THE GUARDIAN AND THE INTERPRETER OF THE CONSTITUTION

Oleh : Pan Mohamad Faiz Kusumawijaya, S.H.1 ”Tidak ada yang menghambat anda terhadap perkara yang anda putuskan hari ini kemudian anda tinjau kembali karena terjadi kekliruan (fahudîta li rusydika), bahwa anda kembali kepada kebenaran. Kebenaran itu terdepan dan tidak dibatalkan oleh apapun. Kembali kepada kebenaran itu lebih baik daripada terus menerus dalam kebatilan.” (Khalifah Umar bin Khathab) A. PENDAHULUAN Ide pembentukan Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu perkembangan pemikiran hukum dan kenegaraan modern yang muncul pada abad ke-20. Ditinjau dari aspek waktu, negara kita tercatat sebagai negara ke-78 yang membentuk MK sekaligus merupakan negara pertama di dunia pada abad ke-21 yang membentuk lembaga ini. Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Tahun 19452 menetapkan bahwa Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court) merupakan salah satu lembaga negara yang mempunyai kedudukan setara dengan lembaga-lembaga negara lainnya, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Presiden, Mahkamah Agung (MA), dan yang terakhir terbentuk yaitu Komisi Yudisial (KY)3. Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan salah satu lembaga yudikatif selain Mahkamah Agung yang melaksanakan kekuasaan
1

Penulis adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2001-2005), dan sekarang menjadi staff pada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
2

UUD Negara RI Tahun 1945 merupakan penyebutan atau penulisan resmi terhadap UUD 1945 yang telah 4 (empat) kali diamandemen. Hal ini digunakan untuk membedakan UUD 1945 yang belum diamandemen (UUD 1945) dengan UUD 1945 yang telah diamandemen (UUD Negara RI Tahun 1945).
3

Lihat Pasal 24B UUD Negara RI Tahun 1945 dan Undang-Undang No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

Dengan demikian konflik yang terkait dengan kedua hal tersebut tidak berkembang menjadi konflik politik-kenegaraan tanpa pola penyelesaian yang baku.H. S. Jimly Asshiddiqie.kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. transparan. memutus pembubaran partai politik. Dr. serta buku “Hukum Acara Pengujian Undang-Undang” karya Prof.4 Undang-Undang Dasar Untuk lebih jelasnya lihat Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman beracara dalam Perkara Pengujian Undang-Undang. KEWENANGAN Pasal 24C ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggariskan wewenang Mahkamah Konstitusi adalah sebagai berikut: (1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. 4 . wewenang Mahkamah Konstitusi tersebut diatur lagi dalam Pasal 10 Undang-Undang No. yang tidak lama lagi akan segera diterbitkan. (2) Mahkamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.. dimana penulis merupakan editor dari buku tersebut. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dengan merinci sebagai berikut: a. Oleh karena itu Mahkamah Konstitusi sering disebut sebagai Lembaga Negara Pengawal Konstitusi atau The Guardian and The Interpreter of The Constitution. Menguji undang-undang terhadap Negara Republik Indonesia tahun 1945. Secara khusus. memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. melainkan dikelola secara objektif dan rasional sehingga sengketa hukum yang diselesaikan secara hukum pula. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilu. Pembentukan Mahakamah Konstitusi dimaksudkan agar tersedia jalan hukum untuk mengatasi perkara-perkara yang terkait erat dengan penyelenggaraan negara dan kehidupan politik. B. dan akuntabel.

