DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. dan merata. tidak ikhlas. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. kolusi. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. Oleh sebab itu. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. Kemudian. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. . dan diskriminatif. adil. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. maka diperlukan adanya etika birokrasi. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. dan Nepotisme. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Kolusi.

kaedah dasar moral. nilai moral). Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. dan pembangunan secara. keberanian moral. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. jujur. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. . serta tentang etos dan etiket. adil. pelaksanaan etika. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. pemerintahan. nilai-nilai dasar. sebagai berikut: a. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. profesional. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. dan pembagian etika. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. merata. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. penyelenggaraan negara. b. teori-teori. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS).Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. dan tidak diskriminatif. prinsip.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

.......1..... 3.............2......................................................................................1. Ciri-ciri pokok birokrasi ............... 2....DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR ....................................7............6.................... 2............4.................... 2.............................. Deskripsi Singkat .......... 1............... Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ............... Pengertian tentang birokrasi . DAN ETIKET .....................3........................................................... 3............................ DAFTAR ISI .............................................8.............................................. Tujuan Pembelajaran Khusus ...................................................5....... Uraian dan contoh ............................................................ 4............................................................................................................................... 4........ 4.................................................. Rangkuman .................................................................................. Etiket ............... Rangkuman ..................... 4.... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3................................................2.. Latihan 3 ........................................ 4.........................5 Latihan 2 ...............5........................ 4............................................................ 4.3...........3 Perwujudan etika organisasi ................ 3.......... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik .7............................. Kb 1: ETIKA...1........... Tujuan Pembelajaran Umum ... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral .................... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ............ 2...... Uraian dan Contoh ......................................... Uraian dan contoh ..................................... Tugas birokrasi ...............9........................................ PENDAHULUAN ..................................... 1....................... 5.........................4.......................3... Etos.......................................... 2.................................................................................................................. 2.......................4 Rangkuman ................ ETOS................. 4.2........................ 4................ Latihan 1 ........ 1.......... MORAL.. 3.. 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ..................................... ii .............. Etika ....2............................6... 4................. 1............... 2.. Pentingnya etika dalam organisasi . Asas-azas umum penyelenggaraan negara .............. Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..... 2...1......................... 3.........................

. 8..... KUNCI TES FORMATIF ... 7............. 39 40 41 iii . UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ...................6........................................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...........

dan pembagian etika. dan etiket. teori-teori etika.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. dan Etiket. moral. etos. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. moral. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. PENDAHULUAN 1. Menjelaskan pengertian tentang etika. serta birokrasi organisasi pemerintah. keberanian moral. kaedah dasar moral. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. cara mewujudkan etika birokrasi. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. serta terakhir tentang etos dan etiket. ciri-ciri pokok birokrasi. nilai moral. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. dan etiket. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. kesadaran moral. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi.1. 1. 1. Moral. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan.2. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. tugas birokrasi. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. 1 . dan etiket. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. prinsip etika. etos. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). moral. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik.3. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. Etos. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. yang mencakup pengertian tentang Etika. etos. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. azas-azas umum penyelenggaraan negara.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

saling berbuat baik. kedamaian. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. sikap. kebaikan yang diterima umum.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. ras. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. bekerja sama. Jadi manusia harus diperlakukan sama. Sebagai contoh. adanya rasa kasih sayang antara sesama. c. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. saling bertenggang rasa. 2. dan pola pikir yang beragam. berpenampilan menarik. 5 . dan lain-lain. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. contoh. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. yaitu: 1. suasana yang kondusif. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. 3. dalam Salomon. berpenampilan indah. tidak sama satu sama lain. dan lain-lain. R. sayang sesama manusia. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. Prinsip kebaikan bersifat universal. etnis. 2. ketentraman. tidak diskriminatif. misalnya: saling menghormati. saling kasih-mengasihi.

kebebasan. kebaikan. apa yang baik untuk dirinya. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. dan kebenaran bagi setiap orang. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit.4. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. akan semakin besar tanggung jawabnya. d. 5. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. keadilan. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. Teori etika ini terdiri 6 . Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. 6. persamaan.

bukan karena paksaan.dari: etika deontologi. juga dianggap benar oleh orang lain. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. etika teleologi dan etika keutamaan. kritis. dalam Sonny Keraf (2003). Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. sebagaimana 7 . b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Menurut etika deontologi. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dengan demikian. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Immanuel Kant (1734-1804). menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar.

Contoh: Kalau kita melakukan KKN. karena suatu tindakan yang bernilai moral. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. 8 . berarti kita memperalat diri kita demi uang. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. orang lain. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. baik bagi siapa: diri sendiri. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Menurut etika deontologi. Menurut Kant. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. 2. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. diperlakukan secara sewenang-wenang. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. ataupun orang lain. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. apakah diri kita sendiri.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. apabila bertujuan atau berakibat buruk. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. yang berarti tujuan. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. suatu tindakan dinilai buruk. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. Sebaliknya.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. Maka. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). e. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. Dalam hal ini. teori-teori etika.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. etika sosial. yaitu etika individual. dan etika lingkungan hidup. Dengan kata lain. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. 12 . Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). 2. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. 1. dan semacamnya. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus.

a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. masyarakat. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. negara). 2006:34) 13 . c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan.

Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. adat. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. a. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. tata cara hidup yang baik. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. yang berarti. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. a. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. c. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. suatu hal yang bersifat rasional. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. Secara harfiah. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. kebiasaan yang baik. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. 3.2. 2.3. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan.

kebiasaan yang baik. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. sebagaimana yang diwajibkan. norma hukum. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. penuntun. d. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. Dalam hubungan ini. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. 2. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. dan norma moral. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. mempunyai fungsi sebagai pedoman. petunjuk hidup. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. 15 . yaitu: kewajiban. akibatnya tidak baik. Nilai Moral Moral. yakni: keberanian moral. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. Di sisi lain. e. dan sesudah perbuatan dilakukan.hakekatnya merupakan pedoman hidup. ada juga hal lain yang perlu dipahami. sebagaimana diuraikan sebelumnya. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. yaitu: moral sebagai adat istiadat. dan larangan.

kepercayaan. integritas. Berbeda dengan etika. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. dan tanggung jawab. kebebasan. dan sebagainya. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. transparansi. Etos kerja bisa kuat atau lemah. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. etos profesi. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. alasan logis. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. seperti: disiplin. seperti: etos kerja. dedikasi. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . Apabila ada istilah etos kerja. tradisi. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. misalnya: malas.3. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. dan sebagainya. positif atau negatif. 1993:120). seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. tanggungjawab.4. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. b. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. seperti: rasional. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. Etos a. dan petunjuk hidup). atau budaya terhadap kegiatan tertentu. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. f. keputusan nalar. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. masyarakat. Pemakaian kata etos sering kita dengar. 2.

Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. Pemakaian kata etiket. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. misalnya. meskipun ada kaitannya. akhlak atau watak tertentu. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. Dalam hubungan ini. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. 2. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. jangan mencuri. Etika (kebiasaan. Sebagai kata sifat. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . yaitu etiket. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. dan sebagainya. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. misalnya. Etiket tidak sama dengan etika. etiket makan. Sebaliknya.pekerjaannya. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak.5. jangan berbohong. 2004:5). jangan korupsi merupakan norma-norma moral. misalnya. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens.

bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. Sebaliknya. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. serta pembagian etika. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. mencuri. moralitas. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. tiga teori etika. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. menyontek. etika lebih bersifat universal. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. Disamping pengertian tentang etika. korupsi. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. 18 . Larangan-larangan korupsi. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. etika teleologi. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak.dianggap melanggar etiket. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. Larangan-larangan untuk mencuri. Misalnya. atau menyontek. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan.6. Sebaliknya. etos. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. tata cara hidup yang baik. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. Secara harfiah. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). dan etika keutamaan. yakni: etika deontologi. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. tetapi apabila saya makan sendiri. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. dan etiket. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. • Etiket bersifat relatif. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. 2. dan sebagainya.

2. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. transparansi. seperti: disiplin. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. menurut Adler! 4. yakni: a. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. dan etiket! 5. etiket lebih bersifat relatif. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. tanggung jawab. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Dari pengertian ini. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. dan keempat.7. LATIHAN 1 1. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. b. sebaliknya. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. etos. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. Berikan contoh! 19 . dan sebagainya. etika. integritas. dedikasi. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. moral. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. apabila ada istilah etos kerja. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. c.Di sisi lain. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. Sementara itu. Jelaskan prinsip-prinsip etika.

sebagai berikut: a.2. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. kesabaran. kejujuran. Dengan demikian. prinsip-prinsip organisasi. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. Sondang Siagian (1996:11). Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. M.3.1. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. 3.A: 1998). MSc (2005:27) dan Prof. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Tony Rooswiyanto. peraturan perundang-undangan. ketulusan. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. DR. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. Sutopo.

sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. sosial. di bidang agama. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. 2. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. pandangan hidup. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. yakni sebagai berikut: 1. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. 2. 3. suku. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. 3. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. dan sosial. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. d.organisasi tersebut. 21 . sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. 4. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku.

Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. menurut Suseno SJ. kegembiraan. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. sebagai berikut. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. dan kebiasaan kelompoknya b. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. 22 .3.3. melaksanakan tugas dengan ikhlas. maka akan memberikan kesenangan. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. efisiensi. harapan. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. 2) Jujur. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. tidak korupsi. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu.

mau bekerja sama. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. kerapihan. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. dia harus tegas. kegesitan. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). bersedia memandang jauh ke depan. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. menuntut. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. Selalu. tepat pada waktunya. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. kejujuran/tidak korup. bersedia untuk berubah. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. 23 . Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. Secara konsisten. keputusan diambil secara rasional. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu.4) Bertanggung jawab. Seperlunya dia harus mempelajarinya. 1. kerajinan. 2. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. sanggup mengenakan sanksi. c. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. harus mempunyai wibawa. kesederhanaan. tanpa kecuali. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. memahami secara garis besar maupun detil-detil.

mendorong orang tidak bersemangat. yaitu: 1. adil. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. bebas dari pamrih. Bagi orang yang berwatak kuat. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. Semakin banyak orang 24 . jujur. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. 5. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. cakap. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. dan bertanggung jawab. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. 4. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. bersih. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. tegas. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. komunikatif. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. dan bertanggung jawab. malas. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. Seorang pemimpin yang jujur. d. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Dalam lingkungan yang positif. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. korup.3.

maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. kegembiraan. yaitu adanya etos kerja yang kuat. 25 .4. didukung moralitas pribadi pegawai. efisiensi. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. etos kelompok sudah merosot. kepemimpinan yang bermutu. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. akan memberikan kesenangan. dan syarat-syarat sistemik. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. dan efektivitas kerja semua pegawai. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. Etika diharapkan menunjang kualitas. didukung lingkungan kerja yang kondusif. 2. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. 3. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi.yang terkena erosi moral. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi.

Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. LATIHAN 2 1. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 .5.3.

anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. 27 . yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat.1. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil.3. Uraian dan contoh 4.4. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. 4. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. wewenang. b. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”.2. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap.

Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. Dalam konteks negara Indonesia.4. sebagai berikut: a. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. d. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. 4. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. f. 28 . Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. e.c. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi.

d. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan efisien. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. b. martabat manusia. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. e. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. dan kesamaan di hadapan hukum. dapat dipertanggungjawabkan. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . c.

Pimpinan Bank Indonesia. Wakil Ketua. militer. dan POLRI. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Wakil Ketua. Ketua. legislatif. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. Walikota dan Wakil Walikota. Ketua. yaitu: 30 . prosedur layanan. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. dan Nepotisme. dan Anggota DPR. Jaksa. Panitera Pengadilan. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden.5. dan biaya yang dikeluarkan. Ketua. Direksi. atau yudikatif. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Ketua. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. 4. Wakil Ketua. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. Penyidik. Komisaris pada BUMN dan BUMD. dan Nepotisme. dan Anggota MPR. Ketua Muda. maka ukuran lain adalah efisiensi. Kolusi. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Kolusi.

adil. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.6. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. keserasian. 31 . dan merata. Asas Proporsionalitas. Asas Kepentingan Umum. d. jujur. Asas Keterbukaan. dan rahasia negara. Asas Profesionalitas. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. menyelenggarakan tugas pemerintahan. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. kepatutan. Asas Kepastian Hukum. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. jujur. 4. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. b. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. e. c. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. f. Anggota POLRI. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). g. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. Asas Akuntabilitas. dan menyelenggarakan tugas pembangunan.a. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. dan selektif. akomodatif. menyelenggarakan tugas negara.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan.7. 33 . Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. pengangkutan barang. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. bahan bakar minyak. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. perbankan. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. kesehatan. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. i. f. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. dan sebagainya. akte kematian. dan sebagainya. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. lanjut usia. surat izin mengemudi. pensiun janda/duda. b. pensiun pegawai. Kelompok Pelayanan Barang. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. pendidikan. telepon. sertifikat tanah. dan pengawasan fungsional. dan sebagainya. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. g. pengawasan melekat. 4. kenaikan pangkat. akte perkawinan. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. listrik. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. c. k. wanita hamil. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. di rumah sakit. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas.e. bahan bakar gas. dan balita. kenaikan gaji. j. h. izin mendirikan bangunan. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. dan Kelompok Pelayanan Jasa.

menolong. kebaikan. dan nepotisme. dan sebagainya. efektivitas. Nilai-nilai moral. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. transparansi. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. keharusan. Dengan kata lain. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. kesabaran. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. Norma-norma moral. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. ketertiban. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. kebenaran. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. ramah-tamah. kesamaan. tidak korupsi. akuntabilitas. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. keadilan. jangan meminta. kolusi. menjunjung tinggi supremasi hukum. keikhlasan. jangan mencuri. dan lain-lain. 34 . norma hukum. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). kewajiban. seperti antara lain: kejujuran. 2. dan lain-lain. Dalam kegiatan belajar 1. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. biaya yang melebihi dari tarif resmi. dan norma moral.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. efisiensi. seperti antara lain: profesionalisme. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi.

Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI.8. yaitu: a. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. keadilan. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. mengusahakan kesejahteraan umum. yang disebut Pegawai Negeri. 4. profesionalisme. kesamaan. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. efisiensi. c. e. dan lain-lain) serta asas-asas. standar. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. transparansi. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. keadilan sosial dan pemerataan. akuntabilitas. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. d. dan biaya pelayanan yang murah. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. 35 . mewujudkan negara hukum. prinsip-prinsip. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. keikhlasan. dinamika dan efisiensi. b. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. f. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat.

dan melaksanakan tugas pembangunan. dan pola pelayanan yang baik. transparansi. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. profesional. 4. prinsip-prinsip. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . akuntabel. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. melaksanakan tugas negara.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. standar. keikhlasan. melaksanakan tugas pemerintahan. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. dan lainlain). keadilan. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan.9. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. LATIHAN 3 1.

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 2. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 3.6. 3. 4. BENAR/SALAH 1. B A A B B III. 5. D A B 39 . 2.

40 . Hitung jumlah jawaban yang benar. 90. maka disarankan mengulang materi.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).99 % 80. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.7.d. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.99 % 70.d. s. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d. s. 100% s.d.

2.8. Pringgodigdo. Desi Fernanda.. Dwijowijoto. 16 Juli 2003. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar.. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Siagian. R. Vol.. Jakarta: Balai Pustaka.. cetakan VIII. Salamoen. 1996. 2005.. Jakarta. 15. LAN. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan.C. Drs. Mr.G.. A. 2005. 2000. Drs. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. dan Evaluasi” PT. DR. STIA LAN.P. Salamoen. Prof. Materi Pokok.I. 9.. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.A dan Sofia Ayu. Prof. M. Kamus Besar Bahasa Indonesia. M. Prof. Nyoman Dekker. Bertens. 14.. 2001. 2001. Departemen Keuangan. Jakarta.H.. Majalah Auditor. Suseno S. 5. Jakarta.. Darmodihardjo Darji. Juni-Agustus Tahun 2003.. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Jakarta. S. 7. 8. Sulandra J. 1993. 11.A. Myrdal.H. 10.. K. 2006. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon.J. 6. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. “Etika” PT. 8.. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. 1968. Gramedia Pustaka Utama.Ed. 1984. Inspektorat Jenderal.. M. Jakarta. Utomo. 4. Bandung. Etika Suatu Pengantar.H. 3. Departemen Keuangan. 20 September 2002. Penerbit Erlangga. Handayani.W. Kuntjoro Purbopranoto.P. Implementasi. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. 17. “Kebijakan Publik : Formulasi. 4. Keraf.. 16. 2004. Kumorotomo. Puji. 2004. Rooswiyanto. No. S... Makalah. 41 . 2002. DR. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. M. Suseno S.H. Prof. 1985. Drs. Soeharyo.. 12. Mr.. Riant Nugroho. penerbit Karunia Esa. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Drs.. S. Jakarta.J. Soeharyo. Rajawali Pers. Departemen Keuangan. Mardojo. S. Solomon. Elex Media Komputindo. Jakarta. dan Zahar Angga Setiawan. A Sonny. Etika dan Hukum Administrasi Publik.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 2. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Tiara Wacana. PERATURAN-PERATURAN: 1. Achmad Kharis. 42 . 3. dan Nepotisme. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 1988. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Kolusi. Kolusi. 7.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. 6. 8. 5. 11. Zubair. dan Nepotisme. 4.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 12.01/2007. 13. Pengantar Kuliah Etika.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974.18. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT.5........ Deskripsi singkat .....6 Latihan 1 .. 3................ Beberapa pengertian .............. 4..............3......................................................8................... Penegakan kode etik PNS ........ 3............. Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? .... 3...................... 3...............................................................10. Uraian dan contoh ................................................... 1............ 8............................................................... 4. 3... 7....................... 2............3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan .......................6 Rangkuman ...... 1............................. 3.. 4.............. TES FORMATIF .......................2.............. KUNCI TES FORMATIF .....................................................................7................................................................... Latihan 2 .................. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ...... 3...... Tujuan Pembelajaran Umum ...... 2.......... Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan .......... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ............. Uraian dan contoh ........................... Kode etik instansi dan kode etik profesi ...........2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ...............2.. 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5............ 3...............................................................7 Latihan 3 .......................5... 3...........................1.......3 Tujuan Pembelajaran Khusus .................... 2............2.................. 4........4.4................... 1...................................... 3.. Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil .........................3..9........... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2................... i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2................................................................................... Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ............. Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ...............................6.................. 6..... 4...............1 Uraian dan contoh ............................. 4.....5 Rangkuman ... 4... 2. PENDAHULUAN ............... DAFTAR PUSTAKA ............................................1.........4........................ 4.............. Rangkuman ................... Etika meningkatkan kualitas PNS ....... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ........................................1.DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1....................... 3................................ Pelaksanaan etika PNS ........................ Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2......... ......................................

PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. PENDAHULUAN 1. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Dalam kepemerintahan yang baik. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. dan merata. UUD 1945. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. yaitu: PNS yang kuat.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. serta diskriminatif. kompak. dan Pemerintah. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.1. Negara. tidak ikhlas. sikap. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. 1 . bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. memiliki kepekaan. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. netral. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. tidak hormat. berdisiplin. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. tanggap. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. dan bersatu padu. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. adil. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. profesional. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.

dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. bangsa. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. dan negara.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. yang akhirnya akan mewujudkan sikap.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. peserta diklat dapat: 1.3. 2 . 1. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. 2. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.2. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. 3.

10.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS.4.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 8. 9. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. 3 .Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. 6. 7. 5.

kreativitas. Negara. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kerja sama. Beberapa pengertian a. adil dan merata. disiplin. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1.2. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. tujuan. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. disiplin. kerja sama.2. dan Pemerintah. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. kebersamaan. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. kreativitas.1. dedikasi. tanggung jawab. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. kebersamaan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. UUD 1945. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 4 . serta tidak diskriminatif. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. setia dan taat kepada Pancasila. dedikasi. tanggung jawab. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan.

Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. adil. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS.a. pengabdian. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. tingkah laku dan perbuatan PNS. d. c. tingkah laku. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. a. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. dan merata. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. Pelanggaran kode etik PNS 5 . baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. pengabdian. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan.

pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. b. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Membina karakter/watak. kesadaran. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. b.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. 6 . memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. c. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat.3. c. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. Selanjutnya. 1.

dan perilaku yang baik dari PNS. b. tidak diskriminatif. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS.4. dan negara. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. sikap. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. c. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. adil dan merata. tidak diskriminatif. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. dan negara.1. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. melalui kinerja. d. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. adil dan merata. bangsa. bangsa. 7 . peningkatan kerja sama antara PNS. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS.

Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. disiplin. tingkah laku. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Membina karakter/watak. dedikasi. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). tanggung jawab.5. 1. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. kreativitas. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. kerja sama. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. pengabdian. kebersamaan. 8 . Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. b. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS.

Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. LATIHAN 1 1. 3. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. bangsa. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS.c.6. 1. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. kesadaran. 4. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . dan negara. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. 2. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat.

Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. Pasal 5 ayat (2). Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. 3. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. berorganisasi. dan pasal 28 UUD 1945. Kolusi. bermasyarakat. 4. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. dan terhadap sesama PNS. 2.2. Menurut DR. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.1. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. pasal 27 ayat (1). melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.3. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. 10 . baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. adil dan merata. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan Nepotisme. terhadap diri sendiri. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. 3.

yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS .3. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. b. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. meliputi: a. h. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. netralitas. Semangat jiwa korps. b. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. f. Semangat nasionalisme. g. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab.5. dan bermoral tinggi. 3. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. e. 11 . Profesionalisme. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. i. d. c. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS.

Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. dan jangan lakukan pada orang lain. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. 3. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. negara. tingkah laku. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. bangsa. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. bangsa. negara. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. dan pemerintah. Merupakan pedoman sikap. Menurut DR. integritas moral yang tinggi. 12 . bertindak secara adil. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran.4. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. 3. dan pemerintah. yaitu: profesionalisme. 2.

Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. bangsa dan negara. e. b. Bertindak secara adil 13 . Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. dan nepotisme. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. c. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. kolusi. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. d.

serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. g. dan seterusnya. jenis kelamin. yaitu. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. f. 14 . dan abdi masyarakat. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. agar kepentingan semua pihak dijamin. dalam penyelenggaraan pemerintahan. 3. tanpa diskriminasi atas dasar ras. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara.5. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. abdi negara. keluarga. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. dalam berorganisasi. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. agama. suku. Jangan lakukan pada orang lain. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. dalam bermasyarakat.

5. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. 2. 4. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. 3. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. dan akurat. b. 3. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 15 . Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. 6. jujur. Memberikan pelayanan dengan empati. 4. 7. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. 6. 5. Etika PNS dalam bernegara 1.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. Tanggap. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. terbuka. 9. 7. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. hormat dan santun. 2. 8. 2. c. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. Mewujudkan pola hidup sederhana. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 8. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi.

2. dan adil serta tidak diskriminatif. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. 3. Etika PNS terhadap sesama PNS 1.3. dan sikap. 2. 4. Berpenampilan sederhana. 7. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. keterampilan. 4. 4. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. Menghindari konflik kepentingan pribadi. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. e. 5. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. dan sopan. terhadap sesama PNS. 6. berorganisasi. Memiliki daya juang yang tinggi. 8. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. kemampuan. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. 6. 16 . d. 5. 5. bermasyarakat. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. terbuka. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. terhadap diri sendiri. kelompok. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. maupun golongan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. 3. 7. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. tepat. rapih. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. instansi. Memberikan pelayanan secara cepat. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. Menghargai perbedaan pendapat. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. maupun antar instansi.

17 . Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. c. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan.6. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS.3. Penegakan kode etik PNS a. 4. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Sanksi moral. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. 3. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. 2. 2. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri.

5. keputusan diambil dengan suara terbanyak. 6. 18 . Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.

norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. 2. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3.3. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. 2. kode etik notaris. 3. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. kode etik pengacara. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi.8.7. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. misalnya: kode etik kedokteran. Kode etik adalah nilai-nilai moral. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. kode etik PNS. yaitu: 1. dan lain-lain. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. b. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 10.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. 7.organisasi profesi tersebut. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik.01/2007. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 2. 3. Pemindahan. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. c. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. dan 20 . 5.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 9.

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. pengorganisasian. Oleh karena itu.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Pada saat ini. sesuai perkembangan yang ada.11. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. diminta agar menyesuaikan kembali. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN.01/2007 tersebut. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada).01/2007. Untuk keperluan pembelajaran. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). pengkoordinasian dan pengendalian 21 . sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. dari mulai perencanaan. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.

dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. Meningkatkan disiplin pegawai. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Dalam hal ini. Departemen Keuangan. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. c. Menjamin terpeliharanya tata tertib. 22 . larangan. tingkah laku.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. b. Sebagaimana diketahui. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. d. e.

Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. e. dan bertutur kata secara sopan. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. c. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. sesama pegawai. d. berpenampilan.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. yang menyebabkan pegawai yang menerima. d. dan adat istiadat orang lain. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. f. h. i. b. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. atau pihak lain. dan akuntabel. 23 . g. sesama pegawai. e. b. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. Bersikap. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Bekerja secara profesional. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. Menghormati agama. dari wajib pajak. transparan. Menyalahgunakan fasilitas kantor. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. budaya. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. c. baik langsung maupun tidak langsung. f. Mentaati perintah kedinasan. kepercayaan. yakni sebagai berikut: a.

tingkah laku. tulisan. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. Dari sisi ini. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. 24 . penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. h. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak.g. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. dan perbuatan pegawai. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.

budaya. baik langsung maupun tidak langsung. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. c. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. d. Menaati perintah kedinasan. b. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. d. Menaati dan mematuhi segala aturan. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. dan e. 25 . Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. c. kepercayaan. b. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menghormati agama. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

f. h. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. i. g. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. f. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. harmonis. Menerima pemberian. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. kerusakan. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . c. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. g. b. berpenampilan. hadiah. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. dan sinergis antar pegawai.e. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. d. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. Bersikap. e.

tulisan. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. 30 Tahun 1980.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.Segala bentuk ucapan. sikap. perilaku.

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

Melakukan perbuatan korupsi. d. b. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. Mentaati ketentuan jam kerja.Kewajiban: a. c. e. e. b. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. cermat. i. kolusi dan nepotisme. c. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. tertib. Larangan: a. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . f. g. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. Berpakaian rapi dan sopan. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). f. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. bersemangat dan bertanggung jawab. h. j. d. Bekerja dengan jujur. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik.

30 . Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. j. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. yang keanggotaannya terdiri dari: a. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. g.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. mengkonsumsi. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. Memanfaatkan barang-barang. i. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. h. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. k atau pihak lain. Membuat. b. dan c. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan Direktorat Jenderal Anggaran. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. bertindak secara adil.9.01/2007. yaitu: prinsip profesionalisme. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. integritas moral yang tinggi. Sonny Keraf. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. yang dalam hal ini termasuk PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.01/2007.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. 31 .3. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan jangan lakukan pada orang lain. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Menurut DR. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan.

Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2.3. 5. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Pegawai Negeri Sipil. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .9. LATIHAN 2 1.

adil dan merata.1. 4. adil. terbuka. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. sopan dan santun. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. ikhlas. pemerintahan. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. tepat. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. memberikan pelayanan secara cepat.2. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. dan pembangunan. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara.4. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. tidak diskriminatif. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. serta tidak diskriminatif. adil dan merata. ramah. hormat dan santun. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. adil. dan 3.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. Anggota Tentara Nasional Indonesia. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. c) Untuk menjamin netralitas. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. dan pembangunan. dan merata. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. 2. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. 34 . • • PNS Pusat. PNS Daerah. jujur. Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. pemerintahan. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

adil. d. yaitu: a. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. Kolusi. sopan dan santun. transparan. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. Karena PNS 35 . produktif. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. 4. dan bebas korupsi. dan merata.3. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. ramah. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. ikhlas. kolusi.b. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. dan nepotisme. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. 2. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. aparatur pemerintah. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. 2.

Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. tidak diskriminatif kepada masyarakat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. tepat. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. tidak diskriminatif. ramah. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. c. serta tidak diskriminatif. d. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 36 . dan tidak diskriminatif.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. dan adil. hormat dan santun. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. b. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. ikhlas. adil dan merata.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. sopan santun.sebagai unsur aparatur negara. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. terbuka. merata. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. e. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima.

Prinsip Pelayanan Publik a. mudah dipahami.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. b. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. d. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. kebutuhan. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. agama. dan mudah dilaksanakan. dan status ekonomi. Transparansi Bersifat terbuka. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. b. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. golongan. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. e. gender. 37 . 2. c. Asas Pelayanan Publik a. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. f. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. ras. dan harapan masyarakat.

Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. ramah. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. Kedisiplinan. dan lainlain.c. f. rapi. toilet. informatika. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. j. disediakan ruang tunggu yang nyaman. d. g. i. tepat. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. bersih. teratur. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. sopan dan santun. seperti parkir. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. dan sah. tempat ibadah. mudah dijangkau oleh masyarakat. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Kesopanan. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. h. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . e.

yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. hormat dan santun. dan bebas Korupsi. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. serta tidak diskriminatif. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. Kolusi. bersih. dan Nepotisme. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. sopan dan santun. transparan. Memberikan pelayanan produktif. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. tidak diskriminatif. terbuka. dan adil.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat.PAN/7/2003. tepat. ramah. Memberikan pelayanan dengan empati. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima.

dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. yaitu: a. dan berperilaku bagi negara. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan merata. 40 . UUD 1945. UUD 1945. adil. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. bersikap. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan Negara. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. 4. disiplin. sportivitas. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. dan Pemerintah. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. Etika meningkatkan kualitas PNS a. keteladanan. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. dan seluruh rakyat Indonesia. kemandirian. bertaqwa. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. rasa malu. pemerintah.4. sikap toleransi. bersikap. amanah. b. etos kerja. Pemerintah. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. tanggung jawab. Negara.

kompak.b. bermasyarakat. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. dan bersatu padu. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. f. terhadap diri sendiri. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. c. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Pegawai Negeri Sipil yang netral. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. berorganisasi. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. c. d. e. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. g. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 .

kesadaran. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. tertib. Undang-Undang Dasar 1945. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. iii. v. vii. 42 . Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. atau pihak lain. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. iv. dan bersemangat untuk kepentingan negara. cermat. kekompakan. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. Bekerja dengan jujur. taat. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. Negara dan Pemerintah. patuh. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. ii. dan tanggung jawab. viii.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. ix. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. bertanggung jawab. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. diri sendiri. vi. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS.

Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Mentaati ketentuan jam kerja. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. keuangan. xxiv. yakni: i. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. xv. xix. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. sesama Pegawai Negeri Sipil. xvi. 43 . ii. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. dan terhadap atasan. xxiii. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. dan Pegawai Negeri Sipil. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. xi. xx. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. xiii. Menyalahgunakan wewenang. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. xii. xviii.x. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. xiv. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. xxvi. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. xxi. Bertindak dan bersikap tegas. xvii. xxv. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Pemerintah. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. dan materiil. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. xxii.

ix. Menyalahgunakan barang-barang. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . kecuali untuk kepentingan jabatan. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. x. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. xii. xiii. viii. membeli. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. vi. Memiliki. menggadaikan. dokumen. xi. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. iv. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. teman sejawat. uang atau surat-surat berharga milik negara. menjual. v. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. golongan atau pihak lain xiv. golongan atau pihak lain.iii. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. xv. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. vii.

xvi.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. seseorang atau golongan. pimpinan. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. Negara. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. dan tanggung jawab. Pemerintah. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. xvii. atau komisaris perusahaan swasta. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. Bahwa saya. tertib. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. kesadaran. Bahwa saya. akan bekerja dengan jujur. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. golongan atau pihak lain. menjadi direksi. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Bahwa saya. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. dan Pemerintah. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. cermat. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. Undang-Undang Dasar 1945. 45 . saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. Bahwa saya. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. xviii.

maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. UUD 1945. Negara. yaitu: 46 . Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. berorganisasi. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. bersikap dan berperilaku baik. 4.3. taat. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. rajin. bermasyarakat.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. patuh dan setia kepada Pancasila. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. terhadap diri sendiri. dan lain-lain. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. dan Pemerintah. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara.5. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya.

PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. di samping bersikap dan berperilaku baik. memiliki kepekaan. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. berdisiplin. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. kompak dan bersatu padu. tepat.a. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dan adil. UUD 1945.M. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. dan Pemerintah. hormat dan santun. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas.6. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. 4. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . Memberikan pelayanan secara cepat. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. terbuka. adil. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. Negara. Memberikan pelayanan dengan empati. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. netral. profesional. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. b. serta tidak diskriminatif.

serta tidak diskriminatif. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 .01/2007. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. memberikan pelayanan secara cepat. tepat. 4.7. hormat dan santun.PAN/7/2003! 4. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. Latihan 3 1. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. dan adil. terbuka.

A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan.A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. 6. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. 1.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. dan merata.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. B . B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. B . B .5. 2. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. 3. 8. B . 7. B . 9. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. B . TES FORMATIF I. 10. adil. B . B . 4.A B . 49 .A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi.

Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. tingkah laku. adil. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sanksi pidana dan perdata 3. Memiliki daya juang yang tinggi 4. Memberikan pelayanan dengan empati. b. sikap. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. tidak diskriminatif d. hormat dan santun.II. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. Dalam melaksanakan tugasnya b. d. dan . c. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. Nepotisme c. 1. b. Kolusi. Sanksi moral b. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a.

kerja sama. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. Profesional d. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . bila pernyataan 1) dan 3) benar C. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. Transparan c. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A.5. Kolusi. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Memiliki kepedulian yang tinggi III. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. bila semua pernyataan benar 1. Bebas Korupsi. dan Nepotisme b. bila pernyataan 1). disiplin. 2). dan 3) benar B. netralitas.

dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. Sonny Keraf.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. watak. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Menurut DR. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. Kolusi.3.

PAN/7/2003. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. kompak. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8.4) Produktif dan disiplin 7. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat.

BENAR/SALAH 1. D B 6. 2. 2. C C A C D III. 2. A II.6. 7. 9. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 3. 4. PILIHAN BERGANDA 1. B A 54 . B A B B B A A A A 10. 8. 4. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 3. 5. 5. 6. 7.

4. B C D 8. B D D 55 . 9. 5. 10.3.

kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. s.99 % 70.7. 100% s.99 % 80. s. 90. 56 . TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. maka disarankan mengulang materi.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.d. Hitung jumlah jawaban yang benar.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d.d.

Drs. 1985. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN.H. Soeharyo. 7. Winarty. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Tjiptoherjanto. penerbit Karunia Esa. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah.H.M... P. Jakarta. 1993.P.J. Nyoman Dekker.. cetakan VIII. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .Ec. Lembaga Administrasi Negara.H. Mr. M. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Etika Organisasi. Gering.. Drs. 2002.J. Keraf. 9. Suseno S..Soc.S. terbitan Program Magister STIA-LAN. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. S. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. Jakarta. S. LAN. Drs. Keraf. Mei 2002. 57 . Pringgodigdo. 2005. 15. Pradya Paramita. Rooswiyanto. Jakarta.. Jakarta.P.T. 3. Drs.. Santiaji Pancasila.. R. Hardijanto. Salamoen. Franz Magnis. Kuntjoro Purbopranoto. Mr. 8. Sulandra J. Etika Kepemimpinan Aparatur. Balai Pustaka. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. S.. Darmodihardjo Darji. Sonny... Army. A. 4. S. Drs. Prijono. Mardojo. DR. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II... Drs.W. Prof ...G...8. 10. A. 20 September 2002. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. DR. Penerbit Erlangga. Kansil. Kansil.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 12. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada... Tony. DAFTAR PUSTAKA 1.. Budaya Kerja dan Disiplin. M..T. 2001. Soeharyo. S.. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. A. Prajabatan III.T. Sonny. 2002. 1 April 2002. Etika Suatu Pengantar. 2001. Prof.. P. 1990 16. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. C. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II.T. Etika Dasar. Triguno...A dan Sofia Ayu. Prof. Pendidikan Pancasila. DR.A. LAN. 1 Maret 2003. 1 Maret 2003. 17. Suseno S. Departemen Keuangan. Supriyadi. M. Yogyakarta. Etika Organisasi Pemerintah.Ed..C. Prajabatan III. 18. kumpulan karangan. 14.. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Dipl. Etika Organisasi... dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. Solomon. M.. 6. Prof. Penerbit Kanisius. 16 Juli 2003. C. Salamoen. LLM.S. Drs. 2. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. 13. S.H.H.. Jakarta. Desi Fernanda. 5. 16 Juli 2003. SC. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Pradya Paramita.. Prof. M...H... Pancasila dan UUD 1945 Bagian I. 1984. 1998. Drs. 11.

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. 17.01/2007. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. 19. 4. 15. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 14. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 13. 9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. 8.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 3. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. Kolusi. 2. 16. 5. 7. 6. 18. 11. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Pemindahan.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. 10. dan Nepotisme. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM.PERATURAN-PERATURAN: 1. 12. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 58 .4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. 22.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. 59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.20.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 23. 21. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful