PENGARUH pH dan SUHU terhadap AKTIVITAS ENZIM

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI

Disusun Oleh : Maria Rosalia K 09.70.0055

Kelompok B.10

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2009

1. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. Dalam mahkluk hidup. Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan.1. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. 1994). Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. substansi tersebut tidak berubah. reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. 1994). Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. 1991). Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. perubahan pH sangat kecil. dalam banyak kasus. PENDAHULUAN 1. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). Pada sel hidup. glikogen dan 2 . 1990). mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono.

Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. hewan memiliki amilase. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah.3 polisakarida yang lain. 1994). 1994). Pada suhu 45rC efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. begitu juga pada suhu ruang. daerah temperatur. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. Tumbuhan mengandung hanya dan amilase. Pada suhu ruang. kebutuhan kofaktor. larutan tidak ada gumpalan. Akibatnya daya kerja enzim menurun. dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. Tetapi lebih dari 45rC menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55rC fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington. 1989). Dalam air. pH optimal. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Karena itu pada suhu 40oC. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. 1991). Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk . pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit (Wirahadikusumah. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. sedngkan pada suhu 100 oC masih ada gumpalan ± gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak.

Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Sifat-sifat enzim antara lain : 1. 1994). 1994). laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. Ketika temperatur meningkat. 1990). gondongan. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. Sebaliknya pada penyakit hati. aktivitas enzim berkurang. kadarnya menurun (Anonim. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. enzim tidak benar -benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. kencing manis. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180 -230C atau maksimal 400 C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Pada penyakit radang pankreas. kadarnya dalam darah meningkat. Pada suhu yang sangat rendah. Misalnya. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. Sebagai contoh. yaitu suhu tubuh. Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah. 1994). Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan . Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. (Tranggono & Setiadji.4 yang lebih sederhana. maltotriosa atau oligosakarida. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. 2. 1989). Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya.

1992). Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. peroksidase dan .5±8. Poligalakturonase. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok.5 menghancurkan aktivitas molekul enzim. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. Namun dalam suatu reaksi kimia. misalnya ion kalsium dan ion klorida. 4. yang terjadi saat perkecambahan serealia. pada umumnya sekitar 4. 1992). dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington. enzim yang dikeluarkan ke lambung. 3. Sebagai contoh. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Pati yang merupakan polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. pepsin. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. Beberapa ion anorganik. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. 1994). 1994).

hewan memiliki amylase. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. dan gaya irisan. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda±beda (Lee. Pada suhu yang sangat rendah. 1994). Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. enzim. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. suhu optimal antara 35 C dan 40 C. aktifitas enzim akan berkurang. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. 1992). 1994). enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. dan polisakarida yang lain. Tipe II Tipe III : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein. yaitu suhu tubuh. pH. kofaktor. temperatur. Pada suhu 100 C semua enzim rusak. produk. : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. 1991). Di atas suhu 50 C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. glikogen.6 fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. Tumbuhan mengandung hanya dan ß amylase. Untuk enzim. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi o pH leh larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. dll). Amilase memotong rantai polisakarida yang . Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase.

Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. Di dalam larutan pati. Suhu tinggi konsentrasi amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr. Tidak memproduksi glukosa. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz. 1991). 1992 ).7 panjang. e. kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. 1991 ). Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. c. antara lain : a.2. amilase mempunyai beberapa sifat. amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. Warna iodine akan lebih cepat hilang. Contohnya. amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. b. 1994). d. Proses produksi maltosa lebih lambat. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim. Dalam air. Pada manusia. Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7. 1. . 1995 ). 1994).

Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing ± masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. larutan pati 1%. 1 ml buffer pH 5.5.9. 1 ml buffer pH 7. vortex. 7. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing ± masing tabung reaksi dan di-vortex. tabung reaksi. Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung. timbangan analitik. air destilasi. kacang tanah segar. 13).7. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1. 2. 11. cawan dan batang porselin. 5. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih). Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict. 8 . 12. Materi 2. pompa. MATERI DAN METODE 2. Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath. 10.2. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit. 6. 3. kecambah kacang hijau. stopwatch. dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Tabung 1 2 3 4 5 Larutan pati Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 2 4 2 - 2 4 2 - 2 4 2 - 2 4 2 - 2 4 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex.1. 1 ml buffer pH 3. pipet volume. penjepit. Setelah itu. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9. kacang hijau segar. larutan Buffer pada pH 3. beaker glass. spektofotometer.1. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g.2.2. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer. 2. 4.1.1. 2.

5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada antara nilai pH terhadap OD digambar. Grafik hubungan .9 Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung±tabung reaksi tersebut. 0. 620. Setelah itu.

6 0.65 0.4480 0. Tabel 1.1146 0.1180 0.15 1. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar.3 1.5701 4 pH 7 0.5 0.8719 1.1219 0.1 0.25 0.8561 0.25 1.85 0.3.1968 0.75 0.2 1.9005 0.9213 1.35 0. Grafik 1.0240 0.2080 0.9581 1. HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.2388 1.2415 1.15 0.9199 1.3844 0.4248 2 pH 3 1.9458 0.1879 0.4 0.3 0.2289 0.1552 0.7 0.2412 0.35 1.3391 0. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan 1.1957 0.9948 0.2830 0.05 0 Kacang Hijau Segar Enzim Tidak Mendidih Kecambah Kacang Hijau Enzim Tidak Mendidih Pepaya Mentah Enzim Tidak Mendidih Pepaya Matang Enzim Tidak Mendidih Kacang Hijau Segar Enzim Mendidih Kecambah Kacang Hijau Enzim Mendidih Pepaya Mentah Enzim Mendidih Aquades pH3 pH5 pH7 pH9 Pepaya Matang Enzim Mendidih 10 .1237 0.4868 0.45 1.1245 1.8 0.2706 0.4 1.55 0. Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Kel B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 1 aquades 0.9 0.6078 5 pH 9 0. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.2143 Tabung 3 pH 5 0.8425 0.3041 0.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.2120 0.3486 0.5631 0.5 1.1 1.05 1 0. B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang.2 0. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.7878 0.95 0.45 0.

11 Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. . Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama.

Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan.4. Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. nilai absorbansinya semakin turun. Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. menurut Gaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. Semakin tinggi suhunya. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. Sedangkan pada bahan yang dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. Pada enzim yang dididihkan. Seharusnya. Sehingga jika suhu berada di atas optimal. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400 C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. Suhu 12 . karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi.

Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang. Ketika temperatur meningkat. Pada suhu yang sangat rendah. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu.13 yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat. . Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. hal ini sesuai pernyataan Gaman & Sherrington (1994). Akibatnya daya kerja enzim menurun. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. yaitu suhu tubuh. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. aktivitas enzim berkurang. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan.

5. y y Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH. y KESIMPULAN Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum. Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. Asisten Dosen : o Melita Widodo o Adhiprana Waraputra Maria Rosalia 14 . 28 Oktober 2009 Praktikan. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Semarang. y Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu. dan pada suhu 100oC enzim rusak. karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Pengantar Ilmu Pangan.PT Cipta Adi Pustaka. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. (1989).S. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Biokimia : protein. Sherrington. P. Yogyakarta. Jakarta. Gajah Mada university Press.B. Ilmu Pangan. Organic Experiment 7 th Edition. Prentice Hall Inc. Kartasapoetra. Mikrobiologi Pangan 1. Nutrisi dan Mikrobiologi.L & L. Biochemical Engineering. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. P. Bandung. Gaman. (1994). dan asam nukleat.M & K.Fieser. enzim. Williamson. (1991). (1990). Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. Food Enzymology Vol 2. Fardiaz. Yogyakarta. Biokimia jilid 1. (1992).F.K. London. (1994). Tranggono & Sutardi.6. (1994). Martoharsono. Wirahadikusumah. Tranggono.G. Institut Teknologi Bandung. Rineka Cipta. (1992). Universitas Gadjah Mada press. Lee.A. S. M. Yogyakarta. S. D C Health ang Company. (1992).F. M. Gramedia Pustaka. 15 . Jakarta. Fox. (1990). New Jersey.B. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Elsevier Applied Science. Jakarta. United States of America. (1989). J.

1. LAMPIRAN 6.6.2. Laporan Sementara 6. Lampiran Artikel 16 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful