Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Dalam tempo sejam. kini berhimpun di halaman sekolah. Mohamed Weess. yaitu aku sendiri. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. 5 . Sebaliknya. Dalam rakaat pertama. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. ini dibenarkan dalam Qur'an. Naji. Tetapi.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Syria pada tahun 1918. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. dia membaca kesemua surah al-Nasr. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Kami bersembahyang dua rakaat. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih.

agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. "Oh…. . Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Matanya berkaca-kaca. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Kalau tidak. Kendalikan emosi. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. "Gawat. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Yang saya katakan benar. Parasnya cantik. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Kalau perlu dibawa serta ke mari. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Tenang sedikit tersenyum. "Ada apa. Saya ingin tanya. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu." lanjut dokter. Bu?" tanya dokter. Keduanya duduk berhadapan.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Dokter segera memeriksa. "Tolong. Takut dan gelisah. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Kemudian masuk pasien keenam. Bu. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. ''Ya. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Pak Dokter!" teriaknya segera. Rupanya keraguan dokter terbukti. Dokter menghampiri. Tenangkan diri. Perempuan itu tersentak seketika. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya.

"Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya." "Oh…. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Lakukan saja tugasmu. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. Aku harus mengobati perempuan lemah ini.. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. Tentu masalah ini akan selesai. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya." "Suasana hening mencekam. Ah. ditatapnya dokter itu. semua ini terserah Tuhan. Barangkali Dia akan melindungi suami saya." batin dokter. kecemasan." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Dok?" tanyanya. "Tapi…. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Bahwa ia dalam bahaya besar.." "Demi Tuhan. Dok. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. 7 . Dengan memelas. "Kurang lebih dua mingguan. toh akhirnya akan ketahuan juga. Sudahlah. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Dokter langsung bekerja. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Kepedihan." saran dokter. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Suami saya orang baik-baik. itu harus intens. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. jangan. Dadanya sesak.

tak perlu sedih. Dok. Wajah perempuan itu tampak ketakutan." jawabnya sembari menarik nafas. "Selamat sore. Menjelang petang. Lelaki itu tertawa. saya hanya seorang dokter. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. Akan kuusahakan semampu saya. "Untuk apa?" tanyanya. datang pasien berumur 30 tahunan." "Saya benar-benar menyesal. selesai." katanya. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut."Tentu." ucapnya dengan hati yang terluka. Selain Jumat." sambut dokter. 8 *** Esoknya. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu." hibur dokter." jawab lelaki itu. "Ibu Muhammad Abbas Efendi." "Menyesal?" . Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. "Tak perlu takut. Dok. "Sore. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. pegawai DPU. Dok. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang." Lalu perempuan itu menghela nafas. Badannya tinggi tegap. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. perempuan itu datang." "Oh…kasihan sekali. "Saya mengidap penyakit. Ini hanya formalitas belaka. Ketika perempuan itu beranjak keluar. Tentu.

Mendadak jiwanya bergejolak. Pergi. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas."Menyesal. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Apa yang harus saya perbuat. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama." jelas Abbas. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. "Saya usahakan. Jangan sampai dia curiga." Dokter menerawang. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Lantas bertanya. Giginya geregetan. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. *** 9 . "Dok. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya." Abbas bingung. Mereka menyesali diri. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh." jawabnya lemah. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. "Saya harus bagaimana. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Saya benar-benar terjepit. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Dokter menyembunyikan wajahnya. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. hingga persoalan ini selesai. dokter." kata dokter dalam hati. Dok. Abbas merengek. "Tenang saja. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan.

" tutur Abbas. Tatapan matanya layu." Dokter membungkukkan bahunya. Hati saya dongkol. "Oh…hidup di dunia memang susah. Saudara tidak bisa meyakinkannya. Rasanya sakit dan ingin marah. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Wajahnya pucat. Tapi saya bingung. Saya terus mendesaknya. Kemarin malam. Perlu Dokter ketahui. Ya…. tidak'. Kebingungan mendekap. "Singkatnya begini. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Dok. Impian untuk menimang anak. Dada saya sesak. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal." Hati Abbas penuh teka-teki. Lalu dengan hatihati. wajahmu pucat dan sedikit berubah. "Semakin banyak saya menuntut. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. 10 . kini telah hilang. saya harus menjalani masa sulit ini. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. Entah sampai kapan. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Parahnya. Mana?" "Yah…. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. Lalu dengan ragu-ragu. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka.bagaimana lagi. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. kudekati istri saya. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Dokter mengira sore ini. Abbas menggelangkan kepalanya. Pokoknya tidak. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Sedih. semakin keras istri saya menolak. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Tapi sayang. Tapi ia tak melakukannya. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. "Entahlah. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. bagaimana harus menjelaskan padanya. Saya bingung. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. bagaimana saya harus meyakinkannya. ia akan datang bersama Abbas.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Tiba-tiba istri saya gelisah. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Aku benci dokter. Abbas dirundung ketakutan. Saya coba memohon dengan baik-baik. Usaha saya sia-sia. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan.

Saya bingung dibuatnya. Kepala saya panas. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Dengan murka. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Otak saya ragu. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Istri saya menjerit: 'Ampun. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un." tambah Abbas. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Perasaan tentram. Karenanya. Dok? Saya hanya menduga. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. saya melangkah ke arahnya. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Bengis. Saya telah ingkar. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. bimbinglah jalan hidupku.' Belum selesai saya bicara. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Tuhan. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini.Karena saking suntuknya." lanjut Abbas. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Matanya melotot. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Dok. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Tubuhnya mengejang. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Raut mukanya berubah aneh.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Tubuhnya menggigil. saya berteriak keras. "Apa maksud semua ini. Pengakuan dosa. tak mampu kuasai diri. 11 . Tolong! Jangan sentuh aku.

tupai dan tikus. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Barangkali. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Kami seperti mengejar kilat. Telah kami jelajahi seluruh hutan. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. badak. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. tetapi kali ini. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. mengantar tidur anak-anak kami. jumlah kami memang makin membesar. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Sampai kelinci. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. telah lenyap kami tangkap. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. rusa. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Gajah. Membuat kami cemas. begitu tercium bau kami. Telah kami sibak semua palung lautan. sementara . dari tahun-ketahun. Maklumlah. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. untuk memburu binatang-binatang. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. serigala dan segala macamnya. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. sebelum sampai ke telaga ini. sejak kami masih dalam kandungan. hanyut oleh pikiran kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Membuat kami begitu merasa terhina. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. ular. Cerita-cerita penaklukan. Sampai kemudian kami menyadari. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Kami memandanginya dengan gamang. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. nenek moyang dan anak cucu kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. macan. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beristirahat di pinggir telaga itu.

hingga pecah berantakan. banyak di antara kami yang menolak. Lantas. Anggap semua ini hanya permainan. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. membiarkan mereka lari dan menghilang. Mereka kami lepas ke tengah hutan. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. “Masuklah dalam hutan. Tetapi kami tak bisa menolak. Setiap detik adalah pertarungan. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami.. orang-orang 13 . Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. banyak orang di luar suku kami. untuk ikut menikmati perburuan itu. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Dan itu. sasaran perburuan yang menggairahkan. dengan cara melarikan diri. baru kemudian kami memburu mereka. Dan itulah kehormatan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Tapi itu lebih baik bagi kalian. sungguh. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mula-mula. Selamatkan kehidupanmu. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. tapi manusia. Maka kami pun membeli ratusan budak. Liat dan sigap. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. lari. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. seperti kami katakan tadi. kami bunuh. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Sampai kemudian ide brilian terlontar.. Kami tak lagi memburu binatang. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Inilah hidup yang sesungguhnya. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Kami akan memburu manusia. mendatangi kami. semua binatang telah habis kami buru. Mereka sudah renta.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. memang makhluk yang tak gampang menyerah. meski kami akan memburu kalian. Menjadi tradisi. Jangan cemas. Karena. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Selamat jalan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Semoga nasib baik bersama kalian. Para penjahat itu. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. perlahan-lahan. Rupanya. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Adakah yang lebih menyenangkan. tapi tak gampang mati.

tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. puluhan kepala negara. Di antara kemeriahan pesta. yang melintas bagai badai dan gelombang. para raja. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. “Kita harus melakukan sesuatu. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Kami. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. melintasi gelombang waktu. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Kami terus memburu. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Ah. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. dengan dukungan dana yang melimpah. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Itu sering membuat kami terusik sunyi. terkadang. Para bangsawan. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. menggulung apa pun yang kami sukai. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami berdiri di puncak menara peradaban. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. tetapi juga. tetapi kami selalu dirundung sunyi.” Gelas kami beradu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Karena kami sudah terlalu kuat. para bangsawan dan pengusaha besar. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. 14 . jangan sedih. para demonstran untuk kami habisi. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. tetapi penaklukan yang membosankan. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. keisengan. dan kami tertawa bahagia. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan.. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Kami bangun juga istana-istana. sendiri.besar di negara mereka. begitu melimpah buruan kami.. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Suaranya sudah gemetar. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. menjadi tak tertandingi. “Ini darah seorang penyair untukmu. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang.

sebelum maut menjemputku.” tegas kami. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Panji perburuan berkibar. dari seluruh dunia. bersulang. mencari kepastian dalam mata mereka.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. katakan kepada kami. “Kami tak mau tahu. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami.. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami.” kata kami kepada mereka. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. Sekarang. kami akan membikin perhitungan sendiri. Ya. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Dan aku ingin. “kalian kami beri waktu satu bulan. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. tetapi masjid itu tak juga penuh. “Baiklah. Gairah menjalar..” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka.. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.. Tetapi mereka menolak. kami segera mengumpulkan para kiai. meski sesungguhnya heran. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai.” Mereka. telah lapuk. para kiai itu. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. “Kami ingin Jibril. berkelok-kelok mengikuti 15 . kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. “Kalianlah yang bercanda. Kami segera menghimpun topan. malaikat. anggur segera kami tuang dalam gelas. Kami turut kemauan mereka. membangkitkan imajinasi kami. membuat kami begitu ternganga. Dan tentu.” “Baiklah. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.

membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Dan. Namun dzikir itu masih kami dengar. di pucuk api berkobar. luar biasa. menguap begitu cepat. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. lenyap seketika. Kami memagarbetis masjid itu. Kami panggil namanya. membumbung. Kami sudah cukup punya pengertian. dan api melahap cepat. melihat impian kami sudah di depan mata. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. membuat kami tengadah ke puncak api. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. seperti daun yang melayang-layang itu. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. mengalun menidurkan rerumputan. tetapi. menyentuh langit. bagaimana mungkin? Tapi. di sana. raib begitu saja. hingga kayu-kayu bergemeretakan. Namun orang itu tak kembali. bukan? Jangan salahkan kami. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Lantas kami tak bisa lagi sabar. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. anak 16 . seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . orang kedua kami pun tak kembali. Satu bulan lewat. Membuat kami tambah cemas menunggu. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. kini telah muncul di hadapan kami. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Gema itu melambung. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Membuat kami cemas. Jibril. Pada saat itulah. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami panik. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. masuk dalam masjid itu. sepanjang hari sepanjang malam. Kami tak mau kecolongan. ya Allah. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. gembira dan tak percaya. itulah yang kami saksikan. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Dan kami segera menyerbu. Kami terus berjaga. Tombak. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Tetapi seperti yang pertama. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Begitulah berkali-kali. Kami kirim utusan kembali. Kami tak mau di tipu para kiai itu. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. sekaligus marah. yang hanyut dibuai dzikir para kiai.gigir bukit. itu pun pasti sudah berhimpitan. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. mendadak menyadarkan kami. antara takjub dan panik. Kami bakar masjid itu. tertelan dan lenyap. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. bersama angin dan embun. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. seseorang di antara kami berteriak. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. di puncak kobaran api. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. tetapi tak kunjung keluar jua. tak pernah muncul kembali.

Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. dan langsung melesat. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . Kami tak mau kehilangan jejak. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Kami tak sempat istirahat. Di seberang telaga sana. Inilah buruan kami yang abadi. perangkap telah kami pasang. dan kami pun tak sempat menguburkannya. roket dan basoka.panah. Kemanapun Jibril melesat. mengejar Jibril. desing senapan mesin. Maka kami pun kembali bangkit. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. meraih peralatan berburu kami. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. kami lihat jejak cahaya. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda.*** 17 Yogyakarta. roket terus berlesatan. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Tombak terus beterbangan. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. kami memburunya. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. melanjutkan pemburuan abadi kami. Kami begitu sibuk memburu Jibril. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. “Kejar!” Kami pun melesat. Segera menghambur. kami melihat buruan abadi kami. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. ranjauranjau telah kami tanam. agar kami mampu meringkus Jibril. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Dan memang. yang menyimpan bayangan bulan.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

“Dianing. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.“Maksudku melihat dunia. Indah sekali. langit cerah. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. bulan menuju ke dunia. Bulan bulat penuh. Ia menembus awan.” “Ya.” 22 .” Matanya berpendar. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Ia menjerit. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. “Boleh aku tahu dukamu.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Gemerlap bintang menyambutku. Aku lihat wajahnya sepi.” Kami berpelukan. Dianing. Atas izin Tuhanku. Aku lewati langit demi langit. “Gerangan siapa membuatmu sepi. Seperti menunggu kedatangan.” Aku terpana.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing.” “Oh ya. “Cukup lama kami menunggu. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.” “Tentu. Ia bugil di malam yang damai itu. Dianing.” “Cepatlah kau temui burung hantu. Tersenyum dan memberi salam padaku.” “Ya.” “Bila Tuhan mengizinkan.” Burung hantu terbang. Burung hantu mengepakkan sayapnya.” “Ya. Aku bertemu dengan mega. Aku membalasnya dengan anggukan tulus. bintang. Seperti berabad-abad lalu. mega.

Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.” “Maksudmu.” “Bicaralah. Tak sekedar gelap. Di 23 .” Aku lunglai.” “Ya. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. terjal dan mendaki. Lismatano...” panggil burung hantu lirih. Telah berpaling dengan perempuan lain. “Maukah kau ke hutan Para. “Bila kau berkenan. Hidup bersama tanpa kata yang jelas.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif.” “Mereka seatap tanpa ikatan.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.” Aku kembali ke hutan Para. Aku terpana.Burung hantu menatapku.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.” Burung hantu menggeleng.” Aku luruh. “Bukankah mereka telah menikah. Tatapan yang sulit aku urai. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia. “Dianing. Tiba-tiba begitu sepi. “Untuk apa. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.

Aku tak kuasa melihatnya. Tubuh Lismatano mengeras. Ia tak membatu. Ya. Pergulatan yang dahsyat. Perempuan itu. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Ngeri. Ia berkaki empat. Lismatano telah membatu dan berlumut. Aku berada di ketinggian menara. Lebat dan kotor.” Aku menghela nafas. tetapi tubuhnya berubah. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Tubuhnya tumbuh lumut. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Dianing. Aku yang terpaku. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.” “Itulah yang pantas mereka terima. Ya.. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Deru nafas memburu. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Lismatano telah membatu. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Aku terpana. Mulutnya lebar ke arahku. Saling menumpahkan nafsu. Mei 1997.*** 24 Jakarta.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. “Yuniz nama perempuan itu. Sebentar lagi aku harus kembali. Tapi. Aku tak percaya melihatnya. Tiba-tiba. Kini tak bisa bergerak.” Aku hanya mengangguk. . Siap menerkamku. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Aku di atas pohon randu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat.” Aku menekuri tanah. Besar.. Ia berubah jadi batu. “Mengapa dengan mereka. Sementara perempuannya berubah binatang.

untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. Ada yang menembus kepala.” Wartawan mendengus. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat.. “Begitulah... asal tahu saja. sebagai wartawan.. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. Ada yang mengelupaskan bahu. Pejabat yang berdasi kuning.” “Tentu. tersenyum lebar sebelum menjawab. Dan berdehem. Mlah. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. misalnya?” Pejabat tergelak. Menghapus peluh pada hidung.. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini... berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu...” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. Pak. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran.Horison. . “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran.” Pelatih mengedipkan sebelah mata. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. “Selain pintar mengejar berita.. tentu.. Ada yang menusuk jantung. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran..

Dan. “OK.” sang rekan merentangkan tangan. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. menurut perkiraan dokter. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. . “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang..” *** Saat panas menukik terik. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. “Saya sedang tidak konsentrasi.. “Padahal menurut selentingan kabar.” Belum selesai pertanyaan itu. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. Namun wartawan telah kembali berujar. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. memasang wajah serius. Harga pistol yang mahal. sudah ditukas pertanyaan lain. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. saya harus menggadaikan pistol ini. Lalu mengangguk-angguk. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. “Silahkan. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. Padahal.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi..“Tapi.” “Untuk melunasi kreditnya.

Wartawan tergelak. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. saat itulah wartawan dan pejabat.” pejabat tergelak juga.“Kelihatannya biaya latihan. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. Wajahnya memucat.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. Dan menekan gas dalam-dalam. untuk minta maaf. menyeruak kerumunan.*** 27 . Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan.. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau.. "Setibanya di rumah. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. “Tak enak rasanya. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. “Harus kuakui. semakin tak menentu. tapi belum sempurna anggukannya. harga pistol. dan biaya administrasi lainnya. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. saya baru menyadari. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. dia beralih membunyikan klakson. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. yang terlambat datang. “Apakah Bapak. Melihat para wartawan tidak mengerti. Dia tertelungkup. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. Dia langsung mengangguk keras-keras. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. nilai pajak.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. Menutup kaca jendela mobil. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk.” diulurkan tangan untuk berjabat. Saat fajar bergerak sembunyi. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu.. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam.

dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. mereka sponsor kita kok. saya tidak melihatnya dari sisi itu. “Kramotak. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Melewati Alun-alun Bandung. lagi-lagi propaganda Amerika. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Dalam dunia pewayangan. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. “Siape ni nyang ngulang tahun. “Belum begitu laper gua ini. “Sebel gua. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. BM dong!” balas Kresna. gerombolan Pandawa. Dewa jangan diberontak. “Bukan mau nraktir. kita masuk pub dulu!” ajak Bima.” Sesaat hening. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. tiba-tiba Kresna. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG.” sahut Kresna. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. begitu ngepop. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. “Sambil makan malam.

Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Punakawan yang lain menyikutnya. Bima meraung-raung. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima.” “Ini kehendak Dewata. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik.yang Hilang. Karena itu. suasana rapat menjadi lebih kacau. bahkan Semar menjewer kupingnya. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. “Misi ujicoba kita gagal.” Dibentak seperti itu.” Dewala mencoba menjelaskan.” Bisma mengingatkan. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. “Jangan sok tahu Kau. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. “Tidak. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. “Kukira tidak mesti seperti itu. Apa pun yang kita rencanakan. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor.” Arjuna bersungut-sungut. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. 29 . Dewata telah memutuskannya. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Seperti biasa. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Takdir kita untuk menerima kekalahan. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan.” demikian Kombayana punya usul. Bima menggebrak meja. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Gareng kebagian memesan hidangan. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya.” Semar mengingatkan. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan.

” *** 30 . Dengan demikian. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Dengan dibahagiakan. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Konon katanya menurut mitos. Tetapi kita juga tahu. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya.” jelas Yudistira. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Prabu. Pokoknya rahasia. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. silaturahmi antarseniman pun terbina.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang.” “Bagi saya. saya akan membalikkan fakta. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. sekarang rakyat sudah menjadi materialis.” “Apa itu?” “Ada saja. “Justru naskah ini tepat sekali. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. Kita mengalah untuk menang. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. Kalau sudah seperti itu.” “Tapi saat ini saya ragu. dalam akhir cerita. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. dari kopi dan dari rokok. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. segala benda serba diuangkan. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. Eu begini Prabu. Saya punya teknik. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. di dahi dan di belakang tulang rahangnya.“Hei. Pak.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. “Sorri. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. yang berkaos oblong tadi. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Ayo sekarang lapor sama dia. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. “Iya. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.. Pak. dia lagi mandi dulu. sorri. urusan kriminal itu banyak macamnya. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. Ondol. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. hubungi saya yeah. Begini.” 35 .” “Sebentar. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok.. “Nah. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. berdiri dan mondar-mandir. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. “Terima kasih. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. “Nah. Di tepi kali di desa kami.. ini dia selesai mandi. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.” yang berkumis memotong. He he he. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Begini. kalian dengar. “Hilangnya Ondol yang misterius. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. nih ada laporan kriminil. Setelah hilang enam bulan lebih. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. sorri yeah.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Kalau kalian punya narkotika. Pak. begitu Pak.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Pak. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Ketika pertama kali ditemukan. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Nah. Tunggu yeah. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. sebentar.

Pak. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor.. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. ya. Laporan lisan saja tidak cukup. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. “Iya. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. ya. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Ondol ditemukan mati di tepi kali.” Yang bersandal jepit bersin. “Wah. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.” kata yang berkaos. Pak. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong.. Setelah hilang enam bulan lebih.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya.. Ondol. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Pak. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Ondol. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. Ketika pertama kali ditemukan. “Begini. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. “Nah. Bagaimana. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. “laporan kriminalitas?” “Iya.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. di dahi dan di belakang tulang rahangnya.” Yang bersandal jepit bersin lagi. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . ya. ayo mulai. “Ya. begitu Pak. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Di tepi kali di desa kami. “Hilangnya Ondol yang misterius. Pak?” “Tentu saja tidak. Pak.” “Baik. telah saya dengarkan.“Nanti dulu..” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Pak. Ya. bunyinya mengagetkan yang melapor. kami tidak membawanya. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Harus ada berita acara tertulis. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa.

Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. Kepala Kepolisian beserta ibu. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu.” “Caranya bagaimana. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. Ada bukti pun. “Ingat. Nah. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. itu namanya baru disebut issyu. Camat juga beserta ibu. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. sodara-sodara. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Apalagi tanpa bukti. ya tass. karena sekarang malam Minggu. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup.. Orangorang yang melapor menunduk semua. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. .Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. Dan yang lebih penting lagi. “Nah.” “Betul. dan syarat lain yang tercantum di sini. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. visum dokter. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. he he he. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. nih. Kepala Desa beserta ibu. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. pasti dia kesepian.” kata salah seorang. Ketua RW beserta ibu. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas.. “Kalau soal ini dibiarkan. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang.

lupakan saja kematian si Podol itu. Jelas bukan. atas nama hukum. Kami lagi sibuk. Bukan kami tidak ingin mengusut. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Menurut salah seorang kerabat Ondol. Kalau kemarin datang ke sini. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. Pada hari itu juga. bisa saya terima. 38 ." kata yang berkaos setengah marah-marah. “Sekali lagi. Untuk mendapatkan visum dokter. tidak disiplin dengan waktu. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. dengan semangat 45. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. “Aduh. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. Sesuai dengan petunjuk Bapak. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif.” kata salah seorang.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. kami tidak punya waktu banyak. ya sayang sekali. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. Karena itu. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. pengusutan perlu dilakukan. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. mayat yang telah dikubur digali kembali. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui.. lebih baik kematian e. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. Salah seorang. Lihat. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. supersibuk. tetapi kalian yang teledor. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. tentu berita acara kematian ini. “Jadi. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan..” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. siapa namanya itu. kalian lupakan saja. Pak. “Begini.

mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. sebagian lainnya hanyut di selokan. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan.*** 39 . Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan.

"Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana." dia mengangguk." jawabnya tenang. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. kali ini lebih lebar." "Kalian?" aku heran. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Lelah rasanya aku memanggil. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Dia tersenyum lagi. bahasa yang sangat asing ditelinganya. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. "Ya. . Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia.Horison. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. Kulihat di sekelilingku. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri.

seperti dia sedang serius berfikir. kadang rumah yang berlebihan. aku jadi kebal. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Jembatan waktu yang kau tuju. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Bahkan tahi. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. mereka kusikat. Mereka bebas makan. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. aku bagi kebahagiaan. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. juga familiku. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh." katanya menjelaskan. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. Aku berjalan di bawah penindasan. Aku dan anak buahku. Kubabat tanpa sisa. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Istriku sendiri yang mengajari. Bukan untuk kalian. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan." Aku terdiam. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. berpakaian. Aku rindu harapan. Akhirnya aku harus memilih jalan. "Tidak. Aku sangat kecewa. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda." katanya menggeleng. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. 41 . Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. seperti katamu. Karena lamanya aku membuat kapal. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Alis putihnya mengumpul. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. telah berubah arah. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Lama aku menunggu jawabannya. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Ada guratan gelombang di keningnya."Ya . hanya untuk umatku. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah.

Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Aku berlari di hutan-hutan. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Nuh. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. "Jangan mengejek. "Tabah. Tapi layaknya sekat. Aku gagal menyentuhnya. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. "Ketegaranmu. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Bibirnya lembut mengurai suara. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Berjalan menyusuri ujung penantian. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. Kulambaikan tangan pada orang-orang. Sambil berlari Dia kuhampiri. Nuh?" tanyaku tak sabar. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat." katanya. Bencana-bencana beruntun melanda.Mereka punjung kata dengan emas. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Dia tersenyum. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Aku jadi sendiri. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Nuh." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. tapi hutan itu malah terbakar. Lama kucari-cari dan kunanti. tapi tak juga muncul dalam benakku. 42 . Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. Mereka tampak menyongsong. tapi di belakang disiapkan membokong. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Aku ditandu dan dielu-elu. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. akan kutempuh!" kataku. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya." Nuh yang tua itu menggeleng." "Lalu. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan.

Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. "Terima kasih Nuh. Aku terdiam tenang. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Mataku terus saja menatapnya. Dia menyuruhku memandang ke atas." Aku termangu dalam buaian nasihatnya.*** 43 ."Tenang!" katanya. ke sana!" katanya menjelaskan. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. "Ya.

Mei Oleh: Moch. sepatu karet dan celana jeans. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. Revolusi. di sana. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap.Pada Sebuah Taman. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. tapi. Ning juga pernah bilang begitu. Lalu di sini. memberi komando. Paris. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. Persis ketika suatu malam. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. “Perjumpaan dengan calon presiden. mungkin. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Senja yang kemarin juga. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Dia datang dari jauh. senja beringsut perlahan. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. kukira. Pagi sekali. pedalaman Irian. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. “Kita evaluasi perkembangan. Bukan hal mudah mencapai taman ini. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. lenyap sama sekali. turun amat perlahan. lesu. nun beberapa tahun lampau. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. mematangkan dan memberi perintah “start”. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. Tak perlu kontak. tadi. lamban. Kota sedang terbakar. meneguk perlahan hangat tequilla. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. sedang bermula. Usai mengantar Ning. . dia bagai berada dalam situasi ekstase. Kekuasaan.” aku menyebut pertemuan malam itu. lenggang. usai membebaskan sandera. aku segera terbang ke sini. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. telah bergegas pergi dari situ. ”Anda bantu saya. Sambil mengontrol radio. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. NY. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. Asing. bahkan nyaris lunglai.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. dulu. dan Yogo telah datang. Pergilah. senja mulai nyungsep. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. sepanjang malam. ketika kami tidur bersama pertama kali. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. berkeringat.

” 45 . tapi rencana masih sedang berlangsung. Tak ada basa-basi. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Juga keagungan sebuah cita-cita. Kamu pasti setuju. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. pupus. dia memilih mengalah sebelum bertempur. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. tapi kuusahakan. demonstrasi. Malam kemudian tiba dengan diam. rupanya tak dapat dipercaya. Dia berada satu level di bawah. Aku kontan diserang frustasi. diliputi misteri. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. simpel. habis. faktor yang kami tak hitung selama ini. Ini harus dicegah. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Mungkin dia sedang di istana. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Juga kedatangan Yogo yang telat. tapi aku punya keyakinan. “Ning. betapa menggairahkan. Akan menyetop aksi.” Singkat. seperti irama tubuhnya: simpel. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. segera akan terbukti. Beberapa buah bank sudah ambruk. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. persahabatan adalah ikatan kita. Para pemain valas telah terkuasai. Presiden mundur besok. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. Lesu. Persahabatan itu. “Ia. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Presiden yang ternyata sangat lemah. Oh. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Dan malam tadi. juga kepercayaan atas nama keagungan. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Para aktivis telah diamankan. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya.persahabatan. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. langsung. dan demi keagungan. Malam yang sepi.” katanya simpel. bayang kegagalan mulai tampak. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. hingga subuh ketika kami pisah. kelak. Demi Yogo. Yogo tak mungkin datang. Markas keuangan sudah terbakar. Pulanglah. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. —lampu teplok kehabisan minyak. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. Yogo tampak angker. Presiden memang sudah terpojok. telah aku rekam di luar kepala. Di ufuk. Ning menelepon. Sabotase. tegas dan banal. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. “Bang.

Duduk menunggumu. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir.” katanya singkat. Aku benar-benar frustasi.” 46 . utamanya. Hand-phoneku bertulilit. sekarang atau tidak sama sekali. Durja. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Memanggil. bukan. Aku ingin berendam. apalagi kegentaran. cuma handuk. menghanguskan sisa rencana. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. Tak ada kegetiran. “Tunggu sampai besok.” “Sebentar lagi aku datang. Sebaliknya. Udara gerah berbau asap. Taman benar-benar muram. seperti Che Guevara. Di sini kita bisa berpikir jernih. Keagungan itu memang ilusi.” Suara Ning tetap empuk. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. almamaterku. Di sini.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. Bukan karena risiko yang mesti datang. Suara Yogo. kini. lantaran aktornya bermain tak terkendali.” balasku memencet “off” pada hand-phone. Bagi Yogo.“Pulanglah segera. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Ini tentu akan lebih menggairahkan. di sana prarencana sudah tersusun. Menggairahkan. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. “Ning. Castro. Kali ini suaranya bernada khawatir. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. balas dendam kalangan militer. Sementara bagiku? Masih ada Ning. aku sudah mandi. alumni Oxford. Seperti yang sering kamu katakan. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Tapi tidak malam ini. Kota masih terbakar. di taman tempat burung-burung bersenggama. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Tak ada besok.” “Berendam bersama-sama. pulang. “Iya. Yogo: gumamku membatin. Malam sudah bertahta. kini. dan tak ada rencana ulang. Kami akan segera terbang ke negeri lain.” “Kalau begitu aku mandi lagi.” “Iya. Dia memang lebih matang. kamu masih di situ?” “Ya. aku yang justru panik dan gamang.

” Malam.” “Aku juga.” “Tunggu. di Brooklynn. di taman ini. nun bertahun lampau. Seperti gairah sebuah musim panas. Juni 1998 . kini. ya!” “Cepat. NY. Gairah bulan Mei.*** 47 Jakarta.“Terus?” “Terus larut seperti biasa.” “Aku meresapkan bau mulutmu. kurasakan gairah yang lain.

siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia.” Suara itu terdengar gugup.1 Luh Srenggi. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Katakan padaku. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Apa pun yang . Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Aneh sekali. Ratu. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. “Luh Srenggi. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Inilah perempuan itu. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. Seorang perempuan. Tangannya jadi lapar. perempuan yang dicarinya berabad-abad. “Siapa itu?” “Titiang.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Aneh. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Kopag semakin gelisah.” Suara itu terde-ngar bergetar.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Suara itu adalah suara perempuan. kasih sayang. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. dan sangat tulus. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Tangan mereka bersentuhan.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Luar biasa. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya.

di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Pikirannya kacau! Kopag sadar. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Suatu hari. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Perempuan itu menolak. dan keindahannya sendiri. Tapi. perasaan. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Bahkan Gubreg. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Kali ini. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Seluruh kekayaan ludes. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Dia hamil. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Tubuhnya kurus dan pucat. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. pelayan tua itu. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Dia tidak pernah peduli. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Dalam kondisi seperti itu. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. cantikkah perempuan itu. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. sangat sadar. Kata orang. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi.dikatakan orang-orang di sekitarnya. bisa dibuat sebuah pementasan. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Dia tahu. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Kopag harus patuh.

perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Masih kata Gubreg. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Anyir. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Dia memberi Kopag poin. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Dunia yang diinginkan. Kopag sering berpikir. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Untuk pertama kali. dan sangat pas. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Kopag tidak saja memahat kayu. parekan. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Jujur saja. hidupnya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. otaknya. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Karena dia bukan kaum Brahmana. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Aneh sekali. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. dia mencium bau darah. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. 50 . selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Karena perempuan Sudra. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Bagi Kopag.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. juga impian-impiannya. merah. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Bahkan Gubreg. Itu yang dirasakan Kopag. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Ada-ada saja yang diributkannya. alam menyerah pada kekuasaanya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. kulitnya yang sering jadi pujian. dia memahat pikirannya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya.

Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. yang konon. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. tentang Michelangelo Buonorrty. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Frans Kafkasau. kata Frans. Ratu. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. pematung jaman Renaisans. Gubreg. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Susah. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Lihat. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Kau bisa lihat. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa.” Laki-laki tua itu terdiam. Susah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Dadanya sering mendidih. “Anak itu buta. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Juga dia baik-baik. aku selalu tersentuh. Menanggung dosa ayahnya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. sebelum berpulang. Gubreg. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Bagi Gubreg.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Tinggi. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Kehilangan yang dalam. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. aku juga ingin merasakan. Ratu. perhatian yang lain. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Gubreg.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. “Kau tidak ingin menjawabnya. Lihat. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. yang diterjemahkannya. Sejak kecil. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. rasa apa yang sering membuatku meluap. Gubreg. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Aku ingin tahu. kau belum jawab pertanyaanku. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. “Gubreg. tapi mampu memikatku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar.

Terlebih. “Aku ingin bercerita padamu. perempuan yang sangat dihormatinya. Berkali-kali dia menarik nafas. dia adalah laki-laki tak berguna. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Begitu parah.” Suara Gubreg terdengar patah. dan mampu meledakkan otaknya. 52 *** Pagi-pagi sekali. Sebagai laki-laki Sudra. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Dia sering terjaga tengah malam . Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sampai menjelang tengah malam. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. begitu indah.. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Kaki perempuan itu putih.” “Titiang. Sangat paham. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Dia gelisah. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Ratu. Dia juga laki-laki. “Tentang apa lagi.. Perempuan junjungannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Gubreg menyaksikan.” Keruncingannya. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. “Gubreg. dia luka. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini..” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Kopag sudah membuka jendela studionya. Semua orang.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Perempuan itu. angkuh dan selalu lapar. ketajamannya. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya.. Begitu penuh misteri. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Dia mengerti. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Luar biasa. Gubreg. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. kebanyakan..

Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Hyang Widhi. Kata Balian itu. Tubuhnya jadi pucat. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. membesarkan tubuhnya. tetapi sudah menyerupai air bah. sangat surealis. Gubreg. Cinta yang membuatnya jadi batu. dingin. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu.. Kata mereka. Pada dasarnya aku selalu penasaran. kau belum juga jawab pertanyaanku. Aku selalu ingin tahu. tubuhku. dukun. tanganku. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Sampai sekarang. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Berkat kekuatan Gubreg. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. berdialog. mengajakku bicara. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. menjelang tujuh puluh lima. Masih kata Balian tua itu. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. sampai menguliti otakku. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Dia pasrah ketika Balian tua. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Gubreg. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. tidak juga kesambet setan.dengan nafas yang memburu. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Tanpa istri. Demi Hyang Widhi.. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Guemica. Dayu Centaga tidak terkena.memandikan tubuhnya di pinggir sungai.” 53 . Cinta yang tidak mungkin dihapus.” suara Kopag terdengar pelan. “Gubreg. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Gubreg paham. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Gubreg tidak sakit. Tak seorang pun tahu. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. dan berpikir. Dia menarik nafas berkali-kali. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. "Gubreg. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku.

” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Lima menit tanpa hasil. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam.Gubreg tetap diam. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Mendengar komentar itu. dia terus mengelilingi studionya. Kopag seperti linglung. Bahkan. Gubreg diam. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Berkat Kopag. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Otaknya hanya berisi kehormatan. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Sekarang ini keluarga ini tentram. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. diajar memahami kehidupan. Benar kata Kopag. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Kopag memerlukan perempuan.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. *** “Gubreg. dia tidak tahan miskin. “Ratu. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Ratu terlihat sangat gelisah. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Bulan kemarin. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Kata orang-orang kampung. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.” jawab perempuan itu serius. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Jero Melati tersenyum. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya.” “Siapa?” “Adik perempuanku. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Sayang.” . perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Dia tahu.

dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. matanya yang kiri bolong. Gubreg. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.?!” Gubreg seperti tercekik. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. kakinya pincang. “Maaf Ratu. aku tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Kau tahu. Luh Srenggi.” Gubreg mengangkat wajahnya. Aku ingin kawin. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi.” “Ratu. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. membersihkan studionya menyiapkan makan. dia hanya memiliki satu mata. Saya 2. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam.” “Apa kata mereka. Ketika dia telanjang.“Ya.” Suara Kopag terdengar sangat serius. “Aku sudah memiliki calon. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya juga kulit kayu. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.. *** 55 1.. Sadarkah dia.” Gubreg ambruk. Kulitnya begitu kasar. Gubreg. ada daging besar tumbuh di atasnya.” “Mereka setuju. punggungnya bongkok.

Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. Kamu semua kelihatan saja menangis. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. kamu yang enak. Aku yang menjadi korban. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. kamu terus hidup ngakak. meringis. kamu yang melejit. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. “Aku yang mati. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Air . Aku yang sudah kesakitan. Ia berdiri di pinggir jalan. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Semua orang berdagang. dipergunjingkan. Aku yang kejepit. saling bergotong-royong. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Aku menderita. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku yang terdera. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. sehingga mereka menjadi terkenal. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. terkemuka. Aku diberitakan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan.“ kata mayat itu. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. “Peradaban sudah merosot. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa.Horison. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. diperdebatkan. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. Kehidupan sudah rusak. “Aku yang mati. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain.

kesalahkaprahan. Moral.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. Sama-sama wanita. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. aku kan hanya menjalankan assignment. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. semua yang tidak adil. menutupi hidungnya. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. telepon berbunyi. Akhirnya sekretaris redaksi. menciptakan esai-esai. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . tata krama. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. “Semuanya busuk. Seperti bendungan ambrol. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. seluruh ketidak-benaran. Kalau memang ada yang salah. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. susila. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Pak. “Tanya Bapak. luka. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. untuk membungkus kebiadaban. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. kepatutan. ternyata hanya sebuah koteka. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. Sekretaris panik. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. Komputer penuh dengan katakata kotor.” “Biar saja. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. “Biarkan saja. apa saja yang sudah menyinggung. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. prasangka dan kesakitannya. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. Itu kan baru dibeli. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. elegi-elegi. Ia menguras seluruh dendam. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih.” erang mayat itu.” “Tapi kursinya rusak. Apa saja yang sudah menyakitkan.

ia menggepeng di atas kursi. seperti orang yang mau bersekongkol. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Minuman panas. 58 .” “Kenapa tidak? Jelas sekali. air dingin untuk penyegar. Sekretaris menutup matanya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding.” Mayat itu menjadi amat girang. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. hati dan otaknya. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Penjaga kantor itu mengerti. Mungkin juga makanan. karena mencabik kursi itu. Mayat itu berdiri.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Itu memang benar.” “Kamu bisa merasakan. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Di antaranya ada gambar garuda. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. menemukan untuk pertama kalinya. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. ia kembali ke kursi. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. lalu lari keluar.Sekretaris bengong. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. “Kamu mengerti?” “Ya. saya mengerti sekali. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Ia berdecak-decak kagum. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Seperti balon kempes. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Keduanya berjabatan tangan. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Mayat itu terkejut. Nampak begitu lelah namun damai.

Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. Bulu kuduknya meremang.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. ia hampir terpekik.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” Mayat itu terkejut. Saya budak.” Mayat itu bergidik. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu.” 59 .” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” “Apa? Kamu budak?” “Betul.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak.

. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Apa pun saya tidak punya. meskipun tidak punya semua itu lagi. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu.” Mayat itu bingung. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat.” “Memang begitu. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Jangankan perasaan dan pikiran.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. kemudian meraba-raba. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Maaf ya. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit.. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya.” 60 . ia lalu menyentuh. Saya harus hidup. Mayat itu menggigil.” Mayat itu mendekat.” “Edan!” “Ya. . aku jadi curiga. Orang itu memang sudah dikebiri total. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. Saya budak komplit. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. jangan-jangan kamu. Tak puas hanya melihat. Seluruh kemaluannya. “Ya Tuhan.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Ia tak punya segala-galanya.

Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Pak.” Mayat itu ternganga. saya manut-manut saja. kok. Saya memang telmi.” 61 .” Mayat itu berpikir keras. saya tidak pilih-pilih nama. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. silahkan. Gaji kamu berapa sih. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Ia pelan-pelan duduk kembali. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Berapa?” “Tiga puluh. wong ini harus.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. tetapi apa boleh buat.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. Ini kewajiban saya.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. suka manggil saya apa saja. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. telat mikir. Bukan hanya saya yang harus hidup. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. Terserah orang. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja.” “Itu namanya pasrah.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. Pasti penjaga malam itu korupsi.

” “Ah! Apa?” “Kata saya.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. “Ayo salaman. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng.” “Memang saya sudah mati. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat. jangan takut. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. Jangan keliru. “Tidak bisa.” “Kamu sudah mati. tidak akan dituntut. Saya tidak bisa salaman. saya sudah mati. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan. Sekarang aku tahu masih ada orang lain.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. "Kamu luar biasa. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. Tetapi sekali ini." gumam mayat itu terpesona.” Mayat itu termenung.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” “Tidak bisa.” 62 . “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian.” “Ya.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali.

tempat saya tidak di kuburan. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Boleh juga saya disebut begitu. Mayat kok banyak bicara. Saya mayat yang harus hidup.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. 63 . mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. Harus. Tetapi di kantor ini.” Mayat itu berpikir. Sumpah. Pak. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah." Mayat itu bengong. Baik. saya sungguh-sungguh. Boleh saja tidak percaya. Mati pun saya tetap harus bertugas. memang beginilah saya. tetapi bukan. Dipercaya atau tidak. lalu ditangkap oleh gelap.” “Tidak. Selamat beristirahat." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Ini bukan waktunya untuk guyonan. “Kamu jangan main-main. Saya tidak tidur. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya.” Penjaga malam itu pasang tabek. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. Tidak apa. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Saya tidak boleh istirahat. Saya memang mayat.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. sudah cukup. “O tidak. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. 3 .”. Ia abadi. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. seperti tidak ada artinya sama sekali.Mayat itu terpesona. Tetapi apa daya. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya.” desis mayat itu. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. Ada yang lebih jelek. memanggil saya.11 – 1997 . Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. hanya dengan satu gerakan.*** 64 Jakarta. nasibku tidak terlalu jelek. Ia merasa sudah terlalu cengeng.. “Maaf. lalu kembali lagi ke tempatnya. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. Disertai penyesalan penuh. Remang-remang dalam kegelapan.. “Kasihan. kalau begitu. “Ya Tuhan. kalau begitu. tidak.

bila direnungkan. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. di perempatan jalan. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. tidak ada artinya. Masuk-keluar kampung. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Sorot matanya memancar berbinar. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. tempat orang lagi sibuk bekerja. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. nyaris berteriak. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. tapi pengawakannya tegap dan kekar. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. lebih separo abad usianya. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . Seorang laki-laki tua. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. berkali-kali. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. di mana pun kebetulan ia berada. Meskipun tua. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. Sepintas lalu. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. di emperan-emperan toko. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. Sesuatu yang punya arti.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. Di trotoar-trotoar. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Karenanya ia ditakuti orang. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan.

Tapi semua itu tak dihiraukannya. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. tak terkecuali gubuknya. Ada selentingan. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Di emperan super market. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Oh ya. lebih-lebih anakanak jalanan. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Di halte-halte bus kota. karena walikota tidak pernah tidur di situ. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. karena penampilannya yang tidak lazim. Di pemakaman-pemakaman umum. selalu berpindah-pindah. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Di emper stasiun kereta api. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. penuh bertabur onak dan duri. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Sidin. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Kusir-kusir dokar. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. tukang-tukang becak. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Saridin. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. tak ada yang tahu. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Siapa namanya. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Brodin atau Ilmudin. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Dari mana asalusulnya. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya.

serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. diusir dari satu tempat ke tempat lain. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. lalu naik ke serambi surau. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. untuk beristirahat di malam hari. Kebanyakan orang. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Mereka sulit tidur. sesaat ia tersedak. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. ia surut. Entah darimana. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. Mengapa ia tidak ke sana saja. lari ke kolam mengambil air wudu. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi.menghalaunya. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Berlampu suram. Cepat ia bangkit. senantiasa dihalau. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. sekadar numpang tidur sejenak. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Surau itu tampak kurang terpelihara. Surau itu lengang dan kosong. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. apalagi kejahatan. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Dengan hati sendu dan putus asa. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. lalu melangkah ke dalam surau. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Tapi sial. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. pikirnya. 67 . ia tak bisa masuk ke dalam masjid. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. kebanyakan orang-orang tua.

Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Suatu ketika. Ia tersingkir. "Saya adalah penjaga surau ini. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. 68 . Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Keluarganya punah. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya.. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang.. Agak lama matanya terpejam. Keyakinan dan kebesaran-Nya.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Dan ketika salat rampung sudah. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh..yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. tidak seperti biasanya. Jika Saudara kehendaki. Hartanya musnah." jawabnya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. berkeliling kota tanpa tujuan. Tak seorang pun peduli. ia mengelana seorang diri. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Harapan-harapan. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. selalu dipupuknya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan.

Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. seolah-olah ia tertidur lelap. tapi telah keburu sombong dan berlagak." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan.." kata sosok penjaga surau. dalam hati nurani dan jiwanya. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. hingga menggigil sekujur sendinya. indah sempurna tiada tara. "Kini. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya.*** 69 . "Belum lama ini. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. Mereka coba mendekati planet Mars. Di sana segala sesuatu kekal abadi. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. bahkan di uratnadinya. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. hai pengelana. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan.. Kedua belah matanya rapat terpejam. Ini merupakan masa paling buruk. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Hal ini tentu telah engkau ketahui.. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. ketika manusia sama ketakutan. Ketika saat salat Zuhur tiba. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. dan akan selalu terjadi.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Saat itu zaman perang. Kemudian hanya dengan setengah gram. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. Matahari menyinari bunga. dia sedih sekali dan menangis. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela." "Dengan ubin hijau. Dan di atas kertas ada angka-angka. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat." Kedua laki-laki itu berpisah.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Dan kertas. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. Sobat. tentu. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. Ya. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. " "Empat ribu. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. *** ." "Dengan ubin hijau." "Empat ribu? Baiklah. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap.

tanah air. Saat itu adalah zaman perang. Ada upacara. Menyeramkan. Mereka adalah para jenderal." "Pasti akan habis. . Menimbulkan gemuruh halus." "Demi Tuhan. Membacakan Hölderlin. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Mereka berbicara tentang manusia. Mengharukan." "Terimakasih. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. berhentilah. "Nah." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Pak Guru. Banyak mata bersinar. Sangat mengharukan." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. Banyak salib kecil.Lintasan boling. "Nah. gada-gada kecil berjatuhan. Dia bangkit dan tertawa. Berpidato pendek. Ingat Sparta.… Sama sekali tidak." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Mengingatkan pada Langemarck. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Mengutip Clausewitz. Pak Guru. Dua laki-laki bercakap-cakap. seribu.' Kedua laki-laki itu berpisah. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. berpakaian hitam-hitam. Sangat mengharukan. Lalu. Upacara yang mengharukan." "Jadi. Para pemuda maju ke garis depan. di belakang. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan.

" "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Mereka adalah prajurit. "Mau menembak. prajurit itu pulang ke rumah.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir." tanya Prajurit. Yang satu rubuh. "Kenapa tidak." kata Hakim. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti." Kedua laki-laki itu berpisah. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. "Kamu tidak boleh membunuh. para menteri jalan-jalan di kota. Ketika perang berakhir. Orang itu dibunuhnya. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. "Sukarelawan?" "Tentu. perempuan itu menamparnya. Saat itu adalah zaman perang. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Ketika mereka sedang menembak. Dia mati. . Tapi dia tidak punya roti. Dan kamu?" "Sama.

dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. Tanahnya sama. mereka mati. Semuanya tanah yang sama. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Waktu mereka empat puluh dua tahun.Dia adalah seorang ibu. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. delapan puluh dua tahun. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Jurusan Bahasa Indonesia. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. mereka saling menembak dengan senjata. mereka saling melempar bom. Waktu mereka dua belas tahun.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Waktu mereka berdampingan. Waktu mereka dua puluh dua tahun. Waktu mereka berumur dua tahun. mereka saling memukul dengan tangan. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Waktu mereka enam puluh dua tahun. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. Burung-burung gagak masih menggaok. mereka menggunakan bakteri.

Birgit Lattenkamp.bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand. Beate Meik. 78 . di bawah bimbingan Dewi Noviami).

puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. Pada pertemuan pertama. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . di Flandern maut merajalela”). Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. Namun. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. sambil memandang sungai Limnat. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. . Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. Juenger datang liwat kota Basel. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. ) 79 1914 Akhirnya. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. akan tetapi sekaligus menyusahkan. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. dengan banyak pertumpahan darah. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya.. yaitu “Flandrischer Totentanz”...

ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. juga. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. Akui sajalah. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”.” Novel ini. Barangkali sebab itu. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. “Omong kosong!” teriak Remarque. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. kata Remarque. dengan sangat teliti. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . kami menemukan senapan. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. seperti Remarque sendiri. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. Remarque. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. Dan mereka yang kembali. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. satu tidak kembali. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. juga karena disemangati oleh para guru. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Dari tiap dua orang. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. sampai sekarang hancur jiwa raganya. “Dalam Stahlgewittern.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck.

Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. meskipun bentuknya agak diubah. berkurang satu orang. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. Remarque. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Setiap pecahan peluru tembus. melainkan seputar masa lalu. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami.” Juenger tidak menjawab. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. Seakan-akan menjadi saksi. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. “Betul. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. Remarque sengaja tetap membisu. 81 . mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. Setiap tembakan jitu. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya.” kata Remarque. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. “buku itu laris. Namun. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Andaikan Anda tahu. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. antara lain pabrik besi Thale.

si none. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. sesudah itu M 17. . dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi.“Nah.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain.. Saya. ada lubang bekas peluru tentu.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. mestinya Anda ketahui juga.. hampir pipih. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. Melorot terus. di meja tulis saya ada kenangkenangan. Lucu dan memelas sekaligus. Juenger juga. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. 82 . yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar.

dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat.. dia pun membawa rokok. sialan!" Peralatan kopelrimnya.. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. "orang baru yang menggantikan Gornizek . semuanya akan segera kumakan.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. di pos pengintaian. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando.. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi." kataku perlahan. di pos komando. dan selain membawa peralatan makan. "Tidak usah. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang." kataku. "jangan terlalu keras.. dengan muka selalu menghadap ke . meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping.Jak. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. aku tahu bagaimana dia. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . Aku berdiri di depan. sesuai dengan aturan. Letnan mengirim dia kepadamu. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton." Selama itu. "Idiot. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. .." "Ya. dialah yang mengantarkan orang itu. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. Gerhard. "Ayo. begitu saja dari kertas pembungkusnya. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan." kataku. untuk pos pengintaian.. "Dan ini. melepaskan kopelrimnya." kata Gerhard. ke mari." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. Dan daging kalengan itu pun kumakan. di mana orang-orang Rusia berada. Sop buncis sudah dingin. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. "kemarikan. . "Ini.

"minum seteguk." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. "Duduklah yang tenang. tangan di lutut. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. 84 . tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya." kataku. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura." gumamnya.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. ." "Kalau begitu." "Tapi di pos. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil." "Tak ada yang boleh. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. "tapi aku tersedak. "kan tidak boleh duduk. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. juga tidak boleh memulai peperangan..musuh.." katanya menggagap." "Tidak." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. "Kemari. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. "Saudara merahku. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. "Sini." kataku pelan-pelan. Aku membungkuk." kata sebuah suara yang lemah. "Terima kasih." bisiknya.. "Diam!" aku membentaknya. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. dan jika dia menoleh ke samping. minum sendiri." katanya lagi. Anak-anak muda yang malang itu . dia membiarkan beberapa tegukan tertelan." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. "Di pos." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik. "Tidak enak?" "Enak.. Winnetou. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri.

.. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian.. kamu tahu." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. Avold. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap." kataku karenanya. bau keringat. "Aku juga takut.. lalu sisa-sisa sop.. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. Di suatu tempat. setidaknya remang-remang atau berkabut. Dia sangat .... "selalu malah. sedikitnya sesuatu. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. aku merasakannya..Aku pun minum. kan?" "Ya . "Sekarang lebih baik. juga sedikit berbau minuman keras. Tetapi kalau terang." Kami diam beberapa saat. tapi aku bisa mencium baunya.. selalu begitu." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. juga di pos komando di belakang kami. kalau saja hari menjadi siang. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. Dia menoleh lagi ke arah musuh. melihat sesuatu. kalau saja bisa melihat sesuatu.. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. Di bagian depan tidak ada apapun. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. sangat diam. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. di 85 . dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya. tapi memang begitulah mereka semua. Ah... jauh lebih baik .. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi." "Tidak begitu takut lagi.. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan. Avold. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. kalau saja sedikitnya remang-remang. pikirku. tapi lalu dia berkata: "Ya. Lothringen." "Dari mana?" "St. ." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. agak terang. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami..

Aku pun minum lagi. supaya bisa melihat. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. ini kalau . Ah. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang.depan sana.. biarkan mereka lewat. Berbisik.. "mereka tidak datang pada malam hari. Lalu kita menembakkan peluru asap merah. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. untukku hal itu selalu memakan tenaga. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi. mendengarnya. ke pos komando.. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita.. dan suaranya bergetar lagi. mengerti kan?" "Ya." Lagi-lagi aku heran. . maka kita harus tutup mulut." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 . Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi. "pos pengintaian. menyerang... "kalau kita tidak melihat mereka datang. paling-paling pagi hari.. "Tapi mereka tidak datang. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. Dua menit sebelum fajar. kita harus membunuh mereka. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. untuk mengekang suaraku.. Tetapi itu bukan apa-apa.. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. kita pasti melihatnya.. pasukan pengintai." omongku terus. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan." katanya. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris.... . berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. sampai mampus. hampir lebih baik daripada aku. merasakan bau apeknya." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia.... betapa baiknya dia bisa berbisik. "Ya.." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku." "Habislah kita. Artinya. "Bagus. kan?" "Ya. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan.. Aku paling senang kalau bisa meraung.." kataku..." katanya. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai. Tapi tenang. "Kalau . "pos pengintaian." Dia diam lagi. Kamu sudah bertemu dia." gagapnya." katanya dengan suara bergetar. seolah seseorang membungkam mulut itu. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. kepada Letnan.

"lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan .. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku... "Aku. "Dan.. lalu dalam kegelapan.calo apa. Ngomong-ngomong. Jak saja. "aku berdiri di stasiun. setiap kali kalau mau berbicara dengannya. kan..?" 87 . kamu mengerti? Tuan..." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku." "`Gimana. calo saja.. dan kalau seseorang datang..A.. sangat pelan... yang sedang kosong.. biasanya tentara.... jadi kalau seseorang datang. "Dari Jakob ." kataku parau. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka.K. dengan sangat tiba-tiba. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat.. J. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu." dia mengeluh dalam-dalam. . lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan... melihat lagi ke depan.. calo apa . "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu." "Jak. ingin bersenang-senang." tanyaku.. "aku bernama Jak. "Yah." katanya.? Begitulah aku bertanya.. seseorang yang aku pikir cocok... "Calo apa ." "Seperti orang Inggris. supaya menjadi hangat lagi. ". Jak." katanya. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu. aku harus menyikut tulang rusuknya. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi." katanya."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah." katanya dengan susah payah.." Dia diam sesaat. bukan Jeck." "Ke tempat pelacuran..." katanya. lalu pergi .." "Apa?" "Calo. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. ... ya?" "Tidak. setidaknya hampir selalu." tanyaku lagi.. jangan takut.. "jadi calo.. Karena tegang aku lupa meneguk minuman.. yah...

. dia bernama Gottliese." katanya. lepas. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. ..... Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan." katanya kemudian. "Enak sekali.." "Dan. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese."Bukan. dan suaranya sekarang bergetar hebat.. dan. Sekarang." potongku.." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. siapa namamu?" "Hubert. Aneh. Lili dan Gottliese.. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. botol itu kosong. ah. aku kan hanya seorang calo. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan.. tanpa izin apa pun. mereka tidak punya surat izin. "bukan. "Gottliese. Tidak. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku.. untuk siapa aku bekerja.. mengerti. tiran.. dia bertanya." "Siapa?" potongku." dia berkesah lagi..." "Tulang-tulang ?" "Ya. terlalu berbahaya. Tiga orang. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. di suatu tempat yang sangat . Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. "Ya.. "tepatnya uang persen." sambungnya.. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob. kan?" "Bukan. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran.. sangat jauh.." dia tertawa lagi sedikit. tidak punya germo. "eh. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. sangat sungguh-sungguh. 88 ..?" dia benar-benar tertawa sedikit." dia mendesah lagi. Tidak. kamu mengerti. "germo adalah tuan-tuan besar." kataku sambil memberikan botol kepadanya. ya. mereka bekerja mandiri. perempuan-perempuan itu. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . "Hubert. syukurlah! Kalau punya." katanya datar. "Ngomong-ngomong. dan dari itu aku hidup.. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . Käthe. tapi aku tidak bisa menjawab. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. "adalah yang paling baik.. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol. ya. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. kamu mengerti. dia mengoceh hampir dengan sendirinya. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. "dan artinya kamu dulu seorang germo. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya... Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik .

itu bukan sesuatu yang nyata." 89 . DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu.." kataku. "aku tidak bisa menembakkan yang putih. "Anak muda. hitam -.. "diamlah. sesuatu yang nyata .kotor dan sebagian hancur tertembak...... besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa. subuh.. jauh.. sepi sekali. kamu akan melihatnya dan tertawa.. betul-betul jauh sekali .. ada sedikit suara gemerincing . "Jak. "besok pagi aku sudah mati. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius." kataku. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan.. dan kalau mereka sudah dekat. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap. sesuatu bergerak ... mereka datang. mereka datang.. itu ." "Besok pagi. "Jak.. Itu tangkai-tangkai bunga matahari. aku melihatnya . Satu saja...." "Ah . "kalau mereka benar-benar datang.. dan itu terlihat ada di ujung dunia.. aku bisa mendengar mereka. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi.. Itu sesuatu yang nyata... Jak.. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila .. tembakkan yang putih . mereka mengendap-endap. jauh sekali..." bisiknya. "kamu gila. itu bukan apa-apa." katanya dengan sangat dingin. itu pasti sesuatu . sama sekali tanpa suara.. mereka datang . Besok pagi kamu akan tertawa.... Supaya mereka tidak membom kita ...." balasku berbisik. "ya." "Tapi lihatlah. sebuah garis hitam pekat.. itu perang. "Ayo.. kalau pesawat pembom kita datang.. seperti ayunan lembut jerami . itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. sepi. "Ya. ." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran. Jak. itu neraka.. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak." "Ah." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada." "Tembakkan yang putih...." kataku." "Jak.terlihat sesuatu seperti horison. Aku hanya punya dua peluru. Kalau hari sudah sangat terang.... kita bisa juga mendengarnya.. aku begitu kaget. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. Di atas garis itu kelihatan agak terang." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam... tembakkan yang putih ." "Aku kan kenal mereka. "Ya.. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. mereka merangkak di tanah.. maka sudah terlambat. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat..

"Di Stasiun Pusat?" "Tidak. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. Dia memberi aku 90 . Barusan tadi. tidak bisa ditebak. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. "Di Köln.Dia diam. tak tahulah aku. kamu tahu. kita masih punya waktu empat jam.. aku tahu itu. Stasiun Pusat maksudku. Lili di dekat Gedung Opera. dari dekat. percayalah kepadaku. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. dan mungkin sesuatu akan terjadi. Käthe orangnya sangat dingin. kadang ramah.. "tidak selalu. Setiap kali.. lalu aku pergi kepada Lili. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. "Tembakkanlah yang putih. ketika tidak terjadi apa-apa." katanya. Besok pagi-pagi. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak." aku ingin mulai." sambungnya dengan suara capek. Di tengah jalan. karena kalau tidak.. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. betul bukan. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. . Yah." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. . kamu pasti tidak mempercayainya. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. baru keringat dinginmu mengucur deras. dan suara tembakannya akan keras sekali.. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. kalau pesawat pembom kita datang. mereka suka melarikan diri. Begitu ingin aku melihat wajahnya. artinya hari ini. lebih baik kamu cerita lagi. kemudian cafe itu terbakar. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. bisa-bisa kita jadi selai. aku hanya mendengar mereka berbisik. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. itu lebih praktis. Ah. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. kamu tahu. karena itu orang tidak cepat jadi panik. Gottliese.. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. dia yang paling baik." dia membungkuk lagi ke arahku. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. "Jak. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. kadang kasar. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. tapi dia sering minum. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Wajah seorang calo tulen." kataku. "Jak. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. Sekarang tanggal 21. Dia punya banyak langganan tetap. Ya.. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. kamu mengerti? Dalam setengah jam. Dan itu bikin jengkel. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu." bisiknya seperti seorang sinting. Awalnya. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. dan kami duduk lagi menyandar. Di mana kamu terakhir kali . Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. aku sedih. kamu tahu.

. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. "tidak akan lama.. "Tenanglah. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. . kamu mengerti. . Mereka hanya sedikit mabuk...." katanya. paling hanya beberapa menit. Aku percaya bahkan sebaliknya. Dia selalu memberi banyak kepadaku.. Mereka kan tidak boleh begitu. Dan kemudian. Dan tembakan pertama pun meletus.sepuluh persen. Menghadiahi." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut." 91 . Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. Sepuluh persen! Sementara. persis seperti pada kita. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun.. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. Dia sangat pemurah. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu.. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. itu bukan apa-apa. Dan dia cantik. .. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. "dia hanya mendapat satu Mark. Sebenarnya." tanyaku. "Ya. yang paling cantik. kamu mengerti. sampai komisar mereka mengetahuinya. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. Dan Käthe masih juga memakiku. sangat dekat ke arahku. apa aku punya rokok dan lain-lain. Dan dia pun lumayan mengurus aku. setiap kali setidaknya dua Mark. Maka Käthe selalu yang terakhir. Laki-laki itu tidak punya uang lagi.. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak." "Bagaimana. tambahan lagi sudah tua. itu saja. "Diamlah. . sepuluh sen. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. Kamu harus menunduk.. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena.. menghadapi bahaya ditangkap polisi. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila." "Seorang tentara?" "Bukan. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. ." "Jak." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. Ah. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya. Gottliese berbeda. seorang sipil." aku ingin bertanya. sudah. Bagaimana tempat tinggalku. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali." "Menghadiahi?" "Ya. aku bilang sama kamu." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. Kadang hanya lima puluh sen. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. lalu dia akan menonjok mulut mereka.

Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun." kataku. di situ." "Tidak . dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut .." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. entah siapa lagi. sama sekali. karena di belakang dan di depan kami.. suara gemuruhnya seperti kiamat. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. 92 . pakai otak dong. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini.. aku mendengar sesuatu. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. dan dia sering tidak meminta bayaran... "Ya. Lalu sangat sepi. juga lengkingan liar itu." katanya pendek.. Dia sedikit gila.. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. betul-betul sepi. sekarang mereka datang. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. Kathlene. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila. "Sekarang . kamu tahu. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan . Gottliese itu." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun." sekarang aku bertanya.. . salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. ." sambungku. "Ayo." Nafasnya tersendat. "Cantik. wajah seorang calo tulen. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang... Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. kamu akan mendengarnya.. kalau tidak aku bisa gila. . mereka menyerbu maju. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. .. "Jak." bisiknya. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru... "Bagaimana. aku mendengar mereka datang. setiap hari nama baru . Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan. sekali lagi teriakan ." kataku. Dan yang paling sial. .. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. Tidak bisa lain.Tapi teriakan itu tidak berhenti. sungguh mungil.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal... Dia sangat mungil." tiba-tiba dia bisa bicara lagi." Dengan segan dia menjawab.. Sering dia memakai nama lain . "Kamu lihat. atau Susemarie. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi .... "dan sedikit gila. "tembakkanlah yang putih. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. dalam terang. "bagaimana parasnya.. Aku pikir. Inge Simone. .. menyibak tirai perang menyelimuti kami. dan kalau mereka datang." Aku memegang erat lengannya.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya....

malah masih memberi sesuatu.. lebih hitam dari pada malam.. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan.*** Judul asli: "Jak.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. dia berbisik pelan: "Tuan.. der Schlepper". sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya.. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. ingin bersenang-senang. diterjemahkan oleh Dewi Noviami. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.. 93 .

Dia mendekati dinding di sebelah kanan. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Dan tahulah dia sekarang. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. Di bawah potret ada sebuah gelas. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. melindungi matanya. Laki-laki itu mengangguk mengerti. Alis perempuan itu hitam tebal. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. Gelas Itu. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. tapi sangat samar. terletak di sebuah rak buku kecil. kemudian gelas. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu.Horison. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. mengapa di dekat . dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Dengan tangan gemetar. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. dan kemudian beberapa buku.

dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. Meskipun demikian. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. dan derajat sesamanya. Heran." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari." dia. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. wibawa tinggi. Saya mengaguminya. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. Dan ketika perempuan itu membuka almari." Belum sempat bertanya apa-apa." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. Dia pasti mempunyai wibawa besar. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. Maka berbicaralah dia asal berbicara. laki-laki itu agak terkejut. Matanya sungguh 95 . martabat. Dia pasti laki-laki ramah. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Sungguh agung dia. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah.

beberapa bawahannya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. sementara dia suka merayu. sangat mengagumkan. tidak seorang pun tahu. yaitu merayu 96 . laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Ingat. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. Dia ingat. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ." kata perempuan itu. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Bagi saya. Laki. Nabi Yusuf tidak suka merayu. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. dialah laki-laki yang saya cintai. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya." Laki-laki itu diam. Kalau tidak keliru. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. "Laki-laki itulah yang saya cintai. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. dengan nada sangat melecehkan mereka. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Begitu gemar dia membuka-bukanya. dia laki-laki mengagumkan. Dan setiap kali saya merindukannya.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Surat itulah. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. dan akhirnya mengenai payudaranya." kata perempuan itu lagi. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. pertemuan dinyatakan bubar. Akhirnya laki-laki itu tahu. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. Betul yang kau katakan tadi. mengenai buku-buku itu lagi. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

Dan setiap kali merasa takut. tapi perkelahian-perkelahian itu. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya.Dengan tenang. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. Meskipun demikian. pasti saya bertindak terlebih dahulu. Juli 1990) . laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Memang saya sering berkelahi. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Kamu pun sebenarnya iblis. bukan apa-apa bagi saya. Saya hanya menikmati satu hal. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. sekali lagi. Ketahuilah. Sesama iblis bisa saling mengganyang.*** 101 (Dimuat dalam Horison.

bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Jangan menangis lagi. Aku melihat orang. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Airmataku berderai-derai. Dadaku telah amat sesak. Dan kini hari telah semakin gelap. Keringatku mengucur deras. Seperti juga hidup itu. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. Aku melihat semua itu! Ya. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. tahukah anjing-anjing buduk itu. Bukan. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. semuanya. Dalam remang malam. Inong! Kering airmatamu nanti.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Aku merangkak dan maju perlahan. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. menuju Buket Tangkurak. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Hari-hari yang meranggas lara. Ya. kutarik napas panjang. Ngeri? Oi. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Meski lelah. tetapi langkahku makin kupercepat. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Serpihan tanpa makna. diperkosa beramai-ramai. Ffffffhuuih. temanku. Perih. sebelum rumah dan suaminya dibakar. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. lebih baik meniru anjing-anjing itu. 102 . tanpa alasan. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Juga saat mereka membantai … keluargaku.

Inong? Aku mencarimu seharian.” ujar yang lain. Dahulu.” Aku menggeliat. kupingku mendengar langkah-langkah orang. biarkan saja. lalu remah-remah daging manusia.” kata yang ketiga. melintas di depan rumah dengan sepedanya. di antara suara serangga malam. Kutemukan beberapa tengkorak. juga sangat muda. Bersama bayangan Ayah. “Sayang. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. . Hanya tertawa dan menangis. Ah. Aku tidak mengganggu orang. awan dan udara malam. Lalu aku tersenyum malu. Ah. Tangannya lembut membelai kepalaku. menyanyi nyaring. Bersama desir angin. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Cut Dini. terus menggali. Kami menyanyi. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. “Ya. sudahlah. Sssssssttt! Tiba-tiba. Mereka gila karena mengira aku gila. Ya. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Tulang. Cakarku terus menggali. Ah.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Aku menggali. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. ya. subuh tadi. kami menari bungong jeumpa." jawabku sekenanya. “Aku cuma jalan-jalan. Ma’e dan Agam. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Banyak tulang. dulu ia cantik…. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Aku bangkit. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Ya. mencoba duduk. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. aku di rumah.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. *** 103 “Inong…. burung hantu dan lolong anjing hutan. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Mak. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. saat Hamzah yang telah meminangku. Hangat. Berarti…. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. dahulu…. “Dari mana. “Ia tak berbahaya.

di belakang…. Aku tak bisa bangkit. yang sudi berteman denganku. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid.” kataku pendek. “Aku suka. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Ia memberiku makan. Aku suka membantah orang. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat.” lirihku. “Sudahlah. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Lagi pula kau seorang muslimah. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. Lalu di dekat perut. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Dan … cuma dia. Tidak baik pergi sendirian. Dulu. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Tangannya koyak. Aku belum begitu lama mengenalnya. mengajakku ke dokter. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. “Kau sakit. Kugaruk-garuk kepalaku. Kau sangat terpukul.” ujar Cut Dini. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini.” kata Cut Dini suatu ketika. ke pengajian. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. Cut Dini menatap bola mataku dalam. menggapai-gapai permukaan. dasar orang.” 104 .” “Itu baju yang tak pantas dilihat. menceritakan banyak hal.” katanya pelan. Aku senang sekali. atau sekedar jalan-jalan. Berbahaya. kecuali semua yang bernama kepahitan. tetapi tidak Cut Dini.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. “Therimoung… ghaseh…. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Cut Dini. Segalanya terasa lebih ringan. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Aku mengangguk-angguk. bahkan menyentuh apa pun. Ia sangat peduli. Ia menyisir rambutku. Kata mereka aku gila! Hah. “Aku ingin memakainya. ketiaknya juga. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Namun tiada tepi.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. memperhatikanku. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. “Apa aku gila?” tanyaku. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Terus mengangguk-angguk.” kuteguk minuman itu. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. di antara para tetangga. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Kau anak baik. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi.“Aku tahu. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. Menggaruk-garuk kepalaku. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana.

Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. ambil saja uang ini buat anda.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Jembatan Kuning. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini.” Cut Dini membaca kertas itu. Huh. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. Hua…ha…ha. banyak yang terpaksa menjadi cuak. Ini daerah operasi militer. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. aku tertawa gelak-gelak. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Suaranya kadang berubah. Cot Panglima. Lupakan saja gadis gila itu. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. Aku jadi ingin marah. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. Sungai Tamiang. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Tetapi sekarang semua usai. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. Kami menjaga keamanan masyarakat. “Kami hanya menindak para GPK. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. lebih lekat dari jendela. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana.” .Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. “Kami orang baik-baik.” Aku nyengir. penjagalan di rumoh geudong. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. semuanya busuk. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. Ah. anak-anak yatim yang terlantar…. Kulihat wajahnya marah. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. meski tak mengerti.” “Sudahlah.

“Masya Allah. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Mereka tak mampu membela kami. Aku berhenti jadi burung ajaib.” katanya. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. ya. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. bila ingin shalat seperti manusia. 106 *** “Keluar. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. “Ayo lihat mereka. Ketika pintu dibuka.” suara Cut Dini.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. abang dan adikku. “Benahi yang rapi lagi.” kata Cut Dini tersenyum. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. Ulon hana teupheu sapheu!” . Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. “Jangan menjadi burung. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. Lalu Ma’e dan Agam. nanti perabotan itu rusak. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. Kurasa ia seorang pemimpin. Aku berlari ke dapur.” tukasku. Aku mau shalat lohor dulu. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. sebelum aku bisa jadi burung. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor.” Aku berhenti melempar. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. tetap lembut. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku.

“Allah tak akan membiarkan mereka. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. Silau. Airmataku menganak sungai. Jiibandum ureung biasa. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. hingga aku letih sendiri. Inong! Semua sudah berlalu. “Kami tidak membela. Merah. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Di mana Ayah.“Lepaskan mereka. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. mencakar.” 107 . lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Tegar. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta.” suara Geuchik Harun. terkelupas dan berdarah. mereka memang bukan orang jahat. Tak jauh. Pedih. Pusing. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. Airmataku menderas. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. Aku jatuh lagi. Wajah-wajah itu retak. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah….” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. istighfar…. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. di dalam jaring-jaring merah ini. “Astaghfirullah. tetapi aku tak bisa bangun. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. saat tak lama kemudian. Wajah-wajah dalam jaring pias. Inong! Inong. menggigit. menendang. “Inong. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari.

Tolong. Ia mengusap airmataku. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. . Lalu tak jauh di hadapanku.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Tak ada apa pun. Hah. terasa berputar. menatapku kasihan. Menggelepar. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). 1998 Referensi: . Aku mengamuk panik. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku.Kabur. tak ada suara yang keluar. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Berdarah dalam jaring. Terbit.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. tak ada airmata yang mengalir. Sekujur badanku bergetar. Tiba-tiba suaraku hilang. mereka akan membantu kita…. kulihat beberapa o-rang. Pak. Cuma luka nganga.Gatra. Bapak sudah lihat sendiri. Orang-orang ini tersentak. Aku berteriak. tetapi kaku. Republika. Aku mencari bunyi. beri kami keadilan. mencari bening.*** 108 Cipayung. mengamuk. Di antaranya berseragam. Samar kulihat Cut Dini. Aku menangis tersedu-sedu. 5 Agustus 1998.” Aku terkapar kembali. “Inong…. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. . mencari gerak. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku….

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Suara itu adalah suara perempuan. Tangan mereka bersentuhan. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Inilah perempuan itu. Luar biasa. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Seorang perempuan. dan sangat tulus. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon.” Suara itu terdengar bergetar. kasih sayang. Aneh. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Aneh sekali. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. "Katakan padaku. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Kopag semakin gelisah. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya.1 Luh Srenggi. Kali ini. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. Hampir saja pisau itu memahat kakinya.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. “Siapa itu?” “Titiang. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Tangannya jadi lapar. “Luh Srenggi. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya.” Suara itu terdengar gugup.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. 110 . Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Kopag harus patuh.

Dia tahu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. pelayan tua itu. Bahkan Gubreg. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. perasaan. Seluruh kekayaan ludes. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. cantikkah perempuan itu. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Perempuan itu menolak. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. hidupnya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Kopag . Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Dia memberi Kopag poin. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Dia hamil. Suatu hari. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Tubuhnya kurus dan pucat. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Tapi. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Dia tidak pernah peduli. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Kata orang. sangat sadar. Dalam kondisi seperti itu. Pikirannya kacau! Kopag sadar. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. dan keindahannya sendiri. bisa dibuat sebuah pementasan. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam.

Karena dia bukan kaum Brahmana. Ada-ada saja yang diributkannya. Aku ingin tahu. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Bagi Kopag. Kopag sering berpikir. dia memahat pikirannya. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Dunia yang diinginkan. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Itu yang dirasakan Kopag. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Untuk pertama kali. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Masih kata Gubreg. kulitnya yang sering jadi pujian. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Aneh sekali. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.” “Seperti apa perempuan cantik itu. juga impian-impiannya. merah. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Anyir. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. aku juga ingin merasakan. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. parekan. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. alam menyerah pada kekuasaannya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya.” 112 . Ratu. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. otaknya. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Jujur saja. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini.tidak saja memahat kayu. dia mencium bau darah. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Karena perempuan Sudra. Bahkan Gubreg. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. dan sangat pas.

Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Sejak kecil. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg.” Keruncingannya. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. 113 . “Anak itu buta. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Gubreg. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. ketajamannya. Luar biasa. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Begitu penuh misteri. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. rasa apa yang sering membuatku meluap. Frans Kafkasau. “Gubreg. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Gubreg. “Kau tidak ingin menjawabnya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Dadanya sering mendidih. Lihat. Susah. Kehilangan yang dalam. perhatian yang lain. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. sebelum berpulang. tapi mampu memikatku. Kopag sudah bagian dari nafasnya. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Bagi Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Gubreg. Lihat. Susah. Kopag tidak lagi membutuhkannya.Laki-laki tua itu terdiam. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Menanggung dosa ayahnya. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Tinggi. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Gubreg. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Kau bisa lihat. aku selalu tersentuh. yang konon. tentang Michelangelo Buonorrty. Ratu. begitu indah. “Gubreg. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. kau belum jawab pertanyaanku. kata Frans. Gubreg. Jaga dia baik-baik. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. yang diterjemahkannya. pematung jaman Renaisans.

Semua orang. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Dia gelisah. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga.” “Titiang. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Berkali-kali dia menarik nafas. Kaki perempuan itu putih. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. perempuan yang sangat dihormatinya. Perempuan itu. Ratu. .” Suara Gubreg terdengar patah. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu.. dia luka. Kata Balian itu. Sebagai laki-laki Sudra. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Hyang Widhi. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. “Aku ingin bercerita padamu. Tubuhnya jadi pucat.. Masih kata Balian tua itu. Begitu parah. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Gubreg menyaksikan. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Sangat paham.. dia adalah laki-laki tak berguna. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Terlebih. dukun. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Sampai menjelang tengah malam. dan mampu meledakkan otaknya. Dia juga laki-laki. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. kebanyakan.. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup.. “Tentang apa lagi. Perempuan junjungannya. Dia mengerti. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Ratu?” “Kecantikan perempuan. angkuh dan selalu lapar. Kopag sudah membuka jendela studionya. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. *** 114 Pagi-pagi sekali.

Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. mengajakku bicara. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Dia menarik nafas berkali-kali. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Gubreg. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Dayu Centaga tidak terkena. “Gubreg. “Gubreg. diajar memahami kehidupan. Pada dasarnya aku selalu penasaran.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. mem-besarkan tubuhnya. dingin. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Tak seorang pun tahu. tidak juga kesambet setan.” Gubreg tetap diam. sampai menguliti otakku. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Gubreg paham. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. menjelang tujuh puluh lima. Sampai sekarang. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Demi Hyang Widhi.. Aku selalu ingin tahu. berdialog.” suara Kopag terdengar pelan. Dia pasrah ketika Balian tua. Guemica. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Tanpa istri. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga.. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Cinta yang tidak mungkin dihapus. tetapi sudah menyerupai air bah. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. sangat surealis. Cinta yang membuatnya jadi batu. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg. tubuhku. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. dan berpikir. Gubreg tidak sakit. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. 115 . kau belum juga jawab pertanyaanku. tanganku. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Kata mereka. Berkat kekuatan Gubreg.

adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Gubreg diam. dia tidak tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. keluarga besar ini kembali bisa hidup. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.” “Ya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. *** “Gubreg. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Kopag memerlukan perempuan. “Ratu. Lima menit tanpa hasil.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Sekarang ini keluarga ini tentram.” jawab perempuan itu serius. Bahkan. Benar kata Kopag.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Sayang. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Kata orang-orang kampung. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Dia tahu.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. .” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Bulan kemarin. dia terus mengelilingi studionya. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu.Berkat Kopag.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Otaknya hanya berisi kehormatan. Aku ingin kawin. Mendengar komentar itu. Gubreg. Kopag seperti linglung. Ratu terlihat sangat gelisah. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Jero Melati tersenyum. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Hanya satu yang ditangkap Gubreg.

ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya.” Gubreg mengangkat wajahnya. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri.“Maaf Ratu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Maret 2000) . Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Wajahnya juga rusak berat.*** 117 1. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.” “Apa kata mereka. kakinya pincang. dia hanya memiliki satu mata. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Kau tahu. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. membersihkan studionya menyiapkan makan.” “Mereka setuju. Kulitnya juga kulit kayu. Kulitnya begitu kasar. Luh Srenggi. Saya 2. aku tenggelam dan habis. Gubreg. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Ketika dia telanjang.. punggungnya bongkok.” Gubreg ambruk. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.” “Ratu. Dia adalah perempuan tercantik.. ada daging besar tumbuh di atasnya.?!” Gubreg seperti tercekik. matanya yang kiri bolong. Sadarkah dia. “Aku sudah memiliki calon. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison.

ya seperti yang sudah kuduga. 118 . “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. Cepat-cepat ia mengatakan. betapa mengerikan.” “Jim. Sampai pada kalimat tersebut. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya.” kata Jim. “Pasti dari Jim. Lima belas tahun yang lalu. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati.. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. “Oh. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. mengapa harus menjadi batu. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. tetapi aku sudah membayangkan. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. Sambil mengangkat gagang telepon itu.!” panggilku. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut.” kata Jim datar. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga.” simpul Jim. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Aku takut.” kata hatiku. “Jim!” ulangku... bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. tergolek bagai barang tak berguna.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari.. Beberapa saat ia terdiam. “Ya. Tak ada jawaban. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam.. “Tak masuk akal. mereka membunuh diri.

Ya. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. cahaya pelita sudah menyergap mukanya.. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. tut . Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. lantas berkenalan dengan Niru.. tetapi oleh waktu. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi.. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. Hallo. menuju rumah sahabat kami tersebut. teruskan. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya.. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. 119 *** Dinihari. tetapi yang terdengar hanya tut . sebenarnya hampir tergolong primitif. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim..” Aku menarik napas. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. begitu orang menamakan asal Niru. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. sekitar 150 km dari sini. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. “Halo.” Jim agak berteriak. ...sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. hubungan kami terputus.. tut..” “Aku takut..” kata Jim... namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik.. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. Suku Montai. sangat takut. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. tetap memandu Jim di lapangan. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. Niru masih bujang bedengkang waktu itu.. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. ketakutannya terasa semakin besar. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. tetapi masyarakatnya terbelakang.. Sayang. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi.. aku merasa meneliti diriku sendiri. Aku belum pernah setakut ini.

tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu.. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Duduk saja di sini. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Leman. “Sungguh. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. ke pinggir hutan selatan. sebelum fajar menyingsing. Berat. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. anak-anak. Jim terpelanting.” kata Jim. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. menusuk-nusuk hati Jim. Menengadah. dan. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. “Atau Katik.. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. mengajak Jim berbincang. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. Tak jauh dari Niru. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. turun ke tanah. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Raut. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. malah ia semakin gelisah. Aku memegang batu itu.” Terdengar Niru ketawa kecil. juga mampu menghidangkan suasana lain. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. . “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. 120 .” kata Niru. wajahnya pun terlihat berayun. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. semula aku tak percaya. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. Angin berkibar. Dulu. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. Terasa begitu cepat waktu berlalu. “Tapi Niru. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Jim kembali memutarkan badannya.

dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. Kudengar juga suara anakku mengerang. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku.” sambung Jim. Apalagi waktu itu. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. dan. Belum ada lagi panggilan dari Jim. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini.. “Lantas.. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut .” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa... nanti saja. tapi nantilah . telepon masih terlentang.. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. soal-soal kemesraan. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. aku tak mungkin berbohong.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. tut . tetapi hujatan Jim _ya. Ya.” “Ya. Ia seperti duduk di ruang . Kendaraan mulai lewat di depan rumah.. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya.. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim...keras sebagaimana layaknya batu. Aku ingin mengatakan... Cepat pula ia bertanya.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu.. Dari jendela.. *** Sampai menjelang subuh. Aku takut.” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. damar yang sulit dicari. terdengar suaranya tersendat-sendat. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. tut . “Ini sungguh amat menakutkan aku. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia.

Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Keesokannya. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. tilam. ia kemudian mengatakan ingin keluar. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. seorang teman lama. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. Kalaupun ada perubahan. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. limau. “Aku ingin reuni di Montai. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Konon. ketika mataku sudah terlayang. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. jalan yang lebar. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. Tak ada perubahan. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. Tak diajaknya aku. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Ada juga batu berbentuk kapal. Kakinya terkepang. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. lesung. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Setahuku. yang pernah kusaksikan beberapa kali. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. dan entah apa lagi. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja.tengah. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. mungkin tujuh tahun yang lalu. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. bantal. sendok. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. Katanya. Dini hari. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia.

Baiklah. Aku akan menjemputmu. telepon berderak. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. “Ketika kutanyakan hal ini. tidak cukup hanya melalui telepon. “Pulanglah dulu ke sini. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas.tandus.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. bahkan kami di kota ini. dan tak henti-hentinya mengusap muka..” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. menelan air liurnya beberapa kali. Jim menjawab dengan sedu-sedan. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim.. memang sulit. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Ketika kutanyakan khabarnya. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya.” . termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. Jim juga mengatakan. payah. Niru hanya mengatakan: payah. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. “Sudahlah Jim. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya.. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. bawa bertenang. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu.” kata Jim.

ketika. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. “Ya. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. Ada yang sedang mencangkung. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah.. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. dan entah macam mana lagi. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. ternyata bocor. berdiri bercekak pinggang. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. tetapi ia 124 . Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. Tangan kanan menopang kepalanya.. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. Tetapi aku melihat... sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. Tetapi mata Niru. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik.. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. ia dan keluarganya juga begitu. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan.” Kalimat Jim terputus. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia.. Ia merasa amat letih. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Matanya memandang tembus ke langit. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. sementara otaknya melayang entah ke mana. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu.” kata Jim. Bontik. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah.

” Sungguh. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. giliranku.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. “Tapi aku bertambah kecewa. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Entah apa yang dipekiknya. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Memandang ke langit-langit. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. Seharusnya. ia tak tahu. aku berkata pelan. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. terasa seperti jarum menusuk telingaku. Kau sudah mati. aku juga meletakkan gagang telepon. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. Kalau saja Jim tahu. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. Suaranya lantang berkumandang. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini.” Jim marah besar. September 1997) .*** 125 (Dimuat dalam Horison. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. “Kau bangsat. keluargaku.

jumlah kami memang makin membesar. sebelum sampai ke telaga ini. nenek moyang dan anak cucu kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. untuk memburu binatang-binatang. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. macan. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Gajah. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Mereka sudah renta. Kami memandanginya dengan gamang. badak. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. tetapi masih sanggup berlari 126 . betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. mengantar tidur anak-anak kami. Sampai kemudian kami menyadari. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. tupai dan tikus. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Cerita-cerita penaklukan. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Membuat kami begitu merasa terhina. Sampai kelinci. hanyut oleh pikiran kami. ular. Kami seperti mengejar kilat. rusa. tetapi kali ini. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Maklumlah. sejak kami masih dalam kandungan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. serigala dan segala macamnya. dari tahun ke tahun.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Membuat kami cemas. Telah kami sibak semua palung lautan. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. tapi tak gampang mati. begitu tercium bau kami. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Barangkali. telah lenyap kami tangkap. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi.

selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Maka kami pun membeli ratusan budak. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. untuk ikut menikmati perburuan itu. Anggap semua ini hanya permainan. Jangan cemas. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. banyak orang di luar suku kami. Selamat jalan. Karena. Adakah yang lebih menyenangkan. lari. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Lantas. Itu menjadikan kami begitu bahagia.. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Tetapi kami tak bisa menolak. Rupanya. para bangsawan dan pengusaha besar.. sungguh. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. banyak di antara kami yang menolak. Liat dan sigap. para raja. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Menjadi tradisi. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. kami bunuh. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. “Masuklah dalam hutan. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Setiap detik adalah pertarungan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. tapi manusia. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan.mengejar antelope. Tapi itu lebih baik bagi kalian. seperti kami katakan tadi. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Inilah hidup yang sesungguhnya. hingga pecah berantakan. Semoga nasib baik bersama kalian. Para bangsawan. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. Kami tak lagi memburu binatang. perlahan-lahan. Mula-mula. Selamatkan kehidupanmu. Dan itu. Dan itulah kehormatan. dengan cara melarikan diri. Para penjahat itu. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. . mendatangi kami. puluhan kepala negara. sasaran perburuan yang menggairahkan. Kami akan memburu manusia. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. baru kemudian kami memburu mereka. membiarkan mereka lari dan menghilang. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. meski kami akan memburu kalian. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. semua binatang telah habis kami buru. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. orangorang besar di negara mereka. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu.

Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati.” Gelas kami beradu. terkadang. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. tetapi juga. Di antara kemeriahan pesta. Karena kami sudah terlalu kuat. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. sendiri. dengan dukungan dana yang melimpah. Suaranya sudah gemetar. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. yang melintas bagai badai dan gelombang. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Kami bangun juga istana-istana. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. “Ini darah seorang penyair untukmu. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Kami berdiri di puncak menara peradaban. melintasi gelombang waktu. menjadi tak tertandingi.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. dan kami tertawa bahagia. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. para demonstran untuk kami habisi. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. begitu melimpah buruan kami. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. keisengan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Ah. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Kami terus memburu. tempat kami berpesta setelah seharian berburu.. menggulung apa pun yang kami sukai. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. tetapi penaklukan yang membosankan. Kami. jangan sedih. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. .. “Kita harus melakukan sesuatu.

dari seluruh dunia. kami akan membikin perhitungan sendiri. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.” Mereka. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. Dan tentu. tetapi masjid itu tak juga penuh. Dan aku ingin.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. . Panji perburuan berkibar. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.” kata kami kepada mereka.. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. membangkitkan imajinasi kami. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Gairah menjalar. para kiai itu. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. anggur segera kami tuang dalam gelas. telah lapuk. itu 129 . kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Kami segera menghimpun topan. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Sekarang. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. meski sesungguhnya heran.” tegas kami. Tetapi mereka menolak. “Kami tak mau tahu. “Kalianlah yang bercanda..” “Baiklah. . Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami.“Aku sudah mencium ajalku. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Kami turut kemauan mereka. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang.. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. kami segera mengumpulkan para kiai. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Ya. “kalian kami beri waktu satu bulan.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua.. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. “Kami ingin Jibril. katakan kepada kami. sebelum maut menjemputku. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. mencari kepastian dalam mata mereka. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. “Baiklah. bersulang. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. malaikat. membuat kami begitu ternganga.

dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Kami memagarbetis masjid itu. kini telah muncul di hadapan kami. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. Namun dzikir itu masih kami dengar. melihat impian kami sudah di depan mata. Gema itu melambung. membumbung. Tetapi seperti yang pertama. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. di puncak kobaran api. sepanjang hari sepanjang malam. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. hingga kayu-kayu bergemeretakan. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. seseorang di antara kami berteriak. lenyap seketika. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. menguap begitu cepat. roket dan basoka. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Begitulah berkali-kali. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. seperti daun yang melayang-layang itu. mendadak menyadarkan kami. membuat kami tengadah ke puncak api. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. di sana. tetapi tak kunjung keluar jua. tetapi. ya Allah. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Membuat kami tambah cemas menunggu. Tombak. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. di pucuk api berkobar. masuk dalam masjid itu. orang kedua kami pun tak kembali. anak panah. Dan. Kami terus berjaga. raib begitu saja. luar biasa. Kami panik. bagaimana mungkin? Tapi. Satu bulan lewat. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Kami sudah cukup punya pengertian. Tapi seperti yang pertama dan kedua. bersama angin dan embun. tak pernah muncul kembali. tertelan dan lenyap. menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. itulah yang kami saksikan. Kami bakar masjid itu. Kami tak mau kecolongan. Dan kami segera menyerbu. jangan-jangan semua itu sihir belaka. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka.pun pasti sudah berhimpitan. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Pada saat itulah. dan api melahap cepat. Membuat kami cemas. Jibril. Kami tak mau ditipu para kiai itu. Kami kirim utusan kembali. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. mengalun menidurkan rerumputan. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. desing senapan mesin. Kami panggil namanya. antara takjub dan panik. gembira dan tak percaya. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Namun orang itu tak kembali. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. sekaligus marah. 130 . bukan? Jangan salahkan kami. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami.

Bertahun-tahun kami memburu. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Di seberang telaga sana. roket terus berlesatan. Kami tak mau kehilangan jejak. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Maka kami pun kembali bangkit. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. kami lihat jejak cahaya. yang menyimpan bayangan bulan. dan kami pun tak sempat menguburkannya. kami melihat buruan abadi kami. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. dan langsung melesat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. agar kami mampu meringkus Jibril. meraih peralatan berburu kami. Kami tak sempat istirahat. Tombak terus beterbangan. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Ke mana pun Jibril melesat. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. kami memburunya. mengejar Jibril. Segera menghambur. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. perangkap telah kami pasang. melanjutkan pemburuan abadi kami. ranjauranjau telah kami tanam. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Januari 2000) . Dan memang. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Inilah buruan kami yang abadi.*** 131 Yogyakarta. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak.“Kejar!” Kami pun melesat. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu.

Tak tahu siapa yang mengubahnya. anak-anak bermain gundu. beca terutama. Monas. main congklak. main petak-umpet. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. Apalah arti sebuah nama. main galasin. main bola kaki. dan lain sebagainya. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. 4 . Sebuah gang sempit yang tak berarti. berkejaran. Namun. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. anak-anak menyibak ke tepi. disingkat saja menjadi Gang Jalil. oleh tukang. Seakan. Dan apabila ada mobil lewat. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. seperti Taman Mini. atau melompat-lompat main engklek. apa pun namanya.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. setelah mobil berlalu. Di sana. Tapi semua orang seperti sudah maklum. Dunia Fantasi Ancol. Hotel Indonesia. sehingga menjadi Gank. untuk cepat dan mudahnya. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. di jalanan yang sempit itu. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Kadang-kadang. dapat menduganya. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Belakangan. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. main layangan.

tukang listrik. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. pegawai negeri biasa saja. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. tukang kayu.” “Bagian apa?” “Tau. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. kenek.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. dosen. tukang cukur. bidan. perawat dan lain sebagainya. satpam. penjual nasi Padang dan Tegal.” “Lebih pantas lagi.” begitu kami selalu menjelaskan. sopir. Tak tahulah. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . Dan tanya lagi. 7 Jika lagi kehabisan. guru sekolah. pedagang kaki lima. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan.Rata-rata. “Pantas!” jawab mereka. Kok.” kata mereka. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. pelayan toko. dan tanya lagi. menjabat bagian basah. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. rumah-rumah. pegawai negeri dan swasta. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. montir. makelar. ngurus hal orang lain. kami pun sederhana. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil.

Biinakum. sungguh menitikkan air liur. Tak tahulah. Aunakum. Taunakum. mengantar kantuk. Yang paling cepat ketahuan. kalau ibumu menggoreng ikan asin. Dan andaikata ada pompa air yang rusak.. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. Anehnya. Tsaunakum. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Taanakum. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Bainakum. Pada malam minggu. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. tak bisa dirahasiakan. Biasanya. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. boleh dikata selalu ada permainan domino. melayang jauh dihantar angin siang. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. ke sepanjang gang. Dan lepas tengah hari. teriakan anak-anak bermain.. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Ainakum. lebih terkenal: gaple. 11 Lepas Isya dan makan malam. di luar pekarangan rumah. Tiinakum. teriakan penjaja sayuran dan makanan. Uunakum. Atau juga. Baunakum. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Tainakum. Tsaanakum. yang berantem. soal anak-anak. Iinakum. Tsiinakum. Baanakum.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. atau listrik yang korsleting. mengasyikkan. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Buunakum. 8 Sesekali. Tuunakum. 12 . ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil.. Tsuunakum .mesin jahit. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Yang ini. Tsainakum.

15 Bagiku. Heran. Kami yang muda-muda. dan yang lain segera menyorakinya. sekali sebulan pada petang Jumat. Dulu ketika masih kecil. Tempatnya: gardu jaga siskamling. hampir sebaya. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. kami saling menjaga. persis pengamen jalanan. kalau main gaple semalam suntuk. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. 16 . sedikit kaget dan lantas tertawa. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. Menurut Ustadz Malik. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. mulai dari dangdut. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. pop sampai keroncong. tak sampai larut. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. saling menenggang. 14 Sekali-sekali. semua membuka matanya lebar-lebar. ayah-ayah kami pada mengantuk. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. kami sering berantem. agaknya dangdut dan pop itulah. Kami menyebutnya ‘markas’. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. Semua jenis lagu kami senang. sebagai basa-basi. Najib. menyanyi dan main gitar. Atau disusul adiknya disuruh pulang. tapi tak kena: sumbang.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. Di tengah pengajian sedang berlangsung. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Usia kami tak jauh beda. Martin. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. setengah melucu. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. ikut hadir. Sekarang tidak. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka.

sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. berat. Najib anak Ustadz Malik. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Gayanya mirip-mirip Rendra. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. Gaya bicaranya. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Di situlah ia bercokol. benar-benar ia putus sekolah. gayanya overacting. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. deh! Bayangin. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. cara tersenyum. kalian tahu. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Itu. ni yee?!” ejek anak-anak.” tambah yang lain. Soalnya setelah gagal sipenmaru. di luar jangkauan. “Maklum. deh. Kalau ia bicara. ekspresi wajah dan lain sebagainya. Akan hasil perburuannya itu. Pokoknya. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Dan sekarang. bukan cerita silat lagi. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu.Hamzah gitaris andalan kami. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. Tapi Hamzah tidak marah. Masuk kantor keluar kantor. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Selangit. jalannya. guru ngaji di gang kami. Tak acuh. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. tak mungkin. apakah dia masih bisa berbisik. ia tahu diri. “Inggris. gerak tangan. maunya. Sejak jadi pemain teater. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. seakan ia jauh dari kita. biaya kuliah terlalu tinggi. Kami tak tahu pasti. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. bacaannya bukan komik lagi.

merunduk terus. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Nah. ke Pesantren Bangil. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. dan tak ada tempo. Najib mulai bekerja di sana. bukan main kagetnya sang papa. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. kami. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Tony memintaku. Pokoknya. tapi dilakoninya terus. menguji keimanannya. siapa sangka. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. tak membantah sepatah pun. dan semua orang di gang. . seperti musang. tentu kau sudah dapat menebak. berang. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. tak alang kepalang. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. “Jangan lupa shalat. pimpinan pesantren itu. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Ketika hal itu disampaikan. 137 19 Sebaliknya. Najib merasa sangat terhimpit. Jelas Najib berbohong. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. rumah minum. Tony bungkem. Lingkungannya tak memungkinkan. Apakah ia suka atau tidak. setelah Najib ditest. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. bagaikan disambar petir di siang bolong. Pengasih dan Penyayang. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Beberapa hari kemudian. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh.tahu jalan ceritanya. Artinya. Siang hari ia tidur. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Yang ia tahu. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya.” pesan ayahnya. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. Sebenarnya. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. dan di mana mau shalat. Kaget. anak pegawai pajak yang gedongan itu. kerja. Bekerja di bar itu dosa. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Sampai kapan? Dan kami. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. bingung. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. heran. Agaknya ia kalah.

Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. tak lain tak bukan. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. kesenangan . hampir saya tidak bisa memaafkan papa.. Jelas ini fitnah! . apa pun namanya. dunia dan kesenangan melulu. Nah. pada hari ketiga. menurut Ustadz Malik. teman kami juga. Kau lihatlah si Aisah. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). agar semua kami ditangkap. nampak kesal. Saya hanya bisa berdoa.” Aku mencoba melunakkan hatinya. Tapi Tony tak mau. Allah. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. dari ibu Tony. hampir menangis.. Dalam batin. Coba.. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. hanya mencari kesenangan dunia…. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. Ada lagi.20 Sehari setelah keberangkatan Tony.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. papanya jatuh sakit. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir.” jawabnya pasti. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu .. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. pengajian subversif. Papa memang selalu begitu. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. Aisah yang satu ini.” Pakaian yang menutup aurat. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. Tapi. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. Dan katanya: “Coba fikir. pengajian yang disusupi faham komunis. menjadi anak durhaka. itu kata lain dari pada kerudung). Dunia.... semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah.. kulihat air matanya menggenang. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. Ikut pengajian gelap. Dan kesan pertama kita melihatnya. bukan?” “Tidak sekarang. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. istri-istri orang mu'min. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran.. martabat.. masak papa tega menuduh saya subversif. Ya. tapi miskin rohani. Kini. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . Ma. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. anak-anak perempuanmu.

siapa yang mau saja. Garagara pakaian jilbab itulah. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. di mana saja. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. “Menyuruh orang membuka aurat. masih ada beberapa ayat dan hadis. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran.” kataku pula.. Rezeki di tangan Allah. sejak Aisah menjadi eskrim. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. Kayaknya semua pakaian rok. Aisah.” katanya. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma.” jawabnya. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu.” Mantap sekali ia. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. kapan saja..a. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. maaf. Oleh kepala sekolah. Sebenarnya. ekstrim itu. Namun ia tetap dianggap melanggar. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. blus yang dulu. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. apalagi mini. agar mereka tidak diganggu. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. midi.. Aisah boleh bermantap-mantap. Dan sejak itu. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). misalnya pada An Nur ayat 31.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). “Itu waktu saya masih jahiliyah. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. “Itu namanya. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain.” “Kau ini aneh.seluruh tubuh mereka. baik yang maxi.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. perancang busana. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. dan dosa yang dilakukan orang itu. Tapi Aisah tak acuh saja. fikirku. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. ia berdosa dan aku pun berdosa. lisan dan tulisan. barangkali. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. Yang kutahu Aisah tetap tegar. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu.

. aduh manisnya). Kita curiga dengan berbagai prasangka. plok plok plok plok plok plok plok. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. senang sekali. yang terlibat narkotik itu. pengamalannya kita jegal. ‘kali.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok..” celetuk kami. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. yang mabuk-mabukan itu.. ya (senyum. mengangkat bahu. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. Rupanya Aisah belum selesai. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. plok plok plok.. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan. tak pernah luput ia jadi godaan. dasar anak-anak. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut.. dong. Dan bertepuk tangan serempak. katanya sambil setengah berbisik.... ini enggak ge-er. 140 22 Di mana pun. “PKIiiiiiiii.. suka becanda. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop.” . yang merokok itu. Begitu ia lewat.” Lagi-lagi kami keplok... yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. Mengembangkan kedua tangannya. ‘kali. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. membenarkan. kalau mau ditertibkan juga. suka menggoda. belum merasa puas..!” tambah kami lagi. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu..!” teriak anak-anak serempak.

Namun Aisah diam saja. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan.” Dan macam-macam lagi. Mungkin. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. gue anterin.. dong.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi. buru-buru aku keluar. “Ada cowoknya.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil.” “O ya lupa.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Aku berhasil. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. “Wa'alaikum salam. “Waduh. alimnya.” “Sorangan wae?” “Mari. mengitarinya seakan hendak memangsa. dalam hati masingmasing kami. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan.. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. assalamu'alaikum. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. “Wah. Mereka menyingkir secara teratur.” 141 . kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Jalan terus. “Ucapin salam dulu. “Tidak. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. Sekilas kudengar.

selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. Bukan pada nyanyian. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. pemain film yang sedang in. salam tak dijawab. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. anak teater yang lagi ngepop. geram. kami tak merasa heran. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. ya ampun. melainkan kecantikannya yang membius itu. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini.. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Hamzah menaruh hati pada Maryam. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. ampun.. “Tapi. Sejak itu ia dikenal secara luas. demikian menurut Hamzah. ..” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. Dan. 142 24 Lain Aisah. main loncat karet. Maka sejak itu. pemain tenis yang lagi ngetop. dan macam-macam acara lain. Yang tercantik di gang kami. ke restoran. main engklek. Di lain waktu. lain pula Maryam. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik.. Semua orang kagum padanya. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. Cuekin aja!” “Dosa lho.” kataku. Bukankah salam itu doa..“Kurang ajar. tiba-tiba seperti disunglap.” “Ya.. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. Kukira. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab.

29 Akhir-akhir ini. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. berani-berani takut. mungkin anak-anak lain tidak. seorang anak yang patuh. Namun perasaan ini disimpannya sendiri.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. . Dan terlebih dari semua itu. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Aku terperangah. yang ber-Baby Benz itu. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu.” kata Hamzah pula. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. Untuk itu ia siap berkorban. 26 Suatu hari. “Tidak!” jawabnya tegas. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Kali ini tampak serius dengan muka murung. Maryam seorang anak yang baik. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. berfilsafat. aku tak tahu. yang tak mungkin dapat diraih kembali. tempat di mana ia melarikan kepedihannya.

Namun ia tak bisa berbuat lain. apakah kau tak merasa malu. Batinnya tertekan. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib.*** (Dimuat dalam Horison. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Nun jauh di desa Bangil. Agustus 1990) . sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. terpencil.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. Martin dan Hamzah. Tony Handoko. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Ramainya masih seperti biasa. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. aku selalu lewat di depan ‘markas’. jauh dari keramaian kota.

Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Ini karena ulah jam itu. Tinggi jam itu setinggi tubuhku.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran.” “Ingat enggak. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. Walaupun akhirnya mengesalkan. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. “Juga mantan pacarmu. Ina. Kuingat sekali.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku.” katanya. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Bila loncengnya berbunyi. kelak tamuku akan cepat pulang. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.” kataku. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. Sam. dan mantan pacarku adalah istriku Ina.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi.” kataku. “Betul. Istriku menjadi perempuan yang bawel. maka terdengarlah sebuah nyanyi. . Mereka harus diberitahu. Sore itu. Kami ketawa bersama. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. Jika ditaruh di ruang tamu.

Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. ketika uang dihitung. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.00 pada hari 10 November. Makin larut perkawinan kami. Setelah dua tiga toko kami masuki. Sam. dia menyanyikan satu bait saja. Dari masa berpacaran dulu. "Merk ini nomor satu. “Tanyakan harganya. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. aku tak tahu dan tak perlu tahu. Ketika kami lewati beberapa toko. Ketika pada seperempat jam. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Saat itu adalah pukul 00. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Sebagaimana biasa.” “Ya kurangilah separohnya. Ketika setiba di rumah. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. aku dan istriku berpelukan. “Ini benar-benar abadi. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini.” kata istriku. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Ke- 146 . Lalu. aku menggenapi kekurangan itu.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. “Kita menemukan pilihan jam antik.” ujar sang pemilik toko. kurang sedikit. Sam. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami.” ujar istriku. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. dan ini juga satu-satunya. “Merknya Junghun. kami menganut aliran navy-navy. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Di toko saya cuma tinggal satu ini.” Memang begitu. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Aku dan istriku saling menatap.” kataku. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. aku meremas jari tangan istriku. istriku bilang. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami.” ujar istriku. remasanku lebih kuat lagi.

Sam. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. “Ya.“ sambungnya. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. dan sama pula selesainya. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat.tika setengah jam. Orang yang sama sekelas di SMA. dia menyanyikan dua bait. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. Padahal dia amat mencintaimu.” ucapnya.” kata istriku lagi. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. ”Si Aimah. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun.” Aku memilih diam.” “Sudah gaek masih gombal. dan pada waktu satu jam. kamu dan jam dengan loncengnya itu. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. aku bisa memperbaikinya. lonceng jam menyanyikan lagu itu.” kata istriku. kamu suka membisu. Ketika tiba tiga perempat jam. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. Biasanya kalau jam itu mati. “Kalau kamu kawin sama Aimah. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. aku dan Ina sudah berpelukan. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. Sam?” kata istriku. Ketika pertengkaran itu terjadi. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. “Kalau aku bicara soal si Aimah. empat bait komplit. “Kita tak perlu bertengkar lagi. Yang ada di sini adalah aku. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. ajaib sekali. Pernah juga istriku bertanya.” katanya. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. Peraturan kantor memang. tiga bait. dan terutama karena adanya kamu. sama pula di perguruan tinggi. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 .” Tetapi. Sebelum empat bait lagu itu bergetar.” kataku. “Aku tahu.

Kita beli yang baru. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. Aku kan tidak bilang kamu tolol.” “Kamu makin tua makin tolol.” kataku pada Ina. Anak muda itu bekerja keras.” Aku mengalah. "Jam ini penuh kenangan. Istriku senyum mencemoohinya. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. Sam. “Tenang dulu. Ina. ahli pembetulan jam dan piano. Dia katakan. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. ada dijual di sini. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. namanya Mahboub Assegaf. Ina.” kataku. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.” kataku. aku pergi ke Jatinegara. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. ada orang Arab di Tanah Abang. Bahkan ngawur. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya.” “Sudahlah. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf.” “Sudah. Dia marah. Jangan jadi nenek sihir lagi." 148 . “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Dan aku gigih terus memperbaikinya.00 tengah malam 10 November. Pukul 12 bunyinya 6 kali. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Bahkan mencak-mencak. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. diam kamu. Kita jual saja jam Junghun ini. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Jangan.” “Aku mau keluar.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. jam ini berbunyi 36 kali. Ina.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. “Itu logis saja. Kamu makin tua makin cerewet. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. Keringat membasahi bajunya.” Aku mencari ahli jam. orang di rumah itu mengatakan. Istriku mendehem. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Sam. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman.

Ini menambah semangatku.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Memang dia gila. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. jam gila itu berbunyi 120 kali. September 1999) . Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. saat itu istriku tidak mendengarnya.“Cukup. Ia menderita tekanan darah tinggi. Sayang. Aku akan coba perbaiki sendiri. Tengah malam pukul 00. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. Ya. “Sabar. Ina. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. dan tak 'kan pernah mendengarnya. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali.” kataku yakin. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina.” kata istriku. Kita jangan panik. Katanya.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Nak.

Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Ken Arok. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Aryo Jipang. Sutawijoyo. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. “Di negeri leluhur kita. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. . Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Suatu kali. Joko Tingkir. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Ki Pemanahan.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Dan dia begitu tertegun. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Damarwulan. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Nak.

itu lebih penting.” potongnya. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. “Nah. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Salah satu di antaranya.” protesnya. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. 151 . Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. apa kataku. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Rio. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. karena cintanya pada kita semua. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. waktu itu kau masih dalam kandungan.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. Rio. Kau hanya harus terima utuh. “Bagus. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis.” “Tapi namaku bukan Rio.” “Tapi itu hidupku sendiri. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya.

bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. orang-orang Perancis. Kapal itu bernama Dewa Ruci. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. tapi daerah Perancis Selatan. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. “Kau sudah gila. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Tapi tak bisa di sini. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. dan dirinya begitu berbeda. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. orang-orang Kanak. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal.

lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. begitu berat. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Kakek. Sadarlah.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Dengarkan kami baik-baik. 153 . Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Jatmiko memang masih hidup. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Rio.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Rio. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu.

154 . “What a lovely surprise. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Rio. dia dan istrinya menuju ke Australia.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Tanpa memberi khabar pada Dewi. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Sebelum mereka pergi. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. “Untung tidak ke Southern Cross. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang.“Jangan tergesa-gesa marah. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. “I have a surprise for both of you too.” Ya Allah ya Rabbi. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Tak ada angin. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. itu hotel yang mewah. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Tapi kenalkan dulu. “Wah. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Mungkin karena ada John. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. kakek dan nenekku. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. Ini Rio dan Handayani.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. John.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa.

Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub.” 155 . Air sudah kusiapkan semua. “Lebih baik kau mandi dulu. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. kita bisa ke Grill Room di basement. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri.” ucap Dewi sebelum pergi. Rio. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. “Dewi yang baru saja telpon. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. “Rio. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. “Mandi yang bersih. Rio. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. bahkan seperti bangga sekali. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. Dia tersenyum sendiri. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. pintu masuknya dari Little Collins. “Beri aku pakaian yang bersih. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya.” kata istrinya sambil menghampirinya.“Ya. “Ya.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. ke restauran Vietnam. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih.

ya dia hamil. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. “Jangan kau anggap aku melawanmu. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih.” “Kau tahu. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. Kalau aku tahu mereka...” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. dia. itu. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. kau mau juga?” tanya istrinya. Aku tak mau bicara.. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Tapi soal Dewi. “Dewi! Dia. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. Rio.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Rio. “Aku mau pesan minuman. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain. Namun ia mencoba menutupi keharuannya.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. 156 . Rio. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. Rio. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu.” “O. Rio. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri.” potong istrinya.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya.

“Shall I open the bottle now.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. “Rio. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Maret 1990) .*** 157 (Dimuat dalam Horison.

“Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. dan penuh dengan rintangan. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. gelap. mendesing menuju kebebasan. cuma inilah yang bisa kami lakukan. Namun sekarang. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. Kuda-kuda kami menggebu. Semuanya terbungkus. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. . Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. 10. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. Para pembawa panji. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. 10.000 pasukan berkuda. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. berderap melaju menuju cakrawala. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. akhirnya keluar dari hutan itu.000 pasukan berkuda. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. Kami menggebu begitu laju. melesat dan menggebu. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. berpacu melawan angin. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. Kami. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. bendera.

bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Kami menyeberangi sungai. Telinga kami semua penuh dengan desau. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Tanpa kuda. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. kami mendaki celah-celah gunung. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. tapi kami tidak juga ingin berhenti. dan berpacu. berpacu dan berpacu. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. namun kami selalu berangkat kembali. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. berpacu. selalu berpindah. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. kami mengarungi gurun pasir. Langit hanya biru.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Kami tahu. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. dan segera lenyap di balik kaki langit. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. dan peredaran bintang. Matahari terasa betapa berat. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kami berpacu. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. bahkan bisa lima tahun. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. bagai berpacu dengan angin. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Kuda-kuda kami masih terus berderap. selalu bertualang. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. perjalanan kami masih jauh lagi. perjalanan angin. Cahaya matahari menyiram padang. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kami selalu bepergian. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. dua. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu.

Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Namun. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala." Kami selalu membutuhkan cerita.penjuru bumi. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. dari bukit ke bukit. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini.. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. 10. kami harus memburunya ke balik cakrawala.. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. dan mendengarkan seseorang bercerita. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. Ia meniup seruling di atas tebing. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan.000 pasukan berkuda.000 saudara-saudara kami.. Di setiap danau itu setiap 1. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. dan kuda. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Kami. Apakah rembulan bisa memahami. seruling. dari lembah ke lembah. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Kami memuja rembulan dan matahari. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri.000 orang dari kami berkemah. Kami menyembah langit. seolah-olah berhadapan dengan rembulan . Langit masih membara. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. kami menyembah bumi.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. 160 .

makin lama makin menghilang. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Bertengger di atas sana. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. tiada yang mendengkur sama sekali. Kemudian. Apabila 100.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. Tinggal bara api menyala diam-diam. dan orang tua. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. 10. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Gemeretak api unggun segera berakhir. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Kemudian. Kami. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. peniup seruling itu masih di sana.000 saudara-saudara kami tiba. anak-anak. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Sesekali tertutup awan. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. tertidur dengan pulas.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. akan membutuhkan tendatenda itu. Kami pasrah.000 pasukan berkuda. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan.

langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. siap menempuh perjalanan untuk mati. menari di atas perahu. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. dan umbul-umbul yang sama. Hari sudah menjelang senja. dengan gerobak. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. Tak kurang dari 100. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. Angin begitu dingin. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. gajah dan unta. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. seperti yang sudah-sudah. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. langsung melompat ke atas kuda kami. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. memetik kecapi di puncak bukit. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. Kemudian kami melihat panji. kami menggebu menyambut 100. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. bergetar-getar dalam tiupan angin. kami berlari-lari turun dari bukit.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Berkibar dengan megah. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Dengan segera. kereta. berderap dan berpacu. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Kami semua turun dari kuda. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. penuh dengan debu. bendera. pemandangan yang kami nantikan. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami.Kami semua segera melompat ke atas kuda. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100.000 orang lagi. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. kami baru akan mengetahuinya nanti.

Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Langit memberkati kami. Mereka begitu jinak. dan kami menguburkannya di tengah jalan. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. 163 . Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Kami begitu siap untuk bahagia.000 orang. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Saudara-saudara kami yang 100. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar.rembulan dan matahari.000 orang. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. begitu juga unta dan kudakuda kami. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan.000 orang dari pasukan berkuda kami. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. begitu mengerti. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Betapa mereka begitu tabah.000 orang itu datang pada musim dingin. Semua orang tampak tak terurus. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. dan kini begitu kurus. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya.

dan menyeberangi sungai. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. Begitulah kami berjalan. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Ketika tiba musim panas.000 anak manusia terus-menerus melangkah. kami semua. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Bulan masih menggantung di langit. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. sementara yang lain meneruskan perjalanan. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Kami semua. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan.000 orang. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. menempuh ngarai. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi.000 orang. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. namun rerumputan menjadi lebih hijau. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. 110. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. Mata mereka mengatakannya. merayap di jurang yang curam. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. Kami. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Mereka yang telah menjadi tua. berjalan. 110. mendaki gunung-gunung batu. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Mereka yang mati . khusyuk dan meyakinkan. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. dengan bayi di gendongan. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya.000 orang. Pada musim semi danau masih membeku. menembus badai. 110. Kami berangkat pada pagi subuh. Gajahgajah ini berbadan besar. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. dan berjalan mengarungi gurun. 110. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. orang sakit dalam tanduan. tapi kami rombongan 110. lemah. Kami. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam.

Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Kami melangkah. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Langit merah di kaki langit. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. terus-menerus berjalan. 165 *** . semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Dari hari ke hari. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. Kami.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. 110. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Itulah dunia yang kami rindukan. menapak pelan.000 anak manusia. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. dari dongeng ke dongeng. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Namun kami tahu. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang.

Gajah-gajah. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Tiada mega di langit -. memang. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. Padang rumput memutih. kulit 166 . Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. segala-galanya memutih. dan kuda-kuda.Kemudian. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. unta-unta. hanya tegak di atas lutut kami. memang. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. panji. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. dan pergi. sepatu. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. mengambang. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Tiada suara yang menggelegar. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. Dari balik kabut itu. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. Langit ungu muda. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami.

melihat-lihat pemandangan.dan rambut kami. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. semakin aku terikat kepada kenangan. Dari kelam ke kelam. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami.*** . kuda-kuda berpacu. bayi menangis. dalam penyucian cahaya berkilatan. menaiki kuda putih di atas awan. dengan atau tanpa badan. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. dari barat sampai ke timur.000 anak manusia. tiada lagi debu mengepul. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. dengan segala derita dan pengabdian. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. dari selatan sampai ke utara. dari cahaya ke cahaya. Tinggal aku sendirian. Tiada lagi angin bertiup. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Apakah aku harus berhenti. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Begitulah kami semua. Semakin jauh aku berjalan. 109. kemah-kemah awan. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan.999 anak cahaya. 110. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Kulihat 109. gua pelangi yang menyilaukan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. Sudah begitu jauh aku berjalan. tujuh matahari. kelak-kelok labirin yang memusingkan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. Begitulah rombongan kami. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami.

Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Ulaanbaatar .Jakarta. Juli 1996) 168 .

Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. mengikuti anjuran Pak Marta. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. “Tempat ini bagus sekali.. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. dari tepian yang lebih jauh. Ini tanah Subarkah dan Michiko. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . bagusu-neh. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Bukan tanah saya. Subarkah. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu.. ini bukan tanah saya. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. membicarakannya. tidak ikut terbang ke Jakarta. Michiko. Negeri ini indah sekali. Ia merasa benar-benar gembira. senang. Nikmat benar dirasakannya menerawang. lalu menatap ke kejauhan. Sungguh. Gembira sekali. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Tetapi . “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo.” gumamnya. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. beberapa kali. “Aaahh. lalu menarik senyum sendirian. sahabat besannya.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta.. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). mengikuti goresan kaki langit. ke sana lagi! Lihat dari sana. yang kali ini tertinggal di Osaka. Di sebuah onggokan ia berhenti. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. kepada penduduk di kampung itu.. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus.” kata Okayama. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. senang. tetapi .” (Bagus.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh.

di tepi Samudera Hindia yang elok itu. pisang raja. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Nyonya Subarkah. bahwa tanah itu milik Michiko. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san.” Okayama pernah berpikir. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. tertawa lebar. Disebutnya di sini. Di Jepang.” Pak Marta tertawa. apalagi di seputar Tokyo.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. Tanahnya.yang ada di sana. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun.” jawab Pak Marta. pohon kesemek. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. Asal diurus. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. sangat gembira. karena mahalnya. bukan meteran. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. pisang ambon. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. Bagus sekali tanah ini. melainkan milik anaknya dan menantunya. Dan ia gembira. “Semua tanaman bisa hidup di sini. Michiko. sejuta Yen sejengkal. Sekarang. Kalau terlaksana. Hahahaha. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. bisa. bahwa Subarkah menetapkan. pisang yang disukai Okayama-san. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. sudah menolong anak-anak saya. Ia merasa. diikuti oleh Okayama-san. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Lihat. Michiko. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . sebegitu yang diperlukan Michiko. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. Bahwa Okayama-san. Bakal jadi bagus. anaknya. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. Juga Subarkah. bisa tentu bisa. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. tanah itu atas nama istrinya. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Lihat itu. bahwa tanah itu bukan miliknya. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. ia memilikinya juga. kini merasa senang. di hari tuanya. dengan kebunnya yang bagus. Apa pohon kaki (kesemek. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. pisang lumut. di dalam surat-surat jual belinya. pohon pisang. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. bisa hidup di sini. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini.

badak yang terkenal. Dan terkenang sampai sekarang. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. Saya pun waktu lewat di sana.” kata Kakutani dengan nada rendah. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. “Dan istimewa lagi. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. karena ayah Subarkah masih ada. “Tapi. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. dengan nada suara seperti berhasrat. atas nama siapa. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. Kebiasaan mereka pun baik-baik.. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). ya. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Itu sudah kebiasaan mereka. “dari tempat itu. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. pemandangan seputar itu. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Mereka sama-sama duda.” cerita Okayama kepada Kakutani. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. waktu datang di Osaka. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. Kesukaan kamu kan masuk hutan. “Dan bagusnya.. akan mengambil wanita Indonesia. Cantik-cantik. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. kamu bisa dapatkan seorang.” 171 . Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. Dan.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. dan sebagainya dan sebagainya. Tinggal tidak berjauhan. bukan mimpi pagi. hahaha. Cantik-cantik lho. selain ada laut yang bagus.potongan khas Jepang.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar.. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana.. seperti sudah tidak punya harapan. “Beneran. saya akan kawin lagi. “Kamu kan belum punya istri lagi. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka.. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah.. Hahaha! Dan. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. melihat binatang langka?” “Ya. besan Okayama. di mana letaknya Sidanglaut itu. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan.. merasa jadi muda kembali.

” kata Kakutani. di samping tanah Michiko. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. “Sesudah kami nikah. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. Tentu saja jadi. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. “Ia berjanji. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. ”Dan soal tanah itu. ditemukannya di sebuah panti pijat. begitu nama perempuan yang dibawanya. dan bisa membeli tanah yang luas. saya akan belikan istri saya tanah yang itu.” jawab Kakutani-san.” kata Okayama. Yang dipentingkannya hari depannya. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. dan mau menerima kebiasaanku. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. Kalau istriku menyenangkan. “Jadi. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Nampaknya agamanya kuat. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. “Bagus. pada mulanya. Cepat sekali prosesnya.Kakutani jadi berpikir beneran. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. Itu kan benar bagus. Dan benar murah.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. 172 . Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. dan sudah pergi ke Sindanglaut.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya.” kata Kakutani kepada Okayama. “Secepatnya. *** Saatnya pun tiba. Dan saya sepakati. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. “Kalau sudah begitu. Ia.” Ia pun ingat. bagus kalau begitu. “Kami akan kawin. tidak ceritakan bahwa Nurseha. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama.

Tentu yang ukurannya luas yah. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. tergerak juga hatinya. di tepi pantai yang lautnya biru.*** Benar juga. bahwa nilai tanah akan cepat naik. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. untuk usaha. Di sana kan selalu ada matahari. Kata orang di sana. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya.” kata Kakutani. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. Kalau musim dingin di sini.” pikir Kakutani. tak dirasakannya jauh.Indonesia. cerah langitnya. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Kakutani punya sahabat akrab. Percayalah. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Tetapi yang pasti lagi. Apalagi di pagi hari. Nurseha merasa pintar. dan gelombangnya amat memikat. Pasti bisa. di sana segala bisa diatur. Soal jarak Jepang . atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. atau di sore menuju senja. kita bisa tinggal di sana. Ia sudah menghitung. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. “Benar murah. ia merasa senang. bagus sekali. “Bisa. Kanazawa-san. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. Pasti ada cara-caranya. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. Tidak lama setelah itu. *** . Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. “Aku akan sering saja berada di sana. segala di sana sudah terbuka. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. dan kamu merasa encok di sini. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. pemborong bangunan. tapi sekarang sudah jadi istrinya. Apalagi sekarang. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. Lautnya bagus. kamu akan senang tinggal di sana. Kanazawa-san. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. disaksikan oleh Okayama. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. Pantainya bagus.” pikirnya.

“Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. antara lahan ini dan laut. tersenyum lebar. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. seorang yang lebih tua. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. 174 . Tanah itu tidak nempel pada pantai. Ia merasa. Ia pun yakin. ini orangnya yang bisa membantu kita. “Ini. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. seorang lagi yang lebih muda. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. “Bapak ini. Tanah yang menghalang-halangi itu. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. bisa menolong kita. Tanah itu bekas perkebunan kecil. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. Sah-sah saja. Yang kedua kali untuk istrinya. terasa tak menentu. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Dan akan dijual. Garnida. “Tidak jadi soal. “Tak ada kesalahan saya. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Tetapi Kosasih. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. Ramdan.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Ia mengetahui. tapi sudah tidak terurus. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. Tetapi. Ia tentu saja senang. Pak Kosasih. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. Orang kita-kita juga.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. bisa meyakinkan. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa.” pikirnya. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. dengan kebutuhannya. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya.” pikirnya. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu.

atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. malahan di kantor Gubernuran. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. tak mengerti sepatah kata pun. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Rencana bangunan hotel sudah siap. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. Dengan duit. Rumah tua sudah dibongkar. Okayama-san. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Subarkah. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. pikirnya. ada Tanaka-san. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya." kata Okayama. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. di kantor Kabupaten. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. asal benar bisa diatur begitu. Masing-masing mengatur kepemilikannya. melainkan ada Saito-san. Kosasih mendengarkan saja. meminta dukungan. Sindanglaut mereka tuju. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Mereka tidak membuang waktu. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. karena bukan saja Okayama-san. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. “Ya. “Ini jadinya proyek pembangunan. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Takahashi-san dan . Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. lalu ke arah Okayama. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Ia tidak kepalang bergerak. Ia menunggu kepastian. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya.Ia berpikir lagi. 175 *** Selang beberapa waktu. tuan Kanazawa tertarik.

Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. pikirnya. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. Okahara-san sami mawon. untuk kita. bahwa dunia ini untuk kita semua. semua kedudukan pun bisa kita capai. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Mereka seperti sudah berpikir. karena rumahnya pun sudah tergusur. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. Di hatinya ia merasa tertinggal. yang bisa membelinya dan membangunnya. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. Ya. sawah musiman dan kebun terlantar itu. Nurseha adalah istri Kakutani.” pikir mereka. istri. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. Michiko adalah istri Subarkah. Untuk pihak yang pintar. daerah kantong Jepang. . keturunan mereka. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. tetapi ia sudah tua. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. Saito-san idem dito. pikir mereka. “Siapa yang salah?” pikirnya. sahabat kentalnya. untuk semua penghuni bumi. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. “Untuk siapa saja. Bukan saja hatinya terganggu. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. gamang. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. lalu ia sebentar merenung.

Tetapi. “Tempat ini bagus. benar bagus.” Pak Marta cepat mengerti. Ia seperti menelannya. Sementara itu Kosasih datang. Bapak. Pak Marta. “Pilihanku benar.” Ia setengah membusungkan dada.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Ia menarik wajah gembira.. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan.” kata Pak Marta. menjawab: “Entahlah. bangkit dan duduk di kursi. terutama kepada istri-istrinya. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. 177 . “Di sini lebih menguntungkan. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. Ia gundah. kan?” kata Pak Marta. saya belum lahir waktu itu. “Alhamdulillah. anak-anaknya. Dengan ragu. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. permulaannya amat sederhana. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Kelanjutannya jadi amat serius. tapi saya menolak..” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. orang tua itu. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. Pakaiannya serba baru dan mencolok. mertua-mertuanya. Ia ingat. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu.” jawab Kosasih. ke lautan yang biru. Ia merasa berjasa. Pak. Mukanya pun nampak licin. bersih.” kata Garnida. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. Di sini masih ada kursi. Pak. yah. Pak. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. Kendaraannya. orang tuanya. “Wah. “Duduklah di sini. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Daerah ini mesti dibangun. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. ke ombak yang bergelombang. Ramdan. terjepit antara sesal dan senang. “Jangan jongkok terus begitu. ke kaki langit. ke langit yang bersih. kamu sudah punya motor segala sekarang. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. Hati kecilnya berbisik jujur. “Ya.. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. “Bapak bekerja di Kecamatan.

juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. rumah orang tuanya. Ia tidak menatap ke masa depan.” kata Garnida. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. detik ini. digusur.“Maju yah. Pak. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. mengikuti pihak yang menginginkan. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. Dan yang tua serta yang muda. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. saat ini. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. September 1997) .” “Ya. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. hari ini. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Pak. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Pak Kosasih membujuk kami. Ia bicara sesungguhnya. (Dimuat dalam Horison.

ditata di rak warung. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. Dua anak lelaki. mendirikan usaha penjualan kayu. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. ubin. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. dua perempuan. seperempat. semua keperluan MCK. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli.1 . Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Iwan adalah sulung dari empat anak. Pada suatu ketika. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. karena anaknya lebih dari dua. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. Kini masing-masing mengelompok. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan.Horison. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. setengah dan satu kilo-an. Pak RT sanggup mencarikan. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. paving. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Karena dekat dengan Pak Lurah. Dia pikir. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Satu on. lebih dari tiga. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. Pak RT bukan kepala keluarga teladan.” Istrinya tidak menanggapi.” “Jum’atan apa tidak dia. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah.

” itulah jawaban Pak RT.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. Dengan begitu.” 180 . Pak RT masih mengurusi usahanya. semuanya berubah bagi Iwan. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Bagian depan. PKK. muda-mudi rapat di sini. usia Iwan 16 tahun.Ketika ayahnya menjadi RT. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. sehingga terang memantulkan cahaya hari. Dia merasa hidup lebih leluasa. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Bapak-bapak. Dia bikin sebuah ruangan polos. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. Tubuh Iwan kurus kering. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Pak RT langsung membelinya.orang tua lain. Rumah berganti ubin. Ketika rumah di samping dijual. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. Di situ tikar digelar. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. nyaris menjadi anak jalanan. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. “Aku tidak punya waktu. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Dia bebas. Kini lantainya keramik putih berkilau. menjadi bangsal aula cukup besar. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Dia baru lulus SLTP. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Katanya. Semua nampak bahagia.” Iwan hidup di luar. Adiknya yang terkecil delapan tahun.

Aku ingin mencari uang sendiri. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. Sambil makan. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga.” Dan kalau itu sudah diberikan. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Dan karena rezeki berlimpahan. selain buat keperluan toko. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian.” Pak RT punya sebuah kijang. Kemudian. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Dia minta dibelikan kendaraan.” suara Pak RT tidak bertanya. Mereka pulang bersama. Sekarang. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. menawarkannya kepadanya. Sedangkan yang pertama. “Kalau boleh. Buat sekolah. Sekarang anak-anak sudah besar. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. Pak. Orang terus membangun. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan.” Ibunya Iwan baik hati. meterai. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Beri aku modal. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Yang terkumpul adalah ibu. Selalu ada yang lewat. Pada suatu siang. bahkan perangko. Kecil-kecilan saja. Di lain waktu. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. ayah dan dua adiknya. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Kemenakan.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Iwan sengaja memperlihatkan diri. adik atau saudaranya ipar. batu atau pasir. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. bukan?” 181 . “Bikinkan aku warung. Bisa dibayar dua kali. tiba-tiba. aku tidak perlu memngawasinya. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. "Tidak usah baru. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. Di mana-mana orang memerlukan kayu. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. Asal masih bagus jalannya. lalu singgah. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. ada tetangga yang berani berkata. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. obat-obatan. minta gula dan kopinya saja sedikit. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Untuk toko. Mereka selalu kekurangan. siapa saja yang berasal dari desa sama. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. Sama seperti suaminya.

Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. kena hujan. Minta kendaraan saja. “Apa lagi ini nanti musim hujan. “Kalau punya kendaraan sendiri. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya.. Di sanalah. Lalu alur keseharian kembali seperti semula. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi.. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. 182 . sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Yang dia inginkan demikian. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. Seusai sekolah. atau mana yang dia harap ada. “Di kelas. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. terjadi kebut-kebutan.. Lebihlebih menyuruhnya belajar. temannya yang paling menonjol. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. tinggal aku yang belum punya kendaraan. berlanjut biasa. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Di mana ada kegiatan berkelompok. sulung. Mana yang sungguh ada.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu.”. Herman-lah yang mengepalai.. “Benar. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan.. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. kita bisa cari uang. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. ruwet menjadi satu. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. “Itu benar.” kata Iwan lagi. Anak-anak repot. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. pasti kita menang. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan.. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya.. tidak dimanja.” begitu kata Herman. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. Stadion Jatidiri besar. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu.” kata kawan Iwan yang lain.”. Iwan termakan oleh gosokan itu. Karena dalam keseharian. menjadi kernet omprengan. di waktu malam. Kadang-kadang.

Malahan mungkin dengan bunga. menutup kancing baju. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu.” Lalu Iwan terburu-buru. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Mak takut bicara kasar. karena si sulung sudah berlalu. “Kuberikan kepada Herman. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Di sana tentu disuguhi makanan. Rambutnya masih basah dan belum disisir. Diberikan kepada Mak. Baru muncul hampir petang.000. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Paling-paling lima ribu. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. Biasanya. kasihan tidak punya modal.” Mak menghitung.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. “Makan dulu! Kamu kurus. Apa lagi. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Hati Mak tenang.” kata Iwan lagi. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. “Ini sisanya. Dia mau buka usaha. lalu akan mengenakan baju. anaknya bawa 183 . dadanya kerempeng. di muka sekolah.” “Aku jajan bakso tadi. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. Tapi tidak apa-apa. Besok pagi langsung ke sekolah. meneruskan bicaranya. Mak lega.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. Mukamu pucat. “Mau ke mana?” Mak bertanya. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10.Hanya. Mak tunggu anak sulung itu seharian. Mak turut masuk kamar. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. bahkan nyaris merayu si anak. Mak”. “Mau belajar bersama teman-teman.” Iwan menyahut. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. Herman akan mengembalikan. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. Mak bertanya lembut. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. untuk apa uang itu. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. bersama tukang pompa ban. dua ratus ribu lebih sedikit. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. “Nanti kalau usahanya berjalan. Tidak banyak.

bukan?” Mak kebingungan. Seperti biasa. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. “Kami menerima uang tes. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. Rupanya. kalau Iwan pulang makan. Sejak si sulung lulus SLTP.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. dia menganggapnya sudah besar. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. “Dia pulang sore.” kata kepala sekolah.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Maknya Iwan menjadi ragu. Mendengar itu. Kecuali Anda. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Mak yang berangkat. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Yang paling nampak adalah ibu Herman. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. tidak keluyuran. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Sekarang. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. Kami kira. “Hari Senin masih masuk. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. katanya. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. Mak senang. Itu baik. Khodir berkali-kali mangkir. Dengan suara terbata-bata. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. bisa jajan.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. mandi atau untuk keperluan lain. Ibunya Iwan. Iwan sendiri. Jadi Mak juga meniru suaminya. anak-anak mereka tidak naik kelas.uang. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri.. tapi Selasa. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. Juga hadir dua guru. menanggapi. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda.. 184 . Mak berpikir. Katanya banyak tambahan pelajaran. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. tidak nampak di sekolah sejak empat hari.” istri Pak RT berkata membela anaknya. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Seorang guru melihat ke buku catatan.

serunya. Bu. Para pelayan sudah terdidik. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Kami minta maaf. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter.” sahut seorang guru. sesuai pilihan masing-masing. Pak RT orang yang sibuk. Tanpa menunggu lama. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan.” seseorang menjelaskan.” sahut Pak RT. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. juga selalu banyak makanan dan rokok. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. Kaum muda lelaki dan perempuan. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. saya juga dengar.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Begitu pula para pendatang. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. “Tidak apa-apa. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. Padahal katanya. lalu mendongak ke arah dalam. Selain di situ suasana cerah. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. “Anu 4.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. selalu merepotkan ibu. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. mengerti. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada.“Memang banyak ekstra kurikuler. Pak RT.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. Dan selalu ada yang menjawab. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Kami 185 . Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah.” “Ya.

mengenai itu juga saya dengar. menemui si pendatang. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. berbicara. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. “Betul! Betul! Kalau tidak. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. langsung menuju pintu yang terbuka.” sahut Pak RT. 186 . Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. Yang lain-lain kabur!” “Ya. satu pelaku sudah diringkus. membantah. Pak RT membiarkan pintu terbuka. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. Dia kelihatan sibuk. Atau paling lambat setengah sepuluh.” “Yang saya dengar. Pak RT bangkit dari tikar. Mereka ngelantur mengobrol. Terdengar suara bebincang rendah. mereka santai menonton.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. Dua orang turun. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. mengatakan gagasannya. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit.” sahut suara lain. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Satu kali bertanya kepada tukang becak. Malam itu. Serius atau santai. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Ada tiga lelaki lain. seorang lagi duduk di belakang kemudi. “Bapak Rajiman?” “Ya. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. bakso atau sate. Mereka makan dan berbicara. seorang di pagar. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. Seorang di tengah-tengah halaman. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. saya sendiri. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. menariknya menjauhi pintu. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. “Selamat malam. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. tiduran atau bersandar ke dinding. Televisi di sudut ruang dinyalakan. kita tidak akan selesai sampai besok pagi.

Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. Tetapi nyatanya. saya harus pergi. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya.” Lalu Pak RT muncul di pintu. Supaya mereka hidup layak. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT.. sudah mengenakan celana panjang. Bukan untuk berbicara. Biar pintu ditutup. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. . Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. bisa sekolah. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Belum ketahuan pasti jenis apa. Sesaat berlalu. Dia memanggil-manggil.. kakinya ditembak. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. langsung menuju ke rumah induk. “Maaf. Serse memberitahu bapaknya Iwan. 4. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Silakan Anda pulang. Teh kental 3.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Kamu dua pancuran. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. Nama Iwan disebut-sebut.*** 187 1. Seorang tetangga duduk di sampingnya. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan .” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu.

Aku menatap matahari. Gelap. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Ganjilnya. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. silau juga. Tapi apa peduliku.Horison. Aku memandang khalayak. Lihatlah. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. “tapi sudah hilang sendiri!” . Tidak. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Silau. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. Siapa tahu. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan.” bilang ayah. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. “Di sini. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit.000 jiwa itu. Ayah berkata.

Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Ya. Namun jika serangan penyakitnya datang. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. apalagi mengobatinya.” cemooh ayah tertawa. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Tapi makin lama makin sering. “Jangan. Yang tinggal hanya para tetangga. kapan saja di mana saja. juga tanpa hasil apa pun. Baru saja sekali enam hari. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. Makin cekung dan sepi.Ayah malah mencoba tertawa. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. perlu diobati atau tidak. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. makin sering saja.” kataku. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. Sebab seperti semacam misteri. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. sehingga membuatnya capek. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Kami benar-benar kalang kabut. 189 . Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. seolah ia sudah sembuh. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato.“ kata dokter. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. Maka hidup ayah jadi aneh. tak peduli sedang ada tamu atau tidak.

Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. pemimpin masyarakat yang modern. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Muka cekung ayah sudah menghitam. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. bahkan ilmuilmu hitam. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. Segala cara kami lakukan untuk itu. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Ayahku meraung lagi. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. punya mobil. “Kamu kenal siapa ayahmu. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. “Ampun. 190 . si kakek itu lagi. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Nak!” suara si kakek lagi. “Saya bisa membantumu. Yah. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. “Harus kaulakukan sesuatu. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. Ia tersenyum. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Adik-adik sudah pada tidur. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Seperti digerogoti setan. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Konon ia teman ayahku dulu. Tak tahu aku. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. mati!” Maka ayahku menangis. barangkali juga pingsan lagi. Nah. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku.” Aku menatapnya tak berdaya. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian.Sudah larut dinihari.

upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. Aku sendiri. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau.“Sederhananya ilmu iblis. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. bahkan paling terkutuk. betapa terkutuk. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana.. kaupungut saja Si Hitam. seolah kulihat nyata_. benar-benar iblis. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Sebab kubayangkan. anaknya. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. justru tidak sedih atas kematian ayahku. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. apa pun artinya. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. yah. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. hina dan memalukan. Kalau aku tidak malu. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. yang berjuang dengan cara-cara terhormat.! Kini di bawah matahari. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. serta mulut komat-kamit begitu lemah. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. Maka jalan terbaik bagimu. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. _tidak. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun.. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. akan terus memperkosa ayahku. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu.

” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. mulutku. menjadi diri sendiri. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. candi. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Maka tanganku. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. . Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. Semua cermin telah retak dan pecah. diskotik. hotel. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. bisa bergerak selain diperintah olehku. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. kakiku. aku pontang-panting mencari cermin. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. mataku. berekspresi. Bila sudah mengetahuinya. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. aku ingin mengusirnya. lidahku. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. Aku memasuki wc-wc umum. Di dalamnya. tapi selalu berakhir dengan kelelahan.Jakarta. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. maka kamu akan melihat diri sendiri. Betapa sunyi keinginan ini. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. gereja. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Aku tidak bebas lagi bergerak. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. menerjemahkan hati menjadi apa saja. mushola. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R.

Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. kabut. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. ketakberdayaan. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. Entah . Bila bertemu denganku. sampah. temui saja aku di kebun bunga. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. jangan ragu-ragu untuk menyapa. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. daun. Eh. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. aku tak yakin. Kesedihan. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. aku lupa dengan metamorfosa itu. ketaksempurnaan. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. dsb. mengalir ke mana saja yang kumau. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Aku telah terbawa air. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. kesunyiaan. api. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. angin. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. batang. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Di matanya. Di tanah. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. air. di mana saja. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. kepapaan. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. kepedihan. kesendirian.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Namaku memang tidak jelas. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi.

Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Sungai-sungai mengalirkan air mata. begitu lelah. 194 . Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Tidak bisa terbayangkan. Atau Pangandaran. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. Suara tangis terdengar di mana-mana. “Apa perlunya nama.” Beberapa jenak aku tercenung.berapa lama aku pingsan.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. berapa milyar pembaca yang akan sakit. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. Atau Pelabuhan Ratu.” Aku memandang orang yang aneh itu. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. aku dan angin. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Kami tidak bisa membayangkan. Sepanjang sejarah. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. “Ya. “Kuta. Aku menyusulnya sambil berteriak. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Maka kami. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. Pantai Panjang juga bisa. Bertahun-tahun kami mengembara. orang beransel besar itu terbang. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana.

. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu.*** 195 . Dan begitu terbangun. Atau aku pun adalah ulat? Ah. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Aku pingsan entah berapa lama. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Saat kulihat ke sekeliling. kamu bisa pergi ke mana saja. Aku berdiri dan pergi. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin.. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Tapi aku tidak mengacuhkannya.. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. kita tidak bisa tidak pergi. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Ingatlah. Eh.

aku malah senang melakukannya. cepat seperti jin. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. Sungguh. Mesjid. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. saat untuk diam. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. tidak heran. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. seperti kakekku. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. dan berlari untuk menyelam di sungai. kecuali pada pagi hari. Sebabnya. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. aku dulu mencintai mesjid. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. dan aku juga mencintai sungai itu. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda.Horison. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. sungai. tinggi dan langsing sepertinya. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. Ketika ia tidak . terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah.

“Ya.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. akasia. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku.memiliki kegiatan lain. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu.” aku berkata pada diriku sendiri. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. Lalu kuingat tiga istrinya. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. Kakek tidak pernah tertawa.” Memanfaatkan kakekku yang membisu.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. Masood. kemudian. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. “Kami akan memanen kurma hari ini. sesudah menyentuh ujung hidungnya. penampilannya yang jorok. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. “Perempuan. diwarisi olehnya dari ayahnya. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. “Aku tidak peduli. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku.” Kakekku kemudian melanjutkan.” Ini jadi berita untukku. ia berkata. anakku. Aku berkata pada kakekku. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. anakku. “Masood.” Aku berkata kepada kakek. adalah lelaki yang doyan kawin. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi.” kata Masood.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. Posisinya berubah sekarang. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. memandangi luasnya ladang.

Namun. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Ia diikuti Hussein si pedagang. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. lalu mengembalikannya. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. Tiba-tiba kakek bangun. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. sementara aku tetap berdiri. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. yang kuhitung ada tiga puluh. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. kecuali Hussein si pedagang. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. “Pohon kurma. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. melompat di atas kakinya. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. Kakek memberiku segenggam penuh.Walaupun begitu. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. anakku. Di sana ada begitu banyak orang. merasakan kebahagiaan dan penderitaan.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. Kerumunan orang bubar. Namun. dengan cepat dan penuh tenaga. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. seperti manusia. yang kemudian kukunyah. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. dan dua orang yang tak dikenal. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya.

199 . merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. 1997. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Aku mempercepat langkahku. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. dan kakek mengambil lima. Ia pernah menjadi guru di Sudan. Mendengar kakekku memanggilku. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. Mo-dern African Stories. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Aku berlari ke kejauhan. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. kemudian melanjutkan perjalanan. aku sedikit ragu.” kata kakekku kepada Masood. Aku merasa mendekati Masood.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). Edinburg: Payback Press. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. Larson dalam Under African Skies. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. dua orang asing itu membawa unta. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Kemudian. Keluarganya adalah petani dan guru. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. tanpa tahu mengapa.lima. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. “Kita bicarakan itu nanti. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Tentang desanya itu. Salih mulai menulis tahun 1953. Untuk alasan yang tak kuketahui.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.

Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. mudah pecah seperti gelas anggur. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Kupandangi pintu.Horison. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Kupusatkan pendengaran. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Kutentramkan diri. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. . seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Tak ada pistol di bawah bantalku. Kupasang telinga. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Namun. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Aku tidak memiliki terali besi. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong.di dalam gelap. Tahun lalu. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya.

kerusakan akibat banjir. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. lalu memaksa masuk. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. di mana orang kulit hitam ditempatkan. tapi di luar kota. air bertetesan dari rekahannya. kisah dalam tidur. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Sukar untuk mengasuransikan rumah. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. Kerusuhan memang terjadi. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. di sana ada polisi dan tentara. serta seorang tukang kebun yang rajin. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . dan perampokan. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. mobil-mobil dilempari batu. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. ucap sang suami. Akupun bercerita pada diriku sendiri. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. Jadi. kolam renang. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. kayu. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. Oleh sebab itu. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. anjing peliharaan mereka diberi peneng. Nun jauh di bawah kamarku. juga karena bus-bus dibakar. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. mencegah kemungkinan perampokan. Jangan mengomel saja. ucap sang suami pada istrinya. Namun. di dasar rumah ini. saking cintanya. yaitu ibu sang suami. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Merelakan diri tidur kembali. di bawahku. dalam perut bumi. Jika ada permukaan yang bergetar. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. untuk menenangkan hati sang istri. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. Membuka pintu pagar. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. semen. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. tak ada yang perlu dicemaskan. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam.

Ikutilah nasihatnya. lantas menerobos masuk. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. Sang suami berkata. benar ucapan pembantu itu. serta memasang alarm. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. akibat menganggur. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. atau apa saja. Bunyi alarm yang nyaring. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. kamera. Benar katamu. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Akhirnya. Bunyinya dianggap biasa. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. ucap sang istri.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. ikuti nasehatnya. tape recorder. Sang istri berkata. yaitu ibu sang suami. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . bersipongang satu sama lain. barang-barang berharga dan pakaian. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. Tetapi. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. meraung dan menjerit. Sebagian lagi meminta sedekah. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. bahkan pada waktu subuh. televisi. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. radio. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. mengecat atap. betul katanya. Seperti biasa. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah.

tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. Sang suami berkata. di mana tempat sang suami. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . Sebuah pilihan yang murah. Keesokan harinya. kucing selalu melihat sebelum melompat. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. terbentang gulungan besi yang keras. Pada keesokan harinya. dan selang beberapa minggu. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. Ketika sang suami. sang istri. kuat dan sederhana. Mereka benar. lalu berkata. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. Kilau itu akan hilang nanti. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut.panas yang indah. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Semakin terkait. tak mengapa. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. tidak mungkin. jangan cemas sayang. Sang suami berkata. berkilat. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. saya harap si kucing peka. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). ucap sang suami. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. berkali-kali. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Betul katamu. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. karena sejak hari itu. menyilaukan. Di sepanjang tembok. Pada suatu malam. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Sang suami. Sang istri berkata. Hubungi GIGI NAGA. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Sang istri terpesona memandangnya.

Lalu tangannya. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Gunn Fellowship. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. kepalanya.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. entah apa sebabnya (mungkin kucing. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . Jump and Other Stories. sang istri. lahir di Transvaal. dan tukang kebun yang menangis. kapak. Mereka -sang suami.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. antara lain: Booker Prize. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. Smith Commmonwealth Literature Award.H. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. dan the Scottish Arts Council Neil M. dan sebagainya. the W. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. Dalam pada itu. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. 1923. pemotong kawat. Not dor Publication.*** Nadine Gordimer. dan Something Out There. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Si anak membawa tangga ke tembok. Selected Stories. A Soldier's Embrace. Friday's Footprint.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful