DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. dan merata. . tidak ikhlas. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. maka diperlukan adanya etika birokrasi. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. Oleh sebab itu. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. adil. dan diskriminatif.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). kolusi. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. Kemudian. dan Nepotisme.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Kolusi. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya.

Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. sebagai berikut: a. keberanian moral. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. dan pembangunan secara. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. dan pembagian etika. penyelenggaraan negara. teori-teori. nilai moral). nilai-nilai dasar. prinsip. jujur. dan tidak diskriminatif. . prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. pemerintahan. b. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. profesional. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). kaedah dasar moral.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). merata. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. adil. pelaksanaan etika. serta tentang etos dan etiket. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

................................. Tugas birokrasi ..............................3 Perwujudan etika organisasi ............... 1..... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral .................................... 3............. 3.......................... Etiket ....... 2................... Uraian dan Contoh ............................ 5.......... 3.................................................. Kb 1: ETIKA.............................. 4................. DAFTAR ISI ...... 2.........................................................1.. 2.........5 Latihan 2 ........... 1................................................................ Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ............................... 2.......................... 2. 1...................... Tujuan Pembelajaran Umum .. Pengertian tentang birokrasi . 4............................ Etos................................. Ciri-ciri pokok birokrasi ............ 4...... 4............................................... Rangkuman .. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ......... 2.................................. Latihan 3 ......... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik .............................................................................................................. Pentingnya etika dalam organisasi .........6....... 4.. Tujuan Pembelajaran Khusus ........ Uraian dan contoh ................................... DAN ETIKET ........................................................................8.2............... 4.................... 3..............1. 4.........3...........7...............5........................... PENDAHULUAN ............................ Rangkuman ............ 4. 2..............4 Rangkuman .................. 3............... ii .. 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF .....2....7........................................................................... Etika .................................................................................................................... Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..........6............... Uraian dan contoh ....................4................3................ i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3.............. 4.................................9...................................................... 2............................................... Latihan 1 ........... Asas-azas umum penyelenggaraan negara ...... ETOS......... Deskripsi Singkat ...3................2.............................................................................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR ..............................2..... MORAL.......... 1................................................1...... 4.................4..1..5...................................................................................................................................

.....6......... 7................ KUNCI TES FORMATIF ...................................................................... 8............................ 39 40 41 iii ....................................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ...... DAFTAR PUSTAKA ...................

alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah.3. yang mencakup pengertian tentang Etika. Etos. prinsip etika. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. kesadaran moral. moral. etos. dan pembagian etika. keberanian moral. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. PENDAHULUAN 1. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. 1 . 1. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. azas-azas umum penyelenggaraan negara. etos. kaedah dasar moral. serta birokrasi organisasi pemerintah. nilai moral.2. serta terakhir tentang etos dan etiket. dan Etiket. moral. Moral. dan etiket. 1. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. moral. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. dan etiket. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. cara mewujudkan etika birokrasi. tugas birokrasi. ciri-ciri pokok birokrasi. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). Menjelaskan pengertian tentang etika. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. azas-azas umum penyelenggaraan negaras.1.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. teori-teori etika. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. etos. dan etiket.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

c. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. dan lain-lain. dalam Salomon. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. saling berbuat baik. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. dan lain-lain. tidak sama satu sama lain. Sebagai contoh. ketentraman. contoh. R. 2. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. etnis. 3. bekerja sama. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. saling bertenggang rasa. berpenampilan indah. 5 . Jadi manusia harus diperlakukan sama. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. adanya rasa kasih sayang antara sesama. suasana yang kondusif. saling kasih-mengasihi. ras. misalnya: saling menghormati. yaitu: 1.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. kedamaian. sayang sesama manusia. berpenampilan menarik. Prinsip kebaikan bersifat universal. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. 2. kebaikan yang diterima umum. tidak diskriminatif. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. sikap. dan pola pikir yang beragam.

Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. 6. d. kebebasan. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. kebaikan. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Semakin besar kebebasan yang dimiliki. Teori etika ini terdiri 6 . Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. apa yang baik untuk dirinya. dan kebenaran bagi setiap orang. persamaan. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. keadilan. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. 5. akan semakin besar tanggung jawabnya. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain.4. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.

Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. bukan karena paksaan. Immanuel Kant (1734-1804). dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri.dari: etika deontologi. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. Menurut etika deontologi. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. Dengan demikian. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. kritis. sebagaimana 7 . dalam Sonny Keraf (2003). Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). juga dianggap benar oleh orang lain. etika teleologi dan etika keutamaan. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar.

etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. orang lain. diperlakukan secara sewenang-wenang.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. suatu tindakan dinilai buruk. yang berarti tujuan. Sebaliknya. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut Kant. apabila bertujuan atau berakibat buruk. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. Menurut etika deontologi. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. ataupun orang lain. berarti kita memperalat diri kita demi uang. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. apakah diri kita sendiri. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. 8 . yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. baik bagi siapa: diri sendiri. karena suatu tindakan yang bernilai moral. 2. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

dan semacamnya. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. etika sosial. Dengan kata lain. dan etika lingkungan hidup. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. e. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. 2. Maka. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. Dalam hal ini. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. teori-teori etika. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. 12 . 1. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. yaitu etika individual.

masyarakat. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. negara). serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. 2006:34) 13 . Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga.

tata cara hidup yang baik. 3. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . a. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. 2. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. c. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. adat. suatu hal yang bersifat rasional. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika.3. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. kebiasaan yang baik. yang berarti. a. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Secara harfiah. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1.2. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan.

yaitu: moral sebagai adat istiadat. mempunyai fungsi sebagai pedoman. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. penuntun. Nilai Moral Moral. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. dan larangan. akibatnya tidak baik. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. norma hukum. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya.hakekatnya merupakan pedoman hidup. d. sebagaimana yang diwajibkan. 2. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. 15 . Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. dan sesudah perbuatan dilakukan. ada juga hal lain yang perlu dipahami. e. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. Dalam hubungan ini. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. yakni: keberanian moral. yaitu: kewajiban. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. petunjuk hidup. Di sisi lain. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. sebagaimana diuraikan sebelumnya. kebiasaan yang baik. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. dan norma moral. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan.

Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. seperti: disiplin.4. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. Etos kerja bisa kuat atau lemah. dan sebagainya. tradisi. kebebasan. b. seperti: rasional. Apabila ada istilah etos kerja. alasan logis. masyarakat. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. keputusan nalar. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. dedikasi. Berbeda dengan etika. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. 2. 1993:120). Etos a. transparansi. integritas. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . atau budaya terhadap kegiatan tertentu. etos profesi. positif atau negatif. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. seperti: etos kerja. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. misalnya: malas. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. dan sebagainya. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. tanggungjawab. Pemakaian kata etos sering kita dengar. f. kepercayaan.3. dan tanggung jawab. dan petunjuk hidup). Perbedaan Moral dengan Etika Moral. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar.

misalnya. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. Sebaliknya. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. akhlak atau watak tertentu. Pemakaian kata etiket. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. jangan mencuri. misalnya. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. etiket makan. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 .5. yaitu etiket. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. 2004:5).pekerjaannya. dan sebagainya. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. 2. Sebagai kata sifat. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. misalnya. jangan berbohong. Etiket tidak sama dengan etika. Etika (kebiasaan. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. meskipun ada kaitannya. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. Dalam hubungan ini.

Larangan-larangan korupsi. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. tetapi apabila saya makan sendiri.dianggap melanggar etiket. • Etiket bersifat relatif. yakni: etika deontologi. moralitas. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. serta pembagian etika. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. atau menyontek. etika teleologi. etos. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. 2. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. dan etiket. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). 18 . sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. Disamping pengertian tentang etika. korupsi. Sebaliknya. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu).6. menyontek. mencuri. tiga teori etika. etika lebih bersifat universal. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. dan sebagainya. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. dan etika keutamaan. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. tata cara hidup yang baik. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. Misalnya. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. Larangan-larangan untuk mencuri. Sebaliknya. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. Secara harfiah.

Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. 2. LATIHAN 1 1. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. dan etiket! 5. apabila ada istilah etos kerja. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. etos. Jelaskan prinsip-prinsip etika. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan.Di sisi lain. moral. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak.7. yakni: a. Sementara itu. Dari pengertian ini. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). sebaliknya. tanggung jawab. integritas. Berikan contoh! 19 . etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. b. dan sebagainya. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. transparansi. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. etiket lebih bersifat relatif. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. etika. dedikasi. dan keempat. c. seperti: disiplin. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. menurut Adler! 4. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja.

3.A: 1998). 3. peraturan perundang-undangan. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. MSc (2005:27) dan Prof. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. DR. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . Dengan demikian. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. ketulusan. Sondang Siagian (1996:11).2. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. prinsip-prinsip organisasi. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. kesabaran.1. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. sebagai berikut: a. kejujuran. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. Tony Rooswiyanto. M. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. Sutopo.

2. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. 3. yakni sebagai berikut: 1. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. 4. pandangan hidup. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. sosial. 21 . dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas.organisasi tersebut. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. dan sosial. di bidang agama. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. 2. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. 3. suku. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. d.

dan kebiasaan kelompoknya b. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan.3. maka akan memberikan kesenangan. melaksanakan tugas dengan ikhlas. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. kegembiraan. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. menurut Suseno SJ. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. sebagai berikut. harapan. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. 22 . 2) Jujur. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. tidak korupsi. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. efisiensi. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu.3. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat.

Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. mau bekerja sama. tanpa kecuali. memahami secara garis besar maupun detil-detil. bersedia untuk berubah. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. kerajinan. sanggup mengenakan sanksi.4) Bertanggung jawab. Selalu. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. kesederhanaan. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. 23 . kegesitan. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. bersedia memandang jauh ke depan. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. dia harus tegas. tepat pada waktunya. harus mempunyai wibawa. c. 2. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. 1. kejujuran/tidak korup. keputusan diambil secara rasional. Seperlunya dia harus mempelajarinya. kerapihan. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. Secara konsisten. menuntut.

Semakin banyak orang 24 . sehingga didorong untuk lebih baik lagi. jujur. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. dan bertanggung jawab. cakap. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. Bagi orang yang berwatak kuat. korup. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. 4. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. malas. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. tegas. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. 5. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. bersih. yaitu: 1. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Seorang pemimpin yang jujur. bebas dari pamrih. Dalam lingkungan yang positif. komunikatif. dan bertanggung jawab. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. d. adil. mendorong orang tidak bersemangat. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati.3.

Etika diharapkan menunjang kualitas. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. kegembiraan. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi.yang terkena erosi moral. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. dan syarat-syarat sistemik. efisiensi. dan efektivitas kerja semua pegawai. kepemimpinan yang bermutu. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. 3. didukung lingkungan kerja yang kondusif. 25 . yaitu adanya etos kerja yang kuat. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi.4. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. 2. didukung moralitas pribadi pegawai. etos kelompok sudah merosot. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. akan memberikan kesenangan.

Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.3. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 .5. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. LATIHAN 2 1. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5.

yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. b.1. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. 27 . anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap.4. wewenang. Uraian dan contoh 4. 4.2. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah.3. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996).

c. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. e. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. f. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. d. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. sebagai berikut: a. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. Dalam konteks negara Indonesia. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. 4.4. 28 . kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja.

martabat manusia. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. dan kesamaan di hadapan hukum. b. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. c. d. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. Oleh karena itu. dan efisien. dapat dipertanggungjawabkan. e. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya.

Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.5. Ketua. dan Anggota MPR. Ketua. Wakil Ketua. Ketua Muda. Wakil Ketua. dan POLRI. dan Nepotisme. Kolusi. Wakil Ketua. legislatif. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. Komisaris pada BUMN dan BUMD. militer. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Jaksa. maka ukuran lain adalah efisiensi. prosedur layanan. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. Ketua. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Kolusi. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Pimpinan Bank Indonesia.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Penyidik. 4. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. dan Anggota DPR. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Direksi. yaitu: 30 . Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. dan Nepotisme. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. atau yudikatif. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. dan biaya yang dikeluarkan. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Panitera Pengadilan. Walikota dan Wakil Walikota. Ketua.

adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. jujur. Asas Profesionalitas. 31 . menyelenggarakan tugas negara. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Asas Kepentingan Umum. menyelenggarakan tugas pemerintahan. dan rahasia negara. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. Anggota POLRI. Asas Keterbukaan. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik.6. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. c. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). akomodatif. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. kepatutan. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. jujur. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. dan selektif. f. keserasian. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. Asas Kepastian Hukum. b. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. adil. Asas Akuntabilitas. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. Asas Proporsionalitas.a. dan merata. e. g. 4.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

Kelompok Pelayanan Barang. dan Kelompok Pelayanan Jasa. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. dan sebagainya. pendidikan. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. pengawasan melekat. dan sebagainya. wanita hamil. kesehatan. perbankan. b. dan sebagainya. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. pengangkutan barang. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. k. i. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. j. h. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. kenaikan gaji. bahan bakar minyak. g. 33 . Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. f. 4. kenaikan pangkat. telepon. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. akte perkawinan. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. akte kematian. sertifikat tanah. pensiun pegawai. dan pengawasan fungsional. di rumah sakit. dan balita. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat.e. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. lanjut usia. pensiun janda/duda. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. c. bahan bakar gas. surat izin mengemudi. listrik. izin mendirikan bangunan.7.

Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. keadilan. keharusan. dan lain-lain. efektivitas. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. menjunjung tinggi supremasi hukum. akuntabilitas. ketertiban. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. biaya yang melebihi dari tarif resmi. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. Norma-norma moral. 2. kesabaran. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. dan nepotisme. tidak korupsi. Dalam kegiatan belajar 1. dan lain-lain. norma hukum. efisiensi. jangan mencuri. ramah-tamah. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. kewajiban. dan sebagainya. seperti antara lain: profesionalisme. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. kebenaran. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. menolong. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. Nilai-nilai moral. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. transparansi. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. kebaikan. 34 . kesamaan. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. keikhlasan. jangan meminta. seperti antara lain: kejujuran. Dengan kata lain. kolusi. dan norma moral.

Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. mengusahakan kesejahteraan umum. yang disebut Pegawai Negeri.8. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. keikhlasan. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. dinamika dan efisiensi. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. yaitu: a. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. b. prinsip-prinsip. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. dan lain-lain) serta asas-asas. transparansi. e. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. akuntabilitas. mewujudkan negara hukum. 4. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. keadilan. standar. keadilan sosial dan pemerataan. kesamaan. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. d.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. 35 . Menurut norma moral “mencuri itu salah”. dan biaya pelayanan yang murah. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. profesionalisme. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. efisiensi. c. f. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi.

Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. akuntabel. dan melaksanakan tugas pembangunan. dan pola pelayanan yang baik.9. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. dan lainlain). melaksanakan tugas pemerintahan. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. keadilan. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. standar. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . transparansi. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. 4. profesional. prinsip-prinsip. melaksanakan tugas negara. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. keikhlasan.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. LATIHAN 3 1.

2.6. 3. 2. 5. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. B A A B B III. 4. 3. BENAR/SALAH 1. D A B 39 . ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1.

d.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).7.d. s. s. Hitung jumlah jawaban yang benar. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.d. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. 40 .99 % 70. maka disarankan mengulang materi.99 % 80.d. 90. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. 100% s.

Mr. 2004.. 15. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. DR. Jakarta..Ed. Prof. Bandung. Nyoman Dekker.A dan Sofia Ayu. M. Departemen Keuangan. 1996.. 16.. 1968. M. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. Drs. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. 1993. M. LAN. 1984.H. 20 September 2002. Jakarta. Implementasi.A. M. Dwijowijoto.. dan Evaluasi” PT. penerbit Karunia Esa.G..8. Bertens.H. 8. Rajawali Pers..H. No. R. 2004.W. Vol. Solomon.H. Soeharyo. 13. Drs.. S... Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Juni-Agustus Tahun 2003. 3. Departemen Keuangan. Utomo. Siagian.. 6. 2001.. 2006. Jakarta. “Kebijakan Publik : Formulasi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Makalah. Desi Fernanda. Riant Nugroho. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Drs.P. Kumorotomo. 41 .J. 2005. 8. Jakarta. Jakarta. Myrdal.. 1985. 4. Suseno S. 2000. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. Kuntjoro Purbopranoto. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk.. 16 Juli 2003. Jakarta: Balai Pustaka. Majalah Auditor.C.. Etika dan Hukum Administrasi Publik..P. Rooswiyanto. 2. 17. Soeharyo. Penerbit Erlangga. Elex Media Komputindo.. DAFTAR PUSTAKA 1. Materi Pokok. K. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 2002. dan Zahar Angga Setiawan. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. S. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Drs. 5. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. cetakan VIII. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.I. DR. Departemen Keuangan. Puji. A. 2005. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 2001. Sulandra J. Inspektorat Jenderal.. “Etika” PT.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III.. STIA LAN. S. Suseno S. Salamoen. Darmodihardjo Darji. Jakarta. A Sonny. Prof. S. 4. Salamoen.. 14. Prof. 12. Pringgodigdo. Keraf. Etika Suatu Pengantar. Mr. Prof. 7. 10. Handayani. 11.J. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. 9. Mardojo.

03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. dan Nepotisme. 10. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 6. 42 .PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 13. Kolusi. dan Nepotisme. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Tiara Wacana. Pengantar Kuliah Etika. 11.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 4.01/2007. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. 7. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 3. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. PERATURAN-PERATURAN: 1. 5.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Kolusi. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 8.18. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Zubair. 12. Achmad Kharis. 1988. 2.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

..................................................1..................................................................................................... 6........8..................... 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5............................................. TES FORMATIF .......................6 Rangkuman .............4..... 1........................... 1......1 Uraian dan contoh ...... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ....... KUNCI TES FORMATIF ............................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT........ Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2.. Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ... 7...................................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ..............3.............................. 3.................. 4......................... 4..................... 4.............3.............. 4................. Kode etik instansi dan kode etik profesi ........ Rangkuman ..................................................... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ........................... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2......... Uraian dan contoh .......DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1...10........... 3............. Deskripsi singkat .........1....... 3......... 3...................... 2...................... 4.............5.......... 4.................................... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ....................... 3......................................................... i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2.. 3......2....... Penegakan kode etik PNS .........6 Latihan 1 .....6............ 3............ ......9..........................................3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ............................... Tujuan Pembelajaran Umum .... Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ................7........................2...............4..... DAFTAR PUSTAKA ............................................... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ................ Beberapa pengertian ...........7 Latihan 3 ..2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ................................ Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ...........5....................... 3........................ 3......................................... Uraian dan contoh . 2........ 8........................... PENDAHULUAN . 3....... 4............... Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ..... Pelaksanaan etika PNS ........... 4................................. Latihan 2 .......... 1.................4....................................1.....................2.................... 3.. 2...................................................................5 Rangkuman ........ 2.................... Etika meningkatkan kualitas PNS ..

kompak. tidak ikhlas. PENDAHULUAN 1. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik.1. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. berdisiplin. adil. dan merata. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. netral. yaitu: PNS yang kuat. memiliki kepekaan. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. dan bersatu padu. tanggap. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. serta diskriminatif. sikap. tidak hormat. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. 1 . profesional. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. dan Pemerintah. UUD 1945.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. Dalam kepemerintahan yang baik. Negara. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila.

Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. peserta diklat dapat: 1.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. dan negara. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. yang akhirnya akan mewujudkan sikap. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.2.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. bangsa. 2 . Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. 1. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. 3. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. 1. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. 2.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.3. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS. 10. 9.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah.4. 3 .Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS. 5. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. 7.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. 6. 8.

maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. kerja sama. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. kebersamaan. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. setia dan taat kepada Pancasila. dedikasi. disiplin. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. tujuan. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. adil dan merata.2. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. kreativitas. UUD 1945. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. kreativitas. Negara. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.2. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. dan Pemerintah. tanggung jawab. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps.1. dedikasi. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. kerja sama. tanggung jawab. serta tidak diskriminatif. 4 . disiplin. kebersamaan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. Beberapa pengertian a.

Pelanggaran kode etik PNS 5 . Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. c. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. tingkah laku dan perbuatan PNS. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. pengabdian. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. d. tingkah laku.a. adil. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. dan merata. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. pengabdian. a. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps.

kesadaran. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan.3. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. b. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. Selanjutnya. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Membina karakter/watak. c. 6 . 1. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. b. c.

tidak diskriminatif. adil dan merata. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. d. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. dan negara. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 7 .4. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. c. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dan perilaku yang baik dari PNS. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. tidak diskriminatif. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat.1. b. melalui kinerja. dan negara. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. peningkatan kerja sama antara PNS. adil dan merata. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. bangsa. sikap. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. bangsa.

Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. kerja sama. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. kebersamaan. b. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. Membina karakter/watak. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. kreativitas.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. pengabdian. tanggung jawab. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari.5. disiplin. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. 1. tingkah laku. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. dedikasi. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 8 . sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. 1. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. 2. bangsa. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3.6.c. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. kesadaran. 4. LATIHAN 1 1. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. 3. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan negara.

maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. 3. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. dan terhadap sesama PNS. 10 . Pasal 5 ayat (2). baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.2. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Kolusi. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. pasal 27 ayat (1).3. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. dan Nepotisme. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. berorganisasi. bermasyarakat. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. adil dan merata. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. Menurut DR.1. terhadap diri sendiri. 2. dan pasal 28 UUD 1945. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. 4.

3. d. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . 3. Semangat jiwa korps. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. meliputi: a. 11 . juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. f. dan bermoral tinggi. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. b. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Semangat nasionalisme. Profesionalisme. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. e. h. b. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. netralitas. c.5. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. g. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. i.

dan jangan lakukan pada orang lain. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. negara. bangsa. 2. bangsa. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. dan pemerintah. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. 3. yaitu: profesionalisme. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. 3. tingkah laku. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. dan pemerintah. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Merupakan pedoman sikap. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. bertindak secara adil. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.4. Menurut DR. negara. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. 12 . integritas moral yang tinggi.

yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. kolusi. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. dan nepotisme. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. c. bangsa dan negara. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. Bertindak secara adil 13 .Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. e. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. b. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. d. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik.

dan seterusnya. g. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. 3. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik.5. dalam bermasyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. Jangan lakukan pada orang lain. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. f. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. abdi negara. suku.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. jenis kelamin. keluarga. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. 14 . yaitu. tanpa diskriminasi atas dasar ras. agar kepentingan semua pihak dijamin. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. dan abdi masyarakat. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. dalam penyelenggaraan pemerintahan. agama. dalam berorganisasi. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus.

6. Mewujudkan pola hidup sederhana. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. 2. Tanggap. 2. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. 7. 6. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. 7. 3. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 5. hormat dan santun. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 15 . Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. Memberikan pelayanan dengan empati. b. 4. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. Etika PNS dalam bernegara 1. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. 9. 8. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. terbuka. dan akurat. c. jujur. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. 5. 2. 8. 4. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas.

Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. tepat. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. dan sikap. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. kemampuan. Memiliki daya juang yang tinggi. keterampilan. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. 5. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. terhadap sesama PNS. 6. bermasyarakat. kelompok. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. 8. maupun antar instansi. 5. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. instansi. 16 . dan adil serta tidak diskriminatif. 3. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Menghindari konflik kepentingan pribadi. e. berorganisasi. maupun golongan. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1.3. 4. Menghargai perbedaan pendapat. 5. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. terbuka. terhadap diri sendiri. 7. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. 3. 2. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. 4. 6. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. 4. d. Berpenampilan sederhana. 7. dan sopan. rapih. 2. Memberikan pelayanan secara cepat. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja.

Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. 4. 17 . Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. c.6. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.3. b. 3. 2. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. Penegakan kode etik PNS a. 2. Sanksi moral.

Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final. 6. 18 .5. keputusan diambil dengan suara terbanyak.

Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. kode etik pengacara. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . dan lain-lain. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan.7. 2. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. 3.3. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian.8. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. b. Kode etik adalah nilai-nilai moral. misalnya: kode etik kedokteran. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. kode etik notaris. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. 2. kode etik PNS. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. yaitu: 1. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu.

3.organisasi profesi tersebut. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.01/2007. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Pemindahan. 9. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 5. 10. 6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. c. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. 8.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. dan 20 . dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 7. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.

Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. sesuai perkembangan yang ada. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.01/2007. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.11. pengorganisasian. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan.01/2007 tersebut.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. diminta agar menyesuaikan kembali. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. Oleh karena itu. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Pada saat ini. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Untuk keperluan pembelajaran. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. dari mulai perencanaan. pengkoordinasian dan pengendalian 21 .01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.

b. dan perbuatan yang mengikat Pegawai.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. e. Menjamin terpeliharanya tata tertib. Sebagaimana diketahui. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Dalam hal ini. larangan. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. d. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. Meningkatkan disiplin pegawai. 22 . etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. tingkah laku. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. c. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Departemen Keuangan. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK.

g. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. sesama pegawai. h. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. Menyalahgunakan fasilitas kantor. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. kepercayaan. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. atau pihak lain. dan adat istiadat orang lain. f. dan bertutur kata secara sopan. Menghormati agama. budaya. dan akuntabel. b. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. transparan. dari wajib pajak. c. d. e. Mentaati perintah kedinasan. f. yakni sebagai berikut: a. berpenampilan. d. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. i. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. e. sesama pegawai. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. Bersikap. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. c. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. yang menyebabkan pegawai yang menerima. Bekerja secara profesional.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. 23 . patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. b. baik langsung maupun tidak langsung.

Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. 24 . namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. tingkah laku. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. dan perbuatan pegawai.g. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. h. tulisan. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. Dari sisi ini.

Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. dan e. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 25 . c. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. b. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. baik langsung maupun tidak langsung. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. d. kepercayaan. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. Menghormati agama. budaya.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. b. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menaati perintah kedinasan. c. d. Menaati dan mematuhi segala aturan.

dan sinergis antar pegawai. h. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. berpenampilan. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. kerusakan.e. d. hadiah. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. g. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . f. harmonis. Menerima pemberian. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. g. f. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. c. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. b. e. i. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Bersikap. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. dan bertutur kata secara sopan dan santun.

c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Segala bentuk ucapan.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. perilaku. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. 30 Tahun 1980. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. sikap. tulisan.

hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 28 .

d. Bekerja dengan jujur. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. i. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. c. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. c. b. d. g. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). j. f. kolusi dan nepotisme. Mentaati ketentuan jam kerja. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Berpakaian rapi dan sopan. e. Melakukan perbuatan korupsi. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. bersemangat dan bertanggung jawab. tertib. cermat. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran.Kewajiban: a. Larangan: a. f. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . e. b. h.

1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. Memanfaatkan barang-barang. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. 30 . memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. mengkonsumsi. b. dan c. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. yang keanggotaannya terdiri dari: a. j. g. h. Membuat.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. k atau pihak lain. i.

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.01/2007. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. 31 . Sonny Keraf. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.3. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. bertindak secara adil.01/2007. dan jangan lakukan pada orang lain. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. dan Direktorat Jenderal Anggaran.9. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. yang dalam hal ini termasuk PNS. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. integritas moral yang tinggi. yaitu: prinsip profesionalisme. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Menurut DR.

9. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Pegawai Negeri Sipil. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. 5. LATIHAN 2 1.3. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .

hormat dan santun. tidak diskriminatif.4. memberikan pelayanan secara cepat. tepat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. terbuka. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. ramah. dan pembangunan. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. pemerintahan. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan.2. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. ikhlas. adil.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. adil dan merata. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 .1. serta tidak diskriminatif. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. adil dan merata. sopan dan santun. 4.

c) Untuk menjamin netralitas. dan merata. • • PNS Pusat. 34 . Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Anggota Tentara Nasional Indonesia. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. 2. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. pemerintahan. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. dan 3. Pegawai Negeri Sipil (PNS). PNS Daerah. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan pembangunan. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. adil. jujur.

dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. sopan dan santun.b.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. 2. produktif. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. adil. aparatur pemerintah. ikhlas. dan nepotisme. yaitu: a. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. Kolusi. Karena PNS 35 . Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. 4. transparan. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.3. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. 2. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. kolusi. dan merata. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. d. ramah. dan bebas korupsi.

e. tidak diskriminatif kepada masyarakat. sopan santun.sebagai unsur aparatur negara. ikhlas. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. tidak diskriminatif. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. hormat dan santun. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan tidak diskriminatif. terbuka. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. dan adil. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. adil dan merata. tepat. serta tidak diskriminatif. 36 . merata.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. c. ramah. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. d. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. b.

Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. dan mudah dilaksanakan.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. b. Transparansi Bersifat terbuka. c. agama. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. b. kebutuhan. dan status ekonomi. dan harapan masyarakat. ras. gender. d. 37 . mudah dipahami. 2. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. f. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. golongan. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. e. Asas Pelayanan Publik a. Prinsip Pelayanan Publik a.

lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001.c. i. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. rapi. disediakan ruang tunggu yang nyaman. tempat ibadah. Kesopanan. f. Kedisiplinan. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). dan sah. sopan dan santun. d. bersih. ramah. dan lainlain. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. g. j. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. e. mudah dijangkau oleh masyarakat. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. h. tepat. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. seperti parkir. informatika. teratur. toilet. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.

3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan.PAN/7/2003. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Memberikan pelayanan dengan empati. hormat dan santun. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. serta tidak diskriminatif. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. terbuka. bersih.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. Kolusi. sopan dan santun. Memberikan pelayanan produktif. dan bebas Korupsi. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. transparan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan Nepotisme. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. ramah. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. tidak diskriminatif. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. tepat. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . dan adil. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima.

4. Etika meningkatkan kualitas PNS a. 40 . UUD 1945. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. b. dan Negara. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. etos kerja. kemandirian. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. bertaqwa.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. Pemerintah. rasa malu. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. dan Pemerintah. adil. amanah. bersikap. disiplin. Negara. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. dan seluruh rakyat Indonesia. dan merata. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. sportivitas. tanggung jawab. pemerintah. keteladanan. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. bersikap. yaitu: a. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. UUD 1945.4. dan berperilaku bagi negara. sikap toleransi. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir.

dan bersatu padu. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. c. e. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. f. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. g. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. terhadap diri sendiri. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. bermasyarakat. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . c. berorganisasi. Pegawai Negeri Sipil yang netral. kompak. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan.b. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. d.

iii. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. kesadaran. vii. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. vi. patuh.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. 42 . Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. dan tanggung jawab. Undang-Undang Dasar 1945. Bekerja dengan jujur. ii. bertanggung jawab. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. tertib. iv. dan bersemangat untuk kepentingan negara. cermat. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. taat. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. diri sendiri. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Negara dan Pemerintah. viii. atau pihak lain. kekompakan. ix. v. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil.

xv. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. xviii. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. xxi. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. xvii. Pemerintah. xiii. Bertindak dan bersikap tegas. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. xii. dan terhadap atasan. Menyalahgunakan wewenang. sesama Pegawai Negeri Sipil. xi. xxiv. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. xiv. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku.x. xxiii. dan Pegawai Negeri Sipil. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. keuangan. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. yakni: i. dan materiil. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. xix. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. ii. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. xxv. Mentaati ketentuan jam kerja. xxvi. xx. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xxii. 43 . xvi.

Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi.iii. membeli. uang atau surat-surat berharga milik negara. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. vi. dokumen. v. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. iv. menggadaikan. menjual. Memiliki. golongan atau pihak lain. viii. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. ix. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. xii. x. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. xiii. golongan atau pihak lain xiv. vii. teman sejawat. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. xi. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . Menyalahgunakan barang-barang. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. kecuali untuk kepentingan jabatan. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. xv. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja.

Bahwa saya. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. dan tanggung jawab. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. tertib. Negara. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Bahwa saya. Bahwa saya. akan bekerja dengan jujur. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. golongan atau pihak lain. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. 45 .sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. xvii. seseorang atau golongan. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. atau komisaris perusahaan swasta. cermat. Pemerintah. Undang-Undang Dasar 1945. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. xvi. kesadaran. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. dan Pemerintah. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. pimpinan. Bahwa saya. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. menjadi direksi. xviii.

Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. Negara. UUD 1945. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. rajin.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. berorganisasi. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya.3. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. terhadap diri sendiri. bermasyarakat. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. yaitu: 46 .5. dan Pemerintah. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. bersikap dan berperilaku baik. 4. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. patuh dan setia kepada Pancasila. taat. dan lain-lain.

di samping bersikap dan berperilaku baik. b.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. UUD 1945. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. netral. hormat dan santun.a.6.M. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. kompak dan bersatu padu. adil. terbuka. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. 4. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . Memberikan pelayanan dengan empati. Negara. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. serta tidak diskriminatif. tepat. berdisiplin. Memberikan pelayanan secara cepat. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dan adil. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. memiliki kepekaan. profesional. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. dan Pemerintah. serta penuh kesetiaan pada Pancasila.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Latihan 3 1.01/2007.PAN/7/2003! 4. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. hormat dan santun. memberikan pelayanan secara cepat. tepat. serta tidak diskriminatif. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 .7. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. dan adil. terbuka. 4. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5.

Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. 8. 3. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. 7. B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. TES FORMATIF I. 6. B . adil. 9.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. 2. B . B . B . B .A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin.A B . dan merata. 49 . 1.5. 4. 10. B .

Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Memberikan pelayanan dengan empati. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. tingkah laku. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. sikap. Sanksi pidana dan perdata 3. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. b. b. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. d.II. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Kolusi. Dalam melaksanakan tugasnya b. tidak diskriminatif d. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. 1. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Memiliki daya juang yang tinggi 4. c. hormat dan santun. dan . Nepotisme c. Sanksi moral b. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. adil.

bila pernyataan 1) dan 3) benar C.5. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. netralitas. Profesional d. kerja sama. disiplin. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. 2). Bebas Korupsi. bila semua pernyataan benar 1. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. dan Nepotisme b. Transparan c. Kolusi. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . dan 3) benar B. Memiliki kepedulian yang tinggi III. bila pernyataan 1). Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. bila pernyataan 2) dan 4) benar D.

watak.3. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Menurut DR. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 .PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. Sonny Keraf. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. Kolusi.

Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . kompak. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan.PAN/7/2003. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8.4) Produktif dan disiplin 7.

7. 7. 4. 3. 2. A II. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. D B 6. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 6. 3. B A 54 . 2. C C A C D III. 2. 5. BENAR/SALAH 1. 4. 8. 9. PILIHAN BERGANDA 1.6. 5. B A B B B A A A A 10.

10. 9. B D D 55 .3. 5. 4. B C D 8.

100% s.d. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d.99 % 80. maka disarankan mengulang materi.99 % 70.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). 56 . s. 90. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. Hitung jumlah jawaban yang benar. s.7.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.d.

. Gering.H. Pringgodigdo. Suseno S.. Winarty. 2.. Kuntjoro Purbopranoto. 1 April 2002. 1 Maret 2003..H. 8. 7. Jakarta.. 2002.. Triguno. Sulandra J.Ec. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Drs.. M. 1990 16. Kansil. DR. Suseno S. 1998. terbitan Program Magister STIA-LAN. Rooswiyanto. Dipl. 12. Drs. 1993. Kansil. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.Ed.H. 2002..T. Prajabatan III.T. 1985.. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.. 2001. Yogyakarta.. Pendidikan Pancasila. Army.J.C.G. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I. Supriyadi. Jakarta. 17. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. P. LAN.. Franz Magnis.. C... Keraf. S. 20 September 2002.. Mr. A. 10. Sonny. R. Hardijanto..Soc.. Etika Organisasi.. Mardojo. 1 Maret 2003.. Soeharyo. Desi Fernanda.J. Prijono. DAFTAR PUSTAKA 1. Prajabatan III. Etika Suatu Pengantar. kumpulan karangan. Drs.H. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Salamoen. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. Prof . DR. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. A.. Salamoen. Drs.P.. 15. Departemen Keuangan. 57 . Etika Kepemimpinan Aparatur. Jakarta.P.8.. Etika Dasar. Tony. 2001. 2005. LAN.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 13. M. Prof. SC. LLM. 16 Juli 2003. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Sonny.A. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik.... S. Jakarta. Etika Organisasi. Jakarta. Solomon. A. Tjiptoherjanto. Prof.H. Pradya Paramita. Penerbit Erlangga. Drs.T. Prof. C. Keraf.H. M. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . S. Drs. Etika Organisasi Pemerintah. 9. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik.T. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II.. Mr. Pradya Paramita.M.S. Mei 2002. 16 Juli 2003. Darmodihardjo Darji. Drs. Lembaga Administrasi Negara.A dan Sofia Ayu.. 5.W. M. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. S. 6. M. Nyoman Dekker. DR. P. 11. S. 14. Prof. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II.. Budaya Kerja dan Disiplin. 1984. Penerbit Kanisius. penerbit Karunia Esa.. 3.. Drs. S... Soeharyo. 4. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 18. Santiaji Pancasila..S... Balai Pustaka. cetakan VIII.

13. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 19.01/2007. 2.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 4. 9. 10. 8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Kolusi.PERATURAN-PERATURAN: 1. 12. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. dan Nepotisme. 17. 5. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. 58 . Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. 11. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Pemindahan. 15. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. 14.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. 18. 7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 6.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.

21. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.20. 22. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. 59 .01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. 23.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful