TUGAS MATA KULIAH ± PERPAJAKAN Dosen : Dr. Waluyo, Ak.

MSc

Drs. Puspahadi Bunyamin, MS

Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali

Oleh:

KELOMPOK I

UNIVERSITAS MERCU BUANA PROGRAM STUDI MAGISTER AKUTANSI 2009

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUTANSI ANGKATAN IV KELOMPOK I: Indah Sri Rejeki Intansuri Syafei Fuad Iskandar Retno Sukowati Abdoel Rahman 55508120022 55508120016 55508120015 55508120009 55508120006 .

memperhitungkan. apa yang telah dihitung. Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apa yang dihitung. kecuali fiskus mempunyai data/informasi yang mengindikasikan bahwa laporan tersebut salah. maka diperlukan sarana untuk melakukan pengawasan. Dalam melakukan pemeriksaan pajak. dan Peninjauan Kembali i+11 halaman+ 2 gambar Sistem self assessment yang kita anut memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menghitung. dan Surat Tagihan Pajak (STP). dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan dari fiskus karena wajib pajak dianggap paling tahu mengenai penghasilannya sendiri. Cara-cara tersebut tempuh agar hak Wajib Pajak maupun negara dapat dijamin dengan adanya keadilan dan kepastian hukum. Sengketa Pajak yang timbul antara fiskus dan Wajib Pajak dapat diselesaikan dengan cara keberatan. fiskus menghasilkan beberapa produk hukum antara lain Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Atas produk hukum yang dihasilkan dari pemeriksaan maupun yang bukan dari pemeriksaan. tidak semuanya disetujui oleh Wajib Pajak. dan peninjauan kembali. i . dan dilaporkan Wajib Pajak sudah benar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). Penyelesaian sengketa pajak pada hakekatnya harus didasarkan pada keadilan dan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi penerimaan negara. banding. Pemeriksaan pajak merupakan salah satu sarana yang tujuannya adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN).ABSTRAK Kelompok I (MAKSI IV UMB) Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). Ketidaksetujuan ini menimbulkan suatu perselisihan yang biasa disebut sengketa pajak. Banding. disetor. disetor. Terjaminnya hak Wajib Pajak maupun pemerintah merupakan goal yang ingin dicapai dengan terbitnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. menyetor. dan dilaporkan oleh Wajib Pajak dianggap benar oleh fiskus. Dengan sistem self assessment.

Ketidaksetujuan ini menimbulkan suatu perselisihan yang biasa disebut sengketa pajak. Cara-cara tersebut tempuh agar hak Wajib Pajak maupun negara dapat dijamin dengan adanya keadilan dan kepastian hukum. banding. Sengketa Pajak yang timbul antara fiskus dan Wajib Pajak dapat diselesaikan dengan cara keberatan. dan peninjauan kembali. memperhitungkan. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). Sistem self assessment yang kita anut memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menghitung. pemerintah memerlukan dukungan kebijakan fiskal yang sehat dan kredibel untuk menghindari ketergantungan dengan pinjaman luar negeri.Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan. disetor. dan dilaporkan oleh Wajib Pajak dianggap benar oleh fiskus. Prinsip dasar perpajakan yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan adalah sistem yang berdasarkan azas keadilan. sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak atau penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat . disetor. Kebijakan fiskal yang baik juga dapat mendukung bangkitnya sektor riil yang akan memacu pertumbuhan ekonomi kita. Terjadinya Sengketa Pajak Berdasarkan Pasal 1 ayat (5) Undang-undang Pengadilan Pajak. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). dan Peninjauan Kembali (Kelompok I MAKSI IV UMB) A. Banding. dan Surat Tagihan Pajak (STP). B. apa yang telah dihitung. maka diperlukan sarana untuk melakukan pengawasan. Pemeriksaan pajak merupakan salah satu sarana yang tujuannya adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Dengan sistem self assessment. kepastian hukum dan kesederhanaan. Dalam melakukan pemeriksaan pajak. dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan dari fiskus karena wajib pajak dianggap paling tahu mengenai penghasilannya sendiri. Atas produk hukum yang dihasilkan dari pemeriksaan maupun yang bukan dari pemeriksaan. kecuali fiskus mempunyai data/informasi yang mengindikasikan bahwa laporan tersebut salah. Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apa yang dihitung. menyetor. tidak semuanya disetujui oleh Wajib Pajak. fiskus menghasilkan beberapa produk hukum antara lain Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Pendahuluan Dalam rangka pemulihan ekonomi akibat dampak krisis global. dan dilaporkan Wajib Pajak sudah benar. sebagaimana diketahui peranan penerimaan pajak merupakan tulang punggung bagi penerimaan negara yang akan menjamin kesinambungan kehidupan negara. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN).

dll. Seperti halnya dengan keberatan. Kesemuanya itu dapat mengakibatkan jumlah pajak yang ditetapkan oleh fiscus menjadi berbeda dibandingkan dengan jumlah pajak menurut perhitunan Wajib Pajak. sehingga seringkali tidak disadari bahwa sengketa mungkin sudah berawal saat fiskus mulai melaksanakan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan. Perbedaan tersebut bisa timbul karena adanya perbedaan pendapat mengenai : · Dasar hukum yang seharusnya digunakan . sempai penerbitan keputusan keberatan. Sengketa Formal Sengketa formal timbul apabila WP atau fiscus atau keduanya tidak mematuhi prosedur dan tata cara yang telah ditetapkan oleh UU perpajakan. terutama gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. Apabila fiskus melanggar ketentuan tersebut. Contohnya fiskus menerbitkan SKP atau Surat Keputusan Keberatan setelah melampaui jangka waktu yang ditetapkan. maka pelanggaran itulah yang menimbulkan sengketa formal dari pihak fiskus. · Persepsi atas ketentuan peraturan pajak . Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan sengketa ini diantaranya dengan keberatan. khususnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. Wajib Pajak atau penanggung pajaklah yang harus mengajukan permohonan banding. Sengketa pajak dalam proses banding atau sering disebut sengketa banding adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara wajib pajak dengan fiskus mengenai keputusan keberatan yang tidak disetujui oleh wajib pajak. namun kebanyakan Wajib Pajak menyangka sengketa banding hanya menyangkut sengketa material. Sengketa Material Sengketa material atau lazim disebut materi sengketa terjadi apabila terdapat perbedaan jumlah pajak yang terutang atau terdapat perbedaan jumlah pajak yang lebih dibayar (dalam kasus restitusi) menurut perhitungan fiscus yang tercantum pada ketetapan pajak. UU KUP telah menetapkan dan prosedur tata cara pemeriksaan pajak. sengketa formal dari pihak WP bisa terjadi apabila WP tidak melaksanakan prosedur dan tata cara yang ditetapkan dalam UU KUP maupun UU Pengadilan pajak.diajukan banding atau gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundangundangan perpajakan. . penerbitan ketetapan pajak. Dan perbedaan jumlah pajak menurut fiscus dengan WP itulah yang merupakan sengketa material. termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan dengan Surat Paksa . banding dan peninjauan kembali. Sengketa banding bisa menyangkut masalah formal maupun material. Sengketa pajak biasanya terjadi ketika Wajib Pajak keberatan atas produk hukum yang diterbitkan oleh otoritas pajak baik melalui pemeriksaan dengan SKP dan STP maupun dengan cara lain. Sengketa pajak dapat terjadi karena perbedaan cara pandang antara Wajib Pajak dan fiskus tentang jumlah pajak terutang. b. Sengketa banding dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Contohnya WP tidak mengajukan keberatan atau banding dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.dengan jumlah menurut perhitungan Wajib Pajak. · Perselisihan atas suatu transaksi tertentu . Di lain pihak. Bagi fiskus.

Dalam Undang-undang KUP mengatur mengenai tata cara pengajuan keberatan dan banding. Wajib Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar . 28 Tahun 2007 maka Wajib Pajak akan dikenakan denda. Selanjutnya apabila belum puas atas putusan keberatan maka Wajib Pajak dapat mengajukan banding dan langkah terakhir apabila banding ditolak adalah peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. atau nihil. Sebaliknya apabila ketetapan pajak atau keputusan keberatan tidak memenuhi ketentuan formal. Berdasarkan Pasal 25 ayat (9) UU KUP. Dalam mengajukan pemohonan keberatan dan banding ada resiko ditolak oleh pihak yang berwenang baik karena tidak memenuhi syarat formal maupun material. Jika Wajib Pajak tidak sependapat maka dapat mengajukan keberatan atas surat ketetapan tersebut. C. Dalam hal terjadinya keberatan dan banding yang ditolak berdasarkan perubahan Undang-undang KUP No. maka akan diterbitkan suatu surat ketetapan pajak. permohonan banding WP dapat diterima seluruhnya atau diterima sebagian. Dalam hal ini. serta hak dan kewajiban wajib pajak apabila keberatan dan banding diterima atau ditolak. Proses Penyelesaian Sengketa Pajak Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. maka pengadilan pajak dapat menyatakan ketetapan pajak ataupun keputusan keberatan harus batal demi hukum. tergantung hasil pemeriksaan keseluruhan oleh hakim pengadilan pajak. Dalam proses banding. yang dapat mengakibatkan pajak terutang menjadi kurang bayar. Permohonan banding tidak akan diproses lebih lanjut oleh pengadilan pajak tanpa pemeriksaan materi sengketa apabila banding WP tidak memenuhi ketentuan formal yang telah ditetapkan. hakim akan melakukan pemeriksaan formal terlebih dahulu sebelum mulai memeriksa materi sengketa. Gambar 1.Baik Sengketa formal maupun sengketa material sangat menentukan hasil akhir putusan banding. Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. Skema Penyelesaian Sengketa Pajak Hak wajib pajak untuk meminta keadilan atas materi yang menjadi sengketa pajak dijamin dalam Undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007. lebih bayar.

Wajib Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan . tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. sehingga tidak dipertimbangkan. SKPN. Mengajukan surat keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak c. Direktorat Jenderal Pajak wajib memberikan keputusan keberatan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat keberatan diterima. d. Dalam hal terjadinya hal-hal diluar kekuasaan Wajib Pajak yang menyebabkan terjadinya keterlambatan permohonan keberatan masih bisa diterima oleh Direktorat Jenderal Pajak. Jika lewat tiga bulan. Berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UU KUP.sebelum mengajukan keberatan . Tata cara dalam proses keberatan dan banding adalah sebagai berikut: 1. b.) Keberatan Berdasarkan Pasal 25 ayat (3) UU KUP. Dalam hal mengajukan keberatan Wajib Pajak harus melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak terutang menurut perhitungan Wajib Pajak dengan menyebutkan alasan-alasan yang jelas. Dalam Pasal 27 ayat (5d) UU KUP. kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. Keberatan yang tidak memenuhi persyratan di atas tidak dianggap sebagai Surat Keberatan.q. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak surat ketetapan pajak. maka kelebihan pembayaran pajak tersebut akan dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Syarat pengajuan keberatan bisa diringkas sebagai berikut: a. surat keberatan tidak diproses karena tidak memenuhi syarat formal. kecuali Wajib Pajak menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena di luar kekuasaannya. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan . maka Wajib Pajak dapat mengajukan banding dengan gugatan ke Badan Peradilan Pajak. Tetapi UU KUP juga membolehkan jangka waktu lebih dari tiga bulan jika dalam keadaan diluar kekuasaannya.) Banding Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan dengan keputusan keberatan yang diajukannya. Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat atas SKPKB. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat. Dalam hal keberatan dan Banding diterima sebagian atau seluruhnya yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak . c. Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. dan Pemotongan dan Pemungutan oleh pihak ketiga. sebelum surat keberatan disampaikan. Apabila Wajib Pajak mengajukan banding maka denda sebesar 50% tersebut tidak dikenakan. SKPKBT.

y Paling lambat 14 hari sejak Banding disampaikan Pemohon Banding akan mendapat permintaan kelengkapan apabila banding yang disampaikan ternyata tidak/kurang lengkap. permohonan dimaksud dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban. y Paling lambat 3 bulan sejak tanggal diterimanya keputusan yang dibanding. bukti pelunasan pajak yang terutang yang dibanding. peleburan. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima dilampiri surat Keputusan Keberatan tersebut. Laporan Keuangan dll) dan Surat Kuasa bermeterai bila diwakili oleh kuasanya. Dalam mengajukan permohonan banding maka satu keputusan keberatan harus diajukan satu permohonan banding. y Ditujukan kepada Badan Peradilan Pajak dengan melampirkan : salinan keputusan yang disbanding. Badan Peradilan Pajak adalah lembaga yang tidak memiliki hirarki dengan DJP sehingga lebih independen dan kredibel dalam memutuskan suatu sengketa pajak daripada pejabat penelaah keberatan di kanwil DJP. y Paling lambat 14 hari sebelum persidangan dimulai. seorang pengurus atau kuasa hukumnya.banding hanya kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. pemecahan atau pemekaran usaha atau likuidasi. Pemohon Banding harus melengkapi permohonan bandingnya yang kurang lengkap/belum memenuhi persyaratan. ahli waris. . karena penggabungan. pemecahan atau pemekaran usaha atau karena likuidasi dimaksud. Pemohon Banding akan mendapat pemberitahuan sidang. Proses banding dapat diringkas sebagai berikut: y Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia. Apabila selama proses banding. data dan bukti-bukti pendukung (SKP. Banding diajukan sendiri oleh pembayar pajak. pemohon banding meninggal dunia. Dalam undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 menyebutkan bahwa jangka waktu pelunasan pajak terutang yang belum dibayar pada saat mengajukan keberatan tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. SPT. Jadi tidak diperbolehkan merangkap beberapa materi sengketa dalam satu permohonan banding. Apabila selama proses banding. Surat Permohonan Keberatan. Wajib Pajak harus memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar Surat Keputusan Keberatan diterbitkan. peleburan. kuasa hukum dari ahli warisnya atau pengampunya dalam hal pemohon banding pailit. banding dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya. pemohon banding melakukan penggabungan.

Skema Banding Ringkasan pelaksanaan banding adalah sebagai berikut: .Gambar 2.

Dalam hal Pemohon Banding melengkapi surat atau dokumen susulan kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. Putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada kebohongan atau tipu muslihat. pihak Sekretariat Pengadilan Pajak mengirimkan surat pemberitahuan dan penyerahan kontra memori peninjauan kembali. 4. Pemohon Banding memberikan tanggapan/bantahan atas Surat Uraian Banding yang diterimanya dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya salinan Surat Uraian Banding. 3. 3. 2. Apabila Terbanding atau Pemohon Banding tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud angka 3 dan 5. jangka waktu 14 hari dihitung sejak tanggal diterima surat atau dokumen susulan dimaksud. Termohon PK mengirimkan kontra memori peninjauan kembali sejak surat pemberitahuan dan penyerahan memori peninjauan kembali dikirim kepada Termohon PK. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan banding Putusan Banding merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Permohonan Peninjauan Kembali hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak. 5. Alasan-alasan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung antara lain: 1. . Terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak meminta Surat Uraian Banding kepada Terbanding dalam jangka waktu 14 hari sejak diterima Surat Banding lengkap. Mahkamah Agung mengambil keputusan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan PK diterima. 3. Putusan nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Ada suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya. Dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari yang dituntut. 3. 4. Catatan penting dalam pengajuan Peninjauan Kembali adalah sebagai berikut: 1. Dalam waktu 30 hari.) Peninjauan Kembali (PK) Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan Putusan Banding.1. 5. Terbanding menyerahkan Surat Uraian Banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal dikirim Permintaan Surat Uraian Banding. Salinan Surat Uraian Banding oleh Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dikirimkan kepada Pemohon Banding dalam jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima. Dalam waktu 14 hari. pemberitahuan dan penyerahan memori peninjauan kembali tersebut harus sudah dikirim kepada Termohon PK sejak surat permohonan peninjauan kembali diterima di Sekretariat Pengadilan pajak. 2. 2. serta bukan Keputusan Tata Usaha Negara. maka Wajib Pajak masih memiliki hak mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung. Pengajuan permohonan PK dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahuinya kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim Pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap atau ditemukannya bukti tertulis baru atau sejak putusan banding dikirim. 6. Dalam waktu 14 hari sejak kontra memori peninjauan kembali diterima di Sekretariat Pengadilan Pajak.

Biaya perkara peninjauan kembali atas Putusan Pengadilan Pajak adalah Rp 2. Selain itu pula ada tuntutan-tuntutan dari pihak yang bersengketa baik Wajib Pajak maupun Fiskus bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) belum memberi jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi pihak yang bersengketa. dengan proses cepat. Hal ini dapat kita lihat dari keinginan pemerintah untuk mengadakan perubahan dalam penyelesaian sengketa pajak yang dilakukan sebelumnya oleh Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Analisis Penyelesaian Sengketa Pajak Semakin meningkatnya pemahaman Wajib Pajak.4. murah dan sederhana. tidak dapat dihindari timbulnya sengketa pajak karena perbedaan persepsi antara Wajib Pajak dan fiskus. Karena hal itu BPSP akhirnya dirubah menjadi Badan Peradilan Pajak yang berdiri di bawah PTUN dan bermuara di Mahkamah Agung sehingga lebih independen dalam memutus perkara. Namun seringkali Wajib Pajak merasa kurangnya rasa keadilan karena penelaah keberatan sendiri masih berada di bawah DJP sehingga putusannya masih bisa memihak ke hasil pemeriksaan pajak. Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak yang mencari keadialan terhadap sengketa pajak. tidak terlepas dari adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki sistem penyelesaian sengketa dalam bidang perpajakan. transparan. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Proses penyelesaian sengketa pajak yang dianggap paling memenuhi rasa keadilan adalah Pengadilan Pajak. Proses penyelesaian sengketa pajak secara internal di Direktorat Jenderal Pajak adalah Penelaah Keberatan di tingkat Kanwil DJP. Dalam menyelesaikan sengketa pajak ini pemerintah menjamin adanya penyelesaian yang adil. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dapat dilihat latar belakang lahirnya kebijakan Undang-Undang No. Penelaah keberatan dalam kapasitasnya untuk menelaah keberatan Wajib Pajak yang masuk memutuskan dengan menjunjung tinggi azas keadilan dan berdasarkan Undang-undang yang berlaku. Proses lahirnya kebijakan perpajakan berupa Undang-Undang No.000. 14 tahun 2002 tersebut yaitu : . murah dan sederhana. Dalam konsideran Undang-Undang No.00 untuk satu putusan yang diajukan peninjauan kembali sesuai dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/042/SK/VIII/2001 dan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak Nomor : KEP-003/PP/2006. serta proses persidangan belum dilakukan secara cepat. Kelemahan lainnya adalah Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) belum merupakan badan peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman sebagaimana halnya dengan peradilan lainnya.500. D.

sehingga Wajib Pajak langsung memperoleh kepastian hukum tentang besarnya Pajak terutang yang dikenakan kepadanya. Bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Pajak belum merupakan badan peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak bersifat khusus yang menyangkut acara penyelenggaraan persidanggan sengketa perpajakan yaitu : 1. Bahwa dengan meningkatnya jumlah Wajib Pajak dan pemahaman akan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak dapat dihindarkan timbulnya Sengketa Pajak yang memerlukan penyelesaian yang adil dengan prosedur dan proses yang cepat. Lain halnya dengan Badan Penyelesaian Sengketa yang persidangannya dinyatakan tertutup untuk umum ( Pasal 49 ayat 1 UU No. 2. Penyelesaian sengketa perpajakan memerlukan tenaga-tenaga Hakim khusus yang mempunyai keahlian di bidang perpajakan dan berijazah Sarjana Hukum atau Sarjana lain. Sidang peradilan Pajak pada prinsipnya dilaksanakan secara terbuka. Sebagai konsekuensi dari kekhususan tersebut dalam undang-undang nomor 14 tahun 2002 diatur hukum secara tersendiri untuk menyelenggarakan pengadilan pajak. namun dalam hal tertentu dan khusus guna menjaga kepentingan pemohon Banding atau tergugat. . berkedudukan di Ibukota Negara sedangkan sidangnya pada hakekatnya dilakukan ditempat kedudukannya namun dengan pertimbangan untuk memperlancar dan mempercepat penanganan sengketa pajak. Sengketa yang diproses dalam Pengadilan Pajak khusus menyangkut sengketa perpajakan.y y y y Bahwa untuk melaksanakan pembangunan nasional yang berkesinambungan dan berkelanjutan serta merata di seluruh tanah air memerlukan dana yang memadai terutama dari sumber perpajakan. mengabulkan seluruhnya. Bahwa karena diperlukan suatu Pengadilan Pajak yang sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia dan mampu menciptakan keadilan dan kepastian hukum dalam penyelesaian Sengketa Pajak. sedangkan pembacaan putusan Hakim Pengadilan Pajak dilaksanakan dalam sidang yang terbuka untuk umum. sidang dapat dinyatakan tertutup. Menurut UU Pengadilan Pajak menjelaskan bahwa Pengadilan Pajak dalam menjalankan tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak. Putusan Pengadilan Pajak memuat penetapan besarnya Pajak terutang dari Wajib Pajak. Hal ini sesuai dengan prinsip penyelesaian perkara yang dilakukan dengan sederhana. murah dan sederhana. atau menambah jumlah pajak yang masih harus dibayar. Proses penyelesaian sengketa perpajakan melalui Pengadilan Pajak perlu dilakukan secara cepat oleh karena itu dalam undang-undang tersebut diatur pembatasan waktu penyelesaian. tempat sidang dapat dilakukan ditempat lain. berupa hitungan secara teknis perpajakan. juga berupa mengabulkan sebagian. Undang-Undang No. baik ditingkat Pengadilan Pajak maupun ditingkat Mahkamah Agung. disamping jenis-jenis putusan yang umum diterapkan pada Peradilan Umum. cepat dan biaya ringan. 17 tahun 1997 ). 4. 3. Sebagai akibatnya jenis putusan Pengadilan Pajak.

Penyelesaian sengketa pajak pada hakekatnya harus didasarkan pada keadilan dan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi penerimaan negara.H. Meskipun demikian. Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung merupakan upaya hukum luar biasa. Yodi Martono Wahyunadi. Terjaminnya hak Wajib Pajak maupun pemerintah merupakan goal yang ingin dicapai dengan terbitnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. Penutup Dampak dari kebijakan perpajakan dalam penyelesaian sengketa pajak berupa UU Pengadilan Pajak tersebut agar upaya pemerintah dalam meningkatkan penerimaan dari sektor pajak yang merupakan salah satu penerimaan negara terus ditingkatkan dan dikelola secara bijak dan adil.. masih dimungkinkan untuk mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung. akan dilakukan sekaligus oleh Mahkamah Agung. Peradilan Tata Usaha Negara.H). Dengan demikian UU No. 14 tahun 2002 memberikan pelayanan kepada warga masyarakat sebagai Wajib Pajak untuk menjamin hak dan kewajiban wajib pajak sesuai dengan undang-undang perpajakan yang mencerminkan keadilan dan kepastian hukum. E. di samping akan mengurangi jenjang pemeriksaan ulang vertikal. Upaya meningkatkan penerimaan pajak lebih mudah dilakukan dibanding meningkatkan keadilannya. terutama dalam menyelaraskan beban pajak yang harus dipikul oleh Wajib Pajak dengan pemenuhan kewajiban dan penggunaan hak di bidang perpajakan (H. Dampak dari upaya meningkatkan penerimaan pajak seringkali menimbulkan berbagai masalah yang dihadapi instansi perpajakan dengan pihak Wajib Pajak. . M.Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus Sengketa Pajak. atau Badan Peradilan lain. juga penilaian terhadap kedua aspek pemeriksaan yang meliputi aspek penerapan hukum dan aspek fakta-fakta yang mendasari terjadinya sengketa perpajakan. S. kecuali putusan berupa "tidak dapat diterima" yang menyangkut kewenangan/kompetensi. maka dari itu pemeriksaan atas sengketa pajak hanya dilakukan oleh Pengadilan Pajak dan putusan Pengadilan Pajak tidak dapat diajukan gugatan ke Peradilan Umum.

Perpajakan Indonesia.H. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan 10. 2 Februari 2009 9. Bagaimana Mempersiapkan Keberatan dan Banding. . Minggu. Meninjau Dasar Filosofis Dilakukannya Pemungutan Pajak.Daftar Pustaka 1. Keputusan Ketua Pengadilan Pajak Nomor : KEP-003/PP/2006. Kompas Online. Raden Suparman. Arief Wibisono. 30 April 2005 7.. 2008 2. Makalah Seminar tax-ina. 10 November 2008 5. Keberatan dan Banding. S. Membaca arah aturan peralihan UU KUP .Rabu. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/042/SK/VIII/2001 13. Salemba Empat. 11 Desember 1996 8. Darussalam & Danny Septriadi. Menyoal denda atas keberatan dan banding yang ditolak. Bisnis Indonesia. Triyani Budianto. 2009 April 12 4. Perumusan Kebijakan Perpajakan Dalam Penyelesaian Sengketa Pajak. M. 17 Juli 2007 6. Edisi 8. Waluyo dan Wirawan.H. SH. 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak 12. Artikel Rizky Harta Cipta. Parwito. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak 11. Yodi Martono Wahyunadi. 17 September 2007 3. Undang-Undang No. H. Badan Peradilan Pajak dan Dualisme Penyelesaian Perkara Pajak.