Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

5 . masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. yaitu aku sendiri. Tetapi. Kami bersembahyang dua rakaat. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Sebaliknya. ini dibenarkan dalam Qur'an. kini berhimpun di halaman sekolah. dia membaca kesemua surah al-Nasr. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. Dalam tempo sejam. Naji. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Syria pada tahun 1918. Dalam rakaat pertama. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. Mohamed Weess. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik.

Tenang sedikit tersenyum. "Ada apa. .Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Rupanya keraguan dokter terbukti. Parasnya cantik. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Dokter segera memeriksa. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Bu. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Perempuan itu tersentak seketika. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Pak Dokter!" teriaknya segera." lanjut dokter. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Bu?" tanya dokter. Kalau tidak. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Kalau perlu dibawa serta ke mari. ''Ya. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Matanya berkaca-kaca. "Gawat. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Takut dan gelisah. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Tenangkan diri. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Kemudian masuk pasien keenam. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Yang saya katakan benar. Keduanya duduk berhadapan. "Tolong. "Oh…. Kendalikan emosi. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Saya ingin tanya. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Dokter menghampiri.

" "Suasana hening mencekam. Akhirnya ia mengambil jalan tengah." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa." saran dokter. kecemasan. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Suami saya orang baik-baik.. Dadanya sesak. ditatapnya dokter itu. "Kurang lebih dua mingguan. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Dok. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. itu harus intens." "Oh…. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. semua ini terserah Tuhan. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Dokter langsung bekerja. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Ah. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Bahwa ia dalam bahaya besar. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang." batin dokter. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. "Tapi…."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. 7 . Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Dok?" tanyanya. Kepedihan. Tentu masalah ini akan selesai. jangan." "Demi Tuhan. Lakukan saja tugasmu. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. Dengan memelas.. toh akhirnya akan ketahuan juga. Sudahlah.

" sambut dokter. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. Tentu. Menjelang petang. Badannya tinggi tegap. Dok." jawabnya sembari menarik nafas. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja." "Saya benar-benar menyesal. "Tak perlu takut. Ketika perempuan itu beranjak keluar. selesai. 8 *** Esoknya. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. Lelaki itu tertawa. Dok." jawab lelaki itu. tak perlu sedih. Selain Jumat. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. "Untuk apa?" tanyanya. datang pasien berumur 30 tahunan. "Sore. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. pegawai DPU. Akan kuusahakan semampu saya. Ini hanya formalitas belaka. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. "Saya mengidap penyakit." katanya. "Selamat sore. perempuan itu datang. saya hanya seorang dokter." hibur dokter." Lalu perempuan itu menghela nafas." "Menyesal?" . "Saya rasa cukup sampai di sini dulu."Tentu. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya." "Oh…kasihan sekali. Dok." ucapnya dengan hati yang terluka.

"Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. "Saya harus bagaimana." Abbas bingung. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar." Dokter menerawang. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Mendadak jiwanya bergejolak. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Saya benar-benar terjepit. Jangan sampai dia curiga. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Abbas merengek. Giginya geregetan. dokter. Pergi." kata dokter dalam hati. Dokter menyembunyikan wajahnya." jawabnya lemah. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'."Menyesal. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Mereka menyesali diri. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. "Tenang saja. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. Dok. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. hingga persoalan ini selesai." jelas Abbas. "Dok. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. "Saya usahakan. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Lantas bertanya. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Apa yang harus saya perbuat. *** 9 .

Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Ya…. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Entah sampai kapan. Rasanya sakit dan ingin marah.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Kebingungan mendekap. Dokter mengira sore ini. tidak'. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Wajahnya pucat. Saudara tidak bisa meyakinkannya.bagaimana lagi. Dada saya sesak. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah." Dokter membungkukkan bahunya. Tiba-tiba istri saya gelisah.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Tapi ia tak melakukannya. Saya terus mendesaknya. "Singkatnya begini. wajahmu pucat dan sedikit berubah. saya harus menjalani masa sulit ini. bagaimana saya harus meyakinkannya. kudekati istri saya. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Kemarin malam. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Lalu dengan ragu-ragu. "Oh…hidup di dunia memang susah. 10 . Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Tatapan matanya layu. Dok. Parahnya. Saya bingung. kini telah hilang. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Saya coba memohon dengan baik-baik. Lalu dengan hatihati. Tapi sayang. "Menurut Dokter apa?" baliknya. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. semakin keras istri saya menolak. Impian untuk menimang anak. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Tapi saya bingung. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. "Entahlah. Abbas menggelangkan kepalanya. "Semakin banyak saya menuntut." Hati Abbas penuh teka-teki. Abbas dirundung ketakutan. Mana?" "Yah…. Sedih. Usaha saya sia-sia." tutur Abbas. Hati saya dongkol. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Aku benci dokter. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Pokoknya tidak. Perlu Dokter ketahui. ia akan datang bersama Abbas. bagaimana harus menjelaskan padanya. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter.

istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Otak saya ragu. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Perasaan tentram. bimbinglah jalan hidupku. saya melangkah ke arahnya. Matanya melotot. Dengan murka. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. tak mampu kuasai diri. Istri saya menjerit: 'Ampun. Saya telah ingkar. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan." lanjut Abbas. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Karenanya. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. 11 . Tubuhnya menggigil. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. Dok. Pengakuan dosa. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Saya terjerumus dalam jurang yang curam.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Bengis. Aku telah bersumpah pada Tuhan.' Belum selesai saya bicara. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Tolong! Jangan sentuh aku. Raut mukanya berubah aneh. Tubuhnya mengejang." tambah Abbas. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh.Karena saking suntuknya. "Apa maksud semua ini. Saya bingung dibuatnya. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Kepala saya panas. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Dok? Saya hanya menduga. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. saya berteriak keras. Tuhan.

tetapi kali ini. untuk memburu binatang-binatang. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Telah kami sibak semua palung lautan. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Maklumlah. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. nenek moyang dan anak cucu kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Kami memandanginya dengan gamang. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. telah lenyap kami tangkap. sebelum sampai ke telaga ini. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Membuat kami begitu merasa terhina. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. badak. serigala dan segala macamnya. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Sampai kemudian kami menyadari. Telah kami jelajahi seluruh hutan. macan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. sementara . Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Barangkali. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. jumlah kami memang makin membesar. Kami seperti mengejar kilat. Membuat kami cemas. ular. rusa.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. mengantar tidur anak-anak kami. hanyut oleh pikiran kami. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Gajah. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. buruan kami tetap saja melenggang bebas. dari tahun-ketahun. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. tupai dan tikus. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Sampai kelinci. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. sejak kami masih dalam kandungan. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Cerita-cerita penaklukan. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. begitu tercium bau kami. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya.

seperti kami katakan tadi. “Masuklah dalam hutan. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Adakah yang lebih menyenangkan. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Lantas. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. sasaran perburuan yang menggairahkan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Kami tak lagi memburu binatang. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Para penjahat itu. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Semoga nasib baik bersama kalian. semua binatang telah habis kami buru. Mula-mula. perlahan-lahan. Rupanya. orang-orang 13 . dengan cara melarikan diri. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. sungguh. mendatangi kami. Inilah hidup yang sesungguhnya. Tetapi kami tak bisa menolak. Karena. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Mereka kami lepas ke tengah hutan. banyak di antara kami yang menolak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. membiarkan mereka lari dan menghilang. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. meski kami akan memburu kalian. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli ratusan budak. untuk ikut menikmati perburuan itu. banyak orang di luar suku kami. memang makhluk yang tak gampang menyerah. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Mereka sudah renta. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. tapi manusia. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Menjadi tradisi. Dan itu. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Dan itulah kehormatan. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Setiap detik adalah pertarungan. baru kemudian kami memburu mereka. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. Jangan cemas. Selamatkan kehidupanmu.. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. kami bunuh. Selamat jalan. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Kami akan memburu manusia. lari. hingga pecah berantakan. Itu menjadikan kami begitu bahagia.. Liat dan sigap.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. tapi tak gampang mati. Anggap semua ini hanya permainan.

Karena kami sudah terlalu kuat. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. keisengan. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. dan kami tertawa bahagia. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. para bangsawan dan pengusaha besar. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. para demonstran untuk kami habisi.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. “Ini darah seorang penyair untukmu. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami.. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. tetapi juga. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. menggulung apa pun yang kami sukai. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati.besar di negara mereka. dengan dukungan dana yang melimpah. jangan sedih. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Kami bangun juga istana-istana. terkadang. Kami terus memburu. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. 14 . Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Kami. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. “Kita harus melakukan sesuatu.. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. puluhan kepala negara. tetapi penaklukan yang membosankan. Suaranya sudah gemetar. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Para bangsawan. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. yang melintas bagai badai dan gelombang.” Gelas kami beradu. melintasi gelombang waktu. Ah. Kami berdiri di puncak menara peradaban. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. sendiri. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. begitu melimpah buruan kami. para raja. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Di antara kemeriahan pesta. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. menjadi tak tertandingi.

membuat kami begitu ternganga. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. katakan kepada kami. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Ya.. Kami turut kemauan mereka. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. dari seluruh dunia. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. anggur segera kami tuang dalam gelas. sebelum maut menjemputku. telah lapuk. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu.. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. “Kami tak mau tahu. “kalian kami beri waktu satu bulan. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. mencari kepastian dalam mata mereka. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami.” kata kami kepada mereka. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. membangkitkan imajinasi kami. para kiai itu. Kami segera menghimpun topan. “Kami ingin Jibril.” “Baiklah. Dan tentu. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak.” Mereka. berkelok-kelok mengikuti 15 . bersulang. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. kami akan membikin perhitungan sendiri.. Sekarang.. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Gairah menjalar. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. Panji perburuan berkibar. Mereka kami datangkan dari semua penjuru.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. kami segera mengumpulkan para kiai. tetapi masjid itu tak juga penuh. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. “Kalianlah yang bercanda. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. meski sesungguhnya heran.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. Dan aku ingin. “Baiklah. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan.” tegas kami. malaikat. Tetapi mereka menolak.

sepanjang hari sepanjang malam. Kami panggil namanya. tertelan dan lenyap. Membuat kami cemas. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Kami kirim utusan kembali. membumbung. itulah yang kami saksikan. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Kami memagarbetis masjid itu. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Tetapi seperti yang pertama. tetapi tak kunjung keluar jua. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. bagaimana mungkin? Tapi. mendadak menyadarkan kami. Kami tak mau di tipu para kiai itu. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Begitulah berkali-kali. dan api melahap cepat. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. masuk dalam masjid itu. jangan-jangan semua itu sihir belaka. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Dan kami segera menyerbu. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. di sana. tak pernah muncul kembali. melihat impian kami sudah di depan mata. Kami panik. Pada saat itulah. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Kami terus berjaga. Kami sudah cukup punya pengertian. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. seperti daun yang melayang-layang itu. bukan? Jangan salahkan kami. Satu bulan lewat. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. menguap begitu cepat. bersama angin dan embun. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Kami bakar masjid itu. seseorang di antara kami berteriak. Tapi seperti yang pertama dan kedua. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. mengalun menidurkan rerumputan. Namun dzikir itu masih kami dengar. Dan. Tombak. di puncak kobaran api. itu pun pasti sudah berhimpitan. Gema itu melambung. Lantas kami tak bisa lagi sabar. tetapi. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Membuat kami tambah cemas menunggu. Jibril. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. sekaligus marah. ya Allah. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. antara takjub dan panik. raib begitu saja. menyentuh langit. di pucuk api berkobar. orang kedua kami pun tak kembali. hingga kayu-kayu bergemeretakan.gigir bukit. anak 16 . lenyap seketika. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. kini telah muncul di hadapan kami. membuat kami tengadah ke puncak api. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. gembira dan tak percaya. luar biasa. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Kami tak mau kecolongan.

Segera menghambur. Di seberang telaga sana. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. yang menyimpan bayangan bulan. desing senapan mesin. dan langsung melesat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. agar kami mampu meringkus Jibril. roket dan basoka.panah. ranjauranjau telah kami tanam. Kami tak pernah tidur di satu tempat. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. mengejar Jibril. melanjutkan pemburuan abadi kami. dan kami pun tak sempat menguburkannya. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Karena kami harus terus mengejar Jibril. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. meraih peralatan berburu kami. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Maka kami pun kembali bangkit. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Kami tak sempat istirahat. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Bertahun-tahun kami memburu. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Tombak terus beterbangan. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. perangkap telah kami pasang. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Inilah buruan kami yang abadi. kami melihat buruan abadi kami. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Dan memang. “Kejar!” Kami pun melesat.*** 17 Yogyakarta. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. kami memburunya. roket terus berlesatan. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . kami lihat jejak cahaya. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Kami tak mau kehilangan jejak. Kemanapun Jibril melesat.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

Tersenyum dan memberi salam padaku. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Dianing. Atas izin Tuhanku. Ia bugil di malam yang damai itu.” “Tentu. Burung hantu mengepakkan sayapnya.” “Oh ya. Seperti berabad-abad lalu.” Aku terpana. “Dianing. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia.“Maksudku melihat dunia. “Cukup lama kami menunggu. “Gerangan siapa membuatmu sepi. Ia menembus awan. Aku bertemu dengan mega. Bulan bulat penuh.” Burung hantu terbang.” “Ya. bulan menuju ke dunia. Aku lewati langit demi langit. Ia menjerit. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. “Boleh aku tahu dukamu. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Aku lihat wajahnya sepi.” “Ya.” Kami berpelukan. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. mega. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.” “Ya. langit cerah. Indah sekali. Dianing. bintang. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.” 22 . Seperti menunggu kedatangan.” “Cepatlah kau temui burung hantu. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri.” Matanya berpendar.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing.” “Bila Tuhan mengizinkan. Gemerlap bintang menyambutku.

” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif.” Aku lunglai.” “Mereka seatap tanpa ikatan. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia. “Maukah kau ke hutan Para. “Bukankah mereka telah menikah.” panggil burung hantu lirih.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. Di 23 .” Burung hantu menggeleng.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk. Telah berpaling dengan perempuan lain.. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri. “Bila kau berkenan.Burung hantu menatapku. Tiba-tiba begitu sepi.” “Bicaralah. Tak sekedar gelap.” Aku luruh. Tatapan yang sulit aku urai.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu.. Lismatano. “Untuk apa. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.” “Maksudmu. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Aku terpana. “Dianing. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. terjal dan mendaki.” Aku kembali ke hutan Para.” “Ya.

Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ia tak membatu. “Mengapa dengan mereka.. Aku di atas pohon randu.” Aku menekuri tanah. Besar. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Aku terpana. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama.” Aku menghela nafas. Kini tak bisa bergerak. Mulutnya lebar ke arahku.*** 24 Jakarta. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Deru nafas memburu. Aku tak kuasa melihatnya. Tubuh Lismatano mengeras. Siap menerkamku. Mei 1997. Ya. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Pergulatan yang dahsyat. “Yuniz nama perempuan itu. Sebentar lagi aku harus kembali. Sementara perempuannya berubah binatang. Lebat dan kotor. Tapi. Aku yang terpaku.” Aku hanya mengangguk. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Ya. . Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Saling menumpahkan nafsu. Lismatano telah membatu dan berlumut. Dianing. Tubuhnya tumbuh lumut. Aku tak percaya melihatnya. Aku berada di ketinggian menara. Tiba-tiba. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Perempuan itu. tetapi tubuhnya berubah..” “Itulah yang pantas mereka terima. Ia berubah jadi batu. Ngeri. Ia berkaki empat. Lismatano telah membatu. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri.

.. Ada yang menembus kepala. asal tahu saja.” Wartawan mendengus. “Begitulah. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. Pejabat yang berdasi kuning. Ada yang mengelupaskan bahu.Horison. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu.. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran....” Pelatih mengedipkan sebelah mata. Pak. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. . Menghapus peluh pada hidung. sebagai wartawan..” “Tentu... Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. misalnya?” Pejabat tergelak. tentu.. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran.. Mlah. “Selain pintar mengejar berita. Ada yang menusuk jantung..” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. tersenyum lebar sebelum menjawab. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. Dan berdehem.

saya harus menggadaikan pistol ini. Padahal. . “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. Harga pistol yang mahal.” “Untuk melunasi kreditnya. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. Lalu mengangguk-angguk.” Belum selesai pertanyaan itu. Namun wartawan telah kembali berujar. “Padahal menurut selentingan kabar.” sang rekan merentangkan tangan. sudah ditukas pertanyaan lain. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. “OK. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. Dan. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik... memasang wajah serius. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal..“Tapi.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening.” *** Saat panas menukik terik. menurut perkiraan dokter. “Silahkan. “Saya sedang tidak konsentrasi.

” pejabat tergelak juga. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak.” diulurkan tangan untuk berjabat.. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab.“Kelihatannya biaya latihan. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. Wajahnya memucat. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem.. yang terlambat datang. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. “Harus kuakui. Saat fajar bergerak sembunyi. Dan menekan gas dalam-dalam. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. "Setibanya di rumah. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. nilai pajak. menyeruak kerumunan.*** 27 . “Kau kan sudah menelepon tadi malam. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. untuk minta maaf. semakin tak menentu. Wartawan tergelak. Menutup kaca jendela mobil. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. saya baru menyadari. Melihat para wartawan tidak mengerti. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. saat itulah wartawan dan pejabat. Dia tertelungkup. “Apakah Bapak. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Dia langsung mengangguk keras-keras. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. dia beralih membunyikan klakson. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng.. “Tak enak rasanya. dan biaya administrasi lainnya. harga pistol. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. tapi belum sempurna anggukannya. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan.

“Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. gerombolan Pandawa. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. mereka sponsor kita kok. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. BM dong!” balas Kresna. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Kramotak.” sahut Kresna.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Melewati Alun-alun Bandung.” Sesaat hening. “Belum begitu laper gua ini. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. “Dalam dunia pewayangan. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. “Siape ni nyang ngulang tahun. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. saya tidak melihatnya dari sisi itu. “Sambil makan malam. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. “Sebel gua. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . lagi-lagi propaganda Amerika. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. begitu ngepop. tiba-tiba Kresna. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. “Bukan mau nraktir. Dewa jangan diberontak. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa.

” Bisma mengingatkan. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. “Kukira tidak mesti seperti itu. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Karena itu. Gareng kebagian memesan hidangan. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Takdir kita untuk menerima kekalahan. “Misi ujicoba kita gagal.” demikian Kombayana punya usul. Punakawan yang lain menyikutnya. Bima menggebrak meja. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik.” Dibentak seperti itu. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. 29 . Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. Apa pun yang kita rencanakan. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain.” Dewala mencoba menjelaskan. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya.” Semar mengingatkan. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti.” “Ini kehendak Dewata. Dewata telah memutuskannya. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau.yang Hilang. Bima meraung-raung. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir.” Arjuna bersungut-sungut. “Tidak. Seperti biasa. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. bahkan Semar menjewer kupingnya. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. suasana rapat menjadi lebih kacau. “Jangan sok tahu Kau.

Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Dengan demikian. dalam akhir cerita. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan.” *** 30 . Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Konon katanya menurut mitos. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah.” jelas Yudistira.” “Bagi saya. Prabu. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Eu begini Prabu.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. dari kopi dan dari rokok. saya akan membalikkan fakta.” “Apa itu?” “Ada saja. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Pokoknya rahasia. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan.” “Tapi saat ini saya ragu. Kita mengalah untuk menang. Kalau sudah seperti itu. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Saya punya teknik. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. silaturahmi antarseniman pun terbina. segala benda serba diuangkan. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. “Justru naskah ini tepat sekali. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. Tetapi kita juga tahu. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. Dengan dibahagiakan. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Pak.. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ketika pertama kali ditemukan. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain.” “Sebentar. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. “Hilangnya Ondol yang misterius. Ondol ditemukan mati di tepi kali. kalian dengar. “Nah.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Begini.. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. hubungi saya yeah. “Terima kasih.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Setelah hilang enam bulan lebih. “Nah. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Di tepi kali di desa kami. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. nih ada laporan kriminil. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Ondol. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Kalau kalian punya narkotika. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu.” yang berkumis memotong.. Begini. Pak. sorri yeah. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. urusan kriminal itu banyak macamnya. Tunggu yeah.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. ini dia selesai mandi. berdiri dan mondar-mandir. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. Nah. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. sorri. begitu Pak. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.“Hei.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. Pak. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. He he he. dia lagi mandi dulu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ayo sekarang lapor sama dia.” 35 . Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. Pak. “Iya. sebentar. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. “Sorri. yang berkaos oblong tadi.

telah saya dengarkan. Pak. “Wah. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Di tepi kali di desa kami.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. “Begini. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. “Nah.” Yang bersandal jepit bersin lagi. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. Bagaimana. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Pak?” “Tentu saja tidak. Pak.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.” “Baik. Pak. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . Pak. Setelah hilang enam bulan lebih. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Harus ada berita acara tertulis. bunyinya mengagetkan yang melapor. “laporan kriminalitas?” “Iya. “Ya.” kata yang berkaos. ya.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. ayo mulai. Pak. Ondol ditemukan mati di tepi kali. ya. Ondol. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis.” Yang bersandal jepit bersin. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. “Hilangnya Ondol yang misterius. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Ya. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Ondol.“Nanti dulu.. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Ketika pertama kali ditemukan. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. “Iya. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk.. begitu Pak. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. kami tidak membawanya. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan.. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Laporan lisan saja tidak cukup.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. ya. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu..

Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. dan syarat lain yang tercantum di sini. . Kepala Desa beserta ibu. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa.” “Caranya bagaimana. itu namanya baru disebut issyu. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. Ketua RW beserta ibu. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. “Nah. nih. karena sekarang malam Minggu. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. Apalagi tanpa bukti. pasti dia kesepian. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan.. Kepala Kepolisian beserta ibu. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. visum dokter. Ada bukti pun. Dan yang lebih penting lagi. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. “Kalau soal ini dibiarkan. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. sodara-sodara. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. Orangorang yang melapor menunduk semua. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh.. “Ingat. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. Nah.” kata salah seorang. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang. he he he.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. Camat juga beserta ibu. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. ya tass. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup.” “Betul. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat.

kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. Untuk mendapatkan visum dokter. lupakan saja kematian si Podol itu.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. Pak." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja.” kata salah seorang. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. “Aduh. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. tidak disiplin dengan waktu. supersibuk. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten." kata yang berkaos setengah marah-marah. Sesuai dengan petunjuk Bapak. tentu berita acara kematian ini. bisa saya terima.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Menurut salah seorang kerabat Ondol. “Sekali lagi. siapa namanya itu. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol.. ya sayang sekali. kami tidak punya waktu banyak. Pada hari itu juga. 38 . Salah seorang.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. Bukan kami tidak ingin mengusut. atas nama hukum. Kami lagi sibuk. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. Lihat. pengusutan perlu dilakukan. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. mayat yang telah dikubur digali kembali. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. dengan semangat 45. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. “Begini. Jelas bukan. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. kalian lupakan saja. “Jadi. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. lebih baik kematian e. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. tetapi kalian yang teledor. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini.. Kalau kemarin datang ke sini. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu.

Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol.*** 39 . sebagian lainnya hanyut di selokan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan.

"Ya. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Kulihat di sekelilingku. Lelah rasanya aku memanggil." dia mengangguk. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. kali ini lebih lebar. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya.Horison. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya." "Kalian?" aku heran. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. Bisukah? Tanyaku dalam hati. . Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Dia tersenyum lagi. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia." jawabnya tenang. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. bahasa yang sangat asing ditelinganya.

Alis putihnya mengumpul. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Aku berjalan di bawah penindasan. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. seperti dia sedang serius berfikir. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Lama aku menunggu jawabannya. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Aku rindu harapan. aku bagi kebahagiaan. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. aku jadi kebal. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. Kubabat tanpa sisa. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. berpakaian. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Istriku sendiri yang mengajari. Ada guratan gelombang di keningnya. Karena lamanya aku membuat kapal. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang."Ya . Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. kadang rumah yang berlebihan. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. telah berubah arah. Aku dan anak buahku. hanya untuk umatku. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. juga familiku. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna." katanya menjelaskan. Mereka bebas makan. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. mereka kusikat. Akhirnya aku harus memilih jalan. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Bukan untuk kalian. Bahkan tahi." katanya menggeleng. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. seperti katamu. "Tidak." Aku terdiam. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. 41 . Jembatan waktu yang kau tuju. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. Aku sangat kecewa.

Tapi yang kucari tak ketemu juga. tapi hutan itu malah terbakar. Aku ditandu dan dielu-elu. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. akan kutempuh!" kataku. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Tapi layaknya sekat. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Dia tersenyum. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar." katanya. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Bencana-bencana beruntun melanda. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit." Nuh yang tua itu menggeleng. Kulambaikan tangan pada orang-orang. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya." "Lalu. Sambil berlari Dia kuhampiri. 42 . Mereka tampak menyongsong. Bibirnya lembut mengurai suara. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. tapi tak juga muncul dalam benakku. Aku berlari di hutan-hutan. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. Lama kucari-cari dan kunanti. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. "Jangan mengejek. Nuh?" tanyaku tak sabar. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. Nuh. tapi di belakang disiapkan membokong. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Berjalan menyusuri ujung penantian. Aku gagal menyentuhnya. Nuh. "Ketegaranmu. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Aku jadi sendiri. kedua tanganku mengepak serupa sayap.Mereka punjung kata dengan emas. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. "Tabah.

"Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. ke sana!" katanya menjelaskan. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Mataku terus saja menatapnya. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Dia menyuruhku memandang ke atas. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. "Terima kasih Nuh. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. Aku terdiam tenang."Tenang!" katanya. "Ya.*** 43 . Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan.

nun beberapa tahun lampau. Bukan hal mudah mencapai taman ini. Senja yang kemarin juga. “Perjumpaan dengan calon presiden. usai membebaskan sandera. Revolusi. Mei Oleh: Moch. Usai mengantar Ning. Kota sedang terbakar. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. Ning juga pernah bilang begitu. Pagi sekali.Pada Sebuah Taman. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. Dia datang dari jauh. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye.” aku menyebut pertemuan malam itu. “Kita evaluasi perkembangan. memberi komando. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. tapi. kukira. di sana. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. turun amat perlahan. Lalu di sini. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Persis ketika suatu malam. dulu. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. ”Anda bantu saya. ketika kami tidur bersama pertama kali. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. mematangkan dan memberi perintah “start”. senja beringsut perlahan. . mungkin. Tak perlu kontak. NY. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. Kekuasaan. bahkan nyaris lunglai. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. sepatu karet dan celana jeans. meneguk perlahan hangat tequilla. Sambil mengontrol radio. telah bergegas pergi dari situ. tadi. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. sepanjang malam. pedalaman Irian. dan Yogo telah datang. lenyap sama sekali. Pergilah. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Asing. aku segera terbang ke sini. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. lamban. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. sedang bermula. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. lenggang. berkeringat. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. lesu. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. senja mulai nyungsep. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Paris. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. dia bagai berada dalam situasi ekstase.

diliputi misteri. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. tapi rencana masih sedang berlangsung. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. tegas dan banal. Tak ada basa-basi. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Sabotase. betapa menggairahkan. rupanya tak dapat dipercaya. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. pupus. persahabatan adalah ikatan kita. Para aktivis telah diamankan. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Presiden memang sudah terpojok. hingga subuh ketika kami pisah. segera akan terbukti. Yogo tampak angker. —lampu teplok kehabisan minyak. dan demi keagungan. telah aku rekam di luar kepala. Lesu. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami.” 45 . Juga kedatangan Yogo yang telat. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. Persahabatan itu. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. Presiden mundur besok. Yogo tak mungkin datang. Mungkin dia sedang di istana. seperti irama tubuhnya: simpel. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Juga keagungan sebuah cita-cita.” Singkat. kelak. Markas keuangan sudah terbakar. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.persahabatan. juga kepercayaan atas nama keagungan. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. tapi aku punya keyakinan. langsung. Beberapa buah bank sudah ambruk. Malam kemudian tiba dengan diam. Malam yang sepi. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Di ufuk. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. demonstrasi. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. bayang kegagalan mulai tampak. tapi kuusahakan. Ning menelepon. Demi Yogo. Oh. Akan menyetop aksi. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Pulanglah. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Ini harus dicegah. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. faktor yang kami tak hitung selama ini. “Ning. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Kamu pasti setuju. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Aku kontan diserang frustasi. Dia berada satu level di bawah. “Ia. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima.” katanya simpel. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Para pemain valas telah terkuasai. Dan malam tadi. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. habis. “Bang. simpel. Presiden yang ternyata sangat lemah.

Reranting tampak seram memantulkan malam hari. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Yogo: gumamku membatin. cuma handuk. Duduk menunggumu. Memanggil. Castro. Seperti yang sering kamu katakan.“Pulanglah segera.” katanya singkat. di sana prarencana sudah tersusun. Sebaliknya. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. utamanya. bukan. Keagungan itu memang ilusi. Di sini. Tapi tidak malam ini. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Kota masih terbakar. Bagi Yogo. aku yang justru panik dan gamang. almamaterku. kamu masih di situ?” “Ya. Tak ada besok. Aku benar-benar frustasi. “Ning. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. aku sudah mandi. Kali ini suaranya bernada khawatir. dan tak ada rencana ulang. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Dia memang lebih matang. kini. Udara gerah berbau asap. “Iya. Suara Yogo.” “Iya. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. kini. sekarang atau tidak sama sekali. Tak ada kegetiran. apalagi kegentaran. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. Malam sudah bertahta. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. balas dendam kalangan militer. Aku ingin berendam.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Ini tentu akan lebih menggairahkan.” Suara Ning tetap empuk. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. menghanguskan sisa rencana. Sementara bagiku? Masih ada Ning. pulang.” “Berendam bersama-sama. Di sini kita bisa berpikir jernih. alumni Oxford. Bukan karena risiko yang mesti datang. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. Hand-phoneku bertulilit.” “Sebentar lagi aku datang. Menggairahkan. Durja. Kami akan segera terbang ke negeri lain. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. seperti Che Guevara. Taman benar-benar muram.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. “Tunggu sampai besok. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. di taman tempat burung-burung bersenggama.” 46 .” balasku memencet “off” pada hand-phone.

Juni 1998 .*** 47 Jakarta. Gairah bulan Mei. kurasakan gairah yang lain.” Malam. di Brooklynn. di taman ini. ya!” “Cepat.” “Tunggu.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. kini. NY.” “Aku juga. Seperti gairah sebuah musim panas. nun bertahun lampau.” “Aku meresapkan bau mulutmu.

Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. Kopag semakin gelisah. perempuan yang dicarinya berabad-abad.” Suara itu terdengar gugup. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Suara itu adalah suara perempuan. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Biasanya dia hanya dijadikan objek. “Siapa itu?” “Titiang. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Tangannya jadi lapar. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Apa pun yang .Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Tangan mereka bersentuhan. Aneh. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Aneh sekali. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.1 Luh Srenggi. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Ratu. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. “Luh Srenggi.” Suara itu terde-ngar bergetar.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Seorang perempuan. Katakan padaku. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Luar biasa. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. dan sangat tulus. kasih sayang. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Inilah perempuan itu. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya.

Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Perempuan itu menolak. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Tubuhnya kurus dan pucat. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. “bahkan untuk menilai keindahan itu. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. bisa dibuat sebuah pementasan. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia tahu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Tapi. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. sangat sadar. Dalam kondisi seperti itu. Tubuhnya seperti lekukan kayu. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Suatu hari. perasaan. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Pikirannya kacau! Kopag sadar. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Dia tidak pernah peduli. Bahkan Gubreg. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. pelayan tua itu. Kopag harus patuh. Seluruh kekayaan ludes. Dia hamil. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Kata orang. Kali ini. dan keindahannya sendiri. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. cantikkah perempuan itu.

Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Masih kata Gubreg. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Karena perempuan Sudra. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. hidupnya. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Jujur saja. juga impian-impiannya. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. otaknya. Kopag tidak saja memahat kayu. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Dunia yang diinginkan. merah. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Untuk pertama kali. 50 . Aneh sekali. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. dia memahat pikirannya. Karena dia bukan kaum Brahmana. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. dan sangat pas. alam menyerah pada kekuasaanya.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Bagi Kopag. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. kulitnya yang sering jadi pujian. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. dia mencium bau darah. Kopag sering berpikir. Bahkan Gubreg. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Dia memberi Kopag poin. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Itu yang dirasakan Kopag. parekan. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Anyir. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Ada-ada saja yang diributkannya.

Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Lihat. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. tentang Michelangelo Buonorrty. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. yang diterjemahkannya. aku juga ingin merasakan. Gubreg. perhatian yang lain. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. “Kau tidak ingin menjawabnya. Kehilangan yang dalam. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . aku selalu tersentuh. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Ratu. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Kopag tidak lagi membutuhkannya. pematung jaman Renaisans. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Aku ingin tahu. kata Frans. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. tapi mampu memikatku. Gubreg. Gubreg. “Gubreg. kau belum jawab pertanyaanku. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Menanggung dosa ayahnya. Susah. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Tinggi. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Susah.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Juga dia baik-baik. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Sejak kecil. Lihat. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Ratu. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. sebelum berpulang. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. yang konon. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam.” Laki-laki tua itu terdiam. “Anak itu buta. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Frans Kafkasau. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Gubreg. rasa apa yang sering membuatku meluap. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Bagi Gubreg. Dadanya sering mendidih. Kau bisa lihat.

Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Begitu parah. Sampai menjelang tengah malam. perempuan yang sangat dihormatinya. Gubreg menyaksikan. dia luka. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Dia juga laki-laki. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya.. “Gubreg. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. ketajamannya. kebanyakan. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Dia sering terjaga tengah malam . Ratu. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Dia mengerti. Luar biasa. begitu indah. Kopag sudah membuka jendela studionya.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Gubreg.” Keruncingannya. Begitu penuh misteri. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Semua orang. dia adalah laki-laki tak berguna. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. angkuh dan selalu lapar. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi..” Suara Gubreg terdengar patah. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya.” “Titiang.. Perempuan itu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. dan mampu meledakkan otaknya. Sangat paham. 52 *** Pagi-pagi sekali. Sebagai laki-laki Sudra. Dia gelisah. Kaki perempuan itu putih. Berkali-kali dia menarik nafas. Perempuan junjungannya. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. “Tentang apa lagi..pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Terlebih.. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. “Aku ingin bercerita padamu.

“Gubreg. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. berdialog. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Berkat kekuatan Gubreg. dukun. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Gubreg tidak sakit. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Kata Balian itu. Guemica. tanganku. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Gubreg. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. membesarkan tubuhnya. sangat surealis. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Gubreg. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga.dengan nafas yang memburu.” 53 . Kata mereka. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. sampai menguliti otakku. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. tidak juga kesambet setan. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Hyang Widhi. Demi Hyang Widhi.” suara Kopag terdengar pelan. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. mengajakku bicara. Sampai sekarang. Aku selalu ingin tahu. Cinta yang membuatnya jadi batu. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. tetapi sudah menyerupai air bah. Tanpa istri. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. dan berpikir. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. "Gubreg. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. menjelang tujuh puluh lima. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Tubuhnya jadi pucat. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Masih kata Balian tua itu. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. dingin.. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Dia menarik nafas berkali-kali. tubuhku. Dia pasrah ketika Balian tua. Rasa ingin tahu yang begitu besar. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Gubreg paham. Dayu Centaga tidak terkena.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. kau belum juga jawab pertanyaanku. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Tak seorang pun tahu. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna.. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya.

Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. diajar memahami kehidupan. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Gubreg diam. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Berkat Kopag. dia terus mengelilingi studionya.” . Kopag seperti linglung. Ratu terlihat sangat gelisah. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal.Gubreg tetap diam. keluarga besar ini kembali bisa hidup. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Bulan kemarin. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Sayang. Bahkan. Kopag memerlukan perempuan. Lima menit tanpa hasil. Dia tahu. “Ratu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. dia tidak tahan miskin. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Otaknya hanya berisi kehormatan. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Mendengar komentar itu. Benar kata Kopag. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Jero Melati tersenyum. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Sekarang ini keluarga ini tentram. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.” jawab perempuan itu serius. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Kata orang-orang kampung. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. *** “Gubreg. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri.

“Maaf Ratu. Gubreg. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Saya 2. punggungnya bongkok. Gubreg. Kulitnya juga kulit kayu. membersihkan studionya menyiapkan makan. Wajahnya juga rusak berat.” Gubreg mengangkat wajahnya. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. aku tenggelam dan habis. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag.” “Mereka setuju. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Kulitnya begitu kasar. kakinya pincang. Luh Srenggi. dia hanya memiliki satu mata.?!” Gubreg seperti tercekik.” “Apa kata mereka. “Aku sudah memiliki calon.” Gubreg ambruk. *** 55 1. Aku ingin kawin.. ada daging besar tumbuh di atasnya. Sadarkah dia.. matanya yang kiri bolong.” “Ratu. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Kau tahu. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.“Ya. Ketika dia telanjang. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.” Suara Kopag terdengar sangat serius.

analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. “Peradaban sudah merosot. kamu yang melejit. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. terkemuka. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. Aku diberitakan. meringis. Air . Aku yang menjadi korban. Aku yang kejepit. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. kamu terus hidup ngakak. Semua orang berdagang. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. saling bergotong-royong. Aku yang terdera. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Kehidupan sudah rusak. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. dipergunjingkan. tapi sebetulnya kamu semua tertawa.Horison. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. Aku menderita. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. Aku yang sudah kesakitan. “Aku yang mati. Ia berdiri di pinggir jalan. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. diperdebatkan. “Aku yang mati. Kamu semua kelihatan saja menangis. kamu yang enak. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. sehingga mereka menjadi terkenal. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Aku yang menanggung seluruh kerugian.“ kata mayat itu.

Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. aku kan hanya menjalankan assignment. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. “Semuanya busuk. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. menciptakan esai-esai.” “Tapi kursinya rusak.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. ternyata hanya sebuah koteka. Sama-sama wanita. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Seperti bendungan ambrol. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Pak. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. susila. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari.” “Biar saja. Komputer penuh dengan katakata kotor. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. kepatutan. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. Itu kan baru dibeli. semua yang tidak adil. untuk membungkus kebiadaban. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. apa saja yang sudah menyinggung. Akhirnya sekretaris redaksi. “Tanya Bapak.” erang mayat itu. luka. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Apa saja yang sudah menyakitkan. “Biarkan saja. Ia menguras seluruh dendam. Sekretaris panik. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 .matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. seluruh ketidak-benaran. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. Moral. elegi-elegi.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. kesalahkaprahan. telepon berbunyi. Kalau memang ada yang salah. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. menutupi hidungnya. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. prasangka dan kesakitannya. tata krama.

“Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Minuman panas.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai.Sekretaris bengong. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. lalu lari keluar. 58 . Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Ia berdecak-decak kagum.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Sekretaris menutup matanya. menemukan untuk pertama kalinya. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Mayat itu berdiri. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. Mayat itu terkejut. Keduanya berjabatan tangan. ia sempat mengerling ke atas layar komputer.” Mayat itu menjadi amat girang. ia menggepeng di atas kursi. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. karena mencabik kursi itu.” “Kamu bisa merasakan. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. air dingin untuk penyegar. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. saya mengerti sekali. “Kamu mengerti?” “Ya. Nampak begitu lelah namun damai. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. hati dan otaknya. Mungkin juga makanan. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Seperti balon kempes. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Penjaga kantor itu mengerti. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Di antaranya ada gambar garuda. seperti orang yang mau bersekongkol. Mayat itu menggelengkan kepalanya. ia kembali ke kursi. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. Itu memang benar.

Bulu kuduknya meremang.” 59 . Karena di kedua mata nampak ruang kosong.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. Saya budak.” Mayat itu terkejut.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. ia hampir terpekik.” Mayat itu bergidik. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” “Apa? Kamu budak?” “Betul.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Siapa tahu itu agen polisi.

selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Saya harus hidup.. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Jangankan perasaan dan pikiran. Apa pun saya tidak punya.. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit.” Mayat itu mendekat.” Mayat itu bingung. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. aku jadi curiga. ia lalu menyentuh. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. Orang itu memang sudah dikebiri total. Ia tak punya segala-galanya. . Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. “Ya Tuhan. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Tak puas hanya melihat.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. Seluruh kemaluannya. jangan-jangan kamu.” “Memang begitu. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Maaf ya.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. Mayat itu menggigil. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. kemudian meraba-raba. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. meskipun tidak punya semua itu lagi. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi.” 60 . Saya budak komplit.” “Edan!” “Ya.

“Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Bukan hanya saya yang harus hidup. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. tetapi apa boleh buat.” Mayat itu ternganga. saya tidak pilih-pilih nama. Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. Berapa?” “Tiga puluh. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. Ia pelan-pelan duduk kembali. saya manut-manut saja. suka manggil saya apa saja.” 61 . telat mikir. wong ini harus.” Mayat itu berpikir keras. Terserah orang. Pasti penjaga malam itu korupsi. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu.” “Itu namanya pasrah. kok. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Gaji kamu berapa sih.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Saya memang telmi. Ini kewajiban saya. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Pak. silahkan.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah.

jangan takut.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba.” “Kamu sudah mati. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” “Ya. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng.” “Memang saya sudah mati.” Mayat itu termenung. “Tidak bisa. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.” “Ah! Apa?” “Kata saya. tidak akan dituntut. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. Jangan keliru." gumam mayat itu terpesona. “Ayo salaman. Saya tidak bisa salaman.” “Tidak bisa. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi.” 62 . Sekarang aku tahu masih ada orang lain. saya sudah mati. Tetapi sekali ini. "Kamu luar biasa. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan.

“Kamu jangan main-main.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul." Mayat itu bengong. Pak.” “Tidak. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. Sumpah. tetapi bukan. Baik. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. memang beginilah saya.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Saya tidak boleh istirahat. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. Tidak apa. Selamat beristirahat. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Ini bukan waktunya untuk guyonan. lalu ditangkap oleh gelap. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Boleh juga saya disebut begitu. saya sungguh-sungguh. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini.” Mayat itu berpikir. Boleh saja tidak percaya. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Dipercaya atau tidak. 63 .” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. tempat saya tidak di kuburan.” Penjaga malam itu pasang tabek. Mati pun saya tetap harus bertugas. Saya tidak tidur.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Tetapi di kantor ini. Mayat kok banyak bicara. Saya memang mayat.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. seperti tidak ada artinya sama sekali. Remang-remang dalam kegelapan. tidak. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri.. Ada yang lebih jelek.”.. nasibku tidak terlalu jelek.*** 64 Jakarta. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. kalau begitu. Disertai penyesalan penuh. “Kasihan. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. sudah cukup. kalau begitu. hanya dengan satu gerakan.11 – 1997 . “O tidak. “Ya Tuhan. 3 .Mayat itu terpesona. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. “Maaf. Ia merasa sudah terlalu cengeng. Tetapi apa daya.” desis mayat itu. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. lalu kembali lagi ke tempatnya. Ia abadi. memanggil saya.

tidak ada artinya. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Di trotoar-trotoar. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. bila direnungkan. tapi pengawakannya tegap dan kekar. nyaris berteriak. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. di mana pun kebetulan ia berada. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. Seorang laki-laki tua. Masuk-keluar kampung. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. di emperan-emperan toko. Meskipun tua. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. berkali-kali. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. tempat orang lagi sibuk bekerja. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. di perempatan jalan. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Sesuatu yang punya arti. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Sorot matanya memancar berbinar. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. lebih separo abad usianya. Karenanya ia ditakuti orang. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. Sepintas lalu. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu.

Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Ada selentingan. Brodin atau Ilmudin. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Dari mana asalusulnya. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. lebih-lebih anakanak jalanan. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. selalu berpindah-pindah. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Kusir-kusir dokar. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Saridin. karena penampilannya yang tidak lazim. Di halte-halte bus kota. Siapa namanya. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. tak ada yang tahu. Di pemakaman-pemakaman umum. Di emper stasiun kereta api. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. tak terkecuali gubuknya. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. tukang-tukang becak. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Di emperan super market. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. penuh bertabur onak dan duri. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Oh ya. Sidin.

Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. kebanyakan orang-orang tua. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. Surau itu lengang dan kosong. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. 67 . senantiasa dihalau. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. diusir dari satu tempat ke tempat lain. Cepat ia bangkit. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. Entah darimana. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. karena ada pagar tinggi menghadangnya. pikirnya. Mengapa ia tidak ke sana saja. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. sesaat ia tersedak. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Berlampu suram. Mereka sulit tidur. Surau itu tampak kurang terpelihara. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Kebanyakan orang. Tapi sial. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. lalu melangkah ke dalam surau. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah.menghalaunya. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. sekadar numpang tidur sejenak. untuk beristirahat di malam hari. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. apalagi kejahatan. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Dengan hati sendu dan putus asa. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. lalu naik ke serambi surau. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. lari ke kolam mengambil air wudu. ia surut.

68 . limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya..Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Dan ketika salat rampung sudah. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia.. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. tidak seperti biasanya. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Ia duduk bersandar ke dinding papan.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. selalu dipupuknya. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Suatu ketika." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Jika Saudara kehendaki. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Keluarganya punah. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Harapan-harapan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Tak seorang pun peduli. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. "Saya adalah penjaga surau ini. ia mengelana seorang diri. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Hartanya musnah. Ia tersingkir.. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. berkeliling kota tanpa tujuan. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya." jawabnya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Agak lama matanya terpejam. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Keyakinan dan kebesaran-Nya. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata.

. seolah-olah ia tertidur lelap. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. indah sempurna tiada tara. hai pengelana. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau.*** 69 . Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. Di sana segala sesuatu kekal abadi. dalam hati nurani dan jiwanya. "Belum lama ini. "Kini. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. dan akan selalu terjadi. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi..Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Ini merupakan masa paling buruk. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. bahkan di uratnadinya. hingga menggigil sekujur sendinya. tapi telah keburu sombong dan berlagak. ketika manusia sama ketakutan. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Ketika saat salat Zuhur tiba. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Hal ini tentu telah engkau ketahui. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. Kedua belah matanya rapat terpejam. Mereka coba mendekati planet Mars." kata sosok penjaga surau.. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. Dan kertas. Kemudian hanya dengan setengah gram. Saat itu zaman perang. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat. Sobat." "Dengan ubin hijau. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. tentu. *** . " "Empat ribu." "Dengan ubin hijau. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. dia sedih sekali dan menangis. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela." Kedua laki-laki itu berpisah." "Empat ribu? Baiklah." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. Dan di atas kertas ada angka-angka. Ya. Matahari menyinari bunga.

" "Jadi. Mereka adalah para jenderal. di belakang. Ingat Sparta." "Demi Tuhan. Pak Guru. "Nah. Berpidato pendek. Banyak mata bersinar. Sangat mengharukan. gada-gada kecil berjatuhan. Banyak salib kecil." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil." "Terimakasih. Mengharukan. tanah air." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri.' Kedua laki-laki itu berpisah. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Mereka berbicara tentang manusia. Dua laki-laki bercakap-cakap. Membacakan Hölderlin. seribu. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak.Lintasan boling. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. berpakaian hitam-hitam. Ada upacara." "Pasti akan habis. . Menyeramkan. Mengingatkan pada Langemarck. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. "Nah. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. Dia bangkit dan tertawa. berhentilah. Upacara yang mengharukan. Lalu. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Saat itu adalah zaman perang. Para pemuda maju ke garis depan.… Sama sekali tidak. Pak Guru. Sangat mengharukan. Mengutip Clausewitz. Menimbulkan gemuruh halus.

Orang itu dibunuhnya. prajurit itu pulang ke rumah. Ketika perang berakhir. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Yang satu rubuh." Kedua laki-laki itu berpisah. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. Dan kamu?" "Sama. Mereka adalah prajurit.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. . "Sukarelawan?" "Tentu." tanya Prajurit. "Kenapa tidak. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. "Mau menembak. Dia mati. "Kamu tidak boleh membunuh. Saat itu adalah zaman perang. perempuan itu menamparnya." kata Hakim. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. para menteri jalan-jalan di kota. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. Tapi dia tidak punya roti." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. Ketika mereka sedang menembak. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti.

Burung-burung gagak masih menggaok. Tanahnya sama.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Waktu mereka berumur dua tahun. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Waktu mereka empat puluh dua tahun. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. mereka saling memukul dengan tangan. Waktu mereka berdampingan. delapan puluh dua tahun. mereka menggunakan bakteri. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. mereka mati. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Waktu mereka dua puluh dua tahun. mereka saling melempar bom. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Semuanya tanah yang sama. Waktu mereka dua belas tahun. Jurusan Bahasa Indonesia. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. Waktu mereka enam puluh dua tahun. mereka saling menembak dengan senjata. *** Pada suatu ketika ada dua manusia.Dia adalah seorang ibu.

78 . Beate Meik. di bawah bimbingan Dewi Noviami).bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand. Birgit Lattenkamp.

Namun. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. ) 79 1914 Akhirnya. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. . pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg.. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. dengan banyak pertumpahan darah. Juenger datang liwat kota Basel. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. sambil memandang sungai Limnat. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. di Flandern maut merajalela”).Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. yaitu “Flandrischer Totentanz”. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende.. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima.. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. Pada pertemuan pertama. akan tetapi sekaligus menyusahkan. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda.

isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. juga karena disemangati oleh para guru. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. seperti Remarque sendiri. Barangkali sebab itu. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. Akui sajalah. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. Dari tiap dua orang. Remarque. kata Remarque. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. Dan mereka yang kembali. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. sampai sekarang hancur jiwa raganya. “Dalam Stahlgewittern.” Novel ini. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. kami menemukan senapan. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. satu tidak kembali. dengan sangat teliti.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. “Omong kosong!” teriak Remarque. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. juga.

Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Remarque. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. berkurang satu orang. Namun. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. “Betul. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. Setiap tembakan jitu. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit.” Juenger tidak menjawab. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu.” kata Remarque. meskipun bentuknya agak diubah. Andaikan Anda tahu. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. Seakan-akan menjadi saksi. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Remarque sengaja tetap membisu. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. “buku itu laris. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. 81 . Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. melainkan seputar masa lalu. Setiap pecahan peluru tembus. antara lain pabrik besi Thale.

hampir pipih. ada lubang bekas peluru tentu. mestinya Anda ketahui juga. .*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. sesudah itu M 17. si none.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi..“Nah. jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Juenger juga. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. Saya. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. Lucu dan memelas sekaligus. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. Melorot terus.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya..” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. di meja tulis saya ada kenangkenangan. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. 82 . saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua .

Gerhard. "Dan ini. "kemarikan." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. sesuai dengan aturan. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. ke mari. "Ayo. dia pun membawa rokok. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping.. "jangan terlalu keras." kataku. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . "Tidak usah. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. .. Letnan mengirim dia kepadamu. Sop buncis sudah dingin.Jak. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. di pos komando. "Ini. di pos pengintaian.. ." Selama itu. dan selain membawa peralatan makan. Aku berdiri di depan. dengan muka selalu menghadap ke ." kataku. untuk pos pengintaian. di mana orang-orang Rusia berada." kataku perlahan. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. sialan!" Peralatan kopelrimnya. "Idiot. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton." kata Gerhard. semuanya akan segera kumakan. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. begitu saja dari kertas pembungkusnya. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. dialah yang mengantarkan orang itu. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak." "Ya. "orang baru yang menggantikan Gornizek .1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. Dan daging kalengan itu pun kumakan. aku tahu bagaimana dia.. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu.. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi.. melepaskan kopelrimnya.

. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. Winnetou. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok." katanya lagi. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. "kan tidak boleh duduk. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. "Duduklah yang tenang. "Saudara merahku. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya ." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan." "Tak ada yang boleh. Aku membungkuk. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. "Di pos." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik. "Sini. juga tidak boleh memulai peperangan. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya." kataku pelan-pelan." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. ." kataku. tangan di lutut. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota.musuh. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. "minum seteguk." kata sebuah suara yang lemah." katanya menggagap. minum sendiri." "Tapi di pos." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. "Kemari." "Kalau begitu. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. 84 . "Terima kasih." bisiknya... dan jika dia menoleh ke samping. "Tidak enak?" "Enak." gumamnya. "tapi aku tersedak. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. "Diam!" aku membentaknya. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani." "Tidak. Anak-anak muda yang malang itu .." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya.

. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi. kamu tahu. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. Di bagian depan tidak ada apapun. di 85 . sedikitnya sesuatu. setidaknya remang-remang atau berkabut.. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya.Aku pun minum. selalu begitu. Avold. Di suatu tempat.. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku." "Tidak begitu takut lagi. tapi memang begitulah mereka semua. melihat sesuatu. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi.. kalau saja bisa melihat sesuatu. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. pikirku. Avold. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan. Dia sangat . "selalu malah." "Dari mana?" "St. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. jauh lebih baik .. aku merasakannya. kalau saja sedikitnya remang-remang.. tapi lalu dia berkata: "Ya. tapi aku bisa mencium baunya." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. bau keringat.. "Aku juga takut. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. lalu sisa-sisa sop. Ah. juga di pos komando di belakang kami.. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. "Sekarang lebih baik. . juga sedikit berbau minuman keras. kalau saja hari menjadi siang.. kan?" "Ya .... Tetapi kalau terang.. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian." Kami diam beberapa saat.. sangat diam.." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. Dia menoleh lagi ke arah musuh. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya. Lothringen.." kataku karenanya. agak terang.

sampai mampus. Tapi tenang. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting." "Habislah kita. paling-paling pagi hari.." gagapnya.. "Tapi mereka tidak datang. . kita harus membunuh mereka. dan suaranya bergetar lagi." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 . untuk mengekang suaraku.." kataku.. seolah seseorang membungkam mulut itu.. Artinya.. menyerang. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. Tetapi itu bukan apa-apa.." omongku terus. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita. Berbisik." katanya dengan suara bergetar." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu.. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. kita pasti melihatnya. kepada Letnan." katanya.. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang. ke pos komando. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. supaya bisa melihat... untukku hal itu selalu memakan tenaga.. kan?" "Ya. maka kita harus tutup mulut.." Dia diam lagi. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. mengerti kan?" "Ya.. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. Ah. Aku paling senang kalau bisa meraung. Aku pun minum lagi. biarkan mereka lewat. "pos pengintaian. ini kalau . betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi. pasukan pengintai. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia." katanya. "kalau kita tidak melihat mereka datang." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. betapa baiknya dia bisa berbisik.. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. "Bagus. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. "mereka tidak datang pada malam hari... Dua menit sebelum fajar. "Ya. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. "pos pengintaian.. "Kalau . mendengarnya. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. merasakan bau apeknya." Lagi-lagi aku heran. Kamu sudah bertemu dia. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja... hampir lebih baik daripada aku.depan sana. . Lalu kita menembakkan peluru asap merah..

.K. "aku bernama Jak. calo apa .... ingin bersenang-senang. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku. setidaknya hampir selalu. "Aku. melihat lagi ke depan. Jak saja. jangan takut." katanya. lalu dalam kegelapan. jadi kalau seseorang datang. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat.. supaya menjadi hangat lagi. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan ." "Seperti orang Inggris. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran.. dengan sangat tiba-tiba.. Jak. lalu pergi .?" 87 . sangat pelan. Karena tegang aku lupa meneguk minuman. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. calo saja. "Yah.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu. "Calo apa . "aku berdiri di stasiun.. "Dari Jakob .. aku harus menyikut tulang rusuknya. yah. dan kalau seseorang datang.." katanya. Ngomong-ngomong.." tanyaku lagi. setiap kali kalau mau berbicara dengannya."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku.. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi... "Dan. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka. kamu mengerti? Tuan. biasanya tentara.." "`Gimana.. yang sedang kosong... bukan Jeck. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci..? Begitulah aku bertanya. ." katanya..A." katanya dengan susah payah. kan...." katanya. seseorang yang aku pikir cocok." Dia diam sesaat. ya?" "Tidak. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku.calo apa." tanyaku. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. ". "jadi calo. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan..." "Ke tempat pelacuran...." kataku parau." "Apa?" "Calo........" dia mengeluh dalam-dalam. J. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu." "Jak...

Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan." potongku. Lili dan Gottliese. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. lepas." "Dan." dia tertawa lagi sedikit. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol. dia bernama Gottliese. mereka bekerja mandiri.. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. dia mengoceh hampir dengan sendirinya. tapi aku tidak bisa menjawab. sangat sungguh-sungguh. sangat jauh." katanya datar. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. Sekarang. terlalu berbahaya.?" dia benar-benar tertawa sedikit. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran." "Tulang-tulang ?" "Ya. Tidak.." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan.. .. kan?" "Bukan. di suatu tempat yang sangat ." "Siapa?" potongku. . "germo adalah tuan-tuan besar." dia mendesah lagi. "tepatnya uang persen. perempuan-perempuan itu. tanpa izin apa pun. syukurlah! Kalau punya.. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . Tiga orang." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. ke tanggul di mana dia sedang tiarap.." dia berkesah lagi. "adalah yang paling baik. "Enak sekali." katanya. tiran. dan dari itu aku hidup. dan. mengerti. ah."Bukan. Käthe. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. "Ngomong-ngomong. "dan artinya kamu dulu seorang germo. Aneh.. "Hubert. ya. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. dan suaranya sekarang bergetar hebat.... aku pasti harus berkelahi dengan yang lain.. dia bertanya. botol itu kosong.. tidak punya germo.. siapa namamu?" "Hubert. kamu mengerti. Tidak.. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. 88 .. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob..." sambungnya. untuk siapa aku bekerja. "Ya. "bukan. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. ya.. "Gottliese... aku kan hanya seorang calo. kamu mengerti. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . "eh.." katanya kemudian." kataku sambil memberikan botol kepadanya. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. mereka tidak punya surat izin...

" Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran... ada sedikit suara gemerincing .." "Tapi lihatlah. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang.. Aku hanya punya dua peluru. kamu akan melihatnya dan tertawa.." kataku. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak. "ya. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. Itu tangkai-tangkai bunga matahari. "Jak. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat... Itu sesuatu yang nyata... coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. Supaya mereka tidak membom kita . "Ya. mereka datang . Di atas garis itu kelihatan agak terang. itu bukan apa-apa... itu pasti sesuatu . itu perang.. hitam -. itu neraka.. Kalau hari sudah sangat terang. sebuah garis hitam pekat. tembakkan yang putih .." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.. "Anak muda.. "kalau mereka benar-benar datang. dan itu terlihat ada di ujung dunia.terlihat sesuatu seperti horison. jauh. "aku tidak bisa menembakkan yang putih.... sepi... sepi sekali.. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini. Satu saja.. seperti ayunan lembut jerami . manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam.. mereka datang. aku melihatnya . dan kalau mereka sudah dekat. jauh sekali. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.. "Jak... dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. aku begitu kaget.. mereka merangkak di tanah. betul-betul jauh sekali ." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya." kataku." katanya dengan sangat dingin.. tembakkan yang putih ...." bisiknya. aku bisa mendengar mereka... supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. sesuatu yang nyata . Jak. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa." kataku. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang.." "Tembakkan yang putih.." 89 . subuh. sesuatu bergerak . "besok pagi aku sudah mati... "diamlah.. "Ya." balasku berbisik.. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu. "kamu gila... itu ." "Jak. Besok pagi kamu akan tertawa.. ..." "Aku kan kenal mereka. sama sekali tanpa suara. Jak.. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering.. "Ayo." "Ah ... dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. mereka datang. kalau pesawat pembom kita datang. kita bisa juga mendengarnya." "Besok pagi.kotor dan sebagian hancur tertembak... itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . mereka mengendap-endap. maka sudah terlambat. itu bukan sesuatu yang nyata." "Ah.

Gottliese. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. Besok pagi-pagi. Dan itu bikin jengkel. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu.. Begitu ingin aku melihat wajahnya. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. "tidak selalu.. dan kami duduk lagi menyandar. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. kalau pesawat pembom kita datang. artinya hari ini." sambungnya dengan suara capek. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. kamu tahu. karena kalau tidak. itu lebih praktis. "Di Köln. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. Wajah seorang calo tulen. "Jak. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu." kataku.. Dia punya banyak langganan tetap. karena itu orang tidak cepat jadi panik. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. aku sedih. Barusan tadi. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. lalu aku pergi kepada Lili. dia yang paling baik. Awalnya. "Tembakkanlah yang putih. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. percayalah kepadaku. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. Käthe orangnya sangat dingin. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese.Dia diam. kamu pasti tidak mempercayainya.." bisiknya seperti seorang sinting. ." katanya. Ya. bisa-bisa kita jadi selai. kadang ramah. Kadang-kadang di Stasiun Selatan.. Yah. kamu mengerti? Dalam setengah jam. Di tengah jalan. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. Lili di dekat Gedung Opera. aku tahu itu. aku hanya mendengar mereka berbisik. Stasiun Pusat maksudku. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. ." dia membungkuk lagi ke arahku. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. Dia memberi aku 90 . kamu tahu. dari dekat.. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. Di mana kamu terakhir kali . dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. Setiap kali. tapi dia sering minum. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. baru keringat dinginmu mengucur deras. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. dan mungkin sesuatu akan terjadi. dan suara tembakannya akan keras sekali. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. betul bukan. mereka suka melarikan diri. ketika tidak terjadi apa-apa. kamu tahu. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. Sekarang tanggal 21. "Jak. tak tahulah aku.. kemudian cafe itu terbakar. kadang kasar. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. lebih baik kamu cerita lagi. Ah. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih." aku ingin mulai. kita masih punya waktu empat jam. tidak bisa ditebak.

Dia selalu memberi banyak kepadaku.." katanya.. Dan Käthe masih juga memakiku. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. "Tenanglah. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. lalu dia akan menonjok mulut mereka. "Diamlah. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu.sepuluh persen. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. yang paling cantik. persis seperti pada kita. menghadapi bahaya ditangkap polisi. Kadang hanya lima puluh sen. Dia sangat pemurah." "Seorang tentara?" "Bukan.. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali." "Jak." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu.. Aku percaya bahkan sebaliknya. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. itu bukan apa-apa." "Menghadiahi?" "Ya.. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. seorang sipil. sepuluh sen. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. .. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. Sebenarnya. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. "Ya. Dan dia cantik. tambahan lagi sudah tua.. kamu mengerti. Mereka kan tidak boleh begitu. Mereka hanya sedikit mabuk. . Dan dia pun lumayan mengurus aku." tanyaku.. Maka Käthe selalu yang terakhir. Sepuluh persen! Sementara. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. Ah. Gottliese berbeda. sampai komisar mereka mengetahuinya. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. sangat dekat ke arahku. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. setiap kali setidaknya dua Mark. apa aku punya rokok dan lain-lain. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. . Dan kemudian.." 91 . "dia hanya mendapat satu Mark. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. "tidak akan lama.. kamu mengerti. . Kamu harus menunduk. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu.. sudah. Menghadiahi." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. Bagaimana tempat tinggalku. itu saja. . karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun." aku ingin bertanya. Dan tembakan pertama pun meletus. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. aku bilang sama kamu." "Bagaimana.. paling hanya beberapa menit. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia.

di situ. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi.. "Cantik.. "Kamu lihat.. aku mendengar mereka datang. sama sekali. ." sambungku." Dengan segan dia menjawab... ...." katanya pendek. aku mendengar sesuatu. Dan yang paling sial. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. 92 .. . menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . Dia sedikit gila.. Sering dia memakai nama lain . dan dia sering tidak meminta bayaran. setiap hari nama baru . atau Susemarie.. sekarang mereka datang..seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. "Bagaimana. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila.... Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. Dia sangat mungil." "Tidak . "bagaimana parasnya. kamu akan mendengarnya..." Aku memegang erat lengannya.. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang. juga lengkingan liar itu. Kathlene. Lalu sangat sepi. dalam terang.. mereka menyerbu maju. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan .Tapi teriakan itu tidak berhenti. menyibak tirai perang menyelimuti kami." kataku." kataku. wajah seorang calo tulen. Inge Simone. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku." sekarang aku bertanya. dan kalau mereka datang." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. . entah siapa lagi. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri." bisiknya." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu.. Aku pikir. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak." tiba-tiba dia bisa bicara lagi.. "Ya. "Sekarang . karena di belakang dan di depan kami. . dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. Gottliese itu.. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. pakai otak dong. sekali lagi teriakan . Tidak bisa lain. sungguh mungil. "tembakkanlah yang putih. "dan sedikit gila. kalau tidak aku bisa gila. betul-betul sepi. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. "Jak. suara gemuruhnya seperti kiamat... "Ayo... kamu tahu." Nafasnya tersendat. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan. . "sekarang aku akan menembakkan yang putih. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut .aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya.

.. dia berbisik pelan: "Tuan.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. lebih hitam dari pada malam.. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. ingin bersenang-senang. 93 .Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya.*** Judul asli: "Jak. diterjemahkan oleh Dewi Noviami. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya.. der Schlepper". malah masih memberi sesuatu.. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.

dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil.Horison. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Dan tahulah dia sekarang. tapi sangat samar. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. terletak di sebuah rak buku kecil. mengapa di dekat . perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. melindungi matanya. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Laki-laki itu mengangguk mengerti. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. kemudian gelas. Di bawah potret ada sebuah gelas. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. dan kemudian beberapa buku. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Gelas Itu. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Dengan tangan gemetar. Alis perempuan itu hitam tebal. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan.

tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Dan ketika perempuan itu membuka almari. laki-laki itu agak terkejut. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Sungguh agung dia. Dia pasti laki-laki ramah." dia. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. dan derajat sesamanya. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. wibawa tinggi. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. Heran. martabat. Maka berbicaralah dia asal berbicara. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Saya mengaguminya. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. Meskipun demikian. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu." Belum sempat bertanya apa-apa. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Matanya sungguh 95 . Tapi laki-laki itu tidak bertanya.

Nabi Yusuf tidak suka merayu." kata perempuan itu lagi. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Ingat. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. dan akhirnya mengenai payudaranya." kata perempuan itu. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Dan setiap kali saya merindukannya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. dengan nada sangat melecehkan mereka. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. dia laki-laki mengagumkan. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. Bagi saya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. "Laki-laki itulah yang saya cintai. Surat itulah. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. yaitu merayu 96 . Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Laki. Begitu gemar dia membuka-bukanya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. dialah laki-laki yang saya cintai. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. sementara dia suka merayu. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. tidak seorang pun tahu. pertemuan dinyatakan bubar. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. Kalau tidak keliru. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Dia ingat. mengenai buku-buku itu lagi. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak." Laki-laki itu diam. beberapa bawahannya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Betul yang kau katakan tadi. Akhirnya laki-laki itu tahu."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. sangat mengagumkan. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. sekali lagi. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Kamu pun sebenarnya iblis. bukan apa-apa bagi saya. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. pasti saya bertindak terlebih dahulu. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. tapi perkelahian-perkelahian itu. Meskipun demikian. Juli 1990) ." Bulan tetap berputar-putar di atas sana.Dengan tenang. Memang saya sering berkelahi. Dan setiap kali merasa takut. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Ketahuilah. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu.*** 101 (Dimuat dalam Horison. Saya hanya menikmati satu hal. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa.

Darah mereka muncrat ke mana-mana. diperkosa beramai-ramai. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Jangan menangis lagi. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. tahukah anjing-anjing buduk itu. Juga saat mereka membantai … keluargaku. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Perih. Ngeri? Oi. Aku melihat orang. Serpihan tanpa makna. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Meski lelah. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. temanku.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. lebih baik meniru anjing-anjing itu. Dalam remang malam. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. sebab aku hanya bisa memendam amarah. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Keringatku mengucur deras. menuju Buket Tangkurak. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Seperti juga hidup itu. tetapi langkahku makin kupercepat. Dadaku telah amat sesak. Ffffffhuuih. Bukan. 102 . semuanya. Inong! Kering airmatamu nanti. Dan kini hari telah semakin gelap. kutarik napas panjang.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. Aku merangkak dan maju perlahan. Aku melihat semua itu! Ya. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. tanpa alasan. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Airmataku berderai-derai. Hari-hari yang meranggas lara. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. Ya.

juga sangat muda. saat Hamzah yang telah meminangku. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Berarti…. Banyak tulang. Ya. mencoba duduk.” ujar yang lain. Ya. melintas di depan rumah dengan sepedanya. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Bersama desir angin. Mereka gila karena mengira aku gila. awan dan udara malam.” Aku menggeliat. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Hangat. Aku bangkit. Aku menggali. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Inong? Aku mencarimu seharian.” kata yang ketiga. Cakarku terus menggali. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. lalu remah-remah daging manusia. Lalu aku tersenyum malu. Kutemukan beberapa tengkorak. terus menggali. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Cut Dini. kupingku mendengar langkah-langkah orang. Tangannya lembut membelai kepalaku. Dahulu. menyanyi nyaring.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Ah. Bersama bayangan Ayah. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. burung hantu dan lolong anjing hutan. “Ia tak berbahaya. “Dari mana. *** 103 “Inong…. ya. . dahulu…. “Ya. “Sayang. sudahlah. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Hanya tertawa dan menangis. Ah.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. kami menari bungong jeumpa. dulu ia cantik…. biarkan saja. subuh tadi. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. aku di rumah." jawabku sekenanya. Kami menyanyi. Ma’e dan Agam. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Sssssssttt! Tiba-tiba. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Tulang. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Mak. Ah. “Aku cuma jalan-jalan. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Aku tidak mengganggu orang. di antara suara serangga malam.

menceritakan banyak hal. “Aku suka. “Apa aku gila?” tanyaku.“Aku tahu. tetapi tidak Cut Dini.” kata Cut Dini suatu ketika. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. “Therimoung… ghaseh…. Cut Dini. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. di antara para tetangga. mengajakku ke dokter. “Kau sakit. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Aku belum begitu lama mengenalnya. Kau anak baik. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. kecuali semua yang bernama kepahitan.” ujar Cut Dini. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. Menggaruk-garuk kepalaku. Dulu. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Ia sangat peduli. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tak bisa bangkit. Kugaruk-garuk kepalaku.” kuteguk minuman itu. Segalanya terasa lebih ringan. yang sudi berteman denganku. Aku mengangguk-angguk. ketiaknya juga. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung.” kataku pendek. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. “Sudahlah. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana.” katanya pelan. Terus mengangguk-angguk. menggapai-gapai permukaan. Kata mereka aku gila! Hah. di belakang…. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Tangannya koyak.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. Tidak baik pergi sendirian. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. memperhatikanku. Cut Dini menatap bola mataku dalam. dasar orang. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Namun tiada tepi.” lirihku. Lagi pula kau seorang muslimah. Berbahaya. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. Kau sangat terpukul.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. bahkan menyentuh apa pun. “Aku ingin memakainya. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.” 104 . Lalu di dekat perut. Aku suka membantah orang. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Ia memberiku makan. Dan … cuma dia. atau sekedar jalan-jalan. Aku senang sekali.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. ke pengajian. Ia menyisir rambutku.

Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. anak-anak yatim yang terlantar…. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. Huh. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. ambil saja uang ini buat anda. Kulihat wajahnya marah. “Kami hanya menindak para GPK. Ini daerah operasi militer.” . di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. Sungai Tamiang. Ah. Kami menjaga keamanan masyarakat. lebih lekat dari jendela. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. Jembatan Kuning. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. banyak yang terpaksa menjadi cuak. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Suaranya kadang berubah. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. semuanya busuk. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu.” Cut Dini membaca kertas itu. aku tertawa gelak-gelak. meski tak mengerti.” Aku nyengir. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. penjagalan di rumoh geudong. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. “Kami orang baik-baik. Cot Panglima. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar.” “Sudahlah.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Lupakan saja gadis gila itu. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. Tetapi sekarang semua usai. Hua…ha…ha. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. Aku jadi ingin marah.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al.

Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. Lalu Ma’e dan Agam. “Jangan menjadi burung. nanti perabotan itu rusak. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. 106 *** “Keluar. abang dan adikku. bila ingin shalat seperti manusia. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak.” suara Cut Dini. Ulon hana teupheu sapheu!” .” kata Cut Dini tersenyum. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. tetap lembut. “Benahi yang rapi lagi. ya. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.” tukasku. Mereka tak mampu membela kami.” katanya. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. sebelum aku bisa jadi burung. Aku mau shalat lohor dulu. Ketika pintu dibuka. “Masya Allah. Aku berhenti jadi burung ajaib. “Ayo lihat mereka.” Aku berhenti melempar. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Kurasa ia seorang pemimpin. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. Aku berlari ke dapur. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong….

Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Pedih. “Allah tak akan membiarkan mereka. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. menendang. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. tetapi aku tak bisa bangun. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. “Inong. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. “Astaghfirullah. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Inong! Inong. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. mereka memang bukan orang jahat. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. “Kami tidak membela. menggigit. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Silau.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. hingga aku letih sendiri. saat tak lama kemudian. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Aku jatuh lagi. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. Tegar.“Lepaskan mereka. mencakar. Pusing.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. Airmataku menderas. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Merah.” suara Geuchik Harun. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta.” 107 . Jiibandum ureung biasa. Wajah-wajah itu retak. terkelupas dan berdarah. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. di dalam jaring-jaring merah ini. istighfar…. Tak jauh. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Wajah-wajah dalam jaring pias. Airmataku menganak sungai. Inong! Semua sudah berlalu. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Di mana Ayah.

5 Agustus 1998. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Pak. Berdarah dalam jaring. Samar kulihat Cut Dini. tak ada suara yang keluar. Tolong. menatapku kasihan. Aku menangis tersedu-sedu. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. apa peduliku?! Aku ingin berteriak.Gatra.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. tetapi kaku. Aku mengamuk panik. terasa berputar. Menggelepar. tak ada airmata yang mengalir. beri kami keadilan. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Di antaranya berseragam. Bapak sudah lihat sendiri. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Aku mencari bunyi. mencari bening. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Aku berteriak. 1998 Referensi: . Lalu tak jauh di hadapanku.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998.*** 108 Cipayung. mencari gerak. Ia mengusap airmataku. “Inong…. Republika. kulihat beberapa o-rang. . Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. mereka akan membantu kita…. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. mengamuk. . Sekujur badanku bergetar. Tak ada apa pun. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Terbit. Tiba-tiba suaraku hilang. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Hah.Kabur. Orang-orang ini tersentak. Cuma luka nganga. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998).” Aku terkapar kembali.

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. 110 . Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.” Suara itu terdengar gugup. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. dan sangat tulus. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Tangannya jadi lapar. Biasanya dia hanya dijadikan objek.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. “Luh Srenggi. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Inilah perempuan itu. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Luar biasa. Suara itu adalah suara perempuan. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan mereka bersentuhan.” Suara itu terdengar bergetar. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri.2 Mulai hari ini dan seterusnya. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. "Katakan padaku. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Kali ini. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. “Siapa itu?” “Titiang. Aneh sekali. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Aneh. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Kopag harus patuh. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Kopag semakin gelisah. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Seorang perempuan. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. kasih sayang.1 Luh Srenggi.

sangat sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Suatu hari. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Seluruh kekayaan ludes. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Kata orang. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Bahkan Gubreg. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. hidupnya. Tapi. bisa dibuat sebuah pementasan. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. perasaan. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Perempuan itu menolak. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Kopag . Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Dia tahu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. cantikkah perempuan itu. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Dia hamil. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. pelayan tua itu. Dalam kondisi seperti itu. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Tubuhnya kurus dan pucat. Dia tidak pernah peduli. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. dan keindahannya sendiri. Dia memberi Kopag poin. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis.

bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. dia mencium bau darah. Kopag sering berpikir. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Dunia yang diinginkan.” “Seperti apa perempuan cantik itu. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Karena dia bukan kaum Brahmana. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. otaknya. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. aku juga ingin merasakan. Jujur saja. Masih kata Gubreg. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. kulitnya yang sering jadi pujian. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. juga impian-impiannya. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Aku ingin tahu.tidak saja memahat kayu. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Bagi Kopag. parekan. Untuk pertama kali. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Karena perempuan Sudra. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. dia memahat pikirannya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Itu yang dirasakan Kopag. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya.” 112 . Aneh sekali. alam menyerah pada kekuasaannya. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. dan sangat pas. Ada-ada saja yang diributkannya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Bahkan Gubreg. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Anyir. Ratu. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. merah. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat.

perhatian yang lain. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Gubreg. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Susah. Luar biasa. rasa apa yang sering membuatku meluap.Laki-laki tua itu terdiam. tapi mampu memikatku. pematung jaman Renaisans. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. “Gubreg. “Gubreg. Gubreg. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. yang konon. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. kata Frans. tentang Michelangelo Buonorrty. Kopag sudah bagian dari nafasnya. kau belum jawab pertanyaanku. aku selalu tersentuh. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis.” Keruncingannya. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Ratu. ketajamannya. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Gubreg. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Sejak kecil. Tinggi. “Kau tidak ingin menjawabnya. Susah. 113 . Menanggung dosa ayahnya. Gubreg. “Anak itu buta. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Jaga dia baik-baik. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Lihat. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kau bisa lihat. Kehilangan yang dalam. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Kopag tidak lagi membutuhkannya. yang diterjemahkannya. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Bagi Gubreg. Lihat. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Frans Kafkasau. sebelum berpulang. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Gubreg. Begitu penuh misteri. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. begitu indah.

” Suara Gubreg terdengar patah. Kopag sudah membuka jendela studionya. Berkali-kali dia menarik nafas. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. “Tentang apa lagi. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya.. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. “Aku ingin bercerita padamu. dan mampu meledakkan otaknya. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. dia luka. . Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi.” “Titiang. Tubuhnya jadi pucat. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Hyang Widhi. Gubreg menyaksikan. Terlebih. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya.. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Sebagai laki-laki Sudra. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Dia mengerti. Semua orang. Perempuan junjungannya. Sangat paham. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. *** 114 Pagi-pagi sekali. dukun. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya..titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Begitu parah. Kaki perempuan itu putih. kebanyakan. Masih kata Balian tua itu. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. dia adalah laki-laki tak berguna. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. angkuh dan selalu lapar. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. perempuan yang sangat dihormatinya. Dia juga laki-laki.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Sampai menjelang tengah malam.. Ratu. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Perempuan itu.. Dia gelisah. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Kata Balian itu. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.

berdialog. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Berkat kekuatan Gubreg. kau belum juga jawab pertanyaanku. Tanpa istri.” Gubreg tetap diam. Cinta yang tidak mungkin dihapus.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan.” suara Kopag terdengar pelan. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. tanganku. Gubreg. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Gubreg. Kata mereka. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu.. Dia menarik nafas berkali-kali. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. mengajakku bicara. tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. mem-besarkan tubuhnya. Dia pasrah ketika Balian tua. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Cinta yang membuatnya jadi batu. dan berpikir. Gubreg tidak sakit. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. “Gubreg. Gubreg paham. Tak seorang pun tahu. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Aku selalu ingin tahu. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. dingin. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Demi Hyang Widhi. Dayu Centaga tidak terkena. tetapi sudah menyerupai air bah. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. sangat surealis. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. 115 . keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Guemica.. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. sampai menguliti otakku.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. menjelang tujuh puluh lima. Sampai sekarang. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. tidak juga kesambet setan. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. diajar memahami kehidupan. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. “Gubreg.

dia tidak tahan miskin. dia terus mengelilingi studionya.” “Jero sudah punya calon?” “Ya.” jawab perempuan itu serius. .” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.Berkat Kopag.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Mendengar komentar itu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Jero Melati tidak pernah ceriwis. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Benar kata Kopag. Gubreg diam. Lima menit tanpa hasil. Dia tahu. Bulan kemarin. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Ratu terlihat sangat gelisah.” “Ya. Aku ingin kawin. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Bahkan. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Kopag seperti linglung. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Gubreg. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Sayang. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Jero Melati tersenyum. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sekarang ini keluarga ini tentram. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. “Ratu.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Kata orang-orang kampung. Otaknya hanya berisi kehormatan. *** “Gubreg. Kopag memerlukan perempuan.

*** 117 1.” Gubreg ambruk. Dia adalah perempuan tercantik. kakinya pincang.?!” Gubreg seperti tercekik. Sadarkah dia. aku tenggelam dan habis. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Ketika dia telanjang. Saya 2. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Maret 2000) . Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Kau tahu.. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison.” “Ratu. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Wajahnya juga rusak berat. dia hanya memiliki satu mata. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Luh Srenggi. membersihkan studionya menyiapkan makan. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.” “Apa kata mereka. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan.. matanya yang kiri bolong. Kulitnya begitu kasar. Gubreg. punggungnya bongkok.“Maaf Ratu. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya.” Gubreg mengangkat wajahnya. Kulitnya juga kulit kayu. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. “Aku sudah memiliki calon.” “Mereka setuju. ada daging besar tumbuh di atasnya.

.” kata hatiku..” kata Jim datar. betapa mengerikan. “Jim!” ulangku. Beberapa saat ia terdiam.” simpul Jim. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia.. tetapi aku sudah membayangkan. mengapa harus menjadi batu. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.” kata Jim. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. Sampai pada kalimat tersebut. Aku takut. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. Sambil mengangkat gagang telepon itu..” kata Jim seperti yang sudah kuduga. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. “Pasti dari Jim. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. Lima belas tahun yang lalu. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. 118 . “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Tak ada jawaban. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu..” “Jim. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. “Tak masuk akal. “Ya.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. Cepat-cepat ia mengatakan. “Oh. ya seperti yang sudah kuduga. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam.!” panggilku. tergolek bagai barang tak berguna. mereka membunuh diri. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu.

Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. 119 *** Dinihari. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. lantas berkenalan dengan Niru. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi.. Aku belum pernah setakut ini.....sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian.” Aku menarik napas. Hallo. sebenarnya hampir tergolong primitif. tetapi oleh waktu.. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu... Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. tetapi masyarakatnya terbelakang. Ya. ketakutannya terasa semakin besar. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. tetapi yang terdengar hanya tut .” kata Jim. Suku Montai. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. teruskan.. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. . Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim.. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. tut. sekitar 150 km dari sini.” Jim agak berteriak. tetap memandu Jim di lapangan. sangat takut. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Sayang. hubungan kami terputus. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.. aku merasa meneliti diriku sendiri. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim.. “Halo. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon.. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. menuju rumah sahabat kami tersebut. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. begitu orang menamakan asal Niru.. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik.. tut ..” “Aku takut. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain.

sebelum fajar menyingsing. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. “Atau Katik. Berat. wajahnya pun terlihat berayun. Tak jauh dari Niru. Angin berkibar. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Terasa begitu cepat waktu berlalu. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya.” Terdengar Niru ketawa kecil. mengajak Jim berbincang. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. semula aku tak percaya. “Tapi Niru. Raut. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Duduk saja di sini. Menengadah. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru.” kata Niru. “Sungguh. Jim terpelanting. 120 . Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. turun ke tanah.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Leman. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. juga mampu menghidangkan suasana lain. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. Jim kembali memutarkan badannya. ke pinggir hutan selatan. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. anak-anak. Aku memegang batu itu.. dan. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya.” kata Jim.. Dulu. menusuk-nusuk hati Jim. malah ia semakin gelisah. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. . lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut.

Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku.. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. “Ini sungguh amat menakutkan aku. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. tut .” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. Cepat pula ia bertanya. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim.” sambung Jim. *** Sampai menjelang subuh. “Lantas. Ia seperti duduk di ruang .” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa... Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya..” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku.. tetapi hujatan Jim _ya. tut . Kudengar juga suara anakku mengerang.keras sebagaimana layaknya batu.. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. soal-soal kemesraan.. damar yang sulit dicari. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia.. aku tak mungkin berbohong. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. dan. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. Ya.. telepon masih terlentang. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. Kendaraan mulai lewat di depan rumah. Aku ingin mengatakan.” “Ya. Aku takut. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. terdengar suaranya tersendat-sendat.. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. tapi nantilah . Belum ada lagi panggilan dari Jim. nanti saja.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong.. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut .. Apalagi waktu itu. Dari jendela..

ia kemudian mengatakan ingin keluar. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. Ada juga batu berbentuk kapal. ketika mataku sudah terlayang. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Tak diajaknya aku.tengah. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. lesung. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. seorang teman lama. mungkin tujuh tahun yang lalu. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. sendok. Katanya. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. yang pernah kusaksikan beberapa kali. Konon.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. jalan yang lebar. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. bantal. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. Dini hari. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. tilam. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. Kakinya terkepang. Kalaupun ada perubahan. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. limau. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. “Aku ingin reuni di Montai. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. Keesokannya. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Setahuku. Tak ada perubahan. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. dan entah apa lagi. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu.

Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. telepon berderak. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. tidak cukup hanya melalui telepon. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. “Pulanglah dulu ke sini.tandus.” . Ketika kutanyakan khabarnya.. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. memang sulit. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu.” kata Jim. Jim menjawab dengan sedu-sedan. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik.. Jim juga mengatakan. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. Aku akan menjemputmu. Baiklah.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. menelan air liurnya beberapa kali. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. dan tak henti-hentinya mengusap muka. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. “Sudahlah Jim. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. “Ketika kutanyakan hal ini. Niru hanya mengatakan: payah. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas. Persis saat azan subuh mulai berkumandang.. bahkan kami di kota ini. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. bawa bertenang. payah.

sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Tetapi mata Niru. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. ketika. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu..” kata Jim. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. Tetapi aku melihat..” Kalimat Jim terputus. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak.. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati.. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim.. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. ternyata bocor. dan entah macam mana lagi. “Ya. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. sementara otaknya melayang entah ke mana. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya.. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Bontik. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. berdiri bercekak pinggang. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. Matanya memandang tembus ke langit. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. tetapi ia 124 . Ada yang sedang mencangkung. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. ia dan keluarganya juga begitu. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. Ia merasa amat letih. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Tangan kanan menopang kepalanya. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang.

ia tak tahu. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. keluargaku.” Sungguh. Memandang ke langit-langit. aku juga meletakkan gagang telepon. Seharusnya. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon.*** 125 (Dimuat dalam Horison. giliranku. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. “Tapi aku bertambah kecewa. September 1997) . Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Suaranya lantang berkumandang. “Kau bangsat. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Entah apa yang dipekiknya. Kau sudah mati.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya.” Jim marah besar. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. aku berkata pelan. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. Kalau saja Jim tahu. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. terasa seperti jarum menusuk telingaku. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam.

Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. tupai dan tikus. sesekali meleleh oleh arus gelombang. ular. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. hanyut oleh pikiran kami. tetapi kali ini. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. sejak kami masih dalam kandungan. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Membuat kami cemas. sebelum sampai ke telaga ini. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Sampai kelinci. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. mengantar tidur anak-anak kami. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. tetapi masih sanggup berlari 126 . Kami memandanginya dengan gamang. serigala dan segala macamnya. macan. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Telah kami sibak semua palung lautan. dari tahun ke tahun. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Maklumlah. untuk memburu binatang-binatang. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. Barangkali. tapi tak gampang mati. rusa. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Sampai kemudian kami menyadari. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. nenek moyang dan anak cucu kami. begitu tercium bau kami. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Mereka sudah renta. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Membuat kami begitu merasa terhina. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Kami seperti mengejar kilat. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. jumlah kami memang makin membesar. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Gajah. telah lenyap kami tangkap. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. badak. Cerita-cerita penaklukan.

baru kemudian kami memburu mereka. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Rupanya. “Masuklah dalam hutan. Maka kami pun membeli ratusan budak. Jangan cemas. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. banyak di antara kami yang menolak. Menjadi tradisi. Sampai kemudian ide brilian terlontar. mendatangi kami. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. seperti kami katakan tadi. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. puluhan kepala negara. kami bunuh. meski kami akan memburu kalian. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu.. Setiap detik adalah pertarungan. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Para bangsawan. para bangsawan dan pengusaha besar. Kami tak lagi memburu binatang.mengejar antelope. perlahan-lahan. Anggap semua ini hanya permainan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. sungguh. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Selamat jalan. Tetapi kami tak bisa menolak. tapi manusia. untuk ikut menikmati perburuan itu. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Tapi itu lebih baik bagi kalian. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Liat dan sigap. sasaran perburuan yang menggairahkan. . selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Kami akan memburu manusia. Itu menjadikan kami begitu bahagia. hingga pecah berantakan. Semoga nasib baik bersama kalian. Para penjahat itu. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Dan itu. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Dan itulah kehormatan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. para raja. Mula-mula. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. Inilah hidup yang sesungguhnya. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. orangorang besar di negara mereka. dengan cara melarikan diri. Adakah yang lebih menyenangkan. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Selamatkan kehidupanmu. banyak orang di luar suku kami. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Karena. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan.. lari. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Lantas. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. membiarkan mereka lari dan menghilang.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. memang makhluk yang tak gampang menyerah. semua binatang telah habis kami buru.

sendiri. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Karena kami sudah terlalu kuat. para demonstran untuk kami habisi. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. dengan dukungan dana yang melimpah. “Ini darah seorang penyair untukmu. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. tetapi penaklukan yang membosankan. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi.. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. tetapi kami selalu dirundung sunyi. keisengan. begitu melimpah buruan kami. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. dan kami tertawa bahagia. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Di antara kemeriahan pesta. . Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . ketika kami menembaki anak-anak Palestina. “Kita harus melakukan sesuatu. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja.. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang.” Gelas kami beradu. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. melintasi gelombang waktu. menggulung apa pun yang kami sukai. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Ah. menjadi tak tertandingi. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Kami bangun juga istana-istana. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. yang melintas bagai badai dan gelombang. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. tetapi juga. Kami terus memburu. terkadang. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Suaranya sudah gemetar. Kami. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Kami berdiri di puncak menara peradaban. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. jangan sedih.

” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka.. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. Ya. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. mencari kepastian dalam mata mereka. itu 129 . Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Dan tentu. anggur segera kami tuang dalam gelas. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan.. dari seluruh dunia. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.“Aku sudah mencium ajalku. membangkitkan imajinasi kami. tetapi masjid itu tak juga penuh. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. telah lapuk.” kata kami kepada mereka. malaikat. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. kami segera mengumpulkan para kiai.” tegas kami. Gairah menjalar. Panji perburuan berkibar. meski sesungguhnya heran. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka.. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. “kalian kami beri waktu satu bulan. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Dan aku ingin. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat.” “Baiklah. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. . “Baiklah. sebelum maut menjemputku. Tetapi mereka menolak. kami akan membikin perhitungan sendiri. Sekarang. para kiai itu. . Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang..” Mereka. membuat kami begitu ternganga. katakan kepada kami. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. “Kami tak mau tahu. Kami segera menghimpun topan. bersulang. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “Kalianlah yang bercanda. Kami turut kemauan mereka. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. “Kami ingin Jibril. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. dengan meminta kami mendatangkan Jibril.

antara takjub dan panik. mengalun menidurkan rerumputan. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Kami kirim utusan kembali. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. bagaimana mungkin? Tapi. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. melihat impian kami sudah di depan mata. orang kedua kami pun tak kembali. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Tetapi seperti yang pertama. Kami sudah cukup punya pengertian. mendadak menyadarkan kami. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. di pucuk api berkobar. bukan? Jangan salahkan kami. seseorang di antara kami berteriak. Pada saat itulah. kini telah muncul di hadapan kami. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Kami bakar masjid itu. di sana. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Kami memagarbetis masjid itu. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak.pun pasti sudah berhimpitan. desing senapan mesin. ya Allah. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. tak pernah muncul kembali. Satu bulan lewat. dan api melahap cepat. itulah yang kami saksikan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Kami tak mau kecolongan. Dan. tertelan dan lenyap. anak panah. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kami terus berjaga. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau ditipu para kiai itu. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. sekaligus marah. Jibril. seperti daun yang melayang-layang itu. Gema itu melambung. Dan kami segera menyerbu. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. luar biasa. lenyap seketika. Namun orang itu tak kembali. raib begitu saja. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Kami panik. tetapi. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. membumbung. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Lantas kami tak bisa lagi sabar. tetapi tak kunjung keluar jua. masuk dalam masjid itu. Kami panggil namanya. gembira dan tak percaya. hingga kayu-kayu bergemeretakan. menguap begitu cepat. 130 . Membuat kami cemas. Begitulah berkali-kali. sepanjang hari sepanjang malam. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. di puncak kobaran api. Tombak. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. membuat kami tengadah ke puncak api. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. roket dan basoka. Membuat kami tambah cemas menunggu. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. bersama angin dan embun. menyentuh langit. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Namun dzikir itu masih kami dengar. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu.

melanjutkan pemburuan abadi kami. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. roket terus berlesatan. yang menyimpan bayangan bulan. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Bertahun-tahun kami memburu. meraih peralatan berburu kami. Karena kami harus terus mengejar Jibril.*** 131 Yogyakarta. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Di seberang telaga sana. dan langsung melesat. Segera menghambur. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Kami tak mau kehilangan jejak. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. kami melihat buruan abadi kami. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Kami begitu sibuk memburu Jibril. ranjauranjau telah kami tanam. Dan memang. Maka kami pun kembali bangkit. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Tombak terus beterbangan. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Inilah buruan kami yang abadi. kami lihat jejak cahaya. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. kami memburunya. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Kami tak sempat istirahat. mengejar Jibril. perangkap telah kami pasang. Januari 2000) .“Kejar!” Kami pun melesat. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Ke mana pun Jibril melesat. Kami tak pernah tidur di satu tempat. agar kami mampu meringkus Jibril. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu.

atau melompat-lompat main engklek. main congklak. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. untuk cepat dan mudahnya. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. 4 . Seakan. sehingga menjadi Gank. Belakangan. beca terutama. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. main petak-umpet. setelah mobil berlalu. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. seperti Taman Mini. dan lain sebagainya. Apalah arti sebuah nama. anak-anak bermain gundu. Di sana. anak-anak menyibak ke tepi. di jalanan yang sempit itu. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Sebuah gang sempit yang tak berarti. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. Dan apabila ada mobil lewat. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. Kadang-kadang. main layangan. Dunia Fantasi Ancol. main bola kaki. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. apa pun namanya. disingkat saja menjadi Gang Jalil. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Tapi semua orang seperti sudah maklum. Hotel Indonesia. berkejaran. Tak tahu siapa yang mengubahnya. dapat menduganya. oleh tukang. Namun. main galasin. Monas.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu.

tukang cukur. Tak tahulah. dosen. Kok. pegawai negeri biasa saja. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. sopir. montir. kenek. 5 Sebagai gambaran kemiskinan.” “Lebih pantas lagi. makelar. pegawai negeri dan swasta. penjual nasi Padang dan Tegal. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. tukang listrik. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. dan tanya lagi. ngurus hal orang lain. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. “Pantas!” jawab mereka. bidan. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya.” kata mereka. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung.” “Bagian apa?” “Tau. Dan tanya lagi. pedagang kaki lima. guru sekolah.Rata-rata. rumah-rumah. 7 Jika lagi kehabisan. pelayan toko. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. kami pun sederhana. perawat dan lain sebagainya. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. satpam. menjabat bagian basah.” begitu kami selalu menjelaskan. tukang kayu. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman.

Uunakum. teriakan penjaja sayuran dan makanan. Buunakum. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. mengantar kantuk.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Atau juga. Baanakum.. teriakan anak-anak bermain. Taanakum. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Biinakum. Tsainakum. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. Bainakum. Dan lepas tengah hari. kalau ibumu menggoreng ikan asin. Tsaanakum. Biasanya. Anehnya. Ainakum. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. di luar pekarangan rumah.. Tuunakum. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. sungguh menitikkan air liur. yang berantem. Yang ini. Tsuunakum . mengasyikkan. Taunakum.mesin jahit. Tak tahulah. ke sepanjang gang. melayang jauh dihantar angin siang. Pada malam minggu. Tsiinakum. Yang paling cepat ketahuan. boleh dikata selalu ada permainan domino. Tsaunakum. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. lebih terkenal: gaple. Baunakum. tak bisa dirahasiakan. Tainakum. 8 Sesekali.. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. atau listrik yang korsleting. Aunakum. soal anak-anak. Tiinakum. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. 11 Lepas Isya dan makan malam. 12 . Iinakum.

sedikit kaget dan lantas tertawa. Di tengah pengajian sedang berlangsung. 15 Bagiku. Kami menyebutnya ‘markas’. ikut hadir. sebagai basa-basi. Dulu ketika masih kecil. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. 16 . Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Najib. kami sering berantem. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. dan yang lain segera menyorakinya. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. tapi tak kena: sumbang. hampir sebaya. Heran. Atau disusul adiknya disuruh pulang. Tempatnya: gardu jaga siskamling. sekali sebulan pada petang Jumat. ayah-ayah kami pada mengantuk. semua membuka matanya lebar-lebar. setengah melucu. 14 Sekali-sekali. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. kalau main gaple semalam suntuk. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. agaknya dangdut dan pop itulah.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. mulai dari dangdut. Usia kami tak jauh beda. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. Menurut Ustadz Malik. kami saling menjaga. Kami yang muda-muda. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. pop sampai keroncong. menyanyi dan main gitar. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. Martin. tak sampai larut. saling menenggang. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. Semua jenis lagu kami senang. Sekarang tidak. persis pengamen jalanan. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian.

Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. Akan hasil perburuannya itu. “Maklum. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Dan sekarang. cara tersenyum. kalian tahu. deh. benar-benar ia putus sekolah. jalannya. apakah dia masih bisa berbisik. Soalnya setelah gagal sipenmaru. gerak tangan. Kami tak tahu pasti. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. Gayanya mirip-mirip Rendra. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. bacaannya bukan komik lagi. biaya kuliah terlalu tinggi. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. gayanya overacting. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . maunya. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. di luar jangkauan. bukan cerita silat lagi. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Masuk kantor keluar kantor. Gaya bicaranya. deh! Bayangin. ia tahu diri. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Sejak jadi pemain teater. Najib anak Ustadz Malik. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Pokoknya. seakan ia jauh dari kita. Selangit. tak mungkin. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. guru ngaji di gang kami. Di situlah ia bercokol. ni yee?!” ejek anak-anak. Itu.” tambah yang lain. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. ekspresi wajah dan lain sebagainya.Hamzah gitaris andalan kami. Tapi Hamzah tidak marah. “Inggris. berat. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. Tak acuh. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Kalau ia bicara.

Siang hari ia tidur. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Artinya. dan di mana mau shalat. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. merunduk terus. Jelas Najib berbohong. 137 19 Sebaliknya. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. bingung. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. kerja. Najib mulai bekerja di sana. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika.” pesan ayahnya. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Yang ia tahu. ke Pesantren Bangil. menguji keimanannya. heran. . “Jangan lupa shalat. rumah minum. pimpinan pesantren itu. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. kami. bukan main kagetnya sang papa. Sebenarnya. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Pokoknya. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Beberapa hari kemudian. Tony memintaku. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. Apakah ia suka atau tidak. tentu kau sudah dapat menebak. Najib merasa sangat terhimpit. dan tak ada tempo. Nah. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Lingkungannya tak memungkinkan. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. Tony bungkem. seperti musang. berang. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan.tahu jalan ceritanya. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. tak membantah sepatah pun. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. anak pegawai pajak yang gedongan itu. Sampai kapan? Dan kami. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. tak alang kepalang. Kaget. setelah Najib ditest. bagaikan disambar petir di siang bolong. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. siapa sangka. tapi dilakoninya terus. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Pengasih dan Penyayang. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Bekerja di bar itu dosa. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Ketika hal itu disampaikan. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Agaknya ia kalah. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. dan semua orang di gang. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi.

Dan kesan pertama kita melihatnya. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai.. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Kau lihatlah si Aisah. Saya hanya bisa berdoa. Ada lagi. dunia dan kesenangan melulu.” Aku mencoba melunakkan hatinya. Ya.... apa pun namanya.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya.. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? .20 Sehari setelah keberangkatan Tony. menurut Ustadz Malik. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. papanya jatuh sakit.. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. kesenangan . Ma. tak lain tak bukan. Dan katanya: “Coba fikir.” jawabnya pasti. Ikut pengajian gelap. Papa memang selalu begitu. istri-istri orang mu'min.. Coba.. pada hari ketiga. hanya mencari kesenangan dunia…. dari ibu Tony. masak papa tega menuduh saya subversif.” Pakaian yang menutup aurat. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah.. Aisah yang satu ini. agar semua kami ditangkap. tapi miskin rohani. Tapi Tony tak mau. Dunia. nampak kesal. itu kata lain dari pada kerudung). martabat. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. Allah. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. teman kami juga. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. pengajian subversif. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. anak-anak perempuanmu. Nah. menjadi anak durhaka. bukan?” “Tidak sekarang. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . Tapi. Dalam batin. hampir menangis. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. pengajian yang disusupi faham komunis. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi.. Kini. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. kulihat air matanya menggenang. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . Jelas ini fitnah! . hampir saya tidak bisa memaafkan papa.

. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. Garagara pakaian jilbab itulah.” jawabnya. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. baik yang maxi. Dan sejak itu. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. Oleh kepala sekolah. Yang kutahu Aisah tetap tegar. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). “Itu waktu saya masih jahiliyah. Kayaknya semua pakaian rok. siapa yang mau saja. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya.” katanya. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. Namun ia tetap dianggap melanggar. agar mereka tidak diganggu.seluruh tubuh mereka. Aisah. fikirku. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. misalnya pada An Nur ayat 31. kapan saja. “Itu namanya. dan dosa yang dilakukan orang itu. apalagi mini. ia berdosa dan aku pun berdosa. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. Tapi Aisah tak acuh saja. Aisah boleh bermantap-mantap. perancang busana. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah.. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Sebenarnya. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. maaf.. di mana saja. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). sejak Aisah menjadi eskrim. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah.” “Kau ini aneh. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2.a. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. ekstrim itu. “Menyuruh orang membuka aurat.” Mantap sekali ia. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. midi. blus yang dulu. barangkali. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. lisan dan tulisan.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. masih ada beberapa ayat dan hadis. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu.” kataku pula. Rezeki di tangan Allah. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini.

Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. Aisah melanjutkan: “Itu tuh.” celetuk kami. yang mabuk-mabukan itu. dong. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok. aduh manisnya)... plok plok plok.. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. kalau mau ditertibkan juga. Begitu ia lewat. Kita curiga dengan berbagai prasangka. mengangkat bahu. ‘kali...!” teriak anak-anak serempak. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45.. membenarkan. ‘kali..!” tambah kami lagi. ya (senyum. Mengembangkan kedua tangannya...” . ini enggak ge-er.. Rupanya Aisah belum selesai. 140 22 Di mana pun.. katanya sambil setengah berbisik. dasar anak-anak. senang sekali. suka menggoda. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. Dan bertepuk tangan serempak. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya.” Lagi-lagi kami keplok. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya..cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah.. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan. pengamalannya kita jegal. plok plok plok plok plok plok plok. yang merokok itu. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. belum merasa puas. tak pernah luput ia jadi godaan. yang terlibat narkotik itu.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. “PKIiiiiiiii. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. suka becanda.

“Wa'alaikum salam. Sekilas kudengar.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. Mungkin. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab.” “Sorangan wae?” “Mari.” 141 . “Tidak. alimnya. dong. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. gue anterin. dalam hati masingmasing kami. Jalan terus. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan.” Dan macam-macam lagi. “Waduh.. buru-buru aku keluar. Namun Aisah diam saja. assalamu'alaikum. “Wah. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil.” “O ya lupa. “Ucapin salam dulu.. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. Mereka menyingkir secara teratur. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. “Ada cowoknya. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Aku berhasil.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. mengitarinya seakan hendak memangsa.

Kukira. geram. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. 142 24 Lain Aisah. Maka sejak itu. ya ampun.. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. salam tak dijawab. pemain film yang sedang in. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. tiba-tiba seperti disunglap. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Sejak itu ia dikenal secara luas. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik.. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. lain pula Maryam. melainkan kecantikannya yang membius itu. . ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. Yang tercantik di gang kami. Bukankah salam itu doa. Di lain waktu. main engklek. Cuekin aja!” “Dosa lho.. anak teater yang lagi ngepop. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. dan macam-macam acara lain. main loncat karet. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. “Tapi. kami tak merasa heran. pemain tenis yang lagi ngetop. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini.” “Ya..” kataku. Dan. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. Semua orang kagum padanya.“Kurang ajar. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. demikian menurut Hamzah. Hamzah menaruh hati pada Maryam. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. Bukan pada nyanyian. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah.. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. ampun. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya.. ke restoran.

26 Suatu hari. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Untuk itu ia siap berkorban. Kali ini tampak serius dengan muka murung. Dan terlebih dari semua itu. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. yang tak mungkin dapat diraih kembali. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Maryam seorang anak yang baik. . 29 Akhir-akhir ini. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. berfilsafat. berani-berani takut. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. mungkin anak-anak lain tidak. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Aku terperangah. “Tidak!” jawabnya tegas. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. seorang anak yang patuh. yang ber-Baby Benz itu. aku tak tahu.” kata Hamzah pula. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana.

Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. Martin dan Hamzah. apakah kau tak merasa malu.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Nun jauh di desa Bangil. Agustus 1990) . jauh dari keramaian kota. aku selalu lewat di depan ‘markas’. terpencil. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Tony Handoko. Ramainya masih seperti biasa. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Namun ia tak bisa berbuat lain. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. Batinnya tertekan. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu.*** (Dimuat dalam Horison. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi.

Sam. Sore itu.” “Ingat enggak.” katanya.” kataku. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. “Betul.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. Bila loncengnya berbunyi.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. Ini karena ulah jam itu. Walaupun akhirnya mengesalkan. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. ya Sam?” ujar istriku suatu sore.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Jika ditaruh di ruang tamu. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Istriku menjadi perempuan yang bawel. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. kelak tamuku akan cepat pulang. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Mereka harus diberitahu. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Kuingat sekali. maka terdengarlah sebuah nyanyi. . hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. Kami ketawa bersama. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. “Juga mantan pacarmu.” kataku. Ina. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima.

Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Di toko saya cuma tinggal satu ini. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Sam. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. kami menganut aliran navy-navy. kurang sedikit. remasanku lebih kuat lagi. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Aku dan istriku saling menatap. Sebagaimana biasa. Ketika pada seperempat jam. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Setelah dua tiga toko kami masuki.” Memang begitu. "Merk ini nomor satu.” “Ya kurangilah separohnya. Makin larut perkawinan kami. Ke- 146 . ketika uang dihitung.” ujar sang pemilik toko.” ujar istriku. Ketika kami lewati beberapa toko. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. aku tak tahu dan tak perlu tahu. “Tanyakan harganya. dan ini juga satu-satunya. aku menggenapi kekurangan itu. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Lalu. dia menyanyikan satu bait saja. “Ini benar-benar abadi. aku dan istriku berpelukan. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Dari masa berpacaran dulu. Saat itu adalah pukul 00. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran.” kata istriku. aku meremas jari tangan istriku. Ketika setiba di rumah. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. istriku bilang. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. “Kita menemukan pilihan jam antik.” ujar istriku. Sam. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. “Merknya Junghun.00 pada hari 10 November. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu.” kataku. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung.

” kata istriku. “Aku tahu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. aku bisa memperbaikinya. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu.” Aku memilih diam. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun.” katanya. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. dan terutama karena adanya kamu. dan sama pula selesainya.tika setengah jam. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. “Ya. Biasanya kalau jam itu mati.” “Sudah gaek masih gombal. ”Si Aimah. Peraturan kantor memang. kamu suka membisu. kamu dan jam dengan loncengnya itu. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. aku dan Ina sudah berpelukan. Orang yang sama sekelas di SMA. empat bait komplit. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. dia menyanyikan dua bait. Yang ada di sini adalah aku. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. “Kalau kamu kawin sama Aimah.” Tetapi. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. sama pula di perguruan tinggi. Sam. Padahal dia amat mencintaimu. Ketika tiba tiga perempat jam. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu.” kata istriku lagi.” kataku. ajaib sekali. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. Pernah juga istriku bertanya. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. Sam?” kata istriku. Ketika pertengkaran itu terjadi. “Kita tak perlu bertengkar lagi. dan pada waktu satu jam.“ sambungnya. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. tiga bait. “Kalau aku bicara soal si Aimah. lonceng jam menyanyikan lagu itu.” ucapnya. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja.

Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Jangan jadi nenek sihir lagi.” “Kamu makin tua makin tolol. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. ahli pembetulan jam dan piano. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Sam. Dia katakan. aku pergi ke Jatinegara. Bahkan mencak-mencak.” kataku. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. “Itu logis saja. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. ada dijual di sini. Istriku mendehem. Dia marah. jam ini berbunyi 36 kali. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Anak muda itu bekerja keras.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu.” “Sudahlah. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. Aku kan tidak bilang kamu tolol. namanya Mahboub Assegaf. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Jangan. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. “Tenang dulu. Ina." 148 .” kataku.” Aku mencari ahli jam. Istriku senyum mencemoohinya. diam kamu. Keringat membasahi bajunya.00 tengah malam 10 November. Ina. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. Bahkan ngawur.” “Sudah. Kita jual saja jam Junghun ini. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Kita beli yang baru.” “Aku mau keluar.” Aku mengalah. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. Kamu makin tua makin cerewet. ada orang Arab di Tanah Abang. "Jam ini penuh kenangan. Ina. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. orang di rumah itu mengatakan. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Pukul 12 bunyinya 6 kali. Sam.” kataku pada Ina. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya.

Ya. Memang dia gila. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Kita jangan panik. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah.“Cukup. saat itu istriku tidak mendengarnya. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Ia menderita tekanan darah tinggi. Ini menambah semangatku. Aku akan coba perbaiki sendiri. dan tak 'kan pernah mendengarnya.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Ina. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Katanya.” kata istriku. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. “Sabar. September 1999) . jam gila itu berbunyi 120 kali.*** 149 (Dimuat dalam Horison. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali.” kataku yakin. Nak. Sayang. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. Tengah malam pukul 00. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina.

Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Dan dia begitu tertegun.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Joko Tingkir. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Ki Pemanahan. “Di negeri leluhur kita. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Aryo Jipang. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. Damarwulan. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Ken Arok. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Nak. Sutawijoyo. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. . permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Suatu kali. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung.

” “Tapi itu hidupku sendiri. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Rio. apa kataku. itu lebih penting. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Salah satu di antaranya.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. waktu itu kau masih dalam kandungan. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. 151 . dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Rio. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. “Bagus.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. “Nah.” “Tapi namaku bukan Rio. karena cintanya pada kita semua. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Kau hanya harus terima utuh.” protesnya.” potongnya. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka.

Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. tapi daerah Perancis Selatan.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. orang-orang Perancis. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. dan dirinya begitu berbeda. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. orang-orang Kanak. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. “Kau sudah gila. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Tapi tak bisa di sini.

Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Dengarkan kami baik-baik. Sadarlah. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. begitu berat. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Rio. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. 153 . Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Jatmiko memang masih hidup. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Kakek. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Rio. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa.

Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Tapi kenalkan dulu. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. John. Mungkin karena ada John. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. itu hotel yang mewah.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Rio. Tanpa memberi khabar pada Dewi. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. “Untung tidak ke Southern Cross. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan.” Ya Allah ya Rabbi. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. dia dan istrinya menuju ke Australia. Ini Rio dan Handayani. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. kakek dan nenekku. Sebelum mereka pergi. “Wah. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. 154 . Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. “I have a surprise for both of you too. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi.“Jangan tergesa-gesa marah.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. “What a lovely surprise. Tak ada angin.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri.

“Beri aku pakaian yang bersih. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. kita bisa ke Grill Room di basement. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. Rio. Rio. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. “Rio.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. ke restauran Vietnam.” kata istrinya sambil menghampirinya. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. “Dewi yang baru saja telpon. bahkan seperti bangga sekali. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. “Ya.“Ya. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca.” 155 .” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. “Lebih baik kau mandi dulu.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. “Mandi yang bersih. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. Air sudah kusiapkan semua. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. pintu masuknya dari Little Collins. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban.” ucap Dewi sebelum pergi. Dia tersenyum sendiri. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street.

Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. “Dewi! Dia.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu.” “Kau tahu. Aku tak mau bicara.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih. Rio.. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. kau mau juga?” tanya istrinya. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. 156 . Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain. Rio. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. Tapi soal Dewi.” “O. ya dia hamil. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. “Jangan kau anggap aku melawanmu. itu.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. “Aku mau pesan minuman. Rio. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Rio..” potong istrinya. Kalau aku tahu mereka. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. Rio.. dia. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa.

apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi.*** 157 (Dimuat dalam Horison. Maret 1990) . Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya. “Rio. “Shall I open the bottle now.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti.

dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. bendera. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang.000 pasukan berkuda. cuma inilah yang bisa kami lakukan. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. Namun sekarang. Kuda-kuda kami menggebu. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. gelap. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan.000 pasukan berkuda. Kami menggebu begitu laju. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. Kami. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. berpacu melawan angin. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. akhirnya keluar dari hutan itu. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. Semuanya terbungkus. Para pembawa panji. mendesing menuju kebebasan. berderap melaju menuju cakrawala. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. 10. melesat dan menggebu. 10. . dan penuh dengan rintangan. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang.

Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. perjalanan kami masih jauh lagi. Kami selalu bepergian. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Langit hanya biru. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Kami berpacu. kami mengarungi gurun pasir. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. bagai berpacu dengan angin. kami mendaki celah-celah gunung. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Kami tahu. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. tapi kami tidak juga ingin berhenti. selalu bertualang. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. Cahaya matahari menyiram padang. Kami menyeberangi sungai. perjalanan angin. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. namun kami selalu berangkat kembali. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Kuda-kuda kami masih terus berderap. dan segera lenyap di balik kaki langit. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Matahari terasa betapa berat. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. selalu berpindah. berpacu. dan berpacu. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. berpacu dan berpacu. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Tanpa kuda. dua. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Telinga kami semua penuh dengan desau. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. bahkan bisa lima tahun. dan peredaran bintang. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat.

000 pasukan berkuda. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh.. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. dari lembah ke lembah. Namun. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. 160 . Apakah rembulan bisa memahami. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. dan kuda. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu.000 saudara-saudara kami. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu.. dari bukit ke bukit. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Langit masih membara. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas..penjuru bumi.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling.000 orang dari kami berkemah." Kami selalu membutuhkan cerita. Ia meniup seruling di atas tebing. seruling. kami harus memburunya ke balik cakrawala. Kami. dan mendengarkan seseorang bercerita. Kami menyembah langit. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. Di setiap danau itu setiap 1. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. 10. kami menyembah bumi. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Kami memuja rembulan dan matahari. seolah-olah berhadapan dengan rembulan .

akan membutuhkan tendatenda itu.000 pasukan berkuda. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. Kemudian. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. anak-anak. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. Kami. Tinggal bara api menyala diam-diam. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit.000 saudara-saudara kami tiba. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. peniup seruling itu masih di sana. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Kami pasrah. Bertengger di atas sana. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. Kemudian. dan orang tua. Gemeretak api unggun segera berakhir. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. makin lama makin menghilang. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. 10. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. tiada yang mendengkur sama sekali. tertidur dengan pulas.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. Sesekali tertutup awan. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Apabila 100.

Kami semua turun dari kuda. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Angin begitu dingin. memetik kecapi di puncak bukit. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. penuh dengan debu.Kami semua segera melompat ke atas kuda. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. kami menggebu menyambut 100. Kemudian kami melihat panji. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Dengan segera. dengan gerobak. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. bendera. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. berderap dan berpacu. kami baru akan mengetahuinya nanti. pemandangan yang kami nantikan. menari di atas perahu. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. kereta.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. Tak kurang dari 100. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. siap menempuh perjalanan untuk mati. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. langsung melompat ke atas kuda kami. seperti yang sudah-sudah.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. dan umbul-umbul yang sama. kami berlari-lari turun dari bukit. gajah dan unta. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami.000 orang lagi. Berkibar dengan megah. bergetar-getar dalam tiupan angin. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Hari sudah menjelang senja. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan.

Langit memberkati kami. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Kami begitu siap untuk bahagia. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. begitu juga unta dan kudakuda kami. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. 163 . Mereka begitu jinak. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami semua menemukan masing-masing keluarga.000 orang.000 orang dari pasukan berkuda kami. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Semua orang tampak tak terurus. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. dan kami menguburkannya di tengah jalan. Betapa mereka begitu tabah. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah.000 orang. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. dan kini begitu kurus.000 orang itu datang pada musim dingin. Saudara-saudara kami yang 100. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. begitu mengerti. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang.rembulan dan matahari. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang.

menembus badai. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Ketika tiba musim panas. dan berjalan mengarungi gurun. mendaki gunung-gunung batu. sementara yang lain meneruskan perjalanan. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. Bulan masih menggantung di langit. khusyuk dan meyakinkan.000 orang.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Kami. menempuh ngarai. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. tapi kami rombongan 110. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Kami. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. lemah. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. orang sakit dalam tanduan. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. dengan bayi di gendongan. Pada musim semi danau masih membeku. 110. 110. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Begitulah kami berjalan. 110. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. dan menyeberangi sungai. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan.000 orang. Mereka yang mati . Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. merayap di jurang yang curam. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami.000 orang. Mata mereka mengatakannya. kami semua. Kami semua. Gajahgajah ini berbadan besar. Kami berangkat pada pagi subuh. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. namun rerumputan menjadi lebih hijau. 110. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati.000 anak manusia terus-menerus melangkah. berjalan. Mereka yang telah menjadi tua.

Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Itulah dunia yang kami rindukan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Dari hari ke hari. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. terus-menerus berjalan. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Kami. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Kami melangkah. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Langit merah di kaki langit. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan.000 anak manusia. Namun kami tahu. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. dari dongeng ke dongeng. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. menapak pelan. 165 *** . 110. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang.

tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. unta-unta. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. panji. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. Tiada mega di langit -. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih.Kemudian. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. kulit 166 . Padang rumput memutih. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. hanya tegak di atas lutut kami. Tiada suara yang menggelegar. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. segala-galanya memutih. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. mengambang. memang. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. sepatu. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. dan kuda-kuda. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. memang. dan pergi.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Dari balik kabut itu. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. Gajah-gajah. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Langit ungu muda.

Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. Sudah begitu jauh aku berjalan.999 anak cahaya. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. kelak-kelok labirin yang memusingkan. kuda-kuda berpacu. dengan segala derita dan pengabdian. Apakah aku harus berhenti. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. kemah-kemah awan. dalam penyucian cahaya berkilatan. 110. dari selatan sampai ke utara.dan rambut kami. dengan atau tanpa badan. bayi menangis.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. 109. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Semakin jauh aku berjalan.000 anak manusia. dari cahaya ke cahaya. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. gua pelangi yang menyilaukan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian.*** . kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. Dari kelam ke kelam. Begitulah kami semua. menaiki kuda putih di atas awan. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Tinggal aku sendirian. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. dari barat sampai ke timur. Begitulah rombongan kami. melihat-lihat pemandangan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Kulihat 109. tiada lagi debu mengepul. Tiada lagi angin bertiup. semakin aku terikat kepada kenangan. tujuh matahari.

Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison. Juli 1996) 168 .Ulaanbaatar .Jakarta.

orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua.. Gembira sekali. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. yang kali ini tertinggal di Osaka. Michiko. Nikmat benar dirasakannya menerawang. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. Negeri ini indah sekali. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh.” kata Okayama. “Aaahh. bagusu-neh.. mengikuti goresan kaki langit. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya.. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. ke sana lagi! Lihat dari sana. beberapa kali. “Tetapi . Sungguh.” (Bagus. dari tepian yang lebih jauh. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. sahabat besannya. mengikuti anjuran Pak Marta.” gumamnya. senang. Ini tanah Subarkah dan Michiko. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. kepada penduduk di kampung itu. Bukan tanah saya. Ia merasa benar-benar gembira. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. tidak ikut terbang ke Jakarta. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. Subarkah. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. lalu menatap ke kejauhan. “Tempat ini bagus sekali. senang. ini bukan tanah saya. tetapi . lalu menarik senyum sendirian. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. membicarakannya. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta..Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). Di sebuah onggokan ia berhenti.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu.

sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. ia memilikinya juga. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Nyonya Subarkah. bahwa Subarkah menetapkan. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Di Jepang. Bakal jadi bagus. di hari tuanya. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. anaknya. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. tanah itu atas nama istrinya. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. pisang lumut. pisang raja. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. Michiko. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. sangat gembira. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. Ia merasa. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. Michiko. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. bisa hidup di sini. bisa.yang ada di sana. Dan ia gembira. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. pisang ambon. Bagus sekali tanah ini. diikuti oleh Okayama-san. Kalau terlaksana. Juga Subarkah.” jawab Pak Marta.” Pak Marta tertawa. pisang yang disukai Okayama-san. Tanahnya. Disebutnya di sini.” Okayama pernah berpikir. “Semua tanaman bisa hidup di sini. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. sudah menolong anak-anak saya. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Apa pohon kaki (kesemek. karena mahalnya. Hahahaha. bahwa tanah itu bukan miliknya. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. kini merasa senang. Lihat itu. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Asal diurus. bahwa tanah itu milik Michiko. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. melainkan milik anaknya dan menantunya. sebegitu yang diperlukan Michiko. Bahwa Okayama-san. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. bukan meteran. Sekarang. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. di dalam surat-surat jual belinya. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. pohon pisang. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. apalagi di seputar Tokyo. dengan kebunnya yang bagus. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. Lihat. pohon kesemek. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. tertawa lebar. sejuta Yen sejengkal. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. bisa tentu bisa.

seperti sudah tidak punya harapan. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. hahaha.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya.” 171 . Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. “Dan istimewa lagi.” kata Kakutani dengan nada rendah. “Beneran.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. akan mengambil wanita Indonesia. melihat binatang langka?” “Ya. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. “Kamu kan belum punya istri lagi. atas nama siapa. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. di mana letaknya Sidanglaut itu.. “Tapi. karena ayah Subarkah masih ada. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. dan sebagainya dan sebagainya. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik.. besan Okayama. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan.. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Itu sudah kebiasaan mereka.potongan khas Jepang. saya akan kawin lagi. kamu bisa dapatkan seorang. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. waktu datang di Osaka. merasa jadi muda kembali.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. Kebiasaan mereka pun baik-baik. “dari tempat itu. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. selain ada laut yang bagus. Saya pun waktu lewat di sana. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu... Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. Dan terkenang sampai sekarang. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. Kesukaan kamu kan masuk hutan. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. badak yang terkenal. ya.. Cantik-cantik. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). Tinggal tidak berjauhan. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Cantik-cantik lho. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. dengan nada suara seperti berhasrat.” cerita Okayama kepada Kakutani. Dan. pemandangan seputar itu. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu.. Mereka sama-sama duda. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. bukan mimpi pagi. Hahaha! Dan. “Dan bagusnya.

bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. *** Saatnya pun tiba. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. tidak ceritakan bahwa Nurseha. Cepat sekali prosesnya. “Bagus. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. Nampaknya agamanya kuat. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. Kalau istriku menyenangkan. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. pada mulanya. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya.” Ia pun ingat.” kata Okayama.” kata Kakutani kepada Okayama.” jawab Kakutani-san.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. dan sudah pergi ke Sindanglaut. 172 . Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah.Kakutani jadi berpikir beneran. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. “Kalau sudah begitu.” kata Kakutani. begitu nama perempuan yang dibawanya. “Jadi. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. Dan benar murah. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. “Ia berjanji. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Dan saya sepakati. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. dan mau menerima kebiasaanku. “Secepatnya. ditemukannya di sebuah panti pijat. ”Dan soal tanah itu. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. “Sesudah kami nikah. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. di samping tanah Michiko. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Yang dipentingkannya hari depannya. “Kami akan kawin. bagus kalau begitu. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. dan bisa membeli tanah yang luas. Itu kan benar bagus. Ia. Tentu saja jadi.

Tidak lama setelah itu. tapi sekarang sudah jadi istrinya. Pantainya bagus. dan gelombangnya amat memikat. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu.Indonesia. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. “Aku akan sering saja berada di sana. pemborong bangunan. Ia sudah menghitung. Pasti bisa. “Benar murah. tergerak juga hatinya. kita bisa tinggal di sana. *** . Pasti ada cara-caranya. disaksikan oleh Okayama. segala di sana sudah terbuka. Percayalah. Kalau musim dingin di sini.” pikir Kakutani.” kata Kakutani. Kakutani punya sahabat akrab. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. “Bisa.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. atau di sore menuju senja. di tepi pantai yang lautnya biru. Tetapi yang pasti lagi. Kanazawa-san. Apalagi sekarang. dan kamu merasa encok di sini. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri.*** Benar juga. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. bahwa nilai tanah akan cepat naik. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. Kanazawa-san. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. Di sana kan selalu ada matahari. Nurseha merasa pintar. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. Lautnya bagus. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. Soal jarak Jepang . Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. untuk usaha. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya.” pikirnya. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. kamu akan senang tinggal di sana. tak dirasakannya jauh. bagus sekali. Apalagi di pagi hari. di sana segala bisa diatur. Tentu yang ukurannya luas yah. ia merasa senang. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. cerah langitnya. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. Kata orang di sana.

“Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. seorang yang lebih tua.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. Tetapi. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Tetapi Kosasih. Tanah itu tidak nempel pada pantai. seorang lagi yang lebih muda. terasa tak menentu.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. bisa menolong kita. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Garnida. “Tidak jadi soal. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Ia pun yakin. 174 . Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. Ia mengetahui. Ia tentu saja senang. “Ini. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Orang kita-kita juga. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. dengan kebutuhannya. Pak Kosasih. Yang kedua kali untuk istrinya. Sah-sah saja. Ia merasa. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Dan akan dijual.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. “Tak ada kesalahan saya. “Bapak ini. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Tanah yang menghalang-halangi itu. Ramdan.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. antara lahan ini dan laut. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut.” pikirnya. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha.” pikirnya. ini orangnya yang bisa membantu kita. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. bisa meyakinkan. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. tapi sudah tidak terurus. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. tersenyum lebar. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. Tanah itu bekas perkebunan kecil.

Maka pembangunan dimulai di daerah itu.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Kosasih mendengarkan saja. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Sebab memang setelah diperhitungkannya. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. Sindanglaut mereka tuju. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. tuan Kanazawa tertarik. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Dengan duit. melainkan ada Saito-san. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Takahashi-san dan . tak mengerti sepatah kata pun. Rencana bangunan hotel sudah siap. lalu ke arah Okayama. meminta dukungan. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Masing-masing mengatur kepemilikannya. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa.Ia berpikir lagi. Okayama-san. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Ia menunggu kepastian. Rumah tua sudah dibongkar. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya." kata Okayama. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. asal benar bisa diatur begitu. di kantor Kabupaten. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. karena bukan saja Okayama-san. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. pikirnya. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. Subarkah. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. “Ya. ada Tanaka-san. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Ia tidak kepalang bergerak. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Mereka tidak membuang waktu. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. “Ini jadinya proyek pembangunan. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. 175 *** Selang beberapa waktu. malahan di kantor Gubernuran.

Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. semua kedudukan pun bisa kita capai. untuk kita. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. . Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Di hatinya ia merasa tertinggal. Okahara-san sami mawon. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. untuk semua penghuni bumi. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. pikirnya.” pikir mereka. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. Nurseha adalah istri Kakutani. pikir mereka. Saito-san idem dito. tetapi ia sudah tua. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. karena rumahnya pun sudah tergusur. Untuk pihak yang pintar. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Ya. sawah musiman dan kebun terlantar itu. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. lalu ia sebentar merenung. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. daerah kantong Jepang. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. istri. yang bisa membelinya dan membangunnya. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Bukan saja hatinya terganggu. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. “Siapa yang salah?” pikirnya. sahabat kentalnya. keturunan mereka. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. bahwa dunia ini untuk kita semua. “Untuk siapa saja.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. Mereka seperti sudah berpikir. gamang. Michiko adalah istri Subarkah. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut.

Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. yah. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. 177 . mertua-mertuanya.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. “Bapak bekerja di Kecamatan. menyayat hati orang yang diajaknya bicara.” kata Garnida. ke ombak yang bergelombang. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. Kendaraannya. Pak. anak-anaknya. Ia menarik wajah gembira. menjawab: “Entahlah. Ia merasa berjasa.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Ia seperti menelannya. bersih. kamu sudah punya motor segala sekarang. kan?” kata Pak Marta. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. “Duduklah di sini. terjepit antara sesal dan senang. Pakaiannya serba baru dan mencolok.” Ia setengah membusungkan dada. “Alhamdulillah. Daerah ini mesti dibangun.. “Ya. tapi saya menolak. Tetapi.” jawab Kosasih. Bapak. orang tua itu. “Pilihanku benar. “Di sini lebih menguntungkan. “Tempat ini bagus. benar bagus. orang tuanya. saya belum lahir waktu itu. Ia ingat. Ia gundah.. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. ke langit yang bersih. Ramdan. Pak Marta.. “Jangan jongkok terus begitu. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. Hati kecilnya berbisik jujur. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Sementara itu Kosasih datang.” kata Pak Marta.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. ke kaki langit. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Pak. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. terutama kepada istri-istrinya. Mukanya pun nampak licin. ke lautan yang biru. Di sini masih ada kursi. bangkit dan duduk di kursi. Suara Ramdan terdengar melas sekali.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. Kelanjutannya jadi amat serius. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. Dengan ragu. Pak.” Pak Marta cepat mengerti. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. permulaannya amat sederhana. “Wah.

” kata Garnida. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. rumah orang tuanya. Ia tidak menatap ke masa depan. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. (Dimuat dalam Horison. hari ini.“Maju yah. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. saat ini. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. Pak. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Ia bicara sesungguhnya. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Pak. mengikuti pihak yang menginginkan. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. Dan yang tua serta yang muda. September 1997) . detik ini.” “Ya. Pak Kosasih membujuk kami. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. digusur. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong.

mendirikan usaha penjualan kayu.” Istrinya tidak menanggapi. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. Dia pikir. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT.Horison. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. Satu on. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. Pak RT sanggup mencarikan. lebih dari tiga. Kini masing-masing mengelompok. karena anaknya lebih dari dua. ubin. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Dua anak lelaki. semua keperluan MCK. Pada suatu ketika. Iwan adalah sulung dari empat anak. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Karena dekat dengan Pak Lurah. dua perempuan. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. paving. seperempat. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. setengah dan satu kilo-an.1 . Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. ditata di rak warung. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri.” “Jum’atan apa tidak dia.

menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Pak RT masih mengurusi usahanya. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. Dia bebas. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot.” Iwan hidup di luar. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. Dia bikin sebuah ruangan polos.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Di situ tikar digelar. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. PKK. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. “Aku tidak punya waktu. Bagian depan. Ketika rumah di samping dijual. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. sehingga terang memantulkan cahaya hari.” itulah jawaban Pak RT. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut.” 180 .” Adik Iwan sudah berangkat remaja. menjadi bangsal aula cukup besar.Ketika ayahnya menjadi RT. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. Adiknya yang terkecil delapan tahun. Dengan begitu. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. usia Iwan 16 tahun. Dia baru lulus SLTP. nyaris menjadi anak jalanan. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi.orang tua lain. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Rumah berganti ubin. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. muda-mudi rapat di sini. Semua nampak bahagia. Bapak-bapak. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Tubuh Iwan kurus kering. Kini lantainya keramik putih berkilau. Dia merasa hidup lebih leluasa. semuanya berubah bagi Iwan. Katanya. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Pak RT langsung membelinya.

” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. menawarkannya kepadanya. Sedangkan yang pertama. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. Mereka pulang bersama. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT.” Dan kalau itu sudah diberikan. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Sekarang anak-anak sudah besar. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. Beri aku modal. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Di mana-mana orang memerlukan kayu. Mereka selalu kekurangan. tiba-tiba. Di lain waktu. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. selain buat keperluan toko. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. Iwan sengaja memperlihatkan diri. Untuk toko. Sambil makan. "Tidak usah baru. Buat sekolah. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. aku tidak perlu memngawasinya. bukan?” 181 .Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. siapa saja yang berasal dari desa sama. Selalu ada yang lewat.” Pak RT punya sebuah kijang. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. Aku ingin mencari uang sendiri. “Bikinkan aku warung. Kemenakan. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. minta gula dan kopinya saja sedikit. Kecil-kecilan saja. Bisa dibayar dua kali.” suara Pak RT tidak bertanya. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. obat-obatan. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. Pada suatu siang. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Yang terkumpul adalah ibu. Dan karena rezeki berlimpahan. “Kalau boleh. Sama seperti suaminya. batu atau pasir. lalu singgah. meterai. bahkan perangko.” Ibunya Iwan baik hati. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. ayah dan dua adiknya. Dia minta dibelikan kendaraan. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. Orang terus membangun. Kemudian. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. ada tetangga yang berani berkata. Pak. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. adik atau saudaranya ipar. Asal masih bagus jalannya. Sekarang.

Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir.. Lalu alur keseharian kembali seperti semula.”. Lebihlebih menyuruhnya belajar. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan.” kata kawan Iwan yang lain. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. Karena dalam keseharian. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. Di mana ada kegiatan berkelompok. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. Kadang-kadang. kena hujan. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. “Benar. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Stadion Jatidiri besar. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. kita bisa cari uang.”. 182 . Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. Mana yang sungguh ada. tinggal aku yang belum punya kendaraan. Seusai sekolah. tidak dimanja. “Apa lagi ini nanti musim hujan. atau mana yang dia harap ada. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara.” begitu kata Herman. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. pasti kita menang. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Minta kendaraan saja. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. “Di kelas. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. berlanjut biasa. temannya yang paling menonjol. ruwet menjadi satu. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil.” kata Iwan lagi. di waktu malam. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. Bisa turut berpacu di Jatidiri... terjadi kebut-kebutan. menjadi kernet omprengan. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya.. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki.. Herman-lah yang mengepalai. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu.. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Anak-anak repot. Di sanalah. Yang dia inginkan demikian. sulung.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. “Itu benar. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Iwan termakan oleh gosokan itu. “Kalau punya kendaraan sendiri.. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.

tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. Tidak banyak. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. Besok pagi langsung ke sekolah. Paling-paling lima ribu. Baru muncul hampir petang. Apa lagi. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. Rambutnya masih basah dan belum disisir. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. lalu akan mengenakan baju. Mak takut bicara kasar. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. “Makan dulu! Kamu kurus.” “Aku jajan bakso tadi. “Nanti kalau usahanya berjalan. dua ratus ribu lebih sedikit. Hati Mak tenang. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Mak lega. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. Mukamu pucat.” Iwan menyahut. anaknya bawa 183 . dadanya kerempeng. Di sana tentu disuguhi makanan.” kata Iwan lagi. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. bersama tukang pompa ban.000. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. “Kuberikan kepada Herman.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. Mak”. Biasanya. Herman akan mengembalikan. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri.Hanya. di muka sekolah. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. “Ini sisanya. untuk apa uang itu. Malahan mungkin dengan bunga. Dia mau buka usaha. “Mau belajar bersama teman-teman. Mak turut masuk kamar. bahkan nyaris merayu si anak. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Tapi tidak apa-apa. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. menutup kancing baju. karena si sulung sudah berlalu.” Lalu Iwan terburu-buru. Diberikan kepada Mak. Mak tunggu anak sulung itu seharian. kasihan tidak punya modal.” Mak menghitung. meneruskan bicaranya. Mak bertanya lembut. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10.

Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. anak-anak mereka tidak naik kelas. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. Dengan suara terbata-bata. Kecuali Anda. Herman sudah dua bulan tidak masuk. katanya. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Maknya Iwan menjadi ragu. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. 184 .. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Juga hadir dua guru. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. Sejak si sulung lulus SLTP.” istri Pak RT berkata membela anaknya. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. Mak senang. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. mandi atau untuk keperluan lain. menanggapi. Sekarang. Mak berpikir. “Dia pulang sore. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Katanya banyak tambahan pelajaran. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. tapi Selasa. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Iwan sendiri. Itu baik. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Mendengar itu. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Kami kira.” kata kepala sekolah.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. Seorang guru melihat ke buku catatan. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. “Kami menerima uang tes. kalau Iwan pulang makan. “Hari Senin masih masuk. Mak yang berangkat. Khodir berkali-kali mangkir. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. Rupanya. tidak keluyuran.uang. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Seperti biasa. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. Ibunya Iwan. Jadi Mak juga meniru suaminya. dia menganggapnya sudah besar.. bisa jajan. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. bukan?” Mak kebingungan.

Pak RT. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. “Tidak apa-apa. serunya. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Selain di situ suasana cerah. lalu mendongak ke arah dalam.” “Ya. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. selalu merepotkan ibu. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. juga selalu banyak makanan dan rokok.” sahut seorang guru. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. Para pelayan sudah terdidik.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. “Anu 4.” sahut Pak RT. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. Kami minta maaf. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Begitu pula para pendatang. Pak RT orang yang sibuk. Bu. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Padahal katanya. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. Kami 185 . Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. saya juga dengar. mengerti. sesuai pilihan masing-masing. Kaum muda lelaki dan perempuan. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. sopir taksinya ditusuk pakai obeng.” seseorang menjelaskan. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Tanpa menunggu lama.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar.“Memang banyak ekstra kurikuler. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. Dan selalu ada yang menjawab.

mengenai itu juga saya dengar. Televisi di sudut ruang dinyalakan.” sahut Pak RT. Serius atau santai. Mereka makan dan berbicara. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. Mereka ngelantur mengobrol. Seorang di tengah-tengah halaman. “Betul! Betul! Kalau tidak. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. menariknya menjauhi pintu.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. saya sendiri. “Bapak Rajiman?” “Ya. membantah. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. menyumpalkannya di antara gigi besarnya.” “Yang saya dengar. mengatakan gagasannya. seorang di pagar.” sahut suara lain. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. tiduran atau bersandar ke dinding. Pak RT membiarkan pintu terbuka. 186 . kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. satu pelaku sudah diringkus. Dia kelihatan sibuk. bakso atau sate. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. “Selamat malam. Satu kali bertanya kepada tukang becak. Atau paling lambat setengah sepuluh. Yang lain-lain kabur!” “Ya. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Malam itu. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. menemui si pendatang.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Dua orang turun. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Ada tiga lelaki lain. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. mereka santai menonton. Pak RT bangkit dari tikar. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. langsung menuju pintu yang terbuka. berbicara. Terdengar suara bebincang rendah. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya.

” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. bisa sekolah. Tetapi nyatanya. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. sudah mengenakan celana panjang. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. 4. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. Silakan Anda pulang. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. langsung menuju ke rumah induk. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. saya harus pergi. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. Nama Iwan disebut-sebut. Teh kental 3. “Maaf.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat.. Dia memanggil-manggil. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT.. Seorang tetangga duduk di sampingnya. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate.” Lalu Pak RT muncul di pintu. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai.*** 187 1. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Sesaat berlalu. kakinya ditembak. . Bukan untuk berbicara. Kamu dua pancuran. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. Biar pintu ditutup. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Supaya mereka hidup layak. Belum ketahuan pasti jenis apa.

Aku menatap matahari. Gelap. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Tidak. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. Aku memandang khalayak. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. silau juga. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Lihatlah. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. “Di sini. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan.000 jiwa itu. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Tapi apa peduliku. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Ayah berkata. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya.Horison. Silau. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. “tapi sudah hilang sendiri!” . Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik.” bilang ayah. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Ganjilnya. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Siapa tahu.

Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Makin cekung dan sepi. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. 189 . lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. Kami benar-benar kalang kabut. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. “Jangan. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit.” kataku. makin sering saja. Maka hidup ayah jadi aneh.” cemooh ayah tertawa. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik.Ayah malah mencoba tertawa. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. seolah ia sudah sembuh. apalagi mengobatinya. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Tapi makin lama makin sering. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. kapan saja di mana saja. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Ya. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. Baru saja sekali enam hari. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. sehingga membuatnya capek. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. Yang tinggal hanya para tetangga. Namun jika serangan penyakitnya datang. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. juga tanpa hasil apa pun. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. perlu diobati atau tidak. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Sebab seperti semacam misteri.“ kata dokter. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah.

Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. “Kamu kenal siapa ayahmu. Nak!” suara si kakek lagi. Yah. Konon ia teman ayahku dulu. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati.Sudah larut dinihari. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. “Ampun. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Ia tersenyum. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Muka cekung ayah sudah menghitam. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. punya mobil. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. “Saya bisa membantumu. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. “Harus kaulakukan sesuatu. Nah. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Adik-adik sudah pada tidur. Ayahku meraung lagi. bahkan ilmuilmu hitam. barangkali juga pingsan lagi. mati!” Maka ayahku menangis. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. 190 . Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian.” Aku menatapnya tak berdaya. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Tak tahu aku. pemimpin masyarakat yang modern. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. si kakek itu lagi. Segala cara kami lakukan untuk itu. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Seperti digerogoti setan. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela.

akan terus memperkosa ayahku. kaupungut saja Si Hitam. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku.“Sederhananya ilmu iblis. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. Sebab kubayangkan. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. yah.! Kini di bawah matahari. Aku sendiri. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. anaknya. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat... Maka jalan terbaik bagimu. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. betapa terkutuk. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. apa pun artinya. bahkan paling terkutuk. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. benar-benar iblis. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. justru tidak sedih atas kematian ayahku. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. seolah kulihat nyata_. serta mulut komat-kamit begitu lemah. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. Kalau aku tidak malu. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. hina dan memalukan. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. _tidak.

Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. Bila sudah mengetahuinya. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. menjadi diri sendiri. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. mulutku.Jakarta. Aku tidak bebas lagi bergerak.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. kakiku. maka kamu akan melihat diri sendiri. Aku memasuki wc-wc umum. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. . Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. aku ingin mengusirnya. lidahku. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. mushola. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. aku pontang-panting mencari cermin. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. berekspresi. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. mataku. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. diskotik. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. gereja. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Betapa sunyi keinginan ini. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. Di dalamnya. hotel. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. bisa bergerak selain diperintah olehku. candi. Maka tanganku. menerjemahkan hati menjadi apa saja. Semua cermin telah retak dan pecah.

bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. jangan ragu-ragu untuk menyapa. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. temui saja aku di kebun bunga. ketakberdayaan. daun. Namaku memang tidak jelas. ketaksempurnaan. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. aku lupa dengan metamorfosa itu. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. di mana saja. kepedihan. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. kabut. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. mengalir ke mana saja yang kumau. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Di tanah. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. kesendirian. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. kesunyiaan. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Eh. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Kesedihan. angin. batang. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. sampah. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. dsb. Aku telah terbawa air. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Bila bertemu denganku. kepapaan. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. aku tak yakin. Di matanya. Entah . Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. air. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. api. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin.

karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Kami tidak bisa membayangkan. Atau Pangandaran.berapa lama aku pingsan. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Suara tangis terdengar di mana-mana. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Pantai Panjang juga bisa. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Maka kami. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. “Kuta. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Atau Pelabuhan Ratu. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. berapa milyar pembaca yang akan sakit. “Apa perlunya nama.” Aku memandang orang yang aneh itu. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. “Ya. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Tidak bisa terbayangkan. 194 .” Beberapa jenak aku tercenung. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Bertahun-tahun kami mengembara. Aku menyusulnya sambil berteriak. aku dan angin. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. begitu lelah. orang beransel besar itu terbang. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. Sungai-sungai mengalirkan air mata. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Sepanjang sejarah. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya.

Atau aku pun adalah ulat? Ah. kamu bisa pergi ke mana saja. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. Aku pingsan entah berapa lama. Dan begitu terbangun. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana.. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Tapi aku tidak mengacuhkannya.. Ingatlah. Aku berdiri dan pergi.*** 195 .Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Saat kulihat ke sekeliling. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. kita tidak bisa tidak pergi. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Eh.. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin.

aku dulu mencintai mesjid. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. tidak heran. sungai. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. tinggi dan langsing sepertinya.Horison. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. kecuali pada pagi hari. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. cepat seperti jin. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. Sebabnya. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. dan aku juga mencintai sungai itu. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. aku malah senang melakukannya. Mesjid. seperti kakekku. Sungguh. Ketika ia tidak . saat untuk diam. dan berlari untuk menyelam di sungai. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai.

sesudah menyentuh ujung hidungnya. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. diwarisi olehnya dari ayahnya. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. anakku. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali.” Ini jadi berita untukku. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. Masood.” aku berkata pada diriku sendiri.” Memanfaatkan kakekku yang membisu.” Kakekku kemudian melanjutkan. Lalu kuingat tiga istrinya.” kata Masood. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya.memiliki kegiatan lain. adalah lelaki yang doyan kawin. memandangi luasnya ladang. “Aku tidak peduli. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. “Kami akan memanen kurma hari ini. Posisinya berubah sekarang. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. ia berkata. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “Masood. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. Aku berkata pada kakekku. anakku. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. akasia. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. penampilannya yang jorok. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. “Ya.” Aku berkata kepada kakek. kemudian.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. “Perempuan. Kakek tidak pernah tertawa. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya.

walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. kecuali Hussein si pedagang. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. Namun. sementara aku tetap berdiri. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. dengan cepat dan penuh tenaga. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. Tiba-tiba kakek bangun. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. anakku. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. yang kemudian kukunyah. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. seperti manusia. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Kakek memberiku segenggam penuh. lalu mengembalikannya. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. Namun. yang kuhitung ada tiga puluh. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam.Walaupun begitu. melompat di atas kakinya. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. Di sana ada begitu banyak orang. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. dan dua orang yang tak dikenal. Ia diikuti Hussein si pedagang. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Kerumunan orang bubar. “Pohon kurma.

dua orang asing itu membawa unta. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. Edinburg: Payback Press.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). Untuk alasan yang tak kuketahui. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Aku berlari ke kejauhan. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. tanpa tahu mengapa. Larson dalam Under African Skies. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Kemudian. kemudian melanjutkan perjalanan. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. 199 .” kata kakekku kepada Masood. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Mo-dern African Stories.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Ia pernah menjadi guru di Sudan. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. Salih mulai menulis tahun 1953. “Kita bicarakan itu nanti. Aku merasa mendekati Masood. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. aku sedikit ragu. Aku mempercepat langkahku. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. 1997. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan.lima. Mendengar kakekku memanggilku. dan kakek mengambil lima. Tentang desanya itu. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Keluarganya adalah petani dan guru. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum.

sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. .di dalam gelap. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. Tak ada pistol di bawah bantalku. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Aku tidak memiliki terali besi. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. mudah pecah seperti gelas anggur. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Kutentramkan diri. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Kupusatkan pendengaran. Kupasang telinga. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu.Horison. Namun. Kupandangi pintu. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Tahun lalu. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong.

kerusakan akibat banjir. Jika ada permukaan yang bergetar. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. kayu. kolam renang. tak ada yang perlu dicemaskan. di sana ada polisi dan tentara. Akupun bercerita pada diriku sendiri. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. lalu memaksa masuk. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. Merelakan diri tidur kembali. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. untuk menenangkan hati sang istri. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. saking cintanya. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. Nun jauh di bawah kamarku. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. ucap sang suami pada istrinya. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. Membuka pintu pagar. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. tapi di luar kota. air bertetesan dari rekahannya. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. anjing peliharaan mereka diberi peneng. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. Kerusuhan memang terjadi. mobil-mobil dilempari batu. dalam perut bumi. semen. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. sang suami telah memasang pagar berlistrik. ucap sang suami. Jangan mengomel saja. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. mencegah kemungkinan perampokan. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Sukar untuk mengasuransikan rumah. kisah dalam tidur. yaitu ibu sang suami. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. serta seorang tukang kebun yang rajin. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. di mana orang kulit hitam ditempatkan. di dasar rumah ini. juga karena bus-bus dibakar. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. Jadi. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. di bawahku. dan perampokan. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. Oleh sebab itu.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Namun.

Ikutilah nasihatnya. ucap sang istri. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Bunyinya dianggap biasa. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. kamera. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. barang-barang berharga dan pakaian. meraung dan menjerit. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. yaitu ibu sang suami. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. bahkan pada waktu subuh. betul katanya. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. Sebagian lagi meminta sedekah. tape recorder. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. Akhirnya. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. lantas menerobos masuk. atau apa saja. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. ikuti nasehatnya. Sang istri berkata. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. Bunyi alarm yang nyaring. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. serta memasang alarm. Sang suami berkata. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. radio. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. bersipongang satu sama lain. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. mengecat atap. Benar katamu. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. akibat menganggur. Tetapi. Seperti biasa. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. televisi. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. benar ucapan pembantu itu. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar.

Ketika sang suami. dan selang beberapa minggu. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Hubungi GIGI NAGA. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Sang istri terpesona memandangnya. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Sebuah pilihan yang murah. menyilaukan. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. berkali-kali. tidak mungkin. sang istri. Keesokan harinya. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. Pada suatu malam. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. Di sepanjang tembok. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Pada keesokan harinya. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain.panas yang indah. tak mengapa. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. karena sejak hari itu. Betul katamu. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. ucap sang suami. Kilau itu akan hilang nanti. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. berkilat. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. Semakin terkait. Sang istri berkata. di mana tempat sang suami. Sang suami berkata. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. Sang suami. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. jangan cemas sayang. Mereka benar. kuat dan sederhana. Sang suami berkata. saya harap si kucing peka. terbentang gulungan besi yang keras. lalu berkata. kucing selalu melihat sebelum melompat.

agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. kapak. Mereka -sang suami.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. sang istri. dan tukang kebun yang menangis. Selected Stories. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Smith Commmonwealth Literature Award. Jump and Other Stories. Lalu tangannya. dan sebagainya. Dalam pada itu. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Not dor Publication. 1923.*** Nadine Gordimer. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. Gunn Fellowship. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. Friday's Footprint. antara lain: Booker Prize. dan the Scottish Arts Council Neil M. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . the W. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. A Soldier's Embrace. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. lahir di Transvaal. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. entah apa sebabnya (mungkin kucing. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. dan Something Out There.H. pemotong kawat. Si anak membawa tangga ke tembok. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. kepalanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful