DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

adil. Kolusi. tidak ikhlas. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. . yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. maka diperlukan adanya etika birokrasi. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. kolusi. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dan merata. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. dan diskriminatif.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. Kemudian. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). dan Nepotisme. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Oleh sebab itu.

dan tidak diskriminatif. jujur. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. dan pembagian etika. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. adil. sebagai berikut: a. prinsip. nilai-nilai dasar. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. profesional. pemerintahan. teori-teori. kaedah dasar moral. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. dan pembangunan secara. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). keberanian moral. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. b. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. pelaksanaan etika. penyelenggaraan negara. . Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). serta tentang etos dan etiket. nilai moral). merata.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ................................................................... 2.......................................... 3..3................3............................... Uraian dan contoh ..... 5........ Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ...................7........2..................................................................5.....................1.... 4............ 4..................... Deskripsi Singkat .... MORAL....................................... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ................................................................................ DAN ETIKET ........................................... 1........ 4.....5...................... Uraian dan Contoh ....................... Etiket ...........2............. 4......................... 3......6................... 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF .............................. 3.................................. ii ................1............. Etos.. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ....................................................................7........................4................................................ Tugas birokrasi .....................................9.......... DAFTAR ISI ...6............................. Rangkuman ........................................................................ 2...................................1........................... Uraian dan contoh ...... 2................................. Latihan 1 . 2. Latihan 3 ..............4 Rangkuman ..................................................................... 4.................... 4..... Ciri-ciri pokok birokrasi ...................................... Asas-azas umum penyelenggaraan negara ...................................2.............................................3 Perwujudan etika organisasi ...............................8...........DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR .........................5 Latihan 2 ....1............... Tujuan Pembelajaran Khusus ...........................................................4............................................................................................ 1............... ETOS............ 4..... Etika .................... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ..... 3.... Tujuan Pembelajaran Umum ......................... 1....................2. PENDAHULUAN ..... Pentingnya etika dalam organisasi .. 4........... Pengertian tentang birokrasi ......................3........... 2.............................. 2. 4................ 1......................................... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3........... 2............. 2................................ Rangkuman ................................................... Kb 1: ETIKA................................. 4..... 3...........

............ 8......................................................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ......... KUNCI TES FORMATIF ........6................................ 39 40 41 iii ............... 7....... DAFTAR PUSTAKA ....................................................

teori-teori etika. keberanian moral. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. kesadaran moral. yang mencakup pengertian tentang Etika. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. dan etiket. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. seperti: pengertian umum tentang birokrasi.2. 1. etos. kaedah dasar moral. dan etiket. 1. tugas birokrasi. Etos. serta terakhir tentang etos dan etiket. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. Moral. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. etos. Menjelaskan pengertian tentang etika.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. ciri-ciri pokok birokrasi. nilai moral. moral. azas-azas umum penyelenggaraan negara. etos.3. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. moral. serta birokrasi organisasi pemerintah. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral.1. cara mewujudkan etika birokrasi. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. 1 . dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. dan Etiket. prinsip etika. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. dan pembagian etika. moral. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. PENDAHULUAN 1. dan etiket. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

tidak sama satu sama lain. 3. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. berpenampilan indah. c. dan lain-lain. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. ketentraman. 2. Sebagai contoh. dan pola pikir yang beragam. kebaikan yang diterima umum. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. contoh. saling berbuat baik.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. tidak diskriminatif. dan lain-lain. misalnya: saling menghormati. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. saling bertenggang rasa. ras. bekerja sama. sikap. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. R. sayang sesama manusia. yaitu: 1. Jadi manusia harus diperlakukan sama. Prinsip kebaikan bersifat universal. dalam Salomon. adanya rasa kasih sayang antara sesama. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. saling kasih-mengasihi. berpenampilan menarik. 2. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. suasana yang kondusif. 5 . kedamaian. etnis.

akan semakin besar tanggung jawabnya. apa yang baik untuk dirinya. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. 6. kebaikan. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. d. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. 5. kebebasan. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. keadilan. dan kebenaran bagi setiap orang.4. Teori etika ini terdiri 6 . Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. persamaan. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut.

Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. etika teleologi dan etika keutamaan. Menurut etika deontologi. juga dianggap benar oleh orang lain. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal.dari: etika deontologi. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. dalam Sonny Keraf (2003). sedangkan “logos” berarti pengetahuan. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Dengan demikian. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. kritis. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). Immanuel Kant (1734-1804). bukan karena paksaan. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. sebagaimana 7 .

Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. 2. baik bagi siapa: diri sendiri. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. Sebaliknya. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. orang lain. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. yang berarti tujuan. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. Menurut etika deontologi. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. apakah diri kita sendiri. apabila bertujuan atau berakibat buruk. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. diperlakukan secara sewenang-wenang. karena suatu tindakan yang bernilai moral. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. 8 . Menurut Kant. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. berarti kita memperalat diri kita demi uang. ataupun orang lain. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. suatu tindakan dinilai buruk. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

1. dan etika lingkungan hidup. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. teori-teori etika. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). e.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. yaitu etika individual. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. 2. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. dan semacamnya. Dalam hal ini. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). Maka. 12 . yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. Dengan kata lain. etika sosial. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.

sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. 2006:34) 13 . b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. masyarakat. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. negara).

a. kebiasaan. yang berarti. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. kebiasaan yang baik. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. suatu hal yang bersifat rasional. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Secara harfiah. 2. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. adat. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. tata cara hidup yang baik. a.2.3. c. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. 3. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral.

Nilai Moral Moral. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. yaitu: moral sebagai adat istiadat. 15 . norma hukum. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. petunjuk hidup. mempunyai fungsi sebagai pedoman. Dalam hubungan ini. kebiasaan yang baik. akibatnya tidak baik.hakekatnya merupakan pedoman hidup. yakni: keberanian moral. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. 2. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. d. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. penuntun. e. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. dan larangan. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. sebagaimana diuraikan sebelumnya. yaitu: kewajiban. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. ada juga hal lain yang perlu dipahami. Di sisi lain. dan sesudah perbuatan dilakukan. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. sebagaimana yang diwajibkan. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. dan norma moral. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap.

dan petunjuk hidup). kebebasan. b. kepercayaan. keputusan nalar. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. masyarakat. Berbeda dengan etika. dan sebagainya. Etos a. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. etos profesi. 2. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. seperti: disiplin. seperti: etos kerja.3. Pemakaian kata etos sering kita dengar. 1993:120). Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. dan sebagainya. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. dan tanggung jawab. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. Etos kerja bisa kuat atau lemah. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. misalnya: malas. dedikasi. seperti: rasional. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. Apabila ada istilah etos kerja. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. alasan logis. transparansi.4. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. tanggungjawab. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. f. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. integritas. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. tradisi. positif atau negatif. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu.

pekerjaannya. Pemakaian kata etiket. jangan mencuri. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. etiket makan. dan sebagainya. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. jangan berbohong. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika.5. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. akhlak atau watak tertentu. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. 2004:5). Etika (kebiasaan. meskipun ada kaitannya. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. 2. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. Dalam hubungan ini. misalnya. misalnya. Etiket tidak sama dengan etika. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Sebagai kata sifat. yaitu etiket. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . misalnya. Sebaliknya.

mencuri. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). dan etiket. Larangan-larangan untuk mencuri.6. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. moralitas. dan sebagainya. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. 18 . sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. dan etika keutamaan. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. yakni: etika deontologi. Secara harfiah. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Disamping pengertian tentang etika. atau menyontek. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. korupsi. serta pembagian etika. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. • Etiket bersifat relatif. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. tetapi apabila saya makan sendiri. Sebaliknya. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. etos. Larangan-larangan korupsi. etika lebih bersifat universal. tiga teori etika. 2. Misalnya. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. tata cara hidup yang baik. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. menyontek. Sebaliknya.dianggap melanggar etiket. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. etika teleologi. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan.

etos.Di sisi lain. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. etika.7. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. moral. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. sebaliknya. 2. dan sebagainya. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. Jelaskan prinsip-prinsip etika. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. integritas. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. Dari pengertian ini. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Berikan contoh! 19 . c. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. etiket lebih bersifat relatif. dan keempat. seperti: disiplin. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. yakni: a. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. LATIHAN 1 1. apabila ada istilah etos kerja. dan etiket! 5. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Sementara itu. menurut Adler! 4. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. tanggung jawab. dedikasi. b. transparansi. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2.

1. kejujuran. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. Sondang Siagian (1996:11). kesabaran. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. ketulusan. sebagai berikut: a. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. Sutopo. M. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi.3. Tony Rooswiyanto. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. DR. prinsip-prinsip organisasi. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan.A: 1998). peraturan perundang-undangan. MSc (2005:27) dan Prof. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. Dengan demikian.2. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. 3. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs.

21 . sosial.organisasi tersebut. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. di bidang agama. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. 2. pandangan hidup. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. suku. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. yakni sebagai berikut: 1. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. d. 2. 4. dan sosial. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. 3. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. 3. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna.

1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. 2) Jujur. harapan. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. dan kebiasaan kelompoknya b. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. sebagai berikut.3. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. maka akan memberikan kesenangan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. kegembiraan. melaksanakan tugas dengan ikhlas. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut.3. 22 . menurut Suseno SJ. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. tidak korupsi. efisiensi. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman.

Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. c. Seperlunya dia harus mempelajarinya. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. harus mempunyai wibawa. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. Secara konsisten. tepat pada waktunya. bersedia untuk berubah. Selalu. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. kerajinan. kejujuran/tidak korup. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. mau bekerja sama. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. sanggup mengenakan sanksi. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). dia harus tegas.4) Bertanggung jawab. memahami secara garis besar maupun detil-detil. 1. bersedia memandang jauh ke depan. kerapihan. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. kesederhanaan. menuntut. 2. 23 . artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. kegesitan. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. tanpa kecuali. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. keputusan diambil secara rasional.

sehingga didorong untuk lebih baik lagi. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. yaitu: 1. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. dan bertanggung jawab. bebas dari pamrih. tegas. Semakin banyak orang 24 .3. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. dan bertanggung jawab. korup. cakap. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. jujur. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. mendorong orang tidak bersemangat. Dalam lingkungan yang positif. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. komunikatif. 4. d. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Seorang pemimpin yang jujur. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. malas. bersih. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Bagi orang yang berwatak kuat. 5. adil. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif.

4. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi.yang terkena erosi moral. efisiensi. kepemimpinan yang bermutu. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. didukung moralitas pribadi pegawai. 3. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. dan efektivitas kerja semua pegawai. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. yaitu adanya etos kerja yang kuat. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. didukung lingkungan kerja yang kondusif. dan syarat-syarat sistemik. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. 25 . Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. etos kelompok sudah merosot. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. Etika diharapkan menunjang kualitas. kegembiraan. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. 2. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. akan memberikan kesenangan.

Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 .3. LATIHAN 2 1. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4.5.

1. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut.3. wewenang. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. Uraian dan contoh 4. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a.4. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat.2. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. b. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. 27 . seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). 4. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat.

f. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. 4. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. d. 28 . Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. e. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas.4. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. sebagai berikut: a. Dalam konteks negara Indonesia.c. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik.

dan efisien. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. c. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. dan kesamaan di hadapan hukum. b. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. e. dapat dipertanggungjawabkan. martabat manusia. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. d. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Ketua. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. Ketua. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. 4.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. militer.5. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. dan POLRI. dan Nepotisme. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Kolusi. yaitu: 30 . dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. dan Nepotisme. dan Anggota MPR. Direksi. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Wakil Ketua. Komisaris pada BUMN dan BUMD. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Panitera Pengadilan. Wakil Ketua. legislatif. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. atau yudikatif. Ketua Muda. Ketua. Jaksa. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Ketua. Wakil Ketua. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Pimpinan Bank Indonesia. Penyidik. maka ukuran lain adalah efisiensi. dan Anggota DPR. Walikota dan Wakil Walikota. dan biaya yang dikeluarkan. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. prosedur layanan. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. Kolusi.

Asas Akuntabilitas. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. menyelenggarakan tugas pemerintahan. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. Asas Kepastian Hukum. dan rahasia negara. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. b. e. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. menyelenggarakan tugas negara. Asas Keterbukaan.6. jujur. d. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. Asas Proporsionalitas. dan merata. jujur. kepatutan. Anggota POLRI. 4. c. Asas Profesionalitas. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. keserasian. adil. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. akomodatif. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. dan selektif. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. 31 .a. g. f. Asas Kepentingan Umum. dan menyelenggarakan tugas pembangunan.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

dan pengawasan fungsional. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. telepon. dan sebagainya.7. dan Kelompok Pelayanan Jasa. pensiun janda/duda. dan balita. izin mendirikan bangunan. b. listrik. 4. kenaikan pangkat. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. pendidikan. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. akte kematian. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. lanjut usia. pengawasan melekat. Kelompok Pelayanan Barang. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. akte perkawinan. h. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. wanita hamil. sertifikat tanah. i. surat izin mengemudi. k. 33 . Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. j. dan sebagainya. kenaikan gaji. g. bahan bakar minyak. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. c. dan sebagainya.e. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. kesehatan. perbankan. f. pengangkutan barang. di rumah sakit. bahan bakar gas. pensiun pegawai. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif.

menjunjung tinggi supremasi hukum. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. akuntabilitas. ketertiban. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. transparansi. keharusan. biaya yang melebihi dari tarif resmi. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. dan norma moral. seperti antara lain: profesionalisme. dan sebagainya. dan nepotisme. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. menolong.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. 34 . jangan mencuri. efektivitas. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. efisiensi. keadilan. tidak korupsi. kolusi. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dengan kata lain. seperti antara lain: kejujuran. keikhlasan. Dalam kegiatan belajar 1. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. dan lain-lain. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. kesabaran. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. kebenaran. dan lain-lain. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. 2. norma hukum. jangan meminta. kesamaan. ramah-tamah. kewajiban. Norma-norma moral. Nilai-nilai moral. kebaikan.

keadilan. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. keadilan sosial dan pemerataan. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. standar. dan lain-lain) serta asas-asas. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. mengusahakan kesejahteraan umum. dinamika dan efisiensi. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. prinsip-prinsip.8. yaitu: a. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. f. profesionalisme. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. yang disebut Pegawai Negeri. c. transparansi. b. akuntabilitas. efisiensi.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. 4. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. dan biaya pelayanan yang murah. e. mewujudkan negara hukum. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. keikhlasan. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. kesamaan. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. d. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. 35 .

Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. melaksanakan tugas negara. dan lainlain). Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. akuntabel. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. dan melaksanakan tugas pembangunan. prinsip-prinsip. melaksanakan tugas pemerintahan. 4. transparansi. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. LATIHAN 3 1. standar. dan pola pelayanan yang baik. keikhlasan.9. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. profesional. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. keadilan.

2. 2.6. 4. D A B 39 . 5. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. BENAR/SALAH 1. B A A B B III. 3. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 3.

s.d.d.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d. s. 100% s.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.7. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. maka disarankan mengulang materi. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.99 % 70. Hitung jumlah jawaban yang benar. 40 .99 % 80. 90.

Jakarta. DAFTAR PUSTAKA 1.. Etika dan Hukum Administrasi Publik.P. Jakarta: Balai Pustaka. Departemen Keuangan. Jakarta. M. Prof.A.. 2000. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Siagian.J. Salamoen...H. 3. 12. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. M. Drs. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan.. 2001. Rooswiyanto. Kuntjoro Purbopranoto. Makalah.C. dan Evaluasi” PT. Desi Fernanda. “Etika” PT.8.. 2004. Darmodihardjo Darji.W. Salamoen. M.A dan Sofia Ayu.P. Dwijowijoto. S. LAN. Keraf. Soeharyo. penerbit Karunia Esa. A. Suseno S. Implementasi. 17. No. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. Etika Suatu Pengantar. 7.H. Suseno S. 10. Prof. Jakarta. Kumorotomo. 1993. Soeharyo. S. Handayani. Sulandra J.. Drs. 4. 13. Departemen Keuangan. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. cetakan VIII.. Rajawali Pers.. 2004. Myrdal. 1996. 8. 1985. Solomon. Elex Media Komputindo. 11. S.H. Penerbit Erlangga. Jakarta. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. DR. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. DR. 4.. “Kebijakan Publik : Formulasi..J. Jakarta. 2002. Mr. 20 September 2002. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. 1984.. 8. M. Mr. 2006. Riant Nugroho. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. S. Vol. 2005.. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk.. Inspektorat Jenderal. 2. 2001. R.H.G. 5. Puji. 41 . Juni-Agustus Tahun 2003... Nyoman Dekker. Jakarta..Ed. 14. Drs. Jakarta. Majalah Auditor.. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mardojo. 16.I. 16 Juli 2003. Prof. Prof. A Sonny. 15. 6. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. 9.. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Gramedia Pustaka Utama. Departemen Keuangan.. Bandung. Drs. dan Zahar Angga Setiawan. 1968. K. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Utomo.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Bertens. 2005. STIA LAN. Pringgodigdo. Materi Pokok.

3. Kolusi. 13. 5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 7. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Kolusi.01/2007. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 4. Achmad Kharis. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 1988. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 10. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. Tiara Wacana.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 12. dan Nepotisme. dan Nepotisme.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. PERATURAN-PERATURAN: 1. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. 11. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 2. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Pengantar Kuliah Etika. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 8. Zubair.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.18. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. 42 .

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

.............................. 3......... 3.......... 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5........................................5........................................................ 3.......................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT........ ...... 4......................7 Latihan 3 .. 4............................................................................... 1..3.......4............................................................................................................. Latihan 2 ............ Beberapa pengertian ...... 2........2........... Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ......... 2............ DAFTAR PUSTAKA ..... Deskripsi singkat ....10.........................................3.................... Penegakan kode etik PNS .......... 4................ 4............ Rangkuman ........ 3.............. Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS .................................... 7.........................1... PENDAHULUAN ...................... Uraian dan contoh ....................................7..... Pelaksanaan etika PNS ... Uraian dan contoh ........................................ Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil .................9.... 1....................6....3 Tujuan Pembelajaran Khusus .......... 6........... Tujuan Pembelajaran Umum ........DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1............... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2....................6 Rangkuman .....................................5 Rangkuman ......1....... Etika meningkatkan kualitas PNS ...............1 Uraian dan contoh ................ Kode etik instansi dan kode etik profesi ................................1......8........................................5................................... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ...............................2...... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ......... 4.. 8............................................. 3.............................................................................4............. i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2..... TES FORMATIF ............................................. 3............................................ 3......................................................... 3.............. 4............... 3................................ 4... 3.........6 Latihan 1 .4.......... KUNCI TES FORMATIF .............................2........... 4............. 2.... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2........... 3....... 2............2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ......... Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ..3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan .... Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ...... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? . 1..

1 . karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. profesional. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. tidak hormat. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan.1. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. memiliki kepekaan. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. sikap. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. dan merata. tidak ikhlas. yaitu: PNS yang kuat. kompak. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. PENDAHULUAN 1. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Negara. dan Pemerintah. UUD 1945. adil. serta diskriminatif. berdisiplin. netral. dan bersatu padu. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. tanggap. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. Dalam kepemerintahan yang baik. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja.

Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. yang akhirnya akan mewujudkan sikap. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. dan negara. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. bangsa. 2 . 3. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 2. 1.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS.2. 1. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. peserta diklat dapat: 1.3. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar.

Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. 3 . Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. 10.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah. 6.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. 5.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS. 8.4.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS. 7. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. 9.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS.

kebersamaan. dan Pemerintah. 4 . kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. adil dan merata. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. UUD 1945. dedikasi. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tujuan. kreativitas. Negara.2. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. kreativitas. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. tanggung jawab.2. kerja sama. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. disiplin. kebersamaan. dedikasi. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. serta tidak diskriminatif. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. setia dan taat kepada Pancasila. kerja sama. Beberapa pengertian a. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut.1. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. disiplin. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. tanggung jawab. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. pengabdian. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. d. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. Pelanggaran kode etik PNS 5 . c. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. adil. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. a. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. tingkah laku.a. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. pengabdian. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). tingkah laku dan perbuatan PNS. dan merata. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan.

Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. Membina karakter/watak. c. c.3. kesadaran. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. 6 . dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. Selanjutnya. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. b. b. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. 1. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat.

1.4. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. bangsa. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 7 . sikap. dan perilaku yang baik dari PNS. melalui kinerja. c. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. b. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. dan negara. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. tidak diskriminatif. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. peningkatan kerja sama antara PNS. adil dan merata. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. bangsa. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. tidak diskriminatif. adil dan merata. dan negara. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. d. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar.

pengabdian. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. 1. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. tanggung jawab. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. kebersamaan. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. disiplin. 8 . kreativitas. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. tingkah laku. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS.5. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dedikasi. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. b. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. kerja sama. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. Membina karakter/watak. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap.

dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. LATIHAN 1 1. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kesadaran.c. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. dan negara. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. 4. 1. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. 2. bangsa.6. 3. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat.

maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. 3. 10 . terhadap diri sendiri. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). 4. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. adil dan merata. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. Menurut DR.1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.3. dan Nepotisme. 2. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. pasal 27 ayat (1). baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kolusi. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. Pasal 5 ayat (2). bermasyarakat. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. dan terhadap sesama PNS. 3. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. dan pasal 28 UUD 1945. berorganisasi.2. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.

Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. 3. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. meliputi: a. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. e. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. d. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. 11 . Semangat jiwa korps. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. i. h. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan bermoral tinggi. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS .5. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. b. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. b. f. c.3. g. netralitas. Profesionalisme. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Semangat nasionalisme.

pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. negara. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. negara. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. 3. dan jangan lakukan pada orang lain. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. 12 . bertindak secara adil. integritas moral yang tinggi.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Merupakan pedoman sikap. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. Menurut DR. bangsa. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. yaitu: profesionalisme. dan pemerintah. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki.4. dan pemerintah. 2. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. bangsa. 3. tingkah laku.

Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. Bertindak secara adil 13 . jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. bangsa dan negara. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. d. c. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. b. e. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. kolusi. dan nepotisme.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok.

agar kepentingan semua pihak dijamin. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. g. dan abdi masyarakat. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. dalam penyelenggaraan pemerintahan. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. suku. Jangan lakukan pada orang lain. agama.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. 14 . yaitu. dalam berorganisasi. keluarga. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik.5. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. dan seterusnya. 3. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. dalam bermasyarakat. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. tanpa diskriminasi atas dasar ras. f. jenis kelamin. abdi negara. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik.

Mewujudkan pola hidup sederhana. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. 15 . hormat dan santun. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. 3. c. 2. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Tanggap. terbuka. b. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. Memberikan pelayanan dengan empati. 3. 6. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. Etika PNS dalam bernegara 1. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 4. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 2. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. 4. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. jujur.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. 9. 5. 5. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. 6. 7. dan akurat. 8. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. 2. 7. 8. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan.

8. 5. 4. Menghindari konflik kepentingan pribadi. tepat. 7. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. 3. berorganisasi. dan adil serta tidak diskriminatif. maupun golongan. Memiliki daya juang yang tinggi. rapih. 5. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. 16 . Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. instansi. 4. Memberikan pelayanan secara cepat. e. terbuka. 4. 5. kelompok. dan sopan. keterampilan. terhadap sesama PNS. terhadap diri sendiri. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. Berpenampilan sederhana. 7.3. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. d. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. bermasyarakat. 2. 6. Menghargai perbedaan pendapat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. maupun antar instansi. 2. 3. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. 6. dan sikap. kemampuan.

atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS.6. 2. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. 4. Sanksi moral. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. c. 17 .3. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. b. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. 3. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. 2. Penegakan kode etik PNS a. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik.

Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. 6. keputusan diambil dengan suara terbanyak.5. 18 . Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.

b. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1.3. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3.7. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . misalnya: kode etik kedokteran. 2. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing.8. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. yaitu: 1. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. 3. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. kode etik notaris. kode etik PNS. dan lain-lain. kode etik pengacara. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. 2. Kode etik adalah nilai-nilai moral. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu.

setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. c. 3. 7. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Pemindahan. dan 20 .01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 2.01/2007. 10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.organisasi profesi tersebut. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 6.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 4. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. 8.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. diminta agar menyesuaikan kembali. Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. sesuai perkembangan yang ada. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya.01/2007 tersebut. dari mulai perencanaan. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. Untuk keperluan pembelajaran. pengorganisasian. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan).11. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Pada saat ini.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak.01/2007.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. Oleh karena itu. pengkoordinasian dan pengendalian 21 .

Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. d. tingkah laku. Departemen Keuangan.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. c. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. 22 . kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Dalam hal ini.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. b. larangan. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Sebagaimana diketahui. e. Menjamin terpeliharanya tata tertib. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Meningkatkan disiplin pegawai.

Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. dan adat istiadat orang lain. e. b. i. e. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Menyalahgunakan fasilitas kantor. g. Bekerja secara profesional. sesama pegawai. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. d. h. atau pihak lain. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. dan bertutur kata secara sopan. dari wajib pajak. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. Bersikap. Mentaati perintah kedinasan. budaya. c. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. yakni sebagai berikut: a. yang menyebabkan pegawai yang menerima. dan akuntabel. sesama pegawai. kepercayaan. c. Menghormati agama. f. f. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. baik langsung maupun tidak langsung. berpenampilan. transparan. b. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. 23 . Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. d. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya.

24 . penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.g.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. dan perbuatan pegawai. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. tingkah laku. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. Dari sisi ini. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. h. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. tulisan. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama.

khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. d. kepercayaan. Menaati perintah kedinasan. b. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. 25 . Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. b. budaya. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. Menaati dan mematuhi segala aturan. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. dan e. baik langsung maupun tidak langsung. d. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. c. c. Menghormati agama. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

b. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. i. c. f. d. dan sinergis antar pegawai. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. g. e. Menerima pemberian. f. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Bersikap. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. berpenampilan. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. h. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. g. hadiah. kerusakan. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. harmonis.e. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a.

Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tulisan. 30 Tahun 1980.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. perilaku. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No.Segala bentuk ucapan. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. sikap. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 28 .

b. h. Larangan: a. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . j. i. b. e. kolusi dan nepotisme. c. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. d. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. Mentaati ketentuan jam kerja. cermat. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA.Kewajiban: a. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. d. Bekerja dengan jujur. f. tertib. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. Berpakaian rapi dan sopan. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Melakukan perbuatan korupsi. c. e. g. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. f. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. bersemangat dan bertanggung jawab. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest).

j. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. mengkonsumsi. g. Memanfaatkan barang-barang. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. 30 . 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. h. k atau pihak lain. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. i. dan c. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. yang keanggotaannya terdiri dari: a. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. Membuat. b.

berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas.9. bertindak secara adil. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. yaitu: prinsip profesionalisme.01/2007. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. dan Direktorat Jenderal Anggaran. 31 . Menurut DR. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. dan jangan lakukan pada orang lain. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan.01/2007. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. yang dalam hal ini termasuk PNS. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Sonny Keraf.3. integritas moral yang tinggi.

Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 . Pegawai Negeri Sipil. LATIHAN 2 1.3. 5. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4.9.

memberikan pelayanan secara cepat. serta tidak diskriminatif. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. adil dan merata. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. pemerintahan.2. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. sopan dan santun. adil dan merata. tepat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . tidak diskriminatif.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. hormat dan santun. 4. ikhlas.4. adil. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab.1. dan pembangunan. ramah. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. terbuka.

PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Anggota Tentara Nasional Indonesia. adil. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan merata. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. dan pembangunan. Pegawai Negeri Sipil (PNS). Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. • • PNS Pusat. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. c) Untuk menjamin netralitas. dan 3. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 34 . 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. pemerintahan. PNS Daerah. 2. jujur.

b. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. dan merata. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Kolusi. d. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. 2. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. ramah. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. dan bebas korupsi. 2. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. sopan dan santun. dan nepotisme.3. aparatur pemerintah. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. transparan.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. 4. ikhlas. kolusi. yaitu: a. produktif. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. adil. Karena PNS 35 . dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah.

sebagai unsur aparatur negara. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. tidak diskriminatif. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. hormat dan santun. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. b. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. serta tidak diskriminatif. dan tidak diskriminatif. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. ramah. merata.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. adil dan merata. terbuka. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. sopan santun.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. c. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. tidak diskriminatif kepada masyarakat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. d. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. tepat. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 36 . ikhlas. e. dan adil. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat.

2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. f. mudah dipahami. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. dan status ekonomi. 2. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. golongan. 37 . c. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. e. dan mudah dilaksanakan. b. Transparansi Bersifat terbuka. Prinsip Pelayanan Publik a. dan harapan masyarakat. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. kebutuhan.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. Asas Pelayanan Publik a. gender. ras. agama. b. d. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

h. dan lainlain. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. rapi. teratur. disediakan ruang tunggu yang nyaman. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. sopan dan santun. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. d. Kedisiplinan.c. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. i. ramah. f. dan sah. e. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. toilet. mudah dijangkau oleh masyarakat. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. j. informatika. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. Kesopanan. tempat ibadah. g. tepat. seperti parkir. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . bersih. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan.

tidak diskriminatif. sopan dan santun. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. bersih. hormat dan santun. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. transparan. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan Nepotisme. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. ramah. Memberikan pelayanan dengan empati. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. tepat. terbuka. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Kolusi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. dan bebas Korupsi. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. 5) Memberikan pelayanan secara cepat.PAN/7/2003. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. dan adil. serta tidak diskriminatif. Memberikan pelayanan produktif.

Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. bersikap. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. disiplin. dan merata. Negara. rasa malu. 4. dan Pemerintah. UUD 1945. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Etika meningkatkan kualitas PNS a. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. sportivitas. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. sikap toleransi. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. tanggung jawab. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. bersikap.4. adil. kemandirian. Pemerintah. dan berperilaku bagi negara. amanah. pemerintah. UUD 1945. dan Negara. yaitu: a. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. bertaqwa. b. etos kerja. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. 40 . dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. keteladanan. dan seluruh rakyat Indonesia.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. bermasyarakat. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. g. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. c. kompak. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. berorganisasi.b. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. Pegawai Negeri Sipil yang netral. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. dan bersatu padu. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . c. terhadap diri sendiri. f. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. e.

dan bersemangat untuk kepentingan negara. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. iv. cermat. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. ii. ix. Negara dan Pemerintah. vii. vi. patuh. kekompakan. Undang-Undang Dasar 1945. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. kesadaran.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. atau pihak lain. viii. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. tertib. v. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. iii. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. dan tanggung jawab. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. diri sendiri. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. bertanggung jawab. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Bekerja dengan jujur. taat. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. 42 .

dan Pegawai Negeri Sipil. xxi. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. yakni: i. xiii.x. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. xxiii. sesama Pegawai Negeri Sipil. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. xxv. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. ii. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xxiv. Bertindak dan bersikap tegas. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Mentaati ketentuan jam kerja. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. xxvi. xvi. xii. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. keuangan. dan terhadap atasan. xx. xv. Pemerintah. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. xvii. xxii. xiv. xi. xviii. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. dan materiil. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. 43 . Menyalahgunakan wewenang. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. xix. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat.

Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. uang atau surat-surat berharga milik negara. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. xii. xv. ix. menjual. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. vi. iv. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. xiii. teman sejawat. x. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. golongan atau pihak lain xiv. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. menggadaikan. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. Menyalahgunakan barang-barang. golongan atau pihak lain. dokumen. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . membeli. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. vii. Memiliki. v. xi. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan.iii. viii. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. kecuali untuk kepentingan jabatan. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.

Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. Pemerintah. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. cermat. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. Bahwa saya. golongan atau pihak lain. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Undang-Undang Dasar 1945. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. seseorang atau golongan. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. Bahwa saya. kesadaran. dan tanggung jawab. xviii. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. atau komisaris perusahaan swasta. tertib. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. dan Pemerintah. Negara. akan bekerja dengan jujur. pimpinan. menjadi direksi.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. xvi. xvii. 45 . Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. Bahwa saya. Bahwa saya. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi.

dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. berorganisasi. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. dan lain-lain. Negara. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. terhadap diri sendiri. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. rajin.3. bermasyarakat. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. patuh dan setia kepada Pancasila. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. taat. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. bersikap dan berperilaku baik.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS.5. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. UUD 1945. 4. dan Pemerintah. yaitu: 46 .

di samping bersikap dan berperilaku baik. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. UUD 1945. Negara. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. berdisiplin. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. adil. Memberikan pelayanan secara cepat. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dan Pemerintah. terbuka. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. tepat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. memiliki kepekaan.a. dan adil. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 .PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. hormat dan santun. profesional. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. netral. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. serta tidak diskriminatif. Memberikan pelayanan dengan empati. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. 4. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya.M. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. b. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. serta penuh kesetiaan pada Pancasila.6. kompak dan bersatu padu.

dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. terbuka.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5.7. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Latihan 3 1. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. dan adil.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3.PAN/7/2003! 4. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. memberikan pelayanan secara cepat. hormat dan santun.01/2007. tepat. serta tidak diskriminatif. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. 4. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM.

7. B .A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi.A B . adil.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. B . B . B . 1.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. B .A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil.A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. B . 10. B .5. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. 2. 4. TES FORMATIF I. dan merata. B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. 9. 8. 3. B . merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. 49 .A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. 6.

Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Sanksi moral b. b. tidak diskriminatif d. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Sanksi pidana dan perdata 3. hormat dan santun. d. Memberikan pelayanan dengan empati. c. Dalam melaksanakan tugasnya b. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c.II. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. adil. dan . PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. 1. Nepotisme c. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. Kolusi. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. sikap. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. Memiliki daya juang yang tinggi 4. tingkah laku. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman.

Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. dan 3) benar B. Profesional d. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. 2).5. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. kerja sama. bila semua pernyataan benar 1. dan Nepotisme b. Memiliki kepedulian yang tinggi III. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . Transparan c. bila pernyataan 1). disiplin. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. Kolusi. netralitas. Bebas Korupsi.

Sonny Keraf. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . Menurut DR. watak. Kolusi. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter.3.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4.

dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. kompak.PAN/7/2003. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10.4) Produktif dan disiplin 7. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat.

7. B A 54 . D B 6. 3. 5. 9.6. 2. A II. BENAR/SALAH 1. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 3. 2. B A B B B A A A A 10. 4. 4. 5. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 8. PILIHAN BERGANDA 1. 7. 2. C C A C D III. 6.

9.3. B D D 55 . 4. 5. B C D 8. 10.

s. 90. 100% s.99 % 70. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. s.d. 56 . TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). maka disarankan mengulang materi.99 % 80.d.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.7.d. Hitung jumlah jawaban yang benar.

14. Sonny.H... Drs. 2002.P..G.. 2001. Dipl. Kansil.. Soeharyo. 1990 16. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. A. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar.. M. Winarty.H. Sonny. Pradya Paramita.H.Ec. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Keraf. Santiaji Pancasila.. Etika Organisasi Pemerintah.P.C. Pringgodigdo. 9.J. 2. Army. Balai Pustaka.. M. Jakarta. Mei 2002. S. Darmodihardjo Darji.H. 1993. Prof . 7.. Departemen Keuangan.. Suseno S. P. 1 Maret 2003. M. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Gering. 13. LAN. 11. Sulandra J. S. Kuntjoro Purbopranoto.S.T. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. 10.. cetakan VIII.. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . 3. LAN. 6. Drs. Penerbit Erlangga. Jakarta.. Prof. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Mr. 1 Maret 2003. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.. Jakarta.. 16 Juli 2003.. Prijono. Etika Organisasi.J.A.. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik.. 1 April 2002. Etika Kepemimpinan Aparatur.Ed. 2002. Prajabatan III.H. Kansil. R. 2005. 8. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Drs. Pradya Paramita. Kamus Besar Bahasa Indonesia. DR. Etika Suatu Pengantar. Drs. Etika Organisasi. Mr. Soeharyo. 18. 1984.. Hardijanto. DR. 1985. Lembaga Administrasi Negara. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan.. Yogyakarta. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. DR.8.. Etika Dasar.A dan Sofia Ayu.. Prof.H. Prajabatan III. S.S. Supriyadi. Drs.T.Soc.. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. C. 1998. Salamoen. 12. Salamoen. terbitan Program Magister STIA-LAN. 2001. 57 ..M. Solomon.T... dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. A... Desi Fernanda. Suseno S. Drs. S. M. C. Prof. Rooswiyanto. Triguno. Nyoman Dekker. kumpulan karangan.T. Penerbit Kanisius.W. Drs.. Mardojo. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. Prof. 20 September 2002. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.. 4. 17. A.. P. SC. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. Tjiptoherjanto. Tony... M. Pendidikan Pancasila. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. LLM. S. Budaya Kerja dan Disiplin. Franz Magnis. 15. Drs. penerbit Karunia Esa. Keraf.. S. 16 Juli 2003. Jakarta.. 5..

8. 13. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.01/2007. 5. 14. Kolusi. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.PERATURAN-PERATURAN: 1. 11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. dan Nepotisme. 2.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 4.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 10. 12. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 3. 6. 19. 18. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. 17. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Pemindahan. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. 7. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 16.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. 9. 58 .

22. 59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. 21.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.20.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. 23.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful