AGAMA, KEKERASAN DAN FILSAFAT (Kekerasan Teologis Dalam Perspektif Filosofis) Oleh: Suratno (Tulisan ini telah dimuat

di: Jurnal Falsafah dan Agama, Edisi: Agama dan Kekerasan, Vol. 1, No. 1, April 2007, Jakarta: PS Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, hal. 86-104) KEKERASAN TEOLOGIS YANG MENGGEJALA Di Indonesia, akhir-akhir ini konflik dan aksi-aksi kekerasan atas nama agama semakin marak dimana-mana. Mulai dari kasus Bom Bali, Bom Hotel JW Marriot, Bom Kuningan, penyerbuan Kampus Al-Mubarok, Ahmadiyah di Parung sampai penutupan Rumah Ibadah Kristiani di Bandung Jawa Barat. Di luar negeri, kekerasan atas nama agama mengambil bentuknya dalam berbagai kejadian seperti orang-orang Yahudi yang membunuhi kaum Muslim yang tengah shalat di Masjid Hebron, orang-orang Hindu di India yang membakar Masjid Babri, orang-orang Islam di Mesir yang meneror dan membunuh para turis, atau di Bangladesh dan Iran yang menuntut hukuman mati terhadap novelis Taslima Nasreen atau Salman Rushdie, serta akar-akar konflik (etnis) –agama berkepanjangan di Irlandia Utara dan bekas Yugoslavia dan sebagainya. Fenomena di atas melahirkan wacana agama yang paradoksal bahwa ia tidak hanya bersifat rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua) tapi juga bencana, karena melahirkan fenomenafenomena kekerasan. Meskipun terdapat banyak pernyataan apologetis (pembelaan diri), khususnya dari kalangan agamawan, bahwa agama secara esensial hanya mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan; tetapi manusia saja yang kemudian menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi/kelompok sehingga menyulut kekerasan, yang jelas fenomena aksi kekerasan atas nama agama secara riil (nyata) terjadi dalam kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah; mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya (dengan) mengatasnamakan agama? Dan bagaimana penjelasan filosofis terhadap fenomena tersebut? Tulisan ini, secara umum, memang ditujukkan untuk menjawab pertanyaan krusial tersebut. Dalam tulisan ini, yang akan dibicarakan adalah kekerasan dengan mengatas namakan agama. Bentuk kekerasan inilah yang kita kenal sebagai kekerasan teologis, yaitu menggunakan dalih dan dalil agama untuk melegitimasi kepada penggunaan kekerasan dalam jihad besar dan perjuangan suci melawan kelompok-kelompok lain. Relasi agama yang tidak hanya dengan perdamaian, tetapi juga kekerasan sangatlah sulit untuk kita tolak manakala kita menyaksikan bahwa agama seringkali digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi tindak kekerasan yang dilakukan sebagian umat beragama. Menurut Haryatmoko (2000) setidaknya ada 3 alasan mengapa agama memiliki kemungkinan untuk dijadikan landasan dan pembenaran tindak kekerasan. Pertama, adalah karena fungsi agama sebagai ideologi. Dalam fungsi ini agama kemudian menjadi perekat suatu masyarakat karena memberi kerangka penafsiran dalam pemaknaan relasi antar manusia, yakni sejauh mana tatanan sosial di anggap sebagai representasi religius, yang dikehendaki Tuhan. Lebih jauh fungsi perekat ini, disisi lain juga bisa menghasilkan banyak kontradiksi terutama menyangkut masalah ketidak adilan dan kesenjangan yang selalu menjadi topik yang panas dan acapkali melahirkan tindak kekerasan. Kedua, adalah fungsi agama yang juga sebagai faktor identitas. Agama secara spesifik dapat di identikkan kepemilikannya pada manusia atau kelompok manusia tertentu. Kepemilikan ini memberi stabilitas, status, pandangan hidup, cara berpikir, etos dan sebagainya. Hal ini lebih mengkristal lagi bila dikaitkan dengan identitas lainnya seperti seksual (jenis kelamin), etnis (kesukuan), bangsa dan sebagainya. Pertentangan etis, kelompok, bangsa dan sebagainya sangat mungkin melahirkan kekerasan dan di sini agama sangat mungkin untuk turut diikutsertakan juga. Ketiga, fungsi agama sebagai legitimasi etis hubungan antar manusia. Berbeda dengan agama sebagai kerangka penafsiran, mekanisme ini bukan sakralisasi hubungan antar manusia, tetapi suatu hubungan antar manusia yang mendapat dukungan dan legitimasi dari agama. Padahal orang tahu, di dunia apalagi dunia ketiga, ekonomi pasar sangat akomodatif terhadap rezim anti-demokrasi, yakni represif terhadap gerakan kesetaraan dan biang dari kekerasan struktural. Dengan demikian potensi agama untuk diikut sertakan dalam tindak kekerasan sebagai ‘landasan dan legitimasi’ menjadi sangat

dan bahwa perpaduan agama dan politik itu tidak normal dan berbahaya dan sebagainya. (a) fanatisme dan. selain dengan penghayatan tingkat tinggi kepada ajaran-ajaran agama mereka. adalah mereka yang merasa bahwa sesuatu yang bernama kebenaran sudah ada ditangan (agama) mereka dan hanya ditangan mereka. Orang-orang yang berada dalam kelompok ini (yang mungkin ada disemua agama tanpa pandang bulu). Kalangan agamawan boleh saja mengklaim orientasi kepada kedamaian sudah intrinsik dalam tradisi dan ajaran agama-agama . adalah mereka yang merasa bahwa agama sudah tidak punya lagi hak untuk hidup sekarang ini. termasuk dengan cara-cara kekerasan. agama juga mendorong pemeluknya untuk memiliki keterikatan dengan agama yang dianutnya. fanatisme yang berlebihan juga akan melahirkan sikap permusuhan terhadap pemeluk agama lain. dan yang mati dijalan-Nya sama artinya dengan mati syahid. Dalam kondisi mayoritas ini. sebenarnya terdapat 2 konsep penting yang dimiliki setiap agama yang bisa mempengaruhi para pemeluknya dalam hubungannya dengan manusia lain yakni. terutama ketika ia menjadi mayoritas. misalnya. kelompok eksklusif cenderung melakukan cara-cara pemaksaan dan kekerasan atas nama agama kepada kelompok lainnya. menurut Ihsan. karena semua persoalan harus diputuskan hanya oleh akal manusia saja. selain bahwa eksistensi agama mereka juga akan melemah karena dalam situasi ini orang terkadang tidak lagi bangga dengan agama yang mereka peluk. Fanatisme yang berlebihan melahirkan truth claim (klaim kebenaran) yang bersifat eksklusif. menurut Ihsan. bahwa intervensi agama dalam urusan dunia hanya mendatangkan pertumpahan darah seperti banyak di catat sejarah. sekaligus sebagai sumber kekerasan dan konflik. Selain masalah fanatisme dan toleransi seperti di atas. dengan kepercayaan pada surga sebagai balasannya yang setimpal.memungkinkan. (2) bagaimana keterikatan pemeluknya terhadap agamanya masing-masing. Sebaliknya. Sebab ketidakseimbangan diantara keduanya akan melahirkan problem tersendiri bagi umat beragama. Kelompok ini mengingatkan kita kepada pemimpin tertentu Revolusi Perancis di . Toleransi yang berlebihan dari umat agama tertentu bisa menjebak mereka ke dalam pengaburan makna ajaran agama meraka. Kaum fundamentalis agama. Dalam konteks ini. tuntutan keterikatan ini bisa memunculkan sikap-sikap radikal. FUNDAMENTALIS SEKULER DAN TEROR SUCI Akar kekerasan teologis. Untuk akar teologis internal. (b) toleransi. primordialisme juga muncul secara kuat sehingga kekerasan pihak luar yang dilawan kekerasan adalah salah satu manifestasi bentuk primordialisme tersebut. Ihsan Ali-Fauzi (2005) menyatakan bahwa akar kekerasan teologis juga bisa bersifat internal dan eksternal. Mengenai peran agama. yang bulat tanpa benjol sedikitpun. sesungguhnya bisa kita lihat muaranya pada 2 hal utama yakni. dengan sendirinya menjadi militan dan ekstrimis karena mereka mengklaim bahwa merekalah kelompok pilihan yang diberi keistimewaan untuk membawa misi suci. Sementara itu kaum fundamentalis sekuler. FUNDAMENTALIS AGAMA. kekerasan atas nama agama bisa terjadi juga karena munculnya hubungan diantara keduanya yang ditandai oleh ambiguitas. sebagai sumber kedamaian. Keterikatan ini bisa diimplementasikan melalui bentuk-bentuk ritual (praktek keagamaan) secara ketat. Banyak alasan yang diberikan kelompok ini tentang fenomena ‘kematian’ agama. (1) bagaimana peran agama dan. karena bersumber langsung dari Tuhan yang sepenuhnya benar dan tugas mereka adalah memperjuangkan kebenaran itu. karena hal itu berkaitan dengan upaya secara ketat menjalankan ajaran agama dan secara keras meluruskannya ketika agama mereka dianggap telah diselewengkan. yakni sifat mendua yang sangat nyata. Dalam situasi tertentu. tetapi secara intrinsik pula agama telah memancing dan melahirkan terjadinya konflik dan kekerasan. secara teoritis. Jadi kekerasan atas nama agama. yang bahkan bisa menjurus kepada tindak kekerasan. Mengenai yang terakhir ini. Selanjutnya. Kedua hal ini harus dipraktekkan manusia dalam pola yang seimbang. sehingga melahirkan arogansi sosial. Inilah yang kemudian melahirkan pepatah bahwa agama ibarat dua sisi mata uang yang bertolak belakang. tetapi juga karena hadirnya tantangan dari luar yang juga menguat. karena agama yang bersangkutan sama derajat dan kebenarannya dengan agama lainnya yang ada. Selanjutnya. eksklusivisme akan memandang penganut agama lain sebagai musuh. bisa dikatakan tidak hanya sebagai kelanjutan dari fundamentalisme yang menguat. Inilah juga yang terkadang menjadi biang lahirnya konflik dan kekerasan atas nama agama. Agama bisa saja akhirnya hanya menjadi sekedar ritual belaka. Ihsan menyebutnya sebagai kaum fundamentalis agama sedangkan akar teologis yang bersifat eksternal menurut Ihsan adalah kaum fundamentalis sekuler.

Lima hari kemudian. agama juga menurut Kimbal bisa berintegrasi dengan kekerasan ketika umatnya mulai merindukan zaman ideal mereka di masa lalu dan bertekad merealisasikannya pada masa sekarang. Namun demikian. mempertahankan dan atau memperbesar kekuasaannya. tetapi hal itu memunculkan beragam penafsiran. gerakan People Temple pimpinan Jim Jones yang melakukan bunuh diri massal dengan cara meminum racun mematikan (sianida) di Guyana pada tahun 1970-an. PROSES INTEGRASI KEKERASAN TEOLOGIS Integrasi agama dan kekerasan memang bisa terjadi dalam banyak situasi. Kimbal mengemukakan sejumlah fakta tentang hal ini. Namun demikian. terorisme bisa mengambil bentuknya dari agama sebagai landasan. Lalu. menurut Kimbal bisa dimotivasi karena berbagai hal seperti (a) karena mempertahankan tempat suci. sebagai kebenaran mutlak. terorisme adalah bentuk paling nyata dari benturan antara fundamentalis agama dan fundamentalis sekuler seperti di atas. mereka yang berada di kedua front fundamentalis di atas. yakni: (1) aktivitas pemberontak untuk mengacaukan tatanan yang sudah ada untuk memperoleh hak dan kekuasaan. mereka mengklaim bahwa merekalah yang bisa diselamatkan dan keselamatan ini hanya bisa dicapai dengan ketaatan (buta) kepada sang pemimpin. menurut Kimbal. Teror (al-irhab) pada hakikatnya adalah suatu kata yang memiliki banyak makna dan gambaran bentuk yang beraneka ragam. dan (2) kegiatan orang yang memiliki kekuasaan yang ingin menindas penghalang dan kelompok oposisi dalam menuju. maka bisa mendorong pemeluknya untuk bersikap tidak hanya defensif dan tetapi juga ofensif. dalam relasi konteks kekerasan teologis. baik fundamentalis agama maupun sekuler. pendeta Paul Hill muncul di acara televisi Donahue dan membenarkan tindakan Griffin. memaknai terorisme dalam 2 pengertian. yang merasa bahwa gereja adalah lawan dan sedikitpun tidak punya kebajikan serta harus diluluhlantakkan sehabis-habisnya. kemudian menarik dan mengisolasi diri serta membentuk satu komunitas bersama. Charles Kimbal menjelaskan terdapat lima situasi. dimana agama sangat berpotensi untuk berintegrasi dengan tindak-tindak kekerasan. sebagai tujuan dari aktivitas kekerasan bernama terror itu. Sebagai bukti. Pada hari Purim 25 Februari 1994 seorang dokter Yahudi . Kimbal memberi contoh ide negara (agama) Yahudi seperti dicetuskan oleh Rabbi Mei Kahane yang berakibat terusirnya warga Rabdu dari daerah Judea dan Samaria. sebagai titik pijak maupun agama sebagai “kekuasaan”. ketika agama mengklaim kebenaran agama sebagai kebenaran yang mutlak dan satusatunya. makam tradisional Ibrahim di Hebron di Tepi Barat. Thomas Perry Thronton. Ketika penafsiran dipahami secara kaku dan tanpa kritik. Kimbal mencontohkan suatu kasus tentang klaim kebenaran di kalangan Kristen Fundamentalis. Misalnya. Keempat. misalnya. Misalnya. Ketiga. keduanya sama-sama dirugikan dengan kekerasan atas anama agama. semuanya berkisar pada kata ikhafah yang berarti membuat orang lain takut atau secara sengaja mengganggu stabilitas keamanan umum sebagai ancaman. Pertama. agama bisa melahirkan tindak kekerasan ketika dibarengi dengan ketaatan secara membabi buta kepada pemimpin agama.Amerika memasuki masjid dan menembaki Muslim Palestina yang ada di . Dalam realitas dunia sekarang ini. Nah. Tujuan ini.abad ke-18 yang menjadikan sekularisasi total sebagai salah satu program utamanya. Pada tanggal 10 Maret 1993 Michael Griffin menembak dan membunuh David Gunn yang menangani aborsi di luar klinik aborsi di Pensacola. termasuk menghalalkan cara-cara kekerasan Kedua. Tempat itu disucikan oleh kaum Yahudi. Lebih lanjut menurut Ihsan. Florida. Kristen dan Islam. Uniknya. kecuali jika mereka berpandangan bahwa kehidupan yang normal adalah kehidupan yang ditandai oleh berlangsungnya konflik dan kekerasan secara terus-menerus. sekte Aum Shinrikyo di bawah pimpinan Asahara Shoko yang menyebarkan gas mematikan di stasiun kereta bawah tanah di Jepang tahun 1990-an dan gerakan Davidian Branch pimpinan David Koresh yang melakukan bunuh diri massal dengan cara membakar diri di Texas Amerika Serikat (AS) tahun 1990-an. gerakan mereka pada awalnya justru merupakan gerakan pembebasan rakyat dari kejahatan sosial. Kimbal sendiri mengakui bahwa klaim kebenaran adalah unsur utama dalam setiap agama. agama bisa berintegrasi dengan kekerasan ketika tujuan tertentu menghalalkan segala cara.

variabel sikap dan pemahaman agama. dan tingkatan ekonomi diantara mereka. bukan hanya sekedar sebagai penduduk. meskipun memiliki kepedulian terhadap agamanya masingmasing dalam berbagai bidang. Melalui ketiga variabel di atas. Kelima. variabel sikap yang muncul ketika variabel kedua dihadapkan dengan kondisi sosial. Ajaran agama yang berisi norma-norma senantiasa mempengaruhi tingkah laku dan tindakan umatnya. warga negara atau pengikut sebuah kelompok. tidaklah terlalu sulit. dan lebih jauh lagi ke dalam “kita dan mereka”. proses integrasi kekerasan teologis dijelaskan melalui akar teologis kekerasan (yang bersumber dari ajaran-ajaran dan norma-norma agama). politik dan ekonomi yang nyata dalam masyarakat. disamping juga karena perbedaan pengalaman. melainkan lebih dari itu asing sebagai manusia. agama bisa berintegrasi dengan kekerasan ketika perang suci (holy war) sudah dipekikkan. Hal ini juga merupakan keniscayaan karena setiap masyarakat beragama mengalami proses sosialisasi primer yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Hanya kelompok skripturalis yang diasumsikan biasanya akan memperlihatkan sikap radikal termasuk menggunakan cara-cara kekerasan. Perang Teluk. Sikap dan pemahaman agama merupakan kelanjutan dari ajaran dan norma agama. GUI menilai kelompok JAI sebagai kelompok sesat dan menyesatkan sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga harus dibubarkan (dengan cara apapun) (c) untuk mempertegas identitas kelompok dari dalam dan (d) untuk mempertegas indetitas kelompok melawan orang luar. melalui akar antropologis (yang berkaitan dengan kemampuan manusia menerima. Dengan kata lain. Pelaku kekerasan biasanya melakukan tindak kekerasan terhadap korbannya. kasus pembubaran Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Parung beberapa waktu lalu oleh sekelompok orang yang menamakan Gerakan Umat Islam (GUI). Ketiga. Namun.dalamnya. korban . Kedua. (b) untuk melindungi ajaran agama yang dirasa sedang dalam bahaya. Proses terjadinya integrasi kekerasan teologis dalam diri umat beragama dapat dijelaskan melalui tiga variabel utama. sebagai suatu budaya) dan melalui akar sosiologis (yakni bersumber dari relasi sosial politik antar individu dan kelompok umat beragama yang berbeda-beda baik dalam skala lokal. Misalnya. Asumsinya adalah bahwa selalu ada beberapa sikap umum yang muncul setelah masyarakat menafsirkan norma dan ajaran agama mereka. Dari proses internalisasi dan interpretasi inilah lahir apa yang diidealkan. terutama yang berkaitan dengan cita-cita kehidupan masyarakat kaum beragama. Dalam hal ini biasanya muncul golongan nisbi. yakni proses pengenalan manusia. Hal ini dimungkinkan terjadi. Sementara. ajaran agama tentu saja harus diinternalisasikan dan diinterpretasikan karena kebanyakan bersifat sangat umum. Kamu dan Mereka dianggap asing. atau (propaganda) perang atas terorisme yang banyak memakan korban. kelompok substansialis. akar kekerasan muncul dalam fenomena identifikasi diri manusia ke dalam: “aku dan kamu”. Di bawah ini akan dijelaskan akar kekerasan teologis dalam perspektif filosofis. misalnya Perang Salib. Kalangan nisbi biasanya sama sekali tidak merespon karena mereka benar-benar indifferent. variabel norma dan ajaran agama. pendidikan. Hegemoni politik oleh negara ataupun represi yang dilakukan individu ataupun kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok umat beragama akan melahirkan respon yang berbeda-beda dari individu dan kelompok yang ada. Indentifikasi inilah yang selanjutnya menjadi akar lahirnya permusuhan yang berujung kekerasan. AKU DAN KAMU DALAM POLITIK IDENTITAS MANUSIA Dalam perspektif filosofis. Pertama. karena menurut Simmel (1995) manusia secara tak terhindarkan akan berhadapan dengan kondisikondisi epistemologis. Sikap ini tersimbolkan dalam penerapan pemahaman kaum beragama ke dalam norma dan ajaran agama mereka. memahami dan menafsirkan ajaran dan norma agama melalui implemantasinya dalam sikap dan cara hidup. Hal ini meliputi juga faktor-faktor domestik dan internasional. menurut Kimbal. karena sebagai “sesama” manusia mereka lebih menonjolkan ke-aku-annya dan ke-kita-annya. mereka akan memperlihatkan sikap lebih moderat dibanding kelompok skripturalis. domestik (nasional) maupun internasional). Contoh tentang hal ini. substansialis dan skripturalis. Proses meng-kamu-kan dan memereka-kan adalah proses pengasingan dalam pengenalan manusia sebagai sesama.

yang bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri. Dari penjelasan perspektif filosofis terhadap kekerasan seperti di atas. agar semakin kokoh. Itulah gambaran tentang musuh (feindibild). Dalam posisi yang demikian. keterlibatan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagainya. Nah. identifikasi aku dan kamu serta kita dan mereka membutuhkan legitimasi terus menerus agar tidak usang. Dari penjelasan di atas. kisah-kisah dan ritual keagamaan. antara kelompok: kita dan mereka. Inilah yang menambah kuatnya identifikasi diri sebagai aku dan kamu. Dengan demikian penjelasan tentang epistemologi kekerasan. narasi besar tersebut dapat berkembang makin tajam. Kedua. Ini juga yang melahirkan ideologiideologi dan sistem-sistem nilai yang mendisosiasikan manusia dalam aku dan kamu. yang memiliki kemungkinan untuk menguat dan mengeras serta melahirkan ekslusivisme ketika muncul konflik antar umat beragama. Agar terpelihara secara baik. yang menunjukkan situasi-situasi khusus dimana penggunaan kekerasan dapat dibenarkan. makanan. Secara esensial agama memang dianggap mampu memberi jawaban atas pertanyaan eksistensial manusia mengenai apa dan siapa dirinya ditengah alam semesta yang (terkadang) membingungkan ini. Stereotipikasi yang netral ini dalam situasi konflik akan menjadi stigmatisasi yang destruktif. EPISTEMOLOGI KEKERASAN: AKAR INTERNAL DAN EKSTERNAL Secara epistemologis. kita dan mereka untuk masuk ke dalam kerangka kawan dan lawan. sebagai kita dan mereka. sekurang-kurangnya ada dua hal yang harus kita jadikan acuan. akar kekerasan bisa kita lihat sumbernya dalam 2 hal yakni. aku. diperkuat dengan aspek-aspek simbolisme dari ekspresi keagamaan seperti pakaian. maupun yang bersumber dari luar diri manusia. dan mereka yang mengancam keselamatan kita dan (3) rujukan kepada sebuah misi suci keagamaan tertentu di mana tindakan kekerasan. sementara kamu dan mereka dianggap setan dan dilecehkan. Kaum agamawan fundamentalis biasanya mengembangkan legitmiasi tersebut lewat narasi-narasi besar berupa dasar-dasar keimanan. ruang publik. kita bisa mencari jalan keluarnya pertama-tama dengan mengembalikan essensi agama itu sendiri. Dengan demikian melalui perspektif filosofis terhadap kekerasan kita temukan fakta bahwa di dalam rasio kita sudah melekat kemampuan abstraksi yang dalam situasi ancaman menjadi dehumanisasi dan depersonalisasi manusia yang lainnya. Dari sini agama kemudian berkembang menjadi sumber penemuan identitas diri dan juga identitas kelompok. Pertama. setidaknya dalam situasi tertentu. sebagai stimulus (rangsangan) terhadap lahirnya tindak kekerasan. nama-nama dan sebagainya.kekerasan didehumanisasikan dan didepersonalisasikan sampai pada status obyeknya. dapat dibenarkan. melawan kelompok-kelompok lain. Dalam dikotomi ini. korban kekerasan juga dipersepsi sebagai ancaman individu ataupun kelompok. menjadi sangat mungkin bagi manusia untuk mengkondisikan tindakan kekerasan terhadap Kamu dan Mereka ke dalam struktur pikiran manusia itu sendiri. Pemberian legitimasi itu sekurang-kurangnya dapat dilakukan melalui 3 cara yakni: (1) seruan formal kepada tradisi keagamaan tertentu. kita dianggap suci dan disucikan. (2) penguatan narasi-narasi yang menunjukkan kejahatan dan kebengisan diri atau kelompok lain. Kekerasan akan semakin nyata jika yang didefinisikan itu tak mampu mendefinisikan diri dan tunduk pada dikte instansi di luar dirinya. pengenalan manusia atas manusia lain mengandung momen dominasi karena mengenali juga berarti mendefinisikan. kamu dan mereka. Ketika status obyek manusia lain didehumanisasikan dan dipersonalisasikan. Pembedaan ini menciptakan dinamika psikologis antara individu: aku dan kamu. agama menyatukan individu-individu tertentu ke dalam kelompok-kelompok tertentu dan karena itu juga membeda-bedakan orang dari satu ke yang lainnya. menurut saya. kamu yang mengancam aku. Narasi besar tersebut. perjuangan suci. mengarah kepada eskalasi konflik dan kekerasan. Di sini kita . pengenalan manusia atas manusia lain bisa dimulai dengan stereotipikasi bahwa orang lain adalah anu-nya si itu atau itu-nya si anu (dengan melekatkannya pada atribut-atribut di luar diri) dan bukan sebagai pribadi atau individu pada dirinya sendiri (an sich). serta mempertegas perbedaan di antara banyak individu dan kelompok. termasuk kekerasan atas nama agama juga mengandaikan 2 sumber yaitu sumber dari dalam (internal) dan sumber dari luar (eksternal). dalam konteks problem kekerasan teologis. yakni legitimasi kepada penggunaan kekerasan dalam jihad besar. di sinilah agama dengan fungsinya sebagai pemberi identities kelompok dan juga narasi besar agama yang menopangnya kemudian berkembang jauh ke dalam apa yang mencirikan pola utama kekerasan atas nama agama. Dalam situasi konflik yang genting.

struktur dan realitas di luar diri manusia yang memperlihatkan teladan-teladan buruk. bahkan tidak ada. Hal ini ada benarnya juga. pembunuhan. Asumsi Lorenz ini secara lebih luas juga telah menjadi dasar kuatnya paham realisme dalam hubungan manusia antar bangsa. dalam bentuknya yang radikal. Untuk akar epistemologi kekerasan yang bersifat internal (dari dalam diri manusia dan bersifat instingtif). Lorenz berpendapat bahwa energi khusus untuk tindakan naluriah (instingtif) manusia mengumpul secara kontinyu (terus-menerus) dipusat-pusat syaraf yang ada kaitannya dengan pola tindakan yang dilakukan manusia. seperti halnya model libido Freud. tentang intergrasi kekerasan teologis. yaitu kekerasan dari mengakar dari dalam (diri manusia) yang bersifat intsingtif dan dari luar yang bersifat stimulus (rangsangan). untuk akar epistemology kekerasan yang bersifat eksternal. SOLUSI FILOSOFIS BAGI KEKERASAN TEOLOGIS Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas. Mereka sudah putus asa dalam menghadapi masa depan (versi mereka. Jadi. tindak agresifitas dan kekerasan manusia pada dasarnya bukanlah reaksi terhadap stimulus (rangsangan) dari luar. bom bunuh diri dan sebagainya dengan mengatasnamakan agama adalah ketika mereka mengalami depresi mental yang parah sekali. Secara umum pandangan ini dianut oleh kaum environmentalis. melainkan digerakkan oleh naluri (insting) manusia sebagai sumber energi yang selalu mengalir dan harus selalu dialirkan. yang juga harus dicari jawabannya adalah pertanyaan tentang hal-hal diluar naluri (insting) manusia yang bisa memberikan stimulus (rangsangan) terhadap manusia untuk melakukan tindakan kekerasan teologis. Scott Assembly menyatakan bahwa menurutnya kekerasan teologis terjadi ketika para pemimpin ekstremis suatu . Dalam buku tersebut. dan epistemologi kekerasan menyangkut akar internal-eksternal. sebagai stimulus (rangsangan) tindak kekerasan. Dalam studinya baru-baru ini. menurut Lorenz. dapat kita lihat pada pandangan sekelompok filsuf yang bertentangan secara diamteris dengan pendapat Lorenz tentang akar kekerasan yang bersifat naluriah (instingtif). Manusia. Kedua. dikemukakan oleh para filsuf era pencerahan. tindakan manusia secara eksklusif (termasuk tindak kekerasan) diciptakan oleh faktor-faktor lingkungan yakni oleh kondisi sosial. Mereka menyatakan bahwa kekerasan merupakan bentuk manifestasi dari stimulus (rangsangan) yang diperoleh manusia dari luar dirinya. yang membuat mereka memiliki tabiat jahat adalah keberadaan institusi. dapat dimulai dengan jalan menanyakan: dalam kondisi psikologis yang bagaimana para aktor agama ini melakukan kekerasan teologis? Jawaban ini diperlukan karena sebagaimana penjelasan tentang kekerasan naluriah (instingtif) yang berasal dari dalam diri manusia. di-seyogyakan terlahir “baik” dan bernalar.berhadapan dengan apa yang oleh filsafat disebut sebagai akar-akar epistemologis kekerasan. termasuk tindak kekerasan. politik. ekonomi. Menurut Muis Naharong (2005) mereka melakukan tindakan kekerasan seperti penyerangan. dinamai model hidrolik yang dianalogikan dengan tekanan yang ditimbulkan oleh air atau uap di dalam tabung tertutup. bukan disebabkan oleh faktor-faktor biologis diluar kendali kita seperti kondisi sosial. menurut para filsuf Pencerahan. akar internal itu juga bisa menjadi sumber kekerasan. budaya dan sebagainya. sesuai yang mereka cita-citakan) yang sudah buntu akibat keadaan sosial. ekonomi dan faktor lainnya dari masyarakatnya yang sangat tidak menggembirakan bagi mereka. ketika didalam syaraf tadi sudah terkumpul cukup energi sekalipun tanpa adanya rangsangan dari luar. melainkan rangsangan dari dalam (internal) yang sudah terpasang dan mencari pelampiasan serta akan terekspresikan sekalipun dengan rangsangan luar yang sangat kecil. solusi filosofis yang didapat diberikan bagi problem kekerasan teologis adalah: Pertama. politik identitas manusia. berasal dari luar diri manusia. Dengan demikian. Sementara itu. jadi bukan oleh faktor-faktor “bawaan” yang bersifat naluriah (instingtif) tadi. terutama bila dikaitkan dengan fenomena kekerasan yang merupakan salah satu penghambat kemajuan manusia. politik dan ekonomi yang kita ciptakan. Model agresi dan kekerasan manusia yang bersifat naluriah (instingtif ini). Lorenz secara brilian menjelaskan bahwa kecenderungan kita terhadap perang nuklir dan kekejaman-kekejaman yang lainnya. Pandangan ini. Tindakan kekerasan merupakan ledakan yang terjadi. politik. itu semua terjadi tidak selalu merupakan akibat dari reaksi terhadap rangsangan luar. kita bisa melihat penjelasannya di dalam buku karya Konrad Lorenz (1966) yang berjudul On Agression. Menurut pemikiran mereka. Sementara itu.

dilihat kasus demi kasus. Dalai Lama (Buddha). karena kondisi kejiwaan (psikologis) manusia berbeda-beda dan selalu berubah. kemiskinan dan kebencian tersebut kemudian dikaitkaitkan dengan konflik antar agama. Martin Luther King (Protestan). . ekonomi dan politik domestik (lokal). Pengenalan terhadap karakter psikologis serta konteks dari keberbedaan dan perubahan psikologis manusia yang mengarah pada tindak kekerasan akan membantu kita mencari solusi praksis penyelesaian kekerasan teologis. Untuk penjelasan tentang agama dan kekerasan lihat Haryatmoko. berkewajiban untuk menciptakan keseimbangan hidup diantara warga negaranya dan meminimalisir potensi ketidakadilan. Stimulus ketiga. Agama: Etika Atasi Kekerasan. pertama-tama pada penelitian tentang sumber konflik yang bersifat naluriah (instingtif). menyatakan bahwa kekerasan teologis muncul akibat adanya ketimpangan dan ketidakadilan politik global (internasional). Hal ini diperlukan. Hal ini bisa dikaitkan pada aksi kekerasan teologis yang dilakukan karena adanya hegemoni dan dominasi serta represi kelompok atau negara tertentu secara tak terkontrol. pencarian jawaban atas pertanyaan mengenai solusi filosofis kekerasan teologis akan membawa kita. kalaupun ternyata berasal dari satu agama yang sama. maka tindakan kekerasan teologispun akan mungkin bermunculan. dominasi dan represi ini kemudian melahirkan ketidakadilan dan kemiskinan serta memunculkan epistemologi kebencian yang mendalam dikalangan umat beragama. Klaim ini biasanya diikuti dengan upaya para agamawan untuk membedakan antara agama yang benar dan autentik yang dipandang hanya menyerukan perdamaian dengan agama yang palsu dan inauthentic yang dianggap lebih militan fundamentalis dan ektremist. Ambivalensi sebagai peluang:Agama. (dalam reaksi mereka terhadap apa yang mereka pandang sebagai ketidakadilan dalam sebuah lingkungan struktural suatu masyarakat). dalam suatu lingkungan struktural suatu masyarakat. Untuk penjelasan lebih rinci lihat Ihsan Ali-Fauzi. Campur tangan mereka diperlukan agar upaya penyelesaikan problem kekerasan teologis akan bersifat menyeluruh. Sementara itu kalangan intelektual diharapkan berkontribusi. Agama dengan demikian. Stimulus kedua (menurut Muis Naharong) . Jakarta: LIPI Press. 2005. kebodohan dan sebagainya. penyelesaian problem kekerasan teologis diharapkan bisa menyentuh akar-akar permasalahannya. harus disterilkan dari konsekuensi-konsekuensi tragis yang muncul dari niat busuk pemimpin politik itu. Lihat Afadlal dkk. Dengan campur tangan negara dan organisasi politik internasional. mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. serta menyelesaikan problem kemsayarakatan lainnya. 2000. Pandangan ini mengecam para pemimpin politik yang membawa-bawa agama untuk kepentingan politik dan ekonominya sendiri. baik dalam konteks local. Atau. Selama ketidakadilan dalam bidang-bidang tersebut tidak dapat dilenyapkan. Jadi stimulus pertama datang dari faktor pemimpin agama yang dalam kontek masyarakat beragama yang bersifat hirarkhis sangat memegang kendali masyarakatnya. Dari kedua hal di atas. solusi filosofis kekerasan teologis. 4. yang merupakan implementasi dari kondisi psikologis manusia. bisa datang ketika tindak kekerasan teologis merupakan akibat. menurut agamwan ini. Gus Dur (Islam) dan sebagainya. terutama apabila kelompok yang menghegemoni. respon dan reaksi yang berlebihan terhadap munculnya ketidakadilan dalam lingkungan sosial. 2005. 6-8.agama tertentu. 3. Islam dan Radikalisme di Indonesia. dalam Harian Kompas. dan organisasi-organisasi politik internasional. terutama pada pencarian alternatif solusi-solusi problem kehidupan manusia dengan basik keilmuan masing-masing. menjangkau segala bidang kehidupan. bisa dikait-kaitkan dengan konflik aliran intra-agama. telahberhasil memanfaatkan argumenargumen keagamaan (atau etnis-keagamaan) untuk menyuruh orang lain (umatnya) melakukan tindakan kekerasan. Ketidakadilan. terutama yang menyangkut stimulus (rangsangan) dari luar diri manusia bermanfaat dalam rangka menciptakan strategi untuk menentang dan mengatasi segala bentuk ketidakadilan. Upaya stimulatif ini tentu juga harus dibarengi dengan kesediaan kalangan agamawan untuk mengajak umat beragama kepada militansi anti-kekerasan (non-violence militancy) seperti yang telah dilakukan Gandhi (Hindu). hal. Hegemoni. edisi 17 April 2000. dan dalam konteks yang luas. Dalam hal ini negara dan perangkat birokrasinya. terutama yang sumbernya dari alasan psikologis manusia yang bersifat naluriah (instingtif). kemiskinan. Campur tangan kalangan agamawan akan menjadikan upaya penyelesaian problem kekerasan teologis menjangkau publik umat beragama secara luas. 2. END NOTES 1. mendominasi dan merepresi berasal dari agama yang berbeda. Ekspersi internal manusia seperti ini harus ditinjau secara teliti. meskipun hal tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. domestik (nasional) maupun global (internasional). Selanjutnya.

Bandung: PT Mizan Pustaka. dalam Harian Kompas. Abdul. Rene Girard. Charles. Ihsan. Erich. Violence and The Sacred (terj. Haryatmoko. 2000. 2000.scripps. setiap agama memang memiliki jalan keselamatannya sendiri-sendiri sehingga klaim kebenaran yang menjadikan agama “berpotensi” melahirkan kekerasan haruslah ditolak. Lihat Scott Applebly.4 9. Fromm. Marjorie Kerr Wilson). The Ambivalence of The Sacred: Religion. Kekerasan dan Teror Suci. 2005. 2003. Di dalam buku ini Kimbal tidak hanya menjelaskan situasi-situasi ketika agama terintegrasi dengan tindak kekerasan. Kekerasan dan Upaya Perdamaian. 2004. Menurut Kimbal.cit. hal. Lihat Afadlal dkk. Nurhadi). The Ambivalence of The Sacred: Religion. Budi-Hardiman. dalam harian KOMPAS. 2004. 1998. 3 Maret 2004.Kekerasan dan Upaya Perdamaian. op.ohio. Imam Muttaqin). 1977. Kekerasan dan Teror Suci. 282 14. 2000. Lanham. 7. On Agression (tej. 2005 (Forthcoming). hal. hal. Franky. Jakarta: LIPI Press.4 dan 5. Maryland: Rowman and Littlefield Publishers Inc. op. op. Islam dan Radikalisme di Indonesia. Jakarta: Jurnal Universitas Paramadina.ohio. 2005. dalam harian KOMPAS.cit. Bandung: PT Mizan Pustaka Agama. Marjorie Kerr Wilson). 33-34. edisi 17 April 2000. Akar-Akar Kekerasan (terj. edisi Rabu. 5. Abdul Muis Naharong. F. hal. Jakarta: Jurnal Universitas Paramadina . Politic and Power. Untuk tinjauan rinci. 2005. Patric Gregory). Ali-Fauzi. Scott. Lihat Erich Fromm. 8. Baltimore: The John Hopkins University Press. Maryland: Rowman and Littlefield Publishers Inc. 1966. Lanham. Kala Agama Menjadi Bencana (terj. Akar-Akar Kekerasan (terj. Lorenz. Agama: Etika Atasi Kekerasan. Untuk penjelasn lebih lanjut dan ilustrasi yang amat lengkap mengenai hal tersebut lihat misalnya dua rujukan berikut. 11. Akar Kekerasan Massa. Ihsan Ali-Fauzi. Lihat Abdul Muis Naharong.edu/new/(… 9/14/2005). Untuk penjelasan lebih lengkap tentang ini lihat Charles Kimball. Applebly. 2000. Violence and Reconciliation. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.scripps. 1966. New York: Harcourt Brace Jovanovich. On Agression (tej. dalam www. lihat Konrad Lorenz. 2005 (Forthcoming). New Heaven and London: Yale University Press. Ibid. 12. Kimball. Akar Kekerasan Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Ambivalensi sebagai peluang: Agama. 2003.cit.9 6. 10. Violence and Reconciliation. Kala Agama Menjadi Bencana (terj. tetapi juga menjelaskan prinsip keragaman agama (pandangan pluralis) sebagai hubungan multikultural dan antar iman. 2000.edu/new/ (9/14/2005). edisi Rabu. 13. dalam www. Konrad. Imam Muttaqin). 2005 (Forthcoming). REFERENSI Afadlal dkk. Ritual. dan David I Kertzer. Budi Hardiman. Nurhadi). 3 Maret 2004. hal. 2005. Muis Naharong.