Sejarah Asal Mula Halal Bihalal

Filosofi Idul Fitri Tanbihun.com – Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban. Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134). Budaya sungkem Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”. Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orangorang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka? Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus). Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam. Sejarah halal bihalal Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para

Dan dengan adanya acara saling memaafkan. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya. Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara. atau naluri religius. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal. bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183. agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan Idul Fitri jangan ada orang-orang miskin yang sedih. Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat. pengertian ketiga itu dianggap yang paling tepat. karena tidak ada yang dimakan. Makna Idul Fitri Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada kesucian.punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. bahwa umat Islam yang mampu wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin. adalah dusta belaka kalau ada orang mengaku beragama tetapi tidak mempedulikan nasib anak yatim. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam. atau sampai menangis. Oleh karena itu dapat kita pahami. Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Idul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah. Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan. . Ada pula yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama. dengan istilah halal bihalal. dan pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan. maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan. dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Aturan ini dimaksudkan. Di kalangan ahli bahasa Arab. maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain. dosa yang diampuni itu hanya yang berhubungan langsung dengan Allah. jika dilihat dari rohnya kegiatannya. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Yaitu tradisi halal bi halal. Masih ada dosa lain yang berkaitan dengan sesama kita. menengarai tradisi halal bi halal itu dilakukan setelah njungkung sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan ikhlas. Dari uraian di muka dapat disimpulkan. Halal bi Halal saat Lebaran Setiap hari raya idul fitri datang. dalam pandangan masyarakat umum. agar dosa-dosa kita (ummat Islam) diampuni. juga dikemukakan oleh . Orangorang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta). antar kita. yang tidak akan pernah dijumpai di negeri dimana Islam pertama kali diwahyukan.Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. dan memelihara hubungan sosial yang harmonis. sebelum ied (hari raya) tiba.” Keunikan dari tradisi halal bi halal dalam idul fitri di Indonesia ini. di antaranya adalah kaum fakir miskin. Unik Halal bi halal adalah sebuah tradisi yang sangat unik. “Idul fitri” sendiri diambil dari nama zakat yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang Islam yang mampu. Seperti dikemukakan Suliswiyadi dalam Tradisi Saling Memaafkan lewat Halal bi Halal (2004). dimana ampunan Allah bergantung pada pemaafan masing-masing yang bersangkutan. “Kelahiran tradisi dan budaya ini tidak lepas dari unsur pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya. bahwa Idul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin. KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Tradisi Lebaran. Inilah barangkali setitik bukti rahmatan lil’alamin-nya Islam dalam realitas sosial budaya. Apabila anda saya sakiti atau saya zalim dan anda tidak memaafkan saya. hanya memburu ridho Allah. Sebuah kreasi dan konstruk budaya masyarakat Indonesia. istilah dan kegiatan halal bi halal ini tidak muncul dari Al-Qur’an dan Hadis. Sementara “lebaran”. Jadi. Dosen Universitas Muhammadiyah Magelang ini menambahkan. untuk dibagikan kepada delapan asnaf (kelompok). halal bi halal ini tidak ada. Allah pun tidak akan mengampuninya sampai anda mau memaafkan saya. seperti Malaysia. tidak hanya baju baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa Negara tetangga dalam rumpun melayu. secara tegas dalam Islam. Halal bi halal. secara konsep. tambah budayawan penulis buku Lukisan Kaligrafi ini. memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi. yaitu zakat “fitrah”. lazim dipahami sebagai sebuah perayaan yang diadakan usai (jawa: lebar) melaksanakan puasa Ramadhan. Namun. Namun. Tradisi Melebur Dosa (2006). Al-Qur’an dan Hadis memang memberikan landasan untuk itu.

Ritus-ritus itu terus diulang kembali tiap akhir Ramadhan dengan harapan manusia memperoleh nilai fitrahnya kembali. dalam ajaran agama. yang berlangsung begitu saja tanpa suatu kesadaran.akar normatif dan teologis suatu ajaran agama. seperti yang dikemukakannya dalam Napak Tilas Kemanusiaan dalam Misteri Mudik (2003). meski sampai sekarang kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik belaka. Memaafkan kesalahan orang tidak lah gampang. Sifat pemaaf harus tumbuh karena ”kedewasaan rohaniah”. setiap kita melakukan kesalahan baik kepada Allah (habl min Allah) maupun kepada sesama manusia (habl min al-nass). Saling memaafkan “Prosesi” silaturrahmi dan “ritual” saling memaafkan dalam halal bi halal. Mudik sendiri. ini telah membuat para pemudik di Hari Raya Fitrah mengalami semacam alkoholisme atau ekstase. sepintas bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang sangat artifisial (simbolis) yang sekadar menjadi tradisi tahunan. disegarkan kembali. harus diwujudkan dengan meminta maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan. Bukan hanya sekadar ketakpedulian akan tiadanya sumber tekstual dan teologis yang belum jelas. para sufi menyuruh kepada kita. idul fitri dalam halal bi halal. hendaknya lah langsung meminta maaf. Sebagai legitimasi. Itu sebabnya. Dimana rohani mereka (para Nabi dan orang-orang saleh) itu telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human. yaitu suatu situasi yang secara sosiologis disebut “mabuk ketuhanan” yang tak lagi peduli apakah sumber tekstual dan teologisnya ada. prosesi ritual ini mengandung banyak makna melampaui doktrin teologis. dan dicerahkan guna memberi roh dan napas baru perjalanan sejarah satu tahun ke depan. Padahal. bahkan meski menghabiskan banyak uang untuk merayakan tradisi halal bi halal. Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran. permintaan maaf itu dimanifestasikan dengan membaca istighfar disertai komitmen yang teguh untuk tidak mengulanginya lagi. (Suliswiyadi. yang sering melampaui akar. Dimana jutaan manusia bergerak serentak di harihari terakhir Ramadhan seolah sedang melakukan napak tilas atas jejak atau asal-muasal kehadirannya di dunia. 2004). tradisi ini tetap berjalan bahkan semakin terpupuk dengan baik. Menurutnya. namun . Melalui mudik. Misteri teologis.Abdul Munir Mulkhan. Sebuah proses pembelajaran untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan. but to forgive is divine). agar melatih memaafkan kesalahan orang lain secara terus-menerus. bagi Abdul Munir Mulkhan. Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini melihat halal bi halal sebagai religiositas mayoritas warga negeri ini. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab (marah) diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. tambahnya. seolah sejarah hendak didaur ulang. Sementara kepada sesama. ajaran Islam yang dikaitkan dengan tradisi halal bi halal dengan mudik yang harus dilalui oleh kaum urban (pelancong) ialah ajaran tentang silaturahmi (menyambung cintakasih) dan ajaran untuk minta maaf bagi seseorang saat menyadari telah berbuat salah kepada orang lain. merupakan prosesi ritual maha-kolosal dan misterius yang hanya ada di negeri seribu pulau ini. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Tidak akan ada yang menyangkal. Tuhan Yang Maha Kuasa. Indonesia. Kepada Allah. tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antarsesama adalah hal yang sangat indah.

ialah bahwa lafadz FITHRU/ IFTHAAR artinya menurut bahasa = BERBUKA .ialah kembali kepada FITRAH. 693. Tetapi juga dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tentu tidak sebatas saat lebaran atau idul fitri saja. 721. Jadi IDUL FITHRI artinya HARI RAYA BERBUKA PUASA.? Penjelasan mereka di atas. “Makna Idul Fitri/Adha” Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini 1*} atau tepat pada hari rayanya. Ibnu Majah No. sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Abu Dawud No. bahwa Idul Fithri itu ma’nanya -menurut persangkaan mereka. Harapannya. sehingga ia tidak lagi sekadar menjadi tren saja. makna artifisial dalam tradisi saling memaafkan dalam idul fitri ini akan sirna.tidak ada salahnya untuk tetap dilanggengkan. Kedua : “Adapun kesalahan mereka menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa IDUL FITHRI itu ialah HARI RAYA KITA KEMBALI BERBUKA PUASA. ke depan. yakni kita kembali kepada fitrah kita semula disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita . Ad-Daruquthni jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan sanadnya di kitab saya “Riyadlul Jannah” No. dan Fithri itu ialah pada hari KAMU BERBUKA. Yakni kita kembali berbuka setelah sebulan kita berpuasa. Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa. Sedangkan FITHRAH tulisannya sebagai berikut (FA-THAA-RA-) dan (TA MARBUTHOH) bukan (FA-THAA-RA)”. 1660. 2324. Dan Adha itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. . Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta’ala..karena sebagian dari para khotib tersebut tidak punya keahlian dalam bahasan-bahasan ilmiyah. seringkali kita mendengar dari para Khotib di mimbar menerangkan. dan Fithri kamu ialah pada hari kamu berbuka”. Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni : “Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu berpuasa. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. adalah BATIL baik ditinjau dari lughoh/bahasa ataupun Syara’/Agama. Kesalahan tersebut dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu. menjadi tradisi (budaya) dan sarana untuk belajar mengakui kesalahan yang dilakukan dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. Lebih dari itu. “Artinya : Dari Abi Hurairah . Pertama : “Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa. SHAHIH.

Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin . sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. dan berbuat baik terhadap orang yang bersalah. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.. Petama. Itulah arti Idul Fithri…! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka. sedangkan Adha ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa . Kedua. Al-Quran adalah kitab rujukan untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan agama. demikian juga Idul Fithri dan Adha. Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atassebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya : “Artinya : Bahwa shaum/puasa dan Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”.Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah : “Artinya : Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. yaitu menahan amarah. Ada tiga cara yang diperkenalkan ulama untuk memperoleh pesan-pesan kitab suci itu.!!! HALAL BIHALAL MENURUT AL-QURAN Halal bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. melalui analisis kebahasaan dengan menggunakan nalar yang .. Aamiin . Jadi artinya bukan “kembali kepada fithrah”. dan murid-murid mereka. melalui penjelasan Nabi Saw. Hal ini dinamai tafsir bir-riwayah. para sahabat beliau. bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa. maksudnya : Waktu puasa kamu. Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat. Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud: “Artinya : Dan Fithri kamu itu ialah pada hari kamu berbuka. Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci !!!. tidak sendiri-sendiri atau berkelompokkelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini . Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya. dan Adha pada hari kamu menyembelih hewan”. memberi maaf. Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil sunnah dan lughoh/bahasa. Sebuah tradisi yang meniscayakan beberapa tahapan.

dan bagi mereka siksa yang pedih (QS AL-Nahl [16]: 116117). dan Minal ‘Aidin wal-Faizin. dalam arti. Kesan apakah yang dapat diperoleh dari ayat ini? Paling tidak. yaitu dikemukakan dalam konteks perintah makan (kulu) dan Kata halal digandengkan dengan kata thayyibah (baik). “Abghadu al-halal ila Allah. Sesungguhnya orangorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. Ini. terdapat kecaman terhadap mereka yang mencampurbaurkan antara yang halal dan haram. mubah. Kata halal dari segi hukum diartikan sebagai sesuatu yang bukan haram. yaitu Idul Fitri. Perhatikan keempat ayat berikut: . ath-thalaq” (Halal yang paling dibenci Allah adalah pemutusan hubungan suami-istri). sunnah. Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS Yunus [10]: 59) Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta. Empat yang pertama termasuk kelompok halal (termasuk yang makruh. Ketiga. (itu adalah) kesenangan sementara yang sedikit. makruh dan haram. dinamai tafsir bid-diriyah.didukung oleh kaidah-kaidah ilmu tafsir. yaitu: Katakanlah. sedangkan haram merupakan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan ancaman siksa. sebaiknya kata halal pada konteks halal bihalal tidak dipahami dalam bihalal pengertian hukum. hal itu tidak akan menyebabkan lahirnya hubungan harmonis antarsesama. melalui kesan yang diperoleh dari penggunaan kosa kata ayat atau bilangannya. Untuk maksud tersebut. halal bihalal. “Ini halal dan ini haram”. Dalam al-Quran. tulisan ini akan berpangkal tolak pada beberapa istilah yang lumrah digunakan dalam konteks halal bihalal. Hukum Islam memperkenalkan panca hukum yaitu wajib. yang dianjurkan untuk dtinggalkan). lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. bahkan mungkin dalam beberapa hal dapat menimbulkan kebencian Allah kepada pelakunya. lebih-lebih lagi orang yang seluruh aktivitasnya adalah haram. Karena itu. dinamai tafsir bir-riwayah. ”Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu. Nabi saw. Dua di antaranya pada konteks kecaman. Empat halal lainnya yang tersebut dalam al-Quran mempunyai dua ciri yang sama. Kajian ini akan mencoba mencari substansi halal bihalal melalui al-Quran dengan menitikberatkan pandangan pada cara yang ketiga. kata halal terulang sebanyak enam kali. bersabda. Jikalau halal bihalal diartikan dalam konteks hukum. Jika yang mencampurbaurkan saja telah dikecam dan diancam dengan siksa yang pedih. untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.

Mereka yang menafkahkan hartanya. jika dikembalikan pada empat jenis halal yang diperkenalkan oleh hukum Islam. Wakuluu mimma razaqakumullah halalan thayyiban…(Dan makanlah makanan yang halal lagi baik. . Al-Anfaal [8]: 69). perintah makan dalam ayat-ayat di atas bermakna perintah melakukan aktivitass. baik pada saat keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit. tetapi juga harus thayyib (baik). Al-Baqarah [2]: 168). Fakuluu mimma ghanimtum halalan thayyibaan (Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu) (QS. 3. dan orang-orang yang menahan amarahnya. sedangkan aktivitasnya tidak sekedar halal. Masing-masing dua kali terhadap al-mutawakkilin (orang yang berserah diri kepada Allah) dan al-mutathahirin (orang-orang yag menyucikan diri). tetapi tidak menghasilkan kebaikan). Al-Ma’idah [5]: 88). 2.” Ini agaknya disebabkan karena makan merupakan sumber utama perolehan kalori yang dapat menghasilkan aktivitas. Kesan yang ditimbulkan oleh angka-angka itu paling tidak mengisyaratkan bahwa sikap yang paling disenangi oleh Allah adalah al-muhsinin (orang-orang yang berbuat baik terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahn). Fakuluu mimma razaqakumullahu halalan thayyiban (Maka makanlah halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu) (QS. Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang yang bersalah). Dengan demikian. dan lima kali terhdap al-muhsinin. Masing-masing tiga kali terhadap al-muttaaqin (orang-orang yang bertaqwa) dan almuqsithin ( orang yang berlaku adil). 4. ash-shabirin (orang-orang sabar) dan shaffan wahida (orang yang berada dalam satu barisan/kesatuan). Kata makan dalam al-Quran sering diartikan “melakukan aktivitas apapun.1. Nah. An-Nahl [16]: 114). yang dapat dirinci sebagai berikut: Masing-masing sekali untuk at-tawabin (orang yang bertobat). Hal ini sesuai sekali dengan perintah al-Quran untuk melakukan perbuatan halal yang baik. Al-Quran menyatakan secara tegas cinta Allah (Innallaha yuhib) sebanyak delapan belas kali. maka yang makruh tidak termasuk dalam kategori halalan thayyiban. dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka). Dalam al-Quran surat Ali-‘Imran ayat 134 diisyaratkan tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan. Kuluu mimma fil ardhi halalan thayyiban (Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi) (QS. tidak sekedar perbuatan halal (boleh. dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu) (QS.

Di sini terbaca bahwa tahap pertama adalah menahan amarah. yang diterbitkan oleh Mizan. Sumber : Disunting dari buku "Wawasan al-Quran" karya M. Demikian sedikit dan banyak kesan yang dapat diperoleh dari ayat-ayat al-Quran berkaitan dengan halal-bihalal/maaf memaafkan. dan tahap berikutnya adalah berbuat baik terhadap orang yang bersalah. tahap kedua memberi maaf. Quraish Shihab. .