Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Syria pada tahun 1918. kini berhimpun di halaman sekolah. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Kami bersembahyang dua rakaat. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. Dalam tempo sejam. Tetapi. Dalam rakaat pertama. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. ini dibenarkan dalam Qur'an. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. dia membaca kesemua surah al-Nasr. yaitu aku sendiri. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Mohamed Weess. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. 5 . Naji. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. Sebaliknya. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id.

Rupanya keraguan dokter terbukti. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Pak Dokter!" teriaknya segera. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. Yang saya katakan benar. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Bu?" tanya dokter. Bu. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. "Gawat." lanjut dokter. Tenangkan diri. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. . Kalau tidak. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Saya ingin tanya. Dokter menghampiri. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Parasnya cantik. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Matanya berkaca-kaca. "Oh…. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Dokter segera memeriksa. "Tolong. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Takut dan gelisah. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Kemudian masuk pasien keenam. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Perempuan itu tersentak seketika. "Ada apa. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Tenang sedikit tersenyum. Keduanya duduk berhadapan. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. ''Ya. Kendalikan emosi.

Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. itu harus intens. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Dadanya sesak. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. toh akhirnya akan ketahuan juga.. jangan. Kepedihan. semua ini terserah Tuhan. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. ditatapnya dokter itu." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Dok. Dengan memelas. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya." "Oh…. Suami saya orang baik-baik.." "Suasana hening mencekam. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. "Tapi…. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Tentu masalah ini akan selesai." "Demi Tuhan. Lakukan saja tugasmu."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. kecemasan. Dok?" tanyanya. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Ah. Bahwa ia dalam bahaya besar. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. "Kurang lebih dua mingguan. 7 ." saran dokter." batin dokter. Dokter langsung bekerja. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Sudahlah. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter.

"Saya rasa cukup sampai di sini dulu." "Oh…kasihan sekali. Dok. Akan kuusahakan semampu saya. "Saya mengidap penyakit. Badannya tinggi tegap. Ketika perempuan itu beranjak keluar. Menjelang petang." jawab lelaki itu. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. "Sore. datang pasien berumur 30 tahunan." hibur dokter. tak perlu sedih. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja." katanya. Dok. Ini hanya formalitas belaka. Tentu. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. "Tak perlu takut. 8 *** Esoknya." "Menyesal?" . perempuan itu datang." jawabnya sembari menarik nafas. "Untuk apa?" tanyanya. Raut mukanya tampak cerdas dan berani." Lalu perempuan itu menghela nafas. pegawai DPU." sambut dokter. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. saya hanya seorang dokter. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. selesai." "Saya benar-benar menyesal."Tentu. "Selamat sore." ucapnya dengan hati yang terluka. Selain Jumat. Dok. Lelaki itu tertawa. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya.

hingga persoalan ini selesai. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. "Saya harus bagaimana. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu." Dokter menerawang. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Abbas merengek. dokter. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Giginya geregetan. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas." Abbas bingung. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Pergi. Dokter menyembunyikan wajahnya. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Dok. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Lantas bertanya. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. "Tenang saja. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya."Menyesal. "Dok." jawabnya lemah. *** 9 . Apa yang harus saya perbuat. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya." jelas Abbas. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. Saya benar-benar terjepit. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Usahakan ajak istri Saudara ke sini." kata dokter dalam hati. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Mendadak jiwanya bergejolak. Jangan sampai dia curiga. Mereka menyesali diri. "Saya usahakan. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang.

Impian untuk menimang anak. Saya bingung. "Semakin banyak saya menuntut.bagaimana lagi. Hati saya dongkol. Saya terus mendesaknya. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. "Singkatnya begini. Tapi saya bingung. tidak'. Perlu Dokter ketahui. Wajahnya pucat. Saudara tidak bisa meyakinkannya. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Kebingungan mendekap. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. 10 . "Oh…hidup di dunia memang susah. semakin keras istri saya menolak. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Pokoknya tidak." Dokter membungkukkan bahunya. bagaimana harus menjelaskan padanya. Sedih. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Dada saya sesak. Tatapan matanya layu. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Kemarin malam. Mana?" "Yah…. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. "Entahlah. kini telah hilang. Parahnya. saya harus menjalani masa sulit ini. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Dokter mengira sore ini. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Rasanya sakit dan ingin marah. Aku benci dokter. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Tapi ia tak melakukannya. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Saya coba memohon dengan baik-baik. Ya…. bagaimana saya harus meyakinkannya. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Usaha saya sia-sia. ia akan datang bersama Abbas. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu." Hati Abbas penuh teka-teki. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. Entah sampai kapan. Dok. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Lalu dengan hatihati. Lalu dengan ragu-ragu. kudekati istri saya. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Tiba-tiba istri saya gelisah. Abbas menggelangkan kepalanya. Tapi sayang. Abbas dirundung ketakutan." tutur Abbas.

permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Kepala saya panas. Bengis. Tubuhnya menggigil.Karena saking suntuknya. Matanya melotot. Perasaan tentram. tak mampu kuasai diri. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. 11 ." tambah Abbas. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Tuhan. Otak saya ragu. Raut mukanya berubah aneh. bimbinglah jalan hidupku. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Saya telah ingkar. saya berteriak keras. Istri saya menjerit: 'Ampun." lanjut Abbas. Dok? Saya hanya menduga. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. saya melangkah ke arahnya. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Dok. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. "Apa maksud semua ini. Tolong! Jangan sentuh aku. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Tubuhnya mengejang. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Aku telah bersumpah pada Tuhan. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Karenanya. Pengakuan dosa. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Dengan murka. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Saya bingung dibuatnya. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak.' Belum selesai saya bicara. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya.

Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Kami memandanginya dengan gamang. sebelum sampai ke telaga ini. Telah kami jelajahi seluruh hutan. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. rusa. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. badak. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. buruan kami tetap saja melenggang bebas. tetapi kali ini. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. sejak kami masih dalam kandungan. hanyut oleh pikiran kami. jumlah kami memang makin membesar. tupai dan tikus. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. mengantar tidur anak-anak kami. begitu tercium bau kami. ular. Kami seperti mengejar kilat. Telah kami sibak semua palung lautan. Cerita-cerita penaklukan. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. macan. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Maklumlah. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Membuat kami cemas. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Membuat kami begitu merasa terhina. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Barangkali. Sampai kelinci. telah lenyap kami tangkap. Sampai kemudian kami menyadari. nenek moyang dan anak cucu kami. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. serigala dan segala macamnya. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. untuk memburu binatang-binatang. Gajah. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. dari tahun-ketahun. sementara . Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan.

Karena. sasaran perburuan yang menggairahkan. Liat dan sigap. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. perlahan-lahan. Anggap semua ini hanya permainan.. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Mula-mula. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. orang-orang 13 . Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. seperti kami katakan tadi. Inilah hidup yang sesungguhnya. membiarkan mereka lari dan menghilang. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Selamat jalan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamatkan kehidupanmu. Sampai kemudian ide brilian terlontar.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Semoga nasib baik bersama kalian. sungguh. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. semua binatang telah habis kami buru. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Rupanya. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Dan itu. Tetapi kami tak bisa menolak. Lantas. Itu menjadikan kami begitu bahagia. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. hingga pecah berantakan. Kami akan memburu manusia. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Para penjahat itu. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. lari. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati.. dengan cara melarikan diri. “Masuklah dalam hutan. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Jangan cemas. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Maka kami pun membeli ratusan budak.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. banyak orang di luar suku kami. mendatangi kami. baru kemudian kami memburu mereka.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Mereka kami lepas ke tengah hutan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. tapi tak gampang mati. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. banyak di antara kami yang menolak. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Menjadi tradisi. tapi manusia. kami bunuh. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Mereka sudah renta. meski kami akan memburu kalian. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Dan itulah kehormatan. Kami tak lagi memburu binatang. Adakah yang lebih menyenangkan. untuk ikut menikmati perburuan itu.

tetapi kami selalu dirundung sunyi. Karena kami sudah terlalu kuat. tetapi penaklukan yang membosankan. Suaranya sudah gemetar. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. para bangsawan dan pengusaha besar. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. yang melintas bagai badai dan gelombang. “Ini darah seorang penyair untukmu. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. puluhan kepala negara.. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Kami berdiri di puncak menara peradaban. dan kami tertawa bahagia. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. jangan sedih. sendiri. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. keisengan. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Kami. Di antara kemeriahan pesta. terkadang. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. menjadi tak tertandingi. Para bangsawan.besar di negara mereka. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Kami terus memburu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. menggulung apa pun yang kami sukai.. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. melintasi gelombang waktu. “Kita harus melakukan sesuatu. Kami bangun juga istana-istana. para raja. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. 14 . Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Ah.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. begitu melimpah buruan kami.” Gelas kami beradu. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. para demonstran untuk kami habisi. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Itu sering membuat kami terusik sunyi. tetapi juga. dengan dukungan dana yang melimpah.

Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu.. katakan kepada kami. meski sesungguhnya heran. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. Tetapi mereka menolak. Panji perburuan berkibar. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. “kalian kami beri waktu satu bulan. berkelok-kelok mengikuti 15 .” Mereka.. tetapi masjid itu tak juga penuh. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami.” “Baiklah. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. para kiai itu. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat.” kata kami kepada mereka. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. kami akan membikin perhitungan sendiri. malaikat. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Dan aku ingin. “Kalianlah yang bercanda.. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. telah lapuk. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. sebelum maut menjemputku. “Kami tak mau tahu. anggur segera kami tuang dalam gelas. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. membuat kami begitu ternganga. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. “Baiklah. bersulang.. Kami turut kemauan mereka. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. kami segera mengumpulkan para kiai. “Kami ingin Jibril. Sekarang. membangkitkan imajinasi kami. Ya. Dan tentu. dari seluruh dunia. Kami segera menghimpun topan. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami.” tegas kami. mencari kepastian dalam mata mereka. Gairah menjalar.

Namun orang itu tak kembali. masuk dalam masjid itu. Kami terus berjaga. Namun dzikir itu masih kami dengar. Kami tak mau kecolongan. mendadak menyadarkan kami. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Jibril. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. membuat kami tengadah ke puncak api. dan api melahap cepat. Kami sudah cukup punya pengertian. Membuat kami cemas. melihat impian kami sudah di depan mata.gigir bukit. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Dan kami segera menyerbu. ya Allah. itu pun pasti sudah berhimpitan. tetapi tak kunjung keluar jua. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. bukan? Jangan salahkan kami. di puncak kobaran api. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. luar biasa. Tombak. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Begitulah berkali-kali. lenyap seketika. Kami panggil namanya. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. itulah yang kami saksikan. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Satu bulan lewat. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. mengalun menidurkan rerumputan. raib begitu saja. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. jangan-jangan semua itu sihir belaka. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Kami kirim utusan kembali. hingga kayu-kayu bergemeretakan. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. seseorang di antara kami berteriak. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. menguap begitu cepat. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Tapi seperti yang pertama dan kedua. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. membumbung. Tetapi seperti yang pertama. Kami panik. gembira dan tak percaya. Dan. Pada saat itulah. sekaligus marah. Gema itu melambung. orang kedua kami pun tak kembali. sepanjang hari sepanjang malam. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Membuat kami tambah cemas menunggu. bagaimana mungkin? Tapi. tertelan dan lenyap. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. di sana. Kami memagarbetis masjid itu. Kami bakar masjid itu. antara takjub dan panik. menyentuh langit. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. tak pernah muncul kembali. di pucuk api berkobar. Kami tak mau di tipu para kiai itu. kini telah muncul di hadapan kami. seperti daun yang melayang-layang itu. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. tetapi. bersama angin dan embun. anak 16 . yang hanyut dibuai dzikir para kiai. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami.

Kami tak mau kehilangan jejak. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. roket terus berlesatan. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Di seberang telaga sana. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Dan memang. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. ranjauranjau telah kami tanam. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. meraih peralatan berburu kami. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. yang menyimpan bayangan bulan. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Kemanapun Jibril melesat. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Inilah buruan kami yang abadi. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. Kami begitu sibuk memburu Jibril. agar kami mampu meringkus Jibril. Tombak terus beterbangan. Kami tak pernah tidur di satu tempat. desing senapan mesin. kami melihat buruan abadi kami. roket dan basoka. melanjutkan pemburuan abadi kami. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda.*** 17 Yogyakarta. Bertahun-tahun kami memburu. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . kami memburunya. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. mengejar Jibril.panah. perangkap telah kami pasang. Segera menghambur. Kami tak sempat istirahat. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Maka kami pun kembali bangkit. “Kejar!” Kami pun melesat. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. dan langsung melesat. kami lihat jejak cahaya.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

Ia menjerit. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. Indah sekali.” Aku terpana. Aku lihat wajahnya sepi. Aku bertemu dengan mega. mega.” “Cepatlah kau temui burung hantu.” “Bila Tuhan mengizinkan. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria. Gemerlap bintang menyambutku. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. langit cerah. Ia menembus awan. bulan menuju ke dunia. Seperti menunggu kedatangan.” “Tentu. Dianing. “Cukup lama kami menunggu. “Gerangan siapa membuatmu sepi.” “Oh ya.” Burung hantu terbang. Burung hantu mengepakkan sayapnya. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Bulan bulat penuh. bintang.“Maksudku melihat dunia. Seperti berabad-abad lalu.” Kami berpelukan. “Dianing. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.” Matanya berpendar. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. “Boleh aku tahu dukamu. Dianing.” “Ya. Ia bugil di malam yang damai itu. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku lewati langit demi langit. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing.” 22 .” “Ya. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia.” “Ya. Atas izin Tuhanku.

” Aku luruh.” panggil burung hantu lirih.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. “Maukah kau ke hutan Para.” “Bicaralah. Tak sekedar gelap. Tatapan yang sulit aku urai.” “Ya. Telah berpaling dengan perempuan lain.Burung hantu menatapku. Tiba-tiba begitu sepi. “Dianing.. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. Aku terpana.” “Maksudmu.” Aku lunglai.” Burung hantu menggeleng. Di 23 . Lismatano. Hidup bersama tanpa kata yang jelas.” “Mereka seatap tanpa ikatan.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. terjal dan mendaki.” Aku kembali ke hutan Para..” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. “Bila kau berkenan. “Bukankah mereka telah menikah. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia. “Untuk apa.

Tapi. Tubuh Lismatano mengeras. Kini tak bisa bergerak.. Besar. Aku di atas pohon randu. Ya. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Ia berubah jadi batu. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Ia berkaki empat.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Aku tak kuasa melihatnya. Lismatano telah membatu dan berlumut. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. . Perempuan itu. Mulutnya lebar ke arahku. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Lismatano telah membatu. Ya. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Tiba-tiba. Siap menerkamku. “Mengapa dengan mereka. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Saling menumpahkan nafsu. Sebentar lagi aku harus kembali. Ia tak membatu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Deru nafas memburu.” “Itulah yang pantas mereka terima. Tubuhnya tumbuh lumut. tetapi tubuhnya berubah.. Ngeri.” Aku menekuri tanah. Pergulatan yang dahsyat. Lebat dan kotor. Aku yang terpaku. Aku berada di ketinggian menara.*** 24 Jakarta. Aku terpana. Dianing. Mei 1997. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin.” Aku menghela nafas. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. “Yuniz nama perempuan itu. Sementara perempuannya berubah binatang.” Aku hanya mengangguk. Aku tak percaya melihatnya. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.

” Pelatih mengedipkan sebelah mata. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan... Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran.. Pak. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran. Dan berdehem. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu.. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. Ada yang menembus kepala. Ada yang menusuk jantung..” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah.” “Tentu. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran...” Wartawan mendengus. tentu. Mlah. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini.. misalnya?” Pejabat tergelak. “Selain pintar mengejar berita. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran.. sebagai wartawan.. Ada yang mengelupaskan bahu. tersenyum lebar sebelum menjawab.. asal tahu saja. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. Pejabat yang berdasi kuning. ..Horison. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. Menghapus peluh pada hidung. “Begitulah.

“Padahal menurut selentingan kabar. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. Harga pistol yang mahal. “OK. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. Padahal. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini.” *** Saat panas menukik terik. Dan. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi..” “Untuk melunasi kreditnya. Namun wartawan telah kembali berujar. “Silahkan.” sang rekan merentangkan tangan. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik.. menurut perkiraan dokter.“Tapi. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah.. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. . 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. sudah ditukas pertanyaan lain. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. memasang wajah serius.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. “Saya sedang tidak konsentrasi.” Belum selesai pertanyaan itu. saya harus menggadaikan pistol ini. Lalu mengangguk-angguk. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain.

Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. “Tak enak rasanya.“Kelihatannya biaya latihan.. “Harus kuakui. Menutup kaca jendela mobil.” diulurkan tangan untuk berjabat.*** 27 . Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. Wartawan tergelak. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. yang terlambat datang.. Saat fajar bergerak sembunyi. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. “Apakah Bapak. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. saat itulah wartawan dan pejabat. semakin tak menentu..” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. Dia langsung mengangguk keras-keras. saya baru menyadari. harga pistol. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. tapi belum sempurna anggukannya. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. Dia tertelungkup. dan biaya administrasi lainnya. dia beralih membunyikan klakson. nilai pajak. Dan menekan gas dalam-dalam. Wajahnya memucat. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. untuk minta maaf. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. Melihat para wartawan tidak mengerti.” pejabat tergelak juga. "Setibanya di rumah. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. menyeruak kerumunan.

“Sambil makan malam.” Sesaat hening. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. Melewati Alun-alun Bandung. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. lagi-lagi propaganda Amerika. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. “Sebel gua. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. “Belum begitu laper gua ini. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Dewa jangan diberontak. saya tidak melihatnya dari sisi itu. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. gerombolan Pandawa. “Dalam dunia pewayangan. “Siape ni nyang ngulang tahun. begitu ngepop. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. “Bukan mau nraktir. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. BM dong!” balas Kresna. tiba-tiba Kresna. “Kramotak. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem.” sahut Kresna. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. mereka sponsor kita kok. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja.

Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata.” Bisma mengingatkan. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Karena itu. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian.” Dewala mencoba menjelaskan.” demikian Kombayana punya usul. “Jangan sok tahu Kau. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. “Misi ujicoba kita gagal. Dewata telah memutuskannya. Apa pun yang kita rencanakan. Bima menggebrak meja. Seperti biasa. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Punakawan yang lain menyikutnya. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Tangannya masih menggenggam paha ayam. suasana rapat menjadi lebih kacau. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Bima meraung-raung. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam.” Dibentak seperti itu. Takdir kita untuk menerima kekalahan. “Tidak. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan.” Semar mengingatkan. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau.” “Ini kehendak Dewata. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Gareng kebagian memesan hidangan.yang Hilang. “Kukira tidak mesti seperti itu. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. bahkan Semar menjewer kupingnya. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa.” Arjuna bersungut-sungut. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. 29 .

juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Dengan demikian. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. Kalau sudah seperti itu. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh.” *** 30 . Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. Pokoknya rahasia. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. “Justru naskah ini tepat sekali. Eu begini Prabu. Saya punya teknik.” “Bagi saya. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan.” jelas Yudistira. silaturahmi antarseniman pun terbina. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan.” “Tapi saat ini saya ragu. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Konon katanya menurut mitos. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Prabu. Dengan dibahagiakan. segala benda serba diuangkan. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. saya akan membalikkan fakta. Tetapi kita juga tahu. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. dari kopi dan dari rokok.” “Apa itu?” “Ada saja. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. dalam akhir cerita. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. Kita mengalah untuk menang.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. “Hilangnya Ondol yang misterius.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. yang berkaos oblong tadi. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. sorri. hubungi saya yeah. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. Pak. Ayo sekarang lapor sama dia. “Nah. dia lagi mandi dulu. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu.” “Sebentar. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. nih ada laporan kriminil. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. He he he. kalian dengar. “Iya. “Sorri. sorri yeah. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. “Nah. “Terima kasih. berdiri dan mondar-mandir.” yang berkumis memotong. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. ini dia selesai mandi. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya.” 35 . Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. urusan kriminal itu banyak macamnya. Pak. Tunggu yeah. Pak. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya.. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Begini. Begini. Setelah hilang enam bulan lebih. Kalau kalian punya narkotika. Di tepi kali di desa kami. Nah. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Ketika pertama kali ditemukan..“Hei. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. sebentar. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa.. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. Pak. begitu Pak. Ondol. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis.

“Ya. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Bagaimana.” “Baik.. “Wah. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. Di tepi kali di desa kami. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Pak. ayo mulai. bunyinya mengagetkan yang melapor.” Yang bersandal jepit bersin lagi. “Iya.” kata yang berkaos.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok.. Pak. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Harus ada berita acara tertulis. Pak. kami tidak membawanya.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Ondol ditemukan mati di tepi kali. telah saya dengarkan. begitu Pak. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. “Begini. Ketika pertama kali ditemukan.. “Nah. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. Setelah hilang enam bulan lebih. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. “Hilangnya Ondol yang misterius. ya. Ondol.” Yang bersandal jepit bersin. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Pak.“Nanti dulu. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun.. ya. Pak?” “Tentu saja tidak. Pak. ya. Ondol. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Laporan lisan saja tidak cukup. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Ya. “laporan kriminalitas?” “Iya.

. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. “Nah. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. itu namanya baru disebut issyu. dan syarat lain yang tercantum di sini. “Kalau soal ini dibiarkan. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. ya tass. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78.” “Caranya bagaimana. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. pasti dia kesepian.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. Dan yang lebih penting lagi. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. visum dokter. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. he he he. “Ingat. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. Ada bukti pun. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. sodara-sodara.” “Betul. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. Camat juga beserta ibu. Apalagi tanpa bukti. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. Kepala Kepolisian beserta ibu..Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Nah. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. karena sekarang malam Minggu. Ketua RW beserta ibu. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.” kata salah seorang. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. nih. Orangorang yang melapor menunduk semua.. Kepala Desa beserta ibu. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi.

Bukan kami tidak ingin mengusut. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. Salah seorang. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. Kalau kemarin datang ke sini.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. bisa saya terima. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. “Sekali lagi. Lihat. dengan semangat 45. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. siapa namanya itu. 38 . Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Kami lagi sibuk. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. pengusutan perlu dilakukan. ya sayang sekali. Pak. Jelas bukan. lupakan saja kematian si Podol itu. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. “Aduh. supersibuk.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. Pada hari itu juga. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. kalian lupakan saja.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. Sesuai dengan petunjuk Bapak." kata yang berkaos setengah marah-marah. lebih baik kematian e. tentu berita acara kematian ini. Menurut salah seorang kerabat Ondol. mayat yang telah dikubur digali kembali.” kata salah seorang. Untuk mendapatkan visum dokter. Karena itu. tetapi kalian yang teledor. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. “Jadi. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu.. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan.. tidak disiplin dengan waktu. “Begini. atas nama hukum. kami tidak punya waktu banyak.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya.

Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. sebagian lainnya hanyut di selokan. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. Karena plastik pembungkus di warung itu habis.*** 39 . Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan.

"Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Kulihat di sekelilingku. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Dia tersenyum lagi. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. kali ini lebih lebar. "Ya. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. Bisukah? Tanyaku dalam hati." "Kalian?" aku heran. bahasa yang sangat asing ditelinganya. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini." jawabnya tenang. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Lelah rasanya aku memanggil. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. . "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri." dia mengangguk. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati.Horison.

Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. "Tidak." Aku terdiam. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. 41 . mereka kusikat. seperti dia sedang serius berfikir. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Bukan untuk kalian. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. Istriku sendiri yang mengajari. telah berubah arah. Bahkan tahi. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Aku dan anak buahku. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Ada guratan gelombang di keningnya. Lama aku menunggu jawabannya. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Aku berjalan di bawah penindasan. Akhirnya aku harus memilih jalan. kadang rumah yang berlebihan. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Aku rindu harapan. Jembatan waktu yang kau tuju. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang." katanya menjelaskan. Mereka bebas makan. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Aku sangat kecewa. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran." katanya menggeleng. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Karena lamanya aku membuat kapal. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Kubabat tanpa sisa. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. aku bagi kebahagiaan. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. juga familiku. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. hanya untuk umatku. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. berpakaian. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. aku jadi kebal. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. seperti katamu. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Alis putihnya mengumpul. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu."Ya .

Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Nuh?" tanyaku tak sabar. 42 . tapi di belakang disiapkan membokong. Kulambaikan tangan pada orang-orang. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya." katanya. Bencana-bencana beruntun melanda. Aku gagal menyentuhnya. tapi hutan itu malah terbakar. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. Berjalan menyusuri ujung penantian. Aku berlari di hutan-hutan. Nuh. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. dan gunung-gunung yang kupijak meledak." "Lalu. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian.Mereka punjung kata dengan emas. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Aku jadi sendiri. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Tapi layaknya sekat." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Mereka tampak menyongsong. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. akan kutempuh!" kataku. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Dia tersenyum. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Sambil berlari Dia kuhampiri. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. "Tabah. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. "Ketegaranmu. Bibirnya lembut mengurai suara. "Jangan mengejek. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. Nuh. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Lama kucari-cari dan kunanti." Nuh yang tua itu menggeleng. Aku ditandu dan dielu-elu. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. tapi tak juga muncul dalam benakku.

Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Dia menyuruhku memandang ke atas. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. ke sana!" katanya menjelaskan. Aku terdiam tenang.*** 43 ."Tenang!" katanya. Mataku terus saja menatapnya. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. "Ya. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. "Terima kasih Nuh.

ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. pedalaman Irian. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. sepatu karet dan celana jeans. usai membebaskan sandera. Asing. tadi. senja beringsut perlahan. Mei Oleh: Moch. aku segera terbang ke sini. dan Yogo telah datang. “Kita evaluasi perkembangan. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. Ning juga pernah bilang begitu. bahkan nyaris lunglai. lesu. berkeringat. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. Sambil mengontrol radio. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. Pergilah. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. meneguk perlahan hangat tequilla. di sana. ketika kami tidur bersama pertama kali. Kota sedang terbakar. Revolusi. nun beberapa tahun lampau. memberi komando. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Kekuasaan. . Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. Paris. Bukan hal mudah mencapai taman ini. sepanjang malam. Dia datang dari jauh. Lalu di sini. kukira. Persis ketika suatu malam.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. telah bergegas pergi dari situ. mematangkan dan memberi perintah “start”. Usai mengantar Ning. lamban. ”Anda bantu saya.” aku menyebut pertemuan malam itu. dia bagai berada dalam situasi ekstase. “Perjumpaan dengan calon presiden. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. sedang bermula. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. tapi. NY. senja mulai nyungsep. lenggang. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. lenyap sama sekali. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya.Pada Sebuah Taman. dulu. turun amat perlahan. Tak perlu kontak. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. Senja yang kemarin juga. mungkin. Pagi sekali. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan.

Presiden yang ternyata sangat lemah. habis. Presiden memang sudah terpojok. dan demi keagungan. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. Tak ada basa-basi. tapi aku punya keyakinan. Oh. Persahabatan itu.persahabatan. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Pulanglah. Lesu. Ning menelepon. “Ia. Yogo tampak angker. “Bang. telah aku rekam di luar kepala. betapa menggairahkan.” katanya simpel. langsung. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. Malam kemudian tiba dengan diam. Demi Yogo. Dan malam tadi. persahabatan adalah ikatan kita. tapi rencana masih sedang berlangsung. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Sabotase. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Beberapa buah bank sudah ambruk. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Dia berada satu level di bawah. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. segera akan terbukti. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Juga keagungan sebuah cita-cita. Juga kedatangan Yogo yang telat. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. demonstrasi. faktor yang kami tak hitung selama ini. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. Di ufuk. kelak. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Malam yang sepi. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Markas keuangan sudah terbakar. seperti irama tubuhnya: simpel. diliputi misteri. bayang kegagalan mulai tampak. Akan menyetop aksi. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Para aktivis telah diamankan. Presiden mundur besok. tegas dan banal. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. Yogo tak mungkin datang. tapi kuusahakan. Mungkin dia sedang di istana. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Ini harus dicegah. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Para pemain valas telah terkuasai. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. “Ning.” 45 . hingga subuh ketika kami pisah. Kamu pasti setuju. —lampu teplok kehabisan minyak. simpel. pupus. Aku kontan diserang frustasi.” Singkat. juga kepercayaan atas nama keagungan. rupanya tak dapat dipercaya. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok.

sekarang atau tidak sama sekali. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna.” Suara Ning tetap empuk.” katanya singkat.” “Kalau begitu aku mandi lagi.” “Sebentar lagi aku datang. Kota masih terbakar. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Seperti yang sering kamu katakan. Bagi Yogo. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. “Tunggu sampai besok. Tak ada kegetiran. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. Hand-phoneku bertulilit. menghanguskan sisa rencana. Kami akan segera terbang ke negeri lain. balas dendam kalangan militer. pulang. Bukan karena risiko yang mesti datang. utamanya. cuma handuk. Di sini. Aku ingin berendam. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Tak ada besok. Castro. Suara Yogo. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Aku benar-benar frustasi. Malam sudah bertahta. kamu masih di situ?” “Ya. Ini tentu akan lebih menggairahkan. almamaterku. Durja. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. di sana prarencana sudah tersusun. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Duduk menunggumu. Menggairahkan. Memanggil. dan tak ada rencana ulang. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks.” 46 . di taman tempat burung-burung bersenggama. Tapi tidak malam ini. Taman benar-benar muram. kini.” “Iya. aku yang justru panik dan gamang. Dia memang lebih matang. Keagungan itu memang ilusi. aku sudah mandi. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Di sini kita bisa berpikir jernih.” “Berendam bersama-sama.“Pulanglah segera.” balasku memencet “off” pada hand-phone. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Sebaliknya. “Iya. kini. bukan. seperti Che Guevara. “Ning. alumni Oxford. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. lantaran aktornya bermain tak terkendali. apalagi kegentaran. Yogo: gumamku membatin. Udara gerah berbau asap.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya.

NY.” Malam. ya!” “Cepat. di taman ini. Gairah bulan Mei.” “Aku meresapkan bau mulutmu. Seperti gairah sebuah musim panas. kini. nun bertahun lampau. di Brooklynn.” “Tunggu. kurasakan gairah yang lain.” “Aku juga.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. Juni 1998 .*** 47 Jakarta.

Aneh sekali. “Siapa itu?” “Titiang. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Suara itu adalah suara perempuan. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Seorang perempuan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. dan sangat tulus. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Tangan mereka bersentuhan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Katakan padaku. Kopag semakin gelisah. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya.1 Luh Srenggi. Aneh. Luar biasa.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Ratu. kasih sayang. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Apa pun yang .” Suara itu terde-ngar bergetar. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Luh Srenggi cepat-cepat membantu.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Inilah perempuan itu.” Suara itu terdengar gugup. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Tangannya jadi lapar. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. “Luh Srenggi.

Dia tahu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. pelayan tua itu. Kopag harus patuh. Suatu hari. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Tapi. Seluruh kekayaan ludes. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Tubuhnya seperti lekukan kayu. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dia hamil. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh.dikatakan orang-orang di sekitarnya. dan keindahannya sendiri. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Tubuhnya kurus dan pucat. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. sangat sadar. Kata orang. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. cantikkah perempuan itu. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Dia tidak pernah peduli. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Dalam kondisi seperti itu. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Perempuan itu menolak. perasaan. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Bahkan Gubreg. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. bisa dibuat sebuah pementasan. Kali ini. “bahkan untuk menilai keindahan itu.

Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. parekan. Karena dia bukan kaum Brahmana. 50 . yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. alam menyerah pada kekuasaanya. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Itu yang dirasakan Kopag. Ada-ada saja yang diributkannya. Kopag tidak saja memahat kayu. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Aneh sekali. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. dia memahat pikirannya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. dan sangat pas. Masih kata Gubreg. Untuk pertama kali. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. otaknya. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Kopag sering berpikir. hidupnya. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Bagi Kopag. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Jujur saja. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Bahkan Gubreg. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. kulitnya yang sering jadi pujian. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Anyir. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Karena perempuan Sudra. dia mencium bau darah. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Dunia yang diinginkan. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. merah. juga impian-impiannya.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Dia memberi Kopag poin.

Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. “Gubreg. Kehilangan yang dalam. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Tinggi. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Lihat.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Kau bisa lihat. Frans Kafkasau. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Bagi Gubreg. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. pematung jaman Renaisans. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Gubreg. Sejak kecil. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. yang konon. Gubreg. “Anak itu buta. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Ratu. Susah. rasa apa yang sering membuatku meluap. Lihat. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Menanggung dosa ayahnya. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Dadanya sering mendidih. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan.” Laki-laki tua itu terdiam. aku juga ingin merasakan. Ratu. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. aku selalu tersentuh. kata Frans. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Gubreg. Aku ingin tahu. Kopag sudah bagian dari nafasnya. kau belum jawab pertanyaanku. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. “Kau tidak ingin menjawabnya. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Susah. yang diterjemahkannya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . tapi mampu memikatku. Juga dia baik-baik. perhatian yang lain. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. sebelum berpulang. Gubreg. tentang Michelangelo Buonorrty. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini.

Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. dia luka. Sangat paham. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. “Aku ingin bercerita padamu. Berkali-kali dia menarik nafas. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya.” Suara Gubreg terdengar patah. dia adalah laki-laki tak berguna. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Perempuan junjungannya. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga.. Luar biasa. Begitu parah.. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. begitu indah.. Sebagai laki-laki Sudra. Perempuan itu. Kaki perempuan itu putih. Dia mengerti. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Semua orang. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Ratu. Dia juga laki-laki. Kopag sudah membuka jendela studionya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Sampai menjelang tengah malam. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. kebanyakan. dan mampu meledakkan otaknya. ketajamannya. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. 52 *** Pagi-pagi sekali. Dia gelisah. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. angkuh dan selalu lapar. “Gubreg. perempuan yang sangat dihormatinya. “Tentang apa lagi. Begitu penuh misteri. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.” “Titiang. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.” Keruncingannya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Gubreg menyaksikan. Gubreg... Dia sering terjaga tengah malam . Terlebih.

” 53 . Guemica. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. menjelang tujuh puluh lima. Dia pasrah ketika Balian tua. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Tanpa istri. Tubuhnya jadi pucat. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Kata Balian itu. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. tanganku. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Berkat kekuatan Gubreg. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Tak seorang pun tahu. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. tetapi sudah menyerupai air bah. membesarkan tubuhnya.. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu.dengan nafas yang memburu. berdialog. dukun. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. dingin.. mengajakku bicara. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Dayu Centaga tidak terkena.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu.” suara Kopag terdengar pelan. Kata mereka. Dia menarik nafas berkali-kali. sangat surealis. Demi Hyang Widhi. "Gubreg. tidak juga kesambet setan. Rasa ingin tahu yang begitu besar. sampai menguliti otakku. Gubreg tidak sakit. kau belum juga jawab pertanyaanku. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Masih kata Balian tua itu. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Sampai sekarang. dan berpikir. Hyang Widhi. Gubreg. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Gubreg paham. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. “Gubreg. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Cinta yang membuatnya jadi batu. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Aku selalu ingin tahu. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg. Pada dasarnya aku selalu penasaran.

adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Kopag seperti linglung. Dia tahu. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. *** “Gubreg. Jero Melati tersenyum. Sayang. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Mendengar komentar itu. Kopag memerlukan perempuan. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Lima menit tanpa hasil. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Bahkan. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Gubreg diam. dia tidak tahan miskin. Benar kata Kopag. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti.” .” jawab perempuan itu serius. Kata orang-orang kampung. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Ratu terlihat sangat gelisah. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. diajar memahami kehidupan. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. “Ratu. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Bulan kemarin.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Sekarang ini keluarga ini tentram. dia terus mengelilingi studionya. Jero Melati tidak pernah ceriwis. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Berkat Kopag.Gubreg tetap diam.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Otaknya hanya berisi kehormatan. keluarga besar ini kembali bisa hidup.

membersihkan studionya menyiapkan makan. Aku ingin kawin.“Ya. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. “Aku sudah memiliki calon. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Ketika dia telanjang.” “Ratu. Kulitnya juga kulit kayu. dia hanya memiliki satu mata. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi.” “Apa kata mereka. kakinya pincang. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. aku tenggelam dan habis. Gubreg.” Gubreg ambruk. Kau tahu. matanya yang kiri bolong.” “Mereka setuju. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . “Maaf Ratu. punggungnya bongkok. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Saya 2.?!” Gubreg seperti tercekik. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. *** 55 1. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Gubreg. Sadarkah dia. Dia adalah perempuan tercantik... ada daging besar tumbuh di atasnya. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Wajahnya juga rusak berat.” Gubreg mengangkat wajahnya. Luh Srenggi. Kulitnya begitu kasar.

dipergunjingkan.Horison. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. Aku menderita. “Aku yang mati. kamu terus hidup ngakak. Aku yang sudah kesakitan. Aku yang terdera. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. Kehidupan sudah rusak. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. Air . Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. Semua orang berdagang. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. diperdebatkan. kamu yang melejit. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Aku diberitakan. “Peradaban sudah merosot. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Aku yang menjadi korban. kamu yang enak. Kamu semua kelihatan saja menangis. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Aku yang kejepit. Ia berdiri di pinggir jalan. sehingga mereka menjadi terkenal.“ kata mayat itu. “Aku yang mati. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. saling bergotong-royong. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. terkemuka. meringis.

prasangka dan kesakitannya. semua yang tidak adil. “Biarkan saja. Apa saja yang sudah menyakitkan. seluruh ketidak-benaran. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. kesalahkaprahan. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya.” “Tapi kursinya rusak. Sekretaris panik. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. apa saja yang sudah menyinggung. tata krama. Itu kan baru dibeli. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. Komputer penuh dengan katakata kotor. elegi-elegi. Seperti bendungan ambrol.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya.” erang mayat itu. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Sama-sama wanita. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Pak. telepon berbunyi. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. menciptakan esai-esai. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. luka. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. menutupi hidungnya. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. Akhirnya sekretaris redaksi. meskipun kami sudah sangat berhati-hati.” “Biar saja. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. “Semuanya busuk. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. “Tanya Bapak. ternyata hanya sebuah koteka. untuk membungkus kebiadaban. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Moral. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. Ia menguras seluruh dendam. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Kalau memang ada yang salah. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. susila. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. aku kan hanya menjalankan assignment. kepatutan. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari.

semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Sekretaris menutup matanya. lalu lari keluar. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Ia berdecak-decak kagum. ia menggepeng di atas kursi. Seperti balon kempes. Nampak begitu lelah namun damai. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. air dingin untuk penyegar. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Mayat itu terkejut. seperti orang yang mau bersekongkol.” “Kamu bisa merasakan. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. ia kembali ke kursi. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. menemukan untuk pertama kalinya. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. “Kamu mengerti?” “Ya. Mungkin juga makanan.” Mayat itu mengulurkan tangannya. saya mengerti sekali. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.” Mayat itu menjadi amat girang. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. Keduanya berjabatan tangan. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Minuman panas. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Penjaga kantor itu mengerti. karena mencabik kursi itu. Mayat itu berdiri. Di antaranya ada gambar garuda.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding.Sekretaris bengong. 58 . Itu memang benar. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. hati dan otaknya. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang.

” “Apa? Kamu budak?” “Betul.” Mayat itu terkejut. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. ia hampir terpekik.” 59 . Bulu kuduknya meremang. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak. Saya budak. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. Karena di kedua mata nampak ruang kosong.” Mayat itu bergidik. Siapa tahu itu agen polisi.

“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. Saya harus hidup. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia.” Mayat itu bingung. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Saya budak komplit.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. Apa pun saya tidak punya. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. meskipun tidak punya semua itu lagi.” 60 .. Seluruh kemaluannya. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Mayat itu menggigil.” “Edan!” “Ya. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. Orang itu memang sudah dikebiri total. aku jadi curiga. Maaf ya. kemudian meraba-raba. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi.” “Memang begitu. ia lalu menyentuh. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. jangan-jangan kamu. Ia tak punya segala-galanya. “Ya Tuhan.. Tak puas hanya melihat. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot.” Mayat itu mendekat. . Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Jangankan perasaan dan pikiran.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul.

Saya memang telmi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. silahkan. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Ia pelan-pelan duduk kembali. Terserah orang. saya tidak pilih-pilih nama.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. telat mikir. saya manut-manut saja. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu.” “Itu namanya pasrah. wong ini harus. Bukan hanya saya yang harus hidup. kok. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. Berapa?” “Tiga puluh. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak.” Mayat itu ternganga.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. Gaji kamu berapa sih.” Mayat itu berpikir keras. Pasti penjaga malam itu korupsi. Ini kewajiban saya.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. Pak. suka manggil saya apa saja. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.” 61 . Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. tetapi apa boleh buat.

” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.” 62 . tidak akan dituntut.” “Ah! Apa?” “Kata saya.” Mayat itu termenung. Saya tidak bisa salaman. jangan takut. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.” “Kamu sudah mati. “Ayo salaman.” “Tidak bisa. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Tetapi sekali ini. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng.” “Ya. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali." gumam mayat itu terpesona.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. “Tidak bisa. "Kamu luar biasa.” “Memang saya sudah mati. saya sudah mati. Sekarang aku tahu masih ada orang lain.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. Jangan keliru. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.

Saya tidak boleh istirahat. Sumpah. “Kamu jangan main-main. Tidak apa. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Pak. Harus. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Boleh saja tidak percaya. tempat saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor ini. Mayat kok banyak bicara.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. Saya mayat yang harus hidup. tetapi bukan.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Dipercaya atau tidak.” Penjaga malam itu pasang tabek. lalu ditangkap oleh gelap. saya sungguh-sungguh. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Selamat beristirahat. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya.” Mayat itu berpikir." Mayat itu bengong. Boleh juga saya disebut begitu.” “Tidak. Baik. Mati pun saya tetap harus bertugas. Saya memang mayat. memang beginilah saya. Ini bukan waktunya untuk guyonan. Saya tidak tidur. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. 63 .

sudah cukup. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. “O tidak. hanya dengan satu gerakan.11 – 1997 .”. Disertai penyesalan penuh. kalau begitu. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. Remang-remang dalam kegelapan. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya.*** 64 Jakarta. Ia abadi. “Kasihan. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk.. memanggil saya. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. Ia merasa sudah terlalu cengeng. nasibku tidak terlalu jelek. tidak. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. sama sekali tidak bisa dihapus lagi.. “Maaf. Ada yang lebih jelek. kalau begitu. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. “Ya Tuhan. seperti tidak ada artinya sama sekali.” desis mayat itu. 3 .Mayat itu terpesona. Tetapi apa daya. lalu kembali lagi ke tempatnya. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya.

seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. tapi pengawakannya tegap dan kekar. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Meskipun tua. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Karenanya ia ditakuti orang. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . bila direnungkan. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. di perempatan jalan. Di trotoar-trotoar. Sesuatu yang punya arti. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. tempat orang lagi sibuk bekerja. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. lebih separo abad usianya. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Sorot matanya memancar berbinar. di emperan-emperan toko. nyaris berteriak. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. di mana pun kebetulan ia berada. Masuk-keluar kampung. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. berkali-kali. Seorang laki-laki tua. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. tidak ada artinya. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Sepintas lalu. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi.

"Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Siapa namanya. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Kusir-kusir dokar. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Di pemakaman-pemakaman umum. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Saridin. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Oh ya. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Dari mana asalusulnya. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. selalu berpindah-pindah. Di emperan super market. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Sidin. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. tak terkecuali gubuknya. tak ada yang tahu. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. penuh bertabur onak dan duri. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Di emper stasiun kereta api. Ada selentingan. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Di halte-halte bus kota. tukang-tukang becak. karena penampilannya yang tidak lazim. lebih-lebih anakanak jalanan. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Brodin atau Ilmudin. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica.

ia surut. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. diusir dari satu tempat ke tempat lain. lalu naik ke serambi surau. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. lari ke kolam mengambil air wudu. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Dengan hati sendu dan putus asa. pikirnya. Entah darimana. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. Kebanyakan orang. kebanyakan orang-orang tua. sesaat ia tersedak. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya.menghalaunya. Cepat ia bangkit. senantiasa dihalau. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Surau itu lengang dan kosong. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Mereka sulit tidur. sekadar numpang tidur sejenak. Mengapa ia tidak ke sana saja. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Surau itu tampak kurang terpelihara. untuk beristirahat di malam hari. apalagi kejahatan. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. 67 . Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. lalu melangkah ke dalam surau. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Berlampu suram. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. Tapi sial. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat.

Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya.. Agak lama matanya terpejam. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. 68 . Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Tak seorang pun peduli. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Keluarganya punah." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. "Saya adalah penjaga surau ini. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. tidak seperti biasanya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Ia duduk bersandar ke dinding papan. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya.. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Dan ketika salat rampung sudah. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Ia tersingkir.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. berkeliling kota tanpa tujuan. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan." jawabnya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Suatu ketika. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Keyakinan dan kebesaran-Nya. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Harapan-harapan. selalu dipupuknya. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. ia mengelana seorang diri. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Hartanya musnah. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Jika Saudara kehendaki.

"Kini. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan." kata sosok penjaga surau. indah sempurna tiada tara. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di sana segala sesuatu kekal abadi. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. bahkan di uratnadinya. Mereka coba mendekati planet Mars. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. hai pengelana. Kedua belah matanya rapat terpejam. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Ketika saat salat Zuhur tiba. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit.. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa.*** 69 .. dalam hati nurani dan jiwanya. dan akan selalu terjadi. seolah-olah ia tertidur lelap. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Hal ini tentu telah engkau ketahui. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Ini merupakan masa paling buruk. hingga menggigil sekujur sendinya. tapi telah keburu sombong dan berlagak. ketika manusia sama ketakutan. "Belum lama ini..

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Ya. *** . 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam." Kedua laki-laki itu berpisah. Matahari menyinari bunga. Kemudian hanya dengan setengah gram. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Dan kertas. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. " "Empat ribu. Sobat. dia sedih sekali dan menangis. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. tentu." "Empat ribu? Baiklah. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Saat itu zaman perang. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi." "Dengan ubin hijau. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat." "Dengan ubin hijau. Dan di atas kertas ada angka-angka. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati.

tanah air." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. gada-gada kecil berjatuhan. Membacakan Hölderlin. berhentilah.… Sama sekali tidak. "Nah. Upacara yang mengharukan. Sangat mengharukan.' Kedua laki-laki itu berpisah. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Dia bangkit dan tertawa. Mengutip Clausewitz. Banyak mata bersinar." "Terimakasih. berpakaian hitam-hitam. Menyeramkan." "Jadi." "Pasti akan habis. Sangat mengharukan. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak.Lintasan boling. Mengingatkan pada Langemarck. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. Mereka berbicara tentang manusia. seribu. Mereka adalah para jenderal. di belakang. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. . Lalu. Pak Guru. Pak Guru." "Demi Tuhan. Mengharukan. Banyak salib kecil. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Saat itu adalah zaman perang. "Nah. Dua laki-laki bercakap-cakap. Berpidato pendek." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Para pemuda maju ke garis depan. Ada upacara. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. Menimbulkan gemuruh halus. Ingat Sparta.

. Yang satu rubuh. Dan kamu?" "Sama. Dia mati. Ketika perang berakhir." kata Hakim. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. prajurit itu pulang ke rumah. Tapi dia tidak punya roti." Kedua laki-laki itu berpisah. Saat itu adalah zaman perang. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. perempuan itu menamparnya. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah." tanya Prajurit." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Ketika mereka sedang menembak. "Kamu tidak boleh membunuh. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. "Sukarelawan?" "Tentu. "Kenapa tidak. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. Mereka adalah prajurit. para menteri jalan-jalan di kota. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. Orang itu dibunuhnya. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. "Mau menembak.

Waktu mereka berumur dua tahun. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Waktu mereka dua puluh dua tahun. mereka saling melempar bom. Waktu mereka berdampingan. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. Tanahnya sama. Waktu mereka empat puluh dua tahun. delapan puluh dua tahun. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Waktu mereka enam puluh dua tahun. mereka saling memukul dengan tangan. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Semuanya tanah yang sama. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- .Dia adalah seorang ibu. mereka menggunakan bakteri. mereka mati. Burung-burung gagak masih menggaok. Waktu mereka dua belas tahun. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. Jurusan Bahasa Indonesia. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". mereka saling menembak dengan senjata. *** Pada suatu ketika ada dua manusia.

di bawah bimbingan Dewi Noviami). 78 . Beate Meik. Birgit Lattenkamp.bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand.

Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. . Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. akan tetapi sekaligus menyusahkan. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . Namun. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu.. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. dengan banyak pertumpahan darah. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. ) 79 1914 Akhirnya.. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. di Flandern maut merajalela”). sambil memandang sungai Limnat. yaitu “Flandrischer Totentanz”. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. Pada pertemuan pertama. Juenger datang liwat kota Basel. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster.. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing.

Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. juga karena disemangati oleh para guru. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. sampai sekarang hancur jiwa raganya. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. seperti Remarque sendiri. “Dalam Stahlgewittern. kata Remarque. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. dengan sangat teliti.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. Remarque. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. Dan mereka yang kembali. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. satu tidak kembali. Dari tiap dua orang. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. Akui sajalah. juga. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. Barangkali sebab itu. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. kami menemukan senapan.” Novel ini. “Omong kosong!” teriak Remarque.

bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Remarque sengaja tetap membisu. Setiap pecahan peluru tembus. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. 81 . pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. Namun. Setiap tembakan jitu.” Juenger tidak menjawab. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. meskipun bentuknya agak diubah. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. “buku itu laris. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. “Betul. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. Seakan-akan menjadi saksi. berkurang satu orang. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. antara lain pabrik besi Thale. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Remarque. Andaikan Anda tahu. melainkan seputar masa lalu. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit.” kata Remarque. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres.

Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . sesudah itu M 17. .sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. Saya. ada lubang bekas peluru tentu. si none. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur..” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. di meja tulis saya ada kenangkenangan. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. hampir pipih. Lucu dan memelas sekaligus.. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. Juenger juga. 82 . jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih.“Nah. mestinya Anda ketahui juga. Melorot terus.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu.

. ." kataku. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. ke mari.. aku tahu bagaimana dia." kataku." Selama itu. melepaskan kopelrimnya. begitu saja dari kertas pembungkusnya. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. dan selain membawa peralatan makan.. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. Dan daging kalengan itu pun kumakan. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. "Ayo. Aku berdiri di depan. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. "Ini.. sesuai dengan aturan. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. "kemarikan.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 ." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. semuanya akan segera kumakan. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. Letnan mengirim dia kepadamu. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. di mana orang-orang Rusia berada. dia pun membawa rokok.Jak. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak." kataku perlahan. "orang baru yang menggantikan Gornizek . Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan." kata Gerhard. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. "Dan ini. "Tidak usah..." "Ya. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. untuk pos pengintaian. dengan muka selalu menghadap ke . sialan!" Peralatan kopelrimnya. Gerhard. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. Sop buncis sudah dingin. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. "Idiot. di pos pengintaian. dialah yang mengantarkan orang itu. "jangan terlalu keras.. di pos komando. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat.

" gumamnya. "Saudara merahku." katanya lagi. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik.. dan jika dia menoleh ke samping. minum sendiri. "Terima kasih." kataku pelan-pelan.." bisiknya. Aku membungkuk. "kan tidak boleh duduk. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. "Duduklah yang tenang. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. Winnetou." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik." kataku. juga tidak boleh memulai peperangan." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya.musuh. "minum seteguk." "Tidak. "tapi aku tersedak. ." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. tangan di lutut. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas." kata sebuah suara yang lemah. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . "Di pos. "Sini. "Diam!" aku membentaknya. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan." "Tapi di pos. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah." katanya menggagap. "Tidak enak?" "Enak.. 84 ." "Tak ada yang boleh. "Kemari. Anak-anak muda yang malang itu . Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani." "Kalau begitu.. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda.

. bau keringat. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. Di suatu tempat. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan." kataku karenanya." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. aku merasakannya.." "Tidak begitu takut lagi. . Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. tapi memang begitulah mereka semua. kamu tahu. juga di pos komando di belakang kami. Dia sangat . oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya.. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan.. tapi lalu dia berkata: "Ya. di 85 . pikirku." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. agak terang. Di bagian depan tidak ada apapun. kalau saja hari menjadi siang... Ah. melihat sesuatu. Avold. tapi aku bisa mencium baunya. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami. "Aku juga takut. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap.. lalu sisa-sisa sop.. selalu begitu. Tetapi kalau terang.. Dia menoleh lagi ke arah musuh. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang.. sangat diam. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi... Lothringen. jauh lebih baik .." Kami diam beberapa saat. sedikitnya sesuatu." "Kalian datang dari mana?" "Dari St." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. kalau saja bisa melihat sesuatu. "selalu malah.. "Sekarang lebih baik. setidaknya remang-remang atau berkabut.. kalau saja sedikitnya remang-remang.Aku pun minum. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian. Avold.." "Dari mana?" "St. juga sedikit berbau minuman keras. kan?" "Ya . Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka.

Lalu kita menembakkan peluru asap merah. mendengarnya. "mereka tidak datang pada malam hari.. "Ya. Tapi tenang. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. bolehkah kita menembakkan roket isyarat." kataku." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu. "kalau kita tidak melihat mereka datang.. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang.. Aku paling senang kalau bisa meraung.depan sana. kepada Letnan. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. Aku pun minum lagi. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan." gagapnya. betapa baiknya dia bisa berbisik." Dia diam lagi. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. dan suaranya bergetar lagi. supaya bisa melihat. mengerti kan?" "Ya.. Berbisik. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya." omongku terus. "Tapi mereka tidak datang." "Habislah kita. "Bagus. "pos pengintaian. . maka kita harus tutup mulut. Ah. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam." Lagi-lagi aku heran.. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi. seolah seseorang membungkam mulut itu. biarkan mereka lewat. Kamu sudah bertemu dia." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 . mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. "Kalau .. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. sampai mampus...... ini kalau . "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan.. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. untukku hal itu selalu memakan tenaga.. untuk mengekang suaraku.. ke pos komando. . mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. paling-paling pagi hari... Tetapi itu bukan apa-apa. kan?" "Ya. kita pasti melihatnya. Artinya." katanya. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. menyerang. hampir lebih baik daripada aku. pasukan pengintai. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia.. "pos pengintaian.. Dua menit sebelum fajar." katanya dengan suara bergetar. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. kita harus membunuh mereka. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi." katanya. merasakan bau apeknya. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita...

calo apa . "Aku.... Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka..... "aku berdiri di stasiun.." "Seperti orang Inggris..calo apa.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu.. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. "aku bernama Jak. ingin bersenang-senang. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. "jadi calo.. . dengan sangat tiba-tiba.. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu." Dia diam sesaat... lalu pergi . sangat pelan. kamu mengerti? Tuan." katanya. lalu dalam kegelapan." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah. aku harus menyikut tulang rusuknya." kataku parau. Jak." tanyaku lagi. jangan takut." katanya..." katanya dengan susah payah. yah. bukan Jeck. dan kalau seseorang datang. kan.. "Dan... ya?" "Tidak." "Jak. "Calo apa . Karena tegang aku lupa meneguk minuman..A." tanyaku.K. ...." "Apa?" "Calo.. J.? Begitulah aku bertanya... jadi kalau seseorang datang.. Ngomong-ngomong. Jak saja. setidaknya hampir selalu.. "Dari Jakob . yang sedang kosong. seseorang yang aku pikir cocok.." katanya." katanya. melihat lagi ke depan. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan .?" 87 ... artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci." "`Gimana. "Yah. setiap kali kalau mau berbicara dengannya.. supaya menjadi hangat lagi.. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. ". "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku.. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. biasanya tentara.. calo saja.." "Ke tempat pelacuran." dia mengeluh dalam-dalam.

aku kan hanya seorang calo.?" dia benar-benar tertawa sedikit. tidak punya germo. di suatu tempat yang sangat . ke tanggul di mana dia sedang tiarap." kataku sambil memberikan botol kepadanya.. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. 88 ." "Siapa?" potongku. dia mengoceh hampir dengan sendirinya. kamu mengerti.. tapi aku tidak bisa menjawab. dan dari itu aku hidup. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. "adalah yang paling baik. lepas. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat ." dia berkesah lagi. mengerti. Tidak.. "bukan. ya. tanpa izin apa pun.. dan. . dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. "Ya. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. . dan karena itu aku jadi calo untuk mereka." "Tulang-tulang ?" "Ya. "dan artinya kamu dulu seorang germo.. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain .. "germo adalah tuan-tuan besar... "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan.." dia mendesah lagi.." "Dan. tiran... tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. siapa namamu?" "Hubert. Käthe..." sambungnya.." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. kan?" "Bukan."Bukan." katanya datar. sangat sungguh-sungguh. untuk siapa aku bekerja.. "Ngomong-ngomong.. ya. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini.. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob." katanya kemudian. Aneh. "Enak sekali." katanya. botol itu kosong." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. "Gottliese. dia bertanya. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . Tidak. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. dan suaranya sekarang bergetar hebat. sangat jauh..." potongku. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran. Lili dan Gottliese. mereka bekerja mandiri. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. Sekarang. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. syukurlah! Kalau punya. mereka tidak punya surat izin.. ah. "Hubert. terlalu berbahaya. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang.. "eh. perempuan-perempuan itu. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping.. dia bernama Gottliese. kamu mengerti. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu." dia tertawa lagi sedikit. "tepatnya uang persen. Tiga orang.

. mereka datang ." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk." "Ah. Itu tangkai-tangkai bunga matahari. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.. "Jak. "aku tidak bisa menembakkan yang putih... sama sekali tanpa suara. itu . dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius.. maka sudah terlambat. ada sedikit suara gemerincing ." "Jak. mereka datang." "Aku kan kenal mereka.. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat. "besok pagi aku sudah mati. Jak... kamu akan melihatnya dan tertawa.. aku melihatnya . tembakkan yang putih .. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. Supaya mereka tidak membom kita . itu perang. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi... dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan.... jauh.." "Tapi lihatlah. sepi sekali." kataku. aku bisa mendengar mereka. Itu sesuatu yang nyata." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak. "Ayo.. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering.. Kalau hari sudah sangat terang.. "Ya." katanya dengan sangat dingin.... dan itu terlihat ada di ujung dunia. "diamlah. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam. mereka mengendap-endap. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . "Anak muda. jauh sekali. subuh.. Di atas garis itu kelihatan agak terang... "kalau mereka benar-benar datang. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang..." bisiknya. sepi.. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. sesuatu bergerak .... kalau pesawat pembom kita datang. tembakkan yang putih ." "Tembakkan yang putih. betul-betul jauh sekali .terlihat sesuatu seperti horison. Besok pagi kamu akan tertawa." kataku. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu. itu bukan apa-apa. "ya. sebuah garis hitam pekat... mereka datang.. "kamu gila." "Besok pagi. Jak.... dan kalau mereka sudah dekat.. hitam -. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa.. itu pasti sesuatu . itu neraka. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini.. seperti ayunan lembut jerami . aku begitu kaget. "Ya.. "Jak. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu. mereka merangkak di tanah.. kita bisa juga mendengarnya.." "Ah .. ." balasku berbisik. Aku hanya punya dua peluru.. sesuatu yang nyata .kotor dan sebagian hancur tertembak.." 89 . Satu saja... itu bukan sesuatu yang nyata.." kataku..." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran.

"Di Stasiun Pusat?" "Tidak. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. dan mungkin sesuatu akan terjadi. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. karena kalau tidak. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam.. kamu mengerti? Dalam setengah jam. kadang ramah. Stasiun Pusat maksudku. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. kadang kasar. aku hanya mendengar mereka berbisik. Wajah seorang calo tulen.Dia diam. ketika tidak terjadi apa-apa. Setiap kali." sambungnya dengan suara capek. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. aku tahu itu. kamu pasti tidak mempercayainya. aku sedih. itu lebih praktis. kamu tahu. Awalnya. "Jak. baru keringat dinginmu mengucur deras. Dia punya banyak langganan tetap. lalu aku pergi kepada Lili.. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. dan suara tembakannya akan keras sekali. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. Di mana kamu terakhir kali . percayalah kepadaku. mereka suka melarikan diri. Besok pagi-pagi.. . Lili juga orangnya tidak menyebalkan. Begitu ingin aku melihat wajahnya. "tidak selalu. kamu tahu.." bisiknya seperti seorang sinting." dia membungkuk lagi ke arahku. dan kami duduk lagi menyandar." aku ingin mulai. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. "Di Köln. . orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. tapi dia sering minum. betul bukan. "Jak. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. dia yang paling baik. Dan itu bikin jengkel. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese.. kita masih punya waktu empat jam. Ah. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. "Tembakkanlah yang putih. Sekarang tanggal 21. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. lebih baik kamu cerita lagi. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. kemudian cafe itu terbakar. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. tak tahulah aku. kamu tahu. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. Yah. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. bisa-bisa kita jadi selai. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe." katanya. Dia memberi aku 90 . Ya. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. karena itu orang tidak cepat jadi panik.. Gottliese. dari dekat. artinya hari ini. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. Käthe orangnya sangat dingin. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. Lili di dekat Gedung Opera. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. kalau pesawat pembom kita datang. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. Di tengah jalan.. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. tidak bisa ditebak. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka." kataku. Barusan tadi.

" "Bagaimana. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya... Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. sepuluh sen. itu saja. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia." tanyaku. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. Bagaimana tempat tinggalku. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. "tidak akan lama.sepuluh persen. . lalu dia akan menonjok mulut mereka. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping.. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. kamu mengerti. Sepuluh persen! Sementara. . persis seperti pada kita." aku ingin bertanya. seorang sipil. Aku percaya bahkan sebaliknya." "Jak. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain... lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta." katanya. "dia hanya mendapat satu Mark. setiap kali setidaknya dua Mark. sangat dekat ke arahku.. . Dan Käthe masih juga memakiku. apa aku punya rokok dan lain-lain. kamu mengerti. Kamu harus menunduk. Dia sangat pemurah. paling hanya beberapa menit. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. Mereka hanya sedikit mabuk. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya.. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. menghadapi bahaya ditangkap polisi. aku bilang sama kamu. Dan dia pun lumayan mengurus aku. yang paling cantik. "Diamlah. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. Dan kemudian. Mereka kan tidak boleh begitu. Maka Käthe selalu yang terakhir. Ah. Dia selalu memberi banyak kepadaku. .. Menghadiahi." 91 . Seorang perempuan yang sungguh melankolis. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. Sebenarnya. "Ya. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila." "Seorang tentara?" "Bukan. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu. Dan tembakan pertama pun meletus.. "Tenanglah. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. tambahan lagi sudah tua. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. . berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. Dan dia cantik." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali.. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. Gottliese berbeda.. itu bukan apa-apa. Kadang hanya lima puluh sen. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu.." "Menghadiahi?" "Ya. sampai komisar mereka mengetahuinya. sudah. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak.

Dia sangat mungil.. "Jak. kamu akan mendengarnya.." kataku. mereka menyerbu maju. . "Ayo." Nafasnya tersendat. . pakai otak dong... menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. "Cantik. Dan yang paling sial. . Sering dia memakai nama lain . setiap hari nama baru ." bisiknya. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya... sungguh mungil. 92 .. aku mendengar mereka datang. karena di belakang dan di depan kami. . betul-betul sepi. menyibak tirai perang menyelimuti kami. sekali lagi teriakan .aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. Aku pikir. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. "tembakkanlah yang putih. kamu tahu. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . mengacungkannya di atas kepala lalu menembak." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang...." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. Tidak bisa lain. "Ya.. wajah seorang calo tulen.. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. "Kamu lihat. "Sekarang ." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku." "Tidak . dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. . tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. sama sekali. suara gemuruhnya seperti kiamat." Aku memegang erat lengannya." sekarang aku bertanya. aku mendengar sesuatu.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. "bagaimana parasnya.." katanya pendek. di situ..Tapi teriakan itu tidak berhenti.. kalau tidak aku bisa gila.. Gottliese itu. "dan sedikit gila. dan dia sering tidak meminta bayaran... dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . Kathlene." Dengan segan dia menjawab.. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu.. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya." kataku. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. dan kalau mereka datang. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. Inge Simone.. . atau Susemarie. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila.. juga lengkingan liar itu." sambungku.. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu.... Lalu sangat sepi. entah siapa lagi. dalam terang. "Bagaimana. Dia sedikit gila. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan . sekarang mereka datang.

Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. ingin bersenang-senang. diterjemahkan oleh Dewi Noviami. malah masih memberi sesuatu. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.*** Judul asli: "Jak.. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. dia berbisik pelan: "Tuan. der Schlepper". 93 .. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah.. lebih hitam dari pada malam...

perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. Gelas Itu. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. terletak di sebuah rak buku kecil. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. tapi sangat samar. melindungi matanya. Dengan tangan gemetar. Laki-laki itu mengangguk mengerti. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. Alis perempuan itu hitam tebal. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. mengapa di dekat . Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Di bawah potret ada sebuah gelas.Horison. dan kemudian beberapa buku. kemudian gelas. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Dan tahulah dia sekarang. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar.

Meskipun demikian. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Sungguh agung dia. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. Dan ketika perempuan itu membuka almari. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. dan derajat sesamanya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Saya mengaguminya. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. martabat. Maka berbicaralah dia asal berbicara. laki-laki itu agak terkejut. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Matanya sungguh 95 ." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Heran. wibawa tinggi. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. Dia pasti laki-laki ramah. Dia pasti mempunyai wibawa besar." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu." dia." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah." Belum sempat bertanya apa-apa.

Betul yang kau katakan tadi. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. tidak seorang pun tahu. yaitu merayu 96 ." kata perempuan itu. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor." Laki-laki itu diam. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Dia ingat. Bagi saya. Kalau tidak keliru.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. dia laki-laki mengagumkan. sementara dia suka merayu. Nabi Yusuf tidak suka merayu. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Akhirnya laki-laki itu tahu. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. pertemuan dinyatakan bubar. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Surat itulah. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. dengan nada sangat melecehkan mereka. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. sangat mengagumkan. Ingat. dan akhirnya mengenai payudaranya."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. dialah laki-laki yang saya cintai. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Begitu gemar dia membuka-bukanya. beberapa bawahannya. "Laki-laki itulah yang saya cintai. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Laki. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. Dan setiap kali saya merindukannya. mengenai buku-buku itu lagi." kata perempuan itu lagi.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

*** 101 (Dimuat dalam Horison. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Sesama iblis bisa saling mengganyang. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. bukan apa-apa bagi saya. Dan setiap kali merasa takut." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. tapi perkelahian-perkelahian itu. Kamu pun sebenarnya iblis. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Memang saya sering berkelahi. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. pasti saya bertindak terlebih dahulu. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat.Dengan tenang. Saya hanya menikmati satu hal. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. Juli 1990) . tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Ketahuilah. sekali lagi. Meskipun demikian. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis.

Hari-hari yang meranggas lara. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Perih. Juga saat mereka membantai … keluargaku. kutarik napas panjang. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Aku melihat semua itu! Ya. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Airmataku berderai-derai. Ngeri? Oi. Darah mereka muncrat ke mana-mana. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. Bukan. tahukah anjing-anjing buduk itu. Keringatku mengucur deras. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. diperkosa beramai-ramai. tanpa alasan. Seperti juga hidup itu. Dalam remang malam. Meski lelah. 102 . temanku. Lolong anjing malam bersahut-sahutan.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. Dan kini hari telah semakin gelap. Aku melihat orang. lebih baik meniru anjing-anjing itu. semuanya. Ffffffhuuih. Ya. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. tetapi langkahku makin kupercepat. Dadaku telah amat sesak. menuju Buket Tangkurak. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Inong! Kering airmatamu nanti. Serpihan tanpa makna. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. sebab aku hanya bisa memendam amarah. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku merangkak dan maju perlahan. Jangan menangis lagi. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku.

lalu remah-remah daging manusia. Ya. . Ah. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Cakarku terus menggali. Banyak tulang. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Aku bangkit. Ya. Aku menggali. di antara suara serangga malam. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. biarkan saja. Kami menyanyi. Hanya tertawa dan menangis." jawabku sekenanya. Bersama desir angin. juga sangat muda. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Bersama bayangan Ayah. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Ah. kupingku mendengar langkah-langkah orang. “Ya. Hangat. kami menari bungong jeumpa. Tulang. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. awan dan udara malam. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Lalu aku tersenyum malu. Cut Dini. *** 103 “Inong…. “Aku cuma jalan-jalan. Ma’e dan Agam. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Sssssssttt! Tiba-tiba. Inong? Aku mencarimu seharian. ya. Aku tidak mengganggu orang. dulu ia cantik…. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Kutemukan beberapa tengkorak. mencoba duduk.” Aku menggeliat.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan.” kata yang ketiga. Mak. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. saat Hamzah yang telah meminangku. Dahulu. burung hantu dan lolong anjing hutan. terus menggali. Ah. dahulu…. Mereka gila karena mengira aku gila. “Ia tak berbahaya.” ujar yang lain. menyanyi nyaring. subuh tadi. “Sayang. aku di rumah. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Tangannya lembut membelai kepalaku. “Dari mana. sudahlah. Berarti…. melintas di depan rumah dengan sepedanya.

Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. yang sudi berteman denganku. memperhatikanku. Tidak baik pergi sendirian.” katanya pelan. mengajakku ke dokter. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Aku mengangguk-angguk. Ia menyisir rambutku. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. Aku suka membantah orang.” lirihku. Tangannya koyak. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Kau anak baik. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. kecuali semua yang bernama kepahitan. “Aku suka. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Kugaruk-garuk kepalaku. di antara para tetangga. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Namun tiada tepi. Kau sangat terpukul. ke pengajian. Aku senang sekali. Ia memberiku makan. “Aku ingin memakainya. Lalu di dekat perut. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tak bisa bangkit. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam.” ujar Cut Dini. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Terus mengangguk-angguk. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. “Apa aku gila?” tanyaku.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Aku belum begitu lama mengenalnya. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. menceritakan banyak hal. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak.” kataku pendek. “Sudahlah.“Aku tahu.” kata Cut Dini sambil memberiku minum.” 104 . “Therimoung… ghaseh…. di belakang…. menggapai-gapai permukaan. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Dan … cuma dia. Segalanya terasa lebih ringan. Menggaruk-garuk kepalaku. dasar orang.” kata Cut Dini suatu ketika. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. Cut Dini menatap bola mataku dalam. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Cut Dini. atau sekedar jalan-jalan.” kuteguk minuman itu. Berbahaya. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Lagi pula kau seorang muslimah. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Ia sangat peduli. Kata mereka aku gila! Hah. Dulu. “Kau sakit. ketiaknya juga. bahkan menyentuh apa pun. tetapi tidak Cut Dini.

Ah. “Kami orang baik-baik. meski tak mengerti. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Huh. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala.” Aku nyengir. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing.” . Sungai Tamiang. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. Aku jadi ingin marah. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Suaranya kadang berubah. lebih lekat dari jendela. banyak yang terpaksa menjadi cuak.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. penjagalan di rumoh geudong. aku tertawa gelak-gelak.” “Sudahlah. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. “Kami hanya menindak para GPK. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. Kulihat wajahnya marah. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. ambil saja uang ini buat anda. semuanya busuk. anak-anak yatim yang terlantar…. Tetapi sekarang semua usai. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. Cot Panglima.” Cut Dini membaca kertas itu. Kami menjaga keamanan masyarakat. Lupakan saja gadis gila itu. Ini daerah operasi militer. Hua…ha…ha. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Jembatan Kuning. “Lalu perkampungan tiga ribu janda.

“Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. Lalu Ma’e dan Agam. Aku mau shalat lohor dulu. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak.” kata Cut Dini tersenyum. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Aku berhenti jadi burung ajaib. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. sebelum aku bisa jadi burung. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk.” Aku berhenti melempar. Dari kejauhan kulihat api berkobar. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. 106 *** “Keluar. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak.” tukasku.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. abang dan adikku. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. ya. Kurasa ia seorang pemimpin. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. “Masya Allah. tetap lembut. “Benahi yang rapi lagi. Ulon hana teupheu sapheu!” .” suara Cut Dini. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. Mereka tak mampu membela kami. “Jangan menjadi burung. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. bila ingin shalat seperti manusia. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai.” katanya. nanti perabotan itu rusak. “Ayo lihat mereka. Ketika pintu dibuka. Aku berlari ke dapur.

itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Tegar. menggigit. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Wajah-wajah dalam jaring pias. “Allah tak akan membiarkan mereka. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. saat tak lama kemudian. menendang. Aku jatuh lagi. hingga aku letih sendiri. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. terkelupas dan berdarah. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. istighfar…. Airmataku menderas. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. Pedih. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. di dalam jaring-jaring merah ini. Airmataku menganak sungai. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Pusing. Di mana Ayah. Jiibandum ureung biasa. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. “Kami tidak membela.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.” suara Geuchik Harun. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. Inong! Semua sudah berlalu.“Lepaskan mereka. “Astaghfirullah.” 107 . Silau. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Tak jauh. “Inong. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. mereka memang bukan orang jahat. Merah. Wajah-wajah itu retak. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. Inong! Inong. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. mencakar. tetapi aku tak bisa bangun. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah.

“Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Hah. Bapak sudah lihat sendiri. Tiba-tiba suaraku hilang. tak ada suara yang keluar.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Aku menangis tersedu-sedu.” Aku terkapar kembali. menatapku kasihan. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Tolong. . mencari gerak. Pak.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . 5 Agustus 1998. terasa berputar. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Terbit. mencari bening. tak ada airmata yang mengalir. Berdarah dalam jaring. “Inong…. Di antaranya berseragam.Gatra. Menggelepar. tetapi kaku. Aku mengamuk panik. Aku berteriak. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). Samar kulihat Cut Dini. Lalu tak jauh di hadapanku. mereka akan membantu kita….*** 108 Cipayung. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. mengamuk. Aku mencari bunyi.Kabur. 1998 Referensi: . beri kami keadilan. Tak ada apa pun. Republika. Cuma luka nganga. Sekujur badanku bergetar. Ia mengusap airmataku. . Wajah tulus dengan kerudung putih itu. "Pergiiiiii!" aku menceracau. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. Orang-orang ini tersentak. kulihat beberapa o-rang. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat.

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Seorang perempuan.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Suara itu adalah suara perempuan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. "Katakan padaku. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Tangan mereka bersentuhan. Aneh. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. “Siapa itu?” “Titiang. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya.2 Mulai hari ini dan seterusnya.” Suara itu terdengar bergetar. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Biasanya dia hanya dijadikan objek. kasih sayang.” Suara itu terdengar gugup. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya.1 Luh Srenggi. 110 . Luar biasa. Kopag semakin gelisah. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. dan sangat tulus. Tangannya jadi lapar. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Kopag harus patuh. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Inilah perempuan itu. Kali ini. Aneh sekali. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. “Luh Srenggi. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya.

Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. perasaan. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. Tubuhnya seperti lekukan kayu. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Dia memberi Kopag poin. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Dia tahu. Seluruh kekayaan ludes. Tapi. Tubuhnya kurus dan pucat. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. cantikkah perempuan itu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Kata orang. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Dia hamil. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Perempuan itu menolak. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Dalam kondisi seperti itu. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia tidak pernah peduli. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. dan keindahannya sendiri. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Kopag . Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. sangat sadar. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Suatu hari. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Bahkan Gubreg. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. bisa dibuat sebuah pementasan. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. hidupnya. setelah berbulan-bulan tidak pulang. “bahkan untuk menilai keindahan itu.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. pelayan tua itu.

“Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. alam menyerah pada kekuasaannya. Aneh sekali. Bahkan Gubreg. merah. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. parekan. juga impian-impiannya. Karena dia bukan kaum Brahmana. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Ratu. Dunia yang diinginkan. Aku ingin tahu. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. kulitnya yang sering jadi pujian. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. aku juga ingin merasakan. Itu yang dirasakan Kopag. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Kopag sering berpikir. Bagi Kopag. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Jujur saja. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Masih kata Gubreg.” 112 . ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Karena perempuan Sudra. otaknya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Anyir. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. dan sangat pas.tidak saja memahat kayu. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. dia memahat pikirannya. dia mencium bau darah. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Untuk pertama kali.

Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Sejak kecil. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Susah. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Tinggi. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. kau belum jawab pertanyaanku. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. sebelum berpulang. aku selalu tersentuh. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Luar biasa. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. “Gubreg. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Lihat. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Ratu. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. pematung jaman Renaisans. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu.Laki-laki tua itu terdiam. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Kopag tidak lagi membutuhkannya. tentang Michelangelo Buonorrty. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Dadanya sering mendidih. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Gubreg.” Keruncingannya. “Anak itu buta. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. rasa apa yang sering membuatku meluap. ketajamannya. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Frans Kafkasau. Susah. yang diterjemahkannya. tapi mampu memikatku. Gubreg. Begitu penuh misteri. Bagi Gubreg. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. yang konon. “Gubreg. 113 . Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Gubreg. Lihat. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. “Kau tidak ingin menjawabnya. kata Frans. Gubreg. Kehilangan yang dalam. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. begitu indah. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Kau bisa lihat. perhatian yang lain. Gubreg. Jaga dia baik-baik. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna.

Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. kebanyakan. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Sangat paham. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. “Tentang apa lagi. dukun. Kaki perempuan itu putih.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Semua orang. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. dia adalah laki-laki tak berguna. angkuh dan selalu lapar. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. . Begitu parah.. Kata Balian itu.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Dia gelisah. Perempuan junjungannya. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Berkali-kali dia menarik nafas. Hyang Widhi. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Dia mengerti.” Suara Gubreg terdengar patah.” “Titiang. Ratu?” “Kecantikan perempuan... dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Gubreg menyaksikan. “Aku ingin bercerita padamu. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Dia juga laki-laki. Perempuan itu. Masih kata Balian tua itu. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Sampai menjelang tengah malam. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Tubuhnya jadi pucat. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Terlebih. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. perempuan yang sangat dihormatinya. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. dan mampu meledakkan otaknya. Sebagai laki-laki Sudra.. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Ratu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. dia luka. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi.. Kopag sudah membuka jendela studionya. *** 114 Pagi-pagi sekali.

dingin. tidak juga kesambet setan. tanganku. sangat surealis. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Pada dasarnya aku selalu penasaran. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. 115 . Gubreg tidak sakit. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. mengajakku bicara. Aku selalu ingin tahu. sampai menguliti otakku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. tubuhku. Tak seorang pun tahu. Demi Hyang Widhi. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Tanpa istri. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu.” suara Kopag terdengar pelan.. Dayu Centaga tidak terkena. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Dia menarik nafas berkali-kali. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. kau belum juga jawab pertanyaanku. Guemica. Gubreg. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. diajar memahami kehidupan. Dia pasrah ketika Balian tua.” Gubreg tetap diam. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. berdialog. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku.memandikan tubuhnya di pinggir sungai.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. mem-besarkan tubuhnya. dan berpikir. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Cinta yang membuatnya jadi batu. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan.. “Gubreg. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Gubreg paham. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Berkat kekuatan Gubreg. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. “Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Gubreg. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Rasa ingin tahu yang begitu besar. tetapi sudah menyerupai air bah. Sampai sekarang. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Kata mereka. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi.

perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Dia tahu. Gubreg. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. *** “Gubreg.” jawab perempuan itu serius.Berkat Kopag. Bulan kemarin. Jero Melati tersenyum. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Kopag memerlukan perempuan. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Mendengar komentar itu. Sekarang ini keluarga ini tentram. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Jero Melati tidak pernah ceriwis.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Sayang. Otaknya hanya berisi kehormatan.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Lima menit tanpa hasil. Bahkan. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. dia terus mengelilingi studionya. . Kata orang-orang kampung. Ratu terlihat sangat gelisah. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Gubreg diam. Kopag seperti linglung. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Benar kata Kopag. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Aku ingin kawin. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. dia tidak tahan miskin.” “Siapa?” “Adik perempuanku. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Hanya satu yang ditangkap Gubreg.” “Ya. “Ratu.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan.

titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.” Gubreg ambruk.” “Ratu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Kulitnya begitu kasar. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Maret 2000) . Saya 2. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. Sadarkah dia.” “Mereka setuju. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. ada daging besar tumbuh di atasnya. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kau tahu. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Dia adalah perempuan tercantik. punggungnya bongkok. kakinya pincang.“Maaf Ratu. Ketika dia telanjang. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.” Gubreg mengangkat wajahnya. matanya yang kiri bolong. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.. dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat.*** 117 1. Luh Srenggi. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. membersihkan studionya menyiapkan makan. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Kulitnya juga kulit kayu. Gubreg.?!” Gubreg seperti tercekik. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. “Aku sudah memiliki calon.” “Apa kata mereka.. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. aku tenggelam dan habis. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya.

tergolek bagai barang tak berguna. “Ya. Sampai pada kalimat tersebut. “Pasti dari Jim. “Jim!” ulangku. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. Lima belas tahun yang lalu. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. betapa mengerikan. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Cepat-cepat ia mengatakan. 118 . bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri.” kata Jim. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia.” “Jim.. “Tak masuk akal.” kata hatiku. mengapa harus menjadi batu.. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. Tak ada jawaban. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. Sambil mengangkat gagang telepon itu.. Aku takut.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. tetapi aku sudah membayangkan. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Beberapa saat ia terdiam. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. ya seperti yang sudah kuduga. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. “Oh. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu.” simpul Jim. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya. mereka membunuh diri.. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak..!” panggilku.” kata Jim datar. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku.

. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru.. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. Ya.” kata Jim.. tetapi masyarakatnya terbelakang.. tetap memandu Jim di lapangan. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik.. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. Hallo. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas.. menuju rumah sahabat kami tersebut.. Aku belum pernah setakut ini. Suku Montai. sekitar 150 km dari sini.” Jim agak berteriak. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak.” “Aku takut. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya.” Aku menarik napas. aku merasa meneliti diriku sendiri... sebenarnya hampir tergolong primitif. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu.. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. sangat takut.. lantas berkenalan dengan Niru. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua..sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. Sayang. hubungan kami terputus.. 119 *** Dinihari. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut.. ketakutannya terasa semakin besar. begitu orang menamakan asal Niru. . Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. tetapi oleh waktu. teruskan. tetapi yang terdengar hanya tut . tut . cahaya pelita sudah menyergap mukanya.. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.. tut. “Halo. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.

“Atau Katik.. anak-anak. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. . tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. ke pinggir hutan selatan. Leman.. Duduk saja di sini. 120 . wajahnya pun terlihat berayun. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. dan. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Menengadah. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. Raut. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru.” Terdengar Niru ketawa kecil. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. “Tapi Niru. Dulu. Tak jauh dari Niru. mengajak Jim berbincang. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. sebelum fajar menyingsing. Angin berkibar. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. menusuk-nusuk hati Jim. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. “Sungguh. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. malah ia semakin gelisah. Jim terpelanting. Jim kembali memutarkan badannya. turun ke tanah.” kata Niru. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Berat. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. semula aku tak percaya. juga mampu menghidangkan suasana lain.” kata Jim. Aku memegang batu itu. Terasa begitu cepat waktu berlalu. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru.

terdengar suaranya tersendat-sendat. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon.. Kudengar juga suara anakku mengerang. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. telepon masih terlentang.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. “Lantas.. Kendaraan mulai lewat di depan rumah. tut . Dari jendela. Ia seperti duduk di ruang . *** Sampai menjelang subuh. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. tetapi hujatan Jim _ya. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. “Ini sungguh amat menakutkan aku.. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini.. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. tapi nantilah .. tut ..” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. Aku takut. nanti saja.. Ya.” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya.. dan. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia... Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau.. damar yang sulit dicari.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. Belum ada lagi panggilan dari Jim. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai.keras sebagaimana layaknya batu. Aku ingin mengatakan.” sambung Jim. soal-soal kemesraan.. aku tak mungkin berbohong.” “Ya. Cepat pula ia bertanya. Apalagi waktu itu. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut ..

Tak diajaknya aku. sendok. tilam. Dini hari. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. dan entah apa lagi. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. ia kemudian mengatakan ingin keluar. ketika mataku sudah terlayang. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. lesung. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. Setahuku. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. Katanya. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Ada juga batu berbentuk kapal. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. “Aku ingin reuni di Montai. limau. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Kalaupun ada perubahan. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. bantal. seorang teman lama. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. Konon. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Tak ada perubahan. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . jalan yang lebar. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. yang pernah kusaksikan beberapa kali. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. mungkin tujuh tahun yang lalu. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. Keesokannya. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Kakinya terkepang.tengah. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini.

. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. tidak cukup hanya melalui telepon. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. “Bertenang?” tanyanya kemudian.. “Ketika kutanyakan hal ini. “Pulanglah dulu ke sini.” . memang sulit. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan.. dan tak henti-hentinya mengusap muka. bahkan kami di kota ini. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. bawa bertenang.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. Baiklah. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. menelan air liurnya beberapa kali. payah. Aku akan menjemputmu. Jim menjawab dengan sedu-sedan. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim.tandus. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. Ketika kutanyakan khabarnya. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. “Sudahlah Jim.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang.” kata Jim. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. telepon berderak. Jim juga mengatakan. Niru hanya mengatakan: payah. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas.

Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Tangan kanan menopang kepalanya. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. “Ya. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. ketika. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim.. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung... sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. berdiri bercekak pinggang. Bontik.. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak.. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. ternyata bocor. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. tetapi ia 124 . Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. Tetapi mata Niru. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak.” Kalimat Jim terputus. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. ia dan keluarganya juga begitu. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Tetapi aku melihat. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini.. Matanya memandang tembus ke langit. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. sementara otaknya melayang entah ke mana. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu.” kata Jim. Ia merasa amat letih. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. dan entah macam mana lagi. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. Ada yang sedang mencangkung.

aku juga meletakkan gagang telepon. terasa seperti jarum menusuk telingaku. “Kau bangsat. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. ia tak tahu. September 1997) . bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Suaranya lantang berkumandang. Kalau saja Jim tahu. aku berkata pelan. keluargaku.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Memandang ke langit-langit. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. Kau sudah mati. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini.*** 125 (Dimuat dalam Horison. Entah apa yang dipekiknya. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam.” Sungguh. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. Seharusnya. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. giliranku.” Jim marah besar. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. “Tapi aku bertambah kecewa.

Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Membuat kami cemas. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. sesekali meleleh oleh arus gelombang. mengantar tidur anak-anak kami. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. tetapi kali ini. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Mereka sudah renta. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Membuat kami begitu merasa terhina. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. sejak kami masih dalam kandungan. Telah kami jelajahi seluruh hutan. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Maklumlah. dari tahun ke tahun. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. tetapi masih sanggup berlari 126 . Sampai kemudian kami menyadari. Barangkali. Kami memandanginya dengan gamang. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. rusa. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. sebelum sampai ke telaga ini. telah lenyap kami tangkap. badak. macan. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. tapi tak gampang mati. ular. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Gajah. jumlah kami memang makin membesar. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. begitu tercium bau kami. Cerita-cerita penaklukan. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Telah kami sibak semua palung lautan. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. untuk memburu binatang-binatang. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. tupai dan tikus. nenek moyang dan anak cucu kami. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. hanyut oleh pikiran kami. serigala dan segala macamnya. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Sampai kelinci. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Kami seperti mengejar kilat.

Kami tak lagi memburu binatang. mendatangi kami. seperti kami katakan tadi. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Menjadi tradisi. Semoga nasib baik bersama kalian. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. lari. . untuk ikut menikmati perburuan itu. Tetapi kami tak bisa menolak. “Masuklah dalam hutan. Adakah yang lebih menyenangkan. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. para raja. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Rupanya. Setiap detik adalah pertarungan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. meski kami akan memburu kalian.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Maka kami pun membeli ratusan budak. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. membiarkan mereka lari dan menghilang. sungguh. perlahan-lahan. semua binatang telah habis kami buru. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Selamat jalan. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. baru kemudian kami memburu mereka. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. puluhan kepala negara. banyak di antara kami yang menolak. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Dan itulah kehormatan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. orangorang besar di negara mereka. Inilah hidup yang sesungguhnya. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. para bangsawan dan pengusaha besar. banyak orang di luar suku kami. hingga pecah berantakan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas. Selamatkan kehidupanmu. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Jangan cemas.. Kami akan memburu manusia. Dan itu. Para penjahat itu. memang makhluk yang tak gampang menyerah. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Mula-mula. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. kami bunuh. Para bangsawan. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. tapi manusia. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . dengan cara melarikan diri.mengejar antelope. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian.. Liat dan sigap. sasaran perburuan yang menggairahkan.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Anggap semua ini hanya permainan. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Karena. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan.

Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. menjadi tak tertandingi. keisengan. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Karena kami sudah terlalu kuat.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Suaranya sudah gemetar. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Ah. dengan dukungan dana yang melimpah. yang melintas bagai badai dan gelombang. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. tempat kami berpesta setelah seharian berburu.. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. dan kami tertawa bahagia. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Di antara kemeriahan pesta. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. “Ini darah seorang penyair untukmu. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Kami bangun juga istana-istana. Kami berdiri di puncak menara peradaban. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. para demonstran untuk kami habisi. begitu melimpah buruan kami. tetapi penaklukan yang membosankan. “Kita harus melakukan sesuatu. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. tetapi juga. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. terkadang.” Gelas kami beradu. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. . jangan sedih. Kami. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. menggulung apa pun yang kami sukai.. sendiri. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. melintasi gelombang waktu. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Kami terus memburu. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan.

Tetapi mereka menolak. mencari kepastian dalam mata mereka. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “Baiklah. “kalian kami beri waktu satu bulan.“Aku sudah mencium ajalku. membangkitkan imajinasi kami. tetapi masjid itu tak juga penuh. itu 129 . “Kalianlah yang bercanda.” kata kami kepada mereka. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. sebelum maut menjemputku. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. Ya. Gairah menjalar. Dan aku ingin. Kami turut kemauan mereka.. kami akan membikin perhitungan sendiri. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Dan tentu.” “Baiklah. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu.. membuat kami begitu ternganga. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua.” Mereka.. para kiai itu. malaikat. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. telah lapuk. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Sekarang. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang.” tegas kami. dari seluruh dunia. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. . kami segera mengumpulkan para kiai. Kami segera menghimpun topan. anggur segera kami tuang dalam gelas. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. bersulang. Panji perburuan berkibar. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. . menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah.. meski sesungguhnya heran. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. “Kami tak mau tahu. “Kami ingin Jibril. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. katakan kepada kami. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit.

Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Namun dzikir itu masih kami dengar. masuk dalam masjid itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. luar biasa. orang kedua kami pun tak kembali. Dan. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Kami bakar masjid itu. tak pernah muncul kembali. Kami panik. ya Allah. Satu bulan lewat. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. melihat impian kami sudah di depan mata. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Membuat kami cemas. Membuat kami tambah cemas menunggu. bagaimana mungkin? Tapi. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Kami kirim utusan kembali. seperti daun yang melayang-layang itu. anak panah. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami panggil namanya. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Gema itu melambung. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Kami memagarbetis masjid itu. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Begitulah berkali-kali. di pucuk api berkobar. antara takjub dan panik. mengalun menidurkan rerumputan. sekaligus marah. itulah yang kami saksikan. Tetapi seperti yang pertama. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu.pun pasti sudah berhimpitan. kini telah muncul di hadapan kami. tetapi tak kunjung keluar jua. jangan-jangan semua itu sihir belaka. di sana. raib begitu saja. tetapi. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. bersama angin dan embun. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Tapi seperti yang pertama dan kedua. hingga kayu-kayu bergemeretakan. 130 . memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. lenyap seketika. seseorang di antara kami berteriak. sepanjang hari sepanjang malam. Kami tak mau kecolongan. Kami sudah cukup punya pengertian. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. menyentuh langit. roket dan basoka. Kami tak mau ditipu para kiai itu. Tombak. mendadak menyadarkan kami. membumbung. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. gembira dan tak percaya. desing senapan mesin. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Jibril. Dan kami segera menyerbu. Namun orang itu tak kembali. di puncak kobaran api. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. menguap begitu cepat. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami terus berjaga. tertelan dan lenyap. membuat kami tengadah ke puncak api. Pada saat itulah. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. dan api melahap cepat. bukan? Jangan salahkan kami.

Segera menghambur. Inilah buruan kami yang abadi. Di seberang telaga sana. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. dan langsung melesat. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Ke mana pun Jibril melesat. ranjauranjau telah kami tanam. Kami tak sempat istirahat. perangkap telah kami pasang. roket terus berlesatan. meraih peralatan berburu kami. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Maka kami pun kembali bangkit. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. yang menyimpan bayangan bulan.*** 131 Yogyakarta. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Kami tak mau kehilangan jejak. kami memburunya. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda.“Kejar!” Kami pun melesat. Kami tak pernah tidur di satu tempat. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Dan memang. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami begitu sibuk memburu Jibril. mengejar Jibril. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. agar kami mampu meringkus Jibril. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. kami melihat buruan abadi kami. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Januari 2000) . kami lihat jejak cahaya. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Tombak terus beterbangan. melanjutkan pemburuan abadi kami. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Bertahun-tahun kami memburu. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu.

Dunia Fantasi Ancol. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Belakangan. Tak tahu siapa yang mengubahnya. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. berkejaran. Dan apabila ada mobil lewat. sehingga menjadi Gank. anak-anak bermain gundu. main petak-umpet. Sebuah gang sempit yang tak berarti.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. Hotel Indonesia. main bola kaki. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. dapat menduganya. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. anak-anak menyibak ke tepi. oleh tukang. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Apalah arti sebuah nama. seperti Taman Mini. 4 . sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. setelah mobil berlalu. main congklak. main layangan. atau melompat-lompat main engklek. apa pun namanya. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. Monas. Di sana. beca terutama. Namun. di jalanan yang sempit itu. dan lain sebagainya. main galasin. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. disingkat saja menjadi Gang Jalil. Tapi semua orang seperti sudah maklum. Seakan. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. untuk cepat dan mudahnya. Kadang-kadang.

guru sekolah. makelar. satpam. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . tukang cukur. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. pegawai negeri dan swasta. pegawai negeri biasa saja.” “Bagian apa?” “Tau. dosen. tukang kayu. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. pelayan toko.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. rumah-rumah. montir. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. dan tanya lagi. menjabat bagian basah. kami pun sederhana. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. tukang listrik. Dan tanya lagi. bidan. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. perawat dan lain sebagainya. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. kenek. “Pantas!” jawab mereka. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. Tak tahulah. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu.” begitu kami selalu menjelaskan. Kok.” kata mereka. sopir. ngurus hal orang lain. pedagang kaki lima. penjual nasi Padang dan Tegal.” “Lebih pantas lagi. 7 Jika lagi kehabisan. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman.Rata-rata.

teriakan anak-anak bermain. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut.. Biinakum. soal anak-anak. Taanakum. Aunakum. atau listrik yang korsleting. Yang paling cepat ketahuan. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. lebih terkenal: gaple. Tainakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Atau juga. mengantar kantuk. teriakan penjaja sayuran dan makanan.. Tsaanakum. boleh dikata selalu ada permainan domino. tak bisa dirahasiakan. Tsiinakum. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. melayang jauh dihantar angin siang. Tiinakum. di luar pekarangan rumah. Tuunakum. Uunakum. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tsainakum. Dan lepas tengah hari. Tsaunakum. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. Taunakum. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. Buunakum. kalau ibumu menggoreng ikan asin. Anehnya. Baunakum. Bainakum. Tak tahulah. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Baanakum. Yang ini. yang berantem. 8 Sesekali. sungguh menitikkan air liur. Iinakum.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel.mesin jahit. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Tsuunakum . Biasanya.. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. 11 Lepas Isya dan makan malam. mengasyikkan. Pada malam minggu. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. ke sepanjang gang. 12 . Ainakum.

Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. persis pengamen jalanan. sedikit kaget dan lantas tertawa. Heran. Atau disusul adiknya disuruh pulang. Dulu ketika masih kecil. Kami menyebutnya ‘markas’. Usia kami tak jauh beda. kami saling menjaga. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. hampir sebaya. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. saling menenggang. kami sering berantem. dan yang lain segera menyorakinya.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. sekali sebulan pada petang Jumat. 16 . 15 Bagiku. Menurut Ustadz Malik. Najib. kalau main gaple semalam suntuk. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Semua jenis lagu kami senang. mulai dari dangdut. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. agaknya dangdut dan pop itulah. ikut hadir. setengah melucu. pop sampai keroncong. Martin. tak sampai larut. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. tapi tak kena: sumbang. Di tengah pengajian sedang berlangsung. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. sebagai basa-basi. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. menyanyi dan main gitar. Kami yang muda-muda. ayah-ayah kami pada mengantuk. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. semua membuka matanya lebar-lebar. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. Sekarang tidak. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. 14 Sekali-sekali.

gerak tangan. Kalau ia bicara. cara tersenyum. Kami tak tahu pasti. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . “Inggris. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. di luar jangkauan. seakan ia jauh dari kita. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Itu. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. apakah dia masih bisa berbisik. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. Gaya bicaranya. ni yee?!” ejek anak-anak. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. deh. Di situlah ia bercokol. ekspresi wajah dan lain sebagainya. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. guru ngaji di gang kami. jalannya. gayanya overacting. Selangit. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM.” tambah yang lain. kalian tahu. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. Dan sekarang. Pokoknya. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. bukan cerita silat lagi. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. tak mungkin. deh! Bayangin. Najib anak Ustadz Malik. Gayanya mirip-mirip Rendra. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. bacaannya bukan komik lagi. Sejak jadi pemain teater. benar-benar ia putus sekolah. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. Tak acuh. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya.Hamzah gitaris andalan kami. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Masuk kantor keluar kantor. “Maklum. Tapi Hamzah tidak marah. Akan hasil perburuannya itu. ia tahu diri. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. maunya. berat. biaya kuliah terlalu tinggi.

Najib merasa sangat terhimpit.” pesan ayahnya. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. kami. Lingkungannya tak memungkinkan. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Jelas Najib berbohong. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. anak pegawai pajak yang gedongan itu. dan tak ada tempo. Agaknya ia kalah. Tony bungkem. berang. “Jangan lupa shalat. bingung. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Bekerja di bar itu dosa. tak membantah sepatah pun. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. rumah minum. Yang ia tahu. 137 19 Sebaliknya. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Sampai kapan? Dan kami. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Nah. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. Tony memintaku. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. ke Pesantren Bangil. Siang hari ia tidur. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. bagaikan disambar petir di siang bolong. menguji keimanannya. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. Apakah ia suka atau tidak. pimpinan pesantren itu. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Pengasih dan Penyayang. tapi dilakoninya terus. dan semua orang di gang. Sebenarnya. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Beberapa hari kemudian. Artinya. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. kerja. dan di mana mau shalat. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Pokoknya. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Ketika hal itu disampaikan. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa.tahu jalan ceritanya. seperti musang. siapa sangka. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. bukan main kagetnya sang papa. merunduk terus. Kaget. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. . heran. tak alang kepalang. Najib mulai bekerja di sana. setelah Najib ditest. tentu kau sudah dapat menebak.

. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. Aisah yang satu ini. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Ada lagi. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. menjadi anak durhaka. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. agar semua kami ditangkap. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. Jelas ini fitnah! . Dalam batin. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. Coba. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . “Toh tidak apa pulang buat sebentar. Ikut pengajian gelap.. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. nampak kesal. Tapi.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. itu kata lain dari pada kerudung). tak lain tak bukan. Dan katanya: “Coba fikir. Tapi Tony tak mau. hampir menangis. Kini. tapi miskin rohani. Kau lihatlah si Aisah.. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. kulihat air matanya menggenang. Dunia.. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa.. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. pada hari ketiga. Nah. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. masak papa tega menuduh saya subversif. istri-istri orang mu'min. anak-anak perempuanmu. Ma. bukan?” “Tidak sekarang.” Aku mencoba melunakkan hatinya. pengajian yang disusupi faham komunis. teman kami juga. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. menurut Ustadz Malik. martabat. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. dunia dan kesenangan melulu. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. Allah... Papa memang selalu begitu. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. papanya jatuh sakit... Saya hanya bisa berdoa. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. apa pun namanya. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. hanya mencari kesenangan dunia…. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang.” jawabnya pasti. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? .. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. pengajian subversif. kesenangan . guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah.” Pakaian yang menutup aurat. dari ibu Tony. Dan kesan pertama kita melihatnya. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. Ya. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu.

misalnya pada An Nur ayat 31. Dan sejak itu. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). Aisah. fikirku. agar mereka tidak diganggu. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). “Itu waktu saya masih jahiliyah. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya.” “Kau ini aneh. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. blus yang dulu. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. ia berdosa dan aku pun berdosa. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. dan dosa yang dilakukan orang itu. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain.seluruh tubuh mereka. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. Yang kutahu Aisah tetap tegar.a.” jawabnya. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. maaf. Garagara pakaian jilbab itulah. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. baik yang maxi. sejak Aisah menjadi eskrim.. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal.” kataku pula. “Menyuruh orang membuka aurat. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. Oleh kepala sekolah. midi. Aisah boleh bermantap-mantap.” katanya.” Mantap sekali ia. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. masih ada beberapa ayat dan hadis. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. siapa yang mau saja. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. Sebenarnya. perancang busana. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. Namun ia tetap dianggap melanggar. di mana saja. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. lisan dan tulisan. “Itu namanya. Rezeki di tangan Allah. kapan saja.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. ekstrim itu. barangkali. Kayaknya semua pakaian rok.. apalagi mini. Tapi Aisah tak acuh saja.

yang merokok itu. ya (senyum.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. senang sekali.. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut.. ini enggak ge-er. suka menggoda.” Lagi-lagi kami keplok. Mengembangkan kedua tangannya. Aisah melanjutkan: “Itu tuh... plok plok plok.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. Begitu ia lewat. “PKIiiiiiiii..!” tambah kami lagi. ‘kali. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. suka becanda. Rupanya Aisah belum selesai. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. pengamalannya kita jegal.. tak pernah luput ia jadi godaan. katanya sambil setengah berbisik. Kita curiga dengan berbagai prasangka. Dan bertepuk tangan serempak..” celetuk kami. yang terlibat narkotik itu.. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. plok plok plok plok plok plok plok.. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. dasar anak-anak.. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. yang mabuk-mabukan itu. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. mengangkat bahu. ‘kali.” . Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok.. belum merasa puas. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan. aduh manisnya). membenarkan. 140 22 Di mana pun. kalau mau ditertibkan juga. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu..!” teriak anak-anak serempak. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. dong.

” “Sorangan wae?” “Mari. “Ada cowoknya. alimnya. “Waduh. buru-buru aku keluar. Sekilas kudengar. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan.” Dan macam-macam lagi. Namun Aisah diam saja.” Anak-anak pada sorak kegirangan.. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. gue anterin. “Wah. “Wa'alaikum salam. Jalan terus.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum.” “O ya lupa. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. “Tidak. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. Aku berhasil. dalam hati masingmasing kami. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi.. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. dong. Mereka menyingkir secara teratur. mengitarinya seakan hendak memangsa. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. assalamu'alaikum. Mungkin. “Ucapin salam dulu.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil.” 141 . kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku.

Dan. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. pemain film yang sedang in. yang artinya selamat dan sejahteralah anda.. tiba-tiba seperti disunglap. kami tak merasa heran.. salam tak dijawab.. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.” kataku. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. Bukan pada nyanyian. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. lain pula Maryam. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Semua orang kagum padanya. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. melainkan kecantikannya yang membius itu. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. Kukira. main engklek. Maka sejak itu. Yang tercantik di gang kami.” “Ya. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. Sejak itu ia dikenal secara luas. Hamzah menaruh hati pada Maryam. “Tapi. Cuekin aja!” “Dosa lho. 142 24 Lain Aisah. pemain tenis yang lagi ngetop. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. geram. . Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi.. demikian menurut Hamzah.“Kurang ajar.. ampun. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Bukankah salam itu doa.. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. Di lain waktu. dan macam-macam acara lain. ke restoran. anak teater yang lagi ngepop. ya ampun. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. main loncat karet. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik.

Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. Maryam seorang anak yang baik. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. berani-berani takut. “Tidak!” jawabnya tegas. mungkin anak-anak lain tidak. Aku terperangah. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. aku tak tahu. Untuk itu ia siap berkorban.” kata Hamzah pula. Dan terlebih dari semua itu. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. yang ber-Baby Benz itu. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. . Namun perasaan ini disimpannya sendiri. berfilsafat. seorang anak yang patuh. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. 29 Akhir-akhir ini. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. 26 Suatu hari. yang tak mungkin dapat diraih kembali. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. Kali ini tampak serius dengan muka murung.

144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Tony Handoko. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. apakah kau tak merasa malu. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. terpencil. Agustus 1990) . Nun jauh di desa Bangil. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Martin dan Hamzah. Batinnya tertekan. Namun ia tak bisa berbuat lain. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Ramainya masih seperti biasa. aku selalu lewat di depan ‘markas’. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. jauh dari keramaian kota. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi.*** (Dimuat dalam Horison.

hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Kuingat sekali. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. “Betul. Kami ketawa bersama. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. Ini karena ulah jam itu. Sore itu.” katanya. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. Mereka harus diberitahu. maka terdengarlah sebuah nyanyi. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. Sam. kelak tamuku akan cepat pulang. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Bila loncengnya berbunyi. “Juga mantan pacarmu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. . Jika ditaruh di ruang tamu. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Ina.” “Ingat enggak.” kataku.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Walaupun akhirnya mengesalkan. Istriku menjadi perempuan yang bawel. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri.” kataku. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami.

Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. aku tak tahu dan tak perlu tahu. Di toko saya cuma tinggal satu ini.” ujar istriku. “Kita menemukan pilihan jam antik. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. dan ini juga satu-satunya. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Ke- 146 .” ujar istriku. Saat itu adalah pukul 00. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Makin larut perkawinan kami. aku menggenapi kekurangan itu. aku meremas jari tangan istriku. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. "Merk ini nomor satu. Lalu.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. remasanku lebih kuat lagi. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. “Tanyakan harganya.” Memang begitu. “Merknya Junghun. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Ketika pada seperempat jam.” ujar sang pemilik toko. Ketika kami lewati beberapa toko. Aku dan istriku saling menatap. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.00 pada hari 10 November. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. kami menganut aliran navy-navy. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. ketika uang dihitung.” kata istriku. Dari masa berpacaran dulu. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Sam. aku dan istriku berpelukan. istriku bilang. “Ini benar-benar abadi. Setelah dua tiga toko kami masuki. dia menyanyikan satu bait saja. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. kurang sedikit.” “Ya kurangilah separohnya. Sam. Ketika setiba di rumah. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. Sebagaimana biasa.” kataku.

kamu dan jam dengan loncengnya itu. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. ajaib sekali. ”Si Aimah. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. empat bait komplit. Yang ada di sini adalah aku. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. aku dan Ina sudah berpelukan. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . Biasanya kalau jam itu mati. lonceng jam menyanyikan lagu itu. Ketika pertengkaran itu terjadi. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun.“ sambungnya. Orang yang sama sekelas di SMA.” Aku memilih diam.tika setengah jam.” ucapnya. “Kalau aku bicara soal si Aimah. Peraturan kantor memang. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. dia menyanyikan dua bait. “Kalau kamu kawin sama Aimah.” katanya. dan sama pula selesainya. aku bisa memperbaikinya.” “Sudah gaek masih gombal. “Aku tahu. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. Sam. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah.” Tetapi.” kata istriku. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.” kataku. Ketika tiba tiga perempat jam. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. kamu suka membisu. dan pada waktu satu jam. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. Padahal dia amat mencintaimu. dan terutama karena adanya kamu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. Pernah juga istriku bertanya. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. sama pula di perguruan tinggi. tiga bait. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. “Ya. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. “Kita tak perlu bertengkar lagi.” kata istriku lagi. Sam?” kata istriku.

Ina. Dan aku gigih terus memperbaikinya.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi.” Aku mengalah.” Aku mencari ahli jam. Sam. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu.” “Aku mau keluar. Kamu makin tua makin cerewet. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. aku pergi ke Jatinegara. Kita jual saja jam Junghun ini.” kataku. Aku kan tidak bilang kamu tolol. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Dia katakan. Jangan. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.” kataku.00 tengah malam 10 November. namanya Mahboub Assegaf. Istriku mendehem.” kataku pada Ina. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Kita beli yang baru. ada dijual di sini. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. Istriku senyum mencemoohinya." 148 . “Tenang dulu. orang di rumah itu mengatakan. Bahkan ngawur. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. “Itu logis saja.” “Sudahlah. Keringat membasahi bajunya. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. Sam.” “Sudah. "Jam ini penuh kenangan. diam kamu. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Bahkan mencak-mencak. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. Ina. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Pukul 12 bunyinya 6 kali. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Dia marah.” “Kamu makin tua makin tolol. Jangan jadi nenek sihir lagi. Ina.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. ahli pembetulan jam dan piano. jam ini berbunyi 36 kali. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. Anak muda itu bekerja keras. ada orang Arab di Tanah Abang.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman.

Ya. Tengah malam pukul 00.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. dan tak 'kan pernah mendengarnya.” kata istriku. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Ini menambah semangatku. Aku akan coba perbaiki sendiri.“Cukup. Sayang. September 1999) . Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Kita jangan panik.” kataku yakin. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. “Sabar. jam gila itu berbunyi 120 kali. Nak. Memang dia gila. Ia menderita tekanan darah tinggi. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. saat itu istriku tidak mendengarnya. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Ina. Katanya.

Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Ki Pemanahan. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Dan dia begitu tertegun. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. Aryo Jipang. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. “Di negeri leluhur kita. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. Nak. Suatu kali. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Joko Tingkir. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Ken Arok. Sutawijoyo. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Damarwulan. .

Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak.” “Tapi itu hidupku sendiri.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis.” protesnya. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. waktu itu kau masih dalam kandungan. Rio.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti.” “Tapi namaku bukan Rio. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. Rio. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. apa kataku. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. karena cintanya pada kita semua. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. itu lebih penting. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Salah satu di antaranya. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. Kau hanya harus terima utuh. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. “Bagus.” potongnya. 151 . “Nah.” “Namaku Aryo dan bukan Rio.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu.

Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. dan dirinya begitu berbeda. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. orang-orang Kanak. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Tapi tak bisa di sini. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. “Kau sudah gila. tapi daerah Perancis Selatan.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. orang-orang Perancis. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Kapal itu bernama Dewa Ruci. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya.

Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Rio. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Jatmiko memang masih hidup. Sadarlah. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. begitu berat. Dengarkan kami baik-baik. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Kakek. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Rio. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. 153 . Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat.

Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. “I have a surprise for both of you too.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. dia dan istrinya menuju ke Australia. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. “Untung tidak ke Southern Cross. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Tanpa memberi khabar pada Dewi. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. kakek dan nenekku. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang.” Ya Allah ya Rabbi. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. “What a lovely surprise. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti.“Jangan tergesa-gesa marah.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. Rio. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Tapi kenalkan dulu.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. Mungkin karena ada John. Ini Rio dan Handayani. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. “Wah. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. John. 154 . Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Sebelum mereka pergi. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Tak ada angin. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. itu hotel yang mewah.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi.

” kata istrinya sambil menghampirinya.” ucap Dewi sebelum pergi. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. “Mandi yang bersih. Dia tersenyum sendiri. pintu masuknya dari Little Collins. ke restauran Vietnam. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. Rio. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. “Beri aku pakaian yang bersih. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. bahkan seperti bangga sekali.” 155 . Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. Air sudah kusiapkan semua. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. Rio. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. “Rio.“Ya. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. “Lebih baik kau mandi dulu.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. “Dewi yang baru saja telpon. kita bisa ke Grill Room di basement. “Ya. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna.

“Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Tapi soal Dewi. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. “Dewi! Dia. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. 156 . Rio.” “O..“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Rio. “Jangan kau anggap aku melawanmu.. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. kau mau juga?” tanya istrinya. ya dia hamil. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. Rio. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. dia. Aku tak mau bicara. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya..” “Kau tahu. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. Rio. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Kalau aku tahu mereka. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu.” potong istrinya. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. “Aku mau pesan minuman. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. itu. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Rio.

“Shall I open the bottle now.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.*** 157 (Dimuat dalam Horison. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. “Rio. Maret 1990) . Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya.

seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. bendera. Kami. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. dan penuh dengan rintangan. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. melesat dan menggebu. Semuanya terbungkus. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. 10. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. cuma inilah yang bisa kami lakukan. Kuda-kuda kami menggebu. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. gelap.000 pasukan berkuda. berpacu melawan angin.000 pasukan berkuda. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. mendesing menuju kebebasan. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. berderap melaju menuju cakrawala. Kami menggebu begitu laju. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. 10. . dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Namun sekarang. akhirnya keluar dari hutan itu. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. Para pembawa panji.

kami mengarungi gurun pasir. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. namun kami selalu berangkat kembali. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. Kami tahu. selalu berpindah. selalu bertualang.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Cahaya matahari menyiram padang. dan berpacu. perjalanan angin. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Matahari terasa betapa berat. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Kuda-kuda kami masih terus berderap. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. bagai berpacu dengan angin. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Telinga kami semua penuh dengan desau. dan peredaran bintang. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. perjalanan kami masih jauh lagi. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. tapi kami tidak juga ingin berhenti. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. kami mendaki celah-celah gunung. berpacu. Kami berpacu. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. bahkan bisa lima tahun. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. Langit hanya biru. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Kami selalu bepergian. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. berpacu dan berpacu. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . dua. Tanpa kuda. dan segera lenyap di balik kaki langit. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Kami menyeberangi sungai. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir.

Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. dan mendengarkan seseorang bercerita. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. seruling. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk.. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan." Kami selalu membutuhkan cerita. Di setiap danau itu setiap 1. dari lembah ke lembah. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. Langit masih membara.penjuru bumi. dan kuda. Namun. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. 10. 160 . menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun.000 saudara-saudara kami. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Ia meniup seruling di atas tebing. Kami.. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas.000 pasukan berkuda. kami harus memburunya ke balik cakrawala. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu.000 orang dari kami berkemah. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. dari bukit ke bukit. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. kami menyembah bumi. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Kami menyembah langit.. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Kami memuja rembulan dan matahari. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Apakah rembulan bisa memahami. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. seolah-olah berhadapan dengan rembulan .

Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. anak-anak. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Kami. Gemeretak api unggun segera berakhir. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Tinggal bara api menyala diam-diam. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah.000 saudara-saudara kami tiba. 10. Bertengger di atas sana. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. peniup seruling itu masih di sana. makin lama makin menghilang. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. akan membutuhkan tendatenda itu. Kemudian. Sesekali tertutup awan. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda.000 pasukan berkuda. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Kemudian. tiada yang mendengkur sama sekali. tertidur dengan pulas. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. dan orang tua.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. Kami pasrah. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. Apabila 100. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur.

dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Tak kurang dari 100. kami baru akan mengetahuinya nanti. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. Berkibar dengan megah. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Kemudian kami melihat panji. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Dengan segera. bendera.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. siap menempuh perjalanan untuk mati. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. menari di atas perahu. dengan gerobak. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar.Kami semua segera melompat ke atas kuda. gajah dan unta. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. berderap dan berpacu. penuh dengan debu. bergetar-getar dalam tiupan angin. seperti yang sudah-sudah. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. memetik kecapi di puncak bukit. Angin begitu dingin. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. kami berlari-lari turun dari bukit. kereta.000 orang lagi. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Kami semua turun dari kuda. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. langsung melompat ke atas kuda kami. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. dan umbul-umbul yang sama. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. kami menggebu menyambut 100. Hari sudah menjelang senja. pemandangan yang kami nantikan.

Betapa mereka begitu tabah.000 orang dari pasukan berkuda kami. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. dan kami menguburkannya di tengah jalan.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. begitu mengerti. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. 163 . Langit memberkati kami. Kami begitu siap untuk bahagia. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. begitu juga unta dan kudakuda kami. Semua orang tampak tak terurus. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun.000 orang. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit.000 orang itu datang pada musim dingin.rembulan dan matahari. dan kini begitu kurus. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Saudara-saudara kami yang 100. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. Mereka begitu jinak. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah.000 orang. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100.

dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan.000 anak manusia terus-menerus melangkah. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. menembus badai. dengan bayi di gendongan. Pada musim semi danau masih membeku. menempuh ngarai.000 orang. lemah. 110. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. kami semua. dan menyeberangi sungai. berjalan. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. Gajahgajah ini berbadan besar.000 orang. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. merayap di jurang yang curam. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. tapi kami rombongan 110. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. mendaki gunung-gunung batu. Mereka yang mati . Kami berangkat pada pagi subuh. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. namun rerumputan menjadi lebih hijau. Mereka yang telah menjadi tua. Begitulah kami berjalan. dan berjalan mengarungi gurun. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. khusyuk dan meyakinkan. orang sakit dalam tanduan. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. sementara yang lain meneruskan perjalanan. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. Ketika tiba musim panas. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. 110. Bulan masih menggantung di langit.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan.000 orang. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kami. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. 110. 110. Mata mereka mengatakannya. Kami semua. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang.

dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. terus-menerus berjalan. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. dari dongeng ke dongeng. menapak pelan. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Kami.000 anak manusia. Namun kami tahu. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Itulah dunia yang kami rindukan.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Dari hari ke hari. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. 165 *** . 110. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Kami melangkah. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Langit merah di kaki langit. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua.

hanya tegak di atas lutut kami. panji. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Tiada suara yang menggelegar.Kemudian. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. sepatu. Dari balik kabut itu. memang. memang. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Langit ungu muda. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. unta-unta. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. dan kuda-kuda. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. kulit 166 . mengambang. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Gajah-gajah. Padang rumput memutih. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. segala-galanya memutih. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Tiada mega di langit -.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. dan pergi.

dan rambut kami.*** . Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. melihat-lihat pemandangan. Sudah begitu jauh aku berjalan. Apakah aku harus berhenti. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. kelak-kelok labirin yang memusingkan. dari cahaya ke cahaya. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. menaiki kuda putih di atas awan. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. bayi menangis. gua pelangi yang menyilaukan. semakin aku terikat kepada kenangan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. Dari kelam ke kelam.000 anak manusia. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Begitulah kami semua.999 anak cahaya. Tinggal aku sendirian. dengan atau tanpa badan.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. dari barat sampai ke timur. kuda-kuda berpacu. Tiada lagi angin bertiup. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. 110. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. tujuh matahari. tiada lagi debu mengepul. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Begitulah rombongan kami. Semakin jauh aku berjalan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Kulihat 109. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. dengan segala derita dan pengabdian. 109. dalam penyucian cahaya berkilatan. kemah-kemah awan. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. dari selatan sampai ke utara.

Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 . Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Jakarta.

Ia merasa benar-benar gembira.” gumamnya. ini bukan tanah saya. tidak ikut terbang ke Jakarta. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. mengikuti goresan kaki langit.. ke sana lagi! Lihat dari sana. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. mengikuti anjuran Pak Marta. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. lalu menatap ke kejauhan. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. dari tepian yang lebih jauh. Gembira sekali. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. Subarkah.. Nikmat benar dirasakannya menerawang. yang kali ini tertinggal di Osaka.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. membicarakannya. “Aaahh.. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. senang. Negeri ini indah sekali. senang. bagusu-neh.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta.” (Bagus.” kata Okayama. “Tetapi . kepada penduduk di kampung itu. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. “Tempat ini bagus sekali. Michiko. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. Bukan tanah saya. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. lalu menarik senyum sendirian. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. Sungguh. Ini tanah Subarkah dan Michiko. beberapa kali. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. tetapi . sahabat besannya.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!).. Di sebuah onggokan ia berhenti.

Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. Bahwa Okayama-san.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. kini merasa senang. ia memilikinya juga. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Apa pohon kaki (kesemek. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. anaknya. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. pohon pisang. pisang yang disukai Okayama-san. tanah itu atas nama istrinya.” Pak Marta tertawa. di dalam surat-surat jual belinya. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. bisa. Juga Subarkah. Disebutnya di sini. tertawa lebar. pisang raja. bahwa tanah itu milik Michiko. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. Lihat itu. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih.yang ada di sana. bahwa Subarkah menetapkan. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. bahwa tanah itu bukan miliknya. Kalau terlaksana. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. bisa hidup di sini. sejuta Yen sejengkal. bisa tentu bisa. di hari tuanya. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. Tanahnya.” jawab Pak Marta. Di Jepang.” Okayama pernah berpikir. pisang ambon. sudah menolong anak-anak saya. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. Bakal jadi bagus. Asal diurus. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. pisang lumut. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. “Semua tanaman bisa hidup di sini. sangat gembira. sebegitu yang diperlukan Michiko. melainkan milik anaknya dan menantunya. Lihat. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. Ia merasa. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. bukan meteran. diikuti oleh Okayama-san. apalagi di seputar Tokyo. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. Sekarang. Nyonya Subarkah. Michiko. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. Hahahaha. karena mahalnya. Michiko. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. pohon kesemek. dengan kebunnya yang bagus. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. Bagus sekali tanah ini. Dan ia gembira.

bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. hahaha. “Dan istimewa lagi. Kesukaan kamu kan masuk hutan.. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. saya akan kawin lagi. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Cantik-cantik lho. “Dan bagusnya. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. Dan terkenang sampai sekarang.. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik.. melihat binatang langka?” “Ya. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. di mana letaknya Sidanglaut itu. besan Okayama. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. atas nama siapa. Hahaha! Dan. dengan uangmu yang ada di bank sekarang.. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. merasa jadi muda kembali. Kebiasaan mereka pun baik-baik. “Tapi. badak yang terkenal. “dari tempat itu.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya.” 171 . Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Itu sudah kebiasaan mereka.. selain ada laut yang bagus.. “Beneran. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. Tinggal tidak berjauhan. dan sebagainya dan sebagainya. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. seperti sudah tidak punya harapan. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. Mereka sama-sama duda. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. Cantik-cantik. “Kamu kan belum punya istri lagi.potongan khas Jepang. akan mengambil wanita Indonesia.” kata Kakutani dengan nada rendah.” cerita Okayama kepada Kakutani. pemandangan seputar itu. Dan. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. bukan mimpi pagi. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. ya. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh.. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. kamu bisa dapatkan seorang. waktu datang di Osaka. karena ayah Subarkah masih ada. dengan nada suara seperti berhasrat. Saya pun waktu lewat di sana. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san.

dan sudah pergi ke Sindanglaut. tidak ceritakan bahwa Nurseha. Itu kan benar bagus.” kata Kakutani kepada Okayama.” jawab Kakutani-san. di samping tanah Michiko. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. “Kalau sudah begitu. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. “Jadi. “Secepatnya. *** Saatnya pun tiba. Nampaknya agamanya kuat.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini.” kata Kakutani. Dan benar murah. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Ia.” kata Okayama. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. “Bagus. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san.Kakutani jadi berpikir beneran. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. Tentu saja jadi. Kalau istriku menyenangkan. 172 . “Sesudah kami nikah. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. “Ia berjanji. begitu nama perempuan yang dibawanya. pada mulanya. Yang dipentingkannya hari depannya. dan bisa membeli tanah yang luas. ditemukannya di sebuah panti pijat. bagus kalau begitu.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. dan mau menerima kebiasaanku.” Ia pun ingat. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. ”Dan soal tanah itu. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. “Kami akan kawin. Cepat sekali prosesnya.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. Dan saya sepakati.

kita bisa tinggal di sana. atau di sore menuju senja. pemborong bangunan.” kata Kakutani. Kanazawa-san. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. cerah langitnya. di sana segala bisa diatur. untuk usaha. tak dirasakannya jauh. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. “Benar murah. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya.*** Benar juga. “Bisa. Percayalah. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. kamu akan senang tinggal di sana. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Lautnya bagus. *** . Kakutani punya sahabat akrab. bagus sekali. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya.” pikirnya. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. tapi sekarang sudah jadi istrinya. Tidak lama setelah itu. Tetapi yang pasti lagi. ia merasa senang. “Aku akan sering saja berada di sana.” pikir Kakutani. Tentu yang ukurannya luas yah. disaksikan oleh Okayama. Kanazawa-san. Di sana kan selalu ada matahari. Nurseha merasa pintar. Kalau musim dingin di sini. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. Pasti ada cara-caranya. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. bahwa nilai tanah akan cepat naik. segala di sana sudah terbuka. dan gelombangnya amat memikat. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. dan kamu merasa encok di sini. Ia sudah menghitung. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. di tepi pantai yang lautnya biru. Pantainya bagus. Kata orang di sana. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Apalagi di pagi hari. Soal jarak Jepang .Indonesia. Pasti bisa. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. tergerak juga hatinya. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. Apalagi sekarang.

” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. Tetapi Kosasih. tapi sudah tidak terurus. antara lahan ini dan laut. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. “Ini. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. bisa menolong kita. Tanah yang menghalang-halangi itu. Tanah itu bekas perkebunan kecil. Garnida. ini orangnya yang bisa membantu kita. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. Yang kedua kali untuk istrinya. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Tanah itu tidak nempel pada pantai. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Pak Kosasih.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Ramdan. Orang kita-kita juga. Sah-sah saja. “Tidak jadi soal. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Ia merasa. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. Dan akan dijual. Ia tentu saja senang. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san.” pikirnya.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. “Tak ada kesalahan saya. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Tetapi. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. 174 . ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. dengan kebutuhannya. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. bisa meyakinkan. “Bapak ini. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. terasa tak menentu. tersenyum lebar. seorang lagi yang lebih muda. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. Ia mengetahui. Ia pun yakin. seorang yang lebih tua.” pikirnya. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia.

Masing-masing mengatur kepemilikannya. 175 *** Selang beberapa waktu. “Ini jadinya proyek pembangunan. Sebab memang setelah diperhitungkannya.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Dan ia sudah jadi lebih pandai. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. lalu ke arah Okayama. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. Rencana bangunan hotel sudah siap. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. ada Tanaka-san. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. asal benar bisa diatur begitu. Kosasih mendengarkan saja. melainkan ada Saito-san. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. Ia menunggu kepastian. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. meminta dukungan. Mereka tidak membuang waktu. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Rumah tua sudah dibongkar.Ia berpikir lagi. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. tak mengerti sepatah kata pun. di kantor Kabupaten. karena bukan saja Okayama-san. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. Sindanglaut mereka tuju. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Okayama-san." kata Okayama. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. Takahashi-san dan . Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Dengan duit. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Subarkah. malahan di kantor Gubernuran. pikirnya. Ia tidak kepalang bergerak. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. “Ya. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. tuan Kanazawa tertarik. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana.

tetapi ia sudah tua. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. Mereka seperti sudah berpikir. semua kedudukan pun bisa kita capai. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Ya. istri. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. lalu ia sebentar merenung. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. sawah musiman dan kebun terlantar itu. Okahara-san sami mawon. pikirnya. sahabat kentalnya. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. untuk kita. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. pikir mereka. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. gamang. Nurseha adalah istri Kakutani. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. Untuk pihak yang pintar. bahwa dunia ini untuk kita semua. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Bukan saja hatinya terganggu. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. . bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. “Siapa yang salah?” pikirnya.” pikir mereka. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. keturunan mereka. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Saito-san idem dito. “Untuk siapa saja. Michiko adalah istri Subarkah. untuk semua penghuni bumi. yang bisa membelinya dan membangunnya. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. Di hatinya ia merasa tertinggal. daerah kantong Jepang. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. karena rumahnya pun sudah tergusur.

“Jangan jongkok terus begitu. anak-anaknya. orang tuanya.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. mertua-mertuanya. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. ke langit yang bersih. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. “Wah. Ia merasa berjasa.” Ia setengah membusungkan dada. kamu sudah punya motor segala sekarang. “Duduklah di sini.” kata Pak Marta. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta.” jawab Kosasih. Dengan ragu. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. orang tua itu. Bapak. bangkit dan duduk di kursi.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. ke lautan yang biru. menjawab: “Entahlah. Di sini masih ada kursi. Daerah ini mesti dibangun.. “Bapak bekerja di Kecamatan. Ia menarik wajah gembira. ke ombak yang bergelombang. Ia ingat. 177 . Ia gundah. “Tempat ini bagus. Sementara itu Kosasih datang. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. tapi saya menolak. bersih. Kelanjutannya jadi amat serius. yah. “Ya. Pak. permulaannya amat sederhana. Kendaraannya. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi.. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan.. Mukanya pun nampak licin. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa.” kata Garnida. terjepit antara sesal dan senang. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Tetapi. “Di sini lebih menguntungkan.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. kan?” kata Pak Marta. Pak Marta. saya belum lahir waktu itu. Pak. terutama kepada istri-istrinya. “Alhamdulillah. Pakaiannya serba baru dan mencolok.” Pak Marta cepat mengerti. Ia seperti menelannya. ke kaki langit. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. benar bagus. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. “Pilihanku benar.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Pak. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. Ramdan. Hati kecilnya berbisik jujur. menyayat hati orang yang diajaknya bicara.

mengikuti pihak yang menginginkan. Pak. rumah orang tuanya. September 1997) . Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. digusur. Pak Kosasih membujuk kami. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Dan yang tua serta yang muda. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. saat ini. Ia bicara sesungguhnya. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus.” kata Garnida. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Ia tidak menatap ke masa depan. (Dimuat dalam Horison.“Maju yah. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. hari ini. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau.” “Ya. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. detik ini. Pak.

Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. ubin. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Karena dekat dengan Pak Lurah. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Pak RT sanggup mencarikan. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi.” Istrinya tidak menanggapi. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. Satu on. lebih dari tiga. mendirikan usaha penjualan kayu. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Dia pikir. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Iwan adalah sulung dari empat anak. semua keperluan MCK. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang.” “Jum’atan apa tidak dia.1 . uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan.Horison. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Pada suatu ketika. dua perempuan. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. setengah dan satu kilo-an. seperempat. paving. karena anaknya lebih dari dua. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Dua anak lelaki. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. ditata di rak warung. Kini masing-masing mengelompok. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana.

sekaligus selalu repot di toko material bangunan. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut.Ketika ayahnya menjadi RT. Semua nampak bahagia. Kini lantainya keramik putih berkilau. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Dia bikin sebuah ruangan polos. Dia baru lulus SLTP. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. Dengan begitu.” Iwan hidup di luar. Dia bebas. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Pak RT masih mengurusi usahanya. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. menjadi bangsal aula cukup besar.” 180 . Adiknya yang terkecil delapan tahun. Rumah berganti ubin. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. “Aku tidak punya waktu.” itulah jawaban Pak RT. muda-mudi rapat di sini. Dia merasa hidup lebih leluasa. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. usia Iwan 16 tahun.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. Bapak-bapak. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Tubuh Iwan kurus kering. Pak RT langsung membelinya. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Katanya. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. sehingga terang memantulkan cahaya hari. Bagian depan.orang tua lain. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. PKK. nyaris menjadi anak jalanan. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. Ketika rumah di samping dijual. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. semuanya berubah bagi Iwan. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. Di situ tikar digelar. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan.

Pak. selain buat keperluan toko. minta gula dan kopinya saja sedikit. Untuk toko. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. Iwan sengaja memperlihatkan diri. Bisa dibayar dua kali. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Orang terus membangun. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. ada tetangga yang berani berkata. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. Asal masih bagus jalannya. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. Sambil makan. siapa saja yang berasal dari desa sama. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. Kecil-kecilan saja. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. obat-obatan. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Mereka pulang bersama. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. menawarkannya kepadanya. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega.” suara Pak RT tidak bertanya. ayah dan dua adiknya. batu atau pasir. lalu singgah. Sedangkan yang pertama. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. Buat sekolah. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana.” Pak RT punya sebuah kijang. bahkan perangko. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Sama seperti suaminya. Beri aku modal. bukan?” 181 . tiba-tiba. Pada suatu siang.” Ibunya Iwan baik hati. Aku ingin mencari uang sendiri. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. Selalu ada yang lewat.” Dan kalau itu sudah diberikan. Mereka selalu kekurangan. Yang terkumpul adalah ibu. Di mana-mana orang memerlukan kayu. aku tidak perlu memngawasinya. Kemudian. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. adik atau saudaranya ipar. “Kalau boleh.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Dan karena rezeki berlimpahan. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. meterai. "Tidak usah baru. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Sekarang. Sekarang anak-anak sudah besar. Di lain waktu. “Bikinkan aku warung. Dia minta dibelikan kendaraan. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Kemenakan.

Herman-lah yang mengepalai. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Yang dia inginkan demikian. 182 .”. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. temannya yang paling menonjol. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu..” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Mana yang sungguh ada. Stadion Jatidiri besar. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi.. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. “Kalau punya kendaraan sendiri.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. Anak-anak repot. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. Hal ini agak mengejutkan Iwan. terjadi kebut-kebutan. pasti kita menang. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya.. Kadang-kadang. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Di sanalah. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. Iwan termakan oleh gosokan itu. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.. “Itu benar. menjadi kernet omprengan. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. sulung. “Di kelas. Lebihlebih menyuruhnya belajar.. tidak dimanja. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. di waktu malam. kena hujan.” begitu kata Herman. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua.”.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Di mana ada kegiatan berkelompok.. Seusai sekolah. tinggal aku yang belum punya kendaraan. Lalu alur keseharian kembali seperti semula.. “Apa lagi ini nanti musim hujan. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. kita bisa cari uang. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. atau mana yang dia harap ada. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. ruwet menjadi satu. Minta kendaraan saja. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Karena dalam keseharian.” kata kawan Iwan yang lain. “Benar. berlanjut biasa. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya.” kata Iwan lagi.

” Lalu Iwan terburu-buru. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. “Mau belajar bersama teman-teman. Paling-paling lima ribu. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Dia mau buka usaha. “Nanti kalau usahanya berjalan. Tapi tidak apa-apa. di muka sekolah. dua ratus ribu lebih sedikit.” Iwan menyahut. dadanya kerempeng.” Mak menghitung. Baru muncul hampir petang. Mak lega. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Biasanya. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. untuk apa uang itu. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. “Kuberikan kepada Herman. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. Diberikan kepada Mak. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Mak”.” kata Iwan lagi. Di sana tentu disuguhi makanan. karena si sulung sudah berlalu. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. meneruskan bicaranya. Rambutnya masih basah dan belum disisir. Mukamu pucat. Herman akan mengembalikan. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. Mak turut masuk kamar. Mak takut bicara kasar. kasihan tidak punya modal.” “Aku jajan bakso tadi. bersama tukang pompa ban. Mak tunggu anak sulung itu seharian. lalu akan mengenakan baju.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. Malahan mungkin dengan bunga. Besok pagi langsung ke sekolah. bahkan nyaris merayu si anak. anaknya bawa 183 . sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Mak bertanya lembut. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. Hati Mak tenang. Apa lagi. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. “Makan dulu! Kamu kurus.Hanya. menutup kancing baju. “Ini sisanya. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Tidak banyak.000.

“Hari Senin masih masuk.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. menanggapi. tidak keluyuran. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Kami kira. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Iwan sendiri.uang. bukan?” Mak kebingungan. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. mandi atau untuk keperluan lain. Dengan suara terbata-bata. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. Banyak makanan dijajakan di malam begitu.” kata kepala sekolah. Itu baik.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. 184 . Mak berpikir. Rupanya. Jadi Mak juga meniru suaminya. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. Sekarang. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. Juga hadir dua guru. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. katanya.” istri Pak RT berkata membela anaknya. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Ibunya Iwan. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Katanya banyak tambahan pelajaran. bisa jajan. Mak yang berangkat. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan.. Kecuali Anda. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. Mendengar itu. kalau Iwan pulang makan. Seperti biasa. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Sejak si sulung lulus SLTP. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. tapi Selasa. Khodir berkali-kali mangkir. Seorang guru melihat ke buku catatan. “Dia pulang sore. dia menganggapnya sudah besar. Maknya Iwan menjadi ragu. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat.. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. anak-anak mereka tidak naik kelas. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. “Kami menerima uang tes. Mak senang.

Kami 185 .“Memang banyak ekstra kurikuler.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. sesuai pilihan masing-masing. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. Dan selalu ada yang menjawab. saya juga dengar. Padahal katanya. Kaum muda lelaki dan perempuan. “Anu 4. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Pak RT orang yang sibuk. lalu mendongak ke arah dalam. mengerti. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu.” seseorang menjelaskan. juga selalu banyak makanan dan rokok. Selain di situ suasana cerah. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. Begitu pula para pendatang.” “Ya. Bu.” sahut Pak RT. Pak RT. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. selalu merepotkan ibu. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. serunya. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. Para pelayan sudah terdidik. Kami minta maaf. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT.” sahut seorang guru. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. Tanpa menunggu lama. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. “Tidak apa-apa.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar.

Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. satu pelaku sudah diringkus. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. menemui si pendatang. Dua orang turun. “Bapak Rajiman?” “Ya. seorang di pagar. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Televisi di sudut ruang dinyalakan. menyumpalkannya di antara gigi besarnya.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. saya sendiri.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. mereka santai menonton. Atau paling lambat setengah sepuluh. mengatakan gagasannya.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. bakso atau sate.” “Yang saya dengar. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. “Betul! Betul! Kalau tidak. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. menariknya menjauhi pintu. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. tiduran atau bersandar ke dinding. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Terdengar suara bebincang rendah. berbicara. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. “Selamat malam. Yang lain-lain kabur!” “Ya.” sahut Pak RT.” sahut suara lain. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. Satu kali bertanya kepada tukang becak. Mereka makan dan berbicara. 186 . Pak RT membiarkan pintu terbuka. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. Ada tiga lelaki lain. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Serius atau santai. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. mengenai itu juga saya dengar. langsung menuju pintu yang terbuka. Malam itu. Dia kelihatan sibuk. membantah. Mereka ngelantur mengobrol. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Pak RT bangkit dari tikar. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Seorang di tengah-tengah halaman. seorang lagi duduk di belakang kemudi.

Bukan untuk berbicara. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. Sesaat berlalu.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Supaya mereka hidup layak. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Silakan Anda pulang. “Maaf. . Sumber air/telaga terletak di antara 2.*** 187 1. Seorang tetangga duduk di sampingnya. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. saya harus pergi. Nama Iwan disebut-sebut. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Biar pintu ditutup. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. sudah mengenakan celana panjang. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. kakinya ditembak. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. Teh kental 3. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Tetapi nyatanya. 4. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. Serse memberitahu bapaknya Iwan.” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung..” Lalu Pak RT muncul di pintu. bisa sekolah. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Kamu dua pancuran. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. Belum ketahuan pasti jenis apa. langsung menuju ke rumah induk.. Dia memanggil-manggil.

Tapi apa peduliku. Ganjilnya. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Aku memandang khalayak. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. silau juga. Silau. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. “tapi sudah hilang sendiri!” . Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Ayah berkata. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil.” bilang ayah. Siapa tahu. Lihatlah. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Gelap.Horison. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Aku menatap matahari. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil.000 jiwa itu. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Tidak. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. “Di sini. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik.

” cemooh ayah tertawa. apalagi mengobatinya. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. “Jangan. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Tapi makin lama makin sering. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu.” kataku. makin sering saja. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit.Ayah malah mencoba tertawa. Maka hidup ayah jadi aneh. Makin cekung dan sepi. seolah ia sudah sembuh. Yang tinggal hanya para tetangga. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Baru saja sekali enam hari. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Kami benar-benar kalang kabut. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. juga tanpa hasil apa pun. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. kapan saja di mana saja. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. sehingga membuatnya capek. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya.“ kata dokter. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Ya. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. perlu diobati atau tidak. 189 . Sebab seperti semacam misteri. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Namun jika serangan penyakitnya datang. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit.

pemimpin masyarakat yang modern. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. Muka cekung ayah sudah menghitam. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Nah. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. “Saya bisa membantumu. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. mati!” Maka ayahku menangis. Adik-adik sudah pada tidur. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Ia tersenyum. bahkan ilmuilmu hitam. si kakek itu lagi. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Segala cara kami lakukan untuk itu. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. 190 . Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Ayahku meraung lagi. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Seperti digerogoti setan. barangkali juga pingsan lagi. “Harus kaulakukan sesuatu. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. punya mobil. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Tak tahu aku.” Aku menatapnya tak berdaya. Yah. “Ampun. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila.Sudah larut dinihari. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Nak!” suara si kakek lagi. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. “Kamu kenal siapa ayahmu. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Konon ia teman ayahku dulu.

! Kini di bawah matahari. justru tidak sedih atas kematian ayahku. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. apa pun artinya. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. anaknya. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. hina dan memalukan. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Kalau aku tidak malu. seolah kulihat nyata_. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . Aku sendiri. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya.“Sederhananya ilmu iblis. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. Sebab kubayangkan. akan terus memperkosa ayahku. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati.. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis.. benar-benar iblis. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. betapa terkutuk. yah. _tidak. bahkan paling terkutuk. Maka jalan terbaik bagimu. kaupungut saja Si Hitam. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. serta mulut komat-kamit begitu lemah. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini.

Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. mushola.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. diskotik. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. kakiku. menerjemahkan hati menjadi apa saja. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. berekspresi. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. mulutku. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. hotel. Semua cermin telah retak dan pecah. bisa bergerak selain diperintah olehku. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Maka tanganku. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. gereja. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. maka kamu akan melihat diri sendiri. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. aku pontang-panting mencari cermin. aku ingin mengusirnya. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk.Jakarta. Bila sudah mengetahuinya. Di dalamnya. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. menjadi diri sendiri. . candi. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Aku tidak bebas lagi bergerak. lidahku. Betapa sunyi keinginan ini. Aku memasuki wc-wc umum. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. mataku.

mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Namaku memang tidak jelas. Bila bertemu denganku. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. api. Entah . jangan ragu-ragu untuk menyapa. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. kabut. daun. batang. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Kesedihan. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. air. kesendirian. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. temui saja aku di kebun bunga. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. di mana saja. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. aku tak yakin. Eh.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. kesunyiaan. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Di matanya. kepedihan. aku lupa dengan metamorfosa itu. Aku telah terbawa air. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. mengalir ke mana saja yang kumau. sampah. ketaksempurnaan. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. Di tanah. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. ketakberdayaan. angin. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. kepapaan. dsb.

berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Maka kami. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. “Apa perlunya nama. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang.berapa lama aku pingsan. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu.” Beberapa jenak aku tercenung. Pantai Panjang juga bisa. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Sepanjang sejarah. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Tidak bisa terbayangkan. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang.” Aku memandang orang yang aneh itu. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Sungai-sungai mengalirkan air mata. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. “Kuta. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Suara tangis terdengar di mana-mana. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. Atau Pelabuhan Ratu. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Bertahun-tahun kami mengembara. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. “Ya. aku dan angin. orang beransel besar itu terbang. berapa milyar pembaca yang akan sakit. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. 194 . Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Aku menyusulnya sambil berteriak. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Atau Pangandaran. begitu lelah. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Kami tidak bisa membayangkan.

. Saat kulihat ke sekeliling. Eh. Dan begitu terbangun. Atau aku pun adalah ulat? Ah. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. Ingatlah. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. Aku berdiri dan pergi. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. kita tidak bisa tidak pergi. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. Aku pingsan entah berapa lama. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu.. Tapi aku tidak mengacuhkannya.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara..*** 195 . aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. kamu bisa pergi ke mana saja.

Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. tidak heran. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. Ketika ia tidak . dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. aku malah senang melakukannya. kecuali pada pagi hari. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. Sungguh. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. dan aku juga mencintai sungai itu. Sebabnya. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. saat untuk diam. aku dulu mencintai mesjid. sungai. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Mesjid. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. dan berlari untuk menyelam di sungai. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. cepat seperti jin. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. tinggi dan langsing sepertinya. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah.Horison. seperti kakekku. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku.

anakku.” Aku berkata kepada kakek. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. memandangi luasnya ladang. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. Posisinya berubah sekarang. “Perempuan. anakku.” Kakekku kemudian melanjutkan. “Masood. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. penampilannya yang jorok. kemudian. “Ya. Kakek tidak pernah tertawa. sesudah menyentuh ujung hidungnya. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. “Kami akan memanen kurma hari ini. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood.memiliki kegiatan lain.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. adalah lelaki yang doyan kawin. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “Aku tidak peduli.” kata Masood. Masood.” aku berkata pada diriku sendiri. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. Aku berkata pada kakekku. diwarisi olehnya dari ayahnya. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. Lalu kuingat tiga istrinya. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara.” Ini jadi berita untukku.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. ia berkata. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. akasia. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu.

melompat di atas kakinya. yang kuhitung ada tiga puluh. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. Kakek memberiku segenggam penuh. Ia diikuti Hussein si pedagang. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Namun.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. Hussein si pedagang mengambil sepuluh.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. lalu mengembalikannya. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. dan dua orang yang tak dikenal. dengan cepat dan penuh tenaga. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. “Pohon kurma. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. sementara aku tetap berdiri. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. kecuali Hussein si pedagang. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. Namun. Kerumunan orang bubar. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. Di sana ada begitu banyak orang. seperti manusia. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. yang kemudian kukunyah.Walaupun begitu. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. anakku. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Tiba-tiba kakek bangun. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda.

lima. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Untuk alasan yang tak kuketahui. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. kemudian melanjutkan perjalanan. Aku berlari ke kejauhan. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. Aku merasa mendekati Masood. aku sedikit ragu. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih).” kata kakekku kepada Masood. Kemudian. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Aku mempercepat langkahku. Keluarganya adalah petani dan guru. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Salih mulai menulis tahun 1953. 1997. dua orang asing itu membawa unta. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Mendengar kakekku memanggilku. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. tanpa tahu mengapa. Ia pernah menjadi guru di Sudan. 199 . Tentang desanya itu. “Kita bicarakan itu nanti. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Larson dalam Under African Skies. Edinburg: Payback Press. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Mo-dern African Stories. dan kakek mengambil lima.

Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. . seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. mudah pecah seperti gelas anggur. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Kupasang telinga. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Kutentramkan diri. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Aku tidak memiliki terali besi. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Tahun lalu. Kupandangi pintu. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak.Horison. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Tak ada pistol di bawah bantalku. Namun. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat.di dalam gelap. Kupusatkan pendengaran. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada.

Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. lalu memaksa masuk. tapi di luar kota. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. Jangan mengomel saja. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. saking cintanya. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. di dasar rumah ini. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. sang suami telah memasang pagar berlistrik. ucap sang suami pada istrinya. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Sukar untuk mengasuransikan rumah. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . kisah dalam tidur. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. kayu. anjing peliharaan mereka diberi peneng. serta seorang tukang kebun yang rajin. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. Oleh sebab itu. Jika ada permukaan yang bergetar. yaitu ibu sang suami. dan perampokan. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. dalam perut bumi. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. mobil-mobil dilempari batu. untuk menenangkan hati sang istri. di bawahku. Membuka pintu pagar. tak ada yang perlu dicemaskan. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. ucap sang suami. mencegah kemungkinan perampokan. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. air bertetesan dari rekahannya.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. kolam renang. Merelakan diri tidur kembali. Jadi. juga karena bus-bus dibakar. di mana orang kulit hitam ditempatkan. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Akupun bercerita pada diriku sendiri. semen. kerusakan akibat banjir. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. Kerusuhan memang terjadi. Nun jauh di bawah kamarku. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. Namun. di sana ada polisi dan tentara. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran.

televisi. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. bersipongang satu sama lain. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. radio. Tetapi. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Ikutilah nasihatnya.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. ucap sang istri. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. meraung dan menjerit. Sang istri berkata. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Seperti biasa. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Bunyi alarm yang nyaring. benar ucapan pembantu itu. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Bunyinya dianggap biasa. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. bahkan pada waktu subuh. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. kamera. Sang suami berkata. Sebagian lagi meminta sedekah. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. serta memasang alarm. betul katanya. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. ikuti nasehatnya. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. yaitu ibu sang suami. barang-barang berharga dan pakaian. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. mengecat atap. atau apa saja. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. Benar katamu. akibat menganggur. Akhirnya. lantas menerobos masuk. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. tape recorder.

saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Pada keesokan harinya. jangan cemas sayang. Sang istri terpesona memandangnya.panas yang indah. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. Ketika sang suami. ucap sang suami. Sang suami berkata. Sebuah pilihan yang murah. terbentang gulungan besi yang keras. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. menyilaukan. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. kucing selalu melihat sebelum melompat. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . Betul katamu. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. saya harap si kucing peka. berkali-kali. lalu berkata. Di sepanjang tembok. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Keesokan harinya. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. Kilau itu akan hilang nanti. Sang suami. Mereka benar. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Pada suatu malam. karena sejak hari itu. di mana tempat sang suami. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. tak mengapa. Semakin terkait. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. sang istri. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Sang istri berkata. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. tidak mungkin. berkilat. dan selang beberapa minggu. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. Sang suami berkata. Hubungi GIGI NAGA. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. kuat dan sederhana.

Gunn Fellowship. Lalu tangannya. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. kepalanya. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. the W. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. entah apa sebabnya (mungkin kucing. kapak. Si anak membawa tangga ke tembok. Dalam pada itu. dan the Scottish Arts Council Neil M. dan sebagainya. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. pemotong kawat. Not dor Publication. Friday's Footprint. antara lain: Booker Prize.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. A Soldier's Embrace. Smith Commmonwealth Literature Award. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Mereka -sang suami. dan tukang kebun yang menangis. lahir di Transvaal. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka.H. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions.*** Nadine Gordimer. sang istri. Selected Stories. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . Kaitan yang pertama mengenai lututnya. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. 1923. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. dan Something Out There.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Jump and Other Stories.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful