Tentang Niat dalam Ibadah Pendahuluan Niat adalah ruh perbuatan dan inti sarinya.

1 Perbuatan tanpa niat bagaikan jasad mati tanpa ruh, sedangkan niat adalah ibadah yang disyariatkan yang memiliki pengaruh dalam amal perbuatan dan dengan perbuatan tersebut muncul sebuah hukum yang dapat dibangun di atasnya. Niat adalah dasar dari perbuatan, baik kaedahnya dan ukuran yang dapat membedakan atnara sah, rusak, diterima dan ditolak. Perbuatan bisa dikatakan sah jika niatnya juga sah, begitu juga sebaliknya, jika niatnya jelek, maka perbuatannya juga dikatakan jelek, tentunya hal ini sangat menentukan kesesuaian dengan balasan yang akan diterima di dunia dan di akhirat. Niat berlaku dalam berbagai bab-bab fikih seperti dalam transaksi perdagangan dan kepemilikan, tetapi oleh Ibnu Nujaim, niat dijadikan pada perbuatan ukhrowyah sebagi kaidah pertama dari beberapa kaidah-kaedah fikih besar lainnya, yakni kaedah "la tsawaba illa bi niyyatin" (tidak ada pahala kecuali dengan niat).2 Dan jika terdapat hukum-hukum kebiasaan adat (perbuatan sehari-hari) semuanya tergantung pada niatnya, sehingga niat sangat penting untuk diutamakan dalam segala perbuatan dan menjadikannya sebagai rukun pertama. Pandangan Al-Qur'an Tentang Niat Dalam istilah sehari-hari, kata an-nawa (‫ )الننننوى‬banyak digunakan untuk pengertian “maksud” atau “tujuan”. Al-Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa an-niiyyah (‫ )النية‬berasal dari kata an-nawa (‫ )النوى‬Dia mengartikan an-nawa itu dengan ‫ثوجه القلب نحو‬ ‫( العمل‬tekad hati untuk melakukan perbuatan tertentu). Dalam alQur'an banyak disinggung masalah niat dalam beberapa redaksi dan istilah yang beragam, walaupun niat tidak disebutkan secara langsung, tetapi substansinya adalah niat, tujuan dan keikhlasan. Firman Allah swt dalam al-quran surat al-Bayyinah ayat ke-5 dan Surat al-Zumar ayat 2 dan 11, Surat al-A’raf ayat 29, Surat alGofir ayat 14 dan 65, dan Surat Luqman ayat 32 . Di dalam ayatayat ini al-ikhlash diformulasikan dengan redaksi kata perintah dalam konteks menjelaskan keadaan dan sifat Nabi dan kaum mukminin. Kedua keadaan tersebut kembali kepada niat dan berbagai implikasinya. Tujuan keikhlasan tidak akan terwujud kecuali dengan menolak kemusyrikan. Niat juga diungkapkan dengan menggunakan istilah aliradah. Hal ini dapat dilihat di dalam al-Quran Surat al-Isra’ ayat
1 Ibn Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muwaq-qi’in, hal: III/123 dengan judul an-niyyat ruh al-‘amal wa lubbuhu”. 2 liaht Al-asybah wa an-nadhoir oleh Ibnu Nujaim al-mishro al-hanafy hal 34.

1

(Beirut: Daar Ihya at Turats al-'Arabi). Dengan memformat perbuatan seperti ini menjadikannya bersifat syar’iyah berakibat pada pengaruh (efeknya) dan di bangun di atasnya hukum-hukum yang terkait dengannya. perbuatan yang dilarang pun juga membutuhkan niat. hal: 231bab 23. Lisanul 'Arab. Surat Hud ayat 88. niat adalah bentuk masdar dari kata kerja ”nawâ-yanwî” berati kehendak hati untuk mengerjakan suatu perkara. Keinginan (iradah) untuk merenugi kekuasaan Allah SWT. Niat juga diungkapkan dengan kata al-ibtigo’ (tujuan."(perbuatan itu tergantung pada niatnya……. perbuatan tiada nilainya jika tanpa disertai dengan niat. rasa menghendaki akhirat dan perbaikan umat dan menunaikan hak-hak wajib baik itu bersifat finansial dan lainnya. al-Furqan ayat 62. Nabi bersabda " Inna maa al-a'maalu bin niyat…. al-Qashash ayat 55. at-Tahrim ayat 1. Bukhori 1. Perbuatan yang diperintahkan membutuhkan niat.. . 4 HR. Mu'jam al-Wasith. Sehubungan dengan ini al-ibtigo’ mengandung makna al-iradah dan al-qashdu.). Muslim 1908 dan di didalam kutubus sittah dan al-Muwatta' 5 HR. Di dalam ayat-ayat tersebut al-ibtigo’ muncul sebagai hal () dan sifat (). sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab. 14 : 343. dan Ala ‘Imran ayat 5 dan ayat 85. sasaran atau target). al-Baqarah ayat 233 dan 228. dalam konteks larangan maupun perintah. al-Qoshash ayat 19. Pandangan Sunnah Tentang Niat Niat baik redaksi mapun maknanya muncul pada hadis Nabi. semuanya tergantung pada niat dan tujuan. dan di dalam surat al-Ra’d ayat 22 dan al-Isra’ ayat 28.19. Dalam hadis tersebut Ralullah saw menjadikan niat3 sebagai salah satu syarat sahnya suatu perbuatan. 2 : 965. Baihaqi dalam Syi'bil Iman dan lainnya mengatkan ini Dhoif. Di dalam ayat-ayat tersebut al-iradah diungkapkan dalam makna yang berbeda-beda dalam konteks berbagai macam al-qushud wa al-tasharrufat (tujuan dan perbuatan). Misalnya di dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 94. Inilah kemudian menjelaskan bahwa sebab semua perbuatan yang diperintah maupun yang dilarang adalah niat. lihat pula dalam kitab Fathul Baari 1/11 6 Ibn Manzhur. ِ ْ ُ َ َ ِ ٍ ْ َ ََ ِ ْ َ ُ ْ َ َ ُ َ ً ّ ِ ْ ِ ْ َ ‫6نوى . Dalam Lisân al-’Arab dan Mu’jam al-Wasîth.4 serta hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.ينوي نية و هو عزم القلب على أمر من المور‬ ُ ََ 3 Redaksi Arab dari hadis akan menyusul:…………lihat Bukhari Juz VII. Nabi bersabda " Inna maa yaba'tsu an-naasa ala niyyatihim" (manusia dinilai dengan niatnya"5 dan masih banyak hadits yang lain yang membicarakan tentang pentingnya niat.

Hasil perubahan arti kata ini menjadi maksud dan tujuan lebih dekat kepada arti pertama karena bepergian ke suatu negeri tertentu tidak terlepas dari tujuannya.tidak satu pun di antara para ulama membantahnya. 9 3 . menjelaskan bahwa an nawa mempunyai dua arti. seorang ahli kenamaan. menjaga. A. Karena niat yang dimaknai al-qashdu dan al-‘azmu (tujuan dan tekad) untuk melakukan sesuatu perbuatan sumbernya adalah al-qalbu. cet. dalam semua ibadah atau sebagiannya. XIV (Yogyakarta: Pustaka Progresif.Dalam Kamus Al Munawwir.7 menurut Ibnu Ensiklopedi bahasa diuraikan kata ”an-nawa” pada ayat 95 Q. melindungi. Kamus Munawwir Arab Indonesia. Dalam istilah sehari-hari an nawa banyak digunakan untuk pengertian maksud atau tujuan. atau apakah pelafalan itu termasuk 7 Ahmad Warson Munawwir. bukan bid'ah. apakah pelafalan itu termasuk dalam bingkai hukum syarat atau sunnah. Dan yang kedua adalah perbuatan atau pekerjaan tersebut harus nampak jelas. 1997). Dengan cara sir atau jahr. 8 Jamiul ulum wal hukmi fi syarhi khomsina haditsan min jawamiil kalim oleh Ibnu Rojab alHambali ra. Sedang Faris. berniat sungguh-sungguh. Silang pendapat justru terjadi pada apakah niat itu harus dilafalkan. dan at-tamar. yang pertama adalah dengan adanya niat yang ikhlas dan benar. yakni sesuai dengan yang disyariatkan oleh-Nya.S.8 Keadaan (Mahal) Niat Konsensus para ulama bahwa tempat niat adalah di hati (alqalbu). pergi Dalam jauh. Al Qur’an melemparkan. Ibnu mas'ud berkata " Perkataan tidak akan berguna tanpa adanya perbuatan. hajat. Inilah inti dari makna hadis innama al-a’malu bi an-niyyat. menyampaikan. hal. berarti maksud hati. dan perkataan perbuatan serta niat tidak akan bermanfaat jika bertentangan dengan Sunnah Rosulullah yang Shohihah. attahawwul min dârin ilâ dârin. berpindah tempat alias hijrah. perkataan dan perbuatan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya niat. Niat Sebagai Syarat Diterimanya Perbuatan Ada dua syarat yang harus dipenuhi supaya amal perbuatan diterima oleh Allah swt. al-An’âm.

mengikuti contoh Nabi SAW. sesuai dengan sunnah. hal ini dapat dibedakan dengan niatnya.9 Tujuan Dari Niat Dalam Ibadah Tujuan dari niat ibadah ada dua perkara. karena belum dikenal pada masa sahabat dan tabi’in. tahqiq oleh Syu'aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis. sodakah biasa atau sebagai kaffarat. 12. pertama. Niat Yang Ikhlas Dasar Diterimanya Amal Keberadaan niat harus disertai dengan menghilangkan segala keburukan. Niat itu harus ikhlas karena Allah dalam setiap amal. sunnah dan lain-lain yang disyariatkan dalam agama. maka niat sangat berperan untuk memastikan jenis perbuatan tersebut. hadiyah.bid’ah atau bukan. Antara lain perbuatan shalat ada yang fardhu dan Sunnah. . nafsu. h. apakah bersifat qadha’ atau ada’. Memang umumnya para ulama tidak mensyaratkan pelafalan niat.10 Dengan syarat pertama. misalnya dengan adanya perbedaan ibadah yang wajib. Namun pendapat mereka ini dikoreksi oleh para fuqaha’ yang focus meneliti seputar masalah tersebut. Kemunculan silang pendapat tersebut sangat baru. Kedua adalah membedakan antara peringkat ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya (tamyiz mzrztib zl-‘ibadat ba’dhuha min ba’dhin) . niat yang ikhlas dan benar. sebagaimana "Sesungguhnya disebutkan amal-amal dalam itu sabda Nabi SAW. 1419H). dan keduniaan. yang tidak akan diterima kecuali dengan keduanya. atau ditujukan untuk taqarrub (medekatkan diri pada Allah) seperti zakat. pertama: membedakan antara ibadah dengan adat (tamyiz al-‘ibadat ‘an al-‘adat). pada hanya tergantung 9 Lihat misalnya al-Muhazzab karya …………………………… 10 Lihat Ibnu Rajab. Ibnu Rajab mengemukakan bahwa setiap amal shalih mempunyai dua syarat. Kedua. andaikan ada yang berpendapat demikian itu semata-mata muncul dari kalangan muta-akh-khirin fuqaha’ Hanafiyah dan Syafi’iyah. kebenaran batin akan terwujud. (Mu'assassah ar-Risalah. atau wadi’ah. misalnya duduk di masjid untuk istirahat atau I'tikaf. Jâmi’ al-’Ulûm wa al-Hikam. agar amal itu diterima di sisi Allah. Jika semua ini masih dalam ketidakpastian. Contoh lain: menyerahkan harta apakah akad hibah.

Tafsir al-Qur’ân al-‘Azîm. Sedangkan berbuat baik berarti dalam beramal mengikuti apa yang disyariatkan Allah. Bila hilang keikhlasan. hal. 14 Ibnu Katsir. Abu Dawud no. sedangkan diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. maka orang itu akan jadi munafik dan riya' kepada manusia. Jadi harus ikhlas dan benar. bila salah satunya tidak terpenuhi. 12 Q. mengikhlaskan amal kepada Allah.niatnya. mengamalkan dengan iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah. Lahirnya ittiba'. dan benar mengikuti petunjuk Nabi SAW. 1996). dan batinnya ikhlas. dan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang haq. Dan dengan syarat kedua.S. Bila salah satu syarat ini hilang. (Syirkah ash-Shahr li Barâmij al-Hâsib. sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau : 11 ‫من عمل عمل ليس عليه أمرنا فهو رد‬ ّ َ َ ُ َ َ ُ ْ َ ِ ْ ََ َ ْ َ ً َ َ َ ِ َ ْ َ Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntutan dari kami. maka amal itu akan rusak. 5 . di antaranya: 12ً ‫ومن أحسن دينا ممن أسلم وجهه ل وهو محسن واتبع ملة إبراهيم حنيفا واتخذ ال إبراهيم خلي‬ ‫َ َ ْ َ ْ َ ُ ِ ً ّ ّ ْ َ َْ َ َ ْ َ ُ َ ُ َ ُ ْ ِ ٌ ّ َ َ ِّ َ ِ ْ َ ِ َ َ ِ ً َ ّ َ َ ّ ِ ْ َ ِ َ َِ ل‬ Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah. I : 616.13 Dua syarat ini. Jâmi’ al-’Ulûm…. Sedangkan bila hilang ittiba'. Ikhlas karena Allah. Allah telah menyebutkan dua syarat ini dalam beberapa ayat. artinya tidak mengikuti contoh Nabi SAW maka orang itu sesat dan bodoh (jahil). 1992). maka amal ini tidak sah. kebenaran lahir akan terwujud. 1718. 14 dari hadits Aisyah) dalam Al-Kutub at-Tis’ah. Muslim no.14 11 (Hadist riwayat Bukhari no. An Nisa' : 125. maka amalan tersebut tertolak. Menyerahkan dirinya kepada Allah artinya. 4606 dan Ibnu Majah no. 13 Ibnu Rajab." Inilah yang menjadi timbangan batin. (Beirût: Dâr al-Fikr. 13. 2697.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa waktu niat itu di awal melakukan ibadah atau perbuatan. Bila yang diucapkan lisan seseorang berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati. Niat itu harus ikhlas.Dari uraian di atas.15 Orang Arab biasa mengatakan: ٍ َْ ِ ُ َ َ َ ‫نواك ال بخير‬ (Allah menunjukkan kepada kamu kebaikan) Talafudz (melafalkan) niat tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW. 15 Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah. . maka hal itu tidak cukup. Sebagaimana tidak akan diterimanya amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat. maka yang diperhitungkan ialah yang diniatkan. dan tidak pula dilakukan oleh empat Imam Madzhab yang mashur. selagi tidak sesuai dengan ketetapan syariat dan dibenarkan Sunnah. Juz XXVI : 21-24. Niat tempatnya di hati. bukan yang dilafalkan. Waktu Niat dan Tempatnya Menukil kesepakatan ulama. B. dhaif. maupun mursal. jelaslah betapa pentingnya peran niat dalam amal. selagi tidak disertai dengan ikhlas. baik melalui periwayatan yang shahih. Tidak seorangpun sahabat yang meriwayatkan. sedangkan niat belum sampai ke dalam hatinya. juga tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun. bukan diucapkan dengan lisan. karena sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang pasti. dan tidak ada seorang tabi'in pun yang menganggap baik masalah ini. sama sekali tidak ada bobotnya dalam timbangan amal. tetapi ikhlas semata tidak cukup menjamin diterimanya amal. Majmû’ Fatâwâ. Demikian menurut kesepakatan para imam kaum Muslimin.

Kitab Fadha-ilul Jihad. Selengkapnya lihat Al-Kutub at-Tis’ah. dan juga tergantung kepada pendorong dan pemicunya. Kitabul Imarah. niat itu merupakan neraca bagi sahnya suatu perbuatan. (Syirkah ash-Shahr li Barâmij al-Hâsib. 1647.C. dalam Kitabul Iman no. Bab An-Niyyah. no. Abu Dawud dalam Sunan-nya. dan lainnya. Kitab Ath-Thaharah. sekalipun tidak disertai dengan amal. no. ada beberapa tempat dalam Shahih-nya. Kitabut Thalaq. 54." Tidak diragukan lagi. maka hijrahnya akan dibalas sebagaimana yang ia niatkan. 17 7 . Bab Fi Ma 'Uniya Bihi at Thalaq wan Niyat. Hal ini tergantung dari apa yang diniatkan. Kaidah-kaidah Niat ُ َ ْ َ َ ِّ ُ ْ ُ َ ِ َ ْ ُ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ ّ َ ِ ْ َ َ ُ ٍ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ِ ْ ِ َ ْ َ ‫عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب قال : سمعت رسول الن يقنول : إنمننا العمننال‬ ِ ِْ ُ َ َ ِ ‫بالنيات و إنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى ال و رسوله فهجرته إلى ال و رسوله‬ َِ ُ ُ َ ْ ِ َ ِ ِْ ُ َ َ ِ َِ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ َ ٍ ِ ْ ّ ُ ِ َ ّ ِ َ ِ َ ّ ِ 16‫و من كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‬ ِ ْ َِ َ َ َ َ َِ ُ ُ َ ْ ِ َ َ ُ ِ ْ َ ٍ ََ ْ ِ َ َ ُ ْ ِ ُ َ ْ ُ ِ ُ ُ َ ْ ِ ْ َ َ ْ َ َ Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh. dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapatkan balasan sebagaimana niatnya. Muslim. kadang-kadang kehendak ini merupakan niat yang baik lagi terpuji. Bab An-Niyyah fil Wudhu' no. 1. Ibnu Majah dalam Sunan-nya. no. 1907. 4227 dan sebagainya. dan kadang merupakan niat yang buruk lagi tercela. 2201. seperti kitab Al-'Itq. ataukah untuk mencari keridhaan manusia? Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : …‫71…ثم يبعثون على نياتهم‬ ْ ِ ِ ّ ِ ََ َ ْ ُ َ ْ ُ ّ ُ 16 Hadist ini di riwayatkan oleh Bukhari. An Nasa-i dalam Sunan-nya. Niat merupakan kehendak yang pasti. atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya. Kitab Az-Zuhd. maka (pahala) hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan RasulNya. Maka dari itu. apakah untuk dunia ataukah untuk akhirat? Apakah untuk mencari keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang hijrahnya diniatkan untuk kepentingan harta dunia yang hendak dicapainya. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya amalamal itu tergantung dengan niat. 59-60. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya. Kitab Bad'ul Wahyu no. 1996). no. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Bab Man Ja'a fi Man Yuqatilu Riya'an Wa liddunya. Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhu. Bab Innamal A'malu bin Niyyat.

sunat.. niat adalah merupakan penentu. baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama makhluk. seperti mu’amalah. atau mubah.. niat karena dan untuk Allah adalah merupakan inti yang menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah.. apakah perbuatan tersebut karena Allah atau karena manusia. Kaidah umum dari hadist di atas adalah yang berbunyi : ‫المـور بمقـاصدها‬ (Segala perkara tergantung dari tujuan niatnya) Setiap amal perbuatan. yang merupakan kaidah yang luas. jinayah dan sebagainya. para ulama menderivasinya . petunjuk-petunjuk (qarînah) yang ada.(. apakah perbuatan tersebut mempunyai nilai ibadah atau sebaliknya tidak bermuatan ibadah.. Dalam perbuatan ibadah misalnya. di samping merupakan pembeda tingkatan suatu ibadah. apakah ibadah fardu. nilainya ditentukan oleh niat serta tujuan dilakukannya. Dalam amal kemasyarakatan dapat diketahui dengan tandatanda. munakahat. juga dapat merupakan pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain dan anatara ibadah dan bukan ibadah atau amal kebiasaan.) Karena menentukan peranan bentuk niat dan dalam bobotnya. juga dapat merupakan ibadah tersendiri seperti dapat dipahami dari hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrânî dari Sahl ibn Sa’d : ‫نية المؤمن خير من عمله‬ (Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya (yang tanpa niat) Dari kaidah umum di atas. mengarahkan maka para amal ulama menyimpulkan banyak kaidah fiqh yang diambil dari hadits ini. Sedangkan dalam perbuatan yang hubungannya dengan makhluk.kemudian mereka dibangkitkan menurut niat mereka. Niat di samping sebagai alat penilai perbuatan.

apakah untuk i'tikaf. dan bisa juga sebagai zakat wajib atau sedekah sunat.إن المنوي مننن العمننل إمننا أن يكننون عبننادة محضننة ل‬ ‫يلتبننس بالعننادات، وإمننا أن يكننون جنسننه ممننا يشننبه‬ 18‫العادات‬ (Niat perbuatan sebagai ibadah mahdhah dan jenis ibadah yang menyerupai adat kebiasaan. acessed on 18 Maret 2008. 8. untuk membedakan dua ibadah yang sama adalah niat. kesemuanya sangat bergantung pada niatnya. Misalnya seseorang yang memerdekakan seorang hamba.19 ‫2. 9 . 54.القربات التي ل لبس فيها ل تحتاج إلى نييية‬ 20‫الضافة لله تعالى‬ (al-Qurbat (perbuatan-perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang tidak ada kekacauan dan kesamarann di dalamnya tidak membutuhkan adanya niat khusus) 18 Shâlih ibn Ghânim as-Sadlân. apakah duduk istirahat. tidak boleh dicampuradukkan dengan adat kebiasaan) Terkait dengan statemen kaidah di atas. ataukah ia niatkan untuk nadzar. Abul Abbas Kholid Syamhudi.or. Menafkahkan harta dapat dikategorikan sebagai nafkah wajib. atau jamuan untuk para tamu. Yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan adalah niat. 20 Al-Qurofi. AL-Qawâid al-Fiqhiyyah…. hal. Jadi yang penting. Kedua. untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat).id/artikel/fiqh-dan-muamalah/peran-niat-dalam-amal-2. 19 Shâlih ibn Ghânim as-Sadlân. 54. al-Suyuthi.menjadi banyak kaidah-kaidah turunannya. shalat sunnat atau shalat Ashar? yang membedakannya adalah niatnya. hal: 12. maka niat disyariatkan untuk beberapa hal berikut : Pertama. Syarah Arba'in. AL-Qawâid al-Fiqhiyyah…. Begitu juga dengan penyembelihan hewan yang dapat dikategorikan sebagai kurban. pesta. hal: 5. Misalnya duduk di masjid. yaitu sebagai : berikut ‫1. hadiah atau tali asih. Lihat juga Imam Nawawi. al-Asybah wa al-Naza’ir. hal. atau yang lainnya? Atau seseorang mengerjakan shalat 4 rakaat. “Peran Niat Dalam Amal” dalam http://muslim. Al-Amniyah fi idraki al-niyah.html. untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. hal. apakah diniatkan shalat dhuhur. apakah ia niatkan untuk membayar kafarah (tebusan). sembelihan.

Jika seseorang melakukan amalan qurbat semacam ini. maka dalam keadaan seperti ini pahalnya menjadi berkurang. harap akan pahala yang diberikan-Nya. tawakkal atas anugerah-Nya. takut akan siksanya. perbuatan tersebut tidak membutuhkan Perbuatanniat-niat pengkhususan. melakukan tasbih dan tahlil untuk-Nya. sehingga seseorang tidak harus berniat untuk melakukan tasbih. atau terucap di lisannya sedang ia tidur. Akan tetapi amalanamalan ini membutuhkan niyat al-qashd dan amalan ini perlu dibarengi dengan iradati wajhullah. semua ucapan dalam keadaan tadi bukan ibadah. Demikian pula kalau seseorang ingin dilihat dalam perbuatannya atau menuntut pujian dan sanjungan. zikir atau menyembah Allah. . . maka niyat ini menjadi keharusan yang ditentukan. takut akan siksa-Nya. almahabbah dan ta’zim kepada Allah. sejalan dengan berkurangnya keikhlasan mereka. amalanniyat ikhlas.Seperti iman kepada Allah dan mengagungkan-Nya. Selain Allah tidak berhak atas perbuatan qurbat tersebut. atau terucap dari lisan seorang gila atau mabuk. sehingga sebagai bagian dari ibadah. karena karakter dari perbuatan-perbuatan tersebut hanya dapat ditujukan kepada Allah SWT. dia dalam keadaan lupa. membaca al-Qur’an dan semua jenis zikir lainnya yang berorientasi pada al-qurbat. mengharapkan pahala dari-Nya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful