P. 1
Cerpen Horison

Cerpen Horison

|Views: 524|Likes:
Published by teguhafandi

More info:

Published by: teguhafandi on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2012

pdf

text

original

Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. Sebaliknya. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. Naji. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Tetapi. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Mohamed Weess. kini berhimpun di halaman sekolah. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Dalam rakaat pertama. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. Syria pada tahun 1918. ini dibenarkan dalam Qur'an. dia membaca kesemua surah al-Nasr. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. 5 . Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. Dalam tempo sejam. Kami bersembahyang dua rakaat. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. yaitu aku sendiri.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku.

Saya ingin tanya. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Rupanya keraguan dokter terbukti. "Gawat. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Kalau tidak. Yang saya katakan benar. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Takut dan gelisah. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. ''Ya. Kendalikan emosi.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Kemudian masuk pasien keenam. "Oh…. Bu?" tanya dokter. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Pak Dokter!" teriaknya segera. Dokter menghampiri. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Matanya berkaca-kaca. Bu. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. "Tolong. . Perempuan itu tersentak seketika. Tenangkan diri. Keduanya duduk berhadapan. Dokter segera memeriksa. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Tenang sedikit tersenyum. "Ada apa." lanjut dokter. Parasnya cantik. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu.

Ah. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. kecemasan." "Demi Tuhan. Kepedihan. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Bahwa ia dalam bahaya besar. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu." saran dokter.. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Lakukan saja tugasmu. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. semua ini terserah Tuhan. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Dadanya sesak. Dengan memelas. 7 . "Tapi…. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. itu harus intens. Dokter langsung bekerja. "Kurang lebih dua mingguan. Tentu masalah ini akan selesai. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. toh akhirnya akan ketahuan juga." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain." "Suasana hening mencekam. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter." batin dokter. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. Suami saya orang baik-baik. Dok?" tanyanya. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. jangan. Aku harus mengobati perempuan lemah ini." "Oh…."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya.. ditatapnya dokter itu. Dok. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Sudahlah." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit.

Dok. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter." Lalu perempuan itu menghela nafas. Selain Jumat. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. Saya usahakan tiap hari datang ke sini." "Menyesal?" ." jawabnya sembari menarik nafas. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. Tentu. Ini hanya formalitas belaka. "Saya mengidap penyakit. "Sore." "Saya benar-benar menyesal. "Tak perlu takut. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. saya hanya seorang dokter. 8 *** Esoknya." hibur dokter. Menjelang petang. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. "Untuk apa?" tanyanya." ucapnya dengan hati yang terluka. tak perlu sedih." sambut dokter. "Selamat sore. Dok. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. Dok. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. Akan kuusahakan semampu saya." "Oh…kasihan sekali."Tentu. pegawai DPU. perempuan itu datang. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. datang pasien berumur 30 tahunan. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Badannya tinggi tegap. selesai. Ketika perempuan itu beranjak keluar." jawab lelaki itu. Lelaki itu tertawa. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu." katanya.

Mendadak jiwanya bergejolak. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Apa yang harus saya perbuat." kata dokter dalam hati. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. *** 9 . Dok. Giginya geregetan. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. "Saya usahakan. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. "Saya harus bagaimana."Menyesal. Saya benar-benar terjepit. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk." Dokter menerawang. hingga persoalan ini selesai. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. dokter. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama." Abbas bingung. Jangan sampai dia curiga. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Abbas merengek. Dokter menyembunyikan wajahnya. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek." jawabnya lemah. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. "Dok." jelas Abbas. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. Pergi. Mereka menyesali diri. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Lantas bertanya. "Tenang saja. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya.

semakin keras istri saya menolak. Mana?" "Yah…. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. "Oh…hidup di dunia memang susah. Lalu dengan ragu-ragu. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Saudara tidak bisa meyakinkannya. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Sedih. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Ya…. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. Dok. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. bagaimana harus menjelaskan padanya. "Semakin banyak saya menuntut. Saya coba memohon dengan baik-baik. Tapi ia tak melakukannya." Hati Abbas penuh teka-teki. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Tapi saya bingung. ia akan datang bersama Abbas. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. "Entahlah. Impian untuk menimang anak. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Tiba-tiba istri saya gelisah. Wajahnya pucat. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya." Dokter membungkukkan bahunya. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Saya bingung. Dokter mengira sore ini. "Singkatnya begini. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. saya harus menjalani masa sulit ini. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Kemarin malam. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Usaha saya sia-sia. Lalu dengan hatihati. Abbas dirundung ketakutan. Pokoknya tidak. 10 ." tutur Abbas. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Hati saya dongkol. Dada saya sesak.bagaimana lagi. Kebingungan mendekap. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Abbas menggelangkan kepalanya. Aku benci dokter. kini telah hilang. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Rasanya sakit dan ingin marah. Tapi sayang. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. "Menurut Dokter apa?" baliknya. kudekati istri saya. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Seolah tampak lebih tua dari biasanya.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Tatapan matanya layu. bagaimana saya harus meyakinkannya. Entah sampai kapan. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Perlu Dokter ketahui. Saya terus mendesaknya. tidak'. Parahnya.

*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Saya telah ingkar. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Dok? Saya hanya menduga. "Apa maksud semua ini. tak mampu kuasai diri. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Pengakuan dosa.' Belum selesai saya bicara. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Tuhan. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Bengis. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Raut mukanya berubah aneh. 11 . Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Dok. Kepala saya panas. bimbinglah jalan hidupku. saya melangkah ke arahnya. Aku telah bersumpah pada Tuhan. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Tubuhnya menggigil." lanjut Abbas. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Tolong! Jangan sentuh aku. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Istri saya menjerit: 'Ampun. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Karenanya. Otak saya ragu. Saya terjerumus dalam jurang yang curam.Karena saking suntuknya. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Perasaan tentram. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Tubuhnya mengejang.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Dengan murka. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. saya berteriak keras. Matanya melotot. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita." tambah Abbas. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Saya bingung dibuatnya. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya.

badak. tupai dan tikus. Cerita-cerita penaklukan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. hanyut oleh pikiran kami. Maklumlah. serigala dan segala macamnya. Membuat kami begitu merasa terhina. Telah kami sibak semua palung lautan. ular. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. rusa. Sampai kelinci. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Gajah. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. mengantar tidur anak-anak kami. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. dari tahun-ketahun. sejak kami masih dalam kandungan. nenek moyang dan anak cucu kami. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. untuk memburu binatang-binatang. Kami memandanginya dengan gamang. macan. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. sebelum sampai ke telaga ini. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. begitu tercium bau kami. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Sampai kemudian kami menyadari. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Kami seperti mengejar kilat. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. tetapi kali ini. jumlah kami memang makin membesar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Barangkali. Membuat kami cemas. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. sementara . bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. telah lenyap kami tangkap. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas.

Dan itu. Maka kami pun membeli ratusan budak. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. tapi manusia. semua binatang telah habis kami buru. Sampai kemudian ide brilian terlontar.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Mereka kami lepas ke tengah hutan. banyak orang di luar suku kami. Lantas.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Para penjahat itu. sasaran perburuan yang menggairahkan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Kami tak lagi memburu binatang. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. orang-orang 13 . Mereka sudah renta. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Tetapi kami tak bisa menolak. lari. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. membiarkan mereka lari dan menghilang. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. sungguh. perlahan-lahan.. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Inilah hidup yang sesungguhnya. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Karena. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. kami bunuh. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. seperti kami katakan tadi. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral.. “Masuklah dalam hutan. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Mula-mula. Selamat jalan. Menjadi tradisi. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. meski kami akan memburu kalian. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Adakah yang lebih menyenangkan. untuk ikut menikmati perburuan itu. Setiap detik adalah pertarungan. Itu menjadikan kami begitu bahagia. banyak di antara kami yang menolak. tapi tak gampang mati. Liat dan sigap. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Selamatkan kehidupanmu. dengan cara melarikan diri. mendatangi kami. baru kemudian kami memburu mereka. Dan itulah kehormatan. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Kami akan memburu manusia. Anggap semua ini hanya permainan. Rupanya. Semoga nasib baik bersama kalian. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Jangan cemas. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. hingga pecah berantakan. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Tapi itu lebih baik bagi kalian.

kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Para bangsawan. Karena kami sudah terlalu kuat. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Kami. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. para raja. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan.besar di negara mereka. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Kami berdiri di puncak menara peradaban. “Ini darah seorang penyair untukmu. puluhan kepala negara. jangan sedih. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. terkadang. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci.. begitu melimpah buruan kami. Itu sering membuat kami terusik sunyi. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. para demonstran untuk kami habisi. dengan dukungan dana yang melimpah. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. sendiri. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak.” Gelas kami beradu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. menjadi tak tertandingi. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Di antara kemeriahan pesta. tetapi juga. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Kami bangun juga istana-istana. yang melintas bagai badai dan gelombang. keisengan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Suaranya sudah gemetar. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. tetapi kami selalu dirundung sunyi. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. para bangsawan dan pengusaha besar. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. tetapi penaklukan yang membosankan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Kami terus memburu. 14 . Ah. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. melintasi gelombang waktu. menggulung apa pun yang kami sukai.. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. dan kami tertawa bahagia. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. “Kita harus melakukan sesuatu.

berkelok-kelok mengikuti 15 .” kata kami kepada mereka. malaikat. Ya.. Tetapi mereka menolak. katakan kepada kami.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Dan tentu. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. membangkitkan imajinasi kami. sebelum maut menjemputku. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Sekarang. membuat kami begitu ternganga. kami segera mengumpulkan para kiai. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. tetapi masjid itu tak juga penuh. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. Kami segera menghimpun topan. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Kami turut kemauan mereka.” “Baiklah.” tegas kami. mencari kepastian dalam mata mereka. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. “Kami ingin Jibril. Panji perburuan berkibar. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. “Kami tak mau tahu... “Kalianlah yang bercanda.. “Baiklah. telah lapuk.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. bersulang. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Dan aku ingin. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. para kiai itu. Gairah menjalar. meski sesungguhnya heran. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. dari seluruh dunia. “kalian kami beri waktu satu bulan. anggur segera kami tuang dalam gelas.” Mereka. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. kami akan membikin perhitungan sendiri.

Membuat kami tambah cemas menunggu. hingga kayu-kayu bergemeretakan. anak 16 . kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Kami terus berjaga. melihat impian kami sudah di depan mata. seseorang di antara kami berteriak. Kami kirim utusan kembali. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. gembira dan tak percaya. luar biasa. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Kami memagarbetis masjid itu. dan api melahap cepat. Kami panik. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. membuat kami tengadah ke puncak api. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. raib begitu saja. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. menyentuh langit. Jibril. kini telah muncul di hadapan kami. Dan. di sana. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Satu bulan lewat. Begitulah berkali-kali. Kami panggil namanya. tetapi. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. membumbung. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. jangan-jangan semua itu sihir belaka. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. tak pernah muncul kembali. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. bukan? Jangan salahkan kami. itu pun pasti sudah berhimpitan. Gema itu melambung. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Dan kami segera menyerbu. Namun dzikir itu masih kami dengar. di pucuk api berkobar. masuk dalam masjid itu. tetapi tak kunjung keluar jua. bagaimana mungkin? Tapi. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. lenyap seketika. Kami tak mau di tipu para kiai itu. orang kedua kami pun tak kembali. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. itulah yang kami saksikan. Pada saat itulah. mendadak menyadarkan kami. tertelan dan lenyap. Namun orang itu tak kembali. Tombak. Kami sudah cukup punya pengertian. antara takjub dan panik. seperti daun yang melayang-layang itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. mengalun menidurkan rerumputan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. sepanjang hari sepanjang malam. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Membuat kami cemas. di puncak kobaran api. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar.gigir bukit. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Kami bakar masjid itu. Tetapi seperti yang pertama. menguap begitu cepat. ya Allah. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. bersama angin dan embun. Kami tak mau kecolongan. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. sekaligus marah. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang.

Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. dan kami pun tak sempat menguburkannya. meraih peralatan berburu kami. Inilah buruan kami yang abadi. Segera menghambur. mengejar Jibril. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Maka kami pun kembali bangkit. kami memburunya. Kemanapun Jibril melesat. Tombak terus beterbangan. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. kami melihat buruan abadi kami. Dan memang. Kami tak sempat istirahat. roket dan basoka. yang menyimpan bayangan bulan. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Karena kami harus terus mengejar Jibril.*** 17 Yogyakarta. Bertahun-tahun kami memburu. dan langsung melesat. desing senapan mesin. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . Kami begitu sibuk memburu Jibril. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami tak mau kehilangan jejak. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.panah. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. ranjauranjau telah kami tanam. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. “Kejar!” Kami pun melesat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. perangkap telah kami pasang. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. roket terus berlesatan. kami lihat jejak cahaya. melanjutkan pemburuan abadi kami. Kami tak pernah tidur di satu tempat. agar kami mampu meringkus Jibril. Di seberang telaga sana.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Atas izin Tuhanku. Aku bertemu dengan mega.“Maksudku melihat dunia.” “Oh ya. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. Tersenyum dan memberi salam padaku.” Kami berpelukan. Burung hantu mengepakkan sayapnya.” “Ya. Ia menjerit. “Dianing. Ia bugil di malam yang damai itu.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Bulan bulat penuh. Aku lewati langit demi langit. Dianing. “Gerangan siapa membuatmu sepi. Gemerlap bintang menyambutku. bintang.” “Bila Tuhan mengizinkan. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Aku lihat wajahnya sepi.” “Cepatlah kau temui burung hantu.” 22 . “Cukup lama kami menunggu. Seperti menunggu kedatangan. langit cerah. Indah sekali. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.” Burung hantu terbang. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.” Aku terpana. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.” “Ya. “Boleh aku tahu dukamu.” Matanya berpendar. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.” “Ya. Ia menembus awan. mega.” “Tentu. Seperti berabad-abad lalu. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Dianing. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. bulan menuju ke dunia.

Tak sekedar gelap.” panggil burung hantu lirih. Di 23 . Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia. “Bila kau berkenan.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk. terjal dan mendaki. “Dianing. “Bukankah mereka telah menikah. Lismatano.” “Maksudmu. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.” “Bicaralah.” Aku kembali ke hutan Para. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif..” Aku lunglai. Tatapan yang sulit aku urai. Aku terpana.” Aku luruh. Hidup bersama tanpa kata yang jelas.” “Ya. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. “Maukah kau ke hutan Para..” Burung hantu menggeleng. Tiba-tiba begitu sepi. Telah berpaling dengan perempuan lain.” “Mereka seatap tanpa ikatan.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. “Untuk apa.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.Burung hantu menatapku.

tetapi tubuhnya berubah. Tapi.. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Aku yang terpaku.” “Itulah yang pantas mereka terima. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Lismatano telah membatu.” Aku menghela nafas. Saling menumpahkan nafsu. Tubuh Lismatano mengeras. Aku berada di ketinggian menara. Sementara perempuannya berubah binatang. Tubuhnya tumbuh lumut. Aku di atas pohon randu. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka.*** 24 Jakarta.” Aku menekuri tanah.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Pergulatan yang dahsyat. Mei 1997. Perempuan itu.. Sebentar lagi aku harus kembali. Aku tak kuasa melihatnya. Siap menerkamku. “Mengapa dengan mereka. Aku tak percaya melihatnya. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.” Aku hanya mengangguk. Ia tak membatu. Tiba-tiba. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Lebat dan kotor. Ngeri. Besar. Ya. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Dianing. Ya. Lismatano telah membatu dan berlumut. Deru nafas memburu. Aku terpana. . Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Mulutnya lebar ke arahku. “Yuniz nama perempuan itu. Ia berubah jadi batu. Ia berkaki empat. Kini tak bisa bergerak. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri.

Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. Menghapus peluh pada hidung.” “Tentu.. Ada yang mengelupaskan bahu. tentu. asal tahu saja.. tersenyum lebar sebelum menjawab. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak.. Dan berdehem. Ada yang menembus kepala. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu.” Wartawan mendengus.. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. “Begitulah.. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. “Selain pintar mengejar berita.. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran.. misalnya?” Pejabat tergelak. Pak.. Pejabat yang berdasi kuning. Mlah.” Pelatih mengedipkan sebelah mata.. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan.Horison.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. sebagai wartawan.. .. Ada yang menusuk jantung..

. “OK. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. menurut perkiraan dokter.” *** Saat panas menukik terik.” Belum selesai pertanyaan itu. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. “Padahal menurut selentingan kabar. Padahal. Lalu mengangguk-angguk. “Silahkan.. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. “Saya sedang tidak konsentrasi. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah..” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. Harga pistol yang mahal.. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini.” sang rekan merentangkan tangan. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. saya harus menggadaikan pistol ini. memasang wajah serius.” “Untuk melunasi kreditnya.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. Namun wartawan telah kembali berujar.“Tapi. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. Dan. sudah ditukas pertanyaan lain. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik.

dia beralih membunyikan klakson. Wajahnya memucat. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan.“Kelihatannya biaya latihan. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. semakin tak menentu. untuk minta maaf. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. Dan menekan gas dalam-dalam. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. “Kau kan sudah menelepon tadi malam.” pejabat tergelak juga. Menutup kaca jendela mobil. menyeruak kerumunan. saya baru menyadari. Dia tertelungkup. "Setibanya di rumah. “Tak enak rasanya. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau.. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam.. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. “Harus kuakui. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. saat itulah wartawan dan pejabat. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. yang terlambat datang. dan biaya administrasi lainnya.*** 27 . nilai pajak. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. tapi belum sempurna anggukannya.” diulurkan tangan untuk berjabat.. Dia langsung mengangguk keras-keras. Saat fajar bergerak sembunyi. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. Wartawan tergelak.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. harga pistol. “Apakah Bapak. Melihat para wartawan tidak mengerti. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik.

terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. “Bukan mau nraktir. “Dalam dunia pewayangan. “Kramotak. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. “Sebel gua. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. gerombolan Pandawa. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Dewa jangan diberontak.” Sesaat hening. “Sambil makan malam. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. “Belum begitu laper gua ini. BM dong!” balas Kresna.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. saya tidak melihatnya dari sisi itu. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Melewati Alun-alun Bandung. begitu ngepop. mereka sponsor kita kok. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . “Siape ni nyang ngulang tahun. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. lagi-lagi propaganda Amerika. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja.” sahut Kresna. tiba-tiba Kresna. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa.

Tangannya masih menggenggam paha ayam. Takdir kita untuk menerima kekalahan. 29 . Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Bima meraung-raung.” Arjuna bersungut-sungut. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu.” Dewala mencoba menjelaskan. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. “Tidak. Gareng kebagian memesan hidangan. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. “Jangan sok tahu Kau. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Seperti biasa. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. suasana rapat menjadi lebih kacau. Apa pun yang kita rencanakan. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian.” demikian Kombayana punya usul.” Semar mengingatkan. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Bima menggebrak meja.” Dibentak seperti itu. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. “Kukira tidak mesti seperti itu. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. “Misi ujicoba kita gagal. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Punakawan yang lain menyikutnya. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana.yang Hilang. bahkan Semar menjewer kupingnya.” Bisma mengingatkan. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara.” “Ini kehendak Dewata. Dewata telah memutuskannya. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Karena itu. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam.

seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. silaturahmi antarseniman pun terbina. dari kopi dan dari rokok. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. Saya punya teknik. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Kita mengalah untuk menang. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Konon katanya menurut mitos. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya.” “Tapi saat ini saya ragu. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. saya akan membalikkan fakta. Prabu. Kalau sudah seperti itu.” jelas Yudistira. Eu begini Prabu.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. Tetapi kita juga tahu.” *** 30 . tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Pokoknya rahasia. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan.” “Apa itu?” “Ada saja. dalam akhir cerita. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan.” “Bagi saya. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. segala benda serba diuangkan. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. “Justru naskah ini tepat sekali. Dengan demikian. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. Dengan dibahagiakan. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

urusan kriminal itu banyak macamnya. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. sorri. Setelah hilang enam bulan lebih. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. kalian dengar. nih ada laporan kriminil. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi..” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. “Iya. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. “Terima kasih. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Tunggu yeah. Nah. Pak. Pak. Ondol. Pak. hubungi saya yeah. Begini. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa.“Hei. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. sorri yeah. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Ketika pertama kali ditemukan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. “Nah. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. “Sorri. “Hilangnya Ondol yang misterius. Begini. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. dia lagi mandi dulu. Pak. ini dia selesai mandi. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. yang berkaos oblong tadi.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. berdiri dan mondar-mandir. Kalau kalian punya narkotika. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. Di tepi kali di desa kami. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. “Nah. Ondol ditemukan mati di tepi kali. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. begitu Pak. sebentar. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. He he he.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok.” “Sebentar..” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.” yang berkumis memotong. Ayo sekarang lapor sama dia.” 35 . Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan.

Setelah hilang enam bulan lebih. Pak. Ondol ditemukan mati di tepi kali.” kata yang berkaos. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk.” Yang bersandal jepit bersin. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Pak. telah saya dengarkan. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. “Wah. ayo mulai.. Ondol. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis.” Yang bersandal jepit bersin lagi. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Pak. Pak. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . bunyinya mengagetkan yang melapor.. ya. ya.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. Harus ada berita acara tertulis. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus.“Nanti dulu. Pak?” “Tentu saja tidak. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Bagaimana. “Ya. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. begitu Pak. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Ketika pertama kali ditemukan. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. “laporan kriminalitas?” “Iya. Ya. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi.. “Begini. kami tidak membawanya. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun.” “Baik. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Ondol. Pak. “Iya. “Hilangnya Ondol yang misterius.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. “Nah. ya. Laporan lisan saja tidak cukup.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya.. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. Di tepi kali di desa kami. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan.

“Kalau soal ini dibiarkan. Dan yang lebih penting lagi. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. visum dokter. nih. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. Apalagi tanpa bukti. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. “Nah. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.” “Caranya bagaimana. pasti dia kesepian. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. Camat juga beserta ibu. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan.. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. itu namanya baru disebut issyu. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. Kepala Desa beserta ibu. Ada bukti pun. Nah. karena sekarang malam Minggu. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. . sodara-sodara.. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. Kepala Kepolisian beserta ibu. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. dan syarat lain yang tercantum di sini. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. Orangorang yang melapor menunduk semua. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. he he he. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi.” “Betul. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. ya tass. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu.” kata salah seorang. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. “Ingat. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. Ketua RW beserta ibu. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh.

supersibuk. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. kami tidak punya waktu banyak. pengusutan perlu dilakukan. Pada hari itu juga. Pak. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. tidak disiplin dengan waktu. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan.. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. “Begini. atas nama hukum. Menurut salah seorang kerabat Ondol.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. Jelas bukan. Kami lagi sibuk. Sesuai dengan petunjuk Bapak. Untuk mendapatkan visum dokter. 38 . Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu." kata yang berkaos setengah marah-marah. lupakan saja kematian si Podol itu. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. tetapi kalian yang teledor. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. dengan semangat 45.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu.. “Jadi. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. ya sayang sekali. “Sekali lagi. siapa namanya itu. Bukan kami tidak ingin mengusut. lebih baik kematian e. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. mayat yang telah dikubur digali kembali. Kalau kemarin datang ke sini. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. “Aduh. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. Karena itu. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. Lihat." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. bisa saya terima. Salah seorang. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. tentu berita acara kematian ini. kalian lupakan saja. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini.” kata salah seorang.

*** 39 . melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. sebagian lainnya hanyut di selokan.

tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. Bisukah? Tanyaku dalam hati.Horison. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan." jawabnya tenang. "Ya. Lelah rasanya aku memanggil. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. kali ini lebih lebar. bahasa yang sangat asing ditelinganya. Dia tersenyum lagi." "Kalian?" aku heran. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Kulihat di sekelilingku. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi." dia mengangguk. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. . Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar.

Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. telah berubah arah. Akhirnya aku harus memilih jalan. Lama aku menunggu jawabannya. 41 . dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Aku berjalan di bawah penindasan. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. seperti dia sedang serius berfikir. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Karena lamanya aku membuat kapal. Jembatan waktu yang kau tuju. Alis putihnya mengumpul. hanya untuk umatku. Kubabat tanpa sisa. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. aku jadi kebal. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Bahkan tahi. Istriku sendiri yang mengajari. Aku dan anak buahku. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. mereka kusikat. aku bagi kebahagiaan. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh."Ya . Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Bukan untuk kalian. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan." Aku terdiam. Ada guratan gelombang di keningnya. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. juga familiku." katanya menjelaskan. Aku rindu harapan. kadang rumah yang berlebihan. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. seperti katamu. Mereka bebas makan. "Tidak. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Aku sangat kecewa. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. berpakaian. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik." katanya menggeleng.

Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Nuh. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu." "Lalu. Bencana-bencana beruntun melanda." Nuh yang tua itu menggeleng." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Nuh?" tanyaku tak sabar. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. 42 . "Tabah. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. dan gunung-gunung yang kupijak meledak.Mereka punjung kata dengan emas. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku." katanya. tapi hutan itu malah terbakar. Aku jadi sendiri. Tapi layaknya sekat. Bibirnya lembut mengurai suara. tapi di belakang disiapkan membokong. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. akan kutempuh!" kataku. "Ketegaranmu. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Nuh. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Kulambaikan tangan pada orang-orang. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Sambil berlari Dia kuhampiri. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Aku ditandu dan dielu-elu. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. "Jangan mengejek. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Mereka tampak menyongsong. tapi tak juga muncul dalam benakku. Berjalan menyusuri ujung penantian. Lama kucari-cari dan kunanti. Aku berlari di hutan-hutan. Dia tersenyum. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Aku gagal menyentuhnya. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar.

"Ya. Aku terdiam tenang." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. Dia menyuruhku memandang ke atas.*** 43 . terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. "Terima kasih Nuh. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. ke sana!" katanya menjelaskan."Tenang!" katanya. Mataku terus saja menatapnya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya.

telah bergegas pergi dari situ. senja mulai nyungsep. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. pedalaman Irian. Kekuasaan. dulu. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. dan Yogo telah datang. NY. ”Anda bantu saya. lamban. lenggang. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. Persis ketika suatu malam. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. . Paris. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Asing. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. kukira. senja beringsut perlahan. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. sepatu karet dan celana jeans.” aku menyebut pertemuan malam itu. sepanjang malam. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. Pergilah. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. di sana. memberi komando. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Revolusi. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. Tak perlu kontak.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Dia datang dari jauh. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. “Perjumpaan dengan calon presiden. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Sambil mengontrol radio. tadi. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. lenyap sama sekali. Bukan hal mudah mencapai taman ini. usai membebaskan sandera. dia bagai berada dalam situasi ekstase. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. sedang bermula. Usai mengantar Ning. meneguk perlahan hangat tequilla. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. nun beberapa tahun lampau. Kota sedang terbakar. lesu. Ning juga pernah bilang begitu. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. mungkin. Lalu di sini. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. berkeringat.Pada Sebuah Taman. ketika kami tidur bersama pertama kali. bahkan nyaris lunglai. “Kita evaluasi perkembangan. turun amat perlahan. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. tapi. aku segera terbang ke sini. Pagi sekali. mematangkan dan memberi perintah “start”. Senja yang kemarin juga. Mei Oleh: Moch.

Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Akan menyetop aksi.” Singkat. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Presiden yang ternyata sangat lemah. bayang kegagalan mulai tampak. Yogo tampak angker. Presiden mundur besok. Dia berada satu level di bawah. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. “Ia. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Malam kemudian tiba dengan diam. Beberapa buah bank sudah ambruk. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Aku kontan diserang frustasi. “Ning. Di ufuk. “Bang. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. tapi aku punya keyakinan. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Para aktivis telah diamankan. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Sabotase.” katanya simpel. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. dan demi keagungan. Ini harus dicegah. demonstrasi. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. seperti irama tubuhnya: simpel. Kamu pasti setuju. Mungkin dia sedang di istana. hingga subuh ketika kami pisah. tegas dan banal. Ning menelepon. Tak ada basa-basi. Pulanglah. juga kepercayaan atas nama keagungan. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Oh. betapa menggairahkan. rupanya tak dapat dipercaya. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. Markas keuangan sudah terbakar.” 45 . tapi kuusahakan. faktor yang kami tak hitung selama ini. tapi rencana masih sedang berlangsung. Juga kedatangan Yogo yang telat. Lesu. diliputi misteri. Juga keagungan sebuah cita-cita. Yogo tak mungkin datang. Malam yang sepi. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. Dan malam tadi. —lampu teplok kehabisan minyak. Para pemain valas telah terkuasai. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. habis. pupus. Demi Yogo. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. telah aku rekam di luar kepala. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga.persahabatan. segera akan terbukti. Presiden memang sudah terpojok. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Persahabatan itu. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. persahabatan adalah ikatan kita. simpel. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. langsung. kelak. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok.

Tapi tidak malam ini. Suara Yogo. Dia memang lebih matang. cuma handuk. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Malam sudah bertahta. menghanguskan sisa rencana. apalagi kegentaran. aku sudah mandi. almamaterku. Kota masih terbakar. Di sini. Aku benar-benar frustasi. “Ning.” Suara Ning tetap empuk. Menggairahkan. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. Di sini kita bisa berpikir jernih. Yogo: gumamku membatin. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. “Tunggu sampai besok. Duduk menunggumu. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan.” “Iya. Taman benar-benar muram. kamu masih di situ?” “Ya. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Seperti yang sering kamu katakan. pulang. seperti Che Guevara. Memanggil. Hand-phoneku bertulilit.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir.” katanya singkat. kini. Aku ingin berendam. Castro. kini. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir.“Pulanglah segera. Keagungan itu memang ilusi. Kami akan segera terbang ke negeri lain.” balasku memencet “off” pada hand-phone. di taman tempat burung-burung bersenggama. Tak ada kegetiran. alumni Oxford.” “Berendam bersama-sama. Bukan karena risiko yang mesti datang.” 46 . Sementara bagiku? Masih ada Ning. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. utamanya. bukan. di sana prarencana sudah tersusun. “Iya. Tak ada besok. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. Ini tentu akan lebih menggairahkan. balas dendam kalangan militer. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. Bagi Yogo. sekarang atau tidak sama sekali. Sebaliknya.” “Kalau begitu aku mandi lagi. dan tak ada rencana ulang. Udara gerah berbau asap. Durja.” “Sebentar lagi aku datang. aku yang justru panik dan gamang.

” “Aku juga.*** 47 Jakarta. di Brooklynn. nun bertahun lampau.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. Gairah bulan Mei. kurasakan gairah yang lain. Seperti gairah sebuah musim panas. kini. di taman ini. ya!” “Cepat.” “Aku meresapkan bau mulutmu.” Malam.” “Tunggu. NY. Juni 1998 .

“Luh Srenggi. Aneh sekali. Tangannya jadi lapar. Suara itu adalah suara perempuan. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Kopag semakin gelisah. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Seorang perempuan. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Katakan padaku.” Suara itu terde-ngar bergetar. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. kasih sayang. Inilah perempuan itu.2 Mulai hari ini dan seterusnya. “Siapa itu?” “Titiang. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Ratu. Aneh. dan sangat tulus. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan.” Suara itu terdengar gugup. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Apa pun yang .1 Luh Srenggi. Luar biasa. Tangan mereka bersentuhan.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.

sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Dalam kondisi seperti itu. pelayan tua itu. sangat sadar. Bahkan Gubreg. Dia tidak pernah peduli. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Tapi. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Suatu hari. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. “bahkan untuk menilai keindahan itu. cantikkah perempuan itu. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Kata orang. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Kali ini. Kopag harus patuh. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. dan keindahannya sendiri. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. perasaan. bisa dibuat sebuah pementasan. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Seluruh kekayaan ludes. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Perempuan itu menolak. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Tubuhnya kurus dan pucat. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Dia tahu. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Dia hamil.

selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Jujur saja. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. juga impian-impiannya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Karena perempuan Sudra. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. merah. Aneh sekali. kulitnya yang sering jadi pujian. otaknya. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. dan sangat pas. dia memahat pikirannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Untuk pertama kali. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Dia memberi Kopag poin. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. 50 .dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Bahkan Gubreg. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. hidupnya. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Anyir. dia mencium bau darah. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kopag tidak saja memahat kayu. Karena dia bukan kaum Brahmana. Masih kata Gubreg. alam menyerah pada kekuasaanya. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Bagi Kopag. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Dunia yang diinginkan. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Kopag sering berpikir. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Itu yang dirasakan Kopag. parekan.

Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Gubreg. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Ratu. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. sebelum berpulang. aku juga ingin merasakan. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. “Anak itu buta. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Susah. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. aku selalu tersentuh. Tinggi. perhatian yang lain. Dadanya sering mendidih. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Gubreg. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. tentang Michelangelo Buonorrty. Menanggung dosa ayahnya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. yang diterjemahkannya. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Aku ingin tahu. Frans Kafkasau. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Bagi Gubreg. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Kau bisa lihat. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Gubreg. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Lihat. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. tapi mampu memikatku. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. yang konon. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Lihat.” “Seperti apa perempuan cantik itu. “Kau tidak ingin menjawabnya. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya.” Laki-laki tua itu terdiam. Gubreg. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Juga dia baik-baik. “Gubreg. Sejak kecil. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Ratu. Susah. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. pematung jaman Renaisans. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. kau belum jawab pertanyaanku. Kehilangan yang dalam. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. kata Frans. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. rasa apa yang sering membuatku meluap.

dia adalah laki-laki tak berguna. ketajamannya. Dia sering terjaga tengah malam . Sampai menjelang tengah malam. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Gubreg.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. dan mampu meledakkan otaknya. Sebagai laki-laki Sudra. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Dia gelisah. Dia juga laki-laki. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. “Tentang apa lagi.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Begitu penuh misteri. begitu indah. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. angkuh dan selalu lapar. dia luka.. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Luar biasa. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. 52 *** Pagi-pagi sekali. Berkali-kali dia menarik nafas. perempuan yang sangat dihormatinya. Perempuan itu. “Gubreg... kebanyakan. “Aku ingin bercerita padamu. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Sangat paham. Ratu?” “Kecantikan perempuan.. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya.” Keruncingannya. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. memiliki penilaian khusus tentang hal itu.” “Titiang.” Suara Gubreg terdengar patah. Perempuan junjungannya. Semua orang. Ratu. Kaki perempuan itu putih. Gubreg menyaksikan. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga.. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Dia mengerti. Kopag sudah membuka jendela studionya. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Terlebih. Begitu parah. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya.

yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Cinta yang membuatnya jadi batu. berdialog. sampai menguliti otakku. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Sampai sekarang. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Masih kata Balian tua itu. “Gubreg. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Kata Balian itu. Kata mereka. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Demi Hyang Widhi. Pada dasarnya aku selalu penasaran.dengan nafas yang memburu. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. "Gubreg. tanganku. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya.. dan berpikir. Aku selalu ingin tahu. Guemica. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. kau belum juga jawab pertanyaanku. Gubreg. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Tak seorang pun tahu. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. tubuhku. Dayu Centaga tidak terkena.. Dia menarik nafas berkali-kali. tetapi sudah menyerupai air bah. Dia pasrah ketika Balian tua. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Tanpa istri. Rasa ingin tahu yang begitu besar. dingin. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Berkat kekuatan Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Gubreg. mengajakku bicara. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Gubreg paham. tidak juga kesambet setan. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Gubreg tidak sakit.” suara Kopag terdengar pelan. sangat surealis. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Tubuhnya jadi pucat. membesarkan tubuhnya.” 53 . Hyang Widhi. dukun.

“Ratu.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Mendengar komentar itu. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Berkat Kopag.” . Bulan kemarin. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Sayang. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. dia terus mengelilingi studionya. diajar memahami kehidupan. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Kata orang-orang kampung. Dia tahu. *** “Gubreg. Ratu terlihat sangat gelisah. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Kopag memerlukan perempuan. Benar kata Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Sekarang ini keluarga ini tentram. Kopag seperti linglung. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya hanya berisi kehormatan. Jero Melati tersenyum.” jawab perempuan itu serius. Lima menit tanpa hasil. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Gubreg diam. Bahkan. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. dia tidak tahan miskin.Gubreg tetap diam.

Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Wajahnya juga rusak berat. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.“Ya. Gubreg. Kulitnya juga kulit kayu. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.. Gubreg. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Dia adalah perempuan tercantik. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. ada daging besar tumbuh di atasnya. Aku ingin kawin. Kau tahu. Kulitnya begitu kasar. dia hanya memiliki satu mata. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Sadarkah dia. “Maaf Ratu. “Aku sudah memiliki calon.. membersihkan studionya menyiapkan makan. kakinya pincang. Luh Srenggi. *** 55 1. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya.” “Ratu. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Saya 2.” Suara Kopag terdengar sangat serius. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.?!” Gubreg seperti tercekik. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu.” Gubreg ambruk. aku tenggelam dan habis. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . punggungnya bongkok.” Gubreg mengangkat wajahnya.” “Mereka setuju. matanya yang kiri bolong. Ketika dia telanjang.” “Apa kata mereka. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam.

kamu yang melejit. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. kamu terus hidup ngakak. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. dipergunjingkan. Semua orang berdagang. Kehidupan sudah rusak. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. kamu yang enak. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. diperdebatkan. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. Aku yang terdera. Aku diberitakan. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. “Peradaban sudah merosot. meringis. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Ia berdiri di pinggir jalan. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Aku yang kejepit. sehingga mereka menjadi terkenal.Horison. terkemuka. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia.“ kata mayat itu. Aku yang menjadi korban. Air . “Aku yang mati. Aku yang sudah kesakitan. Kamu semua kelihatan saja menangis. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. “Aku yang mati. saling bergotong-royong. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. Aku menderita.

kepatutan. susila.” erang mayat itu. Apa saja yang sudah menyakitkan. menutupi hidungnya. “Biarkan saja. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Seperti bendungan ambrol. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. prasangka dan kesakitannya. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Sekretaris panik. Moral. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. telepon berbunyi. kesalahkaprahan. elegi-elegi. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. Ia menguras seluruh dendam. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. “Tanya Bapak. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. Sama-sama wanita. aku kan hanya menjalankan assignment. “Semuanya busuk. Kalau memang ada yang salah. semua yang tidak adil. menciptakan esai-esai. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. apa saja yang sudah menyinggung. luka. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. ternyata hanya sebuah koteka. untuk membungkus kebiadaban. Pak. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Komputer penuh dengan katakata kotor. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa.” “Biar saja. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer.” “Tapi kursinya rusak. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . Itu kan baru dibeli. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. seluruh ketidak-benaran. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. tata krama. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Akhirnya sekretaris redaksi.

Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. hati dan otaknya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Mayat itu terkejut. 58 . lalu lari keluar. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Di antaranya ada gambar garuda. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. orang yang mampu memahami segala tuntutannya.” Mayat itu menjadi amat girang. Keduanya berjabatan tangan.” Mayat itu mengulurkan tangannya.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. Di situ ia menangis tersedu-sedu. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya.Sekretaris bengong. Mungkin juga makanan. Minuman panas. ia kembali ke kursi. karena mencabik kursi itu. Mayat itu menggelengkan kepalanya. ia menggepeng di atas kursi. Ia berdecak-decak kagum. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Nampak begitu lelah namun damai. saya mengerti sekali. Penjaga kantor itu mengerti. “Kamu mengerti?” “Ya. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. air dingin untuk penyegar. Seperti balon kempes. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Mayat itu berdiri. seperti orang yang mau bersekongkol. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Sekretaris menutup matanya.” “Kamu bisa merasakan. menemukan untuk pertama kalinya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. Itu memang benar. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut.

” “Apa? Kamu budak?” “Betul. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.” 59 . Karena di kedua mata nampak ruang kosong.” Mayat itu terkejut.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. Siapa tahu itu agen polisi. ia hampir terpekik.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. Saya budak. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. Bulu kuduknya meremang. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” Mayat itu bergidik. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu.

Ia tak punya segala-galanya. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. meskipun tidak punya semua itu lagi.” 60 . jangan-jangan kamu. “Ya Tuhan. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Seluruh kemaluannya.” Mayat itu mendekat.” Mayat itu bingung. Jangankan perasaan dan pikiran.. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.” “Edan!” “Ya.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. Mayat itu menggigil. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. Saya harus hidup. Orang itu memang sudah dikebiri total. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. . Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. ia lalu menyentuh. Maaf ya.” “Memang begitu. kemudian meraba-raba. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Apa pun saya tidak punya.. Saya budak komplit.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Tak puas hanya melihat. aku jadi curiga. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah.

Ini kewajiban saya. Gaji kamu berapa sih. Berapa?” “Tiga puluh. kok.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin.” 61 . tetapi apa boleh buat. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. telat mikir. saya manut-manut saja.” Mayat itu ternganga. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Pasti penjaga malam itu korupsi. saya tidak pilih-pilih nama. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya.” “Itu namanya pasrah. wong ini harus. silahkan. suka manggil saya apa saja.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Pak. Pak.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. Saya memang telmi.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat.” Mayat itu berpikir keras. Terserah orang. Bukan hanya saya yang harus hidup. Ia pelan-pelan duduk kembali. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.

” “Kamu sudah mati. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng. “Ayo salaman. "Kamu luar biasa.” “Memang saya sudah mati. Sekarang aku tahu masih ada orang lain.” “Ah! Apa?” “Kata saya.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. tidak akan dituntut. Saya tidak bisa salaman.” “Ya. saya sudah mati." gumam mayat itu terpesona.” Mayat itu termenung.” 62 .” “Tidak bisa. jangan takut. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. “Tidak bisa. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. Tetapi sekali ini. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Jangan keliru.

tetapi bukan. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Tetapi di kantor ini. Mayat kok banyak bicara. Saya tidak tidur.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali.” Mayat itu berpikir. saya sungguh-sungguh.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Selamat beristirahat. Ini bukan waktunya untuk guyonan. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. Boleh saja tidak percaya.” Penjaga malam itu pasang tabek.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. Saya memang mayat. Sumpah. “Kamu jangan main-main. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Harus. Baik.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. lalu ditangkap oleh gelap. Saya mayat yang harus hidup. Pak. Saya sudah biasa tidak dipercayai." Mayat itu bengong. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. tempat saya tidak di kuburan.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul. Dipercaya atau tidak. Tidak apa. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Mati pun saya tetap harus bertugas. 63 . "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. Saya tidak boleh istirahat.” “Tidak. memang beginilah saya. Boleh juga saya disebut begitu.

memanggil saya. mayat itu lalu kembali kepada komputernya.Mayat itu terpesona. Disertai penyesalan penuh.. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. hanya dengan satu gerakan. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. “O tidak. seperti tidak ada artinya sama sekali.11 – 1997 . ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.”. “Ya Tuhan. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Ia merasa sudah terlalu cengeng. tidak. “Maaf. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. kalau begitu. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya.” desis mayat itu. Waktu itu mayat itu merasa malu hati.*** 64 Jakarta. Remang-remang dalam kegelapan. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Tetapi apa daya. lalu kembali lagi ke tempatnya. kalau begitu. Ia abadi. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. 3 . Ada yang lebih jelek. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. “Kasihan. sudah cukup. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. nasibku tidak terlalu jelek..

Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. Sorot matanya memancar berbinar. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Meskipun tua. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Di trotoar-trotoar. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. berkali-kali. tidak ada artinya. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. di perempatan jalan. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. nyaris berteriak. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Sesuatu yang punya arti. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. di emperan-emperan toko. bila direnungkan. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Masuk-keluar kampung. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. tapi pengawakannya tegap dan kekar. Sepintas lalu. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. di mana pun kebetulan ia berada. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Seorang laki-laki tua. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. tempat orang lagi sibuk bekerja. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . lebih separo abad usianya. Karenanya ia ditakuti orang. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi.

Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Di emperan super market. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Siapa namanya. tak ada yang tahu. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di emper stasiun kereta api. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. lebih-lebih anakanak jalanan. Dari mana asalusulnya. Tempat peristirahatannya tidak tetap. selalu berpindah-pindah. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Ada selentingan. penuh bertabur onak dan duri."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Oh ya. Di halte-halte bus kota. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Saridin. Brodin atau Ilmudin. Di pemakaman-pemakaman umum. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. karena penampilannya yang tidak lazim. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Kusir-kusir dokar. Sidin. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. tukang-tukang becak. tak terkecuali gubuknya.

Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Dengan hati sendu dan putus asa. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. sesaat ia tersedak. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Mengapa ia tidak ke sana saja. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Berlampu suram. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. Entah darimana. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. senantiasa dihalau. lari ke kolam mengambil air wudu. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Mereka sulit tidur. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. lalu melangkah ke dalam surau. ia surut. diusir dari satu tempat ke tempat lain. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. 67 . lalu naik ke serambi surau. Tapi sial. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Cepat ia bangkit. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. yang akan melakukan salat subuh berjamaah.menghalaunya. Surau itu lengang dan kosong. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. pikirnya. kebanyakan orang-orang tua. Surau itu tampak kurang terpelihara. sekadar numpang tidur sejenak. untuk beristirahat di malam hari. Kebanyakan orang. apalagi kejahatan. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing.

selalu dipupuknya. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Harapan-harapan. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Jika Saudara kehendaki.. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya.. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. 68 . Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. tidak seperti biasanya. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Dan ketika salat rampung sudah. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya.. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Ia tersingkir. Hartanya musnah. "Saya adalah penjaga surau ini. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Keluarganya punah. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana." jawabnya. Suatu ketika. ia mengelana seorang diri. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Agak lama matanya terpejam. berkeliling kota tanpa tujuan." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Tak seorang pun peduli. Keyakinan dan kebesaran-Nya. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka.

hai pengelana. bahkan di uratnadinya.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh." kata sosok penjaga surau. dan akan selalu terjadi. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. tapi telah keburu sombong dan berlagak. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi.. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. Ini merupakan masa paling buruk. ketika manusia sama ketakutan. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya.*** 69 . seolah-olah ia tertidur lelap. Mereka coba mendekati planet Mars. Ketika saat salat Zuhur tiba.. Kedua belah matanya rapat terpejam. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. dalam hati nurani dan jiwanya. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. hingga menggigil sekujur sendinya. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. indah sempurna tiada tara. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. "Kini.. Di sana segala sesuatu kekal abadi. "Belum lama ini.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. dia sedih sekali dan menangis. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. " "Empat ribu. Kemudian hanya dengan setengah gram. Dan di atas kertas ada angka-angka. Ya. tentu." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi." "Dengan ubin hijau. Matahari menyinari bunga.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Saat itu zaman perang. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela." "Dengan ubin hijau. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. Dan kertas. Sobat." "Empat ribu? Baiklah." Kedua laki-laki itu berpisah. *** . "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat.

Saat itu adalah zaman perang. Pak Guru. Sangat mengharukan. Mengingatkan pada Langemarck. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Para pemuda maju ke garis depan.Lintasan boling." "Pasti akan habis. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. Lalu. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. tanah air. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. berpakaian hitam-hitam. . Ingat Sparta." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. Sangat mengharukan.' Kedua laki-laki itu berpisah. Dia bangkit dan tertawa. Menimbulkan gemuruh halus. Menyeramkan. Upacara yang mengharukan. di belakang. Mengharukan. Mengutip Clausewitz. Ada upacara. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Banyak salib kecil. Berpidato pendek." "Jadi. Pak Guru. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Membacakan Hölderlin. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. Banyak mata bersinar.… Sama sekali tidak. "Nah." "Terimakasih." "Demi Tuhan. "Nah. berhentilah. gada-gada kecil berjatuhan. Mereka berbicara tentang manusia. seribu. Mereka adalah para jenderal. Dua laki-laki bercakap-cakap.

Dan kamu?" "Sama. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. Mereka adalah prajurit." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Saat itu adalah zaman perang. para menteri jalan-jalan di kota." Kedua laki-laki itu berpisah. perempuan itu menamparnya. Yang satu rubuh. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti.*** Dua laki-laki bercakap-cakap." tanya Prajurit. Ketika mereka sedang menembak. Dia mati. Ketika perang berakhir. Tapi dia tidak punya roti. prajurit itu pulang ke rumah. "Mau menembak. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. "Sukarelawan?" "Tentu. "Kenapa tidak." kata Hakim. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. "Kamu tidak boleh membunuh. . Orang itu dibunuhnya.

delapan puluh dua tahun. Waktu mereka dua puluh dua tahun. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Waktu mereka berumur dua tahun. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon.Dia adalah seorang ibu. Jurusan Bahasa Indonesia. Waktu mereka empat puluh dua tahun. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . mereka saling memukul dengan tangan. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Tanahnya sama.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Burung-burung gagak masih menggaok. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. mereka menggunakan bakteri. mereka saling menembak dengan senjata. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. mereka mati. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. Semuanya tanah yang sama. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Waktu mereka enam puluh dua tahun. Waktu mereka berdampingan. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. mereka saling melempar bom. Waktu mereka dua belas tahun.

di bawah bimbingan Dewi Noviami).bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand. Beate Meik. 78 . Birgit Lattenkamp.

dengan banyak pertumpahan darah. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not.. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. sambil memandang sungai Limnat. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. akan tetapi sekaligus menyusahkan. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. pertama-tama Remarque mulai bersenandung..Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . . Juenger datang liwat kota Basel. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. di Flandern maut merajalela”).. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. Pada pertemuan pertama. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. Namun. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. yaitu “Flandrischer Totentanz”. ) 79 1914 Akhirnya. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno.

bahwa gaya penulisan mereka berlawanan.” Novel ini. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. “Omong kosong!” teriak Remarque. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. “Dalam Stahlgewittern. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. seperti Remarque sendiri. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. kata Remarque. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. juga karena disemangati oleh para guru. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. Akui sajalah. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. Dari tiap dua orang. Barangkali sebab itu. juga. sampai sekarang hancur jiwa raganya. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. Remarque. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. dengan sangat teliti. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. satu tidak kembali. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. kami menemukan senapan. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. Dan mereka yang kembali.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck.

Namun. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. melainkan seputar masa lalu.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Andaikan Anda tahu. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan.” Juenger tidak menjawab. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju.” kata Remarque. “Betul. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. Seakan-akan menjadi saksi. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. antara lain pabrik besi Thale. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. berkurang satu orang.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Remarque. Setiap tembakan jitu. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. “buku itu laris. Remarque sengaja tetap membisu. 81 . Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Setiap pecahan peluru tembus. meskipun bentuknya agak diubah. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat.

” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. ada lubang bekas peluru tentu. Juenger juga. Lucu dan memelas sekaligus. jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . sesudah itu M 17. Saya. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. mestinya Anda ketahui juga.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. ... si none. Melorot terus. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. 82 . sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. di meja tulis saya ada kenangkenangan. hampir pipih. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi.“Nah.

Gerhard. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. Aku berdiri di depan. "kemarikan. . Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing.. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu." kataku. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . . kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. "Ayo. "Tidak usah. semuanya akan segera kumakan. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan." kataku. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. ke mari. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. dengan muka selalu menghadap ke . dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. "Idiot. untuk pos pengintaian. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. dan selain membawa peralatan makan. Letnan mengirim dia kepadamu. "orang baru yang menggantikan Gornizek ." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak." kataku perlahan. dia pun membawa rokok. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. "Ini.." kata Gerhard. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. "Dan ini. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. melepaskan kopelrimnya." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. sialan!" Peralatan kopelrimnya. dialah yang mengantarkan orang itu. di mana orang-orang Rusia berada. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya.. Sop buncis sudah dingin.Jak... Dan daging kalengan itu pun kumakan. sesuai dengan aturan. aku tahu bagaimana dia. begitu saja dari kertas pembungkusnya. di pos pengintaian. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh.. "jangan terlalu keras." "Ya." Selama itu. di pos komando. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu.

" gumamnya. "Di pos." "Tidak.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya." bisiknya. dan jika dia menoleh ke samping. ." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya." kataku." katanya lagi. "Duduklah yang tenang. Winnetou. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota." "Tak ada yang boleh.. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok.musuh.. "tapi aku tersedak. "Saudara merahku. "minum seteguk. Anak-anak muda yang malang itu . "kan tidak boleh duduk.." kata sebuah suara yang lemah. "Diam!" aku membentaknya. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya." kataku pelan-pelan. Aku membungkuk. minum sendiri. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental." "Tapi di pos. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. "Terima kasih. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda." katanya menggagap. tangan di lutut. 84 . juga tidak boleh memulai peperangan. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan.. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting." "Kalau begitu. "Sini. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . "Kemari. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri. "Tidak enak?" "Enak.

.. "Aku juga takut." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. jauh lebih baik . Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. tapi lalu dia berkata: "Ya. kalau saja sedikitnya remang-remang. Tetapi kalau terang." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku.. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya. Lothringen. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami. bau keringat. melihat sesuatu. juga sedikit berbau minuman keras. Di bagian depan tidak ada apapun. sangat diam.. tapi memang begitulah mereka semua. "Sekarang lebih baik. . dan hanya siluetnya yang buram dan gelap." "Tidak begitu takut lagi. selalu begitu." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. lalu sisa-sisa sop. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. Avold. sedikitnya sesuatu.. Dia sangat .. aku merasakannya. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian.. kamu tahu. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. juga di pos komando di belakang kami." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini." kataku karenanya. Ah.. "selalu malah." Kami diam beberapa saat." "Dari mana?" "St.... tapi aku bisa mencium baunya.. Dia menoleh lagi ke arah musuh. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan.. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. Di suatu tempat. pikirku. kalau saja hari menjadi siang. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi. kan?" "Ya . setidaknya remang-remang atau berkabut. di 85 . Avold. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya.. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. agak terang. kalau saja bisa melihat sesuatu..Aku pun minum..

ini kalau .. pasukan pengintai. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. "Kalau ." Lagi-lagi aku heran.." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku... sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. kita pasti melihatnya. merasakan bau apeknya. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. maka kita harus tutup mulut. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita.. untukku hal itu selalu memakan tenaga. Kamu sudah bertemu dia. Artinya. dan suaranya bergetar lagi." katanya." omongku terus.." gagapnya." "Habislah kita. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi." katanya." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 . "pos pengintaian.. "Bagus. . mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai. Aku pun minum lagi. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. mendengarnya. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja." katanya dengan suara bergetar. kan?" "Ya.. Tapi tenang. untuk mengekang suaraku. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting.. ke pos komando. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang.. paling-paling pagi hari. menyerang. sampai mampus." kataku..depan sana. betapa baiknya dia bisa berbisik. "Ya. Tetapi itu bukan apa-apa. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. kepada Letnan. Aku paling senang kalau bisa meraung. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi... Lalu kita menembakkan peluru asap merah. mengerti kan?" "Ya. kita harus membunuh mereka. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. seolah seseorang membungkam mulut itu. "mereka tidak datang pada malam hari.. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. Ah.. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. "Tapi mereka tidak datang.. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia.. "kalau kita tidak melihat mereka datang. Berbisik.. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. Dua menit sebelum fajar." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu." Dia diam lagi.. "pos pengintaian.. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. . hampir lebih baik daripada aku. biarkan mereka lewat.. supaya bisa melihat.

..? Begitulah aku bertanya. calo saja." "Jak.. setidaknya hampir selalu." katanya." katanya dengan susah payah. jangan takut.. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka." katanya.." tanyaku lagi. biasanya tentara.. Jak saja..K. melihat lagi ke depan. "Calo apa .. .. "Dari Jakob .." dia mengeluh dalam-dalam.. lalu pergi . "jadi calo. supaya menjadi hangat lagi. dengan sangat tiba-tiba. "aku berdiri di stasiun. jadi kalau seseorang datang. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu. "aku bernama Jak. yang sedang kosong." kataku parau. "Yah." Dia diam sesaat.." tanyaku. dan kalau seseorang datang. "Aku." katanya."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah. aku harus menyikut tulang rusuknya." "Apa?" "Calo.... siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan.... kan. "Dan.. setiap kali kalau mau berbicara dengannya." "Ke tempat pelacuran. ".." katanya. Jak... yah. ingin bersenang-senang. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. Ngomong-ngomong. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi.. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat." "`Gimana.?" 87 . sangat pelan. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku... .... "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan .... kamu mengerti? Tuan.. calo apa ...." "Seperti orang Inggris. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu. Karena tegang aku lupa meneguk minuman. lalu dalam kegelapan. seseorang yang aku pikir cocok. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku. bukan Jeck.. J.A.calo apa. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. ya?" "Tidak.

. "eh. "dan artinya kamu dulu seorang germo." dia tertawa lagi sedikit. tidak punya germo.. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini." potongku. "Gottliese. .. aku punya beberapa perempuan tidak terikat.. aku kan hanya seorang calo.?" dia benar-benar tertawa sedikit.." sambungnya. syukurlah! Kalau punya. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. tapi aku tidak bisa menjawab. "tepatnya uang persen." "Tulang-tulang ?" "Ya. siapa namamu?" "Hubert. dan suaranya sekarang bergetar hebat. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. "Ngomong-ngomong." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. terlalu berbahaya. ya." "Dan. "adalah yang paling baik.. mengerti. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya." dia mendesah lagi. Sekarang. Tidak. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. "Hubert.. "Enak sekali. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . ah. "bukan..." katanya datar. dan dari itu aku hidup. mereka bekerja mandiri. . dia bernama Gottliese. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang.. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain." "Siapa?" potongku." katanya. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . dia mengoceh hampir dengan sendirinya.. kamu mengerti. ya. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . Aneh. Tiga orang. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob. Lili dan Gottliese. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan. "germo adalah tuan-tuan besar.." dia berkesah lagi." katanya kemudian.. Tidak.. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku." kataku sambil memberikan botol kepadanya.. tanpa izin apa pun.. "Ya.... dan. sangat sungguh-sungguh." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. tiran."Bukan. kamu mengerti. kan?" "Bukan. botol itu kosong. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. lepas. mereka tidak punya surat izin... Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. di suatu tempat yang sangat . untuk siapa aku bekerja. dia bertanya. sangat jauh. 88 . boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol. Käthe. perempuan-perempuan itu. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping... tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese.

.." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya... tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang.. kalau pesawat pembom kita datang. Jak.. "Ayo.. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa..." "Jak.. Itu tangkai-tangkai bunga matahari." kataku... Supaya mereka tidak membom kita ." katanya dengan sangat dingin.. dan kalau mereka sudah dekat.kotor dan sebagian hancur tertembak.. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak.. sama sekali tanpa suara... kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini... kamu akan melihatnya dan tertawa. maka sudah terlambat. mereka datang ." 89 . dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. mereka merangkak di tanah.... Itu sesuatu yang nyata." "Tapi lihatlah. seperti ayunan lembut jerami ." "Ah . sebuah garis hitam pekat.. sepi. "kalau mereka benar-benar datang." "Ah." bisiknya. itu bukan sesuatu yang nyata.. kita bisa juga mendengarnya. "Jak. tembakkan yang putih . mereka mengendap-endap. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu.." "Tembakkan yang putih.. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. "aku tidak bisa menembakkan yang putih..... itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. dan itu terlihat ada di ujung dunia. "besok pagi aku sudah mati. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut.. "Anak muda.. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat... manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam... "Ya.. tembakkan yang putih .. sesuatu yang nyata . aku bisa mendengar mereka.. jauh sekali. mereka datang.. ." balasku berbisik.. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius.terlihat sesuatu seperti horison. "kamu gila. aku begitu kaget. betul-betul jauh sekali . itu . jauh.. Di atas garis itu kelihatan agak terang. itu perang.. "Ya. aku melihatnya . "diamlah.. Jak. Kalau hari sudah sangat terang.. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi." kataku... subuh. sesuatu bergerak ." "Besok pagi." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk. Satu saja. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan... sepi sekali." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran. Besok pagi kamu akan tertawa. itu bukan apa-apa. ada sedikit suara gemerincing . mereka datang. "Jak.. dengan sangat pelan-pelan mereka datang.. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap. hitam -." "Aku kan kenal mereka. itu pasti sesuatu . "ya." kataku. Aku hanya punya dua peluru. itu neraka.

"Di Stasiun Pusat?" "Tidak. kemudian cafe itu terbakar. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Stasiun Pusat maksudku. Ya. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun... Lili juga orangnya tidak menyebalkan. dan mungkin sesuatu akan terjadi. bisa-bisa kita jadi selai. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. Gottliese. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. Awalnya. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. Yah. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. aku hanya mendengar mereka berbisik." kataku. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. kamu pasti tidak mempercayainya." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. karena itu orang tidak cepat jadi panik.. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. "Tembakkanlah yang putih. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. kamu tahu. tidak bisa ditebak.Dia diam. . "Jak. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. aku tahu itu." katanya. betul bukan. percayalah kepadaku. dan suara tembakannya akan keras sekali. kadang kasar. kamu mengerti? Dalam setengah jam. dia yang paling baik.. lalu aku pergi kepada Lili. "tidak selalu. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. mereka suka melarikan diri.. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. kalau pesawat pembom kita datang. baru keringat dinginmu mengucur deras. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln." bisiknya seperti seorang sinting. Wajah seorang calo tulen. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. Di mana kamu terakhir kali . karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. kamu tahu. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. aku sedih." sambungnya dengan suara capek. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. . di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. kadang ramah. lebih baik kamu cerita lagi. "Jak." dia membungkuk lagi ke arahku. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. Di tengah jalan. Besok pagi-pagi. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan." aku ingin mulai. tak tahulah aku. Dia memberi aku 90 .. Begitu ingin aku melihat wajahnya. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. dari dekat. Sekarang tanggal 21. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. kamu tahu. Lili di dekat Gedung Opera. artinya hari ini. kita masih punya waktu empat jam. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. Käthe orangnya sangat dingin. Setiap kali. "Di Köln. Dia punya banyak langganan tetap. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. ketika tidak terjadi apa-apa. Dan itu bikin jengkel. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. itu lebih praktis. Barusan tadi. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. Ah. tapi dia sering minum. karena kalau tidak. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. dan kami duduk lagi menyandar..

Menghadiahi. Aku percaya bahkan sebaliknya. Mereka kan tidak boleh begitu. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. Bagaimana tempat tinggalku. "dia hanya mendapat satu Mark." 91 .. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. itu bukan apa-apa. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. Sebenarnya. yang paling cantik. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Ah. Gottliese berbeda." "Menghadiahi?" "Ya. . sampai komisar mereka mengetahuinya.sepuluh persen.. Dia selalu memberi banyak kepadaku.." tanyaku. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. lalu dia akan menonjok mulut mereka. kamu mengerti." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. Kadang hanya lima puluh sen. seorang sipil. menghadapi bahaya ditangkap polisi. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi." "Jak.. Dan dia pun lumayan mengurus aku. "tidak akan lama. . setiap kali setidaknya dua Mark. "Tenanglah. apa aku punya rokok dan lain-lain. "Diamlah. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila.. Dan dia cantik.. paling hanya beberapa menit.. Maka Käthe selalu yang terakhir. Dan kemudian. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. Seorang perempuan yang sungguh melankolis.. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. . kamu mengerti. aku bilang sama kamu. sudah. sangat dekat ke arahku." "Bagaimana. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. Dia sangat pemurah. Kamu harus menunduk. persis seperti pada kita. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. "Ya. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya... itu saja. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. Dan tembakan pertama pun meletus. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. Mereka hanya sedikit mabuk." katanya... . sepuluh sen. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. Sepuluh persen! Sementara. tambahan lagi sudah tua. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun. Dan Käthe masih juga memakiku." "Seorang tentara?" "Bukan." aku ingin bertanya. . kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali.

betul-betul sepi..... dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. Dan yang paling sial." kataku. menyibak tirai perang menyelimuti kami.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. setiap hari nama baru . "Kamu lihat." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. 92 . Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun." katanya pendek.. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . suara gemuruhnya seperti kiamat... di situ. .. ." Dengan segan dia menjawab.. Dia sedikit gila. pakai otak dong.. . karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri." Aku memegang erat lengannya." Nafasnya tersendat... ." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. dan kalau mereka datang. . "sekarang aku akan menembakkan yang putih. dalam terang. karena di belakang dan di depan kami... "Ya. "Bagaimana. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. entah siapa lagi. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang... aku mendengar sesuatu. "Ayo. sekali lagi teriakan . juga lengkingan liar itu. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. Lalu sangat sepi. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. Dia sangat mungil..." bisiknya. "Jak. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. "Cantik. atau Susemarie.. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. sungguh mungil. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku.. wajah seorang calo tulen. Sering dia memakai nama lain .seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. kalau tidak aku bisa gila. "bagaimana parasnya. mereka menyerbu maju. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu." "Tidak . "dan sedikit gila. aku mendengar mereka datang." kataku. "Sekarang . seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . sama sekali." sambungku. Inge Simone... Kathlene. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak. kamu tahu. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk.Tapi teriakan itu tidak berhenti. Tidak bisa lain. Aku pikir. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan." sekarang aku bertanya.. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan . dan dia sering tidak meminta bayaran.." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. kamu akan mendengarnya. "tembakkanlah yang putih... muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila. . sekarang mereka datang. Gottliese itu.

. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah.. lebih hitam dari pada malam.... sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. dia berbisik pelan: "Tuan. ingin bersenang-senang. 93 . malah masih memberi sesuatu. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. der Schlepper".?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. diterjemahkan oleh Dewi Noviami. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya.*** Judul asli: "Jak.

Dan tahulah dia sekarang. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. Alis perempuan itu hitam tebal. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Laki-laki itu mengangguk mengerti. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. tapi sangat samar. kemudian gelas. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Gelas Itu. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. mengapa di dekat . terletak di sebuah rak buku kecil. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. melindungi matanya. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. Di bawah potret ada sebuah gelas. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu.Horison. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. dan kemudian beberapa buku. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Dengan tangan gemetar. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar.

Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. wibawa tinggi. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. martabat. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Saya mengaguminya. Heran. Meskipun demikian.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki." Belum sempat bertanya apa-apa. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. Maka berbicaralah dia asal berbicara. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Dan ketika perempuan itu membuka almari." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. Sungguh agung dia. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. dan derajat sesamanya. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. laki-laki itu agak terkejut. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Matanya sungguh 95 . Dia pasti laki-laki ramah." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya." dia. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak.

"Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. yaitu merayu 96 . laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Nabi Yusuf tidak suka merayu. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. sementara dia suka merayu. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Surat itulah. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. dengan nada sangat melecehkan mereka. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. dialah laki-laki yang saya cintai. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Betul yang kau katakan tadi. Begitu gemar dia membuka-bukanya. dia laki-laki mengagumkan. mengenai buku-buku itu lagi. tidak seorang pun tahu. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. sangat mengagumkan.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. dan akhirnya mengenai payudaranya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Laki. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. Akhirnya laki-laki itu tahu. Ingat. Dan setiap kali saya merindukannya. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dia ingat." kata perempuan itu. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Bagi saya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor." kata perempuan itu lagi. beberapa bawahannya. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain." Laki-laki itu diam. "Laki-laki itulah yang saya cintai. pertemuan dinyatakan bubar. Kalau tidak keliru. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

Dan setiap kali merasa takut. Memang saya sering berkelahi. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Ketahuilah.Dengan tenang. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. bukan apa-apa bagi saya. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. Juli 1990) ." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Meskipun demikian. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. pasti saya bertindak terlebih dahulu. Saya hanya menikmati satu hal." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. Kamu pun sebenarnya iblis. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. sekali lagi.*** 101 (Dimuat dalam Horison. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. Sesama iblis bisa saling mengganyang. tapi perkelahian-perkelahian itu.

Jangan menangis lagi. temanku. Inong! Kering airmatamu nanti. Keringatku mengucur deras. Dadaku telah amat sesak. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Meski lelah.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. kutarik napas panjang. tetapi langkahku makin kupercepat. Aku merangkak dan maju perlahan.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Ngeri? Oi. semuanya. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. 102 . Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Juga saat mereka membantai … keluargaku. lebih baik meniru anjing-anjing itu. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. tanpa alasan. Hari-hari yang meranggas lara. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. Dan kini hari telah semakin gelap. Seperti juga hidup itu. Aku melihat orang. Ya. Dalam remang malam. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. sebelum rumah dan suaminya dibakar. tahukah anjing-anjing buduk itu. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan. menuju Buket Tangkurak. Ffffffhuuih. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Airmataku berderai-derai. diperkosa beramai-ramai. Perih. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Serpihan tanpa makna. Aku melihat semua itu! Ya.

*** 103 “Inong…. saat Hamzah yang telah meminangku. Kami menyanyi. Bersama bayangan Ayah. . aku di rumah. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Ah. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Mak. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Aku menggali. Banyak tulang. Ya.” Aku menggeliat. Kutemukan beberapa tengkorak. Tangannya lembut membelai kepalaku. Aku bangkit. “Sayang. dulu ia cantik…. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Tulang. Ah. Cakarku terus menggali. Mereka gila karena mengira aku gila. awan dan udara malam. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. sudahlah. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. Ah. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. kupingku mendengar langkah-langkah orang.” ujar yang lain. melintas di depan rumah dengan sepedanya. burung hantu dan lolong anjing hutan. Hanya tertawa dan menangis. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. lalu remah-remah daging manusia. Berarti…. Ma’e dan Agam. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. “Ya. “Dari mana. Ya.” kata yang ketiga. ya. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Aku tidak mengganggu orang. juga sangat muda. “Aku cuma jalan-jalan. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. mencoba duduk." jawabku sekenanya. menyanyi nyaring.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. terus menggali. Hangat. Sssssssttt! Tiba-tiba. subuh tadi.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Lalu aku tersenyum malu. kami menari bungong jeumpa. Inong? Aku mencarimu seharian. Dahulu. Bersama desir angin. Cut Dini. dahulu…. “Ia tak berbahaya. biarkan saja. di antara suara serangga malam. Meratapi orang-orang yang kukasihi.

Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. Ia sangat peduli. tetapi tidak Cut Dini.” kuteguk minuman itu. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Ia menyisir rambutku. kecuali semua yang bernama kepahitan. Lalu di dekat perut. “Sudahlah. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. bahkan menyentuh apa pun. Terus mengangguk-angguk. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran.” lirihku. Cut Dini. Kata mereka aku gila! Hah. Berbahaya. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. di belakang…. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Kau anak baik. di antara para tetangga. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Aku suka membantah orang. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. Aku senang sekali.“Aku tahu. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. yang sudi berteman denganku. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid.” ujar Cut Dini. Tangannya koyak. “Apa aku gila?” tanyaku. Segalanya terasa lebih ringan. Lagi pula kau seorang muslimah. Dan … cuma dia. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. ke pengajian.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Namun tiada tepi. “Kau sakit. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Tidak baik pergi sendirian.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. “Aku ingin memakainya. menceritakan banyak hal. Ia memberiku makan.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang.” kataku pendek. Aku belum begitu lama mengenalnya.” katanya pelan. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Cut Dini menatap bola mataku dalam. Kugaruk-garuk kepalaku. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. dasar orang. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Aku tak bisa bangkit.” kata Cut Dini suatu ketika. ketiaknya juga. Aku mengangguk-angguk. Kau sangat terpukul. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. atau sekedar jalan-jalan. “Aku suka. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.” 104 . Menggaruk-garuk kepalaku. Dulu. memperhatikanku. menggapai-gapai permukaan. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. “Therimoung… ghaseh…. mengajakku ke dokter. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai.

” Cut Dini membaca kertas itu.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. Suaranya kadang berubah. Tetapi sekarang semua usai. Jembatan Kuning. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. ambil saja uang ini buat anda. Aku jadi ingin marah. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. “Kami hanya menindak para GPK. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Cot Panglima. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. Kulihat wajahnya marah. Ini daerah operasi militer. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. lebih lekat dari jendela. Kami menjaga keamanan masyarakat. Sungai Tamiang. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. aku tertawa gelak-gelak.” . banyak yang terpaksa menjadi cuak.” Aku nyengir.” “Sudahlah. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. penjagalan di rumoh geudong. meski tak mengerti. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Lupakan saja gadis gila itu. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. semuanya busuk. “Kami orang baik-baik. anak-anak yatim yang terlantar…. Huh. Ah. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. Hua…ha…ha. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku.

Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Mereka tak mampu membela kami. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak.” Aku berhenti melempar. Kurasa ia seorang pemimpin. “Ayo lihat mereka. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. “Masya Allah. “Benahi yang rapi lagi. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. abang dan adikku.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. Aku mau shalat lohor dulu. 106 *** “Keluar. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. Ketika pintu dibuka. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku.” tukasku. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ulon hana teupheu sapheu!” . Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. Aku berhenti jadi burung ajaib. ya. tetap lembut. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Lalu Ma’e dan Agam. “Jangan menjadi burung. nanti perabotan itu rusak. bila ingin shalat seperti manusia. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. sebelum aku bisa jadi burung.” kata Cut Dini tersenyum. Aku berlari ke dapur. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi.” suara Cut Dini. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan.” katanya.

Aku jatuh lagi.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. mereka memang bukan orang jahat.” suara Geuchik Harun. Inong! Semua sudah berlalu. Pusing.“Lepaskan mereka. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. “Allah tak akan membiarkan mereka. di dalam jaring-jaring merah ini. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. tetapi aku tak bisa bangun. hingga aku letih sendiri. “Inong. mencakar. Pedih. Tak jauh. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. menendang. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Tegar. istighfar…. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Silau. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Merah. Wajah-wajah dalam jaring pias. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Jiibandum ureung biasa. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin.” 107 . itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. terkelupas dan berdarah. Inong! Inong. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Wajah-wajah itu retak. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. “Kami tidak membela. Airmataku menderas. “Astaghfirullah. menggigit. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Airmataku menganak sungai. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. saat tak lama kemudian. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Di mana Ayah.

Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Aku berteriak. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Tolong. Aku mencari bunyi. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Ia mengusap airmataku. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Tak ada apa pun. Aku mengamuk panik.Gatra. 5 Agustus 1998. Wajah tulus dengan kerudung putih itu.Kabur.*** 108 Cipayung. tak ada suara yang keluar. Pak. Lalu tak jauh di hadapanku. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. tetapi kaku. mencari bening. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Tiba-tiba suaraku hilang. Menggelepar. . Samar kulihat Cut Dini. Terbit. kulihat beberapa o-rang. terasa berputar. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Aku menangis tersedu-sedu. beri kami keadilan. Republika. menatapku kasihan.” Aku terkapar kembali. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. Berdarah dalam jaring. 1998 Referensi: . mengamuk. . Hah. Di antaranya berseragam. Bapak sudah lihat sendiri. “Inong…. Orang-orang ini tersentak. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). tak ada airmata yang mengalir. Sekujur badanku bergetar.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. mencari gerak. mereka akan membantu kita…. Cuma luka nganga.

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

” Suara itu terdengar bergetar. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Tangannya jadi lapar. Suara itu adalah suara perempuan.” Suara itu terdengar gugup. dan sangat tulus. Aneh. 110 . Kopag harus patuh. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. “Siapa itu?” “Titiang. Seorang perempuan. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Inilah perempuan itu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. “Luh Srenggi. Kopag semakin gelisah. Kali ini. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Tangan mereka bersentuhan. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. kasih sayang. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Luar biasa.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. "Katakan padaku. perempuan yang dicarinya berabad-abad.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing.1 Luh Srenggi. Aneh sekali. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya.

Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Tubuhnya seperti lekukan kayu. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Dia memberi Kopag poin. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Dia hamil. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. hidupnya. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Tubuhnya kurus dan pucat. Tapi. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Kopag . aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Suatu hari. Dia tahu. cantikkah perempuan itu. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. bisa dibuat sebuah pementasan. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. pelayan tua itu. Dia tidak pernah peduli. perasaan. dan keindahannya sendiri. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. sangat sadar. Kata orang. Bahkan Gubreg. Perempuan itu menolak. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Dalam kondisi seperti itu. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Seluruh kekayaan ludes. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam.

Ratu. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Bahkan Gubreg. otaknya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Karena dia bukan kaum Brahmana. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. aku juga ingin merasakan. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Ada-ada saja yang diributkannya. Karena perempuan Sudra. dan sangat pas. juga impian-impiannya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Aku ingin tahu. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. kulitnya yang sering jadi pujian. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Dunia yang diinginkan. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.” 112 . Itu yang dirasakan Kopag. Anyir. Kopag sering berpikir. parekan. merah. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. dia memahat pikirannya. Jujur saja. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Untuk pertama kali.tidak saja memahat kayu. alam menyerah pada kekuasaannya. Masih kata Gubreg. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. dia mencium bau darah. Aneh sekali. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Bagi Kopag.

dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Gubreg. Jaga dia baik-baik. Kau bisa lihat. Gubreg. Susah. Tinggi. sebelum berpulang. Begitu penuh misteri. Menanggung dosa ayahnya. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. aku selalu tersentuh. begitu indah. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kehilangan yang dalam. Luar biasa. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Kopag tidak lagi membutuhkannya. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. kau belum jawab pertanyaanku. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Lihat. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. ketajamannya. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. “Kau tidak ingin menjawabnya. Susah. Bagi Gubreg. “Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Ratu. Kopag sudah bagian dari nafasnya. 113 . Lihat. “Anak itu buta. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Gubreg. tentang Michelangelo Buonorrty.” Keruncingannya. Gubreg. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. rasa apa yang sering membuatku meluap. kata Frans. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Gubreg. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. yang diterjemahkannya. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Sejak kecil. Frans Kafkasau. Dadanya sering mendidih.Laki-laki tua itu terdiam. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. perhatian yang lain. “Gubreg. tapi mampu memikatku. pematung jaman Renaisans. yang konon. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu.

Semua orang. Sebagai laki-laki Sudra. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. dia adalah laki-laki tak berguna.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Ratu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya.. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Perempuan itu. Perempuan junjungannya. Berkali-kali dia menarik nafas. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Begitu parah. . “Tentang apa lagi.. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Sampai menjelang tengah malam. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Gubreg menyaksikan. Kaki perempuan itu putih. perempuan yang sangat dihormatinya. dia luka. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya.. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Dia mengerti.. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. kebanyakan. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Kata Balian itu. Masih kata Balian tua itu. memiliki penilaian khusus tentang hal itu.” “Titiang.” Suara Gubreg terdengar patah. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Dia juga laki-laki. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Kopag sudah membuka jendela studionya. Sangat paham. dukun. *** 114 Pagi-pagi sekali. “Aku ingin bercerita padamu. Hyang Widhi. dan mampu meledakkan otaknya.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali.. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Tubuhnya jadi pucat. angkuh dan selalu lapar. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Dia gelisah. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Terlebih. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada.

Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. dan berpikir. Rasa ingin tahu yang begitu besar. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. mengajakku bicara. Demi Hyang Widhi. Dia pasrah ketika Balian tua. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Gubreg paham. 115 . tanganku.. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. kau belum juga jawab pertanyaanku..” suara Kopag terdengar pelan. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. mem-besarkan tubuhnya. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. berdialog. Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. diajar memahami kehidupan. Dayu Centaga tidak terkena. tidak juga kesambet setan. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. sangat surealis. Sampai sekarang. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Guemica. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang membuatnya jadi batu. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. dingin. Tanpa istri.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Dia menarik nafas berkali-kali. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. sampai menguliti otakku. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. “Gubreg. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. “Gubreg. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan.” Gubreg tetap diam. Kata mereka. Tak seorang pun tahu. Gubreg. Berkat kekuatan Gubreg. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Aku selalu ingin tahu. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Gubreg tidak sakit. tubuhku. tetapi sudah menyerupai air bah. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara.

” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.” “Ya. Otaknya hanya berisi kehormatan. Benar kata Kopag. Mendengar komentar itu. dia terus mengelilingi studionya.Berkat Kopag. Ratu terlihat sangat gelisah. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Sayang.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Gubreg. Kopag seperti linglung. Gubreg diam. . Jero Melati tersenyum. Sekarang ini keluarga ini tentram. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. *** “Gubreg. Dia tahu. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Kopag memerlukan perempuan. Bulan kemarin. Lima menit tanpa hasil. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu.” “Siapa?” “Adik perempuanku. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Bahkan.” jawab perempuan itu serius. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Kata orang-orang kampung. Aku ingin kawin. “Ratu. dia tidak tahan miskin.

kakinya pincang. punggungnya bongkok. Saya 2. Gubreg. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. aku tenggelam dan habis. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.” Gubreg mengangkat wajahnya. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Kau tahu. membersihkan studionya menyiapkan makan. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Wajahnya juga rusak berat. Luh Srenggi.?!” Gubreg seperti tercekik. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. matanya yang kiri bolong. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.“Maaf Ratu.. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam.” “Apa kata mereka. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya.” Gubreg ambruk. Kulitnya juga kulit kayu. Maret 2000) . ada daging besar tumbuh di atasnya. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag.*** 117 1.” “Mereka setuju. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia. Dia adalah perempuan tercantik. “Aku sudah memiliki calon. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. dia hanya memiliki satu mata. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. Ketika dia telanjang. Kulitnya begitu kasar.” “Ratu. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.

Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. “Jim!” ulangku. 118 .. mereka membunuh diri. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi.. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia.” kata Jim datar. “Ya.” kata Jim. “Oh.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. Tak ada jawaban. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku.” “Jim.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. Cepat-cepat ia mengatakan. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. Aku takut. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri.!” panggilku. “Pasti dari Jim. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. betapa mengerikan. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. “Tak masuk akal.. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. tergolek bagai barang tak berguna.” kata hatiku. Sampai pada kalimat tersebut. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.. mengapa harus menjadi batu. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. Lima belas tahun yang lalu. Beberapa saat ia terdiam. Sambil mengangkat gagang telepon itu. ya seperti yang sudah kuduga. tetapi aku sudah membayangkan.” simpul Jim. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya..

. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. lantas berkenalan dengan Niru. teruskan. Aku belum pernah setakut ini.. Ya. aku merasa meneliti diriku sendiri. tetapi oleh waktu. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. “Halo. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.... tetapi yang terdengar hanya tut . begitu orang menamakan asal Niru. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. menuju rumah sahabat kami tersebut.. tetap memandu Jim di lapangan. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk.. sangat takut. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi.” Jim agak berteriak. tut.. sekitar 150 km dari sini. tut . Niru masih bujang bedengkang waktu itu..sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. Hallo. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya... Suku Montai. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Sayang. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik.” Aku menarik napas. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. tetapi masyarakatnya terbelakang. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. sebenarnya hampir tergolong primitif.. .” kata Jim. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya.. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. 119 *** Dinihari. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku. hubungan kami terputus. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim... “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu.” “Aku takut.. ketakutannya terasa semakin besar.

lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu..” kata Jim. . Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Tak jauh dari Niru. Leman. menusuk-nusuk hati Jim. Dulu. Berat. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. juga mampu menghidangkan suasana lain. Duduk saja di sini. ke pinggir hutan selatan. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. Jim kembali memutarkan badannya.” Terdengar Niru ketawa kecil. Jim terpelanting. turun ke tanah. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. malah ia semakin gelisah. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. wajahnya pun terlihat berayun. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini.. Raut. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. Angin berkibar. dan. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. “Tapi Niru. mengajak Jim berbincang. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. Menengadah.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. “Sungguh.” kata Niru. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. “Atau Katik. Aku memegang batu itu. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. semula aku tak percaya. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Terasa begitu cepat waktu berlalu.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. 120 . “Aku panggil Tuk Batin ke sini. anak-anak. sebelum fajar menyingsing.

“Kau percaya cerita ini?” “Percaya.. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu.... dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang.. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. nanti saja. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya.... Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau....” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem.. Kudengar juga suara anakku mengerang. Apalagi waktu itu. tapi nantilah . Kendaraan mulai lewat di depan rumah. Aku takut. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut .” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. tut . terdengar suaranya tersendat-sendat. Ia seperti duduk di ruang . “Ini sungguh amat menakutkan aku. Belum ada lagi panggilan dari Jim. telepon masih terlentang. damar yang sulit dicari. tetapi hujatan Jim _ya.keras sebagaimana layaknya batu. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. Cepat pula ia bertanya. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. *** Sampai menjelang subuh.” sambung Jim. “Lantas. Aku ingin mengatakan.” “Ya. Ya. soal-soal kemesraan..” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. dan. tut . sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. aku tak mungkin berbohong. Dari jendela.

Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. sendok. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Dini hari. Tak diajaknya aku. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. yang pernah kusaksikan beberapa kali. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. Tak ada perubahan. Setahuku.tengah. Katanya. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. ketika mataku sudah terlayang. seorang teman lama. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. ia kemudian mengatakan ingin keluar. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. dan entah apa lagi.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. lesung. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. bantal. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. limau. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. tilam. Kalaupun ada perubahan. mungkin tujuh tahun yang lalu. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Ada juga batu berbentuk kapal. Kakinya terkepang. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Konon. jalan yang lebar. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Keesokannya. “Aku ingin reuni di Montai. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula.

. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. Ketika kutanyakan khabarnya. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya..” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan..” . “Pulanglah dulu ke sini. bahkan kami di kota ini. dan tak henti-hentinya mengusap muka. Niru hanya mengatakan: payah.” kata Jim. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. Baiklah. menelan air liurnya beberapa kali. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. “Ketika kutanyakan hal ini. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. bawa bertenang. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. Jim menjawab dengan sedu-sedan. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. payah. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas. telepon berderak.tandus.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. tidak cukup hanya melalui telepon. “Sudahlah Jim. memang sulit. Jim juga mengatakan.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. Aku akan menjemputmu.

Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam.. ternyata bocor. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Tetapi mata Niru.” Kalimat Jim terputus. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. ia dan keluarganya juga begitu. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Matanya memandang tembus ke langit. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Tetapi aku melihat. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut... bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri.. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. dan entah macam mana lagi. sementara otaknya melayang entah ke mana. ketika. berdiri bercekak pinggang.. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Ada yang sedang mencangkung. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. tetapi ia 124 . bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. Tangan kanan menopang kepalanya. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. “Ya. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung.. Ia merasa amat letih. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar.” kata Jim. Bontik.

terasa seperti jarum menusuk telingaku. giliranku. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun.*** 125 (Dimuat dalam Horison. September 1997) . semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. Seharusnya. aku berkata pelan.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam.” Jim marah besar. Kau sudah mati. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. Entah apa yang dipekiknya. Kalau saja Jim tahu. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. “Kau bangsat. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Memandang ke langit-langit. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. “Tapi aku bertambah kecewa. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Bukan bermaksud menjemputku pulang. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam.” Sungguh. keluargaku. ia tak tahu. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. Suaranya lantang berkumandang. aku juga meletakkan gagang telepon. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan.

Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. tapi tak gampang mati. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. badak. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. nenek moyang dan anak cucu kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Gajah. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. jumlah kami memang makin membesar. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Sampai kelinci. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Kami seperti mengejar kilat. untuk memburu binatang-binatang.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. tetapi kali ini. begitu tercium bau kami. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Maklumlah. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. hanyut oleh pikiran kami. Membuat kami begitu merasa terhina. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. tupai dan tikus. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. ular. tetapi masih sanggup berlari 126 . Telah kami jelajahi seluruh hutan. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. mengantar tidur anak-anak kami. Cerita-cerita penaklukan. Barangkali. sesekali meleleh oleh arus gelombang. rusa. macan. sejak kami masih dalam kandungan. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. dari tahun ke tahun. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Membuat kami cemas. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. telah lenyap kami tangkap. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Telah kami sibak semua palung lautan. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Kami memandanginya dengan gamang. Sampai kemudian kami menyadari. sebelum sampai ke telaga ini. serigala dan segala macamnya. Mereka sudah renta. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat.

Karena. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Selamat jalan. semua binatang telah habis kami buru. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. perlahan-lahan. Dan itu. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Mula-mula. sasaran perburuan yang menggairahkan.. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. “Masuklah dalam hutan. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Menjadi tradisi. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Para bangsawan. Rupanya.. kami bunuh. banyak orang di luar suku kami. puluhan kepala negara.mengejar antelope. baru kemudian kami memburu mereka. hingga pecah berantakan. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. sungguh. . Selamatkan kehidupanmu. Sampai kemudian ide brilian terlontar. meski kami akan memburu kalian. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Inilah hidup yang sesungguhnya. Liat dan sigap. untuk ikut menikmati perburuan itu. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. seperti kami katakan tadi. lari. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Kami tak lagi memburu binatang. Para penjahat itu. Adakah yang lebih menyenangkan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. dengan cara melarikan diri. para raja. para bangsawan dan pengusaha besar. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. banyak di antara kami yang menolak. Dan itulah kehormatan. Anggap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik bersama kalian. tapi manusia. Maka kami pun membeli ratusan budak. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Jangan cemas. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. membiarkan mereka lari dan menghilang. mendatangi kami. Lantas. Tetapi kami tak bisa menolak. Kami akan memburu manusia. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. orangorang besar di negara mereka. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam.

. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Karena kami sudah terlalu kuat. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini.” Gelas kami beradu. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Kami terus memburu. para demonstran untuk kami habisi. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. “Kita harus melakukan sesuatu. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Kami. dan kami tertawa bahagia. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Ah. menjadi tak tertandingi. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. terkadang. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. “Ini darah seorang penyair untukmu. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. dengan dukungan dana yang melimpah. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. menggulung apa pun yang kami sukai. Kami bangun juga istana-istana.. Suaranya sudah gemetar. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. . ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. sendiri. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Kami berdiri di puncak menara peradaban. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. tetapi juga. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. begitu melimpah buruan kami. tetapi penaklukan yang membosankan. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. melintasi gelombang waktu. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. jangan sedih. Di antara kemeriahan pesta. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. keisengan. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. yang melintas bagai badai dan gelombang.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi.

” kata kami kepada mereka. tetapi masjid itu tak juga penuh. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. membuat kami begitu ternganga. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat.. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. Gairah menjalar. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. “Baiklah. Ya.. . anggur segera kami tuang dalam gelas. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. katakan kepada kami. para kiai itu.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan.. . kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. dari seluruh dunia. bersulang. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. malaikat. “kalian kami beri waktu satu bulan. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami.” “Baiklah. mencari kepastian dalam mata mereka. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. membangkitkan imajinasi kami. Dan tentu. “Kalianlah yang bercanda. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Kami segera menghimpun topan. Tetapi mereka menolak. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka.” Mereka. kami segera mengumpulkan para kiai. “Kami tak mau tahu. kami akan membikin perhitungan sendiri. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. sebelum maut menjemputku. telah lapuk. Sekarang. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.” tegas kami. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. “Kami ingin Jibril. Kami turut kemauan mereka. meski sesungguhnya heran. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. itu 129 . Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Dan aku ingin. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Panji perburuan berkibar..“Aku sudah mencium ajalku.

membumbung. menyentuh langit. Kami kirim utusan kembali. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Membuat kami tambah cemas menunggu. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. bagaimana mungkin? Tapi. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. tetapi tak kunjung keluar jua. masuk dalam masjid itu. antara takjub dan panik. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kami tak mau kecolongan.pun pasti sudah berhimpitan. Kami sudah cukup punya pengertian. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. desing senapan mesin. raib begitu saja. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Gema itu melambung. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Satu bulan lewat. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. seperti daun yang melayang-layang itu. itulah yang kami saksikan. kini telah muncul di hadapan kami. membuat kami tengadah ke puncak api. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Namun dzikir itu masih kami dengar. 130 . Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Tombak. Begitulah berkali-kali. seseorang di antara kami berteriak. dan api melahap cepat. Dan kami segera menyerbu. Pada saat itulah. ya Allah. di puncak kobaran api. mengalun menidurkan rerumputan. Kami panik. luar biasa. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Membuat kami cemas. mendadak menyadarkan kami. Lantas kami tak bisa lagi sabar. melihat impian kami sudah di depan mata. sepanjang hari sepanjang malam. Jibril. roket dan basoka. tertelan dan lenyap. Kami terus berjaga. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Kami panggil namanya. lenyap seketika. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. jangan-jangan semua itu sihir belaka. tak pernah muncul kembali. anak panah. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. bersama angin dan embun. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. di pucuk api berkobar. hingga kayu-kayu bergemeretakan. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. bukan? Jangan salahkan kami. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. di sana. Namun orang itu tak kembali. Tetapi seperti yang pertama. orang kedua kami pun tak kembali. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Kami tak mau ditipu para kiai itu. menguap begitu cepat. gembira dan tak percaya. Kami bakar masjid itu. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Kami memagarbetis masjid itu. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. sekaligus marah. Dan. tetapi. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak.

kami melihat buruan abadi kami. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Ke mana pun Jibril melesat. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan.“Kejar!” Kami pun melesat. roket terus berlesatan. meraih peralatan berburu kami. Kami tak sempat istirahat. Inilah buruan kami yang abadi. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Karena kami harus terus mengejar Jibril. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. perangkap telah kami pasang. Januari 2000) . Kami begitu sibuk memburu Jibril. dan kami pun tak sempat menguburkannya. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Maka kami pun kembali bangkit. Tombak terus beterbangan. Dan memang. Di seberang telaga sana. Segera menghambur. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. yang menyimpan bayangan bulan. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. kami memburunya. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Kami tak mau kehilangan jejak. mengejar Jibril.*** 131 Yogyakarta. dan langsung melesat. ranjauranjau telah kami tanam. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. agar kami mampu meringkus Jibril. Kami tak pernah tidur di satu tempat. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Bertahun-tahun kami memburu. melanjutkan pemburuan abadi kami. kami lihat jejak cahaya.

Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. main bola kaki. Dan apabila ada mobil lewat. Namun. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. Dunia Fantasi Ancol. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Belakangan. Apalah arti sebuah nama. di jalanan yang sempit itu. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. apa pun namanya. atau melompat-lompat main engklek. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. 4 . Sebuah gang sempit yang tak berarti. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. beca terutama. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. Hotel Indonesia. dapat menduganya. oleh tukang. Tak tahu siapa yang mengubahnya. main petak-umpet. anak-anak menyibak ke tepi. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. disingkat saja menjadi Gang Jalil. Monas. untuk cepat dan mudahnya. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. Seakan. setelah mobil berlalu. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. Kadang-kadang. main galasin. anak-anak bermain gundu.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. Tapi semua orang seperti sudah maklum. main layangan. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Di sana. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. seperti Taman Mini. berkejaran. dan lain sebagainya. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. main congklak. sehingga menjadi Gank.

” “Bagian apa?” “Tau. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. Kok. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. Dan tanya lagi. ngurus hal orang lain. penjual nasi Padang dan Tegal. montir. 7 Jika lagi kehabisan. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. satpam. tukang listrik. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. dan tanya lagi.” begitu kami selalu menjelaskan.” “Lebih pantas lagi. rumah-rumah. Tak tahulah.” kata mereka. pegawai negeri dan swasta. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. kami pun sederhana. pegawai negeri biasa saja. makelar. pelayan toko. pedagang kaki lima. dosen. kenek. “Pantas!” jawab mereka. tukang cukur. menjabat bagian basah.Rata-rata. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. bidan. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. guru sekolah.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. perawat dan lain sebagainya. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. sopir. tukang kayu.

Dan lepas tengah hari. 11 Lepas Isya dan makan malam. yang berantem.. soal anak-anak. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Biasanya. Tsainakum. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Ainakum. Anehnya. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. Tsaanakum. sungguh menitikkan air liur. atau listrik yang korsleting.. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. mengantar kantuk. 12 . Uunakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Yang paling cepat ketahuan. di luar pekarangan rumah. lebih terkenal: gaple. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tak tahulah. Yang ini. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. Atau juga. Biinakum. boleh dikata selalu ada permainan domino. melayang jauh dihantar angin siang. kalau ibumu menggoreng ikan asin. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Baanakum. Tuunakum. Tiinakum. Taanakum. Pada malam minggu. Tainakum. Baunakum. Tsuunakum . terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum.mesin jahit. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Iinakum. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. mengasyikkan. Bainakum..” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. teriakan penjaja sayuran dan makanan. ke sepanjang gang. teriakan anak-anak bermain. 8 Sesekali. tak bisa dirahasiakan. Taunakum. Tsiinakum. Aunakum. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. Buunakum. Tsaunakum.

setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. menyanyi dan main gitar. dan yang lain segera menyorakinya. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Najib. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Heran. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. Menurut Ustadz Malik. persis pengamen jalanan. Di tengah pengajian sedang berlangsung. Atau disusul adiknya disuruh pulang. Sekarang tidak. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. hampir sebaya. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. Usia kami tak jauh beda. sekali sebulan pada petang Jumat. 14 Sekali-sekali.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. ikut hadir. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. sebagai basa-basi. Martin. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. 15 Bagiku. ayah-ayah kami pada mengantuk. semua membuka matanya lebar-lebar. kalau main gaple semalam suntuk. saling menenggang. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. Dulu ketika masih kecil. kami sering berantem. Kami menyebutnya ‘markas’. sedikit kaget dan lantas tertawa. kami saling menjaga. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. 16 . Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. agaknya dangdut dan pop itulah. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. setengah melucu. tapi tak kena: sumbang. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. Kami yang muda-muda. tak sampai larut. Semua jenis lagu kami senang. pop sampai keroncong. mulai dari dangdut.

cara tersenyum. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Dan sekarang. Kami tak tahu pasti. “Inggris. Masuk kantor keluar kantor. Sejak jadi pemain teater. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. deh. Gayanya mirip-mirip Rendra. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. berat. ekspresi wajah dan lain sebagainya. Kalau ia bicara. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. guru ngaji di gang kami. maunya. Tak acuh. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Pokoknya. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. ni yee?!” ejek anak-anak. Di situlah ia bercokol. Selangit.Hamzah gitaris andalan kami.” tambah yang lain. apakah dia masih bisa berbisik. biaya kuliah terlalu tinggi. benar-benar ia putus sekolah. tak mungkin. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. Tapi Hamzah tidak marah. seakan ia jauh dari kita. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. kalian tahu. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. Gaya bicaranya. “Maklum. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. ia tahu diri. jalannya. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. bacaannya bukan komik lagi. di luar jangkauan. Itu. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. deh! Bayangin. Akan hasil perburuannya itu. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. bukan cerita silat lagi. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. gayanya overacting. gerak tangan. Najib anak Ustadz Malik. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah .

sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. Nah. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Apakah ia suka atau tidak. “Jangan lupa shalat.tahu jalan ceritanya.” pesan ayahnya. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. Artinya. Sebenarnya. tak alang kepalang. dan semua orang di gang. Siang hari ia tidur. Agaknya ia kalah. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. dan di mana mau shalat. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. tentu kau sudah dapat menebak. merunduk terus. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Yang ia tahu. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Tony memintaku. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. berang. Lingkungannya tak memungkinkan. Najib mulai bekerja di sana. Kaget. Tony bungkem. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. tak membantah sepatah pun. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. ke Pesantren Bangil. heran. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Ketika hal itu disampaikan. Jelas Najib berbohong. dan tak ada tempo. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. bingung. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. setelah Najib ditest. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Sampai kapan? Dan kami. 137 19 Sebaliknya. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Najib merasa sangat terhimpit. bukan main kagetnya sang papa. kerja. Bekerja di bar itu dosa. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. rumah minum. Pokoknya. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. kami. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. . dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. Beberapa hari kemudian. pimpinan pesantren itu. siapa sangka. anak pegawai pajak yang gedongan itu. seperti musang. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. tapi dilakoninya terus. bagaikan disambar petir di siang bolong. menguji keimanannya. Pengasih dan Penyayang. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya.

Papa memang selalu begitu. Jelas ini fitnah! . anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. Ma. dunia dan kesenangan melulu.. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. Ikut pengajian gelap. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . Ya.. Tapi. menjadi anak durhaka. papanya jatuh sakit. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. Dan kesan pertama kita melihatnya. Saya hanya bisa berdoa. bukan?” “Tidak sekarang. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. agar semua kami ditangkap. Allah. Coba. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . pengajian subversif. Kau lihatlah si Aisah. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang..” Aku mencoba melunakkan hatinya. tak lain tak bukan. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. kulihat air matanya menggenang. hampir menangis. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. nampak kesal. hampir saya tidak bisa memaafkan papa.. kesenangan .. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima.. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. Aisah yang satu ini. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). anak-anak perempuanmu. Kini. teman kami juga. Dalam batin. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga.” Pakaian yang menutup aurat. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. pada hari ketiga.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Tapi Tony tak mau. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. masak papa tega menuduh saya subversif.. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. istri-istri orang mu'min. dari ibu Tony.. martabat. Dan katanya: “Coba fikir.. itu kata lain dari pada kerudung). Nah. Dunia. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran.. pengajian yang disusupi faham komunis. menurut Ustadz Malik. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. hanya mencari kesenangan dunia…. Ada lagi. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. pimpinan Imam Hassan Al-Banna.” jawabnya pasti. tapi miskin rohani. apa pun namanya.

midi. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. maaf. siapa yang mau saja. “Itu waktu saya masih jahiliyah.” kataku pula. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. Namun ia tetap dianggap melanggar. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Kayaknya semua pakaian rok. lisan dan tulisan. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. apalagi mini.a. ekstrim itu. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). kapan saja. Sebenarnya. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. Yang kutahu Aisah tetap tegar. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma.” “Kau ini aneh.” Mantap sekali ia. di mana saja. “Itu namanya.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya).. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis.. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal.” jawabnya. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. agar mereka tidak diganggu. Oleh kepala sekolah. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. perancang busana.seluruh tubuh mereka. Garagara pakaian jilbab itulah. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. baik yang maxi.” katanya. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Tapi Aisah tak acuh saja. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. “Menyuruh orang membuka aurat. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. dan dosa yang dilakukan orang itu. sejak Aisah menjadi eskrim. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. ia berdosa dan aku pun berdosa. fikirku.. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. misalnya pada An Nur ayat 31. barangkali. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. Rezeki di tangan Allah. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. blus yang dulu. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. Aisah boleh bermantap-mantap. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. Aisah. masih ada beberapa ayat dan hadis. Dan sejak itu.

suka becanda. ya (senyum. yang terlibat narkotik itu.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah.. 140 22 Di mana pun.!” teriak anak-anak serempak. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu.” . Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. yang merokok itu.!” tambah kami lagi. ‘kali. Kita curiga dengan berbagai prasangka. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. kalau mau ditertibkan juga. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. plok plok plok.” celetuk kami. suka menggoda. belum merasa puas.. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. dong. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. Rupanya Aisah belum selesai.. “PKIiiiiiiii. plok plok plok plok plok plok plok.. aduh manisnya). Aisah melanjutkan: “Itu tuh.” Lagi-lagi kami keplok.. yang mabuk-mabukan itu. dasar anak-anak.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. tak pernah luput ia jadi godaan.. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan.. membenarkan. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. senang sekali. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45.. Mengembangkan kedua tangannya. Dan bertepuk tangan serempak.. katanya sambil setengah berbisik. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya. pengamalannya kita jegal. ini enggak ge-er. ‘kali. mengangkat bahu.. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok.. Begitu ia lewat...

Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. “Wah.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. “Tidak. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. dong. dalam hati masingmasing kami. “Ada cowoknya.” 141 . kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Mereka menyingkir secara teratur. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku.” “O ya lupa. “Ucapin salam dulu. Jalan terus. Namun Aisah diam saja. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sekilas kudengar. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah.” “Sorangan wae?” “Mari. buru-buru aku keluar. “Waduh. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang..?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. mengitarinya seakan hendak memangsa.” Dan macam-macam lagi. “Wa'alaikum salam. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. assalamu'alaikum. gue anterin. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.. alimnya.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. Aku berhasil.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Mungkin. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi.

. Dan..“Kurang ajar.. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. . Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. ke restoran. Hamzah menaruh hati pada Maryam. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. Bukankah salam itu doa. ampun.. Di lain waktu. Yang tercantik di gang kami. demikian menurut Hamzah. main engklek. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz.” “Ya. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. lain pula Maryam. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Bukan pada nyanyian. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. 142 24 Lain Aisah. ya ampun. Cuekin aja!” “Dosa lho. melainkan kecantikannya yang membius itu.. kami tak merasa heran.” kataku. pemain tenis yang lagi ngetop. dan macam-macam acara lain.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. anak teater yang lagi ngepop. Maka sejak itu.. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. main loncat karet. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. Semua orang kagum padanya. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. tiba-tiba seperti disunglap. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. salam tak dijawab. geram. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Kukira. Sejak itu ia dikenal secara luas. “Tapi. pemain film yang sedang in.

Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Maryam seorang anak yang baik. berani-berani takut. seorang anak yang patuh. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. . aku tak tahu. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. Kali ini tampak serius dengan muka murung. 26 Suatu hari. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. “Tidak!” jawabnya tegas. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. yang tak mungkin dapat diraih kembali. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. yang ber-Baby Benz itu.” kata Hamzah pula. Untuk itu ia siap berkorban. 29 Akhir-akhir ini. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. mungkin anak-anak lain tidak.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. Dan terlebih dari semua itu. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. berfilsafat. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Aku terperangah.

Agustus 1990) . Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. Namun ia tak bisa berbuat lain. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Nun jauh di desa Bangil.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Batinnya tertekan. jauh dari keramaian kota. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. tertekan sedikit oleh perasaan rindu.*** (Dimuat dalam Horison. terpencil. apakah kau tak merasa malu. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. aku selalu lewat di depan ‘markas’. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Martin dan Hamzah. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Ramainya masih seperti biasa. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Tony Handoko. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula.

Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Istriku menjadi perempuan yang bawel.” kataku. Kami ketawa bersama. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Kuingat sekali. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. kelak tamuku akan cepat pulang. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. “Betul. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Ina. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. . aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. Jika ditaruh di ruang tamu. Walaupun akhirnya mengesalkan. Sore itu. Sam.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. maka terdengarlah sebuah nyanyi. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Mereka harus diberitahu.” katanya. “Juga mantan pacarmu. Bila loncengnya berbunyi.” “Ingat enggak. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi.” kataku. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Ini karena ulah jam itu. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku.

aku meremas jari tangan istriku. kurang sedikit. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. aku menggenapi kekurangan itu. ketika uang dihitung. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Sam.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Saat itu adalah pukul 00. Dari masa berpacaran dulu.” ujar istriku.” kataku. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. “Ini benar-benar abadi. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. dia menyanyikan satu bait saja. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. “Kita menemukan pilihan jam antik. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. Ketika pada seperempat jam.” Memang begitu. remasanku lebih kuat lagi. Lalu. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu.” “Ya kurangilah separohnya.00 pada hari 10 November. kami menganut aliran navy-navy. Sam. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. Di toko saya cuma tinggal satu ini. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. dan ini juga satu-satunya.” kata istriku. Ketika kami lewati beberapa toko. istriku bilang. Ke- 146 . “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. aku tak tahu dan tak perlu tahu. “Tanyakan harganya. "Merk ini nomor satu. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Aku dan istriku saling menatap. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Setelah dua tiga toko kami masuki. “Merknya Junghun. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Ketika setiba di rumah. Makin larut perkawinan kami. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Sebagaimana biasa. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. aku dan istriku berpelukan.” ujar istriku.” ujar sang pemilik toko. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung.

Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. dan terutama karena adanya kamu. empat bait komplit. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. kamu suka membisu.” Aku memilih diam. dan pada waktu satu jam.” kata istriku lagi.” kata istriku.” Tetapi. Orang yang sama sekelas di SMA.” katanya. “Ya. Biasanya kalau jam itu mati. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita.” kataku. Ketika pertengkaran itu terjadi. Pernah juga istriku bertanya. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. Peraturan kantor memang. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. Ketika tiba tiga perempat jam.tika setengah jam. “Aku tahu.“ sambungnya. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. aku bisa memperbaikinya. Padahal dia amat mencintaimu. sama pula di perguruan tinggi. “Kita tak perlu bertengkar lagi. “Kalau aku bicara soal si Aimah. ajaib sekali. dia menyanyikan dua bait. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. aku dan Ina sudah berpelukan. Sam. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. lonceng jam menyanyikan lagu itu. tiga bait. “Kalau kamu kawin sama Aimah. Sam?” kata istriku. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. kamu dan jam dengan loncengnya itu.” ucapnya.” “Sudah gaek masih gombal. Yang ada di sini adalah aku. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. dan sama pula selesainya. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. ”Si Aimah. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat.

Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Keringat membasahi bajunya. Bahkan mencak-mencak. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu.” Aku mencari ahli jam. Jangan.” “Sudah. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Sam.” Aku mengalah.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. Ina. “Tenang dulu. Pukul 12 bunyinya 6 kali. jam ini berbunyi 36 kali. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. Dia katakan.00 tengah malam 10 November. Jangan jadi nenek sihir lagi. diam kamu. Dia marah. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Dan aku gigih terus memperbaikinya. ahli pembetulan jam dan piano. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. ada orang Arab di Tanah Abang. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. Aku kan tidak bilang kamu tolol. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu.” kataku pada Ina. Kamu makin tua makin cerewet. orang di rumah itu mengatakan. Istriku senyum mencemoohinya. Menurut pemilik toko di Glodok itu.” kataku. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Sam. Kita jual saja jam Junghun ini. Kita beli yang baru. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Ina.” kataku.” “Sudahlah." 148 . “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. namanya Mahboub Assegaf. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. "Jam ini penuh kenangan. “Itu logis saja. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. aku pergi ke Jatinegara.” “Kamu makin tua makin tolol. ada dijual di sini. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Ina. Bahkan ngawur. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf.” “Aku mau keluar. Istriku mendehem. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. Anak muda itu bekerja keras.

Nak.“Cukup. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Ia menderita tekanan darah tinggi.” kata istriku. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Ini menambah semangatku. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Memang dia gila.” kataku yakin. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Sayang. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. Aku akan coba perbaiki sendiri. Tengah malam pukul 00. Katanya. saat itu istriku tidak mendengarnya. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Ya. jam gila itu berbunyi 120 kali.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. September 1999) . Kita jangan panik. Ina. “Sabar. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. dan tak 'kan pernah mendengarnya.

permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Aryo Jipang. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Sutawijoyo. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Damarwulan. . kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. “Di negeri leluhur kita. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dan dia begitu tertegun. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Nak. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Ki Pemanahan. Joko Tingkir. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Suatu kali. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Ken Arok. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa.

bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea.” potongnya.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti.” protesnya. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong.” “Tapi itu hidupku sendiri.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. 151 . Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. waktu itu kau masih dalam kandungan. Salah satu di antaranya. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. karena cintanya pada kita semua. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Kau hanya harus terima utuh. “Bagus. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. itu lebih penting. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. Rio. “Nah.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Rio.” “Tapi namaku bukan Rio. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. apa kataku. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya.

orang-orang Perancis. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. orang-orang Kanak. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Tapi tak bisa di sini. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. “Kau sudah gila. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. tapi daerah Perancis Selatan. dan dirinya begitu berbeda.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya.

Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Sadarlah. 153 . Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Rio. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Kakek. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Dengarkan kami baik-baik. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Rio. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. begitu berat. Jatmiko memang masih hidup.

itu hotel yang mewah. Ini Rio dan Handayani. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. kakek dan nenekku. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. Sebelum mereka pergi. “I have a surprise for both of you too. Tapi kenalkan dulu.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Mungkin karena ada John. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu.” Ya Allah ya Rabbi. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Tak ada angin. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. “Untung tidak ke Southern Cross. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. Rio. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. “What a lovely surprise. dia dan istrinya menuju ke Australia. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa.“Jangan tergesa-gesa marah. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. 154 . “Wah. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. John. Tanpa memberi khabar pada Dewi.

Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. Air sudah kusiapkan semua. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. “Rio. kita bisa ke Grill Room di basement. Rio.“Ya. ke restauran Vietnam.” 155 . Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar.” kata istrinya sambil menghampirinya. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. “Lebih baik kau mandi dulu. “Mandi yang bersih.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. “Dewi yang baru saja telpon. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. “Beri aku pakaian yang bersih. “Ya.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. bahkan seperti bangga sekali.” ucap Dewi sebelum pergi. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. pintu masuknya dari Little Collins. Dia tersenyum sendiri. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. Rio. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih.

“Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak.. Kalau aku tahu mereka. kau mau juga?” tanya istrinya.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Rio.” “O. Rio. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku.” “Kau tahu. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. itu. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Rio. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Tapi soal Dewi.. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. 156 .” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. dia.. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. Aku tak mau bicara.” potong istrinya. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. dulu Dewi pasti kukirim ke sana.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. “Aku mau pesan minuman. Ia adalah pengorbanan itu sendiri.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. ya dia hamil. “Jangan kau anggap aku melawanmu. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. Rio. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. “Dewi! Dia. Rio. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya.

Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan.*** 157 (Dimuat dalam Horison.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. “Shall I open the bottle now. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. Maret 1990) . Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. “Rio.

cuma inilah yang bisa kami lakukan. Namun sekarang. Para pembawa panji. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. Padang stepa diselimuti salju yang tipis.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. Kami. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. . dan penuh dengan rintangan. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. 10. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. berpacu melawan angin. gelap. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. melesat dan menggebu. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. Kami menggebu begitu laju. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. akhirnya keluar dari hutan itu. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya.000 pasukan berkuda. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar.000 pasukan berkuda. bendera. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. mendesing menuju kebebasan. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. berderap melaju menuju cakrawala. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. 10. Kuda-kuda kami menggebu. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. Semuanya terbungkus. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam.

namun kami selalu berangkat kembali. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Cahaya matahari menyiram padang. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. berpacu dan berpacu. Matahari terasa betapa berat. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. tapi kami tidak juga ingin berhenti. kami mengarungi gurun pasir. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Langit hanya biru. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. dan berpacu. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. Kuda-kuda kami masih terus berderap.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. berpacu. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. selalu berpindah. dan peredaran bintang. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Kami tahu. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. bahkan bisa lima tahun. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Kami menyeberangi sungai. Tanpa kuda. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. bagai berpacu dengan angin. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. dua. Kami selalu bepergian. dan segera lenyap di balik kaki langit. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. perjalanan kami masih jauh lagi. selalu bertualang. Telinga kami semua penuh dengan desau. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Kami berpacu. kami mendaki celah-celah gunung. perjalanan angin. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi.

Apakah rembulan bisa memahami. 160 . kami menyembah bumi.. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. kami harus memburunya ke balik cakrawala. dan kuda. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. Kami. Di setiap danau itu setiap 1. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu.000 saudara-saudara kami. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. 10.. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Langit masih membara.000 orang dari kami berkemah. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. Ia meniup seruling di atas tebing. Namun.. seolah-olah berhadapan dengan rembulan . dari lembah ke lembah. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. seruling. dari bukit ke bukit. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Kami memuja rembulan dan matahari. Kami menyembah langit. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. dan mendengarkan seseorang bercerita.000 pasukan berkuda." Kami selalu membutuhkan cerita.penjuru bumi. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri.

bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. makin lama makin menghilang. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Bertengger di atas sana. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. anak-anak. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku.000 pasukan berkuda. Gemeretak api unggun segera berakhir. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Sesekali tertutup awan. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. dan orang tua. peniup seruling itu masih di sana. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin.000 saudara-saudara kami tiba. tertidur dengan pulas.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . 10. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Kemudian. Apabila 100. Kami. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Tinggal bara api menyala diam-diam. tiada yang mendengkur sama sekali. akan membutuhkan tendatenda itu. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. Kemudian. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. Kami pasrah.

kami baru akan mengetahuinya nanti. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. langsung melompat ke atas kuda kami. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. bergetar-getar dalam tiupan angin. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. berderap dan berpacu. memetik kecapi di puncak bukit. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Kemudian kami melihat panji. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. gajah dan unta. seperti yang sudah-sudah. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. Hari sudah menjelang senja. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. Kami semua turun dari kuda. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. menari di atas perahu. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. Tak kurang dari 100. Dengan segera. kereta. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. pemandangan yang kami nantikan. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. penuh dengan debu. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. kami menggebu menyambut 100. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Angin begitu dingin. Berkibar dengan megah. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. dan umbul-umbul yang sama. bendera. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. dengan gerobak. kami berlari-lari turun dari bukit. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta.000 orang lagi. siap menempuh perjalanan untuk mati.Kami semua segera melompat ke atas kuda.

“Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun.000 orang. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan.000 orang dari pasukan berkuda kami. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah.rembulan dan matahari. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. begitu juga unta dan kudakuda kami. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. Mereka begitu jinak. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. dan kami menguburkannya di tengah jalan. 163 . Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. Semua orang tampak tak terurus.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. begitu mengerti. Kami begitu siap untuk bahagia. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali.000 orang.000 orang itu datang pada musim dingin. dan kini begitu kurus. Betapa mereka begitu tabah. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Saudara-saudara kami yang 100. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Langit memberkati kami.

Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Kami. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. 110. Gajahgajah ini berbadan besar. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. 110.000 orang. dan berjalan mengarungi gurun. Ketika tiba musim panas. berjalan. Begitulah kami berjalan. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. namun rerumputan menjadi lebih hijau. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Kami berangkat pada pagi subuh. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. Pada musim semi danau masih membeku. dengan bayi di gendongan. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. 110. menembus badai.000 anak manusia terus-menerus melangkah. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Kami semua. orang sakit dalam tanduan. merayap di jurang yang curam. sementara yang lain meneruskan perjalanan. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. lemah. Kami. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. kami semua. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. khusyuk dan meyakinkan. tapi kami rombongan 110. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya.000 orang. dan menyeberangi sungai. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. menempuh ngarai.000 orang.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Bulan masih menggantung di langit. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Mata mereka mengatakannya. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. 110. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Mereka yang mati . Mereka yang telah menjadi tua. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. mendaki gunung-gunung batu. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan.

000 anak manusia. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. terus-menerus berjalan. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Namun kami tahu. menapak pelan. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. Itulah dunia yang kami rindukan. Kami. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Langit merah di kaki langit. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. Dari hari ke hari. dari dongeng ke dongeng. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Kami melangkah. 110. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. 165 *** .000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan.

tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. memang. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. unta-unta. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Dari balik kabut itu. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. memang. segala-galanya memutih. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. sepatu. kulit 166 . Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. mengambang. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Tiada suara yang menggelegar. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. dan kuda-kuda. panji. Langit ungu muda. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi.Kemudian. dan pergi. Padang rumput memutih. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Gajah-gajah. hanya tegak di atas lutut kami. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Tiada mega di langit -. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami.

999 anak cahaya.dan rambut kami. tiada lagi debu mengepul. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Apakah aku harus berhenti. Kulihat 109. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. menaiki kuda putih di atas awan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. Semakin jauh aku berjalan. 110. dalam penyucian cahaya berkilatan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. bayi menangis. semakin aku terikat kepada kenangan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Sudah begitu jauh aku berjalan. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. dari cahaya ke cahaya. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. kemah-kemah awan. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Dari kelam ke kelam.000 anak manusia. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. tujuh matahari. Tiada lagi angin bertiup. kuda-kuda berpacu. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. kelak-kelok labirin yang memusingkan.*** . Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. 109. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. Begitulah kami semua. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. gua pelangi yang menyilaukan. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. dengan atau tanpa badan. dari barat sampai ke timur. dari selatan sampai ke utara. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. Tinggal aku sendirian. dengan segala derita dan pengabdian. melihat-lihat pemandangan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. Begitulah rombongan kami. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan.

Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Jakarta.Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 .

mengikuti anjuran Pak Marta. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Subarkah. Nikmat benar dirasakannya menerawang. lalu menatap ke kejauhan. ini bukan tanah saya. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. tetapi . “Tempat ini bagus sekali. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 .. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai.” kata Okayama. senang. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus.. Di sebuah onggokan ia berhenti. senang. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). kepada penduduk di kampung itu. Michiko.” (Bagus. sahabat besannya.. “Aaahh. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya.. beberapa kali. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. Sungguh. dari tepian yang lebih jauh. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. ke sana lagi! Lihat dari sana. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. yang kali ini tertinggal di Osaka. Bukan tanah saya. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Negeri ini indah sekali. Ini tanah Subarkah dan Michiko.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. tidak ikut terbang ke Jakarta.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. bagusu-neh. membicarakannya. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. mengikuti goresan kaki langit. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Gembira sekali.” gumamnya. “Tetapi . “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. Ia merasa benar-benar gembira. lalu menarik senyum sendirian.

di dalam surat-surat jual belinya. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. anaknya. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. di hari tuanya. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. bukan meteran. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. Tanahnya. tanah itu atas nama istrinya. pisang lumut. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Bakal jadi bagus. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. Nyonya Subarkah. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). kini merasa senang. pohon pisang. “Semua tanaman bisa hidup di sini. bisa hidup di sini. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Ia merasa. bisa tentu bisa. tertawa lebar.yang ada di sana. dengan kebunnya yang bagus. Apa pohon kaki (kesemek. Dan ia gembira. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Michiko. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. pisang raja. melainkan milik anaknya dan menantunya. pisang yang disukai Okayama-san. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. sangat gembira. Lihat. Hahahaha.” Pak Marta tertawa. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Di Jepang. Juga Subarkah. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. pisang ambon. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. Sekarang. Disebutnya di sini. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. bahwa Subarkah menetapkan. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan.” jawab Pak Marta. Michiko. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. bahwa tanah itu bukan miliknya.” Okayama pernah berpikir. Asal diurus. karena mahalnya. bahwa tanah itu milik Michiko. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. ia memilikinya juga. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. sebegitu yang diperlukan Michiko. sudah menolong anak-anak saya. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. diikuti oleh Okayama-san. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. Kalau terlaksana. sejuta Yen sejengkal. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. pohon kesemek. apalagi di seputar Tokyo. Lihat itu. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. bisa. Bagus sekali tanah ini. Bahwa Okayama-san.

” kata Kakutani dengan nada rendah. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san.” cerita Okayama kepada Kakutani. “Dan bagusnya.” 171 . kamu bisa dapatkan seorang. di mana letaknya Sidanglaut itu. “Beneran. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. Cantik-cantik lho. Cantik-cantik. besan Okayama. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. dan sebagainya dan sebagainya. Dan. “Dan istimewa lagi. akan mengambil wanita Indonesia. badak yang terkenal. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh.. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup.. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. seperti sudah tidak punya harapan. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. dengan nada suara seperti berhasrat. “Tapi. melihat binatang langka?” “Ya. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. merasa jadi muda kembali. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--).” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. Itu sudah kebiasaan mereka. Mereka sama-sama duda. Saya pun waktu lewat di sana... “Kamu kan belum punya istri lagi..potongan khas Jepang. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. ya. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya.. hahaha. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Kebiasaan mereka pun baik-baik. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. Hahaha! Dan. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. atas nama siapa.. “dari tempat itu. selain ada laut yang bagus. saya akan kawin lagi. pemandangan seputar itu. Tinggal tidak berjauhan.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. bukan mimpi pagi. Dan terkenang sampai sekarang. waktu datang di Osaka. karena ayah Subarkah masih ada. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. Kesukaan kamu kan masuk hutan. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia.

“Jadi.Kakutani jadi berpikir beneran. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. tidak ceritakan bahwa Nurseha. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya.” Ia pun ingat. “Kalau sudah begitu. Nampaknya agamanya kuat. ”Dan soal tanah itu. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. Kalau istriku menyenangkan.” kata Kakutani kepada Okayama. ditemukannya di sebuah panti pijat. Cepat sekali prosesnya. “Sesudah kami nikah. “Secepatnya. “Kami akan kawin. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Dan benar murah. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. “Ia berjanji. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. *** Saatnya pun tiba. dan sudah pergi ke Sindanglaut. 172 . Yang dipentingkannya hari depannya.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. Itu kan benar bagus.” kata Kakutani. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Ia.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. begitu nama perempuan yang dibawanya.” jawab Kakutani-san. di samping tanah Michiko. pada mulanya. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. dan bisa membeli tanah yang luas. bagus kalau begitu. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. dan mau menerima kebiasaanku. Tentu saja jadi.” kata Okayama. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. “Bagus. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. Dan saya sepakati.

” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. pemborong bangunan. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. Percayalah. bahwa nilai tanah akan cepat naik. Tetapi yang pasti lagi. Di sana kan selalu ada matahari. Soal jarak Jepang . setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya.” pikirnya. Lautnya bagus. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Ia sudah menghitung. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. Kata orang di sana.” pikir Kakutani. Pasti bisa. cerah langitnya.” kata Kakutani. “Aku akan sering saja berada di sana. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. tak dirasakannya jauh. tergerak juga hatinya. Tentu yang ukurannya luas yah. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. “Bisa. *** . Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Pasti ada cara-caranya. tapi sekarang sudah jadi istrinya. atau di sore menuju senja. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. Kakutani punya sahabat akrab.Indonesia. Apalagi sekarang. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. dan gelombangnya amat memikat. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. Pantainya bagus. kamu akan senang tinggal di sana. Tidak lama setelah itu. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Kanazawa-san. bagus sekali. Kalau musim dingin di sini. disaksikan oleh Okayama. Nurseha merasa pintar. Kanazawa-san. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. di sana segala bisa diatur. kita bisa tinggal di sana. di tepi pantai yang lautnya biru.*** Benar juga. ia merasa senang. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. untuk usaha. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Apalagi di pagi hari. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. dan kamu merasa encok di sini. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. segala di sana sudah terbuka. “Benar murah. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya.

” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. bisa menolong kita. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Garnida. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. “Tidak jadi soal. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. dengan kebutuhannya. Dan akan dijual. seorang lagi yang lebih muda. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. terasa tak menentu. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. seorang yang lebih tua. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Tanah itu bekas perkebunan kecil. Orang kita-kita juga. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. Tanah yang menghalang-halangi itu. ini orangnya yang bisa membantu kita. Ia tentu saja senang. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Yang kedua kali untuk istrinya. Pak Kosasih. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. “Tak ada kesalahan saya. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. “Bapak ini.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. bisa meyakinkan. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Ia merasa. Ramdan. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. “Ini. Ia mengetahui. tersenyum lebar.” pikirnya. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. tapi sudah tidak terurus. Sah-sah saja. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. Tetapi Kosasih. 174 .” pikirnya. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. Tanah itu tidak nempel pada pantai. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. antara lahan ini dan laut.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. Tetapi. Ia pun yakin. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya.

ada Tanaka-san. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Dengan duit. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. Kosasih mendengarkan saja. Masing-masing mengatur kepemilikannya.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. karena bukan saja Okayama-san. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. di kantor Kabupaten. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Ia tidak kepalang bergerak. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Ia menunggu kepastian. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Okayama-san. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. meminta dukungan. Rumah tua sudah dibongkar. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. asal benar bisa diatur begitu. “Ini jadinya proyek pembangunan. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Rencana bangunan hotel sudah siap. 175 *** Selang beberapa waktu. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. malahan di kantor Gubernuran. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. tak mengerti sepatah kata pun. Orang-orang Jepang itu tidak tahu.Ia berpikir lagi. lalu ke arah Okayama. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Takahashi-san dan . melainkan ada Saito-san. Subarkah. Sindanglaut mereka tuju. Mereka tidak membuang waktu. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. tuan Kanazawa tertarik. “Ya." kata Okayama. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. pikirnya. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan.

Mereka seperti sudah berpikir. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. yang bisa membelinya dan membangunnya. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. untuk semua penghuni bumi. karena rumahnya pun sudah tergusur. pikir mereka. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. lalu ia sebentar merenung. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Untuk pihak yang pintar. pikirnya. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. gamang. sahabat kentalnya. istri. Di hatinya ia merasa tertinggal. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. untuk kita. Bukan saja hatinya terganggu. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. keturunan mereka. Okahara-san sami mawon. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. “Untuk siapa saja. Nurseha adalah istri Kakutani. sawah musiman dan kebun terlantar itu. . Saito-san idem dito.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. tetapi ia sudah tua. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. “Siapa yang salah?” pikirnya. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. bahwa dunia ini untuk kita semua. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Ya. daerah kantong Jepang.” pikir mereka. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. semua kedudukan pun bisa kita capai. Michiko adalah istri Subarkah. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo.

Ia menarik wajah gembira. kan?” kata Pak Marta. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. “Jangan jongkok terus begitu. “Wah. Bapak.. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. orang tuanya. ke lautan yang biru. permulaannya amat sederhana. Ia seperti menelannya. anak-anaknya. Pak. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Ia gundah. terjepit antara sesal dan senang. “Ya. benar bagus.” kata Pak Marta.” Pak Marta cepat mengerti. bangkit dan duduk di kursi. Ramdan. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. 177 . Mukanya pun nampak licin. orang tua itu. yah. saya belum lahir waktu itu. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. “Di sini lebih menguntungkan. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Pakaiannya serba baru dan mencolok.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. Hati kecilnya berbisik jujur. “Alhamdulillah. Pak Marta. bersih. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. “Tempat ini bagus. Ia ingat. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. Kelanjutannya jadi amat serius. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. mertua-mertuanya. Kendaraannya... menjawab: “Entahlah.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. ke ombak yang bergelombang. Daerah ini mesti dibangun. “Duduklah di sini.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. “Bapak bekerja di Kecamatan.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. tapi saya menolak. ke langit yang bersih. Di sini masih ada kursi.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. Dengan ragu. ke kaki langit.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Ia merasa berjasa. Sementara itu Kosasih datang. kamu sudah punya motor segala sekarang. Pak. terutama kepada istri-istrinya. “Pilihanku benar. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu.” jawab Kosasih.” kata Garnida. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Pak.” Ia setengah membusungkan dada. Tetapi.

Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. (Dimuat dalam Horison. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. digusur. saat ini. rumah orang tuanya. Pak. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. hari ini. detik ini. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. Dan yang tua serta yang muda.“Maju yah. Ia bicara sesungguhnya. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Pak. September 1997) . Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Ia tidak menatap ke masa depan. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. mengikuti pihak yang menginginkan.” “Ya. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian.” kata Garnida. Pak Kosasih membujuk kami.

Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. Karena dekat dengan Pak Lurah. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. seperempat. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. Satu on. semua keperluan MCK. dua perempuan. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. lebih dari tiga. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Dia pikir. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. Iwan adalah sulung dari empat anak.Horison. Pak RT sanggup mencarikan. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. ditata di rak warung.” Istrinya tidak menanggapi. Pada suatu ketika. paving. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. ubin. mendirikan usaha penjualan kayu. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi.1 . Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. setengah dan satu kilo-an. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Dua anak lelaki. karena anaknya lebih dari dua.” “Jum’atan apa tidak dia. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Kini masing-masing mengelompok. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan.

Katanya. Tubuh Iwan kurus kering. Adiknya yang terkecil delapan tahun. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. “Aku tidak punya waktu. muda-mudi rapat di sini. Dia bikin sebuah ruangan polos. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. Dengan begitu. Kini lantainya keramik putih berkilau. Dia bebas. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. PKK. menjadi bangsal aula cukup besar.Ketika ayahnya menjadi RT. semuanya berubah bagi Iwan.” itulah jawaban Pak RT. Bapak-bapak. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. Semua nampak bahagia. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. Ketika rumah di samping dijual. Rumah berganti ubin. usia Iwan 16 tahun. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Pak RT masih mengurusi usahanya. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. Dia merasa hidup lebih leluasa. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Dia baru lulus SLTP.” Iwan hidup di luar. sehingga terang memantulkan cahaya hari. nyaris menjadi anak jalanan. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. Bagian depan. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Di situ tikar digelar.orang tua lain. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Pak RT langsung membelinya.” 180 . adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua.

karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. Sekarang. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. Beri aku modal. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali.” Ibunya Iwan baik hati. Kemenakan. Sekarang anak-anak sudah besar. Sedangkan yang pertama. lalu singgah. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Buat sekolah. Sama seperti suaminya. obat-obatan. meterai. aku tidak perlu memngawasinya. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Asal masih bagus jalannya. ayah dan dua adiknya. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Untuk toko. bukan?” 181 .” Pak RT punya sebuah kijang.” suara Pak RT tidak bertanya. "Tidak usah baru. Kemudian. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. Yang terkumpul adalah ibu. tiba-tiba. Sambil makan. Orang terus membangun. ada tetangga yang berani berkata. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Di mana-mana orang memerlukan kayu. batu atau pasir. Mereka pulang bersama. Kecil-kecilan saja.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. “Kalau boleh. “Bikinkan aku warung. Aku ingin mencari uang sendiri. Mereka selalu kekurangan. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. Selalu ada yang lewat. siapa saja yang berasal dari desa sama. menawarkannya kepadanya. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. minta gula dan kopinya saja sedikit. Dan karena rezeki berlimpahan. Iwan sengaja memperlihatkan diri. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. Di lain waktu. Pak. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. bahkan perangko. Bisa dibayar dua kali. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Dia minta dibelikan kendaraan. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. Pada suatu siang. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. adik atau saudaranya ipar. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. selain buat keperluan toko. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid.” Dan kalau itu sudah diberikan.

Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. Kadang-kadang. pasti kita menang.”. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. di waktu malam.” kata Iwan lagi. “Di kelas.. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Stadion Jatidiri besar. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. Iwan termakan oleh gosokan itu. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan.”. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. Lalu alur keseharian kembali seperti semula. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. temannya yang paling menonjol. Herman-lah yang mengepalai. sulung. Lebihlebih menyuruhnya belajar. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. Di mana ada kegiatan berkelompok. Di sanalah. tidak dimanja. kena hujan. “Itu benar. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Mana yang sungguh ada. Anak-anak repot. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang.” begitu kata Herman.” kata kawan Iwan yang lain. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Yang dia inginkan demikian.. Karena dalam keseharian. atau mana yang dia harap ada. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. “Benar. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu..” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. Minta kendaraan saja. “Apa lagi ini nanti musim hujan. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya.. 182 . tinggal aku yang belum punya kendaraan. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. kita bisa cari uang. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Seusai sekolah. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu.. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. “Kalau punya kendaraan sendiri.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak.. terjadi kebut-kebutan. menjadi kernet omprengan. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. ruwet menjadi satu. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. berlanjut biasa.. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi.

Baru muncul hampir petang. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. Dia mau buka usaha. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. lalu akan mengenakan baju. Malahan mungkin dengan bunga. Hati Mak tenang. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. bahkan nyaris merayu si anak. Mukamu pucat. Apa lagi. “Ini sisanya. untuk apa uang itu. Rambutnya masih basah dan belum disisir. bersama tukang pompa ban. Biasanya. dua ratus ribu lebih sedikit. Mak”. Mak tunggu anak sulung itu seharian. dadanya kerempeng. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Mak lega. meneruskan bicaranya. Mak takut bicara kasar. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi.” Mak menghitung. “Kuberikan kepada Herman. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Besok pagi langsung ke sekolah. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu.” Lalu Iwan terburu-buru. Mak bertanya lembut. dia keluarkan gumpalan uang lusuh.Hanya. Mak turut masuk kamar. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. karena si sulung sudah berlalu.” Iwan menyahut. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. kasihan tidak punya modal. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Paling-paling lima ribu. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Diberikan kepada Mak. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. “Nanti kalau usahanya berjalan.000. “Makan dulu! Kamu kurus. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Herman akan mengembalikan. di muka sekolah.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. Tapi tidak apa-apa. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. anaknya bawa 183 .” kata Iwan lagi.” “Aku jajan bakso tadi. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. “Mau belajar bersama teman-teman. menutup kancing baju. Di sana tentu disuguhi makanan. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. Tidak banyak. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya.

Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Seperti biasa. anak-anak mereka tidak naik kelas. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Itu baik. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Rupanya.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. menanggapi. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. Khodir berkali-kali mangkir.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Mak yang berangkat. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. Sejak si sulung lulus SLTP. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. Katanya banyak tambahan pelajaran.. Kecuali Anda. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Juga hadir dua guru. Iwan sendiri. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. Ibunya Iwan. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Seorang guru melihat ke buku catatan. Banyak makanan dijajakan di malam begitu.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. “Dia pulang sore. katanya. bukan?” Mak kebingungan. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. Kami kira. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Mak berpikir. “Hari Senin masih masuk. kalau Iwan pulang makan. tidak keluyuran. dia menganggapnya sudah besar. tapi Selasa. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. Maknya Iwan menjadi ragu. “Kami menerima uang tes. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Dengan suara terbata-bata.uang. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah.” kata kepala sekolah.. Jadi Mak juga meniru suaminya. Mendengar itu. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu.” istri Pak RT berkata membela anaknya. Sekarang. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. mandi atau untuk keperluan lain. 184 . ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Mak senang. bisa jajan.

mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. Kami 185 . “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. saya juga dengar.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. sesuai pilihan masing-masing. Padahal katanya. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. Tanpa menunggu lama. Dan selalu ada yang menjawab. Selain di situ suasana cerah. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. juga selalu banyak makanan dan rokok. Pak RT. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. “Tidak apa-apa. lalu mendongak ke arah dalam. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. Kaum muda lelaki dan perempuan. serunya. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu.” seseorang menjelaskan. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman.“Memang banyak ekstra kurikuler. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Begitu pula para pendatang. Kami minta maaf. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. selalu merepotkan ibu. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. Pak RT orang yang sibuk. mengerti. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. “Anu 4.” sahut Pak RT. Bu. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung.” sahut seorang guru.” “Ya. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. Para pelayan sudah terdidik. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain.

saya sendiri. mengatakan gagasannya. seorang di pagar.” sahut suara lain. membantah. Pak RT bangkit dari tikar. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Serius atau santai.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. menariknya menjauhi pintu. satu pelaku sudah diringkus. Mereka makan dan berbicara. Satu kali bertanya kepada tukang becak. langsung menuju pintu yang terbuka. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Dia kelihatan sibuk. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. Dua orang turun. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Ada tiga lelaki lain.” “Yang saya dengar. Televisi di sudut ruang dinyalakan. Terdengar suara bebincang rendah. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. tiduran atau bersandar ke dinding. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. “Selamat malam. Mereka ngelantur mengobrol.” sahut Pak RT. mengenai itu juga saya dengar. “Betul! Betul! Kalau tidak. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Satu kali menengok ke arah dalam rumah.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. berbicara. bakso atau sate. Atau paling lambat setengah sepuluh. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. “Bapak Rajiman?” “Ya. Yang lain-lain kabur!” “Ya. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. menemui si pendatang.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. mereka santai menonton. 186 . kita tidak akan selesai sampai besok pagi. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. Malam itu. Seorang di tengah-tengah halaman.

Bukan untuk berbicara. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. Serse memberitahu bapaknya Iwan.. Nama Iwan disebut-sebut. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. Sesaat berlalu. kakinya ditembak. saya harus pergi. 4. sudah mengenakan celana panjang. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Kamu dua pancuran. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan .” Lalu Pak RT muncul di pintu. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Silakan Anda pulang.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. langsung menuju ke rumah induk.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. Belum ketahuan pasti jenis apa. Supaya mereka hidup layak. Seorang tetangga duduk di sampingnya.. bisa sekolah. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. Dia memanggil-manggil. “Maaf. Tetapi nyatanya. Biar pintu ditutup. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. . Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Teh kental 3.” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Sumber air/telaga terletak di antara 2.*** 187 1.

Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Tidak. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Silau. Ganjilnya. Gelap. Siapa tahu.000 jiwa itu. “Di sini. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Tapi apa peduliku. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Aku menatap matahari. Aku memandang khalayak. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. “tapi sudah hilang sendiri!” .Horison. Ayah berkata. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja.” bilang ayah. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Lihatlah. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. silau juga.

Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. makin sering saja. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Namun jika serangan penyakitnya datang. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter.“ kata dokter. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. 189 . Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota.” kataku. sehingga membuatnya capek. “Jangan. perlu diobati atau tidak. Baru saja sekali enam hari. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Maka hidup ayah jadi aneh. juga tanpa hasil apa pun.Ayah malah mencoba tertawa. Yang tinggal hanya para tetangga. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Kami benar-benar kalang kabut. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Sebab seperti semacam misteri. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. apalagi mengobatinya. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus.” cemooh ayah tertawa. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. kapan saja di mana saja. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. seolah ia sudah sembuh. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. Tapi makin lama makin sering. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Ya. Makin cekung dan sepi. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya.

Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. Muka cekung ayah sudah menghitam. pemimpin masyarakat yang modern. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. bahkan ilmuilmu hitam. barangkali juga pingsan lagi. Seperti digerogoti setan. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Yah. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Nah. “Saya bisa membantumu. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Tak tahu aku. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. Segala cara kami lakukan untuk itu. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Adik-adik sudah pada tidur. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. 190 . Nak!” suara si kakek lagi. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. si kakek itu lagi. “Harus kaulakukan sesuatu.Sudah larut dinihari. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. “Ampun. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. Ia tersenyum. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Konon ia teman ayahku dulu. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Ayahku meraung lagi. punya mobil.” Aku menatapnya tak berdaya. mati!” Maka ayahku menangis. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. “Kamu kenal siapa ayahmu.

malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. anaknya. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. Kalau aku tidak malu. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. Maka jalan terbaik bagimu. serta mulut komat-kamit begitu lemah. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. yah. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Sebab kubayangkan. betapa terkutuk. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. hina dan memalukan. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. seolah kulihat nyata_. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku.“Sederhananya ilmu iblis. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. kaupungut saja Si Hitam. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. apa pun artinya. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu.! Kini di bawah matahari. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. benar-benar iblis. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap.. Aku sendiri. _tidak.. justru tidak sedih atas kematian ayahku. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . akan terus memperkosa ayahku. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. bahkan paling terkutuk.

Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. berekspresi. Maka tanganku. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. hotel. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. Bila sudah mengetahuinya. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Aku tidak bebas lagi bergerak. gereja. mulutku. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. maka kamu akan melihat diri sendiri. Semua cermin telah retak dan pecah. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. menerjemahkan hati menjadi apa saja. mataku. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. lidahku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. .Jakarta. Di dalamnya. aku ingin mengusirnya. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. aku pontang-panting mencari cermin. menjadi diri sendiri. mushola. Aku memasuki wc-wc umum. candi. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. diskotik. bisa bergerak selain diperintah olehku. Betapa sunyi keinginan ini. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. kakiku. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R.

kesunyiaan. Namaku memang tidak jelas. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Eh. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. kepedihan. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. Aku telah terbawa air. api. mengalir ke mana saja yang kumau. aku lupa dengan metamorfosa itu. Kesedihan. sampah. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. jangan ragu-ragu untuk menyapa. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. temui saja aku di kebun bunga. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. air. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. ketakberdayaan. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. kabut. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. ketaksempurnaan. Entah . Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. di mana saja. angin. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. dsb. Bila bertemu denganku. kesendirian. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. batang. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. aku tak yakin. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. Di matanya. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. Di tanah. kepapaan. daun. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin.

“Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini.” Aku memandang orang yang aneh itu. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. Bertahun-tahun kami mengembara. Kami tidak bisa membayangkan. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Atau Pelabuhan Ratu. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. “Ya. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. “Kuta. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Tidak bisa terbayangkan. Aku menyusulnya sambil berteriak. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Sepanjang sejarah.” Beberapa jenak aku tercenung. begitu lelah. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Maka kami. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. berapa milyar pembaca yang akan sakit.berapa lama aku pingsan.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Suara tangis terdengar di mana-mana. Atau Pangandaran. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Pantai Panjang juga bisa. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. 194 . Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. aku dan angin. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. “Apa perlunya nama. orang beransel besar itu terbang.

” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. kita tidak bisa tidak pergi. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Atau aku pun adalah ulat? Ah. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih.*** 195 . Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. kamu bisa pergi ke mana saja. Dan begitu terbangun. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Saat kulihat ke sekeliling. Aku berdiri dan pergi.. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Aku pingsan entah berapa lama.. Eh. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin.. Ingatlah.

tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. tidak heran. Sebabnya. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. dan aku juga mencintai sungai itu. Mesjid. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. seperti kakekku. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. kecuali pada pagi hari. tinggi dan langsing sepertinya.Horison. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. aku malah senang melakukannya. cepat seperti jin. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. Sungguh. saat untuk diam. sungai. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Ketika ia tidak . mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. dan berlari untuk menyelam di sungai. aku dulu mencintai mesjid. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari.

galabia-nya dengan lengan baju yang robek. Masood. adalah lelaki yang doyan kawin. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 .” aku berkata pada diriku sendiri. sesudah menyentuh ujung hidungnya. Kakek tidak pernah tertawa. anakku. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya.” Ini jadi berita untukku. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. Lalu kuingat tiga istrinya. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. “Aku tidak peduli. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. diwarisi olehnya dari ayahnya.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. Aku berkata pada kakekku. Posisinya berubah sekarang. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh.” Aku berkata kepada kakek.memiliki kegiatan lain. memandangi luasnya ladang. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini.” Kakekku kemudian melanjutkan. ia berkata. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. anakku. “Perempuan. “Ya. “Masood. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. akasia. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. “Kami akan memanen kurma hari ini.” kata Masood. penampilannya yang jorok. kemudian. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku.

Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. dengan cepat dan penuh tenaga. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. yang kemudian kukunyah. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. lalu mengembalikannya. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. “Pohon kurma. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. kecuali Hussein si pedagang. Kakek memberiku segenggam penuh. Namun. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . seperti manusia. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. melompat di atas kakinya. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Tiba-tiba kakek bangun. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. yang kuhitung ada tiga puluh. sementara aku tetap berdiri. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. Namun. Di sana ada begitu banyak orang. dan dua orang yang tak dikenal. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. anakku.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami.Walaupun begitu. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. Kerumunan orang bubar. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Ia diikuti Hussein si pedagang. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood.

aku sedikit ragu. Larson dalam Under African Skies. Aku mempercepat langkahku. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R.lima. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Aku berlari ke kejauhan. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. Tentang desanya itu. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. 199 . yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. Ia pernah menjadi guru di Sudan. Salih mulai menulis tahun 1953. kemudian melanjutkan perjalanan. Keluarganya adalah petani dan guru.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). tanpa tahu mengapa. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Mo-dern African Stories. Edinburg: Payback Press. Untuk alasan yang tak kuketahui.” kata kakekku kepada Masood. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. “Kita bicarakan itu nanti. dan kakek mengambil lima. 1997. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Kemudian. dua orang asing itu membawa unta. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Mendengar kakekku memanggilku. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Aku merasa mendekati Masood. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris.

tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. . Kutentramkan diri. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Tak ada pistol di bawah bantalku. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Namun. Aku tidak memiliki terali besi. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya.di dalam gelap. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan.Horison. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Tahun lalu. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. mudah pecah seperti gelas anggur. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Kupusatkan pendengaran. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. Kupandangi pintu. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Kupasang telinga. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun.

ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. Jika ada permukaan yang bergetar. Oleh sebab itu. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. Membuka pintu pagar. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. di dasar rumah ini. Merelakan diri tidur kembali. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. ucap sang suami. mencegah kemungkinan perampokan. di mana orang kulit hitam ditempatkan. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. saking cintanya. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. mobil-mobil dilempari batu. Jangan mengomel saja.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. kayu. lalu memaksa masuk. untuk menenangkan hati sang istri. tapi di luar kota. yaitu ibu sang suami. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . kisah dalam tidur. Akupun bercerita pada diriku sendiri. kerusakan akibat banjir. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. serta seorang tukang kebun yang rajin. Jadi. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. semen. ucap sang suami pada istrinya. juga karena bus-bus dibakar. Sukar untuk mengasuransikan rumah. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. tak ada yang perlu dicemaskan. anjing peliharaan mereka diberi peneng. dalam perut bumi. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. kolam renang. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. di bawahku. dan perampokan. Namun. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. Kerusuhan memang terjadi. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. di sana ada polisi dan tentara. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Nun jauh di bawah kamarku. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. air bertetesan dari rekahannya. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas.

kamera. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. Bunyi alarm yang nyaring. meraung dan menjerit. bersipongang satu sama lain. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Seperti biasa. Sang istri berkata. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. Sebagian lagi meminta sedekah. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. televisi. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. bahkan pada waktu subuh. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. atau apa saja. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. radio. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . benar ucapan pembantu itu. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. Bunyinya dianggap biasa. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. betul katanya. Akhirnya. lantas menerobos masuk. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. Ikutilah nasihatnya. Tetapi. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. serta memasang alarm. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. mengecat atap. akibat menganggur. barang-barang berharga dan pakaian. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Sang suami berkata. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. ikuti nasehatnya. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. yaitu ibu sang suami. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Benar katamu. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. ucap sang istri. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. tape recorder. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu.

dan selang beberapa minggu.panas yang indah. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Ketika sang suami. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Sang suami. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. kucing selalu melihat sebelum melompat. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. di mana tempat sang suami. tak mengapa. menyilaukan. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. Pada keesokan harinya. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . kuat dan sederhana. Mereka benar. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. Sang suami berkata. berkilat. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. jangan cemas sayang. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. Di sepanjang tembok. Betul katamu. terbentang gulungan besi yang keras. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Sebuah pilihan yang murah. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. ucap sang suami. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. Pada suatu malam. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. berkali-kali. Sang istri terpesona memandangnya. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. lalu berkata. Sang suami berkata. Keesokan harinya. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. karena sejak hari itu. Sang istri berkata. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. saya harap si kucing peka. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Semakin terkait. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. Hubungi GIGI NAGA. tidak mungkin. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. Kilau itu akan hilang nanti. sang istri. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal.

dan tukang kebun yang menangis. Jump and Other Stories. pemotong kawat. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. entah apa sebabnya (mungkin kucing. dan sebagainya. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . 1923. sang istri. dan Something Out There. Lalu tangannya. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Si anak membawa tangga ke tembok. Not dor Publication.*** Nadine Gordimer.H. antara lain: Booker Prize. dan the Scottish Arts Council Neil M. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. kapak.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Gunn Fellowship. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. lahir di Transvaal. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. kepalanya.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Smith Commmonwealth Literature Award. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. A Soldier's Embrace. Mereka -sang suami. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. Dalam pada itu. the W. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. Selected Stories. Friday's Footprint.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->