PENGEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH MENUJU PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT∗

Oleh : Noer Soetrisno I. Tinjauan Umum 1. Pada dasarnya perbuatan muamalat yang ditujukan untuk kebaikan hubungan berekonomi sesama manusia harus mengandung ciri untuk kemaslahatan umum. Oleh karena itu seharusnya kita melihat kehadiran sistem syariah dalam transaksi antar individu dan lembaga harus kita tempatkan dalam kontek pasar, yaitu karena adanya kebutuhan dan ketersediaan serta dipilih atas dasar pertimbangan rasional dan moral untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera lahir dan batin. Karena perekonomian syariah dilandasi atas prinsip kesempurnaan kehidupan diantara kebutuhan lahiriah dan rohaniah dalam bertransaksi sesama hamba Allah maupun lembaga yang mereka buat, maka kerelaan atau “ridho” menjadi fundamen dasar setiap transaksi dua pihak atau lebih. 2. Perdebatan ekonomi syariah sering dipersempit dalam konteks pada “bunga bank” sebagai riba atau bukan, sementara dimensi lain selain “riba” kurang diberikan pembahasan secara seimbang. Selain “riba” terdapat dua aspek penting yakni unsur ada tidaknya judi atau “maisir” yang sangat berkaitan dengan aspek resiko dan ketidakpastian serta ada tidaknya unsur kecohan (tipuan) yang dikenal sebagai hal yang mengandung unsur “gharar”. Ketiga unsur yang menjadi dasar perbuatan transaksi atau “baia” mempunyai arti yang penting untuk menilai subtansi suatu transaksi dapat digolongkan memenuhi syarat syariah atau tidak. 3. Pengkajian ekonomi syariah secara umum masih didominasi oleh kupasan dari dimensi “fiqih” dan ”administrasi pembangunan” bukan kupasan ilmu ekonomi dan nilai subtansi ajaran islam dalam menjelaskan perilaku individu muslim sebagai pelaku ekonomi. Padahal beberapa kajian empiris oleh para ahli ekonomi juga telah banyak menemukan adanya perbedaan perilaku masyarakat muslim yang tercermin dalam tingkah laku ekonominya (Metwali). Tantangan besar bagi para ekonom adalah terus mengkaji kedudukan moral ekonomi islam atau sistem ekonomi syariah dan bagaimana interaksi dengan sistem yang lain dalam dunia global. 4. Apabila kita simak secara mendalam ajaran berekonomi dalam Al-qur’an dilandasi oleh suatu sikap bahwa tiada pemisahan antara ekonomi dan keberagamaan seseorang. Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah dan tiada pemisahan antara agama dan kehidupan dunia. Dari titik tolak ini akan melahirkan dua konsekuensi yaitu : pertama, perlunya pembentukan sikap oleh seorang individu akan penguatan hidup dan pencarian kebaikan di dunia atau dalam hubungannya dengan bumi dan alam; kedua, soal pemilihan pribadi, sampai dimana batas dan tujuannya.
* Disampaikan pada Silaturrahim Nasional Kedua, 30-31 Agustus 2004 Graha Wisata Mahasiswa, Rasuna Said, Jakarta.

1

Institusi dengan berbagai karakter dan prinsip yang mengawal prakteknya pada akhirnya akan memberikan pilihan kepada masyarakat selaku pengguna untuk memilihnya. Dalam kaitan ini maka bertambah lagi dimensi yang harus kita lihat. kita posisi penting perbankan dan LKM syariah dalam pengembangan UKM di Indonesia. 8. 5. Sebagaimana dimaklumi sektor usaha UKM pada umumnya berada di sektor tradisional dengan perkiraan resiko yag tidak lazim tersedia pada pengalaman perbankan konvensional. Hal yang terakhir ini sudah barang tentu memperkuat tingkat pengharapan dan keyakinan mereka akan keberhasilan usahanya. Maka amatlah tepat jika format pengembangan lembaga keuangan dan Perbankan Syariah dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan UKM. maka seharusnya kita jangan buru-buru terpaku pada institusi. Di sisi lain dalam persefektif pengertian UKM yang dianut oleh UU 9/1995 juga termasuk sektor jasa keuangan yang dilaksanakan dengan mengambil kegiatan di sektor perbankan. Dalam persfektif hubungan ini. Mengenai peran penting UKM dalam menyangga kehidupan ekonomi kita sudah tidak ada keraguan lagi. Sementara sistem bagi hasil justru menghindari prinsip mendapatkan untung atas kerjasama orang lain. Peran Strategis Kelembagaan Keuangan Syariah dalam Pemberdayaan UKM 6. 7. Perbankan dengan pengembangan usaha berskala kecil dan menengah. Oleh karena itu thema pengembangan lembaga keuangan syariah ini menjadi penting ketika kita menyadari keterkaitan pembiayaan dan pembangunan UKM. UKM dalam dirinya adalah produsen bagi barang dan jasa tetapi juga pasar bagi produkproduk jasa untuk mendukung kegiatan usahanya. Jika prinsip ekonomi syariah sebagai dasar muamalat. Pilihan dalam hal jasa institusi sudah barang tentu selain pertimbangan rasional juga atas dasar kaidah-kaidah syariah yang bersumber dari Wahyu Illahi yang ditujukan bagi kebaikan umat manusia. Namun patut disadari bahwa lebih dari 97% usaha kecil kita adalah usaha mikro yang omsetnya berada dibawah Rp. Dengan demikian prinsip kemanfaatan didasarkan atas pemenuhan kesejahteraan lahiriyah dan rohhaniah.Konsekuensi dasar pertama memerlukan pada sikap keharusan hidup bersahaja yang menjadi dasar hidup seorang muslim untuk menghindari sikap hidup yang boros dan bermewah-mewahan. 2 . Dilihat dari pelakunya sistem perbankan syariah memberikan keyakinan lain akan terjaminya keamanan batin mereka. baik dilihat dari dukungan politik maupun reliatas kehidupan perekonomian kita karena unit-unit UKM lah tempat mereka bekerja dan meningkatkan taraf kehidupan mereka. Demikian pula dalam kontek Badan Hukum Koperasi juga dapat menjalankan usaha pembiayaan dalam sistem syariah. 50 juta pertahun dan sering terabaikan oleh pelayanan perbankan komersial biasa. II. Dalam jual beli seorang calon pembeli mempunyai kesempatan untuk melakukan “khiyar” atau memilih. perkreditan dan jasa keuangan lainnya. Dalam kontek institusi.

persewaan dan jasa perusahaan. memiliki kemaslahatan tinggi terutama dalam kontek globalisasi dan otonomi daerah. Dalam sejarah perkembangannya di Indonesia sudah dapat mengembangkan berbagai macam LK-syariah yaitu bank syariah. Oleh karena itu berbagai dukungan untuk mendekatkan UKM dengan perbankan syariah adalah sangat penting dan salah satu strateginya adalah bagimana kita mampu menjalin keterpaduan sistem keuangan syariah. Bagaimana jika nisbah bagi hasil secara 3 10. adalah sektor yang paling produktif disbanding sektor lainnya. bahkan tidak ada perbedaan nilai tambah/tenaga kerja antara LK kecil dan besar. Maka sebentar lagi perdebatan format LKS berubah menjadi kancah perdebatan pasar biasa. 13. termasuk perbankan. apalagi apabila berhasil dibangun keterpaduan antara fungsi jaminan dan usaha yang memiliki resiko. BTM (Baitul Tamwil) yang menyempurnakan “Sponsored Financial Institution” dan “sirhkah”. dan Koperasi syariah. Jika syariah menjadi “Brand” dan orang yang percaya kepada Brand menjadikan konsumen fanatik. Meskipun kedudukan moral Pertanyaan dasar “nisbah bagi hasil” Fatwa MUI sudah dikeluarkan tugas pencerahan tentang islam dalam berekonomi masih akan semakin diperlukan. Sangat boleh jadi akan muncul pertanyaan mengapa lembaga yang bukan berbasis islam juga menjual produk syariah ? Sehingga sebenarnya LK-syariah saja belum menyelesaikan persoalan membangun sistem ekonomi yang islami. “LKM”-syariah. Hal inilah yang harus kita cari jawabnya. . III. Dalam rumpun LKM-syariah yang non bank telah berkembang tiga model : BMT (Baitulmal Wa Tamwil) yang menyatukan Baitul Mal dan Baitul Tamwil. apakah konsep bunga sebagai harga uang juga berlaku bagi dalam sistem syariah. LK-syariah sekarang sudah menjadi nama dari institusi keuangan. sehingga secara legal sudah terbuka untuk dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia. Format Pengembangan LKM Syariah 11. Asuransi syariah. bahkan perusahaan asing. Sebagaimana sistem konvensional dalam sistem keuangan syariah juga terdapat pelaku kecil dan menengah.9. 12. Keterpaduan sistem keuangan syariah menjadi unsur penting dalam menjadikan LKsyariah menjadi efektif. Dengan demikian kerjasama dan keterkaitan antara perbankan syariah skala besar dan bank syariah skala kecil dan menengah harus mendapatkan perhatian. Gadai syariah. sektor jasa keuangan. maka LK-syariah adalah ladang investasi sektor keuangan yang menjanjikan. Lebih jauh akan menjadi semakin produktif apabila peran lembaga keuangan Syariah Non-Bank juga mendapat perhatian yang sama. Ketiga model ini ada telah berkembang dan kebanyakan sudah mengambil bentuk “Badan Hukum” koperasi dan hanya sebagai kecil yang tidak terdaftar dalam format perijinan dan pendaftaran institusi keuangan di Indonesia. Ekonomi syariah sangat pas untuk bisnis yang mempunyai ketidakpastian tinggi dan keterbatasan informasi pasar. Dari berbagai data yang disajikan oleh BPS.

Pada skala yang lebih tinggi BPRS dan kaum pemilik modal dapat bersatu dalam bank umum syariah yang berfungsi sebagai APPEX Bank.mengejutkan berlipat dibanding bunga komensional ?. Bentuk LKM menurut hemat penulis harus berjenjang. 17. baru membangun format koperasi dan pemusatan pada tingkat daerah otonom dalam bentuk bank khusus. Pada skala ekonomi kaum yang layak berusaha. Visi kita ke depan dalam pemberdayaan UKM adalah terwujudnya UKM yang menjadi pemain utama arus perkonomian nasional yang mandiri dan berdaya saing dalam menghadapi persaingan global. Harus dipikirkan pula jika dalam perebutan pasar LK-konvensional dapat merubah persyaratan akad semakin dekat dengan moral islam. 15. Mengenai kritik terhadap ekonomi neo classic di Indonesia sudah sering kita dengar1. karena tanpa itu tidak akan ada sumbangan yang besar dalam membangun keadilan melalui pencegahan pengurasan sumberdaya dari suatu tempat secara terpusat pada “the capitalist sector”. Pada akhirnya UKM sebagai pelaku bisnis akan berada dalam lingkup pembinaan di daerah. Dan dalam persfektif otonomi daerah terdapat masalah keterpaduan yang harus terus menerus dikembangkan. Apakah dalam kedudukan seperti itu fatwa masih mempunyai kedudukan yang sama ? Inilah pekerjaan berat para ekonom untuk ikut menyumbangkan pikirannya agar tidak terjadi jalan buntu. 14. Secara khusus peran pemerintah untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya UKM yang paling mendasar adalah menyediakan kerangka regulasi yang menjamin lapangan permainan yang sama atau level playing field. Sehingga pengaturan harus menjamin persaingan yang sehat dan apa yang dapat dilakukan usaha lain juga terbuka bagi UKM. Secara umum pada saat ini tidak ada halangan untuk mengembangkan LKM-syariah. namun penjelasan cara pandang dan pengembangan kerangka analisa baru yang dianggap sesuai juga masih terbatas. Pada dasarnya ilmu ekonomi juga berkembang diluar batas neo classic yang relevan dengan prinsip-prinsip berekonomi secara islami. Dukungan pengaturan kearah itu sudah sangat terbuka dan sebagian sedang dipersiapkan. Format pengembangan LKM syariah ke depan harus bertumpu pada basis kewilayahan atau daerah otonom. IV. pada basis paling bawah kita butuh LKM-informal yang hak hidupnya dapat diatur oleh PERDA. Dan pilihan kelembagaan yang sesuai tergantung pada keputusan para pemodal dan prinsip akan pengembangannya. Koordinasi lintas sektor dan dengan daerah akan menjadi agenda penting untuk mewujudkan harmonisasi pengaturan dan 4 . Apa masih memenuhi kaidah “Baia” yang dapat dicerna oleh akal sehat (tiada agama tanpa akal). Kebijakan dan Program Pemberdayaan Koperasi dan UKM 16. kecuali pengaturan di enam bidang. Sehingga unsur “ridho” menonjol dan prinsip tidak boleh mengambil keuntungan atas kerugian orang lain dikembangkan. sehingga secara hirarki dapat dilihat seperti bangunan pyramid.

maka penumbuhan sentra juga didukung dengan perkuatan finansial yaitu melalui penyediaan modal awal dan padanan bagi KSP/USP-Koperasi di sentra. kolektif dan efisien. Pelayanan jasa BDS sesuai bidang yang dikuasai dengan pendekatan best practises. Program ini dimaksudkan untuk menumbuhkan koperasi yang sesuai dengan jatidiri koperasi. Program ini dimaksudkan sebagai upaya untuk penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi KUKM. dalam upaya untuk lebih memantapkan pencapaian hasil yang optimal dalam pemberdayaan KUKM. Pengembangan Sentra/Klaster UKM dan Lembaga Keuangan Non Bank Bagi KUKM 21.prosedur perijinan pada berbagai tingkatan agar mampu mendorong pertumbuhan UKM. bersama-sama dengan stake holders. Di dalam pengembangan koperasi juga didorong berkembangnya koperasi yang dijalankan dengan sistem bagi hasil akan pola pembagian sistem syariah. 5 . Diharapkan sentra-sentra yang ada selanjutnya dapat berkembang menjadi pusatpusat pertumbuhan. Revitalisasi Kelembagaan Koperasi 19. dan lain-lain. Penyempurnaan UU yang ada dalam perkiraannya juga sudah menampung hal itu. dan menjadi penggerak atau lokomotif dalam pengembangan ekonomi lokal. karena dengan sumberdaya yang terbatas mampu menjangkau kelompok UKM yang lebih luas. cekatan (responsiveness) dan inovatif. Dalam kenyataannya persoalan iklim bagi KUKM seringkali sangat terkait atau tergantung dengan sektor lainnya. Bagaimana program pemberdayaan UKM dan koperasi dijabarkan dapat digambarkan dalam 7 butir berikut ini. dengan menerapkan nilai-nilai dan prinsip perkoperasian. Pengembangan Kebijakan Pemberdayaan KUKM 18. Peningkatan Produktivitas KUKM 20. sehingga KUKM dapat tumbuh dan berkembang baik dari sisi lembaga maupun usahanya. Program ini dimaksudkan untuk mendorong kegiatan produktif KUKM sehingga tumbuh dan berkembangnya wirausaha-wirausaha yang berkeunggulan kompetitif dan memiliki produk yang berdaya saing melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Sedangkan koordinasi diperlukan untuk mensinergikan dan memadukan berbagai kebijakan dan program agar berjalan padu dan berkelanjutan. peningkatan mutu. Program ini dimaksudkan untuk menjaga dinamika perkembangan sentra menjadi klaster bisnis UKM melalui perkuatan dukungan finansial dan non finansial. dan berorientasi pada pasar. Disamping dukungan BDS. Oleh sebab itu perlu dukungan penciptaan iklim yang kondusif melalui dukungan kebijakan-kebijakan yang responsif terhadap persoalan dan kepentingan KUKM. Keberadaan BDS diharapkan dapat memberikan layanan kepada UKM secara lebih fokus.

dukungan perkuatan permodalan melalui dana bergulir. Termasuk dalam kegiatan ini adalah memperkuat jaringan warung masyarakat kedalam pola grosir. antara lain dukungan iklim kepastian usaha dan perlindungan melalui penerbitan Perda. Sistem LKM-syariah terpadu yang berbasis daerah otonom akan menjamin kinerja yang efektif dan adil bagi pemberdayaan ekonomi rakyat. dengan prinsip yang saling menguntungkan antara KUKM dengan usaha besar. 6 . Pengembangan LKsyariah penting. tetapi belum menjadi jaminan untuk mewujudkan sistem perekonomian yang islami. bimbingan manajemen. serta pengembangan jaringan usaha termasuk kemitraan.Pemberdayaan dan Penataan Usaha Mikro/Sektor Informal 22. V. dengan memanfaatkan teknologi (teknologi informasi). manajerial. sarana usaha. perkuatan usaha mikro pada daerah pasca kerusuhan. Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan melalui program ini. Pengembangan Lembaga Diklat SDM KUKM 23. Pengembangan model ekonomi islami harus menjadi agenda pengkajian yang terus menerus oleh ekonom dan ulama untuk menemukan prinsip-prinsip berekonomi yang baik demi kebaikan hidup umat manusia. dan kantong-kantong kemiskinan. Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi KUKM dalam memperluas akses dan pangsa pasar melalui pengembangan dan penguatan lembaga pemasaran KUKM. di bidang peningkatan keterampilan. bencana alam. perkoperasian dan kewirausahaan yang responsif terhadap tuntutan dunia usaha dan perubahan lingkungan strategis Penguatan Jaringan Pasar Produk KUKM 24. Bagian dari kemitraan adalah bentuk-bentuk kerjasama yang inovatif. sosialisasi. Penutup 25. dan monitoring dan evaluasi. Program ini bertujuan untuk mengintensifkan peranan lembaga-lembaga diklat bagi peningkatan kualitas SDM KUKM yang berada di masyarakat. pelatihan. Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi dan memperkuat keberadaan serta peran usaha mikro dan sektor informal terutama pedagang kaki lima (PKL) di perkotaan. sehingga dapat memperkuat daya tawar dalam pengadaan produknya serta dapat diefektifkan sebagai outlet dan sekaligus inlet dari produk-produk KUKM.