BAB 5 SASAKALA TEMPAT DI JAWA BARAT Sasakala tempat di Jawa Barat dikelompokkan ke dalam enam wilayah sebagai berikut

. 1. Wilayah Bandung Raya mencakup Kabupaten Bandung, 2. Kota Bandung, Kota Cimahi,

Kabupaten Bandung Barat, dan Sumedang. Wilayah Priangan Timur mencakup Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut. 3. Wilayah Purwasuka mencakup Kabupaten

Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang. 4. 5. Wilayah Sukaci meliputi Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Cianjur. Wilayah Bodebek meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

101

6.

Wilayah

Pantura

meliputi

Kota

Cirebon,

Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. A. SASAKALA WILAYAH BANDUNG RAYA 1. SASAKALA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU Pada jaman dahulu, di tanah Priangan terdapat sebuah kerajaan yang sangat subur dan makmur, yang bernama Kerajaan Galuga. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang adil palamarta bernama Prabu Sungging Perbangkara. Kesenangannya berburu ke hutan mencari hewan-hewan yang dagingnya akan dibagikan ke seluruh rakyat yang tertimpa kelaparan. Pada suatu hari, maka berangkatlah rombongan raja ke hutan untuk berburu. Tiba di hutan, Prabu Sungging Perbangkara membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Setelah raja pergi, kemudian ada seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin
102

menjadi

manusia.

Babi

hutan

itupun

kemudian

meminum air seni raja itu. Beberapa bulan kemudian, Wayungyang pun hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu lalu diserahkan ke keraton, dan oleh Prabu Sungging Perbangkara diberi nama Dayang Sumbi Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dengan gelagat itu, Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah ranggon di hutan belantara dengan ditemani seekor anjing jantan

bernama Si Tumang. Pekerjaanya di ranggon tersebut ialah menenun membuat kain. Kain hasil tenunannya kemudian diserahkan pada ayahnya di keraton. Pada suatu hari, Dayang Sumbi sedang asyik menenun. Namun totopong (torak) yang tengah

digunakannya untuk bertenun, terjatuh ke bawah ranggon. Cukup tinggi ranggon yang ditempatinya
103

tersebut, sehingga Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Ia pun bergumam lirih: “Duh, malasnya hari ini. Bagi siapa saja yang mengambilkan totopong itu, apabila ia perempuan, akan kujadikan saudara. Apabila laki-laki, akan kujadikan suami.” Sesaat setelah bergumam, tiba-tiba Si Tumang mengambilkan totopong tersebut, lalu diberikanlah kepada Dayang Sumbi. Tentu saja Dayang Sumbi kaget, apalagi ketika mengetahui bahwa Si Tumang berkelamin jantan. Dalam keadaan bingung itu, tiba-tiba terdengar suara gaib: “Jangan khawatir, Si Tumang adalah jelmaan seorang Pangeran tampan yang sedang mencari ilmu kesaktian. Menikahlah dengannya.” Sembilan sejak mendengar suara gaib itu, akhirnya Dayang Sumbi pun melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Sangkuriang. Semakin hari,

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cekatan dan
104

Di usia yang masih kecil. Pikirnya. di perjalanan ia mendapati seekor babi hutan. Seperti hari itu. yakni berburu. “Mungkin ibuku akan suka meskipun hati seekor babi hutan. Hari sudah sore. Sangkuriang disuruh oleh Dayang Sumbi berburu hewan di hutan. Karena si Tumang tidak menurut. sedangkan hari sudah sore. ia mengatahui bahwa babi hutan tersebut hanyalah jelamaan seorang perempuan sakti bernama Wayungyang yang telah melahirkan Dayang Sumbi. Lalu 105 .tangkas. istrinya sendiri dan ibunya Sangkuriang. Namun ketika akan pulang. Namun Si Tumang malah diam. Dayang Sumbi berpesan agar dibawakan hati seekor mencek (kijang). Hobinya sama dengan kakeknya. namun Sangkuring belum juga mendapatkan seekor mencek.” Sangkuriang pun menyuruh Si Tumang mengejar babi hutan tersebut. yang ternyata Wayungyang. Sangkuriang sudah pandai menggunakan tombak dan panah untuk memburu hewan buruannya. akhirnya Sangkuriang pun kesal.

suaminya sekaligus ayahnya Sangkuriang. namun setelah didesak oleh Dayang Sumbi. Selama pengembaraannya. dasar anak tidak tahu balas budi. 106 . lalu dimasak dan dimakannya. yang sebenanrnya jelmaan ayahnya sendiri. Sangkuriang pun pergi mengembara mengelilingi tatar Parahyangan. akhirnya ia pun mengaku. Pada mulanya Sangkuriang tidak mengaku telah membunuh Si Tumang. Lalu ditanyakanlah kepada Sangkuriang. Keesokan harinya. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sinuk (sinduk) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala Sangkuriang terluka. kemarahannya pun memuncak.dibunuhnya Si Tumang oleh Sangkuring. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati Si Tumang. Hati Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi.!” hardik Dayang Sumbi. “Pergi kau dari sini.. Dayang Sumbi merasa heran karena Si Tumang menghilang..

Sangkuriang pun bermesraan dengan Dayang Sumbi. sebelum akhirnya tiba kembali di ranggon Dayang Sumbi. ibunya sendiri. seperti halnya sepasang dua kekasih. Yang ada hanyalah gejolak perasaan bahwa laki-laki tersebut tampan dan bisa menjadi pelindungnya. tidak mengetahui bahwa laki-laki tampan yang ditemuinya adalah Sangkuriang anaknya sendiri. Begitupun Dayang Sumbi. 107 .Sangkuriang banyak berguru ilmu kesaktian. Dayang Sumbi kaget ketika di kepala Sangkuriang terdapat luka bekas pukulan sinduk. Tanpa sengaja. Bahkan bangsa siluman dan jin pun takluk kepadanya. Karena Sangkuriang sudah lama tidak bertemu sejak kecil. Lama Sangkuriang mengembara. Maka terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan tersebut. Ketika itu. Sangkuriang tiduran di atas lahunan (pangkuan) Dayang Sumbi. ia pun tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Pada suatu sore yang indah. Lalu Dayang Sumbi pun mengelus-elus kepala Sangkuriang.

. Melihat gelagat yang kurang baik tersebut. kemudian Dayang Sumbi mencari akal agar maksud Sangkuriang tidak kesampaian. “Apa syaratnya.. . segera Dayang Sumbi menyampaikannya pada Sangkuriang.. “Sangkuriang.Mengetahui hal itu. engkau harus penuhi syaratnya.” pinta Dayang Sumbi.ha... Namun Sangkuriang tidak percaya. bahwa ia adalah putranya yang telah lama pergi. Demikian karena Dayang Sumbi mempunyai ilmu kajayaan (awet muda). karena dihadapannya sosok perempuan muda.” “Ha.” 108 Maka diajukanlah syarat kepada sekali syaratmu itu. bukan tua seperti bayangan terhadap ibunya selama ini.. Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi agar mau dinikahinya. Sumbi?” “Buatkanlah aku sebuah danau dan perahu untuk berlayar di atasnya. Sangkuriang. apabila mau menikahiku.gampang Sumbi.ha. Karena tidak percaya.

Maka mulailah masalah. Sekitar pukul 1 pagi. danau dan perahu tersebut harus selesai dalam waktu satu malam suntuk.“Ingat Sangkuriang. Sangkuriang segera menebang pohon untuk membuat perahu.” aku akan selesaikan dengan jawab Sangkuriang Sangkuriang membuat perahu. Dibantu pula oleh gajah dan harimau dalam memindahkan pohon yang akan dipakai untuk membendung Citarum. 109 . Di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon tarum. Dalam pengerjaannya. Menjelang tengah malam Citarum pun sudah terbendung. Maka segera saja Sangkuriang membuat danau dengan cara membendung sebuah sungai besar yang mengaliri hutan belantara di mana Dayang Sumbi tinggal. sehingga kelak penduduk sekitar menyebut sungai tersebut dengan nama Citarum. Sangkuriang dibantu oleh siluman dan jin taklukannya. itu.” “Tidak permintaanmu entengnya. Terbentuklah danau yang sangat luas.

Kontan saja hewan-hewan yang berada di hutan kaget dan menyangka waktu sudah pagi. artinya engkau gagal memenuhi syaratku. Nampaknya waktu sudah pagi. melenguhlah banteng. Setelah dikibaskan. “Sangkuriang. perahu pun akan segera selesai. Disangkanya fajar mulai merekah di ufuk timur. Berkokoklah ayam. dan menurut perkiraannya. Dayang Sumbi segera khawatir melihat danau sudah terbentuk. Dengan kenyataan itu. lihatlah sekelilingmu. Artinya dalam semalam suntuk. Lalu ia pun mengeluarkan boeh rarang (kain berwarna putih yang dapat mengeluarkan cahaya). 110 .Sementara di ranggonnya. maka dari kain tersebut keluar cahaya seperti kilatan emas. dan berkicaulah burungburung. Sangkuriang dapat mengabulkan syarat yang diajukannya yakni membuat danau dan perahu. segera Dayang Sumbi mencari akal agar rencana Sangkuriang dapat digagalkan.” kata Dayang Sumbi.

Namun.Dilihatlah lingkungan sekitar oleh Sangkuriang. Ia pun tersentak kaget. 111 . Kemudian Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. Ditendanglah parahu „perahu‟ yang hampir selesai itu oleh Sangkuriang dan nangkub „telungkup‟ di sebelah utara danau. sedangkan rangrang (ranting) dari pohon tersebut terkumpul di sebelah barat dan berubah menjadi Gunung Burangrang. Mulailah keluar rasa kesal dan marah. berubah menjadi Gunung Bukit Tunggul. Adapun tunggul atau pangkal pohon yang batangnya dibuat perahu. yang artinya parahu nangkub (perahu terbalik). ketika sedang dikejar. Berubahlan perahu tersebut menjadi sebuah gunung yang kini disebut Gunung Tangkuban Parahu. Dayang Sumbi sebagai seorang putri mendadak menghilang di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Putri. Segera ia sadar bahwa dirinya telah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi.

tetap saja Sangkuriang tidak menemukan Dayang Sumbi. Sebelumnya. Sumbat bendungan itu melayang sampai akhirnya berubah ke sebelah timur. Akhirnya Sangkuriang putus asa. Di tempat itu. Tempat itu sekarang disebut Ujungberung. Kemudian ia pun melanjutkan kembali pengembaraannya. kemudian Sangkuriang ngahyang (menghilang ke alam gaib). Seolah Dayang Sumbi hilang ditelan bumi. Sangkuriang pun menjebol sungai Citarum dengan cara melemparkan sumbat bendungan yang terbuat dari pepohonan dan batu-batu besar. yang berarti ujungna (tempat berakhirnya) perasaan Sangkuriang yang ngaberung (mengikuti) hawa nasfu untuk menikahi ibunya sendiri.Meskipun dibantu bangsa siluman dan jin. Bekas bendungan sungai Citarum itu kini berada di Padalarang yang dikenal dengan nama Sanghyang Tikoro. hingga sampailah di suatu tempat. menjadi Gunung Manglayang. 112 .

berasal dari kata ngabandeng yang berarti genangan air danau yang luas. Ini untuk menyebut danau yang dibuat Sangkuring pada waktu itu. 113 . kata Bandeng pun berubah menjadi Bandung seperti dikenal hingga sekarang.Seiring waktu. Kemudian berubah menjadi Bandeng. *** *) Legenda ini terkadang diberi judul Sangkuriang Kabeurangan (Kesiangan) atau Sasakala Bandung Purba. Seiring perkembangan waktu. yang berasal dari kata dibendung-nya Citarum oleh Sangkuriang. lalu banyak ditempati pendatang dari berbagai daerah karena tanahnya subur. Daerah itu kemudian disebut Bendung. air danau pun mulai surut kembali. Dalam hal penulisan nama Sangkuriang: ada yang disatukan. ada pula yang dipisahkan (Sang Kuriang).

114 . Tentu saja Baginda Raja Singa Mandala merasa bingung. Kecantikan Putri Mayang Sawitri pun tersiar ke mana-mana. datanglah rombongan pelamar dari kerajaan Margaasih. Ia pun memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Mayang Sawitri. Namun semuanya ditolak oleh Putri Mayang Sawitri dengan bermacam-macam alasan. Ia terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari. terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangsari. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Raja Jayadilaga. Adapun rajanya bernama Baginda Raja Singa Mandala. SASAKALA CIGONDEWAH Dahulu kala. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain berniat melamarnya. Ia merasa khawatir para raja dan ksatria yang ditolak lamarannya akan merasa sakit hati dan kemudian akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang kerajaan Sindangsari.2.

” 115 . bersediakah dipersunting hamba?” “Euh. sebelumnya aku mohon maaf. Karena kesal.” jawab Raja Jayadilaga dengan tegas dan penuh harap. Sebagai tanda lamaran. “Kalau begitu niat paduka. anakku?” Putri Mayang Sawitri lama menundukkan kepala. “Bagaimana tuan putri. akhirnya Raja Jayadilaga mengulang pertanyaan Raja Singa Mandala.” kata Raja Singa Mandala sambil melirik pada putrinya. “Maksud kami untuk melamar putrimu yang cantik jelita itu. paduka raja.“Ada apakah gerangan Raja Jayadilga menemuiku?” kata Raja Singa Mandala di ruang keraton. Putri Mayang Sawitri: “Bagaimana. aku hanya bisa menyerahkan keputusan lamaran ini pada putriku langsung. kami membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi dari kerajaan Margaasih.

Seketika ia berdiri dan pergi tanpa permisi keluar dari ruangan keraton diikuti oleh rombongan lainnya.“Tidak usah minta maaf. karena tuan putri tidak punya salah apa-apa padaku. untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaran paduka raja. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Sebagai raja yang ingin akan segera menyerang kerajaan mempertahankan kedaulatan. “Eum. keesokan harinya Raja Jayadilaga mengerahkan seluruh pasukannya dari kerajan Margaasih. Bahkan hatinya semakin diliputi rasa cemas.” “Apa…?!!” Raja Jayadilaga tersentak kaget. Sesuai dengan prediksi. Ketakutannya yang utama ialah kerajaan Margaasih Sindangsari.” kata Raja Jayadilaga dengan penuh kesabaran. Kemudian Ia bertitah: “Tunggu kedatangan pasukanku!” Melihat kejadian tersebut. Raja Singa Mandala hanya duduk terpaku kaku di singgasana. tentu saja Raja Singa 116 .

Darah berceceran di mana-mana. Pagi itu cuaca sangat cerah. dan gondewa atau jamparing (panah). pedang. Senjata mereka terdiri dari bedog (golok). tanda peperangan akan segera dimulai. Banyak prajurit yang gugur di medan perang. Ksatria-ksatria pilih tanding kerajaan Sindangsari tidak mampu menahan gempuran pasukan 117 . Hal ini dikarenakan jumlah pasukan dari kerajaan Margaasih lebih banyak jumlahnya dan senjatanya pun lebih lengkap. Pertempuan kedua kerajaan pun berlangsung sengit. Seluruh pasukan Sindangsari segera ditempatkan di daerah perbatasan. Peperangan pun terjadi. Sangkakala perang sudah ditiup. Namun nampaknya pasukan kerajaan Margaasih lebih kuat ketimbang kerajaan Sindangsari. akhirnya pasukan kerajaan Sindangsari terdesak. Seluruh pasukan Sindangsari pun sudah siap menghalau.Mandala pun menyiapkan pasukannya. Namun setelah dua hari berperang. Pasukan Margaasih semakin mendekati perbatasan.

Bahkan Raja Singa Mandala pun akhirnya terbunuh dalam peperangan tersebut. Putri Mayang Sawitri pun meninggal oleh kerisnya sendiri.Margaasih. ia pun berhasil memperluas kekuasannya dengan cara menyatukan wilayah kerajaan Margaasih dengan Sindangsari. sebaliknya Raja Jayadilaga merasa senang atas kejadian tersebut. Sesaat setelah berucap dan menancapkan keris ke perutnya.” gumamnya dengan yakin. Putri Mayang Sawitri langsung mencabut keris dengan niat untuk labuh geni (bunuh diri). 118 . Berbeda dengan rakyat Sindangsari yang berduka. Selain itu. Melihat ayahnya telah tewas. Ia merasa telah berhasil membalas kepedihan hatinya yang ditolak oleh Putri Mayang Sawitri. “Aku lebih baik mati ketimbang dipersunting oleh raja yang telah membunuh ayahku. Selanjutnya Raja Jayadilaga merubah nama Sindangsari menjadi Cigondewa.

Raja Jayadilaga melihat banyak darah berceceran bagaikan cai (air). setempat. Nama Cigondewa Cigondewah. kerajaan Margaasih pun semakin berkembang pesat. ubah Wilayah nama ini Sindangsari pun sekarang menjadi menjadi taklukanku. Alasan diubahnya nama Sindangsari menjadi Cigondewa. *** pun kemudian berubah menjadi penduduk mengikuti pengucapan 119 . Setiap tahun mereka menyerahkan upeti kepada Prabu Siliwangi karena berada di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Darah tersebut berasal dari tubuh prajurit Sindangsari yang terbunuh oleh panah dan gondewa pasukan Margaasih.” ujar Raja Jayadilaga di depan seluruh penduduk Sindangsari. karena setelah peperangan terjadi. Semakin lama.“Aku Cigondewa.

Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ki Patih kerajaan Subangkala. yang ketiga bernama Embah Naibah. Raja Subangkala memerintahkan patihnya untuk melamar ke kampung Babakan.3. SASAKALA KAMPUNG MARONGGE Hiduplah empat orang putri yang cantik jelita serta memiliki kesaktian tinggi di sebuah kampung bernama Babakan. berangkatlah rombongan dari kerajaan Subang menuju ke kampung Babakan. Berkat kecantikannya itulah. yang kedua bernama Embah Setayu. Putri yang sulung bernama Embah Gabug. Sementara rombongan sedang di 120 . “Apabila menolak. Salah satunya ialah Raja Subangkala dari kerajaan Subang. banyak raja dan ksatria tertarik untuk melamar dan mempersuntingnya. Maka segera. Ia berniat melamar Embah Gabug. begitulah titahnya. dan yang bungsu bernama Embah Naidah. Keesokan harinya. culik dengan cara paksa!”.

“Aku Ki Patih dari Kerajaan Subang. Dibangunkanlah seluruh rombongan tersebut. lalu dihampiri oleh Embah Gabug. Ia adalah puteri 121 . setelah semua rombongan tertidur. Embah Gabug pun segera memakai kesaktiannya untuk memperdaya rombongan dari kerajaan Subang tersebut. bahwa akan ada rombongan yang sedang berada dalam perjalanan dengan maksud dan tujuan jahat.perjalanan. Benar saja. Diutus oleh Gusti Raja Subangkala untuk melamar seorang puteri yang tinggal di Kampung Babakan. di kampung Babakan Embah Gabug sedang bersemedi. Di dalam semedinya. “Bangunlah kalian semua! Dari mana dan apa keperluan kalian datang ke Kampung Babakan?” Ki Patih pun segera menjawab dengan nada sinis. Setelah mengetahui hal itu. ia diberitahu oleh Hyang Widi. Sesaat kemudian. seluruh rombongan mendadak kelelahan dan tertidur pulas di batas menuju Kampung Babakan.

tidak puteri. putri tersebut harus dipaksa dan diculik ke Subang. Kalian tadi tertidur terkena ilmuku. Apabila raja kalian dapat memenuhi syarat tersebut. Apakah puteri menginginkan banyak intan permata?” menginginkan haliyah dunya (kekayaan). Menurut titahnya.” Mendengar jawaban dari Ki Patih. Sekarang pulanglah dan sampaikan pada raja “Apa “Aku kalian. datanglah Raja Subangkala ke kampung Babakan. aku akan menerima lamarannya.Embah Gabug.” syaratnya. Kalian semua telah memiliki niat jahat.” Beberapa hari kemudian. Embah Gabug pun menjawab dengan tenang dan tegas. bahwa aku mau menerima lamarannya dengan satu syarat. Ia pun langsung diterima oleh putri Embah Gabug di muara sungai 122 . Aku hanya menginginkan raja kalian dapat mengembalikan kukuk*) yang akan dilempar ke sungai Cilutung. apabila lamarannya ditolak. “Akulah puteri Embah Gabug yang dimaksud itu.

maka dilemparkanlah sebuah kukuk oleh Embah Gabug ke tengah-tengah derasnya air sungai Cilutung. Kembalikanlah kukuk tersebut ke hadapanku. Melihat kenyataan demikian. apalagi mengembalikan ke hadapan Embah Gabug. Oleh karena itu. Namun air sungai semakin deras. “Kanjeng Raja. Kesaktiannya telah berhasil dikalahkan oleh seorang perempuan.” kata Embah Gabug. Raja Subangkala pun merasa malu.Cilutung dan Cideres. lalu ia menantang Embah Gabug untuk mengembalikan 123 . Segera saja Raja Subangkala mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengembalikan kukuk yang telah terbawa arus sungai. yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Panyaweuyan. Setelah semuanya siap. Kukuk pun terbawa arus air menuju ke hilir sungai. kukuk ini akan kulemparkan agar terbawa arus ke hilir. Raja Subangkala pun tidak sanggup menahan lajunya kukuk.

kalau engkau sakti. “Hai putri. ia pun mengembalikan kukuk. mulai dikenal istilah pelet (ilmu asihan) si kukuk mudik dari kampung Marongge. berada di kampung Prunggawul. membelah arus sungai. Adalah Raja Bugang Geureung dari kerajaan Pasiripis yang penasaran atas 124 . Malahan terkenal dengan sebutan Pelet Marongge. Kukuk melesat dari hilir. coba kembalikan kukuk yang terbawa arus itu ke hadapanku!” Embah Gabug pun menuruti perintah Raja Subangkala. Dengan karembong sakti cinde wulung. mulailah tersiar kabar ke mana-mana bahwa Raja Subangkala dikalahkan oleh Embah Gabug. Desa Bonang. Beberapa hari setelah kejadian itu.kukuk yang telah terbawa arus sungai tersebut ke hadapannya. Semenjak itu pula. Kacamatan Kadipaten Majalengka. Bahkan akhirnya terpental pada sebongkah cadas (sejenis tanah liat) yang teksturnya datar menyerupai mejatulis di sebelah Raja Subangkala berdiri. Tempat inilah yang sekarang disebut Cadas Meja.

Itulah syarat yang diajukan oleh Embah Gabug untuk siapa saja yang ingin mempersuntingnya. akhirnya Embah Gabug memutuskan untuk pergi dari kampung Babakan. tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi persyaratan tersebut. Namun seperti halnya Raja Subangkala.kabar tersebut dan berniat menjajal kesaktian Embah Gabug. 125 . Kepergiannya tersebut tanpa sepengetahuan penduduk kampung Babakan. Namun pada akhirnya. Oleh Embah Gabug. Raja Bugang Geureung pun kemudian mengajukan tawaran pada Embah Gabug. Raja Bugang Geureung pun tidak mampu mengembalikan kukuk ke hadapan Embah Setayu. Bahkan saudara-saudaranya pun tidak diberitahu. tawaran Raja Bugang Geureung tersebut diterima dengan syarat akan diwakilkan pada adiknya Embah Setayu. Dengan kenyataan demikian. Ia lalu mencari tempat yang baik untuk bersemedi. Pelaksanaan melempar kukuk pun dimulai. Kini kukuk dilempar oleh Embah Setayu.

mereka bertiga sampai ke sebuah bukit yang bernama Gunung Hade. Berangkatlah mereka bertiga berkelana. mereka bertiga berniat untuk mencari kakaknya yang pergi tanpa pamit. Sesaat kemudian. mereka bertiga menemukan seorang perempuan terkapar karena sakit. Setayu. 126 . Maka dipeluklah tubuh Embah Gabug oleh adik-adiknya. terdengar suara gaib: “Hai. Naibah. Embah Gabug pun sembuh kembali. Hingga suatu ketika. Di puncak bukit itulah. kakaknya sendiri. Perempuan tersebut ternyata Embah Gabug. Setelah memakan buah laja.Tentu saja membuat sedih Embah Setayu. dan Naidah! Kakakmu akan sembuh apabila memakan buah laja yang tumbuh di bukit ini!” Maka dicarilah buah laja oleh Embah Setayu. “Kenapa kita ada di sini? Siapa yang telah berhasil menyembuhkanku?” kata Embah Gabug. Naibah. berkat kekuasaan Hyang Widi. dan Naidah. Hingga pada suatu malam.

Sudah barang tentu seluruh penduduk menyambutnya dengan suka cita. 127 . Beberapa bulan kemudian. pada malam Jumat Kliwon. Embah Gabug dan ketiga adiknya pun kembali ke kampung Babakan. Oleh adik-adiknya lubang tersebut ditutupi oleh rengge (sejenis ranting bambu haur) yang tumbuh di sekitar bukit. Suatu saat nanti. aku adalah Haji Putih Jagariksa yang menguasai bukit ini. kalian juga akan menetap di bukit ini.Diceritakanlah seluruh kejadian yang telah menimpa oleh Embah Setayu. Sekarang. keempat putri bersaudara itu pergi berjiarah ke gunung Hade. Setelah itu. pergilah!” Setelah mendengar suara gaib. Sesampainya di sana. Embah Gabug pun ditinggal pergi oleh adik-adiknya. Kemudian Embah Gabug masuk ke lubang tersebut. mereka membuat lubang tepat di atas tempat terkaparnya Embah Gabug dulu. Setelah itu tiba-tiba terdengar kembali suara gaib: “Kalian jangan kaget.

mereka kaget karena dari lubang yang ditutupi rengge waktu itu. Kini kampung Marongge menjadi tempat jiarah. kemudian berubah menjadi Marongge. Hingga pada suatu malam. Lalu diperiksalan lubang yang mengeluarkan cahaya merong tersebut. keluar cahaya yang merong (bersinar) kekuningkuningan seperti kilatan emas. karena terlalu lama ditinggal sang kakak. Embah Gabug yang pernah masuk ke lubang itu pun didapati oleh ketiga adiknya telah menghilang. yang berasal dari kata merong dan kata rengge. tempat tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Merongge. berangkatlah mereka bertiga ke gunung Hade dengan maksud untuk melihat sang kakak. Adik-adiknya pun merasa sedih. Ternyata lubang tersebut kosong. Semenjak itulah. Kebanyakan pengunjung berjiarah dengan maksud 128 . Seiring perjalanan waktu. Sesampainya di puncak.Sekian lama Embah Gabug terkubur dalam lubang di puncak gunung Hade.

129 . oleh orang tua biasa dipakai untuk wadah cai (tempat mengambil air) dengan cara dilubangi dekat lehernya (karena bentuknya yang berleher sepert kendi). nama tumbuhan sejenis labu. konon sampai akhir hayatnya keempat gadis tersebut tidak pernah menikah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. *** (Sumedang) *) kukuk. Buahnya yang sudah tua.agar cepat mendapat jodoh atau bertapa untuk memiliki ilmu pelet si kukuk mudik. Bunganya berwarna putih dan buahnya berbentuk kendi.

Mereka semua masuk agama Islam. Semenjak itulah kemudian Guru Aji Putih diangkat menjadi raja di perkampungan tersebut dan kerajaanya diberi nama Tembong Agung. datanglah rombongan pengelana dan paninggaran (pemburu) ke sebuah tempat di tengah hutan belantara di tepi sungai Cimanuk. Salah seorang yang ikut dalam rombongan resi itu ada yang bernama Sanghiyang Resi Agung dari kerajaan Galuh. 130 . yang kini bernama Leuwihideung.4. Semua penduduk yang ada di sana kemudian mengikuti ajaran Guru Aji Putih tersebut. SASAKALA SUMEDANG Dahulu kala. Kemudian datang pula golongan resi yang menyebarkan agama. Kemudian datanglah seorang pengelana yang beragama Islam bernama Guru Aji Putih. Termasuk resi yang awalnya memeluk agama karuhun. Resi Agung lalu membuat padepokan di tepi sungai Cimanuk tersebut.

131 . Namun ada yang mengganjal dalam hati Prabu Tajimalela. Seluruh rakyat hidup damai dan sejahtera. Ia pun kemudian diberi gelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana.Guru Aji Putih disebut pula Guru Haji Putih. Prabu Tajimalela terkenal adil palamarta. ia bingung harus membagi tahta kerajaan. Bergelar haji karena ia pernah berangkat ke Mekah. dan Sunan Geusan Ulun. Prabu Tajimalela pun terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Ini karena Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra. Semakin lama. kerajaan Tembong Agung semakin berkembang pesat. yakni Prabu Lembu Agung. Guru Haji memiliki seorang putra bernama Tajimalela. Ia pun kelak akan disebut Haji Darmaraja. Putranya inilah yang kemudian meneruskannya menjadi raja di Tembong Agung. Dalam menjalankan pemerintahan. Prabu Gajah Agung. sehingga musuh-musuhnya selalu kalah dalam berperang.

Namun ia tidak mau menjadi raja dan malah menyerahkan kepada adiknya Gajah Agung. Prabu Tajimalela mendapat wangsit. Akan tetapi Gajah Agung pun menolak karena tidak mau menjadi raja. Adapun Sunan Geusan Ulun ketika itu masih burey (kecil). Dalam kebingungan itu. “Jaga bedog dan dawegan ini. Dalam wangsitnya Prabu Tajimalela harus menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu putranya dengan terlebih dulu mengadakan ujian atau pasanggiri (sayembara) di puncak gunung Sangkan Jaya. Dengan hati gundah. Nanti kita lihat apa yang terjadi. akhirnya Prabu Tajimalela menyuruh kedua putranya itu menuju puncak Gunung Sangkan Jaya. 132 .” kata Prabu Tajimalela. Sesampainya di sana. pada suatu malam.Pada mulanya Prabu Tajimalela berniat menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua Lembu Agung. Prabu Tajimalela menyuruh kedua anaknya untuk menunggui sebilah bedog dan dawegan (kelapa muda).

Sementara Gajah Agung. memang sinar matahari sungguh terik menyengat tubuhnya.” kata Lembu Agung pada adiknya. Hari itu. aku akan mandi dulu. “Adikku.” Lembu Agung pun segera pergi meninggalkan adiknya. Gajah Agung pun kemudian membelah dawegan yang ada di hadapannya dengan bedog yang ada di hadapannya pula. “Ya. Kamu tetap jaga bedog dan dawegan ini. akhirnya Lembu Agung merasa gerah dan tidak kuat oleh cahaya matahari. Gajah Agung. Ia pun berniat untuk mandi dulu ke sungai yang berada di lembah gunung. Maka dengan yakin.Dijagalah bedog dan dawegan itu oleh Lembu Agung dan Gajag Agung. lama kelamaan merasakan pula kegerahan dan rasa dahaga. Ditenggaklah air dawegan tersebut sampai habis. 133 . Karena cuaca sangat terik. Ia menuju sungai yang berada di lembah gunung untuk mandi sekedar menghilangkan gerah. Kakang.

Nanti kita ceritakan kejadian ini pada rama Prabu. adikku. Lalu Lembu Agung dan Gajah Agung menceritakan kejadian yang mereka alami masing-masing. Akhirnya dawegan ini pun ku belah. Lalu ia pun bertanya pada adiknya. Aku hanya tidak kuat saja menahan dahaga.” Sesaat kemudian datanglah Prabu Tajimalela. Gajah Agung. kemudian Lembu Agung datang. “Bagaimana. Kakang. sudahlah. Dengan syarat. Maka dengan yakin.” “Ya. dan airnya telah ku minum. Kenapa dawegan ini terbelah? Ada kejadian apa?” “Tidak ada kejadian apa-apa. Lembu Agung. Sedangkan kerajaan Tembong Agung akan tetap diserahkan pada anaknya yang pertama.Sesaat setelah menenggak air dawegan. Gajah Agung harus mencari ibukota sendiri. akhirnya Prabu Tajimalela menyerahkan tahta kerajaan pada anaknya yang kedua. 134 .

Ia pun dikenal memiliki keris yang sangat ampuh dengan nama Ki Dukun. Adapun Sunan Geusan Ulun. sekarang Sumedang selatan. Setelah menyerahi tahta kerajaan pada anaknya. kemudian Prabu Tajimalela pun melakukan semedi 135 . ia disebut juga Prabu Pagulingan. Pusaka Keris ini. Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung. Karena itu. Lembu Agung pun berucap.” Kata darma ngarajaan adalah ungkapan bahasa Sunda yang berarti siap bertugas menjadi raja. kelak ia pun akan menjadi raja dan resi.Atas keputusan ayahnya itu. Ciguling. Ungkapan inilah yang kelak menjadi salah satu nama daerah yang disebut Darmaraja. Selanjutnya ia membangun ibukota kerajaan di Leuwihideung. sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun. Sementara itu. Pasanggrahan. “Aku hanyalah darma ngarajaan saja. akhirnya Prabu Gajah Agung dinobatkan menjadi raja. Pada saat diserahi kekuasaan di Tembong Agung itu.

Prabu Tajimalela melihat keajaiban alam di sekitar kerajaan Tembong Agung. *** 136 . Nama kerajaan Tembong Agung pun berubah namanya menjadi Sumedanglarang. Saat itulah. kemudian Prabu Tajimalela mulai mengajarkan kepada seluruh rakyatnya ilmu kasumedangan.sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta.” sabdanya. Sabda Prabu Tajimalela tersebut artinya ialah “aku lahir untuk memberi penerangan. yang artinya tanah bagus. Nama inilah yang kemudian dikenal hingga sekarang. Ibukotanya pun dipindahkan ke Kutamaya. yakni Sumedang. sebelah selatan alun-alun Sumedang sekarang. luas. insun madangan. Pada malam ketiga.” Semenjak itu pula. Tajimalela bersabda kepada seluruh rakyatnya: “Insun medal. Ia bersemedi selama tiga hari tiga malam. Nama Sumedanglarang pun oleh penduduk setempat disebut awalnya saja. dan tiada bandingannya. Ia melihat langit menjadi terang benderang oleh cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malela).

karena melihat banyaknya 137 .B. SASAKALA WILAYAH PRIANGAN TIMUR 1. Ia merasa sungkan karena hanyalah rakyat biasa. gadis tersebut terjerat areuy di hutan belantara. Dalam pelariannya. Singkat cerita. Adananya pun terus mengejarnya. dalam perjalanan pengelanaannya. Gadis cantik tersebut pun akhirnya melarikan diri dari rumah ibunya ke arah barat. ia terpikat oleh seorang gadis cantik di sebuah kampung bernama Pataruman. namun ibunya tidak mengijinkan karena ia mengetahui bahwa Adannya seorang Raja dari Mataram. Adananya pun melamar gadis tersebut pada ibunya. SASAKALA BANJAR PATROMAN Tersebutlah seorang pemuda pengelana yang berasal dari Mataram bernama Adananya. dengan mengikuti jejak bercak darah gadis yang menempel pada areuy. sehingga kakinya berdarah. Pada saat itulah Adananya menamai daerah tersebut dengan nama Cibeureum.

bercak darah pada areuy layaknya air yang berwarna merah. Di tempat itu. Bertemu dalam bahasa Sunda disebut tepung dan kelamin lelaki disebut kanjut. kemudian Adananya mengetahui bernama bahwa Dalem pemuda penolong atau tersebut Raden Tambakbaya Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi III. Pemuda tampan itu pun kemudian mencegat Adananya di sebuah bukit. datanglah seorang pemuda tampan berniat menolong. yang kini dinamakan Tepung Kanjut. yang kini menjadi nama sebuah kampung di kecamatan Manonjaya. yang berarti tempat bertemunya dua orang lelaki. Ia adalah Raja Galuh Kertabumi yang beribukota di Liung Gunung. Pada saat Adananya mengejar sang gadis. Adapun Adananya adalah seorang ulama penyebar agama Islam dari Mataram yang sebenarnya bernama Kanduruan Pandusaka 138 . Dalam pertarungan itu. kemudian Adannya dan pemuda penolong tersebut bertarung adu kesaktian.

Hingga di suatu tempat. Akhirnya. Namun. Sejak itulah tempat tersebut sampai sekarang disebut Pangadegan. Di dalam pertarungan itu. keduanya pun kembali mengejar sang gadis. yang berarti tempat untuk mengejar. gadis cantik tersebut berlari secepat kilat ke arah tenggara. Mungkin juga berasal dari kata pangudagan. ketika Adananya akan menangkapnya. Tambakbaya dengan gerak cepat segera menghalaunya. sedang beristirahat karena kelelahan. Selama pengejaran. Adapun gadis yang sedang dikejar mereka. Adananya dan Tambakbaya adu kecepatan berlari dengan kesaktiannya masingmasing. Sementara. Ketika Adananya sedang berdiri (bahasa Sunda: ngadeg). Kemudian dikejar oleh Adannya dan Tambakbaya. Kembali pada kisah pertarungan Adananya dan Tambakbaya.Sarikusumah yang kelak dipusarakan di situs Pandusaka Batulawang. Kedua pemuda 139 . kesaktian keduanya seimbang. terkejar oleh Tambakbaya.

Sehingga kelihatannya ngan sajorélat atau hanya sekejap mata. Dalam pengejarannya. Namun sesampainya di sana. Tambakbaya dapat menghindar dengan cara menghilang memakai ajian halimunan. yang artinya menghilang sekejap mata atau secepat kilat. Langsung saja ibu gadis tersebut bertanya dalam bahasa Jawa ke Adananya. 140 . “Mana laré?”. yang sekarang dinamakan kampung Jélat. Tempat menghilangnya sosok Tambakbaya itulah. Ternyata ibunya pun turut mengejar saat ia melarikan diri pada saat itu. yakni pukulan saketi. Sementara itu.itupun kemudian bertarung kembali. ibunya sempat bertemu dengan Adananya yang sedang kaget melihat Tambakbaya menghilang di kampung Jelat. Kini perjalanannya mengarah kembali ke rumah ibunya. Adannya mengeluarkan ilmu pamungkasnya. Tapi. Berasal dari kata sajorélat. katanya kepada Adananya. gadis yang dikejar oleh Adananya dan Tambakbaya terus berlari. ibunya didapati sudah tidak ada.

” timpal Adananya. Kenapa sang gadis tidak terkejar oleh Adananya dan Tambakbaya? Ternyata gadis tersebut memiliki kesaktian yang lebih tinggi. tapi putri dari kerajaan Galuh yang bernama Ni Nursari. sekarang dinamakan kampung Mandalaré. Tempat perhentian itu kemudian dinamai kampung Randegan. Ia sebenarnya bukan anak sang ibu. Setelah itu. tibalah Tambakbaya yang juga kelelahan. Sesaat kemudian. “Gadis itu memang lebih sakti dariku. ke arah selatan.” gumam Adananya. juga dari ucapan sang ibu: mana lare. kini mereka tidak bertarung. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya.Maksudnya menanyakan ke mana arah larinya anaknya. “Ke sana. Tempat dialog antara Adananya dengan ibunya sang gadis tersebut. berasal dari Mandala laré. Adananya pun ngarandeg (berhenti) untuk beristirahat. 141 .

Ni Nursari lari ke arah utara. Sementara itu. Adannya tetap berpendirian ingin memperistrinya. Lalu menyeberangi sungai Citanduy.Karena tenaga keduanya sama-sama sudah terkuras habis. sedangkan Tambakbaya tetap ingin menolong Ni Nursari dari paksaan Adananya. ketiganya pun ngaleungit (menghilang). Semakin lama. Jalan sepanjang Adananya dan Tambakbaya beradu pendapat itulah yang sekarang dikenal dengan nama kampung Cikadu. namun Ni Nursari larinya lebih cepat. Berasal dari kata papaduan. Di sebrang sungai. mereka pun kembali mengejar Ni Nursari. sungai Citanduy pun semakin ramai disinggahi para bandar (pedagang) dari kerajaan 142 . yang berarti berselisih pendapat. Adananya dan Tambakbaya pun terus mengejarnya. Sepanjang jalan mereka terus beradu pendapat mengenai Ni Nursari yang sedang dikejarnya. Setelah itu. Cukup lama Adananya dan Tambakbaya beristirahat di kampung Randegan.

antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa. Sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama pataruman atau tempat tarum. Daerah di tepi sungai Citanduy pun kemudian dikenal dengan nama kampung Bandar (pedagang atau pusat perniagaan). kampung Bandar pun semakin banyak disinggahi bandar-bandar (para pedagang) dari Mataram. 143 . sebagai pangeling-eling atas peristiwa pertarungan antara Adananya dan Tambakbaya memperebutkan Ni Nursari pada saat itu. yakni sejenis tanaman nila yang pada masa kolonial dijadikan tanaman paksa. Konon kata pataruman berasal dari kata patarungan. yang oleh penduduk setempat disebutnya basa Jawa réang. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di kampung itu banyak ditanami pohon tarum. Adapun kampung tempat Ni Nursari dan ibu angkatnya tinggal selanjutnya dinamakan kampung Bandar Pataruman. Semakin lama.Galuh dan Mataram. Bahasa yang digunakan penduduk pun bercampur.

Di antara para pedagang itu banyak berjodoh dengan penduduk setempat dan banyak pula yang bermukim. karena pada waktu itu banyak diucapkan salah oleh pendatang dari Mataram. adakalanya kampung Banjar Patroman pun disebut Banjar saja. kampung Banjar yang letaknya di pinggir sungai Citanduy itu telah berkembang menjadi sebuah kota yang membatasi wilayah antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah. Namun.Semakin lama. Nama Bandar Pataruman pun berubah menjadi Banjar Patroman. *** 144 . Kini. kampung Bandar Pataruman pun semakin ramai disinggahi para pedagang dari kerajaan Galuh dan Mataram.

Kanjeng Sinuhun. Lalu ia pun 145 . yang sulung seorang laki-laki bernama Sang Lawangjagang. karena merasa anaknya tidak pantas mendapatkan seorang raja. Tetapi seperti sebelumnya. Pasangan keluarga tersebut memiliki dua orang anak. raja kerajaan Banyumas. lamaran itu pun ditolak oleh Aki Gede. namun selalu saja ditolak oleh sang putri. SASAKALA CIJULANG DAN PANTAI BATUHIU Dahulu kala. Maka Kanjeng Sinuhun pun segera mengajukan lamaran pada Aki Gede dan Nini Gede. sedangkan yang bungsu seorang putri yang sangat cantik jelita.2. di wilayah kekuasaan kerajaan Banyumas hiduplah keluarga bahagia pasangan Aki Gede dan Nini Gede. Banyak raja dan ksatria yang melamarnya. Aki Gede merasa bahwa putrinya hanyalah keturunan rakyat biasa dan tidak mungkin menjadi permaisuri seorang raja. termasuk salah seorang yang menyukai sang putri. Tentu saja penolakan dari Aki Gede tersebut membuat sakit hati Kanjeng Sinuhun.

Dari sana. terus bertambah menjadi lima rumah. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam. putri.memerintahkan kepada patihnya untuk mengusir Aki Gede beserta seluruh keluarganya dari wilayah kerajaan Banyumas. perjalanan pun dilanjutkan menuju ke arah selatan. Tempat itulah yang kelak dikenal dengan nama Hanjatan Cimanganti. kemudian bertambah pula dengan dibangunnya sebuah surau. Setelah itu. rombongan Aki Gede pun sampailah ke tepi sungai di batas kerajaan. dan seluruh kerabatnya meninggalkan wilayah kerajaan Banyumas. mereka segera ngababakan (membuka lahan baru) untuk membangun perkampungan. Rombongan itu pergi ke arah Barat. Mulanya hanya dibangun satu rumah. Di sana. Nini Gede. 146 . rombongan hanjat (menyeberangi) sungai. Maka tibalah rombongan Aki Gede ke sebuah tempat yang teduh dan terdapat mata air. Berangkatlah Aki Gede.

Lama kelamaan daerah itu pun semakin banyak dikunjungi pendatang. Khawatir perkampungan tersebut diketahui oleh Kanjeng Sunan. Nini Gede. dan rombongan keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat. Sementara Aki Gede. Oleh anaknya. Rumah Aki Gede pun kemudian direnovasi dan dijadikan sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Karasanbaya. Lalu ia berniat membangun padepokan di tempat lain. Lalu ke arah selatan dan ngaso (beristirahat) di suatu tempat yang juga terdapat mata air yang banyak pohon kasonya. Dengan perkembangan padepokan yang sangat pesat. Bahkan banyak orang yang berguru ilmu kanuragan ke Aki Gede. yang berarti tempat beristirahat yang terdapat sumber air dekat pohon kaso. Padepokan itu diganti namanya menjadi Kawasan. Aki Gede pun mulai merasa gundah. putrinya. Kelak tempat ini dikenal dengan nama Cikaso. Aki Gede menyuruh anaknya yang sulung untuk mengurus Padepokan Karasanbaya. 147 . Sebagai penggantinya.

Aki Gede pun segera membangun sebuah padepokan. Di karangsimpang ia percayakan lagi kepengurusan padepokannya pada saudaranya yang lain. Kemudian sampailah ke daerah Bubulak dan Karangsimpang. Lalu padepokan itu ia percayakan kepada salah satu saudaranya yang bernama Mangun Naha Mana Manggala. Di sana Aki Gede membangun kembali sebuah padepokan dan kepengurusannya dipercayakan kepada salah seorang saudaranya yang bernama Sang Prabu Mangun Ciker. rombongan Aki Gede pun sampailah pada sebuah daerah yang kelak bernama Bojonglekor. Setelah itu. Kini Aki Gede pergi ke arah utara dan sampailah di sebuah daerah. Aki Gede dan Nini Gede pun melanjutkan pengembaraannya kembali. Di sana 148 Aki Gede segera . Kemudian. di sana Aki Gede pun membangun sebuah padepokan. Beberapa hari kemudian. Aki Gede pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Kali ini Aki Gede semakin ke selatan.Di tempat itu.

Nini Gede. Cikawao. Setelah membangun padepokan di Binangun. Suatu ketika. Aki Gede kemudian mengalihkan perjalanannya ke sebelah Barat. karena sudah padat penduduknya. Cipatahunan dan Gurago. 149 . Sarakan. Aki Gede pun kemudian mencari daerah baru sebagai tempat bermukim.membangun padepokan dilengkapi dengan sebuah sunge (sumur buatan). Berturut-turut Aki Gede membangun kampung yang sekarang dikenal dengan nama Bojongmalang. Cikadu. Kelak tempat ini dikenal dengan nama kampung Binangun. Aki Gede. Aki Gede pun akhirnya kembali lagi ke Binangun. Selama pengembaraannya. Namun tidak berhenti di situ. Cikagenah. karena di daerah tersebut tidak terdapat mata air. dan rombongan selalu berhenti di sebuah daerah dan dilanjutkan dengan ngababakan (membuka lahan baru). Di sana ia tidak membangun padepokan. sampailah Aki Gede ke daerah yang bernama Nagarawati.

Ternyata Dalem Tamela berniat untuk mempersunting anaknya Aki Gede yang perempuan. Lamaran tersebut sempat tujuh kali ditolak oleh Aki Gede. di wilayah Tasikmalaya sebelah selatan. Aki Gede dipanggil oleh Dalem Tamela. Bahkan Aki Gede sempat mengangkat seorang amil (penghulu) dan kepala kampung. Maka sampailah Aki Gede ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Cigugur. Alasannya karena sang putri telah menikah dengan seorang ksatria bernama Sembah Ragasang. Beberapa taun kemudian.Di Gurago. Lama ia tinggal di daerah tersebut. Setelah itu. Tujuannya ialah ke pesisir selatan pulau Jawa. Aki Gede tinggal cukup lama. Aki Gede pun menemui Dalem Tamela di keratonnya yang sekarang dikenal dengan nama Sukaraja. Aki Gede pun akhirnya menyetujui permintaan Dalem Tamela dengan sebuah 150 . Raja Sukapura yang kekuasaannya meliputi daerah Cigugur. Namun karena memaksa. Sekarang ia mengarah kembali ke selatan. Aki Gede pun melanjutkan kembali perjalananya.

sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya ke wilayah Imbanagara. Sembah Ragasang. Di sana Sembah Ragasang menemui saudara ibunya yang bernama Jeng Pati. Setelah sepakat. Dalam memberikan wilayah itu pun tidak dipilih oleh Dalem Tamela. Menurut petunjuk dari Jeng Pati. Karena merasa 151 . Sembah Ragasang harus mencari wilayah yang baik untuk pemukiman ke sebelah Barat. namun harus sekehendak menantunya. pergilah mantan menantu Aki Gede. kemudian Sembah Ragasang beserta rombongan tiba di hutan belantara. Berdasarkan petunjuk itulah.syarat: Dalem Tamela harus memberi kekuasaan mantan berikut menantunya suatu wilayah penduduknya yang berjumlah sembilan kuren (kepala keluarga). beserta sembilan kuren rombongannya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir. Kemudian tibalah Sembah Ragasang di kerajaan Panjalu. Di sana ia sempat bermukim.

Adapun Aki Gede yang telah lama menetap di Cigugur. Maka oleh Aki Gede. Bermalamlah Aki Gede beserta rombongan pengikutnya di bukit tersebut.tidak cocok. dari sana Sembah Ragasang melanjutkan lagi perjalanannya ke arah pesisir selatan. segera Ki Braja pergi ke pantai untuk menangkap ikan. Ternyata ikan tersebut seekor hiu. tibalah di atas bukit masih di wilayah pesisir Selatan. Karangnini dan Jajawai. Di sanalah Sembah Ragasang menetap sampai akhir hayatnya. Ki Barja pun disuruh untuk melepaskan kembali 152 . Setelah beberapa jam. Keesokan harinya. Aki Gede menyuruh salah seorang pengikutnya yang bernama Ki Braja Lintang untuk menangkap ikan di laut untuk sarapan. kemudian Ki Barja membawa seekor ikan yang besar ke hadapan Aki Gede. Tibalah Sembah Ragasang ke daerah yang sekarang bernama Mandala. Hingga pada suatu ketika. kemudian kembali melanjutkan pengembaraannya. Dengan cekatan. sebelum pergi melanjutkan perjalanan.

bahkan nampak airnya kembali mengalir berbalik ke arah aliran sungai. sekarang kita dapat melihat secara jelas bongkahan batu yang berasal dari perwujudan ikan hiu tersebut. Semenjak itulah. daerah pesisir itu oleh Aki Gede diberi nama pantai Batu Hiu. Dari bukit tempat peristirahatan Aki Gede beserta rombongannya itulah. Aki Gede segera saja meninggalkan daerah tersebut.ikan hiu tersebut ke laut lepas. Di muara tersebut air sungai Haurseah nampak tidak menyatu dengan air laut karena terbendung oleh air laut itu sendiri. ia kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Barat dengan tetap menyusuri pesisir Selatan. Oleh penduduk 153 . ikan hiu itu tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu besar berwarna hitam. Namun anehnya. ketika dilepaskan oleh Ki Barja. Hingga sampailah Aki Gede ke sebuah muara yang menyatukan antara sungai Haurseah dengan laut Jawa Selatan. Setelah kejadian itu. Bersama dengan rombongannya.

maka Cimulang pun kemudian berubah namanya menjadi Cijulang seperti yang dikenal sekarang. keadaan air seperti itu disebut cai mulang (air yang alirannya berbalik arah). kemudian Aki Gede kembali ngababakan dan menetap untuk selamanya. Di daerah Cimulang terdapat burung Julang. Daerah itu pun kemudian oleh penduduk setempat dinamakan Cimulang. juga didasarkan pada kebiasaan Aki Gede yang bolak-balik seperti cai mulang mencari tempat untuk ngababakan.setempat. Seiring dengan perkembangan waktu. *** (Ciamis) 154 . Di dekat muara itulah. Konon selain perubahan lafal dari kata cai mulang.

Apabila mendapat ikan cukup banyak. Namun tetap saja melaksanakan solat lima 155 .3. ia pernah ditimpa sakit keras. Meskipun hidup serba kekurangan. lelaki tua itu pun sekali-kali menangkap ikan di sungai Cimedang. Ia sangat rajin sekali beribadah. untuk menambah penghasilan. hiduplah seorang lelaki tua di sebuah rumah yang atapnya terbuat dari rumbia. SASAKALA KALAPAGENEP Di tepi sungai Cimedang. Alat penangkap ikan tersebut terbuat dari bambu. sebagian akan dikere (diselai) dan sebagian lain dijual kepada tetangganya. sebelah selatan kerajaan Sukapura. Biasanya memakai bubu atau badodon. Lelaki tua tersebut sehari-harinya tatanen (bertani) dengan memanfaatkan tanah adat milik kerajaan Sukapura. Seperti ketika itu. ia hanya memakai peralatan seadanya. lelaki tua tersebut tidak berputus asa. Begitulah lelaki tua itu kesehariannya. Selain itu. Dalam menangkap ikan.

Suatu hari di musim penghujan. Sungai Cimedang pun akhirnya meluap. Termasuk rumah lelaki tua itu. Ia berpikir apabila air bah sudah menenggelamkan seluruh rumahnya. air bah pun segera menenggelamkan seluruh rumah lelaki tua itu.waktu. Lama-kelamaan semakin membesar. ia akan mengapung di atas buah kelapa yang dibawanya. tiba-tiba kampung tersebut terkena caah (banjir). Sesuai dugaan. Lelaki tua itu pun kemudian terbawa air bah yang arusnya sangat deras. ia akan bertayamum. Banyak rumah penduduk yang tenggelam. Dengan tenang. Lalu seluruh areal pesawahan dan perkampungan pun tenggelam diterjang air bah. lelaki tua itu pun 156 . mulai digenangi air bah dari sungai Cimedang. Namun meskipun demikian. lelaki tua itu tidak segera pergi meninggalkan rumahnya. Ia malah naik ke atas atap rumahnya sambil membawa enam buah kelapa. Sekalipun tidak kuat untuk mengambil air wudlu. Mula-mula air hujan hanya menggenangi halaman rumah penduduk.

Keesokan harinya. dilemparkannyalah ke aliran sungai Cimedang. Penduduk kampung mulai berdatangan menolong lelaki tua tersebut. Sesampainya di tepi muara. Adapun enam buah kelapa yang dibawanya. Lelaki tua itu pun tidak beranjak dari tepi muara. beberapa saat ia tertegun. mereka bergotong-royong 157 . Ia hanya melihat air bah yang mengalir deras sampai surut. sehingga lelaki tua itu segera berenang sampai ke tepi muara. Buah kelapa itu pun terbawa arus sungai. “Alhamdulillah. sampai akhirnya tersangkut di sebuah nusa (pulau kecil) di tengahtengah muara. Gusti masih menyelamatkanku. Kemudian air bah pun surut. Di sana airnya tidak terlalu deras. Ia terbawa arus sampai ke muara sungai Cimedang.” gumamnya lirih.mengambang bersama enam buah kepala yang dibawanya semula.

yang artinya enam buah pohon kelapa.” ujar Tua Kampung di depan seluruh penduduk.membantu memperbaiki rumah lelaki tua yang hancur terkena banjir. sampai akhirnya berbuah. Oleh Tua Kampung. di nusa tersebut tumbuh enam buah pohon kelapa. Aki?” timpal salah seorang penduduk. “Aku namakan nusa ini Kalapagenep. “Untuk mengenang perjuangan Aki Sahuri yang bersusah payah menyelamatkan diri dari terjangan 158 . oleh lelaki tua selalu dijualnya untuk menambah penghasilan sehari-hari. nusa tersebut selanjutnya diserahkan pada lelaki tua untuk diolah menjadi lahan perkebunan. buah kelapa dari keenam pohon kelapa yang tumbuh di tengah nusa itu pun tidak ada yang berani itupun mengambil kemudian apalagi dinamai mencurinya. Nusa Kalapagenep. Adapun buah kelapa dari keenam pohon kelapa itu. Semakin hari pohonnya semakin tinggi. Beberapa bulan kemudian. Setelah lelaki tua itu meninggal. “Kenapa.

Kini kampung tersebut menjadi batas antara kabupaten Ciamis dengan kabupaten Tasikmalaya..!” sahut para penduduk yang lain. *** 159 .banjir dengan memakai enam buah kelapa ini.” “Setujuuuu. “Oh. daerah di sekitar muara itu pun kemudian dinamakan kampung Kalapagenep. Selanjutnya.” jawab Tua Kampung sambil menunjuk pada enam pohon kelapa yang tumbuh subur di tengah-tengah nusa. kalau begitu aku setuju..

seorang bayi yang mungil dan sehat. di wilayah kerajaan Sukapura sebelah selatan. SASAKALA KAMPUNG PANYALAHAN Dahulu kala. Maka semakin giatlah suami istri tersebut bekerja mencari nafkah. Harimau tersebut dipelihara sejak kecil. bayinya selalu ditinggalkan 160 di rumah. hiduplah sepasang suami istri. Kebahagiaan suami isteri itu terasa bertambah besar setelah lahirnya anak mereka. Setiap hari harimau tersebut dilatih menjadi binatang piaraan yang cerdas dan tangkas. sehingga jinak layaknya seekor kucing.4. Bahkan harimau tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri. Di kampung itu. Kehidupan keluarga mereka terasa tentram dan romantis. Apabila mereka pergi ke ladang atau sawah. yaitu seekor harimau jantan. terdapat sebuah kampung tak bernama. Sebagai . Apalagi setelah mereka mempunyai binatang peliharaan.

” gumam sang suami. tersebut. mengapa tingkah laku harimau itu berbeda dari biasanya. Lalu mengibasngibaskan badannya. harimau itu segera menghampiri suami istri tersebut. Tidak seperti biasanya. Di halaman rumah. “Pasti harimau itu telah menerkamnya. mereka disambut oleh harimau kesayangannya. Peristiwa itu dimulai ketika suami isteri pulang berladang. Selang ditunjuklah harimau peliharaannya beberapa bulan. terlihatlah oleh mereka mulut sang harimau berlumuran darah. tiba-tiba terjadilah peristiwa yang menyedihkan. Pikir suami isteri. Spontan kedua suami isteri teringat akan anak bayinya yang dipercayakan kepada sang harimau piaraannya. Seketika itu memuncaklah kemarahan sang suami. Sedang berpikir demikian. 161 ekornya sambil menggosok-gosokkan . Mereka pun terkejut melihat keadaan itu.penjaganya.

Lalu sang suami pun mengikutinya masuk ke dalam kamar. maka larilah sang isteri memasuki kamar tempat bayinya ditinggal. mereka berdua hanya membisu. Teganya engkau menerkam anakku. Dirabanya tubuh bayi tersebut. Kedua suami isteri pun lalu mengusap 162 . Matilah harimau itu ditangan orang yang menyayanginya selama ini.“Hey. Setelah sadar kembali ingatannya. Tak lama berselang. setelah terlebih dulu menendang bangkai harimau. lalu digoyang- goyangkan badannya. lalu sang suami itu pun menghunus goloknya dan menebas leher harimau. Dasar tidak tahu balas budi!” hardiknya. Sesampainya di dalam ruangan kamar. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi. Lalu tersenyum lucu dan menggemaskan. Selesai menghardik. didapati bayinya terbaring dengan tenang dalam ayunan. harimau keparat. mata bayi itu pun terbuka.

yang dalam bahasa Sunda disebut nyalahan. Semenjak itulah. harimau tersebut telah mati dibunuhnya karena salah terka. Dari mulut dan sebagian tubuhnya berlumuran darah. Saat itulah suami istri tersebut tersadar telah melakukan kesalahan. Ia pun sadar bahwa harimau itu telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya. Apalagi sang suami. 163 . suami isteri tersebut segera memeriksa sekeliling ruangan kamar. yang berarti tempat berbuat kesalahan. Ia sadar betul bahwa harimau yang telah dibunuhunya tidak bersalah. hewan itulah yang justru telah menyelamatkan bayinya dari santapan ular sanca. ia langsung duduk lunglay di ruangan kamar dekat ayunan bayi. kampung tempat suami istri tersebut bermukim dikenal dengan nama kampung Panyalahan.muka dan bersyukur karena bayinya selamat serta masih hidup. Setelah puas memandangi bayinya yang selamat. Didapatinya bangkai seekor ular sanca yang sangat besar tergeletak dekat ayunan. Namun apa dikata.

Hingga kini. bahwa penduduk kampung Panyalahan dilindungi oleh maung kakajaden (harmau jadi-jadian) yang terbunuh oleh sang suami pada waktu itu. *** 164 . kampung Panyalahan semakin banyak dikunjungi pendatang dan menjadi penduduk di sana.Semakin lama. seluruh penduduk kampung Panyalahan disupata (dikutuk) untuk tidak bisa membunuh harimau memakai senjata apapun. menurut kepercayaan masyarakat sekitar. termasuk memakai senjata api. Bahkan sekarang berkembang kepercayaan.

Ibukotanya bernama Korobokan.5. Suatu ketika. di suku gunung Kutu (yang kelak namanya berubah menjadi gunung Guntur) terdapat sebuah kerajaan bernama Timbanganten. SASAKALA GUNUNG GUNTUR Dahulu kala. kerajaan Timbanganten mengalami pailit akibat musim kemarau panjang. Namun berbeda dengan pribadi Sunan Rangga Lawe yang sinatria. Seluruh penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. Ia seorang raja yang adil dan bijak. ditemani oleh lelaki yang sudah berumur tua bernama Batara Rambut Putih. Ia tidak mau tinggal di dalam istana. Sunan Rangga Lawe mempunyai kakak seorang perempuan bernama Maharaja Inten Dewata. Ia lebih senang berkelana ke tiap pelosok kerajaan. sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya. Penduduk 165 . kakaknya lebih memilih menjadi pertapa dan masyarakat biasa. tidak jauh dari suku gunung Kutu. Adapun rajanya bernama Sunan Rangga Lawe.

saudara Kanjeng sendiri. agar dapat mengairi seluruh wilayah kerajaan. “Kanjeng Sunan. Maka untuk menyelesaikan masalah tersebut.kekurangan air bersih dan makanan. Tempatnya harus strategis. Paman Patih?” “Di lembah gunung Kutu. Hasil pertanian dan ladang tidak dapat dipanen. Setelah 40 hari 40 malam. Paman?” “Pemiliknya Maharaja Inten Dewata. kami telah berhasil menemukan tempat yang strategis untuk dibuat situ.” 166 . akhirnya para patih dan mahamantri yang ditugaskan mencari daerah untuk membuat situ pun menghadap Sunan Rangga Lawe. Kanjeng.” “Di mana tempatna. lalu diperintah agar segera mencari tempat yang cocok untuk membuat situ.” “Siapa yang memiliki tempat tersebut. Sunan Rangga Lawe pun berinisiatif untuk membuat situ (danau). Dipanggillah seluruh patih dan mahamantri kerajaan. karena kekeringan.

” Keesokan harinya. ia langsung menghadap Maharaja Inten Dewata.“Oh. Kanjeng. “Ada apa kalian menemuiku?” “Ampun Gusti. gampang kalau pemiliknya beliau. permintaannya tidak akan aku kabulkan.” “Baik. saya mendapat tugas dari Kanjeng Sunan untuk menyampaikan permintaannya. Sekarang. ia pun memberikan keputusan. ceritakan apa kehendakku. Di daerah ini aku mulai bisa 167 .” Sesaat Maharaja Inten Déwata terdiam. Paman Patih pun segera menemui Maharaja Inten Dewata di rumahnya. “Sampaikan pada Sunan. Sesaat kemudian. Sesampainya di sana.” “Memang apa permintaan adikku itu?” “Ia bermaksud meminta daerah ini untuk dibuat situ. Katanya akan bermanfaat bagi sistem pengairan di kerajaan Timbanganten. akan saya laksanakan. di lembah gunung Kutu. Paman segera menghadap pada kakakku.

Tetapi seperti sebelumnya. Sesampainya di istana. beliau tidak bisa memberikan daerahnya untuk dijadikan situ.” Beberapa hari kemudian. “Bagaimana. Maharaja Inten Dewata 168 . Paman?” “Ampun Kanjeng Sunan. sudahlah kalau memang begitu.menikmati hidup. jauh dari hiruk-pikuk kehidupan istana. Namun semua penduduk kerajaan mengatakan hal yang sama bahwa tempat yang baik untuk situ ialah di lembah gunung Kutu. ia pun langsung menghadap ke Sunan Rangga Lawe.” Setelah mendengar jawaban tersebut.” “Oh. Paman Patih pun segera bergegas untuk menemui Sunan di istana. Kita cari saja tempat lain. ya. Akhirnya Sunan Rangga Lawe pun memerintahkan kembali patihnya untuk membujuk kakaknya agar memberikan daerahnya dijadikan situ. seluruh rakyat ditugasi untuk mencari tempat yang baik untuk dibuat situ.

Sunan Rangga Lawe pun tidak dapat memaksa karena ia merasa hormat pada sang kakak. Mantri?” “Ampun Kanjeng.tetap pada pendiriannya. apabila perkataan saya terlalu lancang.” “Ya.” “Memang kenapa?” “Artinya bahwa seorang raja itu harus berwibawa dan mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah Timbanganten. Ia tidak mau menyerahkan daerahnya untuk dijadikan situ. ada apa. katakan saja!” “Begini Kanjeng. “Ada apa. yang menjadi raja di Timbanganten sekarang adalah paduka Kanjeng. Beberapa hari kemudian ada seorang mahamantri yang menghadap pada Sunan Rangga Lawe. sebelumnya saya meminta maaf.” “Maksud. untuk sementara pembangunan situ pun ditunda. Akhirnya. Mantri?” 169 .

Kanjeng sebenarnya bisa memaksa pada Maharaja Inten Dewata untuk segera menyerahkan lahannya untuk dijadikan situ. Semua bersemangat karena dilihat 170 . “Mulailah kalian sekarang bekerja membangun situ!” Mulai hari itu.“Ampun. artinya di Timbanganten terdapat dua raja. Ia pun langsung memerintahkan seluruh rakyatnya agar membawa peralatan untuk membuat situ di lembah gunung Kutu. seluruh rakyat pun segera bekerja membuat situ. membuat situ menghabiskan waktu berminggu-minggu. Sunan Rangga Lawe pun terpengaruh. dipimpin langsung oleh Sunan Rangga Lawe. Setibanya di lembah gunung Kutu. Menurut hemat saya. Kanjeng Sunan segera memerintahkan karena untuk membuat akan pesanggrahan. Bahkan pengerjaannya.” Mendengar perkataan mahamantri tersebut. Kanjeng. Kontan saja seluruh rakyat Timbanganten berbondongbondong membangun situ. Kalau paduka Kanjeng tidak sanggup.

“Aki. karena dapat bertani dan berladang kembali. sebagian lagi dialirkan ke seluruh pesawahan dan perkebunan di wilayah kerajaan Timbanganten. Airnya sangat jernih memenuhi kubangan situ. Hanya saja Maharaja Inten Dewata sangat marah. Setelah beberapa minggu. Batara Rambut Putih pun membawa jolang diisi air dan sekepal tanah. Kelak gunung kecil ini bernama gunung Putri.langsung oleh raja. situ pun berhasil dibuat. Maharaja Inten Dewata mengajak Batara Rambut Putih untuk pergi menuju gunung kecil yang terletak bersebelahan dengan gunung Kutu. Seluruh penduduk pun bahagia.” Tak lama kemudian. Lalu 171 . Ia merasa dihianati oleh adiknya sendiri. ambilkan aku jolang dan bawakanlah sekepal tanah. hanya untuk melihat saja situ buatan adikku itu.” “Untuk apa Nyai?” “Ah. Dalam kemarahannya itulah. Aku akan pergi ke puncak gunung Kutu.

Ia 172 . dan Banjar Patroman. Setelah itu. Sesaat kemudian terdengar suara petir menyambar beberapa kali.pergilah Maharaja Inten Dewata dan Batara Rambut Putih ke puncak gunung Guntur. tiba-tiba ada kejadian aneh. Pada peristiwa itu. Adapun Sunan Rangga Lawe tetap berdiam diri di Timbanganten. ia pun turun kembali dari puncak gunung. gunung Kutu pun menumpahkan lahar. dan hujan abu ke seluruh pelosok kerajaan. batu panas. Langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung. Setelah itu. Kono kejadian tersebut berlangsung selama 40 hari 40 malam tanpa henti. Mayat yang meninggal. Rumah Penduduk penduduk banyak banyak yang hancur. banyak penduduk Timbanganten yang mengungsi ke kerajaan Sukapura. Sesampainya ke puncak gunung. Sumedanglarang. lalu Maharaja Inten Dewata menaburkan tanah dan menumpahkan air dari jolang. Sesaat setelah sampai ke rumahnya. Dari puncak gunung tibatiba kelihatan api menyala. bergelimpangan di mana-mana.

Dengan sigapnya. Sesaat setelah berpikir demikian. lahar.” Setelah keluar perkataan itu. karena ulahnya yang tidak menghormati lagi kakaknya. “Kakak. maka segera ia pergi untuk menemui kakaknya. Namun hatinya mulai tersadar. bahwa terjadinya bencana demikian. alangkah baiknya apabila kita bersama mengolah kerajaan. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini.tetap bersikap sebagai figur raja yang bertanggungjawab. langsung saja Sunan Rangga Lawe sungkem (bersujud) pada kakaknya untuk meminta maaf.” “Aku maafkan engkau adikku. maka berhentilah hujan batu panas. ia segera melihat kakaknya tengah berdiri di atas batu di bukit sebelah gunung Kutu. Maharaja Inten Dewata. Sesampainya di sana. “Kakanda. dan hujan abu dari gunung Kutu.” 173 . Suara petir pun mendadak berhenti.

Korobokan sekarang dikenal dengan nama Tegalurug. Kini. Apabila suatu saat nanti. Semenjak itulah. wilayah Timbanganten masuk ke wilayah kecamatan Tarogong Kabupaten Garut. gunung Kutu namanya diubah menjadi gunung Guntur. untuk mengenang keagungan Maharaja Inten Dewata. Adakalanya masarakat Timbanganten menyebutnya gunung Agung. *** 174 .“Adikku. selanjutnya dinamakan gunung Putri. Adapun bukit kecil tempat Sunan Rangga Lawe bersujud pada Maharaja Inten Dewata. Maharaja Inten Dewata dan Aki Batara Rambut Putih pun menghilang dari hadapan Sunan Rangga Lawe. Kemudian situ yang dibuat oleh rakyat Timbanganten sedangkan disebut ibukota Situ Taman Timbanganten. aku tidak akan pulang ke istana.” Sesaat setelah itu. karena sering terdengar suara guntur (petir). Aku sudah betah di sini. sambat (panggil) saja namaku dan Aki Batara Rambut Putih. terjadi lagi kejadian seperti ini.

Ia hidup menjomblo. Hal itu dikarenakan seluruh hasil panen dari sawah atau ladang mereka.6. Rumahnya mewah. SASAKALA SITU BAGENDIT Di sebelah utara kabupaten Garut. Lumbung padinya berlimpah ruah. Setengah tanah kampung telah menjadi miliknya. Tanah di kampung tersebut sangat subur dan tidak pernah kekurangan air. . Hasil sawah dan ladang selalu berlimpah ruah setiap musim panen. Penduduk kampung menyebutnya dengan nama Nyi Endit. karena tidak ada seorang pun lelaki yang 175 jatuh hati padanya. terdapat sebuah kampung yang penduduknya kebanyakan tatanen (bertani). Namun sayangnya. Nyi Endit tentu saja menjadi orang kaya di kampung itu. para penduduk di kampung tersebut hidupnya tetap miskin dan selalu tertimpa musibah kelaparan. semuanya harus dijual dengan harga murah kepada seorang tengkulak perempuan yang sangat pedit (pelit).

.” 176 .. “Kapan kita akan untung dari hasil panen.. benar.Kesehariannya hanya ditemani puluhan centengnya yang bengis.” “Selama si lintah darat itu masih hidup. ya Kang?” “Ya. hari itu seluruh penduduk kampung akan panen. penduduk harus membeli bahan pokok sehari-hari dari Nyi Endit yang harganya lima kali lipat lebih mahal dari harga sebelumnya. Centeng-centeng Nyi Endit tersebut didatangkan dari kampung lain. Ya. Mereka akan membunuh penduduk kampung yang ketahuan tidak menjual hasil panennya kepada Nyi Endit. ya?” kata seorang petani. Maka tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu.. Waktu pun berjalan mengikuti kehendak Sang Pencipta. mungkin sampai kita meninggal tidak akan pernah untung. “Wah. Maka jika musim kemarau.

“Ha. Aku akan naikkan harganya lima kali lipat.” “Iya. mereka pun pasti akan membeli padi padaku. ya.“Katanya di kampung sebelah harga padi lagi naik. Kang?” “Iya. “Apakah semua padi sudah masuk?” “Sudah atuh. Nyi!” jawab centeng bernama Komar..ha. 177 .. Kalau ketahuan menjual padi ke kampung lain. “Komar!” kata nyai Endit.ha. pasti kita akan dibunuh centengnya.. tapi kita tetap saja harus menjualnya ke nenek lintah darat itu.. Aku akan semakin kaya!” kata Nyi Endit sambil tertawa lepas.. Nyi Endit dengan ditemani beberapa centengnya akan segera memeriksa leuit (lumbung padi).” Itulah keluh-kesah pada hari panen. Sementara sesudah panen. Setelah panen pun penduduk akan terus mengeluh.! Kemarau akan tiba.

“Semoga mendapat siksa dari Tuhan.Benar saja. beberapa bulan kemudian tibalah musim kemarau. Nyi Endit mengadakan sukuran karena telah membeli sehektar tanah di kampung sebelah.” kata seorang lagi. padahal tadinya ia beli murah dari hasil panen penduduk kampung. Begitulah biasanya pembicaraan penduduk kampung apabila bertemu di surau atau di warung kopi. awal akhir pasti Tuhan akan menghukumnya. “Keparat nenek lintah darat itu. Pada suatu hari. Kesewenangan dan kepelitan Nyi Endit memang sudah sabiwir hiji (menjadi menu pembicaraan semua penduduk). 178 .” kata seorang penduduk. Konon menurut centengnya. Penduduk kampung mulai kehabisan bahan makanan dan mulai banyak yang kelaparan. seluruh penduduk kampung diundang untuk menghadiri sukuran Nyi Endit. Sementara Nyi Endit menjual mahal barang dagangannya.

Kek. ia pun bertanya pada seorang penduduk. ketika datang ke rumah Nyi Endit. Ketika sukuran sedang berlangsung. apakah kakek boleh meminta segelas air. Kakek haus sekali. Memangnya kenapa?” “Begini.Penduduk kampung sedikit bahagia diundang sukuran oleh Nyi Endit tersebut. tiba-tiba datang seorang kakek yang kelihatannya sedang kelelahan dan kehausan. Setelah itu. Namun semua salah duga.” 179 . Namun karena banyak penduduk yang kelaparan. Itupun banyak penduduk desa yang tidak kebagian. akhirnya acara sukuran pun ramai juga. siapa yang menggelar acara sukuran ini?” “Nyi Endit. sudah berjalan cukup jauh. Mereka berpikir akan makan lezat dan diberi uang oleh Nyi Endit. Banyak penduduk yang sengaja datang karena ingin mendapat nasi. “Mau numpang tanya. ia hanya menyediakan air putih dan hidangan alakadarnya. Dia berjalan mendekati pintu rumah Nyi Endit.

semuanya. 180 . kita mengungsi!” “Wah. siang cerah begini ada banjir?” cetus seorang penduduk.. ayo kita pulang.mau meminta air? Enak saja. Lalu ia berkata pada semua yang hadir di rumah Nyi Endit. bahwa hari ini akan terjadi banjir yang dapat menenggelamkan kampung kita.. Tidak beberapa lama. penduduk kampung hanya diam mematung. “Kalian semua pulanglah. Si Kakek menyuruh aku memberitahu kalian semua. Ayo. Namun anehnya si kakek itu hanya tersenyum simpul. yang benar saja Karsih. Mendengar hardikan Nyi Endit seperti itu.“Apa. “Ibu. Bapa. si kakek pun pergi meninggalkan rumah Nyi Endit. kemudian datang Nyi Karsih. Keluar kau pengemis!” tiba-tiba Nyi Endit menghardik kakek tersebut. Jangan hadiri acara sukuran orang seperti ini. Saya dapat amanat dari seorang kakek.” Setelah itu.

“Saya hanya diberi tahu oleh si kakek. Kalau tidak percaya, ya sudah,” Nyi Karsih pun lalu pergi cepat-cepat. Nyi Endit dan centeng-centengnya hanya

tertawa mendengar kabar dari Nyi Karsih seperti itu. Namun sebagian penduduk ada yang langsung

mengikuti Nyi Karsih. Bahkan pada akhirnya semua penduduk pun meninggalkan rumah Nyi Endit. Mereka ke rumahnya masing-masing untuk membawa barang berharga, lalu pergi mengungsi. Setelah semua penduduk keluar dari rumahnya, Nyi Endit hanya tertawa terbahak-bahak bersama centeng-centengnya. Namun tiba-tiba, datanglah si kakek yang meminta air tadi. Lalu ia berbicara dengan lantang. “Hei, Endit, selama ini Tuhan memberimu kekayaan yang berlimpah. Tapi kamu pelit, tidak bersyukur, dan mencekik penduduk dengan harga mahal. Kelakuanmu seperti lintah darat. Maka mulai

181

saat ini, aku akan menghukummu. Seluruh hartamu akan tenggelam dan engkau aku kutuk menjadi lintah!” “Ha..ha...ha…mau menghukumku? Mau mengutukku jadi lintah? Emangnya engkau ini Tuhan? Kamu tidak tahu aku bisa menghukummu dengan centeng-centengku? Sekali tebas, kau akan mati. Sekarang, pergi dari sini!” hardik Nyai Endit. Lalu si kakek pun pergi dari hadapan Nyi Endit dan centeng-centengnya. Sebelumnya si kakek pun menancapkan tongkat kayunya di hadapan Nyi Endit. “Dasar kakek gila, malah meninggalkan tongkat di hadapanku,” gumam Nyi Endit sambil mencabut tongkat yang ditancapkan si kakek tadi. “Hey, kakek gila, ini tongkatmu,” kata Nyi Endit. “Itu hukuman untukmu...!” jawab si kakek. Belum juga Nyi Endit berucap, tiba-tiba si kakek pun menghilang. Tentu saja Nyi Endit dan centengcentengnya merasa kaget. Apalagi dari bekas tancapan tongkat tersebut menyembur air. Byuuur....!

182

Semakin lama, air pun semakin menyembur. Segera centeng-centeng Nyi Endit menutupi lubang tempat menyemburnya air tersebut. Namun aneh, air yang menyembur semakin banyak. Bahkan

bermunculan semburan-semburan lain di dalam dan di sekitar rumah Nyi Endit. Kemudian Nyi Endit pun mulai panik. Semua centeng-centengnya kalang kabut. Air semakin besar, meluap deras. Rumah Nyi Endit mulai terkena banjir. Sawah-sawah penduduk

mulai tergenang. Melihat banjir yang tiba-tiba, centengcentengnya segera meninggalkan Nyi Endit. Adapun penduduk kampung lebih dulu telah mengungsi. Sekarang tinggal Nyi Endit berusaha berlari menyelamatkan diri bersama hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya. Nyi Endit pun

meninggal ditelan air bah. Melihat kejadian tersebut, semua penduduk sadar bahwa Nyi Endit telah dihukum oleh Tuhan atas kekikirannya selama ini. Bahkan setelah sekian lama, air yang membanjiri perkampungan itu pun tidak
183

kunjung surut. Kemudian membentuk sebuah telaga atau menurut bahasa penduduk setempat dinamakan situ. Situ itu pun kemudian dinamakan Situ Bagendit, merujuk pada nama Baginda Endit yang memiliki karakter pedit (pelit). Seiring waktu, tertanam kepercayaan pada penduduk setempat bahwa kadang-kadang di telaga tersebut muncul lintah sebesar kasur di dasar danau. Konon lintah itu merupakan penjelmaan Nyi Endit yang dikutuk karena kekikiran dan perilakunya pada waktu air bah menenggelamkan dirinya. Kini, Situ Bagendit menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Garut dan banyak dikunjungi wisatawan. ***

184

Limbangan termasuk salah satu kabupaten di wilayah Priangan. Kabupaten Limbangan merupakan daerah yang subur.7. Setelah dijamu seperti tamu-tamu lain Adipati yang datang ke pun oleh seorang bupati bernama Adipati Limbangan. Pada masa itu. dan ramai dikunjungi pedagang dari Belanda. Suatu ketika. Tamu tersebut diterima di pendopo kabupaten. Terlebih Adipati Adiwijaya dikenal sebagai bupati yang adil dan bijaksana dalam memimpin. “Ada apa tuan-tuan datang ke Limbangan?” 185 . SASAKALA GARUT Pada masa kolonial. menanyakan selanjutnya maksud Adiwijaya tamu kedatangan tersebut dengan disaksikan oleh para pembesar Limbangan. dipimpin Adiwijaya. makmur. Adipati Adiwijaya kedatangan tiga orang utusan Letnan Gubernur Raffles dari Batavia. Seluruh rakyat pun menghormati dan mencintainya.

Mana suratnya. Kanjeng!.“Kanjeng Adipati. 186 . Cukup lama Adipati Adiwijaya merenung setelah selesai membaca surat dari Raffles tersebut. Surat pun diterima oleh Adipati Adiwijaya. tuan?” “Ini suratnya. Sejurus kemudian. Begitulah intinya isi surat ini. lalu Adipati Adiwijaya berdiri dari tempat duduknya.” tamu Belanda itu menyerahkan surat kepada Adipati Adiwijaya. “Oh.” kata Adipati Adiwijaya kepada para tamu dan pembesar Limbangan di pendopo kabupaten. “Perlu kalian ketahui bersama. setelah itu lalu dibacanya. begitu. kami disuruh oleh Lentan Gubernur Raffles untuk menyampaikan surat. Dalam surat disebutkan alasannya agar daerah Priangan segera berkembang. bahwa Tuan Raffles menyampaikan surat yang isinya agar memindahkan kota kabupaten Limbangan ke daerah lain.” kata salah seorang tamu yang berperawakan tinggi besar.

dalam surat disebutkan bahwa tuan-tuan ini harus menemani kami dalam mencari daerah baru tersebut. kemudian Adipati Adiwijaya menugaskan kepada patih dan beberapa pembesar kabupaten Limbangan untuk segera mencari daerah yang baik untuk dijadikan ibukota. “Tuan dari Batavia. Nah. Tujuh hari kemudian. Tidak ketinggalan tiga orang Belanda 187 . kemudian Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kepada patihnya untuk mengurus akomodasi ketiga tamu tersebut.Selanjutnya ia pun berkata. berarti akan cukup lama tinggal di Limbangan?” “Benar Kanjeng Adipati. Setelah itu. Setelah itu. perintah Tuan Raffles ini akan kupikirkan beberapa hari ke depan. aku baru akan menugaskan beberapa prajurit Limbangan untuk mencari daerah baru yang baik untuk ibukota. Maka rombongan dari Limbangan pun berangkat ke arah selatan.” kata tamu Belanda tersebut. kami akan tinggal cukup lama di sini. Semoga Kanjeng Adipati dapat menerima kami.

dari Batavia diajak turut serta untuk mencari daerah baru itu. Seluruh rombongan dan penduduk Suci bergotong royong membangun semua 188 . tentu saja seluruh penduduk di kampung Suci sangat bergembira. Setelah satu malam menginap. dan melihat keadaan geografis daerah Cumuruh. kemudian rombongan yang dipimpin oleh Patih Limbangan itu segera menyampaikan maksudnya kepada ketua kampung dan seluruh penduduk Suci. akhirnya rombongan dari Limbangan itu pun sampailah ke sebuah daerah yang disebut kampung Cumuruh. Ngababakan (membuka lahan baru untuk pemukiman) pun dimulai. sebelah timur perkampungan Suci. Mereka berharap kampungnya akan semakin ramai dan berkembang. Setelah tiga hari perjalanan. bahwa daerah di bawah kekuasaannya akan dijadikan ibukota yang baru. Mendengar bahwa kampungnya terpilih untuk dijadikan ibukota kabupaten Limbangan.

Tidak lupa tiga orang Belanda yang bertindak sebagai pengawas dari Batavia turut serta. Ia pun sangat setuju dengan tempat yang barunya tersebut. karena kontur tanahnya sangat baik.fasilitas yang dibutuhkan dari untuk sebuah ibukota kabupaten. Mulai pendopo. Rombongan pencari daerah baru pun segera melaksanakan pekerjaannya. Tidak lama setelah itu. 189 . Hingga setelah beberapa hari mencari. segera Adipati Adiwijaya mendapati kekurangan di ibukota Limbangan yang baru tersebut. setelah beberapa bulan menetap. Namun sayangnya. daerah Suci sering kekurangan air. alun-alun. Akhirnya Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kembali pada patihnya untuk mencari tempat lain untuk dijadikan ibukota yang baru. rumah-rumah pembesar kabupaten. Adipati Adiwijaya pun segera memindahkan ibukota Limbangan ke Suci. dan beberapa rumah untuk menerima tamu. Setelah banyak dikunjungi pendatang dan banyak pula yang bermukim.

“Paman Patih. Daerah itu pun dikelilingi oleh pemandangan yang indah karena berada di antara lembah gunung Cikuray.rombongan pun akhirnya menemukan suatu tempat yang cocok dijadikan ibukota. Bahkan beberapa di antaranya ada yang ditugaskan secara khusus mencari kubangan tempat keluarnya mata air. Guntur. Maka setelah mendapat restu. Paman Patih pun segera mengerahkan seluruh warga Limbangan untuk membuka lahan baru di daerah tersebut. Galunggung. kalau memang tempat itu baik untuk ibukota Limbangan yang baru. Papandayan. Selain kontur tanahnya datar dan subur. dan Karacak. segera saja perintahkan seluruh rakyat untuk bergotong royong ngababakan di tempat itu!” ujar Adipati Adiwijaya. juga terdapat mata air bersih yang mengalir dari sungai Cimanuk. 190 . Berbondong-bondong penduduk Limbangan ngababakan di daerah itu. Sebagai ketua rombongan. Patih Limbangan pun segera melapor kepada Adipati Adiwijaya.

benar saja di tempat itu terdapat kubangan yang airnya berasal dari sebuah mata air. Setelah dicek.Di hari ketujuh ngababakan. Hingga tangannya mengeluarkan darah. seorang pekerja melapor kepada Paman Patih bahwa ia menemukan kubangan tempat keluarnya sumber mata air. maka Paman Patih segera memerintahkan kepada beberapa pekerja untuk ngababad (memangkas) tanaman berduri tersebut. seorang pekerja kakarut (tergores) tangannya oleh duri tanaman itu. Namun setelah diperiksa. ternyata tanaman berduri itu tidak beracun. Lalu Paman Patih segera memeriksa tangan pekerja yang tergores. sehingga sulit untuk diperiksa. pada saat ngababad. Nah. Pekerjaan ngababad pun untuk sementara dihentikan. Kubangan tersebut tertutupi oleh jukut cucukan (tanaman berduri). karena ia takut tanaman berduri tersebut beracun. Pekerjaan pun dilanjutkan kembali. 191 . Oleh karena itu.

Beberapa bulan kemudian. tanaman berduri yang menggores pekerja itu. Tuan. Adapun kubangannya dinamakan Cigarut. oleh rombongan dinamakan Ki Garut. semua pekerja yang sedang ngababakan menertawakannya. Semenjak itulah. karena lidahnya kurang fasih berbahasa Sunda.” “Apa? Gagarut ku jukut?. 192 . Mendengar ucapan Belanda seperti itu. meniru ucapan Belanda yang kurang fasih berbahasa Sunda itu.” kata orang Belanda itu sambil mengernyitkan kening.Melihat tangan seorang pekerja berdarah. baik dengan tujuan berdagang maupun yang sengaja menjadi pemukim. daerah di pinggir sungai Cimanuk itu pun segera banyak dikunjungi pengunjung dari daerah lain. Ia meniru kata kakarut menjadi gagarut. salah seorang Belanda utusan dari Batavia segera bertanya: “Kenapa kamu berdarah?” Pekerja yang tergores pun segera menjawab dalam logat bahasa Sunda. “Kakarut ku jukut.

Cetusan nama Garut itu pun disetujui pula oleh Bupati Adipati Adiwijaya. Garut banyak didatangi oleh para pendatang baik dari wilayah Priangan. Bahkan Letnan Gubernur Raffles di Batavia pun konon merestui ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut. diambil dari nama tanaman Ki Garut dan mata air Cigarut pada waktu ngababakan dulu. “Aku restui nama Garut ini untuk ibukota kabupaten Limbangan yang baru. Pada masa itu. kota Garut semakin berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan kabupaten Limbangan. Kemudian penduduk pun menamakan ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut.Apalagi setelah Adipati Adiwijaya secara dari resmi memindahkan ibukota Limbangan Cumuruh.” ujar Adipati Adiwijaya di depan seluruh rakyatnya. Cina. Semoga membawa berkah dan kesejahteraan bagi rakyat. Semenjak itu. 193 . maupun pendatang dari Belanda. daerah itu pun berkembang pesat. dan Arab.

Hingga akhirnya pemerintah kolonial mengganti nama kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut hingga kita kenal sekarang. 194 . *** *) Limbangan kini hanya menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Garut.

Nyai Punyai Agung menikah dengan Entol Wiraha yang menggantikannya menjadi penguasa Surakerta. yaitu Sungai Ciwulan dan Sungai Cipinaha. diselingi sawah-sawah. Ia memiliki seorang puteri tunggal yang bernama Nyai Punyai Agung (Ageng). sebuah negara yang bernama Tengah. Wirawangsa 195 . diapit dua sungai kecil. Ibukotanya bernama Dayeuh Tanahnya berbukit-bukit kecil. Pada waktu itu. Daerah ini sekarang menjadi nama sebuah desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Salopa. Nyai Punyai Agung menjadi pewaris tunggal Negara Sukakerta. SASAKALA TASIKMALAYA (SUKAPURA) Tersebutlah Surakerta. kira-kira 5 km sebelah Timur Kecamatan Sukaraja.8. penguasa Negara Surakerta itu bernama Sareupeun Cibuniagung. Sebagai puteri tunggal. Dari perkawinan tersebut lahirlah Wirawangsa.

umbul Surakerta berada di wilayah Priangan yang dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata. Wirawangsa. status negara berubah menjadi umbul. Sewaktu Wirawangsa berkuasa.berkuasa di Surakerta menggantikan kedudukan ayahnya sampai pecah pemberontakan Dipati Ukur. Waktu itu. Ia bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul. Tetapi Dipati Ukur gagal dalam penyerangan itu karena Tumenggung bahurekso dan tentaranya tidak datang waktu yang telah ditentukan. di antaranya. Dipati Ukur membawa sembilan umbul. Umbul Surakerta. Dipati Ukur berpindahpindah tempat dari Gunung Pongporang ke Gunung 196 . Tindakan ini oleh Mataram dianggap sebagai pemberontakan karena Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Ketika Dipati Ukur diperintah Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso.

sebab daerah tempat berlindung Dipati Ukur terletak di antara Banten dan Batavia yang menjadi musuh Mataram. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. hidup atau mati dengan yang suatu berhasil bahwa barangsiapa 197 . Umbul Kahuripan. Umbul Madang Sasigar. yaitu Umbul Batulayang. dan Umbul Distrik Indihiang di Galunggung Ki Wangsarana. Umbul Sindangkasih Ki Somahita. Karena tindakan Dipati Ukur itu dianggap membahayakan. Sementara umbul dari Priangan Timur tidak setuju akan pemberontakan tersebut seperti Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa. Umbul taraju. Umbul Mananggel. Sultan Agung memerintahkan untuk menangkapnya perjanjian. dan Umbul Sagala Herang. Pada waktu itu umbul yang mendukung pemberontakan Dipati Ukur hanya umbul dari Priangan Tengah. Umbul Saunggatang. Pemberontakan Dipati Ukur ini sangat membahayakan kedudukan Sultan Agung di Mataram.Lumbung di daerah Batulayang. kemudian pindah ke Kampung Bungbang bawahan Banten.

Ketiga umbul yang ikut menangkap Dipati Ukur adalah Umbul Surakerta Ki Wirawangsa. dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita.menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah. kemudian dibawa ke Mataram. dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur. Dipati Ukur tertangkap di daerah Cengkareng sekarang oleh tiga umbul Priangan Timur. ketiga umbul tersebut diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati. Atas jasanya. Ki Wirawangsa diangkat menjadi mantri agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ki Astamanggala diangkat menjadi mantri agung Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangun198 . Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede. tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. Ketiga umbul tersebut juga menangkap delapan umbul lainnya yang biluk (setia) kepada Dipati Ukur.

Jadi. Perubahan nama Leuwi Loa menjadi Sukapura berdasarkan alasan karena di Leuwi Loa didirikan pura yang bermakna „kraton‟ dan suka bermakna „asal‟ atau „tiang‟. Oleh karena itu. dan Ki Somahita menjadi Parakanmuncang Tanubaya. Raden Tumenggung Wiradadaha (Wiradadaha I) yangberjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat. Wiradadaha Baganjing. sukapura bermakna jejernya karaton karena di tempat inilah berdirinya bupati Sukapura yang pertama. Oleh karena perpindahan ibukota pindah ke Sukapura.angun. 199 I terkenal dengan sebutan Dalem . Setelah Sukapura. dan dimakamkan di Pasir Baganjing. nama kabupaten pun disebut Kabupaten Sukapura. kota diangkat menjadi dengan gelar mantri agung Tumenggung mantri agung dari kabupaten pun dipindahkan Dayeuh Tengah di Sukakerta ke Leuwi Loa (wilayah desa Sukapura) daerah Sukaraja sekarang. terletak di tepi sungai Ciwulan.

Wiradadaha III digantikan oleh anaknya Raden Subangmanggala dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha IV. Dia terkenal sebagai bupati Sukapura terkaya dan memiliki anak sebanyak 62 orang. Namun.Pengganti Wiradadaha I adalah putranya yang ketiga yang bernama Raden Jayamanggala dengan gelar raden Tumenggung Wiradadaha II. 200 . putra keempat Wiradadaha I. sehingga ia lebih dikenal dengan Dalem Sawidak. Keluarganya mendapatkan tambela yang berisi mayat Wiradadaha II. Setelah menjadi bupati. Wiradadaha II terkenal dengan julukan Dalem Tambela. Setelah meninggal dunia. Raden Wiradadaha II digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Anggadipa I. Wiradadaha II tidak lama berkuasa karena pada tahun pengangkatannya dunia karena sebagai tumenggung meninggal hanya dihukum mati. Setelah meninggal dunia. Oleh karenaitu. Raden Anggadipa bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III.

Raden Secapati adalah cucu Dalem Tamela. Raden Wiradadaha IV digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Raden Secapati. Ia menikahi putri bupati Parakanmuncang.Raden Wiradadaha IV meninggal dunia dan dimakamkan di Pamijahan dekat gurunya Syeh Abdul Muhyi dan dikenal dengan sebutan Dalem Pamijahan. Wiradadaha V digantikan oleh putranya yang bernama raden Jayangadireja dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VI. Wiratanubaya. Setelah diangkat menjadi bupati. Setelah wafat. 201 . dan digantikan oleh anaknya Raden Jayamanggala II dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII. Wiradadaha VI mengundurkan diri. tetapi lebih dikenal dengan sebutan Dalem Tumenggung Secapati. Ia juga disebut Raden ia Adipati di Setelah wafat. Karena sering bertolak belakang dengan pemerintah Kolonial. dia menggunakan nama Raden Tumenggung Wiradadaha V. dimakamkan Pasirtando. sehingga terkenal dengans ebutan Dalem Pasirtando.

dan Tasikmalaya. Ia terkenal dengan sebutanh Dalem Sepuh. Namun. yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Talun. Kabupaten Sukapura didirikan kembaliu dengan bupatinya turunan bupati Sumedang. Pada masa kekuasaan Widadaha VIII. kecuali daerah Suci dan Panembong. yakni raden Tumenggung Surialaga. Sukapura memiliki wilayah yang sangat luas. Ciawi. Dua tahun kemudian. 202 . kabupaten Sukapura diserahkan kembali ke bupati Limbangan.Pengganti Wiradadaha VII adalah putranya yang kelima Raden demang Anggadipa dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII. Indihiang. Cijulang. Wilayahnya meliputi sebagian dari Sumedang: Malangbong. Ketika ia menolak menanam nila. Dalem Talun mengundurkan diri. Wiraradaha VIII dipecat. Kawasen. sebagian dari Galuh: Pasirpanjang. selanjutkan dikembalikan lagi ke Wiradadaha VIII dari bupati Limbangan. Banjar. Singaparna. Parigi. Sukapura dialihkan ke Kabupaten Limbangan.

Nagara (Pameungpeuk). dan Kalipucang. Sukaraja. yakni Sukapura afdeeling dan afdeeling. dan Malangbong. Kawasen) afdeeling Parigi (Parigi. Karena terlalu luas. distrik Wilayah hanya Mangunreja. dan Tasikmalaya. Karang. meliputi dua Nagara. Sukapura. Afdeeling Tasikmalaya dengan ibukota Tasikmalaya mencakup Ciawi. kontrol dan Selacau). Indihiang. Kandangwesi. Setelah memiliki wilayah yang luas. Pada 203 . Sukapura Cikembulan. Taraju. dan afdeeling Cikajang (Batuwangi. yakni afdeeling Sukapura Kolot. Sukaraja. dan Kalipucang). banjar. Manonjaya (Pasirpanjang.Mandala. Mandala. batuwangi. Sukapura Kolot dengan ibukota Mangunreja meliputi dua afdeling. Parung). Kabupaten Sukapura dibagi lagi menjadi tiga bagian. Cijulang. Karang. yakni afdeeling Mangunreja (Panyeredan. Parung. ibukota Sukapura di Sukaraja dipindahkan ke Manonjaya. Cikajang. tanah yang luas ini disebut Tanah Galunggung. Panyeredan. asalnya Taraju. Cikembulan.

bupati Sukapura XII. Wiraadegdaha pindahke Bogor dan terkenal dengan sebutan Dalem Bogor. Danuningrat digantikan oleh Raden Rangga Wiradimanggala dengan gelar R. Wiratanubaya digantikan oleh Raden Rangga Tanuwangsa dengan gelar raden Wiraadegdaha (bupati Sukapura XI). Setelah diturunkan dari jabatannya.A. Setelah wafat. yang membangun Kota Manonjaya. Wiradadaha VIII wafat dan dimakamkan di Tanjung Malaya. Karena tidak punya anak. Wiradadaha IX.T. Wiratanubaya. Setelah wafat.T. R. patih Manonjaya. Dia pernah diberi 204 . R. R. bupati.waktu itu. Wiratanubaya lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Jabatannya digantikan adiknya Raden Setelah demang menjadi danukusumah. Danuningrat dengan gelar R.T. Kemudian digantikan oleh adiknya R. Kemudian mendapat gelar adipati sehingga namanya menjadi raden Adipati Wiraadegdaha.T.T. bupati Sukapura X. namanya menjadi Wirahadiningrat.

yakni sebagian menjadi bawahan Limbangdan dan sebagian menjadi bawahan Sumedang. dan afdeeling Cikajang menjadi bawahan Kabupaten Limbangan.T. Pada masa ini. bupatui Sukapura XIII. putrana Dalem Bogor. Dia bupati pertama yang mendapat gelar aria. Pada awalnya daerah yang disebut Sukapura itu bernama Tawang atau Galunggung. sedangkan Distrik Malangbong dibagi dua. Sejak itulah kabupaten Sukapura berubah nama menjadi Tasikmalaya. diganti namanya menjadi R. Wiraadiningrat. Dalem Bintang wafat. dan Bintang Oranye Nassau. mendapat payung kuning. ibukota Sukapura dipindahkan dari manonjaya ke Tasikmalaya. sehingga mendapat sebutan Dalem Bintang. sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Aria. Setelah wilayah afdeeling Mangunreja menjadi bawahan Sukapura. Sering juga disebut Tawang-Galunggung. Tawang berarti „sawah‟ 205 .gelar adipati. Penggantinya adalah Raden Rangga Wiratanuwangsa. Setelah menjadi bupati.

Penyebutan Tasikmalaya menuncul setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi Tasik „danau. Tasikmalaya mengandung arti „keusik ngalayah‟.atau „tempat yang luas terbuka‟. maksudnya banyak pasir di manamana. 206 . laut‟ dan malaya dari (ma)layah bermakna „ngalayah‟ atau „deretan pegunungan di pantai Malabar (India)‟.

karena pada masa itu sering dilanda banjir. Pemindahan ibukota ini diawali dari tabir mimpi. ia memindahkan ibukota kabupaten ke daerah Wanayasa. Pada masa kepemimpinan Dalem Solawat. Ia menjadi bupati Karawang berkedudukan di Wanayasa sampai akhirnya diganti oleh adiknya yang bernama Raden Aria Suryawinata atau lebih dikenal dengan nama Dalem Solawat. bahwa Dalem Solawat harus memindahkan ibukota ke daerah Lebak dengan ciri-ciri di daerah tersebut harus 207 . ibukota kabupaten Karawang dipindahkeun lagi dari Wanayasa ke daerah Lebak. SASAKALA PURWAKARTA Pada masa Dalem Santri menjadi bupati Karawang.C. Lebak berarti dataran rendah. karena memang wilayah Wanayasa berada lebih tinggi dari wilayah Lebak. SASAKALA WILAYAH PURWASUKA 1.

Setelah sekian lama mencari. Pencarian dimulai pada hari Senin. akhirnya wedana itu pun menemukan sebuah kubangan tempat mandi badak putih. hamba telah menemukan daerah yang dimaksud dalam mimpi itu.” 208 . dalam pencarian daerah Lebak. Sebelumnya. Dalem Solawat memerintahkan pada salah seorang cutak (wedana) bawahannya. Kanjeng.” kata wedana ketika menghadap Kanjeng Dalem di pendopo. “Ampun Kanjeng. “Benarkah Paman Wedana tempat itu telah engkau temukan?” “Benar. Berhari-hari wedana tersebut mencari kubangan tempat mandi badak putih yang di tepiannya ditumbuhi pohon tanjung. Alangkah baiknya apabila Kanjeng sendiri melihatnya.ada kubangan air tempat mandi badak putih yang di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. Segera saja ia pun menghadap Raden Aria Suryawinata di Wanayasa.

Setelah mendapat laporan. Dengan disaksikan seluruh rakyatnya. 209 . Tidak memerlukan waktu lama. ternyata keadaannya sesuai dengan impian. Kanjeng Dalem pun menamakan daerah itu Sindangkasih. “Aku namakan kampung ini Sindangkasih!” ujarnya dengan lantang. tempat itu pun segera berubah menjadi lahan baru yang nampaknya sangat baik untuk dijadikan pemukiman. Sampailah ke tempat kubangan. Di daerah tersebut terdapat sebuah kubangan yang biasa dipakai mandi badak putih dan di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. Beberapa hari kemudian. bahagia pula hati Kanjeng Dalem. yang berarti berhenti di tempat yang sangat dicintai. Kanjeng Dalem pun segera memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bergotong royong ngababakan (membuka lahan baru) di sekitar kubangan. lalu Kanjeng Dalem pun menuju tempat yang diceritakan oleh wadana tadi. Setelah melihat daerah tersebut.

Kubangan tempat mandi badak putih itu pun ternyata hulu cai (sumber air). Ada yang hanya berdagang. akhirnya ibukota kabupaten pun dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih. Seluruh areal pesawahan dan perkebunan daerah Sindangkasih pun pengairannya berasal dari kubangan tersebut. Semakin hari. Semenjak itulah. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi orang. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi pendatang. Masyarakat hidupnya tidak kurang sandang pangan. yang tidak pernah kering. ketika tiba-tiba banyak 210 . Demikian karena tanah di daerah Sindangkasih sangatlah subur. adapula yang memang berniat bermukim. jerih Kanjeng payahnya Namun Dalem Dalem selama pun ini berbahagia membangun kebahagian melihat kabupaten. Kanjeng sayang dan sekali masyarakat Sindangkasih tidak berlanjut.Setelah di daerah Sindangkasih banyak penduduk yang bermukim.

Namun karena kesigapan Kanjeng Dalem. Terlebih Kanjeng Dalem memerintah dengan adil dan bijaksana.penduduk yang dirampok dan banyak pencurian di mana-mana. Bahkan kehidupan seluruh penduduk semakin sejahtera dari sebelumnya. dari tersebut bukan Mereka merupakan Daerah dan pendatang pun daerah aman. Sindangkasih oleh Kanjeng dalem diganti namanya menjadi Purwakarta. Daerah Sindangkasih Semenjak semakin itu pula. pesat daerah perkembangannya. Sindangkasih kembali tentram. lain. 211 . masyarakatnya sejahtera. Ternyata penduduk penduduk asli kelompok pencuri Sindangkasih. Masyarakat mulai goyah dan takut. banyaknya perampokan dan pencurian itu dapat direda setelah kelompok penjahatnya tertangkap.

sedangkan karta berarti aman dan sejahtera. *** 212 . Dalam bahasa setempat.” ujar Kanjeng Dalem di hadapan seluruh rakyatnya. kata purwa artinya awal atau asal mula. aku ganti nama kampung ini menjadi Purwakarta. Nama Purwakarta itulah yang dikenal hingga sekarang.“Semenjak hari ini.

Ia memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita. namun ada juga yang tatanen (bertani). Seluruh penduduk sangat menghormatinya. SASAKALA PAMANUKAN Pada masa kerajaan Sunda. Semakin lama semakin banyak raja dan kstaria yang melamar Milangsari. Mulai dari kerajaan Dompo. di pesisir pantai utara.2. sehingga semua lamaran ditolaknya. Seluruh rakyatnya cukup sandang pangan. Namanya Milangsari. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain yang melamarnya. terdapat sebuah kerajaan kecil yang subur dan makmur. Kerajaan tersebut bernama Pilangsari. sehingga tidak pernah terjadi pemberontakan. 213 . dan berwibawa. Namun Milangsari belum berniat menikah. Raja Pilangsari terkenal bijak. adil. Hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pamayang (nelayan).

Di satu sisi.” “Maksud paman?” “Kita adakan saja semacam pasanggiri adu kicauan burung. Sumedanglarang. Cirebon. di sisi yang lain ia merasa khawatir kerajaannya akan diperangi oleh raja atau ksatria yang lamarannya ditolak oleh putrinya. Apa yang dapat aku lakukan dengan keadaan ini?” “Gusti menentukan Prabu. Kalau di antara mereka ada yang memiliki burung dengan kicauan bagus. maka berhak menjadi pemenang dan mengawini putri Milangsari. ia sangat bangga akan kecantikan anaknya.Malayu. Dengan keadaan itu. Aku malu pada raja dan kstaria yang ditolak lamarannya oleh putriku. calon bagaimana kalau dalam menantu diadakan pasanggiri (sayembara) saja. “Paman Patih. Hingga akhirnya ia pun memanggil patih dan anaknya Milangsari. sampai kerajaankerajaan kecil dari Jawa. raja menjadi bingung. kenapa kejadiannya menjadi seperti sekarang.” 214 .

“Menurut Paman. bahwa akan diadakan pasanggiri adu kicauan burung. “Ampun rama. Bagi siapa saja yang membawa burung dan kicauannya bagus. Nah. “Bagus ide tersebut. sekarang aku bertanya padamu. di alun-alun Pilangsari telah sesak dipenuhi peserta 215 . sekarang aku tugaskan kepada paman patih untuk segera membuat pengumuman ke seluruh pelosok kerajaan. Paman. saya akan mengikuti saja pendapat Paman Patih.” jawab Milangsari. Adu kicauan burung tidak akan terjadi perkelahian yang dapat merugikan secara fisik. “Kalau keputusannya seperti itu. pasanggiri adu kicauan burung akan lebih baik ketimbang adu kesaktian. akan menjadi suami Milangsari. Bagaimana menurutmu?” kata raja sambil melirik Milangsari yang sedang tertunduk. Nyai.” Beberpa bulan setelah pengumuman diedarkan.“Kenapa Paman?” tidak pasanggiri adu kesaktian. Bagaimana baiknya saja.

Penonton pun ikut larut dalam 216 . akhirnya raja dan putri Milangsari keluar dari keraton menuju alun-alun. Pemilihan burung pun telah selesai.pasanggiri adu kicauan burung. Kemudian putri Milangsari naik ke babancong (podium) yang letaknya di sebelah selatan alun-alun. Milangsari dan ayahnya terus memilih burungburung yang akan dijadikan pemenang. Selain jumlahnya yang banyak. seluruh peserta pun membawa burung yang bagus-bagus. Semua peserta harap-harap cemas. Sesuai jadwal. Penonton pun berjejalan memenuhi alun-alun. Setelah itu mereka langsung memilih burung yang bersuara bagus. Raja dan Milangsari akan memilih burung yang bersuara bagus. Agak lama raja dan putri memilih burung-burung tersebut. Sebagaimana telah ditentukan sebelumnya. Berbagai jenis burung dibawa peserta untuk diadu dalam ajang pasanggiri. bercampur antara rasa takut tidak terpilih dengan perasaan bahagia apabila nanti burungnya terpilih oleh putri. Peserta banyak yang gundah.

Sungguh di luar dugaan. Semua hanyalah misteri. Adapun tempat nyedekkeun putri Milangsari disebut Kampung Padek. rajanya disandera. Bagaimana nasib putri Milangsari? Lalu menikah dengan siapa dan kapan? Tidak ada yang mengetahuinya. Mereka akhirnya mengamuk di alun-alun. Patih dan para prajuritnya dipenjarakan. alun-alun Pilangsari dan sekitarnya dinamakan Pamanukan. Keraton Pilangsari dirobohkan. Adapun putri Milangsari segera dibawa oleh peserta. Semuanya dinyatakan jelek. tidak ada yang terpilih. putri Milangsari memutuskan bahwa dari sekian banyak burung yang dipasanggirikan. Sedangkan istana dan 217 . yang artinya tempat yang banyak manuk (burung).kecemasan dan kebahagian karena akan segera mendengar keputusan putri Milangsari. disedekeun ke arah kaputren. sejak diadakan pasanggiri burung itu. Kontan saja peserta pasanggiri yang kebanyakan raja dan kstaria pilih tanding merasa dihina. Jelasnya.

sekarang hanyalah menjadi sebuah kampung kecil bernama Pilangsari di wilayah kabupaten Subang. *** 218 .kaputren kerajaan Pilangsari yang hancur.

3. SASAKALA SAGALAHERANG

Jaman dahulu, seluruh tatar Sunda berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Prabu Siliwangi. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup hampir seluruh pulau Jawa. Setelah kerajaan Pajajaran runtuh,

keturunan Prabu Siliwangi pun menyebar ke seluruh tatar Sunda. Dalem Ciburang, Cianjur, adalah salah seorang keturunan Prabu Siliwangi yang keenam. Namun berbeda dengan Prabu Siliwangi yang adil dan bijak, ia terkenal galak dan bengis. Terutama terhadap rakyat yang tidak memeluk kepercayaan yang sama dengannya. Oleh rakyatnya, ia pun dijuluki Dalem Pandita Bengis. Pada suatu ketika, ke daerah Ciburang menyebar kepercayaan baru, yakni agama Islam. Banyak

rakyatnya yang memeluk agama Islam. Ketika Dalem mengetahuinya, ia sangat berang. Rakyat yang

memeluk Islam akan segera dibunuh oleh prajuritnya
219

yang kejam. Bahkan Raden Aria, putranya sendiri, dilarang keluar dari kadaleman karena takut terpengaruh oleh agama Islam. Raden Aria sangat dimanja. Ia satu-satunya penerus tahta Dalem Ciburang. Untuk mendidik

anaknya, Dalem Ciburang mendatangkan beberapa orang guru dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari guru seni, beladiri, sampai guru dalam ilmu politik. Namun meski dimanja, Raden Aria tetap tidak merasa betah dengan kemewahan kadaleman. Akhirnya ia pun secara sembunyi-sembunyi keluar dari

kadaleman. Bahkan banyak teman-teman sebayanya mengajaknya belajar ngaji dan ilmu keislaman. Hal itu terus berlanjut, sampai akhirnya Raden Aria sangat paham dan memeluk agama Islam. Pada suatu hari, Dalem Ciburang memanggil Raden Aria. Lalu diberi petunjuk tentang agama leluhur yang dipeluknya. Namun Raden Aria selalu membantah dan meluruskan petunjuk dari Dalem Ciburang, ayahnya sendiri, dengan ajaran-ajaran keislaman. Tentu saja
220

Dalem sangat marah dan kaget mengetahui anaknya telah masuk Islam. Sesaat Dalem hanya membisu, matanya tak berkedip, melihat Raden Aria yang tenang sambil tersenyum tipis duduk di hadapannya. Melihat anaknya demikian, muncul sikap bengis dalam diri Dalem Ciburang. Lalu ia segera menyabut pedangnya. Namun ketika akan ditebaskan pada leher Raden Aria, pedang tersebut mendadak terjatuh dan patah. “Lahaola wala kuwwata illa billah,” kata Raden Aria lirih. Beberapa saat keduanya terdiam. Lalu Dalem Ciburang pun mengusir Raden Aria dari kadaleman. “Aria, putraku, ternyata engkau telah berani membantahku. Mulai saat ini, aku perintahkan engkau untuk keluar dari kadaleman. Cadu aku akan menyerahkan kadaleman ini padamu,” kata Dalem Ciburang sambil menunjuk pada Raden Aria. Sedikit perbuatannya pun Raden Aria ia tidak pun menyesali pergi dari

tersebut.

Lalu
221

kadaleman. Raden Aria berjalan ke arah timur dengan tujuan mencari guru untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Makin lama berjalannya semakin jauh dari Ciburang. Selama itu ia hanya makan dedaunan dan daging hewan buruan. Naik gunung, susur sungai, ia lewati dengan sabar dan tawakal. Setelah beberapa bulan, sampailah Raden Aria ke sebuah telaga yang sangat besar. Telaga tersebut airnya sangat jernih. Di tepinya tertanam pohon bambu dan pohon tanjung. Kemudian Raden Aria beristirahat di tepi telaga tersebut. Sesaat ia terpaku melihat keindahan sekeliling telaga. Kemudian ia pun melihat bahwa di tengahtengah telaga ada hamparan batu cadas membentuk nusa (seperti pulau di tengah lautan). Lalu timbul dalam hati Raden Aria untuk bersemedi di atas batu cadas tersebut. Raden Aria pun kemudian menyeberangi telaga. Setibanya di atas batu cadas, lalu ia duduk bersila. Dari sana menjuruskan pandangannya ke
222

” gumamnya. Sebenarnya aku tiap pagi selalu memeriksa telaga dan melihatmu tenang bersemedi di sini. Pemandagangannya sangat indah. aku ini penguasa telaga ini.” 223 . Setelah genap 40 hari 40 malam bersemedi. “Hai. Ternyata di hadapannya telah berdiri seorang putri yang sangat cantik jelita. "Semoga Raden tidak marah. Raden Aria pun bersemedi di atas hamparan cadas tersebut. Raden Aria kaget dan tidak percaya. Nama hamba Endang Kusumah. lalu Raden Aria membuka matanya.sekeliling telaga. Hamba adalah putri jin. Setelah itu Raden Aria berbicara dengan tenang. sebab telaga itu berada di tengah hutan belantara. "Mungkin aku hanya mimpi. Kalau Raden ingin tahu. putri! Engkau manusia atau mahluk jadijadian?” Putri itu pun menjawab sambil tersenyum simpul.

Sesaat setelah berpikir jatuh cinta pada sang putri. Pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang perajurit yang gagah. Ketika terang kembali. Kulitnya kuning langsat. kedaan sekitar telaga telah berubah.Raden Aria mendengarkan jawaban putri tersebut dengan seksama. Lalu Raden Aria melihat ke arah utara. rambutnya hitam panjang laksana mayang terurai. kedua perajurit itu serempak menundukkan kepala tanda hormat. tiba-tiba alam menjadi gelap gulita. Banyak orang berlalu lalang. memegang tombak dan panah. ketika Raden Aria menatapnya. Namun aneh. setiap orang yang lewat ke hadapan Raden Aria selalu menundukkan kepala tanda hormat. Lebih aneh. Ia pun berpikir bahwa selama hidupnya baru melihat putri secantik itu. ternyata da sebuah istana. 224 . Akhirnya Raden Aria pun jatuh cinta pada putri jin tersebut. Telaga yang luas berubah menjadi sebuah kadaleman yang ramai.

“Jangan kaget. kalian sudah ada di sini. ayahanda Nyi Putri. Di sana pun tersedia makanan yang lezat. di sebelahnya terdapat kolam yang airnya sangat jernih. “Ayo masuk Kakang!” Raden Aria masuk ke dalam keraton sambil digandeng oleh Nyi Putri. 225 .” kata putri Endang Kusumah sambil memegang tangan Raden Aria. Mulailah Raden Aria dan Nyi Putri bersantap. Aku sangat bergembira akan mempunyai menantu yang berilmu tinngi dari golongan manusia. "Syukurlah. Tidak jauh dari sana ada ruangan yang luas dihampari permadani berwarna merah. Kemudian berkata. Ruangan tempat menerimatamu serba bersih dan mengkilat. Raden Aria berjalannya sering berhenti-henti karena tercengang-cengang melihat keindahan dalam keraton. Kemudian Raden Aria dibawa oleh Nyi Putri ke ruangan kaputren. tiap kamar ditunggui oleh emban-emban yang cantik. Tidak lama datanglah Raja Jin. Ini istanaku.

” Hari berganti hari. Yang sulung perempuan diberi nama Raden Ajeng 226 . akhirnya Putri Endang Kusumah pun melahirkan bayi kembar.” "Wah. ingin rasanya makan yang masam-masam. Raden Aria berjalan-jalan di taman bersama dengan istrinya Putri Endang Kusumah. Kalau siang hari." Tiga hari kemudian. Sudah banyak Jin yang masuk Islam dan mengaku guru kepadanya. Genap sembilan bulan. Sangat meriah sekali. perasaanku berbeda. badan terasa lesu. Itu tanda bahwa Dinda sedang mengandung. Seluruh bangsa Jin menghadiri acara pernikahan tersebut. Keduanya lucu dan mungil. "Kakang. Bertahun-tahun Raden Aria mengajar ngaji di kerajaan Jin. Terkadang tidak ada nafsu makan. itu bukan sakit Dinda. Hingga pada suatu sore. pesta pernikahan antara Raden Aria dengan Nyi Putri Endang Kusumah pun dilangsungkan. bulan pun berganti bulan.Aku di sini perlu guru ngaji untuk mengajarkan santrisantri dari bangsa Jin.

kedua anak Raden Aria tersebut disuruh untuk berkelana." "Ya. sedangkan yang bungsu laki-laki diberi nama Raden Aria Suryakancana. lebih baik begitu. Segala macam ilmu yang diajarkan akan paham dalam waktu singkat. sehingga sering membuat Putri Endang Kusumah kewalahan dalam mengasuhnya. Setelah kedua anak tersebut besar. Semakin hari mereka tumbuh besar. Mula-mula Raden 227 . Beberapa hari kemudian. Saatnya mereka harus berkelana ke luar istana untuk mencari ilmu kesaktian dan keagamaan. kedua anak kita sekarang sudah besar.” jawab Raden Aria. Kedua anaknya sangat dimanja. Namun keduanya sangat cerdas.Endang Sukaesih atau disebut juga Endang Kencana. Namun keduanya berbeda dengan anak-anak jin yang lain. lalu pada suatu hari Putri Endang Kusumah berbicara pada Raden Aria. "Kakang. Mereka sangat liwar (nakal). Biar kedunya belajar hidup merakyat.

Kalau begitu. kenapa Dinda bicara seperti itu?” “Kakang. kelak 228 . sedangkan Raden Aria Suryakancana menuju ke Gunung Gede.” “Syukurlah kalau mengerti keadaan Kakang. Istana kerajaan jin pun terasa sepi semenjak kepergian keduanya. Kakang pun tentu sangat merindukan kehidupan di alam manusia. Nikahilah ia. Melihat keadaan tersebut. Nyai. Putri Endang Kusumah mulai mengerti kejiwaan yang sedang dihadapi suaminya. “Kakang. aku mengerti akan perasaanmu. nampaknya sudah saatnya Kakang kembali ke alam manusia seperti semula.” “Kakang akan kukirim kembali ke alam manusia.” kata Endang Kusumah pada suatu hari. “Lho. Raden Aria setiap hari selalu menyepi dan kadang tidak mau diajak makan.Endang Sukaesih menuju ke Gunung Ciremai. Selain merindukan anak-anak. apa yang harus Kakang lakukan sekarang. Ia bangsa manusia. Nanti Kakang akan menemukan seorang putri yang sangat cantik.

Ia lalu memegang tangan istrinya. tiba-tiba telaga tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan yang ramai.” Raden Aria hanya terdiam. Sejurus kemudian. Raden Aria segera menjuruskan pandangannya ke sekeliling perkampungan tersebut.Kakang akan mendapat keturunan pula dari putri tersebut. Raden Aria memejamkan mata sambil merangkul erat istrinya. Kemudian Raden Aria membaca ayat kursi sebanyak 7 kali. Dari jauh kelihatan ada seorang putri cantik berjalan menghampirinya. Raden Aria mengambil batu cadas sebesar buah kelapa. Setelah itu. Lalu Raden Aria pun tersadar dan mengucapkan istigfar beberapa kali sambil mengusap muka. Lalu dilemparkannyalah batu cadas tersebut ke tengah telaga. Setelah sampai ke hadapan 229 . Bersamaan dengan jatuhnya batu cadas ke air telaga. Kakang. Ketika membuka mata. ternyata ia sedang menelungkup di atas batu cadas. akan kubuatkan keraton pula untukmu di alam manusia.

Merujuk pada telaga yang dipakai bersemedi oleh Raden Aria sebelum berubah menjadi kadaleman Sagalaherang. *** (Subang) 230 ." Raden Aria pun segera mengikuti putri tersebut ke sebuah kadaleman. nama kadaleman Sagalaherang bermakna talaga nu caina herang (telaga yang airnya jernih). Makanan yang lezat pun tersaji. kita pulang ke Sagalaherang.Raden Aria. Di dalam pendopo. Ternyata di pendopo sedang diadakan syukuran menyambut kedatangan Raden Aria sebagai dalem baru mereka di kadaleman Sagalaherang. ternyata sudah banyak orang menunggunya. Pada hari itu pun dilangsungkan pula pernikahan antara Raden Aria dengan putri yang telah menjemputnya tersebut. Konon. Segala alat musik ditabuh. Rakyat sudah lama menunggu lama kedatanganmu. lalu putri tersebut berbicara dengan lembut. Kadaleman itu ternyata bernama Sagalaherang. "Mari Kakang.

Nyai Puntung Mayang. wilayah Priangan Barat termasuk ke dalam wilayah Kadipatian Pamingkis.D. di daerah Cibadak. yang saat itu dalam keadaan hamil. Oleh Jaro Loa. Sedangkan istrinya. SASAKALA WILAYAH SUKACI 1. Kadipatian tersebut dipimpin oleh seorang dipati bernama Rangga Bitung dan istrinya bernama Nyai Puntung Mayang. yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ratu. Pada saat penyerbuan itu. Nyai Puntung Mayang dibawa ke perkampungan di kaki gunung Sunda. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang 231 . Bupati Rangga Bitung terbunuh. wilayah Pamingkis terkena imbasnya. Dalam perjalanan menuju Gunung Salak. SASAKALA SUKABUMI Pada jaman dahulu. berhasil diselamatkan oleh seorang Jaro (Lurah) yang bernama Loa. Pada waktu Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon menyerbu Kerajaan Pajajaran.

menemukan seorang bayi. Melihat gelagat demikian. Bahkan sebenarnya. Bahkan hubungan kedua remaja tersebut makin lama makin intim. berkharisma. maka tumbuhlah Wangsa Suta menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. dan pembawannya kelihatan lain dibanding dengan pemuda sebayanya. yang ketika beranjak remaja disebut Nyai Tanduran atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Pudak Arum Saloyang. Nyai Puntung Mayang melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Pudak Arum. tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Sesampainya di Gunung Salak. Akibat kedunya dibesarkan di tempat yang sama. Seiring perjalanan waktu. maka sejak kecil sampai remaja hubungannya sangat dekat. Begitu pula Nyai Pudak Arum. Ia mencerminkan seorang yang lahir dari keturunan ménak. Bayi tersebut kemudian dibawa serta dan diberi nama Wangsa Suta. sejak kecil pun sudah 232 . Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang berniat mengawinkan keduanya. Tingkah lakunya bijak.

ia terlebih dahulu akan berkelana kesaktian untuk sebagai menimba bekal ilmu dalam keagamaan hidup dan berumah- tangganya kelak. suatu ketika.” Maka. “Nyai. maka berangkatlah Wangsa Suta 233 . Setelah mendapat persetujuan dan doa restu dari ayah angkatnya. kelihatannya mereka saling penikahan tersebut. bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?” “Setuju.diniati untuk dijodohkan. akhirnya ia mengizinkan ajuan sarat dari Wangsa Suta tersebut. Kontan saja Wangsa Suta sangat girang mendengar rencana ayah angkatnya itu. Namun karena Wangsa Suta memiliki jiwa kesatria. Jaro Loa pun menyampaikan niatnya kepada Wangsa Suta tentang rencana Ki. terlebih dahulu ia mengajukan syarat bahwa sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan. Karena Jaro Loa mengetahui watak anak angkatnya yang keras dan teguh pendirian. mencintai.

Wangsa Suta berangkat menuju padepokan yang terletak di daerah bernama Kiara Gantung Kararangge. Di tempat inilah. kelak Wangsa Suta berguru kepada seorang resi berilmu tinggi bernama Saradea.untuk berkelana mencari ilmu. Sementara Wangsa Suta membuat pedukuhan 234 . Wangsa Suta pun diperintahkan untuk mencari pohon pakujajar bercabang lima yang tumbuh di gunung Parang. Letaknya sebelah barat Gunung Sanghyang Purwa yang kontur tanahnya miring ke sebelah selatan. Setelah semua ilmu Resi Suradea diturunkan. Dari Resi saradea inilah Wangsa Suta banyak menimba ilmu keagamaan dan kesaktian yang kelak banyak dipakai untuk menolong sesama. Wangsa Suta diperintahkan oleh Resi Suradea untuk membuat pedukuhan baru dan menyebarkan ilmunya. Sesuai petunjuk dari Jaro Loa. Cukup lama Wangsa Suta berguru pada Resi Suradea. Sesampainya di padepokan tersebut. Tanah lamping ini ditumbuhi pohon kole yang daunya hijau dan bunganya berwarna ungu.

Rencana penculikan pun berjalan lancar. bangsawan Bahkan dari banyak pemuda lain dan para untuk daerah berniat mempersuntingnya. karena Nyai Pudak Arum setia memilih Wangsa Suta. Ke mana-mana jalan sendiri. segera memerintahkan anak buahnya yang bernama Ki Jaya untuk melamar Nyai Pudak Arum. maka Ki Jaya marah. Namun meskipun sehari-hari wajahnya dibalut duka. Nyai Pudak Arum berhasil diculik dan dibawa oleh Ki Jaya ke hadapan Demang Sukamukti. Mendapat penolakan tersebut. Bahkan untuk meloloskan niat tuannya tersebut. tanpa ditemani sang kekasih Wangsa Suta. kecantikannya tetap terkenal ke mana-mana. Namun keberuntungan 235 .baru di Gunung Parang. Setiap hari wajahnya muram. Salaseorang demang kaya bernama Sukamukti misalnya. lain cerita dengan calon istrinya Nyai Pudak Arum. Ki Jaya berniat menggunakan jalan kekerasan dengan cara menculik Nyai Pudak Arum. Kontan saja lamaran tersebut ditolak.

Kalau berhasil. yakni menculiknya. dan tidak sabaran. Culik Pudak Arum. Sesampainya Nyai Pudak Arum ke hadapan Demang Sukamukti. sang Demang mendadak meninggal dunia. “Barja. lalu bawa ke hadapanku. sombong. Skenario penculikan pun berjalan lancar. aku akan memberimu imbalan yang setimpal!” ujar Ki Puru Satra pada centengnya yang bernama Barja. Tersebutlah saudagar kaya raya bernama Ki Puru Satra dari daerah Padabeunghar. yang terletak di Pelabuhan Ratu. Saudagar tersebut memilki watak keras kepala.berpihak pada Nyai Pudak Arum. Akhirnya Ki Jaya pun mengembalikan Nyai Pudak Arum ke tempat tinggalnya semula di kaki Gunung Sunda. bawa semua anak buahmu. Anak 236 . Berita kecantikan Nyai Pudak Arum sampai pula ke telinga para saudagar kaya. Ki Puru Satra pun segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menculik Nyai Pudak Arum. Cerita belum usai. Ia pun berniat ingin segera mempersunting Nyai Pudak Arum dengan cara jalan pintas.

Namun karena kesetiaannya pada Wangsa Suta. semua lamaran ditolaknya.buah Ki Puru satra berhadil menculik Nyai Pudak Arum tanpa rintangan yang berarti. Pada saat malam pengantin. Nyai Pudak Arum dipaksa untuk menikah. Kini berkembang isu di masyarakat bahwa dirinya punya ilmu pelet dan kesaktian yang tinggi. Semakin hari semakin banyak saja laki-laki baik pemuda biasa maupun bangsawan yang ingin mempersuntingnya. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Nyai Pudak Arum untuk meloloskan diri dari kediaman saudagar kaya raya tersebut. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Nyai Pudak Arum. bukan berarti kehidupan Nyai Pudak Arum sudah tenang. Setelah dua kejadian penculikan menimpanya. 237 . Akhirnya Nyai Pudak Arum pun dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Setelah sampai di tempat kediaman Ki Puru Satra. Ki Puru Satra mendadak meninggal dunia.

Di antara pelamar itu. Raden Kartala pun menuruti nasehat tersebut. Wangsa Suta menyuruh Nyai Pudak Arum untuk pergi terlebih dahulu menuju ke Gunung Parang mencai pedukuhan yang terdapat 238 . Namun penasehatnya melarang untuk mempersunting Nyai Pudak Arum. Namun ketika Nyai Pudak Arum akan dibunuh oleh algojo Raden Kartala. Perkelahian dengan anak buah Raden Kartala pun tidak dapat dielakkan. kemudian ada seorang demang bernama Raden Kartala dari daerah Mangkalaya. Nyai Pudak Arum adalah seorang putri yang memilki kesaktian tinggi dan menyarankan untuk menangkap lalu membunuhnya. Sebelumnya. Skenario pun berjalan mulus. Anak buah Raden Kartala dapat menangkap Nyai Pudak Arum dengan mudahnya. Kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Nyai Pudak Arum. Dalam pandangannya. tiba-tiba Wangsa Suta antara datang Wangsa untuk Suta menolongnya.Penolakan bukan berarti masalah selesai.

Namun sayang. Maka untuk mengetahui keberadaan calon istrinya. ia segera meminta bantuan gurunya Resi Saradea. “Apa syaratnya.” ujar Resi Saradea. rencana tersebut ternedus oleh anak buah Raden Kartala yang lainnya. setelah berhasil mengalahkan semua anak buah Raden Kartala. Kemudian Nyai Pudak Arum dibawa ke Pulau Putri di kawasan Pulau Seribu. Wangsa Suta diiberi petunjuk bahwa sampai kapan pun tidak akan bertemu dengan Nyai Pudak Arum sebelum pedukuhan di kaki Gunung Parang banyak penduduknya. “Suta. karena Nyai Pudak Arum tidak terdapat di tempat. ia segera menyusul calon istrinya ke Gunung Parang. cucuku. kalau engkau ingin bertemu kembali dengan calon istrimu. Sementara Wangsa Suta. guru?” 239 . Dengan ilmu kebatinan yang dimiliki oleh gurunya. sehingga Nyai Pudak Arum tertangkap di perjalanan. Namun ia sangat kecewa dan sedih.pakujajar berdahan lima. ada syaratnya.

Wangsa mulai ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan atau pedukuhan). Akhirnya daerah tersebut dinamai oleh masyarakat setempat dengan sebutan suka di bumi.” Setelah kemudian mendapat Suta petunjuk pun dari gurunya. 240 Wangsa Suta pun .“Engkau harus membuat pedukuhan di kaki gunung Parang. semakin hari semakin banyak penduduknya. maka engkau pun pasti akan bertemu dengan calon istrimu. Kemudian pedukuhan di kaki Gunung Parang itu pun. Hal ini karena kata tanah dalam bahasa Sunda disebut juga dengan istilah atau kata bumi. Semakin lama menetap. Nanti setelah pedukuhan tersebut ramai dikunjungi pendatang. para penduduk pun semakin betah dan menyukai pedukuhan yang subur dan banyak mata air tersebut. Banyak pendatang langsung menetap dan membangun bumi (rumah) tinggal. yang berarti senang tinggal di rumah dan senang menetap di tanah yang subur. Tiga tahun kemudian.

Mereka sangat menyenangi lingkungan dan tanah atau tempat tinggal yang didiaminya. *** 241 . Wangsa Suta pun merestuinya. Atas penamaan daerah tersebut oleh penduduk. daerah itupun kemudian berubah namanya menjadi Sukabumi seperti yang kita kenal hingga sekarang. Mereka pun kemudian menikah. lalu hidup bahagia di sebuah pedukuhan.bertemua kembali dengan Nyai Pudak Arum. Mereka suka pada bumi. Pendudukan sekitarnya menyebutnya sukabumi. Bahkan seiring perkembangannya.

2. SASAKALA CIANJUR

Dahulu kala, di sebuah kampung yang subur makmur, hiduplah seorang lelaki tua yang sangat kaya raya. Kampung tersebut termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Lelaki tua tersebut memiliki ratusan hektar sawah dan perkebunan. Semua penduduk kampung dijadikannya pekerja baik untuk mengolah sawahnya maupun untuk mengolah perkebunannya. Namun meski demikian, penduduk kampung tetap saja miskin. Hal itu dikarenakan lelaki tua tersebut sangat koret (kikir), sehingga selalu membayar murah pada

pekerjaan yang dikerjakan oleh penduduk kampung. Hingga oleh seluruh penduduk, lelaki tua itupun dijuluki Ki Koret. Padahal nama yang sebenarnya ialah Aki Suhita. Anehnya, ia kikir bukan saja pada orang lain tetapi pada keluarganya sendiri. Untunglah sifat kikirnya
242

tersebut tidak menular pada anak lelakinya yang sulung. Berbeda dengan ayahnya yang kikir, anak lelakinya sangat baik dan murah hati. Ia sering membantu tetangga atau penduduk desa yang sedang kesusahan. Pada suatu hari, tersiar kabar akan terjadi bencana dan musim pailit. Tentu saja seluruh penduduk kampung, termasuk Ki Koret merasa ketakutan.

Menurut ramalan tersebut, bencana dan musim pailit dapat dilewati dengan cara mengadakan ruwatan kampung. Dengan syarat itu, penduduk kampung pun kebingungan, karena untuk mengadakan acara ruwatan memerlukan kecerdikan biaya anaknya, tidak sedikit. Ki Namun berkat

akhirnya

Koret bersedia

memberi biaya untuk mengadakan acara ruwatan. Itupun dengan terpaksa karena takut terkena bencana. Semua penduduk kampung senang. Terlebih mereka semua diundang oleh Ki Koret untuk mengikuti acara ruwatan di rumahnya. Semula mengira dalam acara ruwatan itu akan banyak makanan
243

yang

disuguhkan. Namun kenyataannya meleset, Ki Koret hanya menyediakan air putih dan hidangan

alakadarnya saja. Bahkan sebagian undangan banyak yang tidak kebagian sama sekali. Air putih pun dijatah satu gelas untuk satu orang. Dengan keadaan itu, seluruh penduduk desa dan anaknya tidak dapat berkata apa-apa, mereka semua hanya dapat celoteh

mengelus dada. “Benar-benar seseorang. “Pasti Tuhan tidak akan memberikan berkah pada seluruh harta kekayaannya,” kata yang lain. “Semoga Tuhan segera menyadarkannya,” kata penduduk yang lain. Ketika semua undangan ruwatan sedang rajanya orang kikir!”

menyantap hidangan yang disuguhkan Ki Koret, tibatiba datang seorang nenek tua meminta sedekah pada Ki Koret. “Juragan, pasihan..! Juragan, abdi pasihan…! (Tuan, berilah…! Tuan, berilah saya…!)
244

“Pasihan naon? Uing mah teu boga nanaon!” (Mau dikasih apa? Saya tidak punya apa-apa!” “Saeutik we Juragan, abdi lapar pisan…!” “Aeh, teu beunang dieuweuh-euweuh. Indit ka ditu, teu nempo batur keur loba semah.” Akhirnya nenek tua itupun pergi meninggalkan rumah Ki Koret sambil mencucurkan air mata. Melihat kejadian itu, anaknya turut merasa sedih. Diam-diam dia pun mengambil sedikit hidangan

jatahnya. Lalu diberikan pada nenek tua tersebut. Tentu saja nenek tua pun sangat berbahagia. Setelah diberi sedikit hidangan, kemudian nenek tua itupun pergi menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah bukit yang berada di batas kampung. Sesampainya di puncak bukit, lalu nenek tua itu berhenti dan menjuruskan pandangannya ke areal perkampungan. Matanya tertuju tajam pada rumah ki Koret. Lalu nenek tua itu menancapkan tongkatnya, sambil bergumam:
245

“Banjir…! Banjir…. Bahkan akhirnya masuk ke wilayah perkampungan. Makin lama air itu makin membesar membanjiri areal pesawahan dan ladang. lalu nenek tua itu mencabut kembali tongkatnya. 246 . maneh bakal katibanan Setelah berkata demikian. Anak Ki Koret segera menganjurkan orang-orang desa untuk segera meninggalkan perkampungan dan lari ke atas bukit.!!!” teriak penduduk kampung yang panik melihat kedatangan air bah yang tiba-tiba. cari tempat yang tinggi!” “Tapi sawah dan ternak kita bagaimana?” “Kalian pilih harta atau nyawa?” Anak Ki Koret yang bijak itu terus berteriak mengingatkan penduduk. Dari lubang tancapan itulah kemudian memancar air yang sangat deras. Ia pun tidak lupa membujuk ayahnya agar segera keluar rumah.“Hey jalma hukuman ti Gusti!” koret. “Cepat tinggalkan kampung ini.

”Ayah. cepat tinggalkan rumah ini. Akhirnya Ki Koret pun tenggelam terseret arus air bah. Air bah semakin besar. anaknya Ki Koret mendapatkan wangsit bahwa harus segera membawa penduduk kampung mencari areal baru untuk perkampungan. Dalam semedinya itu. kita harus segera menyelamatkan diri!” ”Apa? Meninggalkan rumah? Baiklah. Namun seluruh penduduk kampung termasuk anaknya Ki Koret berhasil menyelamatkan diri. Setelah beberapa hari menunggu di bukit. Mereka pun sedih melihat kampungnya tenggelam. air bah pun tak kunjung surut. 247 . seluruh penduduk kampung telah pergi menuju bukit tempat keluarnya air dari bekas lubang tancapan tongkat si nenek tua tadi. aku akan mengumpulkan hartaku terlebih dulu!” Sementara Ki Koret terus mengumpulkan harta bendanya. Perkampungan pun berubah menjadi telaga yang besar. Kemudian anaknya Ki Koret bersemedi untuk mendapatkan petunjuk.

Mengajari pula cara berkebun yang telaten dan bagaimana memilih bibit unggul. perkampungan itupun semakin berkembang. Kemudian ia pun mengangkat ulu-ulu (petugas pengairan) yang mengatur jalannya air yang mengairi sawah dan ladang milik penduduk. Di daerah baru itulah kemudian anaknya Ki Koret diangkat menjadi pemimpin kampung mereka yang baru. Ia pun mengajari penduduk tatanen (cara menanam padi) dan bagaimana mengairi sawah yang baik. Semakin lama. perkampungan itu disebut kampung Anjuran. Setelah menemukan sebuah daerah yang subur. anaknya Ki Koret pun memerintahkan rombongannya untuk ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan). Anaknya Ki Koret menganjurkan seluruh penduduk untuk mengolah tanah yang telah dibagi rata. Anaknya Ki Koret pun merestui penamaan tersebut. Kemudian oleh seluruh penduduk.Maka pergilah rombongan anaknya Ki Koret mencari daerah baru. 248 .

249 . Kata Cianjur berasal dari kata c(a)i yang berarti air. atau anjuran pemimpin kampung dalam hal bertani selalu dilaksanakan oleh penduduk Cianjur. Konon kata Anjuran berasal dari sikap para penduduk yang selalu mematuhi anjuran atau perintah pimpinannnya. apapun perintah. pepatah. Kelak kampung ini akan menjadi penghasil beras terkenal di tanah Pajajaran. pepatah. Penduduknya sangat ramah dan pandai mengelola sawah. yakni anaknya Ki Koret.” ujar anaknya Ki Koret di depan seluruh penduduk kampung. Lama kelamaan nama Anjuran pun berubah menjadi Cianjur.“Aku restui kampung ini dinamakan Anjuran. atau anjuran pemimpin kampung. mengenang anjuran anaknya Ki Koret agar segera mengungsi dari terjangan banjir pada waktu itu. Adapun kata anjur. dan anjur yang berarti perintah. Kata ci (air) sendiri mengingatkan pada peristiwa banjir bandang yang telah menenggelamkan Ki Koret. Wilayah perkampungan tersebut sangat subur. Memang secara turun-temurun.

Buktinya hingga sekarang. *** 250 . Konon kuncinya mereka sangat teratur dalam mengairi sawah. gurih. yang diatur oleh seorang ulu-ulu (petugas pengairan). terutama berasnya terkenal sangat enak. hasil bumi dari Cianjur. dan wangi.

Bogor. . terdapat sebuah telaga yang terkenal dengan nama Talaga Warna. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Prabu dan Ratu belum dikaruniai juga keturunan sehingga mereka selalu cemas dan merasa kesepian.E. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. di tengah-tengah Talaga Warna berdiri sebuah istana kerajaan Kutatanggeuhan. merah muda. Rakyat pun turut bersedih dan sangat mengkhawatirkan 251 keadaan tersebut. Hal ini bermula dari sebuah kisah masa lalu. Dahulu kala. SASAKALA WILAYAH BODEBEK 1. adakalanya berwarna kekuning-kuningan. terkadang berwarna jingga. hijau. Disebut demikian karena airnya selalu berubah warna. Namun sayangnya. SASAKALA TALAGA WARNA Di lembah gunung Megamendung.

Rakyat menunggumu!” kata suara gaib tersebut.Mereka berpikir kalau Raja tidak juga mempunyai keturunan. “Aku tahu engkau ingin memiliki keturunan. Putri tersebut diberi nama Putri Gilang Rukmini. Hingga sang putri pun tumbuh menjadi perempuan yang cantik jelita. Aku kabulkan keinginanmu itu. Semua bersuka cita. Benar saja. Sekarang. beberapa bulan kemudian. Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan perasaan senang. tiba-tiba terdengar suara gaib. Di puncak gunung itulah kemudian Raja berdoa dan meminta pertolongan dari Sanghyang Widi. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. kembalilah ke istana. kelak kerajaan takut akan jatuh ke keluarga raja yang tidak bijak. ratu pun mengandung. Pada suatu ketika. raja pun memutuskan untuk bersemedi ke gunung Megamendung. Setelah 7 hari 7 malam Prabu Suwartalaya berdoa. Oleh 252 .

kedua orang tuanya. Selama itu pula. sampai perhiasan. Mulai dari intan berlian sampai emas permata. Mulai dari makanan. Mereka berharap suatu hari watak sang putri akan berubah. Akibat terlalu dimanja. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Maklumlah anak semata wayang. Tiap hari pekerjaannya hanya merias dan mempercantik pakaian. lama-kelamaan sang putri terbiasa memakai pakaian dan perhiasan mewah. terpasang pada tubuh dan pakaiannya. Ia pun selalu menangis kepada ayah ibunya untuk sekedar minta disediakan berbagai pakaian mewah dan perhiasan. Pada suatu ketika. pakaian. segala keinginannya selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Bahkan sampailah sang putri tersebut merasa bosan atas model pakaian dan perhiasan yang ia pakai. Namun rakyat tetap mencintainya. Sambil diiringi para 253 . putri akan marah dan bertindak kasar. sang putri menghadap kepada kedua orang tuanya. sang putri sangat dimanja. Jika tidak.

putri akan berulang tahun yang ke-17. untuk apa?” “Untuk mempercantik diri. sabar. engkau menemuiku. Karena sangat mencintai raja dan putrinya. rama. “Ada apa anakku.” kata Sang Raja. Semua rakyat boleh datang untuk memberikan doa ataupun hadiah untuk putri Gilang Rukmini. Nanti di hari ulang tahunmu yang ke 17 aku akan berikan hadiah kepadamu. aku ingin memiliki banyak berlian.” Beberapa hari kemudian. ia seperti biasanya sambil membawa perhiasan dalam bokor kencana. sebelum hari ulang tahun putri tiba. aku ingin meminta perhiasan lagi.emban. Prabu Suwartalaya berniat akan mengadakan pesta syukuran di istana. seluruh rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk 254 . “Rama.” “Buat apa anakku.” “Ya. bukankah sudah banyak perhiasan yang sudah aku berikan untukmu?” “Rama.” “Iya.

Rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun kerajaan tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan.sang putri. Rakyat sangat kagum melihat kecantikan sang putri. rakyat pun memberikan kotak berisi kalung kepada putri Gilang Rukmini. 255 . Hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Sesuai rencana. Memang sebelumnya sudah banyak pemuda dan ksatria yang kapengpeongan (tergila-gila) akan kecantikan sang putri. pesta pun berlangsung sangat meriah. Di babancong (podium) telah dihiasi beragam hiasan mewah. Kalung tersebut dibeli dengan cara patungan sukarela. Ratu. Maka disepakatilah oleh mereka untuk menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. dan Putri menaiki babancong. Kini tiba saatnya giliran rakyat mempersembahkan hadiah istimewanya. Rakyat pun bersorak-sorai saat Prabu. Kalung itu terbuat dari emas berlian dengan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Sore hari pesta pun akan segera usai. Pada hari itu.

Prabu Suwartalaya. “Indah apanya? Kalung jelek begini. Sesaat kemudian. Suwartalaya.Namun Prabu Suwartalaya yang giliran membuka kotak tersebut. Ratu Purbamanah dan seluruh rakyat menangis. dan seluruh rakyat hanya bisa terdiam lesu. Sedih 256 kenakanlah kalung ini!” ujar Prabu . Jangan kecewakan mereka. “Ayo. Ratu Purbamanah. Bukankah kalung ini sangat indah?” kata Ratu Purbamanah. norak sekali. “Ini tanda cinta rakyat kepadamu. suara tangis pun pecah. Aku tidak mau mengenakannya!” teriak putri Gilang Rukmini. Ia pun langsung membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Lalu dikeluarkanlah kalung beraneka warna yang sangat indah pemberian dari rakyatnya itu kepada putri Gilang Rukmini. Permata yang beraneka warna itupun berhamburan. Lama Putri Gilang Rukmini memandang kalung tersebut dengan kening berkerut. Beraneka warna.

Semakin lama semakin deras. air telaga yang selalu beraneka warna itu berasal dari kalung yang dihiasi batu permata beraneka warna pemberian dari rakyat yang dilemparkan oleh sang putri. *** 257 . Hingga kini. danau). Ratu. Maka berubahlan istana dan lingkungan sekitarnya menjadi sebuah talaga (telaga. Sungguh ajaib. Prabu. Oleh masyarakat setempat. telaga tersebut dinamakan talaga warna. di depan babancong keluar air. telaga tersebut masih ada dan dijadikan tempat wisata. dan seluruh rakyat kerajaan Kutatanggeuhan pun tenggelam diterjang air bah. sampai akhirnya menenggelamkan seluruh bangunan istana. karena jika hari cerah airnya memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. ia langsung keluar dari babancong sambil menginjak batu permata yang terserak di lantai. Setelah perbuatan sang putri itu.melihat kelakuan putri kesayangannya. Putri. Namun sang Putri seperti tidak merasa bersalah. Konon menurut masyarakat setempat.

seorang Sunda terah Sumedang. kota yang pernah berpenghuni 50. juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC. Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC. antara lain. SASAKALA KOTA BOGOR Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan oleh pasukan Banten. Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. tersebutlah bahwa seluruh ibukota kerajaan hancur lebur dan penduduknya terbunuh serta terusir. Setelah satu abad hilang dari percaturan sejarah. Adolf Winkler. dan Abraham van Riebeeck. Orang-orang Hindia Belanda yang telah melakukan ekspedisi itu. Wilayah bekas ibukota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. Dalam memanfaatkan wilayah yang 258 . Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Hindia Belanda (VOC). Scipio.2.

Parung Banteng. Panaragan. Kampung Baru 259 . Kedung Halang dan Parung Angsana. Akhirnya. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang. Baranang Siang. Malah orang Hindia Belanda menemukan seekor harimau besar yang sedang tidur. Tempat inilah menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kota Bogor. Selanjutnya. VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. kecuali di Cikeas. Citeureup. yang diberi nama Kampung Baru.dikuasainya. Sempur. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan. dia bersama anggota pasukannya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana. Bantar Jati. Parung Kujang. Tanujiwa. dan Cimahpar. seorang Letnan Terah Sumedang. Kemudian diisukan bahwa orang-orang Pajajaran berubah menjadi harimau. mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran.

Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Regentschap Kampung Baru disebut juga Regentschap Buitenzorg. 260 . Oleh karena itu. De Haan memulai mendaftarkan bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa. Pada waktu itu. Ia telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru. sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. dibangunlah tempat peristirahatan pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Tanujiwa menjadi Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Atas dasar itulah.menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampungkampung lainnya.

Sejak itulah. Buitenzorg berubah nama menjadi Bogor. yang akhirnya nama daerah itu disebut Empang. Daerah tersebut makin lama makin ramai karena dibukanya jalur hubungan kereta api BataviaBuitenzorg. di wilayah tersebut banyak tunggul kawung. Pada waktu itu di sekitar wilayah Buitenzorg terdapat banyak pohon enau atau kawung. Akibatnya. 261 .Ketika Bupati Kampung Baru yang dipimpin oleh Demang Wiranata. yang terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya selanjutnya dekat empang besar. Nama Empang nama berangsur-angsur mendesak Sukahati. Pembukaan jalur kereta ini sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota. Pohonpohon tersebut cukup mengganggu keindahan wilayah sehingga banyak yang ditebang. yang disebut “bogor” atau “pogor”. ia mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati.

ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput 262 . dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau) Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti (Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama.Di dalam cerita pantun yang dikisahkan oleh Aki Cilong disebutkan perihal penamaan Bogor sebagai berikut. NGADEGNA DAYEUH PAJAJARAN Tah di dinya. ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung (Di tempat itu.bagi mereka yang tidak paham) Ari sababna.

terus membara asapnya tak cukup untuk "muput") Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman) Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana (Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya) Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna (Kalau tertendang? bisa melukai yang mendangnya itu kaki akan lama sembuhnya) 263 .(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapitidak padam.

kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan) Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor! (Nah. begitu! Namai olehmu kota itu Kota Bogor!) 264 .Tapi. amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak (Tapi.

datanglah rombongan kapal dagang Belanda yang tergabung dalam kongsi dagang bernama VOC. Setiap hari sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari seluruh kerajaan di penjuru Nusantara. Cukup lama Chastelyn menetap di Jayakarta. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terbesar di wilayah kerajaan Banten. Bahkan banyak pula kapal-kapal dagang dari kerajaan Cina.3. Bisnisnya pun semakin lama semakin maju. Dalam rombongan tersebut. Hingga suatu ketika. Dari pelabuhan Sunda Kelapa. terdapat seorang Belanda bernama Cornelis Chastelyn. Portugis. kemudian rombongan Cornelis Chastelyn itu mulai mencari barang dagangan berupa rempah-rempah ke daerah Jayakarta. SASAKALA DEPOK Dulu. Chastelyn selalu banyak mendapat 265 rempah-rempah dari . dan Belanda. Kelak nama Jayakarta berubah menjadi Batavia dan berubah kembali menjadi Jakarta.

hingga Buitenzorg berkurang. Banyak pedagang yang tadinya hanya sekedar transit. maka pada suatu hari Chastelyn memutuskan untuk 266 . Ia pun membeli tanah yang luasnya terbentang mulai dari wilayah Weltevreden (Gambir). Hal ini karena pasokan rempah-rempah dari Banten dan Pakuan (sekarang Bogor) banyak tersendat. Tidak sampai satu tahun. Oleh karena itu.penduduk pribumi. Banyak pula di antara mereka yang menikahi perempuan pribumi. yang selanjutnya ia jual ke kerajaan Belanda dengan harga lebih mahal. Tentu saja barang dagangan pun semakin lama semakin Cornelis (Jatinegara). Sunda Kelapa dan kampung Jayakarta pun semakin lama berkembang pesat. akhirnya Chastelyn pun menjadi salah seorang pedagang Belanda yang kaya di Jayakarta. Hingga Chastelyn pun merasakan usaha dagangnya kian hari kian menurun. Meester (Bogor). malah menetap untuk waktu yang cukup lama.

akhirnya Chastelyn memutuskan untuk menetap di perkampungan tersebut. ramah. Setelah satu minggu perjalanan. berangkatlah Chastelyn bersama beberapa orang pegawainya ke arah timur Jayakarta.mencari lahan baru yang masih banyak menghasilkan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Chasteleyn memutuskan untuk membeli tanah di kawasan tersebut. Maksudnya untuk mencari lahan baru untuk menjalankan usaha dagangnya di bidang hasil bumi. tibalah rombongan Chastelyn ke sebuah perkampungan yang letaknya terpencil di tengah hutan belantara. Tidak menunggu lama. Beberapa bulan kemudian. Penduduk kampung tersebut sehari-harinya berbahasa Sunda. Melihat sikap penduduk yang demikian. Oleh karena itu. Lama kelamaan Chasteleyn pun merasa betah. lalu Chasteleyn membeli tanah di kawasan tersebut dari penduduk setempat dengan harga 700 267 . dan santun. Apalagi penduduk di sana sangat menghormatinya.

yakni belum dikuasai oleh VOC. Ternate. dan rel kereta api Jakarta-Bogor. Kampung Belimbing di sebelah selatan. tentu saja harus segera diolah oleh Chastelyn. Chastelyn dikenal sangat ramah dan baik pada budak-budaknya. Borneo (Kalimantan). Pulau Rote. Selain mempekerjakan pula penduduk setempat. Berbeda dengan Belanda yang lain. Maluku. Tanah yang dibeli Chasteleyn pada waktu itu sangatlah luas. Jayakarta. Sungai Ciliwung di sebelah timur. Status tanahnya adalah partikelir. Maka ia pun mendatangkan budak bayaran dari Bali. Jumlahnya sekitar 150 orang. dan Filipina. Tanah yang telah dibelinya di perkampungan tersebut. tanah yang dibeli Chasteleyn itu batasnya meliputi Kampung Malela di sebelah utara. Makassar. 268 .ringgit. Hingga penduduk di kampung itu pun sangat menghormatinya. Kalau hitungan sekarang.

Chastelyn pun segera membuat peraturan. ia melarang pedagang-pedagang untuk menetap. pedagang Cina memutuskan untuk membuat tempat transit di Kampung Bojong. Dalam peraturannya tersebut. Selain itu. perjalanan dari Jayakarta ke perkampungan Chastelyn dapat memakan waktu tiga hari. Banyak pula orang Belanda dari Jayakarta mulai berdatangan dengan maksud untuk berdagang dengan Chastelyn. Kampung ini berada di luar wilayah 269 . Mengingat pada waktu itu. Sebagai tuan tanah di sana. Tentu saja peraturan tersebut sangat menyulitkan pedagangpedagang dari Cina dan Belanda. Perkampungan itupun semakin hari semakin berkembang dan ramai dikunjungi pedagang. termasuk pedagang dari Jayakarta. banyak pula pedagang-pedagang dari Cina untuk berjualan di sana. perkampungan yang dibangun Chastelyn pun banyak menarik minat pedagang-pedagang dari tempat lain. Dengan peraturan baru itu.Sebagai daerah baru.

Sampai-sampai tidak tertampung di rumahnya yang besar menurut ukuran pada waktu itu. Akhirnya secara bertahap. Chasteleyn pun mulai mengajarkan agama Kristen kepada penduduk pribumi dan terutama kepada para pekerjanya. banyak pula pendatang dari Jayakarta yang sengaja hanya untuk berguru agama Kristen kepada Chastelyn. Para pedagang Cina berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di perkampungan tersebut. 270 . muncul nama kampung Pondok Cina. Semakin lama. Bahkan akhirnya.perkampungan Chastelyn. Sebagai seorang Belanda. Chastelyn membangun rumah besar yang dijadikan perguruan. Chastelyn pun mencari akal agar orang-orang yang ingin menjadi muridnya dapat tinggal di perkampungan itu. Penduduk setempat menyebutnya dengan padepokan. Kemudian. Atas permintaan ayahnya. Semenjak itulah. Chastelyn adalah pemeluk Kristen yang taat. murid Chastelyn pun semakin banyak.

Kemudian banyak pula dikunjungi pejabat-pejabat VOC yang 271 . Istilah penduduk setempat inilah yang kemudian menjadi nama perkampungan tersebut sampai sekarang. Selain sejalan pula dengan istilah perguruan yang dalam bahasa Sunda disebut padepokan. Padepokan agama Kristen yang dibangun Chastelyn pun semakin lama semakin berkembang dan terkenal sampai ke kerajaan Belanda. Namun muridmuridnya sering menyebut padepokan tersebut dengan nama Deze Eenheid Predikt Ons Christus. yang berarti dengan persatuan telah membawa kami ke Kristus.Oleh Chastelyn padepokan agama Kristen tersebut diberi nama dalam bahasa Belanda De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. yang berarti Organisasi Kristen Protestan Pertama. Kedua istilah perguruan tersebut selanjutnya oleh Chastelyn disingkat menjadi DEPOC. Kelak sebutan padepokan pun oleh penduduk setempat disingkat pengucapannya menjadi depok. yang oleh lidah penduduk setempat diucapkan DEPO(K).

” Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat Chastelyn itulah yang kemungkinan sekarang berada di wilayah Kelurahan Krukut. Chastelyn sempat mewariskan seluruh perkampungan tersebut pada anaknya melalui sebuah surat wasiat memakai bahasa Belanda kuno. Sebelum meninggal. Kota Depok. sebelum akhirnya Chastelyn pun meninggal dunia di kampung Depok. Hutan itu dan kuperuntukkan seluruh pekerjaku keturunannya kelak. tepatnya di selatan Cinere.sengaja meminta pendapat dalam hal keagamaan. Kecamatan Limo. *** 272 . hutan yang di sebelah timur sungai Karukut jangan sampai untuk diganggu. yang sebagian isinya sebagai berikut: “Anthony Chastelyn.

Dipimpin oleh seorang raja yang sangat sakti bernama Prabu Purnawarman. yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Prabu Jayasingawarman. Pada suatu malam. Ketika ia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara. ibukota kerajaan masih di daerah Jayasingapura. SASAKALA BEKASI Tarumanagara adalah sebuah kerajaan yang subur makmur. 273 . Prabu Purnawarman mendapat wangsit dari Sanghyang Widi.4. Seluruh rakyat menghormatinya karena Prabu Purnawarman sangat adil dan bijak dalam memimpin. Dalam wangsit itu dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara akan berkembang menjadi kerajaan besar apabila ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. Maka segera saja Prabu Purnawarman memerintahkan kepada patih dan para menteri agar mencari daerah baru untuk ibukota kerajaan.

” “Di mana letaknya.” “Baik.” Gusti Prabu. Tanahnya sangat subur. karena di sana banyak terdapat sumber air. Kemudian Paman Patih menghadap kepada Prabu Purnawarman. Paman Patih?” “Letaknya di tepi kali Gomati. Namun alangkah baiknya. “Paman Patih. apakah sudah kau temukan daerah baru untuk ibukota itu?” “Ampun ditemukan. Gusti Prabu pun memeriksanya.“Paman Patih. buat panitia untuk mencari daerah baru yang cocok dijadikan ibukota Tarumanagara!” begitulah titah Prabu Purnawarman pada patihnya. besok akan aku periksa daerah itu. Paman Patih pun segera membentuk panitia pencari daerah baru untuk ibukota Tarumanagara. rombongan yang dipimpin patih tersebut menemukan sebuah daerah di tepi sungai Gomati. Hingga akhirnya. daerah itu telah 274 .

Tidak lama setelah ibukota dipindahkan.Keesokan harinya. Kemungkinan nama Sunda untuk menyebut tanah dan suku Sunda sekarang ini dimulai pada masa itu. kerajaan Tarumanagara berkembang pesat. ibukota Tarumanaga aku ganti namanya menjadi Sundapura!” begitulah ucapan Prabu Purnawarman pada waktu peresmian ibukota yang baru itu. yang berarti kota Sunda. Setelah diperiksa. Sundapura banyak didatangi oleh para pedagang dari mancanagara. Benar saja apa yang dikatakan dalam wangsit itu. Daerah itu kemudian diberi nama Sundapura. Akhirnya ibukota kerajaan Tarumanagara pun oleh Prabu Purnawarman dipindahkan dari Jayasingapura ke tepi sungai Gomati hasil temuan patihnya tersebut. ia pun menyukai daerah yang baru tersebut. Banyak pula pendatang dari kerajaan-kerajaan lain yang bermukim di Sundapura. Prabu Purnawarman memeriksa daerah hasil temuan patihnya itu. Apalagi setelah tiga 275 . “Perlu kalian ketahui.

Selama berperang. Di medan perang Purnawarman dikenal oleh lawan-lawannya dengan nama Wyaghra ning Tarumanagara (Harimau Tarumanagara). Dalam berperang ia selalu menjadi panglima. Beberapa tahun kemudian. Purnawarman tidak dapat dilukai senjata apapun. kemudian Purnawarman memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukan kerajan-kerajaan kecil. Raja-raja kecil setiap tahun selalu mempersembahkan upeti tanda takluk. karena ia selalu memakai baju besi. Selain itu. Prabu Purnawarman memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk membangun pelabuhan di pantai sebelah utara. Pelabuhan baru itu pun segera saja dipenuhi oleh kapal-kapal pedagang dan kapal-kapal perang kerajaan Tarumanagara. Biasanya acara serah terima upeti dilaksanakan tiap malam 276 bulan purnama setiap . Setelah pasukan perangnya kuat.tahun kemudian. ia pun terkenal memiliki ilmu kesaktian yang tidak ada tandingnya. Purnawarman berhasil menjadi raja terbesar di pulau Jawa.

irigasi dan dipakai untuk membangun mensejahterakan saluran untuk membuat memperbaiki aliran sungai.tahunnya. Demikian karena mayoritas penduduk Tarumanagara bekerja sebagai petani dan peladang. Hasil semuanya Tarumanagara Terutama upeti tersebut. oleh Purnawarman kerajaan rakyatnya. Di antaranya ialah sungai Gangga di wilayah Cirebon. Sawah dan ladang rakyat terairi dengan 277 . beberapa stel pakaian. Mereka berkumpul di istana Tarumanagara. dan perhiasan. Telah Tarmanagara banyak yang sungai di wilayah atas kerajaan perintah diperbaiki Purnawarman. maka akan diberinya seekor sapi. dan beberapa sungai kecil lainnya yang berada di wilayah kekuasaannya. Tanah di kerajaan Tarumanagara pun menjadi subur makmur. sambil disuguhi makanan dan tarian wanita-wanita cantik. Setiap rakyat yang ikut bergotong royong memperbaiki sungai. sungai Cupu di wilayah CupunagaraSubang.

Setelah mendapat wangsit itu. “Hai rakyatku semua. beberapa hari kemudian Purnawarman segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun Sundapura. Kalau kerajaan Tarumanagara ingin selamat dari bencana dan menang dalam berperang. Intinya semua rakyat Tarumanagara sejahtera hidupnya. Pada suatu malam.baik. Ingat memperbaikinya harus selesai dalam waktu 7 hari 7 malam. perlu kalian ketahui. Sungai-sungai airnya bersih. Prabu Purnawarman mendapatkan wangsit kembali. sehingga banyak ikan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan oleh seluruh rakyat. kita semua harus memperbaiki sungai Gomati dan Candrabhaga. bahwa aku mendapat wangsit dari Sanghyang Widi. Dalam wangsit itu disebutkan bahwa ia harus segera memperbaiki sungai utama kerajaan Tarumanagara yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga. Pada musim kemarau pun tidak pernah kekeringan atau kelaparan.” 278 .

Prabu Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor sapi. dan pembesar kerajaan pun turut serta bersama-sama dengan rakyat memperbaiki aliran sungai. aliran sungai Gomati dan Candrabhaga pun berhasil diperbaiki tepat waktu. 279 . Bahkan para patih. Prabu Purnawarman sangat bahagia. Dalam acara sukuran tersebut. Keesokan harinya ribuan rakyat baik perempuan maupun laki-laki dengan membawa berbagai jenis perkakas. Sambung menyambung tidak terputus membentuk pagar betis.Seluruh rakyat tidak ada yang berani membantah titah rajanya yang sakti tersebut. dan berbagai masakan lezat. Setelah 7 hari 7 malam. Bahkan raja-raja daerah pun dihadiahi oleh Prabu Purnawarman berupa kerbau dan berbagai emas permata untuk permaisurinya. Hingga ia pun mengadakan selamatan secara besar-besaran dan memberikan hadiah kepada para brahmana. berjajar di tepi sungai Gomati dan Candrabhaga. menteri. ribuan pakaian. Siang malam mereka bekerja dengan sungguh- sungguh.

sampai akhirnya dibagi dua oleh para penerusnya menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Adapun materai raja terbuat dari lempengan emas bergambar lebah dan kumbang. sedangkan bendera kerajaan Tarumanagara bergambar bungai teratai dan kepala gajah. Setiap kapal perang diberi tanda memakai bendera bergambar naga. Hingga kini.“Semoga Sanghyang Wasa selalu merestui kerajaan Tarumanaga!” kata Prabu Purnawarman kepada seluruh penduduk yang diucapkan pada acara syukuran itu. Pada masa dipimpin Prabu Purnawarman itulah kerajaan Tarumanagara mencapai kejayaannya. Angkatan lautnya sangat tangguh. Begitulah kejayaan kerajaan Tarumanagara di tangan Prabu Purnawarman. peninggalan kerajaan Tarumanagara tersebut masih dapat kita saksikan. Saluran irigasi tersebut 280 . yakni saluran irigasi Gomati dan Chandrabaga yang membentang sejauh 11 km.

Chandrabhaga artinya sama dengan Kali Bagasasi. *** 281 . Dengan demikian. kemudian berubah namanya menyesuaikan dengan lafal penduduk setempat menjadi Bhagasi dan berubah menjadi Bekasi seperti yang kita kenal sekarang. Seiring perjalanan waktu. berarti sasi atau bulan.sekarang membelah kota Bekasi dan namanya berubah menjadi Kali Bekasi. Konon kata chandra dalam Chandrabaga.

Dijuluki Rambut Kasih karena rakyat di kerajaan Panyidagan tidak berani menatap wajahnya yang sangat cantik dan berkharisma. Rambut ratu yang indah itu konon sebagai asihan.F. SASAKALA WILAYAH PANTURA 1. Maka dijulukilah Nyi Rambut Kasih. SASAKALA MAJALENGKA Dahulu kala. sehingga yang terlihat hanya rambutnya saja yang panjang hitam bergelombang terurai. Bahkan selain rambutnya yang indah. sang ratu pun memiliki ilmu kesaktian dan 282 . Kerajaan seorang ratu yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Panyidagan. Mereka hanya berani menatap sang ratu dari bagian belakang. Bagi siapa saja yang melihatnya akan menimbulkan rasa kasih pada sang ratu. Namun masarakat menyebutnya dengan Ratu Ayu Rambut Kasih atau Nyi Rambut Kasih. ada sebuah kerajaan yang gemah ripah repeh rapih bernama tersebut Panyidagan diperintah atau oleh Sindangkasih.

Nyi Rambut Kasih mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh paramenteri. sehingga disukai dan dihormati seluruh rakyatnya. Prajurit dan guru merasa dihargai. Tak pernah ada pencuri atau perampok yang mengganggu kekayaan rakyat. Ki Gedeng Mardapa. Pada suatu hari. panglima perang. Petani dan pedagang merasa tentram. Dalam menjalankan roda pemerintahan. Nyi Rambut Kasih dikenal sangat adil dan bijaksana. Setelah suasana tertib.” 283 . karena hukum kerajaan ditegakkan tidak pandang bulu. Kehidupan rakyat pun terjamin. negara kita akan mendapat cobaan. Ia pun dapat menerawang kejadian yang akan datang. dan tentu saja ketiga orang patih setianya. dan Ki Gedeng Kulur. maka bersabdalah Nyi Rambut Kasih kepada seluruh yang hadir.kedigdayaan lahir batin yang tinggi. “Atas kehendak Sanghyang. Ia dibantu oleh tiga orang patih setianya. yakni: Ki Gedeng Cigobang.

semua rakyat Panyidagan 284 . “Menurut wangsit yang aku terima. semua menteri. Maka semuanya harus waspada dan siaga menghadapi semua malapetaka. Setelah mendengar jawaban dari hadirin.” semua serempak menjawab. malapetaka seperti apa.. Paham…?” “Nyakseni. "Sebentar lagi kita akan menerima tamu. Lebih baik banyak sahabat. Oleh karena itu. ketimbang banyak musuh. Nyai Ratu. tamu tersebut gagah tur kasep. Apabila dikemudian hari ada utusan dari kerajaan lain yang ingin bersahabat. untuk melindungi segenap rakyat di kerajaan ini. Sang Ratu kemudian bertitah lagi. dan seluruh prajurit. terimalah dengan lapang dada. aku perintahkan kepada paman patih. Akan tetapi.. Menurut wangsit. Tentramkan hati rakyat. Namun orang tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi kita sekalian. kelak negara ini akan berubah.. Entahlah.Semua undangan yang hadir terdiam. Selanjutnya Nyi Rambut Kasih bersabda lagi..

akan berubah keyakinan dan kepercayaan sesudah kerajaan ini lepas dari kekuasaanku. Demikian

nasihatku, sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan tenang." Setelah pertemuan itu, ketiga patih bersama panglima perang menyiapkan prajurit untuk menjaga perbatasan kerajaan di sebelah utara. Di perbatasan, lalu ketiga patih tersebut membuat posko penjagaan. Dari posko itu mereka dapat melihat keseluruh penjuru dengan jelas. Setiap orang yang akan masuk kerajaan Panyidagan akan kelihatan dengan jelas. Apalagi orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai dulu karena hanya tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Posko penjagaan ketiga patih yang diketuai oleh Ki Gedeng Cigobang itu, kini dikenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata Penjagaan). Suatu hari yang cerah. Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang santai
285

berkelakar. Tidak diketahui dari mana datangnya, tibatiba terlihat seorang pemuda sedang menyeberangi sungai menuju Negeri Panyidagan. Alangkah

terkejutnya ketiga patih melihat kejadian itu. Dengan segera ketiga patih itu memanggil pemuda yang sedang menyeberangi sungai. "Hai, Ki Silah, kenapa kamu berani

menyeberang tanpa seijin kami?" Pemuda yang sedang menyeberang tidak

menghiraukan teriakan ketiga patih itu. Ia terus saja menyeberang sampai ke tepi sungai dan segera pergi menjauhi ketiga patih itu. Melihat tingkah pemuda tersebut, ketiga patih sangat marah. Kemudian mereka mengejar pemuda itu dengan maksud akan mengeroyok karena sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka. Ternyata pemuda yang telah menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon yang bernama Pangeran Muhamad. Ia bermaksud meminta pertolongan Ratu Ayu Panyidagan. la akan
286

meminta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidagan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon yang sedang terjangkit wabah penyakit. Konon menurut wangsit Sunuhun Jati Cirebon, wabah penyakit tersebut dapat diobati dengan godogan buah maja yang banyak tumbuh di daerah Panyidagan. Selain mendapat tugas untuk mencari buah maja, pemuda itu pun mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke beberapa tempat yang rakyatnya masih menyembah berhala. Kembali pada cerita pengejaran ketiga patih terhadap pemuda yang berhasil menyebrangi sungai. Pemuda itu ternyata bernama Pangeran Muhamad. Ketika Patih Ki Gedeng Cigobang akan menangkapnya, Pangeran Muhamad dapat menghalaunya. Akhirnya ketiga patih itu menggunakan siasat dengan cara mengepung Pangeran Muhamad dari segala penjuru. Akhirnya, Pangeran Muhamad pun terkepung. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, lalu

Pangeran Muhamad masuk dan bersembunyi ke dalam
287

rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia segera minta perlindungan kepada Tuhan syahadat Yang dan

Mahakuasa

dengan

mengucapkan

nenjrag bumi tiga kali. Tanah yang diinjak itu terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad pun masuk ke dalamnya. Ketiga patih itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolakbalik mencarinya. Setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang, namun Pangeran Muhamad menghilang tanpa bekas. Ketiga patih itu pun merasa putus asa, kemudian mereka duduk termenung memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada ratu. Setelah berunding dengan matang, segera mereka pergi menuju ke istana Panyidagan. Adapun Pangeran Muhamad yang bersembunyi di dalam tanah, terus berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, agar diberi kekuatan dapat keluar dari lubang. Hingga akhirnya Pangeran Muhamad pun dapat keluar dari lubang persembunyiannya. Ia muncul
288

Lalu ia pun berjalan menuju ke tempat datangnya cahaya. namun hanya bisa tertunduk lesu ketika Sang Ratu datang menemuinya dan langsung menegurnya. penglihatan Pangeran Muhamad mendadak gelap. Lalu diselidiki.di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Munjul (rupanya nama tersebut didasarkan atas kata punjul(keluar)-nya Pangeran Muhamad dari dalam lubang tempat persembunyiannya). Pangeran Muhamad pun kemudian memberi nama tempat tersebut dengan Jatipamor. Makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan setapak yang dilaluinya. yang berarti kebun jati yang berpamor (bercahaya). Ketika keluar. 289 . ternyata cahaya tersebut memancar dari supa lember yang tumbuh pada pohon-pohon jati yang berjejer sepanjang jalan setapak. Setelah dekat. Mereka berniat melaporkan buronan yang hilang. cahaya itu pun menghilang. Lain dengan ketiga patih yang sedang menghadap ke Ratu Ayu Panyidagan.

Hamba bertiga sempat menegurnya. Hamba pun mengejar dan mengepungnya. Pergilah dan tangkap hidup-hidup.“Hai paman patih! Mengapa kalian kembali ke pendopo. tetapi orang itu tidak mau menjawab. Ingat. kalian tidak boleh kembali. bukankah sudah kutitahkan untuk menjaga wilayah perbatasan. kami mengerti. mendapati seorang pemuda menyeberangi sungai. Hamba datang untuk melapor bahwa kemarin ketika sedang berjaga. tetapi . sebelum tertangkap." "Ah. aku tidak percaya berita semacam itu. malah lari tunggang langgang. kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Mereka pergi lagi ke tempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengubrak-abrik tempat 290 itu. Bagaimana kalau ada orang asing masuk ke negara tidak diketahui oleh kalian?” "Ya Ratu." Ketiga patih itu pun kemudian pergi meninggalkan pendopo dengan niat mencari buronan. Sekarang kalian harus segera mencari kembali pemuda tersebut dan hadapkan padaku.

Namun baru saja sampai di depan gapura kaputren. Maka Pangeran Muhamad disuruh beristirahat dan 291 .masih tetap belum dijumpainya. Akhirnya Pangeran Muhamad pun tertangkap hidup-hidup. dijaga oleh Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur. ia kembali lagi ke pendopo akan melaksanakan perintah ratu. memasuki gua-gua. dan bertanya pada setiap warga. Namun setelah mereka bersama segenap prajurit menjelajahi hutan. Perlakukan pemuda itu seperti tamu biasanya!" Ki Gedeng Cigobang tidak berkata apa-apa. Nyi Rambut Kasih keluar dan langsung bersabda: “Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. yakni di Jatipamor. oleh ketiga patih diikat dan dibawa menghadap ke pendopo. sedangkan Ki Gedong Cigobang pergi menghadap Ratu Ayu Panyidagan dengan niat melaporkan bahwa buronan itu sudah ditangkap. akhirnya sampailah ke tempat Pangeran Muhamad beristirahat. Selanjutnya Pangeran Muhamad disuruh duduk di depan singgasana Ratu Ayu Panyidagan. Lalu.

Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Ratu Ayu Panyidagan pun bertanya: "Hai Ki Silah. Setelah itu. Mudah-mudahan Nyi Ratu bersedia menolong dan 292 .mandi dulu sebelum menghadap ratu. Beliau segera terpesona melihat pemuda yang gagah tur kasep itu. Hamba datang ke sini diutus oleh Sunuhun Jati untuk mencari buah maja yang banyak terdapat di kerajaan Panyidagan. Waktu Pangeran Muhamad sedang berjalan menuju keputren. sehingga muncul niat ingin dipersunting oleh pemuda tersebut. Buah itu akan dipakai untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit. kamu siapa? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini? Apa maksud kedatanganmu?" "Hamba ini Pangeran Muhamad dari Cirebon. Pangeran Muhamad pun disuruh menghadap kembali ke kaputren. Maka ketika Pangeran Muhamad sudah berada di hadapannya. Ratu Ayu Panyidagan melihatnya sekilas.

yakni belum memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta di kerajaan Panyidagan ini.mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah kekuasaan Nyai. apakah engkau bersedia?” "Ampun ratu. Nampaknya engkau akan pantas untuk menjadi suamiku. Coba dengarkan! Aku ini seorang ratu yang dihormati oleh semua rakyat Panyidagan. ratu." "Hanya itu permintaanmu?" "Ya. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diriku. patih. Bukannya hamba tidak mengagumi kecantikan ratu. serta para ponggawa kami semuanya sangat setia. Bagaimana. syarat ini terlalu berat. Bukannya 293 ." "Terima kasih Ratu. Itulah syaratnya. hanya itu permohonan hamba!" "Baiklah akan aku penuhi permintaanmu itu. asal kamu memenuhi syarat ini. bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu. para menteri. apa gerangan syaratnya?" "Syaratnya sangat mudah.

mendengar jawaban tersebut. tangkap orang ini! Masukan ke dalam penjara. Ratu Ayu Panyidagan sangat murka. Hamba tidak mau mengkhianati kesetiaannya. Keesokan harinya. makin lama makin gelap." Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Bahkan akan ku hancurkan perkebunan buah maja di seluruh pelosok kerajaannku. sehingga seluruh penduduk kerajaan pun merasa ketakutan. jangan sampai kabur kembali ke Cirebon. "Patih. dan turunlah hujan yang sangat lebat. Hanya saja.hamba menolak anugerah besar ini. Namun semua penduduk terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang telah berubah. Kaputren dan Ratu Panyidagan 294 . agar tidak bisa menyembuhkan orang Cirebon. Tidak berapa lama setelah itu. hamba ini sudah beristri. langit mulai mendung. langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta." Tentu saja.

majalangka… !" Sejak itu timbul sebutan Majalangka. yang artinya tempat bertapa. buah maja telah musnah. maja… langka. yang kemudian masarakat setempat menyebutnya Majalengka. *** 295 . Di seluruh pelosok kerajaan. Selanjutnya Pangeran Muhamad memutuskan untuk bertapa di gunung Haur. Adapun Pangeran Muhamad yang diutus Sinuhun Jati untuk mencari buah maja. tentu saja tidak berhasil mendapatkannya. maja….menghilang entah ke mana. Majalengka artinya hilangnya buah maja. Buah maja yang ditanam di kebun kerajaan menghilang tanpa bekas. karena takut akan dihukum oleh Sinuhun Jati. sampai meninggalnya di sana. Semua rakyat pun ribut sambil berteriak: "Gusti ratu menghilang. Kata langka dalam bahasa Sunda artinya hilang atau musnah. Sejak itulah wilayah Gunung Haur dikenal dengan nama Margatapa.langka. Maka Pangeran Muhamad pun memutuskan untuk tidak kembali ke Cirebon.

Wiralodra pun melaksanakan tapabrata di suatu tempat yang bernama Malaya di kawasan lembah Gunung Sumbing. Jawa Tengah. Karena ketampanan dan kesaktiannya itulah. Sebagai mempunyai kstaria pilih untuk tanding.2. sebelum akhirnya mendapatkan wangsit dari Sang Hyang Wasa. Ia tidak ingin menjadi raja karena hasil pemberian dari ayahnya atau orang lain. Wiralodara menghabiskan waktu 40 hari 40 malam. Ia bernama Wiralodra. SASAKALA INDRAMAYU Tersebutlah pemuda yang sangat tampan. Maka sebagai langkah awal. Wiralodra menjadi pujaan banyak perempuan. Bagelen. dari Banyurip. Di lembah sungai itu. gagah. tanahnya subur dan akan banyak dikunjungi orang. dan memiliki kesaktian tinggi. Dalam wangsitnya itu disebutkan bahwa Wiralodra harus mencari sungai yang bernama Cimanuk. mendirikan Wiralodra sebuah keinginan kerajaan. Tanah itulah yang 296 . putra Tumenggung Gagak Singalodra.

” “Untuk apa mencari sungai Cimanuk.” kata Wiralodra tegas. “Di lembah sungai itulah. Hanya pintaku. Kalau memang pendirian dan niatmu begitu. Sebagai teman 297 . ketika Wiralodra menghadap ayahnya di pendopo. aku akan mengijinkanmu. “Anakku. bukankah di daerah Bagelen juga terdapat banyak sungai. semalam sebelum mendapat akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya. sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. “Ada apa anakku. engkau menghadapku di waktu masih pagi seperti ini?” Wiralodra “Maaf menundukkan aku kepala.menurut wangsit sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. wangsit agar segera mencari sungai Cimanuk.” kata ayahnya terheran-heran. aku sudah tahu bagaimana karaktermu. Ketika itu hari masih pagi. pandai-pandailah engkau menjaga diri. ayahanda. menurut wangsit.

Perjalanannya menuju ke sebelah Barat. tiba-tiba lelaki tua tersebut berubah menjadi Kiai Malik Warna. 298 . aku utus Ki Tinggil untuk menemanimu” Setelah mendapat ijin dari ayahnya. Mahaguru yang sudah koncara ke mana-mana memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi. Tentu saja Wiralodra dan Ki Tinggil kaget bercampur bahagia. Lelaki tua tersebut mengaku bernama Ki Sadum.berbincang selama perjalanan. Dalam perjalanannya itulah pada suatu hari di tengah hutan belantara. maka pergilah Wiralodra dengan ditemani Ki Tinggil untuk berkelana mencari sungai Cimanuk. karena dapat bertemu dengan orang yang luar biasa. Wiralodra bertemu dengan seorang lelaki tua renta. “Hey anak muda. Setelah mendengar cerita Wiralodra. Tidak lupa ia pun menceritakan isi wangsit yang diterimanya di pertapaan. ke mana tujuanmu?” Maka berceritalah Wiralodra tentang maksud dan tujuannya.

Setelah sesaat ketiganya membisu. Kepala ular pun hancur terkena pukulan cakra. Setelah ditemukan. akhirnya Kiai Malik bicara: “Apabila engkau berdua sudah berada di wilayah yang bernama Cupunagara. Apabila kijang itu berhenti dan menghilang di pinggir sungai. segera cari kijang bermata berlian. Mengerti engkau Wiralodra?” “Paham. maka sungai itulah yang dinamakan Cimanuk. Kiai?” Setelah meminta ijin. Wiralodra kembali menjelajah hutan belantara yang masih angker. Hingga di sebuah hutan jati. Ketika ular tersebut akan diangkat. bergegaslah Wiralodra dan Ki Tinggil menuju ke sebelah Barat untuk mencari daerah yang bernama Cupunagara. ikutilah perjalanannya. 299 . Namun secara gesit. ia mendapati ular sangat besar menghalangi jalan setapak yang akan dilewatinya. tiba-tiba kepalanya menyambar akan menerkam Wiralodra. Wiralodra memukulkan cakra senjata andalannya.

karena ia tidak berniat mencari istri namun mencari daerah bernama Cupunagara. Setelah itu. hilanglah sungai. ia memukulkan cakranya kembali pada air sungai yang jernih tersebut.Baru saja Wiralodra menarik nafas. Perempuan tersebut menyebut dirinya dengan nama Dewi Larawana dan ia pun mengaku penguasa hutan larangan tersebut. Bahkan ia menginginkan untuk dikawini oleh Wiralodra. tiba-tiba ular yang kepalanya sudah hancur tersebut berubah wujud menjadi sungai yang airnya jernih. kini berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. Dalam pertemuannya itu. bahwa itu hanyalah sungai jadi-jadian. Dewi Larawana mengaku telah jatuh cinta pada Wiralodra. Pada mulanya permintaan tersebut 300 . Kontan saja Wiralodra menolak. Akibat ditolak Wiralodra. Ia pun langsung menantang Wiralodra untuk berkelahi adu kesaktian sampai salah satunya ada yang meninggal. Dewi Larawana merasa terhina. Untung saja Wiralodra segera sadar. Maka dengan segera. Wiralodra dan Ki Tinggil merasa heran dan terpana.

Mula-mula berupa asap tipis. Semakin lama perkelahian pun semakin sengit. 301 . akhirnya Wiralodra pun melayani tantangan tersebut. kejadian aneh terjadi kembali. Tidak berhenti di situ. Keduanya sama-sama memakai ilmu yang tinggi. Ia pun akhirnya meninggal terkena cakra Wiralodra. Perkelahian pun terjadi. Baik Wiralodra maupun Dewi Larawana sama-sama memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Namun setelah Wiralodra mengeluarkan cakra sebagai senjata andalannya. Adapun ciri-ciri kijang tersebut sama dengan yang diceritakan oleh Kiai Malik Warna. Sesaat setelah Dewi Larawana meninggal. tiba-tiba dari mayatnya keluar asap.ditolak oleh Wiralodra. Setelah itu. kemudian berubah menjadi tebal sampai menyelimuti hutan. akhirnya Dewi Larawana pun semakin terdesak. namun karena Dewi Larawana terlebih dulu menyerang. mayat Dewi Larawana berubah wujud menjadi kijang bermata berlian.

Sampai akhirnya kijang tersebut menghilang di tepi sebuah sungai yang airnya jernih. Keduanya mengaku 302 .Tentu saja Wiralodra tidak langsung percaya begitu saja. Sampai pada malam harinya. Tidak menunggu lama. Namun ketika kijang bermata berlian tersebut berlari dari hadapannya. Wiralodra pun segera tersadar. keesokan harinya Wiralodra dan Ki Tinggil segera ngababakan (membuka lahan baru untuk pedukuhan) di sekitar tepi sungai Cimanuk. Maka dikejarlah kijang bermata berlian itu oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Wiralodra mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengejar kijang tersebut. Wiralodra segera penasaran untuk mengejarnya. Ia masih yakin bahwa kijang tersebut hanyalah jadi-jadian. Namun kijang tersebut tetap saja tidak terkejar. bahwa kijang tersebut telah menunjukkan letak sungai Cimanuk yang selama ini ia cari. Wiralodra dan Ki Tinggil didatangi dua mahluk aneh yang mengaku Raja Budipaksa dan Patih Bujaris.

Lama kelamaan lahan untuk pemukiman semakin besar. Bahkan seterusnya. Dua siluman tersebut marah karena tidak terima wilayah kekuasannya diganggu oleh Wiralodra. Orang pun mulai berdatangan dan betah menetap di sana. Mereka berdua pun menyerang Wiralodra dan Ki Tinggil. Keduanya saling berhadap-hadapan. sedangkan Patih Bujaris menantang Ki Tinggil.sebagai penguasa hutan di sekitar tepi sungai Cimanuk tersebut. sebelum akhirnya kedua siluman tersebut dapat dikalahkan oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Perkelahian pun terjadi. Selanjutnya pemukiman itu pun berubah menjadi 303 . Raja Budipaksa menghadapi Wiralodra. seluruh siluman penghuni hutan di tepi sungai Cimanuk turut serta membantu Wiralodra membuka lahan baru untuk pemukiman. Keduanya menerima takluk pada Wiralodra. Wiralodra diangkat sebagai pemimpinnya dan Ki Tinggil sebagai wakilnya.

Ia banyak membantu Wiralodra dalam mengembangkan ilmu hidup kepada penduduk Cimanuk. Endang Darma adalah seorang perempuan cantik yang memiliki ilmu tinggi. terutama pada bidang pertanian dan perikanan. Pembangunan dalam segala bidang terus digalakan oleh Wiralodra. akhirnya Ki Tinggil pun berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wiralodra. mulai dari teknik bertani.kerajaan. Wiralodra menugaskan Ki Tinggil untuk segera memperluas wilayah kekuasaan. Banyuntaka. Apalagi setelah mendapat bantuan dari seorang pemukim baru bernama Endang Darma. perkampungan Cimanuk semakin pesat. Dengan dibantu oleh prajurit tangguh bernama Surantaka. Endang Darma hidup membaur dengan penduduk Ciamanuk. Tentu saja Wiralodra diangkat menjadi raja dan Ki Tinggil menjadi patihnya. sampai teknik berperang melawan musuh. berdagang. dan Puspahita. Sehari-hari. 304 . Perkampungan di lembah sungai Cimanuk semakin ramai.

Itulah sebabnya Cirebon segera mengirimkan pasukan 305 . Kabar telah berdiri kerajaan di lembah sungai Cimanuk pun akhirnya sampai juga pada kerajaan Cirebon. Tetapi karena Wiralodra memiliki kesaktian yang lebih tinggi. Kemudian Endang Darma mengajukan syarat kepada Wiralodra agar mau menamai daerah tersebut berdasarkan namanya. karena ada sebagian wilayahnya yang dicaplok oleh Wiralodra. Ia pun berniat ingin menguji kesaktian Endang Darma. Sebagai tandanya. ia akan terus membantu Wiralodra untuk mengambangkan pemukiman Cimanuk menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Wiralodra merasa tersanjung atas bantuan Endang Darma tersebut. Wiralodra pun merestuinya. asal Endang Darma dapat terus membantunya dalam mengembangkan kerajaan. Maka ditantanglah Endang Darma oleh Wiralodra. Sultan Cirebon merasa dihina. akhirnya Endang Darma mengaku kalah.Pada suatu ketika.

Pertempuran pun terjadi dan keunggulan berpihak pada pasukan Endang Darma. Setalah kejadian pertempuran itu. kesaktian. kemudian Wiralodra memberi nama pada kerajaannya Darma Ayu. Tiba di Cimanuk. Pasukan Cirebon kocar-kacir kewalahan menghadapi amukan penduduk Cimanuk. tentu saja WIralodra telah menyiapkan penduduknya yang dipimpin oleh Endang Darma untuk menghadapi pasukan Cirebon tersebut. Maksudnya untuk memberi pelajaran pada Wiralodra. Tanda bahwa Wiralodra memuji kecantikan.yang dipimpin oleh Aria Kemuning ke daerah Cimanuk. Semakin hari kampung Darma Ayu pun semakin berkembang pesat. Nama Darma Ayu diambil dari ungkapan Endang Darma anu ayu. Alasannya sebagai bentuk penghargaan pada Endang Darma yang telah berhasil mengalahkan pasukan Cirebon dan mempertahankan kekuasannya di Cimanuk. dan menepati janjinya pada Endang Darma. Banyak pendatang dari kerajaan 306 . yang berarti Endang Darma yang cantik (ayu).

lain dan langsung menetap di perkampungan tersebut. yang mereka sebut sebagai bahasa dermayuan atau dermayon. Seiring waktu. *** 307 . nama kampung Darma Ayu pun berubah menjadi Indramayu. Bahkan banyak pula pendatang dari kerajaan Mataram. mengikuti logat bahasa penduduk setempat yang bercampur antara penduduk asli dengan pendatang dari kerajaan Mataram.

Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Sindangkasih. Termasuk Nyai Ambet Kasih. terdapat sebuah kampung bernama Surantaka.3. ia menaruh 308 . datanglah seorang pemuda tampan ke kampung Surantaka. sejenis udang kecil bahan pokok untuk membuat tarasi (terasi). Suatu ketika. Semakin hari. adiknya raja Galuh yang bernama Prabu Anggalarang. Ki Gedeng Sindangkasih memiliki seorang putri yang cantik di jelita bernama Nyai Ambet Kasih. Ia mengaku berasal dari Galuh dan bernama Pamanah Rasa. Oleh Ki Gedeng Sindangkasih. Penduduk kampung tersebut kesehariannya menangkap rebon. diterimalah pemuda tersebut sebagai tamu pribadinya. SASAKALA CIREBON Di pesisir sebelah utara kerajaan Galuh. semakin kelihatan watak dan ketangkasan Pamanah Rasa. Ki Gedeng Sindangkasih dan semua penduduk kampung pun semakin takjub dibuatnya. Lalu pemuda tersebut diinapkan di rumah Ki Gedeng Sindangkasih.

siapa sebenarnya engkau ini anak muda?” “Euh.” “Maksud. aku sebenarnya bukan Pamanah Rasa. dipanggilah pemuda tersebut untuk menghadap Ki Gedeng Sindangkasih.” 309 . aku sedikitnya menaruh curiga. Namun dari tingkah lakumu.” “Kalau begitu berarti engkau keponakanku. Tidak mungkin rakyat biasa memiliki pemikiran seperti engkau. melihat kecerdasan dan ketangkasanmu. Jadi. Aku pangeran dari Galuh. karena Prabu Anggalarang adalah kakakku. Karena penasaran. maka pada suatu hari yang cerah. Aki?” “Aku heran. Namaku yang sebenarnya adalah Jayadewata. selama ini engkau mengaku sebagai pengelana dan rakyat biasa.perhatian khusus pada pemuda tersebut. nampaknya engkau hadir dari keluarga istana. “Ada apa Aki memanggil saya?” “Begini anak muda.

letaknya bersebelahan dengan kampung Surantaka. lalu ia pun dinikahkan dengan Nyai Subanglarang. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa. Ambet Kasih pun tidak bisa mencegahnya. Karena Pamanah Rasa memenangkan sayembara. Bagi yang memenangkan saembara.Sejak perbincangan hari itu. sampailah Pamanah Rasa di sebuah kampung yang bernama Singapura. karena ia tahu tugas suaminya sebagai putra mahkota kerajaan Galuh amatlah berat. Setelah Pamanah Rasa menetap cukup lama. Dari perkawinan tersebut 310 . Dalam perjalanannya kemudian. akan dinikahkan dengan putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang. selanjutnya Pamanah Rasa pun dinikahkan dengan Nyai Ambet Kasih. Di kampung tersebut tengah diadakan saembara adu kesaktian. kemudian Nyai melanjutkan perjalanannya. Seluruh penduduk kampung pun ikut berbahagia.

Namun setelah Nyai Subanglarang meninggal. Ketiga anak Pamanah Rasa telah tumbuh besar. Ketiganya dibesarkan di keraton Singapura. Oleh Syeh Datuk Kahfi. dan kelak setelah pergi menjalankan 311 . Setelah menikah. Sampailah kepada sebuah pesantren pimpinan Syeh Datuk Kahfi. Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Ketiganya masuk Islam. Setelah Walangsungsang berguru oleh sekian Ki lama. melanjutkan kembali pengembaraannya. ia berkelana dan berguru di padepokan seorang guru bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Raden Walangsungsang. Raden Gedeng Danuwarsih dinikahkan kepada putri tunggalnya yang bernama Nyai Indang Geulis. Waktu pun berjalan cepat. berikut Nyai Lara Santang. Indang Geulis. Raden Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah. yaitu Raden Walangsungsang. Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan istana.lahirlah tiga orang anak.

Setelah perkampungan Caruban berkembang pesat. ia berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. dan Cina. Atas anjuran guru sekaligus mertuanya. atas saran mertuanya Syeh Datuk Kahfi. Nyai Lara Santang pun berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. Kampung inipun kemudian diubah namanya menjadi kampung Caruban.ibadah haji. kemudian adiknya dinikahi oleh Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Arab. Kampung inilah yang kemudian banyak didatangi oleh pemukim dari daerah lain. Di mekah inilah. Raden Walangsungsang pergi berhaji ditemani oleh adiknya Nyai Lara Santang. mulai dari etnis Sunda. Raden Walangsungsang ngababakan (membuka daerah baru) yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. 312 . yang artinya campuran dari berbagai etnis dan agama. Jawa. Dinamakan Tegal Alang Alang karena daerah tersebut sebelumnya banyak ditumbuhi pohon alangalang.

karena meninggal di gunung Jati. Kembali ke kisah Raden Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman. Syarifah Mudaim mendapat putra bernama Syarif Hidayatullah yang kelak didaulat menjadi Gunung Jati. yang salah satunya ada seorang pendatang 313 . Letaknya di sisi pesisir membuat kedatangan banyak pengunjung dari negara lain. ia pun segera kembali ke kampung Caruban. Kerajaan Carubanlarang pun semakin hari semakin berkembang pesat. Ki Samadullah pun diangkat menjadi Kuwu Caruban yang bergelar Pangeran Cakrabuana. Mesjid tersebut kelak diberi nama Jalagrahan dan rumahnya kemudian dijadikan Keraton Pakungwati. Setibanya di kampung halaman. ia langsung mendirikan sebuah mesjid dan sebuah rumah. Pakuwuan ini kemudian diperluas dan ditingkatkan derajat pemerintahannya menjadi kerajaan kecil bernama Nagari Carubanlarang. Sesudah Sunan menikahkan adiknya.Dari perkawinannya dengan orang Arab.

Setelah lama membantu Syeh Datuk Kahfi mengajakan Islam di daerah pesisir utara. yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Ki Samdullah. Selain itu. Bahkan sampai menikahkan adiknya yang bernama Nyai Kawunganten dengan Syeh Jati. Dari pernikahannya itulah. karena ia anak Syarifah Mudaim. kemudian Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Syeh Jati. menggatikan Syekh Datuk Kahfi. dan di sana ia mulai menyebarkan agama Islam. lahir Pangeran Saba Kingkin. pergi berkelana ke kerajaan Banten. dekat Amparan Jati. kemudian terus ke Desa SembungPasambangan. Mula-mula Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati. adiknya sendiri. 314 . Pemuda ini masih keponakan Ki Samadullah.bernama Syarif Hidayatullah. ia pun bolak-balik ke Nagri Carubanlarang untuk menemui uwaknya. Di sana ia bertemu dengan Bupati Kawunganten dari kerajaan Pajajaran yang sangat tertarik terhadap ajaran Islam.

kemudian Syeh Jati kembali Banten ke pesisir ia utara. yang mayoritas keseharian penduduknya menangkap rebon. *** 315 . Mengambilan nama ini pun mengingatkan cikal bakal kampung Surantaka.Setelah sekian lama mengembara di Banten. Sekembalinya dari itulah kemudian dinobatkan sebagai kepala Nagari Carubanlarang dan bergelar Sunan Jati atau Sunan Caruban. dari Caruban menjadi Cerbon. disesuaikan dengan logat penduduk setempat. Namanya pun diganti. Nama Caruban atau Cerbon inilah yang kelak akan berubah menjadi Cirebon hingga sekarang. Sejak itulah kemudian Nagari Caruban berkembang pesat dan dikembangkan menjadi sebuah Kesultanan.

Sunan Gunung Jati pun kemudian mulai mengajak penduduk di sana untuk masuk Islam. Di kampung itu. Terlebih mereka tahu bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan Cirebon. hingga akhirnya semua penduduk Luragung pun masuk Islam. Sesampainya di kampung Luragung. Setelah sekian lama Sunan Gunung 316 . konon penduduknya masih menyembah berhala dan percaya pada pohon-pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Sunan Gunung Jati pun kemudian menyebarkan agama Islam ke sebuah perkampungan di sebelah selatan Cirebon yang bernama Luragung. Pada waktu itu. apalagi setelah semua penduduknya masuk Islam. Penduduk Luragung terkenal sangat ramah.4. ialah Ki Gedeng Luragung. Kemudian kerabatnya. SASAKALA KUNINGAN Ketika di wilayah Kesultanan Cirebon semua penduduknya telah ngagem (masuk) agama Islam. kampung Luragung dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung. Orang yang pertama berhasil diajak masuk.

Hingga sesampainya di Luragung. Setelah menyebarkan Islam di kampung Luragung. Namun sayang. Untuk mengobati hati istrinya.Jati menetap di Luragung. kemudian istrinya yang bernama Putri Ong Tien (asal Campa) atau Nyai Rara Sumanding datang menyusulnya. Sebagai tanda balas budi kepada Ki Gedeng Luragung. Bokor kuningan inilah yang kelak dijadikan logo atau maskot kabupaten Kuningan. Ketika itu Nyai Rara Sumanding tengah hamil tua. Sunan Gunung Jati nukeuran (menukar) bayi yang bernama Suranggajaya itu dengan sebuah bokor yang terbuat dari wesi kuning (logam kuningan). putranya yang pertama itu meninggal dunia. kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk bersedia putranya yang kebetulan masih bayi diangkat menjadi anak kukut (pungut). Anak tersebut bernama Suranggajaya. kemudian Sunan Gunung Jati pergi ke 317 . Nyai Rara Sumanding pun melahirkan seorang bayi laki-laki.

Ia penganut agama karuhun. Sebelumnya ia menikahi Nyai Ratu Selawati yang pada waktu itu menjadi ratu di daerah Winduherang. artinya lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. sebelum akhirnya masuk Islam setelah dinikahi oleh Syekh Maulana Arifin. masuknya Syekh Maulana Arifin ke 318 . Syekh Maulana Akbar adalah pendatang dari Persia yang menyebarkan Islam lebih awal di daerah Winduherang. Nyai Ratu Selawati adalah adiknya Ki Gedeng Luragung. dapat dikatakan sebagai penyempurna. ternyata saudaranya tersebut telah lebih dulu masuk Islam atas petunjuk Syekh Maulana Akbar. Kedatangan Syekh Maulana Akbar dalam menyebarkan Islam ke Winduherang. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam pertama ke daerah itu. Sementara Sunan Gunung Jati. Sesampainya di Winduherang. Namun tentu saja.Winduherang bernama untuk menemui atau saudaranya Aria yang Bratawiyana Kamuning.

ia kemudian menitipkan anak angkatnya (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Aria Kamuning).” ujar Sunan Gunung Jati. 319 . ia akan merasa lebih dekat denganmu. Semoga dengan nama itu. “Aku titipkan anak angkatku. kelak anak angkatnya tersebut akan diangkat menjadi penguasa di Winduherang menggantikan Nyai Ratu Selawati. Pada waktu itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa setelah dewasa. Asuhlah dia menjadi pemuda yang taat terhadap ajaran Islam. akan kulaksanakan titahmu. “Aku ganti nama anak ini menjadi Raden Kamuning. “Baiklah Kanjeng Sunan.” titah Sunan Gunung Jati pada Aria Kamuning. Kembali ke kisah perjalanan Sunan Gunung Jati.” jawab Aria Kemuning. Setelah sampai di Winduherang. karena ketika itu Sunan Gunung Jati yang menjadi Sultan Cirebon.daerah Winduherang atas seijin Sunan Gunung Jati. Kelak ia akan ku angkat menjadi penguasa di wilayah ini.

Semenjak itu. Raden Kamuning kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. namun ada pula yang terus 320 . Kelak Dipati Ewangga akan membantu Kesultanan Cirebon dalam menyerang Belanda di Batavia (sehingga sekarang kita mendapati nama perkampungan Kuningan di Jakarta). Nama tersebut merujuk pada kisah hidup Raden Kamuning yang ketika masa bayinya ditukar oleh Sunan Gunung Jati dengan sebuah bokor kuningan dari Ki Gedeng Luragung. Mereka kebanyakan berdagang. Sering mengaji dan latihan kanuragan (ilmu beladiri) bersama. nama Winduherang pun diganti oleh Sunan Gunung menjadi Kuningan. kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Raden Kamuning menjadi penguasa di Winduherang. tumbuh pula anak pituin (asli) Aria Kamuning yang bernama Dipati Ewangga. setelah menginjak usia 17 tahun.Waktu pun berjalan begitu cepat. Semakin lama kerajaan Kuningan banyak didatangi oleh pendatang dari daerah lain. Keduanya sangat rukun. Sesuai dengan janjinya. Bersamaan dengan itu.

Raden Kamuning sangat adil dan bijak.bermukim. Ia selalu membuat perintah atas dasar ajaran agama Islam. Sunan Gunung Jati. Seluruh rakyat Kuningan sangat menghormati dan mencintainya. pada waktu itu kedudukannya di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh ayah angkatnya sendiri. Dalam memimpin roda pemerintahan. Sebagai raja yang dikukuhkan oleh Sunan Gunung Jati. *** 321 . Kemudian Sunan Gunung Jati pun memberikan gelar kepadanya Sang Adipati Kuningan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful