P. 1
Jurnal At-Tasyri' volume 1 nomor 3

Jurnal At-Tasyri' volume 1 nomor 3

|Views: 721|Likes:
Published by Khairul Umami
AT-TASYRI’ adalah jurnal Prodi Mu’amalah memuat solusi problematika
ekonomi kontemporer dalam perspektif hukum Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.
AT-TASYRI’ adalah jurnal Prodi Mu’amalah memuat solusi problematika
ekonomi kontemporer dalam perspektif hukum Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

More info:

Published by: Khairul Umami on Oct 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

Sections

Abstract

’Āmil (worker in this context for palm plantation has a great role to succeed
the actvity. Without a good participation of worker, the harvest will be lower,
if it is not loss. Appearantly, it need a balance between working and wage
for support their activity. As a factual thing, the writer try to analyze the
condition of worker and their wage related to activity of palm plantation in
West Aceh. The study at least will be a model for other places how to manage
worker, working and wage altogether.

Key words: Permintaan tenaga kerja, sawit

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN
LAHAN PERKEBUNAN

Pembantun Rektor II Universitas Teuku Umar Meulaboh

(Studi Kasus Permintaan Tenaga Perkebunan Kelapa Sawit
di Aceh Barat)

298

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

A. Pendahuluan

Perkebunan kelapa sawit sudah menjadi komoditi pasar dunia sehingga
secara bisnis memiliki prospek yang baik bagi Indonesia sebagai negara
agraris dan terutama Nanggroe Aceh Darussalam yang memiliki lahan yang
luas dan subur untuk komoditi ini. Selain luas lahan dan kesuburan tanah,
hutan yang sebagian besar rusak karena kejahilan dari pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab dan kestabilan alam terganggu sehingga sering
terjadi banjir bandang seperti di Kabupaten Aceh Tenggara.

Kemudian pengembangan komoditi ini menyerap tenaga kerja awam, artinya
walaupun mereka tidak berpendidikan (pendidikan rendah) masih dapat
ditampung karena untuk menjadi pekerja kebun tidak memerlukan sumber
daya menusia yang berkualitas tinggi. Maka dari itu Kabupaten Aceh Barat
memiliki masyarakat yang masih didominasi pendidikan rendah sangat
baik dalam menciptakan kesempatan kerja melalui pengembangan prioritas
komoditi unggulan, salah satunya kelapa sawit.

B. Landasan Teoritis
1. Tingkat Suku Bunga

Para ekonom menjelaskan tingkat bunga nominal (nominal interest rate)
adalah tingkat bunga yang dibayarkan investor. Sedangkan tingkat bunga riil

(real interest rate) adalah tingkat bunga nominal yang dikoreksi karena infasi.
Jika tingkat bunga nominal adalah 8 persen dan tingkat infasi 3 persen maka

tingkat bunga riil adalah 5 persen.1

Kenaikan tingkat suku bunga dapat menggeser pengeluaran investasi
pada peralatan kapital (mesin produksi) ke penanaman dana deposito,
karena hal ini akan lebih menarik dan menguntungkan. Jadi secara singkat
dapat dikatakan bahwa perubahan tingkat suku bunga terutama akan
mempengaruhi pengeluaran investasi dan selanjutnya pada tingkat output,
kesempatan kerja dan tingkat harga.2

1

N. Gregory Mankiw, Teori Makro Ekonomi, (Jakarta: Erlangga, 2000), hal. 53.

2 Faried Wijaya, Perkreditan Bank dan Lembaga-lembaga Keuangan Kita, (Yogyakarta:
BPFE UGM, 1991), hal. 150.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

299

Dorongan untuk mengadakan investasi ditentukan oleh keuntungan yang
diharapkan dari investasi baru dan besarnya tingkat bunga yang dibayar.
Tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi baru itulah dinamakan

dengan “marginal efency of capital”. Marginal efency of capital merupakan

tingkat keuntungan yang tertinggi yang diharapkan dari sebuah tambahan
dari suatu aktiva modal dari jenis itu.3

(Manullang, 1983:104).

