P. 1
etika birokrasi

etika birokrasi

|Views: 2,539|Likes:

More info:

Published by: Arief Setiawan Putra on Oct 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/18/2013

pdf

text

original

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. tidak ikhlas. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu. dan merata. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. kolusi. dan Nepotisme. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. dan diskriminatif. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Kemudian. adil. maka diperlukan adanya etika birokrasi. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. . yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. Kolusi.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik).

prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. adil. b. sebagai berikut: a.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. profesional. teori-teori. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). prinsip. nilai moral). Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. . dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). kaedah dasar moral. dan pembagian etika. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. keberanian moral. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. penyelenggaraan negara. nilai-nilai dasar. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. jujur. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. dan tidak diskriminatif. merata. dan pembangunan secara. pelaksanaan etika. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. serta tentang etos dan etiket. pemerintahan.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

....... DAFTAR ISI ............ 2............................................ Tujuan Pembelajaran Khusus ......... Pentingnya etika dalam organisasi .. 3............. Uraian dan contoh .................... 4...................5................................................................................ 1.........................................................4 Rangkuman ..... Etika ........... 3...... Tujuan Pembelajaran Umum .....2.......................7........................1.... 2.................................... ii .................3.................... 1................. DAN ETIKET ....................1... 2.........................8...................... Kb 1: ETIKA... Latihan 3 ................................... 4........................ 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ............................. Uraian dan contoh ..................... 4........................ MORAL....................................... 2....................................... 4........................ 4.......... 4..............................5 Latihan 2 ...............................4............5.. Etiket ............................................. 3....................... Rangkuman ........... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ............................2.....1...................... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3.... Deskripsi Singkat . 2......... Ciri-ciri pokok birokrasi .2.................................................... 3..... 4................. Etos.......................................................................................... 1........................................... 2.....6.............. Uraian dan Contoh .......................4..... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ................... Pengertian tentang birokrasi .......................... 2............................... Asas-azas umum penyelenggaraan negara ..... PENDAHULUAN ........ 4................................................. Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ............. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ............... 2....................................................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR .............. Tugas birokrasi ...... Latihan 1 .3..................... Rangkuman ........................................................... 3.......................6......... 4...................................................................9.......... 1......7............................. ETOS.............................................................................2.............................3 Perwujudan etika organisasi ............... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ................................. 5...........................................................................1....................3..... 4...............................

...................................................... 7...... 39 40 41 iii . 8........................................................ DAFTAR PUSTAKA .........................6............. KUNCI TES FORMATIF .................. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ...................

yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. dan pembagian etika. prinsip etika. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. serta birokrasi organisasi pemerintah. keberanian moral. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. azas-azas umum penyelenggaraan negara. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. etos. PENDAHULUAN 1. Moral. serta terakhir tentang etos dan etiket. dan etiket. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. kaedah dasar moral. moral. teori-teori etika. moral. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. dan etiket. dan Etiket. ciri-ciri pokok birokrasi. Menjelaskan pengertian tentang etika. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a.2. etos.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. etos. 1 .3. tugas birokrasi. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. kesadaran moral. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. 1.1. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. cara mewujudkan etika birokrasi. Etos. nilai moral. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. yang mencakup pengertian tentang Etika. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). 1. moral. dan etiket. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. kedamaian. 2. 2. 5 . tidak diskriminatif. bekerja sama. suasana yang kondusif. contoh. dan pola pikir yang beragam. Jadi manusia harus diperlakukan sama. ketentraman. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. adanya rasa kasih sayang antara sesama. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. R. yaitu: 1. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. tidak sama satu sama lain. saling bertenggang rasa.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. c. Sebagai contoh. ras. saling kasih-mengasihi. misalnya: saling menghormati. dan lain-lain. sikap. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. berpenampilan indah. dalam Salomon. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. saling berbuat baik. etnis. sayang sesama manusia. berpenampilan menarik. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. Prinsip kebaikan bersifat universal.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. dan lain-lain. 3. kebaikan yang diterima umum.

Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan.4. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. apa yang baik untuk dirinya. 6. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. akan semakin besar tanggung jawabnya. Teori etika ini terdiri 6 . kebebasan. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. keadilan. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. 5. persamaan. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. d. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. dan kebenaran bagi setiap orang. kebaikan.

Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. bukan karena paksaan. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Dengan demikian. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). sebagaimana 7 . dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. juga dianggap benar oleh orang lain. Immanuel Kant (1734-1804). etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. dalam Sonny Keraf (2003).dari: etika deontologi. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. Menurut etika deontologi. etika teleologi dan etika keutamaan. kritis. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang.

tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. 8 . apakah diri kita sendiri. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Menurut Kant. 2. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. Sebaliknya. diperlakukan secara sewenang-wenang. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. orang lain. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. suatu tindakan dinilai buruk. yang berarti tujuan. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. Menurut etika deontologi. apabila bertujuan atau berakibat buruk. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. baik bagi siapa: diri sendiri. ataupun orang lain. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. berarti kita memperalat diri kita demi uang. karena suatu tindakan yang bernilai moral. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

e. teori-teori etika. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). Maka.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). etika sosial. dan etika lingkungan hidup. yaitu etika individual. Dalam hal ini. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. dan semacamnya. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. 12 . etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. Dengan kata lain. 1. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). 2.

termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. negara). serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. masyarakat. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. 2006:34) 13 .

Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. tata cara hidup yang baik. Secara harfiah. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral.2. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. 3. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. a. yang berarti. a. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. kebiasaan yang baik. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. suatu hal yang bersifat rasional. 2. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika.3. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. c. adat. kebiasaan. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral.

yaitu: kewajiban. e. yaitu: moral sebagai adat istiadat. yakni: keberanian moral. Dalam hubungan ini. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. norma hukum. dan sesudah perbuatan dilakukan. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. petunjuk hidup. 15 . Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. 2. dan norma moral. sebagaimana diuraikan sebelumnya. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. Di sisi lain. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. Nilai Moral Moral. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. kebiasaan yang baik. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. sebagaimana yang diwajibkan. d.hakekatnya merupakan pedoman hidup. akibatnya tidak baik. penuntun. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. ada juga hal lain yang perlu dipahami. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. dan larangan. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. mempunyai fungsi sebagai pedoman. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan.

Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. 2. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. dan sebagainya.4. tanggungjawab. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. Berbeda dengan etika. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . dan sebagainya. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. dedikasi. Apabila ada istilah etos kerja. Etos kerja bisa kuat atau lemah. Etos a. f. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. b. Pemakaian kata etos sering kita dengar. kepercayaan. masyarakat. keputusan nalar. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. misalnya: malas. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. seperti: etos kerja. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. seperti: disiplin. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. 1993:120). etos profesi. dan petunjuk hidup). akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. seperti: rasional. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. integritas. alasan logis. dan tanggung jawab.3. transparansi. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. positif atau negatif. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. tradisi. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. kebebasan. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik.

5. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral.pekerjaannya. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. Dalam hubungan ini. etiket makan. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. misalnya. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. misalnya. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. jangan berbohong. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. Etika (kebiasaan. akhlak atau watak tertentu. 2004:5). ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. Etiket tidak sama dengan etika. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. yaitu etiket. jangan mencuri. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. 2. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. dan sebagainya. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. meskipun ada kaitannya. misalnya. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. Sebaliknya. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. Sebagai kata sifat. Pemakaian kata etiket.

dianggap melanggar etiket. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. 2. dan sebagainya. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. atau menyontek. korupsi. dan etiket. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. etos. Secara harfiah. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. dan etika keutamaan. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. serta pembagian etika. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. etika lebih bersifat universal. moralitas. menyontek. mencuri. Disamping pengertian tentang etika. Misalnya. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. Sebaliknya. yakni: etika deontologi.6. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. Larangan-larangan korupsi. Larangan-larangan untuk mencuri. tiga teori etika. tata cara hidup yang baik. etika teleologi. • Etiket bersifat relatif. 18 . Sebaliknya. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. tetapi apabila saya makan sendiri. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan.

Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral.Di sisi lain. Dari pengertian ini. yakni: a. dedikasi. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang.7. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. moral. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. 2. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. dan keempat. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. Sementara itu. LATIHAN 1 1. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. c. Jelaskan prinsip-prinsip etika. apabila ada istilah etos kerja. integritas. dan sebagainya. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. transparansi. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. etika. menurut Adler! 4. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. b. seperti: disiplin. dan etiket! 5. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. etos. etiket lebih bersifat relatif. Berikan contoh! 19 . tanggung jawab. sebaliknya. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya.

etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika.1. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya.A: 1998). Dengan demikian. Sondang Siagian (1996:11). sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. 3. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. sebagai berikut: a. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. prinsip-prinsip organisasi. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . Sutopo. MSc (2005:27) dan Prof.3. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. M. kejujuran. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. DR. ketulusan.2. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. peraturan perundang-undangan. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. kesabaran. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. Tony Rooswiyanto. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi.

sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. dan sosial. suku. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. 2. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. 2. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. 21 . 3. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. 3. d. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. sosial. yakni sebagai berikut: 1. 4. di bidang agama. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. pandangan hidup. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia.organisasi tersebut. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku.

dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. melaksanakan tugas dengan ikhlas.3. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. dan kebiasaan kelompoknya b. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. menurut Suseno SJ. maka akan memberikan kesenangan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. efisiensi. 22 . kegembiraan. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. 2) Jujur. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. sebagai berikut. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. harapan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu.3. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. tidak korupsi.

Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). kejujuran/tidak korup. Secara konsisten. bersedia untuk berubah. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. mau bekerja sama. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. keputusan diambil secara rasional. kerajinan. memahami secara garis besar maupun detil-detil. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. bersedia memandang jauh ke depan. Seperlunya dia harus mempelajarinya. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. sanggup mengenakan sanksi. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. 23 . Selalu. tanpa kecuali. harus mempunyai wibawa. kerapihan. kesederhanaan.4) Bertanggung jawab. tepat pada waktunya. c. kegesitan. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. 1. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. menuntut. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. dia harus tegas. 2.

bersih. bebas dari pamrih. korup. Bagi orang yang berwatak kuat. jujur.3. d. Seorang pemimpin yang jujur. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. 4. malas. komunikatif. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. dan bertanggung jawab. dan bertanggung jawab. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. Semakin banyak orang 24 . tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. cakap. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. 5. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. mendorong orang tidak bersemangat. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. yaitu: 1. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. tegas. Dalam lingkungan yang positif. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. adil.

yaitu adanya etos kerja yang kuat. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. 2. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu.4. 25 . Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan.yang terkena erosi moral. Etika diharapkan menunjang kualitas. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. akan memberikan kesenangan. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. didukung lingkungan kerja yang kondusif. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. kepemimpinan yang bermutu. dan efektivitas kerja semua pegawai. dan syarat-syarat sistemik. etos kelompok sudah merosot. efisiensi. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. 3. didukung moralitas pribadi pegawai. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. kegembiraan.

Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. LATIHAN 2 1. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.5. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 .3. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5.

2. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4.1.4. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. b. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. Uraian dan contoh 4. 27 . wewenang. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. 4. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah.3. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan.

kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. 4. e. Dalam konteks negara Indonesia. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. f. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. sebagai berikut: a. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara.c. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. d. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan.4. 28 .

setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. dan kesamaan di hadapan hukum. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. dapat dipertanggungjawabkan. e.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. d. b. Oleh karena itu. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. dan efisien. c. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. martabat manusia.

dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Pimpinan Bank Indonesia. Jaksa. maka ukuran lain adalah efisiensi. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. 4. Kolusi. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. dan Anggota MPR. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Ketua. dan Anggota DPR. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Direksi. dan biaya yang dikeluarkan. Ketua. Wakil Ketua. legislatif. dan Nepotisme. Komisaris pada BUMN dan BUMD. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. dan POLRI. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. dan Nepotisme. Ketua Muda. militer. prosedur layanan.5. Wakil Ketua. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. yaitu: 30 . Menteri dan jabatan setingkat Menteri. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Kolusi. Penyidik. Panitera Pengadilan. atau yudikatif. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. Ketua. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. Ketua. Walikota dan Wakil Walikota.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Wakil Ketua. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif.

adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. e. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. 4. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. menyelenggarakan tugas negara. jujur. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. adil. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. keserasian. jujur. akomodatif. c. dan rahasia negara. Asas Keterbukaan. dan merata. Anggota POLRI. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Asas Kepastian Hukum.a. f. Asas Akuntabilitas. Asas Proporsionalitas. 31 . dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. menyelenggarakan tugas pemerintahan. g. b. Asas Kepentingan Umum.6. Asas Profesionalitas. d. dan selektif. kepatutan. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

dan balita. listrik. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. pengangkutan barang. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. izin mendirikan bangunan. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. 4. k. j. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. dan sebagainya. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. dan sebagainya. wanita hamil. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. sertifikat tanah. g. f. i. b.e. c. akte kematian. lanjut usia. kenaikan gaji. pengawasan melekat. surat izin mengemudi. bahan bakar gas. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. pensiun janda/duda. akte perkawinan. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. perbankan. kenaikan pangkat. kesehatan. bahan bakar minyak. telepon. dan pengawasan fungsional. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. h. di rumah sakit. 33 . Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat.7. dan sebagainya. pensiun pegawai. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. pendidikan. dan Kelompok Pelayanan Jasa. Kelompok Pelayanan Barang.

34 . menjunjung tinggi supremasi hukum. Dengan kata lain. kebenaran. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. menolong. norma hukum. kesamaan. kolusi.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. seperti antara lain: profesionalisme. seperti antara lain: kejujuran. ketertiban. dan nepotisme. kewajiban. ramah-tamah. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. biaya yang melebihi dari tarif resmi. dan lain-lain. keharusan. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. keikhlasan. 2. dan sebagainya. jangan mencuri. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. efisiensi. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. keadilan. dan norma moral. efektivitas. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. Norma-norma moral. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. Nilai-nilai moral. Dalam kegiatan belajar 1. transparansi. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. dan lain-lain. kebaikan. akuntabilitas. tidak korupsi. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. kesabaran. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). jangan meminta. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum.

transparansi. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. keadilan sosial dan pemerataan. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. yang disebut Pegawai Negeri. standar. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. keikhlasan. keadilan. mengusahakan kesejahteraan umum. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. akuntabilitas. dinamika dan efisiensi. efisiensi. e. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. b. 35 . mewujudkan negara hukum. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. kesamaan. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. dan lain-lain) serta asas-asas. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. f. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. 4. d. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. yaitu: a. dan biaya pelayanan yang murah. profesionalisme.8. c. prinsip-prinsip. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya.

Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. prinsip-prinsip. 4. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . standar. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. melaksanakan tugas negara. dan pola pelayanan yang baik. dan lainlain). dan melaksanakan tugas pembangunan.9. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. keikhlasan. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. LATIHAN 3 1. profesional. transparansi. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. keadilan. melaksanakan tugas pemerintahan. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. akuntabel.

D A B 39 . 3. 2. 2. BENAR/SALAH 1. 3.6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 4. 5. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. B A A B B III.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. 100% s.d.99 % 70.d.d. maka disarankan mengulang materi. 40 . TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.99 % 80. Hitung jumlah jawaban yang benar.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d. 90. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. s. s.

Prof. Handayani. Departemen Keuangan. 16. Nyoman Dekker. Salamoen.P. Jakarta. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.. cetakan VIII..C. S. S. Drs. Keraf. Etika Suatu Pengantar. Suseno S.J. 11. Bertens. Puji. Kuntjoro Purbopranoto. Riant Nugroho. Jakarta. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. Departemen Keuangan.H. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. “Kebijakan Publik : Formulasi. Darmodihardjo Darji.W.J... Suseno S... Elex Media Komputindo. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. Majalah Auditor. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dwijowijoto. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Jakarta. 20 September 2002. 1985. 17. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 5. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. DAFTAR PUSTAKA 1... 3. Rajawali Pers. Utomo. M. 2. DR. M. Prof. LAN. 13. Gramedia Pustaka Utama.. Drs. Myrdal. Implementasi. Jakarta: Balai Pustaka. Bandung. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 41 . Jakarta. dan Evaluasi” PT. 1993. DR. 1968. No.. 7. Makalah. Mr.. Jakarta. Siagian. 2004... Sulandra J. 2004. Mr. 8. Desi Fernanda. 1996. Prof. 2005. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. Inspektorat Jenderal. Jakarta.H. 14. Penerbit Erlangga.A dan Sofia Ayu.. 4. Soeharyo. 4. 2001.G. M. Mardojo.H.A.P. 12. 2006.Ed.. 8. Pringgodigdo. R. Prof. 1984.. Departemen Keuangan. 9. “Etika” PT. Materi Pokok. S. A.8. Etika dan Hukum Administrasi Publik. 2001. S. Kumorotomo. Salamoen. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. dan Zahar Angga Setiawan.. K.I. M.. penerbit Karunia Esa. 2002. Drs. Solomon.. Drs. Vol. 2000. 6. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Juni-Agustus Tahun 2003. 10. Jakarta.H. Rooswiyanto. 16 Juli 2003. Soeharyo.. STIA LAN. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. 15. A Sonny. 2005.

13. Tiara Wacana. 4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 42 . Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Zubair. Pengantar Kuliah Etika. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Achmad Kharis. 7.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 3. 8. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. PERATURAN-PERATURAN: 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. 11. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 10. 12. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. 5.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Departemen Keuangan Republik Indonesia. 2. Kolusi. dan Nepotisme. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. dan Nepotisme. 6.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.01/2007. 1988.18. Kolusi.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

...................................................5 Rangkuman ......................... Deskripsi singkat ....... Rangkuman ........5....................................................................................... 6............ i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2.......................................................... KUNCI TES FORMATIF .............8............ Pelaksanaan etika PNS ........................ 3.. 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5........ Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ....... 1.......................4.........................1 Uraian dan contoh ....................... Penegakan kode etik PNS ..... 4.....................4.... 4.....2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi .................... 1... TES FORMATIF ..................... DAFTAR PUSTAKA ...................6 Latihan 1 .............. 4.......9.. 3................. Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ..............3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan . Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2.2.... 3..........7 Latihan 3 ........................ 2................................ Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan .......................................................................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT........ Kode etik instansi dan kode etik profesi ..6... Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ...6 Rangkuman ....... 3.... Uraian dan contoh ......1.........................................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ........1. 7......................................... 3................... Latihan 2 ...2. 3............ 2........... 2..... 3................................10................... 4...................... 3.... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2............ ........... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? .............................................................................................................................. 4........ 4...2...................DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1..5....................................... Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ........ Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ......................3...... 3.................................... 4............................ Etika meningkatkan kualitas PNS .... 4... 8............................................. 3............................... Tujuan Pembelajaran Umum .......... PENDAHULUAN .........................7.. Beberapa pengertian .... 2...1..................................................................................... 1.......4................................................................. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ........................................ 3. Uraian dan contoh ........3........

Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. yaitu: PNS yang kuat. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. UUD 1945. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. sikap. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. Dalam kepemerintahan yang baik. dan Pemerintah. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. tidak ikhlas. dan bersatu padu. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. netral. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. adil. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. tanggap. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Negara.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. serta diskriminatif. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. dan merata. memiliki kepekaan. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. berdisiplin.1. kompak. tidak hormat. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. PENDAHULUAN 1. 1 . profesional.

peserta diklat dapat: 1. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 3. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.2.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. 2. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. bangsa. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. 2 . baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. dan negara. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini.3. 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. yang akhirnya akan mewujudkan sikap. 1.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya.

yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. 9. 8. 7. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS. 6.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 5.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS. 3 .Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan.4.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah. 10.

Beberapa pengertian a. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. kerja sama. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. serta tidak diskriminatif. tujuan. kreativitas. kebersamaan. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. tanggung jawab. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. tanggung jawab. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. disiplin. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. 4 . kebersamaan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps.1. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. dedikasi. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. UUD 1945. disiplin. dan Pemerintah. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. dedikasi.2. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. adil dan merata.2. setia dan taat kepada Pancasila. kreativitas. kerja sama.

tingkah laku. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pelanggaran kode etik PNS 5 . perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. dan merata. adil. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. a. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. pengabdian. tingkah laku dan perbuatan PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. pengabdian. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. d. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik.a. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. c. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps.

pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). 1. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. 6 . dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. b. Selanjutnya. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. c. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Membina karakter/watak. kesadaran. b.3.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. c.

melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. melalui kinerja. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7 . yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja.1. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. b. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. adil dan merata. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. tidak diskriminatif.4. d. tidak diskriminatif. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. peningkatan kerja sama antara PNS. dan negara. sikap. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. c. dan perilaku yang baik dari PNS. adil dan merata. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. dan negara. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. bangsa. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. bangsa.

Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999).Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. Membina karakter/watak. dedikasi. kebersamaan. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. kreativitas. tingkah laku. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. 8 . pengabdian. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. kerja sama. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. tanggung jawab. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. b.5. 1. disiplin. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik.

Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat.6. 4. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. 3. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. bangsa. LATIHAN 1 1. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1.c. kesadaran. dan negara. 2. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. 1. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS.

1. 4. dan pasal 28 UUD 1945. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. 3. 3. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. pasal 27 ayat (1). 2. dan terhadap sesama PNS. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. terhadap diri sendiri. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. bermasyarakat. adil dan merata. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). berorganisasi. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. Menurut DR. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.2. 10 . maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Pasal 5 ayat (2). sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. dan Nepotisme. Kolusi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a.

meliputi: a. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 11 . Semangat nasionalisme. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. e. i. c. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. d. f. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. Semangat jiwa korps. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. b.5. 3. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. g. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Profesionalisme. h.3. netralitas. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. b. dan bermoral tinggi.

yaitu: profesionalisme. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. integritas moral yang tinggi. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. negara. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran.4.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. dan pemerintah. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. Merupakan pedoman sikap. bangsa. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. tingkah laku. 2. Menurut DR. bertindak secara adil. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. 12 . Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. bangsa. dan jangan lakukan pada orang lain. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. 3. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. 3. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. dan pemerintah. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. negara. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

Bertindak secara adil 13 . Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. dan nepotisme. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. kolusi. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. d. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. b. c. e. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. bangsa dan negara. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya.

PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. f. dan seterusnya. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. keluarga. dalam penyelenggaraan pemerintahan. abdi negara. dan abdi masyarakat. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. agar kepentingan semua pihak dijamin. Jangan lakukan pada orang lain. 3. yaitu. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar.5. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. g. suku. dalam bermasyarakat.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. dalam berorganisasi. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. agama. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. 14 . Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. tanpa diskriminasi atas dasar ras. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. jenis kelamin.

Etika PNS dalam bernegara 1. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. 8. 4. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. 5. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. 5. 15 . 6. 2. 6. 8. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan akurat. 3. 7. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. hormat dan santun. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. c. Tanggap. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. 2. jujur. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. Mewujudkan pola hidup sederhana. 7. 9. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. terbuka. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. 4. 3. b. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. 2. Etika PNS dalam berorganisasi 1. Memberikan pelayanan dengan empati. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja.

Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. terbuka. 4. 4. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. 3. Berpenampilan sederhana. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. 6. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. 3. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 5. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. kemampuan. 5. Memberikan pelayanan secara cepat. terhadap diri sendiri. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. dan sopan. tepat. terhadap sesama PNS.3. instansi. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. Memiliki daya juang yang tinggi. dan adil serta tidak diskriminatif. kelompok. keterampilan. 16 . d. rapih. 2. 5. Menghargai perbedaan pendapat. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. 6. 7. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. dan sikap. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Menghindari konflik kepentingan pribadi. e. 8. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. maupun antar instansi. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. berorganisasi. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. bermasyarakat. maupun golongan. 7. 2. 4.

Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1.3. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. b. 4. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Sanksi moral. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. Penegakan kode etik PNS a. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. 17 . sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. 2. 3. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. c.6. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. 2.

5. keputusan diambil dengan suara terbanyak. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final. 18 . 6. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai.

Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. kode etik notaris.7. yaitu: 1. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. Kode etik adalah nilai-nilai moral. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . 3. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan.8. dan lain-lain. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. b. kode etik PNS. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan.3. kode etik pengacara. 2. 2. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. misalnya: kode etik kedokteran.

7. 5. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 3. 10.organisasi profesi tersebut.01/2007. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 6. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. 8. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. Pemindahan. c. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. 4. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. dan 20 .01/2007 tentang Majelis Kode Etik.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.

dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. dari mulai perencanaan.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada).01/2007 tersebut.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). Pada saat ini. diminta agar menyesuaikan kembali. Oleh karena itu. pengorganisasian. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. sesuai perkembangan yang ada. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.11.01/2007. Untuk keperluan pembelajaran.

Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. Dalam hal ini. tingkah laku. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. Sebagaimana diketahui. 22 . b. larangan. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Menjamin terpeliharanya tata tertib. e.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Meningkatkan disiplin pegawai.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. d. c. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. Departemen Keuangan.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban.

dan bertutur kata secara sopan. kepercayaan. e. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. dari wajib pajak. Bersikap. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. dan akuntabel. e. Menghormati agama. i. 23 . berpenampilan. yakni sebagai berikut: a. c. b. baik langsung maupun tidak langsung. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. c. Bekerja secara profesional. transparan. yang menyebabkan pegawai yang menerima. f. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. b. Menyalahgunakan fasilitas kantor. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. d. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. f. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. d. sesama pegawai. g. Mentaati perintah kedinasan. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. sesama pegawai. atau pihak lain. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. h.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. dan adat istiadat orang lain. budaya. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas.

g. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. tulisan.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. tingkah laku. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. dan perbuatan pegawai. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. h. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. Dari sisi ini. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. 24 .

budaya. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. d. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. b. d. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. baik langsung maupun tidak langsung. Menaati dan mematuhi segala aturan. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. 25 . Menghormati agama. b. kepercayaan. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. c. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. c. Menaati perintah kedinasan. dan e.

e. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. f. b. berpenampilan. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan.e. f. harmonis. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. h. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. g. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. dan sinergis antar pegawai. c. i. hadiah. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. g. Bersikap. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. d. Menerima pemberian. kerusakan.

sikap. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 30 Tahun 1980. perilaku. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. tulisan. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai.Segala bentuk ucapan. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 .

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

bersemangat dan bertanggung jawab. Melakukan perbuatan korupsi. i. g. d.Kewajiban: a. Bekerja dengan jujur. c. c. d. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. h. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). Berpakaian rapi dan sopan. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. e. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. tertib. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. e. f. Mentaati ketentuan jam kerja. f. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. kolusi dan nepotisme. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. j. Larangan: a. b. cermat. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. b.

mengkonsumsi. yang keanggotaannya terdiri dari: a. dan c.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. Memanfaatkan barang-barang. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. b. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. h. g. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. i. k atau pihak lain. 30 . Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. j. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. Membuat.

jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. bertindak secara adil.3. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. yang dalam hal ini termasuk PNS. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas.01/2007. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. integritas moral yang tinggi. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. 31 . Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. yaitu: prinsip profesionalisme.9. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Menurut DR. dan jangan lakukan pada orang lain. Sonny Keraf. dan Direktorat Jenderal Anggaran.

Pegawai Negeri Sipil. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .9. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. 5. LATIHAN 2 1.3.

tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. adil dan merata. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . serta tidak diskriminatif. ikhlas. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin.2. 4. ramah. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. terbuka. adil dan merata. hormat dan santun. tepat. tidak diskriminatif. adil. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. memberikan pelayanan secara cepat. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan.1. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. sopan dan santun. dan pembangunan.4. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. pemerintahan.

3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. PNS Daerah. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Pegawai Negeri Sipil (PNS). adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. Anggota Tentara Nasional Indonesia. adil. dan merata. • • PNS Pusat. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. 2. pemerintahan. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. c) Untuk menjamin netralitas. dan pembangunan. jujur. 34 . dan 3. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.

4. yaitu: a. 2. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. Kolusi. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. dan bebas korupsi. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. dan nepotisme. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. aparatur pemerintah. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. produktif. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. ikhlas. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. transparan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. ramah. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. sopan dan santun. 2. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. Karena PNS 35 . dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. kolusi. dan merata. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. adil. d.3.b.

Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. c. terbuka. tepat. tidak diskriminatif kepada masyarakat. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. serta tidak diskriminatif. dan tidak diskriminatif. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. d.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. sopan santun. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan adil. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. adil dan merata. ramah. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. 36 . di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. merata. tidak diskriminatif. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. ikhlas. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. e. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut.sebagai unsur aparatur negara. hormat dan santun. b.

b. Prinsip Pelayanan Publik a. 37 . mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. c. mudah dipahami. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. 2. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. e. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. agama. gender. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. dan mudah dilaksanakan. ras. golongan. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. d. dan status ekonomi. Transparansi Bersifat terbuka. Asas Pelayanan Publik a. dan harapan masyarakat. kebutuhan. f. b.

dan sah. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. j. ramah. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. seperti parkir. d. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. mudah dijangkau oleh masyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). g. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. f. toilet. bersih. teratur. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. e.c. tempat ibadah. i. dan lainlain. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. sopan dan santun. Kedisiplinan. disediakan ruang tunggu yang nyaman. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. tepat. Kesopanan. h. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. rapi. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. informatika.

Memberikan pelayanan produktif. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. Kolusi. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Memberikan pelayanan dengan empati.PAN/7/2003. terbuka. ramah. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dan Nepotisme. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. serta tidak diskriminatif. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. hormat dan santun. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. bersih. dan bebas Korupsi. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. dan adil. sopan dan santun. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. tidak diskriminatif. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . tepat. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima. transparan.

b. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. disiplin. bertaqwa. 4. UUD 1945. dan Negara.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. sportivitas. pemerintah. sikap toleransi. adil. 40 . Etika meningkatkan kualitas PNS a. keteladanan. dan Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. tanggung jawab. UUD 1945. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. bersikap. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. amanah.4. Pemerintah. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. dan seluruh rakyat Indonesia. bersikap. rasa malu. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. etos kerja. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. kemandirian. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. Negara. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. dan berperilaku bagi negara. dan merata. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. yaitu: a.

Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh.b. terhadap diri sendiri. Pegawai Negeri Sipil yang netral. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. e. g. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. kompak. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. d. berorganisasi. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. c. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. dan bersatu padu. c. f. bermasyarakat. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku.

Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. cermat. dan tanggung jawab. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. atau pihak lain. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. kesadaran. vii. iii. ix. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. patuh. taat. tertib. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. v. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. diri sendiri. Bekerja dengan jujur. viii. vi. 42 . serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. dan bersemangat untuk kepentingan negara. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. bertanggung jawab. kekompakan. ii. Undang-Undang Dasar 1945. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. iv. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. Negara dan Pemerintah. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i.

dan Pegawai Negeri Sipil. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. 43 . xx. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. ii. xviii. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. keuangan. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. yakni: i. xxiv. xxii.x. xiv. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. xxiii. xxvi. xv. sesama Pegawai Negeri Sipil. Bertindak dan bersikap tegas. xiii. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. dan materiil. xix. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. Mentaati ketentuan jam kerja. Menyalahgunakan wewenang. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. xvi. xvii. xi. Pemerintah. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xxv. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. dan terhadap atasan. xxi. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. xii.

Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. x. menjual. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. vi. golongan atau pihak lain xiv. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. dokumen. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. xiii. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. xii.iii. golongan atau pihak lain. Menyalahgunakan barang-barang. Memiliki. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. xi. iv. kecuali untuk kepentingan jabatan. teman sejawat. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. uang atau surat-surat berharga milik negara. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. ix. membeli. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . viii. xv. v. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. vii. menggadaikan.

bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. dan tanggung jawab. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Negara. pimpinan.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. cermat. xvii. seseorang atau golongan. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. atau komisaris perusahaan swasta. kesadaran. xvi. Undang-Undang Dasar 1945. akan bekerja dengan jujur. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Bahwa saya. Bahwa saya. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. menjadi direksi. Bahwa saya. Bahwa saya. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. dan Pemerintah. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. golongan atau pihak lain. Pemerintah. 45 . Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. xviii. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. tertib.

atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. terhadap diri sendiri. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. 4. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. patuh dan setia kepada Pancasila. bersikap dan berperilaku baik. yaitu: 46 .Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut.5. Negara. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. rajin. dan Pemerintah. UUD 1945. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. taat. berorganisasi. bermasyarakat.3.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. dan lain-lain. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran.

berdisiplin. Memberikan pelayanan dengan empati. kompak dan bersatu padu. Memberikan pelayanan secara cepat. adil. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . di samping bersikap dan berperilaku baik. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP.6. tepat.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. hormat dan santun. dan Pemerintah. serta tidak diskriminatif. Negara. UUD 1945. b. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. profesional. dan adil. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. terbuka.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. 4.M. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. memiliki kepekaan. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.a. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. netral.

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. tepat. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. serta tidak diskriminatif.01/2007.PAN/7/2003! 4.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. dan adil. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. 4.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.7. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. Latihan 3 1. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3. memberikan pelayanan secara cepat. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. hormat dan santun. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. terbuka. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.

B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. B . B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. 7.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. 10. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. 1. dan merata. 8. B . B .A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. 6.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara.A B . Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. B . 2. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. 49 . 4. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. adil. 9. B .A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. TES FORMATIF I. B . 3.5.

sikap. Dalam melaksanakan tugasnya b. dan . adil. tidak diskriminatif d. Memberikan pelayanan dengan empati. d. hormat dan santun. Nepotisme c. Sanksi pidana dan perdata 3. Kolusi. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a.II. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. Sanksi moral b. b. c. Memiliki daya juang yang tinggi 4. b. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. tingkah laku. 1.

5. dan Nepotisme b. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. dan 3) benar B. kerja sama. Kolusi. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. 2). Profesional d. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. disiplin. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. bila semua pernyataan benar 1. Bebas Korupsi. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. netralitas. bila pernyataan 1). Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. Memiliki kepedulian yang tinggi III. Transparan c. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 .

membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. Sonny Keraf. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. watak. Kolusi. Menurut DR.3. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 .

Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat. kompak. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 .4) Produktif dan disiplin 7. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9.PAN/7/2003. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.

2. 3. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. B A B B B A A A A 10. 6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 9. 7. C C A C D III. 5. 3. 2. 7.6. 4. 8. BENAR/SALAH 1. PILIHAN BERGANDA 1. B A 54 . 4. 5. 2. A II. D B 6.

4.3. B D D 55 . 9. 5. 10. B C D 8.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.d. maka disarankan mengulang materi. s. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.99 % 80.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).99 % 70. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. s. 90.d.d. 100% s. Hitung jumlah jawaban yang benar.7. 56 .d.

Salamoen. Prof ... Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. Penerbit Erlangga. Yogyakarta. cetakan VIII.S. Kansil. C. S. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. Etika Organisasi. Drs. Pendidikan Pancasila. Solomon. Keraf.. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. LLM. S. 2.. Prof.. Prijono. Prajabatan III. Departemen Keuangan. Etika Organisasi Pemerintah. Hardijanto. Jakarta. penerbit Karunia Esa. 2005. M..H. Tjiptoherjanto.8. terbitan Program Magister STIA-LAN.H. 5.J. LAN. Supriyadi. 1993. C. Keraf. Desi Fernanda.H. R.. 1990 16.A dan Sofia Ayu.T.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 1 Maret 2003.C. S. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Tony.T. 2001. Mardojo. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. 18. A. 7. Etika Suatu Pengantar... LAN. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I. 9. 2001. M. 20 September 2002.. M. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Mr. Salamoen. Army.M. 3. Lembaga Administrasi Negara. 15. Rooswiyanto. S.... 1985. Sonny..H.A.. 1 April 2002. 16 Juli 2003. Kansil. 14. Gering. Pradya Paramita.S. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Drs.Ec.. M. Kuntjoro Purbopranoto.. Sonny.. Franz Magnis. 10. SC... P. Suseno S. Dipl.P. Prof. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik.. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 13.H. S. Jakarta. Jakarta. 16 Juli 2003. Drs. Darmodihardjo Darji. Soeharyo. Etika Organisasi. Triguno. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan... 4..G. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik.H... Drs. 2002.Soc. Budaya Kerja dan Disiplin. Nyoman Dekker. M. DR. DAFTAR PUSTAKA 1. DR. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Jakarta. Santiaji Pancasila... 2002.. 1 Maret 2003...T. Suseno S. P. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Sulandra J.P. A. Pradya Paramita. Mr. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.. Winarty.J. Jakarta. Drs. DR. 57 . 6. Mei 2002. 1984. Drs. A.Ed. Prajabatan III.T. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. Pringgodigdo. Etika Kepemimpinan Aparatur. Drs. 12. 1998.. Balai Pustaka. 17. Prof.... Penerbit Kanisius. Etika Dasar. kumpulan karangan. Soeharyo. Prof. 11. 8.W. Drs. S.

PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 17. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 16. 7. 11. 19.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Pemindahan. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 5. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 9.PERATURAN-PERATURAN: 1. 2. 6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 8.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak.01/2007. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. dan Nepotisme.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kolusi.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 18. 10. 13. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. 58 . 15. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 14. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 3.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004.

01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.20.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. 22.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. 59 . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. 23. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. 21.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->