P. 1
Rasionalitas Dan Moralitas Politik

Rasionalitas Dan Moralitas Politik

|Views: 681|Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

pdf

text

original

RASIONALITAS DAN MORALITAS POLITIK : Seni Berpolitik Oleh : Rum Rosyid, Pendidikan Sosiologi Untan Pontianak Pemaknaan ulang

terhadap kata politik juga menjadi kebutuhan mendesak. Mahasiswa sebagai bagian dari kekuatan social baru harus membangun kesadaran masyarakat tentang hakekat politik yang benar. Pemkanaan umum masyarakat terhadap politik sering berhenti pada tataran hajatan pemilu, upaya konspirasi merebut kekuasaan, serta konflik nternal kepartaian. Masyarakat harus menyadari bahwa politik harus dimaknai proses dari perumusan dan pelaksanaan kebijakan public yang harus dikontrol. Pasalnya inilah ruang yang rentan untuk dijadikan alat legitimiasi penyalahgunaan kekuasaan. Politik adalah suatu proses dimana masyarakat memutuskan bahwa aktivitas tertentu adalah lebih baik dari yang lain dan harus dilaksanakan. Dengan demikian struktur politik meliputi baik struktur hubungan antara manusia dengan manusia maupun struktur hubungan antara manusia dengan pemerintah. Selain itu, struktur politik dapat merupakan bangunan yang nampak secara jelas (kongkret) dan yang tak nampak secara jelas. Hal ini dapat terlihat dari contoh-contoh sebagai berikut: a). Factor -faktor yang bersifat informal (tidak atau kurang resmi) yang dalam kenyataan mempengaruhi cara kerja aparat masyarakat untuk mengemukakan, menyalurkan, menerjemahkan, mengkonversi tuntutan, dukungan, dan masalah tertentu dimana tersangkut keputusan yang berhubungan dengan kepentingan umum. b). Lembaga yang dapat di sebut sebagai mesin politik resmi atau formal, yang dengan absah mengidentifikasi segala masalah, menentukan dan menjalankan segala keputusan yang mengikat seluruh anggota masyarakat untuk mencapai kepentingan umum. Hukum dan kekuasaan politik merupakan subsistem dalam sistem kemasyarakatan. Masing-masing melaksanakan fungsi tertentu untuk menggerakkan sistem kemasyarakatan secara keseluruhan. Secara garis besar hukum berfungsi melakukan social control, dispute settlement dan social engeneering atau inovation. Sedangkan fungsi politik meliputi pemeliharaan sistem dan adaptasi (socialization dan recruitment), konversi (rule making, rule aplication, rule adjudication, interestarticulation dan aggregation) dan fungsi kapabilitas (regulatif extractif, distributif dan responsif). Dengan rasionalitas dan moralitas politik akan terlihat lebih seperti seni dan kemuliaan. Bukan kejam dan busuk yang selama ini kita lihat. Kesantunan, kedewasaan, dan keluhuran budi dalam berpolitik merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Tanpa itu semua nihil rasanya kalau peradaban yang agung akan tercipta. Maka dari itulah mulai saat ini juga, baik elit politik maupun para (aktivis) pemuda/ mahasiswa wajib mengedepan etik moral berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Karena politik tanpa rasionalitas moral dan ilmu pengetahuan akan menjadi sangat jahat. Sebaliknya, moral saja tanpa diimbangi kesadaran politik (kerakyatan dan kebangsaan) hanya akan menjadi tatanan kehidupan yang sia-sia. Maka berpolitiklah dengan akal sehat dan kejernihan nurani. Virgina Held (1989 : 106-123) secara panjang lebar membicarakan sistem hukum dan sistem politik dilihat dari sudut pandang etika dan moral. Ia melihat perbedaan diantara

keduanya dari dasar pembenarannya. “Dasar pembenaran deontologis pada khususnya merupakan ciri dan layak bagi sistem hukum, sedangkan dasar pembenaran teleogis pada khususnya ciri dan layak bagi sistem politik. Argumentasi deontologis menilai suatu tindakan atas sifat hakekat dari tindakan yang bersangkutan, sedangkan argumentasi teleogis menilai suatu tindakan atas dasar konsekuensi tindakan tersebut. Apakah mendatangkan kebahagiaan atau menimbulkan penderitaan. Benar salahnya tindakan ditentukan oleh konsekuensi yang ditimbulkannya, tanpa memandang sifat hakekat yang semestinya ada pada tindakan itu. Sistem hukum, kata Held lebih lanjut memikul tanggung jawab utama untuk menjamin dihormatinya hak dan dipenuhinya kewajiban yang timbul karena hak yang bersangkutan. Dan sasaran utama sistem politik ialah memuaskan kepentingan kolektif dan perorangan. Meskipun sistem hukum dan sistem politik dapat dibedakan, namun dalan bebagai hal sering bertumpang tindih. Dalam proses pembentukan Undang-undang oleh badan pembentuk Undang-undang misalnya. Proses tersebut dapat dimasukkan ke dalam sistem hukum dan juga ke dalam sistem politik, karena Undang-undang sebagai output merupakan formulasi yuridis dari kebijaksanaan politik dan proses pembentukannya sendiri digerakkan oleh proses politik. Dari beberapa paparan diatas kita dapat menangkap beberapa situasi yang dapat dijadikan acuan strategis dalam melakukan perubahan. Dalam konteks internal Pertama, legitimasi masyarakat terhadap proses amandemen UUD 1945. dianggap premature selain dalam waktu yang terbatas juga pelibatan masyarakat dalam proses tersebut dinilai rendah. Kedua, fase reformasi dinilai gagal membuahkan kesejahteraan pada rakyat. Ketiga, perubahan politik tidak lebih dari pragmatisme actor politik untuk kekuasaan bukan kesejahteraan rakyat. Keempat, gelombang kesadaran terhadap kerugian yang diderita akibat eksploitasi sumberdaya alam. Sementara situasi eksternal yang dapat dijadikan momen strategis adalah : pertama, solidaritas masyarakat dunia yang diwujudkan dalam gerakan anti globalisasi. Kedua, kemenangan pemerintahan “kerakyatan” di Amerika latin. Ketiga, menguatnya perlawan terhadap dominasi Amerika di kawasan Asia . Berangkat dari realitas diatas maka perubahan mendesak yang harus segara dilakukan : 1. Penghapusan hutang luar negeri 2. Penguasaan Industri energi Oleh Negara untuk kemakmuran rakyat 3. Membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk rakyat berbasis pada pengembangan industri nasional 4. Revisi UU PM ( Penanaman Modal) 5. Tolak kenaikan harga bbm 6. pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas untuk rakyat 7. mendesak pemerintah untuk segera melaksanakan reforma agraria 8. Mendesak agar parpol segera melakukan fungsi pendidikan politik pada rakyat 9. Percepatan regenerasi kepemimpinan politik Pragmatisme Politik Pemuda Istilah pemuda atau generasi muda umumnya dipakai sebagai konsep untuk memberi generalisasi golongan masyarakat yang berada pada usia paling dinamis, yang membedakan dari kelompok umur anak-anak dan golongan tua. Menurut budayawan Taufik Abdullah, pemuda bukan cuma fenomena demografis, akan tetapi juga sebuah gejala historis, ideologis, dan juga kultural. (Pemuda dan Perubahan Sosial, LP3ES,

1987). Dalam setiap episode transisi politik, peran pemuda-terutama para pemuda "elite" selalu terlibat di dalamnya. Mereka adalah generasi terpelajar - mahasiswa, profesional, akademisi, dan para aktivis pada umumnya - yang berasal dari kalangan menengah, tinggal di kota besar, memiliki kepekaan sosial dan empati politik yang tinggi. Pragmatisme adalah fenomena yang real ada dalam dunia politik. Betapa banyak dari mantan aktivis yang ketahuan melakukan kongkalikong, mark up anggaran, atau singkatnya melakukan tindakan korupsi dan tercela. Hukum,dan kekuasaan/politik sebagai subsistem kemasyarakatan adalah bersifat terbuka, karena itu keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi ole subsistem lainnya maupun oleh sistem kemasyarakatan secara keseluruhan. Walaupun hukum dan politik mempunyai fungsi dan dasar pembenaran yang berbeda, namun keduanya tidak saling bertentangan. Tetapi saling melengkapi. Masing-masing memberikan kontribusi sesuai dengan fungsinya untuk menggerakkan sistem kemasyarakatan secara keseluruhan. Dalam masyarakat yang terbuka dan relatif stabil sistem hukum dan politiknya selalu dijaga keseimbangannya, di samping sistem-sitem lainnya yang ada dalam suatu masyarakat. Jika seorang mantan aktivis mahasiswa korupsi, mungkin saja itu terjadi karena ia sendiri telah melatihnya sejak mahasiswanya. Coba kita perhatikan anggaran yang harus dibayarkan oleh mahasiswa baru. Dalam beberapa kasus di fakultas, estimasi dana untuk baju kaos lebih dari 20 ribu rupiah, namun faktanya kemudian para mahasiswa baru hanya mendapatkan kaos seharga 10 ribu (seperti kaos kampanye gratisan) bahkan dengan kualitas dibawahnya lagi. Ini fakta nyata yang terjadi di lingkup aktivis mahasiswa mereka yang notabene disebut-sebut sebagai agent of change, agent of social control, calon pemimpin, idealis, dan kritis terhadap wakil rakyat. Dalam konteks sejarah Indonesia, secara periodikal peran mereka dapat dibagi dalam angkatan 08, 28, 45, 66, 74, 80-an, hingga 90-an. Secara ideologis, mereka adalah golongan yang kritis adaptif serta sanggup melahirkan ide-ide baru yang dibutuhkan masyarakatnya. Sementara secara kultural, mereka adalah produk sistem nilai yang mengalami proses pembentukan kesadaran dan pematangan identitas dirinya sebagai aktor penting perubahan. Sebagai golongan elite masyarakat, dalam banyak kasus, peran kaum muda amat menentukan arah kehidupan bangsanya. Seperti diulas Pareto, Mosca, atau Michel (1982), mereka adalah kaum elite yang memiliki mobilitas tinggi dan peran sentral dalam menentukan opini dan keputusan mayoritas. Pada gilirannya, kaum elite itulah yang mengontrol berbagai akses atas sumber daya ekonomi dan politik negara. Jika pemuda angkatan 08 berhasil memupuk bibit nasionalisme, pemuda angkatan 28 sukses menggalang ideologi persatuan nasional. Sedangkan pemuda angkatan 45 sanggup mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Untuk angkatan 66, 74, 80, hingga 98-an bisa dikatakan hanya mampu memerankan dirinya sebatas kekuatan korektif. Pascakekuasaan Orde Lama, politik nasional praktis berada di bawah kendali elite militer, khususnya angkatan darat. Pemuda 66 yang masuk dalam arena kekuasaan perannya tak lebih sebatas "penyuplai ide", sementara mereka yang memilih berada di luar lingkar kekuasaan berfungsi tak lebih sebagai "pengritik" negara.

Pragmatisme politik seperti yang pernah ada perlu diberantas. Mereka-mereka yang dulunya sangat getol mengutip ucapan Soe Hok Gie (bahkan menguasai isu buku Gie, Catatan Seorang Demonstran) tentang perlawanan terhadap kebijakan penguasa yang tidak populis, atau banyak mengutip pemikiran dari ideolog Revolusi Islam Iran Ali Syari’ati, sebagai sebuah contoh yang membela kaum tertindas ditantang untuk mempertahankan idealismenya itu. Di antara mereka mungkin ada saja satu dua yang gugur, menelan sendiri idealismenya, dan jatuh dalam perangkap kata-katanya sendiri. Itu terjadi karena karakter yang buruk, pragmatis, inkonsistensi dalam ucapan dan tindakan, serta tidak didukung oleh lingkungan yang kondusif. Kita berharap semoga para mantan aktivis mahasiswa yang dulu pernah kritis-kritis itu, untuk mempertahankan idealismenya. Karena jika tidak, maka bisa saja mereka-mereka yang dulu kritis itu mencoreng citra kaum terpelajar karena mengulangi keburukan yang sama, bahkan mungkin lebih buruk lagi dari pendahulunya. Hukum memberikan dasar legalitas bagi kekuasaan politik dan kekuasaan politik membuat hukum menjadi efektif. Atau dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa hukum adalah kekuasaan yang diam dan politik adalah hukum yang in action dan kehadirannya dirasakan lebih nyata serta berpengaruh dalam kehidupan kemasyarakatan. Hukum,dan kekuasaan/politik mempunyai kedudukan yang sejajar. Hukum tidak dapat ditafsirkan sebagai bagian dari sistem politik. Demikian juga sebaliknya. Realitas hubungan hukum dan politik tidak sepenuhnya ditentukan oleh prinsp-prinsip yang diatur dalam suatu sistem konstitusi, tetapi lebih dtentukan oleh komitmen rakyat dan elit politik untuk bersungguh-sungguh melaksanakan konstitusi tersebut sesuai dengan semangat dan jiwanya. Sebab suatu sistem konstitusi hanya mengasumsikan ditegakkannya prinsi-prinsip tertentu, tetapi tidak bisa secara otomatis mewujudkan prinsi-prinsip tersebut. Prinsip-prinsip obyektif dari sistem hukum (konstitusi) sering dicemari oleh kepentingan-kepentingan subyektif penguasa politik untuk memperkokoh posisi politiknya, sehingga prinsip-prinsip konstitusi jarang terwujud menjadi apa yang seharusnya, bahkan sering dimanipulasi atau diselewengkan. Setiap pilihan ide atau tindakan manusia didasari oleh sebuah motivasi. Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan, seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan. Persoalanya adalah ketika motivasi yang ada dalam diri manusia tersebut harus terukur secara kemanfaatannya atau dalam bentuk materi, seperti persoalan yang menghinggapi setiap pesta demokrasi di negeri ini, maka pragmatisme politik adalah kuburan bagi etika politik. Penyelewengan prinsip-prinsip hukum terjadi karena keuasaan / politik cenderung mengkonsentrasikan kekuasaan ditangannya dengan memonopoli alat-alat kekuasaan demi tercapainya kepentingan-kepentingan politik tertentu. Di samping itu seperti dicatat oleh Virginia Held (1989; 144) keputusan-keputusan politik dapat bersifat sepenuhnya ekstra legal, selama orang-orang yang dipengaruhinya menerima sebagai berwenang. Jika

keputusan seorang pemimpin, betapapun sewenang wenang ataupun tidak berhubungan dengan peraturan-peraturan tertentu, diterima oleh para pengikutnya, maka keputusan itu mempunyai kekuatan politik yang sah. Dengan memonopoli penggunaan alat-alat kekuasaan dan mengkondisikan penerimaan oleh masyarakat, maka politik mampu menciptakan kekuasaan efektif tanpa memerlukan legalitas hukum. Pemilu seharusnya menjadi ajang lima tahunan bagi para partai politik untuk berkompetisi dan berpartisipasi dalam proses pemerintahan yang sehat dan demokratis, memperbanyak perwakilan (massa pendukung) dan memiliki juru kampanye yang handal. Bahkan lebih jauh, rangkaian pemilu untuk memilih dan memperbaharui para anggota legislatif dan eksekutif bertujuan untuk mengingatkan kembali tentang arti penting dari proses penghormatan HAM sebagai wujud perjuangan sehari-hari. Hukum memberikan kompetensi untuk para pemegang kekuasaan politik berupa jabatanjabatan dan wewenang sah untuk melakukan tindakan-tindakan politik bilamana perlu dengan menggunakan sarana pemaksa. Hukum merupakan pedoman yang mapan bagi kekuasan politik untuk mengambil keputusan dan tindakan-tindakan sebagai kerangka untuk rekayasa sosial secara tertib. Prof. Max Radin menyatakan bahwa hukum adalah teknik untuk mengemudikan suatu mekanisme sosial yang ruwet. Dilain pihak hokum tidak efektif kecuali bila mendapatkan pengakuan dan diberi sanksi oleh kekuasaan politik. Karena itu Maurice Duverger (Sosiologi Politik 1981:358) menyatakan: “hukum didefinisikan oleh kekuasaan; dia terdiri dari tubuh undang-undang dan prosedur yang dibuat atau diakui oleh kekuasaan politik. Hasil-hasil selama ini tampak nyata khususnya dalam penataan kembali kehidupan hukum dan politik sebagai pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Namun perlu dicatat pula bahwa dalam perjalanan waktu tampaknya godaan pragmatisme pembangunan sulit dikendalikan, di mana pencapaian sasaran-sasaran kuantitatif yang terukur dengan angka-angka statistik menjadi ukuran keberhasilan. Artinya dasar pembenaran teleogis dari politik yang mengedepan, tidak diimbangi oleh pembenaran deontologis dari sistem hukum yang menekankan pada prinsip-prinsip yang seharusnya ditegakkan berdasarkan konstitusi dan hukum. Di samping itu kekuasaan tak jarang menampakkan wajahnya yang arogan dan tak terjangkau oleh kontrol hukum maupun rakyat melalui lembaga perwakilan. Padahal salah satu esensi dari negara yang berdasar atas hukum adalah bahwa kekuasaanpun mesti tunduk dan bertanggung jawab untuk mematuhi hukum. Kekuasaan politik yang dijalankan dengan menghormati hukum, merupakan yang dijalankan sesuai dengan kehendak rakyat yang berdaulat. Carol C Gould (1993: 244) menyatakan: “mematuhi hukum sebagai bagian dari kewajiban politik”. Aturan hukum dan juga kehidupan sosial yang berperaturan berfungsi sebagai salah satu kondisi bagi kepelakuan. Hukum mencegah gangguan dan sekaligus menjaga stabilitas dan koordinasi kegiatan masyarakat. Dengan demikian memungkinkan tindakan orang lain dan membuat rencana masa depan.

Back to Ideology Guna mengatasi persoalan di atas, salah satu solusi yang bisa ditawarkan ialah: partaipartai memiliki urgensi untuk melakukan reideologisasi ke dalam internal kader atau organnya masing-masing. Namun, agar tak mengulang kesalahan era Orde Lama, hendaknya reideologisasi tidak lagi menyoal posisi Pancasila. Pancasila sebagai ideologi negara sudah final, seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Sedangkan Pembukaan UUD 1945 adalah prinsip dasar bernegara yang tak bisa kita ubah. Mengubah Pembukaan UUD 1945, yang memuat suasana batin proklamasi 17 Agustus 1945, sama saja hendak merobohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai implikasinya, mestinya juga tidak ada lagi partai yang mempolitisasi Pancasila, misalnya dengan mengklaim seolah-olah hanya kelompoknya sendiri yang akan mempertahankan Pancasila, namun dengan maksud tersembunyi hendak menyerang partai lain sebagai kurang atau tidak Pancasilais. Klaim-klaim demikian tidak relevan lagi jika diletakkan dalam konteks bahwa Pancasila sebagai ideologi bersama sudah bersifat final dan diterima oleh semua kelompok. Karena itu, reideologisasi idealnya hanya bermain pada tataran sejauhmana partai-partai akan mengimplementasikan tujuan negara sesuai visi dan misi masing-masing. Dalam posisi ini, ideologi partai hanyalah aksentuasi salah satu atau semua aspek tujuan bernegara dilihat dari sudut visi dan misi partai. Dengan kata lain, kompetisi antarpartai adalah dalam level implementasi Pancasila. Pancasila sendiri harus didudukkan sebagai ideologi negara yang berfungsi sebagai pemersatu atau meminjam istilah Cak Nur (Nurcholish Madjid) common denominator (titik temu) di antara ideologi partai yang beragam. Mengklaim Pancasila sebagai hanya milik partai tertentu justru mereduksi posisi Pancasila sebagai ideologi pemersatu ini. Selayaknya hanya TNI, Polri, aparat birokrasi, dan lembaga-lembaga negara yang tidak partisan, yang secara etis bisa mengklaim berideologi Pancasila. Sedangkan jika partaipartai melakukan klaim atas Pancasila, dikhawatirkan sekadar melakukan politisasi atas Pancasila. Seperti PKI pernah merebut kata “rakyat” dan Masyumi merebut kata “umat”: dua kata yang sebetulnya milik bersama seluruh bangsa. Paradigma Politik : Konstruktivisme Kontrukstivisme Sosial mencakup rentang luas teori yang bertujuan menangani berbagai pertanyaan tentang ontologi, seperti perdebatan tentang lembaga (agency) dan Struktur, serta pertanyaan-pertanyaan tentang epistemologi, seperti perdebatan tentang “materi/ide” yang menaruh perhatian terhadap peranan relatif kekuatan-kekuatan materi versus ide-ide. Konstruktivisme bukan merupakan teori HI, sebagai contoh dalam hal neo-realisme, tetapi sebaliknya merupakan teori sosial. Konstruktivisme dalam HI dapat dibagi menjadi apa yang disebut oleh Hopf (1998) sebagai konstruktivisme “konvensional” dan “kritis”. Hal yang terdapat dalam semua variasi konstruktivisme adalah minat terhadap peran yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan ide. Pakar konstruktivisme yang paling terkenal, Alexander Wendt menulis pada 1992 tentang Organisasi Internasional (kemudian diikuti oleh suatu buku, Social Theory of International Politics 1999), “anarki adalah hal yang diciptakan oleh negara-negara dari hal tersebut”. Yang dimaksudkannya adalah bahwa struktur anarkis yang diklaim oleh

para pendukung neo-realis sebagai mengatur interaksi negara pada kenyataannya merupakan fenomena yang secara sosial dikonstruksi dan direproduksi oleh negaranegara. Sebagai contoh, jika sistem internasional didominasi oleh negara-negara yang melihat anarki sebagai situasi hidup dan mati (diistilahkan oleh Wendt sebagai anarki “Hobbesian”) maka sistem tersebut akan dikarakterkan dengan peperangan.Jika pada pihak lain anarki dilihat sebagai dibatasi (anarki “Lockean”) maka sistem yang lebih damai akan eksis. Anarki menurut pandangan ini dibentuk oleh interaksi negara, bukan diterima sebagai aspek yang alami dan tidak mudah berubah dalam kehidupan internasional seperti menurut pendapat para pakar HI non-realis. Namun, banyak kritikus yang muncul dari kedua sisi pembagian epistemologis tersebut. Para pendukung pascapositivis mengatakan bahwa fokus terhadap negara dengan mengorbankan etnisitas/ ras/jender menjadikan konstrukstivisme sosial sebagai teori positivis yang lain. Penggunaan teori pilihan rasional secara implisit oleh Wendt juga telah menimbulkan pelbagai kritik dari para pakar seperti Steven Smith. Para pakar positivis (neoliberalisme/realisme) berpendapat bahwa teori tersebut mengenyampingkan terlalu banyak asumsi positivis untuk dapat dianggap sebagai teori positivis. Konstruktivisme merupakan salah satu tradisi pemikiran yang sangat berpengaruh dalam studi hubungan internasional saat ini. Paradigma Konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Meski curiga, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi siap menerima bantuan dari blok yang mana saja tergantung situasi. Makanya TNI kita memiliki koleksi pesawat yang beraneka ragam merek dan negara produksinya, mulai dari MiG-21, F-5, Bronco, sampai Sukhoi. Alhasil praktik politik luar negeri bebas aktif merupakan ramuan dari kebanggaan masa lalu, sikap curiga (distrust) kepada adidaya, dan perilaku pragmatisme semata-mata. Dalam istilah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, kita "mainkan saja" persaingan bisnis penjualan senjata selama harganya murah. Indonesia ketambahan rezeki baru setelah perang dingin berakhir tahun 1992, yakni posisi geografisnya. Washington khawatir Indonesia yang strategis lokasinya terseret pengaruh China yang diprediksi menjadi pesaing AS sebagai adidaya baru beberapa tahun ke depan. Masih belum kenyang, kita mendapatkan lagi status yang bermanfaat pada era pasca-9/11, yakni sebagai negara berpenduduk Muslim beraliran moderat yang terbesar di dunia. Siapa yang tak kenal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Jika realisme dan liberalisme berfokus pada faktor-faktor yang bersifat material (kasat mata) seperti power dan perdagangan maka konstruktivis berfokus pada ide. Konstruktivis memberikan perhatiannya pada kepentingan dan identitas negara sebagai produk yang dapat dibentuk dari proses sejarah yang khusus. Mereka memberi perhatian pada wacana umum yang ada ditengah masyarakat karena wacana merefleksikan dan membentuk keyakinan dan kepentingan, dan mempertahankan norma-norma yang menjadi landasan bertindak masyarakat (accepted norms of behavior). Dengan demikian konstruktivis memberi perhatian pada sumber-sumber perubahan (sources of change). Dengan pendekatannya yang demikian maka konstruktivis menggantikan marxisme sebagai the preeminent radical perspective di dalam hubungan internasional.

Menurut perspektif konstruktivis, isu-isu utama di era pasca perang dingin berkait dengan persoalan-persoalan bagaimana kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda conceive (menyusun dan memahami) kepentingan dan identitas mereka. Konstruktivis memberikan perhatian kajiannya pada persoalan-persoalan bagaimana ide dan identitas dibentuk, bagaimana ide dan identitas tersebut berkembang dan bagaimana ide dan identitas membentuk pemahaman negara dan merespon kondisi di sekitarnya. Salah satu karakteristik dari konstruktivisme adalah non-universalis. Tidak ada ketunggalan analisa atas fenomena. Walt mencontohkan jika Wendt berfokus pada persoalan bagaimana anarki dipahami oleh negara-negara, maka kalangan konstruktivis lain menekankan pada persoalan-persoalan masa depan negara teritorial. Mereka menyatakan bahwa komunikasi transnasional dan penyebaran nilai-nilai civil (civic values) mengubah loyalitas national tradisional dan secara radikal menghasilkan bentukbentuk baru ikatan politik (political association). Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna ataupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri. Kasus aktual Konstruktivisme adalah mengambil contoh “SBY VS JK”, dimana awalnya dua tokoh nasional ini dalam menjalankan kepemimpinannya cukup harmonis, dan dapat kita nilai cukup memberi contoh kepada masyarakat tentang kekuasaan bersama. Namun kebersamaan itu terciderai dengan adanya pernyataan dari wakil ketua umum Partai Demokrat, Ahmad Mubarok yang mengatakan bahwa, Golkar seharusnya sudah bisa merasa puas dengan raihan suara 2,5 % untuk bisa mencalonkan diri sebagai presiden dalam aturan Parlementary threshold. Hal ini awalnya sudah bisa dibilang “selesai” dengan sikap tanggap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dirumahnya di daerah Cikeas, Bogor yang mengklarifikasi ucapan tersebut dan mengatakan Golkar merupakan teman dari Demokrat. Disinilah media memainkan peran dan mengkonstruksi berita ini, dan menambah frekuensi pemberitaan di hampir semua media elektronik dan cetak. Dan melebihlebihkan pemberitaan untuk mengambil kesan “dramatis” dan bertujuan untuk mengembangkan ucapan tersebut dalam opini publik. Media dapat dikatakan berhasil dengan terlihatnya, SBY dan JK kini memutuskan “jalan masing-masing” maju di pemilihan presiden 2009-2014. disinilah terlihat bahwa media mampu mengkonstruksi suatu melalui pemberitaannya, yang mana akhirnya berkembang menjadi opini publik. Tapi satu hal yang mungkin terlupa, bahwa ada kalangan dominant di balik media tersebut (kaum elit) yang memiliki kepentingan atas pemberitaan dari media yang mereka miliki. Kajian kasus aktual terhadap “politikus bajing loncat”. Seperti yang dikutip majalah Sabili no. 19 edisi 9 April 2009, menurut Direktur Eksekutif Gerbang Informasi Pemerintahan (GIP) Miqdat Husein, hamper semua partai saat ini, termasuk partai-partai islam telah terjebak dalam pragmatisme. Para elit politik tidak memberi contoh yang baik

kepada masyarakat, mereka hanya berfikir soal kepentingan dan kekuasaan. Akhirnya yang berlaku adalah idiom politik, dimana kepentingan menjadi alasan utama yang abadi. Sebagai contoh, banyak cendikiawan seperti diantaranya Andi Malarangeng pun tidak kuat menahan godaan kekuasaan. Dirinya berfikir bahwa, tidak ada manfaatnya jika cendikiawan hanya bisa berteriak-teriak saja, beda halnya jika menjadi bagian dari suatu partai politik dimana kekuasaan aspirasi politik yang diusung tidak hanya sebatas wacana. Melalui partai politik, aspirasi kekuasaan dapat diwujudkan untuk mencapai kekuasaan. Contoh lainnya adalah Budiman Sujadmiko, seorang anak muda yang berhaluan kiri, kini bergabung dengan PDIP, Pius Lustrilanang merapat ke partai Gerindra, dan Dita Indah Sari bergabung di PBR, serta banyak lagi yang mengalami perpindahan partai. Pengamat politik Bima Arya Sugiarto mengingatkan, seharusnya elit politik yang memutuskan untuk berpindah partai karena alasan-alasan ideologi, bukan terdorong oleh suaru pragmatisme, karena jika hal itu terjadi sikap itu tidak lagi menunjukkan elit politik yang memperjuangkan aspirasi rakyat. Banyaknya ”Politikus Bajing Loncat” kian menegaskan bahwa, motivasi elit politik bukan lagi sekedar mengabdi sebagai wakil rakyat, namun semata-mata untuk mengejar kekuasaan. Manusia bertindak sebagai agen dalam bertindak mengkonstuksi realias sosial. Cara konstruksi yang dilakukan kepada cara memahami atau memberikan makna terhadap prilaku mereka sendiri. Weber melihat bahwa individu yang memberikan pengaruh pada masyarakat tetapi dengan beberapa catatan, bahwa tindakan sosial individu berhubungan dengan rasionalitas. Tindakan sosial yang dimaksudkan oleh Weber berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat “membatin”, atau bersifat subjektif yang mengklaim terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu(Sani. 2007). Tradisi ini berkembang di Amerika sejak berakhirnya Perang Dingin sebagai reaksi terhadap kegagalan tradisi-tradisi dominan dalam studi hubungan internasional  realisme dan liberalisme  untuk memprediksi ataupun memahami transformasi sistemik yang mengubah tatanan dunia secara drastis. Paradigma konstruktivisme merupakan respon terhadap paradigma positivis dan memiliki sifat yang sama dengan positivis, dimana yang membedakan keduanya adalah objek kajiannya sebagai start-awal dalam memandang realitas sosial. Positivis berangkat dari sistem dan struktur sosial, sedangkan konstruktivisme berangkat dari subjek yang bermakna dan memberikan makna dalam realitas tersebut. Secara ontologis, konstruktivisme dibangun atas tiga proposisi utama. Pertama, struktur sebagai pembentuk perilaku aktor sosial dan politik, baik individual maupun negara, tidak hanya terdiri memiliki aspek material, tetapi juga normatif dan ideasional. Berbeda dengan neorealis dan marxis, misalnya, yang menekankan pada struktur material hanya dalam bentuk kekuatan militer dan ekonomi dunia yang kapitalis, konstruktivis berargumen bahwa sistem nilai, keyakinan dan gagasan bersama sebenarnya juga memiliki karakteristik struktural dan menentukan tindakan sosial maupun politik. Sumber-sumber material sebenarnya hanya bermakna bagi tindakan atau perilaku melalui struktur nilai atau pengetahuan bersama. Disamping itu, struktur normatif dan ideasionallah yang sebenarnya membentuk identitas sosial aktor-aktor politik.

Kedua, kepentingan (sebagai dasar bagi tindakan atau perilaku politik) bukan menggambarkan rangkaian preferensi yang baku, yang telah dimiliki oleh aktor-aktor politik, melainkan sebagai produk dari identitas aktor-aktor tersebut. Berbeda para teoretisi neorealis, neoliberal ataupun marxist, yang hanya memberi perhatian pada aspek-aspek strategis dalam arti bagaimana akator-aktor politik bertindak mencapai kepentingan mereka, teoretisi konstruktivis lebih menekankan pada sumber-sumber munculnya kepentingan, yakni bagaimana aktor-aktor politik mengembangkan kepentingan-kepentingan mereka. Dalam artian ini, terkait dengan proposisi ontologis yang pertama, Alexander Wendt secara jelas mengatakan bahwa, Identities are the basis of interests’ ((1992). Ketiga struktur dan agent saling menentukan satu sama lain. Konstruktivis pada dasarnya adalah strukturasionis yakni menekankan peran struktur non-material terhadap identitas dan kepentingan serta, pada saat yang bersamaan, menekankan peran praktek dalam membentuk struktur-struktur tersebut. Artinya, meskipun sangat menentukan identitas (dan oleh karenanya juga kepentingan) aktor-aktor politik, struktur ideasional atau normatif tidak akan muncul tanpa adanya tindakan-tindakan aktor-aktor politik. Sekalipun berangkat dari posisi ontologis bersama, konstruktivisme berkembang melalui tiga varian pemikiran yang berbeda: sistemik, level unit dan holistik. Konstruktivis sistemik, dengan tokohnya Alexander Wendt, memiliki kesamaan dengan neorealis dalam artian keduanya memberikan perhatian hanya pada interaksi antar negara sebagai aktor-aktor tunggal dan mengabaikan semua proses yang berlangsung di dalam masingmasing aktor tersebut. Memahami politik internasional, dalam pemikiran konstruktivis sistemik, berarti sematamata memahami bagaimana negara berhubungan satu sama lain dalam ruang eksternal atau internasional. Seperti halnya dengan neorealisme, anarkhi dalam politik internasional menjadi sebuah konsep yang penting dalam varian konstruktivisme ini. Hanya saja, berbeda dengan neorealist yang melihat negara berhubungan satu sama lain dalam konteks anarkhi, konstruktivis memahami anarkhi justru sebagai produk hubungan antar negaraa. Posisi ini ditujuukan dengan jelas oleh Wendt melalui judul dari salah satu karya utamanya, ‘Anarchy is what states make of it’ (1992). Varian kedua konstruktivisme berusaha melihat hubungan pengaruh norma-norma sosial dan legal di tingkat domestik bagi identitas, dan oleh karenanya, kepentingankepentingan negara. Peter Katzenstein merupakan salah figur penting konstruktivisme dari varian ini. Melalui dua buah karyanya, Cultural Norms and National Security: Police and Military in Changing Japan (1996) dan Tamed Power: Germany in Europa (1999), Katzenstein berusaha menunjukkan bagaimana kedua negara dengan pengalaman yang sama, sebagai negara yang kalah perang, mengalami pendudukan asing dan berubah dari otoritarian menuju demokrasi, memiliki kebijakan-kebijakan pertahanan internal dan external yang sangat berbeda. Menurut Katzenstein, perbedaan ini mencerminkan institusionalisasi norma-norma sosial dan legal yang berbeda di tingkat nasional kedua negara tersebut. Sekalipun tidak mengabaikan peran-peran norma internasional dalam membentuk identitas dan kepentingan negara, penekanan yang berlebihan pada aspek

domestik menempatkan konstruktivisme (dalam varian ini) pada posisi yang sulit untuk menjelaskan munculnya kesamaan-kesamaan antar negara ataupun adanya pola-pola konvergensi identitas dan kepentingan negara-negara yang berbeda. Varian konstruktivisme ketiga, yakni holistik, berusaha menjembatani kedua posisi dua varian konstruktivisme yang bertolak belakang di atas dengan jalan melihat domestik dan internasional sebagai dua aspek berbeda dari tatanan sosial dan politik yang sama. Konstruktivis holistik berusaha menjelaskan dinamika perubahan global  terutama dalam kaitannya dengan muncul dan hancurnya negara berdaulat  melalui hubungan timbal balik antara negara dan tatanan global tersebut. Hubungan ini ditunjukkan dengan dua cara yang berbeda. John Gerard Ruggie, misalnya, berusaha menjelaskan perubahan dalam politik internasional akibat munculnya negara berdaulat dari puing-puing feodalisme Eropa dengan menekankan pada pentingnya perubahan dalam episteme sosial atau kerangka pengetahuan (1986, 1993). Cara yang kedua diwakili oleh karya Friedrich Kratochwil mengenai berakhirnya Perang Dingin, dengan menekankan pada perubahan dalam gagasan mengenai tatanan dan keamanan internasional. Karena besarnya perhatian terhadap transformasi-transformasi yang bersifat global dan besar, varian konstruktivisme cenderung bersifat strukturalis dan mengabaikan aspek agency sebagai salah satu preposisi ontologis konstruktivisme. Dalam artian ini, gagasan, norma maupun budaya dipahami memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah transformasi, tetapi terlepas dari keinginan, pilihan ataupun tindakan manusia. Kajian pokok dalam paradigma konstruktivisme menurut Weber, menerangkan bahwa substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melainkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Weber juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya tetapi dengan beberapa catatan, dimana tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut harus berhubungan dengan rasionalitas dan tindakan sosial harus dipelajari melalui penafsiran serta pemahaman (interpretive understanding). Kajian paradigma konstruktivisme ini menempatkan posisi peneliti setara dan sebisa mungkin masuk dengan subjeknya, dan berusaha memahami dan mengkonstruksikan sesuatu yang menjadi pemahaman si subjek yang akan diteliti. Dalam sejarah perkembangan teoretis studi hubungan internasional, konstruktivisme pada dasarnya berangkat dari tradisi pemikiran teori kritis, dalam arti para pendukung konstruktivisme melihat potensi teori kritis untuk melihat politik internasional melalui aspek-aspek yang sangat beragam, berhadapan dengan neorealisme dan neoliberalisme. Seperti halnya teori kritis, konstruktivisme menolak posisi ontologis neoliberal dan neorealis yang menggambarkan manusia secara rasionalis, yakni sebagai aktor-aktor yang atomistis dan egois sedangkan masyarakat hanyalah sebagai arena strategis semata-mata. Konstruktivisme, sejalan dengan teori kritis, sebaliknya, melihat manusia dengan image yang sangat berbeda: sebagai makhluk sosial, terbentuk melalui komunikasi dan kultur. Disamping itu, konstruktivisme dan teori kritis menggunakan metodologi yang sama: menolak positivisme dan lebih menekankan pada metodologi interpretif, diskursif dan historis.

Tetapi, keterkaitan antara konstruktivisme dan teori kritis tidak berjalan lebih jauh daripada aspek-aspek ontologi, epistemologi dan metodologi. Konstruktivisme menjauhkan diri dari teori kritis dengan meninggalkan keasyikan pada tingkat metateori yang mendominasi teori kritis dan lebih menekankan pada analisa empiris, yakni berusaha menemukan pemahaman konseptual dan teoretis dengan menganalisa masalahmasalah empiris dalam politik internasional secara empiris. Dalam artian ini, konstruktivisme melihat teori kritis tidak memiliki potensi untuk melakukan inovasi dalam mengelaborasi konsep-konsep yang digunakannya ataupun mengembangkan teori yang didasari oleh empiri. Melemahnya keterkaitan antara konstruktivisme dan teori kritis tidak berlangsung satu arah. Teori kritis juga sangat kritis terhadap asumsi-asumsi konstruktivisme. Sekalipun memiliki posisi ontologis, empistemologis maupun metodologis yang sama, konstruktivisme dianggap berusaha menghilangkan aspek power dalam memahami nilai. Nilai dianggap sebagai sesuatu yang netral dan tidak punya bias ataupun basis kekuasaan. Dalam artian ini, konstruktivisme kehilangan tujuan utama pemikiran kritis, yakni emansipasi. Jadi, sekalipun memahami realitas bukan sebagai sesuatu yang beku, alamiah dan abadi melainkan sebagai produk dari interaksi, konstruktivisme tidak memaknai interaksi antar nilai ini sebagai sebuah proses politik yang sangat berpengaruh pada aspek keadilan, kesederajatan dan kebebasan. Implikasi dalam paradigma konstruktivisme menerangkan bahwa pengetahuan itu tidak lepas dari subjek yang sedang mencoba belajar untuk mengerti. Menurut Ardianto (2007: 154) Konstruksivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri [Von Glasersfeld dalam Bettencourt (1989) dan Matthews (1994)]. Implikasi dari paradigma konstruktivisme digambarkan dengan komunikasi yang berbasis pada “konsep diri” berdasarkan teori Bernstein. Menurut Ardianto (2007: 159) Teori Bernstein menyatakan bahwa individu dalam melakukan sesuatu dikonstruksikan oleh orientasi kehidupannya sendiri (atau disebut juga orientasi subjek), dimana individu yang berbasis subjek akan menggunakan elaborasi kode yang menghargai kecenderungan, perasaan, kepentingan, dan sudut pandang orang lain. Menurut Ardianto (2007: 161) Prinsip dasar konstruktivisme menerangkan bahwa tindakan seseorang ditentukan oleh konstruk diri sekaligus juga konstruk lingkungan luar dari perspektif diri. Sehingga komunikasi itu dapat dirumuskan, dimana ditentukan oleh diri di tengah pengaruh lingkungan luar. Pada titik ini kita dapat mengemukakan teori Ron Herre mengenai perbedaan antara person dan self. Person adalah diri yang terlibat dalam lingkup publik, pada dirinya terdapat atribut sosial budaya masyarakatnya, sedangkan Self adalah diri yang ditentukan oleh pemikiran khasnya di tengah sejumlah pengaruh sosial budaya masyarakatnya. Implikasi paradigma konstruktivisme tidak dapat dipisahkan dari tiga logika dasar desain pesan, yaitu ekspresif, konvensional, dan retoris [O’Keefe dan Shepherd, 1987 dalam Ardianto (2007: 164)]. Logika ekspresif dimana memperlakukan komunikasi sebagai suatu model ekspresif diri, memiliki sifat pesan yang terbuka, reaktif secara alami, dan sedikit memperhatikan yang menjadi keinginan orang lain (contoh: dapat ditemukan saat

kita sedang marah). Logika konvensional dimana memandang komunikasi sebagai permainan yang dilakukan secara teratur, komunikasi biasanya dilakukan berdasarkan norma, kesopanan, atau aturan yang diterima bersama, sehingga komunikasi berlangsung secara sopan, dan tertib, serta terkadang mengandung bentuk-bentuk jebakan kesopanan (seperti: “tolong”, “silahkan/please”, dll). Logika retoris dimana memandang komunikasi sebagai suatu cara mengubah aturan melalui negosiasi, pesannya biasa dirancang fleksibel, berwawasan, dan berpusat pada orang. Waktu dikunjungi Presiden Megawati Soekarnoputri hanya beberapa hari setelah 9/11, Presiden Bush dengan bangga mengatakan Islam bukan musuh negaranya. Saking senangnya, Bush melompat bagaikan koboi ketika turun dari mobil di Istana Bogor, 20 November lalu. Jadi, kembali ke masalah Irak, tak ada masalah jika politik luar negeri bebas aktif kita diubah-ubah semau-maunya. Zaman telah berubah, presiden sudah berganti nama, dan kelakuan anggota-anggota DPR pun dari dulu sama saja. Menteri luar negeri tak lebih dari sekadar pembantu kepala negara. Lingkaran dalam istana yang ikut repot mengatur dari dulu pun sudah ada: ada yang bekerja terangterangan dan ada pula yang bekerja dengan gaya serba rahasia. Dulu, sebagai pemimpin Dunia Ketiga, kita menghadiahi Argentina dengan rudal-rudal Exocet untuk memerangi Inggris dalam Perang Malvinas 1982 dan juga Irak pada Perang Teluk pertama. Dalam kondisi terjepit pun kita terpaksa membantu Pakistan untuk memerangi sahabat kita yang lain, India. Mempertanyakan Independensi Polling Demokratisasi di Indonesia menyediakan ruang yang cukup bagi kompetisi politik yang tinggi. Dapat dibayangkan hampir setiap bulan terjadi pilkada di beberapa daerah di Indonesia. Kondisi ini merupakan dimensi permintaan yang kemudian direspon oleh lembaga-lembaga survey untuk menyediakan informasi bagi publik. Semua informasi merupakan hasil riset yang diklaim dapat menggambarkan apa yang sesungguhnya menjadi pandangan umum masyarakat. Namun, kiprah lembaga-lembaga survey ini tak pelak mengundang kecurigaan perihal independensinya. Beberapa lembaga survey disinyalir memang bertendensi komersil. Dalam pembahasan RUU Politik, terdapat inisiasi untuk membatasi ruang gerak lembaga-lembaga ini. Alasannya, setidaknya menurut para pihak yang terlibat dalam pembahasan RUU tersebut, cukup nyata bahwa polling mengarahkan masyarakat pada kandidat tertentu, karena lembaga survey yang ada saat ini cenderung partisan. Lembaga survey sekaligus menyediakan jasa konsultan politik, yang didalam pilkada atau pilpres, bertujuan untuk memenangkan kandidat tertentu. Pertanyaannya, bagaimanakah praktik polling dalam demokrasi, terutama yang kita lihat di Indonesia, dan bagaimanakah sebaiknya kita mensikapi produk sebuah polling. Dalam wacana akademis, polling merupakan derivasi dari paradigma positivisme (positivism paradigm). Positivisme memang merupakan paradigma keilmuan yang masih sangat kuat hingga saat ini. Selain itu, paradigma ini juga jauh lebih sederhana dan mudah dipahami. Hal ini karena positivisme merekomendasikan cara-cara untuk mengkuantifikasi realitas sosial, sehingga mudah dipahami dan diperbandingkan.

Ilmu sosial sendiri memiliki beberapa paradigma. Namun tetap masih didominasi paradigma positivisme. Paradigma lainnya adalah konstruktivisme (constructivism paradigm) dan kritis (critical paradigm). Kedua paradigma ini, selain bertolak belakang, sekaligus berusaha untuk merevisi pandangan-pandangan yang mendasar dari positivisme. Hal mendasar yang diserang dari positivisme adalah pengakuan bahwa realitas merupakan sesuatu yang berwujud, nyata, dan terukur. Dengan demikian tujuan akhir dari penelitian positivisme adalah eksplanasi, prediksi dan kontrol. Bagi paradigma konstruktivis, pandangan ini sangat a-historis karena mengabaikan hakikat multi dimensi manusia yang memiliki kehendak, aktif dan dinamis. Survey positivisme berusaha memprediksi seseorang dengan hanya mendasarkan diri dari hasil pengisian kuesioner yang diperoleh pada saat tertentu. Selain itu,survey positivistik berusaha memprediksi seseorang dengan membaca kecenderungan umum dari sekian banyak orang, tanpa menghiraukan keunikan individu. Sanggahan lebih keras datang dari paradigma kritis yang melihat bahwa asumsi bahwa realitas bersifat objektif bukanlah hakekat dari realitas sosial. Hakekat realitas sosial sesungguhnya sangatlah dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan deteterminan dalam masyarakat. Kondisi sebuah masyarakat bukanlah sebagaimana adanya saat ini, tapi merupakan bentukan dari silang kepentingan, yang biasanya dimenangkan oleh pihak yang mendominasi. Semuanya berlangsung melalui proses historis yang panjang. Dengan demikian, untuk memperoleh pemahaman yang memadai perihal masyarakat, paradigma konstruktivisme merekomendasikan penelitian yang mendalam dengan berusaha memahami proses pemaknaan dari individu-individu. Kekayaan nuansa yang berasal dari keunikan individu itulah pada akhirnya akan diperoleh pemahaman lebih luas tentang sebuah masyarakat. Sedangkan menurut paradigma kritis, pemahaman yang lebih akurat perihal masyarakat akan diperoleh apabila peneliti melihat proses-proses historis dalam konteks relasi-relasi kekuasaan dalam masyarakat. Namun demikian, rekomendasi dari kedua paradigma tersebut cukup sulit dilakukan ditengah kebutuhan saat ini. Kebutuhan akan kecepatan, keterbacaan dan akurasi membuat kedua paradigma ini menjadi kurang popular dalam survey-survey pilkada. Kedua paradigma ini merekomendasikan model riset yang dari sisi waktu sangat lama, dari sisi biaya sangat mahal, sekaligus membutuhkan penguraian yang lebih komprehensif (thick description). Penelitian-penelitian positivistik sendiri, karena menyadari beberapa keterbatasannya, berusaha untuk memaksimalkan kelebihannya, terutama kemampuannya untuk menangkap kecenderungan umum dalam periode yang singkat, cepat dan akurat. Bahkan bagi seorang direktur sebuah lembaga survey pendapat umum, mengatakan bahwa “survey bisa memprediksi hingga 99% dari realitas sesungguhnya”. Sebuah polling sesungguhnya dibuat untuk memproduksi pengetahuan yang akan digunakan publik untuk memahami dirinya dan orang-orang disekelilingnya, sekaligus untuk mengambil keputusan. Dalam perkembangannya polling digunakan untuk tujuantujuan instrumental. Pemilihan umum merupakan medan yang paling banyak menarik

perhatian pengelola polling. Dalam pilkada, lembaga survey setidaknya melakukan dua kegiatan yaitu: survey popularitas calon dan quick count. Harus dipisahkan antara survey untuk mengetahui popularitas calon yang akan bertarung dalam pilkada dengan quick count. Quick count menuntut akurasi, karena hasilnya akan sangat mempengaruhi persepsi masyarakat dan kandidat terhadap kondisi sesungguhnya, dalam hal ini berkaitan dengan hasil akhir yang akan disampaikan oleh KPU/KPUD. Hal ini berbeda dengan survey popularitas calon yang meneliti pandangan masyarakat yang dinamis, dan hanya dapat digunakan untuk membaca kecenderungan sementara. Karena itulah survey semacam ini seringkali dilakukan berkali-kali, misalnya dalam pilpres, karena situasinya yang senantiasa berubah. Kondisi yang cair inilah yang membuka peluang kepada lembaga survey kemudian bertindak sebagai konsultan politik dalam proses pemenangan seorang calon yang merupakan klien mereka. Kontroversi muncul dari dua wilayah, yaitu di wilayah partai politik atau kandidat dalam pilkada dan independensi lembaga survey. Kontroversi di wilayah pertama terutama ada karena kecenderungan partai politik atau kandidat terutama yang menempati posisi minor dalam hasil survey popularitas calon berpandangan bahwa hasil survey tersebut akan mengarahkan masyarakat pada kandidat tertentu, yang dalam survey tersebut diprediksikan didukung oleh masyarakat. Dengan membaca hasil polling akan membuat masyarakat berusaha mengikuti kecenderungan umum. Ada kesan masyarakat tidak ingin terasing. Inilah yang dikhawatirkan oleh kandidat dan partai politik. Wilayah kontroversi kedua muncul dari sisi independensi lembaga survey. Hal ini muncul karena lembaga survey tidak hanya melakukan kegiatan memproduksi pengetahuan, tetapi ikut aktif dalam proyek pemenangan seorang calon, dengan menjadi konsultan politik. Hasil survey merupakan data base untuk membaca kecenderungan umum, karena biasanya item yang muncul dalam kuesioner sangat banyak. Hal ini berbeda dengan sedikit informasi yang kemudian dilansir oleh media massa. Pun bahwa masyarakat hanya tertarik dengan data-data popularitas calon, dan mengabaikan data-data lainnya yang terkait kondisi sosial ekonomi masyarakat. Lembaga-lembaga survey yang sudah mapan, bahkan ikut dalam merancang kampanye publik sang kandidat. Mereka memberi saran teknis kampanye, perencanaan media, dan pengelolaan wilayah kampanye. Bagaimana dengan quick count. Quick count semestinya tidak memancing kontroversi karena sumber data yang diperoleh oleh lembaga survey sama dengan KPU/KPUD. Bedanya, quick count diperoleh dan disampaikan secara cepat kepada publik, sedangkan hasil KPUD berselang 15 hari setelah pencoblosan. Perbedaan lainnya, bila hasil KPUD merupakan informasi yang diperoleh dari semua TPS, maka quick count mendasari informasi dari sample TPS yang dipilih secara acak. Informasi hasil pemilihan umum ini biasanya hanya memiliki sedikit perbedaan dengan hasil lembaga penyelenggara pemilu, terutama bila dilakukan dengan prosedur yang benar dan penetapan sampling error yang kecil. Yang menjadi masalah apabila hasil quick count dijadikan sandaran oleh sang kandidat sebagai hasil akhir pemilihan, terutama apabila margin error yang ditetapkan lembaga survey cukup besar, dan dilain pihak hasil KPUD dan lembaga survey hanya

memiliki sedikit selisih. Situasi ini riskan karena sangat mungkin hasilnya sama, sedikit lebih besar atau sedikit lebih kecil dari yang ditemukan dari quick count. Jika diamati wilayah kontroversi sesungguhnya bukan terjadi di masyarakat, namun pada partai politik, kandidat, dan penggunaan hasil polling oleh lembaga survey. Jika demikian bagaimana semestinya kita mensikapi produk polling? Produk polling sebenarnya sangat penting bagi publik. Tidak ada jaminan bahwa pilkada akan jauh lebih baik, bila dilakukan tanpa polling. Secara substansial proses dan hasil polling bersifat netral, terutama bila dilakukan dengan benar. Lembaga survey dalam hal ini mempertaruhkan kredibilitasnya. Yang menjadi kekhawatiran bukanlah hasilnya, tapi implikasinya. Inipun bermakna ganda, selain dapat digunakan sebagai data base konsultasi politik, polling juga dapat menjadi kontrol terhadap penyelenggara pemilihan. Selain itu, polling merupakan pemenuhan hak publik untuk mendapatkan informasi secepatnya karena meningkatnya ketidakpastian dalam situasi konflik. Pemilihan umum sesungguhnya situasi konflik yang dikelola. Disisi lain, partai politik dan kandidat kepala daerah mesti menghargai nalar publik dalam menilai kredibilitas produk-produk lembaga survey. Pada akhirnya sebagian besar kehancuran lembaga survey, sebagaimana kondisi di negara-negara yang demokrasinya sudah mapan, bersumber dari ketidakpercayaan masyarakat akibat dari ketidakakuratan produk-produk lembaga survey dalam memprediksi hasil pilkada. KEPUSTAKAAN Achmad An'am Tamrin Demokrasi “voorskot”: strategi resistensi terhadap politik uang, Wednesday, 01 April 2009 20:44, http://www.jakartabeat.net/politika Achwan, Rochman, "Good Governance": Manifesto Politik Abad Ke-21 , google 2010 Administrator, Peran Pemuda Terjebak Pragmatisme Sesaat , 05 August 2009, http://www.hmifebugm.com Admin, Pragmatisme Partai Ancam Bangsa, 08 Apr 2010 admin on Sun, 02/15/2009, Hak Asasi Manusia dalam Bayang-bayang Pragmatisme, Litbang Kompas, http://cetak.kompas.com/read/ Admin(2008), Politik yang Berorientasi Nilai: Kuliah Umum Akbar Tandjung di SSS Jakarta, 7 Juni 2005 Akbar Tandjung Chairman Akbar Tandjung Institute. Ahmad Suaedy(2008) Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia: Masa Depan Islam Indonesia, http://www.gusdur.net Alfan Alfian, Dilema Golkar, Dilema Jusuf Kalla, Selasa, 06 November 2007 ariedjito, Orde (paling) Baru , Wednesday, 07 May 2008 Budi Mulyana, Pragmatisme Polugri Indonesia, google 2010. Chazizah Gusnita , Artis Jadi Caleg, Politik Indonesia Pragmatis, detikNews, Kamis, 17/07/2008 08:49 WIB Dimas Bagus Wiranata Kusuma , Pragmatisme Politik Pemuda, Thursday, 15 October 2009 09:11 Duesseldorf, Nov 8, '06 4:13 AM, http://ediwahyu.multiply.com/journal/ Dodi Ambardi, IDEOLOGI, KONSTITUEN, DAN PROGRAM PARPOL, Bukit Talita, 27 Februari - 1 Maret 2009freedom.institute.org/id Ediwahyu, Mendayung Diantara Dua Karang: Pemuda, Nasionalisme dan Pragmatisme, ediwahyu.multiply.com/journal Endrizal, MA, Century, Koalisi dan Pragmatisme Politik, 02 Maret 2010 | BP Erlangga

Ida Fauziah , Julia Perez Wujud Pragmatisme, Selasa, 06/04/2010 Iwan Januar , BAHAYA PRAGMATISME, Friday, 01 May 2009, KapanLagi.com Makmur Keliat, Peta Kekuasaan dan Kemiskinan, 2009 08 Tuesday, 31 March:01 Kompas Marinus W, Koalisi Pragmatisme Vs Koalisi Deontologisme, . (Artikel April, 2009) Masdiana, Sarana Pragmatisme Politik, 06 april 2009 ,http://m.suaramerdeka.com/ Max Regus , "Pragmatisme Religius", Menuju Sinkretisme Destruktif? , : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0410/15/opini/1262288.htm M. Fadjroel Rahman, 2001 Pelopor dan Pengawal Revolusi Demokrasi: Gerakan Mahasiswa Sebagai Gerakan Politik Nilai, PSJ, 2001. Nova Kurniawan, Pragmatisme Politik ‘09, Maret 26, 2009, Nova Kurniawan's Weblog NU Online , Ideologi Modal Jadikan Pragmatisme Politik , Kamis, 17 Juli 2008 Pandu Oscar Siagian , Koalisi dalam Ruang Pragmatisme Elit, Redaksi on Mei 5th, 2009 Peter G. Riddel, "The Diverse Voices of Political Islam in Post-Suharto Indonesia", Islam and Christian - Muslim Relations, Vol. 13, No. 1, 2002, hlm. 65 – 83 Redaksi(2008), Maklumat Politik Indonesia, 11 Aug , http://swaramuslim.net/ Utama Manggala(2007), Memilih Demokrasi untuk Indonesia, October 8. Sanusi Uwes PR(2009), Pragmatisme Partai Politik dan Bendera Islam , Thursday, 15 October. Todung Mulya Lubis(2008), Negara Pragmatis, Thu Nov 20. VIVAnews , Politik Kartel Atau Dinasti? Indonesia pasca reformasi bergerak ke arah format poltik baru. Perlu kritik dan refleksi. Dari Diskusi P2D, Senin, 26 Oktober 2009, 10:05 WIB Wishnugroho akbar(2010), Birokrasi Harus Steril dari Kepentingan Politik, Jakarta Wemmy al-Fadhli , Fenomena Koalisi Pragmatis, Monday, 27 April 2009 20:33 Woodward, M., (Summer-Fall 2001), "Indonesia, Islam and the Prospect of Democracy" SAIS Review Vol. XXI, No. 2, hlm. 29-37. Zaenal Abidin EP, Majelis Ulama Indonesia: Pelanggeng Pragmatisme Religius, 24 Pebruari 2006 M Ismail Yusanto: Pragmatisme Menggusur Idealisme Islam, Monday, 10 August 2009 Afan Gaffar. Javanese Voters: A Case of Election Under A Hegemonic Party System, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992. A. S. Hikam. Demokrasi dan Civil Society, LP3S, Jakarta,1996 Burhanuddin (Editor), Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia, INCIS, Jakarta 2003. Carl J. Friedrich. Constitutional Governt and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Waltham, Mass : Blaisdell Publishing Company, 1967. Miriam Budiardjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1988. Jakob Oetama.Perspektif Pers Indonesia?, LP3S, Jakarta 1987. Max Webwr. Wirschaft und Gesellschaft, Tuebingen, JCB Mohr, 1956. (khususnya pada Bab I) Ignas Kleden. Budaya Politik atau Moralitas Politik, (Artikel), Harian Kompas, 12 Maret 1998. Ben Anderson. The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1945 (Disertasi) pada Universitas Cornell Amerika Serikat, 1967. Frans Neumann (Ed). Politische Theorien und Ideologien, Baden-baden, Signal-Verlag.

Idrus Marham, Pemuda dan Jebakan Penjara Pragmatisme, Artikel dalam Jurnal Resonansi, volume 1 nomor 2 tahun 2003. Anderson, Benedict dan Audrey Kahin (eds.), Interpreting Indonesian Politics: Thirteen Contribution to the Debate. New York: Cornell Modern Indonesia Project, 1982.Booth, Anne dan Peter McCawley (eds.), Boediono (penerjemah), Ekonomi Orde Baru: The Indonesian Economics During the Soeharto Era Jakarta: LP3ES, 1981. Crouch, Harold, The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978. Hill, Hal (ed), Indonesia’s New Order: The Dynamics of Socio-Economic Transformation. Honolulu: University of Hawaii Press, 1994.Karim, Muhammad Rusli, Peranan ABRI dalam Politik dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Politik di Indonesia (1965-1979), Jakarta: Yayasan Idayu, 1981.Liddle, R. William, Cultural and Class Politics in New Order Indonesia. Singapore, Institute of Southeast Asian Studies, 1977. Mas’oed, Mohtar, Negara, Kapital dan Demokrasi. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1994. Pabottinggi, Mochtar Sihbudi, Syamsuddin Haris, Riza (eds), Menelaah Kembali Format Politik Orde Baru. Jakarta: PPW-LIPI Yayasan Insan Politika, 1995. Sanit, Arbi, Sistem Politik Indonesia: Penghampiran dan Lingkungan. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial & FIS-UI, 1980. Van Der Kroef, J.M., Indonesia after Sukarno. Van Couver: Univ. of British Columbia Press, 1971. Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Effendy, Onong Uchjana. 1989. Kamus Komunikasi. Bandung: Mandar Maju, hlm 264. Kam. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3 – Cetakan 1. Jakarta: Balai Pustaka, hlm 828. Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study: A Biographical Approach. New York:The Free Press. West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Buku 1 edisi ke-3. Terjemahan. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika. Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan ke-3. Jakarta: PT. Grasindo-Gramedia Widiasarana Indonesia. Afan Gaffar. “Javanese Voters: A Case of Election Under A Hegemonic Party System”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992. A. S. Hikam. “Demokrasi dan Civil Society”, LP3S, Jakarta,1996 Burhanuddin (Editor), “Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia”, INCIS, Jakarta 2003. Carl J. Friedrich. “Constitutional Governt and Democracy: Theory and Practice in Europe and America”, Waltham, Mass : Blaisdell Publishing Company, 1967. Miriam Budiardjo. “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Gramedia, Jakarta, 1988. Jakob Oetama.“Perspektif Pers Indonesia”, LP3S, Jakarta 1987. Max Weber. “Wirschaft und Gesellschaft”, Tuebingen, JCB Mohr, 1956. (khususnya pada Bab I)

Ignas Kleden. “Budaya Politik atau Moralitas Politik?”, (Artikel), Harian Kompas, 12 Maret 1998. Ben Anderson. “The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1945” (Disertasi) pada Universitas Cornell Amerika Serikat, 1967. Frans Neumann (Ed). ”Politische Theorien und Ideologien”, Baden-baden, Signal-Verlag. Idrus Marham, “Pemuda dan Jebakan Penjara Pragmatisme”, Artikel dalam Jurnal Resonansi, volume 1 nomor 2 tahun 2003. Harry Truman, Golkar Dalam Pusaran Politik Indonesia, Mar 22, '07 10:24 AM http://adetaris.multiply.com Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. California:Sage Publication Bignell, Jonathan. 2001. Media Semiotics, An Introduction. London: Manchaster University Press Chomsky, Noam dan Edward S. Herman, 1988. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York:Pantheon Currant, James and Michael Gurevitch. 1991. Mass Media and Society .London :Edward Arnold Curran, James and Richard Collins, 1986. Media, Culture and Society: A Critical Reader. London:Sage Publication Denzin, Norman K. (eds). 2000. Handbook of Qualitative Research. California:Sage Public Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisa Teks Media. Yogyakarta:LKIS Fairclough, Norman. 1998. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London:Longman Fairclough, Norman. 1995. Media Discourse. New York:Edward Arnold Fiske, John. 1982. Introduction of Communication Studies. London:Routledge Guba, Egon. G,. 1990. The Paradigm Dialog. New York:Sage Books Hall, Stuart. 1992. Culture, Media dan Language. London:Routledge Hardiman, Budi Francisco, 1990. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta:Kanisius Kolakowski, Leszek. 1978. Main Currents of Marxisme III. Oxford:Clarendon Press Latif, Yid dan Idi Subandy Ibrahim (eds). 1996. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Jakarta:Mizan Littlejohn, Stephen. 2002. Theories of Human Communication. California:Wadsworth Publishing Company Lull, James. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaan; Suatu Pendekatan Global. Jakarta:YOI Magnis-Suseno, Franz. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:Kanisius Magnis-Suseno, Franz. 1991. Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral dan Dasar Kenegaraan modern. Jakarta:Gramedia Mannheim, Karl. 1979. Ideologi dan Utopia. An Introduction to the Sociology of Knowledge. London:Routledge Mcdonnell, Diane. 1986. Theories of Discourse: An Introduction. Oxford:Basil Blackwall Mcquail, Dennis (ed). 2002. McQuail’s Reader in Mass Communication Theory. London:Sage Publications Mills, Sara. 1991. Discourse. London:Routledge

Neuman, Lawrence W. 2000. Social Research Methods. London:Allyn and Bacon Raboy, Marc dan Bernard Dagenais (eds). 1995. Media, Crisis and Democracy: Mass Communication and the Disruption of Social Order. London:Sage Publication Reese, Stephen D,. 2001. Framing Public Life. New Jersey:Lawrence Earlbaum Publisher Riggins, Stephen H,. 1997. The Language and Politics of Exclusion: Others in Discourse. London:Sage Publication Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study. New York:The Free Press Saverin, Werner. 1997. Communication Theories: Origins, Methods and Uses in the Mass Media. New York:Longman Sen, Krishna dan David T. Hill. 2001. Media, Budaya dan Politik di Indonesia. Jakarta:PT Media Lintas Inti Nusantara Shoemaker, Pamela cs (eds). 1991. Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. London:Longman Group Shoemaker, Pamela cs (eds). 1996. Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. London:Longman Group Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya Wimmer, Roger D. 2000. Mass Media Research: An Introduction. Singapore:Wadsworth PC Vatikionis, Michail R.J. 1993. Indonesian Politics under Soeharto, Order, Development and Pressure for Change. New York:Routledge Almond, Gabriel A. and G Bingham Powell, Jr., Comparative Politics: A Developmental Approach . New Delhi, Oxford & IBH Publishing Co, 1976 Anderson, Benedict, R. O’G., Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia . Ithaca: Cornell University Press, 1990. Emmerson, Donald, K., Indonesia’s Elite: Political Culture and Cultural Politics. London: Cornell University Press, 1976. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pokok-pokok pikiran sekitar penyelenggaraan pemilu 1987: Laporan Kedua, Bagian I, Transformasi Budaya Politik. Jakarta: LIPI, 1987. Rosenbaum, Wolter, A., Political Culture, Princeton. Praeger, 1975. Suryadinata, Leo, Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik . Jakarta: LP3ES, 1992. Widjaya, Albert, Budaya Politik dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: LP3ES, 1982

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->