STUDI ATAS PRAKTIK AKUNTANSI DI ORGANISASI MASJID DI SURABAYA

Pepie Diptyana pepiediptyana@yahoo.com, pepie@perbanas.ac.id STIE Perbanas Surabaya

ABSTRACT
In this emerging public sector accounting in Indonesia, there are limited studies in nonprofit accounting, especially in religion organization. This research explores how accounting practice in mosque organization. There are some findings: first, accounting process is required by Al-Qur’an, so it is a mosque organization’s obligation to report its resources use as an accountability practice, second, mosque organizations use cash basis to provide its financial report, third, financial report in mosque organization is a summary of cash bookkeeping. Keywords: accounting, nonprofit accounting, accounting in mosques organization, cash basis

PENDAHULUAN
Berdasarkan data dari Kantor Departemen Agama kota Surabaya tahun 2009, terdapat 1.114 masjid di Surabaya. Data demografi penduduk Surabaya juga menunjukkan bahwa 80% persen penduduk Surabaya yang menganut agama Islam. Populasi ini menunjukkan potensi yang besar untuk memberi kontribusi dalam mensejahterakan masyarakat, baik secara penggalangan dana maupun penyediaan fasilitas. Organisasi masjid merupakan organisasi sektor publik atau organisasi nonlaba, yang mengelola sumberdaya untuk menjalankan aktivitas masjid. Kebanyakan masjid didirikan oleh swadaya masyarakat. Ada yang berawal dari tanah wakaf pribadi, ada juga yang didirikan oleh sekelompok masyarakat tertentu karena kebutuhan fasilitas peribadatan yang dekat dengan tempat tinggal atau tempat bekerja. Pengelolaan dan sumber daya diperoleh diperoleh secara sukarela. Tidak ada paksaan untuk menjadi pengelola masjid (ta’mir dan bendahara). Satusatunya motivator bagi seorang ta’mir adalah mandat dari Al Qur’an. Ada kecenderungan bahwa organisasi nonlaba (termasuk organisasi pengelola masjid) akan menjadi sorotan masyarakat. Di Amerika, ada kecenderungan bahwa para donor ingin mengetahui seberapa besar peran bantuan uang mereka dalam membantu organisasi nonlaba. Dengan demikian organisasi tersebut harus menjelaskan kelayakan biaya, baik kelayakan biaya secara waktu atau nilai uang (Heffes 2005). Teori pensignalan (signaling theory) mampu menjelaskan perilaku manajemen yang berusaha mengungkapkan informasinya secara sukarela. Berdasarkan teori ini, manajemen berminat menyampaikan informasi yang dapat meningkatkan kredibilitasnya dan kesuksesan organisasi meskipun informasi tersebut tidak diwajibkan (Suwardjono 2005). Kredibilitas inilah yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Penerapan akuntansi
|1

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa LSM. TINJAUAN PUSTAKA Masjid sebagai Organisasi Nirlaba AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) dan FASB (Financial Accounting Standards Board) mendefinisikan not-for-profit organization adalah entitas yang memiliki karakterisitik sebagai berikut (1) sebagian besar sumberdaya organisasi tergantung pada penyedia sumberdaya yang tidak mengharapkan timbal balik / return. Di Indonesia. Wilson and Kattelus (2002) menyatakan bahwa komunitas agama termasuk dalam independent sector of not-for-profit sector yang bebas dari pajak. akuntansi organisasi nonlaba selain pemerintahan diatur oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. khususnya di organisasi masjid. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi berupa fakta mengenai praktik akuntansi di organisasi nonlaba dan memperluas hasil penelitian terdahulu. belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran menggunakan basis kas. Akuntansi untuk pemerintahan. Sementara itu. Iswahyudi and Maulidah 2007. Akuntansi untuk dua jenis organisasi ini di Indonesia telah diatur dengan standar yang berbeda. Parpol dan sekolah masih menggunakan basis kas (Anik 2007).merupakan bentuk akuntabilitas yang dapat mempersempit kesenjangan informasi antara organisasi nonlaba dengan masyarakat. Jumlah penelitian di Indonesia mengenai praktik akuntansi di organisasi nonlaba ini masih terbatas. dan (4)basis akrual modifikasian. Telah banyak penelitian yang mengargumenkan kontroversi penerapan akuntansi di organisasi nonlaba (Cordery 2008. Booth 1993). perusahaan dimiliki oleh investor. yang menghendaki dual basis. 45. kewajiban dan ekuitas dalam Neraca menggunakan basis akrual. (2)operasional organisasi adalah menyediakan barang atau jasa tetapi tidak bertujuan memperoleh keuntungan. yaitu: (1)basis kas . (2)basis kas modifikasian. Akuntansi di Organisasi Nonlaba Pilihan basis akuntansi untuk organisasi sektor publik ada 4. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana praktik akuntansi di organisasi nonlaba selain pemerintahan. PSAK No. Pada perusahaan bisnis. dan pengakuan aktiva. yaitu untuk pengakuan pendapatan. kewajiban dan ekuitas dalam Neraca menggunakan basis |2 . (3) tidak ada ownership interest (kepentingan pemilik) seperti perusahaan bisnis. Lightbody 2001. yaitu untuk pengakuan pendapatan. 45 menghendaki penerapan akuntansi akrual bagi organisasi nonlaba. namun belum melihat bagaimana akuntansi di organisasi keagamaan. Peraturan Pemerintah no. (Wilson and Kattelus 2002). Ada dua jenis organisasi nonlaba. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Wilson and Kattelus 2004). dan pengakuan aktiva. Nasi and Steccolini 2008. praktik akuntansi sektor privat menggunakan metode akrual. yaitu pemerintahan dan nonpemerintah (Deddi. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. diatur dengan Peraturan Pemerintah no. menghendaki dual basis. (3)basis akrual . belanja dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran menggunakan basis kas. atau ikhlas menyumbangkan sumberdaya tanpa pamrih.

meskipun memiliki standar akuntansi yang sama antar negara (biasanya karena standar yang |3 . Jadi. par. Kondisi yang mempengaruhi perbedaan praktik akuntansi antara lain : (1) sifat bisnis (nature of business). Patel and Day 2008). yaitu modified accrual basis of accounting. Nasi and Steccolini (2008) membuktikan bahwa praktik akuntansi berbasis kas dan akuntansi komitmen lebih dapat diterima oleh para CFO (Chief Financial Officer) di organisasi sektor publik . (2009). Pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumberdaya yang ditetapkan oleh penyumbang agar sumberdaya tersebut dipertahankan secara permanen. terikat permanen. sehingga pencarian angka laba tidak relevan untuk pengukuran kinerja. Sifat bisnis banyak dipengaruhi oleh kondisi negara. laporan aktivitas. 45. Pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumberdaya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai dengan periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaaan tertentu. laporan arus kas. Perdebatan mengenai metode akuntansi ini juga diungkapkan oleh Ives. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa praktik akuntansi akrual tidak cocok untuk organisasi sektor publik Alasan mengapa organisasi nonlaba kurang tepat jika menggunakan metoda akrual adalah: (1) tujuan utama organisasi bukan laba. khususnya di gereja. akuntansi diterapkan dalam kondisi yang berbeda. 45 menghendaki akuntansi di organisasi nonlaba menggunakan metode akrual (IAI 2007). (4) akuntansi akrual mempersempit fokus kinerja. Akun-akun diklasifikasikan dalam berdasarkan aset. tidak mengukur seluruh sumberdaya ekonomik. pendapatan dan beban yang tidak terikat. Menurut PSAK No. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. (2) budaya (culture). (2) struktur financial dan solvency juga tidak relevan digunakan dalam lingkup organisasi sektor publik. Sumbangan terikat adalah sumber daya yang penggunaannya dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang. tetapi organisasi diijinkan untuk menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat ekonomi lainnya yang berasal dari sumber daya tersebut. (Ma and Matthews 1993. semata-mata fokus pada cost of service dan efisiensi. digunakan basis akuntansi dengan tipa-hibrid. praktik akuntansi dipengaruhi oleh karisma dan kekuatan persuasi (persuasive power) dari: staf keuangan.akrual. Pembatasan tersebut dapat bersifat permanen atau temporer. dan catatan atas laporan keuangan. Basis akrual pada organisasi pemerintahan maupun nonlaba diterapkan ketika meretia melaporkan aktivitas yang bertipa bisnis. Lewis 1995. et al. meskipun jenis organisasinya sama. Guthrie and Johnson 1994. serta kewajiban. terikat temporer. Guthrie 1998 dalam Nasi and Steccolini 2008). 03 dan 05). Dengan basis ini. (3) akuntansi akrual bukanlah ukuran outcome . Sumbangan tidak terikat adalah sumber daya yang penggunaannya tidak dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang (IAI 2007. sukarelawan yang menjadi anggota manajemen. Walaupun demikian. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Akuntansi Pada kenyataannya. pengukuran dilakukan hanya untuk arus masuk (inflows) dan arus keluar (outflows) aktiva lancar yang finansial (financial current resources). Untuk aktivitas yang sifatnya pemerintahan dasar. Di organisasi agama. laporan keuangan organisasi nonlaba terdiri dari laporan posisi keuangan. staf manajemen yang berposisi sebagai penyelia atau pembawa misi (Lightbody 2001). dan (3) tingkat pendidikan dan pengalaman akuntan (Chand.

seperti pada wilayah Pasifik Selatan. Anggota diskusi focus group adalah responden/informan yang dipilih untuk memberikan informasi adalah bendahara. bias yang muncul akibat dominasi beberapa anggota focus group dapat terhindari. maka kantor pusat atau organisasi yang lebih tinggi perlu memonitor dan melayani kebutuhan kantor cabang. Di samping focus group. yakni adanya perasaan enggan untuk mengutarakan sesuatu karena banyaknya orang yang hadir dalam focus group. atau 4 – 12 orang dalam sebuah forum yang dipimpin oleh seorang moderator (peneliti) (Kruger. serta untuk memahami suatu fenomena melalui gambaran holistic dan memperbanyak pemahaman secara mendalam. maka organisasi akan membuat suatu manual yang detail untuk keperluan interpretasi dan mengaplikasikan praktik akuntansi. Jika tingkat pendidikan dan pengalaman akuntansi para akuntan di suatu negara adalah rendah. Sebagaimana makna akuntansi menurut Suwardjono (2005). peneliti juga melakukan wawancara untuk melengkapi keterbatasan metode focus group. Pendekatan focus group memungkinkan partisipan dapat memberi masukan kepada peneliti. maka praktik akuntansinya pun dapat berbeda. Bendahara masjid dipilih dengan pertimbangan bahwa ia mampu menjelaskan metode pencatatan dan |4 . pengaruh ini juga berlaku pada budaya organisasi. Proposisi pada penelitian ini adalah: terdapat penerapan akuntansi di organisasi masjid sebagai bentuk akuntabilitas publik. serta menggali ide-ide kompleks. Selain sifat bisnis. Metode focus group merupakan metode diskusi yang terdiri dari 7 – 10 orang . Dua bentuk budaya tersebut berdampak pada bentuk pilihan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berbeda. 1988 dalam Marshall and Rossman 2006). peneliti juga melakukan dokumentasi atas laporan keuangan yayasan masjid. Sementara itu. Patel and Day 2008). Dengan wawancara. pada kondisi budaya yang “melayani”. Untuk memperbaiki kemanfaatan informasi akuntansi secara keseluruhan. ketua ta’mir masjid dan perwakilan dari kantor Departemen Agama. maka argumen tersebut juga berlaku di tingkat organisasi. Pada kondisi budaya yang menekankan pada kemandirian. Tingkat pendidikan dan pengalaman akuntan pada suatu organisasi dapat berpengaruh terhadap kemampuan untuk membuat accounting judgement. atau organisasi yang lebih rendah. maka harus ada inisiatif untuk menentukan tingkat pendidikan akuntan dan mengadakan pelatihan (Perera 1989). Metode focus group ini merupakan cara yang tepat untuk mempelajari pandangan dan opini. pelatihan atau pendampingan. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan diskusi focus group dan wawancara.disusun karena adopsi dari negara lain). Budaya merupakan simbolisasi dari shared values and beliefs yang mempengaruhi keputusan individual (Patel 2003). maka akuntan di negara tersebut tidak dapat diharapkan untuk menghasilkan keputusan yang baik (Chand. namun karena kondisi negaranya berbeda dan mengakibatkan praktik bisnis juga menjadi berbeda. Selain focus group dan wawancara. Moderator harus berperan sebagai sosok yang objektif dalam membahas masalah yang didiskusikan. budaya (culture). juga berpengaruh terhadap praktik akuntansi di suatu negara.

114 masjid di Surabaya. ketiga. Data yang ada adalah nama. juga dilakukan wawancara dengan rangkaian kegiatan yang sama dengan diskusi focus group. bukan didirikan oleh pengembang perumahan sebagai fasilitas dari pengembang. (3) mendatangi ta’mir dan menanyakan kesediaannya untuk hadir sebagai peserta focus group. garis besar sejarah pendirian yayasan masjid. Dari 30 orang tersebut. (2)penjelasan mengenai bentuk dan arah diskusi. (3) penyampaian topik diskusi. penjurnalan. tetapi tidak lengkap. perkenalan para peserta focus group. Selain diskusi dengan focus group. Terdapat data nama ta’mir. meliputi : penyampaian salam. kedua. Jumlah ini memang cukup banyak untuk focus group. |5 . bukan pula bagian dari pekerjaan pemerintah daerah. Oleh karena itu. yaitu: mengapa menyajikan laporan keuangan.pengungkapan. yaitu: (1) meminta data demografi masjid diperoleh dari Kantor Departemen Agama Kota Surabaya. menanyakan manfaat dan kendala yang dihadapi ketika menerapkan akuntansi. mengumpulkan dokumentasi laporan keuangan/kinerja masjid. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Responden/Informan Data dari Kantor Departemen Agama Kota Surabaya menunjukkan populasi sebesar 1. Rangkaian kegiatan diskusi focus group adalah sebagai berikut : (1)perkenalan. perkenalan dengan peneliti. responden/informan representatif yayasan/manajemen pengelola masjid dipilih secara random. mengumpulkan data mengenai kesediaan responden/informan. Persiapan pengumpulan responden/informan dilakukan dengan beberapa tahap. Pada sesi perkenalan ini diperoleh data peserta. melaksanakan focus group dan wawancara. (4)merumuskan ringkasan hasil diskusi / wawancara. Forum diskusi dilakukan dengan cara mengundang dan mengumpulkan responden/informan pada suatu forum diseminasi/pelatihan. Ini disebabkan karena peserta yang semula menyatakan tidak dapat bergabung ternyata hadir. dibentuk focus group. jumlah jamaah yang dilayani. seperti latar belakang pendidikan. Hasil penyampelan dan konfirmasi ada 30 orang yang bersedia menjadi responden/informan sebagai representasi dari 16 masjid dan satu orang dari Kantor Departemen Agama. asal yayasan masjid. Sampel dipilih secara simple random dan dihubungi untuk diminta kesediaannya sebagai responden/informan. Enam belas masjid ini merupakan masjid yang didirikan murni swadaya masyarakat. alamat. Ta’mir masjid juga dilibatkan untuk menjelaskan kesesuaian antara pengungkapan dengan kebutuhan pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan masjid. sampai dengan penyajian laporan keuangan. diskusi focus group dilengkapi dengan metode wawancara agar dapat mengatasi keterbatasan pendekatan focus group. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara: pertama. bagaimana proses penyusunan laporan keuangan --. lamanya peserta terlibat sebagai ketua ta’mir atau bendahara. tujuan kegiatan.mulai dari dasar pencatatan. nomor telpon. (2) berdasarkan data demografi masjid. atau bagian dari fasilitas sekolah/kantor.

000.000 10.000.000.000 8. didistribusikan atau dipublikasikan ke donatur dan jamaah. pada waktu normal.Para responden/informan ini.000 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 nama masjid Baitul Mukminin Ummul Mu'minin Jendral Sudirman Husnul Khotimah Muhammad Cheng Ho Al Muslimun Tholabuddin Al-Huda Al-Hasan Istiqbal Darussalam Al Khoirot Nurul Jannah Baitul Mukmin Jendral Sudirman Baitul Taqwa Al-Achmad Ada dua masjid yang bernama Jenderal Sudirman. Masjid Jendral Sudirman pada nomor 15 adalah masjid yang didirikan di dalam area kompleks perumahan.000. jenjang pendidikan universitas ditempuh oleh 11 orang peserta di tingkat akademi dan S1. keduanya tidak terkait.000 1.000 7.750. lamanya mereka menjadi ta’mir cukup beragam. dan ditandatangani ketua ta’mir.000. masjid anggota focus group. tampak pada Tabel 1.000 5. Gambaran pendapatan infaq per bulan.000. baik dari masjid maupun dari kantor Departemen Agama. Walaupun demikian. Masjid-masjid lain selain masjid Jenderal Sudirman adalah masjid yang berada di luar area perumahan/perkantoran/sekolah. |6 .125.800.000.000 3. sedangkan masjid Jendral Sudirman pada nomor 3 adalah masjid di lokasi umum. di luar pendapatan ketika hari besar. Hanya ada 3 orang yang berlatarbelakang pendidikan ekonomi.000 800.000 2.000 5.000 10. Namun sebagian besar tidak berlatarbelakang pendidikan ekonomi.000 15. memiliki latar belakang pendidikan yang beragam.000.500.700. Tabel 1 – Masjid Peserta Diskusi Focus Group Jumlah jama’ah rata-rata per bulan (orang) 126 250 1000 2500 1000 100 700 120 1000 150 100 130 1000 70 300 400 90 Pendapatan rata-rata per bulan (Rp) 15.000 15. dari 1 tahun sampai dengan 22 tahun (rata-rata: 6 tahun). Selain itu.000.000 600.000 2. Laporan tersebut dibuat setiap bulan oleh bendahara.000 1. Praktik Akuntansi di Organisasi Masjid Berdasarkan data laporan keuangan yang dikumpulkan dari para anggota focus group menunjukkan bahwa semua masjid yang menjadi sumber data pada penelitian ini telah membuat laporan keuangan.000.000 3.

Persepsi ini mengakibatkan bentuk “laporan keuangan” yayasan berupa ringkasan dari buku kas. dan Surplus/Defisit.Aktiva tetap. atau buku kas yang diformat menjadi “laporan kas”. tampilan struktur laporan keuangan masjid ada pada Gambar 1.Alasan organisasi pengelola masjid menyajikan laporan keuangan adalah : (1) tuntutan dari agama. Tuntutan dari agama dijelaskan oleh surat Al Baqarah ayat 282. apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. terdapat Saldo Awal Kas. dari sisi penerima dana dan pemberi dana. baik untuk pembangunan masjid. menurut pengelola masjid adalah pencatatan transaksi uang. Al Baqarah 282 tersebut juga dapat dimaknakan pentingnya pencatatan secara double entry. dan angka Surplus/Defisit ini menunjukkan jumlah atau saldo kas. dan sebagainya. |7 . aktivitas penyerahan dana dari penderma/donatur kepada pengelola dapat disebut dengan transaksi. dan (3)permintaan donatur. utang piutang. sewa menyewa. Jika ada alokasi penggunaan untuk surplus kas. (2)pengambilan keputusan penggunaan dana oleh manajemen (ta’mir) yang membutuhkan informasi keuangan. dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan apa yang ditulis itu. Ada beberapa masjid yang menyalin buku kas menjadi format laporan karena jumlah transaksi yang sedikit. dan dana ini membutuhkan akuntabilitas dari pengelolanya. laporan keuangan di organisasi pengelola masjid juga disajikan untuk pengambilan keputusan alokasi sumberdaya. Alasan kedua dan ketiga relevan dengan tujuan pelaporan keuangan di sektor privat. yang berbunyi “hai orang-orang beriman. dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. Sebelum komponen Penerimaan. maka terdapat akun Alokasi Biaya (dalam akuntansi pemerintahan.” Muamalah dapat diartikan dengan transaksi. Istilah akuntansi. seperti kegiatan jual beli. ini digambarkan dalam akun Pembiayaan). dan menginformasikan perubahan atas sumberdaya.terdiri dari Penerimaan. yakni pelaporan keuangan ditujukan untuk pihak eksternal dan internal organisasi. ada dalam catatan yang terpisah. hendaklah seorang penulis di antara kami menuliskannya dengan benar. Pengeluaran. daftar hutang piutang. pemeliharaan masjid dan kegiatan-kegiatan yang mensejahterakan umat para pengguna masjid. Sama dengan tujuan di sektor privat. Dan janganlah penulis enggan menulisnya sebagaimana Allah telah mengajarkannya. karena dana tersebut diserahkan dengan maksud tertentu. maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dengan demikian. Secara ringkas. maka hendaklah ia menulis. Jika yang berutang itu orang yang lemah akal atau lemah keadaannya atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan. Laporan keuangannya disajikan dalam bentuk laporan (single step). dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada utangnya.

dicatat sebagai “infaq kotak warga”. Bukti pendapatan di masing-masing masjid anggota focus group beragam. kotak amal masjid. Taman Kanak-kanak. Isi kolom Biaya (Pengeluaran) sesuai dengan apa yang tercantum di bukti transaksi atau sesuai dengan nama aktivitasnya. Pencatatan transaksi pendapatan (penerimaan uang masuk) dan biaya (uang keluar) dilakukan secara kronologis dan rinci. klinik. dan kepada ketua yayasan dan pengelola gedung. atau jika penerimaan dari kotak warga di rumah. kotak amal di rumah-rumah warga. tanda terima. Pada beberapa masjid. yaitu Pendapatan (penerimaan kas) dan Biaya (pengeluaran kas). Pendapatan (di Gambar 1 – Struktur Laporan Keuangan Masjid di kolom Penerimaan) berasal dari infaq. bukti catat dan serah terima pengambilan kotak amal warga. Untuk laporan mingguan.Gambar 1 – Struktur Laporan Keuangan Masjid Laporan Keuangan Ta’mir Masjid XXX Periode tanggal …. mulai dari kupon. Bukti pengeluaran kas berupa berupa kwitansi atau nota. Laporan Bulanan dan Tahunan dibuat dalam bentuk formal. Tgl Penerimaan Rp Saldo Awal Tgl Pengeluaran Rp Keterangan Jumlah Saldo Jumlah Ta’mir Masjid XXX Nama dan Tandatangan Ketua Nama dan Tandatangan Bendahara Pelaporan dilakukan secara periodik. Laporan bulanan dan tahunan didistribusikan ke donatur dalam bentuk majalah atau buletin. atau edaran. infaq parkir. “Infaq Donatur” mencantumkan nama donaturnya sampai dengan Laporan Keuangan terbit.. maka kolom Penerimaan dicatat sebagai “infaq kotak amal”. Jika diterima dari kotak amal. Biaya. Nama akun biaya sangat beragam karena diringkas dari bunyi kwitansi atau nota. baik dari kotak jumatan. dan segala bentuk penerimaan uang lainnya seperti penerimaan dari infaq kontribusi fasilitas tempat dari Taman Pendidikan Al-Qur’an. Jika bukti pengeluaran |8 . Kolom Penerimaan diisi dengan sumber atau asal uang masuk. mulai mingguan sampai dengan tahunan. Pencatatan pendapatan dan biaya dilakukan secara double entry (dengan akun lawan Kas) oleh bendahara. maka dicatat sebagai “infaq donatur”. masjid membuat laporan saldo kas mingguan terpampang di papan masjid setiap hari Jum’at pada saat Jum’atan. Bendahara mencatat penerimaan dan pengeluaran kas berdasarkan bukti-bukti. Jika diterima dari donatur. Pengelompokan akun yang ada hanya 2.

pembatasan temporer. namun demikian praktik akuntansi |9 . ditemukan bahwa terdapat penerapan akuntansi di organisasi masjid sebagai bentuk akuntabilitas penggunaan dana publik.terjadi untuk membeli dop lampu. dan para donatur. Laporan keuangan disajikan di media bulletin. Bagian akhir laporan adalah Saldo Kas yang menunjukkan sisa kas pada akhir periode tertentu. Format laporan keuangan berupa ringkasan pembukuan harian penerimaan dan pengeluaran kas. Software tersebut berbasis MsExcel. Angka surplus dan defisit ini menunjukkan saldo kas karena keputusan alokasi sumberdaya oleh stakeholders masih didominasi dengan ketersediaan kas. bukti-bukti dilampirkan pada setiap pelaporan keuangan. majalah. Humphrey and Guthrie (2001) dan Nasi & Steccolini (2008). Pelaporan keuangan organisasi masjid disajikan dalam bentuk penerimaan dan pengeluaran kas. atau edaran rutin. 45 (pembatasan permanen. maka di kolom Biaya (Pengeluaran) akan dicatat berupa “dop lampu” atau “membeli dop lampu”. dan disesuaikan dengan bentuk informasi yang dapat dipahami oleh ketua yayasan. Masjid Ummul Mu’minin menggunakan software pencatatan yang mengharuskan data untuk masuk secara kronologis. akuntabilitas adalah kewajiban yang sakral karena ada aturan agama yang mewajibkannya. kecuali pelaporan keuangan ke donatur. dan menerima bon pembelian dop lampu. Hasil ini mendukung argumen Monsen (2002). sehingga setiap transaksi harus segera di-entry. dirancang oleh salah satu anggota remaja masjid. laporan keuangan disajikan bersama-sama dengan berita tentang kegiatan masjid. Bagi organisasi masjid. maka ada masjid yang tidak mencantumkan nama penerima. sumbangan tidak terikat). Masjid Cheng Ho juga menggunakan komputer berbasis MsExcel. Jika biaya (pengeluaran) karena membayar pengganti transport khotib. tidak terikat. yaitu manual dan terkomputerisasi. Pada beberapa masjid . Komentar menarik dari ta’mir masjid Jendral Sudirman adalah “setelah kami memberikan edaran rutin berisi laporan keuangan. Laporan ini ditandatangani oleh bendahara dan ketua ta’mir. atau yang permanen. anggota focus group mampu menentukan mana saja akun yang termasuk sumbangan terikat. maka akan dicatat sebagai “pengganti transport khotib”. ketua ta’mir. Bagi masjid yang memuat laporan keuangan di media bulletin atau majalah. sumbangan terikat. Olson. penerimaan donatur kami meningkat sekitar 30%”. Tidak dilampirkannya bukti di pelaporan keuangan ini adalah pertimbangan kepraktisan. Walaupun tidak tersajikan dalam laporan keuangan. yang pada outputnya berupa angka surplus dan defisit. Hampir sama dengan pencatatan donasi. Pada pencatatan sampai dengan penyajian laporan keuangan tidak ada penggunaan istilah dan klasifikasi seperti PSAK No. Walaupun akuntansi diwajibkan secara sakral dan organisasi masjid telah berupaya untuk menyajikan laporan keuangan. Seluruh anggota focus group menyatakan bahwa format laporan keuangan masjid telah diterapkan sejak masjid berdiri. dan ada yang mencantumkan. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil diskusi focus group dan wawancara. pengeluaran yang bersifat reward atau honor. Semua masjid menyimpan bukti keluar dan masuknya uang. Media pencatatan ada dua.

Patel. Jakarta : Salemba Empat. 111-129. pp. Catherine and Rossman.67. December 2008. Penerapan Akuntansi Berbasis Akrual di Organisasi Sektor Publik di Yogyakarta. pp. Chatered Accountants Journal. Asian Academy of Management Journal. Agustus Vol.. M. 2006. Cordery. Pengungkapan yang dilakukan secara sukarela dan beragamnya kebutuhan informasi para pengguna dapat menjadi penyebab adanya keragaman ini. H. Gretchen. 42-56. Akuntansi Pemerintahan. 2002. Will Non-Profit Next Focus of Sarbanex-Oxley? Financial Executive. 2. The Case for Cameral Accounting. B. Reporting Performance in The Not-for-Profit Sector. Toward a Framework to Analyze The Impact of Culture on Accounting. Lightbody. Sondi Putra and Maulidah. Vol. Accounting. 2008. 1989. Keterbatasan pada penelitian ini adalah belum digali lebih lanjut mengenai keterkaitan antara basis akuntansi dan format pelaporan keuangan yang digunakan dengan tingkat pemahaman stakeholders organisasi masjid. Jakarta : Salemba Empat. 18 1. Monsen. International Journal of Accounting Education and Research. 2001. 18-19. 46. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik. 2008. 2. O. pp. 2005. 2007. Accountant in Church Marshall.di organisasi masjid masih beragam. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik tersebut. 2007. 2005. Standar Akuntansi Keuangan. pp. 10 Issue 2. 2007. Financial Accountability and Management. C. Rahmawati. 4. | 10 . p. 10 3. 2007. 2002. Ellen M. Peter. Chris and Day. 8 No. pp. Nugrohowati. Ikatan Akuntan Indonesia. Greta and Steccolini. Noordiawan. and Guthrie. October Vol 21 Issue 8. Designing Qualitative Research. 37 . 2001. 175-196. Nasi. European Accounting Review. Auditing & Accountability Journal. pp. J. Accounting in Churches: A Research Framework and Agenda. N. Deddi. Caught in An Evaluatory Trap: A Dilemma For Public Services under New Public Financial Management. California : Sage Publications. Iswahyudi. Olson. Implementation of Accounting Reform. Inc. I (1) 1989. 2008. Margaret. July Vol. Accounting and Organization: A Critical Reflection. 2007. 1993. 2008. Perera. 1560 . 2008. 2006. DAFTAR PUSTAKA Anik. Factors Causing Differences in The Financial Reporting Practices in Selected South Pasific Countries in The Post-Convergence Period. pp. Public Management Review. Humphrey. Chand. 2001. Ronald. 3 No. Ileana. Parmod. Vol.. 39-72. 505-522. 2007. 2001. pp. Carolyn. B. 1993. Booth. Heffes. 6 No.1571.

. 13th Edition. Yth.. New York : McGraw-Hill. sebagai teman diskusi dan mengarahkan bentuk penelitian metode penelitian kualitatif 4. Kepala Kantor Departemen Agama Kota Surabaya beserta Bapak Suba’i dan Bapak Mohammad Ghofar (staf kantor Departemen Agama) yang berkenan menyediakan informasi mengenai kondisi populasi. 2005. Yth. 2004. SE.Suwardjono. Ibu Nurul H.U. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Ak. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kami haturkan kepada: 1. Direktorat Jenderal Dikti yang telah mendanai Program Ipteks sehingga memungkinkan peneliti untuk mengundang dan melakukan pendekatan focus group dan wawancara. 2005. 2004. Yth. Susan C. M. Dewi. 3. 2. Wilson. Yogyakarta : BPFE. Rekan-rekan mahasiswa yang membantu untuk memfasilitasi diskusi dan wawancara selama penelitian ini berlangsung | 11 . and Kattelus. Earl R.Si. Accounting for Governmental and Nonprofit Entities.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful