P. 1
PRAGMATISME KOALISI PARTAI

PRAGMATISME KOALISI PARTAI

|Views: 864|Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

PRAGMATISME KOALISI PARTAI Oleh : Rum Rosyid, Untan Pontianak Pendahuluan Istilah pragmatisme sebetulnya hanya dikenal dalam

ilmu filsafat, dan jarang diperbincangkan dalam ranah politik. Menurut pengertiannya, pragmatisme berarti aliran yang beranggapan bahwa kebenaran adalah apa yang bernilai praktis dalam pengalaman hidup manusia. Ia merupakan instrumen dalam pencapaian-pencapaian tujuan, manfaat (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hlm. 877). Maka, sesuatu dilakukan sejauh memberi manfaat, kegunaannya bagi saya atau kelompok-ku. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa para elite politik tak jarang terjebak dalam koalisi pragmatisme. Koalisi partai yang saat ini terbentuk semakin terkesan pragmatis. Pasalnya, karakter partai-partai yang ada hanya sebatas seberapa besar pembagian kekuasaan yang mereka dapatkan bila berada dalam suatu koalisi. Demikian, pandangan pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi di sela-sela diskusi dengan topik Koalisi dan Capres 2009, di Jakarta, Sabtu (16/5/09). "Elite politik yang ada senang bermain akrobat politik, sehingga mereka menunjukkan pragmatisme. Misalnya, komunikasi politik yang dilakukan antara PDI-P dan Demokrat, padahal kita tahu sebelumnya, keduanya kontra pada waktu kampanye kemarin. PDI-P tidak menyetujui program BLT dan kenaikan BBM yang SBY terapkan. Ternyata, itu hanya skenario PDI-P semata, guna menurunkan posisi tawar Prabowo," katanya. Bukti pragmatisme, katanya, juga terlihat dari sebagian besar elite partai, seperti PDI-P dan Golkar, yang tidak bisa menyatukan suaranya dalam koalisi. Sebab, satu pihak ingin bergabung dengan partai incumbent dan pihak lain ingin menjadi oposisi, dengan harapan bisa mengalahkannya. Koalisi pragmatisme berarti koalisi yang dibangun berdasarkan manfaat, kegunaan untuk elite politik saja. Terbentuk sebuah koalisi bukanlah atas dasar kepentingan rakyat banyak, tetapi atas dasar kepentingan para petinggi partai politik peserta koalisi. Sasarannya tidak lain adalah kekuasaan semata, bagi-bagi jatah kursi menteri di kabinet. Tak heran, partai-partai yang sebelumnya sangat bertolak belakang baik asas, visi dan misi partai, dalam hitungan detik runtuh seketika. Hal itu terkondisikan oleh sikap elite partai politik yang lebih mengedepankan kekuasaan, kursi menteri ketimbang kepentingan rakyat banyak, misalnya partai-partai yang berasaskan religius seperti PKS, PPP yang akhirnya lebih memilih koalisi dengan partai demokrat (nasionalis) ketimbang partai yang se-asas. Bagi mereka figur SBY, yang adalah capres dari partai demokrat periode 2009-2014 sangat signifikan. Ide koalisi agamis-nasionalis pun bermunculan, yang sebetulnya didasarkan pada pragmatisme politik. Sebuah pertanyaan kunci layak dilayangkan. Apakah, geliat politik yang sudah kian mengkristal, atau dalam bahasa Prof Kuntowijoyo, berupa "gejala- gejala" perpaduan kekuatan politik, dengan warna "sekuler" dan "religius", yang terwakilkan dalam kampanye pemilu lalu, sungguh sebagai sebuah gerakan kultural yang bersentuhan dengan sivilisasi politik nasional, atau sekadar sebuah persenyawaan politik (kekuasaan) yang sebenarnya tidak teruji mampu membawa perubahan konstruktif bagi masa depan

Indonesia. "Pragmatisme religius" secara sepintas mendedahkan optimisme sosio-politik di tengah kondisi perpecahan sosial yang masih mengurung Indonesia. Tetapi jika dicermati, sebenarnya masih ada kecemasan sosial yang tidak kalah serius. Rakyat sedang menghadapi teka-teki besar. Rakyat, di hadapan pembauran politik sekarang, seolah memperoleh "obat penenang" mujarab bahwa persoalan bangsa hampir pasti dapat diselesaikan karena ada "integrasi" kekuatan politik, atau dalam bahasa Muhammad Ali, "ada semacam proses kreatif" demi melampaui perilaku dikotomik yang telah mencelakakan Indonesia dalam kurun-kurun sejarah lalu. Munculnya sikap pragmatis dalam koalisi partai, karena mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak ada partai yang menang mutlak sehingga dengan penuh percaya diri mereka mengajukan calon presiden. Karena itu, realita mengharuskan mereka untuk berkoalisi. Mau tidak mau, beberapa partai bersatu tanpa memperhatikan lagi sekat-sekat ideologis yang ada. Visi dan misi serta platform partai yang digembar-gemborkan dalam kampanye Pemilu seolah tidak berarti apa-apa. Partai Bulan Bintang (PBB) berkoalisi dengan Partai Demokrat. PNUI berkoalisi dengan Partai Golkar. PBR dengan PAN. PPP mendukung PDIP dalam pencalonan presiden kendati akhirnya mengajukan calon presiden sendiri. PKB, yang nyata-nyata memendam dendam kepada Partai Golkar karena dianggap telah menjatuhkan pemerintahan Abdurrahman Wahid, akhirnya berkoalisi juga. Golkar yang dulunya dikecam habis-habisan sebagai partai Orde Baru, malah sekarang dirangkul oleh banyak partai atau orang-orang yang dulu mengecamnya. Alasannya, juga pragmatisme politik. Oposisi Setengah Hati Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kembali mengumumkan posisi PDIP sebagai partai oposisi di parlemen. Dulu, PDIP merangkul Golkar, PDS, dan PPP dalam Koalisi Kebangsaan. Seiring perubahan peta politik, koalisi itu pun melempem. Kini hanya tinggal PDIP dan PDS yang tersisa dari unsur Koalisi Kebangsaan setelah Golkar dan PPP membanting stir menjadi partai pendukung pemerintah. Koalisi untuk oposisi yang sudah lama bergulir di parlemen sampai sekarang juga belum menunjukkan kinerja yang produktif dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Ketika harga BBM dinaikkan pada Maret dan Oktober 2005, pengaruh oposisi tidak sekuat pengaruh partai pro-pemerintah yang sempat menamakan diri Koalisi Kerakyatan. Ketika bergulir usulan pengajuan hak interpelasi tentang telekonferensi, oposisi juga tidak berhasil membendung manuver partai propemerintah yang berupaya menggagalkan interpelasi. Oposisi yang diproklamasikan oleh PDIP kembali ditantang dengan adanya usulan hak angket kasus impor beras yang sekarang sedang bergulir di parlemen. Setelah 11 menteri dipanggil ke Istana, apakah oposisi masih memberikan harapan untuk meloloskan niat pelaksanaan hak angket. Optimisme itu mulai meredup ketika sejumlah menteri yang bertemu di Istana berhasil melobi partai masing-masing untuk membatalkan hak angket. Kuat dugaan bahwa usulan hak angket akan mental di paripurna yang akan digelar 24 Januari 2006.

PPP misalnya, berpeluang tak mendukung hak angket setelah Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali berhasil mendesak Hamzah Haz. Menteri lain yang berhasil menjalankan amanat Istana antara lain Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno dan Menteri Pertanian Anton Apriantono. Lantas, masihkah ada harapan oposisi yang digalang PDIP bisa berjalan efektif? Oposisi di Indonesia boleh dibilang 'mahluk baru' yang lahir mendadak. Oposisi baru bergulir seiring dengan euforia reformasi pasca1998. Tetapi sampai sekarang oposisi yang sejati belum ada buktinya. Banyak masalah memang, termasuk bahwa tidak ada format oposisi yang ideal yang siap untuk diterapkan. Partai yang bertekad menjadi barisan oposisi juga tidak berpijak pada landasan ideologi atau format visi-misi yang sama sehingga sangat sulit membangun kekuatan oposisi yang solid. Selain itu, oposisi masih dipahami sebatas mengeritik atau menolak kebijakan pemerintah yang tidak populis tanpa disertai solusi kebijakan alternatif yang bisa ditawarkan kepada pemerintah. Dalam kasus penolakan kenaikan harga BBM misalnya, partai yang menentang kebijakan itu tidak memiliki format kebijakan alternatif yang aplikatif. Akibatnya, oposisi hanya dipahami sebatas menentang atau mengkritisi pemerintah tanpa ada tawaran jalan keluar yang konkret. Dengan demikian oposisi politik dimanfaatkan sebagai strategi politik untuk mendapat dukungan publik sekaligus meruntuhkan citra lawan. Dengan kata lain, oposisi dalam praktek adalah 'politik oposisi'. Sulitnya Menjadi Oposisi Ada tiga hal yang menjadi alasan mengapa oposisi di Indonesia masih sulit dijalankan. Pertama, di Indonesia hampir pasti tidak ada partai ideologis. Oposisi mengandaikan adanya basis yang kokoh yang menyatukan unsur dalam oposisi. Basis yang paling klasik adalah ideologi. Oposisi mensyaratkan adanya ideologi yang kuat. Dengan ideologi itu, kekuatan oposisi bisa bekerjasama membangun kekuatan yang kompak. Masalahnya, partai politik di Indonesia hampir pasti tidak memiliki ideologi yang mapan. Akibatnya, sangat sulit membangun kerjasama antarpartai. Bahkan di internal partai juga perpecahan sulit dijembatani karena tidak adanya ideologi yang kuat yang bisa menjadi 'jiwa bersama'. Kedua, partai politik terjebak pragmatisme. Pragmatisme tidak memerlukan pemikiran yang matang dan ideologi yang kokoh. Pragmatisme hanya memperhitungkan keuntungan praktis yang ada di depan mata. Uang dan kursi kekuasaan seringkali menjadi tawaran yang menarik bagi kaum pragmatis. Partai politik kita kebanyakan terjebak dalam pragmatisme ini. Ini risiko dari tidak adanya ideologi yang mapan. Dalam kondisi kepartaian yang seperti ini sangat tidak mungkin mengharapkan adanya oposisi murni. Golkar dan PPP hengkang dari Koalisi Kebangsaan adalah cermin dari pragmatisme itu. Atau kader Golkar yang melompat ke pangkuan Yudhoyono-Kalla pada saat Golkar (di bawah kepemimpinan Akbar Tanjung) mengusung Wiranto-Wahid dalam pilpres 2004. Ketiga, konspirasi politik. Pada masa Orde Baru, pemerintah dan legislatif merupakan

satu kekuatan politik konspiratif yang saling mendukung, seia-sekata. Terobosan reformasi ingin mendobrak model demokrasi semu seperti ini yang tidak membiarkan adanya saling mengawasi (check and balances). Perubahan itu persis yang ingin dicapai di era reformasi ini. Tetapi dalam praktik, konspirasi itu ternyata tidak hilang. Pemerintah dan legislatif masih saling mendukung tanpa adanya kekritisan dalam konteks fungsi pengawasan. Konspirasi model ini tentu potensial menghambat kerja oposisi. Dengan kata lain, tidak ada oposisi yang berjalan dengan efektif kalau partai pro-pemerintah di parlemen menjadi mesin politik yang tidak kritis dengan dalih 'right or wrong is our president'. Koalisi Parpol : memenangi perebutan kekuasaan Pragmatisme kekuasaan terlihat ketika platform partai yang abstrak Pemilu 2004 tidak otomatis berubah menjadi platform kelima pasang capres dan cawapres, walaupun dicalonkan partai atau gabungan partai. Ketika suara partai atau partai- partai dalam pemilu legislatif tidak menjamin perolehan suara pasangan capres dan cawapres untuk lolos pada putaran pertama pilpres, muncul logika bahwa sang capres dan pasangan cawapresnya memiliki potensi lebih besar mendulang suara ketimbang yang diperoleh partai dalam pemilu legislatif. Gejala tersebut menyebabkan lembaga partai direduksi pada ketokohan capres dan cawapresnya sehingga mereka gagal merumuskan platform kekuasaan yang hendak dijalankannya jika nanti terpilih. Sementara transisi ideologi dalam pilpres 2004 telah mengubah nilai sakral ke orientasi pragmatis, namun bisa mendorong romantisme nilai-nilai sakral yang mudah dimanipulasi bagi kepentingan pragmatis memobilisasi partisipasi rakyat seperti terlihat dari fatwa haram memilih pemimpin perempuan dan peneguhan beberapa capres sebagai representasi simbol-simbol Islam dan kesantrian. Koalisi yang sedang digagas sejumlah parpol guna menghadapi pemilu presiden tidak dibangun dari persamaan nilai atau cita-cita perjuangan partai. Koalisi lebih didasarkan pada kepentingan yang amat pragmatis, yaitu memenangi perebutan kekuasaan pada pemilu presiden 8 Juli 2009. Bangunan koalisi seperti itu dikhawatirkan akan sulit membangun pemerintahan yang kuat dan efektif. Pemerintahan tetap akan disibukkan oleh pembagian kekuasaan dibandingkan melaksanakan program kerja. Demikian disampaikan pemerhati politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif, Tommy Legowo dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, peneliti The Indonesia Institute Cecep Effendi, dan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, secara terpisah akhir pekan(26/4). Pernyataan itu mereka sampaikan menanggapi mulai jelasnya peta koalisi menghadapi pilpres. Partai Demokrat kemungkinan besar akan bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sudah jelas menunjukkan arah koalisi bersama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sekilas, koalisi yang dibangun PDI-P, Hanura, dan Gerindra punya kesamaan latar belakang, yaitu nasionalis sekuler. ”Namun, sebenarnya ada perbedaan latar belakang, prinsip, dan nilai di antara mereka. Koalisi itu lebih disatukan kepentingan, yaitu

kegagalan pada Pemilu 2004 dan perasaan sakit hati karena merasa dicurangi pada pemilu,” kata Arbi. Hal serupa terlihat dalam koalisi yang dibangun Demokrat dengan PKS dan PKB. ”Jika dilihat secara ideologi, cukup aneh PKS bisa bersatu dengan PKB,” kata Yudi menambahkan. Pragmatisme dalam pembangunan koalisi, lanjut Yudi, makin terlihat dari mudahnya perubahan sikap, seperti yang diperlihatkan Partai Golkar. ”Karena gagal bernegosiasi dengan Partai Demokrat, Golkar lalu mendekati PDI-P. Ini sinyal kuat jika koalisi lebih dibangun berdasarkan pertimbangan transaksional, dalam arti materi dan kekuasaan”. Kecemasan sosial ini serentak mendapatkan aksentuasi kontekstualitasnya. Fenomena integrasi "sekuler" dan "religius" menuju "pragmatisme religius" mencemaskan saat ditempatkan dalam ruang proses politik dengan poros utama pemilihan presiden lalu. Apakah pilpres 2004 lalu sungguh menjadi ruang pencapaian optimal dan konstruktif pengintegrasian "sekuler" dan "religius". Atau, sebaliknya hanya sebuah kamuflase yang menyembunyikan terbentuknya "perkoncoan" kekuasaan yang membenamkan Indonesia menuju kesuraman historis. Apalagi, Pemilu 2004 tidak dapat dipercaya mampu membalikkan keadaan keterjepitan sosial, politik, dan ekonomi yang dialami Indonesia kini. Pemilu 2004 belum mencukupi untuk mencapai soliditas "kesepakatan" bersama dalam membangun Indonesia (bandingkan tajuk Kompas, 7/7/2004 Pemilu Tidak Menyelesaikan Persoalan Mendasar). Penguasa terus melontarkan verbalisme politik dalam argumentasi utopis yang dapat menghanyutkan rakyat. Tetapi, realitas sosial dengan telanjang menghidangkan kebenaran, integrasi "sekuler" dan "religius" tetap berputar-putar pada poros utama, yaitu kekuasaan. Oleh karena itu, ketika "sekuler" dan "religius" (pragmatisme religius) ditaruh, dibaca, apalagi diekspresikan dalam perspektif pertarungan politik pilpres 2004, gagasan cemerlang yang meledakkan energi kultural publik Indonesia langsung mengalami penyempitan dan pembusukan. Kasarnya, para politisi yang sempat membaca gagasan Kuntowijoyo dan Muhammad Ali seolah mendapat "angin segar", mendapatkan semacam justifikasi intelektual atas proyek politik mereka. Prof Kuntowijoyo mengumumkan idealisme intelektual yang jujur berkait pragmatisme religius yaitu, "semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhahan, dan kemanusiaan" dan "semua urusan dikelola secara rasional dengan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan". Tetapi, di seberang samudra kecendekiaan itu, para penggila kekuasaan akan memperlakukannya sebagai barikade intelektual konsolidasi kekuasaan. Melihat hal ini, ada beberapa isu yang perlu dicermati. Pertama, hubungan antar agama di mana campur tangan pemerintah mulai menggurita, karena menjadi bagian dari strategi merawat dukungan. Fenomena ini diperkirakan akan terus berkembang, bahkan akan merasuk ke UNDANG-UNDANG, peraturan pemerintah tingkat pusat maupun daerah. Ujungnya, akan terjadi dominasi kelompok tertentu dan diskriminasi atas kelompok yang lain, pada tingkat paling basis, yaitu konstitusi dan UU.

Kedua , kemiskinan dan antri. Dua kata ini akan terus saling berkait dan selama tidak ada perubahan strategi ekonomi yang signifikan, kata ini mungkin akan bertambang, yaitu kematian, disamping gizi buruk. Penguasaan sumberdaya alam oleh asing akan segera disusul dengan efisiensi melalui regenerasi mesin dan mengabaikan tenaga kerja manusia. Yang terjadi kemudian adalah pengangguran luar biasa. Imbasnya mudah diduga; kemiskinan, antri, gizi buruk dan bahkan kematian. Ketiga , penguasaan sumberdaya alam. Orientasi ekonomi pemerintahan ini tampaknya sejak awal memang dirancang mengikuti arus besar ekonomi dunia, yaitu neoliberal. Pada batas waktu tertentu, Indonesia mungkin tidak akan memiliki sumberdaya alam yang dikelola sendiri, melainkan seluruhnya akan di”borong”kan kepada modal asing dengan masa kontrak sangat panjang dengan pengelolaan efisien untuk menggenjot keuntungan. Keempat , gerakan Islamis. Pemerintahan sekarang ini, terutama SBY, tidak saja diduga kuat memiliki pemahaman yang sejalan dengan Islamis, dan juga tiga partai lingkaran utama di atas, melainkan SBY tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam dan gerakan Islam. Sehingga apapun yang menguntungkannya akan diambil, bahkan dalam hak yang prinsipil sekalipun seperti hak untuk beragama dan berkeyakinan. Jika tidak ada keberanian untuk mengubah orientasi pemerintahan sekarang atas gerakan Islamis, mereka akan segera masuk lebih dalam ke dalam keseluruhan badan negara dan pemerintahan ini. Kembali pada persoalan mendasar; saat tercipta sinergi antar kekuatan, tidak saja "sekuler" dan "religius", tetapi juga seperti "sosialis" dan "sosial-demokratik", apakah gejala itu serta-merta ada dalam jalur "terobosan kreatif" dengan wacana tunggal operasi penyelamatan nation-state Indonesia. Sebuah pemandangan paling dominan dalam pilpres tahap pertama lalu, apa yang mau dicapai dengan peminangan tokoh-tokoh NU. Apakah gerakan itu menyentuh idealisme kebangsaan kita, yaitu terciptanya integrasi kultural atau hanya bersinggungan dengan persoalan pengumpulan dukungan politik. Jawaban atas pertanyaan ini kian nyata dalam kondisi pasca- pembentukan koalisi. Mungkin terlalu dini jika mengatakan, perkawinan politik yang sudah terjadi antara "sekuler" dan "religius" menuju pragmatisme religius serentak mengusung pesan kehidupan masa depan Indonesia. Kuatnya pertimbangan memenangi kekuasaan dalam pembangunan koalisi, menurut Tommy Legowo, juga terlihat dari tiadanya pembahasan program di antara mereka yang berkoalisi. ”Misalnya, PDI-P dan partai yang mungkin diajaknya berkoalisi belum pernah terdengar membahas apakah program penghapusan kemiskinan akan dilakukan lewat program kedermawanan pemerintah seperti bantuan langsung tunai, atau dengan meningkatkan kapasitas masyarakat,” katanya. Koalisi Pragmatis : inkosistensi system Presidensial Pragmatisme menjadi isu yang menarik dalam pemilu legislatif 9 April. Apalagi sikap tersebut dilakukan hanya untuk meraih kekuasaan atau suara dalam parlemen. Pilihannya

hanya dua, suara terdongkrak atau merosot turun. Bisikan untuk meraih kekuasaan sangatlah besar. Hasrat untuk berkuasa menjadi pendorong utama para politikus untuk berkompetisi. Semangat untuk menaikkan strata sosial yang diukur melaui harta begitu kuat. Sudah menjadi hal yang lumrah, bahwa korupsi sangat amat sulit di berantas di negeri ini. PKS, lanjut Tommy, juga belum terdengar menyatakan keputusan bergabung dengan Demokrat berarti mereka mendukung seluruhnya program partai itu, termasuk dalam usaha untuk keluar dari krisis global. Pragmatisme dalam membangun koalisi ini, menurut Tommy, antara lain diakibatkan oleh banyaknya partai dan tiadanya pihak yang dapat memenangi pemilu dengan mutlak. Cecep Effendi mempertanyakan manfaat koalisi model itu, terutama kejelasan program yang betul-betul dibuat untuk kepentingan rakyat. ”Sampai sekarang belum jelas koalisinya, kapan bikin program bersama,” katanya. Menurut Cecep, harus ditunggu apakah program yang ditawarkan sebuah parpol menjelang pemilu legislatif lalu masih bisa tecermin dalam koalisi. Pasalnya, setiap parpol dalam kampanye pemilu legislatif lalu telanjur menawarkan program yang bisa jadi berseberangan dengan calon mitra koalisinya. Bisa jadi ada visimisi penting dari sebuah parpol yang akhirnya tidak tersepakati saat berkoalisi. ”Misalnya, ada partai yang mengatakan akan membuat pendidikan gratis dan ketika masuk dalam koalisi ternyata tidak masuk dalam program mereka,” kata Cecep. Atmosfer panasnya Pemilu juga menyelubungi tiap atap instansi-instansi independen seperti instansi pendidikan, khususnya kampus/perguruan tinggi. Beberapa mahasiswa yang belum kelar mengurus study-nya, malahan mencoba mengurus rakyat dengan mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Tak jarang juga, banyak mahasiswa yang memiliki posisi penting di lingkungan organisasi kampus memanfaatkan moment Pemilu kali ini dengan cara menjalankan kontrak politik. Mereka (Mahasiswa dan Caleg) membuat kesepakatan; jika mau berkampanye atas nama Caleg yang bersangkutan dan nanti menang, maka si Caleg akan memberikan sebuah gedung sekretariat atau imbalan lain yang sepantasnya. Bukan cuma mahasiswa saja yang melibatkan diri dalam politik praktis, para pengajar (dosen) di kampus/perguruan tinggi pun juga ikut melibatkan diri. Di Universitas Khairun, ada seorang dosen yang melakukan kampanye di dalam kelas, disela-sela proses belajar-mengajar dengan cara membagikan foto caleg yang didukungnya kepada para mahasiswa. Kuntowijoyo ”menggambarkan” kondisi perpolitikan negeri ini dalam novelnya Mantra Penjinak Ular (Penerbit Kompas: 2000). Kebenaran-kebenaran fiksional tentang politik yang ditampilkan dalam novel ini terasa hangat. Ulasan singkat tentang novel ini ditulis oleh Tri Subhi A dalam majalah Sabili No. 19 TH. XVI 9 APRIL 2009/13 RABIUL AKHIR 1430. Tri Subhi A menuliskan: ”Hal pertama yang sangat berpengaruh dalam perpolitikan kita ialah kekuatan yang sering dinamakan Mesin Poltik. Mesin Politik ini yang biasanya mempertahankan keterbelakangan rakyat untuk kepentingan kelompoknya. Mereka tak segan melakukan penipuan, manipulasi dan cara-cara curang guna meraih kemenangan dalam pemilihan. Kuntowijoyo menggambarkan tingkah mesin politik ini sebagai berikut: Mesin politik menghendaki agar jarak waktu antara pengumuman dan

waktu pelaksanaan pemilihan singkat saja, umpamanya tiga hari, sehingga hanya orangorang pilihan Mesin Politik yang akan menang, sebab merekalah yang paling siap, paling terorganisir, orang-orangnya pasti lulus ujian, dan mesin politik itu weruh sak durunge winarah (tahu sebelum kejadian) karena ada rekayasa. Menang sebelum pemilihan (hlm 91)”. Meski latar pada novel ini zaman Orde Baru, cerita yang disajikan masih tetap relevan untuk dibahas. Sekretaris Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat Masykurudin Hafidz menilai, aspirasi rakyat direduksi dengan hanya dijadikan modal dalam tawar-menawar kekuasaan. Seharusnya paparan rancangan program kebijakan sebagai sarana negosiasi mendahului proses tawar-menawar tersebut. Masyarakat pemilih yang telah memberikan suara dalam pemilu legislatif mesti sejak awal mengetahui rencana program sebagai landasan proses koalisi. Langkah itu merupakan wujud pendidikan politik rakyat yang dilakukan partai politik serta menjadi catatan janji yang bakal ditagih nanti. Dengan kata lain, menurut Qodari, koalisi parpol idealnya memang didasari kesamaan ideologi atau platform politik. Hanya saja, saat ini koalisi lebih didasari pada upaya memenuhi syarat pencalonan serta kalkulasi untuk menang dalam pilpres. Semestinya, parpol berani mengajak parpol lain yang punya platform sama, serta tidak perlu mengajak parpol lain yang platformnya berbeda. Kenyataannya, hal sebaliknya yang kerap dilakukan. ”Tujuannya meraih dukungan suara sebanyak-banyaknya,” kata Qodari. ”Koalisi pragmatis ini merupakan dampak langsung dari sistem politik kita yang lebih bersifat parlementer. Padahal, pemerintahan kita bersifat presidensial,” tambah Yudi. Ketidakkonsistenan dalam penggunaan sistem presidensial membuat pemerintahan lima tahun ke depan tidak akan banyak berubah dibandingkan sekarang. Kabinet akan dibentuk berdasarkan perhitungan pembagian kekuasaan dan bukan keahlian. ”Pemerintah juga tetap akan disibukkan oleh tawar-menawar dengan parlemen. Padahal, eksekutif seharusnya tinggal melaksanakan, tak perlu tawar-menawar,” ucapnya. (Kompas, 27/04/2009). Dalam tilikan yang lebih teoretis, Pragmatisme PKS bukanlah karena ingin menutupi hidden agenda politik Islamis dan bukan semata pragmatisme yang banal. Melainkan lebih karena produk aturan main politik demokrasi yang dibangun dan di institusionalisasikan di negeri ini selama 10 tahun terakhir. Harus diingat bahwa partaipartai politik tidak bermain di ruang kosong, melainkan dalam sebuah bingkai bernama institusi demokrasi. Menurut sejarawan ekonomi Amerika dan pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 1990, Douglas C. North, institusi adalah tatanan untuk mengatur perilaku manusia. Institusi memiliki dua fungsi pokok. Pertama, institusi menyediakan aturan berperilaku. Dalam bingkai institusi (dalam hal ini demokrasi), perilaku partai politik menjadi teratur dan mudah diprediksi. Institusi yang stabil, dengan demikian, memotivasi aktor politik untuk berperilaku rasional dan terprogram. Kedua, institusi berfungsi menfasilitasi distribusi kepentingan secara lebih adil. Artinya, dalam institusi yang stabil, aktor politik akan terdorong untuk saling bekerja sama. Di sisi lain, survei yang diselenggarakan oleh Indo Barometer awal Desember 2008, bahwa publik Indonesia tidak silau dengan asas sebuah partai, apakah itu berasaskan Agama atau sekuler. Publik lebih menakar kinerja sebuah partai politik dalam

memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan rakyat sebagai indikator kredibilitas serta kelayakan partai untuk didukung. Namun, apalah artinya sebuah hasil survei jika pragmatisme brutal matrealistis telah berkuasa dalam diri. Lebih lanjut, North membagi institusi ke dalam dua jenis, yaitu institusi formal dan informal. Yang pertama merujuk pada aturan main yang terkodifikasi, misalnya konstitusi, hukum, hingga kontrak. Sedangkan yang kedua merujuk pada sistem yang mengatur perilaku tapi tidak terkodofikasi. Contohnya budaya, agama, dan ideologi. Dalam analisis North, baik yang formal maupun informal, institusi memiliki fungsi sama. Keduanya memiliki hubungan saling melengkapi. Institusi formal membantu institusi informal supaya lebih efektif. Misalnya, undang-undang biasanya merupakan formalisasi nilai budaya dan agama di masyarakat. Sebaliknya, institusi informal membantu mencari jalan bila institusi formal tidak berfungsi dengan baik. Beberapa politikus ternama, terindikasi tidak setia dengan partai karena mengetahui kekuatan partai lain yang dipinangnya lebih ”menjanjikan”. Dari dulu, mantan aktivis mahasiswa banyak yang tertarik masuk ke parlemen. Banyak dari mereka sudah jadi anggota dewan, dan karena ada keinginan untuk berbuat untuk masyarakat dan bangsa, menyusullah generasi aktivis di bawah mereka yang tertarik untuk melenggang ke sana. Tidak ada yang salah dengan itu. Teori North ini cukup akurat untuk menjelaskan pragmatisme PKS. Pragmatisme itu bukan upaya menutupi agenda tersembunyi dan bukan pula karena PKS tidak lagi peduli pada ideologi partai dakwah. Pragmatisme lebih merupakan buah institusionalisasi sistem demokrasi. Sebab sebenarnya perilaku partai politik tidaklah hanya didorong oleh ideologi, melainkan juga dipengaruhi aturan main, yaitu sistem demokrasi. Namun yang tetap perlu diperhatikan adalah jangan sampai idealisme yang dulu pernah diucapkan dimana-mana menjadi mentah ketika sudah duduk di kursi empuk, juga berAC. Sebagai contoh, di sebuah daerah ada caleg yang pernah berjanji di depan konstituennya untuk sering mendatangi mereka kalau sudah terpilih. Tapi, nyatanya sekalipun tidak terlaksana. Di kota lain ada juga yang mengeluh pada caleg sekarang yang berniat untuk mencalonkan kembali, “lebih bagus bapak ndak usah lagi calon di sini, karena bapak juga ndak pernah ke sini. Padahal dulu waktu kampanye katanya akan sering-sering ke sini.” Itu baru beberapa suara saja yang terekam betapa masyarakat yang dulunya diiming-imingi dengan macam-macam menjadi kecewa karena para aleg itu lupa pada janjinya. Pepatah “lupa kacang akan kulitnya” tepat sekali dalam kasus ini. Jika ini yang terjadi, maka kemana larinya idealisme mereka yang dulu pernah berkoar-koar untuk membela kaum mustadh’afin, kaum tertindas, kaum marjinal, proletar, marhaen, atau massa rakyat. Budiman Sudjatmiko dengan keberaniannya melawan rezim Orde Baru saat itu pernah ditangkap karena dituding sebagai aktor kerusuhan 27 Juli didepan gedung DPP PDI. Sebelum menjadi Ketua Relawan Perjuangan Demokrasi (RPD), ia menjadi ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kemudian bergabung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Padahal, kini PDIP tengah membina hubungan mesra dengan Partai Golkar yang saat reformasi dijadikan musuh bersama para mahasiswa dan pemuda, tak terkecuali Budiman Sudjatmiko.

Lain lagi cerita tentang Pius Lustrilanang, salah satu aktivis yang pernah manjadi korban penculikan pada 4 Februari 1997 oleh Tim Mawar dari pasukan elite KOPASSUS itu kini bergabung dengan Prabowo Subianto di Partai Gerindra. Banyak orang kaget, pasalnya Prabowo dianggap orang yang bertanggung jawab atas kasus tersebut. Bayak pihak mempertanyakan, mengapa korban penculikan kok memilih bergabung dengan ”penculiknya”. Juga Dita Indah Sari mantan Ketua Umum Papernas (Partai Pembebasan Nasional) kini berlabuh ke Partai Bintang Reformasi (PBR). Ade Daud Nasution, dari PBR loncat pagar ke Partai Amanat Nasional (PAN). Permadi dari PDIP bergabung dengan Gerindra. Tingkah para elite politik negeri ini seperti dagelan (komedi-red) yang sama sekali tidak lucu. Perilaku mereka telah membuat bingung para pemilih yang hanya ditempatkan sebagai penonton. Pada saat kampanye berlangsung, rakyat dilibatkan. Namun saat pentas tersebut usai, rakyat tidak merasakan manfaat apa-apa. Risiko Koalisi Pragmatis : menuju koalisi deontologi Sejumlah pakar dan pengamat politik menyampaikan pandangannnya mengenai fenomena koalisi pragmatis.Pemerhati politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit, menilai koalisi yang sedang digagas sejumlah parpol guna menghadapi pemilu presiden tidak dibangun dari persamaan nilai atau cita-cita perjuangan partai. Senada dengan Arbi, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif, dan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari memandang koalisi lebih didasarkan pada kepentingan yang amat pragmatis yaitu menjadi pemenang. Pemerintahan tetap akan disibukkan oleh pembagian kekuasaan dibandingkan melaksanakan program kerja. Pernyataan ini mengemuka saat peta koalisi menghadapi pilpres mulai. Partai Demokrat kemungkinan besar akan bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sudah jelas menunjukkan arah koalisi bersama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Menurut Arbi, sekilas, koalisi yang dibangun PDI-P, Hanura, dan Gerindra punya kesamaan latar belakang, yaitu nasionalis sekuler. Namun, sebenarnya ada perbedaan latar belakang, prinsip, dan nilai di antara mereka. Koalisi itu lebih disatukan kepentingan, yaitu kegagalan pada Pemilu 2004 dan perasaan sakit hati karena merasa dicurangi pada pemilu. Hal serupa terlihat dalam koalisi yang dibangun Demokrat dengan PKS dan PKB. Yudi memaparkan, "Jika dilihat secara ideologi, cukup aneh PKS bisa bersatu dengan PKB," Pragmatisme dalam pembangunan koalisi, lanjut Yudi, makin terlihat dari mudahnya perubahan sikap, seperti yang diperlihatkan Partai Golkar. Kuatnya pertimbangan memenangi kekuasaan dalam pembangunan koalisi, menurut Tommy Legowo, juga terlihat dari tiadanya pembahasan program di antara mereka yang berkoalisi. Faktanya, PDI-P dan partai yang mungkin diajaknya berkoalisi belum pernah terdengar membahas apakah program penghapusan kemiskinan akan dilakukan lewat program kedermawanan pemerintah seperti bantuan langsung tunai, atau dengan meningkatkan kapasitas masyarakat. Adapun PKS, menurut peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, juga belum terdengar menyatakan keputusan bergabung dengan Demokrat.

Dengan demikian, berarti mereka mendukung seluruhnya program partai itu, termasuk dalam usaha untuk keluar dari krisis global. Mengingat koalisi pragmatisme yang dipertontonkan oleh para elite partai politik ternyata tidak memberi keuntungan bagi rakyat, sudah saatnyalah pemerintahan yang akan datang beserta elite partai politik perlu membuat sebuah gebrakan baru dalam perpolitikan negeri ini dengan membangun koalisi deontologisme. Istilah deontologis berasal dari bahasa yunani, deon (keharusan, kewajiban). Jadi, secara harafiah istilah ini semacam teori tentang kewajiban (tugas). Ia menunjuk pada tanggung jawab, komitmen, perintah moral, dan gagasan mengenai kewajiban sebagai keharusan sosial (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hlm.158). Merujuk pada pengertian tersebut, maka koalisi deontologis berarti koalisi yang dibentuk oleh sejumlah partai politik atas dasar kesepatakan bersama. Dalam koalisi tersebut, setiap partai peserta koalisi merasa memiliki kewajiban, tanggung jawab, komitmen berdasar nilai moral dalam membangun pemerintahan yang kuat, kompeten. Dengan itu, konsekuensi apa pun yang terjadi dalam koalisi deontologis harus diterima dengan rendah hati, lapang dada oleh partai peserta koalisi. Yang menarik bahwa dalam koalisi deontologis ini para pembantu presiden seperti menteri diangkat secara langsung, bebas, oleh presiden. Maka, para menteri tidak harus berasal dari partai peserta koalisi, tetapi lebih diutamakan profesionalisme, keahlian dalam bidang yang akan digeluti oleh sang mentri ketimbang kader-kader partai politik yang hanya mampu mengumbar janji tanpa aksi nyata. Pragmatisme religius bertolak dari realitas politik kita yang tidak lagi memiliki kekuatan dominan pada satu arus politik saja. Jika membandingkan keadaan sekarang dengan masa kejayaan Golkar dulu, mereka tidak perlu melakukan integrasi politik dengan siapa pun karena kekuatan mutlak ada dalam genggaman mereka. Tetapi dalam pemilu, kekuatan politik sudah terbelah ke sana kemari. Konsekuensinya, tidak ada satu kekuatan politik yang dapat memenangi kursi presiden Indonesia tanpa melakukan kerja sama politik yang tegas. Fenomena integrasi "sekuler" dan "religius" menuju pragmatisme religius hanya sebuah gerakan politik kekuasaan dengan sebuah ketidakpastian soal integrasi kreatif untuk masa depan Indonesia(Max Regus, 2004). Kita mahfum, dalam politik, kategorisasi atau pembauran (integrasi), tidak pernah mutlak, tidak ada tempat di sana. Soalnya, yang menguatkan sinergi itu cuma gumpalan kepentingan klan-klan politik yang menggelandang koalisi dalam kancah politik. Integrasi itu akan selalu bergerak dalam prinsip tunggal, "kalau saya memberi ini, saya harus mendapatkan itu!" Jika begitu, tidakkah akhirnya pragmatisme religius akan menjadi topeng kekuasaan di hadapan rakyat Indonesia. Ketika politik nasional tidak memiliki kekuatan dominan pada satu tangan kekuasaan, maka jalan koalisi harus ditempuh. "Religius" (kekuatan politik agamis) memiliki magnetika khas dalam peta politik Indonesia. Sebab, kekuatan politik dengan nuansa agama menyediakan basis massa signifikan dalam membangun format kekuasaan. "Religius", dipinang sejumlah kekuatan politik (sekuler) juga sebaliknya, bukan karena pertimbangan keberdayaan kultural, tetapi lebih pada perhitungan basis massa

pendukung. Namun, "politik itu selalu memesonakan". Di sini, "religius" bisa terbuai dalam gelimangan "motivasi" kekuasaan belaka. Keduanya, baik "religius" maupun "sekuler" bergerak dalam arus yang sama, kekuasaan. Publik politik pasti amat menghormati gagasan Prof Kuntowijoyo dan penajaman Muhammad Ali soal pragmatisme religius. Tetapi, ada sebuah jebakan mematikan, di mana fenomena yang sedang bergerak ke muka ini sebetulnya hanya sebuah "sinkretisme destruktif" saat kekuasaan menjadi "perekat" integrasi. Kita masih membutuhkan diskusi dan penjelasan rasional, tidak saja "romantik" terhadap fenomena yang mulai mengkristal ini. Adakah sebuah optimisme sosial atau lonceng kematian, ketika peta politik kekuasaan Indonesia di masa depan dikendalikan kekuatan "pragmatisme religius". Dalam hal ini, koalisi deontologis antara sejumlah partai politik lebih mengedepankan pencapaian kebaikan bersama seluruh rakyat Indonesia ketimbang bagi-bagi jabatan menteri di kabinet (koalisi pragmatisme). Koalisi yang terbangun merasa mempunyai tanggung jawab, pesan moral, kewajiban mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ia mempunyai keharusan untuk membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Baginya, rakyat bukan semata-mata sarana mencapai kekuasaan (pemilu), melainkan sebagai tujuan utama yaitu menyejahterakan rakyat. Peran Strategis Partai Politik Sejak jatuhnya Orde Baru dan datangnya era multipartai, maka parpol memiliki posisi dan peran yang amat strategis, dalam proses pengambilan keputusan publik. Parpol diberi peluang untuk menyuguhkan orang-orangnya untuk dipilih menjadi anggota parlemen di pusat dan daerah, dan tak kalah strategisnya juga menyuguhkan kandidat presiden-wakil presiden dan para kandidat pasangan kepala daerah, baik provinsi maupun kabupaten/ kota. Parpol juga diberi kebebasan menggalang kekuatan dari pusat hingga ke desa-desa manakala tak ada lagi massa mengambang. Realitas politik menunjukan bahwa sebagian besar partai politik tidak menjalankan fungsinya secara maksimal. Partai politik masih menerapkan pragmatisme politik semata ketimbang mengimplementasikan fungsi-fungsi yang dimilikinya. Kondisi ini terutama terlihat jelas dalam tahapan kampanye, dimana sosialisasi dan pendidikan politik sangat minim sekali (bahkan nyaris tidak ada). Partai politik masih berparadigma konvensional, yang menempatkan kampanye sebagai ajang unjuk kekuatan ketimbang wahana penyampaian wacana politik dalam rangka pendidikan politik bagi masyarakat. Dalam beragam kesempatan, sejumlah elit selalu memekikkan kepentingan bangsa. Artinya, wacana kesejahteraan rakyat, demi kemajuan bangsa, serta dalam rangka memenuhi kepentingan yang lebih besar, menyeruak di seantero panggung politik. Namun, melihat realitas dinamika politik, sulit rasanya memercayai sikap dan pernyataan politik dari para elit tersebut. Bahkan kuat dugaan kita, gejolak DPT hanyalah sebagai reaksi kekalahan, sementara proses koalisi semata-mata guna memenuhi hasrat dari sejumlah elit yang ingin berkuasa.Kondisi ini menunjukan adanya mal-fungsi dari partai politik, dalam hal ini fungsi partai politik sebagai sarana sosialiasi dan pendidikan politik tidak berjalan. Begitupula halnya dengan realisasi dari fungsi partai politik sebagai peredam dan pengatur konflik. Partai politik

belum bisa menempatkan diri sebagai sebuah institusi politik yang inklusif yang menampung aspirasi masyarakat dan mendeteksi secara dini potensi dan gejala munculnya konflik dalam masyarakat. Bahkan, kerap kali partai politik terlibat langsung dalam konflik atau menjadi biang keladi munculnya sebuah konflik dalam masyarakat. Dan kondisi ini terlihat jelas dalam tahapan kampanye, dimana terjadi konflik terbuka antar partai yang memunculkan konflik antar kelompok masyarakat. Mal-fungsi dan partai politik (terutama dalam fungsinya sebagai sarana sosialisasi dan pendidikan politik serta sarana peredam dan pengatur konflik) ini terjadi sebagai akibat dari; pertama, kemunculan partai yang lebih disebabkan oleh eufona politik semata, bukan dilandasi oleh kebutuhan dan pemikiran politik yang dewasa. Hal ini menyebabkan partai-partai tersebut cenderung emosional dan reaktif dalam berpolitik. Kedua, sebagian besar partai politik tidak memiliki visi, misi, platform, dan program yang jelas. Ini merupakan dampak turunan dari kemunculan partai politik itu sendiri yang dilandasi oleh euforia politik. Akibatnya tidak ada wacana politik yang dapat ditawarkan kepada masyarakat, hanya konvoi dan arak-arakan saja. Dalam kaitan itu, partai politik tidak melakukan pendewasaan politik tetapi melakukan pembodohan politik kepada masyarakat. Menarik mencermati pembentukan koalisi “besar” yang ditopang oleh PDIP, PG, Gerindra, Hanura. Koalisi ini tidak berhasil merumuskan apa-apa selain adanya gerakan bersama di DPR. Buktinya, koalisi ini pecah sebelum berbentuk khususnya dalam pengajuan calon presiden dan wakil presiden. PG dan Hanura mencalonkan Jusuf Kalla dan Wiranto sebagai paket capres dan cawapres. Dan besar kemungkinannya PDIP dan Gerindra akan mengusung Mega dan Prabowo. Bahkan boleh dibilang, koalisi besar dibentuk hanyalah sebagai gerakan “anti” SBY. Tiga partai, kecuali PG, selama ini dikenal sangat kritis terhadap kinerja pemerintahan SBY-JK. Dan pascapecah kongsi dengan PD, PG pun ikut dalam barisan ini. Jika koalisi besar mampu merunut jalan-jalan bagi kemajuan bangsa, yang lebih baik dari yang dilakukan pemerintahan saat ini, niscaya akan didukung oleh rakyat. Ketiga, struktur dan infrastruktur politik yang dimiliki oleh sebagian besar partai politik (baru) sangat tidak memadai bagi terealisasinya fungsi-fungsi dari partai politik. Hal ini dimungkinkan karena usianya yang masih relatif muda, dibutuhkan waktu yang panjang untuk mematangkan dan menguatkan struktur dan infrastruktur partai politik sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Keempat, sebagian partai politik masih cenderung memiliki pemikiran politik yang kurang dewasa, terutama menempatkan pemilu sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan semata. Pemilu hanya dilihat sebagai alat untuk mendapatkan jatah kursi di legislatif. Fungsi lain dari pemilu diabaikan begitu saja. Akibatnya, partai-partai politik terjebak pada pragmatisme dan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan. Mal-fungsi dari partai politik tersebut pada akhirnya akan mengurangi kualitas dari penyelenggaraan pemilu, terutama berkaitan dengan pendidikan dan pendewasaan politik masyarakat. Agenda politik dari elit partai pascapemilu legislatif adalah pertarungan menuju kursi presiden dan wakil presiden. Maka, masing-masing petinggi partai, kini, terus bergerilya

dengan membangun koalisi, untuk maksud menjadi mengajukan kandidat dalam pilpres nanti. Dinamika politik, baik di internal maupun di eksternal partai terus berdenyut kencang bahkan menjurus pada friksi-friksi yang cukup tajam. Ancaman perpecahan pun membayangi sejumlah partai. Mengejar atau mempertahankan kekuasaan merupakan hal yang wajar dalam dunia politik. Namun yang menjadi soal adalah perihal cara atau modus yang dipakai dalam rangka menggapai impian dimaksud. Secara kasat mata kita menyaksikan banyak cara yang dilakukan oleh para elit justru kurang fair, tidak proporsional, dan cenderung kurang berfaedah. Saling serang dengan cara yang tak berdasar adalah contohnya. Kita tidak boleh lupa bahwa politik pada dasarnya bertujuan baik ; yaitu sebagai jalur demi menggapai cita-cita bersama. Dan untuk menggerakkan mesin politik dimaksud, dibutuhkan kekuasaan yang kepadanya melekat hak dan kewajiban dalam membaharui tatanan hidup bersama. Jadi kekuasaan tak lain dan tak bukan adalah alat bersama. Memburu kekuasaan semata bukanlah sikap politik yang cerdas. Kekuasaan bukanlah segala-galanya. Gerak politik yang justru memburu kekuasaan dengan memakai kaca mata kuda adalah gerak politik anti nalar. Tak heran, pola pikir elit yang justru mengabaikan kompleksitas konteks penderitaan rakyat. Logika formal untuk menjawab kegelisahan rakyat menjadi kabur. Tidak ada hukum kausal antara aspirasi rakyat dan kehadiran elit. Pembentukan koalisipun identik dengan perilaku sesat pikir. Jalur di jalan pintas. Pembicaraan yang lepas konteks. Memanipulasi emosi rakyat. Membangun retorika politik ketimbang intelektualitas sejati. Tidak ada pencerahan politik. Munculnya Parpol-parpol Prospektif Parpol -parpol telah berkiprah dalam dua kali pesta demokrasi (1999 dan 2004), telah menunjukkan kecenderungannya masing-masing. Partai-partai yang ada sambunganya dengan zaman Orde Baru, artinya telah ada persiapan panjang, ternyata masih amat eksis: Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tetapi muncul parpol-parpol yang prospektif, semacam Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ada pula parpol yang kelihatannya massanya tidak akan berkembang jauh, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang konstituen utamanya kaum Nadhliyyin serta Partai Amanat Nasional (PAN) yang basis pendukung tradisionalnya kalangan Muhammadiyah. Tapi ada lagi fenomena yang cukup mengejutkan, muncul sebagai kekuatan politik utama dalam Pemilu 2004, yakni Partai Demokrat melambung bersama popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sementara parpol-parpol lain kelihatan masih tergagapgagap menyesuaikan diri. Pergeseran seperti itu, masih tetap membias dalam praktek politik multi partai era reformasi, sekelompok orang beramai-ramai mendirikan partai politik, dengan rumusan flaform yang begitu ideal, tetapi kenyataannya dari sekitar 10 partai politik yang mampu mencapai tujuan untuk memposisikan elit-nya di sejumlah lembaga legislatif di tanah air, secara praksis ikut-ikutan terjebak dalam menjalankan fungsi-fungsi keterwakilannya. Belum lagi menyebut peranan partai politik itu sendiri, platform kemudian hanya menjadi rumusan ideal di atas kertas, tanpa ada lagi korelasinya dengan program pencapaiannya.

Ramai-ramai berprogram menjelang pelaksanaan pemilu, semata hanya untuk tujuan mengakses kader-kadernya dalam pencapaian tujuan partai politik, pasca pemilu aktivitas partai politik ikut menurun kalau tidak dikatakan terhenti padahal idealnya sejarah partai politik didirikan untuk menjalankan fungsi-fungsinya, sementara untuk pencapaian tujuan adalah sasaran antara. Partai politik idealnya harus bergerak secara terus menerus untuk menjalankan aktivitasnya untuk menjalankan fungsi-fungsinya untuk mengakses problematika sosial yang dihadapi masyarakatnya, untuk dapat diartikulasikan dan diperjuangkan para wakil-wakilnya di parlemen. Pakar ilmu politik ternama dari Universitas Indonesia Miriam Budiardjo mengemukakan setidak-tidaknya ada empat fungsi partai politik, yaitu; (1) sebagai sarana komunikasi politik; (2) sebagai sarana sosialisasi politik, (3) sebagai sarana rekruitmen politik; dan (4) sebagai sarana pengatur konflik. Peran Partai Politik: rakyat sebagai Subyek dan Obyek Peluang yang besar pada parpol dalam menentukan merah-birunya perpolitikan nasional dan lokal, seharusnya tidak boleh dibaca hanya dari satu sudut pandang. Kacamata pandang negatif dan ini sesuai dengan subyektivitas parpol, cenderung melihat segala sesuatunya (stake holder), apalagi rakyat (yang abstrak itu) sebagai obyek yang ditentukan. Oleh sebab itu, dapat dimaklumi bila ada pejabat puncak parpol yang mengatakan bahwa upaya pemenangan pemilu lebih merupakan urusan teknis yang dilakukan pada bulan-bulan menjelang pemilu. Kalau pemilu masih jauh, maka parpol seyogyanya berkonsentrasi ke masalah-masalah lain yang tidak ada kaitannya dengan apakah kegiatannya populer atau tidak di mata rakyat atau konstituen. Masalah-masalah lain yang dimaksud, antara lain bagaimana mengisi pundi-pundi parpol, untuk kelak maju pemilu. Tidak salah pandangan demikian, tetapi tentunya amat berisiko mungkin akan mempercepat kematiannya. Kacamata pandang positif adalah sebaliknya. Rakyat atau konstituen adalah subjek. Cara pandang model begini tidak mentang-mentang. Sehingga parpol akan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak semata mobilisasi, tetapi kaderisasi, mengingat parpol bertangungjawab atas suplai sumber daya manusia, untuk disodorkan sebagai penentu kebijakan publik. Kalau demikian, maka profesionalisme parpol diutamakan. Parpol memang hanya alat politik para elite atau aktor politik yang ada di dalamnya, tetapi seyogyanya ia didesain bukan temporer tetapi jangka panjang (abadi) sehingga parpol tidak terbajak justru oleh elitenya sendiri. Idealnya, keberadaan partai politik dibedakan atas dua peranan; yaitu “tujuan” di satu sisi, dan “fungsi” pada sisi yang lain, meskipun kenyataannya pem-bedaan itu semakin dikaburkan. Tujuan partai politik, adalah sarana untuk mencapai kedudukan atas dukungan pengikut dan pendukungnya. Sementara fungsi partai politik adalah untuk memperjuangkan aspirasi bagi kesejahteraan para pengikut dan pendukungnya, yang telah mempercayakan kepadanya melalui pemberian suara dalam pelaksanaan pemilu. Jika pembedaan antara tujuan dan fungsi itu coba disepadankan dengan realitas dalam praktek politik, maka berdasar kesimpulan empiris terutama dalam tradisi politik keIndonesia-an kontemporer ternyata peranan partai politik mengalami pergeseran.

Para elit dan pelaku politik lebih mengedepankan tujuan partai politik ketimbang pada fungsinnya, yang justru dijadikan hal yang kesekian. Akibatnya, rakyat pemilih sebagai konstituen pemegang kedaulatan atas pilihan politik diposisikan semata untuk di eksploitir sebagai alat legitimasi atas posisi kedudukan yang diraih elitnya. Dalam prakteknya, partai politik lebih berorientasi tujuan daripada proses. Pembuktian terhadap kenyataan seperti itu, semakin nyata di Indonesia dimasa kepemimpinan era orde baru, dengan politik massa mengambang (floating mass). Pada masa itu, pilihan rakyat didasarkan atas order dari kekuasaan yang dimobilisasi secara sistemik melalui otoritas kekuasaan single majority, maupun dengan praktek mobilisasi massa dengan jargon-jargon verbal yang mengawang-awang. Misalnya melalui praktek money politic untuk upaya pemenuhan kebutuhan rakyat secara jangka pendek, serta upaya peningkatan kesejahteraan rakyat secara jangka panjang dalam bentuk harapan-harapan yang terlalu sulit untuk menunggu realisasi sebagai pembuktiannya. Berebut kursi legislative Perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan bukanlah untuk kemuliaan kekuasaan itu sendiri. Secara konseptual, kekuasaan adalah instrumen untuk mencapai dua tujuan. Ia dapat digunakan sebagai instrumen untuk perubahan atau sebaliknya sebagai alat untuk melestarikan status quo. Kalau kita sepakat dengan konseptualisasi seperti ini, demokrasi sebagai mekanisme untuk memperoleh kekuasaan juga tidak luput dari kemungkinan dua tujuan ini. Ia dapat menjadi suatu mekanisme yang melahirkan harapan, tetapi sekaligus dapat mengubah dirinya menjadi ”ibu” keputusasaan. Sepertinya ada sikap institusi yang kurang peduli terhadap capresnya. Hakikatnya hal ini lebih disebabkan para pe-tinggi partai yang sudah merasa aman berhasil menduduki kursi legislatif. Tim sukses capres-cawapres rupanya mencium suasana jiwa caleg terpilih ini. Mereka yang sudah lolos pemilu 5 April tidak peduli terhadap pemilu capres-cawapres lantaran calon terpilih legislatif merasa nasibnya sudah aman untuk duduk di kursi DPR/DPRD. Pada tingkat individu banyak disuarakan oleh para kandidat legislatif seolah mereka berjuang sendirian saja untuk mengumpulkan suara dalam rangka meraih kursi legislatif. Mereka beranggapan bahwa penentuan nomor urut lebih ditentukan kelihaian lobi dan jumlah duit daripada dedikasi aktivis terhadap parpolnya. Karena itu saat terpilih, mereka merasa bahwa kemenangannya adalah merupakan jerih payahnya sendiri dalam mengumpulkan suara pemilih. Dalam hal ini, caleg yang tidak terpilih dianggap tim sukses masa bodoh terhadap kerja tim sukses. Diasumsikan, mereka merasa habis arang besi binasa, dana dan tenaga sudah dikuras untuk memenangkan kursi legislatif, tapi yang tersisa adalah capek dan utang bekas biaya kampanye. Sungguh tidak sederhana memanaj partai politik, walaupun kuncinya sama-sama mereka ketahui dan pahami yakni keterbukaan atau transparansi dalam mengelola partai. Pragmatisme yang sifatnya personal sebagaimana dikemukakan di atas, juga merasuk pada parpol sebagai institusi. Kekuasaan sebagai target yang harus dicapai oleh parpol dijadikan sasaran utama tanpa peduli terhadap ideologi, norma dan malah etika. Kisah tentang keputusan musyawarah parpol yang berasaskan Islam menggiring ketua parpolnya untuk jadi "penunggu lamaran", dan taat asas untuk terus menerus menunggu lamaran dicawapreskan, menunjukkan betapa harga diri pimpinan parpol (dan

kemudian membawa jatuh martabat parpolnya) sudah demikian rendah di hadapan pemain politik. Pergeseran dari harapan menjadi keputusasaan dalam sistem politik yang demokratis tidaklah terjadi secara otomatis, tetapi dalam suatu proses panjang. Secara hipotetis, ia akan muncul ke permukaan jika peta kekuasaan tergambar sangat dinamis, sedangkan peta kemiskinan terbingkai dalam lukisan statis. Kasus Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan adanya kecenderungan untuk membenarkan kalimat hipotetis ini melalui dua indikasi berikut. Pertama, tidak ada satu pun basis kekuatan politik partai yang dapat berkuasa tanpa melakukan koalisi. Kasus kejatuhan pemerintahan Gus Dur, disusul dengan kekalahan Megawati pada Pemilu 2004, dan dilanjutkan oleh SBY melalui pembentukan kabinet ”presidensial dengan gaya parlementer”, kesemuanya memberikan ”pelajaran” betapa dinamisnya peta politik negeri ini. Tidak hanya di tataran nasional, di tingkat lokal situasi serupa bisa juga ditemukan. Beberapa pemilihan kepala daerah telah dilakukan melalui ”koalisi melawan akal sehat”. Dinamika peta koalisi politik yang ”irasional secara ideologis” ini bahkan semakin tinggi pada musim kampanye sekarang. Pembicaraan ”tingkat tinggi” tentang pembentukan koalisi di antara partai-partai tertentu sesungguhnya telah menghilangkan basis perbedaan ideologis di antara mereka. Secara sekilas pembicaraan ”tingkat tinggi” lintas ”ideologi” untuk pembentukan koalisi itu memang dapat saja menyampaikan pesan bahwa elite partai telah berperilaku sebagai ”negarawan” yang lebih memprioritaskan ”kepentingan rakyat yang lebih luas” daripada kepentingan ideologi partainya. Namun, pada saat yang sama, pola pembentukan koalisi lintas ideologi itu dapat juga menyampaikan pesan yang sangat bertolak belakang. Ia juga merefleksikan pragmatisme politik nonideologis yang sangat luar biasa oleh para elite partai. Dalam upaya mendapatkan kekuasaan, ideologi bagi para elite partai hanyalah hiasan aksesori yang tidak harus terus dipakai. Kedua, tidak ada perubahan yang sangat mendasar dalam peta kemiskinan kita. Debat tentang seberapa besar jumlah angka kemiskinan sesungguhnya tidak relevan untuk menyatakan peta kemiskinan telah mengalami perubahan di negeri ini. Sesungguhnya, hampir tidak ada peta geografis Indonesia yang tidak luput dari rendahnya kualitas pembangunan manusia. Beberapa wilayah geografis itu, seperti Aceh dan Papua, bahkan memiliki kantong-kantong geografis yang menggambarkan persoalan kemiskinan yang masif. Laporan resmi tentang target pembangunan milenium yang harus dicapai Indonesia pada 2015 sesungguhnya mengindikasikan perjuangan yang sangat berat untuk mengubah peta kemiskinan ini. Beberapa target itu antara lain menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah 1 dollar AS per hari menjadi setengahnya. Angka resmi pemerintah untuk jumlah penduduk miskin di bawah 1 dollar AS ini pada 2004 sebesar 36,15 juta. KEPUSTAKAAN Achmad An'am Tamrin Demokrasi “voorskot”: strategi resistensi terhadap politik uang, Wednesday, 01 April 2009 20:44, http://www.jakartabeat.net/politika Achwan, Rochman, "Good Governance": Manifesto Politik Abad Ke-21 , google 2010

Administrator, Peran Pemuda Terjebak Pragmatisme Sesaat , 05 August 2009, http://www.hmifebugm.com Admin, Pragmatisme Partai Ancam Bangsa, 08 Apr 2010 admin on Sun, 02/15/2009, Hak Asasi Manusia dalam Bayang-bayang Pragmatisme, Litbang Kompas, http://cetak.kompas.com/read/ Admin(2008), Politik yang Berorientasi Nilai: Kuliah Umum Akbar Tandjung di SSS Jakarta, 7 Juni 2005 Akbar Tandjung Chairman Akbar Tandjung Institute. Ahmad Suaedy(2008) Peta Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia: Masa Depan Islam Indonesia, http://www.gusdur.net Alfan Alfian, Dilema Golkar, Dilema Jusuf Kalla, Selasa, 06 November 2007 ariedjito, Orde (paling) Baru , Wednesday, 07 May 2008 Budi Mulyana, Pragmatisme Polugri Indonesia, google 2010. Chazizah Gusnita , Artis Jadi Caleg, Politik Indonesia Pragmatis, detikNews, Kamis, 17/07/2008 08:49 WIB Dimas Bagus Wiranata Kusuma , Pragmatisme Politik Pemuda, Thursday, 15 October 2009 09:11 Duesseldorf, Nov 8, '06 4:13 AM, http://ediwahyu.multiply.com/journal/ Dodi Ambardi, IDEOLOGI, KONSTITUEN, DAN PROGRAM PARPOL, Bukit Talita, 27 Februari - 1 Maret 2009freedom.institute.org/id Ediwahyu, Mendayung Diantara Dua Karang: Pemuda, Nasionalisme dan Pragmatisme, ediwahyu.multiply.com/journal Endrizal, MA, Century, Koalisi dan Pragmatisme Politik, 02 Maret 2010 | BP Erlangga Ida Fauziah , Julia Perez Wujud Pragmatisme, Selasa, 06/04/2010 Iwan Januar , BAHAYA PRAGMATISME, Friday, 01 May 2009, KapanLagi.com Makmur Keliat, Peta Kekuasaan dan Kemiskinan, 2009 08 Tuesday, 31 March:01 Kompas Marinus W, Koalisi Pragmatisme Vs Koalisi Deontologisme, . (Artikel April, 2009) Masdiana, Sarana Pragmatisme Politik, 06 april 2009 ,http://m.suaramerdeka.com/ Max Regus , "Pragmatisme Religius", Menuju Sinkretisme Destruktif? , : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0410/15/opini/1262288.htm M. Fadjroel Rahman, 2001 Pelopor dan Pengawal Revolusi Demokrasi: Gerakan Mahasiswa Sebagai Gerakan Politik Nilai, PSJ, 2001. Nova Kurniawan, Pragmatisme Politik ‘09, Maret 26, 2009, Nova Kurniawan's Weblog NU Online , Ideologi Modal Jadikan Pragmatisme Politik , Kamis, 17 Juli 2008 Pandu Oscar Siagian , Koalisi dalam Ruang Pragmatisme Elit, Redaksi on Mei 5th, 2009 Peter G. Riddel, "The Diverse Voices of Political Islam in Post-Suharto Indonesia", Islam and Christian - Muslim Relations, Vol. 13, No. 1, 2002, hlm. 65 – 83 Redaksi(2008), Maklumat Politik Indonesia, 11 Aug , http://swaramuslim.net/ Utama Manggala(2007), Memilih Demokrasi untuk Indonesia, October 8. Sanusi Uwes PR(2009), Pragmatisme Partai Politik dan Bendera Islam , Thursday, 15 October. Todung Mulya Lubis(2008), Negara Pragmatis, Thu Nov 20. VIVAnews , Politik Kartel Atau Dinasti? Indonesia pasca reformasi bergerak ke arah format poltik baru. Perlu kritik dan refleksi. Dari Diskusi P2D, Senin, 26 Oktober 2009, 10:05 WIB Wishnugroho akbar(2010), Birokrasi Harus Steril dari Kepentingan Politik, Jakarta

Wemmy al-Fadhli , Fenomena Koalisi Pragmatis, Monday, 27 April 2009 20:33 Woodward, M., (Summer-Fall 2001), "Indonesia, Islam and the Prospect of Democracy" SAIS Review Vol. XXI, No. 2, hlm. 29-37. Zaenal Abidin EP, Majelis Ulama Indonesia: Pelanggeng Pragmatisme Religius, 24 Pebruari 2006 M Ismail Yusanto: Pragmatisme Menggusur Idealisme Islam, Monday, 10 August 2009 Afan Gaffar. Javanese Voters: A Case of Election Under A Hegemonic Party System, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992. A. S. Hikam. Demokrasi dan Civil Society, LP3S, Jakarta,1996 Burhanuddin (Editor), Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia, INCIS, Jakarta 2003. Carl J. Friedrich. Constitutional Governt and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Waltham, Mass : Blaisdell Publishing Company, 1967. Miriam Budiardjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1988. Jakob Oetama.Perspektif Pers Indonesia?, LP3S, Jakarta 1987. Max Webwr. Wirschaft und Gesellschaft, Tuebingen, JCB Mohr, 1956. (khususnya pada Bab I) Ignas Kleden. Budaya Politik atau Moralitas Politik, (Artikel), Harian Kompas, 12 Maret 1998. Ben Anderson. The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1945 (Disertasi) pada Universitas Cornell Amerika Serikat, 1967. Frans Neumann (Ed). Politische Theorien und Ideologien, Baden-baden, Signal-Verlag. Idrus Marham, Pemuda dan Jebakan Penjara Pragmatisme, Artikel dalam Jurnal Resonansi, volume 1 nomor 2 tahun 2003. Anderson, Benedict dan Audrey Kahin (eds.), Interpreting Indonesian Politics: Thirteen Contribution to the Debate. New York: Cornell Modern Indonesia Project, 1982.Booth, Anne dan Peter McCawley (eds.), Boediono (penerjemah), Ekonomi Orde Baru: The Indonesian Economics During the Soeharto Era Jakarta: LP3ES, 1981. Crouch, Harold, The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978. Hill, Hal (ed), Indonesia’s New Order: The Dynamics of Socio-Economic Transformation. Honolulu: University of Hawaii Press, 1994.Karim, Muhammad Rusli, Peranan ABRI dalam Politik dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Politik di Indonesia (1965-1979), Jakarta: Yayasan Idayu, 1981.Liddle, R. William, Cultural and Class Politics in New Order Indonesia. Singapore, Institute of Southeast Asian Studies, 1977. Mas’oed, Mohtar, Negara, Kapital dan Demokrasi. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1994. Pabottinggi, Mochtar Sihbudi, Syamsuddin Haris, Riza (eds), Menelaah Kembali Format Politik Orde Baru. Jakarta: PPW-LIPI Yayasan Insan Politika, 1995. Sanit, Arbi, Sistem Politik Indonesia: Penghampiran dan Lingkungan. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial & FIS-UI, 1980. Van Der Kroef, J.M., Indonesia after Sukarno. Van Couver: Univ. of British Columbia Press, 1971. Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Effendy, Onong Uchjana. 1989. Kamus Komunikasi. Bandung: Mandar Maju, hlm 264. Kam. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3 – Cetakan 1. Jakarta: Balai Pustaka, hlm 828. Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study: A Biographical Approach. New York:The Free Press. West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Buku 1 edisi ke-3. Terjemahan. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika. Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan ke-3. Jakarta: PT. Grasindo-Gramedia Widiasarana Indonesia. Afan Gaffar. “Javanese Voters: A Case of Election Under A Hegemonic Party System”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1992. A. S. Hikam. “Demokrasi dan Civil Society”, LP3S, Jakarta,1996 Burhanuddin (Editor), “Mencari Akar Kultural Civil Society di Indonesia”, INCIS, Jakarta 2003. Carl J. Friedrich. “Constitutional Governt and Democracy: Theory and Practice in Europe and America”, Waltham, Mass : Blaisdell Publishing Company, 1967. Miriam Budiardjo. “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Gramedia, Jakarta, 1988. Jakob Oetama.“Perspektif Pers Indonesia”, LP3S, Jakarta 1987. Max Weber. “Wirschaft und Gesellschaft”, Tuebingen, JCB Mohr, 1956. (khususnya pada Bab I) Ignas Kleden. “Budaya Politik atau Moralitas Politik?”, (Artikel), Harian Kompas, 12 Maret 1998. Ben Anderson. “The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1945” (Disertasi) pada Universitas Cornell Amerika Serikat, 1967. Frans Neumann (Ed). ”Politische Theorien und Ideologien”, Baden-baden, Signal-Verlag. Idrus Marham, “Pemuda dan Jebakan Penjara Pragmatisme”, Artikel dalam Jurnal Resonansi, volume 1 nomor 2 tahun 2003. Harry Truman, Golkar Dalam Pusaran Politik Indonesia, Mar 22, '07 10:24 AM http://adetaris.multiply.com Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. California:Sage Publication Bignell, Jonathan. 2001. Media Semiotics, An Introduction. London: Manchaster University Press Chomsky, Noam dan Edward S. Herman, 1988. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York:Pantheon Currant, James and Michael Gurevitch. 1991. Mass Media and Society .London :Edward Arnold Curran, James and Richard Collins, 1986. Media, Culture and Society: A Critical Reader. London:Sage Publication Denzin, Norman K. (eds). 2000. Handbook of Qualitative Research. California:Sage Public Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisa Teks Media. Yogyakarta:LKIS Fairclough, Norman. 1998. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London:Longman Fairclough, Norman. 1995. Media Discourse. New York:Edward Arnold Fiske, John. 1982. Introduction of Communication Studies. London:Routledge

Guba, Egon. G,. 1990. The Paradigm Dialog. New York:Sage Books Hall, Stuart. 1992. Culture, Media dan Language. London:Routledge Hardiman, Budi Francisco, 1990. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta:Kanisius Kolakowski, Leszek. 1978. Main Currents of Marxisme III. Oxford:Clarendon Press Latif, Yid dan Idi Subandy Ibrahim (eds). 1996. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Jakarta:Mizan Littlejohn, Stephen. 2002. Theories of Human Communication. California:Wadsworth Publishing Company Lull, James. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaan; Suatu Pendekatan Global. Jakarta:YOI Magnis-Suseno, Franz. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:Kanisius Magnis-Suseno, Franz. 1991. Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral dan Dasar Kenegaraan modern. Jakarta:Gramedia Mannheim, Karl. 1979. Ideologi dan Utopia. An Introduction to the Sociology of Knowledge. London:Routledge Mcdonnell, Diane. 1986. Theories of Discourse: An Introduction. Oxford:Basil Blackwall Mcquail, Dennis (ed). 2002. McQuail’s Reader in Mass Communication Theory. London:Sage Publications Mills, Sara. 1991. Discourse. London:Routledge Neuman, Lawrence W. 2000. Social Research Methods. London:Allyn and Bacon Raboy, Marc dan Bernard Dagenais (eds). 1995. Media, Crisis and Democracy: Mass Communication and the Disruption of Social Order. London:Sage Publication Reese, Stephen D,. 2001. Framing Public Life. New Jersey:Lawrence Earlbaum Publisher Riggins, Stephen H,. 1997. The Language and Politics of Exclusion: Others in Discourse. London:Sage Publication Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study. New York:The Free Press Saverin, Werner. 1997. Communication Theories: Origins, Methods and Uses in the Mass Media. New York:Longman Sen, Krishna dan David T. Hill. 2001. Media, Budaya dan Politik di Indonesia. Jakarta:PT Media Lintas Inti Nusantara Shoemaker, Pamela cs (eds). 1991. Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. London:Longman Group Shoemaker, Pamela cs (eds). 1996. Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. London:Longman Group Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya Wimmer, Roger D. 2000. Mass Media Research: An Introduction. Singapore:Wadsworth PC Vatikionis, Michail R.J. 1993. Indonesian Politics under Soeharto, Order, Development and Pressure for Change. New York:Routledge Almond, Gabriel A. and G Bingham Powell, Jr., Comparative Politics: A Developmental Approach . New Delhi, Oxford & IBH Publishing Co, 1976

Anderson, Benedict, R. O’G., Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia . Ithaca: Cornell University Press, 1990. Emmerson, Donald, K., Indonesia’s Elite: Political Culture and Cultural Politics. London: Cornell University Press, 1976. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pokok-pokok pikiran sekitar penyelenggaraan pemilu 1987: Laporan Kedua, Bagian I, Transformasi Budaya Politik. Jakarta: LIPI, 1987. Rosenbaum, Wolter, A., Political Culture, Princeton. Praeger, 1975. Suryadinata, Leo, Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik . Jakarta: LP3ES, 1992. Widjaya, Albert, Budaya Politik dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: LP3ES, 1982

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->