P. 1
Dinamika Budaya Indonesia

Dinamika Budaya Indonesia

|Views: 1,849|Likes:
Published by gunungbamega

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: gunungbamega on Oct 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

DINAMIKA BUDAYA INDONESIA

A.

DEFINISI KEBUDAYAAN Apa yang dimaksud dengan kebudayaan, telah banyak ahli-ahli yang mengkaji tentang kebudayaan itu, dan mencoba

Antropologi

menerangkannya atau setidak-tidaknya telah menyusun definisinya. Sebelum kita mengemukakan beberapa definisi atau pengertian yang disampaikan oleh ahliahli tersebut, sebelum kita harus mengetahui asal-usul kata kebudayaan tersebut. Dilihat dari asal-usul katanya, kebudayaan berasal dari kata Sanskerta, yaitu Buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti "budi atau akal". Dalam bahasa Latin/Yunani kebudayaan berasal dari kata "colere" yang berarti mengolah, mengerjakan terutama mengolah tanah. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam. Di antara para ahli tersebut ada dua sarjana Antropologi, yakni A. L Kroeber dan C. Kluckhohn, yang mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin definisi kebudayaan yang termaktub dalam banyak buku yang berasal dari berbagai pengarang dan sarjana. Dari hasil penyelidikannya diterbitkan sebuah buku yang bernama Culture, A Critical Review of Concept and Definition tahun 1952. Menurut A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn, definisi kebudayaan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe definisi, yaitu kebudayaan sebagai tingkah laku yang dipelajari sampai ke tradisitradisi, alas-alas untuk memecahkan masalah, produk atau artefak, ide-ide simbol. Adapun ahli Antropologi yang pertama-tama merumuskan definisi kebudayaan adalah E.B. Tylor (1874), yang menulis dalam bukunya "Primitive Culture", yaitu: Kebudayaan itu adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Definisi lain tentang kebudayaan dikemukakan oleh R. Linton dalam bukunya "The Culture Background of Personality" (1947), menyatakan bahwa

kebudayaan adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. Selanjutnya, Koentjaraningrat (1990:180), menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Sejalan dengan pemikiran Koentjaraningrat, Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964:114), mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Soekmono dalam bukunya “Pengantar Sejarah Kebudayaan 1” (1973), mengatakan bahwa kebudayaan adalah segala ciptaan manusia dalam usahanya merubah dan memberi bentuk dan susunan barn terhadap pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan, jasmani dan rohaninya. Parsudi Suparlan (1981), mengatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dimanipulasikan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapi dan untuk menciptakan serta mendorong terciptanya kelakuan. Menurut Suhandi (1994:6), kebudayaan memiliki ciri-ciri umum, yaitu sebagai berikut. 1. Kebudayaan dipelajari. 2. Kebudayaan diwariskan atau diteruskan. 3. Kebudayaan hidup dalam masyarakat. 4. Kebudayaan dikembangkan dan berubah. 5. Kebudayaan itu terintegrasi. Sifat hakikat dari kebudayaan ini menurut Williams dalam Soekanto (1986:164), sebagai berikut. 1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia. 2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan coati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3. 4.

Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban,

tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan. Kebudayaan ini dapat berwujud ide atau gagasan, norma-norma atau peraturan, dan aktivitas sosial maupun wujud kebendaan. Hal ini sesuai dengan pembagian wujud kebudayaan yang dilakukan oleh Koentjaraningrat (1990: 186187), yaitu sebagai berikut:
1.

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan. Wujud kebudayaan ini bersifat abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan perkataan lain ada dalam slam pikiran dari warga masyarakat di mans kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Sekarang kebudayaan ideal jugs banyak tersimpan dalam disk, tipe, arsip, koleksi microfilm dan microfish, kartu komputer, silinder, dan tipe komputer. Ide-ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa kepada masyarakat itu. Para ahli Antropologi dan Sosiologi menyebut sistem ini sistem budaya atau cultural system. Dalam bahas Indonesia sering disebut adat, atau adat istiadat untuk bentuk jamaknya.

2.

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan dari kelompok manusia. Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial. Mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul dengan yang lain, yang dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.

3.

Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Oleh karena merupakan seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat, sifatnya paling konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto, ada benda-benda yang besar dan indah seperti suatu candi yang indah atau ada pula benda-benda kecil seperti kain batik, atau yang lebih kecil lagi yaitu kancing baju.

B. UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN Menurut Kluckhon yang dikutip Koentjaraningrat (1990:2003-204), terdapat tujuh unsur dari kebudayaan di dunia, antara lain berikut ini. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bahasa. Sistem pengetahuan. Organisasi sosial. Sistem peralatan hidup dan teknologi. Sistem mats pencaharian hidup. Sistem religi. Kesenian. Setiap unsur kebudayaan universal sudah tentu juga menjelma dalarn ketiga wujud kebudayaan terurai di atas, yaitu berupa sistem budaya, sistem sosial dan berupa unsur-unsur kebudayaan fisik. 1. Bahasa Kemampuan berbahasa adalah ciri khas dari makhluk yang namanya manusia. Kebutuhan akan kemampuan berbahasa sejalan dengan kebutuhan akan interaksi sosial. Interaksi sosial di sini ticlak hanya interaksi antarindividu dalam kelompok, tetapi juga dengan kelompok lain. Di samping bahasa daerah yang digunakan dalam lingkungan-lingkungan yang terbatas yakni lingkungan suku bangsa masing-masing maka dalam pergaulan yang lebih luas antara orang-orang yang berasal dari suku bangsa yang berlainan, digunakan bahasa Indonesia. Bahasa dapat dibedakan atas berikut ini.
a.

Bahasa isyarat misalnya bunyi keuntungan, gerakan tangan, anggukan atau gelengan kepala dan isyarat lainnya yang diterima berdasarkan kesepakatan suatu masyarakat.

b. Bahasa lisan diucapkan melalui mulut. c. Bahasa tulisan melalui buku, gambar, surat, koran. 2. Sistem Pengetahuan Sistem pengetahuan itu mencakup semua pengetahuan yang dimiliki anggota-anggota suatu masyarakat tentang alam, tumbuh-tumbuhan, binatang,

ruang dan waktu, serta benda-benda yang terdapat di sekeliling tempat hidup masyarakat, suku bangsa atau bangsa yang bersangkutan. Sistem pengetahuan itu timbul akibat kebutuhan-kebutuhan praktis dan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia di dalam kehidupannya sehari-hari, serta digunakan oleh manusia untuk keperluankeperluan praktis pula, seperti untuk bercocok tanam, berburu, berlayar, bepergian, dan mengobati berbagai penyakit yang diderita manusia. 3. Organisasi Sosial Kesatuan sosial yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan kerabatnya yaitu keluarga inti yang dekat, dan kaum kerabat yang lain. Kemudian, ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitasnya. Pada setiap masyarakat mempunyai aturan tentang dengan siapa anggotanya boleh dan tidak boleh melangsungkan perkawinan. Ada dua macam aturan perkawinan, yaitu endogami dan eksogami. Endogami adalah kebiasaan masyarakat yang mengharuskan anggotanya kawin dengan orang yang masih kerabatnya sendiri atau kelompoknya sendiri' atau kampungnya sendiri. Eksogami adalah kebiasaan masyarakat yang mengharuskan anggotanya kawin dengan orang yang berasal dari luar kerabatnya atau luar kelompoknya atau luar kampungnya. Dalam ketentuan endogami pada beberapa suku bangsa membolehkan perkawinan sepupu bersilang atau cross cousin, dan perkawinan sepupu sejajar atau paralel cousin. Keluarga luas (Extended family) adalah gabungan 2 keluarga inti atau lebih. Berarti ada penambahan anggota keluarga orang lain, misalnya adik ibu, adik ayah, anak yang sudah menikah, tetapi masih tinggal dengan orang tuanya. Poligami adalah mempunyai istri atau suami lebih dari satu. Apabila suami mempunyai dua istri atau lebih disebut poligini, dan apabila istri mempunyai dua suami atau lebih disebut poliandri. Cara menarik garis keturunan tersebut, antara lain berikut ini.

a.

Unilineal: keturunan ditelusuri melalui satu garis keturunan Baja, melalui ayah atau ibu.
1)

Matrilineal: garis keturunan dari pihak istri atau Ibu. Contoh: Suku Minangkabau, Kisar dan Leti. Patrilineal: garis keturunan dari pihak suami atau Bapak. Contoh: Suku Batak, Buru, Seram, Kei, Aru dan suku bangsa di Irian.

2)

b.

Bilineal: garis keturunan ditelusuri melalui garis ibu dan ayah secara bersama-sama. Contoh: Suku Sunda, Jawa, Bali. Sistem kekerabatan yang bersifat unilineal dan masih dapat ditelusuri

ikatan darahnya oleh individu (ego) disebut Lineage. Sedangkan mereka yang masih menganggap satu garis keturunan, tetapi sudah tidak dapat ditelusuri lagi disebut dan (marga). 4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Sistem peralatan hidup adalah segala alat-alat yang digunakan manusia dalam kegiatan sehari-hari dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Teknologi is the art of utilizing scientific knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang teknologi: “Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alas dan akal sehingga seakanakan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra, dan otak manusia”. Teknologi tradisional mengenal paling sedikit delapan macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian, yaitu (a) alat-alat produktif, (b) senjata, (c) wadah, (d) alat-alat menyalakan api, (e) makanan, minuman, bahan' pembangkit gairah, dan jamu-jamuan, (f) pakaian dan perhiasan, (g) tempat berlindung

dan perumahan, (h) alat-alat transpor. 5. Sistem Mata Pencaharian Hidup Berbagai sistem tersebut adalah berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi. Berdasarkan tingkat teknologi yang dipergunakan, sistem ekonomi dapat di bagi atas berikut ini.
a.

Masyarakat pemburu dan peramu (Food Gathering Economics) Ciri-cirinya: hidup berpindah-pindah tempat, ketergantungan terhadap alam tinggi, hidup dalam kelompok kecil, peralatan yang dipergunakan sederhana, perbedaan sosial berdasarkan jenis kelamin dan usia, pemilikan barang bersama (komunal), dan biasanya bersifat eksogamuos (perkawinan dengan anggota di luar kelompoknya).

b.

Pertanian berpindah-pindah atau berladang (primitive farming) Lahan pertanian dipilih hutan-hutan asli dekat sumber air, tumbuhan hutan ditebang, ranting dan daunnya dibakar, tanah langsung, ditanami tanpa diolah lebih dulu, peralatan sederhana, penggunaan lahan relatif pendek 2 atau 3 kali panen, lain ditinggalkan mencari lahan hutan baru, hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

c.

Pertanian intensive (intensive farming) Hidup menetap (sidenter), sudah mempergunakan alat bantu hewan, sudah mengenal pemeliharaan tanaman, irigasi, usaha peningkatan kesuburan lahan, dan pemilihan benih.

d.

Industri (manufacturing) Usaha pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Industri dicirikan dengan menggunakan mesin-mesin mulai yang sederhana sampai modern. Alokasi tenaga kerja ada jenis, yaitu sebagai berikut. 1) 2) 3) Sukarela paksaan atau perbudakan sistem gaji/upah melalui perjanjian.

Pendistribusi hasil produksi ada 3 macam, yaitu sebagai berikut. a. Barter atau tukar menukar barang, terdapat pada masyarakat pemburu dan peramu. Seseorang yang punya singkong ditukar dengan B yang punya daging. Dalam pertukaran ini tidak melihat nilai barang, yang penting kebutuhan terpenuhi. Dalam Antropologi disebut jugs reciprocity, yaitu pemberian yang mengharapkan balasan dalam bentuk barang yang berbeda atau sama, dalam waktu yang berbeda pula. Reciprocity masih ada pula pada masyarakat modern. b. c. Redistribusi: barang-barang produksi dikumpulkan oleh seseorang atau sekelompok orang berwenang, kemudian dibagikan lagi. Sistem pasar, yaitu proses menjual dan membeli barang di suatu tempat dengan mempergunakan alat tukar uang. Sistem pasar di dugs mulai timbul pada masyarakat bertani menetap. Saat itu timbullah pertukaran jasa dan-4 barang. Orang yang ahli membuat pacul menjual produksinya ke petani, petani menjual padinya ke tukang pacul, begitu seterusnya sehingga timbul kerja sama antarindividu yang keahliannya berbeda. Pada saat pertanian menetap, sudah mengenal adanya surplus atau kelebihan produksi. Di suatu tempat ada yang surplus padi, di lain tempat mempunyai surplus ikan, kain, kayu ataupun jenis barang lainnya. Transportasi dan komunikasi diperlukan, timbul supir, bengkel, pembuat jalan dan pekerjaan lainnya. 6. Sistem Religi Pada hakikatnya unsur kebudayaan yang disebut religi adalah amat kompleks, dan berkembang di berbagai tempat di dunia. Sungguhpun demikian, kalau kita tinjau sebanyak mungkin bentuk religi dari sebanyak mungkin suku bangsa di dunia maka akan tampak adanya empat unsur pokok dari religi pada umumnya, ialah berikut ini. a. Emosi keagamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan manusia menjalankan kelakuan religi. b. Sistem kepercayaan atau bayang-bayangan dunia, alam gaib, hidup, coati,

surga, neraka. c. Sistem upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan atas sistem kepercayaan tersebut.
d.

Kelompok

keagamaan

atau

kesatuan-kesatuan

sosial

yang

mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi beserta sistem upacara-upacara keagamaannya. Para ahli antropologi, terutama yang berasal dari abad ke-19 dan ke-20, sampai kira-kira menjelang zaman Perang Dunia ke –II, dalam hat membicar gejala religi Bering mengupas berbagai macam bentuk religi, sebagai berikut: No. 1. Jenis Kepercayaan Animisme Penjelasan Kepercayaan manusia purba terhadap roh 2. Dinamisme nenek moyang yang semua gaib, telah benda seperti meninggal dunia. Kepercayaan bahwa mempunyai kekuatan

gunung batu, dan api. Bahkan bendabenda buatan manusia diyakini juga mempunyai 3. Totemisme kekuatan gaib, seperti patung, keris, tombak, dan jimat. Kepercayaan atas dasar keyakinan bahwa binatang-binatang moyang tertentu suatu yang merupakan nenek Biasanya

masyarakat atau orang-orang tertentu. binatang-binatang dianggap nenek moyang itu, tidak boleh diburu dan dimakan, kecuali untuk 4. Fetisisme keperluan upacara tertentu. Bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan akan adanya jiwa dalam benda-benda tertentu dan yang terdiri dari aktivitas-aktivitas keagamaan guna 5. Politeisme memuja benda-benda berjiwa. Bentuk religi yang berdasarkan

kepercayaan kepada satu sistem yang luas dari dewa-dewa, dan terdiri dari upacara-upacara guna memuja dewa6. Monotheisme dewa tadi. Bentuk religi yang berdasarkan

kepercayaan kepada satu dewa atau Tuhan, dan terdiri dari upacara-upacara 7. Mystic guna memuja dewa atau Tuhan tadi. Bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan kepada satu Tuhan yang dianggap, meliputi segala hal dalam slam, dan sistem religi ini terdiri dari upacara-upacara yang bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan. Fedyani (1992: 2). Sungguhpun demikian, agama dan kebudayaan itu berbeda. Agama, seperti yang diyakini oleh pendukungnya berasal dari Tuhan, sedangkan kebudayaan berasal dan sepenuhnya bersandar pada manusia. Koentjaraningrat (1992: 230) mendefinisikan bahwa agama adalah suatu sikap hidup yang membuat orang mampu mengatasi kesulitan sebagai manusia, dengan memberikan jawaban yang memberikan kepuasan spiritual pada pernyataan mendasar tentang teka-teki alam semesta dan peranan manusia di dalamnya, dengan memberikan ajaran praktis untuk hidup di alam semesta. Sementara itu Anthony F.C. Wallace (Koentjaraningrat, 1987: 68) mengatakan bahwa agama merupakan seperangkat upacara yang diberi mhosmhos, dan yang menggerakkan kekuatan-kekuatan supranatural dengan tujuan untuk mencapai sesuatu, atau yang merugikan pada kondisi manusia dan alam. Moenawir Cholil (1970:19), dalam bukunya yang berjudul "Definisi dan Sendi Agama" berpendapat bahwa perkataan agama terdiri dari bahasa Sansekerta, yang terdiri dari dua kata "A" yang artinya tidak dan "Gama" yang artinya kocar-kacir, kacau, atau berantakan. Artinya sama dengan perkataan Grik, Chaos. Jadi, arti agama itu tidak kacau, tidak kocar-kacir atau tidak

berantakan, lebih jelasnya arti agama itu ialah teratur, beres dengan tepat dapat dikatakan suatu "peraturan". Endang Saifuddin Anshari (1983: 9) memberikan pengertian tentang agama, yaitu sebagai berikut: Agama, religi, dien (pada umumnya) adalah suatu sistem credo (tata keyakinan atau tata keimanan) atas adanya suatu yang mutlak di guar manusia dan suatu sistem ritus (tata peribadatan manusia yang dianggapnya yang mutlak itu, serta sistem norms (tata kaidah) yang menyatakan hubungan manusia dengan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan tata keimanan dan tata peribadatan termaktub. 7. Kesenian Kesenian sering diartikan sebagai sarana atau alat untuk mencurahkan perasaan keindahan manusia. Dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati maka dapat dibagi menjadi seni rupa, seni suara, seni tari dan seni drama. C. PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN Oleh karena kebudayaan adalah semua hasil pengetahuan dan ciptaan manusia yang diperoleh dari belajar. Perubahan kebudayaan ini dapat disebabkan oleh faktor dari dalam (internal) masyarakat itu sendiri dan dapat pula oleh faktor yang berasal dari luar (eksternal) masyarakat itu sendiri. Faktor yang berasal dari dalam, yaitu sebagai berikut. 1. 2. Adanya kejenuhan atau ketidakpuasan individu terhadap sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat. Adanya individu yang menyimpang dari sistem yang berlaku, apabila penyimpangan ini dibiarkan maka akan diikuti oleh individu-individu lainnya sehingga terjadi perubahan. 3.
4.

Adanya penemuan-penemuan barn (inovasi) yang diterima oleh anggota masyarakat dan membawa perubahan kebudayaan. Adanya perubahan dalam jumlah dan komposisi penduduk.

Faktor yang berasal dari luar masyarakat misalnya:
1.

bencana alam: gunung meletus, banjir, gempa dan sebagainya; peperangan; kontak dengan masyarakat lain yang berbeda budayanya. Penjalaran, penyebaran unsur-unsur budaya dari satu kelompok ke kelompok lain; atau dari satu tempat ke tempat lain disebut difusi. Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Difusi dapat terjadi kalau:

2. 3.

1.

adanya kontak atau hubungan yang intensif antara dua kelompok yang berbeda kebudayaannya; tersedianya sarana komunikasi; adanya rangsangan kedua belah pihak akan kebutuhan unsur baru; adanya kesediaan mental kedua belah pihak untuk menerima unsur baru; adanya kesiapan keterampilan untuk menerima unsur baru. Ada 3 bentuk difusi Difusi ekspansi: suatu proses di mans informasi atau material menjalar dari satu daerah ke daerah lain semakin lama semakin meluas; Contoh: urbanisasi, penyebaran sistem uang, berita dari koran atau TV.

2. 3.
4.

5. 1.

2.
3.

Difusi relokasi: informasi atau mated pindah meninggalkan daerah asal ke suatu daerah baru, Contoh; transmigrasi Difusi cascade atau bertingkat: penjalaran melalui tingkatan, dari atas ke bawah disebut top down contoh: KB atau dapat pula dari bawah ke atas (Bottom up) contoh: kebutuhan sarana jalan dari masyarakat, diteruskan ke kepala desa, ke camat, bupati dan seterusnya. Syarat utama untuk terjadinya akulturasi adalah adanya kontak social dan komunikasi antara dua kelompok masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Kebudayaan acing akan relatif mudah diterima apabila:

1.

Tidak adanya hambatan geografis, seperti daerah yang bergunung relatif sukar dijangkau sehingga kontak dengan masyarakat luar menjadi sukar.

2.

Kebudayaan yang datang memberikan manfaat lebih besar apabila dibandingkan dengan unsur kebudayaan yang baru. Adanya persamaan dengan unsur kebudayaan lama. Adanya kesiapan pengetahuan dan keterampilan. Kebudayaan yang datang bersifat kebendaan. Biasanya golongan-golongan yang tersangkut dalam suatu proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. D. KEANEKARAGAMAN BUDAYA INDONESIA Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumbersumber alam yang ada di sekitarnya. Kebudayaan beleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Walaupun pada dasarnya beragamnya kebudayaan itu berkembang sebagai hasil upaya manusia dalam mempermudah usahanya untuk memenuhi kebutuhan pokok (biologis) yang bersifat universal. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan pokok itu sendiri menimbulkan berbagai kebutuhan sampingan (denved needs) yang jauh lebih banyak ragamnya. Kerangka acuan itu terwujud dan tercermin dalam tujuh unsur kebudayaan yang universal. Adapun unsur-unsur kebudayaan yang universal itu ialah bahasa, organisasi sosial, ekonomi, pengetahuan, teknologi kesenian dan religi. Betapa pun kehidupan suatu kelompok manusia, pasti is mengembangkan bahasa sebagai sistem lambang. Untuk mempermudah sesama anggota menyampaikan, pengalaman, pemikiran dan perasaan. Unsur kebudayaan lainnya ialah sistem religi yang memberikan pedoman pada anggota masyarakat dalam memahami lingkungan semesta dan hubungannya dengan kekuatan gaib. Sistem pengetahuan ini sangat penting artinya sebagai pedoman dalam menanggapi tantangan yang timbul dan harus dihadapi dalam proses penyesuaian masyarakat terhadap lingkungannya dalam

3.

4. 5.

arti luas. Sedang sistem kesenian merupakan unsur kebudayaan yang memberikan pedoman bagi anggota masyarakat yang bersangkutan untuk menyatakan rasa keindahan yang dapat dinikmati secara bersama. Sementara Clifford Geertz (1993), mencoba menyederhanakan aneka ragam kebudayaan yang berkembang di Indonesia ke dalam dua tipe yang berbeda berdasarkan ekosistemnya, yaitu kebudayaan yang berkembang di "Indonesia dalam" (Jawa, Bali) dan kebudayaan yang berkembang di "Indonesia luar", yaitu di luar Pulau Jawa dan Bali. Kebudayaan yang berkembang di "Indonesia dalam" itu ditandai oleh tingginya intensitas pengolahan tanah secara teratur dan telah menggunakan sistem pengairan dan menghasilkan pangan padi yang ditanam di sawah. Adapun yang dimaksud dengan kebudayaan masyarakat petani berpengairan seperti yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Sama halnya dengan apa yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Kategori kebudayaan di pantai ditandai dengan pengaruh Islam yang kuat serta kegiatan dagang yang menonjol. Kebudayaan tersebut tersebar sepanjang pantai Sumatera dan Kalimantan yang didukung oleh orang-orang Melayu, dan orang-orang Makassar dari Sulawesi Selatan. Kategori ke tiga itu meliputi kebudayaan orang Toraja di Sulawesi Selatan, orang Dayak di pedalaman Kalimantan, orang Halmahera, suku-suku di pedalaman Seram, di kepulauan Nusa Tenggara, orang Gayo di Aceh, orang Rejang di Bengkulu dan Lampung di Sumatra Selatan. Pada umumnya kebudayaan mereka itu berkembang di atas sistem pencaharian perladangan ataupun penanam padi ladang, sagu, jagung maupun akar-akaran. Namun demikian, dikatakan oleh Hildred Geertz, bahwa intensifikasi sistem administratif pemerintah mulai mengendorkan kesatuan sosial yang berlandaskan ikatan kekerabatan. Pada hakikatnya, menurut Josselin de Jong, kebudayaan yang tersebar di Indonesia itu mempunyai landasan, antara lain berikut ini.
1.

Bahwa pada mass lampau masyarakat Indonesia itu terdiri dari beberapa persekutuan yang berlandaskan ikatan kekerabatan yang menganut garis keturunan secara unilineal, baik melalui keibuan maupun kebapakan.

2.

Di antara persekutuan kekerabatan itu terjalin hubungan kawin secara tetap sehingga terjelma tata hubungan yang mendudukkan kelompok kerabat pemberi pengantin wanita lebih tinggi daripada kedudukan kelompok kerabat yang menerima pengantin wanita.

3.

Seluruh kelompok kekerabatan yang ada biasanya terbagi dalam dua puluh masyarakat yang dikenal dengan istilah antropologis "Moiety" yang satu sama lain ada dalam hubungan saling bermusuhan maupun dalam berkawan sehingga nampaknya persaingan yang diatur oleh adat.

4.

Keanggotaan setiap individu karenanya bersifat ganda dalam arti bahwa setiap prang bukan hanya menjadi anggota kelompok kerabat yang unilineal, melainkan juga anggota kesatuan paruh masyarakat atau Moiety.

5.

Pembagian

masyarakat

dalam

dua

paruh

masyarakat

itu

mempengaruhi pengertian masyarakat terhadap isi semesta ke dalam dua kelompok yang seolah-olah saling mengisi dalam arti serba dua yang dipertentangkan dan sebaliknya juga saling diperlukan adanya. 6. Akibatnya juga tercermin dalam sistem penilaian dalam masyarakat yang bersangkutan. Ada pihak yang baik dan sebaliknya ada pula pihak yang jahat atau busuk.
7.

Seluruh susunan kemasyarakatan itu erat dihubungkan dengan sistem kepercayaan masyarakat yang bersangkutan, terutama yang berkaitan dengan kompleks totemisme yang didominasi dengan upacara-upacara keagamaan dalam bentuk rangkaian upacara inisiasi dan diperkuat dengan dongengdongeng suci baik yang berupa kesusastraan ataupun tradisi lisan.

8.

Sifat serba dua juga tercermin dalam tata susunan dewa-dewa yang menjadi pujaan masyarakat yang bersangkutan. Walaupun dikenal lebih dari dua dewa, mereka menggolongkan ke dalam dua golongan dewa yang baik dan dewa yang buruk. Dewa yang tergolong buruk atau buruk biasanya mempunyai sifat ganda, sebab di satu pihak is digambarkan sebagai anggota masyarakat Dewa yang mewakili golongan atas dan yang dipuja.

9.

Tata susunan masyarakat Dewa itu ternyata mempengaruhi tata susunan kepemimpinan masyarakat dalam kehidupan politik yang wring kali

merupakan pencerminan tentang kepercayaan yang berpangkal pada kehidupan dewata. Walaupun pada lahirnya di Indonesia ini berkembang lebih dari dua ratus lima puluh bahasa yang berbeda, namun mereka itu masih serumpun, yaitu rumpun bahasa Malayo Polinesia, di samping rumpun bahasa Halmahera Utara dan rumpun bahasa Papua Melanesian yang tersebar di Irian Jaya maupun pulaupulau di sekitarnya. Sementara itu B.Z.N. Ter Haar dalam bukunya yang berjudul Beginselen en Stelsel Van Het Adatrecht (1946) menyederhanakan lingkungan kebudayaan di Indonesia ke dalam 19 rechtsringen yang sesungguhnya dapat diperinci lebih lanjut.

Upaya Pelestarian Budaya Asli

Keanekaragaman dalam kesamaan itu seperti juga yang tersirat dalam Bhinneka Tunggal Ika, yaitu "berbeda-beda, tetapi satu jua" mencerminkan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Di samping perasaan bangga bagi bangsa kits atas kekayaan kebudayaan bangsa itu, juga kadang-kadang timbul masalah yang disebabkan oleh sifat aneka ragam itu, terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan kebudayaan nasional Indonesia. Walaupun cita-cita kemerdekaan dan tekad bersatu untuk membentuk satu bangsa yang merdeka dan bebas dari segala bentuk penindasan sudah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928, namun pelaksanaannya tidak sesederhana bunyi sumpah pemuda itu sendiri. Pada awal perkembangannya, masyarakat Indonesia yang telah berhasil menumbangkan dominasi kolonial dan menggantikannya dengan sistem politik yang mewakili rakyat yang dikukuhkan dengan ideologi baru, yaitu Pancasila. Kurangnya perhatian terhadap kemajemukan masyarakat upaya pembangunan bangsa itu sering kali menimbulkan kesenjangan perkembangan (asymmetry of development) yang justru menghambat tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa (G.M. Smith, 1960). Perkembangan yang terjadi dalam perkembangan sosial budaya di Indonesia itu oleh C. Geertz disebut sebagai revolusi integratif itu mengandung arti bahwa ikatan kelompok primordial yang dilandasi oleh hubungan kerabat, keagamaan, dan kebahasaan meluas ke arah kelompok :yang lebih besar dalam masyarakat bangsa. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan bangsa atau integrasi nasional dalam masyarakat majemuk sering kali diartikan sebagai pergeseran ikatan primordial yang tradisional dan bersifat lokal ke arah identitas nasional yang baru (Deutch, 1961). Kesadaran itu dituangkan dalam UUD 1945, Pasal 32 yang berbunyi: "Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia". Selanjutnya dipertegas UUD 1945 hasil amandemen, Pasal 32 ayat 1 berbunyi: "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya". Ayat 2 berbunyi "Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional"

Oleh karena itu, cepat atau lambatnya perkembangan suatu kebudayaan lebih banyak dipacu oleh kontak-kontak kebudayaan. Melalui kontak-kontak kebudayaan itulah akan terbawa serta pemikiran, pola-pola tingkah laku, serta teknologi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan serta minat masyarakat yang bersangkutan. Keberagaman kebudayaan daerah secara vertikal maupun horizontal sedemikian itulah yang nampaknya melandasi tersusunnya Pasal 32 UUD 1945 yang mengamanatkan perkembangan kebudayaan nasional Indonesia, di samping kebutuhan akan perangkat pemikiran yang dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan Bangsa. Apa yang dimiliki bangsa Indonesia di awal kemerdekaan ialah kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang tersebar di kepulauan nusantara. Persatuan dan kesatuan bangsa yang terwujud dari sejumlah suku bangsa yang semula merupakan masyarakat yang berdiri sendiri dan mendukung kebudayaan yang beraneka ragam itu perlu diperkokoh dengan kerangka acuan yang bersifat nasional, yaitu kebudayaan nasional. Oleh karena itu, kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan itu telah ditetapkan landasan dan arah tujuan yang dituangkan dalam penjelasan Pasal 32 UUD 45 yang berbunyi. "Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai bush usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan- kebudayaan lama, dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan barn dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia". Penjelasan Pasal 32 memberikan empat ketentuan arah dan tujuan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Pertama, kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan itu harus benar-benar merupakan perwujudan hasil upaya dan tanggapan aktif masyarakat Indonesia dalam proses adaptasi terhadap lingkungannya dalam arti luas. Kedua, kebudayaan nasional itu merupakan perpaduan puncakpuncak kebudayaan daerah sehingga mewujudkan konfigurasi budaya bangsa. Ketiga, pengembangan kebudayaan nasional itu harus menuju ke arah kemajuan adab yang

dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Keempat, tidak menutup kemungkinan untuk menyerap unsur-unsur kebudayaan asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaan nasional, serta mempertinggi kemanusiaan bangsa Indonesia. Konfigurasi budaya itu amat penting artinya sebagai inti penggerak yang akan menjiwai, memberi makna serta mengarahkan kehidupan berbangsa dan bernegara di kalangan masyarakat Indonesia yang majemuk. Dalam masyarakat sedemikian itu diperlukan suatu kerangka acuan, yaitu kebudayaan yang dapat menjembatani pergaulan antarsuku dan golongan secara nasional. Kerangka acuan yang dapat bertahan dan dapat memperoleh dukungan aktif dari masyarakat secara nasional ialah kebudayaan yang tidak, hanya berfungsi dalam situasi dan lokasi serta keterbatasan jangkauan sosial, melainkan kerangka acuan yang dapat memberikan makna dan arah kehidupan berbangsa serta memberi kebanggaan bagi para pendukungnya. Apa yang perlu diperhatikan dalam upaya pembaruan itu ialah kepentingan nasional, yang dalam kaitan itu perlu dipegang teguh wawasan Nusantara untuk menghindarkan kesenjangan sosial yang dapat memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa yang mungkin timbul sebagai akibat kesenjangan pemahaman dan penghayatan kebudayaan nasional di daerah-daerah. Hal itu berarti bahwa dalam upaya memperkembangkan kebudayaan nasional yang sesuai dengan perkembangan Daman perlu pula diperhatikan kenyataan adanya kesenjangan perkembangan daerah yang masih berfungsi sebagai acuan lokal. Apa yang perlu diperhatikan adalah kemampuan masyarakat untuk menyerap kebudayaan Asing yang diperlukan dan tidak bertentangan dengan nilai inti Pancasila. Dalam menyerap unsur-unsur kebudayaan asing, perlu diperhatikan patokan-patokan untuk memilah-milah unsur-unsur mana yang patutnya diambil alih, yaitu unsur-unsur yang dapat mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa. Berbagai peraturan yang menata kehidupan sosial politik di Indonesia yang diterbitkan oleh pemerintah sejak maklumat No. X Tahun 1945. Tanpa mengabaikan tradisi yang ada, masyarakat Indonesia telah mengembangkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang memang diperlukan untuk meningkatkan derajat kemanusiaan bangsa sesuai dengan amanat UUD 1945. Sesungguhnya pengembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional tidak dapat mengabaikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat universal. Akibat sampingan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam industrialisasi ialah perkembangan masyarakat industri dengan perangkat nilai budayanya. Di samping itu, pengembangan sistem pendidikan nasional dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional sangat penting artinya sebagai sarana integrasi. Sistem pendidikan nasional tidak terbatas menata kegiatan pendidikan di sekolah, melainkan lebih meluas mencakup pendidikan dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja dan di lingkungan masyarakat luas. Oleh karena itu, pengembangan sistem pendidikan nasional boleh dikatakan sebagai keberhasilan masyarakat dan pemerintah mengembangkan sistem reproduksi sosial dalam sistem organisasi sosial sebagai unsur kebudayaan nasional. Akhirnya salah satu unsur kebudayaan nasional yang amat penting akan tetapi sering kali dilupakan orang ialah bahasa Indonesia. Sejak Sumpah Pemuda 1928, kehadiran akan bahasa nasional sebagai sarana pemersatu secara tegas telah diungkapkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->