KEGIATAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN BIDANG REBOISASI DAN REHABILITASI LAHAN

1. PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKM) Maksud dan Tujuan HKM merupakan suatu metoda pendekatan dalam pembangunan kehutanan yang bertujuan untuk menciptakan hubungan timbal balik yang positif dan serasi antara masyarakat sekitar hutan dan sumber daya hutan melalui aliran barang dan jasa. Perkembangan Pelaksanaan Sejak tahun 1990 dilaksanakan kerjasama teknik (grant) dengan Pemerintah Jerman (GTZ) di Propinsi Kalimantan Barat untuk memperoleh metoda pembangunan HKM yang paling tepat sesuai kondisi setempat. Pendekatan partisipatif merupakan ciri pokok dari SFDP ini. o Pengembangan HKM yang dilaksanakan di 19 propinsi (Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Bali, NTB, NTT, Maluku, Irian Jaya dan Timor Timur). Sebagai pelaksana kegiatan telah ditunjuk BUMN Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Perum Perhutani dan PT. Inhutani), tanaman yang telah dibangun s/d tahun 1997/1998 mencapai luas 72.753 Ha (NTT, NTB dan Timor-Timur = 57.566 Ha dan diluar NTT, NTB dan Timor-Timur seluas 15.187 Ha). Jenis tanaman terdiri dari MPTS sebanyak 30% dan tanaman kayu-kayuan 70%. Penerapan sistim tumpangsari untuk menghasilkan jenis tanaman pangan (padi, jagung dan kacangkacangan serta palawija lain) dilaksanakan terutama di NTT dan NTB dengan hasil rata-rata produksi pangan padi sebanyak 1.080 Kg/Ha, jagung sebanyak 950 Kg/Ha dan palawija lain sebanyak 190 Kg/Ha. 2. PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT
o

Maksud dan Tujuan Berangkat dari kesadaran bahwa hutan alam tidak akan dapat memenuhi kebutuhan kayu dimasa yang akan datang, maka pembangunan hutan rakyat yang dibangun di atas tanah milik (rakyat atau marga) dapat menjadi komplemen yang sangat berarti dalam penyediaan bahan baku kayu. Selain itu pembangunan hutan rakyat bertujuan untuk memberikan peluang dalam mengangkat bisnis rakyat khususnya di pedesaan yang dikonsentrasikan pada wilayah-wilayah pusat industri perkayuan. Perkembangan Pelaksanaan

125. Departemen Kehutanan dan Perkebunan telah mengeluarkan kebijaksanaan berupa pemberian kredit usaha hutan rakyat yang diatur melalui SK Menteri Kehutanan No. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan). Jawa Tengah. Sumatera Barat. PERSUTERAAN ALAM Maksud dan Tujuan Memberikan kesempatan berusaha kepada masyarakat/kelompok tani dalam bidang persuteraan alam berupa kokon sebagai bahan baku benang sutera yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat desa hutan.318. Jambi. Selain itu telah diberikan juga subsidi bibit untuk pengembangan areal dampak hutan rakyat dan diperkirakan sampai saat ini masyarakat telah mampu membangun hutan rakyat seluas 1.618.358 Ha yang terbesar di 22 propinsi. 32.817 Ha. 4.75. kemudian pada tahun 1990/1991 dikembangkan menjadi 6 propinsi dan sejak tahun 1993/1994 dikembangkan menjadi 21 Propinsi.565 Ha dan melibatkan 9. 3.. Kalimantan Selatan. 7. Angsuran pokok kredit yang telah jatuh tempo adalah sebesar Rp. 20.000. Dana kredit yang telah disalurkan sebesar Rp. Jawa Timur. DI Yogyakarta. Jawa Barat.000.394.781 orang petani..29% dari pokok kredit yang telah jatuh tempo.-/Ha dengan tingkat bunga sebesar 6%/tahun.000. Perkembangan Pelaksanaan . KREDIT USAHATANI KONSERVASI TANAH (KUK-DAS) o Maksud dan tujuan Usahatani Konservasi Tanah merupakan usahatani terpadu berupa intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip konservasi dalam suatu wilayah DAS.984.dengan luas areal sekitar 10.071.205.Untuk mendorong usaha hutan rakyat dan guna memberikan akses yang besar terhadap permodalan. 49/Kpts-II/1997. Pemberian kredit usaha rakyat telah dilakukan sejak tahun 1996/1997 dan telah disalurkan dana sebesar Rp. o Investasi Pemerintah dalam pembangunan hutan rakyat dilaksanakan melalui pembangunan unit-unit areal model yang dilaksanakan di 12 Propinsi (Aceh. Sampai dengan bulan Pebruari 1998 perkembangan KUK-DAS telah melibatkan 39.155 petani (887 kelompok) pada 520 Desa dengan areal usahatani seluas 18. Perkembangan Pelaksanaan KUK-DAS telah dirintis sejak TA 1988/1989 yang diawali dengan Pilot Proyek KUK-DAS di 2 kabupaten.29% dari garansi kredit sebesar Rp.. Besarnya kredit usaha adalah Rp.868.545..053. 47.(sebesar 69.292.-). Sumatera Utara.486.328.dan pengambilan angsuran pokok kredit telah mencapai sebesar Rp.003.231. 2. 5. Riau.

Kegiatan-kegiatan pembinaan usaha perlebahan dilakukan oleh Perum Perhutani di P. Petugas Penyuluh sebanyak 250 orang. Jawa melalui PMDH. bantuan koloni dan sarana produksi. 6. 50/Kpts-II/97. pengkayaan tanaman pakan lebah. Pramuka sebanyak 30 orang dan Penyuluh Swadaya Wanita sebanyak 30 orang yang diharapkan menjadi kader-kader usahatani perlebahan. pembuatan model usaha lebah madu. PERLEBAHAN o Maksud dan Tujuan Usaha perlebahan (madu) sebagai salah satu usaha di bidang kehutanan yang sangat strategis dalam kaitannya dengan upaya peningkatan diversifikasi hasil hutan non-kayu. Pengembangan Kredit Usahatani Persuteraan Alam dilakukan pada daerah pusat-pusat produksi benang sutera di 4 propinsi yaitu (Sumatera Barat.398. Jawa Barat. Sampai dengan bulan Pebruari 1998 dana kredit yang telah disalurkan sebesar Rp.302. Untuk itu rehabilitasi hutan bakau dilaksanakan sebagai salah satu upaya yang bertujuan menjaga dan . bibit pakan lebah sebanyak 108. REHABILITASI BAKAU (MANGROVE) o Maksud dan Tujuan Kawasan hutan bakau (mangrove) mempunyai arti penting dalam ekosistem pantai baik dari segi ekologis maupun ekonomis.070 Ha dan melibatkan sekitar 1. sejak TA 1997/1998 Departemen Kehutanan dan Perkebunan telah menyediakan kredit usahatani persuteraan alam kepada petani yang dituangkan dalam SK Menhut No.166 petani.500 batang.. obat-obatan sebanyak 1. Disamping itu telah dilakukan pula pelatihan budidaya lebah madu terhadap petani lebah sebanyak 5. pelatihan petani. peningkatan pendapatan masyarakat desa hutan dan sekaligus upaya pelestarian hutan sesuai fungsinya.131 orang. diluar Jawa oleh PT.200 unit dan sarana produksi pengolahan madu sebanyak 25 Unit. Perkembangan Pelaksanaan Pembinaan pengembangan perlebahan dilakukan oleh Departemen Kehutanan dan Perkebunan melalui kegiatan penyuluhan. DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan). bibit ulat sutera. o Jumlah bantuan yang telah disalurkan kepada masyarakat petani perlebahan sejak Pelita IV sebanyak 4.400.Untuk mendorong usaha pengembangan persuteraan alam. pelatihan petani dan bantuan sarana produksi khususnya di daerah sentra usaha sutera alam di Sulawesi Selatan. 7. Kegiatan ini telah dilakukan di 20 propinsi yang mencakup 50 kabupaten.untuk areal seluas 1.500 kotak lebah. Inhutani melalui pola kemitraan disamping ditunjuk pula HPH/HPHTI untuk melaksanakan pembinaan perlebahan. o Peranan Pemerintah dalam mendorong usahatani persuteraan alam dalam bentuk bantuan teknis berupa pembangunan kebun bibit murbei jenis unggul. 5.

Sedangkan untuk mencari paket-paket pembinaan kelembagaan pengelolaan hutan mangrove sejak tahun 1993-1997 mendapat bantuan teknis (Loan) dari ADB dalam proyek pengembangan hutan mangrove di Sulawesi.mengembalikan fungsi hutan bakau sebagai salah satu penyangga sistem kehidupan khususnya di wilayah pantai. Selain itu dalam rangka mencari paket-paket teknologi pengelolaan hutan mangrove sejak TA 1989/1990 telah dilaksanakan pula kerjasama teknis berupa grant dengan Pemerintah Jepang dengan lokasi Propinsi Bali dan NTB dalam bidang paket teknologi persemaian. Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Dari hasil kerjasama ini telah diperoleh perangkat-perangkat lunak berupa potensi hutan mangrove di Sulawesi Utara. LSM dll. REHABILITASI HUTAN o Maksud dan Tujuan Hutan memainkan peranan vital sebagai pengatur tata air dan jasa lingkungan. PENGENDALIAN PERLADANGAN BERPINDAH o o . penanaman mangrove & pengelolaan hutan mangrove.992 Ha. 8. Untuk melaksanakan rehabilitasi hutan tersebut telah diusahakan berbagai potensi dana.400 Ha. Perkembangan Pelaksanaan Upaya rehabilitasi mangrove tidak dapat dipisahkan dengan upaya memberdayakan masyarakat pantai.073 Ha yang tersebar hampir di 26 propinsi. Dalam rangka ini pendekatan yang dilakukan melalui kerjasama misalnya dengan Pondok Pesantren. 7. o Upaya rehabilitasi mangrove dilakukan melalui pembuatan areal model seluas 10 Ha dan diharapkan memberikan dampak pada masyarakat untuk melaksanakan rehabilitasi seluas 100 Ha. o Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain melalui kerjasama dengan Pondok Pesantren di Jawa Tengah berupa areal model sebanyak 4 Unit. tersedianya modul-modul dalam memberdayakan masyarakat petani pantai dan LSM dalam pengelolaan hutan mangrove. Rehabilitasi hutan bantuan OECF (Overseas Economic Cooperation Fund-Jepang) seluas 18. Sedangkan kerjasama dengan INSTIPER berupa pembangunan Pusat Pengembangan Rehabilitasi Hutan Mangrove di Pemalang. yaitu : Reboisasi dengan dana bantuan reboisasi (Inpres) seluas 200. Perkembangan Pelaksanaan Sampai dengan TA 1998/1999 telah dilaksanakan rehabilitasi hutan lindung pada areal seluas 240.681 Ha. Rehabilitasi hutan (lindung) bertujuan memulihkan kondisi lahan kritis sehingga mampu berfungsi sebagai sarana produksi dan penyangga sistem kehidupan. o Rehabilitasi hutan dengan dana Pemerintah lainnya seluas 20.

Perkembangan Pelaksanaan Direktorat Jenderal RRL telah melaksanakan kerjasama dengan LembagaLembaga baik kemasyarakatan maupun Perguruan Tinggi.807 Ha yang tersebar di 21 propinsi (luar Jawa dan Bali). didayagunakan sebagai pendamping kelompok tani dalam membangun kelembagaan antara lain dalam upaya rehabilitasi hutan bakau di Sulawesi Selatan. Sesuai dengan potensinya kerjasama yang telah dilaksanakan antara lain : o o Dengan LSM. Perkembangan Pelaksanaan Dahulu sistem perladangan berpindah merupakan sistem budidaya lahan yang sesuai dengan asas-asas kelestarian dengan jumlah cukup waktu bagi lahan mengembalikan kondisinya secara alami sebelum mendapat giliran lagi untuk diusahakan. Universitas Siliwangi . maka berbagai potensi yang ada di masyarakat perlu digunakan melalui kerjasama yang saling menguntungkan.Maksud dan Tujuan Pengendalian Perladangan Berpindah dilakukan sebagai salah satu upaya agar sumber daya hutan terjaga kelestariannya baik fungsi maupun manfaatnya. dengan tujuan meningkatkan mutu hutan sesuai dengan fungsinya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat peladang.365 KK dengan luas areal perladangan/perambahan 238. Dalam pelaksanaannya Departemen Kehutanan dan Perkebunan menangani kegiatan identifikasi dan inventarisasi peladang berpindah. cara budidaya lahan ini menjadi bersifat destruktif dan memberikan kontribusi yang cukup signifikan dan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kerusakan hutan. o Upaya-upaya Departemen Kehutanan dan Perkebunan yang telah dilaksanakan antara lain merubah perilaku peladang berpindah menjadi peladang menetap. rehabilitasi lahan kritis di DAS Citarik dan Cimanuk Hulu. PENDAYAGUNAAN LSM DAN PERGURUAN TINGGI o Maksud dan Tujuan Dalam rangka meningkatkan efesiensi dan efektifitas upaya-upaya pembangunan-pembangunan kehutanan khususnya bidang RRL. 9. Dengan Perguruan Tinggi. kerjasama dilakukan dalam rangka untuk memberdayakan Pondok Pesantren di bidang Usaha Wanatani seperti dengan Universitas Bangkalan (Madura). o Dalam Pelita VI s/d TA 1996/1997 telah diidentifikasi peladang berpindah/perambah hutan sebanyak 127. Tetapi dalam perkembangannya ketika jumlah peladang bertambah dan melebihi daya dukung lahan. Sedangkan upaya pelatihan dan pemukiman peladang berpindah ditangani oleh Departemen Transmigrasi dan PPH.

(Tasikmalaya). . Di bidang paket teknologi dengan Universitas Mataram dalam pengembangan Gaharu.