Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Mohamed Weess. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Syria pada tahun 1918. dia membaca kesemua surah al-Nasr. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. yaitu aku sendiri. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Tetapi. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Sebaliknya. kini berhimpun di halaman sekolah. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. ini dibenarkan dalam Qur'an. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. Dalam rakaat pertama. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. Naji. Dalam tempo sejam.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. 5 . masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. Kami bersembahyang dua rakaat. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id.

Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Rupanya keraguan dokter terbukti. Tenang sedikit tersenyum. "Oh…. Tenangkan diri. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Parasnya cantik. Bu. Kalau tidak. Saya ingin tanya. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Pak Dokter!" teriaknya segera." lanjut dokter. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. "Ada apa. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Kendalikan emosi. Perempuan itu tersentak seketika. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Takut dan gelisah. ''Ya. . Penyakit kelamin!" gusar dokter. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Yang saya katakan benar. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Matanya berkaca-kaca. "Gawat. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. "Tolong. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Bu?" tanya dokter. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Kemudian masuk pasien keenam. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. Dokter segera memeriksa. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Keduanya duduk berhadapan. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Dokter menghampiri.

Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. toh akhirnya akan ketahuan juga. Tentu masalah ini akan selesai. Dok. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. Dokter langsung bekerja. itu harus intens. Bahwa ia dalam bahaya besar. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu." batin dokter. Kepedihan. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya." "Suasana hening mencekam. jangan. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Dadanya sesak. Lakukan saja tugasmu. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. semua ini terserah Tuhan. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini." saran dokter." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. "Tapi…. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Suami saya orang baik-baik. kecemasan. Dok?" tanyanya. Ah." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Dengan memelas. Barangkali Dia akan melindungi suami saya.. 7 . Aku harus mengobati perempuan lemah ini." "Oh…. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. "Kurang lebih dua mingguan.. ditatapnya dokter itu. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Sudahlah." "Demi Tuhan. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang.

selesai. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. "Sore." sambut dokter. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. Menjelang petang." katanya. datang pasien berumur 30 tahunan. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya." jawabnya sembari menarik nafas. "Tak perlu takut."Tentu." "Oh…kasihan sekali. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. "Saya mengidap penyakit. Ini hanya formalitas belaka. Akan kuusahakan semampu saya. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. "Selamat sore. perempuan itu datang. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. "Untuk apa?" tanyanya. Lelaki itu tertawa. Badannya tinggi tegap. Ketika perempuan itu beranjak keluar. Tentu. 8 *** Esoknya." "Menyesal?" . Dok." "Saya benar-benar menyesal." hibur dokter. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang." Lalu perempuan itu menghela nafas." ucapnya dengan hati yang terluka. Dok. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. tak perlu sedih. pegawai DPU. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. Dok." jawab lelaki itu. saya hanya seorang dokter. Selain Jumat.

Mereka menyesali diri. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat." Abbas bingung. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya." jelas Abbas. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar." kata dokter dalam hati. Dokter menyembunyikan wajahnya. "Saya usahakan. hingga persoalan ini selesai. Pergi. Abbas merengek. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. "Dok." jawabnya lemah. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Saya benar-benar terjepit. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Giginya geregetan. *** 9 . Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Apa yang harus saya perbuat. "Tenang saja. Dok. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya."Menyesal. "Saya harus bagaimana. dokter. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas." Dokter menerawang. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Lantas bertanya. Jangan sampai dia curiga. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Mendadak jiwanya bergejolak. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa.

Parahnya. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. ia akan datang bersama Abbas.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Perlu Dokter ketahui. kini telah hilang." Dokter membungkukkan bahunya. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. bagaimana harus menjelaskan padanya. Lalu dengan hatihati.bagaimana lagi. Tapi sayang. "Singkatnya begini. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Mana?" "Yah…. Saya bingung. Hati saya dongkol." tutur Abbas. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Kemarin malam. Usaha saya sia-sia. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Dada saya sesak. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. wajahmu pucat dan sedikit berubah. saya harus menjalani masa sulit ini. Impian untuk menimang anak. "Entahlah. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Tiba-tiba istri saya gelisah. Aku benci dokter. Dokter mengira sore ini. Lalu dengan ragu-ragu. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Saudara tidak bisa meyakinkannya. tidak'. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. Sedih. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Saya coba memohon dengan baik-baik. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. Wajahnya pucat. bagaimana saya harus meyakinkannya. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. 10 ." Hati Abbas penuh teka-teki. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Entah sampai kapan. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Kebingungan mendekap. Ya…. Tapi ia tak melakukannya. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. "Oh…hidup di dunia memang susah. Abbas dirundung ketakutan. semakin keras istri saya menolak. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. kudekati istri saya. Abbas menggelangkan kepalanya. Rasanya sakit dan ingin marah. Saya terus mendesaknya. Tatapan matanya layu. Pokoknya tidak. Dok. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Tapi saya bingung. "Semakin banyak saya menuntut.

" lanjut Abbas. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Bengis. Kepala saya panas.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Dengan murka. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Saya bingung dibuatnya. Raut mukanya berubah aneh. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Matanya melotot. Tubuhnya mengejang. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. "Apa maksud semua ini. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Tubuhnya menggigil. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Istri saya menjerit: 'Ampun. Karenanya. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Dok? Saya hanya menduga. Dok. Tolong! Jangan sentuh aku. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. saya berteriak keras. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya.' Belum selesai saya bicara. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Pengakuan dosa. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Tuhan. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. tak mampu kuasai diri. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Aku telah bersumpah pada Tuhan. bimbinglah jalan hidupku.Karena saking suntuknya. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya." tambah Abbas. saya melangkah ke arahnya. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. 11 . Otak saya ragu. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Saya telah ingkar. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Perasaan tentram.

betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Kami seperti mengejar kilat. jumlah kami memang makin membesar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Membuat kami begitu merasa terhina. Sampai kelinci. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. untuk memburu binatang-binatang. telah lenyap kami tangkap. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Sampai kemudian kami menyadari. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. begitu tercium bau kami. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. tupai dan tikus. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Maklumlah.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. ular. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. badak. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. sejak kami masih dalam kandungan. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. nenek moyang dan anak cucu kami. sebelum sampai ke telaga ini. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. tetapi kali ini. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. dari tahun-ketahun. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Kami memandanginya dengan gamang. rusa. mengantar tidur anak-anak kami. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Gajah. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Cerita-cerita penaklukan. macan. Telah kami sibak semua palung lautan. Membuat kami cemas. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. hanyut oleh pikiran kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Barangkali. sesekali meleleh oleh arus gelombang. sementara . Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. serigala dan segala macamnya. buruan kami tetap saja melenggang bebas. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup.

semua binatang telah habis kami buru.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Anggap semua ini hanya permainan. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. untuk ikut menikmati perburuan itu. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Liat dan sigap. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Maka kami pun membeli ratusan budak. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. tapi tak gampang mati. membiarkan mereka lari dan menghilang. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Inilah hidup yang sesungguhnya. meski kami akan memburu kalian. banyak orang di luar suku kami. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. Dan itu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Mereka sudah renta. banyak di antara kami yang menolak. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. Mula-mula. tapi manusia. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Sampai kemudian ide brilian terlontar. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. lari. orang-orang 13 .. Kami tak lagi memburu binatang. sungguh. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Adakah yang lebih menyenangkan. Menjadi tradisi. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Karena. Kami akan memburu manusia. kami bunuh. Semoga nasib baik bersama kalian.. Selamatkan kehidupanmu. dengan cara melarikan diri. sasaran perburuan yang menggairahkan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Rupanya. Para penjahat itu. Dan itulah kehormatan. Jangan cemas. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. seperti kami katakan tadi. Selamat jalan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. perlahan-lahan. “Masuklah dalam hutan. baru kemudian kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Lantas. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. hingga pecah berantakan.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. mendatangi kami. Setiap detik adalah pertarungan. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Tetapi kami tak bisa menolak.

Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. jangan sedih. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. tetapi juga. Karena kami sudah terlalu kuat. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. 14 . Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Kami berdiri di puncak menara peradaban. para demonstran untuk kami habisi. para bangsawan dan pengusaha besar. dan kami tertawa bahagia. begitu melimpah buruan kami. para raja. menjadi tak tertandingi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. “Ini darah seorang penyair untukmu. yang melintas bagai badai dan gelombang. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai.. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan.” Gelas kami beradu. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat.besar di negara mereka. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Di antara kemeriahan pesta. menggulung apa pun yang kami sukai. Kami. puluhan kepala negara. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. tetapi penaklukan yang membosankan. Suaranya sudah gemetar. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. dengan dukungan dana yang melimpah. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Kami bangun juga istana-istana. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Itu sering membuat kami terusik sunyi. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Ah.. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. “Kita harus melakukan sesuatu. tetapi kami selalu dirundung sunyi. keisengan. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Para bangsawan. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Kami terus memburu. melintasi gelombang waktu. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. sendiri. terkadang. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir.

” “Baiklah. bersulang. “Kalianlah yang bercanda. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.. Gairah menjalar. “kalian kami beri waktu satu bulan. dari seluruh dunia.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Ya.. Kami segera menghimpun topan. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. malaikat. mencari kepastian dalam mata mereka. Tetapi mereka menolak. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan aku ingin. membangkitkan imajinasi kami. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. “Kami ingin Jibril. meski sesungguhnya heran. Kami turut kemauan mereka. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. sebelum maut menjemputku. tetapi masjid itu tak juga penuh. anggur segera kami tuang dalam gelas. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. membuat kami begitu ternganga. Panji perburuan berkibar. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Sekarang. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. “Kami tak mau tahu. berkelok-kelok mengikuti 15 . kami segera mengumpulkan para kiai.” tegas kami.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu.” Mereka. para kiai itu. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. “Baiklah. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. telah lapuk. Dan tentu.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” kata kami kepada mereka. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu.. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. kami akan membikin perhitungan sendiri. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. katakan kepada kami.. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.

antara takjub dan panik. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Dan kami segera menyerbu. melihat impian kami sudah di depan mata. Namun dzikir itu masih kami dengar. Tetapi seperti yang pertama. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Satu bulan lewat. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. kini telah muncul di hadapan kami. lenyap seketika. bersama angin dan embun. luar biasa. Kami panik. Dan. Kami bakar masjid itu. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. bagaimana mungkin? Tapi. itu pun pasti sudah berhimpitan. membuat kami tengadah ke puncak api. menyentuh langit. Kami tak mau kecolongan. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. raib begitu saja. Kami panggil namanya. Kami memagarbetis masjid itu. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Membuat kami tambah cemas menunggu. gembira dan tak percaya. Gema itu melambung. di puncak kobaran api. hingga kayu-kayu bergemeretakan. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Kami sudah cukup punya pengertian. jangan-jangan semua itu sihir belaka. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. sekaligus marah. tetapi. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Tapi seperti yang pertama dan kedua. orang kedua kami pun tak kembali. menguap begitu cepat. Membuat kami cemas. anak 16 . Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu.gigir bukit. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. mendadak menyadarkan kami. sepanjang hari sepanjang malam. masuk dalam masjid itu. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. bukan? Jangan salahkan kami. Lantas kami tak bisa lagi sabar. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. tak pernah muncul kembali. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Namun orang itu tak kembali. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. di pucuk api berkobar. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. di sana. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Kami tak mau di tipu para kiai itu. membumbung. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. seperti daun yang melayang-layang itu. Begitulah berkali-kali. dan api melahap cepat. mengalun menidurkan rerumputan. Pada saat itulah. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. tertelan dan lenyap. seseorang di antara kami berteriak. Kami terus berjaga. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. itulah yang kami saksikan. Kami kirim utusan kembali. Jibril. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. tetapi tak kunjung keluar jua. Tombak. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. ya Allah. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka.

mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.panah. Maka kami pun kembali bangkit. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. mengejar Jibril. kami lihat jejak cahaya. Kami tak sempat istirahat. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. roket terus berlesatan. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . Di seberang telaga sana. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Kami tak pernah tidur di satu tempat. “Kejar!” Kami pun melesat. Segera menghambur. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. roket dan basoka. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Inilah buruan kami yang abadi. Kemanapun Jibril melesat. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Tombak terus beterbangan. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Karena kami harus terus mengejar Jibril. yang menyimpan bayangan bulan. dan langsung melesat. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. desing senapan mesin. kami memburunya. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. kami melihat buruan abadi kami. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini.*** 17 Yogyakarta. ranjauranjau telah kami tanam. meraih peralatan berburu kami. Bertahun-tahun kami memburu. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Dan memang. agar kami mampu meringkus Jibril. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. perangkap telah kami pasang. melanjutkan pemburuan abadi kami. Kami tak mau kehilangan jejak. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Aku membalasnya dengan anggukan tulus. Indah sekali.” “Tentu. Ia bugil di malam yang damai itu.” “Oh ya. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. langit cerah.” Aku terpana. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.” 22 . “Boleh aku tahu dukamu. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. Aku lihat wajahnya sepi. Seperti menunggu kedatangan.“Maksudku melihat dunia. “Gerangan siapa membuatmu sepi.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri.” “Ya. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. mega. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. Gemerlap bintang menyambutku.” “Cepatlah kau temui burung hantu.” Matanya berpendar.” “Ya.” “Ya. Ia menembus awan.” “Bila Tuhan mengizinkan. Dianing. bintang.” Kami berpelukan. Aku bertemu dengan mega. bulan menuju ke dunia. Burung hantu mengepakkan sayapnya. “Cukup lama kami menunggu. Tersenyum dan memberi salam padaku. Bulan bulat penuh.” Burung hantu terbang. Seperti berabad-abad lalu. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Dianing. Atas izin Tuhanku. Aku lewati langit demi langit. Ia menjerit. “Dianing. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.

Telah berpaling dengan perempuan lain.. Tak sekedar gelap. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri. “Bukankah mereka telah menikah. Hidup bersama tanpa kata yang jelas.” Burung hantu menggeleng.” Aku luruh. Tiba-tiba begitu sepi. “Untuk apa.. “Dianing.” “Maksudmu.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.” “Ya.Burung hantu menatapku. terjal dan mendaki.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.” “Bicaralah.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Lismatano.” panggil burung hantu lirih. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. Tatapan yang sulit aku urai.” Aku kembali ke hutan Para.” “Mereka seatap tanpa ikatan. Aku terpana.” Aku lunglai. “Maukah kau ke hutan Para. Di 23 . “Bila kau berkenan.

Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. tetapi tubuhnya berubah. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Tapi. Ngeri.” Aku menekuri tanah. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Ia berubah jadi batu. Sebentar lagi aku harus kembali. Tubuh Lismatano mengeras. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan.” Aku menghela nafas. Pergulatan yang dahsyat. Ia tak membatu. Lebat dan kotor. Kini tak bisa bergerak. Aku yang terpaku. Sementara perempuannya berubah binatang. Besar. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. Aku terpana. Saling menumpahkan nafsu.” Aku hanya mengangguk. Mulutnya lebar ke arahku. “Mengapa dengan mereka. Siap menerkamku. Lismatano telah membatu. Aku di atas pohon randu. . “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Aku tak percaya melihatnya. Lismatano telah membatu dan berlumut. Aku tak kuasa melihatnya. Perempuan itu. Ya. “Yuniz nama perempuan itu.” “Itulah yang pantas mereka terima.. Tiba-tiba. Ia berkaki empat. Aku berada di ketinggian menara.. Ya. Mei 1997. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku. Dianing. Deru nafas memburu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Tubuhnya tumbuh lumut. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi.*** 24 Jakarta.

untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat.. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran.. Pejabat yang berdasi kuning..Horison.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. Ada yang mengelupaskan bahu. misalnya?” Pejabat tergelak. Dan berdehem. Pak. sebagai wartawan.” “Tentu. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan.. Ada yang menusuk jantung. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu. “Begitulah.” Wartawan mendengus.. tersenyum lebar sebelum menjawab.. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban... . Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini.” Pelatih mengedipkan sebelah mata.. tentu.. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran.. asal tahu saja.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. Menghapus peluh pada hidung. Mlah. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran.. “Selain pintar mengejar berita. Ada yang menembus kepala. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran.

saya harus menggadaikan pistol ini. . “Saya sedang tidak konsentrasi. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang.” Belum selesai pertanyaan itu.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. “Silahkan. Lalu mengangguk-angguk.” sang rekan merentangkan tangan. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. “OK..“Tapi. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset.” “Untuk melunasi kreditnya. Harga pistol yang mahal. sudah ditukas pertanyaan lain. memasang wajah serius. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini.” *** Saat panas menukik terik. menurut perkiraan dokter. Namun wartawan telah kembali berujar. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. “Padahal menurut selentingan kabar.. Padahal. Dan. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain..” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu.

Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol.. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. dan biaya administrasi lainnya. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. Wartawan tergelak.*** 27 . Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. untuk minta maaf. “Harus kuakui.” pejabat tergelak juga. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng.. Melihat para wartawan tidak mengerti. "Setibanya di rumah. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini.“Kelihatannya biaya latihan. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. “Tak enak rasanya. harga pistol. Dan menekan gas dalam-dalam. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah.” diulurkan tangan untuk berjabat. nilai pajak. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. saat itulah wartawan dan pejabat. yang terlambat datang. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. semakin tak menentu. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau.. tapi belum sempurna anggukannya. dia beralih membunyikan klakson. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. “Apakah Bapak. menyeruak kerumunan. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. saya baru menyadari. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. Saat fajar bergerak sembunyi.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. Wajahnya memucat. Menutup kaca jendela mobil. Dia tertelungkup. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. Dia langsung mengangguk keras-keras. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik.

Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Melewati Alun-alun Bandung. “Sebel gua. “Bukan mau nraktir. saya tidak melihatnya dari sisi itu. “Belum begitu laper gua ini. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. “Sambil makan malam. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing.” Sesaat hening. Dewa jangan diberontak. tiba-tiba Kresna. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. “Dalam dunia pewayangan. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. “Siape ni nyang ngulang tahun. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. gerombolan Pandawa. “Kramotak. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. begitu ngepop. lagi-lagi propaganda Amerika. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. mereka sponsor kita kok. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.” sahut Kresna. BM dong!” balas Kresna.

Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh.” Bisma mengingatkan.” demikian Kombayana punya usul. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Karena itu. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. “Tidak. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. “Jangan sok tahu Kau. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. “Misi ujicoba kita gagal. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan.” Dewala mencoba menjelaskan. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. 29 . Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Tangannya masih menggenggam paha ayam. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. “Kukira tidak mesti seperti itu. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. suasana rapat menjadi lebih kacau. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. bahkan Semar menjewer kupingnya. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru.” Arjuna bersungut-sungut. Apa pun yang kita rencanakan. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain.” Dibentak seperti itu. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan.yang Hilang. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Punakawan yang lain menyikutnya. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Dewata telah memutuskannya. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam.” “Ini kehendak Dewata. Takdir kita untuk menerima kekalahan. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Bima menggebrak meja. Gareng kebagian memesan hidangan.” Semar mengingatkan. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Bima meraung-raung. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Seperti biasa. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya.

“Justru naskah ini tepat sekali. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. Kalau sudah seperti itu. silaturahmi antarseniman pun terbina. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini.” “Tapi saat ini saya ragu. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. segala benda serba diuangkan. Kita mengalah untuk menang. Tetapi kita juga tahu. Konon katanya menurut mitos. dalam akhir cerita. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. Dengan dibahagiakan. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. Prabu.” “Bagi saya. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. saya akan membalikkan fakta. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. Eu begini Prabu. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. Dengan demikian. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. dari kopi dan dari rokok. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu.” jelas Yudistira. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. Saya punya teknik. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh.” “Apa itu?” “Ada saja.” *** 30 .Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. Pokoknya rahasia.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

ini dia selesai mandi.” “Sebentar. kalian dengar. Setelah hilang enam bulan lebih. Pak. sebentar. “Nah..“Hei. “Nah. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. Begini. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Di tepi kali di desa kami. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Pak. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Nah. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. dia lagi mandi dulu. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. He he he.. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. Kalau kalian punya narkotika. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Begini. Ondol ditemukan mati di tepi kali.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. berdiri dan mondar-mandir.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. yang berkaos oblong tadi. begitu Pak.. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. “Terima kasih. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Ayo sekarang lapor sama dia. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Pak. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. urusan kriminal itu banyak macamnya. nih ada laporan kriminil. Ketika pertama kali ditemukan.” yang berkumis memotong. sorri yeah. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ondol. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. hubungi saya yeah.” 35 . Tunggu yeah. sorri. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. “Iya. Pak. “Hilangnya Ondol yang misterius. “Sorri. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh.

kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. telah saya dengarkan. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Pak. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Laporan lisan saja tidak cukup.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya.. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. Pak. “Begini. “laporan kriminalitas?” “Iya.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.” kata yang berkaos.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong.” Yang bersandal jepit bersin. Pak. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan.“Nanti dulu. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Setelah hilang enam bulan lebih.. “Nah. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. “Ya. Ya. ya. ya. Pak.” “Baik. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. ya. ayo mulai. Ondol. bunyinya mengagetkan yang melapor. “Wah. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. Di tepi kali di desa kami. Pak?” “Tentu saja tidak. Ondol. kami tidak membawanya. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. “Iya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. “Hilangnya Ondol yang misterius. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 .” Yang bersandal jepit bersin lagi. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. begitu Pak.. Pak.. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Bagaimana. Ketika pertama kali ditemukan. Harus ada berita acara tertulis.

“Kalau soal ini dibiarkan. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. pasti dia kesepian.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas.. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. Kepala Desa beserta ibu. “Nah. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.” kata salah seorang. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. Ketua RW beserta ibu.” “Caranya bagaimana. nih. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. Orangorang yang melapor menunduk semua. Nah. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. “Ingat. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Apalagi tanpa bukti. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. ya tass. karena sekarang malam Minggu. . tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. sodara-sodara.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. dan syarat lain yang tercantum di sini. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. visum dokter. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. he he he. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. Ada bukti pun.. Camat juga beserta ibu. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. Kepala Kepolisian beserta ibu. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh.” “Betul. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. itu namanya baru disebut issyu. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. Dan yang lebih penting lagi.

" kata yang berkaos setengah marah-marah. tidak disiplin dengan waktu.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. Menurut salah seorang kerabat Ondol. Pada hari itu juga. mayat yang telah dikubur digali kembali. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. Bukan kami tidak ingin mengusut. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. siapa namanya itu. Karena itu. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol.. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. tetapi kalian yang teledor. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. “Jadi. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. Salah seorang. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. lebih baik kematian e.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. Untuk mendapatkan visum dokter. “Aduh. pengusutan perlu dilakukan. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. Lihat. “Begini. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. dengan semangat 45." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Pak. atas nama hukum. kami tidak punya waktu banyak. lupakan saja kematian si Podol itu. 38 . tentu berita acara kematian ini. Kami lagi sibuk. kalian lupakan saja.” kata salah seorang.. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Sekali lagi. Jelas bukan. ya sayang sekali. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. supersibuk. Sesuai dengan petunjuk Bapak. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Kalau kemarin datang ke sini. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. bisa saya terima.

Karena plastik pembungkus di warung itu habis. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. sebagian lainnya hanyut di selokan. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. Kertas-kertas warna-warni berhamburan.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol.*** 39 .

tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Lelah rasanya aku memanggil." "Kalian?" aku heran. Kulihat di sekelilingku. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. bahasa yang sangat asing ditelinganya. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada.Horison. kali ini lebih lebar. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya." dia mengangguk. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. "Ya. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka." jawabnya tenang. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. . "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Dia tersenyum lagi.

Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Bukan untuk kalian. telah berubah arah. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Aku rindu harapan. Ada guratan gelombang di keningnya. seperti dia sedang serius berfikir. hanya untuk umatku. aku jadi kebal. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Karena lamanya aku membuat kapal. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan." katanya menjelaskan. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. juga familiku. Aku berjalan di bawah penindasan." katanya menggeleng. aku bagi kebahagiaan."Ya . Tugasku telah selesai dan tinggal santai. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. berpakaian. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. mereka kusikat. seperti katamu. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. Kubabat tanpa sisa. Bahkan tahi. Mereka bebas makan. Aku dan anak buahku. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Akhirnya aku harus memilih jalan. Jembatan waktu yang kau tuju. Lama aku menunggu jawabannya. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. kadang rumah yang berlebihan. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Aku sangat kecewa. Alis putihnya mengumpul. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu." Aku terdiam. "Tidak. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. 41 . Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Istriku sendiri yang mengajari. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik.

Nuh. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Lama kucari-cari dan kunanti." katanya. Kulambaikan tangan pada orang-orang. Aku gagal menyentuhnya. Aku berlari di hutan-hutan. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya." Nuh yang tua itu menggeleng. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. "Ketegaranmu. tapi hutan itu malah terbakar. Mereka tampak menyongsong. "Jangan mengejek. Nuh?" tanyaku tak sabar. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. Bencana-bencana beruntun melanda. tapi di belakang disiapkan membokong. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Bibirnya lembut mengurai suara.Mereka punjung kata dengan emas. Berjalan menyusuri ujung penantian. akan kutempuh!" kataku. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Aku ditandu dan dielu-elu. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. Aku jadi sendiri. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. tapi tak juga muncul dalam benakku. Tapi layaknya sekat. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. 42 . Nuh. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Dia tersenyum. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya." "Lalu." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Sambil berlari Dia kuhampiri. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. "Tabah.

ke sana!" katanya menjelaskan. "Ya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. "Terima kasih Nuh. Dia menyuruhku memandang ke atas. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan."Tenang!" katanya.*** 43 . Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. Aku terdiam tenang. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Mataku terus saja menatapnya. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu.

Lalu di sini. aku segera terbang ke sini. Sambil mengontrol radio. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. usai membebaskan sandera. turun amat perlahan. nun beberapa tahun lampau. di sana. Kekuasaan. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. tapi. Pagi sekali.Pada Sebuah Taman. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. bahkan nyaris lunglai. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. pedalaman Irian. Pergilah. Usai mengantar Ning. NY. kukira. Mei Oleh: Moch. sepanjang malam. Persis ketika suatu malam. berkeringat. “Kita evaluasi perkembangan. ”Anda bantu saya. dan Yogo telah datang. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. meneguk perlahan hangat tequilla. Kota sedang terbakar. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Bukan hal mudah mencapai taman ini. dulu. sedang bermula. Ning juga pernah bilang begitu. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. senja mulai nyungsep. “Perjumpaan dengan calon presiden. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. telah bergegas pergi dari situ. Dia datang dari jauh. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. ketika kami tidur bersama pertama kali. mungkin. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Terbang ke tempat-tempat yang jauh.” aku menyebut pertemuan malam itu. . memberi komando. sepatu karet dan celana jeans. lenggang. tadi. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. Asing. Revolusi.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. lamban. lesu. Paris. Tak perlu kontak. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. Senja yang kemarin juga. dia bagai berada dalam situasi ekstase. lenyap sama sekali. mematangkan dan memberi perintah “start”. senja beringsut perlahan.

Malam yang sepi. tapi aku punya keyakinan. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Para pemain valas telah terkuasai. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. “Bang. Para aktivis telah diamankan. seperti irama tubuhnya: simpel. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. segera akan terbukti. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah.persahabatan.” katanya simpel. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Ini harus dicegah. dan demi keagungan. diliputi misteri. Kamu pasti setuju. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Akan menyetop aksi. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Tak ada basa-basi. Dia berada satu level di bawah. Presiden memang sudah terpojok. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. juga kepercayaan atas nama keagungan. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. demonstrasi. Ning menelepon. “Ning. Mungkin dia sedang di istana.” Singkat. Sabotase. —lampu teplok kehabisan minyak. faktor yang kami tak hitung selama ini. Pulanglah. habis. Aku kontan diserang frustasi. Juga kedatangan Yogo yang telat. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. simpel. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. “Ia. Yogo tak mungkin datang. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Yogo tampak angker. tapi kuusahakan. tegas dan banal. hingga subuh ketika kami pisah. Presiden yang ternyata sangat lemah. Oh. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. tapi rencana masih sedang berlangsung. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. langsung. pupus. Juga keagungan sebuah cita-cita. kelak. Dan malam tadi. Beberapa buah bank sudah ambruk. Persahabatan itu. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. betapa menggairahkan. rupanya tak dapat dipercaya. Demi Yogo. telah aku rekam di luar kepala. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Malam kemudian tiba dengan diam. persahabatan adalah ikatan kita. Markas keuangan sudah terbakar. bayang kegagalan mulai tampak. Presiden mundur besok.” 45 . Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Lesu. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Di ufuk. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana.

Bukan karena risiko yang mesti datang. Durja. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Menggairahkan. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Yogo: gumamku membatin.” “Iya. utamanya. Seperti yang sering kamu katakan.” “Sebentar lagi aku datang. Keagungan itu memang ilusi.” “Berendam bersama-sama.” katanya singkat. aku sudah mandi. aku yang justru panik dan gamang.” Suara Ning tetap empuk. Aku benar-benar frustasi.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Atau bisa lanjut di masa yang datang. menghanguskan sisa rencana. Sebaliknya. Suara Yogo. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. Tapi tidak malam ini. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Kota masih terbakar. seperti Che Guevara. apalagi kegentaran. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. alumni Oxford. kini. dan tak ada rencana ulang. Kali ini suaranya bernada khawatir. bukan. Tak ada kegetiran. Castro.” 46 . sekarang atau tidak sama sekali. “Iya. Malam sudah bertahta. pulang.“Pulanglah segera. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. almamaterku. cuma handuk. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna.” balasku memencet “off” pada hand-phone. Udara gerah berbau asap. Di sini kita bisa berpikir jernih. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. Memanggil. Tak ada besok. di sana prarencana sudah tersusun. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Dia memang lebih matang. “Tunggu sampai besok. Aku ingin berendam. kamu masih di situ?” “Ya. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Taman benar-benar muram. balas dendam kalangan militer. “Ning. Di sini. Hand-phoneku bertulilit. di taman tempat burung-burung bersenggama. Bagi Yogo. Kami akan segera terbang ke negeri lain. Ini tentu akan lebih menggairahkan.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. kini. Duduk menunggumu.

nun bertahun lampau. Gairah bulan Mei.” “Aku meresapkan bau mulutmu. NY.” “Tunggu. Seperti gairah sebuah musim panas. kini. Juni 1998 . di taman ini. di Brooklynn.” Malam.*** 47 Jakarta. kurasakan gairah yang lain. ya!” “Cepat.” “Aku juga.“Terus?” “Terus larut seperti biasa.

Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Kopag semakin gelisah. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Apa pun yang . dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Luar biasa. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah.” Suara itu terde-ngar bergetar. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Biasanya dia hanya dijadikan objek. “Luh Srenggi. Tangannya jadi lapar.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Ratu. Suara itu adalah suara perempuan. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Inilah perempuan itu. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. “Siapa itu?” “Titiang. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. perempuan yang dicarinya berabad-abad.1 Luh Srenggi. kasih sayang. Katakan padaku. Tangan mereka bersentuhan. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya.” Suara itu terdengar gugup. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Seorang perempuan. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Aneh.

Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. dan keindahannya sendiri. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. bisa dibuat sebuah pementasan. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Perempuan itu menolak. Seluruh kekayaan ludes. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. cantikkah perempuan itu. pelayan tua itu. Kali ini. Dia tidak pernah peduli. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Kopag harus patuh. Tubuhnya seperti lekukan kayu. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Tapi. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Dia tahu. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. sangat sadar. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Suatu hari. Bahkan Gubreg. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. perasaan. Tubuhnya kurus dan pucat. Kata orang.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Dia hamil. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dalam kondisi seperti itu. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung.

otaknya. merah. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Bagi Kopag. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Dunia yang diinginkan. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Masih kata Gubreg. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. dia memahat pikirannya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. dia mencium bau darah. Dia memberi Kopag poin. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Kopag sering berpikir. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. 50 . pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. hidupnya. Karena dia bukan kaum Brahmana. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Aneh sekali. dan sangat pas. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kopag tidak saja memahat kayu. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Ada-ada saja yang diributkannya. parekan. Untuk pertama kali. Bahkan Gubreg. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. alam menyerah pada kekuasaanya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. kulitnya yang sering jadi pujian. Jujur saja. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Karena perempuan Sudra. juga impian-impiannya. Itu yang dirasakan Kopag. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.

Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Sejak kecil. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. tapi mampu memikatku. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Bagi Gubreg. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Gubreg. Tinggi. Gubreg. yang diterjemahkannya. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. sebelum berpulang. Menanggung dosa ayahnya. Gubreg. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Kehilangan yang dalam. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Kopag tidak lagi membutuhkannya. Dadanya sering mendidih. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. kata Frans. Gubreg. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Susah. yang konon. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Ratu. “Gubreg.” “Seperti apa perempuan cantik itu. tentang Michelangelo Buonorrty. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin.” Laki-laki tua itu terdiam. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Frans Kafkasau. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. aku juga ingin merasakan. rasa apa yang sering membuatku meluap. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Lihat. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Kau bisa lihat. “Anak itu buta. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Lihat. Susah. pematung jaman Renaisans. Juga dia baik-baik. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Aku ingin tahu. aku selalu tersentuh. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. kau belum jawab pertanyaanku. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. perhatian yang lain. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Ratu. “Kau tidak ingin menjawabnya. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan.

Ratu?” “Kecantikan perempuan. Gubreg. dia adalah laki-laki tak berguna. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup.” Keruncingannya. Begitu parah. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Dia mengerti. Sebagai laki-laki Sudra. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Kaki perempuan itu putih.” “Titiang. dan mampu meledakkan otaknya. Perempuan junjungannya. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Dia juga laki-laki. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi... Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sampai menjelang tengah malam. angkuh dan selalu lapar. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya.. “Aku ingin bercerita padamu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. perempuan yang sangat dihormatinya. Luar biasa. kebanyakan. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. “Tentang apa lagi. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. 52 *** Pagi-pagi sekali.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Dia sering terjaga tengah malam .. “Gubreg. Sangat paham. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung.. Terlebih. ketajamannya. Gubreg menyaksikan. Perempuan itu. Ratu. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia gelisah. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Kopag sudah membuka jendela studionya. Begitu penuh misteri. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Semua orang. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. begitu indah.” Suara Gubreg terdengar patah. dia luka.

. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku selalu ingin tahu. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Kata Balian itu. Berkat kekuatan Gubreg.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. tidak juga kesambet setan. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Gubreg tidak sakit. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Gubreg. sangat surealis. Sampai sekarang. Guemica. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. dan berpikir. Cinta yang membuatnya jadi batu. Dia pasrah ketika Balian tua. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Hyang Widhi. tanganku. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Masih kata Balian tua itu. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya.dengan nafas yang memburu. Gubreg. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. berdialog. membesarkan tubuhnya. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Demi Hyang Widhi. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. sampai menguliti otakku. Dia menarik nafas berkali-kali. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. kau belum juga jawab pertanyaanku. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. dukun. Rasa ingin tahu yang begitu besar.. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Dayu Centaga tidak terkena. Tanpa istri. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. “Gubreg. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. dingin. Gubreg paham. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Tubuhnya jadi pucat. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Tak seorang pun tahu. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. mengajakku bicara. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya.” suara Kopag terdengar pelan. tetapi sudah menyerupai air bah.” 53 . Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. tubuhku. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Kata mereka.

Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Kata orang-orang kampung. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. diajar memahami kehidupan. *** “Gubreg.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Lima menit tanpa hasil. dia tidak tahan miskin. Kopag seperti linglung. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Otaknya hanya berisi kehormatan. Dia tahu. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Bulan kemarin.” “Siapa?” “Adik perempuanku. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti.” . Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Sekarang ini keluarga ini tentram. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Mendengar komentar itu. Jero Melati tersenyum. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Bahkan. Benar kata Kopag. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. dia terus mengelilingi studionya. “Ratu.” jawab perempuan itu serius. Berkat Kopag. Sayang. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Ratu terlihat sangat gelisah. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Gubreg diam. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri.Gubreg tetap diam.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Kopag memerlukan perempuan. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu.

Ketika dia telanjang. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Kulitnya begitu kasar. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. membersihkan studionya menyiapkan makan. dia hanya memiliki satu mata.” Gubreg ambruk. Sadarkah dia. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. “Aku sudah memiliki calon. “Maaf Ratu.. Saya 2. Luh Srenggi. aku tenggelam dan habis. *** 55 1. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Dia adalah perempuan tercantik. Aku ingin kawin. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi.” “Apa kata mereka. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. punggungnya bongkok. ada daging besar tumbuh di atasnya.” Suara Kopag terdengar sangat serius. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. matanya yang kiri bolong.” “Mereka setuju. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Kulitnya juga kulit kayu. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Wajahnya juga rusak berat. Kau tahu. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.?!” Gubreg seperti tercekik. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Gubreg. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. kakinya pincang.“Ya.” Gubreg mengangkat wajahnya. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. Gubreg.” “Ratu.

Aku yang kejepit. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. Aku diberitakan.“ kata mayat itu. saling bergotong-royong. “Peradaban sudah merosot. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. kamu terus hidup ngakak. Semua orang berdagang. terkemuka. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. Aku yang sudah kesakitan. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Air . tapi sebetulnya kamu semua tertawa. kamu yang melejit. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. kamu yang enak. Kehidupan sudah rusak. dipergunjingkan. diperdebatkan. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. meringis. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Aku yang terdera. Kamu semua kelihatan saja menangis. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Aku yang menjadi korban. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Aku menderita. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. sehingga mereka menjadi terkenal. “Aku yang mati. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu.Horison. Aku yang menanggung seluruh kerugian. “Aku yang mati. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Ia berdiri di pinggir jalan. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan.

telepon berbunyi. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Sama-sama wanita. apa saja yang sudah menyinggung.” erang mayat itu. Moral. Itu kan baru dibeli. Pak. Seperti bendungan ambrol. seluruh ketidak-benaran. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . kepatutan. “Biarkan saja. menciptakan esai-esai. Akhirnya sekretaris redaksi. Komputer penuh dengan katakata kotor. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah.” “Tapi kursinya rusak. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. Sekretaris panik. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. menutupi hidungnya. Ia menguras seluruh dendam. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Kalau memang ada yang salah. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. susila. “Semuanya busuk. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. luka. tata krama. “Tanya Bapak. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. kesalahkaprahan. semua yang tidak adil. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. ternyata hanya sebuah koteka. Apa saja yang sudah menyakitkan. untuk membungkus kebiadaban. prasangka dan kesakitannya. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. elegi-elegi. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu.” “Biar saja. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. aku kan hanya menjalankan assignment. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini.

Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak.” Mayat itu menjadi amat girang. Di antaranya ada gambar garuda. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. 58 . Mayat itu menggelengkan kepalanya. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Keduanya berjabatan tangan. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Penjaga kantor itu mengerti.” “Kamu bisa merasakan. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. menemukan untuk pertama kalinya. karena mencabik kursi itu. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Ia berdecak-decak kagum.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Di situ ia menangis tersedu-sedu. ia menggepeng di atas kursi. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. lalu lari keluar. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Mungkin juga makanan. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. “Kamu mengerti?” “Ya. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Mayat itu terkejut. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Seperti balon kempes. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Mayat itu berdiri. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. saya mengerti sekali. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Minuman panas. Itu memang benar. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. seperti orang yang mau bersekongkol. ia kembali ke kursi. hati dan otaknya. Sekretaris menutup matanya. air dingin untuk penyegar. Nampak begitu lelah namun damai.Sekretaris bengong. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan.

” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. Saya budak.” Mayat itu terkejut. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” 59 .” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya.” “Apa? Kamu budak?” “Betul. Siapa tahu itu agen polisi. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” Mayat itu bergidik.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. ia hampir terpekik.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. Bulu kuduknya meremang. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang.

” Mayat itu bingung. meskipun tidak punya semua itu lagi.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. “Ya Tuhan.” Mayat itu mendekat. ia lalu menyentuh. Ia tak punya segala-galanya. Tak puas hanya melihat..” “Edan!” “Ya. Apa pun saya tidak punya. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. Seluruh kemaluannya. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Saya harus hidup. aku jadi curiga. Maaf ya. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. kemudian meraba-raba. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot.” 60 . Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. jangan-jangan kamu. Saya budak komplit. Jangankan perasaan dan pikiran. Mayat itu menggigil..“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. . Lihat kemaluan juga tidak ada lagi.” “Memang begitu. Orang itu memang sudah dikebiri total. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Pasti penjaga malam itu korupsi. suka manggil saya apa saja. wong ini harus.” Mayat itu ternganga.” Mayat itu berpikir keras. Saya memang telmi. kok. Pak. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Ia pelan-pelan duduk kembali. Berapa?” “Tiga puluh. Bukan hanya saya yang harus hidup. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. tetapi apa boleh buat. Ini kewajiban saya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.” “Itu namanya pasrah.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. saya manut-manut saja. silahkan.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. Gaji kamu berapa sih. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Pak. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. Terserah orang. telat mikir.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja.” 61 . Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. saya tidak pilih-pilih nama.

” “Ah! Apa?” “Kata saya.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. Jangan keliru. Tetapi sekali ini.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali. tidak akan dituntut. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian." gumam mayat itu terpesona. “Tidak bisa.” “Kamu sudah mati. saya sudah mati. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.” 62 . Sekarang aku tahu masih ada orang lain.” “Ya. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. jangan takut.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” “Tidak bisa.” Mayat itu termenung. Saya tidak bisa salaman. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. “Ayo salaman.” “Memang saya sudah mati. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. "Kamu luar biasa. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng.

Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak.” “Tidak. Selamat beristirahat. tetapi bukan. Baik. Saya tidak boleh istirahat. Saya sudah biasa tidak dipercayai.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Mayat kok banyak bicara. Tetapi di kantor ini. saya sungguh-sungguh.” Mayat itu berpikir. Mati pun saya tetap harus bertugas.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. lalu ditangkap oleh gelap. tempat saya tidak di kuburan. Ini bukan waktunya untuk guyonan. Harus. Tidak apa. Dipercaya atau tidak." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. Pak.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Sumpah. Saya tidak tidur. memang beginilah saya. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. Boleh saja tidak percaya. 63 . Boleh juga saya disebut begitu. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya." Mayat itu bengong. Saya memang mayat.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Saya mayat yang harus hidup. “Kamu jangan main-main.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul.” Penjaga malam itu pasang tabek.

tidak.. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri.. 3 . seperti tidak ada artinya sama sekali. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. kalau begitu. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Ia abadi. nasibku tidak terlalu jelek. lalu kembali lagi ke tempatnya. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Disertai penyesalan penuh. sama sekali tidak bisa dihapus lagi.” desis mayat itu. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu.*** 64 Jakarta. memanggil saya.Mayat itu terpesona. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut.”. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Ada yang lebih jelek. kalau begitu. “Ya Tuhan. Remang-remang dalam kegelapan. “O tidak. Ia merasa sudah terlalu cengeng.11 – 1997 . ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. sudah cukup. hanya dengan satu gerakan. “Maaf. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. “Kasihan. Tetapi apa daya. apa yang dirasanya sebagai kesakitan.

bila direnungkan. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. tidak ada artinya. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Meskipun tua. Di trotoar-trotoar. Masuk-keluar kampung. di emperan-emperan toko. Sepintas lalu. tapi pengawakannya tegap dan kekar. nyaris berteriak. lebih separo abad usianya. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. di perempatan jalan. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. di mana pun kebetulan ia berada. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. Karenanya ia ditakuti orang. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. Seorang laki-laki tua. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. berkali-kali. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. Sesuatu yang punya arti. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. Sorot matanya memancar berbinar. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. tempat orang lagi sibuk bekerja. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. seperempat abad setelah ia meninggal dunia.

tak terkecuali gubuknya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. tukang-tukang becak. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Oh ya. karena penampilannya yang tidak lazim. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Brodin atau Ilmudin. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Sidin. Di emperan super market. lebih-lebih anakanak jalanan. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Di emper stasiun kereta api. Kusir-kusir dokar. penuh bertabur onak dan duri. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Di halte-halte bus kota. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Siapa namanya. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Mereka membumihanguskan seluruh desa. selalu berpindah-pindah. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Ada selentingan. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Saridin. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. tak ada yang tahu. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Dari mana asalusulnya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Di pemakaman-pemakaman umum.

kebanyakan orang-orang tua. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. Cepat ia bangkit. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Mengapa ia tidak ke sana saja. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Mereka sulit tidur. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. sekadar numpang tidur sejenak. Kebanyakan orang. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. lalu melangkah ke dalam surau. apalagi kejahatan. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. diusir dari satu tempat ke tempat lain. senantiasa dihalau. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Surau itu tampak kurang terpelihara. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. lari ke kolam mengambil air wudu. sesaat ia tersedak. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. Berlampu suram. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. 67 . Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. karena ada pagar tinggi menghadangnya. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Entah darimana. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. lalu naik ke serambi surau. Dengan hati sendu dan putus asa. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Surau itu lengang dan kosong. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Tapi sial. untuk beristirahat di malam hari. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.menghalaunya. ia surut. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. pikirnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil.

Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. Dan ketika salat rampung sudah. Ia tersingkir. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati.. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. tidak seperti biasanya.. Keluarganya punah. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Hartanya musnah. selalu dipupuknya. Suatu ketika. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Keyakinan dan kebesaran-Nya. "Saya adalah penjaga surau ini.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Harapan-harapan. Agak lama matanya terpejam. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Tak seorang pun peduli. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Jika Saudara kehendaki. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. 68 . Ia duduk bersandar ke dinding papan. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. berkeliling kota tanpa tujuan." jawabnya. ia mengelana seorang diri.. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya.

tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan.. Hal ini tentu telah engkau ketahui.*** 69 . Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. seolah-olah ia tertidur lelap. indah sempurna tiada tara. dalam hati nurani dan jiwanya. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. ketika manusia sama ketakutan. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. Kedua belah matanya rapat terpejam. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti." kata sosok penjaga surau. hingga menggigil sekujur sendinya.. bahkan di uratnadinya. dan akan selalu terjadi.. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. tapi telah keburu sombong dan berlagak. "Belum lama ini. Ini merupakan masa paling buruk. Mereka coba mendekati planet Mars. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Ketika saat salat Zuhur tiba. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. hai pengelana. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di sana segala sesuatu kekal abadi. "Kini. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Matahari menyinari bunga. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. tentu. " "Empat ribu. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. *** . "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. dia sedih sekali dan menangis. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Sobat. Ya. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. Dan kertas." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. Dan di atas kertas ada angka-angka." "Dengan ubin hijau." "Dengan ubin hijau.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Saat itu zaman perang." Kedua laki-laki itu berpisah. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam." "Empat ribu? Baiklah. Kemudian hanya dengan setengah gram.

' Kedua laki-laki itu berpisah." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. Sangat mengharukan. ." "Demi Tuhan. Banyak salib kecil. Saat itu adalah zaman perang." "Pasti akan habis. Upacara yang mengharukan. Pak Guru." "Jadi. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. di belakang. Mereka berbicara tentang manusia. Membacakan Hölderlin." "Terimakasih. tanah air. gada-gada kecil berjatuhan. Mengingatkan pada Langemarck. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. Ada upacara. "Nah. Dua laki-laki bercakap-cakap. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Menyeramkan. Para pemuda maju ke garis depan. Lalu. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. berpakaian hitam-hitam. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. Sangat mengharukan.Lintasan boling. Ingat Sparta. seribu. Pak Guru.… Sama sekali tidak. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. "Nah. Mereka adalah para jenderal. Banyak mata bersinar. Mengharukan. Berpidato pendek." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Mengutip Clausewitz. berhentilah. Menimbulkan gemuruh halus. Dia bangkit dan tertawa.

Tapi dia tidak punya roti. "Mau menembak. Mereka adalah prajurit. "Sukarelawan?" "Tentu. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. . Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. para menteri jalan-jalan di kota. Ketika mereka sedang menembak. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. prajurit itu pulang ke rumah. Dan kamu?" "Sama. "Kenapa tidak." kata Hakim. Ketika perang berakhir. Saat itu adalah zaman perang. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton." Kedua laki-laki itu berpisah. perempuan itu menamparnya. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. Yang satu rubuh." tanya Prajurit. Dia mati. Orang itu dibunuhnya." "Berapa umurmu?" "Delapan belas.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. "Kamu tidak boleh membunuh.

Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. mereka saling memukul dengan tangan. Semuanya tanah yang sama. Waktu mereka dua belas tahun. mereka saling melempar bom. Tanahnya sama. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Waktu mereka empat puluh dua tahun. Waktu mereka enam puluh dua tahun. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. mereka menggunakan bakteri. mereka saling menembak dengan senjata. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. Waktu mereka berdampingan.Dia adalah seorang ibu. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Jurusan Bahasa Indonesia. Waktu mereka berumur dua tahun. delapan puluh dua tahun. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Burung-burung gagak masih menggaok. mereka mati. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Waktu mereka dua puluh dua tahun.

78 .bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand. Beate Meik. di bawah bimbingan Dewi Noviami). Birgit Lattenkamp.

. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. . mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. yaitu “Flandrischer Totentanz”. akan tetapi sekaligus menyusahkan. Pada pertemuan pertama. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. sambil memandang sungai Limnat. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. Namun. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. ) 79 1914 Akhirnya. di Flandern maut merajalela”). yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu... Juenger datang liwat kota Basel. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. dengan banyak pertumpahan darah. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. pertama-tama Remarque mulai bersenandung.

“Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. dengan sangat teliti. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 .Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck.” Novel ini. kata Remarque. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. Akui sajalah. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. satu tidak kembali. Barangkali sebab itu. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. sampai sekarang hancur jiwa raganya. kami menemukan senapan. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. Remarque. juga. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. “Omong kosong!” teriak Remarque. “Dalam Stahlgewittern. seperti Remarque sendiri. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. Dan mereka yang kembali. juga karena disemangati oleh para guru. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. Dari tiap dua orang. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya.

mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. berkurang satu orang. melainkan seputar masa lalu. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. Remarque sengaja tetap membisu. Remarque. antara lain pabrik besi Thale. “buku itu laris. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. Namun. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Seakan-akan menjadi saksi. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. Setiap pecahan peluru tembus. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. Andaikan Anda tahu. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. Setiap tembakan jitu. 81 . karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. meskipun bentuknya agak diubah. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan.” Juenger tidak menjawab. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne.” kata Remarque. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. “Betul. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres.

.. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. Saya. Melorot terus. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . sesudah itu M 17.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. mestinya Anda ketahui juga. Lucu dan memelas sekaligus.“Nah. si none. Juenger juga. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. . jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. di meja tulis saya ada kenangkenangan. ada lubang bekas peluru tentu. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. 82 . hampir pipih.

Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . . aku tahu bagaimana dia. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. "jangan terlalu keras. begitu saja dari kertas pembungkusnya. "Tidak usah. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu." Selama itu. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. sialan!" Peralatan kopelrimnya. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. dengan muka selalu menghadap ke .. Sop buncis sudah dingin. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak." kata Gerhard. di pos pengintaian. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando.. sesuai dengan aturan. "Idiot.. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. melepaskan kopelrimnya." kataku. dan selain membawa peralatan makan.. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. dialah yang mengantarkan orang itu." "Ya. "Ini. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando.Jak. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton." kataku perlahan. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. di pos komando. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh.. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. Letnan mengirim dia kepadamu. dia pun membawa rokok. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku." kataku. semuanya akan segera kumakan. di mana orang-orang Rusia berada.. untuk pos pengintaian. "Ayo. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. . "kemarikan. Gerhard. "orang baru yang menggantikan Gornizek . Dan daging kalengan itu pun kumakan. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. "Dan ini. ke mari. Aku berdiri di depan.

"minum seteguk." "Tapi di pos." kataku.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya." kataku pelan-pelan. ." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. minum sendiri." "Tidak. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku." gumamnya. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak.." "Tak ada yang boleh. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani.. "Duduklah yang tenang. "Saudara merahku. juga tidak boleh memulai peperangan. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri." katanya menggagap. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan." "Kalau begitu. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. 84 . Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya.. "Diam!" aku membentaknya. "Kemari. "Di pos. Aku membungkuk. "Terima kasih." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik." katanya lagi." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan." bisiknya. "kan tidak boleh duduk. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. "Sini. tangan di lutut. Winnetou. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil." kata sebuah suara yang lemah. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah.. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. dan jika dia menoleh ke samping. "tapi aku tersedak.musuh. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . Anak-anak muda yang malang itu . "Tidak enak?" "Enak.

.. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. setidaknya remang-remang atau berkabut. "Aku juga takut." "Tidak begitu takut lagi. kalau saja hari menjadi siang. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan.Aku pun minum. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. kamu tahu. juga di pos komando di belakang kami. Dia menoleh lagi ke arah musuh.. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. tapi aku bisa mencium baunya. jauh lebih baik . Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya..." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami. kan?" "Ya . pikirku. aku merasakannya. Ah. kalau saja bisa melihat sesuatu.." "Dari mana?" "St. lalu sisa-sisa sop... lalu ruang penyimpanan pakaian lagi.. sedikitnya sesuatu.. Di suatu tempat. Avold. Di bagian depan tidak ada apapun. "selalu malah.." kataku karenanya. Tetapi kalau terang. bau keringat. "Sekarang lebih baik.. selalu begitu. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. di 85 . juga sedikit berbau minuman keras. Avold. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap.. kalau saja sedikitnya remang-remang..." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. tapi memang begitulah mereka semua. Dia sangat . melihat sesuatu. . dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. Lothringen.. tapi lalu dia berkata: "Ya. sangat diam." Kami diam beberapa saat." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. agak terang.

. menyerang. "Kalau . ke pos komando." katanya. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. Tetapi itu bukan apa-apa. ini kalau .. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. kepada Letnan." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang.. biarkan mereka lewat." kataku. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan.." omongku terus." gagapnya. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. .. hampir lebih baik daripada aku.. sampai mampus.." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu... "pos pengintaian. untuk mengekang suaraku. supaya bisa melihat. Artinya. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya.... paling-paling pagi hari. "Tapi mereka tidak datang. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita.depan sana. mengerti kan?" "Ya. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. seolah seseorang membungkam mulut itu." Lagi-lagi aku heran. "kalau kita tidak melihat mereka datang. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk." katanya. Ah. Berbisik. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. merasakan bau apeknya.. betapa baiknya dia bisa berbisik.. "Ya. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi. Dua menit sebelum fajar." "Habislah kita." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 .. "pos pengintaian. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. dan suaranya bergetar lagi. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi. maka kita harus tutup mulut. kita pasti melihatnya.. Aku paling senang kalau bisa meraung. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. . kan?" "Ya.." Dia diam lagi. Kamu sudah bertemu dia... Aku pun minum lagi. pasukan pengintai.. kita harus membunuh mereka. "Bagus. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. Tapi tenang. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris." katanya dengan suara bergetar. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. Lalu kita menembakkan peluru asap merah. mendengarnya. untukku hal itu selalu memakan tenaga. "mereka tidak datang pada malam hari.

" "Seperti orang Inggris. "jadi calo.. setiap kali kalau mau berbicara dengannya. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu...." katanya. yah. "Dan..?" 87 . "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu." "Ke tempat pelacuran. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku..." dia mengeluh dalam-dalam.. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat.. dan kalau seseorang datang.. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku. Jak. "Calo apa .. supaya menjadi hangat lagi.. aku harus menyikut tulang rusuknya. "aku berdiri di stasiun." tanyaku. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka.."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah.A." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku.. "Dari Jakob . jadi kalau seseorang datang. J. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. seseorang yang aku pikir cocok. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. .. dengan sangat tiba-tiba. "Yah.. yang sedang kosong. lalu dalam kegelapan." Dia diam sesaat.. kan. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. calo saja..calo apa.. calo apa ." "Jak.." katanya... kamu mengerti? Tuan.. "aku bernama Jak." katanya dengan susah payah.? Begitulah aku bertanya. ya?" "Tidak. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran.." tanyaku lagi. Ngomong-ngomong... bukan Jeck.." "Apa?" "Calo..K.. ". "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan . biasanya tentara. lalu pergi . artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. ... melihat lagi ke depan... "Aku.." katanya. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi.. Karena tegang aku lupa meneguk minuman. sangat pelan." "`Gimana. Jak saja. setidaknya hampir selalu." katanya. ingin bersenang-senang..…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu." kataku parau. jangan takut.

Tidak.. mereka bekerja mandiri. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. "Ya." dia tertawa lagi sedikit. mereka tidak punya surat izin. syukurlah! Kalau punya. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka."Bukan. Aneh.?" dia benar-benar tertawa sedikit." kataku sambil memberikan botol kepadanya. kamu mengerti. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran.. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . sangat sungguh-sungguh. Lili dan Gottliese. "eh." katanya kemudian. terlalu berbahaya. "bukan. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu." "Siapa?" potongku. perempuan-perempuan itu. dia bernama Gottliese. tidak punya germo. ah.. di suatu tempat yang sangat . "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan.. dan.. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan.. . Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. ya..... tiran. "Gottliese. 88 . dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. dan dari itu aku hidup." "Dan. botol itu kosong. "dan artinya kamu dulu seorang germo.. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol." katanya. "adalah yang paling baik." dia berkesah lagi. Sekarang. untuk siapa aku bekerja." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui." "Tulang-tulang ?" "Ya.. dan suaranya sekarang bergetar hebat. "Enak sekali. siapa namamu?" "Hubert.. Käthe. "germo adalah tuan-tuan besar. lepas. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini." sambungnya. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan." potongku. kamu mengerti. dia mengoceh hampir dengan sendirinya.. aku kan hanya seorang calo. sangat jauh. "tepatnya uang persen. . sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. Tidak.. mengerti. "Hubert.. kan?" "Bukan." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak." dia mendesah lagi. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese.. dia bertanya... tanpa izin apa pun.. ya. "Ngomong-ngomong.. Tiga orang." katanya datar. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku.. tapi aku tidak bisa menjawab..

.. dan kalau mereka sudah dekat. Satu saja. kita bisa juga mendengarnya. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang.. "kamu gila.. Besok pagi kamu akan tertawa.. mereka datang." "Tapi lihatlah. . "Jak. mereka datang ... mereka datang. sebuah garis hitam pekat.. Kalau hari sudah sangat terang.. "Ayo. itu bukan sesuatu yang nyata. hitam -. Jak. "ya.. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu.. "Ya. Jak.." 89 .terlihat sesuatu seperti horison." "Aku kan kenal mereka.. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat.." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran. "Jak... Itu tangkai-tangkai bunga matahari... "aku tidak bisa menembakkan yang putih." balasku berbisik. Supaya mereka tidak membom kita .. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. aku melihatnya . kalau pesawat pembom kita datang. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu." "Ah ." "Ah. "besok pagi aku sudah mati. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering... dan itu terlihat ada di ujung dunia. "Anak muda. itu ." kataku. subuh. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa.... itu perang. tembakkan yang putih .." kataku." bisiknya.... sepi... sesuatu bergerak . ada sedikit suara gemerincing . dengan sangat pelan-pelan mereka datang. itu pasti sesuatu ..." kataku...." "Tembakkan yang putih.kotor dan sebagian hancur tertembak. aku begitu kaget. itu neraka. jauh sekali.. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. "diamlah. sama sekali tanpa suara.." katanya dengan sangat dingin. jauh. mereka mengendap-endap... itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . aku bisa mendengar mereka." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.. "Ya. itu bukan apa-apa..." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. Di atas garis itu kelihatan agak terang. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. tembakkan yang putih . Aku hanya punya dua peluru. seperti ayunan lembut jerami . Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi. maka sudah terlambat. kamu akan melihatnya dan tertawa.... sepi sekali. Itu sesuatu yang nyata.. mereka merangkak di tanah. betul-betul jauh sekali .. sesuatu yang nyata ... "kalau mereka benar-benar datang." "Jak." "Besok pagi. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada..

itu lebih praktis. baru keringat dinginmu mengucur deras. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita." sambungnya dengan suara capek. tapi dia sering minum. percayalah kepadaku." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. kamu tahu.. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. dia yang paling baik. mereka suka melarikan diri. Stasiun Pusat maksudku. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. kita masih punya waktu empat jam. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. Di tengah jalan. dan kami duduk lagi menyandar.. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. kamu pasti tidak mempercayainya. Setiap kali. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. kamu tahu. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu." aku ingin mulai. lalu aku pergi kepada Lili. dari dekat.. "tidak selalu. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan." dia membungkuk lagi ke arahku. kamu mengerti? Dalam setengah jam. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. "Tembakkanlah yang putih. aku hanya mendengar mereka berbisik. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka.. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. Ah. artinya hari ini. karena kalau tidak. Yah. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. bisa-bisa kita jadi selai. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. Dia memberi aku 90 . "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat." bisiknya seperti seorang sinting. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. . Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. kadang kasar. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz.. "Jak. Barusan tadi. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. aku tahu itu. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. lebih baik kamu cerita lagi. betul bukan. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. dan mungkin sesuatu akan terjadi. tak tahulah aku. ketika tidak terjadi apa-apa.Dia diam." katanya. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. Wajah seorang calo tulen. "Jak. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. "Di Köln. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih." kataku. Gottliese. Ya. tidak bisa ditebak. Lili di dekat Gedung Opera. Begitu ingin aku melihat wajahnya.. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Sekarang tanggal 21. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak.. karena itu orang tidak cepat jadi panik. Käthe orangnya sangat dingin. kadang ramah. . Di mana kamu terakhir kali . kemudian cafe itu terbakar. kalau pesawat pembom kita datang. kamu tahu. aku sedih. Dia punya banyak langganan tetap. Besok pagi-pagi. dan suara tembakannya akan keras sekali. Awalnya. Dan itu bikin jengkel. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak.

. Dia selalu memberi banyak kepadaku. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. aku bilang sama kamu. Dan dia pun lumayan mengurus aku. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun. Dia sangat pemurah. sampai komisar mereka mengetahuinya. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. Aku percaya bahkan sebaliknya. "tidak akan lama. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya." "Menghadiahi?" "Ya. setiap kali setidaknya dua Mark. ." 91 . ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. . Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. Dan tembakan pertama pun meletus. Maka Käthe selalu yang terakhir. "dia hanya mendapat satu Mark. Kamu harus menunduk. "Diamlah. itu bukan apa-apa. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain.. "Tenanglah. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. Sepuluh persen! Sementara. Mereka kan tidak boleh begitu. lalu dia akan menonjok mulut mereka." "Seorang tentara?" "Bukan. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat." tanyaku." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. seorang sipil. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. Mereka hanya sedikit mabuk. Dan dia cantik. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian..." "Bagaimana.. Bagaimana tempat tinggalku. kamu mengerti." aku ingin bertanya... Sebenarnya. sangat dekat ke arahku.. "Ya." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. ." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. sudah. Menghadiahi. apa aku punya rokok dan lain-lain.. . Gottliese berbeda.sepuluh persen. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Dan kemudian. Seorang perempuan yang sungguh melankolis." "Jak. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. tambahan lagi sudah tua. paling hanya beberapa menit. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. yang paling cantik. persis seperti pada kita. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. menghadapi bahaya ditangkap polisi. sepuluh sen... lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. kamu mengerti. Dan Käthe masih juga memakiku.. Kadang hanya lima puluh sen." katanya. Ah.. itu saja.

" kataku. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang." kataku. . betul-betul sepi. . sama sekali. "dan sedikit gila. di situ. aku mendengar mereka datang. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. "Kamu lihat.. "Ayo.." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. Dia sedikit gila... Kathlene... wajah seorang calo tulen." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku.. Dan yang paling sial. dalam terang. kamu tahu.. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. "Cantik. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. karena di belakang dan di depan kami. suara gemuruhnya seperti kiamat." Aku memegang erat lengannya.. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. aku mendengar sesuatu. dan kalau mereka datang.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. kalau tidak aku bisa gila.. 92 . kamu akan mendengarnya. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun.. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila." Nafasnya tersendat. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. Tidak bisa lain. sekarang mereka datang. ..." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. sekali lagi teriakan . atau Susemarie..Tapi teriakan itu tidak berhenti. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . Aku pikir. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. Inge Simone.." Dengan segan dia menjawab. mereka menyerbu maju." "Tidak .. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan .. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi... . "sekarang aku akan menembakkan yang putih." katanya pendek. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak.. juga lengkingan liar itu. pakai otak dong. sungguh mungil. entah siapa lagi. Dia sangat mungil. Sering dia memakai nama lain ." sekarang aku bertanya.. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. . "bagaimana parasnya. "tembakkanlah yang putih. Gottliese itu. Lalu sangat sepi.. setiap hari nama baru . "Sekarang . "Bagaimana.. dan dia sering tidak meminta bayaran. "Jak.. menyibak tirai perang menyelimuti kami..." sambungku. ." bisiknya. "Ya.

. ingin bersenang-senang.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun. lebih hitam dari pada malam. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. dia berbisik pelan: "Tuan.. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya..?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. diterjemahkan oleh Dewi Noviami.*** Judul asli: "Jak. malah masih memberi sesuatu. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. 93 .. der Schlepper"..

Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. Dan tahulah dia sekarang. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. dan kemudian beberapa buku. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. Laki-laki itu mengangguk mengerti. kemudian gelas. Gelas Itu. mengapa di dekat . kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. tapi sangat samar. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Alis perempuan itu hitam tebal. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Lampu di dalam kamar sudah menyala. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. melindungi matanya. Dengan tangan gemetar. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya.Horison. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Di bawah potret ada sebuah gelas. terletak di sebuah rak buku kecil. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi.

Matanya sungguh 95 . Meskipun demikian." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Maka berbicaralah dia asal berbicara. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. Dia pasti laki-laki ramah. Saya mengaguminya. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Sungguh agung dia. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. Heran. Dan ketika perempuan itu membuka almari. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. martabat. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu." Belum sempat bertanya apa-apa.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. laki-laki itu agak terkejut." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya." dia. dan derajat sesamanya. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. wibawa tinggi. Dia pasti mempunyai wibawa besar.

Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. mengenai buku-buku itu lagi. Dan setiap kali saya merindukannya. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Begitu gemar dia membuka-bukanya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. tidak seorang pun tahu. pertemuan dinyatakan bubar. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. yaitu merayu 96 . perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. sementara dia suka merayu. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ." Laki-laki itu diam. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. dia laki-laki mengagumkan. beberapa bawahannya. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya." kata perempuan itu lagi. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. Laki. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Dia ingat. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Akhirnya laki-laki itu tahu. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. sangat mengagumkan." kata perempuan itu. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. dengan nada sangat melecehkan mereka. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Surat itulah. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Kalau tidak keliru. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. dialah laki-laki yang saya cintai. Nabi Yusuf tidak suka merayu. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. "Laki-laki itulah yang saya cintai. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Betul yang kau katakan tadi. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. dan akhirnya mengenai payudaranya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Ingat. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. Bagi saya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Saya hanya menikmati satu hal. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. pasti saya bertindak terlebih dahulu. Dan setiap kali merasa takut." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Juli 1990) . Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Memang saya sering berkelahi. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa.Dengan tenang. tapi perkelahian-perkelahian itu. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. sekali lagi.*** 101 (Dimuat dalam Horison. Ketahuilah. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Kamu pun sebenarnya iblis. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Meskipun demikian. bukan apa-apa bagi saya. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Sesama iblis bisa saling mengganyang. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah." Dia menggumam dengan kesadaran penuh.

Bukan. Ya. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. diperkosa beramai-ramai. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Hari-hari yang meranggas lara. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. temanku. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. 102 . Dan kini hari telah semakin gelap. Airmataku berderai-derai. Aku melihat orang. Jangan menangis lagi. Ngeri? Oi. tanpa alasan. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Aku merangkak dan maju perlahan. tahukah anjing-anjing buduk itu. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Aku melihat semua itu! Ya. Keringatku mengucur deras. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Dadaku telah amat sesak. menuju Buket Tangkurak. Inong! Kering airmatamu nanti. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu. Darah mereka muncrat ke mana-mana. tetapi langkahku makin kupercepat. Serpihan tanpa makna. Lolong anjing malam bersahut-sahutan.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. kutarik napas panjang. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Meski lelah. Juga saat mereka membantai … keluargaku. Perih. semuanya.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. lebih baik meniru anjing-anjing itu. Ffffffhuuih. Dalam remang malam. sebab aku hanya bisa memendam amarah.

Bersama bayangan Ayah. kupingku mendengar langkah-langkah orang. “Sayang. lalu remah-remah daging manusia. subuh tadi. awan dan udara malam. Bersama desir angin. “Ia tak berbahaya. Mak. Aku tidak mengganggu orang. dahulu…. juga sangat muda. Kutemukan beberapa tengkorak. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Hangat. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Ah. ya. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Berarti…. Ya. burung hantu dan lolong anjing hutan. Aku bangkit. Aku menggali. melintas di depan rumah dengan sepedanya.” kata yang ketiga. menyanyi nyaring. “Ya. Sssssssttt! Tiba-tiba. *** 103 “Inong…. Ya. mencoba duduk. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Dahulu. . dulu ia cantik…. Cakarku terus menggali. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. “Dari mana. sudahlah.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Mereka gila karena mengira aku gila. Lalu aku tersenyum malu. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Hanya tertawa dan menangis. Ah. aku di rumah. biarkan saja. kami menari bungong jeumpa. Kami menyanyi. Tulang. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak." jawabku sekenanya. saat Hamzah yang telah meminangku. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. di antara suara serangga malam. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Cut Dini.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Tangannya lembut membelai kepalaku. terus menggali.” ujar yang lain. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Inong? Aku mencarimu seharian. Banyak tulang. Ma’e dan Agam. “Aku cuma jalan-jalan.” Aku menggeliat. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Ah.

” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Kugaruk-garuk kepalaku. Berbahaya.” lirihku. Terus mengangguk-angguk. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. atau sekedar jalan-jalan. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. menggapai-gapai permukaan. Ia menyisir rambutku. Lagi pula kau seorang muslimah. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Dulu. Kau anak baik. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. menceritakan banyak hal. tetapi tidak Cut Dini.” 104 . Lalu di dekat perut. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. “Therimoung… ghaseh….” kata Cut Dini suatu ketika.” ujar Cut Dini. dasar orang. Dan … cuma dia. Tangannya koyak. Tidak baik pergi sendirian. mengajakku ke dokter.“Aku tahu. Aku belum begitu lama mengenalnya. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. di belakang….” kuteguk minuman itu. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Segalanya terasa lebih ringan. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. “Kau sakit. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Cut Dini menatap bola mataku dalam.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. “Sudahlah. Cut Dini. Aku tak bisa bangkit. Aku senang sekali.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang.” katanya pelan. Kata mereka aku gila! Hah. Ia sangat peduli. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. “Aku ingin memakainya. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. ketiaknya juga. memperhatikanku. Kau sangat terpukul. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan.” kataku pendek. Aku mengangguk-angguk. kecuali semua yang bernama kepahitan. Ia memberiku makan. di antara para tetangga. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. bahkan menyentuh apa pun. yang sudi berteman denganku. Aku suka membantah orang. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. “Apa aku gila?” tanyaku. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. “Aku suka. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Namun tiada tepi. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. ke pengajian. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Menggaruk-garuk kepalaku. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi.

“Kami hanya menindak para GPK. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. anak-anak yatim yang terlantar…. Suaranya kadang berubah. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. banyak yang terpaksa menjadi cuak. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. semuanya busuk. Kulihat wajahnya marah. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. meski tak mengerti. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. Jembatan Kuning.” Cut Dini membaca kertas itu. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Ah. Cot Panglima. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. ambil saja uang ini buat anda.” .” Aku nyengir. penjagalan di rumoh geudong. “Kami orang baik-baik. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. Ini daerah operasi militer. Huh. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. Aku jadi ingin marah. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. Kami menjaga keamanan masyarakat. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Hua…ha…ha. aku tertawa gelak-gelak. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.” “Sudahlah.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. lebih lekat dari jendela. Tetapi sekarang semua usai. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Sungai Tamiang. Lupakan saja gadis gila itu. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung.

“Jangan menjadi burung. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. Mereka tak mampu membela kami. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Dari kejauhan kulihat api berkobar. abang dan adikku. Aku berhenti jadi burung ajaib. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. tetap lembut.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. sebelum aku bisa jadi burung. Kurasa ia seorang pemimpin. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. “Ayo lihat mereka. Ketika pintu dibuka. ya. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. “Benahi yang rapi lagi. Aku mau shalat lohor dulu. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. 106 *** “Keluar.” katanya. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e.” suara Cut Dini. “Masya Allah. bila ingin shalat seperti manusia. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan.” kata Cut Dini tersenyum.” Aku berhenti melempar. nanti perabotan itu rusak. Lalu Ma’e dan Agam. Aku berlari ke dapur. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku.” tukasku. Ulon hana teupheu sapheu!” . Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk.

Tak jauh. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. Merah. “Inong. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Wajah-wajah itu retak. Airmataku menganak sungai. menggigit. “Astaghfirullah. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. lalu Ma’e abangku! Aku histeris.” 107 . “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. di dalam jaring-jaring merah ini. menendang.“Lepaskan mereka. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. “Kami tidak membela. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Di mana Ayah. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. Pedih. Inong! Inong.” suara Geuchik Harun. istighfar…. Jiibandum ureung biasa. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. Wajah-wajah dalam jaring pias. Airmataku menderas. terkelupas dan berdarah. “Allah tak akan membiarkan mereka. Pusing. hingga aku letih sendiri.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. Aku jatuh lagi. saat tak lama kemudian. tetapi aku tak bisa bangun. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Tegar. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Silau. mencakar. mereka memang bukan orang jahat. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. Inong! Semua sudah berlalu.

tetapi kaku. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. 5 Agustus 1998. menatapku kasihan. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. Tiba-tiba suaraku hilang.” Aku terkapar kembali. Orang-orang ini tersentak.*** 108 Cipayung. . Pak. “Inong…. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Aku mengamuk panik. . Tolong. Lalu tak jauh di hadapanku. Bapak sudah lihat sendiri. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Berdarah dalam jaring.Gatra. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . apa peduliku?! Aku ingin berteriak. 1998 Referensi: . mencari bening. beri kami keadilan. Republika. Tak ada apa pun. terasa berputar. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). tak ada airmata yang mengalir. mencari gerak. Cuma luka nganga. Aku berteriak. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. Aku mencari bunyi. Samar kulihat Cut Dini. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. tak ada suara yang keluar. Aku menangis tersedu-sedu. Ia mengusap airmataku. Menggelepar. Di antaranya berseragam.Kabur. Hah.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Sekujur badanku bergetar. kulihat beberapa o-rang. mereka akan membantu kita…. Terbit. mengamuk.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh.

April 1999) .Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison.

Kali ini. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. 110 . Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. kasih sayang. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya.2 Mulai hari ini dan seterusnya. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. “Siapa itu?” “Titiang. Suara itu adalah suara perempuan.1 Luh Srenggi. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Kopag semakin gelisah. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Aneh. Tangannya jadi lapar. "Katakan padaku. Inilah perempuan itu. dan sangat tulus. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Aneh sekali. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. “Luh Srenggi.” Suara itu terdengar gugup. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Luar biasa.” Suara itu terdengar bergetar. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Seorang perempuan. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Tangan mereka bersentuhan. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Kopag harus patuh.

Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia hamil. bisa dibuat sebuah pementasan. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. hidupnya. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dia tahu. Kopag . Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. cantikkah perempuan itu. Perempuan itu menolak. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Suatu hari. Seluruh kekayaan ludes. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. sangat sadar. Pikirannya kacau! Kopag sadar. perasaan. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Tubuhnya kurus dan pucat. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Bahkan Gubreg. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. setelah berbulan-bulan tidak pulang. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. “bahkan untuk menilai keindahan itu. dan keindahannya sendiri. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Dalam kondisi seperti itu. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Dia tidak pernah peduli. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. pelayan tua itu.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Tapi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Kata orang. Tubuhnya seperti lekukan kayu. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Dia memberi Kopag poin. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya.

Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Ratu. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. dia mencium bau darah. Aneh sekali. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Karena perempuan Sudra. Bahkan Gubreg. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. merah. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. alam menyerah pada kekuasaannya. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Itu yang dirasakan Kopag. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. dan sangat pas. Masih kata Gubreg.” 112 . Karena dia bukan kaum Brahmana. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Jujur saja. Anyir. Aku ingin tahu. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. dia memahat pikirannya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. juga impian-impiannya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Kopag sering berpikir. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bagi Kopag. Dunia yang diinginkan. aku juga ingin merasakan. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Untuk pertama kali. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. kulitnya yang sering jadi pujian. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. otaknya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat.” “Seperti apa perempuan cantik itu. parekan. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.tidak saja memahat kayu. Ada-ada saja yang diributkannya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa.

” Keruncingannya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Kehilangan yang dalam. Ratu. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. begitu indah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Luar biasa. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Bagi Gubreg. Lihat. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. yang diterjemahkannya. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. aku selalu tersentuh. “Anak itu buta. rasa apa yang sering membuatku meluap. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Dadanya sering mendidih. Gubreg. “Kau tidak ingin menjawabnya. tapi mampu memikatku. kau belum jawab pertanyaanku. Kopag sudah bagian dari nafasnya. sebelum berpulang. Tinggi. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Kopag tidak lagi membutuhkannya. “Gubreg. Sejak kecil. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Gubreg.Laki-laki tua itu terdiam. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. yang konon. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Susah. Frans Kafkasau. Gubreg. Kau bisa lihat. pematung jaman Renaisans. Begitu penuh misteri. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. kata Frans. Jaga dia baik-baik. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Lihat. perhatian yang lain. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Menanggung dosa ayahnya. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. tentang Michelangelo Buonorrty. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Gubreg. Susah. 113 . Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Gubreg. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. “Gubreg. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. ketajamannya. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis.

Dia gelisah.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki.” Suara Gubreg terdengar patah. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. “Aku ingin bercerita padamu. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Perempuan junjungannya. Perempuan itu.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. dan mampu meledakkan otaknya. kebanyakan. Begitu parah. “Tentang apa lagi. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Dia juga laki-laki. Kaki perempuan itu putih. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Semua orang.. dia luka. Tubuhnya jadi pucat. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Sebagai laki-laki Sudra. Masih kata Balian tua itu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Sangat paham. *** 114 Pagi-pagi sekali.. Kopag sudah membuka jendela studionya. Hyang Widhi. Terlebih. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. dukun. Gubreg menyaksikan. . Sampai menjelang tengah malam.. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Dia mengerti. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. perempuan yang sangat dihormatinya. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Ratu. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga.. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya.. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Kata Balian itu. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai.” “Titiang. angkuh dan selalu lapar. dia adalah laki-laki tak berguna. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Berkali-kali dia menarik nafas.

Gubreg. menjelang tujuh puluh lima.. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. mengajakku bicara. Cinta yang membuatnya jadi batu. tetapi sudah menyerupai air bah. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Dia pasrah ketika Balian tua. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Sampai sekarang. Berkat kekuatan Gubreg. mem-besarkan tubuhnya. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Gubreg tidak sakit. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. tanganku.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso.. Aku selalu ingin tahu. Kata mereka. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. dingin. tidak juga kesambet setan. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Guemica. “Gubreg. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. tubuhku. Gubreg. Tak seorang pun tahu. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. sampai menguliti otakku. berdialog. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. sangat surealis. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Gubreg paham. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag.” suara Kopag terdengar pelan. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. diajar memahami kehidupan. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. 115 . Dia menarik nafas berkali-kali. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. “Gubreg. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Cinta yang tidak mungkin dihapus.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Demi Hyang Widhi. Dayu Centaga tidak terkena.” Gubreg tetap diam. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Tanpa istri. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. dan berpikir. kau belum juga jawab pertanyaanku. Pada dasarnya aku selalu penasaran.

ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. Lima menit tanpa hasil. Sekarang ini keluarga ini tentram. Sayang. Kopag seperti linglung. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Dia tahu.” Suara Kopag terdengar sangat serius. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Gubreg. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. . keluarga besar ini kembali bisa hidup. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. “Ratu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Benar kata Kopag. dia terus mengelilingi studionya.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Aku ingin kawin. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Mendengar komentar itu.” jawab perempuan itu serius. Gubreg diam. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Otaknya hanya berisi kehormatan. dia tidak tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Kopag memerlukan perempuan. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Jero Melati tersenyum. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. *** “Gubreg.” “Ya. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Bulan kemarin. Kata orang-orang kampung. Ratu terlihat sangat gelisah. Bahkan.Berkat Kopag. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.” “Siapa?” “Adik perempuanku.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan.

” “Apa kata mereka. membersihkan studionya menyiapkan makan. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Wajahnya juga rusak berat. “Aku sudah memiliki calon. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Maret 2000) .. Kau tahu. dia hanya memiliki satu mata.” “Mereka setuju.” “Ratu. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri.*** 117 1. ada daging besar tumbuh di atasnya. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Ketika dia telanjang. Luh Srenggi. punggungnya bongkok. Kulitnya juga kulit kayu. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.“Maaf Ratu. Saya 2. matanya yang kiri bolong. Kulitnya begitu kasar. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu.. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Dia adalah perempuan tercantik. kakinya pincang. aku tenggelam dan habis.” Gubreg ambruk. Gubreg.” Gubreg mengangkat wajahnya.?!” Gubreg seperti tercekik.

“Ya. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. mengapa harus menjadi batu. tergolek bagai barang tak berguna. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu.” “Jim. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya.. tetapi aku sudah membayangkan. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. “Tak masuk akal.” kata hatiku. Aku takut.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. mereka membunuh diri. betapa mengerikan.. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku.. ya seperti yang sudah kuduga. “Pasti dari Jim.” kata Jim datar.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari.. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. Tak ada jawaban. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. 118 . Sampai pada kalimat tersebut.. “Jim!” ulangku. “Oh. Sambil mengangkat gagang telepon itu. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. Beberapa saat ia terdiam.” simpul Jim. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Cepat-cepat ia mengatakan. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu.!” panggilku. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya.” kata Jim. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. Lima belas tahun yang lalu.

. tetapi oleh waktu. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. ketakutannya terasa semakin besar. Sayang. Hallo.. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. sangat takut... Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu...” Aku menarik napas. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. sebenarnya hampir tergolong primitif. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi.. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Aku belum pernah setakut ini. tetapi masyarakatnya terbelakang. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. lantas berkenalan dengan Niru. hubungan kami terputus.” kata Jim. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. menuju rumah sahabat kami tersebut. Ya. begitu orang menamakan asal Niru. aku merasa meneliti diriku sendiri. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. tut. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan.. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru.. sekitar 150 km dari sini. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. tetapi yang terdengar hanya tut . Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. 119 *** Dinihari..” Jim agak berteriak. “Halo.. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi.sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian.. tut . Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. Suku Montai. teruskan. . ia yang kawin dengan orang sekampungnya. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. tetap memandu Jim di lapangan. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim.. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk...” “Aku takut.. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya.

“Aku panggil Tuk Batin ke sini. “Atau Katik. wajahnya pun terlihat berayun. Leman. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. sebelum fajar menyingsing. Tak jauh dari Niru. Jim terpelanting. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. turun ke tanah. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. “Tapi Niru. Raut. “Sungguh. Terasa begitu cepat waktu berlalu. malah ia semakin gelisah. menusuk-nusuk hati Jim. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya.” kata Jim. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Aku memegang batu itu. Menengadah. Dulu. mengajak Jim berbincang.. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. semula aku tak percaya. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. anak-anak.. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya.” Terdengar Niru ketawa kecil. Berat. 120 . Angin berkibar. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. dan. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Jim kembali memutarkan badannya. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Duduk saja di sini. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu.” kata Niru. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. juga mampu menghidangkan suasana lain. . Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. ke pinggir hutan selatan. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar.

aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan.. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. Kudengar juga suara anakku mengerang. terdengar suaranya tersendat-sendat. Ia seperti duduk di ruang . tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut . soal-soal kemesraan. Aku ingin mengatakan.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. Cepat pula ia bertanya. Dari jendela. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Aku takut. tapi nantilah .” “Ya. Ya.keras sebagaimana layaknya batu.” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai.. Apalagi waktu itu. aku tak mungkin berbohong.. “Ini sungguh amat menakutkan aku... Kendaraan mulai lewat di depan rumah.” sambung Jim.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. tut . “Kau percaya cerita ini?” “Percaya. nanti saja. damar yang sulit dicari. tetapi hujatan Jim _ya. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau... *** Sampai menjelang subuh.. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. “Lantas.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. Belum ada lagi panggilan dari Jim. tut . Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi.. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. telepon masih terlentang. dan. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu.... Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku..” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa.

dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Setahuku. yang pernah kusaksikan beberapa kali. Katanya. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. Konon. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. Keesokannya. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. dan entah apa lagi. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. ketika mataku sudah terlayang. seorang teman lama. Kakinya terkepang. tilam. bantal. ia kemudian mengatakan ingin keluar. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. limau. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu.tengah. Kalaupun ada perubahan. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. Tak ada perubahan. mungkin tujuh tahun yang lalu. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. sendok. lesung. “Aku ingin reuni di Montai. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Dini hari. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. Tak diajaknya aku. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. jalan yang lebar.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. Ada juga batu berbentuk kapal.

. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas.” kata Jim. “Bertenang?” tanyanya kemudian. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. Niru hanya mengatakan: payah. bawa bertenang. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. “Pulanglah dulu ke sini. Aku akan menjemputmu. Baiklah. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. dan tak henti-hentinya mengusap muka. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. “Sudahlah Jim. “Ketika kutanyakan hal ini.” . Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. tidak cukup hanya melalui telepon. Ketika kutanyakan khabarnya.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. payah. memang sulit. telepon berderak. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru.. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. bahkan kami di kota ini.. Jim menjawab dengan sedu-sedan. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. menelan air liurnya beberapa kali. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. Jim juga mengatakan.tandus.

ketika.. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. Tetapi mata Niru. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. ia dan keluarganya juga begitu. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim..” Kalimat Jim terputus. tetapi ia 124 . Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu.” kata Jim. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim.. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Ia merasa amat letih. sementara otaknya melayang entah ke mana. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. dan entah macam mana lagi. “Ya. ternyata bocor. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. berdiri bercekak pinggang. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Bontik. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Tangan kanan menopang kepalanya. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut.. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya.. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman.. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. Matanya memandang tembus ke langit. Tetapi aku melihat. Ada yang sedang mencangkung.

keluargaku. Kau sudah mati. terasa seperti jarum menusuk telingaku. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini.” Sungguh. “Kau bangsat. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang.*** 125 (Dimuat dalam Horison. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Bukan bermaksud menjemputku pulang. aku berkata pelan. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. Kalau saja Jim tahu. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. “Tapi aku bertambah kecewa. Seharusnya. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Memandang ke langit-langit. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. Suaranya lantang berkumandang. Entah apa yang dipekiknya.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. aku juga meletakkan gagang telepon. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. giliranku. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. ia tak tahu. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. September 1997) . “Kemanusiaanmu sudah tak berguna.” Jim marah besar.

binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. untuk memburu binatang-binatang. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Membuat kami cemas. tetapi masih sanggup berlari 126 . sebelum sampai ke telaga ini. tupai dan tikus. Sampai kemudian kami menyadari. Telah kami sibak semua palung lautan. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. tetapi kali ini. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Mereka sudah renta. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Membuat kami begitu merasa terhina. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. mengantar tidur anak-anak kami. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. serigala dan segala macamnya. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Gajah. Cerita-cerita penaklukan. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. telah lenyap kami tangkap. badak. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. sejak kami masih dalam kandungan. Kami seperti mengejar kilat. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. macan. rusa. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. nenek moyang dan anak cucu kami. buruan kami tetap saja melenggang bebas. hanyut oleh pikiran kami. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. dari tahun ke tahun. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Kami memandanginya dengan gamang. Maklumlah. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. ular. jumlah kami memang makin membesar. Barangkali. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. begitu tercium bau kami. Sampai kelinci. tapi tak gampang mati. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati.

mendatangi kami. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Karena. Para penjahat itu. lari.. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. kami bunuh. meski kami akan memburu kalian. banyak di antara kami yang menolak. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. Anggap semua ini hanya permainan. sungguh. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Setiap detik adalah pertarungan. Lantas. banyak orang di luar suku kami.mengejar antelope. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. perlahan-lahan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Dan itulah kehormatan. tapi manusia. Mula-mula. Adakah yang lebih menyenangkan. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . dengan cara melarikan diri. untuk ikut menikmati perburuan itu.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Selamat jalan. para raja. Inilah hidup yang sesungguhnya. seperti kami katakan tadi. Liat dan sigap. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. sasaran perburuan yang menggairahkan.. puluhan kepala negara. Tetapi kami tak bisa menolak. Maka kami pun membeli ratusan budak. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Semoga nasib baik bersama kalian. . hingga pecah berantakan. orangorang besar di negara mereka. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Rupanya. Kami tak lagi memburu binatang. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Jangan cemas. Dan itu. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. semua binatang telah habis kami buru. “Masuklah dalam hutan. baru kemudian kami memburu mereka. memang makhluk yang tak gampang menyerah. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. para bangsawan dan pengusaha besar. Menjadi tradisi. membiarkan mereka lari dan menghilang. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Kami akan memburu manusia. Selamatkan kehidupanmu. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Para bangsawan. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian.

Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. keisengan. “Ini darah seorang penyair untukmu. terkadang. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. menjadi tak tertandingi. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. . Kami. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. dan kami tertawa bahagia. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. tetapi kami selalu dirundung sunyi. sendiri. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Suaranya sudah gemetar. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. tetapi juga.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. tetapi penaklukan yang membosankan. Kami berdiri di puncak menara peradaban.. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Karena kami sudah terlalu kuat. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Di antara kemeriahan pesta. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. hingga pertarungan menjadi tak sepadan.. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. melintasi gelombang waktu. Kami bangun juga istana-istana. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. menggulung apa pun yang kami sukai. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. yang melintas bagai badai dan gelombang. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Itu sering membuat kami terusik sunyi. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. jangan sedih. “Kita harus melakukan sesuatu. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. para demonstran untuk kami habisi. begitu melimpah buruan kami.” Gelas kami beradu. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Ah. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Kami terus memburu. dengan dukungan dana yang melimpah. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci.

Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. “Kami tak mau tahu.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Gairah menjalar. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. tetapi masjid itu tak juga penuh. itu 129 . Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. Dan tentu. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah.. malaikat. mencari kepastian dalam mata mereka. “kalian kami beri waktu satu bulan. “Baiklah. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua.. Dan aku ingin. Sekarang. kami segera mengumpulkan para kiai. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. kami akan membikin perhitungan sendiri. bersulang. “Kalianlah yang bercanda. para kiai itu. Ya. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. dari seluruh dunia. katakan kepada kami. .” kata kami kepada mereka..” Mereka.“Aku sudah mencium ajalku. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. sebelum maut menjemputku. “Kami ingin Jibril.” tegas kami..” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. meski sesungguhnya heran. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. telah lapuk. Tetapi mereka menolak. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. Kami turut kemauan mereka. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. . Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Panji perburuan berkibar.” “Baiklah. anggur segera kami tuang dalam gelas. Kami segera menghimpun topan. membuat kami begitu ternganga. membangkitkan imajinasi kami. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.

pun pasti sudah berhimpitan. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Tombak. Tetapi seperti yang pertama. mengalun menidurkan rerumputan. Gema itu melambung. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. antara takjub dan panik. Membuat kami tambah cemas menunggu. lenyap seketika. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Pada saat itulah. di puncak kobaran api. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. bukan? Jangan salahkan kami. 130 . “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. tertelan dan lenyap. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Kami terus berjaga. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. anak panah. Kami panggil namanya. bersama angin dan embun. Namun orang itu tak kembali. Kami tak mau kecolongan. Kami memagarbetis masjid itu. Begitulah berkali-kali. Namun dzikir itu masih kami dengar. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. di sana. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. luar biasa. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. bagaimana mungkin? Tapi. itulah yang kami saksikan. tetapi. membumbung. Satu bulan lewat. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. seperti daun yang melayang-layang itu. gembira dan tak percaya. Kami tak mau ditipu para kiai itu. menguap begitu cepat. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. melihat impian kami sudah di depan mata. tak pernah muncul kembali. sepanjang hari sepanjang malam. ya Allah. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. roket dan basoka. menyentuh langit. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. membuat kami tengadah ke puncak api. di pucuk api berkobar. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. jangan-jangan semua itu sihir belaka. seseorang di antara kami berteriak. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Kami kirim utusan kembali. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. sekaligus marah. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. tetapi tak kunjung keluar jua. Kami panik. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. dan api melahap cepat. Dan. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. hingga kayu-kayu bergemeretakan. mendadak menyadarkan kami. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami sudah cukup punya pengertian. orang kedua kami pun tak kembali. masuk dalam masjid itu. kini telah muncul di hadapan kami. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Kami bakar masjid itu. raib begitu saja. Jibril. Membuat kami cemas. Dan kami segera menyerbu. desing senapan mesin.

Dan memang. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. agar kami mampu meringkus Jibril. kami melihat buruan abadi kami. Bertahun-tahun kami memburu. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Tombak terus beterbangan. dan langsung melesat. kami lihat jejak cahaya. meraih peralatan berburu kami. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. ranjauranjau telah kami tanam. Ke mana pun Jibril melesat.*** 131 Yogyakarta. Maka kami pun kembali bangkit. Kami tak mau kehilangan jejak. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. dan kami pun tak sempat menguburkannya. melanjutkan pemburuan abadi kami. kami memburunya. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Di seberang telaga sana. Segera menghambur. roket terus berlesatan. Januari 2000) . kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Kami tak sempat istirahat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini.“Kejar!” Kami pun melesat. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Inilah buruan kami yang abadi. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami begitu sibuk memburu Jibril. perangkap telah kami pasang. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. yang menyimpan bayangan bulan. mengejar Jibril.

yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. di jalanan yang sempit itu. Tak tahu siapa yang mengubahnya. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. apa pun namanya. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. untuk cepat dan mudahnya. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. main congklak. dapat menduganya. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. Dunia Fantasi Ancol. anak-anak menyibak ke tepi. Belakangan. beca terutama. sehingga menjadi Gank. Apalah arti sebuah nama. berkejaran. seperti Taman Mini. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. disingkat saja menjadi Gang Jalil. Hotel Indonesia. Seakan. atau melompat-lompat main engklek. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. setelah mobil berlalu. anak-anak bermain gundu. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. main bola kaki. 4 . Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. Di sana. Namun. Dan apabila ada mobil lewat. main petak-umpet. Kadang-kadang. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Sebuah gang sempit yang tak berarti. Tapi semua orang seperti sudah maklum. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. main galasin. Monas. dan lain sebagainya. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. main layangan. oleh tukang.

pedagang kaki lima. bidan. pegawai negeri dan swasta. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. montir. sopir. 7 Jika lagi kehabisan. penjual nasi Padang dan Tegal. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman.” “Bagian apa?” “Tau.” begitu kami selalu menjelaskan. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. dan tanya lagi. pegawai negeri biasa saja. guru sekolah. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. Kok. perawat dan lain sebagainya.” “Lebih pantas lagi. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga.Rata-rata. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. tukang listrik. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. satpam. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. Dan tanya lagi. Tak tahulah. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. kenek. rumah-rumah.” kata mereka. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . pelayan toko. tukang kayu. menjabat bagian basah. makelar. “Pantas!” jawab mereka. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. tukang cukur. kami pun sederhana. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. ngurus hal orang lain. dosen.

Tsaunakum. Tsiinakum. Taunakum. di luar pekarangan rumah. Biinakum. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Tsaanakum. tak bisa dirahasiakan. Iinakum. atau listrik yang korsleting. 12 ..” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas.. Baanakum. Tsuunakum . yang berantem. Taanakum.. Atau juga. sungguh menitikkan air liur. Dan lepas tengah hari. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. Anehnya. melayang jauh dihantar angin siang. Yang paling cepat ketahuan. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. teriakan anak-anak bermain. 11 Lepas Isya dan makan malam. Buunakum. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum.mesin jahit. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tak tahulah. 8 Sesekali. Aunakum. Tsainakum. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. ke sepanjang gang. mengasyikkan. kalau ibumu menggoreng ikan asin. Uunakum. Biasanya. mengantar kantuk. Ainakum. Pada malam minggu. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. boleh dikata selalu ada permainan domino. Tiinakum. Baunakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. teriakan penjaja sayuran dan makanan. soal anak-anak. Yang ini. Bainakum. Tainakum. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. lebih terkenal: gaple. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. Tuunakum.

Atau disusul adiknya disuruh pulang. hampir sebaya. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. pop sampai keroncong. tak sampai larut.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. Sekarang tidak. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Kami menyebutnya ‘markas’. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. dan yang lain segera menyorakinya. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. Heran. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. 14 Sekali-sekali. Usia kami tak jauh beda. sedikit kaget dan lantas tertawa. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. sekali sebulan pada petang Jumat. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. sebagai basa-basi. 15 Bagiku. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. Kami yang muda-muda. kalau main gaple semalam suntuk. menyanyi dan main gitar. ayah-ayah kami pada mengantuk. 16 . Di tengah pengajian sedang berlangsung. agaknya dangdut dan pop itulah. tapi tak kena: sumbang. Najib. kami saling menjaga. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. Tempatnya: gardu jaga siskamling. mulai dari dangdut. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. Martin. semua membuka matanya lebar-lebar. Semua jenis lagu kami senang. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. kami sering berantem. ikut hadir. setengah melucu. Menurut Ustadz Malik. Dulu ketika masih kecil. persis pengamen jalanan. saling menenggang. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba.

biaya kuliah terlalu tinggi. Gayanya mirip-mirip Rendra. jalannya. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. Kami tak tahu pasti. Gaya bicaranya. deh! Bayangin. Itu. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . cara tersenyum. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira.Hamzah gitaris andalan kami. seakan ia jauh dari kita. tak mungkin. maunya. ekspresi wajah dan lain sebagainya. bukan cerita silat lagi. “Inggris. bacaannya bukan komik lagi. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Masuk kantor keluar kantor. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami.” tambah yang lain. berat. deh. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Akan hasil perburuannya itu. ni yee?!” ejek anak-anak. Pokoknya. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. Najib anak Ustadz Malik. Kalau ia bicara. Soalnya setelah gagal sipenmaru. gayanya overacting. apakah dia masih bisa berbisik. benar-benar ia putus sekolah. gerak tangan. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Selangit. guru ngaji di gang kami. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. ia tahu diri. “Maklum. kalian tahu. Tapi Hamzah tidak marah. Di situlah ia bercokol. Tak acuh. di luar jangkauan. Dan sekarang. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Sejak jadi pemain teater.

setelah Najib ditest. kerja. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Najib merasa sangat terhimpit. Kaget. Tapi Allah memang Maha Pemurah. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Apakah ia suka atau tidak. Pengasih dan Penyayang. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. dan tak ada tempo. . berang. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Beberapa hari kemudian. Sampai kapan? Dan kami. tentu kau sudah dapat menebak. Jelas Najib berbohong. Tony bungkem. seperti musang. Bekerja di bar itu dosa. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. siapa sangka. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. dan di mana mau shalat. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. 137 19 Sebaliknya. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Najib mulai bekerja di sana. tak membantah sepatah pun. Pokoknya. Ketika hal itu disampaikan. Sebenarnya. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. bukan main kagetnya sang papa. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. tak alang kepalang. Agaknya ia kalah. bingung. merunduk terus. Siang hari ia tidur. heran. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Yang ia tahu. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi.tahu jalan ceritanya. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. menguji keimanannya. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. pimpinan pesantren itu. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. dan semua orang di gang. kami. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Nah. bagaikan disambar petir di siang bolong. anak pegawai pajak yang gedongan itu. Tony memintaku. rumah minum. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. Lingkungannya tak memungkinkan.” pesan ayahnya. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. ke Pesantren Bangil. tapi dilakoninya terus. Artinya. “Jangan lupa shalat.

Allah. masak papa tega menuduh saya subversif. tapi miskin rohani. agar semua kami ditangkap. bukan?” “Tidak sekarang. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. Dan kesan pertama kita melihatnya. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? .. papanya jatuh sakit. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. Nah. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. Coba. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu.. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. “Toh tidak apa pulang buat sebentar..” Pakaian yang menutup aurat. Papa memang selalu begitu. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. pengajian subversif. Dalam batin. pengajian yang disusupi faham komunis. Jelas ini fitnah! . istri-istri orang mu'min. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.. Ya.. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. nampak kesal. dari ibu Tony. anak-anak perempuanmu. Tapi. Ma. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. Ada lagi. martabat... dunia dan kesenangan melulu. menjadi anak durhaka. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . Dunia. Kau lihatlah si Aisah. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. kesenangan . Dan katanya: “Coba fikir. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. hampir menangis.” jawabnya pasti. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. pada hari ketiga. tak lain tak bukan. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah.. Ikut pengajian gelap.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. itu kata lain dari pada kerudung). apa pun namanya.. hanya mencari kesenangan dunia…. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). Saya hanya bisa berdoa.” Aku mencoba melunakkan hatinya. menurut Ustadz Malik. kulihat air matanya menggenang.. Aisah yang satu ini.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Tapi Tony tak mau. teman kami juga. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Kini.

” kataku pula. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. kapan saja. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. barangkali. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. fikirku.. apalagi mini. Kayaknya semua pakaian rok. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. blus yang dulu. Aisah boleh bermantap-mantap. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. sejak Aisah menjadi eskrim. misalnya pada An Nur ayat 31. lisan dan tulisan. Sebenarnya. dan dosa yang dilakukan orang itu. agar mereka tidak diganggu. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya.” Mantap sekali ia. maaf. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.” katanya. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. perancang busana. ekstrim itu.” “Kau ini aneh. Tapi Aisah tak acuh saja. masih ada beberapa ayat dan hadis.a. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. “Itu namanya. siapa yang mau saja. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya).seluruh tubuh mereka. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. Namun ia tetap dianggap melanggar. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. “Itu waktu saya masih jahiliyah.. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. Dan sejak itu. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. baik yang maxi. Aisah. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. di mana saja. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Yang kutahu Aisah tetap tegar. Oleh kepala sekolah.” jawabnya. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. ia berdosa dan aku pun berdosa. Garagara pakaian jilbab itulah. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. midi. Rezeki di tangan Allah. “Menyuruh orang membuka aurat.

pengamalannya kita jegal. Rupanya Aisah belum selesai. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi.” celetuk kami. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.. Kita curiga dengan berbagai prasangka. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya. yang mabuk-mabukan itu..cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. belum merasa puas. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop.!” tambah kami lagi. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut... Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. aduh manisnya).. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. ‘kali. ini enggak ge-er.. ‘kali. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. dong. dasar anak-anak. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. mengangkat bahu. tak pernah luput ia jadi godaan. suka becanda.” Lagi-lagi kami keplok.. plok plok plok. membenarkan.” . senang sekali. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. Mengembangkan kedua tangannya..” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah.. plok plok plok plok plok plok plok. suka menggoda. katanya sambil setengah berbisik. yang merokok itu. Begitu ia lewat. 140 22 Di mana pun.. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. ya (senyum. yang terlibat narkotik itu. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. Dan bertepuk tangan serempak.. “PKIiiiiiiii.. kalau mau ditertibkan juga.!” teriak anak-anak serempak..

alimnya.” 141 . yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. “Wa'alaikum salam.” “O ya lupa.. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. mengitarinya seakan hendak memangsa. “Ada cowoknya.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Mereka menyingkir secara teratur. buru-buru aku keluar. “Tidak.. Jalan terus.” “Sorangan wae?” “Mari. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. “Ucapin salam dulu. assalamu'alaikum.” Dan macam-macam lagi. gue anterin. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. dalam hati masingmasing kami. Sekilas kudengar. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. “Wah. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. Mungkin. Namun Aisah diam saja. Aku berhasil. “Waduh. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. dong. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu.

selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. main loncat karet. Di lain waktu. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Sejak itu ia dikenal secara luas. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab.“Kurang ajar. melainkan kecantikannya yang membius itu. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.” kataku. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. Dan. demikian menurut Hamzah. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. Hamzah menaruh hati pada Maryam. lain pula Maryam. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’.. Cuekin aja!” “Dosa lho. pemain tenis yang lagi ngetop. ampun. Semua orang kagum padanya. anak teater yang lagi ngepop. ya ampun. salam tak dijawab. . Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona.. Bukankah salam itu doa. ke restoran. main engklek. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. Kukira. Maka sejak itu. kami tak merasa heran. dan macam-macam acara lain.. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini.. geram.. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. 142 24 Lain Aisah. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. pemain film yang sedang in. tiba-tiba seperti disunglap.” “Ya.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. Yang tercantik di gang kami. Bukan pada nyanyian. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya.. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. “Tapi.

ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. yang tak mungkin dapat diraih kembali. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. aku tak tahu. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. Maryam seorang anak yang baik. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. seorang anak yang patuh. 29 Akhir-akhir ini. Aku terperangah. 26 Suatu hari. mungkin anak-anak lain tidak. .“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. berani-berani takut.” kata Hamzah pula. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Dan terlebih dari semua itu. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. yang ber-Baby Benz itu. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. “Tidak!” jawabnya tegas. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Untuk itu ia siap berkorban. berfilsafat. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. Kali ini tampak serius dengan muka murung.

Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. jauh dari keramaian kota. terpencil. Martin dan Hamzah. Agustus 1990) .Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Namun ia tak bisa berbuat lain. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. aku selalu lewat di depan ‘markas’. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Ramainya masih seperti biasa. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. tertekan sedikit oleh perasaan rindu.*** (Dimuat dalam Horison. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Batinnya tertekan. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Nun jauh di desa Bangil. apakah kau tak merasa malu. Tony Handoko. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.

Bila loncengnya berbunyi. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. kelak tamuku akan cepat pulang. Ini karena ulah jam itu. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. “Betul. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk.” kataku. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Kami ketawa bersama. maka terdengarlah sebuah nyanyi.” kataku. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. “Juga mantan pacarmu. Walaupun akhirnya mengesalkan. Tinggi jam itu setinggi tubuhku.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. Mereka harus diberitahu. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Sore itu. Kuingat sekali. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran.” “Ingat enggak. Jika ditaruh di ruang tamu. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Sam. Istriku menjadi perempuan yang bawel.” katanya. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. . Ina.

makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Ketika setiba di rumah. Ketika kami lewati beberapa toko. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Sam.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Makin larut perkawinan kami. "Merk ini nomor satu. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Sebagaimana biasa. aku tak tahu dan tak perlu tahu. Setelah dua tiga toko kami masuki. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami.” kataku. Ke- 146 . ketika uang dihitung. remasanku lebih kuat lagi. kurang sedikit. aku dan istriku berpelukan. “Ini benar-benar abadi. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. kami menganut aliran navy-navy. Ketika pada seperempat jam. “Kita menemukan pilihan jam antik. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. dia menyanyikan satu bait saja. Aku dan istriku saling menatap. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. aku menggenapi kekurangan itu. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.” Memang begitu.” ujar istriku. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. aku meremas jari tangan istriku. Di toko saya cuma tinggal satu ini. “Tanyakan harganya. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam.” ujar sang pemilik toko. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. Sam.” “Ya kurangilah separohnya. Saat itu adalah pukul 00. “Merknya Junghun.” ujar istriku. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung.” kata istriku. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Lalu. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. istriku bilang. dan ini juga satu-satunya. Dari masa berpacaran dulu.00 pada hari 10 November.

Sam. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. “Kalau aku bicara soal si Aimah. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu.” kata istriku. dia menyanyikan dua bait.tika setengah jam. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 .” katanya. empat bait komplit. ”Si Aimah.“ sambungnya. “Aku tahu. “Kalau kamu kawin sama Aimah. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. Pernah juga istriku bertanya.” kata istriku lagi. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. sama pula di perguruan tinggi. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. Orang yang sama sekelas di SMA. lonceng jam menyanyikan lagu itu. Biasanya kalau jam itu mati. dan sama pula selesainya. Yang ada di sini adalah aku. “Kita tak perlu bertengkar lagi. kamu suka membisu. Peraturan kantor memang. “Ya. Ketika tiba tiga perempat jam. dan pada waktu satu jam. Sam?” kata istriku. kamu dan jam dengan loncengnya itu. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Padahal dia amat mencintaimu. dan terutama karena adanya kamu. ajaib sekali. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini.” Aku memilih diam. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. aku bisa memperbaikinya. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. Ketika pertengkaran itu terjadi. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.” “Sudah gaek masih gombal. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah.” kataku. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. aku dan Ina sudah berpelukan. tiga bait.” ucapnya. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya.” Tetapi.

aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. diam kamu. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. Aku kan tidak bilang kamu tolol. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Sam.” “Sudah. Sam. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. namanya Mahboub Assegaf.” kataku pada Ina. Jangan jadi nenek sihir lagi. Jangan. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. ahli pembetulan jam dan piano.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang.00 tengah malam 10 November. Pukul 12 bunyinya 6 kali. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. “Itu logis saja.” “Kamu makin tua makin tolol. ada orang Arab di Tanah Abang. Istriku mendehem. Keringat membasahi bajunya. Ketika aku tiba di rumah Arab itu.” Aku mencari ahli jam. orang di rumah itu mengatakan. Kita jual saja jam Junghun ini.” “Sudahlah. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Kamu makin tua makin cerewet. Ina. Istriku senyum mencemoohinya. Kita beli yang baru.” kataku. “Tenang dulu. Ina. ada dijual di sini. "Jam ini penuh kenangan. Bahkan mencak-mencak. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Anak muda itu bekerja keras. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”.” kataku. Bahkan ngawur. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Dia marah. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Ina. aku pergi ke Jatinegara.” “Aku mau keluar. jam ini berbunyi 36 kali. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya." 148 .” Aku mengalah.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Dia katakan. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina.

Aku akan coba perbaiki sendiri. Memang dia gila. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Katanya. Ini menambah semangatku. Sayang. Ia menderita tekanan darah tinggi. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Tengah malam pukul 00. saat itu istriku tidak mendengarnya.“Cukup.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Kita jangan panik. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. “Sabar. Ya. jam gila itu berbunyi 120 kali. dan tak 'kan pernah mendengarnya.” kataku yakin. Nak.” kata istriku. September 1999) . Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. Ina.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina.

Joko Tingkir. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Aryo Jipang. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Nak. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Ki Pemanahan. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Suatu kali. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. “Di negeri leluhur kita. Ken Arok. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Damarwulan. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. . Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Dan dia begitu tertegun.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. Sutawijoyo. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri.

“Nah. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini.” “Tapi itu hidupku sendiri. 151 .” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. waktu itu kau masih dalam kandungan. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti.” potongnya. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. Salah satu di antaranya. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. apa kataku. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini.” protesnya. “Bagus.” “Tapi namaku bukan Rio. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Rio. itu lebih penting. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Rio. karena cintanya pada kita semua. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Kau hanya harus terima utuh.

Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. “Kau sudah gila. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Tapi tak bisa di sini. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. tapi daerah Perancis Selatan. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. orang-orang Perancis. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. orang-orang Kanak. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. dan dirinya begitu berbeda. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada.

Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Jatmiko memang masih hidup. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. 153 . dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Rio. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Rio.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Sadarlah.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Dengarkan kami baik-baik. Kakek. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. begitu berat. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya.

Rio. dia dan istrinya menuju ke Australia. “What a lovely surprise. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Tapi kenalkan dulu. Sebelum mereka pergi. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja.” Ya Allah ya Rabbi. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Mungkin karena ada John. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi.“Jangan tergesa-gesa marah.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. 154 . Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. “Wah. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. “Untung tidak ke Southern Cross. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. Ini Rio dan Handayani. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Tanpa memberi khabar pada Dewi. itu hotel yang mewah. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. kakek dan nenekku. Tak ada angin. John.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. “I have a surprise for both of you too.

Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. “Dewi yang baru saja telpon. Air sudah kusiapkan semua.” ucap Dewi sebelum pergi.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. bahkan seperti bangga sekali. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban.” kata istrinya sambil menghampirinya. ke restauran Vietnam. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Rio. “Lebih baik kau mandi dulu. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. “Beri aku pakaian yang bersih. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. “Ya. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. Rio. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. pintu masuknya dari Little Collins.“Ya. “Rio. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. “Mandi yang bersih. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. Dia tersenyum sendiri.” 155 . kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. kita bisa ke Grill Room di basement.

Rio. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu.. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. “Dewi! Dia. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. Rio. “Aku mau pesan minuman. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. kau mau juga?” tanya istrinya. Rio. Rio. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. ya dia hamil.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan.” “Kau tahu..” “O.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. 156 . Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Kalau aku tahu mereka. itu.. “Jangan kau anggap aku melawanmu. Rio. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. dia.” potong istrinya. Aku tak mau bicara. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Tapi soal Dewi.

Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. Maret 1990) . Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. “Shall I open the bottle now.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri.*** 157 (Dimuat dalam Horison. “Rio. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi.

lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. berderap melaju menuju cakrawala. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. mendesing menuju kebebasan. melesat dan menggebu. 10. .000 pasukan berkuda. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. akhirnya keluar dari hutan itu. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. Kuda-kuda kami menggebu. 10. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. Kami menggebu begitu laju. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. Semuanya terbungkus. Kami. Namun sekarang. dan penuh dengan rintangan. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. Para pembawa panji. bendera. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. gelap. cuma inilah yang bisa kami lakukan. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. berpacu melawan angin.000 pasukan berkuda. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami.

kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Telinga kami semua penuh dengan desau. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kuda-kuda kami masih terus berderap. perjalanan kami masih jauh lagi. Matahari terasa betapa berat. bahkan bisa lima tahun. perjalanan angin. Cahaya matahari menyiram padang. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Kami selalu bepergian. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. kami mengarungi gurun pasir. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Kami menyeberangi sungai. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. berpacu dan berpacu. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. tapi kami tidak juga ingin berhenti. dan peredaran bintang. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Kami tahu. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. dan berpacu. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. selalu bertualang. selalu berpindah. namun kami selalu berangkat kembali. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. bagai berpacu dengan angin. Kami berpacu. Tanpa kuda. dan segera lenyap di balik kaki langit. Langit hanya biru. kami mendaki celah-celah gunung. berpacu. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. dua.

Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Ia meniup seruling di atas tebing. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. Namun. Apakah rembulan bisa memahami. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri.. dari bukit ke bukit. dari lembah ke lembah. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. dan mendengarkan seseorang bercerita. Kami menyembah langit. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. dan kuda. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. seruling. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. 160 . ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. Di setiap danau itu setiap 1. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh.penjuru bumi. Langit masih membara. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu." Kami selalu membutuhkan cerita. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap.000 orang dari kami berkemah.. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. 10. seolah-olah berhadapan dengan rembulan .. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Kami.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti.000 pasukan berkuda. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Kami memuja rembulan dan matahari. kami harus memburunya ke balik cakrawala. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. kami menyembah bumi.000 saudara-saudara kami. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan.

bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. Tinggal bara api menyala diam-diam. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. tiada yang mendengkur sama sekali. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. anak-anak. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. 10. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. peniup seruling itu masih di sana. makin lama makin menghilang. Bertengger di atas sana. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Kami pasrah.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih.000 pasukan berkuda. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Kami. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan.000 saudara-saudara kami tiba. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. dan orang tua. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Apabila 100. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Kemudian. tertidur dengan pulas. Kemudian. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Gemeretak api unggun segera berakhir. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Sesekali tertutup awan. akan membutuhkan tendatenda itu. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah.

langsung melompat ke atas kuda kami. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. kami berlari-lari turun dari bukit. seperti yang sudah-sudah. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. bendera. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. menari di atas perahu. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. kereta. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Dengan segera.Kami semua segera melompat ke atas kuda. penuh dengan debu. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. Berkibar dengan megah. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. kami menggebu menyambut 100. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. berderap dan berpacu. dan umbul-umbul yang sama. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . siap menempuh perjalanan untuk mati. gajah dan unta. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. kami baru akan mengetahuinya nanti. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. Kemudian kami melihat panji. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. bergetar-getar dalam tiupan angin. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan.000 orang lagi. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. Tak kurang dari 100. Angin begitu dingin. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. memetik kecapi di puncak bukit. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. Hari sudah menjelang senja. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Kami semua turun dari kuda. dengan gerobak. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. pemandangan yang kami nantikan. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang.

Betapa mereka begitu tabah. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. begitu mengerti. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang.rembulan dan matahari.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. 163 . Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Kami begitu siap untuk bahagia.000 orang. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. Mereka begitu jinak. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. dan kini begitu kurus. Saudara-saudara kami yang 100. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. begitu juga unta dan kudakuda kami. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Langit memberkati kami. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini.000 orang. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. dan kami menguburkannya di tengah jalan. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal.000 orang itu datang pada musim dingin.000 orang dari pasukan berkuda kami. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Semua orang tampak tak terurus. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun.

000 anak manusia terus-menerus melangkah. kami semua. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. Kami. menempuh ngarai. 110. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. Begitulah kami berjalan. Mereka yang telah menjadi tua. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. lemah. 110.000 orang. khusyuk dan meyakinkan. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. dan menyeberangi sungai. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona.000 orang. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. Pada musim semi danau masih membeku. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. Bulan masih menggantung di langit. dan berjalan mengarungi gurun. 110. Mereka yang mati . 110. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. merayap di jurang yang curam. Ketika tiba musim panas. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Kami. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Kami semua. Gajahgajah ini berbadan besar. orang sakit dalam tanduan. menembus badai. sementara yang lain meneruskan perjalanan. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. tapi kami rombongan 110. dengan bayi di gendongan. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. mendaki gunung-gunung batu. berjalan. Kami berangkat pada pagi subuh.000 orang. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. namun rerumputan menjadi lebih hijau.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Mata mereka mengatakannya. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam.

Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Itulah dunia yang kami rindukan. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. 110. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. Langit merah di kaki langit. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Kami melangkah. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. dari dongeng ke dongeng. menapak pelan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. 165 *** . ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. dunia yang kami impikan dari abad ke abad.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami.000 anak manusia. Namun kami tahu. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. terus-menerus berjalan. Dari hari ke hari.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Kami.

tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. dan pergi.Kemudian. namun kami selalu mendapatkan gantinya. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. Tiada mega di langit -. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Langit ungu muda. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Gajah-gajah. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. unta-unta. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. dan kuda-kuda. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. Tiada suara yang menggelegar. hanya tegak di atas lutut kami. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. sepatu. mengambang. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Padang rumput memutih. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Dari balik kabut itu. panji. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. segala-galanya memutih. memang. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. kulit 166 . memang.

dengan atau tanpa badan. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Apakah aku harus berhenti. Begitulah kami semua. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. bayi menangis. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. dengan segala derita dan pengabdian. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. menaiki kuda putih di atas awan. kuda-kuda berpacu. kemah-kemah awan. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Semakin jauh aku berjalan. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. 109. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. Tinggal aku sendirian.999 anak cahaya. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. 167 *** Kulihat di sepanjang langit.000 anak manusia. Dari kelam ke kelam. 110. Sudah begitu jauh aku berjalan. dari barat sampai ke timur. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. dari cahaya ke cahaya. dari selatan sampai ke utara.*** . kelak-kelok labirin yang memusingkan.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. dalam penyucian cahaya berkilatan.dan rambut kami. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. melihat-lihat pemandangan. tujuh matahari. Begitulah rombongan kami. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. gua pelangi yang menyilaukan. Kulihat 109. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. tiada lagi debu mengepul. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Tiada lagi angin bertiup. semakin aku terikat kepada kenangan.

Jakarta.Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 . Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.

“Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. senang. Michiko. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. Nikmat benar dirasakannya menerawang. mengikuti goresan kaki langit. Gembira sekali.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. senang. yang kali ini tertinggal di Osaka. Ini tanah Subarkah dan Michiko. lalu menatap ke kejauhan.” gumamnya.. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. Subarkah.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). Ia merasa benar-benar gembira. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai.” kata Okayama. “Aaahh. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. ke sana lagi! Lihat dari sana. “Tetapi . ini bukan tanah saya.. mengikuti anjuran Pak Marta. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. kepada penduduk di kampung itu. “Tempat ini bagus sekali. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. Bukan tanah saya. dari tepian yang lebih jauh. sahabat besannya.. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. tetapi . membicarakannya. tidak ikut terbang ke Jakarta. Negeri ini indah sekali. Sungguh. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . lalu menarik senyum sendirian. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam..” (Bagus. beberapa kali. bagusu-neh. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. Di sebuah onggokan ia berhenti. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh.

bahwa Subarkah menetapkan. Bahwa Okayama-san. bukan meteran. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. Dan ia gembira. sudah menolong anak-anak saya.” Pak Marta tertawa. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. Tanahnya. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Nyonya Subarkah. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. di dalam surat-surat jual belinya. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Michiko. bisa tentu bisa. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. pisang yang disukai Okayama-san. Ia merasa. kini merasa senang. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. bisa hidup di sini. apalagi di seputar Tokyo. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. diikuti oleh Okayama-san. melainkan milik anaknya dan menantunya.” jawab Pak Marta.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. tertawa lebar. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. dengan kebunnya yang bagus. Bakal jadi bagus. tanah itu atas nama istrinya. karena mahalnya. Lihat itu. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. pohon kesemek. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. sebegitu yang diperlukan Michiko. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. “Semua tanaman bisa hidup di sini. pohon pisang. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. bahwa tanah itu bukan miliknya. Asal diurus. sejuta Yen sejengkal. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. bisa. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. anaknya. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. bahwa tanah itu milik Michiko. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. Lihat. di hari tuanya. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. ia memilikinya juga. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. Hahahaha. Sekarang. pisang ambon. Michiko. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. Di Jepang. sangat gembira. pisang lumut.” Okayama pernah berpikir.yang ada di sana. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Kalau terlaksana. Bagus sekali tanah ini. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Juga Subarkah. Disebutnya di sini. pisang raja. Apa pohon kaki (kesemek.

Kebiasaan mereka pun baik-baik. karena ayah Subarkah masih ada. dan sebagainya dan sebagainya. selain ada laut yang bagus. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san.” kata Kakutani dengan nada rendah. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. “dari tempat itu. pemandangan seputar itu. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. Dan. Hahaha! Dan. badak yang terkenal. “Beneran. besan Okayama. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Saya pun waktu lewat di sana.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang.potongan khas Jepang. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah.” 171 . di mana letaknya Sidanglaut itu. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh.. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. ya. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. Dan terkenang sampai sekarang.. saya akan kawin lagi. waktu datang di Osaka. “Tapi. Tinggal tidak berjauhan. seperti sudah tidak punya harapan. dengan nada suara seperti berhasrat. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. “Dan istimewa lagi. akan mengambil wanita Indonesia. Cantik-cantik lho. “Dan bagusnya. Cantik-cantik. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. merasa jadi muda kembali. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. Itu sudah kebiasaan mereka.. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. melihat binatang langka?” “Ya.. Kesukaan kamu kan masuk hutan.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar.. bukan mimpi pagi. “Kamu kan belum punya istri lagi. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. atas nama siapa. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia.. kamu bisa dapatkan seorang.” cerita Okayama kepada Kakutani. dengan uangmu yang ada di bank sekarang.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. Mereka sama-sama duda.. hahaha. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia.

cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. ”Dan soal tanah itu.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. dan bisa membeli tanah yang luas. bagus kalau begitu. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. “Sesudah kami nikah.” kata Okayama.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. tidak ceritakan bahwa Nurseha.” Ia pun ingat. dan sudah pergi ke Sindanglaut. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. 172 . Tentu saja jadi. Itu kan benar bagus. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. Cepat sekali prosesnya. “Bagus. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. di samping tanah Michiko. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. pada mulanya. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. ditemukannya di sebuah panti pijat. “Secepatnya. Yang dipentingkannya hari depannya.” kata Kakutani. “Kalau sudah begitu. Nampaknya agamanya kuat. “Jadi. “Ia berjanji. “Kami akan kawin. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus.Kakutani jadi berpikir beneran. *** Saatnya pun tiba.” kata Kakutani kepada Okayama. Dan saya sepakati. Dan benar murah. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Kalau istriku menyenangkan. begitu nama perempuan yang dibawanya. Ia. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. dan mau menerima kebiasaanku.” jawab Kakutani-san. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san.

setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. *** . bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. Tetapi yang pasti lagi. untuk usaha. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. bahwa nilai tanah akan cepat naik. disaksikan oleh Okayama. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Pantainya bagus.” pikirnya.Indonesia. dan gelombangnya amat memikat.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya.” pikir Kakutani. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana.” kata Kakutani. “Aku akan sering saja berada di sana. Pasti ada cara-caranya. kita bisa tinggal di sana. di sana segala bisa diatur. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. Kata orang di sana. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. segala di sana sudah terbuka. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. di tepi pantai yang lautnya biru. tak dirasakannya jauh. Tidak lama setelah itu. tergerak juga hatinya. ia merasa senang. Apalagi di pagi hari. Apalagi sekarang. Ia sudah menghitung. Tentu yang ukurannya luas yah. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. kamu akan senang tinggal di sana. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. atau di sore menuju senja. Soal jarak Jepang . tapi sekarang sudah jadi istrinya. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. dan kamu merasa encok di sini. Lautnya bagus. Kanazawa-san. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. Percayalah. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. Kalau musim dingin di sini. “Benar murah. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. pemborong bangunan. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. Kakutani punya sahabat akrab. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. “Bisa. bagus sekali. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. Kanazawa-san. Di sana kan selalu ada matahari. Pasti bisa.*** Benar juga. cerah langitnya. Nurseha merasa pintar.

“Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. seorang yang lebih tua.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. Ramdan. Pak Kosasih. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. 174 . Ia mengetahui.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. dengan kebutuhannya. tersenyum lebar. bisa meyakinkan. bisa menolong kita. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. “Tak ada kesalahan saya. Garnida. antara lahan ini dan laut. Tetapi Kosasih. tapi sudah tidak terurus. Ia merasa. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana.” pikirnya.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. ini orangnya yang bisa membantu kita. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. Tanah itu bekas perkebunan kecil. Sah-sah saja. Yang kedua kali untuk istrinya. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Orang kita-kita juga. “Tidak jadi soal. Tanah yang menghalang-halangi itu. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Tanah itu tidak nempel pada pantai. “Ini.” pikirnya. terasa tak menentu. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. Ia pun yakin. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. sebenamya hati nuraninya pernah goyang.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. “Bapak ini. Tetapi. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Ia tentu saja senang. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. seorang lagi yang lebih muda. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Dan akan dijual.

Sebab memang setelah diperhitungkannya. Takahashi-san dan . sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. di kantor Kabupaten. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Ia menunggu kepastian. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. lalu ke arah Okayama. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. tak mengerti sepatah kata pun. meminta dukungan. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Rumah tua sudah dibongkar. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Rencana bangunan hotel sudah siap.Ia berpikir lagi. tuan Kanazawa tertarik. ada Tanaka-san. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Kosasih mendengarkan saja. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. asal benar bisa diatur begitu. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. 175 *** Selang beberapa waktu. karena bukan saja Okayama-san. “Ya. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Subarkah. melainkan ada Saito-san. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Sindanglaut mereka tuju. Ia tidak kepalang bergerak. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. “Ini jadinya proyek pembangunan." kata Okayama. malahan di kantor Gubernuran.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Dengan duit. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. Masing-masing mengatur kepemilikannya. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Mereka tidak membuang waktu. Okayama-san. pikirnya.

sahabat kentalnya. “Untuk siapa saja. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. pikirnya. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. Nurseha adalah istri Kakutani. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. . Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. istri. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. Saito-san idem dito. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. tetapi ia sudah tua. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. keturunan mereka. gamang. Bukan saja hatinya terganggu. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. “Siapa yang salah?” pikirnya. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Michiko adalah istri Subarkah. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Mereka seperti sudah berpikir. pikir mereka.” pikir mereka. Okahara-san sami mawon. karena rumahnya pun sudah tergusur. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. sawah musiman dan kebun terlantar itu. untuk kita. Di hatinya ia merasa tertinggal. lalu ia sebentar merenung. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. semua kedudukan pun bisa kita capai. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. untuk semua penghuni bumi. Untuk pihak yang pintar. bahwa dunia ini untuk kita semua. daerah kantong Jepang. Ya.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. yang bisa membelinya dan membangunnya.

Ia seperti menelannya. Ia menarik wajah gembira. “Bapak bekerja di Kecamatan. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Pak Marta. “Tempat ini bagus. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. saya belum lahir waktu itu. menjawab: “Entahlah. Pakaiannya serba baru dan mencolok. “Wah. ke langit yang bersih. “Duduklah di sini. benar bagus. Suara Ramdan terdengar melas sekali.” Ia tidak meneruskan ingatannya.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. Pak. orang tua itu. “Di sini lebih menguntungkan.” kata Pak Marta. “Ya. ke kaki langit.” kata Garnida. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. bersih. anak-anaknya... Pak. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya.” Ia setengah membusungkan dada. terutama kepada istri-istrinya. Bapak. “Pilihanku benar. permulaannya amat sederhana. Mukanya pun nampak licin. tapi saya menolak. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. bangkit dan duduk di kursi. Daerah ini mesti dibangun. Ia ingat.” jawab Kosasih. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. “Alhamdulillah. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. mertua-mertuanya.. Di sini masih ada kursi. kan?” kata Pak Marta. Kendaraannya. “Jangan jongkok terus begitu. ke ombak yang bergelombang. yah.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu.” Pak Marta cepat mengerti. Sementara itu Kosasih datang. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. orang tuanya. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. Hati kecilnya berbisik jujur.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Ramdan. Dengan ragu. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. terjepit antara sesal dan senang. Pak. Ia merasa berjasa. Tetapi. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Kelanjutannya jadi amat serius. Ia gundah. 177 . ke lautan yang biru. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. kamu sudah punya motor segala sekarang.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta.

Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. saat ini. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. (Dimuat dalam Horison. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. Pak. mengikuti pihak yang menginginkan. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong.” kata Garnida. Pak Kosasih membujuk kami. Pak.“Maju yah. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. hari ini. September 1997) . digusur. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu.” “Ya. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. rumah orang tuanya. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Ia tidak menatap ke masa depan. Ia bicara sesungguhnya. detik ini. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Dan yang tua serta yang muda.

1 . lebih dari tiga. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. Dua anak lelaki. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Pak RT sanggup mencarikan. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. Iwan adalah sulung dari empat anak. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana.Horison. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. ditata di rak warung. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Dia pikir. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. semua keperluan MCK. paving. setengah dan satu kilo-an. seperempat. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. ubin. Pada suatu ketika. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. dua perempuan. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Kini masing-masing mengelompok. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. Karena dekat dengan Pak Lurah. karena anaknya lebih dari dua.” Istrinya tidak menanggapi. Satu on. mendirikan usaha penjualan kayu. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan.” “Jum’atan apa tidak dia. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah.

Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Tubuh Iwan kurus kering. usia Iwan 16 tahun. Dia merasa hidup lebih leluasa. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. semuanya berubah bagi Iwan. Dia bikin sebuah ruangan polos. sehingga terang memantulkan cahaya hari.” 180 .” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. Dengan begitu. Ketika rumah di samping dijual. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Bapak-bapak. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. nyaris menjadi anak jalanan. PKK. “Aku tidak punya waktu. Dia baru lulus SLTP. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh.” Iwan hidup di luar. Pak RT masih mengurusi usahanya. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Bagian depan. Kini lantainya keramik putih berkilau. Adiknya yang terkecil delapan tahun.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. muda-mudi rapat di sini. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung.Ketika ayahnya menjadi RT. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. Rumah berganti ubin. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Dia bebas. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Di situ tikar digelar. menjadi bangsal aula cukup besar. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama.orang tua lain. Pak RT langsung membelinya. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua.” itulah jawaban Pak RT. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. Katanya. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Semua nampak bahagia. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera.

dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. “Bikinkan aku warung. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. adik atau saudaranya ipar. menawarkannya kepadanya. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga.” Ibunya Iwan baik hati. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Pak. aku tidak perlu memngawasinya. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. siapa saja yang berasal dari desa sama. Buat sekolah. Kecil-kecilan saja. obat-obatan. Sedangkan yang pertama. minta gula dan kopinya saja sedikit. Bisa dibayar dua kali. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. Untuk toko. selain buat keperluan toko. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Dia minta dibelikan kendaraan.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya.” suara Pak RT tidak bertanya. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. Sekarang. bukan?” 181 . Di mana-mana orang memerlukan kayu. Asal masih bagus jalannya. bahkan perangko. Yang terkumpul adalah ibu. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Selalu ada yang lewat. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. meterai.” Pak RT punya sebuah kijang. tiba-tiba. Sambil makan. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. Pada suatu siang. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Orang terus membangun. Kemenakan. Aku ingin mencari uang sendiri. ada tetangga yang berani berkata. "Tidak usah baru. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Di lain waktu. Mereka selalu kekurangan. batu atau pasir. Dan karena rezeki berlimpahan. Sama seperti suaminya. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. lalu singgah. Mereka pulang bersama. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. Sekarang anak-anak sudah besar. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. ayah dan dua adiknya. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. “Kalau boleh. Beri aku modal. Iwan sengaja memperlihatkan diri. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. Kemudian.” Dan kalau itu sudah diberikan.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT.

“Itu benar.” kata kawan Iwan yang lain. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. kena hujan. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. berlanjut biasa. Minta kendaraan saja. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. Herman-lah yang mengepalai. kita bisa cari uang. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi.. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan.”. “Apa lagi ini nanti musim hujan. Kadang-kadang. sulung. atau mana yang dia harap ada. Anak-anak repot. Iwan termakan oleh gosokan itu. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu.. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. Di sanalah.”. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang. Lalu alur keseharian kembali seperti semula. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir.. di waktu malam. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. menjadi kernet omprengan.. Seusai sekolah. “Kalau punya kendaraan sendiri. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. 182 . Yang dia inginkan demikian. tinggal aku yang belum punya kendaraan.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Dia yang paling lama memiliki kendaraan.. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Karena dalam keseharian. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Stadion Jatidiri besar. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua..” kata Iwan lagi. Hal ini agak mengejutkan Iwan. “Benar. pasti kita menang. temannya yang paling menonjol. ruwet menjadi satu. Lebihlebih menyuruhnya belajar. Mana yang sungguh ada. terjadi kebut-kebutan. tidak dimanja.. Di mana ada kegiatan berkelompok. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. “Di kelas. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak.” begitu kata Herman.

“Ke mana?” Mak masih mengikuti. Paling-paling lima ribu. Hati Mak tenang. Besok pagi langsung ke sekolah. dadanya kerempeng. Mak turut masuk kamar. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung.” Iwan menyahut. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. meneruskan bicaranya. Biasanya. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. Apa lagi. di muka sekolah. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Di sana tentu disuguhi makanan.” Mak menghitung. Dia mau buka usaha. Baru muncul hampir petang. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. “Nanti kalau usahanya berjalan. “Ini sisanya.” Lalu Iwan terburu-buru. Diberikan kepada Mak. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Tapi tidak apa-apa. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. “Kuberikan kepada Herman. “Makan dulu! Kamu kurus. Herman akan mengembalikan.Hanya. “Mau belajar bersama teman-teman. untuk apa uang itu. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Rambutnya masih basah dan belum disisir. Malahan mungkin dengan bunga. dua ratus ribu lebih sedikit. kasihan tidak punya modal. Mak bertanya lembut. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Tidak banyak.000. Mak takut bicara kasar.” “Aku jajan bakso tadi. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. bersama tukang pompa ban. lalu akan mengenakan baju. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. Mak”.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Mak lega.” kata Iwan lagi. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Mukamu pucat. bahkan nyaris merayu si anak. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. anaknya bawa 183 . Mak tunggu anak sulung itu seharian. karena si sulung sudah berlalu. menutup kancing baju. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu.

ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. “Hari Senin masih masuk.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan.. Kami kira. Mendengar itu.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. mandi atau untuk keperluan lain. Khodir berkali-kali mangkir. Kecuali Anda. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. kalau Iwan pulang makan. tidak keluyuran. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan.uang. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. Ibunya Iwan. Iwan sendiri. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. katanya. Mak yang berangkat. Sejak si sulung lulus SLTP. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. Jadi Mak juga meniru suaminya. Dengan suara terbata-bata. dia menganggapnya sudah besar. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Maknya Iwan menjadi ragu. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. Mak berpikir. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. Katanya banyak tambahan pelajaran. anak-anak mereka tidak naik kelas. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Rupanya.” istri Pak RT berkata membela anaknya.. “Kami menerima uang tes. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Seperti biasa. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. bisa jajan. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. Sekarang. Seorang guru melihat ke buku catatan. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. bukan?” Mak kebingungan.” kata kepala sekolah. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. “Dia pulang sore. 184 . Itu baik. Mak senang. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. tapi Selasa. Juga hadir dua guru.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. menanggapi.

“Memang banyak ekstra kurikuler. Tanpa menunggu lama. sesuai pilihan masing-masing. Para pelayan sudah terdidik. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Selain di situ suasana cerah. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan.” sahut Pak RT.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan.” sahut seorang guru. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Kaum muda lelaki dan perempuan. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi.” “Ya. Dan selalu ada yang menjawab. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. Pak RT orang yang sibuk. “Tidak apa-apa. Kami minta maaf.” seseorang menjelaskan. saya juga dengar. Begitu pula para pendatang. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. serunya. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. selalu merepotkan ibu. Padahal katanya. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. “Anu 4. juga selalu banyak makanan dan rokok. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. lalu mendongak ke arah dalam. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. Pak RT. Bu. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. mengerti. Kami 185 .

Yang lain-lain kabur!” “Ya. menemui si pendatang. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. Dia kelihatan sibuk. saya sendiri. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Mereka ngelantur mengobrol. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. Seorang di tengah-tengah halaman. tiduran atau bersandar ke dinding.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. Dua orang turun. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu.” “Yang saya dengar.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. Mereka makan dan berbicara. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Televisi di sudut ruang dinyalakan. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Yang penting Pak RT tidak makan lagi.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. mengatakan gagasannya. membantah. “Selamat malam. Serius atau santai. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Malam itu. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Pak RT bangkit dari tikar. Ada tiga lelaki lain. menariknya menjauhi pintu. “Betul! Betul! Kalau tidak. satu pelaku sudah diringkus. mereka santai menonton. mengenai itu juga saya dengar. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Atau paling lambat setengah sepuluh. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Satu kali bertanya kepada tukang becak. seorang di pagar. bakso atau sate. langsung menuju pintu yang terbuka. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. kita tidak akan selesai sampai besok pagi.” sahut suara lain.” sahut Pak RT. 186 . “Bapak Rajiman?” “Ya. berbicara. Terdengar suara bebincang rendah. seorang lagi duduk di belakang kemudi. menyumpalkannya di antara gigi besarnya.

” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. Kamu dua pancuran. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Seorang tetangga duduk di sampingnya.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Bukan untuk berbicara. Dia memanggil-manggil. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. “Maaf. Belum ketahuan pasti jenis apa. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. Silakan Anda pulang. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. bisa sekolah. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Tetapi nyatanya. langsung menuju ke rumah induk. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. kakinya ditembak. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya.. Biar pintu ditutup. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Kata tambahan dalam bahasa Jawa.” Lalu Pak RT muncul di pintu. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Nama Iwan disebut-sebut. Teh kental 3. 4. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil.*** 187 1. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Sumber air/telaga terletak di antara 2. . “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. sudah mengenakan celana panjang. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Supaya mereka hidup layak. Sesaat berlalu. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. saya harus pergi..

Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan.” bilang ayah.000 jiwa itu. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. silau juga. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Silau. Siapa tahu. Ganjilnya. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Aku memandang khalayak. “tapi sudah hilang sendiri!” . Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Ayah berkata. Lihatlah. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Gelap. “Di sini. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang.Horison. Tapi apa peduliku. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Tidak. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Aku menatap matahari.

Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. 189 . Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah.” kataku. Namun jika serangan penyakitnya datang. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari.Ayah malah mencoba tertawa. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. makin sering saja. Ya. seolah ia sudah sembuh. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Baru saja sekali enam hari. juga tanpa hasil apa pun. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. “Jangan.” cemooh ayah tertawa. Maka hidup ayah jadi aneh. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. Yang tinggal hanya para tetangga. Makin cekung dan sepi.“ kata dokter. perlu diobati atau tidak. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. Kami benar-benar kalang kabut. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Tapi makin lama makin sering. apalagi mengobatinya. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Sebab seperti semacam misteri. kapan saja di mana saja. sehingga membuatnya capek. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk.

Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Yah. punya mobil. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur.” Aku menatapnya tak berdaya. mati!” Maka ayahku menangis. Nak!” suara si kakek lagi. Adik-adik sudah pada tidur. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. Muka cekung ayah sudah menghitam. si kakek itu lagi. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. Ia tersenyum. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. pemimpin masyarakat yang modern. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. Ayahku meraung lagi.Sudah larut dinihari. Nah. “Harus kaulakukan sesuatu. 190 . ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. “Ampun. Tak tahu aku. Seperti digerogoti setan. bahkan ilmuilmu hitam. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Konon ia teman ayahku dulu. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. barangkali juga pingsan lagi. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. “Kamu kenal siapa ayahmu. Segala cara kami lakukan untuk itu. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. “Saya bisa membantumu. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Seolah menampik hidup dan penderitaan.

yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. hina dan memalukan. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. bahkan paling terkutuk. betapa terkutuk. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. Aku sendiri. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. _tidak. justru tidak sedih atas kematian ayahku.! Kini di bawah matahari. serta mulut komat-kamit begitu lemah. anaknya. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. seolah kulihat nyata_.. Kalau aku tidak malu. akan terus memperkosa ayahku. kaupungut saja Si Hitam. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. benar-benar iblis. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri.“Sederhananya ilmu iblis. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya.. yah. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. apa pun artinya. Sebab kubayangkan. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. Maka jalan terbaik bagimu. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya.

maka kamu akan melihat diri sendiri. candi. mulutku. Maka tanganku. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. gereja.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. berekspresi. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. Di dalamnya. aku pontang-panting mencari cermin. . Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. menjadi diri sendiri. mushola. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. Bila sudah mengetahuinya. mataku. bisa bergerak selain diperintah olehku. kakiku. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. diskotik. Betapa sunyi keinginan ini. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan.Jakarta. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. menerjemahkan hati menjadi apa saja. Aku memasuki wc-wc umum. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. Semua cermin telah retak dan pecah. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. Aku tidak bebas lagi bergerak. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. hotel. aku ingin mengusirnya. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. lidahku. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk.

kesendirian. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. dsb. kabut. api. mengalir ke mana saja yang kumau. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. kepapaan. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Di matanya. aku tak yakin. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. angin. air. Kesedihan. Bila bertemu denganku. daun. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. kesunyiaan. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. kepedihan. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. jangan ragu-ragu untuk menyapa. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. temui saja aku di kebun bunga. Aku telah terbawa air. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. sampah. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Eh. Di tanah. Entah . Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. batang. ketaksempurnaan. aku lupa dengan metamorfosa itu. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. ketakberdayaan. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Namaku memang tidak jelas. di mana saja.

Sepanjang sejarah. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. “Ya. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Tidak bisa terbayangkan. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. Sungai-sungai mengalirkan air mata. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. “Kuta. Pantai Panjang juga bisa. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. orang beransel besar itu terbang. Atau Pelabuhan Ratu. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. “Apa perlunya nama. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin.” Beberapa jenak aku tercenung. Maka kami. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. begitu lelah. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana.” Aku memandang orang yang aneh itu. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Aku menyusulnya sambil berteriak. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara.berapa lama aku pingsan. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Kami tidak bisa membayangkan. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. Suara tangis terdengar di mana-mana. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. aku dan angin. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. bila seluruh peristiwa itu tercatat. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. 194 . Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. Bertahun-tahun kami mengembara. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Atau Pangandaran.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. berapa milyar pembaca yang akan sakit.

” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. kita tidak bisa tidak pergi.*** 195 . “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. kamu bisa pergi ke mana saja. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu.. Dan begitu terbangun. Atau aku pun adalah ulat? Ah. Aku berdiri dan pergi. Eh. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Tapi aku tidak mengacuhkannya.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan... Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. Ingatlah. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. Saat kulihat ke sekeliling. Aku pingsan entah berapa lama. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu.

aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. saat untuk diam. aku malah senang melakukannya. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. dan berlari untuk menyelam di sungai. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku.Horison. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. seperti kakekku. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. sungai. Mesjid. cepat seperti jin. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. dan aku juga mencintai sungai itu. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. Ketika ia tidak . tidak heran. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. Sebabnya. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. kecuali pada pagi hari. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. tinggi dan langsing sepertinya. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. aku dulu mencintai mesjid. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. Sungguh.

” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. “Ya. anakku. sesudah menyentuh ujung hidungnya. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. memandangi luasnya ladang. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. adalah lelaki yang doyan kawin.” Kakekku kemudian melanjutkan. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami.” kata Masood. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. Masood. Aku berkata pada kakekku. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. penampilannya yang jorok. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. “Masood.” Aku berkata kepada kakek. kemudian.” aku berkata pada diriku sendiri. “Kami akan memanen kurma hari ini. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. “Aku tidak peduli. Lalu kuingat tiga istrinya.” Ini jadi berita untukku. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh.memiliki kegiatan lain. “Perempuan. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. anakku. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. Kakek tidak pernah tertawa. diwarisi olehnya dari ayahnya. ia berkata. akasia. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. Posisinya berubah sekarang. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama.

kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Namun. dengan cepat dan penuh tenaga. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. yang kemudian kukunyah. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. Di sana ada begitu banyak orang. melompat di atas kakinya.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. dan dua orang yang tak dikenal. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. yang kuhitung ada tiga puluh.Walaupun begitu. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. Namun. anakku. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. sementara aku tetap berdiri. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. Ia diikuti Hussein si pedagang. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. lalu mengembalikannya. “Pohon kurma. Tiba-tiba kakek bangun. Kerumunan orang bubar. seperti manusia. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. kecuali Hussein si pedagang. Kakek memberiku segenggam penuh. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma.

dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. Keluarganya adalah petani dan guru. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. dan kakek mengambil lima. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. aku sedikit ragu. Tentang desanya itu. 199 . Salih mulai menulis tahun 1953. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Edinburg: Payback Press.lima. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. kemudian melanjutkan perjalanan. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Mendengar kakekku memanggilku. Aku mempercepat langkahku. Aku merasa mendekati Masood.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. 1997. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. Mo-dern African Stories. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. tanpa tahu mengapa. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. Untuk alasan yang tak kuketahui.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). Larson dalam Under African Skies. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. Aku berlari ke kejauhan. “Kita bicarakan itu nanti.” kata kakekku kepada Masood. Ia pernah menjadi guru di Sudan. Kemudian. dua orang asing itu membawa unta. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana.

November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Tak ada pistol di bawah bantalku. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. . Aku tidak memiliki terali besi. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Namun. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Kupasang telinga. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. mudah pecah seperti gelas anggur.di dalam gelap. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Kupusatkan pendengaran. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari.Horison. Kupandangi pintu. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Kutentramkan diri. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Tahun lalu. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan.

Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. mobil-mobil dilempari batu. semen. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. di bawahku. air bertetesan dari rekahannya. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. Jadi. Merelakan diri tidur kembali. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. lalu memaksa masuk. juga karena bus-bus dibakar. Namun. Membuka pintu pagar. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. kayu. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. di mana orang kulit hitam ditempatkan. di sana ada polisi dan tentara. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. anjing peliharaan mereka diberi peneng. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. di dasar rumah ini. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. kisah dalam tidur. yaitu ibu sang suami. serta seorang tukang kebun yang rajin. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. mencegah kemungkinan perampokan. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. Sukar untuk mengasuransikan rumah. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. kerusakan akibat banjir. tak ada yang perlu dicemaskan. kolam renang. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. Jangan mengomel saja. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. tapi di luar kota. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. ucap sang suami pada istrinya. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. Akupun bercerita pada diriku sendiri. Nun jauh di bawah kamarku. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. untuk menenangkan hati sang istri. dalam perut bumi. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. ucap sang suami. Kerusuhan memang terjadi. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. Jika ada permukaan yang bergetar. sang suami telah memasang pagar berlistrik. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. saking cintanya. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. dan perampokan. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. Oleh sebab itu.

Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. betul katanya. Akhirnya. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. lantas menerobos masuk. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. Seperti biasa. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. radio. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. akibat menganggur. meraung dan menjerit. Bunyi alarm yang nyaring. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. Tetapi. benar ucapan pembantu itu. kamera. Sebagian lagi meminta sedekah. serta memasang alarm. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. Benar katamu. Ikutilah nasihatnya. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. televisi. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. ucap sang istri. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . mengecat atap. Sang suami berkata. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. barang-barang berharga dan pakaian. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. tape recorder. yaitu ibu sang suami. bahkan pada waktu subuh. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. bersipongang satu sama lain. Sang istri berkata. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. ikuti nasehatnya. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. atau apa saja. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. Bunyinya dianggap biasa.

Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. Mereka benar. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Pada keesokan harinya. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. Di sepanjang tembok. jangan cemas sayang. ucap sang suami.panas yang indah. Sang suami. Betul katamu. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . Pada suatu malam. terbentang gulungan besi yang keras. Kilau itu akan hilang nanti. saya harap si kucing peka. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. berkilat. karena sejak hari itu. Sebuah pilihan yang murah. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. kuat dan sederhana. Sang suami berkata. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. tidak mungkin. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). tak mengapa. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. berkali-kali. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Semakin terkait. lalu berkata. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Sang istri berkata. Sang suami berkata. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. sang istri. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Hubungi GIGI NAGA. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. di mana tempat sang suami. Sang istri terpesona memandangnya. Ketika sang suami. Keesokan harinya. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. dan selang beberapa minggu. kucing selalu melihat sebelum melompat. menyilaukan.

lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Smith Commmonwealth Literature Award. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. the W. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Not dor Publication. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. 1923. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. antara lain: Booker Prize. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. lahir di Transvaal. Lalu tangannya. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Friday's Footprint. Jump and Other Stories. kepalanya. Gunn Fellowship. kapak. dan the Scottish Arts Council Neil M. Dalam pada itu. dan Something Out There. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. Selected Stories. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak.H. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. pemotong kawat. dan tukang kebun yang menangis. A Soldier's Embrace. dan sebagainya. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. entah apa sebabnya (mungkin kucing.*** Nadine Gordimer. Si anak membawa tangga ke tembok. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . sang istri. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Mereka -sang suami.