HARUN NASUTION

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Studi Kritis Teori Pendidikan

disusun oleh:

Khoirunnisa (0705600)

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

Sumatera Utara. Putra dari Abdul Jabbar Ahmad. Maimunah keturunan seorang ulama. perampokan di atas bis kota.HARUN NASUTION PENDIDIKAN MORAL Didunia pendidikan. Meskipun kekerasan ini merupakan fenomena perkotaan tetapi mungkin saja akan merambah ke daerah-daerah lainnya. Hollandsch Inlandche School (HIS) pada waktu berumur 7 tahun. penodongan. 23 September 1919 di Pematang Siantar. Selama tujuh tahun. moral dan etika juga dapat dilihat di kehidupan sehari-hari yang terdekat dengan kita. dan sebagainya. keturunan orang terpandang. Seperti penggunaan narkoba. Kondisi keluarganya yang seperti itu membuat Harun bisa lancar dalam melanjutkan cita-citanya mendalami ilmu pengetahuan. pernah bermukim di Mekkah. Harun belajar bahasa Belanda dan ilmu . Pematang Siantar. ibunya seorang boru Mandailing Tapanuli. Harun memulai pendidikannya di sekolah Belanda. ataupun namanya menjadi tontonan sehari-hari. banyak peserta didik yang dinilai tidak hanya kurang memiliki kesantunan baik disekolah. Ayah Harun juga seorang ulama yang menguasai kitab-kitab Jawi dan suka membaca kitab kuning berbahasa Melayu. A. perampokan. dan mempunyai strata ekonomi yang lumayan. Kemerosotan akhlak. seorang pedagang asal Mandailing dan qadhi (penghulu) pada masa pemerintahan Belanda di Kabupaten Simalungun. Makalah ini akan membahas tentang pemikiran Harun Nasution seorang pembaharu terkenal tentang pendidikan moral. dan mengikuti beberapa kegiatan di Masjidil Haram. Riwayat Hidup Harun Nasution Harun Nasution lahir Selasa. Harun berasal dari keturunan yang taat beragama. Sedangkan. budaya kekerasan dan kemerosotan akhlak sangat terasa belakangan ini. tetapi juga sering terlibat dalam tindak kekerasan massal seperti tawuran. di rumah dan di lingkungan masyarakat.

Di negeri gurun pasir itu. Universitas Al-Azhar. termasuk lingkungan kampungnya. Moderne Islamiltische Kweekschool (MIK). dan nonformal (masyarakat) merupakan unsur penting dalam pembinaan kepribadian seseorang. Pendidikan formal (sekolah). Harun bersikap rasional sedang orang tua dan lingkungannya bersikap tradisional. Harun melanjutkan pendidikan ke sekolah agama yang bertingkat modernis. B. Harun tidak lama dan memohon pada orang tuanya agar mengizinkannya pindah studi ke Mesir. Setelah sekolah di MIK.pengetahuan umum di HIS itu. Ada tiga tempat untuk keberlangsungan pendidikan agama. Dalam pembentukan dan pembinaan kepribadian seseorang pendidikan agama merupakan unsur terpenting. Harun memulai pendidikan agama dari lingkungan keluarganya dengan belajar mengaji. melainkan hingga tahun 1990-an . Pelajaran yang disenanginya adalah ilmu pengetahuan alam dan sejarah. Di lingkungan keluarga. shalat dan ibadah lainnya. dia mulai mendalami Islam pada Fakultas Ushuluddin. Pada saat itu pula Harun telah menyelesaikan studinya di Uninversitas Amerika di Cairo yang berhasil mendapatkan gelar B. sekolah dan masyarakat. di Kairo. Asy’ariyah. Selama 7 tahun ia belajar di HIS dan tamat pada tahun 1934 ketika berumur 14 tahun. informal (keluarga). Pemikiran Mu’tazilah ia perkenalkan pada saat kaum Muslimin Indonesia berpegang teguh pada teologi tradisional. Sayedah. Pada usia 24 tahun beliau rnenikahi gadis Mesir. bukan hanya pada zamannya. Tentu saja pemikiran ini dianggap ‘’menyimpang’’ dan tuduhan kafir pun disandangnya. Di Mesir. yaitu : keluarga. Pemikiran Pendidikan Moral Harun Nasution Harun Nasution merupakan tokoh yang controversial. karena pengalaman keagamaan yang dilaluinya tersebut akan menjadi unsur penting dalam . ternyata sikap keberagamaan Harun mulai tampak berbeda dengan sikap keberagamaan yang selama ini dijalankan oleh orang tuanya. A (serjana muda). Dia berada dalam lingkungan disiplin yang ketat.

