HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA

4-24 BULAN DI DESA SENDANGHARJO KECAMATAN BLORA KABUPATEN BLORA TAHUN 2007

SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Heny Sulistyowati NIM 6450403206

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT 2007

2

ABSTRAK Heny sulistyowati. 2007. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dan Pola Pemberian
Makanan Pendamping ASI Dengan Status Gizi Balita Usia 4-24 Bulan Di Desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2007. Skripsi. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Drs. Bambang BR, M.Si, pembimbing II dr. Arulita Ika Fibriana, M.Kes(Epid). Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI, Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI, dan Status Gizi

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah adakah hubungan antara Pengetahuan Ibu Tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita Usia 4-24 Bulan
Di Desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan. Jenis penelitian ini adalah penelitian explanatory research dengan

pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo sejumlah 86 orang. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 57 orang yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) kuesioner tentang makanan pendamping ASI untuk mengukur tingkat pengetahuan tentang makanan pendamping ASI, 2) recall 24 jam untuk mengukur pola konsumsi balita, 3) timbangan untuk mengukur berat badan balita, 4) mikrotoa untuk mengukur tinggi badan balita yang digunakan untuk menghitung AKG. Data penelitian ini diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi responden dan wawancara menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari data monografi desa Sendangharjo. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan statistik menggunakan uji chi square dengan derajat kemaknaan ( α =5 %) = 0,05. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita diperoleh nilai p=0,003, (CC=0,368). Hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita menunjukkan adanya hubungan yang signifikan karena diperoleh nilai p=0,027, (CC=0,283). Hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi protein juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan karena diperoleh p=0,001, (CC=0,448). Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diajukan adalah, bagi Puskesmas hendaknya lebih meningkatkan kerja sama dengan posyandu misalnya dengan memberikan pemberian makanan tambahan (PMT), bagi posyandu hendaknya pada waktu posyandu diberikan penyuluhan tentang pentingnya pemberian makanan pendamping ASI secara tepat, bagi ibu balita hendaknya meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya pemberian MP- ASI bagi balita, bagi jurusan IKM FIK UNNES hendaknya memberikan kesempatan bagi peneliti lain untuk meneliti faktor-faktor lain yang berhubungan dengan status gizi.

3

ABSTRACT Heny Sulistyowati. 2007. Correlation between Mother’s knowledge And The Pattern of Giving of ASI with Nutrition Status of Children under Five years in the Age 4-24 Month in Sendangharjo Village Blora District Blora Regency in The Year of 2007. Final Project. The Departemen of Public Health Science, Sport Education Faculty, State University of Semarang. Firs Advisor : Drs. Bambang BR, M.Si. Second Advisor : dr. Arulita Ika Fibriana, M. Kes (Epid). Key Word : the level of mother’s knowledge about supplement food of ASI. The pattern of giving supplement of ASI, nutrition status. The problem of this study is there any correlation between mother knowledge about food supplement of ASI (MP-ASI) and the pattern of giving supplement food of ASI with nutrition status of children under five ears in the age 4-24 month in Sendangharjo village Blora district Blora regency in the year of 2007. The objective of this study is to know the correlation between Mother’s knowledge and pattern of giving supplement food of ASI with nutrition status of children under five years in the age 4-24 month. This research is explanatory research with cross sectional approach. The population of this study was all mother which have children under five year in Sendangharjo village (86 mother). Sampling technique used was purposive sampling. 57 mother are taken as the sample which is obtained by using simple random technique. The instrument used in the research were 1) Questionnaire about supplement of ASI, 2) Recall 24 hours to measure children under five years consumption pattern, 3) Weights to measure children under five years weight, 4) Microtoice to measure children under five years height with will be to measure AKG. The primary data is obtained through observation and interview using questionnaire. The secondary data is obtained from monograph data of Sendangharjo village. The data obtained is analyzed using Chi-square statistical test with significance level of ( α =5 %) = 0,05. The result of the research showed that there is any significant correlation between mothers knowledge about supplement food of ASI with nutrition status of children under five years, the value obtained p = 0,003 (CC = 0,368). The correlation between the pattern to giving supplement food of ASI according the energy consumption level with the nutrition status of children under five years showed thath there is any significance correlation, the value obtained p = 0,001 (CC = 0,283). The correlation between the pattern of giving supplement food of ASI according protein consumption also showed that there is any significant correlation, the value obtained p = 0,01 (CC = 0,448). Based of the result of the research, the suggestion proposed are for Puskesmas, they should improve cooperation with Posyandu the example by providing supplement food of ASI (PMT), for Posyandu they should be equipped with some useful information about the appropriate way the provide supplement food of ASI, for mother they should improve their knowledge about the important of MP-ASI for their children. For Public Health Department they should give chance to other researches for conducting research with other factor that related with nutrition status.

dr. 131 571 554 3. dr.4 PENGESAHAN Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari Tanggal : Selasa : 18 September 2007 Panitia Ujian Ketua Panitia Sekretaris DR. Khomsin.131 571 549 Dewan Penguji 1. 131 469 639 Drs. Kes NIP. M. Arulita Ika Fibriana M. Herry Koesyanto. M.Si NIP. 131 695 159 ( Ketua ) 2. Oktia Woro K. 132 296 577 ( Anggota ) ( Anggota ) .M. MS NIP. Bambang BR.Pd NIP.Kes(Epid) NIP. Drs.H.

3. 4. karena para pengritik itu jeli” ( Pesan Rasul kepada Abu Dzar ) ”Jangan biarkan masa sulit menjatuhkanmu. Mini. Bapak dan Ibu tercinta sebagai Darma Bakti Ananda karena beliau yang dan selalu selalu mengasihiku. 5. perbanyaklah bekalmu. 2. mba Desi yang selalu memberikan perhatian dan motivasinya selama ini. Almamaterku UNNES . Kegagalan merupakan tetesan dari kemalasan. Nemi. kelemahan. pengorbanan dan hal-hal mengejutkan. karena samudera ini dalam. semangat dan do’anya selama ini. menyayangiku mengiringi langkahku dengan doa. kehinaan dan kerendahan” (Aidh bin Abdullah Al-Qarni) ”Perkokohlah bahteramu.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO ”Keberhasilan merupakan tetesan dari jerih payah perjuangan. Evi yang selalu memberikan warna dan makna dalam kehidupanku. belajar untuk bangkit kembali dari kegagalan merupakan nilai yang berharga” ( Lauren Fox) PERSEMBAHAN Setetes peluh dan karya kecil ini kupersembahkan untuk : 1. ikhaskanlah amalmu. luka. karena perjalanan ini panjang. My Sweetheart Sigit Widhi Nugroho yang selalu memberikan motivasi. Mas Hery. Dian. kebekuan. Keluarga besarku di Griha Gharini.

Bambang BR. rahmat dan hidayahNya. 6. atas ijin penelitiannya. Khomsin. Oleh karena itu dengan segenap ketulusan hati.Oktia Woro KH.6 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat. M. 4. diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang. sehingga skripsi yang berjudul : “Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dan Pola Pemberian Makanan Pendamping Asi Dengan Status Gizi Balita Usia 4-24 Bulan Di Desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2007” dapat diselesaikan. Skripsi ini disusun untuk melengkapi persyaratan kelulusan Strata 1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang. 5. M. atas ijin penelitiannya. Sutardji. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.Kes(Epid) atas bimbingan dan arahan sampai selesainya penulisan skripsi ini.Si atas bimbingan dan arahan sampai selesainya penulisan skripsi ini. dr. 3. Dosen serta staf tata usaha Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang atas segala dukungan dan bimbingannya di Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang. Pembimbing II dr. Pembimbing I Drs. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Keolahragaan. 2. Keberhasilan dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. . Drs.S.Kes atas ijin penelitiannya.Pd. Arulita Ika Fibriana M.M. M. Drs.

atas ijin dalam pelaksanaan penelitian. 8. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora dr. mba’ Desi. Henny Indriyanti M. semoga amal baik dari semua pihak senantiasa mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Untuk kesempurnaan skripsi ini. Kepala kelurahan desa Sendangharjo. atas motivasi dan doa-doanya. Semarang. 13. diharapkan kritik dan saran yang membangun. Ibu Zulka. Kepala Puskesmas Medang atas ijin dalam pelaksanaan penelitiannya 9. ibu Ratna dan ibu Ir selaku koordinator kader Posyandu desa Sendangharjo dan semua ibu kader Posyandu atas kerjasamanya.7 7. atas bantuan dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini. 11. Disadari dalam penyusunan skripsi ini banyak kekurangan. Mas Hery. mba’ Heni. Bapak dan Ibu tercinta (Bapak Sutardjo dan Ibu Isbandiyah). Semoga skripsi ini bermanfaat guna kemajuan dan perkembangan di bidang kesehatan. warga Griha Gharini atas nasehat dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini. 10. Teman-teman Mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Angkatan 2003.Kes atas ijin dalam pelaksanaan penelitiannya. 12. mas Iwan. September 2007 Penulis .

. DAFTAR ISI ....... 1............................................. DAFTAR TABEL ...... 1...................... 1........................................................... 1............................................. ABCTRAC .................... 1.................................................................................................. BAB I : PENDAHULUAN 1..............................4 Manfaat Hasil Penelitian .............1 Ruang Lingkup Tempat...............6 Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................................3 Ruang Lingkup Materi ..... DAFTAR LAMPIRAN .................... KATA PENGANTAR.............6............................................................................2 Rumusan Masalah .......................................................... 1 5 6 6 7 8 8 8 8 i ii iii iv v vi viii xi xii xiii ............................................................................................................................................... 1.................................2 Ruang Lingkup Waktu .... 1................... PENGESAHAN ...... 1...........................................................3 Tujuan Penelitian ....1 Latar Belakang Masalah .................................................................................................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN...................6.....................8 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ....................................................................................... ABSTRAK ...............5 Keaslian Penelitian .6................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................

........2 Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI ...................1 Macam Zat Gizi ..................................................1.........1............. 2...2 Pengertian Makanan Pendamping ASI .1...9 BAB II : LANDASAN TEORI 2......3...........2 Kerangka Teori .................. 2............1......... 2... 2..........1.......2 Hipotesisi Penelitian........ 2....3.....................................3 Definisi Operasional...........2........1 Pengertian Pengetahuan ......4 Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI dan Pola Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi ..........3................ 2.3 Penilaian Konsumsi Makanan.......................1.....2........2 Penilaian Status Gizi .3 Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi . 2............1 Landasan Teori ........................ 2...... BAB III : METODE PENELITIAN 3..............................1.....4 Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian MP-ASI ............. 2..................1............. 29 29 30 26 28 16 17 17 18 22 9 9 9 10 11 11 14 15 ...3 Status Gizi ......... 3......................... 2.............. 2...1....................1. 2.....1...........................1 Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI ....2............................2 Kebutuhan Gizi Balita.......1....... 2...2....1................... 3................1 Pengertian status Gizi............1 Kerangka Konsep ....1.. 2.......1............................

......................1 Simpulan .......................................... DAFTAR PUSTAKA ..........................1 Populasi .. BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4...................................2 Hasil Penelitian ......... 4..............1............8 Teknik Analisa Data... 3....................... 4..2 Saran ........................................1..................................1............1 Deskripsi Data ........... 3....4 Jenis Rancangan Penelitian .......................................................................................................3 Demografi .................4 Hambatan dan Kelemahan ..................................... 4.....................3 Pembahasan .. LAMPIRAN .............................. 55 55 57 59 38 38 38 38 39 41 41 49 53 31 31 31 32 33 34 36 ............................5........... 3.........................1............... 4...7 Teknik Pengambilan Data ............2 Sampel..................................................................................5............. 3........ 5............ 4........2 Sarana Kesehatan ..................................... 4............................................................ BAB V : SIMPULAN DAN SARAN 5.......................................................4 Karakteristik Responden .................................................................................5 Populasi dan Sampel Penelitian .....................6 Instrumen Penelitian............... 3........5 Karakteristik Balita .........................................1 Gambaran Umum .................. 4.........................................................................................................1......10 3.. 4................ 3.......

.......... 5................................. Definisi Operasional ..................................................... Kebutuhan Energi dan Protein Bagi Anak ............ Hubungan Pengetahuan dengan Status Gizi ............. 4........... Hubungan antara Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Protein dengan Status Gizi ................................. Klasifikasi Gizi menurut WHO NCHS .................. 7.................... 2................. 6........................... Hubungan antara Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Energi dengan Status Gizi ........................ Keaslian Penelitian .. 3............. 48 47 7 14 18 30 46 .............................................11 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1..........

..... 5........... Distribusi Frekuensi Menurut Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI..................................... Distribusi Frekuensi Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Energi. Distribusi Frekuensi Menurut Umur Balita.. Kerangka Konsep ..................... 6........................................... 42 43 43 44 ............. 10..........................................12 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 28 29 39 40 40 41 1................................................................................................... Distribusi Frekuensi Menurut Umur Ibu ........ Distribusi Frekuensi Menurut Status Pekerjaan Ibu. Kerangka Teori............................................................... 2................... Distribusi Frekuensi Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Protein.......................................... Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendidikan Ibu .... 4..... 8........................................ Distribusi Frekuensi Status Gizi Balita ........... 9............................. 3...................................................... 7.......................

........................................................ 14.. Data Tingkat Status Gizi ............ Surat Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing Skripsi ......................................................................... 22............ Formulir Recall 24 Jam................... 20......................... 16...... 4................... Surat Telah Melakukan Penelitian dari DKK Blora ........ 17.................... Surat Ijin Penelitian untuk Puskesmas Medang dari Fakultas FIK. Surat Keterangan Tera Mikrotoa .............. Surat Keterangan Tera Timbangan ............................. Surat Telah Melakukan Penelitian dari Puskesmas Medang ................. Surat Permohonan Ijin untuk Kepala Desa Sendangharjo............ 62 63 64 65 66 67 68 71 72 75 78 79 80 81 82 83 88 90 92 94 61 Halaman 60 ................... Contoh Perhitungan AKE dan AKP ........................................................ 18................................................................. Pengambilan Sampel Penelitian......... 10.... 12...... 7.......... Surat telah Melakukan Penelitian dari Kepala Desa Sendangharjo................................................ Tabel Nilai r Product Moment ............ Data Rekapitulasi Tingkat Kecukupan Gizi ............ Validitas dan Rebilitas ........... Surat Permohonan Ijin Penelitian untuk DKK Blora dari Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES......................... 15. Kuesioner Penelitian .............................. Hasil Analisis Data (Analisis Bivariat).......................... 8....................... Hasil Analisis Data (Distribusi Frekuensi tiap Variabel) ............................................................................. 5............... 2................... Dokumentasi Penelitian .. 3............................................. 11........................ 6...... 13.. 21.....................13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.............................. 9....... Rekapitulasi Data Tingkat Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI ................................................... 19........................... Surat Keterangan Tera Dacin.............

bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) (Jihat Santoso. Namun seiring pertumbuhan bayi. anak sedang mengalami proses pertumbuhan yang sangat pesat sehingga memerlukan zat. pasal 17). sangat tergantung dari kondisi gizi dan kesehatan sewaktu masa balita. 23 Tahun 1992. 23/1992 pasal 17 ayat (2) yang mengatur penyelenggaraan kesehatan anak.zat makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. usia prasekolah dan usia sekolah (UU Kesehatan RI No.2005). 1 . sebab itu sejak usia 4-6 bulan. Pada masa balita. Gizi kurang atau gizi buruk pada bayi dan anak. Dalam tumbuh kembang anak. Hasil pertumbuhan menjadi dewasa. masa bayi. masa balita.1 Latar Belakang Dalam Undang-undang tentang Kesehatan No.anak terutama pada umur kurang dari 5 tahun dapat berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kecerdasan otak (Ahmad Djaeni. Di masa bayi ASI merupakan makanan terbaik dan utama karena mempunyai kandungan zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit terutama penyakit infeksi.2000:239).14 BAB I PENDAHULUAN 1. karena makanan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih. menyebutkan peningkatan kesehatan anak dilakukan sejak dalam kandungan. Kebutuhan anak berbeda dengan kebutuhan orang dewasa. makanan merupakan kebutuhan yang terpenting. 1995:6). maka bertambah pula kebutuhan gizinya.

Usia 2-3 tahun merupakan usia yang sangat rawan karena pada usia ini merupakan masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau ke makanan sapihan dan paparan . Kekurangan Energi Protein (KEP) dapat terjadi baik pada bayi. Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi atau anak melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya perbaikan gizi secara menyeluruh (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI. anak. Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan.anak serta ibu yang sedang mengandung dan sedang menyusui merupakan golongan yang sangat rawan.anak maupun orang dewasa. Semakin meningkat umur bayi/ anak. Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak mencukupi kebutuhan badan. Sebanyak 40.88% balita bergizi kurang (Profil Kesehatan Jawa Tengah. 2000: 1). Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat.15 Makanan pendamping ASI diberikan mulai umur 4 bulan sampai 24 bulan. Pada tahun 2002. tercatat sebanyak 4.378 balita atau 1. Prevalensi kurang gizi di Jawa Tengah. 2000:5).51 % balita di Jawa Tengah bergizi buruk. khususnya pada anak usia dibawah 2 tahun ( Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI. 2003).255 balita atau 13. Anak. terutama pada bayi dibawah 5 tahun dinilai masih tinggi. 2000: 1). secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak. kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak. sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.

Pada keluarga dengan pengetahuan tentang Makanan Pendamping ASI yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. Untuk dapat menyusun menu yang adekuat. Umumnya menu disusun oleh ibu (Soegeng Santoso dan Anna Lies Ranti. 2002: 46). 2000:12). seseorang perlu memiliki pengetahuan mengenai bahan makanan dan zat gizi. 2000:12-13). Makanan sapihan pada umumnya mengandung karbohidrat dalam jumlah besar tetapi sangat sedikit kandungan proteinnya atau sangat rendah mutu proteinnya. 1999:123). .16 terhadap infeksi mulai meningkat karena anak mulai aktif sehingga energi yang dibutuhkan relatif tinggi karena kecepatan pertumbuhannya. Oleh karena itu pengetahuan dan sikap ibu sangat berperanan. sebab pengetahuan tentang Makanan Pendamping ASI dan sikap yang baik terhadap pemberian Makanan Pendamping ASI akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi oleh bayinya. Dalam periode pemberian Makanan Pendamping ASI. Pada umumnya anak-anak yang masih kecil (balita) mendapat makanannya secara dijatah oeh ibunya dan tidak memilih serta mengambil sendiri mana yang disukainya (Ahmad Djaeni. kebutuhan gizi seseorang serta pengetahuan hidangan dan pengolahannya. justru pada usia tersebut protein sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan anak (Winarno. bayi tergantung sepenuhnya pada perawatan dan pemberian makanan oleh ibunya. Semakin baik pengetahuan gizi seseorang maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi (Ahmad Djaeni.

1 %. jumlah balita dengan status gizi buruk sebesar 2. Dengan status gizi kurang sebesar 4.7 % dan tahun 2005 sebesar 5. Berdasarkan hasil laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Blora tahun 2006. menyebutkan bahwa di seluruh kabupaten Blora termasuk daerah yang rawan gizi. Di setiap kecamatan terdapat balita dengan status gizi kurang maupun gizi buruk. 2006).28 % balita berstatus gizi buruk. sedangkan status gizi kurang sebesar 12. . dan 71.2 % sebanyak 2 anak untuk tahun 2006. Desa Sendangharjo merupakan salah satu desa yang termasuk dalam kecamatan Blora kabupaten Blora.22 % balita dengan gizi lebih. desa Sendangharjo termasuk desa yang rawan gizi. Sedangkan gizi buruk pada tahun 2004 2.3 %. 18.17 Persentase status gizi balita khususnya kabupaten Blora pada tahun 2003/2004 tercatat sebesar 4. sehingga perlu diadakan perbaikan status gizi.41% balita berstatus gizi baik serta 6.5% (Profil Dinkes Blora. Dari laporan tersebut. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya status gizi kurang dan gizi buruk di desa Sendangharjo mengalami penurunan yaitu pada tahun 2004 gizi kurang sebesar 6. 2005).7 % sebanyak 8 anak dan gizi buruk sebesar 1.09% balita berstatus gizi kurang. Kabupaten ini merupakan kabupaten dengan jumlah balita gizi buruk terbanyak dibandingkan dengan kabupaten lain (Pradipta.3 %. Jumlah balita yang dinyatakan gizi buruk di kabupaten Blora pada bulan Juli tahun 2005 mencapai 801 bayi.2 % untuk tahun 2005 turun menjadi 1. salah satunya yaitu dengan memperhatikan pemberian makanan bayi atau balita dengan tepat dan sesuai kebutuhan mereka.

untuk itu perlu diadakan suatu penelitian yang mengkaji tentang masalah tersebut dengan judul “ Hubungan antara Pengetahuan Ibu dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita Usia 4-24 Bulan di Desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora Tahun 2007”.2 Khusus 1. 1.1 Umum Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora kabupaten Blora. 1. dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1.2.2 Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas.2.2.2 Adakah hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora Kabupaten Blora? .1 Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora Kabupaten Blora? 1. tingkat pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI.2.18 Berorientasi dari hal tersebut.dan pola pemberian makanan pendamping ASI serta status gizi balita merupakan masalah yang penting untuk dikaji lebih dalam.2.2.

1 Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora Kabupaten Blora. 1.2 Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Penelitian ini bisa dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya tentang pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI.2 Mengetahui hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora Kabupaten Blora.4 Manfaat Penelitian 1. pola pemberian makanan pendamping ASI dan status gizi balita.3.2 Tujuan khusus 1.2.2.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. .1 Tujuan umum Mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora kabupaten Blora.3.3.4.3. 1. 1. 1.4.19 1.1 Bagi Ibu Balita Untuk menambah pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pendamping ASI secara tepat dan memenuhi kebutuhan balita mereka.

desa Gunan Explanatory dengan metode survey dan pendekatan cross sectional Variabel bebas: pola pemberian MP-ASI pada bayi 4-12 bulan (bentuk makanan). pola pemberian makanan pendamping ASI dan tingkat status gizi balita di desa Sendangharjo kecamatan Blora kabupaten Blora 1.4 Bagi Peneliti Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI.5 Keaslian Penelitian Keaslian dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 1 Keaslian Penelitian No 1.3 Bagi Puskesmas Memberikan informasi tentang mengenai hubungan pengetahuan ibu dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. tingkat konsumsi energi dan protein Variabel terikat : status gizi Ada hubungan yang signifikan antara pola pemberian MPASI. 1. Carnoto SM 2000. Judul Penelitian Hubungan antara Pengetahuan dan Praktek Ibu dalam Pemberian MPASI dengan Status Gizi Anak Pada 4-24 Bulan di Desa Batuan Kecamatan Sukawati Kabupaten Bali Hubungan antara Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Bayi umur 4-12 bulan didesa Gunan kecamatan Slogohimi kabupaten Wonogiri Nama Peneliti Dwi Jata Tahun dan Tempat Penelitian 2000.20 1. tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi .4.4. desa Batuan Rancangan Penelitian Explanatory dengan pendekatan cross sectional Variabel Penelitian Variabel bebas: pengetahuan ibu Variabel antara: praktik MP-ASI Variabel terikat :status gizi Hasil Penelitian Ada hubungan antara pengetahuan ibu dan praktik MPASI dengan status gizi balita 2.

dan praktek kesehatan masyarakat. sedangkan variabel terikatnya adalah status gizi.3 Ruang Lingkup Materi Ruang lingkup penelitian ini mencakup materi ilmu gizi dasar.6.6.Agustus 2007.1 Ruang Lingkup Tempat Desa Sendangharjo kecamatan Blora Kabupaten Blora 1. tingkat konsumsi energi dan protein. 1. 1. .6.2 Ruang Lingkup Waktu Ruang lingkup waktu dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan 25 Maret 2006 .6 Ruang Lingkup Penelitian 1. variabel terikatnya adalah status gizi. serta variabel penelitian. variabel antaranya adalah praktik MP-ASI dan variabel terikatnya adalah status gizi. Pada penelitian ini variabel bebasnya adalah pengetahuan ibu tentang MP-ASI dan pola pemberian MP-ASI. Pada penelitian yang pertama variabel bebasnya adalah pengetahuan ibu. Sedangkan pada peneliti kedua variabel bebasnya adalah pola pemberian MP-ASI.21 Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu tahun dan tempat penelitian. gizi daur hidup. penilaian status gizi.

1.1 Landasan Teori 2. sedangkan mengetahui artinya mempunyai bayangan tentang sesuatu.1.1.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Maman Rachman (2003:93). pengetahuan adalah hasil dari kegiatan mengetahui. yaitu: 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 3) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan. Oleh sebab itu. dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Sedangkan menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003:122-123).1 Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) 2. tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Termasuk ke dalam pengetahuan.22 BAB II LANDASAN TEORI 2. 2) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai mengingat suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. 9 .

2000:5). Semakin meningkat umur bayi/ anak. Makanan pendamping ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. . sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak. tetapi masih didalam satu struktur organisasi.2 Pengertian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan pada bayi/ anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya.23 4) Analisis (analysis) Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen. Makanan pendamping ASI diberikan mulai umur 4 bulan sampai 24 bulan. sesuai dengan kemampuan pencernaan bagi bayi/ anak. 5) Sintesis (synthetis) Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru di formulasi-formulasi yang ada. Pengenalan dan pemberian makanan pendamping ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi/ penilaian terhadap suatu materi/objek.1. 2. dan masih ada kaitannya satu sama lain. Pemberian makanan pendamping ASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada periode ini (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. 2000:5).1.

Penting untuk diperhatikan agar pemberian ASI dilanjutkan terus selama mungkin. karena ASI memberikan sejumlah energi dan protein yang bermutu tinggi. 1986: 35). psikologis. pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. 2. Sedangkan menurut Yayuk Farida (2004: 69). budaya dan sosial (Suhardjo. Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam Sri Karjati (1985) adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang di makan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. protein dan zat-zat gizi lainnya (vitamin dan mineral) untuk tumbuh dan berkembang.24 Tujuan pemberian makanan tambahan adalah sebagai komplemen terhadap ASI agar anak memperoleh cukup energi. .2 Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI Pola makan adalah cara yang ditempuh seseorang/sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis. pertama-tama berikan satu atau dua sendok teh makanan tmbahan (weaning foods).1.1 Macam Zat Gizi Menurut Deddy Muchtadi (19994:11-18) zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi mengenai beberapa zat gizi. Untuk mengajarkan anak mengunyah dan terbiasa dengan makanan baru. tetapi direkomendasikan untuk dikonsumsi yang dapat mendukung pertumbuhan seorang bayi yang sehat.2.1. 1999: 89). 2.

jumlah ini cukup unuk pertumbuhan bayi yang normal. Kebutuhan protein bagi bayi relatif lebih besar dari orang dewasa. peredaran darah. Konsumsi sebanyak 2. Dari jumlah energi yang dikonsumsi bayi. 1995:5) Kebutuhan akan protein selama periode pertumbuhan tulang rangka dan otot yang cepat pada masa bayi. Pada umur 4 bulan.untuk umur 6 bulan energi yang dibutuhkan turun menjadi 95 Kkal/kg berat badan. 2) Protein Protein dalam tubuh merupakan zat pembengun yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan tubuh. Pada minggu ketiga. dan sebagainya). Bayi yang pendiam membutuhkan energi sebesar 71 Kkal/kg BB. 25% untuk aktivitasnya.25 1) Energi Konsumsi energi sebanyak 115 Kkal per kgberat badan (sekitar 95-145 Kkal/kg) nampaknya mencukupi kebutuhan bayi untuk bulan pertama kehidupannya. . 25% lainnya untuk pertumbuhan badan yang berkisar antara 5 sampai 7 gr per hari.2 gr protein bernilai gizi tinggi per kg BB per hari menghasilkan retensi nitrogen sekitar 45%. menggantikan sel-sel yang rusak. proporsinya adalah 45% dan 55%. sedangkan bayi yang aktif membutuhkan sampai 133 Kkal/kg BB. kebutuhan proteinnya turun menjadi 2 gr/kg BB perhari. 50% digunakan untuk energi basal (energi yang dibutuhkan untuk bekerjanya organ-organ di dalam tubuh. karena bayi mengalami pertumbuhan yang pesat (Departemen Kesehatan. relatif tinggi. Pada umur 5 bulan. memelihara keseimbangan metabolisme tubuh. sekitar 60%-75% dari jumlah protein yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan dan sisanya digunakan untuk pemeliharaan.

Konsumsi sebanyak 5-6 NE (niacin equivalent) dapat dibutuhkan oleh ASI yang menyediakan 0.6 mg tiamin perhari. perhari. Untuk vitamin C. Untuk vitamin K. Disarankan untuk memberikan vitamin E pada bayi sebanyak 2-4 mg TE (tocopherol equivalent) per hari.5 mg ribovlavin per 1000 Kkal energi yang dikonsumsi untuk memelihara kejenuhan jaringan. ASI mengandung 280 mg kalsium per liter. kalsium sangat dibutuhkan. Bayi yang dikandung cukup umur akan menerima sejumlah zat besi dari ibunya selama kandungan. bayi memperolehnya dari ASI.bayi membutuhkan 0.15 mg niasin dan 21 mg triptofan per 100 ml.005 mg folasin/kg BB. Konsumsi vitamin D dianjurkan sebanyak 400 IU/ hari.26 3) Vitamin Larut Air Kebutuhan bayi akan vitamin yang larut dalam air sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu. 4) Vitamin Larut Lemak Jumlah vitamin A yang dibutuhkan bayi sebanyak 375ug RE. 5) Mineral Karena terjadinya kalsifikasi yang cepat pada tulang untuk menunjang berat badan pada waktu bayi mulai belajar berjalan. defisiensi vitamin K dapat terjadi pada beberapa hari pertama. Bayi harus memperoleh 0. berarti bahwa bayi yang berumur 3-6 bulan membutuhkan 0.4 mg tiamin dan pada umur 6-12 bulan membutuhkan 0. Tingginya kadar seng dalam kolostrum (4 mg .konsumsi vitamin D pada bayi akan meningkat pada waktu terjadinya kalsifikasi tulang dan gigi yang cepat. Kebutuhan bayi akan zat besi sangat ditentukan oleh umur kehamilan. yang berarti dapat mensuplai sekitar 210 mg kalsium perhari.

4 7. akan tetapi karena penggunaan ASI yang tidak tepat dan salah.2 11.2.36 Berat badan (Kg) 4. Masalahnya bukan dikarenakan mutu gizi ASI.27 per liter yang menurun jumlahnya menjadi 2 mg/liter pada air susu putih setelah 6 bulan. dan menjadi 0. 2. Adapun kebutuhan balita terhadap energi dan protein adalah sebagai berikut : Tabel 2 Kebutuhan Energi dan Protein Bagi Anak Usia (bulan) 0–3 4–6 7–9 10 – 12 13 – 24 25 .0 13.2 Kebutuhan Gizi Balita Pengaturan makanan anak usia dibawah lima tahun mencakup dua aspek pokok.1.1 6. keadaan gizinya tidak lebih baik dari gizi anak yang tidak diberi ASI. Penelitian Oomen terhadap 415 usia balita dibawah lima tahun di Jakarta tahun 1957 menunjukkan bahwa anak-anak yang disusui ibunya.5 mg/liter setelah 1 tahun) dapat mengkompensasi kebutuhan bayi yang diberi ASI akan seng.5 Kebutuhan Energi (Kal) 492 735 850 970 1135 1350 Kebutuhan Protein (Gr) 10 15 18 19 23 28 Sumber: Sjahmien Moehji (2003:30) .7 9. yaitu pemanfaatan ASI secara tepat dan benar dan pemberian makanan pendamping ASI dan makanan sapihan serta makanan setelah usia setahun.

28 2. . Responden diminta mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan. rumah tangga dan perorangan.2. Dimulai sejak ia bangun pagi sampai istirahat malam hari.3 Penilaian Konsumsi Makanan Penilaian konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tinkat kelompok. Daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara sangat menentukan keberhasilan metode recall 24 jam ini. dan tenaga yang tersedia. serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. 2) Metode estimated food records Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. 3) Metode Penimbangan Makanan (food Weighing) Responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dati tujuan. Metode ini cenderung bersifat kualitatif sehingga jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti. Metode ini digunakan untuk mengatur rata-rata konsumsi pangan dan zat gizi pada kelompok besar. beberapa metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu anatara lain : 1) Metode food recall 24 jam Metode ini dilakukan dengan menanyakan jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi responden pada periode 24 jam yang lalu. Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu. termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan. Menurut I Nyoman Supariasa (2001:88). Menimbang dalam ukuran berat pada periode tertentu.1. dana penelitian.

Akan tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut (Suhardjo. atau tahun. . 2) Besar Keluarga Laju kelahiran yang tinggi berkaitan dengan kejadian kurang gizi. 2. karena jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut. 1 tahun). 5) Metode Frekuensi Makanan (food frequensi) Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Metode ini terdiri dari 3 komponen yaitu : wawancara. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Meliputi hari. 1 bulan.29 Terdapatnya sisa makanan setelah makan juga perlu ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi.4 Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI 1) Pendapatan Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih. sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara kualitatif. 2003:23). bulan.2. frekuensi jumlah bahan makanan. minggu. 1998:10). pencatatan konsumsi.1. 4) Metode Riwayat Makanan Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bias 1 minggu.

dapat merupakan bencana. 1995:10) 3) Pembagian dalam Keluarga Secara tradisional.1 Pengetian Status Gizi Status gizi adalah keadaan kesehatan individu-individu atau kelompokkelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat-zat energi lain yang belum diperoleh. Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan. Untuk bayi dan anak-anak yang masih muda dan wanita selama tahun penyapihan. 2. sandang dan perumahanpun tidak terpenuhi oleh karena itu keluarga berencana tetap diperlukan (Soetjiningsih.1. juga kebutuhan primer seperti makanan. khususnya pada umur dibawah 2 tahun (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. baik bagi kesehatan maupun kehidupan. 2000:1). ayah mempunyai prioritas utama atas jumlah dan jenis makanan tertentu dalam keluarga. jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan selain kurangnya kasih sayang dan perhatian anak.30 Pada keluarga dengan keadaan sosial ekonomi yang kurang.3. 1986:31).1.3 Status Gizi 2. Dari pangan dan makanan yang dampak . pengaruh tambahan dari pembagian pangan yang tidak merata dalam unit keluarga. 4) Pengetahuan Kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebab penting dari gangguan gizi (Suhardjo. secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak.

2 Penilaian Status Gizi Untuk menentukan status gizi seseorang.3. 2003:55). dapat dilakukan dengan beberapa cara. status gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi dalam seluler tubuh. Klasifikasi status gizi menurut WHO-NCHS (National Center of Health Statistic) dengan skor simpangan baku (z skor) dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3 Klasifikasi Gizi menurut WHO NCHS Indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U) Status Gizi Gizi Lebih Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Normal Pendek Gemuk Normal Kurus Kurus Sekali Sumber: DepKes RI (2002:13) 2. Sedangkan menurut Supariasa.1. yaitu : 1) Cara Konsumsi Pangan Penilaian konsumsi pangan merupakan cara penilaian keadaan / status masyarakat secara tidak langsung.31 fisiknya dapat diukur secara antropometri (Suhardjo. Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dan nutritur dalam bentuk variabel tertentu. Informasi tentang konsumsi pangan dapat > 2 SD ≥ -2 SD sampai 2 SD < -2SD sampai ≥ -3 SD < -3 SD ≥ -2 SD sampai 2 SD < -2 SD > 2 SD ≥ -2 SD sampai 2 SD < -2 SD sampai ≥ -3 SD < -3 SD Keterangan .

2004:79-80).32 dilakukan dengan cara survey dan akan menghasilkan data yang kuantitatif maupun kualitatif. yaitu pengukuran pertumbuhan dan komposisi tubuh. cara biokimia dapat digunakan mendeteksi keadaan defisiensi subklinis yang semakin penting dalam era pengobatan preventif. bebas dari faktor emosi dan subyektif lain sehingga biasanya digunakan untuk melengkapi cara penilaian status gizi lainnya. Dengan demikian. lingkar dada. dan tebal lemak di bawah kulit (Supariasa. Komposisi tubuh mencakup komponen lemak tubuh (fat mass) dan bukan lemak tubuh (non-fat mass) (Yayuk Farida. berat badan. 2) Cara Biokimia Beberapa tahapan perkembangan kekurangan gizi dapat diidentifikasi dengan cara biokimia dan lazim disebut cara laboratorium. . Metode ini bersifat sangat obyektif. lingkar pinggul. tinggi badan. terutama jika terjadi ketidakseimbangan kronik antara energi dan protein. umur. Secara kuantitatif akan deketahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi. lingkar lengan atas. Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. 3) Cara Antropometri Saat ini pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh) digunakan secara luas dalam penelitian status gizi. 2002:38). Pengukuran antropometri terdiri atas dua dimensi. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia antara lain. lingkar kepala.

Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Berat Badan menurut Umur (BB/U) Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh yang sangat sensitif terhadap perubuhan-perubahan yang mendadak. perkembangan berat badan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutritional status). 2. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam jangka waktu relatif lama. relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam jangka pendek. maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. terdiri dari : 1. Kombinasi antara parameter disebut indek antropometri. Berdasarkan karakteristik tersebut. Mengingat karakteristik berat badan yang labil. Penilaian ini lebih peka daripada penilaian berdasarkan berat badan menurut umur. misalnya karena terserang penyakit infeksi. . maka nafsu makan atau jumlah makan yang dikonsumsi akan berkurang dan akan mengakibatkan menurunnya berat badan. Indeks BB/TB merupakan indeks yang independent terhadap umur. Perubahan tinggi badan tidak seperti berat badan. Dalam keadaan normal.33 Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. 3.

5. LILA merupakan parameter antropometri yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh tenaga bukan profesional. tulang belikat (subscapular). dapat berubahubah dengan cepat. Rasio Lingkar pada Pinggul Pengukuran lingkar pinggang dan pimggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran harus tepat (Supariasa. lemak tubuh dapat diukur secara mutlak dinyatakan dalam kilogram maupun secara perkiraan dinyatakan dalam persen tubuh total. Tebal Lemak Bawah Kulit menurut Umur Pengukuran tebal lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh. Lingkar Lengan Atas menurut Umur (LILA/U) Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan jaringan lemak bawah kulit. dan pertengahan tungkai bawah (medial calf). Dalam hal ini indeks massa tubuh digunakan untuk melakukan pengukuran.34 4. . misalnya pada bagian lengan atas triseps dan biseps. LILA sebagaimana dengan berat badan merupakan parameter yang labil. Oleh karena itu. karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu. 7. lengan bawah (foream). pemantauan keadaan tertentu perlu mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. 2002:57-63). Indeks LILA sulit untuk melihat perkembangan anak. 6. Lingkar Lengan atas berkolerasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. Indeks Massa Tubuh (IMT) Masalah kekurangan dan kelebihan pada gizi orang usia 18 tahun keatas merupakan masalah penting. juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja.

1.3. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu dengan yang lain. oleh karena itu. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas hidangan. faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi dibagi menjadi 2 yaitu secara langsung dan tidak langsung. maka tubuh akan mendapatkan kondisi kesehatan gizi yang . 2004:78-81) 2.3 Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang. Faktor yang mempengaruhi secara langsung : 1) Konsumsi makanan Keadaan kesehatan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi. metode laboratorium harus digunakan sebagai pelengkap metode klinis (Yayuk Farida.35 4) Cara Klinis Riwayat medis dan pengujian fisik merupakan metode klinis yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda pengamatan yang dibuat dokter dan gejala-gejala manifestasi yang dilaporkan oleh pasien yang berhubungan dengan manifestasi. Tanda-tanda dan gejala-gejala ini sering tidak spesifik dan hanya berkembang selama tahap deplesi (pengosongan cadangan zat gizi dalam tubuh) yang sudah parah. Karena alasan tersebut. Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. diagnosis defisiensi gizi tidak mengandalkan hanya pada metode klinis. Susunan hidangan baik dari segi kualitas maupun kuantitas maupun memenuhi kebutuhan tubuh.

Konsumsi makanan secara tidak langsung dipengeruhi oleh : daya beli keluarga atau kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung besar kecilnya keluarga. Sebaliknya konsumsi yang kurang dari makanan baik segi kualitas maupun kuantitas akan memberikan kondisi kesehatan gizi kurang atau defisiensi (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. Infeksi bisa berhubungan dengan gangguan gizi melelui beberapa cara yaitu mempengaruhi nafsu makan. Faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung : 1) Pendapatan Keluarga Ada penelitian yang menemukan bahwa sebab utama pada anak balita adalah rendahnya penghasilan keluarga (Sajogjo. latar belakang sosial budaya. 1999:82). parasit) dengan malnutrisi. dapat juga menyebabkan kehilangan bahan makanan karena diare atau muntah serta mempengaruhi metabolisme makanan (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi serta jumlah anggota keluarga (Wied Hary Apriyadji. virus. Ada interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi dan juga infeksi akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi (Supariasa. 1986:42).36 sebaik-baiknya. 2) Infeksi Ada hubungan yang erat antara infeksi (bakteri. 1999:82). 1994:34). 2002:177). Ada keluarga yang sebenarnya penghasilannya cukup tetapi tidak bisa mengatur belanja keluarga .

Salah satu pengaruh yang sangat dominan terhadap pola konsumsi ialah pantangan dan tabu. Bila mana tidak diatur dengan baik akan terjadi persaingan dalam pemperoleh bagian masing-masing dari makanan tersebut.1994:9). Orang akan suka . 2) Jumlah anggota keluarga Bahan makanan yang sampai keluarga akan diolah dan dimasak dan dibagikan kepada anggota keluarga. Kadang-kadang perubahan terutama yang terjadi dalam kebiasaan makanan ialah pengan yang dimakan itu lebih mahal (Suhardjo. 3) Sosial Budaya Pendapat masyarakat tentang konsep kesehatan dan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan. Bahan makanan juga mempunyai nilai sosial tertentu. mungkin tak mencukupi bagi keperluan anak yang sedang tumbuh (Sajogjo. Ada makanan yang dianggap bernilai sosial tinggi dan ada yang menganggap bernilai sosial rendah. Ada juga keluarga yang membeli bahan pangan dalam jumlah cukup akan tetapi kurang pandai dalam memilih tiap jenis pangan yang dibeli akibatnya kurangnya mutu dan penggunaan pangan yang diperoleh (Sajogjo. pengeluaran uang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin lebih beraneka ragam yang dikonsumsi.37 dengan baik. 1994:10). 1996:178). akibatnya bahan makanan yang dibeli tidak mencukupi untuk keluarga. Dengan meningkatkan pendapatan perseorangan terjadilah perubahan dalam susunan makanan akan tetapi. Anak yang lebih kecil biasanya makan lebih lambat dan dalam jumlah kecil sekali makan dari pada kakaknya sehingga mudah tersisihkan dan memperoleh bagian yang terkecil.

Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. 1999 :17). kekurangan zat gizi cenderung tidak akan berkembang seperti jika pantangan itu hanya berlaku bagi sekelompok masyarakat tertentu selama satu tahap dalam siklus hidupnya (Suharjo. Tingkat pendidikan formal merupakan faktor yang ikut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan menekuni pengetahuan yang diperoleh. Penduduk dimanapun akan berutung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usia dan keadaan fisiologis (Agus Krisno. 1996:22). Bila pola pantangan makanan berlaku bagi seluruh penduduk sepanjang hidupnya. takhayul. 6) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan.38 menerima makanan yang dianggap mempunyai nilai sosial yang setaraf dengan tingkat sosialnya dalam masyarakat (Achmad Djaeni. 4) Pendidikan Tingkat pendidikan formal membentuk nilai-nilai progresif bagi seseorang terutama dalam menerima hal-hal baru. 5) Pengetahuan gizi Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. dijumpai banyak pola pantangan. Sehubungan dengan pangan yang biasa dipandang untuk dimakan. 2004:13). dan larangan pada beragam kebudayaan dan daerah yang berlainan di dunia. .

Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.1. dan saran lain seperti keberadaan posyandu.39 pemeriksaan kehamilan. pertolongan persalinan. Pengetahuan seorang ibu dibutuhkan dalam perawatan anaknya. PKK maupun kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. puskesmas. sehingga seorang anak tidak menderita . Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan. 2. Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari beberapa faktor baik formal seperti pendidikan yang didapat di sekolah-sekolah maupun non formal yang diantaranya dapat diperoleh bila ibu aktif dalam kegiatan posyandu. 1997: 128).4 Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum di setiap negara di dunia. khususnya pada umur dibawah 2 tahun (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI. dokter dan rumah sakit (Soekirman. dimana hal itu dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan Roger (1974) yang mengungkapkan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan (Soekidjo Notoatmojo. 2000:85). secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak. dalam hal pemberian dan penyediaan makanannya. praktek bidan. Penduduk dimanapun akan beruntung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usianya dan keadaan fisiologisnya (Agus Krisno. penimbangan anak. 2000:1). 2004:13-14).

Ketidaktahuan dapat menyebabkan kesalahan pemilihan dan pengolahan makanan. Konsumsi pangan yang tidak cukup energi biasanya juga kurang dalam satu atau lebih zat gizi esensial lainnya. . 2004:15). sehingga untuk menjamin pertumbuhan. Menurut Suhardjo (1986:31). suatu hal yang menyakinkan tentang pentingnya gizi didasari pada 3 kenyataan yaitu : 1) status gizi seseorang yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. 1999: 70). Pemilihan makanan ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang bahan makanan. perkembangan dan kesehatan balita maka perlu asupan gizi yang cukup (Agus Krisno. Kekurangan gizi dapat disebabkan karena pemilihan bahan makanan yang tidak benar. pemeliharaan dan energi. Konsumsi energi dan protein yang kurang selama jangka waktu tertentu akan menyebabkan gizi kurang. 2003:25). Kuantitas menunjukan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. 3) ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. meskipun bahan makanan tersedia (Suharjo. 2) setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal.40 kekurangan gizi. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh didalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain.

Supariasa. 1999:82. 2004:20. Yayuk Farida.2 Kerangka Teori Pendidikan Pengetahuan Daya beli Pola pemberian MP-ASI Pendapatan Sosial budaya Konsumsi makanan Status Gizi Balita Jumlah Keluarga Pelayanan kesehatan Penyakit Infeksi Gambar 1 Kerangka Teori (Sumber: Modifikasi Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. 2002:33) .41 2.

1 Kerangka Konsep Kerangka konsep pada penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Variabel Bebas Pengetahuan ibu tentang Makanan Pendamping ASI Pola pemberian makanan pendamping ASI Variabel Pengganggu Pendapatan Keluarga Jarak Pelayanan Kesehatan Penyakit Infeksi pada Balita Pendidikan Ibu Variabel Terikat Status Gizi Balita Gambar 2 Kerangka Konsep Keterangan : : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti 3. 29 .42 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Hipotesis Mayor : Ada hubungan antara pengetahuan ibu dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora.2.2 Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.

kurang jika < 60% . 3.2.2.2.2 Ada hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora.1 Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora.2 Hipotesis Minor : 3. baik jika ≥ 100% AKG 2. Definisi Operasional Variabel (1) Variabel bebas: Tingkat ibu makanan pendamping ASI Variabel bebas: Pola pemberian makanan pendamping Adalah jenis dan jumlah makanan dan minuman yang benarbenar dikonsumsi oleh balita Adalah ibu pertanyaan Definisi Operasional (2) menjawab dengan benar jawaban benar jawaban benar Sumber : Yayuk Farida.2.2004: 118 Menghitung tingkat konsumsi energi dan protein. 3.43 3. sedang jika 80-90% AKG Skala : ordinal (1) baik (2) sedang (3) kurang (4) defisit alat Ukuran (3) Skala (4) Skala : Ordinal (1) baik (2) cukup (3) kurang alat pengukuran : kuesioner kemampuan 1.3 Definisi Operasional Adapun definisi operasional dan skala pengukuran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 4. baik jika > 80% jawaban yang 2.2. 1. cukup jika 60-80% pengetahuan berhubungan ASI makanan pendamping 3.

44 (1) ASI (2) (4) 3. gizi lebih jika > 2 SD 2.5 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4 Jenis dan Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research) yaitu menjelaskan hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen melalui pengujian hipotesis.5. deficit jika < 70% AKG Sumber: Supariasa. gizi baik jika ≥ -2 SD sampai 2 SD 3. .2002:13 Skala : ordinal (1) gizi lebih (2) gizi baik (3) gizi kurang (4) gizi buruk alat pengukuran : dacin dengan pengukuran BB/U (5) pengukuran : recall 2x24 jam 3. 3.1 Populasi Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah ibu balita yang memiliki balita berumur 4-24 bulan yang ada di desa Sendangharjo Kecamatan Blora Kabupaten Blora sebanyak 86 responden. kurang jika 7080%AKG 4. Metode yang digunakan berupa survey dengan pendekatan cross sectional dimana variabel bebas dan variabel terikat yang terjadi pada obyek penelitian diobservasi dan diukur dalam waktu yang bersamaan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dari keduanya. 2001:114 Variabel terikat: Status Gizi Adalah keadaan seseorang akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut 1. gizi kurang jika < -2 SD sampai ≥ -3 SD 4. gizi buruk jika < -3 SD Sumber : Depkes.

2 Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki balita usia 4-24 bulan yang terdapat dalam populasi dan memenuhi kriteria inklusi dan esklusi. 2..00) Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah 1. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: 1.. dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Ibu yang memiliki balita yang berusia 4-24 bulan dan bersedia jadi responden 2.. Balita tidak mengalami sakit (infeksi/ISPA) pada satu bulan terakhir 4.96 = proporsi (50%) = presisi (Stanley Lemeshow.Rumus 1 d ( N − 1) + Z 2 1 − a / 2 ⋅ p (1 − p ) Keterangan : n N Z 21 − a / 2 = jumlah sampel = total populasi = derajat kepercayaan (95%) = 1. Menetap di desa Sendangharjo.000. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu total sampling. Pendidikan ibu minimal SMP/ sederajat 5. 1997: 54) P D . masih dalam wilayah kerja puskesmas Medang 3. Tidak menetap di desa Sendangharjo Untuk perhitungan besar sampel menggunakan rumus: Z 2 1 − a / 2 ⋅ p (1 − p ) N n= 2 ..45 3.. Ibu yang tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian. Pendapatan keluarga diatas UMR (Rp 450..5.

01 ⋅ 84 + 1.2 Formulir recall 2 x 24 jam Digunakan untuk mengetahui pola pemberian makanan pendamping ASI.96 ⋅ 0.6.4 = 32 Jadi jumlah sampel minimalnya adalah 32 responden.5(1 − 0. yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.96 ⋅ 0.6.5 ⋅ 0. 3.5 ⋅ 0.46 Besar sampel minimalnya adalah: n= Z 2 1 − a / 2 ⋅ p (1 − p ) N d 2 ( N − 1) + Z 2 1 − a / 2 ⋅ p (1 − p ) 1.1 Kuesioner Digunakan untuk mengetahui mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI.5 42.1 (86 − 1) + 1. Adapun penilaian kuesioner pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI adalah sebagai berikut : Jika jawaban benar : skor 1 Jika jawaban salah : skor 0 3.96 ⋅ 0.5(1 − 0.5 ⋅ 86 0. .5) 2 n= n= 1.34 n= n = 31.5)86 0.96 ⋅ 0.14 1. sedangkan dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah sebanyak 57 responden.6 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.

1 Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 3.6. untuk menghitung status gizi balita dengan pengukuran BB/U.3 Timbangan (dacin) Digunakan untuk mengukur berat badan balita. dan data jumlah balita umur 4-24 bulan di desa Sendangharjo.6.7. sampel dan data-data yang mendukung penelitian ini seperti monografi desa.4 Mikrotoa Digunakan untuk mengukur tinggi badan. Yang digunakan untuk menghitung AKG (Angka Kecukupan Gizi) yang kemudian dibandingkan dengan banyaknya konsumsi makanan balita.1.2002:93). 3. .2 Metode observasi Metode observasi adalah studi yang disengaja sistemik tentang fenomena sosial dan gejala-gejala fisik dengan jalan mengamati dan mencatat (Soekidjo Notoatmojo.7.7.1 Metode dokumentasi Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan berbagai sumber tulisan yang berkenaan dengan obyek penelitian. 3.1.47 3. Metode observasi ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan gizi dan melihat langsung pola pemberian makanan pendamping ASI serta status gizi balita.7 Teknik Pengambilan Data 3. metode ini dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi. 3.

Pengukuran validitas menggunakan bantuan komputer dengan menggunakan program SPSS. yang kemudian tidak digunakan.2.2 Uji Validitas dan Reabilitas 3.7.7. . 2002 :129). 2002:102). Berdasarkan hasil uji validitas angket penelitian kuesioner pengetahuan tentang gizi dengan jumlah 30 responden dan terdiri dari 28 pertanyaan. Pengukuran dinyatakan valid bila nilai korelasi hitung yang didapatkan lebih besar dari nilai korelasi tabel yang didapatkan dari korelasi Product Moment. 23 karena nilai korelasi hitung lebih kecil dari nilai korelasi table. menunjukkan bahwa pertanyaan dikatakan tidak valid yaitu nomor 1.48 3.1 Uji Validitas Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang diukur (Soekidjo Notoatmodjo. untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu dan pola pemberian makanan pendamping ASI. 3. 17. Dalam penelitian ini wawancara menggunakan panduan kuesioner sehingga responden tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda tertentu. Metode wawancara ini dilakukan secara langsung dengan ibu-ibu yang mempunyai balita umur 4-24 bulan yang memenuhi kriteria sampel.1.3 Metode wawancara Metode wawancara adalah dimana peneliti mendapatkan keterangan dari seseorang sasaran penelitian (responden) melalui pertemuan atau percakapan(Soekidjo Notoatmojo.7.

49 3.7.2.2 Reabilitas Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu data pengukur dapat diandalkan atau dapat dipercaya. Pengukuran reliabilitas menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS. Hasil pengukuran dengan jumlah responden uji coba 30 responden didapatkan bahwa nilai alpha kuesioner pengetahuan tentang makanan pendamping ASI adalah 0,875 dan r tabel product moment adalah 0,361, pengukuran dinyatakan reliabel karena nilai alpha lebih besar dari r tabel.

3.9 Teknik Analisis Data Pengolahan data dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : 3.9.1 Editing : Untuk memeriksa kelengkapan data yang diperoleh melalui koesioner dan wawancara 3.9.2 Koding : Memberi kode pada masing-masing jawaban untuk memperoleh pengolahan data. 3.9.3 Entri data : Proses pemindahan data ke dalam media komputer agar diperoleh data masukan yang siap diolah 3.9.4 Tabulasi : mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian dimasukkan dalam table yang sudah dimasukan. 3.9.5 Analisis data

3.10 Analisis Data Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

50 3.10.1 Analisis Univariat Analisis ini dilakukan pada masing-masing variabel. Hasil ini berupa distribusi dan prosentase pada variabel. 3.10.2 Analisis Bivariat Analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi. Untuk uji statistik data dengan skala ordinal dan data ordinal menggunakan uji statistik Chi Square karena sesuai dengan data yang digunakan. Taraf kepercayaan 95% dengan nilai kemaknaan 5%. Untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, maka digunakan koefisien kontingen (CC). Kriteria keeratan hubungan dengan menggunakan koefisien kontingen sebagai berikut : 1) 0,00 - 0,19 = hubungan sangat lemah 2) 0,20 - 0,39 = hubungan lemah 3) 0,40 – 0,59 = hubungan cukup kuat 4) 0,60 – 0,79 = hubungan kuat 5) 0,80 – 1,00 = hubungan sangat kuat (Sugiyono, 2002:216) Kemudian data dimasukkan dalam komputer dan diolah dengan menggunakan program SPSS versi 11.0.

51

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 4.1.1

Deskripsi Data Gambaran Umum Desa Sendangharjo merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan

Blora kabupaten Blora dengan luas wilayah 746.663 Km2 yang meliputi 5 dukuh yaitu dukuh Sendang, dukuh Medang, dukuh Polaman, dukuh Kedawung, dan dukuh Pilangrejo. Desa Sendangharjo mempunyai batasan-batasan wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Desa Ngampel, kecamatan Blora

Sebelah Selatan : Desa Purwosari, kecamatan Blora Sebelah Barat Sebelah Timur 4.1.2 : Desa Sitirejo, kecamatan Tunjungan : Desa Tempuran, kecamatan Blora

Sarana Kesehatan Untuk sarana kesehatan, di desa Sendangharjo terdapat 1 Puskesmas, yang

membawahi 5 pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang terdapat di 5 dukuh dalam desa Sendangharjo. Sedangkan untuk bidan desa, hanya terdapat 2 bidan desa. 4.1.3 Demografi Jumlah penduduk di desa Sendangharjo sebanyak 3.223 jiwa. Yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 1.587 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 1.636 jiwa.

38

4. jumlah responden dengan umur 30-34 tahun merupakan kelompok umur yang terbanyak yaitu sebanyak 19 orang (33.7).1. dan distribusi yang terkecil adalah umur 40-45 tahun sebanyak 1 orang (1. maka diperoleh distribusi umur responden adalah sebagai berikut : Umur Ibu 19 20 18 16 14 12 17 12 8 Jumlah 10 8 6 4 2 0 20-24 tahun 25-29 tahun 30-34 tahun 1 35-40 tahun 40-45 tahun Gambar 3 Distribusi Frekuensi Menurut Umur Ibu Berdasarkan grafik diatas maka dapat diketahui dari 57 responden yang diteliti. 4.4.4 Karakteristik Responden 4.1.52 4.2 Tingkat Pendidikan Responden Berdasarkan penelitian distribusi tingkat pendidikan responden adalah sebagai berikut : .1 Umur Responden Berdasarkan penelitian.3 %).1.

4.1.53 Tingkat Pendidikan Ibu 35 30 25 20 Jumlah 15 10 5 0 SLTP SLTA Akademi / PT 34 17 6 Gambar 4 Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendidikan Ibu Berdasarkan distribusi tingkat pendidikan diatas dapat diketahui bahwa responden terbanyak pada responden dengan pendidikan SLTP sebanyak 34 orang (59.6%).4. sedangkan yang terkecil pada responden dengan tingkat pendidikan Akademik/Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 6 orang (10.3 Pekerjaan Responden Berdasarkan penelitian distribusi pekerjaan responden adalah sebagai berikut : Status Pekerjaan Responden 35 30 25 Jumlah 20 15 10 5 0 PNS Petani Ibu RT 32 12 4 Gambar 5 Distribusi Pekerjaan Responden .6%).

5 Karakteristik Balita 4.1 Umur Balita Dalam penelitian ini dapat balita dapat diklasifikasikan berdasarkan umur antar 4-12 bulan dan 13-24 bulan.2.1.4%). besarnya distribusi balita menurut umur adalah sebagai berikut : Umur Balita 35 35 30 25 20 Jumlah 15 10 5 0 22 4-12 bln 13-24 bln Gambar 6 Distribusi Frekuensi Menurut Umur Balita Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa distribusi umur balita yang pada rentan umur 4-12 bulan yaitu sebanyak 22 balita (38.1 Hasil Penelitian Analisis Univariat Analisis univariat dalam penelitian yang dilakukan di desa Sendangharjo kecamatan Blora kabupaten Blora ini meliputi tingkat pengetahuan ibu tentang . 4.2 4.6%) lebih sedikit daripada rentan umur 13-24 bulan sebanyak 35 balita (61.1. 4.54 Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa jumlah ibu yang terbanyak adalah bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 32 orang (56%). sedangkan yang terkecil pada ibu yang bekerja sebagai PNS hanya 4 orang (7 %).5.

sedang dan baik. kurang dan defisit.1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini. 4. Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI 35 30 25 Jumlah 25 27 20 15 10 5 0 Kurang Cukup Baik 5 Gambar 7 Distribusi Frekuensi Menurut Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI Dari grafik diatas menunjukkan bahwa ibu yang memiliki tingkat pengetahuan ibu yang paling banyak terdapat pada tingkat pengetahuan baik yaitu sebesar 27 orang (47 %).2.2. pola pemberian makanan pendamping ASI dan tingkat status gizi balita. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini.1.2 Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI Pola pemberian makanan pendamping ASI dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung tingkat konsumsi energi dan protein balita.55 makanan pendamping ASI. sedang. . 4.1 Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI Pengetahuan ibu tentang Makanan Pendamping ASI dikelompokkan menjadi 3 kriteria yaitu kurang. 1) Tingkat konsumsi Energi Tingkat konsumsi energi dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu baik.

2 %). sedang dan baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut : Pola Pemberian MP-ASI Menurut TKP 35 30 25 Jumlah 33 20 15 10 5 0 Defisit Kurang Sedang Baik 12 6 7 Gambar 9 Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Protein . 2) Tingkat Konsumsi Protein Tingkat konsumsi protein dalam penelitian ini dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu defisit.56 Pola Pemberian MP-ASI menurut TKE 45 40 35 30 25 Jumlah 20 15 10 5 0 40 9 4 Defisit Kurang Sedang 4 Baik Gambar 8 Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Energi Dari grafik diatas menunjukkan bahwa tingkat konsumsi energi dalam kategori defisit merupakan yang terbesar yaitu sebesar 40 orang (70. kurang.

2 Analisa Bivariat . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini : Status Gizi Balita 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 43 Jumlah 13 0 buruk kurang baik 1 lebih Gambar 10 Status Gizi Balita Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa status gizi balita di desa Sendangharjo Kecamatan Blora kabupaten Blora mempunyai status gizi yang baik sebesar 43 balita (74 %) dan tidak terdapat gizi buruk dan tidak terdapat gizi buruk. 4.3 %).1.3 Status Gizi Balita Status gizi balita dalam penelitian ini dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu gizi lebih. gizi baik.2.9 %) dan tingkat konsumsi protein terkecil pada tingkat konsumsi protein deficit sebesar 7 orang (12.57 Dari grafik diatas menunjukkan bahwa tingkat konsumsi protein dalam kategori baik merupakan yang terbesar yaitu sebesar 33 orang (57. 4. gizi kurang dan gizi buruk.2.

variabel pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein tabulasi pertama terdiri dari kategori defisit. lebih. Setelah penggabungan sel. . dan tabulasi yang kedua terdiri dari kategori pengetahuan kurang serta pengetahuan cukup dan baik. jika tidak memenuhi syarat uji chi square maka dipakai uji fisher untuk tabel 2 x 2 sebagai uji alternatifnya dan penggabungan sel sebagai langkah alternatif uji chi square untuk tabel selain 2 x 2 dan 2 x K sehingga terbentuk tabel B x K yang baru. sedang. baik. pengetahuan baik. baik. kurang. cukup. kurang. kurang. oleh karena itu tabulasi silang dilakukan 2 kali tabulasi (Sopiyudin. pengetahuan cukup. uji hipotesis dipilih sesuai dengan B x K tersebut. Dalam penelitian ini untuk variabel tingkat pengetahuan tentang pemberian makanan pendamping ASI dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu baik. 2004 :17) Tabulasi yang pertama terdiri dari kategori pengetahuan kurang. Dalam melakukan uji chi square agar memenuhi syarat tabel harus 2 X 2. cukup. kurang. defisit dan untuk variabel status gizi dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu buruk. sedangkan variabel pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein dikategorikan menjadi 4 kategori yaitu baik. dan tabulasi yang kedua terdiri dari kategori defisit dan kurang serta cukup dan baik Variabel status gizi tabulasi pertama terdiri dari kategori buruk.58 Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji statistik yaituuji chi square.

lebih tabulasi yang kedua terdiri dari kategori buruk dan kurang serta baik dan lebih.7%.3 7. Sedangkan ibu balita dengan tingkat pengetahuan tentang MP-ASI yang sedang dan baik pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 7.003 lebih kecil dari 0.05 . baik. 4.5 100 0.003 Nilai p Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa ibu balita dengan tingkat pengetahuan tentang MP-ASI yang kurang pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 92.3%.59 kurang.2. maka dilakukan uji fisher diperoleh nilai p sebesar 0.5 54.7 100 20 24 44 Baik dan Lebih F % 45.5%). lebih rendah dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (54.1 Hubungan Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI dengan Status Gizi Tabel 5 Hubungan Pengetahuan dan Status Gizi Tingkat Pengetahuan tentang MP-ASI Kurang Sedang dan Baik Total 12 1 13 Status Gizi Buruk dan Kurang F % 92.5%). lebih tinggi dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (45.2. Berdasarkan hasil analisis menggunakan chi square yang dilakukan terhadap pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi tidak memenuhi syarat karena terdapat sel yang nilainya kurang dari 5.

4%).027 Konsumsi Buruk dan Kurang Baik dan Lebih Nilai p Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa. balita tingkat konsumsi energi defisit dan kurang pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 100 %. lebih tinggi dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (70.6 100 0.05). Sedangkan balita yang memiliki tingkat konsumsi energi .368.60 (0.003 < 0.2. 4. Berdasarkan koefisien kontingen dapat dilihat bahwa antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ibu dengan status gizi mempunyai hubungan yang rendah karena nilai koefisien kontingensi 0.2.4 29. sehingga Ha diterima yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita umur 4-24 bulan di desa Sendangharjo kecamatan Blora kabupaten Blora.2 Hubungan Antara Pola Pemberian Makanan pendamping ASI dengan Status Gizi Balita 1) Hubungan Pola pemberian MP-ASI Menurut TKE dan Status Gizi Tabel 6 Hubungan antara Pola Pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Energi dengan Status Gizi Status Gizi Tingkat Energi F Defisit dan Kurang Sedang dan Baik Total 13 0 13 % 100 0 100 31 13 44 F % 70.

5% lebih tinggi dari pada balita yang memiliki status gizi baik .5 100 5 39 44 Baik dan Lebih F % 11. lebih rendah dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (29.6%).027 < 0.283 yang artinya tingakat hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi sedang.001 Nilai p Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa balita tingkat konsumsi protein defisit dan kurang pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 61. Berdasarkan hasil analisis menggunakan chi square yang dilakukan terhadap pola pemberian MP-ASI menurut tingkat konsumsi energi dengan status gizi tidak memenuhi syarat karena terdapat sel yang nilainya kurang dari 5.05.6 100 0. 2) Hubungan Pola pemberian MP-ASI menurut TKP dan Status Gizi Tabel 7 Hubungan antara Pola Pemberian MP-ASI Menurut Tingkat Konsumsi Protein dengan Status Gizi Tingkat Konsumsi Protein Status Gizi Buruk dan Kurang F Defisit dan Kurang Sedang dan Baik Total 8 5 13 % 61. sehingga Ha dinyatakan diterima bahwa ada hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita. dengan nilai koefisien kontingen sebesar 0. maka dilakukan uji fisher diperoleh nilai p sebesar 0.61 sedang dan baik yang memiliki status gizi buruk dan kurang sebesar 0 %.5 38.4 88.

5% lebih rendah dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (88. 4.62 dan lebih (11.1 Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Status Gizi Balita Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa ibu balita dengan tingkat pengetahuan tentang MP-ASI yang kurang pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 92. Sedangkan balita yang memiliki tingkat konsumsi protein sedang dan baik pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 38.001 < 0.05. lebih tinggi dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (45. Sedangkan ibu balita dengan tingkat pengetahuan tentang MP-ASI yang sedang dan baik pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 7.4%). sehingga Ha dinyatakan diterima bahwa ada hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi protein dengan status gizi balita. maka dilakukan uji fisher diperoleh nilai p sebesar 0.6%).003 < 0. Berdasarkan hasil analisis menggunakan chi square yang dilakukan terhadap pola pemberian MP-ASI menurut tingkat konsumsi protein dengan status gizi tidak memenuhi syarat karena terdapat sel yang nilainya kurang dari 5.3%.3 Pembahasan 4.5%).448 yang artinya hubungan yang sedang antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita.05 yang artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan keeratan .7%.3.5%). Didapatkan Nilai p 0. lebih rendah dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (54. dengan nilai koefisien kontingen sebesar 0.

Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan. yang menyatakan bahwa semakin banyak pengetahuan seseorang maka akan lebih banyak mempergunakan rasio dalam pemberian makanan pada bayi dan pengetahuan yang baik untuk konsumsi sehingga bayi tidak akan menderita kurang gizi. konsumsi anak. Adanya hubungan ini juga sesuai dengan pernyataan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ahmad Djaeni (1996: 12-13).63 hubungan sebesar 0. 1999: 72). 2003:165). Oleh sebab itu meningkatkan ketrampilan setiap anggota masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri adalah sangat penting. Salah satu penyebab masalah gizi di Indonesia adalah karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan di bidang memasak. 2003:121). tradisi dari orang atau masyarakat yang bersangkutan (Soekidjo Notoatmodjo. sikap. Hal ini berarti bahwa masing-masing individu didalam msyarakat seyogyanya mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang baik terhadap caracara pemeliharaan kesehatannya (Soekidjo Notoatmodjo.368 yang artinya ada hubungan yang lemah antara pengetahuan tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi. . 2003:26). keragaman bahan dan keragaman jenis masakan jenis masakan yang mempengaruhi kejiwaan (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. kepercayaan. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Soekidjo Notoatmodjo.

lebih rendah dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (29.4%).6%). tetapi tingkat keeratan hubungan yang didapatkan berbeda.64 Hal ini sejalan dengan teori Green tentang perilaku manusia dari tingkat kesehatan yaitu perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama dimana salah satu faktor yaitu predisposisi yang didalamnya terdapat pengetahuan (Soekidjo Notoatmodjo. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang terdahulu (Dwi Jata.283 yang artinya ada hubungan yang sedang.05 yang artinya ada hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan status gizi balita dengan keeratan hubungan sebesar 0. 2003:13).2. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain (Soekidjo Notoatmodjo. lebih tinggi dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (70. 2000) bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi pada bayi umur 4-24 bulan.3.2 Hubungan antara Pola Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi Balita 4. Kondisi status gizi baik dapat dicapai bila tubuh memperoleh cukup zat-zat yang akan digunakan secara efisien. 2003:167).1 Hubungan Pola pemberian MP-ASI Menurut TKE dan Status Gizi Berdasarkan hasil penelitian ini menyatakan bahwa.027 < 0. 4. dengan nilai p sebesar 0. sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan fisik.3. Sedangkan balita yang memiliki tingkat konsumsi energi sedang dan baik yang mamiliki status gizi buruk dan kurang sebesar 0 %. . balita tingkat konsumsi energi defisit dan kurang pada balita balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 100 %. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang.

kemampuan kerja untuk mencapai tingkat kesehatan optimal (Depkes RI. yang terbentuk dari kebiasaan dalam masyarakatnya. yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pola pemberian MP-ASI dan tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi pada balita usia 4-12 bulan tetapi tingkat dengan tingkat ketelitian berbeda. Pola makan kelompok masyarakat tertentu juga menjadi pola makan anak. Konsumsi energi dan protein yang kurang selama jangka waktu tertentu akan menyebabkan kurang gizi sehingga untuk menjamin pertumbuhan. hal ini perlu diperhatikan di samping kebutuhan zat gizi untuk hidup sehat dan bertumbuh kembang. perkembangan dan kesehatan balita. 2000). Kecukupan zat gizi ini berpengaruh pada kesehatan dan kecerdasan anak.65 perkembangan otak. maka perlu asupan gizi yang cukup (Agoes Krisno.2 Hubungan Pola pemberian MP-ASI menurut TKP dan Status Gizi . Seorang anak dapat memiliki kebiasaan makan dan selera makan. maka pengetahuan dan kemampuan mengelola makanan sehat untuk anak adalah suatu hal yang amat penting (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. Jika menyusun hidangan untuk anak. Pola makan mempengaruhi penyusunan menu. 2003: 1). Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain (Soegeng Santosa dan Anne Lies Ranti. 1999: 31) Konsumsi pangan yang tidak cukup energi biasanya juga kurang dalam satu atau lebih zat gizi esensial lainnya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang sebelumnya ( Carnoto SM. 1999: 41). 4. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. 2004: 15).3.2.

4%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang sebelumnya ( Carnoto SM. Kebutuhan protein bagi bayi relatif lebih besar dari orang dewasa.5% lebih rendah dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (88. 4. dengan keeratan hubungan sebesar 0. maka timbul penyakit gizi.001 < 0.6%). Ada tingkatan kesehatan gizi lebih dan kesehatan gizi kurang. Umumnya pada anak balita didera penyakit gizi kurang dan gizi lebih (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. 1995: 5). Sedangkan balita yang memiliki tingkat konsumsi protein sedang dan baik pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 38.005 yang artinya ada hubungan antara pemberian MP-ASI menurut Tingkat Konsumsi Protein dengan status gizi balita.66 Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa balita tingkat konsumsi protein defisit dan kurang pada balita yang memiliki status gizi buruk dan kurang adalah sebesar 61. 2000). Akibat dari kesehatan gizi yang tidak baik. dengan nilai p sebesar 0.448 yang artinya hubungannya sedang. Keadaan kesehatan gizi tergantung dari tingkat konsumsi yaitu kualitas hidangan yang mengandung semua kebutuhan tubuh.5 % lebih tinggi dari pada balita yang memiliki status gizi baik dan lebih (11. karena bayi mengalami pertumbuhan yang pesat (Depkes RI. adalah sebagai berikut : .4 Hambatan dan Kelemahan Hambatan dan kelemahan dalam penelitian ini terdapat. 1999: 59). yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pola pemberian MP-ASI dan tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi pada balita usia 4-12 bulan tetapi tingkat dengan tingkat ketelitian berbeda.

1 Bias recall. 4.4. sehingga peneliti harus menanyakan secara perlahan sehingga responden dapat mengingat makanan yang dikonsumsi balita mereka. meliputi ketelitian dan ketepatan dalam melakukan pengukuran jumlah makanan yang dikonsumsi berdasarkan URT (Ukuran Rumah Tangga).2 Bias pengukuran.4. sehingga kepandaian peneliti dalam mengenal responden sangat berpengaruh sehingga responden dapat mengisi kuesioner dengan jujur. meliputi daya ingat responden dalam mengingat makanan dan minuman yang benar-benar dikonsumsi balitanya. .67 4.4. 4.3 Kejujuran responden dalam mengisi kuesioner. sehingga peneliti menggunakan buku penilaian status gizi sebagai pedoman pengukuran jumlah makanan.

1 Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI.2.2.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 SIMPULAN Simpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil analisis data penelitian adalah sebagai berikut : 5.1. 5.2. 5.1 SARAN Bagi Ibu Balita Ibu balita hendaknya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnya gizi bagi pertumbuhan.2 Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Hendaknya memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk meneliti faktorfaktor lain yang belum diteliti dalam penelitian ini yang berhubungan dengan status gizi balita. 5. dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. perkembangan dan kesehatan balita. 5.2.3 Bagi Puskesmas Perlu adanya program pemberian makanan pendamping ASI secara tepat sesuai dengan kebutuhan balita.4 Bagi Peneliti .2 5.

Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI . http:// www. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Gizi. 2005. 1996. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Praktek Ibu dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Anak pada 4-24 Bulan di Batuan Kecamatan Sukawati Kabupaten Bali. 2000. 1995. Profil Kesehatan Jawa Tengah 2003. Daftar Komposisi Bahan Makanan.go. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi di Indonesia Jilid II. Pemantauan Pertumbuhan Balita. 1996.69 Hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut yang meneliti faktor-faktor lain yang berhubungan dengan status gizi balita DAFTAR PUSTAKA 55 Ahmad Djaeni S. Malang: UMMPRESS Deddy Muhtadi.hmrpjs. 1996. Jakarta: Puspa Swara Jihad Santoso. Jakarta: Dian Ratna .blogspot. 2000. Jakarta: Departemen Kesehatan RI . 2006. Jakarta: Penebar Swadaya Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Memilih Makanan Seimbang Bagi Bayi. Makanan Sehat untuk Bayi. Profil Kesehatan Kabupaten Blora Direktorat Gizi Depkes RI. Jakarta: Bhratara Dwi Jata. Makanan pendamping Air Susu Ibu.id Dinas Kesehatan Blora. Jakarta: Dian Ratna Agus Krisno B.2003.com .depkes. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Dinas kesehatan Propinsi Jawa Tengah.2002. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi di Indonesia Jilid I. 2000. http://www. 2001. Semaran: UNDIP Handrawan Nadesul. Gizi untuk Bayi: ASI. Susu Formula dan Makanan Tambahan.

Semarang: UPT UNNES Press 56 Pradipta. Jakarta: Rineka Cipta Soekirman. dkk. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Uji Hipotesis dengan Manggunakan SPSS Program 12 Jam. Bumi Aksara Suharsimi Arikunto. Jakarta: EGC Maman Rachman. Pangan Gizi dan Pertanian.go. 2004. Pedoman Penyusunan Skripsi Mahasiswa Program Strata I. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 1986. Rineka Cipta . Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Sopiyudin Dahlan. Petunjuk Praktikum Gizi Kesehatan Masyarakat. 1999. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.2005. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Alfabeta Suharjo. 2005. 1997.jawatengah. Profil Kesehatan Jawa Tengah 2005. Dasar-Dasar MetodePenelitian Klinis.2003.Penilaian Status Gizi. 2002. Jakarta: PT. Sagung Seto Sugiono.70 Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarkat FIK UNNES. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. 1995. 2002. Perencanaan Pangan dan Gizi. Bandung: CV. http://www. Jakarta: Papas Sinar Sinanti Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. 2006.id Sjahmien Moehji. 2000. dkk. Metode Penelitian Kesehatan.1997. Jakarta: Rineka Cipta . Stanley Lemeshow. Statistik Untuk Penelitian. Jakarta: UI Press . 2002. 2003. Kesehatan dan Gizi. 2000. Jakarta: EGC Soekidjo Notoatmodjo. Ilmu Gizi 2: Penganggulangan Gizi Buruk. I Dewa Nyoman Supariasa. Sudigdo. Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Tumbuh Kembang Anak. 2003.Arkan. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. 2003. Jakarta: Rineka Cipta Soejtiningsih. 2002. Semarang: UPT UNNES Press Oktia Woro KH. Jakarta: PT. Jakarta: Rineka Cipta . Filsafat Ilmu. Semarang : UNNES. dkk.

Jakarta: Sinar Grafika Yayuk Farida. 2004. dkk. Undang-Undang No. Kimia Pangan dan Gizi. 2002. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama . Pengantar Pangan dan Gizi.71 Undang-Undang Kesehatan 1992. 23 Tahun 1992. Jakarta: Penebar Swadaya Winarno.1992.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful