BAB 5 SASAKALA TEMPAT DI JAWA BARAT Sasakala tempat di Jawa Barat dikelompokkan ke dalam enam wilayah sebagai berikut

. 1. Wilayah Bandung Raya mencakup Kabupaten Bandung, 2. Kota Bandung, Kota Cimahi,

Kabupaten Bandung Barat, dan Sumedang. Wilayah Priangan Timur mencakup Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut. 3. Wilayah Purwasuka mencakup Kabupaten

Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang. 4. 5. Wilayah Sukaci meliputi Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Cianjur. Wilayah Bodebek meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

101

6.

Wilayah

Pantura

meliputi

Kota

Cirebon,

Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. A. SASAKALA WILAYAH BANDUNG RAYA 1. SASAKALA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU Pada jaman dahulu, di tanah Priangan terdapat sebuah kerajaan yang sangat subur dan makmur, yang bernama Kerajaan Galuga. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang adil palamarta bernama Prabu Sungging Perbangkara. Kesenangannya berburu ke hutan mencari hewan-hewan yang dagingnya akan dibagikan ke seluruh rakyat yang tertimpa kelaparan. Pada suatu hari, maka berangkatlah rombongan raja ke hutan untuk berburu. Tiba di hutan, Prabu Sungging Perbangkara membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Setelah raja pergi, kemudian ada seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin
102

menjadi

manusia.

Babi

hutan

itupun

kemudian

meminum air seni raja itu. Beberapa bulan kemudian, Wayungyang pun hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu lalu diserahkan ke keraton, dan oleh Prabu Sungging Perbangkara diberi nama Dayang Sumbi Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dengan gelagat itu, Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah ranggon di hutan belantara dengan ditemani seekor anjing jantan

bernama Si Tumang. Pekerjaanya di ranggon tersebut ialah menenun membuat kain. Kain hasil tenunannya kemudian diserahkan pada ayahnya di keraton. Pada suatu hari, Dayang Sumbi sedang asyik menenun. Namun totopong (torak) yang tengah

digunakannya untuk bertenun, terjatuh ke bawah ranggon. Cukup tinggi ranggon yang ditempatinya
103

tersebut, sehingga Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Ia pun bergumam lirih: “Duh, malasnya hari ini. Bagi siapa saja yang mengambilkan totopong itu, apabila ia perempuan, akan kujadikan saudara. Apabila laki-laki, akan kujadikan suami.” Sesaat setelah bergumam, tiba-tiba Si Tumang mengambilkan totopong tersebut, lalu diberikanlah kepada Dayang Sumbi. Tentu saja Dayang Sumbi kaget, apalagi ketika mengetahui bahwa Si Tumang berkelamin jantan. Dalam keadaan bingung itu, tiba-tiba terdengar suara gaib: “Jangan khawatir, Si Tumang adalah jelmaan seorang Pangeran tampan yang sedang mencari ilmu kesaktian. Menikahlah dengannya.” Sembilan sejak mendengar suara gaib itu, akhirnya Dayang Sumbi pun melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Sangkuriang. Semakin hari,

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cekatan dan
104

akhirnya Sangkuriang pun kesal. Namun ketika akan pulang. Hari sudah sore. namun Sangkuring belum juga mendapatkan seekor mencek. Hobinya sama dengan kakeknya. Namun Si Tumang malah diam.” Sangkuriang pun menyuruh Si Tumang mengejar babi hutan tersebut. Seperti hari itu. ia mengatahui bahwa babi hutan tersebut hanyalah jelamaan seorang perempuan sakti bernama Wayungyang yang telah melahirkan Dayang Sumbi. Karena si Tumang tidak menurut. Di usia yang masih kecil. yakni berburu. yang ternyata Wayungyang. Lalu 105 . Sangkuriang disuruh oleh Dayang Sumbi berburu hewan di hutan.tangkas. Dayang Sumbi berpesan agar dibawakan hati seekor mencek (kijang). Sangkuriang sudah pandai menggunakan tombak dan panah untuk memburu hewan buruannya. Pikirnya. di perjalanan ia mendapati seekor babi hutan. “Mungkin ibuku akan suka meskipun hati seekor babi hutan. istrinya sendiri dan ibunya Sangkuriang. sedangkan hari sudah sore.

yang sebenanrnya jelmaan ayahnya sendiri. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sinuk (sinduk) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala Sangkuriang terluka. Sangkuriang pun pergi mengembara mengelilingi tatar Parahyangan. namun setelah didesak oleh Dayang Sumbi.. akhirnya ia pun mengaku. Pada mulanya Sangkuriang tidak mengaku telah membunuh Si Tumang. Dayang Sumbi merasa heran karena Si Tumang menghilang. “Pergi kau dari sini. lalu dimasak dan dimakannya. dasar anak tidak tahu balas budi. suaminya sekaligus ayahnya Sangkuriang. 106 .dibunuhnya Si Tumang oleh Sangkuring. Hati Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi. Lalu ditanyakanlah kepada Sangkuriang.!” hardik Dayang Sumbi. kemarahannya pun memuncak.. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati Si Tumang. Keesokan harinya. Selama pengembaraannya.

ibunya sendiri. Begitupun Dayang Sumbi. Bahkan bangsa siluman dan jin pun takluk kepadanya. Sangkuriang tiduran di atas lahunan (pangkuan) Dayang Sumbi. seperti halnya sepasang dua kekasih. Ketika itu. Dayang Sumbi kaget ketika di kepala Sangkuriang terdapat luka bekas pukulan sinduk. ia pun tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Yang ada hanyalah gejolak perasaan bahwa laki-laki tersebut tampan dan bisa menjadi pelindungnya. Maka terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan tersebut. 107 . Pada suatu sore yang indah.Sangkuriang banyak berguru ilmu kesaktian. Sangkuriang pun bermesraan dengan Dayang Sumbi. sebelum akhirnya tiba kembali di ranggon Dayang Sumbi. Lama Sangkuriang mengembara. Tanpa sengaja. Lalu Dayang Sumbi pun mengelus-elus kepala Sangkuriang. Karena Sangkuriang sudah lama tidak bertemu sejak kecil. tidak mengetahui bahwa laki-laki tampan yang ditemuinya adalah Sangkuriang anaknya sendiri.

Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi agar mau dinikahinya. bahwa ia adalah putranya yang telah lama pergi.. “Apa syaratnya..Mengetahui hal itu. Demikian karena Dayang Sumbi mempunyai ilmu kajayaan (awet muda). bukan tua seperti bayangan terhadap ibunya selama ini. Sumbi?” “Buatkanlah aku sebuah danau dan perahu untuk berlayar di atasnya.. Melihat gelagat yang kurang baik tersebut. .” pinta Dayang Sumbi.. apabila mau menikahiku. Karena tidak percaya. Namun Sangkuriang tidak percaya. engkau harus penuhi syaratnya. segera Dayang Sumbi menyampaikannya pada Sangkuriang. “Sangkuriang.ha..” “Ha. kemudian Dayang Sumbi mencari akal agar maksud Sangkuriang tidak kesampaian. Sangkuriang. karena dihadapannya sosok perempuan muda.ha.gampang Sumbi.” 108 Maka diajukanlah syarat kepada sekali syaratmu itu..

Sangkuriang segera menebang pohon untuk membuat perahu. Sekitar pukul 1 pagi. Dibantu pula oleh gajah dan harimau dalam memindahkan pohon yang akan dipakai untuk membendung Citarum.” “Tidak permintaanmu entengnya. danau dan perahu tersebut harus selesai dalam waktu satu malam suntuk. Maka mulailah masalah. Terbentuklah danau yang sangat luas.” aku akan selesaikan dengan jawab Sangkuriang Sangkuriang membuat perahu. Sangkuriang dibantu oleh siluman dan jin taklukannya. itu. Di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon tarum. Dalam pengerjaannya. sehingga kelak penduduk sekitar menyebut sungai tersebut dengan nama Citarum. Menjelang tengah malam Citarum pun sudah terbendung. 109 .“Ingat Sangkuriang. Maka segera saja Sangkuriang membuat danau dengan cara membendung sebuah sungai besar yang mengaliri hutan belantara di mana Dayang Sumbi tinggal.

Disangkanya fajar mulai merekah di ufuk timur. Dayang Sumbi segera khawatir melihat danau sudah terbentuk.Sementara di ranggonnya. Berkokoklah ayam. Dengan kenyataan itu. Nampaknya waktu sudah pagi. melenguhlah banteng. “Sangkuriang. Sangkuriang dapat mengabulkan syarat yang diajukannya yakni membuat danau dan perahu. Setelah dikibaskan. perahu pun akan segera selesai. segera Dayang Sumbi mencari akal agar rencana Sangkuriang dapat digagalkan. Kontan saja hewan-hewan yang berada di hutan kaget dan menyangka waktu sudah pagi. Lalu ia pun mengeluarkan boeh rarang (kain berwarna putih yang dapat mengeluarkan cahaya). artinya engkau gagal memenuhi syaratku. dan menurut perkiraannya. maka dari kain tersebut keluar cahaya seperti kilatan emas.” kata Dayang Sumbi. dan berkicaulah burungburung. lihatlah sekelilingmu. Artinya dalam semalam suntuk. 110 .

berubah menjadi Gunung Bukit Tunggul. Ditendanglah parahu „perahu‟ yang hampir selesai itu oleh Sangkuriang dan nangkub „telungkup‟ di sebelah utara danau. 111 . Namun. Ia pun tersentak kaget. Segera ia sadar bahwa dirinya telah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. Berubahlan perahu tersebut menjadi sebuah gunung yang kini disebut Gunung Tangkuban Parahu.Dilihatlah lingkungan sekitar oleh Sangkuriang. Kemudian Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. ketika sedang dikejar. sedangkan rangrang (ranting) dari pohon tersebut terkumpul di sebelah barat dan berubah menjadi Gunung Burangrang. yang artinya parahu nangkub (perahu terbalik). Dayang Sumbi sebagai seorang putri mendadak menghilang di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Putri. Adapun tunggul atau pangkal pohon yang batangnya dibuat perahu. Mulailah keluar rasa kesal dan marah.

Di tempat itu. hingga sampailah di suatu tempat. Bekas bendungan sungai Citarum itu kini berada di Padalarang yang dikenal dengan nama Sanghyang Tikoro. 112 . Sumbat bendungan itu melayang sampai akhirnya berubah ke sebelah timur. yang berarti ujungna (tempat berakhirnya) perasaan Sangkuriang yang ngaberung (mengikuti) hawa nasfu untuk menikahi ibunya sendiri. Seolah Dayang Sumbi hilang ditelan bumi. Akhirnya Sangkuriang putus asa.Meskipun dibantu bangsa siluman dan jin. tetap saja Sangkuriang tidak menemukan Dayang Sumbi. Tempat itu sekarang disebut Ujungberung. kemudian Sangkuriang ngahyang (menghilang ke alam gaib). Sebelumnya. menjadi Gunung Manglayang. Kemudian ia pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Sangkuriang pun menjebol sungai Citarum dengan cara melemparkan sumbat bendungan yang terbuat dari pepohonan dan batu-batu besar.

Seiring waktu. 113 . ada pula yang dipisahkan (Sang Kuriang). lalu banyak ditempati pendatang dari berbagai daerah karena tanahnya subur. yang berasal dari kata dibendung-nya Citarum oleh Sangkuriang. berasal dari kata ngabandeng yang berarti genangan air danau yang luas. Dalam hal penulisan nama Sangkuriang: ada yang disatukan. Ini untuk menyebut danau yang dibuat Sangkuring pada waktu itu. Seiring perkembangan waktu. *** *) Legenda ini terkadang diberi judul Sangkuriang Kabeurangan (Kesiangan) atau Sasakala Bandung Purba. Daerah itu kemudian disebut Bendung. air danau pun mulai surut kembali. kata Bandeng pun berubah menjadi Bandung seperti dikenal hingga sekarang. Kemudian berubah menjadi Bandeng.

114 . Ia pun memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Mayang Sawitri. Tentu saja Baginda Raja Singa Mandala merasa bingung. Ia terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Ia merasa khawatir para raja dan ksatria yang ditolak lamarannya akan merasa sakit hati dan kemudian akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang kerajaan Sindangsari.2. Kecantikan Putri Mayang Sawitri pun tersiar ke mana-mana. SASAKALA CIGONDEWAH Dahulu kala. Namun semuanya ditolak oleh Putri Mayang Sawitri dengan bermacam-macam alasan. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain berniat melamarnya. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Raja Jayadilaga. Pada suatu hari. terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangsari. datanglah rombongan pelamar dari kerajaan Margaasih. Adapun rajanya bernama Baginda Raja Singa Mandala.

anakku?” Putri Mayang Sawitri lama menundukkan kepala. “Kalau begitu niat paduka. “Maksud kami untuk melamar putrimu yang cantik jelita itu. Karena kesal.” kata Raja Singa Mandala sambil melirik pada putrinya. sebelumnya aku mohon maaf. bersediakah dipersunting hamba?” “Euh.“Ada apakah gerangan Raja Jayadilga menemuiku?” kata Raja Singa Mandala di ruang keraton. “Bagaimana tuan putri. Putri Mayang Sawitri: “Bagaimana. akhirnya Raja Jayadilaga mengulang pertanyaan Raja Singa Mandala. kami membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi dari kerajaan Margaasih. Sebagai tanda lamaran.” jawab Raja Jayadilaga dengan tegas dan penuh harap. aku hanya bisa menyerahkan keputusan lamaran ini pada putriku langsung. paduka raja.” 115 .

Bahkan hatinya semakin diliputi rasa cemas. Kemudian Ia bertitah: “Tunggu kedatangan pasukanku!” Melihat kejadian tersebut. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Sebagai raja yang ingin akan segera menyerang kerajaan mempertahankan kedaulatan. Ketakutannya yang utama ialah kerajaan Margaasih Sindangsari. Sesuai dengan prediksi.” “Apa…?!!” Raja Jayadilaga tersentak kaget. Seketika ia berdiri dan pergi tanpa permisi keluar dari ruangan keraton diikuti oleh rombongan lainnya. keesokan harinya Raja Jayadilaga mengerahkan seluruh pasukannya dari kerajan Margaasih. “Eum.” kata Raja Jayadilaga dengan penuh kesabaran. tentu saja Raja Singa 116 . karena tuan putri tidak punya salah apa-apa padaku. Raja Singa Mandala hanya duduk terpaku kaku di singgasana. untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaran paduka raja.“Tidak usah minta maaf.

Pertempuan kedua kerajaan pun berlangsung sengit. akhirnya pasukan kerajaan Sindangsari terdesak. Pagi itu cuaca sangat cerah. pedang. Namun setelah dua hari berperang. Hal ini dikarenakan jumlah pasukan dari kerajaan Margaasih lebih banyak jumlahnya dan senjatanya pun lebih lengkap. Ksatria-ksatria pilih tanding kerajaan Sindangsari tidak mampu menahan gempuran pasukan 117 . Namun nampaknya pasukan kerajaan Margaasih lebih kuat ketimbang kerajaan Sindangsari. Peperangan pun terjadi. dan gondewa atau jamparing (panah). Seluruh pasukan Sindangsari pun sudah siap menghalau. tanda peperangan akan segera dimulai. Sangkakala perang sudah ditiup.Mandala pun menyiapkan pasukannya. Pasukan Margaasih semakin mendekati perbatasan. Seluruh pasukan Sindangsari segera ditempatkan di daerah perbatasan. Darah berceceran di mana-mana. Senjata mereka terdiri dari bedog (golok). Banyak prajurit yang gugur di medan perang.

Melihat ayahnya telah tewas. Putri Mayang Sawitri langsung mencabut keris dengan niat untuk labuh geni (bunuh diri). sebaliknya Raja Jayadilaga merasa senang atas kejadian tersebut. Sesaat setelah berucap dan menancapkan keris ke perutnya.” gumamnya dengan yakin. Ia merasa telah berhasil membalas kepedihan hatinya yang ditolak oleh Putri Mayang Sawitri. Berbeda dengan rakyat Sindangsari yang berduka. ia pun berhasil memperluas kekuasannya dengan cara menyatukan wilayah kerajaan Margaasih dengan Sindangsari. Putri Mayang Sawitri pun meninggal oleh kerisnya sendiri. Selanjutnya Raja Jayadilaga merubah nama Sindangsari menjadi Cigondewa. 118 .Margaasih. “Aku lebih baik mati ketimbang dipersunting oleh raja yang telah membunuh ayahku. Selain itu. Bahkan Raja Singa Mandala pun akhirnya terbunuh dalam peperangan tersebut.

*** pun kemudian berubah menjadi penduduk mengikuti pengucapan 119 .” ujar Raja Jayadilaga di depan seluruh penduduk Sindangsari. Alasan diubahnya nama Sindangsari menjadi Cigondewa. Nama Cigondewa Cigondewah. Semakin lama. Darah tersebut berasal dari tubuh prajurit Sindangsari yang terbunuh oleh panah dan gondewa pasukan Margaasih. Raja Jayadilaga melihat banyak darah berceceran bagaikan cai (air). Setiap tahun mereka menyerahkan upeti kepada Prabu Siliwangi karena berada di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. ubah Wilayah nama ini Sindangsari pun sekarang menjadi menjadi taklukanku.“Aku Cigondewa. kerajaan Margaasih pun semakin berkembang pesat. setempat. karena setelah peperangan terjadi.

banyak raja dan ksatria tertarik untuk melamar dan mempersuntingnya. culik dengan cara paksa!”. begitulah titahnya. yang ketiga bernama Embah Naibah.3. Maka segera. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ki Patih kerajaan Subangkala. Putri yang sulung bernama Embah Gabug. “Apabila menolak. Berkat kecantikannya itulah. Keesokan harinya. dan yang bungsu bernama Embah Naidah. SASAKALA KAMPUNG MARONGGE Hiduplah empat orang putri yang cantik jelita serta memiliki kesaktian tinggi di sebuah kampung bernama Babakan. berangkatlah rombongan dari kerajaan Subang menuju ke kampung Babakan. Ia berniat melamar Embah Gabug. Raja Subangkala memerintahkan patihnya untuk melamar ke kampung Babakan. yang kedua bernama Embah Setayu. Salah satunya ialah Raja Subangkala dari kerajaan Subang. Sementara rombongan sedang di 120 .

Setelah mengetahui hal itu. bahwa akan ada rombongan yang sedang berada dalam perjalanan dengan maksud dan tujuan jahat. Embah Gabug pun segera memakai kesaktiannya untuk memperdaya rombongan dari kerajaan Subang tersebut. Benar saja. di kampung Babakan Embah Gabug sedang bersemedi. “Bangunlah kalian semua! Dari mana dan apa keperluan kalian datang ke Kampung Babakan?” Ki Patih pun segera menjawab dengan nada sinis.perjalanan. Dibangunkanlah seluruh rombongan tersebut. setelah semua rombongan tertidur. seluruh rombongan mendadak kelelahan dan tertidur pulas di batas menuju Kampung Babakan. Di dalam semedinya. Ia adalah puteri 121 . Diutus oleh Gusti Raja Subangkala untuk melamar seorang puteri yang tinggal di Kampung Babakan. Sesaat kemudian. “Aku Ki Patih dari Kerajaan Subang. lalu dihampiri oleh Embah Gabug. ia diberitahu oleh Hyang Widi.

” Mendengar jawaban dari Ki Patih. Aku hanya menginginkan raja kalian dapat mengembalikan kukuk*) yang akan dilempar ke sungai Cilutung.” syaratnya. bahwa aku mau menerima lamarannya dengan satu syarat. apabila lamarannya ditolak. Kalian semua telah memiliki niat jahat. Embah Gabug pun menjawab dengan tenang dan tegas. Kalian tadi tertidur terkena ilmuku. putri tersebut harus dipaksa dan diculik ke Subang.” Beberapa hari kemudian. Apakah puteri menginginkan banyak intan permata?” menginginkan haliyah dunya (kekayaan).Embah Gabug. tidak puteri. aku akan menerima lamarannya. Menurut titahnya. Apabila raja kalian dapat memenuhi syarat tersebut. “Akulah puteri Embah Gabug yang dimaksud itu. Sekarang pulanglah dan sampaikan pada raja “Apa “Aku kalian. Ia pun langsung diterima oleh putri Embah Gabug di muara sungai 122 . datanglah Raja Subangkala ke kampung Babakan.

Melihat kenyataan demikian. maka dilemparkanlah sebuah kukuk oleh Embah Gabug ke tengah-tengah derasnya air sungai Cilutung. Kukuk pun terbawa arus air menuju ke hilir sungai. Namun air sungai semakin deras. Setelah semuanya siap. apalagi mengembalikan ke hadapan Embah Gabug. Kesaktiannya telah berhasil dikalahkan oleh seorang perempuan. Kembalikanlah kukuk tersebut ke hadapanku. Raja Subangkala pun tidak sanggup menahan lajunya kukuk. “Kanjeng Raja. Segera saja Raja Subangkala mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengembalikan kukuk yang telah terbawa arus sungai. Oleh karena itu. kukuk ini akan kulemparkan agar terbawa arus ke hilir.Cilutung dan Cideres.” kata Embah Gabug. yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Panyaweuyan. Raja Subangkala pun merasa malu. lalu ia menantang Embah Gabug untuk mengembalikan 123 .

Adalah Raja Bugang Geureung dari kerajaan Pasiripis yang penasaran atas 124 . Beberapa hari setelah kejadian itu. membelah arus sungai. coba kembalikan kukuk yang terbawa arus itu ke hadapanku!” Embah Gabug pun menuruti perintah Raja Subangkala. mulailah tersiar kabar ke mana-mana bahwa Raja Subangkala dikalahkan oleh Embah Gabug. berada di kampung Prunggawul. Dengan karembong sakti cinde wulung. “Hai putri. Malahan terkenal dengan sebutan Pelet Marongge. Bahkan akhirnya terpental pada sebongkah cadas (sejenis tanah liat) yang teksturnya datar menyerupai mejatulis di sebelah Raja Subangkala berdiri. Desa Bonang. Semenjak itu pula. Tempat inilah yang sekarang disebut Cadas Meja. ia pun mengembalikan kukuk.kukuk yang telah terbawa arus sungai tersebut ke hadapannya. mulai dikenal istilah pelet (ilmu asihan) si kukuk mudik dari kampung Marongge. Kacamatan Kadipaten Majalengka. kalau engkau sakti. Kukuk melesat dari hilir.

Kini kukuk dilempar oleh Embah Setayu. Pelaksanaan melempar kukuk pun dimulai. tawaran Raja Bugang Geureung tersebut diterima dengan syarat akan diwakilkan pada adiknya Embah Setayu. tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi persyaratan tersebut.kabar tersebut dan berniat menjajal kesaktian Embah Gabug. Kepergiannya tersebut tanpa sepengetahuan penduduk kampung Babakan. akhirnya Embah Gabug memutuskan untuk pergi dari kampung Babakan. Bahkan saudara-saudaranya pun tidak diberitahu. Namun pada akhirnya. Namun seperti halnya Raja Subangkala. Ia lalu mencari tempat yang baik untuk bersemedi. Raja Bugang Geureung pun kemudian mengajukan tawaran pada Embah Gabug. Dengan kenyataan demikian. 125 . Itulah syarat yang diajukan oleh Embah Gabug untuk siapa saja yang ingin mempersuntingnya. Raja Bugang Geureung pun tidak mampu mengembalikan kukuk ke hadapan Embah Setayu. Oleh Embah Gabug.

Hingga suatu ketika. mereka bertiga berniat untuk mencari kakaknya yang pergi tanpa pamit.Tentu saja membuat sedih Embah Setayu. mereka bertiga sampai ke sebuah bukit yang bernama Gunung Hade. Naibah. berkat kekuasaan Hyang Widi. Naibah. 126 . Maka dipeluklah tubuh Embah Gabug oleh adik-adiknya. Perempuan tersebut ternyata Embah Gabug. Setayu. Sesaat kemudian. mereka bertiga menemukan seorang perempuan terkapar karena sakit. dan Naidah! Kakakmu akan sembuh apabila memakan buah laja yang tumbuh di bukit ini!” Maka dicarilah buah laja oleh Embah Setayu. Embah Gabug pun sembuh kembali. Hingga pada suatu malam. Di puncak bukit itulah. kakaknya sendiri. Setelah memakan buah laja. dan Naidah. terdengar suara gaib: “Hai. Berangkatlah mereka bertiga berkelana. “Kenapa kita ada di sini? Siapa yang telah berhasil menyembuhkanku?” kata Embah Gabug.

Setelah itu tiba-tiba terdengar kembali suara gaib: “Kalian jangan kaget. 127 . Beberapa bulan kemudian. keempat putri bersaudara itu pergi berjiarah ke gunung Hade. Sesampainya di sana. Setelah itu. Suatu saat nanti. kalian juga akan menetap di bukit ini.Diceritakanlah seluruh kejadian yang telah menimpa oleh Embah Setayu. Embah Gabug pun ditinggal pergi oleh adik-adiknya. pergilah!” Setelah mendengar suara gaib. mereka membuat lubang tepat di atas tempat terkaparnya Embah Gabug dulu. Sudah barang tentu seluruh penduduk menyambutnya dengan suka cita. pada malam Jumat Kliwon. Oleh adik-adiknya lubang tersebut ditutupi oleh rengge (sejenis ranting bambu haur) yang tumbuh di sekitar bukit. aku adalah Haji Putih Jagariksa yang menguasai bukit ini. Kemudian Embah Gabug masuk ke lubang tersebut. Sekarang. Embah Gabug dan ketiga adiknya pun kembali ke kampung Babakan.

Lalu diperiksalan lubang yang mengeluarkan cahaya merong tersebut. mereka kaget karena dari lubang yang ditutupi rengge waktu itu. Sesampainya di puncak. Kebanyakan pengunjung berjiarah dengan maksud 128 . tempat tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Merongge. Kini kampung Marongge menjadi tempat jiarah. Semenjak itulah. Hingga pada suatu malam. berangkatlah mereka bertiga ke gunung Hade dengan maksud untuk melihat sang kakak. yang berasal dari kata merong dan kata rengge. Embah Gabug yang pernah masuk ke lubang itu pun didapati oleh ketiga adiknya telah menghilang. karena terlalu lama ditinggal sang kakak.Sekian lama Embah Gabug terkubur dalam lubang di puncak gunung Hade. Ternyata lubang tersebut kosong. keluar cahaya yang merong (bersinar) kekuningkuningan seperti kilatan emas. Seiring perjalanan waktu. kemudian berubah menjadi Marongge. Adik-adiknya pun merasa sedih.

*** (Sumedang) *) kukuk. Buahnya yang sudah tua. Menurut kepercayaan masyarakat setempat.agar cepat mendapat jodoh atau bertapa untuk memiliki ilmu pelet si kukuk mudik. konon sampai akhir hayatnya keempat gadis tersebut tidak pernah menikah. Bunganya berwarna putih dan buahnya berbentuk kendi. 129 . oleh orang tua biasa dipakai untuk wadah cai (tempat mengambil air) dengan cara dilubangi dekat lehernya (karena bentuknya yang berleher sepert kendi). nama tumbuhan sejenis labu.

Kemudian datanglah seorang pengelana yang beragama Islam bernama Guru Aji Putih. Resi Agung lalu membuat padepokan di tepi sungai Cimanuk tersebut. yang kini bernama Leuwihideung. Semenjak itulah kemudian Guru Aji Putih diangkat menjadi raja di perkampungan tersebut dan kerajaanya diberi nama Tembong Agung. datanglah rombongan pengelana dan paninggaran (pemburu) ke sebuah tempat di tengah hutan belantara di tepi sungai Cimanuk. Salah seorang yang ikut dalam rombongan resi itu ada yang bernama Sanghiyang Resi Agung dari kerajaan Galuh. 130 . SASAKALA SUMEDANG Dahulu kala.4. Termasuk resi yang awalnya memeluk agama karuhun. Kemudian datang pula golongan resi yang menyebarkan agama. Semua penduduk yang ada di sana kemudian mengikuti ajaran Guru Aji Putih tersebut. Mereka semua masuk agama Islam.

Ini karena Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra. Ia pun kemudian diberi gelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana. Prabu Gajah Agung. Namun ada yang mengganjal dalam hati Prabu Tajimalela. Guru Haji memiliki seorang putra bernama Tajimalela. Putranya inilah yang kemudian meneruskannya menjadi raja di Tembong Agung. ia bingung harus membagi tahta kerajaan. kerajaan Tembong Agung semakin berkembang pesat. Seluruh rakyat hidup damai dan sejahtera. sehingga musuh-musuhnya selalu kalah dalam berperang. Semakin lama. Prabu Tajimalela pun terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Bergelar haji karena ia pernah berangkat ke Mekah. Ia pun kelak akan disebut Haji Darmaraja. yakni Prabu Lembu Agung.Guru Aji Putih disebut pula Guru Haji Putih. Prabu Tajimalela terkenal adil palamarta. Dalam menjalankan pemerintahan. dan Sunan Geusan Ulun. 131 .

Dalam kebingungan itu. akhirnya Prabu Tajimalela menyuruh kedua putranya itu menuju puncak Gunung Sangkan Jaya. Akan tetapi Gajah Agung pun menolak karena tidak mau menjadi raja.” kata Prabu Tajimalela. Dengan hati gundah. Prabu Tajimalela mendapat wangsit. Dalam wangsitnya Prabu Tajimalela harus menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu putranya dengan terlebih dulu mengadakan ujian atau pasanggiri (sayembara) di puncak gunung Sangkan Jaya. Prabu Tajimalela menyuruh kedua anaknya untuk menunggui sebilah bedog dan dawegan (kelapa muda).Pada mulanya Prabu Tajimalela berniat menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua Lembu Agung. “Jaga bedog dan dawegan ini. pada suatu malam. Sesampainya di sana. Namun ia tidak mau menjadi raja dan malah menyerahkan kepada adiknya Gajah Agung. Nanti kita lihat apa yang terjadi. 132 . Adapun Sunan Geusan Ulun ketika itu masih burey (kecil).

” kata Lembu Agung pada adiknya. Sementara Gajah Agung. memang sinar matahari sungguh terik menyengat tubuhnya. lama kelamaan merasakan pula kegerahan dan rasa dahaga. Ia pun berniat untuk mandi dulu ke sungai yang berada di lembah gunung.” Lembu Agung pun segera pergi meninggalkan adiknya. Maka dengan yakin. Gajah Agung pun kemudian membelah dawegan yang ada di hadapannya dengan bedog yang ada di hadapannya pula. Ia menuju sungai yang berada di lembah gunung untuk mandi sekedar menghilangkan gerah. “Adikku. Gajah Agung. 133 . Kakang. Karena cuaca sangat terik. akhirnya Lembu Agung merasa gerah dan tidak kuat oleh cahaya matahari. Kamu tetap jaga bedog dan dawegan ini. aku akan mandi dulu. Ditenggaklah air dawegan tersebut sampai habis.Dijagalah bedog dan dawegan itu oleh Lembu Agung dan Gajag Agung. “Ya. Hari itu.

Lembu Agung. Lalu ia pun bertanya pada adiknya. Nanti kita ceritakan kejadian ini pada rama Prabu. Gajah Agung. Sedangkan kerajaan Tembong Agung akan tetap diserahkan pada anaknya yang pertama. kemudian Lembu Agung datang. Lalu Lembu Agung dan Gajah Agung menceritakan kejadian yang mereka alami masing-masing.Sesaat setelah menenggak air dawegan. adikku. Maka dengan yakin. akhirnya Prabu Tajimalela menyerahkan tahta kerajaan pada anaknya yang kedua. dan airnya telah ku minum. Kenapa dawegan ini terbelah? Ada kejadian apa?” “Tidak ada kejadian apa-apa. “Bagaimana. Aku hanya tidak kuat saja menahan dahaga.” “Ya. Kakang. Akhirnya dawegan ini pun ku belah. sudahlah. 134 .” Sesaat kemudian datanglah Prabu Tajimalela. Dengan syarat. Gajah Agung harus mencari ibukota sendiri.

ia disebut juga Prabu Pagulingan. Ia pun dikenal memiliki keris yang sangat ampuh dengan nama Ki Dukun. kemudian Prabu Tajimalela pun melakukan semedi 135 . Sementara itu.Atas keputusan ayahnya itu. kelak ia pun akan menjadi raja dan resi.” Kata darma ngarajaan adalah ungkapan bahasa Sunda yang berarti siap bertugas menjadi raja. Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung. Setelah menyerahi tahta kerajaan pada anaknya. Selanjutnya ia membangun ibukota kerajaan di Leuwihideung. Ungkapan inilah yang kelak menjadi salah satu nama daerah yang disebut Darmaraja. “Aku hanyalah darma ngarajaan saja. Pada saat diserahi kekuasaan di Tembong Agung itu. akhirnya Prabu Gajah Agung dinobatkan menjadi raja. Pasanggrahan. Karena itu. sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun. sekarang Sumedang selatan. Pusaka Keris ini. Ciguling. Adapun Sunan Geusan Ulun. Lembu Agung pun berucap.

Saat itulah. Prabu Tajimalela melihat keajaiban alam di sekitar kerajaan Tembong Agung.” sabdanya. yakni Sumedang. Nama inilah yang kemudian dikenal hingga sekarang. Sabda Prabu Tajimalela tersebut artinya ialah “aku lahir untuk memberi penerangan. Pada malam ketiga. insun madangan. Tajimalela bersabda kepada seluruh rakyatnya: “Insun medal.” Semenjak itu pula. Ia melihat langit menjadi terang benderang oleh cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malela). Ibukotanya pun dipindahkan ke Kutamaya. kemudian Prabu Tajimalela mulai mengajarkan kepada seluruh rakyatnya ilmu kasumedangan. sebelah selatan alun-alun Sumedang sekarang. luas. Nama Sumedanglarang pun oleh penduduk setempat disebut awalnya saja. yang artinya tanah bagus.sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta. Ia bersemedi selama tiga hari tiga malam. dan tiada bandingannya. *** 136 . Nama kerajaan Tembong Agung pun berubah namanya menjadi Sumedanglarang.

Ia merasa sungkan karena hanyalah rakyat biasa. karena melihat banyaknya 137 . Gadis cantik tersebut pun akhirnya melarikan diri dari rumah ibunya ke arah barat. SASAKALA WILAYAH PRIANGAN TIMUR 1. dalam perjalanan pengelanaannya. SASAKALA BANJAR PATROMAN Tersebutlah seorang pemuda pengelana yang berasal dari Mataram bernama Adananya. gadis tersebut terjerat areuy di hutan belantara.B. Pada saat itulah Adananya menamai daerah tersebut dengan nama Cibeureum. Dalam pelariannya. Adananya pun melamar gadis tersebut pada ibunya. namun ibunya tidak mengijinkan karena ia mengetahui bahwa Adannya seorang Raja dari Mataram. Adananya pun terus mengejarnya. ia terpikat oleh seorang gadis cantik di sebuah kampung bernama Pataruman. Singkat cerita. dengan mengikuti jejak bercak darah gadis yang menempel pada areuy. sehingga kakinya berdarah.

bercak darah pada areuy layaknya air yang berwarna merah. Ia adalah Raja Galuh Kertabumi yang beribukota di Liung Gunung. Bertemu dalam bahasa Sunda disebut tepung dan kelamin lelaki disebut kanjut. Di tempat itu. Dalam pertarungan itu. yang berarti tempat bertemunya dua orang lelaki. Pada saat Adananya mengejar sang gadis. Pemuda tampan itu pun kemudian mencegat Adananya di sebuah bukit. datanglah seorang pemuda tampan berniat menolong. Adapun Adananya adalah seorang ulama penyebar agama Islam dari Mataram yang sebenarnya bernama Kanduruan Pandusaka 138 . kemudian Adannya dan pemuda penolong tersebut bertarung adu kesaktian. yang kini dinamakan Tepung Kanjut. kemudian Adananya mengetahui bernama bahwa Dalem pemuda penolong atau tersebut Raden Tambakbaya Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi III. yang kini menjadi nama sebuah kampung di kecamatan Manonjaya.

Kedua pemuda 139 . Sementara. Kembali pada kisah pertarungan Adananya dan Tambakbaya. Kemudian dikejar oleh Adannya dan Tambakbaya. Hingga di suatu tempat. Ketika Adananya sedang berdiri (bahasa Sunda: ngadeg). Mungkin juga berasal dari kata pangudagan. Adapun gadis yang sedang dikejar mereka. yang berarti tempat untuk mengejar. Selama pengejaran. ketika Adananya akan menangkapnya. keduanya pun kembali mengejar sang gadis. kesaktian keduanya seimbang. Sejak itulah tempat tersebut sampai sekarang disebut Pangadegan. terkejar oleh Tambakbaya. sedang beristirahat karena kelelahan. Di dalam pertarungan itu. Tambakbaya dengan gerak cepat segera menghalaunya. Namun.Sarikusumah yang kelak dipusarakan di situs Pandusaka Batulawang. gadis cantik tersebut berlari secepat kilat ke arah tenggara. Adananya dan Tambakbaya adu kecepatan berlari dengan kesaktiannya masingmasing. Akhirnya.

itupun kemudian bertarung kembali. gadis yang dikejar oleh Adananya dan Tambakbaya terus berlari. “Mana laré?”. Berasal dari kata sajorélat. yang artinya menghilang sekejap mata atau secepat kilat. Namun sesampainya di sana. Langsung saja ibu gadis tersebut bertanya dalam bahasa Jawa ke Adananya. Tempat menghilangnya sosok Tambakbaya itulah. ibunya sempat bertemu dengan Adananya yang sedang kaget melihat Tambakbaya menghilang di kampung Jelat. Dalam pengejarannya. katanya kepada Adananya. Sementara itu. Sehingga kelihatannya ngan sajorélat atau hanya sekejap mata. yakni pukulan saketi. Kini perjalanannya mengarah kembali ke rumah ibunya. ibunya didapati sudah tidak ada. Tapi. Ternyata ibunya pun turut mengejar saat ia melarikan diri pada saat itu. yang sekarang dinamakan kampung Jélat. Tambakbaya dapat menghindar dengan cara menghilang memakai ajian halimunan. 140 . Adannya mengeluarkan ilmu pamungkasnya.

Sesaat kemudian.” timpal Adananya. kini mereka tidak bertarung. “Ke sana. Kenapa sang gadis tidak terkejar oleh Adananya dan Tambakbaya? Ternyata gadis tersebut memiliki kesaktian yang lebih tinggi. Tempat perhentian itu kemudian dinamai kampung Randegan.” gumam Adananya. juga dari ucapan sang ibu: mana lare. Setelah itu. tibalah Tambakbaya yang juga kelelahan.Maksudnya menanyakan ke mana arah larinya anaknya. sekarang dinamakan kampung Mandalaré. Ia sebenarnya bukan anak sang ibu. berasal dari Mandala laré. Adananya pun ngarandeg (berhenti) untuk beristirahat. 141 . tapi putri dari kerajaan Galuh yang bernama Ni Nursari. ke arah selatan. Tempat dialog antara Adananya dengan ibunya sang gadis tersebut. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya. “Gadis itu memang lebih sakti dariku.

Di sebrang sungai. Setelah itu. Semakin lama. namun Ni Nursari larinya lebih cepat. sedangkan Tambakbaya tetap ingin menolong Ni Nursari dari paksaan Adananya. Cukup lama Adananya dan Tambakbaya beristirahat di kampung Randegan. Sementara itu. Adannya tetap berpendirian ingin memperistrinya. sungai Citanduy pun semakin ramai disinggahi para bandar (pedagang) dari kerajaan 142 . Lalu menyeberangi sungai Citanduy. Berasal dari kata papaduan. Ni Nursari lari ke arah utara. Jalan sepanjang Adananya dan Tambakbaya beradu pendapat itulah yang sekarang dikenal dengan nama kampung Cikadu. Sepanjang jalan mereka terus beradu pendapat mengenai Ni Nursari yang sedang dikejarnya.Karena tenaga keduanya sama-sama sudah terkuras habis. mereka pun kembali mengejar Ni Nursari. ketiganya pun ngaleungit (menghilang). yang berarti berselisih pendapat. Adananya dan Tambakbaya pun terus mengejarnya.

Sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama pataruman atau tempat tarum. sebagai pangeling-eling atas peristiwa pertarungan antara Adananya dan Tambakbaya memperebutkan Ni Nursari pada saat itu. antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa. Daerah di tepi sungai Citanduy pun kemudian dikenal dengan nama kampung Bandar (pedagang atau pusat perniagaan). 143 . Bahasa yang digunakan penduduk pun bercampur. yang oleh penduduk setempat disebutnya basa Jawa réang. yakni sejenis tanaman nila yang pada masa kolonial dijadikan tanaman paksa. Adapun kampung tempat Ni Nursari dan ibu angkatnya tinggal selanjutnya dinamakan kampung Bandar Pataruman. kampung Bandar pun semakin banyak disinggahi bandar-bandar (para pedagang) dari Mataram. Konon kata pataruman berasal dari kata patarungan. Semakin lama.Galuh dan Mataram. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di kampung itu banyak ditanami pohon tarum.

kampung Banjar yang letaknya di pinggir sungai Citanduy itu telah berkembang menjadi sebuah kota yang membatasi wilayah antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah. Nama Bandar Pataruman pun berubah menjadi Banjar Patroman. Namun. Kini.Semakin lama. adakalanya kampung Banjar Patroman pun disebut Banjar saja. *** 144 . Di antara para pedagang itu banyak berjodoh dengan penduduk setempat dan banyak pula yang bermukim. karena pada waktu itu banyak diucapkan salah oleh pendatang dari Mataram. kampung Bandar Pataruman pun semakin ramai disinggahi para pedagang dari kerajaan Galuh dan Mataram.

karena merasa anaknya tidak pantas mendapatkan seorang raja. termasuk salah seorang yang menyukai sang putri. di wilayah kekuasaan kerajaan Banyumas hiduplah keluarga bahagia pasangan Aki Gede dan Nini Gede. raja kerajaan Banyumas. yang sulung seorang laki-laki bernama Sang Lawangjagang. Banyak raja dan ksatria yang melamarnya. namun selalu saja ditolak oleh sang putri. Aki Gede merasa bahwa putrinya hanyalah keturunan rakyat biasa dan tidak mungkin menjadi permaisuri seorang raja. Tentu saja penolakan dari Aki Gede tersebut membuat sakit hati Kanjeng Sinuhun.2. Kanjeng Sinuhun. sedangkan yang bungsu seorang putri yang sangat cantik jelita. lamaran itu pun ditolak oleh Aki Gede. SASAKALA CIJULANG DAN PANTAI BATUHIU Dahulu kala. Tetapi seperti sebelumnya. Pasangan keluarga tersebut memiliki dua orang anak. Lalu ia pun 145 . Maka Kanjeng Sinuhun pun segera mengajukan lamaran pada Aki Gede dan Nini Gede.

putri. Berangkatlah Aki Gede. kemudian bertambah pula dengan dibangunnya sebuah surau.memerintahkan kepada patihnya untuk mengusir Aki Gede beserta seluruh keluarganya dari wilayah kerajaan Banyumas. terus bertambah menjadi lima rumah. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam. Rombongan itu pergi ke arah Barat. Nini Gede. Setelah itu. rombongan Aki Gede pun sampailah ke tepi sungai di batas kerajaan. 146 . rombongan hanjat (menyeberangi) sungai. Maka tibalah rombongan Aki Gede ke sebuah tempat yang teduh dan terdapat mata air. Dari sana. dan seluruh kerabatnya meninggalkan wilayah kerajaan Banyumas. Di sana. mereka segera ngababakan (membuka lahan baru) untuk membangun perkampungan. Tempat itulah yang kelak dikenal dengan nama Hanjatan Cimanganti. perjalanan pun dilanjutkan menuju ke arah selatan. Mulanya hanya dibangun satu rumah.

Bahkan banyak orang yang berguru ilmu kanuragan ke Aki Gede. Lalu ke arah selatan dan ngaso (beristirahat) di suatu tempat yang juga terdapat mata air yang banyak pohon kasonya. Padepokan itu diganti namanya menjadi Kawasan. Sementara Aki Gede.Lama kelamaan daerah itu pun semakin banyak dikunjungi pendatang. 147 . Lalu ia berniat membangun padepokan di tempat lain. Nini Gede. Oleh anaknya. Khawatir perkampungan tersebut diketahui oleh Kanjeng Sunan. Aki Gede menyuruh anaknya yang sulung untuk mengurus Padepokan Karasanbaya. putrinya. Sebagai penggantinya. dan rombongan keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat. Aki Gede pun mulai merasa gundah. Kelak tempat ini dikenal dengan nama Cikaso. yang berarti tempat beristirahat yang terdapat sumber air dekat pohon kaso. Rumah Aki Gede pun kemudian direnovasi dan dijadikan sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Karasanbaya. Dengan perkembangan padepokan yang sangat pesat.

Kali ini Aki Gede semakin ke selatan. Kemudian sampailah ke daerah Bubulak dan Karangsimpang. Beberapa hari kemudian. Lalu padepokan itu ia percayakan kepada salah satu saudaranya yang bernama Mangun Naha Mana Manggala. Kemudian. Aki Gede pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Aki Gede dan Nini Gede pun melanjutkan pengembaraannya kembali. Kini Aki Gede pergi ke arah utara dan sampailah di sebuah daerah. Di sana 148 Aki Gede segera . di sana Aki Gede pun membangun sebuah padepokan. Di sana Aki Gede membangun kembali sebuah padepokan dan kepengurusannya dipercayakan kepada salah seorang saudaranya yang bernama Sang Prabu Mangun Ciker. Setelah itu. Aki Gede pun segera membangun sebuah padepokan. Di karangsimpang ia percayakan lagi kepengurusan padepokannya pada saudaranya yang lain. rombongan Aki Gede pun sampailah pada sebuah daerah yang kelak bernama Bojonglekor.Di tempat itu.

Kelak tempat ini dikenal dengan nama kampung Binangun. Cikawao. Aki Gede. karena di daerah tersebut tidak terdapat mata air.membangun padepokan dilengkapi dengan sebuah sunge (sumur buatan). Di sana ia tidak membangun padepokan. sampailah Aki Gede ke daerah yang bernama Nagarawati. Cikagenah. Aki Gede pun kemudian mencari daerah baru sebagai tempat bermukim. Aki Gede pun akhirnya kembali lagi ke Binangun. Suatu ketika. Nini Gede. 149 . Sarakan. Aki Gede kemudian mengalihkan perjalanannya ke sebelah Barat. Cikadu. Setelah membangun padepokan di Binangun. Namun tidak berhenti di situ. karena sudah padat penduduknya. Berturut-turut Aki Gede membangun kampung yang sekarang dikenal dengan nama Bojongmalang. Cipatahunan dan Gurago. Selama pengembaraannya. dan rombongan selalu berhenti di sebuah daerah dan dilanjutkan dengan ngababakan (membuka lahan baru).

Setelah itu. Alasannya karena sang putri telah menikah dengan seorang ksatria bernama Sembah Ragasang. Sekarang ia mengarah kembali ke selatan. Raja Sukapura yang kekuasaannya meliputi daerah Cigugur. Aki Gede pun akhirnya menyetujui permintaan Dalem Tamela dengan sebuah 150 . Maka sampailah Aki Gede ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Cigugur. Bahkan Aki Gede sempat mengangkat seorang amil (penghulu) dan kepala kampung. Lama ia tinggal di daerah tersebut. Aki Gede tinggal cukup lama. Aki Gede dipanggil oleh Dalem Tamela. Aki Gede pun menemui Dalem Tamela di keratonnya yang sekarang dikenal dengan nama Sukaraja. Namun karena memaksa. Beberapa taun kemudian. Tujuannya ialah ke pesisir selatan pulau Jawa. di wilayah Tasikmalaya sebelah selatan. Lamaran tersebut sempat tujuh kali ditolak oleh Aki Gede. Aki Gede pun melanjutkan kembali perjalananya. Ternyata Dalem Tamela berniat untuk mempersunting anaknya Aki Gede yang perempuan.Di Gurago.

Sembah Ragasang. Sembah Ragasang harus mencari wilayah yang baik untuk pemukiman ke sebelah Barat. Menurut petunjuk dari Jeng Pati. Karena merasa 151 . Dalam memberikan wilayah itu pun tidak dipilih oleh Dalem Tamela. pergilah mantan menantu Aki Gede. Setelah sepakat. beserta sembilan kuren rombongannya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir. Berdasarkan petunjuk itulah. namun harus sekehendak menantunya. Kemudian tibalah Sembah Ragasang di kerajaan Panjalu. Di sana Sembah Ragasang menemui saudara ibunya yang bernama Jeng Pati.syarat: Dalem Tamela harus memberi kekuasaan mantan berikut menantunya suatu wilayah penduduknya yang berjumlah sembilan kuren (kepala keluarga). sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya ke wilayah Imbanagara. kemudian Sembah Ragasang beserta rombongan tiba di hutan belantara. Di sana ia sempat bermukim.

Ki Barja pun disuruh untuk melepaskan kembali 152 . Di sanalah Sembah Ragasang menetap sampai akhir hayatnya. kemudian Ki Barja membawa seekor ikan yang besar ke hadapan Aki Gede. kemudian kembali melanjutkan pengembaraannya. Karangnini dan Jajawai. sebelum pergi melanjutkan perjalanan. Aki Gede menyuruh salah seorang pengikutnya yang bernama Ki Braja Lintang untuk menangkap ikan di laut untuk sarapan. Bermalamlah Aki Gede beserta rombongan pengikutnya di bukit tersebut. segera Ki Braja pergi ke pantai untuk menangkap ikan. dari sana Sembah Ragasang melanjutkan lagi perjalanannya ke arah pesisir selatan. Hingga pada suatu ketika. Maka oleh Aki Gede. Setelah beberapa jam. tibalah di atas bukit masih di wilayah pesisir Selatan. Dengan cekatan. Tibalah Sembah Ragasang ke daerah yang sekarang bernama Mandala. Ternyata ikan tersebut seekor hiu.tidak cocok. Keesokan harinya. Adapun Aki Gede yang telah lama menetap di Cigugur.

ia kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Barat dengan tetap menyusuri pesisir Selatan. sekarang kita dapat melihat secara jelas bongkahan batu yang berasal dari perwujudan ikan hiu tersebut. ketika dilepaskan oleh Ki Barja. Semenjak itulah. Bersama dengan rombongannya. bahkan nampak airnya kembali mengalir berbalik ke arah aliran sungai. Di muara tersebut air sungai Haurseah nampak tidak menyatu dengan air laut karena terbendung oleh air laut itu sendiri. Aki Gede segera saja meninggalkan daerah tersebut. Hingga sampailah Aki Gede ke sebuah muara yang menyatukan antara sungai Haurseah dengan laut Jawa Selatan. Oleh penduduk 153 . Namun anehnya. Setelah kejadian itu. daerah pesisir itu oleh Aki Gede diberi nama pantai Batu Hiu.ikan hiu tersebut ke laut lepas. ikan hiu itu tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu besar berwarna hitam. Dari bukit tempat peristirahatan Aki Gede beserta rombongannya itulah.

Di dekat muara itulah. *** (Ciamis) 154 . maka Cimulang pun kemudian berubah namanya menjadi Cijulang seperti yang dikenal sekarang. Daerah itu pun kemudian oleh penduduk setempat dinamakan Cimulang. Di daerah Cimulang terdapat burung Julang. Seiring dengan perkembangan waktu. juga didasarkan pada kebiasaan Aki Gede yang bolak-balik seperti cai mulang mencari tempat untuk ngababakan. keadaan air seperti itu disebut cai mulang (air yang alirannya berbalik arah). Konon selain perubahan lafal dari kata cai mulang. kemudian Aki Gede kembali ngababakan dan menetap untuk selamanya.setempat.

Begitulah lelaki tua itu kesehariannya. untuk menambah penghasilan. Ia sangat rajin sekali beribadah. sebagian akan dikere (diselai) dan sebagian lain dijual kepada tetangganya. Apabila mendapat ikan cukup banyak. sebelah selatan kerajaan Sukapura. Selain itu. Seperti ketika itu. Meskipun hidup serba kekurangan. lelaki tua itu pun sekali-kali menangkap ikan di sungai Cimedang. hiduplah seorang lelaki tua di sebuah rumah yang atapnya terbuat dari rumbia.3. Biasanya memakai bubu atau badodon. SASAKALA KALAPAGENEP Di tepi sungai Cimedang. ia hanya memakai peralatan seadanya. Dalam menangkap ikan. Namun tetap saja melaksanakan solat lima 155 . lelaki tua tersebut tidak berputus asa. Alat penangkap ikan tersebut terbuat dari bambu. Lelaki tua tersebut sehari-harinya tatanen (bertani) dengan memanfaatkan tanah adat milik kerajaan Sukapura. ia pernah ditimpa sakit keras.

Namun meskipun demikian. Dengan tenang. air bah pun segera menenggelamkan seluruh rumah lelaki tua itu.waktu. Sekalipun tidak kuat untuk mengambil air wudlu. Suatu hari di musim penghujan. Sesuai dugaan. tiba-tiba kampung tersebut terkena caah (banjir). mulai digenangi air bah dari sungai Cimedang. Mula-mula air hujan hanya menggenangi halaman rumah penduduk. ia akan mengapung di atas buah kelapa yang dibawanya. lelaki tua itu tidak segera pergi meninggalkan rumahnya. Lalu seluruh areal pesawahan dan perkampungan pun tenggelam diterjang air bah. Banyak rumah penduduk yang tenggelam. lelaki tua itu pun 156 . ia akan bertayamum. Lelaki tua itu pun kemudian terbawa air bah yang arusnya sangat deras. Lama-kelamaan semakin membesar. Sungai Cimedang pun akhirnya meluap. Ia malah naik ke atas atap rumahnya sambil membawa enam buah kelapa. Ia berpikir apabila air bah sudah menenggelamkan seluruh rumahnya. Termasuk rumah lelaki tua itu.

sampai akhirnya tersangkut di sebuah nusa (pulau kecil) di tengahtengah muara.” gumamnya lirih.mengambang bersama enam buah kepala yang dibawanya semula. Ia terbawa arus sampai ke muara sungai Cimedang. sehingga lelaki tua itu segera berenang sampai ke tepi muara. Ia hanya melihat air bah yang mengalir deras sampai surut. Di sana airnya tidak terlalu deras. Buah kelapa itu pun terbawa arus sungai. Lelaki tua itu pun tidak beranjak dari tepi muara. Adapun enam buah kelapa yang dibawanya. Sesampainya di tepi muara. beberapa saat ia tertegun. “Alhamdulillah. Kemudian air bah pun surut. mereka bergotong-royong 157 . Keesokan harinya. Gusti masih menyelamatkanku. Penduduk kampung mulai berdatangan menolong lelaki tua tersebut. dilemparkannyalah ke aliran sungai Cimedang.

Adapun buah kelapa dari keenam pohon kelapa itu. oleh lelaki tua selalu dijualnya untuk menambah penghasilan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian. buah kelapa dari keenam pohon kelapa yang tumbuh di tengah nusa itu pun tidak ada yang berani itupun mengambil kemudian apalagi dinamai mencurinya. di nusa tersebut tumbuh enam buah pohon kelapa. Oleh Tua Kampung. yang artinya enam buah pohon kelapa. “Kenapa. “Aku namakan nusa ini Kalapagenep.membantu memperbaiki rumah lelaki tua yang hancur terkena banjir. Aki?” timpal salah seorang penduduk. “Untuk mengenang perjuangan Aki Sahuri yang bersusah payah menyelamatkan diri dari terjangan 158 . sampai akhirnya berbuah. nusa tersebut selanjutnya diserahkan pada lelaki tua untuk diolah menjadi lahan perkebunan. Semakin hari pohonnya semakin tinggi. Nusa Kalapagenep. Setelah lelaki tua itu meninggal.” ujar Tua Kampung di depan seluruh penduduk.

kalau begitu aku setuju. *** 159 .!” sahut para penduduk yang lain. “Oh. daerah di sekitar muara itu pun kemudian dinamakan kampung Kalapagenep.banjir dengan memakai enam buah kelapa ini. Kini kampung tersebut menjadi batas antara kabupaten Ciamis dengan kabupaten Tasikmalaya.. Selanjutnya..” “Setujuuuu.” jawab Tua Kampung sambil menunjuk pada enam pohon kelapa yang tumbuh subur di tengah-tengah nusa.

terdapat sebuah kampung tak bernama.4. Bahkan harimau tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri. Setiap hari harimau tersebut dilatih menjadi binatang piaraan yang cerdas dan tangkas. SASAKALA KAMPUNG PANYALAHAN Dahulu kala. Harimau tersebut dipelihara sejak kecil. Maka semakin giatlah suami istri tersebut bekerja mencari nafkah. sehingga jinak layaknya seekor kucing. di wilayah kerajaan Sukapura sebelah selatan. Kebahagiaan suami isteri itu terasa bertambah besar setelah lahirnya anak mereka. Sebagai . Apalagi setelah mereka mempunyai binatang peliharaan. hiduplah sepasang suami istri. Apabila mereka pergi ke ladang atau sawah. Kehidupan keluarga mereka terasa tentram dan romantis. yaitu seekor harimau jantan. seorang bayi yang mungil dan sehat. Di kampung itu. bayinya selalu ditinggalkan 160 di rumah.

161 ekornya sambil menggosok-gosokkan . Pikir suami isteri. Sedang berpikir demikian. mengapa tingkah laku harimau itu berbeda dari biasanya. tersebut. Spontan kedua suami isteri teringat akan anak bayinya yang dipercayakan kepada sang harimau piaraannya. Lalu mengibasngibaskan badannya. Seketika itu memuncaklah kemarahan sang suami. terlihatlah oleh mereka mulut sang harimau berlumuran darah. Tidak seperti biasanya. “Pasti harimau itu telah menerkamnya. Di halaman rumah. mereka disambut oleh harimau kesayangannya. Mereka pun terkejut melihat keadaan itu.” gumam sang suami.penjaganya. tiba-tiba terjadilah peristiwa yang menyedihkan. Peristiwa itu dimulai ketika suami isteri pulang berladang. Selang ditunjuklah harimau peliharaannya beberapa bulan. harimau itu segera menghampiri suami istri tersebut.

setelah terlebih dulu menendang bangkai harimau. Dirabanya tubuh bayi tersebut.“Hey. mata bayi itu pun terbuka. Teganya engkau menerkam anakku. harimau keparat. maka larilah sang isteri memasuki kamar tempat bayinya ditinggal. mereka berdua hanya membisu. Lalu tersenyum lucu dan menggemaskan. Kedua suami isteri pun lalu mengusap 162 . lalu digoyang- goyangkan badannya. Setelah sadar kembali ingatannya. Matilah harimau itu ditangan orang yang menyayanginya selama ini. Tak lama berselang. Sesampainya di dalam ruangan kamar. Selesai menghardik. Dasar tidak tahu balas budi!” hardiknya. Lalu sang suami pun mengikutinya masuk ke dalam kamar. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi. didapati bayinya terbaring dengan tenang dalam ayunan. lalu sang suami itu pun menghunus goloknya dan menebas leher harimau.

Namun apa dikata. Ia pun sadar bahwa harimau itu telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya. Setelah puas memandangi bayinya yang selamat. Ia sadar betul bahwa harimau yang telah dibunuhunya tidak bersalah. hewan itulah yang justru telah menyelamatkan bayinya dari santapan ular sanca. 163 . suami isteri tersebut segera memeriksa sekeliling ruangan kamar. yang dalam bahasa Sunda disebut nyalahan. yang berarti tempat berbuat kesalahan.muka dan bersyukur karena bayinya selamat serta masih hidup. Didapatinya bangkai seekor ular sanca yang sangat besar tergeletak dekat ayunan. Semenjak itulah. ia langsung duduk lunglay di ruangan kamar dekat ayunan bayi. Dari mulut dan sebagian tubuhnya berlumuran darah. Apalagi sang suami. kampung tempat suami istri tersebut bermukim dikenal dengan nama kampung Panyalahan. Saat itulah suami istri tersebut tersadar telah melakukan kesalahan. harimau tersebut telah mati dibunuhnya karena salah terka.

*** 164 . Bahkan sekarang berkembang kepercayaan. seluruh penduduk kampung Panyalahan disupata (dikutuk) untuk tidak bisa membunuh harimau memakai senjata apapun.Semakin lama. kampung Panyalahan semakin banyak dikunjungi pendatang dan menjadi penduduk di sana. Hingga kini. menurut kepercayaan masyarakat sekitar. bahwa penduduk kampung Panyalahan dilindungi oleh maung kakajaden (harmau jadi-jadian) yang terbunuh oleh sang suami pada waktu itu. termasuk memakai senjata api.

di suku gunung Kutu (yang kelak namanya berubah menjadi gunung Guntur) terdapat sebuah kerajaan bernama Timbanganten. Ia tidak mau tinggal di dalam istana. Penduduk 165 . ditemani oleh lelaki yang sudah berumur tua bernama Batara Rambut Putih. Adapun rajanya bernama Sunan Rangga Lawe. kakaknya lebih memilih menjadi pertapa dan masyarakat biasa. Ia seorang raja yang adil dan bijak. tidak jauh dari suku gunung Kutu. Ibukotanya bernama Korobokan. kerajaan Timbanganten mengalami pailit akibat musim kemarau panjang. SASAKALA GUNUNG GUNTUR Dahulu kala.5. Namun berbeda dengan pribadi Sunan Rangga Lawe yang sinatria. Suatu ketika. Sunan Rangga Lawe mempunyai kakak seorang perempuan bernama Maharaja Inten Dewata. sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya. Seluruh penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. Ia lebih senang berkelana ke tiap pelosok kerajaan.

” 166 . “Kanjeng Sunan. Tempatnya harus strategis. kami telah berhasil menemukan tempat yang strategis untuk dibuat situ. karena kekeringan. Paman?” “Pemiliknya Maharaja Inten Dewata. lalu diperintah agar segera mencari tempat yang cocok untuk membuat situ. agar dapat mengairi seluruh wilayah kerajaan. Dipanggillah seluruh patih dan mahamantri kerajaan.kekurangan air bersih dan makanan. Kanjeng.” “Siapa yang memiliki tempat tersebut. Hasil pertanian dan ladang tidak dapat dipanen. akhirnya para patih dan mahamantri yang ditugaskan mencari daerah untuk membuat situ pun menghadap Sunan Rangga Lawe. Maka untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sunan Rangga Lawe pun berinisiatif untuk membuat situ (danau). Paman Patih?” “Di lembah gunung Kutu. saudara Kanjeng sendiri.” “Di mana tempatna. Setelah 40 hari 40 malam.

” Sesaat Maharaja Inten Déwata terdiam. Paman Patih pun segera menemui Maharaja Inten Dewata di rumahnya. permintaannya tidak akan aku kabulkan.“Oh.” Keesokan harinya. gampang kalau pemiliknya beliau.” “Baik.” “Memang apa permintaan adikku itu?” “Ia bermaksud meminta daerah ini untuk dibuat situ. ia pun memberikan keputusan. ceritakan apa kehendakku. ia langsung menghadap Maharaja Inten Dewata. “Sampaikan pada Sunan. “Ada apa kalian menemuiku?” “Ampun Gusti. Di daerah ini aku mulai bisa 167 . di lembah gunung Kutu. Paman segera menghadap pada kakakku. Katanya akan bermanfaat bagi sistem pengairan di kerajaan Timbanganten. Sesaat kemudian. saya mendapat tugas dari Kanjeng Sunan untuk menyampaikan permintaannya. Sekarang. Kanjeng. akan saya laksanakan. Sesampainya di sana.

Namun semua penduduk kerajaan mengatakan hal yang sama bahwa tempat yang baik untuk situ ialah di lembah gunung Kutu.” “Oh. Sesampainya di istana.” Setelah mendengar jawaban tersebut.menikmati hidup. Paman Patih pun segera bergegas untuk menemui Sunan di istana. jauh dari hiruk-pikuk kehidupan istana. ia pun langsung menghadap ke Sunan Rangga Lawe. ya. sudahlah kalau memang begitu. Paman?” “Ampun Kanjeng Sunan. “Bagaimana.” Beberapa hari kemudian. Kita cari saja tempat lain. beliau tidak bisa memberikan daerahnya untuk dijadikan situ. seluruh rakyat ditugasi untuk mencari tempat yang baik untuk dibuat situ. Akhirnya Sunan Rangga Lawe pun memerintahkan kembali patihnya untuk membujuk kakaknya agar memberikan daerahnya dijadikan situ. Maharaja Inten Dewata 168 . Tetapi seperti sebelumnya.

sebelumnya saya meminta maaf.” “Memang kenapa?” “Artinya bahwa seorang raja itu harus berwibawa dan mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah Timbanganten. Ia tidak mau menyerahkan daerahnya untuk dijadikan situ. Akhirnya.” “Ya.” “Maksud. apabila perkataan saya terlalu lancang. Mantri?” “Ampun Kanjeng.tetap pada pendiriannya. yang menjadi raja di Timbanganten sekarang adalah paduka Kanjeng. untuk sementara pembangunan situ pun ditunda. Mantri?” 169 . Beberapa hari kemudian ada seorang mahamantri yang menghadap pada Sunan Rangga Lawe. katakan saja!” “Begini Kanjeng. Sunan Rangga Lawe pun tidak dapat memaksa karena ia merasa hormat pada sang kakak. ada apa. “Ada apa.

“Mulailah kalian sekarang bekerja membangun situ!” Mulai hari itu. Kanjeng.“Ampun. Sunan Rangga Lawe pun terpengaruh. Semua bersemangat karena dilihat 170 . Bahkan pengerjaannya. Menurut hemat saya. dipimpin langsung oleh Sunan Rangga Lawe. Setibanya di lembah gunung Kutu. seluruh rakyat pun segera bekerja membuat situ. membuat situ menghabiskan waktu berminggu-minggu. Kanjeng Sunan segera memerintahkan karena untuk membuat akan pesanggrahan. Kanjeng sebenarnya bisa memaksa pada Maharaja Inten Dewata untuk segera menyerahkan lahannya untuk dijadikan situ. Kontan saja seluruh rakyat Timbanganten berbondongbondong membangun situ. artinya di Timbanganten terdapat dua raja. Kalau paduka Kanjeng tidak sanggup. Ia pun langsung memerintahkan seluruh rakyatnya agar membawa peralatan untuk membuat situ di lembah gunung Kutu.” Mendengar perkataan mahamantri tersebut.

sebagian lagi dialirkan ke seluruh pesawahan dan perkebunan di wilayah kerajaan Timbanganten. Aku akan pergi ke puncak gunung Kutu. karena dapat bertani dan berladang kembali. “Aki. Hanya saja Maharaja Inten Dewata sangat marah. Seluruh penduduk pun bahagia. hanya untuk melihat saja situ buatan adikku itu. ambilkan aku jolang dan bawakanlah sekepal tanah. Batara Rambut Putih pun membawa jolang diisi air dan sekepal tanah. Kelak gunung kecil ini bernama gunung Putri. situ pun berhasil dibuat. Setelah beberapa minggu. Lalu 171 . Ia merasa dihianati oleh adiknya sendiri. Maharaja Inten Dewata mengajak Batara Rambut Putih untuk pergi menuju gunung kecil yang terletak bersebelahan dengan gunung Kutu. Dalam kemarahannya itulah.” “Untuk apa Nyai?” “Ah. Airnya sangat jernih memenuhi kubangan situ.langsung oleh raja.” Tak lama kemudian.

Sesampainya ke puncak gunung. ia pun turun kembali dari puncak gunung.pergilah Maharaja Inten Dewata dan Batara Rambut Putih ke puncak gunung Guntur. Setelah itu. Adapun Sunan Rangga Lawe tetap berdiam diri di Timbanganten. Mayat yang meninggal. batu panas. Dari puncak gunung tibatiba kelihatan api menyala. Sumedanglarang. bergelimpangan di mana-mana. Sesaat kemudian terdengar suara petir menyambar beberapa kali. Kono kejadian tersebut berlangsung selama 40 hari 40 malam tanpa henti. lalu Maharaja Inten Dewata menaburkan tanah dan menumpahkan air dari jolang. Sesaat setelah sampai ke rumahnya. dan Banjar Patroman. banyak penduduk Timbanganten yang mengungsi ke kerajaan Sukapura. dan hujan abu ke seluruh pelosok kerajaan. Rumah Penduduk penduduk banyak banyak yang hancur. gunung Kutu pun menumpahkan lahar. tiba-tiba ada kejadian aneh. Setelah itu. Langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung. Pada peristiwa itu. Ia 172 .

” “Aku maafkan engkau adikku. Maharaja Inten Dewata. Suara petir pun mendadak berhenti. Namun hatinya mulai tersadar. ia segera melihat kakaknya tengah berdiri di atas batu di bukit sebelah gunung Kutu.tetap bersikap sebagai figur raja yang bertanggungjawab. langsung saja Sunan Rangga Lawe sungkem (bersujud) pada kakaknya untuk meminta maaf. karena ulahnya yang tidak menghormati lagi kakaknya. bahwa terjadinya bencana demikian. lahar. “Kakak. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. Sesampainya di sana. Sesaat setelah berpikir demikian. maka berhentilah hujan batu panas. dan hujan abu dari gunung Kutu.” 173 . Dengan sigapnya. maka segera ia pergi untuk menemui kakaknya. “Kakanda.” Setelah keluar perkataan itu. alangkah baiknya apabila kita bersama mengolah kerajaan.

aku tidak akan pulang ke istana. *** 174 . Maharaja Inten Dewata dan Aki Batara Rambut Putih pun menghilang dari hadapan Sunan Rangga Lawe. selanjutnya dinamakan gunung Putri. gunung Kutu namanya diubah menjadi gunung Guntur. Kemudian situ yang dibuat oleh rakyat Timbanganten sedangkan disebut ibukota Situ Taman Timbanganten. sambat (panggil) saja namaku dan Aki Batara Rambut Putih. Korobokan sekarang dikenal dengan nama Tegalurug. Aku sudah betah di sini. terjadi lagi kejadian seperti ini. Kini. Adakalanya masarakat Timbanganten menyebutnya gunung Agung. karena sering terdengar suara guntur (petir). untuk mengenang keagungan Maharaja Inten Dewata. wilayah Timbanganten masuk ke wilayah kecamatan Tarogong Kabupaten Garut. Apabila suatu saat nanti.” Sesaat setelah itu. Adapun bukit kecil tempat Sunan Rangga Lawe bersujud pada Maharaja Inten Dewata. Semenjak itulah.“Adikku.

Hal itu dikarenakan seluruh hasil panen dari sawah atau ladang mereka.6. para penduduk di kampung tersebut hidupnya tetap miskin dan selalu tertimpa musibah kelaparan. Tanah di kampung tersebut sangat subur dan tidak pernah kekurangan air. Namun sayangnya. terdapat sebuah kampung yang penduduknya kebanyakan tatanen (bertani). . Ia hidup menjomblo. Penduduk kampung menyebutnya dengan nama Nyi Endit. Nyi Endit tentu saja menjadi orang kaya di kampung itu. Lumbung padinya berlimpah ruah. Hasil sawah dan ladang selalu berlimpah ruah setiap musim panen. karena tidak ada seorang pun lelaki yang 175 jatuh hati padanya. semuanya harus dijual dengan harga murah kepada seorang tengkulak perempuan yang sangat pedit (pelit). Setengah tanah kampung telah menjadi miliknya. Rumahnya mewah. SASAKALA SITU BAGENDIT Di sebelah utara kabupaten Garut.

mungkin sampai kita meninggal tidak akan pernah untung..” 176 . Mereka akan membunuh penduduk kampung yang ketahuan tidak menjual hasil panennya kepada Nyi Endit. Waktu pun berjalan mengikuti kehendak Sang Pencipta...” “Selama si lintah darat itu masih hidup. Maka jika musim kemarau. “Kapan kita akan untung dari hasil panen. Centeng-centeng Nyi Endit tersebut didatangkan dari kampung lain. ya?” kata seorang petani. “Wah. penduduk harus membeli bahan pokok sehari-hari dari Nyi Endit yang harganya lima kali lipat lebih mahal dari harga sebelumnya. Maka tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu. ya Kang?” “Ya. hari itu seluruh penduduk kampung akan panen.. Ya.Kesehariannya hanya ditemani puluhan centengnya yang bengis. benar.

Sementara sesudah panen. Nyi Endit dengan ditemani beberapa centengnya akan segera memeriksa leuit (lumbung padi). “Apakah semua padi sudah masuk?” “Sudah atuh...” Itulah keluh-kesah pada hari panen. “Komar!” kata nyai Endit. Setelah panen pun penduduk akan terus mengeluh. Kalau ketahuan menjual padi ke kampung lain.. mereka pun pasti akan membeli padi padaku. “Ha. Aku akan semakin kaya!” kata Nyi Endit sambil tertawa lepas..ha. Nyi!” jawab centeng bernama Komar. Aku akan naikkan harganya lima kali lipat.. 177 . pasti kita akan dibunuh centengnya.” “Iya. tapi kita tetap saja harus menjualnya ke nenek lintah darat itu. Kang?” “Iya.ha. ya.“Katanya di kampung sebelah harga padi lagi naik.! Kemarau akan tiba.

beberapa bulan kemudian tibalah musim kemarau.” kata seorang lagi. Konon menurut centengnya. “Semoga mendapat siksa dari Tuhan.Benar saja. “Keparat nenek lintah darat itu. Nyi Endit mengadakan sukuran karena telah membeli sehektar tanah di kampung sebelah. padahal tadinya ia beli murah dari hasil panen penduduk kampung. seluruh penduduk kampung diundang untuk menghadiri sukuran Nyi Endit. Pada suatu hari. Penduduk kampung mulai kehabisan bahan makanan dan mulai banyak yang kelaparan. Begitulah biasanya pembicaraan penduduk kampung apabila bertemu di surau atau di warung kopi. awal akhir pasti Tuhan akan menghukumnya.” kata seorang penduduk. 178 . Sementara Nyi Endit menjual mahal barang dagangannya. Kesewenangan dan kepelitan Nyi Endit memang sudah sabiwir hiji (menjadi menu pembicaraan semua penduduk).

ia pun bertanya pada seorang penduduk. ia hanya menyediakan air putih dan hidangan alakadarnya. ketika datang ke rumah Nyi Endit. apakah kakek boleh meminta segelas air. Itupun banyak penduduk desa yang tidak kebagian. Banyak penduduk yang sengaja datang karena ingin mendapat nasi. Setelah itu. Ketika sukuran sedang berlangsung.Penduduk kampung sedikit bahagia diundang sukuran oleh Nyi Endit tersebut. Mereka berpikir akan makan lezat dan diberi uang oleh Nyi Endit. Memangnya kenapa?” “Begini. Kakek haus sekali. Namun karena banyak penduduk yang kelaparan. tiba-tiba datang seorang kakek yang kelihatannya sedang kelelahan dan kehausan. sudah berjalan cukup jauh. siapa yang menggelar acara sukuran ini?” “Nyi Endit. “Mau numpang tanya. Namun semua salah duga. akhirnya acara sukuran pun ramai juga. Kek. Dia berjalan mendekati pintu rumah Nyi Endit.” 179 .

180 . “Kalian semua pulanglah. Mendengar hardikan Nyi Endit seperti itu. si kakek pun pergi meninggalkan rumah Nyi Endit. ayo kita pulang. Lalu ia berkata pada semua yang hadir di rumah Nyi Endit. Namun anehnya si kakek itu hanya tersenyum simpul.” Setelah itu. “Ibu. yang benar saja Karsih. kita mengungsi!” “Wah. Keluar kau pengemis!” tiba-tiba Nyi Endit menghardik kakek tersebut. Jangan hadiri acara sukuran orang seperti ini. Si Kakek menyuruh aku memberitahu kalian semua.mau meminta air? Enak saja. Saya dapat amanat dari seorang kakek.. bahwa hari ini akan terjadi banjir yang dapat menenggelamkan kampung kita.. kemudian datang Nyi Karsih. penduduk kampung hanya diam mematung. Bapa. Ayo. semuanya. Tidak beberapa lama.“Apa. siang cerah begini ada banjir?” cetus seorang penduduk.

“Saya hanya diberi tahu oleh si kakek. Kalau tidak percaya, ya sudah,” Nyi Karsih pun lalu pergi cepat-cepat. Nyi Endit dan centeng-centengnya hanya

tertawa mendengar kabar dari Nyi Karsih seperti itu. Namun sebagian penduduk ada yang langsung

mengikuti Nyi Karsih. Bahkan pada akhirnya semua penduduk pun meninggalkan rumah Nyi Endit. Mereka ke rumahnya masing-masing untuk membawa barang berharga, lalu pergi mengungsi. Setelah semua penduduk keluar dari rumahnya, Nyi Endit hanya tertawa terbahak-bahak bersama centeng-centengnya. Namun tiba-tiba, datanglah si kakek yang meminta air tadi. Lalu ia berbicara dengan lantang. “Hei, Endit, selama ini Tuhan memberimu kekayaan yang berlimpah. Tapi kamu pelit, tidak bersyukur, dan mencekik penduduk dengan harga mahal. Kelakuanmu seperti lintah darat. Maka mulai

181

saat ini, aku akan menghukummu. Seluruh hartamu akan tenggelam dan engkau aku kutuk menjadi lintah!” “Ha..ha...ha…mau menghukumku? Mau mengutukku jadi lintah? Emangnya engkau ini Tuhan? Kamu tidak tahu aku bisa menghukummu dengan centeng-centengku? Sekali tebas, kau akan mati. Sekarang, pergi dari sini!” hardik Nyai Endit. Lalu si kakek pun pergi dari hadapan Nyi Endit dan centeng-centengnya. Sebelumnya si kakek pun menancapkan tongkat kayunya di hadapan Nyi Endit. “Dasar kakek gila, malah meninggalkan tongkat di hadapanku,” gumam Nyi Endit sambil mencabut tongkat yang ditancapkan si kakek tadi. “Hey, kakek gila, ini tongkatmu,” kata Nyi Endit. “Itu hukuman untukmu...!” jawab si kakek. Belum juga Nyi Endit berucap, tiba-tiba si kakek pun menghilang. Tentu saja Nyi Endit dan centengcentengnya merasa kaget. Apalagi dari bekas tancapan tongkat tersebut menyembur air. Byuuur....!

182

Semakin lama, air pun semakin menyembur. Segera centeng-centeng Nyi Endit menutupi lubang tempat menyemburnya air tersebut. Namun aneh, air yang menyembur semakin banyak. Bahkan

bermunculan semburan-semburan lain di dalam dan di sekitar rumah Nyi Endit. Kemudian Nyi Endit pun mulai panik. Semua centeng-centengnya kalang kabut. Air semakin besar, meluap deras. Rumah Nyi Endit mulai terkena banjir. Sawah-sawah penduduk

mulai tergenang. Melihat banjir yang tiba-tiba, centengcentengnya segera meninggalkan Nyi Endit. Adapun penduduk kampung lebih dulu telah mengungsi. Sekarang tinggal Nyi Endit berusaha berlari menyelamatkan diri bersama hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya. Nyi Endit pun

meninggal ditelan air bah. Melihat kejadian tersebut, semua penduduk sadar bahwa Nyi Endit telah dihukum oleh Tuhan atas kekikirannya selama ini. Bahkan setelah sekian lama, air yang membanjiri perkampungan itu pun tidak
183

kunjung surut. Kemudian membentuk sebuah telaga atau menurut bahasa penduduk setempat dinamakan situ. Situ itu pun kemudian dinamakan Situ Bagendit, merujuk pada nama Baginda Endit yang memiliki karakter pedit (pelit). Seiring waktu, tertanam kepercayaan pada penduduk setempat bahwa kadang-kadang di telaga tersebut muncul lintah sebesar kasur di dasar danau. Konon lintah itu merupakan penjelmaan Nyi Endit yang dikutuk karena kekikiran dan perilakunya pada waktu air bah menenggelamkan dirinya. Kini, Situ Bagendit menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Garut dan banyak dikunjungi wisatawan. ***

184

Seluruh rakyat pun menghormati dan mencintainya. Setelah dijamu seperti tamu-tamu lain Adipati yang datang ke pun oleh seorang bupati bernama Adipati Limbangan. Kabupaten Limbangan merupakan daerah yang subur. Pada masa itu. Terlebih Adipati Adiwijaya dikenal sebagai bupati yang adil dan bijaksana dalam memimpin. Tamu tersebut diterima di pendopo kabupaten. makmur. “Ada apa tuan-tuan datang ke Limbangan?” 185 . Adipati Adiwijaya kedatangan tiga orang utusan Letnan Gubernur Raffles dari Batavia. Suatu ketika. Limbangan termasuk salah satu kabupaten di wilayah Priangan. dan ramai dikunjungi pedagang dari Belanda.7. menanyakan selanjutnya maksud Adiwijaya tamu kedatangan tersebut dengan disaksikan oleh para pembesar Limbangan. SASAKALA GARUT Pada masa kolonial. dipimpin Adiwijaya.

tuan?” “Ini suratnya. Cukup lama Adipati Adiwijaya merenung setelah selesai membaca surat dari Raffles tersebut. Dalam surat disebutkan alasannya agar daerah Priangan segera berkembang.” kata salah seorang tamu yang berperawakan tinggi besar. lalu Adipati Adiwijaya berdiri dari tempat duduknya. Surat pun diterima oleh Adipati Adiwijaya. setelah itu lalu dibacanya. kami disuruh oleh Lentan Gubernur Raffles untuk menyampaikan surat. begitu.” tamu Belanda itu menyerahkan surat kepada Adipati Adiwijaya. Sejurus kemudian. bahwa Tuan Raffles menyampaikan surat yang isinya agar memindahkan kota kabupaten Limbangan ke daerah lain. “Oh.” kata Adipati Adiwijaya kepada para tamu dan pembesar Limbangan di pendopo kabupaten. Kanjeng!. 186 . Mana suratnya. Begitulah intinya isi surat ini.“Kanjeng Adipati. “Perlu kalian ketahui bersama.

kemudian Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kepada patihnya untuk mengurus akomodasi ketiga tamu tersebut. Semoga Kanjeng Adipati dapat menerima kami. Nah. aku baru akan menugaskan beberapa prajurit Limbangan untuk mencari daerah baru yang baik untuk ibukota. Maka rombongan dari Limbangan pun berangkat ke arah selatan. perintah Tuan Raffles ini akan kupikirkan beberapa hari ke depan. kemudian Adipati Adiwijaya menugaskan kepada patih dan beberapa pembesar kabupaten Limbangan untuk segera mencari daerah yang baik untuk dijadikan ibukota. Tidak ketinggalan tiga orang Belanda 187 .Selanjutnya ia pun berkata.” kata tamu Belanda tersebut. “Tuan dari Batavia. dalam surat disebutkan bahwa tuan-tuan ini harus menemani kami dalam mencari daerah baru tersebut. kami akan tinggal cukup lama di sini. berarti akan cukup lama tinggal di Limbangan?” “Benar Kanjeng Adipati. Tujuh hari kemudian. Setelah itu. Setelah itu.

kemudian rombongan yang dipimpin oleh Patih Limbangan itu segera menyampaikan maksudnya kepada ketua kampung dan seluruh penduduk Suci. Ngababakan (membuka lahan baru untuk pemukiman) pun dimulai. Mendengar bahwa kampungnya terpilih untuk dijadikan ibukota kabupaten Limbangan. Setelah tiga hari perjalanan. Mereka berharap kampungnya akan semakin ramai dan berkembang.dari Batavia diajak turut serta untuk mencari daerah baru itu. Setelah satu malam menginap. sebelah timur perkampungan Suci. akhirnya rombongan dari Limbangan itu pun sampailah ke sebuah daerah yang disebut kampung Cumuruh. tentu saja seluruh penduduk di kampung Suci sangat bergembira. bahwa daerah di bawah kekuasaannya akan dijadikan ibukota yang baru. Seluruh rombongan dan penduduk Suci bergotong royong membangun semua 188 . dan melihat keadaan geografis daerah Cumuruh.

Hingga setelah beberapa hari mencari. 189 . Namun sayangnya. dan beberapa rumah untuk menerima tamu. Ia pun sangat setuju dengan tempat yang barunya tersebut. Tidak lupa tiga orang Belanda yang bertindak sebagai pengawas dari Batavia turut serta. Mulai pendopo. segera Adipati Adiwijaya mendapati kekurangan di ibukota Limbangan yang baru tersebut. setelah beberapa bulan menetap. Rombongan pencari daerah baru pun segera melaksanakan pekerjaannya. karena kontur tanahnya sangat baik. alun-alun. Akhirnya Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kembali pada patihnya untuk mencari tempat lain untuk dijadikan ibukota yang baru. Setelah banyak dikunjungi pendatang dan banyak pula yang bermukim. daerah Suci sering kekurangan air. rumah-rumah pembesar kabupaten. Adipati Adiwijaya pun segera memindahkan ibukota Limbangan ke Suci.fasilitas yang dibutuhkan dari untuk sebuah ibukota kabupaten. Tidak lama setelah itu.

kalau memang tempat itu baik untuk ibukota Limbangan yang baru. Bahkan beberapa di antaranya ada yang ditugaskan secara khusus mencari kubangan tempat keluarnya mata air. juga terdapat mata air bersih yang mengalir dari sungai Cimanuk. Paman Patih pun segera mengerahkan seluruh warga Limbangan untuk membuka lahan baru di daerah tersebut. dan Karacak. Patih Limbangan pun segera melapor kepada Adipati Adiwijaya. Galunggung. “Paman Patih. Maka setelah mendapat restu.rombongan pun akhirnya menemukan suatu tempat yang cocok dijadikan ibukota. Guntur. Papandayan. 190 . Selain kontur tanahnya datar dan subur. segera saja perintahkan seluruh rakyat untuk bergotong royong ngababakan di tempat itu!” ujar Adipati Adiwijaya. Berbondong-bondong penduduk Limbangan ngababakan di daerah itu. Daerah itu pun dikelilingi oleh pemandangan yang indah karena berada di antara lembah gunung Cikuray. Sebagai ketua rombongan.

Kubangan tersebut tertutupi oleh jukut cucukan (tanaman berduri). Oleh karena itu. 191 . Namun setelah diperiksa. Hingga tangannya mengeluarkan darah. sehingga sulit untuk diperiksa. karena ia takut tanaman berduri tersebut beracun. seorang pekerja melapor kepada Paman Patih bahwa ia menemukan kubangan tempat keluarnya sumber mata air. Lalu Paman Patih segera memeriksa tangan pekerja yang tergores. pada saat ngababad. benar saja di tempat itu terdapat kubangan yang airnya berasal dari sebuah mata air. ternyata tanaman berduri itu tidak beracun. seorang pekerja kakarut (tergores) tangannya oleh duri tanaman itu. Nah.Di hari ketujuh ngababakan. maka Paman Patih segera memerintahkan kepada beberapa pekerja untuk ngababad (memangkas) tanaman berduri tersebut. Setelah dicek. Pekerjaan pun dilanjutkan kembali. Pekerjaan ngababad pun untuk sementara dihentikan.

salah seorang Belanda utusan dari Batavia segera bertanya: “Kenapa kamu berdarah?” Pekerja yang tergores pun segera menjawab dalam logat bahasa Sunda. Adapun kubangannya dinamakan Cigarut. baik dengan tujuan berdagang maupun yang sengaja menjadi pemukim. Beberapa bulan kemudian.” “Apa? Gagarut ku jukut?. semua pekerja yang sedang ngababakan menertawakannya. Mendengar ucapan Belanda seperti itu. karena lidahnya kurang fasih berbahasa Sunda. Semenjak itulah. daerah di pinggir sungai Cimanuk itu pun segera banyak dikunjungi pengunjung dari daerah lain. 192 . Tuan. Ia meniru kata kakarut menjadi gagarut. meniru ucapan Belanda yang kurang fasih berbahasa Sunda itu. tanaman berduri yang menggores pekerja itu. “Kakarut ku jukut. oleh rombongan dinamakan Ki Garut.Melihat tangan seorang pekerja berdarah.” kata orang Belanda itu sambil mengernyitkan kening.

Cetusan nama Garut itu pun disetujui pula oleh Bupati Adipati Adiwijaya. 193 . “Aku restui nama Garut ini untuk ibukota kabupaten Limbangan yang baru. maupun pendatang dari Belanda. Pada masa itu. dan Arab. Kemudian penduduk pun menamakan ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut. Cina. Bahkan Letnan Gubernur Raffles di Batavia pun konon merestui ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut. Semoga membawa berkah dan kesejahteraan bagi rakyat.” ujar Adipati Adiwijaya di depan seluruh rakyatnya. diambil dari nama tanaman Ki Garut dan mata air Cigarut pada waktu ngababakan dulu. daerah itu pun berkembang pesat. kota Garut semakin berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan kabupaten Limbangan. Garut banyak didatangi oleh para pendatang baik dari wilayah Priangan. Semenjak itu.Apalagi setelah Adipati Adiwijaya secara dari resmi memindahkan ibukota Limbangan Cumuruh.

*** *) Limbangan kini hanya menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Garut.Hingga akhirnya pemerintah kolonial mengganti nama kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut hingga kita kenal sekarang. 194 .

Pada waktu itu. penguasa Negara Surakerta itu bernama Sareupeun Cibuniagung. SASAKALA TASIKMALAYA (SUKAPURA) Tersebutlah Surakerta. Nyai Punyai Agung menikah dengan Entol Wiraha yang menggantikannya menjadi penguasa Surakerta. Ibukotanya bernama Dayeuh Tanahnya berbukit-bukit kecil. Wirawangsa 195 . Ia memiliki seorang puteri tunggal yang bernama Nyai Punyai Agung (Ageng).8. sebuah negara yang bernama Tengah. Daerah ini sekarang menjadi nama sebuah desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Salopa. diselingi sawah-sawah. Sebagai puteri tunggal. yaitu Sungai Ciwulan dan Sungai Cipinaha. diapit dua sungai kecil. Nyai Punyai Agung menjadi pewaris tunggal Negara Sukakerta. kira-kira 5 km sebelah Timur Kecamatan Sukaraja. Dari perkawinan tersebut lahirlah Wirawangsa.

Tetapi Dipati Ukur gagal dalam penyerangan itu karena Tumenggung bahurekso dan tentaranya tidak datang waktu yang telah ditentukan. Wirawangsa. Ia bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul. Waktu itu. di antaranya.berkuasa di Surakerta menggantikan kedudukan ayahnya sampai pecah pemberontakan Dipati Ukur. Dipati Ukur membawa sembilan umbul. Dipati Ukur berpindahpindah tempat dari Gunung Pongporang ke Gunung 196 . Umbul Surakerta. Sewaktu Wirawangsa berkuasa. Ketika Dipati Ukur diperintah Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. status negara berubah menjadi umbul. umbul Surakerta berada di wilayah Priangan yang dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata. Tindakan ini oleh Mataram dianggap sebagai pemberontakan karena Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram.

Umbul Sindangkasih Ki Somahita.Lumbung di daerah Batulayang. Karena tindakan Dipati Ukur itu dianggap membahayakan. Umbul Mananggel. Pada waktu itu umbul yang mendukung pemberontakan Dipati Ukur hanya umbul dari Priangan Tengah. Sementara umbul dari Priangan Timur tidak setuju akan pemberontakan tersebut seperti Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa. sebab daerah tempat berlindung Dipati Ukur terletak di antara Banten dan Batavia yang menjadi musuh Mataram. kemudian pindah ke Kampung Bungbang bawahan Banten. Umbul Saunggatang. yaitu Umbul Batulayang. Umbul taraju. dan Umbul Sagala Herang. Pemberontakan Dipati Ukur ini sangat membahayakan kedudukan Sultan Agung di Mataram. Sultan Agung memerintahkan untuk menangkapnya perjanjian. hidup atau mati dengan yang suatu berhasil bahwa barangsiapa 197 . dan Umbul Distrik Indihiang di Galunggung Ki Wangsarana. Umbul Kahuripan. Umbul Madang Sasigar. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala.

Ketiga umbul tersebut juga menangkap delapan umbul lainnya yang biluk (setia) kepada Dipati Ukur. kemudian dibawa ke Mataram. ketiga umbul tersebut diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede. dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita. Ketiga umbul yang ikut menangkap Dipati Ukur adalah Umbul Surakerta Ki Wirawangsa. tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu. Ki Wirawangsa diangkat menjadi mantri agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. Ki Astamanggala diangkat menjadi mantri agung Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangun198 . dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur. Dipati Ukur tertangkap di daerah Cengkareng sekarang oleh tiga umbul Priangan Timur. Atas jasanya.menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah.

terletak di tepi sungai Ciwulan. Oleh karena perpindahan ibukota pindah ke Sukapura. Perubahan nama Leuwi Loa menjadi Sukapura berdasarkan alasan karena di Leuwi Loa didirikan pura yang bermakna „kraton‟ dan suka bermakna „asal‟ atau „tiang‟. nama kabupaten pun disebut Kabupaten Sukapura. dan Ki Somahita menjadi Parakanmuncang Tanubaya. sukapura bermakna jejernya karaton karena di tempat inilah berdirinya bupati Sukapura yang pertama. 199 I terkenal dengan sebutan Dalem . Oleh karena itu. Wiradadaha Baganjing. Raden Tumenggung Wiradadaha (Wiradadaha I) yangberjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat. kota diangkat menjadi dengan gelar mantri agung Tumenggung mantri agung dari kabupaten pun dipindahkan Dayeuh Tengah di Sukakerta ke Leuwi Loa (wilayah desa Sukapura) daerah Sukaraja sekarang.angun. Setelah Sukapura. dan dimakamkan di Pasir Baganjing. Jadi.

Wiradadaha III digantikan oleh anaknya Raden Subangmanggala dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha IV. Oleh karenaitu. Namun. Wiradadaha II terkenal dengan julukan Dalem Tambela. putra keempat Wiradadaha I. Raden Wiradadaha II digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Anggadipa I. sehingga ia lebih dikenal dengan Dalem Sawidak. 200 . Setelah menjadi bupati. Keluarganya mendapatkan tambela yang berisi mayat Wiradadaha II. Setelah meninggal dunia. Wiradadaha II tidak lama berkuasa karena pada tahun pengangkatannya dunia karena sebagai tumenggung meninggal hanya dihukum mati. Setelah meninggal dunia. Dia terkenal sebagai bupati Sukapura terkaya dan memiliki anak sebanyak 62 orang. Raden Anggadipa bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III.Pengganti Wiradadaha I adalah putranya yang ketiga yang bernama Raden Jayamanggala dengan gelar raden Tumenggung Wiradadaha II.

201 . Wiratanubaya. Karena sering bertolak belakang dengan pemerintah Kolonial. Wiradadaha VI mengundurkan diri. Ia menikahi putri bupati Parakanmuncang. dimakamkan Pasirtando.Raden Wiradadaha IV meninggal dunia dan dimakamkan di Pamijahan dekat gurunya Syeh Abdul Muhyi dan dikenal dengan sebutan Dalem Pamijahan. Setelah wafat. sehingga terkenal dengans ebutan Dalem Pasirtando. dan digantikan oleh anaknya Raden Jayamanggala II dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII. Raden Secapati adalah cucu Dalem Tamela. dia menggunakan nama Raden Tumenggung Wiradadaha V. tetapi lebih dikenal dengan sebutan Dalem Tumenggung Secapati. Ia juga disebut Raden ia Adipati di Setelah wafat. Wiradadaha V digantikan oleh putranya yang bernama raden Jayangadireja dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VI. Raden Wiradadaha IV digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Raden Secapati. Setelah diangkat menjadi bupati.

yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Talun. Ciawi. Parigi. Wiraradaha VIII dipecat. Singaparna. Ia terkenal dengan sebutanh Dalem Sepuh. Cijulang. dan Tasikmalaya. kabupaten Sukapura diserahkan kembali ke bupati Limbangan. Dua tahun kemudian. Ketika ia menolak menanam nila. Indihiang. Wilayahnya meliputi sebagian dari Sumedang: Malangbong. 202 . Dalem Talun mengundurkan diri. Sukapura memiliki wilayah yang sangat luas. sebagian dari Galuh: Pasirpanjang. Banjar. selanjutkan dikembalikan lagi ke Wiradadaha VIII dari bupati Limbangan. kecuali daerah Suci dan Panembong. Kawasen. Sukapura dialihkan ke Kabupaten Limbangan. yakni raden Tumenggung Surialaga. Namun.Pengganti Wiradadaha VII adalah putranya yang kelima Raden demang Anggadipa dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII. Pada masa kekuasaan Widadaha VIII. Kabupaten Sukapura didirikan kembaliu dengan bupatinya turunan bupati Sumedang.

dan Malangbong. Parung). kontrol dan Selacau). dan Kalipucang). distrik Wilayah hanya Mangunreja. dan afdeeling Cikajang (Batuwangi. Indihiang. Kandangwesi. yakni afdeeling Sukapura Kolot. yakni Sukapura afdeeling dan afdeeling. Manonjaya (Pasirpanjang. Setelah memiliki wilayah yang luas. batuwangi. Taraju. Afdeeling Tasikmalaya dengan ibukota Tasikmalaya mencakup Ciawi. Sukaraja. Karena terlalu luas. Sukapura. meliputi dua Nagara. yakni afdeeling Mangunreja (Panyeredan. Sukapura Cikembulan. ibukota Sukapura di Sukaraja dipindahkan ke Manonjaya. Pada 203 . Parung. Sukapura Kolot dengan ibukota Mangunreja meliputi dua afdeling. Panyeredan. Cikajang. Cijulang. tanah yang luas ini disebut Tanah Galunggung. Cikembulan.Mandala. Karang. Mandala. Kawasen) afdeeling Parigi (Parigi. dan Tasikmalaya. Kabupaten Sukapura dibagi lagi menjadi tiga bagian. Sukaraja. asalnya Taraju. Nagara (Pameungpeuk). Karang. dan Kalipucang. banjar.

Setelah wafat. Kemudian mendapat gelar adipati sehingga namanya menjadi raden Adipati Wiraadegdaha.A. namanya menjadi Wirahadiningrat. Wiradadaha VIII wafat dan dimakamkan di Tanjung Malaya.T. Jabatannya digantikan adiknya Raden Setelah demang menjadi danukusumah. Danuningrat digantikan oleh Raden Rangga Wiradimanggala dengan gelar R.T. R. patih Manonjaya. Setelah wafat.waktu itu. Wiratanubaya. bupati.T. Dia pernah diberi 204 . Kemudian digantikan oleh adiknya R. R. Wiratanubaya lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Wiraadegdaha pindahke Bogor dan terkenal dengan sebutan Dalem Bogor. Setelah diturunkan dari jabatannya. bupati Sukapura XII. Wiratanubaya digantikan oleh Raden Rangga Tanuwangsa dengan gelar raden Wiraadegdaha (bupati Sukapura XI). Danuningrat dengan gelar R.T. bupati Sukapura X. yang membangun Kota Manonjaya. R.T. Karena tidak punya anak. Wiradadaha IX.

gelar adipati. bupatui Sukapura XIII. Setelah menjadi bupati. diganti namanya menjadi R. Pada masa ini. yakni sebagian menjadi bawahan Limbangdan dan sebagian menjadi bawahan Sumedang. dan Bintang Oranye Nassau. Wiraadiningrat.T. Sejak itulah kabupaten Sukapura berubah nama menjadi Tasikmalaya. putrana Dalem Bogor. Pada awalnya daerah yang disebut Sukapura itu bernama Tawang atau Galunggung. Tawang berarti „sawah‟ 205 . Dalem Bintang wafat. mendapat payung kuning. sehingga mendapat sebutan Dalem Bintang. sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Aria. Penggantinya adalah Raden Rangga Wiratanuwangsa. Dia bupati pertama yang mendapat gelar aria. ibukota Sukapura dipindahkan dari manonjaya ke Tasikmalaya. sedangkan Distrik Malangbong dibagi dua. Setelah wilayah afdeeling Mangunreja menjadi bawahan Sukapura. Sering juga disebut Tawang-Galunggung. dan afdeeling Cikajang menjadi bawahan Kabupaten Limbangan.

atau „tempat yang luas terbuka‟. 206 . maksudnya banyak pasir di manamana. Penyebutan Tasikmalaya menuncul setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi Tasik „danau. Tasikmalaya mengandung arti „keusik ngalayah‟. laut‟ dan malaya dari (ma)layah bermakna „ngalayah‟ atau „deretan pegunungan di pantai Malabar (India)‟.

Lebak berarti dataran rendah. Pemindahan ibukota ini diawali dari tabir mimpi. Pada masa kepemimpinan Dalem Solawat. Ia menjadi bupati Karawang berkedudukan di Wanayasa sampai akhirnya diganti oleh adiknya yang bernama Raden Aria Suryawinata atau lebih dikenal dengan nama Dalem Solawat. bahwa Dalem Solawat harus memindahkan ibukota ke daerah Lebak dengan ciri-ciri di daerah tersebut harus 207 . karena pada masa itu sering dilanda banjir. SASAKALA WILAYAH PURWASUKA 1. ia memindahkan ibukota kabupaten ke daerah Wanayasa. karena memang wilayah Wanayasa berada lebih tinggi dari wilayah Lebak. SASAKALA PURWAKARTA Pada masa Dalem Santri menjadi bupati Karawang.C. ibukota kabupaten Karawang dipindahkeun lagi dari Wanayasa ke daerah Lebak.

Pencarian dimulai pada hari Senin. Dalem Solawat memerintahkan pada salah seorang cutak (wedana) bawahannya.ada kubangan air tempat mandi badak putih yang di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. Setelah sekian lama mencari. akhirnya wedana itu pun menemukan sebuah kubangan tempat mandi badak putih.” kata wedana ketika menghadap Kanjeng Dalem di pendopo. “Benarkah Paman Wedana tempat itu telah engkau temukan?” “Benar. hamba telah menemukan daerah yang dimaksud dalam mimpi itu. Kanjeng. Sebelumnya. “Ampun Kanjeng. Segera saja ia pun menghadap Raden Aria Suryawinata di Wanayasa.” 208 . dalam pencarian daerah Lebak. Berhari-hari wedana tersebut mencari kubangan tempat mandi badak putih yang di tepiannya ditumbuhi pohon tanjung. Alangkah baiknya apabila Kanjeng sendiri melihatnya.

Setelah melihat daerah tersebut. lalu Kanjeng Dalem pun menuju tempat yang diceritakan oleh wadana tadi. bahagia pula hati Kanjeng Dalem. Kanjeng Dalem pun segera memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bergotong royong ngababakan (membuka lahan baru) di sekitar kubangan.Setelah mendapat laporan. “Aku namakan kampung ini Sindangkasih!” ujarnya dengan lantang. tempat itu pun segera berubah menjadi lahan baru yang nampaknya sangat baik untuk dijadikan pemukiman. Tidak memerlukan waktu lama. 209 . Sampailah ke tempat kubangan. Di daerah tersebut terdapat sebuah kubangan yang biasa dipakai mandi badak putih dan di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. ternyata keadaannya sesuai dengan impian. Beberapa hari kemudian. yang berarti berhenti di tempat yang sangat dicintai. Kanjeng Dalem pun menamakan daerah itu Sindangkasih. Dengan disaksikan seluruh rakyatnya.

Setelah di daerah Sindangkasih banyak penduduk yang bermukim. Semenjak itulah. yang tidak pernah kering. Kanjeng sayang dan sekali masyarakat Sindangkasih tidak berlanjut. Seluruh areal pesawahan dan perkebunan daerah Sindangkasih pun pengairannya berasal dari kubangan tersebut. ketika tiba-tiba banyak 210 . daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi orang. Kubangan tempat mandi badak putih itu pun ternyata hulu cai (sumber air). Semakin hari. jerih Kanjeng payahnya Namun Dalem Dalem selama pun ini berbahagia membangun kebahagian melihat kabupaten. Demikian karena tanah di daerah Sindangkasih sangatlah subur. Masyarakat hidupnya tidak kurang sandang pangan. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi pendatang. akhirnya ibukota kabupaten pun dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih. adapula yang memang berniat bermukim. Ada yang hanya berdagang.

Namun karena kesigapan Kanjeng Dalem. pesat daerah perkembangannya.penduduk yang dirampok dan banyak pencurian di mana-mana. Daerah Sindangkasih Semenjak semakin itu pula. masyarakatnya sejahtera. dari tersebut bukan Mereka merupakan Daerah dan pendatang pun daerah aman. Sindangkasih oleh Kanjeng dalem diganti namanya menjadi Purwakarta. Terlebih Kanjeng Dalem memerintah dengan adil dan bijaksana. banyaknya perampokan dan pencurian itu dapat direda setelah kelompok penjahatnya tertangkap. Sindangkasih kembali tentram. 211 . Bahkan kehidupan seluruh penduduk semakin sejahtera dari sebelumnya. lain. Ternyata penduduk penduduk asli kelompok pencuri Sindangkasih. Masyarakat mulai goyah dan takut.

Nama Purwakarta itulah yang dikenal hingga sekarang. *** 212 . Dalam bahasa setempat.” ujar Kanjeng Dalem di hadapan seluruh rakyatnya. kata purwa artinya awal atau asal mula. aku ganti nama kampung ini menjadi Purwakarta. sedangkan karta berarti aman dan sejahtera.“Semenjak hari ini.

Mulai dari kerajaan Dompo. Raja Pilangsari terkenal bijak. Semakin lama semakin banyak raja dan kstaria yang melamar Milangsari. Ia memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita. sehingga semua lamaran ditolaknya. Seluruh rakyatnya cukup sandang pangan. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain yang melamarnya. Hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pamayang (nelayan). di pesisir pantai utara. sehingga tidak pernah terjadi pemberontakan. SASAKALA PAMANUKAN Pada masa kerajaan Sunda.2. 213 . Namun Milangsari belum berniat menikah. dan berwibawa. namun ada juga yang tatanen (bertani). adil. Kerajaan tersebut bernama Pilangsari. Namanya Milangsari. Seluruh penduduk sangat menghormatinya. terdapat sebuah kerajaan kecil yang subur dan makmur.

raja menjadi bingung. Dengan keadaan itu. maka berhak menjadi pemenang dan mengawini putri Milangsari. Hingga akhirnya ia pun memanggil patih dan anaknya Milangsari. sampai kerajaankerajaan kecil dari Jawa. Di satu sisi.Malayu. kenapa kejadiannya menjadi seperti sekarang. Aku malu pada raja dan kstaria yang ditolak lamarannya oleh putriku. Kalau di antara mereka ada yang memiliki burung dengan kicauan bagus. di sisi yang lain ia merasa khawatir kerajaannya akan diperangi oleh raja atau ksatria yang lamarannya ditolak oleh putrinya.” 214 . “Paman Patih. Sumedanglarang. Apa yang dapat aku lakukan dengan keadaan ini?” “Gusti menentukan Prabu. ia sangat bangga akan kecantikan anaknya. calon bagaimana kalau dalam menantu diadakan pasanggiri (sayembara) saja.” “Maksud paman?” “Kita adakan saja semacam pasanggiri adu kicauan burung. Cirebon.

bahwa akan diadakan pasanggiri adu kicauan burung. Paman.” jawab Milangsari. sekarang aku bertanya padamu. akan menjadi suami Milangsari. di alun-alun Pilangsari telah sesak dipenuhi peserta 215 .“Kenapa Paman?” tidak pasanggiri adu kesaktian. Adu kicauan burung tidak akan terjadi perkelahian yang dapat merugikan secara fisik. “Menurut Paman. saya akan mengikuti saja pendapat Paman Patih. Nyai. Nah. “Ampun rama. “Bagus ide tersebut. sekarang aku tugaskan kepada paman patih untuk segera membuat pengumuman ke seluruh pelosok kerajaan.” Beberpa bulan setelah pengumuman diedarkan. Bagaimana menurutmu?” kata raja sambil melirik Milangsari yang sedang tertunduk. pasanggiri adu kicauan burung akan lebih baik ketimbang adu kesaktian. Bagaimana baiknya saja. Bagi siapa saja yang membawa burung dan kicauannya bagus. “Kalau keputusannya seperti itu.

Selain jumlahnya yang banyak. Kemudian putri Milangsari naik ke babancong (podium) yang letaknya di sebelah selatan alun-alun. seluruh peserta pun membawa burung yang bagus-bagus.pasanggiri adu kicauan burung. Setelah itu mereka langsung memilih burung yang bersuara bagus. bercampur antara rasa takut tidak terpilih dengan perasaan bahagia apabila nanti burungnya terpilih oleh putri. Berbagai jenis burung dibawa peserta untuk diadu dalam ajang pasanggiri. Sesuai jadwal. Semua peserta harap-harap cemas. Penonton pun ikut larut dalam 216 . Peserta banyak yang gundah. Pemilihan burung pun telah selesai. akhirnya raja dan putri Milangsari keluar dari keraton menuju alun-alun. Milangsari dan ayahnya terus memilih burungburung yang akan dijadikan pemenang. Agak lama raja dan putri memilih burung-burung tersebut. Raja dan Milangsari akan memilih burung yang bersuara bagus. Penonton pun berjejalan memenuhi alun-alun. Sebagaimana telah ditentukan sebelumnya.

Adapun putri Milangsari segera dibawa oleh peserta. Semua hanyalah misteri. disedekeun ke arah kaputren. putri Milangsari memutuskan bahwa dari sekian banyak burung yang dipasanggirikan. Jelasnya.kecemasan dan kebahagian karena akan segera mendengar keputusan putri Milangsari. Sungguh di luar dugaan. sejak diadakan pasanggiri burung itu. Keraton Pilangsari dirobohkan. yang artinya tempat yang banyak manuk (burung). tidak ada yang terpilih. Semuanya dinyatakan jelek. Patih dan para prajuritnya dipenjarakan. alun-alun Pilangsari dan sekitarnya dinamakan Pamanukan. Kontan saja peserta pasanggiri yang kebanyakan raja dan kstaria pilih tanding merasa dihina. Sedangkan istana dan 217 . rajanya disandera. Adapun tempat nyedekkeun putri Milangsari disebut Kampung Padek. Bagaimana nasib putri Milangsari? Lalu menikah dengan siapa dan kapan? Tidak ada yang mengetahuinya. Mereka akhirnya mengamuk di alun-alun.

kaputren kerajaan Pilangsari yang hancur. *** 218 . sekarang hanyalah menjadi sebuah kampung kecil bernama Pilangsari di wilayah kabupaten Subang.

3. SASAKALA SAGALAHERANG

Jaman dahulu, seluruh tatar Sunda berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Prabu Siliwangi. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup hampir seluruh pulau Jawa. Setelah kerajaan Pajajaran runtuh,

keturunan Prabu Siliwangi pun menyebar ke seluruh tatar Sunda. Dalem Ciburang, Cianjur, adalah salah seorang keturunan Prabu Siliwangi yang keenam. Namun berbeda dengan Prabu Siliwangi yang adil dan bijak, ia terkenal galak dan bengis. Terutama terhadap rakyat yang tidak memeluk kepercayaan yang sama dengannya. Oleh rakyatnya, ia pun dijuluki Dalem Pandita Bengis. Pada suatu ketika, ke daerah Ciburang menyebar kepercayaan baru, yakni agama Islam. Banyak

rakyatnya yang memeluk agama Islam. Ketika Dalem mengetahuinya, ia sangat berang. Rakyat yang

memeluk Islam akan segera dibunuh oleh prajuritnya
219

yang kejam. Bahkan Raden Aria, putranya sendiri, dilarang keluar dari kadaleman karena takut terpengaruh oleh agama Islam. Raden Aria sangat dimanja. Ia satu-satunya penerus tahta Dalem Ciburang. Untuk mendidik

anaknya, Dalem Ciburang mendatangkan beberapa orang guru dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari guru seni, beladiri, sampai guru dalam ilmu politik. Namun meski dimanja, Raden Aria tetap tidak merasa betah dengan kemewahan kadaleman. Akhirnya ia pun secara sembunyi-sembunyi keluar dari

kadaleman. Bahkan banyak teman-teman sebayanya mengajaknya belajar ngaji dan ilmu keislaman. Hal itu terus berlanjut, sampai akhirnya Raden Aria sangat paham dan memeluk agama Islam. Pada suatu hari, Dalem Ciburang memanggil Raden Aria. Lalu diberi petunjuk tentang agama leluhur yang dipeluknya. Namun Raden Aria selalu membantah dan meluruskan petunjuk dari Dalem Ciburang, ayahnya sendiri, dengan ajaran-ajaran keislaman. Tentu saja
220

Dalem sangat marah dan kaget mengetahui anaknya telah masuk Islam. Sesaat Dalem hanya membisu, matanya tak berkedip, melihat Raden Aria yang tenang sambil tersenyum tipis duduk di hadapannya. Melihat anaknya demikian, muncul sikap bengis dalam diri Dalem Ciburang. Lalu ia segera menyabut pedangnya. Namun ketika akan ditebaskan pada leher Raden Aria, pedang tersebut mendadak terjatuh dan patah. “Lahaola wala kuwwata illa billah,” kata Raden Aria lirih. Beberapa saat keduanya terdiam. Lalu Dalem Ciburang pun mengusir Raden Aria dari kadaleman. “Aria, putraku, ternyata engkau telah berani membantahku. Mulai saat ini, aku perintahkan engkau untuk keluar dari kadaleman. Cadu aku akan menyerahkan kadaleman ini padamu,” kata Dalem Ciburang sambil menunjuk pada Raden Aria. Sedikit perbuatannya pun Raden Aria ia tidak pun menyesali pergi dari

tersebut.

Lalu
221

kadaleman. Raden Aria berjalan ke arah timur dengan tujuan mencari guru untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Makin lama berjalannya semakin jauh dari Ciburang. Selama itu ia hanya makan dedaunan dan daging hewan buruan. Naik gunung, susur sungai, ia lewati dengan sabar dan tawakal. Setelah beberapa bulan, sampailah Raden Aria ke sebuah telaga yang sangat besar. Telaga tersebut airnya sangat jernih. Di tepinya tertanam pohon bambu dan pohon tanjung. Kemudian Raden Aria beristirahat di tepi telaga tersebut. Sesaat ia terpaku melihat keindahan sekeliling telaga. Kemudian ia pun melihat bahwa di tengahtengah telaga ada hamparan batu cadas membentuk nusa (seperti pulau di tengah lautan). Lalu timbul dalam hati Raden Aria untuk bersemedi di atas batu cadas tersebut. Raden Aria pun kemudian menyeberangi telaga. Setibanya di atas batu cadas, lalu ia duduk bersila. Dari sana menjuruskan pandangannya ke
222

” 223 . Raden Aria pun bersemedi di atas hamparan cadas tersebut.” gumamnya. Setelah itu Raden Aria berbicara dengan tenang. sebab telaga itu berada di tengah hutan belantara. "Semoga Raden tidak marah. Sebenarnya aku tiap pagi selalu memeriksa telaga dan melihatmu tenang bersemedi di sini. Raden Aria kaget dan tidak percaya. Nama hamba Endang Kusumah. Setelah genap 40 hari 40 malam bersemedi. putri! Engkau manusia atau mahluk jadijadian?” Putri itu pun menjawab sambil tersenyum simpul. Hamba adalah putri jin. Pemandagangannya sangat indah. Ternyata di hadapannya telah berdiri seorang putri yang sangat cantik jelita. lalu Raden Aria membuka matanya. "Mungkin aku hanya mimpi. aku ini penguasa telaga ini.sekeliling telaga. “Hai. Kalau Raden ingin tahu.

kedua perajurit itu serempak menundukkan kepala tanda hormat. Telaga yang luas berubah menjadi sebuah kadaleman yang ramai. memegang tombak dan panah. ternyata da sebuah istana. Kulitnya kuning langsat. 224 . Pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang perajurit yang gagah. tiba-tiba alam menjadi gelap gulita. Lalu Raden Aria melihat ke arah utara. Sesaat setelah berpikir jatuh cinta pada sang putri. Ia pun berpikir bahwa selama hidupnya baru melihat putri secantik itu. Banyak orang berlalu lalang. rambutnya hitam panjang laksana mayang terurai.Raden Aria mendengarkan jawaban putri tersebut dengan seksama. Ketika terang kembali. Akhirnya Raden Aria pun jatuh cinta pada putri jin tersebut. Namun aneh. setiap orang yang lewat ke hadapan Raden Aria selalu menundukkan kepala tanda hormat. Lebih aneh. ketika Raden Aria menatapnya. kedaan sekitar telaga telah berubah.

Tidak jauh dari sana ada ruangan yang luas dihampari permadani berwarna merah. kalian sudah ada di sini. ayahanda Nyi Putri. 225 . Kemudian berkata.” kata putri Endang Kusumah sambil memegang tangan Raden Aria. di sebelahnya terdapat kolam yang airnya sangat jernih. Ini istanaku. Ruangan tempat menerimatamu serba bersih dan mengkilat. Mulailah Raden Aria dan Nyi Putri bersantap. Di sana pun tersedia makanan yang lezat. Tidak lama datanglah Raja Jin. "Syukurlah. Raden Aria berjalannya sering berhenti-henti karena tercengang-cengang melihat keindahan dalam keraton.“Jangan kaget. Kemudian Raden Aria dibawa oleh Nyi Putri ke ruangan kaputren. “Ayo masuk Kakang!” Raden Aria masuk ke dalam keraton sambil digandeng oleh Nyi Putri. Aku sangat bergembira akan mempunyai menantu yang berilmu tinngi dari golongan manusia. tiap kamar ditunggui oleh emban-emban yang cantik.

Sangat meriah sekali. Hingga pada suatu sore. Sudah banyak Jin yang masuk Islam dan mengaku guru kepadanya. bulan pun berganti bulan. ingin rasanya makan yang masam-masam. Yang sulung perempuan diberi nama Raden Ajeng 226 . Seluruh bangsa Jin menghadiri acara pernikahan tersebut. badan terasa lesu. Bertahun-tahun Raden Aria mengajar ngaji di kerajaan Jin.” Hari berganti hari. pesta pernikahan antara Raden Aria dengan Nyi Putri Endang Kusumah pun dilangsungkan. itu bukan sakit Dinda. "Kakang.Aku di sini perlu guru ngaji untuk mengajarkan santrisantri dari bangsa Jin. Kalau siang hari.” "Wah. Terkadang tidak ada nafsu makan." Tiga hari kemudian. Genap sembilan bulan. Keduanya lucu dan mungil. perasaanku berbeda. akhirnya Putri Endang Kusumah pun melahirkan bayi kembar. Raden Aria berjalan-jalan di taman bersama dengan istrinya Putri Endang Kusumah. Itu tanda bahwa Dinda sedang mengandung.

Beberapa hari kemudian. Semakin hari mereka tumbuh besar. Biar kedunya belajar hidup merakyat. Namun keduanya berbeda dengan anak-anak jin yang lain.Endang Sukaesih atau disebut juga Endang Kencana. kedua anak Raden Aria tersebut disuruh untuk berkelana. lebih baik begitu. kedua anak kita sekarang sudah besar. sehingga sering membuat Putri Endang Kusumah kewalahan dalam mengasuhnya. Mula-mula Raden 227 . sedangkan yang bungsu laki-laki diberi nama Raden Aria Suryakancana. Namun keduanya sangat cerdas." "Ya. Segala macam ilmu yang diajarkan akan paham dalam waktu singkat.” jawab Raden Aria. lalu pada suatu hari Putri Endang Kusumah berbicara pada Raden Aria. "Kakang. Saatnya mereka harus berkelana ke luar istana untuk mencari ilmu kesaktian dan keagamaan. Mereka sangat liwar (nakal). Kedua anaknya sangat dimanja. Setelah kedua anak tersebut besar.

Nyai.Endang Sukaesih menuju ke Gunung Ciremai.” “Kakang akan kukirim kembali ke alam manusia. Istana kerajaan jin pun terasa sepi semenjak kepergian keduanya. aku mengerti akan perasaanmu. nampaknya sudah saatnya Kakang kembali ke alam manusia seperti semula. “Kakang. sedangkan Raden Aria Suryakancana menuju ke Gunung Gede. Kakang pun tentu sangat merindukan kehidupan di alam manusia. kenapa Dinda bicara seperti itu?” “Kakang. Selain merindukan anak-anak. Ia bangsa manusia. “Lho. Raden Aria setiap hari selalu menyepi dan kadang tidak mau diajak makan. Nanti Kakang akan menemukan seorang putri yang sangat cantik. Putri Endang Kusumah mulai mengerti kejiwaan yang sedang dihadapi suaminya. Nikahilah ia.” kata Endang Kusumah pada suatu hari. Melihat keadaan tersebut. apa yang harus Kakang lakukan sekarang.” “Syukurlah kalau mengerti keadaan Kakang. Kalau begitu. kelak 228 .

Dari jauh kelihatan ada seorang putri cantik berjalan menghampirinya. Kemudian Raden Aria membaca ayat kursi sebanyak 7 kali. Sejurus kemudian. tiba-tiba telaga tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan yang ramai. akan kubuatkan keraton pula untukmu di alam manusia. Raden Aria memejamkan mata sambil merangkul erat istrinya.” Raden Aria hanya terdiam. Lalu dilemparkannyalah batu cadas tersebut ke tengah telaga.Kakang akan mendapat keturunan pula dari putri tersebut. Ketika membuka mata. Raden Aria mengambil batu cadas sebesar buah kelapa. Ia lalu memegang tangan istrinya. ternyata ia sedang menelungkup di atas batu cadas. Kakang. Setelah itu. Raden Aria segera menjuruskan pandangannya ke sekeliling perkampungan tersebut. Setelah sampai ke hadapan 229 . Lalu Raden Aria pun tersadar dan mengucapkan istigfar beberapa kali sambil mengusap muka. Bersamaan dengan jatuhnya batu cadas ke air telaga.

Raden Aria. Kadaleman itu ternyata bernama Sagalaherang. Merujuk pada telaga yang dipakai bersemedi oleh Raden Aria sebelum berubah menjadi kadaleman Sagalaherang. lalu putri tersebut berbicara dengan lembut. ternyata sudah banyak orang menunggunya. kita pulang ke Sagalaherang." Raden Aria pun segera mengikuti putri tersebut ke sebuah kadaleman. Konon. Makanan yang lezat pun tersaji. Ternyata di pendopo sedang diadakan syukuran menyambut kedatangan Raden Aria sebagai dalem baru mereka di kadaleman Sagalaherang. Rakyat sudah lama menunggu lama kedatanganmu. "Mari Kakang. Pada hari itu pun dilangsungkan pula pernikahan antara Raden Aria dengan putri yang telah menjemputnya tersebut. nama kadaleman Sagalaherang bermakna talaga nu caina herang (telaga yang airnya jernih). Segala alat musik ditabuh. *** (Subang) 230 . Di dalam pendopo.

SASAKALA WILAYAH SUKACI 1. di daerah Cibadak. yang saat itu dalam keadaan hamil.D. Nyai Puntung Mayang dibawa ke perkampungan di kaki gunung Sunda. Nyai Puntung Mayang. Pada saat penyerbuan itu. Sedangkan istrinya. yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ratu. wilayah Priangan Barat termasuk ke dalam wilayah Kadipatian Pamingkis. berhasil diselamatkan oleh seorang Jaro (Lurah) yang bernama Loa. Pada waktu Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon menyerbu Kerajaan Pajajaran. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang 231 . wilayah Pamingkis terkena imbasnya. Bupati Rangga Bitung terbunuh. Dalam perjalanan menuju Gunung Salak. Kadipatian tersebut dipimpin oleh seorang dipati bernama Rangga Bitung dan istrinya bernama Nyai Puntung Mayang. SASAKALA SUKABUMI Pada jaman dahulu. Oleh Jaro Loa.

yang ketika beranjak remaja disebut Nyai Tanduran atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Pudak Arum Saloyang. Bahkan sebenarnya. Melihat gelagat demikian. dan pembawannya kelihatan lain dibanding dengan pemuda sebayanya. Akibat kedunya dibesarkan di tempat yang sama. Seiring perjalanan waktu. Bahkan hubungan kedua remaja tersebut makin lama makin intim. Bayi tersebut kemudian dibawa serta dan diberi nama Wangsa Suta. Nyai Puntung Mayang melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Pudak Arum. sejak kecil pun sudah 232 . maka sejak kecil sampai remaja hubungannya sangat dekat. tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang berniat mengawinkan keduanya.menemukan seorang bayi. Sesampainya di Gunung Salak. berkharisma. Begitu pula Nyai Pudak Arum. Tingkah lakunya bijak. Ia mencerminkan seorang yang lahir dari keturunan ménak. maka tumbuhlah Wangsa Suta menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

terlebih dahulu ia mengajukan syarat bahwa sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan. “Nyai.diniati untuk dijodohkan. akhirnya ia mengizinkan ajuan sarat dari Wangsa Suta tersebut. ia terlebih dahulu akan berkelana kesaktian untuk sebagai menimba bekal ilmu dalam keagamaan hidup dan berumah- tangganya kelak. Setelah mendapat persetujuan dan doa restu dari ayah angkatnya. Jaro Loa pun menyampaikan niatnya kepada Wangsa Suta tentang rencana Ki. Karena Jaro Loa mengetahui watak anak angkatnya yang keras dan teguh pendirian. kelihatannya mereka saling penikahan tersebut. bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?” “Setuju. maka berangkatlah Wangsa Suta 233 . Kontan saja Wangsa Suta sangat girang mendengar rencana ayah angkatnya itu. suatu ketika.” Maka. mencintai. Namun karena Wangsa Suta memiliki jiwa kesatria.

Sesampainya di padepokan tersebut. Setelah semua ilmu Resi Suradea diturunkan. Di tempat inilah. Wangsa Suta diperintahkan oleh Resi Suradea untuk membuat pedukuhan baru dan menyebarkan ilmunya. kelak Wangsa Suta berguru kepada seorang resi berilmu tinggi bernama Saradea. Dari Resi saradea inilah Wangsa Suta banyak menimba ilmu keagamaan dan kesaktian yang kelak banyak dipakai untuk menolong sesama. Sesuai petunjuk dari Jaro Loa. Tanah lamping ini ditumbuhi pohon kole yang daunya hijau dan bunganya berwarna ungu.untuk berkelana mencari ilmu. Cukup lama Wangsa Suta berguru pada Resi Suradea. Wangsa Suta berangkat menuju padepokan yang terletak di daerah bernama Kiara Gantung Kararangge. Wangsa Suta pun diperintahkan untuk mencari pohon pakujajar bercabang lima yang tumbuh di gunung Parang. Letaknya sebelah barat Gunung Sanghyang Purwa yang kontur tanahnya miring ke sebelah selatan. Sementara Wangsa Suta membuat pedukuhan 234 .

Setiap hari wajahnya muram. maka Ki Jaya marah. Namun meskipun sehari-hari wajahnya dibalut duka. lain cerita dengan calon istrinya Nyai Pudak Arum. bangsawan Bahkan dari banyak pemuda lain dan para untuk daerah berniat mempersuntingnya. Salaseorang demang kaya bernama Sukamukti misalnya. Mendapat penolakan tersebut. Rencana penculikan pun berjalan lancar.baru di Gunung Parang. tanpa ditemani sang kekasih Wangsa Suta. Ke mana-mana jalan sendiri. Bahkan untuk meloloskan niat tuannya tersebut. kecantikannya tetap terkenal ke mana-mana. Namun keberuntungan 235 . karena Nyai Pudak Arum setia memilih Wangsa Suta. Ki Jaya berniat menggunakan jalan kekerasan dengan cara menculik Nyai Pudak Arum. Nyai Pudak Arum berhasil diculik dan dibawa oleh Ki Jaya ke hadapan Demang Sukamukti. segera memerintahkan anak buahnya yang bernama Ki Jaya untuk melamar Nyai Pudak Arum. Kontan saja lamaran tersebut ditolak.

Tersebutlah saudagar kaya raya bernama Ki Puru Satra dari daerah Padabeunghar. lalu bawa ke hadapanku. sombong. yang terletak di Pelabuhan Ratu. bawa semua anak buahmu. Ia pun berniat ingin segera mempersunting Nyai Pudak Arum dengan cara jalan pintas. sang Demang mendadak meninggal dunia. Sesampainya Nyai Pudak Arum ke hadapan Demang Sukamukti. Kalau berhasil. Skenario penculikan pun berjalan lancar.berpihak pada Nyai Pudak Arum. Ki Puru Satra pun segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menculik Nyai Pudak Arum. “Barja. Culik Pudak Arum. Akhirnya Ki Jaya pun mengembalikan Nyai Pudak Arum ke tempat tinggalnya semula di kaki Gunung Sunda. Berita kecantikan Nyai Pudak Arum sampai pula ke telinga para saudagar kaya. dan tidak sabaran. Saudagar tersebut memilki watak keras kepala. Cerita belum usai. Anak 236 . yakni menculiknya. aku akan memberimu imbalan yang setimpal!” ujar Ki Puru Satra pada centengnya yang bernama Barja.

Semakin hari semakin banyak saja laki-laki baik pemuda biasa maupun bangsawan yang ingin mempersuntingnya. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Nyai Pudak Arum untuk meloloskan diri dari kediaman saudagar kaya raya tersebut. Akhirnya Nyai Pudak Arum pun dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Namun karena kesetiaannya pada Wangsa Suta. Nyai Pudak Arum dipaksa untuk menikah. bukan berarti kehidupan Nyai Pudak Arum sudah tenang. Pada saat malam pengantin.buah Ki Puru satra berhadil menculik Nyai Pudak Arum tanpa rintangan yang berarti. 237 . Namun keberuntungan masih berpihak kepada Nyai Pudak Arum. Setelah sampai di tempat kediaman Ki Puru Satra. semua lamaran ditolaknya. Kini berkembang isu di masyarakat bahwa dirinya punya ilmu pelet dan kesaktian yang tinggi. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Setelah dua kejadian penculikan menimpanya. Ki Puru Satra mendadak meninggal dunia.

Di antara pelamar itu. tiba-tiba Wangsa Suta antara datang Wangsa untuk Suta menolongnya. Nyai Pudak Arum adalah seorang putri yang memilki kesaktian tinggi dan menyarankan untuk menangkap lalu membunuhnya. Dalam pandangannya. Perkelahian dengan anak buah Raden Kartala pun tidak dapat dielakkan. kemudian ada seorang demang bernama Raden Kartala dari daerah Mangkalaya. Sebelumnya. Skenario pun berjalan mulus. Namun penasehatnya melarang untuk mempersunting Nyai Pudak Arum. Kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Nyai Pudak Arum. Namun ketika Nyai Pudak Arum akan dibunuh oleh algojo Raden Kartala. Anak buah Raden Kartala dapat menangkap Nyai Pudak Arum dengan mudahnya. Wangsa Suta menyuruh Nyai Pudak Arum untuk pergi terlebih dahulu menuju ke Gunung Parang mencai pedukuhan yang terdapat 238 . Raden Kartala pun menuruti nasehat tersebut.Penolakan bukan berarti masalah selesai.

“Suta. rencana tersebut ternedus oleh anak buah Raden Kartala yang lainnya. ada syaratnya. Sementara Wangsa Suta. ia segera meminta bantuan gurunya Resi Saradea.” ujar Resi Saradea.pakujajar berdahan lima. “Apa syaratnya. Namun sayang. Wangsa Suta diiberi petunjuk bahwa sampai kapan pun tidak akan bertemu dengan Nyai Pudak Arum sebelum pedukuhan di kaki Gunung Parang banyak penduduknya. Dengan ilmu kebatinan yang dimiliki oleh gurunya. guru?” 239 . kalau engkau ingin bertemu kembali dengan calon istrimu. setelah berhasil mengalahkan semua anak buah Raden Kartala. sehingga Nyai Pudak Arum tertangkap di perjalanan. Namun ia sangat kecewa dan sedih. Kemudian Nyai Pudak Arum dibawa ke Pulau Putri di kawasan Pulau Seribu. Maka untuk mengetahui keberadaan calon istrinya. karena Nyai Pudak Arum tidak terdapat di tempat. ia segera menyusul calon istrinya ke Gunung Parang. cucuku.

Wangsa mulai ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan atau pedukuhan). Banyak pendatang langsung menetap dan membangun bumi (rumah) tinggal. Hal ini karena kata tanah dalam bahasa Sunda disebut juga dengan istilah atau kata bumi. Tiga tahun kemudian. para penduduk pun semakin betah dan menyukai pedukuhan yang subur dan banyak mata air tersebut. Nanti setelah pedukuhan tersebut ramai dikunjungi pendatang. 240 Wangsa Suta pun . Semakin lama menetap. maka engkau pun pasti akan bertemu dengan calon istrimu. yang berarti senang tinggal di rumah dan senang menetap di tanah yang subur.“Engkau harus membuat pedukuhan di kaki gunung Parang. Akhirnya daerah tersebut dinamai oleh masyarakat setempat dengan sebutan suka di bumi. semakin hari semakin banyak penduduknya.” Setelah kemudian mendapat Suta petunjuk pun dari gurunya. Kemudian pedukuhan di kaki Gunung Parang itu pun.

*** 241 . Bahkan seiring perkembangannya. Mereka pun kemudian menikah. daerah itupun kemudian berubah namanya menjadi Sukabumi seperti yang kita kenal hingga sekarang. Wangsa Suta pun merestuinya. Mereka suka pada bumi. Pendudukan sekitarnya menyebutnya sukabumi.bertemua kembali dengan Nyai Pudak Arum. lalu hidup bahagia di sebuah pedukuhan. Mereka sangat menyenangi lingkungan dan tanah atau tempat tinggal yang didiaminya. Atas penamaan daerah tersebut oleh penduduk.

2. SASAKALA CIANJUR

Dahulu kala, di sebuah kampung yang subur makmur, hiduplah seorang lelaki tua yang sangat kaya raya. Kampung tersebut termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Lelaki tua tersebut memiliki ratusan hektar sawah dan perkebunan. Semua penduduk kampung dijadikannya pekerja baik untuk mengolah sawahnya maupun untuk mengolah perkebunannya. Namun meski demikian, penduduk kampung tetap saja miskin. Hal itu dikarenakan lelaki tua tersebut sangat koret (kikir), sehingga selalu membayar murah pada

pekerjaan yang dikerjakan oleh penduduk kampung. Hingga oleh seluruh penduduk, lelaki tua itupun dijuluki Ki Koret. Padahal nama yang sebenarnya ialah Aki Suhita. Anehnya, ia kikir bukan saja pada orang lain tetapi pada keluarganya sendiri. Untunglah sifat kikirnya
242

tersebut tidak menular pada anak lelakinya yang sulung. Berbeda dengan ayahnya yang kikir, anak lelakinya sangat baik dan murah hati. Ia sering membantu tetangga atau penduduk desa yang sedang kesusahan. Pada suatu hari, tersiar kabar akan terjadi bencana dan musim pailit. Tentu saja seluruh penduduk kampung, termasuk Ki Koret merasa ketakutan.

Menurut ramalan tersebut, bencana dan musim pailit dapat dilewati dengan cara mengadakan ruwatan kampung. Dengan syarat itu, penduduk kampung pun kebingungan, karena untuk mengadakan acara ruwatan memerlukan kecerdikan biaya anaknya, tidak sedikit. Ki Namun berkat

akhirnya

Koret bersedia

memberi biaya untuk mengadakan acara ruwatan. Itupun dengan terpaksa karena takut terkena bencana. Semua penduduk kampung senang. Terlebih mereka semua diundang oleh Ki Koret untuk mengikuti acara ruwatan di rumahnya. Semula mengira dalam acara ruwatan itu akan banyak makanan
243

yang

disuguhkan. Namun kenyataannya meleset, Ki Koret hanya menyediakan air putih dan hidangan

alakadarnya saja. Bahkan sebagian undangan banyak yang tidak kebagian sama sekali. Air putih pun dijatah satu gelas untuk satu orang. Dengan keadaan itu, seluruh penduduk desa dan anaknya tidak dapat berkata apa-apa, mereka semua hanya dapat celoteh

mengelus dada. “Benar-benar seseorang. “Pasti Tuhan tidak akan memberikan berkah pada seluruh harta kekayaannya,” kata yang lain. “Semoga Tuhan segera menyadarkannya,” kata penduduk yang lain. Ketika semua undangan ruwatan sedang rajanya orang kikir!”

menyantap hidangan yang disuguhkan Ki Koret, tibatiba datang seorang nenek tua meminta sedekah pada Ki Koret. “Juragan, pasihan..! Juragan, abdi pasihan…! (Tuan, berilah…! Tuan, berilah saya…!)
244

“Pasihan naon? Uing mah teu boga nanaon!” (Mau dikasih apa? Saya tidak punya apa-apa!” “Saeutik we Juragan, abdi lapar pisan…!” “Aeh, teu beunang dieuweuh-euweuh. Indit ka ditu, teu nempo batur keur loba semah.” Akhirnya nenek tua itupun pergi meninggalkan rumah Ki Koret sambil mencucurkan air mata. Melihat kejadian itu, anaknya turut merasa sedih. Diam-diam dia pun mengambil sedikit hidangan

jatahnya. Lalu diberikan pada nenek tua tersebut. Tentu saja nenek tua pun sangat berbahagia. Setelah diberi sedikit hidangan, kemudian nenek tua itupun pergi menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah bukit yang berada di batas kampung. Sesampainya di puncak bukit, lalu nenek tua itu berhenti dan menjuruskan pandangannya ke areal perkampungan. Matanya tertuju tajam pada rumah ki Koret. Lalu nenek tua itu menancapkan tongkatnya, sambil bergumam:
245

Bahkan akhirnya masuk ke wilayah perkampungan.!!!” teriak penduduk kampung yang panik melihat kedatangan air bah yang tiba-tiba. “Cepat tinggalkan kampung ini. Makin lama air itu makin membesar membanjiri areal pesawahan dan ladang. lalu nenek tua itu mencabut kembali tongkatnya. cari tempat yang tinggi!” “Tapi sawah dan ternak kita bagaimana?” “Kalian pilih harta atau nyawa?” Anak Ki Koret yang bijak itu terus berteriak mengingatkan penduduk. “Banjir…! Banjir….“Hey jalma hukuman ti Gusti!” koret. Dari lubang tancapan itulah kemudian memancar air yang sangat deras. maneh bakal katibanan Setelah berkata demikian. Ia pun tidak lupa membujuk ayahnya agar segera keluar rumah. Anak Ki Koret segera menganjurkan orang-orang desa untuk segera meninggalkan perkampungan dan lari ke atas bukit. 246 .

Mereka pun sedih melihat kampungnya tenggelam. Air bah semakin besar. kita harus segera menyelamatkan diri!” ”Apa? Meninggalkan rumah? Baiklah. cepat tinggalkan rumah ini. air bah pun tak kunjung surut. Perkampungan pun berubah menjadi telaga yang besar. Dalam semedinya itu. Akhirnya Ki Koret pun tenggelam terseret arus air bah. Setelah beberapa hari menunggu di bukit. seluruh penduduk kampung telah pergi menuju bukit tempat keluarnya air dari bekas lubang tancapan tongkat si nenek tua tadi. anaknya Ki Koret mendapatkan wangsit bahwa harus segera membawa penduduk kampung mencari areal baru untuk perkampungan.”Ayah. Namun seluruh penduduk kampung termasuk anaknya Ki Koret berhasil menyelamatkan diri. Kemudian anaknya Ki Koret bersemedi untuk mendapatkan petunjuk. aku akan mengumpulkan hartaku terlebih dulu!” Sementara Ki Koret terus mengumpulkan harta bendanya. 247 .

Maka pergilah rombongan anaknya Ki Koret mencari daerah baru. Kemudian oleh seluruh penduduk. Kemudian ia pun mengangkat ulu-ulu (petugas pengairan) yang mengatur jalannya air yang mengairi sawah dan ladang milik penduduk. anaknya Ki Koret pun memerintahkan rombongannya untuk ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan). perkampungan itupun semakin berkembang. Di daerah baru itulah kemudian anaknya Ki Koret diangkat menjadi pemimpin kampung mereka yang baru. Anaknya Ki Koret pun merestui penamaan tersebut. Anaknya Ki Koret menganjurkan seluruh penduduk untuk mengolah tanah yang telah dibagi rata. Mengajari pula cara berkebun yang telaten dan bagaimana memilih bibit unggul. 248 . Setelah menemukan sebuah daerah yang subur. Ia pun mengajari penduduk tatanen (cara menanam padi) dan bagaimana mengairi sawah yang baik. perkampungan itu disebut kampung Anjuran. Semakin lama.

pepatah. pepatah. Konon kata Anjuran berasal dari sikap para penduduk yang selalu mematuhi anjuran atau perintah pimpinannnya. Wilayah perkampungan tersebut sangat subur.” ujar anaknya Ki Koret di depan seluruh penduduk kampung. dan anjur yang berarti perintah. 249 . mengenang anjuran anaknya Ki Koret agar segera mengungsi dari terjangan banjir pada waktu itu. Kelak kampung ini akan menjadi penghasil beras terkenal di tanah Pajajaran. yakni anaknya Ki Koret. apapun perintah. atau anjuran pemimpin kampung dalam hal bertani selalu dilaksanakan oleh penduduk Cianjur. Kata ci (air) sendiri mengingatkan pada peristiwa banjir bandang yang telah menenggelamkan Ki Koret. Penduduknya sangat ramah dan pandai mengelola sawah. Kata Cianjur berasal dari kata c(a)i yang berarti air.“Aku restui kampung ini dinamakan Anjuran. Lama kelamaan nama Anjuran pun berubah menjadi Cianjur. Memang secara turun-temurun. Adapun kata anjur. atau anjuran pemimpin kampung.

dan wangi. yang diatur oleh seorang ulu-ulu (petugas pengairan). terutama berasnya terkenal sangat enak. Konon kuncinya mereka sangat teratur dalam mengairi sawah. hasil bumi dari Cianjur. gurih.Buktinya hingga sekarang. *** 250 .

E. adakalanya berwarna kekuning-kuningan. Bogor. Namun sayangnya. . terkadang berwarna jingga. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. hijau. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. SASAKALA WILAYAH BODEBEK 1. Dahulu kala. Rakyat pun turut bersedih dan sangat mengkhawatirkan 251 keadaan tersebut. SASAKALA TALAGA WARNA Di lembah gunung Megamendung. terdapat sebuah telaga yang terkenal dengan nama Talaga Warna. di tengah-tengah Talaga Warna berdiri sebuah istana kerajaan Kutatanggeuhan. merah muda. Hal ini bermula dari sebuah kisah masa lalu. Prabu dan Ratu belum dikaruniai juga keturunan sehingga mereka selalu cemas dan merasa kesepian. Disebut demikian karena airnya selalu berubah warna.

Aku kabulkan keinginanmu itu. kembalilah ke istana. Hingga sang putri pun tumbuh menjadi perempuan yang cantik jelita. Pada suatu ketika. Setelah 7 hari 7 malam Prabu Suwartalaya berdoa. raja pun memutuskan untuk bersemedi ke gunung Megamendung. Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan perasaan senang. Oleh 252 . Semua bersuka cita. Sekarang. beberapa bulan kemudian. tiba-tiba terdengar suara gaib. Benar saja. “Aku tahu engkau ingin memiliki keturunan. ratu pun mengandung. Rakyat menunggumu!” kata suara gaib tersebut.Mereka berpikir kalau Raja tidak juga mempunyai keturunan. kelak kerajaan takut akan jatuh ke keluarga raja yang tidak bijak. Di puncak gunung itulah kemudian Raja berdoa dan meminta pertolongan dari Sanghyang Widi. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Putri tersebut diberi nama Putri Gilang Rukmini.

lama-kelamaan sang putri terbiasa memakai pakaian dan perhiasan mewah. putri akan marah dan bertindak kasar. segala keinginannya selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Pada suatu ketika. Maklumlah anak semata wayang. Selama itu pula. Jika tidak. sampai perhiasan.kedua orang tuanya. Akibat terlalu dimanja. Bahkan sampailah sang putri tersebut merasa bosan atas model pakaian dan perhiasan yang ia pakai. Tiap hari pekerjaannya hanya merias dan mempercantik pakaian. Ia pun selalu menangis kepada ayah ibunya untuk sekedar minta disediakan berbagai pakaian mewah dan perhiasan. sang putri menghadap kepada kedua orang tuanya. Mulai dari intan berlian sampai emas permata. pakaian. Mereka berharap suatu hari watak sang putri akan berubah. Namun rakyat tetap mencintainya. Sambil diiringi para 253 . Mulai dari makanan. sang putri sangat dimanja. terpasang pada tubuh dan pakaiannya.

sabar. Nanti di hari ulang tahunmu yang ke 17 aku akan berikan hadiah kepadamu.emban. Karena sangat mencintai raja dan putrinya. ia seperti biasanya sambil membawa perhiasan dalam bokor kencana.” “Ya.” “Buat apa anakku. seluruh rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk 254 . sebelum hari ulang tahun putri tiba. aku ingin meminta perhiasan lagi. putri akan berulang tahun yang ke-17. Semua rakyat boleh datang untuk memberikan doa ataupun hadiah untuk putri Gilang Rukmini.” “Iya. aku ingin memiliki banyak berlian. rama. bukankah sudah banyak perhiasan yang sudah aku berikan untukmu?” “Rama.” kata Sang Raja. Prabu Suwartalaya berniat akan mengadakan pesta syukuran di istana.” Beberapa hari kemudian. engkau menemuiku. “Rama. untuk apa?” “Untuk mempercantik diri. “Ada apa anakku.

Sore hari pesta pun akan segera usai. Kalung itu terbuat dari emas berlian dengan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. rakyat pun memberikan kotak berisi kalung kepada putri Gilang Rukmini. Kalung tersebut dibeli dengan cara patungan sukarela. Rakyat sangat kagum melihat kecantikan sang putri. Pada hari itu.sang putri. pesta pun berlangsung sangat meriah. Di babancong (podium) telah dihiasi beragam hiasan mewah. Memang sebelumnya sudah banyak pemuda dan ksatria yang kapengpeongan (tergila-gila) akan kecantikan sang putri. Rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun kerajaan tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. 255 . dan Putri menaiki babancong. Rakyat pun bersorak-sorai saat Prabu. Hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Ratu. Sesuai rencana. Maka disepakatilah oleh mereka untuk menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Kini tiba saatnya giliran rakyat mempersembahkan hadiah istimewanya.

norak sekali. Suwartalaya. Beraneka warna. Prabu Suwartalaya. Jangan kecewakan mereka. Ia pun langsung membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Sedih 256 kenakanlah kalung ini!” ujar Prabu . “Ayo. Lama Putri Gilang Rukmini memandang kalung tersebut dengan kening berkerut. Permata yang beraneka warna itupun berhamburan. Lalu dikeluarkanlah kalung beraneka warna yang sangat indah pemberian dari rakyatnya itu kepada putri Gilang Rukmini. dan seluruh rakyat hanya bisa terdiam lesu. “Indah apanya? Kalung jelek begini. Sesaat kemudian. “Ini tanda cinta rakyat kepadamu. Ratu Purbamanah dan seluruh rakyat menangis. Bukankah kalung ini sangat indah?” kata Ratu Purbamanah. Ratu Purbamanah. Aku tidak mau mengenakannya!” teriak putri Gilang Rukmini.Namun Prabu Suwartalaya yang giliran membuka kotak tersebut. suara tangis pun pecah.

karena jika hari cerah airnya memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni.melihat kelakuan putri kesayangannya. ia langsung keluar dari babancong sambil menginjak batu permata yang terserak di lantai. dan seluruh rakyat kerajaan Kutatanggeuhan pun tenggelam diterjang air bah. telaga tersebut dinamakan talaga warna. Sungguh ajaib. Oleh masyarakat setempat. Setelah perbuatan sang putri itu. Putri. Prabu. air telaga yang selalu beraneka warna itu berasal dari kalung yang dihiasi batu permata beraneka warna pemberian dari rakyat yang dilemparkan oleh sang putri. Namun sang Putri seperti tidak merasa bersalah. danau). Ratu. Konon menurut masyarakat setempat. sampai akhirnya menenggelamkan seluruh bangunan istana. Hingga kini. Semakin lama semakin deras. telaga tersebut masih ada dan dijadikan tempat wisata. Maka berubahlan istana dan lingkungan sekitarnya menjadi sebuah talaga (telaga. di depan babancong keluar air. *** 257 .

Dalam memanfaatkan wilayah yang 258 . Setelah satu abad hilang dari percaturan sejarah. seorang Sunda terah Sumedang. Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa. Adolf Winkler. kota yang pernah berpenghuni 50. tersebutlah bahwa seluruh ibukota kerajaan hancur lebur dan penduduknya terbunuh serta terusir. Scipio. Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC. dan Abraham van Riebeeck. antara lain. Wilayah bekas ibukota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Orang-orang Hindia Belanda yang telah melakukan ekspedisi itu.2. SASAKALA KOTA BOGOR Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan oleh pasukan Banten. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Hindia Belanda (VOC).

Citeureup. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang. Kemudian diisukan bahwa orang-orang Pajajaran berubah menjadi harimau. Malah orang Hindia Belanda menemukan seekor harimau besar yang sedang tidur. seorang Letnan Terah Sumedang. Kedung Halang dan Parung Angsana. Tempat inilah menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kota Bogor. Baranang Siang. dia bersama anggota pasukannya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana. mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran.dikuasainya. Tanujiwa. VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. yang diberi nama Kampung Baru. Kampung Baru 259 . Akhirnya. Parung Kujang. Bantar Jati. dan Cimahpar. kecuali di Cikeas. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan. Panaragan. Parung Banteng. Selanjutnya. Sempur.

Atas dasar itulah. Tanujiwa menjadi Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru.menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampungkampung lainnya. yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Regentschap Kampung Baru disebut juga Regentschap Buitenzorg. sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Ia telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. dibangunlah tempat peristirahatan pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. 260 . Oleh karena itu. Pada waktu itu. De Haan memulai mendaftarkan bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa.

Pada waktu itu di sekitar wilayah Buitenzorg terdapat banyak pohon enau atau kawung. yang terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya selanjutnya dekat empang besar. Pohonpohon tersebut cukup mengganggu keindahan wilayah sehingga banyak yang ditebang.Ketika Bupati Kampung Baru yang dipimpin oleh Demang Wiranata. Daerah tersebut makin lama makin ramai karena dibukanya jalur hubungan kereta api BataviaBuitenzorg. Buitenzorg berubah nama menjadi Bogor. Nama Empang nama berangsur-angsur mendesak Sukahati. yang disebut “bogor” atau “pogor”. di wilayah tersebut banyak tunggul kawung. yang akhirnya nama daerah itu disebut Empang. Akibatnya. Sejak itulah. 261 . ia mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati. Pembukaan jalur kereta ini sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota.

NGADEGNA DAYEUH PAJAJARAN Tah di dinya.Di dalam cerita pantun yang dikisahkan oleh Aki Cilong disebutkan perihal penamaan Bogor sebagai berikut. dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau) Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti (Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama. ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung (Di tempat itu. ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput 262 .bagi mereka yang tidak paham) Ari sababna.

terus membara asapnya tak cukup untuk "muput") Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman) Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana (Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya) Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna (Kalau tertendang? bisa melukai yang mendangnya itu kaki akan lama sembuhnya) 263 .(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapitidak padam.

Tapi. amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak (Tapi. kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan) Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor! (Nah. begitu! Namai olehmu kota itu Kota Bogor!) 264 .

Portugis. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terbesar di wilayah kerajaan Banten. datanglah rombongan kapal dagang Belanda yang tergabung dalam kongsi dagang bernama VOC. Chastelyn selalu banyak mendapat 265 rempah-rempah dari . Setiap hari sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari seluruh kerajaan di penjuru Nusantara. dan Belanda. Hingga suatu ketika. Kelak nama Jayakarta berubah menjadi Batavia dan berubah kembali menjadi Jakarta. Bahkan banyak pula kapal-kapal dagang dari kerajaan Cina. terdapat seorang Belanda bernama Cornelis Chastelyn. SASAKALA DEPOK Dulu. Bisnisnya pun semakin lama semakin maju. Dari pelabuhan Sunda Kelapa. kemudian rombongan Cornelis Chastelyn itu mulai mencari barang dagangan berupa rempah-rempah ke daerah Jayakarta. Dalam rombongan tersebut.3. Cukup lama Chastelyn menetap di Jayakarta.

Tidak sampai satu tahun. Meester (Bogor). Banyak pula di antara mereka yang menikahi perempuan pribumi. yang selanjutnya ia jual ke kerajaan Belanda dengan harga lebih mahal.penduduk pribumi. Hal ini karena pasokan rempah-rempah dari Banten dan Pakuan (sekarang Bogor) banyak tersendat. Sunda Kelapa dan kampung Jayakarta pun semakin lama berkembang pesat. maka pada suatu hari Chastelyn memutuskan untuk 266 . Oleh karena itu. Tentu saja barang dagangan pun semakin lama semakin Cornelis (Jatinegara). Ia pun membeli tanah yang luasnya terbentang mulai dari wilayah Weltevreden (Gambir). hingga Buitenzorg berkurang. akhirnya Chastelyn pun menjadi salah seorang pedagang Belanda yang kaya di Jayakarta. malah menetap untuk waktu yang cukup lama. Hingga Chastelyn pun merasakan usaha dagangnya kian hari kian menurun. Banyak pedagang yang tadinya hanya sekedar transit.

Lama kelamaan Chasteleyn pun merasa betah. Oleh karena itu. akhirnya Chastelyn memutuskan untuk menetap di perkampungan tersebut. Tidak menunggu lama. Chasteleyn memutuskan untuk membeli tanah di kawasan tersebut. lalu Chasteleyn membeli tanah di kawasan tersebut dari penduduk setempat dengan harga 700 267 . Maksudnya untuk mencari lahan baru untuk menjalankan usaha dagangnya di bidang hasil bumi. Setelah satu minggu perjalanan. berangkatlah Chastelyn bersama beberapa orang pegawainya ke arah timur Jayakarta. Beberapa bulan kemudian.mencari lahan baru yang masih banyak menghasilkan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. dan santun. ramah. Penduduk kampung tersebut sehari-harinya berbahasa Sunda. Apalagi penduduk di sana sangat menghormatinya. tibalah rombongan Chastelyn ke sebuah perkampungan yang letaknya terpencil di tengah hutan belantara. Melihat sikap penduduk yang demikian.

ringgit. Sungai Ciliwung di sebelah timur. Chastelyn dikenal sangat ramah dan baik pada budak-budaknya. Jumlahnya sekitar 150 orang. tanah yang dibeli Chasteleyn itu batasnya meliputi Kampung Malela di sebelah utara. Pulau Rote. Maka ia pun mendatangkan budak bayaran dari Bali. Berbeda dengan Belanda yang lain. Hingga penduduk di kampung itu pun sangat menghormatinya. Status tanahnya adalah partikelir. Selain mempekerjakan pula penduduk setempat. Tanah yang dibeli Chasteleyn pada waktu itu sangatlah luas. Tanah yang telah dibelinya di perkampungan tersebut. Kalau hitungan sekarang. Borneo (Kalimantan). tentu saja harus segera diolah oleh Chastelyn. Ternate. Kampung Belimbing di sebelah selatan. Makassar. dan rel kereta api Jakarta-Bogor. 268 . Jayakarta. yakni belum dikuasai oleh VOC. dan Filipina. Maluku.

Perkampungan itupun semakin hari semakin berkembang dan ramai dikunjungi pedagang. Sebagai tuan tanah di sana. Chastelyn pun segera membuat peraturan. Mengingat pada waktu itu. banyak pula pedagang-pedagang dari Cina untuk berjualan di sana. Dengan peraturan baru itu. Selain itu. Tentu saja peraturan tersebut sangat menyulitkan pedagangpedagang dari Cina dan Belanda. ia melarang pedagang-pedagang untuk menetap. pedagang Cina memutuskan untuk membuat tempat transit di Kampung Bojong. perkampungan yang dibangun Chastelyn pun banyak menarik minat pedagang-pedagang dari tempat lain. termasuk pedagang dari Jayakarta. Dalam peraturannya tersebut. perjalanan dari Jayakarta ke perkampungan Chastelyn dapat memakan waktu tiga hari. Kampung ini berada di luar wilayah 269 .Sebagai daerah baru. Banyak pula orang Belanda dari Jayakarta mulai berdatangan dengan maksud untuk berdagang dengan Chastelyn.

270 . Semenjak itulah. Sampai-sampai tidak tertampung di rumahnya yang besar menurut ukuran pada waktu itu. Atas permintaan ayahnya. Chastelyn pun mencari akal agar orang-orang yang ingin menjadi muridnya dapat tinggal di perkampungan itu. Akhirnya secara bertahap. Semakin lama. banyak pula pendatang dari Jayakarta yang sengaja hanya untuk berguru agama Kristen kepada Chastelyn.perkampungan Chastelyn. Chasteleyn pun mulai mengajarkan agama Kristen kepada penduduk pribumi dan terutama kepada para pekerjanya. Bahkan akhirnya. murid Chastelyn pun semakin banyak. Chastelyn membangun rumah besar yang dijadikan perguruan. Sebagai seorang Belanda. Chastelyn adalah pemeluk Kristen yang taat. Kemudian. Penduduk setempat menyebutnya dengan padepokan. muncul nama kampung Pondok Cina. Para pedagang Cina berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di perkampungan tersebut.

Padepokan agama Kristen yang dibangun Chastelyn pun semakin lama semakin berkembang dan terkenal sampai ke kerajaan Belanda. yang oleh lidah penduduk setempat diucapkan DEPO(K). Kelak sebutan padepokan pun oleh penduduk setempat disingkat pengucapannya menjadi depok. Selain sejalan pula dengan istilah perguruan yang dalam bahasa Sunda disebut padepokan. yang berarti dengan persatuan telah membawa kami ke Kristus. Namun muridmuridnya sering menyebut padepokan tersebut dengan nama Deze Eenheid Predikt Ons Christus. Kemudian banyak pula dikunjungi pejabat-pejabat VOC yang 271 . Kedua istilah perguruan tersebut selanjutnya oleh Chastelyn disingkat menjadi DEPOC. yang berarti Organisasi Kristen Protestan Pertama. Istilah penduduk setempat inilah yang kemudian menjadi nama perkampungan tersebut sampai sekarang.Oleh Chastelyn padepokan agama Kristen tersebut diberi nama dalam bahasa Belanda De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.

yang sebagian isinya sebagai berikut: “Anthony Chastelyn. Kota Depok. *** 272 . hutan yang di sebelah timur sungai Karukut jangan sampai untuk diganggu. Sebelum meninggal.” Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat Chastelyn itulah yang kemungkinan sekarang berada di wilayah Kelurahan Krukut. Chastelyn sempat mewariskan seluruh perkampungan tersebut pada anaknya melalui sebuah surat wasiat memakai bahasa Belanda kuno.sengaja meminta pendapat dalam hal keagamaan. Hutan itu dan kuperuntukkan seluruh pekerjaku keturunannya kelak. tepatnya di selatan Cinere. sebelum akhirnya Chastelyn pun meninggal dunia di kampung Depok. Kecamatan Limo.

Dalam wangsit itu dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara akan berkembang menjadi kerajaan besar apabila ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. 273 . SASAKALA BEKASI Tarumanagara adalah sebuah kerajaan yang subur makmur. Ketika ia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara. Dipimpin oleh seorang raja yang sangat sakti bernama Prabu Purnawarman. Maka segera saja Prabu Purnawarman memerintahkan kepada patih dan para menteri agar mencari daerah baru untuk ibukota kerajaan. yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Prabu Jayasingawarman.4. Pada suatu malam. ibukota kerajaan masih di daerah Jayasingapura. Seluruh rakyat menghormatinya karena Prabu Purnawarman sangat adil dan bijak dalam memimpin. Prabu Purnawarman mendapat wangsit dari Sanghyang Widi.

Paman Patih pun segera membentuk panitia pencari daerah baru untuk ibukota Tarumanagara. rombongan yang dipimpin patih tersebut menemukan sebuah daerah di tepi sungai Gomati. Gusti Prabu pun memeriksanya. apakah sudah kau temukan daerah baru untuk ibukota itu?” “Ampun ditemukan. buat panitia untuk mencari daerah baru yang cocok dijadikan ibukota Tarumanagara!” begitulah titah Prabu Purnawarman pada patihnya. besok akan aku periksa daerah itu. Hingga akhirnya. Paman Patih?” “Letaknya di tepi kali Gomati. Namun alangkah baiknya. daerah itu telah 274 .” “Di mana letaknya. karena di sana banyak terdapat sumber air.“Paman Patih.” “Baik.” Gusti Prabu. “Paman Patih. Tanahnya sangat subur. Kemudian Paman Patih menghadap kepada Prabu Purnawarman.

kerajaan Tarumanagara berkembang pesat. Banyak pula pendatang dari kerajaan-kerajaan lain yang bermukim di Sundapura. Apalagi setelah tiga 275 . Prabu Purnawarman memeriksa daerah hasil temuan patihnya itu. ibukota Tarumanaga aku ganti namanya menjadi Sundapura!” begitulah ucapan Prabu Purnawarman pada waktu peresmian ibukota yang baru itu. Benar saja apa yang dikatakan dalam wangsit itu. yang berarti kota Sunda.Keesokan harinya. Akhirnya ibukota kerajaan Tarumanagara pun oleh Prabu Purnawarman dipindahkan dari Jayasingapura ke tepi sungai Gomati hasil temuan patihnya tersebut. Sundapura banyak didatangi oleh para pedagang dari mancanagara. Setelah diperiksa. Daerah itu kemudian diberi nama Sundapura. Tidak lama setelah ibukota dipindahkan. ia pun menyukai daerah yang baru tersebut. “Perlu kalian ketahui. Kemungkinan nama Sunda untuk menyebut tanah dan suku Sunda sekarang ini dimulai pada masa itu.

Raja-raja kecil setiap tahun selalu mempersembahkan upeti tanda takluk.tahun kemudian. Setelah pasukan perangnya kuat. Biasanya acara serah terima upeti dilaksanakan tiap malam 276 bulan purnama setiap . Dalam berperang ia selalu menjadi panglima. Purnawarman tidak dapat dilukai senjata apapun. Prabu Purnawarman memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk membangun pelabuhan di pantai sebelah utara. Di medan perang Purnawarman dikenal oleh lawan-lawannya dengan nama Wyaghra ning Tarumanagara (Harimau Tarumanagara). Selama berperang. karena ia selalu memakai baju besi. Beberapa tahun kemudian. Pelabuhan baru itu pun segera saja dipenuhi oleh kapal-kapal pedagang dan kapal-kapal perang kerajaan Tarumanagara. ia pun terkenal memiliki ilmu kesaktian yang tidak ada tandingnya. kemudian Purnawarman memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukan kerajan-kerajaan kecil. Selain itu. Purnawarman berhasil menjadi raja terbesar di pulau Jawa.

Demikian karena mayoritas penduduk Tarumanagara bekerja sebagai petani dan peladang. beberapa stel pakaian. Sawah dan ladang rakyat terairi dengan 277 .tahunnya. Mereka berkumpul di istana Tarumanagara. Telah Tarmanagara banyak yang sungai di wilayah atas kerajaan perintah diperbaiki Purnawarman. sambil disuguhi makanan dan tarian wanita-wanita cantik. Tanah di kerajaan Tarumanagara pun menjadi subur makmur. Di antaranya ialah sungai Gangga di wilayah Cirebon. Setiap rakyat yang ikut bergotong royong memperbaiki sungai. irigasi dan dipakai untuk membangun mensejahterakan saluran untuk membuat memperbaiki aliran sungai. Hasil semuanya Tarumanagara Terutama upeti tersebut. maka akan diberinya seekor sapi. oleh Purnawarman kerajaan rakyatnya. sungai Cupu di wilayah CupunagaraSubang. dan beberapa sungai kecil lainnya yang berada di wilayah kekuasaannya. dan perhiasan.

perlu kalian ketahui. Intinya semua rakyat Tarumanagara sejahtera hidupnya. Sungai-sungai airnya bersih. kita semua harus memperbaiki sungai Gomati dan Candrabhaga. Dalam wangsit itu disebutkan bahwa ia harus segera memperbaiki sungai utama kerajaan Tarumanagara yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga. Pada suatu malam. Setelah mendapat wangsit itu. sehingga banyak ikan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan oleh seluruh rakyat. beberapa hari kemudian Purnawarman segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun Sundapura. Ingat memperbaikinya harus selesai dalam waktu 7 hari 7 malam. “Hai rakyatku semua. Pada musim kemarau pun tidak pernah kekeringan atau kelaparan. Kalau kerajaan Tarumanagara ingin selamat dari bencana dan menang dalam berperang. bahwa aku mendapat wangsit dari Sanghyang Widi.baik. Prabu Purnawarman mendapatkan wangsit kembali.” 278 .

berjajar di tepi sungai Gomati dan Candrabhaga.Seluruh rakyat tidak ada yang berani membantah titah rajanya yang sakti tersebut. Dalam acara sukuran tersebut. Setelah 7 hari 7 malam. Siang malam mereka bekerja dengan sungguh- sungguh. Prabu Purnawarman sangat bahagia. Keesokan harinya ribuan rakyat baik perempuan maupun laki-laki dengan membawa berbagai jenis perkakas. dan pembesar kerajaan pun turut serta bersama-sama dengan rakyat memperbaiki aliran sungai. 279 . Prabu Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor sapi. aliran sungai Gomati dan Candrabhaga pun berhasil diperbaiki tepat waktu. Hingga ia pun mengadakan selamatan secara besar-besaran dan memberikan hadiah kepada para brahmana. ribuan pakaian. menteri. Bahkan raja-raja daerah pun dihadiahi oleh Prabu Purnawarman berupa kerbau dan berbagai emas permata untuk permaisurinya. dan berbagai masakan lezat. Sambung menyambung tidak terputus membentuk pagar betis. Bahkan para patih.

sedangkan bendera kerajaan Tarumanagara bergambar bungai teratai dan kepala gajah. Saluran irigasi tersebut 280 . Angkatan lautnya sangat tangguh. Setiap kapal perang diberi tanda memakai bendera bergambar naga. Begitulah kejayaan kerajaan Tarumanagara di tangan Prabu Purnawarman.“Semoga Sanghyang Wasa selalu merestui kerajaan Tarumanaga!” kata Prabu Purnawarman kepada seluruh penduduk yang diucapkan pada acara syukuran itu. yakni saluran irigasi Gomati dan Chandrabaga yang membentang sejauh 11 km. Pada masa dipimpin Prabu Purnawarman itulah kerajaan Tarumanagara mencapai kejayaannya. peninggalan kerajaan Tarumanagara tersebut masih dapat kita saksikan. Hingga kini. Adapun materai raja terbuat dari lempengan emas bergambar lebah dan kumbang. sampai akhirnya dibagi dua oleh para penerusnya menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh.

Konon kata chandra dalam Chandrabaga. berarti sasi atau bulan. Seiring perjalanan waktu. kemudian berubah namanya menyesuaikan dengan lafal penduduk setempat menjadi Bhagasi dan berubah menjadi Bekasi seperti yang kita kenal sekarang. *** 281 .sekarang membelah kota Bekasi dan namanya berubah menjadi Kali Bekasi. Chandrabhaga artinya sama dengan Kali Bagasasi. Dengan demikian.

SASAKALA WILAYAH PANTURA 1. sang ratu pun memiliki ilmu kesaktian dan 282 . Namun masarakat menyebutnya dengan Ratu Ayu Rambut Kasih atau Nyi Rambut Kasih. ada sebuah kerajaan yang gemah ripah repeh rapih bernama tersebut Panyidagan diperintah atau oleh Sindangkasih. Bahkan selain rambutnya yang indah. SASAKALA MAJALENGKA Dahulu kala.F. Maka dijulukilah Nyi Rambut Kasih. Kerajaan seorang ratu yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Panyidagan. sehingga yang terlihat hanya rambutnya saja yang panjang hitam bergelombang terurai. Dijuluki Rambut Kasih karena rakyat di kerajaan Panyidagan tidak berani menatap wajahnya yang sangat cantik dan berkharisma. Rambut ratu yang indah itu konon sebagai asihan. Mereka hanya berani menatap sang ratu dari bagian belakang. Bagi siapa saja yang melihatnya akan menimbulkan rasa kasih pada sang ratu.

Setelah suasana tertib. dan tentu saja ketiga orang patih setianya. Pada suatu hari. Nyi Rambut Kasih mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh paramenteri. panglima perang. Ia pun dapat menerawang kejadian yang akan datang. maka bersabdalah Nyi Rambut Kasih kepada seluruh yang hadir.” 283 . negara kita akan mendapat cobaan. Petani dan pedagang merasa tentram. sehingga disukai dan dihormati seluruh rakyatnya. Kehidupan rakyat pun terjamin. yakni: Ki Gedeng Cigobang. Ia dibantu oleh tiga orang patih setianya. Ki Gedeng Mardapa. Nyi Rambut Kasih dikenal sangat adil dan bijaksana. karena hukum kerajaan ditegakkan tidak pandang bulu. Prajurit dan guru merasa dihargai. Tak pernah ada pencuri atau perampok yang mengganggu kekayaan rakyat. dan Ki Gedeng Kulur. Dalam menjalankan roda pemerintahan.kedigdayaan lahir batin yang tinggi. “Atas kehendak Sanghyang.

tamu tersebut gagah tur kasep. ketimbang banyak musuh. Paham…?” “Nyakseni. Apabila dikemudian hari ada utusan dari kerajaan lain yang ingin bersahabat.. Menurut wangsit.. Tentramkan hati rakyat. "Sebentar lagi kita akan menerima tamu. Nyai Ratu. untuk melindungi segenap rakyat di kerajaan ini. kelak negara ini akan berubah. Namun orang tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi kita sekalian. “Menurut wangsit yang aku terima. terimalah dengan lapang dada. Sang Ratu kemudian bertitah lagi. Maka semuanya harus waspada dan siaga menghadapi semua malapetaka. malapetaka seperti apa.. aku perintahkan kepada paman patih. semua menteri..” semua serempak menjawab.Semua undangan yang hadir terdiam. Lebih baik banyak sahabat. Selanjutnya Nyi Rambut Kasih bersabda lagi. Oleh karena itu. dan seluruh prajurit. semua rakyat Panyidagan 284 . Setelah mendengar jawaban dari hadirin. Entahlah. Akan tetapi.

akan berubah keyakinan dan kepercayaan sesudah kerajaan ini lepas dari kekuasaanku. Demikian

nasihatku, sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan tenang." Setelah pertemuan itu, ketiga patih bersama panglima perang menyiapkan prajurit untuk menjaga perbatasan kerajaan di sebelah utara. Di perbatasan, lalu ketiga patih tersebut membuat posko penjagaan. Dari posko itu mereka dapat melihat keseluruh penjuru dengan jelas. Setiap orang yang akan masuk kerajaan Panyidagan akan kelihatan dengan jelas. Apalagi orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai dulu karena hanya tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Posko penjagaan ketiga patih yang diketuai oleh Ki Gedeng Cigobang itu, kini dikenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata Penjagaan). Suatu hari yang cerah. Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang santai
285

berkelakar. Tidak diketahui dari mana datangnya, tibatiba terlihat seorang pemuda sedang menyeberangi sungai menuju Negeri Panyidagan. Alangkah

terkejutnya ketiga patih melihat kejadian itu. Dengan segera ketiga patih itu memanggil pemuda yang sedang menyeberangi sungai. "Hai, Ki Silah, kenapa kamu berani

menyeberang tanpa seijin kami?" Pemuda yang sedang menyeberang tidak

menghiraukan teriakan ketiga patih itu. Ia terus saja menyeberang sampai ke tepi sungai dan segera pergi menjauhi ketiga patih itu. Melihat tingkah pemuda tersebut, ketiga patih sangat marah. Kemudian mereka mengejar pemuda itu dengan maksud akan mengeroyok karena sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka. Ternyata pemuda yang telah menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon yang bernama Pangeran Muhamad. Ia bermaksud meminta pertolongan Ratu Ayu Panyidagan. la akan
286

meminta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidagan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon yang sedang terjangkit wabah penyakit. Konon menurut wangsit Sunuhun Jati Cirebon, wabah penyakit tersebut dapat diobati dengan godogan buah maja yang banyak tumbuh di daerah Panyidagan. Selain mendapat tugas untuk mencari buah maja, pemuda itu pun mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke beberapa tempat yang rakyatnya masih menyembah berhala. Kembali pada cerita pengejaran ketiga patih terhadap pemuda yang berhasil menyebrangi sungai. Pemuda itu ternyata bernama Pangeran Muhamad. Ketika Patih Ki Gedeng Cigobang akan menangkapnya, Pangeran Muhamad dapat menghalaunya. Akhirnya ketiga patih itu menggunakan siasat dengan cara mengepung Pangeran Muhamad dari segala penjuru. Akhirnya, Pangeran Muhamad pun terkepung. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, lalu

Pangeran Muhamad masuk dan bersembunyi ke dalam
287

rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia segera minta perlindungan kepada Tuhan syahadat Yang dan

Mahakuasa

dengan

mengucapkan

nenjrag bumi tiga kali. Tanah yang diinjak itu terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad pun masuk ke dalamnya. Ketiga patih itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolakbalik mencarinya. Setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang, namun Pangeran Muhamad menghilang tanpa bekas. Ketiga patih itu pun merasa putus asa, kemudian mereka duduk termenung memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada ratu. Setelah berunding dengan matang, segera mereka pergi menuju ke istana Panyidagan. Adapun Pangeran Muhamad yang bersembunyi di dalam tanah, terus berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, agar diberi kekuatan dapat keluar dari lubang. Hingga akhirnya Pangeran Muhamad pun dapat keluar dari lubang persembunyiannya. Ia muncul
288

namun hanya bisa tertunduk lesu ketika Sang Ratu datang menemuinya dan langsung menegurnya. Makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan setapak yang dilaluinya. Lain dengan ketiga patih yang sedang menghadap ke Ratu Ayu Panyidagan. 289 . Lalu ia pun berjalan menuju ke tempat datangnya cahaya. Ketika keluar. Setelah dekat. penglihatan Pangeran Muhamad mendadak gelap. Mereka berniat melaporkan buronan yang hilang.di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Munjul (rupanya nama tersebut didasarkan atas kata punjul(keluar)-nya Pangeran Muhamad dari dalam lubang tempat persembunyiannya). Lalu diselidiki. ternyata cahaya tersebut memancar dari supa lember yang tumbuh pada pohon-pohon jati yang berjejer sepanjang jalan setapak. cahaya itu pun menghilang. yang berarti kebun jati yang berpamor (bercahaya). Pangeran Muhamad pun kemudian memberi nama tempat tersebut dengan Jatipamor.

Hamba pun mengejar dan mengepungnya. sebelum tertangkap. Hamba datang untuk melapor bahwa kemarin ketika sedang berjaga. Hamba bertiga sempat menegurnya." Ketiga patih itu pun kemudian pergi meninggalkan pendopo dengan niat mencari buronan. kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. malah lari tunggang langgang." "Ah. Pergilah dan tangkap hidup-hidup. Sekarang kalian harus segera mencari kembali pemuda tersebut dan hadapkan padaku.“Hai paman patih! Mengapa kalian kembali ke pendopo. aku tidak percaya berita semacam itu. Ingat. Bagaimana kalau ada orang asing masuk ke negara tidak diketahui oleh kalian?” "Ya Ratu. kami mengerti. bukankah sudah kutitahkan untuk menjaga wilayah perbatasan. mendapati seorang pemuda menyeberangi sungai. kalian tidak boleh kembali. Mereka pergi lagi ke tempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengubrak-abrik tempat 290 itu. tetapi orang itu tidak mau menjawab. tetapi .

Akhirnya Pangeran Muhamad pun tertangkap hidup-hidup. dan bertanya pada setiap warga. Nyi Rambut Kasih keluar dan langsung bersabda: “Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Perlakukan pemuda itu seperti tamu biasanya!" Ki Gedeng Cigobang tidak berkata apa-apa. Lalu. oleh ketiga patih diikat dan dibawa menghadap ke pendopo. ia kembali lagi ke pendopo akan melaksanakan perintah ratu. dijaga oleh Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur. Selanjutnya Pangeran Muhamad disuruh duduk di depan singgasana Ratu Ayu Panyidagan. Maka Pangeran Muhamad disuruh beristirahat dan 291 . memasuki gua-gua. yakni di Jatipamor. Namun baru saja sampai di depan gapura kaputren. Namun setelah mereka bersama segenap prajurit menjelajahi hutan. akhirnya sampailah ke tempat Pangeran Muhamad beristirahat. sedangkan Ki Gedong Cigobang pergi menghadap Ratu Ayu Panyidagan dengan niat melaporkan bahwa buronan itu sudah ditangkap.masih tetap belum dijumpainya.

Buah itu akan dipakai untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit. kamu siapa? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini? Apa maksud kedatanganmu?" "Hamba ini Pangeran Muhamad dari Cirebon. Pangeran Muhamad pun disuruh menghadap kembali ke kaputren. Beliau segera terpesona melihat pemuda yang gagah tur kasep itu. Hamba datang ke sini diutus oleh Sunuhun Jati untuk mencari buah maja yang banyak terdapat di kerajaan Panyidagan. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Mudah-mudahan Nyi Ratu bersedia menolong dan 292 . Waktu Pangeran Muhamad sedang berjalan menuju keputren.mandi dulu sebelum menghadap ratu. sehingga muncul niat ingin dipersunting oleh pemuda tersebut. Setelah itu. Ratu Ayu Panyidagan melihatnya sekilas. Ratu Ayu Panyidagan pun bertanya: "Hai Ki Silah. Maka ketika Pangeran Muhamad sudah berada di hadapannya.

para menteri. patih. hanya itu permohonan hamba!" "Baiklah akan aku penuhi permintaanmu itu." "Terima kasih Ratu. ratu. apa gerangan syaratnya?" "Syaratnya sangat mudah.mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah kekuasaan Nyai. Nampaknya engkau akan pantas untuk menjadi suamiku. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diriku. apakah engkau bersedia?” "Ampun ratu. asal kamu memenuhi syarat ini." "Hanya itu permintaanmu?" "Ya. syarat ini terlalu berat. Bukannya 293 . Bagaimana. Itulah syaratnya. yakni belum memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta di kerajaan Panyidagan ini. Coba dengarkan! Aku ini seorang ratu yang dihormati oleh semua rakyat Panyidagan. serta para ponggawa kami semuanya sangat setia. Bukannya hamba tidak mengagumi kecantikan ratu. bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu.

langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta. Tidak berapa lama setelah itu. makin lama makin gelap. Keesokan harinya. Ratu Ayu Panyidagan sangat murka. Kaputren dan Ratu Panyidagan 294 . langit mulai mendung. Namun semua penduduk terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang telah berubah. "Patih.hamba menolak anugerah besar ini. Hamba tidak mau mengkhianati kesetiaannya. tangkap orang ini! Masukan ke dalam penjara. mendengar jawaban tersebut." Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. dan turunlah hujan yang sangat lebat. jangan sampai kabur kembali ke Cirebon. hamba ini sudah beristri. Bahkan akan ku hancurkan perkebunan buah maja di seluruh pelosok kerajaannku. agar tidak bisa menyembuhkan orang Cirebon." Tentu saja. sehingga seluruh penduduk kerajaan pun merasa ketakutan. Hanya saja.

buah maja telah musnah. Buah maja yang ditanam di kebun kerajaan menghilang tanpa bekas. yang kemudian masarakat setempat menyebutnya Majalengka. maja… langka. majalangka… !" Sejak itu timbul sebutan Majalangka.langka. *** 295 . Kata langka dalam bahasa Sunda artinya hilang atau musnah. Sejak itulah wilayah Gunung Haur dikenal dengan nama Margatapa. yang artinya tempat bertapa. tentu saja tidak berhasil mendapatkannya. karena takut akan dihukum oleh Sinuhun Jati. Adapun Pangeran Muhamad yang diutus Sinuhun Jati untuk mencari buah maja. Semua rakyat pun ribut sambil berteriak: "Gusti ratu menghilang. sampai meninggalnya di sana. Majalengka artinya hilangnya buah maja. Di seluruh pelosok kerajaan. Selanjutnya Pangeran Muhamad memutuskan untuk bertapa di gunung Haur. Maka Pangeran Muhamad pun memutuskan untuk tidak kembali ke Cirebon. maja….menghilang entah ke mana.

Wiralodara menghabiskan waktu 40 hari 40 malam. Karena ketampanan dan kesaktiannya itulah. Maka sebagai langkah awal. sebelum akhirnya mendapatkan wangsit dari Sang Hyang Wasa. Sebagai mempunyai kstaria pilih untuk tanding. Ia bernama Wiralodra. Bagelen.2. Jawa Tengah. dan memiliki kesaktian tinggi. tanahnya subur dan akan banyak dikunjungi orang. Tanah itulah yang 296 . SASAKALA INDRAMAYU Tersebutlah pemuda yang sangat tampan. Wiralodra pun melaksanakan tapabrata di suatu tempat yang bernama Malaya di kawasan lembah Gunung Sumbing. dari Banyurip. putra Tumenggung Gagak Singalodra. Wiralodra menjadi pujaan banyak perempuan. gagah. Dalam wangsitnya itu disebutkan bahwa Wiralodra harus mencari sungai yang bernama Cimanuk. mendirikan Wiralodra sebuah keinginan kerajaan. Di lembah sungai itu. Ia tidak ingin menjadi raja karena hasil pemberian dari ayahnya atau orang lain.

Kalau memang pendirian dan niatmu begitu.” kata Wiralodra tegas. wangsit agar segera mencari sungai Cimanuk. pandai-pandailah engkau menjaga diri. bukankah di daerah Bagelen juga terdapat banyak sungai.” kata ayahnya terheran-heran. “Ada apa anakku.” “Untuk apa mencari sungai Cimanuk.menurut wangsit sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. Sebagai teman 297 . ketika Wiralodra menghadap ayahnya di pendopo. sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. aku akan mengijinkanmu. menurut wangsit. Ketika itu hari masih pagi. semalam sebelum mendapat akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya. Hanya pintaku. ayahanda. “Di lembah sungai itulah. aku sudah tahu bagaimana karaktermu. “Anakku. engkau menghadapku di waktu masih pagi seperti ini?” Wiralodra “Maaf menundukkan aku kepala.

maka pergilah Wiralodra dengan ditemani Ki Tinggil untuk berkelana mencari sungai Cimanuk. Tidak lupa ia pun menceritakan isi wangsit yang diterimanya di pertapaan. karena dapat bertemu dengan orang yang luar biasa. tiba-tiba lelaki tua tersebut berubah menjadi Kiai Malik Warna. Wiralodra bertemu dengan seorang lelaki tua renta. Mahaguru yang sudah koncara ke mana-mana memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi. aku utus Ki Tinggil untuk menemanimu” Setelah mendapat ijin dari ayahnya. Setelah mendengar cerita Wiralodra. “Hey anak muda. Dalam perjalanannya itulah pada suatu hari di tengah hutan belantara. Lelaki tua tersebut mengaku bernama Ki Sadum. ke mana tujuanmu?” Maka berceritalah Wiralodra tentang maksud dan tujuannya. 298 .berbincang selama perjalanan. Perjalanannya menuju ke sebelah Barat. Tentu saja Wiralodra dan Ki Tinggil kaget bercampur bahagia.

tiba-tiba kepalanya menyambar akan menerkam Wiralodra. bergegaslah Wiralodra dan Ki Tinggil menuju ke sebelah Barat untuk mencari daerah yang bernama Cupunagara. 299 . Wiralodra memukulkan cakra senjata andalannya. Kepala ular pun hancur terkena pukulan cakra. Setelah ditemukan. Kiai?” Setelah meminta ijin. Ketika ular tersebut akan diangkat.Setelah sesaat ketiganya membisu. ikutilah perjalanannya. Mengerti engkau Wiralodra?” “Paham. akhirnya Kiai Malik bicara: “Apabila engkau berdua sudah berada di wilayah yang bernama Cupunagara. segera cari kijang bermata berlian. ia mendapati ular sangat besar menghalangi jalan setapak yang akan dilewatinya. Wiralodra kembali menjelajah hutan belantara yang masih angker. Hingga di sebuah hutan jati. Apabila kijang itu berhenti dan menghilang di pinggir sungai. Namun secara gesit. maka sungai itulah yang dinamakan Cimanuk.

Bahkan ia menginginkan untuk dikawini oleh Wiralodra. Perempuan tersebut menyebut dirinya dengan nama Dewi Larawana dan ia pun mengaku penguasa hutan larangan tersebut. hilanglah sungai. Dalam pertemuannya itu. Wiralodra dan Ki Tinggil merasa heran dan terpana. Akibat ditolak Wiralodra. kini berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. tiba-tiba ular yang kepalanya sudah hancur tersebut berubah wujud menjadi sungai yang airnya jernih. Kontan saja Wiralodra menolak. ia memukulkan cakranya kembali pada air sungai yang jernih tersebut. Pada mulanya permintaan tersebut 300 . Dewi Larawana mengaku telah jatuh cinta pada Wiralodra. karena ia tidak berniat mencari istri namun mencari daerah bernama Cupunagara. bahwa itu hanyalah sungai jadi-jadian. Maka dengan segera. Untung saja Wiralodra segera sadar. Setelah itu. Dewi Larawana merasa terhina.Baru saja Wiralodra menarik nafas. Ia pun langsung menantang Wiralodra untuk berkelahi adu kesaktian sampai salah satunya ada yang meninggal.

Baik Wiralodra maupun Dewi Larawana sama-sama memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Namun setelah Wiralodra mengeluarkan cakra sebagai senjata andalannya. Tidak berhenti di situ. mayat Dewi Larawana berubah wujud menjadi kijang bermata berlian. 301 . Semakin lama perkelahian pun semakin sengit. Sesaat setelah Dewi Larawana meninggal. Perkelahian pun terjadi. kemudian berubah menjadi tebal sampai menyelimuti hutan. tiba-tiba dari mayatnya keluar asap. Setelah itu. akhirnya Dewi Larawana pun semakin terdesak. Mula-mula berupa asap tipis. akhirnya Wiralodra pun melayani tantangan tersebut. kejadian aneh terjadi kembali. Adapun ciri-ciri kijang tersebut sama dengan yang diceritakan oleh Kiai Malik Warna. namun karena Dewi Larawana terlebih dulu menyerang. Ia pun akhirnya meninggal terkena cakra Wiralodra. Keduanya sama-sama memakai ilmu yang tinggi.ditolak oleh Wiralodra.

bahwa kijang tersebut telah menunjukkan letak sungai Cimanuk yang selama ini ia cari. Wiralodra pun segera tersadar. Sampai akhirnya kijang tersebut menghilang di tepi sebuah sungai yang airnya jernih. Maka dikejarlah kijang bermata berlian itu oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Wiralodra dan Ki Tinggil didatangi dua mahluk aneh yang mengaku Raja Budipaksa dan Patih Bujaris. keesokan harinya Wiralodra dan Ki Tinggil segera ngababakan (membuka lahan baru untuk pedukuhan) di sekitar tepi sungai Cimanuk. Tidak menunggu lama. Wiralodra segera penasaran untuk mengejarnya. Wiralodra mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengejar kijang tersebut. Namun kijang tersebut tetap saja tidak terkejar. Ia masih yakin bahwa kijang tersebut hanyalah jadi-jadian. Keduanya mengaku 302 . Namun ketika kijang bermata berlian tersebut berlari dari hadapannya. Sampai pada malam harinya.Tentu saja Wiralodra tidak langsung percaya begitu saja.

Selanjutnya pemukiman itu pun berubah menjadi 303 . Bahkan seterusnya. Perkelahian pun terjadi.sebagai penguasa hutan di sekitar tepi sungai Cimanuk tersebut. Mereka berdua pun menyerang Wiralodra dan Ki Tinggil. seluruh siluman penghuni hutan di tepi sungai Cimanuk turut serta membantu Wiralodra membuka lahan baru untuk pemukiman. Raja Budipaksa menghadapi Wiralodra. Dua siluman tersebut marah karena tidak terima wilayah kekuasannya diganggu oleh Wiralodra. Keduanya saling berhadap-hadapan. Keduanya menerima takluk pada Wiralodra. sebelum akhirnya kedua siluman tersebut dapat dikalahkan oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Lama kelamaan lahan untuk pemukiman semakin besar. Wiralodra diangkat sebagai pemimpinnya dan Ki Tinggil sebagai wakilnya. Orang pun mulai berdatangan dan betah menetap di sana. sedangkan Patih Bujaris menantang Ki Tinggil.

perkampungan Cimanuk semakin pesat. dan Puspahita. Banyuntaka. akhirnya Ki Tinggil pun berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wiralodra. Sehari-hari. Tentu saja Wiralodra diangkat menjadi raja dan Ki Tinggil menjadi patihnya.kerajaan. 304 . Wiralodra menugaskan Ki Tinggil untuk segera memperluas wilayah kekuasaan. mulai dari teknik bertani. terutama pada bidang pertanian dan perikanan. Perkampungan di lembah sungai Cimanuk semakin ramai. Endang Darma adalah seorang perempuan cantik yang memiliki ilmu tinggi. berdagang. Endang Darma hidup membaur dengan penduduk Ciamanuk. sampai teknik berperang melawan musuh. Ia banyak membantu Wiralodra dalam mengembangkan ilmu hidup kepada penduduk Cimanuk. Apalagi setelah mendapat bantuan dari seorang pemukim baru bernama Endang Darma. Dengan dibantu oleh prajurit tangguh bernama Surantaka. Pembangunan dalam segala bidang terus digalakan oleh Wiralodra.

ia akan terus membantu Wiralodra untuk mengambangkan pemukiman Cimanuk menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Sebagai tandanya. Itulah sebabnya Cirebon segera mengirimkan pasukan 305 . Wiralodra pun merestuinya. karena ada sebagian wilayahnya yang dicaplok oleh Wiralodra. Ia pun berniat ingin menguji kesaktian Endang Darma. Kabar telah berdiri kerajaan di lembah sungai Cimanuk pun akhirnya sampai juga pada kerajaan Cirebon. asal Endang Darma dapat terus membantunya dalam mengembangkan kerajaan.Pada suatu ketika. Kemudian Endang Darma mengajukan syarat kepada Wiralodra agar mau menamai daerah tersebut berdasarkan namanya. Wiralodra merasa tersanjung atas bantuan Endang Darma tersebut. Sultan Cirebon merasa dihina. Maka ditantanglah Endang Darma oleh Wiralodra. akhirnya Endang Darma mengaku kalah. Tetapi karena Wiralodra memiliki kesaktian yang lebih tinggi.

yang dipimpin oleh Aria Kemuning ke daerah Cimanuk. Semakin hari kampung Darma Ayu pun semakin berkembang pesat. Nama Darma Ayu diambil dari ungkapan Endang Darma anu ayu. Pertempuran pun terjadi dan keunggulan berpihak pada pasukan Endang Darma. tentu saja WIralodra telah menyiapkan penduduknya yang dipimpin oleh Endang Darma untuk menghadapi pasukan Cirebon tersebut. kesaktian. Setalah kejadian pertempuran itu. kemudian Wiralodra memberi nama pada kerajaannya Darma Ayu. Tanda bahwa Wiralodra memuji kecantikan. Banyak pendatang dari kerajaan 306 . Alasannya sebagai bentuk penghargaan pada Endang Darma yang telah berhasil mengalahkan pasukan Cirebon dan mempertahankan kekuasannya di Cimanuk. Tiba di Cimanuk. dan menepati janjinya pada Endang Darma. Pasukan Cirebon kocar-kacir kewalahan menghadapi amukan penduduk Cimanuk. Maksudnya untuk memberi pelajaran pada Wiralodra. yang berarti Endang Darma yang cantik (ayu).

nama kampung Darma Ayu pun berubah menjadi Indramayu. Seiring waktu. yang mereka sebut sebagai bahasa dermayuan atau dermayon. *** 307 . mengikuti logat bahasa penduduk setempat yang bercampur antara penduduk asli dengan pendatang dari kerajaan Mataram.lain dan langsung menetap di perkampungan tersebut. Bahkan banyak pula pendatang dari kerajaan Mataram.

Ia mengaku berasal dari Galuh dan bernama Pamanah Rasa. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Sindangkasih. Semakin hari. diterimalah pemuda tersebut sebagai tamu pribadinya. adiknya raja Galuh yang bernama Prabu Anggalarang. Ki Gedeng Sindangkasih dan semua penduduk kampung pun semakin takjub dibuatnya. SASAKALA CIREBON Di pesisir sebelah utara kerajaan Galuh. Termasuk Nyai Ambet Kasih. Oleh Ki Gedeng Sindangkasih. terdapat sebuah kampung bernama Surantaka. ia menaruh 308 . datanglah seorang pemuda tampan ke kampung Surantaka.3. Suatu ketika. Penduduk kampung tersebut kesehariannya menangkap rebon. Ki Gedeng Sindangkasih memiliki seorang putri yang cantik di jelita bernama Nyai Ambet Kasih. sejenis udang kecil bahan pokok untuk membuat tarasi (terasi). Lalu pemuda tersebut diinapkan di rumah Ki Gedeng Sindangkasih. semakin kelihatan watak dan ketangkasan Pamanah Rasa.

nampaknya engkau hadir dari keluarga istana. aku sedikitnya menaruh curiga. Karena penasaran. Aku pangeran dari Galuh. karena Prabu Anggalarang adalah kakakku. Aki?” “Aku heran. “Ada apa Aki memanggil saya?” “Begini anak muda.” 309 . maka pada suatu hari yang cerah.” “Maksud. siapa sebenarnya engkau ini anak muda?” “Euh. Namun dari tingkah lakumu. Tidak mungkin rakyat biasa memiliki pemikiran seperti engkau. selama ini engkau mengaku sebagai pengelana dan rakyat biasa. Namaku yang sebenarnya adalah Jayadewata. dipanggilah pemuda tersebut untuk menghadap Ki Gedeng Sindangkasih. aku sebenarnya bukan Pamanah Rasa. melihat kecerdasan dan ketangkasanmu.perhatian khusus pada pemuda tersebut. Jadi.” “Kalau begitu berarti engkau keponakanku.

Ambet Kasih pun tidak bisa mencegahnya. karena ia tahu tugas suaminya sebagai putra mahkota kerajaan Galuh amatlah berat. Di kampung tersebut tengah diadakan saembara adu kesaktian. kemudian Nyai melanjutkan perjalanannya. Seluruh penduduk kampung pun ikut berbahagia. Karena Pamanah Rasa memenangkan sayembara. Setelah Pamanah Rasa menetap cukup lama. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa. akan dinikahkan dengan putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang. Bagi yang memenangkan saembara. selanjutnya Pamanah Rasa pun dinikahkan dengan Nyai Ambet Kasih. sampailah Pamanah Rasa di sebuah kampung yang bernama Singapura. Dari perkawinan tersebut 310 . Dalam perjalanannya kemudian. lalu ia pun dinikahkan dengan Nyai Subanglarang. letaknya bersebelahan dengan kampung Surantaka.Sejak perbincangan hari itu.

Namun setelah Nyai Subanglarang meninggal. Sampailah kepada sebuah pesantren pimpinan Syeh Datuk Kahfi. berikut Nyai Lara Santang. Waktu pun berjalan cepat. Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Setelah menikah. Raden Walangsungsang. Raden Gedeng Danuwarsih dinikahkan kepada putri tunggalnya yang bernama Nyai Indang Geulis. Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan istana. Raden Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah. Ketiganya dibesarkan di keraton Singapura.lahirlah tiga orang anak. melanjutkan kembali pengembaraannya. Setelah Walangsungsang berguru oleh sekian Ki lama. Indang Geulis. Oleh Syeh Datuk Kahfi. Ketiganya masuk Islam. ia berkelana dan berguru di padepokan seorang guru bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Ketiga anak Pamanah Rasa telah tumbuh besar. dan kelak setelah pergi menjalankan 311 . yaitu Raden Walangsungsang.

Di mekah inilah. Raden Walangsungsang pergi berhaji ditemani oleh adiknya Nyai Lara Santang. Kampung inipun kemudian diubah namanya menjadi kampung Caruban. Arab. ia berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Raden Walangsungsang ngababakan (membuka daerah baru) yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. atas saran mertuanya Syeh Datuk Kahfi. Atas anjuran guru sekaligus mertuanya. Jawa. dan Cina. Nyai Lara Santang pun berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. 312 . Dinamakan Tegal Alang Alang karena daerah tersebut sebelumnya banyak ditumbuhi pohon alangalang. Setelah perkampungan Caruban berkembang pesat.ibadah haji. kemudian adiknya dinikahi oleh Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. mulai dari etnis Sunda. yang artinya campuran dari berbagai etnis dan agama. Kampung inilah yang kemudian banyak didatangi oleh pemukim dari daerah lain.

Syarifah Mudaim mendapat putra bernama Syarif Hidayatullah yang kelak didaulat menjadi Gunung Jati. ia langsung mendirikan sebuah mesjid dan sebuah rumah. karena meninggal di gunung Jati. Pakuwuan ini kemudian diperluas dan ditingkatkan derajat pemerintahannya menjadi kerajaan kecil bernama Nagari Carubanlarang. Mesjid tersebut kelak diberi nama Jalagrahan dan rumahnya kemudian dijadikan Keraton Pakungwati. Letaknya di sisi pesisir membuat kedatangan banyak pengunjung dari negara lain. Sesudah Sunan menikahkan adiknya. yang salah satunya ada seorang pendatang 313 . Ki Samadullah pun diangkat menjadi Kuwu Caruban yang bergelar Pangeran Cakrabuana. Kerajaan Carubanlarang pun semakin hari semakin berkembang pesat. Setibanya di kampung halaman. ia pun segera kembali ke kampung Caruban. Kembali ke kisah Raden Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman.Dari perkawinannya dengan orang Arab.

yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Dari pernikahannya itulah. kemudian terus ke Desa SembungPasambangan. Setelah lama membantu Syeh Datuk Kahfi mengajakan Islam di daerah pesisir utara. dan di sana ia mulai menyebarkan agama Islam. Bahkan sampai menikahkan adiknya yang bernama Nyai Kawunganten dengan Syeh Jati. Mula-mula Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati. karena ia anak Syarifah Mudaim. dekat Amparan Jati. pergi berkelana ke kerajaan Banten. kemudian Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Syeh Jati. Selain itu.bernama Syarif Hidayatullah. lahir Pangeran Saba Kingkin. Di sana ia bertemu dengan Bupati Kawunganten dari kerajaan Pajajaran yang sangat tertarik terhadap ajaran Islam. menggatikan Syekh Datuk Kahfi. Pemuda ini masih keponakan Ki Samadullah. Ki Samdullah. adiknya sendiri. ia pun bolak-balik ke Nagri Carubanlarang untuk menemui uwaknya. 314 .

Setelah sekian lama mengembara di Banten. *** 315 . disesuaikan dengan logat penduduk setempat. yang mayoritas keseharian penduduknya menangkap rebon. Namanya pun diganti. Nama Caruban atau Cerbon inilah yang kelak akan berubah menjadi Cirebon hingga sekarang. Sejak itulah kemudian Nagari Caruban berkembang pesat dan dikembangkan menjadi sebuah Kesultanan. dari Caruban menjadi Cerbon. Sekembalinya dari itulah kemudian dinobatkan sebagai kepala Nagari Carubanlarang dan bergelar Sunan Jati atau Sunan Caruban. kemudian Syeh Jati kembali Banten ke pesisir ia utara. Mengambilan nama ini pun mengingatkan cikal bakal kampung Surantaka.

Sesampainya di kampung Luragung. Terlebih mereka tahu bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan Cirebon. konon penduduknya masih menyembah berhala dan percaya pada pohon-pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Sunan Gunung Jati pun kemudian menyebarkan agama Islam ke sebuah perkampungan di sebelah selatan Cirebon yang bernama Luragung. kampung Luragung dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung. Di kampung itu. Setelah sekian lama Sunan Gunung 316 . Pada waktu itu. Sunan Gunung Jati pun kemudian mulai mengajak penduduk di sana untuk masuk Islam. apalagi setelah semua penduduknya masuk Islam. hingga akhirnya semua penduduk Luragung pun masuk Islam. ialah Ki Gedeng Luragung. Orang yang pertama berhasil diajak masuk. SASAKALA KUNINGAN Ketika di wilayah Kesultanan Cirebon semua penduduknya telah ngagem (masuk) agama Islam. Kemudian kerabatnya. Penduduk Luragung terkenal sangat ramah.4.

Untuk mengobati hati istrinya. Sunan Gunung Jati nukeuran (menukar) bayi yang bernama Suranggajaya itu dengan sebuah bokor yang terbuat dari wesi kuning (logam kuningan). Setelah menyebarkan Islam di kampung Luragung.Jati menetap di Luragung. kemudian Sunan Gunung Jati pergi ke 317 . Nyai Rara Sumanding pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Hingga sesampainya di Luragung. Ketika itu Nyai Rara Sumanding tengah hamil tua. Bokor kuningan inilah yang kelak dijadikan logo atau maskot kabupaten Kuningan. kemudian istrinya yang bernama Putri Ong Tien (asal Campa) atau Nyai Rara Sumanding datang menyusulnya. kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk bersedia putranya yang kebetulan masih bayi diangkat menjadi anak kukut (pungut). putranya yang pertama itu meninggal dunia. Sebagai tanda balas budi kepada Ki Gedeng Luragung. Anak tersebut bernama Suranggajaya. Namun sayang.

Sementara Sunan Gunung Jati. sebelum akhirnya masuk Islam setelah dinikahi oleh Syekh Maulana Arifin. Kedatangan Syekh Maulana Akbar dalam menyebarkan Islam ke Winduherang. Nyai Ratu Selawati adalah adiknya Ki Gedeng Luragung. masuknya Syekh Maulana Arifin ke 318 . Sebelumnya ia menikahi Nyai Ratu Selawati yang pada waktu itu menjadi ratu di daerah Winduherang. Ia penganut agama karuhun.Winduherang bernama untuk menemui atau saudaranya Aria yang Bratawiyana Kamuning. Syekh Maulana Akbar adalah pendatang dari Persia yang menyebarkan Islam lebih awal di daerah Winduherang. dapat dikatakan sebagai penyempurna. Namun tentu saja. artinya lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. ternyata saudaranya tersebut telah lebih dulu masuk Islam atas petunjuk Syekh Maulana Akbar. Sesampainya di Winduherang. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam pertama ke daerah itu.

karena ketika itu Sunan Gunung Jati yang menjadi Sultan Cirebon.” ujar Sunan Gunung Jati. Setelah sampai di Winduherang. akan kulaksanakan titahmu. “Aku titipkan anak angkatku. “Baiklah Kanjeng Sunan.” titah Sunan Gunung Jati pada Aria Kamuning. Kembali ke kisah perjalanan Sunan Gunung Jati. ia kemudian menitipkan anak angkatnya (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Aria Kamuning). Pada waktu itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa setelah dewasa. Semoga dengan nama itu. 319 . “Aku ganti nama anak ini menjadi Raden Kamuning. Asuhlah dia menjadi pemuda yang taat terhadap ajaran Islam.” jawab Aria Kemuning.daerah Winduherang atas seijin Sunan Gunung Jati. kelak anak angkatnya tersebut akan diangkat menjadi penguasa di Winduherang menggantikan Nyai Ratu Selawati. Kelak ia akan ku angkat menjadi penguasa di wilayah ini. ia akan merasa lebih dekat denganmu.

Nama tersebut merujuk pada kisah hidup Raden Kamuning yang ketika masa bayinya ditukar oleh Sunan Gunung Jati dengan sebuah bokor kuningan dari Ki Gedeng Luragung. Bersamaan dengan itu. tumbuh pula anak pituin (asli) Aria Kamuning yang bernama Dipati Ewangga. Sering mengaji dan latihan kanuragan (ilmu beladiri) bersama. Mereka kebanyakan berdagang. Sesuai dengan janjinya. nama Winduherang pun diganti oleh Sunan Gunung menjadi Kuningan. setelah menginjak usia 17 tahun. Semenjak itu. namun ada pula yang terus 320 . kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Raden Kamuning menjadi penguasa di Winduherang. Raden Kamuning kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Kelak Dipati Ewangga akan membantu Kesultanan Cirebon dalam menyerang Belanda di Batavia (sehingga sekarang kita mendapati nama perkampungan Kuningan di Jakarta). Semakin lama kerajaan Kuningan banyak didatangi oleh pendatang dari daerah lain.Waktu pun berjalan begitu cepat. Keduanya sangat rukun.

Sebagai raja yang dikukuhkan oleh Sunan Gunung Jati. Kemudian Sunan Gunung Jati pun memberikan gelar kepadanya Sang Adipati Kuningan.bermukim. Dalam memimpin roda pemerintahan. Raden Kamuning sangat adil dan bijak. Ia selalu membuat perintah atas dasar ajaran agama Islam. *** 321 . Seluruh rakyat Kuningan sangat menghormati dan mencintainya. Sunan Gunung Jati. pada waktu itu kedudukannya di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh ayah angkatnya sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful