P. 1
Matriks_ Relasi Dan Fungsi

Matriks_ Relasi Dan Fungsi

|Views: 194|Likes:
Published by Angel Eye

More info:

Published by: Angel Eye on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2014

pdf

text

original

Matriks

• Matriks adalah adalah susunan skalar elemen-elemen dalam
bentuk baris dan kolom.
• Matriks A yang berukuran dari m baris dan n kolom (m × n)
adalah:
]
]
]
]
]
]

·
mn m m
n
n
a a a
a a a
a a a
A

  


2 1
2 22 21
1 12 11
• Matriks bujursangkar adalah matriks yang berukuran n × n.
• Dalam praktek, kita lazim menuliskan matriks dengan notasi
ringkas A = [a
ij
].
Contoh 1. Di bawah ini adalah matriks yang berukuran 3 × 4:
]
]
]
]
]

·
8 1 1 3
4 5 7 8
6 0 5 2
A

• Matriks simetri adalah matriks yang a
ij
= a
ji
untuk setiap i dan
j.
Contoh 2. Di bawah ini adalah contoh matriks simetri.

]
]
]
]
]
]



8 2 3 4
2 0 7 6
3 7 3 6
4 6 6 2
• Matriks zero-one (0/1) adalah matriks yang setiap elemennya
hanya bernilai 0 atau 1.
Contoh 3. Di bawah ini adalah contoh matriks 0/1:
]
]
]
]
]
]

1 0 0 1
0 0 0 0
1 1 1 0
0 1 1 0
Relasi
• Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan
bagian dari A × B.
• Notasi: R ⊆ (A × B).
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∈ R, yang artinya a
dihubungankan dengan b oleh R
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∉ R, yang artinya a tidak
dihubungkan oleh b oleh relasi R.
• Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan
himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R.
Contoh 3. Misalkan
A = {Amir, Budi, Cecep}, B = {IF221, IF251, IF342, IF323}
A × B = {(Amir, IF221), (Amir, IF251), (Amir, IF342),
(Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251),
2
(Budi, IF342), (Budi, IF323), (Cecep, IF221),
(Cecep, IF251), (Cecep, IF342), (Cecep, IF323) }
Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang
diambil oleh mahasiswa pada Semester Ganjil, yaitu
R = {(Amir, IF251), (Amir, IF323), (Budi, IF221),
(Budi, IF251), (Cecep, IF323) }
- Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B),
- A adalah daerah asal R, dan B adalah daerah hasil R.
- (Amir, IF251) ∈ R atau Amir R IF251
- (Amir, IF342) ∉ R atau Amir R IF342.

Contoh 4. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita
definisikan relasi R dari P ke Q dengan
(p, q) ∈ R jika p habis membagi q
maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }

• Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus
• Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A.
• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.
Contoh 5. Misalkan R adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8, 9} yang
didefinisikan oleh (x, y) ∈ R jika x adalah faktor prima dari y. Maka
3
R = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 3), (3, 9)}

Representasi Relasi
1. Representasi Relasi dengan Diagram Panah
A m i r
B u d i
C e c e p
I F 2 2 1
I F 2 5 1
I F 3 4 2
I F 3 2 3
2
3
4
2
4
8
9
1 5
2
3
4
8
9
2
3
4
8
9
A
B
P
Q
A A
2. Representasi Relasi dengan Tabel
• Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal, sedangkan
kolom kedua menyatakan daerah hasil.
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3
A B P Q A A
Amir IF251 2 2 2 2
Amir IF323 2 4 2 4
Budi IF221 4 4 2 8
Budi IF251 2 8 3 3
Cecep IF323 4 8 3 3
3 9
3 15
3. Representasi Relasi dengan Matriks
• Misalkan R adalah relasi dari A = {a
1
, a
2
, …, a
m
} dan B = {b
1
,
b
2
, …, b
n
}.
4
• Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [m
ij
],
b
1
b
2
… b
n
M =
]
]
]
]
]
]

mn m m
n
n
m
m m m
m m m
m m m
a
a
a

   



2 1
2 22 21
1 12 11
2
1
yang dalam hal ini
¹
'
¹


·
R b a
R b a
m
j i
j i
ij
) , ( , 0
) , ( , 1
Contoh 6. Relasi R pada Contoh 3 dapat dinyatakan dengan matriks
]
]
]
]
]

1 0 0 0
0 0 1 1
1 0 1 0
dalam hal ini, a
1
= Amir, a
2
= Budi, a
3
= Cecep, dan b
1
= IF221,
b
2
= IF251, b
3
= IF342, dan b
4
= IF323.
Relasi R pada Contoh 4 dapat dinyatakan dengan matriks
]
]
]
]
]

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1
yang dalam hal ini, a
1
= 2, a
2
= 3, a
3
= 4, dan b
1
= 2, b
2
= 4, b
3
= 8,
b
4
= 9, b
5
= 15.
4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah
• Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara
grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph)
• Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan
relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain.
5
• Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik
(disebut juga simpul atau vertex), dan tiap pasangan terurut
dinyatakan dengan busur (arc)
• Jika (a, b) ∈ R, maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke
simpul b. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan
simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex).
• Pasangan terurut (a, a) dinyatakan dengan busur dari simpul a
ke simpul a sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau
kalang (loop).
Contoh 7. Misalkan R = {(a, a), (a, b), (b, a), (b, c), (b, d), (c, a), (c,
d), (d, b)} adalah relasi pada himpunan {a, b, c, d}.
R direpresentasikan dengan graf berarah sbb:
Sifat-sifat Relasi Biner
• Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan
mempunyai beberapa sifat.
1. Refleksif (reflexive)
6
a
b
c d
• Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a, a) ∈ R
untuk setiap a ∈ A.
• Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A
sedemikian sehingga (a, a) ∉ R.
Contoh 8. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 2), (4, 3),
(4, 4) } bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang
berbentuk (a, a), yaitu (1, 1), (2, 2), (3, 3), dan (4, 4).
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4) } tidak
bersifat refleksif karena (3, 3) ∉ R.
Contoh 9. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat
positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis
dibagi dengan dirinya sendiri, sehingga (a, a)∈R untuk setiap a ∈ A.

Contoh 10. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada
himpunan bilangan bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 5, T : 3x + y = 10
Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena,
misalkan (2, 2) bukan anggota R, S, maupun T.

• Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen
diagonal utamanya semua bernilai 1, atau m
ii
= 1, untuk i = 1,
2, …, n,
7
]
]
]
]
]
]
]
]

1
1
1
1

• Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya
gelang pada setiap simpulnya.
2. Menghantar (transitive)
• Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a, b) ∈
R dan (b, c) ∈ R, maka (a, c) ∈ R, untuk a, b, c ∈ A.
Contoh 11. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) R = {(2, 1), (3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (4, 3) } bersifat
menghantar. Lihat tabel berikut:
Pasangan berbentuk
(a, b) (b, c) (a, c)
(3, 2) (2, 1) (3, 1)
(4, 2) (2, 1) (4, 1)
(4, 3) (3, 1) (4, 1)
(4, 3) (3, 2) (4, 2)
(b) R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak manghantar karena
(c) (2, 4) dan (4, 2) ∈ R, tetapi (2, 2) ∉ R, begitu juga (4, 2) dan
(2, 3) ∈ R, tetapi (4, 3) ∉ R.
(d) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 4) } jelas menghantar
(e) Relasi R = {(1, 2), (3, 4)} menghantar karena tidak ada
(a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R sedemikian sehingga (a, c) ∈ R.
(f) Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4, 5)}
selalu menghantar.
8
Contoh 12. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat
positif bersifat menghantar. Misalkan bahwa a habis membagi b dan
b habis membagi c. Maka terdapat bilangan positif m dan n
sedemikian sehingga b = ma dan c = nb. Di sini c = nma, sehingga
a habis membagi c. Jadi, relasi “habis membagi” bersifat
menghantar.
Contoh 13. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada
himpunan bilangan bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z.
- S tidak menghantar karena, misalkan (4, 2) dan (2, 4) adalah
anggota S tetapi (4, 4) ∉ S.
- T = {(1, 7), (2, 4), (3, 1)} menghantar.
• Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus
pada matriks representasinya
• Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada
busur dari a ke b dan dari b ke c, maka juga terdapat busur
berarah dari a ke c.
3. Setangkup (symmetric) dan tak-setangkup (antisymmetric)
• Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika untuk
semua a, b ∈ A, jika (a, b) ∈ R, maka (b, a) ∈ R.
• Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a, b) ∈ R
sedemikian sehingga (b, a) ∉ R.
9
• Relasi R pada himpunan A disebut tolak-setangkup jika untuk
semua a, b ∈ A, (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R hanya jika a = b.
• Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada
elemen berbeda a dan b sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan
(b, a) ∈ R.
• Perhatikanlah bahwa istilah setangkup dan tolak-setangkup
tidaklah berlawanan, karena suatu relasi dapat memiliki kedua
sifat itu sekaligus. Namun, relasi tidak dapat memiliki kedua
sifat tersebut sekaligus jika ia mengandung beberapa pasangan
terurut berbentuk (a, b) yang mana a ≠ b.
Contoh 14. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini
didefinisikan pada himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (2, 4), (4, 2), (4, 4) }
bersifat setangkup karena jika (a, b) ∈ R maka (b, a) juga ∈
R. Di sini (1, 2) dan (2, 1) ∈ R, begitu juga (2, 4) dan (4, 2) ∈
R.
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak setangkup
karena (2, 3) ∈ R, tetapi (3, 2) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1
dan (1, 1) ∈ R, 2 = 2 dan (2, 2) ∈ R, dan 3 = 3 dan (3, 3) ∈ R.
Perhatikan bahwa R juga setangkup.
(d) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3) } tolak-setangkup
karena (1, 1) ∈ R dan 1 = 1 dan, (2, 2) ∈ R dan 2 = 2 dan.
Perhatikan bahwa R tidak setangkup.
(e) Relasi R = {(1, 1), (2, 4), (3, 3), (4, 2) } tidak tolak-setangkup
karena 2 ≠ 4 tetapi (2, 4) dan (4, 2) anggota R. Relasi R pada
(a) dan (b) di atas juga tidak tolak-setangkup.
(f) Relasi R = {(1, 2), (2, 3), (1, 3) } setangkup dan juga tolak-
setangkup, dan R = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (3, 3)} tidak
setangkup tetapi tolak-setangkup.
10
(g) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (4, 2), (4, 4)} tidak
setangkup maupun tidak tolak-setangkup. R tidak setangkup
karena (4, 2) ∈ R tetapi (2, 4) ∉ R. R tidak tolak-setangkup
karena (2, 3) ∈ R dan (3, 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3.

Contoh 15. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat
positif tidak setangkup karena jika a habis membagi b, b tidak habis
membagi a, kecuali jika a = b. Sebagai contoh, 2 habis membagi 4,
tetapi 4 tidak habis membagi 2. Karena itu, (2, 4) ∈ R tetapi (4, 2) ∉
R. Relasi “habis membagi” tolak-setangkup karena jika a habis
membagi b dan b habis membagi a maka a = b. Sebagai contoh, 4
habis membagi 4. Karena itu, (4, 4) ∈ R dan 4 = 4.

Contoh 16. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada
himpunan bilangan bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R bukan relasi setangkup karena, misalkan 5 lebih besar dari 3
tetapi 3 tidak lebih besar dari 5.
- S relasi setangkup karena (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S.
- T tidak setangkup karena, misalkan (3, 1) adalah anggota T tetapi
(1, 3) bukan anggota T.
- S bukan relasi tolak-setangkup karena, misalkan (4, 2) ∈ S dan
(4, 2) ∈ S tetapi 4 ≠ 2.
- Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!).

• Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang
elemen-elemen di bawah diagonal utama merupakan
pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama, atau
m
ij
= m
ji
= 1, untuk i = 1, 2, …, n :
11
]
]
]
]
]
]
]
]

0
1
0
1
• Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup
dicirikan oleh: jika ada busur dari a ke b, maka juga ada busur
dari b ke a.
• Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika
m
ij
= 1 dengan i ≠ j, maka m
ji
= 0. Dengan kata lain, matriks
dari relasi tolak-setangkup adalah jika salah satu dari m
ij
= 0
atau m
ji
= 0 bila i ≠ j :
]
]
]
]
]
]
]
]

0
1
1 0
0
1
• Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-
setangkup dicirikan oleh: jika dan hanya jika tidak pernah ada
dua busur dalam arah berlawanan antara dua simpul berbeda.
Relasi Inversi
12
• Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B.
Invers dari relasi R, dilambangkan dengan R
–1
, adalah relasi
dari B ke A yang didefinisikan oleh
R
–1
= {(b, a) | (a, b) ∈ R }
Contoh 17. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika
kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan
(p, q) ∈ R jika p habis membagi q
maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
R
–1
adalah invers dari relasi R, yaitu relasi dari Q ke P dengan
(q, p) ∈ R
–1
jika q adalah kelipatan dari p
maka kita peroleh
R
–1
= {(2, 2), (4, 2), (4, 4), (8, 2), (8, 4), (9, 3), (15, 3) }

Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R,
M =
]
]
]
]
]

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1
maka matriks yang merepresentasikan relasi R
–1
, misalkan N,
diperoleh dengan melakukan transpose terhadap matriks M,
13
N = M
T
=
]
]
]
]
]
]
]
]

0 1 0
0 1 0
1 0 1
1 0 1
0 0 1
Mengkombinasikan Relasi
• Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut,
maka operasi himpunan seperti irisan, gabungan, selisih, dan
beda setangkup antara dua relasi atau lebih juga berlaku.
• Jika R
1
dan R
2
masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke
himpunan B, maka R
1
∩ R
2
, R
1
∪ R
2
, R
1
– R
2
, dan R
1
⊕ R
2
juga
adalah relasi dari A ke B.
Contoh 18. Misalkan A = {a, b, c} dan B = {a, b, c, d}.
Relasi R
1
= {(a, a), (b, b), (c, c)}
Relasi R
2
= {(a, a), (a, b), (a, c), (a, d)}

R
1
∩ R
2
= {(a, a)}
R
1
∪ R
2
= {(a, a), (b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
− R
2
= {(b, b), (c, c)}
R
2
−R
1
= {(a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
⊕ R
2
= {(b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}

• Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan
matriks M
R1
dan M
R2
, maka matriks yang menyatakan
gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
14
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨M
R2
dan M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧M
R2
Contoh 19. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks
R
1
=
]
]
]
]
]

0 1 1
1 0 1
0 0 1
dan R
2
=
]
]
]
]
]

0 0 1
1 1 0
0 1 0
maka
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨M
R2
=
]
]
]
]
]

0 1 1
1 1 1
0 1 1

M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧M
R2
=
]
]
]
]
]

0 0 1
1 0 0
0 0 0
Komposisi Relasi
• Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B, dan
S adalah relasi dari himpunan B ke himpunan C. Komposisi R
dan S, dinotasikan dengan S ο R, adalah relasi dari A ke C
yang didefinisikan oleh
S ο R = {(a, c) |a ∈ A, c ∈ C,
dan untuk beberapa b ∈ B, (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ S }
Contoh 20. Misalkan
R = {(1, 2), (1, 6), (2, 4), (3, 4), (3, 6), (3, 8)}
adalah relasi dari himpunan {1, 2, 3} ke himpunan {2, 4, 6, 8} dan
S = {(2, u), (4, s), (4, t), (6, t), (8, u)}
adalah relasi dari himpunan {2, 4, 6, 8} ke himpunan {s, t, u}.
15
Maka komposisi relasi R dan S adalah
S ο R = {(1, u), (1, t), (2, s), (2, t), (3, s), (3, t), (3, u) }
Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan
diagram panah:
1
2
3
2
4
6
8
s
t
u
• Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan
matriks M
R1
dan M
R2
, maka matriks yang menyatakan
komposisi dari kedua relasi tersebut adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
⋅ M
R2
yang dalam hal ini operator “.” sama seperti pada perkalian
matriks biasa, tetapi dengan mengganti tanda kali dengan “∧”
dan tanda tambah dengan “∨”.
Contoh 21. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks
R
1
=
]
]
]
]
]

0 0 0
0 1 1
1 0 1
dan R
2
=
]
]
]
]
]

1 0 1
1 0 0
0 1 0
maka matriks yang menyatakan R
2
ο R
1
adalah
16
M
R2 ο R1
= M
R1
. M
R2

=
]
]
]
]
]

∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 (
) 1 0 ( ) 1 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 ( ) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 (
) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 1 1 ( ) 1 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 (
=
]
]
]
]
]

0 0 0
1 1 0
1 1 1
Relasi n-ary
• Relasi biner hanya menghubungkan antara dua buah
himpunan.
• Relasi yang lebih umum menghubungkan lebih dari dua buah
himpunan. Relasi tersebut dinamakan relasi n-ary (baca: ener).
• Jika n = 2, maka relasinya dinamakan relasi biner (bi = 2).
Relasi n-ary mempunyai terapan penting di dalam basisdata.
• Misalkan A
1
, A
2
, …, A
n
adalah himpunan. Relasi n-ary R pada
himpunan-himpunan tersebut adalah himpunan bagian dari A
1
× A
2
× … × A
n
, atau dengan notasi R ⊆ A
1
× A
2
× … × A
n
.
Himpunan A
1
, A
2
, …, A
n
disebut daerah asal relasi dan n
disebut derajat.
Contoh 22. Misalkan
NIM = {13598011, 13598014, 13598015, 13598019,
13598021, 13598025}
Nama = {Amir, Santi, Irwan, Ahmad, Cecep, Hamdan}
MatKul = {Matematika Diskrit, Algoritma, Struktur Data,
Arsitektur Komputer}
Nilai = {A, B, C, D, E}
Relasi MHS terdiri dari 5-tupel (NIM, Nama, MatKul, Nilai):
17
MHS ⊆ NIM × Nama × MatKul × Nilai
Satu contoh relasi yang bernama MHS adalah
MHS = {(13598011, Amir, Matematika Diskrit, A),
(13598011, Amir, Arsitektur Komputer, B),
(13598014, Santi, Arsitektur Komputer, D),
(13598015, Irwan, Algoritma, C),
(13598015, Irwan, Struktur Data C),
(13598015, Irwan, Arsitektur Komputer, B),
(13598019, Ahmad, Algoritma, E),
(13598021, Cecep, Algoritma, A),
(13598021, Cecep, Arsitektur Komputer, B),
(13598025, Hamdan, Matematika Diskrit, B),
(13598025, Hamdan, Algoritma, A, B),
(13598025, Hamdan, Struktur Data, C),
(13598025, Hamdan, Ars. Komputer, B)
}
Relasi MHS di atas juga dapat ditulis dalam bentuk Tabel:
NIM Nama MatKul Nilai
13598011
13598011
13598014
13598015
13598015
13598015
13598019
Amir
Amir
Santi
Irwan
Irwan
Irwan
Ahmad
Matematika Diskrit
Arsitektur Komputer
Algoritma
Algoritma
Struktur Data
Arsitektur Komputer
Algoritma
A
B
D
C
C
B
E
18
13598021
13598021
13598025
13598025
13598025
13598025
Cecep
Cecep
Hamdan
Hamdan
Hamdan
Hamdan
Algoritma
Arsitektur Komputer
Matematika Diskrit
Algoritma
Struktur Data
Arsitektur Komputer
B
B
B
A
C
B
• Basisdata (database) adalah kumpulan tabel.
• Salah satu model basisdata adalah model basisdata relasional
(relational database). Model basisdata ini didasarkan pada
konsep relasi n-ary.
• Pada basisdata relasional, satu tabel menyatakan satu relasi.
Setiap kolom pada tabel disebut atribut. Daerah asal dari
atribut adalah himpunan tempat semua anggota atribut tersebut
berada.
• Setiap tabel pada basisdata diimplementasikan secara fisik
sebagai sebuah file.
• Satu baris data pada tabel menyatakan sebuah record, dan
setiap atribut menyatakan sebuah field.
• Secara fisik basisdata adalah kumpulan file, sedangkan file
adalah kumpulan record, setiap record terdiri atas sejumlah
field.
• Atribut khusus pada tabel yang mengidentifikasikan secara
unik elemen relasi disebut kunci (key).
• Operasi yang dilakukan terhadap basisdata dilakukan dengan
perintah pertanyaan yang disebut query.
• Contoh query:
“tampilkan semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah
Matematika Diskrit”
19
“tampilkan daftar nilai mahasiswa dengan NIM = 13598015”
“tampilkan daftar mahasiswa yang terdiri atas NIM dan mata
kuliah yang diambil”
• Query terhadap basisdata relasional dapat dinyatakan secara
abstrak dengan operasi pada relasi n-ary.
• Ada beberapa operasi yang dapat digunakan, diantaranya
adalah seleksi, proyeksi, dan join.
Seleksi
Operasi seleksi memilih baris tertentu dari suatu tabel yang
memenuhi persyaratan tertentu.
Operator: σ
Contoh 23. Misalkan untuk relasi MHS kita ingin menampilkan
daftar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Matematik Diskrit.
Operasi seleksinya adalah
σ
Matkul=”Matematika Diskrit”
(MHS)
Hasil: (13598011, Amir, Matematika Diskrit, A) dan
(13598025, Hamdan, Matematika Diskrit, B)

Proyeksi
Operasi proyeksi memilih kolom tertentu dari suatu tabel. Jika ada
beberapa baris yang sama nilainya, maka hanya diambil satu kali.
Operator: π
Contoh 24. Operasi proyeksi
π
Nama, MatKul, Nilai
(MHS)
menghasilkan Tabel 3.5. Sedangkan operasi proyeksi
π
NIM, Nama
(MHS)
20
menghasilkan Tabel 3.6.

Tabel 3.5 Tabel 3.6
Nama MatKul Nilai NIM Nama
Amir
Amir
Santi
Irwan
Irwan
Irwan
Ahmad
Cecep
Cecep
Hamdan
Hamdan
Hamdan
Hamdan
Matematika Diskrit
Arsitektur
Komputer
Algoritma
Algoritma
Struktur Data
Arsitektur
Komputer
Algoritma
Algoritma
Arsitektur
Komputer
Matematika Diskrit
Algoritma
Struktur Data
Arsitektur
Komputer
A
B
D
C
C
B
E
B
B
B
A
C
B
13598011
13598014
13598015
13598019
13598021
13598025
Amir
Santi
Irwan
Ahmad
Cecep
Hamdan
Join
Operasi join menggabungkan dua buah tabel menjadi satu bila
kedua tabel mempunyai atribut yang sama.
Operator: τ
Contoh 25. Misalkan relasi MHS1 dinyatakan dengan Tabel 3.7
dan relasi MHS2 dinyatakan dengan Tabel 3.8.
Operasi join
τ
NIM, Nama
(MHS1, MHS2)
21
menghasilkan Tabel 3.9.

Tabel 3.7 Tabel 3.8
NIM Nama JK NIM Nama MatKul Nilai
13598001 Hananto L 13598001 Hananto Algoritma A
13598002 Guntur L 13598001 Hananto Basisdata B
13598004 Heidi W 13598004 Heidi Kalkulus I B
13598006 Harman L 13598006 Harman Teori Bahasa C
13598007 Karim L 13598006 Harman Agama A
13598009 Junaidi Statisitik B
13598010 Farizka Otomata C
Tabel 3.9
NIM Nama JK MatKul Nilai
13598001 Hananto L Algoritma A
13598001 Hananto L Basisdata B
13598004 Heidi W Kalkulus I B
13598006 Harman L Teori Bahasa C
13598006 Harman L Agama A
Fungsi
• Misalkan A dan B himpunan.
Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika setiap
elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di
dalam B.
Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan
f : A → B
yang artinya f memetakan A ke B.
22
• A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah
hasil (codomain) dari f.
• Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi.
• Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A
dihubungkan dengan elemen b di dalam B.
• Jika f(a) = b, maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan
a dinamakan pra-bayangan (pre-image) dari b.
• Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah
(range) dari f. Perhatikan bahwa jelajah dari f adalah
himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B.
• Fungsi adalah relasi yang khusus:
1. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh
prosedur atau kaidah yang mendefinisikan f.
2. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B”
berarti bahwa jika (a, b) ∈ f dan (a, c) ∈ f, maka b = c.
• Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk,
diantaranya:
1. Himpunan pasangan terurut.
Seperti pada relasi.
23
a
b
A B
f
2. Formula pengisian nilai (assignment).
Contoh: f(x) = 2x + 10, f(x) = x
2
, dan f(x) = 1/x.
3. Kata-kata
Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di
dalam suatu string biner”.
4. Kode program (source code)
Contoh: Fungsi menghitung |x|
function abs(x:integer):integer;
begin
if x < 0 then
abs:=-x
else
abs:=x;
end;
Contoh 26. Relasi
f = {(1, u), (2, v), (3, w)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah fungsi dari A ke B. Di sini f(1)
= u, f(2) = v, dan f(3) = w. Daerah asal dari f adalah A dan daerah hasil
adalah B. Jelajah dari f adalah {u, v, w}, yang dalam hal ini sama dengan
himpunan B.
Contoh 27. Relasi
f = {(1, u), (2, u), (3, v)}
24
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah fungsi dari A ke B, meskipun u
merupakan bayangan dari dua elemen A. Daerah asal fungsi adalah A,
daerah hasilnya adalah B, dan jelajah fungsi adalah {u, v}.
Contoh 28. Relasi
f = {(1, u), (2, v), (3, w)}
dari A = {1, 2, 3, 4} ke B = {u, v, w} bukan fungsi, karena tidak semua
elemen A dipetakan ke B.
Contoh 29. Relasi
f = {(1, u), (1, v), (2, v), (3, w)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan fungsi, karena 1 dipetakan ke
dua buah elemen B, yaitu u dan v.
Contoh 30. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x
2
. Daerah asal
dan daerah hasil dari f adalah himpunan bilangan bulat, dan jelajah dari
f adalah himpunan bilangan bulat tidak-negatif.
• Fungsi f dikatakan satu-ke-satu (one-to-one) atau injektif
(injective) jika tidak ada dua elemen himpunan A yang
memiliki bayangan sama.
Contoh 31. Relasi
25
a 1
A B
2
3
4
5
b
c
d
f = {(1, w), (2, u), (3, v)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w, x} adalah fungsi satu-ke-satu,
Tetapi relasi
f = {(1, u), (2, u), (3, v)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan fungsi satu-ke-satu, karena
f(1) = f(2) = u.
Contoh 32. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan
f(x) = x – 1 merupakan fungsi satu-ke-satu?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi satu-ke-satu, karena untuk dua x yang
bernilai mutlak sama tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya
sama, misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠ 2.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b,
a – 1 ≠ b – 1.
Misalnya untuk x = 2, f(2) = 1 dan untuk x = -2, f(-2) = -3.

• Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif
(surjective) jika setiap elemen himpunan B merupakan
bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A.
• Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f.
Fungsi f disebut fungsi pada himpunan B.

26
a 1
A B
2
3
b
c
d
Contoh 33. Relasi
f = {(1, u), (2, u), (3, v)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan fungsi pada karena w tidak
termasuk jelajah dari f.
Relasi
f = {(1, w), (2, u), (3, v)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} merupakan fungsi pada karena
semua anggota B merupakan jelajah dari f.
Contoh 34. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan
f(x) = x – 1 merupakan fungsi pada?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi pada, karena tidak semua nilai
bilangan bulat merupakan jelajah dari f.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan
bulat y, selalu ada nilai x yang memenuhi, yaitu y = x – 1 akan
dipenuhi untuk x = y + 1.
• Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi
(bijection) jika ia fungsi satu-ke-satu dan juga fungsi pada.
Contoh 35. Relasi
f = {(1, u), (2, w), (3, v)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah fungsi yang
berkoresponden satu-ke-satu, karena f adalah fungsi satu-ke-satu
maupun fungsi pada.
27
Contoh 36. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang
berkoresponden satu-ke-satu, karena f adalah fungsi satu-ke-satu
maupun fungsi pada.
Fungsi satu-ke-satu, Fungsi pada,
bukan pada bukan satu-ke-satu
Buka fungsi satu-ke-satu Bukan fungsi
maupun pada
• Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B,
maka kita dapat menemukan balikan (invers) dari f.
• Balikan fungsi dilambangkan dengan f
–1
. Misalkan a adalah
anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B, maka
f
-1
(b) = a jika f(a) = b.
• Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan
juga fungsi yang invertible (dapat dibalikkan), karena kita
dapat mendefinisikan fungsi balikannya. Sebuah fungsi
dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, karena fungsi
balikannya tidak ada.
28
a
1
A
B
2
3
b
c
4
a
1
A
B
2
3
b
c
c d
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
Contoh 37. Relasi
f = {(1, u), (2, w), (3, v)}
dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah fungsi yang
berkoresponden satu-ke-satu. Balikan fungsi f adalah
f
-1
= {(u, 1), (w, 2), (v, 3)}
Jadi, f adalah fungsi invertible.

Contoh 38. Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1.
Penyelesaian:
Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu,
jadi balikan fungsi tersebut ada.
Misalkan f(x) = y, sehingga y = x – 1, maka x = y + 1. Jadi, balikan
fungsi balikannya adalah f
-1
(y) = y +1.

Contoh 39. Tentukan balikan fungsi f(x) = x
2
+ 1.
Penyelesaian:
Dari Contoh 3.41 dan 3.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x
– 1 bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, sehingga fungsi
balikannya tidak ada. Jadi, f(x) = x
2
+ 1 adalah funsgi yang not
invertible.

Komposisi dari dua buah fungsi.
Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B, dan f
adalah fungsi dari himpunan B ke himpunan C. Komposisi f dan g,
dinotasikan dengan f ο g, adalah fungsi dari A ke C yang
didefinisikan oleh
(f ο g)(a) = f(g(a))
29
Contoh 40. Diberikan fungsi
g = {(1, u), (2, u), (3, v)}
yang memetakan A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w}, dan fungsi
f = {(u, y), (v, x), (w, z)}
yang memetakan B = {u, v, w} ke C = {x, y, z}. Fungsi komposisi
dari A ke C adalah
f ο g = {(1, y), (2, y), (3, x) }

Contoh 41. Diberikan fungsi f(x) = x – 1 dan g(x) = x
2
+ 1.
Tentukan f ο g dan g ο f .
Penyelesaian:
(i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x
2
+ 1) = x
2
+ 1 – 1 = x
2
.
(ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)
2
+ 1 = x
2
- 2x + 2.

Beberapa Fungsi Khusus
1. Fungsi Floor dan Ceiling
Misalkan x adalah bilangan riil, berarti x berada di antara dua
bilangan bulat.
Fungsi floor dari x:
x] menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih
kecil atau sama dengan x
Fungsi ceiling dari x:
x] menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar
atau sama dengan x
30
Dengan kata lain, fungsi floor membulatkan x ke bawah, sedangkan
fungsi ceiling membulatkan x ke atas.
Contoh 42. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling:
3.5] = 3 3.5] = 4
0.5] = 0 0.5] = 1
4.8] = 4 4.8] = 5
– 0.5] = – 1 – 0.5] = 0
–3.5] = – 4 –3.5] = – 3

Contoh 42. Di dalam komputer, data dikodekan dalam untaian byte,
satu byte terdiri atas 8 bit. Jika panjang data 125 bit, maka jumlah
byte yang diperlukan untuk merepresentasikan data adalah
125/8] = 16 byte. Perhatikanlah bahwa 16 × 8 = 128 bit,
sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit ekstra
agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk
menggenapi 8 bit disebut padding bits).
2. Fungsi modulo
Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan
bulat positif.
a mod m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a
dibagi dengan m
a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r, dengan 0 ≤ r < m.
Contoh 43. Beberapa contoh fungsi modulo
25 mod 7 = 4
15 mod 4 = 0
3612 mod 45 = 12
0 mod 5 = 5
31
–25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 )

3. Fungsi Faktorial
¹
'
¹
> × − × × ×
·
·
0 , ) 1 ( . 2 1
0 , 1
!
n n n
n
n

4. Fungsi Eksponensial
¹
¹
¹
'
¹
> × × ×
·
·
0 ,
0 , 1
n a a a
n
a
n
n
  

Untuk kasus perpangkatan negatif,
n
n
a
a
1
·

5. Fungsi Logaritmik
Fungsi logaritmik berbentuk
x y
a
log ·
↔ x = a
y
Fungsi Rekursif
• Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya
mengacu pada dirinya sendiri.
Contoh: n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n.
¹
'
¹
> − ×
·
·
0 , )! 1 (
0 , 1
!
n n n
n
n
32
Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:
(a) Basis
Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya
sendiri. Bagian ini juga sekaligus menghentikan definisi rekursif.

(b) Rekurens
Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi
dirinya sendiri. Setiap kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri,
argumen dari fungsi harus lebih dekat ke nilai awal (basis).
• Contoh definisi rekursif dari faktorial:
(a) basis:
n! = 1 , jika n = 0
(b) rekurens:
n! = n × (n -1)! , jika n > 0
5! dihitung dengan langkah berikut:
(1) 5! = 5 × 4! (rekurens)
(2) 4! = 4 × 3!
(3) 3! = 3 × 2!
(4) 2! = 2 × 1!
(5) 1! = 1 × 0!
(6) 0! = 1
(6’) 0! = 1
(5’) 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1
(4’) 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2
(3’) 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6
(2’) 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24
(1’) 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120
Jadi, 5! = 120.
33
Contoh 44. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif
lainnya:
1.
¹
'
¹
≠ + −
·
·
0 , ) 1 ( 2
0 , 0
) (
2
x x x F
x
x F
2. Fungsi Chebysev

¹
¹
¹
'
¹
> − − −
·
·
·
1 , ) , 2 ( ) , 1 ( 2
1 ,
0 , 1
) , (
n x n T x n xT
n x
n
x n T

3. Fungsi fibonacci:

¹
¹
¹
'
¹
> − + −
·
·
·
1 , ) 2 ( ) 1 (
1 , 1
0 , 0
) (
n n f n f
n
n
n f
34

2

Contoh 3. Di bawah ini adalah contoh matriks 0/1:
0 0  0  1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1  0  1

Relasi

Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B. Notasi: R ⊆ (A × B). a R b adalah notasi untuk (a, b) ∈ R, yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R a R b adalah notasi untuk (a, b) ∉ R, yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh relasi R. Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R.


Contoh 3. Misalkan A = {Amir, Budi, Cecep}, B = {IF221, IF251, IF342, IF323} A × B = {(Amir, IF221), (Amir, IF251), (Amir, IF342), (Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251),

3

(Budi, IF342), (Budi, IF323), (Cecep, IF221), (Cecep, IF251), (Cecep, IF342), (Cecep, IF323) } Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada Semester Ganjil, yaitu R = {(Amir, IF251), (Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251), (Cecep, IF323) } - Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B), - A adalah daerah asal R, dan B adalah daerah hasil R. - (Amir, IF251) ∈ R atau Amir R IF251 - (Amir, IF342) ∉ R atau Amir R IF342.

Contoh 4. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) } • Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus • Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A. • Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.

Contoh 5. Misalkan R adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8, 9} yang didefinisikan oleh (x, y) ∈ R jika x adalah faktor prima dari y. Maka

am} dan B = {b1. . Representasi Relasi dengan Diagram Panah A A m ir B udi C ecep B P IF 2 2 1 IF 2 5 1 3 IF 3 4 2 IF 3 2 3 4 2 2 4 8 9 15 2 3 4 8 9 Q A A 2 3 4 8 9 2. bn}. (2. 3). Representasi Relasi dengan Matriks • Misalkan R adalah relasi dari A = {a1. ….4 R = {(2. (2. …. Tabel 1 A Amir Amir Budi Budi Cecep B IF251 IF323 IF221 IF251 IF323 Tabel 2 P 2 2 4 2 4 3 3 Q 2 4 4 8 8 9 15 Tabel 3 A 2 2 2 3 3 A 2 4 8 3 3 3. sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil. 4). b2. Representasi Relasi dengan Tabel • Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal. (3. a2. 9)} Representasi Relasi 1. (3. 8). 2).

(a i . 4. . a1 = 2. a2 = 3. b j ) ∈ R mij =  0. b3 = 8. b4 = 9. b2 = 4. b1 M= a1  m11 a2 m21     am mm1 b2 m12 m22  mm 2     … bn m1n  m2 n     mmn  yang dalam hal ini 1. b2 = IF251. dan b1 = 2. a1 = Amir. Representasi Relasi dengan Graf Berarah • Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph) • Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain. a2 = Budi. a3 = 4. b5 = 15. b3 = IF342. dan b4 = IF323. b j ) ∉ R Contoh 6.5 • Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [mij]. Relasi R pada Contoh 3 dapat dinyatakan dengan matriks 0 1   0 1 1 0 0 0 0 1 0  1  dalam hal ini. Relasi R pada Contoh 4 dapat dinyatakan dengan matriks 1 0  0  1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1  0  yang dalam hal ini. (a i . dan b1 = IF221. a3 = Cecep.

b)} adalah relasi pada himpunan {a. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex). Refleksif (reflexive) . (c. (a. b. Misalkan R = {(a. b). Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop). a). (b. c. (b. a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri. d). • • Contoh 7. c). b) ∈ R. maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. (d. R direpresentasikan dengan graf berarah sbb: a b c d Sifat-sifat Relasi Biner • Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat. d}. Pasangan terurut (a. a). d). (c.6 • Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau vertex). (b. dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc) Jika (a. a). 1.

1).  • Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua bernilai 1. (1. dan (4. T : 3x + y = 10 Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena. R : x lebih besar dari y. 2). 3). a). (3. atau mii = 1. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. 2) bukan anggota R. 4). Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya sendiri. (b) Relasi R = {(1. 3).7 • Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a. 3). 2. a) ∉ R. (4. (2. a)∈R untuk setiap a ∈ A. (4. • Contoh 8. Misalkan A = {1. (2. . sehingga (a. 1). 2). 3). S : x + y = 5. (2. Contoh 10. 2. (2. (4. n. maupun T. maka (a) Relasi R = {(1. misalkan (2. Contoh 9. (4. 3). 2). (4. untuk i = 1. (4. 2). …. S. 3. 1). 3) ∉ R. 4) } tidak bersifat refleksif karena (3. 2). a) ∈ R untuk setiap a ∈ A. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. (2. Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a. (3. 4}. 3). 4) } bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a. yaitu (1. 1).

(2. Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4. 1) (4. (4. Contoh 11. c) ∈ R. 3) (b) (c) (2. (2. maka (a) R = {(2. 1).8 1        1  1       1  • Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap simpulnya. (4. 3) (4. c) ∈ R. 4}. (3. c) ∈ R. c) ∈ R sedemikian sehingga (a. Relasi R = {(1. 2). Menghantar (transitive) • Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a. c) (3. b) ∈ R dan (b. 2) (3. 2. begitu juga (4. 2) } tidak manghantar karena (2. 2) (4. 1) (4. (4. (2. 2). untuk a. 2) dan (2. tetapi (4. b. 3). 1) (4. 4). 2) ∉ R. 2. 2) (4. 1). 1). 3) ∈ R. (3. 4) dan (4. Lihat tabel berikut: Pasangan berbentuk (a. tetapi (2. (3. 2) ∈ R. 1) (3. Misalkan A = {1. 5)} selalu menghantar. 2). maka (a. b) (b. (4. 2). (3. 4)} menghantar karena tidak ada (a. c) (a. b) ∈ R dan (b. 4) } jelas menghantar Relasi R = {(1. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. 1). 1) (3. 3. . 2) (d) (e) (f) R = {(1. 3) } bersifat menghantar. c ∈ A. 1). 1) (2. 3). 3) ∉ R. (4.

S : x + y = 6. b) ∈ R. .T = {(1. jika (a. (3. a) ∉ R. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. maka (b. (2. R : x lebih besar dari y. 2) dan (2. b) ∈ R sedemikian sehingga (b. 3. Contoh 13. . Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a.9 Contoh 12. relasi “habis membagi” bersifat menghantar. 4). b ∈ A. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat menghantar. 4) ∉ S. maka juga terdapat busur berarah dari a ke c. 4) adalah anggota S tetapi (4. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c. T : 3x + y = 10 . misalkan (4. 7).R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z. Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c = nb.S tidak menghantar karena. Jadi. 1)} menghantar. Di sini c = nma. • . sehingga a habis membagi c. a) ∈ R. Setangkup (symmetric) dan tak-setangkup (antisymmetric) • Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika untuk semua a. • Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks representasinya • Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan dari b ke c.

(2. 3)} tidak setangkup tetapi tolak-setangkup. 4) dan (4. (3. 2). 1). Misalkan A = {1. 1). 2). 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi (2.10 • Relasi R pada himpunan A disebut tolak-setangkup jika untuk semua a. Perhatikanlah bahwa istilah setangkup dan tolak-setangkup tidaklah berlawanan. Namun. dan R = {(1. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolak-setangkup. Perhatikan bahwa R juga setangkup. (2. 1). (c) Relasi R = {(1. Di sini (1. begitu juga (2. 2) ∈ R. b) yang mana a ≠ b. b) ∈ R maka (b. 3). (2. 1). (2. (a. (2. (4. a) ∈ R. b) ∈ R dan (b. (2. 3) ∈ R. 3. (1. 2) ∈ R. 2). b ∈ A. 1) ∈ R dan 1 = 1 dan. 4) dan (4. (2. 1) ∈ R. 3). dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. (2. 1). 2). (2. 2) ∉ R. (f) Relasi R = {(1. 1). a) juga ∈ R. 2). 4}. (e) Relasi R = {(1. 2). a) ∈ R hanya jika a = b. 1). 4). (1. 3) } tolak-setangkup karena (1. (4. tetapi (3. (4. (1. (2. karena suatu relasi dapat memiliki kedua sifat itu sekaligus. dan 3 = 3 dan (3. 2) anggota R. 4). 2). 1) ∈ R. 2). 4) } bersifat setangkup karena jika (a. 2). (3. (2. (2. (1. relasi tidak dapat memiliki kedua sifat tersebut sekaligus jika ia mengandung beberapa pasangan terurut berbentuk (a. 2) } tidak setangkup karena (2. (4. 3) ∈ R. . 2) dan (2. Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b sedemikian sehingga (a. 2 = 2 dan (2. 4). Perhatikan bahwa R tidak setangkup. 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1. (b) Relasi R = {(1. b) ∈ R dan (b. (d) Relasi R = {(1. 3). maka (a) Relasi R = {(1. • • Contoh 14. (3. 2. 3) } setangkup dan juga tolaksetangkup. 2) ∈ R dan 2 = 2 dan.

…. 4) ∉ R. 3) bukan anggota T. (4.11 (g) Relasi R = {(1.S relasi setangkup karena (4. 4)} tidak setangkup maupun tidak tolak-setangkup.Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!). 2) dan (2. 2). 3). 2. 1). Sebagai contoh. 4) ∈ R dan 4 = 4. (2. 3) ∈ R dan (3. R tidak tolak-setangkup karena (2. Karena itu. 2) ∈ R tetapi (2. . Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak setangkup karena jika a habis membagi b. Contoh 16. (3. .R bukan relasi setangkup karena. 2) ∈ S dan (4.S bukan relasi tolak-setangkup karena. • Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama. misalkan (3. S : x + y = 6. (2. 2 habis membagi 4. Relasi “habis membagi” tolak-setangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a = b. tetapi 4 tidak habis membagi 2. 2). (4. . n : .T tidak setangkup karena. 1) adalah anggota T tetapi (1. (2. . 2) ∉ R. 4 habis membagi 4. 2). misalkan (4. T : 3x + y = 10 . R : x lebih besar dari y. Contoh 15. (4. untuk i = 1. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3. atau mij = mji = 1. 2) ∈ S tetapi 4 ≠ 2. kecuali jika a = b. Sebagai contoh. 4) ∈ R tetapi (4. misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3 tidak lebih besar dari 5. Karena itu. b tidak habis membagi a. R tidak setangkup karena (4. 4) adalah anggota S.

matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika salah satu dari mij = 0 atau mji = 0 bila i ≠ j :    0     1 0 1 0    1     • • Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolaksetangkup dicirikan oleh: jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua simpul berbeda. Dengan kata lain. Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika mij = 1 dengan i ≠ j. Relasi Inversi . maka juga ada busur dari b ke a.12    1     • 1 0  0       Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada busur dari a ke b. maka mji = 0.

13 • Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. (8. (4. (4. q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2. 4). 8. yaitu relasi dari Q ke P dengan (q. (4. 4). 9). misalkan N. 15) } R–1 adalah invers dari relasi R. (2. 3. 4). a) | (a. (15. Invers dari relasi R. 4). M= 1 0  0  1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1  0  maka matriks yang merepresentasikan relasi R–1. 2). (8. 3) } Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R. Misalkan P = {2. 3). 8). 4. (4. dilambangkan dengan R–1. . (9. (3. 2). 15}. 2). Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p. (3. p) ∈ R–1 jika q adalah kelipatan dari p maka kita peroleh R–1 = {(2. 4} dan Q = {2. 2). 9. (2. b) ∈ R } Contoh 17. adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh R–1 = {(b. 8). diperoleh dengan melakukan transpose terhadap matriks M.

c} dan B = {a. b. Misalkan A = {a. maka matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah . d)} R1 ∩ R2 = {(a. (b. (b. b). (c. dan beda setangkup antara dua relasi atau lebih juga berlaku. (a. b. (c. (a. b). d)} R1 ⊕ R2 = {(b. c)} Relasi R2 = {(a. b). dan R1 ⊕ R2 juga adalah relasi dari A ke B. c). c). c). b). maka R1 ∩ R2. (a. b). (c. (a. Relasi R1 = {(a. a). a)} R1 ∪ R2 = {(a. • Contoh 18. b). c). c). b). maka operasi himpunan seperti irisan.14 N = MT = 1 1  1  0  0 0 0 0 1 1 0 1  1  0  0 Mengkombinasikan Relasi • Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut. (a. c). c)} R2 − R1 = {(a. R1 ∪ R2. d)} • Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. (a. c. (a. d)} R1 − R2 = {(b. (a. b). (a. R1 – R2. (c. d}. (a. (a. gabungan. selisih. a). a). Jika R1 dan R2 masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke himpunan B.

(8. c) ∈ S } R = {(1. 4). t. (a. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks R1 = maka MR1 ∪ R2 = MR1 ∨MR2 = 1   1   1  0 0  1  1 1 1 0 0 0 0 1  0  0 1  0  1   1   1  0 0 1 0 1  0  dan R2 = 0 0  1  1 1 0 0 1  0  MR1 ∩ R2 = MR1 ∧MR2 = Komposisi Relasi • Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B.15 MR1 ∪ R2 = MR1 ∨MR2 dan MR1 ∩ R2 = MR1 ∧MR2 Contoh 19. t). 6). dinotasikan dengan S ο R. (6. c ∈ C. t). Komposisi R dan S. dan untuk beberapa b ∈ B. (1. (3. u)} adalah relasi dari himpunan {2. 6. 6. s). b) ∈ R dan (b. 8} ke himpunan {s. 2). 8)} Contoh 20. . (2. 4). (4. u). 8} dan S = {(2. (4. dan S adalah relasi dari himpunan B ke himpunan C. adalah relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh S ο R = {(a. Misalkan adalah relasi dari himpunan {1. (3. 3} ke himpunan {2. (3. 4. c) a ∈ A. 6). u}. 4. 2.

(3. t). (2. t). s). u) } Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah: 2 1 4 2 3 6 8 s t u • Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks R1 = 1 1   0 0 1 0 1 0  0  dan R2 = 0 0   1 1 0 0 0 1  1  maka matriks yang menyatakan R2 ο R1 adalah . tetapi dengan mengganti tanda kali dengan “∧ ” dan tanda tambah dengan “∨ ”. (1.” sama seperti pada perkalian matriks biasa. Contoh 21. (3. u). t). (2.16 Maka komposisi relasi R dan S adalah S ο R = {(1. maka matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah MR2 ο R1 = MR1 ⋅ MR2 yang dalam hal ini operator “. s). (3.

MatKul. Struktur Data. An disebut daerah asal relasi dan n disebut derajat. 13598025} Nama = {Amir. Nilai): . • • Contoh 22. Himpunan A1. Misalkan NIM = {13598011. E} Relasi MHS terdiri dari 5-tupel (NIM. An adalah himpunan. Nama. MR2 = (1 ∧1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) (1 ∧1) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (0 ∧1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧1) ∨ (1 ∧1)   (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧1) ∨ (0 ∧1)  (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧1) ∨ (0 ∧1)    (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧1)   (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧1) (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧1)  = 1 0  0  1 1 0 1 1  0  Relasi n-ary • Relasi biner hanya menghubungkan antara dua buah himpunan. maka relasinya dinamakan relasi biner (bi = 2). Relasi n-ary R pada himpunan-himpunan tersebut adalah himpunan bagian dari A1 × A2 × … × An . D. Relasi n-ary mempunyai terapan penting di dalam basisdata. Misalkan A1. 13598014. Jika n = 2. ….17 MR2 ο R1 = MR1 . 13598015. Algoritma. • Relasi yang lebih umum menghubungkan lebih dari dua buah himpunan. Relasi tersebut dinamakan relasi n-ary (baca: ener). Ahmad. B. C. atau dengan notasi R ⊆ A1 × A2 × … × An. A2. 13598021. Santi. Irwan. Arsitektur Komputer} Nilai = {A. Cecep. Hamdan} MatKul = {Matematika Diskrit. 13598019. …. A2.

Hamdan. Hamdan. B). Matematika Diskrit. Hamdan. Algoritma. Struktur Data C). Arsitektur Komputer. (13598019. (13598011. (13598025. Arsitektur Komputer. Santi. Arsitektur Komputer. B) } Relasi MHS di atas juga dapat ditulis dalam bentuk Tabel: NIM 13598011 13598011 13598014 13598015 13598015 13598015 13598019 Nama Amir Amir Santi Irwan Irwan Irwan Ahmad MatKul Matematika Diskrit Arsitektur Komputer Algoritma Algoritma Struktur Data Arsitektur Komputer Algoritma Nilai A B D C C B E . Hamdan. B). (13598021. D). Struktur Data.18 MHS ⊆ NIM × Nama × MatKul × Nilai Satu contoh relasi yang bernama MHS adalah MHS = {(13598011. Ahmad. (13598021. Irwan. Amir. C). (13598015. C). Arsitektur Komputer. Cecep. (13598014. Komputer. Irwan. (13598025. (13598015. Matematika Diskrit. Algoritma. A). A. Amir. E). Algoritma. B). (13598025. B). A). Ars. Cecep. B). (13598015. Algoritma. (13598025. Irwan.

Atribut khusus pada tabel yang mengidentifikasikan secara unik elemen relasi disebut kunci (key). Pada basisdata relasional. Operasi yang dilakukan terhadap basisdata dilakukan dengan perintah pertanyaan yang disebut query.19 13598021 13598021 13598025 13598025 13598025 13598025 Cecep Cecep Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Algoritma Arsitektur Komputer Matematika Diskrit Algoritma Struktur Data Arsitektur Komputer B B B A C B • • Basisdata (database) adalah kumpulan tabel. Setiap kolom pada tabel disebut atribut. setiap record terdiri atas sejumlah field. Contoh query: “tampilkan semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah Matematika Diskrit” • • • • • • • . Satu baris data pada tabel menyatakan sebuah record. dan setiap atribut menyatakan sebuah field. Model basisdata ini didasarkan pada konsep relasi n-ary. sedangkan file adalah kumpulan record. Setiap tabel pada basisdata diimplementasikan secara fisik sebagai sebuah file. satu tabel menyatakan satu relasi. Daerah asal dari atribut adalah himpunan tempat semua anggota atribut tersebut berada. Secara fisik basisdata adalah kumpulan file. Salah satu model basisdata adalah model basisdata relasional (relational database).

diantaranya adalah seleksi.20 “tampilkan daftar nilai mahasiswa dengan NIM = 13598015” “tampilkan daftar mahasiswa yang terdiri atas NIM dan mata kuliah yang diambil” • Query terhadap basisdata relasional dapat dinyatakan secara abstrak dengan operasi pada relasi n-ary. Nilai Diskrit. MatKul. Operasi proyeksi π Nama. B) Proyeksi Operasi proyeksi memilih kolom tertentu dari suatu tabel. Seleksi Operasi seleksi memilih baris tertentu dari suatu tabel yang memenuhi persyaratan tertentu. Nama (MHS) . Matematika Diskrit. • Ada beberapa operasi yang dapat digunakan. Amir. proyeksi. A) dan (MHS) menghasilkan Tabel 3. Misalkan untuk relasi MHS kita ingin menampilkan daftar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Matematik Diskrit. Sedangkan operasi proyeksi π NIM. Operator: σ Contoh 23. Operator: π Contoh 24. Operasi seleksinya adalah σ Matkul=”Matematika Diskrit” (MHS) Hasil: (13598011. maka hanya diambil satu kali.5. Hamdan. Matematika (13598025. Jika ada beberapa baris yang sama nilainya. dan join.

Operator: τ Contoh 25. Misalkan relasi MHS1 dinyatakan dengan Tabel 3.8.21 menghasilkan Tabel 3. Tabel 3.6 NIM 13598011 13598014 13598015 13598019 13598021 13598025 Nama Amir Santi Irwan Ahmad Cecep Hamdan Join Operasi join menggabungkan dua buah tabel menjadi satu bila kedua tabel mempunyai atribut yang sama.7 dan relasi MHS2 dinyatakan dengan Tabel 3. Nama (MHS1. Operasi join τ NIM. MHS2) .5 Nama Amir Amir Santi Irwan Irwan Irwan Ahmad Cecep Cecep Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan MatKul Matematika Diskrit Arsitektur Komputer Algoritma Algoritma Struktur Data Arsitektur Komputer Algoritma Algoritma Arsitektur Komputer Matematika Diskrit Algoritma Struktur Data Arsitektur Komputer Nilai A B D C C B E B B B A C B Tabel 3.6.

22 menghasilkan Tabel 3. Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan f : A →B yang artinya f memetakan A ke B.8 NIM 13598001 13598001 13598004 13598006 13598006 13598009 13598010 Nama Hananto Hananto Heidi Harman Harman Junaidi Farizka MatKul Algoritma Basisdata Kalkulus I Teori Bahasa Agama Statisitik Otomata Nilai A B B C A B C Tabel 3.9 NIM 13598001 13598001 13598004 13598006 13598006 Nama Hananto Hananto Heidi Harman Harman JK L L W L L MatKul Algoritma Basisdata Kalkulus I Teori Bahasa Agama Nilai A B B C A Fungsi • Misalkan A dan B himpunan.9. Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B. Tabel 3. .7 NIM 13598001 13598002 13598004 13598006 13598007 Nama Hananto Guntur Heidi Harman Karim JK L L W L L Tabel 3.

Perhatikan bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B. Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di dalam B. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika (a. Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f. A f • • • • B a b • Fungsi adalah relasi yang khusus: 1. 2.23 • A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain) dari f. Seperti pada relasi. . Himpunan pasangan terurut. dalam berbagai bentuk. Jika f(a) = b. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah yang mendefinisikan f. b) ∈ f dan (a. maka b = c. c) ∈ f. Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi. • Fungsi dapat dispesifikasikan diantaranya: 1. maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan pra-bayangan (pre-image) dari b.

Contoh 26. u). u). (2. v)} . Contoh 27. Kode program (source code) Contoh: Fungsi menghitung |x| function abs(x:integer):integer. Daerah asal dari f adalah A dan daerah hasil adalah B. dan f(x) = 1/x. u). 3. v. Di sini f(1) = u. end. Kata-kata Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner”. Formula pengisian nilai (assignment).24 2. f(2) = v. v. f(x) = x2. w} adalah fungsi dari A ke B. Relasi f = {(1. 3} ke B = {u. (3. Relasi f = {(1. yang dalam hal ini sama dengan himpunan B. Jelajah dari f adalah {u. (2. Contoh: f(x) = 2x + 10. v). dan f(3) = w. (3. w}. 2. begin if x < 0 then abs:=-x else abs:=x. w)} dari A = {1. 4.

2. 2. • Fungsi f dikatakan satu-ke-satu (one-to-one) atau injektif (injective) jika tidak ada dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama. meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A. Contoh 30. 2. A a b c d B 1 2 3 4 5 Contoh 31. Daerah asal dan daerah hasil dari f adalah himpunan bilangan bulat. (1. (3. (3. Contoh 28. dan jelajah fungsi adalah {u. u). w} adalah fungsi dari A ke B. Relasi f = {(1. w)} dari A = {1. u). Relasi f = {(1. daerah hasilnya adalah B. Contoh 29. 3} ke B = {u. v. yaitu u dan v. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x2. v}. v. w} bukan fungsi. (2. v. w} bukan fungsi. karena tidak semua elemen A dipetakan ke B. (2. karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B. Daerah asal fungsi adalah A. dan jelajah dari f adalah himpunan bilangan bulat tidak-negatif. v). 3. 3} ke B = {u. v). 4} ke B = {u. w)} dari A = {1. Relasi . v).25 dari A = {1.

2. w). Misalkan f : Z → Z. v. f(-2) = -3. Contoh 32. Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b. u).26 f = {(1. karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama. 3} ke B = {u. (2. misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠ 2. w} bukan fungsi satu-ke-satu. f(2) = 1 dan untuk x = -2. 3} ke B = {u. w. u). (3. Tetapi relasi f = {(1. karena f(1) = f(2) = u. x} adalah fungsi satu-ke-satu. v. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi satu-ke-satu? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi satu-ke-satu. A a b c d B 1 2 3 • . Fungsi f disebut fungsi pada himpunan B. (3. v)} dari A = {1. u). v)} dari A = {1. • Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A. Misalnya untuk x = 2. (2. 2. a – 1 ≠ b – 1.

v)} dari A = {1. v)} dari A = {1. karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan jelajah dari f. w). u). Relasi f = {(1. (3. (2. u). (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y. u). w} merupakan fungsi pada karena semua anggota B merupakan jelajah dari f. 3} ke B = {u. v. 2. 3} ke B = {u. v. (2. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi pada? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi pada. 2. selalu ada nilai x yang memenuhi. Contoh 35. w). (3. Contoh 34. (2. 2. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. 3} ke B = {u. . Relasi f = {(1. u). w} bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f. Relasi f = {(1. Misalkan f : Z → Z. v. • Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi satu-ke-satu dan juga fungsi pada.27 Contoh 33. (3. yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1. v)} dari A = {1.

Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. maka kita dapat menemukan balikan (invers) dari f. bukan satu-ke-satu A a b c d c B 1 2 3 Buka fungsi satu-ke-satu maupun pada A a b c d c B 1 2 3 4 a b c d c A Bukan fungsi B 1 2 3 4 • Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B. Balikan fungsi dilambangkan dengan f –1. • • . Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B. karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya. Fungsi satu-ke-satu.28 Contoh 36. Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang invertible (dapat dibalikkan). karena fungsi balikannya tidak ada. maka f -1(b) = a jika f(a) = b. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. bukan pada A a b c B 1 2 3 4 Fungsi pada.

dinotasikan dengan f ο g. Relasi f = {(1. Contoh 39. v. w). Jadi. Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B. sehingga fungsi balikannya tidak ada. 3)} Jadi. Balikan fungsi f adalah f -1 = {(u. 2. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Misalkan f(x) = y. Jadi. maka x = y + 1. 3} ke B = {u. balikan fungsi balikannya adalah f-1(y) = y +1. (v. v)} dari A = {1. dan f adalah fungsi dari himpunan B ke himpunan C. Penyelesaian: Dari Contoh 3. sehingga y = x – 1.41 dan 3. Contoh 38. Komposisi f dan g. (2. jadi balikan fungsi tersebut ada. Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1. 1).29 Contoh 37. (3. Komposisi dari dua buah fungsi.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. f(x) = x2 + 1 adalah funsgi yang not invertible. u). Tentukan balikan fungsi f(x) = x2 + 1. Penyelesaian: Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan oleh (f ο g)(a) = f(g(a)) . f adalah fungsi invertible. (w. 2).

2x + 2. u). 2. w} ke C = {x. Tentukan f ο g dan g ο f . v. Penyelesaian: (i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x2 + 1) = x2 + 1 – 1 = x2. x). dan fungsi f = {(u. (ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)2 + 1 = x2 . y. w}. (2. y). Diberikan fungsi f(x) = x – 1 dan g(x) = x2 + 1. Fungsi floor dari x:  x menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x Fungsi ceiling dari x:  x menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x . (v. Fungsi komposisi dari A ke C adalah f ο g = {(1. (3. v)} yang memetakan A = {1. (w. u). z}.30 Contoh 40. Beberapa Fungsi Khusus 1. z)} yang memetakan B = {u. x) } Contoh 41. (3. y). 3} ke B = {u. y). berarti x berada di antara dua bilangan bulat. Fungsi Floor dan Ceiling Misalkan x adalah bilangan riil. (2. Diberikan fungsi g = {(1. v.

Fungsi modulo Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif. data dikodekan dalam untaian byte. Jika panjang data 125 bit.5 = 0 4. a mod m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r. sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk menggenapi 8 bit disebut padding bits).5 = 3 0.8 = 5  – 0. maka jumlah byte yang diperlukan untuk merepresentasikan data adalah  125/8 = 16 byte. sedangkan fungsi ceiling membulatkan x ke atas. 2.5 = 4  0. Beberapa contoh fungsi modulo 25 mod 7 = 4 15 mod 4 = 0 3612 mod 45 = 12 0 mod 5 = 5 .31 Dengan kata lain.5 = – 4  3. Contoh 42. Contoh 43. satu byte terdiri atas 8 bit.5 = – 1 –3. fungsi floor membulatkan x ke bawah. Di dalam komputer.5 = – 3 Contoh 42. dengan 0 ≤ r < m. Perhatikanlah bahwa 16 × 8 = 128 bit.8 = 4 – 0. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling:      3.5 = 1  4.5 = 0  –3.

n = 0 1  a = a × a ×  × a .32 –25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 ) 3.n >0 1  n! =  n × (n −1)! . Fungsi Logaritmik Fungsi logaritmik berbentuk y = a log x ↔ x = ay Fungsi Rekursif • Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri. Fungsi Eksponensial .n > 0 4. Fungsi Faktorial 1 n! =  1 × 2 ×. Contoh: n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n. × (n −1) × n .n =0 . .n = 0 . a −n = 1 an 5. n > 0     n   n Untuk kasus perpangkatan negatif.

Setiap kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri. Bagian ini juga sekaligus menghentikan definisi rekursif. 0! = 1 1! = 1 × 2! = 2 × 3! = 3 × 4! = 4 × 5! = 5 × 0! = 1 × 1! = 2 × 2! = 3 × 3! = 4 × 4! = 5 × 1=1 1=2 2=6 6 = 24 24 = 120 . • Contoh definisi rekursif dari faktorial: (a) basis: n! = 1 . jika n = 0 (b) rekurens: n! = n × (n -1)! .33 Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian: (a) Basis Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri. jika n > 0 5! dihitung dengan langkah berikut: (1) 5! = 5 × 4! (rekurens) (2) 4! = 4 × 3! (3) 3! = 3 × 2! (4) 2! = 2 × 1! (5) 1! = 1 × 0! (6) 0! = 1 (6’) (5’) (4’) (3’) (2’) (1’) Jadi. 5! = 120. argumen dari fungsi harus lebih dekat ke nilai awal (basis). (b) Rekurens Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri.

x ) =  x 2 xT ( n −1.x = 0 . n =1 .n =0 . 0 F ( x) =  2 2 F ( x − 1) + x . x) − T ( n − 2. Fungsi Chebysev 1   T ( n. n >1 3. x)  .x ≠ 0 2. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya: 1.n =0 . Fungsi fibonacci: 0   f (n) =  1  f ( n −1) + f ( n − 2)  . n =1 . n >1 .34 Contoh 44.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->