KIM/ ANL - II

BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2004

KATA PENGANTAR

Pendidikan Menengah Kejuruan sebagai penyedia tenaga kerja terampil tingkat menengah dituntut harus mampu membekali tamatan dengan kualifikasi keahlian standar serta memiliki sikap dan prilaku yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Sejalan dengan itu maka dilakukan berbagai perubahan mendasar di dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Salah satu perubahan tersebut adalah penerapan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi. Dalam rangka mengimplementasikan kebijakan tersebut, maka dirancang kurikulum yang didasarkan pada jenis pekerjaan dan uraian pekerjaan yang dilakukan oleh seorang analis dan teknisi kimia di dunia kerja. Berdasarkan hal itu disusun kompetensi yang harus dikuasai dan selanjutnya dijabarkan ke dalam deskripsi program pembelajaran dan materi ajar yang diperlukan yang disusun ke dalam paket-paket pembelajaran berupa modul. Modul-modul yang disusun untuk tingkat II di SMK program keahlian Kimia Analisis dan Kimia Industri berjumlah empat belas modul yang semuanya merupakan paket materi ajar yang harus dikuasai peserta didik untuk memperoleh sertifikat sebagai Pengelola Laboratorium. Judul-judul modul dapat dilihat pada peta bahan ajar yang dilampirkan pada setiap modul.

BANDUNG, DESEMBER 2003

TIM KONSULTAN KIMIA FPTK UPI

DAFTAR ISI MODUL Halaman HALAMAN DEPAN KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………i DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………..ii PETA KEDUDUKAN MODUL ……………………………………………………….. iv PERISTILAHAN/GLOSARIUM ………………………………………………………. v

I. PENDAHULUAN A. Deskripsi ………………………………………………………………………… 1 B. Prasyarat …………………………………………………………………………. 1 C. Petunjuk Penggunaan Modul ……………………………………………………. 1 1. Panduan belajar bagi siswa …………………………………………………… 1 2. Panduan Mengajar Bagi Guru ………………………………………………… 2 D. Tujuan akhir …………………………………………………………………….. 2 E. Kompetensi ……………………………………………………………………... . 2 F. Cek Kemampuan ………………………………………………………………… 3

II. PEMBELAJARAN A. Rencana Belajar Siswa ………………………………………………………….. 5 B. Kegiatan Belajar ………………………………………………………………… 5 1. Kegiatan Belajar 1 ……………………………………………………………. 5 a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran 1 …………………………………………. 5 b. Uraian Materi: Metode Analisis Kualitatif………….…………………….. 5 1. Analisis Pendahuluan …………………..……………………………… 6 a. Pengamatan terhadap warna, bau, serta bentuk/wujud sampe............. 6 b. Tes kelarutan . …………………..………………………………...... 7 c. Tes keasaman larutan. …………………..…………………………. 7 d. Pemanasan zat pada pipa pijar ………………..……………………. 7 e. Tes nyala …………………..……………………………………….. 8 2. Penentuan Titik Leleh . ………………………………………………... 9 3. Pengamatan Bentuk Kistal ……………………………………………. 10 4. Indeks bias …………………………………………………………….. 11 5. Penentuan Titik Didih............................................................................ . 12

......... 30 Kunci Jawaban Evaluasi ……………………………………………………………....... .. Golongan V (Golongan sisa) …………………………......... 14 f... 14 e......... 16 a.............. Kunci Jawaban Tes Formatif 2 ………………………………………………. 34 ............. Rangkuman 1 ……………………………………… ……………………......... Rangkuman 2………………………………………………………………. 28 e........ Tes Formatif 2........……………………. 33 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………... Tugas 1 ………………………………………………………………….. 15 2... ..............…………………. 14 d..13 c... 29 III..…………………… 23 2..... …………………………………………………………………........... Golongan III ………………………………………….... 30 IV........... Kegiatan Belajar 2 …………………………………………………………………..……………………....... Penentuan Sifat Keasaman dan Kebasaan Sampel ....... Idetifikasi kaiton berdasarkan H2S ………………………………………. Idetifikasi anion ……………………………………...... Golongan I…………………………………………. 22 d.. Tes Formatif 1 …………………………………………………………….................26 c.. EVALUASI …………………………………………………………………........……………………… 18 b. 28 d.... Tujuan Kegiatan Belajar 2 ………………………………………………………… 16 b.......... Kunci Jawaban Tes Formatif 1 . Uraian Materi : Analisis Kualitatif Berdasarkan Metode H2S …………………… 16 1...... Golongan IV ………………………………………….… 20 c........ PENUTUP …………………………………………………………………......... Tugas 2 ………………………………………………………………. 23 e... Golongan II …………………………………………...6.. 28 f.. 16 a...................

Ca2+ : Filtart yang diperoleh dari larutan yang dibuat dengan cara memasak sampel dalam larutan jenuh natrium karbonat Menyublim Metode H2S : Suatu perubahan fasa dari fasa padat ke fasa gas : Suatu cara penentuan kation dalam analisa kualitatif dengan cara klasifikasi kation-kation terhadap beberapa pereaksi klorida.PERISTILAHAN/GLOSARIUM Analisa kualitatif : Suatu analisa untuk menentukan macam atau jenis atau komponen-komponen bahan yang dianalisa. biasanya dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap sifat-sifat fisis sampel Anion Indeks bias : Ion yang bermuatan negatif. misalnya Cl-. misalnya Na +. SO42: Bilangan yang menunjukkan perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya yang melewati suatu media Indikator asam-basa : Suatu zat yang mampu berubah warna yang berlainan dengan adanya perubahan pH Kation Larutan ekstrak soda : Ion yang bermuatan positif. sulfida dan carbonat Tes nyala : Suatu tes yang dilakukan dalam analisa kualitatif dengan cara mengamati warna nyala suatu sampel pada suatu pembakar Titik didih : Suhu dimana tekanan uap zat cair sama dengan tekanan luar di atas permukaan zat cair tersebut Titik leleh : Suhu diamana keadaan setimbang antara fasa padat dan fasa cair Comment: . analisa ini disebut juga sebagai analisa jenis Analisa pendahuluan : Suatu tahapan analisa awal dalam analisa kualitatif.

Dalam modul ini dibahas mengenai analisis kualitatif bahan secara karakterisasi fisis dan secara kualitatif dengan metode H2S. Oleh karena itu anda terlebih dahulu harus sudah menguasai materi modul: 1. . Tiap kotak diberi nomor urut untuk memudahkan penelusuran isi konsepnya. 1. B. Panduan belajar bagi siswa a. warna. titik didih. maka pada bagian ini diberikan panduan belajar bagi siswa dan panduan mengajar bagi guru. indeks bias. Beri kotak segi empat untuk setiap materi/konsep utama yang dibicarakan. PENDAHULUAN.I. Bacalah dengan cepat secara keseluruhan modul ini (skimming) b. Deskripsi Modul asidi alkali metri (Titrasi) ini adalah modul ke 9 yang harus dikuasai siswa di tingkat II untuk Kimia Analisis . Analisis kualitatif bahan secara fisis meliputi pengamatan wujud. dipersyaratkan anda memahami terlebih dahulu dengan baik tentang sifat fisis dan sifat kimia dari bahan termasuk di dalamnya pemahaman tentang reaksi-reaksi kimia. Nama dan Sifat Bahan Kimia 2. Prasyarat Agar dapat menguasai materi modul ini secara optimal . Waktu untuk mempelajari modul ini dialokasikan sebanyak 120 jam. Kimia Unsur 1 C. kelarutan. Petunjuk Penggunaan Modul Modul ini dirancang sebagai bahan untuk melangsungkan pembelajaran maupun kerja mandiri. A. Kegiatan belajar 1 merupakan pembahasan tentang analisis kualitatif bahan secara karakterisasi fisis dan kegiatan belajar 2 mengenai analisis bahan dengan metode H2S. Stoikiometri 3. Sedangkan analisis bahan secara kualitatif dengan metode H2S meliputi analisis kation dan penggolongannya serta analisis anion. Buatlah diagram yang berisikan materi utama yang dibicarakan dalam modul ini berikut aktifitas yang diminta. titik leleh. Pembahasan materi tersebut dibagi dalam dua kegiatan belajar. reaksi nyala serta bentuk kristal. Untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.

e. Ingat! Kunci jawaban hanya digunakan setelah anda mengerjakan soal. Transparansikan bagan ruang lingkup materi titrasi asidi alkali metri dan kaitannya dengan konsep-konsep lain. b. Selesaikanlah tugas-tugas yang diberikan pada modul ini. Tujuan Akhir Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda: 1. Siapkan kertas kosong HVS berukuran 10x10 cm (lebih baik lagi kertas lipat berwarna yang banyak dijual di toko buku). Mampu dan terampil melakukan analisis bahan secara fisis 2. terlebih dahulu dipersiapkan OHT (Overhead Transparencies) yang memuat struktur materi/konsep utama dalam bentuk diagram. Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai melalui modul ini mencakup aspek-aspek: Kompetensi : Menganalisis bahan secara kulitatif . 2. d. Tugaskan pada kelompok siswa untuk menelaah konsep dasar titrasi.c. psikomotor dan afektif. Bimbing siswa dalam melakukan praktek dan menganalisis data hasil titrasi. f. D. Mampu dan terampil melakukan analisis bahan secara kualitatif dengan metode H2S E. Pahami isi masing-masing konsep yang tertera pada diagram. Jawablah semua soal yang menguji penguasaan konsep. Bagi siswa yang belum mencapai penguasaan minimal 80% disuruh untuk mempelajari kembali secara mandiri materi dalam modul ini di rumahnya. Pelajarilah kembali apabila penguasaan kurang dari 80 %. penggolongan titrasi serta alasan pemilihan indikator dalam titsai asam basa. Diskusikan dengan guru dan teman-teman tentang konsep-konsep yang belum anda fahami hingga mendapat kejelasan. Panduan Mengajar Bagi Guru a. dan hanya digunakan untuk mengetahui pemahaman nyata anda. Diskusikan kesulitan siswa dalam memahami dan melakukan titrasi asam basa serta latih keterampilan siswa dalam menentukan titik akhir titrasi. Sebelum pembelajaran dengan modul ini dilangsungkan. c. g. kemudia periksa hasilnya dengan kunci jawaban yang disediakan. e. Evaluasi kemampuan siswa dalam aspek kognitif. d. Tuliskan nomor dan makna atau isi konsep sesuai yang tercantum dalam diagram.

F. titik didih. Keterampilan dalam mengidentifikasi sifat fisis bahan 4. titik leleh dan indeks bias). maka anda dapat mengerjakan soal atau minta pengujian praktek pada guru. menggunakan indikator dalam menentukan keasaman dan kebasaan Sikap : Teliti dan cermat dalam melakukan analisis kualitatif bahan secara fisis dan dengan metode H2S. Sifat fisis bahan (wujud. Beri tanda cek (V) pada tingkat penguasaan sesuai yang ada. Cek Kemampuan Berikut ini merupakan lembar pengecekan kemampuan anda terhadap isi materi yang akan dicapai pada modul.Sub Kompetensi : Melakukan analisis kualitatif bahan secara karakterisasi fisis dan metode H2S. kelarutan. reaksi nyala. Analisis kualitatif bahan dengan metode H2S Keterampilan : Trampil dalam mengamati sifat fisis bahan dan menentukan titik leleh. Lembar isian tersebut harus dipandang sebagai alat evaluasi diri. No Aspek yang harus dikuasai Tingkat pengusaan Baik 1. Pengetahuan anda tentang pengertian analisis kualitatif dan metode-metode yang digunakan 2. dan apabila sebagian besar pertanyaan sudah anda kuasai. oleh karena itu harus diisi dengan sejujurnya. 2. Ketrampilan anda dalam menentukan titik didih Sedang Kurang . 6. warna. titik didih. 5. Pemahaman anda tentang aspek-aspek yang dilakukan dalam menganalisis bahan secara fisis 3. penentuan sifat ke-asaman dan kebasaan. kelarutan. Keterampilan anda dalam melakukan tes nyala Keterampilan anda dalam melakukan tes kelarutan Ketrampilan anda dalam menguji keasaman dan kebasaan larutan 7. indeks. Kriteria unjuk kerja Lingkup belajar Pengetahuan : Analisis kulitatif bahan didasarkan karakterisasi fisis dan metode H2S : Analisis bahan secara kualitatif : 1.

Ketrampilan anda dalam menentukan titik leleh 10. identifikasi dan penggolongan kation 13. Ketrampilan anda dalam menentukan titik indeks bias 9. Ketrampilan anda tentang pemisahan. Pemahaman anda dalam menghubungkan antara data eksperimen dengan perhitungan teoritis. Ketrampilan anda dalam menentukan bentuk kristal 11.8. Keterampilan anda tentang pemisahan dan identifikasi anion 10. . Pengetahuan anda dalam melakukan analisis kualitatif dengan metode H2S 12.

PEMBELAJARAN Rencana Belajar Siswa Tabel berikut merupakan rambu-rambu rencana pembelajaran dengan menggunakan Modul ini. Kegiatan Belajar 1 a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran 1 Melalui kegiatan belajar satu ini. Rambu-rambu ini bersifat flesibel dan dapat dimodifikasi sesuai dengan kondisi sekolah. diharapkan anda: 1) Mampu menjelaskan metode-metode yang digunakan dalam analissi kualitatif.II. Jenis Kegiatan Tanggal Waktu Tempat Belajar KBM 1 Analisis kualitiatif berdasarkan sifat fisis bahan KBM 2 Analisis kualitatif dengan metode H2S 60 Kelas dan Laboratorium 40 Kelas dan Laboratorium Perubahan dan Alasan Tanda tangan Guru KEGIATAN BELAJAR 1. 2) Mampu menjelaskan tentang aspek-aspek yang dilakukan dalam menganalisis bahan secara fisis 3) Mampu mengidentifikasi sifat fisis bahan 4) Terampil melakukan tes nyala 5) Terampil melakukan tes kelarutan 6) Terampil dalam menguji keasamnan dan kebasaan 7) Terampil menentukan titik leleh 8) Terampil menetukan bentuk kristal .

kelarutan. K3[Fe(CN)6] : Dikromat : garam-garam dari mangan dan kobalt yang berhidrat . Begitu pula bila sampel berupa padatan. warna nyala. Uraian Materi 1 Metode Analisis Kualitatif Analisa kualitatif atau disebut juga analisa jenis adalah untuk menentukan macam atau jenis zat atau komponen-komponen bahan yang dianalisa. kelarutan serta keasaman. pemanasasan dalam tabung uji serta tes nyala. 1. bau. misalnya dalam Physical and Chemical Data Hand Book. Data tentang sifat-sifat fisis ini dapat ditemukan dalam suatu Hand Book. Berdasarkan metodenya. lakukanlah terlebih dahulu analisis pendahuluan. titik didih. Misalnya bagaimanakah warna. Pengetauan ini sangat diperlukan dalam manarik kesimpulan yang tepat. yaitu analisis kation dan analisis anion. Misalnya ada suatu sampel cairan dalam gelas kimia.2. Kedua. bau. titik leleh. indeks bias. Lakukanlah pengamatan terhadap warna. serta kelarutannya. Pada bab ini akan diuraikan bagaimana cara melakukan analisa kualitatif tersebut. serta bentuk/wujud sampel. analisa kualitatif dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. baik sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimianya. analisis bahan berdasarkan karakterisasi fisis. Analisis kualitatif berdasarkan sifat fisis bahan Sebelum kita melakukan penentuan sifat fisis berupa penentuan titik leleh dan bentuk kristal untuk sampel padat dan penentuan titik didih dan indeks bias untuk sampel cair. Dalam melakukan analisa kita mempergunanakan sifat-sifat zat atau bahan. bentuk. Harus disadari bahwa untuk melakukan analisa kualitatif yang cepat dan tepat diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai sifat fisis bahan-bahan yang dianisa. HgI2. Analisis Pendahuluan Cara melakukan analisis pendahuluan: a. bau. kita tentukan bagiamanakah warna. Beberapa contoh senyawa berwarna adalah sebagai berikut: Merah Merah jingga Merah jambu : Pb3O4. massa jenis serta kelarutan. bau. Untuk sampel padat analisis pendahuluan meliputi: warna. analisis bahan berdasarkan metode H2S. bau. bentuk kristal. Bila kita ingin tahu apa sampel cair itu maka kita lakukan analisa kualitatif terhadap sampel cairan itu. Caranya ialah kita tentukan sifat-sifat fisis sampel tersebut. Pertama. Sedangkan untuk sampel cair analisis penaduluan meliputi: warna. yaitu penentuan sifat fisis dan keasaman.

asam sulfat dan asam klorida. Amati apakah zat melarut. ester. Biru Hijau Kuning Merah jingga Ungu Merah jambu : Tembaga(II) : Nikel. Beberapa contoh zat yang sukar larut dalam air adalah BaSO4.3H2O. pengukuran keasaman dapat pula menggunakan indikator universal atau pH meter. FeCl3 dan kromat. eter. garam-garam nikel. garam-garam tembaga(II) berhidrat : Fe3O4 : MnO2 Bila zat dilarutkan dalam air atau dalam asam encer. Tes keasaman larutan Larutan yang bersita asam akan mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah. besi(II). : Garam-garam besi(II). b. alkohol. asam asetat. seperti aseton. BaCO3. kromium(III) : Kromat. seperti karbon tetraklorida. Goyang-goyangkan supaya zat dapat larut. serta asam asetat. . Tes kelarutan. Beberapa contoh zat yang memberikan bau khas yaitu: alkohol. aseton. Tes kelarutan dilakukan dengan cara memasukkan sedikit sampel ke dalam tabung reaksi kemudian ke dalamnya tambahkan pelarut. ester. CaCO3 dan senyawa organik yang memiliki polaritas rendah. warna larutan harus diperhatikan karena mungkin memberikan keterangan yang berharga. dan larutan yang bersifat basa akan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru. glukosa.Kuning Hijau Biru Coklat Hitam : K4[Fe(CN)6]. atau pelarut lainnya). heksasianoferat(II) : Dikromat : Permanganat : Kobalt Beberapa contoh cairan tak berwana yaitu: H2O. Bagaimanakah kelarutan zat tersebut dalam beberapa pelarut (air. Bila ada. c. Sedangkan senyawa organik nonpolar tidak larut dalam air. dan CuCl2 : garam-garam kobal anhidrat. asam asetat dan amonia. Semua senyawa nitrat larut baik dalam air. seperti alkohol. Beberapa senyawa organik yang memiliki polaritas tinggi kelarutannya cukup baik dalam air. amonia. Di bawah ini beberapa contoh warna ion yang terdapat dalam larutan encer. alkohol.

Gejala-gejala yang dapat dilihat adalah: • Perubahan warna Contoh: Tanpa penguraian: F2O3 pada waktu dingin berwarna coklat dan pada waktu panas berwarna hitam. yaitu KOH. FeSO4. Melumer disertai penguraian dan tidak terjadi perubahan warna.d. warna sublimat kuning Kamper. Contoh: HgCl2. zat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu zat-zat yang bentuknya berubah tetapi tidak terurai dan zat-zat yang terurai.6H2O dan MgSO4. dapat pula disertai perubahan maupun tanpa perubahan warna. ZnO pada waktu dingin berwarna putih dan pada waktu panas berwarna kuning Mengalami penguraian: CuSO4. Contoh: Melumer tanpa disertai penguraian. ketika dipanaskan dapat pula terjadi pengeluaran uap air atau gas seperti beberapa contoh berikut ini. contoh: CO2 . Pemanasan zat pada pipa pijar Pemanasan sampel pada pipa pijar dapat dilakukan pada sampel padat.5H2O pada waktu dingin berwarna biru dan pada waktu panas berwarna putih. yaitu mengalami perubahan fasa dari fasa padat ke fasa gas. warna sublimat putih seperti kabut • Keluar uap air atau gas Pada beberapa sampel. yaitu CaCl2. • Melumer Ketika sampel padat dipanaskan dapat melumer disertai penguraian maupun tanpa penguraian. Berdasarkan sifatnya pada waktu dipanaskan. Gas tidak berwarna dan tidak berbau.7H2O pada waktu dingin berwarna hijau muda dan pada waktu panas berwarna putih. warna sublimat putih As2S3.7H2O. • Menyublim Ketika sampel padat dipanaskan dapat pula menyublim.

Tes nyala Beberapa senyawa logam tertentu dapat memberikan warna yang khas pada nyala pembakar Bunsen. Ketika melakukan tes nyala perlu difahami secara benar bagian-bagian utama nyala Bunsen. misalnya kuning dari Natrium dan lembayung dari Kalium. Warna nyala dapat dilihat dengan mata langsung atau melalui kaca kobalt seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini. Untuk membuktinnya selanjutnya dilakukan analisis sifat fisis sampel seperti penentuan titik leleh serta bentuk kristal untuk sampel padatan. H2S Gas berwarna dan berbau. kemudian dimasukkan ke dalam nyala pada daerah oksidasi bawah. Cara menentukan tititk leleh suatu zat Haluskan zat yang akan diperiksa.5 – 2 mm dengan tingginya ± 5 cm. 2. Untuk . contoh: NO2 (berwarna coklat) dan I2 (berwarna merah lembayung) e. Ambil pipa kapiler yang berdiameter ± 1.Gas tidak berwarna tapi berbau. dan penentuan titik didih dan indeks bias untuk sampel cairan. Tabel: Beberapa warna nyala Senyawa logam Na K Ca Sr Ba Kuning Lembayung Merah bata Merah tua Hijau kekuningan Warna nyala Warna nyala melalui kaca kobalt Tak tampak (tak ada warna) Merah tua Hijau muda Ungu Hijau kebiruan Hasil dari analisis pendahuluan ini akan mengasilkan kesimpulan sementara. Masukkan zat kedalam pipa kapiler dengan cara mengetuk-ngetukan ujung pipa kapiler yang terbuka diatas zat dalam gelas arloji sampai terisi ± 2mm (sampai dapat diamati) dan cukup rapat. contoh: NH3. Penentuan Titik Leleh Titik leleh suatu zat adalah suhu dimana terjadi keadaaan setimbang anatara fasa padat dengan fasa cair. bakar salah satu ujungnya sampai tertutup rapat. Tes nyala dilakukan dengan cara mencelupkan kawat platina atau nikrom yang telah bersih ke dalam HCl pekat lalu disentuhkan ke dalam zat yang akan diperiksa.

Tempelkan pipa kapiler pada termoter dengan ujung pipa kapiler yang tertutup tingginya sejajar sejajar dengan tinggi reservoir termometer kemudian ikat. dengan cara menjatuhkan pipa kapiler yang berisi zat dalam corong atau pipa berulang-ulang. Sedangkan untuk titik leleh yang lebih tinggi dari 250°C dapat dipergunakan melting blok. Hentikan pemanasan kemudian catat suhu saat kristal terbentuk kembali. Panaskan penangas tersebut dengan cepat sampai suhu 40° C. Hal-hal yang harus diperhatikan supaya memperoleh hasil yang baik atau mendekati 1) Penangas harus dipanaskan dengan kecepatan yang teratur (kenaikan kira-kira 2°C tiap menit) bila sudah mendekati titik lelehnya. 3. yang dapat diacapai dengan cara : a) Jumlah zat yang dilelehkan harus sedikit b) Zat harus duhaluskan terlebih dahulu dan dimasukkan secara padat kedalam pipa kapiler. Masukkan kedalam pemanas. karena bentuk kristal suatu zat adalah khas.membantu supaya zat mudah turun pada bagian bawah pipa kapiler yang tertutup bisa menggunakan bantuan corong gelas yang berleher panjang atau pipa. Pada alat yang lebih modern. karena sistem pemanasan sudah menggunakan sumber energi listrik serta bagian pengamatan untuk proses pelelehan sudah dilengkapi kaca pembesar/mikroskop sehingga hasil penentuan titik leleh sampel akan lebih akurat. Pengamatan Bentuk Kistal Informasi tentang bentuk kristal suatu zat padat sangat penting dalam analisis kualitatif zat. c) Pipa kapiker yang dipergunakan harus tipis dan diameternya harus kecil Dalam memilih penangas perlu diperhatikan sampai seberapa besar temperatur yang akan di amati. . Catat suhu mulai zat meleleh dan saat zat meleleh semuanya. gliserin yang tidak mengandung air atau minyak jenuh. pengaturan suhu untuk pelelehan dan pengamatan terhadap proses pelelehan lebih mudah. Untuk titik leleh dibawah 100°C dapat diperguinakan air. 2) Memperkecil perbedaan waktu antara proses pelelehan dan pemindahan panas. kemudian naikkan lagi 20°C secara perlahan-lahan dan akhirnya pemanasan diteruskan dengan kenaikan suhu 1°C sampai dengan 2°C tiap menit (api kecil). Diatas 100°C 250°C dapat dipergunakan minyak parafin (parafin cair). Alat yang biasa digunakan untuk melihat bentuk kristal adalah mikroskop.

oleh karena itu lebih mudah pecah. cuci dengan dengan air dan keringkan dengan cara menggosok dengan kapas beralkohol. maka kombinasi dari kedua pembesaran adalah 100X. Kekuatan pembesaran miskroskop ditentukan oleh pembesaran obyektif dan okuler. lensa-lensa dari obyektif dan okuler harus dijaga tetap bersih. Tempatkan obyektif yang terendah ukurannya dengan jarak dekat diatas slide. . Putar cermin untuk mendapatkan cahaya yang sempurna. Gelas-gelas untuk peralatan optik selalu lebih lembut daripada gelas-gelas untuk peralatan lain. Untuk membersihkannya dapat digunakan alkohol atau yang lebih baik lagi dengan menggunakan xylol. Untuk memperkecil atau memperbesar penglihatan putar obyektif berlawanan dengan arah jarum jam diatas slide. Oleh karena itu indek bias yang diukur pada kondisi tersebut dinyatakan dengan simbol n20/D. Hindarkan slide tersebut dari gangguan goncangan selama pertumbuhan kristal. dengan cara meneteskan minyak tersebut pada slide yang akan diperiksa. kemudian lakukan lagi dengan menggunakan kapas kering yang bersih hingga kering. Larutkan zat yang akan diperiksa dalam pelarutnya sampai jenuh. Pada waktu digunakan hindari tempat yang basah atau dekat dengan api. Celupkan ujung batang pengaduk kedalam larutan tersebut. 4. Apabila gambar kurang jelas putar mikrometer. Mikroskop merupakan alat optik oleh karena itu harus dijaga dengan hati-hati. biarkan kristal tumbuh. Caranya adalah dengan meneteskan alkohol atau xylol pada kapas kemudian gosokkan pada lensa tersebut. Apabila kristal telah tumbuh dengan jumlah dan ukuran yang cukup untuk diamati. kemudian putar makrometer dengan arah obyektif menjauhi slide sehingga didapatkan gambar. Panjang gelombang cahaya dan temperatur yang biasa digunakan sebagai standar adalah cahaya natrium (D) dan temperatur 20° C.Cara mengamati bentuk kristal Bersihkan slide mikroskop. Untuk memperjelas penglihatan dengan menggunakan pembesaran yang besar digunakan bantuan olive oil. kemudian kenakan pada slide hingga merata. Indeks bias Indek bias adalah bilangan yang menunjukan perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya yang melewati suatu media.Alat yang digunakan untuk menentukan indek bias adalah Refraktometer. Jika tidak digunakan. Misalnya: Jika obyektif dengan pembesaran 10X dan okuler 10X. letakan dan jepit slide pada meja tepat ditengah-tengah lingkaran lobang mikrosop yang telah dibersihkan sebelumnya.

Penyimpanan harus dilakukan ditempat kering dan bersih. bersihkan dengan menggunakan kapas berlakohol kemudian keringkan. ujung pipet tetes tidak boleh kena pada kaca prisma. kemudian putar kembali makrometer sampai batas terang gelap memotong titik perpotongan dua garis diagonal yang saling berpotongan. 5. oleh karena itu harus diperlakukan secara benar. Baca angka pada layar. Berdasarkan jumlah zat yang digunakan penentuan titik didih dibagi menjadi dua cara. Untuk membersihkannya dapat digunakan kapas beralkohol. Pembacaan hanya dilakukan pada angka bagian atas. dengan bilangan keempat dibelakang koma ditentukan berdasarkan penafsiran sipembaca. Penentuan Titik Didih Titik didih suatu zat adalah suhu dimana tekanan uap zat cair sama dengan tekanan luar diatas permukaan zat cair tersebut. Sesudah kering teteskan zat yang akan diperiksa sampai menutup semua permukaan prisma tersebut secara merata kemudian tutup. kemudian ikat. Panaskan secara perlahan-lahan dengan api kecil. Putar makrometer. Prisma refraktometer terbuat dari gelas batu api yang lunak sehingga mudah tergores dan mengalami korosi. Tempelkan tabung reaksi kecil pada termometer dengan tinggi ujung tabung reaksi sejajar dengan ujung reservoir termiometer. Sebelum dan sesudah digunakan kaca prisma harus selalu bersih dan kering. Cepat hentikan pemanasan kemudian catat suhu saat gelembung . Cara menentukan tititk didih secara mikro Ambil pipa kapiler yang berdiameter ± 1mm dengan panjang 9-10 cm. Pada waktu menesteskan zat yang akan diperiksa. a.Cara menentukan Indek Bias Buka prisma refraktometer. Catat suhu pada saat mulai timbul gelembung pada ujung pipa kapiler serta pada saat gelembung yang terjadi cepat dan teratur. Serta pada waktu digunakan jangan ditempat yang basah atau dekat dengan api. Simpan kembali refraktometer pada kotak yang tersedia setelah digunakan. Bakar salah satu ujungnya sampai tertutup rapat. Atur cahaya yang masuk apabila belum jelas. apabila tidak kelihatan batas terang gelap putar mikrometer. Masukkan pipa kapiler tersebut pada tabung reaksi kecil yang berisi zat yang akan diperiksa dengan ujung pipa kapiler yang terbuka tercelup pada zat tersebut. yaitu penentuan titik didih secara mikro bila jumlah zat yang digunakan sedikit dan penentuan titik didih secara makro bila jumlah zat yang diguanakan banyak. Masukkan kedalam penangas yang telah diberi batu didih.

Dalam pengionannya terjadi kesetimbangan HIn (warna A) H+ + In(warna B) Dengan sendirinya letak kesetimbangan tergantung dari pH lingkungannya. akibatnya warna larutan . Dalam larutan asam. baik indikator universal. Untuk zat yang mempunyai titik didih yang tingi (lebih dari 250°C) penangas yang digunakan adalah penangas pasir dengan pendingnya adalah pendingin udara. Atur pemanasan hingga pemanasan destilat ±2 tetes per detik. Suhu pada saat konstan menunjukkan titik didih zat cair. Bacalah suhu pada setiap lima detik. Perubahan warna suatu indikator asam basa disebabkan oleh sifat keasaman atau kebasaan lingkungannya. Masukkan batu didih dan zat pada labu destilasi (isi zat dalam paling banyak 2/3 bagian dari labu). kertas lakmus maupun indikator asam basa lainnya yang yang merupakan hasil sintesis maupun hasil isolasi dari bahan alam. terjadinya trayek merupakan akibat kesetimbangan dan kemampuan mata untuk membedakan campuran warna. letak trayek pH pada pH tinggi atau rendah atau di tengah tergantung dari besar kecilnya Ka atau Kb indikator yang bersangkutan 4. Titik didih zat adalah rata-rata dari data tersebut. kemudian masukkan pula batu didih pada penangas. Data yang mendekati adalah data yang perbedaan suhunya kecil (± 5°C). kemudian tentukan titik didihnya. Amati data tersebut. pengionan akan tertekan oleh ion-ion H+ dalam larutan asam. Panaskan mula-mula dengan api kecil kemudian diperbesar sampai zat mendidih. Andaikan suatu indikator bersifat asam lemah dan kita beri simbol Hin. karena: 1. sehingga lebih banyak molekul HIn terdapat dalam larutan itu daripada ion In-. Penentuan Sifat Keasaman dan Kebasaan Sampel Penentuan sifat asam atau basa suatu sampel dapat dilakukan secara langsung dengan alat pH meter atau dengan menggunakan suatu indikator.terakhir keluar. molekul-molekul indikator tersebut mempunyai warna yang berbeda dengan ion-ionnya 3. Cara menentukan tititk didih secara makro dengan destilasi Pasang alat seperti gambar dibawah ini. 6. indikator asam basa merupakan asam organik lemah atau basa organik lemah 2. b.

d.lebih banyak ditentukan oleh warna molekul HIn (warna A) daripada warna ion In.2 – 6.0 3. kelarutan.0 Warna Asam Merah Merah Kuning Merah Kuning Kuning Kuning Tidak Berwarna Tidak Berwarna Tidak Berwarna Warna Basa Kuning Kuning Biru Kuning Biru Merah Purpur Merah Biru Violet c.3 – 10. Dalam larutan basa.4 3.5 10. bau. bentuk. yaitu analisis yang dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap karakteristik fisis sampel. sehingga kesetimbangan di tarik ke arah kanan. hanya saja letak kesetimbangannya berbeda-beda. Pada tebel berikut ini ditunjukkan beberapa jenis indikator serta trayek pH.9 – 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Kuning Metil Jingga Metil Hijau Bromkresol Merah Metil Biru Bromtimol Merah Fenol Purper Kresol Fenolftalein Timolftalein Kuning Alizarin Trayek pH 2. Dalam analisis pendahuluan ini dilakukan penentuan sifat-sifat fisis dan keasaman.6 9.6 6. Sedangkan untuk sampel cair analisis pendahuluan meliputi warna.0 7. pemanasan dalam tabung uji serta tes nyala.0 – 7. Jadi dalam larutan basa terdapat jauh lebih banyak ion In. kelarutan dan keasaman.8 – 5.1 – 4.4 – 9.1 – 12. ion-ion ini mengikat ion H+ dari kesetimbangan di atas.4 – 8. lebih ke kiri atau lebih ke kanan atau di tengah. Tugas .6 8.4 4. Pada setiap pH terdapat kesetimbangan di atas.(warna B). Tabel : Beberapa indikator asam-basa yang penting No.3 6. terdapat banyak ion OH-.0 – 9. Untuk sampel padat analisis pendahuluan meliputi warna. Rangkuman Dalam melakukan analisis kualitatif terhadap sampel diawali dengan analisis pendahuluan. bau.daripada molekul HIn sehingga warna larutan basa tersebut lebih banyak ditentukan oleh warna B.

bau. Sebutkan metode analisis kualitatif bahan secara fisis untuk sampel cairan 3. Jelaskan cara menentukan indeks bias sampel f. kelarutan dan keasaman Cara analisis pendahuluan untuk sampel padat yaitu dengan cara mengamati warna. Cara analisis pendahuluan untuk sampel cair yaitu dengan cara mengamati warna. 5. 2. Sebutkan metode analisis kualitatif bahan secara fisis untuk sampel padatan. Sesudah kering teteskan zat yang akan diperiksa sampai menutup semua permukaan prisma tersebut secara merata kemudian tutup. Kunci Jawaban Tes Formatif 1 1. Warna nyala dapat dilihat dengan mata langsung atau melalui kaca kobalt. dengan bilangan keempat dibelakang koma ditentukan berdasarkan penafsiran sipembaca.Carilah beberapa data mengenai titik leleh. Jelaskan cara melakukan tes nyala. 5. Atur cahaya yang masuk apabila belum jelas. Pembacaan hanya dilakukan pada angka bagian atas. Jelaskan cara melakukan analisis pendahuluan 2. Putar makrometer. Baca angka pada layar. penentuan bentuk kristal dan titik leleh 4. bersihkan dengan menggunakan kapas berlakohol kemudian keringkan. kemudian dimasukkan ke dalam nyala pada daerah oksidasi bawah. tes nyala dan pengamatan dalam tabung uji atau pipa pijar. Tes nyala dilakukan dengan cara mencelupkan kawat platina atau nikrom yang telah bersih ke dalam HCl pekat lalu disentuhkan ke dalam zat yang akan diperiksa. 4. Metode analisis kualitatif secara fisis untuk sampel padat yaitu analisis pendauluan. titik didih dari beberapa zat padat dengan menggunakan Handbook. Metode analisis kualitatif secara fisis untuk sampel cair yaitu analisis pendauluan. kemudian putar kembali makrometer sampai batas terang gelap memotong titik perpotongan dua garis diagonal yang saling berpotongan. Tes Formatif 1 1. e. bau. Buka prisma refraktometer. apabila tidak kelihatan batas terang gelap putar mikrometer. . penentuan indeks bias dan titik didih 3.

air raja (HCl:HNO3 = 3:1). Kegiatan belajar 2 a. Larutan cuplikan dapat mengandung bermacam-macam kation. Supaya mendapatkan larutan cuplikan yang baik. Sebagai pelarut dapat dicoba dahulu secara berturut-turut mulai dari air. zat yang akan dianalisis dihomogenkan dahulu sebelum dilarutkan. Mula-mula dicoba dalam keadaan dingin lalu dalam keadaan panas. HNO3 encer. Idetifikasi kaiton berdasarkan H2S Kaiton dalam suatu cuplikan dapat diketahui dengan melakukan uji menggunakan pereaksi-pereaksi yang spesifik.2. Tujuan Kegiatan Belajar 2 Setelah mempelajari materi dalam kegiatan belajar 2 ini. maka semua asam harus dihilangkan dengan cara menguapkan larutan sampai hampir kering. Oleh karena itu umumnya dilakukan terlebih dahulu penggolongan kaiton. Bila pelarutnya HCl pekat larutan harus diuapkan sampai sebagaian besar HCl habis. Sebelum dilakukan pengendapan golongan dan reaksi identifikasi kation dengan cara basah cuplikan padat harus dilarutkan dahulu. Uraian Materi 2 Analisis Kualitatif Berdasarkan Metode H2S 1. HCl encer. misalnya cara fosfat dari Remy. diharapkan anda dapat melakukan identifikasi dan penggolongan kation dan anion berdasarkan metode H2S b. HCl pekat. HNO3 pekat. meskipun agak sulit mendapatkan pereaksi yang spesifik untuk setiap kaiton. kemudian ditambahkan sedikit HCl. Bila larutan HNO3 atau air raja. diuapkan lagi sampai volumenya sedikit lalu encerkan dengan air.Ada beberapa cara pemerikasaan kation secara sistematis. cara Peterson dan .

Penambahan perekasi golongan akan mengendapkan ion-ion dalam golongan tersebut. Pemisahan kation berdasarkan cara H2S dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.+ NH4OH sampai alkalis lemah .2N (diperiksa metil lembayung) .Tidak boleh mengeluarkan dengan (NH4)2S (NH4)2S .cara H2S.Saring Endapan Filtrat .+ NH4OH dan (NH4)2S berlebihan . penambahan HCl 2N diteruskan sampai tidak keluar lagi endapan.Dipanaskan sebentar ± 60°C .Larutan dimasak untuk menghilangkan H2S (dicek dengan H2S kertas Pb asetat) .Tidak boleh mengeluarkan endapan lagi dengan HCl 2N HCl . Treadwell dan Noyes.Baik ada endapan mau pun tidak.Dipanaskan sampai hampir mendidih ± 80 °C lalu dialiri gas H2S selama 2 atau 3 menit.Larutan dimasak lalu disaring Endapan Filtrat endapan lagi Golongan .Dialiri H2 S lagi selama 10 menit dan terus di saring Endapan Filtrat Golongan . sulfida dan karbonat kation tersebut. larutan diencerkan sampai ± 100 mL dengan aquades sampai ke asaman larutan menjadi ± 0. Masing-masing golongan kemudian dipisahkan kemudian dilakukan pemisahan ion-ion segolongan dan dilakukan identifikasi terhadap masing-masing ion. Lalu disaring.± 5 mL NH4Cl . Endapan Filtrat Golongan . Bila ada endapan. Pada bagian ini akan dibahas pemisahan kation berdasarkan sekema H2S menurut Bergman yang diperluas oleh Fresenius. .+ (NH4)2S tidak berwarna . amonium sulfida dan amonium karbonat.Dipanaskan .Larutan dikisatkan sampai ± 10 mL . Tabel: Pemisahan kation berdasarkan metode H2S Ke dalam ± 5 mL larutan contoh diteteskan HCl 2N.Biarkan 5 menit . Jadi klasifikasi kation didasarkan atas perbedaan dari klorida. Dalam cara H2S kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifatsifat kation tersebut terhadap beberapa pereaksi. hidrogen sulfida. Pereaksi golongan yang paling umum dipakai adalah asam klorida.± 5 mL HCl 4N .Tidak boleh mengeluarkan endapan lagi dengan H2S .+ 2 mL HNO3 dan dimasak 2 atau 3menit .

Hg+.V) Gambar: Skema pemisahan kation berdasarkan metode H2S a. Ag+) membentuk endapan dengan HCl encer. II Filtrat + NH4Cl + NH4OH + (NH4)2S tak berwarna Endapan Gol. . Untuk memastikan apakah endapan tersebut hanya mengandung satu kation. I Filtrat + H2 S / H+ (HCl 0. Hg2Cl2 dan AgCl yang semuanya berwarna putih. Endapan tersebut adalah PbCl2. III Filtrat + NH4OH + (NH4)2CO3 Endapan Gol. IV Filtrat Gol.2-2N) Endapan Gol. dua katiom atau tiga kation maka dilanjutkan dengan pemisahan dan identifikasi kation golongan I. Sisa (Gol.Golongan (NH4)2CO3 - Larutan dibagi 2 yang tidak sama Bagian yang kecil dikisatkan sampai kering. yang caranya dapat dilihat pada tabel berikut. residu (sisa) putih menunjukan adanya golongan sisa Larutan contoh Tambah HCl encer Endapan Gol. Golongan I Kation golongan I (Pb2+.

ini sebagai kristal menunjukkan Pb sudah tidak ada Filtrat dibagi menjadi 3 . pemisahan dan identifikasi kationkation golongan I tersebut adalah sebagai berikut: 1. AgCl dan Hg2Cl2 Cuci endapan di atas saringan. + Jika hitam. terbentuk endapan putih PbSO4 yang larut dalam larutan amonium asetat Pb2+ ⊕ Reaksi-reaksi yang terjadi pada pengendapan. mula-mula dengan 2 ml HCl encer lalu 2-3 kali dengan sedikit air dingin. encerkan. 1. Sedangkan AgCl larut dalam amonia encer membentuk ion kompleks diamenargentat. terbentuk endapan saring jika perlu. AgCl(s) + 2NH3 [Ag(NH3)2]+ + Cl2+ - - AgCl (s) (endapan putih) PbCl2 (s) (endapan putih) Hg2Cl2 (s) (endapan putih) . terdiri dari Mungkin terbentuk endapan Hg(NH2)Cl + Hg endapan [Ag(NH3) 2]Cl PbCrO4 berwarna dilarutkan dalam 3-4 ml air Bagi menjadi 2 bagian: kuning dan tidak larut raja mendidih. + H2SO4 encer. Air cucian dibuang . Lalu + 2.+ 10-15 ml larutan NH4OH (1:1) panas pada endapan bagian Filtrat Residu larutan K2CrO4.Enapan dipindahkan ke dalam gelas kimia kecil tambahkan 15 ml air dan panaskan . + beberapa tetes KI.Saring dalam keadaan panas Filtrat Residu Mungkin mengandung PbCl2 . terbentuk endapan kuning berubah menjadi Hg Larutan tidak berwarna muda AgI + dan ketika didinginkan Hg ⊕ + keluar kristal kuning Ag ⊕ 3.Endapan dicuci beberapa kali dengan air panas sampai air Larutan biasanya PbCl2 keluar cucian tak memberi endapan dengan larutan K2CrO4. . Reaksi Pengendapan Ag+ + ClPb2+ + ClHg2 + 2 Cl 2.Mungkin mengandung Hg2Cl2 dan AgCl didinginkan.Tabel: Pemisahan dan identifikasi kation golongan I Endapan mungkin mengandung PbCl2. terbentuk putih AgCl larutan SnCl sehingga endapan kuning. + Larutan KI. dalam air mendidih. mengandung 1. Asamkan dengan HNO3 dalam asam asetat encer encer. Pemisahan Endapan PbCl2 larut dalam air panas tetapi membentuk kristal seperti jarum setelah dingin. larut endapan putih Hg2Cl2 2.

Endapan Hg2Cl2 oleh larutan amonia diubah menjadi campuran merkrium (II) amidoklorida dan logam merkurium yang kedua-duanya merupakan endapan. As2S3 (kuning). Sb2S3 (jingga). CuS (hitam). Kation golongan II dibagi lagi menjadi lagi dua sub golongan berdasarkan kelarutan endapan tersebut dalam amonium polisulfida. Hg2Cl2 (s) + 2NH3 3. Sb3+. Cu2+ . Cu2+. Ion-ion golongan IIB ini bersifat amfoter. Sn4+) membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Sn4+) larut membentuk garam-garam kation. SnS (coklat) SnS2 (kuning). Bi3+. Golongan II Kation golongan II (Hg2+. Semua sulfida dari golongan IIB larut dalam (NH4)2S tidak berwarna kecuali SnS. PbS (hitam). Sb3+. Reaksi identifikasi Pb2+ + CrO42Pb Pb 2+ Hg (s) + Hg(NH2)Cl (s) + NH4+ + ClPbCrO4 (s) (endapan kuning) PbI2 (s) (endapan kuning) + 2I 2- 2+ + SO4 + PbSO4 (s) (endapan putih) Cl I- [Ag(NH3)2] + + 2 H+ + 2 H+ AgCl (s) (endapan putih) + AgI (s) (endapan kuning) + 2 NH4+ 2 NH3 [Ag(NH3)2]+ + b. Cd2+. Cd2+) tidak larut dalam amonium polisulfida. Kation-kation golongan II dan kation-kation golongan III sama-sama membentuk endapan sulfida namun mengapa kation-kation golongan III tidak mengendap pada pengenadapan kation golongan II? . oksidanya membentuk garam baik dengan asam maupun dengan basa. Sn2+. As3+. As2S5 (kuning). Pb2+. CdS (kuning). As5+. Pb2+ . Sb5+. Bi3+. Sn2+. Bi2S3 (coklat). Sb5+. yaitu sub golongan tembaga (golongan IIA) dan sub golongan arsenik (Golongan IIB). Sb2S2 (jingga). Sulfida dari sub golongan tembaga (ion Hg2+. Endapan yang terbentuk adalah : HgS (hitam). As5+. sedangkan sulfida sub golongan arsenik (As3+.

1 [H ] [S ] = 6.0 x 10-22 1.3x 10-18 1.1x 10-18 Zn(OH)2 Co(OH)2 Ni(OH)2 Fe(OH)2 Mn(OH)2 Al(OH)3 Cr(OH)3 7.6 x 10-18 6.0 x 10-27 1.6 x 10-52 6.0 x 10-22 6.1 M dan tetapan ionisasi asam sulfida (Ka) adalah 6.8 x 10-16 4. Diketahui bahwa larutan jenuh H2S mempunyai konsentrasi kira-kira 0.7 x 10-93 sangat kecil 1.3 x 10-28 8.7 x 10–24 .8 x 10 + 2 –23 2H+ + S2= 6.8 x 10–24 Jika konsentrasi larutan HCl 2M.6 x 10-23 5.8 x 10–23 maka: H2S Ka = [H2S] [H+]2 [S2-] 6.0 x 10-32 1.Tabel: Hasil kali kelarutan beberapa endapan sulfida dan hidroksida Zat HgS CuS Bi2 S3 PbS CdS SnS Sb2S3 As2S3 ZnS CoS NiS FeS MnS Hasilkali kelarutan 1.5 x 10-14 1.8 x 10–23 [H+]2 [S2-] = 0.0 x 10-30 Zat Hasilkali kelarutan Pengendapan kation golongan II dan III dibedakan atas dasar pengaturan keasaman.3 x 10-18 4.8 x 10–24 [S ] = 2 2 2- 2- = 1.3 x 10-36 1.2 x 10-27 1.0 x 10-97 1.5 x 10-18 1. maka 6.

0 x 10-27 sedangkan yang mempunyai hasil kali kelatutan paling rendah pada golongan III adalah ZnS yaitu 1.01 maka [M] (6. Golongan III Sebelum pengendapan golongan ini dilakukan.0 x 10–27 berarti CdS mengendap 1.8 x 10–24 = 6.1 x 1.adalah sebabagi berikut: [Cd2+] [S2-] = 0.6 x 10-23.8 x 10–24 [S ] = (10 ) -9 2 2- [10-9]2 [S2-] = 6. oksalat dan borat). Mn2+. Apabila konsentrasi HCl lebih kecil dari 0. Dari daftar hasil kali kelarutan yang terdapat tabel di atas dapat dilihat bahwa endapan yang mempunyai hasil kali kelarutan paling besar pada golongan II adalah CdS yaitu 8.7 x 10–25 > 8. Zn2+ dan S2.1 x 1.7 x 10–24 = 1.6 x 10–23 berarti ZnS belum mengendap Dengan diperhitungkan seperti ini untuk keasaman HCl 0.8 x 10–24 menjadi 6.7 x 10–25 < 1. Al3+) membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal.2M dengan larutan jenuh H2S diperoleh bahwa sulfida golongan III yang paling mudah mengendap (ZnS) belum mengendap. misalnya pH = 9 maka [H+] = 10-9 dan [OH-] = 10-5.7 x 10–24 = 1. Pada konsentrasi ion hidrogen basa lemah (±10-9) maka [H+]2 [S2-] = 6. Cr(OH)3 (hijau) NiS (hitam).2M makan ZnS akan ikut mengendap pada pengendapaan golongan II. Kation golongan III (Co2+. c.7 x 10–25 [Zn2+] [S2-] = 0.01 x (6.8 x 10–6) = 0.7 x 10–25 Bila dibandingkan dengan harga Ksp maka: 1.8 x 10–8 . MnS (merah jambu) dan ZnS (putih). Fe2+. Bila ion-ion tersebut ada maka harus dihilangkan dahulu. Cr3+. Endapan yang terbentuk adalah FeS (hitam). terlebih dahulu diperiksa adanya ionion pengganggu (fosfat.1 M dapat dihitung garam sulfida mana yang mengendap. Zn2+.8 x 10–6 Bila [M] = 0. Pada pengendapan kation golongan III ditambahkan buffer NH4OH dan NH4Cl (pH basa lemah). Ni2+. Bila dihitung hasil kali antara konsentrasi ion Cd2+.Jika konsentrasi kation golongan II dan III masing-masing 0. Al(OH)3 (putih).8 x 10–6) = 6.

sedangkan SrCrO4 dan CaCrO4 larut.6 x 10-9 4. e. tetapi ion amonium tidak dapat diperiksa dari filtrat IV. maka keduanya tidak diendapkan dalam suasana asam asetat encer.3 x 10-2 9. Sr2+dan Ba2+) mengendap sebagai karbonatnya dalam suasana netral atau sedikit asam dengan adanya amonium klorida. K+dan NH4+). d.1 x 10-9 1. Endapan yang terbentuk adalah BaCO3. Na+. sulfat dan oksalat. Sedangkan ion Ca2+ mudah diidentifikasi dengan mengendapkannya sebagai CaC2O4 disusul dengan uji nyala.6 x 10-5 2.7 x 10-7 5. CaCO3 dan SrCO3 yang semuanya berwarna putih. Ba2+ + CrO42BaCrO4 (s) Dengan menambahakan larutan amonium sulfat jenuh dan memanaskannya maka sebagian besar SrSO4 mengendap setelah didiamkan.6 x 10-10 3.6x 10-9 BaCrO4 hampir tidak larut dalam suasana asetat encer.8 x 10-7 2. Golongan IV Kation golongan ini (Ca2+.2 x 10-11 2. Garam logam alkali tanah yang digunakan untuk pemisahan satu sama lain ialah kromat. Tabel: Hasil kali kalarutan garam logam alkali tanah Zat BaCrO4 SrCrO4 CaCrO4 BaSO4 SrSO4 CaSO4 Hasilkali kelarutan 1.0 x 10-8 2.8 x 10-9 1. karbonat. Dalam tabel hasil kali kelarutan beberapa endapan sulfida dan hidroksida dapat dilihat bahwa Ksp [M][S2-] < Ksp [M] [OH-] Dengan demikian untuk kation yang sama akan mengendap sebagai sulfida dahulu.Ini menunjukkan bahwa hasil kali kelarutan semua sulfida golongan III sudah dilampaui. . Golongan V (Golongan sisa) Kation golongan V (Mg2+.3 x 10-4 BaCO4 SrCO3 CaCO3 BaC2O4 SrC2O4 CaC2O4 Zat Hasilkali kelarutan 8. Untuk identifikasi ion-ion ini dapat dilakukan dengan reaksi-reaksi khusus atau uji nyala.

Cd 2+ : Dengan H2S membentuk endapan kuning CdS. Hg 2+ : Dengan menambahkan larutan KI secara perlahan-lahan akan membentuk endapan merah HgI2. As 3+ : Dengan tes Gutzeit akan terbentuk warna hitam pada kertas saring setelah dibiarkan beberapa lama Kertas saring yang dibasahi dengan larutan AgNO3 Kapas dibasahi dengan Pb(CH3COOH)2 H2SO4 encer dan larutan yang mengandung As3+ Zn Gambar: Tes Gutzeit (Identifikasi As3+) Sb3+ 3+ : Denga larutan NaOH atau NH3 membentuk endapan putih yang larut dalam larutan basa alkali yang pekat (5M). yang akan larut kembali dalam KI berlebih karena membentuk kompleks [HgI4]2-. Dengan amonia mengendap sebagai hidroksida pula. . Endapan tidak larut dalam air panas tapi larut dalam amonia encer karena membentuk kompleks Ag(NH3)2+. yang larut dalam asam pekat dan tidak larut dalam KCN.Berikut ini contoh identifikasi kation-kation tersebut Pb 2+ : Dengan asam klorida encer membentuk endapan putih PbCl2 dalam larutan dingin dan tidak terlalu encer. : Dengan NaOH dalam larutan dingin membentuk endapan biru Cu(OH)2. Ag + : Dengan asam klorida encer membentuk endapan putih AgCl. Asam nitrat encer dapat menetralkan kelebihan amonia sehingga endapan dapat terbentuk kembali. Endapan tidak larut dalam air panas tapi larut dalam air raja. membentuk antimonit. Sn : Dengan larutan NaOH membentuk endapan putih Sn(OH)2 yang larut dalam NaOH berlebih. Bila endapan tersebut dipanaskan akan terbentuk endapan hitam CuO. Hg2 2+ : Dengan asam klorida encer membentuk endapan putih Hg2Cl2. Endapan larut dalam air panas dan membentuk kristal seperti jarum setelah larutan dingin kembali. Bi3+ Cu2+ : Dengan NaOH membentuk endapan putih Bi(OH)3 yang larut dalam asam. yang tidak larut dalam NaOH berlebih. tetapi tidak larut dalam pereaksi berlebih.

: Dengan larutan NaOH terbentuk endapan putih Mg(OH)2 yang tidak larut dalam pereaksi berlebih tetapi mudah larut dalam garam amonium. tidak boleh ada ion NH+ dalam larutan karena akan memberikan reaksi yang sama dengan K+. : Dengan larutan basa membentuk endapan gelatin putih yang larut dalam pereaksi berlebih. Catatan. : Dengan larutan aminium oksalat membentuk endapan putih SrC2O4 yang sedikit larut dalam air. Co 2+ Ni2+ 2+ : Dengan larutan NaOH terbentuk endapan hijau Ni(OH)2 yang larut dalam amonia tetapi tidak larut dalam NaOH berlebih. mudah larut dalam asam asetat encer dan asam mineral.9H2O . : Dengan larutan NaOH terbentuk endapan Mn(OH)2 yang mula-mula berwarna putih dan akan berubah menjadi coklat bila teroksidasi. : Dengan larutan amonium oksalat terbentuk endapan putih CaC2O4 yang tidak larut dalam air maupun asam asetat. Ba Sr 2+ Ca 2+ Mg2+ + K Na+ :Dengan pereaksi seng uranil asetat terbentuk kristal kuning NaZn(UO2)3(CH3COO)9. tidak larut dalam asam asetat encer tapi larut dalam asam mineral. : Dengan larutan aminium oksalat membentuk endapan putih BaC2O4 yang sedikit larut dalam air. Al 3+ Cr 3+ : Dengan larutan NaOH terbentuk endapan hijau Cr(OH)3 yang akan larut kembali dengan penambahan asam. Fe : Dengan larutan NaOH membentuk endapan coklat kemerahan Fe(OH)3 yang tidak larut dalam pereaksi berlebih. tetapi larut dalam asam mineral.Fe2+ 3+ :Dengan larutan K4Fe(CN)6 dalam keadaan tanpa udara terbentuk endapan putih K2Fe[Fe(CN) 6]. : Dengan menambahkan beberapa butir kristal NH4SCN ke dalam larutan Co2+ dalam suasana netral atau sedikit asam akan terbentuk warna biru dari ion [Co(SCN)4]2-. Mn Zn2+ 2+ : Dengan larutan NaOH akan terbentuk endapan gelatin putih Zn(OH)2 yang larut dalam asam dan dalam pereaksi berlebih. : Dengan larutan Na 3[Co(NO2)6] terbentuk endapan kuning K3[Co(NO2)6] yang tidak larut dalam asam asetat encer. Pada keadaan biasa akan terbentuk endapan biru muda.

Identifikasi anion yang menguap bila diolah dengan asam dibagi dua lagi yaitu anion membentuk gas bila diolah dengan HCl encer atau H2SO4 encer. Idetifikasi anion Cara identifikasi anion tidak begitu sistematik seperti pada identifikasi kation. anion yang mungkin ada adalah klorida karena PbCl2 larut dalam air panas. IV dan Mg2+ pada golongan skema H2S) maka pemeriksaan anion menggunakan larutan ekstrak soda.2. kalarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya. warna. garam-garam kalsium. Gilreath menggolongkan anion berdasarkan pada kelarutan garam-garam Ca. dapat memberikan petunjuk tentang anion yang mungkin ada atau tak ada dalam larutan sampel. Biasanya sebelum digunakan ditabahkan dulu asam. Identifikasi anion meliputi analisis pendahuluan. Demikian pula identifikasi anion berdasarkan reaksi dalam larutan dibagi dua yaitu anion yang diidentifikasi dengan reaksi pengendapan dan dengan reaksi redoks. Selain itu ada cara penggolongan anion menurut Bunsen. barium dan seng. Bunsen menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam bariumnya. Karena ES suasana basa maka larutan ES ini tidak dipergunakan tanpa pengaturan suasana yang tepat. Filtrat yang diperoleh disebut ekstrak soda (ES). kation yang ditemukan Pb2+. Larutan ekstrak soda dibuat dengan memasak cuplikan dalam larutan jenuh natrium karbonat selama ±10 menit. Sedangkan Vogel menggolongkan anion berdasarkan pada proses yang digunakan dalam identifikasi anion yang menguap bila diolah dengan asam dan identifikasi anion berdasarkan reaksinya dalam larutan. Gilreath dan Vogel. Salah satu cara penggolongan anion adalah pemisahan anion berdasarkan kelarutan garam-garam perak. analisis anion dari zat asal dan analisis anion dengan menggunakan larutan ekstra soda. Tida mungkin nitrat karena timbal nitrat mudah larut dalam air dingin. zat asal larut dalam air panas. Sebagai contoh: . Bila dalam pemeriksaan kation ditemukan kation-kation logam berat (kation golongan I. Dari hasil analisis sebelumnya (data kelarutan) dan pengetahuan tentang kation yang ada. III. Ba. Sebagai contoh. Cd dan garam peraknya. II. dan anion yang membentuk gas atau uap bila diolah dengan H2SO4 pekat. lalu disaring.

asam nitrat encer tetapi larut dalam HCl pekat panas. karbonat dan karbonat basa. Bila terjadi warna biru tua menunjukkan ion pengoksida ada. CN - : Denga larutan AgNO3 terbentuk endapan putih AgCN yang mudah larut dalam larutan sianida berlebih karena membentuk ion komplkes [Ag(CN)2] : Dengan larutan FeCl3 membentuk warna merah darah. Ag3[Fe(CN) 6] yang larut dalam amonia tetapi tidak larut dalam asam nitrat.: Dengan larutan AgNO3 membentuk endapan merah jingga. : Dengan larutan Ion akan terjadi penghilangan warna iod karena terbentuk larutan tetrationat yang tak berwarna. Berikut ini akan dibahas beberapa reaksi identifikasi anion yang lain. . Bila Na2CO3 yang ditambahkan banyak maka CrO42. Endapan diuraikan oleh larutan hidroksida alkali membentuk endapan Fe(OH)3 yang berwarna coklat. : Dengan larutan KI kemudian diasamkan dengan asetat atau sulfat encer akan dibebaskan iodium yang dapat diidentifikasi dari timbulnya warna biru dalam pasta kanji. Dari hasil identifikasi sebelumnya dapat ditehui adanya beberapa anion seperti CO32dan CH3COO-.. [Fe(CN)6]3. Pada pemanasan dengan penambahan Na2CO3 ion-ion logam diendapkan dalam bentuk oksida.• Analisis terhadap ion-ion preduksi Warna KMnO4 hilang menunjukkan ion pereduksi positif ada ES + H2SO4 (4N) + KMnO4 Warna KMnO4 tidak hilang menunukkan ion pereduksi tidak ada • Analisis terhadap ion-ion pengoksida ES + H2SO4 (4N) kemudian dituangkan dengan hati-hati ke dalam larutan difenil amin dalam H2SO4 pekat. hidroksida. Fungsi larutan ekstrak soda adalah untuk mengendapkan kation logam berat dan untuk mempertinggi kelarutan anion.yang dapat larut makin banyak. Bila bukan biru tua maka menunjukkan ion pengoksida tidak ada. 4- SCN- [Fe(CN)6] : Dengan larutan FeCl3 akan terbentuk endapan biru prusia dalam larutan netral atau asam. SO32S2O3 2- : Dengan larutan KmnO4 yang diasamkan dengan asam sulfat encer akan terjadi penghilangan warna ungun KmnO4 karena MnO4 tereduksi menjadi ion Mn2+. SO42NO2 - : Dengan larutan barium klorida membentuk endapan putih BaSO4 yang tak larut dalam HCl encer.

larut dalam amonia pekat. tetapi larut dalam amonia encer. H2S. amonium sulfida dan amonium karbonat. Tes Formatif 2 1. Rangkuman 2 Dalam analisa kualitatif yang dilakukan berdasarkan metode H2S kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation tersebut terhadap beberapa pereaksi. - NO3 : Dengan tes cincin coklat. Identifikasi anion meliputi analisis pendahuluan. Sebagai contoh. Tugas 2 Pelajari tabel pemisahan dan identifikasi kation golongan I. Bagaimana cara memisahkan kation-kation tersenut? . Tida mungkin nitrat karena timbal nitrat mudah larut dalam air dingin. buatlah skema pemisahan golongan tersebut. d. kation yang ditemukan Pb2+. Sebutkan masing-masing 3 contoh kation yang termasuk ke dalam golongan tersebut! c. Dalam analisis kation secara sistematis dengan metode H2S: a. ketika didinginkan terbentuk keping-keping kuning keemasan. analisis anion dari zat asal dan analisis anion dengan menggunakan larutan ekstra soda. KCN dan Na2S2O3 tetapi tidak larut dalam sama nitrat encer. anion yang mungkin ada adalah klorida karena PbCl2 larut dalam air panas. Tambahkan 3 ml larutan FeSO4 yang segar ke dalam 2 ml larutan NO3-. Pereaksi yang paling umum dipakai adalah HCl. Tuangkan 3-5 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Terbentuknya cicncin coklat menunjukkan adanya NO3-. Kation dibagi dalam berapa golongan? b. Br : Dengan larutan AgNO3 membentuk endapan kuning AgBr yang sukar larut dalam amonia encer. dapat memberikan petunjuk tentang anion yang mungkin ada atau tak ada dalam larutan sampel. I - : Dengan larutan Pb asetat terbentuk endapan kuning PbI2 yang larut dalam air panas yang banyak membentuk larutan tidak berwarna. c. zat asal larut dalam air panas. Dari hasil analisis sebelumnya (data kelarutan) dan pengetahuan tentang kation yang ada. e.Cl- : Dengan larutan AgNO3 membentuk endapan putih AgCl yang tidak larut dalam air dan asam nitrat encer. Cara identifikasi anion tidak begitu spesifik seperti pada identifikasi kation.

Mula-mula dilakukan dalam keadaan dingin kemudian dalam keadaan panas. Air. K+ c. . Untuk mengatur keasaman b. Sebutkan urutan pelarut yang digunakan untuk melarutkan cuplikan pada analisis kation secara sistematis! 3. AgCl 4. HNO3 encer. Kation dibagi dalam 5 golongan b. HCl pekat. Hg+. c. Ba2+ Golongan V contoh: Mg2+. Sebagai contoh untuk memisahkan endapan PbCl2 dari endapan AgCl dengan cara melarutkannya dalam air panas. Endapan tersebut tidak larut dalam air panas tetapi larut dalam NaOH. Cu2+. Golongan I contoh: Pb2+. Agar Zn tidak ikut mengendap c.2. Cd2+ Golongan IIB contoh: As3+. a. Sn2+ Golongan III contoh: Co2+. a. Ag2+ Golongan IIA contoh: Bi3+. HCl encer. Pada pengendapan kation golongan II menurut cara H2S a. Kunci Jawaban Tes Formatif 2 1. HNO3 pekat. Sr2+. Mn2+ Golongan IV contoh: Ca 2+. Dengan cara membuat kondisi dimana salah satu kation larut sedangkan yang lainnya tidak larut. Sb3+. Mengapa harus ditambahkan HCl 4M? Mengapa keasaman harus diatur? Mengapa pengaliran gas H2S harus diatur pada suhu kurang lebih 80°C? f. dimana PbCl2 larut dalam air panas sedangkan AgCl tidak larut. 2. b. Na+. Ni2+. Pada pemeriksaan kation suatu sampel diketahui dapat larut dalam air dan menghasilkan endapan putih ketika ditetesi HCl 2M. Pengendapan kation sebagai senyawa logam sulfida dipengaruhi oleh suhu. air raja. 3. Kation apakah yang terdapat di dalamnya? 4.

Data yang mendekati adalah data yang perbedaan suhunya kecil (± 5°C). Tempelkan tabung reaksi kecil pada termometer dengan tinggi ujung tabung reaksi sejajar dengan ujung reservoir termiometer. Cara menentukan tititk didih secara mikro Ambil pipa kapiler yang berdiameter ± 1mm dengan panjang 9-10 cm. Jelaskan cara menetukan titik didih sampel 2. Panaskan secara perlahan-lahan dengan api kecil. Bakar salah satu ujungnya sampai tertutup rapat. Jelaskan cara mengamati bentuk kristal sampel 3. EVALUASI Jawablah pertanyaan berikut ini! 1. Catat suhu pada saat mulai timbul gelembung pada ujung pipa kapiler serta pada saat gelembung yang terjadi cepat dan teratur.III. Berika alasan mengapa Mg dimasukkan ke dalam golongan sisa? Kunci Jawaban Evaluasi 1. Bagaimana cara menghilangkan adanya asam-asam pengganggu tersebut? 6. Apa yang dimaksud dengan ekstrak soda? Jelaskan cara pembuatan ekstrak soda b. Terangkan kegunaan dari tes Gutzeit dan tes cincin coklat. 8. 9.dan CH3COO-. a. Tuslikan reaksi dan jelaskan apa yang akan terjadi dalam pemeriksaan anion-anion: CO32-. kemudian tentukan titik didihnya. Jelaskan cara menentukan titik leleh sampel 4. Amati data tersebut. Apa fungsi ekstrak soda? 7. yaitu penentuan titik didih secara mikro bila jumlah zat yang digunakan sedikit dan penentuan titik didih secara makro bila jumlah zat yang diguanakan banyak. Cl. . kemudian ikat. Cepat hentikan pemanasan kemudian catat suhu saat gelembung terakhir keluar. Jelaskan cara menentukan sifat asam atau basa sampel 5. Sebutkan asam-asam pengganggu dalam pemeriksaaan kation dengan cara H2S! b. Sebutkan ion-ion yang mudah menguap dan bagaimana cara pemeriksaannya. SO42-. 10. Masukkan pipa kapiler tersebut pada tabung reaksi kecil yang berisi zat yang akan diperiksa dengan ujung pipa kapiler yang terbuka tercelup pada zat tersebut. Masukkan kedalam penangas yang telah diberi batu didih. Berdasarkan jumlah zat yang digunakan penentuan titik didih dibagi menjadi dua cara. a. Titik didih zat adalah rata-rata dari data tersebut.

maka kombinasi dari kedua pembesaran adalah 100X. dengan cara meneteskan minyak tersebut pada slide yang akan diperiksa. Celupkan ujung batang pengaduk kedalam larutan tersebut. kemudian masukkan pula batu didih pada penangas. Atur pemanasan hingga pemanasan destilat ±2 tetes per detik. dengan cara menjatuhkan pipa kapiler yang berisi zat dalam corong atau pipa berulang-ulang. kemudian kenakan pada slide hingga merata. Larutkan zat yang akan diperiksa dalam pelarutnya sampai jenuh. 2. cuci dengan dengan air dan keringkan dengan cara menggosok dengan kapas beralkohol. Apabila gambar kurang jelas putar mikrometer. Misalnya: Jika obyektif dengan pembesaran 10X dan okuler 10X. Apabila kristal telah tumbuh dengan jumlah dan ukuran yang cukup untuk diamati. Masukkan zat kedalam pipa kapiler dengan cara mengetuk-ngetukan ujung pipa kapiler yang terbuka diatas zat dalam gelas arloji sampai terisi ± 2mm (sampai dapat diamati) dan cukup rapat. Panaskan mula-mula dengan api kecil kemudian diperbesar sampai zat mendidih. Bersihkan slide mikroskop.Cara menentukan tititk didih secara makro dengan destilasi Pasang set alat destilasi dan asukkan batu didih dan zat pada labu destilasi (isi zat dalam paling banyak 2/3 bagian dari labu). Untuk memperkecil atau memperbesar penglihatan putar obyektif berlawanan dengan arah jarum jam diatas slide. Tempatkan obyektif yang terendah ukurannya dengan jarak dekat diatas slide. Masukkan kedalam pemanas. Kekuatan pembesaran miskroskop ditentukan oleh pembesaran obyektif dan okuler. bakar salah satu ujungnya sampai tertutup rapat. Haluskan zat yang akan diperiksa. Putar cermin untuk mendapatkan cahaya yang sempurna. Bacalah suhu pada setiap lima detik. Untuk membantu supaya zat mudah turun pada bagian bawah pipa kapiler yang tertutup bisa menggunakan bantuan corong gelas yang berleher panjang atau pipa. kemudian . kemudian putar makrometer dengan arah obyektif menjauhi slide sehingga didapatkan gambar. Hindarkan slide tersebut dari gangguan goncangan selama pertumbuhan kristal. letakan dan jepit slide pada meja tepat ditengah-tengah lingkaran lobang mikrosop yang telah dibersihkan sebelumnya. Suhu pada saat konstan menunjukkan titik didih zat cair.5 – 2 mm dengan tingginya ± 5 cm. Panaskan penangas tersebut dengan cepat sampai suhu 40° C. Ambil pipa kapiler yang berdiameter ± 1. Tempelkan pipa kapiler pada termoter dengan ujung pipa kapiler yang tertutup tingginya sejajar sejajar dengan tinggi reservoir termometer kemudian ikat. 3. Untuk memperjelas penglihatan dengan menggunakan pembesaran yang besar digunakan bantuan olive oil. biarkan kristal tumbuh.

hidroksida. b.naikkan lagi 20°C secara perlahan-lahan dan akhirnya pemanasan diteruskan dengan kenaikan suhu 1°C sampai dengan 2°C tiap menit (api kecil).+ Ba 2+ - BaSO4 endapan putih AgCl endapan putih Cl identifikasinya pengendapan dengan Ag+ Cl. baik indikator universal. Catat suhu mulai zat meleleh dan saat zat meleleh semuanya. 7. lalu disaring. Perubahan warna suatu indikator asam basa disebabkan oleh sifat keasaman atau kebasaan lingkungannya.+ Ba 2+ 2- BaCO3 endapan putih SO4 identifikasinya pengendapan dengan Ba2+ SO42. Fungsi larutan ekstrak soda adalah untuk mengendapkan kation logam berat dan untuk mempertinggi kelarutan anion. CO32. 4. a.identifikasinya pengendapan dengan Ba2+ CO32. Larutan ekstrak soda adalah larutan yang dibuat dengan memasak cuplikan dalam larutan jenuh natrium karbonat selama ±10 menit. analisisnya dengan tes Gutzeit 8. Contohnya As3+. Kegunaan tes Gutzeit untuk identifikasi ion As3+ 10. b. kertas lakmus maupun indikator asam basa lainnya yang yang merupakan hasil sintesis maupun hasil isolasi dari bahan alam. Pada pemanasan dengan penambahan Na 2CO3 ion-ion logam diendapkan dalam bentuk oksida.yang dapat larut makin banyak. Dengan cara mengendapkan terlebih dahulu ion-ion penggangggu tersebut. karbonat dan karbonat basa. Filtrat yang diperoleh disebut ekstrak soda (ES).+ Ag+ 9. Penentuan sifat asam atau basa suatu sampel dapat dilakukan secara langsung dengan alat pH meter atau dengan menggunakan suatu indikator. 6. 5. oksalat dan borat. Posfat. a. Karena Mg2+ terdapat dalam filtrat ketika pemisahan golongan IV . Hentikan pemanasan kemudian catat suhu saat kristal terbentuk kembali. Bila Na2CO3 yang ditambahkan banyak maka CrO42.

.IV. Siswa dapat melanjutkan ke modul berikutnya setelah mengikuti proses belajar mengajar minimal aspek kognitif 80% dan aspek psikomotor dan sikap 90%. PENUTUP Demikianlah modul ini dibuat untuk membantu siswa menyelesaikan salah satu sub kompetensi dari kompetensi menganalisa bahan secara kualitatif berdasarkan sifat fisis bahan dan identifikasi serta penggolongan kation dan anion berdasarkan metode H2S.

. 5th edition.G. Svehla. edisi 5 Jilid I dan II. Inc. (1988). (1989). alih bahasa). Analytical Chemistry: Principles and Techniques.A. Jakarta: Kalman Media Pustaka . (Setiono & Pudjaatmaka. G. R. (1985) Vogel Analsis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi mikro. Hargis. New Delhi: Prentice-Hall. L.D.L.DAFTAR PUSTAKA Crsitian. (1994).. G. A. and Underwood.. G. Qulitatif Analysis. New York: John Wiley & Sons. New Jersey : Prantice Hall. Day.D. Analytical Chemistry. 5th edition.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful