P. 1
Asuhan Keperawatan Anak Dengan Kejang Demam

Asuhan Keperawatan Anak Dengan Kejang Demam

|Views: 384|Likes:
Published by Wahyu Ahmad Putra

More info:

Published by: Wahyu Ahmad Putra on Oct 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

Definisi. Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rectal lebih dari 38oC ) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang ( konvulsi ) merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks cerebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran, aktifitas motorik dan atau gangguan fenomena sensori. 1. 2. 3. 4. 5. Pedoman untuk membuat diagnosa kejang demam sederhana ialah : Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit. Kejang bersifat umum. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali. Etiologi Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang – kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan demam. Penatalaksanaan Pemberantasan kejang secepat mungkin Segera diberikan diazepam intravena rata 0,3 mg/kg Atau dosis ≤ 10 kg : 5 mg diazepam rectal dosis ≥ 10 kg : 10 mg bila kejang tidak berhenti tunggu 15 menit

dosis rata-

dapat diulang dengan cara/dosis yang sama

kejang berhenti. neonatus

:

berikan dosis awal fenobarbital dosis : 30 mg I.M

bulan – 1 tahun

:

50 mg I.M

> 1 tahun : 75 mg I.M Pengobatan fase akut Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas harus bebas agar oksigenasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernafasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres dingin dan pemberian antipiretik. Pengobatan Profilaksis. Profilaksis Intermiten saat demam Diberikan Diazepam secara oral dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dpt pula diberikan secara intra rektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg bila BB < 10 kg dan 10 mg bila BB > 10 kg setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 oC. - Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari. Berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Profilaksis terus-menerus setiap hari dengan Fenobarbital dosis maintenance 8-10 mg/kg BB dibagi 2 – 3 dosis pada hari pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 – 3 dosis pada hari berikutnya. Pengobatan penunjang Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah : Semua pakaian ketat dibuka Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung Usahakan agar jalan napas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen

-

ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian a. Aktifitas / Istirahat Gejala : Keletihan, kelemahan umum Keterbatasan dalam beraktifitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri/ orang terdekat / pemberi asuhan kesehatan atau orang lain. Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.

b. Tanda

Sirkulasi Gejala : Hipertensi, peningkatan nadi sianosis. : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan. Eliminasi Gejala

c.

: Inkontinensia episodik.

Tanda : Peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter.
Otot relaksasi yg menyebabkan inkontenensia ( baik urine/fekal ). d. Makanan dan cairan Gejala muntah yang : Sensitivitas terhadap makanan, mual / berhubungan dengan aktifitas kejang. e. Gejala f. Gejala Tanda g. Gejala Neurosensori : Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi cerebral. Nyeri / kenyaman. : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode posiktal. : Sikap / tingkah laku yang berhati – hati. Perubahan pada tonus otot. Tingkah laku distraksi / gelisah. Pernafasan : Apneu, gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat, peningkatan sekresi mukus. 2. Diagnosa Keperawatan. a. b. c. d. Diagnosa keperawatan yang sering muncul Resiko terhadap bersihan jalan nafas / pola nafas tidak efektif berhubungan dengan relaksasi lidah sekunder akibat gangguan persyarafan otot. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan gerakan tonik / klonik yang tidak terkontrol selama episode kejang. Peningkatan suhu tubuh ( hypertermia ) berhubungan dengan proses penyakit. Resiko terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi.

e.

Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan ( orang tua ) tentang kondisi, pengobatan dan aktifitas kejang selama episode kejang. 3. Rencana Keperawatan

a. 1). 2). 3). 4). b.

Menurut Carpenito ( 1999 ) , rencana keperawatannya meliputi : Resiko terhadap bersihan jalan nafas / pol tidak efektif berhubungan dengan relaksasi lidah sekunder akibat gangguan persyarafan otot. Intervensi : Baringkan klien di tempat yang rata, kepala dimiringkan dan pasang tongue spatel. Singkirkan benda – benda yang ada disekitar pasien, lepaskan pakaian yang mengganggu pernafasan ( misal : gurita ). Lakukan penghisapan sesuai indikasi. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O2 dan obat anti kejang. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan gerakan tonk / klonik yang tidak terkontrol selama episode kejang. Intervensi : 1). Jauhkan benda – benda yang ada disekitar klien. Kaji posisi lidah, pastikan bahwa lidah tidak jatuh ke belakang, menyumbat jalan nafas. Awasi klien dalam waktu beberapa lama selama / setelah kejang. Observasi tanda – tanda vital setelah kejang. Kolaborasi dnegna dokter untuk pemberian obat anti kejang. Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi. Intervensi : 1). Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat. 2). Observasi tanda vital tiap 4 jam atau lebih. 3). Kaji saat timbulnya demam. Berikan penjelasan pada keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan masukan cairan 1,5 liter/hari. Beri kompres dingin terutama bagian frontal dan axila. Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan dan obat antipiretik. Peningkatan suhu tubuh ( hypertermia ) berhubungan dengan proses penyakit. Intervensi : 1). Observasi tanda vital tiap 4 jam atau lebih.

2). 3). 4). 5). c.

4). 5). 6). 7). d.

3). 4). 5). 6). e.

2). Kaji saat timbulnya demam. Berikan penjelasan pada keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan masukan cairan 1,5 liter/hari. Beri kompres dingin terutama bagian frontal dan axila. Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan dan obat antipiretik.

Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan ( orang tua ) tentang kondisi, pengobatan, aktifitas, kejang selama perawatan. Intervensi : 1. Jelaskan pada keluarga tentang pencegahan, pengobatan dan aktifitas selama kejang. 2. Jelaskan pada keluarga tentang faktor – faktor yang menjadi pencetus timbulnya kejang, misal : peningkatan suhu tubuh. 3. Jelaskan pada keluarga, apabila terjadi kejang berulang atau kejang terlalu lama walaupun diberikan obat, segera bawa klien ke rumah sakit terdekat.

Abtrak Rumah Sakit Jiwa Semarang Pasien Tahunan tergambar bahwa 56% Dari Yang Masuk adalah rumah sakit mempunyai ANTARA Usia 24-44 years Yang Kita ketehui termasuk Usia Produktif. Dari Laporan menurut mereka, Pergi pulang rata-rata rumah sakit ke Satu Sampai Sepuluh ADA kali.Menurut Kesehatan Mentri 25% Orang indonesi sakit jiwa (2008). Saat Suami BANYAK Yang mempunyai keluaraga Orang sakit jiwa cenderung mengandalkan penyembuhannya Dari sakit jiwa Artikel Baru Hanya obat-obatan. Sedangkan BANYAK Masalah Yang berkaitan Artikel Baru adaptasi psikologi regular tidak dipahami mereka Dibuat. Semantara ITU Orang sakit jiwa Yang Baru pulang Dari Rumah Sakit perlu di bantu keluargaya Dibuat dan Masyarakat untuk beradaptasi dan Suami Sangat membantu proses penyembuhan menggambarkan Suami pasien.Tulisan Tentang Masalah-Masalah Yang muncul akibat masuknya Pasien di rumah sakit dan sama pentingnya kerja jangka pendek dan rumah sakit untuk pelayanan Kesehatan Masyarakat Yang berkelanjutan A. PENDAHULUAN: Banyak orang dengan pengalaman penyakit mental utama konsep diri yang buruk dan telah mengurangi kesempatan untuk mengalami makna dalam hidup mereka. Bachrach, (1986) menyatakan bahwa pasien dengan penyakit mental pengalaman berbagai masalah yang berdampak pada kemampuan mereka untuk hidup sukses dalam masyarakat. Mereka termasuk berkurang jaringan sosial, stigma, kemiskinan, pengangguran dan kurangnya milik umum. Hal ini jelas disorot di kampung saya di Semarang Indonesia, di mana individu, yang memiliki penyakit mental, selalu kembali ke rumah sakit setelah habis. Bagaimana mereka hidup dalam masyarakat dengan bergantung pada keluarga mereka, pengangguran. Dari penulis yang berpengalaman, ada berbagai faktor yang mempengaruhi situasi termasuk penarikan sosial, keterasingan dari teman-teman karena stigma mental yang sakit dan atas perlindungan dari orang tua. Hume, (1994, hal.1) menyatakan bahwa "rehabilitasi adalah proses melalui mana seseorang dibantu untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan cacatnya. Mana keterampilan yang hilang mungkin kembali, atau strategi penanganan yang baru berkembang, sehingga orang tersebut mencapai kompetensi. Sifat dari penurunan nilai tersebut menentukan fokus khusus rehabilitasi, tetapi pada setiap waktu orang harus diperlakukan sebagai "individu. Ketika seseorang berpikir tentang kecacatan yang timbul dari sakit mental dalam istilah-istilah ini ukuran besar masalah rehabilitasi menjadi jelas. pelayanan kesehatan mental telah direformasi di Australia dan ini telah berlangsung sejak 1992. Model perawatan telah diganti dari perawatan institusional untuk perawatan berbasis masyarakat. Staf yang bekerja dengan cara-cara baru (Queensland Health, 1994). Pendekatan yang berorientasi masyarakat baru penyediaan layanan kesehatan mental telah meningkatkan tantangan menanggapi semua kehidupan individu kebutuhan dalam masyarakat (Commonwealth of Australia, 1995). Di Semarang, ada layanan komunitas tidak bagi orang yang sakit mental, yang dapat memberikan dukungan sosial, mungkin bermanfaat. Menurut Mueller (1980) peningkatan manfaat dukungan sosial kepada

orang-orang dengan penyakit mental ini penting karena orang dengan kekal masalah kesehatan mental diketahui telah membatasi jaringan sosial. Satu keluarga mengatakan bahwa ketika dokter menyatakan bahwa anak saya direncanakan untuk pulang, saya merasa sedih karena saya tidak bisa melakukan semuanya dan ia membuat sadar diri dalam hidup sehari-hari dan saya malu dengan tetangga saya. Leff et al (1982) menyatakan bahwa Pada pertengahan 1950 obat seperti Largactil menciptakan terobosan penting dalam pengobatan skizofrenia. Efek samping dari psikotropika dapat terjadi di hingga 100% dari pasien yang dirawat dan mengakibatkan penghentian obat di sekitar 5% -10%. Efek samping, mereka juga dapat menyebabkan kerusakan neurologis permanen, dan bahkan kematian (Dewan, 1989) Ditampilkan penelitian telah menunjukkan bahwa pendidikan dan dukungan dari penjaga, dengan obat-obatan yang tepat, mengurangi kecepatan relaps bagi penderita. Link ini pernyataan dengan situasi di Semarang. Sebuah keluarga menyatakan bahwa anak mereka tidak bekerja sama untuk mengambil obatnya. Mereka tidak pernah berpikir bahwa selain obat, ada beberapa hal penting, yang dapat membantu anak mereka untuk pulih. Ini adalah keluarga dan sosial yang mendukung dalam masyarakat. Ada stigma bahwa orang-orang penyakit mental tidak bisa bekerja. Oleh karena itu, orang-orang dalam masyarakat selalu mengisolasi mereka. Keluarga yang memiliki anggota dengan penyakit mental mengirim mereka ke rumah sakit. Manajemen masalah pasien kemudian akan tergantung pada ketentuan dalam rumah sakit. Proses rehabilitasi memerlukan keterlibatan sejumlah orang. Keluarga dan teman-teman, sesama pasien dan staf rumah sakit, semua memainkan peran mereka (Lakey dan Simpkins, 1994: xv). Jelas mereka membutuhkan program rehabilitasi, namun keluarga dihindari mencari untuk memecahkan masalah. Ini karena, mereka tidak tahu, setelah pulang, bagaimana keluarga dapat membantu orang dengan penyakit mental. Dan masyarakat memiliki stigma bahwa penyakit mental merupakan kutukan dan membuat masalah di masyarakat. Di rumah sakit jiwa, di Semarang, laporan tahunan rumah sakit (1998/1999) statistik menyoroti bahwa lebih dari setengah jumlah pasien (56%) adalah antara 25-44 tahun. Orang-orang ini, karena mereka masih muda, bisa mandiri dan produktif dalam hidup mereka. Namun, meskipun potensi mereka beberapa dari mereka telah sering kembali dari satu sampai sepuluh kali ke rumah sakit. Tampaknya ada masalah dengan pelembagaan. , Jennings (1983) menunjukkan bahwa untuk setiap 100 000 penduduk usia antara 15, dan 64 antara 24 dan 36 orang dewasa pada tahun 1979, ada kemungkinan baru direkrut pasien lama-tinggal. Banyak pasien sehingga tetap tergantung pada pelayanan rumah sakit dan tidak bisa direhabilitasi untuk hidup mandiri. Bukti menunjukkan bahwa bahkan ketika lama tinggal pasien habis, beberapa mencapai kemerdekaan penuh dari pelayanan rumah sakit (Norman dan Parker, 1990). Beberapa pasien setelah meninggalkan rumah sakit memilih untuk mengikuti program perawatan hari, ini berarti bahwa, mereka bisa bekerja di rumah sakit seperti di dapur, di kantor rumah sakit dan workshop. Beberapa orang tua memberikan gaji kepada anak-anak mereka tidak rumah sakit. Laporan rumah sakit (1998/1999) menyatakan bahwa ada 57 perempuan dan 57 laki-laki mengikuti program ini. Semua program rehabilitasi berfokus pada rumah sakit. Dari situasi ini, masalah yang diabadikan dalam masyarakat; stigma diperkuat pada

keluarga. Ini mendukung keyakinan yang salah bahwa orang dengan penyakit mental dianggap sub-manusia. Penulis telah mengamati bahwa beberapa keluarga dengan seorang anggota dengan penyakit mental yang selalu menutup pintu dan jendela. Selain itu, mereka mengalami kesulitan dalam membuat hubungan dengan tetangga mereka. Rumah sakit ini memiliki program yang kunjungan rumah. pekerja sosial dan staf dari rumah sakit mengunjungi keluarga pasien. Alasan ini, karena, keluarga tidak pernah mengunjungi pasien di rumah sakit dan beberapa keluarga, tidak pernah menghubungi rumah sakit (rumah sakit jiwa laporan, 1998/1999). Dalam masyarakat tidak ada pendidikan dan informasi untuk membantu keluarga memahami masalah dengan penyakit mental. Jadi dengan informasi dan mengarahkan pendidikan untuk mengubah perilaku dan menjembatani kesenjangan antara rumah sakit dan masyarakat. Hamilton et al (1989) berpendapat bahwa keluarga intervensi program yang ditujukan untuk mendidik keluarga dan membantu mereka mengatasi lebih efektif dengan penyakit pasien telah menunjukkan efek positif pada kursus skizofrenia. Berdasarkan laporan ini, penulis bermaksud untuk menyiapkan strategi untuk meningkatkan pelayanan rehabilitasi pindah dari rumah sakit ke masyarakat dengan pendidikan dan informasi dari orang-orang dengan penyakit mental kepada keluarga dan tetangga di masyarakat, Semarang, Indonesia. B. TINJAUAN LITERATUR Individu penyandang cacat kejiwaan memiliki tujuan yang sama dan mimpi sebagai orang lain. Hal ini termasuk tempat yang layak untuk hidup, lingkungan kerja yang tepat, kegiatan sosial dan teman-teman (Palmer-Erbs & Anthony, 1995). Misi rehabilitasi kejiwaan adalah "untuk membantu individu penyandang cacat kejiwaan untuk meningkatkan fungsi mereka sehingga mereka berhasil dan puas dalam lingkungan pilihan mereka dengan paling sedikit intervensi profesional yang berkelanjutan" (Anthony et al, 1990., Hal.151 ). . Anthony et al, 1990 menyatakan bahwa tujuan program rehabilitasi yang berfokus pada: * Berfungsi (Kinerja kegiatan sehari-hari) * Sukses, (memenuhi kebutuhan orang lain di dunia klien) * Kepuasan (perasaan klien kebahagiaan) * Lingkungan spesifisitas (konteks khusus tempat tinggal orang, belajar, socialises atau karya), * Pilihan (tujuan diri ditentukan), * Orientasi Hasil (evaluasi berdasarkan hasil klien), dukungan (bantuan yang diberikan selama dibutuhkan dan diinginkan) dan * Pertumbuhan potensi (peningkatan fungsi dan status).

Bukti dari studi (Gibbon et al 1984) menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga hidup dengan seseorang dengan pengalaman keluhan lama psikiatri kesulitan emosional dan fisik yang cukup. Keluarga sering membutuhkan bimbingan tentang bagaimana bereaksi dan berperilaku seperti mereka mungkin berhubungan dengan perilaku dan emosi yang baru dan menakutkan. Keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan mereka sendiri telah menjadi tema utama kebijakan Pemerintah dalam masyarakat dan pelayanan kesehatan terus sepanjang tahun 1990 (DOH, 1995). Bukti juga menunjukkan bahwa "pasien sering tidak cukup terlibat dalam keputusan tentang rehabilitasi" (Audit Commission, 1996). Jelas, penting bahwa berbagai macam layanan rehabilitasi harus tersedia. Tetapi juga penting bahwa staf klinis dan perawatan meningkatkan keterlibatan pasien dan penjaga dalam penilaian kebutuhan dan perumusan dan pelaksanaan rencana pengobatan. C. MASALAH INSTUTIONALISATION Masalah pelembagaan dua macam: 1. Kelembagaan sindrom. Menurut Barton (1959) dan Goffman (1961) dalam Pullen (1994), menyatakan bahwa "sindrom kelembagaan, yang dicirikan oleh: apatis, kurang inisiatif, kehilangan minat, tunduk, kurangnya ekspresi perasaan, kehilangan individualitas dan penurunan dalam kebiasaan pribadi. Di rumah sakit jiwa, ada banyak peraturan, yang membuat hidup pasien tidak seperti mereka. Pasien harus bangun di pagi hari, ambil sarapan, dan mandi. Perawat harus memonitor aktivitas mereka dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun perawat selalu berusaha untuk merawat pasien sebagai manusia. Namun, ada bukti dalam hubungan institutalisation bahwa menurut Alaszewski (1986) "ada beberapa cara di mana hubungan ini dipertahankan, melalui sistem klasifikasi pasien, rutinitas sehari-hari dari pelayanan dasar dan, ketika semuanya gagal, melalui penguasaan fisik ". Dari pernyataan ini, memberikan bukti bahwa pasien di rumah sakit jiwa mengalami kesulitan untuk berkembang menjadi mandiri. 2. Mere masuk ke unit psikiatris stigmatises pasien. Pullen (1994) menyatakan bahwa "sikap dan harapan pasien, serta orang-orang tentang dia, perubahan sebagai hasil dari berada di rumah sakit. Hal ini mempengaruhi kemungkinan penyesuaian berhasil kembali ke masyarakat ". Di rumah sakit jiwa, sebagai penyedia memiliki sikap dan stigma serta orang-orang di masyarakat, ini memiliki dampak langsung terhadap pemulihan pasien di rumah sakit. Penyedia dalam praktek kesehatan harus memiliki harapan untuk membantu orang dengan penyakit mental untuk menjadi orang normal. Harapannya dapat mempengaruhi motivasi untuk orang dengan penyakit mental untuk menjadi orang normal di masyarakat. Masalah yang muncul adalah sejumlah kecil pasien jiwa dewasa yang masih membutuhkan perawatan untuk waktu yang lama meskipun pengobatan aktif dan rehabilitasi. Nikkonen, (1995) menyatakan bahwa "sebagai jumlah tempat tidur kesehatan mental telah berkurang, belum ada penurunan kejadian penyakit jiwa pada masyarakat

umum". , Karena keluarga dan masyarakat tidak siap untuk menerima orang dengan penyakit mental. King (1997) menyatakan bahwa "hal itu juga tidak realistis diharapkan bahwa keluarga sekarang akan merawat kerabat yang telah dilembagakan untuk jangka hidup mereka". Tampaknya tidak mudah untuk berpindah dari rumah sakit untuk masyarakat. Selain itu, kolaborasi antara rumah sakit dan komunitas menjadi bagian penting dalam pelayanan rehabilitasi. D. TAHAP REHABILITASI KE RUMAH SAKIT DAN MASYARAKAT Di rumah sakit layanan Rehabilitasi harus dimulai dari rumah sakit. Tahap pertama adalah, mempersiapkan untuk bergerak di unit lain atau di masyarakat. Bagi seseorang yang baru dirawat di rumah sakit, rehabilitasi dimulai dengan diagnosis, itu berarti, sebagai pengobatan penyakit akut dimulai, rencana umum untuk manajemen di masa depan harus didiskusikan (Hume, 1994). Tahap kedua adalah menjembatani kesenjangan. Rehabilitasi, tidak berakhir dengan debit, pasien harus berhadapan dengan realitas dan masalah kehidupan di masyarakat. Mereka perlu untuk membantu adaptasi dengan situasi. Dukungan dari orang-orang, yang dikenal dan dipercaya orang, akan membantu mereka selama fase bridging (Hume, 1994). Tahap terakhir adalah dukungan masyarakat, "melanjutkan dukungan akan diperlukan untuk mempertahankan kemajuan, memberikan bantuan pada saat krisis dan mencegah kerusakan" (Hume, 1994). Salah satu kemungkinan solusi untuk masalah pasien kronis 'yang disarankan oleh kertas 1975 putih (DHSS 1975) adalah hostel rumah sakit. Ini dimaksudkan untuk memberikan pengobatan dan perawatan terus 24 jam, tetapi dengan lebih menekankan pada rehabilitasi dan berkualitas tinggi perawatan dalam pengaturan lebih domestik dan kurang kelembagaan dari rumah sakit (Norman dan Parker, 1990). Ada kesepakatan yang berkembang bahwa pelayanan kesehatan mental harus membantu orang dengan penyakit mental serius memaksimalkan kesempatan mereka untuk hidup mandiri dan bermakna (Stein, 1999). Berdasarkan pernyataan di atas, layanan rehabilitasi harus dimulai dari masuk ke perencanaan pulang. Dalam rangka untuk memindahkan pelayanan rehabilitasi dari rumah sakit untuk perencanaan debit masyarakat sangat penting. E. PERENCANAAN DEBIT. Setelah debit pasien dari rumah sakit, mereka memiliki hak untuk melanjutkan hidup mereka sebagai orang normal di masyarakat. Pasien berangkat dari rumah sakit, perlu dipersiapkan melalui perencanaan debit, yang harus dilakukan oleh perawat / tim di rumah sakit (Bean & Mounser, 1993). Discharge perencanaan dilakukan dengan keyakinan bahwa transisi horisontal dari rumah sakit ke rumah adalah sebagai diperlukan untuk pasien (Rorden & Taft, 1990). Ryan (1994) menyatakan bahwa unsur-unsur kunci dari perencanaan pulang adalah: Paten * / pengasuh keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan.

* Cukup pemberitahuan debit kepada pasien dan wali * Menjembatani kesenjangan komunikasi antara rumah sakit dan masyarakat * Pendidikan pasien dan penjaga. Tampak bahwa perawat perlu mempersiapkan pasien dan keluarga dalam jangka waktu memindahkan mereka kembali ke masyarakat. DEBIT F. Perencanaan SEBAGAI PROSES A. Rorden & Taft (1990, p 22) menyatakan bahwa perencanaan pulang sebagai "suatu proses terdiri dari beberapa langkah atau fase yang segera tujuannya adalah untuk mengantisipasi perubahan dalam kebutuhan perawatan pasien dan jangka panjang yang tujuannya adalah untuk memastikan kesinambungan pelayanan kesehatan". Mungkin mereka butuhkan untuk perhatian medis untuk pertama kalinya, mungkin juga dominan semua kekhawatiran lainnya dan perlu. Namun, kesadaran akan kekuatan pribadi pasien dan kebutuhan psikososial parsial didorong ke bagian dalam aspek darurat medis. Diagram menunjukkan bahwa dalam fase ini ada faktor-faktor seperti sumber daya keuangan, dukungan keluarga dan sistem sosial dapat mempengaruhi masalah pasien, yang harus diakui. Pada tahap ini, pasien, latar belakang pengalaman dan keyakinan tentang kesehatan mereka terus mempengaruhi pengambilan keputusan. Transisi fase Memasuki pada tahap transisi, kebutuhan baru muncul. Meskipun kebutuhan untuk perawatan akut tetap ada. Untuk mulai merencanakan positif untuk melanjutkan perawatan yang baik mendukung dan frustasi. Pemeriksaan terhadap kekuatan pribadi pasien, sumber daya yang tersedia, dan kualitas keluarga dan sistem dukungan sosial secara logis akan bergerak Facebook keprihatinan mengenai apakah kebutuhan mereka akan terpenuhi dalam setelan yang lain. Mereka mengizinkan pasien otonomi untuk merencanakan jujur dan rasional untuk perawatan melanjutkan mereka. Fase melanjutkan perawatan. Sekarang rencana yang telah dibuat dalam mengantisipasi kebutuhan mulai dilaksanakan. Jika debit pasien adalah untuk rumah dan masyarakat peduli. Pasien kebutuhan keluarga dan dukungan sosial, untuk membantu dalam adaptasi dengan kehidupan mereka. Dari proses perencanaan debit menunjukkan bahwa ruang lingkup dan kompleksitas perencanaan debit perlu memahami, untuk membantu perawat untuk membuat debit rencana untuk mempersiapkan pasien kembali ke masyarakat. G. DALAM MASYARAKAT

Menurut Taylor dan Gunn (1999) pada 1990-an pertanyaan tentang apakah orang dengan masalah mental harus di rumah sakit atau di masyarakat luas tampaknya telah bergeser hanya untuk menjadi lebih dari dilema kelas. Orang sikap dalam masyarakat kadangkadang membuat hidup bisa sangat frustasi bagi orang-orang dengan penyakit mental. Masyarakat adalah lingkungan yang lebih terbuka dan kacau dari lembaga. Robert (1998) menyatakan bahwa sementara banyak klien diragukan lagi manfaat dari perawatan dalam komunitas dibandingkan dengan perawatan dalam sebuah institusi karena itu memberikan mereka kebebasan, namun itu adalah kasus yang yang merasa rapuh sering merasa tidak aman di masyarakat. Akibatnya, untuk membuat pelayanan rehabilitasi pindah dari rumah sakit kepada masyarakat. Ada beberapa aktivitas untuk mempersiapkan orang-orang dalam pengaturan masyarakat harus direncanakan, ini adalah: 1. Keluarga harus disiapkan (Elliot, 1994). Telah lama diakui bahwa beberapa jenis interaksi antara pasien dan keluarga mereka dapat menghambat proses rehabilitasi dan menghasilkan kembali anmission (Vaughn & Leff 1976). Orang dengan penyakit mental memerlukan dukungan terutama dari keluarga mereka. Tetapi beberapa keluarga memiliki kecemasan karena mereka tidak tahu apa peran keluarga untuk membantu mereka. (1994) menyatakan bahwa keluarga juga didorong untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah mereka untuk menghindari situasi stres Elliot. Tampaknya bahwa keluarga harus diberi informasi dan pendidikan untuk menangani mereka. 2. Pentingnya gambar media (Philo, 1996) Hal ini diakui bahwa media memiliki peran positif untuk bermain dalam mendorong sikap yang kondusif untuk kesehatan yang baik (DOH, 1992). Birch (1991) telah menulis tentang bagaimana stigma media gambar dapat menginformasikan lingkaran respon negatif, baik dalam pengguna dan jasa dan pada mereka yang merawat mereka. Media cakupan cakupan penderita skizofrenia seperti berinteraksi, pembantu profesional mereka, dan keluarga mereka, dalam satu set terbatas tanggapan terhadap penyakit. Dari laporan menunjukkan bahwa isi media foto dan menggambarkan memiliki dampak pada publik keyakinan, pada perasaan dan pengalaman pengguna pelayanan kesehatan mental dan pada sikap dan tanggapan dari wali. Tampaknya, peran media telah mempengaruhi masyarakat, di mana orang memiliki keyakinan yang salah tentang orang-orang dengan penyakit mental. Sebagai hasil orang dengan penyakit mental mengalami kesulitan untuk menjadi orang normal di masyarakat. Namun masyarakat juga dapat menggunakan produk media, untuk membuat publik dapat lebih sadar orang penyakit mental sebagai kondisi manusia. Mereka dapat pulih dan mereka dapat kembali berfungsi normal (King, 1995 di Philo, 1996) 3. Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui informasi dan pendidikan (Jenny, 1978).

Jenny (1978) daftar tiga prinsip pasien / masyarakat belajar bahwa ia percaya mendasari program pendidikan kesehatan apapun, ini adalah sebagai berikut: persepsi Nya sendiri, dunia dan bagaimana ia berhubungan dengan dunia mengatur perilaku seseorang. Tugas awal perawat karena itu untuk memastikan bahwa klien memiliki persepsi realistis situasinya. Orang-orang cenderung berperilaku dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menghindari perasaan pribadi dalam kecukupan. Tantangan utama bagi perawat karena itu untuk membantu klien merasa bahwa ia dapat mengatasi tugas-tugas belajar yang terbentang di kepala. Kebutuhan dirasakan langsung mendapat perhatian seseorang pertama. Masalah paling penting dalam pikiran klien sehingga harus ditangani dengan sebelum ia akan mengarahkan perhatiannya untuk eventualities lebih jauh. Namun, membutuhkan alat untuk memberikan informasi. Tampaknya orang dengan penyakit membutuhkan dukungan mental dari masyarakat. Di Indonesia perlu jaringan sosial untuk membantu mereka. Namun, masyarakat diperlukan untuk membuat jaringan sosial. Keluarga yang memiliki anggota dengan orang-orang sakit mental tidak membutuhkan obat terlalu banyak, dan menghabiskan terlalu banyak uang untuk membantu pasien. Tapi mereka membutuhkan dukungan dari masyarakat. Selain itu masyarakat perlu memahami orang dengan penyakit mental melalui informasi dan pendidikan. Tujuan: Manager dan staf keperawatan mengetahui permasalahan institusionalisasi di rumah sakit jiwa. Dan mereka membuat sebuah program untuk memindahkan pelayanan rehabilitasi dari rumah sakit kepada masyarakat. Tujuan: Masyarakat memahami dan kejiwaan penerimaan kesulitan orang dari rumah sakit. program rehabilitasi menggunakan sumber daya dari masyarakat, termasuk sumber daya manusia. 1. Mereka membentuk tim untuk membuat jaringan sosial dan tim ini akan menggunakan sumber daya di masyarakat. 2. Tim membuat program informasi dan pendidikan di masyarakat. Bagaimana meningkatkan pelayanan rehabilitasi dari rumah sakit ke masyarakat di Semarang? Rencana Strategis

Rumah sakit jiwa di Semarang, ada beberapa komite untuk meningkatkan mutu layanan. Komite ini adalah: 1. Perawatan tim akreditasi 2. standar pemantauan tim 3. Pelatihan dan tim pengembangan. Direksi rumah sakit, membentuk tim perbaikan pengendalian mutu untuk memantau mutu praktek perawatan kesehatan. Pada tahun 1999, mereka memiliki program rehabilitasi adalah: kunjungan Home, pameran seni, bepergian, penitipan, terapi kelompok dan mengumpulkan keluarga (rumah sakit laporan, 1998/1999). Pemerintah memberikan dana untuk program ini. Rencana tindakan 1. Mengatur tim, ada orang-orang dari rumah sakit jiwa dan masyarakat. orang kunci di masyarakat, ada guru, pemimpin agama dan pemimpin daerah dari pemerintah dan sumber daya, ada pusat kesehatan masyarakat, Akademi keperawatan, dan perusahaan. Mereka harus pertemuan untuk membahas bahwa orang dengan penyakit mental memerlukan bantuan mereka. Mereka harus membuat kesepakatan untuk membuat tim; tim ini adalah kesatuan antara rumah sakit jiwa dan masyarakat. Pernyataan misi strategi, adalah orang-orang sakit mental perlu dukungan dalam masyarakat, kami membantu mereka untuk menjadi manusia seperti diri kita sendiri. 2. kerangka operasional untuk mengidentifikasi orang masyarakat untuk memimpin jaringan sosial. Tujuan dan tujuan dari jaringan sosial akan diidentifikasi dalam konteks menawarkan dukungan, informasi dan perencanaan pulang pra untuk wali pasien dan keluarga. Kerangka untuk melaksanakan pelayanan rehabilitasi bergerak dari rumah sakit kepada masyarakat. ? ? ? Struktur Organisasi: ? Rumah Sakit manajer dan orang-orang kunci

? Tim bekerja. ???? ? Perawat pekerja dokter keluarga pekerja sosial. ???? Komunitas * Rumah Sakit manajer dan orang kunci memiliki tanggung jawab untuk proyek ini. Mereka harus memilih beberapa tubuh sebagai manajer proyek. * Teamwork terdiri dari orang-orang dari rumah sakit dan dari masyarakat, untuk bekerja sama, tim ini terdiri dari perawat dari pusat kesehatan masyarakat, pekerja sosial, dokter umum, keluarga dan pekerja. Mereka harus memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan dan informasi di masyarakat. * Masyarakat diberi pendidikan dan informasi dari tim kerja. 3. Mengatur sumber daya pendidikan untuk membantu penjaga keluarga dan pasien melakukan transisi dari rumah sakit untuk pelayanan masyarakat. Pemerintah memberikan dana ke rumah sakit untuk membuat program rehabilitasi * Sebuah pamflet kecil yang dirancang untuk distribusi umum untuk meningkatkan kesadaran dan mengurangi stigma. Ini berisi beberapa fakta dasar dan sumber bantuan. * Literatur untuk kelompok mendukung Keluarga ', terdiri dari format selama tujuh pertemuan mingguan berturut-turut. Kepustakaan ini meliputi: tujuan kelompok, surat selamat datang, dan program untuk attainder. Rumah Sakit manajer mengundang orang kunci dari communityDirector, leaderHospitalTo berkolaborasi antara rumah sakit dan masyarakat untuk membuat networkThere sosial adalah MOU (memori pemahaman) antara rumah sakit dan masyarakat untuk membuat sosial networkThey membuat programsLeader dari teamCommunityTo jaringan sosial membuat perencanaan strategis untuk meningkatkan pelayanan rehabilitasi yang berbasis pada communityThere adalah deskripsi kerja antara rumah sakit dan tim dari community.Discuss perawat peran untuk melaksanakan program.Leader dari kualitas tim perawatan di hospital.HospitalTo membuat debit rencana untuk mempersiapkan pindah pasien di community.There adalah debit perencanaan yang perawat dibuat dan familyThey membuat jaringan sosial di communityLeader dari sebuah komunitas communitycommunityTo mempersiapkan, mereka harus melepaskan kebutuhan 'pasien ex-kejiwaan' itu untuk membantu dari network.Hospital sosial membuat pelatihan pendidikan dan informasi untuk keluarga, teman dan orang kunci dari communityKey yang orang dari masyarakat memberikan pendidikan dan informasi untuk communityLeader, dan mempersiapkan pasien

networkCommunityTo sosial masyarakat tanda terima dari orang-orang hospitalThe dalam buku penerimaan masyarakat, pamflet dan merekam video dari tim. Mereka membahas masalah penyakit mental di communityMeeting untuk mengevaluasi regularlyLeader, dan networkCommunityTo sosial meningkatkan rehabilitasi anytimePeople pelayanan di masyarakat, sadar dan dukungan penyakit mental dari rumah sakit, yang bisa hidup sebagai manusia. Evaluasi; Bagaimana mengevaluasi, proyek ini? Proyek ini harus dievaluasi, apakah sukses atau tidak. Kriteria untuk mengevaluasi proyek ini adalah: 1. Para staf rumah sakit jiwa memahami masalah rehabilitasi dalam pekerjaan mereka, masalah ini institunalisatation. Mereka bisa menjelaskan bagaimana dampak dari masalah ini untuk pasien dan keluarga mereka. 2. Rumah sakit jiwa akan memberi dana untuk proyek. 3. Ada buku, rekaman audio dan pamflet kecil menyebar di masyarakat untuk memberikan informasi dan pendidikan di masyarakat. 4. Rumah sakit dan orang-orang kunci dalam pertemuan komunitas secara teratur untuk mengevaluasi proyek ini. 5. Perawat di rumah sakit jiwa membuat perencanaan pulang untuk mempersiapkan pasien untuk masyarakat. Ada formulir untuk menilai masalah pasien untuk mempersiapkan pasien untuk masyarakat. Formulir ini termasuk formulir penilaian kepada keluarga, pasien dan sumber daya di masyarakat, yang dapat membantu dan mendukung pasien di masyarakat. 6. Orang-orang di masyarakat: * Selalu diperhatikan orang dengan penyakit mental dan mereka harus bersedia untuk mendiskusikan menstigmatisasi dan keyakinan yang salah mereka. * Keluarga yang memiliki anggota dengan penyakit mental, mudah untuk membuat hubungan dengan tetangga mereka. Keluarga * selalu proaktif untuk membantu orang dengan penyakit mental di rumah mereka. 7. Orang dengan kesehatan mental menyimpan dan bisa hidup sebagai manusia. Mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan serta mengembangkan kemampuan mereka sebagai orang normal. Dan rumah sakit jiwa harus memberikan pembayaran kepada orang penyakit mental yang telah bekerja di rumah sakit (bukan keluarga yang memiliki anggota dengan penyakit mental

BAB II LANDASAN TEORI A. PENGETIAN Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. B. PROSES KEHILANGAN 1. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu member makna positif – melakukan konfensasi dengan kegiatan positif – perbaikan (beradaptasi dan merasa nyaman). 2. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu member makna – merasa tidak berdaya – marah dan berlaku agresi – diekspresikan ke dalam diri – muncul gejala sakit fisik. 3. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu member makna – merasa tidak berdaya – marah dan berlaku agresi – diekspresikan ke luar individu – konpensasi dengan prilaku konstruktif – perbaikan (beradaptasi dan merasa nyaman). 4. Stressor internal atau eksternal – gangguan dan kehilangan – individu member makna – merasa tidak berdaya – marah dan berlaku agresi – diekspresikan ke luar individu – konpensasi dengan prilaku destruktif – merasa bersalah – ketidakberdayaan. D. TAHAP TAHAP KEHILANGAN Elizabeth Kubler-rose,1969.h.51, membagi respon berduka dalam lima fase, yaitu : pengikaran, marah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan. Rentang Respon Kehilangan Gambar rentang respon individu terhadap kehilangan (Kublier-rose,1969). Fase Marah Fase Depresi Fase Pengingkaran Fase Tawar-menawar Fase Menerima 1. Fase Pengingkaran Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya atau mengingkari kenyataan bahwa kehidupan itu memang benar terjadi, dengan mengatakan “ Tidak, saya tidak percaya itu terjadi “ atau “ itu tidak mungkin terjadi “. 2. Fase Marah Fase ini dimulai dengan timbulnya suatu kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan Individu menunjukkan rasa marah yang meningkat yang sering diproyeksikan kepada

orang lain atau pada dirinya sendiri. Tidak jarang ia menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar, menolak pengobatan, menuduh dokter-perawat yang tidak pecus. 3. Fase Tawar-menawar Individu telah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara intensif, maka ia akan maju ke fase tawar-menawar dengan memohon kemurahan pada Tuhan. Respon ini sering dinyatakan dengan kata-kata “ kalau saja kejadian ini bisa ditunda, maka saya akan sering berdoa “. 4. Fase Depresi Individu pada fase ini sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang sebagai pasien sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga, ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain : menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido manurun. 5. Fase Penerimaan Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat kepada obyek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kehilangan yang dialaminya. Gambaran tentang obyek atau orang yang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatiannya akan beralih kepada obyek yang baru. E. ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG KEHILANGAN 1. Pengkajian Data yang dapat dikumpulkan adalah: a. Perasaan sedih, menangis. b. Perasaan putus asa, kesepian c. Mengingkari kehilangan d. Kesulitan mengekspresikan perasaan e. Konsentrasi menurun f. Kemarahan yang berlebihan g. Tidak berminat dalam berinteraksi dengan orang lain. h. Merenungkan perasaan bersalah secara berlebihan. i. Reaksi emosional yang lambat j. Adanya perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur, tingkat aktivitas 2. Diagnosa keperawatan a. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah / kronis. b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder terhadap respon kehilangan pasangan. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas. 3. Intervensi Keperawatan a. Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah : kronis

Tujuan Umum : • Klien dapat berinteraksi dengan orang lain. Tujuan Khusus : • Klien dapat membina hubungan saling perbaya dengan perawat. • Klien dapat memahami penyebab dari harga diri : rendah. • Klien menyadari aspek positif dan negatif dari dirinya. • Klien dapat mengekspresikan perasaan dengan tepat, jujur dan terbuka. • Klien mampu mengontrol tingkah laku dan menunjukkan perbaikan komunikasi dengan orang lain. Intervensi : • Bina hubungan saling percaya dengan klien. R/ Rasa percaya merupakan dasar dari hubungan terapeutik yang mendukung dalam mengatasi perasaannya. • Berikan motivasi klien untuk mendiskusikan pikiran dan perasaannya. R/ Motivasi meningkatkan keterbukaan klien. • Jelaskan penyebab dari harga diri yang rendah. R/ Dengan mengetahui penyebab diharapkan klien dapat beradaptasi dengan perasaannya. • Dengarkan klien dengan penuh empati, beri respon dan tidak menghakimi. R/ Empati dapat diartikan sebagai rasa peduli terhadap perawatan klien, tetapi tidak terlibat secara emosi. b. Gangguan konsep diri; harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder terhadap respon kehilangan pasangan. Tujuan : • Klien merasa harga dirinya naik. • Klien mengunakan koping yang adaptif. • Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya. Intervensi : a. Merespon kesadaran diri dengan cara : • Membina hubungan saling percaya dan keterbukaan. • Bekerja dengan klien pada tingkat kekuatan ego yang dimilikinya. • Memaksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik. R/. Kesadaran diri sangat diperlukan dalam membina hubungan terapeutik perawat – klien. b. Menyelidiki diri dengan cara : • Membantu klien menerima perasaan dan pikirannya. • Membantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan orang lain melalui keterbukaan. • Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada klien. R/. klien yang dapat memahami perasaannya memudahkan dalam penerimaan terhadap dirinya sendiri.

c. Mengevaluasi diri dengan cara : • Membantu klien menerima perasaan dan pikiran. • Mengeksplorasi respon koping adaptif dan mal adaptif terhadap masalahnya. R/. Respon koping adaptif sangat dibutuhkan dalam penyelesaian masalah secara konstruktif. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->