P. 1
HIPERTENSI

HIPERTENSI

|Views: 1,088|Likes:
Published by fuguligish

More info:

Published by: fuguligish on Oct 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

pdf

text

original

616.

132 Ind P

PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PENYAKIT HIPERTENSI

DIREKTORAT BINA FARMASI KOMUNITAS DAN KLINIK DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN 2006

Pernyataan (Disclaimer) Kami telah berusaha sebaik mungkin untuk menerbitkan buku saku Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Hipertensi. Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan adanya perbedaan pedoman di masing-masing daerah, adalah tanggungjawab pembaca sebagai seorang profesional untuk menginterpretasikan dan menerapkan pengetahuan dari buku saku ini dalam prakteknya sehari-hari.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya, telah dapat diselesaikan penyusunan Buku Saku Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Buku saku ini memuat uraian tentang pengenalan penyakit, epidemiologi, etiologi, klasifikasi hipertensi, akibat dari hipertensi, diagnosis, penatalaksanaan hipertensi serta peran dan tanggungjawab apoteker dalam Pharmaceutical Care (Asuhan Kefarmasian). Buku saku ini diharapkan akan memperbaiki dan meningkatkan kemampuan para apoteker, khususnya yang bekerja di farmasi komunitas dan farmasi rumah sakit. Kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku saku ini. Saran serta kritik membangun tentu sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian untuk pasien penyakit hipertensi. Jakarta, Desember 2006 Direktur Bina Farmasi Komunitas dan Klinik

Drs. Abdul Muchid, Apt

NIP. 140 088 411

Dalam membantu penatalaksanaan hipertensi tersebut. gagal jantung. stroke. Apoteker dapat menjadi perantara antara pasien dan dokter dalam hal terapi farmakologi maupun terapi non farmakologi. Diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi obat demi mencapai target tekanan darah yang diinginkan. . Dengan meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner. dan gagal ginjal. Praktek evidence-based medicine untuk hipertensi termasuk memilih obat tertentu berdasarkan data menunjukkan penurunan mortalitas dan morbiditas kardiovaskular atau kerusakan organ akibat hipertensi. Paling sedikit 50% pasien yang diresepkan obat antihipertensi tidak meminum obat sesuai yang direkomendasikan. tentu saja diperlukan peran profesi kesehatan seperti dokter dan Apoteker. Strategi yang paling efektif adalah dengan kombinasi strategi seperti edukasi. modifikasi sikap dan sistem yang mendukung. Salah satu studi menyatakan pasien yang menghentikan terapi anti hipertensi maka lima kali lebih besar kemungkinannya terkena stroke. Dengan membantu pasien memodifikasi pola hidupnya juga dapat membantu pasien mencapai tujuan terapi.KATA SAMBUTAN Hipertensi merupakan “silent killer” (pembunuh diam-diam) yang secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum.

Akhir kata kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan buku saku “Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi” ini diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. 470034655 . Desember 2006 Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Drs.Dengan adanya buku saku “Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi” ini diharapkan apoteker dapat meningkatkan keterampilannya dalam rangka memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan pengobatan pasien. Apt. Jakarta. SKM NIP. Richard Panjaitan.

Apt. DEPARTEMEN KESEHATAN Drs. MKM Dra.Pharm Drs. SpPD 3.FRS Dra.Si. Apt.Pharm Dr. Apt Dra. M.Si. Leiza Bakhtiar. Apt Dra. S. MM Dra.TIM PENYUSUN 1. Maria Lesilolo. M. Santoso Karokaro. Widyati.Kes 4. Apt Dina Sintia Pamela S. Iman Firmansyah. PRAKTISI RUMAH SAKIT Dra.Kes Drs. Abdul Muchid. Chusun. Sp. M. L. SpJP Dr. Apt.Si Sri Bintang Lestari. Apt Dwi Retnohidayanti 2. Rida Wurjati. Fatimah Umar. S.Pharm Dra. Apt Dra.Si. M. Apt.Pharm Dra. Oriza Satifa.Si. M. S.Clin. Apt. Masrul. Apt. MM . Apt. M. Endang Budiarti. Dwi Pudjaningsih. M. PRAKTISI APOTEK Dra. PERGURUAN TINGGI Cecilia Brata. Apt.Clin. Harlina Kisdarjono. Nur Ratih Purnama. Apt Fachriah Syamsuddin.

...................... 2.................. Lampiran Formulir Pelayanan Kefarmasian ........................................................................................... BAB IV PERAN DAN TANGGUNG JAWAB APOTEKER DALAM PHARMACEUTICAL CARE 4....................1 Latar Belakang............................................................................................... Daftar Isi. 2...............................................................................Penyusunan Rencana Pelayanan Kefarmasian.................................5 Peran dan Peluang buat Apoteker ....................................................................................................................2..1 Tujuan Terapi.........2 Patofisiologi ........................................................................ Tim Penyusun...................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1................. BAB II PENGENALAN PENYAKIT 2................................... 2...4 Monitoring ................ 44 45 47 47 53 55 59 10 11 3 4 6 7 7 1 2 2 i ii iii v vi ix ....................3 Klasifikasi Tekanan Darah.......... 4............................................................ 3........................ Sambutan Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan................................................................ Daftar Pustaka ..................................... Daftar Singkatan dan Istilah ................................................................................5 Diagnosis.............................................. BAB III PELAYANAN 3............................................................... 4..............................3 Implementasi.....................................................................................1 Etiologi............. ................................................................................................................2 Epidemiologi................3 Tujuan........................................................................................................................................ 1...........................................................................................................................................................2 Penatalaksanaan Hipertensi..4 Komplikasi Hipertensi................................................ .................................. 4.. 2.................................. Kata Pengantar............. 4.................... 1.....................................................................................................................................DAFTAR ISI Pernyataan........................1 Asesmen ...

............................. Tabel 9 Interaksi Antara Obat Antihipertensi dengan Obat lain.................................................... Gambar 2 Algoritme Pengobatan Hipertensi Apabila Target Tekanan Darah yang Diinginkan Tidak Tercapai ............................... Gambar 4 Indikasi Khusus Untuk Masing-Masing Kelas Obat........... Gambar 5 Beberapa Langkah Yang Terlibat Dalam Progres dari Hipertensi ke Gagal Jantung Kongestif ................................. Tabel 6 Pengobatan Hipertensi Kronis pada Kehamilan.... Tabel 2 Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Dewasa Umur > menurut JNC................. 23 33 15 22 11 5 .. Tabel 7 Memonitor Obat Antihipertensi Sesuai Kelasnya............................ Tabel 5 Obat – Obat Antihipertensi Yang Utama ................ Gambar 6 Sistem Renin Angiotensin dan Sistem Kallikrein dan Kinin................................................................... Tabel 3 Faktor – Faktor Risiko Kardiovaskular.................................................................................................................................................................................................................... Tabel 4 Modifikasi Gaya Hidup Untuk Mengontrol Hipertensi................................................... 4 6 8 13 17 29 49 50 50 Daftar Gambar Gambar 1 Mekanisme Patofisologi dari Hipertensi.....................................Daftar Tabel Tabel 1 Penyebab Hipertensi Yang Dapat Diidentifikasi................... Tabel 8 Efek Samping dan Kontra Indikasi Obat-Obat Antihipertensi...... Gambar3 Kombinasi Yang Memungkinkan dari Kelas yang Berbeda Untuk Obat Antihipertensi............... ...............

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH Angina: nyeri dada Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor: obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi dengan mencegah tubuh membuat hormone angiotensin II – hormon ini menyebabkan pembuluh darah menyempit. Diet DASH: The Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet --berupa diet dari beberapa grup makanan. Bekerja pada jantung untuk meringankan stress sehingga jantung memerlukan lebih sedikit darah dan oksigen – meringankan kerja jantung sehingga menurunkan tekanan darah. dan detak jantung yang tidak teratur. termasuk lebih banyak buah. dan membantu mencegah serangan jantung berikutnya. Calcium channel blocker = CCB (Antagonis kalsium): obat penurun tekanan darah yang memperlambat pergerakan kalsium ke dalam sel jantung dan dinding arteri (pembuluh darah yang .membawa darah dari jantung ke jaringan) – sehingga arteri menjadi relax dan menurunkan tekanan dan aliran darah di jantung. sehingga menurunkan tekanan darah. Obat-obat ini juga digunakan untuk mengobati gagal jantung kongestif. dan untuk mengobati pasien yang telah terkena serangan jantung. yang dapat menaikkan tekanan darah. Penyekat beta bekerja dengan memblok efek adrenalin pada berbagai bagian tubuh. untuk melindungi ginjal pada pasien dengan diabetes. Diuretik: salah satu obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi --. Beta-blocker (penyekat beta): salah satu obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi. Dapat juga digunakan untuk membantu mencegah serangan jantung dan stroke pada pasien dengan resiko tinggi. Tekanan darah diastolik: tekanan darah terendah terhadap pembuluh darah arteri sewaktu jantung istirahat diantara dua denyut. sayuran. ACE inhibitor membiarkan pembuluh darah melebar dan membiarkan lebih banyak darah mengalir ke jantung. Hal ini .diuretik bekerja pada ginjal untuk mengeluarkan kelebihan garam dari darah. nyeri dada. dan makanan yang mengandung biji-bijian.

menaikkan aliran urin dan keinginan untuk urinasi. sehingga menurunkan jumlah air dalam tubuh – membantu menurunkan tekanan darah. eklampsia (kondisi dimana ibu hamil mengalami retensi air. dan ritme denyut jantung via elektroda yang dipasang di tangan. protein di urin. dan kejang) dan pendarahan arteri Penyakit jantung iskemi: kondisi yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke jantung --. dan dada Hipertensi esensial: tekanan darah tinggi yang penyebab jelasnya tidak diketahui – kebanyakan (95 %) tekanan darah tinggi adalah hipertensi esensial Serangan jantung: kerusakan pada otot jantung akibat hilangnya aliran darah ke jantung. termasuk encephalopathy (kerusakan otak). termasuk otot jantung. serangan jantung. . gagal jantung. stroke hemorhagik (pendarahan ke otak). Hipertensi: tekanan darah tinggi Hipertensi emergensi: meningkatnya tekanan darah yang parah yang dapat mengarah kepada kerusakan organ. hipertensi. Kalium: suatu elektrolit yang digunakan untuk membuat energi untuk semua otot. Ekokardiogram: tes untuk melihat aliran darah secara rinci pada bilik-bilik jantung Elektrokardiogram (EKG atau ECG): tes diagnostik yang mengukur aktivitas elektrik. yang menghambat aliran darah. kecepatan. Gagal ginjal ( penyakit ginjal tahap akhir): kondisi dimana ginjal tidak dapat menyaring dan mengekskresi produk yang harus dibuang tubuh.penurunan ini biasanya akibat menyempitnya arteri koroner. kaki.

atau oleh pendarahan dalam otak dari pecahnya pembuluh darah. mengakibatkan kerusakan jaringan otak. - Tekanan darah sistolik: kekuatan tekanan darah tertinggi terhadap dinding arteri sewaktu jantung berkontraksi . - Stroke: terganggunya suplai darah ke otak. Ganguan dapat disebabkan oleh gumpalan yang menghambat aliran darah .- Proteinuria: adanya protein di urin – dapat menunjukkan adanya penyakit atau kerusakan ginjal. .

otak ataupun ginjal. menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES III). jumlah pasien yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi dan yang tidak mematuhi minum obat kemungkinan lebih besar. dan hanya 31% pasien yang diobati mencapai target tekanan darah yang diinginkan dibawah 140/90 mmHg. hipertensi dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular.BAB I PENDAHULUAN 1.5% dari beban penyakit secara global. dengan tingkat kesadaran akan kesehatan yang lebih rendah. hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu. dan prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju. sehingga sering disebut sebagai “silent killer”. Pada kebanyakan kasus. Gejala-gejala akibat hipertensi. seperti pusing.1 Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan jantung. gangguan penglihatan. Maka untuk mencapai tujuan tersebut. diperlukan partisipasi aktif para sejawat Apoteker yang melaksanakan praktek profesinya pada setiap tempat pelayanan kesehatan.1 Latar Belakang Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular. perawatan di rumah sakit dan / atau penggunaan obat jangka panjang. Selain mengakibatkan gagal jantung. paling sedikit 30% pasien hipertensi tidak menyadari kondisi mereka. dan sakit kepala. Penyakit ini bertanggung jawab terhadap tingginya biaya pengobatan dikarenakan alasan tingginya angka kunjungan ke dokter. Healthy People 2010 for Hypertension menganjurkan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dan intensif guna mencapai pengontrolan tekanan darah secara optimal. Tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung. Di Amerika.3 Di Indonesia. Apoteker dapat bekerja sama dengan dokter dalam . Diperkirakan telah menyebabkan 4. seringkali terjadi pada saat hipertensi sudah lanjut disaat tekanan darah sudah mencapai angka tertentu yang bermakna.

dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHNES III tahun 1988-1991. Dari umur 55 s/d 74 tahun. Sampai dengan umur 55 tahun. dengan persentase biaya kesehatan cukup besar setiap tahunnya. adherence terhadap terapi obat dan non-obat.2. Tujuan khusus : meningkatkan kemampuan apoteker dalam membantu memecahkan masalah pengobatan hipertensi.3 Tujuan Buku saku ini bertujuan memberi informasi praktis bagi Apoteker dalam rangka menunjang pengobatan komprehensif untuk hipertensi di Indonesia.2 Kebanyakan pasien mempunyai tekanan darah prehipertensi sebelum mereka didiagnosis dengan hipertensi.4 %. dan dan/atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan pemberian obat. memonitor respons pasien melalui farmasi komunitas. Tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit degeneratif. 1.3 Menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES).3 1. yang berarti bahwa terdapat 58-65 juta orang menderita hipertensi. Umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya umur. prevalensi untuk hipertensi sebesar 65.memberikan edukasi ke pasien mengenai hipertensi. insiden hipertensi pada orang dewasa di Amerika tahun 1999-2000 adalah sekitar 29-31%. Sebagai acuan bagi apoteker dalam rangka menjalankan Asuhan Kefarmasian. Pada populasi lansia (umur ≥ 60 tahun). mencegah mendeteksi dan mengenali secara dini reaksi efek samping. laki-laki lebih banyak menderita hipertensi dibanding perempuan. . diperkirakan 30% penduduknya (± 50 juta jiwa) menderita tekanan darah tinggi (≥ 140/90 mmHg).Epidemiologi Di Amerika. sedikit lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita hipertensi. dan kebanyakan diagnosis hipertensi terjadi pada umur diantara dekade ketiga dan dekade kelima. Risiko untuk menderita hipertensi pada populasi ≥ 55 tahun yang tadinya tekanan darahnya normal adalah 90%.

namun belum satupun teori yang tegas menyatakan patogenesis hipertensi primer tersebut. Hipertensi sering turun temurun dalam suatu keluarga. bila ditemukan gambaran bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai kecenderungan timbulnya hipertensi essensial. Pada kebanyakan kasus. steroid adrenal.4 Hipertensi primer (essensial) Lebih dari 90% pasien dengan 95% dari seluruh kasus hipertensi.Etiologi Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. tetapi juga di dokumentasikan adanya mutasi-mutasi genetik yang merubah ekskresi kallikrein urine. Hipertensi sekunder Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah (lihat tabel 1). Menurut data. Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di kontrol.1. pelepasan nitric oxide. dan angiotensinogen.2 Literatur lain mengatakan. Beberapa mekanisme yang mungkin berkontribusi untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi. ekskresi aldosteron. disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. hal ini setidaknya menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan penting pada patogenesis hipertensi primer. Banyak karakteristik genetik dari gen-gen ini yang mempengaruhi keseimbangan natrium. hipertensi essensial merupakan . Bila penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi. Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau hipertensi primer). endogen maupun eksogen. hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial. Banyak penyebab hipertensi sekunder.BAB II PENGENALAN PENYAKIT 2.5 Obat-obat hipertensi merupakan hipertensi essensial (hipertensi primer). dikenal sebagai hipertensi sekunder. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus.

cox-2 inhibitor Fenilpropanolamine dan analog Cyclosporin dan tacrolimus Eritropoetin Sibutramin Antidepresan (terutama venlafaxine) NSAID: non-steroid-anti-inflammatory-drug. tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD). maka dengan menghentikan obat yang bersangkutan atau mengobati/mengoreksi kondisi komorbid yang menyertainya sudah merupakan tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder. faktor-faktor tersebut adalah 6(lihat gambar 1 ): Meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau variasi diurnal).Patofisiologi Tekanan darah arteri Tekanan darah arteri adalah tekanan yang diukur pada dinding arteri dalam millimeter merkuri. ACTH Estrogen (biasanya pil KB dg kadar estrogen tinggi) NSAID. TDS diperoleh selama kontraksi jantung dan TDD diperoleh setelah kontraksi sewaktu bilik jantung diisi. mungkin berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stress psikososial dll Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor . baik secara langsung ataupun tidak. Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi. ACTH: adrenokortikotropik hormon Tabel 1.tertentu. Penyebab hipertensi yang dapat diidentifikasi4 2. Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara potensial dalam terbentuknya hipertensi. Obat-obat ini dapat dilihat pada tabel 1. Dua tekanan darah arteri yang biasanya diukur.2. Penyakit • • • • • • • penyakit ginjal kronis hiperaldosteronisme primer penyakit renovaskular sindroma Cushing pheochromocytoma koarktasi aorta penyakit tiroid atau paratiroid • • • • • • • • Obat Kortikosteroid. dapat menyebabkan hipertensi atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah.

dan tonus vaskular Berubahnya transpor ion dalam sel Gambar 1: Mekanisme patofisiologi dari hipertensi. dan peptide natriuretik Perubahan dalam ekspresi sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi tonus vaskular dan penanganan garam oleh ginjal Abnormalitas tahanan pembuluh darah.Asupan natrium (garam) berlebihan Tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium Meningkatnya sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi angiotensin II dan aldosteron Defisiensi vasodilator seperti prostasiklin. . karakteristik inotropik dari jantung. termasuk gangguan pada pembuluh darah kecil di ginjal Diabetes mellitus Resistensi insulin Obesitas Meningkatnya aktivitas vascular growth factors Perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung. nitrik oxida (NO).

Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi mengidentifikasi pasien-pasien yang tekanan darahnya cendrung meningkat ke klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang. Klasifikasi tekanan darah Normal Prehipertensi Hipertensi stage 1 Hipertensi stage 2 Tek darah sistolik.2 Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan organ target. dissecting aortic aneurysm. dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS) < 120 mm Hg dan tekanan darah diastolik (TDD) < 80 mm Hg.8 Pada hipertensi emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif. gagal ventrikel kiri akut disertai edema paru. angina pectoris tidak stabil. Ada dua tingkat (stage) hipertensi . dan semua pasien pada kategori ini harus diberi terapi obat. . pendarahan intrakranial. Contoh gangguan organ target akut: encephalopathy. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg. sehingga tekanan darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit – jam) untuk mencegah kerusakan organ target lebih lanjut. dikategotikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi. mm Hg <80 80-89 90-99 ≥ 100 dan atau atau atau Tabel 2 Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa umur ≥ 18 tahun menurut JNC 7.Klasifikasi tekanan darah Klasifikasi tekanan darah oleh JNC 7 untuk pasien dewasa (umur ≥ 18 tahun) berdasarkan rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua atau lebih kunjungan klinis2 (Tabel 2). mm Hg <120 120-139 140-159 ≥ 160 Tek darah diastolic. Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori. Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan organ target yang progresif. dan eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi oral ke nilai tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa jam s/d beberap hari.3.2.

palpasi ektremitas bawah untuk melihat adanya edema dan denyut nadi. tes laboratorium rutin. Menilai gaya hidup dan identifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular atau penyakit penyerta yang mungkin dapat mempengaruhi prognosis sehingga dapat memberi petunjuk dalam pengobatan (Tabel 3) 2. penyakit arteri koroner (infark miokard.2.4 2. pemeriksaan lengkap jantung dan paru-paru. dan bruit arteri femoralis. maka akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskularnya tersebut. dan gagal jantung. stroke. Diagnosis Evaluasi hipertensi Ada 3 tujuan evaluasi pasien dengan hipertensi: 1.4.5. gagal ginjal. auskultasi arteri karotis. pemeriksaan funduskopi. otak. pemeriksaan abdomen untuk melihat pembesaran ginjal. Menetukan ada tidaknya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskular Data diperoleh melalui anamnesis mengenai keluhan pasien. pemeriksaan fisik. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (stroke. riwayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga. Mencari penyebab tekanan darah tinggi 3. perhitungan BMI (body mass index) yaitu berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (meter kuadrat). ginjal. palpasi pada kelenjar tiroid. dan pembuluh darah besar. dan prosedur diagnostik lainnya. dementia. massa intra abdominal.Komplikasi hipertensi Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan mempercepat atherosklerosis. Pemeriksaan fisik termasuk pengukuran tekanan darah yang benar. serta penilaian neurologis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh seperti jantung. pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan resiko yang bermakna untuk penyakit koroner. dan atrial fibrilasi. transient ischemic attack). angina). Bila penderita hipertensi memiliki faktor-faktor resiko kardiovaskular lain (tabel 3). mata. . penyakit arteri perifer. abdominal. dan pulsasi aorta yang abnormal. Menurut Studi Framingham.

Faktor-faktor resiko kardiovaskular2 . TIA = transient ischemic attack Tabel 3. Faktor resiko mayor Hipertensi Merokok Obesitas (BMI ≥30) Immobilitas Dislipidemia Diabetes mellitus Mikroalbuminuria atau perkiraan GFR<60 ml/min Umur (>55 tahun untuk laki-laki. Tekanan darah ini digunakan untuk mendiagnosis dan mengklasifikasikan sesuai dengan tingkatnya (lihat tabel 2).Diagnosis Hipertensi seringkali disebut sebagai “silent killer” karena pasien dengan hipertensi esensial biasanya tidak ada gejala (asimptomatik). Pengukuran rata-rata dua kali atau lebih dalam waktu dua kali kontrol ditentukan untuk mendiagnosis hipertensi. tetapi kebanyakan asimptomatik. >65 tahun untuk perempuan) Riwayat keluarga untuk penyakit kardiovaskular prematur (laki-laki < 55 tahun atau perempuan < 65 tahun) Kerusakan organ target Jantung : Left ventricular hypertrophy Angina atau sudah pernah infark miokard Sudah pernah revaskularisasi koroner Gagal jantung Otak : Stroke atau TIA Penyakit ginjal kronis Penyakit arteri perifer Retinopathy BMI = Body Mass Index. GEJALA KLINIS Secara umum pasien dapat terlihat sehat atau beberapa diantaranya sudah mempunyai faktor resiko tambahan (lihat tabel 3). Penemuan fisik yang utama adalah meningkatnya tekanan darah. GFR= glomerular Filtration Rate.

angina atau pernah infark miokard. serta elektrokardiogram. Kerusakan organ target Didapat melalui anamnesis mengenai riwayat penyakit atau penemuan diagnostik sebelumnya guna membedakan penyebab yang mungkin. Anamnesis dan pemeriksaan fisik harus meliputi hal-hal seperti: • • • • • Otak: stroke. dan kalsium serum. pernah revaskularisasi koroner Ginjal: penyakit ginjal kronis Penyakit arteri perifer . kreatinin. profil lemak (setelah puasa 9 – 12 jam) termasuk HDL. Pemeriksaan opsional termasuk pengukuran ekskresi albumin urin atau rasio albumin / kreatinin. TIA. Pemeriksaan yang lebih ekstensif untuk mengidentifikasi penyebab hipertensi tidak diindikasikan kecuali apabila pengontrolan tekanan darah tidak tercapai. kalium. LDL.Pemeriksaan laboratorium2 Pemeriksaan laboratorium rutin yang direkomendasikan sebelum memulai terapi antihipertensi adalah urinalysis. dementia Mata: retinopati Jantung: hipertropi ventrikel kiri. apakah sudah ada kerusakan organ target sebelumnya atau disebabkan hipertensi. dan trigliserida. kadar gula darah dan hematokrit.

maka tekanan darah sistolik harus digunakan sebagai petanda klinis utama untuk pengontrolan penyakit pada hipertensi. Kebanyakan pasien dengan hipertensi tekanan darah diastoliknya sudah tercapai tetapi tekanan darah sistolik masih tinggi. gagal jantung. tetapi tidak cukup untuk pasien-pasien dengan hipertensi atau untuk . 76.11 Pada kebanyakan pasien.1.2 Mortalitas dan morbiditas ini berhubungan dengan kerusakan organ target (misal: kejadian kardiovaskular atau serebrovaskular. dan pilihan terapi obat dipengaruhi secara bermakna oleh bukti yang menunjukkan pengurangan resiko.2 Modifikasi gaya hidup saja bisa dianggap cukup untuk pasien dengan prehipertensi. tekanan darah diastolik yang diinginkan akan tercapai apabila tekanan darah sistolik yang diiginkan sudah tercapai.Penurunan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan hipertensi. Diperkirakan dari populasi pasien hipertensi yang diobati tetapi belum terkontrol.9 • • • Kebanyakan pasien < 140/90 mm Hg Pasien dengan diabetes < 130/80 mm Hg Pasien dengan penyakit ginjal kronis < 130/80 mm Hg Pendekatan secara umum Walaupun hipertensi merupakan salah satu kondisi medis yang umum dijumpai. Target nilai tekanan darah yang di rekomendasikan dalam JNC VII. tetapi kontrol tekanan darah masih buruk.BAB III PENATALAKSANAAN HIPERTENSI 3.9% mempunyai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolic ≤90 mmHg.2.Tujuan terapi. Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah : . dan penyakit ginjal) Mengurangi resiko merupakan tujuan utama terapi hipertensi. Karena kenyataannya tekanan darah sistolik berkaitan dengan resiko kardiovaskular dibanding tekanan darah diastolik.

2. ACEI: angiotensin-converting-enzym-inhibitor ARB: Angiotensin Receptor Blocker CCB: Calcium Channel Blocker Gambar 2: Algoritme Pengobatan Hipertensi Apabila Target Tekanan Darah Yang Diinginkan Tidak Tercapai (Jnc 7) 3. disarankan kombinasi terapi obat. Algoritme untuk pengobatan hipertensi dapat dilihat pada gambar 2.pasien-pasien dengan target tekanan darah ≤130/80 mmHg (DM dan penyakit ginjal). dengan salah satunya diuretik tipe tiazid. Terapi nonfarmakologi 2. Terapi farmakologi . Pada kebanyakan pasien dengan tekanan darah lebih tinggi (hipertensi tingkat 2). Pemilihan obat tergantung berapa tingginya tekanan darah dan adanya indikasi khusus. Penatalaksanaan Hipertensi Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan: 1. Terdapat enam indikasi khusus dimana kelas-kelas obat antihipertensi tertentu menunjukkan bukti keuntungan yang unik. Kebanyakan pasien dengan hipertensi tingkat 1 harus diobati pertama-tama dengan diuretik tiazid.

15 e. diet rendah natrium. mengurangi garam dan berat badan dapat membebaskan pasien dari menggunakan obat. Lebih dari 60 % pasien dengan hipertensi adalah gemuk (overweight) c. Perubahan yang sudah terlihat menurunkan tekanan darah dapat terlihat pada tabel 4 sesuai dengan rekomendasi dari JNC VII. dan selanjutnya ke penyakit kardiovaskular.12 Modifikasi gaya hidup yang penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan untuk individu yang obes atau gemuk. Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan tekanan darah cukup baik dengan terapi satu obat antihipertensi.1. dan mengkonsumsi alkohol sedikit saja. dislipidemia. Terapi nonfarmakologi Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan hipertensi. Hipertensi 2 – 3 kali lebih sering pada orang gemuk dibanding orang dengan berat badan ideal b. Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien-pasien dengan hipertensi. aktifitas fisik. yang juga prekursor dari hipertensi dan sindroma resisten insulin yang dapat berlanjut ke DM tipe 2. Penurunan berat badan. mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium.16 pada pasien yang gemuk dan obes disertai pembatasan pemasukan natrium dan alkohol. modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya tekanan darah ke hipertensi pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi. Fakta-fakta berikut dapat diberitahu kepada pasien supaya pasien mengerti rasionalitas intervensi diet:4 a. Obesitas abdomen dikaitkan dengan sindroma metabolik. Semua pasien dengan prehipertensi dan hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup. hanya dengan 10 pound (4.5 kg) dapat menurunkan tekanan darah secara bermakna pada orang gemuk d.10 Program diet yang mudah diterima adalah yang didisain untuk menurunkan berat badan secara perlahan-lahan pasien. dan dorongan moril. Diet kaya dengan buah dan sayuran dan rendah lemak jenuh dapat menurunkan tekanan darah pada individu dengan hipertensi. Untuk ini diperlukan pendidikan ke .

BB. Olah raga aerobik secara teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa hari per minggu ideal untuk kebanyakan pasien. 300ml wine) untuk laki-laki dan 1/hari untuk perempuan Singkatan: BMI. beberapa hari/minggu Minum alkohol sedikit saja Limit minum alkohol tidak lebih 2-4 mm Hg dari 2/hari (30 ml etanol [mis. tidak lebih dari 100meq/L (2. untuk mengurangi resiko kardiovaskular secara keseluruhan Tabel 4. Modifikasi Penurunan berat badan (BB) Adopsi pola makan DASH Rekomendasi Pelihara berat badan normal (BMI 18.9) Diet kaya dengan buah. seperti jogging. range 5-20 mmHg/10-kg penurunan BB 13 8-14 mm Hg16 untuk penyakit kardiovaskular. sayur. jalan kaki. Studi menunjukkan kalau olah raga aerobik.5 – 24. berenang. DASH. Pasien hipertensi yang merokok harus dikonseling berhubungan dengan resiko lain yang dapat diakibatkan oleh merokok. dapat menurunkan tekanan darah.720 ml beer. body mass index.4 g sodium atau 6 g sodium klorida) 4-9 mm Hg18 Aktifitas fisik Regular aktifitas fisik aerobik seperti jalan kaki 30 menit/hari. Kira-kira penurunan tekanan darah.17 JNC VII menyarankan pola makan DASH yaitu diet yang kaya dengan buah. sayur. berat badan. dan produk susu redah lemak dengan kadar total lemak dan lemak jenuh berkurang. dan produk susu rendah lemak 2-8 mm Hg Diet rendah sodium Mengurangi diet sodium. Dietary Approach to Stop Hypertension * Berhenti merokok.f. dan menggunakan sepeda. Aktifitas fisik dapat menurunkan tekanan darah. Merokok merupakan faktor resiko utama independen . Pasien harus konsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis olah-raga mana yang terbaik terutama untuk pasien dengan kerusakan organ target. Modifikasi Gaya Hidup untuk Mengontrol Hipertensi* . Walaupun ada pasien hipertensi yang tidak sensitif terhadap garam. Natrium yang direkomendasikan < 2. kebanyakan pasien mengalami penurunaan tekanan darah sistolik dengan pembatasan natrium. Keuntungan ini dapat terjadi walaupun tanpa disertai penurunan berat badan.4 g (100 mEq)/hari.

Terapi obat berdasarkan rekomendasi dari JNC 7 akan dibahas dalam buku saku ini. Obat-obat ini baik sendiri atau dikombinasi. dan lansia. Penambahan obat kedua dari kelas yang berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan dosis lazim gagal mencapai target tekanan darah. penggunaan klinis atau efek samping. jelas. Bukti ilmiah menunjukkan kalau sekadar menurunkan tekanan darah. Diuretik. dan biaya saja tidak dapat dipakai dalam seleksi obat hipertensi.Terapi Farmakologi Ada 9 kelas obat antihipertensi . penghambat reseptor angiotensin (ARB). penghambat reseptor angiotensin (ARB). Yang harus diperhatikan adalah resiko untuk hipotensi ortostatik. Evidence-based medicine adalah pengobatan yang didasarkan atas bukti terbaik yang ada dalam mengambil keputusan saat memilih obat secara sadar. Penyekat alfa. dan antagonis kalsium dianggap sebagai obat antihipertensi utama (tabel 5). penghambat adrenergik. penyekat beta. harus digunakan untuk mengobati mayoritas pasien dengan hipertensi karena bukti menunjukkan keuntungan dengan kelas obat ini. Beberapa dari kelas obat ini (misalnya diuretik dan antagonis kalsium) mempunyai subkelas dimana perbedaan yang bermakna dari studi terlihat dalam mekanisme kerja. Apabila tekanan darah melebihi 20/10 mm Hg diatas target. tolerabilitas. disfungsi autonomik. dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat. dan antagonis kalsium (CCB). Praktek evidence-based untuk hipertensi termasuk memilih obat tertentu berdasarkan data yang menunjukkan penurunan mortalitas dan morbiditas kardiovaskular atau kerusakan target organ akibat hipertensi. terutama pada pasien-pasien dengan diabetes. penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI). penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI). Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini.2 . agonis alfa 2 sentral. penyekat beta. dan bijak terhadap masing-masing pasien dan/atau penyakit. Mencapai Tekanan Darah pada masing-masing pasien Kebanyakan pasien dengan hipertensi memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. obat-obat yang paling berguna adalah diuretik. dan vasodilator digunakan sebagai obat alternatif pada pasien-pasien tertentu disamping obat utama.

Terapi Kombinasi Rasional kombinasi obat antihipertensi: Ada 6 alasan mengapa pengobatan kombinasi pada hipertensi dianjurkan:46 1. Mempunyai efek aditif 2. Mempunyai efek sinergisme 3. Mempunyai sifat saling mengisi 4. Penurunan efek samping masing-masing obat 5. Mempunyai cara kerja yang saling mengisi pada organ target tertentu 6. Adanya “fixed dose combination” akan meningkatkan kepatuhan pasien (adherence) Fixed-dose combination yang paling efektif adalah sebagai berikut:47 1. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan diuretik 2. Penyekat reseptor angiotensin II (ARB) dengan diuretik 3. Penyekat beta dengan diuretik 4. Diuretik dengan agen penahan kalium 5. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan antagonis kalsium 6. Agonis α-2 dengan diuretik 7. Penyekat α-1 dengan diuretic Menurut European Society of Hypertension 2003, kombinasi dua obat untuk hipertensi ini dapat dilihat pada gambar 3 dimana kombinasi obat yang dihubungkan dengan garis tebal adalah kombinasi yang paling efektif.

Gambar 3. Kombinasi yang memungkinkan dari kelas yang berbeda untuk obatobat antihipertensi

Terapi lini pertama untuk kebanyakan pasien Petunjuk dari JNC 7 merekomendasikan diuretik tipe tiazid bila memungkinkan sebagai terapi lini pertama untuk kebanyakan pasien, baik sendiri atau dikombinasi dengan salah satu dari kelas lain (ACEI, ARB, penyekat beta, CCB).2 Diuretik tipe thiazide sudah menjadi terapi utama antihipertensi pada kebanyakan trial. Pada trial ini, termasuk yang baru diterbitkan Antihypertensive and LipidLowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial (ALLHAT), diuretik tidak tertandingi dalam mencegah komplikasi kardiovaskular akibat hipertensi. Kecuali pada the Second Australian National Blood Pressure Trial; dimana dilaporkan hasil lebih baik dengan ACEI dibanding dengan diuretik pada laki-laki kulit putih. Diuretik meningkatkan efikasi antihipertensi dari banyak regimen obat, berguna dalam mengontrol tekanan darah , dan harganya lebih dapat dijangkau dibanding obat antihipertensi lainnya. Sayangnya disamping kenyataan ini, diuretik tetap kurang digunakan (underused). Pada gambar 2 dapat dilihat algoritme pengobatan hipertensi. Rekomendasi ini terutama untuk pasien tanpa indikasi khusus dan berdasarkan bukti terbaik yang ada yang menunjukkan penurunan mortalitas dan morbiditas. Walaupun begitu, diuretik juga berguna pada pasien dengan indikasi tertentu, tetapi tidak selalu sebagai obat pilihan pertama. Catatan: Pada saat buku saku ini ditulis, bukti terakhir meragukan penggunaan penyekat beta secara rutin terutama atenolol, tanpa adanya indikasi khusus. Bukti terakhir menunjukkan kalau penyekat beta kurang efektif dari obat antihipertensi lain yang sebanding dalam menurunkan kejadian kardiovaskular yang major, terutama stroke.34 Apakah JNC VII akan mengadakan perubahan dalam guideline penanganan hipertensi, sampai saat buku saku ini ditulis masih belum diketahui.

Tabel 5. Obat-Obat antihipertensi yang utama4 Kelas Nama obat Dosis lazim (mg/hari ) 6.25-25 12.5-50 1.25-2.5 0.5 Freq. Pembe rian 1 1 1 1 Komentar

Diuretik Tiazid Klortalidon Hidroklorotiazid Indapamide Metolazone

Pemberian pagi hari untuk menghindari diuresis malam hari, sebagai antihipertensi gol.tiazid lebih efektif dari diuretik loop kecuali pada pasien dengan GFR rendah (± ClCr<30 ml/min); gunakan dosis lazim untuk mencegah efek samping metabolik,; hiroklorotiazid (HCT) dan klortalidon lebih disukai, dengan dosis efektif maksimum 25 mg/hari; klortalidon hampir 2 kali lebih kuat dibanding HCT; keuntungan tambahan untuk pasien osteoporosis; monitoring tambahan untuk pasien dengan sejarah pirai atau hiponatremia Pemberian pagi dan sore untuk mencegah diuresis malam hari; dosis lebih tinggi mungkin diperlukan untuk pasien dengan GFR sangat rendah atau gagal jantung Pemberian pagi dan sore untuk mencegah diuresis malam hari; diuretik lemah, biasanya dikombinasi dengan diuretik tiazid untuk meminimalkan hipokalemia; karena hipokalemia dengan dosis rendah tiazid tidak lazim, obatobat ini diberikan pada pasien yang mengalami hipokalemia akibat diuretik; hindari pada pasien dengan penyakit ginjal kronis (± ClCr<30 ml/min); dapat meyebabkan hiperkalemia, terutama kombinasi dengan ACEI, ARB, atau supplemen kalium

Loop

Bumetanide Furosemide Torsemide

0.5-4 20-80 5

2 2 1

Penahan kalium

Triamteren Triamteren/ HCT

50-100 37.5-75/ 25-50

1 atau 2 1

yang kekurangan cairan. ARB. antagonis aldosteron. dapat menyebabkan hiperkalemia. dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronis atau pasien yang juga mendapat diuretik penahan kalium. atau sudah tua sekali karena resiko hipotensi. atau ARB. terutama kombi nasi dengan ACEI. hindari pada pasien dengan penyakit ginjal kronis (± ClCr < 30ml/ min). atau suplemen kalium) Dosis awal harus dikurangi 50% pada pasien yang sudah dapat diuretik.5-30 4-16 10-80 2.5-10 1-4 1 atau 2 2 atau 3 1 atau 2 1 1 1 atau 2 1 1 atau 2 1 atau 2 Kelas Nama Obat Dosis lazim mg/hari Freq Komentar .Kelas Antagonis Aldosteron Nama Obat Dosis lazim mg/hari 50-100 Eplerenone 25-50 Spironolakton Spironolakton/HCT 25-50/2550 Freq 1 atau 2 1 Komentar Pemberian pagi dan sore untuk mencegah diuresis malam hari. karena hipokalemia dengan diuretic tiazid dosis rendah tidak lazim. obat-obat ini biasanya dipakai untuk pasien-pasien yang mengalami diureticinduced hipokalemia. jangan digunakan pada perempuan hamil atau pada pasien dengan sejarah angioedema ACE inhibitor Benazepril Captopril Enalapril Fosinopril Lisinoril Moexipril Perindopril Quinapril Ramipril Trandolaapril Tanapres 10-40 12. diuretic ringan biasanya di kombinasi dengan tiazid untuk meminimalkan hipokalemia.5-150 5-40 10-40 10-40 7. dapat menyebabkan gagal ginjal pada pasien dengan renal arteri stenosis.

. antagonis aldosteron. dapat menyebabkan eksaserbasi asma bila selektifitas hilang. tirotoksikosis Penyekat beta Kardioselektif Atenolol Betaxolol Bisoprolol Metoprolol 25-100 5-20 2. atau sudah tua sekali karena resiko hipotensi. dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronis atau pasien yang juga mendapat diuretik penahan kalium. dosis rendah s/d sedang menghambat reseptor β1. dapat memperparah asma. ada keuntungan tambahan pada pasien dengan essensial tremor. jangan digunakan pada perempuan hamil Pemberhentian tiba-tiba dapat menyebabkan rebound hypertension. tidak menyebabkan batuk kering seperti ACEI. yang kekurangan cairan. atau ACEI. keuntungan tambahan pada pasien dengan atrial tachyarrythmia atau preoperatif hipertensi Pemberhentian tiba-tiba dapat menyebabkan rebound hypertension.Penyekat reseptor angiotensin Kandesartan Eprosartan Irbesartan Losartan Olmesartan Telmisartan Valsartan 8-32 600-800 150-300 50-100 20-40 20-80 80-320 1 atau 2 1 atau 2 1 1 atau 2 1 1 1 Dosis awal harus dikurangi 50% pada pasien yang sudah dapat diuretik.5-10 50-200 50-200 1 1 1 1 1 Nonselektif Nadolol Propranolol Propranolol LA Timolol Sotalol 40-120 160-480 80-320 1 2 1 . menghambat reseptor β1 dan β2 pada semua dosis. pada dosis tinggi menstimulasi reseptor β2. migraine. dapat menyebabkan gagal ginjal pada pasien dengan renal arteri stenosis.

5-50 200-800 2 2 Antagonis kalsium Dihidropiridin Amlodipin Felodipin Isradipin Isradipin SR Lekarnidipin Nicardipin SR Nifedipin LA Nisoldipin 2. tidak ada keuntungan tambahan untuk obat-obat ini kecuali pada pasien-pasien dengan bradikardi. tetapi tidak kardioprotektif seperti penyekat beta yang lain.5-10 10-40 10-60 2 1 1 2 Campuran penyekat α dan β Karvedilol Labetolol 12.5-10 5-20 5-10 5-20 60-120 30-90 10-40 1 1 2 1 2 1 1 . Pemberhentian tiba-tiba dapat menyebabkan rebound hypertension. dan edema perifer. penambahan penyekat α meng akibatkan hipotensi ortostatik Dihidropiridin yang bekerja cepat (long-acting) harus dihindari. secara parsial merangsang reseptor β sementara menyekat terhadap rangsangan tambahan. sakit kepala. pusing. terutama nifedipin dan nicardipin. yang harus mendapat penyekat beta. efek samping dan efek metabolik lebih sedikit. kontraindikasi pada pasien pasca infark miokard. keuntungan tambahan pada sindroma Raynaud 200-800 2.Kelas Nama Obat Aktifitas simpatomimetik intrinsik Acebutolol Carteolol Pentobutolol Pindolol Dosis lazim mg/hari Freq/hari Komentar Pemberhentian tiba-tiba dapat menyebabkan rebound hypertension. dihidropiridin adalah vasodilator perifer yang kuat dari pada nondihidropiridin dan dapat menyebabkan pelepasan simpatetik refleks (takhikardia). flushing.

05-0. paling efektif bila diberikan bersama diuretik untuk mengurangi retensi cairan. bisa lihat sendiri di IIMS) 1 2 atau 3 1 atau 2 Dosis lazim Mg/hari 1-8 2-20 1-20 Freq/ hari Komentar .8 Klonidin Agonis sentral Pemberhentian tiba-tiba dapat 2 250-1000 Metildopa α-2 menyebabkan rebound hypertension. beritahu pasien untuk berdiri perlahan-lahan dari posisi duduk atau berbaring untuk meminimalkan resiko hipotensi ortostatik. dapat menyebabkan heart block.25 Reserpin Antagonis Gunakan dengan diuretik untuk Adrenergik mengurangi retensi cairan Perifer 1 atau 2 Gunakan dengan diuretic dan 10-40 Minoxidil Vasodilator penyekat beta untuk 2 atau 4 20-100 arteri langsung Hidralazin mengurangi retensi cairan dan refleks takhikardi Daftar obat fix combination (tidak perlu.Kelas Nama Obat Non-dihidropiridin Diltiazem SR Verapamil SR Dosis lazim mg/hari 180-360 Freq/hari Komentar Produk lepas lambat lebih disukai untuk hipertensi. keuntungan tambahan untuk pasien dengan atrial takhiaritmia 1 1 Obat-obat antihipertensi alternatif Kelas Nama Obat Penyekat alfa-1 Doxazosin Prazosin Terazosin Dosis pertama harus diberikan malam sebelum tidur. 0. obatobat ini menyekat slow channels di jantung dan menurunkan denyut jantung. keuntungan tambahan untuk laki-laki dengan BPH (benign prostatic hyperplasia) 2 01-0.

33 ACEI adalah pilihan obat utama berdasarkan hasil dari beberapa studi yang menunjukkan penurunan mortalitas dan morbiditas. Diuretik juga merupakan terapi lini pertama karena mengurangi edema dengan menyebabkan diuresis. terutama sebagai akibat dari hipertensi sistolik dan penyakit jantung iskemik. Pada gambar 5 terlihat proses-proses yang terjadi akibat dari hipertensi sampai ke gagal gantung . Terapi obatnya dalam bentuk kombinasi dengan atau menggantikan diuretik (gambar 4). Indikasi khusus untuk masing-masing kelas obat Gagal Jantung Gagal jantung. Gambar 4.Indikasi Khusus (Compelling Indications) JNC 7 mengidentifikasi 6 indikasi khusus. dimana kelainan fisiologi utama adalah berkurangnya kontraktilitas jantung. dalam bentuk disfungsi vetrikular sistolik atau diastolik . Lima kelas obat didaftarkan untuk indikasi khusus gagal jantung. Rekomendasi ini khususnya untuk gagal jantung sistolik. Indikasi khusus mewakili kondisi komorbid khusus dimana bukti dari trial klinis mendukung penggunaan kelas antihipertensi tertentu untuk mengobati baik indikasi khusus dan hipertensinya. ACEI harus dimulai dengan dosis rendah .

jauh dibawah dosis untuk mengobati darah tinggi. Gagal jantung menginduksi suatu kondisi renin tinggi.pada pasien dengan gagal jantung.19 Dosis penyekat beta haruslah tepat karena beresiko menginduksi eksaserbasi gagal jantung akut. penyekat beta. Untuk pasien dengan disfungsi ventrikular yang simptomatik atau dengan penyakit jantung tahap akhir. ARB. ARB dapat digunakan sebagai terapi alternatif untuk pasien-pasien yang tidak dapat menoleransi ACEI. dan dititrasi secara perlahan-lahan ke dosis yang lebih tinggi. Gambar 5. sehingga memulai ACEI pada kondisi ini akan menyebabkan efek dosis pertama yang menonjol dan memungkinan hipotensi ortostatik. ACEI. Beberapa langkah yang terlibat dalam progres dari hipertensi ke gagal jantung kongestif(sumber) . dan antagonis aldosteron direkomendasikan bersamaan dengan diuretik loop (furosemid). Dosis awal harus sangat rendah. Studi menunjukkan penyekat beta menurunkan mortalitas dan morbiditas. terutama pada pasien dengan eksaserbasi akut. Terapi dengan penyekat beta digunakan untuk mengobati gagal jantung sistolik untuk pasien-pasien yang sudah mendapat standar terapi dengan ACEI dan furosemid.

Antagonis kalsium dihidropiridin dapat digunakan sebagai terapi lini kedua atau ketiga. Penyekat beta adalah terapi lini pertama pada angina stabil dan mempunyai kemampuan untuk menurunkan tekanan darah. Guideline untuk pasca infark miokard oleh American College of Cardiology/American Heart Association merekomendasikan terapi dengan penyekat beta (agen yang tanpa aktifitas intrinsik simpatomimetik [ISA]) dan ACEI. 19. Bukti menunjukkan kalau terapi dengan penyekat beta menguntungkan pada pasien-pasien dengan penyakit jantung iskemi. pengontrolan tekanan darah sangat penting sebagai pencegahan sekunder untuk mencegah kejadian kardiovaskular berikutnya.21 ACE inhibitor memperbaiki cardiac remodeling. memperbaiki konsumsi dan mengurangi kebutuhan oksigen miokard.3 . oleh karena itu obat-obat ini tidak disukai.20 Penyekat beta menurunkan stimulasi adrenergik jantung (cardiac adrenergic stimulation) dan pada trial klinis penyekat beta telah menunjukkan menurunkan resiko infark miokard berikutnya atau kematian jantung tiba-tiba (sudden cardiac death).2 Antagonis kalsium (terutama golongan nondihidropiridin diltiazem dan verapamil) dan penyekat beta menurunkan tekanan darah dan mengurangi kebutuhan oksigen jantung pada pasien dengan hipertensi dan resiko tinggi penyakit koroner. fungsi jantung dan menurunkan kejadian kardiovaskular setelah infark miokard. Sebagai alternative antagonis kalsium kerja panjang dapat digunakan.22 Penyakit jantung iskemi Penyakit jantung iskemi adalah bentuk kerusakan organ target paling umum yang paling sering akibat hipertensi. sebaiknya dihindari. Terapi dengan CCB dihidropiridin dan atau penyekat beta dengan aktifitas simpatomimetik intrinsik dapat menyebabkan stimulasi jantung. Sekali pasien mengalami infark miokard.Pasca Infark Miokard Hipertensi adalah faktor resiko yang kuat untuk infark miokard.

adanya albuminuria (>300mg/hari).73m2 (± setara dengan kreatinin >1. dosis diuretik loop (furosemid) lebih tinggi. pengontrolan tekanan darah sampai kira-kira 160/100mmHg memadai sampai kondisi pasien stabil atau membaik.Penyakit Ginjal Kronis Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan (parenkim) atau arteri renal. Diuretik tiazid dapat dapat digunakan tetapi tidak seefektif diuretik loop bila klearans kreatinin <30 ml/min. setara dengan serum kreatinin 2.5 mg/dl)23 atau (2).73m3. bila perlu dikombinasi dengan obat lain. Pada pasien-pasien dengan penyakit ginjal kronis. Untuk penyakit ginjal lanjut (perkiraan GFR<30 ml/min per 1. fungsi ekskresi berkurang dengan perkiraan GFR <60 ml/min per 1. Hipertensi terdeteksi pada mayoritas pasien dengan penyakit ginjal kronis dan pengontrolan tekanan darahnya harus agresif.27 Karena pasien-pasien dengan penyakit ginjal kronis memerlukan beberapa obat antihipertensi. Penyakit Serebrovaskular Resiko dan keuntungan menurunkan tekanan darah semasa stroke akut masih belum jelas. sering dengan dua atau lebih obat untuk mencapai target tekanan darah <130/80 mmHg. tujuan terapeutiknya adalah untuk memperlambat deteriorasi fungsi ginjal dan mencegah penyakit kardiovaskular.28 . Kambuhnya stroke berkurang dengan penggunaan kombinasi ACEI dan diuretik tipe thiazide. yang didefinisikan sebagai: (1).5–3.0mg/dl). Naiknya serum kreatinin sebatas 35% diatas baseline dengan ACEI dan ARB dapat diterima dan bukan alasan untuk menghentikan pengobatan kecuali bila terjadi hiperkalemia.13 ACEI dan ARB mempunyai efek melindungi ginjal (renoprotektif) dalam progres penyakit ginjal diabetes24-25 dan non-diabetes. diuretik dan kelas obat antihipertensi ke tiga diperlukan (penyekat beta atau antagonis kalsium).26 Salah satu dari kedua obat ini harus digunakan sebagai terapi lini pertama untuk mengontrol tekanan darah dan memelihara fungsi ginjal pada pasien-pasien dengan penyakit ginjal kronis.

Penyakit Arteri Perifer Penyakit Arteri Perifer mempunyai resiko yang sama untuk penyakit jantung iskemi. α-blocker. bagaimanapun. dapat diikuti dengan pusing dan atau hilang kesadaran. Pasien-pasien yang beresiko untuk Hipotensi Ortostatik Hipotensi ortostatik. dan obat-obat seperti sildenafil). Berkurangnya tekanan darah sistolik >20 mmHg atau tekanan darah diastolic >10 mmHg dari posisi berbaring ke posisi berdiri lebih sering dijumpai pada lansia dengan hipertensi sistolik. dan beberapa obat-obat psikotropik. Regresi LVH dapat terjadi dengan pengontrolan tekanan darah yang agresif. Tekanan darah pada pasien-pasien ini juga . dosis standar dan beberapa obat diperlukan pada kebanyakan individu untuk mencapai target tekanan darah.HIPERTENSI PADA POPULASI /SITUASI KHUSUS Left Ventricular Hypertrophy (LVH) LVH adalah faktor resiko independen yang meningkatkan resiko untuk penyakit kardiovaskular berikutnya. termasuk pada lansia dengan isolated systolic hypertension sama dengan terapi hipertensi secara umum. diabetes. venodilator (seperti golongan nitrat. dosis awal yang lebih rendah disarankan untuk menghindari simptom. membatasi garam. Terapi hipertensi pada lansia. termasuk mengurangi berat badan. Populasi ini juga sering menunjukkan pengontrolan tekanan darahnya kurang. Pada kebanyakan individu. dan yang menggunakan diuretik.2 Hipertensi pada Lansia Hipertensi terjadi pada lebih dari 2/3 individu >65 tahun. Obat antihipertensi kelas yang manapun dapat digunakan pada kebanyakan pasien dengan penyakit arteri perifer kecuali penyekat beta. bangun dari posisi tidur dan sebagainya. Faktor resiko yang lain harus ditangani secara agresif dan aspirin dianjurkan sudah harus digunakan. dan pengobatan dengan semua kelas obat antihipertensi kecuali dengan vasodilator langsung seperti minoxidil dan hidralazin. yaitu berkurangnya tekanan darah yang bermakna bila melakukan perubahan posisi tubuh seperti berdiri dari posisi duduk.

terapi pengganti hormon tidak menaikkan tekanan darah. koarktasio aorta). dan vasodilator adalah obat-obat yang disukai demi keamanan fetus. atau bila response terhadap modifikasi gaya hidup tidak . Sebaliknya. Timbulnya hipertensi adalah suatu alasan untuk mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi lainnya. Intervensi gaya hidup sangat direkomendasikan. dan hiperurisemia. dengan terapi farmakologi digunakan untuk tekanan darah yang lebih tinggi. penyekat beta. Anak-anak dan Remaja Pada anak-anak dan remaja. di monitor secara intensif dan dengan menggunakan terapi antihipertensi parenteral dan terapi antikonvulsi. Preeklampsia timbul setelah minggu gestasi ke 20.harus dimonitor pada posisi tegak. obat antihipertensi harus dimulai dengan dosis kecil. Pada beberapa pasien. preaklampsi dapat menjadi hipertensi urgensi atau emergensi dan mungkin harus dirawat di rumah sakit. kadang-kadang dengan abnormalitas koagulasi. Dengan terapi antihipertensi yang efektif progres gangguan kognitif dapat berkurang. terutama diuretic dan ACEI Dementia Dementia dan gangguan kognitif terjadi lebih sering pada pasien dengan hipertensi. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah yang pada pengukuran berulang berada pada 95% bila disesuaikan dengan umur. Perempuan yang menggunakan obat oral kontraseptif harus memeriksa tekanan darah secara teratur. Dokter harus waspada terhadap kemungkinan penyebab hipertensi pada anak-anak (misalnya penyakit ginjal. ACEI dan ARB tidak boleh digunakan selama kehamilan karena berpotensi untuk cacat fetus dan harus di hindari pada perempuan yang diduga hamil atau berencana hamil. Pada pasien-pasien dengan resiko ini. Metildopa. tinggi dan kelamin (?). Bunyi ke 5 Korotkoff digunakan untuk menyatakan tekanan darah diastolic. Hipertensi pada perempuan Obat kontraseptif oral dapat meningkatkan tekanan darah dan resiko hipertensi meningkat dengan lamanya penggunaan. albuminuria. ditandai dengan onset baru atau bertambah parahnya hipertensi. Wanita hamil dengan hipertensi harus dimonitor dengan hati-hati karena resiko ke ibu dan fetus akan meningkat.

mencukupi. dengan target 95 – 105 mmHg. Hipertensi kronis sudah ada sebelum minggu ke 20 gestasi. Metildopa adalah obat pilihan. Banyak obat dapat digunakan untuk mengobati hipertensi kronis pada perempuan hamil (tabel 6). Diagnosa preeklampsia berdasarkan munculnya hipertensi (>140/90 mmHg) setelah minggu ke 20 gestasi dengan proteinuria. penatalaksanaannya terdiri dari restriksi aktifitas. Pemilihan obat antihipertensi sama untuk anak dan dewasa. ACEI dan ARB tidak boleh digunakan pada anak perempuan yang aktif secara seksual dan yang hamil. Preeklamsia dapat berubah menjadi komplikasi yang dapat merenggut nyawa baik ibu dan fetusnya. Dan dianggap sangat aman berdasarkan data follow-up jangka panjang (7. Untuk anak-anak dengan hipertensi tanpa komplikasi. terutama karena olahraga jangka panjang dapat menurunkan tekanan darah. istirahat (bed rest).2 Data menunjukkan kalau aliran darah uteroplacenta dan hemodinamik fetus stabil dengan metildopa. ACE inhibitor dan ARB adalah absolute kontraindikasi. Terminasi kehamilan jelas diindikasikan apabila eklampsia terjadi (preeklampsia + kejang).5 tahun). labetalol. Pembatasan garam atau tindakan lain yang menurunkan volume darah tidak boleh dilakukan. sementara. Penyekat beta. karena efek samping terhadap fetus dan ibu (hipotensi dengan fetal distress) telah dilaporkan. . dan monitoring. dan antagonis kalsium dapat digunakan sebagai alternative. Nifedipine short acting juga digunakan tetapi tidak disetujui oleh FDA untuk hipertensi. Hipertensi pada kehamilan Harus dibedakan antara preeklampsia dari hipertensi kronis. Hidralazine intravena umumnya digunakan. tetapi dosis yang efektif untuk anak-anak sering lebih kecil dan harus disesuaikan secara hati-hati. Pengobatan yang jelas untuk preeklampsia adalah melahirkan. tidak ada hambatan untuk melakukan aktifitas fisik. Perempuan dengan hipertensi kronik sebelum kehamilan dapat menderita preeklamsia. Masih kontroversi apakah menguntungkan mengobati meningkatnya tekanan darah pada pasien dengan hipertensi kronik kehamilan. dan gestasional. Bila tidak. Obat antihipertensi digunakan sebelum induksi melahirkan bila tekanan darah diastolic >105 atau 110 mmHg. dan intravena labetalol juga efektif.

2 mg awal dapat diberikan.2 mg setiap jam sampai tekanan darah diastolic < 110 mmHg atau total 0. Penurunan tekanan darah terlalu cepat ke nilai yang ideal tidak disarankan kerena berpotensi resiko (kejadian serebrovaskular. dan gagal ginjal akut). tidak terlihat meningkatnya teratogenisitas dengan penggunaan Bukan obat pilihan utama tetapi kemungkinan aman dengan dosis kecil Kontraindikasi. diikuti dengan pengamatan untuk beberapa jam untuk meyakinkan penurunan tekanan darah yang perlahan. dosis 0. Nifedipin oral atau sublingual yang dilepas cepat (short acting) telah digunakan tetapi . teratogenisitas major dilaporkan dengan penggunaannya (toksisitas ke fetus dan kematian) Tabel 6.7 mg klonidin sudah diberikan. Kaptopril 25 – 50 mg dengan interval 1 – 2 jam yang diberikan secara oral adalah obat pilihan. Pengobatan hipertensi kronis pada kehamilan Hipertensi Urgensi dan Emergensi Hipertensi urgensi idealnya ditangani dengan menyesuaikan terapi pemeliharaan dengan menambahkan obat antihipertensi yang baru dan/atau menaikkan dosis obat antihipertensi yang ada. Onset kerjanya 15 – 30 menit. infark miokard. Hal ini lebih disukai karena dapat menurunkan tekanan darah secara perlahan-lahan. Kaptopril. atau labetalol dapat diberikan. klonidin. menurunnya tekanan darah yang drastis tidak mungkin terjadi bila respons hipotensi tidak terlihat dalam 30-60 menit.Obat/Kelas Metildopa Penyekat beta Labetalol Klonidin Antagonis kalsium Diuretik ACEI. diikuti dengan 0. ARB Komentar Obat yang disukai berdasarkan data follow-up jangka panjang dan keamanan Aman secara umum. tetapi cacat pertumbuhan dalam uterus (intrauterine growth retardation) telah dilaporkan Lebih disukai dari metildopa karena efek samping lebih sedikit Data yang tersedia terbatas Data yang tersedia terbatas. Untuk pasien yang mengalamai rebound dengan penarikan klonidin.

• • Hindari penggunaan penyekat β pada pasien asma.0 mEq/L (tanpa minum obat apa-apa) Hipertensi yang resisten Disebut hipertensi yang resisten apabila gagal mencapai tujuan tekanan darah pada pasien-pasien yang telah mematuhi minum obat dengan kira-kiar 3 regimen obat termasuk diuretik. ACEI tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat angioedema.berpotensi bahaya karena penurunan tekanan darah terlalu cepat. • Antagonis aldosteron dan diuretic penahan kalium dapat menyebabkan hiperkalemia. β-blocker dapat berguna untuk pengobatan atrial takhiaritmia/fibrilasi. atau tremor esensial. sehingga jangan diberikan kepada pasien dengan kalium serum >5. atau second or third degree heart block ACEI dan ARB tidak boleh diberikan kepada perempuan punya rencana hamil dan kontraindikasi pada perempuan hamil. harus dicari secara seksama alasan-alasan mengapa tekanan darah yang diinginkan belum . Pertimbangan lain dalam Pemilihan obat Antihipertensi Efek yang berpotensi menguntungkan • • • • Diuretik tipe thiazide berguna untuk memperlambat demineralisasi pada osteoporosis. tirotoksikosis (jangka pendek). migraine. Apabila penyebab hipertensi tidak ditemukan. reactive airway disease. Telah dilaporkan kejadian infark miokard dan stroke. Kalsium antagonis dapat berguna juga untuk pengobatan sindroma Raynaud dan aritmia tertentu α-blocker dapat berguna untuk gangguan prostat Efek yang berpotensi tidak menguntungkan • Diuretik tipe thiazide harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan diagnosa pirai atau yang mempunyai sejarah medis hiponatremia yang bermakna.

JNC 7 melihatnya sebagai kelas yang independen karena bukti mendukung indikasi khusus. terutama golongan tiazid. Tetapi. diuretik penahan kalium. Hubungan perbedaan ini secara klinis tidak diketahui karena waktu paruh dari kebanyakan obat antihipertensi tidak berhubungan dengan lama kerja hipotensinya. Lagi pula. . Diuretik penahan kalium adalah obat antihipertensi yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek aditif bila dikombinasi dengan golongan tiazid atau loop. diuretik yang lebih kuat diperlukan untuk mengatasi peningkatan retensi sodium dan air. Selanjutnya diuretik ini dapat menggantikan kalium dan magnesium yang hilang akibat pemakaian diuretik lain. agen penahan kalium. dan antagonis aldosteron jarang menyebabkan diuresis yang nyata. Dengan penggunaan secara kronis.tercapai (Tabel 7). Mengenai tipe diuretik mana yang akan digunakan dan dosisnya harus disesuaikan dengan fungsi ginjal pasien.2 Bila terapi kombinasi diperlukan untuk mengontrol tekanan darah. Empat subkelas diuretik digunakan untuk mengobati hipertensi: tiazid. pagi dan sore untuk yang 2x/hari untuk meminimalkan diuresis pada malam hari. diuretik tiazide. Kebanyakan obat antihipertensi menimbulkan retensi natrium dan air. Furosemid 2x/hari dapat digunakan. Perbedaan farmakokinetik yang penting dalam golongan tiazid adalah waktu paruh dan lama efek diuretiknya. Pada pasien dengan fungsi ginjal cukup (± GFR> 30 ml/menit). Jadwal minum diuretik harus pagi hari untuk yang 1x/hari. diuretik salah satu obat yang direkomendasikan. diuretik dapat menurunkan tekanan darah terutama dengan mekanisme extrarenal. tiazid paling efektif untuk menurunkan tekanan darah. loop. dan antagonis aldosteron. Pembahasan masing-masing kelas obat Diuretik Diuretik. Antagonis aldosteron (spironolakton) dapat dianggap lebih poten dengan mula kerja yang lambat (s/d 6 minggu untuk spironolakton). masalah ini diatasi dengan pemberian diuretik bersamaan. adalah obat lini pertama untuk kebanyakan pasien dengan hipertensi. Diuretik sangat efektif menurunkan tekanan darah bila dikombinasi dengan kebanyakan obat antihipertensif lain. Bila fungsi ginjal berkurang.

hiperlipidemia. dan disfungsi seksual. kemampuannya menyebabkan hiperkalemia melebihi diuretik penahan kalium lainnya. terutama pada pasien dengan penyakit ginjal kronis atau diabetes dan pada pasien yang menerima ACEI. dan kadang-kadang dapat terjadi hipokalsemia. dan pada studi yang lain ACEI malah lebih efektif.36 . hiperkalsemia. Eplerenone dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau diabetes tipe 2 dengan proteinuria. dengan eplerenon gynecomastia jarang terjadi. ACEI dianggap sebagai terapi lini kedua setelah diuretik pada kebanyakan pasien dengan hipertensi. atau supplemen kalium. ACEI menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Karena sangat selektif antagonis aldosteron. Semua efek samping diatas berhubungan dengan dosis. walau efek pada lemak serum dan glukosa tidak begitu bermakna. Lagi pula. bahkan spironolakton. Kebanyakan efek samping ini teridentifikasi dengan pemberian tiazid dosis tinggi (misalnya HCT 100mg/hari). Studi jangka pendek menunjukkan kalau indapamide tidak mempengaruhi lemak atau glukosa atau disfungsi seksual. Diuretik penahan kalium dapat menyebabkan hiperkalemia. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI). Hiperkalemia sangat bermasalah terutama dengan eplerenone.Efek samping diuretik tiazid termasuk hipokalemia. NSAID. tetapi sangat mendekati diuretik. ARB. dimana angiotensin II adalah vasokonstriktor poten yang juga merangsang sekresi aldosteron (lihat gambar 6). ACEI mempunyai peranan lain pada pasien dengan hipertensi plus kondisi lainnya. Kalau spironolakton menyebabkan gynecomastia pada ± 10% pasien. Pada studi dengan lansia. Kebanyakan klinisi setuju bila ACEI bukan merupakan terapi lini pertama pada kebanyakan pasien hipertensi. ACEI sama efektifnya dengan diuretik dan penyekat beta. hipomagnesia. dimana efek samping metabolik akan sangat berkurang. antagonis aldosteron yang terbaru. hiperglisemia. Guideline sekarang menyarankan dosis HCT atau klortalidone 12. the Captopril Prevention Project (CAPP).5 – 25 mg/hari. hiperurisemia. Perbedaan untuk stroke konsisten dengan hasil trial lainnya. Studi ALLHAT menunjukkan kejadian gagal jantung dan stroke lebih sedikit dengan klortalidon dibanding dengan lisinopril. Diuretik loop dapat menyebabkan efek samping yang sama.

tetapi juga bertanggung jawab terhadap efek samping batuk kering yang sering dijumpai pada penggunaan ACEI. Akhirnya. Sistem renin-angiotensin dan system kallikrein-kinin ACEI juga memblok degradasi bradikinin dan merangsang sintesa zat-zat yang menyebabkan vasodilatasi. Selain terapi dengan penyekat beta.40 Tetapi pada UKPDS. termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACEI. ACEI secara efektif mencegah dan meregresi hipertrofi ventrikel kiri dengan mengurangi perangsangan langsung oleh angiotensin II pada sel miokardial. dua studi menunjukkan kalau ACEI superior daripada CCB. Pada DM tipe 2.Gambar 6.41 ACEI menurunkan morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan gagal jantung42 dan memperlambat progres penyakit ginjal kronis. bukti menunjukkan kalau ACEI lebih jauh menurunkan resiko kardiovaskular pada angina stabil kronis (EUROPA) dan pada pasien-pasien pasca infark miokard (HOPE). JNC 7 mencantumkan 6 indikasi khusus dari ACEI.43 Golongan ACEI harus digunakan sebagai pengobatan lini pertama dalam terapi pada pasien-pasien ini. Beberapa studi menunjukkan kalau ACEI mungkin lebih efektif dalam menurunkan resiko kardiovaskular dari pada obat antihipertensi lainnya. kecuali terdapat kontraindikasi absolut. data dari . captopril ekivalen dengan atenolol dalam mencegah kejadian kardiovaskular pada pasien dengan DM tipe 2. menunjukkan banyak kegunaan yang berdasarkan bukti (evidence-based) dari kelas obat ini (lihat gambar 3).

biasanya dua sampai tiga kali/hari. waktu paruhnya pendek . atau diuretik penahan kalium. Penyerapan kaptopril berkurang 30 – 40 % bila diberikan bersama makanan. dan yang juga mendapat . Batuk yang disebabkan tidak menimbulkan penyakit tetapi sangat menganggu ke pasien. Monitoring serum kalium dan kreatinin dalam waktu 4 minggu dari awal pemberian atau setelah menaikkan dosis ACEI sering dapat mengidentifikasi kelainan ini sebelum dapat terjadi komplikasi yang serius. ACEI merupakan kontraindikasi absolut untuk perempuan hamil dan pasien dengan riwayat angioedema. Gejala berupa bengkak pada bibir dan lidah dan kemungkinan susah bernafas. NSAID. enalapril. Terlihat terutama pada pasien dengan penyakit ginjal kronis. jadi penyesuaian dosis diperlukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronis yang parah. ACEI mengurangi aldosteron dan dapat menaikkan kosentrasi kalium serum. tetapi hiperkalemia dapat terjadi. Kaptopril. kortikosteroid. Batuk kering yang persisten terlihat pada 20% pasien.PROGRESS menunjukkan berkurangnya resiko stroke yang kedua kali dengan kombiasi ACEI dan diuretik tiazid. atau diabetes melitus dan pada pasien yang juga mendapat ARB. dapat dijelaskan secara farmakologi karena ACEI menghambat penguraian dari bradikinin. pada pasien-pasien dengan batuk kering. Sering ditemui pada African-Amerian dan perokok. diabetes. ACEI dapat di toleransi dengan baik oleh kebanyakan pasien tetapi tetap mempunyai efek samping. supplemen kalium. atau penyakit ginjal kronis. lansia. Biasanya kenaikkannya sedikit. dan lisinopril diekskresi lewat urin. eksaserbasi gagal jantung. antihistamin. tetapi edema laring dan gejala pulmonal kadanag-kadang terjadi dan memerlukan terapi dengan epinefrin. Kebanyakan ACEI dapat diberikan 1 kali/hari kecuali kaptopril. dan/atau intubasi emergensi untuk membantu respirasi. ACEI harus dimulai dengan dosis rendah terutama pada pasien dengan deplesi natrium dan volume. ACEI diganti dengan ARB. Hentikan pemberian ACEI untuk semua pasien dengan angioedema. Angiedema adalah komplikasi yang serius dari terapi dengan ACEI. Bila ACEI diindikasikan untuk indikasi khusus gagal jantung.

semua obat ini efektif menurunkan tekanan darah. kebanyakan ARB mempunyai waktu paruh cukup panjang untuk pemberian 1 x/hari. Penambahan diuretik dosis rendah akan meningkatkan efikasi antihipertensi dari ARB. pelepasan aldosteron. dan penghambatan pertumbuhan sel) tetap utuh dengan penggunaan ARB. Studi menunjukkan kalau ARB mengurangi berlanjutnya kerusakan organ target jangka panjang pada pasien-pasien dengan hipertensi dan indikasi khusus lainnya. Hal-hal . Tujuh ARB telah di pasarkan untuk mengobati hipertensi. ARB tidak memblok reseptor angiotensinogen tipe 2 (AT2). Sama halnya dengan ACEI. dimana ARB menghambat angiotensinogen II dari semua jalan. Penyekat reseptor angiotensin II (ARB) Angitensinogen II dihasilkan dengan melibatkan dua jalur enzim: RAAS (Renin Angiotensin Aldosterone System) yang melibatkan ACE. berarti menaikkan dosis diatas dosis rendah atau sedang tidak akan menurunkan tekanan darah yang drastis. eprosartan. Oleh karena perbedaam ini. ARB mempunyai efek samping paling rendah dibandingkan dengan obat antihipertensi lainnya. ARB menghambat secara langsung reseptor angiotensinogen II tipe 1 (AT1) yang memediasi efek angiotensinogen II yang sudah diketahui pada manusia: vasokonstriksi. Karena tidak mempengaruhi bradikinin. ARB tidak menyebabkan batuk kering seperti ACEI.vasodilator dan diuretik karena hipotensi akut dapat terjadi. ARB mempunyai kurva dosis-respon yang datar. dan losartan mempunyai waktu paruh paling pendek dan diperlukan dosis pemberian 2x/hari agar efektif menurunkan tekanan darah. Seperti ACEI. aktivasi simpatetik. Jadi efek yang menguntungkan dari stimulasi AT2 (seperti vasodilatasi. ARB dapat menyebabkan insufisiensi ginjal. pelepasan hormon antidiuretik dan konstriksi arteriol efferen dari glomerulus. Tetapi kandesartan. ACEI hanya menghambat sebagian dari efek angiotensinogen II.36 ACEI hanya menghambat efek angiotensinogen yang dihasilkan melalui RAAS. perbaikan jaringan. dan hipotensi ortostatik. hiperkalemi. Penting untuk memulai dengan ½ dosis normal untuk pasien-pasien diatas dan dosis dinaikkan pelan-pelan. dan jalan alternatif yang menggunakan enzim lain seperti chymase (lihat gambar 5).

liver. diuretik adalah obat utamanya. dan otot halus arteri. Ada perbedaan farmakodinamik dan farmakokinetik diantara penyekat beta yang ada. Tetapi. pankreas. Beberapa studi telah menunjukkan berkurangnya resiko kardiovaskular apabila penyekat beta digunakan pasca infark miokard.yang harus diperhatikan lainnya sama dengan pada penggunaan ACEI. Walaupun pernah dikontraindikasikan pada penyakit gagal jantung. Penyekat beta . demikian juga angiedema. tetapi cross-reactivity telah dilaporkan.20. Ada tiga karakteristik farmakodinamik dari penyekat beta yang membedakan golongan ini yaitu efek: • • • Kardioselektif (cardioselektivity) ISA (intrinsic sympathomimetic activity) Mestabilkan membrane (membran-stabilizing) Penyekat beta yang mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap reseptor beta1 dari pada reseptor beta-2 adalah kardioselektif. Beta-1 reseptor lebih banyak pada jantung dan ginjal. pada sindroma koroner akut. ARB tidak boleh digunakan pada perempuan hamil. pada kebanyakan trial ini. dan beta-2 reseptor lebih banyak ditemukan pada paruparu. banyak studi telah menunjukkan kalau karvedilol dan metoprolol suksinat menurunkan mortalitas pada pasien dengan gagal jantung sistolik yang sedang diobati dengan diuretik dan ACEI. Sebelumnya penyekat beta disarankan sebagi obat lini pertama bersama diuretik. tetapi terkosentrasi pada organ-organ dan jaringan tertentu. dan penyekat beta ditambahkan untuk menurunkan tekanan darah. Adrenoreseptor beta-1 dan beta-2 terdistribusi di seluruh tubuh. dan pelepasan rennin.42 Penyekat beta telah digunakan pada banyak studi besar untuk hipertensi.41. Perangsangan reseptor beta-2 menghasilkan bronchodilatatasi dan vasodilatasi. Perangsangan reseptor beta-1 menaikkan denyut jantung. Kejadian batuk sangat jarang. atau pada angina stabil kronis. walaupun tidak lebih baik dalam menurunkan resiko kardiovaskular dibandingkan dengan captopril. Atenolol digunakan pada DM tipe 2 pada studi UKPDS dan menunjukkan efek yang sebanding. tetapi menurunkan tekanan darah hampir sama. kontraktilitas. Penyekat Beta4.

Jadi. penbutolol. Pada dosis yang lebih tinggi. Aktifitas ini diperlukan bila karakteristik antiaritmik dari penyekat beta diperlukan. penyekat beta yang kardioselektif lebih disukai bila digunakan untuk mengobati hipertensi. Walaupun waktu paruh dari penyekat beta lainnya jauh lebih singkat. Beberapa penyekat beta mempunyai aktivitas simpatomimetik intrinsic (ISA). kardioselektifitas adalah fenomena yang tergantung dosis. .yang kardioselektif kecil kemungkinannya untuk mencetuskan spasme bronkus dan vasokonstriksi. ISA jarang diperlukan. obat-obat ini dapat meningkatkan resiko pasca infark miokard atau pada pasien dengan resiko penyakit koroner yang tinggi. jadi lebih aman daripada penyekat beta yang nonselektif pada pasien asma. Malahan. Juga. Tetapi penyekat beta ISA ini tidak menurunkan kejadian kardiovaskular dibanding dengan penyekat beta yang lain. carteolol. penyekat beta yang kardioselektif kehilangan selektifitas relatifnya untuk reseptor beta-1 dan akan memblok reseptor beta-2 seefektif memblok reseptor beta-1. Pada umumnya. Penghambatan reseptor beta-2 dapat menurunkan proses ini dan menyebabkan hiperglikemi atau menimbulkan perbaikan hipoglikemi. PPOK. dan metoprolol adalah penyekat beta yang kardioselektif. Tetapi. Acebutolol. dan diabetes yang karena alasan khusus harus diberi penyekat beta. dan pindolol adalah penyekat beta ISA yang bekerja secara agonis beta reseptor parsial. penyakit arteri perifer. waktu paruh. betaxolol. dan rute eliminasi. Pada dosis berapa kardioselektifitas hilang tergantung dari pasien ke pasien. sekresi insulin dan glikogenolisis secara adrenergik dimediasi oleh reseptor beta-2. derajat kelarutan dalam lemak (lipophilicity). Atenolol dan nadolol mempunyai waktu paruh panjang dan di ekskresi lewat ginjal. Propranolol dan metoprolol mengalami first-pass metabolism. Atenolol. Akhirnya. semua penyekat beta mempengaruhi aksi menstabilkan membrane (membrane-stabilising action) pada sel jantung bila dosis cukup besar digunakan. bisoprolol. jadi dosis yang diperlukan untuk memblok reseptor beta akan bervariasi dari pasien ke pasien. Perbadaan farmakokinetik diantara penyekat beta berhubungan dengan first pass metabolisme.

penyekat beta menaikkan serum kolesterol dan glukosa. Pemberhentian tiba-tiba juga dapat menyebabkan rebound hypertension (naiknya tekanan darah melebihi tekanan darah sebelum pengobatan). Seperti diuretic. sifat lipofilik ini memberikan efek yang lebih untuk kondisi nonkardiovaskular seperti migraine. Penyekat beta bervariasi dalam sifat lipofiliknya atau penetrasinya ke susunan saraf pusat. tetapi agen lipofilik berpenetrasi lebih jauh dibanding yang hidrofilik.pemberian 1x/hari efektif karena waktu paruh dalam serum tidak berhubungan dengan lama keja hipotensinya. tetapi efek ini transien dan secara klinis bermakna sedikit. Semua penyekat beta melewati sawar darah-otak. tremor essensial. Hal ini mengakibatnya efek samping sistim saraf pusat (seperti pusing dan mengantuk) dengan agen lipofilik seperti propranolol. Penyekat beta dengan karakteristik memblok penyekat alfa (karvedilol dan labatalol) tidak mempengaruhi kadar lemak. CCB mempunyai indikasi khusus untuk yang beresiko tinggi penyakit koroner dan diabetes. infark miokard. tetapi sebagai obat tambahan atau pengganti. Untuk mencegah ini. Antagonis kalsium (CCB) CCB bukanlah agen lini pertama tetapi merupakan obat antihipertensi yang efektif. penyekat beta harus diturunkan dosis dan diberhentikan secara perlahan-lahan selama 1 -2 minggu. dan tirotoksikosis. terutama pada ras kulit hitam. Jadi kosentrasi propranolol di otak lebih tinggi dibanding atenolol bila dosis yang ekivalen diberikan. Propranolol yang paling lipofilik dan atenolol yang sedikit lipofiliknya. Penyekat beta dapat menaikkan serum trigliserida dan menurunkan kolesterol HDL sedikit. ACEI terlihat lebih . dan bahkan kematian pada pasien-pasien dengan resiko tinggi penyakit koroner. Tetapi. Data menunjukkan kalau dihidropiridine tidak memberikan perlindungan terhadap kejadian jantung (cardiac events) dibandingkan dengan terapi konvensional (diuretik dan penyekat beta) atau ACEI pada pasien tanpa komplikasi. mencegah sakit kepala. Pemberian penyekat beta tiba-tiba dapat menyebabkan angina tidak stabil.44 Pada pasien dengan hipertensi dan diabetes.

gingival hyperplasia. edema perifer. Efektifitas antihipertensinya hampir sama. Ada dua subkelas CCB. tetapi ada perbedaan pada efek farmakodinami yang lain. CCB dihidropiridin long-acting dapat digunakan sebagai terapi tambahan bila diuretik tiazid tidak dapat mengontrol tekanan darah. flushing. dihidropiridin dan nondihidropiridine. Nifedipin yang bekerja cepat (immediate-release) telah dikaitkan dengan meningkatnya insiden efek samping kardiovaskular dan tidak disetujui untuk pengobatan hipertensi. mood changes. dan edema perifer lebih jarang terjadi pada nondihidropiridin verapamil dan diltiazem karena vasodilatasinya tidak sekuat dihidropiridin. Ada dua tipe voltage gated calcium channel: high voltage channel (tipe L) dan low voltage channel (tipe T).40 Studi dengan CCB nondihidropiridin diltiazem dan verapamil terbatas. tetapi studi NORDIL menemukan diltiazem ekivalen dengan diuretik dan penyekat beta dalam menurunkan kejadian kardiovaskular. CCB yang ada hanya menghambat channel tipe L. Keduanya sangat berbeda satu sama lain. dan gangguan gastrointestinal. Verapamil menghasilkan efek negatif inotropik dan kronotropik yang bertanggung jawab terhadap kecenderungannya untuk memperparah atau menyebabkan gagal jantung pada pasien resiko tinggi. terutama pada pasien lansia dengan tekanan darah sistolik meningkat.kardioprotektif dibanding dihidropiridin. 44 CCB dihidropiridin sangat efektif pada lansia dengan hipertensi sistolik terisolasi (isolated systolic hypertension). dan diuretik tetap terapi lini pertama. sakit kepala. JNC 7 tidak mencantumkan hipertensi sistolik terisolasi berbeda dengan tipe hipertensi lainnya. . flushing. Efek samping yang lain dari dihidropiridin adalah pusing. CCB bekerja dengan menghambat influx kalsium sepanjang membran sel. Diltiazem juga mempunyai efek ini tetapi tidak sebesar verapamil. Nondihidropiridin (verapamil dan diltiazem) menurunkan denyut jantung dan memperlambat konduksi nodal atriventrikular. Efek samping pusing. yang menyebabkan vasodilatasi koroner dan perifer. sakit kepala. Bagaimanapun.

takrolimus. digoksin. Verapamil dan juga diltiazem (lebih sedikit) dapat menyebabkan interaksi obat karena kemampuannya menghambat sistem isoenzim sitokrom P450 3A4 isoenzim. tetapi di stop lebih awal karena secondary end point stroke. lovastatin. Bila CCB perlu di kombinasi dengan penyekat beta. terazosin. simvastatin. Akibatnya dapat meningkatkan serum konsentrasi obat-obat lain yang di metabolisme oleh sistem isoenzim ini seperti siklosporin.Diltiazem dan verapamil dapat menyebabkan anorexia. Tidak ada perbedaan pada primary end point penyakit jantung koroner fatal dan infark miokard nonfatal. dan kejadian kardiovaskular terlihat dengan pemberian doxazosin dibanding chlorthalidone. Efek samping ini terjadi juga dengan diltiazem tetapi lebih sedikit. Pada studi ALLHAT doxazosin adalah salah satu obat yang digunakan. Obat ini memblok reseptor postsinaptik alfa1 adrenergik ditempat kapsul prostat. edema perifer. dan . Bekerja pada pembuluh darah perifer dan menghambat pengambilan katekolamin pada sel otot halus. dan doxazosin adalah penyekat reseptor α1 selektif. dan teofilin. menyebabkan vasodilasi dan menurunkan tekanan darah. Verapamil dan diltiazem harus diberikan secara hati-hati dengan penyekat beta untuk mengobati hipertensi karena meningkatkan resiko heart block dengan kombinasi ini. Penyekat alfa1 memberikan keuntungan pada laki-laki dengan BPH (benign prostatic hyperplasia). dihidropirine harus dipilih karena tidak akan meningkatkan resiko heart block. gagal jantung. Penyekat alfa1. palpitasi. menyebabkan relaksasi dan berkurang hambatan keluarnya aliran urin. Verapamil menyebabkan konstipasi pada 7% pasien. Data ini menunjukkan kalau diuretik tiazid superior dari doxazosin (dan barangkali α1-blocker lainnya) dalam mencegah kejadian kardiovaskular pada pasien dengan hipertensi. Efek samping yang tidak disukai dari penyekat alfa adalah fenomena dosis pertama yang ditandai dengan pusing sementara atau pingsan. nausea. dan hipotensi.45 Prazosin. Jadi penyekat alfa adalah obat alternatif kombinasi dengan obat antihipertensi primer lainnya.

Klonidin mempunyai kejadian efek samping antikolinergik yang cukup banyak seperti sedasi. Penggunaannya harus hati-hati pada pasien lansia. kecuali pada kehamilan. dan kabur penglihatan. Penyekat alfa melewati hambatan otak-darah dan dapat menyebabkan efek samping CNS seperti kehilangan tenaga. Kejadian hipotensi ortostatik dan pusing lebih tinggi dari pada dengan obat antihipertensi lainnya. metildopa harus diberikan bersama diuretik untuk mencegah tumpulnya efek antihipertensi yang terjadi dengan penggunaan jangka panjang. dan metildopa adalah obat lini pertama untuk hipertensi pada kehamilan. Penggunaan agonis α2 sentral secara kronis menyebabkan retensi natrium dan air. Efek samping dapat juga terjadi pada kenaikan dosis. Klonidin sering digunakan untuk hipertensi yang resistan. Hipotensi ortostatik dan pusing dapat berlanjut terus dengan pemberian terus menerus. Penurunan aktivitas simpatetik. letih. aktifitas plasma rennin. retensi urin. konstipasi. cardiac output. bersamaan dengan meningkatnya aktivitas parasimpatetik. paling menonjol dengan penggunaan metildopa. Penggunaan klonidin dosis kecil dapat digunakan untuk mengobati hipertensi tanpa penambahan diuretik. mulut kering. Agonis α2 sentral4 Klonidin dan metildopa menurunkan tekanan darah terutama dengan merangsang reseptor α2 adrenergic di otak. total peripheral resistance. dan depresi. Episode ini diikuti dengan hipotensi ortostatik dan dapat di atasi/dikurangi dengan meminum dosis pertama dan kenaikan dosis berikutnya saat mau tidur. depresi dapat terjadi. jadi harus digunakan dengan hati-hati pada lansia. dan reflex baroreseptor.bahkan sinkop 1 -3 jam setelah dosis pertama. dapat menurunkan denyut jantung. Seperti dengan penggunaan obat antihipertensi yang bekerja sentral lainnya. Perangsangan ini menurunkan aliran simpatetik dari pusat vasomotor di otak dan meningkatkan tonus vagal. Tetapi. .

05 dan 0. Harus di kombinasikan dengan diuretic (tiazid lebih disukai). Reserpin digunakan sebagai terapi lini ke tiga pengobatan hipertensi. Kedua obat juga menyebabkan penurunan tekanan perfusi yang kuat yang mengaktifkan refleks baroreseptor.Penghentian agonis α2 sentral secara tiba-tiba dapat menyebabkan rebound hypertension. Tetapi. bisa mengancam nyawa. Depresi yang terjadi berupa kesedihan. hilang nafsu makan atau percaya diri. depresi. Metildopa harus diberhentikan segera apabila kenaikan serum transaminase atau alkalin fosfatase liver menetap karena ini menunjukkan onset dari hepatitis fulminan. Reserpin juga mengosongkan katekolamin dari otak dan miokardium. disfungsi ereksi.25 depresi minimal. dan bradikardia dapat terjadi. diperlukan 2 sampai 6 minggu sebalum efek antihipertensi maksimal terlihat. Penghambatan aktifitas simpatetik yang kuat oleh reserpin mengakibatkan meningkatnya aktifitas parasimpatetik. Efek ini diduga disebabkan oleh meningkatnya pelepasan norepinefrin sewaktu klonidin diberhentikan tiba-tiba. Metildopa dapat menyebabkan hepatitis atau anemia hemolitik. Reserpin mulai kerja dan waktu paruhnya lambat sehingga dosis pemberian satu kali per hari. Dengan dosis 0. diare. hilang tenaga. Vasodilator arteri langsung (direct arterial vasodilators) Efek antihipertensi dari hidralazin dan minoksidil disebabkan oleh relaksasi langsung otot polos arteriolar tetapi tidak menyebabkan vasodilasi ke pembuluh darah vena. Pengaktifan dari baroreseptor . Kenaikan sementara serum transaminase liver kadang-kadang terlihat dengan terapi metildopa tetapi secara klinis irrelevant kecuali bila nilainya diatas tiga kali batas normal. Reserpin dapat menyebabkan retensi natrium dan air yang cukup bermakna. Reserpin Reserpin menurunkan tekanan darah dengan mengosongkan norepinefrin dari ujung saraf simpatetik dan memblok perjalanan norepinefrin ke granul penyimpanannya. dan berkurangnya curah jantung. mengakibatkan sedasi. Terlihat dari efek samping hidung tersumbat. walaupun jarang terjadi. meningkat sekresi asam lambung.

Akibatnya terbentuk takifilaksis. dan pelepasan rennin. Efek ini dapat diatasi dengan penggunaan penyekat beta bersamaan. curah jantung. efek hipotensi akan hilang dengan pemakaian seterusnya. .menyebabkan meningkatnya aliran simpatetik. sehingga meningkatkan denyut jantung.

pekerjaan. kelamin. Menentukan adanya masalah yang berkaitan dengan obat (DRP) Database pasien harus dinilai untuk melihat adanya masalah yang berkaitan dengan obat seperti • • Adanya obat-obat tanpa indikasi Adanya kondisi medis tetapi tidak ada obat yang diresepkan . olahraga. merokok/tidak.1 Assesmen Penyusunan Data Base Informasi dikumpulkan dan digunakan sebagai database yang spesifik untuk pasien tertentu untuk mencegah. agama Riwayat medis: Berat dan tinggi badan Masalah medis akut dan kronis Simtom Vital signs Alergi Sejarah medis terdahulu Hasil lab Terapi obat: Obat-obat yang di resepkan Obat-obat bebas Obat-obat yang digunakan sebelum di rawat Kepatuhan dengan terapi obat Alergi Asessmen pengertian tentang terapi obat Sosial: diet. atau pencandu obat . memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan untuk membuat rekomendasi terapi obat. minum alkohol. mendeteksi.BAB IV PERAN DAN TANGGUNGJAWAB APOTEKER DALAM PHARMACEUTICAL CARE (ASUHAN KEFARMASIAN) 4. Database yang dikumpulkan: Demografi: nama. tanggal lahir. alamat.

Misalnya batuk yang disebabkan oleh pemberian ACEI atau edema perifer dengan antagonis kalsium golongan dihidropiridin • • • Adanya interaksi: obat-obat. Harus dilihat apakah pasien dapat metoleransi reaksi efek samping atau obat harus diganti. Rencana kefarmasian dapat berupa: 1. Pilihan obat antihipertensi harus disesuaikan apakah hipertensi tanpa komplikasi atau ada indikasi khusus • Dosis. Menentukan tujuan dari terapi Untuk penyakit hipertensi tujuan dari terapi adalah . Pasien kurang mengerti terapi obat Pasien gagal mematuhi regimen obat 4.• Pilihan obat tidak cocok untuk kondisi medis tertentu. obat-tes laboratorium yang potensial dan aktual dan bermakna secara klinis. Kedua poli sering meresepkan obat yang sama dengan dosis yang sama atau berbeda atau dengan nama paten yang berbeda. bentuk sediaan. atau obat antihipertensi dari golongan yang berbeda. obat-nutrien. • Duplikasi terapeutik dan polifarmasi. atau satu golongan. Intervensi perlu dilakukan untuk mencegah reaksi hipotensi. obat-penyakit. Pasien dengan hipertensi sering berobat ke beberapa poli seperti poli ginjal dan poli kardio. dan memecahkan masalah terapi obat melalui proses yang terorganisir dan diproritaskan berdasarkan kondisi medis pasien dari segi resiko dan keparahan. rute pemberian atau metoda pemberian kurang cocok. jadwal minum obat.2 Penyusunan Rencana Pelayanan Kefarmasian Penyusunan rencana pelayanan kefarmasian melibatkan identifikasi kebutuhan pasien yang berhubungan dengan obat. Diuretik 1x/hari harus diminum pagi hari. Obat yang dipilih haruslah mempunyai efikasi disaat tekanan darah tinggi di pagi hari untuk mencegah kejadian kardiovaskular. Obat antihipertensi dan jadwal minum obat harus mempertimbangkan sirkadian ritme. • Pasien alergi dengan obat yang diresepkan.

penggantian atau obat alternatif.. b. Pilihan awal untuk dewasa tanpa indikasi khusus: a. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI). apoteker memberikan saran tentang pemilihan obat. Rekomendasikan terapi kombinasi apabila cuma ada respon parsial dengan standar dosis monoterapi.a. Antagonis kalsium (long-acting) e. Sangat disarankan terapi antihipertensi pada pasien-pasien dengan kerusakan target organ atau dengan faktor resiko kardiovaskular lainnya bila TDS > 140 mmHg atau TDD ≥ 90 mmHg. Diuretik golongan tiazid (untuk kebanyakan pasien) b. Penyekat reseptor angiotensin f. perubahan dosis. d. Untuk isolated systolic hypertension pada pasien-pasien dengan TDS>160 mmHg terapi awal dengan diuretik tiazid . Penghambat beta c. Mencegah masalah terapi obat Dalam rencana pelayanan kefarmasian. Kombinasi yang efektif melibatkan diuretik tiazid atau antagonis kalsium dengan ACEI. Memecahkan masalah terapi obat : tujuan. Sarankan terapi antihipertensi untuk pasien-pasien pada klasifikasi tahap 1 hipertensi (TDS 140-159 mmHg) dan tahap 2 hipertensi (TDS ≥ 160 mmHg) 2. sarankan pilihan awal untuk terapi antihipertensi. g. alternatif. regimen obat (jadwal. 3. dan intervensi 4. rute. Bila appropriate. ARB atau penyekat beta. Mengidentifikasi kondisi medis yang memerlukan terapi obat 3. Pasien mengerti pentingnya adherence dengan terapi obatnya 2. Mencegah atau memperlambat komplikasi dari hipertensi dengan membantu pasien mematuhi regimen obatnya untuk memelihara tekanan darah < 140/90 mmHg atau < 130/80 mmHg untuk pasien hipertensi dengan diabetes dan gangguan ginjal. dan lama pemberian) Rekomendasi apoteker dalam pemilihan obat untuk pasien dengan hipertensi: 1.

nutrien. Apoteker bekerja sama dengan pasien untuk memaksimalkan pengertian dan keterlibatan pasien dalam rencana kefarmasian. yakinkan monitoring terapi obat (misalnya tekanan darah. dan hambatanhambatan apa yang perlu diperbaiki. kepatuhan (adherence) a. Monitoring Untuk mengukur efektivitas terapi. memulai terapi obat. Respon terhadap tekanan darah harus di evaluasi 2 sampai 4 minggu setelah terapi dimulai atau setelah adanya perubahan terapi . mata. tekanan darah b. interaksi obat dan efek samping d.4. Monitoring tekanan darah Memonitor tekanan darah di klinik tetap merupakan standar untuk pengobatan hipertensi. memberi edukasi kepada pasien atau keluarganya. dll) 4. 4. dll. Skrining semua pasien hipertensi untuk interaksi obat yang bermakna (dengan obat. kerusakan target organ: jantung. ginjal. atau pada pasien dengan penyakit aterosklerosis atau penyakit arteri perifer 5. otak c.3 Implementasi Kegiatan ini merupakan upaya melaksanakan rencana pelayanan kefarmasian yang sudah disusun. hal-hal berikut harus di monitor : a. Kegiatan ini berupa menghubungi dokter untuk meklarifikasi atau memodifikasi resep. dan pasien mengerti menggunakan semua obat dan peralatan. Apoteker mencatat tahap-tahap yang diambil untuk mengimplementasikan rencana kefarmasian termasuk parameter baseline monitoring. Sarankan terapi dislipidemi dengan statin untuk semua pasien dengan hipertensi dan 3 atau lebih faktor resiko kardiovaskular. evaluasi hasil lab dll) dimengerti oleh pasien.4.

adherence Monitoring Tambahan Fungsi ginjal (BUN. Sejarah sakit dada (atau tightness). proteinuria. denyut nadi. b. orthopnea. pusing. Parameter pasien yang di monitor oleh Apoteker Hipotensi pada pemberian dosis pertama. bicara terbata-bata. serum kreatinin). serum kreatinin). lemah sebelah. serum elektrolit (kalium) Fungsi ginjal (BUN. adherence Sedasi. ginjal. Tes laboratorium harus diulangi setiap 6 sampai 12 bulan pada pasien yang stabil Kelas Obat ACE Inhibitor ARB Alpha-blocker (Penyekat alfa) Beta-blocker (Penyekat beta) Antagonis kalsium Obat yang bekerja sentral (metildopa. gula darah Gejala gagal jantung Enzim liver (metildopa) . Monitoring kerusakan target organ: jantung. adherence Denyut nadi. tekanan darah. Parameter laboratorium untuk masing-masing obat dan asuhan kefarmasian dapat dilihat pada tabel 6. penglihatan tiba-tiba berubah. gejala retensi cairan. adherence Hipotensi pada pemberian dosis pertama. Parameter klinis lainnya yang harus di monitor untuk menilai penyakit target organ termasuk perubahan funduskopik. tekanan darah. otak Pasien hipertensi harus di monitor secara berkala untuk melihat tanda-tanda dan gejala adanya penyakit target organ yang berlanjut. gejala gagal jantung. toleransi thd olah raga. mata. edema perifer. adherence Denyut nadi (verapamil. pusing. tekanan darah. pusing. dyspnea. adherence Hipotensi ortostatik (terutama dengan dosis pertama). disfungsi seksual. tekanan darah. regresi LVH pada elektrokardiogram atau ekokardiogram. palpitasi. tekanan darah. dan perubahan fungsi ginjal. dan hilang keseimbangan harus diamati dengan seksama untuk menilai kemungkinan komplikasi kardiovaskular dan serebrovaskular. serum elektrolit (kalium) Gejala gagal jantung. pusing.Pada kebanyakan pasien target tekanan darah < 140/90 mmHg. dan pada pasien diabetes dan pasien dengan gagal ginjal kronik < 130/80 mmHg. sakit kepala. tekanan darah. diltiazem). batuk. sakit kepala (terutama dengan dihidropiridin). gejala gagal jantung. pusing. mulut kering.

hiperkalemia. hilang rasa. rash. hiperkalemia.klonidin) Diuretik Pusing. impoten. hiperkalemia Hipotensi ortostatik. Kelas Obat ACE inhibitors ARB Penyekat alfa Kontraindikasi Kehamilan. Kejadian efek samping mungkin memerlukan penurunan dosis atau substitusi dengan obat antihipertensi yang lain Adapun interaksi obat antihipertensi dengan obat lain dapat dilihat pada tabel 8. constipasi (verapamil). Raynaud’s yg Efek samping Batuk. pusing. natrium). letih. hiperglikemi. yakinkan pasien juga dapat supplemen kalium atau ada obat-obat lain menahan kalium dan yakinkan kadar kalium diperiksa secara berkala. hipotensi postural. disfungsi ereksi Bronkospasm. BUN:blood urea nitrogen Tabel 7. letih. bilateral artery stenosis. Monitoring interaksi obat dan efek samping obat Untuk melihat toksisitas dari terapi. bilateral artery stenosis. urine output. diltiazem) . asam urat (utk tiazid) ACE: angiotensin converting enzyme. berat badan. misalnya apabila pasien mendapat diuretik tiazid atau loop dan pasien juga mendapat digoksin. flushing. angioedema. ARB:angiotensin receptor blocker. Memonitor obat antihipertensi sesuai kelasnya c. magnesium. trigliserida meningkat. disfungsi renal Angioedema (jarang). kadar gula. Monitoring yang intensif diperlukan bila terlihat ada interaksi obat. edema perifer. serum elektrolit (kalium. gangguan sirkulasi perifer. serum kreatinin). gagal jantung. bradikardi. exercise intolerance Sakit kepala. gingival hyperplasia. dusfungsi renal Sakit kepala. hiperkalemia Kehamilan. adherence Fungsi ginjal (BUN. disfungsi sistolik gagal jantung (verapamil. gagal jantung. tekanan darah. Efek samping bisanya muncul 2 sampai 4 minggu setelah memulai obat baru atau setelah menaikkan dosis (tabel 7). disfungsi ereksi Penyekat beta Antagonis kalsium Heart block. insomnia. sindroma parah heart block. status cairan. hidung tersumbat. hipotensi dosis pertama. efek samping dan interaksi obat harus di nilai secara teratur. diabetes Asma.

muntah. hiperkalsemia (tiazid). retensi natrium dan cairan. diabetes dihentikan. letargi. diltiazem ACEI/ARB Penyekat beta Digoksin Diuretik penahan Kalium NSAID Mekanisme Hipokalemia Hipokalemia Hiperkalemia Hiponatremia Efek negatif inotropik yang aditif Blokade reseptor beta-2 Antagonis reseptor β-1 α-vasokonstriksi oleh adrenalin Efek negatif inotropik yang aditif Menhambat ekskresi renal digoksin Ekskresi kalium melalui ginjal berkurang Retensi Na dan H2O Efek Digoksin menjadi lebih toksik Lemah otot. siklosporin.Agonis sentral (metildopa. bradikardi. garam kalium Carbamazepin. ARB. penyakit liver Rebound hipertensi bila (metildopa). hiponatremia. mulut kering. glucose intolerance (kecuali indapamide). hiperurisemia. klonidine) Depresi. verapamil Antidiabetik oral Dobutamin Adrenalin Verapamil. dan kejang Bradikardia. hepatitis (jarang) Diuretik Pirai Hipokalemia. sedasi. bingung. efek aritmogenik Hiperkalemia PotasiumSparing Tiazid Penyekat beta Efek antihipertensi berkurang Fenomena rebound bila Tidak diketahui Klonidin Penyekat beta klonidin dihentikan Efek antihipertensi Antidepresan trisiklik Antagonisme adrenoreseptor α-2 sentral berkurang dan fenomena rebound bila klonidin dihentikan Tabel 9 : Interaksi antara obat antihipertensive dengan obat lain . impoten (tiazid) Tabel 8. chlorpropamid Diltiazem. hiperlipidemia. Efek samping dan kontraindikasi obat-obat antihipertensi Kelas Obat Diuretik Tiazide Loop Berinteraksi dengan Digoksin Obat-obat yang menurunkan kadar kalium ACEI. depresi miokardial Akumulasi digoksin. aritmia jantung Hiperkalemia yg seriu dapat menyebabkan cardiac arrest Mual. disfungsi ereksi. depresi miokardial Gejala hipoglisemia tertutupi Efek inotropik dr dobutamin dihambat Hipertensi dan bradikardi Bradikardia.

modifikasi sikap.32 Strategi konseling untuk meningkatkan adherence terapi obat antihipertensi adalah sebagai berikut : • • • • • • • • • • • • Nilai adherence pada setiap kunjungan Diskusikan dengan pasien motivasi dan pendapatnya Libatkan pasien dalam penanganan masalah kesehatannya Gunakan keahlian mendengarkan menjelaskan masalahnya Bicarakan keluhan pasien tentang terapi Bantu pasien dengan cara tertentu untuk obatnya Sederhanakan regimen obat (seperti mengurangi frekuensi minum. Beberapa cara untuk membantu pasien dengan masalah adherence dapat di lihat di tabel 7. Monitoring kepatuhan/Medication Adherence dan konseling ke pasien Diperlukan usaha yang cukup besar untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi obat demi mencapai target tekanan darah yang dinginkan. Strategi yang paling efektif adalah dengan kombinasi beberapa strategi seperti edukasi. dan gout).30 Satu studi menyatakan kalau pasien yang menghentikan terapi antihipertensinya lima kali lebih besar kemungkinan terkena stroke.29 Paling sedikit 50 % pasien yang diresepkan obat antihipertensi tidak meminumnya sesuai dengan yang di rekomendasikan. dan sistem yang mendukung. d. dislipidemia. produkmkombinasi) Minum obat disesuaikan dengan kebiasaan pasien sehari-hari Berikan informasi tentang keuntungan pengontrolan tekanan darah Beritahukan perkiraan efek samping obat yang mungkin terjadi Beritahukan informasi tertulis mengenai hipertensi dan obatnya bila memungkinkan Petimbangkan penggunaan alat pengukur tekanan darah di rumah supaya pasien dapat terlibat dalam penanganan hipertensinya tidak lupa meminum secara aktif sewaktu pasien .31 Kurangnya adherence mungkin disengaja atau tidak disengaja.Monitoring tambahan mungkin diperlukan untuk penyakit lain yang menyertai bila ada (misalnya diabetes.

Bagian punggung/belakang bersandar dan lengan sejajar dengan jantung. tanpa ada hambatan pada lengan Bebas dari anxietas.• • • • Berikan pendidikan kepada keluarga pasien tentang penyakit dan regimen obatnya Libatkan keluarga dan kerabatnya tentang adherence minum obat dan terhadap gaya hidup sehat Yakinkan regimen obat dapat dijangkau biayanya oleh pasien Bila memungkinkan telepon pasien untuk meyakinkan pasien mengikuti rencana pengobatannya Edukasi ke Pasien Beberapa topik penting untuk edukasi ke pasien tentang penanganan hipertensi: • • • • • • • • • • • Pasien mengetahui target nilai tekanan darah yang dinginkan Pasien mengetahui nilai tekanan darahnya sendiri Sadar kalau tekanan darah tinggi sering tanpa gejala (asimptomatik) Konsekuensi yang serius dari tekanan darah yang tidak terkontrol Pentingnya kontrol teratur Peranan obat dalam mengontrol tekanan darah. Telapak kaki menyentuh lantai dan kaki tidak boleh disilangkan. dll) Tehnik mengukur tekanan darah Sewaktu mengukur tekanan darah yang benar pasien harus: • Duduk tenang selama paling sedikit 5 menit sebelum tekanan darah diukur. • • Gunakan pakaian yang nyaman. bukan menyembuhkannya Pentingnya obat untuk mencegah outcome klinis yang tidak diinginkan Efek samping obat dan penanganannya Kombinasi terapi obat dan non-obat dalam mencapai pengontrolan tekanan darah Pentingnya peran terapi nonfarmakologi Obat-obat bebas yang harus dihindari (seperti obat-obat yang mengandung ginseng. stress. nasal decongestan. atau kesakitan .

apoteker adalah anggota tim kesehatan yang mempunyai akses kepada informasi tentang semua obat yang di konsumsi pasien. Dokter dan Apoteker dapat bekerja sama sehingga target yang diinginkan dokter tercapai. . apoteker berinteraksi dengan profesi kesehatan lainnya terutama dokter. Apoteker dapat membantu dokter dalam:34. Sewaktu diskusi untuk efek samping obat. Kebanyakan pasien terutama kalau sudah kenal baik dengan apotekernya selalu membeli obat di apotik yang sama. Apabila pasien mengerti Mendiskusikan dengan pasien keuntungan terapi hipertensi sama pentingnya dengan mendiskusikan mengenai efek sampingnya. memonitor respon pasien di farmasi komunitas menyokong adherence terhadap terapi obat dan non-obat mendeteksi dan mengurangi reaksi efek samping. Seringnya dokter tidak menyadari terapi atau obat-obat lain yang diresepkan oleh dokter lain kepada pasien. keuntungan yang potensial dari penggunaan obat untuk hipertensi.30 menit sebelum pengukuran Menggunakan obat atau zat yang mengandung stimulan adrenergik seperti fenilefrin atau pseudoefedrin Pasien tidak boleh: Metode palpatory harus digunakan dalam mengukur tekanan darah. dalam membantu penatalaksanaan hipertensi selain berinteraksi dengan pasien. pasien akan lebih cendrung untuk mematuhi terapinya. dan merujuk pasien ke dokter bila diperlukan. Apoteker dapat menjadi perantara antara pasien dan dokter.5 Peran dan Peluang buat Apoteker Selain melakukan asuhan kefarmasian seperti yang diuraikan diatas. Apoteker harus membicarakan bagaimana mencegah atau menangani efekefek samping bila muncul agar pasien tetap meneruskan terapi obatnya. 4. Selain dokter.• • • • Berada di ruangan dengan temperatur nyaman Meminum kopi selama sekitar 1 jam sebelum pengukuran Merokok selama 15 .37 • • • • • memberi edukasi ke pasien mengenai hipertensi.

dorongan dan nasihat yang terus menerus. . dan berhenti merokok.Beberapa studi di Amerika telah menunjukkan kalau Apoteker yang bekerja di klinik hipertensi atau dengan kolaborasi dengan dokter sanggup memperbaiki penanganan pasien dengan hipertensi. Terapi nonfarmakologi memerlukan perubahan sikap. Misalnya Apoteker dapat mendiskusikan mengenai olahraga.35 Terapi nonfarmakologi memerlukan perhatian yang cukup besar oleh profesi kesehatan agar berhasil. menurunkan berat badan. Dengan membantu pasien bagaimana melibatkan perubahan/modifikasi kedalam gaya hidupnya dapat membantu pasien mencapai tujuan ini.

K/DOQI Clinical Practice Guidelines On Hypertension And Antihypertensive Agents In Chronic Kidney Disease. Vasan RS et al.DAFTAR PUSTAKA 1.Fam Pract 2001. American Diabetes Association. and Treatment of High Blood Pressure.May. 1998 – 2000. Appel LJ et al. Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention. The diagnosis of essential and secondary hypertension in adults.105:119-126 8.345:1291-1297 7. Treatment of Hypertension in Adults with Diabetes. NEJM 2001. . Evaluation. He J et al.43(5 Suppl 1):S1-290. Dosh SA.50:707-712 5. Kotchen TA. Sosium Reduction And Weight Loss In The Treatment Of Hypertension In Older Persons: A Randomized. Characteristic Of Patients With Uncontrolled Hypertension In The United States. Effects Of Comprehensive Lifestyle Modification On Blood Pressure Control: Main Results Of The Premier Clinical Trial.290:199-206 4. J. Ann Intern Med 2003. Hypertension 2000. Long-Term Effects Of Weight Loss And Dietary Sodium Reduction On Incidence Of Hypertension. Pathogenesis of Hypertension. JAMA 2003.289:2083-2093 12. Am J Kidney Dis 2004. Awareness. Trends In Prevalence.139:761776 6.21:1983-1992 2. 2003 World Health Organization (WHO) / International Society of Hypertension Statement on Management of Hypertension. And Control Of Hypertension In The United States. Bales A. JAMA 2003. Controlled Trial Of Nonpharmacologic Interventions In The Elderly. Impact of High Normal Blood Pressure on the Risk of Cardiovascular Disease. Hyman DJ et al. JAMA 2003.345:479-486 11. Oparil S et al. J Hypertens 2003. Diabetes Care 2003. NEJM 2001. Chobaniam AV et al. 26(suppl 1):S80-S82 9.279:839-846 10. Hypertensive Crisis: How To Tell If It’s An Emergency or Urgency. Treatment.35:544-549 13. Postgrad med 1999. Detection. Whelton PK .289:2560-2572 3.JAMA 1998. Hajjar I.

N Eng J Med 2000. N Eng J Med 2001. Effect Of Aerobic Exercise On Blood Pressure.329:1456-1462 Classification. The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. Foundation 23. The collaborative study group.136:493-503 18.135:1019-1028 17.342:145-153 22. N Eng J Med 1993. Evaluation. Ramipril On Cardiovascular Events In High-Risk Patients.Segment-Elevation Myocardial Infarction. DASH Collaborative Research Group. Lewis EJ et al. K/DOQI Clinical Practice Guidelines for Chronic Kidney Disease: Evaluation. NEJM 2001. Circulation 2005 No 29.112 (22 Suppl):III55-72 21.14. Yusuf S et al. Acute Coronary Syndrome. ACC/AHA 2002 Guideline Update For The Management Of Patients With Unstable Angina And Non-St. Ann Intern Med 2001. Effects Of An Angiotensin-Converting-Enzym-Inhibitor.344:3-10 16. The Effect of Angiotensin-Converting-Enzyme Inhibition On Diabetic Nephropathy.285:2486-2497 15. and Stratification. Executive Summary Of The Third Report Of The National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection.2002 National Kidney .344:1651-1658 19. Vollmer WM et al. Whelton SP et al. A report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines (Committee on the Management of Patients with Unstable Angina) 20. Ann Intern Med 2002. JAMA 2001. Effects Of Diet And Sodium Intake On Blood Pressure: Subgroup Analysis Of The Dash-Sodium Trial . Sacks FM et al. In:2005 International Consensus Conference on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science with Treatment Recommendations. and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults. Effect Of Carvedilol On Survival In Severe Chronic Heart Failure. Effects On Blood Pressure Of Reduced Dietary Sodium And The Dietary Approaches To Stop Hypertension (Dash) Diet. Packer M et al.

ASHP Therapeutic Position Statement on the Treatment of Hypertension. Am J Health-Syst Pharm 2006. Thrift AG et al. Zillich AJ et al. Three Important Subgroups Of Hypertensive Persons At Greater Risk Of Intracerebral Hemorrhage. Gijn JV. Piepho RW. Am J Health. ALLHAT Officers and Coordinators for the ALLHAT Coolaborative Research Group. Arch Intern Med 2000. Carter BL et al. BMJ 2002.24. J Clin Hypertens 2003.Syst Pharm 2000.5(1):31-37 37.288:2880-2883 29. Hypertension 1998.63:1074-1080 34. Pharmacotherapy 1997. How Pharmacist Can Assist Physicians with Controlling Blood Pressure. Carter BL et al.31:1223-1229 31.33:319 28.288:2981-2997 . Bakris GL et al. Interventions To Enhance Patients’ Adherence To Medication Prescription. Patient’s Decision About Whether or Not To Take Antihypertensive Drugs: qualitative study.288:2868-79 32.10:280S-288S 33.345:870878 25. Effect Of Blood Pressure Lowering And Antihypertensive Drug Class On Progression Of Hypertensive Kidney Disease:Results from the AASK trial.325:873-878 30. The Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial.57(Suppl 1):S3-7 36.17(6):1274-1285. N Eng J Med 2001. Major Outcomes in high-risk hypertensive patients randomized to angiotensin-converting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic. The PROGRESS Trial: Preventing Stroke by Lowering Blood Pressure in Patients with Cerebral Ischemia. Helping Patients Follow Prescribed Treatment. Deedwania PC. Wright JT Jr et al. The Progression from Hypertension to Heart Failure.160:685-693 27. Stroke 2002. Angiotensin-Converting-Enzyne-Inhibitor-Associated Elevations In Serum Creatinine. Parving HH et al. The Effect Of Irbesartan On The Development Of Diabetic Nephropathy In Patients With Type 2 Diabetes. Benson J et al. Abstract 35. Haynes RB et al. Overview The Angiotensin-Converting-Enzyme-Inhibitor. JAMA 2002.288:2421-2431 26. Evaluation of Hypertensive Patients after Care Provided by Community Pharmacists in a Rural Setting. AJH 1997. Haynes RB et al. JAMA 2002. JAMA 2002. JAMA 2002.

N Eng J Med 2003. Hypertension Management In Adults With Diabetes. 42. Are ACE inhibitors And Calcium Channel Blockers As Effective As Diuretics And Beta-Blockers ? J Am Board Fam Pract 2003. Am J Kidney Di 2000.27(suppl 1):S65-67 40.317:713-720 41.42:239-246 45.348: 583-592 39. Preserving Renal Function In Adults With Hypertension And Diabetes: A Consensus Approach. Chrysant SG.12:73S-79S 46. Bakris GL et al. Arauz-Pacheco C et al. Fixed Low-Dose Drug Combination for the Treatment of Hypertension. Wing LM et al. Saseen JJ et al. A report of the American College of Cardiology/ American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.16:156-164 44. Hypertension 2003. A Comparison Of Outcomes With Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors And Diuretics For Hypertension In The Elderly.ACC/AHA Guideline Update For The Diagnosis And Management Of Chronic Heart Failure In The Adult. Br Med J 1998. Diabetes Care 2004. Treatment of Uncomplicated Hypertension.38. Hunt SA et al. National Kidney Foundation Hypertension and Diabetes Executive Committees Working Group. Neutel JM. UK Prospective Diabetes Study Group.36:646-661 43. Arch Fam Med 1998. American College of Cardiology Foundation (ACCF) 2005. Efficacy Of Atenolol And Captopril In Reducing Risk Of Macrovascular And Microvascular Complications In Type 2 Diabetes:UKPDS 39. Am J of Hypertension 1999. Diuretic versus alpha-blocker as first-step antihypertensive therapy: Final results from the Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatments to Prevent Heart Attack Trial (ALLHAT). Low-dose Antihypertensive Combination Therapy: Its Rational and Role in Cardiovascular Risk Management.7:370-376 .

.. Demografi Nama tahun Kelamin Berat badan : : : kg Umur : Tinggi : cm B. Sejarah Medis terdahulu Penyakit Onset Membaik/sembuh Resep E. Sedang: …….. Apakah pasien saat ini atau dalam waktu 3 bulan terakhir mekonsumsi obat resep? . D. Keluhan Utama ……………………………………………………………………………………… … ……………………………………………………………………………………… … C. Kepatuhan: Baik: ….. Sejarah sosial: Merokok: Ya:…. G. .. Jelek: Komentar……………………………………………………………………………… … F. Sejarah Obat 1.. ……………………………………………………………………………………… …. Tidak diketahui: …. Tipe:…………………………………………………………………………………….. Tidak:…… Tidak:…. DATABASE PASIEN A. Alkohol: Ya:…. H. Sejarah alergi: Ya:…… Tidak:……. Sejarah penyakit yang diderita saat ini ……………………………………………………………………………………… ….Lampiran FORMULIR PELAYANAN KEFARMASIAN 1...

Ya…. regimen. . lama pemakaian dan kegunaan) …………………………………………………………………………………… …. dan jelaskan (nama obat. Review Sistem Status secara umum: Tanda-tanda vital: Hepar: Sistem Kardiovaskular: Dada/chest: Abdomen: Kulit: Neuro/Mental: Status cairan: EENT: Komentar: J. …………………………………………………………………………………… … 2. • Cara menggunakan obat tidak benar ……………………………………………… • Komunikasi kurang cukup dengan profesi kesehatan lainnya……………………. Penilaian sejarah obat: • Ketidakpatuhan pasien ……………………………………………………………. I. • Reaksi efek samping obat ………………………………………………………… • Masalah yang berhubungan dengan obat lainnya ………………………………….. dosis. Laboratorium Tanggal Na +/K+ Cl -1/HCO3-1 Ca 2+/PO4 -2 ESR Mg/UA Tanggal . Bila ya sebutkan. lama pemakaian dan kegunaan) …………………………………………………………………………………… …. Apakah pasien saat ini mekonsumsi obat bebas ? Ya … Tidak … Bila ya sebutkan. dosis. 3. dan jelaskan (nama obat. …………………………………………………………………………………… …. regimen. Tidak …. • Pengetahuan tentang obat kurang………………………………………………….

khusus pasien ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ………… 3. biaya. 4... Diagnosis/Daftar masalah medis ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ………… L. dll.. Penggunaan Obat di ruangan ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………… ………… ………………………………………………………………………………………… …… 2.Al/TP pH/Osat pCO2/HCO3-1 pO2/% RR/Vent WBC/RBC HgB/HCT PMN/BND LYM/MNO EOS/BSO PLTS BUN?Scr K. bentuk sediaan. frekuensi. keamanan. Alternatif Farmakoterapeutik untuk setiap DRP Termasuk: nama obat. Outcome Farmakoterapeutik yang dinginkan untuk setiap DRP (i) ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… …… (ii) ……………………………………………………………………………… …. ………………………………………………………………………………………… …. Daftar Masalah yang berkaitan dengan obat (DRP). (iii) dst. rute dan lama pemberian disertai efikasi. .

Monitoring ………………………………………………………………………………………… …… ………………………………………………………………………………………… …… 8.………………………………………………………………………………………… …… 5. Implementasi Rekomendasi rencana kefarmasian (komunikasi) dan komentar ………………………………………………………………………………………… …… 7. Pilih pemecahan farmakoterapeutik terbaik ………………………………………………………………………………………… …… ………………………………………………………………………………………… …… 6. Follow-up ………………………………………………………………………………………… …… ………………………………………………………………………………………… …… .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->