THE GUARDIAN AND THE INTERPRETER OF THE CONSTITUTION

Oleh : Pan Mohamad Faiz Kusumawijaya, S.H.1 ”Tidak ada yang menghambat anda terhadap perkara yang anda putuskan hari ini kemudian anda tinjau kembali karena terjadi kekliruan (fahudîta li rusydika), bahwa anda kembali kepada kebenaran. Kebenaran itu terdepan dan tidak dibatalkan oleh apapun. Kembali kepada kebenaran itu lebih baik daripada terus menerus dalam kebatilan.” (Khalifah Umar bin Khathab) A. PENDAHULUAN Ide pembentukan Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu perkembangan pemikiran hukum dan kenegaraan modern yang muncul pada abad ke-20. Ditinjau dari aspek waktu, negara kita tercatat sebagai negara ke-78 yang membentuk MK sekaligus merupakan negara pertama di dunia pada abad ke-21 yang membentuk lembaga ini. Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Tahun 19452 menetapkan bahwa Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court) merupakan salah satu lembaga negara yang mempunyai kedudukan setara dengan lembaga-lembaga negara lainnya, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden, Mahkamah Agung (MA), dan yang terakhir terbentuk yaitu Komisi Yudisial (KY)3. Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan salah satu lembaga yudikatif selain Mahkamah Agung yang melaksanakan kekuasaan
1

Penulis adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2001-2005), dan sekarang menjadi staff pada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
2

UUD Negara RI Tahun 1945 merupakan penyebutan atau penulisan resmi terhadap UUD 1945 yang telah 4 (empat) kali diamandemen. Hal ini digunakan untuk membedakan UUD 1945 yang belum diamandemen (UUD 1945) dengan UUD 1945 yang telah diamandemen (UUD Negara RI Tahun 1945).
3

Lihat Pasal 24B UUD Negara RI Tahun 1945 dan Undang-Undang No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

dan memutus perselisihan tentang hasil pemilu. wewenang Mahkamah Konstitusi tersebut diatur lagi dalam Pasal 10 Undang-Undang No. Jimly Asshiddiqie. dimana penulis merupakan editor dari buku tersebut. B. Dr.kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.4 Undang-Undang Dasar Untuk lebih jelasnya lihat Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman beracara dalam Perkara Pengujian Undang-Undang. Secara khusus. transparan. Menguji undang-undang terhadap Negara Republik Indonesia tahun 1945. serta buku “Hukum Acara Pengujian Undang-Undang” karya Prof. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dengan merinci sebagai berikut: a. (2) Mahkamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar. memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. KEWENANGAN Pasal 24C ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggariskan wewenang Mahkamah Konstitusi adalah sebagai berikut: (1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. memutus pembubaran partai politik. yang tidak lama lagi akan segera diterbitkan. melainkan dikelola secara objektif dan rasional sehingga sengketa hukum yang diselesaikan secara hukum pula. Pembentukan Mahakamah Konstitusi dimaksudkan agar tersedia jalan hukum untuk mengatasi perkara-perkara yang terkait erat dengan penyelenggaraan negara dan kehidupan politik.H. 4 . dan akuntabel.. Dengan demikian konflik yang terkait dengan kedua hal tersebut tidak berkembang menjadi konflik politik-kenegaraan tanpa pola penyelesaian yang baku. S. Oleh karena itu Mahkamah Konstitusi sering disebut sebagai Lembaga Negara Pengawal Konstitusi atau The Guardian and The Interpreter of The Constitution.

Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama. Memutus pembubaran partai politik. 8 Rumusan terinci dapat merujuk pada Pasal 7B ayat (1) sampai dengan ayat (5) UUD Negara RI Tahun 1945 yang lebih dikenal dengan impeachment.. bukan termasuk pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). penyuapan. 7 Pemilihan Umum yang dimaksud di sini yaitu hanya terbatas pada pengertian Pemilihan Umum anggota Legislatif dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden saja.H. dan6 Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.H. Jimly Asshiddiqie. dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.5 sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara republik c. melainkan permohonan. .8 C. 6 Lebih jelasnya lihat dan pelajari buku karya Prof. 9 Semua perkara konstitusi di Mahkamah Konstitusi disebut sebagai perkara permohonan. atau perbuatan tercela. Pembubaran Partai Politik...7 Mahkamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. PEMOHON Dalam berperkara di Mahkamah Konstitusi. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di Mahkamah Konstitusi tidaklah bersifat adversarial atau contentious yang berkenaan dengan pihak-pihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata ataupun tata usaha negara. Memutus Indonesia tahun 1945. Oleh sebab itu. perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. M. bukan gugatan. Undang-undang yang digugat adalah undangundang yang mengikat umum terhadap segenap warga negara.9 Adanya 5 Untuk saat ini referensi tulisan yang berkaitan dengan Lembaga Negara. yang telah diterbitkan oleh Konstitusi Press belum lama ini. Dr. S. dikarenakan MA ternyata menemukan kesulitan terhadap penanganan perkara Pilkada itu sendiri. Lihat juga buku ”Impeachment Presiden: Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden Menurut UUD 1945” karya Hamdan Zoelva. sebenarnya siapa sajakah yang boleh memohon (legal standing)? Ternyata tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke Mahkamah Konstitusi dan menjadi pemohon. korupsi. dan Mahkamah Kosntitusi”. e. d. yang berjudul ”Kemerdekaan Berserikat. Akan tetapi pada saat ini telah berkembang wacana dimana penyelesaian sengketa Pilkada yang menjadi kewenangan Mahkamah Agung akan dimungkinkan dialihkan menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian. subjek hukum yang mengajukannya disebut sebagai Pemohon. dapat dilihat pada buku ”Sengketa Lembaga negara” yang telah diterbitkan oleh KRHN (Konsorsium Reformasi Hukum Nasional).b. tindak pidana berat lainnya. S.H.

kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di Mahkamah Konstitusi. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan 10 Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet point d’action. 11 Maruarar Siahaan. (Jakarta: Konstitusi Press. Persyaratan legal standing atau kedudukan hukum dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. 24 Tahun 2003. . Lembaga Negara. 81-82. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan Warga Negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). Perorangan warganegara Indonesia. Dua kriteria dimaksud adalah:11 a. Dalam hukum acara Mahkamah Konstitusi yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UndangUndang No. 2005). c. atau d. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut undangundang untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada Mahkamah Konstitusi. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian undang-undang. (Maruarar Siahaan merupakan salah satu dari sembilan hakim konsitusi RI). b. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa yang dimaksud dengan hak dan kewenangan kosntitusional? Seperti telah diuraikan di atas. Badan hukum publik atau privat. Hukum Acara Mahkamah Kosntitusi Republik Indonesia. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas.kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata10 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. hal. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya undang-undang yang sedang dipersoalkan. yang bunyinya sebagai berikut: a. Hal yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan.

lembaga negara dan aparatur pemerintah atau masyarakat pada umumnya.13 Nuansa public interest yang melekat pada perkara-perkara semacam itu akan menjadi pembeda yang jelas dengan perkara pidana. meskipun andaikata permohonan hanya diajukan oleh seseorang atau individu tertentu. dan tata usaha negara yang pada umunya menyangkut kepentingan pribadi dan individu berhadapan dengan individu lain ataupun dengan pemerintah. D.sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. dan Tata Usaha Negara secara mutatis mutandis dapat diberlakukan dengan menyesuaikan aturan dimaksud dalam praktek hukum acaranya. maka ketentuan yang memberlakukan aturan Hukum Acara Pidana. Perdata. (iii) badan hukum publik atau privat. b. sedangkan pengujian seluruh peraturan perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang diajukan kepada Mahkamah Agung. tetapi juga orang lain. Oleh karena terjadinya praktek hukum acara yang merujuk pada undangundang hukum acara yang lain timbul karena kebutuhan yang kadang-kadang dihadapkan kepada Mahkamah Konstitusi. perdata. Ciri inilah yang akan membedakan penerapan hukum acara di Mahkamah Konstitusi dengan hukum acara di pengadilanpengadilan lainnya. terutama sekali dalam hal pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar (Judicial review). Hanya saja jika terjadi pertentangan dalam praktek hukum acara pidana dan TUN dengan aturan hukum acara perdata maka secara mutatis mutandis juga aturan Hal ini disebabkan oleh karena adanya sifat kepentingan umum yang tersangkut di dalamnya.12 Keputusan yang diminta oleh pemohon dan diberikan oleh Mahkamah Konstitusi akan membawa akibat hukum yang tidak hanya mengenai orang seorang. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. 13 12 Perbedaan kewenangan antara Mahkamah Konstitusi dengan Mahkamah Agung dalam hal Judicial Review yaitu dalam hal pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar harus dimohonkan kepada Mahakamah Konstitusi. atau (iv) lembaga negara. . HUKUM ACARA Perselisihan yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi sesungguhnya memiliki karakter tersendiri dan berbeda dengan perselisihan yang dihadapai sehari-hari oleh peradilan biasa.

d. c. Ditandatangani oleh pemohon/kuasanya. dimana dapat diterapkan pada Mahkamah Konstitusi RI apabila terdapat kekosongan dalam pengaturan hukum acaranya. . Disertai bukti pendukung 14 Untuk sumber-sumber hukum acara yang disebut dalam huruf d. Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi RI. Meskipun aturan ini tidak dimuay dalam UU Mahakamah Konstitusi. e. d. Pengajuan permohonan16 a. maka sumber hukum acara Mahkamah Konstitusi dapat dikenali sebagai berikut:14 a.hukum acara perdata tidak akan diberlakukan. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. prosedur berperkara di Mahkamah Konstitusi dapat penulis simpulkan sebagai berikut:15 1. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. akan tetapi telah diadopsi dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK). Sistematika:    Identitas dan legal standing Posita Petitum f. Pendapat Sarjaa (doktrin). dan Hukum Acara Pidana Indonesia. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan beberapa Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) tentang Hukum Beracara berdasarkan tiap-tiap kewenangan MK. Jenis perkara. e. f. c. Peraturan Mahakamah Konstitusi (PMK). Ditulis dalam bahas Indonesia. 15 Lihat dalam BAB V Undang-Undang No. b. e. diajukan paling lambat 2 x 24 jam sejak KPU mengumumkan hasil pemilu. baik sebelum maupun sesudah praktek yang merujuk undang-undang hukum acara lain itu digunakan dalam praktek. Adapun secara ringkas dan sistematis. dan f merupakan sumber tidak langsung. 16 Khusus untuk perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU). Undang-Undang No. b. Dari uraian di atas. Undang-Undang Hukum Acara Perdata. Diajukan dalam 12 rangkap. Hukum Acara dan yurisprudensi Mahkamah Konstitusi Negara lain.

 Salinan permohonan disampaikan kepada Presiden. Pemeriksaan kelengkapan permohonan panitera:    Belum lengkap. 5. − Pengujian undang-undang: Salinan permohonan disampaikan kepada Presiden dan Permohonan diberitahukan kepada Mahkamah Agung. c. Diumumkan kepada masyarakat. Kejelasan materi Permohonan. 3. wajib dilengkapi Lengkap Registrasi sesuai dengan perkara. Terbuka untuk umum. Kelengkapan syararat-syarat permohonan.2. Pemeriksaan Persidangan a.  c. b. d. memeriksa:   Kelengkapan syarat-syarat Permohonan. 17 Khusus untuk perkara perselisihan hasil pemilu. Sengketa kewenangan lembaga negara: Pembubaran Partai Politik: Pendapat DPR: DPR. diberitahukan 7 (tujuh) hari sejak diberitahu. Sebelum pemeriksaan pokok perkara. paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak registrasi Salinan Permohonan disampaikan kepada KPU. . Para pihak diberitahu/dipanggil. 7 (tujuh) hari kerja sejak registrasi untuk perkara. Penjadwalan Sidang a.  Salinan permohonan disampaikan kepada Parpol yang bersangkutan. Pemeriksaan Pendahuluan a. Memberi nasehat:   c. 4. Perbaikan materi permohonan. b. 14 hari harus sudah dilengkapi dan diperbaiki. −  Salinan permohonan disampaikan kepada lembaga negara termohon. Pendaftaran17 a. Dalam 14 hari kerja setela registrasi ditetapkan Hari Sidang I (kecuali perkara Perselisihan Hasil Pemilu).

18 . Setiap hakim menyampaikan pendapat/pertimbangan tertulis.b. DPD. 3. d. d. dan 6. e. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan. 4. 30 hari kerja sejak registrasi. Salinan putusan dikirim kepada para pihak 7 (tujuh) hari sejak diucapkan. b. 60 hari kerja sejak Untuk perkara perselisihan hasil pemilu: − − − registrasi. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi mengakui enam jenis alat bukti yang sah yang dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh hakim konstitusi dalam memeriksa dan memutus setiap perkara konstitusi yang dimohonkan kepadanya. Untuk perkara pendapat DPR. 2. Keterangan ahli. disampaikan kepada DPR. Pihak-pihak dapat diwakili kuasa. Putusan a. minimal 2 (dua) alat bukti memuat:18   Fakta. dikirimkan. Lembaga negara dapat diminta keterangan Lembaga negara dimaksud dalam jangka waktu tujuh hari wajib memberi keterangan yang diminta. Berdasarkan Pasal Pasal 36 ayat (1) UU No. Untuk Putusan perkara:  Pengujian undang-undang. Keterangan para pihak. Ditandatangani hakim dan panitera. Diambil suara terbanyak bila tak mufakat.  Presiden dan/atau wakil Presiden. DPR. Berkekuatan hukum tetap sejak diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum/ f. 6. didampingi luasa dan orang lain. Dasar hukum keputusan. c. dan DPRD. Memeriksa: permohonan dan alat bukti. DPD. Musyawarah mufakat. Sesuai alat bukti. g. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. 90 hari kerja sejak registrasi. f. e. Para pihak hadir menghadapi sidang guna memberikan keterangan. diterima. 5. Surat atau tulisan. Presiden. suara terakhir ketua c. Diputus paling lambat dalam tenggang waktu:  Untuk perkara pembubaran partai politik. Cara mengambil keputusan:     menentukan. dan Mahkamah Agung. 14 hari kerja sejak registrasi. Petunjuk. Bila tidak dapat dicapai suara terbanyak. Keterangan saksi. Keenam alat bukti itu adalah: 1. Saksi dan/atau ahli memberi keterangan.

B-5 Kuningan. Pendapat DPR. yang selalu up to date bagi masyarakat yang ingin mencari setiap putusan. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia genap berusia 2 (dua) tahun. Mahkamah Konstitusi terus berusaha menjadi lembaga negara yang dekat dengan publik. 20 Mahkamah Kosntitusi pada saat ini bertempat di Jalan Merdeka Barat No. serta official website Mahkamah Konstitusi yang berdomain pada www. penulis mencatat beberapa perkara yang sempat menjadi sorotan di tengah-tengah publik yaitu: 1.mahkamahkonstitusi. terdiri dari: Pendirian Mahkamah Konstitusi dimulai semenjak adanya pengucapan sumpah jabatan 9 (sembilan) hakim konsitutsi di Istana Negara.  bersangkutan. Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2003. E. Dan direncanakan pada tahun 2006 Mahkamah Konsitusi akan menempati gedung barunya (dalam proses pembangunan) yang sangat megah dan berarsitektur nilai tinggi pada Jalan Merdeka Barat No 6. Pembubaran partai politik. 7 Jakarta. dekat dengan rakyat. dan Presiden.19 Dalam perjalanannya dalam mengawal konstitusionalitas Indonesia dan membangun budaya sadar berkonstitusi. Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) tahun 2004. LAN. Jakarta. disampaikan kepada DPR. Jakarta Selatan. Intercom. dimana pada masa awal pembentukan pernah bertempat di Plaza Centris di Jalan HR Rasuna Said. Sengketa kewenangan lembaga negara.id. Kav. Akan tetapi pemenuhan IT System pada lingkungan Mahkamah Konstitusi tidak pernah luput dan bahkan semakin membaik.go. dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan rakyat dan negara Indonesia. Presiden dan Wakil DPD. dimana pada lingkungan kerja MK setiap pegawainya dilengkapi dengan komputer yang mempunyai akses internet 24 hours. disampaikan kepada DPR. disampaikan kepada partai politik yang Perselisihan hasil pemilu disampaikan kepada Presiden. BEBERAPA PERKARA YANG TELAH DAN AKAN DPUTUS OLEH MAHKAMAH KOSNTITUSI Pada bulan Agustus 2005 kemarin. 19 .   Presiden. risalah ataupun berita-berita yang berkaitan dengan Mahkamah Konstitusi itu sendiri. Dengan sistem peradilan yang bersih dan didukung dengan Teknologi Informasi (TI) yang sangat modern. Sejak Mahkamah Konsitusi berdiri.20 berbagai perkara yang masuk dalam Kepaniteraan Mahakamah Konstitusi telah berhasil diputuskan dan menjadi jalan keluar dari kebuntuan akan ketidakpastian hukum yang selama ini terjadi di tengah-tengah masyarakat. dan ruang persidangan yang mengikuti standar International.

UU No. UU No. 1 (satu) buah Perkara PHPU Presiden dan Wakil Presiden. UU No. diajukan oleh 23 partai politik dan 21 calon anggota DPD. 18 Tahun 2003 tentang Advokat. diajukan oleh pasangan calon Presiden Wiranto dan calon Wakil Presiden Salahuddin Wahid. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pidana Korupsi (KPTPK). 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Perkara Sengketa Kewenangan Lembaga Negara (SKLN) yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD). diantaranya:    UU No. Pekara Pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 (PUU): a.     Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi UndangUndang. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 009-014/PUU-III/2005. 21 Perkara SKLN ini diajukan oleh lembaga negara DPD yang isinya menyangkut dua lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 yaitu DPD dengan Presiden terkait dengan pengangkatan Pimpinan dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 2004-2009. perkara tersebut telah diselesaikan dengan amar permohonan pemphon ditolak.21 3. 24 Tahun 2004 tentang Kamar Dagang Indonesia UU No. 22 .a. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.   Kewajiban Pembayaran. yang dibacakan pada tanggal 13 September 2005. Beberapa Perkara PUU yang telah diputus. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan (KADIN). Perkara PHPU Legislatif. 2.22 UU No. UU No. Dalam waktu 8 (delapan) hari dan hanya dalam tiga kali sidang. berjumlah 273 perkara yang dikonsolidasikan ke dalam 44 permohonan. UU No. Merupakan perkara yang terakhir diputus oleh Mahkamah Konsitusi berdasarkan Putusan No. padahal UUD 1945 mengatur mekanisme sebagaimana disebutkan.  UU No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan. dimana pada intinya DPD meminta MK memutus bahwa pengangkatan anggota BPK periode 2004-2009 tidak dilakukan dengan adanya pertimbangan dari DPD. b.

36 Tahun 2004 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja No. (Wakil Ketua). Mohamad Laica Marzuki. yaitu (1) Prof. (Ketua). Dengan mengacu kepada hal tersebut.H.. Jimly Asshiddiqie. S. (2) Prof. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. No. S. (7) Letjen TNI (Purn) H. S.H. S. M. diantaranya yaitu:  UU  UU No. sebagai pengawal konstitusi dan penafsir konstitusi... (8) Dr. Abdul Mukthie Fadjar. H. Dr. yakni sangat terkait erat dengan konstitusi. Sembilan Hakim Mahkamah Konstitusi RI.. Mahkamah Konstitusi yang dinahkodai oleh sembilan Hakim Konstitusi24 dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini telah menunaikan tugas-tugas konstitusionalitasnya. S.  UU Pembayaran Utang (PKPU). 24 23 .H. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.H. secara teoritis Mahkamah Konstitusi mempunyai dua fungsi. sebagaimana halnya lembaga sejenis di negara-negara lainnya.. Mahkamah Konstitusi mempunyai wewenang dan kewajiban yang cukup berat dan strategis. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak terhadap UUD adalah Perkara terbaru di Mahkamah Kosntitusi yang telah diregistrasi pada tanggal 20 September 2005..H.M.H. (6) Prof. b. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban (SISDIKNAS). S. PENUTUP Sebagai lembaga negara yang melaksanakan cabang kekuasaan di bidang yudikatif. S. Perkara PUU No. E.  UU  UU  UU Negara (APBN) Tahun Anggaran 2005. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional No. (9) Maruarar Siahaan. 45 Tahun 1999 tentang Pembentukan Beberapa Provinsi. Dr. Sebagai lembaga yudikatif. LL. MS.H.. (3) Soedarsono.H. Perkara PUU yang pada saat ini dalam proses persidangan di Mahkamah Konstitusi.23 No.H. dan dengan jubah merahnya para Hakim Konstitusi telah berusaha sedemikian rupa untuk mewujudkan Mahkamah Konsitusi sebagai ”rumah konstitusi” sekaligus penjaga konsitusi (the guardian of the constitution). (4) I Dewa Gede Palguna. MCL. (5) Prof. Harjono. Ahmad Syarifudin Natabaya.. UU No. Achmad Roestandi. Kabupaten/Kota di Irian Jaya.. S. Mahkamah Konsitutsi telah berdiri di Indonesia sebagai salah satu buah reformasi yang bergulir sejak tahun 1998. S. 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang.H.. No.

Bolehlah dikatakan baru beberapa langkah dari ribuan langkah yang akan diayunkan hingga hari-hari esok. ”perjalanan beribu-ribu mil dimulai dengan satu langkah keyakinan”.Sudah berhasilkah Mahakamah Kosntitusi melaksanakan visinya untuk menciptakan tegaknya kosntitusi dalam rangka mewujudkan cita negara hukum dan demokrasi demi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang mertabat? Memang pada saat ini sesuai dengan usianya yang masih demikian muda. 5 Oktober 2005 Penulis (Email: pm_faiz_kw@yahoo. Bukankah pepatah klasik Cina mengatakan. Namun langkah-langkah awal ini dipandang merupakan era peletakan dasar-dasar fundamental bagi perwujudan Mahkamah Konsitusi sebagai salah satu kekuasaan kehakiman yang terpercaya dalam rangka membangun konstitusionalitas Indonesia serta budaya sadar berkonstitusi diberbagai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa yang akan datang. apa yang telah dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi masihlah belum terlalu banyak.com) . ۩ Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful