P. 1
5. Sasakala Tempat

5. Sasakala Tempat

|Views: 3,756|Likes:
Published by edi12321

More info:

Published by: edi12321 on Oct 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

BAB 5 SASAKALA TEMPAT DI JAWA BARAT Sasakala tempat di Jawa Barat dikelompokkan ke dalam enam wilayah sebagai berikut

. 1. Wilayah Bandung Raya mencakup Kabupaten Bandung, 2. Kota Bandung, Kota Cimahi,

Kabupaten Bandung Barat, dan Sumedang. Wilayah Priangan Timur mencakup Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut. 3. Wilayah Purwasuka mencakup Kabupaten

Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang. 4. 5. Wilayah Sukaci meliputi Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Cianjur. Wilayah Bodebek meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

101

6.

Wilayah

Pantura

meliputi

Kota

Cirebon,

Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. A. SASAKALA WILAYAH BANDUNG RAYA 1. SASAKALA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU Pada jaman dahulu, di tanah Priangan terdapat sebuah kerajaan yang sangat subur dan makmur, yang bernama Kerajaan Galuga. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang adil palamarta bernama Prabu Sungging Perbangkara. Kesenangannya berburu ke hutan mencari hewan-hewan yang dagingnya akan dibagikan ke seluruh rakyat yang tertimpa kelaparan. Pada suatu hari, maka berangkatlah rombongan raja ke hutan untuk berburu. Tiba di hutan, Prabu Sungging Perbangkara membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Setelah raja pergi, kemudian ada seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin
102

menjadi

manusia.

Babi

hutan

itupun

kemudian

meminum air seni raja itu. Beberapa bulan kemudian, Wayungyang pun hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu lalu diserahkan ke keraton, dan oleh Prabu Sungging Perbangkara diberi nama Dayang Sumbi Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dengan gelagat itu, Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah ranggon di hutan belantara dengan ditemani seekor anjing jantan

bernama Si Tumang. Pekerjaanya di ranggon tersebut ialah menenun membuat kain. Kain hasil tenunannya kemudian diserahkan pada ayahnya di keraton. Pada suatu hari, Dayang Sumbi sedang asyik menenun. Namun totopong (torak) yang tengah

digunakannya untuk bertenun, terjatuh ke bawah ranggon. Cukup tinggi ranggon yang ditempatinya
103

tersebut, sehingga Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Ia pun bergumam lirih: “Duh, malasnya hari ini. Bagi siapa saja yang mengambilkan totopong itu, apabila ia perempuan, akan kujadikan saudara. Apabila laki-laki, akan kujadikan suami.” Sesaat setelah bergumam, tiba-tiba Si Tumang mengambilkan totopong tersebut, lalu diberikanlah kepada Dayang Sumbi. Tentu saja Dayang Sumbi kaget, apalagi ketika mengetahui bahwa Si Tumang berkelamin jantan. Dalam keadaan bingung itu, tiba-tiba terdengar suara gaib: “Jangan khawatir, Si Tumang adalah jelmaan seorang Pangeran tampan yang sedang mencari ilmu kesaktian. Menikahlah dengannya.” Sembilan sejak mendengar suara gaib itu, akhirnya Dayang Sumbi pun melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Sangkuriang. Semakin hari,

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cekatan dan
104

Hobinya sama dengan kakeknya. “Mungkin ibuku akan suka meskipun hati seekor babi hutan. yang ternyata Wayungyang. Di usia yang masih kecil. Seperti hari itu. Lalu 105 . Sangkuriang disuruh oleh Dayang Sumbi berburu hewan di hutan. Karena si Tumang tidak menurut. Dayang Sumbi berpesan agar dibawakan hati seekor mencek (kijang). Namun ketika akan pulang. yakni berburu.tangkas. di perjalanan ia mendapati seekor babi hutan. Pikirnya. akhirnya Sangkuriang pun kesal. sedangkan hari sudah sore. istrinya sendiri dan ibunya Sangkuriang. ia mengatahui bahwa babi hutan tersebut hanyalah jelamaan seorang perempuan sakti bernama Wayungyang yang telah melahirkan Dayang Sumbi. Sangkuriang sudah pandai menggunakan tombak dan panah untuk memburu hewan buruannya.” Sangkuriang pun menyuruh Si Tumang mengejar babi hutan tersebut. Hari sudah sore. Namun Si Tumang malah diam. namun Sangkuring belum juga mendapatkan seekor mencek.

kemarahannya pun memuncak. “Pergi kau dari sini. Hati Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi. dasar anak tidak tahu balas budi. Keesokan harinya.. namun setelah didesak oleh Dayang Sumbi. suaminya sekaligus ayahnya Sangkuriang.. akhirnya ia pun mengaku. Sangkuriang pun pergi mengembara mengelilingi tatar Parahyangan. Selama pengembaraannya.!” hardik Dayang Sumbi. lalu dimasak dan dimakannya. yang sebenanrnya jelmaan ayahnya sendiri. 106 . Lalu ditanyakanlah kepada Sangkuriang. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati Si Tumang. Pada mulanya Sangkuriang tidak mengaku telah membunuh Si Tumang.dibunuhnya Si Tumang oleh Sangkuring. Dayang Sumbi merasa heran karena Si Tumang menghilang. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sinuk (sinduk) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala Sangkuriang terluka.

Sangkuriang banyak berguru ilmu kesaktian. ia pun tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Begitupun Dayang Sumbi. Karena Sangkuriang sudah lama tidak bertemu sejak kecil. Maka terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan tersebut. Bahkan bangsa siluman dan jin pun takluk kepadanya. seperti halnya sepasang dua kekasih. 107 . Yang ada hanyalah gejolak perasaan bahwa laki-laki tersebut tampan dan bisa menjadi pelindungnya. Dayang Sumbi kaget ketika di kepala Sangkuriang terdapat luka bekas pukulan sinduk. Lama Sangkuriang mengembara. Ketika itu. Sangkuriang pun bermesraan dengan Dayang Sumbi. Pada suatu sore yang indah. Sangkuriang tiduran di atas lahunan (pangkuan) Dayang Sumbi. ibunya sendiri. Lalu Dayang Sumbi pun mengelus-elus kepala Sangkuriang. tidak mengetahui bahwa laki-laki tampan yang ditemuinya adalah Sangkuriang anaknya sendiri. Tanpa sengaja. sebelum akhirnya tiba kembali di ranggon Dayang Sumbi.

Melihat gelagat yang kurang baik tersebut..Mengetahui hal itu. kemudian Dayang Sumbi mencari akal agar maksud Sangkuriang tidak kesampaian. bukan tua seperti bayangan terhadap ibunya selama ini.gampang Sumbi. apabila mau menikahiku... karena dihadapannya sosok perempuan muda. segera Dayang Sumbi menyampaikannya pada Sangkuriang. Namun Sangkuriang tidak percaya. Karena tidak percaya. bahwa ia adalah putranya yang telah lama pergi.” pinta Dayang Sumbi. .” 108 Maka diajukanlah syarat kepada sekali syaratmu itu. Sumbi?” “Buatkanlah aku sebuah danau dan perahu untuk berlayar di atasnya. engkau harus penuhi syaratnya.ha. Sangkuriang.ha.” “Ha. Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi agar mau dinikahinya.. “Apa syaratnya. Demikian karena Dayang Sumbi mempunyai ilmu kajayaan (awet muda).. “Sangkuriang..

Sekitar pukul 1 pagi. Maka mulailah masalah. Sangkuriang segera menebang pohon untuk membuat perahu. Dibantu pula oleh gajah dan harimau dalam memindahkan pohon yang akan dipakai untuk membendung Citarum. Terbentuklah danau yang sangat luas. Maka segera saja Sangkuriang membuat danau dengan cara membendung sebuah sungai besar yang mengaliri hutan belantara di mana Dayang Sumbi tinggal. Sangkuriang dibantu oleh siluman dan jin taklukannya. danau dan perahu tersebut harus selesai dalam waktu satu malam suntuk.” aku akan selesaikan dengan jawab Sangkuriang Sangkuriang membuat perahu. itu. sehingga kelak penduduk sekitar menyebut sungai tersebut dengan nama Citarum. Dalam pengerjaannya. 109 . Di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon tarum. Menjelang tengah malam Citarum pun sudah terbendung.” “Tidak permintaanmu entengnya.“Ingat Sangkuriang.

Dengan kenyataan itu.” kata Dayang Sumbi. 110 . melenguhlah banteng. Nampaknya waktu sudah pagi. perahu pun akan segera selesai. lihatlah sekelilingmu. maka dari kain tersebut keluar cahaya seperti kilatan emas. dan berkicaulah burungburung. Disangkanya fajar mulai merekah di ufuk timur. segera Dayang Sumbi mencari akal agar rencana Sangkuriang dapat digagalkan. artinya engkau gagal memenuhi syaratku. Artinya dalam semalam suntuk. Dayang Sumbi segera khawatir melihat danau sudah terbentuk.Sementara di ranggonnya. Kontan saja hewan-hewan yang berada di hutan kaget dan menyangka waktu sudah pagi. Lalu ia pun mengeluarkan boeh rarang (kain berwarna putih yang dapat mengeluarkan cahaya). dan menurut perkiraannya. Sangkuriang dapat mengabulkan syarat yang diajukannya yakni membuat danau dan perahu. Setelah dikibaskan. Berkokoklah ayam. “Sangkuriang.

Namun. Ditendanglah parahu „perahu‟ yang hampir selesai itu oleh Sangkuriang dan nangkub „telungkup‟ di sebelah utara danau. Segera ia sadar bahwa dirinya telah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. Mulailah keluar rasa kesal dan marah. berubah menjadi Gunung Bukit Tunggul. sedangkan rangrang (ranting) dari pohon tersebut terkumpul di sebelah barat dan berubah menjadi Gunung Burangrang. Berubahlan perahu tersebut menjadi sebuah gunung yang kini disebut Gunung Tangkuban Parahu. Ia pun tersentak kaget. Adapun tunggul atau pangkal pohon yang batangnya dibuat perahu. Dayang Sumbi sebagai seorang putri mendadak menghilang di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Putri.Dilihatlah lingkungan sekitar oleh Sangkuriang. Kemudian Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. 111 . yang artinya parahu nangkub (perahu terbalik). ketika sedang dikejar.

Sumbat bendungan itu melayang sampai akhirnya berubah ke sebelah timur.Meskipun dibantu bangsa siluman dan jin. tetap saja Sangkuriang tidak menemukan Dayang Sumbi. Sangkuriang pun menjebol sungai Citarum dengan cara melemparkan sumbat bendungan yang terbuat dari pepohonan dan batu-batu besar. yang berarti ujungna (tempat berakhirnya) perasaan Sangkuriang yang ngaberung (mengikuti) hawa nasfu untuk menikahi ibunya sendiri. Seolah Dayang Sumbi hilang ditelan bumi. Kemudian ia pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Akhirnya Sangkuriang putus asa. Tempat itu sekarang disebut Ujungberung. Di tempat itu. Bekas bendungan sungai Citarum itu kini berada di Padalarang yang dikenal dengan nama Sanghyang Tikoro. 112 . Sebelumnya. hingga sampailah di suatu tempat. kemudian Sangkuriang ngahyang (menghilang ke alam gaib). menjadi Gunung Manglayang.

Seiring waktu. *** *) Legenda ini terkadang diberi judul Sangkuriang Kabeurangan (Kesiangan) atau Sasakala Bandung Purba. berasal dari kata ngabandeng yang berarti genangan air danau yang luas. kata Bandeng pun berubah menjadi Bandung seperti dikenal hingga sekarang. yang berasal dari kata dibendung-nya Citarum oleh Sangkuriang. 113 . Ini untuk menyebut danau yang dibuat Sangkuring pada waktu itu. air danau pun mulai surut kembali. Daerah itu kemudian disebut Bendung. lalu banyak ditempati pendatang dari berbagai daerah karena tanahnya subur. Seiring perkembangan waktu. Dalam hal penulisan nama Sangkuriang: ada yang disatukan. Kemudian berubah menjadi Bandeng. ada pula yang dipisahkan (Sang Kuriang).

Pada suatu hari. Ia pun memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Mayang Sawitri. Ia terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Raja Jayadilaga. Adapun rajanya bernama Baginda Raja Singa Mandala. Ia merasa khawatir para raja dan ksatria yang ditolak lamarannya akan merasa sakit hati dan kemudian akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang kerajaan Sindangsari. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain berniat melamarnya. SASAKALA CIGONDEWAH Dahulu kala. datanglah rombongan pelamar dari kerajaan Margaasih. Namun semuanya ditolak oleh Putri Mayang Sawitri dengan bermacam-macam alasan. Kecantikan Putri Mayang Sawitri pun tersiar ke mana-mana. terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangsari.2. 114 . Tentu saja Baginda Raja Singa Mandala merasa bingung.

paduka raja.” jawab Raja Jayadilaga dengan tegas dan penuh harap.“Ada apakah gerangan Raja Jayadilga menemuiku?” kata Raja Singa Mandala di ruang keraton. Putri Mayang Sawitri: “Bagaimana. Sebagai tanda lamaran. bersediakah dipersunting hamba?” “Euh. anakku?” Putri Mayang Sawitri lama menundukkan kepala. akhirnya Raja Jayadilaga mengulang pertanyaan Raja Singa Mandala.” 115 .” kata Raja Singa Mandala sambil melirik pada putrinya. “Maksud kami untuk melamar putrimu yang cantik jelita itu. “Kalau begitu niat paduka. aku hanya bisa menyerahkan keputusan lamaran ini pada putriku langsung. Karena kesal. “Bagaimana tuan putri. sebelumnya aku mohon maaf. kami membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi dari kerajaan Margaasih.

Ketakutannya yang utama ialah kerajaan Margaasih Sindangsari. Seketika ia berdiri dan pergi tanpa permisi keluar dari ruangan keraton diikuti oleh rombongan lainnya. “Eum. Raja Singa Mandala hanya duduk terpaku kaku di singgasana. Sebagai raja yang ingin akan segera menyerang kerajaan mempertahankan kedaulatan.” kata Raja Jayadilaga dengan penuh kesabaran. Bahkan hatinya semakin diliputi rasa cemas. karena tuan putri tidak punya salah apa-apa padaku. Sesuai dengan prediksi.“Tidak usah minta maaf.” “Apa…?!!” Raja Jayadilaga tersentak kaget. tentu saja Raja Singa 116 . keesokan harinya Raja Jayadilaga mengerahkan seluruh pasukannya dari kerajan Margaasih. Ia tidak dapat berkata apa-apa. untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaran paduka raja. Kemudian Ia bertitah: “Tunggu kedatangan pasukanku!” Melihat kejadian tersebut.

Senjata mereka terdiri dari bedog (golok). pedang. Seluruh pasukan Sindangsari pun sudah siap menghalau. Peperangan pun terjadi. Darah berceceran di mana-mana. Namun setelah dua hari berperang. Pasukan Margaasih semakin mendekati perbatasan. akhirnya pasukan kerajaan Sindangsari terdesak. Ksatria-ksatria pilih tanding kerajaan Sindangsari tidak mampu menahan gempuran pasukan 117 . Seluruh pasukan Sindangsari segera ditempatkan di daerah perbatasan. Hal ini dikarenakan jumlah pasukan dari kerajaan Margaasih lebih banyak jumlahnya dan senjatanya pun lebih lengkap. Pagi itu cuaca sangat cerah. Banyak prajurit yang gugur di medan perang. Pertempuan kedua kerajaan pun berlangsung sengit. Namun nampaknya pasukan kerajaan Margaasih lebih kuat ketimbang kerajaan Sindangsari. Sangkakala perang sudah ditiup. dan gondewa atau jamparing (panah).Mandala pun menyiapkan pasukannya. tanda peperangan akan segera dimulai.

“Aku lebih baik mati ketimbang dipersunting oleh raja yang telah membunuh ayahku. Berbeda dengan rakyat Sindangsari yang berduka. sebaliknya Raja Jayadilaga merasa senang atas kejadian tersebut. Putri Mayang Sawitri pun meninggal oleh kerisnya sendiri. Sesaat setelah berucap dan menancapkan keris ke perutnya. Selanjutnya Raja Jayadilaga merubah nama Sindangsari menjadi Cigondewa.Margaasih. Ia merasa telah berhasil membalas kepedihan hatinya yang ditolak oleh Putri Mayang Sawitri. 118 . Bahkan Raja Singa Mandala pun akhirnya terbunuh dalam peperangan tersebut. ia pun berhasil memperluas kekuasannya dengan cara menyatukan wilayah kerajaan Margaasih dengan Sindangsari.” gumamnya dengan yakin. Putri Mayang Sawitri langsung mencabut keris dengan niat untuk labuh geni (bunuh diri). Melihat ayahnya telah tewas. Selain itu.

*** pun kemudian berubah menjadi penduduk mengikuti pengucapan 119 . kerajaan Margaasih pun semakin berkembang pesat. Darah tersebut berasal dari tubuh prajurit Sindangsari yang terbunuh oleh panah dan gondewa pasukan Margaasih.“Aku Cigondewa. ubah Wilayah nama ini Sindangsari pun sekarang menjadi menjadi taklukanku. Setiap tahun mereka menyerahkan upeti kepada Prabu Siliwangi karena berada di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Nama Cigondewa Cigondewah. Semakin lama. Alasan diubahnya nama Sindangsari menjadi Cigondewa.” ujar Raja Jayadilaga di depan seluruh penduduk Sindangsari. setempat. Raja Jayadilaga melihat banyak darah berceceran bagaikan cai (air). karena setelah peperangan terjadi.

banyak raja dan ksatria tertarik untuk melamar dan mempersuntingnya. Raja Subangkala memerintahkan patihnya untuk melamar ke kampung Babakan. berangkatlah rombongan dari kerajaan Subang menuju ke kampung Babakan. Salah satunya ialah Raja Subangkala dari kerajaan Subang. culik dengan cara paksa!”. yang kedua bernama Embah Setayu. Berkat kecantikannya itulah. “Apabila menolak. Sementara rombongan sedang di 120 . Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ki Patih kerajaan Subangkala. Keesokan harinya. begitulah titahnya. Putri yang sulung bernama Embah Gabug. Ia berniat melamar Embah Gabug.3. yang ketiga bernama Embah Naibah. dan yang bungsu bernama Embah Naidah. Maka segera. SASAKALA KAMPUNG MARONGGE Hiduplah empat orang putri yang cantik jelita serta memiliki kesaktian tinggi di sebuah kampung bernama Babakan.

Benar saja. Di dalam semedinya. seluruh rombongan mendadak kelelahan dan tertidur pulas di batas menuju Kampung Babakan. Sesaat kemudian. Embah Gabug pun segera memakai kesaktiannya untuk memperdaya rombongan dari kerajaan Subang tersebut. “Aku Ki Patih dari Kerajaan Subang. Setelah mengetahui hal itu. “Bangunlah kalian semua! Dari mana dan apa keperluan kalian datang ke Kampung Babakan?” Ki Patih pun segera menjawab dengan nada sinis. setelah semua rombongan tertidur. ia diberitahu oleh Hyang Widi. Dibangunkanlah seluruh rombongan tersebut.perjalanan. Diutus oleh Gusti Raja Subangkala untuk melamar seorang puteri yang tinggal di Kampung Babakan. lalu dihampiri oleh Embah Gabug. bahwa akan ada rombongan yang sedang berada dalam perjalanan dengan maksud dan tujuan jahat. di kampung Babakan Embah Gabug sedang bersemedi. Ia adalah puteri 121 .

Aku hanya menginginkan raja kalian dapat mengembalikan kukuk*) yang akan dilempar ke sungai Cilutung. aku akan menerima lamarannya.” Beberapa hari kemudian. Kalian tadi tertidur terkena ilmuku.” Mendengar jawaban dari Ki Patih. Sekarang pulanglah dan sampaikan pada raja “Apa “Aku kalian. bahwa aku mau menerima lamarannya dengan satu syarat. Apabila raja kalian dapat memenuhi syarat tersebut. Kalian semua telah memiliki niat jahat. Menurut titahnya. tidak puteri. putri tersebut harus dipaksa dan diculik ke Subang.” syaratnya. Embah Gabug pun menjawab dengan tenang dan tegas. “Akulah puteri Embah Gabug yang dimaksud itu. Apakah puteri menginginkan banyak intan permata?” menginginkan haliyah dunya (kekayaan). Ia pun langsung diterima oleh putri Embah Gabug di muara sungai 122 . datanglah Raja Subangkala ke kampung Babakan. apabila lamarannya ditolak.Embah Gabug.

“Kanjeng Raja. Raja Subangkala pun merasa malu. Oleh karena itu. kukuk ini akan kulemparkan agar terbawa arus ke hilir. Kembalikanlah kukuk tersebut ke hadapanku. Kukuk pun terbawa arus air menuju ke hilir sungai. Melihat kenyataan demikian. lalu ia menantang Embah Gabug untuk mengembalikan 123 . yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Panyaweuyan. Kesaktiannya telah berhasil dikalahkan oleh seorang perempuan. maka dilemparkanlah sebuah kukuk oleh Embah Gabug ke tengah-tengah derasnya air sungai Cilutung. Raja Subangkala pun tidak sanggup menahan lajunya kukuk. Segera saja Raja Subangkala mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengembalikan kukuk yang telah terbawa arus sungai.Cilutung dan Cideres.” kata Embah Gabug. Namun air sungai semakin deras. apalagi mengembalikan ke hadapan Embah Gabug. Setelah semuanya siap.

kukuk yang telah terbawa arus sungai tersebut ke hadapannya. Dengan karembong sakti cinde wulung. membelah arus sungai. mulailah tersiar kabar ke mana-mana bahwa Raja Subangkala dikalahkan oleh Embah Gabug. Tempat inilah yang sekarang disebut Cadas Meja. Beberapa hari setelah kejadian itu. Kacamatan Kadipaten Majalengka. mulai dikenal istilah pelet (ilmu asihan) si kukuk mudik dari kampung Marongge. ia pun mengembalikan kukuk. coba kembalikan kukuk yang terbawa arus itu ke hadapanku!” Embah Gabug pun menuruti perintah Raja Subangkala. berada di kampung Prunggawul. Kukuk melesat dari hilir. Desa Bonang. Adalah Raja Bugang Geureung dari kerajaan Pasiripis yang penasaran atas 124 . “Hai putri. Malahan terkenal dengan sebutan Pelet Marongge. Bahkan akhirnya terpental pada sebongkah cadas (sejenis tanah liat) yang teksturnya datar menyerupai mejatulis di sebelah Raja Subangkala berdiri. kalau engkau sakti. Semenjak itu pula.

Raja Bugang Geureung pun tidak mampu mengembalikan kukuk ke hadapan Embah Setayu. Itulah syarat yang diajukan oleh Embah Gabug untuk siapa saja yang ingin mempersuntingnya. Bahkan saudara-saudaranya pun tidak diberitahu. Pelaksanaan melempar kukuk pun dimulai. Ia lalu mencari tempat yang baik untuk bersemedi. Namun seperti halnya Raja Subangkala. Kini kukuk dilempar oleh Embah Setayu. tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi persyaratan tersebut.kabar tersebut dan berniat menjajal kesaktian Embah Gabug. akhirnya Embah Gabug memutuskan untuk pergi dari kampung Babakan. Oleh Embah Gabug. Raja Bugang Geureung pun kemudian mengajukan tawaran pada Embah Gabug. 125 . tawaran Raja Bugang Geureung tersebut diterima dengan syarat akan diwakilkan pada adiknya Embah Setayu. Kepergiannya tersebut tanpa sepengetahuan penduduk kampung Babakan. Namun pada akhirnya. Dengan kenyataan demikian.

dan Naidah. Naibah. Setayu. Sesaat kemudian. Berangkatlah mereka bertiga berkelana. dan Naidah! Kakakmu akan sembuh apabila memakan buah laja yang tumbuh di bukit ini!” Maka dicarilah buah laja oleh Embah Setayu. mereka bertiga berniat untuk mencari kakaknya yang pergi tanpa pamit. mereka bertiga menemukan seorang perempuan terkapar karena sakit. Perempuan tersebut ternyata Embah Gabug. Hingga suatu ketika. Hingga pada suatu malam. Maka dipeluklah tubuh Embah Gabug oleh adik-adiknya.Tentu saja membuat sedih Embah Setayu. “Kenapa kita ada di sini? Siapa yang telah berhasil menyembuhkanku?” kata Embah Gabug. mereka bertiga sampai ke sebuah bukit yang bernama Gunung Hade. 126 . Di puncak bukit itulah. Embah Gabug pun sembuh kembali. kakaknya sendiri. berkat kekuasaan Hyang Widi. terdengar suara gaib: “Hai. Naibah. Setelah memakan buah laja.

Sesampainya di sana. aku adalah Haji Putih Jagariksa yang menguasai bukit ini. Suatu saat nanti.Diceritakanlah seluruh kejadian yang telah menimpa oleh Embah Setayu. keempat putri bersaudara itu pergi berjiarah ke gunung Hade. Sudah barang tentu seluruh penduduk menyambutnya dengan suka cita. pergilah!” Setelah mendengar suara gaib. Oleh adik-adiknya lubang tersebut ditutupi oleh rengge (sejenis ranting bambu haur) yang tumbuh di sekitar bukit. 127 . Embah Gabug dan ketiga adiknya pun kembali ke kampung Babakan. Embah Gabug pun ditinggal pergi oleh adik-adiknya. Sekarang. Setelah itu tiba-tiba terdengar kembali suara gaib: “Kalian jangan kaget. Setelah itu. Kemudian Embah Gabug masuk ke lubang tersebut. mereka membuat lubang tepat di atas tempat terkaparnya Embah Gabug dulu. kalian juga akan menetap di bukit ini. Beberapa bulan kemudian. pada malam Jumat Kliwon.

Lalu diperiksalan lubang yang mengeluarkan cahaya merong tersebut. mereka kaget karena dari lubang yang ditutupi rengge waktu itu. berangkatlah mereka bertiga ke gunung Hade dengan maksud untuk melihat sang kakak. Adik-adiknya pun merasa sedih. tempat tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Merongge. Ternyata lubang tersebut kosong. karena terlalu lama ditinggal sang kakak. keluar cahaya yang merong (bersinar) kekuningkuningan seperti kilatan emas. Embah Gabug yang pernah masuk ke lubang itu pun didapati oleh ketiga adiknya telah menghilang. yang berasal dari kata merong dan kata rengge. Kebanyakan pengunjung berjiarah dengan maksud 128 . kemudian berubah menjadi Marongge. Kini kampung Marongge menjadi tempat jiarah. Hingga pada suatu malam.Sekian lama Embah Gabug terkubur dalam lubang di puncak gunung Hade. Seiring perjalanan waktu. Semenjak itulah. Sesampainya di puncak.

nama tumbuhan sejenis labu. Bunganya berwarna putih dan buahnya berbentuk kendi. *** (Sumedang) *) kukuk.agar cepat mendapat jodoh atau bertapa untuk memiliki ilmu pelet si kukuk mudik. oleh orang tua biasa dipakai untuk wadah cai (tempat mengambil air) dengan cara dilubangi dekat lehernya (karena bentuknya yang berleher sepert kendi). Menurut kepercayaan masyarakat setempat. 129 . konon sampai akhir hayatnya keempat gadis tersebut tidak pernah menikah. Buahnya yang sudah tua.

yang kini bernama Leuwihideung.4. 130 . Mereka semua masuk agama Islam. Semua penduduk yang ada di sana kemudian mengikuti ajaran Guru Aji Putih tersebut. SASAKALA SUMEDANG Dahulu kala. Kemudian datanglah seorang pengelana yang beragama Islam bernama Guru Aji Putih. datanglah rombongan pengelana dan paninggaran (pemburu) ke sebuah tempat di tengah hutan belantara di tepi sungai Cimanuk. Kemudian datang pula golongan resi yang menyebarkan agama. Salah seorang yang ikut dalam rombongan resi itu ada yang bernama Sanghiyang Resi Agung dari kerajaan Galuh. Semenjak itulah kemudian Guru Aji Putih diangkat menjadi raja di perkampungan tersebut dan kerajaanya diberi nama Tembong Agung. Resi Agung lalu membuat padepokan di tepi sungai Cimanuk tersebut. Termasuk resi yang awalnya memeluk agama karuhun.

Dalam menjalankan pemerintahan. kerajaan Tembong Agung semakin berkembang pesat.Guru Aji Putih disebut pula Guru Haji Putih. Semakin lama. Bergelar haji karena ia pernah berangkat ke Mekah. Ia pun kemudian diberi gelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana. Seluruh rakyat hidup damai dan sejahtera. Namun ada yang mengganjal dalam hati Prabu Tajimalela. Ia pun kelak akan disebut Haji Darmaraja. Prabu Tajimalela pun terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Putranya inilah yang kemudian meneruskannya menjadi raja di Tembong Agung. Prabu Tajimalela terkenal adil palamarta. sehingga musuh-musuhnya selalu kalah dalam berperang. 131 . Guru Haji memiliki seorang putra bernama Tajimalela. ia bingung harus membagi tahta kerajaan. dan Sunan Geusan Ulun. Prabu Gajah Agung. yakni Prabu Lembu Agung. Ini karena Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra.

Adapun Sunan Geusan Ulun ketika itu masih burey (kecil). Dalam wangsitnya Prabu Tajimalela harus menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu putranya dengan terlebih dulu mengadakan ujian atau pasanggiri (sayembara) di puncak gunung Sangkan Jaya. Sesampainya di sana. Namun ia tidak mau menjadi raja dan malah menyerahkan kepada adiknya Gajah Agung. “Jaga bedog dan dawegan ini. Prabu Tajimalela mendapat wangsit. Nanti kita lihat apa yang terjadi. akhirnya Prabu Tajimalela menyuruh kedua putranya itu menuju puncak Gunung Sangkan Jaya. Prabu Tajimalela menyuruh kedua anaknya untuk menunggui sebilah bedog dan dawegan (kelapa muda).” kata Prabu Tajimalela. 132 . pada suatu malam. Dalam kebingungan itu.Pada mulanya Prabu Tajimalela berniat menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua Lembu Agung. Dengan hati gundah. Akan tetapi Gajah Agung pun menolak karena tidak mau menjadi raja.

Hari itu.” Lembu Agung pun segera pergi meninggalkan adiknya. Ditenggaklah air dawegan tersebut sampai habis. memang sinar matahari sungguh terik menyengat tubuhnya. Ia menuju sungai yang berada di lembah gunung untuk mandi sekedar menghilangkan gerah. Gajah Agung. aku akan mandi dulu. “Ya. Kakang.” kata Lembu Agung pada adiknya. 133 .Dijagalah bedog dan dawegan itu oleh Lembu Agung dan Gajag Agung. Sementara Gajah Agung. lama kelamaan merasakan pula kegerahan dan rasa dahaga. Ia pun berniat untuk mandi dulu ke sungai yang berada di lembah gunung. “Adikku. akhirnya Lembu Agung merasa gerah dan tidak kuat oleh cahaya matahari. Gajah Agung pun kemudian membelah dawegan yang ada di hadapannya dengan bedog yang ada di hadapannya pula. Kamu tetap jaga bedog dan dawegan ini. Karena cuaca sangat terik. Maka dengan yakin.

“Bagaimana. Akhirnya dawegan ini pun ku belah. Gajah Agung. Kenapa dawegan ini terbelah? Ada kejadian apa?” “Tidak ada kejadian apa-apa. Gajah Agung harus mencari ibukota sendiri. dan airnya telah ku minum.Sesaat setelah menenggak air dawegan. Aku hanya tidak kuat saja menahan dahaga. Sedangkan kerajaan Tembong Agung akan tetap diserahkan pada anaknya yang pertama. akhirnya Prabu Tajimalela menyerahkan tahta kerajaan pada anaknya yang kedua. Nanti kita ceritakan kejadian ini pada rama Prabu.” “Ya.” Sesaat kemudian datanglah Prabu Tajimalela. Lalu Lembu Agung dan Gajah Agung menceritakan kejadian yang mereka alami masing-masing. kemudian Lembu Agung datang. adikku. 134 . sudahlah. Dengan syarat. Lembu Agung. Kakang. Maka dengan yakin. Lalu ia pun bertanya pada adiknya.

Sementara itu.” Kata darma ngarajaan adalah ungkapan bahasa Sunda yang berarti siap bertugas menjadi raja. Selanjutnya ia membangun ibukota kerajaan di Leuwihideung. kemudian Prabu Tajimalela pun melakukan semedi 135 . akhirnya Prabu Gajah Agung dinobatkan menjadi raja. Adapun Sunan Geusan Ulun. Lembu Agung pun berucap. Ciguling. Karena itu. sekarang Sumedang selatan. Setelah menyerahi tahta kerajaan pada anaknya. sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun. Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung. Pasanggrahan.Atas keputusan ayahnya itu. Ungkapan inilah yang kelak menjadi salah satu nama daerah yang disebut Darmaraja. ia disebut juga Prabu Pagulingan. Pusaka Keris ini. kelak ia pun akan menjadi raja dan resi. Pada saat diserahi kekuasaan di Tembong Agung itu. Ia pun dikenal memiliki keris yang sangat ampuh dengan nama Ki Dukun. “Aku hanyalah darma ngarajaan saja.

Prabu Tajimalela melihat keajaiban alam di sekitar kerajaan Tembong Agung. *** 136 . Nama Sumedanglarang pun oleh penduduk setempat disebut awalnya saja. Ia bersemedi selama tiga hari tiga malam.” Semenjak itu pula. Saat itulah. Ia melihat langit menjadi terang benderang oleh cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malela). Nama inilah yang kemudian dikenal hingga sekarang. kemudian Prabu Tajimalela mulai mengajarkan kepada seluruh rakyatnya ilmu kasumedangan. Pada malam ketiga. Nama kerajaan Tembong Agung pun berubah namanya menjadi Sumedanglarang. Sabda Prabu Tajimalela tersebut artinya ialah “aku lahir untuk memberi penerangan.” sabdanya. yakni Sumedang. sebelah selatan alun-alun Sumedang sekarang. insun madangan. yang artinya tanah bagus.sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta. Tajimalela bersabda kepada seluruh rakyatnya: “Insun medal. luas. dan tiada bandingannya. Ibukotanya pun dipindahkan ke Kutamaya.

dalam perjalanan pengelanaannya. SASAKALA BANJAR PATROMAN Tersebutlah seorang pemuda pengelana yang berasal dari Mataram bernama Adananya. dengan mengikuti jejak bercak darah gadis yang menempel pada areuy. Gadis cantik tersebut pun akhirnya melarikan diri dari rumah ibunya ke arah barat. sehingga kakinya berdarah. SASAKALA WILAYAH PRIANGAN TIMUR 1. Adananya pun melamar gadis tersebut pada ibunya. karena melihat banyaknya 137 . Pada saat itulah Adananya menamai daerah tersebut dengan nama Cibeureum. namun ibunya tidak mengijinkan karena ia mengetahui bahwa Adannya seorang Raja dari Mataram. gadis tersebut terjerat areuy di hutan belantara.B. Singkat cerita. Ia merasa sungkan karena hanyalah rakyat biasa. ia terpikat oleh seorang gadis cantik di sebuah kampung bernama Pataruman. Adananya pun terus mengejarnya. Dalam pelariannya.

Pada saat Adananya mengejar sang gadis. Di tempat itu. yang kini menjadi nama sebuah kampung di kecamatan Manonjaya. Pemuda tampan itu pun kemudian mencegat Adananya di sebuah bukit. Dalam pertarungan itu. kemudian Adannya dan pemuda penolong tersebut bertarung adu kesaktian. yang kini dinamakan Tepung Kanjut. yang berarti tempat bertemunya dua orang lelaki.bercak darah pada areuy layaknya air yang berwarna merah. Bertemu dalam bahasa Sunda disebut tepung dan kelamin lelaki disebut kanjut. Adapun Adananya adalah seorang ulama penyebar agama Islam dari Mataram yang sebenarnya bernama Kanduruan Pandusaka 138 . kemudian Adananya mengetahui bernama bahwa Dalem pemuda penolong atau tersebut Raden Tambakbaya Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi III. datanglah seorang pemuda tampan berniat menolong. Ia adalah Raja Galuh Kertabumi yang beribukota di Liung Gunung.

kesaktian keduanya seimbang. Sejak itulah tempat tersebut sampai sekarang disebut Pangadegan. Kemudian dikejar oleh Adannya dan Tambakbaya. gadis cantik tersebut berlari secepat kilat ke arah tenggara. keduanya pun kembali mengejar sang gadis. Di dalam pertarungan itu. Hingga di suatu tempat. Sementara.Sarikusumah yang kelak dipusarakan di situs Pandusaka Batulawang. Namun. sedang beristirahat karena kelelahan. Kembali pada kisah pertarungan Adananya dan Tambakbaya. Adananya dan Tambakbaya adu kecepatan berlari dengan kesaktiannya masingmasing. Ketika Adananya sedang berdiri (bahasa Sunda: ngadeg). Selama pengejaran. Adapun gadis yang sedang dikejar mereka. yang berarti tempat untuk mengejar. Mungkin juga berasal dari kata pangudagan. terkejar oleh Tambakbaya. Tambakbaya dengan gerak cepat segera menghalaunya. Akhirnya. Kedua pemuda 139 . ketika Adananya akan menangkapnya.

“Mana laré?”. Tambakbaya dapat menghindar dengan cara menghilang memakai ajian halimunan. katanya kepada Adananya. Namun sesampainya di sana. yang sekarang dinamakan kampung Jélat. yang artinya menghilang sekejap mata atau secepat kilat.itupun kemudian bertarung kembali. ibunya didapati sudah tidak ada. Adannya mengeluarkan ilmu pamungkasnya. Sehingga kelihatannya ngan sajorélat atau hanya sekejap mata. Sementara itu. Berasal dari kata sajorélat. yakni pukulan saketi. Langsung saja ibu gadis tersebut bertanya dalam bahasa Jawa ke Adananya. Ternyata ibunya pun turut mengejar saat ia melarikan diri pada saat itu. gadis yang dikejar oleh Adananya dan Tambakbaya terus berlari. Kini perjalanannya mengarah kembali ke rumah ibunya. Dalam pengejarannya. ibunya sempat bertemu dengan Adananya yang sedang kaget melihat Tambakbaya menghilang di kampung Jelat. 140 . Tempat menghilangnya sosok Tambakbaya itulah. Tapi.

Ia sebenarnya bukan anak sang ibu. Sesaat kemudian.” timpal Adananya. berasal dari Mandala laré. tapi putri dari kerajaan Galuh yang bernama Ni Nursari. Tempat perhentian itu kemudian dinamai kampung Randegan. Adananya pun ngarandeg (berhenti) untuk beristirahat. Kenapa sang gadis tidak terkejar oleh Adananya dan Tambakbaya? Ternyata gadis tersebut memiliki kesaktian yang lebih tinggi. kini mereka tidak bertarung. ke arah selatan. Tempat dialog antara Adananya dengan ibunya sang gadis tersebut. juga dari ucapan sang ibu: mana lare. tibalah Tambakbaya yang juga kelelahan.Maksudnya menanyakan ke mana arah larinya anaknya. sekarang dinamakan kampung Mandalaré. “Ke sana. Setelah itu. 141 . Berbeda dengan pertemuan sebelumnya. “Gadis itu memang lebih sakti dariku.” gumam Adananya.

Jalan sepanjang Adananya dan Tambakbaya beradu pendapat itulah yang sekarang dikenal dengan nama kampung Cikadu. sungai Citanduy pun semakin ramai disinggahi para bandar (pedagang) dari kerajaan 142 . Adananya dan Tambakbaya pun terus mengejarnya. Adannya tetap berpendirian ingin memperistrinya. Setelah itu. ketiganya pun ngaleungit (menghilang). Ni Nursari lari ke arah utara. Sementara itu. Sepanjang jalan mereka terus beradu pendapat mengenai Ni Nursari yang sedang dikejarnya. Di sebrang sungai.Karena tenaga keduanya sama-sama sudah terkuras habis. sedangkan Tambakbaya tetap ingin menolong Ni Nursari dari paksaan Adananya. yang berarti berselisih pendapat. Berasal dari kata papaduan. mereka pun kembali mengejar Ni Nursari. namun Ni Nursari larinya lebih cepat. Semakin lama. Lalu menyeberangi sungai Citanduy. Cukup lama Adananya dan Tambakbaya beristirahat di kampung Randegan.

Daerah di tepi sungai Citanduy pun kemudian dikenal dengan nama kampung Bandar (pedagang atau pusat perniagaan). kampung Bandar pun semakin banyak disinggahi bandar-bandar (para pedagang) dari Mataram. Semakin lama. yang oleh penduduk setempat disebutnya basa Jawa réang. Sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama pataruman atau tempat tarum. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di kampung itu banyak ditanami pohon tarum. Bahasa yang digunakan penduduk pun bercampur. antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa.Galuh dan Mataram. Konon kata pataruman berasal dari kata patarungan. yakni sejenis tanaman nila yang pada masa kolonial dijadikan tanaman paksa. sebagai pangeling-eling atas peristiwa pertarungan antara Adananya dan Tambakbaya memperebutkan Ni Nursari pada saat itu. Adapun kampung tempat Ni Nursari dan ibu angkatnya tinggal selanjutnya dinamakan kampung Bandar Pataruman. 143 .

*** 144 . kampung Bandar Pataruman pun semakin ramai disinggahi para pedagang dari kerajaan Galuh dan Mataram. Namun. Kini.Semakin lama. Di antara para pedagang itu banyak berjodoh dengan penduduk setempat dan banyak pula yang bermukim. Nama Bandar Pataruman pun berubah menjadi Banjar Patroman. karena pada waktu itu banyak diucapkan salah oleh pendatang dari Mataram. kampung Banjar yang letaknya di pinggir sungai Citanduy itu telah berkembang menjadi sebuah kota yang membatasi wilayah antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah. adakalanya kampung Banjar Patroman pun disebut Banjar saja.

Kanjeng Sinuhun. karena merasa anaknya tidak pantas mendapatkan seorang raja. Tentu saja penolakan dari Aki Gede tersebut membuat sakit hati Kanjeng Sinuhun. sedangkan yang bungsu seorang putri yang sangat cantik jelita. Maka Kanjeng Sinuhun pun segera mengajukan lamaran pada Aki Gede dan Nini Gede. SASAKALA CIJULANG DAN PANTAI BATUHIU Dahulu kala. Pasangan keluarga tersebut memiliki dua orang anak. lamaran itu pun ditolak oleh Aki Gede. raja kerajaan Banyumas. namun selalu saja ditolak oleh sang putri. Tetapi seperti sebelumnya.2. Aki Gede merasa bahwa putrinya hanyalah keturunan rakyat biasa dan tidak mungkin menjadi permaisuri seorang raja. di wilayah kekuasaan kerajaan Banyumas hiduplah keluarga bahagia pasangan Aki Gede dan Nini Gede. yang sulung seorang laki-laki bernama Sang Lawangjagang. Banyak raja dan ksatria yang melamarnya. Lalu ia pun 145 . termasuk salah seorang yang menyukai sang putri.

rombongan Aki Gede pun sampailah ke tepi sungai di batas kerajaan. Maka tibalah rombongan Aki Gede ke sebuah tempat yang teduh dan terdapat mata air. Berangkatlah Aki Gede. dan seluruh kerabatnya meninggalkan wilayah kerajaan Banyumas. Nini Gede. Setelah itu. Tempat itulah yang kelak dikenal dengan nama Hanjatan Cimanganti. Dari sana. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam. kemudian bertambah pula dengan dibangunnya sebuah surau. mereka segera ngababakan (membuka lahan baru) untuk membangun perkampungan.memerintahkan kepada patihnya untuk mengusir Aki Gede beserta seluruh keluarganya dari wilayah kerajaan Banyumas. Di sana. perjalanan pun dilanjutkan menuju ke arah selatan. rombongan hanjat (menyeberangi) sungai. 146 . Mulanya hanya dibangun satu rumah. putri. Rombongan itu pergi ke arah Barat. terus bertambah menjadi lima rumah.

Nini Gede. Padepokan itu diganti namanya menjadi Kawasan. Khawatir perkampungan tersebut diketahui oleh Kanjeng Sunan.Lama kelamaan daerah itu pun semakin banyak dikunjungi pendatang. Aki Gede menyuruh anaknya yang sulung untuk mengurus Padepokan Karasanbaya. Sementara Aki Gede. Dengan perkembangan padepokan yang sangat pesat. putrinya. Rumah Aki Gede pun kemudian direnovasi dan dijadikan sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Karasanbaya. Lalu ia berniat membangun padepokan di tempat lain. Lalu ke arah selatan dan ngaso (beristirahat) di suatu tempat yang juga terdapat mata air yang banyak pohon kasonya. dan rombongan keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat. Aki Gede pun mulai merasa gundah. Sebagai penggantinya. 147 . Oleh anaknya. Kelak tempat ini dikenal dengan nama Cikaso. Bahkan banyak orang yang berguru ilmu kanuragan ke Aki Gede. yang berarti tempat beristirahat yang terdapat sumber air dekat pohon kaso.

Di tempat itu. Beberapa hari kemudian. rombongan Aki Gede pun sampailah pada sebuah daerah yang kelak bernama Bojonglekor. Di sana Aki Gede membangun kembali sebuah padepokan dan kepengurusannya dipercayakan kepada salah seorang saudaranya yang bernama Sang Prabu Mangun Ciker. Aki Gede pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Setelah itu. Di sana 148 Aki Gede segera . Lalu padepokan itu ia percayakan kepada salah satu saudaranya yang bernama Mangun Naha Mana Manggala. Di karangsimpang ia percayakan lagi kepengurusan padepokannya pada saudaranya yang lain. Kemudian. di sana Aki Gede pun membangun sebuah padepokan. Kemudian sampailah ke daerah Bubulak dan Karangsimpang. Aki Gede dan Nini Gede pun melanjutkan pengembaraannya kembali. Kali ini Aki Gede semakin ke selatan. Kini Aki Gede pergi ke arah utara dan sampailah di sebuah daerah. Aki Gede pun segera membangun sebuah padepokan.

Suatu ketika. Di sana ia tidak membangun padepokan. dan rombongan selalu berhenti di sebuah daerah dan dilanjutkan dengan ngababakan (membuka lahan baru). Cipatahunan dan Gurago. Cikagenah. karena sudah padat penduduknya. Aki Gede pun akhirnya kembali lagi ke Binangun. Aki Gede. Berturut-turut Aki Gede membangun kampung yang sekarang dikenal dengan nama Bojongmalang.membangun padepokan dilengkapi dengan sebuah sunge (sumur buatan). Setelah membangun padepokan di Binangun. Aki Gede pun kemudian mencari daerah baru sebagai tempat bermukim. Namun tidak berhenti di situ. Aki Gede kemudian mengalihkan perjalanannya ke sebelah Barat. Cikawao. 149 . Sarakan. Cikadu. sampailah Aki Gede ke daerah yang bernama Nagarawati. Kelak tempat ini dikenal dengan nama kampung Binangun. Nini Gede. karena di daerah tersebut tidak terdapat mata air. Selama pengembaraannya.

Tujuannya ialah ke pesisir selatan pulau Jawa. Aki Gede pun menemui Dalem Tamela di keratonnya yang sekarang dikenal dengan nama Sukaraja. Aki Gede tinggal cukup lama. Aki Gede pun melanjutkan kembali perjalananya. Sekarang ia mengarah kembali ke selatan.Di Gurago. Bahkan Aki Gede sempat mengangkat seorang amil (penghulu) dan kepala kampung. Namun karena memaksa. Lama ia tinggal di daerah tersebut. Maka sampailah Aki Gede ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Cigugur. Beberapa taun kemudian. Lamaran tersebut sempat tujuh kali ditolak oleh Aki Gede. Aki Gede dipanggil oleh Dalem Tamela. di wilayah Tasikmalaya sebelah selatan. Setelah itu. Ternyata Dalem Tamela berniat untuk mempersunting anaknya Aki Gede yang perempuan. Raja Sukapura yang kekuasaannya meliputi daerah Cigugur. Alasannya karena sang putri telah menikah dengan seorang ksatria bernama Sembah Ragasang. Aki Gede pun akhirnya menyetujui permintaan Dalem Tamela dengan sebuah 150 .

Dalam memberikan wilayah itu pun tidak dipilih oleh Dalem Tamela. kemudian Sembah Ragasang beserta rombongan tiba di hutan belantara. pergilah mantan menantu Aki Gede. Menurut petunjuk dari Jeng Pati. Sembah Ragasang harus mencari wilayah yang baik untuk pemukiman ke sebelah Barat. Di sana Sembah Ragasang menemui saudara ibunya yang bernama Jeng Pati. namun harus sekehendak menantunya. Setelah sepakat. Sembah Ragasang.syarat: Dalem Tamela harus memberi kekuasaan mantan berikut menantunya suatu wilayah penduduknya yang berjumlah sembilan kuren (kepala keluarga). sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya ke wilayah Imbanagara. beserta sembilan kuren rombongannya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir. Kemudian tibalah Sembah Ragasang di kerajaan Panjalu. Karena merasa 151 . Berdasarkan petunjuk itulah. Di sana ia sempat bermukim.

Aki Gede menyuruh salah seorang pengikutnya yang bernama Ki Braja Lintang untuk menangkap ikan di laut untuk sarapan. Maka oleh Aki Gede. Setelah beberapa jam. kemudian kembali melanjutkan pengembaraannya. Ternyata ikan tersebut seekor hiu. Bermalamlah Aki Gede beserta rombongan pengikutnya di bukit tersebut. Dengan cekatan.tidak cocok. Karangnini dan Jajawai. Keesokan harinya. Tibalah Sembah Ragasang ke daerah yang sekarang bernama Mandala. Ki Barja pun disuruh untuk melepaskan kembali 152 . segera Ki Braja pergi ke pantai untuk menangkap ikan. dari sana Sembah Ragasang melanjutkan lagi perjalanannya ke arah pesisir selatan. tibalah di atas bukit masih di wilayah pesisir Selatan. kemudian Ki Barja membawa seekor ikan yang besar ke hadapan Aki Gede. Di sanalah Sembah Ragasang menetap sampai akhir hayatnya. Adapun Aki Gede yang telah lama menetap di Cigugur. Hingga pada suatu ketika. sebelum pergi melanjutkan perjalanan.

bahkan nampak airnya kembali mengalir berbalik ke arah aliran sungai. Di muara tersebut air sungai Haurseah nampak tidak menyatu dengan air laut karena terbendung oleh air laut itu sendiri. Namun anehnya. Hingga sampailah Aki Gede ke sebuah muara yang menyatukan antara sungai Haurseah dengan laut Jawa Selatan. Bersama dengan rombongannya. Semenjak itulah. Oleh penduduk 153 . Setelah kejadian itu. Aki Gede segera saja meninggalkan daerah tersebut.ikan hiu tersebut ke laut lepas. ia kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Barat dengan tetap menyusuri pesisir Selatan. sekarang kita dapat melihat secara jelas bongkahan batu yang berasal dari perwujudan ikan hiu tersebut. daerah pesisir itu oleh Aki Gede diberi nama pantai Batu Hiu. Dari bukit tempat peristirahatan Aki Gede beserta rombongannya itulah. ikan hiu itu tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu besar berwarna hitam. ketika dilepaskan oleh Ki Barja.

Konon selain perubahan lafal dari kata cai mulang. keadaan air seperti itu disebut cai mulang (air yang alirannya berbalik arah). maka Cimulang pun kemudian berubah namanya menjadi Cijulang seperti yang dikenal sekarang.setempat. Di daerah Cimulang terdapat burung Julang. Di dekat muara itulah. Seiring dengan perkembangan waktu. Daerah itu pun kemudian oleh penduduk setempat dinamakan Cimulang. kemudian Aki Gede kembali ngababakan dan menetap untuk selamanya. juga didasarkan pada kebiasaan Aki Gede yang bolak-balik seperti cai mulang mencari tempat untuk ngababakan. *** (Ciamis) 154 .

Meskipun hidup serba kekurangan. Dalam menangkap ikan. hiduplah seorang lelaki tua di sebuah rumah yang atapnya terbuat dari rumbia. untuk menambah penghasilan. Biasanya memakai bubu atau badodon. sebagian akan dikere (diselai) dan sebagian lain dijual kepada tetangganya. Apabila mendapat ikan cukup banyak. Alat penangkap ikan tersebut terbuat dari bambu. Namun tetap saja melaksanakan solat lima 155 . lelaki tua itu pun sekali-kali menangkap ikan di sungai Cimedang. SASAKALA KALAPAGENEP Di tepi sungai Cimedang. Lelaki tua tersebut sehari-harinya tatanen (bertani) dengan memanfaatkan tanah adat milik kerajaan Sukapura. ia pernah ditimpa sakit keras. Ia sangat rajin sekali beribadah. ia hanya memakai peralatan seadanya. lelaki tua tersebut tidak berputus asa. Selain itu. sebelah selatan kerajaan Sukapura. Begitulah lelaki tua itu kesehariannya. Seperti ketika itu.3.

ia akan mengapung di atas buah kelapa yang dibawanya. Namun meskipun demikian. Sekalipun tidak kuat untuk mengambil air wudlu. Sesuai dugaan. Mula-mula air hujan hanya menggenangi halaman rumah penduduk. ia akan bertayamum. Termasuk rumah lelaki tua itu. tiba-tiba kampung tersebut terkena caah (banjir). Suatu hari di musim penghujan.waktu. Lalu seluruh areal pesawahan dan perkampungan pun tenggelam diterjang air bah. lelaki tua itu pun 156 . Dengan tenang. Sungai Cimedang pun akhirnya meluap. air bah pun segera menenggelamkan seluruh rumah lelaki tua itu. Ia malah naik ke atas atap rumahnya sambil membawa enam buah kelapa. Lama-kelamaan semakin membesar. Ia berpikir apabila air bah sudah menenggelamkan seluruh rumahnya. Banyak rumah penduduk yang tenggelam. lelaki tua itu tidak segera pergi meninggalkan rumahnya. Lelaki tua itu pun kemudian terbawa air bah yang arusnya sangat deras. mulai digenangi air bah dari sungai Cimedang.

“Alhamdulillah. Sesampainya di tepi muara. Ia hanya melihat air bah yang mengalir deras sampai surut. Keesokan harinya. Kemudian air bah pun surut. mereka bergotong-royong 157 . Buah kelapa itu pun terbawa arus sungai. beberapa saat ia tertegun. sampai akhirnya tersangkut di sebuah nusa (pulau kecil) di tengahtengah muara. Lelaki tua itu pun tidak beranjak dari tepi muara. Di sana airnya tidak terlalu deras. Gusti masih menyelamatkanku. Adapun enam buah kelapa yang dibawanya.” gumamnya lirih.mengambang bersama enam buah kepala yang dibawanya semula. sehingga lelaki tua itu segera berenang sampai ke tepi muara. dilemparkannyalah ke aliran sungai Cimedang. Ia terbawa arus sampai ke muara sungai Cimedang. Penduduk kampung mulai berdatangan menolong lelaki tua tersebut.

oleh lelaki tua selalu dijualnya untuk menambah penghasilan sehari-hari. Aki?” timpal salah seorang penduduk. yang artinya enam buah pohon kelapa. Setelah lelaki tua itu meninggal. di nusa tersebut tumbuh enam buah pohon kelapa. buah kelapa dari keenam pohon kelapa yang tumbuh di tengah nusa itu pun tidak ada yang berani itupun mengambil kemudian apalagi dinamai mencurinya.” ujar Tua Kampung di depan seluruh penduduk. Oleh Tua Kampung. Semakin hari pohonnya semakin tinggi.membantu memperbaiki rumah lelaki tua yang hancur terkena banjir. Nusa Kalapagenep. sampai akhirnya berbuah. Beberapa bulan kemudian. Adapun buah kelapa dari keenam pohon kelapa itu. “Kenapa. nusa tersebut selanjutnya diserahkan pada lelaki tua untuk diolah menjadi lahan perkebunan. “Aku namakan nusa ini Kalapagenep. “Untuk mengenang perjuangan Aki Sahuri yang bersusah payah menyelamatkan diri dari terjangan 158 .

” “Setujuuuu. *** 159 . daerah di sekitar muara itu pun kemudian dinamakan kampung Kalapagenep. kalau begitu aku setuju.banjir dengan memakai enam buah kelapa ini.” jawab Tua Kampung sambil menunjuk pada enam pohon kelapa yang tumbuh subur di tengah-tengah nusa. Selanjutnya. Kini kampung tersebut menjadi batas antara kabupaten Ciamis dengan kabupaten Tasikmalaya. “Oh..!” sahut para penduduk yang lain..

Harimau tersebut dipelihara sejak kecil. terdapat sebuah kampung tak bernama. Maka semakin giatlah suami istri tersebut bekerja mencari nafkah. Bahkan harimau tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri. Apalagi setelah mereka mempunyai binatang peliharaan. yaitu seekor harimau jantan. bayinya selalu ditinggalkan 160 di rumah. seorang bayi yang mungil dan sehat. Setiap hari harimau tersebut dilatih menjadi binatang piaraan yang cerdas dan tangkas.4. Di kampung itu. SASAKALA KAMPUNG PANYALAHAN Dahulu kala. Sebagai . di wilayah kerajaan Sukapura sebelah selatan. hiduplah sepasang suami istri. sehingga jinak layaknya seekor kucing. Kehidupan keluarga mereka terasa tentram dan romantis. Apabila mereka pergi ke ladang atau sawah. Kebahagiaan suami isteri itu terasa bertambah besar setelah lahirnya anak mereka.

harimau itu segera menghampiri suami istri tersebut. Sedang berpikir demikian. Seketika itu memuncaklah kemarahan sang suami. Di halaman rumah.” gumam sang suami. tiba-tiba terjadilah peristiwa yang menyedihkan. tersebut.penjaganya. 161 ekornya sambil menggosok-gosokkan . Peristiwa itu dimulai ketika suami isteri pulang berladang. Selang ditunjuklah harimau peliharaannya beberapa bulan. mengapa tingkah laku harimau itu berbeda dari biasanya. Lalu mengibasngibaskan badannya. “Pasti harimau itu telah menerkamnya. Mereka pun terkejut melihat keadaan itu. Pikir suami isteri. Spontan kedua suami isteri teringat akan anak bayinya yang dipercayakan kepada sang harimau piaraannya. terlihatlah oleh mereka mulut sang harimau berlumuran darah. mereka disambut oleh harimau kesayangannya. Tidak seperti biasanya.

lalu digoyang- goyangkan badannya. harimau keparat. Lalu tersenyum lucu dan menggemaskan. Lalu sang suami pun mengikutinya masuk ke dalam kamar. Selesai menghardik.“Hey. Teganya engkau menerkam anakku. mereka berdua hanya membisu. Dirabanya tubuh bayi tersebut. Kedua suami isteri pun lalu mengusap 162 . lalu sang suami itu pun menghunus goloknya dan menebas leher harimau. Tak lama berselang. mata bayi itu pun terbuka. Dasar tidak tahu balas budi!” hardiknya. Sesampainya di dalam ruangan kamar. didapati bayinya terbaring dengan tenang dalam ayunan. Setelah sadar kembali ingatannya. setelah terlebih dulu menendang bangkai harimau. Matilah harimau itu ditangan orang yang menyayanginya selama ini. maka larilah sang isteri memasuki kamar tempat bayinya ditinggal. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi.

ia langsung duduk lunglay di ruangan kamar dekat ayunan bayi. Dari mulut dan sebagian tubuhnya berlumuran darah. Saat itulah suami istri tersebut tersadar telah melakukan kesalahan. 163 . Ia pun sadar bahwa harimau itu telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya. suami isteri tersebut segera memeriksa sekeliling ruangan kamar. Setelah puas memandangi bayinya yang selamat. kampung tempat suami istri tersebut bermukim dikenal dengan nama kampung Panyalahan. harimau tersebut telah mati dibunuhnya karena salah terka.muka dan bersyukur karena bayinya selamat serta masih hidup. Didapatinya bangkai seekor ular sanca yang sangat besar tergeletak dekat ayunan. yang dalam bahasa Sunda disebut nyalahan. hewan itulah yang justru telah menyelamatkan bayinya dari santapan ular sanca. Namun apa dikata. Semenjak itulah. yang berarti tempat berbuat kesalahan. Ia sadar betul bahwa harimau yang telah dibunuhunya tidak bersalah. Apalagi sang suami.

termasuk memakai senjata api. *** 164 . Hingga kini. kampung Panyalahan semakin banyak dikunjungi pendatang dan menjadi penduduk di sana. bahwa penduduk kampung Panyalahan dilindungi oleh maung kakajaden (harmau jadi-jadian) yang terbunuh oleh sang suami pada waktu itu. Bahkan sekarang berkembang kepercayaan.Semakin lama. seluruh penduduk kampung Panyalahan disupata (dikutuk) untuk tidak bisa membunuh harimau memakai senjata apapun. menurut kepercayaan masyarakat sekitar.

Ia tidak mau tinggal di dalam istana. kerajaan Timbanganten mengalami pailit akibat musim kemarau panjang. Sunan Rangga Lawe mempunyai kakak seorang perempuan bernama Maharaja Inten Dewata.5. Suatu ketika. Adapun rajanya bernama Sunan Rangga Lawe. tidak jauh dari suku gunung Kutu. Penduduk 165 . kakaknya lebih memilih menjadi pertapa dan masyarakat biasa. Seluruh penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. ditemani oleh lelaki yang sudah berumur tua bernama Batara Rambut Putih. Ia seorang raja yang adil dan bijak. Ibukotanya bernama Korobokan. sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya. Ia lebih senang berkelana ke tiap pelosok kerajaan. SASAKALA GUNUNG GUNTUR Dahulu kala. Namun berbeda dengan pribadi Sunan Rangga Lawe yang sinatria. di suku gunung Kutu (yang kelak namanya berubah menjadi gunung Guntur) terdapat sebuah kerajaan bernama Timbanganten.

Hasil pertanian dan ladang tidak dapat dipanen.” “Siapa yang memiliki tempat tersebut.” 166 . akhirnya para patih dan mahamantri yang ditugaskan mencari daerah untuk membuat situ pun menghadap Sunan Rangga Lawe.kekurangan air bersih dan makanan. saudara Kanjeng sendiri. Paman?” “Pemiliknya Maharaja Inten Dewata. Setelah 40 hari 40 malam. kami telah berhasil menemukan tempat yang strategis untuk dibuat situ. Kanjeng. lalu diperintah agar segera mencari tempat yang cocok untuk membuat situ. Maka untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dipanggillah seluruh patih dan mahamantri kerajaan. karena kekeringan. Tempatnya harus strategis. Paman Patih?” “Di lembah gunung Kutu.” “Di mana tempatna. Sunan Rangga Lawe pun berinisiatif untuk membuat situ (danau). agar dapat mengairi seluruh wilayah kerajaan. “Kanjeng Sunan.

Kanjeng. gampang kalau pemiliknya beliau. Di daerah ini aku mulai bisa 167 . “Sampaikan pada Sunan.” “Memang apa permintaan adikku itu?” “Ia bermaksud meminta daerah ini untuk dibuat situ. Paman segera menghadap pada kakakku. Katanya akan bermanfaat bagi sistem pengairan di kerajaan Timbanganten. ceritakan apa kehendakku.” Keesokan harinya. Paman Patih pun segera menemui Maharaja Inten Dewata di rumahnya.” “Baik. ia pun memberikan keputusan. “Ada apa kalian menemuiku?” “Ampun Gusti.” Sesaat Maharaja Inten Déwata terdiam. permintaannya tidak akan aku kabulkan. Sesaat kemudian. akan saya laksanakan. di lembah gunung Kutu. Sesampainya di sana.“Oh. ia langsung menghadap Maharaja Inten Dewata. saya mendapat tugas dari Kanjeng Sunan untuk menyampaikan permintaannya. Sekarang.

menikmati hidup. seluruh rakyat ditugasi untuk mencari tempat yang baik untuk dibuat situ. beliau tidak bisa memberikan daerahnya untuk dijadikan situ. Paman?” “Ampun Kanjeng Sunan. Namun semua penduduk kerajaan mengatakan hal yang sama bahwa tempat yang baik untuk situ ialah di lembah gunung Kutu.” Setelah mendengar jawaban tersebut. Maharaja Inten Dewata 168 . Sesampainya di istana. Kita cari saja tempat lain. “Bagaimana. ia pun langsung menghadap ke Sunan Rangga Lawe. Tetapi seperti sebelumnya.” Beberapa hari kemudian. ya. Akhirnya Sunan Rangga Lawe pun memerintahkan kembali patihnya untuk membujuk kakaknya agar memberikan daerahnya dijadikan situ.” “Oh. Paman Patih pun segera bergegas untuk menemui Sunan di istana. sudahlah kalau memang begitu. jauh dari hiruk-pikuk kehidupan istana.

Mantri?” “Ampun Kanjeng. Sunan Rangga Lawe pun tidak dapat memaksa karena ia merasa hormat pada sang kakak.” “Ya. apabila perkataan saya terlalu lancang.” “Maksud. ada apa. “Ada apa. yang menjadi raja di Timbanganten sekarang adalah paduka Kanjeng. Ia tidak mau menyerahkan daerahnya untuk dijadikan situ. katakan saja!” “Begini Kanjeng. untuk sementara pembangunan situ pun ditunda.” “Memang kenapa?” “Artinya bahwa seorang raja itu harus berwibawa dan mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah Timbanganten.tetap pada pendiriannya. Mantri?” 169 . Beberapa hari kemudian ada seorang mahamantri yang menghadap pada Sunan Rangga Lawe. Akhirnya. sebelumnya saya meminta maaf.

Kanjeng. artinya di Timbanganten terdapat dua raja. Menurut hemat saya. Setibanya di lembah gunung Kutu. Bahkan pengerjaannya. Ia pun langsung memerintahkan seluruh rakyatnya agar membawa peralatan untuk membuat situ di lembah gunung Kutu.” Mendengar perkataan mahamantri tersebut. seluruh rakyat pun segera bekerja membuat situ. Semua bersemangat karena dilihat 170 . Kanjeng Sunan segera memerintahkan karena untuk membuat akan pesanggrahan. Kontan saja seluruh rakyat Timbanganten berbondongbondong membangun situ. “Mulailah kalian sekarang bekerja membangun situ!” Mulai hari itu.“Ampun. dipimpin langsung oleh Sunan Rangga Lawe. Sunan Rangga Lawe pun terpengaruh. membuat situ menghabiskan waktu berminggu-minggu. Kanjeng sebenarnya bisa memaksa pada Maharaja Inten Dewata untuk segera menyerahkan lahannya untuk dijadikan situ. Kalau paduka Kanjeng tidak sanggup.

Setelah beberapa minggu. sebagian lagi dialirkan ke seluruh pesawahan dan perkebunan di wilayah kerajaan Timbanganten. Aku akan pergi ke puncak gunung Kutu. Ia merasa dihianati oleh adiknya sendiri. ambilkan aku jolang dan bawakanlah sekepal tanah. Airnya sangat jernih memenuhi kubangan situ. situ pun berhasil dibuat.” Tak lama kemudian. karena dapat bertani dan berladang kembali.langsung oleh raja. Hanya saja Maharaja Inten Dewata sangat marah. Lalu 171 . Batara Rambut Putih pun membawa jolang diisi air dan sekepal tanah.” “Untuk apa Nyai?” “Ah. Maharaja Inten Dewata mengajak Batara Rambut Putih untuk pergi menuju gunung kecil yang terletak bersebelahan dengan gunung Kutu. Kelak gunung kecil ini bernama gunung Putri. Dalam kemarahannya itulah. hanya untuk melihat saja situ buatan adikku itu. “Aki. Seluruh penduduk pun bahagia.

gunung Kutu pun menumpahkan lahar. Mayat yang meninggal. lalu Maharaja Inten Dewata menaburkan tanah dan menumpahkan air dari jolang.pergilah Maharaja Inten Dewata dan Batara Rambut Putih ke puncak gunung Guntur. Setelah itu. Langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung. Pada peristiwa itu. tiba-tiba ada kejadian aneh. ia pun turun kembali dari puncak gunung. Kono kejadian tersebut berlangsung selama 40 hari 40 malam tanpa henti. batu panas. Rumah Penduduk penduduk banyak banyak yang hancur. dan hujan abu ke seluruh pelosok kerajaan. banyak penduduk Timbanganten yang mengungsi ke kerajaan Sukapura. Sesaat setelah sampai ke rumahnya. Sumedanglarang. dan Banjar Patroman. Sesampainya ke puncak gunung. Sesaat kemudian terdengar suara petir menyambar beberapa kali. Dari puncak gunung tibatiba kelihatan api menyala. bergelimpangan di mana-mana. Setelah itu. Ia 172 . Adapun Sunan Rangga Lawe tetap berdiam diri di Timbanganten.

maka segera ia pergi untuk menemui kakaknya. langsung saja Sunan Rangga Lawe sungkem (bersujud) pada kakaknya untuk meminta maaf. dan hujan abu dari gunung Kutu. Suara petir pun mendadak berhenti. alangkah baiknya apabila kita bersama mengolah kerajaan. Sesampainya di sana.” “Aku maafkan engkau adikku. bahwa terjadinya bencana demikian. ia segera melihat kakaknya tengah berdiri di atas batu di bukit sebelah gunung Kutu. maka berhentilah hujan batu panas. Namun hatinya mulai tersadar. Maharaja Inten Dewata.” 173 .tetap bersikap sebagai figur raja yang bertanggungjawab. Sesaat setelah berpikir demikian. lahar.” Setelah keluar perkataan itu. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. “Kakanda. karena ulahnya yang tidak menghormati lagi kakaknya. “Kakak. Dengan sigapnya.

selanjutnya dinamakan gunung Putri. aku tidak akan pulang ke istana.“Adikku. sambat (panggil) saja namaku dan Aki Batara Rambut Putih. karena sering terdengar suara guntur (petir). wilayah Timbanganten masuk ke wilayah kecamatan Tarogong Kabupaten Garut. Korobokan sekarang dikenal dengan nama Tegalurug. Apabila suatu saat nanti. Adakalanya masarakat Timbanganten menyebutnya gunung Agung. Kini. gunung Kutu namanya diubah menjadi gunung Guntur. Semenjak itulah.” Sesaat setelah itu. terjadi lagi kejadian seperti ini. Kemudian situ yang dibuat oleh rakyat Timbanganten sedangkan disebut ibukota Situ Taman Timbanganten. Adapun bukit kecil tempat Sunan Rangga Lawe bersujud pada Maharaja Inten Dewata. untuk mengenang keagungan Maharaja Inten Dewata. Aku sudah betah di sini. *** 174 . Maharaja Inten Dewata dan Aki Batara Rambut Putih pun menghilang dari hadapan Sunan Rangga Lawe.

Rumahnya mewah. Setengah tanah kampung telah menjadi miliknya. karena tidak ada seorang pun lelaki yang 175 jatuh hati padanya. Penduduk kampung menyebutnya dengan nama Nyi Endit. Hal itu dikarenakan seluruh hasil panen dari sawah atau ladang mereka. Namun sayangnya.6. Lumbung padinya berlimpah ruah. Hasil sawah dan ladang selalu berlimpah ruah setiap musim panen. para penduduk di kampung tersebut hidupnya tetap miskin dan selalu tertimpa musibah kelaparan. semuanya harus dijual dengan harga murah kepada seorang tengkulak perempuan yang sangat pedit (pelit). Nyi Endit tentu saja menjadi orang kaya di kampung itu. Tanah di kampung tersebut sangat subur dan tidak pernah kekurangan air. Ia hidup menjomblo. SASAKALA SITU BAGENDIT Di sebelah utara kabupaten Garut. . terdapat sebuah kampung yang penduduknya kebanyakan tatanen (bertani).

“Wah. Ya.. penduduk harus membeli bahan pokok sehari-hari dari Nyi Endit yang harganya lima kali lipat lebih mahal dari harga sebelumnya. mungkin sampai kita meninggal tidak akan pernah untung.” “Selama si lintah darat itu masih hidup. Maka jika musim kemarau.Kesehariannya hanya ditemani puluhan centengnya yang bengis.. Mereka akan membunuh penduduk kampung yang ketahuan tidak menjual hasil panennya kepada Nyi Endit. ya?” kata seorang petani. benar. “Kapan kita akan untung dari hasil panen. ya Kang?” “Ya...” 176 . Waktu pun berjalan mengikuti kehendak Sang Pencipta. hari itu seluruh penduduk kampung akan panen. Centeng-centeng Nyi Endit tersebut didatangkan dari kampung lain. Maka tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu.

“Apakah semua padi sudah masuk?” “Sudah atuh.ha.. Sementara sesudah panen. Setelah panen pun penduduk akan terus mengeluh.. Aku akan naikkan harganya lima kali lipat. 177 .” Itulah keluh-kesah pada hari panen.. Kang?” “Iya.! Kemarau akan tiba. tapi kita tetap saja harus menjualnya ke nenek lintah darat itu. Nyi Endit dengan ditemani beberapa centengnya akan segera memeriksa leuit (lumbung padi). ya. Kalau ketahuan menjual padi ke kampung lain. mereka pun pasti akan membeli padi padaku. Nyi!” jawab centeng bernama Komar. “Ha.ha.. pasti kita akan dibunuh centengnya. Aku akan semakin kaya!” kata Nyi Endit sambil tertawa lepas..” “Iya.“Katanya di kampung sebelah harga padi lagi naik. “Komar!” kata nyai Endit.

Sementara Nyi Endit menjual mahal barang dagangannya. “Keparat nenek lintah darat itu. 178 .Benar saja.” kata seorang lagi. padahal tadinya ia beli murah dari hasil panen penduduk kampung. Penduduk kampung mulai kehabisan bahan makanan dan mulai banyak yang kelaparan. “Semoga mendapat siksa dari Tuhan. seluruh penduduk kampung diundang untuk menghadiri sukuran Nyi Endit. Pada suatu hari. Begitulah biasanya pembicaraan penduduk kampung apabila bertemu di surau atau di warung kopi. awal akhir pasti Tuhan akan menghukumnya. Nyi Endit mengadakan sukuran karena telah membeli sehektar tanah di kampung sebelah. beberapa bulan kemudian tibalah musim kemarau. Kesewenangan dan kepelitan Nyi Endit memang sudah sabiwir hiji (menjadi menu pembicaraan semua penduduk). Konon menurut centengnya.” kata seorang penduduk.

Namun karena banyak penduduk yang kelaparan. ia pun bertanya pada seorang penduduk. ia hanya menyediakan air putih dan hidangan alakadarnya. Mereka berpikir akan makan lezat dan diberi uang oleh Nyi Endit. Kek. Setelah itu.Penduduk kampung sedikit bahagia diundang sukuran oleh Nyi Endit tersebut. siapa yang menggelar acara sukuran ini?” “Nyi Endit. Itupun banyak penduduk desa yang tidak kebagian.” 179 . “Mau numpang tanya. Namun semua salah duga. akhirnya acara sukuran pun ramai juga. tiba-tiba datang seorang kakek yang kelihatannya sedang kelelahan dan kehausan. Memangnya kenapa?” “Begini. ketika datang ke rumah Nyi Endit. Ketika sukuran sedang berlangsung. sudah berjalan cukup jauh. Dia berjalan mendekati pintu rumah Nyi Endit. Banyak penduduk yang sengaja datang karena ingin mendapat nasi. apakah kakek boleh meminta segelas air. Kakek haus sekali.

Keluar kau pengemis!” tiba-tiba Nyi Endit menghardik kakek tersebut.“Apa. kita mengungsi!” “Wah.” Setelah itu. kemudian datang Nyi Karsih.. Si Kakek menyuruh aku memberitahu kalian semua. Saya dapat amanat dari seorang kakek. “Kalian semua pulanglah. yang benar saja Karsih. semuanya. Lalu ia berkata pada semua yang hadir di rumah Nyi Endit. 180 .mau meminta air? Enak saja. Mendengar hardikan Nyi Endit seperti itu. ayo kita pulang. penduduk kampung hanya diam mematung. siang cerah begini ada banjir?” cetus seorang penduduk. “Ibu. si kakek pun pergi meninggalkan rumah Nyi Endit.. Namun anehnya si kakek itu hanya tersenyum simpul. Bapa. Tidak beberapa lama. Ayo. Jangan hadiri acara sukuran orang seperti ini. bahwa hari ini akan terjadi banjir yang dapat menenggelamkan kampung kita.

“Saya hanya diberi tahu oleh si kakek. Kalau tidak percaya, ya sudah,” Nyi Karsih pun lalu pergi cepat-cepat. Nyi Endit dan centeng-centengnya hanya

tertawa mendengar kabar dari Nyi Karsih seperti itu. Namun sebagian penduduk ada yang langsung

mengikuti Nyi Karsih. Bahkan pada akhirnya semua penduduk pun meninggalkan rumah Nyi Endit. Mereka ke rumahnya masing-masing untuk membawa barang berharga, lalu pergi mengungsi. Setelah semua penduduk keluar dari rumahnya, Nyi Endit hanya tertawa terbahak-bahak bersama centeng-centengnya. Namun tiba-tiba, datanglah si kakek yang meminta air tadi. Lalu ia berbicara dengan lantang. “Hei, Endit, selama ini Tuhan memberimu kekayaan yang berlimpah. Tapi kamu pelit, tidak bersyukur, dan mencekik penduduk dengan harga mahal. Kelakuanmu seperti lintah darat. Maka mulai

181

saat ini, aku akan menghukummu. Seluruh hartamu akan tenggelam dan engkau aku kutuk menjadi lintah!” “Ha..ha...ha…mau menghukumku? Mau mengutukku jadi lintah? Emangnya engkau ini Tuhan? Kamu tidak tahu aku bisa menghukummu dengan centeng-centengku? Sekali tebas, kau akan mati. Sekarang, pergi dari sini!” hardik Nyai Endit. Lalu si kakek pun pergi dari hadapan Nyi Endit dan centeng-centengnya. Sebelumnya si kakek pun menancapkan tongkat kayunya di hadapan Nyi Endit. “Dasar kakek gila, malah meninggalkan tongkat di hadapanku,” gumam Nyi Endit sambil mencabut tongkat yang ditancapkan si kakek tadi. “Hey, kakek gila, ini tongkatmu,” kata Nyi Endit. “Itu hukuman untukmu...!” jawab si kakek. Belum juga Nyi Endit berucap, tiba-tiba si kakek pun menghilang. Tentu saja Nyi Endit dan centengcentengnya merasa kaget. Apalagi dari bekas tancapan tongkat tersebut menyembur air. Byuuur....!

182

Semakin lama, air pun semakin menyembur. Segera centeng-centeng Nyi Endit menutupi lubang tempat menyemburnya air tersebut. Namun aneh, air yang menyembur semakin banyak. Bahkan

bermunculan semburan-semburan lain di dalam dan di sekitar rumah Nyi Endit. Kemudian Nyi Endit pun mulai panik. Semua centeng-centengnya kalang kabut. Air semakin besar, meluap deras. Rumah Nyi Endit mulai terkena banjir. Sawah-sawah penduduk

mulai tergenang. Melihat banjir yang tiba-tiba, centengcentengnya segera meninggalkan Nyi Endit. Adapun penduduk kampung lebih dulu telah mengungsi. Sekarang tinggal Nyi Endit berusaha berlari menyelamatkan diri bersama hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya. Nyi Endit pun

meninggal ditelan air bah. Melihat kejadian tersebut, semua penduduk sadar bahwa Nyi Endit telah dihukum oleh Tuhan atas kekikirannya selama ini. Bahkan setelah sekian lama, air yang membanjiri perkampungan itu pun tidak
183

kunjung surut. Kemudian membentuk sebuah telaga atau menurut bahasa penduduk setempat dinamakan situ. Situ itu pun kemudian dinamakan Situ Bagendit, merujuk pada nama Baginda Endit yang memiliki karakter pedit (pelit). Seiring waktu, tertanam kepercayaan pada penduduk setempat bahwa kadang-kadang di telaga tersebut muncul lintah sebesar kasur di dasar danau. Konon lintah itu merupakan penjelmaan Nyi Endit yang dikutuk karena kekikiran dan perilakunya pada waktu air bah menenggelamkan dirinya. Kini, Situ Bagendit menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Garut dan banyak dikunjungi wisatawan. ***

184

7. Suatu ketika. makmur. menanyakan selanjutnya maksud Adiwijaya tamu kedatangan tersebut dengan disaksikan oleh para pembesar Limbangan. Limbangan termasuk salah satu kabupaten di wilayah Priangan. Kabupaten Limbangan merupakan daerah yang subur. Pada masa itu. dan ramai dikunjungi pedagang dari Belanda. Seluruh rakyat pun menghormati dan mencintainya. Setelah dijamu seperti tamu-tamu lain Adipati yang datang ke pun oleh seorang bupati bernama Adipati Limbangan. “Ada apa tuan-tuan datang ke Limbangan?” 185 . dipimpin Adiwijaya. Terlebih Adipati Adiwijaya dikenal sebagai bupati yang adil dan bijaksana dalam memimpin. Adipati Adiwijaya kedatangan tiga orang utusan Letnan Gubernur Raffles dari Batavia. SASAKALA GARUT Pada masa kolonial. Tamu tersebut diterima di pendopo kabupaten.

Begitulah intinya isi surat ini. lalu Adipati Adiwijaya berdiri dari tempat duduknya. Kanjeng!. Sejurus kemudian. kami disuruh oleh Lentan Gubernur Raffles untuk menyampaikan surat. Surat pun diterima oleh Adipati Adiwijaya. 186 . “Perlu kalian ketahui bersama. Dalam surat disebutkan alasannya agar daerah Priangan segera berkembang. Cukup lama Adipati Adiwijaya merenung setelah selesai membaca surat dari Raffles tersebut. begitu.” kata salah seorang tamu yang berperawakan tinggi besar. “Oh. setelah itu lalu dibacanya.” kata Adipati Adiwijaya kepada para tamu dan pembesar Limbangan di pendopo kabupaten. tuan?” “Ini suratnya. bahwa Tuan Raffles menyampaikan surat yang isinya agar memindahkan kota kabupaten Limbangan ke daerah lain.“Kanjeng Adipati. Mana suratnya.” tamu Belanda itu menyerahkan surat kepada Adipati Adiwijaya.

kemudian Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kepada patihnya untuk mengurus akomodasi ketiga tamu tersebut. Maka rombongan dari Limbangan pun berangkat ke arah selatan. Semoga Kanjeng Adipati dapat menerima kami. perintah Tuan Raffles ini akan kupikirkan beberapa hari ke depan.” kata tamu Belanda tersebut. Nah. Tujuh hari kemudian. kami akan tinggal cukup lama di sini. “Tuan dari Batavia. kemudian Adipati Adiwijaya menugaskan kepada patih dan beberapa pembesar kabupaten Limbangan untuk segera mencari daerah yang baik untuk dijadikan ibukota. berarti akan cukup lama tinggal di Limbangan?” “Benar Kanjeng Adipati. Setelah itu. dalam surat disebutkan bahwa tuan-tuan ini harus menemani kami dalam mencari daerah baru tersebut. Tidak ketinggalan tiga orang Belanda 187 .Selanjutnya ia pun berkata. aku baru akan menugaskan beberapa prajurit Limbangan untuk mencari daerah baru yang baik untuk ibukota. Setelah itu.

Mereka berharap kampungnya akan semakin ramai dan berkembang. Setelah tiga hari perjalanan. akhirnya rombongan dari Limbangan itu pun sampailah ke sebuah daerah yang disebut kampung Cumuruh. sebelah timur perkampungan Suci. kemudian rombongan yang dipimpin oleh Patih Limbangan itu segera menyampaikan maksudnya kepada ketua kampung dan seluruh penduduk Suci.dari Batavia diajak turut serta untuk mencari daerah baru itu. bahwa daerah di bawah kekuasaannya akan dijadikan ibukota yang baru. dan melihat keadaan geografis daerah Cumuruh. Setelah satu malam menginap. tentu saja seluruh penduduk di kampung Suci sangat bergembira. Ngababakan (membuka lahan baru untuk pemukiman) pun dimulai. Mendengar bahwa kampungnya terpilih untuk dijadikan ibukota kabupaten Limbangan. Seluruh rombongan dan penduduk Suci bergotong royong membangun semua 188 .

189 . Tidak lama setelah itu. Namun sayangnya.fasilitas yang dibutuhkan dari untuk sebuah ibukota kabupaten. Adipati Adiwijaya pun segera memindahkan ibukota Limbangan ke Suci. Akhirnya Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kembali pada patihnya untuk mencari tempat lain untuk dijadikan ibukota yang baru. Setelah banyak dikunjungi pendatang dan banyak pula yang bermukim. Tidak lupa tiga orang Belanda yang bertindak sebagai pengawas dari Batavia turut serta. Hingga setelah beberapa hari mencari. Ia pun sangat setuju dengan tempat yang barunya tersebut. daerah Suci sering kekurangan air. segera Adipati Adiwijaya mendapati kekurangan di ibukota Limbangan yang baru tersebut. Rombongan pencari daerah baru pun segera melaksanakan pekerjaannya. dan beberapa rumah untuk menerima tamu. setelah beberapa bulan menetap. rumah-rumah pembesar kabupaten. karena kontur tanahnya sangat baik. alun-alun. Mulai pendopo.

Maka setelah mendapat restu. Berbondong-bondong penduduk Limbangan ngababakan di daerah itu. Daerah itu pun dikelilingi oleh pemandangan yang indah karena berada di antara lembah gunung Cikuray.rombongan pun akhirnya menemukan suatu tempat yang cocok dijadikan ibukota. segera saja perintahkan seluruh rakyat untuk bergotong royong ngababakan di tempat itu!” ujar Adipati Adiwijaya. Papandayan. Sebagai ketua rombongan. Guntur. dan Karacak. kalau memang tempat itu baik untuk ibukota Limbangan yang baru. Patih Limbangan pun segera melapor kepada Adipati Adiwijaya. Selain kontur tanahnya datar dan subur. Galunggung. Bahkan beberapa di antaranya ada yang ditugaskan secara khusus mencari kubangan tempat keluarnya mata air. 190 . “Paman Patih. Paman Patih pun segera mengerahkan seluruh warga Limbangan untuk membuka lahan baru di daerah tersebut. juga terdapat mata air bersih yang mengalir dari sungai Cimanuk.

seorang pekerja kakarut (tergores) tangannya oleh duri tanaman itu. Pekerjaan ngababad pun untuk sementara dihentikan. Pekerjaan pun dilanjutkan kembali. Lalu Paman Patih segera memeriksa tangan pekerja yang tergores. Namun setelah diperiksa. maka Paman Patih segera memerintahkan kepada beberapa pekerja untuk ngababad (memangkas) tanaman berduri tersebut. sehingga sulit untuk diperiksa. karena ia takut tanaman berduri tersebut beracun.Di hari ketujuh ngababakan. 191 . pada saat ngababad. Setelah dicek. Nah. benar saja di tempat itu terdapat kubangan yang airnya berasal dari sebuah mata air. Oleh karena itu. Kubangan tersebut tertutupi oleh jukut cucukan (tanaman berduri). seorang pekerja melapor kepada Paman Patih bahwa ia menemukan kubangan tempat keluarnya sumber mata air. Hingga tangannya mengeluarkan darah. ternyata tanaman berduri itu tidak beracun.

tanaman berduri yang menggores pekerja itu. Tuan. salah seorang Belanda utusan dari Batavia segera bertanya: “Kenapa kamu berdarah?” Pekerja yang tergores pun segera menjawab dalam logat bahasa Sunda.Melihat tangan seorang pekerja berdarah. karena lidahnya kurang fasih berbahasa Sunda. Mendengar ucapan Belanda seperti itu. 192 . “Kakarut ku jukut. Semenjak itulah. Adapun kubangannya dinamakan Cigarut.” “Apa? Gagarut ku jukut?. Ia meniru kata kakarut menjadi gagarut. baik dengan tujuan berdagang maupun yang sengaja menjadi pemukim.” kata orang Belanda itu sambil mengernyitkan kening. Beberapa bulan kemudian. daerah di pinggir sungai Cimanuk itu pun segera banyak dikunjungi pengunjung dari daerah lain. semua pekerja yang sedang ngababakan menertawakannya. meniru ucapan Belanda yang kurang fasih berbahasa Sunda itu. oleh rombongan dinamakan Ki Garut.

Kemudian penduduk pun menamakan ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut. diambil dari nama tanaman Ki Garut dan mata air Cigarut pada waktu ngababakan dulu.Apalagi setelah Adipati Adiwijaya secara dari resmi memindahkan ibukota Limbangan Cumuruh.” ujar Adipati Adiwijaya di depan seluruh rakyatnya. dan Arab. kota Garut semakin berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan kabupaten Limbangan. Cina. daerah itu pun berkembang pesat. Semenjak itu. 193 . Cetusan nama Garut itu pun disetujui pula oleh Bupati Adipati Adiwijaya. Garut banyak didatangi oleh para pendatang baik dari wilayah Priangan. Bahkan Letnan Gubernur Raffles di Batavia pun konon merestui ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut. “Aku restui nama Garut ini untuk ibukota kabupaten Limbangan yang baru. Pada masa itu. maupun pendatang dari Belanda. Semoga membawa berkah dan kesejahteraan bagi rakyat.

194 . *** *) Limbangan kini hanya menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Garut.Hingga akhirnya pemerintah kolonial mengganti nama kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut hingga kita kenal sekarang.

Nyai Punyai Agung menjadi pewaris tunggal Negara Sukakerta. Wirawangsa 195 . Dari perkawinan tersebut lahirlah Wirawangsa. diapit dua sungai kecil. Ia memiliki seorang puteri tunggal yang bernama Nyai Punyai Agung (Ageng). SASAKALA TASIKMALAYA (SUKAPURA) Tersebutlah Surakerta. Daerah ini sekarang menjadi nama sebuah desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Salopa. kira-kira 5 km sebelah Timur Kecamatan Sukaraja. diselingi sawah-sawah. sebuah negara yang bernama Tengah. yaitu Sungai Ciwulan dan Sungai Cipinaha. Sebagai puteri tunggal. Ibukotanya bernama Dayeuh Tanahnya berbukit-bukit kecil. Pada waktu itu. penguasa Negara Surakerta itu bernama Sareupeun Cibuniagung.8. Nyai Punyai Agung menikah dengan Entol Wiraha yang menggantikannya menjadi penguasa Surakerta.

status negara berubah menjadi umbul. Tindakan ini oleh Mataram dianggap sebagai pemberontakan karena Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Wirawangsa.berkuasa di Surakerta menggantikan kedudukan ayahnya sampai pecah pemberontakan Dipati Ukur. Dipati Ukur berpindahpindah tempat dari Gunung Pongporang ke Gunung 196 . Umbul Surakerta. Dipati Ukur membawa sembilan umbul. Tetapi Dipati Ukur gagal dalam penyerangan itu karena Tumenggung bahurekso dan tentaranya tidak datang waktu yang telah ditentukan. umbul Surakerta berada di wilayah Priangan yang dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata. Ketika Dipati Ukur diperintah Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Ia bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul. Sewaktu Wirawangsa berkuasa. Waktu itu. di antaranya.

Umbul Mananggel. Sementara umbul dari Priangan Timur tidak setuju akan pemberontakan tersebut seperti Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa. Sultan Agung memerintahkan untuk menangkapnya perjanjian. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. hidup atau mati dengan yang suatu berhasil bahwa barangsiapa 197 . dan Umbul Distrik Indihiang di Galunggung Ki Wangsarana. Karena tindakan Dipati Ukur itu dianggap membahayakan. Umbul Kahuripan. dan Umbul Sagala Herang. kemudian pindah ke Kampung Bungbang bawahan Banten. sebab daerah tempat berlindung Dipati Ukur terletak di antara Banten dan Batavia yang menjadi musuh Mataram.Lumbung di daerah Batulayang. Pemberontakan Dipati Ukur ini sangat membahayakan kedudukan Sultan Agung di Mataram. Umbul Madang Sasigar. Umbul Sindangkasih Ki Somahita. yaitu Umbul Batulayang. Umbul Saunggatang. Pada waktu itu umbul yang mendukung pemberontakan Dipati Ukur hanya umbul dari Priangan Tengah. Umbul taraju.

tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu. Dipati Ukur tertangkap di daerah Cengkareng sekarang oleh tiga umbul Priangan Timur. Ketiga umbul tersebut juga menangkap delapan umbul lainnya yang biluk (setia) kepada Dipati Ukur. Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala. dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati. dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur. Ki Wirawangsa diangkat menjadi mantri agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga umbul yang ikut menangkap Dipati Ukur adalah Umbul Surakerta Ki Wirawangsa. ketiga umbul tersebut diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita.menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah. Ki Astamanggala diangkat menjadi mantri agung Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangun198 . Atas jasanya. kemudian dibawa ke Mataram.

Setelah Sukapura. terletak di tepi sungai Ciwulan. Perubahan nama Leuwi Loa menjadi Sukapura berdasarkan alasan karena di Leuwi Loa didirikan pura yang bermakna „kraton‟ dan suka bermakna „asal‟ atau „tiang‟. 199 I terkenal dengan sebutan Dalem . Oleh karena itu. Wiradadaha Baganjing. sukapura bermakna jejernya karaton karena di tempat inilah berdirinya bupati Sukapura yang pertama. Raden Tumenggung Wiradadaha (Wiradadaha I) yangberjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat.angun. Oleh karena perpindahan ibukota pindah ke Sukapura. dan Ki Somahita menjadi Parakanmuncang Tanubaya. kota diangkat menjadi dengan gelar mantri agung Tumenggung mantri agung dari kabupaten pun dipindahkan Dayeuh Tengah di Sukakerta ke Leuwi Loa (wilayah desa Sukapura) daerah Sukaraja sekarang. nama kabupaten pun disebut Kabupaten Sukapura. Jadi. dan dimakamkan di Pasir Baganjing.

putra keempat Wiradadaha I. Namun. sehingga ia lebih dikenal dengan Dalem Sawidak. Setelah meninggal dunia. Raden Wiradadaha II digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Anggadipa I.Pengganti Wiradadaha I adalah putranya yang ketiga yang bernama Raden Jayamanggala dengan gelar raden Tumenggung Wiradadaha II. Setelah menjadi bupati. Wiradadaha II tidak lama berkuasa karena pada tahun pengangkatannya dunia karena sebagai tumenggung meninggal hanya dihukum mati. Dia terkenal sebagai bupati Sukapura terkaya dan memiliki anak sebanyak 62 orang. Setelah meninggal dunia. Oleh karenaitu. Keluarganya mendapatkan tambela yang berisi mayat Wiradadaha II. 200 . Wiradadaha III digantikan oleh anaknya Raden Subangmanggala dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha IV. Raden Anggadipa bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III. Wiradadaha II terkenal dengan julukan Dalem Tambela.

Ia menikahi putri bupati Parakanmuncang. Wiradadaha VI mengundurkan diri. Ia juga disebut Raden ia Adipati di Setelah wafat. dan digantikan oleh anaknya Raden Jayamanggala II dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII. tetapi lebih dikenal dengan sebutan Dalem Tumenggung Secapati. 201 . dia menggunakan nama Raden Tumenggung Wiradadaha V. Karena sering bertolak belakang dengan pemerintah Kolonial. Raden Wiradadaha IV digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Raden Secapati. Wiradadaha V digantikan oleh putranya yang bernama raden Jayangadireja dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VI. Setelah diangkat menjadi bupati. dimakamkan Pasirtando. sehingga terkenal dengans ebutan Dalem Pasirtando. Raden Secapati adalah cucu Dalem Tamela. Setelah wafat.Raden Wiradadaha IV meninggal dunia dan dimakamkan di Pamijahan dekat gurunya Syeh Abdul Muhyi dan dikenal dengan sebutan Dalem Pamijahan. Wiratanubaya.

Dalem Talun mengundurkan diri. selanjutkan dikembalikan lagi ke Wiradadaha VIII dari bupati Limbangan. yakni raden Tumenggung Surialaga. kabupaten Sukapura diserahkan kembali ke bupati Limbangan. yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Talun. Namun. Dua tahun kemudian. Cijulang. Banjar. sebagian dari Galuh: Pasirpanjang.Pengganti Wiradadaha VII adalah putranya yang kelima Raden demang Anggadipa dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII. kecuali daerah Suci dan Panembong. Indihiang. 202 . Wiraradaha VIII dipecat. Ketika ia menolak menanam nila. Sukapura dialihkan ke Kabupaten Limbangan. dan Tasikmalaya. Parigi. Wilayahnya meliputi sebagian dari Sumedang: Malangbong. Kawasen. Sukapura memiliki wilayah yang sangat luas. Ciawi. Pada masa kekuasaan Widadaha VIII. Kabupaten Sukapura didirikan kembaliu dengan bupatinya turunan bupati Sumedang. Singaparna. Ia terkenal dengan sebutanh Dalem Sepuh.

yakni Sukapura afdeeling dan afdeeling. batuwangi. yakni afdeeling Sukapura Kolot. Mandala. dan Kalipucang. asalnya Taraju. dan Kalipucang). yakni afdeeling Mangunreja (Panyeredan. distrik Wilayah hanya Mangunreja. banjar. meliputi dua Nagara. tanah yang luas ini disebut Tanah Galunggung. Kandangwesi.Mandala. Panyeredan. dan Tasikmalaya. Sukaraja. Parung). Karang. Sukapura Cikembulan. kontrol dan Selacau). Manonjaya (Pasirpanjang. Parung. Karena terlalu luas. Karang. Taraju. Nagara (Pameungpeuk). Kabupaten Sukapura dibagi lagi menjadi tiga bagian. dan afdeeling Cikajang (Batuwangi. Setelah memiliki wilayah yang luas. Sukapura Kolot dengan ibukota Mangunreja meliputi dua afdeling. Cijulang. Sukaraja. Sukapura. Cikajang. dan Malangbong. ibukota Sukapura di Sukaraja dipindahkan ke Manonjaya. Afdeeling Tasikmalaya dengan ibukota Tasikmalaya mencakup Ciawi. Cikembulan. Indihiang. Kawasen) afdeeling Parigi (Parigi. Pada 203 .

T. Wiratanubaya digantikan oleh Raden Rangga Tanuwangsa dengan gelar raden Wiraadegdaha (bupati Sukapura XI). yang membangun Kota Manonjaya. bupati Sukapura X. R. Danuningrat dengan gelar R. Setelah wafat. Danuningrat digantikan oleh Raden Rangga Wiradimanggala dengan gelar R.A.waktu itu.T. Wiratanubaya. Wiratanubaya lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Karena tidak punya anak. namanya menjadi Wirahadiningrat. Wiraadegdaha pindahke Bogor dan terkenal dengan sebutan Dalem Bogor.T. Kemudian mendapat gelar adipati sehingga namanya menjadi raden Adipati Wiraadegdaha. Wiradadaha IX. Dia pernah diberi 204 . Setelah wafat. Setelah diturunkan dari jabatannya. bupati Sukapura XII. Kemudian digantikan oleh adiknya R.T. patih Manonjaya. Jabatannya digantikan adiknya Raden Setelah demang menjadi danukusumah.T. bupati. R. R. Wiradadaha VIII wafat dan dimakamkan di Tanjung Malaya.

mendapat payung kuning.gelar adipati. Penggantinya adalah Raden Rangga Wiratanuwangsa. putrana Dalem Bogor. Setelah wilayah afdeeling Mangunreja menjadi bawahan Sukapura. dan Bintang Oranye Nassau. Pada awalnya daerah yang disebut Sukapura itu bernama Tawang atau Galunggung. Tawang berarti „sawah‟ 205 . Sering juga disebut Tawang-Galunggung. ibukota Sukapura dipindahkan dari manonjaya ke Tasikmalaya. yakni sebagian menjadi bawahan Limbangdan dan sebagian menjadi bawahan Sumedang. Setelah menjadi bupati. Pada masa ini. sedangkan Distrik Malangbong dibagi dua. bupatui Sukapura XIII.T. Sejak itulah kabupaten Sukapura berubah nama menjadi Tasikmalaya. sehingga mendapat sebutan Dalem Bintang. Wiraadiningrat. diganti namanya menjadi R. sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Aria. Dalem Bintang wafat. Dia bupati pertama yang mendapat gelar aria. dan afdeeling Cikajang menjadi bawahan Kabupaten Limbangan.

atau „tempat yang luas terbuka‟. 206 . maksudnya banyak pasir di manamana. Tasikmalaya mengandung arti „keusik ngalayah‟. Penyebutan Tasikmalaya menuncul setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi Tasik „danau. laut‟ dan malaya dari (ma)layah bermakna „ngalayah‟ atau „deretan pegunungan di pantai Malabar (India)‟.

karena pada masa itu sering dilanda banjir. Ia menjadi bupati Karawang berkedudukan di Wanayasa sampai akhirnya diganti oleh adiknya yang bernama Raden Aria Suryawinata atau lebih dikenal dengan nama Dalem Solawat. ibukota kabupaten Karawang dipindahkeun lagi dari Wanayasa ke daerah Lebak. bahwa Dalem Solawat harus memindahkan ibukota ke daerah Lebak dengan ciri-ciri di daerah tersebut harus 207 . SASAKALA PURWAKARTA Pada masa Dalem Santri menjadi bupati Karawang. SASAKALA WILAYAH PURWASUKA 1. Pada masa kepemimpinan Dalem Solawat. Pemindahan ibukota ini diawali dari tabir mimpi. ia memindahkan ibukota kabupaten ke daerah Wanayasa. Lebak berarti dataran rendah.C. karena memang wilayah Wanayasa berada lebih tinggi dari wilayah Lebak.

“Benarkah Paman Wedana tempat itu telah engkau temukan?” “Benar. “Ampun Kanjeng. Kanjeng.” 208 .” kata wedana ketika menghadap Kanjeng Dalem di pendopo. Segera saja ia pun menghadap Raden Aria Suryawinata di Wanayasa. Pencarian dimulai pada hari Senin. Setelah sekian lama mencari. akhirnya wedana itu pun menemukan sebuah kubangan tempat mandi badak putih. hamba telah menemukan daerah yang dimaksud dalam mimpi itu. Sebelumnya. Dalem Solawat memerintahkan pada salah seorang cutak (wedana) bawahannya. Berhari-hari wedana tersebut mencari kubangan tempat mandi badak putih yang di tepiannya ditumbuhi pohon tanjung. dalam pencarian daerah Lebak. Alangkah baiknya apabila Kanjeng sendiri melihatnya.ada kubangan air tempat mandi badak putih yang di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung.

lalu Kanjeng Dalem pun menuju tempat yang diceritakan oleh wadana tadi. Sampailah ke tempat kubangan. bahagia pula hati Kanjeng Dalem. Beberapa hari kemudian. yang berarti berhenti di tempat yang sangat dicintai. Di daerah tersebut terdapat sebuah kubangan yang biasa dipakai mandi badak putih dan di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. 209 . “Aku namakan kampung ini Sindangkasih!” ujarnya dengan lantang. Kanjeng Dalem pun segera memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bergotong royong ngababakan (membuka lahan baru) di sekitar kubangan. Setelah melihat daerah tersebut. tempat itu pun segera berubah menjadi lahan baru yang nampaknya sangat baik untuk dijadikan pemukiman. Dengan disaksikan seluruh rakyatnya.Setelah mendapat laporan. Kanjeng Dalem pun menamakan daerah itu Sindangkasih. Tidak memerlukan waktu lama. ternyata keadaannya sesuai dengan impian.

Demikian karena tanah di daerah Sindangkasih sangatlah subur. Masyarakat hidupnya tidak kurang sandang pangan. Kanjeng sayang dan sekali masyarakat Sindangkasih tidak berlanjut. yang tidak pernah kering. Ada yang hanya berdagang. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi orang.Setelah di daerah Sindangkasih banyak penduduk yang bermukim. akhirnya ibukota kabupaten pun dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih. Kubangan tempat mandi badak putih itu pun ternyata hulu cai (sumber air). Seluruh areal pesawahan dan perkebunan daerah Sindangkasih pun pengairannya berasal dari kubangan tersebut. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi pendatang. ketika tiba-tiba banyak 210 . adapula yang memang berniat bermukim. jerih Kanjeng payahnya Namun Dalem Dalem selama pun ini berbahagia membangun kebahagian melihat kabupaten. Semenjak itulah. Semakin hari.

Bahkan kehidupan seluruh penduduk semakin sejahtera dari sebelumnya. Namun karena kesigapan Kanjeng Dalem. masyarakatnya sejahtera. 211 . Masyarakat mulai goyah dan takut.penduduk yang dirampok dan banyak pencurian di mana-mana. lain. Daerah Sindangkasih Semenjak semakin itu pula. Sindangkasih kembali tentram. Ternyata penduduk penduduk asli kelompok pencuri Sindangkasih. pesat daerah perkembangannya. Sindangkasih oleh Kanjeng dalem diganti namanya menjadi Purwakarta. banyaknya perampokan dan pencurian itu dapat direda setelah kelompok penjahatnya tertangkap. Terlebih Kanjeng Dalem memerintah dengan adil dan bijaksana. dari tersebut bukan Mereka merupakan Daerah dan pendatang pun daerah aman.

Dalam bahasa setempat. *** 212 . Nama Purwakarta itulah yang dikenal hingga sekarang. sedangkan karta berarti aman dan sejahtera.” ujar Kanjeng Dalem di hadapan seluruh rakyatnya. kata purwa artinya awal atau asal mula. aku ganti nama kampung ini menjadi Purwakarta.“Semenjak hari ini.

213 . dan berwibawa. Mulai dari kerajaan Dompo. adil. sehingga tidak pernah terjadi pemberontakan. di pesisir pantai utara. SASAKALA PAMANUKAN Pada masa kerajaan Sunda. namun ada juga yang tatanen (bertani). Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain yang melamarnya. Raja Pilangsari terkenal bijak. Namun Milangsari belum berniat menikah. sehingga semua lamaran ditolaknya. Semakin lama semakin banyak raja dan kstaria yang melamar Milangsari. terdapat sebuah kerajaan kecil yang subur dan makmur. Kerajaan tersebut bernama Pilangsari. Seluruh penduduk sangat menghormatinya. Seluruh rakyatnya cukup sandang pangan. Namanya Milangsari. Ia memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita.2. Hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pamayang (nelayan).

raja menjadi bingung.” 214 . Kalau di antara mereka ada yang memiliki burung dengan kicauan bagus. Apa yang dapat aku lakukan dengan keadaan ini?” “Gusti menentukan Prabu. Cirebon. calon bagaimana kalau dalam menantu diadakan pasanggiri (sayembara) saja. Sumedanglarang. di sisi yang lain ia merasa khawatir kerajaannya akan diperangi oleh raja atau ksatria yang lamarannya ditolak oleh putrinya. Di satu sisi. “Paman Patih. Dengan keadaan itu.Malayu. Aku malu pada raja dan kstaria yang ditolak lamarannya oleh putriku. sampai kerajaankerajaan kecil dari Jawa. kenapa kejadiannya menjadi seperti sekarang.” “Maksud paman?” “Kita adakan saja semacam pasanggiri adu kicauan burung. ia sangat bangga akan kecantikan anaknya. Hingga akhirnya ia pun memanggil patih dan anaknya Milangsari. maka berhak menjadi pemenang dan mengawini putri Milangsari.

akan menjadi suami Milangsari. “Kalau keputusannya seperti itu. Paman. Bagaimana menurutmu?” kata raja sambil melirik Milangsari yang sedang tertunduk. sekarang aku bertanya padamu. Adu kicauan burung tidak akan terjadi perkelahian yang dapat merugikan secara fisik.“Kenapa Paman?” tidak pasanggiri adu kesaktian. “Menurut Paman. “Bagus ide tersebut.” jawab Milangsari. bahwa akan diadakan pasanggiri adu kicauan burung. Bagaimana baiknya saja. Bagi siapa saja yang membawa burung dan kicauannya bagus. di alun-alun Pilangsari telah sesak dipenuhi peserta 215 .” Beberpa bulan setelah pengumuman diedarkan. Nah. sekarang aku tugaskan kepada paman patih untuk segera membuat pengumuman ke seluruh pelosok kerajaan. pasanggiri adu kicauan burung akan lebih baik ketimbang adu kesaktian. saya akan mengikuti saja pendapat Paman Patih. Nyai. “Ampun rama.

Pemilihan burung pun telah selesai. Berbagai jenis burung dibawa peserta untuk diadu dalam ajang pasanggiri.pasanggiri adu kicauan burung. akhirnya raja dan putri Milangsari keluar dari keraton menuju alun-alun. Agak lama raja dan putri memilih burung-burung tersebut. Milangsari dan ayahnya terus memilih burungburung yang akan dijadikan pemenang. Sesuai jadwal. Penonton pun ikut larut dalam 216 . Setelah itu mereka langsung memilih burung yang bersuara bagus. seluruh peserta pun membawa burung yang bagus-bagus. Semua peserta harap-harap cemas. bercampur antara rasa takut tidak terpilih dengan perasaan bahagia apabila nanti burungnya terpilih oleh putri. Penonton pun berjejalan memenuhi alun-alun. Selain jumlahnya yang banyak. Raja dan Milangsari akan memilih burung yang bersuara bagus. Peserta banyak yang gundah. Kemudian putri Milangsari naik ke babancong (podium) yang letaknya di sebelah selatan alun-alun. Sebagaimana telah ditentukan sebelumnya.

alun-alun Pilangsari dan sekitarnya dinamakan Pamanukan. putri Milangsari memutuskan bahwa dari sekian banyak burung yang dipasanggirikan. tidak ada yang terpilih. Semua hanyalah misteri. Keraton Pilangsari dirobohkan.kecemasan dan kebahagian karena akan segera mendengar keputusan putri Milangsari. Patih dan para prajuritnya dipenjarakan. Mereka akhirnya mengamuk di alun-alun. Adapun tempat nyedekkeun putri Milangsari disebut Kampung Padek. disedekeun ke arah kaputren. sejak diadakan pasanggiri burung itu. Jelasnya. Sedangkan istana dan 217 . Kontan saja peserta pasanggiri yang kebanyakan raja dan kstaria pilih tanding merasa dihina. yang artinya tempat yang banyak manuk (burung). Semuanya dinyatakan jelek. rajanya disandera. Sungguh di luar dugaan. Adapun putri Milangsari segera dibawa oleh peserta. Bagaimana nasib putri Milangsari? Lalu menikah dengan siapa dan kapan? Tidak ada yang mengetahuinya.

kaputren kerajaan Pilangsari yang hancur. *** 218 . sekarang hanyalah menjadi sebuah kampung kecil bernama Pilangsari di wilayah kabupaten Subang.

3. SASAKALA SAGALAHERANG

Jaman dahulu, seluruh tatar Sunda berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Prabu Siliwangi. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup hampir seluruh pulau Jawa. Setelah kerajaan Pajajaran runtuh,

keturunan Prabu Siliwangi pun menyebar ke seluruh tatar Sunda. Dalem Ciburang, Cianjur, adalah salah seorang keturunan Prabu Siliwangi yang keenam. Namun berbeda dengan Prabu Siliwangi yang adil dan bijak, ia terkenal galak dan bengis. Terutama terhadap rakyat yang tidak memeluk kepercayaan yang sama dengannya. Oleh rakyatnya, ia pun dijuluki Dalem Pandita Bengis. Pada suatu ketika, ke daerah Ciburang menyebar kepercayaan baru, yakni agama Islam. Banyak

rakyatnya yang memeluk agama Islam. Ketika Dalem mengetahuinya, ia sangat berang. Rakyat yang

memeluk Islam akan segera dibunuh oleh prajuritnya
219

yang kejam. Bahkan Raden Aria, putranya sendiri, dilarang keluar dari kadaleman karena takut terpengaruh oleh agama Islam. Raden Aria sangat dimanja. Ia satu-satunya penerus tahta Dalem Ciburang. Untuk mendidik

anaknya, Dalem Ciburang mendatangkan beberapa orang guru dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari guru seni, beladiri, sampai guru dalam ilmu politik. Namun meski dimanja, Raden Aria tetap tidak merasa betah dengan kemewahan kadaleman. Akhirnya ia pun secara sembunyi-sembunyi keluar dari

kadaleman. Bahkan banyak teman-teman sebayanya mengajaknya belajar ngaji dan ilmu keislaman. Hal itu terus berlanjut, sampai akhirnya Raden Aria sangat paham dan memeluk agama Islam. Pada suatu hari, Dalem Ciburang memanggil Raden Aria. Lalu diberi petunjuk tentang agama leluhur yang dipeluknya. Namun Raden Aria selalu membantah dan meluruskan petunjuk dari Dalem Ciburang, ayahnya sendiri, dengan ajaran-ajaran keislaman. Tentu saja
220

Dalem sangat marah dan kaget mengetahui anaknya telah masuk Islam. Sesaat Dalem hanya membisu, matanya tak berkedip, melihat Raden Aria yang tenang sambil tersenyum tipis duduk di hadapannya. Melihat anaknya demikian, muncul sikap bengis dalam diri Dalem Ciburang. Lalu ia segera menyabut pedangnya. Namun ketika akan ditebaskan pada leher Raden Aria, pedang tersebut mendadak terjatuh dan patah. “Lahaola wala kuwwata illa billah,” kata Raden Aria lirih. Beberapa saat keduanya terdiam. Lalu Dalem Ciburang pun mengusir Raden Aria dari kadaleman. “Aria, putraku, ternyata engkau telah berani membantahku. Mulai saat ini, aku perintahkan engkau untuk keluar dari kadaleman. Cadu aku akan menyerahkan kadaleman ini padamu,” kata Dalem Ciburang sambil menunjuk pada Raden Aria. Sedikit perbuatannya pun Raden Aria ia tidak pun menyesali pergi dari

tersebut.

Lalu
221

kadaleman. Raden Aria berjalan ke arah timur dengan tujuan mencari guru untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Makin lama berjalannya semakin jauh dari Ciburang. Selama itu ia hanya makan dedaunan dan daging hewan buruan. Naik gunung, susur sungai, ia lewati dengan sabar dan tawakal. Setelah beberapa bulan, sampailah Raden Aria ke sebuah telaga yang sangat besar. Telaga tersebut airnya sangat jernih. Di tepinya tertanam pohon bambu dan pohon tanjung. Kemudian Raden Aria beristirahat di tepi telaga tersebut. Sesaat ia terpaku melihat keindahan sekeliling telaga. Kemudian ia pun melihat bahwa di tengahtengah telaga ada hamparan batu cadas membentuk nusa (seperti pulau di tengah lautan). Lalu timbul dalam hati Raden Aria untuk bersemedi di atas batu cadas tersebut. Raden Aria pun kemudian menyeberangi telaga. Setibanya di atas batu cadas, lalu ia duduk bersila. Dari sana menjuruskan pandangannya ke
222

Setelah itu Raden Aria berbicara dengan tenang.” 223 . Sebenarnya aku tiap pagi selalu memeriksa telaga dan melihatmu tenang bersemedi di sini. Raden Aria kaget dan tidak percaya. "Semoga Raden tidak marah. aku ini penguasa telaga ini. Setelah genap 40 hari 40 malam bersemedi. Pemandagangannya sangat indah. Raden Aria pun bersemedi di atas hamparan cadas tersebut.” gumamnya. “Hai. lalu Raden Aria membuka matanya. Kalau Raden ingin tahu.sekeliling telaga. Ternyata di hadapannya telah berdiri seorang putri yang sangat cantik jelita. Hamba adalah putri jin. "Mungkin aku hanya mimpi. Nama hamba Endang Kusumah. sebab telaga itu berada di tengah hutan belantara. putri! Engkau manusia atau mahluk jadijadian?” Putri itu pun menjawab sambil tersenyum simpul.

Lebih aneh. ternyata da sebuah istana. memegang tombak dan panah. Ia pun berpikir bahwa selama hidupnya baru melihat putri secantik itu. kedua perajurit itu serempak menundukkan kepala tanda hormat. Namun aneh. Lalu Raden Aria melihat ke arah utara. setiap orang yang lewat ke hadapan Raden Aria selalu menundukkan kepala tanda hormat. Akhirnya Raden Aria pun jatuh cinta pada putri jin tersebut. Banyak orang berlalu lalang.Raden Aria mendengarkan jawaban putri tersebut dengan seksama. tiba-tiba alam menjadi gelap gulita. Sesaat setelah berpikir jatuh cinta pada sang putri. rambutnya hitam panjang laksana mayang terurai. Ketika terang kembali. kedaan sekitar telaga telah berubah. ketika Raden Aria menatapnya. Kulitnya kuning langsat. Telaga yang luas berubah menjadi sebuah kadaleman yang ramai. Pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang perajurit yang gagah. 224 .

“Ayo masuk Kakang!” Raden Aria masuk ke dalam keraton sambil digandeng oleh Nyi Putri. Mulailah Raden Aria dan Nyi Putri bersantap. di sebelahnya terdapat kolam yang airnya sangat jernih. 225 . Tidak jauh dari sana ada ruangan yang luas dihampari permadani berwarna merah.“Jangan kaget. Di sana pun tersedia makanan yang lezat. Ini istanaku. Ruangan tempat menerimatamu serba bersih dan mengkilat. Kemudian Raden Aria dibawa oleh Nyi Putri ke ruangan kaputren. Raden Aria berjalannya sering berhenti-henti karena tercengang-cengang melihat keindahan dalam keraton. kalian sudah ada di sini. Kemudian berkata. tiap kamar ditunggui oleh emban-emban yang cantik. ayahanda Nyi Putri. Tidak lama datanglah Raja Jin. Aku sangat bergembira akan mempunyai menantu yang berilmu tinngi dari golongan manusia.” kata putri Endang Kusumah sambil memegang tangan Raden Aria. "Syukurlah.

Seluruh bangsa Jin menghadiri acara pernikahan tersebut.” Hari berganti hari. akhirnya Putri Endang Kusumah pun melahirkan bayi kembar. Sangat meriah sekali. "Kakang. pesta pernikahan antara Raden Aria dengan Nyi Putri Endang Kusumah pun dilangsungkan. badan terasa lesu." Tiga hari kemudian. Yang sulung perempuan diberi nama Raden Ajeng 226 . Raden Aria berjalan-jalan di taman bersama dengan istrinya Putri Endang Kusumah. Kalau siang hari. Sudah banyak Jin yang masuk Islam dan mengaku guru kepadanya. Bertahun-tahun Raden Aria mengajar ngaji di kerajaan Jin. Genap sembilan bulan. ingin rasanya makan yang masam-masam. perasaanku berbeda.” "Wah. bulan pun berganti bulan. Itu tanda bahwa Dinda sedang mengandung.Aku di sini perlu guru ngaji untuk mengajarkan santrisantri dari bangsa Jin. Terkadang tidak ada nafsu makan. Keduanya lucu dan mungil. itu bukan sakit Dinda. Hingga pada suatu sore.

Kedua anaknya sangat dimanja. Saatnya mereka harus berkelana ke luar istana untuk mencari ilmu kesaktian dan keagamaan. Mula-mula Raden 227 . Biar kedunya belajar hidup merakyat. Namun keduanya sangat cerdas. kedua anak kita sekarang sudah besar. Setelah kedua anak tersebut besar. sehingga sering membuat Putri Endang Kusumah kewalahan dalam mengasuhnya. lalu pada suatu hari Putri Endang Kusumah berbicara pada Raden Aria. Mereka sangat liwar (nakal)." "Ya. Semakin hari mereka tumbuh besar.” jawab Raden Aria. Segala macam ilmu yang diajarkan akan paham dalam waktu singkat.Endang Sukaesih atau disebut juga Endang Kencana. kedua anak Raden Aria tersebut disuruh untuk berkelana. Namun keduanya berbeda dengan anak-anak jin yang lain. Beberapa hari kemudian. "Kakang. sedangkan yang bungsu laki-laki diberi nama Raden Aria Suryakancana. lebih baik begitu.

Putri Endang Kusumah mulai mengerti kejiwaan yang sedang dihadapi suaminya. Nanti Kakang akan menemukan seorang putri yang sangat cantik.Endang Sukaesih menuju ke Gunung Ciremai. Selain merindukan anak-anak. kenapa Dinda bicara seperti itu?” “Kakang. nampaknya sudah saatnya Kakang kembali ke alam manusia seperti semula.” “Kakang akan kukirim kembali ke alam manusia. Nikahilah ia. “Lho. “Kakang. Kalau begitu. Kakang pun tentu sangat merindukan kehidupan di alam manusia.” kata Endang Kusumah pada suatu hari. apa yang harus Kakang lakukan sekarang. Nyai. Ia bangsa manusia. Istana kerajaan jin pun terasa sepi semenjak kepergian keduanya. Melihat keadaan tersebut. Raden Aria setiap hari selalu menyepi dan kadang tidak mau diajak makan. sedangkan Raden Aria Suryakancana menuju ke Gunung Gede. kelak 228 . aku mengerti akan perasaanmu.” “Syukurlah kalau mengerti keadaan Kakang.

ternyata ia sedang menelungkup di atas batu cadas. Setelah sampai ke hadapan 229 .” Raden Aria hanya terdiam. akan kubuatkan keraton pula untukmu di alam manusia. Bersamaan dengan jatuhnya batu cadas ke air telaga.Kakang akan mendapat keturunan pula dari putri tersebut. Dari jauh kelihatan ada seorang putri cantik berjalan menghampirinya. Raden Aria segera menjuruskan pandangannya ke sekeliling perkampungan tersebut. Raden Aria memejamkan mata sambil merangkul erat istrinya. Sejurus kemudian. Ia lalu memegang tangan istrinya. Kakang. Ketika membuka mata. Setelah itu. Raden Aria mengambil batu cadas sebesar buah kelapa. tiba-tiba telaga tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan yang ramai. Lalu dilemparkannyalah batu cadas tersebut ke tengah telaga. Kemudian Raden Aria membaca ayat kursi sebanyak 7 kali. Lalu Raden Aria pun tersadar dan mengucapkan istigfar beberapa kali sambil mengusap muka.

Merujuk pada telaga yang dipakai bersemedi oleh Raden Aria sebelum berubah menjadi kadaleman Sagalaherang. Segala alat musik ditabuh. Konon. kita pulang ke Sagalaherang. Ternyata di pendopo sedang diadakan syukuran menyambut kedatangan Raden Aria sebagai dalem baru mereka di kadaleman Sagalaherang. Rakyat sudah lama menunggu lama kedatanganmu. Di dalam pendopo. *** (Subang) 230 .Raden Aria. lalu putri tersebut berbicara dengan lembut. ternyata sudah banyak orang menunggunya." Raden Aria pun segera mengikuti putri tersebut ke sebuah kadaleman. Pada hari itu pun dilangsungkan pula pernikahan antara Raden Aria dengan putri yang telah menjemputnya tersebut. "Mari Kakang. nama kadaleman Sagalaherang bermakna talaga nu caina herang (telaga yang airnya jernih). Kadaleman itu ternyata bernama Sagalaherang. Makanan yang lezat pun tersaji.

Pada saat penyerbuan itu. Sedangkan istrinya.D. Kadipatian tersebut dipimpin oleh seorang dipati bernama Rangga Bitung dan istrinya bernama Nyai Puntung Mayang. yang saat itu dalam keadaan hamil. SASAKALA SUKABUMI Pada jaman dahulu. yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ratu. Nyai Puntung Mayang dibawa ke perkampungan di kaki gunung Sunda. Bupati Rangga Bitung terbunuh. berhasil diselamatkan oleh seorang Jaro (Lurah) yang bernama Loa. Oleh Jaro Loa. Nyai Puntung Mayang. Dalam perjalanan menuju Gunung Salak. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang 231 . SASAKALA WILAYAH SUKACI 1. Pada waktu Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon menyerbu Kerajaan Pajajaran. wilayah Priangan Barat termasuk ke dalam wilayah Kadipatian Pamingkis. di daerah Cibadak. wilayah Pamingkis terkena imbasnya.

yang ketika beranjak remaja disebut Nyai Tanduran atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Pudak Arum Saloyang. Akibat kedunya dibesarkan di tempat yang sama. maka sejak kecil sampai remaja hubungannya sangat dekat. Nyai Puntung Mayang melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Pudak Arum. Tingkah lakunya bijak.menemukan seorang bayi. Sesampainya di Gunung Salak. Bahkan hubungan kedua remaja tersebut makin lama makin intim. Bayi tersebut kemudian dibawa serta dan diberi nama Wangsa Suta. Ia mencerminkan seorang yang lahir dari keturunan ménak. Seiring perjalanan waktu. tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. dan pembawannya kelihatan lain dibanding dengan pemuda sebayanya. Begitu pula Nyai Pudak Arum. maka tumbuhlah Wangsa Suta menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. berkharisma. Bahkan sebenarnya. Melihat gelagat demikian. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang berniat mengawinkan keduanya. sejak kecil pun sudah 232 .

Namun karena Wangsa Suta memiliki jiwa kesatria. kelihatannya mereka saling penikahan tersebut.” Maka. “Nyai. suatu ketika. mencintai. terlebih dahulu ia mengajukan syarat bahwa sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan. ia terlebih dahulu akan berkelana kesaktian untuk sebagai menimba bekal ilmu dalam keagamaan hidup dan berumah- tangganya kelak.diniati untuk dijodohkan. bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?” “Setuju. Jaro Loa pun menyampaikan niatnya kepada Wangsa Suta tentang rencana Ki. akhirnya ia mengizinkan ajuan sarat dari Wangsa Suta tersebut. Karena Jaro Loa mengetahui watak anak angkatnya yang keras dan teguh pendirian. Kontan saja Wangsa Suta sangat girang mendengar rencana ayah angkatnya itu. maka berangkatlah Wangsa Suta 233 . Setelah mendapat persetujuan dan doa restu dari ayah angkatnya.

Di tempat inilah.untuk berkelana mencari ilmu. Wangsa Suta diperintahkan oleh Resi Suradea untuk membuat pedukuhan baru dan menyebarkan ilmunya. Sesuai petunjuk dari Jaro Loa. Sesampainya di padepokan tersebut. Sementara Wangsa Suta membuat pedukuhan 234 . kelak Wangsa Suta berguru kepada seorang resi berilmu tinggi bernama Saradea. Cukup lama Wangsa Suta berguru pada Resi Suradea. Wangsa Suta pun diperintahkan untuk mencari pohon pakujajar bercabang lima yang tumbuh di gunung Parang. Setelah semua ilmu Resi Suradea diturunkan. Tanah lamping ini ditumbuhi pohon kole yang daunya hijau dan bunganya berwarna ungu. Wangsa Suta berangkat menuju padepokan yang terletak di daerah bernama Kiara Gantung Kararangge. Dari Resi saradea inilah Wangsa Suta banyak menimba ilmu keagamaan dan kesaktian yang kelak banyak dipakai untuk menolong sesama. Letaknya sebelah barat Gunung Sanghyang Purwa yang kontur tanahnya miring ke sebelah selatan.

Bahkan untuk meloloskan niat tuannya tersebut. Ke mana-mana jalan sendiri. Rencana penculikan pun berjalan lancar. Namun meskipun sehari-hari wajahnya dibalut duka. kecantikannya tetap terkenal ke mana-mana. karena Nyai Pudak Arum setia memilih Wangsa Suta. Namun keberuntungan 235 . bangsawan Bahkan dari banyak pemuda lain dan para untuk daerah berniat mempersuntingnya. Kontan saja lamaran tersebut ditolak.baru di Gunung Parang. Setiap hari wajahnya muram. lain cerita dengan calon istrinya Nyai Pudak Arum. tanpa ditemani sang kekasih Wangsa Suta. Salaseorang demang kaya bernama Sukamukti misalnya. segera memerintahkan anak buahnya yang bernama Ki Jaya untuk melamar Nyai Pudak Arum. maka Ki Jaya marah. Ki Jaya berniat menggunakan jalan kekerasan dengan cara menculik Nyai Pudak Arum. Mendapat penolakan tersebut. Nyai Pudak Arum berhasil diculik dan dibawa oleh Ki Jaya ke hadapan Demang Sukamukti.

dan tidak sabaran. Ia pun berniat ingin segera mempersunting Nyai Pudak Arum dengan cara jalan pintas. Kalau berhasil. yang terletak di Pelabuhan Ratu. “Barja. sang Demang mendadak meninggal dunia. Skenario penculikan pun berjalan lancar. Culik Pudak Arum. aku akan memberimu imbalan yang setimpal!” ujar Ki Puru Satra pada centengnya yang bernama Barja. Cerita belum usai. Anak 236 . sombong.berpihak pada Nyai Pudak Arum. lalu bawa ke hadapanku. bawa semua anak buahmu. Tersebutlah saudagar kaya raya bernama Ki Puru Satra dari daerah Padabeunghar. Saudagar tersebut memilki watak keras kepala. yakni menculiknya. Berita kecantikan Nyai Pudak Arum sampai pula ke telinga para saudagar kaya. Ki Puru Satra pun segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menculik Nyai Pudak Arum. Akhirnya Ki Jaya pun mengembalikan Nyai Pudak Arum ke tempat tinggalnya semula di kaki Gunung Sunda. Sesampainya Nyai Pudak Arum ke hadapan Demang Sukamukti.

Semakin hari semakin banyak saja laki-laki baik pemuda biasa maupun bangsawan yang ingin mempersuntingnya. semua lamaran ditolaknya. Setelah sampai di tempat kediaman Ki Puru Satra. 237 . Setelah dua kejadian penculikan menimpanya. bukan berarti kehidupan Nyai Pudak Arum sudah tenang. Ki Puru Satra mendadak meninggal dunia. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Nyai Pudak Arum. Akhirnya Nyai Pudak Arum pun dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Kini berkembang isu di masyarakat bahwa dirinya punya ilmu pelet dan kesaktian yang tinggi. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Nyai Pudak Arum untuk meloloskan diri dari kediaman saudagar kaya raya tersebut. Namun karena kesetiaannya pada Wangsa Suta. Nyai Pudak Arum dipaksa untuk menikah. Pada saat malam pengantin. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan.buah Ki Puru satra berhadil menculik Nyai Pudak Arum tanpa rintangan yang berarti.

Di antara pelamar itu. Dalam pandangannya. Anak buah Raden Kartala dapat menangkap Nyai Pudak Arum dengan mudahnya. Namun penasehatnya melarang untuk mempersunting Nyai Pudak Arum. Wangsa Suta menyuruh Nyai Pudak Arum untuk pergi terlebih dahulu menuju ke Gunung Parang mencai pedukuhan yang terdapat 238 . Sebelumnya.Penolakan bukan berarti masalah selesai. Skenario pun berjalan mulus. kemudian ada seorang demang bernama Raden Kartala dari daerah Mangkalaya. Kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Nyai Pudak Arum. Nyai Pudak Arum adalah seorang putri yang memilki kesaktian tinggi dan menyarankan untuk menangkap lalu membunuhnya. Namun ketika Nyai Pudak Arum akan dibunuh oleh algojo Raden Kartala. Raden Kartala pun menuruti nasehat tersebut. Perkelahian dengan anak buah Raden Kartala pun tidak dapat dielakkan. tiba-tiba Wangsa Suta antara datang Wangsa untuk Suta menolongnya.

guru?” 239 . Sementara Wangsa Suta. “Apa syaratnya. ia segera meminta bantuan gurunya Resi Saradea. cucuku.” ujar Resi Saradea. Kemudian Nyai Pudak Arum dibawa ke Pulau Putri di kawasan Pulau Seribu. Namun ia sangat kecewa dan sedih.pakujajar berdahan lima. rencana tersebut ternedus oleh anak buah Raden Kartala yang lainnya. kalau engkau ingin bertemu kembali dengan calon istrimu. Maka untuk mengetahui keberadaan calon istrinya. sehingga Nyai Pudak Arum tertangkap di perjalanan. Wangsa Suta diiberi petunjuk bahwa sampai kapan pun tidak akan bertemu dengan Nyai Pudak Arum sebelum pedukuhan di kaki Gunung Parang banyak penduduknya. setelah berhasil mengalahkan semua anak buah Raden Kartala. karena Nyai Pudak Arum tidak terdapat di tempat. ada syaratnya. “Suta. Namun sayang. Dengan ilmu kebatinan yang dimiliki oleh gurunya. ia segera menyusul calon istrinya ke Gunung Parang.

Wangsa mulai ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan atau pedukuhan).” Setelah kemudian mendapat Suta petunjuk pun dari gurunya. Semakin lama menetap.“Engkau harus membuat pedukuhan di kaki gunung Parang. Tiga tahun kemudian. semakin hari semakin banyak penduduknya. 240 Wangsa Suta pun . para penduduk pun semakin betah dan menyukai pedukuhan yang subur dan banyak mata air tersebut. Akhirnya daerah tersebut dinamai oleh masyarakat setempat dengan sebutan suka di bumi. Hal ini karena kata tanah dalam bahasa Sunda disebut juga dengan istilah atau kata bumi. Kemudian pedukuhan di kaki Gunung Parang itu pun. yang berarti senang tinggal di rumah dan senang menetap di tanah yang subur. Nanti setelah pedukuhan tersebut ramai dikunjungi pendatang. maka engkau pun pasti akan bertemu dengan calon istrimu. Banyak pendatang langsung menetap dan membangun bumi (rumah) tinggal.

bertemua kembali dengan Nyai Pudak Arum. lalu hidup bahagia di sebuah pedukuhan. daerah itupun kemudian berubah namanya menjadi Sukabumi seperti yang kita kenal hingga sekarang. Mereka sangat menyenangi lingkungan dan tanah atau tempat tinggal yang didiaminya. Pendudukan sekitarnya menyebutnya sukabumi. Bahkan seiring perkembangannya. Mereka suka pada bumi. Atas penamaan daerah tersebut oleh penduduk. Mereka pun kemudian menikah. *** 241 . Wangsa Suta pun merestuinya.

2. SASAKALA CIANJUR

Dahulu kala, di sebuah kampung yang subur makmur, hiduplah seorang lelaki tua yang sangat kaya raya. Kampung tersebut termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Lelaki tua tersebut memiliki ratusan hektar sawah dan perkebunan. Semua penduduk kampung dijadikannya pekerja baik untuk mengolah sawahnya maupun untuk mengolah perkebunannya. Namun meski demikian, penduduk kampung tetap saja miskin. Hal itu dikarenakan lelaki tua tersebut sangat koret (kikir), sehingga selalu membayar murah pada

pekerjaan yang dikerjakan oleh penduduk kampung. Hingga oleh seluruh penduduk, lelaki tua itupun dijuluki Ki Koret. Padahal nama yang sebenarnya ialah Aki Suhita. Anehnya, ia kikir bukan saja pada orang lain tetapi pada keluarganya sendiri. Untunglah sifat kikirnya
242

tersebut tidak menular pada anak lelakinya yang sulung. Berbeda dengan ayahnya yang kikir, anak lelakinya sangat baik dan murah hati. Ia sering membantu tetangga atau penduduk desa yang sedang kesusahan. Pada suatu hari, tersiar kabar akan terjadi bencana dan musim pailit. Tentu saja seluruh penduduk kampung, termasuk Ki Koret merasa ketakutan.

Menurut ramalan tersebut, bencana dan musim pailit dapat dilewati dengan cara mengadakan ruwatan kampung. Dengan syarat itu, penduduk kampung pun kebingungan, karena untuk mengadakan acara ruwatan memerlukan kecerdikan biaya anaknya, tidak sedikit. Ki Namun berkat

akhirnya

Koret bersedia

memberi biaya untuk mengadakan acara ruwatan. Itupun dengan terpaksa karena takut terkena bencana. Semua penduduk kampung senang. Terlebih mereka semua diundang oleh Ki Koret untuk mengikuti acara ruwatan di rumahnya. Semula mengira dalam acara ruwatan itu akan banyak makanan
243

yang

disuguhkan. Namun kenyataannya meleset, Ki Koret hanya menyediakan air putih dan hidangan

alakadarnya saja. Bahkan sebagian undangan banyak yang tidak kebagian sama sekali. Air putih pun dijatah satu gelas untuk satu orang. Dengan keadaan itu, seluruh penduduk desa dan anaknya tidak dapat berkata apa-apa, mereka semua hanya dapat celoteh

mengelus dada. “Benar-benar seseorang. “Pasti Tuhan tidak akan memberikan berkah pada seluruh harta kekayaannya,” kata yang lain. “Semoga Tuhan segera menyadarkannya,” kata penduduk yang lain. Ketika semua undangan ruwatan sedang rajanya orang kikir!”

menyantap hidangan yang disuguhkan Ki Koret, tibatiba datang seorang nenek tua meminta sedekah pada Ki Koret. “Juragan, pasihan..! Juragan, abdi pasihan…! (Tuan, berilah…! Tuan, berilah saya…!)
244

“Pasihan naon? Uing mah teu boga nanaon!” (Mau dikasih apa? Saya tidak punya apa-apa!” “Saeutik we Juragan, abdi lapar pisan…!” “Aeh, teu beunang dieuweuh-euweuh. Indit ka ditu, teu nempo batur keur loba semah.” Akhirnya nenek tua itupun pergi meninggalkan rumah Ki Koret sambil mencucurkan air mata. Melihat kejadian itu, anaknya turut merasa sedih. Diam-diam dia pun mengambil sedikit hidangan

jatahnya. Lalu diberikan pada nenek tua tersebut. Tentu saja nenek tua pun sangat berbahagia. Setelah diberi sedikit hidangan, kemudian nenek tua itupun pergi menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah bukit yang berada di batas kampung. Sesampainya di puncak bukit, lalu nenek tua itu berhenti dan menjuruskan pandangannya ke areal perkampungan. Matanya tertuju tajam pada rumah ki Koret. Lalu nenek tua itu menancapkan tongkatnya, sambil bergumam:
245

“Cepat tinggalkan kampung ini. Makin lama air itu makin membesar membanjiri areal pesawahan dan ladang. Bahkan akhirnya masuk ke wilayah perkampungan.“Hey jalma hukuman ti Gusti!” koret. cari tempat yang tinggi!” “Tapi sawah dan ternak kita bagaimana?” “Kalian pilih harta atau nyawa?” Anak Ki Koret yang bijak itu terus berteriak mengingatkan penduduk. maneh bakal katibanan Setelah berkata demikian.!!!” teriak penduduk kampung yang panik melihat kedatangan air bah yang tiba-tiba. Anak Ki Koret segera menganjurkan orang-orang desa untuk segera meninggalkan perkampungan dan lari ke atas bukit. Dari lubang tancapan itulah kemudian memancar air yang sangat deras. lalu nenek tua itu mencabut kembali tongkatnya. “Banjir…! Banjir…. 246 . Ia pun tidak lupa membujuk ayahnya agar segera keluar rumah.

anaknya Ki Koret mendapatkan wangsit bahwa harus segera membawa penduduk kampung mencari areal baru untuk perkampungan. Setelah beberapa hari menunggu di bukit. Mereka pun sedih melihat kampungnya tenggelam. Dalam semedinya itu. cepat tinggalkan rumah ini. Kemudian anaknya Ki Koret bersemedi untuk mendapatkan petunjuk. Air bah semakin besar. Perkampungan pun berubah menjadi telaga yang besar.”Ayah. air bah pun tak kunjung surut. kita harus segera menyelamatkan diri!” ”Apa? Meninggalkan rumah? Baiklah. Akhirnya Ki Koret pun tenggelam terseret arus air bah. Namun seluruh penduduk kampung termasuk anaknya Ki Koret berhasil menyelamatkan diri. 247 . seluruh penduduk kampung telah pergi menuju bukit tempat keluarnya air dari bekas lubang tancapan tongkat si nenek tua tadi. aku akan mengumpulkan hartaku terlebih dulu!” Sementara Ki Koret terus mengumpulkan harta bendanya.

Ia pun mengajari penduduk tatanen (cara menanam padi) dan bagaimana mengairi sawah yang baik. anaknya Ki Koret pun memerintahkan rombongannya untuk ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan). Anaknya Ki Koret pun merestui penamaan tersebut.Maka pergilah rombongan anaknya Ki Koret mencari daerah baru. Anaknya Ki Koret menganjurkan seluruh penduduk untuk mengolah tanah yang telah dibagi rata. 248 . Kemudian oleh seluruh penduduk. Di daerah baru itulah kemudian anaknya Ki Koret diangkat menjadi pemimpin kampung mereka yang baru. perkampungan itupun semakin berkembang. Mengajari pula cara berkebun yang telaten dan bagaimana memilih bibit unggul. perkampungan itu disebut kampung Anjuran. Setelah menemukan sebuah daerah yang subur. Semakin lama. Kemudian ia pun mengangkat ulu-ulu (petugas pengairan) yang mengatur jalannya air yang mengairi sawah dan ladang milik penduduk.

249 . dan anjur yang berarti perintah. pepatah. yakni anaknya Ki Koret. Penduduknya sangat ramah dan pandai mengelola sawah. pepatah. Lama kelamaan nama Anjuran pun berubah menjadi Cianjur.“Aku restui kampung ini dinamakan Anjuran. Kata ci (air) sendiri mengingatkan pada peristiwa banjir bandang yang telah menenggelamkan Ki Koret. Kata Cianjur berasal dari kata c(a)i yang berarti air. Kelak kampung ini akan menjadi penghasil beras terkenal di tanah Pajajaran.” ujar anaknya Ki Koret di depan seluruh penduduk kampung. apapun perintah. Konon kata Anjuran berasal dari sikap para penduduk yang selalu mematuhi anjuran atau perintah pimpinannnya. mengenang anjuran anaknya Ki Koret agar segera mengungsi dari terjangan banjir pada waktu itu. Adapun kata anjur. Wilayah perkampungan tersebut sangat subur. atau anjuran pemimpin kampung. atau anjuran pemimpin kampung dalam hal bertani selalu dilaksanakan oleh penduduk Cianjur. Memang secara turun-temurun.

Buktinya hingga sekarang. terutama berasnya terkenal sangat enak. hasil bumi dari Cianjur. yang diatur oleh seorang ulu-ulu (petugas pengairan). *** 250 . Konon kuncinya mereka sangat teratur dalam mengairi sawah. gurih. dan wangi.

terdapat sebuah telaga yang terkenal dengan nama Talaga Warna. SASAKALA TALAGA WARNA Di lembah gunung Megamendung. Namun sayangnya. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Rakyat pun turut bersedih dan sangat mengkhawatirkan 251 keadaan tersebut. Disebut demikian karena airnya selalu berubah warna. SASAKALA WILAYAH BODEBEK 1. Dahulu kala. Bogor. hijau. terkadang berwarna jingga.E. di tengah-tengah Talaga Warna berdiri sebuah istana kerajaan Kutatanggeuhan. Hal ini bermula dari sebuah kisah masa lalu. adakalanya berwarna kekuning-kuningan. merah muda. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. . Prabu dan Ratu belum dikaruniai juga keturunan sehingga mereka selalu cemas dan merasa kesepian.

Mereka berpikir kalau Raja tidak juga mempunyai keturunan. Benar saja. beberapa bulan kemudian. Di puncak gunung itulah kemudian Raja berdoa dan meminta pertolongan dari Sanghyang Widi. Hingga sang putri pun tumbuh menjadi perempuan yang cantik jelita. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Aku kabulkan keinginanmu itu. tiba-tiba terdengar suara gaib. kelak kerajaan takut akan jatuh ke keluarga raja yang tidak bijak. “Aku tahu engkau ingin memiliki keturunan. Rakyat menunggumu!” kata suara gaib tersebut. raja pun memutuskan untuk bersemedi ke gunung Megamendung. Pada suatu ketika. Putri tersebut diberi nama Putri Gilang Rukmini. Sekarang. kembalilah ke istana. Semua bersuka cita. Oleh 252 . Setelah 7 hari 7 malam Prabu Suwartalaya berdoa. Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan perasaan senang. ratu pun mengandung.

Tiap hari pekerjaannya hanya merias dan mempercantik pakaian. Maklumlah anak semata wayang. pakaian. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. sang putri sangat dimanja. Akibat terlalu dimanja. sang putri menghadap kepada kedua orang tuanya. Jika tidak.kedua orang tuanya. Mulai dari intan berlian sampai emas permata. Selama itu pula. Sambil diiringi para 253 . sampai perhiasan. Namun rakyat tetap mencintainya. terpasang pada tubuh dan pakaiannya. Mereka berharap suatu hari watak sang putri akan berubah. lama-kelamaan sang putri terbiasa memakai pakaian dan perhiasan mewah. segala keinginannya selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Ia pun selalu menangis kepada ayah ibunya untuk sekedar minta disediakan berbagai pakaian mewah dan perhiasan. Pada suatu ketika. Bahkan sampailah sang putri tersebut merasa bosan atas model pakaian dan perhiasan yang ia pakai. Mulai dari makanan. putri akan marah dan bertindak kasar.

Prabu Suwartalaya berniat akan mengadakan pesta syukuran di istana.” “Ya. seluruh rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk 254 . “Rama. sebelum hari ulang tahun putri tiba. bukankah sudah banyak perhiasan yang sudah aku berikan untukmu?” “Rama.” “Iya. Semua rakyat boleh datang untuk memberikan doa ataupun hadiah untuk putri Gilang Rukmini. aku ingin meminta perhiasan lagi. engkau menemuiku.” “Buat apa anakku.” Beberapa hari kemudian.” kata Sang Raja. Karena sangat mencintai raja dan putrinya. ia seperti biasanya sambil membawa perhiasan dalam bokor kencana.emban. putri akan berulang tahun yang ke-17. rama. aku ingin memiliki banyak berlian. “Ada apa anakku. Nanti di hari ulang tahunmu yang ke 17 aku akan berikan hadiah kepadamu. untuk apa?” “Untuk mempercantik diri. sabar.

Ratu. Di babancong (podium) telah dihiasi beragam hiasan mewah. Memang sebelumnya sudah banyak pemuda dan ksatria yang kapengpeongan (tergila-gila) akan kecantikan sang putri. 255 . Rakyat sangat kagum melihat kecantikan sang putri. Kalung itu terbuat dari emas berlian dengan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Pada hari itu. Kini tiba saatnya giliran rakyat mempersembahkan hadiah istimewanya.sang putri. rakyat pun memberikan kotak berisi kalung kepada putri Gilang Rukmini. Kalung tersebut dibeli dengan cara patungan sukarela. Maka disepakatilah oleh mereka untuk menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. pesta pun berlangsung sangat meriah. Rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun kerajaan tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Sesuai rencana. dan Putri menaiki babancong. Sore hari pesta pun akan segera usai. Rakyat pun bersorak-sorai saat Prabu.

Jangan kecewakan mereka. Bukankah kalung ini sangat indah?” kata Ratu Purbamanah. norak sekali. dan seluruh rakyat hanya bisa terdiam lesu. Sedih 256 kenakanlah kalung ini!” ujar Prabu . Beraneka warna. Prabu Suwartalaya. “Ini tanda cinta rakyat kepadamu. Permata yang beraneka warna itupun berhamburan. suara tangis pun pecah. Ia pun langsung membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Lalu dikeluarkanlah kalung beraneka warna yang sangat indah pemberian dari rakyatnya itu kepada putri Gilang Rukmini. Sesaat kemudian. “Indah apanya? Kalung jelek begini. Suwartalaya. Aku tidak mau mengenakannya!” teriak putri Gilang Rukmini. Lama Putri Gilang Rukmini memandang kalung tersebut dengan kening berkerut. Ratu Purbamanah. “Ayo.Namun Prabu Suwartalaya yang giliran membuka kotak tersebut. Ratu Purbamanah dan seluruh rakyat menangis.

telaga tersebut dinamakan talaga warna. Semakin lama semakin deras. Ratu. ia langsung keluar dari babancong sambil menginjak batu permata yang terserak di lantai.melihat kelakuan putri kesayangannya. *** 257 . Namun sang Putri seperti tidak merasa bersalah. Hingga kini. karena jika hari cerah airnya memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. di depan babancong keluar air. Sungguh ajaib. Maka berubahlan istana dan lingkungan sekitarnya menjadi sebuah talaga (telaga. danau). telaga tersebut masih ada dan dijadikan tempat wisata. sampai akhirnya menenggelamkan seluruh bangunan istana. Setelah perbuatan sang putri itu. Oleh masyarakat setempat. Konon menurut masyarakat setempat. air telaga yang selalu beraneka warna itu berasal dari kalung yang dihiasi batu permata beraneka warna pemberian dari rakyat yang dilemparkan oleh sang putri. Prabu. dan seluruh rakyat kerajaan Kutatanggeuhan pun tenggelam diterjang air bah. Putri.

Scipio.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa. juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC. kota yang pernah berpenghuni 50.2. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Hindia Belanda (VOC). Dalam memanfaatkan wilayah yang 258 . Setelah satu abad hilang dari percaturan sejarah. Adolf Winkler. Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC. seorang Sunda terah Sumedang. Wilayah bekas ibukota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. dan Abraham van Riebeeck. Orang-orang Hindia Belanda yang telah melakukan ekspedisi itu. tersebutlah bahwa seluruh ibukota kerajaan hancur lebur dan penduduknya terbunuh serta terusir. SASAKALA KOTA BOGOR Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan oleh pasukan Banten. antara lain.

Tempat inilah menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kota Bogor. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan. Parung Kujang. yang diberi nama Kampung Baru. mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran. Malah orang Hindia Belanda menemukan seekor harimau besar yang sedang tidur. Sempur. Kemudian diisukan bahwa orang-orang Pajajaran berubah menjadi harimau. Baranang Siang. dia bersama anggota pasukannya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana. Citeureup. Kampung Baru 259 . Panaragan. Parung Banteng.dikuasainya. Kedung Halang dan Parung Angsana. VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Bantar Jati. seorang Letnan Terah Sumedang. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang. dan Cimahpar. Akhirnya. Tanujiwa. Selanjutnya. kecuali di Cikeas.

Pada waktu itu. Tanujiwa menjadi Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Regentschap Kampung Baru disebut juga Regentschap Buitenzorg. 260 . Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru. Atas dasar itulah. De Haan memulai mendaftarkan bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa. yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg.menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampungkampung lainnya. dibangunlah tempat peristirahatan pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. Oleh karena itu. sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Ia telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu.

ia mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati. Pohonpohon tersebut cukup mengganggu keindahan wilayah sehingga banyak yang ditebang.Ketika Bupati Kampung Baru yang dipimpin oleh Demang Wiranata. Akibatnya. di wilayah tersebut banyak tunggul kawung. Buitenzorg berubah nama menjadi Bogor. Pembukaan jalur kereta ini sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota. Nama Empang nama berangsur-angsur mendesak Sukahati. yang akhirnya nama daerah itu disebut Empang. 261 . Daerah tersebut makin lama makin ramai karena dibukanya jalur hubungan kereta api BataviaBuitenzorg. Sejak itulah. yang terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya selanjutnya dekat empang besar. yang disebut “bogor” atau “pogor”. Pada waktu itu di sekitar wilayah Buitenzorg terdapat banyak pohon enau atau kawung.

ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung (Di tempat itu. dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau) Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti (Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama. ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput 262 . NGADEGNA DAYEUH PAJAJARAN Tah di dinya.bagi mereka yang tidak paham) Ari sababna.Di dalam cerita pantun yang dikisahkan oleh Aki Cilong disebutkan perihal penamaan Bogor sebagai berikut.

terus membara asapnya tak cukup untuk "muput") Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman) Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana (Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya) Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna (Kalau tertendang? bisa melukai yang mendangnya itu kaki akan lama sembuhnya) 263 .(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapitidak padam.

Tapi. kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan) Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor! (Nah. begitu! Namai olehmu kota itu Kota Bogor!) 264 . amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak (Tapi.

kemudian rombongan Cornelis Chastelyn itu mulai mencari barang dagangan berupa rempah-rempah ke daerah Jayakarta. Bisnisnya pun semakin lama semakin maju. Hingga suatu ketika. SASAKALA DEPOK Dulu. Dalam rombongan tersebut. Portugis. terdapat seorang Belanda bernama Cornelis Chastelyn. Dari pelabuhan Sunda Kelapa. Kelak nama Jayakarta berubah menjadi Batavia dan berubah kembali menjadi Jakarta.3. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terbesar di wilayah kerajaan Banten. Bahkan banyak pula kapal-kapal dagang dari kerajaan Cina. Cukup lama Chastelyn menetap di Jayakarta. Setiap hari sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari seluruh kerajaan di penjuru Nusantara. datanglah rombongan kapal dagang Belanda yang tergabung dalam kongsi dagang bernama VOC. Chastelyn selalu banyak mendapat 265 rempah-rempah dari . dan Belanda.

Ia pun membeli tanah yang luasnya terbentang mulai dari wilayah Weltevreden (Gambir). akhirnya Chastelyn pun menjadi salah seorang pedagang Belanda yang kaya di Jayakarta. Sunda Kelapa dan kampung Jayakarta pun semakin lama berkembang pesat. Banyak pedagang yang tadinya hanya sekedar transit. maka pada suatu hari Chastelyn memutuskan untuk 266 . Tentu saja barang dagangan pun semakin lama semakin Cornelis (Jatinegara). Hal ini karena pasokan rempah-rempah dari Banten dan Pakuan (sekarang Bogor) banyak tersendat. Hingga Chastelyn pun merasakan usaha dagangnya kian hari kian menurun. yang selanjutnya ia jual ke kerajaan Belanda dengan harga lebih mahal.penduduk pribumi. Tidak sampai satu tahun. Meester (Bogor). Oleh karena itu. hingga Buitenzorg berkurang. malah menetap untuk waktu yang cukup lama. Banyak pula di antara mereka yang menikahi perempuan pribumi.

Setelah satu minggu perjalanan. ramah. akhirnya Chastelyn memutuskan untuk menetap di perkampungan tersebut.mencari lahan baru yang masih banyak menghasilkan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Chasteleyn memutuskan untuk membeli tanah di kawasan tersebut. Beberapa bulan kemudian. Apalagi penduduk di sana sangat menghormatinya. Penduduk kampung tersebut sehari-harinya berbahasa Sunda. Oleh karena itu. Maksudnya untuk mencari lahan baru untuk menjalankan usaha dagangnya di bidang hasil bumi. Lama kelamaan Chasteleyn pun merasa betah. tibalah rombongan Chastelyn ke sebuah perkampungan yang letaknya terpencil di tengah hutan belantara. lalu Chasteleyn membeli tanah di kawasan tersebut dari penduduk setempat dengan harga 700 267 . Tidak menunggu lama. dan santun. berangkatlah Chastelyn bersama beberapa orang pegawainya ke arah timur Jayakarta. Melihat sikap penduduk yang demikian.

Ternate. Jumlahnya sekitar 150 orang. Kalau hitungan sekarang. Chastelyn dikenal sangat ramah dan baik pada budak-budaknya. tanah yang dibeli Chasteleyn itu batasnya meliputi Kampung Malela di sebelah utara. dan rel kereta api Jakarta-Bogor. Maluku.ringgit. Berbeda dengan Belanda yang lain. Jayakarta. yakni belum dikuasai oleh VOC. Kampung Belimbing di sebelah selatan. Selain mempekerjakan pula penduduk setempat. Pulau Rote. Tanah yang telah dibelinya di perkampungan tersebut. Status tanahnya adalah partikelir. Maka ia pun mendatangkan budak bayaran dari Bali. 268 . tentu saja harus segera diolah oleh Chastelyn. Hingga penduduk di kampung itu pun sangat menghormatinya. Makassar. Tanah yang dibeli Chasteleyn pada waktu itu sangatlah luas. Sungai Ciliwung di sebelah timur. Borneo (Kalimantan). dan Filipina.

Kampung ini berada di luar wilayah 269 . Sebagai tuan tanah di sana. Mengingat pada waktu itu. pedagang Cina memutuskan untuk membuat tempat transit di Kampung Bojong. perjalanan dari Jayakarta ke perkampungan Chastelyn dapat memakan waktu tiga hari. Dengan peraturan baru itu. termasuk pedagang dari Jayakarta. Banyak pula orang Belanda dari Jayakarta mulai berdatangan dengan maksud untuk berdagang dengan Chastelyn.Sebagai daerah baru. ia melarang pedagang-pedagang untuk menetap. Selain itu. Chastelyn pun segera membuat peraturan. banyak pula pedagang-pedagang dari Cina untuk berjualan di sana. perkampungan yang dibangun Chastelyn pun banyak menarik minat pedagang-pedagang dari tempat lain. Dalam peraturannya tersebut. Perkampungan itupun semakin hari semakin berkembang dan ramai dikunjungi pedagang. Tentu saja peraturan tersebut sangat menyulitkan pedagangpedagang dari Cina dan Belanda.

Atas permintaan ayahnya.perkampungan Chastelyn. murid Chastelyn pun semakin banyak. Bahkan akhirnya. 270 . muncul nama kampung Pondok Cina. Para pedagang Cina berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di perkampungan tersebut. Akhirnya secara bertahap. Chastelyn adalah pemeluk Kristen yang taat. Chastelyn membangun rumah besar yang dijadikan perguruan. Kemudian. Penduduk setempat menyebutnya dengan padepokan. Chasteleyn pun mulai mengajarkan agama Kristen kepada penduduk pribumi dan terutama kepada para pekerjanya. Sampai-sampai tidak tertampung di rumahnya yang besar menurut ukuran pada waktu itu. Sebagai seorang Belanda. Semakin lama. Semenjak itulah. banyak pula pendatang dari Jayakarta yang sengaja hanya untuk berguru agama Kristen kepada Chastelyn. Chastelyn pun mencari akal agar orang-orang yang ingin menjadi muridnya dapat tinggal di perkampungan itu.

Kelak sebutan padepokan pun oleh penduduk setempat disingkat pengucapannya menjadi depok. Kedua istilah perguruan tersebut selanjutnya oleh Chastelyn disingkat menjadi DEPOC.Oleh Chastelyn padepokan agama Kristen tersebut diberi nama dalam bahasa Belanda De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. yang oleh lidah penduduk setempat diucapkan DEPO(K). yang berarti Organisasi Kristen Protestan Pertama. Namun muridmuridnya sering menyebut padepokan tersebut dengan nama Deze Eenheid Predikt Ons Christus. Istilah penduduk setempat inilah yang kemudian menjadi nama perkampungan tersebut sampai sekarang. yang berarti dengan persatuan telah membawa kami ke Kristus. Selain sejalan pula dengan istilah perguruan yang dalam bahasa Sunda disebut padepokan. Padepokan agama Kristen yang dibangun Chastelyn pun semakin lama semakin berkembang dan terkenal sampai ke kerajaan Belanda. Kemudian banyak pula dikunjungi pejabat-pejabat VOC yang 271 .

yang sebagian isinya sebagai berikut: “Anthony Chastelyn. tepatnya di selatan Cinere. sebelum akhirnya Chastelyn pun meninggal dunia di kampung Depok. Kecamatan Limo. *** 272 . Kota Depok.sengaja meminta pendapat dalam hal keagamaan. hutan yang di sebelah timur sungai Karukut jangan sampai untuk diganggu. Sebelum meninggal. Hutan itu dan kuperuntukkan seluruh pekerjaku keturunannya kelak. Chastelyn sempat mewariskan seluruh perkampungan tersebut pada anaknya melalui sebuah surat wasiat memakai bahasa Belanda kuno.” Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat Chastelyn itulah yang kemungkinan sekarang berada di wilayah Kelurahan Krukut.

Ketika ia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara. ibukota kerajaan masih di daerah Jayasingapura. yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Prabu Jayasingawarman. Dalam wangsit itu dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara akan berkembang menjadi kerajaan besar apabila ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. Pada suatu malam.4. Dipimpin oleh seorang raja yang sangat sakti bernama Prabu Purnawarman. Maka segera saja Prabu Purnawarman memerintahkan kepada patih dan para menteri agar mencari daerah baru untuk ibukota kerajaan. Prabu Purnawarman mendapat wangsit dari Sanghyang Widi. Seluruh rakyat menghormatinya karena Prabu Purnawarman sangat adil dan bijak dalam memimpin. SASAKALA BEKASI Tarumanagara adalah sebuah kerajaan yang subur makmur. 273 .

“Paman Patih.” “Baik. besok akan aku periksa daerah itu. buat panitia untuk mencari daerah baru yang cocok dijadikan ibukota Tarumanagara!” begitulah titah Prabu Purnawarman pada patihnya. Paman Patih pun segera membentuk panitia pencari daerah baru untuk ibukota Tarumanagara.“Paman Patih. Paman Patih?” “Letaknya di tepi kali Gomati. Hingga akhirnya. daerah itu telah 274 . apakah sudah kau temukan daerah baru untuk ibukota itu?” “Ampun ditemukan.” “Di mana letaknya. Namun alangkah baiknya.” Gusti Prabu. Gusti Prabu pun memeriksanya. karena di sana banyak terdapat sumber air. Kemudian Paman Patih menghadap kepada Prabu Purnawarman. Tanahnya sangat subur. rombongan yang dipimpin patih tersebut menemukan sebuah daerah di tepi sungai Gomati.

kerajaan Tarumanagara berkembang pesat. “Perlu kalian ketahui. Sundapura banyak didatangi oleh para pedagang dari mancanagara. Banyak pula pendatang dari kerajaan-kerajaan lain yang bermukim di Sundapura.Keesokan harinya. Benar saja apa yang dikatakan dalam wangsit itu. Daerah itu kemudian diberi nama Sundapura. Kemungkinan nama Sunda untuk menyebut tanah dan suku Sunda sekarang ini dimulai pada masa itu. ia pun menyukai daerah yang baru tersebut. Setelah diperiksa. Prabu Purnawarman memeriksa daerah hasil temuan patihnya itu. ibukota Tarumanaga aku ganti namanya menjadi Sundapura!” begitulah ucapan Prabu Purnawarman pada waktu peresmian ibukota yang baru itu. Tidak lama setelah ibukota dipindahkan. yang berarti kota Sunda. Akhirnya ibukota kerajaan Tarumanagara pun oleh Prabu Purnawarman dipindahkan dari Jayasingapura ke tepi sungai Gomati hasil temuan patihnya tersebut. Apalagi setelah tiga 275 .

ia pun terkenal memiliki ilmu kesaktian yang tidak ada tandingnya. Raja-raja kecil setiap tahun selalu mempersembahkan upeti tanda takluk. Purnawarman tidak dapat dilukai senjata apapun. Beberapa tahun kemudian. Selama berperang. Setelah pasukan perangnya kuat. Prabu Purnawarman memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk membangun pelabuhan di pantai sebelah utara. Selain itu. Purnawarman berhasil menjadi raja terbesar di pulau Jawa. Dalam berperang ia selalu menjadi panglima.tahun kemudian. kemudian Purnawarman memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukan kerajan-kerajaan kecil. Pelabuhan baru itu pun segera saja dipenuhi oleh kapal-kapal pedagang dan kapal-kapal perang kerajaan Tarumanagara. karena ia selalu memakai baju besi. Di medan perang Purnawarman dikenal oleh lawan-lawannya dengan nama Wyaghra ning Tarumanagara (Harimau Tarumanagara). Biasanya acara serah terima upeti dilaksanakan tiap malam 276 bulan purnama setiap .

Mereka berkumpul di istana Tarumanagara. Setiap rakyat yang ikut bergotong royong memperbaiki sungai. Tanah di kerajaan Tarumanagara pun menjadi subur makmur. sambil disuguhi makanan dan tarian wanita-wanita cantik. beberapa stel pakaian. Di antaranya ialah sungai Gangga di wilayah Cirebon. dan beberapa sungai kecil lainnya yang berada di wilayah kekuasaannya. sungai Cupu di wilayah CupunagaraSubang. Telah Tarmanagara banyak yang sungai di wilayah atas kerajaan perintah diperbaiki Purnawarman. irigasi dan dipakai untuk membangun mensejahterakan saluran untuk membuat memperbaiki aliran sungai. Demikian karena mayoritas penduduk Tarumanagara bekerja sebagai petani dan peladang.tahunnya. oleh Purnawarman kerajaan rakyatnya. Sawah dan ladang rakyat terairi dengan 277 . dan perhiasan. maka akan diberinya seekor sapi. Hasil semuanya Tarumanagara Terutama upeti tersebut.

Prabu Purnawarman mendapatkan wangsit kembali. kita semua harus memperbaiki sungai Gomati dan Candrabhaga. Setelah mendapat wangsit itu. Pada musim kemarau pun tidak pernah kekeringan atau kelaparan. Kalau kerajaan Tarumanagara ingin selamat dari bencana dan menang dalam berperang. Intinya semua rakyat Tarumanagara sejahtera hidupnya. “Hai rakyatku semua. Ingat memperbaikinya harus selesai dalam waktu 7 hari 7 malam. bahwa aku mendapat wangsit dari Sanghyang Widi. sehingga banyak ikan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan oleh seluruh rakyat.” 278 . Pada suatu malam. perlu kalian ketahui. beberapa hari kemudian Purnawarman segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun Sundapura.baik. Sungai-sungai airnya bersih. Dalam wangsit itu disebutkan bahwa ia harus segera memperbaiki sungai utama kerajaan Tarumanagara yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga.

berjajar di tepi sungai Gomati dan Candrabhaga. aliran sungai Gomati dan Candrabhaga pun berhasil diperbaiki tepat waktu. ribuan pakaian. Prabu Purnawarman sangat bahagia. Hingga ia pun mengadakan selamatan secara besar-besaran dan memberikan hadiah kepada para brahmana. menteri. dan berbagai masakan lezat. Sambung menyambung tidak terputus membentuk pagar betis. Prabu Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor sapi. Bahkan raja-raja daerah pun dihadiahi oleh Prabu Purnawarman berupa kerbau dan berbagai emas permata untuk permaisurinya. Keesokan harinya ribuan rakyat baik perempuan maupun laki-laki dengan membawa berbagai jenis perkakas. Bahkan para patih.Seluruh rakyat tidak ada yang berani membantah titah rajanya yang sakti tersebut. Siang malam mereka bekerja dengan sungguh- sungguh. Setelah 7 hari 7 malam. Dalam acara sukuran tersebut. dan pembesar kerajaan pun turut serta bersama-sama dengan rakyat memperbaiki aliran sungai. 279 .

Adapun materai raja terbuat dari lempengan emas bergambar lebah dan kumbang. yakni saluran irigasi Gomati dan Chandrabaga yang membentang sejauh 11 km.“Semoga Sanghyang Wasa selalu merestui kerajaan Tarumanaga!” kata Prabu Purnawarman kepada seluruh penduduk yang diucapkan pada acara syukuran itu. Pada masa dipimpin Prabu Purnawarman itulah kerajaan Tarumanagara mencapai kejayaannya. Begitulah kejayaan kerajaan Tarumanagara di tangan Prabu Purnawarman. sampai akhirnya dibagi dua oleh para penerusnya menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. peninggalan kerajaan Tarumanagara tersebut masih dapat kita saksikan. Setiap kapal perang diberi tanda memakai bendera bergambar naga. Angkatan lautnya sangat tangguh. Hingga kini. sedangkan bendera kerajaan Tarumanagara bergambar bungai teratai dan kepala gajah. Saluran irigasi tersebut 280 .

Konon kata chandra dalam Chandrabaga.sekarang membelah kota Bekasi dan namanya berubah menjadi Kali Bekasi. Chandrabhaga artinya sama dengan Kali Bagasasi. *** 281 . kemudian berubah namanya menyesuaikan dengan lafal penduduk setempat menjadi Bhagasi dan berubah menjadi Bekasi seperti yang kita kenal sekarang. Dengan demikian. berarti sasi atau bulan. Seiring perjalanan waktu.

F. Namun masarakat menyebutnya dengan Ratu Ayu Rambut Kasih atau Nyi Rambut Kasih. sang ratu pun memiliki ilmu kesaktian dan 282 . Kerajaan seorang ratu yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Panyidagan. Mereka hanya berani menatap sang ratu dari bagian belakang. Maka dijulukilah Nyi Rambut Kasih. SASAKALA MAJALENGKA Dahulu kala. SASAKALA WILAYAH PANTURA 1. Rambut ratu yang indah itu konon sebagai asihan. sehingga yang terlihat hanya rambutnya saja yang panjang hitam bergelombang terurai. Bagi siapa saja yang melihatnya akan menimbulkan rasa kasih pada sang ratu. Dijuluki Rambut Kasih karena rakyat di kerajaan Panyidagan tidak berani menatap wajahnya yang sangat cantik dan berkharisma. Bahkan selain rambutnya yang indah. ada sebuah kerajaan yang gemah ripah repeh rapih bernama tersebut Panyidagan diperintah atau oleh Sindangkasih.

Kehidupan rakyat pun terjamin. Dalam menjalankan roda pemerintahan. panglima perang. “Atas kehendak Sanghyang. sehingga disukai dan dihormati seluruh rakyatnya. Setelah suasana tertib. Tak pernah ada pencuri atau perampok yang mengganggu kekayaan rakyat. Pada suatu hari. Nyi Rambut Kasih mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh paramenteri. Prajurit dan guru merasa dihargai.” 283 . Nyi Rambut Kasih dikenal sangat adil dan bijaksana. maka bersabdalah Nyi Rambut Kasih kepada seluruh yang hadir. dan Ki Gedeng Kulur.kedigdayaan lahir batin yang tinggi. dan tentu saja ketiga orang patih setianya. Ia dibantu oleh tiga orang patih setianya. karena hukum kerajaan ditegakkan tidak pandang bulu. yakni: Ki Gedeng Cigobang. Ki Gedeng Mardapa. negara kita akan mendapat cobaan. Petani dan pedagang merasa tentram. Ia pun dapat menerawang kejadian yang akan datang.

. Sang Ratu kemudian bertitah lagi. terimalah dengan lapang dada. kelak negara ini akan berubah.Semua undangan yang hadir terdiam..” semua serempak menjawab. tamu tersebut gagah tur kasep. aku perintahkan kepada paman patih. Maka semuanya harus waspada dan siaga menghadapi semua malapetaka. Menurut wangsit. untuk melindungi segenap rakyat di kerajaan ini. malapetaka seperti apa. Oleh karena itu. dan seluruh prajurit. Lebih baik banyak sahabat. ketimbang banyak musuh. Apabila dikemudian hari ada utusan dari kerajaan lain yang ingin bersahabat. semua menteri. Nyai Ratu. Namun orang tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi kita sekalian. Setelah mendengar jawaban dari hadirin. “Menurut wangsit yang aku terima. Selanjutnya Nyi Rambut Kasih bersabda lagi.. Paham…?” “Nyakseni. semua rakyat Panyidagan 284 . Tentramkan hati rakyat. Entahlah. "Sebentar lagi kita akan menerima tamu. Akan tetapi..

akan berubah keyakinan dan kepercayaan sesudah kerajaan ini lepas dari kekuasaanku. Demikian

nasihatku, sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan tenang." Setelah pertemuan itu, ketiga patih bersama panglima perang menyiapkan prajurit untuk menjaga perbatasan kerajaan di sebelah utara. Di perbatasan, lalu ketiga patih tersebut membuat posko penjagaan. Dari posko itu mereka dapat melihat keseluruh penjuru dengan jelas. Setiap orang yang akan masuk kerajaan Panyidagan akan kelihatan dengan jelas. Apalagi orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai dulu karena hanya tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Posko penjagaan ketiga patih yang diketuai oleh Ki Gedeng Cigobang itu, kini dikenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata Penjagaan). Suatu hari yang cerah. Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang santai
285

berkelakar. Tidak diketahui dari mana datangnya, tibatiba terlihat seorang pemuda sedang menyeberangi sungai menuju Negeri Panyidagan. Alangkah

terkejutnya ketiga patih melihat kejadian itu. Dengan segera ketiga patih itu memanggil pemuda yang sedang menyeberangi sungai. "Hai, Ki Silah, kenapa kamu berani

menyeberang tanpa seijin kami?" Pemuda yang sedang menyeberang tidak

menghiraukan teriakan ketiga patih itu. Ia terus saja menyeberang sampai ke tepi sungai dan segera pergi menjauhi ketiga patih itu. Melihat tingkah pemuda tersebut, ketiga patih sangat marah. Kemudian mereka mengejar pemuda itu dengan maksud akan mengeroyok karena sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka. Ternyata pemuda yang telah menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon yang bernama Pangeran Muhamad. Ia bermaksud meminta pertolongan Ratu Ayu Panyidagan. la akan
286

meminta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidagan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon yang sedang terjangkit wabah penyakit. Konon menurut wangsit Sunuhun Jati Cirebon, wabah penyakit tersebut dapat diobati dengan godogan buah maja yang banyak tumbuh di daerah Panyidagan. Selain mendapat tugas untuk mencari buah maja, pemuda itu pun mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke beberapa tempat yang rakyatnya masih menyembah berhala. Kembali pada cerita pengejaran ketiga patih terhadap pemuda yang berhasil menyebrangi sungai. Pemuda itu ternyata bernama Pangeran Muhamad. Ketika Patih Ki Gedeng Cigobang akan menangkapnya, Pangeran Muhamad dapat menghalaunya. Akhirnya ketiga patih itu menggunakan siasat dengan cara mengepung Pangeran Muhamad dari segala penjuru. Akhirnya, Pangeran Muhamad pun terkepung. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, lalu

Pangeran Muhamad masuk dan bersembunyi ke dalam
287

rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia segera minta perlindungan kepada Tuhan syahadat Yang dan

Mahakuasa

dengan

mengucapkan

nenjrag bumi tiga kali. Tanah yang diinjak itu terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad pun masuk ke dalamnya. Ketiga patih itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolakbalik mencarinya. Setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang, namun Pangeran Muhamad menghilang tanpa bekas. Ketiga patih itu pun merasa putus asa, kemudian mereka duduk termenung memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada ratu. Setelah berunding dengan matang, segera mereka pergi menuju ke istana Panyidagan. Adapun Pangeran Muhamad yang bersembunyi di dalam tanah, terus berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, agar diberi kekuatan dapat keluar dari lubang. Hingga akhirnya Pangeran Muhamad pun dapat keluar dari lubang persembunyiannya. Ia muncul
288

Mereka berniat melaporkan buronan yang hilang. cahaya itu pun menghilang. namun hanya bisa tertunduk lesu ketika Sang Ratu datang menemuinya dan langsung menegurnya. penglihatan Pangeran Muhamad mendadak gelap. Makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan setapak yang dilaluinya. Lalu ia pun berjalan menuju ke tempat datangnya cahaya. Lain dengan ketiga patih yang sedang menghadap ke Ratu Ayu Panyidagan.di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Munjul (rupanya nama tersebut didasarkan atas kata punjul(keluar)-nya Pangeran Muhamad dari dalam lubang tempat persembunyiannya). 289 . Setelah dekat. Ketika keluar. ternyata cahaya tersebut memancar dari supa lember yang tumbuh pada pohon-pohon jati yang berjejer sepanjang jalan setapak. Pangeran Muhamad pun kemudian memberi nama tempat tersebut dengan Jatipamor. yang berarti kebun jati yang berpamor (bercahaya). Lalu diselidiki.

" "Ah.“Hai paman patih! Mengapa kalian kembali ke pendopo. tetapi ." Ketiga patih itu pun kemudian pergi meninggalkan pendopo dengan niat mencari buronan. Hamba bertiga sempat menegurnya. Hamba pun mengejar dan mengepungnya. kalian tidak boleh kembali. malah lari tunggang langgang. Pergilah dan tangkap hidup-hidup. kami mengerti. sebelum tertangkap. mendapati seorang pemuda menyeberangi sungai. Mereka pergi lagi ke tempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengubrak-abrik tempat 290 itu. Bagaimana kalau ada orang asing masuk ke negara tidak diketahui oleh kalian?” "Ya Ratu. Sekarang kalian harus segera mencari kembali pemuda tersebut dan hadapkan padaku. Hamba datang untuk melapor bahwa kemarin ketika sedang berjaga. Ingat. tetapi orang itu tidak mau menjawab. bukankah sudah kutitahkan untuk menjaga wilayah perbatasan. kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. aku tidak percaya berita semacam itu.

Maka Pangeran Muhamad disuruh beristirahat dan 291 .masih tetap belum dijumpainya. Namun setelah mereka bersama segenap prajurit menjelajahi hutan. dijaga oleh Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur. memasuki gua-gua. sedangkan Ki Gedong Cigobang pergi menghadap Ratu Ayu Panyidagan dengan niat melaporkan bahwa buronan itu sudah ditangkap. ia kembali lagi ke pendopo akan melaksanakan perintah ratu. oleh ketiga patih diikat dan dibawa menghadap ke pendopo. Nyi Rambut Kasih keluar dan langsung bersabda: “Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Selanjutnya Pangeran Muhamad disuruh duduk di depan singgasana Ratu Ayu Panyidagan. Perlakukan pemuda itu seperti tamu biasanya!" Ki Gedeng Cigobang tidak berkata apa-apa. Lalu. Akhirnya Pangeran Muhamad pun tertangkap hidup-hidup. Namun baru saja sampai di depan gapura kaputren. dan bertanya pada setiap warga. akhirnya sampailah ke tempat Pangeran Muhamad beristirahat. yakni di Jatipamor.

kamu siapa? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini? Apa maksud kedatanganmu?" "Hamba ini Pangeran Muhamad dari Cirebon. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Hamba datang ke sini diutus oleh Sunuhun Jati untuk mencari buah maja yang banyak terdapat di kerajaan Panyidagan. Ratu Ayu Panyidagan pun bertanya: "Hai Ki Silah. Mudah-mudahan Nyi Ratu bersedia menolong dan 292 . sehingga muncul niat ingin dipersunting oleh pemuda tersebut. Maka ketika Pangeran Muhamad sudah berada di hadapannya. Pangeran Muhamad pun disuruh menghadap kembali ke kaputren.mandi dulu sebelum menghadap ratu. Buah itu akan dipakai untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit. Waktu Pangeran Muhamad sedang berjalan menuju keputren. Setelah itu. Beliau segera terpesona melihat pemuda yang gagah tur kasep itu. Ratu Ayu Panyidagan melihatnya sekilas.

" "Terima kasih Ratu." "Hanya itu permintaanmu?" "Ya. para menteri. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diriku. yakni belum memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta di kerajaan Panyidagan ini. Nampaknya engkau akan pantas untuk menjadi suamiku. serta para ponggawa kami semuanya sangat setia. patih. asal kamu memenuhi syarat ini. apa gerangan syaratnya?" "Syaratnya sangat mudah. Itulah syaratnya. Bukannya hamba tidak mengagumi kecantikan ratu. syarat ini terlalu berat. hanya itu permohonan hamba!" "Baiklah akan aku penuhi permintaanmu itu. ratu. apakah engkau bersedia?” "Ampun ratu. Bukannya 293 . bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu. Bagaimana. Coba dengarkan! Aku ini seorang ratu yang dihormati oleh semua rakyat Panyidagan.mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah kekuasaan Nyai.

hamba ini sudah beristri. Kaputren dan Ratu Panyidagan 294 . dan turunlah hujan yang sangat lebat. Bahkan akan ku hancurkan perkebunan buah maja di seluruh pelosok kerajaannku. Hamba tidak mau mengkhianati kesetiaannya.hamba menolak anugerah besar ini. "Patih. tangkap orang ini! Masukan ke dalam penjara. sehingga seluruh penduduk kerajaan pun merasa ketakutan." Tentu saja. makin lama makin gelap. langit mulai mendung. Ratu Ayu Panyidagan sangat murka. Keesokan harinya. Namun semua penduduk terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang telah berubah. langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta. mendengar jawaban tersebut." Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Tidak berapa lama setelah itu. Hanya saja. agar tidak bisa menyembuhkan orang Cirebon. jangan sampai kabur kembali ke Cirebon.

Kata langka dalam bahasa Sunda artinya hilang atau musnah.langka. Maka Pangeran Muhamad pun memutuskan untuk tidak kembali ke Cirebon. buah maja telah musnah.menghilang entah ke mana. Di seluruh pelosok kerajaan. tentu saja tidak berhasil mendapatkannya. majalangka… !" Sejak itu timbul sebutan Majalangka. karena takut akan dihukum oleh Sinuhun Jati. Adapun Pangeran Muhamad yang diutus Sinuhun Jati untuk mencari buah maja. Sejak itulah wilayah Gunung Haur dikenal dengan nama Margatapa. sampai meninggalnya di sana. maja… langka. Buah maja yang ditanam di kebun kerajaan menghilang tanpa bekas. maja…. Selanjutnya Pangeran Muhamad memutuskan untuk bertapa di gunung Haur. Semua rakyat pun ribut sambil berteriak: "Gusti ratu menghilang. yang kemudian masarakat setempat menyebutnya Majalengka. yang artinya tempat bertapa. Majalengka artinya hilangnya buah maja. *** 295 .

tanahnya subur dan akan banyak dikunjungi orang. Wiralodara menghabiskan waktu 40 hari 40 malam.2. SASAKALA INDRAMAYU Tersebutlah pemuda yang sangat tampan. putra Tumenggung Gagak Singalodra. Sebagai mempunyai kstaria pilih untuk tanding. Ia bernama Wiralodra. mendirikan Wiralodra sebuah keinginan kerajaan. Dalam wangsitnya itu disebutkan bahwa Wiralodra harus mencari sungai yang bernama Cimanuk. sebelum akhirnya mendapatkan wangsit dari Sang Hyang Wasa. Karena ketampanan dan kesaktiannya itulah. Wiralodra pun melaksanakan tapabrata di suatu tempat yang bernama Malaya di kawasan lembah Gunung Sumbing. Ia tidak ingin menjadi raja karena hasil pemberian dari ayahnya atau orang lain. gagah. Maka sebagai langkah awal. Wiralodra menjadi pujaan banyak perempuan. Tanah itulah yang 296 . Di lembah sungai itu. Bagelen. dari Banyurip. dan memiliki kesaktian tinggi. Jawa Tengah.

Kalau memang pendirian dan niatmu begitu.” kata ayahnya terheran-heran. engkau menghadapku di waktu masih pagi seperti ini?” Wiralodra “Maaf menundukkan aku kepala. aku sudah tahu bagaimana karaktermu. aku akan mengijinkanmu. Ketika itu hari masih pagi. wangsit agar segera mencari sungai Cimanuk. pandai-pandailah engkau menjaga diri. “Di lembah sungai itulah. “Ada apa anakku. ayahanda.” “Untuk apa mencari sungai Cimanuk.” kata Wiralodra tegas. Sebagai teman 297 . ketika Wiralodra menghadap ayahnya di pendopo. semalam sebelum mendapat akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya. “Anakku. menurut wangsit.menurut wangsit sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. bukankah di daerah Bagelen juga terdapat banyak sungai. sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. Hanya pintaku.

Tidak lupa ia pun menceritakan isi wangsit yang diterimanya di pertapaan. aku utus Ki Tinggil untuk menemanimu” Setelah mendapat ijin dari ayahnya. Dalam perjalanannya itulah pada suatu hari di tengah hutan belantara. karena dapat bertemu dengan orang yang luar biasa. Lelaki tua tersebut mengaku bernama Ki Sadum. 298 . Perjalanannya menuju ke sebelah Barat. Setelah mendengar cerita Wiralodra. tiba-tiba lelaki tua tersebut berubah menjadi Kiai Malik Warna. Tentu saja Wiralodra dan Ki Tinggil kaget bercampur bahagia. ke mana tujuanmu?” Maka berceritalah Wiralodra tentang maksud dan tujuannya.berbincang selama perjalanan. Wiralodra bertemu dengan seorang lelaki tua renta. Mahaguru yang sudah koncara ke mana-mana memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi. “Hey anak muda. maka pergilah Wiralodra dengan ditemani Ki Tinggil untuk berkelana mencari sungai Cimanuk.

akhirnya Kiai Malik bicara: “Apabila engkau berdua sudah berada di wilayah yang bernama Cupunagara. segera cari kijang bermata berlian. Ketika ular tersebut akan diangkat. Apabila kijang itu berhenti dan menghilang di pinggir sungai. bergegaslah Wiralodra dan Ki Tinggil menuju ke sebelah Barat untuk mencari daerah yang bernama Cupunagara.Setelah sesaat ketiganya membisu. ia mendapati ular sangat besar menghalangi jalan setapak yang akan dilewatinya. Wiralodra kembali menjelajah hutan belantara yang masih angker. Namun secara gesit. Kepala ular pun hancur terkena pukulan cakra. ikutilah perjalanannya. Wiralodra memukulkan cakra senjata andalannya. Setelah ditemukan. Kiai?” Setelah meminta ijin. tiba-tiba kepalanya menyambar akan menerkam Wiralodra. maka sungai itulah yang dinamakan Cimanuk. 299 . Hingga di sebuah hutan jati. Mengerti engkau Wiralodra?” “Paham.

Dalam pertemuannya itu. bahwa itu hanyalah sungai jadi-jadian. Maka dengan segera.Baru saja Wiralodra menarik nafas. Akibat ditolak Wiralodra. Untung saja Wiralodra segera sadar. hilanglah sungai. Ia pun langsung menantang Wiralodra untuk berkelahi adu kesaktian sampai salah satunya ada yang meninggal. Dewi Larawana mengaku telah jatuh cinta pada Wiralodra. tiba-tiba ular yang kepalanya sudah hancur tersebut berubah wujud menjadi sungai yang airnya jernih. Kontan saja Wiralodra menolak. Perempuan tersebut menyebut dirinya dengan nama Dewi Larawana dan ia pun mengaku penguasa hutan larangan tersebut. Wiralodra dan Ki Tinggil merasa heran dan terpana. Bahkan ia menginginkan untuk dikawini oleh Wiralodra. ia memukulkan cakranya kembali pada air sungai yang jernih tersebut. Pada mulanya permintaan tersebut 300 . Setelah itu. kini berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. Dewi Larawana merasa terhina. karena ia tidak berniat mencari istri namun mencari daerah bernama Cupunagara.

Adapun ciri-ciri kijang tersebut sama dengan yang diceritakan oleh Kiai Malik Warna. Namun setelah Wiralodra mengeluarkan cakra sebagai senjata andalannya. mayat Dewi Larawana berubah wujud menjadi kijang bermata berlian. akhirnya Dewi Larawana pun semakin terdesak. Perkelahian pun terjadi. Mula-mula berupa asap tipis. kejadian aneh terjadi kembali. tiba-tiba dari mayatnya keluar asap. Sesaat setelah Dewi Larawana meninggal. akhirnya Wiralodra pun melayani tantangan tersebut. Baik Wiralodra maupun Dewi Larawana sama-sama memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Ia pun akhirnya meninggal terkena cakra Wiralodra. Tidak berhenti di situ.ditolak oleh Wiralodra. Semakin lama perkelahian pun semakin sengit. 301 . namun karena Dewi Larawana terlebih dulu menyerang. Setelah itu. kemudian berubah menjadi tebal sampai menyelimuti hutan. Keduanya sama-sama memakai ilmu yang tinggi.

Wiralodra dan Ki Tinggil didatangi dua mahluk aneh yang mengaku Raja Budipaksa dan Patih Bujaris. keesokan harinya Wiralodra dan Ki Tinggil segera ngababakan (membuka lahan baru untuk pedukuhan) di sekitar tepi sungai Cimanuk. Maka dikejarlah kijang bermata berlian itu oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Namun kijang tersebut tetap saja tidak terkejar. Sampai pada malam harinya. Namun ketika kijang bermata berlian tersebut berlari dari hadapannya.Tentu saja Wiralodra tidak langsung percaya begitu saja. Keduanya mengaku 302 . Wiralodra mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengejar kijang tersebut. Ia masih yakin bahwa kijang tersebut hanyalah jadi-jadian. Sampai akhirnya kijang tersebut menghilang di tepi sebuah sungai yang airnya jernih. Wiralodra pun segera tersadar. bahwa kijang tersebut telah menunjukkan letak sungai Cimanuk yang selama ini ia cari. Tidak menunggu lama. Wiralodra segera penasaran untuk mengejarnya.

Bahkan seterusnya. Selanjutnya pemukiman itu pun berubah menjadi 303 . Keduanya menerima takluk pada Wiralodra.sebagai penguasa hutan di sekitar tepi sungai Cimanuk tersebut. sedangkan Patih Bujaris menantang Ki Tinggil. seluruh siluman penghuni hutan di tepi sungai Cimanuk turut serta membantu Wiralodra membuka lahan baru untuk pemukiman. Keduanya saling berhadap-hadapan. Dua siluman tersebut marah karena tidak terima wilayah kekuasannya diganggu oleh Wiralodra. sebelum akhirnya kedua siluman tersebut dapat dikalahkan oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Lama kelamaan lahan untuk pemukiman semakin besar. Orang pun mulai berdatangan dan betah menetap di sana. Perkelahian pun terjadi. Wiralodra diangkat sebagai pemimpinnya dan Ki Tinggil sebagai wakilnya. Raja Budipaksa menghadapi Wiralodra. Mereka berdua pun menyerang Wiralodra dan Ki Tinggil.

terutama pada bidang pertanian dan perikanan. Ia banyak membantu Wiralodra dalam mengembangkan ilmu hidup kepada penduduk Cimanuk. Perkampungan di lembah sungai Cimanuk semakin ramai. Sehari-hari. perkampungan Cimanuk semakin pesat.kerajaan. Apalagi setelah mendapat bantuan dari seorang pemukim baru bernama Endang Darma. Wiralodra menugaskan Ki Tinggil untuk segera memperluas wilayah kekuasaan. Endang Darma hidup membaur dengan penduduk Ciamanuk. Pembangunan dalam segala bidang terus digalakan oleh Wiralodra. Endang Darma adalah seorang perempuan cantik yang memiliki ilmu tinggi. dan Puspahita. 304 . Tentu saja Wiralodra diangkat menjadi raja dan Ki Tinggil menjadi patihnya. mulai dari teknik bertani. akhirnya Ki Tinggil pun berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wiralodra. Dengan dibantu oleh prajurit tangguh bernama Surantaka. berdagang. Banyuntaka. sampai teknik berperang melawan musuh.

Ia pun berniat ingin menguji kesaktian Endang Darma.Pada suatu ketika. Maka ditantanglah Endang Darma oleh Wiralodra. Kemudian Endang Darma mengajukan syarat kepada Wiralodra agar mau menamai daerah tersebut berdasarkan namanya. Itulah sebabnya Cirebon segera mengirimkan pasukan 305 . Kabar telah berdiri kerajaan di lembah sungai Cimanuk pun akhirnya sampai juga pada kerajaan Cirebon. Wiralodra pun merestuinya. asal Endang Darma dapat terus membantunya dalam mengembangkan kerajaan. karena ada sebagian wilayahnya yang dicaplok oleh Wiralodra. ia akan terus membantu Wiralodra untuk mengambangkan pemukiman Cimanuk menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Tetapi karena Wiralodra memiliki kesaktian yang lebih tinggi. Sebagai tandanya. akhirnya Endang Darma mengaku kalah. Wiralodra merasa tersanjung atas bantuan Endang Darma tersebut. Sultan Cirebon merasa dihina.

yang berarti Endang Darma yang cantik (ayu). kemudian Wiralodra memberi nama pada kerajaannya Darma Ayu. Tanda bahwa Wiralodra memuji kecantikan. dan menepati janjinya pada Endang Darma. Nama Darma Ayu diambil dari ungkapan Endang Darma anu ayu. Setalah kejadian pertempuran itu. Maksudnya untuk memberi pelajaran pada Wiralodra. kesaktian. Banyak pendatang dari kerajaan 306 . Pasukan Cirebon kocar-kacir kewalahan menghadapi amukan penduduk Cimanuk. Pertempuran pun terjadi dan keunggulan berpihak pada pasukan Endang Darma.yang dipimpin oleh Aria Kemuning ke daerah Cimanuk. tentu saja WIralodra telah menyiapkan penduduknya yang dipimpin oleh Endang Darma untuk menghadapi pasukan Cirebon tersebut. Semakin hari kampung Darma Ayu pun semakin berkembang pesat. Alasannya sebagai bentuk penghargaan pada Endang Darma yang telah berhasil mengalahkan pasukan Cirebon dan mempertahankan kekuasannya di Cimanuk. Tiba di Cimanuk.

lain dan langsung menetap di perkampungan tersebut. Seiring waktu. yang mereka sebut sebagai bahasa dermayuan atau dermayon. *** 307 . mengikuti logat bahasa penduduk setempat yang bercampur antara penduduk asli dengan pendatang dari kerajaan Mataram. Bahkan banyak pula pendatang dari kerajaan Mataram. nama kampung Darma Ayu pun berubah menjadi Indramayu.

Ki Gedeng Sindangkasih dan semua penduduk kampung pun semakin takjub dibuatnya. Penduduk kampung tersebut kesehariannya menangkap rebon. datanglah seorang pemuda tampan ke kampung Surantaka. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Sindangkasih. diterimalah pemuda tersebut sebagai tamu pribadinya. Lalu pemuda tersebut diinapkan di rumah Ki Gedeng Sindangkasih. sejenis udang kecil bahan pokok untuk membuat tarasi (terasi).3. adiknya raja Galuh yang bernama Prabu Anggalarang. terdapat sebuah kampung bernama Surantaka. ia menaruh 308 . Ia mengaku berasal dari Galuh dan bernama Pamanah Rasa. Oleh Ki Gedeng Sindangkasih. Termasuk Nyai Ambet Kasih. SASAKALA CIREBON Di pesisir sebelah utara kerajaan Galuh. Suatu ketika. Ki Gedeng Sindangkasih memiliki seorang putri yang cantik di jelita bernama Nyai Ambet Kasih. semakin kelihatan watak dan ketangkasan Pamanah Rasa. Semakin hari.

” “Kalau begitu berarti engkau keponakanku. maka pada suatu hari yang cerah. Tidak mungkin rakyat biasa memiliki pemikiran seperti engkau. melihat kecerdasan dan ketangkasanmu. Karena penasaran.” “Maksud. Aku pangeran dari Galuh. Namaku yang sebenarnya adalah Jayadewata. siapa sebenarnya engkau ini anak muda?” “Euh. aku sebenarnya bukan Pamanah Rasa.” 309 . dipanggilah pemuda tersebut untuk menghadap Ki Gedeng Sindangkasih. Namun dari tingkah lakumu. Jadi. nampaknya engkau hadir dari keluarga istana. selama ini engkau mengaku sebagai pengelana dan rakyat biasa.perhatian khusus pada pemuda tersebut. aku sedikitnya menaruh curiga. “Ada apa Aki memanggil saya?” “Begini anak muda. Aki?” “Aku heran. karena Prabu Anggalarang adalah kakakku.

akan dinikahkan dengan putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang. Setelah Pamanah Rasa menetap cukup lama.Sejak perbincangan hari itu. Karena Pamanah Rasa memenangkan sayembara. Di kampung tersebut tengah diadakan saembara adu kesaktian. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa. kemudian Nyai melanjutkan perjalanannya. letaknya bersebelahan dengan kampung Surantaka. karena ia tahu tugas suaminya sebagai putra mahkota kerajaan Galuh amatlah berat. Bagi yang memenangkan saembara. sampailah Pamanah Rasa di sebuah kampung yang bernama Singapura. Dalam perjalanannya kemudian. Dari perkawinan tersebut 310 . lalu ia pun dinikahkan dengan Nyai Subanglarang. selanjutnya Pamanah Rasa pun dinikahkan dengan Nyai Ambet Kasih. Ambet Kasih pun tidak bisa mencegahnya. Seluruh penduduk kampung pun ikut berbahagia.

Raden Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah. Waktu pun berjalan cepat.lahirlah tiga orang anak. Setelah menikah. dan kelak setelah pergi menjalankan 311 . melanjutkan kembali pengembaraannya. Namun setelah Nyai Subanglarang meninggal. Raden Gedeng Danuwarsih dinikahkan kepada putri tunggalnya yang bernama Nyai Indang Geulis. yaitu Raden Walangsungsang. Setelah Walangsungsang berguru oleh sekian Ki lama. Ketiganya dibesarkan di keraton Singapura. Ketiganya masuk Islam. Oleh Syeh Datuk Kahfi. Ketiga anak Pamanah Rasa telah tumbuh besar. berikut Nyai Lara Santang. ia berkelana dan berguru di padepokan seorang guru bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Sampailah kepada sebuah pesantren pimpinan Syeh Datuk Kahfi. Raden Walangsungsang. Indang Geulis. Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan istana.

Kampung inilah yang kemudian banyak didatangi oleh pemukim dari daerah lain. Raden Walangsungsang ngababakan (membuka daerah baru) yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir.ibadah haji. yang artinya campuran dari berbagai etnis dan agama. Atas anjuran guru sekaligus mertuanya. Kampung inipun kemudian diubah namanya menjadi kampung Caruban. Nyai Lara Santang pun berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. Dinamakan Tegal Alang Alang karena daerah tersebut sebelumnya banyak ditumbuhi pohon alangalang. Arab. Setelah perkampungan Caruban berkembang pesat. Raden Walangsungsang pergi berhaji ditemani oleh adiknya Nyai Lara Santang. 312 . Jawa. ia berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. kemudian adiknya dinikahi oleh Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. mulai dari etnis Sunda. atas saran mertuanya Syeh Datuk Kahfi. dan Cina. Di mekah inilah.

ia langsung mendirikan sebuah mesjid dan sebuah rumah. Syarifah Mudaim mendapat putra bernama Syarif Hidayatullah yang kelak didaulat menjadi Gunung Jati. Mesjid tersebut kelak diberi nama Jalagrahan dan rumahnya kemudian dijadikan Keraton Pakungwati. Sesudah Sunan menikahkan adiknya. Pakuwuan ini kemudian diperluas dan ditingkatkan derajat pemerintahannya menjadi kerajaan kecil bernama Nagari Carubanlarang. Kembali ke kisah Raden Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman. karena meninggal di gunung Jati. ia pun segera kembali ke kampung Caruban. Letaknya di sisi pesisir membuat kedatangan banyak pengunjung dari negara lain. yang salah satunya ada seorang pendatang 313 .Dari perkawinannya dengan orang Arab. Ki Samadullah pun diangkat menjadi Kuwu Caruban yang bergelar Pangeran Cakrabuana. Kerajaan Carubanlarang pun semakin hari semakin berkembang pesat. Setibanya di kampung halaman.

menggatikan Syekh Datuk Kahfi. dekat Amparan Jati. Selain itu. ia pun bolak-balik ke Nagri Carubanlarang untuk menemui uwaknya. pergi berkelana ke kerajaan Banten. dan di sana ia mulai menyebarkan agama Islam. Setelah lama membantu Syeh Datuk Kahfi mengajakan Islam di daerah pesisir utara. 314 . kemudian Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Syeh Jati. Dari pernikahannya itulah.bernama Syarif Hidayatullah. Mula-mula Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati. kemudian terus ke Desa SembungPasambangan. Di sana ia bertemu dengan Bupati Kawunganten dari kerajaan Pajajaran yang sangat tertarik terhadap ajaran Islam. karena ia anak Syarifah Mudaim. Bahkan sampai menikahkan adiknya yang bernama Nyai Kawunganten dengan Syeh Jati. adiknya sendiri. lahir Pangeran Saba Kingkin. Ki Samdullah. yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Pemuda ini masih keponakan Ki Samadullah.

dari Caruban menjadi Cerbon. *** 315 . disesuaikan dengan logat penduduk setempat. Namanya pun diganti. Sejak itulah kemudian Nagari Caruban berkembang pesat dan dikembangkan menjadi sebuah Kesultanan. Mengambilan nama ini pun mengingatkan cikal bakal kampung Surantaka. Nama Caruban atau Cerbon inilah yang kelak akan berubah menjadi Cirebon hingga sekarang.Setelah sekian lama mengembara di Banten. Sekembalinya dari itulah kemudian dinobatkan sebagai kepala Nagari Carubanlarang dan bergelar Sunan Jati atau Sunan Caruban. yang mayoritas keseharian penduduknya menangkap rebon. kemudian Syeh Jati kembali Banten ke pesisir ia utara.

apalagi setelah semua penduduknya masuk Islam. Sesampainya di kampung Luragung.4. Pada waktu itu. Penduduk Luragung terkenal sangat ramah. konon penduduknya masih menyembah berhala dan percaya pada pohon-pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Kemudian kerabatnya. Setelah sekian lama Sunan Gunung 316 . Orang yang pertama berhasil diajak masuk. hingga akhirnya semua penduduk Luragung pun masuk Islam. Sunan Gunung Jati pun kemudian menyebarkan agama Islam ke sebuah perkampungan di sebelah selatan Cirebon yang bernama Luragung. kampung Luragung dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung. Sunan Gunung Jati pun kemudian mulai mengajak penduduk di sana untuk masuk Islam. ialah Ki Gedeng Luragung. Terlebih mereka tahu bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan Cirebon. Di kampung itu. SASAKALA KUNINGAN Ketika di wilayah Kesultanan Cirebon semua penduduknya telah ngagem (masuk) agama Islam.

Jati menetap di Luragung. Bokor kuningan inilah yang kelak dijadikan logo atau maskot kabupaten Kuningan. kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk bersedia putranya yang kebetulan masih bayi diangkat menjadi anak kukut (pungut). Untuk mengobati hati istrinya. putranya yang pertama itu meninggal dunia. Ketika itu Nyai Rara Sumanding tengah hamil tua. Anak tersebut bernama Suranggajaya. Nyai Rara Sumanding pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun sayang. Setelah menyebarkan Islam di kampung Luragung. Sunan Gunung Jati nukeuran (menukar) bayi yang bernama Suranggajaya itu dengan sebuah bokor yang terbuat dari wesi kuning (logam kuningan). kemudian Sunan Gunung Jati pergi ke 317 . kemudian istrinya yang bernama Putri Ong Tien (asal Campa) atau Nyai Rara Sumanding datang menyusulnya. Sebagai tanda balas budi kepada Ki Gedeng Luragung. Hingga sesampainya di Luragung.

Sesampainya di Winduherang. Sebelumnya ia menikahi Nyai Ratu Selawati yang pada waktu itu menjadi ratu di daerah Winduherang. Ia penganut agama karuhun. sebelum akhirnya masuk Islam setelah dinikahi oleh Syekh Maulana Arifin. Kedatangan Syekh Maulana Akbar dalam menyebarkan Islam ke Winduherang.Winduherang bernama untuk menemui atau saudaranya Aria yang Bratawiyana Kamuning. Syekh Maulana Akbar adalah pendatang dari Persia yang menyebarkan Islam lebih awal di daerah Winduherang. Nyai Ratu Selawati adalah adiknya Ki Gedeng Luragung. ternyata saudaranya tersebut telah lebih dulu masuk Islam atas petunjuk Syekh Maulana Akbar. masuknya Syekh Maulana Arifin ke 318 . dapat dikatakan sebagai penyempurna. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam pertama ke daerah itu. Namun tentu saja. Sementara Sunan Gunung Jati. artinya lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati.

“Baiklah Kanjeng Sunan.” titah Sunan Gunung Jati pada Aria Kamuning. karena ketika itu Sunan Gunung Jati yang menjadi Sultan Cirebon.” ujar Sunan Gunung Jati. Pada waktu itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa setelah dewasa. “Aku titipkan anak angkatku. Setelah sampai di Winduherang. ia akan merasa lebih dekat denganmu. ia kemudian menitipkan anak angkatnya (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Aria Kamuning). Kelak ia akan ku angkat menjadi penguasa di wilayah ini.” jawab Aria Kemuning. 319 . Asuhlah dia menjadi pemuda yang taat terhadap ajaran Islam. kelak anak angkatnya tersebut akan diangkat menjadi penguasa di Winduherang menggantikan Nyai Ratu Selawati.daerah Winduherang atas seijin Sunan Gunung Jati. “Aku ganti nama anak ini menjadi Raden Kamuning. akan kulaksanakan titahmu. Semoga dengan nama itu. Kembali ke kisah perjalanan Sunan Gunung Jati.

kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Raden Kamuning menjadi penguasa di Winduherang. Sesuai dengan janjinya. Semenjak itu. setelah menginjak usia 17 tahun.Waktu pun berjalan begitu cepat. Bersamaan dengan itu. Nama tersebut merujuk pada kisah hidup Raden Kamuning yang ketika masa bayinya ditukar oleh Sunan Gunung Jati dengan sebuah bokor kuningan dari Ki Gedeng Luragung. namun ada pula yang terus 320 . Semakin lama kerajaan Kuningan banyak didatangi oleh pendatang dari daerah lain. tumbuh pula anak pituin (asli) Aria Kamuning yang bernama Dipati Ewangga. Sering mengaji dan latihan kanuragan (ilmu beladiri) bersama. nama Winduherang pun diganti oleh Sunan Gunung menjadi Kuningan. Keduanya sangat rukun. Raden Kamuning kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Mereka kebanyakan berdagang. Kelak Dipati Ewangga akan membantu Kesultanan Cirebon dalam menyerang Belanda di Batavia (sehingga sekarang kita mendapati nama perkampungan Kuningan di Jakarta).

bermukim. Dalam memimpin roda pemerintahan. Seluruh rakyat Kuningan sangat menghormati dan mencintainya. *** 321 . Ia selalu membuat perintah atas dasar ajaran agama Islam. Raden Kamuning sangat adil dan bijak. Sebagai raja yang dikukuhkan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati. pada waktu itu kedudukannya di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh ayah angkatnya sendiri. Kemudian Sunan Gunung Jati pun memberikan gelar kepadanya Sang Adipati Kuningan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->