Tujuan pendidikan Islam menurut Harun Nasution adalah untuk membentuk manusia yang bertaqwa. Diakui dalam diskursus wacana cendekiawan muslim bahwa pada ranah pemikiran pendidikan ada hubungan keterkaitan yang sangat erat antara pendidikan agama dan moral. Rasulullahpun bersabda dalam sebuah Hadits bahwa Beliau diutus kepada manusia adalah untuk menyempurnakan akhlaq/moral manusia. tujuan. melaksanakan shalat. Bertaqwa yang dimaksud adalah seperti apa yang digambarkan dalam al-Qur’an yaitu. Tentang eratnya hubungan agama dengan moral ini kita dapat menganalisa dari keseluruhan ajaran agama Islam itu sendiri. orang yang akan dididik. Kaitannya dengan uraian di atas Harun Nasution kemudian berkesimpulan bahwa sebenarnya ajaran normativitas agama Islam terdiri dari dua dimensi pokok yaitu: masalahmasalah ke-Tuhan-an atau ketauhidan dan masalah-masalah kebaikan serta keburukan atau moral. yang mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. mereka yang beriman kepada yang gaib. Pendidikan Islam misalnya tidak terlepas dari upaya penanaman nilai-nilai serta unsur-unsur agama pada jiwa seseorang. mencontoh sifat-sifatnya dan sekaligus diarahkan untuk selalu mendapat keridhaannya. metode dan lain sebagainya. Dalam mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam ini maka diperlukan seperangkat proses maupun aturan sebagai media transformasi sekaligus internalisasi nilai-nilai ketauhidan dan moral yang dimaksud berupa proses dan perangkat pendidikan Islam. bahwa akhirnya akan berujung pada pembentukan moral. Perangkat pendidikan Islam harus memiliki beragam komponen di antaranya adalah pendidik. materi.kepribadiannya. mengandung pesan moral agar segala ucapan dan perbuatannya dimotivasi oleh nilai-nilai yang berasal dari Tuhan dan Rasul-Nya. beriman . menginfakkan sebagian rezeki. yang diantaranya adalah nilai-nilai moral atau yang biasa disebut dengan Akhlaq. Perintah mengucapkan dua kalimat syahadat misalnya yang merupakan inti awal masuknya seseorang ke dalam agama Islam. Nilai-nilai moral yang dimaksudpun tidak terlepas dari ajaran-ajaran normativitas agama Islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rasul.

Sampai di sini kiranya apa yang ingin ditafsirkan oleh Harun Nasution tentang hadits “Bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq”. Minusnya moral (akhlaq) ini akan membuat predikat manusia yang mulia – dengan akhlaq dan taqwa – turun menjadi hina. Intelektual. Bahwa semua krisis yang melanda manusia termasuk di dalamnya krisis spiritual lebih disebabkan oleh hancurnya pendidikan Akhlak. yang kemudian oleh pakar pendidikan disebut dengan istilah Kecerdasan Spiritual. hubungan antara agama dan moral memang memang sangat erat. Demikian halnya dengan Islam.S. dan merupakan soal yang esensial. al-Baqarah.2:3-4). Tentang dua indikasi ini Harun Nasution berpendapat bahwa pendidikan Islam sebaiknya memiliki bahan/materi pendidikan yang secara umum didasarkan pada tujuan spiritual. Bahwa dengan aturan moral dapat ditarik hikmah akan adanya pencipta yang mengatur segalanya di bawah satu Pengatur yaitu Tuhan. di samping mengutamakan ketauhidan dengan segala persoalannya (teosentris). ayat yang menyatakan hubungan antara keduanya antara lain : ‘’lakukanlan shalat karena shalat itu menjauhkan manusia dari kerendahan akhlak . 1. Hubungan Antara Agama dan Moral Menurut Harun. di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ajaran-ajaran mengenai akhlak. Dari konsep tersebut akan dapat kita tangkap bahwa tujuan pendidikan Islam mengindikasikan kearah dua kutub yang berbeda namun saling berkaitan yaitu. Pendapat tersebut mengisyaratkan beberapa kemungkinan bahwa pendidikan moral akan dengan sendirinya mengarahkan manusia kepada konsep tauhid dalam Islam. Harun Nasution melihat lebih pentingnya penekanan terhadap aspek pendidikan moral. Meski begitu. moral dan intelektual. dan Emosional. tetapi juga mengakomodasi pentingnya peran moral manusia dalam berinteraksi dengan jenisnya (humanis). Pendapat ini seperti juga yang disampaikan oleh Ibn Miskawaih bahwa letak keutamaan pentingnya pendidikan moral adalah dalam urgensi nilainya yang cukup signifikan dalam membentuk kepribadian manusia.kepada Al-qur’an dan kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya serta yakin akan adanya hari kiamat (lihat Q. Dan juga bahwa pendidikan moral merupakan bentuk lain dari pendidikan tauhid.

Ancaman berupa neraka dan surga di akherat erat hubungannya dengan sola baik dan buruk (moralitas). Bahkan dengan makhluk lain (hewan dan alam sekitarnya). disamping latihan . maka hiasilah agama itu dengan budi pekerti yang baik dan hati murah. menghormati yang lebih tua. berburuk sangka.’’ Pendidikan moral wajib diajakan kepada anak didik baik di dalam rumah tangga maupun di lingkungan sekolah seperti juga wajibnya anak didik diperkenalkan dengan agama. Yang dimaksud perbuatan disini bukan hanya ibadah tetapi juga perbuatan duniawi yang setiap hari dilakukan manusia. tata tertib berkunjung ke rumah orang. sebenarnya adalah latihan moral. memeilihara ketentraman. sabda Nabi : ‘’Tuhan telah menentukan Islam sebagai agama kamu. sedangkan orang yang melaksanakan perbuatan jahat akan dimasukkan ke neraka. haji. mencari-cari kesalahan orang lain.. Al-Qur’an banyak memberikan contoh-contoh moral misalnya larangan mencemooh orang lain karena mungkin mereka lebih baik dari kita sendiri. puasa. yaitu perbuatan yang baik dan membawa kebahagiaan.dan kejahatan’’ (Q. mukmin dan muttaqin. Begitu pentingnya moral atau budi luhur sehingga ibadah dalam Islam. Dalam agama yang ingin dibina adalah manusia yang baik: menjauhi perbuatan buruk atau jahat di dunia. Dalam agama Islam ialah manusia yang muslim. baik fisik maupun mental. Nabi Muhammad sendiri menjelaskan bahwa beliau diutus kedunia untuk menyempurnakan tentang ajaran-ajaran mengenai berbudi luhur. Intisari dari ajaran-ajaran agama juga berkisar antara baik dan buruk. Orang yang melaksanakan perbuatan baik akan masuk surga di akherat. zakat. disiplin. dan perbuatan buruk dan membawa kepada kemudharatan dan kesengsaraan. baik itu berupa shalat lima waktu. Mencela orang lain.S 29:45). melakukan kejahatan dan memandang rendah orang lain. Sebaliknya al-Qur’an memberikan contoh-contoh perbuatan baik misalnya menjaga amanah yang diberikan kepada kita. memberi nama julukan yang tidak baik. Oleh karena itu tujuan dari agama Islam adalah membina manusia agar menjadi baik dan sehat. dan masih banyak lagi anjuran-anjuran yag lain. memberi salam dan membalasnya. Agama datang ke dunia untuk membimbing manusia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. dan lain-lain semua itu adalah perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang menurut al-Qur’an wajib dijauhi. sabar.

pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti harus dimulai dari lingkungan keluarga. haji hanya untuk melaksanakan perintah sesuai dengan hukum dan bentuk formalnya. Artinya bahwa jangan menyuruh shalat. Oleh karena itu pendidikan akhlak dan moral mestinya sudah dimulai dalam lingkungan rumah. Pendidikan Moral di Lingkungan Keluarga Keluarga adalah dunia pertama yang dikenal anak melalui orang tua. puasa. tempat pendidikan moral yang sebelumnya diajarkan di dalam keluarga dapat diteruskan oleh para pendidik melalui mata pelajaran agama yang ada di sekolah. Identifikasi seorang anak kepada orang tua merupakan awal dari keberhasilan pendidikan agama. Harun menjelaskan bahwa tujuan pendidikan agama baik di lembaga pendidikan umum maupun pendidikan agama harus ditekankan kepada upaya memperdalam daya rasa atau kalbu anak didik. 3. khususnya ibu-baoaknya. Tujuan ibadah dalam Islam sebenarnya adalah mensucikan jiwa yang suci agar timbul budi pekerti yang luhur.spiritual. Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak belajar menanggapi dunia luar. Segala tingkah laku anak-sebagian di antaranya-merupakan gambaran dari apa yang didapat dari keluarga. Harun juga menyatakan bahwa ibadah yang diajarkan kepada anak tidak boleh lepas dari pembinaan moral yang terkandung di dalamnya. khususnya moral. sehingga menjadi . Harun menjelaskan bahwa kebersihan pendidikan anak dimulai sejak dini. Dengan pernyataan ini Harun ingin menegaskan pendiriannya bahwa pembinaan akhlak tidak bisa dilepaskan atau terpisah dengan moral. Pembiasaan ibadah oleh kelurga kepada anakanaknya akan menjadi basis bagi keberhasilan pendidikan moral. Tugas orang tua dalam pendidikan moral tidaklah ringan karena ibu-bapak harus memberikan contoh. Pendidikan Moral di Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah adalah lingkungan kedua setelah keluarga. 2. berinteraksi dengan teman. sekaligus menjadi model (figur teladan) bagi anak didiknya. Dengan demikian. tetapi harus kepada sasaran yang sebenarnya yaitu pembinaan moral dan akhlak yang baik. Sekolah dituntut untuk lebih kreatif dalam memasukkan pendidikan moral dalam setiap bidang studi. dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah. disinilah harus dimulai pembinaan moral yang baik.

manusia yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Ditingkat TK. Kurikulum Berdasarkan tujuan pendidikan agama tersebut diatas. pembinaan moral diarahkan pada pembinaan budi pekerti luhur. SLTP. Pendidikan berbuat baik dan suka menolong orang lain.   Berterimakasih pada pemberian-pemberian itu. maka pendidikan agama di sekolah harus diorientasikan kepada tujuan tertentu. juga intelektual. pendidikan moral membina manusia berbudi luhur. Tujuan Karena materi pendidikan moral di lingkungan sekolah tidak ada. binatang dan tumbuh-tumbuhan dan sebaliknya jangan menyakiti orang lain.  Pendidikan bersopan santun dalma pergaulan. maka pendidikan agama perlu menekankan pendekatan moral spiritual. penyusunan kurikulum pendidikan agama sebaiknya didasarkan pada hal-hal sebagai berikut : Untuk TK dan tahun-tahun pertama SD  Mengenal Tuhan sebagai pemberi dan sumber dari segala yang dikasihi dan disayangi anak didik. SD. b. maka pendidikan kalbu menjadi tugas pendidikan agama untuk mengimbangi pendidikan akal agar dapat diwujudkan anak didik yang utuh yang dalam dirinya terdapat keseimbangan antara rohani dan jasmani. Di perguruan tinggi. dan SLTA. Karena penajaman daya pikir atau akal telah menjadi tugas ilmu pengetahuan. juga penebalan iman mahasiswa terhadap ajaran-ajaran agamanya. binatang dan tumbuhan-tumbuhan. Untuk SD dan lanjutannya meliputi :  Kenal dan cinta kepada Tuhan sebagai Yang Maha . Di sini pendidikan agama selain pendekatan moral-spritual. a.

tauhid. tidak merasa . (akhlak. dan lain-lain.  Pengetahuan tentang agama Islam diperdalam dan diperluas.   Ajaran-ajaran tentang akhlak Islam. materi ini di sesuaikan dengan perkembangan mental anak. tauhid.  Ibadah sebagai tanda terimakasih kepada Tuhan atas nikmat-nikmatnya. hadis.  Menanamkan rasa toleransi terhadap mazhab-mazhab yang ada dalam agama sendiri dan toleransi terhadap agama lain. Untuk tingkat perguruan Tinggi mencakup :  Memperdalam rasa keagamaan dengan pendekatan spritual dan intelektual. hewan. fiqh.  Dedikasi terhadap masyarakat. Penyayang dan Pengampun. tafsir. Pengetahuan tentang Agama Islam seperti . Untuk sekolah lanjutan mencakup :  Ibadah diajarkan sebagai latihan spiritual sebagai pendekatan terhadap Tuhan. Tujuannya ialah memperoleh kesucian dan ketentraman jiwa.  Ibadah sebagai didikan mahasiswa untuk memperindah jiwa.Pengasih.  Memperdalam rasa sosial dan kesediaan menolong orang lain. alam dan lain-lain. di samping berpengetahuan tinggi. dan lain-lain yang diperlukan).

mistik. hukum. Pemberian nasihat.  Memperdalam rasa toleransi bermazhab dan toleransi beragama. filsafat. Tuntunan dalam menyelesaikan persoalan moral atau spiritual. dalam aspek sejarah.  c. yang dapat mempertebal keyakinan terhadap agamanya.   Kerjasama dengan pendidik (guru) yang lainnya. Di sini akan dijumpai rasional mengenai ajaran-ajaran agama. . Tanya jawab dari diskusi dalam hal ini intelektual tentang ajaran-ajaran Islam. Menguasai ilmu-ilmu yang erat hubungannya dengan Memperdalam rasa dedikasi terhadap masyarakat. baik yang bersifat individual maupun bersifat kolektif. tetapi sadar bahwa diatasnya masih ada zat yang lebih mengetahui dan berkuasa dari manusia manapun.takabur. d. dan lain-lain.  Memeperluas pengetahuan tentang agama Islam secara global. kebudayaan. Kualitas Pendidikan Agama   Sanggup member contoh dan teladan yang baik. teologi. metode yang sebaiknya digunakan adalah :    Pemberian contoh atau teladan yang baik. Metode Karena tujuan utama pendidikan adalah pendidikan moral.

berarti tanggung jawab bersama anatar keluarga.  Mempunyai pengetahuan umum yang seimbang dengan pengetahuan yang dipelajari siswa. . Membentuk akhlak dan moral yang baik bagi anak didik menjadi tujuan dari pendidiakan. Selain itu ia menuturkan bahwa Islam juga menentukan peraturan-peraturan bagi manusia dalam hidup kemasyarakatan agar ia jauh dari kekotoran dan kejahatan. serta peningkatan pengetahuan dan pendidikan bagi masyarakat. Individu yang bermoral suci dan baiklah yang dapat membentuk masyarakat yang baik. Individu dan masyarakat mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebaliknya dalam masyarakat yang baik akan diperoleh keselamatan dunia.pendidikan sebagainya. seperti pedagogi. yang dengan segala media yang ada padanya. baik melalui media elektronik. Islam tidak hanya membentuk individu-individu yang bermoral baik. psikologi. Dari pernyataan di aats sesungguhnya Harun ingin menyampaikan bahwa pendidikan yang ada di amsyarakat adalah tanggung jawab bersama. Pendidikan Moral di Lingkungan Masyarakat Lingkungan selanjutnya setelah keluarga adalah masyarakat. Media yang berada di lingkungan yang kondusif sangat menunjang dalam pencapaian tujuan pendidikan. maupun media cetak. khususnya bagi anak didik kita. 4. Harun menguraikan tentang konsep moral yang ada di masyarakat berhubungan dengan perbuatan baik dan perbuatan jahat. yang ada pada umumnya dipergunakan untuk penerangan.  anak. Dalam hal ini proses pendidkan moral yang telah ditransfer ke dalam keluarga maupun di sekolah diharapkan dapat diteruskan dan dilakukan oleh masyarakat sekitar anak didik yang bersangkutan. sering disalah gunakan. pengembangan seni dan budaya. dan Mengetahui pengetahuan yang luas tentang agama selain pengetahuan agama yang menjadi jurusannya. masyarakat dan sekolah. Bertolak dari pernyataan diatas.

Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan.-jilid I. (2008). Bandung: Angkasa Nasution. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press) . Islam ditinjau dari berbagai aspeknya/Harun Nasution.5.DAFTAR PUSTAKA Suwinto dan Fauzan. (2003). Harun.-Cet.