LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH

PENGUKURAN SUDUT


KELOMPOK 17

Anita (0906636756)
Tatika Widyasari (0906516120)
Vincent (0906557404)
Windi Silvia (0906637001)


Tanggal Praktikum : 03 Oktober 2010
Asisten Praktikum : Aryasa Pradeni
Tanggal disetujui :
Nilai :
Paraf Asisten Modul :



LABORATORIUM SURVEY DAN PEMETAAN
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2009

A. Tujuan
1. Mengetahui besar sudut horizontal
2. Menetukan letak koordinat satu titik
3. Menghitung azimuth suatu arah
4. Menghitung kesalahan indeks

B. Peralatan
1. Rambu (Pengukur Ketinggian) 1 buah
2. Theodolit 1 buah
3. Patok 6 buah
4. Statif 1 buah
5. Meteran 1 buah
6. Penggaris segitiga 1 buah

C. Teori
Lokasi titik-titik dan orientasi garis-garis sering tergantung pada pengukuran
sudut dan arah. Dalam pengukuran sebidang tanah, arah ditentukan oleh sudut arah
dan azimut.
Pengukuran sudut merupakan bagian dari survey detail dan control. Alat
theodolit juga digunakan untuk mengukur besar sudut, baik sudut vertikal ataupun
sudut horizontal, tergantung pada bidang datar dimana sudut tersebut diukur.. Sudut
horizontal adalah sudut yang dibentuk antara suatu titik dengan garis horizontal.
Jenis-jenis sudut horizontal yang paling biasa diukur dalam pengukuran tanah
adalah :
1. Sudut dalam
2. Sudut ke kanan
3. Sudut belokan
Tiga persyaratan dasar menentukan sebuah sudut yaitu :
1. Garis awal atau acuan
2. Arah perputaran
3. Jarak sudut (harga sudut)
Pada saat pengukuran di lapangan seharusnya dipakai prosedur yang seragam,
misalnya bila mungkin selalu mengukur sudut searah jarum jam, dan arah putaran
ditunjukkan dalam buku lapangan dengan sebuah sketsa. Sudut antara dua jurusan
A dan B dapat diketahui dengan menghitung selisih pembacaan sudut horizontal
pada theodolit yang diarahkan ke A dan B.
Ada empat cara untuk menentukan sudut antara dua jurusan, yaitu:
a) Cara reiterasi
b) Cara repetisi
c) Cara dengan mengukur jurusan
d) Cara dengan mengukur sektor-sektor.
Koordinat suatu titik dapat dihitung berdasarkan suatu titik referensi yang sudah
diketahui titik koordinatnya. Rumus yang digunakan adalah:
X
A
= X
T
+ d
TA
sin Į
TA
Y
A
= Y
T
+ d
TA
cos Į
TA
Dimana:
Į
TA
= azimuth TA
T = titik referensi
d
TA
= jarak antara titik A dan B
d dapat dihitung dengan rumus :
d = 100 (a-b) cos
2
Į
beda tinggi dapa dihitung dengan rumus :
ǻt = 50 (a-b) sin 2Į
Dimana:
a = pembacaan benang atas
b = pembacaan benang bawah
Į = sudut vertikal
Sudut vertikal dapat diketahui dengan cara sebagai berikut:
1. Ukur tinggi theodolit dari as teropong (sumbu I) sampai permukaan tanah,
misalnya = y meter
2. Arahkan teropong ke rambu pada ketinggian y meter
3. Baca besar sudut vertikal
Azimuth adalah besar sudut antar utara magnetis (nol derajat) dengan titik
sasaran yang kita tuju, azimuth sering disebut sudut kompas, perhitungan searah
jarum jam.
Ada tiga macam azimuth yaitu :
a) Azimut sebenarnya
b) Azimut magnetis
c) Azimut peta
Azimuth sebenarnya yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya
dengan titik sasaran. Azimuth magnetis adalah sudut yang dibentuk antara utara
kompas dengan titik sasaran. Sedangkan azimuth peta yaitu besar sudut yang
dibentuk peta dengan titik sasaran.
Back azimuth adalah besar sudut atau kebalikan /kebelakang dari azimuth. Cara
menghitungnya bila sudut azimuth lebih dari 180° maka sudut azimuth dikurangi
180°, bila sudut azimuth kurang dari 180° maka sudut azimuth ditambahkan 180° ,
bila sudut aizmuth sama dengan 180° maka sudut back azimuthnya adalah 0° atau
360°

D. Prosedur
1. Pasang statif pada suatu titik (kita asumsikan alat berada pada koordinat X, Y
adalah 0,0 )
2. Atur nivo pada theodolit sampai posisi gelembung berada di tengah dengan
mengatur sekrup pada statif.
3. Pasang 1 pasak di bawah statif dengan melihat lup central point, sehingga
benang silang berada tepat pada kaki pasak.
4. Pasang 5 buah patok secara acak dengan jarak minimal 10 meter dari theodolit.
Sudut Biasa
5. Ukur tinggi theodolit, buka teropong atur sehingga sudut vertikal 90
o
00¶00´
kunci sudut vertikal agar besarnya tidak berubah.
6. Bidik titik A, kunci titik A lalu baca benang atas, benang tengah, dan benang
bawah pada rambu dengan bantuan penggaris segitiga
7. Jadikan titik A sebagai acuan sudut horizontal, dengan mengubah besar sudut
saat membidik titk I menjadi 0
o
0¶0´
8. Bidik titik B, dengan mengeser theodolit secara perlahan lalu setelah dapat titik
B, kunci teropong sehingga kita dapat mengetahi besar perpindahan sudut dari
titik acuan, setelah itu baca benang atas, benang tengah, dan benang bawah
pada rambu dengan bantuan penggaris segitiga
9. Lakukan langkah-langkah di titik B pada titik C, D, E, dan F.
Sudut Luar Biasa
10. Putar theodolit 180°, lalu atur sudut vertikalnya menjadi 270°00¶00¶¶, lalu
kunci agar sudut horizontal tidak berubah.
11. Bidik kembali titik A, kunci, lalu lakukan pembacaan benang atas, tengah dan
bawah. Catat hasil pengukuran.
12. Lakukan langkah-langkah seperti pada pengukuran sudut biasa pada titik B, C,
D, E, dan F.
13. Setelah itu, ukur jarak dari theodolit ke masing-masing titik dengan meteran.

E. Data Praktikum
y Tinggi alat : 122.3 cm
Letak alat Titik
BA
(cm)
BT
(cm)
BB
(cm)
Sudut HA
biasa
Sudut HA
luar biasa
D
lapangan
(cm)
OVA
90
o
00¶00´
I 132.7 129.9 127.3 0
o
00¶00´ 543
II 126.6 120.0 115.3 320
o
39¶55´ 958
III 118.3 111.5 110.5 2
o
42¶20´ 1333
IV 126.4 120.4 114.6 33
o
37¶45´ 1174
V 133.3 129.4 125.5 67
o
40¶30´ 780
OVA
270
o
00¶00´
I 132.3 129.3 126.7 178
o
20¶30´ 543
II 124.4 119.8 115.0 140
o
57¶10´ 958
III 118.9 112.3 105.7 182
o
50¶05´ 1333
IV 126.6 120.9 115.2 213
o
47¶20´ 1174
V 133.0 129.1 125 247
o
30¶45´ 780


F. Pengolahan Data
Perhitungan
1. Jarak Optis
Untuk mencari d jarak titik satu dengan titik lain


Dengan:
BA = benang atas di rambu
BB = benang bawah di rambu
Pengukuran Sudut Biasa
D
I
= 100 (132.7 ± 127.3) = 540 cm = 5.4 m
D
II
= 100 (126.6 ± 115.3) = 1130 cm = 11.3 m
D
III
= 100 (118.3 ± 110.5) = 780 cm = 7.8 m
D
IV
= 100 (126.4 ± 114.6) = 1180 cm = 11.8 m
D
V
= 100 (133.3 ± 125.5) = 780 cm = 7.8 m
Pengukuran Sudut Luar Biasa
D
I
= 100 (132.3 ± 129.3) = 560 cm = 5.6 m
D
II
= 100 (124.4 ± 115.0) = 940 cm = 9.4 m
D
III
= 100 (118.9 ± 105.7) = 1320 cm = 13.2 m
D
IV
= 100 (126.6 ± 115.2) = 1140 cm = 11.4 m
D
V
= 100 (133.0 ± 125.0) = 800 cm = 8 m

2. Ketinggian tanah
Dengan asumsi bahwa letak theodolit merupakan titik (0,0) maka rumus
untuk menentukan ketinggian tanah (h) relatif terhadap alat adalah :
H = BT ± TA
dengan H adalah ketinggian tanah, TA adalah tinggi alat, dan BT adalah
benang tengah.
Pengukuran Sudut Biasa
H
I
= 129.9 ± 122.3 = 7.6 cm
H
II
= 126.6 ± 122.3 = -2.3 cm
D = 100(BA-BB)
H
III
= 118.3 ± 122.3 = -10.8 cm
H
IV
= 126.4 ± 122.3 = -1.9 cm
H
V
= 129.4 ± 122.3 = 7.1 cm
Pengukuran Sudut Luar Biasa
H
I
= 129.3 ± 122.3 = 7 cm
H
II
= 119.8 ± 122.3 = -2.5 cm
H
III
= 112.3 ± 122.3 = -10 cm
H
IV
= 120.9 ± 122.3 = -1.4 cm
H
V
= 129.1 ± 122.3 = 6.8 cm
3. Sudut Į
Titik sudut biasa sudut luar biasa slb - 180
Į =
SB + (SLB-180°)
2

I 0 178.34 1.66 0.83
II 320.66 140.95 320.95 320.805
III 2.71 182.83 -2.83 2.77
IV 33.61 213.79 -33.79 33.7
V 67.67 247.51 -67.51 67.59

4. Plot Titik
X = D
Lapangan
. sin Į
Y = D
Lapangan
. cos Į
Titik x y
I 7.86 542.94
II 2.42 -957.99
III 64.42 1331.44
IV 651.38 976.71
V 721.09 297.36







Grafik


5. Kesalahan relatif
Kesalahan relatif pada jarak

۹܀ ۲࢕࢖࢚࢏࢙ ൌ ฬ
۲࢕࢖࢚࢏࢙ െ ۲࢒ࢇ࢖ࢇ࢔ࢍࢇ࢔
۲࢒ࢇ࢖ࢇ࢔ࢍࢇ࢔
ฬ ܠ ૚૙૙Ψ

۹܀ ܁ܝ܌ܝܜ ൌ ฬ
૚ૡ૙ െ ȁ܁ۺ۰ െ ܁۰ȁ
૚ૡ૙
ฬ ܠ ૚૙૙Ψ

y Titik I
KR B݋݌ݐ݅ݏ I ൌ ฬ
ͷͶͲ െ ͷͶ͵
ͷͶ͵
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͷͷ Ψ
KR Suuut I ൌ ฬ
ͳͺͲ െ ȁͳ͹ͺǤ͵Ͷ െ Ͳȁ
ͳͺͲ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͻʹ Ψ
y Titik II
KR B݋݌ݐ݅ݏ II ൌ ฬ
ͳͳ͵Ͳ െ ͻͷͶ
ͻͷͺ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͳ͹Ǥͻͷ Ψ
KR Suuut II ൌ ฬ
ͳͺͲ െȁͳͶͲǤͻͷ െ ͵ʹͲǤ͸͸ȁ
ͳͺͲ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͳ͸ Ψ

0
200
400
600
800
1000
1200
1400
-800 -600 -400 -200 0 200 400 600 800
Titik I Titik II Titik III Titik IV Titik V
y Titik III
KR B݋݌ݐ݅ݏ III ൌ ฬ
ͳ͵͵͵ െ ͹ͺͲ
ͳ͵͵͵
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͶͳǤͶ Ψ
KR Suuut III ൌ ฬ
ͳͺͲ െ ȁͳͺʹǤͺ͵ െ ʹǤ͹ͳȁ
ͳͺͲ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͲ͹ Ψ
y Titik IV
KR B݋݌ݐ݅ݏ Iv ൌ ฬ
ͳͳ͹Ͷ െ ͳͳͺͲ
ͳͳ͹Ͷ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͷͷ Ψ
KR Suuut Iv ൌ ฬ
ͳͺͲ െ ȁʹͳ͵Ǥ͹ͻ െ ͵͵Ǥ͸ͳȁ
ͳͺͲ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͲͳ Ψ
y Titik V
KR B݋݌ݐ݅ݏ v ൌ ฬ
͹ͺͲ െ ͹ͺͲ
͹ͺͲ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͲͲ Ψ
KR Suuut Iv ൌ ฬ
ͳͺͲ െ ȁʹͶ͹Ǥͷͳ െ ͸͹Ǥ͸͹ȁ
ͳͺͲ
ฬ x ͳͲͲΨ ൌ ͲǤͲͻ Ψ
G. Analisis
y Analisis Praktikum
Praktikum pengukuran sudut ini dimulai dengan menempatkan patok
di tempat dimana theodolit akan dipasang. Setelah itu patok-patok yang lain
diletakkan di titik-titik yang nantinya akan diukur jaraknya.
Theodolit yang akan digunakan dedirikan diatas statif dengan
diarahkan pada patok yang telah dipasang. Tinggi statif disesuaikan dengan
mengatur panjang ketiga kaki. Sebaiknya agar posisi theodolit tepat pada
patok, sebaiknya digunakan unting-unting, tapi pada praktikum ini, karena
keterbatasan alat, maka tidak digunakan unting-unting. Tapi dengan melihat
lup central point, maka dapat ditentukan posisi theodolit yang tepat di atas
patok. Apabila benang silang berada tepat di patok, maka posisi theodolit
sudah tegak dengan patok.
Agar posisi theodolit tegak lurus dan mendatar, praktikan harus
memperhatikan nivo kotak dan tabung. Baik pada nivo kotak maupun
tabung, gelembung pada nivo harus berada tepat ditengah. Gelembung pada
nivo dicocokan dengan mengatur ketinggian tiga kaki theodolit
menggunakan leveling screw. Ketika gelembung nivo sudah ditengah, maka
posisi theodolit sudah tegak dan mendatar.
Setelah menyetel posisi theodolit, praktikan menyetel sudut vertikal
theodolit pada 90
o
00¶00´ dan sudut horizontal 00
o
00¶00´. Lalu praktikan
mengukur tinggi theodolit.
Kemudian pengukuran dimulai, dari titik I, II, III, IV, dan V,
kesemuanya diukur jaraknya dari theodolit dengan melihat angka yang
tampak pada rambu yang telah diletakkan pada titik-titik tersebut. Angka
ratusan (cm) yang terlihat pada theodolit kemudian diberitahukan kepada
pengukur yang memegang rambu, agar kemudian pengukur yang memegang
rambu dapat meletakkan penggaris segitiga pada angka tersebut, lalu angka
pada penggaris segitiga dibaca benang atas, benang tengah, dan benang
bawahnya.
Pada saat rambu diletakkan di salah satu patok, pengukur yang
melihat dari theodolit mencatat benang atas, benang tengah, dan benang
bawah yang terlihat dari theodolit. Pada setiap pengukuran satu titik, dicatat
juga sudut horizontalnya.
Berikutnya, dilakukan pengkuran dengan sudut luar biasa, yaitu
mengubah sudut vertikal theodolit menjadi 270
o
00¶00´ dan sudut horizontal
180
0
00¶00´. Kemudian mengukur jarak setiap titik dari theodolit dengan
cara yang sama seperti sebelumnya.
y Analisis Hasil
Hasil dari Percobaan yang telah kami lakukan mengenai pengukuran sudut
dengan menggunakan theodolit, diantaranya jarak optis yaitu jarak antara
theodolit dengan tiap titik yang didapatkan dari rumus :
d= 100(BA-BB)
Dengan hasil titik I berjarak 5.4 meter, titik II berjarak 11.3 meter, titik III
berjarak 7.8 meter, titik IV berjarak 11.8 meter, dan titik V berjarak 7.8
meter. Keenam jarak optis ini tentunya berbeda dengan jarak lapangan
(jarak hasil pengukuran di lapangan), dengan perbedaan yang bervariasi dan
salah satu titik memiliki perbedaan yang sangat besar.

Dari pengukuran dengan menggunakan meteran didapatkan letak titik
koordinat dengan menggunakan rumus
X = D
lapangan
. sin ɲ
Y = D
lapangan
. cos ɲ

Dari perhitungan dengan rumus di atas, maka didapatkan koordinat dalam
grafik sebagai berikut :

Dengan posisi alat berada pada titik (0,0)
y Analisis kesalahan
Kesalahan jarak yang terjadi pada pengukuran jarak relatif besar dengan
yang paling besar kesalahan mencapai 41.4%, tapi ada pengukuran yang
sangat akurat dengan kesalahan 0.00%. Jika dirata-ratakan kesalahan relatif
pada pengukuran jarak adalah 12.09%. Tingkat kesalahan yang besar ini
mungkin terjadi karena hal-hal berikut:
o Pembacaan benang atas, benang tengah, dan benang bawah yang
tidak teliti
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
-800 -600 -400 -200 0 200 400 600 800
Titik I Titik II Titik III Titik IV Titik V
o Pengukur yang memegang rambu tidak memegang rambu dengan
tegak
o Mata pengukur yang membaca angka rambu pada theodolit minus
o Pengukur yang memegang rambu tidak meletakkan penggaris
segitiga dengan tepat pada angka yang dicari
o Pengukuran dengan meteran tidak akurat karena ada kesalahan pada
saat menarik meteran, seperti misalnya meteran melilit, bagian
tengah meteran melendut, dan meteran berbelok karena rumput-
rumput di lapangan.
Pada pengukuran sudut, semua persentase kesalahan relatif kecil dengan
rata-rata 0.25%. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada pengukuran sudut,
praktikan mengumpulkan data yang cukup akurat.
H. Kesimpulan
Dengan mengukur sudut dan benang atas, benang tengah, dan benang
bawah, kita dapat mengetahui jarak titik dari alat dan kemudian memplot titik
pada gambar koordinat dengan asumsi bahwa titik dimana alat berada adalah titik
(0,0).
Percobaan ini memiliki banyak error yang terlihat dari tingkat kesalahan
yang mencapai 41.4%. Tapi jika melihat rata-rata kesalahan relatif pada
pengukuran ini yang relatif kecil, yaitu 6.17%, maka dapat dikatakan bahwa
praktikum kali ini cukup akurat.

I. Daftar Pustaka
Pedoman Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Laboratorium Survey dan Pemetaan.
Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia

arah ditentukan oleh sudut arah dan azimut. Garis awal atau acuan 2. Peralatan 1. Theodolit 3. Mengetahui besar sudut horizontal 2. Rambu (Pengukur Ketinggian) 2. Teori Lokasi titik-titik dan orientasi garis-garis sering tergantung pada pengukuran sudut dan arah. Jenis-jenis sudut horizontal yang paling biasa diukur dalam pengukuran tanah adalah : 1. Arah perputaran 3. Menghitung azimuth suatu arah 4. Pengukuran sudut merupakan bagian dari survey detail dan control. Patok 4. baik sudut vertikal ataupun sudut horizontal. Statif 5. Sudut horizontal adalah sudut yang dibentuk antara suatu titik dengan garis horizontal.A. tergantung pada bidang datar dimana sudut tersebut diukur. Sudut ke kanan 3. Menghitung kesalahan indeks B. Menetukan letak koordinat satu titik 3. Tujuan 1. Penggaris segitiga 1 buah 1 buah 6 buah 1 buah 1 buah 1 buah C.. Sudut belokan Tiga persyaratan dasar menentukan sebuah sudut yaitu : 1. Alat theodolit juga digunakan untuk mengukur besar sudut. Sudut dalam 2. Jarak sudut (harga sudut) . Meteran 6. Dalam pengukuran sebidang tanah.

Arahkan teropong ke rambu pada ketinggian y meter 3. misalnya bila mungkin selalu mengukur sudut searah jarum jam. dan arah putaran ditunjukkan dalam buku lapangan dengan sebuah sketsa. Koordinat suatu titik dapat dihitung berdasarkan suatu titik referensi yang sudah diketahui titik koordinatnya. Rumus yang digunakan adalah: XA = XT + dTA sin YA = YT + dTA cos Dimana: TA = TA TA azimuth TA T = titik referensi dTA = jarak antara titik A dan B d dapat dihitung dengan rumus : d = 100 (a-b) cos2 beda tinggi dapa dihitung dengan rumus : t = 50 (a-b) sin 2 Dimana: a = pembacaan benang atas b = pembacaan benang bawah = sudut vertikal Sudut vertikal dapat diketahui dengan cara sebagai berikut: 1. yaitu: a) Cara reiterasi b) Cara repetisi c) Cara dengan mengukur jurusan d) Cara dengan mengukur sektor-sektor. Sudut antara dua jurusan A dan B dapat diketahui dengan menghitung selisih pembacaan sudut horizontal pada theodolit yang diarahkan ke A dan B. Ukur tinggi theodolit dari as teropong (sumbu I) sampai permukaan tanah. Baca besar sudut vertikal . misalnya = y meter 2.Pada saat pengukuran di lapangan seharusnya dipakai prosedur yang seragam. Ada empat cara untuk menentukan sudut antara dua jurusan.

6. Pasang 5 buah patok secara acak dengan jarak minimal 10 meter dari theodolit. buka teropong atur sehingga sudut vertikal 90o00¶00´ kunci sudut vertikal agar besarnya tidak berubah. benang tengah.0 ) 2. Back azimuth adalah besar sudut atau kebalikan /kebelakang dari azimuth. 4. azimuth sering disebut sudut kompas. 3. Sedangkan azimuth peta yaitu besar sudut yang dibentuk peta dengan titik sasaran. Pasang statif pada suatu titik (kita asumsikan alat berada pada koordinat X.Azimuth adalah besar sudut antar utara magnetis (nol derajat) dengan titik sasaran yang kita tuju. Prosedur 1. Ukur tinggi theodolit. sehingga benang silang berada tepat pada kaki pasak. Cara menghitungnya bila sudut azimuth lebih dari 180° maka sudut azimuth dikurangi 180°. . bila sudut azimuth kurang dari 180° maka sudut azimuth ditambahkan 180° . Ada tiga macam azimuth yaitu : a) Azimut sebenarnya b) Azimut magnetis c) Azimut peta Azimuth sebenarnya yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran. dengan mengubah besar sudut saat membidik titk I menjadi 0o 0¶0´ Sudut Biasa 5. Azimuth magnetis adalah sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran. perhitungan searah jarum jam. kunci titik A lalu baca benang atas. Atur nivo pada theodolit sampai posisi gelembung berada di tengah dengan mengatur sekrup pada statif. Pasang 1 pasak di bawah statif dengan melihat lup central point. Bidik titik A. Y adalah 0. Jadikan titik A sebagai acuan sudut horizontal. bila sudut aizmuth sama dengan 180° maka sudut back azimuthnya adalah 0° atau 360° D. dan benang bawah pada rambu dengan bantuan penggaris segitiga 7.

dan F. Bidik titik B.5 120.6 118. Setelah itu. E. Sudut Luar Biasa 10. 13.3 115. setelah itu baca benang atas. Lakukan langkah-langkah di titik B pada titik C. C.2 125 Sudut HA biasa 0o00¶00´ 320o39¶55´ 2o42¶20´ 33o 37¶45´ 67o40¶30´ 178o20¶30´ 140o57¶10´ 182o50¶05´ 213o47¶20´ 247o30¶45´ Sudut HA luar biasa D lapangan (cm) 543 958 1333 1174 780 543 958 1333 1174 780 OVA 90o00¶00´ OVA 270o00¶00´ . dengan mengeser theodolit secara perlahan lalu setelah dapat titik B. Bidik kembali titik A.9 120.5 114. D.3 120. dan benang bawah pada rambu dengan bantuan penggaris segitiga 9. Data Praktikum y Tinggi alat : 122. kunci teropong sehingga kita dapat mengetahi besar perpindahan sudut dari titik acuan.3 110. lalu lakukan pembacaan benang atas.3 126. Putar theodolit 180°.1 BB (cm) 127.0 105. ukur jarak dari theodolit ke masing-masing titik dengan meteran. tengah dan bawah. 12.5 126.0 BT (cm) 129. D. benang tengah. lalu atur sudut vertikalnya menjadi 270°00¶00¶¶.9 129.3 124.6 133. Lakukan langkah-langkah seperti pada pengukuran sudut biasa pada titik B.8 112. 11.7 115. Catat hasil pengukuran.9 126. lalu kunci agar sudut horizontal tidak berubah.3 119.6 125. kunci. dan F.7 126. E.8.3 cm Letak alat Titik I II III IV V I II III IV V BA (cm) 132.4 129.3 132.4 129.4 133.0 111. E.4 118.7 115.

9 ± 105.3 m = 7. dan BT adalah benang tengah.3 ± 110.F.3 = -2.0 ± 125.2 m = 11.3 ± 125.8 m Pengukuran Sudut Luar Biasa DI DII DIII DIV DV = 100 (132.9 ± 122. Jarak Optis Untuk mencari d jarak titik satu dengan titik lain D = 100(BA-BB) Dengan: BA BB = benang atas di rambu = benang bawah di rambu Pengukuran Sudut Biasa DI DII DIII DIV DV = 100 (132.3) = 1130 cm = 100 (118.0) = 800 cm = 5.3 ± 129.8 m = 11.8 m = 7.4 m m = 13.6) = 1180 cm = 100 (133.3) = 540 cm = 100 (126. Pengolahan Data  Perhitungan 1.6 = 9.5) = 780 cm = 5.7) = 1320 cm = 100 (126.3 = 7.6 ± 115. Ketinggian tanah Dengan asumsi bahwa letak theodolit merupakan titik (0. Pengukuran Sudut Biasa HI HII = 129.4 ± 115.2) = 1140 cm = 100 (133.3) = 560 cm = 100 (124.6 ± 122.6 = 126.6 ± 115.4 m =8 m 2.3 cm cm .4 m = 11.4 ± 114.5) = 780 cm = 100 (126.7 ± 127. TA adalah tinggi alat.0) maka rumus untuk menentukan ketinggian tanah (h) relatif terhadap alat adalah : H = BT ± TA dengan H adalah ketinggian tanah.0) = 940 cm = 100 (118.

38 721.95 -2.8 ± 122.3 = -1.66 320.42 64.7 67. Plot Titik X = DLapangan .3 = -1.3 ± 122.71 297.86 2.36 .1 ± 122.95 182.9 ± 122.8 cm = 126.66 2.3 = -10 = 120.42 651.9 = 129.4 = 129.3 = 7 = 119.61 67. Sudut Titik I II III IV V sudut biasa 0 320.51 = SB + (SLB-180°) 2 = 129.09 y 542.5 = 112.805 2.4 ± 122.3 ± 122.34 140.83 -33.79 247.94 -957.71 33.3 ± 122.77 33.180 1.3 = 6.3 = 7. cos Titik I II III IV V x 7.59 4.99 1331.8 cm cm cm cm cm 0.83 320.79 -67.3 = -10.HIII HIV HV = 118. sin Y = DLapangan .4 ± 122.44 976.67 sudut luar biasa 178.51 slb .1 cm cm Pengukuran Sudut Luar Biasa HI HII HIII HIV HV 3.3 = -2.83 213.

Grafik 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 -800 -600 -400 Titik I -200 Titik II 0 Titik III 200 Titik IV 400 Titik V 600 800 5. Kesalahan relatif Kesalahan relatif pada jarak      y Titik I  .

 š  —†—–.

y Titik II   š  .

.

 š  —†—–.

.

 š  .

y Titik III  —†—–.

.

.

.

.

.

  š š   y Titik IV  —†—–.

 .

   š š   y Titik V  —†—–.

Theodolit yang akan digunakan dedirikan diatas statif dengan diarahkan pada patok yang telah dipasang. Tinggi statif disesuaikan dengan mengatur panjang ketiga kaki. Analisis y Analisis Praktikum Praktikum pengukuran sudut ini dimulai dengan menempatkan patok di tempat dimana theodolit akan dipasang. Baik pada nivo kotak maupun tabung. karena keterbatasan alat. praktikan harus memperhatikan nivo kotak dan tabung.    š š   G. sebaiknya digunakan unting-unting. Apabila benang silang berada tepat di patok. tapi pada praktikum ini. Tapi dengan melihat lup central point. Setelah itu patok-patok yang lain diletakkan di titik-titik yang nantinya akan diukur jaraknya. Sebaiknya agar posisi theodolit tepat pada patok. maka dapat ditentukan posisi theodolit yang tepat di atas patok. maka posisi theodolit sudah tegak dengan patok. gelembung pada nivo harus berada tepat ditengah. maka tidak digunakan unting-unting. Agar posisi theodolit tegak lurus dan mendatar. Gelembung pada nivo dicocokan dengan mengatur ketinggian tiga kaki theodolit .

pengukur yang melihat dari theodolit mencatat benang atas.4 meter. Lalu praktikan mengukur tinggi theodolit. Ketika gelembung nivo sudah ditengah. Setelah menyetel posisi theodolit. IV. benang tengah. dan benang bawahnya. III. titik III berjarak 7. Kemudian mengukur jarak setiap titik dari theodolit dengan cara yang sama seperti sebelumnya. titik II berjarak 11. dan benang bawah yang terlihat dari theodolit. Angka ratusan (cm) yang terlihat pada theodolit kemudian diberitahukan kepada pengukur yang memegang rambu. benang tengah. dan titik V berjarak 7. dan V.3 meter.8 meter. titik IV berjarak 11. maka posisi theodolit sudah tegak dan mendatar. kesemuanya diukur jaraknya dari theodolit dengan melihat angka yang tampak pada rambu yang telah diletakkan pada titik-titik tersebut. y Analisis Hasil Hasil dari Percobaan yang telah kami lakukan mengenai pengukuran sudut dengan menggunakan theodolit.8 meter. diantaranya jarak optis yaitu jarak antara theodolit dengan tiap titik yang didapatkan dari rumus : d= 100(BA-BB) Dengan hasil titik I berjarak 5. dari titik I. Berikutnya. Pada saat rambu diletakkan di salah satu patok. agar kemudian pengukur yang memegang rambu dapat meletakkan penggaris segitiga pada angka tersebut.menggunakan leveling screw. praktikan menyetel sudut vertikal theodolit pada 90o00¶00´ dan sudut horizontal 00o00¶00´. II. lalu angka pada penggaris segitiga dibaca benang atas. dilakukan pengkuran dengan sudut luar biasa. Pada setiap pengukuran satu titik.8 meter. dicatat juga sudut horizontalnya. Keenam jarak optis ini tentunya berbeda dengan jarak lapangan . yaitu mengubah sudut vertikal theodolit menjadi 270o00¶00´ dan sudut horizontal 180000¶00´. Kemudian pengukuran dimulai.

maka didapatkan koordinat dalam grafik sebagai berikut : 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 -800 -600 -400 Titik I -200 Titik II 0 Titik III 200 Titik IV 400 Titik V 600 800 Dengan posisi alat berada pada titik (0.(jarak hasil pengukuran di lapangan).09%. cos Dari perhitungan dengan rumus di atas. benang tengah. dan benang bawah yang tidak teliti .4%. Jika dirata-ratakan kesalahan relatif pada pengukuran jarak adalah 12. dengan perbedaan yang bervariasi dan salah satu titik memiliki perbedaan yang sangat besar.0) y Analisis kesalahan Kesalahan jarak yang terjadi pada pengukuran jarak relatif besar dengan yang paling besar kesalahan mencapai 41. Dari pengukuran dengan menggunakan meteran didapatkan letak titik koordinat dengan menggunakan rumus X = Dlapangan . sin Y = Dlapangan .00%. tapi ada pengukuran yang sangat akurat dengan kesalahan 0. Tingkat kesalahan yang besar ini mungkin terjadi karena hal-hal berikut: o Pembacaan benang atas.

25%. maka dapat dikatakan bahwa praktikum kali ini cukup akurat. Kesimpulan Dengan mengukur sudut dan benang atas. Pada pengukuran sudut. seperti misalnya meteran melilit. kita dapat mengetahui jarak titik dari alat dan kemudian memplot titik pada gambar koordinat dengan asumsi bahwa titik dimana alat berada adalah titik (0.0). benang tengah. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada pengukuran sudut.17%. Daftar Pustaka Pedoman Praktikum Ilmu Ukur Tanah. dan benang bawah. Tapi jika melihat rata-rata kesalahan relatif pada pengukuran ini yang relatif kecil. dan meteran berbelok karena rumputrumput di lapangan. Laboratorium Survey dan Pemetaan. H.o Pengukur yang memegang rambu tidak memegang rambu dengan tegak o Mata pengukur yang membaca angka rambu pada theodolit minus o Pengukur yang memegang rambu tidak meletakkan penggaris segitiga dengan tepat pada angka yang dicari o Pengukuran dengan meteran tidak akurat karena ada kesalahan pada saat menarik meteran. bagian tengah meteran melendut. semua persentase kesalahan relatif kecil dengan rata-rata 0. I. praktikan mengumpulkan data yang cukup akurat. Percobaan ini memiliki banyak error yang terlihat dari tingkat kesalahan yang mencapai 41. yaitu 6.4%. Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia .