P. 1
Jurnal At-Tasyri' volume 1 nomor 2

Jurnal At-Tasyri' volume 1 nomor 2

|Views: 670|Likes:
Published by Khairul Umami
AT-TASYRI’ adalah jurnal Prodi Mu’amalah memuat solusi problematika
ekonomi kontemporer dalam perspektif hukum Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.
AT-TASYRI’ adalah jurnal Prodi Mu’amalah memuat solusi problematika
ekonomi kontemporer dalam perspektif hukum Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Khairul Umami on Oct 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

Sections

Abstract

Establishing the fnancial body based on the syariah law that infuence to
apply the economic values in activity of society. The existence of Syari’ah

Bank is to develop the syariah principle especially to apply its model in the

bussiness, such if the debitor does not execute the obligation meanwhile he
has an ability for it, so he due to be punished.

Key words: Nasabah, sanksi, utang

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG
MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

Fakultas Syari`ah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Asrama Pascasarjana
Kota Banda Aceh NAD, 23111, Email: Mahli_Ismail@yahoo.Com

(Studi atas Fatwa DSN)

150

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

A. Pendahuluan

Eksistensi perbankan sebenarnya untuk memudahkan kegiatan manusia
secara umum dengan prinsip mutualisme (saling menguntungkan). Untuk
mewujudkan prinsip tersebut, maka perbankan dan penggunanya (nasabah)

mesti mentaati aturan-aturan yang berlaku sehingga memberikan kenyamanan

dalam bertransaksi. Dalam konteks ini, penulis hanya menfokuskan uraian

tentang bagaimana prilaku mereka yang menundah pembayaran utang dan
solusi yang harus tempuh agar kegiatan perbankan tidak menjadi terkendala

karenanya.

Tulisan ini akan diuraikan secara sistematis dimulai dengan pengertian bank

hingga ke pokok permasalahan yang dimaksud.

1. Pengertian Bank

Bank berasal dari kata banque bahasa Perancis dan banco dalam bahasa Itali,

berarti peti atau bangku. Konotasi kata ini menunjukkan fungsi dasar bank

secara komersial, yaitu menyiratkan fungsi sebagai tempat penyimpan

benda-benda berharga seperti emas, berlian, uang dan sebagainya.1

Pada
abad 12 banco di Italia merujuk pada meja, tempat usaha menukar uang
(money changer) dalam transaksi bisnis yang luas yaitu membayar uang dan

jasa. Jadi fungsi dasar bank adalah menyediakan tempat untuk menitipkan

uang dengan aman dan menyediakan alat pembayaran untuk membeli

barang dan jasa.

2. Sejarah Hukum Perbankan Syari`ah di Indonesia

Pada era modern ini, fungsi bank konvensional sebagai lembaga Intermediasi2
adalah menerima simpanan dari nasabah dan meminjamkan kepada nasabah

lain yang membutuhkan dana. Atas simpanan para nasabah itu, bank

1 Iswardono Sp, Uang dan Bank, ( Yogyakarta: BPFE, 1994), hal. 50. Lihat juga Zainul Arifn,
Dasar-Dasar Manajemen Bank Syari`ah, ( Jakarta: AlvaBet, 2003), hal. 1

2 Undang-Undang nomor 10 Tahun 1998. Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 182. tentang
perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992, tentang perbankan, disebutkan bahwa
bank adalah Badan Usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau dalam bentuk lainnya dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

151

memberi imbalan berupa bunga, demikian pula atas pemberian pinjaman

itu bank mengenakan bunga.3

Peran Bank Konvesional amat besar dalam

memenuhi kebutuhan manusia. Fungsi dan kerja Bank Konvesional ini

telah mengadopsi secara meluas di dunia termasuk negara-negara yang

berpenduduk muslim.

Dalam operasional Bank Konvesional terdapat kegiatan-kegiatan yang belum

sesuai dengan syari`at Islam seperti menerima dan membayar bunga yang

sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi Islam di sisi lain. Karena itu untuk

mengembangkan perekonomian Islam perlu digalakkan dan ditingkatkan
pendirian Bank Syari`ah dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kelancaran

proses ekonomi Islam secara meluas. Agama merupakan suatu visi tentang

sesuatu yang ada di atas, dibalik, dan di dalam hal-hal yang senantiasa

berubah atau bersifat sementara; sesuatu yang nyata, tetapi tetap menunggu
untuk dinyatakan; sesuatu yang merupakan kemungkinan yang masih jauh,
tetapi sekaligus juga merupakan kenyataan besar yang sudah terwujud

sekarang ini sesuatu yang merupakan ideal tertinggi yang pantas dicita-

citakan, tetapi sekaligus juga sesuatu yang mengatasi segala dambaan.

Kesimpulan bahwa “Bank berdasarkan prinsip bagi hasil” merupakan istilah

bagi Bank Islam atau Bank Syariah baru dapat dipahami dari Penjelasan

Pasal 1, ayat (1) PP No. 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi
Hasil.4

Dalam penjelasan ayat tersebut ditetapkan bahwa yang dimaksud

dengan prinsip bagi hasil adalah prinsip mu`amalat berdasarkan Syari’at

dalam melakukan kegiatan usaha Bank. Melihat ketentuan-ketentuan yang
ada dalam PP No. 72 Tahun 1992, keleluasaan untuk mempraktekkan gagasan

perbankan berdasarkan Syari`at Islam terbuka seluas-luasnya, terutama

berkenaan dengan jenis transaksi yang dapat dilakukan. `Pembatasan hanya
diberikan dalam hal: 1. Larangan melakukan kegiatan usaha yang tidak

berdasarkan prinsip bagi hasil (maksudnya kegiatan usaha berdasarkan
perhitungan bunga) bagi Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

yang kegiatan usahanya semata-mata berdasarkan prinsip bagi hasil. Begitu

3 Ahmad Arif Rifan, MSI-UII.Net, 8-8-2005.

4 Iswardono Sp, Uang dan Bank, hal. 1.

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

152

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

pula Bank Umum atau BPR yang kegiatan usahanya tidak berdasarkan
prinsip bagi hasil dilarang melakukan kegiatan usaha yang berdasarkan
prinsip bagi hasil. 2. Kewajiban memiliki Dewan Pengawas Syariah yang
bertugas melakukan pengawasan atas produk perbankan baik dana

maupun pembiayaan agar berjalan sesuai dengan prinsip Syari’at, dimana
pembentukannya dilakukan oleh Bank berdasarkan hasil konsultasi dengan

Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada saat berlakunya UU No. 7 Tahun 1992,

selain ketiga PP tersebut di atas tidak ada lagi peraturan perundangan yang

berkenaan dengan Bank Islam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa

eksistensi Bank Islam yang telah diakui secara hukum positif di Indonesia,

belum mendapatkan dukungan secara wajar berkenaan dengan praktek
traksaksionalnya.

Hal ini dapat dilihat misalnya dari tidak seimbangnya jumlah dana yang
mampu dikumpulkan dibandingkan dengan penyalurannya di masyarakat.

Bagi BMI tidak ada kesulitan untuk mengumpulkan dana berupa tabungan
dan investasi dari masyarakat, namun untuk penyalurannya masih sangat
terbatas, mengingat belum adanya instrumen investasi yang berdasarkan
prinsip Syariah yang diatur secara pasti, baik instrumen investasi di Bank

Indonesia, Pemerintah, atau antar-Bank. Tidak mengherankan bilamana
dalam Laporan Keuangan BMI pada masa tersebut dapat ditemukan satu pos
anggaran atau account yang diberi istilah sebagai “Pendapatan Non Halal”,

yakni pendapatan yang didapatkan dari transaksi yang bersifat perbankan

konvensional.

Perkembangan lain yang patut dicatat berkaitan dengan perbankan Syariah

pada saat berlakunya Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
adalah berdirinya Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI). BAMUI

berdiri secara resmi tanggal 21 Oktober 1993 dengan pemrakarsa MUI dengan
tujuan menyelesaikan kemungkinan terjadinya sengketa muamalat dalam
hubungan perdagangan, industri, keuangan, jasa dan lain-lain di kalangan

umat Islam di Indonesia. Dengan demikian dalam transaksi-transaksi atau

perjanjian-perjanjian bidang perbankan Syariah lembaga BAMUI dapat
menjadi salah satu choice of forum bagi para pihak untuk menyelesaikan
perselisihan atau sengketa yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan transaksi

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

153

atau perjanjian tersebut. Perkembangan kemudian berkenaan dengan
BAMUI, melalui Surat Keputusan Majelis Ulama Indonesia No. Kep-09/MUI/
XII/2003 tanggal 24 Desember 2003 menetapkan di antaranya perubahan

nama BAMUI menjadi Badan Arbitrase Syari’ah Nasional (BASYARNAS)
dan mengubah bentuk badan hukumnya yang semula merupakan Yayasan

menjadi ‘Badan’ yang berada di bawah MUI dan merupakan perangkat
organisasi MUI. Meskipun pada saat berlakunya Undang-undang No.

7 Tahun 1992 perkembangan perbankan Syari`ah masih sangat terbatas,

namun sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Mariam Darus Badrul zaman,
SH merupakan salah satu tonggak sejarah yang sangat penting khususnya

di dalam kehidupan umat Islam dan pada umumnya bagi perkembangan

Hukum Nasional.

Dalam makalah yang berjudul “Peranan BAMUI Dalam Pembangunan
Hukum Nasional” beliau mengatakan sebagai berikut : “Undang-undang
Perbankan No. 7 Tahun 1992 membawa era baru dalam sejarah perkembangan
hukum ekonomi di Indonesia. Undang-undang tersebut memperkenalkan

“sistem bagi hasil” yang tidak dikenal dalam Undang-undang tentang Pokok

Perbankan No. 14 Tahun 1967. Dengan adanya sistem bagi hasil itu maka

Perbankan dapat melepaskan diri dari usaha-usaha yang mempergunakan

sistem “bunga”. Jika selama ini peranan Hukum Islam di Indonesia terbatas

hanya pada bidang hukum keluarga, tetapi sejak tahun 1992, peranan

Hukum Islam sudah memasuki dunia hukum ekonomi (bisnis).” Pada
tahun 1998 eksistensi Bank Islam lebih dikukuhkan dengan dikeluarkannya
Undang-undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang
No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dalam Undang-undang tersebut,
sebagaimana ditetapkan dalam angka 3 jo. angka 13 Pasal 1 Undang-undang
No. 10 Tahun 1998, penyebutan terhadap identitas perbankan Islam secara

tegas diberikan dengan istilah Bank Syari’ah atau Bank Berdasarkan Prinsip

Syari’ah. Pada tanggal 12 Mei 1999, Direksi Bank Indonesia mengeluarkan

tiga buah Surat Keputusan sebagai pengaturan lebih lanjut Bank Syari`ah

sebagaimana telah dikukuhkan melalui Undang-undang No.10 Tahun 1998,
yakni: 1. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/33/KEP/DIR tentang

Bank Umum, khususnya Bab XI mengenai Perubahan Kegiatan Usaha

dan Pembukaan Kantor Cabang Syariah; 2. Surat Keputusan Direksi Bank

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

154

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

Indonesia No. 32/34/KEP/DIR tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip
Syari`ah; dan 3. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR
tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syari`ah.

Selanjutnya berkenaan dengan operasional dan instrumen yang dapat

dipergunakan Bank Syariah, pada tanggal 23 Februari 2000 Bank Indonesia
secara sekaligus mengeluarkan tiga Peraturan Bank Indonesia, yakni: 1.
Peraturan Bank Indonesia No. 2/7/PBI/2000 tentang Giro Wajib Minimum
Dalam Rupiah Dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Yang Melakukan

Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah , yang mengatur mengenai

kewajiban pemeliharaan giro wajib minimum bank umum yang melakukan
kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah; 2. Peraturan Bank Indonesia No.
2/8/PBI/2000 tentang Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Prinsip Syariah,

yang dikeluarkan dalam rangka menyediakan sarana penanaman dana atau

pengelolaan dana antar bank berdasarkan prinsip syariah; dan 3.Peraturan
Bank Indonesia No. 2/9/PBI/2000 tentang Sertifkat Wadiah Bank Indonesia
(SWBI), yakni sertifkat yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti
penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip Wadiah yang merupakan
piranti dalam pelaksanaan pengendalian moneter semacam Sertifkat Bank
Indonesia (SBI) dalam praktek perbankan konvensional.

Berkenaan dengan peraturan-peraturan Bank Indonesia di atas, relevan
dikemukakan dalam hal ini mengenai tugas Bank Indonesia dalam menetapkan

dan melaksanakan kebiakan moneter berdasarkan prinsip syari`ah,
sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia (UUBI). Pasal 10 ayat (2) UUBI memberikan kewenangan

kepada Bank Indonesia untuk menggunakan cara-cara berdasarkan prinsip

syari`ah dalam melakukan pengendalianmoneter. Kemudian Pasal 11 ayat (1)
UUBI juga memberikan kewenangan kepada Bank Indonesi untuk mengatasi

kesulitan pendanaan jangka pendek suatu Bank dengan memberika

pembiayaan berdasarkan prinsip syari`ah untuk jangka waktu paling lama
90 (sembilan puluh) hari. Dipandang dari sudut lain, dengan demikian UUBI

sebagai undang-undang bank sentral yang baru secara hukum positif telah
mengakui dan memberikan tempat bagi penerapan prinsip prinsip syariah

bagi Bank Indonesia dalam melakukan tugas dan kewenangannya.

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

155

Di samping peraturan-peraturan tersebut di atas, terhadap jenis kegiatan,
produk dan jasa keuangan syariah, Bank Syari`ah juga wajib mengikuti
semua fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), yakni satu-satunya dewan
yang mempunyai kewenangan mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan,
produk dan jasa keuangan syariah,s erta mengawasi penerapan fatwa
dimaksud oleh lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia. Sampai
saat ini DSN telah memfatwakan sebanyak 43 fatwa, melingkupi fatwa

mengenai produk perbankan syari`ah, lembaga keuangan non-bank seperti

asuransi, pasar modal, gadai serta berbagai fatwa penunjang transaksi dan
akad lembaga keuangan syari`ah.

Kerjasama pemerintah dan para ulama untuk menyampaikan pesan sistem

ekonomi berdasarkan nilai-nilai Islam hendaknya terus dilakukan. Untuk

menjembatani kesenjangan para ulama dan ilmu ekonomi Islam, dilakukan

pelatihan dan pendidikan ekonomi/perbankan Islam kepada para ulama dan

di sisi lain para ekonom Islam dan Islamic bankers diharapkan juga terjun

menjadi tenaga pendidik di berbagai institusi pendidikan syariah. Kemajuan
sistem informasi dan teknologi dewasa ini juga membuka peluang belajar
syariah melalui internet. Dengan kemudahan ini seyogyanya tugas institusi
pendidikan di tanah air juga akan sangat terbantu.

Eksistensi Bank Syariah di Tanah Air telah mendapat tempat di masyarakat

luas. Karena itu, sosialisasi bank syariah di masa mendatang harus lebih
menonjolkan pemberian pemahaman tentang nilai tambah bank tersebut.

Sistem pendidikan keuangan Islam di berbagai tingkatan, berperan penting

untuk mendidik masyarakat tentang keunggulan bank syariah.

Faktor Sumber daya insani (SDI) dalam sistem perbankan Syariah tidak hanya

menentukan kinerja Bank Syariah, namun juga alat promosi dan edukasi bagi

masyarakat. Menciptakan masyarakat yang cenderung bertransaksi dengan

Bank Syariah mutlak ditentukan oleh sistem pendidikan yang akan mencetak

SDI yang beriman dan berilmu, ditambah peran serta para ulama.

3. Pengertian Murabahah

Murabahah merupakan jual beli barang pada harga asal dengan tambahan

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

156

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

keuntungan yang desepakati. Dalam murabahah penjual harus memberitahu
harga pokok produk yang ia beli/pesanan dan menentukan suatu tingkat
keuntungan sebagai tambahannya sesuai kesepakatan/`aqad. Pada dasarnya
murabahah memiliki feksibilitas yang luas yang diterapkan pada produk
pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi berupa domestic/

elektronik dan perumahan, dalam kontrak jangka pendek dengan sekali
`aqad.

4. Hukum Jaminan

Hukum jaminan diatur dalam buku ke II KUHPerdata yang berisi tentang
benda, hak kebendaan, warisan, tentang piutang yang diistimewakan, gadai
dan hipotik. Tentang benda dan hak kebendaan merupakan asas dari buku
ke II KUH Perdata. Waris dimasukkan ke dalam buku ke II KUHPerdata
karena pengaruh dari hukum Romawi. Sedangkan tentang piutang yang
diistimewakan mempunyai hubungan yang erat mengenai gadai dan
hipotik. Buku KUHPerdata memliki sistem tertutup. Artinya hak-hak

kebendaan di luar dari buku ke II tidak diperkenankan dan para pihak yang
membuat perjanjian tidak bebas dalam memperjanjikan hak kebendaan yang

baru. Namun pada kenyataannya pembuat undang-undang sendiri yang

menciptakan hak kebendaan yang baru dalam suatu perundang-udangan

di luar KUHPerdata, seperti: Creditverband dan Oogstverband. Selain itu

praktek dan yurisprudensi juga mengenal adanya lembaga hukum baru,
yang mempunyai ciri hak-hak kebendaan (fducia). Hukum Jaminan adalah
peraturan hukum yang mengatur tentang jaminan-jaminan piutang seorang

kreditur terhadap seorang debitur.

Untuk pembiayaan berskala besar dengan risiko tinggi, hal ini memerlukan
keterlibatan pemerintah selain Bank Syari`ah sebagai intermediator, dengan

menerbitkan instrumen sukuk. Ketika landasan hukum sukuk diterbitkan di
Tanah Air, diharapkan high risk fnancing bukan lagi menjadi kendala berarti.
Bahkan potensi dana-dana simpanan Syariah yang ditanam dalam bentuk
sukuk dapat disalurkan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan

pemerintah. Di samping memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka panjang,

sukuk juga dikenal sebagai instrumen yang likuid sehingga keberadaanya
di pasar keuangan Syariah diharapkan dapat mengatasi kendala risiko

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

157

likuiditas, risiko pasar, dan lain-lain.

Kerjasama antara Dewan Syariah Nasional (DSN), Bank Indonesia, lembaga

kajian perbankan syariah dan perbankan Syariah sendiri akan berkontribusi
dalam melihat kemungkinan pengembangan instrumen (produk) Bank

Syariah. Proses fnancial engineering yang sedang dan terus dilakukan

berbagai bank syariah dunia dapat menjadi salah satu rujukan terkait dengan

hal tersebut.

Secara umum salah satu faktor struktural yang menjadi penyebab
keterpurukan ekonomi rakyat adalah meluasnya kolusi, korupsi dan
nepotisme antara para biokrat, pengusaha besar dan para banker di Indonesia
dalam mengalokasikan sumber daya ekonomi hanya untuk kalangan mereka

sendiri. Dunia perbankan nasional diadikan pintu dan sarana tempat

pencurian dan perampokan uang rakyat dan Negara secara sestimatis, salah
satu caranya adalah dengan memanfaatkan kelemahan payung hukum dalam
dunia perbankan dan rusaknya system politik nasional, yang selanjutnya hal

ini melahirkan sebuah fenomina yang disebut dengan kredit mancet.5

Pada prinsipnya pembeli/pemesan/debitur setelah barang diterima, ia punya
kewajiban untuk melunasi hutangnya. Namun hutangnya belum lunas ia
telah menjual/mengalihkan hak milik barang/benda tersebut kepada pihak
ketiga, dan sekaligus menunda-nunda pembayan hutang. Oleh karena itu

pihak Bank akan mengambil sikap: Mengambil prosedur perdata untuk
mendapatkan kembali hutang (harga barang) dan mengklaim kerusakan

fnancial yang terjadi akibat penundaan pembayaran hutang. Bagaimana
sistem pengambilan dan penyitaan barang/benda sebagai jaminan dari
pembeli/pemesan/debitur yang sudah berada pada pihak ketiga.6

Bagaimana pandangan Islam terhadap hutang dan tindakan terhadap orang-

orang atau para pihak yang tidak memenuhi kewajibannya (bayar Hutang).

5 Ahmad Arif Rifan, MSI-UII.Net, 8-8-2005.

6 Yusuf Qardawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Alih bahasa Zainbal Arifn dan Dahlia
Husin (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal. 149.

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

158

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

Hutang timbul apabila terjadi pinjaman uang atau transaksi yang tidak tunai.

Islam menganjurkan sedapat mungkin untuk tidak berutang, namun jika

terpaksa berhutang diwajibkan segera membayar atau menepati akad atau
janji yang telah disepakati.7

Dalam hukum Islam seseorang diwajibkan untuk menghormati dan
mematuhi setiap perjanjian atau amanah yang dipercaya kepadanya.

Apabila seseorang telah mendapat keredit atau pembiayaan dari Bank, maka
ia setelah mendapat amanah dari orang lain (deposan atau sahib al-mal di

Bank). Jika debitur tersebut melakukan cidera janji, maka ia dapat dikatakan
telah melakukan wanprestasi, dapat/bisa dilakukan tindakan sesuai dengan
kondisi dan alasannya.8

Pada zaman sekarang ini dalam perbankan syari`ah ada muncul sikap
menunda-nunda pembayaran yang dilakukan oleh debitur atau nasabah

Bank terhadap akad Murabahah. Akibatnya Bank mengalami kerugian
material (biaya penagihan dan penyewaan pengacara) dan non material
(waktu dan tenaga serta pikiran).

Fenomena ini memunculkan berbagai permintaan dari pengelola perbankan

Syariah akan pentingnya penagihan ganti rugi dan pengenaan saksi ganti
rugi atas biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penagihan kepada
nasabah pembiayaan yang lalai dan nakal (menunda-nunda pembayaran

hutang). Berdasarkan alasan tersebut, Dewan Syari`ah Nasional Majlis Ulama
Indonesia mengeluarkan fatwa9

tentang sanksi atas nasabah mampu yang

menunda-nunda pembayaran. 10

7 Lebih lanjut tentang penanganan pembiayaan bermasalah lihat Muhammad, Manajemen
Bank Syari`ah
, (Yogyakarta: UPP APM YKPN, 2002), hal. 267.

8 Komentar Direktur Utama Bank Mu`amalah Indonesia, A. Ridwan Amin Dalam Ta`widh,
Pembayaran Bagi Nasabah Nakal dalam Republika, senin, 4 Oktober 2004.

9 DSN-MUI, Fatwa No. 17/DSN-MUI/IX/2000.

10 Fit Elfani, Kepala Devisi Unit Usaha Syari`ah Bank Rakyat Indonesia, menunda-nunda
pembayaran, contohnya adalah mendahulukan pelunasan pada pihak lain, atau menggunakan
dahulu uangnya untuk kepentingan lain, atau mengunakan modal kerja yang diberikan bank pada
usaha lain sehingga usahanya mengalami kegagalan ( dalam repoblika, senin 4 Oktober 2004).

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

159

B. Fatwa Dewan Syariah Nasinal tentang sanksi atas nasabah mampu
yang menuda-nunda pembayaran

Di antara keputusan fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah Nasional11
adalah No. 17/DSN-MUI/IX/2000, tentang sanksi atas nasabah mampu yang

menunda-nunda pembayaran, sebagaimana berikut 12

:

Pertama : Ketentuan Umum

1. Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan
LKS kepada nasabah yang mampu membayar, tetapi menunda-
nunda pembayaran dengan sengaja.
2. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force major
tidak boleh dikenakan sanksi.
3. Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak

mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya

boleh dikenakan sanksi.
4. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah
lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya.
5. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan
atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani.
6. Dan yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.

Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika

terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah terjadi kesepakatan

melalui musyawarah.

Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak ditetapkannya dengan ketentuan jika di

11 Dewan Syari’ah Nasional dibentuk oleh MUI pada Tahun 1999. Lembaga ini saat ini
beranggotakan para ahli hukum islam, dan para ahli serta para praktisi ekonomi, terutama sektor
keuangan, baik bank maupun non-bank. Dimana fungsi utama lain dari lembaga ini adalah meneliti

dan memberi fatwa bagi produk-produk yang di kembangkan oleh Lembaga Keuangan Syari’ah
(LKS). Lebih lanjut lihat Muhammad Syaf’I Antonio, Bank Syari’ah : Dari teori ke Praktik,
(Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 235. Lihat juga Arifn. Z, Memahami Bank Syari’ah :
Lingkup Peluang, Tantangan dan Prospek.
(Jakarta : ALVABET, 1999).

12 Himpuna Fatwa Dewan Syari`at Nasional, Diterbitkan oleh DSN-MUI, Himpunan Fatwa
Dewan Syari`ah Nasional, (Jakarta: Intermasa, 2003).

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

160

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan

sebagaimana mestinya.
a. Keputusan fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional ini

didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut13

:

1. Bahwa masyarakat banyak memerlukan pembiayaan dari
Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan pada prinsip
jual beli maupun akad lain yang pembayarannya kepada LKS
dilakukan secara angsuran.
2. Bahwa nasabah mampu terkadang menunda-nunda kewajiban

pembayarannya baik dalam akad jual beli maupun akad yang

lain, pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan
di antara kedua belah pihak.
3. Bahwa masyarakat dalam hal ini pihak LKS, meminta fatwa
kepada DSN tentang tindakan atau sanksi apakah yang dapat

dilakukan terhadap nasabah mampu yang menunda-nunda

pembayaran tersebut menurut Syariah Islami.
4. Bahwa oleh karena itu, DSN perlu menetapkan fatwa tentang

sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran

menurut prinsip Syariah Islam, untuk diadikan pedoman bagi
LKS.

b. Dalil-dalil yang digunakan oleh Dewan Syariah Nasional dalam
menetapkan fatwa tentang sanksi atas nasabah mampu yang

menunda-nunda pembayaran.

1. Firman Allah Qs. Al-Maidah (5) : 1:

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.….”

2. Hadis Nabi riwayat Tirmizi dan ‘Amr bin ‘Auf.

Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali
perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram, dan kaum muslimin terikat degan syarat yang mengharapkan
yang halal dan menghalalkan yang halal.”

3. Hadis Nabi riwayat jama’ah (Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’I,
Abu Daud, Tirmidzi, Malik, al-Darimi dari Abu Hurairah, Ibn

13 Ibid, hal. 103-105.

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

161

Majah dan Abu Hurairah dan Ibn Umar).

“menunda-nunda (pembayaran) dilakukan oleh orang mampu adalah
suatu kezaliman….”

4. Hadis Nabi riwayat Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad
dari Syraid bin Suwaid :

“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu
menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”

5. Hadis Nabi riwayat Ibn Majah dari ‘Ubaidah bin Samit, riwayat

Ahmad dari Ibn ‘Abbas, dan Malik dari Yahya :

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan
orang lain.”

6. Kaidah Fiqih :

“Pada dasarnya, segala bentuk mu’amalat boleh dilakukan kecuali ada
dalil yang mengharamkannya.”
“bahaya (beban berat) harus dihilangkan.”

c. Telaah terhadap fatwa Dewan Syari’ah Nasional tentang sanksi atas
nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran.
Berdasarkan fatwa ini, para nasabah mampu yang menunda-nunda

pembayaran dapat dikenakan sanksi yang didasarkan pada prinsip

ta’zir14

, yaitu bersifat menyerahkan dan demi perbaikan serta bertujuan

agar nasabahnya lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya.

Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan

atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. Selama

ini bila nasabah lalai melunasi pembiayaan bank mereka dikenakan

denda. Denda tersebut ditujukan guna mendisplinkan nasabah dan
bertanggungjawab atas janji yang dibuatnya kepada bank. Lalu

14 Ta’zir menurut bahasa adalah amshdar (kata dasar) bagi ‘azzara yang berarti menolak dan
mencegah kejahatan, juga berarti menguatkan, memuliakan, membantu. Dalam al-Qur’an
disebutkan : Ta’zir juga berarti hukuman yang berupa memberi pelajaran. Disebut ta’zir karena
hukuman tersebut sebenarnya menghalangi si terhukum untuk tidak kembali kepada jarimah atau
dengan kata lain membuatnya jera. Para fuqaha mengartikan ta’zir dengan hukuman yang tidak

ditentukan oleh al-Qur’an dna hadis yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah

dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dna mencegahnya

untuk tidak mengulangi kejahatan serupa. Ta’zir sering juga disamakan oleh fuqaha dengan

hukuman terhadap setiap maksiat yang tidak dianzam dengan hukuman had atau kaffarah. (Lebih
lanjut lihat, Abu Ishaq al-Syirazi, AlMuhadzdzab, Mesir: Isa al-Babi al-Halabi,t.t, hal. 289).

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

162

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial,

karena sifatnya, denda yang dibayar nasabah tidak boleh diadikan

sebagaimana pendapatan, akan tetapi dimasukkan pada dana sosial
yang akan disalurkan pada pembiayaan dengan aqad Al-Qard al-
Hasan
. 15

Sementara itu, dalam sistem Bank Konvensional selama ini, bila
nasabah lalai melunasi hutangnya pada Bank atau lalai dalam

memenuhi kewajibannya terhadap Bank pada waktu yang telah
ditentukan, mereka dikenakan denda. Dan denda tersebut dapat
diklaim sebagai pendapatan oleh pihak Bank. Sedangkan dalam

sistem perbankan Syariah denda tersebut tidak dapat diklaim sebagai
pendapatan, bahkan dana yang didapat dari denda tersebut harus
dimasukkan pada dana sosial yang akan disalurkan pada pembiayaan
dengan akad al-Qard al-Hasan. Perbedaan inilah yang terjadi antara

Bank Syariah dan Bank Konvensional.

Dalam sistem Konvensional denda biasanya didasarkan pada teori
Time value of money, yaitu teori yang menyatakan bahwa uang

dengan jumlah yang sama sekarang atau saat ini adalah lebih bernilai

dibandingkan dengan yang saat nanti. Dalam ekonomi Konvensional
time value of money biasanya juga didefnisikan sebagai “a dollar is
worth more than a dollar in the future because a dollar today can be invested
to get a return
.”16

Namun jika time value of money ini hanya masalah

15 Qard Hasan (Pinjaman Kebijakan). Ini adalah jenis pinjaman tanpa laba (zero-return)
di manaAlquran an mendorong kaum muslim agar mengadakannya untuk kalangan yang
membutuhkan. Peminjam berkewajiban mengembalikan hanya pokok pinjamannya saja, tetapi
boleh memberikan kelebihan (marjin) menurut kebijaksanannya. Peminjam qard hasan juga
mendapatkan manfaat dari berbagai macam layanan dan keuangan serta diberikan kepada
lembaga-lembaga amal untuk mendapat aktivitas-aktivitas mereka. Pembayaran kembali
dilakukan selama suatu periode yang disepakati oleh kedua pihak. Pungutan biaya layanan yang
tidak seberapa atas pinjaman ini dibolehkan asalkan berdasarkan atas biaya pengurusan pinjaman
yang sesungguhnya, dan tidak dikaitkan dengan jumlah atau batas waktu pinjaman. (lebih lanjut
lihat Latifa M. Alqaud dan Merryn K. Lewis, Perbankan Syariah : Prinsip, Praktek dan Prospek,
alih bahasa Burhan Wirasubrata, Jakarta : Serambi, 2003), hal. 90-91).

16 Aswath Damodaran, Corporate Finance : Theory and Practise (New York : John Wiley and
Sons, 2001), h. 34.

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

163

keuntungan dan resiko, maka Islam menolaknya, hal ini disebabkan
oleh masalah ketidakpastian di dunia ini, juga sifat seluruh manusia
dan tidak seorang pun berhak mengecualikan dirinya dari hal itu

dengan sebesar biaya apapun.17

Namun selanjutnya ternyata yang menjadi masalah adalah biaya
dalam proses penagihan terhadap nasabah yang mampu tetapi

menunda-nunda pembayaran. Dalam sistem Bank Konvensional

biaya yang dikeluarkan dalam proses penagihan sebagian dapat
ditutupi dari dana denda, misalnya biaya yang relatif kecil seperti

biaya administrasi hingga biaya yang besar seperti menyewa
pengacara, jika kasusnya serius. Sementara itu dalam sistem Bank

Syariah biaya yang dikeluarkan dalam proses penagihan tidak dapat
ditutupi oleh dana denda, karena dana tersebut menjadi dana sosial,
sehingga hal ini menjadi beban tersendiri bagi pihak Bank Syariah

dan hal ini dirasa kurang adil (bagi pihak Bank Syariah).

Sekilas bila dicermati pasal 4, 5 dan 6 dari ketentuan umum dalam

fatwa DSN tentang sanksi atas masalah mampu yang menunda-nunda
pembayaran, tampak bahwa pihak Bank Syariah kurang diuntungkan

dalam hal pembiayaan terhadap proses penagihan, bahkan

cenderung menjadi rugi. Namun saat ini sepertinya kekurangan yang
ada dalam fatwa tentang sanksi atas masalah mampu menunda-
nunda pembayaran ini dapat diatasi dengan telaah terbitnya fatwa
DSN yang lain, yaitu fatwa tentang ta’wid18

yaitu fatwa ganti rugi

dalam hal ini adalah ganti rugi untuk biaya yang dikeluarkan dalam

proses penagihan. Akan tetapi syarat pengenaan biaya ganti rugi
adalah adanya kerugian riil yang diderita Bank Syariah. Dan angka

kerugiannya harus nyata, jelas besarannya dan bisa dihitung serta

bukan semata berdasarkan persentase. Selain itu, kerugian hanya

dibebankan kepada nasabah yang nakal dan lalai membayar, bukan

17 Muhammad, Manajmen Bank Syari’ah, (yogyakarta: LPP AMP YKPN, 2002), hal. 66.

18 Fatwa ini telah dikeluarkan oleh DSN pada hari Jum’at., 01 Oktober dan menjadi produk
fatwa ke-43 dari Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

164

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

karena force major.19

Jika kejadiannya adalah force majeour maka tidak

perlu ada ganti rugi.

d. Analisis terhadap Teks dan Fonomena
1. Orang yang berjanji wajib memenuhi janji, pelanggaran dari janji
merupakan perbuatan tercela.
2. Menunda-nunda (pembayaran) oleh orang mampu adalah suatu

kezaliman

3. Menunda-nunda (pembayaran) oleh orang mampu boleh

dikenakan sanksi

4. Menunda-nunda (pembayaran) kepada pihak lain berarti

membuat orang lain rugi

5. Besarnya ganti rugi boleh diselesaikan dengan perdamaian kedua

belah pihak

e. Kategori:

- Menunda pembayaran, dapat merugikan orang lain dan

merupakan perbuatan melawan hukum,
- Sanksinya; wajib ganti rugi, yang besarnya merurut kesepakatan.

D. Penutup

Dari uraian dan telaah terhadap fatwa tersebut pada bagian B dapat diambil

kesimpulan:

1. Bahwa sanksi bagi nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran
tetap berlaku. Sanksi ini didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan
agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya.
2. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan
atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. Dana yang

didapat dari denda itu tidak dapat diklaim sebagai pendapatan Bank
Syariah tetapi harus dimasukkan pada dana sosial yang selanjutnya akan
disalurkan pada pembiayaan dengan akad al-Qard al-Hasan.20

19 Suatu kesalahan. Akibat yang bukan karena suatu kesengajaan, atau akibat dari sesuatu yang
berada di luar kemampuan dan kontrol nasabah, misalnya adalah yang diakibatkan oleh bencana
alam.

20 Pembiayaan qard hasan bisa juga menjadi jalan untuk membererat dan memfasilitasi

MAHlI ISMAIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

165

3. Jika dalam proses penagihan Bank Syariah ternyata mengalami kerugian,

maka Bank Syariah dapat mengenakan biaya ganti rugi pada nasabah
dengan syarat perhitungannya bukan berdasar pesentase atau time value
of money
melainkan biaya yang sebenarnya dikeluarkan oleh Bank akibat

kelalaian nasabah, dan hal ini telah diatur dalam fatwa DSN yang lain
yaitu fatwa tentang ta’widh atau ganti rugi.

hubungan bisnis yang ada. Al-Harran (1993, h.99) memberikan beberapa contoh keadaan di
mana sebaiknya institusi-institusi keuangan Islam menggunakan model pembiayaan qardh
hasan.(a) Dalam musyarakah antara institusi dan klien, sering kali tidak semua saham institusi
dalam proyek dapat diarahkan untuk mendapatkan hak partisipasi dalam keuntungan proyek.
Partisipasi institusi bisa terpecah ke dalam dua bagian: saham dalam modal kemitraan dan
saham dalam modal kerja yang disediakan melalui qard hasan. Namun, dalam hukum Islam
muncul tanda tanya tentang qardh ini karena keuntungan yang diambil darinya. (b) Qardh
hasan dapat juga diberikan kepada klaim.

SANKSI ATAS NASABAH MAMPU YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN HUTANG

166

At-Tasyri' | Volume I. No. 2, Juni - September 2009

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syaf’i. Bank Syari’ah : Dari teori ke Praktik. Jakarta: Gema
Insani Press, 2001.

Arifn, Zainul. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syari`ah. Jakarta: AlvaBet, 2003.

Arifn. Z. Memahami Bank Syari’ah: Lingkup Peluang, Tantangan dan Prospek.
Jakarta : ALVABET, 1999.

Damodaran, Aswath. Corporate Finance : Theory and Practise. (New York : John
Wiley and Sons, 2001.

DSN-MUI, Fatwa No. 17/DSN-MUI/IX/2000.

Himpuna Fatwa Dewan Syari`at Nasional. Diterbitkan oleh DSN-MUI.
Himpunan Fatwa Dewan Syari`ah Nasional. Jakarta: Intermasa, 2003.

Iswardono. Uang dan Bank. Yogyakarta: BPFE, 1994.

M. Alqaud, Latifa dan Merryn K. Lewis. Perbankan Syariah : Prinsip, Praktek
dan Prospek,
alih bahasa Burhan Wirasubrata. Jakarta : Serambi, 2003.

Muhammad. Manajmen Bank Syari’ah. Yogyakarta: LPP AMP YKPN, 2002.

Qardawi, Yusuf. Norma dan Etika Ekonomi Islam, Alih bahasa Zainal Arifn dan
Dahlia Husin. Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

Republika. senin 4 Oktober 2004.

Rifan, Ahmad Arif. MSI-UII.Net, 8-8-2005.

Al-Syirazi, Abu Ishaq. AlMuhadhdab. Mesir: Isa al-Bai al-Halabi, t.th.

Undang-Undang nomor 10 Tahun 1998. Lembaran Negara Tahun 1998
Nomor 182.

MAHlI ISMAIl

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->