BAB 5 SASAKALA TEMPAT DI JAWA BARAT Sasakala tempat di Jawa Barat dikelompokkan ke dalam enam wilayah sebagai berikut

. 1. Wilayah Bandung Raya mencakup Kabupaten Bandung, 2. Kota Bandung, Kota Cimahi,

Kabupaten Bandung Barat, dan Sumedang. Wilayah Priangan Timur mencakup Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut. 3. Wilayah Purwasuka mencakup Kabupaten

Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Karawang. 4. 5. Wilayah Sukaci meliputi Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Cianjur. Wilayah Bodebek meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi.

101

6.

Wilayah

Pantura

meliputi

Kota

Cirebon,

Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. A. SASAKALA WILAYAH BANDUNG RAYA 1. SASAKALA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU Pada jaman dahulu, di tanah Priangan terdapat sebuah kerajaan yang sangat subur dan makmur, yang bernama Kerajaan Galuga. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang adil palamarta bernama Prabu Sungging Perbangkara. Kesenangannya berburu ke hutan mencari hewan-hewan yang dagingnya akan dibagikan ke seluruh rakyat yang tertimpa kelaparan. Pada suatu hari, maka berangkatlah rombongan raja ke hutan untuk berburu. Tiba di hutan, Prabu Sungging Perbangkara membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Setelah raja pergi, kemudian ada seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin
102

menjadi

manusia.

Babi

hutan

itupun

kemudian

meminum air seni raja itu. Beberapa bulan kemudian, Wayungyang pun hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu lalu diserahkan ke keraton, dan oleh Prabu Sungging Perbangkara diberi nama Dayang Sumbi Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dengan gelagat itu, Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah ranggon di hutan belantara dengan ditemani seekor anjing jantan

bernama Si Tumang. Pekerjaanya di ranggon tersebut ialah menenun membuat kain. Kain hasil tenunannya kemudian diserahkan pada ayahnya di keraton. Pada suatu hari, Dayang Sumbi sedang asyik menenun. Namun totopong (torak) yang tengah

digunakannya untuk bertenun, terjatuh ke bawah ranggon. Cukup tinggi ranggon yang ditempatinya
103

tersebut, sehingga Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Ia pun bergumam lirih: “Duh, malasnya hari ini. Bagi siapa saja yang mengambilkan totopong itu, apabila ia perempuan, akan kujadikan saudara. Apabila laki-laki, akan kujadikan suami.” Sesaat setelah bergumam, tiba-tiba Si Tumang mengambilkan totopong tersebut, lalu diberikanlah kepada Dayang Sumbi. Tentu saja Dayang Sumbi kaget, apalagi ketika mengetahui bahwa Si Tumang berkelamin jantan. Dalam keadaan bingung itu, tiba-tiba terdengar suara gaib: “Jangan khawatir, Si Tumang adalah jelmaan seorang Pangeran tampan yang sedang mencari ilmu kesaktian. Menikahlah dengannya.” Sembilan sejak mendengar suara gaib itu, akhirnya Dayang Sumbi pun melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama Sangkuriang. Semakin hari,

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cekatan dan
104

Sangkuriang sudah pandai menggunakan tombak dan panah untuk memburu hewan buruannya. Sangkuriang disuruh oleh Dayang Sumbi berburu hewan di hutan. sedangkan hari sudah sore.” Sangkuriang pun menyuruh Si Tumang mengejar babi hutan tersebut. Lalu 105 . Dayang Sumbi berpesan agar dibawakan hati seekor mencek (kijang). Seperti hari itu. Karena si Tumang tidak menurut. Namun ketika akan pulang. Hobinya sama dengan kakeknya. ia mengatahui bahwa babi hutan tersebut hanyalah jelamaan seorang perempuan sakti bernama Wayungyang yang telah melahirkan Dayang Sumbi. yakni berburu.tangkas. namun Sangkuring belum juga mendapatkan seekor mencek. “Mungkin ibuku akan suka meskipun hati seekor babi hutan. Di usia yang masih kecil. Hari sudah sore. yang ternyata Wayungyang. Namun Si Tumang malah diam. di perjalanan ia mendapati seekor babi hutan. Pikirnya. akhirnya Sangkuriang pun kesal. istrinya sendiri dan ibunya Sangkuriang.

Keesokan harinya.dibunuhnya Si Tumang oleh Sangkuring. “Pergi kau dari sini. namun setelah didesak oleh Dayang Sumbi. akhirnya ia pun mengaku.. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sinuk (sinduk) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala Sangkuriang terluka. 106 . Sangkuriang pun pergi mengembara mengelilingi tatar Parahyangan. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati Si Tumang. suaminya sekaligus ayahnya Sangkuriang. Pada mulanya Sangkuriang tidak mengaku telah membunuh Si Tumang. Selama pengembaraannya. dasar anak tidak tahu balas budi.!” hardik Dayang Sumbi. Lalu ditanyakanlah kepada Sangkuriang. yang sebenanrnya jelmaan ayahnya sendiri. Dayang Sumbi merasa heran karena Si Tumang menghilang. Hati Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi. kemarahannya pun memuncak.. lalu dimasak dan dimakannya.

ibunya sendiri. sebelum akhirnya tiba kembali di ranggon Dayang Sumbi. ia pun tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Tanpa sengaja. Pada suatu sore yang indah. Ketika itu. Begitupun Dayang Sumbi. 107 . Bahkan bangsa siluman dan jin pun takluk kepadanya. tidak mengetahui bahwa laki-laki tampan yang ditemuinya adalah Sangkuriang anaknya sendiri. seperti halnya sepasang dua kekasih. Lama Sangkuriang mengembara. Dayang Sumbi kaget ketika di kepala Sangkuriang terdapat luka bekas pukulan sinduk. Lalu Dayang Sumbi pun mengelus-elus kepala Sangkuriang. Yang ada hanyalah gejolak perasaan bahwa laki-laki tersebut tampan dan bisa menjadi pelindungnya. Sangkuriang pun bermesraan dengan Dayang Sumbi. Maka terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan tersebut. Karena Sangkuriang sudah lama tidak bertemu sejak kecil.Sangkuriang banyak berguru ilmu kesaktian. Sangkuriang tiduran di atas lahunan (pangkuan) Dayang Sumbi.

. Melihat gelagat yang kurang baik tersebut. Namun Sangkuriang tidak percaya.ha. engkau harus penuhi syaratnya.” “Ha. Demikian karena Dayang Sumbi mempunyai ilmu kajayaan (awet muda). segera Dayang Sumbi menyampaikannya pada Sangkuriang.” 108 Maka diajukanlah syarat kepada sekali syaratmu itu. Sumbi?” “Buatkanlah aku sebuah danau dan perahu untuk berlayar di atasnya. kemudian Dayang Sumbi mencari akal agar maksud Sangkuriang tidak kesampaian. bukan tua seperti bayangan terhadap ibunya selama ini.Mengetahui hal itu.ha. Sangkuriang tetap memaksa Dayang Sumbi agar mau dinikahinya.gampang Sumbi.” pinta Dayang Sumbi.. karena dihadapannya sosok perempuan muda. apabila mau menikahiku.. Karena tidak percaya. “Apa syaratnya. bahwa ia adalah putranya yang telah lama pergi.... “Sangkuriang. . Sangkuriang.

Maka segera saja Sangkuriang membuat danau dengan cara membendung sebuah sungai besar yang mengaliri hutan belantara di mana Dayang Sumbi tinggal. Maka mulailah masalah. Dibantu pula oleh gajah dan harimau dalam memindahkan pohon yang akan dipakai untuk membendung Citarum. itu. Terbentuklah danau yang sangat luas. Sangkuriang segera menebang pohon untuk membuat perahu. Dalam pengerjaannya. Di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon tarum.“Ingat Sangkuriang.” aku akan selesaikan dengan jawab Sangkuriang Sangkuriang membuat perahu. danau dan perahu tersebut harus selesai dalam waktu satu malam suntuk. Menjelang tengah malam Citarum pun sudah terbendung. Sekitar pukul 1 pagi.” “Tidak permintaanmu entengnya. 109 . Sangkuriang dibantu oleh siluman dan jin taklukannya. sehingga kelak penduduk sekitar menyebut sungai tersebut dengan nama Citarum.

perahu pun akan segera selesai. maka dari kain tersebut keluar cahaya seperti kilatan emas. dan berkicaulah burungburung. 110 . Nampaknya waktu sudah pagi. segera Dayang Sumbi mencari akal agar rencana Sangkuriang dapat digagalkan. “Sangkuriang.Sementara di ranggonnya. Dayang Sumbi segera khawatir melihat danau sudah terbentuk. Berkokoklah ayam. artinya engkau gagal memenuhi syaratku. Kontan saja hewan-hewan yang berada di hutan kaget dan menyangka waktu sudah pagi. Artinya dalam semalam suntuk. dan menurut perkiraannya. Disangkanya fajar mulai merekah di ufuk timur.” kata Dayang Sumbi. Lalu ia pun mengeluarkan boeh rarang (kain berwarna putih yang dapat mengeluarkan cahaya). melenguhlah banteng. lihatlah sekelilingmu. Dengan kenyataan itu. Sangkuriang dapat mengabulkan syarat yang diajukannya yakni membuat danau dan perahu. Setelah dikibaskan.

Adapun tunggul atau pangkal pohon yang batangnya dibuat perahu. 111 . Segera ia sadar bahwa dirinya telah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. ketika sedang dikejar. Dayang Sumbi sebagai seorang putri mendadak menghilang di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Putri. sedangkan rangrang (ranting) dari pohon tersebut terkumpul di sebelah barat dan berubah menjadi Gunung Burangrang. Berubahlan perahu tersebut menjadi sebuah gunung yang kini disebut Gunung Tangkuban Parahu. yang artinya parahu nangkub (perahu terbalik). Ditendanglah parahu „perahu‟ yang hampir selesai itu oleh Sangkuriang dan nangkub „telungkup‟ di sebelah utara danau. Ia pun tersentak kaget. berubah menjadi Gunung Bukit Tunggul.Dilihatlah lingkungan sekitar oleh Sangkuriang. Kemudian Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. Mulailah keluar rasa kesal dan marah. Namun.

Sangkuriang pun menjebol sungai Citarum dengan cara melemparkan sumbat bendungan yang terbuat dari pepohonan dan batu-batu besar. Bekas bendungan sungai Citarum itu kini berada di Padalarang yang dikenal dengan nama Sanghyang Tikoro. tetap saja Sangkuriang tidak menemukan Dayang Sumbi. yang berarti ujungna (tempat berakhirnya) perasaan Sangkuriang yang ngaberung (mengikuti) hawa nasfu untuk menikahi ibunya sendiri. Sumbat bendungan itu melayang sampai akhirnya berubah ke sebelah timur. Akhirnya Sangkuriang putus asa. hingga sampailah di suatu tempat.Meskipun dibantu bangsa siluman dan jin. menjadi Gunung Manglayang. Tempat itu sekarang disebut Ujungberung. Di tempat itu. kemudian Sangkuriang ngahyang (menghilang ke alam gaib). 112 . Seolah Dayang Sumbi hilang ditelan bumi. Kemudian ia pun melanjutkan kembali pengembaraannya. Sebelumnya.

lalu banyak ditempati pendatang dari berbagai daerah karena tanahnya subur. air danau pun mulai surut kembali. Daerah itu kemudian disebut Bendung. 113 . kata Bandeng pun berubah menjadi Bandung seperti dikenal hingga sekarang. Ini untuk menyebut danau yang dibuat Sangkuring pada waktu itu. *** *) Legenda ini terkadang diberi judul Sangkuriang Kabeurangan (Kesiangan) atau Sasakala Bandung Purba. berasal dari kata ngabandeng yang berarti genangan air danau yang luas.Seiring waktu. Dalam hal penulisan nama Sangkuriang: ada yang disatukan. yang berasal dari kata dibendung-nya Citarum oleh Sangkuriang. Kemudian berubah menjadi Bandeng. Seiring perkembangan waktu. ada pula yang dipisahkan (Sang Kuriang).

Ia terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana.2. terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangsari. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Raja Jayadilaga. Kecantikan Putri Mayang Sawitri pun tersiar ke mana-mana. Ia merasa khawatir para raja dan ksatria yang ditolak lamarannya akan merasa sakit hati dan kemudian akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang kerajaan Sindangsari. Pada suatu hari. 114 . Tentu saja Baginda Raja Singa Mandala merasa bingung. Namun semuanya ditolak oleh Putri Mayang Sawitri dengan bermacam-macam alasan. Adapun rajanya bernama Baginda Raja Singa Mandala. datanglah rombongan pelamar dari kerajaan Margaasih. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain berniat melamarnya. SASAKALA CIGONDEWAH Dahulu kala. Ia pun memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Mayang Sawitri.

anakku?” Putri Mayang Sawitri lama menundukkan kepala.” jawab Raja Jayadilaga dengan tegas dan penuh harap. Karena kesal. “Bagaimana tuan putri. paduka raja. bersediakah dipersunting hamba?” “Euh. “Kalau begitu niat paduka.” 115 . aku hanya bisa menyerahkan keputusan lamaran ini pada putriku langsung. sebelumnya aku mohon maaf. “Maksud kami untuk melamar putrimu yang cantik jelita itu.“Ada apakah gerangan Raja Jayadilga menemuiku?” kata Raja Singa Mandala di ruang keraton.” kata Raja Singa Mandala sambil melirik pada putrinya. akhirnya Raja Jayadilaga mengulang pertanyaan Raja Singa Mandala. Putri Mayang Sawitri: “Bagaimana. Sebagai tanda lamaran. kami membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi dari kerajaan Margaasih.

Ketakutannya yang utama ialah kerajaan Margaasih Sindangsari. Seketika ia berdiri dan pergi tanpa permisi keluar dari ruangan keraton diikuti oleh rombongan lainnya. Bahkan hatinya semakin diliputi rasa cemas. Ia tidak dapat berkata apa-apa. karena tuan putri tidak punya salah apa-apa padaku. “Eum. Sesuai dengan prediksi. tentu saja Raja Singa 116 . Sebagai raja yang ingin akan segera menyerang kerajaan mempertahankan kedaulatan.” kata Raja Jayadilaga dengan penuh kesabaran.” “Apa…?!!” Raja Jayadilaga tersentak kaget. untuk saat ini aku tidak bisa menerima lamaran paduka raja. Raja Singa Mandala hanya duduk terpaku kaku di singgasana. Kemudian Ia bertitah: “Tunggu kedatangan pasukanku!” Melihat kejadian tersebut.“Tidak usah minta maaf. keesokan harinya Raja Jayadilaga mengerahkan seluruh pasukannya dari kerajan Margaasih.

Pertempuan kedua kerajaan pun berlangsung sengit. Seluruh pasukan Sindangsari segera ditempatkan di daerah perbatasan. Seluruh pasukan Sindangsari pun sudah siap menghalau. pedang. Pasukan Margaasih semakin mendekati perbatasan. Ksatria-ksatria pilih tanding kerajaan Sindangsari tidak mampu menahan gempuran pasukan 117 . Peperangan pun terjadi. Sangkakala perang sudah ditiup. Pagi itu cuaca sangat cerah. Hal ini dikarenakan jumlah pasukan dari kerajaan Margaasih lebih banyak jumlahnya dan senjatanya pun lebih lengkap. Namun setelah dua hari berperang.Mandala pun menyiapkan pasukannya. Darah berceceran di mana-mana. Senjata mereka terdiri dari bedog (golok). dan gondewa atau jamparing (panah). tanda peperangan akan segera dimulai. Namun nampaknya pasukan kerajaan Margaasih lebih kuat ketimbang kerajaan Sindangsari. akhirnya pasukan kerajaan Sindangsari terdesak. Banyak prajurit yang gugur di medan perang.

Sesaat setelah berucap dan menancapkan keris ke perutnya. “Aku lebih baik mati ketimbang dipersunting oleh raja yang telah membunuh ayahku. Melihat ayahnya telah tewas. ia pun berhasil memperluas kekuasannya dengan cara menyatukan wilayah kerajaan Margaasih dengan Sindangsari. Berbeda dengan rakyat Sindangsari yang berduka. Putri Mayang Sawitri pun meninggal oleh kerisnya sendiri.” gumamnya dengan yakin. Bahkan Raja Singa Mandala pun akhirnya terbunuh dalam peperangan tersebut.Margaasih. Ia merasa telah berhasil membalas kepedihan hatinya yang ditolak oleh Putri Mayang Sawitri. sebaliknya Raja Jayadilaga merasa senang atas kejadian tersebut. Selanjutnya Raja Jayadilaga merubah nama Sindangsari menjadi Cigondewa. 118 . Selain itu. Putri Mayang Sawitri langsung mencabut keris dengan niat untuk labuh geni (bunuh diri).

karena setelah peperangan terjadi. Nama Cigondewa Cigondewah. Darah tersebut berasal dari tubuh prajurit Sindangsari yang terbunuh oleh panah dan gondewa pasukan Margaasih.“Aku Cigondewa. Raja Jayadilaga melihat banyak darah berceceran bagaikan cai (air). setempat. Semakin lama. Alasan diubahnya nama Sindangsari menjadi Cigondewa. *** pun kemudian berubah menjadi penduduk mengikuti pengucapan 119 . Setiap tahun mereka menyerahkan upeti kepada Prabu Siliwangi karena berada di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. kerajaan Margaasih pun semakin berkembang pesat. ubah Wilayah nama ini Sindangsari pun sekarang menjadi menjadi taklukanku.” ujar Raja Jayadilaga di depan seluruh penduduk Sindangsari.

yang kedua bernama Embah Setayu. begitulah titahnya. SASAKALA KAMPUNG MARONGGE Hiduplah empat orang putri yang cantik jelita serta memiliki kesaktian tinggi di sebuah kampung bernama Babakan. Sementara rombongan sedang di 120 . Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ki Patih kerajaan Subangkala. “Apabila menolak. yang ketiga bernama Embah Naibah. Salah satunya ialah Raja Subangkala dari kerajaan Subang. Raja Subangkala memerintahkan patihnya untuk melamar ke kampung Babakan. berangkatlah rombongan dari kerajaan Subang menuju ke kampung Babakan. Putri yang sulung bernama Embah Gabug. Keesokan harinya. Maka segera. banyak raja dan ksatria tertarik untuk melamar dan mempersuntingnya.3. culik dengan cara paksa!”. dan yang bungsu bernama Embah Naidah. Ia berniat melamar Embah Gabug. Berkat kecantikannya itulah.

Embah Gabug pun segera memakai kesaktiannya untuk memperdaya rombongan dari kerajaan Subang tersebut. Setelah mengetahui hal itu. ia diberitahu oleh Hyang Widi. Di dalam semedinya. seluruh rombongan mendadak kelelahan dan tertidur pulas di batas menuju Kampung Babakan. Sesaat kemudian.perjalanan. Ia adalah puteri 121 . “Bangunlah kalian semua! Dari mana dan apa keperluan kalian datang ke Kampung Babakan?” Ki Patih pun segera menjawab dengan nada sinis. di kampung Babakan Embah Gabug sedang bersemedi. setelah semua rombongan tertidur. Diutus oleh Gusti Raja Subangkala untuk melamar seorang puteri yang tinggal di Kampung Babakan. bahwa akan ada rombongan yang sedang berada dalam perjalanan dengan maksud dan tujuan jahat. Dibangunkanlah seluruh rombongan tersebut. Benar saja. “Aku Ki Patih dari Kerajaan Subang. lalu dihampiri oleh Embah Gabug.

Apakah puteri menginginkan banyak intan permata?” menginginkan haliyah dunya (kekayaan).” Mendengar jawaban dari Ki Patih. Aku hanya menginginkan raja kalian dapat mengembalikan kukuk*) yang akan dilempar ke sungai Cilutung. aku akan menerima lamarannya.” syaratnya.” Beberapa hari kemudian. Kalian semua telah memiliki niat jahat. Embah Gabug pun menjawab dengan tenang dan tegas. Kalian tadi tertidur terkena ilmuku. Apabila raja kalian dapat memenuhi syarat tersebut. Sekarang pulanglah dan sampaikan pada raja “Apa “Aku kalian. Ia pun langsung diterima oleh putri Embah Gabug di muara sungai 122 . putri tersebut harus dipaksa dan diculik ke Subang. bahwa aku mau menerima lamarannya dengan satu syarat. “Akulah puteri Embah Gabug yang dimaksud itu. datanglah Raja Subangkala ke kampung Babakan. Menurut titahnya. tidak puteri. apabila lamarannya ditolak.Embah Gabug.

Melihat kenyataan demikian. yang kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Panyaweuyan. apalagi mengembalikan ke hadapan Embah Gabug. Raja Subangkala pun merasa malu. Oleh karena itu.” kata Embah Gabug. Namun air sungai semakin deras. kukuk ini akan kulemparkan agar terbawa arus ke hilir. Segera saja Raja Subangkala mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengembalikan kukuk yang telah terbawa arus sungai.Cilutung dan Cideres. Setelah semuanya siap. Kesaktiannya telah berhasil dikalahkan oleh seorang perempuan. lalu ia menantang Embah Gabug untuk mengembalikan 123 . Kembalikanlah kukuk tersebut ke hadapanku. maka dilemparkanlah sebuah kukuk oleh Embah Gabug ke tengah-tengah derasnya air sungai Cilutung. Kukuk pun terbawa arus air menuju ke hilir sungai. Raja Subangkala pun tidak sanggup menahan lajunya kukuk. “Kanjeng Raja.

Dengan karembong sakti cinde wulung. Bahkan akhirnya terpental pada sebongkah cadas (sejenis tanah liat) yang teksturnya datar menyerupai mejatulis di sebelah Raja Subangkala berdiri. Tempat inilah yang sekarang disebut Cadas Meja. Beberapa hari setelah kejadian itu. Adalah Raja Bugang Geureung dari kerajaan Pasiripis yang penasaran atas 124 . membelah arus sungai. ia pun mengembalikan kukuk. Desa Bonang. “Hai putri. berada di kampung Prunggawul. Malahan terkenal dengan sebutan Pelet Marongge. Kacamatan Kadipaten Majalengka. coba kembalikan kukuk yang terbawa arus itu ke hadapanku!” Embah Gabug pun menuruti perintah Raja Subangkala. kalau engkau sakti. mulai dikenal istilah pelet (ilmu asihan) si kukuk mudik dari kampung Marongge. Semenjak itu pula. mulailah tersiar kabar ke mana-mana bahwa Raja Subangkala dikalahkan oleh Embah Gabug.kukuk yang telah terbawa arus sungai tersebut ke hadapannya. Kukuk melesat dari hilir.

Bahkan saudara-saudaranya pun tidak diberitahu.kabar tersebut dan berniat menjajal kesaktian Embah Gabug. akhirnya Embah Gabug memutuskan untuk pergi dari kampung Babakan. tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhi persyaratan tersebut. 125 . Namun pada akhirnya. Ia lalu mencari tempat yang baik untuk bersemedi. Namun seperti halnya Raja Subangkala. Raja Bugang Geureung pun tidak mampu mengembalikan kukuk ke hadapan Embah Setayu. Dengan kenyataan demikian. Kepergiannya tersebut tanpa sepengetahuan penduduk kampung Babakan. Oleh Embah Gabug. tawaran Raja Bugang Geureung tersebut diterima dengan syarat akan diwakilkan pada adiknya Embah Setayu. Kini kukuk dilempar oleh Embah Setayu. Raja Bugang Geureung pun kemudian mengajukan tawaran pada Embah Gabug. Itulah syarat yang diajukan oleh Embah Gabug untuk siapa saja yang ingin mempersuntingnya. Pelaksanaan melempar kukuk pun dimulai.

kakaknya sendiri. dan Naidah. Perempuan tersebut ternyata Embah Gabug. mereka bertiga sampai ke sebuah bukit yang bernama Gunung Hade. Di puncak bukit itulah. mereka bertiga berniat untuk mencari kakaknya yang pergi tanpa pamit. “Kenapa kita ada di sini? Siapa yang telah berhasil menyembuhkanku?” kata Embah Gabug. Embah Gabug pun sembuh kembali. Setelah memakan buah laja. mereka bertiga menemukan seorang perempuan terkapar karena sakit. Naibah. 126 . dan Naidah! Kakakmu akan sembuh apabila memakan buah laja yang tumbuh di bukit ini!” Maka dicarilah buah laja oleh Embah Setayu. berkat kekuasaan Hyang Widi. Maka dipeluklah tubuh Embah Gabug oleh adik-adiknya. Naibah.Tentu saja membuat sedih Embah Setayu. Berangkatlah mereka bertiga berkelana. Sesaat kemudian. Setayu. Hingga pada suatu malam. Hingga suatu ketika. terdengar suara gaib: “Hai.

Embah Gabug dan ketiga adiknya pun kembali ke kampung Babakan.Diceritakanlah seluruh kejadian yang telah menimpa oleh Embah Setayu. Sesampainya di sana. keempat putri bersaudara itu pergi berjiarah ke gunung Hade. Beberapa bulan kemudian. Setelah itu tiba-tiba terdengar kembali suara gaib: “Kalian jangan kaget. Sekarang. 127 . Setelah itu. Suatu saat nanti. pergilah!” Setelah mendengar suara gaib. aku adalah Haji Putih Jagariksa yang menguasai bukit ini. pada malam Jumat Kliwon. kalian juga akan menetap di bukit ini. Embah Gabug pun ditinggal pergi oleh adik-adiknya. mereka membuat lubang tepat di atas tempat terkaparnya Embah Gabug dulu. Sudah barang tentu seluruh penduduk menyambutnya dengan suka cita. Oleh adik-adiknya lubang tersebut ditutupi oleh rengge (sejenis ranting bambu haur) yang tumbuh di sekitar bukit. Kemudian Embah Gabug masuk ke lubang tersebut.

berangkatlah mereka bertiga ke gunung Hade dengan maksud untuk melihat sang kakak. Embah Gabug yang pernah masuk ke lubang itu pun didapati oleh ketiga adiknya telah menghilang. Hingga pada suatu malam. kemudian berubah menjadi Marongge. yang berasal dari kata merong dan kata rengge. Seiring perjalanan waktu. keluar cahaya yang merong (bersinar) kekuningkuningan seperti kilatan emas. tempat tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Merongge. Kebanyakan pengunjung berjiarah dengan maksud 128 . karena terlalu lama ditinggal sang kakak. mereka kaget karena dari lubang yang ditutupi rengge waktu itu. Sesampainya di puncak. Kini kampung Marongge menjadi tempat jiarah. Adik-adiknya pun merasa sedih.Sekian lama Embah Gabug terkubur dalam lubang di puncak gunung Hade. Ternyata lubang tersebut kosong. Lalu diperiksalan lubang yang mengeluarkan cahaya merong tersebut. Semenjak itulah.

nama tumbuhan sejenis labu. *** (Sumedang) *) kukuk. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Bunganya berwarna putih dan buahnya berbentuk kendi. oleh orang tua biasa dipakai untuk wadah cai (tempat mengambil air) dengan cara dilubangi dekat lehernya (karena bentuknya yang berleher sepert kendi).agar cepat mendapat jodoh atau bertapa untuk memiliki ilmu pelet si kukuk mudik. konon sampai akhir hayatnya keempat gadis tersebut tidak pernah menikah. 129 . Buahnya yang sudah tua.

Kemudian datang pula golongan resi yang menyebarkan agama. Salah seorang yang ikut dalam rombongan resi itu ada yang bernama Sanghiyang Resi Agung dari kerajaan Galuh.4. Semenjak itulah kemudian Guru Aji Putih diangkat menjadi raja di perkampungan tersebut dan kerajaanya diberi nama Tembong Agung. Kemudian datanglah seorang pengelana yang beragama Islam bernama Guru Aji Putih. Semua penduduk yang ada di sana kemudian mengikuti ajaran Guru Aji Putih tersebut. 130 . yang kini bernama Leuwihideung. Mereka semua masuk agama Islam. datanglah rombongan pengelana dan paninggaran (pemburu) ke sebuah tempat di tengah hutan belantara di tepi sungai Cimanuk. Resi Agung lalu membuat padepokan di tepi sungai Cimanuk tersebut. SASAKALA SUMEDANG Dahulu kala. Termasuk resi yang awalnya memeluk agama karuhun.

ia bingung harus membagi tahta kerajaan. kerajaan Tembong Agung semakin berkembang pesat. Putranya inilah yang kemudian meneruskannya menjadi raja di Tembong Agung. Seluruh rakyat hidup damai dan sejahtera. sehingga musuh-musuhnya selalu kalah dalam berperang. Ia pun kemudian diberi gelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana. Guru Haji memiliki seorang putra bernama Tajimalela. Namun ada yang mengganjal dalam hati Prabu Tajimalela. Ini karena Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra. Prabu Tajimalela terkenal adil palamarta. 131 . Bergelar haji karena ia pernah berangkat ke Mekah. Ia pun kelak akan disebut Haji Darmaraja. Prabu Gajah Agung. Prabu Tajimalela pun terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Semakin lama.Guru Aji Putih disebut pula Guru Haji Putih. Dalam menjalankan pemerintahan. yakni Prabu Lembu Agung. dan Sunan Geusan Ulun.

Dalam kebingungan itu. Prabu Tajimalela menyuruh kedua anaknya untuk menunggui sebilah bedog dan dawegan (kelapa muda). Prabu Tajimalela mendapat wangsit. Akan tetapi Gajah Agung pun menolak karena tidak mau menjadi raja. Nanti kita lihat apa yang terjadi. akhirnya Prabu Tajimalela menyuruh kedua putranya itu menuju puncak Gunung Sangkan Jaya. 132 . Dalam wangsitnya Prabu Tajimalela harus menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu putranya dengan terlebih dulu mengadakan ujian atau pasanggiri (sayembara) di puncak gunung Sangkan Jaya. “Jaga bedog dan dawegan ini. Sesampainya di sana. Dengan hati gundah.Pada mulanya Prabu Tajimalela berniat menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua Lembu Agung. Adapun Sunan Geusan Ulun ketika itu masih burey (kecil). pada suatu malam. Namun ia tidak mau menjadi raja dan malah menyerahkan kepada adiknya Gajah Agung.” kata Prabu Tajimalela.

” kata Lembu Agung pada adiknya. Karena cuaca sangat terik. Hari itu. 133 . lama kelamaan merasakan pula kegerahan dan rasa dahaga. Gajah Agung pun kemudian membelah dawegan yang ada di hadapannya dengan bedog yang ada di hadapannya pula. Ia pun berniat untuk mandi dulu ke sungai yang berada di lembah gunung. Ia menuju sungai yang berada di lembah gunung untuk mandi sekedar menghilangkan gerah. aku akan mandi dulu. Maka dengan yakin. Kakang. “Adikku.Dijagalah bedog dan dawegan itu oleh Lembu Agung dan Gajag Agung.” Lembu Agung pun segera pergi meninggalkan adiknya. Ditenggaklah air dawegan tersebut sampai habis. Kamu tetap jaga bedog dan dawegan ini. “Ya. memang sinar matahari sungguh terik menyengat tubuhnya. Gajah Agung. Sementara Gajah Agung. akhirnya Lembu Agung merasa gerah dan tidak kuat oleh cahaya matahari.

Gajah Agung.” “Ya. Aku hanya tidak kuat saja menahan dahaga. Lalu Lembu Agung dan Gajah Agung menceritakan kejadian yang mereka alami masing-masing. sudahlah. Maka dengan yakin. kemudian Lembu Agung datang. Lalu ia pun bertanya pada adiknya. Akhirnya dawegan ini pun ku belah. “Bagaimana. adikku. akhirnya Prabu Tajimalela menyerahkan tahta kerajaan pada anaknya yang kedua. Lembu Agung. dan airnya telah ku minum. Kakang. 134 . Dengan syarat.Sesaat setelah menenggak air dawegan. Gajah Agung harus mencari ibukota sendiri.” Sesaat kemudian datanglah Prabu Tajimalela. Nanti kita ceritakan kejadian ini pada rama Prabu. Kenapa dawegan ini terbelah? Ada kejadian apa?” “Tidak ada kejadian apa-apa. Sedangkan kerajaan Tembong Agung akan tetap diserahkan pada anaknya yang pertama.

Pada saat diserahi kekuasaan di Tembong Agung itu. Selanjutnya ia membangun ibukota kerajaan di Leuwihideung. Ia pun dikenal memiliki keris yang sangat ampuh dengan nama Ki Dukun. Karena itu. “Aku hanyalah darma ngarajaan saja. Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung. Ungkapan inilah yang kelak menjadi salah satu nama daerah yang disebut Darmaraja. kelak ia pun akan menjadi raja dan resi.” Kata darma ngarajaan adalah ungkapan bahasa Sunda yang berarti siap bertugas menjadi raja.Atas keputusan ayahnya itu. ia disebut juga Prabu Pagulingan. akhirnya Prabu Gajah Agung dinobatkan menjadi raja. sampai sekarang masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun. sekarang Sumedang selatan. Pusaka Keris ini. Adapun Sunan Geusan Ulun. Ciguling. kemudian Prabu Tajimalela pun melakukan semedi 135 . Sementara itu. Setelah menyerahi tahta kerajaan pada anaknya. Pasanggrahan. Lembu Agung pun berucap.

” sabdanya. luas. Ia melihat langit menjadi terang benderang oleh cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malela). Nama kerajaan Tembong Agung pun berubah namanya menjadi Sumedanglarang. Ia bersemedi selama tiga hari tiga malam. insun madangan. Pada malam ketiga. kemudian Prabu Tajimalela mulai mengajarkan kepada seluruh rakyatnya ilmu kasumedangan. *** 136 . sebelah selatan alun-alun Sumedang sekarang. Ibukotanya pun dipindahkan ke Kutamaya. dan tiada bandingannya. Prabu Tajimalela melihat keajaiban alam di sekitar kerajaan Tembong Agung. yakni Sumedang.” Semenjak itu pula. Saat itulah. yang artinya tanah bagus. Nama inilah yang kemudian dikenal hingga sekarang.sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta. Tajimalela bersabda kepada seluruh rakyatnya: “Insun medal. Nama Sumedanglarang pun oleh penduduk setempat disebut awalnya saja. Sabda Prabu Tajimalela tersebut artinya ialah “aku lahir untuk memberi penerangan.

dengan mengikuti jejak bercak darah gadis yang menempel pada areuy. Singkat cerita. Adananya pun terus mengejarnya. Ia merasa sungkan karena hanyalah rakyat biasa. namun ibunya tidak mengijinkan karena ia mengetahui bahwa Adannya seorang Raja dari Mataram.B. Pada saat itulah Adananya menamai daerah tersebut dengan nama Cibeureum. sehingga kakinya berdarah. Dalam pelariannya. SASAKALA BANJAR PATROMAN Tersebutlah seorang pemuda pengelana yang berasal dari Mataram bernama Adananya. SASAKALA WILAYAH PRIANGAN TIMUR 1. karena melihat banyaknya 137 . dalam perjalanan pengelanaannya. Gadis cantik tersebut pun akhirnya melarikan diri dari rumah ibunya ke arah barat. ia terpikat oleh seorang gadis cantik di sebuah kampung bernama Pataruman. Adananya pun melamar gadis tersebut pada ibunya. gadis tersebut terjerat areuy di hutan belantara.

yang kini menjadi nama sebuah kampung di kecamatan Manonjaya. kemudian Adannya dan pemuda penolong tersebut bertarung adu kesaktian. datanglah seorang pemuda tampan berniat menolong.bercak darah pada areuy layaknya air yang berwarna merah. yang kini dinamakan Tepung Kanjut. Pemuda tampan itu pun kemudian mencegat Adananya di sebuah bukit. Di tempat itu. yang berarti tempat bertemunya dua orang lelaki. Dalam pertarungan itu. kemudian Adananya mengetahui bernama bahwa Dalem pemuda penolong atau tersebut Raden Tambakbaya Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi III. Ia adalah Raja Galuh Kertabumi yang beribukota di Liung Gunung. Bertemu dalam bahasa Sunda disebut tepung dan kelamin lelaki disebut kanjut. Pada saat Adananya mengejar sang gadis. Adapun Adananya adalah seorang ulama penyebar agama Islam dari Mataram yang sebenarnya bernama Kanduruan Pandusaka 138 .

Tambakbaya dengan gerak cepat segera menghalaunya. Sementara. Mungkin juga berasal dari kata pangudagan. keduanya pun kembali mengejar sang gadis. yang berarti tempat untuk mengejar. Di dalam pertarungan itu. Kembali pada kisah pertarungan Adananya dan Tambakbaya. terkejar oleh Tambakbaya. sedang beristirahat karena kelelahan. Kedua pemuda 139 . kesaktian keduanya seimbang. Sejak itulah tempat tersebut sampai sekarang disebut Pangadegan. Akhirnya. Adananya dan Tambakbaya adu kecepatan berlari dengan kesaktiannya masingmasing. Selama pengejaran. Adapun gadis yang sedang dikejar mereka. Namun. Kemudian dikejar oleh Adannya dan Tambakbaya.Sarikusumah yang kelak dipusarakan di situs Pandusaka Batulawang. Hingga di suatu tempat. gadis cantik tersebut berlari secepat kilat ke arah tenggara. Ketika Adananya sedang berdiri (bahasa Sunda: ngadeg). ketika Adananya akan menangkapnya.

Sementara itu. Kini perjalanannya mengarah kembali ke rumah ibunya.itupun kemudian bertarung kembali. yang sekarang dinamakan kampung Jélat. katanya kepada Adananya. yang artinya menghilang sekejap mata atau secepat kilat. Berasal dari kata sajorélat. Sehingga kelihatannya ngan sajorélat atau hanya sekejap mata. “Mana laré?”. Namun sesampainya di sana. Dalam pengejarannya. Ternyata ibunya pun turut mengejar saat ia melarikan diri pada saat itu. Adannya mengeluarkan ilmu pamungkasnya. yakni pukulan saketi. Tempat menghilangnya sosok Tambakbaya itulah. Langsung saja ibu gadis tersebut bertanya dalam bahasa Jawa ke Adananya. ibunya didapati sudah tidak ada. 140 . Tapi. ibunya sempat bertemu dengan Adananya yang sedang kaget melihat Tambakbaya menghilang di kampung Jelat. gadis yang dikejar oleh Adananya dan Tambakbaya terus berlari. Tambakbaya dapat menghindar dengan cara menghilang memakai ajian halimunan.

Maksudnya menanyakan ke mana arah larinya anaknya. tibalah Tambakbaya yang juga kelelahan. Ia sebenarnya bukan anak sang ibu.” timpal Adananya. tapi putri dari kerajaan Galuh yang bernama Ni Nursari. ke arah selatan. juga dari ucapan sang ibu: mana lare. kini mereka tidak bertarung.” gumam Adananya. Adananya pun ngarandeg (berhenti) untuk beristirahat. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Setelah itu. Tempat dialog antara Adananya dengan ibunya sang gadis tersebut. sekarang dinamakan kampung Mandalaré. “Gadis itu memang lebih sakti dariku. berasal dari Mandala laré. “Ke sana. Tempat perhentian itu kemudian dinamai kampung Randegan. Sesaat kemudian. Kenapa sang gadis tidak terkejar oleh Adananya dan Tambakbaya? Ternyata gadis tersebut memiliki kesaktian yang lebih tinggi. 141 .

Berasal dari kata papaduan.Karena tenaga keduanya sama-sama sudah terkuras habis. Di sebrang sungai. sedangkan Tambakbaya tetap ingin menolong Ni Nursari dari paksaan Adananya. Lalu menyeberangi sungai Citanduy. yang berarti berselisih pendapat. mereka pun kembali mengejar Ni Nursari. Ni Nursari lari ke arah utara. Setelah itu. Cukup lama Adananya dan Tambakbaya beristirahat di kampung Randegan. Sepanjang jalan mereka terus beradu pendapat mengenai Ni Nursari yang sedang dikejarnya. ketiganya pun ngaleungit (menghilang). Jalan sepanjang Adananya dan Tambakbaya beradu pendapat itulah yang sekarang dikenal dengan nama kampung Cikadu. Adananya dan Tambakbaya pun terus mengejarnya. namun Ni Nursari larinya lebih cepat. Semakin lama. Sementara itu. sungai Citanduy pun semakin ramai disinggahi para bandar (pedagang) dari kerajaan 142 . Adannya tetap berpendirian ingin memperistrinya.

antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa. 143 . Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di kampung itu banyak ditanami pohon tarum.Galuh dan Mataram. Semakin lama. Bahasa yang digunakan penduduk pun bercampur. yakni sejenis tanaman nila yang pada masa kolonial dijadikan tanaman paksa. kampung Bandar pun semakin banyak disinggahi bandar-bandar (para pedagang) dari Mataram. Daerah di tepi sungai Citanduy pun kemudian dikenal dengan nama kampung Bandar (pedagang atau pusat perniagaan). Sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama pataruman atau tempat tarum. yang oleh penduduk setempat disebutnya basa Jawa réang. sebagai pangeling-eling atas peristiwa pertarungan antara Adananya dan Tambakbaya memperebutkan Ni Nursari pada saat itu. Adapun kampung tempat Ni Nursari dan ibu angkatnya tinggal selanjutnya dinamakan kampung Bandar Pataruman. Konon kata pataruman berasal dari kata patarungan.

Nama Bandar Pataruman pun berubah menjadi Banjar Patroman. Namun. kampung Banjar yang letaknya di pinggir sungai Citanduy itu telah berkembang menjadi sebuah kota yang membatasi wilayah antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah. adakalanya kampung Banjar Patroman pun disebut Banjar saja. Kini. karena pada waktu itu banyak diucapkan salah oleh pendatang dari Mataram. Di antara para pedagang itu banyak berjodoh dengan penduduk setempat dan banyak pula yang bermukim.Semakin lama. kampung Bandar Pataruman pun semakin ramai disinggahi para pedagang dari kerajaan Galuh dan Mataram. *** 144 .

Pasangan keluarga tersebut memiliki dua orang anak. lamaran itu pun ditolak oleh Aki Gede. SASAKALA CIJULANG DAN PANTAI BATUHIU Dahulu kala. di wilayah kekuasaan kerajaan Banyumas hiduplah keluarga bahagia pasangan Aki Gede dan Nini Gede. raja kerajaan Banyumas. Tentu saja penolakan dari Aki Gede tersebut membuat sakit hati Kanjeng Sinuhun.2. Maka Kanjeng Sinuhun pun segera mengajukan lamaran pada Aki Gede dan Nini Gede. termasuk salah seorang yang menyukai sang putri. karena merasa anaknya tidak pantas mendapatkan seorang raja. Kanjeng Sinuhun. yang sulung seorang laki-laki bernama Sang Lawangjagang. Banyak raja dan ksatria yang melamarnya. namun selalu saja ditolak oleh sang putri. sedangkan yang bungsu seorang putri yang sangat cantik jelita. Tetapi seperti sebelumnya. Lalu ia pun 145 . Aki Gede merasa bahwa putrinya hanyalah keturunan rakyat biasa dan tidak mungkin menjadi permaisuri seorang raja.

terus bertambah menjadi lima rumah. rombongan hanjat (menyeberangi) sungai. Dari sana. kemudian bertambah pula dengan dibangunnya sebuah surau. Berangkatlah Aki Gede.memerintahkan kepada patihnya untuk mengusir Aki Gede beserta seluruh keluarganya dari wilayah kerajaan Banyumas. Setelah itu. Maka tibalah rombongan Aki Gede ke sebuah tempat yang teduh dan terdapat mata air. mereka segera ngababakan (membuka lahan baru) untuk membangun perkampungan. Nini Gede. putri. Di sana. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam. Tempat itulah yang kelak dikenal dengan nama Hanjatan Cimanganti. dan seluruh kerabatnya meninggalkan wilayah kerajaan Banyumas. 146 . perjalanan pun dilanjutkan menuju ke arah selatan. Mulanya hanya dibangun satu rumah. rombongan Aki Gede pun sampailah ke tepi sungai di batas kerajaan. Rombongan itu pergi ke arah Barat.

Bahkan banyak orang yang berguru ilmu kanuragan ke Aki Gede. Padepokan itu diganti namanya menjadi Kawasan. Lalu ke arah selatan dan ngaso (beristirahat) di suatu tempat yang juga terdapat mata air yang banyak pohon kasonya. Nini Gede. Rumah Aki Gede pun kemudian direnovasi dan dijadikan sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Karasanbaya. Khawatir perkampungan tersebut diketahui oleh Kanjeng Sunan. Oleh anaknya. Sebagai penggantinya. Lalu ia berniat membangun padepokan di tempat lain. dan rombongan keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat. putrinya. Kelak tempat ini dikenal dengan nama Cikaso. Aki Gede menyuruh anaknya yang sulung untuk mengurus Padepokan Karasanbaya. 147 . Sementara Aki Gede. Aki Gede pun mulai merasa gundah. yang berarti tempat beristirahat yang terdapat sumber air dekat pohon kaso. Dengan perkembangan padepokan yang sangat pesat.Lama kelamaan daerah itu pun semakin banyak dikunjungi pendatang.

Lalu padepokan itu ia percayakan kepada salah satu saudaranya yang bernama Mangun Naha Mana Manggala. rombongan Aki Gede pun sampailah pada sebuah daerah yang kelak bernama Bojonglekor. Kali ini Aki Gede semakin ke selatan. Di sana 148 Aki Gede segera . Setelah itu. Kemudian sampailah ke daerah Bubulak dan Karangsimpang. Kini Aki Gede pergi ke arah utara dan sampailah di sebuah daerah. Aki Gede pun melanjutkan kembali pengembaraannya. di sana Aki Gede pun membangun sebuah padepokan. Aki Gede dan Nini Gede pun melanjutkan pengembaraannya kembali. Beberapa hari kemudian.Di tempat itu. Di karangsimpang ia percayakan lagi kepengurusan padepokannya pada saudaranya yang lain. Kemudian. Di sana Aki Gede membangun kembali sebuah padepokan dan kepengurusannya dipercayakan kepada salah seorang saudaranya yang bernama Sang Prabu Mangun Ciker. Aki Gede pun segera membangun sebuah padepokan.

Berturut-turut Aki Gede membangun kampung yang sekarang dikenal dengan nama Bojongmalang.membangun padepokan dilengkapi dengan sebuah sunge (sumur buatan). karena di daerah tersebut tidak terdapat mata air. Setelah membangun padepokan di Binangun. Aki Gede pun akhirnya kembali lagi ke Binangun. Namun tidak berhenti di situ. Cikawao. Suatu ketika. 149 . Aki Gede pun kemudian mencari daerah baru sebagai tempat bermukim. dan rombongan selalu berhenti di sebuah daerah dan dilanjutkan dengan ngababakan (membuka lahan baru). Selama pengembaraannya. Di sana ia tidak membangun padepokan. Cikadu. sampailah Aki Gede ke daerah yang bernama Nagarawati. Aki Gede kemudian mengalihkan perjalanannya ke sebelah Barat. Cipatahunan dan Gurago. Kelak tempat ini dikenal dengan nama kampung Binangun. karena sudah padat penduduknya. Sarakan. Cikagenah. Aki Gede. Nini Gede.

Aki Gede pun menemui Dalem Tamela di keratonnya yang sekarang dikenal dengan nama Sukaraja. Tujuannya ialah ke pesisir selatan pulau Jawa. Namun karena memaksa. Raja Sukapura yang kekuasaannya meliputi daerah Cigugur. Sekarang ia mengarah kembali ke selatan. Maka sampailah Aki Gede ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Cigugur. di wilayah Tasikmalaya sebelah selatan. Setelah itu. Aki Gede dipanggil oleh Dalem Tamela. Beberapa taun kemudian. Alasannya karena sang putri telah menikah dengan seorang ksatria bernama Sembah Ragasang. Ternyata Dalem Tamela berniat untuk mempersunting anaknya Aki Gede yang perempuan. Aki Gede pun melanjutkan kembali perjalananya. Lama ia tinggal di daerah tersebut. Lamaran tersebut sempat tujuh kali ditolak oleh Aki Gede. Bahkan Aki Gede sempat mengangkat seorang amil (penghulu) dan kepala kampung.Di Gurago. Aki Gede pun akhirnya menyetujui permintaan Dalem Tamela dengan sebuah 150 . Aki Gede tinggal cukup lama.

pergilah mantan menantu Aki Gede. sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya ke wilayah Imbanagara. Di sana Sembah Ragasang menemui saudara ibunya yang bernama Jeng Pati. Berdasarkan petunjuk itulah. Sembah Ragasang. Sembah Ragasang harus mencari wilayah yang baik untuk pemukiman ke sebelah Barat. Karena merasa 151 . Kemudian tibalah Sembah Ragasang di kerajaan Panjalu. beserta sembilan kuren rombongannya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir.syarat: Dalem Tamela harus memberi kekuasaan mantan berikut menantunya suatu wilayah penduduknya yang berjumlah sembilan kuren (kepala keluarga). Setelah sepakat. Di sana ia sempat bermukim. namun harus sekehendak menantunya. Dalam memberikan wilayah itu pun tidak dipilih oleh Dalem Tamela. Menurut petunjuk dari Jeng Pati. kemudian Sembah Ragasang beserta rombongan tiba di hutan belantara.

dari sana Sembah Ragasang melanjutkan lagi perjalanannya ke arah pesisir selatan. Ki Barja pun disuruh untuk melepaskan kembali 152 . sebelum pergi melanjutkan perjalanan. Aki Gede menyuruh salah seorang pengikutnya yang bernama Ki Braja Lintang untuk menangkap ikan di laut untuk sarapan. Keesokan harinya.tidak cocok. segera Ki Braja pergi ke pantai untuk menangkap ikan. Adapun Aki Gede yang telah lama menetap di Cigugur. Ternyata ikan tersebut seekor hiu. Maka oleh Aki Gede. Bermalamlah Aki Gede beserta rombongan pengikutnya di bukit tersebut. Hingga pada suatu ketika. tibalah di atas bukit masih di wilayah pesisir Selatan. Tibalah Sembah Ragasang ke daerah yang sekarang bernama Mandala. kemudian kembali melanjutkan pengembaraannya. Dengan cekatan. kemudian Ki Barja membawa seekor ikan yang besar ke hadapan Aki Gede. Setelah beberapa jam. Di sanalah Sembah Ragasang menetap sampai akhir hayatnya. Karangnini dan Jajawai.

Semenjak itulah. Hingga sampailah Aki Gede ke sebuah muara yang menyatukan antara sungai Haurseah dengan laut Jawa Selatan. Di muara tersebut air sungai Haurseah nampak tidak menyatu dengan air laut karena terbendung oleh air laut itu sendiri. Aki Gede segera saja meninggalkan daerah tersebut. ketika dilepaskan oleh Ki Barja. Namun anehnya. ikan hiu itu tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu besar berwarna hitam. sekarang kita dapat melihat secara jelas bongkahan batu yang berasal dari perwujudan ikan hiu tersebut. Setelah kejadian itu. bahkan nampak airnya kembali mengalir berbalik ke arah aliran sungai. Oleh penduduk 153 . Dari bukit tempat peristirahatan Aki Gede beserta rombongannya itulah. daerah pesisir itu oleh Aki Gede diberi nama pantai Batu Hiu. Bersama dengan rombongannya.ikan hiu tersebut ke laut lepas. ia kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Barat dengan tetap menyusuri pesisir Selatan.

maka Cimulang pun kemudian berubah namanya menjadi Cijulang seperti yang dikenal sekarang. *** (Ciamis) 154 . juga didasarkan pada kebiasaan Aki Gede yang bolak-balik seperti cai mulang mencari tempat untuk ngababakan. keadaan air seperti itu disebut cai mulang (air yang alirannya berbalik arah).setempat. Di daerah Cimulang terdapat burung Julang. Konon selain perubahan lafal dari kata cai mulang. Daerah itu pun kemudian oleh penduduk setempat dinamakan Cimulang. Seiring dengan perkembangan waktu. kemudian Aki Gede kembali ngababakan dan menetap untuk selamanya. Di dekat muara itulah.

Meskipun hidup serba kekurangan. ia hanya memakai peralatan seadanya. Biasanya memakai bubu atau badodon. untuk menambah penghasilan. hiduplah seorang lelaki tua di sebuah rumah yang atapnya terbuat dari rumbia. Ia sangat rajin sekali beribadah. Apabila mendapat ikan cukup banyak. lelaki tua itu pun sekali-kali menangkap ikan di sungai Cimedang. Selain itu. Seperti ketika itu. Namun tetap saja melaksanakan solat lima 155 . Lelaki tua tersebut sehari-harinya tatanen (bertani) dengan memanfaatkan tanah adat milik kerajaan Sukapura. Alat penangkap ikan tersebut terbuat dari bambu.3. lelaki tua tersebut tidak berputus asa. sebelah selatan kerajaan Sukapura. sebagian akan dikere (diselai) dan sebagian lain dijual kepada tetangganya. Dalam menangkap ikan. ia pernah ditimpa sakit keras. SASAKALA KALAPAGENEP Di tepi sungai Cimedang. Begitulah lelaki tua itu kesehariannya.

Mula-mula air hujan hanya menggenangi halaman rumah penduduk. mulai digenangi air bah dari sungai Cimedang. Sekalipun tidak kuat untuk mengambil air wudlu. Ia berpikir apabila air bah sudah menenggelamkan seluruh rumahnya. Sungai Cimedang pun akhirnya meluap. tiba-tiba kampung tersebut terkena caah (banjir). Banyak rumah penduduk yang tenggelam. Dengan tenang. Sesuai dugaan. air bah pun segera menenggelamkan seluruh rumah lelaki tua itu. Suatu hari di musim penghujan. ia akan bertayamum. Lama-kelamaan semakin membesar. Namun meskipun demikian. Lalu seluruh areal pesawahan dan perkampungan pun tenggelam diterjang air bah. lelaki tua itu pun 156 . lelaki tua itu tidak segera pergi meninggalkan rumahnya. Lelaki tua itu pun kemudian terbawa air bah yang arusnya sangat deras. ia akan mengapung di atas buah kelapa yang dibawanya. Ia malah naik ke atas atap rumahnya sambil membawa enam buah kelapa.waktu. Termasuk rumah lelaki tua itu.

Ia hanya melihat air bah yang mengalir deras sampai surut.mengambang bersama enam buah kepala yang dibawanya semula. dilemparkannyalah ke aliran sungai Cimedang. Buah kelapa itu pun terbawa arus sungai. Keesokan harinya. Kemudian air bah pun surut. sehingga lelaki tua itu segera berenang sampai ke tepi muara. Sesampainya di tepi muara.” gumamnya lirih. Gusti masih menyelamatkanku. Adapun enam buah kelapa yang dibawanya. “Alhamdulillah. sampai akhirnya tersangkut di sebuah nusa (pulau kecil) di tengahtengah muara. Lelaki tua itu pun tidak beranjak dari tepi muara. Penduduk kampung mulai berdatangan menolong lelaki tua tersebut. Di sana airnya tidak terlalu deras. Ia terbawa arus sampai ke muara sungai Cimedang. beberapa saat ia tertegun. mereka bergotong-royong 157 .

nusa tersebut selanjutnya diserahkan pada lelaki tua untuk diolah menjadi lahan perkebunan.membantu memperbaiki rumah lelaki tua yang hancur terkena banjir. di nusa tersebut tumbuh enam buah pohon kelapa. Adapun buah kelapa dari keenam pohon kelapa itu. “Untuk mengenang perjuangan Aki Sahuri yang bersusah payah menyelamatkan diri dari terjangan 158 . Nusa Kalapagenep. sampai akhirnya berbuah.” ujar Tua Kampung di depan seluruh penduduk. Oleh Tua Kampung. buah kelapa dari keenam pohon kelapa yang tumbuh di tengah nusa itu pun tidak ada yang berani itupun mengambil kemudian apalagi dinamai mencurinya. yang artinya enam buah pohon kelapa. Aki?” timpal salah seorang penduduk. Beberapa bulan kemudian. oleh lelaki tua selalu dijualnya untuk menambah penghasilan sehari-hari. Setelah lelaki tua itu meninggal. “Kenapa. Semakin hari pohonnya semakin tinggi. “Aku namakan nusa ini Kalapagenep.

daerah di sekitar muara itu pun kemudian dinamakan kampung Kalapagenep. kalau begitu aku setuju..” jawab Tua Kampung sambil menunjuk pada enam pohon kelapa yang tumbuh subur di tengah-tengah nusa. *** 159 .” “Setujuuuu.. Kini kampung tersebut menjadi batas antara kabupaten Ciamis dengan kabupaten Tasikmalaya.banjir dengan memakai enam buah kelapa ini. Selanjutnya. “Oh.!” sahut para penduduk yang lain.

Kebahagiaan suami isteri itu terasa bertambah besar setelah lahirnya anak mereka. seorang bayi yang mungil dan sehat.4. Bahkan harimau tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya sendiri. Apalagi setelah mereka mempunyai binatang peliharaan. hiduplah sepasang suami istri. Harimau tersebut dipelihara sejak kecil. sehingga jinak layaknya seekor kucing. Di kampung itu. yaitu seekor harimau jantan. Apabila mereka pergi ke ladang atau sawah. di wilayah kerajaan Sukapura sebelah selatan. terdapat sebuah kampung tak bernama. Setiap hari harimau tersebut dilatih menjadi binatang piaraan yang cerdas dan tangkas. Sebagai . bayinya selalu ditinggalkan 160 di rumah. Maka semakin giatlah suami istri tersebut bekerja mencari nafkah. Kehidupan keluarga mereka terasa tentram dan romantis. SASAKALA KAMPUNG PANYALAHAN Dahulu kala.

harimau itu segera menghampiri suami istri tersebut. Pikir suami isteri. Mereka pun terkejut melihat keadaan itu. tiba-tiba terjadilah peristiwa yang menyedihkan. Sedang berpikir demikian. Di halaman rumah. mengapa tingkah laku harimau itu berbeda dari biasanya. terlihatlah oleh mereka mulut sang harimau berlumuran darah. Selang ditunjuklah harimau peliharaannya beberapa bulan. Peristiwa itu dimulai ketika suami isteri pulang berladang.penjaganya. Tidak seperti biasanya. mereka disambut oleh harimau kesayangannya. tersebut. Spontan kedua suami isteri teringat akan anak bayinya yang dipercayakan kepada sang harimau piaraannya. 161 ekornya sambil menggosok-gosokkan . Lalu mengibasngibaskan badannya. Seketika itu memuncaklah kemarahan sang suami.” gumam sang suami. “Pasti harimau itu telah menerkamnya.

harimau keparat. Sesampainya di dalam ruangan kamar. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi. mata bayi itu pun terbuka. Matilah harimau itu ditangan orang yang menyayanginya selama ini. lalu sang suami itu pun menghunus goloknya dan menebas leher harimau. Lalu tersenyum lucu dan menggemaskan. Selesai menghardik. Kedua suami isteri pun lalu mengusap 162 . Dasar tidak tahu balas budi!” hardiknya. setelah terlebih dulu menendang bangkai harimau. Setelah sadar kembali ingatannya. didapati bayinya terbaring dengan tenang dalam ayunan. lalu digoyang- goyangkan badannya. Lalu sang suami pun mengikutinya masuk ke dalam kamar. Tak lama berselang.“Hey. Teganya engkau menerkam anakku. Dirabanya tubuh bayi tersebut. mereka berdua hanya membisu. maka larilah sang isteri memasuki kamar tempat bayinya ditinggal.

yang dalam bahasa Sunda disebut nyalahan. hewan itulah yang justru telah menyelamatkan bayinya dari santapan ular sanca. 163 . Namun apa dikata. Setelah puas memandangi bayinya yang selamat. kampung tempat suami istri tersebut bermukim dikenal dengan nama kampung Panyalahan. harimau tersebut telah mati dibunuhnya karena salah terka. yang berarti tempat berbuat kesalahan. suami isteri tersebut segera memeriksa sekeliling ruangan kamar. Ia pun sadar bahwa harimau itu telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya. Didapatinya bangkai seekor ular sanca yang sangat besar tergeletak dekat ayunan. ia langsung duduk lunglay di ruangan kamar dekat ayunan bayi. Semenjak itulah. Apalagi sang suami. Ia sadar betul bahwa harimau yang telah dibunuhunya tidak bersalah. Dari mulut dan sebagian tubuhnya berlumuran darah. Saat itulah suami istri tersebut tersadar telah melakukan kesalahan.muka dan bersyukur karena bayinya selamat serta masih hidup.

Hingga kini.Semakin lama. seluruh penduduk kampung Panyalahan disupata (dikutuk) untuk tidak bisa membunuh harimau memakai senjata apapun. Bahkan sekarang berkembang kepercayaan. menurut kepercayaan masyarakat sekitar. termasuk memakai senjata api. bahwa penduduk kampung Panyalahan dilindungi oleh maung kakajaden (harmau jadi-jadian) yang terbunuh oleh sang suami pada waktu itu. *** 164 . kampung Panyalahan semakin banyak dikunjungi pendatang dan menjadi penduduk di sana.

Sunan Rangga Lawe mempunyai kakak seorang perempuan bernama Maharaja Inten Dewata. Ia seorang raja yang adil dan bijak. Adapun rajanya bernama Sunan Rangga Lawe. kakaknya lebih memilih menjadi pertapa dan masyarakat biasa. Penduduk 165 . SASAKALA GUNUNG GUNTUR Dahulu kala. tidak jauh dari suku gunung Kutu. Suatu ketika. di suku gunung Kutu (yang kelak namanya berubah menjadi gunung Guntur) terdapat sebuah kerajaan bernama Timbanganten. Ibukotanya bernama Korobokan. sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya. kerajaan Timbanganten mengalami pailit akibat musim kemarau panjang.5. Seluruh penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. Ia tidak mau tinggal di dalam istana. Ia lebih senang berkelana ke tiap pelosok kerajaan. Namun berbeda dengan pribadi Sunan Rangga Lawe yang sinatria. ditemani oleh lelaki yang sudah berumur tua bernama Batara Rambut Putih.

Paman?” “Pemiliknya Maharaja Inten Dewata. Sunan Rangga Lawe pun berinisiatif untuk membuat situ (danau). akhirnya para patih dan mahamantri yang ditugaskan mencari daerah untuk membuat situ pun menghadap Sunan Rangga Lawe. Hasil pertanian dan ladang tidak dapat dipanen. Dipanggillah seluruh patih dan mahamantri kerajaan.” “Siapa yang memiliki tempat tersebut. saudara Kanjeng sendiri.” “Di mana tempatna. Maka untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kanjeng. Tempatnya harus strategis. kami telah berhasil menemukan tempat yang strategis untuk dibuat situ. lalu diperintah agar segera mencari tempat yang cocok untuk membuat situ.” 166 . agar dapat mengairi seluruh wilayah kerajaan. Paman Patih?” “Di lembah gunung Kutu.kekurangan air bersih dan makanan. karena kekeringan. “Kanjeng Sunan. Setelah 40 hari 40 malam.

Sesampainya di sana. Katanya akan bermanfaat bagi sistem pengairan di kerajaan Timbanganten. gampang kalau pemiliknya beliau. permintaannya tidak akan aku kabulkan. Kanjeng.“Oh.” Keesokan harinya. “Sampaikan pada Sunan. Sekarang. saya mendapat tugas dari Kanjeng Sunan untuk menyampaikan permintaannya. akan saya laksanakan.” “Memang apa permintaan adikku itu?” “Ia bermaksud meminta daerah ini untuk dibuat situ.” Sesaat Maharaja Inten Déwata terdiam. Di daerah ini aku mulai bisa 167 . Paman segera menghadap pada kakakku. Paman Patih pun segera menemui Maharaja Inten Dewata di rumahnya. ia pun memberikan keputusan.” “Baik. di lembah gunung Kutu. ceritakan apa kehendakku. ia langsung menghadap Maharaja Inten Dewata. “Ada apa kalian menemuiku?” “Ampun Gusti. Sesaat kemudian.

seluruh rakyat ditugasi untuk mencari tempat yang baik untuk dibuat situ. jauh dari hiruk-pikuk kehidupan istana. “Bagaimana.” Beberapa hari kemudian. Tetapi seperti sebelumnya.” “Oh. Namun semua penduduk kerajaan mengatakan hal yang sama bahwa tempat yang baik untuk situ ialah di lembah gunung Kutu. beliau tidak bisa memberikan daerahnya untuk dijadikan situ. Kita cari saja tempat lain. Paman?” “Ampun Kanjeng Sunan. Paman Patih pun segera bergegas untuk menemui Sunan di istana. ia pun langsung menghadap ke Sunan Rangga Lawe.” Setelah mendengar jawaban tersebut. Akhirnya Sunan Rangga Lawe pun memerintahkan kembali patihnya untuk membujuk kakaknya agar memberikan daerahnya dijadikan situ. Maharaja Inten Dewata 168 .menikmati hidup. sudahlah kalau memang begitu. ya. Sesampainya di istana.

Sunan Rangga Lawe pun tidak dapat memaksa karena ia merasa hormat pada sang kakak. katakan saja!” “Begini Kanjeng. yang menjadi raja di Timbanganten sekarang adalah paduka Kanjeng. ada apa. sebelumnya saya meminta maaf. apabila perkataan saya terlalu lancang. Ia tidak mau menyerahkan daerahnya untuk dijadikan situ. “Ada apa.” “Maksud.” “Ya. Akhirnya.” “Memang kenapa?” “Artinya bahwa seorang raja itu harus berwibawa dan mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah Timbanganten. Mantri?” “Ampun Kanjeng. Beberapa hari kemudian ada seorang mahamantri yang menghadap pada Sunan Rangga Lawe. untuk sementara pembangunan situ pun ditunda. Mantri?” 169 .tetap pada pendiriannya.

” Mendengar perkataan mahamantri tersebut. Menurut hemat saya. seluruh rakyat pun segera bekerja membuat situ. Setibanya di lembah gunung Kutu. artinya di Timbanganten terdapat dua raja. Ia pun langsung memerintahkan seluruh rakyatnya agar membawa peralatan untuk membuat situ di lembah gunung Kutu. Kanjeng Sunan segera memerintahkan karena untuk membuat akan pesanggrahan. membuat situ menghabiskan waktu berminggu-minggu. Kontan saja seluruh rakyat Timbanganten berbondongbondong membangun situ.“Ampun. Semua bersemangat karena dilihat 170 . Kalau paduka Kanjeng tidak sanggup. Kanjeng sebenarnya bisa memaksa pada Maharaja Inten Dewata untuk segera menyerahkan lahannya untuk dijadikan situ. dipimpin langsung oleh Sunan Rangga Lawe. Kanjeng. Sunan Rangga Lawe pun terpengaruh. “Mulailah kalian sekarang bekerja membangun situ!” Mulai hari itu. Bahkan pengerjaannya.

hanya untuk melihat saja situ buatan adikku itu. ambilkan aku jolang dan bawakanlah sekepal tanah.” Tak lama kemudian. karena dapat bertani dan berladang kembali. Hanya saja Maharaja Inten Dewata sangat marah. Airnya sangat jernih memenuhi kubangan situ. Dalam kemarahannya itulah. Seluruh penduduk pun bahagia. Ia merasa dihianati oleh adiknya sendiri. Batara Rambut Putih pun membawa jolang diisi air dan sekepal tanah.” “Untuk apa Nyai?” “Ah. Aku akan pergi ke puncak gunung Kutu. sebagian lagi dialirkan ke seluruh pesawahan dan perkebunan di wilayah kerajaan Timbanganten. Maharaja Inten Dewata mengajak Batara Rambut Putih untuk pergi menuju gunung kecil yang terletak bersebelahan dengan gunung Kutu. situ pun berhasil dibuat.langsung oleh raja. Kelak gunung kecil ini bernama gunung Putri. “Aki. Setelah beberapa minggu. Lalu 171 .

Langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung. Dari puncak gunung tibatiba kelihatan api menyala. Pada peristiwa itu. Adapun Sunan Rangga Lawe tetap berdiam diri di Timbanganten. ia pun turun kembali dari puncak gunung. Rumah Penduduk penduduk banyak banyak yang hancur. Mayat yang meninggal. tiba-tiba ada kejadian aneh. gunung Kutu pun menumpahkan lahar. Setelah itu. lalu Maharaja Inten Dewata menaburkan tanah dan menumpahkan air dari jolang. banyak penduduk Timbanganten yang mengungsi ke kerajaan Sukapura. Setelah itu.pergilah Maharaja Inten Dewata dan Batara Rambut Putih ke puncak gunung Guntur. bergelimpangan di mana-mana. Sesaat kemudian terdengar suara petir menyambar beberapa kali. batu panas. Sesampainya ke puncak gunung. Ia 172 . dan Banjar Patroman. Kono kejadian tersebut berlangsung selama 40 hari 40 malam tanpa henti. Sesaat setelah sampai ke rumahnya. Sumedanglarang. dan hujan abu ke seluruh pelosok kerajaan.

Sesampainya di sana. dan hujan abu dari gunung Kutu. ia segera melihat kakaknya tengah berdiri di atas batu di bukit sebelah gunung Kutu. Dengan sigapnya.” “Aku maafkan engkau adikku. Maharaja Inten Dewata. bahwa terjadinya bencana demikian. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. karena ulahnya yang tidak menghormati lagi kakaknya. maka berhentilah hujan batu panas. alangkah baiknya apabila kita bersama mengolah kerajaan. “Kakanda. Namun hatinya mulai tersadar.” 173 .” Setelah keluar perkataan itu. lahar. langsung saja Sunan Rangga Lawe sungkem (bersujud) pada kakaknya untuk meminta maaf. Sesaat setelah berpikir demikian. Suara petir pun mendadak berhenti.tetap bersikap sebagai figur raja yang bertanggungjawab. maka segera ia pergi untuk menemui kakaknya. “Kakak.

Adapun bukit kecil tempat Sunan Rangga Lawe bersujud pada Maharaja Inten Dewata.” Sesaat setelah itu. Kini. untuk mengenang keagungan Maharaja Inten Dewata. *** 174 . gunung Kutu namanya diubah menjadi gunung Guntur. aku tidak akan pulang ke istana. Kemudian situ yang dibuat oleh rakyat Timbanganten sedangkan disebut ibukota Situ Taman Timbanganten.“Adikku. karena sering terdengar suara guntur (petir). terjadi lagi kejadian seperti ini. Korobokan sekarang dikenal dengan nama Tegalurug. selanjutnya dinamakan gunung Putri. Maharaja Inten Dewata dan Aki Batara Rambut Putih pun menghilang dari hadapan Sunan Rangga Lawe. Aku sudah betah di sini. sambat (panggil) saja namaku dan Aki Batara Rambut Putih. Adakalanya masarakat Timbanganten menyebutnya gunung Agung. Apabila suatu saat nanti. wilayah Timbanganten masuk ke wilayah kecamatan Tarogong Kabupaten Garut. Semenjak itulah.

Hasil sawah dan ladang selalu berlimpah ruah setiap musim panen. Ia hidup menjomblo. karena tidak ada seorang pun lelaki yang 175 jatuh hati padanya. Hal itu dikarenakan seluruh hasil panen dari sawah atau ladang mereka.6. Namun sayangnya. . Tanah di kampung tersebut sangat subur dan tidak pernah kekurangan air. Setengah tanah kampung telah menjadi miliknya. semuanya harus dijual dengan harga murah kepada seorang tengkulak perempuan yang sangat pedit (pelit). Lumbung padinya berlimpah ruah. Penduduk kampung menyebutnya dengan nama Nyi Endit. SASAKALA SITU BAGENDIT Di sebelah utara kabupaten Garut. Nyi Endit tentu saja menjadi orang kaya di kampung itu. para penduduk di kampung tersebut hidupnya tetap miskin dan selalu tertimpa musibah kelaparan. Rumahnya mewah. terdapat sebuah kampung yang penduduknya kebanyakan tatanen (bertani).

. Mereka akan membunuh penduduk kampung yang ketahuan tidak menjual hasil panennya kepada Nyi Endit.. benar.” 176 ..” “Selama si lintah darat itu masih hidup. hari itu seluruh penduduk kampung akan panen. ya?” kata seorang petani. penduduk harus membeli bahan pokok sehari-hari dari Nyi Endit yang harganya lima kali lipat lebih mahal dari harga sebelumnya. Waktu pun berjalan mengikuti kehendak Sang Pencipta.. Maka jika musim kemarau. Maka tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu. “Kapan kita akan untung dari hasil panen.Kesehariannya hanya ditemani puluhan centengnya yang bengis. “Wah. Centeng-centeng Nyi Endit tersebut didatangkan dari kampung lain. mungkin sampai kita meninggal tidak akan pernah untung. ya Kang?” “Ya. Ya.

Aku akan naikkan harganya lima kali lipat. “Komar!” kata nyai Endit..” Itulah keluh-kesah pada hari panen..” “Iya.“Katanya di kampung sebelah harga padi lagi naik. Setelah panen pun penduduk akan terus mengeluh. 177 . Nyi!” jawab centeng bernama Komar.. Kalau ketahuan menjual padi ke kampung lain.ha. ya. Kang?” “Iya.! Kemarau akan tiba.ha. Nyi Endit dengan ditemani beberapa centengnya akan segera memeriksa leuit (lumbung padi). pasti kita akan dibunuh centengnya. Aku akan semakin kaya!” kata Nyi Endit sambil tertawa lepas.. Sementara sesudah panen. “Apakah semua padi sudah masuk?” “Sudah atuh. “Ha.. mereka pun pasti akan membeli padi padaku. tapi kita tetap saja harus menjualnya ke nenek lintah darat itu.

“Keparat nenek lintah darat itu. Nyi Endit mengadakan sukuran karena telah membeli sehektar tanah di kampung sebelah. awal akhir pasti Tuhan akan menghukumnya. 178 . Sementara Nyi Endit menjual mahal barang dagangannya. Pada suatu hari. Konon menurut centengnya. padahal tadinya ia beli murah dari hasil panen penduduk kampung. seluruh penduduk kampung diundang untuk menghadiri sukuran Nyi Endit. “Semoga mendapat siksa dari Tuhan. Kesewenangan dan kepelitan Nyi Endit memang sudah sabiwir hiji (menjadi menu pembicaraan semua penduduk).Benar saja. Begitulah biasanya pembicaraan penduduk kampung apabila bertemu di surau atau di warung kopi.” kata seorang penduduk.” kata seorang lagi. beberapa bulan kemudian tibalah musim kemarau. Penduduk kampung mulai kehabisan bahan makanan dan mulai banyak yang kelaparan.

ia hanya menyediakan air putih dan hidangan alakadarnya. siapa yang menggelar acara sukuran ini?” “Nyi Endit. Ketika sukuran sedang berlangsung. apakah kakek boleh meminta segelas air. Kek. Banyak penduduk yang sengaja datang karena ingin mendapat nasi.” 179 . Namun semua salah duga. sudah berjalan cukup jauh. Itupun banyak penduduk desa yang tidak kebagian. akhirnya acara sukuran pun ramai juga. ketika datang ke rumah Nyi Endit. Setelah itu. Mereka berpikir akan makan lezat dan diberi uang oleh Nyi Endit. Memangnya kenapa?” “Begini. Kakek haus sekali. ia pun bertanya pada seorang penduduk. Dia berjalan mendekati pintu rumah Nyi Endit. “Mau numpang tanya.Penduduk kampung sedikit bahagia diundang sukuran oleh Nyi Endit tersebut. Namun karena banyak penduduk yang kelaparan. tiba-tiba datang seorang kakek yang kelihatannya sedang kelelahan dan kehausan.

180 . “Kalian semua pulanglah. bahwa hari ini akan terjadi banjir yang dapat menenggelamkan kampung kita. Keluar kau pengemis!” tiba-tiba Nyi Endit menghardik kakek tersebut. kita mengungsi!” “Wah. penduduk kampung hanya diam mematung.mau meminta air? Enak saja.” Setelah itu. Tidak beberapa lama.“Apa. Mendengar hardikan Nyi Endit seperti itu. Ayo. yang benar saja Karsih. “Ibu. semuanya. Jangan hadiri acara sukuran orang seperti ini.. Bapa. Saya dapat amanat dari seorang kakek.. ayo kita pulang. Si Kakek menyuruh aku memberitahu kalian semua. si kakek pun pergi meninggalkan rumah Nyi Endit. kemudian datang Nyi Karsih. Namun anehnya si kakek itu hanya tersenyum simpul. Lalu ia berkata pada semua yang hadir di rumah Nyi Endit. siang cerah begini ada banjir?” cetus seorang penduduk.

“Saya hanya diberi tahu oleh si kakek. Kalau tidak percaya, ya sudah,” Nyi Karsih pun lalu pergi cepat-cepat. Nyi Endit dan centeng-centengnya hanya

tertawa mendengar kabar dari Nyi Karsih seperti itu. Namun sebagian penduduk ada yang langsung

mengikuti Nyi Karsih. Bahkan pada akhirnya semua penduduk pun meninggalkan rumah Nyi Endit. Mereka ke rumahnya masing-masing untuk membawa barang berharga, lalu pergi mengungsi. Setelah semua penduduk keluar dari rumahnya, Nyi Endit hanya tertawa terbahak-bahak bersama centeng-centengnya. Namun tiba-tiba, datanglah si kakek yang meminta air tadi. Lalu ia berbicara dengan lantang. “Hei, Endit, selama ini Tuhan memberimu kekayaan yang berlimpah. Tapi kamu pelit, tidak bersyukur, dan mencekik penduduk dengan harga mahal. Kelakuanmu seperti lintah darat. Maka mulai

181

saat ini, aku akan menghukummu. Seluruh hartamu akan tenggelam dan engkau aku kutuk menjadi lintah!” “Ha..ha...ha…mau menghukumku? Mau mengutukku jadi lintah? Emangnya engkau ini Tuhan? Kamu tidak tahu aku bisa menghukummu dengan centeng-centengku? Sekali tebas, kau akan mati. Sekarang, pergi dari sini!” hardik Nyai Endit. Lalu si kakek pun pergi dari hadapan Nyi Endit dan centeng-centengnya. Sebelumnya si kakek pun menancapkan tongkat kayunya di hadapan Nyi Endit. “Dasar kakek gila, malah meninggalkan tongkat di hadapanku,” gumam Nyi Endit sambil mencabut tongkat yang ditancapkan si kakek tadi. “Hey, kakek gila, ini tongkatmu,” kata Nyi Endit. “Itu hukuman untukmu...!” jawab si kakek. Belum juga Nyi Endit berucap, tiba-tiba si kakek pun menghilang. Tentu saja Nyi Endit dan centengcentengnya merasa kaget. Apalagi dari bekas tancapan tongkat tersebut menyembur air. Byuuur....!

182

Semakin lama, air pun semakin menyembur. Segera centeng-centeng Nyi Endit menutupi lubang tempat menyemburnya air tersebut. Namun aneh, air yang menyembur semakin banyak. Bahkan

bermunculan semburan-semburan lain di dalam dan di sekitar rumah Nyi Endit. Kemudian Nyi Endit pun mulai panik. Semua centeng-centengnya kalang kabut. Air semakin besar, meluap deras. Rumah Nyi Endit mulai terkena banjir. Sawah-sawah penduduk

mulai tergenang. Melihat banjir yang tiba-tiba, centengcentengnya segera meninggalkan Nyi Endit. Adapun penduduk kampung lebih dulu telah mengungsi. Sekarang tinggal Nyi Endit berusaha berlari menyelamatkan diri bersama hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya. Nyi Endit pun

meninggal ditelan air bah. Melihat kejadian tersebut, semua penduduk sadar bahwa Nyi Endit telah dihukum oleh Tuhan atas kekikirannya selama ini. Bahkan setelah sekian lama, air yang membanjiri perkampungan itu pun tidak
183

kunjung surut. Kemudian membentuk sebuah telaga atau menurut bahasa penduduk setempat dinamakan situ. Situ itu pun kemudian dinamakan Situ Bagendit, merujuk pada nama Baginda Endit yang memiliki karakter pedit (pelit). Seiring waktu, tertanam kepercayaan pada penduduk setempat bahwa kadang-kadang di telaga tersebut muncul lintah sebesar kasur di dasar danau. Konon lintah itu merupakan penjelmaan Nyi Endit yang dikutuk karena kekikiran dan perilakunya pada waktu air bah menenggelamkan dirinya. Kini, Situ Bagendit menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Garut dan banyak dikunjungi wisatawan. ***

184

Pada masa itu. makmur. Terlebih Adipati Adiwijaya dikenal sebagai bupati yang adil dan bijaksana dalam memimpin. Seluruh rakyat pun menghormati dan mencintainya.7. Adipati Adiwijaya kedatangan tiga orang utusan Letnan Gubernur Raffles dari Batavia. Tamu tersebut diterima di pendopo kabupaten. Limbangan termasuk salah satu kabupaten di wilayah Priangan. Suatu ketika. menanyakan selanjutnya maksud Adiwijaya tamu kedatangan tersebut dengan disaksikan oleh para pembesar Limbangan. Setelah dijamu seperti tamu-tamu lain Adipati yang datang ke pun oleh seorang bupati bernama Adipati Limbangan. Kabupaten Limbangan merupakan daerah yang subur. dipimpin Adiwijaya. “Ada apa tuan-tuan datang ke Limbangan?” 185 . dan ramai dikunjungi pedagang dari Belanda. SASAKALA GARUT Pada masa kolonial.

kami disuruh oleh Lentan Gubernur Raffles untuk menyampaikan surat. 186 . Kanjeng!. Surat pun diterima oleh Adipati Adiwijaya. Sejurus kemudian. tuan?” “Ini suratnya. Mana suratnya. “Oh. begitu. Begitulah intinya isi surat ini.” kata salah seorang tamu yang berperawakan tinggi besar. lalu Adipati Adiwijaya berdiri dari tempat duduknya.“Kanjeng Adipati. “Perlu kalian ketahui bersama. Dalam surat disebutkan alasannya agar daerah Priangan segera berkembang.” kata Adipati Adiwijaya kepada para tamu dan pembesar Limbangan di pendopo kabupaten. setelah itu lalu dibacanya. Cukup lama Adipati Adiwijaya merenung setelah selesai membaca surat dari Raffles tersebut.” tamu Belanda itu menyerahkan surat kepada Adipati Adiwijaya. bahwa Tuan Raffles menyampaikan surat yang isinya agar memindahkan kota kabupaten Limbangan ke daerah lain.

dalam surat disebutkan bahwa tuan-tuan ini harus menemani kami dalam mencari daerah baru tersebut. Nah.” kata tamu Belanda tersebut.Selanjutnya ia pun berkata. Semoga Kanjeng Adipati dapat menerima kami. Maka rombongan dari Limbangan pun berangkat ke arah selatan. “Tuan dari Batavia. Setelah itu. kemudian Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kepada patihnya untuk mengurus akomodasi ketiga tamu tersebut. aku baru akan menugaskan beberapa prajurit Limbangan untuk mencari daerah baru yang baik untuk ibukota. kami akan tinggal cukup lama di sini. perintah Tuan Raffles ini akan kupikirkan beberapa hari ke depan. berarti akan cukup lama tinggal di Limbangan?” “Benar Kanjeng Adipati. kemudian Adipati Adiwijaya menugaskan kepada patih dan beberapa pembesar kabupaten Limbangan untuk segera mencari daerah yang baik untuk dijadikan ibukota. Tujuh hari kemudian. Setelah itu. Tidak ketinggalan tiga orang Belanda 187 .

Mereka berharap kampungnya akan semakin ramai dan berkembang. bahwa daerah di bawah kekuasaannya akan dijadikan ibukota yang baru. sebelah timur perkampungan Suci. kemudian rombongan yang dipimpin oleh Patih Limbangan itu segera menyampaikan maksudnya kepada ketua kampung dan seluruh penduduk Suci. dan melihat keadaan geografis daerah Cumuruh.dari Batavia diajak turut serta untuk mencari daerah baru itu. Seluruh rombongan dan penduduk Suci bergotong royong membangun semua 188 . Setelah tiga hari perjalanan. akhirnya rombongan dari Limbangan itu pun sampailah ke sebuah daerah yang disebut kampung Cumuruh. tentu saja seluruh penduduk di kampung Suci sangat bergembira. Ngababakan (membuka lahan baru untuk pemukiman) pun dimulai. Setelah satu malam menginap. Mendengar bahwa kampungnya terpilih untuk dijadikan ibukota kabupaten Limbangan.

daerah Suci sering kekurangan air. Namun sayangnya. Rombongan pencari daerah baru pun segera melaksanakan pekerjaannya. dan beberapa rumah untuk menerima tamu. Tidak lupa tiga orang Belanda yang bertindak sebagai pengawas dari Batavia turut serta. karena kontur tanahnya sangat baik. Setelah banyak dikunjungi pendatang dan banyak pula yang bermukim. setelah beberapa bulan menetap. rumah-rumah pembesar kabupaten. Tidak lama setelah itu. 189 .fasilitas yang dibutuhkan dari untuk sebuah ibukota kabupaten. Ia pun sangat setuju dengan tempat yang barunya tersebut. alun-alun. Mulai pendopo. Adipati Adiwijaya pun segera memindahkan ibukota Limbangan ke Suci. segera Adipati Adiwijaya mendapati kekurangan di ibukota Limbangan yang baru tersebut. Hingga setelah beberapa hari mencari. Akhirnya Adipati Adiwijaya pun segera memerintahkan kembali pada patihnya untuk mencari tempat lain untuk dijadikan ibukota yang baru.

rombongan pun akhirnya menemukan suatu tempat yang cocok dijadikan ibukota. Galunggung. juga terdapat mata air bersih yang mengalir dari sungai Cimanuk. “Paman Patih. Sebagai ketua rombongan. Daerah itu pun dikelilingi oleh pemandangan yang indah karena berada di antara lembah gunung Cikuray. dan Karacak. segera saja perintahkan seluruh rakyat untuk bergotong royong ngababakan di tempat itu!” ujar Adipati Adiwijaya. Bahkan beberapa di antaranya ada yang ditugaskan secara khusus mencari kubangan tempat keluarnya mata air. Papandayan. Paman Patih pun segera mengerahkan seluruh warga Limbangan untuk membuka lahan baru di daerah tersebut. 190 . Maka setelah mendapat restu. kalau memang tempat itu baik untuk ibukota Limbangan yang baru. Guntur. Selain kontur tanahnya datar dan subur. Berbondong-bondong penduduk Limbangan ngababakan di daerah itu. Patih Limbangan pun segera melapor kepada Adipati Adiwijaya.

seorang pekerja melapor kepada Paman Patih bahwa ia menemukan kubangan tempat keluarnya sumber mata air. 191 . karena ia takut tanaman berduri tersebut beracun. Kubangan tersebut tertutupi oleh jukut cucukan (tanaman berduri). Nah. benar saja di tempat itu terdapat kubangan yang airnya berasal dari sebuah mata air. Namun setelah diperiksa. Oleh karena itu. pada saat ngababad. maka Paman Patih segera memerintahkan kepada beberapa pekerja untuk ngababad (memangkas) tanaman berduri tersebut. Hingga tangannya mengeluarkan darah.Di hari ketujuh ngababakan. sehingga sulit untuk diperiksa. Lalu Paman Patih segera memeriksa tangan pekerja yang tergores. Setelah dicek. Pekerjaan ngababad pun untuk sementara dihentikan. seorang pekerja kakarut (tergores) tangannya oleh duri tanaman itu. ternyata tanaman berduri itu tidak beracun. Pekerjaan pun dilanjutkan kembali.

” kata orang Belanda itu sambil mengernyitkan kening. karena lidahnya kurang fasih berbahasa Sunda. tanaman berduri yang menggores pekerja itu. Mendengar ucapan Belanda seperti itu. Ia meniru kata kakarut menjadi gagarut. daerah di pinggir sungai Cimanuk itu pun segera banyak dikunjungi pengunjung dari daerah lain. meniru ucapan Belanda yang kurang fasih berbahasa Sunda itu.Melihat tangan seorang pekerja berdarah. Semenjak itulah. salah seorang Belanda utusan dari Batavia segera bertanya: “Kenapa kamu berdarah?” Pekerja yang tergores pun segera menjawab dalam logat bahasa Sunda. Adapun kubangannya dinamakan Cigarut. “Kakarut ku jukut.” “Apa? Gagarut ku jukut?. baik dengan tujuan berdagang maupun yang sengaja menjadi pemukim. Tuan. Beberapa bulan kemudian. oleh rombongan dinamakan Ki Garut. semua pekerja yang sedang ngababakan menertawakannya. 192 .

maupun pendatang dari Belanda. dan Arab. Pada masa itu. 193 . diambil dari nama tanaman Ki Garut dan mata air Cigarut pada waktu ngababakan dulu. Cina. “Aku restui nama Garut ini untuk ibukota kabupaten Limbangan yang baru.Apalagi setelah Adipati Adiwijaya secara dari resmi memindahkan ibukota Limbangan Cumuruh. daerah itu pun berkembang pesat. Garut banyak didatangi oleh para pendatang baik dari wilayah Priangan. Bahkan Letnan Gubernur Raffles di Batavia pun konon merestui ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut.” ujar Adipati Adiwijaya di depan seluruh rakyatnya. kota Garut semakin berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan kabupaten Limbangan. Semoga membawa berkah dan kesejahteraan bagi rakyat. Cetusan nama Garut itu pun disetujui pula oleh Bupati Adipati Adiwijaya. Semenjak itu. Kemudian penduduk pun menamakan ibukota Limbangan yang baru itu dengan nama Garut.

Hingga akhirnya pemerintah kolonial mengganti nama kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut hingga kita kenal sekarang. *** *) Limbangan kini hanya menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Garut. 194 .

SASAKALA TASIKMALAYA (SUKAPURA) Tersebutlah Surakerta. diapit dua sungai kecil. Dari perkawinan tersebut lahirlah Wirawangsa. sebuah negara yang bernama Tengah. Sebagai puteri tunggal. Ibukotanya bernama Dayeuh Tanahnya berbukit-bukit kecil.8. Wirawangsa 195 . Nyai Punyai Agung menikah dengan Entol Wiraha yang menggantikannya menjadi penguasa Surakerta. Pada waktu itu. kira-kira 5 km sebelah Timur Kecamatan Sukaraja. Ia memiliki seorang puteri tunggal yang bernama Nyai Punyai Agung (Ageng). diselingi sawah-sawah. yaitu Sungai Ciwulan dan Sungai Cipinaha. Daerah ini sekarang menjadi nama sebuah desa yang termasuk ke dalam Kecamatan Salopa. penguasa Negara Surakerta itu bernama Sareupeun Cibuniagung. Nyai Punyai Agung menjadi pewaris tunggal Negara Sukakerta.

Ketika Dipati Ukur diperintah Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Dipati Ukur berpindahpindah tempat dari Gunung Pongporang ke Gunung 196 . Dipati Ukur membawa sembilan umbul. Waktu itu. di antaranya. Wirawangsa. Sewaktu Wirawangsa berkuasa. Umbul Surakerta.berkuasa di Surakerta menggantikan kedudukan ayahnya sampai pecah pemberontakan Dipati Ukur. umbul Surakerta berada di wilayah Priangan yang dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata. Tetapi Dipati Ukur gagal dalam penyerangan itu karena Tumenggung bahurekso dan tentaranya tidak datang waktu yang telah ditentukan. status negara berubah menjadi umbul. Tindakan ini oleh Mataram dianggap sebagai pemberontakan karena Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Ia bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul.

dan Umbul Sagala Herang. Pada waktu itu umbul yang mendukung pemberontakan Dipati Ukur hanya umbul dari Priangan Tengah. yaitu Umbul Batulayang. Umbul Saunggatang. Umbul Madang Sasigar. Umbul Kahuripan. Umbul Mananggel. Karena tindakan Dipati Ukur itu dianggap membahayakan. Umbul Sindangkasih Ki Somahita. hidup atau mati dengan yang suatu berhasil bahwa barangsiapa 197 .Lumbung di daerah Batulayang. sebab daerah tempat berlindung Dipati Ukur terletak di antara Banten dan Batavia yang menjadi musuh Mataram. Umbul taraju. Sultan Agung memerintahkan untuk menangkapnya perjanjian. kemudian pindah ke Kampung Bungbang bawahan Banten. Sementara umbul dari Priangan Timur tidak setuju akan pemberontakan tersebut seperti Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa. dan Umbul Distrik Indihiang di Galunggung Ki Wangsarana. Pemberontakan Dipati Ukur ini sangat membahayakan kedudukan Sultan Agung di Mataram. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala.

Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede. Dipati Ukur tertangkap di daerah Cengkareng sekarang oleh tiga umbul Priangan Timur. dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita. tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu. Ketiga umbul yang ikut menangkap Dipati Ukur adalah Umbul Surakerta Ki Wirawangsa. dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur. Ki Wirawangsa diangkat menjadi mantri agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. kemudian dibawa ke Mataram. dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati. ketiga umbul tersebut diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing.menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah. Ki Astamanggala diangkat menjadi mantri agung Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangun198 . Atas jasanya. Ketiga umbul tersebut juga menangkap delapan umbul lainnya yang biluk (setia) kepada Dipati Ukur. Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala.

kota diangkat menjadi dengan gelar mantri agung Tumenggung mantri agung dari kabupaten pun dipindahkan Dayeuh Tengah di Sukakerta ke Leuwi Loa (wilayah desa Sukapura) daerah Sukaraja sekarang. dan Ki Somahita menjadi Parakanmuncang Tanubaya. terletak di tepi sungai Ciwulan.angun. Perubahan nama Leuwi Loa menjadi Sukapura berdasarkan alasan karena di Leuwi Loa didirikan pura yang bermakna „kraton‟ dan suka bermakna „asal‟ atau „tiang‟. Oleh karena itu. Wiradadaha Baganjing. Raden Tumenggung Wiradadaha (Wiradadaha I) yangberjasa mendirikan Kabupaten Sukapura wafat. Setelah Sukapura. Oleh karena perpindahan ibukota pindah ke Sukapura. 199 I terkenal dengan sebutan Dalem . sukapura bermakna jejernya karaton karena di tempat inilah berdirinya bupati Sukapura yang pertama. dan dimakamkan di Pasir Baganjing. Jadi. nama kabupaten pun disebut Kabupaten Sukapura.

200 . Raden Anggadipa bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha III. Raden Wiradadaha II digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Anggadipa I. Setelah meninggal dunia. Wiradadaha II terkenal dengan julukan Dalem Tambela. Namun. Setelah menjadi bupati. sehingga ia lebih dikenal dengan Dalem Sawidak. putra keempat Wiradadaha I. Setelah meninggal dunia. Wiradadaha II tidak lama berkuasa karena pada tahun pengangkatannya dunia karena sebagai tumenggung meninggal hanya dihukum mati. Oleh karenaitu.Pengganti Wiradadaha I adalah putranya yang ketiga yang bernama Raden Jayamanggala dengan gelar raden Tumenggung Wiradadaha II. Dia terkenal sebagai bupati Sukapura terkaya dan memiliki anak sebanyak 62 orang. Keluarganya mendapatkan tambela yang berisi mayat Wiradadaha II. Wiradadaha III digantikan oleh anaknya Raden Subangmanggala dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha IV.

dimakamkan Pasirtando. Setelah diangkat menjadi bupati. Wiratanubaya. Setelah wafat. tetapi lebih dikenal dengan sebutan Dalem Tumenggung Secapati. Karena sering bertolak belakang dengan pemerintah Kolonial. Raden Wiradadaha IV digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Raden Secapati. Raden Secapati adalah cucu Dalem Tamela. Wiradadaha VI mengundurkan diri. dia menggunakan nama Raden Tumenggung Wiradadaha V. 201 .Raden Wiradadaha IV meninggal dunia dan dimakamkan di Pamijahan dekat gurunya Syeh Abdul Muhyi dan dikenal dengan sebutan Dalem Pamijahan. Ia menikahi putri bupati Parakanmuncang. dan digantikan oleh anaknya Raden Jayamanggala II dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII. Ia juga disebut Raden ia Adipati di Setelah wafat. sehingga terkenal dengans ebutan Dalem Pasirtando. Wiradadaha V digantikan oleh putranya yang bernama raden Jayangadireja dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VI.

Wiraradaha VIII dipecat. Wilayahnya meliputi sebagian dari Sumedang: Malangbong. Ciawi. Namun. dan Tasikmalaya. Sukapura memiliki wilayah yang sangat luas. Dalem Talun mengundurkan diri. Pada masa kekuasaan Widadaha VIII. Cijulang. kabupaten Sukapura diserahkan kembali ke bupati Limbangan. Singaparna.Pengganti Wiradadaha VII adalah putranya yang kelima Raden demang Anggadipa dengan gelar Raden Tumenggung Wiradadaha VIII. Dua tahun kemudian. Banjar. selanjutkan dikembalikan lagi ke Wiradadaha VIII dari bupati Limbangan. yakni raden Tumenggung Surialaga. kecuali daerah Suci dan Panembong. Ketika ia menolak menanam nila. Sukapura dialihkan ke Kabupaten Limbangan. Kawasen. sebagian dari Galuh: Pasirpanjang. Indihiang. Ia terkenal dengan sebutanh Dalem Sepuh. Kabupaten Sukapura didirikan kembaliu dengan bupatinya turunan bupati Sumedang. Parigi. yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Talun. 202 .

Nagara (Pameungpeuk). dan Tasikmalaya. Cijulang. Karang. Cikembulan. Manonjaya (Pasirpanjang. Cikajang. Sukaraja. distrik Wilayah hanya Mangunreja. Sukapura Cikembulan. meliputi dua Nagara. Panyeredan. Kawasen) afdeeling Parigi (Parigi. dan Kalipucang). Parung). Sukapura Kolot dengan ibukota Mangunreja meliputi dua afdeling. Sukapura. asalnya Taraju. banjar. dan afdeeling Cikajang (Batuwangi. ibukota Sukapura di Sukaraja dipindahkan ke Manonjaya. Afdeeling Tasikmalaya dengan ibukota Tasikmalaya mencakup Ciawi. Taraju. batuwangi. Pada 203 . Karena terlalu luas. Sukaraja. yakni afdeeling Sukapura Kolot. dan Malangbong. tanah yang luas ini disebut Tanah Galunggung. yakni Sukapura afdeeling dan afdeeling. kontrol dan Selacau). Kabupaten Sukapura dibagi lagi menjadi tiga bagian. Setelah memiliki wilayah yang luas. yakni afdeeling Mangunreja (Panyeredan. Karang. Mandala. Parung.Mandala. dan Kalipucang. Kandangwesi. Indihiang.

waktu itu. Wiraadegdaha pindahke Bogor dan terkenal dengan sebutan Dalem Bogor. Dia pernah diberi 204 . R. bupati. bupati Sukapura XII. Setelah wafat. R. yang membangun Kota Manonjaya.T. R. Kemudian digantikan oleh adiknya R. namanya menjadi Wirahadiningrat. Wiratanubaya. Jabatannya digantikan adiknya Raden Setelah demang menjadi danukusumah. Wiradadaha VIII wafat dan dimakamkan di Tanjung Malaya. Setelah wafat. Kemudian mendapat gelar adipati sehingga namanya menjadi raden Adipati Wiraadegdaha.T. Wiradadaha IX.T.T. Danuningrat dengan gelar R.A. Danuningrat digantikan oleh Raden Rangga Wiradimanggala dengan gelar R. bupati Sukapura X. Wiratanubaya lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sumeren. Wiratanubaya digantikan oleh Raden Rangga Tanuwangsa dengan gelar raden Wiraadegdaha (bupati Sukapura XI). patih Manonjaya. Karena tidak punya anak. Setelah diturunkan dari jabatannya.T.

sedangkan Distrik Malangbong dibagi dua. Dia bupati pertama yang mendapat gelar aria. diganti namanya menjadi R. ibukota Sukapura dipindahkan dari manonjaya ke Tasikmalaya. putrana Dalem Bogor. bupatui Sukapura XIII. sehingga terkenal dengan sebutan Dalem Aria. Pada masa ini.T. dan Bintang Oranye Nassau. Tawang berarti „sawah‟ 205 . Sering juga disebut Tawang-Galunggung. Sejak itulah kabupaten Sukapura berubah nama menjadi Tasikmalaya. Setelah wilayah afdeeling Mangunreja menjadi bawahan Sukapura. Setelah menjadi bupati. Penggantinya adalah Raden Rangga Wiratanuwangsa. dan afdeeling Cikajang menjadi bawahan Kabupaten Limbangan. yakni sebagian menjadi bawahan Limbangdan dan sebagian menjadi bawahan Sumedang. sehingga mendapat sebutan Dalem Bintang.gelar adipati. Pada awalnya daerah yang disebut Sukapura itu bernama Tawang atau Galunggung. Wiraadiningrat. mendapat payung kuning. Dalem Bintang wafat.

laut‟ dan malaya dari (ma)layah bermakna „ngalayah‟ atau „deretan pegunungan di pantai Malabar (India)‟. Penyebutan Tasikmalaya menuncul setelah Gunung Galunggung meletus sehingga wilayah Sukapura berubah menjadi Tasik „danau.atau „tempat yang luas terbuka‟. Tasikmalaya mengandung arti „keusik ngalayah‟. maksudnya banyak pasir di manamana. 206 .

C. karena pada masa itu sering dilanda banjir. SASAKALA PURWAKARTA Pada masa Dalem Santri menjadi bupati Karawang. Lebak berarti dataran rendah. Pada masa kepemimpinan Dalem Solawat. bahwa Dalem Solawat harus memindahkan ibukota ke daerah Lebak dengan ciri-ciri di daerah tersebut harus 207 . SASAKALA WILAYAH PURWASUKA 1. Ia menjadi bupati Karawang berkedudukan di Wanayasa sampai akhirnya diganti oleh adiknya yang bernama Raden Aria Suryawinata atau lebih dikenal dengan nama Dalem Solawat. karena memang wilayah Wanayasa berada lebih tinggi dari wilayah Lebak. Pemindahan ibukota ini diawali dari tabir mimpi. ibukota kabupaten Karawang dipindahkeun lagi dari Wanayasa ke daerah Lebak. ia memindahkan ibukota kabupaten ke daerah Wanayasa.

akhirnya wedana itu pun menemukan sebuah kubangan tempat mandi badak putih. hamba telah menemukan daerah yang dimaksud dalam mimpi itu. dalam pencarian daerah Lebak.ada kubangan air tempat mandi badak putih yang di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung.” kata wedana ketika menghadap Kanjeng Dalem di pendopo.” 208 . Dalem Solawat memerintahkan pada salah seorang cutak (wedana) bawahannya. Setelah sekian lama mencari. Kanjeng. “Ampun Kanjeng. Berhari-hari wedana tersebut mencari kubangan tempat mandi badak putih yang di tepiannya ditumbuhi pohon tanjung. Sebelumnya. “Benarkah Paman Wedana tempat itu telah engkau temukan?” “Benar. Alangkah baiknya apabila Kanjeng sendiri melihatnya. Segera saja ia pun menghadap Raden Aria Suryawinata di Wanayasa. Pencarian dimulai pada hari Senin.

Kanjeng Dalem pun segera memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bergotong royong ngababakan (membuka lahan baru) di sekitar kubangan. Beberapa hari kemudian. lalu Kanjeng Dalem pun menuju tempat yang diceritakan oleh wadana tadi.Setelah mendapat laporan. bahagia pula hati Kanjeng Dalem. Tidak memerlukan waktu lama. Sampailah ke tempat kubangan. 209 . “Aku namakan kampung ini Sindangkasih!” ujarnya dengan lantang. Setelah melihat daerah tersebut. Kanjeng Dalem pun menamakan daerah itu Sindangkasih. Di daerah tersebut terdapat sebuah kubangan yang biasa dipakai mandi badak putih dan di tepiannya tumbuh 3 buah pohon tanjung. ternyata keadaannya sesuai dengan impian. tempat itu pun segera berubah menjadi lahan baru yang nampaknya sangat baik untuk dijadikan pemukiman. Dengan disaksikan seluruh rakyatnya. yang berarti berhenti di tempat yang sangat dicintai.

Kubangan tempat mandi badak putih itu pun ternyata hulu cai (sumber air). akhirnya ibukota kabupaten pun dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih. adapula yang memang berniat bermukim. Ada yang hanya berdagang. Demikian karena tanah di daerah Sindangkasih sangatlah subur. Seluruh areal pesawahan dan perkebunan daerah Sindangkasih pun pengairannya berasal dari kubangan tersebut. Kanjeng sayang dan sekali masyarakat Sindangkasih tidak berlanjut.Setelah di daerah Sindangkasih banyak penduduk yang bermukim. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi orang. jerih Kanjeng payahnya Namun Dalem Dalem selama pun ini berbahagia membangun kebahagian melihat kabupaten. Masyarakat hidupnya tidak kurang sandang pangan. Semakin hari. daerah Sindangkasih semakin ramai dikunjungi pendatang. yang tidak pernah kering. ketika tiba-tiba banyak 210 . Semenjak itulah.

banyaknya perampokan dan pencurian itu dapat direda setelah kelompok penjahatnya tertangkap. Sindangkasih oleh Kanjeng dalem diganti namanya menjadi Purwakarta. Daerah Sindangkasih Semenjak semakin itu pula. pesat daerah perkembangannya.penduduk yang dirampok dan banyak pencurian di mana-mana. Bahkan kehidupan seluruh penduduk semakin sejahtera dari sebelumnya. Terlebih Kanjeng Dalem memerintah dengan adil dan bijaksana. Ternyata penduduk penduduk asli kelompok pencuri Sindangkasih. masyarakatnya sejahtera. lain. Sindangkasih kembali tentram. dari tersebut bukan Mereka merupakan Daerah dan pendatang pun daerah aman. Masyarakat mulai goyah dan takut. 211 . Namun karena kesigapan Kanjeng Dalem.

“Semenjak hari ini. Dalam bahasa setempat. aku ganti nama kampung ini menjadi Purwakarta. *** 212 .” ujar Kanjeng Dalem di hadapan seluruh rakyatnya. Nama Purwakarta itulah yang dikenal hingga sekarang. kata purwa artinya awal atau asal mula. sedangkan karta berarti aman dan sejahtera.

Namun Milangsari belum berniat menikah. Kerajaan tersebut bernama Pilangsari. sehingga semua lamaran ditolaknya. 213 . Seluruh penduduk sangat menghormatinya. dan berwibawa. Seluruh rakyatnya cukup sandang pangan. Hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pamayang (nelayan). adil. Namanya Milangsari. Semakin lama semakin banyak raja dan kstaria yang melamar Milangsari. SASAKALA PAMANUKAN Pada masa kerajaan Sunda. Raja Pilangsari terkenal bijak. sehingga tidak pernah terjadi pemberontakan.2. Mulai dari kerajaan Dompo. Banyak raja dan kstaria dari kerajaan lain yang melamarnya. terdapat sebuah kerajaan kecil yang subur dan makmur. namun ada juga yang tatanen (bertani). di pesisir pantai utara. Ia memiliki seorang putri yang sangat cantik jelita.

calon bagaimana kalau dalam menantu diadakan pasanggiri (sayembara) saja. Cirebon. Di satu sisi. Hingga akhirnya ia pun memanggil patih dan anaknya Milangsari. sampai kerajaankerajaan kecil dari Jawa. kenapa kejadiannya menjadi seperti sekarang. maka berhak menjadi pemenang dan mengawini putri Milangsari. Sumedanglarang. “Paman Patih. Kalau di antara mereka ada yang memiliki burung dengan kicauan bagus. raja menjadi bingung. Apa yang dapat aku lakukan dengan keadaan ini?” “Gusti menentukan Prabu.Malayu. Aku malu pada raja dan kstaria yang ditolak lamarannya oleh putriku. Dengan keadaan itu. ia sangat bangga akan kecantikan anaknya.” “Maksud paman?” “Kita adakan saja semacam pasanggiri adu kicauan burung.” 214 . di sisi yang lain ia merasa khawatir kerajaannya akan diperangi oleh raja atau ksatria yang lamarannya ditolak oleh putrinya.

Bagaimana menurutmu?” kata raja sambil melirik Milangsari yang sedang tertunduk. Paman. pasanggiri adu kicauan burung akan lebih baik ketimbang adu kesaktian. “Menurut Paman. saya akan mengikuti saja pendapat Paman Patih. Nah. “Kalau keputusannya seperti itu.“Kenapa Paman?” tidak pasanggiri adu kesaktian.” jawab Milangsari. akan menjadi suami Milangsari. sekarang aku bertanya padamu. Bagaimana baiknya saja. Bagi siapa saja yang membawa burung dan kicauannya bagus.” Beberpa bulan setelah pengumuman diedarkan. di alun-alun Pilangsari telah sesak dipenuhi peserta 215 . Nyai. sekarang aku tugaskan kepada paman patih untuk segera membuat pengumuman ke seluruh pelosok kerajaan. bahwa akan diadakan pasanggiri adu kicauan burung. Adu kicauan burung tidak akan terjadi perkelahian yang dapat merugikan secara fisik. “Ampun rama. “Bagus ide tersebut.

Sebagaimana telah ditentukan sebelumnya. Selain jumlahnya yang banyak. bercampur antara rasa takut tidak terpilih dengan perasaan bahagia apabila nanti burungnya terpilih oleh putri. Kemudian putri Milangsari naik ke babancong (podium) yang letaknya di sebelah selatan alun-alun.pasanggiri adu kicauan burung. Raja dan Milangsari akan memilih burung yang bersuara bagus. Semua peserta harap-harap cemas. Penonton pun ikut larut dalam 216 . seluruh peserta pun membawa burung yang bagus-bagus. Peserta banyak yang gundah. Setelah itu mereka langsung memilih burung yang bersuara bagus. Milangsari dan ayahnya terus memilih burungburung yang akan dijadikan pemenang. Pemilihan burung pun telah selesai. Agak lama raja dan putri memilih burung-burung tersebut. Sesuai jadwal. Penonton pun berjejalan memenuhi alun-alun. Berbagai jenis burung dibawa peserta untuk diadu dalam ajang pasanggiri. akhirnya raja dan putri Milangsari keluar dari keraton menuju alun-alun.

kecemasan dan kebahagian karena akan segera mendengar keputusan putri Milangsari. tidak ada yang terpilih. Adapun tempat nyedekkeun putri Milangsari disebut Kampung Padek. Sungguh di luar dugaan. Sedangkan istana dan 217 . Patih dan para prajuritnya dipenjarakan. Semuanya dinyatakan jelek. Kontan saja peserta pasanggiri yang kebanyakan raja dan kstaria pilih tanding merasa dihina. putri Milangsari memutuskan bahwa dari sekian banyak burung yang dipasanggirikan. Keraton Pilangsari dirobohkan. sejak diadakan pasanggiri burung itu. Mereka akhirnya mengamuk di alun-alun. Adapun putri Milangsari segera dibawa oleh peserta. alun-alun Pilangsari dan sekitarnya dinamakan Pamanukan. yang artinya tempat yang banyak manuk (burung). Bagaimana nasib putri Milangsari? Lalu menikah dengan siapa dan kapan? Tidak ada yang mengetahuinya. disedekeun ke arah kaputren. rajanya disandera. Jelasnya. Semua hanyalah misteri.

sekarang hanyalah menjadi sebuah kampung kecil bernama Pilangsari di wilayah kabupaten Subang. *** 218 .kaputren kerajaan Pilangsari yang hancur.

3. SASAKALA SAGALAHERANG

Jaman dahulu, seluruh tatar Sunda berada di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Prabu Siliwangi. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup hampir seluruh pulau Jawa. Setelah kerajaan Pajajaran runtuh,

keturunan Prabu Siliwangi pun menyebar ke seluruh tatar Sunda. Dalem Ciburang, Cianjur, adalah salah seorang keturunan Prabu Siliwangi yang keenam. Namun berbeda dengan Prabu Siliwangi yang adil dan bijak, ia terkenal galak dan bengis. Terutama terhadap rakyat yang tidak memeluk kepercayaan yang sama dengannya. Oleh rakyatnya, ia pun dijuluki Dalem Pandita Bengis. Pada suatu ketika, ke daerah Ciburang menyebar kepercayaan baru, yakni agama Islam. Banyak

rakyatnya yang memeluk agama Islam. Ketika Dalem mengetahuinya, ia sangat berang. Rakyat yang

memeluk Islam akan segera dibunuh oleh prajuritnya
219

yang kejam. Bahkan Raden Aria, putranya sendiri, dilarang keluar dari kadaleman karena takut terpengaruh oleh agama Islam. Raden Aria sangat dimanja. Ia satu-satunya penerus tahta Dalem Ciburang. Untuk mendidik

anaknya, Dalem Ciburang mendatangkan beberapa orang guru dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari guru seni, beladiri, sampai guru dalam ilmu politik. Namun meski dimanja, Raden Aria tetap tidak merasa betah dengan kemewahan kadaleman. Akhirnya ia pun secara sembunyi-sembunyi keluar dari

kadaleman. Bahkan banyak teman-teman sebayanya mengajaknya belajar ngaji dan ilmu keislaman. Hal itu terus berlanjut, sampai akhirnya Raden Aria sangat paham dan memeluk agama Islam. Pada suatu hari, Dalem Ciburang memanggil Raden Aria. Lalu diberi petunjuk tentang agama leluhur yang dipeluknya. Namun Raden Aria selalu membantah dan meluruskan petunjuk dari Dalem Ciburang, ayahnya sendiri, dengan ajaran-ajaran keislaman. Tentu saja
220

Dalem sangat marah dan kaget mengetahui anaknya telah masuk Islam. Sesaat Dalem hanya membisu, matanya tak berkedip, melihat Raden Aria yang tenang sambil tersenyum tipis duduk di hadapannya. Melihat anaknya demikian, muncul sikap bengis dalam diri Dalem Ciburang. Lalu ia segera menyabut pedangnya. Namun ketika akan ditebaskan pada leher Raden Aria, pedang tersebut mendadak terjatuh dan patah. “Lahaola wala kuwwata illa billah,” kata Raden Aria lirih. Beberapa saat keduanya terdiam. Lalu Dalem Ciburang pun mengusir Raden Aria dari kadaleman. “Aria, putraku, ternyata engkau telah berani membantahku. Mulai saat ini, aku perintahkan engkau untuk keluar dari kadaleman. Cadu aku akan menyerahkan kadaleman ini padamu,” kata Dalem Ciburang sambil menunjuk pada Raden Aria. Sedikit perbuatannya pun Raden Aria ia tidak pun menyesali pergi dari

tersebut.

Lalu
221

kadaleman. Raden Aria berjalan ke arah timur dengan tujuan mencari guru untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Makin lama berjalannya semakin jauh dari Ciburang. Selama itu ia hanya makan dedaunan dan daging hewan buruan. Naik gunung, susur sungai, ia lewati dengan sabar dan tawakal. Setelah beberapa bulan, sampailah Raden Aria ke sebuah telaga yang sangat besar. Telaga tersebut airnya sangat jernih. Di tepinya tertanam pohon bambu dan pohon tanjung. Kemudian Raden Aria beristirahat di tepi telaga tersebut. Sesaat ia terpaku melihat keindahan sekeliling telaga. Kemudian ia pun melihat bahwa di tengahtengah telaga ada hamparan batu cadas membentuk nusa (seperti pulau di tengah lautan). Lalu timbul dalam hati Raden Aria untuk bersemedi di atas batu cadas tersebut. Raden Aria pun kemudian menyeberangi telaga. Setibanya di atas batu cadas, lalu ia duduk bersila. Dari sana menjuruskan pandangannya ke
222

"Semoga Raden tidak marah. Kalau Raden ingin tahu. aku ini penguasa telaga ini. Pemandagangannya sangat indah.” gumamnya. Nama hamba Endang Kusumah. Hamba adalah putri jin.” 223 . Setelah genap 40 hari 40 malam bersemedi. putri! Engkau manusia atau mahluk jadijadian?” Putri itu pun menjawab sambil tersenyum simpul. Setelah itu Raden Aria berbicara dengan tenang. "Mungkin aku hanya mimpi. “Hai. lalu Raden Aria membuka matanya.sekeliling telaga. Raden Aria kaget dan tidak percaya. Ternyata di hadapannya telah berdiri seorang putri yang sangat cantik jelita. Raden Aria pun bersemedi di atas hamparan cadas tersebut. sebab telaga itu berada di tengah hutan belantara. Sebenarnya aku tiap pagi selalu memeriksa telaga dan melihatmu tenang bersemedi di sini.

Lalu Raden Aria melihat ke arah utara. Telaga yang luas berubah menjadi sebuah kadaleman yang ramai. rambutnya hitam panjang laksana mayang terurai. ketika Raden Aria menatapnya.Raden Aria mendengarkan jawaban putri tersebut dengan seksama. 224 . Namun aneh. Sesaat setelah berpikir jatuh cinta pada sang putri. memegang tombak dan panah. Ia pun berpikir bahwa selama hidupnya baru melihat putri secantik itu. Pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang perajurit yang gagah. Akhirnya Raden Aria pun jatuh cinta pada putri jin tersebut. ternyata da sebuah istana. kedaan sekitar telaga telah berubah. tiba-tiba alam menjadi gelap gulita. Kulitnya kuning langsat. setiap orang yang lewat ke hadapan Raden Aria selalu menundukkan kepala tanda hormat. Lebih aneh. Ketika terang kembali. Banyak orang berlalu lalang. kedua perajurit itu serempak menundukkan kepala tanda hormat.

“Jangan kaget. kalian sudah ada di sini. Tidak lama datanglah Raja Jin. 225 .” kata putri Endang Kusumah sambil memegang tangan Raden Aria. Kemudian berkata. Ini istanaku. Di sana pun tersedia makanan yang lezat. Aku sangat bergembira akan mempunyai menantu yang berilmu tinngi dari golongan manusia. ayahanda Nyi Putri. Kemudian Raden Aria dibawa oleh Nyi Putri ke ruangan kaputren. "Syukurlah. “Ayo masuk Kakang!” Raden Aria masuk ke dalam keraton sambil digandeng oleh Nyi Putri. Raden Aria berjalannya sering berhenti-henti karena tercengang-cengang melihat keindahan dalam keraton. Mulailah Raden Aria dan Nyi Putri bersantap. Tidak jauh dari sana ada ruangan yang luas dihampari permadani berwarna merah. tiap kamar ditunggui oleh emban-emban yang cantik. di sebelahnya terdapat kolam yang airnya sangat jernih. Ruangan tempat menerimatamu serba bersih dan mengkilat.

Aku di sini perlu guru ngaji untuk mengajarkan santrisantri dari bangsa Jin. Raden Aria berjalan-jalan di taman bersama dengan istrinya Putri Endang Kusumah. Kalau siang hari.” Hari berganti hari. "Kakang. ingin rasanya makan yang masam-masam. bulan pun berganti bulan." Tiga hari kemudian. Yang sulung perempuan diberi nama Raden Ajeng 226 . Hingga pada suatu sore. itu bukan sakit Dinda. badan terasa lesu. Itu tanda bahwa Dinda sedang mengandung. pesta pernikahan antara Raden Aria dengan Nyi Putri Endang Kusumah pun dilangsungkan. Sangat meriah sekali. Genap sembilan bulan. Sudah banyak Jin yang masuk Islam dan mengaku guru kepadanya. akhirnya Putri Endang Kusumah pun melahirkan bayi kembar. Keduanya lucu dan mungil. perasaanku berbeda. Terkadang tidak ada nafsu makan. Seluruh bangsa Jin menghadiri acara pernikahan tersebut. Bertahun-tahun Raden Aria mengajar ngaji di kerajaan Jin.” "Wah.

"Kakang. Saatnya mereka harus berkelana ke luar istana untuk mencari ilmu kesaktian dan keagamaan. Setelah kedua anak tersebut besar. Namun keduanya sangat cerdas. sehingga sering membuat Putri Endang Kusumah kewalahan dalam mengasuhnya. sedangkan yang bungsu laki-laki diberi nama Raden Aria Suryakancana. lalu pada suatu hari Putri Endang Kusumah berbicara pada Raden Aria. Mula-mula Raden 227 . Mereka sangat liwar (nakal). Semakin hari mereka tumbuh besar. Kedua anaknya sangat dimanja. Namun keduanya berbeda dengan anak-anak jin yang lain. lebih baik begitu.” jawab Raden Aria. Beberapa hari kemudian. kedua anak kita sekarang sudah besar. Biar kedunya belajar hidup merakyat. kedua anak Raden Aria tersebut disuruh untuk berkelana. Segala macam ilmu yang diajarkan akan paham dalam waktu singkat." "Ya.Endang Sukaesih atau disebut juga Endang Kencana.

aku mengerti akan perasaanmu.” kata Endang Kusumah pada suatu hari. Kakang pun tentu sangat merindukan kehidupan di alam manusia. Melihat keadaan tersebut. Ia bangsa manusia. “Kakang. Raden Aria setiap hari selalu menyepi dan kadang tidak mau diajak makan. Putri Endang Kusumah mulai mengerti kejiwaan yang sedang dihadapi suaminya. kelak 228 . Nikahilah ia. apa yang harus Kakang lakukan sekarang. Kalau begitu. nampaknya sudah saatnya Kakang kembali ke alam manusia seperti semula. sedangkan Raden Aria Suryakancana menuju ke Gunung Gede.Endang Sukaesih menuju ke Gunung Ciremai. kenapa Dinda bicara seperti itu?” “Kakang.” “Kakang akan kukirim kembali ke alam manusia. Istana kerajaan jin pun terasa sepi semenjak kepergian keduanya.” “Syukurlah kalau mengerti keadaan Kakang. Nyai. Nanti Kakang akan menemukan seorang putri yang sangat cantik. Selain merindukan anak-anak. “Lho.

tiba-tiba telaga tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan yang ramai. Kakang. Raden Aria segera menjuruskan pandangannya ke sekeliling perkampungan tersebut. Ketika membuka mata. Sejurus kemudian. Dari jauh kelihatan ada seorang putri cantik berjalan menghampirinya. Raden Aria mengambil batu cadas sebesar buah kelapa.” Raden Aria hanya terdiam. Setelah sampai ke hadapan 229 . Lalu Raden Aria pun tersadar dan mengucapkan istigfar beberapa kali sambil mengusap muka. ternyata ia sedang menelungkup di atas batu cadas.Kakang akan mendapat keturunan pula dari putri tersebut. Raden Aria memejamkan mata sambil merangkul erat istrinya. Setelah itu. Kemudian Raden Aria membaca ayat kursi sebanyak 7 kali. Lalu dilemparkannyalah batu cadas tersebut ke tengah telaga. Ia lalu memegang tangan istrinya. akan kubuatkan keraton pula untukmu di alam manusia. Bersamaan dengan jatuhnya batu cadas ke air telaga.

Di dalam pendopo. *** (Subang) 230 . Ternyata di pendopo sedang diadakan syukuran menyambut kedatangan Raden Aria sebagai dalem baru mereka di kadaleman Sagalaherang.Raden Aria. ternyata sudah banyak orang menunggunya. Makanan yang lezat pun tersaji. "Mari Kakang. Rakyat sudah lama menunggu lama kedatanganmu. Merujuk pada telaga yang dipakai bersemedi oleh Raden Aria sebelum berubah menjadi kadaleman Sagalaherang. Segala alat musik ditabuh." Raden Aria pun segera mengikuti putri tersebut ke sebuah kadaleman. kita pulang ke Sagalaherang. Pada hari itu pun dilangsungkan pula pernikahan antara Raden Aria dengan putri yang telah menjemputnya tersebut. Konon. nama kadaleman Sagalaherang bermakna talaga nu caina herang (telaga yang airnya jernih). Kadaleman itu ternyata bernama Sagalaherang. lalu putri tersebut berbicara dengan lembut.

Sedangkan istrinya. yang saat itu dalam keadaan hamil. SASAKALA SUKABUMI Pada jaman dahulu. wilayah Priangan Barat termasuk ke dalam wilayah Kadipatian Pamingkis.D. Oleh Jaro Loa. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang 231 . Pada waktu Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon menyerbu Kerajaan Pajajaran. Dalam perjalanan menuju Gunung Salak. Bupati Rangga Bitung terbunuh. SASAKALA WILAYAH SUKACI 1. yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ratu. Nyai Puntung Mayang. Nyai Puntung Mayang dibawa ke perkampungan di kaki gunung Sunda. berhasil diselamatkan oleh seorang Jaro (Lurah) yang bernama Loa. Kadipatian tersebut dipimpin oleh seorang dipati bernama Rangga Bitung dan istrinya bernama Nyai Puntung Mayang. di daerah Cibadak. Pada saat penyerbuan itu. wilayah Pamingkis terkena imbasnya.

Nyai Puntung Mayang melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Pudak Arum. Begitu pula Nyai Pudak Arum. tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Bayi tersebut kemudian dibawa serta dan diberi nama Wangsa Suta. Melihat gelagat demikian. Jaro Loa dan Nyai Puntung Mayang berniat mengawinkan keduanya. maka sejak kecil sampai remaja hubungannya sangat dekat. berkharisma. sejak kecil pun sudah 232 . yang ketika beranjak remaja disebut Nyai Tanduran atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Pudak Arum Saloyang. dan pembawannya kelihatan lain dibanding dengan pemuda sebayanya. Akibat kedunya dibesarkan di tempat yang sama. Tingkah lakunya bijak. Seiring perjalanan waktu. maka tumbuhlah Wangsa Suta menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Bahkan sebenarnya. Ia mencerminkan seorang yang lahir dari keturunan ménak. Sesampainya di Gunung Salak.menemukan seorang bayi. Bahkan hubungan kedua remaja tersebut makin lama makin intim.

Namun karena Wangsa Suta memiliki jiwa kesatria. Jaro Loa pun menyampaikan niatnya kepada Wangsa Suta tentang rencana Ki. terlebih dahulu ia mengajukan syarat bahwa sebelum resepsi pernikahan dilangsungkan. akhirnya ia mengizinkan ajuan sarat dari Wangsa Suta tersebut. Setelah mendapat persetujuan dan doa restu dari ayah angkatnya. Kontan saja Wangsa Suta sangat girang mendengar rencana ayah angkatnya itu.diniati untuk dijodohkan.” Maka. mencintai. “Nyai. maka berangkatlah Wangsa Suta 233 . bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?” “Setuju. Karena Jaro Loa mengetahui watak anak angkatnya yang keras dan teguh pendirian. ia terlebih dahulu akan berkelana kesaktian untuk sebagai menimba bekal ilmu dalam keagamaan hidup dan berumah- tangganya kelak. kelihatannya mereka saling penikahan tersebut. suatu ketika.

Wangsa Suta diperintahkan oleh Resi Suradea untuk membuat pedukuhan baru dan menyebarkan ilmunya. Sementara Wangsa Suta membuat pedukuhan 234 . Letaknya sebelah barat Gunung Sanghyang Purwa yang kontur tanahnya miring ke sebelah selatan. Setelah semua ilmu Resi Suradea diturunkan. Dari Resi saradea inilah Wangsa Suta banyak menimba ilmu keagamaan dan kesaktian yang kelak banyak dipakai untuk menolong sesama. Cukup lama Wangsa Suta berguru pada Resi Suradea.untuk berkelana mencari ilmu. Di tempat inilah. Sesampainya di padepokan tersebut. kelak Wangsa Suta berguru kepada seorang resi berilmu tinggi bernama Saradea. Tanah lamping ini ditumbuhi pohon kole yang daunya hijau dan bunganya berwarna ungu. Sesuai petunjuk dari Jaro Loa. Wangsa Suta berangkat menuju padepokan yang terletak di daerah bernama Kiara Gantung Kararangge. Wangsa Suta pun diperintahkan untuk mencari pohon pakujajar bercabang lima yang tumbuh di gunung Parang.

Bahkan untuk meloloskan niat tuannya tersebut.baru di Gunung Parang. Setiap hari wajahnya muram. lain cerita dengan calon istrinya Nyai Pudak Arum. Ki Jaya berniat menggunakan jalan kekerasan dengan cara menculik Nyai Pudak Arum. Mendapat penolakan tersebut. bangsawan Bahkan dari banyak pemuda lain dan para untuk daerah berniat mempersuntingnya. Rencana penculikan pun berjalan lancar. Salaseorang demang kaya bernama Sukamukti misalnya. segera memerintahkan anak buahnya yang bernama Ki Jaya untuk melamar Nyai Pudak Arum. Kontan saja lamaran tersebut ditolak. Ke mana-mana jalan sendiri. tanpa ditemani sang kekasih Wangsa Suta. Nyai Pudak Arum berhasil diculik dan dibawa oleh Ki Jaya ke hadapan Demang Sukamukti. Namun keberuntungan 235 . kecantikannya tetap terkenal ke mana-mana. Namun meskipun sehari-hari wajahnya dibalut duka. karena Nyai Pudak Arum setia memilih Wangsa Suta. maka Ki Jaya marah.

Skenario penculikan pun berjalan lancar. aku akan memberimu imbalan yang setimpal!” ujar Ki Puru Satra pada centengnya yang bernama Barja. Ki Puru Satra pun segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menculik Nyai Pudak Arum. Akhirnya Ki Jaya pun mengembalikan Nyai Pudak Arum ke tempat tinggalnya semula di kaki Gunung Sunda. Saudagar tersebut memilki watak keras kepala. Berita kecantikan Nyai Pudak Arum sampai pula ke telinga para saudagar kaya. Ia pun berniat ingin segera mempersunting Nyai Pudak Arum dengan cara jalan pintas. sang Demang mendadak meninggal dunia. Anak 236 . Culik Pudak Arum. lalu bawa ke hadapanku. yang terletak di Pelabuhan Ratu. Cerita belum usai. “Barja. sombong. Sesampainya Nyai Pudak Arum ke hadapan Demang Sukamukti. Kalau berhasil. yakni menculiknya. Tersebutlah saudagar kaya raya bernama Ki Puru Satra dari daerah Padabeunghar.berpihak pada Nyai Pudak Arum. bawa semua anak buahmu. dan tidak sabaran.

bukan berarti kehidupan Nyai Pudak Arum sudah tenang. Nyai Pudak Arum dipaksa untuk menikah. Ki Puru Satra mendadak meninggal dunia. Pada saat malam pengantin. Namun karena kesetiaannya pada Wangsa Suta. Setelah sampai di tempat kediaman Ki Puru Satra. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Nyai Pudak Arum untuk meloloskan diri dari kediaman saudagar kaya raya tersebut. 237 .buah Ki Puru satra berhadil menculik Nyai Pudak Arum tanpa rintangan yang berarti. Kini berkembang isu di masyarakat bahwa dirinya punya ilmu pelet dan kesaktian yang tinggi. semua lamaran ditolaknya. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Akhirnya Nyai Pudak Arum pun dapat kembali berkumpul dengan keluarganya. Semakin hari semakin banyak saja laki-laki baik pemuda biasa maupun bangsawan yang ingin mempersuntingnya. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Nyai Pudak Arum. Setelah dua kejadian penculikan menimpanya.

Perkelahian dengan anak buah Raden Kartala pun tidak dapat dielakkan. Nyai Pudak Arum adalah seorang putri yang memilki kesaktian tinggi dan menyarankan untuk menangkap lalu membunuhnya. Anak buah Raden Kartala dapat menangkap Nyai Pudak Arum dengan mudahnya. Wangsa Suta menyuruh Nyai Pudak Arum untuk pergi terlebih dahulu menuju ke Gunung Parang mencai pedukuhan yang terdapat 238 . Di antara pelamar itu. Skenario pun berjalan mulus. Namun ketika Nyai Pudak Arum akan dibunuh oleh algojo Raden Kartala. tiba-tiba Wangsa Suta antara datang Wangsa untuk Suta menolongnya. Sebelumnya. Raden Kartala pun menuruti nasehat tersebut. kemudian ada seorang demang bernama Raden Kartala dari daerah Mangkalaya. Dalam pandangannya.Penolakan bukan berarti masalah selesai. Namun penasehatnya melarang untuk mempersunting Nyai Pudak Arum. Kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Nyai Pudak Arum.

“Suta. “Apa syaratnya. kalau engkau ingin bertemu kembali dengan calon istrimu. Dengan ilmu kebatinan yang dimiliki oleh gurunya. Maka untuk mengetahui keberadaan calon istrinya. guru?” 239 . Namun sayang. cucuku. sehingga Nyai Pudak Arum tertangkap di perjalanan. Namun ia sangat kecewa dan sedih. Kemudian Nyai Pudak Arum dibawa ke Pulau Putri di kawasan Pulau Seribu. karena Nyai Pudak Arum tidak terdapat di tempat. setelah berhasil mengalahkan semua anak buah Raden Kartala. ia segera menyusul calon istrinya ke Gunung Parang. rencana tersebut ternedus oleh anak buah Raden Kartala yang lainnya. Sementara Wangsa Suta.pakujajar berdahan lima.” ujar Resi Saradea. Wangsa Suta diiberi petunjuk bahwa sampai kapan pun tidak akan bertemu dengan Nyai Pudak Arum sebelum pedukuhan di kaki Gunung Parang banyak penduduknya. ada syaratnya. ia segera meminta bantuan gurunya Resi Saradea.

maka engkau pun pasti akan bertemu dengan calon istrimu. 240 Wangsa Suta pun . Wangsa mulai ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan atau pedukuhan). yang berarti senang tinggal di rumah dan senang menetap di tanah yang subur. para penduduk pun semakin betah dan menyukai pedukuhan yang subur dan banyak mata air tersebut. Banyak pendatang langsung menetap dan membangun bumi (rumah) tinggal. Nanti setelah pedukuhan tersebut ramai dikunjungi pendatang. Hal ini karena kata tanah dalam bahasa Sunda disebut juga dengan istilah atau kata bumi. semakin hari semakin banyak penduduknya. Kemudian pedukuhan di kaki Gunung Parang itu pun.” Setelah kemudian mendapat Suta petunjuk pun dari gurunya. Semakin lama menetap. Tiga tahun kemudian. Akhirnya daerah tersebut dinamai oleh masyarakat setempat dengan sebutan suka di bumi.“Engkau harus membuat pedukuhan di kaki gunung Parang.

Wangsa Suta pun merestuinya.bertemua kembali dengan Nyai Pudak Arum. Bahkan seiring perkembangannya. Mereka pun kemudian menikah. Mereka suka pada bumi. Atas penamaan daerah tersebut oleh penduduk. Pendudukan sekitarnya menyebutnya sukabumi. *** 241 . Mereka sangat menyenangi lingkungan dan tanah atau tempat tinggal yang didiaminya. daerah itupun kemudian berubah namanya menjadi Sukabumi seperti yang kita kenal hingga sekarang. lalu hidup bahagia di sebuah pedukuhan.

2. SASAKALA CIANJUR

Dahulu kala, di sebuah kampung yang subur makmur, hiduplah seorang lelaki tua yang sangat kaya raya. Kampung tersebut termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Lelaki tua tersebut memiliki ratusan hektar sawah dan perkebunan. Semua penduduk kampung dijadikannya pekerja baik untuk mengolah sawahnya maupun untuk mengolah perkebunannya. Namun meski demikian, penduduk kampung tetap saja miskin. Hal itu dikarenakan lelaki tua tersebut sangat koret (kikir), sehingga selalu membayar murah pada

pekerjaan yang dikerjakan oleh penduduk kampung. Hingga oleh seluruh penduduk, lelaki tua itupun dijuluki Ki Koret. Padahal nama yang sebenarnya ialah Aki Suhita. Anehnya, ia kikir bukan saja pada orang lain tetapi pada keluarganya sendiri. Untunglah sifat kikirnya
242

tersebut tidak menular pada anak lelakinya yang sulung. Berbeda dengan ayahnya yang kikir, anak lelakinya sangat baik dan murah hati. Ia sering membantu tetangga atau penduduk desa yang sedang kesusahan. Pada suatu hari, tersiar kabar akan terjadi bencana dan musim pailit. Tentu saja seluruh penduduk kampung, termasuk Ki Koret merasa ketakutan.

Menurut ramalan tersebut, bencana dan musim pailit dapat dilewati dengan cara mengadakan ruwatan kampung. Dengan syarat itu, penduduk kampung pun kebingungan, karena untuk mengadakan acara ruwatan memerlukan kecerdikan biaya anaknya, tidak sedikit. Ki Namun berkat

akhirnya

Koret bersedia

memberi biaya untuk mengadakan acara ruwatan. Itupun dengan terpaksa karena takut terkena bencana. Semua penduduk kampung senang. Terlebih mereka semua diundang oleh Ki Koret untuk mengikuti acara ruwatan di rumahnya. Semula mengira dalam acara ruwatan itu akan banyak makanan
243

yang

disuguhkan. Namun kenyataannya meleset, Ki Koret hanya menyediakan air putih dan hidangan

alakadarnya saja. Bahkan sebagian undangan banyak yang tidak kebagian sama sekali. Air putih pun dijatah satu gelas untuk satu orang. Dengan keadaan itu, seluruh penduduk desa dan anaknya tidak dapat berkata apa-apa, mereka semua hanya dapat celoteh

mengelus dada. “Benar-benar seseorang. “Pasti Tuhan tidak akan memberikan berkah pada seluruh harta kekayaannya,” kata yang lain. “Semoga Tuhan segera menyadarkannya,” kata penduduk yang lain. Ketika semua undangan ruwatan sedang rajanya orang kikir!”

menyantap hidangan yang disuguhkan Ki Koret, tibatiba datang seorang nenek tua meminta sedekah pada Ki Koret. “Juragan, pasihan..! Juragan, abdi pasihan…! (Tuan, berilah…! Tuan, berilah saya…!)
244

“Pasihan naon? Uing mah teu boga nanaon!” (Mau dikasih apa? Saya tidak punya apa-apa!” “Saeutik we Juragan, abdi lapar pisan…!” “Aeh, teu beunang dieuweuh-euweuh. Indit ka ditu, teu nempo batur keur loba semah.” Akhirnya nenek tua itupun pergi meninggalkan rumah Ki Koret sambil mencucurkan air mata. Melihat kejadian itu, anaknya turut merasa sedih. Diam-diam dia pun mengambil sedikit hidangan

jatahnya. Lalu diberikan pada nenek tua tersebut. Tentu saja nenek tua pun sangat berbahagia. Setelah diberi sedikit hidangan, kemudian nenek tua itupun pergi menyusuri jalan setapak yang menuju ke sebuah bukit yang berada di batas kampung. Sesampainya di puncak bukit, lalu nenek tua itu berhenti dan menjuruskan pandangannya ke areal perkampungan. Matanya tertuju tajam pada rumah ki Koret. Lalu nenek tua itu menancapkan tongkatnya, sambil bergumam:
245

cari tempat yang tinggi!” “Tapi sawah dan ternak kita bagaimana?” “Kalian pilih harta atau nyawa?” Anak Ki Koret yang bijak itu terus berteriak mengingatkan penduduk. 246 . Ia pun tidak lupa membujuk ayahnya agar segera keluar rumah.!!!” teriak penduduk kampung yang panik melihat kedatangan air bah yang tiba-tiba. “Banjir…! Banjir…. Bahkan akhirnya masuk ke wilayah perkampungan. Makin lama air itu makin membesar membanjiri areal pesawahan dan ladang. maneh bakal katibanan Setelah berkata demikian. lalu nenek tua itu mencabut kembali tongkatnya.“Hey jalma hukuman ti Gusti!” koret. Anak Ki Koret segera menganjurkan orang-orang desa untuk segera meninggalkan perkampungan dan lari ke atas bukit. Dari lubang tancapan itulah kemudian memancar air yang sangat deras. “Cepat tinggalkan kampung ini.

seluruh penduduk kampung telah pergi menuju bukit tempat keluarnya air dari bekas lubang tancapan tongkat si nenek tua tadi. Namun seluruh penduduk kampung termasuk anaknya Ki Koret berhasil menyelamatkan diri. Air bah semakin besar.”Ayah. air bah pun tak kunjung surut. Setelah beberapa hari menunggu di bukit. Kemudian anaknya Ki Koret bersemedi untuk mendapatkan petunjuk. cepat tinggalkan rumah ini. aku akan mengumpulkan hartaku terlebih dulu!” Sementara Ki Koret terus mengumpulkan harta bendanya. Dalam semedinya itu. Mereka pun sedih melihat kampungnya tenggelam. anaknya Ki Koret mendapatkan wangsit bahwa harus segera membawa penduduk kampung mencari areal baru untuk perkampungan. kita harus segera menyelamatkan diri!” ”Apa? Meninggalkan rumah? Baiklah. Perkampungan pun berubah menjadi telaga yang besar. 247 . Akhirnya Ki Koret pun tenggelam terseret arus air bah.

248 . Semakin lama. Kemudian oleh seluruh penduduk. Setelah menemukan sebuah daerah yang subur. Anaknya Ki Koret menganjurkan seluruh penduduk untuk mengolah tanah yang telah dibagi rata. Di daerah baru itulah kemudian anaknya Ki Koret diangkat menjadi pemimpin kampung mereka yang baru. perkampungan itu disebut kampung Anjuran. Ia pun mengajari penduduk tatanen (cara menanam padi) dan bagaimana mengairi sawah yang baik. Mengajari pula cara berkebun yang telaten dan bagaimana memilih bibit unggul.Maka pergilah rombongan anaknya Ki Koret mencari daerah baru. anaknya Ki Koret pun memerintahkan rombongannya untuk ngababakan (membuka lahan baru untuk perkampungan). Anaknya Ki Koret pun merestui penamaan tersebut. perkampungan itupun semakin berkembang. Kemudian ia pun mengangkat ulu-ulu (petugas pengairan) yang mengatur jalannya air yang mengairi sawah dan ladang milik penduduk.

249 . Kata Cianjur berasal dari kata c(a)i yang berarti air. mengenang anjuran anaknya Ki Koret agar segera mengungsi dari terjangan banjir pada waktu itu. atau anjuran pemimpin kampung. Memang secara turun-temurun. Lama kelamaan nama Anjuran pun berubah menjadi Cianjur. Konon kata Anjuran berasal dari sikap para penduduk yang selalu mematuhi anjuran atau perintah pimpinannnya. Adapun kata anjur. yakni anaknya Ki Koret. Kata ci (air) sendiri mengingatkan pada peristiwa banjir bandang yang telah menenggelamkan Ki Koret. atau anjuran pemimpin kampung dalam hal bertani selalu dilaksanakan oleh penduduk Cianjur.” ujar anaknya Ki Koret di depan seluruh penduduk kampung. apapun perintah. pepatah. Penduduknya sangat ramah dan pandai mengelola sawah. Kelak kampung ini akan menjadi penghasil beras terkenal di tanah Pajajaran. Wilayah perkampungan tersebut sangat subur. dan anjur yang berarti perintah.“Aku restui kampung ini dinamakan Anjuran. pepatah.

gurih. Konon kuncinya mereka sangat teratur dalam mengairi sawah. hasil bumi dari Cianjur. dan wangi.Buktinya hingga sekarang. yang diatur oleh seorang ulu-ulu (petugas pengairan). terutama berasnya terkenal sangat enak. *** 250 .

terdapat sebuah telaga yang terkenal dengan nama Talaga Warna. terkadang berwarna jingga. merah muda. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Dahulu kala. adakalanya berwarna kekuning-kuningan. hijau.E. SASAKALA TALAGA WARNA Di lembah gunung Megamendung. SASAKALA WILAYAH BODEBEK 1. di tengah-tengah Talaga Warna berdiri sebuah istana kerajaan Kutatanggeuhan. Hal ini bermula dari sebuah kisah masa lalu. . Prabu dan Ratu belum dikaruniai juga keturunan sehingga mereka selalu cemas dan merasa kesepian. Namun sayangnya. Rakyat pun turut bersedih dan sangat mengkhawatirkan 251 keadaan tersebut. Disebut demikian karena airnya selalu berubah warna. Bogor.

Di puncak gunung itulah kemudian Raja berdoa dan meminta pertolongan dari Sanghyang Widi. Aku kabulkan keinginanmu itu. Oleh 252 . Sekarang. Benar saja. Pada suatu ketika. Rakyat menunggumu!” kata suara gaib tersebut. tiba-tiba terdengar suara gaib.Mereka berpikir kalau Raja tidak juga mempunyai keturunan. kembalilah ke istana. ratu pun mengandung. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. raja pun memutuskan untuk bersemedi ke gunung Megamendung. Semua bersuka cita. “Aku tahu engkau ingin memiliki keturunan. beberapa bulan kemudian. Putri tersebut diberi nama Putri Gilang Rukmini. kelak kerajaan takut akan jatuh ke keluarga raja yang tidak bijak. Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan perasaan senang. Hingga sang putri pun tumbuh menjadi perempuan yang cantik jelita. Setelah 7 hari 7 malam Prabu Suwartalaya berdoa.

sang putri menghadap kepada kedua orang tuanya. sampai perhiasan. Sambil diiringi para 253 . segala keinginannya selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya. Ia pun selalu menangis kepada ayah ibunya untuk sekedar minta disediakan berbagai pakaian mewah dan perhiasan. putri akan marah dan bertindak kasar.kedua orang tuanya. Mereka berharap suatu hari watak sang putri akan berubah. Mulai dari makanan. Namun rakyat tetap mencintainya. Jika tidak. sang putri sangat dimanja. Pada suatu ketika. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Mulai dari intan berlian sampai emas permata. Akibat terlalu dimanja. Maklumlah anak semata wayang. lama-kelamaan sang putri terbiasa memakai pakaian dan perhiasan mewah. terpasang pada tubuh dan pakaiannya. Selama itu pula. Bahkan sampailah sang putri tersebut merasa bosan atas model pakaian dan perhiasan yang ia pakai. pakaian. Tiap hari pekerjaannya hanya merias dan mempercantik pakaian.

bukankah sudah banyak perhiasan yang sudah aku berikan untukmu?” “Rama.” “Ya. aku ingin memiliki banyak berlian. untuk apa?” “Untuk mempercantik diri. putri akan berulang tahun yang ke-17. sabar.” “Buat apa anakku. engkau menemuiku. Semua rakyat boleh datang untuk memberikan doa ataupun hadiah untuk putri Gilang Rukmini. seluruh rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk 254 .” kata Sang Raja. Karena sangat mencintai raja dan putrinya.” Beberapa hari kemudian.” “Iya. Prabu Suwartalaya berniat akan mengadakan pesta syukuran di istana.emban. Nanti di hari ulang tahunmu yang ke 17 aku akan berikan hadiah kepadamu. sebelum hari ulang tahun putri tiba. rama. aku ingin meminta perhiasan lagi. “Ada apa anakku. “Rama. ia seperti biasanya sambil membawa perhiasan dalam bokor kencana.

Ratu. Maka disepakatilah oleh mereka untuk menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah.sang putri. Kalung tersebut dibeli dengan cara patungan sukarela. rakyat pun memberikan kotak berisi kalung kepada putri Gilang Rukmini. Hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Kalung itu terbuat dari emas berlian dengan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Rakyat pun bersorak-sorai saat Prabu. Kini tiba saatnya giliran rakyat mempersembahkan hadiah istimewanya. Di babancong (podium) telah dihiasi beragam hiasan mewah. 255 . dan Putri menaiki babancong. pesta pun berlangsung sangat meriah. Memang sebelumnya sudah banyak pemuda dan ksatria yang kapengpeongan (tergila-gila) akan kecantikan sang putri. Sesuai rencana. Rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun kerajaan tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Sore hari pesta pun akan segera usai. Pada hari itu. Rakyat sangat kagum melihat kecantikan sang putri.

“Indah apanya? Kalung jelek begini.Namun Prabu Suwartalaya yang giliran membuka kotak tersebut. Prabu Suwartalaya. Sedih 256 kenakanlah kalung ini!” ujar Prabu . “Ini tanda cinta rakyat kepadamu. “Ayo. Sesaat kemudian. Suwartalaya. Lama Putri Gilang Rukmini memandang kalung tersebut dengan kening berkerut. Lalu dikeluarkanlah kalung beraneka warna yang sangat indah pemberian dari rakyatnya itu kepada putri Gilang Rukmini. Beraneka warna. Ratu Purbamanah dan seluruh rakyat menangis. norak sekali. Jangan kecewakan mereka. Ratu Purbamanah. Ia pun langsung membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Aku tidak mau mengenakannya!” teriak putri Gilang Rukmini. Bukankah kalung ini sangat indah?” kata Ratu Purbamanah. suara tangis pun pecah. Permata yang beraneka warna itupun berhamburan. dan seluruh rakyat hanya bisa terdiam lesu.

dan seluruh rakyat kerajaan Kutatanggeuhan pun tenggelam diterjang air bah. air telaga yang selalu beraneka warna itu berasal dari kalung yang dihiasi batu permata beraneka warna pemberian dari rakyat yang dilemparkan oleh sang putri. danau). telaga tersebut masih ada dan dijadikan tempat wisata. sampai akhirnya menenggelamkan seluruh bangunan istana. Sungguh ajaib. *** 257 . Namun sang Putri seperti tidak merasa bersalah. Ratu. Hingga kini. Konon menurut masyarakat setempat. ia langsung keluar dari babancong sambil menginjak batu permata yang terserak di lantai. Semakin lama semakin deras. di depan babancong keluar air. Oleh masyarakat setempat. Putri. karena jika hari cerah airnya memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Maka berubahlan istana dan lingkungan sekitarnya menjadi sebuah talaga (telaga. Setelah perbuatan sang putri itu. telaga tersebut dinamakan talaga warna.melihat kelakuan putri kesayangannya. Prabu.

kota yang pernah berpenghuni 50. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Hindia Belanda (VOC). Wilayah bekas ibukota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. seorang Sunda terah Sumedang.2. tersebutlah bahwa seluruh ibukota kerajaan hancur lebur dan penduduknya terbunuh serta terusir.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Scipio. juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC. antara lain. Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa. Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC. Adolf Winkler. dan Abraham van Riebeeck. Setelah satu abad hilang dari percaturan sejarah. Dalam memanfaatkan wilayah yang 258 . Orang-orang Hindia Belanda yang telah melakukan ekspedisi itu. SASAKALA KOTA BOGOR Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan oleh pasukan Banten.

Panaragan. Malah orang Hindia Belanda menemukan seekor harimau besar yang sedang tidur. dia bersama anggota pasukannya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana. Baranang Siang. Akhirnya. seorang Letnan Terah Sumedang. Citeureup.dikuasainya. Tempat inilah menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kota Bogor. Tanujiwa. Bantar Jati. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan. Parung Banteng. yang diberi nama Kampung Baru. mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran. Kemudian diisukan bahwa orang-orang Pajajaran berubah menjadi harimau. Kedung Halang dan Parung Angsana. Sempur. Selanjutnya. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang. VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Kampung Baru 259 . dan Cimahpar. Parung Kujang. kecuali di Cikeas.

Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Ia telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Atas dasar itulah. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru. Tanujiwa menjadi Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Pada waktu itu. De Haan memulai mendaftarkan bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa. dibangunlah tempat peristirahatan pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg.menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampungkampung lainnya. Regentschap Kampung Baru disebut juga Regentschap Buitenzorg. Oleh karena itu. 260 .

Daerah tersebut makin lama makin ramai karena dibukanya jalur hubungan kereta api BataviaBuitenzorg. Pada waktu itu di sekitar wilayah Buitenzorg terdapat banyak pohon enau atau kawung. ia mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati.Ketika Bupati Kampung Baru yang dipimpin oleh Demang Wiranata. Sejak itulah. di wilayah tersebut banyak tunggul kawung. Buitenzorg berubah nama menjadi Bogor. yang akhirnya nama daerah itu disebut Empang. Akibatnya. Pembukaan jalur kereta ini sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota. yang disebut “bogor” atau “pogor”. Pohonpohon tersebut cukup mengganggu keindahan wilayah sehingga banyak yang ditebang. Nama Empang nama berangsur-angsur mendesak Sukahati. 261 . yang terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya selanjutnya dekat empang besar.

NGADEGNA DAYEUH PAJAJARAN Tah di dinya.bagi mereka yang tidak paham) Ari sababna. ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput 262 . dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau) Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti (Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama. ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung (Di tempat itu.Di dalam cerita pantun yang dikisahkan oleh Aki Cilong disebutkan perihal penamaan Bogor sebagai berikut.

(Sebabnya harus bernama Bogor? sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala tapitidak padam. terus membara asapnya tak cukup untuk "muput") Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa (Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu sanggup melintasi zaman) Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur tah inyana (Kalau tersenggol bisa membuat koreng yang menyenggolnya membuat koreng yang lama sembuhnya) Amun katajong? mantak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna (Kalau tertendang? bisa melukai yang mendangnya itu kaki akan lama sembuhnya) 263 .

begitu! Namai olehmu kota itu Kota Bogor!) 264 . kalau dibuat keset? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran menasehati yang tidak sopan) Tah kitu! ngaranan ku andika eta dayeuh Dayeuh Bogor! (Nah.Tapi. amun dijieun kekesed? sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak (Tapi.

dan Belanda. Chastelyn selalu banyak mendapat 265 rempah-rempah dari . SASAKALA DEPOK Dulu. Hingga suatu ketika. kemudian rombongan Cornelis Chastelyn itu mulai mencari barang dagangan berupa rempah-rempah ke daerah Jayakarta. datanglah rombongan kapal dagang Belanda yang tergabung dalam kongsi dagang bernama VOC. Bahkan banyak pula kapal-kapal dagang dari kerajaan Cina. Dalam rombongan tersebut.3. terdapat seorang Belanda bernama Cornelis Chastelyn. Setiap hari sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari seluruh kerajaan di penjuru Nusantara. Cukup lama Chastelyn menetap di Jayakarta. Bisnisnya pun semakin lama semakin maju. Kelak nama Jayakarta berubah menjadi Batavia dan berubah kembali menjadi Jakarta. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terbesar di wilayah kerajaan Banten. Dari pelabuhan Sunda Kelapa. Portugis.

Hingga Chastelyn pun merasakan usaha dagangnya kian hari kian menurun.penduduk pribumi. Meester (Bogor). Tentu saja barang dagangan pun semakin lama semakin Cornelis (Jatinegara). maka pada suatu hari Chastelyn memutuskan untuk 266 . Oleh karena itu. Sunda Kelapa dan kampung Jayakarta pun semakin lama berkembang pesat. Banyak pula di antara mereka yang menikahi perempuan pribumi. Ia pun membeli tanah yang luasnya terbentang mulai dari wilayah Weltevreden (Gambir). Banyak pedagang yang tadinya hanya sekedar transit. malah menetap untuk waktu yang cukup lama. yang selanjutnya ia jual ke kerajaan Belanda dengan harga lebih mahal. Hal ini karena pasokan rempah-rempah dari Banten dan Pakuan (sekarang Bogor) banyak tersendat. akhirnya Chastelyn pun menjadi salah seorang pedagang Belanda yang kaya di Jayakarta. hingga Buitenzorg berkurang. Tidak sampai satu tahun.

Oleh karena itu. Beberapa bulan kemudian. akhirnya Chastelyn memutuskan untuk menetap di perkampungan tersebut. Apalagi penduduk di sana sangat menghormatinya. Melihat sikap penduduk yang demikian.mencari lahan baru yang masih banyak menghasilkan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Penduduk kampung tersebut sehari-harinya berbahasa Sunda. lalu Chasteleyn membeli tanah di kawasan tersebut dari penduduk setempat dengan harga 700 267 . ramah. dan santun. Tidak menunggu lama. Setelah satu minggu perjalanan. Maksudnya untuk mencari lahan baru untuk menjalankan usaha dagangnya di bidang hasil bumi. berangkatlah Chastelyn bersama beberapa orang pegawainya ke arah timur Jayakarta. Lama kelamaan Chasteleyn pun merasa betah. Chasteleyn memutuskan untuk membeli tanah di kawasan tersebut. tibalah rombongan Chastelyn ke sebuah perkampungan yang letaknya terpencil di tengah hutan belantara.

tentu saja harus segera diolah oleh Chastelyn. dan rel kereta api Jakarta-Bogor. yakni belum dikuasai oleh VOC. Maka ia pun mendatangkan budak bayaran dari Bali. Jayakarta. Makassar. Berbeda dengan Belanda yang lain. Ternate. Pulau Rote. Kalau hitungan sekarang. Borneo (Kalimantan). Kampung Belimbing di sebelah selatan. Hingga penduduk di kampung itu pun sangat menghormatinya. Tanah yang dibeli Chasteleyn pada waktu itu sangatlah luas. Maluku. Selain mempekerjakan pula penduduk setempat. Jumlahnya sekitar 150 orang. dan Filipina. Status tanahnya adalah partikelir. Chastelyn dikenal sangat ramah dan baik pada budak-budaknya. Sungai Ciliwung di sebelah timur. 268 . tanah yang dibeli Chasteleyn itu batasnya meliputi Kampung Malela di sebelah utara.ringgit. Tanah yang telah dibelinya di perkampungan tersebut.

Perkampungan itupun semakin hari semakin berkembang dan ramai dikunjungi pedagang. banyak pula pedagang-pedagang dari Cina untuk berjualan di sana. perkampungan yang dibangun Chastelyn pun banyak menarik minat pedagang-pedagang dari tempat lain. Kampung ini berada di luar wilayah 269 . Dengan peraturan baru itu. Chastelyn pun segera membuat peraturan. termasuk pedagang dari Jayakarta. ia melarang pedagang-pedagang untuk menetap. pedagang Cina memutuskan untuk membuat tempat transit di Kampung Bojong. Sebagai tuan tanah di sana. Mengingat pada waktu itu.Sebagai daerah baru. Dalam peraturannya tersebut. Tentu saja peraturan tersebut sangat menyulitkan pedagangpedagang dari Cina dan Belanda. Banyak pula orang Belanda dari Jayakarta mulai berdatangan dengan maksud untuk berdagang dengan Chastelyn. Selain itu. perjalanan dari Jayakarta ke perkampungan Chastelyn dapat memakan waktu tiga hari.

Chastelyn adalah pemeluk Kristen yang taat. Chasteleyn pun mulai mengajarkan agama Kristen kepada penduduk pribumi dan terutama kepada para pekerjanya. 270 . Sampai-sampai tidak tertampung di rumahnya yang besar menurut ukuran pada waktu itu. Semenjak itulah. Bahkan akhirnya. Sebagai seorang Belanda. Chastelyn pun mencari akal agar orang-orang yang ingin menjadi muridnya dapat tinggal di perkampungan itu. muncul nama kampung Pondok Cina. Akhirnya secara bertahap. Semakin lama. banyak pula pendatang dari Jayakarta yang sengaja hanya untuk berguru agama Kristen kepada Chastelyn. Penduduk setempat menyebutnya dengan padepokan. Kemudian. Para pedagang Cina berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di perkampungan tersebut. Atas permintaan ayahnya.perkampungan Chastelyn. Chastelyn membangun rumah besar yang dijadikan perguruan. murid Chastelyn pun semakin banyak.

yang berarti dengan persatuan telah membawa kami ke Kristus. Selain sejalan pula dengan istilah perguruan yang dalam bahasa Sunda disebut padepokan. yang oleh lidah penduduk setempat diucapkan DEPO(K). Kemudian banyak pula dikunjungi pejabat-pejabat VOC yang 271 .Oleh Chastelyn padepokan agama Kristen tersebut diberi nama dalam bahasa Belanda De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Padepokan agama Kristen yang dibangun Chastelyn pun semakin lama semakin berkembang dan terkenal sampai ke kerajaan Belanda. yang berarti Organisasi Kristen Protestan Pertama. Kedua istilah perguruan tersebut selanjutnya oleh Chastelyn disingkat menjadi DEPOC. Istilah penduduk setempat inilah yang kemudian menjadi nama perkampungan tersebut sampai sekarang. Namun muridmuridnya sering menyebut padepokan tersebut dengan nama Deze Eenheid Predikt Ons Christus. Kelak sebutan padepokan pun oleh penduduk setempat disingkat pengucapannya menjadi depok.

*** 272 .” Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat Chastelyn itulah yang kemungkinan sekarang berada di wilayah Kelurahan Krukut. Sebelum meninggal. Kecamatan Limo. Kota Depok. hutan yang di sebelah timur sungai Karukut jangan sampai untuk diganggu. sebelum akhirnya Chastelyn pun meninggal dunia di kampung Depok.sengaja meminta pendapat dalam hal keagamaan. tepatnya di selatan Cinere. Hutan itu dan kuperuntukkan seluruh pekerjaku keturunannya kelak. yang sebagian isinya sebagai berikut: “Anthony Chastelyn. Chastelyn sempat mewariskan seluruh perkampungan tersebut pada anaknya melalui sebuah surat wasiat memakai bahasa Belanda kuno.

Seluruh rakyat menghormatinya karena Prabu Purnawarman sangat adil dan bijak dalam memimpin. Pada suatu malam.4. ibukota kerajaan masih di daerah Jayasingapura. SASAKALA BEKASI Tarumanagara adalah sebuah kerajaan yang subur makmur. 273 . Prabu Purnawarman mendapat wangsit dari Sanghyang Widi. yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Prabu Jayasingawarman. Ketika ia dinobatkan menjadi raja Tarumanagara. Maka segera saja Prabu Purnawarman memerintahkan kepada patih dan para menteri agar mencari daerah baru untuk ibukota kerajaan. Dalam wangsit itu dikatakan bahwa kerajaan Tarumanagara akan berkembang menjadi kerajaan besar apabila ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. Dipimpin oleh seorang raja yang sangat sakti bernama Prabu Purnawarman.

Paman Patih?” “Letaknya di tepi kali Gomati. karena di sana banyak terdapat sumber air. Paman Patih pun segera membentuk panitia pencari daerah baru untuk ibukota Tarumanagara. Hingga akhirnya. apakah sudah kau temukan daerah baru untuk ibukota itu?” “Ampun ditemukan. Gusti Prabu pun memeriksanya.” “Di mana letaknya. Tanahnya sangat subur. Namun alangkah baiknya. “Paman Patih.” Gusti Prabu.” “Baik. besok akan aku periksa daerah itu. rombongan yang dipimpin patih tersebut menemukan sebuah daerah di tepi sungai Gomati. daerah itu telah 274 .“Paman Patih. buat panitia untuk mencari daerah baru yang cocok dijadikan ibukota Tarumanagara!” begitulah titah Prabu Purnawarman pada patihnya. Kemudian Paman Patih menghadap kepada Prabu Purnawarman.

ia pun menyukai daerah yang baru tersebut. yang berarti kota Sunda. Sundapura banyak didatangi oleh para pedagang dari mancanagara. Akhirnya ibukota kerajaan Tarumanagara pun oleh Prabu Purnawarman dipindahkan dari Jayasingapura ke tepi sungai Gomati hasil temuan patihnya tersebut. Daerah itu kemudian diberi nama Sundapura. Apalagi setelah tiga 275 . Kemungkinan nama Sunda untuk menyebut tanah dan suku Sunda sekarang ini dimulai pada masa itu. Tidak lama setelah ibukota dipindahkan. “Perlu kalian ketahui. Banyak pula pendatang dari kerajaan-kerajaan lain yang bermukim di Sundapura. ibukota Tarumanaga aku ganti namanya menjadi Sundapura!” begitulah ucapan Prabu Purnawarman pada waktu peresmian ibukota yang baru itu. Setelah diperiksa. Prabu Purnawarman memeriksa daerah hasil temuan patihnya itu. kerajaan Tarumanagara berkembang pesat.Keesokan harinya. Benar saja apa yang dikatakan dalam wangsit itu.

ia pun terkenal memiliki ilmu kesaktian yang tidak ada tandingnya. Setelah pasukan perangnya kuat. Selain itu. Purnawarman tidak dapat dilukai senjata apapun. Prabu Purnawarman memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk membangun pelabuhan di pantai sebelah utara. Beberapa tahun kemudian. karena ia selalu memakai baju besi. Pelabuhan baru itu pun segera saja dipenuhi oleh kapal-kapal pedagang dan kapal-kapal perang kerajaan Tarumanagara. Selama berperang. kemudian Purnawarman memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukan kerajan-kerajaan kecil. Di medan perang Purnawarman dikenal oleh lawan-lawannya dengan nama Wyaghra ning Tarumanagara (Harimau Tarumanagara).tahun kemudian. Purnawarman berhasil menjadi raja terbesar di pulau Jawa. Biasanya acara serah terima upeti dilaksanakan tiap malam 276 bulan purnama setiap . Raja-raja kecil setiap tahun selalu mempersembahkan upeti tanda takluk. Dalam berperang ia selalu menjadi panglima.

sambil disuguhi makanan dan tarian wanita-wanita cantik. oleh Purnawarman kerajaan rakyatnya. dan beberapa sungai kecil lainnya yang berada di wilayah kekuasaannya. Hasil semuanya Tarumanagara Terutama upeti tersebut. Tanah di kerajaan Tarumanagara pun menjadi subur makmur. Mereka berkumpul di istana Tarumanagara. Sawah dan ladang rakyat terairi dengan 277 . dan perhiasan. Telah Tarmanagara banyak yang sungai di wilayah atas kerajaan perintah diperbaiki Purnawarman. sungai Cupu di wilayah CupunagaraSubang. Demikian karena mayoritas penduduk Tarumanagara bekerja sebagai petani dan peladang. Setiap rakyat yang ikut bergotong royong memperbaiki sungai.tahunnya. irigasi dan dipakai untuk membangun mensejahterakan saluran untuk membuat memperbaiki aliran sungai. beberapa stel pakaian. maka akan diberinya seekor sapi. Di antaranya ialah sungai Gangga di wilayah Cirebon.

perlu kalian ketahui. Sungai-sungai airnya bersih. beberapa hari kemudian Purnawarman segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun Sundapura. bahwa aku mendapat wangsit dari Sanghyang Widi. Pada suatu malam. Prabu Purnawarman mendapatkan wangsit kembali. Setelah mendapat wangsit itu. Dalam wangsit itu disebutkan bahwa ia harus segera memperbaiki sungai utama kerajaan Tarumanagara yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga.” 278 . “Hai rakyatku semua. kita semua harus memperbaiki sungai Gomati dan Candrabhaga. Ingat memperbaikinya harus selesai dalam waktu 7 hari 7 malam. Pada musim kemarau pun tidak pernah kekeringan atau kelaparan. Intinya semua rakyat Tarumanagara sejahtera hidupnya.baik. Kalau kerajaan Tarumanagara ingin selamat dari bencana dan menang dalam berperang. sehingga banyak ikan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan oleh seluruh rakyat.

Bahkan para patih. Dalam acara sukuran tersebut. Prabu Purnawarman menghadiahkan 1000 ekor sapi. Prabu Purnawarman sangat bahagia. aliran sungai Gomati dan Candrabhaga pun berhasil diperbaiki tepat waktu. menteri. Bahkan raja-raja daerah pun dihadiahi oleh Prabu Purnawarman berupa kerbau dan berbagai emas permata untuk permaisurinya. dan berbagai masakan lezat. 279 . Hingga ia pun mengadakan selamatan secara besar-besaran dan memberikan hadiah kepada para brahmana. dan pembesar kerajaan pun turut serta bersama-sama dengan rakyat memperbaiki aliran sungai. berjajar di tepi sungai Gomati dan Candrabhaga.Seluruh rakyat tidak ada yang berani membantah titah rajanya yang sakti tersebut. Siang malam mereka bekerja dengan sungguh- sungguh. Keesokan harinya ribuan rakyat baik perempuan maupun laki-laki dengan membawa berbagai jenis perkakas. Setelah 7 hari 7 malam. Sambung menyambung tidak terputus membentuk pagar betis. ribuan pakaian.

Setiap kapal perang diberi tanda memakai bendera bergambar naga. Begitulah kejayaan kerajaan Tarumanagara di tangan Prabu Purnawarman. Saluran irigasi tersebut 280 . Hingga kini. peninggalan kerajaan Tarumanagara tersebut masih dapat kita saksikan. Pada masa dipimpin Prabu Purnawarman itulah kerajaan Tarumanagara mencapai kejayaannya. yakni saluran irigasi Gomati dan Chandrabaga yang membentang sejauh 11 km. Angkatan lautnya sangat tangguh. Adapun materai raja terbuat dari lempengan emas bergambar lebah dan kumbang. sedangkan bendera kerajaan Tarumanagara bergambar bungai teratai dan kepala gajah.“Semoga Sanghyang Wasa selalu merestui kerajaan Tarumanaga!” kata Prabu Purnawarman kepada seluruh penduduk yang diucapkan pada acara syukuran itu. sampai akhirnya dibagi dua oleh para penerusnya menjadi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh.

sekarang membelah kota Bekasi dan namanya berubah menjadi Kali Bekasi. Konon kata chandra dalam Chandrabaga. Chandrabhaga artinya sama dengan Kali Bagasasi. kemudian berubah namanya menyesuaikan dengan lafal penduduk setempat menjadi Bhagasi dan berubah menjadi Bekasi seperti yang kita kenal sekarang. Dengan demikian. *** 281 . berarti sasi atau bulan. Seiring perjalanan waktu.

Mereka hanya berani menatap sang ratu dari bagian belakang. Dijuluki Rambut Kasih karena rakyat di kerajaan Panyidagan tidak berani menatap wajahnya yang sangat cantik dan berkharisma.F. Kerajaan seorang ratu yang cantik jelita bernama Ratu Ayu Panyidagan. Rambut ratu yang indah itu konon sebagai asihan. ada sebuah kerajaan yang gemah ripah repeh rapih bernama tersebut Panyidagan diperintah atau oleh Sindangkasih. Namun masarakat menyebutnya dengan Ratu Ayu Rambut Kasih atau Nyi Rambut Kasih. sang ratu pun memiliki ilmu kesaktian dan 282 . SASAKALA WILAYAH PANTURA 1. SASAKALA MAJALENGKA Dahulu kala. Maka dijulukilah Nyi Rambut Kasih. Bagi siapa saja yang melihatnya akan menimbulkan rasa kasih pada sang ratu. Bahkan selain rambutnya yang indah. sehingga yang terlihat hanya rambutnya saja yang panjang hitam bergelombang terurai.

Prajurit dan guru merasa dihargai. negara kita akan mendapat cobaan. yakni: Ki Gedeng Cigobang. panglima perang.” 283 . Petani dan pedagang merasa tentram. maka bersabdalah Nyi Rambut Kasih kepada seluruh yang hadir. Pada suatu hari. Ia pun dapat menerawang kejadian yang akan datang. Ia dibantu oleh tiga orang patih setianya.kedigdayaan lahir batin yang tinggi. dan tentu saja ketiga orang patih setianya. dan Ki Gedeng Kulur. sehingga disukai dan dihormati seluruh rakyatnya. “Atas kehendak Sanghyang. karena hukum kerajaan ditegakkan tidak pandang bulu. Nyi Rambut Kasih dikenal sangat adil dan bijaksana. Ki Gedeng Mardapa. Nyi Rambut Kasih mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh paramenteri. Kehidupan rakyat pun terjamin. Setelah suasana tertib. Dalam menjalankan roda pemerintahan. Tak pernah ada pencuri atau perampok yang mengganggu kekayaan rakyat.

tamu tersebut gagah tur kasep.Semua undangan yang hadir terdiam. untuk melindungi segenap rakyat di kerajaan ini. Menurut wangsit. semua rakyat Panyidagan 284 . malapetaka seperti apa. dan seluruh prajurit. Selanjutnya Nyi Rambut Kasih bersabda lagi.. semua menteri. Setelah mendengar jawaban dari hadirin. Lebih baik banyak sahabat. Namun orang tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi kita sekalian. Akan tetapi. Entahlah.” semua serempak menjawab. ketimbang banyak musuh. kelak negara ini akan berubah. Maka semuanya harus waspada dan siaga menghadapi semua malapetaka.. terimalah dengan lapang dada. Nyai Ratu. “Menurut wangsit yang aku terima. Oleh karena itu.. "Sebentar lagi kita akan menerima tamu. Paham…?” “Nyakseni. Apabila dikemudian hari ada utusan dari kerajaan lain yang ingin bersahabat. Tentramkan hati rakyat.. Sang Ratu kemudian bertitah lagi. aku perintahkan kepada paman patih.

akan berubah keyakinan dan kepercayaan sesudah kerajaan ini lepas dari kekuasaanku. Demikian

nasihatku, sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan tenang." Setelah pertemuan itu, ketiga patih bersama panglima perang menyiapkan prajurit untuk menjaga perbatasan kerajaan di sebelah utara. Di perbatasan, lalu ketiga patih tersebut membuat posko penjagaan. Dari posko itu mereka dapat melihat keseluruh penjuru dengan jelas. Setiap orang yang akan masuk kerajaan Panyidagan akan kelihatan dengan jelas. Apalagi orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai dulu karena hanya tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Posko penjagaan ketiga patih yang diketuai oleh Ki Gedeng Cigobang itu, kini dikenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata Penjagaan). Suatu hari yang cerah. Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang santai
285

berkelakar. Tidak diketahui dari mana datangnya, tibatiba terlihat seorang pemuda sedang menyeberangi sungai menuju Negeri Panyidagan. Alangkah

terkejutnya ketiga patih melihat kejadian itu. Dengan segera ketiga patih itu memanggil pemuda yang sedang menyeberangi sungai. "Hai, Ki Silah, kenapa kamu berani

menyeberang tanpa seijin kami?" Pemuda yang sedang menyeberang tidak

menghiraukan teriakan ketiga patih itu. Ia terus saja menyeberang sampai ke tepi sungai dan segera pergi menjauhi ketiga patih itu. Melihat tingkah pemuda tersebut, ketiga patih sangat marah. Kemudian mereka mengejar pemuda itu dengan maksud akan mengeroyok karena sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka. Ternyata pemuda yang telah menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon yang bernama Pangeran Muhamad. Ia bermaksud meminta pertolongan Ratu Ayu Panyidagan. la akan
286

meminta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidagan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon yang sedang terjangkit wabah penyakit. Konon menurut wangsit Sunuhun Jati Cirebon, wabah penyakit tersebut dapat diobati dengan godogan buah maja yang banyak tumbuh di daerah Panyidagan. Selain mendapat tugas untuk mencari buah maja, pemuda itu pun mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke beberapa tempat yang rakyatnya masih menyembah berhala. Kembali pada cerita pengejaran ketiga patih terhadap pemuda yang berhasil menyebrangi sungai. Pemuda itu ternyata bernama Pangeran Muhamad. Ketika Patih Ki Gedeng Cigobang akan menangkapnya, Pangeran Muhamad dapat menghalaunya. Akhirnya ketiga patih itu menggunakan siasat dengan cara mengepung Pangeran Muhamad dari segala penjuru. Akhirnya, Pangeran Muhamad pun terkepung. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, lalu

Pangeran Muhamad masuk dan bersembunyi ke dalam
287

rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia segera minta perlindungan kepada Tuhan syahadat Yang dan

Mahakuasa

dengan

mengucapkan

nenjrag bumi tiga kali. Tanah yang diinjak itu terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad pun masuk ke dalamnya. Ketiga patih itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolakbalik mencarinya. Setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang, namun Pangeran Muhamad menghilang tanpa bekas. Ketiga patih itu pun merasa putus asa, kemudian mereka duduk termenung memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada ratu. Setelah berunding dengan matang, segera mereka pergi menuju ke istana Panyidagan. Adapun Pangeran Muhamad yang bersembunyi di dalam tanah, terus berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, agar diberi kekuatan dapat keluar dari lubang. Hingga akhirnya Pangeran Muhamad pun dapat keluar dari lubang persembunyiannya. Ia muncul
288

Ketika keluar. cahaya itu pun menghilang. Lalu diselidiki. 289 . Setelah dekat. ternyata cahaya tersebut memancar dari supa lember yang tumbuh pada pohon-pohon jati yang berjejer sepanjang jalan setapak. penglihatan Pangeran Muhamad mendadak gelap. Lalu ia pun berjalan menuju ke tempat datangnya cahaya.di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Munjul (rupanya nama tersebut didasarkan atas kata punjul(keluar)-nya Pangeran Muhamad dari dalam lubang tempat persembunyiannya). Lain dengan ketiga patih yang sedang menghadap ke Ratu Ayu Panyidagan. Pangeran Muhamad pun kemudian memberi nama tempat tersebut dengan Jatipamor. namun hanya bisa tertunduk lesu ketika Sang Ratu datang menemuinya dan langsung menegurnya. Makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan setapak yang dilaluinya. yang berarti kebun jati yang berpamor (bercahaya). Mereka berniat melaporkan buronan yang hilang.

aku tidak percaya berita semacam itu. mendapati seorang pemuda menyeberangi sungai. Mereka pergi lagi ke tempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengubrak-abrik tempat 290 itu." "Ah. tetapi orang itu tidak mau menjawab. Hamba bertiga sempat menegurnya. tetapi . Hamba pun mengejar dan mengepungnya. kalian tidak boleh kembali. Hamba datang untuk melapor bahwa kemarin ketika sedang berjaga. Bagaimana kalau ada orang asing masuk ke negara tidak diketahui oleh kalian?” "Ya Ratu. sebelum tertangkap. bukankah sudah kutitahkan untuk menjaga wilayah perbatasan.“Hai paman patih! Mengapa kalian kembali ke pendopo. malah lari tunggang langgang. Sekarang kalian harus segera mencari kembali pemuda tersebut dan hadapkan padaku." Ketiga patih itu pun kemudian pergi meninggalkan pendopo dengan niat mencari buronan. kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Pergilah dan tangkap hidup-hidup. Ingat. kami mengerti.

dan bertanya pada setiap warga. Namun setelah mereka bersama segenap prajurit menjelajahi hutan. yakni di Jatipamor. oleh ketiga patih diikat dan dibawa menghadap ke pendopo. sedangkan Ki Gedong Cigobang pergi menghadap Ratu Ayu Panyidagan dengan niat melaporkan bahwa buronan itu sudah ditangkap. ia kembali lagi ke pendopo akan melaksanakan perintah ratu. Nyi Rambut Kasih keluar dan langsung bersabda: “Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu.masih tetap belum dijumpainya. Maka Pangeran Muhamad disuruh beristirahat dan 291 . memasuki gua-gua. Namun baru saja sampai di depan gapura kaputren. Perlakukan pemuda itu seperti tamu biasanya!" Ki Gedeng Cigobang tidak berkata apa-apa. Akhirnya Pangeran Muhamad pun tertangkap hidup-hidup. akhirnya sampailah ke tempat Pangeran Muhamad beristirahat. Selanjutnya Pangeran Muhamad disuruh duduk di depan singgasana Ratu Ayu Panyidagan. Lalu. dijaga oleh Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur.

Ratu Ayu Panyidagan melihatnya sekilas. Mudah-mudahan Nyi Ratu bersedia menolong dan 292 . Pangeran Muhamad pun disuruh menghadap kembali ke kaputren. Waktu Pangeran Muhamad sedang berjalan menuju keputren. Beliau segera terpesona melihat pemuda yang gagah tur kasep itu. Setelah itu. Hamba datang ke sini diutus oleh Sunuhun Jati untuk mencari buah maja yang banyak terdapat di kerajaan Panyidagan. sehingga muncul niat ingin dipersunting oleh pemuda tersebut. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. kamu siapa? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini? Apa maksud kedatanganmu?" "Hamba ini Pangeran Muhamad dari Cirebon. Buah itu akan dipakai untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit.mandi dulu sebelum menghadap ratu. Maka ketika Pangeran Muhamad sudah berada di hadapannya. Ratu Ayu Panyidagan pun bertanya: "Hai Ki Silah.

mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah kekuasaan Nyai. hanya itu permohonan hamba!" "Baiklah akan aku penuhi permintaanmu itu. syarat ini terlalu berat. apakah engkau bersedia?” "Ampun ratu. asal kamu memenuhi syarat ini. patih. Coba dengarkan! Aku ini seorang ratu yang dihormati oleh semua rakyat Panyidagan. serta para ponggawa kami semuanya sangat setia. bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu. Bagaimana. Bukannya hamba tidak mengagumi kecantikan ratu." "Terima kasih Ratu. Bukannya 293 . Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diriku." "Hanya itu permintaanmu?" "Ya. yakni belum memiliki keturunan untuk melanjutkan tahta di kerajaan Panyidagan ini. Itulah syaratnya. para menteri. Nampaknya engkau akan pantas untuk menjadi suamiku. apa gerangan syaratnya?" "Syaratnya sangat mudah. ratu.

agar tidak bisa menyembuhkan orang Cirebon. Ratu Ayu Panyidagan sangat murka. langit mulai mendung. tangkap orang ini! Masukan ke dalam penjara. Bahkan akan ku hancurkan perkebunan buah maja di seluruh pelosok kerajaannku. Hamba tidak mau mengkhianati kesetiaannya. "Patih. Tidak berapa lama setelah itu." Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren.hamba menolak anugerah besar ini." Tentu saja. mendengar jawaban tersebut. sehingga seluruh penduduk kerajaan pun merasa ketakutan. Kaputren dan Ratu Panyidagan 294 . Keesokan harinya. hamba ini sudah beristri. Namun semua penduduk terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang telah berubah. Hanya saja. dan turunlah hujan yang sangat lebat. jangan sampai kabur kembali ke Cirebon. langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta. makin lama makin gelap.

sampai meninggalnya di sana. maja…. Semua rakyat pun ribut sambil berteriak: "Gusti ratu menghilang. tentu saja tidak berhasil mendapatkannya. Majalengka artinya hilangnya buah maja. majalangka… !" Sejak itu timbul sebutan Majalangka.menghilang entah ke mana. maja… langka.langka. yang kemudian masarakat setempat menyebutnya Majalengka. buah maja telah musnah. Maka Pangeran Muhamad pun memutuskan untuk tidak kembali ke Cirebon. Di seluruh pelosok kerajaan. Selanjutnya Pangeran Muhamad memutuskan untuk bertapa di gunung Haur. yang artinya tempat bertapa. Sejak itulah wilayah Gunung Haur dikenal dengan nama Margatapa. Buah maja yang ditanam di kebun kerajaan menghilang tanpa bekas. Adapun Pangeran Muhamad yang diutus Sinuhun Jati untuk mencari buah maja. karena takut akan dihukum oleh Sinuhun Jati. Kata langka dalam bahasa Sunda artinya hilang atau musnah. *** 295 .

Wiralodra pun melaksanakan tapabrata di suatu tempat yang bernama Malaya di kawasan lembah Gunung Sumbing. SASAKALA INDRAMAYU Tersebutlah pemuda yang sangat tampan. tanahnya subur dan akan banyak dikunjungi orang. Karena ketampanan dan kesaktiannya itulah. putra Tumenggung Gagak Singalodra. Bagelen. Di lembah sungai itu. Wiralodra menjadi pujaan banyak perempuan. dan memiliki kesaktian tinggi. Tanah itulah yang 296 . Maka sebagai langkah awal. Ia bernama Wiralodra. Dalam wangsitnya itu disebutkan bahwa Wiralodra harus mencari sungai yang bernama Cimanuk.2. Wiralodara menghabiskan waktu 40 hari 40 malam. sebelum akhirnya mendapatkan wangsit dari Sang Hyang Wasa. dari Banyurip. mendirikan Wiralodra sebuah keinginan kerajaan. Jawa Tengah. Ia tidak ingin menjadi raja karena hasil pemberian dari ayahnya atau orang lain. Sebagai mempunyai kstaria pilih untuk tanding. gagah.

semalam sebelum mendapat akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya. Ketika itu hari masih pagi. wangsit agar segera mencari sungai Cimanuk. sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. aku sudah tahu bagaimana karaktermu. Sebagai teman 297 . “Anakku.” kata Wiralodra tegas. aku akan mengijinkanmu. ayahanda.” kata ayahnya terheran-heran. engkau menghadapku di waktu masih pagi seperti ini?” Wiralodra “Maaf menundukkan aku kepala. ketika Wiralodra menghadap ayahnya di pendopo. Hanya pintaku. bukankah di daerah Bagelen juga terdapat banyak sungai. “Ada apa anakku. “Di lembah sungai itulah.menurut wangsit sangat baik untuk dijadikan pusat kerajaan. menurut wangsit. pandai-pandailah engkau menjaga diri. Kalau memang pendirian dan niatmu begitu.” “Untuk apa mencari sungai Cimanuk.

Lelaki tua tersebut mengaku bernama Ki Sadum. Wiralodra bertemu dengan seorang lelaki tua renta. Setelah mendengar cerita Wiralodra. tiba-tiba lelaki tua tersebut berubah menjadi Kiai Malik Warna. Mahaguru yang sudah koncara ke mana-mana memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi. “Hey anak muda. ke mana tujuanmu?” Maka berceritalah Wiralodra tentang maksud dan tujuannya. Tentu saja Wiralodra dan Ki Tinggil kaget bercampur bahagia. Dalam perjalanannya itulah pada suatu hari di tengah hutan belantara. karena dapat bertemu dengan orang yang luar biasa. aku utus Ki Tinggil untuk menemanimu” Setelah mendapat ijin dari ayahnya. Perjalanannya menuju ke sebelah Barat. 298 . Tidak lupa ia pun menceritakan isi wangsit yang diterimanya di pertapaan.berbincang selama perjalanan. maka pergilah Wiralodra dengan ditemani Ki Tinggil untuk berkelana mencari sungai Cimanuk.

Kepala ular pun hancur terkena pukulan cakra. Ketika ular tersebut akan diangkat. Setelah ditemukan. maka sungai itulah yang dinamakan Cimanuk. Mengerti engkau Wiralodra?” “Paham. tiba-tiba kepalanya menyambar akan menerkam Wiralodra. akhirnya Kiai Malik bicara: “Apabila engkau berdua sudah berada di wilayah yang bernama Cupunagara. 299 . bergegaslah Wiralodra dan Ki Tinggil menuju ke sebelah Barat untuk mencari daerah yang bernama Cupunagara. Wiralodra kembali menjelajah hutan belantara yang masih angker. Wiralodra memukulkan cakra senjata andalannya. ikutilah perjalanannya. Namun secara gesit. segera cari kijang bermata berlian. ia mendapati ular sangat besar menghalangi jalan setapak yang akan dilewatinya. Hingga di sebuah hutan jati. Kiai?” Setelah meminta ijin.Setelah sesaat ketiganya membisu. Apabila kijang itu berhenti dan menghilang di pinggir sungai.

karena ia tidak berniat mencari istri namun mencari daerah bernama Cupunagara. Akibat ditolak Wiralodra. Kontan saja Wiralodra menolak. Dewi Larawana mengaku telah jatuh cinta pada Wiralodra. Dewi Larawana merasa terhina. Untung saja Wiralodra segera sadar. Ia pun langsung menantang Wiralodra untuk berkelahi adu kesaktian sampai salah satunya ada yang meninggal. Setelah itu. bahwa itu hanyalah sungai jadi-jadian. tiba-tiba ular yang kepalanya sudah hancur tersebut berubah wujud menjadi sungai yang airnya jernih. Wiralodra dan Ki Tinggil merasa heran dan terpana. kini berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. Pada mulanya permintaan tersebut 300 . hilanglah sungai. Maka dengan segera. Bahkan ia menginginkan untuk dikawini oleh Wiralodra.Baru saja Wiralodra menarik nafas. Perempuan tersebut menyebut dirinya dengan nama Dewi Larawana dan ia pun mengaku penguasa hutan larangan tersebut. Dalam pertemuannya itu. ia memukulkan cakranya kembali pada air sungai yang jernih tersebut.

Adapun ciri-ciri kijang tersebut sama dengan yang diceritakan oleh Kiai Malik Warna. kejadian aneh terjadi kembali. Mula-mula berupa asap tipis. mayat Dewi Larawana berubah wujud menjadi kijang bermata berlian. tiba-tiba dari mayatnya keluar asap. Baik Wiralodra maupun Dewi Larawana sama-sama memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. akhirnya Wiralodra pun melayani tantangan tersebut. Namun setelah Wiralodra mengeluarkan cakra sebagai senjata andalannya. Keduanya sama-sama memakai ilmu yang tinggi. Setelah itu. Tidak berhenti di situ.ditolak oleh Wiralodra. Sesaat setelah Dewi Larawana meninggal. 301 . akhirnya Dewi Larawana pun semakin terdesak. Semakin lama perkelahian pun semakin sengit. namun karena Dewi Larawana terlebih dulu menyerang. Ia pun akhirnya meninggal terkena cakra Wiralodra. Perkelahian pun terjadi. kemudian berubah menjadi tebal sampai menyelimuti hutan.

Wiralodra dan Ki Tinggil didatangi dua mahluk aneh yang mengaku Raja Budipaksa dan Patih Bujaris. bahwa kijang tersebut telah menunjukkan letak sungai Cimanuk yang selama ini ia cari.Tentu saja Wiralodra tidak langsung percaya begitu saja. Maka dikejarlah kijang bermata berlian itu oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Namun kijang tersebut tetap saja tidak terkejar. Wiralodra pun segera tersadar. keesokan harinya Wiralodra dan Ki Tinggil segera ngababakan (membuka lahan baru untuk pedukuhan) di sekitar tepi sungai Cimanuk. Namun ketika kijang bermata berlian tersebut berlari dari hadapannya. Keduanya mengaku 302 . Tidak menunggu lama. Ia masih yakin bahwa kijang tersebut hanyalah jadi-jadian. Wiralodra mengeluarkan aji kesaktiannya untuk mengejar kijang tersebut. Sampai akhirnya kijang tersebut menghilang di tepi sebuah sungai yang airnya jernih. Sampai pada malam harinya. Wiralodra segera penasaran untuk mengejarnya.

Perkelahian pun terjadi. Bahkan seterusnya. Wiralodra diangkat sebagai pemimpinnya dan Ki Tinggil sebagai wakilnya. Mereka berdua pun menyerang Wiralodra dan Ki Tinggil. Orang pun mulai berdatangan dan betah menetap di sana. Dua siluman tersebut marah karena tidak terima wilayah kekuasannya diganggu oleh Wiralodra. Keduanya menerima takluk pada Wiralodra.sebagai penguasa hutan di sekitar tepi sungai Cimanuk tersebut. Keduanya saling berhadap-hadapan. seluruh siluman penghuni hutan di tepi sungai Cimanuk turut serta membantu Wiralodra membuka lahan baru untuk pemukiman. Selanjutnya pemukiman itu pun berubah menjadi 303 . sedangkan Patih Bujaris menantang Ki Tinggil. Lama kelamaan lahan untuk pemukiman semakin besar. sebelum akhirnya kedua siluman tersebut dapat dikalahkan oleh Wiralodra dan Ki Tinggil. Raja Budipaksa menghadapi Wiralodra.

Ia banyak membantu Wiralodra dalam mengembangkan ilmu hidup kepada penduduk Cimanuk. perkampungan Cimanuk semakin pesat. Perkampungan di lembah sungai Cimanuk semakin ramai. dan Puspahita. Sehari-hari.kerajaan. Apalagi setelah mendapat bantuan dari seorang pemukim baru bernama Endang Darma. akhirnya Ki Tinggil pun berhasil memperluas wilayah kekuasaan Wiralodra. berdagang. sampai teknik berperang melawan musuh. Wiralodra menugaskan Ki Tinggil untuk segera memperluas wilayah kekuasaan. mulai dari teknik bertani. 304 . Dengan dibantu oleh prajurit tangguh bernama Surantaka. Endang Darma hidup membaur dengan penduduk Ciamanuk. Banyuntaka. Endang Darma adalah seorang perempuan cantik yang memiliki ilmu tinggi. Pembangunan dalam segala bidang terus digalakan oleh Wiralodra. Tentu saja Wiralodra diangkat menjadi raja dan Ki Tinggil menjadi patihnya. terutama pada bidang pertanian dan perikanan.

Sultan Cirebon merasa dihina. Wiralodra pun merestuinya. akhirnya Endang Darma mengaku kalah. Kabar telah berdiri kerajaan di lembah sungai Cimanuk pun akhirnya sampai juga pada kerajaan Cirebon. Ia pun berniat ingin menguji kesaktian Endang Darma.Pada suatu ketika. karena ada sebagian wilayahnya yang dicaplok oleh Wiralodra. Sebagai tandanya. Wiralodra merasa tersanjung atas bantuan Endang Darma tersebut. ia akan terus membantu Wiralodra untuk mengambangkan pemukiman Cimanuk menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Itulah sebabnya Cirebon segera mengirimkan pasukan 305 . asal Endang Darma dapat terus membantunya dalam mengembangkan kerajaan. Tetapi karena Wiralodra memiliki kesaktian yang lebih tinggi. Maka ditantanglah Endang Darma oleh Wiralodra. Kemudian Endang Darma mengajukan syarat kepada Wiralodra agar mau menamai daerah tersebut berdasarkan namanya.

tentu saja WIralodra telah menyiapkan penduduknya yang dipimpin oleh Endang Darma untuk menghadapi pasukan Cirebon tersebut. Semakin hari kampung Darma Ayu pun semakin berkembang pesat. yang berarti Endang Darma yang cantik (ayu). Alasannya sebagai bentuk penghargaan pada Endang Darma yang telah berhasil mengalahkan pasukan Cirebon dan mempertahankan kekuasannya di Cimanuk. Setalah kejadian pertempuran itu. Tiba di Cimanuk. kesaktian. kemudian Wiralodra memberi nama pada kerajaannya Darma Ayu. dan menepati janjinya pada Endang Darma.yang dipimpin oleh Aria Kemuning ke daerah Cimanuk. Banyak pendatang dari kerajaan 306 . Maksudnya untuk memberi pelajaran pada Wiralodra. Tanda bahwa Wiralodra memuji kecantikan. Pasukan Cirebon kocar-kacir kewalahan menghadapi amukan penduduk Cimanuk. Pertempuran pun terjadi dan keunggulan berpihak pada pasukan Endang Darma. Nama Darma Ayu diambil dari ungkapan Endang Darma anu ayu.

Bahkan banyak pula pendatang dari kerajaan Mataram. mengikuti logat bahasa penduduk setempat yang bercampur antara penduduk asli dengan pendatang dari kerajaan Mataram.lain dan langsung menetap di perkampungan tersebut. Seiring waktu. nama kampung Darma Ayu pun berubah menjadi Indramayu. *** 307 . yang mereka sebut sebagai bahasa dermayuan atau dermayon.

terdapat sebuah kampung bernama Surantaka. Termasuk Nyai Ambet Kasih. Ki Gedeng Sindangkasih dan semua penduduk kampung pun semakin takjub dibuatnya. datanglah seorang pemuda tampan ke kampung Surantaka. adiknya raja Galuh yang bernama Prabu Anggalarang. Ki Gedeng Sindangkasih memiliki seorang putri yang cantik di jelita bernama Nyai Ambet Kasih. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Sindangkasih.3. Ia mengaku berasal dari Galuh dan bernama Pamanah Rasa. Lalu pemuda tersebut diinapkan di rumah Ki Gedeng Sindangkasih. Semakin hari. semakin kelihatan watak dan ketangkasan Pamanah Rasa. ia menaruh 308 . Oleh Ki Gedeng Sindangkasih. Penduduk kampung tersebut kesehariannya menangkap rebon. SASAKALA CIREBON Di pesisir sebelah utara kerajaan Galuh. Suatu ketika. diterimalah pemuda tersebut sebagai tamu pribadinya. sejenis udang kecil bahan pokok untuk membuat tarasi (terasi).

selama ini engkau mengaku sebagai pengelana dan rakyat biasa. Karena penasaran.perhatian khusus pada pemuda tersebut. karena Prabu Anggalarang adalah kakakku. Namaku yang sebenarnya adalah Jayadewata. Aki?” “Aku heran. nampaknya engkau hadir dari keluarga istana. maka pada suatu hari yang cerah. Jadi.” “Kalau begitu berarti engkau keponakanku. aku sedikitnya menaruh curiga. Tidak mungkin rakyat biasa memiliki pemikiran seperti engkau.” 309 . Namun dari tingkah lakumu. dipanggilah pemuda tersebut untuk menghadap Ki Gedeng Sindangkasih. aku sebenarnya bukan Pamanah Rasa. “Ada apa Aki memanggil saya?” “Begini anak muda. melihat kecerdasan dan ketangkasanmu. siapa sebenarnya engkau ini anak muda?” “Euh. Aku pangeran dari Galuh.” “Maksud.

akan dinikahkan dengan putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang. Di kampung tersebut tengah diadakan saembara adu kesaktian. selanjutnya Pamanah Rasa pun dinikahkan dengan Nyai Ambet Kasih. kemudian Nyai melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya kemudian. Dari perkawinan tersebut 310 . letaknya bersebelahan dengan kampung Surantaka.Sejak perbincangan hari itu. Kampung tersebut dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa. Karena Pamanah Rasa memenangkan sayembara. Setelah Pamanah Rasa menetap cukup lama. Seluruh penduduk kampung pun ikut berbahagia. sampailah Pamanah Rasa di sebuah kampung yang bernama Singapura. Ambet Kasih pun tidak bisa mencegahnya. Bagi yang memenangkan saembara. karena ia tahu tugas suaminya sebagai putra mahkota kerajaan Galuh amatlah berat. lalu ia pun dinikahkan dengan Nyai Subanglarang.

Indang Geulis. Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan istana. Ketiganya dibesarkan di keraton Singapura. melanjutkan kembali pengembaraannya. Namun setelah Nyai Subanglarang meninggal. Sampailah kepada sebuah pesantren pimpinan Syeh Datuk Kahfi. Raden Walangsungsang. Waktu pun berjalan cepat.lahirlah tiga orang anak. Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Raden Gedeng Danuwarsih dinikahkan kepada putri tunggalnya yang bernama Nyai Indang Geulis. Ketiganya masuk Islam. ia berkelana dan berguru di padepokan seorang guru bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Ketiga anak Pamanah Rasa telah tumbuh besar. dan kelak setelah pergi menjalankan 311 . yaitu Raden Walangsungsang. Setelah Walangsungsang berguru oleh sekian Ki lama. Setelah menikah. Oleh Syeh Datuk Kahfi. Raden Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah. berikut Nyai Lara Santang.

312 . ia berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. kemudian adiknya dinikahi oleh Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. dan Cina. mulai dari etnis Sunda. Nyai Lara Santang pun berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. Dinamakan Tegal Alang Alang karena daerah tersebut sebelumnya banyak ditumbuhi pohon alangalang. Atas anjuran guru sekaligus mertuanya. atas saran mertuanya Syeh Datuk Kahfi.ibadah haji. Kampung inilah yang kemudian banyak didatangi oleh pemukim dari daerah lain. yang artinya campuran dari berbagai etnis dan agama. Kampung inipun kemudian diubah namanya menjadi kampung Caruban. Di mekah inilah. Raden Walangsungsang ngababakan (membuka daerah baru) yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Raden Walangsungsang pergi berhaji ditemani oleh adiknya Nyai Lara Santang. Jawa. Arab. Setelah perkampungan Caruban berkembang pesat.

Dari perkawinannya dengan orang Arab. karena meninggal di gunung Jati. Kerajaan Carubanlarang pun semakin hari semakin berkembang pesat. Kembali ke kisah Raden Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Abdullah Iman. Sesudah Sunan menikahkan adiknya. ia langsung mendirikan sebuah mesjid dan sebuah rumah. Letaknya di sisi pesisir membuat kedatangan banyak pengunjung dari negara lain. Setibanya di kampung halaman. Pakuwuan ini kemudian diperluas dan ditingkatkan derajat pemerintahannya menjadi kerajaan kecil bernama Nagari Carubanlarang. Mesjid tersebut kelak diberi nama Jalagrahan dan rumahnya kemudian dijadikan Keraton Pakungwati. yang salah satunya ada seorang pendatang 313 . Ki Samadullah pun diangkat menjadi Kuwu Caruban yang bergelar Pangeran Cakrabuana. ia pun segera kembali ke kampung Caruban. Syarifah Mudaim mendapat putra bernama Syarif Hidayatullah yang kelak didaulat menjadi Gunung Jati.

Setelah lama membantu Syeh Datuk Kahfi mengajakan Islam di daerah pesisir utara. karena ia anak Syarifah Mudaim. menggatikan Syekh Datuk Kahfi. kemudian Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Syeh Jati. Mula-mula Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati. Pemuda ini masih keponakan Ki Samadullah. 314 . pergi berkelana ke kerajaan Banten. yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Dari pernikahannya itulah. Bahkan sampai menikahkan adiknya yang bernama Nyai Kawunganten dengan Syeh Jati. Selain itu. ia pun bolak-balik ke Nagri Carubanlarang untuk menemui uwaknya. dan di sana ia mulai menyebarkan agama Islam. Ki Samdullah.bernama Syarif Hidayatullah. lahir Pangeran Saba Kingkin. adiknya sendiri. dekat Amparan Jati. Di sana ia bertemu dengan Bupati Kawunganten dari kerajaan Pajajaran yang sangat tertarik terhadap ajaran Islam. kemudian terus ke Desa SembungPasambangan.

yang mayoritas keseharian penduduknya menangkap rebon. Sekembalinya dari itulah kemudian dinobatkan sebagai kepala Nagari Carubanlarang dan bergelar Sunan Jati atau Sunan Caruban. *** 315 . Sejak itulah kemudian Nagari Caruban berkembang pesat dan dikembangkan menjadi sebuah Kesultanan. Mengambilan nama ini pun mengingatkan cikal bakal kampung Surantaka. dari Caruban menjadi Cerbon.Setelah sekian lama mengembara di Banten. disesuaikan dengan logat penduduk setempat. Namanya pun diganti. Nama Caruban atau Cerbon inilah yang kelak akan berubah menjadi Cirebon hingga sekarang. kemudian Syeh Jati kembali Banten ke pesisir ia utara.

Sesampainya di kampung Luragung. Sunan Gunung Jati pun kemudian menyebarkan agama Islam ke sebuah perkampungan di sebelah selatan Cirebon yang bernama Luragung. Kemudian kerabatnya. Di kampung itu.4. apalagi setelah semua penduduknya masuk Islam. Setelah sekian lama Sunan Gunung 316 . SASAKALA KUNINGAN Ketika di wilayah Kesultanan Cirebon semua penduduknya telah ngagem (masuk) agama Islam. Pada waktu itu. Penduduk Luragung terkenal sangat ramah. Terlebih mereka tahu bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan Cirebon. Orang yang pertama berhasil diajak masuk. Sunan Gunung Jati pun kemudian mulai mengajak penduduk di sana untuk masuk Islam. ialah Ki Gedeng Luragung. kampung Luragung dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung. hingga akhirnya semua penduduk Luragung pun masuk Islam. konon penduduknya masih menyembah berhala dan percaya pada pohon-pohon yang sudah berumur ratusan tahun.

Bokor kuningan inilah yang kelak dijadikan logo atau maskot kabupaten Kuningan. Sebagai tanda balas budi kepada Ki Gedeng Luragung. Namun sayang. Sunan Gunung Jati nukeuran (menukar) bayi yang bernama Suranggajaya itu dengan sebuah bokor yang terbuat dari wesi kuning (logam kuningan). kemudian istrinya yang bernama Putri Ong Tien (asal Campa) atau Nyai Rara Sumanding datang menyusulnya. putranya yang pertama itu meninggal dunia. Setelah menyebarkan Islam di kampung Luragung. Nyai Rara Sumanding pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Hingga sesampainya di Luragung. Untuk mengobati hati istrinya. Ketika itu Nyai Rara Sumanding tengah hamil tua.Jati menetap di Luragung. kemudian Sunan Gunung Jati pergi ke 317 . kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk bersedia putranya yang kebetulan masih bayi diangkat menjadi anak kukut (pungut). Anak tersebut bernama Suranggajaya.

Sebelumnya ia menikahi Nyai Ratu Selawati yang pada waktu itu menjadi ratu di daerah Winduherang.Winduherang bernama untuk menemui atau saudaranya Aria yang Bratawiyana Kamuning. dapat dikatakan sebagai penyempurna. artinya lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. Ia penganut agama karuhun. masuknya Syekh Maulana Arifin ke 318 . Sementara Sunan Gunung Jati. Kedatangan Syekh Maulana Akbar dalam menyebarkan Islam ke Winduherang. Syekh Maulana Akbar adalah pendatang dari Persia yang menyebarkan Islam lebih awal di daerah Winduherang. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam pertama ke daerah itu. Namun tentu saja. ternyata saudaranya tersebut telah lebih dulu masuk Islam atas petunjuk Syekh Maulana Akbar. sebelum akhirnya masuk Islam setelah dinikahi oleh Syekh Maulana Arifin. Sesampainya di Winduherang. Nyai Ratu Selawati adalah adiknya Ki Gedeng Luragung.

daerah Winduherang atas seijin Sunan Gunung Jati. “Aku ganti nama anak ini menjadi Raden Kamuning. “Aku titipkan anak angkatku. Semoga dengan nama itu. Kelak ia akan ku angkat menjadi penguasa di wilayah ini. Pada waktu itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa setelah dewasa. Setelah sampai di Winduherang. ia kemudian menitipkan anak angkatnya (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Aria Kamuning). akan kulaksanakan titahmu. ia akan merasa lebih dekat denganmu.” ujar Sunan Gunung Jati.” titah Sunan Gunung Jati pada Aria Kamuning.” jawab Aria Kemuning. Kembali ke kisah perjalanan Sunan Gunung Jati. karena ketika itu Sunan Gunung Jati yang menjadi Sultan Cirebon. kelak anak angkatnya tersebut akan diangkat menjadi penguasa di Winduherang menggantikan Nyai Ratu Selawati. Asuhlah dia menjadi pemuda yang taat terhadap ajaran Islam. “Baiklah Kanjeng Sunan. 319 .

setelah menginjak usia 17 tahun. Mereka kebanyakan berdagang. Sesuai dengan janjinya. Kelak Dipati Ewangga akan membantu Kesultanan Cirebon dalam menyerang Belanda di Batavia (sehingga sekarang kita mendapati nama perkampungan Kuningan di Jakarta). Bersamaan dengan itu. kemudian Sunan Gunung Jati mengangkat Raden Kamuning menjadi penguasa di Winduherang.Waktu pun berjalan begitu cepat. Semakin lama kerajaan Kuningan banyak didatangi oleh pendatang dari daerah lain. Raden Kamuning kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. nama Winduherang pun diganti oleh Sunan Gunung menjadi Kuningan. tumbuh pula anak pituin (asli) Aria Kamuning yang bernama Dipati Ewangga. namun ada pula yang terus 320 . Semenjak itu. Keduanya sangat rukun. Nama tersebut merujuk pada kisah hidup Raden Kamuning yang ketika masa bayinya ditukar oleh Sunan Gunung Jati dengan sebuah bokor kuningan dari Ki Gedeng Luragung. Sering mengaji dan latihan kanuragan (ilmu beladiri) bersama.

Dalam memimpin roda pemerintahan. Raden Kamuning sangat adil dan bijak. pada waktu itu kedudukannya di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh ayah angkatnya sendiri. Sebagai raja yang dikukuhkan oleh Sunan Gunung Jati. *** 321 . Kemudian Sunan Gunung Jati pun memberikan gelar kepadanya Sang Adipati Kuningan. Ia selalu membuat perintah atas dasar ajaran agama Islam.bermukim. Sunan Gunung Jati. Seluruh rakyat Kuningan sangat menghormati dan mencintainya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful