I. A.

Latar Belakang

PENDAHULUAN

Sosiologi pertanian adalah suatu pengetahuan sistematis dari suatu hasil penerapan metode ilmu dalam mempelajari masyarakat pedesaan, struktur sosial dan organisasi sosial, dan juga sistem perubahan dasar masyarakat dan proses perubahan sosial yang terjadi. Tapi dalam pengertian ini tidak hanya cukup mempelajari saja, tetapi kita harus benar-benar paham tentang penyebab terjadinya dan dampak atau akibat dari segala tindakan sosial yang terdapat pada desa tersebut (Nasution, 1983). Sosiologi pertanian cenderung mengarah pada kehidupan keluarga petani yang mencakup dalam hubungannya dengan kegiatan pertanian di kehidupan bermasyarakat, misalnya tentang pola-pola pertanian, kesejahteraan masyarakat, kebiasaan atau adat istiadat, grup sosial, organisasi sosial, pola komunikasi dan tingkat pendidikan masyarakat serta struktur sosialnya. B. Tujuan Praktikum Praktikum sosiologi pertanian ini bertujuan untuk melatih mahasiswa mengenal lebih dalam perilaku masyarakat desa, kelembagaan hubungan kerja agraris dan luar pertanian, kekosmopolitan petani, kelembagaan pedesaan, pola komunikasi, organisasi sosial dan adat istiadat yang ada. C. Waktu dan Tempat Pelaksanan Praktikum Sosiologi Pertanian dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2009 sampai dengan 30 Mei 2009, yang dilaksanakan di Desa Sambirejo, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri

1

2

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Jika suatu daerah mempunyai suatu sistem regristasi yang baik, maka jumlah penduduk pada akhir suatu periode waktu dari suatu daerah yang bersangkutan dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah penduduk pada suatu periode ditambah selisih antara kelahiran dan selisih antara yang akan datang dengan yang pindah atau pergi (Rusli, 1994). Dalam kehidupan sehari-hari terlihat jelas perbedaan masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan. Ditinjau dari indikator, terlihat masih berlangsungnya kesenjangan kesejahteraan antara orang-orang desa dengan kota. Bahkan untuk indikator, sekalipun skor kesejahteraannya mengisyaratkan adanya perbaikan, tapi perbedaan tersebut sangat mencolok. Prosentase penduduk berusia 10 tahun keatas yang bisa baca tulis jumlahnya lebih beasr di kota daripada di desa. Keadaan kesejahteraan bayi dan anak balita di kota jauh lebih baik daripada teman-teman mereka yang ada di desa. Kelayakan rumah di kota jauh lebih baik daripada keadaan rumah di desa. Indeks mutu hidup di kota jauh lebih baik daripada di desa. Hal ini membuktikan betapa masih memprihatinkan kesenjangan sosial antara masyarakat desa dan kota (Dumairy, 1997). Dalam masyarakat desa terdapat dua kelompok sosial ekonomi. Pertama, kelompok yang mampu melakukan usaha-usaha yang memberikan kehidupan yang relatif memadai untuk mereka sendiri. Mereka ini biasanya adalah orangorang yang mempunyai lahan pertanian yang luas. Kedua adalah kelompok yang secara sosial ekonomi dikategorikan miskin karena tidak mampu mengangkat diri mereka sendiri pada tingkat yang disebut layak (Hagul, 1992). Dalam Perkembangan Sosiologi di Indonesia gejala pelapisan sosial (Social Stratification) agak lambat dipersepsikan dengan jelas, hal yang menimbulkan kesan seakan-akan kita agak enggan melihat masyarakat kita berlapis-lapis. Singkatnya penggambaran pelapisan sosial dari waktu ke waktu sungguh penting dalam usaha kita sebagai bangsa mewujudkan masyarakat yang

3

adil dan makmur, dihitung dari sekarang bahkan dalam kurun waktu yang kurang dari 14 tahun (Tjondronegoro, 1999). Perempuan sebagai pekerja dalam suatu produksi rumah tangga. Di desa peran yang diberikan perempuan dalam usaha tani keluarga di sektor pertanian dan pada sektor luar pertanian itu ditemukan beragam “industri” rumah tangga. Tenaga kerja perempuan dalam perannya itu adalah tenaga kerja tanpa upah (Anonim, 2009). Sebagian (makhluk yang selalu hidup bersama-sama manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat baik yang berbadan hukum ataupun yang tidak berbadan, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara (Anonim, 1994).

dan disimpulkan dalam konteks teori-teori yang ada dan dari penelitian terdahulu. desa. dan tokoh agama. Metode Dasar Praktikum Pada dasarnya pelaksanaan praktikum ini merupakan latihan penelitian dengan menggunakan metode dasar deskriptif analisis. yaitu metode yang memusatkan perhatian pada permasalahan yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak dari data yang dikumpulkan. dengan melakukan pengamatan secara langsung atas keadaan responden serta keadaan yang terjadi di daerah penelitian atau praktikum. 2. 3.4 III. Usahakan memperoleh data yang obyektif. Keseluruhan jumlah petani responden berjumlah 28 orang yang terdiri dari: • • 25 orang petani responden yang terdiri dari petani pemilik 3 orang tokoh masyarakat yang terdiri dari pamong desa. penyewa.Wawancara.Data primer : data yang diperoleh secara langsung dari petani atau responden dengan wawancara menggunakan kuisioner. 2. penyakap.Pencatatan data-data yang diperlukan terutama monografi desa. Teknik Pengumpulan Data 1. . dianalisis.Data sekunder : data yang diambil dengan cara mencatat lansung data yang ada di instansi terkait. misalnya data monografi desa. C. mahasiswa mendatangi responden. sesepuh penggarap. baik mengenai sejarah desa maupun fenomena sosial yang ada.Observasi. Jenis dan Sumber Data 1. Wawancara dipandu dengan kuisioner yang telah tersedia. dan buruh tani. METODE PENELITIAN A. B. Data penunjang dapat diperoleh dari masyarakat.

5 D. Penjelasan berdasarkan teori-teori atau hasil penelitian yang relevan . oleh karena itu disarankan mahasiswa untuk menggali data lebih mendalam melalui indepth interview. Metode Analisis Data Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan menggunakan distribusi frekuensi. Pada kasus tertentu mahasiswa dapat menulis secara lebih mendalam dan komprehensif.

Dibandingkan dengan desa yang lainnya Desa Sambirejo mempunyai jarak dari pusat administrasi yang dekat. oleh karena itu suhu rata-rata pada daerah Sambirejo relative sejuk yaitu berkisar antara 18-26 C. Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan : 0. karena Desa Sambirejo dekat dengan jalan raya. Desa Sambirejo : 15 Km : 130 Km . Jarak dari Ibukota Propinsi Dati I b. Topografi Desa Sambirejo terletak pada ketinggian 650 M di atas permukaan laut. Jumantono : Desa Dawung/ Desa Plosorejo : Desa Karangbangun Jarak dari Pusat Administras Desa Sambirejo terletak cukup strategis. tinggi) Suhu udara rata-rata 2. HASIL DAN ANALISIS HASIL A. Kondisi Geografis a. Keadaan Umum 1.5 Km 2). : Desa Pablengan : Sungai/ Kec. Lokasi Desa 1. Jarak dari Ibukota Kabupaten 3). Sejarah Desa Desa Sambirejo 2. yaitu sebagai berikut: 1). Kondisi Desa Sambirejo secara geografis adalah sebagai berikut : Ketinggian tanah dari permukaan laut Banyaknya curah hujan Topografi (dataran rendah. Desa Sambirejo Kecamatan : 650 M : 3100 mm/th : dataran rendah : 18 0C – 26 0C Slogohimo Kabupaten Wonogiri memiliki batas – batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat SebelahTimur 3. Dilihat dari topografinya Desa Sambirejo merupakan daerah dataran rendah.IV.

juga memiliki curah hujan kira-kira 3100 mm/th. Pertanian di Desa Sambirejo sangat tergantung dengan curah hujan karena di daerah tersebut termasuk daerah tadah hujan. 3. Kependudukan a. Pertambahan Penduduk dan Mobilitas Penduduk Dalam suatu daerah, pertambahan penduduk dan mobilitas penduduk dipengaruhi oleh kelahitan, kematian, kedatangan, dan kepergian. Tabel 1 Pertambahan Penduduk dan Mobilitas Penduduk di Desa Matesih Mobilitas Tahun 2004 2007 2008 Σ
x

Awal 0 7736 7757 15493 5164,3

Lahir (L) 30 43 55 128 42,67

Mati (M) 25 32 31 88 29,33

Datang (I) 18 3 29 50 16,67

Pergi (E) 8 58 39 105 35

Pertambahan penduduk 15 21 10 46 15,33

Sumber : Data Sekunder Pertambahan penduduk dengan rumus Tahun 2004 : pertambahan penduduk Tahun 2007 : pertambahan penduduk Tahun 2008 : pertambahan penduduk = (L - M) + (I - E) = (30 –25) + (18 –8) = 15 = (43 – 32) + (3 – 58) = - 44 = (55 – 31) + (29 – 39) = 14

Data hasil pengamatan mengenai pertambahan penduduk dan mobilitas penduduk dapat diketahui bahwa pertambahan penduduk Desa Matesih pada 3 tahun terakhir yaitu dari tahun 2004 , 2007, 2008 paling sedikit dicapai pada tahun 2007 yaitu pertambahan sebanyak -44 pertambahan penduduk yang berarti bahwa mobilitas penduduk itu negatif sehingga jumlah penduduk yang lahir di Desa Matesih lebih

besar dari jumlah penduduk yang meninggal dan jumlah penduduk yang datang lebih kecil dari jumlah penduduk yang pindah. Mobilitas penduduk dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang lahir, mati, datang dan pergi. Mobilitas penduduk yang terjadi di Desa Matesih tiap tahun mengalami perubahan. Mobilitas berpengaruh pada pertambahan jumlah penduduk dan efek kedepannya berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Hasil pengamatan terhadap keadaan pertambahan penduduk Desa Matesih dapat menghasilkan data yang tidak sama dengan data Monografi desa, hal ini terjadi karena di dalam laporan pertambahan penduduk di awal pada tahun 2004 diasumsikan bahwa pertambahan penduduk sebesar 0 pertambahan. Hal ini sengaja dibuat agar dalam memahami keadaan dan kondisi penduduk Desa Matesih dalam segi jumlah penduduk dan pertambahan penduduk menjadi ledih mudah dan lebih jelas. Selain itu hasil analisis yang berbeda dengan data monografi Desa Matesih disebabkan oleh adanya penduduk yang datang dan telah menetap namun data tersebut tidak di laporkan, selain itu adanya penduduk yang lahir dan meninggal dunia yang tanpa pencatatan pula oleh petugas desa (perangkat desa) sebagai data dari kelurahan desa tersebut. Pertumbuhan penduduk adalah keseimbangan dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan kekuatan-kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk yaitu kelahiran, kematian, dan Imigrasi. Faktor kelahiran dan kematian disebut faktor alami sedangkan Imigrasi disebut faktor non alami (Suyitro, 1997). b. Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk terdiri dari kepadatan penduduk secara geografis dan kepadatan penduduk secara agraris. Tabel 2 Kepadatan Penduduk di Desa Matesih

Tahun 2004 2007 2008

Jumlah Luas Wilayah Penduduk ( km2) 7721 7720 7712 2746,1 2746,1 2746,1

Kepadatan Penduduk (Jiwa/ km2) 2,8116 2,8112 2,8083

Luas Lahan (ha) 269,61 269,61 269,61

Kepadatan Agraris (Jiwa/ha) 28,64 28,63 28,6

Sumber : Data Sekunder Kepadatan Penduduk Tahun 2004 :
72 71 = 2 4 ,1 76

2,8116

jiwa/km2 Tahun 2007 :
72 70 = 2 4 ,1 76

2,8112

jiwa/km2 Tahun 2008 :
71 72 = 2 4 ,1 76

2,8083

jiwa/km2 Rata – rata : 2,8104 jiwa/km2

Kepadatan Agraris Tahun 2004 Tahun 2007 Tahun 2008 : 269 ,61 = 28,64 jiwa/ha : 269 ,61 = 28,63 jiwa/ha : 269 ,61 = 28,6 jiwa/ha : 28,62 jiwa/ha hasil pengamatan mengenai kepadatan penduduk
7712 77 20 772 1

Rata – rata Data

diketahui jumlah penduduk dari tahun ke tahun terus berkurang walaupun hanya sedikit sehingga hal ini akan mempengaruhi kepadatan penduduk baik kepadatan geografis maupun kepadatan agraris. Kepadatan penduduk geografis menunjukkan jumlah

Masalah penduduk yang terus meningkat memang sangat mempengaruhi pembangunan di masa mendatang. Selain itu masalah sosial. Kepadatan penduduk agraris menunjukkan jumlah orang yang terdapat dalam 1 ha luas lahan pertanian.8104 jiwa/km2. Rata – rata kepadatan penduduk geografis dalam tiga tahun terakhir adalah 2. Demikian juga dengan kepadatan agrarisnya. Rata – rata yang diperoleh selama lima tahun adalah 28. bagaimanakah perbandingan antar jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan. diperkirakan pada awal abad 21 kawasan Asia Pasifik akan dihuni oleh sekitar 4.62 jiwa/ha. pangan. ditekan serendah-rendahnya dengan menurunkan tingkat pertumbuhan jumlah penduduk (Mardun. Keadaan Penduduk menurut Jenis Kelamin Keadaan penduduk dapat dilihat dari jenis kelaminnya. 1996). Berarti dalam tiap-tiap luasaan wilayah 1 km2 terdapat 2 sampai 3 jiwa menggarap. papan. selama tiga tahun terakhir ini juga terus bertambah. dampak yang ditimbulkan yaitu semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan sandang. Tabel 3 Keadaan Penduduk menurut Jenis Kelamin di Desa Matesih Tahun Jenis Kelamin . dan lain – lain. dan budaya akan semakin kompleks. Ditambah lagi kesuburan tanah pertanian dan letak desa yang sangat strategis. hal ini berarti dalam 1 ha luas lahan pertanian terdapat 28 sampai 29 jiwa yang menempatinya.penduduk yang menempati satu wilayah seluas 1 km2. Faktor yang mempengaruhi semakin bertambahnya kepadatan penduduk di Desa Matesih ini adalah semakin bertambahnya penduduk dari tahun ke tahun. politik. Diharapkan jumlah itu bisa c. Apabila kepadatan di daerah ini terus meningkat.2 milyar manusia atau 80 % dari total penduduk dunia. ekonomi.

Ratarata sex ratio selama 3 tahun mulai tahun 2004. Efek atau dampak dari perbedaan jumlah penduduk laki – laki dan perempuan antara lain adalah dengan adanya kesetaraan gender atau kebebasan yang sama antara laki – laki dan perempuan dalam memperoleh atau mencari pekerjaan.009 = 92.11 yang berarti bahwa bila terdapat 92 penduduk laki-laki maka ada 100 penduduk perempuan.009 12.37% 3.011 3.711 3. 2007.034 4.009 4.11% Data hasil pengamatan mengenai keadaan penduduk menurut jenis kelamin di Desa Matesih kita dapat mengetahui bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki.687 3.703 11.017 52.052 4.034 Jumlah laki .57% = 92.laki = 91.40% = 92.009 3. Perbedaan jumlah antara jumlah .703 x100 % 4.687 x100 % 4.711 x100 % 4. selain itu dengan adanya perbedaan jumlah tersebut menjadikan posisi laki – laki sangat penting terutama dalam hal pengolahan sawah dan kerja – kerja yang mengharuskan tenaga yang besar.26 3.74 % Sumber : Data Sekunder Sex Ratio = Jumlah perempuan ×100 % Tahun 2004 sex ratio Tahun 2007 sex ratio Tahun 2008 sex ratio Rata – rata = = = 3. 2008 di Desa Matesih adalah 92.700 47.Laki-Laki 2004 2007 2008 Σ x Perempuan 4.

sehingga kadang perempuan yang menggantikan. d. Tabel 4 Keadaan penduduk menurut umur di Desa Matesih Umur 0–4 5–9 10 -14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 . Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat menunjukkan beberapa hal antara lain. 1993). Jenis kelamin penduduk dibedakan menjadi laki-laki dan perempuan. Sex ratio yaitu nilai perbandingan antar jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan ( Sumitro. Keadaan Penduduk Menurut umur Tidak semua umur merupakan usia produktif.laki – laki dan perempuan juga dapat mengakibatkan adanya kesulitan dalam mencari pekerja laki – laki untuk menggarap sawah. usia produktif adalah penduduk yang berumur 15 – 65 tahun.59 60 + ∑ ∑ produktif ∑ non produktif 2004 487 562 527 573 743 727 502 624 627 514 591 307 937 7721 5208 2513 2007 322 508 545 578 597 567 574 763 578 555 572 570 1224 7720 5354 2366 2008 326 500 545 577 592 467 577 760 578 554 573 469 1194 7712 5147 2565 Sumber : Data Sekunder .

jumlah penduduk usia tidak produktif terbesar dapat dilihat pada tahun 2008 (ABT 49.ABT (Angka Beban Tanggungan) = ABT tahun 2004 ABT tahun 2007 ABT tahun 2008 Rata –rata = = = Σ non produktif Σ produktif ×100 % 2513 x100 % 5208 = 48.19%). serta migrasi ke daerah lain karena alasan pernikahan dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan tingkat ketergantungan penduduk usia non produktif terhadap usia produktif sebesar 47. Perubahan ini dikarenakan jumlah penduduk produktif dan non produktif selalu berubah dikarenakan adanya kematian.42% 2366 x100 % 5354 2565 x100 % 5147 Angka Beban Tanggungan adalah perbandingan jumlah penduduk usia non produktif dengan jumlah penduduk usia produktif .42% yang berarti bahwa tingkat kesejahteran penduduk Desa Matesih belum dikatakan baik karena masih banyak warga yang menjadi tanggungan warga lain di Desa Matesih tersebut. Angka beban tanggungan akan semakin besar bila penduduk usia non produktif makin besar bila dibandingkan penduduk usia . merantau atau meninggalkan kampung halaman dan menetap di desa lain.42%. Data hasil pengamatan mengenai keadaan penduduk menurut umur maka dapat dipahami bahwa dari 100 orang Desa Matesih menanggung beban tanggungan sebesar 47. Dari data diatas dapat diketahui bahwa ABT dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Rata – rata ABT dalam tiga tahun terakhir adalah 47.83%) sedangkan jumlah penduduk usia produktif terbayak pada tahun 2007 (ABT 44.42% atau dalam 100 orang di Desa Matesih terdapat 47 orang yang bergantung terhadap yang lainnya.19% = 49.25% = 44.83% = 47.

e. Makin besar ABT makin besarlah beban tanggungan untuk orang-orang yang belum dan tidak produktif lagi (Marbun. begitu juga di Desa Matesih rata-rata hanya sampai SLTP dan hanya sedikit yang sampai Perguruan Tinggi.produktif. Keadaan Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan di daerah pedesaan umumnya masih rendah. 1996). Berikut ini disajikan secara rinci tentang keadaan penduduk menurut tingkat pendidikan di Desa Matesih : Tabel 5 Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Matesih Pendidikan TK SD SLTP SLTA Akademi / PT Σ 2004 525 615 810 488 200 2638 2007 256 696 765 527 197 2441 2008 267 696 765 527 298 2553 Sumber : Data Sekunder Data hasil pengamatan mengenai keadaan penduduk menurut tingkat pendidikan di Desa Matesih dapat diketahui bahwa tamatan .

Keadaan Penduduk menurut Mata Pencaharian. SD. hal ini terjadi karena banyak diantara warga tidak meneruskan pendidikan setelah mereka lulus dari sekolah tingkat SLTP/sederajat (Wajib belajar 9 tahun). Namun ada juga dari mereka yang meneruskan pendidikan sampai pada tingkat SLTA/sederajat. f. Dari tahun ketahun jumlah penduduk yang tamat pendidikan baik TK. begitu juga di Desa Matesih rata-rata .terbanyak adalah SD. sedangkan anak-anaknya sebagian besar tamat SLTP / SMU karena mengikuti wajib belajar 9 tahun. taraf pendidikan penduduk Indonesia pada umumnya masih rendah. Biasanya yang hanya tamat SD adalah para orang tua. namun dengan presentase yang sangat kecil sekali disbanding dengan penduduk yang putus sekolah setelah mengenyam pendidikan tingkat SLTP atau penduduk yang sama sekali tidak pernah duduk di bangku sekolah. Tingkat pendidikan warga Desa Matesih relatif masih rendah. SMU. Pola ketimpangan pendidikan yang terjadi menyebabkan keadaan pedesaan selalu memprihatinkan ( Dumory. Akademi maupun PT mengalami peningkatan karena jumlah penduduk yang terus menerus bertambah dari tahun ketahun akibat adanya kelahiran dan datangnya penduduk baru dan menetap. Manusia dalam memenuhi kebutuhannya memiliki mata pencaharian yang beragam. SLTP. Dalam perspektif sparsial. Menurut Dumory (1997). penduduk yang berusia lebih dari 10 tahun yang tidak sempat mengenyam pendidikan SLTP jauh lebih banyak diperkotaan. Jumlah penduduk yang berpendidikan sampai PT masih sangant sedikit. 1997). Sampai tahun 1991 lebih dari ¾ penduduk yang berusia lebih dari 10 tahun tidak sempat mengenyam pendidikan SLTP bahkan lebih dari 20 % penduduk berusia lebih dari 10 tahun tidak sekolah sama sekali. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan penduduk mengenai arti penting pendidikan dan biasanya jika sudah tamat SLTP mereka langsung bekerja.

bermata pencaharian wiraswasta dan petani. Berikut ini disajikan secara rinci tentang keadaan penduduk menurut mata pencaharian di Desa Matesih : Tabel 6 Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Matesih Mata Pencaharian PNS ABRI Swasta Wiraswasta Petani Pertukangan Buruh tani Pensiunan Angkutan 2004 129 12 175 760 521 14 120 36 74 2007 222 17 259 922 326 135 230 39 167 2008 222 17 259 922 326 135 230 39 167 .

Frekuensi tani pada tahun 2007 dan 2008 sama besarnya yaitu 326 dan frekuensi buruh tani tahun 2007 dan 2008 sama besar yaitu 230. g. petani. jasa dll ). Dampak positif globalisasi dan komunikasi adalah kemajuan pembangunan. wiraswasta. Hal ini disebabkan karena Desa Matesih yang sebagian besar berupa areal pertanian dengan tingkat pendidikan yang masih rendah. 1993 ). Keadaan Penduduk menurut Agama Masyarakat pedesaan sudah menganut agama. Hal ini disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang mereka punya. Jumlah penduduk yang bekerja sebagai PNS dan ABRI sangat sedikit. kebanyakan dari masyarakat sudah tidak mengenal atheis dan mungkin hanya sebagian kecil saja yang masih menganut kejawen. dapat meningkatkan semangat belajar. mburuh tani.Jasa Lainnya ∑ 25 1866 158 12 2487 158 12 2487 Sumber : Data Sekunder Data hasil pengamatan mengenai kedaan penduduk menurut mata pencaharian di Desa Matesih dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Sementara jika dikorelasikan dengan pekerjaan responden ( PNS. Wawasan luas dan pengetahuan yang luas dan pengetahuan yang luas pula ( Bintarto. Sebagai petani mereka tidak perlu gelar pendidikan atau sekolah tinggi karena menurut mereka jika mempunyai ketrampilan seperti mencangkul sudah bisa bekerja sebagai petani. Berikut ini disajikan secara rinci tentang keadaan penduduk menurut agama di Desa Matesih Tabel 7 Keadaan Penduduk Menurut Agama di Desa Matesih Agama 2004 2007 2008 . pekerjaan yang cocok hanyalah sebagai petani.

Semua warga desa masih saling mengenal dengan dekat dan rapat. Adanya perbedaan agama yang dianut oleh warga / masyarakat kadang dapat munculnya penggolongan sosial pada masyarakat. memiliki sifat-sifat komunal (gotong royong. . 1997 ). Warga Desa Matesih mayoritas beragama Islam. semua seperti keluarga sendiri dan tolong menolong dilakukan tanpa pamrih. yasinan. berdasarkan agama yang dianut. kelompok penganut suatu agama tidak lebih tinggi statusnya daripada penganut agama lain. tolong menolong) dan bersifat relegius. sehingga kehidupan sehari-hari warga serta bentuk/jenis kegiatan warga dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. serta kegiatan kerohanian lain yang sering sekali dilaksanakan oleh warga Desa Matesih secara rutin. sehingga perbedaan agama tidak boleh dijadikan penyebab terjadinya kesenjangan antar pemeluk agama yang berbeda ( Samuel. jumlah tertinggi tahun 2004 (7417 orang). sedangkan yang menganut agama Kristen hanya sedikit namun diantara warga mempunyai ikatan-ikatan yang kuat. Secara sosiologis penggolongan kelompok agama merupakan penggolongan horisontal atau datar. tahlilan.Islam Kristen Katolik Hindu Budha ∑ 7417 237 67 7721 7390 246 73 4 7720 7385 243 73 4 7712 Sumber : Data Sekunder Sebagian besar penduduk Desa Matesih beragama Islam. Hal itu jelas terlihat dengan adanya kegiatan-kegiatan kerohanian agama Islam seperti pengajianpengajian.

Struktur Organisasi Pemerintah Desa. KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN KASI PEREKONOMIAN DAN PEMBANGUNAN KASI KESEJAHTERAAN RAKYAT . BPD KEPALA DESA SEKDES KAUR UMUM KAUR KEUANGAN KASI PEMERINTAHAN. Struktur organisasi pemerintahan Desa Matesih yaitu struktur organisasi pemerintahan desa dengan 3 seksi.4.

Ketentraman.Kadus Mranggen . SH : Daryono : Sukatno : Kristianto : Ganang Purnomo : Sugiyono : Hardi : Parwoto : Sunarno : Warno : Sri Hadi S.Kadus Pandean .Kadus Sabrang Wetan Adapun perangkat-perangkat desa organisasi pemerintahan desa tersebut antara lain: : Suharna : Parwoto.Kadus Krapyak .Kasi Kesejahteraan Rakyat . dan Keamanan : Sri Handayani .Kaur Umum .Kasi Pemerintahan. : Ratman : Tarso Wiyono : Sugeng Yulianto : Agus Jarwadi : Warsito : Widodo.Kadus Lor Pasar .Kasi Perekonomian dan Pemerintahan .Kadus Sabrang Kulon .KEPALA DUSUN KEPALA DUSUN KEPALA DUSUN Gambar 1 Struktur Organisasi Pemerintah Desa Matesih Di bawah ini adalah nama – nama Pejabat Desa : .Kadus Kalongan .Kadus Panderejo .Kepala Desa .Kadus Sidoadi .Kadus Moyoretno .Kadus Bayam .Kaur Keuangan .Kadus Kuncung .Kadus Banaran .Kadus Cangkring . ST : Tukimin : Larno Matesih dalam struktur .Sekretaris Desa .

pembinaan tugas – tugas pemrintahan lainnya yang ditugaskan oleh pemerintah dan pemda. b) Carik Berkewajiban sebagai tangan kanan kepala desa. pengangkatan . Berhak mendapatkan gaji berupa tanah bengkok seluas 1 hektar. Berewajiban memelihara dan meningkatkan keamanan dan ketertiban di wilayah desanya. mengajukan pencalonan. olahraga. olahraga. f) Kaur Kesra tugas dan wewenangnya mengurusi kemasyarakatan. melaksanakan tugas – tugas lain di bidang pemerintahan. Berhak mendapatkan gaji berupa tanah bengkok seluas 1 hektar. Berhak mendapatkan gaji atau upah berupa tanah bengkok 5 hektar. mengatur tata tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan dan pembangunan desa.atau pemberhentian perangkat desa kepad pejabat yang berwenang. pembangunan. Berhak mendapat gaji atau upah berupa tanah bengkok seluas 2.a) Kepala Desa memiliki tugas melakukan pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat desanya. e) Kaur Keuangan tugas dan wewenangnya mengelola keuangan RTD ( Rumah Tangga Desa ). penyelenggaraan koordinasi fungsional di desa. mewakili desanya di dalam dan diluar pengadilan. Berhak mendapatkan gaji berupa tanah bengkok seluas 1 hektar. memelihara dan meningkatkan hasil – hasil pembangunan di desanya. Berkewajiban mengurusi urusan tanah. . c) Kaur Pemerintahan tugas dan wewenangnya mengawasi kependudukan. mengusulkan suatu bangunan. Tugas dan wewenangnya membantu tugas kepala desa.5 hektar. dan seni. Berkewajiban mengawasi kegiatan pembangunan masyarakat dan berhak mendapatkan upah berupa tanah bengkok seluas 1 hektar. dan seni. d) bangunan Kaur Pembangunan tugas dan wewenangnya merancang – bangunan desa. dan kemasyarakatan. Kewajibannya mendatakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Kewajibannya mencatat pengeluaran dan pemasukan desa.

Berhak mendapatkan upah berupa tanah bengkok seluas 1 hektar. Berhak mendapatkan gaji berupa tanah bengkok seluas 1 hektar. menangani masalah pengairan. menyampaikan pesan. Kewajibannya membawahi dan memimpin beberapa RT.g) Kebayan tugas dan wewenangnya menyampaikan undangan. Jogo Boyo tugas wewenang dan kewajibannya menagani masalah keamanan. Berhak mendapatkan gaji tanah bengkok seluas 1 5. Berhak mendapatkan gaji tanah bengkok seluas 1 hektar. h) hektar. sepeda motor. 2004 280 278 14 14 26 31 43 686 2007 232 739 153 19 9 26 31 1209 2008 232 742 155 18 9 26 36 1218 . menagani kegiatan keagamaan. i) Ulu – ulu tugas wewenang dan kewajibannya mencarikan stok air. Sarana dan Prasarana Tabel 8 Sarana Transportasi di Desa Matesih Sarana Transportasi Sepeda Sepeda motor Mobil pribadi Truck Angkota/Angkudes Bus Umum Lain-lain ∑ Sumber : Data Sekunder Sarana transportasi yang biasa dan sering digunakan oleh warga Desa Matesih ialah : sepeda. menarik PBB. talak. mobil pribadi. cerai serta kematian. j) Modin tugas wewenang dan kewajibannya menagani masalah pencatatan nikah.

bus umum. Berdasarkan tabel monografi tahun 2007 dan 2008 tidak ada perubahan . jalan desa.angkota/angkudes. Jumlah penduduk yang memiliki sepeda motor dan mobil dari tahun ke tahun semakin bertambah. hal ini berarti tingkat ekonomi yang mereka miliki semakin meningkat dan dari data tersebut Desa Matesih mampu dikatakan sebagai daerah yang mempunyai penduduk dengan tingkat kehidupan dan kesejahteraan yang cukup. Berdasarkan tabel dapat dipahami bahwa rata-rata penduduk Desa Matesih memiliki sepeda dan banyak juga yang telah menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi mereka sehari-hari. Tabel 9 Sarana Perhubungan di Desa Matesih Sarana Perhubungan Jalan: − − − − 2004 55 8 8 8 1 80 2007 56 8 1 1 2 68 2008 56 8 1 1 2 6 Dusun Desa Kabupaten Propinsi Jembatan Stasiun kereta api terminal ∑ Sumber : Data Sekunder Sarana perhubungan yang ada di Desa Matesih ialah jalan (antar dusun/lingkungan. truck. serta jalan menuju kabupaten) dan jembatan. Data hasil pengamatan mengenai sarana transportasi juga dapat dipahami bahwa dengan adanya sarana transportasi yang mereka miliki maka memudahkan mereka untuk dapat menjalankan aktifitas mereka serta mampu memudahkan mereka untuk menyinkat waktu serta tenaga untuk menempuk perjalanan menuju tempat yang mereka tuju atau tempat mereka beraktifitas. dan lain-lain.

Evaluasi terhadap lancarnya jalan cukup memberi gambaran orbitasi pedesaan. Pada tahun 2004 belum ada jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Matesih dengan daerah disekitarnya. Prasarana perhubungan merupakan faktor utama dalam perkembangan desa. Perdagangan: -Toko -Warung -Kaki lima -Super market -Pasar desa 2. sehingga mereka harus memilih jalan memutar untuk menuju daerah yang bersangkutan. 4. jalan desa. 1991). Prasarana perhubungan meliputi jalan aspal. jalan batu. universal serta berperan penting bagi hubungan antar desa dengan kota terutama di dalam lalu lintas ekonomi. -Pasar Kota Perkoperasian: -Lumbung desa -Koperasi simpan pinjam -KUD 3. Tabel 10 Sarana Perekonomian di Desa Matesih No 1. -Badan kredit Bidan Dokter 1 4 3 6 5 1 4 Ada 4 6 3 1 4 Ada 4 6 3 141 172 19 3 145 176 40 2 1 145 177 41 3 1 Nama 2004 Jumlah 2007 2008 .sistem pembangunan yang terlalu nyata melainkan pembangunan dan sarana perhubungan yang ada di Desa Matesih dari tahun ke tahun hampir sama. Prasarana perhubungan lebih khusus. Pada tahun 2007 di Desa Matesih mulai membangun jalan kabupaten untuk menghubungkan daerah yang ada disekitarnya dengan kabupaten sehingga Desa Matesih menjadi desa yang strategis. jalan tanah dll (Sajogyo dan Pudjiwati.

sehingga mereka mencari tambahan. Pedagang desa tersebut umumnya melengkapi kebutuhan dagangnya ke penjual dari warung. Lippo . Hal itu menyebabkan tingkat kebutuhan masyarakat Desa Matesih yang semakin bertambah pula. Kita mengenal adanya perusahaan besar ( raksasa ) semisal kelompok perusahaan Gudang Garam. selain itu hal yang mempengaruhi pertambahan jumlah warung ialah karena jumlah penduduk yang terus bertambah. Industri rumah tangga juga meningkat disebabkan karena penghasilan dari usaha pertanian tidak atau kurang begitu menguntungkan bagi masyarakat. dan koperasi simpan pinjam serta bidan dan dokter di bidang kesehatan serta pengacara. karena hasilnya cukup menguntungkan maka di dikuti oleh penduduk yang lain. warung. KUD. Tentu saja hal ini menyulitkan dalam pengelolaannya. karena jika tidak dijual dalam waktu lama akan rusak. Pengacara ∑ 354 5 387 5 389 Sumber : Data Sekunder Sarana perekonomian di Desa Matesih berupa toko. Adanya industri rumah tangga juga dipengaruhi kemampuan wirausaha masyarakat yang semakin baik. Hal ini terjadi karena adanya sejumlah penduduk/warga yang berkeinginan untuk menambah pendapatan. Ditambah lagi harga beras yang selalu berubah – ubah. perkoperasian lumbung desa. Pada tahun 2007 mengalami peningkatan yaitu dari jumlah warung yang awalnya ada 172 warung menjadi 176 warung. Institusi ekonomi berperan dalam melaksanakan produksi dan distribusi barang dan jasa di dalam masyarakat.5. disaat panen melimpah harganya malah anjlok. Dalam masyarakat kita jumpai berbagai macam bentuk organisasi yang terlibat dalam proses produksi dan distribusi barang dan jasa. Jumlah warung meningkat dari tahun ke tahun. Wirausaha berpikir bahwa jika membuka usaha pertokoan dan sejenisnya akan ada peluang untuk berkembang dan berhasil.

sedangkan frekuensi hubungan antara warga dengan kerabat (orang lain) yang jaraknya jauh mengalami peningkatan sehingga sarana komunikasi seperti telepon seluler sangat dibutuhkan. gerabah. 1993 ). Tabel 12 Sarana Pendidikan di Desa Matesih Sarana Pendidikan 2004 2007 2008 2004 2 6 8 2007 2 2 4 8 2008 2 5 4 11 . hal ini disebabkan karena semakin maraknya telepon seluler yang mudah diakses dan lebih praktis. Pesawat TV dan radio mempermudah penduduk Desa Matesih dalam mendapatkan informasiinformasi yang ada.Sehingga dapat dipahami bahwa dengan adanya sarana-sarana komunikasi yang ada di Desa Matesih tersebut mampu memudahkan warga untuk berkomunukasi dengan warga lain kaitannya dengan dibangunnya pemancar telepon seluler di Desa Matesih. Tabel 11 Sarana Komunikasi di Desa Matesih Sarana Komunikasi Kantor telekom Kantor pos Kantor pos pembantu Pemancar radio Pemancar telepon seluler Stasiun relley televisi Wartel Warnet ∑ Sumber : Data Sekunder Data hasil pengamatan mengenai sarana komunikasi di Desa Matesih dapat dipahami bahwa penduduk Desa Matesih telah maju dan telah mampu mengakses informasi. dsb ( Sunarto.maupun perusahaan kecilditinjau dari modal dan tenaga kerja semisal industri tikar anyaman. Selain itu mulai tahun 2004 telah ada wartel di Desa Matesih yang jumlahnya 6 buah dan berkurang pada tahun berikutnya (pada tahun 2007) yaitu sebanyak 4 buah wartel.

Pendidikan merupakan variabel input (masukan) yang memiliki determinasi kuat terhadap kualitas manusia (individu) dan penduduk (sosial). lingkungan dan pendidikan. Masukan ini akan menentukan juga kualitas penduduk secara . selain itu dengan adanya pendidikan maka warga mampu mengasah pengetahuan dan ketrampilan sehingga mampu membuat warga desa memiliki pengetahuan yang baik dan luas. Umumnya masyarakat Desa Matesih menjalani wajib belajar 9 tahun sehingga sewaktu akan memasuki jenjang sekolah SLTP mereka keluar dari desa mencari sekolah yang ada di luar desa (daerah kecamatan/kabupaten). dan kualitas nonfisik seperti kecerdasan. Data hasil pengamatan mengenai sarana pendidikan di Desa Matesih maka dapat dipahami bahwa dengan adanya fasilitas pendidikan berupa bangunan sekolah tersebut anak anak penduduk desa dapat bersekolah dengan jarak antara sekolah dan rumah yang dekat. kualitas manusia sebagai individu seperti bobot. emosi.Kelompok Bermain TK SD SLTP/Mts SMA/MA Institut/Sekolah Tinggi Akademi Universitas ∑ Sumber : Data Sekunder 6 5 2 13 7 6 3 16 7 6 3 16 Sarana pendidikan di Desa Matesih berupa sekolahan TK. sedangkan pada tahun 2007 ke 2008 tidak mengalami peningkatan. budi dan iman memerlukan masukan yang mencukupi seperti gizi. tenaga. SLTP/Mts pada tahun 2004 sampai 2007 mengalami peningkatan. SD. daya tahan.

disiplin sosial. solidaritas dan subsidiaritas ) ( Cordodo. hal ini menunjukkan bahwa Desa Matesih dari tahun ketahun telah mengalami peningkatan di bidang kesehatan. kesakitan. 2. Tabel 13 Sarana Olahraga di Desa Matesih Sarana Olahraga Lapangan sepak bola Lapangan Bulu tangkis Lapangan Bola volly Tenis meja Tenis ∑ Sumber : Data Sekunder Data hasil pengamatan mengenai sarana olahraga di Desa Matesih dapat dipahami bahwa sarana olah raga Desa Matesih telah lengkap yaitu diantara jenis olah raga yang digemari sebagian besar warga. harapan hidup. Nama Rumah sakit Rumah bersalin Klinik Puskesmas Posyandu ∑ 2004 2 2 2 1 14 21 Jumlah 2007 2008 4 4 1 1 16 16 21 21 2004 1 1 14 1 17 2007 1 1 14 13 10 39 2008 1 1 14 13 10 39 Sumber : Data Sekunder Data hasil pengamatan mengenai sarana kesehatan di Desa Matesih dapat dipahami bahwa pada tahun 2004 telah dibangun dua buah rumah sakit swasta. Sarana olah raga dari tahun ke tahun selalu sama yaitu memiliki satu lapangan untuk setiap jenis olah raga yang memang pada umumnya daerah/desa yang memiliki satu lapangan olahraga yang sesuai dengan jenis olahraga merupakan desa yang telah lengkap sarana dibidang olahraga dan bias dikatakan sebagai desa yang baik (efektif). Namun pada tahun . Desa Matesih telah memiliki lapangan olahraga sesuai dengan jenis olah raganya. Tabel 14 Sarana kesehatan di Desa Matesih No 1.fisik ( angka kematian. 4. 5. non fisik. etiket pergaulan. 3. 1997 ).

b. Adapun karakteristik organisasi sosial tersebut adalah : a. kelompok tani. hal tersebut mungkin saja terjadi karena rumah bersalin dan posyandu semakin bertambah dan biayanya dapat dijangkau oleh masyarakat di Desa Matesih karena biaya pengobatan di rumah sakit swasta relatif mahal apalagi bagi penduduk di Desa Matesih. Ketua PKK ini selain dibantu oleh wakil. karang taruna. dan sekretaris PKK. dan gabungan kelompok tani. Ini berkegiatan di bidang pengembangan pendidikan keluarga yang mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu dan remaja putri. demo memasak. Karena kesehatan masyrakat yang semakin menurun akan meningkatkan tingkat kematian. dia juga dibantu oleh bendahara selaku pengurus masalah keuangan. Pengajian . Masyarakat akan mencapai produktifitas maksimal jika dalam keadan sehat (Sudarto. Adapun kegiatan yang dilakukannya adalah berupa pendidikan non formal seperti memberikan ketrampilan yang dapat memberikan nilai tambah dalam mendorong perekonomian rumah tangga (menjahit. 2000). PKK Organisasi yang diketuai oleh ibu RT atau ibu RW yang bersangkutan. pengajian.2007 dan 2008 tidak lagi terdapat rumah sakit. Organisasi Sosial Organisasi sosial kemasyarakatan yang dijumpai di Desa Matesih ini adalah PKK. 6. membuat kerajinan). Penyakit akan menimbulkan tingkat kematian sehingga akan berpengaruh terhadap produktifitas dan kualitas masyarakat.

bapak yang aktif di kegiatan keagamaan. ibu – ibu dan juga bapak . 8. bendahara dan seksi-seksi yang mengurusi kegiatan keagamaan. dibantu sekretaris. Pengurus Karang Taruna dibentuk melalui musyawarah anggota. Selain itu setiap tahun mereka mengadakan study tour atau rekreasi ke luar daerah. Karang Taruna Keanggotaanya terdiri dari pemuda-pemuda di Desa Matesih yang berumur 16 . Tempat arisan di rumah anggota – anggota arisan dan digilir secara merata. Tipologi Desa Desa Matesih termasuk desa swadaya. Kegiatan Karang Taruna meliputi kerja bakti. Group Sosial Adapun group sosial yang ada di Desa Matesih adalah group kelompok arisan.Keanggotaannya terdiri dari pemuda . d. Biasanya mengadakan kegiatan ini 2 minggu sekali. bahkan bisa saling simpan pinjam alat maupun uang.25 tahun. Kepengurusannya diketuai oleh seorang ketua. sinoman yaitu membantu penduduk yang sedang mengadakan hajat. Tipologi Desa a. pengajaran bahasa arab dll.pemuda dan remaja desa . Desa swadaya adalah desa yang dapat berkembang dengan segala potensi yang dimilikinya. Program kerja dari organisasi ini adalah mengadakan kegiatan pengajian rutin. pelatihan ceramah. c. 7. pada organisasi ini para petani dapat bermusyawarah maupun bertukar pendapat antar para petani. Kelompok Tani Keanggotaannya terdiri dari para petani. Arisan Biasanya arisan dilakukan dua minggu sekali. . kholaqohan. Dalam kelompok ini juga sering ada pembagian pupuk. dan penyelenggaraan 17-agustusan.

Selamatan yang ada hubungannya dengan keagamaan Tanggal 1 syuro. anak umur 35 hari (selapanan). Indikator kedua sifatnya berkembang sejalan dengan kemajuan desa tersebut (Kusnaedi. Tradisi ini hingga sekarang masih tetap dilaksanakan terutama oleh orang – orang tua yang telah berumur di atas 50 tahun karena mereka telah terbiasa melakukan tradisi itu sehingga jika tidak . tanggal 12 mulud.selamatan Upacara yang dilakukan dalam kehidupan sejak dalam kandungan sampai lahir. sehingga sudah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Desa Matesih dikategorikan sebagai desa swadaya karena hampir seluruh penduduknya mempunyai modal atau kekayaan. b.dalam arti bahwa sumber daya alam dan sumber daya manusianya dapat mendukung desa tersebut untuk berkembang. pertambangan. Setelah anak lahir ( brokohan ). anak umur 5 hari ( sepasaran ). 6 atau & bulan tingkeban ). merupakan selamatan – selamatan : anak dalam kandungan umur 3 bulan ( telonan ). Adat Istiadat Adat istiadat yang ada dan masih dipertahankan di Desa Matesih adalah: a. tanggal 15 ruwah. Selamatan . iklim. dan sebagainya. perikanan. potensi hutan. Indikator pertama bersifat relatif tetap yaitu daya dukung alam dan jumlah penduduk. kesuburan tanah. dan akhirnya berpengaruh pula pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga Desa Matesih itu sendiri. 8 atau 9 bulan ( mrocoti). dan lain-lain. Tipologi desa adalah pengelompokkan atau pengklasifikasian desa berdasarkan semua aspek kehidupan baik fisik maupun non fisik. 9. 1995). Daya dukung alam menyangkut potensi geografis.

Penguasaan Tanah Secara Kelembagaan Hubungan Kerja Pertanian a. Sistem bagi hasil dilakukan bila pemilik lahan melimpahkan pengolahan tanahnya kepada orang lain dengan pembagian hasil sesuai dengan kesepakatan bersama kedua pihak. Pada sistem sewa. Tanah bengkok diberikan kepada pamong desa selama masa kepengurusannya sebagai pengganti gaji. dan biasanya bersih desa dilakukan setahun sekali. Sistem penguasaan tanah yang masih dijumpai di desa ini antara lain sistem gogolan. Biasanya setiap 1 syuro dilakukan penyembelihan kambing dan diletakkan di tempat keramat c. tetapi ditanami pada musim penghujan. Untuk pembagian kas lahan . Bentuk penguasaan tanah secara tradisional yang masih dijumpai adalah tanah bengkok. sistem gadai. Di Desa Matesih terdapat sistem gogolan dimana pengolahan tanah yang dilakukan pada musim kemarau. b. yaitu sistem penguasaan tanah dimana seseorang/petani menyewakan tanahnya pada orang lain untuk dikelola dengan membayar berupa uang diawal sebelum petani menggarap pada waktu tertentu. dan tanah titisoro. Sawah hak milik adalah sawah milik pribadi dimana seseorang mempunyi kuasa penuh atas tanah sawah yang dimilikinya termasuk “sewalik” atau sertifikat hak milik. sistem sewa. Bersih Desa Bersih desa dilakukan dengan cara melakukan kerja bakti pada siang dan pagi harinya. sistem bagi hasil dan sistem hak milik. biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mendadak.dilaksanakan akan terasa tidak enak atau tidak nyaman. tanah gogolan tanah yasan. Sistem gadai adalah sistem penguasaan tanah dimana pemilik tanah menyerahkan tanahnya untuk menerima pembayaran sejumlah uang tunai dengan ketentuan pemilik tersebut berhak lagi setelah mengembalikan uang yang pernah diterimanya. Malam harinya diadakan pagelaran wayang kulit. 10.

Kelembagaan hubungan kerja yang masih dijumpai seperti tolong menolong ( sambatan ) dan gotong royong.000. Dalam menentukan besarnya upah berdasarkan kesepakatan petani/penggarap dan buruh tani. namun untuk sistem borongan upahnya tergantung kesepakatan. tanah tersebut merupakan tanah milik bersama yang dikerjakan secara bergilir. tetapi ditanami pada musim penghujan. c. yaitu tanah yang diolah pada musim kemarau..000. Buruh tani yaitu tidak mempunyai lahan usaha tani sendiri tapi mengerjakan lahan usaha tani milik orang lain dengan mendapat upah. d. Sekarang umumnya mereka dibayar dengan sistem upah. mengolah tanah. Selain itu ada juga bentuk tanah gogolan di desa Matesih. Untuk buruh tani terdapat sistem harian dan sistem borongan. Sedangkan tanah titisoro adalah tanah milik bersama yang dilelang pada orang yang mau menggarapnya. menyiangi. Upah borongan biasanya dipakai dalam kegiatan panen.-. tidak diwajibkan ikut tapi karena ada sifat “ewuh” atau merasa . penanaman. Upahnya sebesar Rp 10.ditentukan menurut tingkat jabatan pamong desa. Tetapi untuk saat ini hal itu sudah jarang. dan memelihara tanaman.sampai Rp 15. dan tanam. Sistem penguasaan tanah yang masih dijumpai adalah: Petani penggarap yaitu petani yang menggarap lahan usaha tani milik sendiri. Untuk sambatan misalnya membantu tetangga/saudara pada saat panen. Petani penyakap yaitu petani yang tidak mempunyai lahan usaha tani sendiri tetapi mengerjakan lahan usaha tani milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Sedangkan untuk upah harian biasanya dalam kegiatan mengolah tanah. Petani penyewa yaitu petani yang tidak mempunyai lahan usaha tani sendiri tapi mengerjakan lahan usaha tani milik orang lain dengan sistem bayar di muka. tanam. Tanah yasan adalah tanah yang sejak membuka lahan sendiri dan mengelolanya juga dilakukan sendiri. Untuk gotong royong biasanya kerja bakti atau membuat saluran irigasi.

Buruh tani yang masih saudara/kerabat ikut membantu kegiatan rumah tangga majikan. hadiah lebaran) selain upah.tidak enak terhadap orang lain maka para penduduk ikut kerja bakti/ merasa diwajibkan. jagung hibrida. traktor dan sosrok. Kerja bakti dibagi – bagi dalam tingkat desa (RT). disel. biasanya jika di tingakat RT ada penduduk yang tidak ikut kerja bakti maka diganti dengan memberikan uang atau makanan kepada yang ikut kerja bakti sebagai gantinya. Jam kerja diperoleh dari hasil kesepakatan antara pemilik dan pekerja. Buruh tani dengan ikatan kerja tertentu akan mendapatkan jaminan lainnya (makan. dan sabit. Untuk sebagain orang yang lebih dihormati dapat digambarkan sebagai berikut: . 11. sehingga pendapatan semakin besar. perontok padi. jika tidak ikut kerja bakti dirasakan tidak mau bermasyarakat. hadiah lebaran) selain upah. Buruh tani tanpa ikatan/lepas mendapat jaminan lainnya (makan. Sistem Status Pelapisan Masyarakat a. Struktur masyarakat berdasarkan pekerjaan Sistem pelapisan masyarakat di Desa Matesih bersifat sederhana dan tidak mempengaruhi perbedaan-perbedaan antara golongan dalam bersosialisasi. Pupuk yang digunakan biasanya berupa pupuk kandang. Biasanya di Desa Matesih wanita hanya bekerja pada saat tanam dan penyiangan dan tidak ada perbedaan jam kerja per hari kerja menurut jenis kelamin. Dahulu upah buruh panen berupa bawon (bagian padi yang diterima oleh buruh panen) namun sekarang berupa uang. Teknologi yang diterapkan di sawah berupa bibit unggul untuk padi menggunakan IR 64. Untuk Tegal dan Pekarangan petani mengguanakan cangkul. TSP. urea. cangkul. foska.

pekarangan. Struktur penguasaan lahan Sedangkan struktur pelapisan masyarakat berdasarkan status penguassan tanah dapat digambarkan sebagai berikut: . sikapnya bukan karena pekerjaannya. dan sawah Buruh tani/penyakap : tidak memiliki pekarangan dan sawah Gambar 3 Struktur pelapisan masyarakat berdasarkan status petani c. b. Struktur pelapisan petani Untuk struktur pelapisan masyarakat petani berdasarkan status petani dapat distratifikasikan sebagai berikut: Kuli kenceng Kuli kendho Penduduk inti : memiliki rumah dan lahan pekarangan utama milik sendiri : memiliki rumah dan pekarangan namun tidak mempunyai sawah : memiliki rumah. setiap orang bisa saja berganti status setiap saat dan menaiki tingkat – tingkat tertentu. Pelapisan masyarakat Desa Matesih bersifat terbuka.Gambar 2 sistem status pelapisan masyarakat Sebenarnya di Desa Matesih orang lebih dihormati karena kebaikannya. Tapi masih ada beberapa yang menganggap orang dari pekerjaannya.

Sistem pelapisan ini bersifat terbuka.Gambar 4 Stuktur pelapisan masyarakat berdasarkan penguasaan tanah Petani penggarap memiliki status tertinggi meskipun bukan terbanyak jumlahnya sedangkan buruh tani berada pada paling bawah meskipun jumlahnya paling banyak. Seseorang yang memiliki tanah persawahan dianggap lebih kaya daripada yang tidak memiliki. Konflik – konflik intern masyarakat tidak pernah dijumpai. artinya setiap orang dapat sewaktu – waktu berganti status. Dalam hal ini tidak ada upaya untuk menyelesaikan konflik. yang semula hanya seorang buruh tani dapat meningkat statusnya menjadi penyewa. apabila terjadi konflik adalah hal biasa. dan buruh tani sebesar 30 %. Hal ini ditentukan oleh penilaian dalam masyarakat itu sendiri yang memang sudah mentradisi. petani penyakap 28 %. ilmu pengetahuan atau juga keturunan dari keluarga maka akan menjadikan bibit yang menumbuhkan adanya sistem pelapisan masyarakat. 12. kekuasaan. Selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai seperti uang atau benda – benda bernilai ekonomis. . Berdasarkan hasil pengamatan dapat dipahami bahwa stuktur pelapisan masyarakat yang berdasarkan penguasaan tanah warga Desa Matesih ialah sebagai petani pemilik penggarap sebesar 22 %. sedangkan konflik antar desa terkadang dijumpai apabila ada pemilihan kepala desa. Konflik Sosial Dengan masyarakat yang beragam dan jumlah yang banyak. karena konfik akan hilang sendiri/mereda seiring berjalannya waktu. Misalnya. petani penyewa 20 %. dengan status kepemilikan akan berakibat pada lebih tingginya tingkat pendapatan. Sedangkan dari segi ekonomi. tanah.

B. merasa tidak aman dan selanjutnya kehidupan di bidang – bidang perekonomian. dan sosial menjadi terganggu dan berakibat adanya pemenuhan kebutuhan hidup yang sulit. Di bawah ini disajikan secara rinci tabel identitas responden menurut umur dan status penguasan lahan di Desa Sambirejo: Tabel 15 Identitas Responden Menurut Umur dan Status Penguasaan Lahan di Desa Sambirejo No. pendidikan.Konflik antar desa tidak pernah terjadi karena masyarakat Desa Matesih sadar bahwa hal – hal tersebut tidak akan membuahkan hasil sama sekali. Identitas Keluarga Responden Sebagian besar masyarakat Desa Sambirejo yang berprofesi sebagai petani pada umumnya telah berusia matang yaitu di atas 30 tahun. malah akan menjadikan suasana menjadi mencekam . Karakteristik Responden 1. Masyarakat Desa Sambirejo yang sebagian besar bekerja sebagai petani berstatus petani pemilik penggarap. Nama Responden Umur (tahun) Status Pengolahan Petani Suami Istri 1 2 3 4 .

2. Sukir Bpk. 16.1. 15. 10. Reni Siman Jaino Nyamin Riono Pardi Parno Satimin Ibu Nijem Ibu Badriyah Ibu Karni Bpk. 8. Sukiman Bpk. Bejo Bpk. 21. Santo Bpk. 11. 23. 20. Sartono Ibu Wakinem Ibu Sinem Ibu Wakinem Ibu Karni Ibu Giyem Sono Sumito Sariman 57 40 55 55 55 41 55 54 30 49 50 35 50 40 61 55 50 50 50 42 70 64 45 40 √ √ √ √ √ √ √ √ 46 23 46 50 √ √ √ √ √ √ 49 35 59 √ √ 50 40 49 30 60 √ √ √ √ √ √ √ √ √ . 14. 9. Wartono Bpk. 4. 19. 24. 18. 22. 12. 5. 7. 6. 13. 3. 17.

25. Jurni 44 √ Σ % Sumber: Data Primer Keterangan : 1. 3. seperti membayar buruh ataupun melakukan bagi hasil. dengan usia rata-rata suami istri 30-60 tahun. Sedangkan jumlah petani . Sebagian besar responden memilih sebagai petani pemilik penggarap karena menurut asumsi mereka dengan mereka mengolah lahan dengan tenaga sendiri maka mereka dapat menghasilkan produksi yang maksimal tanpa mengeluarkan biaya tambahan. 4. Pemilik penggarap Penyewa Penyakap Buruh tani 20 80 3 12 2 8 Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas dari 25 responden di Desa Sambirejo adalah keluarga pemilik penggarap yang berjumlah 20 orang dengan persentase 80%. 2.

1996). Berikut ini disajikan data secara rinci tentang identitas responden menurut jumlah anggota keluarga dan tingkat pendidikan di Desa Sambirejo: .lainnya. Masyarakat Desa Sambirejo pada umumnya memiliki anggota keluarga yang tergolong besar. petani penyewa yaitu petani yang mengolah lahan milik orang lain dengan sistem membayar di muka. seperti petani penyakap ada 3 orang dengan persentase 12% dan buruh tani berjumlah 2 orang dengan persentase 8%. Tingkat pendidikan masyarakat di Desa Sambirejo masih relatif rendah. Status petani berdasarkan penguasaan lahan dibagi menjadi empat yaitu petani pemilik penggarap yaitu petani yang memiliki dan menggarap lahan miliknya sendiri. dan buruh tani yaitu petani yang mengolah lahan milik orang lain dengan sistem upah (Marbun. petani penyakap yaitu petani yang mengolah lahan milik orang lain dengan sistem bagi hasil.

2. 14. 23.90 3 2. 4. 22. 20.90 2 1. 3.86 21 19. 12. 17.70 1 0. 9. 25. 19. 24. 0-4 1. 1 1 2 2 2 1 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 4 3 1 1 1 2 2 1 2 2 2 2 3 3 2 1 1 3 1 2 5-14 Jumlah anggota keluarga Pria 15-65 1 2 1 > 65 0-4 Wanita 5-14 15-65 1 1 4 1 2 3 4 1 4 1 2 3 2 1 2 2 1 2 SD SMP SD SMP SLTA SD SD SD SD SD SD SMP SD SD SD SD SD SD SD MTS SD SD SD SD 4 2 1 2 1 1 5 SD SD SD 6 2 1 2 3 2 1 2 2 2 1 2 Suami > 65 SD SD SD SD SD SD SD SD SD SD SMP SD SD 3 2 1 SD SD SD SD SD 5 1 5 1 1 3 Istri SD 1 4 1 1 2 SMP 2 1 Pendidikan Anak SMA Akd PT ∑ % 4 3.70 40 36. 13.26 14 12. 18. 11. 8. 7. 5. 21.80 12 11 49 45 38 38. 15. 6.80 1 0.8 Sumber : Data Primer . 16.Tabel 16 Identitas Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga dan Tingkat Pendidikan di Desa Sambirejo No. 10.

Bila sudah memiliki suatu hal maka akan muncul keinginan untuk memperoleh atau mendapatkan sesuatu yang lainnya. Demikian pula halnya tentang definisi hidup cukup yang setiap orang mempunyai ukuran yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam mengartikan hidup cukup itu sendiri. Jumlah presentasi anggota keluarga pria yang masih berusia 0-4 tahun adalah 0% dan usia pada wanita adalah sebesar 2. Usia dan tingkat pendidikan akan mempengaruhi sikap dan pola pikir petani semakin matang usia petani maka pengalaman yang diperoleh semakin banyak dan semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka sikap dan pola pikirnya akan semakin maju (Marbun. 2. Sebagian besar keluarga responden pada usia produktif.70% dan usia pada wanita adalah sebesar 11 %. hal ini menunjukkan jika sebagian besar masyarakat Desa Sambirejo termasuk dalam kelompok usia produktif. maka beban tanggungan suami (KK) semakin kecil. jumlah presentasi anggota keluarga pria yang berusia >65 tahun adalah 0.86%. 1996). Pendidikan anak terbanyak adalah di tingkat SD yaitu sebesar 34.90% dan usia pada wanita adalah sebesar 0%.80%. Hal ini menunjukkan jika pendidikan kurang dianggap penting dan perlu oleh masyarakat sekitar.Data hasil pengamatan identitas responden menurut jumlah anggota keluarga dan tingkat pendidikan di Desa Sambirejo menunjukkan bahwa jumlah pria terbanyak pada usia 15-65 tahun yaitu sebanyak 36. Perilaku Responden dalam Kegiatan Mencari Nafkah Manusia merupakan makhluk yang tidak pernah merasa puas akan sesuatu. Berikut ini disajikan data tentang arti hidup cukup bagi petani di Desa Sambirejo: . Sedangkan untuk usia >65 tahun. jumlah presentasi anggota keluarga pria yang masih berusia 5-14 tahun adalah 3.70% dan begitu pula dengan jumlah wanita terbanyak yaitu pada usia 15-65 tahun yaitu sebanyak 45%. Untuk usia antara 5-14 tahun. Mayoritas pendidikan masyarakat Desa Sambirejo baik orang tua maupun anak-anak adalah SD.

a. dl Sumber: Data Primer Berdasarkan data hasil pengamatan mengenai arti hidup cukup bagi petani di Desa Sambirejo menunjukkan bahwa arti hidup cukup bagi petani di Desa Sambirejo ialah asalkan mereka bisa makan.Tabel 17 Arti Hidup Cukup Bagi Petani di Desa Sambirejo No. d. membeli pakaian. Masyarakat Desa Sambirejo masih termasuk masyarakat yang sederhana karena mereka hanya berfikir asalkan kebutuhan pokok mereka dapat terpenuhi hal tersebut sudah cukup bagi mereka. mempunyai rumah dan bisa menyekolahkan anak Bisa makan. . sedangkan untuk petani yang menganggap asal bisa makan. sepeda motor. mempunyai rumah. membeli pakaian sekedarnya. Presentase sebesar 24% untuk petani yang menganggap arti hidup asal bisa makan sehari-hari sekeluarga ialah dan yang menganggap asal bisa makan. mempunyai rumah. membiayai sekolah. membeli pakaian sekedarnya. dan bisa membeli kebutuhan sekunder seperti tanah. mempunyai rumah sederhana Bisa makan. membeli pakaian sekedarnya. TV. 1.membeli pakaian. membiayai sekolah. mempunyai rumah. dan bisa menyekolahkan anak memiliki presentasi sebesar 12%. dan mempunyai rumah sederhana dengan presentase sebesar 56%. membeli pakaian. sepeda motor. dan bisa membeli kebutuhan sekunder seperti tanah. dll adalah sebesar 8%. Uraian Apakah yang diartikan hidup cukup oleh responden: Asal bisa makan sehari-hari sekeluarga Bisa makan. TV. Hal ini disebabkan masyarakat Desa Sambirejo menganggap asal bisa makan itu sudah cukup sehingga kehidupan masyarakat di Desa Sambirejo mempunyai taraf kekayaan yang merata atau hampir sama. c. 6 14 3 2 24 56 12 8 ∑ % b. Hal ini menunjukkan jika sebagian masyarakat Desa Sambirejo tingkat kesejahteraannya sudah cukup baik.

Setiap orang mempunyai orientasi yang berbeda dalam kegiatan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.Sebagai makhluk biologis manusia mempunyai kebutuhan- kebutuhan biologis yaitu kebutuhan untuk melangsungkan hidupnya sebagai makhluk yang bernyawa dan mempunyai tuntutan nafsu. Tuntutan nafsu adalah tuntutan untuk kesejahteraan raga dan kesejahteraan jenisnya (Sri Wiyarti. Hal tersebut didasarkan atas kebutuhan dan usaha untuk dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari. 1991). Berikut ini disajikan data tentang kegiatan mencari nafkah masyarakat Desa Sambirejo: .

Tabel 18 Kegiatan Mencari Nafkah di Desa Sambirejo No. Sekedar melakukan usaha yang ada.60 3.56 5. Lainnya Selain usaha mencukupi kebutuhan hidupnya atau memenuhi keinginannya. pasrah (menerima) apa adanya b. Berdasarkan kemampuan yang ada saat ini c.78 c. 10 7 1 5 7. Lainnya Apakah dalam kegiatan mencari nafkah.80 5.ulama. Berkeinginan pindah usaha (meninggalkan pekerjaan tani) setelah memiliki usaha/pekerjaan baru e. responden selalu berorientasi/berpedoman pada : a.40 10. baru atau bekerja di bidang lainnya d. Bekerja berdasarkan petunjuk/nasib orang tua.40 4. tokoh masyarakat(kepala desa.78 3. Belajar pada penyuluh atau pengusaha lain. penyuluh) Bekerja dengan mengutamakan kerjasama dengan warga desa 14 3 1 11.40 0. a. Uraian Apakah dalam kegiatan mencari nafkah baik usahatani maupun usaha lainnya responden bekerja: a. Kadang muncul keinginan memperbaiki c.90 7 0. Berusaha memberi tambahan penghasilan dengan berusaha/bekerja di bidang lain d. Sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari ∑ % b.00 2. Pengalaman-pengalaman orang tua sebelumnya b. Berkeinginan memperbesar usahanya atau membuka usaha 3. responden: 11 5 9 1 7 8. Berkeyakinan usaha saat ini bisa memberi hasil yang baik c. Bekerja sesuai kebutuhan/situasi yang dihadapi Sumber: Data Primer Data hasil pengamatan mengenai kegiatan dalam mencari nafkah di Desa Sambirejo menunjukkan baik dalam usahatani atau usaha lainnya responden bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari . 9 7 13 7 5. Berkeinginan memiliki sesuatu (misal menaikkan status dengan membeli tanah/rumah/barang-barang sekunder/naik haji) 19 4 2 14. mencari informasi baru untuk usahanya dan melakukan perencanaan kerja d. b. responden: a. Tidak pernah berkeinginan untuk memperbaiki d. Lainnya Apakah responden ingin memperbaiki nasib yang lebih baik dari sekarang: a. Lainnya Apakah dalam kegiatan mencari nafkah dan kegiatan sosial.78 5.50 c. 2. Selalu ingin memperbaiki b.90 3 1.90 9.30 0.

Walaupun mereka bekerja pada sektor luar pertanian. dan bagi petani lain yang mempunyai keinginan untuk lebih memperbaiki taraf hidupnya ditempuh dengan jalan bekerja di luar sektor pertanian seperti berdagang.terdapat 19 responden (14. Warga masyarakat yang berkeinginan memiliki sesuatu (misal menaikkan status dengan membeli tanah/rumah/barang sekunder/naik haji) memiliki jumlah yang relatif sedikit dan hanya berlaku bagi petani yang sudah mempunyai pemikiran lebih ke depan. mereka . tapi menggunakan traktor. Hal ini disebabkan. responden sekedar melakukan usaha yang ada. mereka memilih meninggalkan pekerjaan luar sektor pertanian untuk mengolah dan menunggu lahan mereka dari masa tanam sampai dengan masa panen. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan usahatani sebagian besar petani sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. yang memiliki sesuatu (misal menaikkan status dengan membeli tanah/rumah/barang-barang sekunder/naik haji) terdapat 4 responden (3%). Petani yang bertani berdasarkan kemampuan yang ada saat ini berjumlah sebanyak 7 orang dengan presentase 5. Hal ini disebabkan masyarakat Desa Sambirejo sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Selain usaha mencukupi kebutuhan hidupnya atau memenuhi keinginannya. pasrah (menerima) apa adanya merupakan pilihan responden terbanyak yaitu sebesar 11 responden (8.40%. dan yang berkeinginan memperbesar usahanya atau membuka usaha baru atau bekerja di ladangnya terdapat 2 responden (1.50%).60%). pada musim bertani. Apabila mereka tidak mempunyai traktor.90%). Mereka tidak perlu menggunakan hewan untuk membajak sawah mereka. sejak dari zaman dahulu mayoritas mata pencaharian warga Desa Sambirejo adalah sebagai petani sehingga teknik bertani yang baik sudah ada pada diri petani sejak mereka masih kecil. Petani yang berkemampuan yang ada saat ini adalah petani modern.80%). Kegiatan mencari nafkah petani di Desa Sambirejo selalu berpedoman pada pengalaman-pengalaman orang tua sebelumnya 10 responden (7.

.memilih menyewa dengan memberikan sejumlah uang tertentu demi untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal. 1993). Berikut ini disajikan secara rinci tentang pengambilan keputusan petani di Desa Sambirejo. Orientasi setiap individu dalam kegiatan mencari nafkah baik dalam usahatani maupun usaha lainnya adalah berbeda satu dengan yang lain tergantung kemampuan dan kreativitasnya (Bintarto. Dalam melakukan kegiatan usahatani sehari-hari diperlukan adanya pengambilan keputusan akan pengembangan usahatani di masa mendatang. Petani dalam melakukan pekerjaannya didasarkan atas kesadaran sendiri bahwasana mereka setiap hari membutuhkan makan dan memerlukan hal-hal lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pengambilan keputusan ini didasarkan atas musyawarah ataupun kesepakatan yang diambil dari pelaku usahatani dengan keluarga.

Tabel 19 Keputusan dalam Usahatani di Desa Sambirejo 6 7 a b c a b c 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 Keluarga/Ketua RT Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Suami Suami Suami Istri Keluarga Bapak Bapak Anak-anak Bapak Bapak Suami Suami Suami . 15. 19. 21. 3. 7.No 1. 13. 10. 5. 8. 4. 20. 14. 11. 12. 6. 9. 16. 18. 2. 17.

1 1 1 1 1 1 1 1 Keluarga Anak-anak Keluarga Anak-anak 1 2 ∑ 6 13 % 12 26 Sumber:Data Primer 6 12 21 42 3 6 Dari data pengamatan dapat dinyatakan bahwa sebagian besar pelaku usahatani di Desa Sambirejo tidak secara langsung menerapkan inovasi yang diberikan yaitu sebanyak 13 responden dengan presentase 26%. 24. Semakin besar pendapatan suatu keluarga maka kebutuhan yang diperlukanpun akan semakin bertambah. 23. Sebagian besar petani mengambil keputusan dalam pelaksanaan usahataninya selalu melibatkan anggota keluarga lain terutama keluarga sendiri yaitu sebanyak 21 responden dengan presentase 42%.22. 25. Bagi sebagian besar masyarakat di Desa Sambirejo ini pendapatan mereka hanya cukup untuk konsumsi saja. Kebutuhan manusia pada dasarnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung dari berapa besar pendapatan yang diperoleh keluarga tersebut. Berikut ini disajikan secara rinci tentang penggunaan pendapatan petani di Desa Sambirejo: . Hal ini disebabkan karena masih rendahnya kepercayaan petani kepada inovasi yang dikembangkan sebelum didapatkan suatu hasil yang konkret.

Uraian ∑ % .Tabel 20 Penggunaan Pendapatan Petani di Desa Sambirejo No.

42 10. Lainnya Tujuan menabung a. Lainnya Dalam bentuk apa petani menabung ? a. Lainnya Dalam bentuk apa petani melakukan investasi a. alat rumah tangga. Lainnya 25 15 13 2 11 8 3 2 12 5 6 1 4 13 6 1 19. .69 11. dan yang menabung dalam bentuk yang lain sebanyak 2 responden dengan presentase 1. Membeli tanah c. seperti : rumah.57%.24 4.konsumsi (25 responden atau 19. Investasi alat dalam usaha tani (cangkul. Biasanya petani menabung dalam bentuk barang berharga (harta kekayaan. Investasi usaha lain (luas usaha tani. Uang tunai di rumah c. Jumlah petani yang mempunyai tabungan adalah 15 responden dengan persentase 11.10. perhiasan/emas batangan) sebanyak 11 responden atau 8. alat rumah tangga. alat transportasi.72 0.79 11.24 1. Sumber: Data Primer Berdasarkan data hasil pengamatan mengenai penggunaan pendapatan petani di Desa Sambirejo dapat disimpulkan bahwa mayoritas pendapatan petani digunakan untuk. Investasi d. alat transportasi. berdagang dan industri rumah tangga) d.36 1. Untuk apa sajakah pendapatan petani digunakan : a. dll) b. Ditabung di bank d. Pendidikan anak d.79 3. Tabungan c.57 8. yang menabung dalam bentuk uang tunai dirumah sebanyak 8 responden dengan persentase 6. yang menabung di Bank sebanyak 3 responden dengan presentase 2.57 9.93 4. spt : rumah.72 0. Barang berharga (harta kekayaan.30 2. sabit.36%.66 6. Naik haji e. Keperluan mendadak b. seperti membuka warung. Sebagian besar petani di Desa Sambirejo jarang yang menggunakan Bank sebagai alternatif penyimpanan harta benda mereka.30%.81%.45 3.81 10. Modal usaha c.66%.69%). 13. 12. perhiasan/emas batangan) b. Pendapatan petani di Desa Sambirejo rata-rata hanya mencukupi untuk konsumsi/makan sehari-hari. Konsumsi b.

42%) seperti cangkul. 1997). Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain tapi bukan berarti kita tergantung pada orang lain pula. sabit. Berikut ini disajikan secara rinci tentang perilaku petani dalam kegiatan sosial di Desa Sambirejo: Tabel 21 Perilaku Petani dalam Kegiatan Sosial di Dusun Banaran Desa Sambirejo . Penggunaan pendapatan didasarkan pada tingkat kebutuhan. Dalam kehidupan bermasyarakat setiap orang mempunyai peranan yang berbeda dalam melaksanakan statusnya sebagai makhluk sosial. semakin besar pendapatan seseorang maka kebutuhanpun ikut bertambah sebaliknya semakin kecil pendapatan maka kebutuhanpun semakin sedikit (Suyitro. dll. Sebagian besar warga Desa Sambirejo yang menabung mempunyai tujuan untuk menghadapi kebutuhan mendadak (12 responden atau 9.hal ini disebabkan mereka takut nantinya tidak mampu lagi menabung di Bank padahal ada potongan biaya tiap bulannya sehingga mereka lebih suka mempunyai tabungan dalam bentuk barang atau harta kekayaan dan menyimpan uangnya dirumah. Sebagian besar petani lebih memilih melakukan investasi dalam bentuk membeli tanah atau ternak (13 responden atau 10. Petani yang melakukan investasi dalam bentuk alat-alat pertanian (4 responden atau 3.45%) sebagai contoh bila mendadak ada salah satu anggota keluarga yang jatuh sakit.24%) karena cenderung memberikan keuntungan yang lebih banyak. Dengan adanya tabungan mereka tidak perlu meminjam kepada seorang rentenir atau pada Bank dengan bunga yang bagi mereka sangat memberatkan.

70 17. apakah bantuan tersebut : a. dengan bentuk balasan yang boleh lebih sedikit dari sumbangan yang pernah diterima sebanyak 8 responden dengan presentase 17.17 Seumpama seseorang tidak mau membalas. sanksi apakah yang akan dihadapinya ? ( Tidak ada sanksi ) Sumber: Data Primer Data hasil pengamatan mengenai perilaku petani dalam kegiatan sosial di Desa Sambirejo diperoleh tingkat kerukunan masyarakat bahwa sebagian besar masyarakat petani apabila mendapatkan bantuan (sumbangan) maka ia wajib membalas dengan jumlah responden sebanyak 14 responden dan presentasenya sebesar 30. Tidak diharuskan memberikan balasan 15.17%.39%.09 2. . c. Boleh membalas. Boleh lebih sedikit dari sumbangan yang pernah diterima Sama besarnya dendan nilai sumbangan yang pernah diterima Lebih besar dari nilai sumbangan yang pernah diterima 8 12 1 7 4 30. Ia harus membalas b. 14.09%. boleh tidak membalas c.No. dan lebih besar dari nilai sumbangan yang pernah diterima sebanyak 1 responden dengan persentase 2. b. Kalau jawaban pada nomor 14 adalah a atau b.43%. sama besarnya dengan nilai sumbangan yang pernah diterima sebanyak 12 responden dengan presentase 26. Uraian Kalau seseorang mendapatkan bantuan (sumbangan) apakah ia harus membalas memberikan bantuan kepada setiap orang yang telah memberikan bantuan ? Σ % 14 a.39 26.43 15. Bla sumbangan harus dibalas. Apabila terdapat seseorang yang tidak mampu membalas sumbangan tersebut maka tidak ada sanksi yang memberatkan hanya saja seseorang tersebut merasa tidak enak atau sungkan dengan orang-orang yang telah memberi mereka bantuan (sumbangan).21 8.

Selain itu dampak lainnya adalah mereka dapat mengolah lahannya dengan baik untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal. Menebaskan kepada orang lain Dibantu anggota keluarga saja Dibantu anggota keluarga dan kerabat 5 9 5 1 5 20 36 20 4 20 Σ % panen masyarakat di Desa d. Terdapat pula yang memilih menebaskan kepada orang lain (9 responden atau 20. c. telah menjadi sebab berubah-berubahnya tabiat manusia dalam batas-batasnya yang tertentu (Sri Wiryati 1991). Hal ini disebabkan dengan dibantu anggota keluarga dan kerabat. b. petani dapat menghemat biaya untuk membayar buruh atau memberi upah dan jatah makan pada tetangga yang ikut membantu. Uraian Dalam melakukan kegiatan panen. Hal ini disebabkan petani sibuk dengan pekerjaanya di luar . Dibantu tetangga (wanita) warga desa siapa saja tanpa dibatasi jumlahnya Sumber: Data Primer Data hasil pengamatan mengenai kegiatan panen masyarakat di Desa Sambirejo diperoleh dari kegiatan panen masyarakat sebanyak 25 responden terdapat 5 responden dengan presentase 20% memilih dibantu oleh anggota keluarga dan kerabat. yang bersama-sama dengan sifat-sifat yang diperoleh kemudian. sejak lahir terlebih dahulu telah mempunyai hasrat-hasrat naluri yang dibawa sejak lahir. Setiap petani mempunyai cara yang berbeda dalam kegiatan panennya. Pengaruh lingkungan.00%).Manusia sebagai anggota masyarakar. 16. pengaruh kelompok. Dibantu tetangga (wanita) warga desa yang diundang e. Berikut ini disajikan secara rinci tentang kegiatan Sambirejo: Tabel 22 Kegiatan Panen Masyarakat di Desa Sambirejo: No. petani : a. Petani dalam melakukan kegiatan panennya memiliki cara masingmasing sesuai dengan kebutuhan dan statusnya sebagai petani.

Salah satu cara yang sering ditempuh adalah dengan mencari pekerjaan lain di luar pekerjaan pokoknya. tambahan pendapatan yang diperoleh digunakan untuk biaya sekolah anak. sehingga petani lebih suka membayar buruh atau bagi hasil kepada penyewa untuk menggarap sawah/ladangnya.sektor pertanian. 3. Kelembagaan Hubungan Kerja Di Luar Pertanian Kebutuhan manusia yang terus bertambah dari waktu ke waktu menuntut manusia untuk bekerja lebih giat dari biasanya. Berikut ini disajikan data secara rinci tentang mata pencaharian dan motivasi bekerja diluar pertanian di Desa Sambirejo: Tabel 23 Mata Pencaharian dan Motivasi Bekerja Diluar Pertanian di Desa Sambirejo . Selain untuk menambah penghasilan.

200. 390.500.000 12. Tambahan biaya sekolah anak 7.000 Cari tambahan 6.000 7. Demi 3.200. 8.000 penghasila n Menambah Menambah penghasilan 11.000 Menambah .000 penghasila n 8.000.000. 1.000 Menambah penghasilan 10.000.000 Menambah pemasukan Menambah 7.000 menyekolahkan anak 9.000. 9. 4. 36.No . 8.000 penghasila n Menambah 3. 12.000. 13. 5. Wiraswasta Pendapata n/tahun Melengkap Motivasi PNS Pendap atan/tah un i Motiv asi Ternak Pendapata n/tahun Motivasi Pendapata n/tahun (Jenis) Motivasi 1.200.216545 pemenuhan kebutuhan 2. 4.

3. 8.700.00 4.000 kebutuhan di masa depan 22.000 penghasila n Menambah 18.250. 4.500.600.000 penghasila n Untuk mencukupi 15.00 0 Menambah 4.000 Menunjang kebutuhan .000. Menambah 17.250.000.penghasila n Menambah 14. ∑ 24. 25.000 Menunjang kebutuhan 5. 24.000.000.000 penghasila n Menambah 20. 18.000 26. 5. 4. 18.000.000 penghasila n 19.000.356.54 120.450.000 kebutuhan dan biaya sekolah 16. 23.000 penghasila n Mencukupi 21.

seperti sekarang ini jika musim kemarau panjang datang mereka tidak dapat mengolah lahan mereka karena sama sekali tidak ada air maka mereka dapat menggunakan simpanannya. pekerjaan pokok mereka tetap sebagai petani karena mereka merasa lebih tentram jika mempunyai persedian padi tetapi tidak punya uang daripada mempunyai uang tapi tidak punya persediaan padi. Profesi sebagai buruh bangunan biasanya mereka merantau ke luar desa bahkan sampai luar kota misalnya Jakarta. Selain itu pekerjaan di luar pertanian itu bagi mereka hanyalah pekerjaan sampingan.450. Pekerjaan yang berbeda ini tentu saja mendatangkan fasilitas tertentu sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukannya. dll. malainkan hanya untuk menunggu masa setelah tanam sampai menjelang panen atau kira-kira selama 3 bulan. Setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mendapatkan pekerjaan lain diluar sektor pertanian. tapi mereka tidak bekerja sepanjang tahun. 1997). Surabaya.5 0 Sumber : Data Primer Data hasil pengamatan mengenai mata pencaharian dan motivasi bekerja di luar pertanian di Desa Sambirejo yang bersumber dari 25 responden dapat diketahui bahwa penduduk Desa Sambirejo sebagian besar mempunyai pekerjan sampingan di luar pertanian yaitu di bidang peternakan dengan penghasilan kotor sekitar 120. Berikut ini disajikan secara rinci tentang fasilitas dan cara mendapatkan pekerjaan diluar pertanian di Desa Sambirejo: . Kebutuhan yang terus meningkat dan tidak terbatas dari waktu ke waktu menuntut manusia untuk bekerja dan berusaha lebih giat untuk memenuhi kebutuhannya agar diperoleh kehidupan yang makmur dan sejahtera (Dumory.000/tahun. Malang. Penghasilan diluar pertanian tersebut dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak didapat dari hasil pertanian dan untuk ditabung untuk memenuhi kebutuhannya di hari yang akan datang.

3. Kesimpulan yang dapat ditarik bahwa banyak juga dari mereka yang bekerja di luar sektor pertanian tidak mendapatkan jaminan. Uraian Selain mendapat upah apakah kegiatan responden berburuh tersebut memperoleh: Σ % a. Ikut membantu dalam kegiatan rumah tangga majikan c. d. Ikut saudara c. Yang bekerja ikut dengan saudara sebagai pembantu rumah tangga sebanyak 1 responden dengan persentase 2. buruh tersebut masih saudara/kerabat. buruh dengan kontrak kerja. Digolongkan dalam istilah tertentu : buruh masih saudara/kerabat. dan sebagian dari mereka yang bekerja diajak . Selain mendapatkan upah. Diajak teman atau saudara d.78%. Mencari atau usaha sendiri b.4 4 Sumber : Data Primer Data hasil pengamatan mengenai fasilitas dan cara mendapatkan pekerjaan di luar pertanian di Desa Sambirejo diperoleh bahwa pada musim kemarau banyak dari mereka yang menjadi buruh.6 7 3 9 8. Jaminan lainnya (makanan. hadiah lebaran) b.33%. buruh lepas/tanpa ikatan sebanyak 3 responden dengan persentase 8. dan sebagian besar memperoleh dari lainnya sebanyak 9 responden atau sebesar 25%. Lainnya tidak ada jaminan Siapa yang memberikan pekerjaan di luar pertanian tersebut a.33 25 9 1 7 1 25 2. Lainnya 6 16. buruh dengan kontrak kerja. buruh lepas/tanpa ikatan 4. Presentase dari usaha mencari pekerjaan sendiri ini ada 25% merupakan jumlah yang terbanyak.Tabel 24 Fasilitas dan Cara Mendapatkan Pekerjaan Luar Pertanian di Desa Sambirejo No. Dalam mencari pekerjaan di luar sektor pertanian ada 9 responden yang mencari pekerjaan sendiri tanpa bantuan.78 19.

teman atau saudara sebagai buruh bangunan karena biasanya dalam mencari pekerjaan mereka bergerombol atau berkelompok dengan jumlah responden 7 orang atau presentasenya 19. Dari data fasilitas dan cara mendapatkan pekerjaan di luar pertanian maka dapat dipahami bahwa pekerjaan yang mereka dapatkan diluar sektor pertanian sebagian besar didapat dengan usaha sendiri. 4. Kelembagaan Hubungan Kerja Keluarga Petani Terdapat hubungan kerja yang nyata antara anggota keluarga petani dalam melakukan kegiatan usaha taninya. Uraian Σ % .44 %. Setiap pekerjaan akan memberikan fasitas dan pemenuhan yang tidak sama dalam segi kuantitas maupun kualitasnya tergantung pada apa jenis dan macam pekerjaan yang ditekuni (Samuel. 1997). Berikut ini disajikan secara rinci tentang kelembagaan hubungan kerja keluarga petani di Desa Sambirejo: Tabel 25 Orang Tua Responden /petani di Desa Sambirejo No.

Dan ada 16 responden dari responden dengan tidak dibantu oleh orang tuanya karena mayoritas dari mereka sudah terlalu tua sehingga tidak kuat ikut melakukan kegiatan usaha tani. Ya b. Apakah jenis pekerjaan orang tua responden a. Kalau ya. 1993). Setiap anggota keluarga petani mempunyai tugas dan pekerjaan yang berbeda dalam melakukan usaha tani tergantung usia dan jenis kelamin masing-masing. Berikut ini disajikan secara rinci tentang peran anggota keluarga dalam kegiatan usaha tani di Desa Sambirejo: Tabel 26 Peran Anggota Keluarga dalam Kegiatan Usahatani di Desa Sambirejo: No Jenis Kegiatan Usaha Tani Pria Wanita Anak- . Petani Apakah orang tua responden masih ikut bekrja dalam usaha tani responden a. Tidak 2.60 30. Ya b. apakah mereka diberi upah? a.91 37. Ada 11 responden yang orang tuanya masih ikut bekerja dalam usaha tani umumnya mereka yang tinggal bersama anakanaknya. Tidak 4 15 8. Petani dalam melakukan kegiatan usaha tani petani tidak sendirian namun terdapat keterlibatan anggota keluarga petani yang ikut bekerja.78 Sumber: Data Primer Data hasil pengamatan mengenai orang tua responden/petani di Desa Sambirejo dapat dipahami bahwa dari 25 responden mengemukakan bahwa didalam keluarga rumah tangga petani sebagian besar responden bekerja sebagai petani. Pekerjaan yang diberikan sesuai dengan kemampuan agar dapat bekerja dengan baik tanpa ada maksud untuk menganiaya (Sumitro.1.6 11 16 23.

Anggota keluarga selalu bekerja di sawah pertanian.43 0.43 3. 3. Wanita dalam kegiatan usaha tani melakukan pengolahan lahan biasanya untuk ditanami palawija. panen serta pasca panen.52 Σ 1 8 1 1 % 0.65 11. Desa Sambirejo masyarakatnya baik laki-kaki dan wanita yang berusia 15 tahun ke atas bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan dalam usaha tani. 7. pembibitan.22 0.22 5.48 16. 5. Dalam bekerja melakukan usaha tani terdapat penggolongan jenis pekerjaan antar laki-laki dan wanita. penanaman. Dengan adanya bantuan dari anggota keluarga responden tidak memerlukan atau hanya sedikit mendapat bantuan dari orang lain. pemupukan.74 Σ 19 23 38 8 38 % 8. ibu dan anak yang sudah berumur diatas 15 tahun berperan aktif dalam kegiatan usaha tani.60 5.87 2. Pekerjaan yang dilakukan laki-laki adalah pengolahan lahan. pembibitan.52 3. Dalam melakukan kegiatan usaha tani dibuat pembagian kerja . penyiangan dan pembasmian hama. panen serta pasca panen (hampir semua kegiatan bercocok tanam). 6. pengairan.anak Σ 1.43 Sumber : Data Primer Data hasil pengamatan mengenai peran anggota keluarga dalam kegiatan usahatani dapat disimpulkan bahwa baik bapak. pemupukan. Pengolahan lahan Pengairan Pembibitan Penanaman Pemupukan Penyiangan&pem hama Panen dan pasca panen 21 12 12 2 6 13 27 % 9. penyiangan dan pembasmian hama.26 10 16.13 5. 4. 2. penanaman. pengairan.48 0. sehingga secara otomatis pekerjaan cepat selesai dan tidak memerlukan uang untuk membayar upah pada mereka yang bekerja.

( Samuel. 1997 ).antara laki-laki dan wanita karena tenaga laki-laki lebih kuat daripada tenaga wanita sehingga sebagian besar pekerjaan yang berat dilakukan oleh laki-laki seperti mencangkul dan kegiatan pengolahan sawah lainnya. Kosmopolitan . 5. Semakin dewasa maka pekerjaan yang dibebankan semakin berat. Adanya perbedaan usia yang terdapat dalam keluarga kadang dapat munculkan penggolonganjenis pekerjaan dan tugas yang dikerjakan dalam kegiatan usaha tani.

mengunjungi saudara 5. Lainnya Jumlah Sumber : Data Primer Data hasil pengamatan mengenai mobilitas petani di Dusun Semanding diperoleh dalam melakukan kegiatan keluar desa biasanya untuk mencari nafkah sebanyak 16 responden dengan persentase 20. 5 kali 7.69 11.78 7.79 7.19 2.89 0 2. 2 kali 4. 1 kali 3.79 0 10. 6 kali 8.79 6.49 0 11. Tidak pernah 2. dll) 4.78 % . Kegiatan tersebut berkaitan dengan Mobilitas Berapa kali responden melakukan kegiatan diluar desa 6 8 4 2 3 2 0 16 6 6 5 9 9 1 77 7. Berikut ini disajikan data secara rinci tentang mobilitas petani di Dusun Semanding Desa Sambirejo: Tabel 27 Mobilitas Petani di Dusun Semanding Desa Sambirejo No. Milik sendiri 2. Mencari nafkah 2. Angkutan umum 3. melengkapi kebutuhan rumah tangga sebanyak 6 responden dengan . melengkapi kebutuhan rumah tangga 3. 7 kali 9. 8 kali b. lainnya bila ada keperluan c. a.69 1. 1. 3 kali 5. masyarakat Dusun Semanding juga melakukan kegiatan di luar desa yang dapat dijadikan alasan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga desa.60 0 20. Alat transportasi yang digunakan 1.60 3. mengunjungi tempat hiburan (sekaten.39 5.Selain melakukan kegiatan didesanya sendiri. 4 kali 6. wayang orang.30 100 ∑ % 1.

Tabel 28 Pola Komunikasi Masyarakat Petani di Dusun Semanding Desa Sambirejo . Untuk mengakses informasi mereka sudah menggunakan media modern karena dirasa cukup efisien dan mudah dijangkau.79 %. 1991). Interaksi sosial merupakan hubungan social yang dinamis dan merupakan kunci dari semua kehidupan sosial.persentase 7. Berikut ini disajikan data secara rinci tentang pola komunikasi masyarakat Dusun Semanding Desa Sambirejo.79 % . Tidak ada warga yang pergi ke luar desa tanpa alasan.30 % tidak menggunakan alat transportasi yaitu dengan jalan kaki atau dengan cara lain. Sedangkan sebanyak 9 responden atau 11. mengunjungi saudara sebanyak 6 responden dengan persentase 7. Dan sisanya 1 responden atau 1. Dalam melakukan kegiatan keluar desa sebagian besar masyarakat Desa Sambirejo menggunakan alat transportasi milik sendiri dengan jumlah responden 9 orang dengan presentase sebanyak 11.69 % biasanya mereka menggunakan sepeda motor. Interaksi social merupakan dasar dari proses social sebab tanpa adanya interaksi antara masyarakat tidak mungkin kehidupan bersama akan terjadi (Sri Wiyarti. Masyarakat di Dusun Semanding ini dalam menggunakan komunikasi masih menggunakan sarana yang masih tergolong tradisional. Penyebab masyarakat menggunakan angkutan umum karena mereka tidak punya kendaraan pribadi dan juga untuk menghindari kelelahan di jalan sehingga lebih menjaga keselamatan.69% dari responden menggunakan kendaraan umum yaitu angkutan kota atau angkutan desa.

Pola Komunikasi Media massa yang digunakan 1. 1991).No. Tokoh Masyarakat 1. Jumlah Lainnya Bapak Kadus Sumber: Data Primer Data hasil pengamatan mengenai pola komunikasi masyarakat petani di Dusun Semanding diperoleh hasil bahwa media massa yang digunakan berupa TV dan radio. Media massa lain yang diakses adalah koran dengan 5 responden sedangkan yang menggunakan tokoh masyarakat sebagai sumber informasi sebanyak 12 orang dengan alasan mereka lebih mempercayai tokoh masyarakat terseut dibandingkan dengan media ang lain. 2. Bapak Sukimin 2. Hal terpenting dari komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran-tafsiran pada peri kelakuan orang lain (yang dapat berwujud: pembicaraan.53 21.05 55. TV Radio Manfaat/dampak ∑ % Up date masalah pertanian Up date masalah pertanian Meningkatkan hasil pertanian Up date masalah pertanian 4 1 4 8 21 38 10. a. 67 .26 100 b. gerak-gerak badaniah atau sikap) perasaan apa yang ingin disampaikan pada orang lain dan selanjutnya orang tersebut memberikan reaksi atas perasaan yang ingin disampaikan kepadanya tadi (Sri Wiyarti. Terdapat 4 orang yang menggunakan TV sebagai media informasi dan 1 orang yang menggunakan radio sebagai media informasi dengan alasan lebih efisien dan mudah dijangkau. c.63 10.53 2.

Surakarta 69 . dkk. 1974. 1992. Sri.org/w/index/php? title=budaya/1994/08/15.edu/apakabar/basisdata/1992/07/07/0008.ht ml Anonim. Rusli. Jogjakarta Anonim.1997. Sajogyo dan P. Sarlito Wirawan. Bandung Planck. Sediono. Soerjono. Jakarta Soekanto. Hadisumarno. 1994. Jakarta. Psikologi Lingkungan. 1998. UNS Press. Geografi Jilid 1. Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Grasindo.html Dumairy. Perekonomian Indonesia Jilid 2. Sajogyo. Sosiologi Pedesaan. 1993. Sosiologi Pertanian. Jakarta. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Andi Offset. 1999. Yogyakarta. Jakarta. 1999.Erlangga. Surabaya. Bappeda Daerah Istimewa Jogjakarta. Sosiologi Sistematis. Pengantar Ilmu Kependudukan Cetakan Ke 6. Tjondronegoro.1989. Saidiharjo. Penebar Swadaya. Penerbit Alumni. Sosiologi Sistematik. Jakarta.hamline. U. Sarwono. Pustaka LP3ES Indonesia.wikipedia. Penerbit Kanisus. Yayasan Obor Indonesia. Sosiologi Pedesaan Jilid 2. 1992. Yogyakarta. Adham. Bina Ilmu. Jakarta. 2008. Keping-keping Sosiologi Dari Pedesaan.http://www. “Pekerja Perempuan”. Gadjah Mada University Pers. P. Kecamatan Sebagai Pusat Pertumbuhan. P.Erlangga. Sosiologi. Hagul. Wiyarti. Bogor. Peter. http://idi. D. Nasution. Yogyakarta. Rajawali Pers. Jakarta. 1985. Rajawali Pers.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta. 1991. 1984. M. Sosiologi. 1994. Mubiyarto. 1986. “Sosiologi Budaya”.1983. Hendropuspito. Pengantar Kependudukan. Leibo. Said. Pengantar Ilmu Sosiologi. 2008.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful