Lingkungan Pembelajaran Positif (Final Kelompok Foundation)

Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat

mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan. Seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, minat menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, tanpa dengan minat, tujuan belajar tidak akan tercapai. Dalam banyak kasus bahkan banyak juga guru yang tidak peduli dengan ragam pola perilaku siswa (students behaviors) yang seharusnya mendapat treatment berbeda antara satu dengan siswa lainnya. Karena keputus-asaan para guru, akhirnya persoalan manajemen pengelolaan kelas menjadi hal yang sulit dipahami, karena biasanya para guru sering mengambil jalan pintas dalam mengatasi persoalan di kelas, yaitu menggunakan otoritasnya yang besar sebagai guru, sambil mencoba mengklasifikasi siswa mereka dengan hukuman dan penghargaan (punishment and reward) yang seringkali sangat bersifat penanganan sementara terhadap kasus-kasus yang menimpa siswa dalam belajar. Untuk itu, kami akan memaparkan beberapa topik masalah yang tinbul dan perlu dibahas dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif; antara lain: 1) Guru yang peduli terhadap siswanya yang diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang positif 2) Guru efektif dalam mengelola kelasnya 3) Pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam menhadapi tingkah laku siswa yang kurang sesuai 4) Guru dalam menanggapi tingkah laku siswa yang tidak sesuai 5) Hasil penelitian yang diharapkan mampu menangani segala permasalahan guru di dalam kelas guna menciptakan pembelajaran yang positif, efektif dan efisien. Adapun hasil diskusinya, akan kami jabarkan sebagai berikut: 1. Guru yang peduli terhadap siswanya yang diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang positif

pintar. ia membutuhkan komitment tinggi terhadap perubahan. Dari fenomena di atas dikaitkan dengan kenyataan yang ada. perilaku yang patut untuk dicontoh muridnya. 2. Guru harus senantiasa sadar akan kedudukannya selama 24 jam sehari. Selain sifat-sifat diatas. (Hasan. guru yang rajin akan menjadi panutan murid. penyayang. sehingga para murid akan sengat dalam belajar. berbicara. adil. Sifat-sifat mereka antara lain. cara guru berpakaian. (Sumargi. Kepribadian diri seorang guru yang ditampilkan dihadapan anak didiknya baik dalam maupun luar sekolah akan berprngaruh terhadap keberhasilan belajar-mengajar. mereka mempunyai sikap. Untuk mengetahui lebih jelas pengaruh minat terhadap siswa dalam belajar. Seorang Guru yang penyayang pada murid-muridnya adalah yang menjadi pusat perhatian siswa-siswanya. Guru merupakan sosok yang dihormati mempunyai tanggung jawab besar untuk mendidik anak dan mengajarkan ilmu demi terciptanya generasi bangsa yang kaya akan IPTEK dan IMTAK. 1996) Menjadi guru inspiratif tentu saja tidak dapat diraih dengan hanya sekedar "berbeda". Juga pembawaan guru yang berwibawa akan menjadikan murid untuk selalu hormat dan patuh terhadap guru. Seperti kata orang jawa kata µguru¶=digugu lan ditiru. 2003) mengemukakan bahwa Guru sebagai pendidik dan pembaharu generasi muda harus menjadi teladan di dalam maupun di luar sekolah. rajin. bergaul dan berjalan merupakan cerminan dari kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap anak didiknya dalam kegiatan belajar-mengajar. di mana dan kapan saja ia akan dipandang sebagai guru yang harus memperlihatkan kelakuan yang dapat ditiru oleh masyarakat khususnya anak didik. Guru menjadi figur sentral yang mempunyai peranan dalam meningkatkan motivasi siswa di dalam proses belajar. 3. serta mampu membawa siswanya memahami dunia melalui dirinya sendiri. Tapi seorang guru itu adalah sosok yang sabar dalam menghadapi murid-muridnya. Alasannya: 1. Bagi siswa guru adalah sosok yang pintar yang tahu tentang segala-galanya. Selain itu perilaku-perilaku guru yaitu selalu rapi dan sederhana membuat para siswa tambah kagum akan sosok seorang guru. Apa yang dituntut dari guru dalam aspek etis intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewsa lainnya. Dalam sebuah pendidikan seorang guru adalah sosok yang berjasa untuk negara. tegas. Tapi kadang-kadang seorang guru harus bersikap tegas terhadap muridnya untuk melatih kedisiplinan dan kepatuhan murid. maka kami tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : ³Hubungan Kepribadian Guru dengan Motivasi Belajar Siswa´. dan berwibawa. : Sifat sabar bagi seorang guru adalah kunci kesuksesan dalam pembelajaran.Guru harus menunjukkan prilaku yang layak dan baik menurut himpunan masyarakat. Karena seorang guru adalah sosok yang selalu rapi dalam kegiatan belajar mangajar dikelas. terlebih dahulu penulis mengemukakan pendapat para ahli tentang belajar itu . Dan rasa adil yang diberikan guru adalah cermin jiwa yang bersahaja yang membuat para siswa kagum terhadapnya. sabar. memahami. Dan Penampilan sederhana seorang guru menjadi daya tarik tersendiri bagi murid-muridnya.

(Semiawan. bukan karena siswa asyik mendengarkan yang gurunya paparkan tapi mungkin juga karena siswa takut untuk bertanya dan meminta keterangan lebih mengenai suatu topik yang sebenarnya menarik bagi dirinya. Hal yang akan terjadi dalam suasana kelas seperti itu adalah kelas jadi hening setiap saat. Jika ada guru yang ingin berubah dalam arti membuat suasana kelasnya menjadi lebih dialogis dan demokratis. Sebab siswa tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan hal-hal yang melanggar ketertiban kelas. Guru efektif dalam mengelola kelasnya Permasalahannya di banyak kelas yang ada di banyak sekolah yang terjadi adalah komunikasi nya bersifat satu arah saja atau teacher centric. Walaupun topik yang sama yang anda hantarkan. dilakukan secara aktif dan disengaja dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman yang baru. mereka dapat memusatkan perhatiannya terhadap bidang studi yang dipelajarinya. ia berpikir kelas yang diajarnya sudah cukup berhasil.sendiri. keadaan kelas dapat menjadi tenang. tetap saja mesti sipilih kata-kata yang sekiranya cepat dimengerti oleh siswa. belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya dapat pula dikatakan bahwa belajar adalah kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh komponen badan termasuk fisik dan psikis. Didalam kelas yang bernuansa seperti ini jangan harap ada nuansa terjadinya dialog yang bersifat keilmuwan atau dialog yang bersifat dua arah. Berikut ini adalah tips bagaimana guru berkomunikasi yang efektif dengan siswanya di kelas. maka hal pertama yang ia khawatirkan adalah wibawanya sebagai guru akan menurun. Sebab sukses tidaknya dalam mengelola sebuah kelas tidak lain tidak bukan adalah bagaimana guru berkomunikasi dengan siswanya. Jika minat siswa dapat dibangkitkan. Diharapkan dengan demikian siswa akan cepat menangkap maksud yang anda sampaikan. Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu lingkungannya. 2. karena semakin muda usia siswa semakin perlu kita menyederhanakan kata-kata. Dengan demikian prose belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan siswa pun dapat mencapai tujuan belajar sebagaimana yang diharapkan. 1. Susahnya banyak guru yang cukup senang ketika menemukan suasana seperti itu di kelasnya. karena setiap saat bisa saja siswa mendebatnya atau siswa mempertanyakan hal yang diajarkannya. kemudian seluruh perhatiannya dapat dipusatkan kepada bidang studi yang dipelajarinya. adanya minat dalam diri siswa yang belajar. Jika baik dalam berkomunikasi secara otomatis maka baik juga pengelolaan kelasnya. Lihat kepada siapa anda berbicara. Untuk mencapai tujuan belajar yang dimaksud diperlakukan adanya faktor pendorong atau minat dalam diri setiap siswa yang belajar. . Kegiatan tersebut. Dengan demikian. buktinya siswa terpana saat mendengarkannya. 1991) menjelaskan Guru harus mempunyai antusias agar bisa dengan efektif berkomunikasi dengan siswa.

bahkan dalam .. menegurnya di depan teman-teman sekelasnya. siswa kita di kelas semakin muda usianya ibarat kaset kosong yang merekan semua yang anda katakan. hindari bahasa sms. aat menulis bahasa tulisan. Hindari sikap menyindir dan merendahkan harga dirinya di hadapan siswa lain. Sebagai contoh berapa banyak dari kita sebagai guru yang menulis berapa jumlah jawaban yang betul pada lembar kertas jawaban siswa saat test.Akan lebih bagus lagi jika anda tidak sekedar menilai tetapi juga memberi ucapan yang bernada motivasi yang membesarkan semangat siswa sebagai pembelajar. Jika anda mengajar di taman kanak-kanak. Jika ada satu atau siswa melakukan kesalahan. 5. Artinya sebagai guru kita biasanya langsung menulis nilai dan membiarkan siswa menebak berapa betul dan berapa salah yang ia dapatkan. Saat menulis status anda di facebook. hindari ‡ tangan bersedekap atau melingkar di dada karena itu berarti anda mengambil jarak dan tidak mau mengerti siswa dari awal. jangan perlakukan mereka seperti bayi dengan berbahasa dan bersikap µmembayi-bayikan¶ siswa anda. seorang guru biasanya lebih banyak "menghakimi" siswanya dengan menulis nama siswa tersebut di papan tulis. Anda adalah orang yang menjadi model berbahasa dan berkomunikasi lisan dan tulisan di kelas. Pendekatan seorang guru dlam menhadapi tingkah laku siswa yang kurang sesuai Dalam banyak kasus. 8. ingatlah bahwa yang anda tulis akan bertahan lama di ingatan siswa. ini akan menghindarkan kita dari melakukan kekerasan pada siswa. sejatinya semua guru adalah guru bahasa bagi siswanya. gunakan bahasa tulisan yang baik dan benar. Jadilah orang yang mampu mendengar dengan antusias. 4. 3. usahakan jangan membagi perhatian anda pada hal lain saat sedang berbicara dengan siswa anda. 7. silangkanlah tangan ke belakang punggung. ‡ menunjuk-nunjuk saat sedang bicara dengan siswa karena itu berarti guru berusaha memaksakan kehendak. 6. yang ibu/bapak mengerti bahwa kamu mengatakan ««. Siswa dalam berbagai tingkatan ilmu juga punya harga diri. Untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan saat kita sedang marah atau memperingatkan siswa mengenai kesalahan yang ia lakukan. katakan seperti ini padanya.2. Saat berkomunikasi non verbal dengan siswa. pendekatan sederhana para guru dalam mengatasi problem siswa di kelas lebih kepada pendekatan hukuman dan penghargaan. Setelah selesai siswa anda bicara. ³Biar ibu/bapak ulangi.´ 3. 9. karena mengajar subyek apapun kita.

atas dasar karena suka dengan siswa tertentu entah karena preatasi atau orangtuanya. tapi bagaimana seorang guru mampu meningkatkan keterampilan pedagogisnya dalam mengajar secara tertata dan sistimatis yang jauh dari perasaan ingin menyakiti perasaan siswa-siswa mereka. tapi untuk mengecek seberapa besar dan jauh pemahaman siswa terhadap mata pelajaran. Para guru dapat mencoba lima tips cara mudah mengelola kelas di bawah ini. Kelima. Sebaliknya. Blocking mental development para siswa dengan sendirinya menjadi terklasifikasi antara siswa pandai dan bodoh. (Supriadi. lebih baik meminta mereka untuk menuliskan jawaban mereka dalam bentuk naratif. 1998) memaparkan. (b) Pasangkanlah setiap siswa untuk terbiasa saling berbagi dan saling mengkritik jawaban mereka masing-masing. manajemen kelas yang efektif bukanlah sekedar punishment and reward.beberapa kasus ditemukan guru tidak segan untuk memaki dan memarahi seorang siswa di depan teman-temannya. Kemampuan ini akan meningkatkan fokus siswa dalam belajar. (d) Guru juga dapat menggunakan pendekatan check-for-Understanding terhadap siswa secara satu persatu. seorang guru juga kerap memberikan pujian di depan kelas secara sepihak. banyak juga guru. (a) Gunakan pendekatan All-write. Sekali lagi. Pendekatan sederhana dalam mengelola manajemen kelas tanpa membuat perasaan sakit hati siswa lainnya sebenarnya sangat sederhaha. I will give you a piece of candy" akhirnya menjadi pilihan sederhana dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas. Bukan hanya guru akan lebih memudah membuat siswanya untuk sibuk dan berpartisipasi aktif. tetapi kemampuan siswa dalam merespon jawaban juga pasti akan meingkat karena siswa akan mencoba merekonstruk si dan menganalisis jawaban secara tertata. kaya-miskin. Seluruh kelas pasti akan ramai dalam suasana diskusi yang hidup. tanpa menyadari perasaan tertekan siswa lainnya yang tidak dipuji atau dihargai. Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. agar siswa terbiasa juga mengerjakan sesuatu dengan batas waktu yang diberikan para guru. buatlah semacam list dalam katagori "do-now assignment" yang harus dikerjakan siswa saat itu juga. Tolok ukurnya bukannya pemahaman guru. Tinimbang meminta anak untuk mengacungkan tangan dalam merespon setiap pertanyaan dari guru. Bahkan tak jarang para guru kiti seperti terbiasa melakukan bujukan yang tak semestinya dalam mengatasi problem perilaku siswa mereka. hanya untuk mengecek kesiapan para siswa untuk belajar hari itu. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam bagi . (c) Gunakan sesekali pendekatan on-the-clock. Kuncinya terletak pada bagaimana seorang guru mampu membuat seluruh siswa di kelasnya tetap aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Pendekatan "you behave today. dan bentuk labelling lainnya.

b. Pendekatan kekuasaan Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. emosional dan intelektual dalam kelas. c. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Di dalamnya ada kekuasaan dalam normay mengikat untuk ditaati anggota kelas. . 4. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasi proses belajar asumsi ini mengharuskan wali / guru kelas berusaha menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku yang menurut ukuran norma yang berlaku dilingkungan sekitarnya. Guru dalam menanggapi tingkah laku siswa yang tidak sesuai Di setiap kegiatan proses pembelajara. Pendekatan ini bertolak dari sudut pandang bihavioral yang mengemukakan asumsi bahwa : 1. Sebab-sebab siswa bermasalah : y y Masalah yang bersumber dari diri siswa. dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisen.kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial. Pendekatan perubahan tingkah laku Sesuai dengan namanya. Pendekatan Pengajaran pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencega munculnya masalah tingkah laku anak didik. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental berupa penguatan positif (positive re inforcement) hukuman penghapusan (extinction) dang penguatan negatif (negative reinforcement) asumsi ini mengharuskan seorang wali / guru melakukan usaha mengulang -ulangi program atau kegiatan yang dinilai baik (merangsang) bagi terbentuknya tingkah laku tertentu terutama dikalangan siswa. Bersumber dari pengaruh teman. 2. Berikut beberapa contoh pendekatan dalam pengelolaan kelas diantaranya adalah : a. guru sering menghadapi perilaku siswa yang bermasalah.

jangan menjadi guru kalau hanya baru dapat mengajar. SMP.tetap tidak mau peduli. Itulah hal yang dirasakan saat menghadapi anak bandel. Misalnya : ngobrol sendiri saat guru menerangkan. keluhan yang pernah dirasakan oleh beberapa guru di sekolah yaitu sulitnya menangani siswa dan berbagai permasalahannya.. karena hasil olahannya tidak sempurna. Seseorang belum dapat disebut guru jika hanya melaksanakan satu aktivitas saja. Mengajarkan dalam arti memindahkan materi ilmu pengetahuan yang dikuasai guru kepada siswa. dan ini adalah sua hal yang boleh tu dikatakan aneh. masalah pribadi yang berpengaruh pada semangat kerja. Masalah-masalah khusus yang dihadapi guru : y y y kesulitan mengajar mata pelajaran yang diampunya. SMA. mendidik dipahami sebagai memperkenalkan hal-hal baru tentang kehidupan dan penerapannya melalui latihan-latihan dalam kehidupan sehari-hari. tanpa mendidik dan membentuk. Bersumber dari masyarakat (kerusuhan. selalu telat. Dan seandainya kasus-kasus di atas benar-benar terjadi. tagihan keuangan kepada siswa). keluhan di atas merupakan cerminan seorang guru yang kehabisan cara/ akal serta kurang sabar dalam mengatasi siswa bermasalah. atau hanya membentuk. selalu tidak membawa atribut sekolah saat upacara. . SD. karena ini juga merupakan tantangan bagi kita untuk menaklukkannya atau anda akan menyerah seperti contoh keluhan di atas. Ditegur dan diingatkan secara baik-baik. Mari kita lihat keluhannya di bawah ini : Pusing.y Bersumber dari sekolah (tuntutan sekolah seperti membeli pakaian seragam. misal hanya mengajar. Semua kembali kepada komitmen guru. dan didikan lain dalam proses pembelajaran di kelas sehingga terbentuklah intelektualitas serta karakter seperti yang kita harapkan bersama.. mendidik siswa agar tahu peraturan. tuntutan membeli buku. Oleh karena itu. misalnya mendidik agar siswa tahu etika berinteraksi. hanya mendidik. (diperlukan ketenangan kerja) masalah yang terjadi pada tiap jenjang pendidikan seperti PAUD (TK). penjarahan. baju selalu dikeluarkan. mendidik dan membentuk siswa. perkelahian antar siswa antar sekolah). terlambat membayar uang sekolah.. mendidik siswa berbudi pekerti. yang berbingkai dedikasi seorang guru. Mengapa? Karena seseorang yang terjun ke dunia pendidikan dan menjadi guru tentunya sejak semula pasti memahami bahwa komitmen guru di mana pun sekolahnya adalah mengajarkan. adalah tugas guru untuk membenahi dan mengatasinya dengan berbagai macam metode yang dikuasai. Cobalah. Jika kita cermati. y Bersumber pada guru (cara guru mengajar yang tidak menyenangkan menimbulkan penolakan siswa terhadap guru). Keterpaduan proses itu sejalan dan tidak terpisahkan. Ketiganya harus berproses bersama. y y Sebab yang bersumber dari lingkungan sekitar siswa.

(Kesepakatan siswa terhadap ketentuan mengikuti kelas yang telah ditandatanganinya) ‡ Reaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya. teknologi informasi. Ini tidak dapat disalahkan secara sepihak. bahkan tidak mau tahu keadaan keseharian anaknya di sekolah. Jangan pernah merasa pusing dan masa bodoh dengan tingkah laku siswa. (Surya. ‡ ³Membombong´(memuji berlebihan) anggota kelas yang justru menimbulkan rasa iri. Memang ada orang tua siswa yang memberi perlindungan kepada anaknya berlebihan. yaitu masalah diri si wa (individu) s dan masalah kelompok. karena meskipun kecil. Dan kalau orangtua percaya bahwa sekolah tempat anaknya belajar itu berkualitas dengan sendirinya mereka pun percaya terhadap para guru yang mendidik anaknya.Permasalahan siswa dibedakan atas dua macam masalah. menyinggung perasaan). Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. dan sebagainya. ‡ Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. di mana pun tempatnya. cara pandang manusia terhadap pendidikan. guru dapat dengan mudah menanganinya. 1998) Masalah kelompok meliputi : ‡ Kelas kurang kohesif. ‡ Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. karena jenis kelamin. yang akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang. perilaku menunjukkan kekuatan (siswa merasa lebih besar dan kuat dibanding yang lain). kultur sosiologi. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. perilaku ketidakmampuan (perilaku ini akan ditujukkan siswa untuk menutupi ketidakmampuannya). dan persaingan mutu pendidikan antarsekolah. Masalah individu meliputi perilaku mencari perhatian (siswa mencoba mencari perhatian agar guru dan temannya tahu bahwa dia mempunyai hal-hal yang dianggapnya lebih). guru tetap mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengelola kelas sesuai ketentuan yang diberlakukan di sekolah terutama dalam mendisiplinkan siswa sehingga siswa memahami bahwa lingkungan sekolahnya mempunyai aturan yang harus ditaati. tingkatan sosial ekonomi. Tergantung dari bagaimana kita sebagai guru menyikapi dan menghadapinya. Alangkah indahnya jika harapan terciptanya lingkungan pembelajaran yang positif seperti itu terwujud. dan perilaku membalas (karena perlakuan yang diterimanya dianggap menyakiti. Dan yang dapat melakukannya di sekolah adalah kita para guru. . Dan itu adalah imbas dari majunya zaman. Kita tidak dapat memungkiri memang itulah yang terjadi terhadap kita para guru di tengah kesibukan kita menyusun perencanaan pembelajaran dan tugas-tugas lain seiring pelaksanakan proses pembelajaran. karena itu berarti anda mengorbankan diri sendiri. Percaya sajalah bahwa orangtua siswa memilih suatu sekolah dan memasukkan anaknya itu karena mereka mempunyai kepercayaan penuh terhadap sekolah dan telah mempertimbangkan berdasarkan penilaian terhadap kelebihan-kelebihan suatu sekolah. Setuju khan? Jadi seandainya terjadi seperti contoh kasus di atas. suku. yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok.

penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. Dan ini menuntut guru untuk selalu mengingatkan siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan kelas. 3. mendidik. menghadap papan tulis Seperti pengaturan kelas pada umumnya. Otoriter membuat siswa hanya akan aktif kalau ada guru sedangkan kalau tidak ada maka tidak akan aktif. Mungkin saja ini membosankan bagi sebagian siswa. Pada prinsipnya pengaturan tempat duduk bertujuan mempermudah guru dan siswa dalam proses pembelajaran sekaligus membantu guru dalam mengendalikan suasana kelas. Sikap ini dapat membantu. pergi ke toilet dan lain-lain). Ruang kelas dan fasilitasnya Kebersihan ruangan tempat belajar sangat berpengaruh pada kebiasaan siswa terhadap kepedulian keadaan kelas. mendiamkan siswa.Bagaimana dengan multiplikasi pengelolaan kelas? Multiplikasi boleh dipahami sebagai memperbanyak teknik penerapan mengelola kelas agar situasi pembelajaran berjalan kondusif berdasar pada hakikat mengajar. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas. didalamnya mencakup pengaturan orang (siswa) dan fasilitas. Kondisi Emosional (Dipandang dari sisi guru) 1. Tipe Kepemimpinannya Seperti apa dan bagaimanakah sikap seorang guru dalam proses pembelajaran dan pengelolaan kelas. Menciptakan iklim yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi proses belajar mengajar yang . penetapan norma kelompok yang produktif). pemberian peringatan dan pujian. maka tidak ada salahnya kalau sekali waktu pengaturan tempat duduknya diubah disesuaikan dengan kebutuhan dan keselarasannya dengan materi yang di ajarkan. Pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan antara siswa dan guru. Pengaturan Tempat Duduk Kelas konvensional mengatur tempat duduk siswa 4 atau 5 baris berderet. 2. Guru harus kreatif memvariasikan cara mengelola kelas dengan pendekatan manusiawi. Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas dan ini mungkin akan berbeda antara kelas yang satu dengan kelas yang lain. Menetapkan Prosedur Kelas Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan contohnya cara masuk kedalam kelas. yang akhirnya terpola pada benak tiap siswa. Berikut ini beberapa cara yang mungkin dapat membantu mengelola kelas anda : Kondisi Fisik 1. dan membentuk siswa.

Ketulusan hati guru merupakan kesungguhan hati dalam dedikasinya mengemban misi pendidikan mengajar. tetapi ada pula yang belum menyadari pentingnya belajar (sekolah hanya digunakan untuk sekedar mengisi waktu saja) dan menjadi tugas guru untuk menanamkan kesadaran belajar itu. yaitu mengajar. Kesadaran diri guru Bahwa guru itu mengemban tugas yang berat harus disadari. Kepedulian Guru Tanamkan pada diri anda kepedulian terhadap permasalahan yang ada pada diri siswa. 3. kondisi ekonomi. lantang. keduanya menuntut perhatian dari pendengar.optimal. Pembinaan raport Pada setiap pembagian buku raport hasil belajar siswa. 5. 4. Jika ini ada pada setiap guru lalu ditemukan permasalahan yang berhubungan dengan siswa. dan membentuk. dan karakter siswa itu beragam. dan membentuk siswa seutuhnya. sebaliknya siswa akan memperhatikan guru jika guru itu bersuara keras. Ketulusan Guru Tulus dapat dimaknai sebagai kesungguhan hati. Jangan merasa pusing dan masa bodoh seperti contoh kasus di atas. tetapi tidak berteriak. Ingat! Permasalahan siswa dapat pula bersumber dari guru yang kurang tepat menerapkan strategi pengelolaan kelas. jadikanlah ini sebuah tantangan untuk diselesaikan dengan baik. Pembeli berdatangan karena karena penjual jamu itu bersuara dengan keras. 8. 6. Anda berada pada posisi yang mana? 2. Kesadaran diri siswa Ingat pula bahwa latar belakang. mendidik. bukannya menjadikan siswa merasa dihakimi kesalahannya. 7. Sekecil apa pun masalah yang ada memerlukan andilnya tanggung jawab guru untuk membantu . hal ini jangan sekali-kali disamaratakan karena akan sulit mengatasinya jika muncul masalah pada diri siswa. Suara Guru Guru mengajar di kelas itu sama halnya dengan penjual jamu di pasar. Sebagian dari mereka memang sejak dari rumah sudah menyadari bahwa kedatangannya ke sekolah itu untuk belajar (ini terkondisikan oleh keluarga). tidak dalam kepura-puraan. mendidik. Sikap Guru Sikap guru menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar dan bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa seburuk apa pun tingkah laku siswa pasti dapat diperbaiki. intelektualitas. pemberian komentar yang dituliskan dalam buku raport sangat diharapkan membuat siswa menjadi bergairah dan bersemangat dalam belajar selanjutnya.

berkenaan dengan penyusunan kurikulum yang sejalan dengan kesiapan mahasiswa dan mendasar pada materi serta proses pembelajaran praktis yang mampu menimbulkan pemahaman mahasiswa melalui kreativitas aktifnya dalam kelas. Hasil penelitian yang diharapkan mampu menangani segala permasalahan guru di dalam kelas guna menciptakan pembelajaran yang positif. Konteks pembelajaran. bagaimana memadukan berbagai materi tersebut sehingga bermakna. 3. sengaja melanggar tata tertib sekolah. Yang ada hanyalah senyuman guru yang merasa bangga karena siswanya berprestasi dengan karakter yang layak dipuji. Guna dapat menciptakan pendidikan guru yang berkualitas. Tentunya selain hal-hal di atas para guru juga mempunyai cara-cara lain sehubungan dengan bagaimana mengelola kelas dan bagaimana mengelola perencanaan pembelajaran. 10. Jika perlu ajak siswa untuk berbicara empat mata. berkenaan dengan materi yang harus diberikan kepada para mahasiswa. . kemudian memberikan masukan kepada siswa apa yang sebaiknya dilakukan. dan permasalahan siswa yang lain. yang berkenaan dengan penciptaan proses pembelajaran kontekstual guna mengembangkan keahlian praktis mahasiswa. termasuk juga bagaimana perluasannya agar mahasiswa memiliki peta kognitif yang akan membantu mereka melihat hubungan antara domain pengetahuan keguruan dengan penggunaanya secara praktis di lapangan untuk mendorong para siswanya belajar. Dari Hati ke Hati Mengajak siswa untuk berbicara. maka sudah sewajarnya jika kita mengasihi mereka. 9.) (2005: 394) menyatakan bahwa minimal ada tiga elemen penting dalam desain program pendidikan guru yang harus diperbaiki (dibuat berbeda dengan kondisi saat ini). tak mengerjakan tugas. Proses pembelajaran. 1. malas. mengapa ia melakukan pelanggaran ketertiban dan ketentuan sekolah. Konten pendidikan guru. Ketiga elemen tersebut adalah sebagai berikut. sering terlambat. dan Bransford (Ed.menemukan jalan keluarnya. efektif dan efisien. berdasarkan beberapa hasil penelitian Darling-Hammond. 5. Karena bagaimanapun juga antipati terhadap siswa akan menghambat guru dalam menjalankan misi pembelajaran. 2. bagaimana cara memberikannya. Mengasihi Karena hubungan emosional guru dan siswa dimana siswa merupakan sosok yang menjadi objek pembentukan diri dari segi intelektualitas serta karakter sedangkan guru adalah pembentuknya. Sehingga pada akhirnya nanti tidak lagi kita dengar keluhan guru tentang siswa bandel.

Aspek lain yang penting dalam rangka membangun kualitas guru adalah usaha mewujudkan guru sebagai peneliti. melalui penelitian ini guru akan secara sadar dan terus menerus melakukan analisis atas kelemahan pembelajaran yang dilaksanakannya serta memperbaiknya dengan melaksanakan berbagai tindakan perbaikan. Melalui usaha ini guru akan mengetahui kekuranganya dan sekaligus mampu memperbaikinya.56) mengatakan bahwa jenis penelitian yang tepat digunakan tentu saja adalah penelitian tindakan kelas. 2006. Pengembangan kualitas guru sesungguhnya adalah terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mengembangk dirinya ketika an mereka sudah menduduki jabatan guru. Kesimpulan: Keharmonisan hubungan guru dengan siswa mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas. Dengan demikian. gu akan ru mampu memiliki kemampuan teknis dalam melaksanakan pembelajaran. Siswa lebih banyak menolak kehadiran guru. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa guru harus mampu merefleksi diri dan kinerjanya. selalu tanggap terhadap keluhan siswa. Rasa benci yang tertanam di dalam diri siswa menyebabkan bahan pelajaran sukar diterima dengan baik. selalu terbuka. Kecenderungan sikap siswa yang negatif lebih dominan. pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. kemampuan mengambil keputusan. selalu mau . Pertanyaan apa yang harus dipelajari guru akan mendorong program pendidikan guru senantiasa mengajarkan materi-materi kontekstual kepada para mahasiswa. Sifat kemunafikan ini menciptakan jurang pemisah antara guru dan siswa. dan kemampuan merefleksi kritis kinerjanya sebagai wujud nyata sosok guru yang berkualitas. Dengan kata lain. Penelitian ini menitikberatkan kajian atas kegiatan praktis pembelajaran yang dilakukan guru dalam menjalankan tugas keseharianya. Materi-materi kontekstual tersebut tentu saja tidak hanya disajikan secara teoretis melainkan disajikan secara praktis sehingga para calon guru mampu memperoleh dua pengalaman sekaligus yakni konsep dan praktis. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa penelitian tindakan kelas pada dasarnya adalah penelitian yang dilakukan guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Lebih lanjut. Berbagai kapabilitas yang telah dikemukakan tersebut pada prinsipnya merupakan wilayah pengembangan guru yang harus secara terus-menerus dikembangkan.Program pendidikan bermutu pada dasarnnya adalah program pendidikan guru yang senantiasa mempertimbangkan pertanyaan apa yang harus dipelajari guru dan apa yang dapat dilakukan guru. (Yunus. Pembangunan guru yang berkualitas guna menunjang pembentukan pendidikan bermutu tidak sebatas bergatung pada program pendidikan guru yang ditempuhnya. pembangunan kualitas guru terletak pula pada usaha membangun kapabilitas guru itu sendiri. dapat dikatakan program pendidikan guru harus mampu mendidik calon guru dalam asumsi dasar belajar tentang konsep praktis dalam praktiknya. Guru yang apatis terhadap siswa membuat siswa menjauhinya. Dengan kata lain. Lain halnya dengan guru yang selalu memperhatikan siswa. Melalui pembangunan berbagai kapabilitas diharapkan guru akan mampu merefleksi diri sehingga kompetensinya akan senantiasa berkembang. Melalui kepemilikan dan pengembangan kapabilitas tersebut. melalui penelitian yang dilakukan guru.

Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Supriadi. Siswa rindu akan kehadirannya. Juli 2005. Semiawan. March 2006.mendengarkan kesulitan belajar siswa. menarik. Surya. 1996.M. 1998. Preparing Teachers for a Changing World. Ravik. IX. ³Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan´. Sumargi. siswa merasa aman disisinya. Itulah figur seorang guru yang baik. siswa senang mendengarkan nasehatnya. perkembangan usia siswa. Jika proses pembelajaran bersifat menggairahkan. Etos Kerja Profesional. selalu bersedia mendengarkan saran dan kritikan dari siswa dan sebagainya adalah guru yang disenangi oleh siswa. dan Bransford (Ed. 1998. Hasan. proses pembelajaran perlu kreatifitas dengan tetap memperhatikan aspek kognitifnya. dan menyenangkan. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Ani M. Asal Mula ³Penelitian Tindakan Kelas´. Hlm. Karsidi. 1991. Profesi Guru Antara Harapan dan Kenyataan. sarana/media serta ketrampilan dalam mengolah dan memprosesnya. 15-17. dalam pendidikan. dan merasa bahwa dirinya adalah bagian dari diri guru tersebut. 3-4/1996. Jakarta: Grasindo. 7/1998. Figur guru yang demikian biasanya akan kurang menemui kesulitan dalam mengelola kelas. menyenangkan dan menarik. Hlm. H. Organisasi & Profesi. D. Hal ini dapat dilakukan dengan pendekatan yang sederhana namun mampu memberikan suasana yang tepat bagi alam pikir dan psikologis siswa. Juli 2003. konteks budaya dan berbagai hal yang perlu dicari bersifat menyapa aspek imaginatif. Alasannya.R. . Suara Guru No. Agar proses pembelajaran berjalan seperti itu. 56. sehingga siswa sungguh-sungguh terlibat dalam proses pembelajaran. maka kita perlu dukungan berbagai metode. Yunus. Jakarta: Depdikbud. San Francisco: Jossey-Bass Publishing. ³Profesionalisme Guru dan Peningkatan Mutu Pendidikan Di Era Otonomi Daerah´. maka siswa akan termotivasi dan terlibat secara penuh.2005. siswa senang belajar bersamanya. 9-11. Sehingga pada akhirnya. C. Suara Guru No. hlm. Falah. Peningkatan Profesionalisme Guru Menghadapi Pendidikan Abad ke-21n (I).). tanpa meninggalkan aspek pembelajaran secara utuh (kognitif-afektif serta psiko-motorik). Daftar Rujukan Darling-Hammond.

Upaya Menciptaan Lingkungan Pembelajaran Positif Dalam Kelas Final Project Foudation of Education (Group Working Paper) By: Yusaeny Rozelyna Syamdianita Vibriyanida M STATE UNIVERSITY OF MALANG GRADUATE PROGRAM IN ENGLISH LANGUAGE EDUCATION January 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful