APA & MENGAPA SUPERVISI KLINIS

Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu kebijakan departemen pendidikan Nasional yang dilakasanakan seiring dengan upaya peningkatan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan memperbaiki manajemen pendidikan. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan menjadi perhatian pemerintah agar dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas tersebut adalah merupakan tanggung jawab tenaga pendidikan yang professional di sekolah. Dengan demikian, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah upaya peningkatan kualitas guru dalam menguasai proses pembelajaran. Guru merupakan komponen pendidikan yang sangat dominan dalam peningkatan mutu pendidikan. Hal ini disebabkan oleh karena guru adalah orang yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di sekolah. Agar proses pembelajaran berkualitas maka guru-gurunya juga harus berkualitas dan professional. Menurut pendapat Usman (2002)menyatakan bahwa: Guru yang professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal . Di samping itu, guru sangat erat kaitannya dengan mutu lulusan sekolah. Imron (1995) mengemukakan: kadar kualitas guru ternyata dipandang sebagai penyebab kadar kualitas output sekolah . Oleh karena itu, profesi sumber daya guru perlu terus menerus tumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara professional. Salah satu cara untuk menumbuhkembangkan kemampuan sumberdaya guru adalah melalui supervisi. Salah seorang yang diberikan tanggung jawab untuk melakukan supervisi adalah kepala sekolah, sehingga kepala sekolah disebut juga sebagai supervisor. Sebagai supervisor kepala sekolah bertugas memberikan bantuan dan bimbingan secara professional kepada guru yang kurang memiliki kemampuan professional dalam mengajar. Hal ini sesuai dengan hakekat supervisi yang dikemukakan oleh Pidarta (1999) sebagai berikut: Hakekat supervisi adalah suatu proses pembimbingan dari pihak atasan kepada guru-guru dan para personalia sekolah lainnya yang langsung menangani belajar para siswa, untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, agar siswa dapat belajar secara efektif dengan prestasi belajar yang semakin meningkat. Supervisi klinis merupakan salah satu jenis supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap para guru. Jenis supervisi ini merupakan bantuan professional yang diberikan secara sistematik kepada guru berdasarkan kebutuhan guru tersebut dengan tujuan untuk membina guru serta meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Kepala sekolah selaku supervisor klinis selain sebagai penanggung jawab kepada tugas-tugas supervisi klinis, juga harus melakukan akuntabilitas terhadap tugas-tugas tersebut. Maksudnya jika tanggung jawab merupakan usaha agar apa yang dibebankan kepadanya dapat diselesaikan sebagaimana mestinya dalam waktu tertentu, maka akuntabilitas harus melebihi dari kewajiban itu. McAshan (1983) menyatakan bahwa akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performanya menyelesaikan tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan kata lain, keberhasilan supervisi klinis untuk mencapai profesionalisme guru sangat tergantung kepada sejauh mana tingkat akuntabilitas kepala sekolah. Untuk mencapai tingkat akuntabilitas yang tinggi dalam melaksanakan supervisi klinis kepala sekolah memerlikan pengetahuan dan ketrampilan tentang supervisi klinis itu sendiri. Adalah sangat tidak mungkin

sebagai peningkatan kemampuan profesional guru. Goldhammer (1969). Dalam supervisi ini penekanannya pada klinik yang diwujudkan dalam bentuk hubungan tatap muka antara supervisor dan calon guru yang sedang berpraktik. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian supervisi klinis: Richard Walter (dalam Purwanto. Menurut Daresh (1989). Pada mulanya. Melalui pengamatan dan analisis ini. 1982). supervisi klinik dirancang sebagai salah satu model atau pendekatan dalam melakukan supervisi pengajaran terhadap calon guru yang sedang berpraktik mengajar. 2001) menyatakan bahwa: Clinical supervision may be defined as supervision focused upon the improvement of instruction by means analiysis of systematic cycles of planning. Supervisi klinik mula-mula diperkenalkan dan dikembangkan oleh Morris L. Cogan (1973) mendefinisikan supervisi klinik sebagai berikut. Anderson. Pertama. dimana supervisi klinis hanya untuk . and strategies desaigned to improve the student s learning by improving the teacher s calssroom behaviour.mengharapkan perubahan tingkat profesionalisme guru ke arah yang lebih baik tanpa adanya pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dari kepala sekolah tentang supervisi klinis. meskipun apa yang mereka maksud adalah hampir sama. makalah ini diangkat untuk memberikan gambaran dan wawasan yang komprehensif tentang supervisi klinis dan proses pembelajaran sebagai bahan bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai supervisor klinis. procedures. Para ahli dibidang ini memberikan pengertian supervisi klinis dengan kalimat yang berbeda-beda. It takes its principal data from the events of the classroom. Perbedaan ini disebabkan pada penekanan pada aspek-aspek tertentu dari supervisi itu sendiri. Krajewski (1982). Ada dua asumsi yang mendasari praktik supervisi klinik. seorang supervisor pendidikan akan dengan mudah mengembangkan kemampuan guru dalam mengelolah proses pembelajaran. Pidarta (1999) menyatakan bahwa: Supervisi klinis ialah proses membina guru untuk memperkecil jurang antara perilaku mengajar nyata dengan perilaku mengajar seharusnya yang ideal. Pengertian Supervisi Klinis Meskipun supervisi klinis ini tergolong muda dipakai di Indonesia akan tetapi supervisi model ini banyak menyedot perhatian para pemerhati pendidikan. Berdasarkan kutipan di atas. Ketertarikan terhadap model supervisi yang paling mutakhir ini disebabkan oleh karena supervisi klinis ini menawarkan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh model supervisi lainnya. observation and intensisive intellectual analysis of actual teaching performance in the interest of rational modification . dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan mengadakan modifikasi yang rasional. Kelebihannya antara lain terciptanya hubungan antara supervisor dengan guru dilaksanakan atas dasar kebutuhan guru. Robert Goldhammer. The analysis of these dta and the relationships between teacher and supervisor from the basis of the program. pembelajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis secara hati-hati. supervisi klinik merupakan satu strategi yang sangat berguna dalam supervisi pembelajaran. dan Richart Weller di Universitas Harvard pada akhir dasawarsa lima puluhan dan awal dasawarsa enam puluhan (Krajewski. supervisi klinis difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan. dan German (1982). Kedua. 1987). Cogon (1973). pengamatan. Cogan. Oleh karena itu. guru-guru yang profesionalismenya ingin dikembangakan lebih menghendaki cara kesejawatan daripada cara yang otoriter (Sergiovanni. The rational and practice designed to improve the teacher s classroom performance. dan demokratis.

actual teaching behavior and ideal teaching behavior . Cagon (1973) sendiri menekan¬kan aspek supervisi klinik pada lima hal. Pelaksanaannya didesain dengan praktis serta rasional.menolong guru-guru agar mengerti inovasi dan mengubah performan mereka agar cocok dengan inovasi itu. dan e. Proses supervisi klinik b. Sedangkan menurut dua Acheson dan Gall (1987). Menurut Keith dan Moudith (dalam Azhar. 1996) supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil jurang antara tingkah laku mengajar yang nyata dan tingkah laku mengajar yang ideal. dan strategi pembinaan perilaku mengajar guru dalam mengembangkan pembelajaran murid-murid. Tekanan dalam pendekatan yang diterapkan bersifat khusus melalui tatap muka dengan guru (Sahertian. yaitu a. Tujuan ini dirinci lagi ke dalam tujuan yang lebih spesifik. Data dan hubungan antara guru dan supervisor merupakan dasar program. . sebagai berikut. Supervisi klinis adalah suatu proses pembimbingan dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan professional guru dalam pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara obyektif. Tujuan Supervisi Klinis Supervisi klinik pada dasarnya merupakan pembinaan performa guru dalam mengelola proses belajar mengajar. 2000). Kemudian aspekaspek itu satu per satu diperhatikan secara intensif. Dari beberapa pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa supervisi klinis adalah suatu teknik supervisi yang dilakukan oleh supervisor untuk memmberikan bantuan yang bersifat profesional yang diberikan berdasarkan kebutuhan guru yang bersangkutan dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar melalui bimbingan yang intensif yang disusun secara sestematis dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan mengajar dan meningkatkan profesiona¬lisme guru. untuk menemukan aspek-aspek mana yang membuat guru itu tidak dapat mengajar dengan baik. a. Interaksi antara calon guru dalam mengajar c. Hubungan calon guru dengan supervisor. prosedur. teliti sebagai dasar untuk mengubah peilaku mengajar guru. Dengan cara seperti ini rupanya memperkecil jurang perilaku nyata dengan periklaku ideal para guru yang sering kali terjadi pada inovasi-inovasi pendidikan . Adapun pengertian supervisi klinis bisa dibaca dari istilah itu sendiri. Performa calan guru dalam mengajar d. Baik desainnya maupun pelaksanaannya dilakukan atas dasar analisis data mengenai kegiatan-kegiatan di kelas. Jadi supervisi klinis itu merupakan satu model supervisi untuk memnyelesaikan masalah tertentu yang sudah diketahui sebelumnya. Acheson dan Gall (1992) menyatakan bahwa: Supervision as the process of helping the teacher reduce the discrepancy between. Analisis data berdasarkan peristiwa aktual di kelas Tujuan supevisi klinik adalah untuk membantu memodifikasi pola-pola pengajaran yang tidak atau kurang efektif. Bimbingan yang diberikan tidak bersifat interuksi atau perintah akan tetapi diberikan dengan cara sedemikian rupa sehingga memotivasi guru untuk menemukan sendiri caracara yang tepat untuk memperbaiki kekurangan yang dialami dalam proses pembelajaran. Dari kutipan di atas dapat dikatakan bahwa supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil ketidaksesuaian (kesenjangan) antara perilaku mengajar yang nyata dengan perilaku mengajar yang ideal. tujuan supervisi klinik adalah menigkatkan pengajaran guru di kelas. mengenai pengajaran yang dilaksanakannya. Menyediakan umpan balik yang objektif terhadap guru. Clinical artinya berkenaan dengan menangani orang sakit sama halnya dengan mendiagnosis.

Selanjutnya Purwanto (2001) memberikan enam ciri supervisi klinis yaitu: a. Oleh karena itu tujuan dilaksanakan supervisi klinis adalah memperbaiki cara mengajar guru di dalam kelas (Azhar. Membantu guru mengembangkan kemampuan dalam menggunakan strategi-strategi dalam proses pembelajaran. Memperbaiki aspek perilaku diawali dengan pembuatan hipotesis bersama tentang bentuk perbaikan perilaku atau cra mengajar yang baik. Ini berati perilaku yang tidak kronis bisa diperbaiki dengan teknik supervisi yang lain. Supervisi dilakukan secara kontinu. Hipotesis di atas diuji dengan data hasil pengamatan supervisor tentang aspek perilaku guru yang akan diperbaiki ketika sedang mengajar. sehingga mereka dapat mengajar dengan baik. teknik bertanya. bukan perintah atau interuksi. Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya. b. Misalnya cara menertibkan kelas. Yang disupervisi atau diperbaiki adalah aspek-aspek perilaku guru dalam proses belajar mengajar yang spesifik. Ciri-ciri Supervisi Klinis Supervisi klinis memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan model-model supervisi yang lain. artinya aspek-aspek perilaku itu satu persatu diperbaiki sampai guru itu bisa bekerja dengan baik. d. c. Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan. c. artinya perilaku yang tidak kronis bisa diperbaiki dengan teknik supervisi yang lain. Membantu guru mengembangkan ketrampilannya menggunakan strategi pengajaran. Menyediakan umpan balik secara obyektif bagi guru tentang kegiatan proses pembelajaran yang dilakukannya sebagai cermin agar guru dapat melihat apa yang dilakukan agar segera dapat memberi respon positif. e. terutama yang kronis secara aspek demi aspek dengan secara intensif. Pendapat tersebut menekankan adanya perbaikan perilaku guru terutama yang kronis. Jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru atau calon guru yang akan disupervisi. Ada unsur pemberian penguatan terhadap perilaku guru terutama yang sudah behasil diperbaiki. Ciri-ciri yang dimaksud menurut Pidarta (1999) sebagai berikut: a. g. Memperbaiki perilaku guru hanya yang bersifat kronis. d. b. dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan supervisor. c. karena apabila masalah ini dibiarkan akan tetap menyebabkan instabilitas dalam pembelajaran di kelas. 1996). Mendiagnosis dan memecahkan berbagai problema yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Agar muncul kesadaran betapa pentingnya bekerja dengan baik serta dilakukan secara berkelanjutan. teknik mengendalikan kelas dlam metode keterampilan proses. b. Pidarta (1999) menyatakan bahwa tujuan supervisi klinis adalah memperbaiki perilaku guru dalam proses pembelajaran. e.b. Hipotesis ini mungkin diterima. Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang tujuan supervisi klinis tersebut di atas maka data disarikan tujuan supervisi klinis sebagai berikut: a. Ada prinsip kerja sama antara supervisor dengan guru yang paling mempercayai dan samasama bertanggung jawab. . ditolak. f. Ada kesepakatan antara supervisor dengan guru yang akan disupervisi tentang aspek perilaku yang akan diperbaiki. teknik menangani anak membandel. Hipotesis ini bisa diambil dari teori-teori dalam proses belajar mengajar. dan sebagainya. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran. Bimbingan supervisor kepada guru/calon guru bersifat bantuan. atau direvisi.

f. e. Demikianlah sekilas konsep supervisi klinik dan apabila disimpulkan. Kelemahan yang diperbaiki harus satu per satu. Balikan dibelikan dengan segera dan secara obyektif. c. Hanya untuk guru-guru yang lemah secara kronis. Proses dan Langkah-langkah Supervisi Klinis Para ahli membuat tahapan yang berbeda dalam melaksanakan supervisi klinis. d. Suasana dalam kegiatan supervisi klinis adalah suasana yang penuh kehangatan. Harus dianalisis sehingga terlihat kemampuan apa. d. Analisis terhadap hasil observasi harus dilakukan bersama antara supervisor dan guru. h. i. e. b. a. Dalam percakapan balikan harus datang dari guru lebih dahulu bukan dari supervisor. Percakapan balikan harus datang dari guru lebih dahulu bukan dari supervisor. b. ditolak. e. d. b. h. Berlangsung dalam suasana yang akrab. Instrumen supervisi dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dan supervisor. misalnya motivasi terhadap gairah mengajar. Ada sebagian ahli yang membuat tahapan supervisi klinis dengan singkat dan ada pula sebagian ahli yang menjabarkan tahapan secara rinci. Berfokus pada kebutuhan guru e. serta f. g. Memperbaiki aspek perilaku mengajar diawali degan pembuatan hipotesis dan menguji hipotesi itu (ditrima. Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan mengajar di pihak lain dipakai dalam konteks pendidikan prajabatan maupun dalam jabatan. keterampilan apa yang spesifik yang harus diperbaiki. Instrumen yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan bersama. Memberikan penguatan dan penghargaan kepada guru terutama perilaku yang sudah berhasil diperbaiki. Dilakukan berdasarkan kesepakatan antara supervisor dengan guru yang akan disupervisi. maka dapat disarikan bahwa beberapa ciri supervisi klinis antara lain sebagai berikut: a. Supervisi yang diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar tetapi juga mengenai aspekaspek kepribadian guru. dan keterbukaan. Suatu tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang integratif. f. terbuka. Supervisi klinik berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka antara supervisor dan guru. Bedasarkan beberapa pendapat di atas tentang ciri-ciri supervisi klinis. Balikan yang diberikan harus secepat mungkin dan bersifat obyektif. f. Supervisi berlangsung dengan suasana akrab dan terbuka. c. Dalam supervisi klinis bantuan yang diberikan bukan bersifat instruksi melainkan menciptakan hubungan manusiawi sehingga guru-guru merasa aman. Apa yang akan disupervisi itu timbul dari harapan dan dorongan karena ia memang membutuhkan bantuan itu. Balikan diberikan dengan segera dan obyektif. Observasi harus dilakukan secara cermat dan mendetail. atau direvisi). c. kedekatan. Sahertian (2000) menyebutkan beberapa ciri-ciri supervisi klinis yaitu: a. Kegiatan supervisi klinik ditekankan pada aspek-aspek yang menjadi perhatian guru serta observasi kegiatan pengajaran di kelas. dan interaktif. Hubungan antara supervisor dan guru harus bersifat kolegial bahkan otoritarian. karakteristik supervisi klinik adalah sebagai berikut. d. Tujuan supervisi klinik adalah untuk pengembangan profesional guru. g. . j.c. Dilaksanakan dalam bentuk siklus yang sistematis.

Bumi Aksara. melakukan analisis dan menentukan strategi. Jakarta. Dunia pustaka. Proses Belajar mengajar. supervisor mengobservasi. Purwanto. Menjadi Guru Profesional. 1995. Mustaji. Pidarta. Persiapan yang terdiri dari: bagi guru tentang cara mengajar yang baru hipotesis. Ngalim. Kamus Besar Bahasa Indonesia. . Pelaksanaan yang terdiri dari: guru mengajar dengan tekanan khusus pada aspek-aspek perilaku yang diperbaiki. membuat hipotesis sebagai cara atau bentuk perbaikan pada sub topik bahan pelajaran tertentu. M. A. Jakarta. melaksanakan observasi. Yatim. Landasan Pembelajaran. Pidarta. mencakup mengulangi memperbaiki aspek tadi dan meneruskan untuk memperbaiki aspek-aspek yang lain. observasi. FIS-Unesa. d. melakukan pembicaraan tentang hasil supervisi. Usaha Nasional. bagi supervisor tentang cara dan alat observasi seperti tape recorder. Moh. DAFTAR PUSTAKA Azhar. Pertemuan awal atau perencanaan yang terdiri dari: menciptakan hubungan yang baik dengan cara menjelaskan makna supervisi klinis sehingga partisipasi guru meningkat. Jakarta. ditolak. Bandung. catatan anecdotal dan sebagainya. 2001. Jakarta. Made. menentukan rencana berikutnya. Remaja Rosdakarya. Rineka Cipta. Meliono. dan pertemun akhir. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Surabaya. atau direvisi. 1990. Anton dkk. Imron. Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. dan melakukan analisis setelah pembicaraan. menganalisis hasil mengajar secara terpisah. Lalu Muhammad. membuat skala prioritas aspek-aspek perilaku yang akan diperbaiki. Balai Pustaka. Ali. 2000. bisa juga dengan orang lain yang ingin tahu yang terdiri dari: guru memberikan taggapan/penjelasan/pengakuan. Supervisi Klinis dalam Penerapan Keterampilan Proses dan CBSA. Usman. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. c. menyimpulkan bersama hasil yang telah dicapai: hipotesis ditrima. Sahertian. Jakarta. Pembinaan Guru di Indonesia. Landasan Kependidikan. Pidarta (1999) menyebutkan langkah-langkah dalam proses supervisi klinis secara rinci adalah seperti berikut: a. 1999. Riyanto. Sedangkan Soetjipto dan Kosasi (1999) membuat lima langkah atau tahap dalam supervisi klinis yaitu: pembicaraan pra observasi. Konsep Dasar dan Tehnik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya manusia. Piet.Sahertian (2000) menyatakan ada tiga langkah atau tahap dalam supervisi klinis yaitu: pertemuan awal. Bandung. Rineka Cipta. b. menemukan aspekaspek perilaku apa dalam proses belajar mengajar yang perlu diperbaiki. supervisor memberi tanggapan/ulasan. 2002. daftar cek. Pertemuan akhir. Remaja Rosdakarya. Surabaya. Surabaya. 1997. video. 2001. Uzer. Made. 1996. 2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful