TUGAS MATA KULIAH ± PERPAJAKAN Dosen : Dr. Waluyo, Ak.

MSc

Drs. Puspahadi Bunyamin, MS

Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali

Oleh:

KELOMPOK I

UNIVERSITAS MERCU BUANA PROGRAM STUDI MAGISTER AKUTANSI 2009

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUTANSI ANGKATAN IV KELOMPOK I: Indah Sri Rejeki Intansuri Syafei Fuad Iskandar Retno Sukowati Abdoel Rahman 55508120022 55508120016 55508120015 55508120009 55508120006 .

dan peninjauan kembali. tidak semuanya disetujui oleh Wajib Pajak. Penyelesaian sengketa pajak pada hakekatnya harus didasarkan pada keadilan dan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi penerimaan negara. memperhitungkan. Cara-cara tersebut tempuh agar hak Wajib Pajak maupun negara dapat dijamin dengan adanya keadilan dan kepastian hukum. maka diperlukan sarana untuk melakukan pengawasan. Atas produk hukum yang dihasilkan dari pemeriksaan maupun yang bukan dari pemeriksaan. Sengketa Pajak yang timbul antara fiskus dan Wajib Pajak dapat diselesaikan dengan cara keberatan. disetor. i . apa yang telah dihitung. kecuali fiskus mempunyai data/informasi yang mengindikasikan bahwa laporan tersebut salah. banding. Ketidaksetujuan ini menimbulkan suatu perselisihan yang biasa disebut sengketa pajak. Dalam melakukan pemeriksaan pajak. Dengan sistem self assessment. dan Surat Tagihan Pajak (STP). Pemeriksaan pajak merupakan salah satu sarana yang tujuannya adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.ABSTRAK Kelompok I (MAKSI IV UMB) Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). disetor. dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan dari fiskus karena wajib pajak dianggap paling tahu mengenai penghasilannya sendiri. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). dan dilaporkan oleh Wajib Pajak dianggap benar oleh fiskus. dan Peninjauan Kembali i+11 halaman+ 2 gambar Sistem self assessment yang kita anut memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menghitung. fiskus menghasilkan beberapa produk hukum antara lain Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). dan dilaporkan Wajib Pajak sudah benar. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). Banding. Terjaminnya hak Wajib Pajak maupun pemerintah merupakan goal yang ingin dicapai dengan terbitnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. menyetor. Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apa yang dihitung.

Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apa yang dihitung. banding. memperhitungkan. maka diperlukan sarana untuk melakukan pengawasan. dan Surat Tagihan Pajak (STP). dan dilaporkan Wajib Pajak sudah benar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). disetor. Cara-cara tersebut tempuh agar hak Wajib Pajak maupun negara dapat dijamin dengan adanya keadilan dan kepastian hukum. Dengan sistem self assessment. Pendahuluan Dalam rangka pemulihan ekonomi akibat dampak krisis global. Terjadinya Sengketa Pajak Berdasarkan Pasal 1 ayat (5) Undang-undang Pengadilan Pajak. Prinsip dasar perpajakan yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan adalah sistem yang berdasarkan azas keadilan. sebagaimana diketahui peranan penerimaan pajak merupakan tulang punggung bagi penerimaan negara yang akan menjamin kesinambungan kehidupan negara. tidak semuanya disetujui oleh Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). Dalam melakukan pemeriksaan pajak. Ketidaksetujuan ini menimbulkan suatu perselisihan yang biasa disebut sengketa pajak. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak atau penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat . fiskus menghasilkan beberapa produk hukum antara lain Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Sistem self assessment yang kita anut memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menghitung. dan peninjauan kembali. pemerintah memerlukan dukungan kebijakan fiskal yang sehat dan kredibel untuk menghindari ketergantungan dengan pinjaman luar negeri. dan dilaporkan oleh Wajib Pajak dianggap benar oleh fiskus. menyetor. dan Peninjauan Kembali (Kelompok I MAKSI IV UMB) A. Banding. disetor. kepastian hukum dan kesederhanaan. Kebijakan fiskal yang baik juga dapat mendukung bangkitnya sektor riil yang akan memacu pertumbuhan ekonomi kita. apa yang telah dihitung. Atas produk hukum yang dihasilkan dari pemeriksaan maupun yang bukan dari pemeriksaan. dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan dari fiskus karena wajib pajak dianggap paling tahu mengenai penghasilannya sendiri. B.Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan. Sengketa Pajak yang timbul antara fiskus dan Wajib Pajak dapat diselesaikan dengan cara keberatan. kecuali fiskus mempunyai data/informasi yang mengindikasikan bahwa laporan tersebut salah. Pemeriksaan pajak merupakan salah satu sarana yang tujuannya adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Sengketa banding dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Sengketa Formal Sengketa formal timbul apabila WP atau fiscus atau keduanya tidak mematuhi prosedur dan tata cara yang telah ditetapkan oleh UU perpajakan. Sengketa banding bisa menyangkut masalah formal maupun material. Kesemuanya itu dapat mengakibatkan jumlah pajak yang ditetapkan oleh fiscus menjadi berbeda dibandingkan dengan jumlah pajak menurut perhitunan Wajib Pajak. Seperti halnya dengan keberatan. dll.dengan jumlah menurut perhitungan Wajib Pajak. Sengketa pajak dapat terjadi karena perbedaan cara pandang antara Wajib Pajak dan fiskus tentang jumlah pajak terutang. Sengketa pajak biasanya terjadi ketika Wajib Pajak keberatan atas produk hukum yang diterbitkan oleh otoritas pajak baik melalui pemeriksaan dengan SKP dan STP maupun dengan cara lain. Sengketa Material Sengketa material atau lazim disebut materi sengketa terjadi apabila terdapat perbedaan jumlah pajak yang terutang atau terdapat perbedaan jumlah pajak yang lebih dibayar (dalam kasus restitusi) menurut perhitungan fiscus yang tercantum pada ketetapan pajak.diajukan banding atau gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundangundangan perpajakan. namun kebanyakan Wajib Pajak menyangka sengketa banding hanya menyangkut sengketa material. Contohnya fiskus menerbitkan SKP atau Surat Keputusan Keberatan setelah melampaui jangka waktu yang ditetapkan. Apabila fiskus melanggar ketentuan tersebut. Perbedaan tersebut bisa timbul karena adanya perbedaan pendapat mengenai : · Dasar hukum yang seharusnya digunakan . Contohnya WP tidak mengajukan keberatan atau banding dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. penerbitan ketetapan pajak. maka pelanggaran itulah yang menimbulkan sengketa formal dari pihak fiskus. sehingga seringkali tidak disadari bahwa sengketa mungkin sudah berawal saat fiskus mulai melaksanakan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan. Dan perbedaan jumlah pajak menurut fiscus dengan WP itulah yang merupakan sengketa material. UU KUP telah menetapkan dan prosedur tata cara pemeriksaan pajak. Wajib Pajak atau penanggung pajaklah yang harus mengajukan permohonan banding. · Perselisihan atas suatu transaksi tertentu . termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan dengan Surat Paksa . Di lain pihak. sengketa formal dari pihak WP bisa terjadi apabila WP tidak melaksanakan prosedur dan tata cara yang ditetapkan dalam UU KUP maupun UU Pengadilan pajak. · Persepsi atas ketentuan peraturan pajak . b. terutama gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sengketa pajak dalam proses banding atau sering disebut sengketa banding adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara wajib pajak dengan fiskus mengenai keputusan keberatan yang tidak disetujui oleh wajib pajak. . banding dan peninjauan kembali. khususnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. sempai penerbitan keputusan keberatan. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan sengketa ini diantaranya dengan keberatan. Bagi fiskus.

C. Gambar 1. yang dapat mengakibatkan pajak terutang menjadi kurang bayar. atau nihil. serta hak dan kewajiban wajib pajak apabila keberatan dan banding diterima atau ditolak. Dalam hal ini. permohonan banding WP dapat diterima seluruhnya atau diterima sebagian. tergantung hasil pemeriksaan keseluruhan oleh hakim pengadilan pajak. Skema Penyelesaian Sengketa Pajak Hak wajib pajak untuk meminta keadilan atas materi yang menjadi sengketa pajak dijamin dalam Undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007. Dalam mengajukan pemohonan keberatan dan banding ada resiko ditolak oleh pihak yang berwenang baik karena tidak memenuhi syarat formal maupun material. Jika Wajib Pajak tidak sependapat maka dapat mengajukan keberatan atas surat ketetapan tersebut. 28 Tahun 2007 maka Wajib Pajak akan dikenakan denda. Dalam proses banding. Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. maka pengadilan pajak dapat menyatakan ketetapan pajak ataupun keputusan keberatan harus batal demi hukum. Sebaliknya apabila ketetapan pajak atau keputusan keberatan tidak memenuhi ketentuan formal. Dalam Undang-undang KUP mengatur mengenai tata cara pengajuan keberatan dan banding.Baik Sengketa formal maupun sengketa material sangat menentukan hasil akhir putusan banding. Permohonan banding tidak akan diproses lebih lanjut oleh pengadilan pajak tanpa pemeriksaan materi sengketa apabila banding WP tidak memenuhi ketentuan formal yang telah ditetapkan. Berdasarkan Pasal 25 ayat (9) UU KUP. Wajib Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar . lebih bayar. Dalam hal terjadinya keberatan dan banding yang ditolak berdasarkan perubahan Undang-undang KUP No. maka akan diterbitkan suatu surat ketetapan pajak. Proses Penyelesaian Sengketa Pajak Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Selanjutnya apabila belum puas atas putusan keberatan maka Wajib Pajak dapat mengajukan banding dan langkah terakhir apabila banding ditolak adalah peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. hakim akan melakukan pemeriksaan formal terlebih dahulu sebelum mulai memeriksa materi sengketa.

Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak surat ketetapan pajak. kecuali Wajib Pajak menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena di luar kekuasaannya. Apabila Wajib Pajak mengajukan banding maka denda sebesar 50% tersebut tidak dikenakan. Syarat pengajuan keberatan bisa diringkas sebagai berikut: a. Dalam hal terjadinya hal-hal diluar kekuasaan Wajib Pajak yang menyebabkan terjadinya keterlambatan permohonan keberatan masih bisa diterima oleh Direktorat Jenderal Pajak. Mengajukan surat keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak c. surat keberatan tidak diproses karena tidak memenuhi syarat formal. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat. c. SKPN. sehingga tidak dipertimbangkan. Dalam Pasal 27 ayat (5d) UU KUP. Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat atas SKPKB.sebelum mengajukan keberatan . Dalam hal mengajukan keberatan Wajib Pajak harus melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. sebelum surat keberatan disampaikan. Wajib Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan . dan Pemotongan dan Pemungutan oleh pihak ketiga. Berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UU KUP. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak terutang menurut perhitungan Wajib Pajak dengan menyebutkan alasan-alasan yang jelas. d.) Keberatan Berdasarkan Pasal 25 ayat (3) UU KUP. Direktorat Jenderal Pajak wajib memberikan keputusan keberatan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat keberatan diterima. tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Keberatan yang tidak memenuhi persyratan di atas tidak dianggap sebagai Surat Keberatan.) Banding Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan dengan keputusan keberatan yang diajukannya. 2. kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. maka kelebihan pembayaran pajak tersebut akan dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Dalam hal keberatan dan Banding diterima sebagian atau seluruhnya yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak . Tata cara dalam proses keberatan dan banding adalah sebagai berikut: 1. Tetapi UU KUP juga membolehkan jangka waktu lebih dari tiga bulan jika dalam keadaan diluar kekuasaannya. SKPKBT. maka Wajib Pajak dapat mengajukan banding dengan gugatan ke Badan Peradilan Pajak. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan .q. Jika lewat tiga bulan. b.

SPT. Dalam undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 menyebutkan bahwa jangka waktu pelunasan pajak terutang yang belum dibayar pada saat mengajukan keberatan tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. Surat Permohonan Keberatan. banding dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya. Laporan Keuangan dll) dan Surat Kuasa bermeterai bila diwakili oleh kuasanya. pemohon banding meninggal dunia. kuasa hukum dari ahli warisnya atau pengampunya dalam hal pemohon banding pailit. bukti pelunasan pajak yang terutang yang dibanding. Proses banding dapat diringkas sebagai berikut: y Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia. data dan bukti-bukti pendukung (SKP. seorang pengurus atau kuasa hukumnya.banding hanya kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. y Paling lambat 14 hari sebelum persidangan dimulai. Pemohon Banding harus melengkapi permohonan bandingnya yang kurang lengkap/belum memenuhi persyaratan. pemecahan atau pemekaran usaha atau karena likuidasi dimaksud. Jadi tidak diperbolehkan merangkap beberapa materi sengketa dalam satu permohonan banding. karena penggabungan. Wajib Pajak harus memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar Surat Keputusan Keberatan diterbitkan. Pemohon Banding akan mendapat pemberitahuan sidang. y Ditujukan kepada Badan Peradilan Pajak dengan melampirkan : salinan keputusan yang disbanding. y Paling lambat 3 bulan sejak tanggal diterimanya keputusan yang dibanding. ahli waris. . Dalam mengajukan permohonan banding maka satu keputusan keberatan harus diajukan satu permohonan banding. Badan Peradilan Pajak adalah lembaga yang tidak memiliki hirarki dengan DJP sehingga lebih independen dan kredibel dalam memutuskan suatu sengketa pajak daripada pejabat penelaah keberatan di kanwil DJP. Banding diajukan sendiri oleh pembayar pajak. Apabila selama proses banding. Apabila selama proses banding. permohonan dimaksud dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima dilampiri surat Keputusan Keberatan tersebut. peleburan. peleburan. pemecahan atau pemekaran usaha atau likuidasi. y Paling lambat 14 hari sejak Banding disampaikan Pemohon Banding akan mendapat permintaan kelengkapan apabila banding yang disampaikan ternyata tidak/kurang lengkap. pemohon banding melakukan penggabungan.

Gambar 2. Skema Banding Ringkasan pelaksanaan banding adalah sebagai berikut: .

3. Dalam waktu 14 hari sejak kontra memori peninjauan kembali diterima di Sekretariat Pengadilan Pajak. jangka waktu 14 hari dihitung sejak tanggal diterima surat atau dokumen susulan dimaksud. . maka Wajib Pajak masih memiliki hak mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung.) Peninjauan Kembali (PK) Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan Putusan Banding. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan banding Putusan Banding merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Permohonan Peninjauan Kembali hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak. Pemohon Banding memberikan tanggapan/bantahan atas Surat Uraian Banding yang diterimanya dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya salinan Surat Uraian Banding.1. Catatan penting dalam pengajuan Peninjauan Kembali adalah sebagai berikut: 1. Termohon PK mengirimkan kontra memori peninjauan kembali sejak surat pemberitahuan dan penyerahan memori peninjauan kembali dikirim kepada Termohon PK. Apabila Terbanding atau Pemohon Banding tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud angka 3 dan 5. Terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan. 5. 2. 2. Dalam hal Pemohon Banding melengkapi surat atau dokumen susulan kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. Dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari yang dituntut. Putusan nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 4. Ada suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya. 3. pihak Sekretariat Pengadilan Pajak mengirimkan surat pemberitahuan dan penyerahan kontra memori peninjauan kembali. 2. serta bukan Keputusan Tata Usaha Negara. Dalam waktu 14 hari. 6. 4. Putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada kebohongan atau tipu muslihat. 3. Terbanding menyerahkan Surat Uraian Banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal dikirim Permintaan Surat Uraian Banding. Mahkamah Agung mengambil keputusan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan PK diterima. Alasan-alasan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung antara lain: 1. Salinan Surat Uraian Banding oleh Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dikirimkan kepada Pemohon Banding dalam jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima. Pengajuan permohonan PK dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahuinya kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim Pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap atau ditemukannya bukti tertulis baru atau sejak putusan banding dikirim. pemberitahuan dan penyerahan memori peninjauan kembali tersebut harus sudah dikirim kepada Termohon PK sejak surat permohonan peninjauan kembali diterima di Sekretariat Pengadilan pajak. 3. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak meminta Surat Uraian Banding kepada Terbanding dalam jangka waktu 14 hari sejak diterima Surat Banding lengkap. Dalam waktu 30 hari. 5.

serta proses persidangan belum dilakukan secara cepat. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Analisis Penyelesaian Sengketa Pajak Semakin meningkatnya pemahaman Wajib Pajak. Proses lahirnya kebijakan perpajakan berupa Undang-Undang No. Kelemahan lainnya adalah Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) belum merupakan badan peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman sebagaimana halnya dengan peradilan lainnya. Dalam konsideran Undang-Undang No.4. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dapat dilihat latar belakang lahirnya kebijakan Undang-Undang No. tidak dapat dihindari timbulnya sengketa pajak karena perbedaan persepsi antara Wajib Pajak dan fiskus. Hal ini dapat kita lihat dari keinginan pemerintah untuk mengadakan perubahan dalam penyelesaian sengketa pajak yang dilakukan sebelumnya oleh Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak yang mencari keadialan terhadap sengketa pajak. 14 tahun 2002 tersebut yaitu : . murah dan sederhana. Proses penyelesaian sengketa pajak secara internal di Direktorat Jenderal Pajak adalah Penelaah Keberatan di tingkat Kanwil DJP. Penelaah keberatan dalam kapasitasnya untuk menelaah keberatan Wajib Pajak yang masuk memutuskan dengan menjunjung tinggi azas keadilan dan berdasarkan Undang-undang yang berlaku. D. tidak terlepas dari adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki sistem penyelesaian sengketa dalam bidang perpajakan. Dalam menyelesaikan sengketa pajak ini pemerintah menjamin adanya penyelesaian yang adil. Proses penyelesaian sengketa pajak yang dianggap paling memenuhi rasa keadilan adalah Pengadilan Pajak. Karena hal itu BPSP akhirnya dirubah menjadi Badan Peradilan Pajak yang berdiri di bawah PTUN dan bermuara di Mahkamah Agung sehingga lebih independen dalam memutus perkara.500. murah dan sederhana. dengan proses cepat.000. transparan.00 untuk satu putusan yang diajukan peninjauan kembali sesuai dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/042/SK/VIII/2001 dan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak Nomor : KEP-003/PP/2006. Biaya perkara peninjauan kembali atas Putusan Pengadilan Pajak adalah Rp 2. Namun seringkali Wajib Pajak merasa kurangnya rasa keadilan karena penelaah keberatan sendiri masih berada di bawah DJP sehingga putusannya masih bisa memihak ke hasil pemeriksaan pajak. Selain itu pula ada tuntutan-tuntutan dari pihak yang bersengketa baik Wajib Pajak maupun Fiskus bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) belum memberi jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi pihak yang bersengketa.

Undang-Undang No. juga berupa mengabulkan sebagian. Lain halnya dengan Badan Penyelesaian Sengketa yang persidangannya dinyatakan tertutup untuk umum ( Pasal 49 ayat 1 UU No. Bahwa karena diperlukan suatu Pengadilan Pajak yang sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia dan mampu menciptakan keadilan dan kepastian hukum dalam penyelesaian Sengketa Pajak. cepat dan biaya ringan. Sengketa yang diproses dalam Pengadilan Pajak khusus menyangkut sengketa perpajakan. . Hal ini sesuai dengan prinsip penyelesaian perkara yang dilakukan dengan sederhana. Sidang peradilan Pajak pada prinsipnya dilaksanakan secara terbuka. berupa hitungan secara teknis perpajakan. 3. Penyelesaian sengketa perpajakan memerlukan tenaga-tenaga Hakim khusus yang mempunyai keahlian di bidang perpajakan dan berijazah Sarjana Hukum atau Sarjana lain. tempat sidang dapat dilakukan ditempat lain. sedangkan pembacaan putusan Hakim Pengadilan Pajak dilaksanakan dalam sidang yang terbuka untuk umum. berkedudukan di Ibukota Negara sedangkan sidangnya pada hakekatnya dilakukan ditempat kedudukannya namun dengan pertimbangan untuk memperlancar dan mempercepat penanganan sengketa pajak. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak bersifat khusus yang menyangkut acara penyelenggaraan persidanggan sengketa perpajakan yaitu : 1.y y y y Bahwa untuk melaksanakan pembangunan nasional yang berkesinambungan dan berkelanjutan serta merata di seluruh tanah air memerlukan dana yang memadai terutama dari sumber perpajakan. sehingga Wajib Pajak langsung memperoleh kepastian hukum tentang besarnya Pajak terutang yang dikenakan kepadanya. Bahwa dengan meningkatnya jumlah Wajib Pajak dan pemahaman akan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak dapat dihindarkan timbulnya Sengketa Pajak yang memerlukan penyelesaian yang adil dengan prosedur dan proses yang cepat. Sebagai konsekuensi dari kekhususan tersebut dalam undang-undang nomor 14 tahun 2002 diatur hukum secara tersendiri untuk menyelenggarakan pengadilan pajak. baik ditingkat Pengadilan Pajak maupun ditingkat Mahkamah Agung. atau menambah jumlah pajak yang masih harus dibayar. Sebagai akibatnya jenis putusan Pengadilan Pajak. murah dan sederhana. Bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Pajak belum merupakan badan peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung. namun dalam hal tertentu dan khusus guna menjaga kepentingan pemohon Banding atau tergugat. Proses penyelesaian sengketa perpajakan melalui Pengadilan Pajak perlu dilakukan secara cepat oleh karena itu dalam undang-undang tersebut diatur pembatasan waktu penyelesaian. sidang dapat dinyatakan tertutup. mengabulkan seluruhnya. 4. 17 tahun 1997 ). Putusan Pengadilan Pajak memuat penetapan besarnya Pajak terutang dari Wajib Pajak. disamping jenis-jenis putusan yang umum diterapkan pada Peradilan Umum. 2. Menurut UU Pengadilan Pajak menjelaskan bahwa Pengadilan Pajak dalam menjalankan tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak.

Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus Sengketa Pajak. masih dimungkinkan untuk mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung. maka dari itu pemeriksaan atas sengketa pajak hanya dilakukan oleh Pengadilan Pajak dan putusan Pengadilan Pajak tidak dapat diajukan gugatan ke Peradilan Umum. Dengan demikian UU No. terutama dalam menyelaraskan beban pajak yang harus dipikul oleh Wajib Pajak dengan pemenuhan kewajiban dan penggunaan hak di bidang perpajakan (H. Yodi Martono Wahyunadi. 14 tahun 2002 memberikan pelayanan kepada warga masyarakat sebagai Wajib Pajak untuk menjamin hak dan kewajiban wajib pajak sesuai dengan undang-undang perpajakan yang mencerminkan keadilan dan kepastian hukum. atau Badan Peradilan lain. Penyelesaian sengketa pajak pada hakekatnya harus didasarkan pada keadilan dan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi penerimaan negara. Dampak dari upaya meningkatkan penerimaan pajak seringkali menimbulkan berbagai masalah yang dihadapi instansi perpajakan dengan pihak Wajib Pajak. Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung merupakan upaya hukum luar biasa. kecuali putusan berupa "tidak dapat diterima" yang menyangkut kewenangan/kompetensi. akan dilakukan sekaligus oleh Mahkamah Agung.. Terjaminnya hak Wajib Pajak maupun pemerintah merupakan goal yang ingin dicapai dengan terbitnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. E. . juga penilaian terhadap kedua aspek pemeriksaan yang meliputi aspek penerapan hukum dan aspek fakta-fakta yang mendasari terjadinya sengketa perpajakan. M.H. Upaya meningkatkan penerimaan pajak lebih mudah dilakukan dibanding meningkatkan keadilannya. S. Penutup Dampak dari kebijakan perpajakan dalam penyelesaian sengketa pajak berupa UU Pengadilan Pajak tersebut agar upaya pemerintah dalam meningkatkan penerimaan dari sektor pajak yang merupakan salah satu penerimaan negara terus ditingkatkan dan dikelola secara bijak dan adil. Meskipun demikian.H). Peradilan Tata Usaha Negara. di samping akan mengurangi jenjang pemeriksaan ulang vertikal.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan 10. Minggu. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/042/SK/VIII/2001 13. Menyoal denda atas keberatan dan banding yang ditolak. Meninjau Dasar Filosofis Dilakukannya Pemungutan Pajak. 30 April 2005 7.Daftar Pustaka 1. 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak 12. Keberatan dan Banding. Bagaimana Mempersiapkan Keberatan dan Banding. Yodi Martono Wahyunadi.Rabu. Edisi 8. . Makalah Seminar tax-ina. Kompas Online. M. Membaca arah aturan peralihan UU KUP . 2009 April 12 4. Darussalam & Danny Septriadi. Arief Wibisono. Parwito. 17 Juli 2007 6. S. SH. Artikel Rizky Harta Cipta.. Perpajakan Indonesia. 17 September 2007 3. 10 November 2008 5. 2008 2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak 11. Waluyo dan Wirawan. 11 Desember 1996 8.H. Badan Peradilan Pajak dan Dualisme Penyelesaian Perkara Pajak. Triyani Budianto. Salemba Empat. Raden Suparman. Keputusan Ketua Pengadilan Pajak Nomor : KEP-003/PP/2006. Perumusan Kebijakan Perpajakan Dalam Penyelesaian Sengketa Pajak. Bisnis Indonesia. H.H. Undang-Undang No. 2 Februari 2009 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful