DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. dan Nepotisme. dan diskriminatif. Kemudian. kolusi. . tidak ikhlas. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. maka diperlukan adanya etika birokrasi. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. adil. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. dan merata. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. Kolusi. Oleh sebab itu. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.

Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. dan pembagian etika. b. nilai-nilai dasar. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. serta tentang etos dan etiket. . Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). penyelenggaraan negara. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). adil. keberanian moral. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. profesional. nilai moral). pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. prinsip. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. kaedah dasar moral. pemerintahan. merata. dan tidak diskriminatif. teori-teori. dan pembangunan secara. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. sebagai berikut: a. pelaksanaan etika. jujur.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

..7......................... Rangkuman ..................... MORAL............................. Etos........................... 2.................................3 Perwujudan etika organisasi .................... 1......1.................. i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3............... Ciri-ciri pokok birokrasi .................. 2.......... 4.........2.................9............................................................................................. 4........................................................................................... 2................... Latihan 3 ........................................................................... Pengertian tentang birokrasi ........................................................................... 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ................. 4............................................................................ Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ........................... DAFTAR ISI ................ 3.......................... Deskripsi Singkat ...........1...... Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH . Asas-azas umum penyelenggaraan negara .....6.............. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ............5..... Uraian dan Contoh ...... 5........................... DAN ETIKET .. 1........................................... 2..............................................................................2................................. Tujuan Pembelajaran Umum ....... 2.................. ii ...4............................................................................................................. 2...5..........2...................... 3.......................... 4.... Latihan 1 ........... Kb 1: ETIKA.............. Tugas birokrasi .................. 1.................4 Rangkuman ...... Uraian dan contoh .............................8.......................................... Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ...7...................... 3.......................... 4...................... 4... ETOS..... 3........3....................1...........................2......................... Rangkuman ....................... Etiket ................... Uraian dan contoh .3.... Pentingnya etika dalam organisasi .3.......................... 3............................................................... 2........ 4........ PENDAHULUAN . 2............................... 4...................5 Latihan 2 .... Tujuan Pembelajaran Khusus ................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR .................................4....................... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ........................................................ 4............................... 1............... 4.........................................6.... Etika ..........1..............................

.................. 39 40 41 iii ..........6...................................... 7.............. KUNCI TES FORMATIF .................................... DAFTAR PUSTAKA ............ UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ............................ 8....................................

dan etiket. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik.1. dan Etiket. etos. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. tugas birokrasi. Etos. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. serta terakhir tentang etos dan etiket. Moral. Menjelaskan pengertian tentang etika. moral. dan etiket. serta birokrasi organisasi pemerintah. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. keberanian moral. yang mencakup pengertian tentang Etika. dan pembagian etika. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. moral. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. PENDAHULUAN 1. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. moral. etos. cara mewujudkan etika birokrasi. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi.2. nilai moral. teori-teori etika. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. kesadaran moral. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. etos. azas-azas umum penyelenggaraan negara. dan etiket. 1 . 1. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. kaedah dasar moral. 1. ciri-ciri pokok birokrasi. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral.3. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. prinsip etika.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

sikap. tidak diskriminatif. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. 5 . saling berbuat baik. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. contoh. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. dan lain-lain. 2. saling bertenggang rasa. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. sayang sesama manusia. Prinsip kebaikan bersifat universal. berpenampilan indah. ras. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. kedamaian. dan pola pikir yang beragam. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. misalnya: saling menghormati. 2.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. ketentraman. dalam Salomon. Jadi manusia harus diperlakukan sama. saling kasih-mengasihi. tidak sama satu sama lain. c. 3. dan lain-lain. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. bekerja sama. berpenampilan menarik. Sebagai contoh. suasana yang kondusif. adanya rasa kasih sayang antara sesama. etnis. yaitu: 1. R. kebaikan yang diterima umum.

Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. persamaan. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. 5. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan.4. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. apa yang baik untuk dirinya. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. keadilan. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. 6. akan semakin besar tanggung jawabnya. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. dan kebenaran bagi setiap orang. kebaikan. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. kebebasan. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. Teori etika ini terdiri 6 . d.

juga dianggap benar oleh orang lain. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. bukan karena paksaan. kritis. etika teleologi dan etika keutamaan. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. dalam Sonny Keraf (2003). sebagaimana 7 . yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Menurut etika deontologi. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya.dari: etika deontologi. Dengan demikian. Immanuel Kant (1734-1804). Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1.

terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. karena suatu tindakan yang bernilai moral. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. yang berarti tujuan. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Menurut Kant. baik bagi siapa: diri sendiri. ataupun orang lain. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut etika deontologi. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. apabila bertujuan atau berakibat buruk. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. diperlakukan secara sewenang-wenang. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). apakah diri kita sendiri. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. 2. berarti kita memperalat diri kita demi uang. suatu tindakan dinilai buruk. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. 8 . Sebaliknya. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. orang lain.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

2.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. etika sosial. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. dan etika lingkungan hidup. dan semacamnya. Dalam hal ini. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. yaitu etika individual. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). 12 . Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. e. 1. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). Maka. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. teori-teori etika. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). Dengan kata lain.

sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. negara). 2006:34) 13 . masyarakat. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan.

kebiasaan yang baik. kebiasaan. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. a. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.2. a. yang berarti. adat. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. tata cara hidup yang baik. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). c. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. suatu hal yang bersifat rasional. 3. Secara harfiah. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. 2. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat.3.

d. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. yakni: keberanian moral. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. dan norma moral. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. norma hukum. mempunyai fungsi sebagai pedoman. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. Dalam hubungan ini. penuntun. Nilai Moral Moral. Di sisi lain. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. sebagaimana diuraikan sebelumnya. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. akibatnya tidak baik. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat.hakekatnya merupakan pedoman hidup. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. kebiasaan yang baik. 2. e. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. dan sesudah perbuatan dilakukan. ada juga hal lain yang perlu dipahami. yaitu: kewajiban. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. 15 . petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. yaitu: moral sebagai adat istiadat. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. dan larangan. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. sebagaimana yang diwajibkan. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. petunjuk hidup.

Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. etos profesi. kebebasan. seperti: etos kerja. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. f. dan sebagainya.3. 1993:120). Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. Apabila ada istilah etos kerja. kepercayaan. Berbeda dengan etika. dan sebagainya.4. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. tradisi. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. 2. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. masyarakat. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . Etos kerja bisa kuat atau lemah. alasan logis. keputusan nalar. dedikasi. dan petunjuk hidup). atau budaya terhadap kegiatan tertentu. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. Etos a. seperti: disiplin. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. integritas. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. Pemakaian kata etos sering kita dengar. seperti: rasional. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. b. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. transparansi. misalnya: malas. tanggungjawab. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. dan tanggung jawab. positif atau negatif. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja.

misalnya. Etika (kebiasaan.5. etiket makan. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. akhlak atau watak tertentu. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. jangan mencuri. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Sebagai kata sifat. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. misalnya. Etiket tidak sama dengan etika. Dalam hubungan ini. meskipun ada kaitannya. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. 2004:5). Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. 2. yaitu etiket. misalnya. Sebaliknya. dan sebagainya. jangan berbohong. Pemakaian kata etiket. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan.pekerjaannya. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu.

yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket.6. tiga teori etika. serta pembagian etika. Disamping pengertian tentang etika. dan etika keutamaan. mencuri. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. Secara harfiah. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. Misalnya. dan sebagainya. yakni: etika deontologi. Sebaliknya. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. Larangan-larangan untuk mencuri. 18 . juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. etos. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. korupsi. • Etiket bersifat relatif. atau menyontek. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). menyontek. tata cara hidup yang baik. 2. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). etika lebih bersifat universal. moralitas. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. etika teleologi. tetapi apabila saya makan sendiri.dianggap melanggar etiket. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. Larangan-larangan korupsi. Sebaliknya. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. dan etiket. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak.

sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. Jelaskan prinsip-prinsip etika. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. etika. etiket lebih bersifat relatif. yakni: a. menurut Adler! 4. b. 2. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. moral. apabila ada istilah etos kerja.Di sisi lain. etos. Sementara itu. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. seperti: disiplin. integritas. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. sebaliknya. LATIHAN 1 1. Dari pengertian ini. Berikan contoh! 19 . transparansi. dedikasi. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. c. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3.7. dan keempat. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. dan etiket! 5. dan sebagainya. tanggung jawab. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan).

ketulusan. peraturan perundang-undangan. Dengan demikian. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. Sutopo. 3. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. sebagai berikut: a.2. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. Tony Rooswiyanto. kejujuran. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. prinsip-prinsip organisasi. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. DR. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut.1. kesabaran. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. MSc (2005:27) dan Prof. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi.A: 1998). Sondang Siagian (1996:11). Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. M.3. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001).

Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna.organisasi tersebut. di bidang agama. 4. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. yakni sebagai berikut: 1. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. sosial. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. 2. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. 2. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. suku. 3. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. dan sosial. 21 . Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. d. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. 3. pandangan hidup. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda.

2) Jujur. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. sebagai berikut. 22 . Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. menurut Suseno SJ. tidak korupsi. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu.3. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan.3. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. kegembiraan. melaksanakan tugas dengan ikhlas. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. efisiensi. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. harapan. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. maka akan memberikan kesenangan. dan kebiasaan kelompoknya b. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman.

1. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. tanpa kecuali. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. kegesitan. 2. mau bekerja sama. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). Secara konsisten. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. kerapihan. c. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. keputusan diambil secara rasional.4) Bertanggung jawab. dia harus tegas. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. memahami secara garis besar maupun detil-detil. kerajinan. Seperlunya dia harus mempelajarinya. kejujuran/tidak korup. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. harus mempunyai wibawa. bersedia untuk berubah. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. kesederhanaan. Selalu. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. 23 . sanggup mengenakan sanksi. menuntut. bersedia memandang jauh ke depan. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. tepat pada waktunya.

Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. jujur. Semakin banyak orang 24 . mendorong orang tidak bersemangat. yaitu: 1. dan bertanggung jawab. bersih.3. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. 4. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. dan bertanggung jawab. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. korup. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. Seorang pemimpin yang jujur. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. adil. komunikatif. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. d. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. bebas dari pamrih. 5. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Dalam lingkungan yang positif. tegas. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. cakap. malas. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Bagi orang yang berwatak kuat.

dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. didukung lingkungan kerja yang kondusif. 2. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. yaitu adanya etos kerja yang kuat.4. etos kelompok sudah merosot. 25 . kepemimpinan yang bermutu. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan.yang terkena erosi moral. dan syarat-syarat sistemik. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. efisiensi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. akan memberikan kesenangan. 3. kegembiraan. didukung moralitas pribadi pegawai. Etika diharapkan menunjang kualitas. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. dan efektivitas kerja semua pegawai.

Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.3. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 . LATIHAN 2 1.5. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4.

Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”.3. Uraian dan contoh 4. 27 . seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil.2. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. b.1. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. 4.4. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. wewenang.

sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. sebagai berikut: a. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. d. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. 4. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. e. Dalam konteks negara Indonesia. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. 28 . f.c. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas.4. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat.

setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. c. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. Oleh karena itu. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. martabat manusia. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. b. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. dan kesamaan di hadapan hukum. e. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. d. dapat dipertanggungjawabkan.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. dan efisien.

Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. dan biaya yang dikeluarkan. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Ketua. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. dan Anggota DPR. legislatif. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. Wakil Ketua. Kolusi.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Panitera Pengadilan. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. dan Nepotisme. Ketua Muda. Komisaris pada BUMN dan BUMD. dan Anggota MPR. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Ketua. Pimpinan Bank Indonesia. dan Nepotisme. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Walikota dan Wakil Walikota. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. atau yudikatif. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Wakil Ketua. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. militer. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. maka ukuran lain adalah efisiensi. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. dan POLRI. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Penyidik. Ketua. Ketua. yaitu: 30 . Jaksa. 4. Wakil Ketua.5. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Kolusi. Direksi. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. prosedur layanan.

adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.6. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. e. dan selektif. Asas Profesionalitas. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. dan merata. Asas Akuntabilitas. c. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. Asas Kepastian Hukum. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Asas Kepentingan Umum. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. Asas Keterbukaan. jujur. 31 . jujur. b. dan rahasia negara. 4. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. adil. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. akomodatif. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Asas Proporsionalitas. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan.a. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. menyelenggarakan tugas negara. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). f. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. g. d. menyelenggarakan tugas pemerintahan. kepatutan. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. keserasian. Anggota POLRI.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

dan sebagainya. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. lanjut usia. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. g. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. 4. dan sebagainya. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. surat izin mengemudi. di rumah sakit.7. kenaikan gaji. pengangkutan barang. f. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. k. pensiun pegawai. akte kematian. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. c. listrik. bahan bakar gas. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. wanita hamil. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. izin mendirikan bangunan. Kelompok Pelayanan Barang. b. dan Kelompok Pelayanan Jasa. dan balita. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. pensiun janda/duda. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. i. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. kesehatan. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. bahan bakar minyak. akte perkawinan. kenaikan pangkat. pengawasan melekat. dan sebagainya. dan pengawasan fungsional. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. 33 .e. h. perbankan. telepon. pendidikan. sertifikat tanah. j.

sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. seperti antara lain: profesionalisme. Nilai-nilai moral. biaya yang melebihi dari tarif resmi. keharusan. dan norma moral. Norma-norma moral. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. kewajiban. kesabaran. menjunjung tinggi supremasi hukum. dan lain-lain. menolong. 34 . Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. norma hukum. jangan meminta. transparansi.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. jangan mencuri. ketertiban. tidak korupsi. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. kolusi. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. kebaikan. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. keadilan. ramah-tamah. keikhlasan. Dalam kegiatan belajar 1. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). efektivitas. dan nepotisme. Dengan kata lain. dan lain-lain. dan sebagainya. kebenaran. akuntabilitas. efisiensi. 2. kesamaan. seperti antara lain: kejujuran.

mengusahakan kesejahteraan umum. d. standar. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. b. keadilan sosial dan pemerataan. 4. dan lain-lain) serta asas-asas. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. yang disebut Pegawai Negeri. dinamika dan efisiensi. dan biaya pelayanan yang murah. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. c. transparansi.8. kesamaan. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. f. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. profesionalisme. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. keikhlasan. e. yaitu: a. mewujudkan negara hukum. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. keadilan. prinsip-prinsip. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. efisiensi. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. akuntabilitas. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. 35 .

melaksanakan tugas pemerintahan. 4. prinsip-prinsip. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. profesional. dan pola pelayanan yang baik. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. keikhlasan. transparansi. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. keadilan. dan melaksanakan tugas pembangunan. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. melaksanakan tugas negara.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. akuntabel. dan lainlain). maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. LATIHAN 3 1. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3.9. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. standar.

2. 3. B A A B B III. BENAR/SALAH 1. D A B 39 . ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 2. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 3. 5.6. 4.

90.d. Hitung jumlah jawaban yang benar. 100% s. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.99 % 70.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d. maka disarankan mengulang materi.99 % 80. 40 .7. s. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. s.d.

Prof. Mardojo. Soeharyo. Handayani. Inspektorat Jenderal.Ed. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon.. DR. 2. No. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . 2002. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Drs. Vol.. 1993. Drs..A dan Sofia Ayu. 16 Juli 2003. Jakarta. Makalah.. Gramedia Pustaka Utama..H...W. 2001. Dwijowijoto. 8.. Suseno S. Penerbit Erlangga. 4. M. Departemen Keuangan. Departemen Keuangan. S.. A. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Siagian. cetakan VIII. 1984. 11.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. S. K.I. 13. 17. A Sonny. 7. Jakarta: Balai Pustaka. 2004. Drs. Departemen Keuangan. 2004. 2000. 12. 1985. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Keraf. penerbit Karunia Esa. Jakarta. R.P. Jakarta. Utomo. M. Implementasi.. 2006. Solomon. Jakarta. Salamoen. M. 15. DAFTAR PUSTAKA 1. Prof. 3. Mr. 1968. 14. Salamoen.8.G. Jakarta.. Kumorotomo. 2005. Elex Media Komputindo. 10.P. Darmodihardjo Darji. 1996. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. Pringgodigdo. 41 . “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar.A.. “Kebijakan Publik : Formulasi. Rajawali Pers. Mr. Riant Nugroho. Kuntjoro Purbopranoto.. Desi Fernanda. dan Zahar Angga Setiawan. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. 20 September 2002. M. “Etika” PT. Soeharyo. Sulandra J. Prof. S. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan... Myrdal. Rooswiyanto. Etika Suatu Pengantar. 16. dan Evaluasi” PT. 4. S. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. Drs. Etika dan Hukum Administrasi Publik. Puji.H. Jakarta. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. 5. Juni-Agustus Tahun 2003.. Majalah Auditor... Nyoman Dekker. Prof. 9.. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. DR.. Kamus Besar Bahasa Indonesia.H. 2001. Suseno S. Materi Pokok. 6.C. STIA LAN. LAN. 8. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Bertens.J.H. 2005.J. Jakarta. Bandung.

sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. 2. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Kolusi. 13. 11.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Kolusi. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Pengantar Kuliah Etika. 7. PERATURAN-PERATURAN: 1. Achmad Kharis.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. Zubair. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 6.18. 10. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Tiara Wacana. 1988. dan Nepotisme. 8. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. 42 . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 5. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. dan Nepotisme.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 4. 12.01/2007.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

..................... 2...... Deskripsi singkat ................................................................ 3....4.3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ............................................ Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ..................... 3............................................................................... 4.... 3.. 6................. Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ..................................................................................... 3.............................. TES FORMATIF ........ Penegakan kode etik PNS .....................5............................... 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5.............. Rangkuman ............ Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ................................... Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ....5 Rangkuman ....................2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ......................2................ 3....... 3....... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2..... Etika meningkatkan kualitas PNS ................ i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2. 2................... Pelaksanaan etika PNS ... 4.......2..... 4......................... 3.7..........................10........................... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan .................1....3... 4..................... 4......................................................... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2...... Latihan 2 ........4......................................... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ... 2.....................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ....... Kode etik instansi dan kode etik profesi ............................... Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ........................... Beberapa pengertian ............................................6 Latihan 1 ................. Uraian dan contoh .....................9.................. 3..................DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1....................... DAFTAR PUSTAKA .............................................. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT.....1....... 3.......... 2. 8..........7 Latihan 3 ........... 1.............................................. 1......... ....... 3................................................................. 4. Tujuan Pembelajaran Umum ................... 7................ PENDAHULUAN ...............2. KUNCI TES FORMATIF ...............1..................................1 Uraian dan contoh ...6 Rangkuman ........3....... 3..........................8.........5....4.......................................................6.... 1...................... Uraian dan contoh ....... 4.......... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? .. 4........................

tidak hormat. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. berdisiplin. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. tanggap. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. dan bersatu padu. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. PENDAHULUAN 1.1. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. serta diskriminatif. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. yaitu: PNS yang kuat. netral. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. sikap. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Dalam kepemerintahan yang baik. dan merata. tidak ikhlas. memiliki kepekaan. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. adil. UUD 1945. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. 1 . profesional. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. kompak. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. Negara. dan Pemerintah.

1.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. 3. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. yang akhirnya akan mewujudkan sikap. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. bangsa. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 1. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. 2.3. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). dan negara.2.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. 2 . Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. peserta diklat dapat: 1. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran.

6. 7. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 5.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS.4. 10. 3 .Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. 8.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. 9.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah.

kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.1. UUD 1945. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kerja sama. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS.2. tanggung jawab. disiplin. dan Pemerintah. Beberapa pengertian a. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. Negara. kreativitas. adil dan merata. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. kreativitas. serta tidak diskriminatif. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. dedikasi. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. kebersamaan. tanggung jawab. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. setia dan taat kepada Pancasila. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. dedikasi. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. tujuan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. disiplin.2. 4 . Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. kebersamaan. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. kerja sama. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1.

tingkah laku. d. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Pelanggaran kode etik PNS 5 . Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. pengabdian. pengabdian. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. tingkah laku dan perbuatan PNS. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. adil. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. c. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud.a. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. dan merata. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. a.

Selanjutnya. Membina karakter/watak. b. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. c. 6 . Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. 1. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. kesadaran.3. c. b. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. tidak diskriminatif. bangsa. 7 . menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah.1. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. adil dan merata. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. sikap. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. tidak diskriminatif. dan negara. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. c. dan negara. adil dan merata. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. peningkatan kerja sama antara PNS. bangsa. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. b. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. melalui kinerja.4. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan perilaku yang baik dari PNS.

kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. tingkah laku. 1. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. kebersamaan. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. kerja sama. dedikasi. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. 8 . sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. tanggung jawab. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS.5. kreativitas. disiplin. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Membina karakter/watak. pengabdian. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat.

Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. kesadaran. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. 2. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. dan negara. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. 1. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . bangsa. 3.6. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.c. 4. LATIHAN 1 1.

pasal 27 ayat (1).2. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). dan pasal 28 UUD 1945. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. bermasyarakat. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. Pasal 5 ayat (2). Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. 3. 3. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. Kolusi. Menurut DR. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. 10 . Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.3. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. terhadap diri sendiri. 4. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan terhadap sesama PNS. 2.1. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. berorganisasi. dan Nepotisme. adil dan merata. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.

Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. dan bermoral tinggi. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.3. meliputi: a. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. b. f. b. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. c. Profesionalisme. i. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. Semangat nasionalisme. h. 3. g. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. e.5. 11 . Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . netralitas. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Semangat jiwa korps. d. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Menurut DR. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. dan jangan lakukan pada orang lain. 3.4. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. tanggung jawab terhadap kepentingan publik.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. negara. 3. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. Merupakan pedoman sikap. yaitu: profesionalisme. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. integritas moral yang tinggi. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. tingkah laku. dan pemerintah. 12 . Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. dan pemerintah. bangsa. negara. 2. bertindak secara adil. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. bangsa. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik.

serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. Bertindak secara adil 13 . Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. e. d. dan nepotisme. bangsa dan negara. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. kolusi. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. b. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. c.

3.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. dan seterusnya. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. agar kepentingan semua pihak dijamin. dalam berorganisasi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. suku. dalam penyelenggaraan pemerintahan. yaitu. tanpa diskriminasi atas dasar ras. jenis kelamin. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. Jangan lakukan pada orang lain. f. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. dalam bermasyarakat. abdi negara. dan abdi masyarakat.5. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. 14 . g. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. agama. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. keluarga. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat.

Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 4. Tanggap. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. Memberikan pelayanan dengan empati. 6. 5. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. 2. c. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mewujudkan pola hidup sederhana. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Etika PNS dalam berorganisasi 1. hormat dan santun. b. 9. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. 4. jujur. 2. 8. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. 6. 8. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. 7. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. 2. Etika PNS dalam bernegara 1. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. 3. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. 3. 7. 15 . Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. dan akurat. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. terbuka. 5.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a.

Memiliki daya juang yang tinggi. keterampilan. berorganisasi. 3. tepat. terhadap diri sendiri. dan sikap. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil.3. 2. 5. bermasyarakat. terbuka. 3. rapih. terhadap sesama PNS. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. Berpenampilan sederhana. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. instansi. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. d. 7. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. maupun antar instansi. Memberikan pelayanan secara cepat. kelompok. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. 8. Menghindari konflik kepentingan pribadi. 4. dan sopan. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. 4. dan adil serta tidak diskriminatif. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. 5. e. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. 6. 2. maupun golongan. Menghargai perbedaan pendapat. kemampuan. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. 4. 16 . Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. 6. 7. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. 5.

6. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. 2. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Sanksi moral. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. 3. 4.3. Penegakan kode etik PNS a. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. b. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. 17 . Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. 2.

18 . 6. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.5. keputusan diambil dengan suara terbanyak.

2. kode etik pengacara. 3. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. Kode etik adalah nilai-nilai moral. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. dan lain-lain. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi.3. b. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. yaitu: 1. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. kode etik PNS. misalnya: kode etik kedokteran. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik.8. kode etik notaris. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. 2. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi.7. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan.

01/2007. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Pemindahan. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 3. c. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 4. dan 20 . Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 10. 8. 7.organisasi profesi tersebut.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 6. 2.

pengorganisasian. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. sesuai perkembangan yang ada. pengkoordinasian dan pengendalian 21 .11. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada).01/2007 tersebut. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. Untuk keperluan pembelajaran. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Oleh karena itu. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. diminta agar menyesuaikan kembali. Pada saat ini. dari mulai perencanaan.

Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. Menjamin terpeliharanya tata tertib. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. tingkah laku. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. Meningkatkan disiplin pegawai. Dalam hal ini. b. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. c. 22 . d.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Sebagaimana diketahui. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. larangan. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Departemen Keuangan. e. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.

kepercayaan. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. dan akuntabel. c. Menyalahgunakan fasilitas kantor. e. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. b. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. baik langsung maupun tidak langsung. d. c.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. h. 23 . atau pihak lain. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. f. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. b. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. berpenampilan. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. sesama pegawai. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. dari wajib pajak. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. budaya. e. Menghormati agama. Mentaati perintah kedinasan. dan bertutur kata secara sopan. g. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. Bersikap. d. sesama pegawai. transparan. i. Bekerja secara profesional. yang menyebabkan pegawai yang menerima. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. dan adat istiadat orang lain. yakni sebagai berikut: a. f.

h. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi.g. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. tingkah laku. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. dan perbuatan pegawai. tulisan. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dari sisi ini. 24 . Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.

Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. Menghormati agama. b. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. c. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. kepercayaan. b. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. 25 . dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menaati perintah kedinasan. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. d. baik langsung maupun tidak langsung. dan e. budaya. Menaati dan mematuhi segala aturan. d. c.

Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. f. i. f. c. g. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Bersikap. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. berpenampilan. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. b. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. harmonis. dan sinergis antar pegawai. dan bertutur kata secara sopan dan santun. kerusakan. e. g. Menerima pemberian. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja.e. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. d. h. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. hadiah.

termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. sikap.Segala bentuk ucapan. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. perilaku. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. 30 Tahun 1980. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. tulisan.

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. h. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. Bekerja dengan jujur. f. f. kolusi dan nepotisme. bersemangat dan bertanggung jawab. Mentaati ketentuan jam kerja. c. tertib. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. j. Larangan: a. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). e. d. Berpakaian rapi dan sopan. cermat. b. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. b. c. Melakukan perbuatan korupsi. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. i. g. e. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik.Kewajiban: a. d.

yang keanggotaannya terdiri dari: a. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. i. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. 30 . Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. mengkonsumsi. b. g. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. j. Memanfaatkan barang-barang. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. h. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. dan c. Membuat. k atau pihak lain.

yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas.01/2007. 31 . yang dalam hal ini termasuk PNS. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. Menurut DR. Sonny Keraf. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. bertindak secara adil.9. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan jangan lakukan pada orang lain. yaitu: prinsip profesionalisme. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. integritas moral yang tinggi. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan Direktorat Jenderal Anggaran.3. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda.

LATIHAN 2 1.3. Pegawai Negeri Sipil. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. 5. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .9. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3.

dan pembangunan. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. tidak diskriminatif. hormat dan santun.2. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.4. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. terbuka. serta tidak diskriminatif. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. adil.1. memberikan pelayanan secara cepat. sopan dan santun. pemerintahan. tepat. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. 4. ramah. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. ikhlas.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. adil dan merata. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. adil dan merata. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 .

3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan pembangunan. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. c) Untuk menjamin netralitas. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 2. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. PNS Daerah. Anggota Tentara Nasional Indonesia. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. jujur. Pegawai Negeri Sipil (PNS). • • PNS Pusat. 34 . dan 3. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. adil. dan merata. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. pemerintahan.

Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. 2. d. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. dan merata. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. Kolusi. ramah. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. 4. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. dan bebas korupsi. yaitu: a. aparatur pemerintah. Karena PNS 35 . produktif. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. sopan dan santun. dan nepotisme. transparan. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. 2. kolusi. adil. ikhlas.3.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1.b. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.

e. adil dan merata. b. dan tidak diskriminatif. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. tidak diskriminatif kepada masyarakat. d. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 36 . merata. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. tepat.sebagai unsur aparatur negara. dan adil. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. ramah. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. c. tidak diskriminatif.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. serta tidak diskriminatif. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. terbuka. ikhlas. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. sopan santun. hormat dan santun. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah.

mudah dipahami.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. gender. b. kebutuhan. dan status ekonomi. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. golongan. Transparansi Bersifat terbuka. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. Asas Pelayanan Publik a. 37 . Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. d. b. dan harapan masyarakat. ras. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. 2. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. dan mudah dilaksanakan. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. agama. f. c. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. e. Prinsip Pelayanan Publik a. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. informatika. bersih. disediakan ruang tunggu yang nyaman. tepat. teratur. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. rapi. i. d. sopan dan santun. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. tempat ibadah. h. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. dan lainlain. mudah dijangkau oleh masyarakat. g. e. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. seperti parkir. f. Kesopanan. Kedisiplinan.c. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. ramah. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. dan sah. toilet. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. j.

3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. tidak diskriminatif. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan Nepotisme. sopan dan santun. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999.PAN/7/2003. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. bersih. Memberikan pelayanan dengan empati. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Memberikan pelayanan produktif. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. ramah. dan adil. tepat. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. transparan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima. hormat dan santun. Kolusi. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. dan bebas Korupsi. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. terbuka. serta tidak diskriminatif.

etos kerja. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. dan Pemerintah. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. tanggung jawab. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. amanah. keteladanan. dan seluruh rakyat Indonesia. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. kemandirian. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. Negara. b. bertaqwa. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. rasa malu. dan Negara.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. yaitu: a. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. sikap toleransi. 4. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. 40 . UUD 1945. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. dan merata. Etika meningkatkan kualitas PNS a. dan berperilaku bagi negara. pemerintah. Pemerintah. sportivitas. bersikap.4. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. bersikap. UUD 1945. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. adil. disiplin.

Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. g. Pegawai Negeri Sipil yang netral. c.b. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. dan bersatu padu. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. berorganisasi. bermasyarakat. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. c. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. d. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. f. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. kompak. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. terhadap diri sendiri. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . e.

viii. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. taat. vi. atau pihak lain. dan bersemangat untuk kepentingan negara. tertib. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. v. patuh. cermat. vii. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. iv. iii. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. kesadaran. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. diri sendiri. 42 . ii. dan tanggung jawab. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. Undang-Undang Dasar 1945. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. Bekerja dengan jujur. ix. bertanggung jawab. Negara dan Pemerintah. kekompakan. Memelihara dan meningkatkan keutuhan.

xiii. xxiii. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. xxi. xii. xxvi. sesama Pegawai Negeri Sipil. xi. xiv. Bertindak dan bersikap tegas. Pemerintah. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat.x. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. dan materiil. xxiv. xx. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. yakni: i. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. xv. xvi. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. ii. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. xxii. Menyalahgunakan wewenang. Mentaati ketentuan jam kerja. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. xix. dan Pegawai Negeri Sipil. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. keuangan. xviii. dan terhadap atasan. 43 . Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xxv. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. xvii.

Memiliki. menjual. iv. xi. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . xii. menggadaikan. membeli. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. kecuali untuk kepentingan jabatan. viii. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. teman sejawat. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. v. xv. uang atau surat-surat berharga milik negara. vi. golongan atau pihak lain. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. xiii.iii. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. vii. ix. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Menyalahgunakan barang-barang. dokumen. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. golongan atau pihak lain xiv. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. x.

pimpinan. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. golongan atau pihak lain. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. xvi. Pemerintah. cermat. Bahwa saya. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. seseorang atau golongan. atau komisaris perusahaan swasta. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Bahwa saya. 45 . Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. Bahwa saya. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. menjadi direksi. tertib. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. Undang-Undang Dasar 1945. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. dan Pemerintah. xviii. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. dan tanggung jawab. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. xvii. Negara. akan bekerja dengan jujur. kesadaran. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. Bahwa saya. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah.

yaitu: 46 . dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. berorganisasi. bersikap dan berperilaku baik. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. 4. rajin. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. dan Pemerintah. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. patuh dan setia kepada Pancasila. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. taat. Negara. terhadap diri sendiri. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran.3.5. bermasyarakat. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. UUD 1945. dan lain-lain. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut.

Memberikan pelayanan dengan empati. serta tidak diskriminatif. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. UUD 1945. di samping bersikap dan berperilaku baik. berdisiplin. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. tepat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. kompak dan bersatu padu. b.a. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. adil.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. dan Pemerintah. Memberikan pelayanan secara cepat.M. profesional. hormat dan santun. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. terbuka.6. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. Negara. netral. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. memiliki kepekaan. 4. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. dan adil.

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. memberikan pelayanan secara cepat. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. terbuka. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tepat. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. 4.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. hormat dan santun. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 .7.01/2007.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.PAN/7/2003! 4. Latihan 3 1. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. serta tidak diskriminatif. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. dan adil. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.

B . 7.A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. B . 4. 10. B . TES FORMATIF I. 6. B .A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. 3.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. 8. dan merata. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. 49 . B .A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. B .A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.A B .A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. B . merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. adil.5. B . Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5.A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. 1. B . 2. 9.

tingkah laku. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. 1. tidak diskriminatif d. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. Sanksi moral b. Sanksi pidana dan perdata 3. Nepotisme c. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. sikap. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Memberikan pelayanan dengan empati.II. hormat dan santun. c. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. adil. dan . Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. Dalam melaksanakan tugasnya b. Memiliki daya juang yang tinggi 4. d. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Kolusi. b. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. b.

bila pernyataan 1) dan 3) benar C. bila pernyataan 1). tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. kerja sama. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. Profesional d. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . Transparan c. bila semua pernyataan benar 1. Bebas Korupsi. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. dan 3) benar B. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. dan Nepotisme b. disiplin. netralitas. bila pernyataan 2) dan 4) benar D.5. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. Kolusi. 2). Memiliki kepedulian yang tinggi III.

Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. Kolusi.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4.3. Menurut DR. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. watak. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Sonny Keraf. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6.

Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10.4) Produktif dan disiplin 7. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat. kompak. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan.PAN/7/2003.

4. 2. B A B B B A A A A 10. 6. 8. 7. 2. 5. PILIHAN BERGANDA 1. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 9. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 4. A II. 2. C C A C D III. BENAR/SALAH 1. D B 6. 3. 7. 5. B A 54 .6. 3.

10.3. B D D 55 . 9. 4. 5. B C D 8.

Hitung jumlah jawaban yang benar. s.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. 90.d. 56 .99 % 80. maka disarankan mengulang materi.d.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.7.d.99 % 70. s. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. 100% s.

. Pringgodigdo. Suseno S.. Keraf. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. Mei 2002. Drs. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar.. 2002. Jakarta. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. M. Winarty. Kansil... dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. 12.. 2001. 1 April 2002. Prof. C. Penerbit Erlangga. M.. DR. Desi Fernanda. 57 . Pradya Paramita. Mardojo.. 8. M.... 20 September 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I.A dan Sofia Ayu..Soc. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Prijono. terbitan Program Magister STIA-LAN. 15. DR. LAN.S.. kumpulan karangan. M. Yogyakarta. 1 Maret 2003. S. Jakarta. Sulandra J. Prajabatan III. 1993. Mr. S. Drs.W. LLM. Salamoen. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi..J... S.. Etika Dasar. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. Suseno S. P. 5.A... Pendidikan Pancasila. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Darmodihardjo Darji. Prof . Triguno.T. Prof. C. Sonny. Hardijanto.P..P. SC..S... Soeharyo. R. Jakarta.. 9. Jakarta. A.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar.J... Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. Rooswiyanto. Lembaga Administrasi Negara. Balai Pustaka. Dipl. A. Etika Organisasi Pemerintah. 1984..H.8. DR. 7. Drs. Drs.T. S. Tjiptoherjanto. Keraf. Kansil. Franz Magnis. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Pradya Paramita.. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. M. 3. 16 Juli 2003. 4. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Departemen Keuangan.Ed. Salamoen. Gering.. Supriyadi.. 1990 16. 1985. cetakan VIII.H.. Nyoman Dekker. Santiaji Pancasila. Etika Suatu Pengantar. penerbit Karunia Esa. Prof. 16 Juli 2003. Penerbit Kanisius.H. 11. Etika Organisasi.T. Jakarta.. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik.H. 17. Tony.C. Drs. Budaya Kerja dan Disiplin.. 18.H. 13.G. Drs. Drs.T. 2005. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. Solomon. Prajabatan III. 1 Maret 2003. 2002. LAN.. DAFTAR PUSTAKA 1. Etika Kepemimpinan Aparatur. Etika Organisasi. 2001. 10. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. A.M. Army. S. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. Soeharyo. Drs. 6. 1998. Mr. P. Kuntjoro Purbopranoto. 2.. S. 14.H.. Sonny. Prof.Ec.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 58 .3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 8. 2. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 13. dan Nepotisme. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. 10. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. 18. 7. 17. Pemindahan. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. 12. 6. 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. 3. 15.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 14. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 11. 19.PERATURAN-PERATURAN: 1. Kolusi. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian.

01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.20. 59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. 21. 23. 22. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful