P. 1
Artikel

Artikel

|Views: 702|Likes:
Published by Lita Aza 'ach

More info:

Published by: Lita Aza 'ach on Oct 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/15/2013

pdf

text

original

Artikel: Karakter Guru, Cetak Guru Karakter Siswa

Judul: Karakter Guru, Cetak Guru Karakter Siswa Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian FILSAFAT / PHILOSOPHY. Nama & E-mail (Penulis): Muhammad Shobirin Saerodji Saya Guru di SMP Plus Ar-Rahmat, Bojonegoro Topik: Guru Tanggal: 9 Juli 2008 GURU adalah orang yang telah memanggul tanggung jawab sebagai salah satu pembentuk karakter manusia. Dan sumbangan karakter guru termasuk yang paling kontributif. Karena pengaruh seorang guru terhadap anak didiknya hampir sebesar pengaruh orang tua terhadap anaknya. Bahkan, kadang kita sering menemui seorang anak, ketika diperintah oleh orangtuanya tidak mau mengerjakan, tetapi kalau diperintah guru dia mau mengerjakan. Walaupun hanya kasuistik, tapi itu mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangatlah besar, termasuk dalam proses pembentukan karakternya. 'Guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari' ungkapan yang sudah tidak asing bagi kita semua. Sekolah-sekolah formal (SD, SMP dan SMA) memiliki porsi belajar yang dirancang untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup sebagai bekal hidup. Selama kurang lebih 7 jam perhari di sekolah sebagai peserta didik oleh guru. Dari 7 jam perhari itu, diharapkan karakter siswa terbangun. Baik melalui proses belajar mengajar ataupun interaksi antar civitas akademika. Tetapi jika kita amati dan sadari, ternyata dari sekian waktu interaksi antara guru dan anak didik, yang terjadi adalah proses transfer ilmu pengetahuan, bukan pada proses pembentukan karakter yang utuh. Sebagian besar waktu di kelas tersedia untuk menghabiskan target kurikulum yang diminta oleh dinas pendidikan. Sehingga ikatan emosi antara guru dengan anak didik terasa hambar. Dan bahkan, kesan ikatan yang tercipta seperti layaknya penjual dan pembeli. 'Apa yang saya berikan, harus mendapatkan imbalan yang setimpal, atau bahkan harus untung' setidaknya begitulah ekstrimnya, atau bahkan itu sudah lumrah. Padahal setelah pulang sekolah, waktu yang dilalui seorang anak mempunyai pengaruh yang sama dengan lingkungan sekolah terhadap karakternya. Sedangkan kita semua mafhum, bahwasanya saat ini lingkungan luar sekolah memiliki sumbangan yang relatif kurang baik untuk pembentukan karakter anak. Saat ini kita akan mudah menemukan anak SMP berpacaran layaknya mahasiswa (orang dewasa). Kita akan mudah menemukan anak SMP bergaya hidup seperti orang dewasa, membentuk geng, berkonflik dengan teman hanya karena urusan cewek/cowok, dan lain-lain. Maka bukannya pesimis, tetapi jika hal ini tidak ada langkah preventif di dunia pendidikan, maka pendidikan kita hanya akan menghasilkan siswa yang pintar tetapi tidak berkarakter sebagai seorang yang terdidik. Atau bahkan lebih ironis, sudah tidak begitu pintar tidak berkarakter pula. Sebagai orangtua, kita akan lebih senang melihat anak yang berakhlak baik, sopan, dan menghormati terhadap orang yang lebih tua. Dan kita akan lebih senang lagi kalau anak itu ternyata adalah anak yang pandai. Kalaupun ternyata tidak pandai, kita tidak mempermasalahkan. Tetapi, kita akan kecewa jika mengetahui anak yang pandai dan jenius, tetapi ternyata mempunyai akhlak yang buruk, tidak tahu tatakrama, dan

sombong. Oleh sebab itu kita sudah pasti sepakat bahwa tugas pendidikan membentuk karakter kepribadian anak tidak hanya pandai akademis, tetapi juga akhlak. Tetapi bukankah di sekolah ada pelajaran yang menuntun akhlak?. Memang, akan tetapi hal itu hanya sebagian kecil terjadi. Dari struktur kurikulum kita akan tahu, berapa jumlah jam untuk mata pelajaran tersebut. Tentu sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah jam mata pelajaran yang di UNAS-kan. Dari jumlah yang sedikit itupun, proses pengikatan emosional guru dengan siswa yang terbentuk juga tidak sepenuhnya. Karena suasana kelas yang dikelola untuk mengejar target materi akan bernuansa transfer ilmu, bukan nuansa intim, harmonis, kekeluargaan. Indikator hasil belajar seperti ini akan bisa kita lihat setelah anak pulang dari sekolah. Ketika sudah keluar dari gerbang sekolah atau di luar jam sekolah ikatan antara guru dan murid seakan akan sudah terputus. Akan lebih banyak dari mereka menganggap seorang guru, hanya menjadi guru ketika di sekolah. Saya kira pendapat ini disepakati juga oleh sebagian kecil guru. Hal ini menunjukkan ikatan emosional antara anak dan guru -sebagai orang tua- belumlah terjalin dengan harmonis. Apa lagi jika seorang guru beranggapan siswa tidak akan belajar darinya ketika berada di luar kelas. Tentu itu adalah kekeliruan yang besar. Oleh karena itu, tugas pembentukan karakter siswa sudah saatnya kita panggul lagi. Kita-semua guru dari mata pelajaran apapun- sudah saatnya mengambil lagi tugas kita untuk bersama-sama mendidik, menata mozaik karakter anak didik sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Ikatan emosional kita sebagai "orang tua" harus lebih terjalin dengan erat. Boleh kita tidak hafal dengan nama anak-anak didik kita karena jumlahnya yang banyak, tetapi kita tidak boleh lupa dengan status kita sebagai orang tua mereka. Seorang pakar pendidikan mengatakan ' . maka sesungguhnya orangtua itu adalah penyebab wujudnya yang sekarang dan hidup fana. Sedangkan guru itu merupakan penyebab hidup yang kekal'. Pakar pendidikan ini adalah Imam al Gazali. Seorang guru -tidak hanya guru agama- adalah seorang pemberi petunjuk, dalam hymne guru disebutkan "engkau sebagai pelita dalam kegelapan". Petunjuk yang diberikan guru adalah petunjuk hidup yang membangun karakter. Sedangkan karakter manusia seutuhnya yang utama adalah sadar sebagai mahluk Tuhan YME. Maka arah utama petunjuk guru dalam pengembangan karakter anak didik adalah petunjuk ke jalan yang mendekatkan kepada Tuhan YME. Apapun mata pelajaran yang kita sampaikan, muatan religius yang mengarahkan anak didik kepada kedekatan dengan Tuhan YME adalah sebuah keniscayaan. Sampai di mana tingkat kemampuan penyerapan siswa terhadap materi pelajaran di situ pula guru akan mengantarkan petunjuknya ke jalan mendekati Tuhan. Ini bukan berarti kita menafikan pelajaran akademis, tetapi kembali lagi kita ingat, bahwa karakter kepribadian anak -telah kita sepakati- lebih utama dari pada kepandaian tanpa karakter. Karena menunjukkan murid ke jalan Tuhan itulah Al Ghazali mengatakan Guru adalah penyebab manusia hidup yang 'kekal'. Terakhir, sebagai bahan renungan agar kita lebih ingat tugas mulia seorang guru mari kita simak ucapan Al Ghazali berikut ini : 'Wujud yang paling mulia di permukaan bumi ini adalah jenis manusia. Dan bagian yang paling mulia dari hakekat manusia adalah hatinya. Guru bekerja menyempurnakan, membesarkan, membersihkan dan menggiring hati mendekat kepada Allah Swt. Maka pangkat yang manakah yang lebih terhormat daripada hamba itu menjadi perantara antara Tuhan dengan mahluk-Nya dan kelak akan digiringnya ke surga al Ma'wa'. Amin. Salam. Muhammad Shobirin Saerodj

SHALAT SEBAGAI METODE PEMBENTUKAN KARAKTER

Menurut al-Attas. Dalam makalah ini penulis mencoba menganalisis salat sebagi metode pembentukan karakter. Di dalam salat juga seandainya dilakukan secara ikhlas. 2010 SHALAT SEBAGAI METODE PEMBENTUKAN KARAKTER (oleh Ismail) Pendahuluan Allah mewajibkan salat kepada umat Muhammad SAW. istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah al-Ta’dib. Untuk perbaikan makalah ini penulis membuka kesempatan bagi pembaca untuk sumbangsi ide dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Metode pembiasaan dalam salat (lima kali dalam satu hari satu malam). karena ketika seorang muslim melakukan salat sesungguhnya ia sedang berhadapn dengan Allah. tentunya berhadapan dengan Allah membutuhkan konsentrasi (khusyu’) dan kedisiplinan. karena di dalamnya terdapat makna pengabdian tertinggi seorang hamba kepada penciptanya. Kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari memerlukan pembiasaan.musholly akan memperoleh limpahan cahaya petunjuk dari Allah yang berfungsi menjernihkan hati dan sebagai petunjuk dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. al. selaras dengan metode pembiasaan yang dikemukakan oleh an-nah lawi. Seorang ingin disiplin waktu ia harus membiasakan diri tepat waktu dalam aktivitasnya.Filed under: Pendidikan by alghazali09class — Tinggalkan komentar Januari 19. Salam penulis Pembahasan Pengertian Tadib Dalam makalah ini penulis tidak menjelaskan pengertian pendidikan dari berbagai tokoh namun hanya akan memfokuskan istilah pendidikan dengan kata tadib berkenaan dengan bahasan. Menurut An-nahlawy pencapaiaan pendidikan dapat dilakukan dengan membiasakan pengamalan terhadap apa yang telah diajarkan kepada siswa. Salat merupakan ibadah yang mendidik berbagai hal mulai dari kedisiplinan hingga komitmen terhadap ucapan sikap dan perbuatan. tidak karena semata-mata menjalankan kewajiban. Tidak berlebihan bila penulis menyatakn bahwa salat itu ibadah yang paling utama dan merupakan mercusuar bagi segala ibadah dan aktivitas. konsep ini didasarkan pada hadits Nabi: {‫ا ِد ّ ب َن ِي ربى فَأ َحسن تـأ ْد ِي ْب ِي }رواه العسكرى عن على‬ َ َ َ ْ ّ َ ْ ْ . Tolok ukur kehidupan seseorang dapat dilihat dari kualitas salatnya.

dan terjalinnya tali persaudaraaan. Pada tataran praktis siswa diajarkan untuk membiasakan perbuatan baik dan menjauhi keburukan. Dalam pendidikan Islam banyak metode yang diterapkan dan digunakan dalam pembentukan karakter. menghargai saudaranya semuslim. atau shalat Duha. Menurut An-nahlawy metode untuk pembentukan karakter dan menanamkan keimanan ialah Metode hiwar (percakapan) quran dan nabawi Metode kisah quran dan nabawi Metode perumpamaan Metode keteladanan Metode pembiasaan Metode ibrah dan mau’izah Metode targhib dan tarhib[1] Ketujuh metode ini dapat diimplementasikan guru pada saat melakukan proses belajar mengajar. Metode Pembentukan Karakter dalam Pendidikan Islam Kepercayaan akan adanya fitrah yang baik pada diri manusia akan mempengaruhi implikasiimplikasi penerapan metode-metode yang seharusnya diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dengan pendekatan ini pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya. maka ia sempurnakan pendidikanku” (HR. pada saat salat berjama’ah mereka dapat belajar bagaimana berkata yang baik.Artinya : “Tuhan telah mendidikku. Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan demikian siswa dapat belajar dengan tenang dan senang. . siswa siswi dididik beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Dengan melaksanakan salat seseorang secara otomatis ia akan membiasan prilaku terpuji dengan cacatan salat yang ia lakukan bermakna dalam kehidupan.a). al-Askary dari Ali r. Dengan melaksanakan salat berjama’ah minimal Zuhur dan Ashar karena kedua waktu sholat ini masih dalam waktu pembelajaran. Untuk itu pihak penyelenggara sekolah sepantasnya menyediakan ruangan dan waktu untuk siswa melaksanakan salat secara berjamaah. bersikap sopan dan santun.

pada definisi kedua ia memaknai salat sebgai hakikat salat (dalam perspektif batin) yaitu berhadapan hati (jiwa) kepada Allah secara yang mendatangkan takut padaNya. Bila kita tarik dalam sebuah analisis maka terjadi keselarasan antara metode yang dikemukakan An-nahlawy dan salat dalam pembentukan karakter positif. Makna lainya ialah: hakikat salat yaitu menzahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan perbuatan[2] Bila kita pahami dalam proses solat terdapat dialog antara Allah dan hambaNya. . Metode Hiwar Qurani Hasbi Assidiqy seperti yang dikuti Wawan Susetya mendefinisikan salat menjadi empat pengertian. manusia mengakui kelemahannya dengan penyataan kepadaMu kami menyembah. kasih saying kepada peserta didik. kikir saat mendapat nikmat. Bentuk karakter yang dimaksud dalam ayat ini ialah yaitu berkeluh kesa saat susah. Dalam pendidikan seorang guru perlu melakukan dialaog untuk menegtahui perkembangan siswa dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dapat menjadi factor penghambat belajar. dan berlindung dari kesesatan. Metode dialog ini begitu meyadarkan kita akan akan kelemahan dan kekurangan. Di dalam surat ini manusia memohon perlindugan kepada Allah dari godaan sayithan. Salat Sebagai Metode Pembentukan Karakter Penulis telah kemukakan beberapa metode pembentukan karakter dari an-nahlawy. Seperti telah dijelaskan oleh Allah di dalam surat Al-Ma’arij ayat 19-23. peserta didik dengan peserta didik. menyatakan Allah itu yang Maha Pengasih dan Penyayang. sesuai pesan-pesan salat sejak takbir hingga salam[3]. menyatakan bahwasnya Allah penguasa mutlak hari kiamat. Dari pemaparan di atas dapat kita pahami bahwa metode hiwar (dialog) sangat efektif untuk untuk menjalin komunikasi dan hubungan social antara guru dan peserta didik. Bahkan mereka dapat menjadi tauladan bagi masyarakatnya.Bila susasana seperti ini telah dibiasakan mereka tidak akan gagap menghadapi kehidupan di masyarakat. Bila kita pahami metode-metode yang dikemukakan oleh An-nahlawy erat kaitannya dengan pelaksanaan ibadah salat. Untuk itu seorang guru harus memiliki sikap bersahabat. orang yang sholatihim daaimun yaitu orang-orang yang melaksanakan salat dan terus menerusmengamalkan makna salat dalam keseharian mereka terhindar dari karakter negative sebagaimaa penjelasan dalam ayat 21 dan 22 surat Al-Ma’arij. Namun. seperti dalam surat Fatihah terjadi dialaog yang sangat dalam antar hamba dan Allah SWT. hanya kepadaMu kami meminta pertolongan. di dalam nya terkandung makna bahwa manusia dibekali karakter positif dan negative. manusia memohon petunjuk kepada Allah dalam menjalani kehidupan sebagaimana orang-orang yang Allah telah beri nikmat. serta menumbuhkan di dalam hati jiwa rasa keagungan kebesaranNya dan kesempurnan kekuasaanNya. Nurcholis Majid menyatakan lebih jauh makna salat dalam kehidupan sehari-hari ialah mengandung ajaran berbuat amal saleh kepada manusia dan lingkungan. memuji Allah sebagi penguasa mutlak alam semesta.

tidak terus menerus dalam pembangkanagan terhadapku. bebuahannya tidak akan rusak dan kenikmatannya tidak akan sirna” (H. Di dalam hadits Qudsi Allah berfirman: “tidaklah aku menerima salat setiap orang. Bila ia bersumpah dengan namaku aku akan membuatnya mampu memenuhinya. bila siswa dapat mencerminkan sikap yang baik maka iaberhak mendapatkan hadiah dan sebaliknya mendapatkan hokum ketika ia tidak dapat dengan baik menjalankan tugasnya sebgai siswa . pelaksanaan salat tidak hanya sekedar melaksanakan kewajiban pada waktu-waktu salat. disiplin waktu dengan ditandai azan disetiap waktu salat. Pada saat ruku dan sujud umat muslim diajarkan untuk bersikap rendah hati sikap rendah hati inilah merupakan awal kemulian seseorang. bekerja keras.R. dan selalu mengasihani yang lemah dan menghibur orang miskin demi keridhoanku. Bila ia memanggilku. Imam fachrurrazi menjelaskan kata shalatihim daaimuun ialah orang-orang yang menjaga salat dengan menunaikannya diwaktunya masing-masing dan memperhatikan hal-hal yang terkait dengan kesempurnaan salat. berrtanggung jawab atas setiap tugas yang telah diberikan. impuls-impuls positif menuju neokortek lalu tersimpan dalam system limbic otak sehingga aktivitas yang dilakuakn oleh siswa tercover secara positif. Muslim)[4] Dari matan hadis ini dapat penulis pahami bahwa. Metode Targib dan Tarhib Metode ini dalam teori metode belajar modern dikenal dengan reward dan funisment. bertanggung jawab dengan simbol pengakuan di dalam bacaan doa iftitah “sesungguhnya salatku. Metode pembiasaan ini perlu diterapkan oleh guru dalam proses pembentukan karakter. melewatkan siang dan malam dalam mengingatku. melainkan tetap memaknai salat sepanjang aktivitas sehari-hari. Hal-hal tersebut baik yang dilakukan sebelum salat dan setelah salat. tidak bersikap angkuh terhadap mahlukku. Yaitu suatu metode dimana hadiah dan hukuman menjadi konsekuensi dari aktivitas belajar siswa. mencegah nafsunya demi larangku. Siswa diajarkan untuk membiasakn prilaku terpuji. hidup dan matiku untuk Allah”. Salat dilakukan 5 kali sehari semalam ialah membiaskan umat manusia untuk hidup bersih dengan symbol wudhu. doa ini memberikan isyarat berupa tanggung jawab atas anugrah yang Allah telah berikan. bila seorang anak telah terbiasa dengan sifat-sifat terpuji. aku akan memberinya. Perumpamaannya seperti surga firdaus.Bila komunikasi multi arah telah terbagun maka siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan tujuan pendidikan dapat terwujud. ibadahku. Akan aku jaga ia dengan kekuatanku dan kubanggakan dia diantara malaikatku. niscaya akan cukp bagi mereka. giat belajar. Metode Pembiasaan Metode pembiasaan atau dalam istilah psikologi pendidikan dikenal dengan istilah operan conditioning. Seandainya aku bagi-bagikan nurnya untuk seluruh penghuni bumi. Aku menerima slat dari orang yang merendah demi ketinggianku. berkhusyuk demi keagunganku.

mayoritas siswa termotivasi belajar dan bersikap disiplin. 1990 Madjid Nurcholish.dalam salat dan pendidikan kedua metode ini dominant untuk membangkitkan motivasi. sehingga proses pembelajaran menjadi menarik dan aktif. Kesimpulan Secara filoshopi melalui kajian terhadap metode salat dan pendidikan memiliki kesamaan metode dalam hal pembentukan karakter. Proses pengulanagan salat sebanyak lima kali sehari semalam bila kita terjemahka kedalam bahasa psikologi dikenal dengan Operan conditioning. dibiaskan untuk belajar dan berbuat baik. ekspositori terhadap permasalahpermasalahan yang tidak dapat dipecahkan.google. khususnya anak-anak dan remaja awal ketika disuguhkan hadiah untuk yang dapat belajar dengan baik dan ancaman bagi mereka yang tidak disiplin.Begitupun halnya salat. saat seorang melakukan salat dengan baik dan mampu ia implementasikan dalam kehidupan sehari-hari maka ia mendapatkan kebaiakn baik dari Allah dan masyarakat sebagaimana yang telah dijelaskan dimuka hadis riwayat Muslim “surga firdaus untuk orang-orang yang dapat mengamalkan salat dengan baik dan benar”. Komunikasi yang baik ini memberi kontribusi dari dalam diri siswa dan orang yang melaksanakan salat untuk berbuat yang terbaik. Hal ini bisa terjadi karena secara psikologi manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan mendapatkan balasan dari perbuatan baiknya.N. Ketika salat seorang hambah sesungguhnya sedang berdialog dengan Allah. www. Bandung : Rosda Karya. A. 30 Sajian Ruhani. Sebab. sudah menjadi karakter bagi manusia senang menerima hadiah atas kerjanya dan merasa takut hukuman atas perbuatan salah. metode dialog hiwar ini terkandung didalam salat.com “salat” .Yogyakarta : Tugu Publisher 2007. dimana siswa dikondisikan. komunikasi yang baik anatara siswa dan siswa. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Sebaliknya bagi mereka yang melalaikan dan tidak melakasanakan salat neraka weil dan Saqor baginya[5] Metode reward dan funishment ini menjadi motivasi eksternal bagi siswa dalam proses belajar. bandung: Mizan 2001 Wawan Susetya. Daftar Bacaan Tafsir Ahmad. Jakarta : CV. Berikutnya ialah metode hadiah dan ancaman.com www. Sebuah Kerinduan Salat Khusyuk. Firdaus 325 Hadis Qudsi Pilihan.Al-qurandigital. Proses belajar mengajar yang baik apabila terjalin dialog. Pedoman Ilmu. siswa dan guru.

Semua data yang . Pembimbing: (I) Dr. Kusmintardjo. disiplin Bidang pendidikan adalah salah satu bidang yang dijadikan sasaran dalam pengembangan pembangunan jangka panjang. H. serta kultur sekolah. terselenggaranya pendidikan yang berkualitas akan mewujudkan manusia yang bermutu tinggi.Pd. Kultur sekolah ini berkaitan dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam menggembangkan sekolahnya di masa yang akan datang. dalam suatu pendidikan terdapat beberapa aspek yang berkaitan erat dengan mutu sekolah yakni proses belajar mengajar. Budaya sekolah yang diterapkan oleh pihak sekolah dalam lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian siswa terutama dalam hal kedisiplinan dan kujujuran siswa. M. Pemikiran yang paling besar porsinya adalah pemikiran kepala sekolah. Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu manusia.Ukuran Huruf: PENERAPAN BUDAYA DISIPLIN DALAM RANGKA PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA (Studi Kasus Di SDN Percobaan 1 Malang) IDA NURYANTI Abstrak ABSTRAK Nuryanti. Penerapan Budaya Disiplin Dalam Rangka Pembentukan Karakter Siswa (Studi Kasus Di SDN Percobaan 1 Malang). Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang (1) penanaman budaya disiplin yang ada di SDN Percobaan 1 Malang. H. dan berakhlak mulia. Dari pemikiran tersebut kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan suatu pemikiran organisasi.Sos. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) pengamatan. A. Kultur/budaya sekolah dibangun dari pemikiran-pemikiran manusia yang ada dalam sekolah tersebut. 2010. M. dan (3) studi dokumentasi. Dalam peningkatan mutu manusia. (2) peran warga sekolah dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang. S. Yusuf Sobri. (II) Dr. Skripsi. (2) wawancara mendalam. Ida. berbudi pekerti luhur. Kata kunci: budaya sekolah. kepemimpinan dan manajemen sekolah. (3) faktor penghambat dan pendukung dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang. yang kemudian diyakini bersama dan akan menjadi bahan utama pembentuk budaya sekolah.Pd.

(3) faktor penghambat dalam penerapan budaya disiplin berasal dari para siswa itu sendiri. Model dalam hal ini adalah contoh dalam penerapan budaya disiplin tersebut. Agar kepala sekolah dapat mengetahui kendala yang ada dilapangan secara langsung. misi dan tujuan sekolah tersebut melibatkan stakeholder yang ada. Jadi guru tidak hanya memerintah siswanya untuk mematuhi tata tertib yang berlaku. Saran yang disampaikan dari temuan penelitian ini yaitu: (1) bagi kepala sekolah dan Guruguru SDN Percobaan 1 Malang diharapkan kepala sekolah ikut mengawasi jalannya penerapan budaya sekolah. dan dapat mencari solusi akan kendala tersebut. Mereka mematuhi tata tertib yang telah dibuat oleh sekolah. dan terus memberikan dukungan yang baik kepada putra-putrinya dalam menjalankan budaya disiplin dimanapun mereka berada. Serta dapat meningkatkan kekompakan dan kerjasama antar guru maupun stakeholder yang ada dalam penerapan budaya disiplin agar dapat memberikan hasil yang lebih baik dan optimal.diperoleh dari ketiga teknik tersebut diorganisasikan. Para siswa SDN Percobaan 1 Malang ini sangat berperan aktif dalam melaksanakan penerapan budaya disiplin. Lalu dengan adanya siswa ABK di SDN Percobaan 1 Malang itu juga sedikit menghambat penerapan budaya sekolah. melainkan guru juga melaksanakan tata tertib tersebut. Budaya kedisplinan ini tertuang dalam tata tertib sekolah. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) penanaman budaya disiplin siswa di SDN Percobaan 1 Malang di awali dengan pembuatan visi. karena perlu kerja keras agar siswa ABK tersebut bisa mematuhi dan menjalankan budaya disiplin tersebut. yang diberlakukan terhadap seluruh warga sekolah. dan mereka mengamalkan budaya disiplin tersebut disetiap kegiatan yang mereka lakukan. Begitu juga orang tua siswa mereka sangat mendukung bahkan mensuport dengan diterapkannya budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang ini. Faktor pendukung dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang yaitu dengan adanya sarpras yang cukup menunjang untuk pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi penerapan budaya sekolah. dan tujuan sekolah yang disusun bersamaan dengan pembuatan KTSP. Penerapan budaya sekolah tersebut juga diberlakukan kepada warga sekolah. jadi penerapannya tidak hanya dibebankan kepada guru saja. ditafsirkan dan dianalisis guna menyusun dan mengabstraksikan temuan di lapangan. ataupun sikap siswa yang malas. (2) peran warga sekolah dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang ini sangat membantu. Sedangkan keabsahan data diuji dengan: (1) kepercayaan. lingkungan yang kondusif. misi. Dari visi. maka budaya sekolah dapat dibentuk. dan tujuan sekolah tersebut. Diharapkan juga dapat lebih menonjolkan budaya disiplin ini dengan jalan memberlakukan adanya reward serta punishment. Hal tersebut bertujuan agar para siswa antusias untuk berlomba menjadi yang terbaik dalam melaksankan budaya disiplin ini. hal ini dapat dilihat dalam perilaku guru yang menjadi model bagi siswanya. Peran orang tua juga sangat mendukung terlakasananya penerapan budaya sekolah yang ada. misi. (3) kebergantungan. (2) keteralihan. Mereka berperan dalam menginggatkan dan mensuport anaknya agar senantiasa menjalankan budaya disiplin dimanapun mereka berada dan dalam mengerjakan kegiatan apapun. Begitu juga dengan masalah pribadi siswa yang terjadi di rumahnya. Guru juga sangat membantu dalam penerapan budaya disiplin tersebut. (3) bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti budaya sekolah yang lain agar dapat mengetahui kegunaan budaya sekolah tersebut. (2) bagi orang tua siswa diharapkan orang tua siswa dapat menerapkan pola asuh yang tepat untuk anak-anaknya dalam rangka membentuk karakter anak yang lebih baik lagi. dan dibantu dengan kekompakan warga sekolah dalam menerapkan dan menjalankan budaya sekolah yang ada terutama budaya kedisiplinannya. Penyusunan visi. Budaya sekolah yang paling menonjol di SDN Percobaan 1 Malang ini yaitu budaya kedisiplinan. sehingga dapat . dan dapat dilaporkan secara berkala setiap akhir semester.dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang. (4) kepastian.

sosialisasi. Dalam bahasa yang lain pendidikan karakter . Mutu pendidikan kita kian menurun karena visi keunggulan akdemis ini diabaikan. akan membentuk ketrampilan halus (soft skills). yang meyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. bahkan lebih buruk lagi (Megawangi. sebagaimana benih yang baik. karena kedua orangtuanyalah (baca: lingkungan) menjadikan anak itu yahudi.html arakter by Imam Mawardi Pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Akibatnya. Padahal keunggulan akademis adalah bagian dari pembentukan karakter itu sendiri. Misalnya meneliti pengaruh budaya membaca terhadap motivasi belajar siswa http://karya-ilmiah. Permasalahannya: Bagaimana Mendidik Karakter? Pembentukan karakter itu terjadi melalui dinamika pengajaran di kelas. Karakter merupakan bentuk kepribadian yang melekat pada diri seseorang. kalau ditanam ditanah yang subur dan dirawat (disiram dan dipupuk) dengan baik.um.id/index. harus dibina dan dididik dengan baik. Kompas. biar menjadi anak yang shalih dan bermanfaat.php/ASP/article/view/9002 http://inilahguru. Agar pendidikan karakter terjadi secara integral. Bukhari).ac. sebagaimana hadist Rosulullah saw. Demikian juga dengan karakter yang merupakan bagian dari potensi anak . Tugas utama guru adalah mengembangkan ekselensi akademis dalam diri siswa. atau pelatihan dadakan. . Demikian juga. maka manusia dapat berubah menjadi binatang.menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan. maka benih itu akan tumbuh menjadi tanaman yang subur dan berbuah banyak. Ini menunjukkan bahwa fitrah atau potensi tidak bisa dibiarkan begitu saja tapi perlu ditumbuhkan. pembentukan karakter siswa juga terpinggirkan (Doni Koesoema A. 17 Desember 2008). Confusius – seorang filsuf terkenal Cina . nasrani atau majusi (HR. namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan. guru perlu memahami kembali visi mengajarnya dan percaya bahwa mengembangkan keunggulan akademis adalah tugas utamanya sebagai pendidik. Diskursus tentang pembentukan karakter yang dipahami secara parsial bisa mebjadi sarana pelarian(eskapisme) guru dari tanggung jawab merekauntuk meningkatkan prestasi akademik siswa denagn cara member penekanan berlebihan pada unsur-unsur non akademis.membantu sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah. 2003). bukan melalui seminar.com/artikel/34-pendidikan/67-bagaimana-cara-menerapkanpendidikan-karakter.

tetapi ditularkan sebagiamana pendekatan soft skills ini. sebelum menular kepada orang lain. yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. yaitu melalui:1) Lecturer role model. kesuksesan seseorang hanya ditentukan sekitar 20 persen dengan hard skill dan sisanya 80 persen dengan soft skills. Selain karena kurikulum yang memiliki muatan soft skills yang rendah dibanding muatan hard skills. 2008) Aribowo dalam Sailah (2008). Hasil penelitian mengungkapkan. membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian. dapat dipastikan dirinya telah tertular terlebih dahulu.Pengembangan soft skills dalam pendidikan bertumpu pada pembinaan mentalitas karakter agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Proses pendidikan merupakan perubahan pengetahuan (kognitif). Menurut Sailah (2008). keterampilan (psikomotor) dan sikap (afektif) seseorang. ketidakseimbangan antara soft skills dengan hard skills juga dapat disebabkan oleh proses pembelajaran yang menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. terdapat sedikitnya tiga cara penularan soft skills dalam pembelajaran. (Pramuji. sesuatu yang akan ditularkan kepada siswa menghendaki seorang guru tertular terlebih dahulu. maka pendidikan seharusnya menghasilkan output dengan kemampuan yang proporsional antara hard skills dan soft skills.dan 3) Hidden curriculum . 2) Message of the week. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut: Intrapersonal Skill(Keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri) Transforming Character Transforming Beliefs Change management Stress management Time management Creative thinking processes Goal setting & life purpose Accelerated learning techniques Communication skills Interpersonal Skill(Keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain) Relationship building Motivation skills Leadership skills Self-marketing skills Negotiation skills Presentation skills Public speaking skills Perlu diingat bahwa karakter tidak bisa diajarkan seperti pelajaran biasa yang sifatnya pengembangan kognitif. Layaknya seseorang yang menularkan penyakit flu.

http://mawardiumm. Selain cara kedua di atas yaitu melalui hidden curriculum. Ditengah begitu semangatnya berbagai lembaga pendidikan mengejar keunggulan teknologi. atau animasi yang mendukung dari web site internet. selalu bergerak. Memasuki Era Globalisasi menjadi satu tantangan tersendiri bagi pengelola pendidikan untuk menyesuaikan kurikulum dan sarana pendidikan mereka dengan berbagai teknologi canggih agar bisa menghasilkan siswa yang mampu bersaing di Era ‘Global Village’. ‘sebesar itu jugakah semangat kita untuk mengejar keunggulan karakter siswa-siswa kita?’ Mengapa Karakter? .blogspot. terlibat dengan motivasi siswa. Sekolah seolah terus berpacu memunculkan dan mengejar keunggulannya masing-masing. ”Hidden Curriculum is the broader concept of which the informal curriculum is a part” Pelajaran dari kurikulum tersembunyi diajarkan secara implisit. Jangan sampai siswa menjadi tumpahan keluhan rasa kekesalan pendidik dengan menyalahkan orang lain. selalu terjadi perubahan dan pembaharuan. Dengan demikian. Cara ini disebut Message of the week (MOW). Kurikulum tersembunyi lebih ampuh karena dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik minat dan menyenangkan. SDM dengan karakter yang kuat akan terbaentuk lewat keteladanan seorang guru. Edifikasi berasal dari kata to edify yaitu memberikan penghargaan sekaligus proposi bagi teman sejawat. terbersit satu pertanyaan. Seringseringlah memberikan pujian kepada siswa di depan siswa lainnya jika mampu mencapai prestasi tertentu.html endidikan Berbasis Karakter Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat dinamis.Role model pendidik dapat diperlihatkan dengan saling edifikasi dengan teman sejawat di depan siswa. kekekuatan yang sebenarnya terletak pada nilai yang memberi makanabagi kehidupan. Penularan cara kedua dapat dilakukan dengan memberi pesan moral di setiap waktu tatap muka baik pada saat awal membuka pelajaran atau menutup pelajaran. menangani dinamika kelompok. memberdayakan kurikulum tersembunyi (Empowering Hidden Curriculum). Peran pendidik dalam hal ini adalah: membangun proses dialog.com/2009/02/pendidikan-karakter. Saling menjelekkan antar pendidik di depan siswa patut dihindari. mengintroduksikan berpikir kritis. Pesan yang disampaikan dapat berupa kata-kata mutiara dan cerita yang membangun moral dari berbagai sumber dengan pemaknaannya dalam berkehidupan.

maka tidak ada alasan bagi sekolah kita untuk menomor duakan keseriusan dalam upaya pembentukan akhlak/karakter dibanding keseriusan mengejar keunggulan teknologi. Dan sekarang resapilah hadits berikut: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka. sebagaimana pemerintah kita mencanangkan dalam Pasal 3 UU No.Beberapa hadits berikut menunjukkan betapa pentingnya sekolah-sekolah kita untuk memperhatikan masalah pembentukan akhlak pada anak-anak didiknya: “innama bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq” Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. 20/2003. Tak kurang. Bahkan yakinlah. Bahkan seharusnya setiap sekolah menjadikan kualitas akhlak/ karakter sebagai salah satu Quality Assurance yang harus dimiliki oleh setiap lulusan sekolahnya. berilmu. kreatif. Tentunya kita semua berharap siswa-siswi yang dididik di sekolah kita menjadi hamba Allah yang beriman. sehat. dan tokoh kelas dunia pun dengan jelas ikut menyuarakan pentingmya masalah pembentukan karakter ini: Theodore Roosevelt. Rata-rata anak usia 11 tahun membuka situs porno untuk pertama kalinya. Media Indonesia) . kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi. yaitu “education without character” (pendidikan tanpa karakter) Beberapa hasil penelitian dan survey berikut mungkin akan membuat dahi kita berkerut: 90% anak usia 8-16 tahun telah buka situs porno di internet. berakhlak mulia.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah) Jika ternyata baiknya akhlak menjadikan sempurnanya iman. insya Allah merekapun akan lebih mudah kita pacu untuk mengejar prestasi lainnya. Bahkan banyak diantara mereka yang membuka situs porno di sela-sela mengerjakan pekerjaan rumah (Ketua Umum Badan Pengurus Nasional Asosiasi Warung Internet Indonesia. Nasrani atau Majusi. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu dari tujuh dosa fatal. bahwa: ‘Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. para peneliti. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab’. bahwa jika anak didik kita memiliki akhlak/karakter yang baik. Irwin Day. (HR Malik) “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. 25 Juli 2008. mandiri.” Sekolah adalah tempat yang sangat strategis bahkan yang utama setelah keluarga untuk membentuk akhlak/karakter siswa. cakap. mantan presiden USA yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).

meningkatnya kecurigaan dan kebencian 5. Mendapatkan hasil yang mencengangkan: Dari 667 responden tersebut. dan SMA sebanyak 10. SMP. Meningkatnya kekerasan dikalangan remaja 2. Dalam penelitiannya yang dilaksanakan pada tahun 2002-2003. Jika kita cermati satu persatu tanda-tanda kehancuran di atas. semakin rendah rasa tidak hormat kepada kedua orang tua. ketidak jujuran yang membudaya 3. penurunan etos kerja 7.326 anak. mempublikasikan hasil penelitiannya di Kompas Cyber Media 18/05/2006).793 anak. jumlahnya baru mencapai 949 anak. untuk tingkat SD sebanyak 1. Rinciannya. Inilah peran strategis yang harus kita ambil. Menurut Thomas Lickona (1992). tidak kurang 10 persen para responden sudah melakukan hubungan seks bebas! Jumlah pengguna narkoba di lingkungan pelajar SD.662 anak. penggunaan bahasa yang memburuk 6. berapa point yang sudah muncul di bangsa kita? Sepertinya kita sepakat bahwa seluruhnya sudah tampak di bangsa kita! Akankah bangsa kita mengalami kehancuran? Jawabannya adalah ‘YA’ bila bangsa kita tidak melakukan perbaikan. Pada tahun 2003. dan SMA pada tahun 2006 mencapai 15.Herien Puspitasari (Disertasi Doktor IPB). MELAKUKAN PEMBINAAN AKHLAK UNTUK MENGHINDARKAN BANGSA DARI KEHANCURAN! Peran Sekolah . dengan menggunakan responden sejumlah 667 siswa (550 siswa Sekolah Negeri & 117 siswa Sekolah Swasta). semuanya berasal dari siswa kelas 2 SMA dan SMK di Bogor. Tapi data-data di atas cukup mewakili bagaimana potret anak usia sekolah di negeri ini. 540 putra dan 127 putri. Dan kita para pengelola sekolah dan para pendidik harus ikut melakukan langkah perbaikan. jumlah itu meningkat tajam menjadi 1. yang paling mencengangkan adalah peningkatan jumlah pelajar SD pengguna narkoba. meningginya perilaku merusak diri 9. guru dan figure pemimpin. 4. Dari data tersebut. semakin kaburnya pedoman moral. Tentunya masih banyak data dan fakta lain yang bisa kita ungkap. namun tiga tahun kemudian atau tahun 2006. SMP sebanyak 3. tanda-tanda kehancuran suatu bangsa antara lain: 1. menurunnya rasa tanggung-jawab individu dan warga negara 8.793 anak .543 anak.

sifat-sifat kejiwaan. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar. watak. Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik. nilai-nilai ideal agama. sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits yang telah dikutip sebelumnya: “Ilmu diperoleh dengan belajar. Pendidikan Karakter pada Sekolah Islam Terpadu (SIT) Sekolah Islam Terpadu menjadikan pendidikan karakter sebagai pilar utama dalam proses penyelenggaraannya. masyarakat. pembiasaan dan pengulangan. Membentuk karakter tidak semudah memberi nasihat. Menumbuhkan biah solihah dalam iklim dan lingkungan sekolah: menumbuhkan kemaslahatan dan meniadakan kemaksiatan dan kemungkaran. Mengintegrasikan nilai Islam ke dalam bangunan kurikulum. akhlak mulia. dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun. Oleh karena itu.” (HR Bukhari) Pendidikan menurut Pasal 1 Butir 1 UU 20/2003: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Karakter adalah sifat kejiwaan.“FithrataLlahil latii fatharan naasa ‘alaiha. dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun. tetapi memerlukan kesabaran. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah…” (Ar Rum:30) “Ilmu diperoleh dengan belajar. . Laa tabdiila likhalqiLlah. 2. nilai-nilai moral.” (HR Bukhari) Sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dialami peserta didik sebagai pengalaman pembentukan kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai. karakter diartikan sebagai tabiat.” “…(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. keutamaan-keutamaan moral. Sedangkan menurut Imam Ghazali karakter adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan fikiran. kecerdasan. pengendalian diri. 4. 5. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. kepribadian. SIT mengembangkan prinsip-prinsip pendidikan sebagai berikut: 1. 3. bangsa dan negara” Pengertian Pendidikan Karakter Dalam Kamus Poerwadarminta. tidak semudah member instruksi.

8. 7. Membentuk sikap dan kepribadian yang kuat berdasarkan prinsip-prinsip nilai keilahiyahan. Bagaimana menerapkan pendidikan karakter di sekolah? Menurut Ratna Megawangi. Menumbuhkan budaya profesionalisme Nilai-nilai Islam menjadi inspirasi dan sekaligus pemandu utama dalam penyelenggaraan pendidikan di SIT. Founder Indonesia Heritage Foundation.  MORAL ACTION : Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. istiqomah dan selalu berfihak dan membela al Haq. Membangun karakter/pribadi yang saleh : selalu menegakkan nilai-nilai dan praktek ibadah. SIT meyakini bahwa pendidikan Islam akan mampu: 1. Moral action ini merupakan outcome dari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior . tsabat. Dengan aqidah yang benar. Dan apa manfaat berperilaku baik  MORAL FEELING : Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berperilaku baik. Dengan perilaku ibadah yang bersih. Melibatkan peran-serta orangtua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Membangun Sikap Peduli: Islam selalu mengajarkan sikap peduli kepada orang lain. Untuk apa berperilaku baik. hewan dan lingkungan. bekerja dan bertindak untuk kepentingan masa depan.6. berfikir. Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu. Pendidikan agama Islam mendidik dan mendisiplinkan pemeluknya untuk selalu taat beribadah kepada Allah SWT. niscaya akan terbentuk karakter muttaqien. Memompa semangat keilmuan dan karya. 2. ringkas. Mengapa harus berperilaku baik. resik. 5. Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu berfikir dan berkarya. sehat dan asri. Membangun budaya rawat. Membentuk pandangan yang visioner. runut. Mengutamakan nilai ukhuwwah dalam semua interaksi antar warga sekolah. ada tiga tahap pembentukan karakter:  MORAL KNOWING : Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. seorang muslim akan mampu menunjukkan sikapnya yang tegar. Doktrin Islam adalah: ”sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling memberi manfaat bagi orang lain” 3. Sikap peduli akan melahirkan sikap yang selalu membangun dan memecahkan segala permasalahan sosial. 9. selalu menjauhi perilaku negatif dan destruktif 4. Membentuk karakter adalah dengan cara menumbuhkannya. rapih. 10.

Kemandirian . Kedamaian. bijaksana 4. news untuk orang tua.  Siswa dan guru mengembangkan nilai-nilai yang dianut di kelas masing-masing. Percaya diri. keadilan 8. Cinta Allah. Nilai-nilai ini merupakan penjabaran dari nilainilai yang diyakini sekolah. gotong royong 6.Dengan tiga tahapan ini. Kepemimpinan. kreatif. ada 9 pilar karakter yang harus ditumbuhkan dalam diri anak: 1. Masih menurut Indonesia Heritage Foundation. bekerja keras 7. justru sebaliknya.  Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan  Mendiskusikan masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran  Mendiskusikan masalah dengan orang tua apabila masalah dengan anak adalah masalah besar atau masalahnya tidak selesai . santun 5. misalnya tentang kejujuran. Hormat.  Staf pengajar dan administrasi termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang dianut. rendah hati 9. Kejujuran. Dermawan. Toleransi.  Memberikan dilema-dilema dalam mengajarkan suatu nilai. pelatihan. proses pembentukan karakter akan jauh dari kesan dan praktik doktrinasi yang menekan. suka menolong.tanggung jawab 3. Baik hati. kesatuan Tips untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah Berikut adalah tips untuk sukses menerapkan pendidikan berbasis karakter di sekolah:  Memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh stake holder sekolah melalui berbagai media : buku panduan untuk orang tua (dan siswa). siswa akan mencintai berbuat baik karena dorongan internal dari dalam dirinya sendiri. dg segenap ciptaanNya 2.

Betapa tidak. itu semua terjadi dilakukan oleh orang-orang yang pernah atau sedang bergelut dengan bangku sekolah. salah satu hikmahnya adalah bagaimana kita mampu menanamkan konsep diri pada anak didik kita dalam rangka menghasilkan anak didik yang berkarakter (berakhlak) dan kelak mampu menjadi generasi yang mampu memimpin bangsa ini dengan peradaban yang tinggi dan dihiasi oleh kemuliaan akhlaknya (karakter yang luhur). kekeringan spiritual ke arah power of spiritualism dan seterusnya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu. pendidikan seolah justru melahirkan permasalahan bukan memberikan solusi. berilmu. Namun jika kita melihat kenyataannya. Tentunya diperlukan GURU BERKARAKTER untuk menghasilkan SISWA BERKARAKTER.php? option=com_content&view=article&id=58:pbk&catid=35:dpm&Itemid=57 27 Jun 2009 | Komentar: 0 Pembelajaran Berbasis Pembentukan Konsep Diri Anna Mariana Guru TPA Al-Hanif Cihanjung. sebuah karakter akan tercipta dalam pribadi seseorang . adalah GURU. Kesannya.jsit.Dari semua komponen sekolah. Cimahi. pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam khazanah Islam. sederet tindakan 'amoral' hampir setiap hari kita dengar bahkan kita saksikan. kita kenal kalimat mutiara : ''Didiklah anak-anakmu. kebobrokan moral menuju makarimal akhlak. patut kita ambil hikmah untuk kemudian mencarikan solusinya. Salah satu tawarannya adalah. Artinya. Ironisnya. Mata pelajaran agama pada khususnya dan umumnya pelajaran yang lain jangan sampai terjebak pada orientasi nilai-nilai angka semata tanpa diimbangi perubahan karakter pada diri siswa. menghasilkan anak didik yang berakhlak dan berkarakter baik tentunya sangat membahagiakan. Karena itu. Jabar Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 menyatakan. realisasi dari tujuan tersebut masih jauh dari harapan. karena menjadi penyebab seseorang mendapatkan kebaikan itu lebih baik dari dunia dan seisinya! Shintawati Staf dept mutu JSIT Indonesia http://www.web. pendidikan menjadi kekuatan untuk mengubah ketidakberaturan ke arah keteraturan. sehat. cakap. karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dari zaman-mu''. Padahal seharusnya. Meski diperlukan kesabaran dan ketekunan. dengan mengoptimalkan kegiatan pembelajaran yang mampu mendorong pada pembentukan karakter (character building) siswa. mandiri.id/index. yang paling berperan mensukseskan program pendidikan berbasis karakter di sekolah. kreatif. anak didik kita hari ini adalah calon pemimpin yang akan datang. berakhlak mulia. Menurut William Kitpatrick (1992).

dan sebagai umat Islam. manakala keteladanan tidak tampak dalam diri kita sebagai guru http://www. simpati dan rangsangan positif.com/2-view. Ikhtiar tersebut dapat dilakukan di antaranya melalui beberapa hal berikut ini. Kelima. Oleh karenanya. mengadakan kunjungan kepada orang yang keadaannya jauh di bawah ataupun yang lebih maju. harus mampu tampil menangkap fenomena dewasa ini. Artinya.mirifica.memerlukan tiga komponen (components of good character). sekolah sebagai salah satu persinggahan sekaligus 'kawah candra di muka' bagi anak. membangun semangat berlomba sehingga terbangun jiwa yang kompetitif dalam kehidupan. para pendidik harus mampu menggiring siswa untuk mengidolakan sosok yang baik. terlebih saat ini virus-virus zaman semakin marak merongrong moralitas anak melalui berbagai media. Karenanya sekolah sebagai lembaga pendidikan kedua setelah di keluarga. maka ada faktor yang tidak bisa ditinggalkan yakni keteladanan. Mustahil suatu karakter yang mulia akan terjadi dengan baik. Yaitu pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing).php? subaction=showfull&id=1246044356&archive=&start_from=&ucat=2&do=artik el Mirifica e-news (http://www. harus mampu membentengi diri anak dari berbagai ekses negatif lingkungan.net) 12 Mei 2006 15:04 Pembentukan Karakter Dalam Sekolah . memfasilitasi akses dengan orang yang potensial menjadi idola. Oleh karena itu. perasaan tentang moral atau kebaikan (moral feeling). Kedua. Hal ini bertujuan untuk membangun semangat bersyukur. Pertama. pastikan diri kita menjadi tokoh panutan bagi siswa. Karenanya. Ketiga. ataupun dzikir asmaul husna sebelum belajar. Dalam diri anak harus tertanam konsep diri yang kuat. mempermudah pujian dan penghargaan yang proporsional sebagai upaya membangun afirmasi positif pada pikiran dan jiwa anak yang diharapkan dapat menghembuskan semangat yang positif. dan aplikasi kebaikan (moral action). baik yang datang melalui media ataupun pergaulan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Keempat. Guru adalah orang yang digugu dan ditiru.klubguru. pembinaan iman dan taqwa dalam bentuk pembiasaan shalat berjamaah. pelaksanaan shalat sunah tahajud dan dhuha. Rasulullah SAW adalah teladan utama. optimalisasi pembinaan semacam ini harus continue dan efektif. empati. Bila itu semua telah mampu ditanamkan. Pembentukan karakter (character building) melalui penguatan konsep diri merupakan salah satu solusi yang efektif.

kasus-kasus narkoba. Kita membutuhkan habitus baru untuk mengelola pendidikan jika tidak mau melihat kehancuran bangsa ini 1-20 tahun yang akan datang. Pendidkan sesungguhnya berkaitan erat dengan manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat dimanusiakan menjadi manusia. N Driyarkara memandang bahwa manusia dan pendidikan merupakan dua sisi dari satu kehidupan. bukan pada pembentukan karakter anak didik. dan tidak direncanakan tetapi langsung berhubungan dengan keperluan hidup (Bdk dengan tulisan Ignas Kleden dalam ‘Basis’ No. mereka sekaligus juga belajar tentang nilai-nilai dan norma-norma yang berhubungan denan pekerjaannya. Sistem pendidikan kita hanya mengandalkan cara berpikir yang bermuatan kurikulum. Dengan demikian keluarga dapat dikatakan adalah peletak dasar bagi pendidikan seorang anak. tawuran antarpelajar. Pendidikan juga belum membawa anak didik pada kesadaran akan dirinya sendiri sebagai manusia yang berpikir untuk merdeka yang mana peserta didik sejak awal dilatih memiliki wawasan yang luas mengenai realitas. 03-04 tahun 45 Mei-Juni. Belum ada usaha serius untuk mencari akar dari segala keterpurukan bangsa ini pada pendidikan. peserta didik mengalami frustasi sosial amat parah sebab tidak memperoleh hak untuk mendapatkan pengetahuan yang selayaknya. Terlebih.Pada mulanya yaitu sebelum ada pendidikan melalui sekolah seperti sekarang ini. perselisihan antarsuku. Namun pada masa sekarang sekolah dibutuhkan karena masyarakat modern dengan kebudayaan dan peradaban yang telah maju menawarkan demikian banyak kepandaian dengan kerumitan dan kompleksitas yang tinggi sehingga tidak mungkin lagi mempelajari kepandaian yang diperlukan hanya sambil lalu dalam praktek. Pendidikan di negeri ini belum mencerminkan sejauh mana proses transformasi sosial telah berhasil. pendidikan akan selalu dijadikan pertarungan politik abadi. Tanpa habitus baru. Munculnya banyak kasus yang destruktif dalam konteks kebangsaan. Persoalannya adalah. ada keresahan yang mendapat karena pendidikan cuma dijadikan alat politisasi. Artinya keluarga sangat berperan dalam perkembangan kepribadian anak. Seorang anak pertama kalinya memperoleh pendidikan dalam keluarga. 1996). kekerasan terhadap anak. maka pendidikan dijalankan secara spontan dan langsung dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga. misalnya terjadinya sentimen antaretnis. Throughout the reform of the . Pembentukan karakter di sekolah Deng Xiaoping dalam program reformasi pendidikannya pada tahun 1985 secara eksplisit mengungkapkan tentang pentingnya pendidikan karakter. Maka pendidikan pada waktu itu merupakan sesuatu yang konkret. Anak-anak petani langsung mempelajari tentang kelautan dan perikanan dengan langsung mengikuti orang dewasa menangkap ikan. Di balik itu semua. Pendidikan kita tidak pernah jujud di dalam mengajar nilai-nilai kebenaran karenasemua dilakukan di area formalisme belaka. Saat kebijakan pendidikan masih sering berorientasi politik dengan cara berpikir proyek paradigmanya. Selagi mempelajari pekerjaan yang dilakukan. menunjukkan karakter kebangsaan Indonesia saat ini lemah. apakah kita di negeri ini sudah sampai ideal seperti itu? Lembaga pendidikan di Indonesia ternyata gagal berperan sebagai pranata sosial yang mampu membangun karakter bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai normatif kebangsaan yang dicita-citakan.

peduli terhadap sesama. Bukankah memang Tuhan YME menciptakan manusia bersuku-suku. Indonesia tentunya bisa melakukannya. it is emperative to bear in mind that reform is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or woman of character and cultivating more constructive members of society (‘Decisions of Reform of the Education System’. siswa akan terdorong untuk menggali. serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. sekaligus menjadikannya sebagai modal untuk meningkatkan diri sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Kecakapan kesadaran diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa. suka menolong dan menghindari tindakan yang menyakiti orang lain. 1985). Karena itu program pendidikan karater telah menjadi kegiatan yang menonjol di Cina yang dijalankan sejak jenjang pra-sekolah sampai universitas. tetapi sebagai tuntunan bertindak berperilaku. walaupun kesadaran dirilebih merupakan sikap. bekerja keras. disiplin dan amanah terhadap kepercayaan yang dipegangnya.3 miliar menjadi manusia yang berkarakter (rajin. maupun hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. seseorang akan terdorong untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. pemeliharaan lingkungan bukan sebagai beban. namun diperlukan kecakapan untuk menginternalisasi informasi menjadi nilai-nilai dan kemudian mewujudkan menjadi perilaku keseharian. Oleh karena itu. kita semua bisa melakukannya dalam sekolah. sebagai bagian dari lingkungan. Dengan kesadaran diri sebagai hamba Tuhan. baik dalam hubungan antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran diri merupakan proses internalisasi dari informasi yang diterima yang pada saatnya menjadi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan diwujudkan menjadi perilaku keseharian. serta mengamalkan ajaran agama yang diyakininya. Namun. Keempat. rendah hati. kesadaran diri bahwa manusia sebagai makhluk sosial akan mendorong yang bersangkutan untuk berlaku toleran kepada sesama. Kecakapan kesadaran diri tersebut dapat dijabarkan menjadi pertama. terbuka). baik berupa fisik maupun psikologis. berlaku jujur. Pembentukkan karakter yang dilakukan dalam sekolah-sekolah kita mempunyai beberapa fungsi strategis untuk menumbuhkan kesadaran diri. Pendidikan agama bukan dimaknai sebagai pengetahuan semata. tetapi sebagai kewajiban ibadah kepada Tuhan YME. Dengan kesadaran itu. memelihara. gaung pendidikan karakter belum banyak terdengar dari para pemimpin kita. sejak dini siswa perlu diajak mengenal apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki (sebagai hamba Tuhan) dan kemudian mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki dan memperbaiki kekurangannya. apabila Cina bisa melakukan pendidikan karakter untuk 1. Oleh karena itu. kesadaran diri sebagai makhluk lingkungan merupakan kesadaran bahwa manusia diciptakan Tuhan YME sebagai kholifah di muka bumi dengan amanah memelihara lingkungan.education system. kesadaran diri akan potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebenarnya merupakan bentuk syukur kepada Tuhan. Bukankah prinsip itu termasuk bagian dari akhlak yang diajarkan oleh semua agama? Kedua. Nah. jujur. Dengan kesadaran itu. Tentunya. sebagai anggota masyarakat dan warga negara. mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan. sebagai warga negara yang bertanggung jawab. sehingga setiap orang akan terdorong untuk melaksanakan. berbangsa-bangsa untuk saling menghormati dan saling membantu? Bukankah heterogenitas itu harmoni kehidupan yang seharusnya disinergikan? Ketiga. Jika siswa . kesadaran diri sebagai hamba Tuhan diharapkan mendorong yang bersangkutan untuk beribadah sesuai dengan tuntutan agama yang dianut.

berlaku jujur. Jika kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan. budi pekerti. Dalam hubungan ini maka apa yang disarankan Unesco perlu diperhatikan yaitu bahwa pendidikan harus mengandung tiga unsur: (a) belajar untuk tahu (learn to know). emosi. Pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good. Tentunya. Penyesuaian dalam materi dan cara penyampaiannya tentu saja . termasuk berbangsa dan bernegara. and hands.menyadari memiliki potensi olahraga. heart. penanaman etika berkehidupan bersama. karena keduanya merupakan karunia Tuhan yang harus disyukuri. guru bimbingan karier. Pendidikan dari unsur ketiga ini sudah semestinya dimulai sejak Taman KanakKanak hingga perguruan tinggi. pengembangan sensitivitas sosial dan lingkungan dan sebagainya merupakan beberapa hal dari unsur pendidikan melalui belajar untuk hidup bersama. loving the goog. menghargai perbedaan pendapat tidak memaksakan kehendak. pendidikan karakter adalah berbeda secara konsep dan metodologi dengan pendidikan moral. baik jasmani maupun rohani. (b) belajar untuk berbuat (learn to do). Pembangkitan rasa nasionalisme. sekaligus toleransi kepada sesama teman yang mungkin saja memiliki potensi yang berbeda. Unsur pertama dan kedua lebih terarah membentuk having. Kelima. Sedangkan pendidikan moral. karena mengetahui potensi yang dimiliki. unsur itu menjadi amat penting. agar sumber daya manusia mempunyai kualitas dalam pengetahuan dan keterampilan atau skill. Pengembangan potensi dilakukan dengan mengasah atau melatih potensi itu. Demikian pula untuk potensi jenis lainnya. atau bahkan pendidikan agama di Indonesia. bahkan semua guru perlu dan dapat berperan dalam mendorong siswa mengenal potensi yang dimiliki dan mengoptimalkan menjadi prestasi belajar. sebagai makhluk sosial dan makhluk lingkungan. potensi yang dikaruniakan kepada kita harus dikembangkan. yang bukan ke arah nasionalisme sempit. Berbagai mata pelajaran dapat menjadi wahana pengembangan kesadaran diri seperti itu. pemahaman hak asasi manusia secara benar. belajar untuk bersama (learn to live together). sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind. dan fisik. sedangkan agama. sehingga setiap orang harus mengembangkan potensiyang dikaruniakanNya. Dan itu berarti setiap orang harus terus-menerus belajar. beretos kerja tinggi. Unsur ketiga lebih terarah being menuju pembentukan karakter bangsa. misalnya kewarganegaraan dan pelajaran agama hanya melibatkan aspek kognitif (hapalan) tanpa ada apresiasi (emosi) dan praktik. merupakan bentuk syukur kepada Tuhan yang dilakukan. Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan. sastra dapat menjadi wabana pemeliharaan rohani. (c). kesadaran tentang pemeliharaan potensi diri (jasmani dan rohani) diharapkan mendorong untuk memelihara jasmani dan rohaninya. Walikelas. Sehingga jangan heran kalau banyak manusia Indonesia yang hapal isi Pancasila atau ayat-ayat suci. seperti kewarganegaraan. diharapkan akan terdorong untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi olahragawan yang berprestasi. serta kesadaran akan potensi diri dapat dikembangkan akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak didik. kewarganegaraan. kesehatan. Kini. and acting the good yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif. menjaga kebersihan. Oleh karena itu. guru bimbingan konseling. tetapi tidak tahu bagaimana membuang sampah yang benar. misalnya biologi dan olahraga dapat menjadi wahana yang sangat bagus untuk kesadaran memelihara jasmani. dan menjalin hubungan harmonis dengan sesama.

al 2001) mengkomplikasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. maka pendidikan karakter tidak akan efektif dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. akan mengalami kesuliran belajar. dan kemampuan berkomunikasi. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Marvin Berkowitz dariUniversity of Missouri . Dampak pendidikan karakter Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). miras. Kecerdasan emosi adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongong masa depan karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor risiko penyebab kegagalan anak di sekolah. rasa empati. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Faktor-faktor risiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. narkoba. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orangtua yang gagal dalam mendidik karakter anakanaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Dalam buku Emotional Intelligence and School Succes (Joseph Zins. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. yaitu rasa percaya diri.St Louis. menunjukkan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. perasaan (feeling). et. tawuran. dan tindakan (action). Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin Character Educator. kemampuan bergaul. kemampuan bekerja sama. . tanpa ketiga aspek ini. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. tetapi pada karakter. perilaku seks bebas dan sebagainya. Namun banyak orangtua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambar keberhasilan akademik Pendidikan karakter ada-lah pendidikan budi pekerti plus. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenalan. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr.diperlukan. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. Dengan pendidikan karakter. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Kalau seorang anak mendapat pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. kemampuan berkonsentrasi. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Menurut Thomas Lickona.

Kebanyakan sekolah mengindetikkan karakter dengan pelajaran agama. SMP dan SMU.. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD. bukan hanya menjadi trend belaka. 12 Mei 2006 Mencermati Pendidikan Karakter (Beberapa Catatan) OPINI Samuel Purba | 10 Agustus 2010 | 11:56 100 0 Nihil. Tangaran. Program di atas kertas juga patutlah didukung. dan Tahap III (2020-2024) sebagai tahap pengembangan berkelanjutan. that is the good od true education" (Kecerdasan plus karakter. pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgen untukdilakukan. Secara ringkas periodesasinya dibagai 3 (tiga) tahap yakni Tahap I (2010-2014) sebagai tahap konsolidasi dan peletakan dasar-dasar. yaitu "education without character" (pendidikan tanpa karakter). Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich.. Oleh karena itu ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan agar program ini dapat efektif dan menghasilkan outcome yang sebenarnya. Beberapa waktu yang lalu pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah mencanangkan pendidikan karakter sebagai mainstream baru dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. namun fakta sehari-hari yang selama ini terjadi di akar rumput wajib menjadi dasar pertimbangan utama. Dr. yang mana nilai-nilai universalnya hidup. guru SMAN I. dan nilai-nilai yang berdasarkan Pancasila. itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Tahap II (20152019) sebagai tahap pemantapan strategi dan implementasi. Saya juga sempat membaca dari beberapa sumber mengenai grand design dan strategi penerapan pendidikan karakter.Penulis. identitas dan kepercayaan diri. Oleh Stefan Sikone -.. Kolom Opini -. Martin Luther King juga pernah berkata: "Intelligence plus character. Pastinya kegelisahan Wapres yang telah lama menjadi kegelisahan masyarakat ini kita dukung.Jadi. Karakter lebih kepada agama yang dipraktekan (teopraksis). Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal. Kabupaten Semarang Pos Kupang.. Bahkan Wapres Boediono juga mengeluhkan betapa telah merosotnya moralitas generasi muda di Indonesia saat ini. Pertama. istilah karakter harus sama-sama dipahami dahulu. . sehingga dikuatirkan justru kegiatan keagamaan yang ditonjolkan. maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: "To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society"..Jumat. Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat . menjadi sehingga menumbuhkembangkan kebiasaan yang positif dan produktif yang berujung kepada pembentukan manusia yang berwawasan dan bertindak luas dan mempunyai kepribadian.

Karakter hanya terbentuk dengan persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama. kalau pemerintah pusat benar-benar berkomitmen dengan pembentukan karakter bangsa ini maka tanggung jawab jangan semata-mata diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional. Ketiga. membatasi . pembentukan karakter tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara konvensional. karena salah besar jika kita ingin mengubah karakter bangsa hanya dengan mengubah sekolah. dan menjadi raja-raja kecil yang tertutup. Maka dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai instructional leader (pemimpin pembelajaran) dan pejabat daerah sebagai teladan dalam karakter sangat berpengaruh. harus berani mengakui dan memperbaiki sistem ujian nasional yang penuh coreng moreng tindakan amoral dan ketidakjujuran. Padahal KTSP ini sudah dicanangkan lebih dari 5 (lima) tahun terakhir. keberhasilan pendidikan karakter harus jelas indikatornya. Kalau hal ini tidak dibenahi maka program pendidikan karakter hanya akan dinilai sebagai penghambur-hamburan uang negara yang rentan terhadap praktek korupsi. Saya perhatikan bahkan kepala sekolah juga sangat suka dinasihati oleh pejabat pemerintahan.Kedua. dan kepala sekolah terhadap pejabat daerah. hendaknya benar-benar disadari bahwa penilaian keberhasilan pendidikan karakter tidak semata-mata masalah kelengkapan dokumen semata. Namun untuk kita ingat bersama masih banyak KTSP sekolah yang adalah bagian dari standar pendidikan yang belepotan. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlak dibutuhkan. otoriter. Keempat. sedangkan kepala sekolah adalah “sumber pengetahuan” bagi guru. Tidak sedikit juga sekolah yang mengaku sudah lengkap KTSP nya namun tidak mempunyai akar pemahaman yang kuat. menindak tegas pelaku sogok pada saat penerimaan siswa baru. Kalaulah nantinya dalam 5 (lima) tahun tahapan pertama dana juga ada banyak dana yang digunakan untuk pelatihan penyusunan KTSP bermuatan karakter. Pembangunan karakter jangan sampai terjebak dalam kebiasaan menasihati semata. Yang saya maksud adalah baik murid maupun guru sudah keenakan diajarkan dan dinasihati. yang dikemas di dalam KTSP. Ada banyak hal yang semestinya dibenahi antara lain: pemerintah harus berani mengubah acara-acara di TV di mana pada saat jam belajar malam siswa tidak ada siaran sinetron. Karakter murid akan terbentuk ketika mereka melihat kualitas hidup gurunya dalam proses interaksi bersama. membatasi program-program “pencari bakat” di TV yang mengandung unsur ekspoitasi anak dan menumbuhkembangkan lagi progam-program TV yang sarat muatan pendidikan. apalagi KTSP bermuatan karakter. tanpa memandang hubungan keluarga dan hutang politik. Fenomena yang kita lihat di sekolah adalah guru adalah “sumber pengetahuan” bagi murid. rencana pembelajaran. Hal ini penting mengingat sudah melekatnya paradigma bahwa keberhasilan sekolah dinilai hanya dari kelengkapan dokumen semata yang didukung banyaknya pejabat daerah yang sebenarnya tidak paham dengan KTSP. bukan lahir dari kristalisasi kegelisahan bersama yang didiskusikan dan direfleksikan bersama para pelaku pendidikan. dan silabus. bahkan Kemendikas dan pemerintah daerah sudah sangat banyak mengucurkan dana untuk mengadakan berbagai pelatihan penyusunan KTSP tersebut. Wajar dicurigai kalau dokumen KTSP sebagian sekolah adalah hasil copy paste. Akan sangat baik jika Presiden mau mengatakan bahwa dia akan menjadi panglima di dalam membangun karakter bangsa. harus berani memberhentikan kepala sekolah yang bertindak diskriminatif. demikian juga guru terhadap kepala sekolah. Nilai-nilai karakter ini akan menjadi bagian di dalam kurikulum.

saya optimis program ini dalam waktu tidak begitu lama akan mulai dapat dituai hasilnya.kompasiana. bukan hanya sekolah. pelatih. Beberapa catatan ini sebenarnya masih sangat sederhana dan tidak akan menjawab rumitnya pembangunan karakter di negeri tercinta ini. Yang terakhir. “Satukan kata dan perbuatan!” Semoga ada manfaatnya dalam implementasi program nasional yang mulia ini. menghukum secara tegas dan terbuka kepada publik para produsen dan penyebar narkoba. libatkan masyarakat secara penuh mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi. Ringkasnya. Kalau halhal di atas dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Selain itu libatkan secara luas motivator. Masih teringat kalimat Bung Karno sebagi inti nation and character building. penceramah. bukan dengan retorika dan slogan-slogan yang fantastis. keseharian. hanya pemerintahan yang berkarakter yang mampu membangun karakter bangsanya. namun sering tertutup oleh orang-orang yang senang mencari muka saja. berkarakter kuat. yang berkualitas dengan catatan para motivator tersebut tidak boleh menjadikan kegiatan ini sebagai ajang bisnis pula. dan mau fokus dan bekerja keras dalam membangun pondasi program ini. pendidikan pembentukan karakter hanya bisa berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar. Oleh karena ini secara teknis mereka yang potensial harus diberi ruang gerak yang luas sehingga pekerjaan mereka juga dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Jika hal tersebut di atas berhasil dilaksanakan maka pemerintah akan semakin kuat legitimasinya sebagai garda depan dalam pembentukan karakter bangsa.com/2010/08/10/mengurai-program-pendidikankarakter-beberapa-catatan/ . dan yang terkadang kelihatannya sepele. Pilihlah pegawai pemerintah yang eligible. http://edukasi.situs-situs internet yang merusak moral. Program ini hanya bisa optimal jika penggeraknya adalah orang-orang yang disegani karena dedikasi dan karakternya yang baik. Ringkasnya. Pengambilan kebijakan pemihakan terhadap pembangunan karakter secara konsiten ini mencerminkan karakter pemerintah yang sangat efektif dalam membangun kesadaran dan semangat pelaku pendidikan. Makna karakter yang ingin dibentuk pada peserta didik harus berasal dari masyarakat dan menjadi tanggung jawab semua pihak. dan lain sebagainya. Orang-orang seperti itu sebenarnya banyak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->