P. 1
Tugas Analisa SWOT BI..Lanjutin Za Ris

Tugas Analisa SWOT BI..Lanjutin Za Ris

|Views: 525|Likes:

More info:

Published by: Fadjar Boedie Iswantoe on Oct 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

Kelompok ....

Ridwan Risa Devina Manao Rizki Ahdia Rizki Tri Wahyudi Rizki Maulana Roikhatus Solikhah (L2C008094) (L2C008095) (L2C008096) (L2C008097) (L2C008098) (L2C008099)

INTERNASIONALISASI BAHASA INDONESIA Kekuatan ^ Bahasa Indonesia sudah mendunia. Beberapa kata dalam bahasa Indonesia ternyata banyak dipakai di sejumlah tempat di banyak negara. Kenyataan, memang beberapa kata dalam bahasa Indonesia berasal atau mempunyai arti yang sama dengan atau dari negara-negara tertentu, misalnya bahasa Portugis, bahasa Belanda, bahasa Spanyol, bahasa India dan juga beberapa negara lainnya. Beberapa kata dalam bahasa daerah juga turut memperkaya khasanah bahasa Indonesia yang sebenarnya, akarnya adalah berasal dari bahasa Melayu. ^ Keindahan Bahasa Bahasa seringkali digunakan oleh para seniman dan sastrawan untuk menggambarkan suatu keindahan, apakah kecantikan perempuan, keindahan alam, keagungan Tuhan, keindahan cinta, dan berbagai keindahan lain. Begitu dekatnya bahasa dan keindahan sehingga mampu membawa manusia terbawa ke dalam alam perasaan. Sebuah rangkaian kata dan kalimat yang indah mampu membuat manusia menangis, sedih, terharu, bahagia, dan jatuh cinta Biasanya keindahan akan diaktualisasikan oleh pecinta seni melalui berbagai bentuk seperti puisi, sajak, cerita, syair, dll. Keindahan yang ingin digambarkan seringkali menggunakan kosakata perumpamaan atau idiom, dengan mengambil contoh yang ada pada alam dan lingkungan ^ Memberi pengaruh kekuatan yang luar biasa dalam membangun semangat dan keinginan untuk bergerak Pada masa revolusi fisik tahun 1945. peranan bahasa memberikan peran yang luar biasa bagi para pejuang nasionalisme. Kemahiran para pemimpin mengungkapkan pikiran secara lisan pada diri para pejuang, menimbulkan

dampak yang luar biasa kepada para rakyat, sehingga memungkinkan mereka untuk bersemangat mengikuti ajakan untuk mengangkat senjata dan melawan penjajahan. Sebuah bahasa yang digunakan dalam pidato dan orasi mampu membakar dada para pemuda untuk tidak takut mati. Kata dan kalimat yang dilontarkan oleh bung Tomo di surabaya tanggal 10 November 1945 memiliki energi yang luar biasa, seseorang yang mendengarnya akan “merinding” kemudian timbul jiwa patriotisme untuk melawan tentara pendudukan Inggris. ^ bahasa Indonesia memperlihatkan ciri-cirinya sebagai alat komunikasi yang mutlak diperlukan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia telah membuktikan diri sebagai bahasa yang tahan uji. Bahasa Indonesia telah menunjukkan identitas bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sangat berperan dalam mempersatukan belbagai suku bangsa yang beraneka adat dan budayanya. Dalam mengemban misinya, bahasa Indonesia terus berkembang seiring dengan keperluan dan perkembangan bangsa Indonesia, walaupun ada perkembangan yang menggembirakan dan ada perkembangan yang menyedihkan dan membahayakan, Dualisme perkembangan ini memang merupakan dinamika dan konsekuensi bahasa yang hidup Tetapi, karena bahasa Indonesia sudah ditahkikkan sebagai bahasa yang berkedudukan tinggi oleh bangsa Indonesia, ia harus dipupuk dan disemaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab agar ia bisa benarbenar menjadi "cermin" bangsa Indonesia.
^ Bahasa Indonesia bisa menjalankan fungsi sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia rasa kesatuan dan persatuan bangsa yang berbagai etnis terpupuk. Kehadiran bahasaIndonesia di tengah-tengah ratusan bahasa daerah tidak menimbulkan sentimen negatif bagi etnis yang menggunakannya. Sebaliknya, justru kehadiran bahasa Indonesia dianggap sebagai pelindung sentimen kedaerahan dan sebagai penengah ego kesukuan.

Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing, bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meinggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilainilai sosial budaya serta latar belakang bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan, lebih dari itu, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini, kepentingan nasional diletakkan jauh di atas kepentingan daerah dan golongan. ^ Dalam kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional atau lambang kebangsaan. Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa

kebangsaan. Melalui bahasa nasional, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia dipelihara dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Rasa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia ini pun terus dibina dan dijaga oelh bangsa Indonesia. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah.kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. ^ sebagai bahasa negara dan bahasa resmi. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia dipakai dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik secara lisan maupun tulis. Dokumen-dokumen, undang-undang, peraturan-peraturan, dan surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan instansi kenegaraan lainnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato kenegaraan ditulis dan diucapkan dengan bahasa Indonesia. Hanya dalam kondisi tertentu saja, demi komunikasi internasional (antarbangsa dan antarnegara), kadang-kadang pidato kenegaraan ditulis dan diucapkan dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Warga masyarakat pun dalam kegiatan yang berhubungan dengan upacara dan peristiwa kenegaraan harus menggunakan bahasa Indonesia. Untuk melaksanakan fungsi sebagai bahasa negara, bahasa perlu senantiasa dibina dan dikembangkan. Penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan dalam pengembangan ketenagaan, baik dalam penerimaan karyawan atau pagawai baru, kenaikan pangkat, maupun pemberian tugas atau jabatan tertentu pada seseorang. Fungsi ini harus diperjelas dalam pelaksanaannya sehingga dapat menambah kewibawaan bahasa Indonesia

Kelemahan ^ Gengsi Menggunakan Bahasa Indonesia Jika hiruk-pikuk masa lalu dalam banyak hal selalu melibatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang penuh dengan kebanggaan, saat ini tampaknya yang berlaku sebaliknya. Banyak pihak yang telah merusak bahasa Indonesia dengan mencampuradukkan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing secara sembrono dan berlebihan. Kenapa saya bilang sembrono dan berlebihan? Lha bagaimana tidak jika kata atau kalimat yang digunakan mempunyai padanannya di dalam bahasa Indonesia. Saya bukan anti bahasa asing tetapi alangkah lebih baiknya jika kemudian orang

menggunakan bahasa Indonesia ya bahasa Indonesia saja atau jika bahasa Inggris ya bahasa Inggris saja. Dalam beberapa pertemuan diskusi besar atau kecil, seminar atau ruangruang akademis lain bahkan sangat sering penggunaan bahasa asing itu masuk begitu saja tanpa jelas apakah itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia atau belum, dan sebagainya. Kata-kata full of knowledge, powerless, problem solving, dan banyak lagi. Apa yang menjadi masalah sehingga banyak pihak tampaknya lebih akrab dan senang menggunakan kalimat asing semacam itu yang jelas ada padanannya di dalam perbendaharaan bahasa Indonesia? Bukankah semua kata (atau kalimat) tersebut dengan mudah akan kita dapatkan padanannya di dalam laci-laci bahasa kita. Taruhlah full of knowledge akan dapat tergantikan dengan penuh dengan pengetahuan/ilmu; powerless dengan ketidakberdayaan; problem solving dengan pemecahan masalah, dan sebagainya. Saya memang belum pernah bertanya atau membuat penelitian secara lebih serius kenapa orang lebih memilih menggunakan bahasa asing dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia sehingga jejel riyel tidak jelas semacam itu. Namun ada beberapa kemungkinan kenapa hal tersebut bisa berlaku. Pertama, persoalan gengsi. Orang akan merasa lebih terpandang sebagai orang ‘pintar’ jika mampu menggunakan bahasa asing walaupun sedikit sekali pun. Dan tampaknya akan lebih gagah. Kedua, kemalasan mencari padanan bahasa asing dengan bahasa Indonesia. Ketiga, penyakit nginggris atau kebarat-baratan. Untuk yang ini bahkan tidak hanya dalam bahasa saja tetapi juga sudah sampai dalam taraf sistem sosial hidup tiap orang. ^ Penggunaan Bahasa Inggris membudaya dalam kehidupan sehari-hari Akibat globalisasi zaman, dan budaya konsumtif yang tinggi dikalangan masyarakat Indonesia, ditambah ledakan informasi, secara sadar atau tidak sadar, mau atau tak mau, bahasa Inggris menerobos masuk ke dalam sistemsistem sosial di kalangan masyarakat. Misalnya, dalam bidang pendidikan, banyak sekolah-sekolah, terutama dalam mata pelajaran eksakta: Kimia, Fisika, Matematika dan biologi, bukunya menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga dalam dunia teknologi, kosa kata asing tak kuasa untuk dibendung. Celakanya kemudian bahasa itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dinggap sebagai orang modern. Sekarang mari kita

bayangkan jika kita masuk ke hotel di Indonesia, semuanya akan serba Inggris. Mulai dari welcome drink, double/single bed, may I help you, dan banyak lagi yang itu pun kadang digunakan dengan sangat tertatih-tatih oleh pengelola hotelnya ^Eksistensi bahasa Indonesia masih lemah. Bahasa ini dianggap sama dengan bahasa Melayu. Misal, ketika orang Eropa berkata kepada orang Indonesia, "I can speak your 'bahasa'", di otak mereka yang terpikir bukanlah bahasa khas Indonesia, melainkan bahasa Melayu yang dituturkan di Malaysia juga. Orang Malaysia pun melabeli bahasa Melayu sebagai simbol supranasional, dan label ini menjepit bahasa Indonesia. Sementara anggapan orang asing seperti itu, orang Indonesia sendiri belum mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dituturkan seharihari. Bahasa persatuan ini tidak merdeka untuk mewadahi bahasa keseharian mereka. Bahasa Betawi, Bali, Jawa, Papua, dan sebagainya masih dikelola di luar wadah bahasa Indonesia. Dengan tata kelola bahasa seperti itu, orang Indonesia sudah berhasil dibuat sangat primordial ^ Pengembangan proyek Melindo yang mencelakakan bahasa Indonesia Terjepitnya bahasa Indonesia oleh bahasa Melayu boleh dikatakan sebagai kecelakaan kerja. Kerja sama penyatuan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia (Melindo) yang dirintis oleh Slamet Mulyana pada tahun 1950-an dan hingga sekarang masih dilakukan dengan berbagai menifestasi sangat kontraproduktif. Bahkan, kerja sama ini cenderung mencelakakan bahasa Indonesia. Seperti dikatakan Lukman Ali (2000), proyek Melindo bermotif nekolim (neo-kolonialisme dan imperialisme). Pengembangan proyek Melindo membuktikan kelemahan dan (sekaligus) keteledoran politisi kebudayaan Indonesia, khususnya pembuat kebijakan bahasa Indonesia. Akan sia-sia ada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi 17 Agustus 1945 jika bahasa Indonesia tidak merdeka, tetapi menyatu dengan bahasa negara/bangsa lain. Dengan bahasa Indonesia, mestinya, bangsa Indonesia sudah bisa dibedakan. Peluang ^ Adanya Program Paspor Bahasa Untuk melaksanakan agenda internasionalisasi bahasa Indonesia, isu paspor bahasa sudah digulirkan Pusat Bahasa (Kementerian Pendidikan Nasional) bersamaan dengan rencana pembentukan Komunitas Sosial Budaya

ASEAN 2015. Pusat Bahasa menggulirkan wacana bahasa ini pada tanggal 20--22 Juli 2010 ketika menggelar seminar yang mengangkat tema "sertifikasi pendidikan dan pekerjaan dengan bahasa sendiri: peluang dan tantangan bahasa Indonesia pada era pasar bebas". Tampaknya, isu publik sudah ini. menyambut baik

Komunitas ASEAN akan segera terbentuk. Modelnya akan mirip dengan masyarakat Uni Eropa. Dengan berkaca Eropa, tentu, Komunitas ASEAN dibangun demi persatuan bangsa-bangsa ASEAN dalam keberagaman, termasuk keberagaman bahasa kebangsaan masing-masing. Kalau di Eropa berlaku kebijakan bahasa yang disebut Common European Framework of Reference for Languages, mengapa kebijakan serupa itu tidak diberlakukan di kawasan ASEAN?

Dengan adanya sertifikasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang dikembangkan Pusat Bahasa, Indonesia sudah siap mengajak anggota ASEAN lainnya untuk menyusun kerangka kebijakan paspor bahasa. Kalau kerangka ini sudah dibuat, sebagai contoh, bahasa Thai wajib dikuasai orang Indonesia yang hendak datang ke Thailand untuk bekerja atau belajar. Penguasaan bahasa ini harus dibuktikan dengan sertifikat uji bahasa Thai. Sebaliknya, mereka yang mau datang ke Indonesia, tak terkecuali rakyat Malaysia, wajib memegang sertifikat uji bahasa Indonesia.

Pada tahun depan, 2011, Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN akan digelar di Indonesia. Pada acara ini, sebaiknya, rencana kebijakan paspor bahasa tersebut digaungkan untuk menempatkan bahasa Indonesia dalam peta global, setidaknya di kawasan ASEAN. Bagi Indonesia, pemberlakuan paspor bahasa merupakan upaya strategis untuk mendorong pengakuan internasional atas bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sudah mandiri; sudah bebas dari bayang-bayang bahasa Melayu. ^ Rencana Internasionalisasi bahasa indonesia Rencana internasionalisasi bahasa Indonesia ini tertuang dalam UndangUndang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Agenda besar itu akan berhasil jika bahasa Indonesia sudah merdeka: terbebas dari segala belenggu.

Sudah tepat ada program internasionalisasi bahasa Indonesia dengan Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 untuk mengupayakan kampanye kemerdekaan bahasa ini di luar negeri. Sementara itu, di dalam negeri juga perlu diupayakan kemerdekaan bahasa Indonesia dengan mengendurkan semangat Bahasa primordialisme yang sudah masih merajalela berbalut di Indonesia. dan

menunjukkan

bangsa.

Walau

kemiskinan

kebodohan, bangsa Indonesia tidak perlu reda berjuang untuk mencari eksistensi di dalam peta dunia global. Untuk itu, sudah semestinya bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana perjuangan bangsa Indonesia. Selamat berjuang dan merdeka ^ Rasa bangga dari generasi perjuangan akan Bahasa Indonesia jika kita kembali mengingat sepuluh tahun setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan, Komite Bahasa menggariskan kebijakannya mengenai pengembangan kosakata bahasa Indonesia dengan ketentuan: 1) mencari kata dari bahasa Indonesia sendiri, 2) jika tidak ada, mengambil dari bahasa daerah, 3) jika masih tidak ada, mengambil dari bahasa Asia, 4) jika masih tetap tidak ada, barulah mengambil dari bahasa asing, khususnya bahasa Inggris (Munsyi, 2005). Sedemikian besar rasa bangga generasi masa perjuangan kemerdekaan itu terhadap Indonesia, sehingga dalam banyak hal akan lebih memilih mengutamakan sumber asali dari Indonesia. ^ Perguruan Tinggi Asing yang memiliki program Bahasa Indonesia Pameran International bahasa dan budaya yang dilaksanakan untuk 21 (dua puluh satu) kalinya itu telah berlangsung tiga hari mulai 14 Nopember. Kegiatan itu diselenggarakan atas dukungan Komisi Eropa bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Pemuda. Pengunjung pameran ini berjumlah 14.858 yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan masyarakat. Pameran yang bertema Expolingua itu diikuti 191 peserta terdiri atas

beberapa Lembaga Bahasa dana Universitas yang berasal dari 33 Negara dan 4 (empat) Kedutaan antara lain: Indonesia, Kolumbia, Jepang dan Korea Selatan. Pameran bertaraf internasional untuk bahasa, praktikum, dan pendidikan akademis lanjutan. Indonesia menampilkan profil perguruan tinggi Jerman yang memiliki program bahasa Indonesia antara lain: Humbolt Universitaet Berlin, Universitaet Bonn, Universitaet Frankfurt am Main, Universitaet Hamburg, Universitaet Koeln, Hochschule Konstanz dan

Universitaet Passau, disamping itu juga ditampilkan program BIPA (Bahasa Indonesia Untuk Penutur Asing) yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Menurut Dr.Ing. Yul Y. Nazaruddin atase pendidikan, pihak penyelenggara pameran sangat puas dengan keikutsertaan KBRI Berlin dan juga antusias pengunjung yang datang di stand Indonesia dan bertanya mengenai program kursus bahasa Indonesia dan program studi bahasa indonesia di Universitas. Ribuan pengunjung sangat antusias dengan program ini dan bertanya sangat detail tentang kehidupan dan situasi pendidikan di Indonesia ^ Memprediksi Bahasa Indonesia sebaga Lingua Franca di Asia Tenggara Dalam Kongres Bahasa Indonesia I dikatakan bahwa bahasa Indonesia sesungguhnya berasal dari Melayu Riau yang sudah ditambah, diubah, atau dikurangi menurut keperluan zaman. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Dua hal yang mengejutkan dan mengembirakan bangsa Indonesia ialah pada World Congress on Malay Language di Kuala Lumpur tahun 1995, Zhou Nanjing dari Peking University menyatakan bahwa bahasa Indonesia atau bahasa Melayu berpeluang menjadi bahasa internasional dan ketika Vietnam mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-2. Wow! Suatu penghargaan kepada bangsa Indonesia yang sedang terpuruk ini. Selain itu, pada tahun 1997 Russell Ash menuliskan bahwa bahasa Indonesia pemakai ke-9 terbesar di dunia dalam The Top 10 of Everything. Seharusnya kita menjadi lebih menyadari untuk mengembangkan dan menjaga mutu bahasa Indonesia. Namun sayangnya, penutur asli bahasa Indonesia justru kurang membusungkan dada akan bahasa resmi negaranya. Sepertinya mereka lebih berbesar hati menggunakan bahasa asing atau bahasa gado-gado dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, bukan hanya merupakan tugas bagi pemerintah (Diknas atau Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Budaya dan Pariwisata, Departemen Luar Negeri, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Pertahanan) untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009, pasal 44. Peran serta masyarakat juga sangat besar. Ibarat suatu produk akan laku keras di pasar bila permintaan konsumen tinggi, dan produsen akan terus mengembangkan produknya untuk menjaga eksistensinya. Begitu pula halnya dengan bahasa yang merupakan produk kata sebagai alat komunikasi. Bila masyarakat terus menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai kaidah yang berlaku, maka mutu bahasa

Indonesia

akan

meningkat.

Bila dibandingkan dengan negara Malaysia, kita masih kurang tindakan konkrit untuk mengembangkan bahasa nasional kita

Selain berita dari negara Vietnam, masih terdapat beberapa hal yang tidak kita ketahui. Dari catatan Pusat Bahasa, Diknas, diketahui bahwa terdapat 168 institusi, baik formal maupun nonformal, di mancanegara yang telah mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Bahasa Indonesia yang lebih populer di luar negeri dibandingkan bahasa Melayu. Bahkan menurut guru besar Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin (UNHAS), Dr. Aspar Rahman, ada 40 negara di dunia yang mempelajari bahasa Indonesia di sekolah-sekolah mereka, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, institusi tersebut harus menyertakan nama Indonesia dalam kurikulum mereka dan tidak dapat hanya menyebutkan nama Melayu. Ditambah lagi Barack Obama bisa berbicara bahasa Indonesia yang semakin mengangkat citra bahasa Indonesia di mata dunia.
^ Kemajuan teknologi yang semakin besar Memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai salah satu tangan kanan globalisasi. Media teknologi tersebut antara lain televisi, radio, handphone dan produk-produk digital semacam mp3 player, serta tentu saja internet. Media tersebut dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk menyebarluaskan penggunaan bahasa indonesia

Ancaman
^ Menurunnya eksistansi bahasa nasional akibat globalisasi Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kebutuhan akan bahasa internasional menjadi kebutuhan yang wajib bagi masyarakat global termasuk masyarakat Indonesia yang meliputi berbagai daerah seperti misalnya di wilayah eks-Karesidenan Banyumas (Cilacap, Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan sekitarnya). Di kabupaten Cilacap misalnya, sebagai kota industri yang termasuk tinggi angka Penanaman Modal Asingnya, tentu menjadi hal yang sangat perlu bagi masyarakatnya untuk mampu berbahasa asing karena harus berinteraksi dengan patron-patronnya yang berasal dari mancanegara. Jadi yang dibutuhkan masyarakat ketika berinteraksi di dunia kerja adalah bahasa internasional. Ketika melihat fenomena semacam itu, ada kecenderungan atau semacam kekhawatiran oleh mereka yang sadar akan dampak globalisasi budaya semacam ini yang bisa meminggirkan bahasa asli masyarakat. Jadi, tantangan yang kini dihadapi oleh bahasa-bahasa daerah di

Indonesia,

termasuk

bahasa

Banyumasan,

adalah

mengenai

eksistensinya.

Seiring makin cepatnya arus informasi dari luar yang masuk dan kemudian terdistribusi di masyarakat melalui bahasa internasional, maka bahasa Ngapak Banyumasan menghadapi tantangan akan ditinggalkan oleh masyarakat penuturnya yang mulai ‘gape’ berbahasa asing, atau minimal berbahasa Indonesia (baik itu bahasa Indonesia yang sesuai EYD ataupun bahasa gaul khas anak muda). Entah kekhawatiran semacam itu akan terbukti atau tidak, namun yang jelas gejala yang terlihat belakangan ini menunjukkan bahwa yang demikian itu sangat mungkin terjadi. Untuk itu, kita yang sadar akan kemungkinan ditinggalkannya bahasa Ngapak Banyumasan oleh penuturnya sendiri dan tergantikan bahasa internasional yang ‘dianggap’ jauh lebih maju, lebih modern, lebih berkelas dan sebagainya, harus mulai ‘nguriuri’ atau menjaga eksistensi bahasa Ngapak Banyumasan yang lokal di antara bahasabahasa global. Memang, mempelajari dan mampu berbicara dalam berbagai bahasa asing bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan ada semacam pernyataan bahwa menguasai berbagai bahasa berarti menguasai dunia. Pernyataan tersebut wajar saja berhubung dengan kemampuan multi-bahasa tersebut tentu informasi dan pengetahuan yang masuk ke otak kita juga akan semakin beragam yang merupakan bekal hidup yang penting di era globalisasi ^ anggapan bahasa Indonesia sama dengan bahasa Melayu.

Sekarang beredar cerita di kalangan guru BIPA. Ini bukan cerita fiksi. Peserta BIPA dari banyak negara sekarang digiring pergi ke Malaysia. Orang Australia, misalnya, banyak yang membelanjakan uangnya untuk belajar bahasa Indonesia di Malaysia. Malaysia juga memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba pidato bahasa Indonesia di luar negeri. Penghargaan ini diberikan sebagai paket pariwisata budaya Malaysia. Janganlah heran kalau bahasa Indonesia masuk dalam budaya Malaysia. Sangat celaka ketika pembakuan bahasa Indonesia mengekor bahasa Melayu. Penyatuan bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu tersebut hanya menghamburkan duit rakyat Indonesia. Tentu, triliunan rupiah sudah dikeluarkan Indonesia sejak ada proyek Melindo. Sudah begitu banyak biaya yang keluar, tetapi muspra karena tidak bermanfaat menguatkan eksistensi bahasa Indonesia di mata internasional

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->