BAB I PURWAWACANA

A. Latar Belakang Ada ungkapan dalam bahasa Sunda yang berbunyi Basa teh ciciren bangsa. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa juga menjadi salah satu unsur dan sekaligus wahana kebudayaan. Berbagai unsur budaya seperti sistem mata pencaharian, sistem dan struktur sosial, sistem peralatan dan teknologi, ilmu pengetahuan, bahasa, seni, dan sistem religi, dapat tergambarkan atau termanifestasikan melalui bahasa. Salah satu pemakaian bahasa tersebut tampak pada sistem penamaan tempat (toponimi) di Jawa Barat. Kebudayaan suatu masyarakat, termasuk budaya masyarakat Jawa Barat, tidak stagnan, tetapi berubah atau bergeser, baik bentuk maupun isi dan nilainilainya. Pergeseran nilai-nilai kehidupan masyarakat di Jawa Barat diakibatkan adanya kemajuan Teknologi, Infomatika dan Komunikasi (TIK) atau globalisasi. Pergeseran tersebut ada yang bersifat positif ada juga
1

yang bersifat negatif. Perubahan dan pergesaran itu terjadi pada penamaan (toponimi) tempat (daerah, kota, atau kampung) di Jawa Barat. Dengan bergesernya nilai-nilai kehidupan dan kebudayaan masyarakat Jawa Barat, perlu adanya upaya agar pergeseran tersebut tidak lantas mematikan kehidupan budaya masyarakat Jawa Barat. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam pemakaian bahasa daerah di Jawa Barat, misalnya, dalam penamaan (toponimi) tradisional tempat oleh masyarakatnya, tergeser oleh istilah modern. Tidak sedikit pemukiman di kota-kota di Jawa Barat diberi nama dengan menggunakan istilah asing. Di dalam sistem toponimi tersebut terdapat nilainilai kehidupan atau filosofis yang menjadi ciri khas bahasa dan masyarakat daerah. Sekaitan dengan hal itu, perlu adanya upaya pemertahanan toponimi

tradisional tempat di Jawa Barat melalui kajian, analisis, dan penyusunan ulang berdasarkan cerita rakyat sebagai pedoman penamaan daerah pada sekarang dan masa mendatang.

2

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat telah merancang program sosialisasi bahasa, sastra, dan aksara Sunda sesuai dengan amanat Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah. Salah satu rancangan program ini dilaksanakan dalam bentuk mengkaji ulang dan merestrukturisasi cerita rakyat yang hidup di lingkungan masyarakat Jawa Barat yang menjadi dasar penyusunan toponimi tradisional (penamaan tempat) di Jawa Barat. Restrukturisasi cerita rakyat tersebut dimaksudkan agar masyarakat Jawa Barat, terutama generasi muda, dapat melakukan hal-hal berikut. 1. Memahami cerita rakyat serta sekaligus sistem penamaan tempat (toponimi) di Jawa Barat. 2. Berpartisipasi, berinteraksi, dan berkontribusi positif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya, tempat (geografis), dan sejarah (historis) lokal. 3. Berkreasi dan menghargai karya estetis, artistik, kultural, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai

3

B. 4. 4 . 2. 1. Berpikir logis. Mengumpulkan latar belakang historis-etimologis mengenai toponimi atau sistem penamaan tradisional kota di Jawa Barat. serta bekerja sama dengan orang lain. potensi dan dan tertata peluang dengan untuk memperhitungkan menghadapi berbagai kemungkinan. Termotivasi dalam belajar. Menganalisis dan merestrukturisasi toponimi tradisional kota sehingga dapat dijadikan pegangan atau pedoman dalam penamaan kota atau daerah bagi generasi penerus. bekerja mandiri. percaya diri. kritis. dan 5.luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat yang beradab dan madani. Tujuan Penyusunan Toponimi Kegiatan penyusunan toponimi tradisional tempat di Jawa Barat ini memiliki beberapa tujuan seperti disajikan sebagai berikut.

perumusan sistem penamaan atau toponimi tradisional tempat di Jawa Barat. dan 4. Menyusun Tradisional dan tempat mencetak di Jawa buku Barat Toponimi dengan menggunakan huruf Latin. penceritaan ulang berdasarkan cerita rakyat (legenda) nama-nama tempat di Jawa Barat. 2. Menyusun toponimi tradisional kota di Jawa Barat berikut pemaknaannya secara historis-etimologis dalam bahasa Indonesia. Lingkup Penyajian Penyajian sistem penamaan atau toponimi tradisional tempat di Jawa Barat ini meliputi tiga hal pokok. aspek asal-usul pembentukan kata (linguistiketimologis). 3. 5 . yakni: 1.3. C. peninjauan sistem toponimi tradisional tempat di Jawa Barat berdasarkan tiga aspek: a.

dan d. geomorfologis. Kabupaten Tasikmalaya. Wilayah Purwasuka mencakup Kabupaten Purwakarta.b. aspek seni sastra. dan aspek biologis). 2. dan Kabupaten Sumedang. dan Kabupaten Karawang. Kabupaten Bandung Barat. aspek fisikal (hidrologis. Sekurang-kurangnya terdapat 25 cerita rakyat dari 25 kabupaten/kota di Jawa barat. Kabupaten Subang. Wilayah Bandung Raya mencakup Kabupaten Bandung. Kota Bandung. c. Kota Cimahi. Kota Tasikmalaya. aspek budaya masyarakat (sosio-kultural). 1. disajikan enam wilayah pemerintahan menjadi wilayah budaya sebagai berikut. dan Kabupaten Garut. Kabupaten Ciamis. Sistem penamaan tempat di Jawa Barat yang disajikan dalam buku ini mengacu kepada cerita rakyat. Wilayah Priangan Timur mencakup Kota Banjar. tersebut yang dirinci berdasarkan Untuk memudahkan pengelompokan cerita. Berikut ini nama-nama kabupaten/kota wilayahnya. 6 . 3.

7 . 6. Kota Depok. Apabila cerita rakyat dalam penamaan tempat atau kota tidak ditemukan. 5. Wilayah Sukaci meliputi Kabupaten Sukabumi. misalnya. Wilayah Bodebek meliputi Kabupaten Bogor. Nama-nama tempat kabupaten dan kota yang sama dijelaskan dan dikisahkan secara bersamaan. Wilayah Pantura meliputi Kabupaten Cirebon. Kota Sukabumi. dan Kota Bekasi. Secara toponimis dan penceritaan disamakan.4. Kabupaten Kuningan. nama Kabupaten dan Kota Bandung. Kabupaten Bekasi. dan Kabupaten Majalengka. Kabupaten Indramayu. Kota Bogor. maka diambil cerita rakyat yang berkaitan dengan nama-nama tempat di wilayah kabupaten atau kota tersebut yang relatif terkenal. dan Kabupaten Cianjur. Kota Cirebon. Dalam penyajiannya diupayakan cerita rakyat berkaitan dengan nama-nama kabupaten dan kota di Jawa Barat.

“What is in a name?” Kalimat yang diucapkan Julia ketika berbantah dengan Romeo dalam cerita Romeo and Juliet itu nampak demikian bertuah. Seseorang yang bernama “Ahmad”. Bahkan 8 . tidak urung mereka yang sejak kecil belajar agama dengan baik pun ikut-ikutan menggunakannya sebagai salah satu pandangan hidup mereka (Ayatrohaedi. tidak akan membalas teguran jika ia disapa dengan nama lain “Budi”. misalnya. 2008:53). Sistem Penamaan Tempat Hingga sekarang kita masih terpesona oleh kalimat bersayap William Shakespeare. Nama itu sebenarnya demikian penting dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Akibatnya. dalam Rais.BAB II SISTEM DAN ASPEK TOPONIMI DI JAWA BARAT A.

dalam Rais. “Ahmad diorangkan. gendut”. toponimi. Dikatakan konvensional karena disusun berdasarkan kebiasaan masyarakat pemakaiannya. yaitu pengetahuan yang mengkaji riwayat atau asal-usul nama orang atau yang Misalnya. antroponim. kedua. Di samping sebagai bagian dari onomastika. Pengetahuan mengenai nama lazim disebut onomastika. Ilmu ini dibagi atas dua cabang. “Ahmad jangkung”. yakni pertama. kata Ciamis sebagai nama tempat pada awalnya mengacu 9 . Nida (1975:64) menyebutkan bahwa proses penamaan berkaitan dengan acuannya. 2008:53). Penamaan bersifat konvensional dan arbitrer. penamaan tempat atau toponimi juga termasuk ke dalam teori penamaan (naming theory). sedangkan dikatakan arbriter karena tercipta berdasarkan kemauan masyarakatnya.kadang-kadang kita harus secara khusus memberikan nama atau julukan lain sebagai pelengkap jatidiri seseorang. yaitu pengetahuan yang mengkaji riwayat atau asal-usul nama tempat (Ayatrohaedi. dsb. Misalnya.

1975:64). (9) penamaan baru. Sistem penamaan tempat adalah tata cara atau aturan memberikan nama tempat pada waktu tertentu. yakni (1) peniruan bunyi (onomatope). Sekurang-kurangnya ada sepuluh cara penamaan atau penyebutan. kata toponimi berasal dari bahasa Yunani topoi = „tempat‟ dan onama = „nama‟. yakni (1) „air yang berbau amis atau anyir. (3) penyebutan sifat khas. Penamaan atau penyebutan (naming) termasuk salah satu dari empat cara dalam analisis komponen makna (componential analysis). tiga cara lainnya ialah parafrase.kepada dua hal. (4) penyebutan apelativa. dan pengklasifikasian (Nida. Dilihat dari asalusul kata atau etimologisnya. 10 . (5) penyebutan tempat. (7) penyebutan keserupaan. pendefinisian. Dalam hal ini. secara harfiah toponimi bermakna „nama tempat‟. (6) penyebutan bahan. toponimi diartikan sebagai pemberian nama-nama tempat. Di dalam istilah lain disebut “toponimi”. (2) penyebutan bagian (sinecdoche). Jadi. (10) pengistilahan. dan (2) „air yang memiliki rasa manis‟. (8) pemendekan (abreviasi).

nama buah-buahan. Bahasa Indonesia menyebut hal tersebut dengan nama “Rupabumi”. Dengan demikian. Ilmu ini mengkaji cara-cara pemberian nama (naming) seperti nama jalan. dan asal-usul nama tempat (Danandjaja.Penamaan tempat sering dianggap bagian dari kajian folklore. nama geografis dapat mengacu pada setiap tempat atau unsur atau area di atas muka bumi atau pada kelompok terkait tempat. yang mempunyai entitas yang dikenal dalam konteks kebudayaan tertentu. nama orang. 11 . 2002). nama tumbuh-tumbuhan. Pada umumnya nama geografis adalah nama diri (proper name) atau nama spesifik atau ekspresi di mana suatu entitas dikenal. Nama geografis adalah nama yang diterapkan pada unsur geografi. terutama ilmu onomastika (onomastics). termasuk bentang alam lautan. Entitas (entity) atau maujud geografis adalah semua unsur yang relatif permanen dari bentang alam yang alami maupun bentang alam buatan. nama makanan. unsur atau area yang serupa.

1. Ketiga aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap cara penamaan tempat dalam kehidupan masyarakat. Ciri sabumi cara sadesa. Manusia harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Aspek-aspek dalam Penamaan Tempat Penamaan tempat atau toponimi memiliki beberapa aspek. (1) aspek perwujudan. Hal ini disebabkan setiap tempat kehidupan berbeda-beda. Hubungan ini harus tetap dijaga dan terjaga agar 12 . Aspek Perwujudan Aspek wujudiah atau perwujudan (fisikal) berkaitan dengan kehidupan manusia yang cenderung menyatu dengan bumi sebagai tempat berpijak dan lingkungan alam sebagai tempat hidupnya. sacarana- sacarana. keduaduanya saling membutuhkan (simbiosis mutualisme). (2) aspek kemasyarakatan.B. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan manusia dengan lingkungannya sangat erat. antara lain. Kudu pindah cai pindah tampian. jawadah tutung biritna. dan (3) aspek kebudayaan.

kebudayaan. ibarat gula jeung amisna. Sebagaimana dikemukakan 13 . ternyata masyarakat Sunda berhubungan erat dengan lingkungan alamnya. dan lingkungannya benar-benar padu atau integratif. Memang sulit dipisahkan. Urang kudu mupusti. a. Benda-benda yang ada di lingkungan kita harus dipelihara. Dalam kaitannya dengan penamaan tempat. Latar Perairan (Hidrologis) Latar perairan (hidrologis) menjadi ciri khas bagi orang Sunda dalam penamaan tempat. Hal ini terbukti dari sistem penamaan tempat yang selalu dihubungkan dengan latar lingkungan alam (fisikal). Orang Sunda tidak bisa terlepas dari air. dan latar lingkungan alam (biologis-ekologis). bukan dituhankan. baik yang berkaitan dengan latar perairan (hidrologis).makhluk hidup terus tumbuh dan berkembang sebagai bagian integral dari lingkungannya. latar kontur permukaan tanah atau rupabumi (geomorfologis). Hubungan manusia. tapi lain migusti.

Talagawarna. Kalipucang. seorang Jerman. Dano. Ciawi. Hal ini terbukti dari nama-nama tempat yang cenderung menggunakan kata cai. Situaksan. Muhara. Bubulak. Coblong. Parigimulya. Sérang. Wittfogel. Sagara. Leuwipanjang. Bantar.Karl A. Karangnini. Parigi. Sodong. Émpang. Émpangsari. bahwa orang Sunda dapat digolongkan sebagai masyarakat air (hydrolic society). Ciamis. atau hal-hal yang berhubungan dengan air seperti Balongan. 14 . Solokanjeruk. Cimahi. Cimalaka. Bantarkalong. Cimahi. Parakan. yakni penyebutan tunggal terhadap keadaan suatu tempat. Lédeng. Darmaga. dan Cirebon. Parung. Situgunting. Rawabango. Sumurbandung. Sékélimus. Leuwiliang. Curugsigay. Léngkong. dan Tambaksari.(ci-) „air‟ seperti Ciamis. Di samping pola linier seperti di atas. ada juga pula pola gabungan dua unsur lingkungan alam seperti Balonggedé. Leuwimunding. dan Talaga. Bendungan. Sékéloa. Ranca(h). Situ atau Setu. Cianjur. Parakansaat. Sagaraanakan. Rancabadak. Karéés.

Gunung Geulis. antara lain: Baturéok. Pasirjati. Secara gabungan. dan Tegal. antara lain: Bojong. Genténg. Pasirimpun. Secara asosiasi linier. Pasir. Talun (Kebun Pepohonan). Lamping. Legok. Karees.b. dan Tegalkalong. Bojongkokosan. penamaan tempat yang dihubungkan dengan permukaan bumi. Latar Lingkungan Alam (Biologis-Ekologis) Latar lingkungan alam (biologis-ekologis) dalam penamaan tempat di Jawa Barat pada umumnya dihubungkan dengan tumbuhan (flora) dan binatang (fauna). Cadasngampar. Lebaksiuh. Lemah Neundeut. penamaan tempat yang dihubungkan dengan permukaan tanah. Latar Rupabumi (Geomorfologis) Di dalam penamaan tempat di Jawa Barat sering dihubungkan dengan keadaan atau kontur permukaan tanah atau rupabumi (geomorfologis). Tajur (Kebun Buah-buahan). Pasiripis. Geger- kalong. Punclut. Pulomajeti. 15 . c. Guhapakar. Lebak. Legokhuni.

Secara linear. Kosambi. Jatitujuh. Jatisatangkal. Caringin. Kareumbi. Bencoy. Kadungora. Gebang. Calingcing. Ménténg. Kadupandak. Kiara- 16 . Cariu. Garut. Dangdeur. Jayanti. Sawit. Bungbulang. Jati. Coklat (Soklat). Bayongbong. dan Warakas. Katapang. Cangkuang. Cangkring. Sayati. Palasari. Semanggi. Bungur. Baros. penamaan tempat yang dihubungkan dengan nama tumbuhan. Suren. Gintung. Haur pancuh. Kasomalang. unsur tumbuhan (flora) dalam penamaan tempat dikaitkan dengan kemungkinan besar pernah adanya tumbuhan tersebut di daerah itu. Juntinyuat. Buahbatu. Kopo. Rambutan. Sentul.Pertama. Pedes. Bihbul. Gandasoli. Kalapanunggal. Balingling. Kawungluwuk. Jamblang. Darangdan. Haurkonéng. Tanjung. Secara kombinatif. Bugel. Bogor. Camara (Cemara). antara lain: Ambit. Sadang. nama-nama tempat di Jawa Barat yang diberi nama sesuai dengan nama tumbuhan. Takokak. Kadu dampit. Bintaro. Gintunglempeng. Kamal. Campaka. antara lain: Bantargebang. Buahdua.

Kedua. Secara linier penamaan tempat yang dihubungkan dengan nama binatang. unsur binatang (fauna) dalam penamaan tempat dikaitkan dengan nama binatang. Ranncabadak. Leuwimunding. Merak.condong. Pasirhayam. 2. pekerjaan dan profesinya. Pakuhaji. Rawabango. Sampuréndéng. Pasirimpun. Ciparay. baik diasosiasikan secara linier maupun secara gabungan. Blanakan. dan Rawabogo. dan Warudoyong. Secara gabungan penamaan tempat yang dihubungkan dengan binatang. Sanca. dalam kedudukan seseorang masyarakatnya. Cimaung. Aspek Kemasyarakatan Aspek kemasyarakatan (sosial) dalam penamaan tempat di Jawa Barat berkaitan dengan interaksi termasuk sosial atau tempat berinteraksi di sosial. Tambun. Leuwigajah. Rangkasbitung. Caricangkas. 17 . dan Tomang. antara lain: Betok. Kiaraeunyeuh. antara lain: Cibadak.

Kamasan. Palédang. Gosali. antara lain: (a) Nama pertukangan: Gending. Maranggi. Rawayan. penamaan tempat tampak pada beberapa hal. dan sistem kepercayaan (religi). Cukang Kawung. Erétan. (d) (e) Nama transportasi atau angkutan: Keretek. Warungpeti. Mandala. Pasar Minggu. 3. Kaléktoran. Pasar Senén. Pemberian nama tempat ini 18 . folklor. Tarikolot (c) Nama peralatan: Cukang Awi. Aspek Kebudayaan Di dalam penamaan tempat di Jawa Barat banyak sekali yang dikaitkan dengan unsur kebudayaan seperti masalah mitologis. Pasar Jum’at. Nama kegiatan ekonomi: Warungkadu.Berkaitan dengan unsur-unsur kemasyarakatan. (f) Nama kewaktuan: Heubeul Isuk. Windu Janten. Warung peuteuy. (b) Nama perkampungan atau tempat: Babakan. Panday. Pasar Rebo.

Cirebon dihubungkan dengan cerita Cakrabuana. Di samping itu. Majalengka dihubungkan dengan cerita Nyi Rambut Kasih.sering pula dikaitkan dengan cerita rakyat yang disebut legenda. Gunung Tangkuban Parahu dihubungkan dengan cerita Sangkuriang. bahasa–Indramayu. Bahasa dalam Penamaan Tempat Bahasa yang digunakan di tatar Jawa Barat kebanyakan bahasa Sunda. Indramayu dihubungkan dengan cerita Wiralodra. Cianjur dihubungkan dengan cerita Dalem Cikundul. digunakan bahasa Jawa-Cirebon. Misalnya. C. penamaan tempat berbahasa Sunda seperti Cibeureum atau penamaan tempat berbahasa Jawa-Cirebon seperti Kragilan. Dalam penamaan tempat di Jawa Barat tidak sedikit yang dihubungkan dengan cerita rakyat atau legenda. 19 . dan bahasa Melayu-Betawi. Sumedang dihubungkan dengan cerita dan etimologi Insun Medal. Misalnya.

Nama Banten sudah dikenal pada awal abad ke-16. terletak di tepi sungai. keagamaan. dengan memberikan petunjuk bahwa pada masa itu Banten masih seutuhnya merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. ini bahkan jelas Kepulauwan Maladewa.Kasus penamaan tempat di Jawa Barat dan Banten memiliki sejarah yang panjang. ketika Tomế Pires melaporkan kisah pelayarannya selama tiga tahun (1512-1515). dan 20 . Kota ini dipimpin oleh seorang syahbandar yang bertindak untuk dan atas nama raja Sunda. ras dan suku. di Banten. yang untuk kalangan tertentu lebih akrab dikenal sebagai Banten Lama. sosial ekonomi. Dia mengatakan bahwa Banten merupakan sebuah kota niaga yang baik. yang dapat dikelompokkan berdasarkan pemerintahan/kekuasaan. Bagaimana toponiminya menunjang data sejarah itu? Menurut kajian diketahui bahwa di daerah Banten Lama dan sekitarnya terdapat sekurangkurangnya 33 buah pemukiman. wilayah niaganya mencapai Berita Sumatra. Misalnya.

Pabean. pada tahun 1626. Panjunan. marica. anjun. direbut oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah dan anaknya Maulana Hasanuddin. Dengan demikian. Nama-nama itu jelas memperlihatkan adanya keterkaitan konfiks pa-an pada kata dasarnya: béa. Jika dikaji dari segi bahasa.kelompok lain yang tidak diketahui statusnya (Harkantiningsih. ibukota Banten Girang yang terletak sekitar 3 km sebelah selatan kota Serang sekarang. dan cina. Pamarican. Itu berarti bahwa tempattempat itu seharusnya sudah ada pada masa Bandar Banten masih merupakan bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Sunda. nama-nama itu pun dapat dianggap sebagai petunjuk mengenai lapisan budaya yang paling awal di daerah itu. Menurut sejarah. maka nama tempat di Banten Lama memperlihatkan beberapa bahasa. misalnya. koja. Sebagai orang yang 21 . Pakojan. dan Pacinan. Di daerah itu ditemukan sejumlah pemukiman yang memperlihatkan ciri bahasa Sunda. 1981). yakni lapisan budaya Sunda.

sekali Menurut pusat pandangan Jawa. di Banten (Lama) sekarang. Kawangsan. pusat kekuasaan berturut-turut harus pindah dari demak ke Pajang. antara lain. Peta Banten Lama dan sekitarnya menunjukkan adanya pemukiman bernama. Kebalen.datang dari budaya Jawa (Cirebon). wajar jika gaya dan sikap hidup Jawa hidup dibawa orang ke Banten. Syarif Hidayatullah dan Hasanudin memindahkan pusat pemerintahan ke tepi laut. pemerintahan direbut musuh. dan 22 .dan akhiran –an jelas sekali menunjukkan unsur bahasa Jawa (unsur bahasa Sunda ka-an). Ibukota atau istananya disebut Surasowan. Kepakihan. Banten Girang. Nama-nama tempat yang sejenis adalah Kaloran. Kepakihan artinya tempat akhli agama Islam. kota ini sudah tidak patut lagi dipertahankan sebagai pusat pemerintahan. karena sudah direbut. Biasanya harus dicari atau dipindahkan ke tempat lain. Unsur awalan ke. Itulah yang terjadi di Jawa mengapa dalam waktu singkat. lalu ke Kartasura dan Surakarta. Apalagi kata ragil sudah seutuhnya kata Jawa. dan Kragilan. tidak dapat dipertahankan.

Sebagai bandar besar di Kerajaan Sunda. kita ketahui bahwa mereka kemudian memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan politik. Dalam perkembangan lebih lanjut. adalah mesjid Agung Banten dan benteng Speelwijk. anggaplah itu sebagai lapisan budaya kedua. Di samping itu. dari lapisan budaya pertama. yang berdiam masing-masing di Pakojan dan Pacinan. Sekitar satu abad berikutnya (sejak awal abad ke-17). Banten banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah dan negara.Kapurban. Hal ini didukung oleh berita yang terdapat 23 . antara lain. diperoleh petunjuk bahwa pada masa itu sudah ada penduduk yang berasal dari India dan Cina. sosial. Peninggalan arkeologi yang berasal dari masa tersebut. termasuk di Banten. Dengan demikian. dan ekonomi. dapat artikan bahwa nama-nama itu diperkirakan baru muncul setelah masyarakat budaya Jawa merupakan bagian dari masyarakat Banten. di daerah pesisir utara Jawa Barat mulai hadir orang Eropa. terutama Belanda.

dan daerah serta negara lain. Oleh karena itu. Mesir. Palembang. Dusun yang bernama Pabean itu sekarang yang paling dekat dengan tepi laut. Cina. 1973) yang menyebutkan bahwa di bandar-bandar Sunda sering berdatangan orang-orang dari Jawa. Melayu.dalam naskah Sunda bertarikh 1518. Barang dagangan yang paling dikenal dari Banten pada waktu itu adalah hasil bumi 24 . yakni Sanghiyang Siksakandang Karesian (Atja. Di bandar tersebut memiliki tempat khusus untuk membayar pajak atau cukai dan bea. Bahkan keragaman orang yang berdatangan itu menyebabkan munculnya suatu profesi yang sangat penting. Kedudukan Banten sebagai bandar yang penting. penerjemah) agar talimarga atau komunikasi lisan dapat berlangsung di antara sesama mereka. yaitu Jurubasa darmamurcaya (jurubahasa. yaitu pabean. Kemer. di tepi muara Sungai Cibanten. Keling. pada masa itu di Banten sudah ada pemukiman khusus orang India (Pakojan) dan Cina (Pacinan). juga menyebabkan berkembangnya hubungan dagang dengan dunia luar. Arab.

Dalam pada itu. Sementara itu. sehingga dalam bahasa Sunda seharusnya Pajaringan atau Pangjaringan. Pada tahap awal. 25 . Panjaringan dapat diharapkan merupakan dusun Jawa.seperti marica. dan akhirnya terpaksa melakukan kompromi. dalam pertikaian yang berlangsung. dusun Panjaringan memperlihatkan bahwa budaya Sunda dan Jawa sama-sama berusaha “menang”. dan Panjaringan. yang ada awalan pa(ng)-. sehingga terdapat penampungan khusus marica yang disebut Pamarican. yang muncul awalnya Penjaringan. terjadi penyundaan pe. Namun. karena dusun itu dusun Jawa. Pajantran. dalam Bahasa Sunda tidak mengenal awalan pan-.sehingga yang ada Panjaringan. Alasannya. yang jelas dari lapisan budaya Sunda. Toponimi lain yang terdapat di Banten memberikan petunjuk bahwa dusun-dusun tertentu dihuni oleh sekelompok masyarakat yang berlatar kehidupan ekonomi: Panjunan.menjadi pa. kata jantra adalah kata serapan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.

Demikian juga dengan toponimi Kaibon. 26 . Masih ada lapisan keempat di bandar Banten itu. Hal ini diceritakan ketika van Crijs mengunjungi puing kota tersebut pada tahun 1881. jika berbau Sunda tentu Banten Heubeul. yang ada adalah Banten Lama. di pihak lain unsur –on yang merupakan penyandian dari u + an yang memperlihatkan kuatnya pengaruh bahasa Jawa. atau mungkin terjemahan dari bahasa belanda Oud Bantam. Jika toponimi itu seluruhnya berbau Sunda. yang muncul adalah Kaibon. di tepi sungai pertemuan Citarum ke daerah Karangantu sekarang. Akan tetapi. Di satu pihak terlihat upaya untuk memperlihatkan bahwa tempat itu milik orang Sunda. Kemudian orang Melayu menerjemahkannya dengan Banten Lama. Namun. jika berbau Jawa seharusnya Banten Lawas. yang sekarang merupakan daerah bekas istana. yaitu munculnya unsur ka-. seharusnya bernama Kaibuan. sementara jika seluruhnya berbau Jawa seharusnya keibon. terletak di batas paling selatan kota Banten Lama. Nama Banten Lama sendiri jelas berbau Melayu.

Cimahi. Ciledug.Kiaracondong. Cadasngampar. Cikeruh. Tembongkanjut. Ciujung. Gintung lempeng. antara lain. Cibungur. Secara kebahasaan tampak bahwa penamaan tempat merupakan gabungan berbagai jenis kata 27 . (3) Penciuman: Legok Hangseur. dan perabaan (cerap-raba). Cihanyir. Cibiru. yakni penglihatan (cerap-netra). Cibeureum. (2) Pendengaran: Curug. Renghasdéngklok. Curugséah. pengecapan (cerap-rasa). tidak sedikit nama-nama tempat yang dihubungkan dengan pencerapan pancaindera. Di dalam kaitannya dengan penamaan tempat di Jawa Barat. (5) Pengecapan: Ciamis. Cihideung.Penggunaan bahasa dalam penamaan tempat sering dihubungkan dengan pencerapan pancaindera. (1) Penglihatan: Cianjur. Haurséah. Cikonéng. tampak sebagai berikut. (4) Perabaan: Cipanas. Asem Régés. Cibodas. Jetak (dari bacaan: JTX). pendengaran (ceraprungu). penciuman (cerapcium).

28 . Contoh: a) Kata benda + kata benda: Pasirhayam. kata kerja (verba). b) Kata benda + kata sifat: Cibeureum. Jati tujuh. Sarkanjut. c) Kata sifat + kata sifat: Legok hangseur. Kiaracondong. kata sifat (adjektiva). Kalapagenep. Kalapadua. Renghas dengklok. dan e) Kata benda + kata bilangan: Karangnunggal. d) Kata kerja + kata benda: Tembong kanjut. dan kata bilangan (numeralia). Legok Hangseur. Curugtujuh.seperti kata benda (nomina). Rancabuaya. Sarkacang.

kaidah. Latar sasakala ini berkaitan dengan aspek wujudiah (fisikal). latar rupabumi (geomorfologis). atau sistem tertentu.BAB III KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA BARAT DALAM PENAMAAN TEMPAT (TOPONIMI) A. ternyata tidak hanya menelaah maknanya secara fisikal saja. yakni aspek budaya masyarakat serta 29 . Aspek wujudiah mencakup latar perairan (hidrologis). tetapi lebih luas lagi. Setiap nama tempat memiliki latar belakang sasakala (kesejarahan atau historis) tertentu. dan tidak dibuat sembarangan. Kearifan Lokal Berdasarkan uraian terdahulu tampak bahwa secara tradisional nama-nama tempat di Jawa Barat memiliki aturan. Penamaan tempat serta kajiannya. dan aspek kebudayaan (kultural). dan latar lingkungan alam (biologis-ekologis) seperti tumbuhan (flora) dan binatang (fauna). aspek kemasyarakatan (sosial).

penyebutan nama tempat Ciamis. William R. yang menyebutkan empat fungsi 30 . Sejak itulah. Konsep ini kemudian diubah dan diberi pencitraan baru. kearifan (wisdom). dan harapan-harapan (expectation) bahwa tempat yang dipijaknya sesuai dengan tuntutan masyarakatnya. Pola penamaan tempat dapat dijadikan indikator idiologis suatu masyarakat. Misalnya.nilai-nilai sejarahnya. Bascom (1965:3-20). dilatarbelakangi oleh kedatangan orang Cirebon ke wilayah Galuh dan mencium air sungai yang amis (Bahasa Sunda: hanyir. Kabupaten Ciamis diberi motto “Ciamis Manis”. yang mencakup tata nilai dan keyakinan yang dianutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan filolog dari Universitas California di Berkeley. amis dalam Bahasa Sunda yang bermakna „manis‟. wilayah tersebut disebut Ciamis. Konsep penamaan tempat atau toponimi dapat dijadikan petunjuk bagaimana dirinya suatu (inner masyarakat world) dan mengungkapkan citra memancarkan prestise dan prestasinya ke dunia luar (outer world). Oleh karena itu. bukan amis „manis‟).

(c) sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device). yang penting enak didengar dan indah terasa. B. 2002:19). Sering tidak melihat asal-usul atau latar belakang keadaan tempatnya. Kurang Mengindahkan Sejarah Pada saat sekarang. Ada dua masalah berkaitan dengan penamaan tempat. yakni (a) sebagai sistem proyeksi (projective system).folklor. Pertama. (b) sebagai alat pengesahan pranatapranata dan lembaga-lembaga kebudayaan. pemberian nama tempat di Jawa Barat sudah mulai melemah. salah penyebutan nama tempat dan maknanya bergeser. Hal ini disebabkan karena penamaan tempat merupakan produk folklor lisan. yang diucapkan secara turun-temurun dan beruntun dari 31 . dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar normanorma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya (Danandjaja. yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kolektif.

real estate). Mereka sering memberikan nama-nama perumahan seenaknya. Dampaknya sering terjadi masyarakat tidak mengenal tempa atau jalan tersebut. Biasanya diikuti 32 kata indah. di Kota bandung ada Jalan Pasirkaliki. permai. . yang sering disingkat Paskal. Malah terlontar istilah PASKAL.mulut ke mulut. atau pakar dalam penamaan tempat. Namun. Akibatnya. dengan langsung akan menunjukkannya. Misalnya. Yang paling menyedihkan datang dari para pengembang perumahan (doveloper. ketika ditanya “Di mana Jalan Pasirkaliki?. Sampurendeng dari Sempur rendeng. diganti menjadi Jalan HOS Cokroaminoto. Misalnya. dia menggelengkan kepala karena tidak mengetahuinya. kebijakan pemerintah daerah di Jawa barat kurang melibatkan atau tidak berkoordinasi dengan para tokoh-adat. budayawan. Ketika seseorang atau masyarakat ditanya “Di mana Jalan HOS Cokroaminoto?”. ada kesan bahwa pemerintah senenaknya menamai dan mengganti suatu tempat atau jalan yang sudah memasyarakat. Kedua.

baik yang fisikal maupun non-fisikal. boleh jadi. dan Permata Biru. karena di dalam bahasa Sunda bermakna „mencret‟ bagi balita. pada umumnya “nama” itu mengandung unsur-unsur filosofis dan simbolis yang sarat makna. terdapat permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan kata indah. C. Kopo Permai. atau mungkin juga mengacu kepada harapan-harapan positif agar warganya memiliki upaya-upaya dan mentalitas yang seiring dan sejalan dengan makna yang terkandung di balik nama itu. Perlu Kearifan Penamaan sebuah kota atau tempat. ada juga yang berlandaskan latar belakang historisnya yang pernah terjadi di tempat itu. Margahayu Kencana. Namun begitu. Di samping itu. dan permata. didasarkan atas ciri dan karakter yang menonjol dari tempat itu.kencana. Misalnya. misalnya. Cipadung Indah. Namun. Kasus penamaan Kabupaten Bandung Barat sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Bandung 33 .

geomorfologis. apakah kemudian akan dinamai Kabupaten Bandung Barat Paling Barat? Di sinilah letak kearifan dalam hal sistem penamaam tempat (toponimi). dan kearifan lokal masyarakatnya. Dengan melihat penjelasan di atas. hendaklah bertindak arif dalam menamai tempat atau jalan. tampak bahwa tradisi pemberian nama tempat di Jawa Barat memiliki nilai-nilai historis. para pengambil kebijakan (stake holders) atau para penguasa daerah. sosio-kultural. tidak berperilaku seenaknya. rasanya masih menyisakan masalah.misalnya. Oleh karena itu. Apabila kelak Kabupaten Bandung Barat mengalami pemekaran. linguistik. 34 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful