupun non-formal juga dapat menjadi penghalang upaya perubahan. bisa jadi kurang direspons positif oleh departemen produksi jika dirasa hanya akan menimbulkan kerepotan dalam proses produksi. beretoskerja tinggi. Dengan demikian. Kelompok-kelompok kerja. Kelompok-kelompok dengan kohesivitas tinggi yang 33 . Contoh lain. etos kerja medioker atau bahkan minimalis. masing-masing departemen atau divisi cenderung mengedepankan kepentingan atau mission diri sendiri. egoisme departemental atau divisional tersebut tumbuh subur dalam struktur organisasi yang mekanistik. Individu-individu yang ingin mengubah perilaku kerjanya besar kemungkinan akan dihambat oleh norma kelompok yang tidak sejalan. Validitas gagasan perubahan akan dinilai pertama-tama dari sudut pandang kepentingan masing-masing. Budaya organisasi. Biasanya.

sistem-sistem operasi. sulit muncul. Tanggungjawab departemental dapat digabung demi keefektifan dan efisiensi. cenderung dicurigai. Gagasan-gagasan baru. Beberapa lapisan vertikal dapat dihilangkan dan rentang kendali diperlebar demi mengurangi birokratisasi dan menambah daya responsi organisasi terhadap dinamika lingkungan.. Kebiasaan berpikir para pimpinan dan segenap karyawan dalam menganalisis situasi dan merespons masalah dapat memerangkap mereka dalam pola-pola pikir konvensionalorganisasional (group think). darimanapun datangnya. pelenturan jam kerja. pengayaan pekerjaan (job enrichment). Aturanaturan/prosedur yang dirasa menghambat kinerja bisa dipangkas. dan penerapan sistem imbalan yang lebih berbasis kinerja atau profit sharing. Dalam keadaan demikian. penglihatan masalah dari sudut pandang yang berbeda dan pengajuan alternatif solusi yang sama sekali lain. ketidaksiapan. dan desain organisasi jika dirasa sudah tidak lagi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada dapat diubah. Dapat dipertimbangkan perlunya dilakukan perubahan uraian pekerjaan (job description). rentang kendali. yaitu struktur organisasi. dan persepsi negatif yang berasal dari informasi mengenai kegagalan-kegagalan upaya perubahan. kekhawatiran akan berkurangnya penghasilan dan bertambahnya kerepotan. ketakutan terhadap hal-hal yang belum dikenali. Hal itu akan cenderung menghalangi munculnya pemikiran segar yang diperlukan untuk perubahan. diganti dengan aturan-aturan/prosedur yang diperlukan untuk 34 . dan sumber daya manusia (Robertson et. Bidang Sasaran Perubahan Pada dasarnya ada empat bidang organisasional yang bisa menjadi sasaran perubahan. hambatan perubahan juga sering muncul dari keengganan individual yang berasal dari faktor kebiasaan.merasa terancam akan kehilangan kenyamanannya atas penguasaan suatu sumber daya organisasi mungkin akan melakukan perlawanan. Akhirnya. setting fisik. Hal-hal yang bersifat struktural seperti pembagian kerja. terusiknya rasa aman. al. 1993). teknologi.

meningkatkan standardisasi. Proses pengambilan keputusan juga dapat dipercepat dengan meningkatkan desentralisasi. Bahkan, jika desain organisasi dengan struktur sederhana (simple structure) dinilai tidak lagi memadai, perlu dipertimbangkan memodifikasinya menjadi stuktur matriks, struktur tim, atau bentuk lainnya. Mengubah teknologi seringkali diperlukan demi efektivitas kerja karyawan dan peningkatan kinerja organisasi. Perubahan teknologis biasanya meliputi mesin-mesin, peralatan kerja, metode kerja, dan yang paling mencolok dewasa ini adalah otomatisasi atau komputerisasi. Otomatisasi menggantikan orang dengan mesin yang dapat bekerja lebih cepat, lebih akurat dan lebih murah. Sistem informasi yang canggih memudahkan pengelolaan dan pemanfaatan informasi secara menakjubkan. Mengenai perubahan setting fisik, bukti empirik menunjukkan bahwa memang tidak sertamerta hal itu berdampak besar pada kinerja individu maupun organisasi (Steele, 1986). Meskipun demikian, setting fisik tertentu terbukti dapat membantu atau merintangi karyawan-karyawan tertentu dalam berkinerja, sehingga dengan mengubahnya secara tepat kinerja karyawan dan organisasi dapat ditingkatkan (Porras dan Robertson, 1992). Tata letak ruang kerja dan peralatan serta desain interior yang dirancang dengan baik akan membantu membangun suasana dan keefektifan kerja. Karyawan akan mudah saling berkomunikasi dalam ruang kantor dengan desain terbuka, tanpa sekat-sekat dan dinding. Kenyamanan untuk produktivitas kerja juga dipengaruhi oleh intensitas pencahayaan, suhu ruangan, kebisingan, kebersihan, dekorasi maupun warna dinding. Akhirnya, bidang sasaran perubahan yang paling crucial adalah sumber daya manusia (SDM), baik secara individual, kelompok maupun keseluruhan anggota organisasi. Sebagai asset terpenting dan faktor kunci keberhasilan suatu organisasi, SDM perlu mendapat perhatian dan pengelolaan lebih khusus. Perubahan SDM bisa terjadi meliputi penggantian orang (turnover), mutasi, promosi, demosi; perubahan sikap, motivasi, dan perilaku kerja; peningkatan pengetahuan dan ketrampilan kerja; dan perubahan nilai-nilai budaya

35

organisasional yang menjadi dasar acuan perilaku segenap anggota organisasi. Kepemimpinan yang Diperlukan untuk Perubahan Mengingat pentingnya upaya perubahan organisasional di tengah lingkungan yang berubah cepat dan bahkan acapkali bersifat diskontinyu, dan mengingat strategis dan krusialnya bidang-bidang sasaran perubahan serta kompleksnya faktor-faktor yang dapat merintangi upaya perubahan, maka perubahan organisasional seringkali tidak dapat dibiarkan terjadi secara “alamiah” saja. Perubahan seringkali perlu dirancang, direkayasa dan dikelola oleh suatu kepemimpinan yang kuat, visioner, cerdas, dan berorientasi pengembangan -- sebagai agen perubahan. Perubahan memerlukan kepemimpinan yang kuat dari segi otoritas yang dimilki maupun dari segi kepribadian dan komitmen karena memimpin perubahan dengan segala kompleksitas permasalahan dan hambatannya memerlukan power, keyakinan, kepercayaan diri, dan keterlibatan diri yang ekstra. Seperti yang disebutkan oleh Zaleznik (1986), seorang pemimpin tidak boleh bersikap impersonal, apalagi pasif terhadap tujuan-tujuan organisasi, melainkan harus mengambil sikap pribadi dan aktif. Dengan begitu ia tidak akan mudah patah oleh hambatan dan perlawanan. Ia justru akan bergairah menghadapi tantangan perubahan yang dipandangnya sebagai batu ujian kepemimpinannya (Maxwell, 1995). 3. Penutup

Pemimpin perubahan juga harus visioner karena ia harus sanggup melihat cukup jauh ke depan ke arah mana kapal organisasi harus bergerak. Kotter (1990) menyebutkan bahwa memimpin perubahan harus dimulai dengan menetapkan arah setelah mengembangkan suatu visi tentang masa depan, dan kemudian menyatukan langkah orang-orang dengan mengomunikasikan penglihatannya dan mengilhami mereka untuk mengatasi rintanganrintangan. Semua itu dilakukan tanpa harus bersikap otoriter. Namun,

36

meskipun ia mengundang partisipasi pemikiran dari anggota, tongkat kepemimpinan tetaplah berada di tangannya. Kecerdasan juga sangat diperlukan untuk kepemimpinan perubahan. Tanpa kecerdasan yang baik, ia akan mudah terombangambing dalam kebingungan. Kecerdasan sangat diperlukan karena pemimpin harus pandai memilih strategi dan menetapkan programprogram perubahan dan mengilhami teknik-teknik pengatasan masalah yang sesuai dengan situasi dan kondisi organisasional yang ada berserta dinamikanya. Kecerdasan yang diperlukan dalam hal ini adalah kecerdasan yang multi-dimensional, yang pada intinya meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Dengan kecerdasan intelektual berarti ia memiliki pengetahuan, wawasan, dan kreativitas berpikir yang diperlukan. Dengan kecerdasan emosional berarti ia pandai mengelola emosi diri maupun emosi orang lain, sehingga proses perubahan dapat berjalan efektif (Cooper dan Sawaf, 1997). Dan dengan kecerdasan spiritual berarti ia memiliki kesadaran etis yang tinggi sehingga tujuan perubahan tidak semata demi peningkatan efektivitas organisasi namun juga demi tertunaikannya tanggungjawab moral dan etik (moral & ethical responsibility) kepada semua stakes-holders (Hendricks dan Ludeman, 2003). Sebagai syarat keempat, yang lebih spesifik untuk kepemimpinan di tengah dunia yang berubah, adalah perilaku kepemimpinan yang berorientasi pengembangan, yaitu kepemimpinan yang menghargai eksperimentasi, mengusahakan munculnya gagasangagasan baru, dan menimbulkan serta melaksanakan perubahan (Ekvall dan Avronen, 1991). Pemimpin demikian akan mendorong ditemukannya cara-cara baru untuk menyelesaikan urusan, melahirkan pendekatan baru terhadap masalah, dan mendorong anggota untuk memulai kegiatan baru. Begitulah, di tengah gencarnya perubahan lingkungan, tanpa upaya perubahan organisasional yang tepat di bawah kepemimpinan yang kuat, visioner, cerdas, dan berorientasi pengembangan, suatu organisasi akan berjalan terseok, bahkan mungkin akan mati didera kuatnya arus perubahan.

37

Porras. P.M. New York: Free Press. 3 (Palo Alto: Consulting Psychologist Press. New Jersey..).. 1997. 2003 Kotter. The Corporate Mystic (terjemahan). Jenifer M.” dalam M.. J. G. and Research. P. Vol. I.D. Hough (ed. Dunnette dan L. Maxwell. No. “Dynamics of Planned Organizational Change: Assessing Empirical Support for a Theoretical Model. Robert K.. Ayman. Jakarta: Binarupa Aksara. ed. R. George. Robertson. dan Porras. J. Hendricks. New York: Grosset/Puttnam. Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda (terjemahan). 1 (1991). dan Robertson. 7. Gay dan Ludeman. J. J. 1990. Practice. Organizational Behavior.” Academy of Management Journal (Juni 1993). I. Kate. Roberts. A Force for Change: How Leadership Differs from Management. J. “Organizational Development: Theory. Prentice Hall International Incorporation. 2002. ke-2.. dan Arvonen. D. Bandung: Kaifa. Excecutive EQ: Emotional Intelligence in Leadership & Organization. dan Sawaf.4. Handbook of Industrial & Organizational Psychology.. Daftar Pustaka Cooper. “Change-Centered Leadership: An Extension of the Two-Dimensional Model. 1995. Gareth R Jones. 1992). Ekvall. John C.. P. J. Vol.” Scandinavian Journal of Management. 3rd edition. 38 .

1986. New York: Teachers College Press. Harvard Business Review (Mei-Juni 1986). Zaleznik. “Forms of Values Systems: A Focus on Organizational Effectiveness and Cultural Change and Maintenance”. “Foundation of the Theory of Organizations”.. 39 .Selznick. Making and Managing High-Quality Workplaces: An Organizational Ecology. Academy of Management Review (Oktober 1988). Steele. A.. “Excerpts from Managers and Leaders: Are They Different?”. Y.. P. Wiener. F.. American Sociological Review (Februari 1948).

sedang yang betul-betul tidak bekerja (open unemployment) berkisar 12.7 juta (www. yang mampu diserap oleh pasar tenaga kerja (labor market) hanya berkisar 1. Pendahuluan Salah satu masalah yang cukup serius dihadapi negara kita dewasa ini adalah masalah pengangguran.518 setiap pertumbuhan ekonomi 1%). Untuk menyerap pertambahan angkatan kerja sebanyak 2. diperlukan adanya kebijaksanaan yang dianggap cukup memadai untuk mengatasi persoalan tersebut.5 juta setiap tahun dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 atau 7 persen (ILO).PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT UNTUK MENGATASI PENGANGGURAN DI INDONESIA Bambang Sudaryatno1 Abstraksi Masalah pengangguran merupakan masalah serius yang sedang dihadapi negara kita dewasa ini.4 juta jiwa. Salah satu kebijaksanaan yang ditawarkan dalam makalah ini ialah pemberdayaan ekonomi rakyat. menurut Asian Development Bank (ADB) diperlukan investasi sebesar Rp.627 triliun pertahun.go. Untuk mendorong agar pertumbuhan ekonomi dapat mencapai angka 6 atau 7 persen tersebut. Untuk itu. Sekarang jumlah penganggur dengan berbagai jenisnya diperkirakan berkisar 40 juta orang.6 juta orang. Yang sangat diharapkan memutar roda pembangunan ekonomi adalah 1 Staff Pengajar STMIK AMIKOM Yogyakarta 40 .5 persen (218. Daya serap pasar kerja yang kecil ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi (economic growth) dengan asumsi optimal 6. depdagri.id) Keadaan ini lebih diperparah lagi dengan pertambahan angkatan kerja (labor force) setiap tahunnya berkisar 1. Kata Kunci: 1.

Menurut Mubyarto (1997). Pembahasan Pengertian Ekonomi Kerakyatan Sering timbul pertanyaan tentang pengertian sistem ekonomi kerakyatan.? Berdasarkan pengertian ini terefleksi bahwa dalam ekonomi rakyat. menengah.investasi baik investasi asing (foreign investment) maupun investasi dalam negeri. Kalau perusahaan besar pada 41 . pemilikan dan penilikan oleh rakyat banyak. maka ekonomi yang diharapkan dapat tumbuh dari dorongan investasi baik investasi luar negeri maupun dalam negeri sulit tercapai. Berdasarkan hal ini perlu dicari alternatif dalam mengatasi persoalan-persoalan ekonomi dewasa ini khususnya masalah ketenagakerjaan. Sistem ekonomi kerakyatan tidak dapat dipisahkan dari pengertian ?sektor ekonomi rakyat?. dan koperasi (UKMK). sehingga pada saat awal pemerintahan Orde Reformasi peranan sektor ekonomi rakyat menjadi fokus kebijaksanaan dalam ekonomi. dan mengendalikan berlangsungnya proses produksi. distribusi. maupun konsumsi yang melibatkan rakyat banyak. masyarakat tidak hanya didorong untuk berpartisipasi dalam melakukan produksi dan menikmati hasil-hasilnya. antara lain berbentuk usaha kecil. Nampaknya hal ini disadari oleh pemerintah. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut menurut penulis ialah mendorong dan meningkatkan peranan ekonomi rakyat. Jumlah dan jenis sektor ekonomi rakyat tidak terhitung jumlahnya. tetapi juga memiliki. sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang bertumpu pada kekuatan mayoritas rakyat. mengawasi. Sejarah telah membuktikan bahwa sektor ekonomi rakyat ini telah mampu bertahan dalam mengembangkan misinya dengan menghidupkan mayoritas anak bangsa. 2. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. sektor ekonomi rakyat adalah sektor ekonomi baik sektor produksi. memberikan manfaat rakyat banyak. Menurut Idris (1999).

maka sektor ekonomi rakyat kurang diperhatikan karena dianggap kurang mampu mendorong pembangunan ekonomi dan kurang mampu memasukkan pajak. misalnya sektor agrobisnis. Unit-unit usaha ini umumnya menggunakan teknologi tepat guna. Dengan demikian setiap orang tidak sulit untuk dapat terjun menggeluti sektor ini. Sektor ekonomi rakyat 1. 4. 5. Dengan demikian unit-unit usaha dapat dikelola secara efisien dan efektif. Sektor ini umumnya berbasis pada sumber daya domestik. Dengan demikian relatif kurang terpengaruh pada perubahanperubahan konjungtur ekonomi dunia. Bahkan pada saat memuncaknya krisis ekonomi baru-baru ini ada beberapa sektor menikmati keuntungan. tanpa melalui prosedur yang berbelitbelit. Bisa dibuktikan dengan maraknya pameran tanaman setiap hari dihampir semua kota di Jawa. Umumnya sektor ini sangat fleksibel dalam mengantisipasi keinginan pasar. Dengan demikian tidak perlu ada dikotomi antara perusahaan besar (mega company) dengan perusahaan kecil/menengah (sektor ekonomi rakyat). Hal semacam ini sangat sulit bagi industrti-industri/perusahaan-perusahaan besar. Sektor ini mudah didirikan. Pada sektor usaha tertentu dengan modal yang relatif kecil usaha mereka sudah dapat dijalankan. maupun dalam pemasaran. 2. Sektor ini dapat menjadi mitra bagi perusahaan besar.saat itu sarat dengan berbagai fasilitas sebagai akibat kolusi antara pengusaha dan penguasa. misalnya pedagang kaki lima (sektor informal). Relatif kurang memerlukan modal yang besar. Mereka dengan mudah dapat berpindah dari satu sektor usaha ke sektor usaha lain. Hal ini disebabkan karena sektor usaha ini umumnya berskala kecil dan menengah. baik sebagai pemasok bahan baku. 42 . 3. penyediaan komponen. 6.

maka sesungguhnya sektor ini dalam keadaan persaingan sempurna (perfect competition). Thomson G 1996). Dengan demikian walaupun era globalisasi ekonomi menerpa dengan karakteristik antara lain arus modal yang sangat besar dari suatu kawasan atau negara menuju kawasan atau negara yang menguntungkan (Hirst P. Apabila sektor ini dapat diberdayakan dan berhasil mengemban misinya sebagai tulang punggung ekonomi. Berbagai produk yang dihasilkan oleh sektor ekonomi rakyat misalnya hasil-hasil pertanian dan berbagai hasil kerajinan sangat kompetitif di pasar internasional. tetapi sebagian besar tetap berada di sekitar garis kemiskinan. Sektor ini kalau diperhatikan bentuk pasarnya.7. Dikatakan demikian karena banyak sekali penjual yang menjual pada satu jenis barang. di mana hanya sebagian kecil anggota masyarakat yang menikmati hasil pembangunan. Juga sektor usaha kecil yang digeluti oleh rakyat banyak dapat diperkirakan relatif kurang diminati oleh para investor asing. Harga suatu produk relatif sama dan kualitas produknya juga relatif sama. 43 . Jangan sampai terjadi seperti pada masa pemerintahan Orde Baru karena memburu pertumbuhan (growth) akibatnya pemerataan (equity) terabaikan. Akibatnya tidak ada seorang penjualpun yang dapat mempengaruhi harga. sehingga sektor ini berjalan secara efisien. 9. Dengan demikian efisiensi yang diharapkan melalui mekanisme pasar seperti yang biasa didengungkan sesungguhnya sudah lama teraplikasi pada sektor ekonomi rakyat. 8. Dikatakan demikian karena sektor ini digeluti mayoritas masyarakat baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen. maka dengan sendirinya pemerataan (equity) yang`selalu diidam-idamkan otomatis akan tercapai. tetapi dengan keunggulan sektor ekonomi rakyat sepertidipaparkan di atas diharapkan akan tetap bertahan melaksanakan misinya dalam hal ini adalah memberikan kehidupan pada rakyat banyak.

keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan masih belum memadai.2%) berada di pedesaan dan (41.Ekonomi Rakyat dan Masalah Ketenagakerjaan Data dari Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dari tahun ketahun semakin meningkat.8%) pengangguran terbuka berada di pedesaan dan (55. Dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun yang relatif masih rendah. banyak faktor yang menyebabkannya antara lain: Percepatan pertumbuhan lapangan kerja. dengan peningkatan angkatan kerja semakin besar. masalah TKI kembali timbul dengan banyaknya permasalahan yang terjadi pada TKI yang bekerja di luar negeri yang memerlukan pembenahan agar tidak terus berlanjut. Kalau hal ini tidak teratasi akan menimbulkan berbagai masalah di masyarakat. Tahun 2007 pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah belum cukup memadai untuk mengatasi berbagai masalah khususnya pengangguran. Untuk menyerap jumlah pertambahan ini diperlukan pertumbuhan ekonomi 7 persen. Selain itu dalam tahun 2007. Kedua. tidak dapat mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja sehingga kemampuan untuk menyerap pencari kerja menjadi terbatas. Angka pengangguran terbuka tahun 2007 diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya disebabkan oleh penciptaan lapangan kerja masih relatif kecil dan cenderung tidak meningkat. maka jumlah pengangguran terbuka diperkirakan meningkat.2%) berada di perkotaan. Dengan kata lain.627 triliun. Angka ini sangat sulit tercapai disebabkan karena berbagai kendala.8%) berada diperkotaan. sekitar (58. Dari keseluruhan angkatan kerja tersebut. Untuk mencapai pertumbuhan 7 persen ini diperlukan investasi Rp. khususnya di sektor modern. Hingga sampai saat sekarang kondisi ketenagakerjaan masih belum mengalami perbaikan yang berarti. Dengan demikian jumlah pengangguran terbuka akan semakin besar. Oleh karenanya dibutuhkan waktu yang relatif 44 . kebanyakan mereka yang baru menyelesaikan pendidikan belum siap untuk bekerja sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Sedangkan angkatan kerja yang termasuk dalam kategori pengangguran terbuka berjumlah (44. Kalau ditelusuri lebih mendalam sebab-sebab pengangguran yang cukup besar tersebut.

Ketiga. Banyak yang menolak untuk melakukan pekerjaan karena merasa bahwa penghasilan yang didapatkan terlalu rendah. Pemuda yang berpendidikan tinggi pada umumnya berasal dari keluarga yang mempunyai status ekonomi relatif baik. Banyak di antara mereka yang menggantungkan diri pada keluarga dalam menemukan pekerjaan yang dianggap cocok. Keadaan ini semakin menonjol pada mereka yang belum berumahtangga dan tidak punya tanggung jawab secara ekonomi. Latar belakang keluarga juga merupakan faktor pendukung yang dapat menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di antara mereka yang berpendidikan tinggi. 1994). Ketidaksiapan mereka untuk melakukan pekerjaan menyebabkan banyak majikan yang menolak untuk mempekerjakan mereka yang baru lulus sekolah. 1987). Kemampuan orang tua atau keluarga yang lain untuk mendukung secara ekonomi tampaknya mempunyai pengaruh yang besar pada tingginya aspirasi terhadap pekerjaan. Para pemilik perusahaan cenderung memilih mereka yang sudah berpengalaman kerja daripada yang baru lulus. Tingginya tingkat pengangguran utamanya dari golongan pemuda merupakan suatu permasalahan yang rumit harus dihadapi 45 . mereka yang berpendidikan tinggi juga mempunyai aspirasi yang tinggi terhadap pekerjaan. tidak sesuai dengan pendidikan yang dimiliki. Menurut Clignet (1980) tingginya tingkat pengangguran sering juga disebabkan karena ketidaksesuaian tingkat aspirasi terhadap pekerjaan dengan pekerjaan yang tersedia di pasar kerja. Ini meliputi faktor-faktor seperti gaji dan kemungkinan pengembangan karir. Para pemuda yang berpendidikan tinggi banyak yang memilih untuk menganggur selama mereka belum menemukan pekerjaan yang mereka anggap sesuai dengan pendidikannya.cukup untuk melatih mereka agar dapat memenuhi tuntutan pekerjaan (Suryadi. Suatu studi memperlihatkan bahwa pemilik perusahaan lebih suka menerima pekerja yang lebih tua karena mereka lebih mempunyai motivasi kerja di samping kemampuan dan penampilan kerja mereka juga lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang baru saja lulus dari pendidikan (Grant.

638 triliun (Gie. Unit-unit ini beroperasi dalam berbagai bentuk antara lain berbentuk usaha kecil dan menengah (UKM).46 persen seluruh angakatan kerja (usaha kecil 88. Jika mereka tidak tersalurkan ke dalam lapangan pekerjaan banyak kemungkinan bisa terjadi dan tidak jarang pula yang bersifat negatif. Banyak diantara mereka yang menjadi frustrasi karena meskipun sudah menjalani pendidikan.54 persen). sehingga mereka itu menjadi tenaga kerja terdidik (skilled labor) yang selanjutnya akan menjadi modal manusia (human capital). Usaha besar hanya mampu menyerap angkatan keja 0. Berdasarkan hal tersebut di atas. maka ekonomi rakyat dapat menjadi pilihan atau alternatif dalam mengatasi pengangguran. Kepada lembaga pendidikan formal dan informal perlu memberikan keterampilan keterampilan hidup kepada siswa/mahasiswa sekolah kejuruan perlu diperkuat dengan memberikan keterampilan vokasional kepada lulusannya sesuai kebutuhan lapangan kerja pada sektor UKM. 46 .2004) Telah dikemukakan bahwa jumlah UKM 42. Daerah perkotaan merupakan tujuan utama bagi kebanyakan mereka yang berpendidikan untuk mencari pekerjaan. terutama pemerintah kota.oleh pemerintah.54 persen sedangkan UKM mempunyai daya serap yang cukup fantastis ialah sebesar 99.92 persen dan perusahaan menengah 10. Kalau dibandingkan daya serap antara perusahaan besar dengan UKM terdapat perbedaan yang menyolok. tetap saja kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Salah satu kemungkinan tersebut adalah meningkatnya angka kejahatan yang dilakukan oleh orang muda yang tergolong penganggur.7 persen atau sebesar Rp.4 juta yang dapat menyerap pertambahan angkatan kerja yang bertambah setiap tahun. Akibatnya. sebagai pelampiasan rasa kecewa mereka melakukan berbagai tindakan yang dapat membahayakan orang lain. Seperti telah dikemukakan bahwa sistem ekonomi rakyat adalah sistem ekonomi yang melibatkan rakyat banyak yang beroperasi dalam bentuk unit-unit ekonomi rakyat. Kepada UKM-UKM tersebut direkomendasikan untuk mendidik dan memberikan keterampilan yang memadai kepada para angkatan kerja yang direkrutnya. Dengan demikian PDB yang diciptakan oleh UKM sebesar 56.

. politik. 4. Salah satu kebijaksanaan yang ditawarkan dalam makalah ini ialah pemberdayaan ekonomi rakyat. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia. Hanya dalam hal perekrutan tenaga kerja tersebut oleh pihak ekonomi rakyat dianjurkan kiranya kepada angkatan kerja yang direkrut tersebut diberikan pendidikan dalam berbagai bentuk misalnya pendidikan tambahan. Daftar Pustaka M. dan lain-lain. Dikatakan demikian karena salah satu ciri khas ekonomi rakyat ialah kemampuan untuk menyerap angkatan kerja.org Kuncoro. diperlukan adanya kebijaksanaan yang dianggap cukup memadai untuk mengatasi persoalan tersebut. hukum. Malahan dikatakan bahwa sesungguhnya ekonomi rakyat itu adalah katup pengaman dalam mengatasi pengangguran. Penutup Masalah pengangguran merupakan masalah serius yang sedang dihadapi negara kita dewasa ini.3. dan lainlain. Jumlah pengangguran yang cukup besar ini akan berdampak luas pada berbagai bidang baik bidang ekonomi.Idris Arief . M. Ekonomirakyat. pelatihan.www. Untuk itu. 47 . sosial. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. 2002.

Oleh karena itu disarankan pada lembaga untuk memilih dan mengangkat pimpinan yang mempunyai kualitas bagus dan mampu menjalankan kewajiban dan tenggung jawab sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin. Referent Power. Reward Power. Penelitian ini menggunakan analisa jalur dengan hasil sebagai berikut: 1. Diduga OCB berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan STMIK AMIKOM. diduga kewibawaan pimpinan (Legitimate Power. Expert Power) dengan variabel intervening OCB berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan STMIK AMIKOM 2.PENGARUH KEWIBAWAAN PIMPINAN TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) DAN KINERJA KARYAWAN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Mei Maemunah1 Abstraksi Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah 1. Legitimate Power (X1) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening. 5. 2. Dari hasil tersebut dapat disimpulakan bahwa variable legitimate power (X1) paling dominant mempengaruhi kinerja karyawan dengan variable intervening OCB (X5). Referent Power (X3) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja (Y) dengan variabel intervening OCB (X5). 3. Reward Power (X2) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening. OCB dan Kinerja 1 Staff Pengajar STMIK AMIKOM Yogyakarta 48 . 4. Expert Power (X4) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja (Y) dengan variabel OCB (X5). OCB berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja (Y). Kata Kunci: Kewibawaan Pimpinan.

Sifat-sifat positif tersebut diantaranya keinganan untuk menerima tanggung jawab. baik internal maupun eksternal. Disamping kemampuannya melaksanakan peran tersebut. mengembangkan berbagai alternative pemecahan dan memilih prioritas terbaik untuk kemudian dijabarkan dalam tindakan nyata. Kepemimpinan merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan sebuah organisasi di dalam mencapai tujuan-tujuannya. Dalam organisasi kepemimpinan berkaitan erat dengan pekerjaan yang harus diselesaikan (task function) dan kekompakan orang-orang yang dipimpinnya (relationship function) untuk diarahkan pada tujuan organisasi. mengerahkan dan mempengaruhi orang-orang yang berada di dalam lingkungan kepemimpinan seorang pemimpin melaksanakan pekerjaan-pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. sehingga memungkinkan dirinya memperoleh keuntungan dari berbagai sifat ini untuk menjalankan kepemimpinannya. Banyak model kepemimpinan yang berlandaskan konsepsi kekuasaaan semata yang diterapkan dalam banyak organisasi terbukti gagal mengemban misinya karena kurangnya pendekatan terhadap aspek manusia. Pendahuluan Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauhmana kewibawaaan pimpinan berpengaruh terhadap organizational citizenship behavior (OCB) dan kinerja karyawan Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer “AMIKOM” Yogyakarta. Kepemimpinan sendiri dapat diberi batasan sebagai suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi atau mengajak seseorang atau sekelompok orang untuk bekerja mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan mencakup aspek kemampuan menggerakkan. Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya seorang pemimpin bukan saja personifikasi aspirasi dan kepentingan bawahannnya. tetapi karyawan adalah juga orang yang mampu secara terus menerus menganalisis perkembangan situasi.1. kemampuan 49 . seorang pemimpin dituntut untuk memiliki berbagai sifat positif agar menyesuaikan dirinya dengan berbagai keadaan.

Dalam bukunya Timpe (1991: 71) bahwa kebanyakan riset mengenai kepemimpinan belum banyak riset mengenai hubungan antara kekuasaan pemimpin dan efektifitasnya. Kewibawaan pemimpin itu bersumber dari beberapa kekuatan (power). Setiap pemimpin memiliki gaya yang berbeda baik demokratis. • Kekuasaan memaksa : pengendalian pemimpin atas hukuman • Kekuasaan karena keahlian : pengetahuan dan kompetensi pemimpin sehubungan dengan tugas sebagaimana dipersepsikan oleh bawahan. melainkan menemukan ciri-ciri umum yang mereka miliki. Keterampilan yang digunakan oleh pemimpin atau manajer untuk menggunakan berbagai jenis kekuasaan menentukan efektifitas mereka dalam mempengaruhi bawahan.untuk bisa perceptive dan obyektif. Dari jumlah determinan sumber kewibawaan tersebut maka dicari sumber kewibawaan yang mana yang paling berperan dalam 50 . Lebih jauh Timpe mengungkapkan bahwa riset mengenai kepemimpinan belum dapat mengungkapkan satu sifat yang dimiliki oleh pemimpin yang berhasil. kewibawaan pribadi (personal power) dan lain-lain. Riset tersebut mengungkapkan bahwa pemimpin yang efektif sebagian besar mengandalkan pada kekuasaan karena keahlian dan wibawa untuk performa bawahan dalam beberapa situasi.otoriter atau kebapakan. Tetapi ada satu aspek yang menonjol yaitu pancaran kewibawaan. yaitu • Wewenang (otoritas) : hak pemimpin menurut hukum untuk membuat permintaan atau tuntutan tertentu. Dalam penelitian tersebut kekuasaaan diklasifikan dalam pengertian taksonomi yang mendefinisikan lima jenis kekuasaan yang berbeda. kemampuan untuk berkomunikasi dan kemampuan untuk menentukan skala prioritas. Riset motivasi juga membuktikan bahwa kadangkala hukuman dapat dengan efektif membuat bawahan menuruti petunjuk dan peraturan. • Kekuasaan atas imbalan : pengendalian pemimpin atas imbalan yang bernilai bagi bawahan. seperti kewibawaan jabatan (position power). • Kekuasaan karena wibawa: loyalitas bawahan kepada pemimpin serta keinginan untuk menyenangkannya.

Kekuasaan disini didasarkan atas persepsi mengenai prerogratif-prerogratif. Untuk mendapatkan bukti empiris bahwa referent power secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Untuk mendapatkan bukti empiris bahwa legitimate power secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kinerja karyawan.mempengaruhi karyawan khususnya untuk budaya organisasi seperti di Indonesia. maka akan mempermudah bagi seorang pemimpin mengimplementasikannya dalam bentuk menggerakkan karyawan guna mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. b. Dengan mengetahui sumber kewibawaan yang paling dominan. e. Untuk mendapatkan bukti empiris bawa organizational citizenship behaviour (OCB) secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Untuk mendapatkan bukti empiris bahwa expert power secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Legitimate Power (Kewibawaan Berdasarkan Formal) Adalah kewibawaan seorang pemimpin semata-mata bersumber pada formalitas yang diberikan oleh organisasi kepada seorang pemimpin. Untuk mendapatkan bukti empiris bahwa reward power secara positif dan signifikan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah a. c. d. Landasan Teori Teori Kewibawaan Pimpinan Menurut Yukl (1998: 167-174) bahwa ada beberapa macam kewibawaan yaitu: a. dan tanggung jawab yang berkaitan dengan kedudukan-kedudukan tertentu dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Reward Power (Kewibawaan Berdasarkan Imbalan) Adalah kewibawaan seorang pemimpin yang bersumber pada kontrol atau penguasaan terhadap sumber –sumber daya dan 51 . b. kewajiban-kewajiban.

tidak berkaitan secara langsung atau eksplisit dengan system reward dan 52 . Pengetahuan khusus dan keterampilan teknis merupakan sebuah sumber kekuasaan selama terdapat ketergantungan yang terus menerus pada orang yang mempunyainya. Keberhasilan dalam mengembangkan dan mempertahankan referent power tergantung pada keterampilan antar pribadi seperti persona (charm). blueprint dan program-program computer. Sebuah bentuk reward power berpengaruh terhadap kompensasi dan kemajuan karir.imbalan-imbalan. maka keahlian agen tersebut tidak lagi berharga. Referent Power (Kewibawaan Berdasarkan Keinginan Menyenangkan Orang Lain) Bentuk referent power yang paling kuat bagi seorang pemimpin menyangkut proses mempengaruhi yang disebut personal identification. Orang yang mengidentifikasikan dirinya dengan seorang pemimpin ingin menjadi sebagai pemimpin tersebut dan diterima olehnya. diagram. diplomasi. bonus atau insentif-insentif ekonomis lainnya kepada para bawahan yang berhak memperolehnya. Kebanyakan pimpinan diberi wewenang untuk memberi kenaikan gaji. empati dan rasa humor. d. Bila sebuah masalah telah dipecahkan secara permanen atau orang lain belajar bagaimana memecahkannya sendiri. dengan menggunakan jargon teknis untuk membuat agar tugas tersebut kelihatannya lebih kompleks dan misterius dan dengan menghancurkan sumber-sumber informasi alternative mengenai prosedur-prosedur tugas seperti manualmanual tertulis. c. Expert Power (Kewibawaan Berdasarkan Keahlian Dalam Memecahkan Masalah). Jadi orang kadang-kadang mencoba untuk mempertahankan expert power mereka dengan menyimpan prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang ditutupi secara rahasia. kebijaksanaan (tact). Organizational Citizenship Behavior (OCB) Menurut Organ dalam tulisan Lievens and Anseel (2004) mendefinisikan OCB sebagai perilaku individu yang bebas.

Altruism. 53 . Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan : 1. yaitu kebaikan warga negara atau warga organisasi seperti berpartisipasi dan memperhatikan kelangsungan hidup perusahaannya. Civic virtue.bisa meningkatkan fungsi efektif organisasi. b. yaitu sikap berhati-hati atau mendengarkan kata hati. 4. Perilaku yang bersifat sukarela bukan merupakan tindakan yang terpaksa terhadap hal-hal yang mengedepankan kepentingan organisasi. Lebih jauh Organ dalam tulisan Pareke (2004) Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah perilaku-perilaku yang dilakukan oleh karyawan : a. 3. Tidak secara langsung dan eksplisit mendapat penghargaan dari sistem imbalan formal. Tidak berkaitan secara langsung dan terang-terangan dengan system reward yang formal. yaitu sifat mementingkan kepentingan orang lain seprti perilaku membantu dengan segera terhadap orang lain. 2. Courtesy. Istilah Organizational Citizenship Behavior (OCB) pertama kali diajukan oleh Organ. Perilaku individu sebagai wujud dari kepuasan berdasarkan performance tidak diperintahkan secara formal. 2004): 1. Bersifat bebas dan sukarela karena perilaku tersebut tidak diharuskan oleh persyaratan peran atau deskripsi jabatan dan merupakan pilihan personal. yang mengemukakan lima dimensi primer dari OCB (Lievens and Anseel. Conscientiousness. atau kesopanan seperti memberitahu yang lain dalam mencegah kejadian dalam kerja yang menimbulkan suatu masalah. Organ juga mencatat bahwa OCB ditemukan sebagai alternative penjelasan pada hipotesis “kepuasan berdasarkan performance”. 2. Merupakan faktor pendorong keefektifan fungsi-fungsi organisasi. c. 3.

kinerja akan dipengaruhi secara negative.M). 3.(Mc. Pembahasan Teori Kinerja Menurut Robbins (1996: 218) bahwa kinerja karyawan adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi yaitu kinerja= f (A. Seperti halnya sebagian besar perilaku yang lain. Salah satu pendekatan motif dalam perilaku organisasi berasal dari kajian Mc Clelland dan rekan-rekannya. mencari prestasi dari tugas. Menurut Mc Clelland. 2. memelihara dan memperbaiki hubungan dengan orang lain. Motif berprestasi. kesempatan atau kompetisi. Peningkatan kinerja sebagai bagian dari suatu proses menajemen kinerja terus menerus perlu diterapkan dalam tingkat organisasi maupun individu. Sesuatu yang masuk akal bila kita menerapkan OCB secara rasional. manusia memiliki tiga tingkatan motif. dalam As’ad. mendorong orang untuk mencari status dan situasi dimana mereka dapat mengontrol pekerjaan atau tindakan orang lain. OCB ditentukan oleh banyak hal artinya tidak ada penyebab tunggal dalam OCB. yaitu: 1. Kinerja karyawan yang buruk mungkin merupakan hasil dari kepemimpinan yang kurang mencukupi. mendorong orang untuk mewujudkan.5. Motif afiliasi. 1991:52-53) 2. mendorong orang untuk menunjukkan suatu standart keistimewaan (excellence). atau sikap sportif seperti toleransi terhadap ketidaknyamanan dalam bekerja yang tidak dapat dihindari tanpa adanya komplain. manajemen yang buruk atau system kerja yang defektif. Jika ada yang tidak memadai. Semuanya barangkali merupakan akibat kegagalan dari siapapun orangnya 54 . Sportmanship. disamping motivasi perlu juga dipertimbangkan kemampuan (kecerdasan dan kemampuan) untuk menjelaskan dan menilai kinerja pegawai. Clelland. Motif kekuasaan.

transfer dan pemutusan hubungan kerja. Sedangkan menurut Dessler (1997: 32). pencapaian dan pemerkayaan jabatan yang lebih besar. Evaluasi biasanya berfokus pada keterampilan dan kompetensi karyawan yang hendak dievaluasi atau dinilai. Variable independent (variabel bebas) terdiri dari variabel utama yang meliputi legitimate power (X1). Guna mengetahui kinerja karyawan. Dengan demikian maka kinerjanya adalah suatu hasil kesuksesan yang dicapai oleh karyawan dalam bidang pekerjaannya menurut kriterianya yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu dan dievaluasi oleh orang-orang tertentu. Penilaian kinerja dilakukan untuk memberi tahu karyawan apa yang diharapkan pengawas untuk membangun pemahaman yang lebih baik satu sama lain. Penilaian kinerja harus memungkinkan pekerjaan dapat diorganisasikan dengan baik serta memberikan kepuasan. referent power (X3). Akhirnya penilaian kinerja juga memungkinkan karyawan menyusun suatu rencana untuk memperbaiki setiap yang dapat diketahui. Menyediakan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan tentang promosi dan kompensasi. expert power (x4). maka para manajer atau pimpinan perlu melakukan penilaian kinerja dimana sasaran proses penilaian adalah unutk membuat karyawan memandang diri mereka sendiri seperti adanya. reward power (X2). Evaluasi / penilaian kinerja memberikan masukan untuk keputusan penting seperti promosi. b. Menyediakan kesempatan bagi karyawan untuk bersamasama meninjau perilaku karyawan berkaitan dengan pekerjaannya. Penilaian harus mengenali prestasi serta membuat rencana untuk meningkatkan kinerja karyawan. variabel intervening adalah 55 .yang berada di puncak organisasi guna menumbuhkan harapan yang ditetapkan dengan baik dan tidak ragu-ragu. alasan perlunya menilai kinerja karyawan : a. mengenali kebutuhan perbaikan kinerja kerja dan untuk berperan serta dalam membuat rencana perbaikan kinerja.

Dokumentasi Data yang diperoleh dari pihak-pihak kedua secara tidak langsung. Metode pengumpulan data yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah a. Kuesioner Data akan dikumpul (diambil) berasal dari responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (questionare) atau dikumpulkan dengan metode angket sebagai data primer.05.6 56 . Data diperoleh dari melihat catatan dan laporan organisasi. sedangkan reliabilitas α > 0. Sangat tidak setuju b. Pertanyaan inti dalam angket dibuat tertutup dengan opsi pilihan jawaban menggunakan pendekatan skala likert lima jenjang yakni : 1. Sangat Setuju 2. artinya kuesioner langsung dibagikan kepada seluruh responden baru dilaksanakan uji validitas dan reliabilitas.Organizational Citizenship Behavior (OCB) (X5) sedangkan variable dependen (variabel terikat) adalah kinerja (Y). Tidak setuju 5. Setuju 3. Dalam perhitungan nilai koefisien validitas dan reliabilitas menggunakan bantuan computer spss pada tingkat signifikan unutk validitas α < 0. Validitas dan Reliabilitas Agar data yang dihasilkan dari penelitian dapat dikatakan valid dan reliabel maka perlu pengujian validitas dan reliabilitas terhadap angket/alat ukur yang dipakai dalam penelitian. Tidak berpendapat 4. Variabel yang menggunakan teknik dokumentasi adalah variabel kinerja instruktur. Dalam pengujian dan rentabilitas ini digunakan uji terpakai.

4. Analisis Inferensial Yaitu analisa statistika yang bertujuan melakukan pengujian untuk memhipotesis data yang diajukan dalam penelitian. Mengelompokkan atau memisahkan data juga merupakan salah satu bentuk analisis untuk menjadikan data mudah dikelola.3 Analisis Jalur Sesuai dengan tujuan penelitian ini. metode analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Salah satu bentuk analisis adalah kegiatan menyimpulkan data mentah dalam jumlah yang besar. sehingga hasilnya bisa ditafsirkan.4.4. 2.1 Analisa Deskriptif Analisis Deskriptif memiliki arti yang sulit didefiniskan karena menyangkut berbagai macam aktifitas dan proses. 2. Analisis jalur bertujuan untuk menunjukkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variable bebas terhadap variable terikatnya (Siregar.2004 hal 257). 2. Pola model strutrur diagram jalur: X1 X2 X3 X1 X3 X2 57 .Rancangan Analisis Untuk mendapatkan hasil yang valid maka data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisa secara inferensial meupun dengan menggunakan teknik statistic.2.

Dari hasil pengujian validitas butir-butir pertanyaan yang terkandung dalam variable-variabel dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.000 Sumber : Data Primer diolah Status Valid Valid Valid Valid Dengan melihat besarnya nilai koefisien korelasi (r hitung) dan sig.833 0. dapat diketahui bahwa semua nilai koefisien korelasi lebih kecil dari taraf signifikan α < 0.Gambar 1. (2-tailed) tiap-tiap butir pertanyaan. Butir r hitung Probabilitas 1 0.05.000 4 0. Sedangkan gambar di bawahnya menyatakan X1 dan X2 secara bersama mempengaruhi X3. Bentuk diagram jalur ditentukan oleh proporsi teoritis yang berasal dari kerangka berpikir atau empiris pada permasalahan yang dianalisis. sehingga keseluruhan butir pertanyaan variable Legitimate Power adalah valid. Uji Validitas Uji Validitas dalam penelitian ini menggunakan data sebanyak 38 responden. Perhitungan uji validitas menggunakan bantuan computer SPSS versi 10.785 0. Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan Variabel Legitimate Power (X1) No.000 2 0.862 0. 58 . dan X2 dipengaruhi oleh X1. Model Struktur Diagram Jalur Gambar tersebut di atas menyatakan X3 dipengaruhi X2.000 3 0.857 0.

2.05.000 4 0692 0.000 3 0.903 0.000 0. (2-tailed) tiap-tiap butir pertanyaan.000 0.840 0.908 Probabilitas 0. Butir 1 2 3 4 r hitung 0.05.000 0.000 0. 4.808 0. Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan Variable Expert Power (X4) No. Butir r hitung Probabilitas 1 0. Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan Variable Referent Power (X3) No. (2-tailed) tiap-tiap butir pertanyaan. dapat diketahui bahwa semua nilai koefisien korelasi lebih kecil dari taraf signifikan α < 0. 3. sehingga keseluruhan butir pertanyaan variable Referent Power adalah valid.771 0.000 2 0.874 0.000 Sumber : Data Primer diolah Status Valid Valid Valid Valid Dengan melihat besarnya nilai koefisien korelasi (r hitung) dan sig.786 0.000 0.659 0.000 0.863 0.838 0.000 Status Valid Valid Valid Valid Dengan melihat besarnya nilai koefisien korelasi (r hitung) dan sig.000 Status Valid Valid Valid Valid 59 . Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan Variabel Reward Power (X2) No. Butir 1 2 3 4 r hitung 0. dapat diketahui bahwa semua nilai koefisien korelasi lebih kecil dari taraf signifikan α < 0.826 Probabilitas 0. sehingga keseluruhan butir pertanyaan variable Reward Power adalah valid.

05. 5. sehingga keseluruhan butir pertanyaan variable OCB adalah valid.733 0. Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan Variabel OCB (X5) No.796 0. (2-tailed) tiap-tiap butir pertanyaan.001 4 0. dapat diketahui bahwa semua nilai koefisien korelasi lebih kecil dari taraf signifikan α < 0.002 3 0. 6.000 Sumber : Data Primer diolah Status Valid Valid Valid Valid Dengan melihat besarnya nilai koefisien korelasi (r hitung) dan sig.000 4 0.000 2 0. Butir r hitung Probabilitas 1 0. sehingga keseluruhan butir pertanyaan variable Kinerja adalah valid.839 0.772 0. (2-tailed) tiap-tiap butir pertanyaan.Sumber : Data Primer diolah Dengan melihat besarnya nilai koefisien korelasi (r hitung) dan sig.000 2 0. Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan Variabel Kinerja (Y) No. sehingga keseluruhan butir pertanyaan variable Expert Power adalah valid. (2-tailed) tiap-tiap butir pertanyaan. dapat diketahui bahwa semua nilai koefisien korelasi lebih kecil dari taraf signifikan α < 0. 60 .666 0. dapat diketahui bahwa semua nilai koefisien korelasi lebih kecil dari taraf signifikan α < 0.886 0.683 0. Butir r hitung Probabilitas 1 0.000 Sumber : Data Primer diolah Status Valid Valid Valid Valid Dengan melihat besarnya nilai koefisien korelasi (r hitung) dan sig.000 3 0.05.05.870 0.

600 0. sehingga butir-butir pertanyaan yang tersusun dalam angket dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Dari hasil pengujian reliabilitas butir-butir pertanyaan yang terkandung dalam variable-variabel penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut: Variabel Koefisien Alpha Legitimate Power (X1) 0.600 0. Analisis Deskriptif Dari hasil pembagian kuesioner kepada karyawan tetap STMIK AMIKOM Yogyakarta setelah terkumpul semua dan dilakukan pengolahan data maka dapat dianalisis secara deskriptif maupun kuantitatif.8232 Referent Power (X3) 0.Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan data sebanyak 38 responden. Perhitungan uji reliabilitas menggunakan bantuan komputer SPSS versi 10. Hal ini berarti instrument pertanyaan dari tiap-tiap variabel penelitian adalah reliable (handal).7 diatas dapat diketahui bahwa semua variabel yang diteliti mempunyai nilai koefisien reliabilitas lebih besar dari 0.600 0.7897 Expert Power (X4) 0. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jawaban responden terhadap variabel karakteristik individu dapat dilihat dalam tabel berikut: 61 .600.8252 Reward Power (X2) 0.8378 OCB (X5) 0.600 0.8288 Kinerja (Y) 0.600 0.7824 Sumber : Data Primer diolah Koefisien Kritis 0.600 Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Dari hasil pengujian reliabilitas sebagaimana yang terangkum dalam table IV.

Dari hasil analisis deskriptif penilain karyawan STMIK AMIKOM Yogyakarta terhadap Legitimate Power pimpinan keseluruhan adalah cukup baik . Jawaban Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik Total Responden Sumber : Data Primer diolah Frekuensi 6 10 16 6 0 38 Persen 15.11%) memberikan jawaban cukup baik terhadap Reward Power pimpinannya dan responden dengan jumlah 10 orang karyawan (26.79% 0.05% Kurang Baik 1 2.00% Total Responden 38 100% Sumber : Data Primer diolah Dari table IV.31 %) memberikan jawaban baik terhadap Reward Power pimpinannya. 2.79% 26.1.00% 100. 1.11% 15.00% No. 3. 5.31% 42. 5. 4. 3. 1. 2. 4. 2.84% Baik 15 39. 62 .63% Sangat Kurang Baik 0 0. Dari table IV. Deskripsi Variabel Legitimate Power Jawaban Frekuensi Persen Sangat Baik 14 36.48%) memberikan jawaban baik terhadap legitimate power pimpinan dan responden dengan jumlah 14 orang karyawan ( 36. Deskripsi Variabel Reward Power No.84%) memberikan jawaban sangat baik terhadap legitimate powernya.48% Cukup Baik 8 21.8 diatas terlihat bahwa mayoritas responden dengan jumlah 15 orang karyawan (39.8 diatas terlihat bahwa mayoritas responden dengan jumlah 16 orang karyawan (42.

5. 4.00% Dari table IV. Frekuensi 13 6 11 8 0 38 Persen 34. 2. 3. 4.48 %) memberikan jawaban baik terhadap Referent Power pimpinannya.00% 100.21% 15. 3.00% 63 .48% 7. Deskripsi Variabel Referent Power Jawaban Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik Total Responden Sumber : Data Primer diolah No. Deskripsi Variabel Expert Power Jawaban Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik Total Responden Sumber : Data Primer diolah No.05% 0. 1. 3.10 diatas terlihat bahwa mayoritas responden dengan jumlah 19 orang karyawan (50 %) memberikan jawaban sangat baik terhadap Referent Power pimpinannya dan responden dengan jumlah 15 orang karyawan (39. 1.63% 0.79% 28. 5.95% 21. Frekuensi 19 15 3 1 0 38 Persen 50.Dari hasil analisis deskriptif penilaian karyawan STMIK AMIKOM Yogyakarta terhadap Reward Power pimpinannya sebagian besar adalah baik. 4. Dari hasil analisis deskriptif penilaian karyawan STMIK AMIKOM Yogyakarta terhadap Referent Power pimpinannya sebagian besar adalah baik.00% 39. 2.00% 100.89% 2.

1.21 %) memberikan jawaban baik terhadap Expert Power pimpinannya dan responden dengan jumlah 11 orang karyawan (28.79% 64 .00% 5.32%) memberikan jawaban sangat baik terhadap OCB nya. Deskripsi Variabel Kinerja No. Frekuensi 10 14 8 6 0 38 Persen 26.26% 28.00% 100.84% 21. 6.32% 36. 5. 4. 3. 4. Jawaban Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Frekuensi 0 2 11 25 Persen 0. 3.12 diatas terlihat bahwa mayoritas responden dengan jumlah 14 (36. Dari hasil analisis deskriptif penilaian karyawan STMIK AMIKOM Yogyakarta terhadap Expert Power pimpinannya sebagian besar adalah baik.79% 0.95 %) memberikan jawaban cukup baik terhadap Expert Power pimpinannya. 2. Deskripsi Variabel OCB Jawaban Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik Total Responden Sumber: Data Primer diolah No. 2. 5.00% Dari tabel IV.05% 15.11 diatas terlihat bahwa mayoritas responden dengan jumlah 13 orang karyawan (34.84%) memberikan jawaban baik terhadap OCBnya dan responden dengan jumlah 10 (26.95% 65. Dari hasil analisis deskriptif penilaian karyawan STMIK AMIKOM Yogyakarta terhadap OCBnya secara keseluruhan adalah baik.Dari table IV. 1.

79%) diberikan jawaban kurang baik terhadap kinerjanya dan responden dengan jumlah 11 orang karyawan (28.0 Release Windows XP.14 Rangkuman Hasil Analisis Regresi 1 Variabel Independent = X5 (OCB) Variabel Koefisien T-hitung Signifikan Independent Standar X1 0. Analisis Inferensial 1.673 F-stat =16.383 2. 0 38 0.000 Sumber Data Primer diolah Tabel IV.13 diatas terlihat bahwa mayoritas responden dengan jumlah 25 orang karyawan (65. Analisis Regresi Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan program SPSS 10.15 Rangkuman Hasil Analisis Regresi 1 Variabel Independent = Y (Kinerja) 65 .000 X2 0.Sangat Kurang Baik Total Responden Sumber: Data Primer diolah 5. Dari hasil analisis deskriptif penilaian kewibawaan pimpinan oleh karyawan dirasa masih kurang bagus sehingga menghasilkan kinerja karyawan yang masih kurang maksimal pula.820 Sig = 0.817 0.613 0.500 0.499 4.274 2.231 2. maka diperoleh hasil-hasil yang dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel IV.00% 100.675 R12 =0.015 Constanta -6.013 X3 0.95%) diberikan jawaban cukup baik terhadap kinerjanya.00% Dari table IV.985 R = 0.008 X4 0.578 0.

Pengaruh tidak langsung X1 X5 Y = (0.471) * (0.Variabel Koefisien T-hitung Signifikan Independent Standar X5 0.339 Sumber Data Primer diolah Dari hasil analisis sebagaimana yang terangkum dalam table diatas. X4 = 2.347 Dari model tersebut kemudian diinterpretasikan ke dalam bentuk analisis jalur sebagai berikut: a.519 Signifikan X4 = 0.387 DW-statistik = 2.059 R22 =0. X2= 0.613. X1= 0. X1= 4.1823 Jadi pengaruh Legitimate Power (X1) terhadap Kinerja karyawan (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 18.016 Constanta 7.347 R = 0.471X1 + 0.578 Signifikan.150 F-stat = 6. X4= 0. X5 = 0.519 0.278X4 T-hitung.500.23%.225 2. Y = 0.673 F stat = 16. Expert Power (X4) dan OCB (X5) terhadap Kinerja Karyawan (Y) di STMIK AMIKOM maka dapat disusun model persamaannya sebagai berikut: 1. Analisis Jalur 1. X2= 2. X5 = 2.985 2.389X3 + 0.016 R22 = 0.013. Reward Power (X2).387X5 T-hitung.150 F stat = 6. Sehingga hipotesis pertama yang menyatakan bahwa variabel Legitimate Power 66 .008. X3= 2.387) = 0.817.015 R12 = 0. pengaruh variable independent yang terdiri dari Legitimate Power (X1).000.271X2 + 0. X3= 0. Referent Power (X3).

Sehingga hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa Expert Power berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan diterima.1049 jadi pengaruh Reward Power (X2) terhadap Kinerja Karyawan (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 10. 3.18 %. Mencari Koefisien Determinasi Total (R2 Total) Untuk mencari harga R2 total terlebih dahulu mencari harga error pada masing-masing variable dependen sebagai berikut: Βei = √ 1 – R 21 2 1 = βe1 √ 1 – R = βe2 √ 1 – R22 67 . Pengaruh tidak langsung X3 X5 Y= (0. Sehingga hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa Referent Power berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan diterima.278) * (0.387) = 0. b. 4.289) * (0. Pengaruh tidak langsung X4 X5 Y = (0.berpengaruh positif terhadap dan signifikan terhadap kinerja (Y) diterima.49%.387) = 0.271) * (0. Pengaruh tidak langsung X2 X5 Y= (0. Sehingga hipotesis kedua yang menyatakan bahwa Reward Power berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan diterima. 2.76%.1076 jadi pengaruh Expert Power (X4) terhadap kinerja karyawan (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 10.387) = 0.1118 % jadi pengaruh Referent Power (X3) terhadap kinerja (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 11.

463 Dari hasil analisa tersebut maka dapat diinterpretasikan bahwa 46.98)} = 1 – 0.023 = √ 0. Referent Power (x3).537 = 0.23%.98 = 0. variable Referent Power sebesar 11. βe2 = √ 1 – 0.1.0. βei = √ 1 – 0.3% perubahan kinerja karyawan dipengaruhi oleh factor-faktor Legitimate power (x1).99)2} = 1 .548) * (0.74)2 (0.74 2. Pengaruh Dominan Berdasarkan pengaruh tidak langsung (analisis jalur). Expert Power (x4) dan OCB (x5).{ (0.99 Dengan demikian koefisien total dapat dihitung sebagai berikut: R2T = 1 .76%. maka dapat diketahui variabel yang mempunyai pengaruh dominant terhadap kinerja dalam hal ini adalah variable legitimate power yang dalam analisis regresi koefisien pengaruh tidak langsungnya sebesar 18.673 2 = √ 1 – 0. Reward Power (x2).547 = 0. 68 .{ (βei)2 (βei)2} = 1 . selebihnya dipengaruhi oleh factor yang lain. c. Prosentase tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan koefisien variable Reward Power sebesar 10.453 = √ 0.1502 = √ 1.49%.18% dan variable Expert Power 10.{ (0.

dengan hasil sebagai berikut: Hasil Uji Heterokedastisitas1 Variabel bebas: X1. X3. Pengujian heterokedastisitas dilakukan dengan menggunakan bantuan computer program SPSS. 2. X4 Variabel terikat X5 Scatterplot Dependent Variable: OCB 3 Regression Studentized Residual 2 1 0 -1 -2 -3 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value 69 . X2.Pengujian Asumsi Klasik 1. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas dilakukan dengan tujuan agar setiap nilai X yang berpasangan dengan Y mempunyai distribusi dan varian yang sama. Uji Normalitas Dalam uji Normalitas penulis menggunakan Teori Normalitas yang disebut “Central Limit Theorem” yang mengemukakan bahwa jika sampel penelitian sudah melebihi 30 sampel berarti distribusinya sudah baik atau normal.

maka tidak terjadi Heterokedastisitas. serta titik-titk menyebar di atas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. maka telah terjadi Heterokedastisitas. 2004:210) a. Hasil Uji Heterokedastisitas 2 Variabel bebas: X5 Variabel terikat Y Scatterplot Dependent Variable: Kinerja 3 Regression Studentized Residual 2 1 0 -1 -2 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value 70 . Jika ada pola tertentu. X3. b. Jadi berdasarkan grafik tersebut untuk model regresi dengan variable bebas X1. melebar kemudian menyempit). seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang. X4 dan variable terikat X5 tidak terjadi heterokedastisitas karena titiktitik pada grafik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y (tidak membentuk pola tertentu).Dasar pengambilan keputusan dari grafik tersebut adalah : (Santoso Singgih. Jika tidak ada pola yang jelas. X2.

sehingga asumsi terpenuhi. Korelasi antara variabel X2 dengan X3 sebesar 0.05 maka tidak signifikan sehingga tidak terjadi multikolinieritas.199. Korelasi antara X3 dengan X4 sebesar 0. 3. karena harga p > 0.960. karena harga p > 0. Korelasi antara variable X1 dengan X3 sebesar 0.05 maka tidak signifikan sehingga tidak terjadi multikolinieritas.213 dan p = 0. p = 0. karena harga p > 0. sehingga asumsi terpenuhi. Korelasi antara X2 dengan X4 sebesar 0.Berdasarkan grafik tersebut untuk model regresi dengan variabel bebas X5 dan variabel terikat Y tidak terjadi Heterokedastisitas karena titik-titik pada grafik menyebar diatas dan dibawah 0 pada sumbu Y (tidak membentuk pola tertentu).05 maka tidak signifikan sehingga tidak terjadi multikolinieritas. 71 . sehingga asumsi terpenuhi.226.008. karena harga p > 0. p = 0. p = 0. Dari hasil uji Pearson diketahui bahwa korelasi antara variable X1 dengan X2 sebesar 0. Korelasi antara variabel X1 dengan X4 sebesar 0.05 maka tidak signifikan sehingga tidak terjadi multikolinieritas. karena harga p > 0. Uji Multikolinieritas Analisis ini untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang kuat antara sesame variable bebas. karena harga p > 0. p = 0. sehingga asumsi terpenuhi. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah Pearson yaitu hubungan atau korelasi antar variable.234.685. sehingga asumsi terpenuhi. sehingg asumsi terpenuhi.158.173.101.270 dan p = 0.068.05 maka tidak signifikan sehingga tidak terjadi multikolinieritas.05 maka tidak signifikan sehingga tidak terjadi multikolinieritas.

Referent 72 . sama halnya dengan STMIK AMIKOM. artinya hasil analisis inferensial digunakan sebagai petunjuk awal untuk menelusuri beberapa permasalahan dan fenomena. Reward Power. Angka tersebut sekaligus menggambarkan adanya kontribusi yang positif dan signifikan dari variabel bebas (Legitimate Power.Dari hasil penelitian dapat diketahui tingkat kewibawaaan pimpinan terhadap karyawan / bawahan. yaitu analisis jalur dengan menggunakan pendekatan teoritis. menggerakkan dan merubah perilaku bawahan kearah tercapainya tujuan organisasi disamping dibutuhkan berbagai teknik kepemimpinan juga dibutuhkan adanya daya dorong yang disebut kewibawaan. Expert Power dan OCB) terhadap variabel tergantung (kinerja karyawan) dan kontribusi yang positif dan signifikan pula dari variabel intervening (OCB) terhadap variabel tergantung (kinerja). Dari hasil analisis regresi yang telah dilakukan dengan bantuan komputer SPSS dan pengujian hipotesis memberikan makna bahwa Legitimate Power (X1) dengan intervening OCB (X5) mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja (Y). Hal tersebut tercermin dari besarnya nilai koefisien regresi. Dalam penelitian yang telah dilakukan telah terbukti bahwa hal-hal yang mempengaruhi kinerja adalah kewibawaan pimpinan (Legitimate Power. Dalam suatu instansi atau lembaga para pimpinan menghendaki para staf atau karyawannya mempunyai kinerja yang baik. Expert Power (X4) dengan intervening OCb (X5) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) dan OCB (X5) mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). sebab didalam mempengaruhi. Untuk menciptakan kinerja yang baik tentunya ada unsur atau variabel yang mempengaruhinya. Reward Power. Reward Power (X2) dengan intervening OCB (X5) mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Kewibawaan mempunyai daya dorong bagi setiap pimpinan. Pada bagian ini akan dibahas hasil analisis inferensial. Referent Power. Referent Power (X3) dengan intervening OCB (X5) mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan kinerja karyawan (Y).

23%. Dengan pembahasan tersebut berarti bahwa apabila secara structural seseorang menjadi pimpinan maka semua karyawan akan menjadi patuh dan hormat kepadanya dan secara otomatis akan berusaha meningkatkan kinerjanya. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis statistik dan pembahasan dalam BAB IV dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Referent Power dan Expert Power. Referent Power.000. OCB menjadi variabel intervening dalam pengaruh kewibawaan pimpinan terhadap kinerja karena pada dasarnya setiap karyawan mau bekerja dan mau mengerjakan pekerjaan diluar job descripsinya seperti yang tertuang dalam peraturan lembaga. Untuk itu alangkah baiknya jika lembaga memilih sekaligus mengangkat pimpinan yang benar-benar mempunyai kualitas dan memiliki jiwa kepemimpinan. Besarnya pengaruh dari kewibawaan OCB dapat dilihat dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2) sebesar = 0. Reward Power.3% nya ditentukan oleh perubahan variabel kewibawaan pimpinannya. Proses terjadinya OCB ini sendiri juga terbentuk dari adanya variabel Legitimate Power.48%. 3. 2. Reward Power.Power. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang paling dominant mempengaruhi kinerja karyawan adalah variabel Legitimate Power yaitu sebesar 18. yang dibuktikan dengan besarnya nilai F hitung = 16. Hal tersebut terjadi karena berdasarkan hasil kuesioner responden menjawab bahwa Legitimate Power terhadap bawahan adalah baik yaitu sebesar 39.673. OCB berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan STMIK AMIKOM yang dibuktikan dengan 73 . Expert Power ) dengan variabel intervening OCB. Kewibawaan pimpinan dalam hal ini terdiri dari variabel Legitimate Power. Besarnya angka tersebut memberikan makna bahwa besarnya tingkat OCB karyawan sekitar 67. Expert Power secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap OCB.985 dan signifan sebesar 0.

2004 As’ad.. Universitas 74 . Tugu Publisher. Michael. Gary. Berdasarkan analisis jalur yang telah disebutkan pada BAB IV adalah sebagai berikut: Pengaruh variabel Legitimate Power (X1) terhadap kinerja (Y) dengan variabel OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 18. Daftar Pustaka Armstrong. Manajemen Sumber Daya Manusia. Pengaruh Reward Power (X2) terhadap kinerja (Y) dengan OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 10. Dari ketiga hasil tersebut yang paling besar berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja karyawan adalah variabel Legitimate Power (X1). Besarnya angka tersebut memberikan makna bahwa besarnya tingkat kinerja karywan sekitar 38. Sedangkan variabel OCB juga sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Besarnya pengaruh dari OCB terhadap kinerja dapat dilihat dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2) sebesar = 0. Psikologi Industri. Edisi Revisi. Jakarta.76%.016.387.7% nya ditentukan oleh perubahan variabel OCB. 1991 Dessler. Imam. Pengaruh Referent Power (X3) terhadap kinerja (Y) dengan OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 11. Moh. Yogyakarta. Prenhallindo.18%. 4. Yogyakarta. Liberty. Structural Equation Diponegoro.347 dan signifikan sebesar 0. Performance Management. 2005 Modeling. 3.49%. Semarang. Human Resource Management 7 e.23%.beasrnya nilai F hitung = 6. Pengaruh Expert Power (X4) terhadap kinerja (Y) dengan OCB (X5) sebagai intervening adalah sebesar 10. 1997 Ghozali.

Ilmu dan Seni Manajemen Bisnis.id/webjurnal/edisi_September 2004 Robins. Stephen P. Syafaruddin. Elex Media Komputindo. Kinerja. Confirmatory factor analysis and invariance of an organizational citizenship behaviour across samples in a Dutch-speaking context. 1999 Timpe. Gary. hal 1 http://www. Perilaku Organisai. Riset Sumber Daya Manusia. 2004.Istijanto. 1991 Yukl. PT Prenhallindo. Js. 1998 75 . Jakarta. Jakarta. FX.org. Dimensionalisasi Perilaku Di Luar Peran Kerja (Extra – Role Behavior).ac. PT Gramedia Widiasarana. Journal of Occupational and Organizational Psychology. hal 299-300 www. Statistik Terapan Untuk Penelitian. Fahrudin. Bengkulu. Prenhallindo. Lievens. 1996 Siregar.2004 Suwarto. Yogyakarta. 2004. A. Filip and Anseel. Jakarta. Jakarta.stie-stikubank. 2005. Kepemimpinan Dalam Organisasi .uk Pareke. Frederik.bps. Dale. Jakarta. Gramedia. Perilaku Keorganisasian. Universitas Atma Jaya.

393 % merupakan faktor luar yang belum terungkap. jika didukung oleh tingginya tingkat pemahaman tentang masalah perkawinan serta tingginya persepsi tentang norma penundaan perkawinan.607 %. sedangkan 25. dengan tujuan untuk menghubungkan beberapa variabel yang terkait dalam penelitian ini.PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PENENTUAN USIA PERKAWINAN PADA WANITA LAJANG DI DESA SOROPATEN.KECAMATAN KARANGANOM KABUPATEN KLATEN JAWA TENGAH Susi Haryanti1 Abstraksi Bebarapa teori sosial dan beberapa pendapat yang relevan dengan penelitian ini. Sedangkan hipotesa yang ingin dibuktikan adalah semakin tinggi tingkat pendidikan (pada wanita lajang) maka akan semakin tinggi pula dalam menentukan usia perkawinannya. Ternyata setelah dilakukan penelitian dan penghitungan statistik baik hipotesa mayor maupun minor sepenuhnya dapat diterima. Kata Kunci: Tingkat Pendidikan. Setelah dilakukan perhitungan ternyata hubungan antara variable tingkat pendidikan dan variabel pemahaman tentang masalah perkawinan serta variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan dalam mempengaruhi variabel penentuan usia perkawinan sebesar 74. Usia Perkawinan 1 Staff Pengajar STMIK AMIKOM Yogyakarta 76 .

Upaya pemerintah dalam melaksanakan program Keluarga Berencana adalah untuk menghindari terjadinya ledakan jumlah penduduk.1. Artinya mereka memandang bahwa penundaan perkawinan (late marriage) lebih baik dari pada melakukan 77 . karena perkawinan merupakan titik awal dari terbentuknya sebuah keluarga. Selain undang-undang tersebut pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana yang menganjurkan untuk menunda perkawinan yaitu untuk perempuan sebaiknya menikah pada usia 20 tahun dan untuk pria berusia 25 tahun. Pemerintah berupaya mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dengan memberikan penyuluhan tentang masalah perkawinan yang dilaksanakan di lembaga pendidikan formal atau melalui aparat pemerintah yang bertugas sebagai juru penerang yang biasnya diaksanakan di daerah-daerah. Di Indonesia selain ajaran agama yang dijadikan patokan ada undang-undang yang mengatur tentang perkawinan yaitu undang-undang No 1 Tahun 1974.Pada gilirannnya mereka mempunyai persepsi positif terhadap norma penundaan pekawinan. undang-undang ini menegaskan batas usia perkawianan pertama bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi laki-laki 19 tahun. Dalam ajaran Islam misalnya seseorang dibenarkan melangsungkan perkawinan setelah baligh dan berakal (dewasa fisik dan mental). maka lama-kelamaan masyarakat akan memahami berbagai masalah yang muncul akibat melakukan perkawinan pada usia muda. Orang–orang yang telah memiliki pengetahuan tentang ekses negatif jika melakukan perkawinan yang terlalu muda . Pendahuluan Perkawinan merupakan suatu proses yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebab jika terjadi pertambahan jumlah penduduk yang pesat akan mengakibatkan terjadinya masalah-masalah sosial dan ekonomi. Perkawinan biasanya diatur oleh suatu norma atau ajaran dalam suatu agama. Dengan adanya media yang berfungsi untuk menyebarkan pengetahuan tentang masalah perkawinan .

disamping dari media komunikasi lainnya.yaitu dengan menghubungkan variabel yang satu dengan variabel yang lain . Semua itu bertujuan untuk memprjelas arah dan tujuan terhadap fenomena tersebut.untuk mengetahui pengaruh antara tingkat pendidikan terhadap penentuan usia perkawinan. Pemahaman masalah perkawinan biasanya diperoleh seseorang dari pendidikan formal. Untuk mengetahui pengaruh antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan. Selanjutnya persepsi seseorang terhadap penundaan perkawinan dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap masalah perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan terhadap pemahaman tentang masalah perkawinan. Penentuan usia perkawinan seseorang banyak dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap norma penundaan perkawinan. 78 .Untuk mengetahui pengaruh antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan.perkawinan dalam usia yang yang terlalu muda (early marriage).untuk mengetahui pengaruh antara tingkat pendidikan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengetahuan seseorang tentang masalah perkawinan akan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang mereka miliki. Dari latar belakang yang telah diuraikan dimuka maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut “ apakah tingkat pendidikan dan pemahaman tentang tentang masalah perkawinan serta persepsi tentang norma penundaan perkawinan akan berpengaruh terhadap penentuan usia perkawinan?” Untuk lebih jelasnya berikut ini akan kami sampaikan variabelvariabel yang terkait dengan penelitian ini. disamping itu juga teori-teori sosial dan beberapa pendapat yang relevan dalam penelitian ini.untuk mengetahui pengaruh anatara persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan.untuk mengetahui pengaruh antara tingkat pendidikan dan pemahaman tentang masalah perkawinan serta persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan.

Pembahasan Hubungan antara tingkat pendidikan terhadap pemahaman tentang maslah perkawinan.(Masyuri. nilai.kesadaran ekologi serta kemampuan komunikasi dalam lingkunan hidupnya sehingga anak didik tersebut lebih mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam lingkungan agar dapat mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. kronologis dan bertingkat mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Yang dimaksud dengan pendidikan adalah sebagai upaya memberikan dan meningkatkan kemampuan anak didik (siswa) dalam sikap. pengetahuan.(Philip H dan manzoor Ahmed. kegiatan pendidikan berorganisasi dan sistematis yang berlangsung di luar kerangka system pendidikan formal untuk menyediakan aneka ragam pendidikan tertentu.kecerdasan. Nasution.1973. 1993.2.baik bagi golongan remaja maupun dewasa.18-25).16) Philip H dan manzoor ahmed mengklasifikasikan pendidikan dalam bentuk: -Pendidikan informal . MA. Sebagai berikut: “Sekolah atau lembaga pendidikan formal adalah sebagai alat transformasi penmuanpenemuan baru yang dapat membawa perubahan dalam masyarakat.ketrampilan.(S. Sebagai mana dikemukakan oleh Prof. 79 . -Pendidikan formal .9-10) dari ketiga pendidikan tersebut yang paling berpengaruh adalah pendididkan formalnya sebab jenis pendididkan ini paling dominan peranannya sebagai lembaga perubah (agent of change) dari pada dua jenis pendidikan tersebut. -Pendidikan Non formal. 1983.nasution .S.proses seumur hidup seseorang dalam menghimpun ketrampilan.Sekolah dapat juga dijadikan sebagai alat oleh yang berkuasa untuk maegadakan perubahan-perubahan yang radikal yang diinginkan oleh yang berkuasa. dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari dan pengaruh lingkungan. system pendidikan yang dilembagakan bertahap.

Demikian juga seseorang mengadakan persepsi tentang norma penundaan perkawinan tentu akan dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang masalah perkawinan diantaranya adalah menyangkut masalah yang berkaitan dengan masalah perkawinan dan segala resikonya termasuk pemahaman terhadap resiko kawin muda. terutama perkawinan yang dilakukan pada usia muda maka mereka kemungkinan akan menghindari kawin muda. Tujuan berpikir disini adalah untuk memecahkan masalah. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap tingkat intelejensi seseorang. hukum perkawinan dan resiko-resiko perkawinan serta hal-hal lain yang menyangkut tentang perkawinan. Hubungan antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan. Sehingga dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan.Pemahaman tentang masalah perkawinan adalah sebagai berikut. artinya mereka dapat menerima bahwa penundaan perkawinan lebih baik dari pada 80 . Sedangkan pengertian mengenai pengetahuan tentang masalah perkawinan antara lain adalah menyangkut makna atau arti perkawinan. Selanjutnya hubungan antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan ini bisa diterima secara logis sebab bila seseorang telah memahami dampak negatif perkawinan. Dan dapat dinyatakan mereka mempunyai persepsi positif tentang norma penundaan perkawinan . Pada hakekatnya pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat merubah sikap dalam menaggapi situasi sekitarnya. Cepat tidaknya seseorang dalam berfikir atau memecahkan masalah tergantung dari intelegensi dari orang tersebut.tujuan perkawinan. Pemahaman dalam hal ini adalah proses berpikir dari seseorang. Seseorang dalam menanggapi situasi sekitarnya akan dipengaruhi oleh bahan persepsi yang mereka miliki. Bahan persepsi disini adalah bisa berupa ilmu pengetahuan maupun pengalaman sebagai kerangka berpikir dalam menanggapi sesuatu.

Antara lain melalui lembaga pendidikan formal sehingga dapat dinyatakan ada hubungan anatara tingkat pendidikan formal terhadap persepsi mereka tentang norma penundaan pekawinan. Hubungan antara tingkat pendidikan formal dengan persepsi tentang norma penundaan perkawinan ini dapat diterima secara logis. maka mereka akan mempunyai perspsi positif terhadap norma penundaan perkawinan. Persepsi seseorang terhadap sesuatu dipengaruhi oleh bahan persepsi yang mereka miliki.melakukan perkawinan dalam usia muda. sebab semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin banyak bahan persepsi yang mereka miliki.Sehingga penulis menyimpulkan adanya pengaruh anatara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan.dapat disebutkan bahan persepsi tersebut erat hubungannnya dengan bebagai pengetahuan yang mereka peroleh. 81 . Hubungan antara tingkat pendidikan terhadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan. Sedangkan mereka yang tidak memahami maslah perkawinan maka kebanyakan mereka akan mempunyai persepsi yang negatif terhadap norma penundaan perkawinan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik persepsi mereka terhadap norma penundaan perkawinan. Sehingga dapat dipahami bahwa penundaan tindakan seseorang dalam menentukan usia perkawinannya akan dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan mereka yang melandasi sikap tersebut. Bertolak dari uraina di atas dapat disimpulkan bahwa bila sesorang telah memahami tentang masalah perkawinan .

Asumsi dasar yang digunakan dalam penalitin ini adalah tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pemahaman tentang masalah perkawinan.Pemahaman mereka tentang masalah perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan secara logika dapat di terima.psikologis dan kematangan sosial ekonomi. Selanjutnya pemahaman tentang masalah 82 .Hubungan antara persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan. dengan kata lain ada hubungan antara persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan. Metode penelitian. Seseorang yang memandang positif terhadap norma penundaan perkawinan ada kalanya mereka ingin melakukan perkawinan dalam usia yang relative tinggi dari pada orang yang memandang negative atau kurang baik tehadap norma penundaan perkawinan. Semakin paham seseorang terhadap masalah tentang perkawinan maka akan semakin tinggi di dalam menentukan usia perkawinannya. Hubungan antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka aka semakin mudah di dalam memahami pengetahuan tentang maslah perkawinan. Yang dimasud dengan persepsi tentang penundaan perkawinan adalah adalah pandangan atau tanggapan seseorang tentang norma penundaan perkawinan. Umur yang ideal dalam melaksanakan perkawinan adalah apabila individu yang akan elansungkan perkawinan telah mempunyai kematangan fisiologis. Sebab apabila seseorang telah memahami masalah perkawinan . Bertolak dari uraian tersebut di atas maka ada pengaruh atau hubungan antara pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan. maka kemungkinan besar mereka dapat menentukan kapan atau dalam usia berapakah mereka harus menikah. Dalam menentukan usia perkawinan dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang masalah perkawinan.

Sehingga pada akhirnya tingkat pendidikan dan pemahaman tentang masalah perkawinan serta persepsi tentang norma penundaan perkawinan akan berpengaruh terhadap penentuan usia perkawinan. Semakin tinggi tingkat pemahaman tentang masalah perkawinan maka akan semakin berpersepsi positif terhadap norma penundaan perkawinan. Angka 1 tidak mendukung hipotesa angka 2 kurang mendukung hipotesa. Adanya pengaruh anatara pemahaman tntang masalah perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan. Hopotesa minor Adanya pengaruh antara tingkat pendidikan terhadap pemahaman tentang masalah perkawinan.Selanjutnya persepsi yang positif dari seseorang terhadap norma penundaan perkawinan akan berpengaruh terhadap penentuan usia perkawinan. Penelitian ini mnggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi. Adanya pengaruh antara pemahaman tentang masalah perkawinan tehadap persepsi tentang norma penundaan perkawinan. 83 . angka 3 mendukung hipotesa.perkawinan dari seseorang akan berpengaruh terhadap persepsi mereka tentang norma penundaan perkawinan.Kuesioner. Adanya pengaruh antara tingkat pendidikan terhadap penentuan usia perkawinan.interview dan dokumentasi. Adanya pengaruh antara persepsi entang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan. Teknik penyekoran data scoring dari angka 1 sampai 3. Teknik pengambilan sample yang digunakan adalah Stratified Sample. Adanya pengaruh anatara tinkat pendidikan terhadap persesi tentang norma penundaan perkawinan. Metodologi Penelitian. Hipotesa Hipotesa mayor dalam penelitian ini adalah adanya pemahaman antara tingkat pendidikan dan pemahaman tentang masalah perkawinan serta persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan.

32 33 JUMLAH 100 Sumber: analisa data primer Prosentase 31 36 33 100 Dari table diatas diketahui bahwa 31 % pemahaman tentang masalah perkawinan dari responden bekategori tinggi.66-60. koefisien korelasi majemuk .Teknik analisa data dengan menggunakan analisa korelasi product moment.33-46. korelasi parsial. Distribusi Variabel tingkat pendidikan (X1) Kategori Tinggi 2.66-2.00-1.33-3.65 36 Rendah 20. regresi berganda dan ketepatan ramalan.36 % berkategori sedang dan 33 % berkategori rendah.32 Rendah 1. Distribusi Variabel pemahaman tentang masalah perkawinan (X2) Kategori Jumlah Tinggi 46.00-33.00 Sedang 1.65 Jumlah 33 33 34 Prosentase 33 33 34 100 Jumlah 100 Sumber : analisa data primer.00 31 Sedang 33. 84 . Tabel 2. Tabel 1. Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa responden yang berkategori pendidikan tinggi dan sedang sebanyak 33% sedangkan yang berkategori rendah sebanyak 34%.

66-9.32 29 Jumlah 100 Sumber : Anaisa data Primer.65 22 Jumlah 100 Sumber : Analisa data Primer.00-8.33-11.00 46 Sedang 8. 25 % bekategori sedang.33-12.65 25 Rendah 5.dan 25 % berkategori rendah. setelah dilakukan perhitungan maka hasil yang di peroleh adalah rX1X2 :0. Analisa Regresi Linear Analisa Korelasi Poduct moment Hubungan antara variabel Tingkat Pendidikan (X1) terhada Variabel tingkat Pendidikan (X2) . Prosentase 57 21 22 100 Dari tabel di atas diketahui bahwa 57 % penetuan usia perkainan dari resonden berkategori tinggi dan 21 % berkategori sedang serta 22 % berkategori rendah. Distribusi Variabel Persepsi Tentang Norma penundaan perkawinan (X3) Kategori Jumlah Tinggi 11.00 57 Sedang 6.Tabel 3.000 85 . Prosentase 46 25 29 100 Dari table di atas dapat diketahui bahwa 46 % prsepsi tentang norma penundaan perkawinan dari responden berkategori tinggi.66-15.00-6.693223 P : 0.32 21 Rendah 4.8326 r2:0. Tabel 4. Distribusi Variabel Penentuan Usia pekawinan (Y) Kategori Jumlah Tinggi 9.

Karena r2= 08326 berada di atas batas signifikansinya .7910 .7869 berada di atas batas sigbiikansinya .7869 P=o. Hubungan antara Variabel tingkat pendidikan (X1) terhadap Variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan (X3) dari perhitungan diperoleh rX1X3 adalah 0. Dari hasil analisa diperoleh nila rX3Y adalah 0.ooo r2 =0.maka dapat diketahui hubungan antara Variabel tingkat pendidikan terhadap variabel pemahaman tentang masalah perkawinan adalah hubungan nyata(signifikan).619212 Karena hasil r perhiungannya 0. Arah hubungn antara keduanya adalah positif yang berarti smakin tinggi tingkat pemahaman tentang perkawinan maka akan smakin tinggi pula persepsi mereka terhadap norma penundaan perkawinan.8490 yang berada di atas batas signifikansinya maka dapat diketahui hubungan tersebut adalah ubungan nyata (Signifikan) arah hubungan kedua variabel tersebut adalah positif yang berati semakin tinggi persepsi seseorang 86 . Hubungan antara Variabel Pemahaman tentang masalah perkawinan (X2) tehadap Variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan(X3) dari perhitungan yang telah dilakukan r X2X3 =0. Arah hubungan (direction) antara kedua Variabel tersebut adalah positif. Hubungan antara Variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan (X3) terhadap variabel penetuan usia perkawinan (Y). maka dapat dikatakan hubungan antara Variabel pemahaman tentang masalah perkawinan terhadap variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan adalah hubungan nyata(signisikan).artinya smakin tinggi tingkat pendidikannya maka maka akan semakin tingi pula pesepsi mereka terhadap norma penundaan perkawinan. Karena r berada di atas batas sigiskansinya maka dapat diketaui hubungan antara variabel tingkat pendidikan terhadap variabel pespsi tentang norma penundaan perkawinan adalah hubungan yang nyata (signifikan) arah hubungan keduanya adalah positif. Yang berarti semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin lebih paham terhadap maslah perkawinan.

variabel pemahaman tentang masala perkawinan serta variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan memberikan pengaruh besar terhadap variabel penentuan usia perkawinan. Analisa Korelasi Parsial Dari hasil analisa korelasi parsial dapat diketahui bahwa korelasi antar variabel tingkat pendidikan dengan variabel penentu usia perkawinan di kontrolo oleh variabel pemahaman tentang masalah perkawinan menunjukkan hubungan yang signifikan. Pola tersebut menunjukkan bahwa penentuan usia perkawinan dipengaruhi oleh tingkat pendidikanpemahaman tentang masalah perkawinan dan persepsi tentang norma penundaan perkawinan. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisa yang menujukkan hubungan antar variabel terjadi hubungan yang signifikan dengan arah hubungan yang positif. Selanjutnya korelasi antara variabel tingkat pendidikan dengan variabel penentu usia perkawinan di kontrol oleh variabel persepsi tentang orma penundaan perkawinan menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil anaisa korelasi ganda menunjukkan bahwa secara bersama-sama korelasi antara variabel tingkat pendiddikan dan pemahaman tentang masalah perkawinan serta variabel persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap veriabel penentuan usia perkawinan adalah signfikan.terhadap penundaan perkawinan maka akan semakin tinggi pula dalam menentukan dalam menentukan usia perkawinannya. Analisa Korelasi ganda. Analisa Koelasi poduct moment Seluruh hipotesa yang dikemukakan adalah terbukti. Dari Analisa Koefisien deterinasi dapat diketahui bahwa secara brsama-sama variabel ingkat pendidikan . 87 .

88 . Diantaranya adalah mereka yang mempunyai tingkat pendidikan sedang dan rendah.pemahaman tentang masalah perkawinan. Hal ini disebabkan oleh rata-rata kondisi kehidupan yang masih rendah sehingga agak sulit bagi seseorang untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. serta faktor persepsi tentang norma penundaan perkawinan.3. Sebaiknya dilakukan pendekatan kepada masyarakat oleh pemerintah desa agar rendahnya tingkat pendidikan yang menyebabkan kurang pahamnya terhadap masalah perkawinan shingga akan mengakibatkan adanya persepsi negative terhadap norma penundaan perkawinan dapat di tangkal sedini mungkin. Ada beberapa perubah yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan usia perkawinannya. Hipotesa mayor dalam penelitian ini yaitu adanya pengaruh antara tingkat pendidikan dan pemahaman tentang masalah perkawinan serta persepsi tentang norma penundaan perkawinan terhadap penentuan usia perkawinan telah teruji secara emperik dan terbukti. Saran Berdasarkan uraian di atas yaitu masih adanya perkawinan usia muda pada masyarakat setempat maka penulis menyarankan. yaitu faktor tingkat pendidikan. Penutup Setelah melakukan penelitian penulis menyimpulkan bahwa masih ada sebagian masyarakat desa Soropaten khususnya wanita lajang yang termasuk dalam usia kawin melangsungkan perkawinan dalam usia muda.

Statistik II. Remaja. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern 2. Johnson.1983 89 . Hadi. Kamus Inggris Echols. Kebijaksanaan Dan Langkah-Langkah Pendidikan. 1984 Hadi. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Pengaruh Perkawinan Dan Kehamilan pada Wanita Usia Muda. Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Hadi.1962. Koentjaraningrat.1988. Fertilitas Dan Seksualitas Yogyakarta. Sosiologi Pendidikan.1981. Sutrisno. Gramedia. Masyuri.Ki Hadjar.Jakarta. Pembaharuan Nasution. Depdikbud. Metodlogi Research III. PKBI. Memerangi kemiskinan di Pedesaan Melalui Pendidikan Non Formal. Does Sampurna Dan Asrul Anwar. IAKMI. John M dan Hassan Shadili. Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Sutrisno. Indonesia.CV Rajawali.15 Nopember 1981. Bandung. S. Philip.4.1986. Jakarta. Metodologi Research I.1982.Gramedia Jakarta. Daftar Pustaka Comb. Doyle Paul. Andi Offset Yogyakarta. Jemmars. Sutrisno.Jakarta. Gramedia. Hasil Seminar.1973.Jakarta 1977. Pendidikan Menjelang Lahirnya Tamansiswa. Yogyakarta.1982.H dan Mazoor Ahmed.Jakarta 1973 Dewantoro.

Mely G.Tan, Hubungan Sosial Dan Budaya Dengan Keluarga Berencana , Indonesia Magazine, No.17, 1973. Paul H Dan Paul K, Population Problem : A Cultural Interpretation, Second Edition Amerika Book Company New York,1985. Ritzer,George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, CV Rajawali, Jakarta, 1985. Sosrodiharjo, Soedjito, Sosiologi, seksi Penerbit Fisipol UGM Yogyakarta,1983 Singarimbun, Masri, Metode Penelitian Survai, LP3ES,1989. Singarimbun, Masri, Statistik Indonesia, Biro Pusat Statistik, Jakarta,1985. Suwartinah, Teori-Teori Penduduk Dan Fertilitas Penduduk Desa Kota , Andi Offset, Yogyakarta, 1984. Vembriarto, Pendidikan Non Formal Dan Prospek Peranannya Di Indonesia, Journal IKIP Yogyakarta, No.9/Th.V, 1975. Walgito, bimo, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, Fakultas Psikologi UGM , Yogyakarta, 1983. Walgito, Bimo, Psikologi Yogyakarta, 1981. Umum, Fakultas Psikologi UGM

Walgito, Bimo, Bimbingan Dan Konselling Perkawinan, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta,1984. Wantjik Saleh.K, Hukum Perkawinan Indonesia, Cetakan IV, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1976. Young, Kimbal, Social Psycology, Mc Graw Hill Book Company, New York,1959

90

LAMPIRAN PEDOMAN PENULISAN MAKALAH 1. Topik yang akan dipublikasikan oleh jurnal MANAJERIAL berhubungan dengan kepemimpinan, perilaku, serta manajemen organisasi 2. Naskah yang diterima penyunting ditulis dalam bahasa Indonesia baku atau bahasa Inggris dan belum pernah dipublikasikan. 3. Naskah diketik dengan komputer menggunakan Microsoft Word, di atas kertas ukuran 16x21 cm, spasi 1, jenis huruf Time New Roman dengan ukuran 11 point. 4. Jumlah halaman berkisal antara 7 sampai 15 halaman, dan jumlah gambar tidak boleh melebihi 30% dari seluruh tulisan 5. Judul makalah harus mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas di makalah, dengan menggunakan kata-kata yang tepat, jelas dan mengandung unsur-unsur yang akan dibahas. Ukuran huruf untuk judul adalah Time New Roman ukuran 12 point bold (huruf kapital). Nama penulis ditulis di bawah judul sebelum abstral tanpa disertai gelar akademik atau gelar lain apapun, asal lembaga tempat penulis bernaung dan alamat email untuk korespondensi dengan ukuran 11 point bold. Jika lebih dari 2 penulis, hanya penulis utama yang dicantumkan di bawah judul; nama penulis lain dalam catatan kaki.

91

6. Sistematika penulisan naskah, untuk: a. Naskah Penelitian, terdiri dari: i. Abstrak dan kata kunci Abstrak memuat secara ringkas gambaran umum dari masalah yang dibahas dalam penelitian, terutama analisis kritis dan pendirian penulis atas masalah tersebut. Panjang abstrak 50 - 75 kata yang disusun dalam satu paragraf dalam ukuran huruf 10 point Time New Roman. Abstrak disertai dengan 3 – 5 kata kunci, yakni istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasal yang dibahas dalam makalah. ii. Bagian Pendahuluan Pendahuluan tidak diberi judul. Bagian ini berisi permasalahan penelitian, rencana pemecahan masalah, tujuan dan ruang lingkup penelitian, serta rangkuman landasan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti iii. Metode Penelitian Berisi tentang bahan, peralatan metode yang digunakan dalam penelitian iv. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil berupa data penelitian yang telah diolah dan dituangkan dalam bentuk tabel, grafik, foto, atau gambar. Pembahasan berisi hasil analisis dan hasil penelitian yang dikaitkan dengan struktur pengetahuan yang telah mapan (tinjauan pustaka yang diacu oleh penulis), dan memunculkan ‘teori-teori’ baru atau modifikasi terhadap teori-teori yang telah ada. v. Kesimpulan dan Saran Berisi ringkasan dan penegasan penulis mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Saran dapat berisi tindakan praktis, pengembangan teori baru dan penelitian lanjutan vi. Daftar Pustaka

92

Bagian Pembahasan Berisi tentang kupasan. terdiri dari: i. internet dan lain-lain. Penulisan nama penulis adalah nama keluarga diikuti nama kecil. alamat website. Urutan dimulai dengan penulisan nama penulis. Abstrak dan kata kunci Abstrak adalah ringkasan dari isi makalah yang dituangkan secara padat. jurnal. dan tanggal akses 93 . yakni istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasal yang dibahas dalam makalah. argumentasi dan pendirian penulisan mengenai masalah yang dibicarakan iv. dan kota terbit. tahun.75 kata yang disusun dalam satu paragraf dalam ukuran huruf 10 point Time New Roman. judul. 8. hal-hal pokok yang akan dibahas serta tujuan pembahasan iii. Abstrak disertai dengan 3 – 5 kata kunci. Tabel/gambar harus diberi identitas yang berupa nomor urut dan judul tabel/gambar yang sesuai dengan isi tabel/gambar. serta dilengkapi dengan sumber kutipan. Penutup atau Kesimpulan Berisi kesimpulan penulis atas bahasan masalah yang dibahas pada bagian sebelumnya. ii. v.b. analisis. penerbit. makalah. Untuk kutipan dari internet berisi nama penulis. Bagian Pendahuluan Memberikan acuan (konteks) bagi permasalah yang akan dibahas. Daftar pustaka disusun menurut alphabet penulis. Daftar Pustaka Diutamakan apabila sumber pustaka atau rujukan berasal lebih dari satu sumber seperti buku. Naskah Konseptual atau nonpenelitian. Panjang abstrak 50 . judul artikel. 7. bukan komentar atau pengantar penulis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful