BAB 5 SASAKALA TEMPAT DI JAWA BARAT Sasakala tempat di Jawa Barat dikelompokkan ke dalam enam wilayah sebagai berikut

. 1. Wilayah Bandung Raya mencakup Kabupaten Bandung, 2. Kota Bandung, Kota Cimahi,

Kabupaten Bandung Barat, dan Sumedang. Wilayah Priangan Timur mencakup Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut. 3. Wilayah Purwasuka mencakup Kabupaten

Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang. 4. 5. Wilayah Sukaci meliputi Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Cianjur. Wilayah Bodebek meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

101

6.

Wilayah

Pantura

meliputi

Kota

Cirebon,

Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. A. SASAKALA WILAYAH BANDUNG RAYA 1. SASAKALA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU Pada jaman dahulu, di tanah Priangan terdapat sebuah kerajaan yang sangat subur dan makmur, yang bernama Kerajaan Galuga. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang adil palamarta bernama Prabu Sungging Perbangkara. Kesenangannya berburu ke hutan mencari hewan-hewan yang dagingnya akan dibagikan ke seluruh rakyat yang tertimpa kelaparan. Pada suatu hari, maka berangkatlah rombongan raja ke hutan untuk berburu. Tiba di hutan, Prabu Sungging Perbangkara membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Setelah raja pergi, kemudian ada seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin
102

menjadi

manusia.

Babi

hutan

itupun

kemudian

meminum air seni raja itu. Beberapa bulan kemudian, Wayungyang pun hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu lalu diserahkan ke keraton, dan oleh Prabu Sungging Perbangkara diberi nama Dayang Sumbi Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dengan gelagat itu, Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah ranggon di hutan belantara dengan ditemani seekor anjing jantan

bernama Si Tumang. Pekerjaanya di ranggon tersebut ialah menenun membuat kain. Kain hasil tenunannya kemudian diserahkan pada ayahnya di keraton. Pada suatu hari, Dayang Sumbi sedang asyik menenun. Namun totopong (torak) yang tengah

digunakannya untuk bertenun, terjatuh ke bawah ranggon. Cukup tinggi ranggon yang ditempatinya
103

tersebut, sehingga Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Ia pun bergumam lirih: “Duh, malasnya hari ini. Bagi siapa saja yang mengambilkan totopong itu, apabila ia perempuan, akan kujadikan saudara. Apabila laki-laki, akan kujadikan suami.” Sesaat setelah bergumam, tiba-tiba Si Tumang mengambilkan totopong tersebut, lalu diberikanlah kepada Dayang Sumbi. Tentu saja Dayang Sumbi kaget, apalagi ketika mengetahui bahwa Si Tumang berkelamin jantan. Dalam keadaan bingung itu, tiba-tiba terdengar suara gaib: “Jangan khawatir, Si Tumang adalah jelmaan seorang Pangeran tampan yang sedang mencari ilmu kesaktian. Menikahlah dengannya.” Sembilan sejak mendengar suara gaib itu, akhirnya Dayang Sumbi pun melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Sangkuriang. Semakin hari,

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cekatan dan
104

namun Sangkuring belum juga mendapatkan seekor mencek. Dayang Sumbi berpesan agar dibawakan hati seekor mencek (kijang). Lalu 105 .tangkas. Hari sudah sore. Namun Si Tumang malah diam. Sangkuriang sudah pandai menggunakan tombak dan panah untuk memburu hewan buruannya. yang ternyata Wayungyang. Di usia yang masih kecil. yakni berburu. “Mungkin ibuku akan suka meskipun hati seekor babi hutan. ia mengatahui bahwa babi hutan tersebut hanyalah jelamaan seorang perempuan sakti bernama Wayungyang yang telah melahirkan Dayang Sumbi. sedangkan hari sudah sore. Hobinya sama dengan kakeknya. Karena si Tumang tidak menurut. Seperti hari itu. Sangkuriang disuruh oleh Dayang Sumbi berburu hewan di hutan. di perjalanan ia mendapati seekor babi hutan. istrinya sendiri dan ibunya Sangkuriang.” Sangkuriang pun menyuruh Si Tumang mengejar babi hutan tersebut. Pikirnya. Namun ketika akan pulang. akhirnya Sangkuriang pun kesal.

Pada mulanya Sangkuriang tidak mengaku telah membunuh Si Tumang. kemarahannya pun memuncak. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati Si Tumang. “Pergi kau dari sini. yang sebenanrnya jelmaan ayahnya sendiri. lalu dimasak dan dimakannya. dasar anak tidak tahu balas budi. 106 .. namun setelah didesak oleh Dayang Sumbi. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sinuk (sinduk) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala Sangkuriang terluka. Dayang Sumbi merasa heran karena Si Tumang menghilang.!” hardik Dayang Sumbi. suaminya sekaligus ayahnya Sangkuriang. Keesokan harinya. Sangkuriang pun pergi mengembara mengelilingi tatar Parahyangan. Lalu ditanyakanlah kepada Sangkuriang. akhirnya ia pun mengaku.dibunuhnya Si Tumang oleh Sangkuring. Hati Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi. Selama pengembaraannya..

Maka terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan tersebut. 107 . Dayang Sumbi kaget ketika di kepala Sangkuriang terdapat luka bekas pukulan sinduk. Karena Sangkuriang sudah lama tidak bertemu sejak kecil. Lama Sangkuriang mengembara. Lalu Dayang Sumbi pun mengelus-elus kepala Sangkuriang. Bahkan bangsa siluman dan jin pun takluk kepadanya. Begitupun Dayang Sumbi. Pada suatu sore yang indah. tidak mengetahui bahwa laki-laki tampan yang ditemuinya adalah Sangkuriang anaknya sendiri. ia pun tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. sebelum akhirnya tiba kembali di ranggon Dayang Sumbi. Yang ada hanyalah gejolak perasaan bahwa laki-laki tersebut tampan dan bisa menjadi pelindungnya. seperti halnya sepasang dua kekasih. Ketika itu. ibunya sendiri. Sangkuriang tiduran di atas lahunan (pangkuan) Dayang Sumbi. Tanpa sengaja.Sangkuriang banyak berguru ilmu kesaktian. Sangkuriang pun bermesraan dengan Dayang Sumbi.

. engkau harus penuhi syaratnya. “Sangkuriang.” pinta Dayang Sumbi. “Apa syaratnya. karena dihadapannya sosok perempuan muda.ha.” 108 Maka diajukanlah syarat kepada sekali syaratmu itu. Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi agar mau dinikahinya.gampang Sumbi. bukan tua seperti bayangan terhadap ibunya selama ini. Sumbi?” “Buatkanlah aku sebuah danau dan perahu untuk berlayar di atasnya. .... kemudian Dayang Sumbi mencari akal agar maksud Sangkuriang tidak kesampaian. segera Dayang Sumbi menyampaikannya pada Sangkuriang. Sangkuriang. Karena tidak percaya. Namun Sangkuriang tidak percaya.” “Ha. apabila mau menikahiku. bahwa ia adalah putranya yang telah lama pergi. Melihat gelagat yang kurang baik tersebut...Mengetahui hal itu.ha. Demikian karena Dayang Sumbi mempunyai ilmu kajayaan (awet muda).

Dalam pengerjaannya.” “Tidak permintaanmu entengnya. Sangkuriang dibantu oleh siluman dan jin taklukannya. Sekitar pukul 1 pagi. Maka mulailah masalah. Di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon tarum. sehingga kelak penduduk sekitar menyebut sungai tersebut dengan nama Citarum. Menjelang tengah malam Citarum pun sudah terbendung. Terbentuklah danau yang sangat luas. danau dan perahu tersebut harus selesai dalam waktu satu malam suntuk.” aku akan selesaikan dengan jawab Sangkuriang Sangkuriang membuat perahu.“Ingat Sangkuriang. 109 . Dibantu pula oleh gajah dan harimau dalam memindahkan pohon yang akan dipakai untuk membendung Citarum. Sangkuriang segera menebang pohon untuk membuat perahu. itu. Maka segera saja Sangkuriang membuat danau dengan cara membendung sebuah sungai besar yang mengaliri hutan belantara di mana Dayang Sumbi tinggal.

melenguhlah banteng.” kata Dayang Sumbi. Disangkanya fajar mulai merekah di ufuk timur. segera Dayang Sumbi mencari akal agar rencana Sangkuriang dapat digagalkan. dan menurut perkiraannya. Kontan saja hewan-hewan yang berada di hutan kaget dan menyangka waktu sudah pagi. Artinya dalam semalam suntuk. “Sangkuriang. Lalu ia pun mengeluarkan boeh rarang (kain berwarna putih yang dapat mengeluarkan cahaya). lihatlah sekelilingmu. Setelah dikibaskan. Dengan kenyataan itu. Nampaknya waktu sudah pagi. 110 . artinya engkau gagal memenuhi syaratku.Sementara di ranggonnya. Sangkuriang dapat mengabulkan syarat yang diajukannya yakni membuat danau dan perahu. Berkokoklah ayam. Dayang Sumbi segera khawatir melihat danau sudah terbentuk. perahu pun akan segera selesai. dan berkicaulah burungburung. maka dari kain tersebut keluar cahaya seperti kilatan emas.

Dilihatlah lingkungan sekitar oleh Sangkuriang. ketika sedang dikejar. yang artinya parahu nangkub (perahu terbalik). Kemudian Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. Ia pun tersentak kaget. Berubahlan perahu tersebut menjadi sebuah gunung yang kini disebut Gunung Tangkuban Parahu. Ditendanglah parahu „perahu‟ yang hampir selesai itu oleh Sangkuriang dan nangkub „telungkup‟ di sebelah utara danau. berubah menjadi Gunung Bukit Tunggul. Adapun tunggul atau pangkal pohon yang batangnya dibuat perahu. Dayang Sumbi sebagai seorang putri mendadak menghilang di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Putri. sedangkan rangrang (ranting) dari pohon tersebut terkumpul di sebelah barat dan berubah menjadi Gunung Burangrang. Mulailah keluar rasa kesal dan marah. Segera ia sadar bahwa dirinya telah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. Namun. 111 .

Bekas bendungan sungai Citarum itu kini berada di Padalarang yang dikenal dengan nama Sanghyang Tikoro. Tempat itu sekarang disebut Ujungberung. Sumbat bendungan itu melayang sampai akhirnya berubah ke sebelah timur. yang berarti ujungna (tempat berakhirnya) perasaan Sangkuriang yang ngaberung (mengikuti) hawa nasfu untuk menikahi ibunya sendiri. tetap saja Sangkuriang tidak menemukan Dayang Sumbi. menjadi Gunung Manglayang. Kemudian ia pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Di tempat itu.Meskipun dibantu bangsa siluman dan jin. Sangkuriang pun menjebol sungai Citarum dengan cara melemparkan sumbat bendungan yang terbuat dari pepohonan dan batu-batu besar. hingga sampailah di suatu tempat. kemudian Sangkuriang ngahyang (menghilang ke alam gaib). 112 . Seolah Dayang Sumbi hilang ditelan bumi. Akhirnya Sangkuriang putus asa. Sebelumnya.

Seiring waktu. kata Bandeng pun berubah menjadi Bandung seperti dikenal hingga sekarang. berasal dari kata ngabandeng yang berarti genangan air danau yang luas. *** *) Legenda ini terkadang diberi judul Sangkuriang Kabeurangan (Kesiangan) atau Sasakala Bandung Purba. Seiring perkembangan waktu. air danau pun mulai surut kembali. Kemudian berubah menjadi Bandeng. 113 . Ini untuk menyebut danau yang dibuat Sangkuring pada waktu itu. Daerah itu kemudian disebut Bendung. yang berasal dari kata dibendung-nya Citarum oleh Sangkuriang. Dalam hal penulisan nama Sangkuriang: ada yang disatukan. ada pula yang dipisahkan (Sang Kuriang). lalu banyak ditempati pendatang dari berbagai daerah karena tanahnya subur.

Pada suatu hari. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Raja Jayadilaga. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain berniat melamarnya. Ia pun memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Mayang Sawitri. Ia merasa khawatir para raja dan ksatria yang ditolak lamarannya akan merasa sakit hati dan kemudian akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang kerajaan Sindangsari. Namun semuanya ditolak oleh Putri Mayang Sawitri dengan bermacam-macam alasan. SASAKALA CIGONDEWAH Dahulu kala.2. Kecantikan Putri Mayang Sawitri pun tersiar ke mana-mana. Adapun rajanya bernama Baginda Raja Singa Mandala. Tentu saja Baginda Raja Singa Mandala merasa bingung. datanglah rombongan pelamar dari kerajaan Margaasih. terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangsari. 114 . Ia terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana.

paduka raja. Putri Mayang Sawitri: “Bagaimana.“Ada apakah gerangan Raja Jayadilga menemuiku?” kata Raja Singa Mandala di ruang keraton. Sebagai tanda lamaran. bersediakah dipersunting hamba?” “Euh. “Kalau begitu niat paduka. aku hanya bisa menyerahkan keputusan lamaran ini pada putriku langsung. Karena kesal. sebelumnya aku mohon maaf. kami membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi dari kerajaan Margaasih. anakku?” Putri Mayang Sawitri lama menundukkan kepala.” 115 . “Bagaimana tuan putri.” kata Raja Singa Mandala sambil melirik pada putrinya. “Maksud kami untuk melamar putrimu yang cantik jelita itu. akhirnya Raja Jayadilaga mengulang pertanyaan Raja Singa Mandala.” jawab Raja Jayadilaga dengan tegas dan penuh harap.

Ia tidak dapat berkata apa-apa. keesokan harinya Raja Jayadilaga mengerahkan seluruh pasukannya dari kerajan Margaasih. karena tuan putri tidak punya salah apa-apa padaku. tentu saja Raja Singa 116 . untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaran paduka raja. Kemudian Ia bertitah: “Tunggu kedatangan pasukanku!” Melihat kejadian tersebut. Sebagai raja yang ingin akan segera menyerang kerajaan mempertahankan kedaulatan. “Eum. Sesuai dengan prediksi.” kata Raja Jayadilaga dengan penuh kesabaran. Ketakutannya yang utama ialah kerajaan Margaasih Sindangsari.“Tidak usah minta maaf. Bahkan hatinya semakin diliputi rasa cemas.” “Apa…?!!” Raja Jayadilaga tersentak kaget. Seketika ia berdiri dan pergi tanpa permisi keluar dari ruangan keraton diikuti oleh rombongan lainnya. Raja Singa Mandala hanya duduk terpaku kaku di singgasana.

Hal ini dikarenakan jumlah pasukan dari kerajaan Margaasih lebih banyak jumlahnya dan senjatanya pun lebih lengkap. Senjata mereka terdiri dari bedog (golok). Pasukan Margaasih semakin mendekati perbatasan. Sangkakala perang sudah ditiup. Namun setelah dua hari berperang. Pertempuan kedua kerajaan pun berlangsung sengit. Ksatria-ksatria pilih tanding kerajaan Sindangsari tidak mampu menahan gempuran pasukan 117 . pedang. Namun nampaknya pasukan kerajaan Margaasih lebih kuat ketimbang kerajaan Sindangsari. Banyak prajurit yang gugur di medan perang. Seluruh pasukan Sindangsari pun sudah siap menghalau. tanda peperangan akan segera dimulai. Seluruh pasukan Sindangsari segera ditempatkan di daerah perbatasan. akhirnya pasukan kerajaan Sindangsari terdesak. Darah berceceran di mana-mana. Pagi itu cuaca sangat cerah.Mandala pun menyiapkan pasukannya. dan gondewa atau jamparing (panah). Peperangan pun terjadi.

ia pun berhasil memperluas kekuasannya dengan cara menyatukan wilayah kerajaan Margaasih dengan Sindangsari. Melihat ayahnya telah tewas.” gumamnya dengan yakin. Putri Mayang Sawitri langsung mencabut keris dengan niat untuk labuh geni (bunuh diri). 118 . Selain itu. Selanjutnya Raja Jayadilaga merubah nama Sindangsari menjadi Cigondewa. sebaliknya Raja Jayadilaga merasa senang atas kejadian tersebut. Putri Mayang Sawitri pun meninggal oleh kerisnya sendiri. Berbeda dengan rakyat Sindangsari yang berduka. Sesaat setelah berucap dan menancapkan keris ke perutnya.Margaasih. Bahkan Raja Singa Mandala pun akhirnya terbunuh dalam peperangan tersebut. “Aku lebih baik mati ketimbang dipersunting oleh raja yang telah membunuh ayahku. Ia merasa telah berhasil membalas kepedihan hatinya yang ditolak oleh Putri Mayang Sawitri.

*** pun kemudian berubah menjadi penduduk mengikuti pengucapan 119 .“Aku Cigondewa. setempat. Alasan diubahnya nama Sindangsari menjadi Cigondewa. Nama Cigondewa Cigondewah. karena setelah peperangan terjadi. Darah tersebut berasal dari tubuh prajurit Sindangsari yang terbunuh oleh panah dan gondewa pasukan Margaasih. Raja Jayadilaga melihat banyak darah berceceran bagaikan cai (air).” ujar Raja Jayadilaga di depan seluruh penduduk Sindangsari. kerajaan Margaasih pun semakin berkembang pesat. ubah Wilayah nama ini Sindangsari pun sekarang menjadi menjadi taklukanku. Setiap tahun mereka menyerahkan upeti kepada Prabu Siliwangi karena berada di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Semakin lama.

banyak raja dan ksatria tertarik untuk melamar dan mempersuntingnya. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ki Patih kerajaan Subangkala. begitulah titahnya. yang ketiga bernama Embah Naibah. Sementara rombongan sedang di 120 . berangkatlah rombongan dari kerajaan Subang menuju ke kampung Babakan.3. Maka segera. dan yang bungsu bernama Embah Naidah. Keesokan harinya. yang kedua bernama Embah Setayu. Berkat kecantikannya itulah. “Apabila menolak. culik dengan cara paksa!”. SASAKALA KAMPUNG MARONGGE Hiduplah empat orang putri yang cantik jelita serta memiliki kesaktian tinggi di sebuah kampung bernama Babakan. Putri yang sulung bernama Embah Gabug. Raja Subangkala memerintahkan patihnya untuk melamar ke kampung Babakan. Salah satunya ialah Raja Subangkala dari kerajaan Subang. Ia berniat melamar Embah Gabug.

“Bangunlah kalian semua! Dari mana dan apa keperluan kalian datang ke Kampung Babakan?” Ki Patih pun segera menjawab dengan nada sinis. Ia adalah puteri 121 .perjalanan. ia diberitahu oleh Hyang Widi. Di dalam semedinya. setelah semua rombongan tertidur. di kampung Babakan Embah Gabug sedang bersemedi. Embah Gabug pun segera memakai kesaktiannya untuk memperdaya rombongan dari kerajaan Subang tersebut. Setelah mengetahui hal itu. Diutus oleh Gusti Raja Subangkala untuk melamar seorang puteri yang tinggal di Kampung Babakan. “Aku Ki Patih dari Kerajaan Subang. Dibangunkanlah seluruh rombongan tersebut. seluruh rombongan mendadak kelelahan dan tertidur pulas di batas menuju Kampung Babakan. Benar saja. lalu dihampiri oleh Embah Gabug. bahwa akan ada rombongan yang sedang berada dalam perjalanan dengan maksud dan tujuan jahat. Sesaat kemudian.

tidak puteri. Menurut titahnya. Sekarang pulanglah dan sampaikan pada raja “Apa “Aku kalian.” syaratnya. apabila lamarannya ditolak. Ia pun langsung diterima oleh putri Embah Gabug di muara sungai 122 . Apakah puteri menginginkan banyak intan permata?” menginginkan haliyah dunya (kekayaan). Apabila raja kalian dapat memenuhi syarat tersebut.” Beberapa hari kemudian. Embah Gabug pun menjawab dengan tenang dan tegas. aku akan menerima lamarannya. bahwa aku mau menerima lamarannya dengan satu syarat.” Mendengar jawaban dari Ki Patih.Embah Gabug. Aku hanya menginginkan raja kalian dapat mengembalikan kukuk*) yang akan dilempar ke sungai Cilutung. Kalian semua telah memiliki niat jahat. putri tersebut harus dipaksa dan diculik ke Subang. Kalian tadi tertidur terkena ilmuku. “Akulah puteri Embah Gabug yang dimaksud itu. datanglah Raja Subangkala ke kampung Babakan.

Segera saja Raja Subangkala mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengembalikan kukuk yang telah terbawa arus sungai. kukuk ini akan kulemparkan agar terbawa arus ke hilir.Cilutung dan Cideres. Melihat kenyataan demikian. “Kanjeng Raja. Oleh karena itu. Setelah semuanya siap. yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Panyaweuyan. lalu ia menantang Embah Gabug untuk mengembalikan 123 . Raja Subangkala pun merasa malu. apalagi mengembalikan ke hadapan Embah Gabug. Namun air sungai semakin deras. Kembalikanlah kukuk tersebut ke hadapanku.” kata Embah Gabug. Raja Subangkala pun tidak sanggup menahan lajunya kukuk. Kukuk pun terbawa arus air menuju ke hilir sungai. maka dilemparkanlah sebuah kukuk oleh Embah Gabug ke tengah-tengah derasnya air sungai Cilutung. Kesaktiannya telah berhasil dikalahkan oleh seorang perempuan.

Kacamatan Kadipaten Majalengka. Kukuk melesat dari hilir. Dengan karembong sakti cinde wulung. ia pun mengembalikan kukuk. mulailah tersiar kabar ke mana-mana bahwa Raja Subangkala dikalahkan oleh Embah Gabug. Desa Bonang. Bahkan akhirnya terpental pada sebongkah cadas (sejenis tanah liat) yang teksturnya datar menyerupai mejatulis di sebelah Raja Subangkala berdiri. kalau engkau sakti. Malahan terkenal dengan sebutan Pelet Marongge.kukuk yang telah terbawa arus sungai tersebut ke hadapannya. membelah arus sungai. berada di kampung Prunggawul. mulai dikenal istilah pelet (ilmu asihan) si kukuk mudik dari kampung Marongge. Semenjak itu pula. “Hai putri. coba kembalikan kukuk yang terbawa arus itu ke hadapanku!” Embah Gabug pun menuruti perintah Raja Subangkala. Tempat inilah yang sekarang disebut Cadas Meja. Adalah Raja Bugang Geureung dari kerajaan Pasiripis yang penasaran atas 124 . Beberapa hari setelah kejadian itu.

Itulah syarat yang diajukan oleh Embah Gabug untuk siapa saja yang ingin mempersuntingnya. akhirnya Embah Gabug memutuskan untuk pergi dari kampung Babakan. Kepergiannya tersebut tanpa sepengetahuan penduduk kampung Babakan. Namun pada akhirnya. Kini kukuk dilempar oleh Embah Setayu. tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi persyaratan tersebut.kabar tersebut dan berniat menjajal kesaktian Embah Gabug. Bahkan saudara-saudaranya pun tidak diberitahu. Raja Bugang Geureung pun tidak mampu mengembalikan kukuk ke hadapan Embah Setayu. Namun seperti halnya Raja Subangkala. Dengan kenyataan demikian. Oleh Embah Gabug. Pelaksanaan melempar kukuk pun dimulai. tawaran Raja Bugang Geureung tersebut diterima dengan syarat akan diwakilkan pada adiknya Embah Setayu. Raja Bugang Geureung pun kemudian mengajukan tawaran pada Embah Gabug. 125 . Ia lalu mencari tempat yang baik untuk bersemedi.

mereka bertiga berniat untuk mencari kakaknya yang pergi tanpa pamit. Naibah. berkat kekuasaan Hyang Widi. dan Naidah. 126 . Maka dipeluklah tubuh Embah Gabug oleh adik-adiknya. Hingga suatu ketika. Perempuan tersebut ternyata Embah Gabug. Setelah memakan buah laja. dan Naidah! Kakakmu akan sembuh apabila memakan buah laja yang tumbuh di bukit ini!” Maka dicarilah buah laja oleh Embah Setayu. Hingga pada suatu malam.Tentu saja membuat sedih Embah Setayu. Setayu. Naibah. mereka bertiga sampai ke sebuah bukit yang bernama Gunung Hade. Sesaat kemudian. kakaknya sendiri. mereka bertiga menemukan seorang perempuan terkapar karena sakit. Embah Gabug pun sembuh kembali. Berangkatlah mereka bertiga berkelana. Di puncak bukit itulah. “Kenapa kita ada di sini? Siapa yang telah berhasil menyembuhkanku?” kata Embah Gabug. terdengar suara gaib: “Hai.

Oleh adik-adiknya lubang tersebut ditutupi oleh rengge (sejenis ranting bambu haur) yang tumbuh di sekitar bukit. Embah Gabug pun ditinggal pergi oleh adik-adiknya. Suatu saat nanti. Sudah barang tentu seluruh penduduk menyambutnya dengan suka cita. pada malam Jumat Kliwon. Beberapa bulan kemudian. kalian juga akan menetap di bukit ini. mereka membuat lubang tepat di atas tempat terkaparnya Embah Gabug dulu. Sesampainya di sana. Setelah itu tiba-tiba terdengar kembali suara gaib: “Kalian jangan kaget. Kemudian Embah Gabug masuk ke lubang tersebut. Setelah itu. pergilah!” Setelah mendengar suara gaib. keempat putri bersaudara itu pergi berjiarah ke gunung Hade.Diceritakanlah seluruh kejadian yang telah menimpa oleh Embah Setayu. Embah Gabug dan ketiga adiknya pun kembali ke kampung Babakan. aku adalah Haji Putih Jagariksa yang menguasai bukit ini. Sekarang. 127 .

Semenjak itulah. Adik-adiknya pun merasa sedih. tempat tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Merongge. Kebanyakan pengunjung berjiarah dengan maksud 128 . Lalu diperiksalan lubang yang mengeluarkan cahaya merong tersebut. berangkatlah mereka bertiga ke gunung Hade dengan maksud untuk melihat sang kakak. Ternyata lubang tersebut kosong. yang berasal dari kata merong dan kata rengge. karena terlalu lama ditinggal sang kakak. keluar cahaya yang merong (bersinar) kekuningkuningan seperti kilatan emas. Sesampainya di puncak. Seiring perjalanan waktu. mereka kaget karena dari lubang yang ditutupi rengge waktu itu. kemudian berubah menjadi Marongge. Kini kampung Marongge menjadi tempat jiarah. Embah Gabug yang pernah masuk ke lubang itu pun didapati oleh ketiga adiknya telah menghilang.Sekian lama Embah Gabug terkubur dalam lubang di puncak gunung Hade. Hingga pada suatu malam.

nama tumbuhan sejenis labu. konon sampai akhir hayatnya keempat gadis tersebut tidak pernah menikah. oleh orang tua biasa dipakai untuk wadah cai (tempat mengambil air) dengan cara dilubangi dekat lehernya (karena bentuknya yang berleher sepert kendi). 129 . Buahnya yang sudah tua. *** (Sumedang) *) kukuk.agar cepat mendapat jodoh atau bertapa untuk memiliki ilmu pelet si kukuk mudik. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Bunganya berwarna putih dan buahnya berbentuk kendi.

Mereka semua masuk agama Islam. Semua penduduk yang ada di sana kemudian mengikuti ajaran Guru Aji Putih tersebut. Kemudian datanglah seorang pengelana yang beragama Islam bernama Guru Aji Putih. SASAKALA SUMEDANG Dahulu kala. datanglah rombongan pengelana dan paninggaran (pemburu) ke sebuah tempat di tengah hutan belantara di tepi sungai Cimanuk. Salah seorang yang ikut dalam rombongan resi itu ada yang bernama Sanghiyang Resi Agung dari kerajaan Galuh. yang kini bernama Leuwihideung. Kemudian datang pula golongan resi yang menyebarkan agama. 130 . Termasuk resi yang awalnya memeluk agama karuhun. Semenjak itulah kemudian Guru Aji Putih diangkat menjadi raja di perkampungan tersebut dan kerajaanya diberi nama Tembong Agung.4. Resi Agung lalu membuat padepokan di tepi sungai Cimanuk tersebut.

Dalam menjalankan pemerintahan. Ia pun kemudian diberi gelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana. kerajaan Tembong Agung semakin berkembang pesat. ia bingung harus membagi tahta kerajaan. yakni Prabu Lembu Agung.Guru Aji Putih disebut pula Guru Haji Putih. Namun ada yang mengganjal dalam hati Prabu Tajimalela. Bergelar haji karena ia pernah berangkat ke Mekah. Guru Haji memiliki seorang putra bernama Tajimalela. Putranya inilah yang kemudian meneruskannya menjadi raja di Tembong Agung. Ini karena Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra. 131 . Seluruh rakyat hidup damai dan sejahtera. Prabu Tajimalela pun terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Ia pun kelak akan disebut Haji Darmaraja. sehingga musuh-musuhnya selalu kalah dalam berperang. Prabu Gajah Agung. Semakin lama. dan Sunan Geusan Ulun. Prabu Tajimalela terkenal adil palamarta.

Namun ia tidak mau menjadi raja dan malah menyerahkan kepada adiknya Gajah Agung. Sesampainya di sana. Adapun Sunan Geusan Ulun ketika itu masih burey (kecil). Prabu Tajimalela menyuruh kedua anaknya untuk menunggui sebilah bedog dan dawegan (kelapa muda). Nanti kita lihat apa yang terjadi. 132 .Pada mulanya Prabu Tajimalela berniat menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua Lembu Agung. Dengan hati gundah. Dalam kebingungan itu.” kata Prabu Tajimalela. “Jaga bedog dan dawegan ini. Prabu Tajimalela mendapat wangsit. akhirnya Prabu Tajimalela menyuruh kedua putranya itu menuju puncak Gunung Sangkan Jaya. Akan tetapi Gajah Agung pun menolak karena tidak mau menjadi raja. pada suatu malam. Dalam wangsitnya Prabu Tajimalela harus menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu putranya dengan terlebih dulu mengadakan ujian atau pasanggiri (sayembara) di puncak gunung Sangkan Jaya.

aku akan mandi dulu.” Lembu Agung pun segera pergi meninggalkan adiknya. Gajah Agung. Ia pun berniat untuk mandi dulu ke sungai yang berada di lembah gunung. Karena cuaca sangat terik. Ia menuju sungai yang berada di lembah gunung untuk mandi sekedar menghilangkan gerah. Ditenggaklah air dawegan tersebut sampai habis. Sementara Gajah Agung. Kamu tetap jaga bedog dan dawegan ini. “Adikku. akhirnya Lembu Agung merasa gerah dan tidak kuat oleh cahaya matahari. “Ya.” kata Lembu Agung pada adiknya.Dijagalah bedog dan dawegan itu oleh Lembu Agung dan Gajag Agung. Kakang. Gajah Agung pun kemudian membelah dawegan yang ada di hadapannya dengan bedog yang ada di hadapannya pula. Maka dengan yakin. lama kelamaan merasakan pula kegerahan dan rasa dahaga. 133 . memang sinar matahari sungguh terik menyengat tubuhnya. Hari itu.

“Bagaimana. Lalu Lembu Agung dan Gajah Agung menceritakan kejadian yang mereka alami masing-masing. Akhirnya dawegan ini pun ku belah. Aku hanya tidak kuat saja menahan dahaga. 134 . Lalu ia pun bertanya pada adiknya. Gajah Agung harus mencari ibukota sendiri. adikku.” “Ya. akhirnya Prabu Tajimalela menyerahkan tahta kerajaan pada anaknya yang kedua. Kakang. Kenapa dawegan ini terbelah? Ada kejadian apa?” “Tidak ada kejadian apa-apa. Maka dengan yakin.Sesaat setelah menenggak air dawegan. Lembu Agung. Nanti kita ceritakan kejadian ini pada rama Prabu. sudahlah. kemudian Lembu Agung datang. Dengan syarat. dan airnya telah ku minum. Sedangkan kerajaan Tembong Agung akan tetap diserahkan pada anaknya yang pertama. Gajah Agung.” Sesaat kemudian datanglah Prabu Tajimalela.

Ciguling. Lembu Agung pun berucap. “Aku hanyalah darma ngarajaan saja. Ungkapan inilah yang kelak menjadi salah satu nama daerah yang disebut Darmaraja. Karena itu. sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun.” Kata darma ngarajaan adalah ungkapan bahasa Sunda yang berarti siap bertugas menjadi raja. Setelah menyerahi tahta kerajaan pada anaknya. kelak ia pun akan menjadi raja dan resi. Selanjutnya ia membangun ibukota kerajaan di Leuwihideung. Ia pun dikenal memiliki keris yang sangat ampuh dengan nama Ki Dukun. Adapun Sunan Geusan Ulun. Pusaka Keris ini. kemudian Prabu Tajimalela pun melakukan semedi 135 . Pasanggrahan.Atas keputusan ayahnya itu. sekarang Sumedang selatan. Pada saat diserahi kekuasaan di Tembong Agung itu. Sementara itu. ia disebut juga Prabu Pagulingan. Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung. akhirnya Prabu Gajah Agung dinobatkan menjadi raja.

dan tiada bandingannya.sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta. Prabu Tajimalela melihat keajaiban alam di sekitar kerajaan Tembong Agung. Pada malam ketiga. Ia bersemedi selama tiga hari tiga malam. Tajimalela bersabda kepada seluruh rakyatnya: “Insun medal. insun madangan. Nama kerajaan Tembong Agung pun berubah namanya menjadi Sumedanglarang. Ia melihat langit menjadi terang benderang oleh cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malela). Sabda Prabu Tajimalela tersebut artinya ialah “aku lahir untuk memberi penerangan. *** 136 . yang artinya tanah bagus.” Semenjak itu pula. Ibukotanya pun dipindahkan ke Kutamaya. kemudian Prabu Tajimalela mulai mengajarkan kepada seluruh rakyatnya ilmu kasumedangan. sebelah selatan alun-alun Sumedang sekarang.” sabdanya. yakni Sumedang. Nama Sumedanglarang pun oleh penduduk setempat disebut awalnya saja. Saat itulah. luas. Nama inilah yang kemudian dikenal hingga sekarang.

Ia merasa sungkan karena hanyalah rakyat biasa. SASAKALA WILAYAH PRIANGAN TIMUR 1. dalam perjalanan pengelanaannya. SASAKALA BANJAR PATROMAN Tersebutlah seorang pemuda pengelana yang berasal dari Mataram bernama Adananya. Adananya pun melamar gadis tersebut pada ibunya. sehingga kakinya berdarah.B. Gadis cantik tersebut pun akhirnya melarikan diri dari rumah ibunya ke arah barat. namun ibunya tidak mengijinkan karena ia mengetahui bahwa Adannya seorang Raja dari Mataram. Adananya pun terus mengejarnya. ia terpikat oleh seorang gadis cantik di sebuah kampung bernama Pataruman. karena melihat banyaknya 137 . gadis tersebut terjerat areuy di hutan belantara. Pada saat itulah Adananya menamai daerah tersebut dengan nama Cibeureum. Dalam pelariannya. dengan mengikuti jejak bercak darah gadis yang menempel pada areuy. Singkat cerita.

Dalam pertarungan itu.bercak darah pada areuy layaknya air yang berwarna merah. Di tempat itu. kemudian Adananya mengetahui bernama bahwa Dalem pemuda penolong atau tersebut Raden Tambakbaya Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi III. yang kini dinamakan Tepung Kanjut. kemudian Adannya dan pemuda penolong tersebut bertarung adu kesaktian. Bertemu dalam bahasa Sunda disebut tepung dan kelamin lelaki disebut kanjut. Adapun Adananya adalah seorang ulama penyebar agama Islam dari Mataram yang sebenarnya bernama Kanduruan Pandusaka 138 . Pemuda tampan itu pun kemudian mencegat Adananya di sebuah bukit. yang berarti tempat bertemunya dua orang lelaki. Ia adalah Raja Galuh Kertabumi yang beribukota di Liung Gunung. datanglah seorang pemuda tampan berniat menolong. yang kini menjadi nama sebuah kampung di kecamatan Manonjaya. Pada saat Adananya mengejar sang gadis.

Namun. gadis cantik tersebut berlari secepat kilat ke arah tenggara. Tambakbaya dengan gerak cepat segera menghalaunya. Mungkin juga berasal dari kata pangudagan. terkejar oleh Tambakbaya. sedang beristirahat karena kelelahan. kesaktian keduanya seimbang. Kembali pada kisah pertarungan Adananya dan Tambakbaya. Kedua pemuda 139 . keduanya pun kembali mengejar sang gadis. Sejak itulah tempat tersebut sampai sekarang disebut Pangadegan. Akhirnya. yang berarti tempat untuk mengejar. Sementara. Ketika Adananya sedang berdiri (bahasa Sunda: ngadeg). Adananya dan Tambakbaya adu kecepatan berlari dengan kesaktiannya masingmasing. Adapun gadis yang sedang dikejar mereka. Di dalam pertarungan itu. Hingga di suatu tempat. Selama pengejaran. ketika Adananya akan menangkapnya. Kemudian dikejar oleh Adannya dan Tambakbaya.Sarikusumah yang kelak dipusarakan di situs Pandusaka Batulawang.

Ternyata ibunya pun turut mengejar saat ia melarikan diri pada saat itu. ibunya sempat bertemu dengan Adananya yang sedang kaget melihat Tambakbaya menghilang di kampung Jelat. Berasal dari kata sajorélat. Sementara itu. “Mana laré?”. Tambakbaya dapat menghindar dengan cara menghilang memakai ajian halimunan. yakni pukulan saketi. Tapi. yang sekarang dinamakan kampung Jélat. Tempat menghilangnya sosok Tambakbaya itulah. Namun sesampainya di sana. Kini perjalanannya mengarah kembali ke rumah ibunya. Sehingga kelihatannya ngan sajorélat atau hanya sekejap mata. Langsung saja ibu gadis tersebut bertanya dalam bahasa Jawa ke Adananya.itupun kemudian bertarung kembali. gadis yang dikejar oleh Adananya dan Tambakbaya terus berlari. yang artinya menghilang sekejap mata atau secepat kilat. Dalam pengejarannya. ibunya didapati sudah tidak ada. Adannya mengeluarkan ilmu pamungkasnya. katanya kepada Adananya. 140 .

“Gadis itu memang lebih sakti dariku. sekarang dinamakan kampung Mandalaré. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Ia sebenarnya bukan anak sang ibu. Kenapa sang gadis tidak terkejar oleh Adananya dan Tambakbaya? Ternyata gadis tersebut memiliki kesaktian yang lebih tinggi. “Ke sana. tibalah Tambakbaya yang juga kelelahan. ke arah selatan. Setelah itu. Adananya pun ngarandeg (berhenti) untuk beristirahat.” gumam Adananya. kini mereka tidak bertarung. Sesaat kemudian. juga dari ucapan sang ibu: mana lare. tapi putri dari kerajaan Galuh yang bernama Ni Nursari.” timpal Adananya.Maksudnya menanyakan ke mana arah larinya anaknya. Tempat perhentian itu kemudian dinamai kampung Randegan. 141 . berasal dari Mandala laré. Tempat dialog antara Adananya dengan ibunya sang gadis tersebut.

sedangkan Tambakbaya tetap ingin menolong Ni Nursari dari paksaan Adananya. Lalu menyeberangi sungai Citanduy. Semakin lama. Adananya dan Tambakbaya pun terus mengejarnya. Berasal dari kata papaduan. mereka pun kembali mengejar Ni Nursari. ketiganya pun ngaleungit (menghilang). Sementara itu. Cukup lama Adananya dan Tambakbaya beristirahat di kampung Randegan. Adannya tetap berpendirian ingin memperistrinya. Sepanjang jalan mereka terus beradu pendapat mengenai Ni Nursari yang sedang dikejarnya. sungai Citanduy pun semakin ramai disinggahi para bandar (pedagang) dari kerajaan 142 . namun Ni Nursari larinya lebih cepat. Di sebrang sungai.Karena tenaga keduanya sama-sama sudah terkuras habis. Jalan sepanjang Adananya dan Tambakbaya beradu pendapat itulah yang sekarang dikenal dengan nama kampung Cikadu. Ni Nursari lari ke arah utara. yang berarti berselisih pendapat. Setelah itu.

Semakin lama. Sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama pataruman atau tempat tarum. sebagai pangeling-eling atas peristiwa pertarungan antara Adananya dan Tambakbaya memperebutkan Ni Nursari pada saat itu. Konon kata pataruman berasal dari kata patarungan. Bahasa yang digunakan penduduk pun bercampur. Adapun kampung tempat Ni Nursari dan ibu angkatnya tinggal selanjutnya dinamakan kampung Bandar Pataruman. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di kampung itu banyak ditanami pohon tarum. Daerah di tepi sungai Citanduy pun kemudian dikenal dengan nama kampung Bandar (pedagang atau pusat perniagaan). kampung Bandar pun semakin banyak disinggahi bandar-bandar (para pedagang) dari Mataram.Galuh dan Mataram. yang oleh penduduk setempat disebutnya basa Jawa réang. yakni sejenis tanaman nila yang pada masa kolonial dijadikan tanaman paksa. antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa. 143 .

kampung Banjar yang letaknya di pinggir sungai Citanduy itu telah berkembang menjadi sebuah kota yang membatasi wilayah antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah.Semakin lama. Nama Bandar Pataruman pun berubah menjadi Banjar Patroman. Di antara para pedagang itu banyak berjodoh dengan penduduk setempat dan banyak pula yang bermukim. adakalanya kampung Banjar Patroman pun disebut Banjar saja. *** 144 . kampung Bandar Pataruman pun semakin ramai disinggahi para pedagang dari kerajaan Galuh dan Mataram. Namun. Kini. karena pada waktu itu banyak diucapkan salah oleh pendatang dari Mataram.

Banyak raja dan ksatria yang melamarnya. Lalu ia pun 145 . Kanjeng Sinuhun. Tetapi seperti sebelumnya. karena merasa anaknya tidak pantas mendapatkan seorang raja. raja kerajaan Banyumas. SASAKALA CIJULANG DAN PANTAI BATUHIU Dahulu kala. Tentu saja penolakan dari Aki Gede tersebut membuat sakit hati Kanjeng Sinuhun. sedangkan yang bungsu seorang putri yang sangat cantik jelita. namun selalu saja ditolak oleh sang putri. yang sulung seorang laki-laki bernama Sang Lawangjagang. Pasangan keluarga tersebut memiliki dua orang anak. di wilayah kekuasaan kerajaan Banyumas hiduplah keluarga bahagia pasangan Aki Gede dan Nini Gede. termasuk salah seorang yang menyukai sang putri. lamaran itu pun ditolak oleh Aki Gede. Maka Kanjeng Sinuhun pun segera mengajukan lamaran pada Aki Gede dan Nini Gede. Aki Gede merasa bahwa putrinya hanyalah keturunan rakyat biasa dan tidak mungkin menjadi permaisuri seorang raja.2.

Di sana. Nini Gede. Berangkatlah Aki Gede. putri. terus bertambah menjadi lima rumah. 146 .memerintahkan kepada patihnya untuk mengusir Aki Gede beserta seluruh keluarganya dari wilayah kerajaan Banyumas. Maka tibalah rombongan Aki Gede ke sebuah tempat yang teduh dan terdapat mata air. dan seluruh kerabatnya meninggalkan wilayah kerajaan Banyumas. Dari sana. Mulanya hanya dibangun satu rumah. perjalanan pun dilanjutkan menuju ke arah selatan. mereka segera ngababakan (membuka lahan baru) untuk membangun perkampungan. Rombongan itu pergi ke arah Barat. Setelah itu. rombongan Aki Gede pun sampailah ke tepi sungai di batas kerajaan. Tempat itulah yang kelak dikenal dengan nama Hanjatan Cimanganti. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam. kemudian bertambah pula dengan dibangunnya sebuah surau. rombongan hanjat (menyeberangi) sungai.

Aki Gede menyuruh anaknya yang sulung untuk mengurus Padepokan Karasanbaya. Lalu ke arah selatan dan ngaso (beristirahat) di suatu tempat yang juga terdapat mata air yang banyak pohon kasonya. Sebagai penggantinya. putrinya. Kelak tempat ini dikenal dengan nama Cikaso.Lama kelamaan daerah itu pun semakin banyak dikunjungi pendatang. Aki Gede pun mulai merasa gundah. Lalu ia berniat membangun padepokan di tempat lain. dan rombongan keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat. Sementara Aki Gede. Khawatir perkampungan tersebut diketahui oleh Kanjeng Sunan. 147 . Padepokan itu diganti namanya menjadi Kawasan. Nini Gede. yang berarti tempat beristirahat yang terdapat sumber air dekat pohon kaso. Rumah Aki Gede pun kemudian direnovasi dan dijadikan sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Karasanbaya. Oleh anaknya. Dengan perkembangan padepokan yang sangat pesat. Bahkan banyak orang yang berguru ilmu kanuragan ke Aki Gede.

Kini Aki Gede pergi ke arah utara dan sampailah di sebuah daerah. Aki Gede dan Nini Gede pun melanjutkan pengembaraannya kembali. Lalu padepokan itu ia percayakan kepada salah satu saudaranya yang bernama Mangun Naha Mana Manggala. Kemudian sampailah ke daerah Bubulak dan Karangsimpang. Di karangsimpang ia percayakan lagi kepengurusan padepokannya pada saudaranya yang lain. Di sana 148 Aki Gede segera . Kali ini Aki Gede semakin ke selatan. di sana Aki Gede pun membangun sebuah padepokan.Di tempat itu. Beberapa hari kemudian. Setelah itu. rombongan Aki Gede pun sampailah pada sebuah daerah yang kelak bernama Bojonglekor. Aki Gede pun segera membangun sebuah padepokan. Aki Gede pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Kemudian. Di sana Aki Gede membangun kembali sebuah padepokan dan kepengurusannya dipercayakan kepada salah seorang saudaranya yang bernama Sang Prabu Mangun Ciker.

Cipatahunan dan Gurago. Cikawao. Aki Gede. Cikagenah. Kelak tempat ini dikenal dengan nama kampung Binangun. Selama pengembaraannya. Berturut-turut Aki Gede membangun kampung yang sekarang dikenal dengan nama Bojongmalang. Namun tidak berhenti di situ. Aki Gede pun kemudian mencari daerah baru sebagai tempat bermukim. Aki Gede pun akhirnya kembali lagi ke Binangun. karena di daerah tersebut tidak terdapat mata air. Nini Gede. Setelah membangun padepokan di Binangun.membangun padepokan dilengkapi dengan sebuah sunge (sumur buatan). karena sudah padat penduduknya. Suatu ketika. 149 . Cikadu. Sarakan. sampailah Aki Gede ke daerah yang bernama Nagarawati. Di sana ia tidak membangun padepokan. Aki Gede kemudian mengalihkan perjalanannya ke sebelah Barat. dan rombongan selalu berhenti di sebuah daerah dan dilanjutkan dengan ngababakan (membuka lahan baru).

Di Gurago. Lama ia tinggal di daerah tersebut. Maka sampailah Aki Gede ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Cigugur. Aki Gede dipanggil oleh Dalem Tamela. Lamaran tersebut sempat tujuh kali ditolak oleh Aki Gede. Aki Gede pun akhirnya menyetujui permintaan Dalem Tamela dengan sebuah 150 . Aki Gede pun menemui Dalem Tamela di keratonnya yang sekarang dikenal dengan nama Sukaraja. Beberapa taun kemudian. Sekarang ia mengarah kembali ke selatan. Aki Gede pun melanjutkan kembali perjalananya. Ternyata Dalem Tamela berniat untuk mempersunting anaknya Aki Gede yang perempuan. Setelah itu. Aki Gede tinggal cukup lama. Raja Sukapura yang kekuasaannya meliputi daerah Cigugur. Bahkan Aki Gede sempat mengangkat seorang amil (penghulu) dan kepala kampung. Tujuannya ialah ke pesisir selatan pulau Jawa. di wilayah Tasikmalaya sebelah selatan. Namun karena memaksa. Alasannya karena sang putri telah menikah dengan seorang ksatria bernama Sembah Ragasang.

Karena merasa 151 . Di sana Sembah Ragasang menemui saudara ibunya yang bernama Jeng Pati.syarat: Dalem Tamela harus memberi kekuasaan mantan berikut menantunya suatu wilayah penduduknya yang berjumlah sembilan kuren (kepala keluarga). namun harus sekehendak menantunya. beserta sembilan kuren rombongannya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir. Kemudian tibalah Sembah Ragasang di kerajaan Panjalu. Menurut petunjuk dari Jeng Pati. Berdasarkan petunjuk itulah. Sembah Ragasang. Di sana ia sempat bermukim. pergilah mantan menantu Aki Gede. sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya ke wilayah Imbanagara. Sembah Ragasang harus mencari wilayah yang baik untuk pemukiman ke sebelah Barat. Setelah sepakat. Dalam memberikan wilayah itu pun tidak dipilih oleh Dalem Tamela. kemudian Sembah Ragasang beserta rombongan tiba di hutan belantara.

sebelum pergi melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya. Dengan cekatan. Ki Barja pun disuruh untuk melepaskan kembali 152 . Ternyata ikan tersebut seekor hiu. Maka oleh Aki Gede. Di sanalah Sembah Ragasang menetap sampai akhir hayatnya. Bermalamlah Aki Gede beserta rombongan pengikutnya di bukit tersebut. dari sana Sembah Ragasang melanjutkan lagi perjalanannya ke arah pesisir selatan. tibalah di atas bukit masih di wilayah pesisir Selatan. kemudian Ki Barja membawa seekor ikan yang besar ke hadapan Aki Gede. kemudian kembali melanjutkan pengembaraannya. Setelah beberapa jam. segera Ki Braja pergi ke pantai untuk menangkap ikan. Aki Gede menyuruh salah seorang pengikutnya yang bernama Ki Braja Lintang untuk menangkap ikan di laut untuk sarapan. Adapun Aki Gede yang telah lama menetap di Cigugur. Karangnini dan Jajawai. Hingga pada suatu ketika.tidak cocok. Tibalah Sembah Ragasang ke daerah yang sekarang bernama Mandala.

Di muara tersebut air sungai Haurseah nampak tidak menyatu dengan air laut karena terbendung oleh air laut itu sendiri. Namun anehnya. ikan hiu itu tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu besar berwarna hitam. daerah pesisir itu oleh Aki Gede diberi nama pantai Batu Hiu. bahkan nampak airnya kembali mengalir berbalik ke arah aliran sungai. Aki Gede segera saja meninggalkan daerah tersebut. Hingga sampailah Aki Gede ke sebuah muara yang menyatukan antara sungai Haurseah dengan laut Jawa Selatan. ketika dilepaskan oleh Ki Barja.ikan hiu tersebut ke laut lepas. sekarang kita dapat melihat secara jelas bongkahan batu yang berasal dari perwujudan ikan hiu tersebut. Semenjak itulah. Oleh penduduk 153 . Setelah kejadian itu. Bersama dengan rombongannya. Dari bukit tempat peristirahatan Aki Gede beserta rombongannya itulah. ia kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Barat dengan tetap menyusuri pesisir Selatan.

Di daerah Cimulang terdapat burung Julang. keadaan air seperti itu disebut cai mulang (air yang alirannya berbalik arah). Di dekat muara itulah. maka Cimulang pun kemudian berubah namanya menjadi Cijulang seperti yang dikenal sekarang. kemudian Aki Gede kembali ngababakan dan menetap untuk selamanya. *** (Ciamis) 154 . juga didasarkan pada kebiasaan Aki Gede yang bolak-balik seperti cai mulang mencari tempat untuk ngababakan. Seiring dengan perkembangan waktu. Daerah itu pun kemudian oleh penduduk setempat dinamakan Cimulang.setempat. Konon selain perubahan lafal dari kata cai mulang.

Seperti ketika itu. untuk menambah penghasilan. Lelaki tua tersebut sehari-harinya tatanen (bertani) dengan memanfaatkan tanah adat milik kerajaan Sukapura. ia hanya memakai peralatan seadanya. Meskipun hidup serba kekurangan. ia pernah ditimpa sakit keras. lelaki tua tersebut tidak berputus asa.3. Alat penangkap ikan tersebut terbuat dari bambu. Selain itu. sebelah selatan kerajaan Sukapura. Ia sangat rajin sekali beribadah. Dalam menangkap ikan. Apabila mendapat ikan cukup banyak. SASAKALA KALAPAGENEP Di tepi sungai Cimedang. sebagian akan dikere (diselai) dan sebagian lain dijual kepada tetangganya. hiduplah seorang lelaki tua di sebuah rumah yang atapnya terbuat dari rumbia. lelaki tua itu pun sekali-kali menangkap ikan di sungai Cimedang. Biasanya memakai bubu atau badodon. Namun tetap saja melaksanakan solat lima 155 . Begitulah lelaki tua itu kesehariannya.

Sungai Cimedang pun akhirnya meluap. Suatu hari di musim penghujan. Termasuk rumah lelaki tua itu. air bah pun segera menenggelamkan seluruh rumah lelaki tua itu. Banyak rumah penduduk yang tenggelam. ia akan bertayamum. mulai digenangi air bah dari sungai Cimedang. Dengan tenang. Lama-kelamaan semakin membesar. Lelaki tua itu pun kemudian terbawa air bah yang arusnya sangat deras. Namun meskipun demikian. Lalu seluruh areal pesawahan dan perkampungan pun tenggelam diterjang air bah. Ia malah naik ke atas atap rumahnya sambil membawa enam buah kelapa. Mula-mula air hujan hanya menggenangi halaman rumah penduduk. Sekalipun tidak kuat untuk mengambil air wudlu. Sesuai dugaan. lelaki tua itu pun 156 .waktu. lelaki tua itu tidak segera pergi meninggalkan rumahnya. Ia berpikir apabila air bah sudah menenggelamkan seluruh rumahnya. tiba-tiba kampung tersebut terkena caah (banjir). ia akan mengapung di atas buah kelapa yang dibawanya.

” gumamnya lirih. “Alhamdulillah. Ia terbawa arus sampai ke muara sungai Cimedang. Adapun enam buah kelapa yang dibawanya. sampai akhirnya tersangkut di sebuah nusa (pulau kecil) di tengahtengah muara. Di sana airnya tidak terlalu deras. mereka bergotong-royong 157 . sehingga lelaki tua itu segera berenang sampai ke tepi muara. Buah kelapa itu pun terbawa arus sungai. Ia hanya melihat air bah yang mengalir deras sampai surut. Keesokan harinya. Sesampainya di tepi muara. beberapa saat ia tertegun. Lelaki tua itu pun tidak beranjak dari tepi muara.mengambang bersama enam buah kepala yang dibawanya semula. Kemudian air bah pun surut. Penduduk kampung mulai berdatangan menolong lelaki tua tersebut. dilemparkannyalah ke aliran sungai Cimedang. Gusti masih menyelamatkanku.

Aki?” timpal salah seorang penduduk. buah kelapa dari keenam pohon kelapa yang tumbuh di tengah nusa itu pun tidak ada yang berani itupun mengambil kemudian apalagi dinamai mencurinya. Setelah lelaki tua itu meninggal. yang artinya enam buah pohon kelapa. nusa tersebut selanjutnya diserahkan pada lelaki tua untuk diolah menjadi lahan perkebunan. Nusa Kalapagenep. oleh lelaki tua selalu dijualnya untuk menambah penghasilan sehari-hari. “Untuk mengenang perjuangan Aki Sahuri yang bersusah payah menyelamatkan diri dari terjangan 158 . Beberapa bulan kemudian. Oleh Tua Kampung.membantu memperbaiki rumah lelaki tua yang hancur terkena banjir. di nusa tersebut tumbuh enam buah pohon kelapa. “Aku namakan nusa ini Kalapagenep. Adapun buah kelapa dari keenam pohon kelapa itu. sampai akhirnya berbuah.” ujar Tua Kampung di depan seluruh penduduk. “Kenapa. Semakin hari pohonnya semakin tinggi.

Selanjutnya. daerah di sekitar muara itu pun kemudian dinamakan kampung Kalapagenep.” jawab Tua Kampung sambil menunjuk pada enam pohon kelapa yang tumbuh subur di tengah-tengah nusa. kalau begitu aku setuju. Kini kampung tersebut menjadi batas antara kabupaten Ciamis dengan kabupaten Tasikmalaya.!” sahut para penduduk yang lain.” “Setujuuuu.banjir dengan memakai enam buah kelapa ini. “Oh. *** 159 ...

Setiap hari harimau tersebut dilatih menjadi binatang piaraan yang cerdas dan tangkas.4. Di kampung itu. hiduplah sepasang suami istri. Apabila mereka pergi ke ladang atau sawah. bayinya selalu ditinggalkan 160 di rumah. Kehidupan keluarga mereka terasa tentram dan romantis. Apalagi setelah mereka mempunyai binatang peliharaan. yaitu seekor harimau jantan. Sebagai . Maka semakin giatlah suami istri tersebut bekerja mencari nafkah. sehingga jinak layaknya seekor kucing. SASAKALA KAMPUNG PANYALAHAN Dahulu kala. Harimau tersebut dipelihara sejak kecil. Kebahagiaan suami isteri itu terasa bertambah besar setelah lahirnya anak mereka. terdapat sebuah kampung tak bernama. di wilayah kerajaan Sukapura sebelah selatan. seorang bayi yang mungil dan sehat. Bahkan harimau tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri.

tersebut.” gumam sang suami.penjaganya. terlihatlah oleh mereka mulut sang harimau berlumuran darah. Tidak seperti biasanya. Sedang berpikir demikian. Lalu mengibasngibaskan badannya. Spontan kedua suami isteri teringat akan anak bayinya yang dipercayakan kepada sang harimau piaraannya. 161 ekornya sambil menggosok-gosokkan . Mereka pun terkejut melihat keadaan itu. Di halaman rumah. Pikir suami isteri. “Pasti harimau itu telah menerkamnya. mengapa tingkah laku harimau itu berbeda dari biasanya. Peristiwa itu dimulai ketika suami isteri pulang berladang. tiba-tiba terjadilah peristiwa yang menyedihkan. Seketika itu memuncaklah kemarahan sang suami. Selang ditunjuklah harimau peliharaannya beberapa bulan. mereka disambut oleh harimau kesayangannya. harimau itu segera menghampiri suami istri tersebut.

Dasar tidak tahu balas budi!” hardiknya. Kedua suami isteri pun lalu mengusap 162 . didapati bayinya terbaring dengan tenang dalam ayunan. Teganya engkau menerkam anakku. mereka berdua hanya membisu. maka larilah sang isteri memasuki kamar tempat bayinya ditinggal. setelah terlebih dulu menendang bangkai harimau. Tak lama berselang. Sesampainya di dalam ruangan kamar. lalu digoyang- goyangkan badannya. Setelah sadar kembali ingatannya. harimau keparat. Selesai menghardik. Dirabanya tubuh bayi tersebut. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi.“Hey. Matilah harimau itu ditangan orang yang menyayanginya selama ini. lalu sang suami itu pun menghunus goloknya dan menebas leher harimau. Lalu tersenyum lucu dan menggemaskan. mata bayi itu pun terbuka. Lalu sang suami pun mengikutinya masuk ke dalam kamar.

Saat itulah suami istri tersebut tersadar telah melakukan kesalahan. harimau tersebut telah mati dibunuhnya karena salah terka. Apalagi sang suami. Ia pun sadar bahwa harimau itu telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya. Semenjak itulah. Setelah puas memandangi bayinya yang selamat.muka dan bersyukur karena bayinya selamat serta masih hidup. Ia sadar betul bahwa harimau yang telah dibunuhunya tidak bersalah. kampung tempat suami istri tersebut bermukim dikenal dengan nama kampung Panyalahan. ia langsung duduk lunglay di ruangan kamar dekat ayunan bayi. yang berarti tempat berbuat kesalahan. hewan itulah yang justru telah menyelamatkan bayinya dari santapan ular sanca. Dari mulut dan sebagian tubuhnya berlumuran darah. yang dalam bahasa Sunda disebut nyalahan. Didapatinya bangkai seekor ular sanca yang sangat besar tergeletak dekat ayunan. Namun apa dikata. suami isteri tersebut segera memeriksa sekeliling ruangan kamar. 163 .

Semakin lama. seluruh penduduk kampung Panyalahan disupata (dikutuk) untuk tidak bisa membunuh harimau memakai senjata apapun. menurut kepercayaan masyarakat sekitar. bahwa penduduk kampung Panyalahan dilindungi oleh maung kakajaden (harmau jadi-jadian) yang terbunuh oleh sang suami pada waktu itu. termasuk memakai senjata api. *** 164 . kampung Panyalahan semakin banyak dikunjungi pendatang dan menjadi penduduk di sana. Bahkan sekarang berkembang kepercayaan. Hingga kini.

kerajaan Timbanganten mengalami pailit akibat musim kemarau panjang. Ia lebih senang berkelana ke tiap pelosok kerajaan. Ia seorang raja yang adil dan bijak. Adapun rajanya bernama Sunan Rangga Lawe. Seluruh penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. Namun berbeda dengan pribadi Sunan Rangga Lawe yang sinatria. tidak jauh dari suku gunung Kutu. SASAKALA GUNUNG GUNTUR Dahulu kala. ditemani oleh lelaki yang sudah berumur tua bernama Batara Rambut Putih. kakaknya lebih memilih menjadi pertapa dan masyarakat biasa. Suatu ketika. di suku gunung Kutu (yang kelak namanya berubah menjadi gunung Guntur) terdapat sebuah kerajaan bernama Timbanganten. Ia tidak mau tinggal di dalam istana. Ibukotanya bernama Korobokan. Sunan Rangga Lawe mempunyai kakak seorang perempuan bernama Maharaja Inten Dewata. Penduduk 165 . sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya.5.

kekurangan air bersih dan makanan.” “Siapa yang memiliki tempat tersebut. Setelah 40 hari 40 malam. Paman Patih?” “Di lembah gunung Kutu. “Kanjeng Sunan. kami telah berhasil menemukan tempat yang strategis untuk dibuat situ.” “Di mana tempatna. Kanjeng. agar dapat mengairi seluruh wilayah kerajaan. Dipanggillah seluruh patih dan mahamantri kerajaan. Maka untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sunan Rangga Lawe pun berinisiatif untuk membuat situ (danau). lalu diperintah agar segera mencari tempat yang cocok untuk membuat situ. akhirnya para patih dan mahamantri yang ditugaskan mencari daerah untuk membuat situ pun menghadap Sunan Rangga Lawe.” 166 . Hasil pertanian dan ladang tidak dapat dipanen. Tempatnya harus strategis. karena kekeringan. saudara Kanjeng sendiri. Paman?” “Pemiliknya Maharaja Inten Dewata.

akan saya laksanakan. permintaannya tidak akan aku kabulkan.” Keesokan harinya. “Sampaikan pada Sunan. “Ada apa kalian menemuiku?” “Ampun Gusti.“Oh. Kanjeng.” “Memang apa permintaan adikku itu?” “Ia bermaksud meminta daerah ini untuk dibuat situ. Paman segera menghadap pada kakakku. saya mendapat tugas dari Kanjeng Sunan untuk menyampaikan permintaannya. Sekarang. gampang kalau pemiliknya beliau. Di daerah ini aku mulai bisa 167 . ia langsung menghadap Maharaja Inten Dewata. Sesampainya di sana.” Sesaat Maharaja Inten Déwata terdiam. ia pun memberikan keputusan. ceritakan apa kehendakku.” “Baik. di lembah gunung Kutu. Paman Patih pun segera menemui Maharaja Inten Dewata di rumahnya. Sesaat kemudian. Katanya akan bermanfaat bagi sistem pengairan di kerajaan Timbanganten.

Kita cari saja tempat lain. Paman?” “Ampun Kanjeng Sunan. jauh dari hiruk-pikuk kehidupan istana. Akhirnya Sunan Rangga Lawe pun memerintahkan kembali patihnya untuk membujuk kakaknya agar memberikan daerahnya dijadikan situ. Tetapi seperti sebelumnya. Paman Patih pun segera bergegas untuk menemui Sunan di istana.menikmati hidup. Sesampainya di istana.” Beberapa hari kemudian. seluruh rakyat ditugasi untuk mencari tempat yang baik untuk dibuat situ. Namun semua penduduk kerajaan mengatakan hal yang sama bahwa tempat yang baik untuk situ ialah di lembah gunung Kutu. “Bagaimana. ya.” “Oh. beliau tidak bisa memberikan daerahnya untuk dijadikan situ.” Setelah mendengar jawaban tersebut. Maharaja Inten Dewata 168 . sudahlah kalau memang begitu. ia pun langsung menghadap ke Sunan Rangga Lawe.

tetap pada pendiriannya. Mantri?” “Ampun Kanjeng. yang menjadi raja di Timbanganten sekarang adalah paduka Kanjeng. Akhirnya.” “Memang kenapa?” “Artinya bahwa seorang raja itu harus berwibawa dan mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah Timbanganten. sebelumnya saya meminta maaf.” “Maksud. katakan saja!” “Begini Kanjeng. Ia tidak mau menyerahkan daerahnya untuk dijadikan situ. Beberapa hari kemudian ada seorang mahamantri yang menghadap pada Sunan Rangga Lawe. apabila perkataan saya terlalu lancang. untuk sementara pembangunan situ pun ditunda. Sunan Rangga Lawe pun tidak dapat memaksa karena ia merasa hormat pada sang kakak. ada apa.” “Ya. “Ada apa. Mantri?” 169 .

membuat situ menghabiskan waktu berminggu-minggu. Semua bersemangat karena dilihat 170 . Ia pun langsung memerintahkan seluruh rakyatnya agar membawa peralatan untuk membuat situ di lembah gunung Kutu. Kalau paduka Kanjeng tidak sanggup. seluruh rakyat pun segera bekerja membuat situ. Sunan Rangga Lawe pun terpengaruh. Setibanya di lembah gunung Kutu. dipimpin langsung oleh Sunan Rangga Lawe.” Mendengar perkataan mahamantri tersebut. Kanjeng sebenarnya bisa memaksa pada Maharaja Inten Dewata untuk segera menyerahkan lahannya untuk dijadikan situ. Kontan saja seluruh rakyat Timbanganten berbondongbondong membangun situ. artinya di Timbanganten terdapat dua raja. “Mulailah kalian sekarang bekerja membangun situ!” Mulai hari itu.“Ampun. Menurut hemat saya. Kanjeng. Bahkan pengerjaannya. Kanjeng Sunan segera memerintahkan karena untuk membuat akan pesanggrahan.

situ pun berhasil dibuat. Setelah beberapa minggu. Kelak gunung kecil ini bernama gunung Putri.” Tak lama kemudian. “Aki. Dalam kemarahannya itulah. Hanya saja Maharaja Inten Dewata sangat marah. sebagian lagi dialirkan ke seluruh pesawahan dan perkebunan di wilayah kerajaan Timbanganten. Seluruh penduduk pun bahagia.langsung oleh raja. Aku akan pergi ke puncak gunung Kutu.” “Untuk apa Nyai?” “Ah. ambilkan aku jolang dan bawakanlah sekepal tanah. karena dapat bertani dan berladang kembali. Batara Rambut Putih pun membawa jolang diisi air dan sekepal tanah. Maharaja Inten Dewata mengajak Batara Rambut Putih untuk pergi menuju gunung kecil yang terletak bersebelahan dengan gunung Kutu. Airnya sangat jernih memenuhi kubangan situ. Lalu 171 . Ia merasa dihianati oleh adiknya sendiri. hanya untuk melihat saja situ buatan adikku itu.

gunung Kutu pun menumpahkan lahar. Mayat yang meninggal.pergilah Maharaja Inten Dewata dan Batara Rambut Putih ke puncak gunung Guntur. Rumah Penduduk penduduk banyak banyak yang hancur. Kono kejadian tersebut berlangsung selama 40 hari 40 malam tanpa henti. lalu Maharaja Inten Dewata menaburkan tanah dan menumpahkan air dari jolang. Adapun Sunan Rangga Lawe tetap berdiam diri di Timbanganten. Ia 172 . ia pun turun kembali dari puncak gunung. dan Banjar Patroman. Sumedanglarang. tiba-tiba ada kejadian aneh. banyak penduduk Timbanganten yang mengungsi ke kerajaan Sukapura. Sesaat kemudian terdengar suara petir menyambar beberapa kali. Pada peristiwa itu. Dari puncak gunung tibatiba kelihatan api menyala. Setelah itu. batu panas. bergelimpangan di mana-mana. Sesampainya ke puncak gunung. Langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung. Sesaat setelah sampai ke rumahnya. Setelah itu. dan hujan abu ke seluruh pelosok kerajaan.

Dengan sigapnya. alangkah baiknya apabila kita bersama mengolah kerajaan. Namun hatinya mulai tersadar. bahwa terjadinya bencana demikian. “Kakak. Sesaat setelah berpikir demikian. dan hujan abu dari gunung Kutu. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. karena ulahnya yang tidak menghormati lagi kakaknya.” Setelah keluar perkataan itu. ia segera melihat kakaknya tengah berdiri di atas batu di bukit sebelah gunung Kutu. “Kakanda.tetap bersikap sebagai figur raja yang bertanggungjawab. Maharaja Inten Dewata. lahar.” “Aku maafkan engkau adikku. maka berhentilah hujan batu panas. Sesampainya di sana. langsung saja Sunan Rangga Lawe sungkem (bersujud) pada kakaknya untuk meminta maaf. Suara petir pun mendadak berhenti.” 173 . maka segera ia pergi untuk menemui kakaknya.

Semenjak itulah. aku tidak akan pulang ke istana. Kini. Adapun bukit kecil tempat Sunan Rangga Lawe bersujud pada Maharaja Inten Dewata. Apabila suatu saat nanti. sambat (panggil) saja namaku dan Aki Batara Rambut Putih. Korobokan sekarang dikenal dengan nama Tegalurug.” Sesaat setelah itu. wilayah Timbanganten masuk ke wilayah kecamatan Tarogong Kabupaten Garut. selanjutnya dinamakan gunung Putri. terjadi lagi kejadian seperti ini. *** 174 . Kemudian situ yang dibuat oleh rakyat Timbanganten sedangkan disebut ibukota Situ Taman Timbanganten. Aku sudah betah di sini. karena sering terdengar suara guntur (petir).“Adikku. untuk mengenang keagungan Maharaja Inten Dewata. Maharaja Inten Dewata dan Aki Batara Rambut Putih pun menghilang dari hadapan Sunan Rangga Lawe. gunung Kutu namanya diubah menjadi gunung Guntur. Adakalanya masarakat Timbanganten menyebutnya gunung Agung.

Hal itu dikarenakan seluruh hasil panen dari sawah atau ladang mereka. terdapat sebuah kampung yang penduduknya kebanyakan tatanen (bertani). . Tanah di kampung tersebut sangat subur dan tidak pernah kekurangan air. Rumahnya mewah.6. para penduduk di kampung tersebut hidupnya tetap miskin dan selalu tertimpa musibah kelaparan. Namun sayangnya. SASAKALA SITU BAGENDIT Di sebelah utara kabupaten Garut. Hasil sawah dan ladang selalu berlimpah ruah setiap musim panen. Penduduk kampung menyebutnya dengan nama Nyi Endit. Lumbung padinya berlimpah ruah. semuanya harus dijual dengan harga murah kepada seorang tengkulak perempuan yang sangat pedit (pelit). Nyi Endit tentu saja menjadi orang kaya di kampung itu. Ia hidup menjomblo. karena tidak ada seorang pun lelaki yang 175 jatuh hati padanya. Setengah tanah kampung telah menjadi miliknya.

” 176 .. mungkin sampai kita meninggal tidak akan pernah untung. benar. Centeng-centeng Nyi Endit tersebut didatangkan dari kampung lain. Ya. “Kapan kita akan untung dari hasil panen. Mereka akan membunuh penduduk kampung yang ketahuan tidak menjual hasil panennya kepada Nyi Endit.Kesehariannya hanya ditemani puluhan centengnya yang bengis.” “Selama si lintah darat itu masih hidup.. Maka tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu. Waktu pun berjalan mengikuti kehendak Sang Pencipta. ya Kang?” “Ya. ya?” kata seorang petani. Maka jika musim kemarau.. hari itu seluruh penduduk kampung akan panen. penduduk harus membeli bahan pokok sehari-hari dari Nyi Endit yang harganya lima kali lipat lebih mahal dari harga sebelumnya. “Wah..

! Kemarau akan tiba.. tapi kita tetap saja harus menjualnya ke nenek lintah darat itu.” “Iya. pasti kita akan dibunuh centengnya. Kalau ketahuan menjual padi ke kampung lain. “Komar!” kata nyai Endit. Sementara sesudah panen.” Itulah keluh-kesah pada hari panen. mereka pun pasti akan membeli padi padaku...ha. Nyi!” jawab centeng bernama Komar. 177 . “Ha.“Katanya di kampung sebelah harga padi lagi naik. Setelah panen pun penduduk akan terus mengeluh.. Aku akan semakin kaya!” kata Nyi Endit sambil tertawa lepas.. Kang?” “Iya. “Apakah semua padi sudah masuk?” “Sudah atuh. Nyi Endit dengan ditemani beberapa centengnya akan segera memeriksa leuit (lumbung padi).ha. ya. Aku akan naikkan harganya lima kali lipat.

178 .” kata seorang lagi. seluruh penduduk kampung diundang untuk menghadiri sukuran Nyi Endit. beberapa bulan kemudian tibalah musim kemarau. Sementara Nyi Endit menjual mahal barang dagangannya.” kata seorang penduduk. “Keparat nenek lintah darat itu. awal akhir pasti Tuhan akan menghukumnya. Penduduk kampung mulai kehabisan bahan makanan dan mulai banyak yang kelaparan. Kesewenangan dan kepelitan Nyi Endit memang sudah sabiwir hiji (menjadi menu pembicaraan semua penduduk). Konon menurut centengnya. “Semoga mendapat siksa dari Tuhan.Benar saja. Pada suatu hari. Nyi Endit mengadakan sukuran karena telah membeli sehektar tanah di kampung sebelah. padahal tadinya ia beli murah dari hasil panen penduduk kampung. Begitulah biasanya pembicaraan penduduk kampung apabila bertemu di surau atau di warung kopi.

siapa yang menggelar acara sukuran ini?” “Nyi Endit.Penduduk kampung sedikit bahagia diundang sukuran oleh Nyi Endit tersebut. “Mau numpang tanya. akhirnya acara sukuran pun ramai juga. Namun semua salah duga. Banyak penduduk yang sengaja datang karena ingin mendapat nasi. Mereka berpikir akan makan lezat dan diberi uang oleh Nyi Endit. sudah berjalan cukup jauh. Namun karena banyak penduduk yang kelaparan. Setelah itu. ia pun bertanya pada seorang penduduk. Ketika sukuran sedang berlangsung. ketika datang ke rumah Nyi Endit.” 179 . Kakek haus sekali. tiba-tiba datang seorang kakek yang kelihatannya sedang kelelahan dan kehausan. Itupun banyak penduduk desa yang tidak kebagian. apakah kakek boleh meminta segelas air. Memangnya kenapa?” “Begini. ia hanya menyediakan air putih dan hidangan alakadarnya. Kek. Dia berjalan mendekati pintu rumah Nyi Endit.

bahwa hari ini akan terjadi banjir yang dapat menenggelamkan kampung kita. kita mengungsi!” “Wah. “Kalian semua pulanglah. kemudian datang Nyi Karsih.. Si Kakek menyuruh aku memberitahu kalian semua. Namun anehnya si kakek itu hanya tersenyum simpul. Jangan hadiri acara sukuran orang seperti ini.” Setelah itu.mau meminta air? Enak saja. Ayo. Saya dapat amanat dari seorang kakek. penduduk kampung hanya diam mematung.. Tidak beberapa lama. “Ibu. siang cerah begini ada banjir?” cetus seorang penduduk. Bapa. yang benar saja Karsih. Lalu ia berkata pada semua yang hadir di rumah Nyi Endit. 180 . si kakek pun pergi meninggalkan rumah Nyi Endit. ayo kita pulang. Mendengar hardikan Nyi Endit seperti itu. semuanya. Keluar kau pengemis!” tiba-tiba Nyi Endit menghardik kakek tersebut.“Apa.

“Saya hanya diberi tahu oleh si kakek. Kalau tidak percaya, ya sudah,” Nyi Karsih pun lalu pergi cepat-cepat. Nyi Endit dan centeng-centengnya hanya

tertawa mendengar kabar dari Nyi Karsih seperti itu. Namun sebagian penduduk ada yang langsung

mengikuti Nyi Karsih. Bahkan pada akhirnya semua penduduk pun meninggalkan rumah Nyi Endit. Mereka ke rumahnya masing-masing untuk membawa barang berharga, lalu pergi mengungsi. Setelah semua penduduk keluar dari rumahnya, Nyi Endit hanya tertawa terbahak-bahak bersama centeng-centengnya. Namun tiba-tiba, datanglah si kakek yang meminta air tadi. Lalu ia berbicara dengan lantang. “Hei, Endit, selama ini Tuhan memberimu kekayaan yang berlimpah. Tapi kamu pelit, tidak bersyukur, dan mencekik penduduk dengan harga mahal. Kelakuanmu seperti lintah darat. Maka mulai

181

saat ini, aku akan menghukummu. Seluruh hartamu akan tenggelam dan engkau aku kutuk menjadi lintah!” “Ha..ha...ha…mau menghukumku? Mau mengutukku jadi lintah? Emangnya engkau ini Tuhan? Kamu tidak tahu aku bisa menghukummu dengan centeng-centengku? Sekali tebas, kau akan mati. Sekarang, pergi dari sini!” hardik Nyai Endit. Lalu si kakek pun pergi dari hadapan Nyi Endit dan centeng-centengnya. Sebelumnya si kakek pun menancapkan tongkat kayunya di hadapan Nyi Endit. “Dasar kakek gila, malah meninggalkan tongkat di hadapanku,” gumam Nyi Endit sambil mencabut tongkat yang ditancapkan si kakek tadi. “Hey, kakek gila, ini tongkatmu,” kata Nyi Endit. “Itu hukuman untukmu...!” jawab si kakek. Belum juga Nyi Endit berucap, tiba-tiba si kakek pun menghilang. Tentu saja Nyi Endit dan centengcentengnya merasa kaget. Apalagi dari bekas tancapan tongkat tersebut menyembur air. Byuuur....!

182

Semakin lama, air pun semakin menyembur. Segera centeng-centeng Nyi Endit menutupi lubang tempat menyemburnya air tersebut. Namun aneh, air yang menyembur semakin banyak. Bahkan

bermunculan semburan-semburan lain di dalam dan di sekitar rumah Nyi Endit. Kemudian Nyi Endit pun mulai panik. Semua centeng-centengnya kalang kabut. Air semakin besar, meluap deras. Rumah Nyi Endit mulai terkena banjir. Sawah-sawah penduduk

mulai tergenang. Melihat banjir yang tiba-tiba, centengcentengnya segera meninggalkan Nyi Endit. Adapun penduduk kampung lebih dulu telah mengungsi. Sekarang tinggal Nyi Endit berusaha berlari menyelamatkan diri bersama hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya. Nyi Endit pun

meninggal ditelan air bah. Melihat kejadian tersebut, semua penduduk sadar bahwa Nyi Endit telah dihukum oleh Tuhan atas kekikirannya selama ini. Bahkan setelah sekian lama, air yang membanjiri perkampungan itu pun tidak
183

kunjung surut. Kemudian membentuk sebuah telaga atau menurut bahasa penduduk setempat dinamakan situ. Situ itu pun kemudian dinamakan Situ Bagendit, merujuk pada nama Baginda Endit yang memiliki karakter pedit (pelit). Seiring waktu, tertanam kepercayaan pada penduduk setempat bahwa kadang-kadang di telaga tersebut muncul lintah sebesar kasur di dasar danau. Konon lintah itu merupakan penjelmaan Nyi Endit yang dikutuk karena kekikiran dan perilakunya pada waktu air bah menenggelamkan dirinya. Kini, Situ Bagendit menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Garut dan banyak dikunjungi wisatawan. ***

184

makmur. Limbangan termasuk salah satu kabupaten di wilayah Priangan. Adipati Adiwijaya kedatangan tiga orang utusan Letnan Gubernur Raffles dari Batavia.7. menanyakan selanjutnya maksud Adiwijaya tamu kedatangan tersebut dengan disaksikan oleh para pembesar Limbangan. SASAKALA GARUT Pada masa kolonial. Pada masa itu. Terlebih Adipati Adiwijaya dikenal sebagai bupati yang adil dan bijaksana dalam memimpin. Tamu tersebut diterima di pendopo kabupaten. Seluruh rakyat pun menghormati dan mencintainya. dan ramai dikunjungi pedagang dari Belanda. dipimpin Adiwijaya. Kabupaten Limbangan merupakan daerah yang subur. “Ada apa tuan-tuan datang ke Limbangan?” 185 . Setelah dijamu seperti tamu-tamu lain Adipati yang datang ke pun oleh seorang bupati bernama Adipati Limbangan. Suatu ketika.

Cukup lama Adipati Adiwijaya merenung setelah selesai membaca surat dari Raffles tersebut. setelah itu lalu dibacanya. Surat pun diterima oleh Adipati Adiwijaya.“Kanjeng Adipati. kami disuruh oleh Lentan Gubernur Raffles untuk menyampaikan surat. Begitulah intinya isi surat ini. Mana suratnya. “Oh.” kata salah seorang tamu yang berperawakan tinggi besar. begitu. Kanjeng!. Dalam surat disebutkan alasannya agar daerah Priangan segera berkembang. tuan?” “Ini suratnya. Sejurus kemudian. “Perlu kalian ketahui bersama.” kata Adipati Adiwijaya kepada para tamu dan pembesar Limbangan di pendopo kabupaten. bahwa Tuan Raffles menyampaikan surat yang isinya agar memindahkan kota kabupaten Limbangan ke daerah lain.” tamu Belanda itu menyerahkan surat kepada Adipati Adiwijaya. lalu Adipati Adiwijaya berdiri dari tempat duduknya. 186 .

Selanjutnya ia pun berkata.” kata tamu Belanda tersebut. Tidak ketinggalan tiga orang Belanda 187 . Tujuh hari kemudian. Setelah itu. “Tuan dari Batavia. kami akan tinggal cukup lama di sini. Semoga Kanjeng Adipati dapat menerima kami. berarti akan cukup lama tinggal di Limbangan?” “Benar Kanjeng Adipati. perintah Tuan Raffles ini akan kupikirkan beberapa hari ke depan. Setelah itu. aku baru akan menugaskan beberapa prajurit Limbangan untuk mencari daerah baru yang baik untuk ibukota. dalam surat disebutkan bahwa tuan-tuan ini harus menemani kami dalam mencari daerah baru tersebut. Maka rombongan dari Limbangan pun berangkat ke arah selatan. kemudian Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kepada patihnya untuk mengurus akomodasi ketiga tamu tersebut. Nah. kemudian Adipati Adiwijaya menugaskan kepada patih dan beberapa pembesar kabupaten Limbangan untuk segera mencari daerah yang baik untuk dijadikan ibukota.

kemudian rombongan yang dipimpin oleh Patih Limbangan itu segera menyampaikan maksudnya kepada ketua kampung dan seluruh penduduk Suci. akhirnya rombongan dari Limbangan itu pun sampailah ke sebuah daerah yang disebut kampung Cumuruh.dari Batavia diajak turut serta untuk mencari daerah baru itu. Ngababakan (membuka lahan baru untuk pemukiman) pun dimulai. Setelah satu malam menginap. sebelah timur perkampungan Suci. dan melihat keadaan geografis daerah Cumuruh. Mendengar bahwa kampungnya terpilih untuk dijadikan ibukota kabupaten Limbangan. Setelah tiga hari perjalanan. Mereka berharap kampungnya akan semakin ramai dan berkembang. Seluruh rombongan dan penduduk Suci bergotong royong membangun semua 188 . tentu saja seluruh penduduk di kampung Suci sangat bergembira. bahwa daerah di bawah kekuasaannya akan dijadikan ibukota yang baru.

dan beberapa rumah untuk menerima tamu. alun-alun. daerah Suci sering kekurangan air. rumah-rumah pembesar kabupaten. Hingga setelah beberapa hari mencari. segera Adipati Adiwijaya mendapati kekurangan di ibukota Limbangan yang baru tersebut. Adipati Adiwijaya pun segera memindahkan ibukota Limbangan ke Suci. Tidak lupa tiga orang Belanda yang bertindak sebagai pengawas dari Batavia turut serta.fasilitas yang dibutuhkan dari untuk sebuah ibukota kabupaten. Namun sayangnya. Setelah banyak dikunjungi pendatang dan banyak pula yang bermukim. 189 . setelah beberapa bulan menetap. Akhirnya Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kembali pada patihnya untuk mencari tempat lain untuk dijadikan ibukota yang baru. Rombongan pencari daerah baru pun segera melaksanakan pekerjaannya. Tidak lama setelah itu. Mulai pendopo. Ia pun sangat setuju dengan tempat yang barunya tersebut. karena kontur tanahnya sangat baik.

Papandayan. Daerah itu pun dikelilingi oleh pemandangan yang indah karena berada di antara lembah gunung Cikuray. Guntur.rombongan pun akhirnya menemukan suatu tempat yang cocok dijadikan ibukota. kalau memang tempat itu baik untuk ibukota Limbangan yang baru. Patih Limbangan pun segera melapor kepada Adipati Adiwijaya. juga terdapat mata air bersih yang mengalir dari sungai Cimanuk. Sebagai ketua rombongan. dan Karacak. Maka setelah mendapat restu. Galunggung. Berbondong-bondong penduduk Limbangan ngababakan di daerah itu. “Paman Patih. Selain kontur tanahnya datar dan subur. 190 . segera saja perintahkan seluruh rakyat untuk bergotong royong ngababakan di tempat itu!” ujar Adipati Adiwijaya. Paman Patih pun segera mengerahkan seluruh warga Limbangan untuk membuka lahan baru di daerah tersebut. Bahkan beberapa di antaranya ada yang ditugaskan secara khusus mencari kubangan tempat keluarnya mata air.

karena ia takut tanaman berduri tersebut beracun. Nah. Pekerjaan ngababad pun untuk sementara dihentikan. seorang pekerja melapor kepada Paman Patih bahwa ia menemukan kubangan tempat keluarnya sumber mata air. Namun setelah diperiksa. Hingga tangannya mengeluarkan darah. ternyata tanaman berduri itu tidak beracun. 191 .Di hari ketujuh ngababakan. Lalu Paman Patih segera memeriksa tangan pekerja yang tergores. Setelah dicek. benar saja di tempat itu terdapat kubangan yang airnya berasal dari sebuah mata air. seorang pekerja kakarut (tergores) tangannya oleh duri tanaman itu. Kubangan tersebut tertutupi oleh jukut cucukan (tanaman berduri). sehingga sulit untuk diperiksa. Oleh karena itu. pada saat ngababad. maka Paman Patih segera memerintahkan kepada beberapa pekerja untuk ngababad (memangkas) tanaman berduri tersebut. Pekerjaan pun dilanjutkan kembali.

daerah di pinggir sungai Cimanuk itu pun segera banyak dikunjungi pengunjung dari daerah lain.” “Apa? Gagarut ku jukut?. semua pekerja yang sedang ngababakan menertawakannya. 192 . meniru ucapan Belanda yang kurang fasih berbahasa Sunda itu. karena lidahnya kurang fasih berbahasa Sunda. Beberapa bulan kemudian. Ia meniru kata kakarut menjadi gagarut.” kata orang Belanda itu sambil mengernyitkan kening. baik dengan tujuan berdagang maupun yang sengaja menjadi pemukim. oleh rombongan dinamakan Ki Garut. Adapun kubangannya dinamakan Cigarut. “Kakarut ku jukut. Mendengar ucapan Belanda seperti itu. salah seorang Belanda utusan dari Batavia segera bertanya: “Kenapa kamu berdarah?” Pekerja yang tergores pun segera menjawab dalam logat bahasa Sunda. Tuan. tanaman berduri yang menggores pekerja itu.Melihat tangan seorang pekerja berdarah. Semenjak itulah.

Semoga membawa berkah dan kesejahteraan bagi rakyat. Cetusan nama Garut itu pun disetujui pula oleh Bupati Adipati Adiwijaya.Apalagi setelah Adipati Adiwijaya secara dari resmi memindahkan ibukota Limbangan Cumuruh. Bahkan Letnan Gubernur Raffles di Batavia pun konon merestui ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut. Garut banyak didatangi oleh para pendatang baik dari wilayah Priangan. dan Arab. daerah itu pun berkembang pesat.” ujar Adipati Adiwijaya di depan seluruh rakyatnya. Semenjak itu. diambil dari nama tanaman Ki Garut dan mata air Cigarut pada waktu ngababakan dulu. Pada masa itu. kota Garut semakin berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan kabupaten Limbangan. “Aku restui nama Garut ini untuk ibukota kabupaten Limbangan yang baru. 193 . Cina. maupun pendatang dari Belanda. Kemudian penduduk pun menamakan ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut.

194 . *** *) Limbangan kini hanya menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Garut.Hingga akhirnya pemerintah kolonial mengganti nama kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut hingga kita kenal sekarang.

Dari perkawinan tersebut lahirlah Wirawangsa. Ia memiliki seorang puteri tunggal yang bernama Nyai Punyai Agung (Ageng). Daerah ini sekarang menjadi nama sebuah desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Salopa. SASAKALA TASIKMALAYA (SUKAPURA) Tersebutlah Surakerta.8. penguasa Negara Surakerta itu bernama Sareupeun Cibuniagung. kira-kira 5 km sebelah Timur Kecamatan Sukaraja. Ibukotanya bernama Dayeuh Tanahnya berbukit-bukit kecil. Pada waktu itu. sebuah negara yang bernama Tengah. Wirawangsa 195 . diapit dua sungai kecil. Sebagai puteri tunggal. yaitu Sungai Ciwulan dan Sungai Cipinaha. Nyai Punyai Agung menikah dengan Entol Wiraha yang menggantikannya menjadi penguasa Surakerta. Nyai Punyai Agung menjadi pewaris tunggal Negara Sukakerta. diselingi sawah-sawah.

Ia bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul. umbul Surakerta berada di wilayah Priangan yang dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata. Tetapi Dipati Ukur gagal dalam penyerangan itu karena Tumenggung bahurekso dan tentaranya tidak datang waktu yang telah ditentukan. Dipati Ukur berpindahpindah tempat dari Gunung Pongporang ke Gunung 196 . Ketika Dipati Ukur diperintah Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Dipati Ukur membawa sembilan umbul. Tindakan ini oleh Mataram dianggap sebagai pemberontakan karena Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Sewaktu Wirawangsa berkuasa. di antaranya. status negara berubah menjadi umbul. Waktu itu. Umbul Surakerta.berkuasa di Surakerta menggantikan kedudukan ayahnya sampai pecah pemberontakan Dipati Ukur. Wirawangsa.

Karena tindakan Dipati Ukur itu dianggap membahayakan. Pemberontakan Dipati Ukur ini sangat membahayakan kedudukan Sultan Agung di Mataram. Sultan Agung memerintahkan untuk menangkapnya perjanjian. Umbul Kahuripan. Sementara umbul dari Priangan Timur tidak setuju akan pemberontakan tersebut seperti Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. Pada waktu itu umbul yang mendukung pemberontakan Dipati Ukur hanya umbul dari Priangan Tengah. Umbul Saunggatang. dan Umbul Sagala Herang. Umbul Sindangkasih Ki Somahita. kemudian pindah ke Kampung Bungbang bawahan Banten. Umbul Mananggel. Umbul Madang Sasigar. Umbul taraju.Lumbung di daerah Batulayang. hidup atau mati dengan yang suatu berhasil bahwa barangsiapa 197 . yaitu Umbul Batulayang. dan Umbul Distrik Indihiang di Galunggung Ki Wangsarana. sebab daerah tempat berlindung Dipati Ukur terletak di antara Banten dan Batavia yang menjadi musuh Mataram.

Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede. Dipati Ukur tertangkap di daerah Cengkareng sekarang oleh tiga umbul Priangan Timur. Ketiga umbul yang ikut menangkap Dipati Ukur adalah Umbul Surakerta Ki Wirawangsa. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati. Atas jasanya. kemudian dibawa ke Mataram. ketiga umbul tersebut diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita. Ki Wirawangsa diangkat menjadi mantri agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha.menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah. Ketiga umbul tersebut juga menangkap delapan umbul lainnya yang biluk (setia) kepada Dipati Ukur. Ki Astamanggala diangkat menjadi mantri agung Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangun198 . tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu. dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur.

Wiradadaha Baganjing. kota diangkat menjadi dengan gelar mantri agung Tumenggung mantri agung dari kabupaten pun dipindahkan Dayeuh Tengah di Sukakerta ke Leuwi Loa (wilayah desa Sukapura) daerah Sukaraja sekarang. terletak di tepi sungai Ciwulan. dan Ki Somahita menjadi Parakanmuncang Tanubaya. 199 I terkenal dengan sebutan Dalem . Oleh karena perpindahan ibukota pindah ke Sukapura. dan dimakamkan di Pasir Baganjing. nama kabupaten pun disebut Kabupaten Sukapura. Raden Tumenggung Wiradadaha (Wiradadaha I) yangberjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat. Perubahan nama Leuwi Loa menjadi Sukapura berdasarkan alasan karena di Leuwi Loa didirikan pura yang bermakna „kraton‟ dan suka bermakna „asal‟ atau „tiang‟. Setelah Sukapura.angun. Jadi. Oleh karena itu. sukapura bermakna jejernya karaton karena di tempat inilah berdirinya bupati Sukapura yang pertama.

Wiradadaha II tidak lama berkuasa karena pada tahun pengangkatannya dunia karena sebagai tumenggung meninggal hanya dihukum mati.Pengganti Wiradadaha I adalah putranya yang ketiga yang bernama Raden Jayamanggala dengan gelar raden Tumenggung Wiradadaha II. 200 . Setelah meninggal dunia. Wiradadaha III digantikan oleh anaknya Raden Subangmanggala dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha IV. Raden Anggadipa bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III. Keluarganya mendapatkan tambela yang berisi mayat Wiradadaha II. Wiradadaha II terkenal dengan julukan Dalem Tambela. Raden Wiradadaha II digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Anggadipa I. Namun. putra keempat Wiradadaha I. Setelah menjadi bupati. Dia terkenal sebagai bupati Sukapura terkaya dan memiliki anak sebanyak 62 orang. Oleh karenaitu. Setelah meninggal dunia. sehingga ia lebih dikenal dengan Dalem Sawidak.

tetapi lebih dikenal dengan sebutan Dalem Tumenggung Secapati. Raden Secapati adalah cucu Dalem Tamela. Ia juga disebut Raden ia Adipati di Setelah wafat. Wiradadaha V digantikan oleh putranya yang bernama raden Jayangadireja dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VI. dimakamkan Pasirtando. Setelah wafat. 201 .Raden Wiradadaha IV meninggal dunia dan dimakamkan di Pamijahan dekat gurunya Syeh Abdul Muhyi dan dikenal dengan sebutan Dalem Pamijahan. Wiratanubaya. Raden Wiradadaha IV digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Raden Secapati. Setelah diangkat menjadi bupati. Wiradadaha VI mengundurkan diri. dan digantikan oleh anaknya Raden Jayamanggala II dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII. sehingga terkenal dengans ebutan Dalem Pasirtando. dia menggunakan nama Raden Tumenggung Wiradadaha V. Ia menikahi putri bupati Parakanmuncang. Karena sering bertolak belakang dengan pemerintah Kolonial.

Kawasen. Ia terkenal dengan sebutanh Dalem Sepuh. Namun. Banjar. Singaparna. sebagian dari Galuh: Pasirpanjang. Parigi. Ketika ia menolak menanam nila. dan Tasikmalaya. 202 . Dua tahun kemudian. kabupaten Sukapura diserahkan kembali ke bupati Limbangan. Indihiang. Sukapura memiliki wilayah yang sangat luas. Sukapura dialihkan ke Kabupaten Limbangan. selanjutkan dikembalikan lagi ke Wiradadaha VIII dari bupati Limbangan.Pengganti Wiradadaha VII adalah putranya yang kelima Raden demang Anggadipa dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII. Kabupaten Sukapura didirikan kembaliu dengan bupatinya turunan bupati Sumedang. Dalem Talun mengundurkan diri. Cijulang. Ciawi. Wilayahnya meliputi sebagian dari Sumedang: Malangbong. yakni raden Tumenggung Surialaga. yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Talun. kecuali daerah Suci dan Panembong. Wiraradaha VIII dipecat. Pada masa kekuasaan Widadaha VIII.

Pada 203 . Karena terlalu luas. dan Tasikmalaya. tanah yang luas ini disebut Tanah Galunggung. dan Kalipucang. dan afdeeling Cikajang (Batuwangi. dan Kalipucang). Manonjaya (Pasirpanjang. Karang. Sukapura Cikembulan. Karang. Parung). yakni afdeeling Mangunreja (Panyeredan. Parung. Sukaraja. Cikajang. batuwangi. distrik Wilayah hanya Mangunreja. Cijulang. Cikembulan. kontrol dan Selacau). Sukapura. Taraju. Mandala. Kandangwesi. yakni Sukapura afdeeling dan afdeeling. yakni afdeeling Sukapura Kolot. ibukota Sukapura di Sukaraja dipindahkan ke Manonjaya. asalnya Taraju. Nagara (Pameungpeuk). banjar. Sukapura Kolot dengan ibukota Mangunreja meliputi dua afdeling. meliputi dua Nagara. Kabupaten Sukapura dibagi lagi menjadi tiga bagian.Mandala. Sukaraja. Kawasen) afdeeling Parigi (Parigi. dan Malangbong. Afdeeling Tasikmalaya dengan ibukota Tasikmalaya mencakup Ciawi. Setelah memiliki wilayah yang luas. Panyeredan. Indihiang.

Danuningrat dengan gelar R. bupati.A.T. patih Manonjaya.T. namanya menjadi Wirahadiningrat.T.T. Kemudian mendapat gelar adipati sehingga namanya menjadi raden Adipati Wiraadegdaha. bupati Sukapura X. Danuningrat digantikan oleh Raden Rangga Wiradimanggala dengan gelar R.waktu itu. Dia pernah diberi 204 . R. Setelah diturunkan dari jabatannya.T. Wiratanubaya. Setelah wafat. Wiradadaha VIII wafat dan dimakamkan di Tanjung Malaya. bupati Sukapura XII. Kemudian digantikan oleh adiknya R. Setelah wafat. Wiratanubaya digantikan oleh Raden Rangga Tanuwangsa dengan gelar raden Wiraadegdaha (bupati Sukapura XI). R. R. Karena tidak punya anak. yang membangun Kota Manonjaya. Jabatannya digantikan adiknya Raden Setelah demang menjadi danukusumah. Wiraadegdaha pindahke Bogor dan terkenal dengan sebutan Dalem Bogor. Wiratanubaya lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Wiradadaha IX.

gelar adipati. Dalem Bintang wafat. ibukota Sukapura dipindahkan dari manonjaya ke Tasikmalaya. Setelah menjadi bupati. Tawang berarti „sawah‟ 205 . yakni sebagian menjadi bawahan Limbangdan dan sebagian menjadi bawahan Sumedang. Penggantinya adalah Raden Rangga Wiratanuwangsa. Sering juga disebut Tawang-Galunggung. sehingga mendapat sebutan Dalem Bintang. dan Bintang Oranye Nassau.T. mendapat payung kuning. diganti namanya menjadi R. sedangkan Distrik Malangbong dibagi dua. Pada masa ini. Sejak itulah kabupaten Sukapura berubah nama menjadi Tasikmalaya. Pada awalnya daerah yang disebut Sukapura itu bernama Tawang atau Galunggung. putrana Dalem Bogor. dan afdeeling Cikajang menjadi bawahan Kabupaten Limbangan. bupatui Sukapura XIII. sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Aria. Dia bupati pertama yang mendapat gelar aria. Setelah wilayah afdeeling Mangunreja menjadi bawahan Sukapura. Wiraadiningrat.

Penyebutan Tasikmalaya menuncul setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi Tasik „danau. laut‟ dan malaya dari (ma)layah bermakna „ngalayah‟ atau „deretan pegunungan di pantai Malabar (India)‟.atau „tempat yang luas terbuka‟. 206 . maksudnya banyak pasir di manamana. Tasikmalaya mengandung arti „keusik ngalayah‟.

Lebak berarti dataran rendah. Ia menjadi bupati Karawang berkedudukan di Wanayasa sampai akhirnya diganti oleh adiknya yang bernama Raden Aria Suryawinata atau lebih dikenal dengan nama Dalem Solawat. SASAKALA PURWAKARTA Pada masa Dalem Santri menjadi bupati Karawang. ia memindahkan ibukota kabupaten ke daerah Wanayasa. Pada masa kepemimpinan Dalem Solawat. Pemindahan ibukota ini diawali dari tabir mimpi. karena pada masa itu sering dilanda banjir.C. karena memang wilayah Wanayasa berada lebih tinggi dari wilayah Lebak. SASAKALA WILAYAH PURWASUKA 1. bahwa Dalem Solawat harus memindahkan ibukota ke daerah Lebak dengan ciri-ciri di daerah tersebut harus 207 . ibukota kabupaten Karawang dipindahkeun lagi dari Wanayasa ke daerah Lebak.

Sebelumnya.” 208 . “Ampun Kanjeng.ada kubangan air tempat mandi badak putih yang di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. Berhari-hari wedana tersebut mencari kubangan tempat mandi badak putih yang di tepiannya ditumbuhi pohon tanjung. Dalem Solawat memerintahkan pada salah seorang cutak (wedana) bawahannya. dalam pencarian daerah Lebak. Setelah sekian lama mencari. Segera saja ia pun menghadap Raden Aria Suryawinata di Wanayasa. Kanjeng. Alangkah baiknya apabila Kanjeng sendiri melihatnya.” kata wedana ketika menghadap Kanjeng Dalem di pendopo. “Benarkah Paman Wedana tempat itu telah engkau temukan?” “Benar. Pencarian dimulai pada hari Senin. hamba telah menemukan daerah yang dimaksud dalam mimpi itu. akhirnya wedana itu pun menemukan sebuah kubangan tempat mandi badak putih.

bahagia pula hati Kanjeng Dalem. Kanjeng Dalem pun segera memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bergotong royong ngababakan (membuka lahan baru) di sekitar kubangan. tempat itu pun segera berubah menjadi lahan baru yang nampaknya sangat baik untuk dijadikan pemukiman. ternyata keadaannya sesuai dengan impian. Kanjeng Dalem pun menamakan daerah itu Sindangkasih. lalu Kanjeng Dalem pun menuju tempat yang diceritakan oleh wadana tadi.Setelah mendapat laporan. Tidak memerlukan waktu lama. 209 . “Aku namakan kampung ini Sindangkasih!” ujarnya dengan lantang. Dengan disaksikan seluruh rakyatnya. yang berarti berhenti di tempat yang sangat dicintai. Sampailah ke tempat kubangan. Di daerah tersebut terdapat sebuah kubangan yang biasa dipakai mandi badak putih dan di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. Setelah melihat daerah tersebut. Beberapa hari kemudian.

jerih Kanjeng payahnya Namun Dalem Dalem selama pun ini berbahagia membangun kebahagian melihat kabupaten. Kubangan tempat mandi badak putih itu pun ternyata hulu cai (sumber air). Kanjeng sayang dan sekali masyarakat Sindangkasih tidak berlanjut. Semakin hari. Seluruh areal pesawahan dan perkebunan daerah Sindangkasih pun pengairannya berasal dari kubangan tersebut. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi orang. ketika tiba-tiba banyak 210 . Demikian karena tanah di daerah Sindangkasih sangatlah subur. Semenjak itulah. Masyarakat hidupnya tidak kurang sandang pangan. adapula yang memang berniat bermukim. yang tidak pernah kering.Setelah di daerah Sindangkasih banyak penduduk yang bermukim. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi pendatang. akhirnya ibukota kabupaten pun dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih. Ada yang hanya berdagang.

penduduk yang dirampok dan banyak pencurian di mana-mana. Bahkan kehidupan seluruh penduduk semakin sejahtera dari sebelumnya. Sindangkasih oleh Kanjeng dalem diganti namanya menjadi Purwakarta. Terlebih Kanjeng Dalem memerintah dengan adil dan bijaksana. Sindangkasih kembali tentram. 211 . Masyarakat mulai goyah dan takut. pesat daerah perkembangannya. banyaknya perampokan dan pencurian itu dapat direda setelah kelompok penjahatnya tertangkap. Daerah Sindangkasih Semenjak semakin itu pula. lain. Ternyata penduduk penduduk asli kelompok pencuri Sindangkasih. masyarakatnya sejahtera. dari tersebut bukan Mereka merupakan Daerah dan pendatang pun daerah aman. Namun karena kesigapan Kanjeng Dalem.

Dalam bahasa setempat. aku ganti nama kampung ini menjadi Purwakarta. sedangkan karta berarti aman dan sejahtera. Nama Purwakarta itulah yang dikenal hingga sekarang. kata purwa artinya awal atau asal mula.“Semenjak hari ini. *** 212 .” ujar Kanjeng Dalem di hadapan seluruh rakyatnya.

Mulai dari kerajaan Dompo. Seluruh penduduk sangat menghormatinya. terdapat sebuah kerajaan kecil yang subur dan makmur. Namanya Milangsari. Semakin lama semakin banyak raja dan kstaria yang melamar Milangsari. Seluruh rakyatnya cukup sandang pangan. Namun Milangsari belum berniat menikah. sehingga tidak pernah terjadi pemberontakan.2. di pesisir pantai utara. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain yang melamarnya. sehingga semua lamaran ditolaknya. 213 . Hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pamayang (nelayan). Raja Pilangsari terkenal bijak. Ia memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita. dan berwibawa. adil. Kerajaan tersebut bernama Pilangsari. SASAKALA PAMANUKAN Pada masa kerajaan Sunda. namun ada juga yang tatanen (bertani).

maka berhak menjadi pemenang dan mengawini putri Milangsari. Dengan keadaan itu. sampai kerajaankerajaan kecil dari Jawa. Di satu sisi. raja menjadi bingung.” “Maksud paman?” “Kita adakan saja semacam pasanggiri adu kicauan burung. calon bagaimana kalau dalam menantu diadakan pasanggiri (sayembara) saja. Kalau di antara mereka ada yang memiliki burung dengan kicauan bagus. Cirebon. ia sangat bangga akan kecantikan anaknya. Aku malu pada raja dan kstaria yang ditolak lamarannya oleh putriku. Hingga akhirnya ia pun memanggil patih dan anaknya Milangsari. Apa yang dapat aku lakukan dengan keadaan ini?” “Gusti menentukan Prabu.Malayu.” 214 . kenapa kejadiannya menjadi seperti sekarang. Sumedanglarang. “Paman Patih. di sisi yang lain ia merasa khawatir kerajaannya akan diperangi oleh raja atau ksatria yang lamarannya ditolak oleh putrinya.

Paman. saya akan mengikuti saja pendapat Paman Patih. Bagaimana baiknya saja. pasanggiri adu kicauan burung akan lebih baik ketimbang adu kesaktian.” Beberpa bulan setelah pengumuman diedarkan. Bagaimana menurutmu?” kata raja sambil melirik Milangsari yang sedang tertunduk. “Bagus ide tersebut. Adu kicauan burung tidak akan terjadi perkelahian yang dapat merugikan secara fisik. di alun-alun Pilangsari telah sesak dipenuhi peserta 215 . akan menjadi suami Milangsari. Bagi siapa saja yang membawa burung dan kicauannya bagus. “Menurut Paman. bahwa akan diadakan pasanggiri adu kicauan burung. sekarang aku tugaskan kepada paman patih untuk segera membuat pengumuman ke seluruh pelosok kerajaan. “Kalau keputusannya seperti itu. Nah.” jawab Milangsari. “Ampun rama. Nyai.“Kenapa Paman?” tidak pasanggiri adu kesaktian. sekarang aku bertanya padamu.

Peserta banyak yang gundah. Penonton pun ikut larut dalam 216 . Milangsari dan ayahnya terus memilih burungburung yang akan dijadikan pemenang. Penonton pun berjejalan memenuhi alun-alun.pasanggiri adu kicauan burung. Sebagaimana telah ditentukan sebelumnya. Pemilihan burung pun telah selesai. Kemudian putri Milangsari naik ke babancong (podium) yang letaknya di sebelah selatan alun-alun. Raja dan Milangsari akan memilih burung yang bersuara bagus. bercampur antara rasa takut tidak terpilih dengan perasaan bahagia apabila nanti burungnya terpilih oleh putri. Agak lama raja dan putri memilih burung-burung tersebut. seluruh peserta pun membawa burung yang bagus-bagus. Sesuai jadwal. akhirnya raja dan putri Milangsari keluar dari keraton menuju alun-alun. Selain jumlahnya yang banyak. Setelah itu mereka langsung memilih burung yang bersuara bagus. Semua peserta harap-harap cemas. Berbagai jenis burung dibawa peserta untuk diadu dalam ajang pasanggiri.

yang artinya tempat yang banyak manuk (burung). Semuanya dinyatakan jelek. alun-alun Pilangsari dan sekitarnya dinamakan Pamanukan. Sedangkan istana dan 217 . Patih dan para prajuritnya dipenjarakan. Keraton Pilangsari dirobohkan. Mereka akhirnya mengamuk di alun-alun. Jelasnya.kecemasan dan kebahagian karena akan segera mendengar keputusan putri Milangsari. putri Milangsari memutuskan bahwa dari sekian banyak burung yang dipasanggirikan. tidak ada yang terpilih. Adapun putri Milangsari segera dibawa oleh peserta. disedekeun ke arah kaputren. Semua hanyalah misteri. Bagaimana nasib putri Milangsari? Lalu menikah dengan siapa dan kapan? Tidak ada yang mengetahuinya. sejak diadakan pasanggiri burung itu. Sungguh di luar dugaan. rajanya disandera. Adapun tempat nyedekkeun putri Milangsari disebut Kampung Padek. Kontan saja peserta pasanggiri yang kebanyakan raja dan kstaria pilih tanding merasa dihina.

sekarang hanyalah menjadi sebuah kampung kecil bernama Pilangsari di wilayah kabupaten Subang.kaputren kerajaan Pilangsari yang hancur. *** 218 .

3. SASAKALA SAGALAHERANG

Jaman dahulu, seluruh tatar Sunda berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Prabu Siliwangi. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup hampir seluruh pulau Jawa. Setelah kerajaan Pajajaran runtuh,

keturunan Prabu Siliwangi pun menyebar ke seluruh tatar Sunda. Dalem Ciburang, Cianjur, adalah salah seorang keturunan Prabu Siliwangi yang keenam. Namun berbeda dengan Prabu Siliwangi yang adil dan bijak, ia terkenal galak dan bengis. Terutama terhadap rakyat yang tidak memeluk kepercayaan yang sama dengannya. Oleh rakyatnya, ia pun dijuluki Dalem Pandita Bengis. Pada suatu ketika, ke daerah Ciburang menyebar kepercayaan baru, yakni agama Islam. Banyak

rakyatnya yang memeluk agama Islam. Ketika Dalem mengetahuinya, ia sangat berang. Rakyat yang

memeluk Islam akan segera dibunuh oleh prajuritnya
219

yang kejam. Bahkan Raden Aria, putranya sendiri, dilarang keluar dari kadaleman karena takut terpengaruh oleh agama Islam. Raden Aria sangat dimanja. Ia satu-satunya penerus tahta Dalem Ciburang. Untuk mendidik

anaknya, Dalem Ciburang mendatangkan beberapa orang guru dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari guru seni, beladiri, sampai guru dalam ilmu politik. Namun meski dimanja, Raden Aria tetap tidak merasa betah dengan kemewahan kadaleman. Akhirnya ia pun secara sembunyi-sembunyi keluar dari

kadaleman. Bahkan banyak teman-teman sebayanya mengajaknya belajar ngaji dan ilmu keislaman. Hal itu terus berlanjut, sampai akhirnya Raden Aria sangat paham dan memeluk agama Islam. Pada suatu hari, Dalem Ciburang memanggil Raden Aria. Lalu diberi petunjuk tentang agama leluhur yang dipeluknya. Namun Raden Aria selalu membantah dan meluruskan petunjuk dari Dalem Ciburang, ayahnya sendiri, dengan ajaran-ajaran keislaman. Tentu saja
220

Dalem sangat marah dan kaget mengetahui anaknya telah masuk Islam. Sesaat Dalem hanya membisu, matanya tak berkedip, melihat Raden Aria yang tenang sambil tersenyum tipis duduk di hadapannya. Melihat anaknya demikian, muncul sikap bengis dalam diri Dalem Ciburang. Lalu ia segera menyabut pedangnya. Namun ketika akan ditebaskan pada leher Raden Aria, pedang tersebut mendadak terjatuh dan patah. “Lahaola wala kuwwata illa billah,” kata Raden Aria lirih. Beberapa saat keduanya terdiam. Lalu Dalem Ciburang pun mengusir Raden Aria dari kadaleman. “Aria, putraku, ternyata engkau telah berani membantahku. Mulai saat ini, aku perintahkan engkau untuk keluar dari kadaleman. Cadu aku akan menyerahkan kadaleman ini padamu,” kata Dalem Ciburang sambil menunjuk pada Raden Aria. Sedikit perbuatannya pun Raden Aria ia tidak pun menyesali pergi dari

tersebut.

Lalu
221

kadaleman. Raden Aria berjalan ke arah timur dengan tujuan mencari guru untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Makin lama berjalannya semakin jauh dari Ciburang. Selama itu ia hanya makan dedaunan dan daging hewan buruan. Naik gunung, susur sungai, ia lewati dengan sabar dan tawakal. Setelah beberapa bulan, sampailah Raden Aria ke sebuah telaga yang sangat besar. Telaga tersebut airnya sangat jernih. Di tepinya tertanam pohon bambu dan pohon tanjung. Kemudian Raden Aria beristirahat di tepi telaga tersebut. Sesaat ia terpaku melihat keindahan sekeliling telaga. Kemudian ia pun melihat bahwa di tengahtengah telaga ada hamparan batu cadas membentuk nusa (seperti pulau di tengah lautan). Lalu timbul dalam hati Raden Aria untuk bersemedi di atas batu cadas tersebut. Raden Aria pun kemudian menyeberangi telaga. Setibanya di atas batu cadas, lalu ia duduk bersila. Dari sana menjuruskan pandangannya ke
222

“Hai. Raden Aria pun bersemedi di atas hamparan cadas tersebut. Raden Aria kaget dan tidak percaya.” 223 . Kalau Raden ingin tahu. aku ini penguasa telaga ini. "Semoga Raden tidak marah. Ternyata di hadapannya telah berdiri seorang putri yang sangat cantik jelita. Sebenarnya aku tiap pagi selalu memeriksa telaga dan melihatmu tenang bersemedi di sini. Hamba adalah putri jin. Pemandagangannya sangat indah. Setelah genap 40 hari 40 malam bersemedi.” gumamnya. "Mungkin aku hanya mimpi. lalu Raden Aria membuka matanya. sebab telaga itu berada di tengah hutan belantara. Nama hamba Endang Kusumah.sekeliling telaga. putri! Engkau manusia atau mahluk jadijadian?” Putri itu pun menjawab sambil tersenyum simpul. Setelah itu Raden Aria berbicara dengan tenang.

Lebih aneh. 224 . Pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang perajurit yang gagah. Kulitnya kuning langsat. Banyak orang berlalu lalang. memegang tombak dan panah. Akhirnya Raden Aria pun jatuh cinta pada putri jin tersebut. tiba-tiba alam menjadi gelap gulita. kedaan sekitar telaga telah berubah. setiap orang yang lewat ke hadapan Raden Aria selalu menundukkan kepala tanda hormat. Namun aneh. Lalu Raden Aria melihat ke arah utara. ketika Raden Aria menatapnya. ternyata da sebuah istana. rambutnya hitam panjang laksana mayang terurai. Ketika terang kembali. Telaga yang luas berubah menjadi sebuah kadaleman yang ramai.Raden Aria mendengarkan jawaban putri tersebut dengan seksama. kedua perajurit itu serempak menundukkan kepala tanda hormat. Sesaat setelah berpikir jatuh cinta pada sang putri. Ia pun berpikir bahwa selama hidupnya baru melihat putri secantik itu.

Kemudian berkata. ayahanda Nyi Putri. Kemudian Raden Aria dibawa oleh Nyi Putri ke ruangan kaputren. Ini istanaku. Ruangan tempat menerimatamu serba bersih dan mengkilat. Raden Aria berjalannya sering berhenti-henti karena tercengang-cengang melihat keindahan dalam keraton. kalian sudah ada di sini.” kata putri Endang Kusumah sambil memegang tangan Raden Aria. “Ayo masuk Kakang!” Raden Aria masuk ke dalam keraton sambil digandeng oleh Nyi Putri.“Jangan kaget. tiap kamar ditunggui oleh emban-emban yang cantik. "Syukurlah. Di sana pun tersedia makanan yang lezat. Mulailah Raden Aria dan Nyi Putri bersantap. di sebelahnya terdapat kolam yang airnya sangat jernih. Aku sangat bergembira akan mempunyai menantu yang berilmu tinngi dari golongan manusia. Tidak lama datanglah Raja Jin. Tidak jauh dari sana ada ruangan yang luas dihampari permadani berwarna merah. 225 .

Aku di sini perlu guru ngaji untuk mengajarkan santrisantri dari bangsa Jin.” Hari berganti hari. perasaanku berbeda. badan terasa lesu. Sangat meriah sekali. Hingga pada suatu sore. Seluruh bangsa Jin menghadiri acara pernikahan tersebut. Genap sembilan bulan." Tiga hari kemudian. Bertahun-tahun Raden Aria mengajar ngaji di kerajaan Jin. Keduanya lucu dan mungil. akhirnya Putri Endang Kusumah pun melahirkan bayi kembar. Terkadang tidak ada nafsu makan.” "Wah. Sudah banyak Jin yang masuk Islam dan mengaku guru kepadanya. pesta pernikahan antara Raden Aria dengan Nyi Putri Endang Kusumah pun dilangsungkan. "Kakang. bulan pun berganti bulan. Kalau siang hari. Raden Aria berjalan-jalan di taman bersama dengan istrinya Putri Endang Kusumah. Itu tanda bahwa Dinda sedang mengandung. Yang sulung perempuan diberi nama Raden Ajeng 226 . itu bukan sakit Dinda. ingin rasanya makan yang masam-masam.

Endang Sukaesih atau disebut juga Endang Kencana. sehingga sering membuat Putri Endang Kusumah kewalahan dalam mengasuhnya. sedangkan yang bungsu laki-laki diberi nama Raden Aria Suryakancana." "Ya. kedua anak kita sekarang sudah besar. "Kakang. Segala macam ilmu yang diajarkan akan paham dalam waktu singkat. Namun keduanya sangat cerdas. Beberapa hari kemudian. lalu pada suatu hari Putri Endang Kusumah berbicara pada Raden Aria. Namun keduanya berbeda dengan anak-anak jin yang lain. Biar kedunya belajar hidup merakyat. Setelah kedua anak tersebut besar. Kedua anaknya sangat dimanja. Mereka sangat liwar (nakal). kedua anak Raden Aria tersebut disuruh untuk berkelana. Semakin hari mereka tumbuh besar. lebih baik begitu. Mula-mula Raden 227 . Saatnya mereka harus berkelana ke luar istana untuk mencari ilmu kesaktian dan keagamaan.” jawab Raden Aria.

Nikahilah ia. Kakang pun tentu sangat merindukan kehidupan di alam manusia. aku mengerti akan perasaanmu. Raden Aria setiap hari selalu menyepi dan kadang tidak mau diajak makan. Nanti Kakang akan menemukan seorang putri yang sangat cantik.Endang Sukaesih menuju ke Gunung Ciremai.” “Kakang akan kukirim kembali ke alam manusia. Nyai. kenapa Dinda bicara seperti itu?” “Kakang. Istana kerajaan jin pun terasa sepi semenjak kepergian keduanya. Ia bangsa manusia. nampaknya sudah saatnya Kakang kembali ke alam manusia seperti semula. Putri Endang Kusumah mulai mengerti kejiwaan yang sedang dihadapi suaminya. apa yang harus Kakang lakukan sekarang. Selain merindukan anak-anak. Kalau begitu. “Kakang.” “Syukurlah kalau mengerti keadaan Kakang. kelak 228 . sedangkan Raden Aria Suryakancana menuju ke Gunung Gede. “Lho.” kata Endang Kusumah pada suatu hari. Melihat keadaan tersebut.

Dari jauh kelihatan ada seorang putri cantik berjalan menghampirinya. Lalu dilemparkannyalah batu cadas tersebut ke tengah telaga. Ketika membuka mata. Setelah itu. Kemudian Raden Aria membaca ayat kursi sebanyak 7 kali. Sejurus kemudian. Lalu Raden Aria pun tersadar dan mengucapkan istigfar beberapa kali sambil mengusap muka. Raden Aria memejamkan mata sambil merangkul erat istrinya. Raden Aria mengambil batu cadas sebesar buah kelapa. Kakang. Ia lalu memegang tangan istrinya. Bersamaan dengan jatuhnya batu cadas ke air telaga. Raden Aria segera menjuruskan pandangannya ke sekeliling perkampungan tersebut. ternyata ia sedang menelungkup di atas batu cadas.” Raden Aria hanya terdiam. tiba-tiba telaga tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan yang ramai.Kakang akan mendapat keturunan pula dari putri tersebut. Setelah sampai ke hadapan 229 . akan kubuatkan keraton pula untukmu di alam manusia.

ternyata sudah banyak orang menunggunya. Segala alat musik ditabuh. Konon. kita pulang ke Sagalaherang. lalu putri tersebut berbicara dengan lembut. Merujuk pada telaga yang dipakai bersemedi oleh Raden Aria sebelum berubah menjadi kadaleman Sagalaherang." Raden Aria pun segera mengikuti putri tersebut ke sebuah kadaleman. Kadaleman itu ternyata bernama Sagalaherang. *** (Subang) 230 . Ternyata di pendopo sedang diadakan syukuran menyambut kedatangan Raden Aria sebagai dalem baru mereka di kadaleman Sagalaherang. Makanan yang lezat pun tersaji.Raden Aria. "Mari Kakang. nama kadaleman Sagalaherang bermakna talaga nu caina herang (telaga yang airnya jernih). Rakyat sudah lama menunggu lama kedatanganmu. Pada hari itu pun dilangsungkan pula pernikahan antara Raden Aria dengan putri yang telah menjemputnya tersebut. Di dalam pendopo.

Kadipatian tersebut dipimpin oleh seorang dipati bernama Rangga Bitung dan istrinya bernama Nyai Puntung Mayang. Pada waktu Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon menyerbu Kerajaan Pajajaran. Nyai Puntung Mayang. yang saat itu dalam keadaan hamil. SASAKALA WILAYAH SUKACI 1. Dalam perjalanan menuju Gunung Salak. Pada saat penyerbuan itu. wilayah Pamingkis terkena imbasnya.D. berhasil diselamatkan oleh seorang Jaro (Lurah) yang bernama Loa. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang 231 . SASAKALA SUKABUMI Pada jaman dahulu. Sedangkan istrinya. yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ratu. di daerah Cibadak. Oleh Jaro Loa. Nyai Puntung Mayang dibawa ke perkampungan di kaki gunung Sunda. wilayah Priangan Barat termasuk ke dalam wilayah Kadipatian Pamingkis. Bupati Rangga Bitung terbunuh.

menemukan seorang bayi. Nyai Puntung Mayang melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Pudak Arum. Melihat gelagat demikian. Sesampainya di Gunung Salak. sejak kecil pun sudah 232 . maka sejak kecil sampai remaja hubungannya sangat dekat. tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Tingkah lakunya bijak. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang berniat mengawinkan keduanya. berkharisma. Ia mencerminkan seorang yang lahir dari keturunan ménak. Bahkan hubungan kedua remaja tersebut makin lama makin intim. Bahkan sebenarnya. Akibat kedunya dibesarkan di tempat yang sama. Seiring perjalanan waktu. yang ketika beranjak remaja disebut Nyai Tanduran atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Pudak Arum Saloyang. maka tumbuhlah Wangsa Suta menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Begitu pula Nyai Pudak Arum. dan pembawannya kelihatan lain dibanding dengan pemuda sebayanya. Bayi tersebut kemudian dibawa serta dan diberi nama Wangsa Suta.

akhirnya ia mengizinkan ajuan sarat dari Wangsa Suta tersebut.” Maka. “Nyai. Kontan saja Wangsa Suta sangat girang mendengar rencana ayah angkatnya itu. bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?” “Setuju. mencintai. maka berangkatlah Wangsa Suta 233 . Jaro Loa pun menyampaikan niatnya kepada Wangsa Suta tentang rencana Ki.diniati untuk dijodohkan. terlebih dahulu ia mengajukan syarat bahwa sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan. suatu ketika. Namun karena Wangsa Suta memiliki jiwa kesatria. Setelah mendapat persetujuan dan doa restu dari ayah angkatnya. ia terlebih dahulu akan berkelana kesaktian untuk sebagai menimba bekal ilmu dalam keagamaan hidup dan berumah- tangganya kelak. Karena Jaro Loa mengetahui watak anak angkatnya yang keras dan teguh pendirian. kelihatannya mereka saling penikahan tersebut.

Wangsa Suta berangkat menuju padepokan yang terletak di daerah bernama Kiara Gantung Kararangge. Wangsa Suta pun diperintahkan untuk mencari pohon pakujajar bercabang lima yang tumbuh di gunung Parang. Di tempat inilah. Tanah lamping ini ditumbuhi pohon kole yang daunya hijau dan bunganya berwarna ungu. Sesuai petunjuk dari Jaro Loa. Letaknya sebelah barat Gunung Sanghyang Purwa yang kontur tanahnya miring ke sebelah selatan. Sesampainya di padepokan tersebut. Dari Resi saradea inilah Wangsa Suta banyak menimba ilmu keagamaan dan kesaktian yang kelak banyak dipakai untuk menolong sesama. Wangsa Suta diperintahkan oleh Resi Suradea untuk membuat pedukuhan baru dan menyebarkan ilmunya. kelak Wangsa Suta berguru kepada seorang resi berilmu tinggi bernama Saradea. Setelah semua ilmu Resi Suradea diturunkan.untuk berkelana mencari ilmu. Sementara Wangsa Suta membuat pedukuhan 234 . Cukup lama Wangsa Suta berguru pada Resi Suradea.

kecantikannya tetap terkenal ke mana-mana. Nyai Pudak Arum berhasil diculik dan dibawa oleh Ki Jaya ke hadapan Demang Sukamukti. segera memerintahkan anak buahnya yang bernama Ki Jaya untuk melamar Nyai Pudak Arum. Namun meskipun sehari-hari wajahnya dibalut duka. Ki Jaya berniat menggunakan jalan kekerasan dengan cara menculik Nyai Pudak Arum. Bahkan untuk meloloskan niat tuannya tersebut. karena Nyai Pudak Arum setia memilih Wangsa Suta. Setiap hari wajahnya muram. Rencana penculikan pun berjalan lancar. Kontan saja lamaran tersebut ditolak. Namun keberuntungan 235 . maka Ki Jaya marah. Salaseorang demang kaya bernama Sukamukti misalnya. bangsawan Bahkan dari banyak pemuda lain dan para untuk daerah berniat mempersuntingnya. Ke mana-mana jalan sendiri. lain cerita dengan calon istrinya Nyai Pudak Arum. Mendapat penolakan tersebut. tanpa ditemani sang kekasih Wangsa Suta.baru di Gunung Parang.

dan tidak sabaran. Anak 236 . “Barja. sang Demang mendadak meninggal dunia. aku akan memberimu imbalan yang setimpal!” ujar Ki Puru Satra pada centengnya yang bernama Barja. Skenario penculikan pun berjalan lancar. Akhirnya Ki Jaya pun mengembalikan Nyai Pudak Arum ke tempat tinggalnya semula di kaki Gunung Sunda. Kalau berhasil. bawa semua anak buahmu. Ki Puru Satra pun segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menculik Nyai Pudak Arum. lalu bawa ke hadapanku.berpihak pada Nyai Pudak Arum. Culik Pudak Arum. Cerita belum usai. Berita kecantikan Nyai Pudak Arum sampai pula ke telinga para saudagar kaya. Tersebutlah saudagar kaya raya bernama Ki Puru Satra dari daerah Padabeunghar. yang terletak di Pelabuhan Ratu. Ia pun berniat ingin segera mempersunting Nyai Pudak Arum dengan cara jalan pintas. Sesampainya Nyai Pudak Arum ke hadapan Demang Sukamukti. yakni menculiknya. Saudagar tersebut memilki watak keras kepala. sombong.

bukan berarti kehidupan Nyai Pudak Arum sudah tenang. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Nyai Pudak Arum. Namun karena kesetiaannya pada Wangsa Suta. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Nyai Pudak Arum untuk meloloskan diri dari kediaman saudagar kaya raya tersebut. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Setelah dua kejadian penculikan menimpanya. Semakin hari semakin banyak saja laki-laki baik pemuda biasa maupun bangsawan yang ingin mempersuntingnya. Kini berkembang isu di masyarakat bahwa dirinya punya ilmu pelet dan kesaktian yang tinggi. 237 . semua lamaran ditolaknya. Nyai Pudak Arum dipaksa untuk menikah.buah Ki Puru satra berhadil menculik Nyai Pudak Arum tanpa rintangan yang berarti. Pada saat malam pengantin. Akhirnya Nyai Pudak Arum pun dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Setelah sampai di tempat kediaman Ki Puru Satra. Ki Puru Satra mendadak meninggal dunia.

Wangsa Suta menyuruh Nyai Pudak Arum untuk pergi terlebih dahulu menuju ke Gunung Parang mencai pedukuhan yang terdapat 238 . Anak buah Raden Kartala dapat menangkap Nyai Pudak Arum dengan mudahnya. Nyai Pudak Arum adalah seorang putri yang memilki kesaktian tinggi dan menyarankan untuk menangkap lalu membunuhnya. Raden Kartala pun menuruti nasehat tersebut. tiba-tiba Wangsa Suta antara datang Wangsa untuk Suta menolongnya. Namun ketika Nyai Pudak Arum akan dibunuh oleh algojo Raden Kartala.Penolakan bukan berarti masalah selesai. Namun penasehatnya melarang untuk mempersunting Nyai Pudak Arum. Skenario pun berjalan mulus. Di antara pelamar itu. Sebelumnya. Dalam pandangannya. kemudian ada seorang demang bernama Raden Kartala dari daerah Mangkalaya. Kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Nyai Pudak Arum. Perkelahian dengan anak buah Raden Kartala pun tidak dapat dielakkan.

” ujar Resi Saradea. sehingga Nyai Pudak Arum tertangkap di perjalanan. Kemudian Nyai Pudak Arum dibawa ke Pulau Putri di kawasan Pulau Seribu. ada syaratnya. Maka untuk mengetahui keberadaan calon istrinya. kalau engkau ingin bertemu kembali dengan calon istrimu.pakujajar berdahan lima. cucuku. setelah berhasil mengalahkan semua anak buah Raden Kartala. Namun sayang. Sementara Wangsa Suta. Dengan ilmu kebatinan yang dimiliki oleh gurunya. “Suta. “Apa syaratnya. rencana tersebut ternedus oleh anak buah Raden Kartala yang lainnya. guru?” 239 . ia segera menyusul calon istrinya ke Gunung Parang. Namun ia sangat kecewa dan sedih. Wangsa Suta diiberi petunjuk bahwa sampai kapan pun tidak akan bertemu dengan Nyai Pudak Arum sebelum pedukuhan di kaki Gunung Parang banyak penduduknya. ia segera meminta bantuan gurunya Resi Saradea. karena Nyai Pudak Arum tidak terdapat di tempat.

maka engkau pun pasti akan bertemu dengan calon istrimu. semakin hari semakin banyak penduduknya. Hal ini karena kata tanah dalam bahasa Sunda disebut juga dengan istilah atau kata bumi. Kemudian pedukuhan di kaki Gunung Parang itu pun. yang berarti senang tinggal di rumah dan senang menetap di tanah yang subur.” Setelah kemudian mendapat Suta petunjuk pun dari gurunya.“Engkau harus membuat pedukuhan di kaki gunung Parang. Akhirnya daerah tersebut dinamai oleh masyarakat setempat dengan sebutan suka di bumi. Tiga tahun kemudian. Nanti setelah pedukuhan tersebut ramai dikunjungi pendatang. Wangsa mulai ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan atau pedukuhan). para penduduk pun semakin betah dan menyukai pedukuhan yang subur dan banyak mata air tersebut. 240 Wangsa Suta pun . Banyak pendatang langsung menetap dan membangun bumi (rumah) tinggal. Semakin lama menetap.

Bahkan seiring perkembangannya. Mereka suka pada bumi. Mereka sangat menyenangi lingkungan dan tanah atau tempat tinggal yang didiaminya. Mereka pun kemudian menikah. daerah itupun kemudian berubah namanya menjadi Sukabumi seperti yang kita kenal hingga sekarang.bertemua kembali dengan Nyai Pudak Arum. Atas penamaan daerah tersebut oleh penduduk. Wangsa Suta pun merestuinya. Pendudukan sekitarnya menyebutnya sukabumi. *** 241 . lalu hidup bahagia di sebuah pedukuhan.

2. SASAKALA CIANJUR

Dahulu kala, di sebuah kampung yang subur makmur, hiduplah seorang lelaki tua yang sangat kaya raya. Kampung tersebut termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Lelaki tua tersebut memiliki ratusan hektar sawah dan perkebunan. Semua penduduk kampung dijadikannya pekerja baik untuk mengolah sawahnya maupun untuk mengolah perkebunannya. Namun meski demikian, penduduk kampung tetap saja miskin. Hal itu dikarenakan lelaki tua tersebut sangat koret (kikir), sehingga selalu membayar murah pada

pekerjaan yang dikerjakan oleh penduduk kampung. Hingga oleh seluruh penduduk, lelaki tua itupun dijuluki Ki Koret. Padahal nama yang sebenarnya ialah Aki Suhita. Anehnya, ia kikir bukan saja pada orang lain tetapi pada keluarganya sendiri. Untunglah sifat kikirnya
242

tersebut tidak menular pada anak lelakinya yang sulung. Berbeda dengan ayahnya yang kikir, anak lelakinya sangat baik dan murah hati. Ia sering membantu tetangga atau penduduk desa yang sedang kesusahan. Pada suatu hari, tersiar kabar akan terjadi bencana dan musim pailit. Tentu saja seluruh penduduk kampung, termasuk Ki Koret merasa ketakutan.

Menurut ramalan tersebut, bencana dan musim pailit dapat dilewati dengan cara mengadakan ruwatan kampung. Dengan syarat itu, penduduk kampung pun kebingungan, karena untuk mengadakan acara ruwatan memerlukan kecerdikan biaya anaknya, tidak sedikit. Ki Namun berkat

akhirnya

Koret bersedia

memberi biaya untuk mengadakan acara ruwatan. Itupun dengan terpaksa karena takut terkena bencana. Semua penduduk kampung senang. Terlebih mereka semua diundang oleh Ki Koret untuk mengikuti acara ruwatan di rumahnya. Semula mengira dalam acara ruwatan itu akan banyak makanan
243

yang

disuguhkan. Namun kenyataannya meleset, Ki Koret hanya menyediakan air putih dan hidangan

alakadarnya saja. Bahkan sebagian undangan banyak yang tidak kebagian sama sekali. Air putih pun dijatah satu gelas untuk satu orang. Dengan keadaan itu, seluruh penduduk desa dan anaknya tidak dapat berkata apa-apa, mereka semua hanya dapat celoteh

mengelus dada. “Benar-benar seseorang. “Pasti Tuhan tidak akan memberikan berkah pada seluruh harta kekayaannya,” kata yang lain. “Semoga Tuhan segera menyadarkannya,” kata penduduk yang lain. Ketika semua undangan ruwatan sedang rajanya orang kikir!”

menyantap hidangan yang disuguhkan Ki Koret, tibatiba datang seorang nenek tua meminta sedekah pada Ki Koret. “Juragan, pasihan..! Juragan, abdi pasihan…! (Tuan, berilah…! Tuan, berilah saya…!)
244

“Pasihan naon? Uing mah teu boga nanaon!” (Mau dikasih apa? Saya tidak punya apa-apa!” “Saeutik we Juragan, abdi lapar pisan…!” “Aeh, teu beunang dieuweuh-euweuh. Indit ka ditu, teu nempo batur keur loba semah.” Akhirnya nenek tua itupun pergi meninggalkan rumah Ki Koret sambil mencucurkan air mata. Melihat kejadian itu, anaknya turut merasa sedih. Diam-diam dia pun mengambil sedikit hidangan

jatahnya. Lalu diberikan pada nenek tua tersebut. Tentu saja nenek tua pun sangat berbahagia. Setelah diberi sedikit hidangan, kemudian nenek tua itupun pergi menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah bukit yang berada di batas kampung. Sesampainya di puncak bukit, lalu nenek tua itu berhenti dan menjuruskan pandangannya ke areal perkampungan. Matanya tertuju tajam pada rumah ki Koret. Lalu nenek tua itu menancapkan tongkatnya, sambil bergumam:
245

maneh bakal katibanan Setelah berkata demikian. Bahkan akhirnya masuk ke wilayah perkampungan. 246 . “Cepat tinggalkan kampung ini. Makin lama air itu makin membesar membanjiri areal pesawahan dan ladang. “Banjir…! Banjir…. lalu nenek tua itu mencabut kembali tongkatnya. cari tempat yang tinggi!” “Tapi sawah dan ternak kita bagaimana?” “Kalian pilih harta atau nyawa?” Anak Ki Koret yang bijak itu terus berteriak mengingatkan penduduk. Dari lubang tancapan itulah kemudian memancar air yang sangat deras. Anak Ki Koret segera menganjurkan orang-orang desa untuk segera meninggalkan perkampungan dan lari ke atas bukit.!!!” teriak penduduk kampung yang panik melihat kedatangan air bah yang tiba-tiba.“Hey jalma hukuman ti Gusti!” koret. Ia pun tidak lupa membujuk ayahnya agar segera keluar rumah.

Setelah beberapa hari menunggu di bukit. seluruh penduduk kampung telah pergi menuju bukit tempat keluarnya air dari bekas lubang tancapan tongkat si nenek tua tadi.”Ayah. Mereka pun sedih melihat kampungnya tenggelam. cepat tinggalkan rumah ini. Air bah semakin besar. Akhirnya Ki Koret pun tenggelam terseret arus air bah. air bah pun tak kunjung surut. 247 . anaknya Ki Koret mendapatkan wangsit bahwa harus segera membawa penduduk kampung mencari areal baru untuk perkampungan. Kemudian anaknya Ki Koret bersemedi untuk mendapatkan petunjuk. aku akan mengumpulkan hartaku terlebih dulu!” Sementara Ki Koret terus mengumpulkan harta bendanya. Dalam semedinya itu. Namun seluruh penduduk kampung termasuk anaknya Ki Koret berhasil menyelamatkan diri. kita harus segera menyelamatkan diri!” ”Apa? Meninggalkan rumah? Baiklah. Perkampungan pun berubah menjadi telaga yang besar.

Kemudian ia pun mengangkat ulu-ulu (petugas pengairan) yang mengatur jalannya air yang mengairi sawah dan ladang milik penduduk.Maka pergilah rombongan anaknya Ki Koret mencari daerah baru. Mengajari pula cara berkebun yang telaten dan bagaimana memilih bibit unggul. Semakin lama. Anaknya Ki Koret menganjurkan seluruh penduduk untuk mengolah tanah yang telah dibagi rata. Di daerah baru itulah kemudian anaknya Ki Koret diangkat menjadi pemimpin kampung mereka yang baru. Setelah menemukan sebuah daerah yang subur. 248 . anaknya Ki Koret pun memerintahkan rombongannya untuk ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan). perkampungan itupun semakin berkembang. Anaknya Ki Koret pun merestui penamaan tersebut. Ia pun mengajari penduduk tatanen (cara menanam padi) dan bagaimana mengairi sawah yang baik. perkampungan itu disebut kampung Anjuran. Kemudian oleh seluruh penduduk.

atau anjuran pemimpin kampung dalam hal bertani selalu dilaksanakan oleh penduduk Cianjur. Kata Cianjur berasal dari kata c(a)i yang berarti air. yakni anaknya Ki Koret. atau anjuran pemimpin kampung.” ujar anaknya Ki Koret di depan seluruh penduduk kampung. pepatah. Kata ci (air) sendiri mengingatkan pada peristiwa banjir bandang yang telah menenggelamkan Ki Koret. mengenang anjuran anaknya Ki Koret agar segera mengungsi dari terjangan banjir pada waktu itu. Adapun kata anjur. Wilayah perkampungan tersebut sangat subur. apapun perintah. Kelak kampung ini akan menjadi penghasil beras terkenal di tanah Pajajaran. Konon kata Anjuran berasal dari sikap para penduduk yang selalu mematuhi anjuran atau perintah pimpinannnya. Lama kelamaan nama Anjuran pun berubah menjadi Cianjur. dan anjur yang berarti perintah. Memang secara turun-temurun.“Aku restui kampung ini dinamakan Anjuran. 249 . Penduduknya sangat ramah dan pandai mengelola sawah. pepatah.

terutama berasnya terkenal sangat enak. gurih.Buktinya hingga sekarang. yang diatur oleh seorang ulu-ulu (petugas pengairan). Konon kuncinya mereka sangat teratur dalam mengairi sawah. hasil bumi dari Cianjur. *** 250 . dan wangi.

Hal ini bermula dari sebuah kisah masa lalu. Bogor. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. hijau. Prabu dan Ratu belum dikaruniai juga keturunan sehingga mereka selalu cemas dan merasa kesepian. adakalanya berwarna kekuning-kuningan.E. SASAKALA TALAGA WARNA Di lembah gunung Megamendung. Dahulu kala. terkadang berwarna jingga. terdapat sebuah telaga yang terkenal dengan nama Talaga Warna. di tengah-tengah Talaga Warna berdiri sebuah istana kerajaan Kutatanggeuhan. Disebut demikian karena airnya selalu berubah warna. SASAKALA WILAYAH BODEBEK 1. merah muda. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Namun sayangnya. Rakyat pun turut bersedih dan sangat mengkhawatirkan 251 keadaan tersebut. .

Rakyat menunggumu!” kata suara gaib tersebut. Hingga sang putri pun tumbuh menjadi perempuan yang cantik jelita. Di puncak gunung itulah kemudian Raja berdoa dan meminta pertolongan dari Sanghyang Widi. Benar saja. Putri tersebut diberi nama Putri Gilang Rukmini. tiba-tiba terdengar suara gaib. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Sekarang. beberapa bulan kemudian. Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan perasaan senang. ratu pun mengandung. Oleh 252 . “Aku tahu engkau ingin memiliki keturunan. kelak kerajaan takut akan jatuh ke keluarga raja yang tidak bijak. Pada suatu ketika. Setelah 7 hari 7 malam Prabu Suwartalaya berdoa. raja pun memutuskan untuk bersemedi ke gunung Megamendung. Semua bersuka cita. kembalilah ke istana. Aku kabulkan keinginanmu itu.Mereka berpikir kalau Raja tidak juga mempunyai keturunan.

Pada suatu ketika. Akibat terlalu dimanja. Mereka berharap suatu hari watak sang putri akan berubah. Selama itu pula. Maklumlah anak semata wayang. sang putri sangat dimanja. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Mulai dari makanan. segala keinginannya selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Jika tidak. sampai perhiasan. pakaian. Ia pun selalu menangis kepada ayah ibunya untuk sekedar minta disediakan berbagai pakaian mewah dan perhiasan. Bahkan sampailah sang putri tersebut merasa bosan atas model pakaian dan perhiasan yang ia pakai. terpasang pada tubuh dan pakaiannya. Namun rakyat tetap mencintainya. Mulai dari intan berlian sampai emas permata. Tiap hari pekerjaannya hanya merias dan mempercantik pakaian.kedua orang tuanya. sang putri menghadap kepada kedua orang tuanya. lama-kelamaan sang putri terbiasa memakai pakaian dan perhiasan mewah. putri akan marah dan bertindak kasar. Sambil diiringi para 253 .

untuk apa?” “Untuk mempercantik diri.” Beberapa hari kemudian. putri akan berulang tahun yang ke-17. “Ada apa anakku. ia seperti biasanya sambil membawa perhiasan dalam bokor kencana.emban. aku ingin memiliki banyak berlian. Nanti di hari ulang tahunmu yang ke 17 aku akan berikan hadiah kepadamu. aku ingin meminta perhiasan lagi. sebelum hari ulang tahun putri tiba. sabar.” “Buat apa anakku. Semua rakyat boleh datang untuk memberikan doa ataupun hadiah untuk putri Gilang Rukmini. seluruh rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk 254 . “Rama. rama. engkau menemuiku.” kata Sang Raja.” “Iya.” “Ya. Prabu Suwartalaya berniat akan mengadakan pesta syukuran di istana. bukankah sudah banyak perhiasan yang sudah aku berikan untukmu?” “Rama. Karena sangat mencintai raja dan putrinya.

255 . Rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun kerajaan tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Ratu. Rakyat sangat kagum melihat kecantikan sang putri. Sore hari pesta pun akan segera usai. Memang sebelumnya sudah banyak pemuda dan ksatria yang kapengpeongan (tergila-gila) akan kecantikan sang putri.sang putri. Rakyat pun bersorak-sorai saat Prabu. Maka disepakatilah oleh mereka untuk menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Kalung tersebut dibeli dengan cara patungan sukarela. dan Putri menaiki babancong. Pada hari itu. rakyat pun memberikan kotak berisi kalung kepada putri Gilang Rukmini. Di babancong (podium) telah dihiasi beragam hiasan mewah. pesta pun berlangsung sangat meriah. Kalung itu terbuat dari emas berlian dengan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Sesuai rencana. Kini tiba saatnya giliran rakyat mempersembahkan hadiah istimewanya.

Sedih 256 kenakanlah kalung ini!” ujar Prabu . Bukankah kalung ini sangat indah?” kata Ratu Purbamanah.Namun Prabu Suwartalaya yang giliran membuka kotak tersebut. dan seluruh rakyat hanya bisa terdiam lesu. “Indah apanya? Kalung jelek begini. “Ayo. Permata yang beraneka warna itupun berhamburan. Ratu Purbamanah. Jangan kecewakan mereka. Prabu Suwartalaya. Ratu Purbamanah dan seluruh rakyat menangis. Lalu dikeluarkanlah kalung beraneka warna yang sangat indah pemberian dari rakyatnya itu kepada putri Gilang Rukmini. Sesaat kemudian. “Ini tanda cinta rakyat kepadamu. suara tangis pun pecah. Ia pun langsung membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Lama Putri Gilang Rukmini memandang kalung tersebut dengan kening berkerut. norak sekali. Suwartalaya. Aku tidak mau mengenakannya!” teriak putri Gilang Rukmini. Beraneka warna.

Semakin lama semakin deras. ia langsung keluar dari babancong sambil menginjak batu permata yang terserak di lantai. Hingga kini.melihat kelakuan putri kesayangannya. telaga tersebut masih ada dan dijadikan tempat wisata. danau). air telaga yang selalu beraneka warna itu berasal dari kalung yang dihiasi batu permata beraneka warna pemberian dari rakyat yang dilemparkan oleh sang putri. sampai akhirnya menenggelamkan seluruh bangunan istana. Ratu. telaga tersebut dinamakan talaga warna. Setelah perbuatan sang putri itu. di depan babancong keluar air. Maka berubahlan istana dan lingkungan sekitarnya menjadi sebuah talaga (telaga. Oleh masyarakat setempat. karena jika hari cerah airnya memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Putri. Prabu. Namun sang Putri seperti tidak merasa bersalah. *** 257 . Konon menurut masyarakat setempat. Sungguh ajaib. dan seluruh rakyat kerajaan Kutatanggeuhan pun tenggelam diterjang air bah.

Wilayah bekas ibukota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. Scipio. Orang-orang Hindia Belanda yang telah melakukan ekspedisi itu. kota yang pernah berpenghuni 50. antara lain. Dalam memanfaatkan wilayah yang 258 .000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Hindia Belanda (VOC). Setelah satu abad hilang dari percaturan sejarah. Adolf Winkler. SASAKALA KOTA BOGOR Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan oleh pasukan Banten. juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC. seorang Sunda terah Sumedang. Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC. dan Abraham van Riebeeck. tersebutlah bahwa seluruh ibukota kerajaan hancur lebur dan penduduknya terbunuh serta terusir.2. Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa.

Kedung Halang dan Parung Angsana. Parung Kujang.dikuasainya. Baranang Siang. dan Cimahpar. Tanujiwa. kecuali di Cikeas. Bantar Jati. Kemudian diisukan bahwa orang-orang Pajajaran berubah menjadi harimau. Kampung Baru 259 . Parung Banteng. Citeureup. yang diberi nama Kampung Baru. Sempur. Tempat inilah menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kota Bogor. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan. seorang Letnan Terah Sumedang. Selanjutnya. Malah orang Hindia Belanda menemukan seekor harimau besar yang sedang tidur. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang. Akhirnya. mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran. VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Panaragan. dia bersama anggota pasukannya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana.

Pada waktu itu. sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. De Haan memulai mendaftarkan bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa. 260 . Ia telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru. Oleh karena itu. Tanujiwa menjadi Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Regentschap Kampung Baru disebut juga Regentschap Buitenzorg.menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampungkampung lainnya. dibangunlah tempat peristirahatan pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Atas dasar itulah.

Sejak itulah. Pada waktu itu di sekitar wilayah Buitenzorg terdapat banyak pohon enau atau kawung.Ketika Bupati Kampung Baru yang dipimpin oleh Demang Wiranata. Daerah tersebut makin lama makin ramai karena dibukanya jalur hubungan kereta api BataviaBuitenzorg. yang akhirnya nama daerah itu disebut Empang. 261 . yang disebut “bogor” atau “pogor”. ia mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati. di wilayah tersebut banyak tunggul kawung. yang terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya selanjutnya dekat empang besar. Buitenzorg berubah nama menjadi Bogor. Nama Empang nama berangsur-angsur mendesak Sukahati. Pembukaan jalur kereta ini sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota. Akibatnya. Pohonpohon tersebut cukup mengganggu keindahan wilayah sehingga banyak yang ditebang.

dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau) Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti (Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama. ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung (Di tempat itu. ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput 262 .bagi mereka yang tidak paham) Ari sababna.Di dalam cerita pantun yang dikisahkan oleh Aki Cilong disebutkan perihal penamaan Bogor sebagai berikut. NGADEGNA DAYEUH PAJAJARAN Tah di dinya.

terus membara asapnya tak cukup untuk "muput") Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman) Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana (Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya) Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna (Kalau tertendang? bisa melukai yang mendangnya itu kaki akan lama sembuhnya) 263 .(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapitidak padam.

begitu! Namai olehmu kota itu Kota Bogor!) 264 . amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak (Tapi.Tapi. kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan) Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor! (Nah.

Setiap hari sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari seluruh kerajaan di penjuru Nusantara. Kelak nama Jayakarta berubah menjadi Batavia dan berubah kembali menjadi Jakarta. Portugis. dan Belanda. Bisnisnya pun semakin lama semakin maju.3. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terbesar di wilayah kerajaan Banten. kemudian rombongan Cornelis Chastelyn itu mulai mencari barang dagangan berupa rempah-rempah ke daerah Jayakarta. Bahkan banyak pula kapal-kapal dagang dari kerajaan Cina. datanglah rombongan kapal dagang Belanda yang tergabung dalam kongsi dagang bernama VOC. Dari pelabuhan Sunda Kelapa. terdapat seorang Belanda bernama Cornelis Chastelyn. Chastelyn selalu banyak mendapat 265 rempah-rempah dari . Hingga suatu ketika. Dalam rombongan tersebut. SASAKALA DEPOK Dulu. Cukup lama Chastelyn menetap di Jayakarta.

akhirnya Chastelyn pun menjadi salah seorang pedagang Belanda yang kaya di Jayakarta. Tentu saja barang dagangan pun semakin lama semakin Cornelis (Jatinegara). Banyak pula di antara mereka yang menikahi perempuan pribumi. malah menetap untuk waktu yang cukup lama. maka pada suatu hari Chastelyn memutuskan untuk 266 . Meester (Bogor). hingga Buitenzorg berkurang. Oleh karena itu. Sunda Kelapa dan kampung Jayakarta pun semakin lama berkembang pesat.penduduk pribumi. Banyak pedagang yang tadinya hanya sekedar transit. Hal ini karena pasokan rempah-rempah dari Banten dan Pakuan (sekarang Bogor) banyak tersendat. Hingga Chastelyn pun merasakan usaha dagangnya kian hari kian menurun. Ia pun membeli tanah yang luasnya terbentang mulai dari wilayah Weltevreden (Gambir). yang selanjutnya ia jual ke kerajaan Belanda dengan harga lebih mahal. Tidak sampai satu tahun.

Chasteleyn memutuskan untuk membeli tanah di kawasan tersebut. Apalagi penduduk di sana sangat menghormatinya. Maksudnya untuk mencari lahan baru untuk menjalankan usaha dagangnya di bidang hasil bumi. dan santun. Tidak menunggu lama. akhirnya Chastelyn memutuskan untuk menetap di perkampungan tersebut. ramah.mencari lahan baru yang masih banyak menghasilkan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Oleh karena itu. tibalah rombongan Chastelyn ke sebuah perkampungan yang letaknya terpencil di tengah hutan belantara. lalu Chasteleyn membeli tanah di kawasan tersebut dari penduduk setempat dengan harga 700 267 . Melihat sikap penduduk yang demikian. berangkatlah Chastelyn bersama beberapa orang pegawainya ke arah timur Jayakarta. Penduduk kampung tersebut sehari-harinya berbahasa Sunda. Setelah satu minggu perjalanan. Lama kelamaan Chasteleyn pun merasa betah. Beberapa bulan kemudian.

Chastelyn dikenal sangat ramah dan baik pada budak-budaknya. Maluku. Status tanahnya adalah partikelir. Maka ia pun mendatangkan budak bayaran dari Bali. Makassar. Jumlahnya sekitar 150 orang. Hingga penduduk di kampung itu pun sangat menghormatinya. Tanah yang telah dibelinya di perkampungan tersebut. Tanah yang dibeli Chasteleyn pada waktu itu sangatlah luas. dan Filipina. tanah yang dibeli Chasteleyn itu batasnya meliputi Kampung Malela di sebelah utara. tentu saja harus segera diolah oleh Chastelyn. Selain mempekerjakan pula penduduk setempat. 268 . yakni belum dikuasai oleh VOC. Berbeda dengan Belanda yang lain. Kalau hitungan sekarang. dan rel kereta api Jakarta-Bogor. Kampung Belimbing di sebelah selatan. Borneo (Kalimantan). Ternate.ringgit. Pulau Rote. Sungai Ciliwung di sebelah timur. Jayakarta.

pedagang Cina memutuskan untuk membuat tempat transit di Kampung Bojong. Tentu saja peraturan tersebut sangat menyulitkan pedagangpedagang dari Cina dan Belanda. Chastelyn pun segera membuat peraturan. Mengingat pada waktu itu.Sebagai daerah baru. Sebagai tuan tanah di sana. Selain itu. perkampungan yang dibangun Chastelyn pun banyak menarik minat pedagang-pedagang dari tempat lain. Dalam peraturannya tersebut. banyak pula pedagang-pedagang dari Cina untuk berjualan di sana. Kampung ini berada di luar wilayah 269 . perjalanan dari Jayakarta ke perkampungan Chastelyn dapat memakan waktu tiga hari. Perkampungan itupun semakin hari semakin berkembang dan ramai dikunjungi pedagang. termasuk pedagang dari Jayakarta. Banyak pula orang Belanda dari Jayakarta mulai berdatangan dengan maksud untuk berdagang dengan Chastelyn. Dengan peraturan baru itu. ia melarang pedagang-pedagang untuk menetap.

Chastelyn membangun rumah besar yang dijadikan perguruan. Para pedagang Cina berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di perkampungan tersebut. banyak pula pendatang dari Jayakarta yang sengaja hanya untuk berguru agama Kristen kepada Chastelyn. Penduduk setempat menyebutnya dengan padepokan. Bahkan akhirnya. 270 . Chastelyn adalah pemeluk Kristen yang taat. Semakin lama.perkampungan Chastelyn. Chasteleyn pun mulai mengajarkan agama Kristen kepada penduduk pribumi dan terutama kepada para pekerjanya. Sampai-sampai tidak tertampung di rumahnya yang besar menurut ukuran pada waktu itu. Akhirnya secara bertahap. murid Chastelyn pun semakin banyak. Atas permintaan ayahnya. Kemudian. muncul nama kampung Pondok Cina. Chastelyn pun mencari akal agar orang-orang yang ingin menjadi muridnya dapat tinggal di perkampungan itu. Semenjak itulah. Sebagai seorang Belanda.

Padepokan agama Kristen yang dibangun Chastelyn pun semakin lama semakin berkembang dan terkenal sampai ke kerajaan Belanda. Selain sejalan pula dengan istilah perguruan yang dalam bahasa Sunda disebut padepokan. Kedua istilah perguruan tersebut selanjutnya oleh Chastelyn disingkat menjadi DEPOC. yang oleh lidah penduduk setempat diucapkan DEPO(K).Oleh Chastelyn padepokan agama Kristen tersebut diberi nama dalam bahasa Belanda De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Istilah penduduk setempat inilah yang kemudian menjadi nama perkampungan tersebut sampai sekarang. Namun muridmuridnya sering menyebut padepokan tersebut dengan nama Deze Eenheid Predikt Ons Christus. Kemudian banyak pula dikunjungi pejabat-pejabat VOC yang 271 . yang berarti Organisasi Kristen Protestan Pertama. Kelak sebutan padepokan pun oleh penduduk setempat disingkat pengucapannya menjadi depok. yang berarti dengan persatuan telah membawa kami ke Kristus.

Kecamatan Limo. *** 272 .sengaja meminta pendapat dalam hal keagamaan. Hutan itu dan kuperuntukkan seluruh pekerjaku keturunannya kelak. hutan yang di sebelah timur sungai Karukut jangan sampai untuk diganggu. yang sebagian isinya sebagai berikut: “Anthony Chastelyn. Sebelum meninggal. Chastelyn sempat mewariskan seluruh perkampungan tersebut pada anaknya melalui sebuah surat wasiat memakai bahasa Belanda kuno. tepatnya di selatan Cinere. sebelum akhirnya Chastelyn pun meninggal dunia di kampung Depok. Kota Depok.” Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat Chastelyn itulah yang kemungkinan sekarang berada di wilayah Kelurahan Krukut.

Seluruh rakyat menghormatinya karena Prabu Purnawarman sangat adil dan bijak dalam memimpin. Dipimpin oleh seorang raja yang sangat sakti bernama Prabu Purnawarman. yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Prabu Jayasingawarman. Ketika ia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara. ibukota kerajaan masih di daerah Jayasingapura. Pada suatu malam. 273 . Prabu Purnawarman mendapat wangsit dari Sanghyang Widi.4. Maka segera saja Prabu Purnawarman memerintahkan kepada patih dan para menteri agar mencari daerah baru untuk ibukota kerajaan. Dalam wangsit itu dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara akan berkembang menjadi kerajaan besar apabila ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. SASAKALA BEKASI Tarumanagara adalah sebuah kerajaan yang subur makmur.

Paman Patih?” “Letaknya di tepi kali Gomati. Hingga akhirnya.” “Baik.“Paman Patih. daerah itu telah 274 . karena di sana banyak terdapat sumber air. Namun alangkah baiknya. Paman Patih pun segera membentuk panitia pencari daerah baru untuk ibukota Tarumanagara. Gusti Prabu pun memeriksanya.” “Di mana letaknya. Tanahnya sangat subur. Kemudian Paman Patih menghadap kepada Prabu Purnawarman. besok akan aku periksa daerah itu.” Gusti Prabu. apakah sudah kau temukan daerah baru untuk ibukota itu?” “Ampun ditemukan. rombongan yang dipimpin patih tersebut menemukan sebuah daerah di tepi sungai Gomati. “Paman Patih. buat panitia untuk mencari daerah baru yang cocok dijadikan ibukota Tarumanagara!” begitulah titah Prabu Purnawarman pada patihnya.

Prabu Purnawarman memeriksa daerah hasil temuan patihnya itu. ia pun menyukai daerah yang baru tersebut. yang berarti kota Sunda. “Perlu kalian ketahui. Banyak pula pendatang dari kerajaan-kerajaan lain yang bermukim di Sundapura. Akhirnya ibukota kerajaan Tarumanagara pun oleh Prabu Purnawarman dipindahkan dari Jayasingapura ke tepi sungai Gomati hasil temuan patihnya tersebut.Keesokan harinya. Setelah diperiksa. Kemungkinan nama Sunda untuk menyebut tanah dan suku Sunda sekarang ini dimulai pada masa itu. Apalagi setelah tiga 275 . Sundapura banyak didatangi oleh para pedagang dari mancanagara. Daerah itu kemudian diberi nama Sundapura. ibukota Tarumanaga aku ganti namanya menjadi Sundapura!” begitulah ucapan Prabu Purnawarman pada waktu peresmian ibukota yang baru itu. kerajaan Tarumanagara berkembang pesat. Benar saja apa yang dikatakan dalam wangsit itu. Tidak lama setelah ibukota dipindahkan.

Purnawarman berhasil menjadi raja terbesar di pulau Jawa. Di medan perang Purnawarman dikenal oleh lawan-lawannya dengan nama Wyaghra ning Tarumanagara (Harimau Tarumanagara). Setelah pasukan perangnya kuat. Beberapa tahun kemudian. karena ia selalu memakai baju besi. Selain itu. Biasanya acara serah terima upeti dilaksanakan tiap malam 276 bulan purnama setiap . ia pun terkenal memiliki ilmu kesaktian yang tidak ada tandingnya. Pelabuhan baru itu pun segera saja dipenuhi oleh kapal-kapal pedagang dan kapal-kapal perang kerajaan Tarumanagara. Selama berperang. Purnawarman tidak dapat dilukai senjata apapun. Raja-raja kecil setiap tahun selalu mempersembahkan upeti tanda takluk. Prabu Purnawarman memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk membangun pelabuhan di pantai sebelah utara. Dalam berperang ia selalu menjadi panglima. kemudian Purnawarman memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukan kerajan-kerajaan kecil.tahun kemudian.

beberapa stel pakaian. Telah Tarmanagara banyak yang sungai di wilayah atas kerajaan perintah diperbaiki Purnawarman. Setiap rakyat yang ikut bergotong royong memperbaiki sungai. maka akan diberinya seekor sapi. Tanah di kerajaan Tarumanagara pun menjadi subur makmur. dan perhiasan. irigasi dan dipakai untuk membangun mensejahterakan saluran untuk membuat memperbaiki aliran sungai. Hasil semuanya Tarumanagara Terutama upeti tersebut. Sawah dan ladang rakyat terairi dengan 277 .tahunnya. sungai Cupu di wilayah CupunagaraSubang. Di antaranya ialah sungai Gangga di wilayah Cirebon. Demikian karena mayoritas penduduk Tarumanagara bekerja sebagai petani dan peladang. dan beberapa sungai kecil lainnya yang berada di wilayah kekuasaannya. oleh Purnawarman kerajaan rakyatnya. Mereka berkumpul di istana Tarumanagara. sambil disuguhi makanan dan tarian wanita-wanita cantik.

” 278 . kita semua harus memperbaiki sungai Gomati dan Candrabhaga.baik. Dalam wangsit itu disebutkan bahwa ia harus segera memperbaiki sungai utama kerajaan Tarumanagara yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga. Intinya semua rakyat Tarumanagara sejahtera hidupnya. Setelah mendapat wangsit itu. sehingga banyak ikan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan oleh seluruh rakyat. bahwa aku mendapat wangsit dari Sanghyang Widi. Prabu Purnawarman mendapatkan wangsit kembali. Sungai-sungai airnya bersih. Ingat memperbaikinya harus selesai dalam waktu 7 hari 7 malam. beberapa hari kemudian Purnawarman segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun Sundapura. perlu kalian ketahui. Kalau kerajaan Tarumanagara ingin selamat dari bencana dan menang dalam berperang. Pada musim kemarau pun tidak pernah kekeringan atau kelaparan. Pada suatu malam. “Hai rakyatku semua.

aliran sungai Gomati dan Candrabhaga pun berhasil diperbaiki tepat waktu. berjajar di tepi sungai Gomati dan Candrabhaga. menteri. Hingga ia pun mengadakan selamatan secara besar-besaran dan memberikan hadiah kepada para brahmana. dan berbagai masakan lezat. Dalam acara sukuran tersebut. ribuan pakaian. dan pembesar kerajaan pun turut serta bersama-sama dengan rakyat memperbaiki aliran sungai. Prabu Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor sapi. Bahkan raja-raja daerah pun dihadiahi oleh Prabu Purnawarman berupa kerbau dan berbagai emas permata untuk permaisurinya. Bahkan para patih. Setelah 7 hari 7 malam.Seluruh rakyat tidak ada yang berani membantah titah rajanya yang sakti tersebut. Prabu Purnawarman sangat bahagia. Siang malam mereka bekerja dengan sungguh- sungguh. Sambung menyambung tidak terputus membentuk pagar betis. 279 . Keesokan harinya ribuan rakyat baik perempuan maupun laki-laki dengan membawa berbagai jenis perkakas.

sedangkan bendera kerajaan Tarumanagara bergambar bungai teratai dan kepala gajah. Hingga kini.“Semoga Sanghyang Wasa selalu merestui kerajaan Tarumanaga!” kata Prabu Purnawarman kepada seluruh penduduk yang diucapkan pada acara syukuran itu. Setiap kapal perang diberi tanda memakai bendera bergambar naga. Begitulah kejayaan kerajaan Tarumanagara di tangan Prabu Purnawarman. sampai akhirnya dibagi dua oleh para penerusnya menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Saluran irigasi tersebut 280 . peninggalan kerajaan Tarumanagara tersebut masih dapat kita saksikan. Angkatan lautnya sangat tangguh. yakni saluran irigasi Gomati dan Chandrabaga yang membentang sejauh 11 km. Pada masa dipimpin Prabu Purnawarman itulah kerajaan Tarumanagara mencapai kejayaannya. Adapun materai raja terbuat dari lempengan emas bergambar lebah dan kumbang.

Konon kata chandra dalam Chandrabaga.sekarang membelah kota Bekasi dan namanya berubah menjadi Kali Bekasi. kemudian berubah namanya menyesuaikan dengan lafal penduduk setempat menjadi Bhagasi dan berubah menjadi Bekasi seperti yang kita kenal sekarang. Chandrabhaga artinya sama dengan Kali Bagasasi. *** 281 . berarti sasi atau bulan. Dengan demikian. Seiring perjalanan waktu.

Dijuluki Rambut Kasih karena rakyat di kerajaan Panyidagan tidak berani menatap wajahnya yang sangat cantik dan berkharisma. Mereka hanya berani menatap sang ratu dari bagian belakang. sang ratu pun memiliki ilmu kesaktian dan 282 . ada sebuah kerajaan yang gemah ripah repeh rapih bernama tersebut Panyidagan diperintah atau oleh Sindangkasih. SASAKALA WILAYAH PANTURA 1. Bahkan selain rambutnya yang indah. Bagi siapa saja yang melihatnya akan menimbulkan rasa kasih pada sang ratu. sehingga yang terlihat hanya rambutnya saja yang panjang hitam bergelombang terurai. SASAKALA MAJALENGKA Dahulu kala. Namun masarakat menyebutnya dengan Ratu Ayu Rambut Kasih atau Nyi Rambut Kasih. Rambut ratu yang indah itu konon sebagai asihan. Kerajaan seorang ratu yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Panyidagan.F. Maka dijulukilah Nyi Rambut Kasih.

dan Ki Gedeng Kulur. negara kita akan mendapat cobaan. Ia dibantu oleh tiga orang patih setianya. Pada suatu hari. Setelah suasana tertib. panglima perang.kedigdayaan lahir batin yang tinggi. Dalam menjalankan roda pemerintahan. Kehidupan rakyat pun terjamin. Prajurit dan guru merasa dihargai.” 283 . Ki Gedeng Mardapa. Petani dan pedagang merasa tentram. yakni: Ki Gedeng Cigobang. Nyi Rambut Kasih mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh paramenteri. Ia pun dapat menerawang kejadian yang akan datang. sehingga disukai dan dihormati seluruh rakyatnya. “Atas kehendak Sanghyang. Tak pernah ada pencuri atau perampok yang mengganggu kekayaan rakyat. karena hukum kerajaan ditegakkan tidak pandang bulu. maka bersabdalah Nyi Rambut Kasih kepada seluruh yang hadir. Nyi Rambut Kasih dikenal sangat adil dan bijaksana. dan tentu saja ketiga orang patih setianya.

Lebih baik banyak sahabat. "Sebentar lagi kita akan menerima tamu. Sang Ratu kemudian bertitah lagi. aku perintahkan kepada paman patih. Entahlah. Akan tetapi.” semua serempak menjawab. terimalah dengan lapang dada. Nyai Ratu. ketimbang banyak musuh. kelak negara ini akan berubah. Selanjutnya Nyi Rambut Kasih bersabda lagi. Menurut wangsit... “Menurut wangsit yang aku terima. untuk melindungi segenap rakyat di kerajaan ini. Oleh karena itu. tamu tersebut gagah tur kasep.. Apabila dikemudian hari ada utusan dari kerajaan lain yang ingin bersahabat. Tentramkan hati rakyat. dan seluruh prajurit. Setelah mendengar jawaban dari hadirin. Maka semuanya harus waspada dan siaga menghadapi semua malapetaka. Paham…?” “Nyakseni. malapetaka seperti apa. semua rakyat Panyidagan 284 . semua menteri. Namun orang tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi kita sekalian..Semua undangan yang hadir terdiam.

akan berubah keyakinan dan kepercayaan sesudah kerajaan ini lepas dari kekuasaanku. Demikian

nasihatku, sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan tenang." Setelah pertemuan itu, ketiga patih bersama panglima perang menyiapkan prajurit untuk menjaga perbatasan kerajaan di sebelah utara. Di perbatasan, lalu ketiga patih tersebut membuat posko penjagaan. Dari posko itu mereka dapat melihat keseluruh penjuru dengan jelas. Setiap orang yang akan masuk kerajaan Panyidagan akan kelihatan dengan jelas. Apalagi orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai dulu karena hanya tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Posko penjagaan ketiga patih yang diketuai oleh Ki Gedeng Cigobang itu, kini dikenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata Penjagaan). Suatu hari yang cerah. Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang santai
285

berkelakar. Tidak diketahui dari mana datangnya, tibatiba terlihat seorang pemuda sedang menyeberangi sungai menuju Negeri Panyidagan. Alangkah

terkejutnya ketiga patih melihat kejadian itu. Dengan segera ketiga patih itu memanggil pemuda yang sedang menyeberangi sungai. "Hai, Ki Silah, kenapa kamu berani

menyeberang tanpa seijin kami?" Pemuda yang sedang menyeberang tidak

menghiraukan teriakan ketiga patih itu. Ia terus saja menyeberang sampai ke tepi sungai dan segera pergi menjauhi ketiga patih itu. Melihat tingkah pemuda tersebut, ketiga patih sangat marah. Kemudian mereka mengejar pemuda itu dengan maksud akan mengeroyok karena sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka. Ternyata pemuda yang telah menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon yang bernama Pangeran Muhamad. Ia bermaksud meminta pertolongan Ratu Ayu Panyidagan. la akan
286

meminta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidagan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon yang sedang terjangkit wabah penyakit. Konon menurut wangsit Sunuhun Jati Cirebon, wabah penyakit tersebut dapat diobati dengan godogan buah maja yang banyak tumbuh di daerah Panyidagan. Selain mendapat tugas untuk mencari buah maja, pemuda itu pun mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke beberapa tempat yang rakyatnya masih menyembah berhala. Kembali pada cerita pengejaran ketiga patih terhadap pemuda yang berhasil menyebrangi sungai. Pemuda itu ternyata bernama Pangeran Muhamad. Ketika Patih Ki Gedeng Cigobang akan menangkapnya, Pangeran Muhamad dapat menghalaunya. Akhirnya ketiga patih itu menggunakan siasat dengan cara mengepung Pangeran Muhamad dari segala penjuru. Akhirnya, Pangeran Muhamad pun terkepung. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, lalu

Pangeran Muhamad masuk dan bersembunyi ke dalam
287

rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia segera minta perlindungan kepada Tuhan syahadat Yang dan

Mahakuasa

dengan

mengucapkan

nenjrag bumi tiga kali. Tanah yang diinjak itu terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad pun masuk ke dalamnya. Ketiga patih itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolakbalik mencarinya. Setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang, namun Pangeran Muhamad menghilang tanpa bekas. Ketiga patih itu pun merasa putus asa, kemudian mereka duduk termenung memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada ratu. Setelah berunding dengan matang, segera mereka pergi menuju ke istana Panyidagan. Adapun Pangeran Muhamad yang bersembunyi di dalam tanah, terus berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, agar diberi kekuatan dapat keluar dari lubang. Hingga akhirnya Pangeran Muhamad pun dapat keluar dari lubang persembunyiannya. Ia muncul
288

Pangeran Muhamad pun kemudian memberi nama tempat tersebut dengan Jatipamor. Lalu diselidiki. Setelah dekat. 289 . yang berarti kebun jati yang berpamor (bercahaya). Lalu ia pun berjalan menuju ke tempat datangnya cahaya. namun hanya bisa tertunduk lesu ketika Sang Ratu datang menemuinya dan langsung menegurnya. cahaya itu pun menghilang. ternyata cahaya tersebut memancar dari supa lember yang tumbuh pada pohon-pohon jati yang berjejer sepanjang jalan setapak. Mereka berniat melaporkan buronan yang hilang. penglihatan Pangeran Muhamad mendadak gelap. Makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan setapak yang dilaluinya. Ketika keluar. Lain dengan ketiga patih yang sedang menghadap ke Ratu Ayu Panyidagan.di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Munjul (rupanya nama tersebut didasarkan atas kata punjul(keluar)-nya Pangeran Muhamad dari dalam lubang tempat persembunyiannya).

kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Mereka pergi lagi ke tempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengubrak-abrik tempat 290 itu. Bagaimana kalau ada orang asing masuk ke negara tidak diketahui oleh kalian?” "Ya Ratu. Hamba datang untuk melapor bahwa kemarin ketika sedang berjaga." "Ah. Pergilah dan tangkap hidup-hidup. kalian tidak boleh kembali. Hamba pun mengejar dan mengepungnya. sebelum tertangkap. tetapi . tetapi orang itu tidak mau menjawab. bukankah sudah kutitahkan untuk menjaga wilayah perbatasan.“Hai paman patih! Mengapa kalian kembali ke pendopo." Ketiga patih itu pun kemudian pergi meninggalkan pendopo dengan niat mencari buronan. mendapati seorang pemuda menyeberangi sungai. kami mengerti. aku tidak percaya berita semacam itu. Sekarang kalian harus segera mencari kembali pemuda tersebut dan hadapkan padaku. Ingat. Hamba bertiga sempat menegurnya. malah lari tunggang langgang.

dijaga oleh Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur. Maka Pangeran Muhamad disuruh beristirahat dan 291 . sedangkan Ki Gedong Cigobang pergi menghadap Ratu Ayu Panyidagan dengan niat melaporkan bahwa buronan itu sudah ditangkap.masih tetap belum dijumpainya. Selanjutnya Pangeran Muhamad disuruh duduk di depan singgasana Ratu Ayu Panyidagan. akhirnya sampailah ke tempat Pangeran Muhamad beristirahat. Akhirnya Pangeran Muhamad pun tertangkap hidup-hidup. oleh ketiga patih diikat dan dibawa menghadap ke pendopo. Perlakukan pemuda itu seperti tamu biasanya!" Ki Gedeng Cigobang tidak berkata apa-apa. yakni di Jatipamor. ia kembali lagi ke pendopo akan melaksanakan perintah ratu. Namun baru saja sampai di depan gapura kaputren. memasuki gua-gua. Namun setelah mereka bersama segenap prajurit menjelajahi hutan. Nyi Rambut Kasih keluar dan langsung bersabda: “Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. dan bertanya pada setiap warga. Lalu.

Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Mudah-mudahan Nyi Ratu bersedia menolong dan 292 . sehingga muncul niat ingin dipersunting oleh pemuda tersebut. Hamba datang ke sini diutus oleh Sunuhun Jati untuk mencari buah maja yang banyak terdapat di kerajaan Panyidagan. Pangeran Muhamad pun disuruh menghadap kembali ke kaputren. Ratu Ayu Panyidagan melihatnya sekilas. Waktu Pangeran Muhamad sedang berjalan menuju keputren. Ratu Ayu Panyidagan pun bertanya: "Hai Ki Silah.mandi dulu sebelum menghadap ratu. Beliau segera terpesona melihat pemuda yang gagah tur kasep itu. Setelah itu. kamu siapa? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini? Apa maksud kedatanganmu?" "Hamba ini Pangeran Muhamad dari Cirebon. Buah itu akan dipakai untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit. Maka ketika Pangeran Muhamad sudah berada di hadapannya.

para menteri. apakah engkau bersedia?” "Ampun ratu. patih. bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu." "Hanya itu permintaanmu?" "Ya. Nampaknya engkau akan pantas untuk menjadi suamiku. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diriku. asal kamu memenuhi syarat ini. ratu. Coba dengarkan! Aku ini seorang ratu yang dihormati oleh semua rakyat Panyidagan. Bagaimana. Bukannya hamba tidak mengagumi kecantikan ratu. apa gerangan syaratnya?" "Syaratnya sangat mudah. yakni belum memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta di kerajaan Panyidagan ini.mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah kekuasaan Nyai. Bukannya 293 . hanya itu permohonan hamba!" "Baiklah akan aku penuhi permintaanmu itu. serta para ponggawa kami semuanya sangat setia. syarat ini terlalu berat. Itulah syaratnya." "Terima kasih Ratu.

Ratu Ayu Panyidagan sangat murka. agar tidak bisa menyembuhkan orang Cirebon. sehingga seluruh penduduk kerajaan pun merasa ketakutan. hamba ini sudah beristri. makin lama makin gelap. Hanya saja. langit mulai mendung. "Patih.hamba menolak anugerah besar ini. Namun semua penduduk terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang telah berubah. mendengar jawaban tersebut. jangan sampai kabur kembali ke Cirebon. Bahkan akan ku hancurkan perkebunan buah maja di seluruh pelosok kerajaannku. Tidak berapa lama setelah itu. langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta." Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. tangkap orang ini! Masukan ke dalam penjara. Kaputren dan Ratu Panyidagan 294 . dan turunlah hujan yang sangat lebat." Tentu saja. Hamba tidak mau mengkhianati kesetiaannya. Keesokan harinya.

Di seluruh pelosok kerajaan. Sejak itulah wilayah Gunung Haur dikenal dengan nama Margatapa. Selanjutnya Pangeran Muhamad memutuskan untuk bertapa di gunung Haur. tentu saja tidak berhasil mendapatkannya. Majalengka artinya hilangnya buah maja. buah maja telah musnah. Adapun Pangeran Muhamad yang diutus Sinuhun Jati untuk mencari buah maja. yang kemudian masarakat setempat menyebutnya Majalengka. Buah maja yang ditanam di kebun kerajaan menghilang tanpa bekas. Maka Pangeran Muhamad pun memutuskan untuk tidak kembali ke Cirebon. maja… langka.menghilang entah ke mana. karena takut akan dihukum oleh Sinuhun Jati. sampai meninggalnya di sana. majalangka… !" Sejak itu timbul sebutan Majalangka. maja…. Semua rakyat pun ribut sambil berteriak: "Gusti ratu menghilang.langka. yang artinya tempat bertapa. *** 295 . Kata langka dalam bahasa Sunda artinya hilang atau musnah.

Ia bernama Wiralodra. Wiralodra pun melaksanakan tapabrata di suatu tempat yang bernama Malaya di kawasan lembah Gunung Sumbing. Di lembah sungai itu. mendirikan Wiralodra sebuah keinginan kerajaan.2. gagah. Karena ketampanan dan kesaktiannya itulah. Tanah itulah yang 296 . dan memiliki kesaktian tinggi. putra Tumenggung Gagak Singalodra. Maka sebagai langkah awal. Wiralodra menjadi pujaan banyak perempuan. SASAKALA INDRAMAYU Tersebutlah pemuda yang sangat tampan. Dalam wangsitnya itu disebutkan bahwa Wiralodra harus mencari sungai yang bernama Cimanuk. Jawa Tengah. Ia tidak ingin menjadi raja karena hasil pemberian dari ayahnya atau orang lain. tanahnya subur dan akan banyak dikunjungi orang. Sebagai mempunyai kstaria pilih untuk tanding. Wiralodara menghabiskan waktu 40 hari 40 malam. dari Banyurip. Bagelen. sebelum akhirnya mendapatkan wangsit dari Sang Hyang Wasa.

engkau menghadapku di waktu masih pagi seperti ini?” Wiralodra “Maaf menundukkan aku kepala.” kata ayahnya terheran-heran. aku sudah tahu bagaimana karaktermu.menurut wangsit sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. Ketika itu hari masih pagi.” kata Wiralodra tegas. Sebagai teman 297 . pandai-pandailah engkau menjaga diri. sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. bukankah di daerah Bagelen juga terdapat banyak sungai. “Anakku. wangsit agar segera mencari sungai Cimanuk. menurut wangsit. Hanya pintaku. semalam sebelum mendapat akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya. ayahanda. “Di lembah sungai itulah. ketika Wiralodra menghadap ayahnya di pendopo. Kalau memang pendirian dan niatmu begitu. aku akan mengijinkanmu. “Ada apa anakku.” “Untuk apa mencari sungai Cimanuk.

berbincang selama perjalanan. maka pergilah Wiralodra dengan ditemani Ki Tinggil untuk berkelana mencari sungai Cimanuk. Setelah mendengar cerita Wiralodra. ke mana tujuanmu?” Maka berceritalah Wiralodra tentang maksud dan tujuannya. Dalam perjalanannya itulah pada suatu hari di tengah hutan belantara. “Hey anak muda. Perjalanannya menuju ke sebelah Barat. Tidak lupa ia pun menceritakan isi wangsit yang diterimanya di pertapaan. Tentu saja Wiralodra dan Ki Tinggil kaget bercampur bahagia. tiba-tiba lelaki tua tersebut berubah menjadi Kiai Malik Warna. aku utus Ki Tinggil untuk menemanimu” Setelah mendapat ijin dari ayahnya. Wiralodra bertemu dengan seorang lelaki tua renta. 298 . Mahaguru yang sudah koncara ke mana-mana memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi. Lelaki tua tersebut mengaku bernama Ki Sadum. karena dapat bertemu dengan orang yang luar biasa.

Kepala ular pun hancur terkena pukulan cakra. ia mendapati ular sangat besar menghalangi jalan setapak yang akan dilewatinya.Setelah sesaat ketiganya membisu. tiba-tiba kepalanya menyambar akan menerkam Wiralodra. Mengerti engkau Wiralodra?” “Paham. Kiai?” Setelah meminta ijin. Wiralodra kembali menjelajah hutan belantara yang masih angker. Apabila kijang itu berhenti dan menghilang di pinggir sungai. ikutilah perjalanannya. Setelah ditemukan. Wiralodra memukulkan cakra senjata andalannya. Namun secara gesit. maka sungai itulah yang dinamakan Cimanuk. akhirnya Kiai Malik bicara: “Apabila engkau berdua sudah berada di wilayah yang bernama Cupunagara. Hingga di sebuah hutan jati. segera cari kijang bermata berlian. bergegaslah Wiralodra dan Ki Tinggil menuju ke sebelah Barat untuk mencari daerah yang bernama Cupunagara. 299 . Ketika ular tersebut akan diangkat.

Bahkan ia menginginkan untuk dikawini oleh Wiralodra. Dewi Larawana mengaku telah jatuh cinta pada Wiralodra. Untung saja Wiralodra segera sadar. bahwa itu hanyalah sungai jadi-jadian. Ia pun langsung menantang Wiralodra untuk berkelahi adu kesaktian sampai salah satunya ada yang meninggal. Setelah itu. Akibat ditolak Wiralodra. Perempuan tersebut menyebut dirinya dengan nama Dewi Larawana dan ia pun mengaku penguasa hutan larangan tersebut. tiba-tiba ular yang kepalanya sudah hancur tersebut berubah wujud menjadi sungai yang airnya jernih.Baru saja Wiralodra menarik nafas. kini berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. Dalam pertemuannya itu. Wiralodra dan Ki Tinggil merasa heran dan terpana. Pada mulanya permintaan tersebut 300 . Maka dengan segera. ia memukulkan cakranya kembali pada air sungai yang jernih tersebut. Dewi Larawana merasa terhina. Kontan saja Wiralodra menolak. karena ia tidak berniat mencari istri namun mencari daerah bernama Cupunagara. hilanglah sungai.

Mula-mula berupa asap tipis. mayat Dewi Larawana berubah wujud menjadi kijang bermata berlian. Semakin lama perkelahian pun semakin sengit. Tidak berhenti di situ.ditolak oleh Wiralodra. tiba-tiba dari mayatnya keluar asap. akhirnya Dewi Larawana pun semakin terdesak. Setelah itu. Baik Wiralodra maupun Dewi Larawana sama-sama memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. 301 . Namun setelah Wiralodra mengeluarkan cakra sebagai senjata andalannya. Adapun ciri-ciri kijang tersebut sama dengan yang diceritakan oleh Kiai Malik Warna. kejadian aneh terjadi kembali. Perkelahian pun terjadi. kemudian berubah menjadi tebal sampai menyelimuti hutan. akhirnya Wiralodra pun melayani tantangan tersebut. namun karena Dewi Larawana terlebih dulu menyerang. Ia pun akhirnya meninggal terkena cakra Wiralodra. Keduanya sama-sama memakai ilmu yang tinggi. Sesaat setelah Dewi Larawana meninggal.

Tidak menunggu lama. Wiralodra dan Ki Tinggil didatangi dua mahluk aneh yang mengaku Raja Budipaksa dan Patih Bujaris. keesokan harinya Wiralodra dan Ki Tinggil segera ngababakan (membuka lahan baru untuk pedukuhan) di sekitar tepi sungai Cimanuk. Maka dikejarlah kijang bermata berlian itu oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Namun kijang tersebut tetap saja tidak terkejar.Tentu saja Wiralodra tidak langsung percaya begitu saja. Ia masih yakin bahwa kijang tersebut hanyalah jadi-jadian. Wiralodra pun segera tersadar. Wiralodra segera penasaran untuk mengejarnya. Wiralodra mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengejar kijang tersebut. Namun ketika kijang bermata berlian tersebut berlari dari hadapannya. bahwa kijang tersebut telah menunjukkan letak sungai Cimanuk yang selama ini ia cari. Sampai akhirnya kijang tersebut menghilang di tepi sebuah sungai yang airnya jernih. Sampai pada malam harinya. Keduanya mengaku 302 .

Wiralodra diangkat sebagai pemimpinnya dan Ki Tinggil sebagai wakilnya. Perkelahian pun terjadi. Orang pun mulai berdatangan dan betah menetap di sana. Raja Budipaksa menghadapi Wiralodra. Lama kelamaan lahan untuk pemukiman semakin besar. seluruh siluman penghuni hutan di tepi sungai Cimanuk turut serta membantu Wiralodra membuka lahan baru untuk pemukiman. sedangkan Patih Bujaris menantang Ki Tinggil. Bahkan seterusnya. Keduanya menerima takluk pada Wiralodra. sebelum akhirnya kedua siluman tersebut dapat dikalahkan oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Mereka berdua pun menyerang Wiralodra dan Ki Tinggil.sebagai penguasa hutan di sekitar tepi sungai Cimanuk tersebut. Selanjutnya pemukiman itu pun berubah menjadi 303 . Keduanya saling berhadap-hadapan. Dua siluman tersebut marah karena tidak terima wilayah kekuasannya diganggu oleh Wiralodra.

304 . sampai teknik berperang melawan musuh. Endang Darma adalah seorang perempuan cantik yang memiliki ilmu tinggi. Apalagi setelah mendapat bantuan dari seorang pemukim baru bernama Endang Darma. Tentu saja Wiralodra diangkat menjadi raja dan Ki Tinggil menjadi patihnya. Endang Darma hidup membaur dengan penduduk Ciamanuk. Perkampungan di lembah sungai Cimanuk semakin ramai. perkampungan Cimanuk semakin pesat. Ia banyak membantu Wiralodra dalam mengembangkan ilmu hidup kepada penduduk Cimanuk. Pembangunan dalam segala bidang terus digalakan oleh Wiralodra. mulai dari teknik bertani. akhirnya Ki Tinggil pun berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wiralodra. Wiralodra menugaskan Ki Tinggil untuk segera memperluas wilayah kekuasaan. Dengan dibantu oleh prajurit tangguh bernama Surantaka.kerajaan. Sehari-hari. dan Puspahita. Banyuntaka. berdagang. terutama pada bidang pertanian dan perikanan.

Wiralodra merasa tersanjung atas bantuan Endang Darma tersebut. Itulah sebabnya Cirebon segera mengirimkan pasukan 305 . Wiralodra pun merestuinya. Sebagai tandanya. Sultan Cirebon merasa dihina. akhirnya Endang Darma mengaku kalah. Tetapi karena Wiralodra memiliki kesaktian yang lebih tinggi. Kemudian Endang Darma mengajukan syarat kepada Wiralodra agar mau menamai daerah tersebut berdasarkan namanya. Maka ditantanglah Endang Darma oleh Wiralodra. asal Endang Darma dapat terus membantunya dalam mengembangkan kerajaan. Kabar telah berdiri kerajaan di lembah sungai Cimanuk pun akhirnya sampai juga pada kerajaan Cirebon. Ia pun berniat ingin menguji kesaktian Endang Darma. karena ada sebagian wilayahnya yang dicaplok oleh Wiralodra. ia akan terus membantu Wiralodra untuk mengambangkan pemukiman Cimanuk menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan lain.Pada suatu ketika.

Banyak pendatang dari kerajaan 306 . Alasannya sebagai bentuk penghargaan pada Endang Darma yang telah berhasil mengalahkan pasukan Cirebon dan mempertahankan kekuasannya di Cimanuk. kemudian Wiralodra memberi nama pada kerajaannya Darma Ayu. Tiba di Cimanuk. Maksudnya untuk memberi pelajaran pada Wiralodra. Nama Darma Ayu diambil dari ungkapan Endang Darma anu ayu.yang dipimpin oleh Aria Kemuning ke daerah Cimanuk. yang berarti Endang Darma yang cantik (ayu). Semakin hari kampung Darma Ayu pun semakin berkembang pesat. Pertempuran pun terjadi dan keunggulan berpihak pada pasukan Endang Darma. kesaktian. Tanda bahwa Wiralodra memuji kecantikan. dan menepati janjinya pada Endang Darma. tentu saja WIralodra telah menyiapkan penduduknya yang dipimpin oleh Endang Darma untuk menghadapi pasukan Cirebon tersebut. Setalah kejadian pertempuran itu. Pasukan Cirebon kocar-kacir kewalahan menghadapi amukan penduduk Cimanuk.

yang mereka sebut sebagai bahasa dermayuan atau dermayon. nama kampung Darma Ayu pun berubah menjadi Indramayu. Bahkan banyak pula pendatang dari kerajaan Mataram. Seiring waktu. mengikuti logat bahasa penduduk setempat yang bercampur antara penduduk asli dengan pendatang dari kerajaan Mataram. *** 307 .lain dan langsung menetap di perkampungan tersebut.

Ki Gedeng Sindangkasih dan semua penduduk kampung pun semakin takjub dibuatnya. diterimalah pemuda tersebut sebagai tamu pribadinya. ia menaruh 308 . Ia mengaku berasal dari Galuh dan bernama Pamanah Rasa. Penduduk kampung tersebut kesehariannya menangkap rebon. SASAKALA CIREBON Di pesisir sebelah utara kerajaan Galuh. Oleh Ki Gedeng Sindangkasih. adiknya raja Galuh yang bernama Prabu Anggalarang. Suatu ketika. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Sindangkasih. terdapat sebuah kampung bernama Surantaka. Lalu pemuda tersebut diinapkan di rumah Ki Gedeng Sindangkasih. Ki Gedeng Sindangkasih memiliki seorang putri yang cantik di jelita bernama Nyai Ambet Kasih. semakin kelihatan watak dan ketangkasan Pamanah Rasa. datanglah seorang pemuda tampan ke kampung Surantaka.3. sejenis udang kecil bahan pokok untuk membuat tarasi (terasi). Semakin hari. Termasuk Nyai Ambet Kasih.

selama ini engkau mengaku sebagai pengelana dan rakyat biasa.” “Maksud. Karena penasaran. aku sedikitnya menaruh curiga. “Ada apa Aki memanggil saya?” “Begini anak muda. Aku pangeran dari Galuh.” 309 . nampaknya engkau hadir dari keluarga istana. Namaku yang sebenarnya adalah Jayadewata. Jadi.perhatian khusus pada pemuda tersebut. aku sebenarnya bukan Pamanah Rasa.” “Kalau begitu berarti engkau keponakanku. Aki?” “Aku heran. karena Prabu Anggalarang adalah kakakku. siapa sebenarnya engkau ini anak muda?” “Euh. dipanggilah pemuda tersebut untuk menghadap Ki Gedeng Sindangkasih. Namun dari tingkah lakumu. maka pada suatu hari yang cerah. melihat kecerdasan dan ketangkasanmu. Tidak mungkin rakyat biasa memiliki pemikiran seperti engkau.

Di kampung tersebut tengah diadakan saembara adu kesaktian. sampailah Pamanah Rasa di sebuah kampung yang bernama Singapura.Sejak perbincangan hari itu. Seluruh penduduk kampung pun ikut berbahagia. letaknya bersebelahan dengan kampung Surantaka. akan dinikahkan dengan putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang. lalu ia pun dinikahkan dengan Nyai Subanglarang. Ambet Kasih pun tidak bisa mencegahnya. Dari perkawinan tersebut 310 . selanjutnya Pamanah Rasa pun dinikahkan dengan Nyai Ambet Kasih. Dalam perjalanannya kemudian. Karena Pamanah Rasa memenangkan sayembara. kemudian Nyai melanjutkan perjalanannya. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa. Setelah Pamanah Rasa menetap cukup lama. karena ia tahu tugas suaminya sebagai putra mahkota kerajaan Galuh amatlah berat. Bagi yang memenangkan saembara.

Setelah Walangsungsang berguru oleh sekian Ki lama. Waktu pun berjalan cepat. berikut Nyai Lara Santang. Indang Geulis. Ketiganya masuk Islam. ia berkelana dan berguru di padepokan seorang guru bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Namun setelah Nyai Subanglarang meninggal. Ketiga anak Pamanah Rasa telah tumbuh besar. Raden Walangsungsang. Raden Gedeng Danuwarsih dinikahkan kepada putri tunggalnya yang bernama Nyai Indang Geulis. Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan istana.lahirlah tiga orang anak. Raden Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah. dan kelak setelah pergi menjalankan 311 . Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Setelah menikah. yaitu Raden Walangsungsang. Oleh Syeh Datuk Kahfi. Ketiganya dibesarkan di keraton Singapura. melanjutkan kembali pengembaraannya. Sampailah kepada sebuah pesantren pimpinan Syeh Datuk Kahfi.

kemudian adiknya dinikahi oleh Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Kampung inipun kemudian diubah namanya menjadi kampung Caruban. Dinamakan Tegal Alang Alang karena daerah tersebut sebelumnya banyak ditumbuhi pohon alangalang. Nyai Lara Santang pun berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. Atas anjuran guru sekaligus mertuanya. Arab. 312 . Raden Walangsungsang ngababakan (membuka daerah baru) yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Di mekah inilah. dan Cina. Setelah perkampungan Caruban berkembang pesat. Jawa. Kampung inilah yang kemudian banyak didatangi oleh pemukim dari daerah lain. ia berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Raden Walangsungsang pergi berhaji ditemani oleh adiknya Nyai Lara Santang. yang artinya campuran dari berbagai etnis dan agama. atas saran mertuanya Syeh Datuk Kahfi.ibadah haji. mulai dari etnis Sunda.

Setibanya di kampung halaman. Kerajaan Carubanlarang pun semakin hari semakin berkembang pesat. Mesjid tersebut kelak diberi nama Jalagrahan dan rumahnya kemudian dijadikan Keraton Pakungwati. Ki Samadullah pun diangkat menjadi Kuwu Caruban yang bergelar Pangeran Cakrabuana. ia langsung mendirikan sebuah mesjid dan sebuah rumah. Sesudah Sunan menikahkan adiknya. Pakuwuan ini kemudian diperluas dan ditingkatkan derajat pemerintahannya menjadi kerajaan kecil bernama Nagari Carubanlarang. karena meninggal di gunung Jati. Syarifah Mudaim mendapat putra bernama Syarif Hidayatullah yang kelak didaulat menjadi Gunung Jati. Kembali ke kisah Raden Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman.Dari perkawinannya dengan orang Arab. Letaknya di sisi pesisir membuat kedatangan banyak pengunjung dari negara lain. ia pun segera kembali ke kampung Caruban. yang salah satunya ada seorang pendatang 313 .

Setelah lama membantu Syeh Datuk Kahfi mengajakan Islam di daerah pesisir utara. Di sana ia bertemu dengan Bupati Kawunganten dari kerajaan Pajajaran yang sangat tertarik terhadap ajaran Islam. Selain itu. Ki Samdullah. karena ia anak Syarifah Mudaim. kemudian terus ke Desa SembungPasambangan. Dari pernikahannya itulah. Pemuda ini masih keponakan Ki Samadullah. lahir Pangeran Saba Kingkin. Bahkan sampai menikahkan adiknya yang bernama Nyai Kawunganten dengan Syeh Jati. dan di sana ia mulai menyebarkan agama Islam. pergi berkelana ke kerajaan Banten. adiknya sendiri. 314 .bernama Syarif Hidayatullah. kemudian Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Syeh Jati. yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Mula-mula Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati. ia pun bolak-balik ke Nagri Carubanlarang untuk menemui uwaknya. menggatikan Syekh Datuk Kahfi. dekat Amparan Jati.

dari Caruban menjadi Cerbon. *** 315 . kemudian Syeh Jati kembali Banten ke pesisir ia utara. Nama Caruban atau Cerbon inilah yang kelak akan berubah menjadi Cirebon hingga sekarang. disesuaikan dengan logat penduduk setempat. Sekembalinya dari itulah kemudian dinobatkan sebagai kepala Nagari Carubanlarang dan bergelar Sunan Jati atau Sunan Caruban. Sejak itulah kemudian Nagari Caruban berkembang pesat dan dikembangkan menjadi sebuah Kesultanan. Mengambilan nama ini pun mengingatkan cikal bakal kampung Surantaka. Namanya pun diganti. yang mayoritas keseharian penduduknya menangkap rebon.Setelah sekian lama mengembara di Banten.

Orang yang pertama berhasil diajak masuk. Terlebih mereka tahu bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan Cirebon. kampung Luragung dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung. Di kampung itu. Kemudian kerabatnya. Penduduk Luragung terkenal sangat ramah. SASAKALA KUNINGAN Ketika di wilayah Kesultanan Cirebon semua penduduknya telah ngagem (masuk) agama Islam. Setelah sekian lama Sunan Gunung 316 . Sunan Gunung Jati pun kemudian menyebarkan agama Islam ke sebuah perkampungan di sebelah selatan Cirebon yang bernama Luragung. Sunan Gunung Jati pun kemudian mulai mengajak penduduk di sana untuk masuk Islam. hingga akhirnya semua penduduk Luragung pun masuk Islam. konon penduduknya masih menyembah berhala dan percaya pada pohon-pohon yang sudah berumur ratusan tahun. apalagi setelah semua penduduknya masuk Islam. Sesampainya di kampung Luragung. Pada waktu itu. ialah Ki Gedeng Luragung.4.

Sebagai tanda balas budi kepada Ki Gedeng Luragung. Setelah menyebarkan Islam di kampung Luragung. Hingga sesampainya di Luragung. kemudian Sunan Gunung Jati pergi ke 317 . Namun sayang. kemudian istrinya yang bernama Putri Ong Tien (asal Campa) atau Nyai Rara Sumanding datang menyusulnya. putranya yang pertama itu meninggal dunia. Nyai Rara Sumanding pun melahirkan seorang bayi laki-laki. kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk bersedia putranya yang kebetulan masih bayi diangkat menjadi anak kukut (pungut). Sunan Gunung Jati nukeuran (menukar) bayi yang bernama Suranggajaya itu dengan sebuah bokor yang terbuat dari wesi kuning (logam kuningan).Jati menetap di Luragung. Anak tersebut bernama Suranggajaya. Bokor kuningan inilah yang kelak dijadikan logo atau maskot kabupaten Kuningan. Ketika itu Nyai Rara Sumanding tengah hamil tua. Untuk mengobati hati istrinya.

Sementara Sunan Gunung Jati. Sebelumnya ia menikahi Nyai Ratu Selawati yang pada waktu itu menjadi ratu di daerah Winduherang. sebelum akhirnya masuk Islam setelah dinikahi oleh Syekh Maulana Arifin. ternyata saudaranya tersebut telah lebih dulu masuk Islam atas petunjuk Syekh Maulana Akbar. Namun tentu saja. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam pertama ke daerah itu.Winduherang bernama untuk menemui atau saudaranya Aria yang Bratawiyana Kamuning. Ia penganut agama karuhun. Syekh Maulana Akbar adalah pendatang dari Persia yang menyebarkan Islam lebih awal di daerah Winduherang. Kedatangan Syekh Maulana Akbar dalam menyebarkan Islam ke Winduherang. Sesampainya di Winduherang. masuknya Syekh Maulana Arifin ke 318 . Nyai Ratu Selawati adalah adiknya Ki Gedeng Luragung. artinya lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. dapat dikatakan sebagai penyempurna.

“Aku titipkan anak angkatku. Semoga dengan nama itu. Kembali ke kisah perjalanan Sunan Gunung Jati. karena ketika itu Sunan Gunung Jati yang menjadi Sultan Cirebon. “Aku ganti nama anak ini menjadi Raden Kamuning. akan kulaksanakan titahmu. Asuhlah dia menjadi pemuda yang taat terhadap ajaran Islam.daerah Winduherang atas seijin Sunan Gunung Jati. “Baiklah Kanjeng Sunan.” jawab Aria Kemuning. kelak anak angkatnya tersebut akan diangkat menjadi penguasa di Winduherang menggantikan Nyai Ratu Selawati.” ujar Sunan Gunung Jati. Setelah sampai di Winduherang. ia akan merasa lebih dekat denganmu. Kelak ia akan ku angkat menjadi penguasa di wilayah ini. Pada waktu itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa setelah dewasa. 319 . ia kemudian menitipkan anak angkatnya (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Aria Kamuning).” titah Sunan Gunung Jati pada Aria Kamuning.

Sesuai dengan janjinya. Raden Kamuning kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas.Waktu pun berjalan begitu cepat. setelah menginjak usia 17 tahun. nama Winduherang pun diganti oleh Sunan Gunung menjadi Kuningan. Nama tersebut merujuk pada kisah hidup Raden Kamuning yang ketika masa bayinya ditukar oleh Sunan Gunung Jati dengan sebuah bokor kuningan dari Ki Gedeng Luragung. kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Raden Kamuning menjadi penguasa di Winduherang. Mereka kebanyakan berdagang. Keduanya sangat rukun. namun ada pula yang terus 320 . Kelak Dipati Ewangga akan membantu Kesultanan Cirebon dalam menyerang Belanda di Batavia (sehingga sekarang kita mendapati nama perkampungan Kuningan di Jakarta). Semenjak itu. Bersamaan dengan itu. Sering mengaji dan latihan kanuragan (ilmu beladiri) bersama. tumbuh pula anak pituin (asli) Aria Kamuning yang bernama Dipati Ewangga. Semakin lama kerajaan Kuningan banyak didatangi oleh pendatang dari daerah lain.

Sunan Gunung Jati. *** 321 . Seluruh rakyat Kuningan sangat menghormati dan mencintainya. Dalam memimpin roda pemerintahan. Ia selalu membuat perintah atas dasar ajaran agama Islam.bermukim. Kemudian Sunan Gunung Jati pun memberikan gelar kepadanya Sang Adipati Kuningan. Sebagai raja yang dikukuhkan oleh Sunan Gunung Jati. Raden Kamuning sangat adil dan bijak. pada waktu itu kedudukannya di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh ayah angkatnya sendiri.