P. 1
Jurnal At-Tasyri' volume 1 nomor 3

Jurnal At-Tasyri' volume 1 nomor 3

|Views: 721|Likes:
Published by Khairul Umami
AT-TASYRI’ adalah jurnal Prodi Mu’amalah memuat solusi problematika
ekonomi kontemporer dalam perspektif hukum Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.
AT-TASYRI’ adalah jurnal Prodi Mu’amalah memuat solusi problematika
ekonomi kontemporer dalam perspektif hukum Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

More info:

Published by: Khairul Umami on Oct 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

Sections

Abstract

The food is an important thing to produce eneryg and support human life. In
Islam, the food that we consume should be based on two point things; halal
and tayyib. Halal means the food is kind of substance allowed by syari’ah and

a right efort. Meanwhile, it contains the vitamin and calory to support the

health and brain development.

Key words: Makanan, halal

KONSEP MAKANAN DALAM ISLAM

Staff Pengajar STAI Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat

282

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

A. Pendahuluan

Makanan adalah salah satu hasil produksi yang paling banyak diumpa di

pasaran. Tingkat kesehatan dan keamanan makanan ini sering diabaikan
oleh banyak konsumen. Perkembangan industri makanan yang cukup luas
saat ini, telah mendorong produksi makanan dalam variasi bentuk dan rasa.
Berjuta perusahaan produser makanan kini menggunakan bahan kimia,
perisa, enzim, aroma, pewarna, hormon dan sebagainya bagi menarik daya
beli konsumen.

Dalam membincangkan tentang makanan, umat Islam tidak dapat lari dari
membicarakan makanan yang halal dan haram. Dalam konteks ini, nass- nass
Alquran dan al-Hadith serta pendapat fuqaha memberi panduan hukum
bagi menentukan kategori-kategori makanan ini. Hukum yang diperoleh
itu, adalah wajib diamalkan oleh umat Islam, di mana mereka wajib memilih
makanan yang halal untuk dimakan dan meninggalkan makanan-makanan
yang haram. Oleh itu mengetahui makanan halal dan haram adalah satu
perkara yang wajib dipahami oleh umat Islam.

Perhatian Islam terhadap makanan sedemikian besar, karena tidak dapat

dinafkan bahwa makanan mempunyai pengaruh yang sangat besar

terhadap pertumbuhan dan kesehatan jasmaniah. Hal yang terpenting yang
sering tegaskan Islam adalah pengaruh makanan terhadap perkembangan

jiwa manusia (mental). Syeh Taqi Falsaf seorang ulama kontemporer, dalam

bukunya Child between Heredity and Education menguatkan pendapatnya
dengan mengutip pemikiran Alexis Carrel, pemenang Nobel Kedokteran
dengan tulisan sebagai berikut:

“Pengaruh dari campuran (senyawa) kimiawi yang dikandung oleh

makanan terhadap aktivitas jiwa dan fkiran manusia tidak boleh

dikesan secara sempurna, karena belum lagi diadakan eksperimen
yang memandai. Namun tidak dapat diragukan bahwa perasaan
manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantiti makanan.” 1

1 Taqi Falsaf, Child between Heredity and Education, (Beirut: al-‘alami Library, 1969), hal.
17.

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

283

Jika demikian, makanan mempunyai pengaruh yang cukup kuat bukan

saja pada fsik (tubuh) tetapi juga jiwa dan perasaan manusia. Kenyataan ini

boleh dilihat pada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa minuman
keras merupakan langkah awal yang mengakibatkan langkah-langkah
kepada kejahatan. Secara logik, orang yang meminum minuman keras tidak
boleh meluruskan sikap dan tindakannya. Mereka tidak sadar apa saja
yang dilakukannya. Hal ini disebabkan pengaruh minuman tersebut boleh
merusak jiwa dan jaringan fkiran. Ini pula yang menjadi qarinah larangan
terhadap melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw. mengaitkan antara terkabulnya do’a dengan
makanan halal sebagaimana sabda Baginda yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim:

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik. Dia tidak
menerima (sesuatu) kecuali yang baik. Dia memerintahkan kaum

mukmin sebagaimana memerintahkan para Rasul dengan frman-Nya,

“Wahai Rasul, makanlah rezeki yang baik yang telah Kami anugerahkan
kepadamu”. (Kata perawi) Rasul kemudian menceritakan tentang

seorang musafr yang kumal dan kotor menadah tangan ke langit

berdo’a, “wahai Tuhan, wahai Tuhan….(tetapi) makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya haram, barangan haram, maka
bagaimana do’nya akan dikabulkan.”2

Maksud dari hadith di atas adalah perintah memakan makanan yang baik-
baik setaraf dengan perintah mengerjakan amal saleh. Amal saleh itu tidak
mungkin (dapat dikerjakan) kecuali dengan makan, minum, berpakaian,
dan apa saja yang diperlukan oleh seorang manusia seperti tempat tinggal,
kendaraan, buku-buku untuk belajar dan sebagainya. Akibatnya adalah amal
saleh yang akan diterima adalah amal saleh yang dilakukan berdasarkan
aturan-aturan Allah dan kesucian jiwa serta kesucian raga. Begitu pula ketika
seseorang berdoa memohon kepada Allah, hendaklah ia melakukannya
dalam keadaan suci lahir maupun batin.

2 Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim, (Turki: al-Maktabah Islamiy, 1972), hal. 147.

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

284

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

Dalam Alquran Allah juga menjelaskan bahwa persoalan makanan
mempunyai tujuan untuk menciptakan kestabilan keamanan sebagai dua

sebab utama beribadah kepada Allah. Begitu antara lain kandungan frman-

Nya :

3

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan yang menguasai rumah (ka’bah)
ini. Tuhan yang memberi mereka penghidupan, menyelanatkan mereka dari
kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Makanan dalam Islam mempunyai perhatian yang lebih jauh dan bukanlah
sekadar memenuhi tuntutan hawa nafsu saja, tetapi ia merupakan suatu
ibadah sekiranya ia diniatkan karena Allah. Kesemua aturan-aturan
atau undang-undang yang Allah gariskan berkaitan dengan makanan
menunjukkan betapa sempurnanya ajaran Islam, betapa agung dan adilnya
Allah dalam mengatur hal ehwal kehidupan manusia.

B. Pengertian Makanan dalam Islam

Makan dalam bahasa arab adalah

yaitu perbuatan memasukkan

sesuatu ke dalam mulut dan menelannya setelah dikunyah.4

Dalam sumber
yang lain disebutkan sebagai proses menerima dan menggunakan bahan
makanan yang diperlukan oleh makhluk untuk mengawal fungsi dan
pertumbuhannya atau memperbaharui komponennya. 5

Menurut M. Quraish shihab, perkataan “akala” tidak saja digunakan dalam
arti ”memasukkan sesuatu ke tenggorokan” tetapi boleh juga memberi arti
segala aktivitas dan usaha.6

Misalnya frman Allah

3 Al-quran, Quraish, 106: 3-4.

4 Fuad Ifrad al-Bustani, Munjid at-Tulab, Dar al-Masytiq, Tabc

in al-c

Isyriah, Beirut, 1970, hal.

10

5 Marie V. Krause Katlehen, Makan, Makanan, Pemakanan dan Terapi Diet. Terj. Suriah Abd.
Rahman, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1993, hal. 3

6 M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran, Tafsir Maudhuc

i atas Pelbagai Persoalan Umat,

(Bandung:Mizan, 1998), hal. 138

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

285

7

“Dan berikanlah kepada perempuan-perempuan itu maskawin-
maskawin mereka sebagai pemberian wajib. Kemudian jika mereka
dengan suka hatinya memberikan kepada kamu maskawinnya maka
makanlah (gunakanlah) pemberian (yang halal) itu sebagai nikmat
yang lezat lagi baik kesudahannya”.

Tafsiran yang dinyatakan oleh beliau ialah mas kawin bukanlah sesuatu
yang harus bahkan tidak lazim berupa makanan, namun demikian ayat ini
menggunakan perkataaan “makan” untuk “konsumen” mas kawin tersebut
yang bermaksud menggunakan mas kawin untuk membuka usaha bagi
memenuhi keperluan makan.

Dalam ayat yang lain pula perkataan “akala” diartikan sebagai aktivitas, yang
bunyinya sebagai berikut:

8

Dan janganlah kamu makan dari (sembelihan binatang-binatang
halal) yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, karena
sesungguhnya yang sedemikian itu adalah perbuatan fasik (berdosa).

Potongan ayat ini difahami sebagai suatu larangan untuk melakukan aktivitas
apapun yang tidak disertai nama Allah. Ini disebabkan karena kata ”makan”
di sini difahami dalam arti luas yakni segala bentuk aktivitas. Penggunaan
kata tersebut untuk arti aktivitas, seolah-olah menyatakan bahwa aktivitas
perlu kepada kalori, dan kalori diperolehi melalui makanan.

Makanan atau

adalah jama’

bagi perkataaan

yaitu apa saja yang
dimakan oleh manusia untuk memberi kekuatan, kesegaran badan dan

7 Al-quran, An-Nisak,4: 4

8 Alquran,Al-‘An’am, 6: 121

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

286

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

sebagainya. Karena itu minuman pun termasuk dalam pengertian makanan.

9

Dalam ilmu sains tidak dibedakan antara makanan dan minuman karena
kedua-duanya dimasukan di bawah proses makanan. Walau bagaimanapun
istilah makanan tidak dapat lari dari menyentuh kedua-duanya yaitu
makanan dan minuman.10

Ia merupakan salah satu daripada keperluan
asasi manusia, di mana makanan dan minuman yang baik akan menjamin

kesehatan mental dan fsikal.

Keperluan akan makanan dan minuman adalah naluri semula jadi manusia
dan seluruh ciptaan Allah. Sememangnya Allah telah menciptakan alam
beserta isinya adalah untuk manusia memenuhi keperluannya. Apabila makan
dan minum boleh dipenuhi secara sempurna maka keperluan-keperluan
lainnya akan mudah dipenuhi pula. Dengan terpenuhinya keperluan lainnya
peningkatan ibadah akan lebih mudah dan selesa untuk dilakukan.

1. Klasifkasi Makanan dan Minuman

Kebersihan dan kesehatan adalah dua perkara penting yang digalakkan
dalam kehidupan orang-orang Islam. Bahkan ia menjadi sebahagian daripada
keimanan. Berdasarkan amalan itu, Islam telah menggariskan segala sesuatu

yang baik, bersih dan sehat saja yang boleh diadikan makanan dan minuman

serta mengharuskan menjauhi yang buruk-buruk. Karena makanan dan
minuman yang baik akan memberikan kekuatan dan kesehatan kepada
manusia. Atas dasar ini turun perintah Allah Swt.:

11

”Wahai sekalian manusia, makanlah bagi kamu makanan yang halal
lagi baik dari apa saja yang terdapat di bumi….”

Perintah memakan makanan yang baik oleh Allah ditujukan kepada seluruh

9 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Terj. Mahyudin Syaf, (Kuala Lumpur: Pustaka al-Azhar, 1996),
hal. 92.

10 Mohamed bin Jusoh, Prinsip Utama Makanan dan Minuman dalam Islam, Bahagian Hal
Ehwal Konsumen, (Kula Lumpur: Jabatan Perdana Menteri, 1986), hal. 2.

11 Alquran, Al-Baqarah/2:68.

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

287

manusia bukan kepada umat Islam saja. Ini menunjukkan bahwa makanan
halal dan baik sesuai untuk semua manusia. Pada prinsipnya segala sesuatu
yang ada di alam raya ini adalah halal digunakan, sehingga makanan dan
minuman yang terdapat didalamnya juga adalah halal. Oleh karena itu tidak
ada alasan bagi umat Islam mencari makanan selain dari standard halal dan
tayyib di sisi Allah.

2. Makanan yang halal

Perhatian Alquran terhadap makanan sedemikian besar, sehingga ketika
berbicara tentang “perintah makan” Allah Swt memerintahkan seluruh
manusia untuk memakan makanan yang halal dan tayyib. Perintah kepada
makanan halal adalah untuk memastikan manusia tumbuh secara sehat baik

fsikal, jiwa maupun akal.

Kata “halal” berasal dari akar kata yang berarti “lepas” atau “tidak terikat”.12
Berdasarkan arti ini perkataan halal bagi umat Islam difahamkan kepada
sesuatu yang dibolehkan oleh syara’

. Kepatuhan kepada syara’

adalah usaha
untuk melepaskan diri dari ikatan bahaya dunia dan akhirat. Dengan
demikian makanan dan minuman halal adalah makanan yang dibolehkan
memakannya dan dengan memakannya terlepas ikatan bahaya dunia

dan akhirat. Seperti yang telah dielaskan di atas bahwa perintah makan

mempunyai taraf yang sama dengan perintah melakukan amal saleh. Firman
Allah :

13

Wahai para Rasul, makanlah dari yang baik (bersih dan sehat) dan
berbuat amal salehlah kamu sekalian…”

Ayat ini secara jelas mendahulukan perintah memakan yang baik dan halal
daripada berbuat amal saleh, dan ini pula menunjukkan bahwa perbuatan
amal saleh akan sia-sia apabila tidak disertai dengan memakan makanan
yang memenuhi standard ini.

12 Munie Ba’

albaki, al-Mawrid, Beirut: Dar al-c

Ilmi lil-Malayen, 1995), hal. 326.

13 Al-Muminun/ 23:51

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

288

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

Logikanya makanan halal adalah makanan yang telah terjamin kualitasnya
dari bentuk keburukan, karena memakan makanan yang halal sebagaimana
yang diperintahkan oleh Allah Swt akan memberikan kesehatan, terlepas dari
penyakit dan keburukan di dunia. Di sisi lain pula, apabila kita memakan
makanan yang halal bermakna kita telah melaksanakan perintah Allah Swt
dengan demikian kita akan terlepas dari ancaman dan bahaya akhirat.

Para ulama juga sepakat bahwa makanan yang digalakkan oleh Islam adalah
makanan tayyib yang tidak mengandungi unsur-unsur yang merbahaya bagi
kesehatan jiwa dan akal manusia. Dari segi bahasa kata tayyib berarti lezat,
baik, sehat, dan mententeramkan.14

Para pakar tafsir ketika menjelaskan kata
ini dalam konteks makanan menyatakan bahwa ia berarti makanan yang

tidak kotor dari segi zatnya, atau tidak dicampuri benda najis (menjiikkan).15

Ada juga yang mengartikan sebagai makanan yang mengandung selera

bagi yang akan memakannya dan tidak membahayakan fsikal dan akalnya.16

Berdasarkan pendapat–pendapat tersebut dapatlah kita fahami bahwa
perbincangan makanan dalam Islam bukan pada masalah halal dan haram
saja tetapi juga merangkum soal sekuriti atau keamanan, nilai makanan dan
keseimbangan makanan.

Berikut boleh disebutkan panduan c

am mengenai makanan halal mengikut

ajaran Islam: 17

1. Bukan terdiri daripada atau mengandungi apa-apa bahagian atau
benda yang diharamkan oleh syarak, atau tidak disembelih mengikut
hukum syarak
2. Bukan benda-benda najis mengikut hukum syarak
3. Disedia, diproses atau dikilangkan dengan menggunakan apa-apa
alat yang bebas dari benda –benda najis mengikut hukum syarak.

14 Munie Bac

albaki, al-Mawrid…,hal. 95.

15 Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Ais at-Tafsir lilkalāmi al-c

Aliya al-Kabir, (Mesir: Dar al-Salamah,

1992 ), Jil. 1, hal.144.

16 Abu Jac

far Muhammad Ibn Jarir al-Tabari, Tafsir at-Tabari, Dar al-Mac

arif, Mesir, t.th, hal.

243.

17 Bahagian Hal Ehwal Islam Jabatan Perdana Menteri, Garis Panduan Makanan, Minuman dan
Bahan Gunaan Orang Islam,
Kuala Lumpur: Perniagaan Rita, 1993), hal.2-3.

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

289

4. Masa penyediaan, pemproses atau penyimpanannya adalah tidak
bersentuhan atau berdekatan dengan benda-benda haram atau najis
mengikut hukum syarak.

Demikian petunjuk yang diterangkan dalam Alquran tentang makanan,
kesemuanya merupakan bagian yang paling fundamental dalam kehidupan
manusia di dunia. Walau demikian makanan bukanlah suatu masalah yang
diasingkan dari amalan saleh lainnya bahkan ia menjadi faktor utama untuk
mencapai kesempurnaan ibadah bagi mendapat keridhaan Allah.

3. Makanan Yang Haram

Pembahasan mengenai makanan haram mempunyai makna yang
berlawanan dengan makanan halal. Makanan haram adalah makanan yang
tidak dibenarkan menyentuh atau memakannya , dan bagi sesiapa yamg
memakannya diberi ganjaran dosa oleh Allah Swt. Alquran menjelaskan
makanan haram ini dengan sebutan

yang perkataan dasarnya
yang berarti yang dibenci, yang najis, buruk dan segala yang haram. Perkatan
ini adalah lawan daripada perkataan

yang bermakna enak, lezat, halal ,

baik dan bagus.18

Merujuk pada makna

di atas maka benda-benda yang tergolong dalam

makna ini boleh dibincangkan sebagai berikut :

1. Benda-benda yang najis dan kotor seperti hingus, nanah, darah dan

segala yang yang menjiikkan. Firman Allah

19

…Dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk

2. Benda-benda yag boleh membawa bahaya seperti benda-benda yang
beracun atau benda-benda yang boleh membawa mudarat kepada

18 Louis Ma’luf, Al-Munjid f al-lughah wa al-a’lam, (Beirut, Dar al-Masyriq, 1994), hal. 166
dan 476.

19 Al-

Ac

raf/7 :157

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

290

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

tubuh. Semua benda-benda ini dilarang memakannya. Mengikut al-
Maruzi pengharaman dikenakan ke atas benda-benda itu, karena ia
memberi mudarat atau mendatangkan bahaya.20
3. Benda-benda yang memabukkan atau yang boleh menghilangkan
akal seperti ganja, arak, merampok dan sejenisnya. Pengharaman
ini berdasarkan hadith yang diriwayatkan oleh Muslim daripada
Abdullah bin Umar:

21

Setiap yang memabukkan adalah haram.

Bahkan dalam surah al-Maidah ayat 90 kata ris menunjukkan pengharaman
terhadap khamar dan sejenisnya. Kata ris mengandung arti keburukan budi
pekerti serta kerosakan moral.22

Sehingga ketika Allah menyebutkan jenis
makanan tertentu sebagai ris, maka ini bermakna makanan tersebut boleh

menimbulkan keburukan budi pekerti. Tidak dapat dinafkan bahwa kesan

arak, ganja, perampokan dikalangan pemuda dan pemudi masa kini telah
melahirkan generasi-generasi yang tidak bermoral dan berbudi pekerti yang
buruk.

Secara garis besar pembahasan berkaitan dengan ayat di atas dihuraikan
sebagai berikut:

1. Bangkai
Bangkai adalah binatang yang mati dengan sendirinya tanpa ada suatu
usaha manusia dengan sengaja seperti disembelih atau berburu.23
Mengikut pengertian fuqaha bangkai adalah tiap-tiap binatang yang
telah mati dengan tidak disembelih mengikut Syarak. Dan setiap binatang

20 al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadhdhab, juz. 9, (Kairo: Matba’ah al-‘Asimah, t.th), hal.
23.

21 Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, kitab al-asyribah (30), bab kullu muskirin haramun (9)…, hal.
3391.

22 Munir Ba’albaki, al-Mawrid…, hal. 895

23 Ahmad Sonhaji Muhammad, Tafsir al-Quran : surah al-Maidah, (Singapura: al-Maktab at-
Tijari as-Syarqi, 1965), hal. 16.

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

291

yang mati tanpa memenuhi Syarak adalah haram untuk dimakan kecuali
bangkai ikan dan belalang.24

Pernyataan ini dipertegas dengan hadith

Rasulullah

25

Dihalalkan bagi kita dua bangkai yaitu bangkai ikan dan belalang

Termasuk dalam katagori ini adalah semua jenis binatang yang tidak
disembelih atau disembelih tetapi tidak menyebut nama Allah. Binatang-
binatang yang mati dengan sendirinya seperti penyakit tua atau termakan
racun juga haram dimakan kecuali jika binatang itu masih sempat
disembelih dengan sisa-sisa nyawanya. Di antara tanda-tanda binatang
itu masih hidup adalah darah masih mengalir dan matanya masih dapat
bergerak-gerak.26

Binatang yang mati tercekik, mati dipukul, mati terjatuh, mati beradu atau
diserang binatang buas juga dianggap bangkai. Hikmah yang diambil
oleh pengharaman ini adalah karena Allah Swt mengetahui betapa
perlunya manusia pada binatang, begitu pula Islam mengajarkan untuk
memberi kasih sayang dalam pemeliharaan. Oleh karena itu tidak layak
kalau manusia dibiarkan melakukan sesuka hati memukul, mencekik
dan menyiksanya hingga mati. Islam melarang memakan hewan-hewan
yang mati dalam keadaan seperti itu, sama sebagaimana Islam menegah
perbuatan itu. Hadith rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah telah
menentukan kebaikan atas segala sesuatu. Apabila kamu membunuh,
maka lakukanlah sebaik mungkin. Apabila kamu menyembelih, maka
juga lakukanlah sebaik mungkin. Dan hendaklah salah seorang kamu
menajamkan pisau yang akan digunakan untuk menyembelih. Sekali lagi

24 Muhammad Yusuf al-Qardawi, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Kutub al-

‘Arabiyah ‘Isa al-Bāby al-Halaby, 1960), hal. 55.

25 Muhammad Yasid Abu c

Abd Allah al-Qazwani.Sunan Ibn Majah. Kitab al- Atc

imah (4),

bab saidul al-Maitatani wa al-jarād, hal. 3218.
26 M. Yusuf al-Qaradawi, Halal dan Haram dalam Islam (terj.), (Singapura: Pustaka
Nasional Pte. Ltd, 1989), hal. 60.

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

292

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

hendaklah kamu lakukan sebaik mungkin.27

2. Darah
Darah pada asalnya ialah benda yang mulia dan amat penting untuk
kelangsungan hidup, karena tanpa darah manusia tidak akan dapat
tumbuh dan bertahan hidup. Ketiadaan aliran darah dalam tubuh pula
bererti sesuatu kehidupan itu telah mati. Adapun maksud darah yang
diharamkan memakannya dalam konteks ini ialah darah yang mengalir
(

} sewaktu penyembelihan binatang tersebut. Manakala darah
yang membeku (beketul) seperti hati dan limpa adalah halal dimakan. Ini
berdasarkan hadith Rasulullah Saw.

28

“Di halalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah yaitu
bangkai ikan dan belalang adapun dua darah yaitu hati dan limpa”.

3. Daging Babi (khinzir)
Babi adalah salah satu binatang khabaith yang sangat kotor. Ia akan
memakan semua makanan yang kotor dan bernajis. Secara logik, binatang
yang hidup dengan makanan yang kotor dan najis bermakna ia tumbuh
dan membesar dengan zat-zat kotor itu pula. Oleh karena itu babi

merupakan binatang yang diauhi oleh Islam karena seluruh tubuhnya

adalah najis mughallazah yang boleh menimbulkan pelbagai penyakit bagi
pemakannya. Para pakar kesehatan dan sains mengkaji dan membuat
kesimpulan bahwa pada babi terdapat pelbagai bakteri penyakit dan
parasit yang sukar dihilangkan sekalipun di masak dengan suhu yang
tinggi.

Muhammad Wasfy29

menyebut pelbagai parasit yang ada dalam daging
babi yang sangat berbahaya, antara lain : pertama, Taenia solium, yaitu

27 Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim…, hal. 338

28 Muhammad ‘Ali al-Syawkani, Nayl al-Awtar…, juz. 8, hal. 176.

29 Muhammad Wisfy, Al-Quran wa al-Tibb…, hal. 201-205.

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

293

sejanis cacing parasit yang menyebabkan penyakit Taenasis. Cacing ini
tidak mempunyai mulut dan ia menghisap atau menyedut sari makanan
pemakan. Cacing ini boleh mencapai hingga 8 meter di dalam perut.
Cacing ini pula sangat tahan dalam bentuk sist. Seterusnya sist itu akan
membentuk larva di dalam daging babi. Apabila manusia memakannya
daging babi yang sudah tercemar parasit ini, maka larva akan berkembang
dalam usus manusia membentuk cacing dewasa. Pelbagai penyakit yang
berawal dari penyakit ini antara lain sakit perut, mencret, melemahkan
otot-otot dan akhirnya membawa kematian.

Kedua, trichnosis, hasil kajian menunjukkan bahwa 1 gram babi
mengandung 1500 parasit. Hasil kajian juga membuktikan bahwa lemak
babi adalah antara jenis lemak yang sukar dihadam.

D. Penutup

Perniagaan dalam Islam merupakan suatu pekerjaan yang sangat mulia apabila
dilakukan di atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai perniagaan Islam. Sebagai
sebuah aktivitas, perniagaan meletakkan hubungan-hubungan kemanusiaan
sebagai asas yang memungkinkan umat manusia berinteraksi satu sama
lain dalam suatu pergaulan yang seimbang dan saling menguntungkan bagi
mencapai kebahagiaan bersama.

Interaksi yang terjadi antara produsen dan konsumen di dunai perniagaan
adalah interaksi yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban masing-
masing pihak. Berkaitan dengan ini, adanya hak konsumen untuk
mendapat perlindungan adalah tanggung jawab dan kewajiban produsen
untuk memenuhinya. Adapun tanggung jawab dan kewajiban produsen
berdasarkan nilai-nilai etika perniagaan Islam adalah:
1. Amanah, dimana produsen berkewajiban untuk memenuhi apa yang

telah dianjikan kepada konsumen berkaitan dengan barangan yang

dikeluarkannya. Misalnya ketentuan-ketentuan yang tertulis pada
produk dan iklan yang disampaikan oleh produsen.
2. Kejujuran, produsen wajib memberi maklumat yang lengkap
mengenai hasil keluarannya, baik kekurangan (kecacatan), kelebihan,
keselamatan juga kehalalannya.

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

294

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

3. Kewajiban produsen untuk tidak mengatakan yang tidak benar
mengenai produk yang ditawarkan. Mengatakan yang tidak benar
pada hakekatnya merupakan penipuan yang disengajakan dan
merugikan konsumen secara material dan spritual. Keadaan ini
berlaku pada saat produsen melakukan kempen dan iklan secara
berlebihan. Kebiasaannya cara ini gagal untuk memberikan fakta
yang sebenarnya kepada konsumen.
4. Mengeluarkan barangan yang baik. Islam tidak membenarkan
mengeluarkan barangan-barangan yang membawa mafsadah
(kerosakan) bagi konsumen. Seruan kepada barangan yang baik akan
memberi kemaslahatan bagi konsumen dunia dan akhirat.
5. Adil, mengagihkan kekayaan dalam bentuk produk juga kewajiban
produsen bagi mewujudkan persaudaraan dan keadilan sosial
ekonomi yang aman dan sejahtera.

ASmAwAtI

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

295

DAFTAR PUSTAKA

al-Bustani, Fuad Ifrad. Munjid al-Tullab. Beirut: Dar al-Masytiq Tabc

in al-c

Isyriah, 1970.

al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Ais at-Tafsir lilkalāmi al-c

Aliya al-Kabir. Jilid I. Mesir:

Dar al-Salamah, 1992.

al-Nawawi. al-Majmu’ Syarh al-Muhadhdhab, juz. 9. Kairo: Matba’ah al-

‘Asimah, t.th.

al-Qaradawi, M. Yusuf. Halal dan Haram dalam Islam (terj.), Singapura: Pustaka
Nasional Pte. Ltd, 1989.

al-Qardawi, Muhammad Yusuf. al-Halal wa al-Haram f al-Islam. Mesir: Dar

al-Kutub al-‘Arabiyah ‘Isa al-Bāby al-Halaby, 1960.

al-Tabari, Abu Ja’

far Muhammad Ibn Jarir, Tafsir at-Tabari. Dar al-Mac

arif,

Mesir, t.th.

Ba’

albaki, Munie. al-Mawrid. Beirut: Dar al-c

Ilmi lil-Malayen, 1995.

Falsaf, Taqi, Child between Heredity and Education. Beirut: al-‘alami Library,

1969.

Ibn Hajjaj, Muslim. Sahih Muslim. Turki: al-Maktabah Islamiy, 1972.

Ibn Jusoh, Mohamed. Prinsip Utama Makanan dan Minuman dalam Islam,
Bahagian Hal Ehwal Konsumen.
Kula Lumpur: Jabatan Perdana Menteri, 1986.

Katlehen, Marie V. Krause. Makan, Makanan, Pemakanan dan Terapi Diet. Terj.
Suriah Abd. Rahman. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993.

Ma’luf, Louis. Al-Munjid f al-lughah wa al-a’lam. Beirut, Dar al-Masyriq, 1994.

KonSEP mAKAnAn DAlAm ISlAm

296

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

Muhammad, Ahmad Sonhaji. Tafsir al-Quran : surah al-Maidah. Singapura: al-

Maktab at-Tiari as-Syarqi, 1965.

Sabiq, Sayyid. Fiqh Sunnah. Terj. Mahyudin Syaf. Kuala Lumpur: Pustaka al-
Azhar, 1996.

Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Quran, Tafsir Maudhuc

I atas Pelbagai Persoalan

Umat. Bandung: Mizan, 1998.

ASmAwAtI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->