Investasi merupakan pengeluaran atas tambahan-tambahan terhadap
persediaan modal (mesin, bangunan, persediaan). Investasi seperti itu dilakukan
dengan tujuan mencari keuntungan di kemudian hari melalui pengoperasian
pabrik dan mesin. Anggaplah perusahaan meminjam untuk membeli modal
(mesin dan pabrik) yang mereka pergunakan. Maka semakin tinggi suku bunga,
semakin banyak perusahaan harus membayar bunga dalam setiap tahun dari
laba yang mereka terima dari investasi mereka. Jadi semakin tinggi suku
bunga, semakin kecil keuntungan perusahaan itu setelah membayar bunga
dan semakin kecil pula keinginan untuk melakukan investasi dan sebaliknya
suku bunga yang rendah membuat pengeluaran investasi menguntungkan

(Dornbush,1996:135).

Faktor-faktor utama yang menentukan investasi ( Sukirno, 2003: 109) adalah:
a. Tingkat keuntungan investasi yang diramalkan akan diperoleh.
b. Tingkat bunga.
c. Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan.
d. Kemajuan teknologi.
e. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.
f. Keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan.

2. Teori Upah

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan
pengertian Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan
dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja
kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut perjanjian
kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk

3 Manullang, Ekonomi Moneter, (Jakarta: Balai Aksara Yudhistira, 1983), hal. 104.

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

300

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/
atau jasa yang telah atau akan dilakukan.4

Menurut As'ad5

pengupahan dapat digolongkan ke dalam 3 (tiga) sistem

pengupahan, yaitu:
1. Sistem upah menurut banyaknya produksi.
2. Sistem upah menurut lamanya kerja.
3. Sistem upah menurut senioritas.
4. Sistem upah menurut kebutuhan.

Para pekerja dan perusahaan menetapkan upah nominal W berdasarkan
upah riil sasaran ωdan ekspektasi tingkat harga e

P. Upah nominal yang

mereka tetapkan adalah6

W

=

ω x e

P

Upah Nominal = Upah Riil Sasaran x Tingkat harga yang diharapkan

Setelah upah nominal ditetapkan dan sebelum tenaga kerja ditarik,
perusahaan mempelajari tingkat harga actual P. Upah riil kemudian menjadi:

W/P =

ω x

P

Pe

/

Upah Riil = Upah Riil Sasaran x Tingkat harga yang diharapkan/Tingkat
harga aktual

Asumsi akhir dari modal upah kaku (sticky-wage model) adalah bahwa
pengkaryaan ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diminta perusahaan.
Dengan kata lain, tawar-menawar antara pekerja dan perusahaan tidak
menentukan tingkat pengkaryaan selanjutnya; apalagi, para pekerja sepakat

4 Lalu Husni, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, (Jakarta: Raja Grafndo Persada,
2005) hal. 144.

5 As'ad, Moh (2003). Psikologi Industri, (Yogyakarta: Liberty, 2003), hal. 94-101.

6 N. Gregory Mankiw, Teori Makro..., hal. 323.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

301

memberikan sebanyak mungkin tenga kerja yang ingin digunakan perusahaan
pada tingkat upah yang ditetapkan sebelumnya. Kita menggambarkan
keputusan perusahaan menarik tenaga kerja dengan fungsi permintaan
tenaga kerja.7

)

/
(P
W

L

L

d

=

yang menyatakan bahwa semakin rendah upah riil, semakin banyak tenaga
kerja yang digunakan perusahaan.

)

(L

F

Y =

yang menyatakan bahwa semakin banyak tenaga kerja digunakan, semakin
banyak output diproduksi. Karena upah nominal adalah kaku, perubahan
yang tidak diharapkan dalam tingkat harga menjauh upah riil dari upah riil
sasaran, dan perubahan upah riil ini mempengaruhi jumlah tenaga kerja
yang digunakan dan output yang diproduksi.

)

(

e

P

P

Y

Y

+
= α

Output menyimpang dari tingkat alamiahnya bila tingkat harga menyimpang
dari tingkat harga yang diharapkan.

Pendapat yang lain memberika argumentasi bahwa menaikkan upah
minimum berarti menaikkan pendapatan para pekerja, seperti yang
dikemukakan oleh Keynes.8

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 menyebutkan setiap pekerja/buruh
berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan (Pasal 88 ayat 1). Untuk maksud tersebut, pemerintah

menetapkan kebiakan pengupahan untuk melindungi pekerja/buruh.

7 N. Gregory Mankiw, Teori Makro..., hal. 325.

8 Nazamuddin, (1998),” Dua Teori Tentang Upah dan Implikasi Ekonomi Makro”, Jurnal
Ekobis
, Vol.1. No.1, Mei 1998,( Banda Ace: Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala,
1998), hal. 15

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

302

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

Kebiakan pengupahan itu meliputi :

1. Upah minimum.
2. Upah kerja lembur.
3. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan.
4. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain diluar
pekerjaannya.
5. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya.
6. Denda dan potongan upah.
7. Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah.
8. Struktur dan skala pengupahan yang proposional.
9. Upah untuk pembayaran pesangon.
10. Upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

3. Produktivitas Tenaga Kerja

Menurut Greenberg (Sinungan, 1995:3), mendefnisikan produktivitas sebagai
perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi
totalitas masukan selama periode tersebut.

Sedangkan menurut Ahmad9

(1995:12), produktivitas tenaga kerja adalah
nilai produksi (Q) per satuan tenaga kerja atau Q/L. Nilai produksi didekati
dengan nilai PDRB baik menurut sektor kegiatan ekonomi maupun secara
total berdasarkan harga konstan. Dalam hal ini faktor produksi lainnya
diwakili oleh tenaga kerja.

Produktivitas tenaga kerja sangat ditentukan oleh faktor usia, masa usia
produktif adalah antara 15-64 tahun. Sedangkan di bawah 15 tahun dan di
atas 64 tahun dianggap sebagai usia non produktif atau kurang produktif.
Karena usia yang terlalu muda tenaga kerja memiliki tanggung jawab yang

rendah, skill juga rendah serta faktor fsik yang masih lemah. Sedang usia 64

tahun ke atas tenaga kerja sudah terlalu tua sehingga kurang mampu untuk

bekerja secara optimal karena keadaan fsik yang sudah melemah (Sukotjo
dan Swastha,1985:16).

9 Jamaluddin Ahmad, “Produktivitas Tenaga Kerja dan Elastisitas Kesempatan Kerja di Daerah
Istimewa Aceh”. Jurnal Ilmiah Mon Mata, No. 20, Desember 1995. (Banda Aceh: Penerbit
Lembaga Penelitian Unsyiah, Banda Aceh), hal. 12.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

303

Produktivitas memiliki arti penting dalam pendapatan nasional atau dapat
dikatakan juga GNP banyak diperoleh dengan meningkatkan keefektifan
dan mutu tenaga kerja dibandingkan dengan melalui formasi modal dan
pertambahan tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi biasanya disertai dengan
terjadinya kenaikan produktivitas per pekerja, maka dapat diduga laju
pertumbuhan produksi pada umumnya lebih rendah dari satu.10

Selanjutnya bila tenaga kerja digunakan sebagai masukan faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi produktivitasnya adalah tingkat pendidikan,
ketrampilan, manajemen, hubungan industrial, tingkat penghasilan, gizi dan
kesehatan, jaminan sosial, lingkungan iklim kerja, sarana produksi, tehnologi
dan kesempatan berprestasi.11

Lembaga Pusat Produktivitas Nasional (LPPN) (Sedarmayanti, 1995:73)
menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas
kerja adalah; pendidikan, ketrampilan, disiplin, motivasi, sikap dan etika
kerja, gizi dan kesehatan, tingkat dan penghasilan, jaminan sosial, lingkungan
dan iklim kerja, hubungan industrial, tehnologi, manajemen dan kesempatan
berprestasi.

Kegiatan produksi dapat pula dipandang sebagai manifestasi kegiatan investasi
dalam arti pengeluaran yang dibutuhkan produksi. Dalam pembahasan
investasi ini tidak hanya dibatasi pengeluaran langsung untuk memperoleh
faktor produksi tenaga kerja tetapi juga harus termasuk pengeluaran untuk
pembentukan modal manusiawi (human capital). Semakain tinggi tingkat
pendidikan semakain tinggi pula tingkat produktivitas kerja.12

(Simanjuntak,

1998:39).

10 Jamaluddin Ahmad, “Produktivitas Tenaga Kerja..., hal. 4.

11 Depnaker Propinsi Istimewa Aceh, Laporan Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja Terampil di
Propinsi Istimewa Aceh
, Tahun 1996/1997, hal. 65.

12 Payaman J. Simanjuntak, Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Unirversitas Indonesia. Jakarta (1985),., hal. 39.

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

304

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

Ballente dan Jackson13

berpendapat bahwa kenaikan dalam produktivitas
tenaga kerja (pertambahan modal atau kemajuan tehnologi) akan menaikkan
tingkat upah umumnya. Produktivitas adalah konsep sistematis yang
berkaitan dengan konversi dari masukan menjadi keluaran dari suatu system
yang berbeda pada suatu keadaan tertentu.14

Perkembangan produktivitas tergantung baik pada kuantitas dan kualitas
input maupun output yang dihasilkan (yang menentukan harga produk yang
bersangkutan),
efesien dalam menghasilkan produksi , komplementaristas
dengan input lainnya dan segala pertimbangan teknis ekonomis, seperti
skala operasi, elastisitas substitusi, dan kemajuan tehnologi.15

4. Hipotesis

Berdasarkan latar belakang, rumusan penelitian, tujuan penelitian dan
beberapa penelitian sebelumnya, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut :

1. Diduga tingkat suku bunga kredit dan tingkat upah riil berpengaruh
negatif, sedangkan produktivitas tenaga kerja berpengaruh positif
terhadap permintaan tenaga kerja perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten Aceh Barat.
2. Diduga tingkat upah riil dalam pasar tenaga kerja perkebunan kelapa
sawit menuju divergen.

5. Model Analisis

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi permintaan

tenaga kerja menurut McCaferty16

dengan formulasi sebagai berikut :

13 Don Bellatte and Mark Jackson, Ekonomi Ketenagakerjaan, (Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Unirversitas Indonesia, 1983), hal. 152.

14 E.P Adam dan R J Eber, (1986), Production and Operation Management, Concept, Model and
Behavior, 3 ED
, (New Jersey: Prentice Hall International Edition, 1986), hal. 58.

15 Muhammad Arsyad Anwar, dkk, Prospek Ekonomi Indonesia Jangka Pendek Sumber Daya,
Tehnologi dan Pembangunan
, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), hal. 221.

16 Stephen McCafferty, Macroeconomic Theory, (New York: Harper dan Row Publisher, 1990),
hal. 102.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

305

)

,

,

(

y

r

f

LD

W

P

=

………………………………..(3.1)

Untuk mempersempit konsentrasi penelitian maka output diganti dengan
produktivitas tenaga kerja , sehingga fungsi permintaan tenaga kerja menjadi:

)

,

,

(

r

PTK

f

LD

W

P

=

………….……………….(3.2)

demikian model ekonometrik untuk permintaan tenaga kerja perkebunan
kelapa sawit (perkebunan besar) di Kabupaten Aceh Barat (asumsi hubungan
linier, persamaan 3.2)
adalah sebagai berikut :

e

r

a

PTK

a

a

a

LD

W

P

+

+

=

3

2

1

0

……………………(3.3)

Untuk menjawab hipotesis kedua dalam penelitian ini, dengan menggunakan
rumus rata-rata menurut Blalock, Hubert M.Jr (1972 : 56) dengan formulasi:

np

w

p
w

=

/

/

dimana :

p
w
/ = Upah riil rata-rata
w/p = upah riil
n = waktu

Untuk melihat permintaan tenaga kerja menuju konvergen atau divergen,
bila tingkat upah riil (

p

w/) tenaga kerja perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten Aceh Barat mendekati atau sama dengan tingkat upah riil rata-
rata (

p

w/) tenaga kerja perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat
disebut konvergen. Sebaliknya, bila tingkat upah riil (

p
w
/) tenaga kerja
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat menjauhi atau tidak sama
dengan tingkat upah riil rata-rata (

p
w
/) tenaga kerja perkebunan kelapa

sawit di Kabupaten Aceh Barat disebut divergen.

