Silaturahmi Dalam Islam

Silaturahmi dalam Islam BAB I PENDAHULUAN Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah.. ³Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? "Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ibnu Majah). Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR. Bukhari). BAB II SILATURAHMI DALAM ISLAM "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS Muhammad : 2223) Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan, Heraklius pernah bertanya kepadanya â¼³kala itu Abu Sufyan masih Kafir- : Apa yang diperintahkan oleh Muhammad ? Abu Sufyan menjawab : Dia memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, bersedekah, menjaga kehormatan diri (al-'iffah) dan menyambung tali silaturahmi. (HR Bukhari) Setiap muslim di dunia ini patut bersyukur bahwa di dalam syari'at islam terkandung nilai dan norma-norma yang sangat tinggi nilainya. Dan jika seluruh nilai dan norma yang merupakan way of life tersebut dijalankan secara menyeluruh, niscaya â¼³baik kita sadari walaupun tidakhal tersebut akan mendatangkan kemaslahatan baginya, baik di dunia kita sekarang ini maupun di kehidupan yang mendatang. Salah satu dari tuntunan hidup Islam tersebut adalah silaturahmi. Bahkan lebih dari itu, silaturahmi merupakan salah satu ajaran akhlaq yang paling asasi di dalam Islam. Dalam konteks keseharian kita masyarakat Indonesia yang notabene sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, pelaksanaan praktek silaturahmi dapat dengan mudah kita jumpai. Lihat saja budaya orang-orang Indonesia setiap kali lebaran 'Idul Fitri dan hari raya 'Idul Adha

menjelang. Lepas dari bubar melaksanakan sholat sunnah 'Ied, berbondong-bondong mereka saling berpeluk-salaman, saling kunjung mengunjungi antar rumah. Mulai dari rumah-rumah tetangga yang dapat ditempuh hanya dengan mengandalkan kaki, hingga rumah-rumah handai tolan nun jauh di belahan bumi lainnya yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat terbang. Di luar dua moment besar Islam ini, pesona silaturahmi masih dapat dengan kental kita rasakan pada kehidupan keseharian masyarakat pelosok dan pedalaman desa. Hal yang sangat kita sayangkan, bentuk interaksi yang sangat mulia ini lambat laun dari hari ke hari nampaknya kian memudar. Padahal, silaturahmi bukan hanya sekedar bermuatan tali persaudaraan. Jauh melewati hal tersebut, silaturahmi pada hakikatnya adalah cara pandang dan sikap hidup seorang muslim â¼³dengan nilai universal- yang menjadikannya sebuah pelita yang selalu menyinari keadaan di sekelilingnya. Banyak sekali dari kita yang secara fisik memang mempraktekkan silaturahmi, yaitu silaturahmi -dalam arti harfiyah yang selama ini kita fahami- yang bertujuan untuk mempererat ukhuwah yang telah terbina antar sesama kita. Namun tidak jarang manakala kita sedang mengunjungi salah seorang kerabat, hati ini masih tetap menyimpan kebencian dan dendam terhadapnya. Apalah artinya jika kita bersilaturahmi secara fisik saja, sementara kalbu kita bertolak belakang dengannya. Bersilaturahmi hendaknya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh, luar dan dalam, secara lahiriyah dan batiniyah. Nuansa persaudaraan ini haruslah terjalin dari hati ke hati, hal itu berarti bahwa ibadah yang hukumnya wajib ini harus disertai rasa tulus dan ikhlas. Layaknya ibadah wajib lainnya dalam syari'at Islam, silaturahmi bisa membawa implikasi langsung dan tak langsung terhadap jalannya roda kehidupan seorang muslim. Hal ini juga membawa dampak sebab-akibat, baik ketika silaturahmi itu kita laksanakan atau ketika kita meninggalkannya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda : "Barangsiapa yang ingin banyak rezeki dan panjang usia, sambungkanlah tali silaturahmi" (HR Bukhari) Hadits di atas hanya merupakan salah satu contoh dari sekian banyak keutamaan silaturahmi. Dengan silaturahmi kita akan mendapat limpahan cinta kasih dari orang-orang terdekat kita, sebagaimana Allah akan lebih menyayangi kita. Lebih dari itu, silaturahmi dapat membawa kita menuju pintu syurga kelak di akhirat nanti, insyaAllah. Sebaliknya manakala kita meninggalkan silaturahmi, kita akan mendapatkan imbalan yang telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya :"Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS Muhammad : 2223) Dalam hadits yang diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Abu Awfa, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya : "Rahmat (Allah) tidak akan turun kepada suatu kaum/ummat yang di dalamnya terdapat orang yang memutus tali silaturahmi" (HR Bukhari dan Baihaqi) Pada hakikatnya bentuk pengejewantahan dari silaturahmi tidaklah hanya sebatas aksi saling mengunjungi antar sesama. Banyak hal yang bisa kita laksanakan masuk dalam kategori pelaksanaan silaturahmi. Ibnu 'Abidin al-Hanafy berkata : "Silaturahmi itu wajib hukumnya walaupun hanya dengan mengucapkan salam, memberi selamat, dengan memberi hadiah, dengan menolong sesama, atau dengan mujalasah, bersikap lembut, berbuat ihsan. Untuk ringkasnya, ada beberapa perbuatan yang termasuk dalam batas minimal dari silaturahmi

dan saling menyakiti. Ambil contoh. sejauh yang saya ketahui. atau kembali ke asal kejadian. orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. (Ali 'Imron: 134-135) diperintahkan. Karena itu. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa. saling fitnah. dan memfitnah. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Sahabat. Halal-bihalal. pertikaian. Namun demikian. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan. Sementara itu. Wallahu a'lam bis-shawab Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian. dan jawaban tersebut akan menjadi lebih jelas manakala kita memulainya. berarti â¼×baik⼌. Quraish Shihab. maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Menurut Dr. kesalahan. menggunjing. Meskipun kata ini beras dari bahasa Arab. perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. dan saling memberi kasih sayang. tidak semua yang halal selalu berarti baik. paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. beberapa perbuatan yang bisa dikategorikan ke dalam batas maksimal silaturahmi adalah ziyarah mengunjungi kerabat. Dalam skala yang lebih luas. tidak dibebani dosa apapun. berarti suci. dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. atau saling menjatuhkan. ekonomi. orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Kelahiran seorang manusia. mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Dengan terhubungnya silaturahmi. maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. senyum dan tidak menyakiti orang lain. bahkan lebih senang berkoalisi dengan pihak lain. adalah yang baik dan yang menyenangkan. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif. Idul Fitri merupakan momen penting untu saling memaafkan. pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa. diibaratkan secarik kertas putih. halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi) (Shihab. memberi selamat pada tiap moment hari raya. Itulah makna Idul Fitri. Idul Fitri diambil dari sebuah tradisi khas masyarakat Melayu. Akan tetapi. baik secara individu maupun kelompok. namun sangat dibenci (berarti tidak baik). Sebagai umat yang taat. bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal. 1992: 317). Dalam pengertian pertama ini kata halal adalah lawan dari kata haram. bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan kepada sesama muslim. kata â¼×halal⼌ terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. selain makna â¼×diperkenankan⼌. masih dalam pandangan Islam. Halal-bihalal merupakan tradisi khas da unik bangsa ini. memiliki arti 'diperkenankan'. hukum. dalam kaca Islam. Itulah makna Idul Fitri. dapatkah kita merealisasikannya dalam kehidupan keseharian kita. saling menjauhi. berbagai kelompok yang ada harus dijadikan sarana berkompetisi untuk mencapai satu tujuan mulia. perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. kaum muslim memang diwajibkan ada yang terjun di bidang politik. hingga tidak lagi kita lihat seseorang berjalan beriringan dalam dendam. Kata halal memiliki dua makna. mampu menahan amarah dan memaafkan dan berbuat Kelak. Kelahiran seorang manusia. sekarang setelah kita mengetahui segala hal mendasar tentang hakikat silaturahmi. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. seperti ditegaskan Rasulullah SAW: Talak adalah halal. Dan dalam kenyataannya. yaitu fithrah. maka dikhawatirkan bahwa bangsa dan negara tersebut akan terputus dari rahmat dan pertolongan Allah SWT. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. dalam hal ini. yaitu fithrah. apakah halal-bihalal memiliki landasan teologis? Dalam Al bahasa Arab. Kedua. Kelahiran seorang anak. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air. Sebagai umat yang besar. misalnya talak (Arab: Thalaq. perlu upaya kebajikan terhadap orang lain. Perhatikan keluarga kita.seperti mengucapkan salam. diibaratkan secarik kertas putih. tidak saling menghancurkan dan berperang. kita berkewajiban untuk mendukung segala kegiatan yang menyatukan langkah berbagai kelompok kaum muslimin dan mempererat tali persaudaraan diantara kita semua. sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Dan dalam kenyataannya. Kelahiran seorang anak. karena tanpa itu kita akan dipermainkan dan kepentingan kita tidak ternaungi secara legal di dalam kehidupan bermasyarakat. dalam kaca Islam. . dalam lingkup sebuah negara. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab. menjenguk yang sakit. dan mereka yang dengan dilandasi iman. Dalam pengertian yang lebih luas. dan beberapa perbuatan lainnya. memberikan hadiah. Pertama. ukuran halal yang patut dijadikan Ditulis oleh Rizqon Khamami pedoman. apalagi kalau di belakang sudah saling menohok. Kapankah kiranya silaturahmi antar umat islam umumnya bisa menjelma menjadi sebuah payung besar yang menaungi dan memeluk kaum muslimin seluruhnya. persatuan. tidak lain. berarti suci. Dalam konteks sempit. atau sampai kita tidak lagi menemukan sebuah negara Islam yang acuh terhadap nasib Negara tetangganya ?? Semua pertanyaan itu hanyalah kita yang bisa menjawabnya. tidak dibebani Qur⼌an. arti: cerai). masih dalam pandangan Islam. Sebagai Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian. masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halalbihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. berinfaq kepada orang yang kesulitan. Nah. bagi seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan dosa apapun. Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. atau kembali ke asal kejadian. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Jadi. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan. Karena itu. Dalam pengertian kedua. Kelak. dsb. kaum yang paling kecil di masyarakat.

hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan´ (H. Firman Allah (SWT). bahwa setiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Halal-bihalal Sahabat menjawab. dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji. dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka. (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Bukhari-Muslim). Perilaku semacam ini akan mentransformasi dunia menjadi sebuah surga.R. berhalalbihalal. Lebih luas lagi. (Q. memberi orang yang menghalangimu .S. Atau bisa dikatakan. â¼ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.R. ucapan selamat. yang mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan semua saudara-saudara yang terpisah. memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang hendaknya tetap menjadi warna masyarakat Muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya. halal-bihalal juga dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. menjembatani berbagai kelompok dalam Islam. akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah. kitab-kitab. Islam di wilayah ini adalah Islam rahmatan lil â¼×alamiin. tetapi harus diikuti perbuatan yang baik dan menyenangkan bagi orang lain. Perbedaan agama bukanlah tanda untuk saling memusuhi dan mencurigai. :- Other image Nabi saw bersabda : Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu. nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya. Ini sesuai dengan Firman Allah. tetapi hanyalah Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan. musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta . mempertemukan kembali yang merupakan tradisi khas rumpun bangsa tersebut merefleksikan bahwa Islam di negara-negara tersebut sejak awal adalah agama toleran. hari kemudian. ³Tentu saja!´ Rasulullah pun kemudian menjelaskan. hendaklah ia sebagai sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan. (Q. malaikat-malaikat. Baihaqi) Dari ayat ini. pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) berbuat kebaikan". Wallau a⼌lam Category: Dikirim oleh Uni Iref DALAM suatu riwayat Rasulullah saw. benar (imannya) .dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu´ (HR. ³Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?´ Dan perintah untuk saling memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain seharusnya tidak semata-mata dilakukan saat Lebaran. selain berisi ajakan untuk saling maaf-memaafkan. dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa". â¼ Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Bukhari-Muslim). anak-anak yatim. semestinya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui lisan atau kartu Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya. Akhirnya. agama. Titik tekan ayat di atas adalah pada berbuat kebaikan dan perilaku berorientasi nilai. mendirikan salat. harus berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. ³Engkau damaikan yang bertengkar. 2:148).S. pernah bertanya kepada para sahabatnya. menyambungkan tali persaudaraan´ (H. dan menunaikan zakat . menyambungkan persaudaraan yang terputus. dan (memerdekakan) hamba sahaya. 2:177) Berangkat dari makna halal-bihalal seperti tersebut di atas. orang-orang miskin. Akan tetapi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful