Sejarah Asal Mula Halal Bihalal

Filosofi Idul Fitri Tanbihun.com – Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban. Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134). Budaya sungkem Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”. Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orangorang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka? Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus). Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam. Sejarah halal bihalal Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para

Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat. Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah. adalah dusta belaka kalau ada orang mengaku beragama tetapi tidak mempedulikan nasib anak yatim. Ada pula yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. pengertian ketiga itu dianggap yang paling tepat. agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan Idul Fitri jangan ada orang-orang miskin yang sedih. dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal. dengan istilah halal bihalal. .punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. atau naluri religius. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan. yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama. Aturan ini dimaksudkan. atau sampai menangis. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada kesucian. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan. karena tidak ada yang dimakan. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya. Di kalangan ahli bahasa Arab. Makna Idul Fitri Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183. Oleh karena itu dapat kita pahami. bahwa umat Islam yang mampu wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin. Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Idul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan. Dan dengan adanya acara saling memaafkan. bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya. Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin. dan pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri.

juga dikemukakan oleh . Inilah barangkali setitik bukti rahmatan lil’alamin-nya Islam dalam realitas sosial budaya. Yaitu tradisi halal bi halal. halal bi halal ini tidak ada. Dari uraian di muka dapat disimpulkan. Unik Halal bi halal adalah sebuah tradisi yang sangat unik. bahwa Idul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin. “Kelahiran tradisi dan budaya ini tidak lepas dari unsur pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya. Allah pun tidak akan mengampuninya sampai anda mau memaafkan saya. Al-Qur’an dan Hadis memang memberikan landasan untuk itu. Halal bi halal. Namun.Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. seperti Malaysia. dosa yang diampuni itu hanya yang berhubungan langsung dengan Allah. Orangorang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta). untuk dibagikan kepada delapan asnaf (kelompok). yang tidak akan pernah dijumpai di negeri dimana Islam pertama kali diwahyukan. sebelum ied (hari raya) tiba. Sebuah kreasi dan konstruk budaya masyarakat Indonesia. jika dilihat dari rohnya kegiatannya. tambah budayawan penulis buku Lukisan Kaligrafi ini. memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi. Tradisi Melebur Dosa (2006). agar dosa-dosa kita (ummat Islam) diampuni. di antaranya adalah kaum fakir miskin. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain. Namun. dan memelihara hubungan sosial yang harmonis. Sementara “lebaran”. KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Tradisi Lebaran. dalam pandangan masyarakat umum. dimana ampunan Allah bergantung pada pemaafan masing-masing yang bersangkutan. Dosen Universitas Muhammadiyah Magelang ini menambahkan. hanya memburu ridho Allah. Halal bi Halal saat Lebaran Setiap hari raya idul fitri datang. tidak hanya baju baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa Negara tetangga dalam rumpun melayu. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. menengarai tradisi halal bi halal itu dilakukan setelah njungkung sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan ikhlas. yaitu zakat “fitrah”. Seperti dikemukakan Suliswiyadi dalam Tradisi Saling Memaafkan lewat Halal bi Halal (2004). lazim dipahami sebagai sebuah perayaan yang diadakan usai (jawa: lebar) melaksanakan puasa Ramadhan. secara tegas dalam Islam. Apabila anda saya sakiti atau saya zalim dan anda tidak memaafkan saya. secara konsep. Masih ada dosa lain yang berkaitan dengan sesama kita. “Idul fitri” sendiri diambil dari nama zakat yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang Islam yang mampu.” Keunikan dari tradisi halal bi halal dalam idul fitri di Indonesia ini. istilah dan kegiatan halal bi halal ini tidak muncul dari Al-Qur’an dan Hadis. Jadi. antar kita.

ajaran Islam yang dikaitkan dengan tradisi halal bi halal dengan mudik yang harus dilalui oleh kaum urban (pelancong) ialah ajaran tentang silaturahmi (menyambung cintakasih) dan ajaran untuk minta maaf bagi seseorang saat menyadari telah berbuat salah kepada orang lain. hendaknya lah langsung meminta maaf. tradisi ini tetap berjalan bahkan semakin terpupuk dengan baik. Melalui mudik. dalam ajaran agama. Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran. Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini melihat halal bi halal sebagai religiositas mayoritas warga negeri ini. seperti yang dikemukakannya dalam Napak Tilas Kemanusiaan dalam Misteri Mudik (2003). Saling memaafkan “Prosesi” silaturrahmi dan “ritual” saling memaafkan dalam halal bi halal. Indonesia. Menurutnya. idul fitri dalam halal bi halal. Tuhan Yang Maha Kuasa. permintaan maaf itu dimanifestasikan dengan membaca istighfar disertai komitmen yang teguh untuk tidak mengulanginya lagi. Sifat pemaaf harus tumbuh karena ”kedewasaan rohaniah”. bagi Abdul Munir Mulkhan. dan dicerahkan guna memberi roh dan napas baru perjalanan sejarah satu tahun ke depan. Tidak akan ada yang menyangkal. but to forgive is divine). setiap kita melakukan kesalahan baik kepada Allah (habl min Allah) maupun kepada sesama manusia (habl min al-nass). Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab (marah) diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. Padahal. tambahnya. ini telah membuat para pemudik di Hari Raya Fitrah mengalami semacam alkoholisme atau ekstase. agar melatih memaafkan kesalahan orang lain secara terus-menerus. sepintas bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang sangat artifisial (simbolis) yang sekadar menjadi tradisi tahunan. Ritus-ritus itu terus diulang kembali tiap akhir Ramadhan dengan harapan manusia memperoleh nilai fitrahnya kembali. Memaafkan kesalahan orang tidak lah gampang.akar normatif dan teologis suatu ajaran agama. para sufi menyuruh kepada kita. namun . yang sering melampaui akar. Sementara kepada sesama. disegarkan kembali.Abdul Munir Mulkhan. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. bahkan meski menghabiskan banyak uang untuk merayakan tradisi halal bi halal. harus diwujudkan dengan meminta maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan. Kepada Allah. (Suliswiyadi. seolah sejarah hendak didaur ulang. tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antarsesama adalah hal yang sangat indah. merupakan prosesi ritual maha-kolosal dan misterius yang hanya ada di negeri seribu pulau ini. Misteri teologis. Sebuah proses pembelajaran untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Dimana rohani mereka (para Nabi dan orang-orang saleh) itu telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human. 2004). Dimana jutaan manusia bergerak serentak di harihari terakhir Ramadhan seolah sedang melakukan napak tilas atas jejak atau asal-muasal kehadirannya di dunia. yaitu suatu situasi yang secara sosiologis disebut “mabuk ketuhanan” yang tak lagi peduli apakah sumber tekstual dan teologisnya ada. Itu sebabnya. Sebagai legitimasi. Mudik sendiri. prosesi ritual ini mengandung banyak makna melampaui doktrin teologis. meski sampai sekarang kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik belaka. Bukan hanya sekadar ketakpedulian akan tiadanya sumber tekstual dan teologis yang belum jelas. yang berlangsung begitu saja tanpa suatu kesadaran.

ialah kembali kepada FITRAH. “Artinya : Dari Abi Hurairah . “Makna Idul Fitri/Adha” Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini 1*} atau tepat pada hari rayanya. 2324. dan Fithri itu ialah pada hari KAMU BERBUKA. Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni : “Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu berpuasa. Ad-Daruquthni jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan sanadnya di kitab saya “Riyadlul Jannah” No. bahwa Idul Fithri itu ma’nanya -menurut persangkaan mereka. Pertama : “Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa.karena sebagian dari para khotib tersebut tidak punya keahlian dalam bahasan-bahasan ilmiyah. 693.? Penjelasan mereka di atas.tidak ada salahnya untuk tetap dilanggengkan. 721. Jadi IDUL FITHRI artinya HARI RAYA BERBUKA PUASA. Kedua : “Adapun kesalahan mereka menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa IDUL FITHRI itu ialah HARI RAYA KITA KEMBALI BERBUKA PUASA. Abu Dawud No. seringkali kita mendengar dari para Khotib di mimbar menerangkan. Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa. adalah BATIL baik ditinjau dari lughoh/bahasa ataupun Syara’/Agama. Ibnu Majah No. ke depan. Yakni kita kembali berbuka setelah sebulan kita berpuasa. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta’ala. Kesalahan tersebut dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu. SHAHIH. 1660. Dan Adha itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. Sedangkan FITHRAH tulisannya sebagai berikut (FA-THAA-RA-) dan (TA MARBUTHOH) bukan (FA-THAA-RA)”. dan Fithri kamu ialah pada hari kamu berbuka”. sehingga ia tidak lagi sekadar menjadi tren saja. makna artifisial dalam tradisi saling memaafkan dalam idul fitri ini akan sirna. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi. yakni kita kembali kepada fitrah kita semula disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita . menjadi tradisi (budaya) dan sarana untuk belajar mengakui kesalahan yang dilakukan dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi juga dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. ialah bahwa lafadz FITHRU/ IFTHAAR artinya menurut bahasa = BERBUKA .. sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Harapannya. . Lebih dari itu. Tentu tidak sebatas saat lebaran atau idul fitri saja.

maksudnya : Waktu puasa kamu. Kedua. Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil sunnah dan lughoh/bahasa. Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. tidak sendiri-sendiri atau berkelompokkelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini . yaitu menahan amarah. sedangkan Adha ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. Jadi artinya bukan “kembali kepada fithrah”. Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya. Aamiin . melalui penjelasan Nabi Saw. Petama. Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa . Ada tiga cara yang diperkenalkan ulama untuk memperoleh pesan-pesan kitab suci itu. demikian juga Idul Fithri dan Adha. Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atassebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya : “Artinya : Bahwa shaum/puasa dan Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”.. Sebuah tradisi yang meniscayakan beberapa tahapan. sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. para sahabat beliau.Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah : “Artinya : Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud: “Artinya : Dan Fithri kamu itu ialah pada hari kamu berbuka. Hal ini dinamai tafsir bir-riwayah. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat. bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa.!!! HALAL BIHALAL MENURUT AL-QURAN Halal bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci !!!. Al-Quran adalah kitab rujukan untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan agama.. memberi maaf. dan Adha pada hari kamu menyembelih hewan”. dan berbuat baik terhadap orang yang bersalah. melalui analisis kebahasaan dengan menggunakan nalar yang . dan murid-murid mereka. Itulah arti Idul Fithri…! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka. Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin .

Dalam al-Quran. melalui kesan yang diperoleh dari penggunaan kosa kata ayat atau bilangannya. makruh dan haram. Nabi saw. terdapat kecaman terhadap mereka yang mencampurbaurkan antara yang halal dan haram. untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. hal itu tidak akan menyebabkan lahirnya hubungan harmonis antarsesama. Empat halal lainnya yang tersebut dalam al-Quran mempunyai dua ciri yang sama. mubah. yaitu dikemukakan dalam konteks perintah makan (kulu) dan Kata halal digandengkan dengan kata thayyibah (baik). Kata halal dari segi hukum diartikan sebagai sesuatu yang bukan haram. yaitu Idul Fitri. Ini. Kajian ini akan mencoba mencari substansi halal bihalal melalui al-Quran dengan menitikberatkan pandangan pada cara yang ketiga. Hukum Islam memperkenalkan panca hukum yaitu wajib. dinamai tafsir bid-diriyah. ath-thalaq” (Halal yang paling dibenci Allah adalah pemutusan hubungan suami-istri). Dua di antaranya pada konteks kecaman. lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.didukung oleh kaidah-kaidah ilmu tafsir. Ketiga. tulisan ini akan berpangkal tolak pada beberapa istilah yang lumrah digunakan dalam konteks halal bihalal. Sesungguhnya orangorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. bahkan mungkin dalam beberapa hal dapat menimbulkan kebencian Allah kepada pelakunya. Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS Yunus [10]: 59) Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta. sedangkan haram merupakan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan ancaman siksa. sebaiknya kata halal pada konteks halal bihalal tidak dipahami dalam bihalal pengertian hukum. yaitu: Katakanlah. “Ini halal dan ini haram”. halal bihalal. kata halal terulang sebanyak enam kali. Untuk maksud tersebut. Kesan apakah yang dapat diperoleh dari ayat ini? Paling tidak. Perhatikan keempat ayat berikut: . dan Minal ‘Aidin wal-Faizin. dan bagi mereka siksa yang pedih (QS AL-Nahl [16]: 116117). (itu adalah) kesenangan sementara yang sedikit. dalam arti. ”Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu. sunnah. Empat yang pertama termasuk kelompok halal (termasuk yang makruh. dinamai tafsir bir-riwayah. Karena itu. Jika yang mencampurbaurkan saja telah dikecam dan diancam dengan siksa yang pedih. lebih-lebih lagi orang yang seluruh aktivitasnya adalah haram. bersabda. Jikalau halal bihalal diartikan dalam konteks hukum. yang dianjurkan untuk dtinggalkan). “Abghadu al-halal ila Allah.

4. Hal ini sesuai sekali dengan perintah al-Quran untuk melakukan perbuatan halal yang baik.” Ini agaknya disebabkan karena makan merupakan sumber utama perolehan kalori yang dapat menghasilkan aktivitas. tidak sekedar perbuatan halal (boleh. Fakuluu mimma ghanimtum halalan thayyibaan (Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu) (QS. Al-Anfaal [8]: 69). tetapi tidak menghasilkan kebaikan). Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang yang bersalah). dan orang-orang yang menahan amarahnya. 2. . dan lima kali terhdap al-muhsinin. Kuluu mimma fil ardhi halalan thayyiban (Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi) (QS. perintah makan dalam ayat-ayat di atas bermakna perintah melakukan aktivitass. tetapi juga harus thayyib (baik). Masing-masing tiga kali terhadap al-muttaaqin (orang-orang yang bertaqwa) dan almuqsithin ( orang yang berlaku adil). Kata makan dalam al-Quran sering diartikan “melakukan aktivitas apapun. ash-shabirin (orang-orang sabar) dan shaffan wahida (orang yang berada dalam satu barisan/kesatuan). 3. Fakuluu mimma razaqakumullahu halalan thayyiban (Maka makanlah halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu) (QS. Dalam al-Quran surat Ali-‘Imran ayat 134 diisyaratkan tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan. yang dapat dirinci sebagai berikut: Masing-masing sekali untuk at-tawabin (orang yang bertobat).1. dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu) (QS. Nah. Masing-masing dua kali terhadap al-mutawakkilin (orang yang berserah diri kepada Allah) dan al-mutathahirin (orang-orang yag menyucikan diri). Kesan yang ditimbulkan oleh angka-angka itu paling tidak mengisyaratkan bahwa sikap yang paling disenangi oleh Allah adalah al-muhsinin (orang-orang yang berbuat baik terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahn). Al-Ma’idah [5]: 88). Dengan demikian. maka yang makruh tidak termasuk dalam kategori halalan thayyiban. Wakuluu mimma razaqakumullah halalan thayyiban…(Dan makanlah makanan yang halal lagi baik. sedangkan aktivitasnya tidak sekedar halal. Mereka yang menafkahkan hartanya. Al-Baqarah [2]: 168). dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka). An-Nahl [16]: 114). Al-Quran menyatakan secara tegas cinta Allah (Innallaha yuhib) sebanyak delapan belas kali. jika dikembalikan pada empat jenis halal yang diperkenalkan oleh hukum Islam. baik pada saat keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit.

Demikian sedikit dan banyak kesan yang dapat diperoleh dari ayat-ayat al-Quran berkaitan dengan halal-bihalal/maaf memaafkan. yang diterbitkan oleh Mizan. dan tahap berikutnya adalah berbuat baik terhadap orang yang bersalah. Sumber : Disunting dari buku "Wawasan al-Quran" karya M.Di sini terbaca bahwa tahap pertama adalah menahan amarah. tahap kedua memberi maaf. Quraish Shihab. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful