Sejarah Asal Mula Halal Bihalal

Filosofi Idul Fitri Tanbihun.com – Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban. Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134). Budaya sungkem Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”. Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orangorang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka? Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus). Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam. Sejarah halal bihalal Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para

atau sampai menangis. pengertian ketiga itu dianggap yang paling tepat. Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Idul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam. Makna Idul Fitri Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri. . karena tidak ada yang dimakan. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183. Di kalangan ahli bahasa Arab. Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan. bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya. atau naluri religius. Ada pula yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan. maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Oleh karena itu dapat kita pahami. dengan istilah halal bihalal. Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. adalah dusta belaka kalau ada orang mengaku beragama tetapi tidak mempedulikan nasib anak yatim.punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Di kalangan ulama ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada kesucian. maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan. agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan Idul Fitri jangan ada orang-orang miskin yang sedih. Dan dengan adanya acara saling memaafkan. Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Aturan ini dimaksudkan. bahwa umat Islam yang mampu wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin. Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah. dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. dan pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Tradisi Lebaran. dalam pandangan masyarakat umum. secara tegas dalam Islam.Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. lazim dipahami sebagai sebuah perayaan yang diadakan usai (jawa: lebar) melaksanakan puasa Ramadhan. Halal bi halal. Inilah barangkali setitik bukti rahmatan lil’alamin-nya Islam dalam realitas sosial budaya. Namun. “Idul fitri” sendiri diambil dari nama zakat yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang Islam yang mampu. dan memelihara hubungan sosial yang harmonis. Halal bi Halal saat Lebaran Setiap hari raya idul fitri datang. menengarai tradisi halal bi halal itu dilakukan setelah njungkung sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan ikhlas. Namun. antar kita. secara konsep. hanya memburu ridho Allah. Sebuah kreasi dan konstruk budaya masyarakat Indonesia. jika dilihat dari rohnya kegiatannya. memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi. Sementara “lebaran”. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. agar dosa-dosa kita (ummat Islam) diampuni. istilah dan kegiatan halal bi halal ini tidak muncul dari Al-Qur’an dan Hadis. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain. sebelum ied (hari raya) tiba. yaitu zakat “fitrah”. Tradisi Melebur Dosa (2006). “Kelahiran tradisi dan budaya ini tidak lepas dari unsur pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya. Dari uraian di muka dapat disimpulkan. dimana ampunan Allah bergantung pada pemaafan masing-masing yang bersangkutan. untuk dibagikan kepada delapan asnaf (kelompok). seperti Malaysia. Seperti dikemukakan Suliswiyadi dalam Tradisi Saling Memaafkan lewat Halal bi Halal (2004). halal bi halal ini tidak ada. di antaranya adalah kaum fakir miskin. Al-Qur’an dan Hadis memang memberikan landasan untuk itu. Jadi. Allah pun tidak akan mengampuninya sampai anda mau memaafkan saya. yang tidak akan pernah dijumpai di negeri dimana Islam pertama kali diwahyukan. Masih ada dosa lain yang berkaitan dengan sesama kita. Orangorang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta). dosa yang diampuni itu hanya yang berhubungan langsung dengan Allah. Dosen Universitas Muhammadiyah Magelang ini menambahkan. adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa Negara tetangga dalam rumpun melayu. tambah budayawan penulis buku Lukisan Kaligrafi ini. Unik Halal bi halal adalah sebuah tradisi yang sangat unik.” Keunikan dari tradisi halal bi halal dalam idul fitri di Indonesia ini. Apabila anda saya sakiti atau saya zalim dan anda tidak memaafkan saya. juga dikemukakan oleh . Yaitu tradisi halal bi halal. tidak hanya baju baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. bahwa Idul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin.

Sebagai legitimasi. Menurutnya. permintaan maaf itu dimanifestasikan dengan membaca istighfar disertai komitmen yang teguh untuk tidak mengulanginya lagi. ini telah membuat para pemudik di Hari Raya Fitrah mengalami semacam alkoholisme atau ekstase. Indonesia. sepintas bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang sangat artifisial (simbolis) yang sekadar menjadi tradisi tahunan. Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran. Sementara kepada sesama. yaitu suatu situasi yang secara sosiologis disebut “mabuk ketuhanan” yang tak lagi peduli apakah sumber tekstual dan teologisnya ada. Mudik sendiri. Sifat pemaaf harus tumbuh karena ”kedewasaan rohaniah”. Ritus-ritus itu terus diulang kembali tiap akhir Ramadhan dengan harapan manusia memperoleh nilai fitrahnya kembali. tambahnya. hendaknya lah langsung meminta maaf. namun . Dimana jutaan manusia bergerak serentak di harihari terakhir Ramadhan seolah sedang melakukan napak tilas atas jejak atau asal-muasal kehadirannya di dunia. Tidak akan ada yang menyangkal. agar melatih memaafkan kesalahan orang lain secara terus-menerus. dan dicerahkan guna memberi roh dan napas baru perjalanan sejarah satu tahun ke depan. tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antarsesama adalah hal yang sangat indah. ajaran Islam yang dikaitkan dengan tradisi halal bi halal dengan mudik yang harus dilalui oleh kaum urban (pelancong) ialah ajaran tentang silaturahmi (menyambung cintakasih) dan ajaran untuk minta maaf bagi seseorang saat menyadari telah berbuat salah kepada orang lain. harus diwujudkan dengan meminta maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan. merupakan prosesi ritual maha-kolosal dan misterius yang hanya ada di negeri seribu pulau ini. Tuhan Yang Maha Kuasa. Dimana rohani mereka (para Nabi dan orang-orang saleh) itu telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human. Misteri teologis. seperti yang dikemukakannya dalam Napak Tilas Kemanusiaan dalam Misteri Mudik (2003). Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. prosesi ritual ini mengandung banyak makna melampaui doktrin teologis. 2004). bagi Abdul Munir Mulkhan. disegarkan kembali. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab (marah) diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. bahkan meski menghabiskan banyak uang untuk merayakan tradisi halal bi halal. Sebuah proses pembelajaran untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Bukan hanya sekadar ketakpedulian akan tiadanya sumber tekstual dan teologis yang belum jelas. para sufi menyuruh kepada kita. (Suliswiyadi. meski sampai sekarang kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik belaka. Melalui mudik. Padahal. seolah sejarah hendak didaur ulang. Saling memaafkan “Prosesi” silaturrahmi dan “ritual” saling memaafkan dalam halal bi halal. Kepada Allah. tradisi ini tetap berjalan bahkan semakin terpupuk dengan baik. yang berlangsung begitu saja tanpa suatu kesadaran. setiap kita melakukan kesalahan baik kepada Allah (habl min Allah) maupun kepada sesama manusia (habl min al-nass). dalam ajaran agama. but to forgive is divine). Itu sebabnya.Abdul Munir Mulkhan. Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini melihat halal bi halal sebagai religiositas mayoritas warga negeri ini. yang sering melampaui akar.akar normatif dan teologis suatu ajaran agama. idul fitri dalam halal bi halal. Memaafkan kesalahan orang tidak lah gampang.

Jadi IDUL FITHRI artinya HARI RAYA BERBUKA PUASA. Yakni kita kembali berbuka setelah sebulan kita berpuasa. Abu Dawud No. Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa. 693. ke depan. Kedua : “Adapun kesalahan mereka menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa IDUL FITHRI itu ialah HARI RAYA KITA KEMBALI BERBUKA PUASA. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta’ala. Lebih dari itu. sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. ialah bahwa lafadz FITHRU/ IFTHAAR artinya menurut bahasa = BERBUKA .. Harapannya. SHAHIH. 2324. makna artifisial dalam tradisi saling memaafkan dalam idul fitri ini akan sirna. “Artinya : Dari Abi Hurairah . Tetapi juga dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.ialah kembali kepada FITRAH. Ibnu Majah No. adalah BATIL baik ditinjau dari lughoh/bahasa ataupun Syara’/Agama. Ad-Daruquthni jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan sanadnya di kitab saya “Riyadlul Jannah” No. seringkali kita mendengar dari para Khotib di mimbar menerangkan. yakni kita kembali kepada fitrah kita semula disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita . Kesalahan tersebut dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu.tidak ada salahnya untuk tetap dilanggengkan.karena sebagian dari para khotib tersebut tidak punya keahlian dalam bahasan-bahasan ilmiyah.? Penjelasan mereka di atas. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 1660. dan Fithri kamu ialah pada hari kamu berbuka”. 721. Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni : “Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu berpuasa. Pertama : “Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa. Sedangkan FITHRAH tulisannya sebagai berikut (FA-THAA-RA-) dan (TA MARBUTHOH) bukan (FA-THAA-RA)”. “Makna Idul Fitri/Adha” Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini 1*} atau tepat pada hari rayanya. bahwa Idul Fithri itu ma’nanya -menurut persangkaan mereka. Dan Adha itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. dan Fithri itu ialah pada hari KAMU BERBUKA. menjadi tradisi (budaya) dan sarana untuk belajar mengakui kesalahan yang dilakukan dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. . sehingga ia tidak lagi sekadar menjadi tren saja. Tentu tidak sebatas saat lebaran atau idul fitri saja.

para sahabat beliau. Aamiin . Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya. Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil sunnah dan lughoh/bahasa. dan Adha pada hari kamu menyembelih hewan”. Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa . karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci !!!. yaitu menahan amarah. melalui analisis kebahasaan dengan menggunakan nalar yang . Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud: “Artinya : Dan Fithri kamu itu ialah pada hari kamu berbuka. Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atassebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya : “Artinya : Bahwa shaum/puasa dan Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”. Jadi artinya bukan “kembali kepada fithrah”. bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa. demikian juga Idul Fithri dan Adha. dan murid-murid mereka. Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat. Al-Quran adalah kitab rujukan untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan agama. Hal ini dinamai tafsir bir-riwayah. Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin . melalui penjelasan Nabi Saw. tidak sendiri-sendiri atau berkelompokkelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini .Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah : “Artinya : Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.. Sebuah tradisi yang meniscayakan beberapa tahapan. Ada tiga cara yang diperkenalkan ulama untuk memperoleh pesan-pesan kitab suci itu.. sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Petama. maksudnya : Waktu puasa kamu. memberi maaf. dan berbuat baik terhadap orang yang bersalah.!!! HALAL BIHALAL MENURUT AL-QURAN Halal bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. Kedua. Itulah arti Idul Fithri…! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka. sedangkan Adha ialah pada hari kamu menyembelih hewan”.

Kesan apakah yang dapat diperoleh dari ayat ini? Paling tidak. Untuk maksud tersebut. Empat yang pertama termasuk kelompok halal (termasuk yang makruh. dan bagi mereka siksa yang pedih (QS AL-Nahl [16]: 116117). lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.didukung oleh kaidah-kaidah ilmu tafsir. Nabi saw. Jika yang mencampurbaurkan saja telah dikecam dan diancam dengan siksa yang pedih. sebaiknya kata halal pada konteks halal bihalal tidak dipahami dalam bihalal pengertian hukum. ”Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu. Hukum Islam memperkenalkan panca hukum yaitu wajib. yaitu: Katakanlah. hal itu tidak akan menyebabkan lahirnya hubungan harmonis antarsesama. dalam arti. sunnah. untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Ini. tulisan ini akan berpangkal tolak pada beberapa istilah yang lumrah digunakan dalam konteks halal bihalal. (itu adalah) kesenangan sementara yang sedikit. Ketiga. Kata halal dari segi hukum diartikan sebagai sesuatu yang bukan haram. kata halal terulang sebanyak enam kali. Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS Yunus [10]: 59) Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta. Kajian ini akan mencoba mencari substansi halal bihalal melalui al-Quran dengan menitikberatkan pandangan pada cara yang ketiga. Dalam al-Quran. sedangkan haram merupakan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan ancaman siksa. Perhatikan keempat ayat berikut: . yang dianjurkan untuk dtinggalkan). “Ini halal dan ini haram”. Empat halal lainnya yang tersebut dalam al-Quran mempunyai dua ciri yang sama. mubah. bersabda. Dua di antaranya pada konteks kecaman. yaitu dikemukakan dalam konteks perintah makan (kulu) dan Kata halal digandengkan dengan kata thayyibah (baik). “Abghadu al-halal ila Allah. dan Minal ‘Aidin wal-Faizin. ath-thalaq” (Halal yang paling dibenci Allah adalah pemutusan hubungan suami-istri). yaitu Idul Fitri. Sesungguhnya orangorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. terdapat kecaman terhadap mereka yang mencampurbaurkan antara yang halal dan haram. melalui kesan yang diperoleh dari penggunaan kosa kata ayat atau bilangannya. makruh dan haram. lebih-lebih lagi orang yang seluruh aktivitasnya adalah haram. dinamai tafsir bir-riwayah. Jikalau halal bihalal diartikan dalam konteks hukum. halal bihalal. dinamai tafsir bid-diriyah. Karena itu. bahkan mungkin dalam beberapa hal dapat menimbulkan kebencian Allah kepada pelakunya.

tetapi tidak menghasilkan kebaikan). Fakuluu mimma ghanimtum halalan thayyibaan (Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu) (QS. sedangkan aktivitasnya tidak sekedar halal. Nah. Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang yang bersalah). Mereka yang menafkahkan hartanya. Dalam al-Quran surat Ali-‘Imran ayat 134 diisyaratkan tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan. 4. dan orang-orang yang menahan amarahnya. Wakuluu mimma razaqakumullah halalan thayyiban…(Dan makanlah makanan yang halal lagi baik. Hal ini sesuai sekali dengan perintah al-Quran untuk melakukan perbuatan halal yang baik. baik pada saat keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit. 3. maka yang makruh tidak termasuk dalam kategori halalan thayyiban. dan lima kali terhdap al-muhsinin. yang dapat dirinci sebagai berikut: Masing-masing sekali untuk at-tawabin (orang yang bertobat). Fakuluu mimma razaqakumullahu halalan thayyiban (Maka makanlah halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu) (QS. dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu) (QS. Masing-masing tiga kali terhadap al-muttaaqin (orang-orang yang bertaqwa) dan almuqsithin ( orang yang berlaku adil). Al-Quran menyatakan secara tegas cinta Allah (Innallaha yuhib) sebanyak delapan belas kali.1. Kata makan dalam al-Quran sering diartikan “melakukan aktivitas apapun. Al-Ma’idah [5]: 88). Al-Anfaal [8]: 69). tidak sekedar perbuatan halal (boleh. An-Nahl [16]: 114). Kuluu mimma fil ardhi halalan thayyiban (Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi) (QS. Masing-masing dua kali terhadap al-mutawakkilin (orang yang berserah diri kepada Allah) dan al-mutathahirin (orang-orang yag menyucikan diri). . Al-Baqarah [2]: 168). perintah makan dalam ayat-ayat di atas bermakna perintah melakukan aktivitass. tetapi juga harus thayyib (baik). Kesan yang ditimbulkan oleh angka-angka itu paling tidak mengisyaratkan bahwa sikap yang paling disenangi oleh Allah adalah al-muhsinin (orang-orang yang berbuat baik terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahn). Dengan demikian. dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka). ash-shabirin (orang-orang sabar) dan shaffan wahida (orang yang berada dalam satu barisan/kesatuan).” Ini agaknya disebabkan karena makan merupakan sumber utama perolehan kalori yang dapat menghasilkan aktivitas. 2. jika dikembalikan pada empat jenis halal yang diperkenalkan oleh hukum Islam.

. yang diterbitkan oleh Mizan. Sumber : Disunting dari buku "Wawasan al-Quran" karya M. Demikian sedikit dan banyak kesan yang dapat diperoleh dari ayat-ayat al-Quran berkaitan dengan halal-bihalal/maaf memaafkan. tahap kedua memberi maaf. Quraish Shihab. dan tahap berikutnya adalah berbuat baik terhadap orang yang bersalah.Di sini terbaca bahwa tahap pertama adalah menahan amarah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful