DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. maka diperlukan adanya etika birokrasi. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. Oleh sebab itu. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan merata. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. Kemudian. kolusi.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik).Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. adil. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. dan diskriminatif. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. . Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. dan Nepotisme. tidak ikhlas. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. Kolusi.

profesional. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. jujur. dan pembangunan secara. teori-teori. serta tentang etos dan etiket. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. pelaksanaan etika. kaedah dasar moral. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. pemerintahan. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. prinsip. . Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). adil. penyelenggaraan negara. sebagai berikut: a. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. dan pembagian etika. b. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). nilai-nilai dasar. keberanian moral. merata. nilai moral). dan tidak diskriminatif. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

........ 3................ Rangkuman .... 3.....................1........... Tujuan Pembelajaran Umum ...... Etiket ....................... 1...... 1.1. 5.....2...... 1............................. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ............................ Asas-azas umum penyelenggaraan negara ................................................ 2.............................................. Pentingnya etika dalam organisasi ...........................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR .....6.......... 2............ 4................4............................ Tugas birokrasi ......................5 Latihan 2 ......................................................................4...................................2.........................3 Perwujudan etika organisasi ......................................................................... Latihan 3 ...................................... 3......2... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat .8................................... DAN ETIKET ......................... Uraian dan contoh ..9.......... 4........ ETOS..... Deskripsi Singkat ..................................3.......... Ciri-ciri pokok birokrasi .........3......................................................................................... 4............................ 4.........5......................... 2............................ Pengertian tentang birokrasi . 4.................................... Rangkuman ................ ii ....................................... 2........................................................................................... 1.............................................. 4........4 Rangkuman ...5......................7....... 4....................... 3................. Kb 1: ETIKA............................................................................................................ 2........................ Uraian dan Contoh .....................6..................................... Etika ..................................1................................. DAFTAR ISI ................................... 3....................................................1....... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ...................2................................. Latihan 1 .................... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ......... 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ........................... 4...................... 4.... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3.....................3.......................................... 2......................... Tujuan Pembelajaran Khusus ................... 2.................................. Uraian dan contoh ............. PENDAHULUAN ..... 4........ Etos. Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..................... 2..... MORAL......7..................................

............... DAFTAR PUSTAKA ........ 8... 39 40 41 iii . KUNCI TES FORMATIF ...... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ................................................................................................... 7...........6.................................................

etos. etos. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. dan etiket.3. dan etiket. Etos. yang mencakup pengertian tentang Etika. dan etiket. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. 1 . 1. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. serta birokrasi organisasi pemerintah.1. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah.2. Moral. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. serta terakhir tentang etos dan etiket. cara mewujudkan etika birokrasi. moral. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. kesadaran moral. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. dan Etiket. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. dan pembagian etika. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. moral. PENDAHULUAN 1. nilai moral. keberanian moral. tugas birokrasi. teori-teori etika. ciri-ciri pokok birokrasi. Menjelaskan pengertian tentang etika. kaedah dasar moral. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). azas-azas umum penyelenggaraan negara. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. prinsip etika. 1. moral. etos.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

berpenampilan menarik.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. Prinsip kebaikan bersifat universal. dan lain-lain. adanya rasa kasih sayang antara sesama. Jadi manusia harus diperlakukan sama. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. suasana yang kondusif. bekerja sama. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. contoh. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. dan lain-lain. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. yaitu: 1. etnis. ketentraman. kebaikan yang diterima umum. misalnya: saling menghormati. 2. c. kedamaian. 3. dan pola pikir yang beragam. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. berpenampilan indah. sikap. Sebagai contoh. saling berbuat baik. ras. R. 2. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. 5 . tidak sama satu sama lain. saling bertenggang rasa. dalam Salomon. saling kasih-mengasihi. sayang sesama manusia. tidak diskriminatif.

Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. 5. keadilan. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. Teori etika ini terdiri 6 . dan kebenaran bagi setiap orang.4. kebebasan. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. kebaikan. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. d. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. persamaan. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. apa yang baik untuk dirinya. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. akan semakin besar tanggung jawabnya. 6.

dari: etika deontologi. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). dalam Sonny Keraf (2003). Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. Immanuel Kant (1734-1804). Menurut etika deontologi. juga dianggap benar oleh orang lain. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. etika teleologi dan etika keutamaan. sebagaimana 7 . sedangkan “logos” berarti pengetahuan. bukan karena paksaan. Dengan demikian. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. kritis.

tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. apakah diri kita sendiri. diperlakukan secara sewenang-wenang. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. baik bagi siapa: diri sendiri. apabila bertujuan atau berakibat buruk. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. ataupun orang lain. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. Sebaliknya. Menurut Kant. 8 . apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. orang lain. berarti kita memperalat diri kita demi uang. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. yang berarti tujuan. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. karena suatu tindakan yang bernilai moral. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. 2. suatu tindakan dinilai buruk. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. Menurut etika deontologi.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

yaitu etika individual. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. e. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. etika sosial. Dengan kata lain. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. 1. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. dan etika lingkungan hidup. Maka. Dalam hal ini. dan semacamnya. 2. 12 . teori-teori etika. bagaimana manusia mengambil keputusan etis.

sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. masyarakat. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. negara). c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. 2006:34) 13 .a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga.

perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”).3. Secara harfiah. yang berarti. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. adat. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. kebiasaan. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. kebiasaan yang baik. 2.2. a. a. 3. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. tata cara hidup yang baik. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . c. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. suatu hal yang bersifat rasional. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1.

Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. kebiasaan yang baik. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. dan sesudah perbuatan dilakukan. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan.hakekatnya merupakan pedoman hidup. yaitu: kewajiban. sebagaimana diuraikan sebelumnya. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. e. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. Nilai Moral Moral. yaitu: moral sebagai adat istiadat. 15 . dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. dan norma moral. petunjuk hidup. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. Di sisi lain. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. d. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. dan larangan. 2. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. sebagaimana yang diwajibkan. penuntun. Dalam hubungan ini. norma hukum. mempunyai fungsi sebagai pedoman. yakni: keberanian moral. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. akibatnya tidak baik. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. ada juga hal lain yang perlu dipahami. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1.

Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. alasan logis. dan sebagainya. b. masyarakat. Apabila ada istilah etos kerja. seperti: disiplin. seperti: rasional. Etos kerja bisa kuat atau lemah. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. f. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. kepercayaan. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . atau budaya terhadap kegiatan tertentu. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. keputusan nalar. integritas. positif atau negatif. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. tradisi. 2. dan tanggung jawab. dan petunjuk hidup). Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. Pemakaian kata etos sering kita dengar. tanggungjawab. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. kebebasan. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. Etos a. etos profesi. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. transparansi. misalnya: malas. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis.3. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos.4. 1993:120). yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. seperti: etos kerja. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. dedikasi. dan sebagainya. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. Berbeda dengan etika.

jangan berbohong. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. Dalam hubungan ini. jangan mencuri. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 .5. misalnya. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). yaitu etiket. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. dan sebagainya.pekerjaannya. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Sebaliknya. meskipun ada kaitannya. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. 2. Etika (kebiasaan. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. Pemakaian kata etiket. misalnya. akhlak atau watak tertentu. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. Sebagai kata sifat. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. 2004:5). Etiket tidak sama dengan etika. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. misalnya. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. etiket makan.

Sebaliknya. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. Secara harfiah. Misalnya. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. etika teleologi. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. Disamping pengertian tentang etika. atau menyontek. yakni: etika deontologi. dan etika keutamaan. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. Larangan-larangan untuk mencuri. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. serta pembagian etika. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. Larangan-larangan korupsi. tiga teori etika. 18 . yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan.dianggap melanggar etiket. moralitas. tata cara hidup yang baik.6. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. 2. etos. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). korupsi. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). tetapi apabila saya makan sendiri. menyontek. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. etika lebih bersifat universal. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. • Etiket bersifat relatif. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. dan etiket. dan sebagainya. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. mencuri. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. Sebaliknya.

Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. dedikasi.7. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Sementara itu. dan sebagainya. Jelaskan prinsip-prinsip etika. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. yakni: a. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. LATIHAN 1 1. etiket lebih bersifat relatif. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. seperti: disiplin. 2. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. apabila ada istilah etos kerja. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. transparansi. Dari pengertian ini. etos. etika. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. dan etiket! 5. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. b. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. moral. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). tanggung jawab. menurut Adler! 4.Di sisi lain. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. c. Berikan contoh! 19 . dan keempat. integritas. sebaliknya. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak.

A: 1998). kejujuran. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Sondang Siagian (1996:11).3. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. peraturan perundang-undangan. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. ketulusan. M. kesabaran. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. prinsip-prinsip organisasi. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. DR.2. Dengan demikian. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. 3. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. sebagai berikut: a. MSc (2005:27) dan Prof. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. Sutopo.1. Tony Rooswiyanto. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika.

Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. pandangan hidup. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. d. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. suku. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. 21 . Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku.organisasi tersebut. 2. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. yakni sebagai berikut: 1. 4. 3. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. 2. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. 3. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. sosial. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. di bidang agama. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. dan sosial.

Didukung oleh syarat-syarat sistemik. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya.3. 2) Jujur. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. efisiensi. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a.3. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. 22 . 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. sebagai berikut. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. tidak korupsi. melaksanakan tugas dengan ikhlas. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. menurut Suseno SJ. harapan. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. maka akan memberikan kesenangan. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. kegembiraan. dan kebiasaan kelompoknya b. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan.

artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. tepat pada waktunya. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. mau bekerja sama. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. sanggup mengenakan sanksi. memahami secara garis besar maupun detil-detil. bersedia memandang jauh ke depan. kerajinan. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. 23 . dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). c. dia harus tegas. kesederhanaan. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. harus mempunyai wibawa. Selalu. 2. kejujuran/tidak korup.4) Bertanggung jawab. keputusan diambil secara rasional. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. 1. kegesitan. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. menuntut. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. Secara konsisten. kerapihan. Seperlunya dia harus mempelajarinya. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. bersedia untuk berubah. tanpa kecuali.

jujur. adil. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. Bagi orang yang berwatak kuat.3. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. dan bertanggung jawab. yaitu: 1. mendorong orang tidak bersemangat. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. tegas. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. 4. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. bebas dari pamrih. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. korup. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. malas. 5. Semakin banyak orang 24 . kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. Dalam lingkungan yang positif. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. d. Seorang pemimpin yang jujur. cakap. dan bertanggung jawab. bersih. komunikatif. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral.

moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. dan efektivitas kerja semua pegawai. yaitu adanya etos kerja yang kuat. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman.4. dan syarat-syarat sistemik. 2. kegembiraan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. kepemimpinan yang bermutu. didukung moralitas pribadi pegawai. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. Etika diharapkan menunjang kualitas. 25 . termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. efisiensi. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. etos kelompok sudah merosot. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. 3. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. didukung lingkungan kerja yang kondusif.yang terkena erosi moral. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. akan memberikan kesenangan. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan.

LATIHAN 2 1.3. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.5. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 . Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5.

seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Uraian dan contoh 4. b.2. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat.1. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat.3. 27 . wewenang. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat.4. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. 4. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak.c. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. e. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. f. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. d. 28 . sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. sebagai berikut: a. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. 4. Dalam konteks negara Indonesia. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya.4. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah.

e. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. dan kesamaan di hadapan hukum. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. c. martabat manusia. d. dan efisien. dapat dipertanggungjawabkan. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. b. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. Oleh karena itu. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. atau yudikatif. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Wakil Ketua. Jaksa. Pimpinan Bank Indonesia. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. 4.5. Ketua. Wakil Ketua. dan POLRI.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. militer. Ketua. Wakil Ketua. Ketua. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. dan Nepotisme. Kolusi. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. maka ukuran lain adalah efisiensi. Kolusi. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. dan biaya yang dikeluarkan. Ketua. dan Anggota DPR. Ketua Muda. dan Anggota MPR. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. prosedur layanan. Walikota dan Wakil Walikota. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Panitera Pengadilan. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Penyidik. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. legislatif. Komisaris pada BUMN dan BUMD. yaitu: 30 . Direksi. dan Nepotisme. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan.

f. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. 4. Asas Proporsionalitas. jujur. c. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. e. b. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan selektif. dan merata. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. Asas Kepentingan Umum. menyelenggarakan tugas negara. dan rahasia negara. Asas Keterbukaan. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Asas Kepastian Hukum.a. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. menyelenggarakan tugas pemerintahan. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. akomodatif. Anggota POLRI. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. g. Asas Profesionalitas. adil. Asas Akuntabilitas. d. 31 . jujur. kepatutan. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara.6. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. keserasian. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

h. telepon. 33 . kenaikan pangkat. perbankan. pengawasan melekat. bahan bakar minyak. di rumah sakit. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. k. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. j. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. kesehatan. sertifikat tanah. kenaikan gaji. dan sebagainya. b. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. 4. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. listrik. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. i. wanita hamil. lanjut usia. c. izin mendirikan bangunan. pengangkutan barang.7. dan sebagainya. surat izin mengemudi. pensiun pegawai. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. akte perkawinan. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. bahan bakar gas. f. dan Kelompok Pelayanan Jasa. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. dan sebagainya. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. dan balita.e. pendidikan. Kelompok Pelayanan Barang. pensiun janda/duda. dan pengawasan fungsional. akte kematian. g. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif.

Nilai-nilai moral. Dalam kegiatan belajar 1. Norma-norma moral. 34 . dan lain-lain. transparansi. menolong. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. norma hukum. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. kesamaan. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. dan norma moral. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. kebaikan. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. dan sebagainya. keadilan. kewajiban. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. ketertiban. akuntabilitas. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). ramah-tamah. tidak korupsi. kebenaran. seperti antara lain: profesionalisme.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. biaya yang melebihi dari tarif resmi. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. dan lain-lain. 2. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. keikhlasan. dan nepotisme. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. Dengan kata lain. seperti antara lain: kejujuran. kolusi. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. jangan meminta. efektivitas. efisiensi. menjunjung tinggi supremasi hukum. keharusan. kesabaran. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. jangan mencuri.

Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. keadilan. keikhlasan. kesamaan. standar. akuntabilitas. yaitu: a. prinsip-prinsip. 35 . Menurut norma moral “mencuri itu salah”. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. profesionalisme. mengusahakan kesejahteraan umum. transparansi. dan biaya pelayanan yang murah. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. e. keadilan sosial dan pemerataan. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi.8. dinamika dan efisiensi. d.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. mewujudkan negara hukum. b. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. yang disebut Pegawai Negeri. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. dan lain-lain) serta asas-asas. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. c. efisiensi. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. f. 4.

LATIHAN 3 1. dan melaksanakan tugas pembangunan. dan lainlain). Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. profesional. melaksanakan tugas negara. standar. melaksanakan tugas pemerintahan.9. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . prinsip-prinsip. dan pola pelayanan yang baik. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. transparansi. akuntabel. keikhlasan. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. keadilan. 4.

D A B 39 . KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 4. BENAR/SALAH 1. 3. 3. 2. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 2.6. B A A B B III. 5.

s.d.99 % 70.7. 40 . UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).99 % 80. 90.d. Hitung jumlah jawaban yang benar.d. maka disarankan mengulang materi. 100% s. s. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d.

M. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. No.W. 2001. 20 September 2002. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Solomon. 10. Nyoman Dekker. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara.H.... Etika Suatu Pengantar. 6. Salamoen. 8.C. Darmodihardjo Darji. LAN. S. 1968. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.G. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. Jakarta. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. 16. M. 2002. DR. Bertens. penerbit Karunia Esa. Handayani. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan.J.. 16 Juli 2003. 12. DR. Jakarta. 2004. Materi Pokok. Drs.. Majalah Auditor.. Suseno S. Mr. 15. Myrdal. Soeharyo.I.Ed. 1985.8. 5. 14. Makalah. Departemen Keuangan. 4. dan Evaluasi” PT. Departemen Keuangan. Siagian. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. S..P. 2000. 2001. 2. 1996. Pringgodigdo. Dwijowijoto. 13.. 2005. Kuntjoro Purbopranoto. 8. Mr. Prof. Rajawali Pers.H. Jakarta. M. Bandung.. Jakarta: Balai Pustaka. Implementasi. Elex Media Komputindo.. Departemen Keuangan. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .. Jakarta. Rooswiyanto. Sulandra J.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Mardojo.P. 17. DAFTAR PUSTAKA 1.. dan Zahar Angga Setiawan. 1993. Jakarta. Kumorotomo.J.. Prof. Prof. 2005. Prof.. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Gramedia Pustaka Utama. 2004. Drs. R.. 41 . Juni-Agustus Tahun 2003. Desi Fernanda.. 7. Keraf. Suseno S.H. K. Kamus Besar Bahasa Indonesia.. Utomo.. 2006.. Drs. Penerbit Erlangga. Puji. Jakarta. Vol. 9. S. A Sonny.A.. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Soeharyo. 11. 4. “Etika” PT. Drs.A dan Sofia Ayu. A. S. cetakan VIII. Jakarta. Riant Nugroho. 3. “Kebijakan Publik : Formulasi. Salamoen. M. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius.H. Inspektorat Jenderal. STIA LAN. 1984. Etika dan Hukum Administrasi Publik.

PERATURAN-PERATURAN: 1. 10. Zubair. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Kolusi. 5. Tiara Wacana. dan Nepotisme. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 13.01/2007. 2.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Pengantar Kuliah Etika.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. 42 . Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK.18. 1988. 3. 11. 4.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 8. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan Nepotisme.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. 6. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. 7. 12.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Achmad Kharis. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Kolusi.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

................. PENDAHULUAN ......................... Rangkuman ........ Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ...5............ UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT.............................. 4. 3......... Latihan 2 ... 3.......3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ........... 4......... 4.....6 Latihan 1 ...............................4.............3.................................................... Penegakan kode etik PNS .... Deskripsi singkat ....................................................... 3.. 2........................... 3.........7......1. Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ....................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ............ 2................................2......................... 4............ 7............2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ..... Kode etik instansi dan kode etik profesi ......................... 6..............9............ Pelaksanaan etika PNS .....................................................................4......... 1.............2.................................................. Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan .. Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ................ 3....................................................................... Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ....................................... 3.2.......6 Rangkuman ....... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ..........................................5 Rangkuman ................................................. 8................... Uraian dan contoh ...... 1........................... 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5.................. i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2.......6............................................... 4..... 1...... 3......................... 3................. Etika meningkatkan kualitas PNS .....................................................................................................1.. Uraian dan contoh .......3........... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2. 4. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2......................1......... TES FORMATIF ........... KUNCI TES FORMATIF ............. 4.......8. 4..................................... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS .........................5... Beberapa pengertian ...... 3..........................4.............. 3.................... ........DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1... 3...... Tujuan Pembelajaran Umum ......................... 2........................................................ DAFTAR PUSTAKA ...........10......7 Latihan 3 .................1 Uraian dan contoh ................................ 2...................................................

dan bersatu padu. dan merata. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. UUD 1945. PENDAHULUAN 1. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. tidak hormat. tanggap. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. memiliki kepekaan. serta diskriminatif. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. berdisiplin. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Dalam kepemerintahan yang baik. 1 . dan Pemerintah.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. sikap.1. kompak. netral. tidak ikhlas. profesional. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. Negara. adil. yaitu: PNS yang kuat. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah.

maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. 2. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. bangsa. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 1.2. dan negara. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 2 . dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. peserta diklat dapat: 1. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 3. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. yang akhirnya akan mewujudkan sikap.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. 1.

4. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 3 . 9. 5.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah. 6. 10. 7.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. 8.

2. disiplin. kreativitas. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. dan Pemerintah. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. kebersamaan. 4 . maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. kerja sama. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dedikasi. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. setia dan taat kepada Pancasila. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. kerja sama. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. adil dan merata. UUD 1945.1. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. tanggung jawab. tanggung jawab.2. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beberapa pengertian a. serta tidak diskriminatif. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. disiplin. kreativitas. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tujuan. dedikasi. Negara. kebersamaan. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.

dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. pengabdian. tingkah laku dan perbuatan PNS. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. tingkah laku. Pelanggaran kode etik PNS 5 . Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. c. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.a. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. a. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. adil. dan merata. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. d. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). pengabdian.

kesadaran. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS.3.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. b. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. 6 . sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). Selanjutnya. c. Membina karakter/watak. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. 1. c. b. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan.

c. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. tidak diskriminatif. d. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. dan negara. sikap. 7 . Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. b.4. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. adil dan merata. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. bangsa. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dan perilaku yang baik dari PNS. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah.1. bangsa. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. adil dan merata. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. peningkatan kerja sama antara PNS. dan negara. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. melalui kinerja. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. tidak diskriminatif. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS.

sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. disiplin. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. tanggung jawab. b. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tingkah laku. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. kebersamaan. kerja sama. pengabdian. kreativitas. 1.5. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Membina karakter/watak. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. 8 . sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. dedikasi.

Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1.c. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. kesadaran. bangsa.6. 3. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . dan negara. LATIHAN 1 1. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. 2. 1. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. 4. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4.

3. terhadap diri sendiri.2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). dan Nepotisme. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 3. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. 3. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. dan terhadap sesama PNS. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. pasal 27 ayat (1). 4. 2. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Menurut DR.1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. Kolusi. dan pasal 28 UUD 1945. Pasal 5 ayat (2). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. adil dan merata. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. 10 . berorganisasi. bermasyarakat. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.

5. g. i. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 11 . Profesionalisme. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. e. meliputi: a. f. b.3. netralitas. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. h. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. 3. b. c. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Semangat jiwa korps. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Semangat nasionalisme. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. d. dan bermoral tinggi. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. tingkah laku. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. bertindak secara adil. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. negara. dan pemerintah. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. negara.4. 3. Menurut DR. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. Merupakan pedoman sikap. 12 . bangsa. dan pemerintah. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. bangsa. integritas moral yang tinggi. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. yaitu: profesionalisme.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. dan jangan lakukan pada orang lain. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. 3. 2. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran.

tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. bangsa dan negara. b. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. e. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. dan nepotisme. d. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. kolusi. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. Bertindak secara adil 13 . c. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik.

dalam bermasyarakat. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. dan seterusnya. jenis kelamin.5. tanpa diskriminasi atas dasar ras. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. agar kepentingan semua pihak dijamin. yaitu. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. dalam berorganisasi. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. 14 . PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. abdi negara. keluarga. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. suku. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. dalam penyelenggaraan pemerintahan. dan abdi masyarakat. 3. Jangan lakukan pada orang lain. f. agama. g. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan.

6. 2. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. 6. Etika PNS dalam bernegara 1. 7. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. c. Etika PNS dalam berorganisasi 1. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 5. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tanggap. hormat dan santun. 9. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. 3. 7. 8. jujur. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. b. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. 4. Mewujudkan pola hidup sederhana. 2. terbuka. 5. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. 15 . 8. dan akurat. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. Memberikan pelayanan dengan empati. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. 2. 4. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. 3.

4. 2. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. dan sopan. 2. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. 6. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. terhadap sesama PNS. kemampuan. 8. 7. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. tepat. d.3. 16 . dan adil serta tidak diskriminatif. 5. terbuka. keterampilan. bermasyarakat. 5. dan sikap. Memiliki daya juang yang tinggi. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. rapih. 3. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. e. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. 4. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. berorganisasi. 4. Memberikan pelayanan secara cepat. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. 3. instansi. maupun antar instansi. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. 7. 5. kelompok. Berpenampilan sederhana. Menghindari konflik kepentingan pribadi. 6. terhadap diri sendiri. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. maupun golongan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Menghargai perbedaan pendapat.

17 . atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. 2. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. 3. 4. c. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. Sanksi moral. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. 2. b.6. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Penegakan kode etik PNS a. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik.3.

Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. 18 . keputusan diambil dengan suara terbanyak. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.5. 6.

Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. yaitu: 1. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. kode etik pengacara. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik.3. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. kode etik PNS. 2. dan lain-lain. 2. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. misalnya: kode etik kedokteran. b. kode etik notaris. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan.8. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. Kode etik adalah nilai-nilai moral. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing.7. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. 3.

2. 9. 10. 3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Pemindahan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.01/2007. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. dan 20 . Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 5. 6. 4.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. 7.organisasi profesi tersebut.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 8. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut.

dari mulai perencanaan. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target.01/2007. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pengorganisasian. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. diminta agar menyesuaikan kembali. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak. Untuk keperluan pembelajaran.01/2007 tersebut.11.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. sesuai perkembangan yang ada. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. Pada saat ini. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Oleh karena itu. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan).

Meningkatkan citra dan kinerja pegawai.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. e. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. larangan. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. d. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. Dalam hal ini. tingkah laku. 22 . termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Departemen Keuangan.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. Sebagaimana diketahui. Menjamin terpeliharanya tata tertib. b. c. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. Meningkatkan disiplin pegawai.

Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. f. e. i. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. b. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. 23 . Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. budaya. b. atau pihak lain. h. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. Menghormati agama. yakni sebagai berikut: a. dan adat istiadat orang lain. yang menyebabkan pegawai yang menerima. e. d. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. dan bertutur kata secara sopan. dari wajib pajak. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. sesama pegawai. kepercayaan. berpenampilan. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. sesama pegawai.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. Bersikap. dan akuntabel. Menyalahgunakan fasilitas kantor. transparan. c. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. baik langsung maupun tidak langsung. g. d. Mentaati perintah kedinasan. Bekerja secara profesional. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. c. f. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas.

termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. tulisan. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. 24 . Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. h. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. tingkah laku. Dari sisi ini. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. dan perbuatan pegawai. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi.g. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap.

Menaati perintah kedinasan. Menaati dan mematuhi segala aturan. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. dan e. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. b. b. baik langsung maupun tidak langsung. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menghormati agama. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. budaya. d. c. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. 25 .Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. d. kepercayaan. c.

Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. berpenampilan. f. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. i. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. f. kerusakan. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. d. c. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. harmonis. hadiah. e. Bersikap. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. h.e. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. g. g. b. dan sinergis antar pegawai. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. Menerima pemberian. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat.

perilaku. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. 30 Tahun 1980. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. tulisan. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. sikap.Segala bentuk ucapan. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral.

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

f. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. g. f. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. i. Melakukan perbuatan korupsi. Larangan: a. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. tertib. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. d. c. h. j. b. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest).Kewajiban: a. Berpakaian rapi dan sopan. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . e. cermat. c. b. e. Bekerja dengan jujur. d. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. kolusi dan nepotisme. Mentaati ketentuan jam kerja. bersemangat dan bertanggung jawab.

memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. g. dan c. Memanfaatkan barang-barang. h. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. yang keanggotaannya terdiri dari: a. b. i. k atau pihak lain. mengkonsumsi. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. 30 . Membuat. j.

Sonny Keraf. dan Direktorat Jenderal Anggaran. 31 . maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. bertindak secara adil. yaitu: prinsip profesionalisme.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. yang dalam hal ini termasuk PNS.3. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.01/2007. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. Menurut DR. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. integritas moral yang tinggi. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan.9. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. dan jangan lakukan pada orang lain. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS.

3. 5. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 . Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2.9. Pegawai Negeri Sipil. LATIHAN 2 1. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3.

1. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. ramah. serta tidak diskriminatif. tepat.4. ikhlas. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. hormat dan santun. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. adil.2. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. adil dan merata. memberikan pelayanan secara cepat. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. terbuka.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. sopan dan santun. adil dan merata. dan pembangunan. tidak diskriminatif. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. 4. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. pemerintahan. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. adil. Pegawai Negeri Sipil (PNS). yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. dan pembangunan. c) Untuk menjamin netralitas. dan 3. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. pemerintahan. dan merata. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. 2.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Anggota Tentara Nasional Indonesia. jujur. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. 34 . 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. PNS Daerah. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. • • PNS Pusat.

dan merata. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. produktif. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. dan bebas korupsi. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. ikhlas. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Kolusi. yaitu: a. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. 4. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. aparatur pemerintah. d. sopan dan santun. 2. transparan. adil. 2. ramah. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. Karena PNS 35 .PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. kolusi. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini.3. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.b. dan nepotisme. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional.

dan tidak diskriminatif. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. d. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati.sebagai unsur aparatur negara. e. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. serta tidak diskriminatif. c. merata. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. tidak diskriminatif kepada masyarakat. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. terbuka. ikhlas. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. ramah. adil dan merata.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. sopan santun. tidak diskriminatif. dan adil. tepat. b. 36 . maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. hormat dan santun.

2. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. Asas Pelayanan Publik a. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. b. d. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. b. f. dan harapan masyarakat. mudah dipahami. c. 37 . dan status ekonomi. kebutuhan. e. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Transparansi Bersifat terbuka. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. dan mudah dilaksanakan.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. gender. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. golongan. Prinsip Pelayanan Publik a. agama. ras. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik.

rapi. Kedisiplinan. h. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. bersih. informatika. ramah.c. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . tepat. disediakan ruang tunggu yang nyaman. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. dan sah. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. teratur. e. tempat ibadah. seperti parkir. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. mudah dijangkau oleh masyarakat. toilet. j. f. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. i. sopan dan santun. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. g. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. d. Kesopanan. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. dan lainlain.

transparan. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. ramah. Memberikan pelayanan dengan empati.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. tidak diskriminatif. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. sopan dan santun. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. hormat dan santun. Memberikan pelayanan produktif. serta tidak diskriminatif. terbuka. dan bebas Korupsi. dan adil. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003. bersih. Kolusi. dan Nepotisme. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. tepat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima.

dan seluruh rakyat Indonesia. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. disiplin.4. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. yaitu: a. Negara. bersikap. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. sportivitas. bertaqwa. dan berperilaku bagi negara. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. amanah. bersikap. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. 4. etos kerja. sikap toleransi. UUD 1945. keteladanan. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. dan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. dan merata. tanggung jawab. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. rasa malu. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. kemandirian. 40 . maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. adil. dan Pemerintah. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. Pemerintah. pemerintah. UUD 1945. b. Etika meningkatkan kualitas PNS a.

bermasyarakat. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. g.b. c. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. kompak. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. f. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. berorganisasi. e. d. dan bersatu padu. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . tanggap dalam melaksanakan tugasnya. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. c. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Pegawai Negeri Sipil yang netral. terhadap diri sendiri. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. viii. cermat. taat. v. diri sendiri. Bekerja dengan jujur. iii. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. atau pihak lain. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. dan tanggung jawab. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. patuh. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. tertib. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. ii. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kekompakan. 42 . Memelihara dan meningkatkan keutuhan. vii. dan bersemangat untuk kepentingan negara. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. ix. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. iv. Undang-Undang Dasar 1945. vi. kesadaran. bertanggung jawab. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. Negara dan Pemerintah. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil.

Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. xxii. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. xvii. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. xii. Bertindak dan bersikap tegas. xxvi. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. sesama Pegawai Negeri Sipil. Pemerintah.x. xv. xix. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. dan Pegawai Negeri Sipil. Mentaati ketentuan jam kerja. xvi. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. xxv. 43 . keuangan. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xxiv. xviii. xiii. dan terhadap atasan. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. dan materiil. xiv. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. xxi. yakni: i. xxiii. Menyalahgunakan wewenang. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. ii. xi. xx. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin.

atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. vii. membeli. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. iv. Menyalahgunakan barang-barang. xv. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. dokumen. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. teman sejawat. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. xiii. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing.iii. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. ix. xi. viii. menggadaikan. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. golongan atau pihak lain xiv. x. kecuali untuk kepentingan jabatan. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. menjual. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. v. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. vi. uang atau surat-surat berharga milik negara. golongan atau pihak lain. Memiliki. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. xii.

bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. Bahwa saya. akan bekerja dengan jujur. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. dan Pemerintah. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. kesadaran. xvii. tertib. 45 . Bahwa saya. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. dan tanggung jawab. Bahwa saya. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Negara. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. atau komisaris perusahaan swasta. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. Undang-Undang Dasar 1945. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. menjadi direksi. Pemerintah. Bahwa saya. seseorang atau golongan. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. golongan atau pihak lain. cermat. xvi. pimpinan. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. xviii. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. berorganisasi. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. UUD 1945. bersikap dan berperilaku baik. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. rajin. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. dan lain-lain. Negara.5. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. bermasyarakat. terhadap diri sendiri.3. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. 4.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. dan Pemerintah. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. patuh dan setia kepada Pancasila. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. yaitu: 46 . dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. taat.

Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. terbuka. kompak dan bersatu padu. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . serta penuh kesetiaan pada Pancasila. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. hormat dan santun. memiliki kepekaan. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. Memberikan pelayanan dengan empati. 4. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. profesional.a. Memberikan pelayanan secara cepat. adil. dan adil.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. dan Pemerintah. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. tepat. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. di samping bersikap dan berperilaku baik. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. netral. Negara. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. b. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. UUD 1945.6.M. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. serta tidak diskriminatif. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. berdisiplin.

hormat dan santun.01/2007. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. 4. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Latihan 3 1.PAN/7/2003! 4.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.7. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. serta tidak diskriminatif. memberikan pelayanan secara cepat. dan adil. terbuka. tepat.

B . B .A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. B . B . 6. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. 7.A B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. 3. TES FORMATIF I. 2. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. B .5. 10. B .A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. 8. 49 .A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. 4. 9.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. adil. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. 1. dan merata.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. B .

II. tingkah laku. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. b. tidak diskriminatif d. dan . d. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Nepotisme c. c. b. Sanksi moral b. hormat dan santun. sikap. Dalam melaksanakan tugasnya b. Sanksi pidana dan perdata 3. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Memiliki daya juang yang tinggi 4. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Memberikan pelayanan dengan empati. adil. Kolusi. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. 1. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Profesional d. netralitas. 2). Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. Kolusi. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. Transparan c. bila pernyataan 1). kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. dan Nepotisme b. disiplin. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . Bebas Korupsi. kerja sama. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. bila semua pernyataan benar 1. Memiliki kepedulian yang tinggi III.5. dan 3) benar B.

Menurut DR. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. watak. Sonny Keraf. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. Kolusi. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.3. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 .

kompak. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 .4) Produktif dan disiplin 7.

B A B B B A A A A 10. 5. B A 54 . PILIHAN BERGANDA 1. 7. 2. 9. 3. 4. 2. D B 6. 6. 7. 8. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1.6. 4. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. BENAR/SALAH 1. A II. 2. 5. 3. C C A C D III.

4. 10. B C D 8. 9. B D D 55 . 5.3.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).99 % 80. 100% s.d.d. s. 56 .d. 90. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. maka disarankan mengulang materi. s.d. Hitung jumlah jawaban yang benar.7. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.99 % 70.

Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. Jakarta.G. Etika Organisasi. 1985.. S.T. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Prof. 17.... M. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. 1993. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. Pendidikan Pancasila. Kamus Besar Bahasa Indonesia... penerbit Karunia Esa. Mr.P.H... Kuntjoro Purbopranoto. Pradya Paramita. Penerbit Erlangga.. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. 57 . 2. 7. 1 Maret 2003.S.C. M. Drs. M.T. P.. 16 Juli 2003. Jakarta. Etika Suatu Pengantar. 2002. Sulandra J. S. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. Departemen Keuangan. 1990 16. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. 1 April 2002. DR.A dan Sofia Ayu. Prof. 16 Juli 2003.. M. Solomon. Dipl.. Gering. Winarty.Ed.. C. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. 9.. Drs.A.. Suseno S. 20 September 2002. Jakarta. R. A. Mr. Hardijanto. kumpulan karangan. Prajabatan III. DAFTAR PUSTAKA 1. 12. 1984. Drs. Drs. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Mei 2002. Drs. Suseno S. Drs. Santiaji Pancasila. Pringgodigdo.. Jakarta. 1 Maret 2003. Soeharyo.P. LLM.. Yogyakarta. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I.T. P.. Army.. 15.. Prajabatan III. Sonny.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Salamoen. 1998. Nyoman Dekker. 2005. Rooswiyanto. S. Mardojo. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.. Etika Kepemimpinan Aparatur.H..H. Budaya Kerja dan Disiplin.. A. LAN. DR. Jakarta.Soc. Prof..S. Sonny.. S. 14... Penerbit Kanisius. 2001. S.W. 13. Etika Dasar. DR. C. 4.H. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .M.H. S.. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. 2001. Prof.Ec. 6. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”.H. SC. Tjiptoherjanto.. Franz Magnis. Etika Organisasi Pemerintah. Drs. 8. 3. Desi Fernanda. Supriyadi.. cetakan VIII. 18.. Prijono. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. 10. M.. Darmodihardjo Darji. 2002. Keraf. Lembaga Administrasi Negara. Kansil. Soeharyo. Tony. Etika Organisasi. Keraf. A...J. 5.8.J. Prof . 11.T. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. Drs. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi... Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Triguno. Pradya Paramita. Kansil. LAN. terbitan Program Magister STIA-LAN. Balai Pustaka. Salamoen.

Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. 11. 18.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. 17. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. 13. 19. 5. 7. 12.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 15. 4.PERATURAN-PERATURAN: 1.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 10. 9. 58 . Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. 2.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. 14. 16. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 3. Pemindahan. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil.01/2007. Kolusi. dan Nepotisme. 8.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.

01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 23.20.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. 22. 21. 59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.