6. Defnisi Operasional Variabel

a. Permintaan tenaga kerja (LD) adalah permintaan tenaga kerja
perkebunan kelapa sawit (khusus tenaga kerja yang status SKU dan

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

306

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

BHL) di Kabupaten Aceh Barat. (orang)
b. Tingkat suku bunga (r) yang dipakai dalam penelitian ini adalah
tingkat suku bunga investasi pada Bank Indonesia.
c. Tingkat upah riil yang dimaksud adalah tingkat upah nominal di bagi
indek implisit PDRB Kabupaten Aceh Barat.
d. Produktivitas tenaga kerja yang dimaksud adalah total produksi
pada perkebunan kelapa sawit dibagi dengan jumlah tenaga kerja di
perkebunan kelapa sawit (khusus perkebunan besar) di Kabupaten
Aceh Barat.

C. Permintaan dan Produktivitas Tenaga Kerja di Aceh Barat
1. Permintaan Tenaga Kerja

Permintaan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat

mengalami fuktuasi. Hal ini terjadi karena tidak stabil politik di Nanggroe
Aceh Darussalam yaitu gangguan keamanan dari ekses konfik Pemerintahan

Pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang mempengaruhi terhadap
aktivitas perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat. Pada
tahun 1999 pertumbuhan permintaan tenaga kerja di perkebunan kelapa
sawit menurun sebesar 0,6 persen dan selanjutnya pada tahun 2000 menurun
lagi sebesar 3,42 persen, kemudian tahun 2001 menurun lagi sebesar 0,76

persen. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Grafk 4.1 dibawah ini.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

307

Pada periode tahun 1995-2005 tingkat upah nominal lebih tinggi dari pada
upah riil. Peningkatan tingkat upah riil seiring dengan meningkat tingkat
upah nominal di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat. Pada
tahun 1995-1997 tingkat upah riil mendekati upah nominal, kemudian terus
menjauh kesenjangan upah riil dengan upah nominal pada tahun 1998-
2000. Seterusnya tahun 2001 terlihat sudah mendekati lagi upah riil dengan
upah nominal dan mulai tahun 2002-2005 terlihat semakin menjauh. Artinya
tingkat upah riil dan upah nominal selama periode 1995-2005 tidak terjadi

keseimbangan, hal ini dipengaruhi oleh tinggi rendah infasi. Untuk lebih
jelas dapat dilihat pada Grafk 4.2 dibawah ini.

2. Poduktivitas Tenaga Kerja

Produktivitas tenaga kerja perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh

Barat berfuktuasi, dimana pada tahun 2000 mengalami penurunan sebesar

1,17 persen dan bahkan di tahun 2001 menurun pada posisi mines yaitu -8,54.

Hal ini terjadi karena di tahun 2000 dan 2001 awal terjadi konfik yang mana

perusahaan-perusahaan besar perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh
Barat mengalami gangguan keamanan sehingga terjadi ketidakseimbangan
aktivitas perusahaan. Kemudian pada tahun 2002, perkebunan besar kelapa
sawit di Kabupaten Aceh Barat sudah mulai meminta penjagaan keamanan
dari pihak TNI untuk pengamanan terhadap pemerasan dan intimidasi pihak

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

308

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

Selama periode 1995-2005 tingkat suku bunga kredit investasi Bank Indonesia
mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9,61 persen per tahun. Rata-rata
pertumbuhan suku bunga investasi besar karena berhubungan dengan

kebiakan monoter yang dilakukan pemerintah melalui Bank Sentral untuk

menstabilkan perekonomian Indonesia yang dilanda berbagai krisis seperti
yang terjadi pada tahun akhir tahun 1997 yang lebih dikenal dengan krisis
moneter.

3. Pembahasan

Berdasarkan analisis data didapatlah koefsien estimasi sebagai berikut:

LD = 6,2972 - 0,005627 W/P + 2,8376 PTK - 0,48402 r

Hasil ini diperoleh dengan menggunakan pendekatan OLS (Ordinary Least
Sguares) diperoleh nilai 2

R = 0,9440 , artinya 94 % dari variabel besaran

permintaan tenaga kerja oleh perkebunan kelapa sawit ini dapat dielaskan

oleh variabel independent yang tercakup dalam model, sedangkan 6 % lagi

GAM sehingga mulai tahun ini terjadi partumbuhan produktivitas tenaga

kerja. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Grafk 4.3 dibawah ini.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

309

dari variasi tersebut dielaskan oleh varibel diluar model penelitian ini.

Kemudian F hitung menunjukkan angka 118,915. Yang lebih besar dari 1,734

(nilai F tabel) pada tingkat signifkansi 1 % dari df (3). Artinya secara bersama-

sama variabel tingkat upah riil, produktivitas tenaga kerja, dan tingkat suku

bunga kredit secara statistik mempunyai pengaruh yang signifkan terhadap

jumlah permintaan tenaga kerja oleh perkebunan kelapa sawit di Kabupaten
Aceh Barat.

Di samping tidak terjadi heterostatisitas, penelitian ini juga memenuhi
asumsi linier Klasik lainnya yaitu tidak terjadi serial atau autokorelasi. Yang
ditujukan oleh nilai DW sebesar 1,1377. Dimana setelah dihitung berdasarkan
test DW angka ini merupakan angka yang tidak terjadinya autokorelasi.

Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel upah riil tenaga kerja
bertanda negatif yaitu sebesar 0,005627 pada tingkat alpha 0,10. Temuan ini
mengindikasikan bahwa upah riil tenaga kerja berkorelasi negatif dengan
permintaan tenaga kerja. Artinya bila terjadi kenaikan upah riil 1 % maka
akan menyebabkan penurunan permintaan tenaga kerja di perkebunan
kelapa sawit sebesar 0,0056 %. Hal ini juga berarti semakin tinggi tingkat
upah riil tenaga kerja maka semakin berkurang permintaan tenaga kerja.

Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel produktivitas tenaga kerja
bertanda positif yaitu sebesar 2,8376 pada tingkat alpha 0,05. Temuan ini
mengindikasikan bahwa produktivitas tenaga kerja berkorelasi positif dengan
permintaan tenaga kerja. Artinya bila terjadi kenaikan produktivitas 1 % maka
akan menyebabkan peningkatan permintaan tenaga kerja di perkebunan
kelapa sawit sebesar 2,84 %. Hal ini juga berarti semakin produktif tenaga
kerja maka semakin meningkat permintaan tenaga kerja.

Hasil ini sesuai dengan teori produktivitas tenaga kerja. Di mana menurut
teori produktivitas, produktivitas berhubungan positif dengan permintaan
tenaga kerja.

Variabel tingkat suku bunga kredit mendapatkan hasil estimasi sebesar
0,48402 pada tingkat alpha 0,05. Dari hasil estimasi bahwa variabel tingkat

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

310

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

suku bunga kredit tidak mempengaruhi terhadap permintaan tenaga kerja
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat.

Tidak signifkan pangaruh tingkat suku bunga kredit terhadap permintaan

tenaga kerja, karena perkebunan besar yang ada di Kabupaten Aceh Barat
adalah cabang dari perkebunan besar daerah lain yang bantuan modal
investasi dari hasil perkebunan induk.

Tidak signifkannya pengaruh tingkat suku bunga kredit terhadap permintaan

tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit dikarenakan para investor lebih
memperhatikan faktor keamanan daripada tinggi rendahnya tingkat suku
bunga kredit.

Permintaan tenaga kerja perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat
menuju divergen karena menjauh dari rata-rata tingkat upah riil (w/p) tenaga
kerja perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat.

D. Penutup

Dari analisis data dan hasil pembahasan tentang permintaan tenaga kerja oleh
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat, yang menggunakan data
panel seperti yang diuraikan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan di
antaranya :

Tingkat upah riil berpengaruh negatif terhadap permintaan tenaga kerja.
Atau dengan kata lain meningkatkan upah riil akan menurunkan permintaan
tenaga kerja.

Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas akan
meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja dan sesuai dengan teori
produktivitas tenaga kerja, artinya permintaan tenaga kerja berpengaruh
positif terhadap permintaan tenaga kerja.

Peningkatan atau penurunan tingkat suku bunga kredit tidak secara signifkan

mempegaruhi permintaan tenaga kerja pada perkebunan sawit di Kabupaten
Aceh Barat. Tingkat investasi di perkebunan kelapa sawit di kabupaten Aceh

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

311

Barat tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga tetapi keamanan dan
perusahaan perkebunan di Aceh Barat adalah cabang sehingga akses modal
dari perusahaan induk.

Permintaan tenaga kerja perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat
menuju divergen, artinya kurvanya menjauhi tingkat upah riil rata-rata.

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

312

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

DAFTAR PUSTAKA

Adam, EP, dan R J Eber, (1986), Production and Operation Management, Concept,
Model and Behavior, 3 ED
, Prentice Hall International Edition, New Jersey.

Ahmad, Jamaluddin (1995). “Produktivitas Tenaga Kerja dan Elastisitas
Kesempatan Kerja di Daerah Istimewa Aceh”. Jurnal Ilmiah Mon Mata, No. 20,
Desember 1995. Halaman 15, Penerbit Lembaga Penelitian Unsyiah, Banda
Aceh.

Arsyad Anwar, Muhammad, dkk, (1995), Prospek Ekonomi Indonesia Jangka
Pendek Sumber Daya, Tehnologi dan Pembangunan
, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

As'ad, Moh (2003). Psikologi Industri, Penerbit Liberty, Yogyakarta.

Bellate, Don and Mark Jackson. (1983). Ekonomi Ketenagakerjaan, Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Unirversitas Indonesia, Jakarta.

Depnaker Provinsi Istimewa Aceh, Laporan Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja
Terampil di Propinsi Istimewa Aceh
, Tahun 1996/1997.

Dorn Bush, Rudiger and Stanley Fisher, (1994), Makro Ekonomi, Edisi Keempat,
Diterjemahkan oleh Mulyadi, Erlangga, Jakarta.

Froyen, Richard T, (1995), Macroeconomics Theories and Policies, Fifh Eddition,
Prentice-Hall, Companies. Singapore.

Husni, Lalu (2005), Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Raja Grafndo
Persada, Jakarta.

Mankiw, N. Gregory, 2000. Teori Makro Ekonomi, Edisi Keempat, PT. Erlangga,
Jakarta.

SYAHRIl

Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah

313

McCaferty, stephen, (1990), Macroeconomic Theory, Harper dan Row,
Publisher, New York

Mc Connel, Campbell R and Stanley L Brue (1989), Contemporary Labor
Economics,
Second Edition, Mc Graw-Hill, USA.

Manullang,1983. Ekonomi Moneter, Balai Aksara, Yudhistira, Jakarta.

Nazamuddin, (1998),” Dua Teori Tentang Upah dan Implikasi Ekonomi
Makro”, Jurnal Ekobis, Vol.1. No.1, Mei 1998, Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.

Sedarmayanti, (1995), Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja, Ilham
Jaya, Bandung.

Simanjuntak, Payaman J (1985), Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Unirversitas Indonesia. Jakarta.

Sukotjo, I dan Swastha B, (1985), Pengantar Ekonomi Perusahaan Modern, liberty,
Yogyakarta.

Sukirno, Sadono, 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar
Kebiakan
, LPFE UI, Jakarta.

Sukirno, Sadono, 1994. Pengantar Teori Makro Ekonomi, Grafndo Persada,
Jakarta.

Todaro, Michael, P., 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi keenam,
Erlangga, Jakarta.

Wiaya, Faried, (1991), Perkreditan Bank dan Lembaga-lembaga Keuangan Kita,
BPFE UGM, Yogyakarta.

PERAN 'ĀMIL DALAM PERMBERDAYAAN LAHAN PERKEBUNAN

314

At-Tasyri' | Volume I. No. 3, Oktober 2009-Januari 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->