Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. Dalam rakaat pertama. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. 5 . Naji." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Syria pada tahun 1918. dia membaca kesemua surah al-Nasr. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Sebaliknya. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Mohamed Weess. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Kami bersembahyang dua rakaat. Tetapi. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. kini berhimpun di halaman sekolah. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. yaitu aku sendiri. ini dibenarkan dalam Qur'an. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Dalam tempo sejam.

. ''Ya. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Yang saya katakan benar. Parasnya cantik. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu." lanjut dokter. Keduanya duduk berhadapan. "Tolong. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. "Oh…. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. "Gawat. Bu. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Takut dan gelisah. Tenangkan diri. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Kemudian masuk pasien keenam. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Matanya berkaca-kaca. Rupanya keraguan dokter terbukti. Perempuan itu tersentak seketika. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Bu?" tanya dokter. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Saya ingin tanya. Dokter segera memeriksa. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. "Ada apa. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Kendalikan emosi. Kalau tidak. Pak Dokter!" teriaknya segera. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Dokter menghampiri. Tenang sedikit tersenyum.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu.

Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. kecemasan." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. "Tapi…. Sudahlah. Lakukan saja tugasmu. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. 7 . Dok?" tanyanya. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya." "Suasana hening mencekam." batin dokter. Akhirnya ia mengambil jalan tengah." saran dokter. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Dadanya sesak. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. ditatapnya dokter itu. "Kurang lebih dua mingguan. semua ini terserah Tuhan. Dok. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Tak pantas melampaui batas kewenanganku." "Oh….." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Ah. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. toh akhirnya akan ketahuan juga. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. Bahwa ia dalam bahaya besar. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Dengan memelas." "Demi Tuhan. Tentu masalah ini akan selesai. jangan." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. Dokter langsung bekerja. Kepedihan. Suami saya orang baik-baik. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya.. itu harus intens.

Dok." jawabnya sembari menarik nafas. 8 *** Esoknya. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. Ini hanya formalitas belaka. "Tak perlu takut. tak perlu sedih. pegawai DPU." ucapnya dengan hati yang terluka. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. Dok. Raut mukanya tampak cerdas dan berani." hibur dokter." jawab lelaki itu. "Selamat sore. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. Menjelang petang. perempuan itu datang. datang pasien berumur 30 tahunan. Lelaki itu tertawa. Selain Jumat." "Menyesal?" . "Saya mengidap penyakit. Akan kuusahakan semampu saya. selesai. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. Badannya tinggi tegap." katanya." "Oh…kasihan sekali. saya hanya seorang dokter."Tentu." "Saya benar-benar menyesal. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. "Untuk apa?" tanyanya. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. Tentu." sambut dokter. "Sore. Ketika perempuan itu beranjak keluar. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Dok." Lalu perempuan itu menghela nafas.

saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Jangan sampai dia curiga." Dokter menerawang. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Saya benar-benar terjepit. Dok. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. "Tenang saja. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Giginya geregetan. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Apa yang harus saya perbuat." jawabnya lemah. Mendadak jiwanya bergejolak. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. "Saya harus bagaimana. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Pergi. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. dokter. Usahakan ajak istri Saudara ke sini."Menyesal. "Saya usahakan. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Mereka menyesali diri." Abbas bingung. hingga persoalan ini selesai. *** 9 . "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. "Dok. Abbas merengek. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya." jelas Abbas. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Lantas bertanya. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Dokter menyembunyikan wajahnya." kata dokter dalam hati.

Rasanya sakit dan ingin marah. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Kemarin malam. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Saudara tidak bisa meyakinkannya. "Entahlah. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Dokter mengira sore ini. Perlu Dokter ketahui. bagaimana harus menjelaskan padanya. Saya coba memohon dengan baik-baik. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. semakin keras istri saya menolak. Dok. Mana?" "Yah…. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Abbas menggelangkan kepalanya. kudekati istri saya. Lalu dengan ragu-ragu. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka." tutur Abbas. Aku benci dokter. Dada saya sesak. "Oh…hidup di dunia memang susah. Lalu dengan hatihati. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Impian untuk menimang anak." Hati Abbas penuh teka-teki. Hati saya dongkol. ia akan datang bersama Abbas. tidak'. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Tapi ia tak melakukannya. Parahnya. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. bagaimana saya harus meyakinkannya.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Entah sampai kapan. Tiba-tiba istri saya gelisah.bagaimana lagi. Saya bingung. "Singkatnya begini. Pokoknya tidak. Tapi sayang. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu." Dokter membungkukkan bahunya. 10 . Tatapan matanya layu. saya harus menjalani masa sulit ini. kini telah hilang.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Ya…. Tapi saya bingung. "Semakin banyak saya menuntut. Wajahnya pucat. Sedih. Kebingungan mendekap. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Saya terus mendesaknya. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Abbas dirundung ketakutan. Usaha saya sia-sia. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah.

permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. bimbinglah jalan hidupku. Tubuhnya mengejang. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Dok. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Saya bingung dibuatnya. Dengan murka. Aku telah bersumpah pada Tuhan. tak mampu kuasai diri. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif.' Belum selesai saya bicara. "Apa maksud semua ini. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Pengakuan dosa. Kepala saya panas. Raut mukanya berubah aneh." tambah Abbas. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Tubuhnya menggigil. Bengis. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. saya melangkah ke arahnya. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. Matanya melotot. Perasaan tentram. Otak saya ragu. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Saya telah ingkar. Dok? Saya hanya menduga. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan.Karena saking suntuknya. 11 . Istri saya menjerit: 'Ampun. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa." lanjut Abbas. Tuhan. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Tolong! Jangan sentuh aku. saya berteriak keras. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Karenanya.

Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Cerita-cerita penaklukan. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. sementara . Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. nenek moyang dan anak cucu kami. jumlah kami memang makin membesar. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Kami memandanginya dengan gamang. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Maklumlah. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. sejak kami masih dalam kandungan. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Telah kami sibak semua palung lautan. ular. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. macan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. tetapi kali ini. begitu tercium bau kami. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Membuat kami cemas. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Membuat kami begitu merasa terhina. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. telah lenyap kami tangkap.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. Barangkali. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Sampai kemudian kami menyadari. Telah kami jelajahi seluruh hutan. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. serigala dan segala macamnya. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Sampai kelinci. dari tahun-ketahun. sebelum sampai ke telaga ini. tupai dan tikus. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. hanyut oleh pikiran kami. rusa. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Gajah. mengantar tidur anak-anak kami. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. untuk memburu binatang-binatang. Kami seperti mengejar kilat. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. badak.

“Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Liat dan sigap. perlahan-lahan. Anggap semua ini hanya permainan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Selamatkan kehidupanmu. meski kami akan memburu kalian. banyak orang di luar suku kami. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Semoga nasib baik bersama kalian. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. lari. Setiap detik adalah pertarungan.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Tetapi kami tak bisa menolak. Kami akan memburu manusia. Maka kami pun membeli ratusan budak. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. tapi manusia. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Rupanya.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. dengan cara melarikan diri. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Kami tak lagi memburu binatang.. tapi tak gampang mati. Selamat jalan. Jangan cemas. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. semua binatang telah habis kami buru. Lantas. untuk ikut menikmati perburuan itu. Sampai kemudian ide brilian terlontar. “Masuklah dalam hutan. Adakah yang lebih menyenangkan. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. memang makhluk yang tak gampang menyerah. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. Dan itu. Dan itulah kehormatan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Mereka sudah renta. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. banyak di antara kami yang menolak. sasaran perburuan yang menggairahkan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. mendatangi kami. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. sungguh. hingga pecah berantakan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Tapi itu lebih baik bagi kalian. kami bunuh. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. baru kemudian kami memburu mereka. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Menjadi tradisi. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Inilah hidup yang sesungguhnya. Mula-mula. membiarkan mereka lari dan menghilang.. Para penjahat itu. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. seperti kami katakan tadi. orang-orang 13 .

” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami.. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. keisengan.” Gelas kami beradu. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. puluhan kepala negara. menggulung apa pun yang kami sukai. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. dan kami tertawa bahagia. “Kita harus melakukan sesuatu.besar di negara mereka. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Kami. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Suaranya sudah gemetar. Ah. Itu sering membuat kami terusik sunyi. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. sendiri. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Kami terus memburu. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Karena kami sudah terlalu kuat. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. menjadi tak tertandingi. tetapi penaklukan yang membosankan. yang melintas bagai badai dan gelombang. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami berdiri di puncak menara peradaban. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Di antara kemeriahan pesta. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. para demonstran untuk kami habisi. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. terkadang. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Para bangsawan. para bangsawan dan pengusaha besar. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. tetapi juga. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Kami bangun juga istana-istana. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. dengan dukungan dana yang melimpah. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. “Ini darah seorang penyair untukmu. jangan sedih. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. begitu melimpah buruan kami. melintasi gelombang waktu. 14 .. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. para raja. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti.

Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. anggur segera kami tuang dalam gelas. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. kami akan membikin perhitungan sendiri.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Tetapi mereka menolak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. Ya. “Baiklah. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Dan aku ingin.” Mereka. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “kalian kami beri waktu satu bulan. Kami segera menghimpun topan. tetapi masjid itu tak juga penuh..” kata kami kepada mereka. “Kami tak mau tahu. mencari kepastian dalam mata mereka. malaikat. katakan kepada kami. “Kalianlah yang bercanda. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Gairah menjalar. para kiai itu. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu.. kami segera mengumpulkan para kiai. Sekarang. membangkitkan imajinasi kami. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Panji perburuan berkibar. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. meski sesungguhnya heran.” “Baiklah. telah lapuk.. sebelum maut menjemputku.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. dari seluruh dunia. membuat kami begitu ternganga. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. berkelok-kelok mengikuti 15 .” tegas kami.. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. bersulang. Kami turut kemauan mereka. “Kami ingin Jibril. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami.

Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. menyentuh langit. tertelan dan lenyap. Dan. menguap begitu cepat. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. tak pernah muncul kembali. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Kami sudah cukup punya pengertian. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. tetapi. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. tetapi tak kunjung keluar jua. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Satu bulan lewat. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. di sana. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. melihat impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. dan api melahap cepat. luar biasa. di puncak kobaran api. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. seseorang di antara kami berteriak. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. yang hanyut dibuai dzikir para kiai.gigir bukit. orang kedua kami pun tak kembali. Kami panik. Gema itu melambung. ya Allah. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. sekaligus marah. di pucuk api berkobar. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. kini telah muncul di hadapan kami. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. itulah yang kami saksikan. Membuat kami tambah cemas menunggu. hingga kayu-kayu bergemeretakan. Tombak. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. mengalun menidurkan rerumputan. Jibril. itu pun pasti sudah berhimpitan. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Begitulah berkali-kali. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. sepanjang hari sepanjang malam. masuk dalam masjid itu. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Namun orang itu tak kembali. Pada saat itulah. membuat kami tengadah ke puncak api. gembira dan tak percaya. Tetapi seperti yang pertama. Kami bakar masjid itu. bagaimana mungkin? Tapi. seperti daun yang melayang-layang itu. bersama angin dan embun. mendadak menyadarkan kami. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Kami kirim utusan kembali. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. bukan? Jangan salahkan kami. anak 16 . lenyap seketika. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Membuat kami cemas. Kami tak mau di tipu para kiai itu. Kami panggil namanya. membumbung. Kami tak mau kecolongan. Kami memagarbetis masjid itu. Kami terus berjaga. raib begitu saja. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Dan kami segera menyerbu. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Namun dzikir itu masih kami dengar. antara takjub dan panik.

kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. ranjauranjau telah kami tanam. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Kemanapun Jibril melesat. roket dan basoka. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. yang menyimpan bayangan bulan. Tombak terus beterbangan. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. perangkap telah kami pasang. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Maka kami pun kembali bangkit. desing senapan mesin. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Kami tak mau kehilangan jejak. melanjutkan pemburuan abadi kami. mengejar Jibril. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan.panah. roket terus berlesatan. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. dan kami pun tak sempat menguburkannya. meraih peralatan berburu kami. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Bertahun-tahun kami memburu.*** 17 Yogyakarta. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Dan memang. Kami tak sempat istirahat. dan langsung melesat. Kami begitu sibuk memburu Jibril. kami memburunya. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Karena kami harus terus mengejar Jibril. kami melihat buruan abadi kami. agar kami mampu meringkus Jibril. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Inilah buruan kami yang abadi. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Di seberang telaga sana. “Kejar!” Kami pun melesat. Segera menghambur. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. kami lihat jejak cahaya. Kami tak pernah tidur di satu tempat.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

” Matanya berpendar. langit cerah. Aku bertemu dengan mega. Bulan bulat penuh.” Burung hantu terbang. Seperti berabad-abad lalu.” “Ya. Dianing. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia.” “Oh ya. bintang.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Seperti menunggu kedatangan. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.” 22 . Tersenyum dan memberi salam padaku.“Maksudku melihat dunia. Ia bugil di malam yang damai itu. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. mega. “Cukup lama kami menunggu. “Boleh aku tahu dukamu. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Atas izin Tuhanku. bulan menuju ke dunia. Ia menjerit.” “Cepatlah kau temui burung hantu.” “Bila Tuhan mengizinkan. Aku lewati langit demi langit. Gemerlap bintang menyambutku. Aku lihat wajahnya sepi. Ia menembus awan. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. Burung hantu mengepakkan sayapnya. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh.” “Tentu.” Aku terpana. “Dianing.” “Ya. Dianing.” “Ya. Indah sekali.” Kami berpelukan. “Gerangan siapa membuatmu sepi.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri.

” panggil burung hantu lirih.” Burung hantu menggeleng. Tiba-tiba begitu sepi..” Aku lunglai. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Aku terpana. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. Lismatano. “Bila kau berkenan. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. Tak sekedar gelap.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Di 23 .” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.Burung hantu menatapku. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. Tatapan yang sulit aku urai. terjal dan mendaki. “Bukankah mereka telah menikah. “Untuk apa. “Maukah kau ke hutan Para..” “Maksudmu.” “Ya. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.” “Bicaralah.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.” “Mereka seatap tanpa ikatan. Telah berpaling dengan perempuan lain. “Dianing. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.” Aku kembali ke hutan Para.” Aku luruh.

“Yuniz nama perempuan itu. Lebat dan kotor. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. . Aku yang terpaku. Lismatano telah membatu. Dianing. Ia berkaki empat. Aku berada di ketinggian menara. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka.*** 24 Jakarta. Ia tak membatu. Aku tak percaya melihatnya. “Mengapa dengan mereka. Sebentar lagi aku harus kembali. Lismatano telah membatu dan berlumut. Perempuan itu. Mulutnya lebar ke arahku.” Aku menghela nafas. Saling menumpahkan nafsu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Ngeri. Aku tak kuasa melihatnya. Aku terpana. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Tubuh Lismatano mengeras. tetapi tubuhnya berubah. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Besar.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. Deru nafas memburu.. Ya. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku. Ia berubah jadi batu. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Mei 1997. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Tubuhnya tumbuh lumut.” “Itulah yang pantas mereka terima. Tiba-tiba. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Tapi.. Ya. Kini tak bisa bergerak. Aku di atas pohon randu.” Aku menekuri tanah.” Aku hanya mengangguk. Siap menerkamku. Pergulatan yang dahsyat. Sementara perempuannya berubah binatang.

Ada yang menusuk jantung. sebagai wartawan.. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. Tapi tidak ada satu pun yang meleset.” Wartawan mendengus.. asal tahu saja..” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan.. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. Pejabat yang berdasi kuning.. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. “Selain pintar mengejar berita.Horison. . “Begitulah. Pak. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran. Ada yang mengelupaskan bahu. tentu. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu. misalnya?” Pejabat tergelak.” Pelatih mengedipkan sebelah mata. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban..” “Tentu. Menghapus peluh pada hidung. Mlah.. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak.. Dan berdehem.... tersenyum lebar sebelum menjawab. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya.. Ada yang menembus kepala.

Harga pistol yang mahal.” *** Saat panas menukik terik. .” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar.” sang rekan merentangkan tangan.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. saya harus menggadaikan pistol ini. “Saya sedang tidak konsentrasi. Dan.. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. Lalu mengangguk-angguk.” “Untuk melunasi kreditnya. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. sudah ditukas pertanyaan lain.. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. menurut perkiraan dokter. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal.. “Padahal menurut selentingan kabar. memasang wajah serius. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. “OK. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. Namun wartawan telah kembali berujar. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru.” Belum selesai pertanyaan itu. “Silahkan.“Tapi. Padahal. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih.

wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol.” pejabat tergelak juga.*** 27 . Dia tertelungkup. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak..” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Saat fajar bergerak sembunyi. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. “Apakah Bapak. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. menyeruak kerumunan. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri.” diulurkan tangan untuk berjabat.. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk.. Wartawan tergelak. yang terlambat datang. untuk minta maaf. Menutup kaca jendela mobil. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. “Harus kuakui. Dan menekan gas dalam-dalam. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. harga pistol. dia beralih membunyikan klakson. Dia langsung mengangguk keras-keras. semakin tak menentu. "Setibanya di rumah. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik.“Kelihatannya biaya latihan. Wajahnya memucat. nilai pajak. Melihat para wartawan tidak mengerti. saat itulah wartawan dan pejabat. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. saya baru menyadari. dan biaya administrasi lainnya. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. “Tak enak rasanya. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. tapi belum sempurna anggukannya. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam.

“Kramotak. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. begitu ngepop.” sahut Kresna. “Sambil makan malam. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. lagi-lagi propaganda Amerika. “Belum begitu laper gua ini. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik.” Sesaat hening. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. “Bukan mau nraktir. tiba-tiba Kresna. saya tidak melihatnya dari sisi itu. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. mereka sponsor kita kok. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. “Sebel gua. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. “Siape ni nyang ngulang tahun. gerombolan Pandawa. Melewati Alun-alun Bandung. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. Dewa jangan diberontak. BM dong!” balas Kresna. “Dalam dunia pewayangan. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu.

Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Dewata telah memutuskannya. “Jangan sok tahu Kau.” Arjuna bersungut-sungut. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. suasana rapat menjadi lebih kacau. Tangannya masih menggenggam paha ayam. “Kukira tidak mesti seperti itu. “Misi ujicoba kita gagal. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya.” Dewala mencoba menjelaskan. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Bima menggebrak meja. 29 . Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. bahkan Semar menjewer kupingnya.” Semar mengingatkan. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. Seperti biasa.” “Ini kehendak Dewata. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Karena itu. Apa pun yang kita rencanakan. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong.” demikian Kombayana punya usul. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Bima meraung-raung. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Punakawan yang lain menyikutnya. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. “Tidak. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu.” Dibentak seperti itu.” Bisma mengingatkan.yang Hilang. Gareng kebagian memesan hidangan. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Takdir kita untuk menerima kekalahan. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru.

ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. silaturahmi antarseniman pun terbina. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. sekarang rakyat sudah menjadi materialis.” “Tapi saat ini saya ragu. saya akan membalikkan fakta. Dengan demikian.” jelas Yudistira. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Dengan dibahagiakan.” “Bagi saya. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. Kita mengalah untuk menang. “Justru naskah ini tepat sekali. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. segala benda serba diuangkan.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. Saya punya teknik. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. dalam akhir cerita. Prabu.” *** 30 .” “Apa itu?” “Ada saja. Konon katanya menurut mitos. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Kalau sudah seperti itu. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. Pokoknya rahasia. Tetapi kita juga tahu. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. Eu begini Prabu. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. dari kopi dan dari rokok. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. He he he. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. sorri yeah. Pak. “Iya. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. “Nah. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.“Hei.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. sorri. urusan kriminal itu banyak macamnya. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok.” yang berkumis memotong. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Di tepi kali di desa kami. Pak. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. “Terima kasih. “Nah... “Hilangnya Ondol yang misterius. Tunggu yeah. ini dia selesai mandi. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Setelah hilang enam bulan lebih. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Begini.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. yang berkaos oblong tadi. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Pak. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. Pak. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Kalau kalian punya narkotika. dia lagi mandi dulu.” “Sebentar. hubungi saya yeah. kalian dengar. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. berdiri dan mondar-mandir.. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. “Sorri. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Begini. begitu Pak. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. sebentar. Ayo sekarang lapor sama dia. Nah.” 35 . nih ada laporan kriminil.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk.

” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Ya. Pak. Pak. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong.. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Ondol ditemukan mati di tepi kali. “Hilangnya Ondol yang misterius. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Ketika pertama kali ditemukan. dengan menyerahkan berita acara kematian itu.. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. Pak?” “Tentu saja tidak. ya. telah saya dengarkan. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Laporan lisan saja tidak cukup. Ondol. Setelah hilang enam bulan lebih. “Nah. Pak. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Di tepi kali di desa kami. “Begini. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.“Nanti dulu. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. begitu Pak. kami tidak membawanya. Harus ada berita acara tertulis. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. “Iya. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung.” Yang bersandal jepit bersin lagi.. ya..” “Baik. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. Ondol. “Wah. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Pak. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. “laporan kriminalitas?” “Iya. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa.” Yang bersandal jepit bersin.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. bunyinya mengagetkan yang melapor. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. ayo mulai. “Ya. ya. Pak.” kata yang berkaos. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. Bagaimana.

Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. karena sekarang malam Minggu. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. “Ingat. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun.” kata salah seorang. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. visum dokter. ya tass. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. . itu namanya baru disebut issyu.” “Caranya bagaimana. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. pasti dia kesepian. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. Dan yang lebih penting lagi. Camat juga beserta ibu.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor.. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Ada bukti pun. Ketua RW beserta ibu.. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. Kepala Kepolisian beserta ibu. Kepala Desa beserta ibu. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. nih. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. “Kalau soal ini dibiarkan. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. “Nah. Nah. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. he he he. Apalagi tanpa bukti. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas.” “Betul. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. dan syarat lain yang tercantum di sini. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. sodara-sodara. Orangorang yang melapor menunduk semua. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.

ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. tentu berita acara kematian ini. “Sekali lagi. Pak. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. dengan semangat 45. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. Salah seorang. “Begini. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. “Aduh. Sesuai dengan petunjuk Bapak.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. supersibuk. tetapi kalian yang teledor. “Jadi.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. lebih baik kematian e.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. lupakan saja kematian si Podol itu. tidak disiplin dengan waktu. Untuk mendapatkan visum dokter. siapa namanya itu.” kata salah seorang. ya sayang sekali. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit." kata yang berkaos setengah marah-marah. 38 . orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. Kami lagi sibuk. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Pada hari itu juga. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. bisa saya terima. mayat yang telah dikubur digali kembali. pengusutan perlu dilakukan. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. kalian lupakan saja. Karena itu. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Lihat. Jelas bukan. kami tidak punya waktu banyak. Menurut salah seorang kerabat Ondol. Bukan kami tidak ingin mengusut. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui... Kalau kemarin datang ke sini. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. atas nama hukum. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima.

Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara.*** 39 . Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. sebagian lainnya hanyut di selokan. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Karena plastik pembungkus di warung itu habis.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan.

Lelah rasanya aku memanggil. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Dia tersenyum lagi. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan." jawabnya tenang. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati.Horison. "Ya. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Kulihat di sekelilingku. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. kali ini lebih lebar. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri." dia mengangguk. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. . tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu." "Kalian?" aku heran. bahasa yang sangat asing ditelinganya.

Aku dan anak buahku. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. aku jadi kebal." Aku terdiam. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. seperti katamu. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Aku sangat kecewa. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. hanya untuk umatku. "Tidak. Bahkan tahi. Jembatan waktu yang kau tuju. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Lama aku menunggu jawabannya. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. berpakaian. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Aku berjalan di bawah penindasan. telah berubah arah. juga familiku. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Aku rindu harapan. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. kadang rumah yang berlebihan. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Karena lamanya aku membuat kapal. Alis putihnya mengumpul. 41 . Mereka bebas makan."Ya . Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Akhirnya aku harus memilih jalan. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami." katanya menjelaskan. mereka kusikat. Ada guratan gelombang di keningnya. seperti dia sedang serius berfikir. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Kubabat tanpa sisa." katanya menggeleng. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Bukan untuk kalian. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. aku bagi kebahagiaan. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Istriku sendiri yang mengajari. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa.

Aku gagal menyentuhnya." katanya. tapi hutan itu malah terbakar. Kulambaikan tangan pada orang-orang. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. "Jangan mengejek. akan kutempuh!" kataku. Bibirnya lembut mengurai suara. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. "Ketegaranmu. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Bencana-bencana beruntun melanda. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Sambil berlari Dia kuhampiri. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Nuh. Lama kucari-cari dan kunanti. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Dia tersenyum. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Mereka tampak menyongsong. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Berjalan menyusuri ujung penantian. Aku berlari di hutan-hutan. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. Aku ditandu dan dielu-elu. Aku jadi sendiri. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Nuh?" tanyaku tak sabar. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. "Tabah." Nuh yang tua itu menggeleng. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. tapi di belakang disiapkan membokong. 42 ." "Lalu. Nuh. tapi tak juga muncul dalam benakku. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Tapi layaknya sekat.Mereka punjung kata dengan emas. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana.

"Tenang!" katanya. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. "Ya. Aku terdiam tenang." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. "Terima kasih Nuh. ke sana!" katanya menjelaskan. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. Mataku terus saja menatapnya. Dia menyuruhku memandang ke atas. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya.*** 43 . "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap.

” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. dulu. Lalu di sini. tapi.” aku menyebut pertemuan malam itu. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. turun amat perlahan. mematangkan dan memberi perintah “start”. lenggang. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. tadi. . Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. ”Anda bantu saya. lesu. bahkan nyaris lunglai. mungkin. Pagi sekali. Asing. Paris. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Dia datang dari jauh. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. lenyap sama sekali. Senja yang kemarin juga. Revolusi. Mei Oleh: Moch. Usai mengantar Ning. ketika kami tidur bersama pertama kali. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. pedalaman Irian. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. Ning juga pernah bilang begitu.Pada Sebuah Taman. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. nun beberapa tahun lampau. “Kita evaluasi perkembangan. Pergilah. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. sedang bermula. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. sepatu karet dan celana jeans. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. usai membebaskan sandera. kukira. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. meneguk perlahan hangat tequilla. senja mulai nyungsep. telah bergegas pergi dari situ. memberi komando. aku segera terbang ke sini. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. Tak perlu kontak. “Perjumpaan dengan calon presiden. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. berkeringat. Bukan hal mudah mencapai taman ini. Kekuasaan. Persis ketika suatu malam. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. sepanjang malam. NY. Sambil mengontrol radio. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. dia bagai berada dalam situasi ekstase. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. Kota sedang terbakar. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. senja beringsut perlahan. dan Yogo telah datang. di sana. lamban. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada.

persahabatan. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. habis. langsung. Lesu. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Oh. hingga subuh ketika kami pisah. pupus. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. “Bang. juga kepercayaan atas nama keagungan. Ini harus dicegah. Sabotase. Yogo tak mungkin datang. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Juga keagungan sebuah cita-cita. Presiden memang sudah terpojok. persahabatan adalah ikatan kita. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Pulanglah. Kamu pasti setuju. “Ning. tapi kuusahakan. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. tapi aku punya keyakinan. demonstrasi. Yogo tampak angker. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. —lampu teplok kehabisan minyak. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil.” 45 . tapi ada saja hal yang tak dapat diduga.” Singkat. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. “Ia. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. seperti irama tubuhnya: simpel. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. kelak. Akan menyetop aksi. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Para pemain valas telah terkuasai. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. tegas dan banal. simpel. Dia berada satu level di bawah. Mungkin dia sedang di istana. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Aku kontan diserang frustasi. dan demi keagungan. faktor yang kami tak hitung selama ini. betapa menggairahkan. Demi Yogo. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. segera akan terbukti. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. telah aku rekam di luar kepala. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Malam kemudian tiba dengan diam. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Tak ada basa-basi. Markas keuangan sudah terbakar. Ning menelepon.” katanya simpel. Di ufuk. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. Presiden mundur besok. Beberapa buah bank sudah ambruk. Persahabatan itu. tapi rencana masih sedang berlangsung. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. bayang kegagalan mulai tampak. rupanya tak dapat dipercaya. diliputi misteri. Dan malam tadi. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. Juga kedatangan Yogo yang telat. Malam yang sepi. Para aktivis telah diamankan. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Presiden yang ternyata sangat lemah.

Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. cuma handuk.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. alumni Oxford.” Suara Ning tetap empuk. dan tak ada rencana ulang. Bagi Yogo. Di sini kita bisa berpikir jernih. Udara gerah berbau asap.” balasku memencet “off” pada hand-phone. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Keagungan itu memang ilusi. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Bukan karena risiko yang mesti datang. kini.” 46 . di sana prarencana sudah tersusun. Durja. Tak ada besok. Sebaliknya. aku sudah mandi. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Castro. pulang. utamanya. Di sini. Tapi tidak malam ini. Kami akan segera terbang ke negeri lain. Malam sudah bertahta.“Pulanglah segera. Yogo: gumamku membatin. “Ning. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks.” “Berendam bersama-sama. Duduk menunggumu. Taman benar-benar muram.” “Iya. sekarang atau tidak sama sekali. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. seperti Che Guevara. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. kini. Suara Yogo. Memanggil.” “Kalau begitu aku mandi lagi. menghanguskan sisa rencana. Aku ingin berendam. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. balas dendam kalangan militer. Hand-phoneku bertulilit. aku yang justru panik dan gamang. di taman tempat burung-burung bersenggama.” “Sebentar lagi aku datang. Kali ini suaranya bernada khawatir. “Tunggu sampai besok. Menggairahkan. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Aku benar-benar frustasi. Tak ada kegetiran. “Iya. Seperti yang sering kamu katakan. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Dia memang lebih matang. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. apalagi kegentaran.” katanya singkat. bukan. almamaterku. kamu masih di situ?” “Ya. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Kota masih terbakar.

*** 47 Jakarta. NY.” “Tunggu.” Malam.” “Aku meresapkan bau mulutmu. Seperti gairah sebuah musim panas.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. Juni 1998 . Gairah bulan Mei. di taman ini. di Brooklynn. ya!” “Cepat.” “Aku juga. nun bertahun lampau. kurasakan gairah yang lain. kini.

” Suara itu terdengar gugup. dan sangat tulus.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Seorang perempuan. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. kasih sayang. Luar biasa. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Suara itu adalah suara perempuan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Kopag semakin gelisah. Apa pun yang . Biasanya dia hanya dijadikan objek. Katakan padaku. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Ratu. “Siapa itu?” “Titiang. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Tangannya jadi lapar. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Aneh sekali. “Luh Srenggi. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Tangan mereka bersentuhan. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya.” Suara itu terde-ngar bergetar. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Inilah perempuan itu. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Aneh. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran.1 Luh Srenggi.

Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. bisa dibuat sebuah pementasan. Dia hamil. cantikkah perempuan itu. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Tubuhnya kurus dan pucat. perasaan. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. dan keindahannya sendiri. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Dia tahu. Kata orang. Kopag harus patuh. Perempuan itu menolak. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Seluruh kekayaan ludes. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Kali ini. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Tapi. Bahkan Gubreg. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Dalam kondisi seperti itu. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri.dikatakan orang-orang di sekitarnya. sangat sadar. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Dia tidak pernah peduli. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Suatu hari. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. pelayan tua itu. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.

Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Karena dia bukan kaum Brahmana. Anyir. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. dia mencium bau darah. juga impian-impiannya. 50 . seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Aneh sekali. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. merah. Jujur saja. hidupnya. Bagi Kopag. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Kopag tidak saja memahat kayu. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Masih kata Gubreg. Bahkan Gubreg. Dunia yang diinginkan. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. kulitnya yang sering jadi pujian. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Karena perempuan Sudra. dan sangat pas. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Ada-ada saja yang diributkannya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. otaknya. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Itu yang dirasakan Kopag. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia memberi Kopag poin. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Kopag sering berpikir. parekan. dia memahat pikirannya. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. alam menyerah pada kekuasaanya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Untuk pertama kali. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya.

Gubreg. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. yang diterjemahkannya. Juga dia baik-baik. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. kau belum jawab pertanyaanku. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru.” Laki-laki tua itu terdiam. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Aku ingin tahu. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. sebelum berpulang. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Lihat. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Kopag sudah bagian dari nafasnya. “Kau tidak ingin menjawabnya. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. yang konon. Lihat. Ratu. Menanggung dosa ayahnya. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Susah. perhatian yang lain. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. “Anak itu buta. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. “Gubreg. Dadanya sering mendidih. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. kata Frans. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. aku juga ingin merasakan. Gubreg. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Kehilangan yang dalam. Sejak kecil. Gubreg. Tinggi. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Gubreg. pematung jaman Renaisans. Bagi Gubreg. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Kau bisa lihat. tentang Michelangelo Buonorrty. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Ratu. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Frans Kafkasau. Susah. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. aku selalu tersentuh. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. tapi mampu memikatku. rasa apa yang sering membuatku meluap. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya.

Perempuan itu..” Keruncingannya. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Dia mengerti. 52 *** Pagi-pagi sekali. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. perempuan yang sangat dihormatinya. Perempuan junjungannya. “Gubreg. Kaki perempuan itu putih. dia luka. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Begitu parah. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Dia juga laki-laki. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Gubreg. Kopag sudah membuka jendela studionya. dan mampu meledakkan otaknya. ketajamannya.” Suara Gubreg terdengar patah. Gubreg menyaksikan. kebanyakan. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Dia gelisah.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu.” “Titiang. Sampai menjelang tengah malam. Begitu penuh misteri. Dia sering terjaga tengah malam . Luar biasa. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. “Aku ingin bercerita padamu..Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.. dia adalah laki-laki tak berguna. Ratu.. Berkali-kali dia menarik nafas. begitu indah. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun.. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Terlebih. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Semua orang. “Tentang apa lagi. Sangat paham. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Sebagai laki-laki Sudra. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. angkuh dan selalu lapar.

Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. menjelang tujuh puluh lima. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Gubreg. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. dan berpikir. Dia pasrah ketika Balian tua. Demi Hyang Widhi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan.. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Gubreg. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Dayu Centaga tidak terkena. Tanpa istri. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga.” suara Kopag terdengar pelan. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Rasa ingin tahu yang begitu besar. sangat surealis. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Tubuhnya jadi pucat. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. tetapi sudah menyerupai air bah. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. “Gubreg.dengan nafas yang memburu. Cinta yang membuatnya jadi batu. Gubreg tidak sakit. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Berkat kekuatan Gubreg. tidak juga kesambet setan. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Hyang Widhi. berdialog. sampai menguliti otakku. Guemica. dingin. kau belum juga jawab pertanyaanku. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Dia menarik nafas berkali-kali. Kata mereka. Sampai sekarang. membesarkan tubuhnya. tanganku. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. mengajakku bicara. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi.” 53 . "Gubreg. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Aku selalu ingin tahu.. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. dukun. Masih kata Balian tua itu. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Kata Balian itu. Gubreg paham. Tak seorang pun tahu. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya.

Kopag seperti linglung. Jero Melati tersenyum. Gubreg diam. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” . Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Otaknya hanya berisi kehormatan. “Ratu. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Kata orang-orang kampung. dia tidak tahan miskin.Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Sekarang ini keluarga ini tentram. Bulan kemarin. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Sayang. Kopag memerlukan perempuan. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. dia terus mengelilingi studionya. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Bahkan. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. *** “Gubreg. Lima menit tanpa hasil. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. diajar memahami kehidupan. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Hanya satu yang ditangkap Gubreg.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Dia tahu. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Mendengar komentar itu. Benar kata Kopag. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Berkat Kopag.” jawab perempuan itu serius. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Ratu terlihat sangat gelisah.

” Gubreg mengangkat wajahnya. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. aku tenggelam dan habis. Kulitnya juga kulit kayu. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Aku ingin kawin. ada daging besar tumbuh di atasnya. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Ketika dia telanjang. Wajahnya juga rusak berat.” Gubreg ambruk. punggungnya bongkok..?!” Gubreg seperti tercekik. *** 55 1. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Kau tahu. Sadarkah dia. Luh Srenggi. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.” “Mereka setuju.. Saya 2. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan.” “Apa kata mereka. matanya yang kiri bolong. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. “Aku sudah memiliki calon. Kulitnya begitu kasar.” “Ratu. Dia adalah perempuan tercantik. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Gubreg. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . “Maaf Ratu. dia hanya memiliki satu mata. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. membersihkan studionya menyiapkan makan. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. kakinya pincang. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Gubreg.“Ya. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.

Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Ia berdiri di pinggir jalan. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. dipergunjingkan. kamu terus hidup ngakak. Air . sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Aku yang kejepit. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. kamu yang melejit. kamu yang enak. Aku diberitakan. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. Aku yang sudah kesakitan. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain.Horison. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. meringis. “Aku yang mati. Kehidupan sudah rusak. saling bergotong-royong. diperdebatkan. “Aku yang mati. “Peradaban sudah merosot. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. Aku yang terdera. terkemuka. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Kamu semua kelihatan saja menangis. Semua orang berdagang. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Aku yang menjadi korban. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Aku menderita.“ kata mayat itu. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. sehingga mereka menjadi terkenal. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi.

seluruh ketidak-benaran. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. apa saja yang sudah menyinggung. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. elegi-elegi. untuk membungkus kebiadaban. menciptakan esai-esai.” erang mayat itu. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. kepatutan. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. “Tanya Bapak. Akhirnya sekretaris redaksi. Ia menguras seluruh dendam. telepon berbunyi. “Biarkan saja. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Pak.” “Tapi kursinya rusak. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. semua yang tidak adil. prasangka dan kesakitannya. Seperti bendungan ambrol. susila. Itu kan baru dibeli. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. menutupi hidungnya. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. Moral. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. ternyata hanya sebuah koteka. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. Sama-sama wanita.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. aku kan hanya menjalankan assignment. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. Sekretaris panik. Kalau memang ada yang salah. Apa saja yang sudah menyakitkan. luka. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami.” “Biar saja. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. Komputer penuh dengan katakata kotor. tata krama. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. “Semuanya busuk. kesalahkaprahan.

” Mayat itu menjadi amat girang. 58 . Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. Di antaranya ada gambar garuda. lalu lari keluar. “Kamu mengerti?” “Ya. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. hati dan otaknya. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Mayat itu berdiri.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Ia berdecak-decak kagum. Nampak begitu lelah namun damai. air dingin untuk penyegar. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Keduanya berjabatan tangan. Seperti balon kempes.Sekretaris bengong. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Penjaga kantor itu mengerti. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Minuman panas. ia menggepeng di atas kursi.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Mayat itu terkejut. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. ia kembali ke kursi. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. seperti orang yang mau bersekongkol. saya mengerti sekali. menemukan untuk pertama kalinya.” “Kamu bisa merasakan. Mungkin juga makanan. Itu memang benar. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Sekretaris menutup matanya. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. karena mencabik kursi itu. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut.

ia hampir terpekik. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. Bulu kuduknya meremang.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. Karena di kedua mata nampak ruang kosong.” Mayat itu terkejut.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. Saya budak.” “Apa? Kamu budak?” “Betul.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” Mayat itu bergidik.” 59 . Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.

Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. kemudian meraba-raba. Apa pun saya tidak punya. aku jadi curiga.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya.” “Edan!” “Ya. Maaf ya. Mayat itu menggigil. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia.” 60 .. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit.” Mayat itu mendekat. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Saya budak komplit. Tak puas hanya melihat.” Mayat itu bingung. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Ia tak punya segala-galanya. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Orang itu memang sudah dikebiri total. ia lalu menyentuh. “Ya Tuhan. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. jangan-jangan kamu. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. meskipun tidak punya semua itu lagi. Jangankan perasaan dan pikiran. . Saya harus hidup.” “Memang begitu. Seluruh kemaluannya.

silahkan. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. Pasti penjaga malam itu korupsi. Gaji kamu berapa sih. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Ini kewajiban saya.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. Bukan hanya saya yang harus hidup.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. telat mikir. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Ia pelan-pelan duduk kembali.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. Terserah orang. Saya memang telmi. Berapa?” “Tiga puluh. kok. Pak. wong ini harus. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. suka manggil saya apa saja. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. saya tidak pilih-pilih nama. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. saya manut-manut saja.” Mayat itu berpikir keras. tetapi apa boleh buat. Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.” Mayat itu ternganga.” 61 . Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.” “Itu namanya pasrah.

Tetapi sekali ini. “Ayo salaman. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. “Tidak bisa.” “Ya.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba." gumam mayat itu terpesona. Jangan keliru. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. "Kamu luar biasa. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan.” “Kamu sudah mati.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum.” 62 . Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. tidak akan dituntut. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.” “Memang saya sudah mati. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. Saya tidak bisa salaman. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.” “Tidak bisa. saya sudah mati.” Mayat itu termenung. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.” “Ah! Apa?” “Kata saya.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi. jangan takut.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi.

Mayat kok banyak bicara. saya sungguh-sungguh. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. Mati pun saya tetap harus bertugas. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Pak.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Selamat beristirahat. Tidak apa. Saya memang mayat." Mayat itu bengong.” “Tidak. Saya mayat yang harus hidup. Baik. Boleh saja tidak percaya. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul. Tetapi di kantor ini.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Saya sudah biasa tidak dipercayai. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. Harus. Boleh juga saya disebut begitu. 63 . tempat saya tidak di kuburan.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Dipercaya atau tidak. “Kamu jangan main-main.” Penjaga malam itu pasang tabek. Sumpah. Saya tidak tidur. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Saya tidak boleh istirahat. Ini bukan waktunya untuk guyonan. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. memang beginilah saya. lalu ditangkap oleh gelap. tetapi bukan.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah.” Mayat itu berpikir.

“Kasihan. hanya dengan satu gerakan. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. “Maaf. Tetapi apa daya. kalau begitu. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. sudah cukup. Disertai penyesalan penuh. memanggil saya.. 3 . Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. “Ya Tuhan.” desis mayat itu. seperti tidak ada artinya sama sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya.Mayat itu terpesona. Waktu itu mayat itu merasa malu hati.. kalau begitu. nasibku tidak terlalu jelek. mayat itu lalu kembali kepada komputernya.11 – 1997 . Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. “O tidak. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Remang-remang dalam kegelapan. lalu kembali lagi ke tempatnya.”. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. Ada yang lebih jelek. tidak. sama sekali tidak bisa dihapus lagi.*** 64 Jakarta. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. Ia abadi.

seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. Sesuatu yang punya arti. Seorang laki-laki tua. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. di emperan-emperan toko. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Di trotoar-trotoar. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. lebih separo abad usianya. berkali-kali. Karenanya ia ditakuti orang. bila direnungkan. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. di perempatan jalan. Masuk-keluar kampung. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. tidak ada artinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Meskipun tua. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. di mana pun kebetulan ia berada. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. tapi pengawakannya tegap dan kekar. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. Sorot matanya memancar berbinar. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. nyaris berteriak. Sepintas lalu. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. tempat orang lagi sibuk bekerja.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" .

Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. selalu berpindah-pindah. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Sidin. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Siapa namanya. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. lebih-lebih anakanak jalanan. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. karena penampilannya yang tidak lazim. Brodin atau Ilmudin. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Di emper stasiun kereta api. Di pemakaman-pemakaman umum."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Di halte-halte bus kota. Saridin. penuh bertabur onak dan duri. Di emperan super market. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Kusir-kusir dokar. Ada selentingan. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. tak terkecuali gubuknya. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Oh ya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. tak ada yang tahu. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Dari mana asalusulnya. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. tukang-tukang becak. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau.

Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. Mereka sulit tidur. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. Surau itu tampak kurang terpelihara. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Berlampu suram. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. ia surut.menghalaunya. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Entah darimana. kebanyakan orang-orang tua. 67 . Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Cepat ia bangkit. Tapi sial. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Surau itu lengang dan kosong. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. apalagi kejahatan. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. senantiasa dihalau. sekadar numpang tidur sejenak. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. untuk beristirahat di malam hari. pikirnya. lari ke kolam mengambil air wudu. diusir dari satu tempat ke tempat lain. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Mengapa ia tidak ke sana saja. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. sesaat ia tersedak. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. lalu naik ke serambi surau. lalu melangkah ke dalam surau. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. Kebanyakan orang. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Dengan hati sendu dan putus asa. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu.

Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Dan ketika salat rampung sudah. Harapan-harapan. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. berkeliling kota tanpa tujuan. Tak seorang pun peduli. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Hartanya musnah. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. 68 .. ia mengelana seorang diri. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. "Saya adalah penjaga surau ini. Agak lama matanya terpejam. Jika Saudara kehendaki." jawabnya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Keluarganya punah. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. selalu dipupuknya. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Suatu ketika. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. tidak seperti biasanya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya.. Ia tersingkir.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan.. Keyakinan dan kebesaran-Nya. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya.

tapi telah keburu sombong dan berlagak. hai pengelana. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Ini merupakan masa paling buruk. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Kedua belah matanya rapat terpejam. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya.. "Kini.*** 69 . Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Di sana segala sesuatu kekal abadi. indah sempurna tiada tara. Mereka coba mendekati planet Mars. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. seolah-olah ia tertidur lelap..Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi.. dan akan selalu terjadi. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. "Belum lama ini. Ketika saat salat Zuhur tiba. hingga menggigil sekujur sendinya. dalam hati nurani dan jiwanya. bahkan di uratnadinya. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. ketika manusia sama ketakutan. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan." kata sosok penjaga surau. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

" "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi." "Dengan ubin hijau. dia sedih sekali dan menangis. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Dan di atas kertas ada angka-angka. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. tentu.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Sobat. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati." Kedua laki-laki itu berpisah. Kemudian hanya dengan setengah gram. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. " "Empat ribu. Dan kertas. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau." "Dengan ubin hijau. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. Ya. *** . Matahari menyinari bunga." "Empat ribu? Baiklah. Saat itu zaman perang. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat.

Mengharukan. ." "Demi Tuhan. Upacara yang mengharukan. berhentilah. Pak Guru. Pak Guru. Mengutip Clausewitz. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. gada-gada kecil berjatuhan. Membacakan Hölderlin." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Lalu. Saat itu adalah zaman perang. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Berpidato pendek." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu." "Pasti akan habis. berpakaian hitam-hitam. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. Menimbulkan gemuruh halus." "Terimakasih.Lintasan boling." "Jadi. seribu.' Kedua laki-laki itu berpisah. Banyak salib kecil.… Sama sekali tidak. "Nah. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Mengingatkan pada Langemarck. Mereka adalah para jenderal. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. tanah air. Sangat mengharukan. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. di belakang. Ingat Sparta. Sangat mengharukan." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Banyak mata bersinar. Para pemuda maju ke garis depan. Menyeramkan. Dua laki-laki bercakap-cakap. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Ada upacara. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. "Nah. Mereka berbicara tentang manusia. Dia bangkit dan tertawa.

*** Dua laki-laki bercakap-cakap. Dia mati." tanya Prajurit. "Kamu tidak boleh membunuh. . Mereka adalah prajurit. Dan kamu?" "Sama. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Ketika mereka sedang menembak. Saat itu adalah zaman perang." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. prajurit itu pulang ke rumah. perempuan itu menamparnya. Yang satu rubuh. "Kenapa tidak." Kedua laki-laki itu berpisah. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. "Sukarelawan?" "Tentu. Ketika perang berakhir. para menteri jalan-jalan di kota. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. Orang itu dibunuhnya. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. Tapi dia tidak punya roti. "Mau menembak." kata Hakim.

*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Waktu mereka dua belas tahun. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. Jurusan Bahasa Indonesia. Waktu mereka berumur dua tahun. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . mereka saling melempar bom. mereka mati. Waktu mereka empat puluh dua tahun. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. mereka menggunakan bakteri. Waktu mereka berdampingan. Semuanya tanah yang sama. Waktu mereka dua puluh dua tahun. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Burung-burung gagak masih menggaok. delapan puluh dua tahun. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Waktu mereka enam puluh dua tahun.Dia adalah seorang ibu. mereka saling memukul dengan tangan. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Tanahnya sama. mereka saling menembak dengan senjata. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya.

78 . Birgit Lattenkamp.bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand. Beate Meik. di bawah bimbingan Dewi Noviami).

percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. sambil memandang sungai Limnat. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. akan tetapi sekaligus menyusahkan. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima.. Pada pertemuan pertama. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. . Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. ) 79 1914 Akhirnya.. balai kota dan hotel “Zum Rueden”.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. di Flandern maut merajalela”). Karena tinggal di daerah Wuerttemberg.. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. dengan banyak pertumpahan darah. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. Juenger datang liwat kota Basel. yaitu “Flandrischer Totentanz”. Namun.

seperti Remarque sendiri. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. juga.” Novel ini. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. juga karena disemangati oleh para guru. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. Barangkali sebab itu. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. sampai sekarang hancur jiwa raganya. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. Dan mereka yang kembali. “Omong kosong!” teriak Remarque. Dari tiap dua orang. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. “Dalam Stahlgewittern. Akui sajalah. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. kata Remarque. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. Remarque. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. dengan sangat teliti. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. kami menemukan senapan. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. satu tidak kembali. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih.

“Betul. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Remarque sengaja tetap membisu. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. antara lain pabrik besi Thale. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. melainkan seputar masa lalu. berkurang satu orang. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. Setiap pecahan peluru tembus. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. meskipun bentuknya agak diubah. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. 81 . mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini.” Juenger tidak menjawab. “buku itu laris. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Seakan-akan menjadi saksi. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Setiap tembakan jitu. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. Namun. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Andaikan Anda tahu. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju.” kata Remarque. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. Remarque.

saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . sesudah itu M 17.. Juenger juga. mestinya Anda ketahui juga. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Melorot terus. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. di meja tulis saya ada kenangkenangan. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. . ada lubang bekas peluru tentu. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain.. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. si none. 82 . Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh.“Nah. Lucu dan memelas sekaligus. Saya. hampir pipih.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu.

Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. dia pun membawa rokok. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat." kataku perlahan. .1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. "Tidak usah." "Ya.. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh.. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. "Dan ini." kata Gerhard. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. "orang baru yang menggantikan Gornizek .. untuk pos pengintaian. . "Ayo. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. ke mari." Selama itu." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. dan selain membawa peralatan makan. dengan muka selalu menghadap ke . "Idiot. di pos pengintaian. Aku berdiri di depan. aku tahu bagaimana dia. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. Letnan mengirim dia kepadamu. sialan!" Peralatan kopelrimnya. begitu saja dari kertas pembungkusnya. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. melepaskan kopelrimnya. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. sesuai dengan aturan. "jangan terlalu keras.Jak.. Sop buncis sudah dingin. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku.. semuanya akan segera kumakan. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi." kataku. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. di pos komando. "Ini. dialah yang mengantarkan orang itu. di mana orang-orang Rusia berada. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak." kataku. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. Gerhard. "kemarikan. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard.. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. Dan daging kalengan itu pun kumakan. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku.

helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. "Di pos." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. "Sini. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan.. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. "Kemari." katanya menggagap." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. minum sendiri. "Diam!" aku membentaknya.. "Saudara merahku." kataku. . Winnetou. Anak-anak muda yang malang itu ." "Tak ada yang boleh." bisiknya. dan jika dia menoleh ke samping. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . "minum seteguk." kata sebuah suara yang lemah. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah." kataku pelan-pelan. Aku membungkuk. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. "tapi aku tersedak. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. "Tidak enak?" "Enak. "kan tidak boleh duduk." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik.. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. 84 . "Terima kasih." "Tapi di pos. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya. tangan di lutut. "Duduklah yang tenang. juga tidak boleh memulai peperangan. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental." "Kalau begitu. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak." gumamnya..musuh." katanya lagi. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter." "Tidak.

" kataku karenanya." "Dari mana?" "St. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. tapi lalu dia berkata: "Ya.... tapi memang begitulah mereka semua.. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami.Aku pun minum.. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. juga di pos komando di belakang kami. agak terang. lalu sisa-sisa sop. . bau keringat. Avold. Di bagian depan tidak ada apapun. kalau saja bisa melihat sesuatu... kalau saja sedikitnya remang-remang. jauh lebih baik . kalau saja hari menjadi siang." Kami diam beberapa saat. kan?" "Ya . melihat sesuatu." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap.. sedikitnya sesuatu. setidaknya remang-remang atau berkabut.. Dia sangat . Tetapi kalau terang." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian. "selalu malah. tapi aku bisa mencium baunya. Di suatu tempat. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan." "Tidak begitu takut lagi. pikirku.... Dia menoleh lagi ke arah musuh. aku merasakannya.. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya.. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. kamu tahu. Lothringen. juga sedikit berbau minuman keras. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. Ah. selalu begitu. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi.. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. sangat diam. "Aku juga takut.. Avold. di 85 . "Sekarang lebih baik.

. paling-paling pagi hari." katanya. untuk mengekang suaraku.. "Ya. bolehkah kita menembakkan roket isyarat.. "Tapi mereka tidak datang. betapa baiknya dia bisa berbisik.." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku." Lagi-lagi aku heran. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. Aku pun minum lagi. Kamu sudah bertemu dia. dan suaranya bergetar lagi.. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita." Dia diam lagi. maka kita harus tutup mulut. supaya bisa melihat.. "mereka tidak datang pada malam hari. "pos pengintaian. Artinya. ke pos komando. Lalu kita menembakkan peluru asap merah... "Kalau . biarkan mereka lewat. merasakan bau apeknya. Dua menit sebelum fajar. . sampai mampus.. kita harus membunuh mereka. kan?" "Ya.. Tapi tenang." omongku terus. "kalau kita tidak melihat mereka datang. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. untukku hal itu selalu memakan tenaga. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam." katanya. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. Tetapi itu bukan apa-apa. menyerang. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. ini kalau .. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. Berbisik." katanya dengan suara bergetar. kita pasti melihatnya. mendengarnya. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. mengerti kan?" "Ya.. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. hampir lebih baik daripada aku. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 ." "Habislah kita. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. pasukan pengintai." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu." gagapnya. "Bagus.... Aku paling senang kalau bisa meraung. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja.. kepada Letnan. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang... kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. seolah seseorang membungkam mulut itu.depan sana.. . membuat suara gemuruh atau berteriak histeris.." kataku. Ah. "pos pengintaian.

kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku. jadi kalau seseorang datang. Jak saja. jangan takut........ "jadi calo." katanya. .. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat.. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. lalu dalam kegelapan.. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. Karena tegang aku lupa meneguk minuman.." "Ke tempat pelacuran. calo saja..A. kan. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu. "Yah.. setiap kali kalau mau berbicara dengannya. ya?" "Tidak. "Calo apa ." katanya. "Dan. "Aku.. setidaknya hampir selalu." tanyaku lagi.." "`Gimana.. Jak." kataku parau.. melihat lagi ke depan." "Jak. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran...K. sangat pelan. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci." "Apa?" "Calo. bukan Jeck... siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. aku harus menyikut tulang rusuknya. "aku berdiri di stasiun.calo apa. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan .. yang sedang kosong. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka.? Begitulah aku bertanya... biasanya tentara." "Seperti orang Inggris. ingin bersenang-senang.. seseorang yang aku pikir cocok. ". dengan sangat tiba-tiba.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu." tanyaku. calo apa . J." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku. yah..." katanya dengan susah payah.. Ngomong-ngomong. .." katanya..... supaya menjadi hangat lagi."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah. "Dari Jakob .." katanya." dia mengeluh dalam-dalam.. "aku bernama Jak..?" 87 . "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku. kamu mengerti? Tuan. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. dan kalau seseorang datang." Dia diam sesaat. lalu pergi .

untuk siapa aku bekerja. mereka bekerja mandiri.." dia tertawa lagi sedikit." katanya. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. "Ngomong-ngomong. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol. sangat sungguh-sungguh.. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. syukurlah! Kalau punya. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. ah.. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. aku kan hanya seorang calo.. dan dari itu aku hidup.. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. Tidak.. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . Tiga orang. terlalu berbahaya." sambungnya. dan suaranya sekarang bergetar hebat. perempuan-perempuan itu. "Gottliese. "tepatnya uang persen. 88 .. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . "dan artinya kamu dulu seorang germo." dia berkesah lagi...?" dia benar-benar tertawa sedikit. "Enak sekali. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka.." potongku. dia mengoceh hampir dengan sendirinya. . "germo adalah tuan-tuan besar. dia bertanya. ya.. Sekarang. "adalah yang paling baik.. ."Bukan. Käthe. "bukan. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan.. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. "eh. tidak punya germo." katanya datar. "Hubert.... botol itu kosong. tiran." "Siapa?" potongku.. Tidak." "Tulang-tulang ?" "Ya. "Ya. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. Lili dan Gottliese. mengerti. kamu mengerti." dia mendesah lagi. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping.. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. dan. di suatu tempat yang sangat .." kataku sambil memberikan botol kepadanya. mereka tidak punya surat izin. tapi aku tidak bisa menjawab.. dia bernama Gottliese.. tanpa izin apa pun. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. kan?" "Bukan. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. lepas. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. sangat jauh. siapa namamu?" "Hubert. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku.." "Dan. kamu mengerti. ya. Aneh." katanya kemudian.." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui.

jauh sekali.. itu neraka.. "besok pagi aku sudah mati." "Aku kan kenal mereka. "aku tidak bisa menembakkan yang putih. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat. ." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.. jauh.. itu bukan apa-apa. "Jak. sama sekali tanpa suara. sepi. "Ya. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . mereka mengendap-endap. sesuatu yang nyata . Aku hanya punya dua peluru.. Itu tangkai-tangkai bunga matahari.. mereka datang.. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. itu pasti sesuatu . "ya... dan itu terlihat ada di ujung dunia. Kalau hari sudah sangat terang. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. Satu saja. kamu akan melihatnya dan tertawa. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap. dan kalau mereka sudah dekat.... dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. mereka datang. mereka merangkak di tanah.. Besok pagi kamu akan tertawa.. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. Di atas garis itu kelihatan agak terang. "Jak. "kalau mereka benar-benar datang. tembakkan yang putih . mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi." katanya dengan sangat dingin... hitam -.. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam..... itu bukan sesuatu yang nyata.." "Tembakkan yang putih.. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu. "Ya.. subuh." "Ah .." kataku. betul-betul jauh sekali . itu . itu perang. "Ayo.. maka sudah terlambat. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu.. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini... Jak.. Supaya mereka tidak membom kita ." "Ah.. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering.. aku melihatnya .. Jak." "Tapi lihatlah. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak.. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran..." "Besok pagi.kotor dan sebagian hancur tertembak." bisiknya... kita bisa juga mendengarnya.... ada sedikit suara gemerincing . dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. "diamlah..." "Jak. "kamu gila." kataku. tembakkan yang putih . mereka datang .. "Anak muda. sesuatu bergerak .. aku bisa mendengar mereka. kalau pesawat pembom kita datang." kataku. seperti ayunan lembut jerami . tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang.terlihat sesuatu seperti horison." 89 .. sepi sekali." balasku berbisik...." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. sebuah garis hitam pekat.. Itu sesuatu yang nyata.. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa. aku begitu kaget.

jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. aku tahu itu. betul bukan. Sekarang tanggal 21. artinya hari ini. lebih baik kamu cerita lagi. Di mana kamu terakhir kali . Yah. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. "Jak. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. kamu pasti tidak mempercayainya. Ya. dan mungkin sesuatu akan terjadi. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. Dia punya banyak langganan tetap. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. kamu tahu. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. Begitu ingin aku melihat wajahnya.. Ah. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. ." katanya. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. Wajah seorang calo tulen. kadang kasar. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Lili di dekat Gedung Opera. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. aku hanya mendengar mereka berbisik. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. Awalnya. baru keringat dinginmu mengucur deras. lalu aku pergi kepada Lili. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. Barusan tadi. tidak bisa ditebak. "Tembakkanlah yang putih..Dia diam. Di tengah jalan.. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. kamu mengerti? Dalam setengah jam. Gottliese. karena kalau tidak. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya.. kalau pesawat pembom kita datang. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. "Jak. kadang ramah. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. Käthe orangnya sangat dingin. "tidak selalu.. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. Stasiun Pusat maksudku. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih." kataku." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. kita masih punya waktu empat jam. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. dia yang paling baik. Besok pagi-pagi. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku." bisiknya seperti seorang sinting. percayalah kepadaku." dia membungkuk lagi ke arahku." sambungnya dengan suara capek. Dan itu bikin jengkel. itu lebih praktis.. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. dan kami duduk lagi menyandar. kemudian cafe itu terbakar. ketika tidak terjadi apa-apa. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. mereka suka melarikan diri. kamu tahu. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. bisa-bisa kita jadi selai. "Di Köln. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang.. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. Setiap kali. tak tahulah aku. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. . Dia memberi aku 90 . kamu tahu. dan suara tembakannya akan keras sekali. dari dekat. karena itu orang tidak cepat jadi panik. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. tapi dia sering minum." aku ingin mulai. aku sedih.

." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. Ah. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin.. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya." "Seorang tentara?" "Bukan. Aku percaya bahkan sebaliknya.." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. yang paling cantik. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia." 91 . dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun.. ." "Jak. Gottliese berbeda. . Dan dia pun lumayan mengurus aku. tambahan lagi sudah tua. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. sangat dekat ke arahku. apa aku punya rokok dan lain-lain. Sebenarnya. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. . Bagaimana tempat tinggalku... kamu mengerti. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. aku bilang sama kamu. Kadang hanya lima puluh sen." aku ingin bertanya. "tidak akan lama. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. "Tenanglah. Dan kemudian. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. . Laki-laki itu tidak punya uang lagi. kamu mengerti. paling hanya beberapa menit. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. itu bukan apa-apa.. . karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. Kamu harus menunduk. sudah. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu." "Menghadiahi?" "Ya. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. "Ya. seorang sipil.. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. lalu dia akan menonjok mulut mereka. Menghadiahi. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. "dia hanya mendapat satu Mark." katanya.. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. Dan tembakan pertama pun meletus. Dan dia cantik. Dia selalu memberi banyak kepadaku. menghadapi bahaya ditangkap polisi..sepuluh persen. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. "Diamlah. Dan Käthe masih juga memakiku. Mereka hanya sedikit mabuk. itu saja. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. Dia sangat pemurah. Maka Käthe selalu yang terakhir. Sepuluh persen! Sementara.. sepuluh sen. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu." "Bagaimana.." tanyaku. sampai komisar mereka mengetahuinya. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. setiap kali setidaknya dua Mark. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. persis seperti pada kita. Mereka kan tidak boleh begitu.

Gottliese itu. Sering dia memakai nama lain . Dia sedikit gila. betul-betul sepi. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak. Dia sangat mungil..." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang... "Sekarang . . dan kalau mereka datang. kamu akan mendengarnya." sekarang aku bertanya. "Ayo." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . ." kataku. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. setiap hari nama baru . .." kataku.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. Lalu sangat sepi. di situ. "tembakkanlah yang putih. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru.. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. "Jak. "Bagaimana. karena di belakang dan di depan kami. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. Kathlene. mereka menyerbu maju. "Ya. dan dia sering tidak meminta bayaran. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi.." Dengan segan dia menjawab. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. sungguh mungil. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan." katanya pendek. "Kamu lihat.. aku mendengar mereka datang.. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku. sama sekali. kamu tahu.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya." sambungku.. sekarang mereka datang... "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang. "bagaimana parasnya. 92 . Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. aku mendengar sesuatu. juga lengkingan liar itu. Inge Simone. suara gemuruhnya seperti kiamat." bisiknya. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah.. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu.. sekali lagi teriakan . karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu." Aku memegang erat lengannya.. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan .. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . dalam terang. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak.. wajah seorang calo tulen. ." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. Aku pikir. . Tidak bisa lain. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila..Tapi teriakan itu tidak berhenti. "Cantik.. menyibak tirai perang menyelimuti kami. kalau tidak aku bisa gila. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. entah siapa lagi. pakai otak dong... atau Susemarie....." "Tidak . Dan yang paling sial.. "dan sedikit gila." Nafasnya tersendat. .

ingin bersenang-senang.. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. der Schlepper". malah masih memberi sesuatu.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. lebih hitam dari pada malam.*** Judul asli: "Jak. 93 .. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. dia berbisik pelan: "Tuan. diterjemahkan oleh Dewi Noviami....

perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. melindungi matanya. Di bawah potret ada sebuah gelas. Alis perempuan itu hitam tebal. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. mengapa di dekat . perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. kemudian gelas. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. tapi sangat samar. Dan tahulah dia sekarang. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. dan kemudian beberapa buku. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Gelas Itu. Laki-laki itu mengangguk mengerti.Horison. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Dengan tangan gemetar. Lampu di dalam kamar sudah menyala. terletak di sebuah rak buku kecil. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati.

terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Saya mengaguminya. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Meskipun demikian. martabat. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. dan derajat sesamanya. Matanya sungguh 95 . Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Dan ketika perempuan itu membuka almari. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah." dia.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. Maka berbicaralah dia asal berbicara. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Sungguh agung dia. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Heran. Dia pasti laki-laki ramah. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari." Belum sempat bertanya apa-apa. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. wibawa tinggi." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. laki-laki itu agak terkejut.

Begitu gemar dia membuka-bukanya. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Ingat. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal." Laki-laki itu diam. Kalau tidak keliru. dan akhirnya mengenai payudaranya. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. dia laki-laki mengagumkan. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Nabi Yusuf tidak suka merayu. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Betul yang kau katakan tadi. yaitu merayu 96 . Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. Bagi saya. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Surat itulah. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. "Laki-laki itulah yang saya cintai." kata perempuan itu lagi. dialah laki-laki yang saya cintai. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Dan setiap kali saya merindukannya. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. sementara dia suka merayu. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. sangat mengagumkan. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Dia ingat. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi." kata perempuan itu. beberapa bawahannya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. mengenai buku-buku itu lagi. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. Akhirnya laki-laki itu tahu. tidak seorang pun tahu. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Laki. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. pertemuan dinyatakan bubar. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. dengan nada sangat melecehkan mereka. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

pasti saya bertindak terlebih dahulu.Dengan tenang. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. Memang saya sering berkelahi. tapi perkelahian-perkelahian itu. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Kamu pun sebenarnya iblis. bukan apa-apa bagi saya. Saya hanya menikmati satu hal. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. sekali lagi. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Juli 1990) . saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Ketahuilah. Meskipun demikian. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. Dan setiap kali merasa takut. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan.*** 101 (Dimuat dalam Horison." Bulan tetap berputar-putar di atas sana.

dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. sebab aku hanya bisa memendam amarah. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Airmataku berderai-derai. Bukan. tahukah anjing-anjing buduk itu. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Seperti juga hidup itu. Jangan menangis lagi. 102 . Ngeri? Oi. Perih. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. tanpa alasan. Dadaku telah amat sesak. Aku melihat orang. Hari-hari yang meranggas lara. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Ffffffhuuih. menuju Buket Tangkurak. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. Meski lelah. Inong! Kering airmatamu nanti. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. kutarik napas panjang.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. temanku. Ya. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. lebih baik meniru anjing-anjing itu. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Aku merangkak dan maju perlahan. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Aku melihat semua itu! Ya. Serpihan tanpa makna. diperkosa beramai-ramai. Darah mereka muncrat ke mana-mana.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Dalam remang malam. Dan kini hari telah semakin gelap. Keringatku mengucur deras. tetapi langkahku makin kupercepat. semuanya. Juga saat mereka membantai … keluargaku.

kami menari bungong jeumpa. di antara suara serangga malam. Berarti…. Ma’e dan Agam. menyanyi nyaring. Sssssssttt! Tiba-tiba. burung hantu dan lolong anjing hutan. Ah. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Bersama bayangan Ayah.” kata yang ketiga. “Sayang." jawabku sekenanya. Tulang. dahulu…. Ya. Ya. Hangat. “Ia tak berbahaya. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Ah. subuh tadi. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Aku bangkit. Cut Dini.” Aku menggeliat. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Aku menggali. lalu remah-remah daging manusia. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. ya. Kutemukan beberapa tengkorak. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. aku di rumah. Inong? Aku mencarimu seharian. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. . awan dan udara malam. Tangannya lembut membelai kepalaku. biarkan saja. melintas di depan rumah dengan sepedanya. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu.” ujar yang lain. Mereka gila karena mengira aku gila. Ah. juga sangat muda. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. *** 103 “Inong…. Aku tidak mengganggu orang. terus menggali. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Cakarku terus menggali. “Ya. Lalu aku tersenyum malu. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Hanya tertawa dan menangis. sudahlah. “Dari mana. “Aku cuma jalan-jalan. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. Bersama desir angin. Dahulu. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Kami menyanyi. dulu ia cantik…. saat Hamzah yang telah meminangku. kupingku mendengar langkah-langkah orang. mencoba duduk. Banyak tulang. Mak.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku.

Aku suka membantah orang.” katanya pelan. Dulu. Ia sangat peduli. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. “Aku suka. Cut Dini. Tangannya koyak. “Kau sakit. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. dasar orang.” ujar Cut Dini. ke pengajian. “Aku ingin memakainya. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Namun tiada tepi.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Lagi pula kau seorang muslimah. menggapai-gapai permukaan. Kugaruk-garuk kepalaku. di belakang…. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai.” kataku pendek. Aku tak bisa bangkit. menceritakan banyak hal. “Ini baju yang dijahitkan Mak.” kata Cut Dini suatu ketika. Aku senang sekali. Lalu di dekat perut. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. atau sekedar jalan-jalan. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. Terus mengangguk-angguk. Aku belum begitu lama mengenalnya. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. Aku mengangguk-angguk. tetapi tidak Cut Dini. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Kata mereka aku gila! Hah. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. “Apa aku gila?” tanyaku. Dan … cuma dia. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. Ia memberiku makan.” 104 . Kau anak baik. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. di antara para tetangga. “Sudahlah. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. kecuali semua yang bernama kepahitan. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. yang sudi berteman denganku. Segalanya terasa lebih ringan.” lirihku. bahkan menyentuh apa pun. memperhatikanku. Ia menyisir rambutku. Cut Dini menatap bola mataku dalam. Menggaruk-garuk kepalaku. Berbahaya. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. “Therimoung… ghaseh…. mengajakku ke dokter. ketiaknya juga. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat.“Aku tahu. Kau sangat terpukul.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Tidak baik pergi sendirian.” kuteguk minuman itu.

di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. Aku jadi ingin marah. ambil saja uang ini buat anda. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. anak-anak yatim yang terlantar…. Hua…ha…ha. Suaranya kadang berubah. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. Jembatan Kuning. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. lebih lekat dari jendela. “Kami orang baik-baik. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala.” . Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. penjagalan di rumoh geudong. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran.” Cut Dini membaca kertas itu. Sungai Tamiang. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. banyak yang terpaksa menjadi cuak.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. Lupakan saja gadis gila itu. Ah. Ini daerah operasi militer.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Kami menjaga keamanan masyarakat. meski tak mengerti. Huh. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. aku tertawa gelak-gelak. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi.” “Sudahlah. Tetapi sekarang semua usai. “Kami hanya menindak para GPK. Kulihat wajahnya marah. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. Cot Panglima.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. semuanya busuk.” Aku nyengir.

Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Ulon hana teupheu sapheu!” . Aku mau shalat lohor dulu. “Masya Allah. bila ingin shalat seperti manusia. Ketika pintu dibuka. “Ayo lihat mereka. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk.” suara Cut Dini. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Aku berlari ke dapur. tetap lembut. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. Lalu Ma’e dan Agam. “Jangan menjadi burung. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Aku berhenti jadi burung ajaib. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor.” tukasku. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. Kurasa ia seorang pemimpin.” kata Cut Dini tersenyum. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. sebelum aku bisa jadi burung.” Aku berhenti melempar.” katanya. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. Mereka tak mampu membela kami. ya. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. nanti perabotan itu rusak. abang dan adikku. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. 106 *** “Keluar. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. “Benahi yang rapi lagi. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu.

Di mana Ayah. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Airmataku menderas. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. Jiibandum ureung biasa. “Allah tak akan membiarkan mereka. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Merah. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah.” 107 . Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. “Astaghfirullah. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. di dalam jaring-jaring merah ini. Inong! Semua sudah berlalu. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. Tegar.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Pusing. mereka memang bukan orang jahat. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. menendang. mencakar. Aku jatuh lagi. Wajah-wajah dalam jaring pias. Airmataku menganak sungai. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Inong! Inong. tetapi aku tak bisa bangun. terkelupas dan berdarah. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. Aku menjerit-jerit dalam perangkap.” suara Geuchik Harun. Wajah-wajah itu retak. hingga aku letih sendiri. istighfar…. “Inong. menggigit. “Kami tidak membela. Silau. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Tak jauh. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. Pedih. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya.“Lepaskan mereka. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. saat tak lama kemudian. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin.

tak ada airmata yang mengalir. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Menggelepar.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Di antaranya berseragam.Kabur. “Inong…. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. kulihat beberapa o-rang. Berdarah dalam jaring. mencari gerak. beri kami keadilan. Cuma luka nganga. mencari bening. Sekujur badanku bergetar. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. terasa berputar. Lalu tak jauh di hadapanku. . Orang-orang ini tersentak. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. Aku menangis tersedu-sedu. tak ada suara yang keluar.” Aku terkapar kembali. mengamuk. Samar kulihat Cut Dini. menatapku kasihan. Bapak sudah lihat sendiri. Aku mencari bunyi. Ia mengusap airmataku. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998).*** 108 Cipayung. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. Terbit. .Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. mereka akan membantu kita…. Pak. Tolong. "Pergiiiiii!" aku menceracau. tetapi kaku. Tiba-tiba suaraku hilang. Aku mengamuk panik. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. 5 Agustus 1998. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Tak ada apa pun. Aku berteriak. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Hah. 1998 Referensi: . Republika.Gatra.

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

Kopag harus patuh. Hampir saja pisau itu memahat kakinya.” Suara itu terdengar gugup. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Suara itu adalah suara perempuan. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya.” Suara itu terdengar bergetar. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. perempuan yang dicarinya berabad-abad. “Luh Srenggi. Tangan mereka bersentuhan. "Katakan padaku.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Inilah perempuan itu. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Aneh. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. 110 . tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Kali ini. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Luar biasa. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. “Siapa itu?” “Titiang. Aneh sekali. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.1 Luh Srenggi. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Kopag semakin gelisah. kasih sayang. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. Seorang perempuan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Tangannya jadi lapar. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. dan sangat tulus. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya.

Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Tubuhnya kurus dan pucat. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Kopag . Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Dia tahu. setelah berbulan-bulan tidak pulang. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Dia memberi Kopag poin. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. dan keindahannya sendiri. Tubuhnya seperti lekukan kayu. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Dalam kondisi seperti itu. Dia tidak pernah peduli. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. hidupnya. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Suatu hari. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. perasaan. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. cantikkah perempuan itu. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Seluruh kekayaan ludes. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. sangat sadar. Tapi. Perempuan itu menolak. pelayan tua itu. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Bahkan Gubreg. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Dia hamil. Kata orang. bisa dibuat sebuah pementasan. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran.

dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. juga impian-impiannya. alam menyerah pada kekuasaannya.tidak saja memahat kayu. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya.” 112 . kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Anyir. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. parekan. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Ratu. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Aku ingin tahu. merah. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Masih kata Gubreg. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. kulitnya yang sering jadi pujian. dia memahat pikirannya. Aneh sekali. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. aku juga ingin merasakan. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Kopag sering berpikir. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Karena dia bukan kaum Brahmana. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Bahkan Gubreg. Karena perempuan Sudra. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Bagi Kopag. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Itu yang dirasakan Kopag. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Untuk pertama kali. Dunia yang diinginkan. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. dia mencium bau darah. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. dan sangat pas. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Jujur saja. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Ada-ada saja yang diributkannya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. otaknya. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka.

Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Gubreg. Luar biasa. Menanggung dosa ayahnya. “Anak itu buta. tapi mampu memikatku. Susah. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Gubreg.Laki-laki tua itu terdiam. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Dadanya sering mendidih. “Kau tidak ingin menjawabnya. Lihat. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Jaga dia baik-baik. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. 113 . Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. kata Frans. Tinggi. Susah. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Bagi Gubreg. perhatian yang lain. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. yang diterjemahkannya. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Kehilangan yang dalam.” Keruncingannya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Kopag tidak lagi membutuhkannya. yang konon. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Sejak kecil. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. sudah menjelang dua puluh lima tahun. kau belum jawab pertanyaanku. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. ketajamannya. Gubreg. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. rasa apa yang sering membuatku meluap. Kau bisa lihat. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. begitu indah. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. “Gubreg. aku selalu tersentuh. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. “Gubreg. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. pematung jaman Renaisans. Begitu penuh misteri. Lihat. sebelum berpulang. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. tentang Michelangelo Buonorrty. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Gubreg. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Frans Kafkasau. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Ratu. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Gubreg.

memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Ratu?” “Kecantikan perempuan. “Tentang apa lagi. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. dia luka. Perempuan itu. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Berkali-kali dia menarik nafas. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya.” “Titiang... Kopag sudah membuka jendela studionya. Dia juga laki-laki.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. dia adalah laki-laki tak berguna. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Begitu parah. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Tubuhnya jadi pucat.. . Kata Balian itu. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak.. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Dia mengerti. Semua orang. Sangat paham. Dia gelisah. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. “Aku ingin bercerita padamu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. angkuh dan selalu lapar.” Suara Gubreg terdengar patah. Terlebih. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya.. Masih kata Balian tua itu. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. perempuan yang sangat dihormatinya. Ratu. dan mampu meledakkan otaknya.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Sebagai laki-laki Sudra.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. *** 114 Pagi-pagi sekali. Hyang Widhi. Kaki perempuan itu putih. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Sampai menjelang tengah malam. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. dukun. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. kebanyakan. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Gubreg menyaksikan. Perempuan junjungannya.

keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Tak seorang pun tahu. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Dia pasrah ketika Balian tua. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. “Gubreg.. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Demi Hyang Widhi. Gubreg. Aku selalu ingin tahu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. tanganku. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Tanpa istri. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Gubreg tidak sakit. Rasa ingin tahu yang begitu besar.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Dayu Centaga tidak terkena. tidak juga kesambet setan. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Cinta yang membuatnya jadi batu. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. kau belum juga jawab pertanyaanku. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Berkat kekuatan Gubreg. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Gubreg paham. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. tubuhku. 115 . Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Guemica.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. dingin. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg. sangat surealis. Kata mereka. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. tetapi sudah menyerupai air bah. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. “Gubreg.. berdialog. menjelang tujuh puluh lima. mengajakku bicara. sampai menguliti otakku. tanpa kegairahan sebagai laki-laki.” suara Kopag terdengar pelan. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Dia menarik nafas berkali-kali. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. dan berpikir. Sampai sekarang. diajar memahami kehidupan. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu.” Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. mem-besarkan tubuhnya. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan.

Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. dia tidak tahan miskin.Berkat Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Kata orang-orang kampung.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Benar kata Kopag. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.” jawab perempuan itu serius. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.” “Siapa?” “Adik perempuanku. keluarga besar ini kembali bisa hidup. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. Ratu terlihat sangat gelisah.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Hanya satu yang ditangkap Gubreg.” “Ya. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya hanya berisi kehormatan. dia terus mengelilingi studionya. Gubreg.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Mendengar komentar itu. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Sekarang ini keluarga ini tentram. . kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Kopag memerlukan perempuan. Kopag seperti linglung. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Lima menit tanpa hasil. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Jero Melati tersenyum. Gubreg diam. Dia tahu. “Ratu. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Bahkan. Aku ingin kawin. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Sayang. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. *** “Gubreg. Bulan kemarin.

tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.” “Apa kata mereka.. matanya yang kiri bolong. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. dia hanya memiliki satu mata.” Gubreg mengangkat wajahnya.?!” Gubreg seperti tercekik. punggungnya bongkok. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Sadarkah dia. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.*** 117 1. Kau tahu. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. membersihkan studionya menyiapkan makan. Kulitnya juga kulit kayu. Maret 2000) . Luh Srenggi. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.” “Mereka setuju. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu.. Gubreg. Ketika dia telanjang.” Gubreg ambruk. Saya 2. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan.“Maaf Ratu. aku tenggelam dan habis. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri.” “Ratu. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. kakinya pincang. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Kulitnya begitu kasar. Wajahnya juga rusak berat. ada daging besar tumbuh di atasnya. “Aku sudah memiliki calon. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi.

.. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. Tak ada jawaban.” kata hatiku. betapa mengerikan. ya seperti yang sudah kuduga. “Jim!” ulangku. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. Sampai pada kalimat tersebut. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. “Tak masuk akal.. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. tetapi aku sudah membayangkan. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. mengapa harus menjadi batu. tergolek bagai barang tak berguna. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut.” “Jim. Cepat-cepat ia mengatakan. “Pasti dari Jim. “Oh. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor.. Aku takut. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. 118 . “Ya. Beberapa saat ia terdiam. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. mereka membunuh diri.” kata Jim. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya.” simpul Jim. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami.” kata Jim datar. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. Lima belas tahun yang lalu. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga..!” panggilku. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. Sambil mengangkat gagang telepon itu.

Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas.” Aku menarik napas. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk.. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. tetap memandu Jim di lapangan.. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku... ketakutannya terasa semakin besar. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain.. sangat takut. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. Aku belum pernah setakut ini.. Hallo. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. tetapi oleh waktu.. begitu orang menamakan asal Niru.. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku. tut .” kata Jim.. teruskan. tut. Sayang.. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. 119 *** Dinihari. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Suku Montai.. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. sebenarnya hampir tergolong primitif..” Jim agak berteriak. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. menuju rumah sahabat kami tersebut. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak.” “Aku takut. . sekitar 150 km dari sini. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. tetapi yang terdengar hanya tut . Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. aku merasa meneliti diriku sendiri. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. hubungan kami terputus. tetapi masyarakatnya terbelakang.. Ya....sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. lantas berkenalan dengan Niru. “Halo. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi.

” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. anak-anak. “Atau Katik. Leman. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian.” kata Niru. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Menengadah. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. juga mampu menghidangkan suasana lain. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. mengajak Jim berbincang. sebelum fajar menyingsing. Terasa begitu cepat waktu berlalu. Raut. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Jim kembali memutarkan badannya. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. dan. Aku memegang batu itu. Jim terpelanting. Duduk saja di sini. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. wajahnya pun terlihat berayun. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu.. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. Angin berkibar. “Sungguh. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Tak jauh dari Niru. ke pinggir hutan selatan. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Dulu. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. turun ke tanah. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut.” Terdengar Niru ketawa kecil. “Tapi Niru. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu..Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. 120 . “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. . lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya.” kata Jim. malah ia semakin gelisah. semula aku tak percaya. menusuk-nusuk hati Jim. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Berat. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru.

tut .” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. aku tak mungkin berbohong.keras sebagaimana layaknya batu.. nanti saja. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. terdengar suaranya tersendat-sendat. dan. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut . Ia seperti duduk di ruang .” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. telepon masih terlentang. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. Aku takut. Dari jendela...” “Ya. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. Aku ingin mengatakan. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau..” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku... “Lantas. Kudengar juga suara anakku mengerang. tapi nantilah .. Ya. Belum ada lagi panggilan dari Jim. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan.. tetapi hujatan Jim _ya. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. tut . dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. Kendaraan mulai lewat di depan rumah.. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim.. damar yang sulit dicari. *** Sampai menjelang subuh.” sambung Jim. Cepat pula ia bertanya. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya. soal-soal kemesraan. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. Apalagi waktu itu. “Ini sungguh amat menakutkan aku.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa.... aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya.

“Aku ingin reuni di Montai. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. dan entah apa lagi. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja.tengah. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. ketika mataku sudah terlayang. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. Keesokannya. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. bantal. jalan yang lebar. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. seorang teman lama. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. mungkin tujuh tahun yang lalu. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Setahuku. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Ada juga batu berbentuk kapal. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. Tak diajaknya aku. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Tak ada perubahan. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. yang pernah kusaksikan beberapa kali. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. Dini hari. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. sendok. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. Katanya. Konon. Kakinya terkepang. tilam. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. ia kemudian mengatakan ingin keluar. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Kalaupun ada perubahan. lesung. limau.

“Pulanglah dulu ke sini. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Persis saat azan subuh mulai berkumandang.. Ketika kutanyakan khabarnya. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas.” kata Jim. telepon berderak. memang sulit. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. “Sudahlah Jim. Baiklah. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. Jim juga mengatakan. Jim menjawab dengan sedu-sedan. menelan air liurnya beberapa kali. “Ketika kutanyakan hal ini. bawa bertenang. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. bahkan kami di kota ini. Aku akan menjemputmu. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. tidak cukup hanya melalui telepon.. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. dan tak henti-hentinya mengusap muka.tandus. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap.. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. payah. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. Niru hanya mengatakan: payah. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam.” .

Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. ternyata bocor. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. ketika.. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. dan entah macam mana lagi.. tetapi ia 124 . Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. Ia merasa amat letih. Tetapi aku melihat. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu.. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. berdiri bercekak pinggang. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati.” Kalimat Jim terputus. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. sementara otaknya melayang entah ke mana. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman.” kata Jim. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Ada yang sedang mencangkung. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. ia dan keluarganya juga begitu. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Tetapi mata Niru. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu.. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. Matanya memandang tembus ke langit. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. “Ya.. Tangan kanan menopang kepalanya. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim.. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Bontik. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri.

Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Memandang ke langit-langit. giliranku. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. Seharusnya. Kau sudah mati. “Tapi aku bertambah kecewa. ia tak tahu. “Kau bangsat. aku juga meletakkan gagang telepon. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. keluargaku. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. September 1997) . dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. terasa seperti jarum menusuk telingaku. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon.*** 125 (Dimuat dalam Horison. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. Entah apa yang dipekiknya. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Suaranya lantang berkumandang.” Sungguh.” Jim marah besar. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. aku berkata pelan. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Kalau saja Jim tahu. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan.

Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Telah kami jelajahi seluruh hutan. serigala dan segala macamnya. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. tetapi masih sanggup berlari 126 .Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. untuk memburu binatang-binatang. sebelum sampai ke telaga ini. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. rusa. Sampai kelinci. sejak kami masih dalam kandungan. begitu tercium bau kami. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. jumlah kami memang makin membesar. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. tupai dan tikus. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. telah lenyap kami tangkap. mengantar tidur anak-anak kami. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. hanyut oleh pikiran kami. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Cerita-cerita penaklukan. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. buruan kami tetap saja melenggang bebas. ular. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Kami memandanginya dengan gamang. dari tahun ke tahun. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. macan. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Gajah. Telah kami sibak semua palung lautan. nenek moyang dan anak cucu kami. Barangkali. Membuat kami begitu merasa terhina. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Sampai kemudian kami menyadari. Kami seperti mengejar kilat. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. tetapi kali ini. badak. Maklumlah. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Mereka sudah renta. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Membuat kami cemas. tapi tak gampang mati. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati.

sasaran perburuan yang menggairahkan. orangorang besar di negara mereka. Dan itulah kehormatan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Para bangsawan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Liat dan sigap. hingga pecah berantakan. Para penjahat itu. Selamat jalan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Menjadi tradisi. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. para bangsawan dan pengusaha besar. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Setiap detik adalah pertarungan. membiarkan mereka lari dan menghilang. “Masuklah dalam hutan. sungguh. Tetapi kami tak bisa menolak. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami.mengejar antelope. Semoga nasib baik bersama kalian. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Dan itu. kami bunuh. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Maka kami pun membeli ratusan budak. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. meski kami akan memburu kalian.. Kami tak lagi memburu binatang. dengan cara melarikan diri. Selamatkan kehidupanmu.. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. para raja. seperti kami katakan tadi. Kami akan memburu manusia. puluhan kepala negara. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Rupanya. Anggap semua ini hanya permainan. Lantas. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. untuk ikut menikmati perburuan itu. Adakah yang lebih menyenangkan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Karena. perlahan-lahan.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. tapi manusia. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. mendatangi kami. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. baru kemudian kami memburu mereka. semua binatang telah habis kami buru. lari. Jangan cemas.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. . Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Mula-mula. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . banyak di antara kami yang menolak. banyak orang di luar suku kami. Inilah hidup yang sesungguhnya.

Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. yang melintas bagai badai dan gelombang. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. “Kita harus melakukan sesuatu. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. sendiri. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Karena kami sudah terlalu kuat.” Gelas kami beradu. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. “Ini darah seorang penyair untukmu. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. begitu melimpah buruan kami.. tetapi kami selalu dirundung sunyi.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. menggulung apa pun yang kami sukai. melintasi gelombang waktu. Kami terus memburu. . kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. tetapi juga. menjadi tak tertandingi. dan kami tertawa bahagia. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja.. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. jangan sedih. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. dengan dukungan dana yang melimpah. terkadang. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Suaranya sudah gemetar. Kami. Ah. tetapi penaklukan yang membosankan. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 .dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Kami bangun juga istana-istana. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. keisengan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Di antara kemeriahan pesta. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. para demonstran untuk kami habisi.

Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. katakan kepada kami. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Dan tentu.” “Baiklah. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan... “Kami ingin Jibril. kami akan membikin perhitungan sendiri. malaikat. para kiai itu. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.“Aku sudah mencium ajalku. “Kalianlah yang bercanda. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. mencari kepastian dalam mata mereka. telah lapuk. dari seluruh dunia. meski sesungguhnya heran. . sebelum maut menjemputku. Gairah menjalar. kami segera mengumpulkan para kiai. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.. Dan aku ingin. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. “Baiklah. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. membuat kami begitu ternganga. Panji perburuan berkibar.” Mereka.” tegas kami. bersulang. itu 129 . Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu.. Sekarang. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Tetapi mereka menolak. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. membangkitkan imajinasi kami. “kalian kami beri waktu satu bulan. anggur segera kami tuang dalam gelas.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” kata kami kepada mereka.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Ya. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. tetapi masjid itu tak juga penuh. “Kami tak mau tahu. Kami segera menghimpun topan. . berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu.

membumbung. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. hingga kayu-kayu bergemeretakan. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. bersama angin dan embun. anak panah. Kami tak mau kecolongan. 130 . lenyap seketika. roket dan basoka. di puncak kobaran api. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Tapi seperti yang pertama dan kedua. jangan-jangan semua itu sihir belaka. kenapa kami malah bengong begitu? Maka.pun pasti sudah berhimpitan. Lantas kami tak bisa lagi sabar. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Namun dzikir itu masih kami dengar. melihat impian kami sudah di depan mata. tetapi. Membuat kami tambah cemas menunggu. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. itulah yang kami saksikan. di pucuk api berkobar. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Satu bulan lewat. sepanjang hari sepanjang malam. Kami terus berjaga. menguap begitu cepat. luar biasa. orang kedua kami pun tak kembali. tertelan dan lenyap. Kami sudah cukup punya pengertian. Tombak. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami memagarbetis masjid itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tetapi seperti yang pertama. bukan? Jangan salahkan kami. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Namun orang itu tak kembali. sekaligus marah. Dan. di sana. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Kami tak mau ditipu para kiai itu. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. gembira dan tak percaya. menyentuh langit. kini telah muncul di hadapan kami. Pada saat itulah. Membuat kami cemas. membuat kami tengadah ke puncak api. desing senapan mesin. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. bagaimana mungkin? Tapi. Dan kami segera menyerbu. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Gema itu melambung. Kami panik. mendadak menyadarkan kami. seseorang di antara kami berteriak. Jibril. antara takjub dan panik. masuk dalam masjid itu. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. tetapi tak kunjung keluar jua. mengalun menidurkan rerumputan. Kami panggil namanya. Kami kirim utusan kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. tak pernah muncul kembali. Begitulah berkali-kali. Kami bakar masjid itu. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. seperti daun yang melayang-layang itu. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. raib begitu saja. dan api melahap cepat. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. ya Allah.

kami lihat jejak cahaya. kami melihat buruan abadi kami. Maka kami pun kembali bangkit. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. roket terus berlesatan. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. agar kami mampu meringkus Jibril. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. melanjutkan pemburuan abadi kami. perangkap telah kami pasang. Ke mana pun Jibril melesat. Inilah buruan kami yang abadi. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Dan memang. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini.“Kejar!” Kami pun melesat. kami memburunya. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. mengejar Jibril. dan langsung melesat. Karena kami harus terus mengejar Jibril. meraih peralatan berburu kami. ranjauranjau telah kami tanam. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Kami tak pernah tidur di satu tempat. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Tombak terus beterbangan. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati.*** 131 Yogyakarta. Segera menghambur. Kami tak sempat istirahat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Di seberang telaga sana. Bertahun-tahun kami memburu. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Januari 2000) . Kami tak mau kehilangan jejak.

sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. di jalanan yang sempit itu. anak-anak bermain gundu. Tapi semua orang seperti sudah maklum. sehingga menjadi Gank. Dan apabila ada mobil lewat. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. dan lain sebagainya. Belakangan. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Namun. 4 . Di sana. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. seperti Taman Mini. untuk cepat dan mudahnya. apa pun namanya. Monas. Hotel Indonesia. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. dapat menduganya. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. main congklak. main galasin. disingkat saja menjadi Gang Jalil. beca terutama. atau melompat-lompat main engklek. Tak tahu siapa yang mengubahnya.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Dunia Fantasi Ancol. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. oleh tukang. main layangan. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Sebuah gang sempit yang tak berarti. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. Seakan. anak-anak menyibak ke tepi. Kadang-kadang. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. Apalah arti sebuah nama. setelah mobil berlalu. berkejaran. main bola kaki. main petak-umpet.

“Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. dosen. pedagang kaki lima. rumah-rumah. 7 Jika lagi kehabisan.Rata-rata. satpam. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. pegawai negeri biasa saja.” begitu kami selalu menjelaskan. kenek. Dan tanya lagi. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.” “Lebih pantas lagi. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. penjual nasi Padang dan Tegal. tukang cukur. kami pun sederhana. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. “Pantas!” jawab mereka. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. guru sekolah. ngurus hal orang lain. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. dan tanya lagi. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. bidan. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel.” kata mereka. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. Kok.” “Bagian apa?” “Tau. pelayan toko. tukang listrik. makelar. menjabat bagian basah. perawat dan lain sebagainya. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. tukang kayu. sopir. montir. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . Tak tahulah. pegawai negeri dan swasta.

mengantar kantuk. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. Buunakum. Tuunakum. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Ainakum. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Biasanya. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. teriakan anak-anak bermain. Baunakum. Taanakum. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. atau listrik yang korsleting. melayang jauh dihantar angin siang.mesin jahit. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. kalau ibumu menggoreng ikan asin. Tiinakum. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. Yang ini. lebih terkenal: gaple. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. soal anak-anak. Tsainakum. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. Pada malam minggu. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Dan lepas tengah hari. teriakan penjaja sayuran dan makanan. ke sepanjang gang.. Tsiinakum. 11 Lepas Isya dan makan malam. Tsuunakum .. tak bisa dirahasiakan. Taunakum. Yang paling cepat ketahuan.. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Anehnya. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. sungguh menitikkan air liur. Tainakum. Tsaanakum. Tak tahulah. Iinakum. Tsaunakum. Bainakum. Baanakum. di luar pekarangan rumah. mengasyikkan. Aunakum.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Atau juga. Biinakum. 12 . Uunakum. 8 Sesekali. yang berantem. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. boleh dikata selalu ada permainan domino.

menyanyi dan main gitar. 14 Sekali-sekali. ayah-ayah kami pada mengantuk. Usia kami tak jauh beda. kami saling menjaga. saling menenggang. kalau main gaple semalam suntuk. Heran. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. persis pengamen jalanan. sebagai basa-basi. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. Kami menyebutnya ‘markas’. pop sampai keroncong. Atau disusul adiknya disuruh pulang. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. semua membuka matanya lebar-lebar.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. Najib. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. Kami yang muda-muda. setengah melucu. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. 15 Bagiku. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. kami sering berantem. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. tapi tak kena: sumbang. agaknya dangdut dan pop itulah. Di tengah pengajian sedang berlangsung. tak sampai larut. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. sedikit kaget dan lantas tertawa. sekali sebulan pada petang Jumat. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. dan yang lain segera menyorakinya. Martin. 16 . ikut hadir. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. Sekarang tidak. Semua jenis lagu kami senang. Menurut Ustadz Malik. hampir sebaya. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. mulai dari dangdut. Dulu ketika masih kecil. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya.

Di situlah ia bercokol. Akan hasil perburuannya itu. bukan cerita silat lagi. seakan ia jauh dari kita. biaya kuliah terlalu tinggi. apakah dia masih bisa berbisik. Kami tak tahu pasti. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Dan sekarang. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Kalau ia bicara. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. bacaannya bukan komik lagi. di luar jangkauan. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. jalannya. deh. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya.Hamzah gitaris andalan kami. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung.” tambah yang lain. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. berat. maunya. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Najib anak Ustadz Malik. ekspresi wajah dan lain sebagainya. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. ni yee?!” ejek anak-anak. “Inggris. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Gayanya mirip-mirip Rendra. Selangit. Tak acuh. Gaya bicaranya. kalian tahu. ia tahu diri. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. deh! Bayangin. tak mungkin. Pokoknya. Tapi Hamzah tidak marah. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. Itu. gayanya overacting. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . “Maklum. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. cara tersenyum. Sejak jadi pemain teater. benar-benar ia putus sekolah. Masuk kantor keluar kantor. gerak tangan. guru ngaji di gang kami. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain.

kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Ketika hal itu disampaikan. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. bingung. menguji keimanannya.” pesan ayahnya. tak alang kepalang. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Yang ia tahu. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. tentu kau sudah dapat menebak. berang.tahu jalan ceritanya. seperti musang. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. tak membantah sepatah pun. 137 19 Sebaliknya. dan tak ada tempo. Jelas Najib berbohong. Agaknya ia kalah. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. rumah minum. Apakah ia suka atau tidak. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Tony bungkem. Najib mulai bekerja di sana. tapi dilakoninya terus. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. siapa sangka. ke Pesantren Bangil. Beberapa hari kemudian. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. heran. anak pegawai pajak yang gedongan itu. Pengasih dan Penyayang. Lingkungannya tak memungkinkan. Kaget. kami. Najib merasa sangat terhimpit. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Bekerja di bar itu dosa. kerja. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. merunduk terus. Tony memintaku. dan semua orang di gang. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. bukan main kagetnya sang papa. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Nah. setelah Najib ditest. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Sampai kapan? Dan kami. Artinya. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. bagaikan disambar petir di siang bolong. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. pimpinan pesantren itu. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. “Jangan lupa shalat. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. dan di mana mau shalat. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. . Siang hari ia tidur. Pokoknya. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Sebenarnya. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya.

anak-anak perempuanmu. Ma. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. Papa memang selalu begitu.. apa pun namanya. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. Ikut pengajian gelap. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). hampir menangis. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . masak papa tega menuduh saya subversif. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Kau lihatlah si Aisah... “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. Saya hanya bisa berdoa.. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . pengajian yang disusupi faham komunis. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Dunia. Aisah yang satu ini. bukan?” “Tidak sekarang. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah.. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. Dan kesan pertama kita melihatnya. nampak kesal. kulihat air matanya menggenang. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Tapi. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . pimpinan Imam Hassan Al-Banna. tak lain tak bukan. Dan katanya: “Coba fikir.” jawabnya pasti. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. pada hari ketiga. menurut Ustadz Malik. Coba. Ya. agar semua kami ditangkap.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. Nah.. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. dari ibu Tony. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. menjadi anak durhaka. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. papanya jatuh sakit. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. istri-istri orang mu'min. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. kesenangan . dunia dan kesenangan melulu... Allah. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Tapi Tony tak mau. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. tapi miskin rohani.. Dalam batin. pengajian subversif. hanya mencari kesenangan dunia….” Aku mencoba melunakkan hatinya. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. martabat.. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Ada lagi. Jelas ini fitnah! . Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. teman kami juga.” Pakaian yang menutup aurat. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. Kini. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. itu kata lain dari pada kerudung).

siapa yang mau saja. Dan sejak itu. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku.. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. perancang busana. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. maaf. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.” kataku pula. agar mereka tidak diganggu. Rezeki di tangan Allah.seluruh tubuh mereka. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Namun ia tetap dianggap melanggar. Aisah boleh bermantap-mantap. ekstrim itu. Yang kutahu Aisah tetap tegar. midi. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. Sebenarnya. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Garagara pakaian jilbab itulah. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. dan dosa yang dilakukan orang itu. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. Kayaknya semua pakaian rok. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. “Itu namanya. barangkali. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . “Itu waktu saya masih jahiliyah. Oleh kepala sekolah.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. lisan dan tulisan. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya.” jawabnya. di mana saja. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Aisah.” katanya. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah.” Mantap sekali ia. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. “Menyuruh orang membuka aurat. apalagi mini. masih ada beberapa ayat dan hadis. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya.a. blus yang dulu.” “Kau ini aneh. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. Tapi Aisah tak acuh saja. fikirku. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. baik yang maxi. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. menjulukinya dengan “pakaian ninja”.. ia berdosa dan aku pun berdosa. misalnya pada An Nur ayat 31. kapan saja.. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya).” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. sejak Aisah menjadi eskrim. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan.

segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung.!” tambah kami lagi. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. dasar anak-anak.. suka menggoda. suka becanda. tak pernah luput ia jadi godaan. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. Mengembangkan kedua tangannya. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut.” . tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya.!” teriak anak-anak serempak. kalau mau ditertibkan juga.. plok plok plok plok plok plok plok.. pengamalannya kita jegal. belum merasa puas. 140 22 Di mana pun. Kita curiga dengan berbagai prasangka. senang sekali. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. aduh manisnya).. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan.. ‘kali. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi.. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. Begitu ia lewat.. mengangkat bahu. ya (senyum... “PKIiiiiiiii. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. plok plok plok. yang terlibat narkotik itu. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. yang merokok itu. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. yang mabuk-mabukan itu.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah.. katanya sambil setengah berbisik. Dan bertepuk tangan serempak. dong.” celetuk kami.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah...” Lagi-lagi kami keplok.. ini enggak ge-er. Rupanya Aisah belum selesai. ‘kali. membenarkan.

” “Sorangan wae?” “Mari.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. Aku berhasil.” Anak-anak pada sorak kegirangan. alimnya. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. gue anterin.. buru-buru aku keluar. “Ucapin salam dulu. Sekilas kudengar. mengitarinya seakan hendak memangsa. “Ada cowoknya. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Jalan terus. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan.. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. “Waduh.” “O ya lupa. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.” 141 . dalam hati masingmasing kami. Namun Aisah diam saja. dong. Mereka menyingkir secara teratur.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. berkata: “Alangkah manisnya anak ini.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. “Wa'alaikum salam. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. Mungkin.” Dan macam-macam lagi. assalamu'alaikum. “Tidak. “Wah. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset.

Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. pemain film yang sedang in. Dan. ke restoran. geram. main engklek. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. melainkan kecantikannya yang membius itu. Bukankah salam itu doa. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Hamzah menaruh hati pada Maryam. Cuekin aja!” “Dosa lho. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. yang artinya selamat dan sejahteralah anda.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. demikian menurut Hamzah. Maka sejak itu.” kataku. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya.“Kurang ajar. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. ya ampun. 142 24 Lain Aisah. Bukan pada nyanyian. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. ampun. pemain tenis yang lagi ngetop. . dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton... dan macam-macam acara lain. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. anak teater yang lagi ngepop. “Tapi. Yang tercantik di gang kami. kami tak merasa heran. Sejak itu ia dikenal secara luas. tiba-tiba seperti disunglap.. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. main loncat karet.. Kukira.. salam tak dijawab. Di lain waktu. lain pula Maryam.” “Ya. Semua orang kagum padanya.

berani-berani takut. Kali ini tampak serius dengan muka murung. mungkin anak-anak lain tidak. aku tak tahu. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. yang tak mungkin dapat diraih kembali. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. yang ber-Baby Benz itu. Maryam seorang anak yang baik. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. seorang anak yang patuh. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Untuk itu ia siap berkorban. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. berfilsafat. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. 26 Suatu hari. . Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. “Tidak!” jawabnya tegas. Aku terperangah.” kata Hamzah pula. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Dan terlebih dari semua itu. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. 29 Akhir-akhir ini.

Tiba-tiba aku merasa teramat sepi.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Ramainya masih seperti biasa. aku selalu lewat di depan ‘markas’.*** (Dimuat dalam Horison. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Tony Handoko. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Martin dan Hamzah. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. terpencil. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. Batinnya tertekan. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Namun ia tak bisa berbuat lain. Agustus 1990) . jauh dari keramaian kota. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. apakah kau tak merasa malu. Nun jauh di desa Bangil. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib.

“Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Ini karena ulah jam itu. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. . Jika ditaruh di ruang tamu. Kuingat sekali.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. “Juga mantan pacarmu. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Ina. maka terdengarlah sebuah nyanyi. Walaupun akhirnya mengesalkan. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri.” “Ingat enggak. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi.” kataku. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Sam.” katanya. Istriku menjadi perempuan yang bawel. “Betul. Mereka harus diberitahu. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. kelak tamuku akan cepat pulang. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. Kami ketawa bersama. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Sore itu.” kataku. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. Bila loncengnya berbunyi. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. bahwa mantan pacar istriku adalah aku.

Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Saat itu adalah pukul 00. istriku bilang. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Ketika kami lewati beberapa toko. Makin larut perkawinan kami. Sebagaimana biasa. remasanku lebih kuat lagi.00 pada hari 10 November. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. kurang sedikit. Di toko saya cuma tinggal satu ini. Setelah dua tiga toko kami masuki. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. “Tanyakan harganya. “Kita menemukan pilihan jam antik. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. aku meremas jari tangan istriku.” Memang begitu. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. Sam.” kataku. "Merk ini nomor satu. Sam. Dari masa berpacaran dulu.” “Ya kurangilah separohnya.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu.” ujar istriku.” ujar istriku. dan ini juga satu-satunya. aku dan istriku berpelukan. Ke- 146 . Ketika pada seperempat jam. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. dia menyanyikan satu bait saja. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. aku menggenapi kekurangan itu. Aku dan istriku saling menatap. ketika uang dihitung. “Merknya Junghun. Ketika setiba di rumah. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. “Ini benar-benar abadi. kami menganut aliran navy-navy. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami.” kata istriku.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Lalu. aku tak tahu dan tak perlu tahu. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir.” ujar sang pemilik toko.

” Tetapi. Yang ada di sini adalah aku.” katanya. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. ”Si Aimah. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. sama pula di perguruan tinggi. Peraturan kantor memang. dan pada waktu satu jam. ajaib sekali.” kata istriku lagi.” “Sudah gaek masih gombal. dan sama pula selesainya. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku.” kataku. “Ya. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. Ketika pertengkaran itu terjadi. Pernah juga istriku bertanya. Biasanya kalau jam itu mati.” kata istriku. Padahal dia amat mencintaimu. “Kalau aku bicara soal si Aimah. tiga bait.” ucapnya. “Kita tak perlu bertengkar lagi. dan terutama karena adanya kamu. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. aku bisa memperbaikinya. dia menyanyikan dua bait. kamu dan jam dengan loncengnya itu. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini.tika setengah jam. Sam. aku dan Ina sudah berpelukan.“ sambungnya. Sam?” kata istriku. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. empat bait komplit. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. kamu suka membisu. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Ketika tiba tiga perempat jam. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . lonceng jam menyanyikan lagu itu. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. “Kalau kamu kawin sama Aimah. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu.” Aku memilih diam. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. “Aku tahu. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. Orang yang sama sekelas di SMA.

sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman.” Aku mencari ahli jam. aku pergi ke Jatinegara.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. ada orang Arab di Tanah Abang. Dia marah. namanya Mahboub Assegaf. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. orang di rumah itu mengatakan. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00." 148 . Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Kita beli yang baru. Dan aku gigih terus memperbaikinya.” Aku mengalah. diam kamu. Kamu makin tua makin cerewet. Dia katakan.” “Sudahlah.00 tengah malam 10 November. Bahkan mencak-mencak. Pukul 12 bunyinya 6 kali. Jangan. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat.” “Sudah. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. “Itu logis saja. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. jam ini berbunyi 36 kali. "Jam ini penuh kenangan. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Kita jual saja jam Junghun ini. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. ada dijual di sini.” “Kamu makin tua makin tolol. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu.” “Aku mau keluar. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. ahli pembetulan jam dan piano. Keringat membasahi bajunya.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu.” kataku.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Aku kan tidak bilang kamu tolol. Istriku mendehem.” kataku. Bahkan ngawur. Jangan jadi nenek sihir lagi. Anak muda itu bekerja keras. Ina. “Tenang dulu. Sam. Istriku senyum mencemoohinya. Ina. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Sam. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. Ina. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik.” kataku pada Ina. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya.

” kata istriku. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Ya. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. saat itu istriku tidak mendengarnya. Tengah malam pukul 00. “Sabar. dan tak 'kan pernah mendengarnya. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk.“Cukup. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Memang dia gila. Nak. Katanya. jam gila itu berbunyi 120 kali. Kita jangan panik. Ina.” kataku yakin. September 1999) . Sayang.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Ini menambah semangatku. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Ia menderita tekanan darah tinggi. Aku akan coba perbaiki sendiri. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri.

Suatu kali. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Nak. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Aryo Jipang. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. . Joko Tingkir. Dan dia begitu tertegun. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Damarwulan. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Sutawijoyo. Ken Arok. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Ki Pemanahan.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. “Di negeri leluhur kita.

itu lebih penting. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. karena cintanya pada kita semua. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Kau hanya harus terima utuh. “Nah. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea.” protesnya. apa kataku. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Rio. Rio. waktu itu kau masih dalam kandungan. 151 . bapak merasa tidak punya tempat dan hak.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini.” potongnya. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Salah satu di antaranya. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya.” “Tapi namaku bukan Rio. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak.” “Tapi itu hidupku sendiri.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. “Bagus.

“Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. orang-orang Kanak. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. tapi daerah Perancis Selatan. Tapi tak bisa di sini. “Kau sudah gila. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Kapal itu bernama Dewa Ruci.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. orang-orang Perancis. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. dan dirinya begitu berbeda.

Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. begitu berat. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Jatmiko memang masih hidup.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Rio. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Sadarlah.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. 153 . Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Rio. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Kakek. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Dengarkan kami baik-baik. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam.

Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. “I have a surprise for both of you too. kakek dan nenekku.” Ya Allah ya Rabbi. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. 154 . Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. “Untung tidak ke Southern Cross. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. John. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. dia dan istrinya menuju ke Australia. Tak ada angin. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. “Wah.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Ini Rio dan Handayani. Sebelum mereka pergi. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. itu hotel yang mewah. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Rio. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. Tapi kenalkan dulu.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Tanpa memberi khabar pada Dewi.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Mungkin karena ada John. “What a lovely surprise.“Jangan tergesa-gesa marah. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang.

Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom.“Ya.” ucap Dewi sebelum pergi. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. “Ya.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. “Lebih baik kau mandi dulu. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. “Mandi yang bersih. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street.” kata istrinya sambil menghampirinya. kita bisa ke Grill Room di basement. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. Air sudah kusiapkan semua. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. “Rio. pintu masuknya dari Little Collins. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. “Dewi yang baru saja telpon. Dia tersenyum sendiri.” 155 . Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. Rio. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. ke restauran Vietnam. Rio. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. bahkan seperti bangga sekali.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. “Beri aku pakaian yang bersih. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama.

Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. Rio.. “Aku mau pesan minuman.” potong istrinya. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya.” “Kau tahu. “Dewi! Dia.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. Kalau aku tahu mereka. itu.. Aku tak mau bicara. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. Rio. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. 156 . ya dia hamil. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. dia. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Rio. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. Rio.” “O. Rio. Tapi soal Dewi. “Jangan kau anggap aku melawanmu. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. kau mau juga?” tanya istrinya.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya.. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu.

” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Maret 1990) . apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya. “Rio. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi.*** 157 (Dimuat dalam Horison. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. “Shall I open the bottle now.

bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. Kami menggebu begitu laju. Kami. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. Kuda-kuda kami menggebu. melesat dan menggebu. gelap. Para pembawa panji. . Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Namun sekarang. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. berderap melaju menuju cakrawala.000 pasukan berkuda. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. cuma inilah yang bisa kami lakukan. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. Semuanya terbungkus. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. mendesing menuju kebebasan. bendera. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. dan penuh dengan rintangan. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. berpacu melawan angin.000 pasukan berkuda. 10. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. akhirnya keluar dari hutan itu. begitu juga tangan kami yang memegang kendali.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. 10.

menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. namun kami selalu berangkat kembali. Telinga kami semua penuh dengan desau. kami mendaki celah-celah gunung. dan segera lenyap di balik kaki langit. berpacu dan berpacu. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. selalu bertualang. bagai berpacu dengan angin. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Cahaya matahari menyiram padang. berpacu. kami mengarungi gurun pasir. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Kami selalu bepergian. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. dan peredaran bintang. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. perjalanan kami masih jauh lagi. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Kami menyeberangi sungai. Matahari terasa betapa berat. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. tapi kami tidak juga ingin berhenti. dan berpacu.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Kami berpacu. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. selalu berpindah. dua. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. bahkan bisa lima tahun. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Langit hanya biru. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Tanpa kuda. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Kami tahu. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. perjalanan angin. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Kuda-kuda kami masih terus berderap.

000 orang dari kami berkemah. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. Di setiap danau itu setiap 1. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. 160 . Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu." Kami selalu membutuhkan cerita. Ia meniup seruling di atas tebing.000 saudara-saudara kami. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. Kami memuja rembulan dan matahari. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Kami. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. 10. Langit masih membara. dari lembah ke lembah. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Apakah rembulan bisa memahami. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. dari bukit ke bukit.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Kami menyembah langit. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam.penjuru bumi. dan mendengarkan seseorang bercerita. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. dan kuda. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun.000 pasukan berkuda. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. seolah-olah berhadapan dengan rembulan .. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu.. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. seruling. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. kami harus memburunya ke balik cakrawala.. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. Namun. kami menyembah bumi. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu.

Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku.000 pasukan berkuda. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. akan membutuhkan tendatenda itu. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Kemudian. Apabila 100. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. tiada yang mendengkur sama sekali. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. Kemudian. Sesekali tertutup awan.000 saudara-saudara kami tiba. Bertengger di atas sana. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. anak-anak. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. makin lama makin menghilang. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. Gemeretak api unggun segera berakhir. Kami pasrah. dan orang tua. 10. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. Tinggal bara api menyala diam-diam. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . tertidur dengan pulas. Kami. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. peniup seruling itu masih di sana. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami.

Angin begitu dingin. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Dengan segera. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. dan umbul-umbul yang sama. kami menggebu menyambut 100. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. siap menempuh perjalanan untuk mati. gajah dan unta. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. langsung melompat ke atas kuda kami.Kami semua segera melompat ke atas kuda. bergetar-getar dalam tiupan angin. menari di atas perahu. kereta. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Tak kurang dari 100. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. dengan gerobak. penuh dengan debu. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. kami baru akan mengetahuinya nanti. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. seperti yang sudah-sudah. Kemudian kami melihat panji. pemandangan yang kami nantikan. bendera. kami berlari-lari turun dari bukit. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. Berkibar dengan megah. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah.000 orang lagi. berderap dan berpacu. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Hari sudah menjelang senja. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Kami semua turun dari kuda.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. memetik kecapi di puncak bukit. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu.

Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. dan kami menguburkannya di tengah jalan.000 orang itu datang pada musim dingin. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun.000 orang. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami.000 orang. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. dan kini begitu kurus. begitu mengerti. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. Saudara-saudara kami yang 100. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. Betapa mereka begitu tabah. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal.rembulan dan matahari. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. Langit memberkati kami. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. begitu juga unta dan kudakuda kami. Semua orang tampak tak terurus. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. 163 .000 orang dari pasukan berkuda kami. Kami begitu siap untuk bahagia.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. Mereka begitu jinak. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar.

Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi.000 orang. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. Begitulah kami berjalan. merayap di jurang yang curam. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. berjalan. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. namun rerumputan menjadi lebih hijau. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. Mereka yang mati . Ketika tiba musim panas. orang sakit dalam tanduan. Kami berangkat pada pagi subuh. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami.000 anak manusia terus-menerus melangkah. Kami. Pada musim semi danau masih membeku. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. mendaki gunung-gunung batu. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. menempuh ngarai. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. dan berjalan mengarungi gurun. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Mata mereka mengatakannya. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Bulan masih menggantung di langit. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. 110.000 orang. 110. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. dan menyeberangi sungai.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. sementara yang lain meneruskan perjalanan. 110. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya.000 orang. lemah. tapi kami rombongan 110. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. 110. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. khusyuk dan meyakinkan. Mereka yang telah menjadi tua. Gajahgajah ini berbadan besar. kami semua. Kami semua. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Kami. menembus badai. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. dengan bayi di gendongan. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan.

dunia yang kami impikan dari abad ke abad. Dari hari ke hari. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. dari dongeng ke dongeng. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu.000 anak manusia. Itulah dunia yang kami rindukan. 165 *** .000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. Kami melangkah. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Kami. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Langit merah di kaki langit. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. terus-menerus berjalan. menapak pelan. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. 110. Namun kami tahu. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan.

mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. sepatu. kulit 166 . memang. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. mengambang. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. Dari balik kabut itu.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Gajah-gajah. unta-unta. Tiada mega di langit -. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. hanya tegak di atas lutut kami. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. panji. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. Tiada suara yang menggelegar. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. dan kuda-kuda. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. memang.Kemudian. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. Langit ungu muda. segala-galanya memutih. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. dan pergi. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. Padang rumput memutih.

109. dalam penyucian cahaya berkilatan. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Begitulah rombongan kami.999 anak cahaya. melihat-lihat pemandangan. semakin aku terikat kepada kenangan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. Tinggal aku sendirian. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. dari barat sampai ke timur. kuda-kuda berpacu. kemah-kemah awan. Tiada lagi angin bertiup. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. tiada lagi debu mengepul. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. 110. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. gua pelangi yang menyilaukan. dengan atau tanpa badan. dari cahaya ke cahaya. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Semakin jauh aku berjalan. menaiki kuda putih di atas awan.*** . Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Begitulah kami semua. Dari kelam ke kelam. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. Sudah begitu jauh aku berjalan. Apakah aku harus berhenti. kelak-kelok labirin yang memusingkan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian.dan rambut kami. bayi menangis. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. dengan segala derita dan pengabdian. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. tujuh matahari. Kulihat 109.000 anak manusia. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. dari selatan sampai ke utara.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan.

Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Jakarta.Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 .

mengikuti goresan kaki langit. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Subarkah.” gumamnya. yang kali ini tertinggal di Osaka. Michiko. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. sahabat besannya. ke sana lagi! Lihat dari sana. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. “Tetapi . mengikuti anjuran Pak Marta. tidak ikut terbang ke Jakarta. Negeri ini indah sekali..” (Bagus.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak.. senang. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. dari tepian yang lebih jauh. ini bukan tanah saya. Di sebuah onggokan ia berhenti. lalu menatap ke kejauhan. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai.. lalu menarik senyum sendirian.. kepada penduduk di kampung itu. Bukan tanah saya. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Sungguh. senang. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. tetapi . Nikmat benar dirasakannya menerawang. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . Gembira sekali.” kata Okayama. “Aaahh. “Tempat ini bagus sekali. sambil mengibas-ngibaskan tangannya.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. Ini tanah Subarkah dan Michiko. Ia merasa benar-benar gembira. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. beberapa kali. membicarakannya. bagusu-neh.

adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Hahahaha. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. Michiko. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. Dan ia gembira. diikuti oleh Okayama-san. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. sudah menolong anak-anak saya. bisa hidup di sini. Apa pohon kaki (kesemek.” jawab Pak Marta. Sekarang. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. sangat gembira. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. di dalam surat-surat jual belinya. Kalau terlaksana. Juga Subarkah. bahwa tanah itu bukan miliknya. pisang lumut. pohon kesemek. Nyonya Subarkah. “Semua tanaman bisa hidup di sini. dengan kebunnya yang bagus. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. kini merasa senang. Di Jepang. Ia merasa. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu.” Okayama pernah berpikir. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. sejuta Yen sejengkal. bahwa tanah itu milik Michiko. sebegitu yang diperlukan Michiko. Bagus sekali tanah ini. anaknya.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. ia memilikinya juga. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Lihat itu. di hari tuanya.yang ada di sana. bisa. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. Michiko. melainkan milik anaknya dan menantunya. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. karena mahalnya. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. bahwa Subarkah menetapkan. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. tanah itu atas nama istrinya. Asal diurus. Tanahnya.” Pak Marta tertawa. bisa tentu bisa. bukan meteran. pisang yang disukai Okayama-san. pisang raja. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. Lihat. tertawa lebar. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. Disebutnya di sini. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. pohon pisang. pisang ambon. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. Bakal jadi bagus. Bahwa Okayama-san. apalagi di seputar Tokyo. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah.

” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. Kebiasaan mereka pun baik-baik.” kata Kakutani dengan nada rendah. Hahaha! Dan. kamu bisa dapatkan seorang. Cantik-cantik.. saya akan kawin lagi.” cerita Okayama kepada Kakutani. hahaha. badak yang terkenal. Saya pun waktu lewat di sana. Itu sudah kebiasaan mereka. “Dan istimewa lagi. “Beneran. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. dan sebagainya dan sebagainya. bukan mimpi pagi. Tinggal tidak berjauhan. melihat binatang langka?” “Ya. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak.. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan.. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. dengan nada suara seperti berhasrat. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. Kesukaan kamu kan masuk hutan. atas nama siapa.. waktu datang di Osaka.potongan khas Jepang.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. karena ayah Subarkah masih ada. Cantik-cantik lho. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Mereka sama-sama duda. Dan terkenang sampai sekarang. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. Dan. “Tapi. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. besan Okayama. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. di mana letaknya Sidanglaut itu. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. ya. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia.” 171 . “dari tempat itu. “Dan bagusnya.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar.. akan mengambil wanita Indonesia. selain ada laut yang bagus. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--).. merasa jadi muda kembali.. pemandangan seputar itu. seperti sudah tidak punya harapan. “Kamu kan belum punya istri lagi. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia.

apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama.” kata Okayama. tidak ceritakan bahwa Nurseha. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. dan mau menerima kebiasaanku. “Sesudah kami nikah.Kakutani jadi berpikir beneran. Dan saya sepakati. “Secepatnya. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. bagus kalau begitu. Ia. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. pada mulanya. Cepat sekali prosesnya. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Yang dipentingkannya hari depannya.” jawab Kakutani-san. Tentu saja jadi. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. Dan benar murah.” kata Kakutani. “Bagus. “Jadi.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. “Ia berjanji.” Ia pun ingat. “Kalau sudah begitu. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. ”Dan soal tanah itu. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. begitu nama perempuan yang dibawanya. dan bisa membeli tanah yang luas. “Kami akan kawin. 172 . di samping tanah Michiko. Kalau istriku menyenangkan. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. Nampaknya agamanya kuat. dan sudah pergi ke Sindanglaut.” kata Kakutani kepada Okayama. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. Itu kan benar bagus. ditemukannya di sebuah panti pijat. *** Saatnya pun tiba.

Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Tentu yang ukurannya luas yah. segala di sana sudah terbuka. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. “Aku akan sering saja berada di sana. disaksikan oleh Okayama. Ia sudah menghitung. Di sana kan selalu ada matahari.” pikirnya. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. ia merasa senang. Kata orang di sana. Kanazawa-san. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. “Benar murah. Nurseha merasa pintar. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Apalagi sekarang. *** . tak dirasakannya jauh. Kakutani punya sahabat akrab. di tepi pantai yang lautnya biru. Pasti bisa. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. Apalagi di pagi hari. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. kita bisa tinggal di sana. “Bisa. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. pemborong bangunan. Tetapi yang pasti lagi. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. dan kamu merasa encok di sini. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. untuk usaha. tergerak juga hatinya. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu.” pikir Kakutani. Pantainya bagus. bagus sekali. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. Soal jarak Jepang .” kata Kakutani. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. bahwa nilai tanah akan cepat naik. Tidak lama setelah itu. Pasti ada cara-caranya. atau di sore menuju senja. kamu akan senang tinggal di sana.Indonesia. Kalau musim dingin di sini.*** Benar juga. cerah langitnya.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Lautnya bagus. Kanazawa-san. Percayalah. tapi sekarang sudah jadi istrinya. dan gelombangnya amat memikat. di sana segala bisa diatur.

Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. “Tak ada kesalahan saya. Tanah itu tidak nempel pada pantai.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. “Tidak jadi soal.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. bisa meyakinkan. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Ia merasa. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. tapi sudah tidak terurus. Garnida. dengan kebutuhannya. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Sah-sah saja. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san.” pikirnya. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. Yang kedua kali untuk istrinya. “Bapak ini.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Tanah yang menghalang-halangi itu. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. Ia tentu saja senang.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Ia mengetahui. Pak Kosasih. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. tersenyum lebar. seorang lagi yang lebih muda. Orang kita-kita juga. bisa menolong kita. ini orangnya yang bisa membantu kita. Dan akan dijual. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Tetapi. seorang yang lebih tua. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. terasa tak menentu. Ia pun yakin. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang.” pikirnya. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. “Ini. antara lahan ini dan laut. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Ramdan. Tetapi Kosasih. Tanah itu bekas perkebunan kecil. 174 . Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu.

sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. “Ini jadinya proyek pembangunan. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. asal benar bisa diatur begitu. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Masing-masing mengatur kepemilikannya. di kantor Kabupaten. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. malahan di kantor Gubernuran. 175 *** Selang beberapa waktu. Subarkah. Rumah tua sudah dibongkar. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Kosasih mendengarkan saja. Okayama-san. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Mereka tidak membuang waktu. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Sindanglaut mereka tuju. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. “Ya. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Ia tidak kepalang bergerak. meminta dukungan. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Ia menunggu kepastian. ada Tanaka-san. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya." kata Okayama. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut.Ia berpikir lagi. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Dengan duit. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. Rencana bangunan hotel sudah siap. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. karena bukan saja Okayama-san. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. lalu ke arah Okayama. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. tuan Kanazawa tertarik. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. pikirnya. Takahashi-san dan . masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. melainkan ada Saito-san. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. tak mengerti sepatah kata pun.

Nurseha adalah istri Kakutani. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. . pikirnya. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir.” pikir mereka. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Mereka seperti sudah berpikir. sahabat kentalnya. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. Okahara-san sami mawon. Michiko adalah istri Subarkah. yang bisa membelinya dan membangunnya. Bukan saja hatinya terganggu. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. daerah kantong Jepang. Saito-san idem dito. lalu ia sebentar merenung. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. bahwa dunia ini untuk kita semua. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. istri. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. semua kedudukan pun bisa kita capai. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. untuk kita. “Siapa yang salah?” pikirnya. gamang. “Untuk siapa saja. Di hatinya ia merasa tertinggal. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. untuk semua penghuni bumi. sawah musiman dan kebun terlantar itu. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. tetapi ia sudah tua. keturunan mereka. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Untuk pihak yang pintar. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. Ya. karena rumahnya pun sudah tergusur. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. pikir mereka.

“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya.” Pak Marta cepat mengerti. saya belum lahir waktu itu. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. bersih. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya.” kata Garnida. orang tuanya. anak-anaknya. 177 .” kata Pak Marta. Di sini masih ada kursi. Hati kecilnya berbisik jujur. Kendaraannya. “Ya. Pak. ke ombak yang bergelombang.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Suara Ramdan terdengar melas sekali.. benar bagus. “Di sini lebih menguntungkan. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. ke kaki langit. ke lautan yang biru.” jawab Kosasih. “Tempat ini bagus. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. Ia merasa berjasa. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. tapi saya menolak.” Ia setengah membusungkan dada. Sementara itu Kosasih datang. Pakaiannya serba baru dan mencolok. Pak Marta. Pak. Daerah ini mesti dibangun.. Tetapi. bangkit dan duduk di kursi. mertua-mertuanya. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. “Bapak bekerja di Kecamatan.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. Ia ingat. yah. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Kelanjutannya jadi amat serius. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. ke langit yang bersih. Ramdan. Ia gundah. Pak. Ia seperti menelannya. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. orang tua itu. “Alhamdulillah.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Mukanya pun nampak licin. terjepit antara sesal dan senang. Bapak.. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. permulaannya amat sederhana. kamu sudah punya motor segala sekarang. “Jangan jongkok terus begitu. Dengan ragu. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. terutama kepada istri-istrinya. “Wah. Ia menarik wajah gembira. menjawab: “Entahlah. “Duduklah di sini. “Pilihanku benar. kan?” kata Pak Marta.

hari ini. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu.“Maju yah. Pak Kosasih membujuk kami. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. September 1997) . mengikuti pihak yang menginginkan. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Dan yang tua serta yang muda. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. Ia bicara sesungguhnya. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. (Dimuat dalam Horison. Masing-masing dengan pikirannya sendiri.” “Ya. detik ini. Ia tidak menatap ke masa depan. saat ini. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. rumah orang tuanya.” kata Garnida. digusur. Pak. Pak.

tidak jauh dari pasar Jatingaleh. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Pada suatu ketika. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. seperempat. Karena dekat dengan Pak Lurah. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. dua perempuan.1 . mendirikan usaha penjualan kayu. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang.” “Jum’atan apa tidak dia. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Satu on.” Istrinya tidak menanggapi. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. semua keperluan MCK. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. paving. Dia pikir. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. Kini masing-masing mengelompok. setengah dan satu kilo-an.Horison. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Iwan adalah sulung dari empat anak. lebih dari tiga. Dua anak lelaki. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. karena anaknya lebih dari dua. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. ditata di rak warung. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. ubin. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Pak RT sanggup mencarikan.

adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. Pak RT masih mengurusi usahanya.” itulah jawaban Pak RT. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. Dengan begitu. “Aku tidak punya waktu. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. Katanya. usia Iwan 16 tahun. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. Ketika rumah di samping dijual. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. semuanya berubah bagi Iwan. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Rumah berganti ubin. Dia baru lulus SLTP. Tubuh Iwan kurus kering. Pak RT langsung membelinya. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. nyaris menjadi anak jalanan.orang tua lain. menjadi bangsal aula cukup besar. Bapak-bapak. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Semua nampak bahagia. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. Bagian depan. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang.Ketika ayahnya menjadi RT. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. sehingga terang memantulkan cahaya hari. PKK. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. Dia bikin sebuah ruangan polos. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. “Ini untuk pertemuan-pertemuan.” 180 . Di situ tikar digelar. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Kini lantainya keramik putih berkilau. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Dia merasa hidup lebih leluasa. Adiknya yang terkecil delapan tahun. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Dia bebas.” Iwan hidup di luar. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. muda-mudi rapat di sini. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera.

Beri aku modal. Iwan sengaja memperlihatkan diri. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. Di lain waktu. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Dan karena rezeki berlimpahan. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. minta gula dan kopinya saja sedikit. Selalu ada yang lewat. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. bukan?” 181 . Bisa dibayar dua kali.” Ibunya Iwan baik hati. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Untuk toko. ayah dan dua adiknya. meterai. Di mana-mana orang memerlukan kayu. Yang terkumpul adalah ibu.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. Sekarang anak-anak sudah besar. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. ada tetangga yang berani berkata. Mereka pulang bersama. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. “Bikinkan aku warung. "Tidak usah baru. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga.” Dan kalau itu sudah diberikan. selain buat keperluan toko. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. obat-obatan. Dia minta dibelikan kendaraan. Asal masih bagus jalannya. adik atau saudaranya ipar. batu atau pasir. Sedangkan yang pertama. Kemudian. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Kecil-kecilan saja. siapa saja yang berasal dari desa sama. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Orang terus membangun. Aku ingin mencari uang sendiri. “Kalau boleh. bahkan perangko. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. tiba-tiba. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya.” suara Pak RT tidak bertanya. Sekarang. Pak. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. menawarkannya kepadanya. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. aku tidak perlu memngawasinya. Sama seperti suaminya. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Kemenakan. lalu singgah. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar.” Pak RT punya sebuah kijang. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. Pada suatu siang. Buat sekolah. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. Sambil makan. Mereka selalu kekurangan. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya.

aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. “Itu benar. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Stadion Jatidiri besar. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. sulung. Karena dalam keseharian. Mana yang sungguh ada. Herman-lah yang mengepalai... Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. Yang dia inginkan demikian. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. Anak-anak repot.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Lalu alur keseharian kembali seperti semula. pasti kita menang. di waktu malam. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. ruwet menjadi satu. tidak dimanja. terjadi kebut-kebutan. kena hujan. temannya yang paling menonjol.. Kadang-kadang. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi.. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi.”. Di sanalah. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Seusai sekolah.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara.. “Benar. Lebihlebih menyuruhnya belajar. “Kalau punya kendaraan sendiri. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. 182 . Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. “Di kelas.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk.” kata Iwan lagi. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. tinggal aku yang belum punya kendaraan. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. Iwan termakan oleh gosokan itu. Di mana ada kegiatan berkelompok. kita bisa cari uang. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. atau mana yang dia harap ada. berlanjut biasa. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.”. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Minta kendaraan saja.. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata.” kata kawan Iwan yang lain.. “Apa lagi ini nanti musim hujan. menjadi kernet omprengan.” begitu kata Herman.

Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu.” “Aku jajan bakso tadi. Herman akan mengembalikan. bersama tukang pompa ban. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai.000. Mak takut bicara kasar. Baru muncul hampir petang. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. anaknya bawa 183 . Tidak banyak. “Kuberikan kepada Herman. Malahan mungkin dengan bunga. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. meneruskan bicaranya. Paling-paling lima ribu. Mak lega. “Nanti kalau usahanya berjalan.” kata Iwan lagi.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. bahkan nyaris merayu si anak. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. “Mau belajar bersama teman-teman. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Mak tunggu anak sulung itu seharian. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. Apa lagi. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri.” Lalu Iwan terburu-buru. untuk apa uang itu. Hati Mak tenang.Hanya. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. kasihan tidak punya modal. Rambutnya masih basah dan belum disisir. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. Di sana tentu disuguhi makanan. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. dadanya kerempeng. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar.” Iwan menyahut. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. lalu akan mengenakan baju. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. di muka sekolah. Besok pagi langsung ke sekolah. “Ini sisanya. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. dua ratus ribu lebih sedikit. menutup kancing baju. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. Tapi tidak apa-apa. “Makan dulu! Kamu kurus. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. Mukamu pucat. karena si sulung sudah berlalu. Mak bertanya lembut. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Biasanya. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Dia mau buka usaha. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Mak”. Mak turut masuk kamar. Diberikan kepada Mak.” Mak menghitung.

Sekarang..uang. “Hari Senin masih masuk. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. menanggapi. tidak keluyuran. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. Sejak si sulung lulus SLTP. Mak berpikir. Mendengar itu. “Dia berangkat sekolah setiap pagi.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Iwan sendiri. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Katanya banyak tambahan pelajaran. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Seperti biasa. Jadi Mak juga meniru suaminya. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Maknya Iwan menjadi ragu. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. Mak yang berangkat. 184 . ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. “Dia pulang sore. kalau Iwan pulang makan. tapi Selasa. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. Seorang guru melihat ke buku catatan.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Rupanya. Ibunya Iwan.” kata kepala sekolah. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. Itu baik. Dengan suara terbata-bata. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. dia menganggapnya sudah besar. Juga hadir dua guru. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Kecuali Anda. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Herman sudah dua bulan tidak masuk. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. Khodir berkali-kali mangkir. bukan?” Mak kebingungan. katanya. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan.” istri Pak RT berkata membela anaknya. “Kami menerima uang tes. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. anak-anak mereka tidak naik kelas. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan.. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. mandi atau untuk keperluan lain. bisa jajan. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Kami kira. Mak senang.

Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. Para pelayan sudah terdidik. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. Kami minta maaf.” sahut seorang guru. Pak RT orang yang sibuk. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Padahal katanya. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Kaum muda lelaki dan perempuan. Begitu pula para pendatang. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. Dan selalu ada yang menjawab.” sahut Pak RT. selalu merepotkan ibu. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu.“Memang banyak ekstra kurikuler. Bu. “Anu 4.” seseorang menjelaskan. Kami 185 . pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja.” “Ya. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. serunya.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. juga selalu banyak makanan dan rokok. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Pak RT. Selain di situ suasana cerah. lalu mendongak ke arah dalam. sesuai pilihan masing-masing. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. Tanpa menunggu lama. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. saya juga dengar. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. “Tidak apa-apa. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. mengerti.

langsung menuju pintu yang terbuka.” sahut Pak RT. membantah. Ada tiga lelaki lain. Dia kelihatan sibuk. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. Yang penting Pak RT tidak makan lagi.” sahut suara lain. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Satu kali bertanya kepada tukang becak. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Yang lain-lain kabur!” “Ya. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Mereka makan dan berbicara. mereka santai menonton. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. “Betul! Betul! Kalau tidak. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. mengatakan gagasannya. Seorang di tengah-tengah halaman.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. “Selamat malam. menariknya menjauhi pintu. Atau paling lambat setengah sepuluh. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. satu pelaku sudah diringkus. “Bapak Rajiman?” “Ya. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.” “Yang saya dengar.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. Televisi di sudut ruang dinyalakan. mengenai itu juga saya dengar. Terdengar suara bebincang rendah. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. tiduran atau bersandar ke dinding. berbicara. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. bakso atau sate. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Serius atau santai. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Mereka ngelantur mengobrol.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. Pak RT bangkit dari tikar. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. saya sendiri. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Malam itu. seorang di pagar. 186 . Dua orang turun. menemui si pendatang. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu.

” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. saya harus pergi. . Tetapi nyatanya. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung.*** 187 1. Silakan Anda pulang. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. kakinya ditembak.. Bukan untuk berbicara. Supaya mereka hidup layak. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. Nama Iwan disebut-sebut. Sesaat berlalu.. Biar pintu ditutup. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. sudah mengenakan celana panjang. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. Belum ketahuan pasti jenis apa. bisa sekolah. Seorang tetangga duduk di sampingnya. Kamu dua pancuran. “Maaf. Teh kental 3. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni.” Lalu Pak RT muncul di pintu. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. 4. langsung menuju ke rumah induk. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. Dia memanggil-manggil.

Tidak. Tapi apa peduliku. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Ayah berkata. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Aku menatap matahari. Lihatlah. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Aku memandang khalayak. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. “tapi sudah hilang sendiri!” . Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400.000 jiwa itu. Ganjilnya. “Di sini. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Siapa tahu. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku.Horison. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. Gelap. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. silau juga. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Silau.” bilang ayah. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit.

Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja.“ kata dokter.Ayah malah mencoba tertawa. Tapi makin lama makin sering. Ya. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Kami benar-benar kalang kabut. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. sehingga membuatnya capek. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. makin sering saja. Yang tinggal hanya para tetangga.” cemooh ayah tertawa. Baru saja sekali enam hari. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. kapan saja di mana saja. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. “Jangan. Maka hidup ayah jadi aneh. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Sebab seperti semacam misteri. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. perlu diobati atau tidak. apalagi mengobatinya. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Namun jika serangan penyakitnya datang. juga tanpa hasil apa pun.” kataku. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. seolah ia sudah sembuh. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. 189 . “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Makin cekung dan sepi. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk.

ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur.Sudah larut dinihari. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. “Ampun. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Ia tersenyum. Konon ia teman ayahku dulu. mati!” Maka ayahku menangis. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. si kakek itu lagi. Nah. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. bahkan ilmuilmu hitam. Segala cara kami lakukan untuk itu.” Aku menatapnya tak berdaya. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Nak!” suara si kakek lagi. pemimpin masyarakat yang modern. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Adik-adik sudah pada tidur. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. “Saya bisa membantumu. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. Yah. Ayahku meraung lagi. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. 190 . Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. barangkali juga pingsan lagi. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. “Kamu kenal siapa ayahmu. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. “Harus kaulakukan sesuatu. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. punya mobil. Seperti digerogoti setan. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Muka cekung ayah sudah menghitam. Tak tahu aku. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian.

Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya.! Kini di bawah matahari. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku.. Aku sendiri. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana.. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. justru tidak sedih atas kematian ayahku. betapa terkutuk. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. hina dan memalukan. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. bahkan paling terkutuk. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. yah. kaupungut saja Si Hitam. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. seolah kulihat nyata_. Kalau aku tidak malu. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. apa pun artinya. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Maka jalan terbaik bagimu. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. akan terus memperkosa ayahku.“Sederhananya ilmu iblis. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. _tidak. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. benar-benar iblis. Sebab kubayangkan. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. anaknya. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . serta mulut komat-kamit begitu lemah. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini.

mushola. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. aku ingin mengusirnya. hotel. Semua cermin telah retak dan pecah. Aku memasuki wc-wc umum. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Di dalamnya. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. menjadi diri sendiri. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. candi. lidahku. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. maka kamu akan melihat diri sendiri. gereja. berekspresi. mulutku. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. bisa bergerak selain diperintah olehku. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. kakiku. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. Bila sudah mengetahuinya. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. menerjemahkan hati menjadi apa saja. aku pontang-panting mencari cermin. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk.Jakarta. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. Betapa sunyi keinginan ini. mataku. diskotik. Maka tanganku. Aku tidak bebas lagi bergerak. . Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan.

Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. batang. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. sampah. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. angin. api. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. kesunyiaan. Eh. Kesedihan. ketaksempurnaan.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Entah . kepedihan. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. Namaku memang tidak jelas. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Di tanah. temui saja aku di kebun bunga. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. jangan ragu-ragu untuk menyapa. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. daun. aku tak yakin. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. aku lupa dengan metamorfosa itu. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. kepapaan. air. ketakberdayaan. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. kabut. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. mengalir ke mana saja yang kumau. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Bila bertemu denganku. Di matanya. kesendirian. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Aku telah terbawa air. dsb. di mana saja.

Atau Pelabuhan Ratu.berapa lama aku pingsan.” Beberapa jenak aku tercenung. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. aku dan angin. orang beransel besar itu terbang. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. 194 . Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. Suara tangis terdengar di mana-mana. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Maka kami. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Sepanjang sejarah. “Apa perlunya nama. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara.” Aku memandang orang yang aneh itu. begitu lelah. Sungai-sungai mengalirkan air mata. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. bila seluruh peristiwa itu tercatat. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Pantai Panjang juga bisa. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Atau Pangandaran. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. “Ya. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Aku menyusulnya sambil berteriak. berapa milyar pembaca yang akan sakit. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. “Kuta. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Kami tidak bisa membayangkan. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Bertahun-tahun kami mengembara. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Tidak bisa terbayangkan.

Saat kulihat ke sekeliling. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. kamu bisa pergi ke mana saja. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. kita tidak bisa tidak pergi. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Atau aku pun adalah ulat? Ah.. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana.. Eh. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. Aku pingsan entah berapa lama..*** 195 .Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Aku berdiri dan pergi. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. Ingatlah. Dan begitu terbangun. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. Tapi aku tidak mengacuhkannya.

Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. cepat seperti jin. seperti kakekku. tinggi dan langsing sepertinya. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. Sungguh. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. Sebabnya. kecuali pada pagi hari. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. aku malah senang melakukannya. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. tidak heran. dan berlari untuk menyelam di sungai. dan aku juga mencintai sungai itu. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. saat untuk diam. Ketika ia tidak . Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. Mesjid. aku dulu mencintai mesjid. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar.Horison. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. sungai. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku.

” Memanfaatkan kakekku yang membisu. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. “Masood. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. kemudian. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. anakku. Masood. adalah lelaki yang doyan kawin. Posisinya berubah sekarang.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. “Ya. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. Aku berkata pada kakekku.” Ini jadi berita untukku. Lalu kuingat tiga istrinya. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya.” kata Masood.” Kakekku kemudian melanjutkan. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. penampilannya yang jorok. diwarisi olehnya dari ayahnya.memiliki kegiatan lain. ia berkata. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. akasia. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi.” aku berkata pada diriku sendiri. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak.” Aku berkata kepada kakek.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. sesudah menyentuh ujung hidungnya. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. anakku. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. memandangi luasnya ladang. “Perempuan. “Aku tidak peduli. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. Kakek tidak pernah tertawa. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. “Kami akan memanen kurma hari ini.

Walaupun begitu.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. yang kuhitung ada tiga puluh. anakku. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. Namun. lalu mengembalikannya. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. dan dua orang yang tak dikenal. merasakan kebahagiaan dan penderitaan.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. yang kemudian kukunyah. melompat di atas kakinya. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. “Pohon kurma. dengan cepat dan penuh tenaga. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Kakek memberiku segenggam penuh. Tiba-tiba kakek bangun. sementara aku tetap berdiri. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Namun. Di sana ada begitu banyak orang. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. Ia diikuti Hussein si pedagang. kecuali Hussein si pedagang. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. Kerumunan orang bubar. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. seperti manusia.

Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. Aku merasa mendekati Masood. Aku berlari ke kejauhan. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Larson dalam Under African Skies. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. dua orang asing itu membawa unta. 199 . Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Tentang desanya itu. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Mo-dern African Stories. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. Keluarganya adalah petani dan guru. aku sedikit ragu. Mendengar kakekku memanggilku. “Kita bicarakan itu nanti. tanpa tahu mengapa. Kemudian. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). Edinburg: Payback Press. Ia pernah menjadi guru di Sudan.” kata kakekku kepada Masood. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Salih mulai menulis tahun 1953. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R.lima. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Aku mempercepat langkahku. 1997. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. Untuk alasan yang tak kuketahui. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. dan kakek mengambil lima. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. kemudian melanjutkan perjalanan.

Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Namun. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. . seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Kupandangi pintu. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. Tak ada pistol di bawah bantalku.di dalam gelap. Aku tidak memiliki terali besi. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Kutentramkan diri. Kupasang telinga. Kupusatkan pendengaran. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Tahun lalu. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. mudah pecah seperti gelas anggur. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam.Horison.

Sukar untuk mengasuransikan rumah. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. Jika ada permukaan yang bergetar. lalu memaksa masuk. di dasar rumah ini. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. air bertetesan dari rekahannya. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. ucap sang suami. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. mencegah kemungkinan perampokan. di mana orang kulit hitam ditempatkan. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. Jadi. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. serta seorang tukang kebun yang rajin. tak ada yang perlu dicemaskan. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. tapi di luar kota. Oleh sebab itu. sang suami telah memasang pagar berlistrik. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. Kerusuhan memang terjadi. kisah dalam tidur. yaitu ibu sang suami. anjing peliharaan mereka diberi peneng. ucap sang suami pada istrinya. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. kolam renang. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. Membuka pintu pagar. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. Jangan mengomel saja. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. untuk menenangkan hati sang istri. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. Merelakan diri tidur kembali. kayu. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. mobil-mobil dilempari batu. di bawahku. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. dan perampokan. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. saking cintanya. di sana ada polisi dan tentara. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. semen. Namun. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". kerusakan akibat banjir. dalam perut bumi. Akupun bercerita pada diriku sendiri. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Nun jauh di bawah kamarku. juga karena bus-bus dibakar.

kamera. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Bunyinya dianggap biasa. serta memasang alarm. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. yaitu ibu sang suami. meraung dan menjerit. ucap sang istri. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. barang-barang berharga dan pakaian. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. Ikutilah nasihatnya. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Sang suami berkata. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. akibat menganggur. Sang istri berkata. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. betul katanya. mengecat atap. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. Sebagian lagi meminta sedekah. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. benar ucapan pembantu itu. ikuti nasehatnya. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. televisi. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. Bunyi alarm yang nyaring. bersipongang satu sama lain. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Benar katamu. lantas menerobos masuk. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. Tetapi. tape recorder. atau apa saja. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. radio. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. bahkan pada waktu subuh. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. Akhirnya. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. Seperti biasa. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka.

sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. di mana tempat sang suami. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. saya harap si kucing peka. jangan cemas sayang. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Pada suatu malam. Mereka benar. Sang suami berkata. kucing selalu melihat sebelum melompat. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Semakin terkait. menyilaukan. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). ucap sang suami. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. lalu berkata. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . berkilat. Sang istri terpesona memandangnya. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. dan selang beberapa minggu. Hubungi GIGI NAGA. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. Pada keesokan harinya. sang istri. Sang suami berkata. karena sejak hari itu. Di sepanjang tembok. Betul katamu. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. terbentang gulungan besi yang keras. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. tidak mungkin. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Sang istri berkata. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. Kilau itu akan hilang nanti. tak mengapa. Sang suami. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. Ketika sang suami. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan.panas yang indah. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. berkali-kali. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. Sebuah pilihan yang murah. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Keesokan harinya. kuat dan sederhana.

A Soldier's Embrace. kapak. Lalu tangannya. Si anak membawa tangga ke tembok. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. the W. antara lain: Booker Prize.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. Not dor Publication.H. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. entah apa sebabnya (mungkin kucing. dan the Scottish Arts Council Neil M. Jump and Other Stories. lahir di Transvaal. dan sebagainya. Smith Commmonwealth Literature Award. sang istri. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Selected Stories. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. dan tukang kebun yang menangis. Mereka -sang suami. Dalam pada itu. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Gunn Fellowship. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . 1923. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman.*** Nadine Gordimer. dan Something Out There. kepalanya. pemotong kawat. Friday's Footprint.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful