P. 1
Masyarakat Badui

Masyarakat Badui

|Views: 56|Likes:
Published by okiizawa

More info:

Published by: okiizawa on Oct 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2010

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat, taufik dan bimbingan-Nya lah saya dapat menyelesaikan tugas Sosiologi yang diberikan oleh guru sosiologi saya dengan baik. Tugas ini merupakan laporan mengenai Sosiologi dalam bab Masyarakat Sosial. Dan dalam laporan ini, saya mengangkat kehidupan dari Masyarakat Badui. Saya berharap semoga tugas yang saya susun ini dapat bermanfaat bagi saya dan juga teman-teman yang lain. Dan pada akhirnya sebagai penyusun, saya menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, ibarat pepatah “Tiada Gading Yang Tak Retak“ untuk itu saya mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas ini.

Surabaya, Oktober 2008

Tim Penyusun

Desa Kanekes. Kata Badui itu sendiri datang dari sebuah bukit “gunung Badui” dan mata air CiBadui di selatan Kampung Kerdu Ketug. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut. Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah. salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Banten. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti. berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). bukan agama Hindu atau Budha. Asal Mula kata “Badui” Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut. Menurut dia. Menurut kepercayaan mereka. dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928. Van Tricht. wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa. asal. . 1993b: 146). catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok. Sebelum berdirinya Kesultanan Banten. jati). karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang). Kecamatan Leuwi damar. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka. Orang Baduy sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-oraang pelarian dari Pajajaran. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna. ibu kota Kerajaan Sunda. Adam dan keturunannya. identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup. Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu. termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia. Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli.Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak. 2000). Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. pokok. atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo Asal-usul Menurut kepercayaan yang mereka anut. yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja. menyangkal teori tersebut. yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Sebaliknya. Hindu. yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo. Cikartawana. panamping. berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur. dan dangka. yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar. . maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun. sehingga cara berladangnya sangat sederhana. Banten. Kelompok-kelompok dalam masyarakat Kanekes Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu. yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima. Kecamatan Leuwidamar. pèndèk heunteu beunang disambung. dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja. atau perubahan sesedikit mungkin: Lojor heunteu beunang dipotong. tidak membuat terasering. tanpa basa-basi. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%. Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas. kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam. tidak mengolah lahan dengan bajak. bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang. suhu rata-rata 20°C. Kabupaten Lebak-Rangkasbitung. dan Cikeusik). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes. Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Bahasa Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. tanah endapan (di bagian tengah).Wilayah Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LU dan 108°3’9” – 106°4’55” BT. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya. hanya menanam dengan tugal. yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam. berjarak sekitar 40 km dari kota angkasbitung dan letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta. dan panen akan berhasil baik. Kepercayaan Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha. dan Islam. Bagi sebagian kalangan. dan tanah campuran (di bagian selatan). 1993). sekitar 65 km sebelah selatan ibu kota Provinsi Banten. Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. apabila batu lumpang kering atau berair keruh. seperti Cikadu. Di bidang pertanian. polos. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Kaduketuk. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia. sehingga adat istiadat. yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara). walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna. Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun". Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis. kepercayaan/agama. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar. Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam. maka merupakan pertanda kegagalan panen. sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. yang paling ketat mengikuti adat.

yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa. Pemerintahan Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Struktur pemerintahan secara adat Kanekes adalah sebagaimana tertera pada Gambar Skema dibawah. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. maka "Baduy Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun. dan kokolot lembur atau tetua kampung . yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. yang ada di bawah camat. dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa. jaro dangka. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes. yaitu sistem nasional. sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi. namun tidak otomatis dari bapak ke anak. dan jaro pamarentah. Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional. Cisagu. yaitu jaro tangtu. yang dibagi ke dalam empat jabatan. dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Jaro dangka bertugas menjaga. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. dan lain sebagainya. dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. jaro tanggungan. Jaro dangka berjumlah 9 orang. yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia. melainkan dapat juga kerabat lainnya. mengurus. yaitu "puun".Kadukolot. Gajeboh. carik. Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "puun" yang ada di tiga kampung tangtu. hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut. Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar. yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa.Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan. berupa menghantar hasil bumi (padi. palawija. upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali. tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. dan juga para pengunjung dewasa lainnya.Mata pencaharian Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun. Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk. misalnya dalam sewa menyewa tanah. biasanya merupakan remaja dari sekolah. Mereka menerima para pengunjung tersebut. terpencil. dan tenaga buruh. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. melalui bupati Kabupaten Lebak. 1993). Namun demikian. maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya. dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. bahkan untuk menginap satu malam. Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak. mahasiswa. dan Ciboleger. penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar. madu. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji. Sampai sekarang. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang. berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. serta madu hutan. buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat). Cibengkung. masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna. Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan. dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlalu di sana. wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa. ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Di bidang pertanian. . orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Interaksi dengan masyarakat luar Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing.

Dan akhir kata saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. . Semoga Laporan ini dapat bermanfaat bagi diri saya dan teman-teman.Dengan demikian Laporan Sosiologi mengenai Kehidupan Masyarakat Sosial tentang Masyarakat Badui.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->