melainkan permohonan. 7 Pemilihan Umum yang dimaksud di sini yaitu hanya terbatas pada pengertian Pemilihan Umum anggota Legislatif dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden saja. S.H. Memutus Indonesia tahun 1945. 6 Lebih jelasnya lihat dan pelajari buku karya Prof. Jimly Asshiddiqie. . Oleh sebab itu. Memutus pembubaran partai politik. penyuapan. bukan termasuk pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). sebenarnya siapa sajakah yang boleh memohon (legal standing)? Ternyata tidak semua orang boleh mengajukan perkara permohonan ke Mahkamah Konstitusi dan menjadi pemohon. atau perbuatan tercela.. Pembubaran Partai Politik. PEMOHON Dalam berperkara di Mahkamah Konstitusi. Alasannya karena hakikat perkara konstitusi di Mahkamah Konstitusi tidaklah bersifat adversarial atau contentious yang berkenaan dengan pihak-pihak yang saling bertabrakan kepentingan satu sama lain seperti dalam perkara perdata ataupun tata usaha negara.H. 8 Rumusan terinci dapat merujuk pada Pasal 7B ayat (1) sampai dengan ayat (5) UUD Negara RI Tahun 1945 yang lebih dikenal dengan impeachment. bukan gugatan. tindak pidana berat lainnya. dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dengan demikian. 9 Semua perkara konstitusi di Mahkamah Konstitusi disebut sebagai perkara permohonan.b.8 C. dan6 Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. dapat dilihat pada buku ”Sengketa Lembaga negara” yang telah diterbitkan oleh KRHN (Konsorsium Reformasi Hukum Nasional).H. Dr. S. perkara yang diajukan tidak dalam bentuk gugatan. e.9 Adanya 5 Untuk saat ini referensi tulisan yang berkaitan dengan Lembaga Negara. korupsi. Lihat juga buku ”Impeachment Presiden: Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden Menurut UUD 1945” karya Hamdan Zoelva. subjek hukum yang mengajukannya disebut sebagai Pemohon. Undang-undang yang digugat adalah undangundang yang mengikat umum terhadap segenap warga negara.7 Mahkamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Kepentingan yang sedang digugat dalam perkara pengujian undang-undang adalah kepentingan yang luas menyangkut kepentingan semua orang dalam kehidupan bersama.. yang telah diterbitkan oleh Konstitusi Press belum lama ini. dikarenakan MA ternyata menemukan kesulitan terhadap penanganan perkara Pilkada itu sendiri. d.. Akan tetapi pada saat ini telah berkembang wacana dimana penyelesaian sengketa Pilkada yang menjadi kewenangan Mahkamah Agung akan dimungkinkan dialihkan menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi. M.5 sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara republik c. yang berjudul ”Kemerdekaan Berserikat. dan Mahkamah Kosntitusi”.

81-82. kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di Mahkamah Konstitusi. Persyaratan legal standing atau kedudukan hukum dimaksud mencakup syarat formal sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. Dalam hukum acara Mahkamah Konstitusi yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 51 ayat (1) UndangUndang No.kepentingan hukum saja sebagaimana dikenal dalam hukum acara perdata10 maupun hukum acara tata usaha negara tidak dapat dijadikan dasar. Lembaga Negara. . b. yaitu apabila ada kepentingan hukum diperbolehkan untuk mengajukan gugatan. Badan hukum publik atau privat. yang bunyinya sebagai berikut: a. Pemohon adalah subjek hukum yang memenuhi persyaratan menurut undangundang untuk mengajukan permohonan perkara konstitusi kepada Mahkamah Konstitusi. c. hal. Pemenuhan syarat-syarat tersebut menentukan kedudukan hukum atau legal standing suatu subjek hukum untuk menjadi pemohon yang sah dalam perkara pengujian undang-undang. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang. (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan 10 Dalam hukum acara perdata dikenal adagium point d’interet point d’action. Dua kriteria dimaksud adalah:11 a. Perorangan warganegara Indonesia. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan Warga Negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama). (Maruarar Siahaan merupakan salah satu dari sembilan hakim konsitusi RI). 2005). Hal yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. atau d. (Jakarta: Konstitusi Press. maupun syarat materiil berupa kerugian hak atau kewenangan konstitusional dengan berlakunya undang-undang yang sedang dipersoalkan. Hukum Acara Mahkamah Kosntitusi Republik Indonesia. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa yang dimaksud dengan hak dan kewenangan kosntitusional? Seperti telah diuraikan di atas. 11 Maruarar Siahaan. tetapi terdapat dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. 24 Tahun 2003.

atau (iv) lembaga negara. Hanya saja jika terjadi pertentangan dalam praktek hukum acara pidana dan TUN dengan aturan hukum acara perdata maka secara mutatis mutandis juga aturan Hal ini disebabkan oleh karena adanya sifat kepentingan umum yang tersangkut di dalamnya. Oleh karena terjadinya praktek hukum acara yang merujuk pada undangundang hukum acara yang lain timbul karena kebutuhan yang kadang-kadang dihadapkan kepada Mahkamah Konstitusi. HUKUM ACARA Perselisihan yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi sesungguhnya memiliki karakter tersendiri dan berbeda dengan perselisihan yang dihadapai sehari-hari oleh peradilan biasa. b. 13 12 Perbedaan kewenangan antara Mahkamah Konstitusi dengan Mahkamah Agung dalam hal Judicial Review yaitu dalam hal pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar harus dimohonkan kepada Mahakamah Konstitusi.12 Keputusan yang diminta oleh pemohon dan diberikan oleh Mahkamah Konstitusi akan membawa akibat hukum yang tidak hanya mengenai orang seorang. . Ciri inilah yang akan membedakan penerapan hukum acara di Mahkamah Konstitusi dengan hukum acara di pengadilanpengadilan lainnya. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang. D. terutama sekali dalam hal pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar (Judicial review). perdata. meskipun andaikata permohonan hanya diajukan oleh seseorang atau individu tertentu. sedangkan pengujian seluruh peraturan perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang diajukan kepada Mahkamah Agung. lembaga negara dan aparatur pemerintah atau masyarakat pada umumnya. maka ketentuan yang memberlakukan aturan Hukum Acara Pidana. (iii) badan hukum publik atau privat. dan tata usaha negara yang pada umunya menyangkut kepentingan pribadi dan individu berhadapan dengan individu lain ataupun dengan pemerintah. Perdata. tetapi juga orang lain.13 Nuansa public interest yang melekat pada perkara-perkara semacam itu akan menjadi pembeda yang jelas dengan perkara pidana.sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. dan Tata Usaha Negara secara mutatis mutandis dapat diberlakukan dengan menyesuaikan aturan dimaksud dalam praktek hukum acaranya.

Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi RI. baik sebelum maupun sesudah praktek yang merujuk undang-undang hukum acara lain itu digunakan dalam praktek. Undang-Undang No. Ditulis dalam bahas Indonesia. e. Diajukan dalam 12 rangkap. akan tetapi telah diadopsi dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK). c. diajukan paling lambat 2 x 24 jam sejak KPU mengumumkan hasil pemilu. Meskipun aturan ini tidak dimuay dalam UU Mahakamah Konstitusi. Ditandatangani oleh pemohon/kuasanya. b.hukum acara perdata tidak akan diberlakukan. . 16 Khusus untuk perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU). f. dan f merupakan sumber tidak langsung. Dari uraian di atas. e. Hukum Acara dan yurisprudensi Mahkamah Konstitusi Negara lain. d. dan Hukum Acara Pidana Indonesia. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. dimana dapat diterapkan pada Mahkamah Konstitusi RI apabila terdapat kekosongan dalam pengaturan hukum acaranya. maka sumber hukum acara Mahkamah Konstitusi dapat dikenali sebagai berikut:14 a. Undang-Undang Hukum Acara Perdata. c. Peraturan Mahakamah Konstitusi (PMK). Adapun secara ringkas dan sistematis. Sistematika:    Identitas dan legal standing Posita Petitum f. Disertai bukti pendukung 14 Untuk sumber-sumber hukum acara yang disebut dalam huruf d. 15 Lihat dalam BAB V Undang-Undang No. Pengajuan permohonan16 a. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. e. Jenis perkara. prosedur berperkara di Mahkamah Konstitusi dapat penulis simpulkan sebagai berikut:15 1. Pendapat Sarjaa (doktrin). 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan beberapa Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) tentang Hukum Beracara berdasarkan tiap-tiap kewenangan MK. d. b.

3.  c. 7 (tujuh) hari kerja sejak registrasi untuk perkara. diberitahukan 7 (tujuh) hari sejak diberitahu. Kejelasan materi Permohonan. 17 Khusus untuk perkara perselisihan hasil pemilu. 14 hari harus sudah dilengkapi dan diperbaiki. Kelengkapan syararat-syarat permohonan. Diumumkan kepada masyarakat. Penjadwalan Sidang a. Memberi nasehat:   c. Sengketa kewenangan lembaga negara: Pembubaran Partai Politik: Pendapat DPR: DPR. Sebelum pemeriksaan pokok perkara. b. − Pengujian undang-undang: Salinan permohonan disampaikan kepada Presiden dan Permohonan diberitahukan kepada Mahkamah Agung. 4. 5.2. Dalam 14 hari kerja setela registrasi ditetapkan Hari Sidang I (kecuali perkara Perselisihan Hasil Pemilu).  Salinan permohonan disampaikan kepada Parpol yang bersangkutan. Pemeriksaan kelengkapan permohonan panitera:    Belum lengkap. memeriksa:   Kelengkapan syarat-syarat Permohonan. Terbuka untuk umum. c. Pemeriksaan Pendahuluan a. d. Pemeriksaan Persidangan a. paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak registrasi Salinan Permohonan disampaikan kepada KPU. Pendaftaran17 a. −  Salinan permohonan disampaikan kepada lembaga negara termohon. Para pihak diberitahu/dipanggil. . Perbaikan materi permohonan. wajib dilengkapi Lengkap Registrasi sesuai dengan perkara.  Salinan permohonan disampaikan kepada Presiden. b.

Saksi dan/atau ahli memberi keterangan. g. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi mengakui enam jenis alat bukti yang sah yang dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh hakim konstitusi dalam memeriksa dan memutus setiap perkara konstitusi yang dimohonkan kepadanya. 2. Para pihak hadir menghadapi sidang guna memberikan keterangan. Untuk perkara pendapat DPR. didampingi luasa dan orang lain. DPD. Cara mengambil keputusan:     menentukan. Presiden. 4.  Presiden dan/atau wakil Presiden. Musyawarah mufakat. Bila tidak dapat dicapai suara terbanyak. 18 . Diputus paling lambat dalam tenggang waktu:  Untuk perkara pembubaran partai politik. Ditandatangani hakim dan panitera. DPR. 14 hari kerja sejak registrasi. diterima. b. d. dan Mahkamah Agung. e. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan. Setiap hakim menyampaikan pendapat/pertimbangan tertulis. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. Berkekuatan hukum tetap sejak diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum/ f. Salinan putusan dikirim kepada para pihak 7 (tujuh) hari sejak diucapkan. Surat atau tulisan. d. dan 6. Pihak-pihak dapat diwakili kuasa. 30 hari kerja sejak registrasi. Keenam alat bukti itu adalah: 1. f. disampaikan kepada DPR. minimal 2 (dua) alat bukti memuat:18   Fakta. Lembaga negara dapat diminta keterangan Lembaga negara dimaksud dalam jangka waktu tujuh hari wajib memberi keterangan yang diminta. Sesuai alat bukti. dan DPRD. Diambil suara terbanyak bila tak mufakat. dikirimkan. 6. e. Dasar hukum keputusan. Keterangan saksi. Petunjuk. Berdasarkan Pasal Pasal 36 ayat (1) UU No. Keterangan ahli. Memeriksa: permohonan dan alat bukti. Putusan a. 3. DPD. 60 hari kerja sejak Untuk perkara perselisihan hasil pemilu: − − − registrasi. Keterangan para pihak. suara terakhir ketua c. 90 hari kerja sejak registrasi.b. 5. Untuk Putusan perkara:  Pengujian undang-undang. c.

disampaikan kepada DPR. 7 Jakarta. serta official website Mahkamah Konstitusi yang berdomain pada www. Intercom.go. Dan direncanakan pada tahun 2006 Mahkamah Konsitusi akan menempati gedung barunya (dalam proses pembangunan) yang sangat megah dan berarsitektur nilai tinggi pada Jalan Merdeka Barat No 6.  bersangkutan. Jakarta Selatan.mahkamahkonstitusi. Akan tetapi pemenuhan IT System pada lingkungan Mahkamah Konstitusi tidak pernah luput dan bahkan semakin membaik. 20 Mahkamah Kosntitusi pada saat ini bertempat di Jalan Merdeka Barat No.19 Dalam perjalanannya dalam mengawal konstitusionalitas Indonesia dan membangun budaya sadar berkonstitusi. terdiri dari: Pendirian Mahkamah Konstitusi dimulai semenjak adanya pengucapan sumpah jabatan 9 (sembilan) hakim konsitutsi di Istana Negara. BEBERAPA PERKARA YANG TELAH DAN AKAN DPUTUS OLEH MAHKAMAH KOSNTITUSI Pada bulan Agustus 2005 kemarin. Sengketa kewenangan lembaga negara. dan ruang persidangan yang mengikuti standar International. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia genap berusia 2 (dua) tahun. Sejak Mahkamah Konsitusi berdiri. disampaikan kepada partai politik yang Perselisihan hasil pemilu disampaikan kepada Presiden.id. dimana pada lingkungan kerja MK setiap pegawainya dilengkapi dengan komputer yang mempunyai akses internet 24 hours.20 berbagai perkara yang masuk dalam Kepaniteraan Mahakamah Konstitusi telah berhasil diputuskan dan menjadi jalan keluar dari kebuntuan akan ketidakpastian hukum yang selama ini terjadi di tengah-tengah masyarakat. Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) tahun 2004.   Presiden. yang selalu up to date bagi masyarakat yang ingin mencari setiap putusan. risalah ataupun berita-berita yang berkaitan dengan Mahkamah Konstitusi itu sendiri. dekat dengan rakyat. LAN. dimana pada masa awal pembentukan pernah bertempat di Plaza Centris di Jalan HR Rasuna Said. Pembubaran partai politik. Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2003. dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan rakyat dan negara Indonesia. E. Pendapat DPR. Presiden dan Wakil DPD. Mahkamah Konstitusi terus berusaha menjadi lembaga negara yang dekat dengan publik. Kav. penulis mencatat beberapa perkara yang sempat menjadi sorotan di tengah-tengah publik yaitu: 1. dan Presiden. B-5 Kuningan. Dengan sistem peradilan yang bersih dan didukung dengan Teknologi Informasi (TI) yang sangat modern. disampaikan kepada DPR. 19 . Jakarta.

diajukan oleh pasangan calon Presiden Wiranto dan calon Wakil Presiden Salahuddin Wahid. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pidana Korupsi (KPTPK). padahal UUD 1945 mengatur mekanisme sebagaimana disebutkan. Dalam waktu 8 (delapan) hari dan hanya dalam tiga kali sidang. berjumlah 273 perkara yang dikonsolidasikan ke dalam 44 permohonan. UU No. dimana pada intinya DPD meminta MK memutus bahwa pengangkatan anggota BPK periode 2004-2009 tidak dilakukan dengan adanya pertimbangan dari DPD. perkara tersebut telah diselesaikan dengan amar permohonan pemphon ditolak. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak UU No.     Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi UndangUndang. UU No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan. diantaranya:    UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan (KADIN). 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.21 3. Merupakan perkara yang terakhir diputus oleh Mahkamah Konsitusi berdasarkan Putusan No.a. Beberapa Perkara PUU yang telah diputus. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. 21 Perkara SKLN ini diajukan oleh lembaga negara DPD yang isinya menyangkut dua lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 yaitu DPD dengan Presiden terkait dengan pengangkatan Pimpinan dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 2004-2009. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. diajukan oleh 23 partai politik dan 21 calon anggota DPD. UU No. Perkara Sengketa Kewenangan Lembaga Negara (SKLN) yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pekara Pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 (PUU): a. yang dibacakan pada tanggal 13 September 2005. 24 Tahun 2004 tentang Kamar Dagang Indonesia UU No.   Kewajiban Pembayaran.22 UU No. Perkara PHPU Legislatif. b. 2. 18 Tahun 2003 tentang Advokat. UU No. 009-014/PUU-III/2005. 1 (satu) buah Perkara PHPU Presiden dan Wakil Presiden. UU No. 22 .  UU No.

Dengan mengacu kepada hal tersebut.H. yakni sangat terkait erat dengan konstitusi.  UU Pembayaran Utang (PKPU). 36 Tahun 2004 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja No. dan dengan jubah merahnya para Hakim Konstitusi telah berusaha sedemikian rupa untuk mewujudkan Mahkamah Konsitusi sebagai ”rumah konstitusi” sekaligus penjaga konsitusi (the guardian of the constitution). (6) Prof. S. secara teoritis Mahkamah Konstitusi mempunyai dua fungsi. Achmad Roestandi. No. LL. (8) Dr. Perkara PUU No.. Mahkamah Konsitutsi telah berdiri di Indonesia sebagai salah satu buah reformasi yang bergulir sejak tahun 1998. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang.  UU  UU  UU Negara (APBN) Tahun Anggaran 2005. yaitu (1) Prof. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.. S.. (5) Prof. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak terhadap UUD adalah Perkara terbaru di Mahkamah Kosntitusi yang telah diregistrasi pada tanggal 20 September 2005.. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional No. (3) Soedarsono. Harjono. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban (SISDIKNAS).. Sembilan Hakim Mahkamah Konstitusi RI.. Abdul Mukthie Fadjar. S.H. 45 Tahun 1999 tentang Pembentukan Beberapa Provinsi.M. E. Dr. (7) Letjen TNI (Purn) H.H.23 No. (Wakil Ketua). PENUTUP Sebagai lembaga negara yang melaksanakan cabang kekuasaan di bidang yudikatif. Mohamad Laica Marzuki. diantaranya yaitu:  UU  UU No.H. Dr.H.H. S. Mahkamah Konstitusi mempunyai wewenang dan kewajiban yang cukup berat dan strategis. M. S. S.H. (2) Prof. S. Sebagai lembaga yudikatif. 24 23 .. MCL. b. Ahmad Syarifudin Natabaya. S. sebagaimana halnya lembaga sejenis di negara-negara lainnya.H. MS. (9) Maruarar Siahaan.. (Ketua). Kabupaten/Kota di Irian Jaya. Perkara PUU yang pada saat ini dalam proses persidangan di Mahkamah Konstitusi.. (4) I Dewa Gede Palguna. No. sebagai pengawal konstitusi dan penafsir konstitusi.H.. H. S. Jimly Asshiddiqie.H. Mahkamah Konstitusi yang dinahkodai oleh sembilan Hakim Konstitusi24 dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini telah menunaikan tugas-tugas konstitusionalitasnya.

com) . Namun langkah-langkah awal ini dipandang merupakan era peletakan dasar-dasar fundamental bagi perwujudan Mahkamah Konsitusi sebagai salah satu kekuasaan kehakiman yang terpercaya dalam rangka membangun konstitusionalitas Indonesia serta budaya sadar berkonstitusi diberbagai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa yang akan datang. Bukankah pepatah klasik Cina mengatakan.Sudah berhasilkah Mahakamah Kosntitusi melaksanakan visinya untuk menciptakan tegaknya kosntitusi dalam rangka mewujudkan cita negara hukum dan demokrasi demi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang mertabat? Memang pada saat ini sesuai dengan usianya yang masih demikian muda. Bolehlah dikatakan baru beberapa langkah dari ribuan langkah yang akan diayunkan hingga hari-hari esok. 5 Oktober 2005 Penulis (Email: pm_faiz_kw@yahoo. ”perjalanan beribu-ribu mil dimulai dengan satu langkah keyakinan”. apa yang telah dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi masihlah belum terlalu banyak. ۩ Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful