TUGAS MATA KULIAH ± PERPAJAKAN Dosen : Dr. Waluyo, Ak.

MSc

Drs. Puspahadi Bunyamin, MS

Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali

Oleh:

KELOMPOK I

UNIVERSITAS MERCU BUANA PROGRAM STUDI MAGISTER AKUTANSI 2009

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUTANSI ANGKATAN IV KELOMPOK I: Indah Sri Rejeki Intansuri Syafei Fuad Iskandar Retno Sukowati Abdoel Rahman 55508120022 55508120016 55508120015 55508120009 55508120006 .

maka diperlukan sarana untuk melakukan pengawasan. dan Peninjauan Kembali i+11 halaman+ 2 gambar Sistem self assessment yang kita anut memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menghitung. Atas produk hukum yang dihasilkan dari pemeriksaan maupun yang bukan dari pemeriksaan. disetor. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). fiskus menghasilkan beberapa produk hukum antara lain Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Banding. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). kecuali fiskus mempunyai data/informasi yang mengindikasikan bahwa laporan tersebut salah. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). dan dilaporkan Wajib Pajak sudah benar. Ketidaksetujuan ini menimbulkan suatu perselisihan yang biasa disebut sengketa pajak.ABSTRAK Kelompok I (MAKSI IV UMB) Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan. dan peninjauan kembali. Penyelesaian sengketa pajak pada hakekatnya harus didasarkan pada keadilan dan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi penerimaan negara. menyetor. Pemeriksaan pajak merupakan salah satu sarana yang tujuannya adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. banding. apa yang telah dihitung. disetor. Dalam melakukan pemeriksaan pajak. dan Surat Tagihan Pajak (STP). Cara-cara tersebut tempuh agar hak Wajib Pajak maupun negara dapat dijamin dengan adanya keadilan dan kepastian hukum. dan dilaporkan oleh Wajib Pajak dianggap benar oleh fiskus. dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan dari fiskus karena wajib pajak dianggap paling tahu mengenai penghasilannya sendiri. i . Terjaminnya hak Wajib Pajak maupun pemerintah merupakan goal yang ingin dicapai dengan terbitnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. tidak semuanya disetujui oleh Wajib Pajak. Dengan sistem self assessment. Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apa yang dihitung. Sengketa Pajak yang timbul antara fiskus dan Wajib Pajak dapat diselesaikan dengan cara keberatan. memperhitungkan.

Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). banding. dan peninjauan kembali. Dengan sistem self assessment. Pendahuluan Dalam rangka pemulihan ekonomi akibat dampak krisis global. Banding. dan dilaporkan Wajib Pajak sudah benar. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT). sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak atau penanggung pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat . Kebijakan fiskal yang baik juga dapat mendukung bangkitnya sektor riil yang akan memacu pertumbuhan ekonomi kita. disetor. disetor. pemerintah memerlukan dukungan kebijakan fiskal yang sehat dan kredibel untuk menghindari ketergantungan dengan pinjaman luar negeri. Prinsip dasar perpajakan yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan adalah sistem yang berdasarkan azas keadilan. Untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apa yang dihitung. B. Atas produk hukum yang dihasilkan dari pemeriksaan maupun yang bukan dari pemeriksaan. memperhitungkan. Dalam melakukan pemeriksaan pajak. apa yang telah dihitung. kepastian hukum dan kesederhanaan. dan dilaporkan oleh Wajib Pajak dianggap benar oleh fiskus. Pemeriksaan pajak merupakan salah satu sarana yang tujuannya adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. dan Peninjauan Kembali (Kelompok I MAKSI IV UMB) A. Sistem self assessment yang kita anut memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menghitung. Ketidaksetujuan ini menimbulkan suatu perselisihan yang biasa disebut sengketa pajak. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). maka diperlukan sarana untuk melakukan pengawasan. tidak semuanya disetujui oleh Wajib Pajak. kecuali fiskus mempunyai data/informasi yang mengindikasikan bahwa laporan tersebut salah.Penyelesaian Sengketa Pajak Melalui Keberatan. dan melaporkan kewajiban perpajakannya sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan dari fiskus karena wajib pajak dianggap paling tahu mengenai penghasilannya sendiri. dan Surat Tagihan Pajak (STP). fiskus menghasilkan beberapa produk hukum antara lain Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Sengketa Pajak yang timbul antara fiskus dan Wajib Pajak dapat diselesaikan dengan cara keberatan. sebagaimana diketahui peranan penerimaan pajak merupakan tulang punggung bagi penerimaan negara yang akan menjamin kesinambungan kehidupan negara. Terjadinya Sengketa Pajak Berdasarkan Pasal 1 ayat (5) Undang-undang Pengadilan Pajak. Cara-cara tersebut tempuh agar hak Wajib Pajak maupun negara dapat dijamin dengan adanya keadilan dan kepastian hukum. menyetor.

Apabila fiskus melanggar ketentuan tersebut. Di lain pihak. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan sengketa ini diantaranya dengan keberatan. Dan perbedaan jumlah pajak menurut fiscus dengan WP itulah yang merupakan sengketa material. Contohnya WP tidak mengajukan keberatan atau banding dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. dll. Perbedaan tersebut bisa timbul karena adanya perbedaan pendapat mengenai : · Dasar hukum yang seharusnya digunakan . Sengketa pajak biasanya terjadi ketika Wajib Pajak keberatan atas produk hukum yang diterbitkan oleh otoritas pajak baik melalui pemeriksaan dengan SKP dan STP maupun dengan cara lain.dengan jumlah menurut perhitungan Wajib Pajak. . Sengketa banding dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Seperti halnya dengan keberatan. maka pelanggaran itulah yang menimbulkan sengketa formal dari pihak fiskus.diajukan banding atau gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundangundangan perpajakan. sengketa formal dari pihak WP bisa terjadi apabila WP tidak melaksanakan prosedur dan tata cara yang ditetapkan dalam UU KUP maupun UU Pengadilan pajak. UU KUP telah menetapkan dan prosedur tata cara pemeriksaan pajak. Sengketa banding bisa menyangkut masalah formal maupun material. sempai penerbitan keputusan keberatan. termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan dengan Surat Paksa . Sengketa Formal Sengketa formal timbul apabila WP atau fiscus atau keduanya tidak mematuhi prosedur dan tata cara yang telah ditetapkan oleh UU perpajakan. Sengketa Material Sengketa material atau lazim disebut materi sengketa terjadi apabila terdapat perbedaan jumlah pajak yang terutang atau terdapat perbedaan jumlah pajak yang lebih dibayar (dalam kasus restitusi) menurut perhitungan fiscus yang tercantum pada ketetapan pajak. · Persepsi atas ketentuan peraturan pajak . b. terutama gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan. penerbitan ketetapan pajak. sehingga seringkali tidak disadari bahwa sengketa mungkin sudah berawal saat fiskus mulai melaksanakan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan. Bagi fiskus. Sengketa pajak dalam proses banding atau sering disebut sengketa banding adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara wajib pajak dengan fiskus mengenai keputusan keberatan yang tidak disetujui oleh wajib pajak. Contohnya fiskus menerbitkan SKP atau Surat Keputusan Keberatan setelah melampaui jangka waktu yang ditetapkan. Kesemuanya itu dapat mengakibatkan jumlah pajak yang ditetapkan oleh fiscus menjadi berbeda dibandingkan dengan jumlah pajak menurut perhitunan Wajib Pajak. khususnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. Wajib Pajak atau penanggung pajaklah yang harus mengajukan permohonan banding. namun kebanyakan Wajib Pajak menyangka sengketa banding hanya menyangkut sengketa material. Sengketa pajak dapat terjadi karena perbedaan cara pandang antara Wajib Pajak dan fiskus tentang jumlah pajak terutang. · Perselisihan atas suatu transaksi tertentu . banding dan peninjauan kembali.

yang dapat mengakibatkan pajak terutang menjadi kurang bayar. Dalam Undang-undang KUP mengatur mengenai tata cara pengajuan keberatan dan banding. atau nihil. Dalam hal ini. serta hak dan kewajiban wajib pajak apabila keberatan dan banding diterima atau ditolak. permohonan banding WP dapat diterima seluruhnya atau diterima sebagian. Proses Penyelesaian Sengketa Pajak Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.Baik Sengketa formal maupun sengketa material sangat menentukan hasil akhir putusan banding. tergantung hasil pemeriksaan keseluruhan oleh hakim pengadilan pajak. Dalam mengajukan pemohonan keberatan dan banding ada resiko ditolak oleh pihak yang berwenang baik karena tidak memenuhi syarat formal maupun material. Gambar 1. Dalam proses banding. Selanjutnya apabila belum puas atas putusan keberatan maka Wajib Pajak dapat mengajukan banding dan langkah terakhir apabila banding ditolak adalah peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. maka akan diterbitkan suatu surat ketetapan pajak. Permohonan banding tidak akan diproses lebih lanjut oleh pengadilan pajak tanpa pemeriksaan materi sengketa apabila banding WP tidak memenuhi ketentuan formal yang telah ditetapkan. Sebaliknya apabila ketetapan pajak atau keputusan keberatan tidak memenuhi ketentuan formal. Wajib Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar . 28 Tahun 2007 maka Wajib Pajak akan dikenakan denda. Skema Penyelesaian Sengketa Pajak Hak wajib pajak untuk meminta keadilan atas materi yang menjadi sengketa pajak dijamin dalam Undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007. C. maka pengadilan pajak dapat menyatakan ketetapan pajak ataupun keputusan keberatan harus batal demi hukum. Jika Wajib Pajak tidak sependapat maka dapat mengajukan keberatan atas surat ketetapan tersebut. lebih bayar. Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. hakim akan melakukan pemeriksaan formal terlebih dahulu sebelum mulai memeriksa materi sengketa. Dalam hal terjadinya keberatan dan banding yang ditolak berdasarkan perubahan Undang-undang KUP No. Berdasarkan Pasal 25 ayat (9) UU KUP.

tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Keberatan yang tidak memenuhi persyratan di atas tidak dianggap sebagai Surat Keberatan. sehingga tidak dipertimbangkan. b. Dalam hal keberatan dan Banding diterima sebagian atau seluruhnya yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak . Wajib Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan . kecuali Wajib Pajak menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena di luar kekuasaannya. Berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UU KUP. Dalam hal terjadinya hal-hal diluar kekuasaan Wajib Pajak yang menyebabkan terjadinya keterlambatan permohonan keberatan masih bisa diterima oleh Direktorat Jenderal Pajak. Dalam hal mengajukan keberatan Wajib Pajak harus melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Jika lewat tiga bulan. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan . Tetapi UU KUP juga membolehkan jangka waktu lebih dari tiga bulan jika dalam keadaan diluar kekuasaannya. SKPKBT.) Banding Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan dengan keputusan keberatan yang diajukannya. c. kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. 2. sebelum surat keberatan disampaikan. maka Wajib Pajak dapat mengajukan banding dengan gugatan ke Badan Peradilan Pajak. Mengajukan surat keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak c. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak surat ketetapan pajak. maka kelebihan pembayaran pajak tersebut akan dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.q. Tata cara dalam proses keberatan dan banding adalah sebagai berikut: 1.sebelum mengajukan keberatan . Direktorat Jenderal Pajak wajib memberikan keputusan keberatan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat keberatan diterima. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak terutang menurut perhitungan Wajib Pajak dengan menyebutkan alasan-alasan yang jelas. Syarat pengajuan keberatan bisa diringkas sebagai berikut: a. Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. dan Pemotongan dan Pemungutan oleh pihak ketiga. Dalam Pasal 27 ayat (5d) UU KUP.) Keberatan Berdasarkan Pasal 25 ayat (3) UU KUP. d. SKPN. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat. Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat atas SKPKB. surat keberatan tidak diproses karena tidak memenuhi syarat formal. Apabila Wajib Pajak mengajukan banding maka denda sebesar 50% tersebut tidak dikenakan.

Dalam undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 menyebutkan bahwa jangka waktu pelunasan pajak terutang yang belum dibayar pada saat mengajukan keberatan tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. karena penggabungan. Pemohon Banding akan mendapat pemberitahuan sidang. pemecahan atau pemekaran usaha atau karena likuidasi dimaksud. SPT. seorang pengurus atau kuasa hukumnya. pemohon banding meninggal dunia. ahli waris. banding dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya. Dalam mengajukan permohonan banding maka satu keputusan keberatan harus diajukan satu permohonan banding. Pemohon Banding harus melengkapi permohonan bandingnya yang kurang lengkap/belum memenuhi persyaratan. Apabila selama proses banding. Banding diajukan sendiri oleh pembayar pajak. y Paling lambat 14 hari sebelum persidangan dimulai. Laporan Keuangan dll) dan Surat Kuasa bermeterai bila diwakili oleh kuasanya. data dan bukti-bukti pendukung (SKP. y Paling lambat 14 hari sejak Banding disampaikan Pemohon Banding akan mendapat permintaan kelengkapan apabila banding yang disampaikan ternyata tidak/kurang lengkap. Surat Permohonan Keberatan. pemohon banding melakukan penggabungan. peleburan. y Ditujukan kepada Badan Peradilan Pajak dengan melampirkan : salinan keputusan yang disbanding. y Paling lambat 3 bulan sejak tanggal diterimanya keputusan yang dibanding. peleburan. Jadi tidak diperbolehkan merangkap beberapa materi sengketa dalam satu permohonan banding.banding hanya kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. pemecahan atau pemekaran usaha atau likuidasi. Badan Peradilan Pajak adalah lembaga yang tidak memiliki hirarki dengan DJP sehingga lebih independen dan kredibel dalam memutuskan suatu sengketa pajak daripada pejabat penelaah keberatan di kanwil DJP. Apabila selama proses banding. . bukti pelunasan pajak yang terutang yang dibanding. permohonan dimaksud dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban. kuasa hukum dari ahli warisnya atau pengampunya dalam hal pemohon banding pailit. Proses banding dapat diringkas sebagai berikut: y Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima dilampiri surat Keputusan Keberatan tersebut. Wajib Pajak harus memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar Surat Keputusan Keberatan diterbitkan.

Skema Banding Ringkasan pelaksanaan banding adalah sebagai berikut: .Gambar 2.

3. 5. Salinan Surat Uraian Banding oleh Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dikirimkan kepada Pemohon Banding dalam jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima. maka Wajib Pajak masih memiliki hak mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung. 3. Dalam waktu 14 hari sejak kontra memori peninjauan kembali diterima di Sekretariat Pengadilan Pajak. Dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari yang dituntut. Putusan nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. pemberitahuan dan penyerahan memori peninjauan kembali tersebut harus sudah dikirim kepada Termohon PK sejak surat permohonan peninjauan kembali diterima di Sekretariat Pengadilan pajak. Pengajuan permohonan PK dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahuinya kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim Pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap atau ditemukannya bukti tertulis baru atau sejak putusan banding dikirim. 2. serta bukan Keputusan Tata Usaha Negara. 2.) Peninjauan Kembali (PK) Apabila Wajib Pajak masih belum puas dengan Putusan Banding. Dalam waktu 30 hari. . 6. 3. 5. jangka waktu 14 hari dihitung sejak tanggal diterima surat atau dokumen susulan dimaksud. Terbanding menyerahkan Surat Uraian Banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal dikirim Permintaan Surat Uraian Banding. 3. Permohonan Peninjauan Kembali hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak. Catatan penting dalam pengajuan Peninjauan Kembali adalah sebagai berikut: 1. 2. 4. Putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada kebohongan atau tipu muslihat. Alasan-alasan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung antara lain: 1. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan banding Putusan Banding merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan. Ada suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya. 4.1. pihak Sekretariat Pengadilan Pajak mengirimkan surat pemberitahuan dan penyerahan kontra memori peninjauan kembali. Dalam waktu 14 hari. Termohon PK mengirimkan kontra memori peninjauan kembali sejak surat pemberitahuan dan penyerahan memori peninjauan kembali dikirim kepada Termohon PK. Pemohon Banding memberikan tanggapan/bantahan atas Surat Uraian Banding yang diterimanya dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya salinan Surat Uraian Banding. Dalam hal Pemohon Banding melengkapi surat atau dokumen susulan kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. Mahkamah Agung mengambil keputusan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan PK diterima. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak meminta Surat Uraian Banding kepada Terbanding dalam jangka waktu 14 hari sejak diterima Surat Banding lengkap. Apabila Terbanding atau Pemohon Banding tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud angka 3 dan 5.

murah dan sederhana.00 untuk satu putusan yang diajukan peninjauan kembali sesuai dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/042/SK/VIII/2001 dan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak Nomor : KEP-003/PP/2006. serta proses persidangan belum dilakukan secara cepat. murah dan sederhana. Selain itu pula ada tuntutan-tuntutan dari pihak yang bersengketa baik Wajib Pajak maupun Fiskus bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) belum memberi jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi pihak yang bersengketa. Analisis Penyelesaian Sengketa Pajak Semakin meningkatnya pemahaman Wajib Pajak. Proses penyelesaian sengketa pajak yang dianggap paling memenuhi rasa keadilan adalah Pengadilan Pajak. Proses penyelesaian sengketa pajak secara internal di Direktorat Jenderal Pajak adalah Penelaah Keberatan di tingkat Kanwil DJP. Namun seringkali Wajib Pajak merasa kurangnya rasa keadilan karena penelaah keberatan sendiri masih berada di bawah DJP sehingga putusannya masih bisa memihak ke hasil pemeriksaan pajak.500. Dalam menyelesaikan sengketa pajak ini pemerintah menjamin adanya penyelesaian yang adil. D. Proses lahirnya kebijakan perpajakan berupa Undang-Undang No. tidak dapat dihindari timbulnya sengketa pajak karena perbedaan persepsi antara Wajib Pajak dan fiskus. transparan. dengan proses cepat. Biaya perkara peninjauan kembali atas Putusan Pengadilan Pajak adalah Rp 2. Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi wajib pajak atau penanggung pajak yang mencari keadialan terhadap sengketa pajak. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dapat dilihat latar belakang lahirnya kebijakan Undang-Undang No. Penelaah keberatan dalam kapasitasnya untuk menelaah keberatan Wajib Pajak yang masuk memutuskan dengan menjunjung tinggi azas keadilan dan berdasarkan Undang-undang yang berlaku. 14 tahun 2002 tersebut yaitu : . Karena hal itu BPSP akhirnya dirubah menjadi Badan Peradilan Pajak yang berdiri di bawah PTUN dan bermuara di Mahkamah Agung sehingga lebih independen dalam memutus perkara.4.000. tidak terlepas dari adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki sistem penyelesaian sengketa dalam bidang perpajakan. Dalam konsideran Undang-Undang No. Kelemahan lainnya adalah Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) belum merupakan badan peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman sebagaimana halnya dengan peradilan lainnya. Hal ini dapat kita lihat dari keinginan pemerintah untuk mengadakan perubahan dalam penyelesaian sengketa pajak yang dilakukan sebelumnya oleh Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP).

atau menambah jumlah pajak yang masih harus dibayar. Sidang peradilan Pajak pada prinsipnya dilaksanakan secara terbuka. sedangkan pembacaan putusan Hakim Pengadilan Pajak dilaksanakan dalam sidang yang terbuka untuk umum. 4. berupa hitungan secara teknis perpajakan. Proses penyelesaian sengketa perpajakan melalui Pengadilan Pajak perlu dilakukan secara cepat oleh karena itu dalam undang-undang tersebut diatur pembatasan waktu penyelesaian. Putusan Pengadilan Pajak memuat penetapan besarnya Pajak terutang dari Wajib Pajak. Sebagai akibatnya jenis putusan Pengadilan Pajak. 3. mengabulkan seluruhnya. Bahwa karena diperlukan suatu Pengadilan Pajak yang sesuai dengan sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia dan mampu menciptakan keadilan dan kepastian hukum dalam penyelesaian Sengketa Pajak. Hal ini sesuai dengan prinsip penyelesaian perkara yang dilakukan dengan sederhana. Undang-Undang No. tempat sidang dapat dilakukan ditempat lain. cepat dan biaya ringan. Sengketa yang diproses dalam Pengadilan Pajak khusus menyangkut sengketa perpajakan. murah dan sederhana. namun dalam hal tertentu dan khusus guna menjaga kepentingan pemohon Banding atau tergugat. sidang dapat dinyatakan tertutup. disamping jenis-jenis putusan yang umum diterapkan pada Peradilan Umum.y y y y Bahwa untuk melaksanakan pembangunan nasional yang berkesinambungan dan berkelanjutan serta merata di seluruh tanah air memerlukan dana yang memadai terutama dari sumber perpajakan. Penyelesaian sengketa perpajakan memerlukan tenaga-tenaga Hakim khusus yang mempunyai keahlian di bidang perpajakan dan berijazah Sarjana Hukum atau Sarjana lain. Menurut UU Pengadilan Pajak menjelaskan bahwa Pengadilan Pajak dalam menjalankan tugas dan wewenang memeriksa dan memutus sengketa pajak. Lain halnya dengan Badan Penyelesaian Sengketa yang persidangannya dinyatakan tertutup untuk umum ( Pasal 49 ayat 1 UU No. juga berupa mengabulkan sebagian. Bahwa Badan Penyelesaian Sengketa Pajak belum merupakan badan peradilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung. . 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak bersifat khusus yang menyangkut acara penyelenggaraan persidanggan sengketa perpajakan yaitu : 1. berkedudukan di Ibukota Negara sedangkan sidangnya pada hakekatnya dilakukan ditempat kedudukannya namun dengan pertimbangan untuk memperlancar dan mempercepat penanganan sengketa pajak. 2. Sebagai konsekuensi dari kekhususan tersebut dalam undang-undang nomor 14 tahun 2002 diatur hukum secara tersendiri untuk menyelenggarakan pengadilan pajak. baik ditingkat Pengadilan Pajak maupun ditingkat Mahkamah Agung. Bahwa dengan meningkatnya jumlah Wajib Pajak dan pemahaman akan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak dapat dihindarkan timbulnya Sengketa Pajak yang memerlukan penyelesaian yang adil dengan prosedur dan proses yang cepat. 17 tahun 1997 ). sehingga Wajib Pajak langsung memperoleh kepastian hukum tentang besarnya Pajak terutang yang dikenakan kepadanya.

Upaya meningkatkan penerimaan pajak lebih mudah dilakukan dibanding meningkatkan keadilannya. Yodi Martono Wahyunadi. akan dilakukan sekaligus oleh Mahkamah Agung. Penyelesaian sengketa pajak pada hakekatnya harus didasarkan pada keadilan dan kepastian hukum baik bagi Wajib Pajak maupun bagi penerimaan negara. Terjaminnya hak Wajib Pajak maupun pemerintah merupakan goal yang ingin dicapai dengan terbitnya UU KUP dan UU Pengadilan Pajak. M.. Peradilan Tata Usaha Negara. atau Badan Peradilan lain. 14 tahun 2002 memberikan pelayanan kepada warga masyarakat sebagai Wajib Pajak untuk menjamin hak dan kewajiban wajib pajak sesuai dengan undang-undang perpajakan yang mencerminkan keadilan dan kepastian hukum. juga penilaian terhadap kedua aspek pemeriksaan yang meliputi aspek penerapan hukum dan aspek fakta-fakta yang mendasari terjadinya sengketa perpajakan. E. di samping akan mengurangi jenjang pemeriksaan ulang vertikal. masih dimungkinkan untuk mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.H). Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung merupakan upaya hukum luar biasa. Penutup Dampak dari kebijakan perpajakan dalam penyelesaian sengketa pajak berupa UU Pengadilan Pajak tersebut agar upaya pemerintah dalam meningkatkan penerimaan dari sektor pajak yang merupakan salah satu penerimaan negara terus ditingkatkan dan dikelola secara bijak dan adil. kecuali putusan berupa "tidak dapat diterima" yang menyangkut kewenangan/kompetensi.Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus Sengketa Pajak. Meskipun demikian.H. maka dari itu pemeriksaan atas sengketa pajak hanya dilakukan oleh Pengadilan Pajak dan putusan Pengadilan Pajak tidak dapat diajukan gugatan ke Peradilan Umum. terutama dalam menyelaraskan beban pajak yang harus dipikul oleh Wajib Pajak dengan pemenuhan kewajiban dan penggunaan hak di bidang perpajakan (H. Dampak dari upaya meningkatkan penerimaan pajak seringkali menimbulkan berbagai masalah yang dihadapi instansi perpajakan dengan pihak Wajib Pajak. . S. Dengan demikian UU No.

2008 2. Salemba Empat. M. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/042/SK/VIII/2001 13. Edisi 8. Darussalam & Danny Septriadi. Artikel Rizky Harta Cipta.Rabu. Arief Wibisono. Bisnis Indonesia. 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak 12. . Makalah Seminar tax-ina. Keputusan Ketua Pengadilan Pajak Nomor : KEP-003/PP/2006. SH. 11 Desember 1996 8. Membaca arah aturan peralihan UU KUP . Triyani Budianto. Raden Suparman. Keberatan dan Banding. Kompas Online. 10 November 2008 5. Perpajakan Indonesia. S. Perumusan Kebijakan Perpajakan Dalam Penyelesaian Sengketa Pajak. Meninjau Dasar Filosofis Dilakukannya Pemungutan Pajak.Daftar Pustaka 1. 2009 April 12 4. H. Badan Peradilan Pajak dan Dualisme Penyelesaian Perkara Pajak. Bagaimana Mempersiapkan Keberatan dan Banding. 17 Juli 2007 6. 2 Februari 2009 9. 17 September 2007 3. Undang-Undang No. Yodi Martono Wahyunadi. Menyoal denda atas keberatan dan banding yang ditolak. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan 10.H.H. Minggu. Waluyo dan Wirawan. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak 11. Parwito.. 30 April 2005 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful