P. 1
Wars an A

Wars an A

|Views: 1,522|Likes:
Published by Hapz Mutia

More info:

Published by: Hapz Mutia on Oct 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

ANALISIS EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN USAHA TANI JAGUNG

(STUDI DI KECAMATAN RANDUBLATUNG KABUPATEN BLORA)

TESIS Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mendapatkan Derajat Sarjana S2 pada program Magister Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan

Oleh:

WARSANA C4B005117

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2007

TESIS ANALISIS EFESIENSI DAN KEUNTUNGAN USAHA TANI JAGUNG ( STUDI DI KECAMATAN RANDUBLATUNG KABUPATEN BLORA)
Disusun Oleh WARSANA C4BOO5117 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 31 Juli 2007 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima Susunan Dewan Penguji Pembimbing Utama Drs. H.Waridin, MS, Ph.D NIP. 131 696 212 Anggota Penguji Dr. Dwisetia Poerwono, MSc NIP.130 812 321

Pembimbing Pendamping Dr. Purbayu Budi Santosa, MS NIP. 131 629 321 Evi Yulia Purwanti, SE, MSi NIP. 132 163 888 Drs. Edy Yusuf AG, MSc, Ph.D NIP. 131 407 966 Telah dinyatakan lulus Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Tanggal Agustus 2007 Ketua Program Studi

Dr. Dwisetia Poerwono, MSc NIP.130 812 321 ii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum atau tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka.

Semarang,

Juli 2007

WARSANA

iii

mount efficiency of is effort farmer and mount scale of is effort farmer of at effort maize farmer in Subdistrict Randublatung Regency Blora. fertilize and drugs. sum up seed. Beside that price of maize moment of great crop [is] which uncertain and often less profit farmer. peanut and crop of other season. especially the price fertilize brand ( Urea.99 kw/ha compared to horizontally . causing the effort farmer of maize lose looks so that a lot of farmer which displace effort to other commodity like planting soy. Dissimilar factor is which is often experienced of by most farmer of maize is limitation of capital to buy medium produce in the form of seed. SP-36. From result analyze economic efficiency relative between second of group of pursuant to wide scale of farm of worked that is wide scale of farm of under 1. Sample used by as much 100 responder with intake sample method of[is way of proportional stratified random sampling.30 kw/ha. productivity of Maize which still lower the. fertilize. This research aim to analyze the level of advantage storey. maximum advantage examination.factors of production which from year to year tend to experience of increase. Other. economic efficiency.ABSTRACT Problem faced by farmer of maize in Regency of Blora is productivity which still lower that is 32.0 provable ha there are difference mount efficiency of where small businessman more is efficient compared to by a big farmer.70. Result of scale anticipation of is effort indicating that scale condition of is effort in effort maize farmer in research area flattenedly to stay in circumstance increasing returns to scale ( increase of result of progressively increase ). But if seen from variable input use indicate that pesticide and seed which not yet optimal while labour variable input allocation and fertilize have reached optimal.80 . pesticide. level. Pursuant to inferential research result that effort maize farmer in Subdistrict Randublatung Regency Blora not yet given maximum advantage storey : level to farmer. KCL ) and the pesticide.75 kw/ha and also potency of result that is 60. labour. Other. scale examination of is effort economic efficiency examination and farmer relative. iv .0 ha ( small businessman ) and scale of wide effort of farm more than above 1. At data analysis conducted by using advantage Cobb Daouglass function.flatten productivity mount Central Java of equal to 36. Dissimilar cause lower of productivity of maize of because factor price . Keyword : produce maize. Calculation Model Zellner's Method of Seemingly Unrelated Regression.

Namun jika dilihat dari penggunaan input variabel menunjukan bahwa benih dan pestisida yang belum optimal sedangkan pengalokasian input variabel tenaga kerja dan pupuk telah mencapai optimal. menyebabkan usahatani jagung kurang menarik sehingga banyak petani yang alih usaha ke komoditas yang lain seperti menanam kedelai. terutama harga pupuk buatan (Urea. pupuk dan obat-obatan. tingkat efisiensi usaha tani dan tingkat skala usaha tani pada usaha tani jagung di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora. Dari hasil analisis efisiensi ekonomi relatif antara kedua kelompok berdasarkan skala luas lahan garapan yaitu skala luas lahan dibawah 1. Perhitungan Model Zellner's Method of Seemingly Unrelated Regression. pestisida. pengujian keuntungan maksimum. pengujian skala usaha tani dan pengujian efisiensi ekonomi relatif. SP-36. Produktivitas jagung yang masih rendah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya tingkat keuntungan. efisiensi ekonomi v . Kata Kunci : produksi jagung. Pada analisis data dilakukan dengan menggunakan fungsi keuntungan Cobb Daouglass.30 kw/ha.80 – 70.0 ha (petani kecil) dan skala usaha luas lahan lebih dari diatas 1. Hasil pendugaan skala usaha menunjukan bahwa kondisi skala usaha dalam usahatani jagung didaerah penelitian secara rata . Faktor lain yang sering dialami sebagian besar petani jagung adalah keterbatasan modal untuk membeli sarana produksi berupa benih.75 kw/ha maupun potensi hasilnya yaitu 60. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden dengan metoda pengambilan sampel cara proportional stratified random sampling. kacang tanah dan tanaman semusim lainnya.ABSTRAKSI Masalah yang dihadapi petani jagung di Kabupaten Blora adalah produktivitas yang masih rendah yaitu 32. Disamping itu harga jagung saat panen raya yang tidak menentu dan sering kurang menguntungkan petani. KCL) dan pestisida.0 ha dapat dibuktikan terdapat perbedaan tingkat efisiensi dimana petani kecil lebih efisien dibandingkan petani besar. jumlah benih.99 kw/ha dibanding dengan rata-rata produktivitas tingkat Jawa Tengah sebesar 36. pupuk. Penyebab lain rendahnya produktivitas jagung karena harga-faktor produksi yang dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usahatani jagung di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora belum memberikan tingkat keuntungan yang maksimum kepada petani. tenaga kerja.rata berada dalam keadaan increasing returns to scale (kenaikan hasil semakin bertambah).

Bapak Drs. tanpa bantuan dari berbagai fihak. SE. Ibu Evi Yulia Purwanti. Bupati Blora yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di wilayah Kabupaten Blora vi di Universitas Diponegoro . 3. Harapan kami. Ph. selaku dosen pembimbing utama yang telah berkenan meluangkan waktu dan memberikan bimbingan serta dorongan semangat kepada penulis hingga penulisan tesis ini selesai. 2. Penulis menyadari. M. 5. pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1.D. H. rasanya mustahil dan sungguh terasa sangat berat untuk bisa menyelesaikan tesis ini. Karena itu.Si selaku dosen pembimbing kedua yang telah berkenan meluangkan waktu memberikan bimbingan dan dorongan semangat kepada penulis hingga tesis ini selesai.KATA PENGANTAR Penulisan penelitian ini merupakan salah satu syarat menyelesaikan tesis dalam menempuh Program Studi Strata Dua (S2) pada Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (MIESP) Semarang. 4. hasil penelitian ini bermanfaat bagi fihak-fihak terkait. Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah yang telah memberi ijin belajar kepada penulis dan dukungan untuk menyelesaikan program pasca sarjana ini. Dekan Fakultas Ekonomi. Ketua Program dan para Dosen serta karyawan Program Studi MIESP Universitas Diponegoro Semarang yang telah membantu kelancaran dalam mengikuti program studi. (2) metode pelaksanaan penelitian. terutama sebagai informasi para penentu kebijakan sektor pertanian dalam merumuskan kebijakan yang akan datang khususnya dalam program swa sembada jagung yang dicanangkan mulai tahun 2007 ini. Waridin MSc. Tesis dengan judul ANALISIS EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN USAHATANI JAGUNG ( Studi Kasus di Kecamatan Randublatung. (3) gambaran obyek penelitian. Kabupaten Blora) ini menyajikan gambaran pelaksanaan kegiatan penelitian yang mencakup diantaranya (1) alasan pemilihan lokasi. dan (4) hasil pelaksanaan kegiatan penelitian.

Juli 2007 Penulis Warsana vii . Kepala Cabang Dinas Pertanian beserta Penyuluh Pertanian Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora yang telah membantu penulis dalam pemberian informasi data untuk penyusunan tesis ini. Semarang. kritik dan saran dalam pengembangan dan penyempurnaan tesis ini. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blora beserta Staf. Kantor Linmas Kabupaten Blora. 7. yang banyak berperan membantu dalam kegiatan penelitian baik di lapangan maupun dalam penyelesaian penulisan tesis ini. Teman-teman MIESP Angkatan XI dan semua fihak yang telah memberikan dorongan. saran dan kritik membangun dari semua fihak sangat diharapkan untuk penyempurnaan tesis ini. BAPEDA Kabupaten Blora. Kantor BPS Kabupaten Blora.6. 8. Akhirnya. Fihak lain yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

.......11........................1.......................................2................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 2................................ 2... Faktor Produksi Modal .......8...... 1.................1. 2....................... Rumusan Masalah ............................................................................... Fungsi Keuntungan ..................................................... Abstraksi .................. Efisiensi Ekonomi Relatif ........1..... Fungsi Produksi ............DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul.....1....... 2.4............ 1..............................................................................................................................................................................3....... Daftar Gambar................................. Halaman Persetujuan............. 2................ Halaman Pernyataan......................................1..................... 2............................ 2............................................1.......7.................... Daftar Tabel ..................................9...............1......... Kata Pengantar ................................................. Pengertian Usaha Tani ...............1.......... 1........................................................... Biaya dan penerimaan petani ... 2...........................5...................1............. Tujuan Penelitian .....1..........................................................................3.1.................................1.. 2......1.....................1........... Latar Belakang ... 2............................ viii 15 15 15 18 26 34 37 37 39 40 40 41 1 12 13 13 13 i ii iii iv v vi xi xiii ...............................3....................... 1........................................................... BAB I PENDAHULUAN 1................................................6............... Abstract ..............1.......3......................... Manfaat Penelitian .................2.............. 2........ Teori Efisiensi ...10........................................... Tenaga Kerja sebagai Faktor-Faktor Modal Produksi 2.............................. Tinjauan Pustaka .....2... Teori Produksi .................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ............... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ....... Skala usaha (returns to scale) ...

..6.......... Fungsi Permintaan Input (Factor Share) dan Fungsi Penawaran Output ..... 2..............2..... 4. 5....... 3............................1.......................................... Pengujian Keuntungan Maksimum Jangka Pendek .3.......................................... Pengujian Kondisi Skala Usaha ...................... Penelitian Terdahulu ........................................2...............2.....3....5...... BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN 4............... 3........ Jumlah dan penyebaran penduduk ............ Teknik Analisis ..... Pendugaan Fungsi Keuntungan Usahatani Jagung ..... Pengujian Efisiensi Ekonomi Relatif ................ Keadaan Sosial Ekonomi ....3....................... 3..................2......2...... 3..... 3.......1.... Pengujian Skala Usaha .......2............... Sarana dan Prasaran Pendidikan ........................... Karakteritik Responden ....................... 4...... Populasi dan Sampel ................... 45 53 54 56 59 59 65 66 66 73 73 74 75 75 75 76 77 78 78 79 80 80 86 92 97 5...................... Hipotesis Penelitian ..5.......... 4. 4. 4...................... 104 5...1. 4...2....... Iklim dan Topografi ......... 3..... Luas penggunaan lahan ...1.2.......4........................................... Letak dan batas wilayah Kabupaten Blora ........3...1. 3..... 105 ix .... Pengujian Efisiensi Ekonomi Relatif ....................4.... Model Fungsi Keuntungan Cobb Douglas .... Kerangka Pemikiran ......3.....................................4...................................... 5..4......3..................3...........2......... 2.......... Metode Pengumpulan Data........... 4....................................................................................4................................1.. Luas dan pembagian wilayah .1.2........ Pengujian Keuntungan Maksimum ............. Definisi Operasional .... Keadaan Umum .. 4...........5.1............... Budidaya Tanaman Jagung di Kabupaten Blora . 4.................... BAB III METODE PENELITIAN 3..5...5........ 101 5..........................................................2.................................................................................. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian ..........1...... 3...5. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.. Jenis dan Sumber Data....................................................................1.........................

... DAFTAR PUSTAKA ......................................1............................................... 6.... 6................... Limitasi ........... Kesimpulan ....................................2................................3........ LAMPIRAN 111 113 113 115 x ................................................................BAB VI PENUTUP 6................................................ Saran .........................

................................................. Tabel 3.. Penelitian Terdahulu ..................6 Realisasi Luas Panen.......4 Jumlah Penduduk Kabupaten Blora Berdasarkan Mata 80 84 Pencaharian Tahun 2006 ......2...... 79 77 78 61 62 60 8 47 7 6 5 4 3 xi ....... Tabel 1........... Tabel 2....... Tabel 4......... Tabel 3.. Tahun 2006 ......... Produksi dan Produktivitas Jagung di Kabupaten Blora Tahun 2001 – 2005 ...................................................... Jumlah Petani Sampel Berdasarkan Kategori Penguasaan Lahan Tabel 4....................................................2 Lokasi.........................4 Realisasi Luas Panen...............DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.............. Tabel 4...................5 Perbandingan luas panen dan produksi jagung di Propinsi Jawa Tengah tahun 2005 ................3............ ......... Tabel 1....................3 Rata-rata Produksi Jagung per Hektar Menurut Wilayah Propinsi di Indonesia Tahun 2000 – 2004 .................. Jumlah Kecamatan..1 Lokasi................ serta impor jagung tahun 2005 dan perkiraan 2010 oleh beberapa Negara pengimpor jagung utama ........... Tabel 1.. Luas Lahan Tanaman Jagung di Kabupaten Blora Tahun 2006 ... Tabel 4...... Jumlah dan Kepadatan Penduduk Diperinci Per Kecamatan di Kabupaten Blora Tahun 2006....... Kelurahan dan Luas Wilayah di Kabupaten Blora tahun 2006................................................................1 Rata-rata impor jagung periode 1997 – 2001....................... Tabel 3............................................................ Produksi dan Produktivitas Jagung di Jawa Tengah mulai tahun 2001 – 2005 ................ Kabupaten Blora.............................. ........................5 Dosis pupuk jagung yang dianjurkan ................ Tabel 1..................1................ Luas Lahan dan Jumlah Petani Jagung di Kecamatan Randublatung............3............. Tabel 1...2 Rata-rata Impor Jagung 4 (empat) Tahun Terakhir di Jawa Tengah ... Jenis dan Luas Lahan di Kabupaten Blora Tahun 2006 ........................... Tabel 4.......................... Desa......................6.

.........8................. Jumlah Tenaga Kerja Dan Besarnya Upah Per Hektar ..15 Pendugaan Fungsi Factor Share Input Variabel Berdasarkan Skala Luas Lahan Uasahatani Jagung Di Kecamatan Randublatung..................................................... Tabel 5. 2007 ............................ Jumlah Petani Sampel Dan Rata-Rata Luas Lahan Usahatani Jagung ............................... Tabel 5. Blora. Harga Produksi dan Nilai Produksi Per Hektar ............................. Pendugaan Fungsi Keuntungan UOP Usahatani Jagung............13 Kondisi Pendugaan Parameter Pengujian Tingkat Skala Usaha Pada Usahatani Jagung di Kecamatan Randublatung. 86 87 88 88 89 90 91 91 94 98 99 102 104 106 107 108 xii .........6....11 Rata-Rata Harga lnput Variabel.............. Tabel 5...............5......... Rata-Rata Harga Output dan Perbandingan Harga Input dengan Harga Output (Wi*) ..........12 Pengujian Keuntungan Maksimum Jangka Pendek Pada Usahatani Jagung di Kecamatan Randublatung...... Tabel 5........... Rata-Rata Produks................ Rata-Rata Penggunaan Sarana Produksi Per Ha .10 Fungsi Factor Share Input Variabel Pada Usahatani Jagung Di Kecamatan Randublatung Kab............... Tahun 2007 ......... Tabel 5............ Tabel 5......1 Tingkat Pendidikan Petani Sampel Usahatani Jagung ..................4....... Tabe 5.9.............................. Tabe1 5.. Tabel 5... Tabel 5.................... Pengalaman Petani Sampel pada Usahatani Jagung ... 2007 .. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Jagung .......16 Hasil Pengujian Efisiensi Ekonomi Relatif Berdasarkan Skala Luas Lahan Usahatani Jagung Di Kecamatan Randublatung......................................2007 ...............14 Pendugaan Fungsi Keuntungan UOP Usahatani Jagung di Kecamatan Randublatung Berdasarkan Skala luas lahan....... Tahun 2007 ........... Tabel 5........................ Pekerjaan Lain Petani Sampel Usahatani Jagung .............2........................................... 2007 ....... Tabel 5.Tabe1 5...... Tabel 5. Tabe1 5.................7......3....... 2006 ......................................................... Tabel 5.

................. Gambar 2................. dan Rata-rata..DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.....1 Hubungan Antara Produk Fisik Total.............2 Kerangka Pikir Penelitian .. Marjinal... 17 54 xiii .......

xiv . b. Prioritas ini penting. Latar Belakang Pembangunan pertanian. 2006). barang-barang hasil pertanian terutama tanaman pangan merupakan kebutuhan pokok rakyat sehingga dengan menjaga stabilitas harganya diharapkan harga barang lain akan terkendali dengan baik. karena harga barang pertanian relatif stabil dibanding harga migas (Sri Rejeki. mengingat saat ini dan di masa mendatang. Stabilisator harga dalam perekonomian. Sumber devisa non migas. pembangunan sektor pertanian masih menduduki posisi yang amat strategis karena dapat dianggap sebagai : a. harga migas yang tidak stabil bahkan cenderung menurun mengganggu sektor penerimaan neraca pembayaran dan salah satu alternatif untuk meningkatkan sektor tersebut adalah dengan cara menaikkan ekspor non migas terutama sektor pertanian maupun industri.BAB I PENDAHULUAN 1. sebab sektor pertanian dapat lebih bertahan dibanding dengan sektor lain. Katalisator pembangunan. khususnya pada sub sektor tanaman pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional tahun 2005 – 2009.1. sektor pertanian dapat digunakan untuk menutup kekurangan pertumbuhan perekonomian agar tidak negatif. c.

dan (3) Program peningkatan kesejahteraan petani. mengingat saat ini. Pembangunan sub sektor tanaman pangan akan difokuskan pada akselerasi peningkatan produktivitas di daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah (di bawah rata-rata propinsi). serta impor jagung tahun 2005 dan perkiraan impor tahun 2010 oleh beberapa negara pengimpor jagung utama. aman dan halal di setiap daerah setiap saat dan antisipasi agar tidak terjadi kerawanan pangan. yaitu (1) Program peningkatan ketahanan pangan. daging dan juga sebagai bahan baku industri. (2) Program pengembangan agribisnis. Selain dikonsumsi langsung. aksi pemantapan ketahanan pangan direncanakan dengan melakukan swa sembada beras berkelanjutan. arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2005 – 2009 dilaksanakan melalui tiga program. Oleh karena itu. akan terus digulirkan. swa sembada jagung tahun 2007. jagung merupakan komoditas yang mempunyai nilai strategis seperti halnya beras (Anonim. xv .Berdasarkan rumusan musyawarah perencanaan pembangunan pertanian tahun 2006.1 di bawah ini. jagung (zea mays L) merupakan bahan makanan penghasil karbohidrat kedua setelah padi. Operasionalisasi program peningkatan ketahanan pangan dilakukan melalui peningkatan produksi pangan. daging sapi 2010 dan kedelai 2015. Nilai strategis komoditas jagung tersebut dapat dicermati dari ratarata impor jagung periode 1997 – 2001. jagung digunakan sebagai pakan ternak penghasil susu. Terkait dengan itu. 2002). menjaga ketersediaan pangan yang cukup. Selengkapnya tersaji pada Tabel 1. Upaya swa sembada jagung tahun 2007.

80 Negara Pengimpor Jepang Korea Selatan Meksiko Mesir Taiwan Malaysia Uni Eropa Arab Saudi Kolumbia Indonesia Filipina Negara lainnya Dunia Sumber : Subandi.77 26.11 15.45 0.25 34.70 5.10 2.80 2.23 0.2 juta ton pada tahun 2010.96 1.43 77.50 22.90 4.80 1. serta impor jagung tahun 2005 dan perkiraan 2010 oleh beberapa Negara pengimpor jagung utama Impor Jagung (juta Ton) tahun Rata-rata Perkiraan 1997-2001 2005 2010 16. bagi Indonesia terdapat dua peluang agribisnis jagung yakni peningkatan produksi jagung nasional untuk mengisi (a) pasaran dalam negeri karena masih memerlukan impor sebesar 1.00 7.10 2.50 7.70 3.10 88.1 Rata-rata impor jagung periode 1997 – 2001.1.50 4.8 juta ton pada tahun 2005 dan 2.80 0.50 2. 2005 Berdasarkan data pada Tabel 1.80 2.07 1.20 0. melalui peningkatan produksi jagung dalam negeri dengan cara meningkatkan produktivitas persatuan luas tanam jagung nasional dan perluasan areal pertanaman jagung. xvi . Pasar jagung dunia yang besar tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan.52 2.27 6. dan (b) pasaran luar negeri yang besar yaitu sekitar 77.Tabel 1.35 2.40 6.80 1.90 7.80 juta ton pada tahun 2010.70 7.74 5.48 5. Indonesia berpeluang untuk mengisi pasar jagung tersebut.40 15.40 1.00 5.50 1.10 juta ton pada tahun 2005 dan diperkirakan 88.

2 Rata-rata Impor Jagung 4 (empat) Tahun Terakhir di Jawa Tengah Negara Impor Jagung (ton) tahun Pengekspor 2002 2003 2004 2005 China 10.8 ton/ha.055. yakni baru sekitar 2. Hal ini sejalan dengan meningkatnya pendapatan dan bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini bisa dicermati Tabel 1.Untuk Jawa Tengah. Untuk itu ditinjau dari aspek produktivitas dan ketersediaan teknologi budidaya.884.955. nilai komoditas jagung juga sangat strategis. Berkembangnya industri pangan yang mengolah jagung ke berbagai bentuk produk olahan menyebabkan permintaan akan jagung dalam negeri semakin meningkat.2 di bawah ini. Rendahnya produksi dan produktivitas xvii . produksi dan produktivitas jagung secara nasional relatif masih rendah.295 Thailand 15. 2006 Dari Tabel 1.884. 2005).92 29. Tabel 1.00 Sumber : BPS Jawa Tengah.. maka peluang untuk meningkatkan produktivitas jagung ditingkat petani masih terbuka luas (Subandi.295 15.300.00 6.5 ton/ha. sementara telah tersedia teknologi produksi jagung yang dapat memberikan hasil 4.8 – 8. Disisi lain.00 India 8. maka permintaan terhadap bahan makanan bergizi yang bersumber dari aneka makanan terus meningkat.000.00 Jumlah 26. tergantung pada kondisi lahan dan tingkat penerapan teknologinya.700.2 tersebut dapat diketahui bahwa kebutuhan jagung 4 tahun terakhir di Jawa Tengah sangat berfluktuatif.100.92 29. Adanya kesenjangan kebutuhan jagung yang fluktuatif tersebut memberikan isyarat bahwa produksi jagung masih sangat terbuka lebar untuk ditingkatkan produktivitasnya.

37 26.64 Rata-rata 27. Adapun rata-rata produksi jagung perhektar menurut wilayah propinsi di Indonesia untuk tahun 2001 – 2005 tersaji pada Tabel 1. tanaman jagung merata di produksi di beberapa propinsi.88 32.33 Jawa Tengah 29.12 23.15 29.10 19.59 32.38 30.74 31.3 terlihat bahwa produksi jagung di wilayah Jawa memiliki urutan pertama sebagai propinsi terbesar yang memproduksi jagung. Untuk Jawa Tengah rata-rata produksi jagung memiliki nilai ratarata yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai produksi untuk Pulau Jawa.72 35.76 23.92 23.40 34.24 28.53 Jawa : 29.82 Sulawesi 24.54 36.76 28. Program peningkatan produktivitas xviii .29 21.3 Rata-rata Produksi Jagung per Hektar Menurut Wilayah Propinsi di Indonesia Tahun 2001 – 2005 (kwintal per hektar) Produksi Jagung (kwintal per hektar) 2001 2002 2003 2004 2005 Sumatera 28. Banyak upaya yang telah dilakukan melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi.21 25. Program gerakan mandiri padi – palawija – jagung (Gema Palagung) merupakan salah satu contoh upaya untuk memacu produksi jagung.34 33.41 33.36 Sumber : Statistik Indonesia Tahun 2004 Propinsi Pada Tabel 1.45 30.13 29.40 35. Oleh karena itu upaya peningkatan produksi jagung perlu mendapat perhatian yang lebih serius.65 28.70 22.3 sebagai berikut : Tabel 1.02 30.00 19.32 28.46 24.45 29.57 30. Di Indonesia sendiri.31 29.30 Maluku dan Papua 25.jagung menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan di dalam negeri.20 Bali dan Nusa Tenggara 21.42 Kalimantan 16.95 27.

401 ha dengan produktivitas 33.20 2005 596.75 ton/ha. Hal ini masih sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan hasil penelitian di tingkat penelitian dan pengembangan yang mencapai 4.920 29.jagung.303 2.258 36.233 35.4 Realisasi Luas Panen.401 1.836.4 menunjukkan bahwa luas panen jagung selama 5 tahun terakhir rata-rata mencapai 540. produksi dan produktivitas jagung di Jawa Tengah tahun 2001 – 2005 dapat dilihat pada Tabel 1.973 1.645 1.303 ha dengan produktivitas 36.8 – 8.40 2003 559.228 ton/ha.706 30.191.401 dengan produksi 1. 2002).860 1. tetapi dapat pula meningkatkan pendapatan petani dan terwujudnya swa sembada jagung 2007 (Joko Handoyo.224 1.5 ton/ha.802.75 Rata-rata 540.505. Dari Tabel 1. 2006.40 2004 521.4.926. Lima tahun terakhir yaitu dari tahun 2001 – 2005 realisasi luas tanaman jagung rata-rata mencapai 540. Untuk data realisasi luas panen. Tabel 1.243 34.672 33. Adanya perbedaan luas areal tanam maupun produktivitas tersebut mencerminkan bahwa komoditas jagung diusahakan oleh petani di beberapa kabupaten di xix . diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produksi. di bawah ini.228 Sumber : Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah.228 ton/ha. Produksi dan Produktivitas Jagung di Jawa Tengah mulai tahun 2001 – 2005 Tahun Luas Panen (ha) Produksi (ton) Produktivitas (ku/ha) 2001 528.38 2002 495.672 ton sehingga produktivitas mencapai 33. Jumlah areal tanaman jagung di Jawa Tengah tahun 2005 seluas 596.553.802. Tanaman jagung secara umum merupakan tanaman pangan yang diminati oleh petani di Jawa Tengah.

5 Perbandingan luas panen dan produksi jagung di Propinsi Jawa Tengah tahun 2005.04 35.248 4.958 0 13 2.771 31. 2006 xx .419 279.188 5.14 40.204 206.962 18.801 6.799 37.99 31.685 63.243 64.172 7.919 26.610 1 17 743 583 0 4 596.44 41.567 23. Cilacap 2 Banyumas 3 Purbalingga 4 Banjarnegara 5 Kebumen 6 Purworejo 7 Wonosobo 8 Magelang 9 Boyolali 10 Klaten 11 Sukoharjo 12 Wonogiri 13 Karanganyar 14 Sragen 15 Grobogan 16 Blora 17 Rembang 18 Pati 19 Kudus 20 Jepara 21 Demak 22 Semarang 23 Temanggung 24 Kendal 25 Batang 26 Pekalonganm 27 Pemalang 28 Tegal 29 Brebes 30 Kota Magelang 31 Kota Surakarta 32 Kota Salatiga 33 Kota Semarang 34 Kota Pekalongan 35 Kota Tegal Jumlah Luas Panen 3.Jawa Tengah dengan luas lahan yang berbeda-beda sesuai dengan agroklimat daerah.566 62.30 38.80 38.58 39. Kab/Kota 1.882 13.001 4.26 35.608 16.783 13.12 36.538 15.16 38.50 36.335 72.178 15.75 Produksi 14.215 41.631 56.44 37.518 17.70 35.847 24.786 442.931 3. Tabel 1.40 37.80 37.309 3. No.478 56.00 28.476 1.93 32.543 1.01 31.798 21.666 27.282 112.303 Jagung 2005 Produktivitas 37.92 34.275 148.528 50.07 37.258 Sumber : Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah.33 33.008 14.38 37.24 38.647 6.741 62.34 36.23 0.341 9.414 17.19 33.15 38.947 25.545 108.552 3.087 29.960 61.742 83.533 87. Luas panen dan produksi jagung di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2005 untuk setiap kodya/kabupaten di wilayah Jawa Tengah dapat dilihat pada Tabel berikut ini.073 28.762 46.047 0 49 2.551 16.86 38.62 38.59 0 32.188 15.646 110.85 36.84 31.55 33.206 14.86 37.920 4.191.336 17.239 6.

115 2005 62.303 ha (lihat tabel 1.Pada Tabel 1. berikut data realisasi luas panen.575 122.13 Berdasarkan Tabel 1.85 26.998 161.731 188.6 Realisasi Luas Panen.349 208.668 ha pada Disamping itu.693 rata Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Blora. Produksi dan Produktivitas Jagung di Kabupaten Blora Tahun 2001 – 2005 Tahun Luas Panen (ha) Produksi (ton) 2001 55.6.84 %. 2006 Produktivitas(ku/ha) 33. 10. namun produktivitas menurun 35. Di Kabupaten Blora luas areal tanam (2005) mencapai 62. Luas lahan tahun 2005 dibandiing tahun 2004.666 273. salah satu faktor penyebab rendahnya produksi jagung karena sebagian petani masih menanam varietas lokal yang berdaya hasil rendah.50 % dari luas total pengembangan jagung di Jawa Tengah yaitu seluas 596.80 32.99 32.5). namun memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan Kabupaten lain yang memiliki luas lahan lebih kecil daripada Kabupaten Blora.20 31. serta diusahakan pada tanah dengan tingkat kesuburan yang xxi . Kondisi ini menarik untuk dikaji tentang efisiensi usaha tani jagung di Kabupaten Blora. produksi dan produktivitas jagung di Kabupaten Blora dari tahun 2001 – 2005 pada tabel 1.99 ku/ha atau 7.80 ku/ha menjadi 32.063 190.286 Rata55. meningkat 17.667 2002 46. Tabel 1.6. Lebih jelasnya.85 35. dapat dilihat bahwa dari tahun 2001 – 2005 luas panen dan produktivitas jagung di Kabupaten Blora berfluktuatif.5 di atas terlihat bahwa di Kabupaten Blora memiliki luas lahan panen yang terbesar ketiga setelah Kabupaten Grobogan dan Wonogiri.015 2003 65.666 ha.383 2004 44.

(3) Sukmaraga. Hal ini dimaksudkan oleh Pemerintah agar sektor pertanian bisa menjadi katalisator terdepan dalam mewujudkan sistem agribisnis tanaman pangan yang mandiri. berkeadilan dan berkelanjutan berbasis pada pengelolaan sumber daya yang lestari.3 ton/ha. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh : a. xxii . berdaya saing. dan (5) Semar.rendah. Selain itu penyebab rendahnya produksi tersebut adalah karena benih yang digunakan dan ditanam oleh petani ternyata produktivitasnya relatif masih lebih rendah dibandingkan potensi hasilnya (Joko Handoyo. 2002). Untuk itu.8 ton/ha. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (2005) telah mengadakan pertemuan koordinasi Masyarakat Agribisnis Jagung (MAJ) se Jawa di Surabaya. (4) Bima. (2) Bisma. dalam rangka pencapaian swa sembada jagung tahun 2007. telah menghasilkan produksi jagung sebesar 6. Balai Penelitian Tanaman Pangan Serealia Maros-Sulawesi dengan BPTP Jawa Tengah dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blora tahun 2003 telah membuat Demfarm dengan jenis jagung : (1)Lamuru. Balai Penelitian Tanaman Pangan Serealia Maros-Sulawesi dengan dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blora tahun 2004 telah membuat penangkaran benih jagung jenis Lamuru menghasilkan produksi 7. b. Upaya tersebut juga dibarengi dengan melakukan kajian terhadap komoditas jagung dengan tujuan untuk mengetahui potensi hasilnya.

guna memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. maka seorang petani atau produsen usahataninya akan mempertimbangkan antara biaya sebelum mengelola dan pendapatan . masalah penggunaan faktor produksi yang terdapat pada usahatani masalah utama yang selalu dihadapi petani disamping faktor produksi juga masalah keahlian. Menurut Soekartawi (2002). Dengan kata lain suatu kombinasi input dapat menciptakan sejumlah produksi dengan cara yang lebih efesien (Soekartawi.Untuk meningkatkan produktivitas jagung dari setiap lahan. pupuk dan obat-obatan disamping tenaga kerja yang tepat akan menjadi dasar dalam melaksanakan pilihan tersebut. Pilihan terhadap kombinasi penggunaan tenaga kerja. obat-obatan yang optimal. petani dihadapkan pada suatu masalah penggunaan modal dan teknologi yang tepat. Dikatakan efektif bila sumberdaya yang mereka petani atau produsen dapat mengalokasikan miliki dengan sebaik-baiknya. Dalam menghadapi pilihan tersebut kombinasi penggunaan modal seperti benih. akan mendapatkan hasil yang maksimal. usahatani pada hakekatnya adalah perusahaan. 2002). dan dikatakan xxiii . benih. tenaga kerja. sedangkan produksi yang dihasilkan ditentukan oleh keahlian seseorang dalam mengelola penggunaan faktor produksi yang mendukung usahatani seperti tanah. modal dan manejemen. dengan cara mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efesien. Seperti diketahui bahwa pendapatan mempunyai hubungan langsung dengan hasil produksi usahatani. pupuk. Namun dalam kenyataannya.

efesien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input). 2002) : a) Keunggulan komparatif (comparative advantage) b) Kenaikan hasil yang semakin menurun (low of diminishing returns) c) Substitusi (substitution effect) d) Pengeluaran biaya usahatani (farm expenditure) e) Biaya yang diluangkan ( opportunity cost) f) Pemilikan cabang usaha (macam tanaman lain apa yang dapat diusahakan). berteknologi tinggi.99 kw/ha dibanding dengan xxiv . Usahatani pada skala yang luas umumnya bermodal besar. serta lebih bersifat untuk memenuhi konsumsi sendiri dalam kehidupan sehari-hari. dan g) Baku timbang tujuan (goal trade off). lebih bersifat komersial. manajemennya modern. dan sebaliknya skala usahatani kecil umumnya bermodal pas-pasan. Dalam melakukan analisis usahatani ini. Dalam banyak pengalaman analisis usahatani yang dilakukan oleh petani atau produsen memang dimaksudkan untuk tujuan mengetahui atau meneliti (Soekartawi. seseorang dapat melakukannya menurut kepentingan untuk apa analisis usahatani yang dilakukannya. Masalah yang dihadapi petani jagung di Kabupaten Blora adalah produktivitas yang masih rendah yaitu 32. sederhana dan sifat kebutuhan teknologinya tradisional. lebih bersifat usahatani usahanya sub sisten.

terutama harga pupuk buatan (Urea.2. pupuk dan obat-obatan. Berdasarkan hal tersebut. Disamping itu harga jagung saat panen raya yang tidak menentu dan sering kurang menguntungkan petani.30 kw/ha.rata-rata produktivitas tingkat Jawa Tengah sebesar 36. menyebabkan usahatani jagung kurang menarik sehingga banyak petani yang alih usaha ke komoditas yang lain seperti menanam kedelai. KCL) dan pestisida. xxv . Produktivitas jagung yang masih rendah tersebut. SP-36. Faktor lain yang sering dialami sebagian besar petani jagung adalah keterbatasan modal untuk membeli sarana produksi berupa benih. 1. kacang tanah dan tanaman semusim lainnya. Rumusan Masalah Kabupaten Blora di lihat dari aspek ekologis merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan usaha tani tanaman jagung. hal ini dapat dicermati dari hasil kajian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan Serelalia Maros-Sulawesi yang mencapai 60.30 kw/ha. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai bahan rujukan maupun informasi bagi perkembangan usahatani jagung dimasa yang akan datang.80 – 70.80 – 70. Penyebab lain rendahnya produktivitas jagung karena harga-faktor produksi yang dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai analisis efisiensi dan keuntungan usahatani jagung yang selama ini dilakukan petani jagung di Kabupaten Blora.75 kw/ha maupun potensi hasilnya yaitu 60.

3. dalam pengembangannya petani jagung menghadapi permasalahan yaitu produktivitas yang masih rendah (32.4.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan manfaat sebagai berikut : 1.Namun disisi yang lain.99 kw/ha). Untuk menganalisis tingkat skala usaha tani jagung di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora 1.3. harga faktor produksi (benih. Bagi peneliti. tenaga kerja. Untuk menganalisis besarnya tingkat keuntungan pada usaha tani jagung di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora 2. Oleh karena itu. Seberapa besar keuntungan usahatani jagung di Kabupaten Blora ? b. Bagaimana tingkat skala usahatani jagung di Kabupaten Blora ? 1. Untuk menganalisis tingkat efisiensi usaha tani jagung di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora 3. Bagaimana tingkat efisisiensi usahatani jagung di Kabupaten Blora ? c.pupuk dan pestisida) setiap tahun hampir dipastikan naik dan harga jagung berfluktuasi tidak menentu ketika panen raya. Tujuan Penelitian Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk : 1. berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : a.3. kegiatan penelitian ini merupakan langkah awal dari penerapan ilmu pengetahuan dan sebagai pengalaman yang dapat xxvi .

diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dalam menyikapi kemungkinan timbulnya permasalahan. Bagi konsumen jagung (pabrik pengolah bahan pangan/pakan) diharapkan dapat dipergunakan untuk pertimbangan dalam menentukan harga maupun jumlah kebutuhan bahan baku jagung. 2. serta dalam pengambilan keputusan dalam usahatani jagung. xxvii . 4. Bagi petani jagung di Kabupaten Blora. Sebagai informasi para penentu kebijakan sektor pertanioan dalam merumuskan kebijakan yang akan datang.dijadikan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang. khususnya dalam program swa sembada jagung 3.

Istilah produksi berlaku untuk barang maupun jasa. 2000:251).13.12. Untuk menaikkan jumlah output yang diproduksi dalam perekonomian xxviii . baik dalam pengertian apa. Produksi merupakan konsep arus (flow concept). karena istilah “komoditi” memang mengacu pada barang dan jasa. Tinjauan Pustaka 2. Sedangkan outputnya sendiri senantiasa diasumsikan konstan kualitasnya (Miller dan Meiners. 2. Keduanya sama-sama dihasilkan dengan mengerahkan modal dan tenaga kerja. istilah “produksi” diartikan sebagai penggunaan atau pemanfaatan sumber daya yang mengubah suatu komoditi menjadi komoditi lainnya yang sama sekali berbeda. Teori Produksi Secara umum. maksudnya adalah produksi merupakan kegiatan yang diukur sebagai tingkat-tingkat output per unit periode/waktu.1.1. tabel atau grafik yang menunjukkan jumlah (maksimum) komoditi yang dapat diproduksi per unit waktu setiap kombinasi input alternative bila menggunakan teknik produksi terbaik yang tersedia. Sedangkan Dominic Salvatore (1997) mendefinisikan fungsi produksi untuk setiap komoditi adalah suatu persamaan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 2. Fungsi Produksi Perkembangan atau pertambahan produksi dalam kegiatan ekonomi tidak lepas dari peranan faktor-faktor produksi atau input.1. maupun dalam pengertian apa yang dapat dikerjakan oleh konsumen terhadap komoditi itu. dan dimana atau kapan komoditi-komoditi itu dilokasikan.

K adalah input kapasitas atau modal. dari masing-masing input atau faktor produksi bersifat positif tetapi menurun dengan ditambahkannya satu faktor produksi pada faktor lainnya yang tetap atau dengan kata lain tunduk pada hukum hasil yang menurun (The Law of Deminishing Return). 1997). dan L adalah input tenaga kerja (Dernberg. 1997). para ahli teori pertumbuhan neoklasik menggunakan konsep produksi (Dernberg. b. Suatu fungsi produksi yang efisien secara teknis dalam arti menggunakan kuantitas bahan mentah yang minimal. 1992. 1992. Dornbusch dan Fischer. Dornbusch dan Fischer. Hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang dapat ditunjukan melalui hubungan antar kurva TPP (Total Physical Product) xxix . supaya produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan produk. dan barang-barang modal lain yang minimal.dengan faktor-faktor produksi. artinya apabila input digandakan maka output akan berlipat dua kali.1) Dimana A adalah teknologi atau indeks perubahan teknik. Produksi mengikuti pendapatan pada skala yang konstan (Constant Return to Scale). bentuk persamaan fungsi produksi adalah sebagai berikut : Y = Af ( K . fungsi produksi adalah hubungan teknis yang menghubungkan antara faktor produksi (input) dan hasil produksi (output). Disebut faktor produksi karena bersifat mutlak. Karakteristik dari fungsi produksi tersebut menurut Dernberg (1992) adalah sebagai berikut : a. Secara matematika. Produksi marjinal. L) (2. Menurut Soedarsono (1998). tenaga kerja minimal.

kurva MPP (Marginal Physical Product) atau Marjinal Produk (MP).1 Hubungan Antara Produk Fisik Total. Marjinal. Tahap pertama. Tahap ini disebut xxx . Makin banyak penggunaan faktor produksi. 2000). kurva APP dan kurva MPP terus meningkat. Gambar 2. dan kurva APP (Average Physical Product) atau produk rata-rata dalam grafik fungsi produksi (Miller dan Meiners. 2000 Grafik pada fungsi produksi terbagi pada tiga tahapan produksi yang lazim disebut Three Stages of Production.atau kurva TP (Total Produk). maka semakin tinggi produksi rata-ratanya. dan Rata-rata Q I II C Total Produk Fisik B Total produk fisik III X Q Produk Fisik Dari Setiap Unit Input Input Variabel Produk fisik rata-rata X Input Variabel Produk fisik marjinal Sumber : Miller dan Meiners.

karena apabila penambahan faktor produksi diteruskan. karena jika penggunaan faktor produksi ditambah.1. walaupun dengan presentase kenaikan yang sama atau lebih kecil dari kenaikan jumlah faktor produksi yang digunakan.tahap tidak rasional. 2001). maka produktivitas faktor produksi akan menjadi nol (0) bahkan negatif. dimana berlaku hukum kenaikan hasil yang berkurang. efesiensi alokatif (harga) dan efisiensi ekonomis. Konsep efisiensi diperkenalkan oleh Michael Farrell dengan mendefinisikan sebagai kemampuan organisasi produksi untuk menghasilkan produksi tertentu pada tingkat biaya minimum (Kopp dalam Kusumawardani.14. Tahap kedua adalah tahap rasional atau fase ekonomis. Dalam tahap ini terjadi perpotongan antara kurva MPP dengan kurva APP pada saat APP mencapai titik optimal. Farrel dalam Indah Susantun (2000) membedakan efisiensi menjadi tiga yaitu efisiensi teknik. Efisiensi teknik mengenai hubungan antara input dan output. Dengan demikian. penambahan faktor produksi justru akan menurunkan hasil produksi. maka penambahan output total yang dihasilkan akan lebih besar dari penambahan faktor produksi itu sendiri. 2. Pada tahap ini masih dapat meningkatkan output. Tahap ketiga disebut daerah tidak rasional. Teori Efisiensi Efisiensi dalam produksi merupakan ukuran perbandingan antara output dan input. Efisiensi alokatif tercapai jika penambahan tersebut mampu xxxi .

maka kondisi nilai marjinal produk sama dengan harga input variabel yang bersangkutan. (2) Kondisi keuntungan maksimum tercapai. Meuurut Nicholson (1995) efisiensi ekonomi digunakan untuk menjelaskan situasi sumber-sumber dialokasikan secara optimal.memaksimumkan keuntungan yaitu menyamakan produk marjinal setiap faktor praduksi dengan harganya. Sedangkan efisiensi ekonomi dapat dicapai jika kedua efisiensi yaitu efisiensi tehnik dan efisiensi harga dapat tercapai. dimana value marginal product sama dengan marginal cost resource. Jadi efisiensi ekonomi tercapai jika tercapai keuntungan maksimum. Efisiensi ekonomi terdiri atas dua komponen yaitu efisiensi teknis (technical efficiency) dan efisiensi harga atau efisiensi alokatif (price efficiency or allocative efficiency) Efisiensi teknis mengukur berapa produksi yang dapat dicapai suatu set input tertentu.1. Besarnya produksi tersebut menjelaskan keadaan pengetahuan teknis dan modal tetap yang dikuasai oleh petani atau produsen. Suatu usaha dikatakan lebih efisien secara teknis xxxii . Efisiensi ekonomi akan tercapai jika terpenuhi dua kondisi berikut : (1) Proses produksi harus berada pada tahap kedua yaitu pada waktu 0 ≤ Ep ≤ 1 lihat Gambar 2. Asumsi perusahaan memaksimumkan keuntungan.

(2) apabila terdapat variasi tingkat efisiensi dari beberapa unit ekonomi yang ada maka dapat dilakukan penelitian untuk menjawab faktor-faktor apa yang menentukan perbedaan tingkat efisiensi. (3) informasi mengenai efisiensi memiliki implikasi kebijakan karena manajer dapat menentukan kebijakan perusahaan secara tepat. Efisiensi pada dasarya merupakan alat: pengukur untuk menilai pemilihan kombinasi input-output. xxxiii . Sedangkan efisiensi harga (alokatif) berhubungan dengan keberhasilan petani dalam mencapai keuntungan maksimum. Dalam ekonomi produksi.jika dengan menggunakan set input yang sama produk yang dihasilkan lebih tinggi Efisiensi teknis juga sering disebut efisiensi jangka panjang. 2002). yaitu suatu kondisi dengan produksi dalam jumlah yang sama tidak mungkin dihasilkan dengan menggunakan sejumlah input yang lebih sedikit dan produksi dalam jumlah yang lebih besar tidak mungkin dihasilkan dengan menggunakan jumlah input yang sama. efisiensi ekonomi dapat dicapai jika dipenuhi dua kriteria (Doll & Orazen dalam Kusumawardhani. Syarat keharusan (necessary condition). Efisiensi ini disebut juga efisiensi jangka pendek. Menurut Soekartawi (1993) ada tiga kegunaan mengukur efisiensi : (1) sebagai tolok ukur untuk memperoleh efisiensi relatif. yaitu : a. mempermudah perbandingan antara unit ekonomi satu dengan lainnya.

Sedangkan efisiensi harga dapat dicapai oleh seorang petani bila ia mampu memaksimumkan keuntungan (mampu menyamakan nilai marginal produk setiap faktor produksi variabel dengan harganya). karena dengan hanya mengetahui fungsi produksi saja maka letak efisiensi ekonomi yang terdapat pada daerah rasional tidak bisa ditentukan. yaitu : efisiensi teknis. Untuk menentukan letak efisiensi ekonomi diperlukan suatu alat yang merupakan indikator pilihan yaitu berupa input dan harganya. Suatu penggunaan faktor produksi yang dipakai menghasilkan produksi yang maksimum. efisiensi alokatif (efisiensi harga ) dan efisiensi ekonomi. Soekartawi (1993) dalam terminologi ilmu ekonomi. mengemukakan bahwa efisien dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) macam. Syarat kecukupan (sufficiency condition). Seorang petani secara teknis dikatakan lebih efisien (efisiensi teknis) dibandingkan dengan yang lain bila petani itu dapat berproduksi lebih tinggi secara fisik dengan rnenggunakan faktor produksi yang sama. xxxiv . yaitu syarat yang diperlukan untuk menentukan letak efisiensi ekonomi yang terdapat pada daerah rasional.b. Dikatakan efisiensi harga atau efisiensi alokatif kalau nilai dan produk marginal sama dengan harga faktor produksi yang bersangkutan dan dikatakan efisiensi ekonomi kalau usaha pertanian tersebut mencapai efisiensi teknis dan sekaligus juga mencapai efisiensi alokatif /harga.

1 Y. untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis (Technical Efficiency Rate) dapat diukur dengan menggunakan rumus: ET = Y. 1. Selanjutnya Soekartawi (1990). yaitu dengan indeks Technical Fffciency Rating (TER) yang dikembangkan oleh Farrel Besarnya produktivitas potensial yang dicapai oleh suatu usaha tani diestimasi dengan fungsi produksi frontier Fungsi produksi frontier: merupakan suatu fungsi yang menyatakan kemungkinan produksi maksimum yang dicapai pada kondisi usahatani atau produktivitas kelayakan maksimum pada kondisi usahatani Fungsi ini digunakan untuk mengukur bagaimana fungsi produksi sebenarnya terhadap posisi frontiernya. dalam Kusumawardani. Efisiensi Teknis Menurut Sri Widodo (1986).2) Keterangan : ET = Tingkat efisiensi teknis Yi Yi = besarnya produksi (ouput) ke-i = besarnya produksi yang diduga pada pengamatan ke-i yang diperoleh melaiui fungsi produksi frontier Cobb-Douglas xxxv . (2. 2002). salah satu cara mengukur tingkat efisiensi teknis atau variabel manajemen dengan pendekatan fungsi produksi frontier.Efisiensi ekonomi terjadi bila efisiensi harga dan efisiensi teknis terjadi Perbedaan efisiensi antara sekelompok usahatani dapat disebabkan oleh perbedaan dalam tingkat efisiensi teknis atau efisiensi harga atau oleh keduanya (Yotopoulos dan Lau.

Efisiensi Harga (Alokatif) Efisiensi harga (alokatif) berhubungan dengan keberhasilan petani mencapai keuntungan maksimum pada jangka pendek. Xi = Pq.3) π maksimum jika δπ/δxi = 0. sehingga : δAf(Xi. A f(Xi. Xi (2.Zi) δxi Pq Oxi = Pxi (2.. yaitu efisiensi yang dicapai dengan mengkondisionalkan nilai produk marjinal sama dengan harga input (NPMx = Px atau indeks efisiensi harga = ki = 1).5) (2. Zi) ∑ Pxi .4) (2. MPxi = Pxi VMP = Pxi = MFC atau VMPxi/Pxi = 1 = ki dimana : π = keuntungan = gross margin Pq = harga output Px = harga faktor produksi (input) Xi = faktor produksi (input) variabel ke i Zi = faktor produksi (input) tetap VMP = marginal value product MFC = marginal faktor cost Q = jumlah produksi xxxvi .6) Pq.Q-∑ Pxi .2. Formulasi secara matematik adalah : π = TR – TVC = Pq.

(NPMx /Px) <1 . xxxvii . Nicholson (1995) mengatakan bahwa efisiensi harga tercapai apabila perbandingan antara nilai produktivitas marginal masing-masing input (NPMxi) dengan harga inputya (vi) atau ki = l.8) dimana: Px = Harga faktor produksi X Dalam banyak kenyataan NPMx tidak selalu sama dengan Px. untuk mencapai efisien input X perlu ditambah b. Kondisi ini menghendaki NPMx sama dengan harga faktor produksi X atau dapat ditulis sebagai berikut : bypy = Px X (2. Yang sering terjadi adalah sebagai berikut (Soekartawi.7) atau by py =1 X px (2. (NPMx / Px) > 1 .Apabila ki > I berarti usahatani belum mencapai efisiensi alokasi sehingga pengwasan faktor Produksi Perlu ditamhah agar mencapai optimal sedangkan jika ki < 1 maka penggunaan faktor produksi terlalu berlebihan dan perlu dikurangi agar mencapai kondisi optimal Prinsip ini merupakan konsep yang konvensional dengan mendasarkan pada asumsi bahwa petani menggunakan teknologi yang sama dan petani menghadapi harga yang sama. artinya menggunakan input X belum efisien. untuk menjadi efisien maka penggunaan input X perlu dikurangi. artinya penggunaan input X tidak efisien. 1990): a.

dan (4) dapat mengukur tingkatan efisiensi pada tingkatan atau pada cm yang berbeda. Hal ini senada seperti yang dikemukakan oleh Soekartawi (2002). bahwa fungsi keuntungan Cobb-Douglas dipakai untuk mengukur tingkatan efisiensi yang akhir-akhir ini banyak peminatnya karena beberapa alasan. untuk mengkaji efisiensi ekonomi suatu usahatani dapat dilakukan melalui pendekatan fungsi keuntungan. 1990) Besarnya efisiensi ekonomi menunjukkan rasio antara keuntungan aktual dengan keuntungan maksimum Perbedaan tingkat efisiensi antara sekelompok usahatani dapat disebabkan oleh perbedaan dalam tingkat efisiensi teknis atau efisiensi harga atau oleh keduanya (Yotopoulos & lau dalam Sipahutar. Efisiensi Ekonomi Efisiensi ekonomi tercapai apabila efisiensi teknis dan efisiensi alokatif tercapai (Soekartawi. antara lain karena : (1) anggapan bahwa petani adalah mempunyai sifat memaksimumkan keuntungan baik jangka pendek maupun jangka panjang. 2000) Menurut Kusumawardani (2002). Fungsi keuntungan dapat diturunkan dengan teknik Unit Output Price Cobb-Douglas Profit Function (UOP-CDPF). (3) manipulasi terhadap cara analisis mudah dilakukan.3. (2) cara pendugaannya relatif mudah. dengan asumsi bahwa produsen lebih memaksimumkan keuntungan daripada kepuasan. misalnya membuat besaran elastisitas menjadi konstan atau tidak. UOP-CDPF merupakan fungsi yang melibatkan harga faktor xxxviii .

1996) .15. Suryo Wardani et. Fungsi Keuntungan Perubahan sistem pengusahaan pertanian yang tradisional ke semi tradisional atau ke komersial membawa dampak terhadap keputusan petani yang didasarkan konsep utilitas (utility maximization) ke konsep atas dasar keuntungan (profit maximization) (Soekartawi. Petani sebagai penerima harga (price taker) dapat memaksimalkan keuntungan melalui pengendalian output produksi maupun input produksi (Gaspersz. efisiensi ekonomi merupakan hasil kali antara efisiensi teknis dengan efisiensi harga / alokatif dan seluruh faktor input. AER dimana : EE TER AER = Efisiensi Ekonomi (2.al ( 1997 ).9) = Tehnical Efisiensi Rate = Allocative Efisiensi Rate 2. Konsep ini dikembangkan di Barat khususnya setelah muncul konsep laba yang diperkenalkan oleh Adam Smith.produksi dan produksi yang dinominalkan dengan harga tertentu.1. 1993) Konsep profit maximization muncul pada usahatani komersial dimana prinsip ekonomi sudah diterapkan. namun dalam keterbatasan sumberdaya setiap produsen atau petani berusaha menekan biaya xxxix . misalnya dengan harga produksi Selanjutnya oleh Soekartawi (1993). sehingga efisiensi ekonomi dapat dinyatakan sebagai berikut : EE = TER.

antara lain dapat : (1) mengevaluasi efisiensi harga dan efisiensi ekonomi relatif dari usahatani (2) m.ZN) - ∑ i =1 m cI XI (2.. Lau dan Yotopoulos (Kusumawardani. 2002) mengembangkan konsep pengukuran efisiensi dengan menggunakan pendekatan fungsi keuntungan Pendekatan fungsi keuntungan untuk mengukur efisiensi ekonomi ( tanpa melalui fungsi produksi frontier ) menjadi terkenal karena beberapa kemudahan. Z1. merupakan selisih penerimaan dengan biaya variabel...... yang ditulis sebagai berikut : π = pF (X1 ..serendah mungkin sehingga memberikan keuntungan I pendapatan maksimal. 1993).. Tingkat output yang diperoleh dari kombinasi penggunaan input yang demikian disebut output optimal dan penggunaan input yang optimal pula. Keuntungan yang dimaksud adalah gross margin.10) dimana : π = gross margin p = harga output cI = harga faktor produksi xl .. .enurunkan fungsi permintaan faktor produksi dan penawaran terhadap faktor produksi.....Xm. Suatu input digunakan secara optimal apabila penggunaan input tersebut sampai jumlah tertentu nilai output terakhir yang dihasilkan hanya cukup membayar harga input yang digumakan tasebut (Soekartawi.

... Zn) - ∑ i =1 m ci xi (2..m) ∂xi (2.... Z1.Keuntungan maksimum tercapai pada saat nilai produk marjinal (marginal value product = MVP) sama dengan harga input ( marginal faktor cost = MFC ) P ∂F ( x.... .14) ke persamaan ( 2..10) akan diperoleb fungsi keuntungan sebagai berikut : π = pF (X..12) Sehingga dari persamaan diperoleh P* (profit rii/normalized profit ) P* = π /p = F (X.. . Xm.....15) xli . Xm.2......11) Keterangan : c* = ci/p = harga riil input ke i normalized input price.....m dimana : x.* = kuantitas optimal input variabel ke j c z = vektor harga input variabel = vektor input tetap Dengan mensubsitusi persamaan (2....13) diperoleh fungsi permintaan input variabel yang dinyatakan sebagai berikut : x1 = Fi (c.. z ) = ci ∂xi (2..2.14) (2.. Persamaan dapat dituliskan kembali sebagai berikut : ∂F ( x. ... Zn) (2.z) j = 1. z ) = ci ( j = 1.. Z1..13) Dari persamaan (2. ....

Cm... ..17) Dari persamaan (2. ... Zn) π = p G (c1.....π = G (p...18) sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi profit rill merupakan fungsi harga rid dari input variabel dan kuantitas input tetap Menurut Lau dan Yotopoulos (Kusumawardani..16) (2..1985).. Fungsi Keuntungan Cobb Douglas Penggunaan fungsi keuntungan Cobb Douglas ( C-D ) untuk menduga efisiensi ekonomi relatif telah popliler di kalangan para peneliti Fungsi ini dikembangkan oleh Yotopoulos.. .17) dapat diturunkan fungsi keuntungan UOP : π* = π /p = G*( ci ... Zn) (2.. Z1. . Beberapa penelitian di lndonesia yang menggunakan metode ini antara lain terhadap perkebunan kelapa sawit (Saragih. et.... . 1..c„..c1..... al 1976.. Kelebihan model ini dibandingkan dengan fungsi lain yaitu pertama perubah-perubah yang diamati adalah perubah harga output dan input. Z1... z. kedua dapat digunakan untuk menganalisis efisiensi xlii . maka fungsi keuntungan menyatakan keuntungan maksimum dari suatu usaha yang merupakan fungsi dari harga produksi dan harga faktor produksi variabel serta jumlah faktor produksi tetap. . Cm. .... 1980 ) dan pada usahatani padi ( Sugianto.... sehingga lebih sesuai dengan kerangka pengambilan keputusan produsen yang memperhitungkan harga sebagai faktor penentu... x„) (2.. 2002) pada tingkat teknologi dan penggunaan faktor produksi tetap yang tertentu.

n) adalah input tetap.Z1. Pada ketiga kelebihan tersebut juga terdapat keterbatasan dalam menginterpretasikan hasil elastisitas yang diperoleh Keterbatasanya antara lain: (1) dugaan....... ketiga fungsi penawaran Output dan permintaan input dapat diduga bersama-sama tanpa harus membuat fungsi produksi yang eksplisit.. δf(X i . 2. P. P adalah harga output per unit.20) dimana π adalah keuntungan... sehingga keuntungan jangka pendek dengan menganggap biaya variabel sebagai pengurang : π = P... Z j ) δ = Wi (2. n) adalah input variabel.2. (2) dugaan elastisitas permintaan silang akan selalu negative.21) xliii . elastisitas permintaan harga sendiri akan selalu elastis.19) Dimana V adalah output. X1(i =1.2. Berdasarkan fungsi praviksi neklasik : V = f(X1....ekonomi. dan W adalah harga input tetap diabaikan karena jangka pendek input tetap tidak mempengaruhi optimalisasi alokasi faktor produksi..f(X 1 . Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran. teknik dan harga. Z1 ) − ∑ W i X j i =1 m (2.Xm. Fungsi Keuntungan Maksimum Fungsi keuntungan maksimum merupakan derivatif dari fungsi produksi.. yang berarti hubungan antara input akan selalu komplementer. dan Z1 (i =1.Zn) (2.

21) dapat dinormalisasi dengan output sehingga : δf(V) = Wi δX i (2.2. m dan j = 1.. maka persamaan (2..23) Dari persamaan (2.24) merupakan fungsi Wi.f(X i . Z j ) xliv . merupakan fungsi harga normalisasi dari harga input variabel dan jumlah input tetap yang memaksimumkan keuntungan.22) Melalui deflasi yang sama persamaan (2.. Substitusi persamaan (2.24) ke dalam persamaan (2. Z j ) − ∑ Wim X i i =1 (2.. sehingga fungsinya : Xi = f(Wi.24) dimana Wi dan Zj adalah harga input variabel yang dinormalkan dan jumlah input tetap..n (2.21) dapat diturunkan jumlah input variabel yang optimal X1.25) Jika Xi seperti pada persamaan (2..Jika W. .20) di atas dapat diubah menjadi persamaan (2.23).2. maka persamaan (2. Z j ) P (2. = WIP adalah harga normalisasi input variabel ke i.Zj)i= 1...20) diperoleh fungsi keuntungan sebagai berikut : π = P. sehingga diperoleh Keuntungan Harga per Unit Output (Output Price Profit / UOP Profit) sebagai berikut : π= π = f i (X i .25) menjadi : π = π P = g (Wi .

Berdasarkan pernyataan ini.Jika fungsi keuntungan (2. Fungsi UOP Profit adalah convex atau decreasing terhadap harga input variabel yang dinormalkan. Jika π diketahui maka π dapat diketahui. karena dapat mempermudah perhitungan...m dan j=1.. begitu juga sebaliknya.26) dapat diturunkan fungsi permintaan Xi dan fungsi penawaran Vj.26) Kedua fungsi keuntungan π1 (2.27) sebagai berikut : V = g (Wi ..28) 3.27) Fungsi penawaran output diturunkan dari persamaan (2.Z j ) (2..25) dinormalkan menjadi UOP Profit sebagai berikut : Π * = Π /p = g (W ’ i .25) digunakan.. Z j ) − ∑ m i =1 − δg(WI .25) dan (2. Z j ) δWi i = 1..n (2.. dari persamaan (2..26) dan π2 (2. Fungsi Keuntungan Aktual xlv ... Fungi permintaan input variabel dituliskan sebagai berikut : Xi = − δg(w i . Lau dan Yotopoulus (1972) menyebutkan bahwa antara fungsi produksi dan fungsi keuntungan adalah satu set yang saling berhubungan. increasing terhadap jumlah input variabel dan harga output. z I )w I δw I (2.

m dan j=1..m (2. Hal yang sama berlaku pada persamaan (2.30) Begitu juga persamaan (2...Xi) i=1.27) DAN (2..31) Dan fungsi penawaran sebagai berikut : Vb • = g • (k i . Jika ki= 1 maka perusahaan gagal mencapai keuntungan maksimum..29) sama dengan kondisi persamaan (2. sehingga menghasilkan fungsi perilaku keuntungan harga per unit output (UOP Profit Behavior) : πb*=g*(ki....Fungsi persamaan di atas berdasarkan asumsi perusahaam memaksimumkan keuntungan jangka pendek. Secara aktual kondisi keuntungan maksimum tidak dapat dipaksakan untuk dicapai.. Z i )Wi δWi (2.Wu . maka persamaan mengalami modifikasi sebagai berikut : δf (V ) = K i .29) ki dikatakan sebagai indeks penggunaan input variabel i pada saat keuntungan jangka pendek maksimum... menunjukkan efisiensi harga absolute sehingga kondisi persamaan (2.2. Jika ki = 1 untuk semua i..Wu .22)..n (2.28).Wi..2. fungsi pemintaan variabel actual dapat dinyatakan : X ib = 1 • − δππ ki δWi i=1.Wi δE i i=1. Z i ) − ∑ i =1 m δg • (k i ..32) xlvi .m (2. karena adanya perbedaan kemampuan perusahaan untuk menyamakan produk marjinal dengan harga input variabel menggunakan notasi ki..26)...

33) sama dengan fungsi keuntungan UOP behavior (2.30).22) marjinal sebagai berikut : δA 1 . Jika A1>A2. dapat dilihat pada fungsi produksi masing-masing kelompok : V1=A1. seperti berikut : (1 . perusahaan dalam kondisi perfect short-run profit maximization.Persamaan (2. maka kelompok satu lebih efisien daripada kelompok dua secara teknik. Z i ) − ∑ ki δWi i =1 • • m (2. Jika ki = 1.21) dan (2.Wu .33) A1 dan A2 menunjukkan parameter efisiensi teknik kedua kelompok tersebut.31) dan (2. Efisiensi Ekonomi Relatif Untuk membedakan efisiensi ekonomi relatif antara dua kelompok.16.f(X i1.k).33) Fungsi keuntungan UOP aktual behavior (2. Dari persamaan (2. maka kedua kelompok mempunyai efisiensi teknik sama. Z jt ) αX i1 = k it .Zj1) V2=A2.Wit dapat diperoleh produk xlvii .Wi δg • (k i . Jika A1 = A 2 .Zj2) (2.f(Xi1.f(Xi2.1.32) dapat diperoleh fungsi Keuntungan Harga per Unit Output yang aktual. 2. pada jumlah input yang sama.Wu . Hal ini sebagai dasar tes hipotesis dari perfect short-run profit maximization. Z i ) πa = g (k i .

sedang ki adalah parameter efesiensi harga. maka kedua kelompok perusahaan tersebut mempunyai efesiensi teknik dan harga yang sama.35) dan fungsi permintaan input variabel aktual dari kedua kelompok : − Wi 1 ..Wi2 (2. jika ki1=ki2 dimana i = 1. Pada model di atas. Z j2 ) αX i2 = k i2 ..Xi 1 * * = (ki 1 ) −1 (k 1 ) −1 αi * = α 1 πa 1 xlviii .δA 1 . Jika A.f(X i2. dan disebut persamaan efesiensi ekonomi. A adalah parameter efisiensi terbaik.m.2 untuk semua i.2. = A2 dan ki1 = k.34) ki menunjukkan perilaku maksimasi keuntungan jangka pendek dari input variabel pada suatu perusahaan. maka kedua kelompok perusahaan mempunyai efesiensi harga atau efesiensi alokasi faktorfaktor praduksi yang optimal atau absolut dan kondisi perusahaan yang optimal atau absolut dan kondisi perusahaan Perfect Short-Run Profit Maximization... maka kedua kelompok perusahaan mempunyai efisiensi harga yang sama Jika ki1= ki2 = 1 untuk semua i. Actual UOP Profit atau fungsi keuntungan UOP aktual dari kedua kelompok : πa1 = A1 [∏ (Wi1 ) α1* ][∏ (Z j1 )βj* ] * i =1 j =1 m n πa 2 = A 2 [∏ (Wi i2 ) α1* ][∏ (Z j2 ) βj* ] * i =1 j=1 m n (2.

40) xlix . InWi + Σ βj.Xi 2 * * = (ki 2 ) −1 (k 2 ) −1 αi * = α 2 πa 2 (2. maka persamaan (2.38) Jika A1.− Wi 2 . = A2 maka 1nA2. maka fungsi keuntungan seperti berikut : πa1= A 1 [∏ (Wi1 ) α1* ][∏ (Z j1 ) βj* ] * i =1 j=1 m n (2.Xi 1 = ai 1 D 1 + ai 2 .37) Dalam bentuk logaritma natural persamaan dapat dituliskan : Inπn 1 = InA 1 ∑ αi n n m . (A2 /A1.Iika d merupakau dummy variable. InZj1 + δD (2. A* merupakan fungsi A dan ki .D 2 πa 1 (2.36) Fungsi keuntungan UOP aktual dari kelampok tersebut berbeda A* secara konstan.39) Fungsi permintaan dapat dimodifikasi seperti permintaan berikut : − Wi 1 .InZj1 In Wi + ∑ βj j=1 i =1 n j= i Inπn 1 = InA 1 ∑ αi In Wi + ∑ βj. sehingga kedua fimgsi identik./Al *) = 0. Persamaan (2.) merupakan dummy variable yang menunjukkan perbedaan dalam organisasi ekonomi kedua kelompok yang memberikan nilai satu untuk kelompok dua dan nilai nol untuk kelompok satu .InZJi i =1 (2.38) menjadi : Inπ2 = InA2 + Σ ai.35) dan (2.36) kelompok atau subtitusi kelompok dua.

17. Biaya dan penerimaan petani Biaya produksi dibedakan menjadi dua macam. i =1 ∑ βj ∉1 Jika i =1 nilainya < 1 (DTRS) atau > 1 (IRTS). Dalam kasus fungsi keuntungan Cobb-Douglas.41) TFC = Biaya tetap total TVC = Biaya variabel total l .1. Pengujian terhadap skala ekonomi 4 usaha produksi jagung dilakukan 4 dengan menguji apakah apakah ∑ βj ∉ 1 (CRTS) atau 1 (bukan CTRS).1. 2. Iau (1972) menyatakan bahwa bondisi skala ekonomi usaha dapat diketahui dengan menguji berapa nilai ∑ βj Jika nilainya = 1 maka saha pada kondisi constant i =1 4 returns to scale Jika nilainya < 1 decreasing returns to scale dan jika nilainya > 1 increasing returns to scale.18. Skala usaha (returns to scale) Skala usaha (returns to scale) menggambarkan respon dari suatu output terhadap perubahan proporsional dari input.2. yaitn biaya tetap dan biaya variabel. Jumlah biaya tetap seluruhnya dan biaya variabel seluruhnya merupakan biaya total produksi dalam notasi matematika dituliskan : TC = TFC + TVC dimana : TC = Biaya total produksi (2.

43) li .42) Penerimaan bersih yaitu penerimaan yang berasal dari penjualan hasil produksi usahatani setelah dikurangi biaya total yang dikeluarkan Dalam bentuk notasi dapat dituliskan sebagai berikut : π = TR-TC (2. Dalam notasi dapat ditulis sebagai berikut : TR= P.Q dimana : TR P Q b. Biaya variabel adalah biaya yang berubah ubah menurut tinggi rendahnya tingkat output yang termasuk dalam penelitian ini adalah : biaya tenaga kerja.Biaya tetap adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan pada berbagai tingkat output yang dihasilkan. = Penerimaan kotor = Harga produksi = Jumlah produksi (2. pembelian pupuk Urea dan biaya pestisida. peralatan dan biaya Penyusutan. Penerimaan kotor yaitu penerimaan yang berasal dari penjualan hasil produksi usahatani. Pada penelitian ini yang termasuk biaya tetap dalam usahatani jagung adalah biaya pajak lahan tanah. Penerimaan petani pada dasamya dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : a. Penghitungan penerimaan kotor ini diperoleh dari perkalian hasil produksi dengan harga jualnya. pembelian pupuk SP36.

Petani yang berusaha tani sebagai suatu cara hidup. lii .Dima π = Besamya tingkat pendapatan TR = Penerimaan kotor TC = Biaya total yang dikeluarkan 2. obat-obatan. sebuah keluarga atau manajer yang digaji bercocok tanam atau memelihara ternak. Pengelolaan usaha tani yang efisien akan mendatangkan pendapatan yang positif atau suatu keuntungan. melakukan pertanian karena dia seorang petani. gulma dsb.1. (Maxwell L. Pengertian Usaha Tani Usaha tani adalah sebagian dari kegiatan di permukaan bumi dimana seorang petani. Usaha tani yang efisien adalah usaha tani yang produktivitasnya tinggi. usaha tani yang tidak efisien akan mendatangkan suatu kerugian. varitas pupuk. Dalam faktor-faktor produksi dibedakan menjadi dua kelompok : a. Apa yang dilakukan petani ini hanya sekedar memenuhi kebutuhan.19. Faktor biologi. 2002). Dalam arti petani meluangkan waktu. 1974 dalam Soekartawi. Ini bisa dicapai kalau manajemen pertaniannya baik. uang serta dalam mengkombinasikan masukan untuk menciptakan keluaran adalah usaha tani yang dipandang sebagai suatu jenis perusahaan. benih. Brown. seperti lahan pertanian dengan macam-macam tingkat kesuburan.

20. Soekartawi mengelompokkan modal menjadi 2 golongan. modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi lain (tanah + tenaga kerja) menghasilkan barang-barang yaitu berupa hasil pertanian (Mubyarto. harga. Untuk meningkatkan daya tampung perhektarnya dapat ditempuh dengan intensifikasi kerja.1. yaitu : liii . tersedianya kredit dan sebagainya (Soekarwati. b. Tenaga Kerja sebagai Faktor-Faktor Modal Produksi Tenaga kerja dalam pertanian.1. Faktor Produksi Modal Dalam usaha tani modal merupakan barang ekonomi yang digunakan untuk memperoleh pendapatan dan untuk mempertahankan pendapatan keluarga tani. 2. Keperluan akan tenaga kerja dalam usaha tani tidaknya kontinyu dan merata. Faktor sosial ekonomi. Menurut Mubyarto. 1999). perombakan pola tanam melalui peningkatan rotasi tanaman. memiliki ciri-ciri yang khas coraknya. status pertanian. tingkat pendidikan.b. penggunaan masukan dan sebagainya.21. c. yaitu : a. menurut Kaslan Tohir (1984) dalam Soekartawi (2002) . Pemakaian tenaga kerja dalam usahatani untuk tiap hektar terbatas. Keperluan tenaga kerja dalam suatu usaha tani cukup beraneka ragam coraknya dan seringkali tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. 2. 2000). tenaga kerja. seperti biaya produksi.

1995).22. 2.1.” Pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja hanya dibedakan oleh batas umur. pupuk. bangunan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi a) Tenaga Kerja Menurut Payaman Simanjuntak (1995) yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah “Penduduk yang berumur 10 tahun atau lebih. yang dihitung biaya perawatan dan penyusutan selama 1 tahun. b. Di Indonesia dipilih batas umur 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Barang yang tidak habis dalam sekali produksi misal peralatan pertanian. Dengan demikian . (Soekartawi.a. Barang yang langsung habis dalam proses produksi seperti benih.’ Adapun definisi tenaga kerja menurut Mubyarto (1999) adalah : “Jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. di Indonesia penduduk dibawah umur 10 tahun digolongkan sebagai bukan tenaga kerja. liv . obat-obatan dan sebagainya. yang sudah atau sedang mencari pekerjaan dan sedang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Pemilihan 10 tahun sebagai batas umur minimum berdasarkan kenyataan bahwa pada umur tersebut sudah banyak penduduk usia muda terutama di desa-desa yang sudah bekerja atau mencari pekerjaan.

produktivitas kerja dan pendapatan. Petani-petani yang mengusahakan tanah pertanian yang tidak bekerja karena menuggu hujan untuk menggarap sawah. Angkatan kerja yang digolongkan menganggur dan sedang mencari pekerjaan adalah : 1. Mereka yang pernah bekerja pada saat pencacahan. pada saat sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. Setengah pengangguran adalah mereka yang kurang dimanfaatkan dalam bekerja dilihat dari segi jam kerja. Angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat. Mereka yang belum pernah bekerja. Angkatan kerja terdiri dari golongan yang bekerja dan golongan yang menganggur atau mencari pekerjaan. 3. mogok. lv . 2.Menurut Biro Pusat Statistik berdasarkan sensus tahun 1990 tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. atau berusaha untuk terlibat. dalam kegiatan produktif yaitu memperoleh hasil produksi barang dan jasa. tukang cukur. Mereka yang dibebas tugaskan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. sakit. pegawai-pegawai pemerintah atau swasta yang sedang tidak masuk kerja karena cuti. dalang dan lainlain. Golongan yang menganggur dalam pengangguran dan setengah pengangguran dimana : Pengangguran yaitu orang yang sama sekali tidak bekerja dan berusaha mencari kerja. Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan tidak melakukan pekerjaan atau bekerja kurang dari satu jam tetapi mereka adalah : Pekerja tetap. mangkir ataupun perusahaan menghentikan kegiatan sementara. sedang menganggur dan berusaha mendapatkan pekerjaan. Orang-orang yang bekerja di bidang keahlian seperti dokter. Angkatan kerja yang digolongkan bekerja adalah : Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan yang lamanya bekerja paling sedikit satu jam selama seminggu yang lalu.

Laha pertanian banyak diartikan sebagai tanah yang disiapkan untuk diusahakan usaha tani misalnya sawah. Permintaan tenaga kerja akan tenaga kerja yang seperti itu disebut derived demand (Soedarsono. Orang membeli barang karena barang itu memberikan manfaat (Utility) pada pembeli. b) Lahan Pertanian Luas lahan dapat dibedakan dengan tanah pertanian. Maka pengertian permintaan tenaga kerja disini diartikan sebagai jumlah tenaga kerja yang diminta oleh pengusaha pada berbagai tingkat upah. Sedangkan tanah pertanian adalah tanah yang belum tentu diusahakan dengan usaha pertanian.Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan didalam melaksanakan proses produksi. tergantung dari permintaan masyarakat terhadap barang yang diproduksinya. Ukuran luas lahan secara tradisional perlu dipahami agar dapat ditransformasi ke ukuran luas lvi . tegal dan pekarangan. Dengan kata lain pertambahan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja. 1984) Permintaan pengusaha terhadap faktor produksi berlainan dengan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. (Boediono. 1998). Dalam proses produksi tenaga kerja memperoleh pendapatan sebagai balas jasa dari usaha yang telah dilakukannya yakni upah. Akan tetapi pengusaha menggunakan faktor produksi dalam hal ini tenaga kerja karena tenaga kerja itu membantu memproduksi barang dan jasa untuk dijual kepada konsumen.

1985). derajat keasaman. 1995). c) Pupuk Tujuan dari pemupukan lahan pada prinsipnya adalah sebagai persediaan unsur hara untuk produksi makanan alami. lapisan tanah atas pada dasar lahan biasanya mempunyai kandungan bahan organik yang rendah. Di samping ukuran luas lahan. menaikkan daya serap tanah terhadap air. maka ukuran nilai tanah juga diperhatikan (Soekartawi.lahan yang dinyatakan dengan hektar. dan lain-lain (Sumeru Ranoemihardja dan Kustiyo. Pupuk organik sangat penting karena dapat memperbaiki struktur tanah. Bila tanah tersebut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi. Soekartawi (1995). Tetapi bahan organik tidak terurai seluruhnya dan akan terakumulasi di dasar kolam. 1985). yaitu nutrien yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman yang akan ditambahkan di dalam lahan pertanian. bahan organik tersebut terutama berbentuk humus tanah dan tidak terlalu aktif. dan lvii . Pupuk bagi lahan pertanian harus mengandung jenis nutrien yang tepat. serta untuk perbaikan dan pemeliharaan keutuhan kondisi tanah dalam hal struktur. Pada umumnya adalah nutrien yang menjadi faktor pembatas seperti fosfor dan nitrogen (Sumeru Ranoemihardja dan Kustiyo. Pupuk alami mempunyai Nitrogen yang lebih rendah dengan terurai lebih lambat.

para peneliti telah melakukan berbagai penelitian tentang efisiensi dan keuntungan dan efisiensi produksi ekonomi sehingga akan sangat membantu dalam mencermati masalah yang akan diteliti dengan berbagai pendekatan spesifik sebagai rujukan utama. 1990).1.2.2. 1985). Selain itu juga memberikan pembedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan. jumlah produksi. khususnya penelitian yang menggunakan model fungsi produksi.mengandung zat hara yang diperlukan tanaman (Kartasapoetra. Penelitian Terdahulu Pada penelitian terdahulu. 2. 2. Kerangka Pemikiran Usahatani jagung di Kabupaten Blora merupakan suatu usaha dibidang pertanian tanaman pangan yang menjadi pilihan bagi petani karena dianggap sebagai komoditas yang berpotensi dan cocok dengan kondisi alam yang ada. tingkat harga input tetap. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani jagung. kualitas produksi jagung serta perilaku petani dalam mengalokasikan input-input maupun penanganan lviii . baik faktor internal maupun faktor eksternal. 2. Berikut ini beberapa hasil penelitian yang relevan yang telah dilakukan oleh para peneliti seperti tersaji pada Tabel berikut ini. Pupuk organik bermanfaat dalam memulihkan struktur tanah terutama dalam kemampuan tanah untuk menahan air (Ranoemihardja dkk. Faktor internal berasal dari lingkungan petani jagung antara lain tingkat harga input variabel.

jumlah pembelian hasil oleh pasar dan kebijakan pemerintah. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan usahatani jagung adalah tingkat harga yang diterima petani. kerangka pemikiran penelitian ini digambarkan sebagai berikut : lix . usahatani jagung adalah kegiatan untuk memproduksi yang pada akhirnya akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh. Oleh karena itu. Secara skematis.pasca panen. Tingkat efisien penggunaan faktor-faktor produksi jagung berpengaruh pada output dan pendapatan petani jagung di Kabupaten Blora. untuk lebih meningkatkan usaha tani jagung yang diperlukan adalah bagaimana mengalokasikan faktor-faktor produksi usaha tani pada lahan agar lebih efisien. Disisi lain.

Efisiensi Ekonomi Input Tetap : . Dalam penelitian ini digunakan hipotesis sebagai berikut : lx .Luas lahan Dari Gambar 2. 1998).3.Biaya Tenaga Kerja .2 Kerangka Pikir Penelitian Input Variabel : . pemecahan masalah yang mungkin benar dan salah (Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi. Selanjutnya hipotesis dapat diartikan juga sebagai dugaan.Biaya Pupuk . tersebut dapat dijelaskan bahwa efisiensi maupun keuntungan usahatani jagung ditentukan oleh nilai produksi yang dihasilkan. dengan kata lain hipotesis adalah kesimpulan yang belum final dalam arti luas masih harus dibuktikan atau diuji kebenarannya.Keuntungan .Jumlah benih yang ditanam .3. jumlah benih yang ditanam dan biaya lain-lain. 2.Gambar 2. Hipotesis Penelitian Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pendapat atau teori yang masih kurang sempurna.Biaya lain-lain Usaha Tani Jagung Produksi .Skala Usaha . serta input tetap terdiri dari luas lahan. sedangkan nilai produksi ditentukan secara bersama-sama oleh dua faktor input yaitu input variabel yang terdidiri biaya tenaga kerja dan biaya pupuk.

1. Diduga keadaan skala usaha ekonomi pada usaha tani jagung di daerah penelitian adalah kondisi skala usaha dengan kenaikan hasil meningkat (increasing return to scale) 4. biaya pupuk berpengaruh secara negatif terhadap keuntungan. Diduga variabel biaya tenaga kerja. Diduga terdapat perbedaan tingkat efisiensi ekonomi relatif antara petani kecil dan petani besar. Demikian pula luas lahan. Diduga penggunaan faktor-faktor produksi dalam usahatani jagung belum optimal sehingga keuntungan maksimal belum tercapai. 2. jumlah benih yang ditanam dan biaya lain-lain berpengaruh secara negatif terhadap keuntungan. lxi . 3.

Karena dalam model ini digunakan fungsi keuntungan “Unit Output Price” atau UOP.1. Penelitian ini merupakan studi kasus yaitu melakukan analisis pengaruh faktor-faktor input terhadap keuntungan dan efisiensi usahatani jagung menurut skala luas lahan garapan di Kecamatan Randublatung. Definisi Operasional Untuk mengurangi dan menghindari terjadinya kekaburan dalam pembahasan. 3. Kabupaten Blora. dengan total biaya variabel ( jumlah seluruh input variabel dan input tetap dikalikan dengan harga input masing-masing) yang diukur dengan lxii . maka penelitian ini akan mengkaji fungsi keuntungan usahatani jagung di Kabupaten Blora. Total penerimaan merupakan total produksi atau output ( Y ) dalam bentuk biji jagung hasil panen dikalikan harga yang diterima. Pendapatan usahatani jagung dalam analisis ini adalah pendapatan bersih yaitu total penerimaan yang berasal dari penjualan hasil produksi usahatani jagung setelah dikurangi biaya total yang dikeluarkan. perlu untuk memberikan pengertian atau definisi operasional dari masing-masing variabel yang dibahas. Keuntungan usahatani jagung merupakan selisih antara penerimaan usahatani jagung (jumlah produksi dikalikan harga produksi).BAB III METODE PENELITIAN Berdasarkan dari permasalahan dan tujuan penelitian. 2. maka dalam perhitungan nilai keuntungan dibagi dengan harga output yang diukur dengan rupiah (Rp). variabel-variabel tersebut adalah : 1.

Pendapatan aktual adalah pendapatan dari usahatani jagung di Kabupaten Blora dalam tahun tertentu diukur dalam satuan rupiah per tahun (kg/th). Jumlah Pupuk (X3). Nilai produksi adalah jumlah produksi jagung (kg) dikalikan dengan harga rata-rata yang diterima petani jagung. SP-36 dengan satuan luas usaha tani selama satu kali musim tanam. 6. yang dinyatakan dalam satuan kilogram per hektar (ha). Data diperoleh dari wawancara dengan petani sampel. Pendapatan maksimum adalah pendapatan usahatani jagung di Kabupaten Blora pada saat semua input telah digunakan secara optimal diukur dalam satuan rupiah (Rp). 9. Demikian juga untuk harga-harga input variabel juga dinormalkan dengan harga output. 4. dinyatakan dalam satuan kilogram perhektar. yaitu luas lahan yang diusahakan untuk mengolah sejumlah input produksi data diperoleh dari petani. Jumlah Benih (X2). yang dinyatakan dalam satuan kilogram (kg)). Karena dalam penelitian ini digunakan model fungsi keuntungan UOP. jumlah pupuk Urea. Produksi jagung (Y). yaitu jumlah benih yang digunakan dalam usaha tani jagung dalam satu kali musim tanam. maka dalam perhitungannya nilai keuntungan dibagi dengan harga output. 7. Perhitungan pupuk adalah sebagai berikut : lxiii . 8.rupiah (Rp). 5. Luas lahan dinyatakan dalam hektar (ha). 3. Luas Lahan (X1). yaitu jagung hasil panen yang dihasilkan perhektar dalam satu kali musim tanam.

diukur dalam satuan dummy untuk petani kecil = 0 dan petani besar = 1. 16.1 kg pupuk SP36 setara dengan 1 kg pupuk Urea.0 hektar. Jumlah tenaga kerja (X4). 12. pajak dan sewa lahan. 13. Biaya lain-lain ini diukur dalam satuan rupiah (Rp). 14. adalah banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam mengelola lahan pertanian jagung dalam satu kali panen dengan satuan hari orang kerja (HOK). parameter efisiensi (teknik. Biaya lain-lain adalah biaya yang juga sebagai input tetap terdiri atas biaya untuk peralatan kerja. Efisiensi harga adalah kondisi dimana usahatani jagung telah mampu menyamakan nilai produk marginal (VMP) dengan harga faktor input. Efisiensi teknik adalah kondisi dimana usahatani jagung telah berada pada tahap decreasing rate yaitu pada saat elastisitas produksi 0 ≤ Ep≤ 1.0 hektar dan petani besar adalah petani yang menguasai lahan garapan ≥ 1. harga dan ekonomi) diukur dengan menggunakan fungsi keuntungan Cobb Douglas. 15. Biaya pestisida merupakan total biaya pengeluaran untuk pembelian pestisida diukur dalam satuan rupiah (Rp) 11. x kg SP36 = Harga perkilogram pupuk SP36 x Jumlah pupuk Harga perkilogram Pupuk Urea 10. Petani kecil adalah petani yang menguasai lahan garapan ≤ 1. Efisiensi ekonomi relatif adalah kondisi dimana usahatani jagung mencapai efisiensi teknik (necessary condition) dan efisiensi harga (sufficien condition). lxiv .

Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari petani jagung yang telah ditetapkan sebagai responden atau sampel dengan dibantu alat daftar pertanyaan (kuesioner). besarnya sewa lahan dan data umum lainnya. yang didapatkan melalui studi kepustakaan dari berbagai sumber. dan data penunjang lainnya.2. jurnal-jurnal. data penggunaan lahan. BPS Kabupaten Blora. 3. harga pestisida. Skala Usaha Tani adalah perbandingan antara besarnya output yang dihasilkan dengan input. Adapun jenis data yang dibutuhkan meliputi hasil produksi jagung sebagai output serta data input yang merupakan pengeluaran petani meliputi : upah tenaga kerja. Data sekunder meliputi data penunjang dari data primer. buku-buku. harga pupuk. harga benih. Dengan meneliti sebagian dari populasi atau sampel itulah lxv . Dinas Pertanian Kabupaten Blora. harga peralatan.3. luas wilayah. 3.17. Kecamatan Randublatung maupun Desa di daerah penelitian. hasil penelitian maupun publikasi terbatas arsip-arsip data dari Lembaga/Instansi antara lain bersumber dari BPS Propinsi Jawa Tengah. yang diambil secara runtun waktu (time series). Populasi dan Sampel Dalam suatu penelitian tidaklah selalu perlu meneliti semua individu dalam populasi. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi data jumlah penduduk.

dengan pertimbangan daerah tersebut merupakan sentra penghasil jagung dalam jumlah besar di Kabupaten Blora yaitu seluas 8.359 Cepu 322 Sambong 3.594 Tunjungan 6. penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Randublatung.765 Jepon 5.743 Bogorejo 4.933 Kedungtuban 2.913 Kradenan 2.310 Blora 6.700 Ngawen 1.433 Jiken 3.913 ha ( 14. Untuk mengetahui secara rinci luas lahan tanaman jagung di Kabupaten Blora dapat dicermati pada Tabel 3. lxvi . Menurut Sensus Pertanian Kabupaten Blora tahun 2006 diketahui bahwa luas pertanaman jagung di Kabupaten Blora mencapai 62.1 sebagai berikut.490 Banjarejo 3. Penentuan sampling dilakukan dengan acak berlapis (multi stage) menggunakan alokasi proporsional (proportional stratified random sampling).619 Kunduran 514 Todanan 2.1 Lokasi. Luas Lahan Tanaman Jagung di Kabupaten Blora Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Luas Lahan (Ha) Jati 5.22 % ) pada musim tanam 2006.720 Japah 3. Tabel 3.666 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Blora tahun 2006 Kecamatan Berdasarkan Tabel tersebut.560 Randublatung 8.666 ha yang tersebar di 16 Kecamatan.691 Jumlah 62.diharapkan hasil yang diperoleh akan dapat menggambarkan sifat populasi yang bersangkutan.

Tahun 2006 Lokasi/Desa Luas (ha) Randublatung 184 Bekutuk 893 Wulung 950 Tanggel 590 Ngliron 350 Kalisari 210 Kadengan 460 Sumberejo 909 Kutukan 945 Kediren 315 Temulus 310 Pilang 680 Bodeh 135 Tlogotuwung 137 Gembyungan 185 Sambongwangan 340 Plosorejo 440 Jeruk 880 Jumlah 8. 6.016 881 874 1. 13. 14. 18. 15. 7. 8. 17. 1. 9. 10.475 214 218 294 722 981 1. penetapan desa sampel yaitu dari 18 desa wilayah penghasil jagung di Kecamatan Randublatung dipilih sampel sebesar 30 % atau 5 desa sampel.972 2.054 1.0 lxvii . 5.937 2. 2.637 orang.040 1. Jumlah Petani 248 1. Tabel 3. Kabupaten Blora. 11. 12. Langkah selanjutnya digolongkan berdasarkan stratum luas lahan ≤ 1.913 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Blora 2006 No. 3. Tahap Kedua.512 724 365 1. 4. kemudian sampel berikutnya bertuturturut di ambil desa sampel yang mempunyai luasan dibawahnya.668 jagung Berdasarkan tabel tersebut. Luas Lahan dan Jumlah Petani Jagung di Kecamatan Randublatung. Adapun perincian desa dan areal tanaman dapat dilihat pada tabel berikut ini.Tahap Pertama. kemudian sampel pertama ditentukan desa yang mempunyai luas lahan tanaman jagung dan jumlah petaninya terbesar di Kecamatan Randublatung.2 Lokasi.658 11. 16. dengan terpilihnya 5 desa sampel tersebut maka ditetapkan jumlah petani desa sampel menjadi sub populasi 9.

637 Sumber : Data sekunder yang diolah. Sumberejo 1.356 581 1. Bekutuk 1.0 hektar dikategorikan lahan luas yang dimiliki oleh petani besar. Secara rinci jumlah petani sampel. Jumlah Petani Sampel Berdasarkan Kategori Penguasaan Lahan Jumlah Petani (Orang) 1.1) dimana : n N Moe = = = jumlah sampel jumlah populasi Margin of error Maximum (kesalahan yang masih ditoleransi diambil 10%).937 5. Jeruk 1.hektar dikategorikan lahan sempit yang dimiliki oleh petani kecil.412 604 1. dan luas lahan ≥ 1. maka jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak : lxviii . 1993) dan Uma Sekaran (2000) sebagai berikut : n= N 1 + ( N ( Moe) 2 ) (3.161 497 6. berdasarkan kategori penguasaan lahan tersaji pada Tabel 3. Mengacu pada rumus tersebut.0 ha) 1.748 2.438 616 1.016 3.3.3. Wulung 2. Kutukan 2. memilih secara acak sejumlah sampel petani. Tabel 3. berikut ini.381 591 1. 2007 No.889 Tahap Ketiga. Desa Sampel Luas Lahan (Ha) Petani Kecil Petani Besar (≤ 1.0 ha) (≥ 1. Untuk menentukan besarnya sampel dari suatu populasi dapat dihitung dan dipakai bersama-sama dengan rumus Slovin (Sevilla dan Consuelo. Penggolongan ini didapatkan dari buku inventarisasi pajak bumi dan bangunan yang ada di masing-masing desa yang sering disebut dengan buku Leter C Desa.054 2.972 4.658 Jumlah 9.

Tahap Keempat. waktu dan dana serta mengingat bahwa semakin banyak sampel akan diperoleh data yang semakin baik. Oleh karena itu dengan pertimbangan keterbatasan kemampuan. Alokasi penentuan anggota sampel dapat dilakukan sebagai berikut : ni = Ni --------------N Xn (3.0 ha.37 9.637 ----------------------1 + ( 9.637) (0. untuk menentukan Jumlah sampel sebagai responden pada setiap stratum dilakukan dengan metoda proportional stratified random sampling. yaitu sampel petani kecil dengan kriteria luas lahan tanaman jagung ≤ 1. tetapi harus tetap memperhatikan presisi data yang tinggi.2) Dimana : ni = ukuran sampel dari stratum ke i lxix . dan sampel petani besar dengan kriteria luas lahan tanaman jagung ≥ 1.637 ----------------------1 + 96.637 ----------------------97.97 = 99 n= n= n= Menurut Masri Singarimbun dan Effendi (1985). maka jumlah sampel sebesar 99 ditetapkan menjadi 100 petani. dan Sutrisno Hadi (1998) bahwa besarnya sampel dalam penelitian tidak ada ketentuan yang baku.n= 9.0 hektar.37 98.1) 2 ) 9.

Ni = populasi pada stratum ke i N = populasi pada desa sampel n = jumlah sampel yang ditetapkan Dari rumus tersebut maka penyebaran jumlah sampel adalah sebagai berikut :
Tabel 3.4 Distribusi Sampel No 1 Kecamatan Desa Penguasaan Lahan Sedang Jumlah Petani 1.438 Jumlah Sampel 15

Wulung 2 3 4 5 Desa Kutukan Desa Sumberejo Desa Bekutuk Desa Jeruk

Luas Sedang Luas Sedang Luas Sedang Luas Sedang Luas

616 1.412 604 1.381 591 1.356 581 1.161 497 9.637

7 15 6 14 6 14 6 12 5 100

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Blora, 2006

3.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data menggunakan cara wawancara dan dokumentasi. Metode wawancara dilakukan dengan cara mewawancarai langsung petani sampel sebagai responden dengan

menggunakan alat bantu daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Selain itu juga melakukan wawancara dengan Kepala Cabang Dinas

lxx

(KCD)Pertanian, Penyuluh Pertanian (PP) Kecamatan Randublatung dan perangkat masing-masing desa di lokasi penelitian. Dokumentasi dilakukan dengan mengadakan survai terhadap data yang telah ada dan menggali teori-teori yang telah berkembang, serta menganalisa data yang telah pernah ada dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu.

3.5. Teknik Analisis

Model analisis yang digunakan untuk menduga faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keuntungan, alokasi penggunaan faktor produksi, skala usaha serta tingkat efisiensi ekonomi relatif adalah model fungsi keuntungan Cobb-Douglas yang diturunkan dari model fungsi produksi Cobb-Douglas. Penggunaan jenis data primer (cross section) berarti model jangka panjang yang artinya bahwa proses produksi dapat diasumsikan konteks jangka panjang. Selanjutnya untuk mengestimasi fungsi keuntungan, skala usaha dan tingkat efisiensi dilakukan bantuan program Shazam 8.

3.5.1. Model Fungsi Keuntungan Cobb-Douglas

Fungsi

keuntungan

Cobb-Douglas

dipergunakan

untuk

mengetahui hubungan antara input dan output serta mengukur pengaruh dari berbagai perubahan harga dari input terhadap produksi. Cara fungsi keuntungan Cobb Douglas ini menjadi terkenal setelah diperkenalkan aleh Lau dan Yotopoulos pada tahun (1976) menjadi lxxi

suatu konsep yang dapat dioperasionalkan untuk menguji efisiensi relatif di bidang pertanian. Perkembangan terakhir adalah menurunkan fungsi keuntungan Cobb Douglas dengan teknik "Unit Output Price " atau UOP of Cobb-

Douglas Profit Function, yaitu suatu fungsi yang melibatkan harga
produksi dan produksi yang telah dinormalkan dengan harga tertentu yang disebut "Normalized Profit Function ". Salah satu manfaat dari penggunaan fungsi ini adalah peneliti dapat sekaligus mengukur tingkatan efisiensi pada tingkatan atau ciri yang berbeda. Dalam menggunakan fungsi keuntungan Cobb-Douglas ini dengan memasukkan 4 input variabel dan 3 input tetap. Adapun bentuk fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut : Y = A X1'xi XZa2m X 3 a3 X 4 a 4 Z 1 β1 Z 2 β 2 Z3 β3 Y = A( ∑ Xi ai ∑ ZJ βj )
i =1 i =1
4 4

(3.3) (3.4)

dimana : Y X1 X2 X3 X4 Z1 Z2 Z3 = produksi jagung = tenaga kerja = jumlah benih = pupuk = pestisida = luas lahan = biaya lain - lain = jumlah pohon produktif lxxii

.lain = input tetap jumlah pohon produktif = parameter input variabel yang diduga.6) W1* = harga upah tenaga kerja yang dinormalkan dengan harga jagung.......5) Dalam bentuk logaritma natural.4) dapat diturunkan fungsi keuntungan UOP (Unit Output Price) sebagai berikut : Inπ*=A*Σ wiai* ΣZjβj* (3.. 2 lxxiii ... W4* = harga pestisida yang teiah dinormalkan dengan harga jagung......5) dapat ditulis sebagai berikut : Inπ*=InA*Σαi* Inwi* Σβj*InZj Inπ* = InA* + α1* In w1 + α2 * In w2 + α3* In w3 + α4* In w4 + β1 * In Z1 + β2* Inz 2 + β 3* Inz3 +e0 Keterangan : π* = keuntungan jangka pendek yang telah dinormalkan dengan harga jagung A* = intersep (3. Z1 Z2 Z3 α* βj* = input tetap luas lahan = input tetap biaya lain .. j = 1. persamaan (3. i = 1.. W2* = harga benih yang telah dinormalkan dengan harga jagung. 5 = parameter output tetap yang diduga. W3* = harga pupuk yang telah dinormalkan dengan harga jagung.α1 βj = koefisien input variabel i = koefisien input tetap j Menurut Yotopoulos dan Lau (1971) dari persamaan (3..7) (3. .

9) ditransformasikan dalam bentuk log natural menjadi : In Xi = In (-αi*’’) + In πa – In wi* (3. πa = keuntungan UOP jangka pendek (3. 1976 dan Sukartawi.3. i = 1.e0 = faktor kesalahan (standar eror) Fungsi permintaan input variabel (factor share) sebagai kontribusi suatu input variabel terhadap keuntungan dapat diturunkan dari fungsi keuntungan Cobb-Douglas (Yotopoulos dan Nugent.8) (3.10) In Xi = In (-αi*’’) + In A* + Σ αi* In wi* + Σβj* In Zj .9) αi*’’ = parameter permintaan input vartabel Factor share Xl X2 X3 X4 ei = jumlah nilai input upah.2.12) tersebut dapat diturunkan fungsi penawaran output sebagai berikut : lxxiv .In wi* (3.11) In Xi = In (-αi’’) + In A* + Σ αi * + Σβj * In Zj (3.tenaga kerja dalam rupiah = jumlah nilai input pupuk SP-36 dalam rupiah = jumlah nilai input pupuk Urea dalam rupiah = jumlah nilai input pestisida dalam rupiah = faktor kesalahan Persamaan (3.4 Xi = -αi*’’ πa / Wi* Dimana : Wi* = harga input variabel yang dinormalkan dengan harga jagung.12) Dan persamaan (3. 1990) yang secara matematis dapat diformulasikan menjadi : -Wi Xi / πa = αi*’’ + ei.

15) Sebagai pertimbangan dalam menyelesaikan fungsi keuntungan UOP (Unit Ouput Price) memakai cara simultan adalah untuk mencapai spesifikasi stokastik. Adanya penggunaan tiga model ini akan terlihat korelasi antar error masing-masing persamaan sehingga akan diperoleh model yang efisien.13) Persamaan (3. Model I : Model OLS sebagai suatu pembanding Persamaan fungsi keuntungan dari fungsi factor share pada usahatani di daerah penelitian terdiri dari satu fungsi keuntungan dan empat fungsi factor share.14) In Ys* = In (1-Σ αi*’’) + In A* +Σ αi * In wi* + Σβj * In ZjΣ αi * + Σβj * In Zj (3. formulasinya menjadi : In Ys* = In (1-Σ αi*’’) + In πa (3. dimana pada model analisis mempunyai ai* yang muncul di semua persamaan.13) dalam logaritma natural.16) .Ys* = (1-Σ αi*’’)πa (3. Apabila kasus tersebut dengan menggunakan OLS maka akan terjadi ketidakefisien dan dikhawatirkan munculnya korelasi antar eror dari masing masing persamaan. yaitu Inπ*= InA*+al*Inw1*+a2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo lxxv (3. Untuk itu pendugaan fungsi keuntungan UOP akan diselesaikan dengan menggunakan tiga model.

α4*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3. yang merupakan persamaan simultan dan diolah serentak atau bersamaan.αl*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3.19) In X4 = In (.21) In X1 = In (.α2*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3.22) lxxvi .In X1 = In (. sehingga menjadi sebagai berikut : Inπ*= InA*+al*Inw1*+a2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo (3. Lima persamaan sebagaimana Model I direstriksi α* = α*".20) Lima persamaan tersebut di atas merupakan single equition yang diolah secara parsial atau sendiri-sendiri.17) In X2 = In (.18) In X3 = In (. Model III: Model Zellner's Method of Seemingly Unrelated Regression dengan restriksi kesamaan α* = α*".αl*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3.α3*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3. yang merupakan persamaan simultan dengan menggunakan 5 persamaan pada model 1 yang diolah serentak atau bersamaan.. Model II : Model Zellner's Method of Seemingly Unrelated Regression tanpa restriksi kesamaan α* = α*".

α3*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3.26) In X1 = DM + αl*Inw1*+α2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo (3. III tersebut di atas. sehingga persamaan fungsi keuntungan Cobb-Douglas usahatani jagung dapat ditulis sebagai berikut Inπ*= InA*+ + DM + αl*Inw1*+α2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo (3. Variabel dummy untuk petani kecil (< 1 ha) = 0 dan petani besar (> 1 ha ) = l. II.α4*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo Restrict In w1* = In (αI *") (3.23) In X3 = In (.In X2 = In (. maka model yang dipergunakan dengan cara penggabungan variabel dummy pada fungsi keuntungan model I.24) In X4 = In (.27) In X2 = DM + αl*Inw1*+α2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo (3.28) lxxvii .25) Restrict I n w 2* = In (α2 *") Restrict In w3* Restrict In w4* = In (αI3*") = In (αI4*") Pada dua kelompok menurut skala luas lahan garapan yang berbeda yaitu petani kecil dan petani besar.α2*") + cx2* Inw2* + α3* Inw3* + α4* Inw4 * + βi* In zl +β2* In z2 + β3* In Z3 + eo (3.

3.5. Apabila Σβ*j = 1 maka terjadi skala usaha tetap (CRS). 4) Jika ada salah satu Ho yang ditolak. 2.29) In X4 = DM + αl*Inw1*+α2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo (3. dan skala usaha menurun lxxviii . 3.30) Model I dan Model II merupakan fungsi keuntungan aktual.3. Skala usaha menaik (IRS) terjadi apabila Σβ*j > 1. Pengujian Keuntungan Maksimum Pengujian terhadap tercapai tidaknya keuntungan maksimal jangka pendek dilakukan dengan membandingkan parameter masing-masing perubah (variabel) dari fungsi produksi (β) dengan parameter masingmasing fungsi permintaan input variabel (β1). Pengujian Skala Usaha Pengujian skala usaha dilakukan terhadap besarnya nilai k atau Σβ*j. maka usaha tani jagung tidak dapat mencapai keuntungan maksimum dalam jangka pendek (short-run) profit.2. Dengan demikian bentuk pencapaian keuntungan maksimal jangka pendek adalah : Ho : βi = βi1 (i= 1.5. 3.In X3 = DM + αl*Inw1*+α2*Inw2*+a3*Inw3*+α4*Inw4*+ βi*Inzl + (β2* In z2 + β3 * In z3 + eo (3. Keuntungan maksimal jangka pendek akan tercapai jika β = β1 untuk semua variabel. sedang Model III merupakan fungsi keuntungan dengan kondisi tercapainya keuntungan maksimum jangka Pendek.

Dengan demikian pengujian skala usaha dapat dirumuskan menjadi berikut : Ho : Σβ*j = 1 (CRS) Ha : Σβ*j ≠ 1 (IRS/DRS) Adapun pengujiannya memakai F-Test yaitu : F hitung< F tabel.32) Dimana : Πa = keuntungan UOP actual DM = 1 untuk variabel dummy usahatani petani besar DM = 0 untuk variabel dummy usahatani petani kecil Uji hipotesis kesamaan efisiensi ekonomi relatif menjadi berikut : Ho : ξG = ξL = 0 Ha : ξG ≠ 0 atau ξL ≠ 0 lxxix .apabilaΣβ*j < 1. maka Ho ditolak 3. maka fungsi keuntungan aktual dimodifikasi menjadi : Lnπa = Ln As* + ξG DM + Σα*i Ln W*i + Σβ*j LnXj Model fungsi permintaan input variabel menjadi : -Wi Xi/Πa = αi*” +αI *”M (3. Pengujian Efisiensi Ekonomi Relatif Untuk melakukan pengujian terdapat tidaknya kesamaan efisiensi ekonomi berdasarkan luas lahan.5.31) DM (3.4. maka Ho diterima F hitung > F tabel.

maka Ho diterima F hitung > F tabel.Adapun pengujiannya memakai F-Test yaitu : F hitung< F tabel. maka Ho ditolak lxxx .

Luas Kabupaten Blora adalah sebesar 1. Iklim dan Topografi Seperti kebanyakam daerah Indonesia lainnya. sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro – Jawa Timur. 4.1.59 Km. Keadaan Umum 4.2. Kabupaten Blora sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Pati.820. sehingga lxxxi . 39 persen mediteran dan 5 persen aluvial. Kabupaten Blora memiliki iklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau silih berganti sepanjang tahun. dengan ketinggian terendah 25 meter dpl dan tertinggi 500 meter dpl. serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Grobogan. yang diapit oleh jajaran pegunungan Kendeng Utara dan pegunungan Kendeng Selatan. Secara administratif. Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air. sehingga mengakibatkan musim kemarau.1. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Samudra Pasifik. sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi – Jawa Timur.1. Susunan Tanah di Kabupaten Blora terdiri atas 56 persen tanah gromosol.1.BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN 4. Letak dan batas wilayah Kabupaten Blora Kabupaten Blora terletak antara 111º16' S/D 111º338' Bujur Timur dan 6º528' s/d 7º248' Lintang Selatan.

Tabel 4. Tunjungan. Banjarejo.60% dari seluruh wilayah Kabupaten Blora. Japah. 4. Curah hujan pada tahun 2006 di Kabupaten Blora telah terjadi sebanyak 0 sampai dengan 18 hari hujan dengan curah hujan antara 7 mm sampai dengan 455 Jumlah hari hujan terbanyak terjadi di daerah Kecamatan Jiken dan paling sedikit di daerah Kecamatan Sambong. Blora.1.626. Luas dan pembagian wilayah Luas wilayah Kabupaten Blora adalah adalah 1.361 ha.1.587 ha.820. Ngawen.436 ha. Kunduran dan Todanan dengan keseluruhan seluas 24. Region B dan Region C.131 hektar atau 11. menunjukkan bahwa Kecamatan Randublatung memiliki luas yaitu 211. sedangkan paling sempit adalah lxxxii . Region A merupakan tekstur tanah halus/liat meliputi kecamatan Jepon.).1.3. Wilayah Kabupaten Blora mempunyai elevasi/ketinggian permukaan tanah dari permukaan laut mulai 0 – 100 m yang dibatasi atas tiga region yaitu Region A. Keadaan ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan (pancaroba) pada bulan April – Mei dan Oktober – Nopember. terdiri atas 16 Kecamatan. 271 Desa dan 13 Kelurahan (Tabel 4. sementara curah hujan tertinggi terjadi di daerah Kecamatan Jiken dan paling sedikit di Kecamatan Bogorejo. Sedangkan pada region C hanya terdapat di Kecamatan Todanan dengan luas 952 ha.480. Sedangkan Region B merupakan tekstur tanah sedang/lempung meliputi sebagian dari seluruh kecamatan dari wilayah Kabupaten Blora dengan luas 152.terjadi musim penghujan.

052 5.167 9.74% dari seluruh wilayah Kabupaten Blora.145 2.982 5. No.79% digunakan untuk lahan sawah. Kecamatan 4.508 6.60 109. lxxxiii . 2006. Luas penggunaan lahan Luas wilayah (ha) (%) 183.59 103.74 107.87 168. Jumlah Kecamatan. hal ini ditunjukkan dengan masih luasnya lahan pertanian. Desa.724 5.03 128.07 Sebagai daerah agraris yang sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian.87 49.66 100.786 4.131 11.4.805 2.69 101.70 88.750 4. Tabel 4. Sedangkan sisanya digunakan untuk pekarangan (bangunan/halaman) dan lainnya.805 hektar atau 2.983 7. Mengenai jenis lahan yang ada di Kabupaten Blora.01 106.Kecamatan Bogorejo yaitu 49.55 127.38 103. Dari seluruh luas lahan yang ada di Kabupaten Blora 24.522 5.24 49.858 5.09 211. Kelurahan dan Luas Wilayah di Kabupaten Blora tahun 2006.815 5. lihat Tabel 4.1.92 79.1.2.739 7.620 10. Jumlah Desa Kelurahan 1 Jati 12 0 2 Randublatung 16 2 3 Kradenan 10 0 4 Kedungtuban 17 0 5 Cepu 11 6 6 Sambong 10 0 7 Jiken 11 0 8 Bogorejo 14 0 9 Jepon 24 1 10 Blora 16 1 11 Banjarejo 20 0 12 Tunjungan 15 0 13 Japah 18 0 14 Ngawen 27 2 15 Kunduran 25 1 16 Todanan 25 0 Sumber : Blora Dalam Angka.

2.12 0.791.129.60 1.000 Hutan Negara 90.79 9.674 orang terdiri atas 416.508 orang.2.921 Bangunan/halaman 16.797 Sumber : Blora Dalam Angka.03 2.058.465 perempuan.962 Perkebunan Rakyat 4.03 14.381.15 48.Tabel 4. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Blora yaitu sebanyak 87. Jumlah dan penyebaran penduduk Persentase (%) 24.416.278.1.278 Tebat/empang/rawa 59.858 Tegal/kebun 26.259 Jumlah 182.00 Jumlah penduduk di Kabupaten Blora berdasarkan hasil Registrasi Penduduk pada tahun 2006 adalah sebanyak 862. Sedangkan jumlah terendah terdapat di Kecamatan Bogorejo sebanyak 23. 2006 4.867 orang lxxxiv .000.28 100.2.209 laki-laki dan 426. Jenis dan Luas Lahan di Kabupaten Blora Tahun 2006 Jenis Lahan Luas Lahan (ha) Lahan sawah 46. Keadaan Sosial Ekonomi 4.520 Lainnya 2.

97 97. 1.208 Sambong 13.533 Jumlah 416. Perempuan Jumlah 24.025 Kunduran 31.70 97.175 38.39 97. 8.64 98.923 43.619 21.206 Jiken 18.499 26.11 97.273 33.279 44.07 98. 16.488 64. Penduduk usia kerja ini dibedakan sebagai angkatan kerja yang terbagi atas yang bersekolah.294 Blora 43.678 30.258 Kedungtuban 27.60 4.261 87.684 Tunjungan 21.976 59. 2.509 426.985 59.808 13. 3. 2006.4 97.751 60. 13. 6. lxxxv .705 18.2.247 Banjarejo 27.776 32. 10.94 100. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Tenaga kerja yang terampil merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan.346 orang yang terdiri atas 256. 14.674 Sex Ratio 98.508 27.411 30.100 Kradenan 19. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Diperinci Per Kecamatan di Kabupaten Blora Tahun 2006.729 48.485 72.601 perempuan.209 Sumber : Blora Dalam Angka. Penduduk Kabupaten Blora usia 15 tahun ke atas yang bekerja pada tahun 2006 sebanyak 427.745 laki-laki dan 170.768 Bogorejo 11.923 Todanan 28.83 101.029 23.083 Cepu 37. 11. 7.38 96.433 27.71 99.981 36.600 75. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang dimaksud dengan penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 10 tahun ke atas.26 92.10 97. No.867 29. Adapun tabel jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut ini.935 55.55 94.Tabel 4.385 Japah 16. 12.20 98.895 38. 4.812 54. 5.308 17.465 842. mengurus rumah tangga dan lainnya. 9.544 37.838 Jepon 29. 15.3.405 Ngawen 30.312 12.2.252 Randublatung 36.41 97.585 19. Kecamatan Laki-Laki Jati 24.

dengan jumlah mahasiswa sebanyak 1. Gas dan Air 1. Sarana dan Prasaran Pendidikan Perempuan 110.639 Pengangkutan dan 9.156 10.4.027 Total 296.613 orang.745 Sumber : BPS Kabupaten Blora.628 60. dosen tetap sebanyak 123 orang dan tidak tetap sebanyak 184 orang. 4.2. Jumlah Penduduk Kabupaten Blora Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2006 Klasifikasi Lapangan Usaha Laki-laki Pertanian 186. Budidaya Tanaman Jagung di Kabupaten Blora Jagung termasuk bahan pangan utama setelah beras. 2006 4.972 1.231 Jasa-jasa Jumlah 256. SLTA 62 unit dan Akademi/perguruan tinggi sebanyak 4 Unit.Tabel 4.514 570 285 9. Penggunaan jagung sebagai bahan lxxxvi . Kegiatan kelompok belajar paket A dan B hingga tahun 2005 mencapai 57 dan 56 kelompok. antara lain sebagai bahan pakan dan bahan industri.3.601 427.3.854 0 602 40.620 1.346 Data tentang sarana dan prasarana pendidikan merupakan data pokok dalam membangun pendidikan di Kabupatena Blora.962 Telekomunikasi 570 Lembaga Keuangan 17. SLTP/MTs 121 unit.026 Perdagangan 19. Dari data yang dapat dihimpun di tahun pelajaran 2004/2005 jumlah SD/MI sebanyak 709 unit.464 285 8.118 Industri Pengolahan Listrik.156 Bangunan 10.156 887 Penggalian dan Pertambangan 11. Akademi atau perguruan tinggi tercatat sebanyak 4 unit. 3 unit di Kecamatan Cepu dan 2 unit di Kecamatan Blora.258 170.172 19.532 855 26. Sebagai sumber karbohidrat. jagung mempunyai manfaat yang cukup banyak.153 10.

Sementara ketersediaannya dalam bentuk bahan terbatas. Secara umum. Walaupun dengan adanya program tersebut dapat memacu petani untuk meningkatkan produktivitasnya dan produksi jagung di dalam negeri. Padahal. pada tahun 2001 pemerintah telah menggalakkan sebuah program yang dikenal dengan sebutan Gema Palagung (Gerakan Mandiri Padi. Mutu benih meliputi mutu fisik. sehat dan bernas serta tidak keriput tetapi mengkilap.pangan dan pakan terus mengalami peningkatan. Hingga saat ini produksi jagung di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan sehingga sebagian diimpor dari beberapa negara produsen. antara lain : daya tumbuh besar lebih dari 90 %. genetik dan fisiologis benih. Persiapan Benih Persiapan benih untuk budidaya memegang peran penting dalam upaya peningkatan produksi jagung. tetapi kebutuhan jagung di dalam negeri tetap belum terpenuhi. Kedelai dan Jagung). Sentra produksi jagung di Kabupaten Blora yang terbanyak terdapat di wilayah Kecamatan Randublatung . tidak tercemar hama dan penyakit. Secara umum. sentra produksi jagung masih didominasi di Pulau Jawa yaitu sekitar 65 % dan luar jawa hanya sekitar 35 %. tidak mengandung kotoran. Untuk itu perlu dilakukan upaya peningkatan produksi melalui perluasan lahan penanaman dan peningkatan produktivitas. lxxxvii . tidak tercampur benih/varietas lain. Adapun tahapan budidaya usahatani jagung sebagai berikut : 1. mutu benih jagung yang baik dicirikan beberapa hal.

Untuk persiapan benih ini pastikan benih yang berkualitas. sebaiknya jarak tanamnya dibuat 100 cm X 40 cm (2 tanaman/lubang) atau 100 cm X 25 cm (1 tanaman per lubang). sebaiknya ditentukan terlebih dahulu pola tanam yang diinginkan dan ditentukan jarak tanamnya. jarak tanamnya 75 cm X 25 cm (1 tanaman/lubang). bersihakn lahan dari sisa-sisa tanaman dan gulma. Semakin panjang umurnya. 2. Kedua. lxxxviii . tahap selanjutnya adalah penanaman. Sementara jagung berumur pendek (umur panen kurang dari 80 hari) jarak tanamnya 50 cm X 20 cm ( 1 tanaman/lubang). Namun sebelum penanaman dilakukan.5 ml per 5 kg benih. Penanaman Jagung Setelah lahan diolah. 3. Kebutuhan benih cukup 15 kg untuk keperluan 1 hektar. gunakan kompos/pupuk kandang sebanyak 5 – 10 ton/ha. Pertama. lahan dibajak sedalam 15 – 20 cm. Persiapan Lahan Untuk persiapan lahan yang akan ditanami jagung bisa dilakukan dengan dua cara pengolahan. tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas. Gulma dan sisa tanaman dapat dikendalikan dengan menggunakan herbisida Gramoxone dengan dosis 2 – 3 ltr/ha atau dengan herbisida Taupan dengan dosis 3 – 4 ltr/ha. Jagung berumur sedang (umur panen 80 – 100 hari). sebelum dilakukan penanaman disarankan menggunakan Ridomil Gold 350 ES dengan dosis 12. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panen. Jagung berumur panjang dengan waktu panen lebih dari 100 hari setelah tanam. kemudian diratakan dengan garu/cangkul agar gembur.

Pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. penyiangan kedua dilakukan bersamaan dengan pembumbunan. Penjarangan Penjarangan dilakukan pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. Kedalaman lubang perlu diperhatikan agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Penjarangan dilakukan dengan maksud agar diperoleh pertumbuhan yang optimal dalam 1 lubang. Caranya yaitu tanah lxxxix . Untuk penanaman ini. pembumbunan. dan seetiap lubang hanya diisi 1 atau 2 butir benih. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali dengan tujuan untuk membersihkan lahan dari gulma. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman jagung diantaranya meliputi penjarangan. Caranya tanaman dipotong pada bagian batang yang paling bawah sampai lepas. tergantung jarak tanamnya. pemupukan dan pengairan. yaitu saat tanaman berumur 4 minggu.Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. prinsipnya adalah lahan ditugal sedalam 5 cm. Pembumbunan Tujuan dari pembumbunan adalah untuk memperoleh tanaman yang kokoh. penyiangan. Kegiatan pembumbunan dilakukan bersamaan waktu penyiangan kedua. Tanaman yang diambil adalah tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik. 4. Kemudian lubang yang terisi benih tersebut ditutup dengan tanah atau pupuk kandang yang sudah matang.

Varietas Jagung Lokal Komposit Hibrida Kandang 2 ton 2 ton 2 ton Dosis Pupuk Urea SP-36 200 100 200 150 300 200 KCL 50 100 100 Fase pemberian pupuk adalah sebagai berikut : Pemupukan dasar • 1/3 bagian pupuk Urea ditambah semua dosis pupuk kandang. .5 Dosis Pupuk Jagung yang Dianjurkan No. 3. Drainage yang baik penting untuk tanaman jagung. 2. Hama yang sering terjadi adalah lalat bibit. Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian hama dan penyakit dilakukan semenjak benih ditamam hingga menjelang panen. oleh karena itu hindarkan tanaman dari genangan air. SP-36 dan KCL diberikan seluruhnya pada saat tanam Pemupukan susulan I • 2/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. 1. Tabel 4. Pemupukan Pemupukan dilakukan sebagai penambah unsur hara yang ada di dalam tanah.sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul. pembungaan yaitu saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam dan juga masa pengisian biji umur 60 – 80 hari setelah tanam. lundi xc . Pengairan Air diperlukan terutama pada saat penanaman. 5. kemudian ditimbun dari barisan tanaman. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah dan varietas jagung yang ditanam.

penyakit bercak daun (leaf blight). 6. bunga sudah kering. penyakit gosong bengkak (corn smut/boil smut) dan penyakit busuk tongkol dan busuk biji. penyakit karat (rust).(uret). Sedangkan penyakit yang biasanya menyerang tanaman jagung adalah penyakit bulai (downy mildew). Tanda-tanda tanaman jagung siap dipanen adalah daun sudah agak mengering. Ulat pemotong dan Penggerek tongkol. Panen Tanaman jagung dapat dipanen bila sudah mencapai umur 95 – 105 hari setelah tanam (HST) di dataran rendah. kulit tongkol buahnya juga sudah kering. xci . dan umur 115 – 120 HST di dataran tinggi. Petani melakukan pengendalian terhadap hama dengan cara kimiawi dengan insektisida pada saat tanam dan pemeliharaan. biji sudah keras sekali tak dapat dilukai dengan kuku.

Tingkat Pendidikan Petani Sampel Usahatani Jagung Persentase (%) 1 Tidak tamat SD 11 2 Tamat SD 59 3 Tamat SLTP 16 4 Tamat SLTA 11 5 Tamat PT 3 100 Sumber : Data primer diolah (pertanyaan dalam kuesioner no 12) Tabel 5.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. menggambarkan bahwa tingkat pendidikan petani di Kecamatan Randublatung. yaitu sebanyak 59 %.1 5.1.1 Karakteritik Responden Pendidikan dan Pengalaman Sumber daya manusia yang diukur dari tingkat pendidikan merupakan faktor penting dalam mengakomodasi teknologi maupun ketrampilan dalam usahatani jagung.1. tamat SD. tamat SLTA. berikut ini : Tabe1 5. Kabupaten Blora dapat dilihat pada Tabel 5. maka pengelolaan usaha jagung lebih hanyak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis yang diperoleh secara turun temurun. tamat SLTP. Kabupaten Blora beragam.1. Mengingat pendidikan terbesar hanya tamat sampai dengan SD. dan tamat Perguruan Tinggi. I. disamping mendapatkan pelatihan tehnis dari No Pendidikan xcii . mulai tidak tamat SD. Untuk mengetahui sebaran pendidikan petani jagung di Kecamatan Randublatung.

2 Profil Keluarga Petani Profil keluarga petani sampel merupakan penduduk asli yang telah lama berdomisili di Kecamatan Randublatung. sedangkan petani pendatang dari daerah lain tidak ada. menunjukkan petani jagung mempunyai pengalaman yang bervariasi dalam usahatani jagung. Sumber : Data Pengalaman Persentase (tahun) (%) < 5 th 0 5 . berikut ini : Tabe1 5. Pengalaman Petani Sampel pada Usahatani Jagung No.3. Petani sampel umumnya mempunyai tanggungan keluarga yang sekaligus membantu dalam usahatani jagung.1.10 th 61 11 . 3. Hal ini merupakan petani tradisional yang secara naluri petani mampu mengelola faktor-faktor produksi. Jumlah tanggungan keluarga petani dapat dilihat pada Tabel 5.2. 2.2.instansi terkait.2. 4. berikut ini : xciii .15 th 27 > 15 th 12 Jumlah 100 primer diolah (pertanyaan dalam kuesioner no 11). Sejauhmana lama pengalaman petani dalam usahatani jagung dapat diketahui pada Tabel 5. Tabel 5. sebagian besar petani mempunyai pengalaman dalam usahatani jagung di 5 – 10 tahun. Sehingga dengan berbekal pengalaman tersebut dapat mempengaruhi terhadap hasil produksi jagung. 1. Kabupaten Blora yang pada umummya seorang petani sudah mempunyai keluarga yang telah menikah dan tercatat sebagai pemilik lahan jagung. 5.

Buruh tani 37 6. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Jagung Tanggungan Keluarga Petani Persentae (orang) (%) 1 6 2 16 27 3 4 33 5 12 >5 6 Jumlah 100 Sumber : Data primer diolah (pertanyaan dalam kuesioner no 6) Selain bekerja sebagai petani dalam mengelola jagung. buruh tani dan lain-lain. Data pekerjaan lain petani sampel usahatani jagung dapat dilihat pada Tabel 5.3. Lain-lain 3 Jumlah 100 Sumber : Data primer diolah (pertanyaan dalam kuesioner no 9) No. buruh bangunan. banyak yang melakukan pekerjaan lain. Buruh bangunan 35 5. Buruh pabrik 6 4. Lahan pertanian diartikan sebagai tanah pertanian yang disiapkan untuk diusahakan usahatani.4.3 Luas Lahan Lahan pertanian berbeda dengan tanah pertanian.4.Tabel 5. Sedangkan tanah pertanian adalah tanah yang belum tentu diusahakan dengan xciv . Jenis pekerjaan sambilan 5. seperti pegawai negeri sipil.1. pedagang. Pedagang 15 Perangkat desa 4 2. berikut ini : Tabel 5. buruh pabrik. Pekerjaan Lain Petani Sampel Usahatani Jagung Persentase (%) l. 3.

Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Luas lahan yang diusahakan oleh 100 petani adalah 86.28 ha. jenis xcv .5.47 70 0.usaha pertanian. sedangkan petani kecil jumlah responden 70 orang mengolah lahan 42.1 ha) Jumlah petani sampel 100 86. Data selengkapnya rata-rata luas lahan yang dipergunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.86 ha.9 Petani kecil (≤ 0. kualitas dan juga macam tenaga kerja. 5.4 Jumlah Penggunaan Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi baik dari segi jumlahnya.5 menunjukkan bahwa petani kecil rata-rata menguasai lahan seluas 0.606 ha dan petani besar rata-rata lahan yang diusahakan luasnya 1. Jumlah Petani Sampel Dan Rata-Rata Luas Lahan Usahatani Jagung Jumlah Luas Rata rata Persentase sampel Lahan luas lahan luas lahan (orang) (ha) (ha) (%) 42.476 51.606 48.1 ha) 44.28 1.75 ha yang terdiri atas petani besar dengan jumlah responden 30 petani mengolah lahan 44. dalam hal ini ukuran luas lahan pertanian dinyatakan dalam hektar.1. sedangkan rata-rata luas lahan dari keseluruhan responden adalah 0.1 30 Petani besar (> 0. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja. Pada usahatani jagung luas lahan jagung akan berpengaruh pada produksi.75 0.476 ha.86 100 Sumber : Data primer diolah ( pertanyaan dalam kuesioner Faktor Input) Status Petani Tabel 5. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga penggunaannya optimal.5. berikut ini : Tabel 5.47 ha.

kelamin, jenis pekerjaan dan upah tenaga kerja. Untuk mengetahui sejauhmana penggunaan tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria pada petani kecil maupun petani besar dapat dilihat pada Tabel 5.6. berikut ini :
Tabe1 5.6. Jumlah Tenaga Kerja Dan Besarnya Upah Per Hektar

Jumlah tenaga Upah per ha Kerja (HOK) (Rp.) a. Tenaga kerja wanita. 25 375.000 1. Petani Kecil b. Tenaga kerja pria 40 800.000 Jumlah TK Petani Kecil 65 1.175.000 a. Tenaga kerja wanita. 20 300.000 2. Petani Besar b. Tenaga kerja pria 35 700.000 Jumlah TK Petani Besar 55 1.000.000 Rata-rata untuk petani kecil dan petani 60 1.087.500 besar Sumber: Data primer diolah (dalam kuesioner No.IV Tenaga Kerja) Status Petani dan Jenis TK Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin apalagi dalam proses produksi pertanian. Oleh karena secara fisik tenaga kerja itu berbeda, yaitu antara tenaga kerja pria dan wanita, dan apabila dalam menghitung jumlah penggunaan tenaga kerja digunakan standar satuan Hari Orang Kerja (HOK) dengan nilai upah yang berbeda antara tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria. Proporsi penggunaan tenaga kerja antara petani kecil dan petani besar berbeda. Rata-rata penggunaan tenaga kerja petani kecil per hektar sebanyak 65 HOK. Sedangkan pada petani besar rata-rata penggunaan tenaga kerja per hektar sebesar 55 HOK
5.1.5 Penggunaan Faktor Sarana Produksi

Sarana produksi pertanian yang diperlukan dalam proses produksi jagung terdiri atas pupuk dan pestisida. Pupuk yang dipergunakan adalah pupuk kandang, Urea, SP-36 dan KCL, sedangkan pestisida berupa insektisida cair dan xcvi

butiran serta fungisida. Untuk mengtahui penggunaan sarana produksi dapat dilihat pada Tabel 5.7. berikut ini.
Tabel 5.7. Rata-Rata Penggunaan Sarana Produksi Per Ha
Jumlah Sampel 100 petani Petani Besar 30 petani Volume 18293,1 68,1775 205,85 131,975 0,99375 Nilai (Rp) 194.717,5 75.851,9 363.364 186.227,5 90.981,25 Petani Kecil 70 petani Volume 7.173,17 31,9017 143,717 61,975 0,4933 Nilai (Rp) 71.272,83 34.797,5 172.476 88.719,58 50.212,917

Variabel input
Volume Benih Jagung (kg) Pupuk Kandang (kw) Pupuk Urea (kg)
Pupuk SP-36 + KCL(kg)

11.621 46,412 207,37 89,975 0,6935

Nilai (Rp) 120.657,7 51.219,3 248.831 127.722,8 66.320,25

Pestisida (ml)

Sumber : Data primer (diolah dari kuesioner III. Faktor Input)
5.1.6 Rata-rata Produksi dan Nilai Produksi Per Hektar

Setelah proses penanaman dan pemeliharaan, tahap akhir dari kegiatan usahatani jagung adalah panen dan pasca panen. Dengan proses panen dan pasca panen yang baik dan benar akan mendukung peningkatan produksi jagung yang berkualitas. Untuk mengetahui rata-rata produksi, harga prduksi dan nilai produksi per hektar dapat dicermati pada Tabel 5.8. sebagai berikut :
Tabel 5.8. Rata-Rata Produksi, Harga Produksi dan Nilai Produksi Per Hektar

Jenis Produksi (kwt/ha) Harga Produksi (Rp/kwt) Nilai Produksi (Rp/ha)

Petani Sampel 83,03 143.099,20 11.881.467,90

Petani Kecil 85,46 143.222,40 12.239.070,19

Petani besar 80,6 142.976,00 11.523.865,60

Sumber : Data primer diolah (pertanyaan no II.6)

xcvii

Dari Tabel 5.8 tersebut menunjukkan bahwa petani kecil produksi jagung per hektar yang diperoleh lebih besar dibandingkan petani besar. Dimana petani kecil rata-rata menghasilkan jagung sebesar 85,46 kwt/ha, sedangkan petani besar menghasilkan jagung sebanyak 80,6 kwt/ha.Harga produksi jagung petani kecil rata-rata mencapai Rp.143.222,40/kwt, sedangkan petani besar yaitu Rp 142.976/kwt. Untuk nilai produksi per hektarnya petani kecil sebanyak Rp 12.239.070,19. Sedangkan nilai produksi per hektarnya petani besar sebanyak Rp 11.523.865,60. Rendahnya produksi jagung pada petani besar disebabkan petani pada lahan besar kurang efisien dalam menggunakan factor produksi yang ada seperti luas lahan, jumlah benih serta pupuk. Selain itu juga dalam teknik penanamam yang digunakan terlalu jarang sehingga produksi yang diperoleh lebih sedikit.
5.2 Pendugaan Fungsi Keuntungan Usahatani Jagung.

Sebagaimana telah diuraikan pada Bab III, bahwa pendugaan parameter digunakan persamaan fungsi keuntungan UOP (Unit Output Price) dan persamaan fungsi factor share. Pendugaan tersebut dilakukan berdasarkan metode SUR (Seemingly Unrelated Regression) yang ditemukan oleh Zellner (1962). Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan alat bantu komputer dengan program Shazam 8. Dalam hal ini terdapat 1 (satu) fungsi keuntungan dan 4 (empat) persamaan fungsi factor share diduga secara simultan. Variabel tidak bebas dalam fungsi keuntungan adalah keuntungan usahatani yang dinormalkan (π*), sedang variabel bebas meliputi harga input variabel dan input tetap.

xcviii

9. dan nilai pestisida (X4). merupakan suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan harga faktor produksi dan nilai produksi yang telah dinormalkan dengan harga jagung. Selain itu keadaan tingkat skala ekonomi usaha (economic of scale) juga dapat diturunkan dari persamaan keuntungan tersebut. Model II menggunakan persamaan simultan SUR (Seemingly Unrelated Regresion) Zellner tanpa restriksi kesamaan a* = a*” (berarti terjadinya keuntungan aktual jangka pendek) dan Model III menggunakan persamaan simultan metoda Zelner dengan retriksi a* = a*” (berarti terjadi keuntungan maksimal jangka pendek). Adapun 4 (empat) persamaan factor share yang dimaksud diatas adalah nilai tenaga kerja (XI). Hasil pendugaan fungsi keuntungan UOP dan fungsi factor share dapat dilihat pada tabel 5. yaitu Model l menggunakan persamaan tunggal metode OLS (Ordinary Least Square). Cara ini juga mendasarkan diri pada asumsi bahwa petani atau pengusaha adalah memaksimumkan keuntungan. Dari persamaan fungsi keuntungan dapat diturunkan fungsi permintaan input dan sekaligus fungsi penawaran output. harga pupuk yang dinormalkan (W3*). harga benih yang dinormalkan (W2*). nilai benih (X2). nilai pupuk (X3). berikut ini. Analisis pendugaan fungsi keuntungan ini menggunakan Unit Output Price Cobb Douglas Profit Funcitiont. xcix . Pendugaan parameter fungsi keuntungan UOP dan fungsi factor share dalam penelitian ini disajikan dalam 3 model. biaya pestisida yang dinormalkan (W4*). Sedangkan input tetap yang berlaku sebagai variabel bebas meliputi nilai peralatan (Z1) dan luas lahan (Z2) dalam satu musim tanam.Input veriabel yang digunakan Sebagai variabel bebas meliputi rata-rata upah per tenaga kerja yang dinormalkan (W4*).

3278 a) (0.004) -0.3146 a) (0.4655 a) (0.0074 (0. Model I : Pendugaan dengan metode OLS Model II : Pendugaan dengan metode Zellner tanpa restriksi α i* = α i*” Model III : Pendugaan dengan metode Zellner dengan restriksi αi* = α i*” 2.121) 0.Tabel 5.914) .5357 a) (0.01) b) : Nyata pada derajat kepercayaan 95% (α=0.000) 1.0.0218 b) (0.123) 1. pada model II dapat diketahui bahwa pendugaan fungsi keuntungan c .0261 (0.001) .000.000) 1. Pendugaan Fungsi Keuntungan UOP Usahatani Jagung. harga benih.4116 0.10) 4.077) -0.0.442) 0.2955 a) (0. Tahun 2007 Variabel Konstanta In W1* In W2* In W3* Ln W4* InZ1 InZ2 Parameter A* α1* α2* α 3* α 4* β1 β2 I 4. 174 dan 180 Melalui uji F yaitu uji keberartian hubungan secara serentak dapat diketahui bahwa hubungan antara keuntungan usaha tani jagung sebagai variabel tidak bebas dengan 6 (enam) variabel bebas yang terdiri harga upah tenaga kerja.9958 a) (0.2152 a) (0.0456) 1.9572 ∑β j* j=1 A R2 Keterangan : 1.0135 (0. nilai peralatan dan luas lahan menunjukkan hubungan sangat nyata dengan p-value = 0. harga pestisida.000) -0.4489 a) (0.0.3786 b) (0.0. a) : Nyata pada derajat kepercayaan 99% (α=0.0.9946 a) (0.1957 (0.420) 0.0.0031 (0.0351 (0.015) .9956 Koefisien Regresi II 5.0297 0.0292 0.000) . Angka dalam ( ) adalah probability value 3.000) -0.009) -0. harga pupuk.9.046) . Dirangkum dari lampiran 5 halaman 168.000) .000) -0.4476 a) (0.4020 b) (0.0547 c) (0.05) c) : Nyata pada derajat kepercayaan 90% (α =0. Disamping itu dari Tabel 5.000) -0.9948 III 5.9.4240 a) (0.0404) 1.

Model II tampak bahwa 2 (dua) input tetap yang terdiri luas lahan dan pestisida mempunyai hubungan positif terhadap keuntungan usaha hal ini sesuai dengan yang diharapkan pada teori. sedangkan input tetap pada kondisi keuntungan jangka pendek mempunyai hubungan positif dengan keuntungan. hal ini berarti bahwa variabel bebas dapat menerangkan variasi dalam variabel tidak bebas (variabel keuntungan) dengan baik.9948. harga pupuk dan harga pestisida mempunyai hubungan negatif terhadap keuntungan usahatani hal ini sesuai dengan harapan. Apabila ditelaah lebih lanjut model III (model pendugaan keuntungan metode Zellner dengan restriksi) tampak lebih efisien jika dibandingkan dengan model I (Model Ordinary Least Square/OLS) serta model II (Metode Zellner tanpa restriksi) hal ini dapat diketahui dari lebih kecilnya angka standard eror dari masing-masing variabel fungsi keuntungan UOP pada model III dibanding model I dan II. Penelitian ini terdapat kesesuaian dengan hasil penelitian Dewi Kusuma Wardani (2003).mempunyai nilai R2 (R square) sebesar 0.009 .005) dan harga pupuk pada dserajat kepercayaan 95% dengan pvalue 0. pada Tabel 5. hal ini dapat dicermati pada lampiran 5 . Selanjutnya apabila dilihat dari pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap keuntungan usaha. sedangkan harga benih dengan p-value 0.9. harga benih. Waridin (1992) bahwa input tidak tetap mempunyai hubungan negatif terhadap keuntungan. keuntungan usahatani jagung adalah upah tenaga kerja pada derajat kepercayaan 99% (p value 0.914 dan harga pestisida dengan p-value 0.420 kedua input variabel tersebut pada derajat kepercayaan 90% tidak nyata mempengaruhi keuntungan usahatani namun mempunyai hubungan ci . Dari 4 (empat) input tidak tetap tersebut yang nyata mempengaruhi. Demikian pula 4 (empat) input variabel yang terdiri upah tenaga kerja.

Pada biaya peralatan dengan p-value 0.000) hal ini dikarenakan dengan luas lahan yang semakin besar produksi jagung akan meningkat pula sehingga total penerimaan petani akan lebih besar.35%. kenaikan harga benih sebesar 10% akan mengakibatkan penurunan keuntungan sebesar 0. Nilai parameter peralatan tidak signifikan hal ini dikarenakan jumlah peralatan yang dipergunakan tidak menjamin keuntungan yang diperoleh.03% . (3) kenaikan harga pupuk sebesar 10% akan mengakibatkan penurunan keuntungan sebesar 3. pengaruh harga-harga input variabel dan jumlah input tetap signifikan kecuali cii . Parameter input tetap nilai peralatan dan luas lahan jagung bertanda positif artinya semakin besar input tetap semakin besar pula keuntungan. Pada kondisi optimal ( Model III) dimana keuntungan maksimum tercapai. Hal ini mungkin dikarenakan benih jagung merupakan input variabel yang paling murah juga penggunaan benih yang tidak selektif sehingga mutu benih kurang baik sedangkan penggunaan pestisida tidak efektif artinya ada atau tidak ada hama penyakit petani tetap menggunakan pestisida sehingga hal ini merupakan pemborosan yang akan meningkatkan biaya produksi. (2).78% . (4) kenaikan harga pestisida sebesar 10% akan mengakibatkan penurunan keuntungan sebesar 0.negatif.442 pada derajat kepercayaan 90% tidak berpengaruh nyata terhadap keuntungan karena kontribusi biaya peralatan usahatani umumnya rendah sedangkan luas lahan garapan berpengaruh nyata pada derajat kepercayaan 99% (p-value = 0. Hal yang demikian menunjukkan makna bahwa pada kondisi aktual (Model II) adalah sebagai berikut : (1) kenaikan tingkat upah tenaga kerja sebesar 10% akan mengakibatkan penurunan keuntungan sebesar 3. sedangkan nilai parameter luas lahan signifikan pada derajad kepercayaan 99%.14% .

3%.. ciii ..i jumlah input variabe1 ke . Fungsi permintaan input atau disebut juga factor share didefinisikan sebagai sumbangan (kontribusi) suatu input variabel terhadap keuntungan.Wi * .nilai peralatan yang dipergunakan karena perbedaan nilai peralatan sangat kecil untuk berbagai skala produksi dan kontribusi nilai peralatan tersebut terhadap seluruh biaya yang diperlukan hanya kecil sebesar 8.ππ Wi * I = 1. dihawah ini . Secara matematis fungsi permintaan input tersebut dapat ditulis sebagai berikut : .10.2.. Xi / πa = α1 *” + ei Xi = αi*" .i yang digunakan keuntungan UOP actual jangka pendek parameter permintaan input variabel faktor kesalahan Hasil pendugaan fungsi permintaan input variabel pada usahatani jagung dapat dilihat pada Tahel 5. 5.3 Fungsi Permintaan Input (Factor Share) dan Fungsi Penawaran Output. 4 Dimana : Wi* = Xi = πa*” = α1 = ei = harga input variabel ke .

Dari tabel 5.7316 Koefisien Regresi II .2998 a) (0.05) c) : Nyata pada derajat kepercayaan 90% (α =0.000) .000) -0.0.000) -0. Model I : Pendugaan dengan metode OLS Model II : Pendugaan dengan metode Zellner tanpa restriksi α i* = α i*” Model III : Pendugaan dengan metode Zellner dengan restriksi αi* = α i*” 2. 172.5100 a) (0.000) -0.000) -0.000) . dan 181.000) -1. Angka dalam ( ) adalah probability value 3.6662 ∑β j* j=1 5 Keterangan : 1.5063 a) (0. a) : Nyata pada derajat kepercayaan 99% (α=0.0.176.173.4474 a) (0.3278 a) (0. 180.4489 a) (0. civ .10 dirangkum dari lampiran 5 halaman 169.01) b) : Nyata pada derajat kepercayaan 95% (α=0. dapat diketehui bahwa pada kondisi aktual (Model I1) factor share seluruh input variabel terhadap keuntungan sebesar 191.000) .9162 III .4240 a) (0.10 Fungsi Factor Share Input Variabel Pada Usahatani Jagung Di Kecamatan Randublatung Kab.10) 4.000) -5034 a) (0.4655 a) (0.5122 a) (0.Tabel 5.0.10.0. Hubungan antara tingkat keuntungan usahatani jagung (πa ) dan permintaan masing-masing input variabel (Xi) dapat diduga apabila nilai α1*” (parameter permintaan input variabel) dan W* (harga masing-masing input variabel yang dinormalkan dengan harga output) diketahui.000) -0. Tahun 2007 Variabel Upah Benih Pupuk Pestisida Parameter α1* α2* α 3* α 4* I .3877 a) (0.62%.170.0.000) -1.000) -1.0.4810 a) (0. Blora. 171. Angka dalam Tabel 5.

berikut ini: Tabel 5.057. Sedangkan share yang terbesar berdasarkan tabel tersebut adalah tenaga kerja dan permintaan pestisida. cv .10) dan untuk nilai Wi* dicari dengan menggunakan pendekatan nilai rata-ratanya. maka dapat diketahui bahwa kenaikan keuntungan usahatani jagung 10% akan menyebabkan kenaikan terhadap permintaan input variabel tenaga kerja sebesar 44. Keadaan tersebut dapat diartikan bahwa permintaan input tenaga kerja dan pestisida inelastis terhadap keuntungan. kenaikan permintaan benih sebesar 0.078.48 2 Benih 12. kenaikan permintaan pupuk sebesar 4.4422 πa = 0.078.07 Wi* 1.4631 Selanjutnya persamaan fungsi permintaan input variabel pada model II menjadi sebagai berikut : Permintaan tenaga kerja Permintaan Benih Permintaan Pupuk Permintaan Pestisida (X1) (X2) (X3) (X4) = 0.296 πa Berdasarkan pada empat persamaan input variabel tersebut.25% dan kenaikan permintaan pestisida sebesar 329.244.00035 πa = 0.56 4 Pestisida 90. Juli 2006 Harga Output 14.07 14.0007 0.10 Sumber : Data primer diolah.22%.0425 πa = 3.70 3 Pupuk 1.065. Pendekatan nilai Wi* sebagaimana disajikan pada tahel 5.078.078.07 14.988.6%. Rata-Rata Harga Output dan Perbandingan Harga Input dengan Harga Output (Wi*) No Input Variabel Harga Input 1 Tenaga kerja 16.11.1406 0.07 14.Parameter permintaan input variabel telah diketahui (lihat tabel 5.11 Rata-Rata Harga lnput Variabel.0884 6. sedangkan permintaan input benih dan pupuk elastis terhadap keuntungan.035% .

cvi . dengan menstubtitusikan nilai tersebut kedalam rumus matematis diatas maka fungsi penawaran output menjadi sebagai berikut : Ys* = 1. Selanjutnya fungsi penawaran output seperti halnya fungsi permintaan input.Sebagai pembanding dari penelitian Nurhayati (2003) menyatakan bahwa pada usaha gula kelapa permintaan tenaga kerja inelastis terhadap keuntungan dan kemungkinan disebabkan tenaga kerja yang digunakan pada umumnya tenaga kerja keluarga sehingga kurang tanggap terhadap perubahan keuntungan.1. Dengan meningkatnya harga jagung juga meningkatkan keuntungan maka hal ini akan meningkatkan motivasi produsen untuk memaksimalkan jumlah produksi jagung. dapat diperoleh dari penurunan fungsi keuntungan. Adapun rumus matematis fungsi penawaran output adalah : Ys* = (1. Hasil ini didukung oleh data empiris yang menunjukan bahwa besarnya keuntungan terutama ditentukan oleh harga jagung yang diterima oleh produsen.9162 π a Berdasarkan fungsi penawaran output diatas dapat disimpulkan bahwa apabila terjadi kenaikan keuntungan usahatani jagung serbesar 10% maka jumlah jagung yang ditawarkan akan mengalami kenaikan sebesar 19.∑ αi *" ) π a i −1 4 4 Besarnya ∑ αi i −1 *" ) sudah diketahui sebagaimana tercantum dalam tabel 5.9162.16%.10 yaitu sebesar .

maka tidak mengherankan jika keuntungan maksimum menjadi tujuan utama bagi setiap pengusaha atau produsen. bahwa banyaknya input yang diminta produsen tergantung besarnya output yang direncanakan untuk diproduksi.12. Hasil pengujian disajikan pada tabel 5. berikut ini : cvii . Sesuai dengan tujuan penelitian yang pertama sekaligus menguji hipotesis pertama yang menyatakan alokasi penggunaan faktor-faktor produksi belum optimal seluruhnya dan keuntungan maksimum belum tercapai.4 Pengujian Keuntungan Maksimum Jangka Pendek. tcrmasuk petani jagung sebagai produsen didaerah penelitian. Sebagaimana telah diketengahkan dalam Bab II.5. Pengujian dilakukan dua cara yaitu pengujian serentak terhadap semua input variabel dan pengujian parsial terhadap masing-masing. Besarnya output yang diproduksi tergantung perhitungan mengenai tingkat output mana yang menghasilkan keuntungan maksimum. Maka pengujian keuntungan maksimum jangka pendek ini bertujuan untuk mengetahui apakah usahatani jagung yang ada didaerah penelitian telah mencapai keuntungan maksimum atau belum. input variabel. Berdasarkan teori tersebut.

1310) Tolak Ho (P:0..0000) αi* = α i *” αi* ≠ α i *” αi* = α 2 *” αi* ≠ α 2 *” α2* = α 2 *” α2* ≠ α 2*” α3* = α 3 *” α3* ≠ α3*” α4* = α 4 *” α4* ≠ α 4*” Keterangan : 1.12 Pengujian Keuntungan Maksimum Jangka Pendek Pada Usahatani Jagung di Kecamatan Randublatung.05) c) : Nyata pada derajat kepercayaan 90% (α =0. Value 0.12 dirangkum dari lampiran 5 halaman 177 Tabel 5.288 509.01) b) : Nyata pada derajat kepercayaan 95% (α=0.003 170.0000) yang artinya bahwa usahatani jagung didaerah penelitian tidak dapat mencapai keuntungan maksimum. Dari basil pengujian parsial tampak bahwa dari masing-masing input variabel benih dan pestisida. hipotesis nol ditolak pada derajat kesalahan α = 0.10) 3. Dengan kata lain secara keseluruhan alokasi input-input varabel belum dapat mencapai optimal.01 3.92 3.0000) Terima Ho (P:0. Angka dalam Tabel 5.85 0.Tabel 5. cviii .9557) Tolak Ho (P:0.-Tabel 0.45 3.12 dapat diketahui bahwa pengujian serentak keuntungan maksimum menunjukan hipotesis nol menyatakan a i* = a i*" ( i= 1.0 1.85 6. Angka dalam ( ) adalah probability value 2.01 (P.48 6. yang artinya alokasi penggunaan benih dan pestisida tidak ada yang optimal. Sesuai dengan yang diuraikan pada BAB III pada pengujian keuntungan maksimum dinyatakan jika ada salah satu Ho ditolak maka usahatani jagung tidak dapat mencapai keuntungan maksimum jangka pendek..92 3.85 6. Hitung 171.81 0. a) : Nyata pada derajat kepercayaan 99% (α=0.4 ) ditolak pada derajat kesalahan α = 0.2.85 6.05 2.28 F.92 Keputusan Tolak Ho (P:0. 2007 Hipotesis nol Hipotesis alternatif Pengujian Keuntungan Maksimum Serentak Alokasi optimum tenaga kerja Alokasi optimum benih Alokasi optimum pupuk Alokasi optimum pestisida F.16 2.0000) Terima Ho (P:0.92 3.

Keadaan tidak tercapainya keuntungan maksimum jangka pendek pada usahatani jagung. Sedangkan pengujian alokasi input variabel tenaga kerja dan pupuk. Hal demikian menunjukkan bahwa biaya marginal (Marginal Cost/MC) dari masing-masing input variabel tersebut belum sama dengan penerimaan marginalnya (Marginal Revenue/MR) sehinga keuntungan maksimal tidak dapat tercapai. Dewi Kusuma Wardani (2003) usahatani jagung lahan sawah di Kabupaten Temanggung. Namun demikian pada uji parsial (optimalisasi Penggunaan input ) pada penelitian-penelitian terdahulu tersebut diatas terdapat satu atau beberapa input yang penggunaanya sudah optimal. Waridin (1992) pada usahatani padi di Kabupaten Pemalang. Endang Sudaryati (2004) pada usahatani Kopi di Kabupaten Temanggung.01 yang artinya alokasi penggunaan input variabel tenaga kerja dan pupuk telah mencapai optimum. terjadi pula pada hasil-hasil penelitian terdahulu yaitu pada usahatani tembakau di Temanggung. Oleh karena itu dengan pembinaan teknis penggunaan mutu dan jumlah benih yang sesuai dengan standard teknis serta penggunaan pestisida yang efektif maka proses produksi yang diharapkan akan bekerja pada kondisi rasional (decreasing return to scale). hipotesis diterima pada derajat kesalahan α = 0. Para petani dalam menggunakan pestisida berdasarkan faktor kebiasaan mereka dalam memberikan pestisida terhadap tanaman jagung sehingga terjadi pemberian pestisida yang tidak perlu pada tanaman jagung yang dimilikinya.Hal demikian dihadapkan fenomena penggunaan benih pada daerah penelitian cenderung benih asalan kurang bermutu sedangkan penggunaaan pestisida kurang efektif mengingat perilaku petani jagung dalam penggunaan "pestisida tidak mempertimbangkan ada atau tidak adanya hama penyakit. cix .

2007 Nilai dugaan 1. Hasil pengujian kondisi skala usaha dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5.0297 Hipotesis F-Hitung F.05 Keputusan Tolak Ho Ho:β1* + β 2 *=1 9.Menurut Kusumawardhani (2003) ketidakmampuan petani menyamakan MC dcngan MR di sebabkan oleh : (1) Usahatani membutuhkan input tenaga kerja yang banyak dalam hari kerja yang Panjang. berikut ini.13 Kondisi Pendugaan Parameter Pengujian Tingkat Skala Usaha Pada Usahatani Jagung di Kecamatan Randublatung. Jika j −1 1 ∑ βj j −1 1 ≠ 1 apakah nilainya < 1 (DRTS) atau > 1 (1RTS). Dalam kasus fungsi keuntungan Cobb-Douglas. (3) Harga produksi yang diterima petani dari pedagang perantara lebih rendah dari harga yang ditetapkan oleh pabrik.85 3.0018) Keterangan : Angka dalam Tabel 5.11 dirangkum dari lampiran 5 halaman 177 cx . 5. (2) petani menerima harga input pupuk dan pestisida dengan harga yang cukup tinggi dari produsen input.92 Ha:β1* + β 2 *≠1 (0.5 Pengujian Kondisi Skala Usaha. Jika nilainya =1 maka usaha pada kondisi constant returns to scale. Telah dikemukakan dalam Bab II bahwa skala usaha (returns to scale) menggambarkan respons dari suatu output terhadap perubahan proporsional dari input.01 0. Tabel 0.8241 6. Pengujian terhadap skala ekonomi usaha produksi jagung dilakukan dengan menguji apakah ∑ βj = 1 (CRTS) atau j −1 1 ∑ βj ≠ 1 (bukan CRTS). Lau (1972) menyatakan bahwa kondisi skala ekonomi usaha dapat diketahui dengan menguji berapa nilai ∑ βj . Jika j −1 1 nilainya < 1 decreasing returns to scale dan jika nilainya > 1 increasing return to scale.13.

Dalam hal ini misalnya input variabel dinaikan kualitasnya sebesar 10%.29%. berarti skala usaha pada usahatani jagung di Kecamatan Randublatung tidak berada pada kondisi constant returns to scale. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seluruh input diubah satu unit. Dilihat dari nilai dugaan ∑β j +1 A j* = 1.6 Pengujian Efisiensi Ekonomi Relatif Teori ekonomi sebagaimana telah diuraikan dalam Bab II menyebutkan bahwa efisiensi ekonomi relative ditentukan oleh efisiensi teknis dan efisiensi harga. menyebabkan perubahan tingkat keuntungan lebih dari 1 unit.Hasil pengujian skala usaha sebagaimana tampak pada tabel 5.0297 dan lebih besar dari satu menunjukkan bahwa kondisi skala usaha produksi pada usahatani jagung rata-rata berada keadaan increasing return to scale (IRTS). 5. Keadaan ini dapat terjadi mengingat kualitas tenaga kerja maupun mutu dari sarana produksi seperti penggunaan benih jagung asalan.01) dengan p-value 0.13 menunjukan bahwa nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel pada derajat kepercayaan 99% (α = 0. pestisida yang tidak efektif cara pemupukan yang kurang tepat.0 ha) dan cxi .0018 sehingga hipotesis no1 ditolak. Sebagai pembanding hasil penelitian Waridin (1992) usahatani padi sawah pada kelompok penyewa di Kabupaten Pemalang diperoleh kesimpulan kondisi skala usahatani dengan kenaikan hasil bertambah (increasing return to scale). Pengujian dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perbandingan tingkat efisiensi antara petani kecil (luas lahan > 1. maka keuntungan usaha akan meningkat 10.

0.1507 (0. 189 dan 194 cxii .4751 a) (0.9307 a) (0.000) 1.14 Pendugaan Fungsi Keuntungan UOP Usahatani Jagung di Kecamatan Randublatung Berdasarkan Skala luas lahan.0608 (0.008) .766) 0.170) bb .01) b) : Nyata pada derajat kepercayaan 95% (α=0.000) .004) .047) -0.petani besar (luas lahan ≤ 1.074) 0.0.4937 0.4521 a) (0.3837 b) (0.029) .827) 0.0033 (0.000) 1. Angka dalam Tabel 5.0647 0. a) : Nyata pada derajat kepercayaan 99% (α=0.000) 1.10) 3.0155 a) (0.313) 1.0608 0.074) 0.0.3567 a) (0.002) .4831 a) (0.0270 c) (0.005) .0337 c) (0.887) 0.075) -0.9956 Koefisien Regresi II 4.0.3507 a) (0.9964 III 4.4782 (0.14 berikut ini : Tabel 5.000) .0655 b} (0.0.4410 a) (0.096) 0.000) .0.0039 a) (0.9239 a) (0.1301 c) (0.0.452 -0.0289 c) (0.0. Angka dalam ( ) adalah probability value 2.0.0234 (0.0.0365 b) (0.0 ha) ha).05) c) : Nyata pada derajat kepercayaan 90% (α =0.0070 (0.002) .9896 ∑β j* j = 11 A R2 Keterangan : 1. 2007 Variabel Konstanta DM LN W1 * LNW2* LNW3* LNW4* LNZ1 LNZ2 Parameter A* δM α 1* α 2* α 3* α 4* β1 β2 I 4. Untuk keperluan tersebut fungsi UOP dan fungsi permintaan input variabel perlu dimodifikasi dengan jalan memasukan variabel dummy ke dalam fungsi tersebut. Modifikasi fungsi keuntungan UOP fungsi permintaan input variabel dapat dilihat masing-masing pada tabel 5.14 dirangkum dari lampiran 5 halaman 182.0412 (0.202) 1.

Pada tabel 5.14 adalah hasil pengujian dari modifikasi penggunanaan faktor produksi berdasarkan input yang digunakan. Sedangkan hasil pengujian pendugaan fungsi faktor share input usaha tani di Kecamatan Randublatung adalah sebagai berikut :
Tabel 5.15 Pendugaan Fungsi Factor Share Input Variabel Berdasarkan Skala Luas Lahan Uasahatani Jagung Di Kecamatan Randublatung,2007

Variabel

Parameter α1*”K α1*”B α2*”K α2*”B α3*”K α3*”B α4*”K α4*”B

Tenaga kerja

Benih

Pupuk

Pestisida

I 15,034 a) (0,000) 0,0083 (0,437) 16,250 a) (0,000) 0,0718 c) (0,099) 13,518 a) (0,000) 0,0155 (0,356) 10,996 b) (0,028) 0,0339 (0,686) 55,798 0,1295

Koefisien Regresi II 14,912 a) (0,000) 0,0097 (0,365) 15,922 a) (0,000) 0,0705 (0,105) 13,520 a) (0,000) 0,0183 (0,246) 11,208 b) (0,025) 0,0338 (0,686) 55,292 0,1323

III 14,858 a) (0,000) -0,0015 (0,365) 15,073a) (0,000) 0,0234 (0,452) 13,195 a) (0,000) -0,0033 (0,827) 10,783 b) (0,023) 0,0070 (0,766) 53,909 0,0256

∑ α *"

4

K

∑ α *"
i =1
1

i =1 4

1

B

Keterangan 1. Model 1 : Pendugaan dengan metode OLS Model II : Pendugaan dengan metode Zellner tanpa restriksi α ;*= α ;*” Model III : Pendugaan dengan metode Zellner dengan restriksi (x ;*= a ;*” 2. Angka dalam ( ) adalah probability value 3. a) : Nyata pada derajat kepercayaan 99% (α = 0,01) b) : Nyala pada. derajal kcpercayaan 95% (α = 0,05) c) : Nyata pada derajat kepercayaan 90% (α = 0,10) 4. Dirangkum dari lampiran 5 halaman 183, 184 dan 185, 186, 189, 190, 195, dan 196. cxiii

Pengujian efisiensi ekonomi relatif antara kedua kelompok skala luas lahan usahatani yang ada di daerah penelitian, dilakukan dengan pengujian kesamaan efisiensi ekonomi antar dua kelompok secara serentak. Kemudian sebagai pendukung dirasa perlu untuk menguji efisiensi alokatif (harga) dan efisiensi teknik. Hasil dari pengujian dimaksud dapat dilihat pada tabel 5.16 berikut ini.
Tabel 5.16 Hasil Pengujian Efisiensi Ekonomi Relatif Berdasarkan Skala Luas Lahan Usahatani Jagung Di Kecamatan Randublatung, 2006

No

Hipotesis Ho : δB = 0 Ha : δB ≠ 0

Uji Untuk

F. Hit

F. Tabel 0,01 0,05 0,10

Keputusan

1

2

3

Kesamaan efsiensi Tolak Ho ekonomi antara petani 3,178 6,85 3,92 2,75 (P-Value = kecil dan petani besar 0,004) efisiensi Ho : δ*”B = Kesamaan harga Terima Ho 0 0,937 3,48 2,45 1,99 (p-value = 0,441) Ha : δ*”B ≠ antara petani kecil dan 0 petani besar Terima Kesamaan efisiensi Ho(α=0,05) Ho : δB = 0 teknik 3,241 6,85 3,92 2,75 Tolak Ho Ha : δB ≠ 0 antara petani kecil dan (α=0,10) petani besar (P-Value= 0,072)

Keterangan : 1. Uji kesamaan Efisiensi teknik (no.3) berdasarkan model III, lainnya (no. l dan 2 ) berdasarkan model II 2. Angka-angka dalam tabel 5.16, dirangkum dari lampiran 5 halaman 191, 192 dan 196 Berdasarkan hasil uji kesamaan efisiensi ekonomi antara petani kecil dan petani besar ditolak pada derajat kepercayaan 99% dengan p-value 0,004, akan tetapi uji tersebut tidak didukung oleh hasil uji kesamaan efisiensi harga yang menerima Ho pada derajat kepercayaan 90% dengan p-value 0,441 artinya alokasi penggunaan faktor-faktar produksi antara petani kecil dan petani besar cxiv

tidak berbeda hal ini karena penggunaan faktor-faktor produksi di daerah penelitian dimungkinkan homogen. Dan pada uji kesamaan teknik, uji tersebut diterima pada derajat kepercayaan 99%. Hasil uji menunjukkan bahwa penggunaan kualitas /mutu dari pemakaian input seperti, pupuk, pestisida maupun penerapan teknologi dalam usahatani jagung antara petani kecil dan petani besar cenderung sama. Tidak adanya perbedaan nyata dalam penerapan teknologi hal ini dapat diketahui dari teknis budidaya jagung antara petani kecil dan petani besar. Perbandingan tingkat efisiensi ekonomi antara petani kecil dan petani besar dapat diketahui dengan melihat besarnya koefisien atau parameter dari variabel dummy. Dimana kalau koefisien dari variabel dummy tersebut nyata, berarti ada perbedaan efisiensi antara petani kecil dan petani besar. Dari pendugaan fungsi keuntungan UOP yang dimodifikasi dengan variabel dummy dapat diketahui efisieni ekonomi relatif atau petani mana yang mempunyai efisiensi ekonomi paling tinggi. Dalam model II Tabel 5.14 diketahui besarnya parameter variabel dummy untuk petani besar (δM) yaitu – 0,3507 sehingga dummy untuk petani besar bertanda negatif dan nyata terhadap keuntungan usaha tani, yang mempunyai makna bahwa efisiensi petani besar berbeda lebih kecil dibandingkan petani kecil atau dengan kata lain usahatani jagung pada petani kecil lebih efisien dibanding dengan petani besar. Hal ini dapat dimengerti karena penggunaan sarana produksi per hektar sebagai input variabel pada "petani kecil" lebih sedikit dibanding petani besar, sedangkan nilai produksi per hektar pada "petani kecil" lebih besar

cxv

Penelitian ini ada kesesuaian dengan yang dilakukan oleh Sigit Larsito (2005) bahwa usaha tani tembakau rakyat di Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal juga menunjukkan pada petani kecil dengan luas garapan < l hektar mencapai efisiensi ekonomi yang lebih baik dibanding dengan petani besar dengan luas lahan garapan > 1 hektar. Hal ini ditunjukan oleh koefisien variabel dummy yang bertanda negatif serta rate of return masing-masung input pada petani kecil yang lebih tinggi dibanding petani besar. cxvi . jumlah benih serta pupuk sehingga tidak dapat menyeimbangkan antara input yang digunakan dengan output yang dihasilkan.dibanding dengan "petani besar" karena harga per kg jagung lebih baik yang menggambarkan mutu produksi petani kecil juga lebih baik daripada petani besar. Selain itu juga kondisi ini menandakan bahwa petani kecil lebih dapat memaksimalkan faktor produksi yang digunakannya sehingga dapat menghasilkan hasil produksi yang lebih baik dibandingkan petani besar. Rendahnya produksi jagung pada petani besar disebabkan petani pada lahan besar kurang efisien dalam menggunakan factor produksi yang ada seperti luas lahan.

harga pupuk dan harga pestisida) mempunyai hubungan negatif terhadap keuntungan sehingga kenaikan harga input variabel akan menurunkan keuntungan sedangkan input tetap (luas lahan dan peralatan) mempunyai hubungan positif terhadap keuntungan yang berarti kenaikan input tetap akan menaikan keuntungan. Hasil pendugaan fungsi keuntungan Unit Output Price (UOP) usahatani jagung menunjukkan bahwa dari ketiga model. harga benih. Namun jika dilihat dari penggunaan input variabel menunjukan bahwa benih dan pestisida yang belum optimal sedangkan pengalokasian input variabel tenaga kerja dan pupuk telah mencapai optimal.BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. cxvii . Hasil penelitian empiris ini menunjukan bahwa usahatani jagung di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora belum memberikan tingkat keuntungan yang maksimum kepada petani. pada model I dan II koefisien semua input variabel (upah tenaga kerja. Sedangkan pada model III input variabel (tenaga kerja dan pupuk) mempunyai hubungan negatif terhadap keuntungan yang berarti kenaikan input tetap akan menurunkan keuntungan. 2.

3. Dari hasil analisis efisiensi ekonomi relatif antara kedua kelompok berdasarkan skala luas lahan garapan yaitu skala luas lahan dibawah 1. Hal ini masih memungkinkan adanya peningkatan produksi jagung didaerah penelitian melalui perluasan usaha serta perbaikan teknik produksi usahatani yang dilakukan tanpa perubahan teknologi dan manajemen usaha. Hasil pendugaan skala usaha menunjukan bahwa kondisi skala usaha dalam usahatani jagung didaerah penelitian secara rata . Sedangkan harga benih dan harga pestisida mempunyai pengaruh negatif yang tidak nyata tehadap keuntungan usahatani jagung. 5. dapat diketahui bahwa permintaan input-input variabel yang digunakan dalam usahatani jagung menunjukan permintaan benih dan pupuk elastis terhadap perubahan keuntungan sedangkan permintaan tenaga kerja dan pestisida inelastis terhadap perubahan keuntungan. 6. Dari semua harga input variabel yang digunakan dalam usahatani jagung. Dari hasil penurunan fungsi permintaan input dan fungsi penawaran output.0 ha dapat dibuktikan terdapat perbedaan tingkat efisiensi dimana petani kecil lebih efisien dibandingkan petani besar. upah tenaga kerja mempunyai pengaruh yang paling besar.0 ha (petani kecil) dan skala usaha luas lahan lebih dari diatas 1. 4. dan pupuk mempunyai pengaruh negatif yang nyata terhadap keuntungan aktual usahatani jagung (model II). berikutnya secara berurutan adalah pupuk. Hasil analisis bahwa input variabel berupa upah tenaga kerja. pestisida dan benih.rata berada dalam keadaan increasing returns to scale (kenaikan hasil semakin bertambah). cxviii .

2 Limitasi Limitasi dari penelitian ini adalah : 1. politik.16 persen. Dengan demikian hasil penelitian yang tani dicapai secara belum dapat menggambarkan perkembangan usaha menyeluruh. 2. Dalam penelitian ini yang diteliti pada variabel-variabel ekonomi (ditinjau dari harga-harga input variabel). 6. khususnya perkembangan usahatani dalam jangka panjang. sedangkan variabel yang bukan ekonomi tidak diperhitungkan (misalnya sosial. Mengingat tingkat keuntungan yang tercapai produsen tidak saja ditentukan oleh besar kecilnya produksi melainkan juga oleh harga harga input dan output maka ketika musim tanam jagung telah tiba maka pemerintah mengambil peran dalam pengendalian kelancaran distribusi cxix . dimana kenaikan keuntungan 10 persen akan mengakibatkan peningkatan penawaran produksi jagung 19.Adapun penawaran produksi jagung elastis terhadap perubahan keuntungan usaha. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section yang merupakan data hasil penelitian sesaat atau dalam waktu tertentu saja. lingkungan dan lain-lain) sehingga hasil penelitian ini kurang dapat menggambarkan secara keseluruhan aspek budidaya usahatani jagung di daerah penelitian.3 Saran 1. 6.

cxx . Dikaitkan dengan kondisi return to scale. 3.sarana produksi khususnya ketersediaan pupuk dan kestabilan harga input lainnya. Hal ini dilakukan didasari pada petani besar memiliki efisiensi yang lebih rendah dibandingkan dengan petani kecil. hasil studi ini menunjukan bahwa usahatani jagung didaerah penelitian berada pada kondisi increasing return to scale (kenaikan hasil yang meningkat). Oleh karena itu pemerintah melalui institusi dinas-dinas terkait lebih intensif melakukan pembinaan tehnis terhadap petani jagung khususnya penyuluhan pertanian mengenai anjuran penggunaan faktor produksi yang lebih optimal. Pihak instansi terkait memberikan pengarahan dan penyuluhan terutana kepada petani skala besar agar dapat meningkatkan efektifitas produksinya. 2.

BPS. Ekonomi ManajerialPEnerapan Konsep-Konsep Ekonomi dalam Manajemen Bisnis Total. Fungsi Keuntungan Cobb Douglas dalam Perdagangan Efisiensi Ekonomi Relatif. Statistik Indonesia. 2006. Jakarta Anonim. hal 149 – 161. Semarang Gaspersz. Tidak dipublikasikan.. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 2000. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Rakyat Di Kabupaten Temanggung” (Studi Kasus Di Kecamatan Candiroto. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. penerjemah Julius A. BPFE. 2. 2002. Indah Susantun. Efisiensi Ekonomi Realtif dan Analisis Pendapatan Usahatani Tembakau Berdasarkan System Penguasaan Lahan sawah di Kabupaten Temanggung. 1 Juni 2002. Erlangga. Blora. Gramedia Pustaka Utama. 2006. Laporan Tahunan 2006. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UGM. 2004. Dornbusch. PT. Metodologi Penelitian survey. 1984. 2003. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. 2002. Vinvent. Yogyakarta. Semarang. Joko Handoyo. 9 No. Kabupaten Temanggung). Dinas Pertanian Propinsi jawa Tengah.2004. Laporan Kegiatan Kajian Perbanyakan Benih Jagung. Tesis MIESP Undip Semarang. 1992.5 No. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Jakarta Endang Sudaryati. Efisiensi Ekonomi Usahatani Kubis (Di Kecamatan Bumaji. Kabupaten Malang). penerjemah Karyaman Muchtar. Rudiger Dan Stanley Fischer.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1996. Makroekonomi. Mulyadi. Boediono. Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi. Konsep Teori dan Kebijakan Makroekonomi. Agro Ekonomi Vol. 1997. Kusumawardhani. Jakarta. Dernberg. Laporan Tahunan 2006. Jakarta Dewi Kusumawardani. Tidak dipublikasikan. Departemen Pertanian. Tesis MIESP Undip Semarang. Jakarta Budi Suprihono. 2003. Jawa Tengah Dalam Angka. Jakarta. Program Pengkajian dan Diseminasi BPTP Jawa Tengah. LP3ES. Dinas Pertanian Kabupaten Blora. Erlangga. Analisis Efisiensi Usahatani Padi Pada Lahan Sawah di Kabupaten Demak. 1998. Thomas F. 2002. 2006. Ungaran. cxxi . Ekonomi mikro Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi.

PT. Simanjuntak. Analisis Usahatani. Tidak dipublikasikan. Tidak dipublikasikan. 1997. USA. Tidak dipublikasikan. Jakarta.Miller. LPFE UI. Tesis MIESP UNDIP. April. Tesis MIESP Undip Semarang. 2005. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian – Teori dan Aplikasi. 1986. Jakarta Mubyarto. Size and Relative Efficiensy : The Carevof Oil Palm in Northem Sumatra Indonesia. 1993. North Carolina State University. Sri Widodo.B. Rajawali Press. Erlangga. Tesis MIESP Undip Semarang. 2003. Analisis Keuntungan Usahatani Tembakau Rakyat dan Efisiensi Ekonomi Relatif Menurut Skala Luas Lahan Garapan. Penerbit Universitas Indonesia. Nurhayati. Edisi Kelima. Economic Organization. Total Productivity and Frontier Production. Sigit Larsito. Jakarta. 1980. Yogyakarta. Analisis Efisiensi Usaha Tani jahe di Kabupaten Boyolali (Studi Kasus di Kecamatan Ampel). 2003. Raja Grafindo. 1995. PT. Sri Rejeki. Payaman J. Raja Grafindo Persada. Jakarta Saragih. _________. Jakarta. Cetakan ke 3. LP3ES. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta. Tidak dipublikasikan Dominic Salvatore. Nicholson. 2006. Efisiensi Produksi Usahatani Bawang Merah di Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Roger LeRoy dan Roger E. 1995. Teori Mikroekonomi Intermediate. Jakarta _________. Soekartawi. 1990. 1995. Terjemahan : Danel Wijaya. Water. Rudi Sitompul MA. Bina Rupa Aksara. Analisis Keuntungan dan Efisiensi Usaha Tani Belimbing di Kecamatan Demak. 2005. Analisis Skala Usaha dan Efisiensi Ekonomi Realtif di Kabupaten Purbalingga. Jakarta. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. 1999. Pengantar Ekonomi Pertanian. Agro Ekonomi. BPFE UGM. Sri Hidayati. 2002. Tesis MIESP Undip Semarang. Jakarta. 2000. Teori Ekonomi Produksi dengan pokok bahasan analisis fungsi Cobb-Douglas. _________. Disertasi. Meiners. Semarang. penerjemah Drs. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. cxxii . _________. 2000. Rajawali Pers. Jakarta Rudhi Haristrianto. penerjemah Haris Munandar. Rajawali Press. Pembangunan Pertanian. Tesis Program Pasca sarjana Universitas Diponegoro. Teori Makro Ekonomi : Prinsip Dasar dan Perluasan.

Subandi. West Java. 1985. Jakarta. Rineka Cipta. INFIS (Indenesia Fisheries Information Systen). Jakarta Sugianto. Sutrisno Hadi. cxxiii . Direktorat Jenderal Perikanan. U. PT. Sri Widodo. Harper and Row Publisher. Pengantar Ekonomi Mikro. Indonesia. Waridin. Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia lainnya di Maros Sulawesi Soedarsono. Tesis S 2 UGM. Jakarta Purbayu Budi Santoso. Pan. Materi Sosialisasi Produksi dan Distribusi Benih Unggul Jagung Nasional. 1986. Yogyakarta. S. Manual Seri No. New York.. 1994. Dorlan. Tesis Unpad. S. Yogyakarta. Analisis Budidaya Ikan Sistem Karambadi Perairan Umum Kabupaten Kampar. Yotopoulos. 14. FE UGM. Sumeru Ranoemihardjo. dan Kustiyo. No. Production Efficiency of Caulifloer at Citarum. FE UNDIP Semarang. 1997. Efisiensi Penggunaan Kakao pada Beberapa Endomen yang Berbeda. No 1 dan 2 Juni 1994. Yogyakarta. Agro Ekonomi. 1992. 1976. Departemen Republik Indonesia. 1998. Total Productivity and Frontier Production. 1985. 2. BPFE UGM. T. Vol VI. Jurnal Agro Ekonomi. Jurnal MEB. Pupuk dan Pemupukan Tambak. 2005. 1998.A dan Jeffry B. Suryo Wardhani. Nugent. Rencana Pembangunan Pertanian. Jakarta. BPPS UGM. April. Tidak dipublikasikan. Suparpto Gunawan dan Masyuhuri. Economics Of Development : Empirical Investigations. Kebutuhan Benih Jagung di Indonesia. Anonim. Analisis Keuntungan dan Efisiensi Relatif Usahatani Padi menurut Status Penguasaan Lahan Sawah. Metode Statistika Dasar. 2005. LP3ES. 2000. Bandung.Sipahutar. B. Yogyakarta. Efisiensi Ekonomi Relatif Usaha Budidaya Lele Dumbo di Kabupaten Kudus.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->