AGAMA, KEKERASAN DAN FILSAFAT (Kekerasan Teologis Dalam Perspektif Filosofis) Oleh: Suratno (Tulisan ini telah dimuat

di: Jurnal Falsafah dan Agama, Edisi: Agama dan Kekerasan, Vol. 1, No. 1, April 2007, Jakarta: PS Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, hal. 86-104) KEKERASAN TEOLOGIS YANG MENGGEJALA Di Indonesia, akhir-akhir ini konflik dan aksi-aksi kekerasan atas nama agama semakin marak dimana-mana. Mulai dari kasus Bom Bali, Bom Hotel JW Marriot, Bom Kuningan, penyerbuan Kampus Al-Mubarok, Ahmadiyah di Parung sampai penutupan Rumah Ibadah Kristiani di Bandung Jawa Barat. Di luar negeri, kekerasan atas nama agama mengambil bentuknya dalam berbagai kejadian seperti orang-orang Yahudi yang membunuhi kaum Muslim yang tengah shalat di Masjid Hebron, orang-orang Hindu di India yang membakar Masjid Babri, orang-orang Islam di Mesir yang meneror dan membunuh para turis, atau di Bangladesh dan Iran yang menuntut hukuman mati terhadap novelis Taslima Nasreen atau Salman Rushdie, serta akar-akar konflik (etnis) –agama berkepanjangan di Irlandia Utara dan bekas Yugoslavia dan sebagainya. Fenomena di atas melahirkan wacana agama yang paradoksal bahwa ia tidak hanya bersifat rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua) tapi juga bencana, karena melahirkan fenomenafenomena kekerasan. Meskipun terdapat banyak pernyataan apologetis (pembelaan diri), khususnya dari kalangan agamawan, bahwa agama secara esensial hanya mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan; tetapi manusia saja yang kemudian menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi/kelompok sehingga menyulut kekerasan, yang jelas fenomena aksi kekerasan atas nama agama secara riil (nyata) terjadi dalam kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah; mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya (dengan) mengatasnamakan agama? Dan bagaimana penjelasan filosofis terhadap fenomena tersebut? Tulisan ini, secara umum, memang ditujukkan untuk menjawab pertanyaan krusial tersebut. Dalam tulisan ini, yang akan dibicarakan adalah kekerasan dengan mengatas namakan agama. Bentuk kekerasan inilah yang kita kenal sebagai kekerasan teologis, yaitu menggunakan dalih dan dalil agama untuk melegitimasi kepada penggunaan kekerasan dalam jihad besar dan perjuangan suci melawan kelompok-kelompok lain. Relasi agama yang tidak hanya dengan perdamaian, tetapi juga kekerasan sangatlah sulit untuk kita tolak manakala kita menyaksikan bahwa agama seringkali digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi tindak kekerasan yang dilakukan sebagian umat beragama. Menurut Haryatmoko (2000) setidaknya ada 3 alasan mengapa agama memiliki kemungkinan untuk dijadikan landasan dan pembenaran tindak kekerasan. Pertama, adalah karena fungsi agama sebagai ideologi. Dalam fungsi ini agama kemudian menjadi perekat suatu masyarakat karena memberi kerangka penafsiran dalam pemaknaan relasi antar manusia, yakni sejauh mana tatanan sosial di anggap sebagai representasi religius, yang dikehendaki Tuhan. Lebih jauh fungsi perekat ini, disisi lain juga bisa menghasilkan banyak kontradiksi terutama menyangkut masalah ketidak adilan dan kesenjangan yang selalu menjadi topik yang panas dan acapkali melahirkan tindak kekerasan. Kedua, adalah fungsi agama yang juga sebagai faktor identitas. Agama secara spesifik dapat di identikkan kepemilikannya pada manusia atau kelompok manusia tertentu. Kepemilikan ini memberi stabilitas, status, pandangan hidup, cara berpikir, etos dan sebagainya. Hal ini lebih mengkristal lagi bila dikaitkan dengan identitas lainnya seperti seksual (jenis kelamin), etnis (kesukuan), bangsa dan sebagainya. Pertentangan etis, kelompok, bangsa dan sebagainya sangat mungkin melahirkan kekerasan dan di sini agama sangat mungkin untuk turut diikutsertakan juga. Ketiga, fungsi agama sebagai legitimasi etis hubungan antar manusia. Berbeda dengan agama sebagai kerangka penafsiran, mekanisme ini bukan sakralisasi hubungan antar manusia, tetapi suatu hubungan antar manusia yang mendapat dukungan dan legitimasi dari agama. Padahal orang tahu, di dunia apalagi dunia ketiga, ekonomi pasar sangat akomodatif terhadap rezim anti-demokrasi, yakni represif terhadap gerakan kesetaraan dan biang dari kekerasan struktural. Dengan demikian potensi agama untuk diikut sertakan dalam tindak kekerasan sebagai ‘landasan dan legitimasi’ menjadi sangat

(b) toleransi. (2) bagaimana keterikatan pemeluknya terhadap agamanya masing-masing. yang bahkan bisa menjurus kepada tindak kekerasan. dengan sendirinya menjadi militan dan ekstrimis karena mereka mengklaim bahwa merekalah kelompok pilihan yang diberi keistimewaan untuk membawa misi suci. FUNDAMENTALIS SEKULER DAN TEROR SUCI Akar kekerasan teologis. karena hal itu berkaitan dengan upaya secara ketat menjalankan ajaran agama dan secara keras meluruskannya ketika agama mereka dianggap telah diselewengkan. Sebaliknya.memungkinkan. adalah mereka yang merasa bahwa sesuatu yang bernama kebenaran sudah ada ditangan (agama) mereka dan hanya ditangan mereka. Mengenai peran agama. menurut Ihsan. bahwa intervensi agama dalam urusan dunia hanya mendatangkan pertumpahan darah seperti banyak di catat sejarah. sekaligus sebagai sumber kekerasan dan konflik. termasuk dengan cara-cara kekerasan. FUNDAMENTALIS AGAMA. karena bersumber langsung dari Tuhan yang sepenuhnya benar dan tugas mereka adalah memperjuangkan kebenaran itu. Sebab ketidakseimbangan diantara keduanya akan melahirkan problem tersendiri bagi umat beragama. primordialisme juga muncul secara kuat sehingga kekerasan pihak luar yang dilawan kekerasan adalah salah satu manifestasi bentuk primordialisme tersebut. karena semua persoalan harus diputuskan hanya oleh akal manusia saja. Keterikatan ini bisa diimplementasikan melalui bentuk-bentuk ritual (praktek keagamaan) secara ketat. selain dengan penghayatan tingkat tinggi kepada ajaran-ajaran agama mereka. Jadi kekerasan atas nama agama. tetapi juga karena hadirnya tantangan dari luar yang juga menguat. Mengenai yang terakhir ini. Sementara itu kaum fundamentalis sekuler. kelompok eksklusif cenderung melakukan cara-cara pemaksaan dan kekerasan atas nama agama kepada kelompok lainnya. misalnya. Banyak alasan yang diberikan kelompok ini tentang fenomena ‘kematian’ agama. tetapi secara intrinsik pula agama telah memancing dan melahirkan terjadinya konflik dan kekerasan. Dalam kondisi mayoritas ini. (a) fanatisme dan. agama juga mendorong pemeluknya untuk memiliki keterikatan dengan agama yang dianutnya. menurut Ihsan. kekerasan atas nama agama bisa terjadi juga karena munculnya hubungan diantara keduanya yang ditandai oleh ambiguitas. dan bahwa perpaduan agama dan politik itu tidak normal dan berbahaya dan sebagainya. Selanjutnya. Agama bisa saja akhirnya hanya menjadi sekedar ritual belaka. Ihsan Ali-Fauzi (2005) menyatakan bahwa akar kekerasan teologis juga bisa bersifat internal dan eksternal. yang bulat tanpa benjol sedikitpun. Dalam konteks ini. Orang-orang yang berada dalam kelompok ini (yang mungkin ada disemua agama tanpa pandang bulu). Fanatisme yang berlebihan melahirkan truth claim (klaim kebenaran) yang bersifat eksklusif. Selanjutnya. tuntutan keterikatan ini bisa memunculkan sikap-sikap radikal. dengan kepercayaan pada surga sebagai balasannya yang setimpal. Kalangan agamawan boleh saja mengklaim orientasi kepada kedamaian sudah intrinsik dalam tradisi dan ajaran agama-agama . Kelompok ini mengingatkan kita kepada pemimpin tertentu Revolusi Perancis di . (1) bagaimana peran agama dan. fanatisme yang berlebihan juga akan melahirkan sikap permusuhan terhadap pemeluk agama lain. sebenarnya terdapat 2 konsep penting yang dimiliki setiap agama yang bisa mempengaruhi para pemeluknya dalam hubungannya dengan manusia lain yakni. terutama ketika ia menjadi mayoritas. selain bahwa eksistensi agama mereka juga akan melemah karena dalam situasi ini orang terkadang tidak lagi bangga dengan agama yang mereka peluk. Inilah yang kemudian melahirkan pepatah bahwa agama ibarat dua sisi mata uang yang bertolak belakang. yakni sifat mendua yang sangat nyata. Inilah juga yang terkadang menjadi biang lahirnya konflik dan kekerasan atas nama agama. eksklusivisme akan memandang penganut agama lain sebagai musuh. Ihsan menyebutnya sebagai kaum fundamentalis agama sedangkan akar teologis yang bersifat eksternal menurut Ihsan adalah kaum fundamentalis sekuler. Untuk akar teologis internal. Kedua hal ini harus dipraktekkan manusia dalam pola yang seimbang. karena agama yang bersangkutan sama derajat dan kebenarannya dengan agama lainnya yang ada. Selain masalah fanatisme dan toleransi seperti di atas. sebagai sumber kedamaian. Dalam situasi tertentu. Kaum fundamentalis agama. Toleransi yang berlebihan dari umat agama tertentu bisa menjebak mereka ke dalam pengaburan makna ajaran agama meraka. bisa dikatakan tidak hanya sebagai kelanjutan dari fundamentalisme yang menguat. secara teoritis. sesungguhnya bisa kita lihat muaranya pada 2 hal utama yakni. dan yang mati dijalan-Nya sama artinya dengan mati syahid. adalah mereka yang merasa bahwa agama sudah tidak punya lagi hak untuk hidup sekarang ini. sehingga melahirkan arogansi sosial.

gerakan People Temple pimpinan Jim Jones yang melakukan bunuh diri massal dengan cara meminum racun mematikan (sianida) di Guyana pada tahun 1970-an. kecuali jika mereka berpandangan bahwa kehidupan yang normal adalah kehidupan yang ditandai oleh berlangsungnya konflik dan kekerasan secara terus-menerus. agama bisa berintegrasi dengan kekerasan ketika tujuan tertentu menghalalkan segala cara. Sebagai bukti. Ketiga. makam tradisional Ibrahim di Hebron di Tepi Barat. sebagai tujuan dari aktivitas kekerasan bernama terror itu. Pertama. Namun demikian. dalam relasi konteks kekerasan teologis. dimana agama sangat berpotensi untuk berintegrasi dengan tindak-tindak kekerasan. Kimbal sendiri mengakui bahwa klaim kebenaran adalah unsur utama dalam setiap agama. agama bisa melahirkan tindak kekerasan ketika dibarengi dengan ketaatan secara membabi buta kepada pemimpin agama. Misalnya. Namun demikian. Florida. PROSES INTEGRASI KEKERASAN TEOLOGIS Integrasi agama dan kekerasan memang bisa terjadi dalam banyak situasi. sekte Aum Shinrikyo di bawah pimpinan Asahara Shoko yang menyebarkan gas mematikan di stasiun kereta bawah tanah di Jepang tahun 1990-an dan gerakan Davidian Branch pimpinan David Koresh yang melakukan bunuh diri massal dengan cara membakar diri di Texas Amerika Serikat (AS) tahun 1990-an. pendeta Paul Hill muncul di acara televisi Donahue dan membenarkan tindakan Griffin. Teror (al-irhab) pada hakikatnya adalah suatu kata yang memiliki banyak makna dan gambaran bentuk yang beraneka ragam. Lalu. yakni: (1) aktivitas pemberontak untuk mengacaukan tatanan yang sudah ada untuk memperoleh hak dan kekuasaan. Nah. Thomas Perry Thronton. menurut Kimbal bisa dimotivasi karena berbagai hal seperti (a) karena mempertahankan tempat suci. termasuk menghalalkan cara-cara kekerasan Kedua. Tujuan ini. Misalnya. Pada tanggal 10 Maret 1993 Michael Griffin menembak dan membunuh David Gunn yang menangani aborsi di luar klinik aborsi di Pensacola. Tempat itu disucikan oleh kaum Yahudi. mereka yang berada di kedua front fundamentalis di atas.abad ke-18 yang menjadikan sekularisasi total sebagai salah satu program utamanya. sebagai titik pijak maupun agama sebagai “kekuasaan”. Lima hari kemudian. ketika agama mengklaim kebenaran agama sebagai kebenaran yang mutlak dan satusatunya. Kristen dan Islam. Keempat. memaknai terorisme dalam 2 pengertian. Dalam realitas dunia sekarang ini. Kimbal mencontohkan suatu kasus tentang klaim kebenaran di kalangan Kristen Fundamentalis. dan (2) kegiatan orang yang memiliki kekuasaan yang ingin menindas penghalang dan kelompok oposisi dalam menuju. Uniknya. gerakan mereka pada awalnya justru merupakan gerakan pembebasan rakyat dari kejahatan sosial. Kimbal mengemukakan sejumlah fakta tentang hal ini. tetapi hal itu memunculkan beragam penafsiran. Charles Kimbal menjelaskan terdapat lima situasi. terorisme bisa mengambil bentuknya dari agama sebagai landasan. terorisme adalah bentuk paling nyata dari benturan antara fundamentalis agama dan fundamentalis sekuler seperti di atas. Ketika penafsiran dipahami secara kaku dan tanpa kritik. keduanya sama-sama dirugikan dengan kekerasan atas anama agama. baik fundamentalis agama maupun sekuler.Amerika memasuki masjid dan menembaki Muslim Palestina yang ada di . yang merasa bahwa gereja adalah lawan dan sedikitpun tidak punya kebajikan serta harus diluluhlantakkan sehabis-habisnya. menurut Kimbal. misalnya. Pada hari Purim 25 Februari 1994 seorang dokter Yahudi . mereka mengklaim bahwa merekalah yang bisa diselamatkan dan keselamatan ini hanya bisa dicapai dengan ketaatan (buta) kepada sang pemimpin. agama juga menurut Kimbal bisa berintegrasi dengan kekerasan ketika umatnya mulai merindukan zaman ideal mereka di masa lalu dan bertekad merealisasikannya pada masa sekarang. sebagai kebenaran mutlak. Kimbal memberi contoh ide negara (agama) Yahudi seperti dicetuskan oleh Rabbi Mei Kahane yang berakibat terusirnya warga Rabdu dari daerah Judea dan Samaria. mempertahankan dan atau memperbesar kekuasaannya. kemudian menarik dan mengisolasi diri serta membentuk satu komunitas bersama. Lebih lanjut menurut Ihsan. semuanya berkisar pada kata ikhafah yang berarti membuat orang lain takut atau secara sengaja mengganggu stabilitas keamanan umum sebagai ancaman. maka bisa mendorong pemeluknya untuk bersikap tidak hanya defensif dan tetapi juga ofensif.

Asumsinya adalah bahwa selalu ada beberapa sikap umum yang muncul setelah masyarakat menafsirkan norma dan ajaran agama mereka. mereka akan memperlihatkan sikap lebih moderat dibanding kelompok skripturalis. Pertama. GUI menilai kelompok JAI sebagai kelompok sesat dan menyesatkan sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga harus dibubarkan (dengan cara apapun) (c) untuk mempertegas identitas kelompok dari dalam dan (d) untuk mempertegas indetitas kelompok melawan orang luar. disamping juga karena perbedaan pengalaman. Kelima. karena menurut Simmel (1995) manusia secara tak terhindarkan akan berhadapan dengan kondisikondisi epistemologis. Ketiga. menurut Kimbal. kelompok substansialis. atau (propaganda) perang atas terorisme yang banyak memakan korban. Kalangan nisbi biasanya sama sekali tidak merespon karena mereka benar-benar indifferent. akar kekerasan muncul dalam fenomena identifikasi diri manusia ke dalam: “aku dan kamu”. melalui akar antropologis (yang berkaitan dengan kemampuan manusia menerima. kasus pembubaran Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Parung beberapa waktu lalu oleh sekelompok orang yang menamakan Gerakan Umat Islam (GUI). domestik (nasional) maupun internasional). substansialis dan skripturalis. Hegemoni politik oleh negara ataupun represi yang dilakukan individu ataupun kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok umat beragama akan melahirkan respon yang berbeda-beda dari individu dan kelompok yang ada. yakni proses pengenalan manusia. Kedua. Hanya kelompok skripturalis yang diasumsikan biasanya akan memperlihatkan sikap radikal termasuk menggunakan cara-cara kekerasan. ajaran agama tentu saja harus diinternalisasikan dan diinterpretasikan karena kebanyakan bersifat sangat umum. Sikap dan pemahaman agama merupakan kelanjutan dari ajaran dan norma agama. Proses meng-kamu-kan dan memereka-kan adalah proses pengasingan dalam pengenalan manusia sebagai sesama. agama bisa berintegrasi dengan kekerasan ketika perang suci (holy war) sudah dipekikkan. bukan hanya sekedar sebagai penduduk. Kamu dan Mereka dianggap asing. variabel sikap yang muncul ketika variabel kedua dihadapkan dengan kondisi sosial. Proses terjadinya integrasi kekerasan teologis dalam diri umat beragama dapat dijelaskan melalui tiga variabel utama. meskipun memiliki kepedulian terhadap agamanya masingmasing dalam berbagai bidang. politik dan ekonomi yang nyata dalam masyarakat. Di bawah ini akan dijelaskan akar kekerasan teologis dalam perspektif filosofis. Ajaran agama yang berisi norma-norma senantiasa mempengaruhi tingkah laku dan tindakan umatnya. Dengan kata lain. tidaklah terlalu sulit. Hal ini meliputi juga faktor-faktor domestik dan internasional. sebagai suatu budaya) dan melalui akar sosiologis (yakni bersumber dari relasi sosial politik antar individu dan kelompok umat beragama yang berbeda-beda baik dalam skala lokal. Sikap ini tersimbolkan dalam penerapan pemahaman kaum beragama ke dalam norma dan ajaran agama mereka. korban . Indentifikasi inilah yang selanjutnya menjadi akar lahirnya permusuhan yang berujung kekerasan. dan lebih jauh lagi ke dalam “kita dan mereka”. Sementara. Misalnya. AKU DAN KAMU DALAM POLITIK IDENTITAS MANUSIA Dalam perspektif filosofis. Dari proses internalisasi dan interpretasi inilah lahir apa yang diidealkan. proses integrasi kekerasan teologis dijelaskan melalui akar teologis kekerasan (yang bersumber dari ajaran-ajaran dan norma-norma agama). memahami dan menafsirkan ajaran dan norma agama melalui implemantasinya dalam sikap dan cara hidup. (b) untuk melindungi ajaran agama yang dirasa sedang dalam bahaya. variabel sikap dan pemahaman agama. misalnya Perang Salib. Namun. melainkan lebih dari itu asing sebagai manusia. Contoh tentang hal ini. warga negara atau pengikut sebuah kelompok. Melalui ketiga variabel di atas. Dalam hal ini biasanya muncul golongan nisbi. Pelaku kekerasan biasanya melakukan tindak kekerasan terhadap korbannya. pendidikan. Hal ini juga merupakan keniscayaan karena setiap masyarakat beragama mengalami proses sosialisasi primer yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.dalamnya. dan tingkatan ekonomi diantara mereka. Hal ini dimungkinkan terjadi. Perang Teluk. terutama yang berkaitan dengan cita-cita kehidupan masyarakat kaum beragama. karena sebagai “sesama” manusia mereka lebih menonjolkan ke-aku-annya dan ke-kita-annya. variabel norma dan ajaran agama.

Dalam dikotomi ini. Dalam posisi yang demikian. diperkuat dengan aspek-aspek simbolisme dari ekspresi keagamaan seperti pakaian. Pertama. termasuk kekerasan atas nama agama juga mengandaikan 2 sumber yaitu sumber dari dalam (internal) dan sumber dari luar (eksternal). dapat dibenarkan. yakni legitimasi kepada penggunaan kekerasan dalam jihad besar. pengenalan manusia atas manusia lain bisa dimulai dengan stereotipikasi bahwa orang lain adalah anu-nya si itu atau itu-nya si anu (dengan melekatkannya pada atribut-atribut di luar diri) dan bukan sebagai pribadi atau individu pada dirinya sendiri (an sich). Ini juga yang melahirkan ideologiideologi dan sistem-sistem nilai yang mendisosiasikan manusia dalam aku dan kamu. Kaum agamawan fundamentalis biasanya mengembangkan legitmiasi tersebut lewat narasi-narasi besar berupa dasar-dasar keimanan. korban kekerasan juga dipersepsi sebagai ancaman individu ataupun kelompok. dalam konteks problem kekerasan teologis. akar kekerasan bisa kita lihat sumbernya dalam 2 hal yakni. Pemberian legitimasi itu sekurang-kurangnya dapat dilakukan melalui 3 cara yakni: (1) seruan formal kepada tradisi keagamaan tertentu. setidaknya dalam situasi tertentu. dan mereka yang mengancam keselamatan kita dan (3) rujukan kepada sebuah misi suci keagamaan tertentu di mana tindakan kekerasan. Dari penjelasan perspektif filosofis terhadap kekerasan seperti di atas. Dari sini agama kemudian berkembang menjadi sumber penemuan identitas diri dan juga identitas kelompok. melawan kelompok-kelompok lain. Dari penjelasan di atas. Pembedaan ini menciptakan dinamika psikologis antara individu: aku dan kamu. menjadi sangat mungkin bagi manusia untuk mengkondisikan tindakan kekerasan terhadap Kamu dan Mereka ke dalam struktur pikiran manusia itu sendiri. nama-nama dan sebagainya. (2) penguatan narasi-narasi yang menunjukkan kejahatan dan kebengisan diri atau kelompok lain. Ketika status obyek manusia lain didehumanisasikan dan dipersonalisasikan. perjuangan suci. sebagai kita dan mereka. Itulah gambaran tentang musuh (feindibild). yang menunjukkan situasi-situasi khusus dimana penggunaan kekerasan dapat dibenarkan. Secara esensial agama memang dianggap mampu memberi jawaban atas pertanyaan eksistensial manusia mengenai apa dan siapa dirinya ditengah alam semesta yang (terkadang) membingungkan ini. kamu yang mengancam aku. kita bisa mencari jalan keluarnya pertama-tama dengan mengembalikan essensi agama itu sendiri. keterlibatan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagainya. Kedua. sementara kamu dan mereka dianggap setan dan dilecehkan. menurut saya. antara kelompok: kita dan mereka. kisah-kisah dan ritual keagamaan. serta mempertegas perbedaan di antara banyak individu dan kelompok. Nah. Agar terpelihara secara baik. yang memiliki kemungkinan untuk menguat dan mengeras serta melahirkan ekslusivisme ketika muncul konflik antar umat beragama. agama menyatukan individu-individu tertentu ke dalam kelompok-kelompok tertentu dan karena itu juga membeda-bedakan orang dari satu ke yang lainnya. maupun yang bersumber dari luar diri manusia. Di sini kita . Kekerasan akan semakin nyata jika yang didefinisikan itu tak mampu mendefinisikan diri dan tunduk pada dikte instansi di luar dirinya. agar semakin kokoh. pengenalan manusia atas manusia lain mengandung momen dominasi karena mengenali juga berarti mendefinisikan. kita dianggap suci dan disucikan. narasi besar tersebut dapat berkembang makin tajam. kita dan mereka untuk masuk ke dalam kerangka kawan dan lawan. yang bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri. sekurang-kurangnya ada dua hal yang harus kita jadikan acuan. kamu dan mereka. Dengan demikian melalui perspektif filosofis terhadap kekerasan kita temukan fakta bahwa di dalam rasio kita sudah melekat kemampuan abstraksi yang dalam situasi ancaman menjadi dehumanisasi dan depersonalisasi manusia yang lainnya. Dengan demikian penjelasan tentang epistemologi kekerasan. ruang publik. sebagai stimulus (rangsangan) terhadap lahirnya tindak kekerasan. mengarah kepada eskalasi konflik dan kekerasan. makanan. Narasi besar tersebut. Stereotipikasi yang netral ini dalam situasi konflik akan menjadi stigmatisasi yang destruktif. Inilah yang menambah kuatnya identifikasi diri sebagai aku dan kamu. identifikasi aku dan kamu serta kita dan mereka membutuhkan legitimasi terus menerus agar tidak usang.kekerasan didehumanisasikan dan didepersonalisasikan sampai pada status obyeknya. aku. Dalam situasi konflik yang genting. EPISTEMOLOGI KEKERASAN: AKAR INTERNAL DAN EKSTERNAL Secara epistemologis. di sinilah agama dengan fungsinya sebagai pemberi identities kelompok dan juga narasi besar agama yang menopangnya kemudian berkembang jauh ke dalam apa yang mencirikan pola utama kekerasan atas nama agama.

struktur dan realitas di luar diri manusia yang memperlihatkan teladan-teladan buruk. melainkan rangsangan dari dalam (internal) yang sudah terpasang dan mencari pelampiasan serta akan terekspresikan sekalipun dengan rangsangan luar yang sangat kecil. Model agresi dan kekerasan manusia yang bersifat naluriah (instingtif ini).berhadapan dengan apa yang oleh filsafat disebut sebagai akar-akar epistemologis kekerasan. kita bisa melihat penjelasannya di dalam buku karya Konrad Lorenz (1966) yang berjudul On Agression. dinamai model hidrolik yang dianalogikan dengan tekanan yang ditimbulkan oleh air atau uap di dalam tabung tertutup. termasuk tindak kekerasan. bom bunuh diri dan sebagainya dengan mengatasnamakan agama adalah ketika mereka mengalami depresi mental yang parah sekali. melainkan digerakkan oleh naluri (insting) manusia sebagai sumber energi yang selalu mengalir dan harus selalu dialirkan. ketika didalam syaraf tadi sudah terkumpul cukup energi sekalipun tanpa adanya rangsangan dari luar. tindak agresifitas dan kekerasan manusia pada dasarnya bukanlah reaksi terhadap stimulus (rangsangan) dari luar. dapat kita lihat pada pandangan sekelompok filsuf yang bertentangan secara diamteris dengan pendapat Lorenz tentang akar kekerasan yang bersifat naluriah (instingtif). Untuk akar epistemologi kekerasan yang bersifat internal (dari dalam diri manusia dan bersifat instingtif). politik dan ekonomi yang kita ciptakan. untuk akar epistemology kekerasan yang bersifat eksternal. Jadi. pembunuhan. dalam bentuknya yang radikal. Dalam buku tersebut. dan epistemologi kekerasan menyangkut akar internal-eksternal. Menurut Muis Naharong (2005) mereka melakukan tindakan kekerasan seperti penyerangan. bukan disebabkan oleh faktor-faktor biologis diluar kendali kita seperti kondisi sosial. dapat dimulai dengan jalan menanyakan: dalam kondisi psikologis yang bagaimana para aktor agama ini melakukan kekerasan teologis? Jawaban ini diperlukan karena sebagaimana penjelasan tentang kekerasan naluriah (instingtif) yang berasal dari dalam diri manusia. akar internal itu juga bisa menjadi sumber kekerasan. Hal ini ada benarnya juga. Manusia. politik. Tindakan kekerasan merupakan ledakan yang terjadi. Asumsi Lorenz ini secara lebih luas juga telah menjadi dasar kuatnya paham realisme dalam hubungan manusia antar bangsa. seperti halnya model libido Freud. ekonomi. politik. Menurut pemikiran mereka. Pandangan ini. SOLUSI FILOSOFIS BAGI KEKERASAN TEOLOGIS Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas. menurut Lorenz. sesuai yang mereka cita-citakan) yang sudah buntu akibat keadaan sosial. Lorenz berpendapat bahwa energi khusus untuk tindakan naluriah (instingtif) manusia mengumpul secara kontinyu (terus-menerus) dipusat-pusat syaraf yang ada kaitannya dengan pola tindakan yang dilakukan manusia. budaya dan sebagainya. Lorenz secara brilian menjelaskan bahwa kecenderungan kita terhadap perang nuklir dan kekejaman-kekejaman yang lainnya. Sementara itu. yang juga harus dicari jawabannya adalah pertanyaan tentang hal-hal diluar naluri (insting) manusia yang bisa memberikan stimulus (rangsangan) terhadap manusia untuk melakukan tindakan kekerasan teologis. Kedua. Mereka menyatakan bahwa kekerasan merupakan bentuk manifestasi dari stimulus (rangsangan) yang diperoleh manusia dari luar dirinya. itu semua terjadi tidak selalu merupakan akibat dari reaksi terhadap rangsangan luar. berasal dari luar diri manusia. yang membuat mereka memiliki tabiat jahat adalah keberadaan institusi. tindakan manusia secara eksklusif (termasuk tindak kekerasan) diciptakan oleh faktor-faktor lingkungan yakni oleh kondisi sosial. dikemukakan oleh para filsuf era pencerahan. Sementara itu. di-seyogyakan terlahir “baik” dan bernalar. Scott Assembly menyatakan bahwa menurutnya kekerasan teologis terjadi ketika para pemimpin ekstremis suatu . ekonomi dan faktor lainnya dari masyarakatnya yang sangat tidak menggembirakan bagi mereka. sebagai stimulus (rangsangan) tindak kekerasan. Mereka sudah putus asa dalam menghadapi masa depan (versi mereka. Dalam studinya baru-baru ini. Dengan demikian. politik identitas manusia. menurut para filsuf Pencerahan. yaitu kekerasan dari mengakar dari dalam (diri manusia) yang bersifat intsingtif dan dari luar yang bersifat stimulus (rangsangan). jadi bukan oleh faktor-faktor “bawaan” yang bersifat naluriah (instingtif) tadi. solusi filosofis yang didapat diberikan bagi problem kekerasan teologis adalah: Pertama. terutama bila dikaitkan dengan fenomena kekerasan yang merupakan salah satu penghambat kemajuan manusia. tentang intergrasi kekerasan teologis. bahkan tidak ada. Secara umum pandangan ini dianut oleh kaum environmentalis.

agama tertentu. domestik (nasional) maupun global (internasional). Agama dengan demikian. terutama pada pencarian alternatif solusi-solusi problem kehidupan manusia dengan basik keilmuan masing-masing. Ekspersi internal manusia seperti ini harus ditinjau secara teliti. ekonomi dan politik domestik (lokal). kemiskinan dan kebencian tersebut kemudian dikaitkaitkan dengan konflik antar agama. Jakarta: LIPI Press. dalam suatu lingkungan struktural suatu masyarakat. Dari kedua hal di atas. bisa datang ketika tindak kekerasan teologis merupakan akibat. berkewajiban untuk menciptakan keseimbangan hidup diantara warga negaranya dan meminimalisir potensi ketidakadilan. Untuk penjelasan lebih rinci lihat Ihsan Ali-Fauzi. dan organisasi-organisasi politik internasional. menurut agamwan ini. respon dan reaksi yang berlebihan terhadap munculnya ketidakadilan dalam lingkungan sosial. Ambivalensi sebagai peluang:Agama. harus disterilkan dari konsekuensi-konsekuensi tragis yang muncul dari niat busuk pemimpin politik itu. 2005. Dalam hal ini negara dan perangkat birokrasinya. Campur tangan kalangan agamawan akan menjadikan upaya penyelesaian problem kekerasan teologis menjangkau publik umat beragama secara luas. mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. terutama yang sumbernya dari alasan psikologis manusia yang bersifat naluriah (instingtif). Klaim ini biasanya diikuti dengan upaya para agamawan untuk membedakan antara agama yang benar dan autentik yang dipandang hanya menyerukan perdamaian dengan agama yang palsu dan inauthentic yang dianggap lebih militan fundamentalis dan ektremist. END NOTES 1. Martin Luther King (Protestan). 2000. Lihat Afadlal dkk. Pengenalan terhadap karakter psikologis serta konteks dari keberbedaan dan perubahan psikologis manusia yang mengarah pada tindak kekerasan akan membantu kita mencari solusi praksis penyelesaian kekerasan teologis. dalam Harian Kompas. hal. Upaya stimulatif ini tentu juga harus dibarengi dengan kesediaan kalangan agamawan untuk mengajak umat beragama kepada militansi anti-kekerasan (non-violence militancy) seperti yang telah dilakukan Gandhi (Hindu). serta menyelesaikan problem kemsayarakatan lainnya. penyelesaian problem kekerasan teologis diharapkan bisa menyentuh akar-akar permasalahannya. baik dalam konteks local. Pandangan ini mengecam para pemimpin politik yang membawa-bawa agama untuk kepentingan politik dan ekonominya sendiri. terutama apabila kelompok yang menghegemoni. bisa dikait-kaitkan dengan konflik aliran intra-agama. kalaupun ternyata berasal dari satu agama yang sama. terutama yang menyangkut stimulus (rangsangan) dari luar diri manusia bermanfaat dalam rangka menciptakan strategi untuk menentang dan mengatasi segala bentuk ketidakadilan. Sementara itu kalangan intelektual diharapkan berkontribusi. mendominasi dan merepresi berasal dari agama yang berbeda. (dalam reaksi mereka terhadap apa yang mereka pandang sebagai ketidakadilan dalam sebuah lingkungan struktural suatu masyarakat). maka tindakan kekerasan teologispun akan mungkin bermunculan. Dengan campur tangan negara dan organisasi politik internasional. Ketidakadilan. Hal ini bisa dikaitkan pada aksi kekerasan teologis yang dilakukan karena adanya hegemoni dan dominasi serta represi kelompok atau negara tertentu secara tak terkontrol. dominasi dan represi ini kemudian melahirkan ketidakadilan dan kemiskinan serta memunculkan epistemologi kebencian yang mendalam dikalangan umat beragama. Gus Dur (Islam) dan sebagainya. 4. dan dalam konteks yang luas. 3. telahberhasil memanfaatkan argumenargumen keagamaan (atau etnis-keagamaan) untuk menyuruh orang lain (umatnya) melakukan tindakan kekerasan. 2. Hal ini diperlukan. Agama: Etika Atasi Kekerasan. Selama ketidakadilan dalam bidang-bidang tersebut tidak dapat dilenyapkan. Islam dan Radikalisme di Indonesia. menyatakan bahwa kekerasan teologis muncul akibat adanya ketimpangan dan ketidakadilan politik global (internasional). Stimulus kedua (menurut Muis Naharong) . kemiskinan. dilihat kasus demi kasus. Stimulus ketiga. Campur tangan mereka diperlukan agar upaya penyelesaikan problem kekerasan teologis akan bersifat menyeluruh. pertama-tama pada penelitian tentang sumber konflik yang bersifat naluriah (instingtif). menjangkau segala bidang kehidupan. Hegemoni. Jadi stimulus pertama datang dari faktor pemimpin agama yang dalam kontek masyarakat beragama yang bersifat hirarkhis sangat memegang kendali masyarakatnya. Untuk penjelasan tentang agama dan kekerasan lihat Haryatmoko. yang merupakan implementasi dari kondisi psikologis manusia. karena kondisi kejiwaan (psikologis) manusia berbeda-beda dan selalu berubah. . pencarian jawaban atas pertanyaan mengenai solusi filosofis kekerasan teologis akan membawa kita. 2005. edisi 17 April 2000. kebodohan dan sebagainya. meskipun hal tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Dalai Lama (Buddha). Selanjutnya. 6-8. solusi filosofis kekerasan teologis. Atau.

2005 (Forthcoming). 1966. edisi Rabu. Untuk penjelasan lebih lengkap tentang ini lihat Charles Kimball. 33-34. Erich. 1966. Untuk penjelasn lebih lanjut dan ilustrasi yang amat lengkap mengenai hal tersebut lihat misalnya dua rujukan berikut. 2005. 2005 (Forthcoming). Konrad. Maryland: Rowman and Littlefield Publishers Inc. Haryatmoko. Imam Muttaqin).edu/new/(… 9/14/2005). Budi Hardiman. hal.4 9. dan David I Kertzer. 13. Ibid.4 dan 5. 11. Jakarta: Jurnal Universitas Paramadina. Violence and Reconciliation.scripps. Nurhadi).cit. Scott. Applebly. Nurhadi). Kekerasan dan Teror Suci. Bandung: PT Mizan Pustaka. 1998. hal. Menurut Kimbal. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Abdul Muis Naharong. Kimball. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. The Ambivalence of The Sacred: Religion. Imam Muttaqin).cit. Kala Agama Menjadi Bencana (terj. Untuk tinjauan rinci. dalam www. Ambivalensi sebagai peluang: Agama. Akar Kekerasan Massa. Muis Naharong. Budi-Hardiman. 282 14. 2005. dalam harian KOMPAS. Lanham. Kekerasan dan Upaya Perdamaian. Jakarta: Jurnal Universitas Paramadina . Lihat Scott Applebly. Ali-Fauzi.cit. Ihsan Ali-Fauzi. Agama: Etika Atasi Kekerasan.Kekerasan dan Upaya Perdamaian. Charles. Islam dan Radikalisme di Indonesia. setiap agama memang memiliki jalan keselamatannya sendiri-sendiri sehingga klaim kebenaran yang menjadikan agama “berpotensi” melahirkan kekerasan haruslah ditolak. Bandung: PT Mizan Pustaka Agama. F. 2003. Marjorie Kerr Wilson). 1977.ohio. 10. Ihsan. 2000. 7. 8. Franky. 2003. Patric Gregory). 3 Maret 2004. 2000. 2005. Baltimore: The John Hopkins University Press. On Agression (tej.ohio. 2005 (Forthcoming). 2004. Fromm. Abdul. hal. Marjorie Kerr Wilson). Di dalam buku ini Kimbal tidak hanya menjelaskan situasi-situasi ketika agama terintegrasi dengan tindak kekerasan. dalam www. hal. edisi 17 April 2000. Lorenz. dalam Harian Kompas.edu/new/ (9/14/2005). hal. Rene Girard. Violence and Reconciliation. Politic and Power. 2004. 2000. REFERENSI Afadlal dkk. 2000. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Lihat Erich Fromm. Maryland: Rowman and Littlefield Publishers Inc. lihat Konrad Lorenz. The Ambivalence of The Sacred: Religion. Akar-Akar Kekerasan (terj. Ritual. tetapi juga menjelaskan prinsip keragaman agama (pandangan pluralis) sebagai hubungan multikultural dan antar iman. 2000. Kala Agama Menjadi Bencana (terj. Kekerasan dan Teror Suci. 5.9 6. 2005. Akar-Akar Kekerasan (terj. 3 Maret 2004. op. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lihat Afadlal dkk. Jakarta: LIPI Press. edisi Rabu. dalam harian KOMPAS. 12. Lanham. op.scripps. op. Akar Kekerasan Massa. Lihat Abdul Muis Naharong. On Agression (tej. New Heaven and London: Yale University Press. Violence and The Sacred (terj.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful