P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 1,586|Likes:
Published by Iam NotaTeroris

More info:

Published by: Iam NotaTeroris on Oct 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tujuan Kerja Praktek
  • 1.3 Batasan Masalah
  • 1.4 Metoda Penelitian
  • 1.5 Jadwal Kerja Praktek
  • 1.6 Manfaat Kerja Praktek
  • 1.7 Sistematika Penulisan
  • BAB IV : Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT. Pertamina
  • (Persero) RU II Dumai
  • II.1 Tentang Perusahaan
  • II.2 Sejarah Pertamina
  • Era Persero
  • Pertamina Refinery Unit II Dumai ± Sei. Pakning
  • II.3 Visi dan Misi PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai
  • Visi
  • Misi
  • II.4 Tata Nilai Pertamina
  • II.5 Strategi Perusahaan
  • Sasaran strategik
  • II.6 Strukur Organisasi
  • II.6.1 Senior Manager Operation & Manufacturing
  • II.6.2 Bidang Production Dumai
  • 1. Hydro Skimming Complex (HSC)
  • 2. Hydro Cracking Complex (HCC)
  • 3. Heavy Oil Complex (HOC)
  • 4. Oil Movement
  • 5. Utilities
  • 6. Laboratory
  • II.6.3 Manager Reliability
  • II.6.4 Manager Maintenance Execution
  • 1. Maintenance Area 1
  • 2. Maintenance Area 2
  • 3. Maintenance Area 3
  • 4. Workshop
  • II.6.5 Manager Engineering & Development
  • II.6.6 Manager Keuangan Pengolahan Region-I
  • II.6.7 Manager HR Area / Business Partner RU-II
  • II.6.8 Manager General Affairs
  • II.6.9 Manager Refinery Planning & Optimization
  • II.6.10 Manager Procurement
  • II.6.11 Manager Health Safety Enviromental
  • II.6.12 IT RU Dumai Area Manager
  • II.7 Kilang Minyak Puteri Tujuh Dumai
  • II.8 Kilang Minyak Sungai Pakning
  • BAB III
  • CONTROL VALVE
  • 1. Konsep Dasar
  • C) Controler
  • D) Final Control Element
  • 2. Bagian ± Bagian Control Valve
  • a) Actuator
  • b) Bodi Control Valve
  • ‡ Globe Valve
  • b.2 Keuntungan dan Kerugian dari tiap-tiap jenis valve body
  • 1). Screwed Pipe Threads
  • 2). Bolted Gasketed Flanges
  • 3). Welding End Connection
  • 3. Control Valve Asesories (Positioner)
  • 4.2 Pelumasan Packing Control Valve
  • 4.3 Pengaturan valve travel dan menghubungkan stem
  • IV.1Ketel Uap ( Boiler )
  • IV.2Perlengkapan / Alat-alat Boiler
  • a) Stoek
  • b) Explosive door
  • c) Safety value
  • d) Inspection door
  • e) Shoot flower
  • f) Fresh air van
  • h) Burner
  • i) Fud water pump
  • j) Drum
  • k) Blow down value
  • l) Water colom
  • m) Reduser gas
  • n) Tree way value
  • o) Alarm
  • IV.3Data Pemakaian Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT. Pertamina
  • V.1 Kesimpulan
  • V.2 Saran

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin moderen, yang mengakibatkan semakin tingginya tingkat kebutuhan manusia. Maka tuntutan akan teknologi harus dapat memenuhi kebutuhan dari masyarakat tersebut, sehingga dibutuhkan teknologi yang dapat berkembang dan tidak kalah saing dengan produk lainnya. Dan pemanfaatan dari teknologi tersebut dapat digunakan lebih maksimal dalam segala bidang, khususnya dalam bidang pengontrolan otomatis. Bagi sebuah perusahaan besar, yang memiliki cabang hampir di seluruh wilayah Indonesia dan memiliki banyak produk, PT. Pertamina memerlukan perangkat yang mampu menjaga dan merawat (maintenance) mesin agar d apat berjalan dengan semestinya sehingga kelancaran operasional dapat terpenuhi dan menghasilkan suatu produk yang akan dijual. Untuk menunjang kelancaran tersebut salah satu perangkat otomatis yang digunakan di PT. Pertamina adalah Control Valve. Control valve dapat mengatur arus, tekanan, dan temperatur. Pengontrolan beberapa variabel ini diperlukan untuk memastikan mutu dari produk tersebut.

1.2 Tujuan Kerja Praktek 1. Melihat secara langsung aktivitas perusahaan PT. Pertamina. 2. Mengetahui secara lebih mendalam pengetahuan akan sistem otomatis dalam hal maintenance khususnya mengenai Control Valve dan bagianbagian dari Control valve.

1.3 Batasan Masalah Pada laporan kerja praktek ini , pembahasan lebih di titik beratkan kepada pengaturan otomatis Control Valve di gedung PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

1

1.4 Metoda Penelitian 1. Observasi Metoda pengumpulan data dengan mengamati langsung terhadap kegiatan yang berlangsung di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai

2. Diskusi dengan pembimbing, staf, dan karyawan PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai Metoda pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan pimpinan perusahaan atau karyawan yang bersangkutan dalam rangka melengkapi data yang diperlukan.

3. Tinjauan Pustaka Penulis melakukan tinjauan pustaka guna mencari buku-buku penunjang sebagai referensi dalam penyusunan laporan. Selain itu penulis juga melakukan pencarian data di internet untuk mendapatkan bahan-bahan penunjang lainnya.

1.5 Jadwal Kerja Praktek Berhubung dengan kurikulum Jurusan Teknik Mekatronika Politeknik Caltex Riau, maka kerja praktek di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai selama 1 (satu) bulan yaitu dari tanggal 10 Agustus 2010 sampai dengan 10 September 2010.

1.6 Manfaat Kerja Praktek 1.6.1 Bagi Politeknik Caltex Riau a) Terjalin hubungan kerja sama yang erat antara Pliteknik Caltex Riau dengan instansi tempat kerja praktek yaitu PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

2

b) Sebagai bahan evaluasi di bidang akademik untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan. c) Sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana daya serap mahasiswa dalam menerima dan menerapkan teori yang diperoleh selama di kampus. 1.6.2 Bagi Mahasiswa a) Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan diluar lingkungan kampus yang berhubungan dengan program study yang dipilih. b) Untuk menambah pengalaman sebelum terjun kemasyarakat atau dunia kerja. c) Untuk melatih mahasiswa dalam mengumpulkan dan menganalisa data yang diperoleh serta memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi d) Menambah pengetahuan mahasiswa dalam bidang pengontrolan otomatis khususnya dalam bidang pengontrolan Control Valve 1.6.3 Bagi Perusahaan a) Terjalin hubungan kerja sama dan sebagai sarana tukar informasi untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang telah ada. b) Sebagai perwujudan pengabdian masyarakat khususnya dibidang pendidikan. c) Memungkinkan untuk mendapatkan masukan-masukan sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan sistem yang telah ada.

1.7 Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penyajian pada penyusunan laporan ini, penyusun menggunakan sistematika untuk mengetahui pokok bahasan setiap bab yang disajikan sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang masalah, batasan masalah, maksud dan tujuan kerja praktek, batasan masalah, metoda yang digunakan, tempat dan jadwal kerja
3

praktek, penulisan.

manfaat

kerja

praktek,

dan

sistematika

BAB II

:

Tinjauan Umum Perusahaan Bab ini berisi tentang gambaran umum perusahaan yang meliputi sejarah berdirinya PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai, lokasi kilang PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai, gambaran umum kilang minyak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai, struktur organisasi PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan struktur organisasi Reliability RU II Dumai.

BAB III

:

Control Valve Bab ini berisi tentang landasan teori yang berkaitan dengan control valve.

BAB IV

:

Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai Bab ini berisi tentang sistim pengontrolan valve pada Boiler 1 di PLTU PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.

BAB V

:

Penutup Bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan masalah dan saran.

4

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

II.1 Tentang Perusahaan PERTAMINA adalah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia (National Oil Company), yang berdiri sejak tanggal 10 Desember 1957 dengan nama PT PERMINA. Pada tahun 1961 perusahaan ini berganti nama menjadi PN PERMINA dan setelah merge r dengan PN PERTAMIN di tahun 1968 namanya berubah menjadi PN PERTAMINA. Dengan bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun 1971 sebutan perusahaan menjadi PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai setelah PERTAMINA berubah status hukumnya menjadi PT PERTAMINA (PERSERO) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 pada tanggal 23 November 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. PT PERTAMINA (PERSERO) didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH No. 20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan No. C-24025 HT.01.01 pada tanggal 09 Oktober 2003. Pendirian Perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP No.31 Tahun 2003, ³Tentang pengalihan bentuk perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi Negara (Pertamina) menjadi perusahaan perseroan(Persero)´. Sesuai akta pendiriannya, maksud dari Perusahaan Perseroan adalah untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut.

5

dan 3. Persero yang bergerak di bidang energi.2 Sejarah Pertamina Era Persero y Pertamina adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah berubah bentuk menjadi PT. 3. 2. baik di dalam maupun di luar negeri yang berorientasi pada mekanisme pasar. 2. Menyelenggarakan usaha di bidang minya dan gas bumi beserta hasil olahan dan turunannya. termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negoisasi dan berhasil menjadi milik perseroan. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengolaan Perseroan secara efektif dan efisien. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. Perseroan melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut : 1. 6 . Sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang MIGAS (Minyak Bumi dan Gas) baru.Adapun tujuan dari Perusahaan Perseroan adalah untuk : 1. II. dan usaha lain yang menunjang bisnis Pertamina. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor 1. Pertamina tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industri MIGAS dimana kegiatan usaha minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar. 4. PT. Memberikan konstribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG. petrokimia. 2.

Kehadiran situs Pertamina adalah untuk memberikan gambaran kepada pengunjung tentang Pertamina Refinery Unit II dan kegiatannya 7 . 3) Modal Disetor (Penanaman Modal Negara/PMN) PT. Pertamina (Persero) merupakan BUMN yang 100% sahamnya dimiliki oleh negara. 100 Trilyun. Pertamina Refinery Unit II Dumai ± Sei. 100 Trilyun diperoleh dari : ³Seluruh Kekayaan Negara yang selama ini tertanam pada Pertamina. Pertamina (Persero) pada saat pendirian adalah Rpsahamnya dimiliki oleh negara. kilang minyak Putri Tujuh Dumai dan Sungai Pakning telah memberikan sumbangan nyata terhadap perkembangan dan kemajuan daerah khususnya kota Dumai dan sekitarnya dan telah memberikan andil yang besar bagi pemenuhan kebutuhan bahan bakar nasional. Pakning Sejak dioperasikan pada tahun 1971. Pakning dan telah didistribusikan ke berbagai pelosok tanah air dan manca negara.y Modal setor PT. Pertamina (Persero) pada saat pendirian adalah Rp. Pertamina (Persero) : 1) PT. Komitmen untuk memajukan Kilang Minyak Refinery Unit II Dumai dan Sungai Pakning menjadi Kilang Kebanggaan Nasional. termusuk Aktiva Tetap yang telah di revaluasi oleh Perusahaan Penilai Independen. 2) Modal Disetor (Penanaman Modal Negara/PMN) PT. y Nilai Rp. Berbagai macam produk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Non Bahan Bakar Minyak (NBBM) telah dihasilkan dari Kilang Putri Tujuh Dumai ± Sei. yang meliputi Aktiva Pertamina beserta seluruh Anak Perusahaan.sehingga program peningkatan kehandalan kilang dan peningkatan kualitas informasi dan komunikasi menjadi penting. dikurangi dengan semua kewajiban (hutang) Pertamina´.

berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat II.Pertamina (Persero) RU II Dumai Visi Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia Misi Menjalankan usaha inti minyak. y Competitive (Kompetitif) Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.4 Tata Nilai Pertamina y Clean (Bersih) Dikelola secara profesional.3 Visi dan Misi PT. membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja 8 . Harapan melalui situs ini dapat tercipta hubungan komunikasi yang lebih baik dan kerja sama yang lebih luas dengan semua pihak termasuk dengan mitra kerja di dalam dan di luar negeri. gas. menghindari benturan kepentingan. dan bahan bakar nabati secara terintegrasi. mendorong pertumbuhan melalui investasi. menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. II. tidak menoleransi suap.dalam mengolah minyak mentah yang berwawasan lingkungan guna memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional.

Peningkatan nilai tambah produk 4. Peningkatan kepuasan pelanggan Tujuan yang paling penting dari sasaran strategik tersebut adalah : 1. 9 . menjadi pelopor dalam reformasi BUMN. Peningkatan kompetensi pekerja 5. dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. II. RU II telah mempertimbangkan tantangan strategik serta peluang inovasi terhadap produk dan model bisnis. Peningkatan kehandalan kilang 2.y Confident (Percaya Diri) Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional.5 Strategi Perusahaan Sasaran strategik Berdasarkan hasil analisa SWOT dan GE 9 Cells. Peningkatan revenue dan cost reduction 2. RU II menetapkan sasaran utama yaitu : 1. dan membangun kebanggaan bangsa y Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan) Beorientasi pada kepentingan pelanggan. y Capable (Berkemampuan) Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi. berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan. Peningkatan kepuasan pelanggan 3. Peningkatan citra positive perusahaan Dalam menetapkan sasaran strategik. Optimasi biaya tinggi 3.

avtur. Pakning dapat dilihat pada gambar di bawah ini. solar.II. dan LPG.6 Strukur Organisasi Pertamina Refinery Unit II Dumai merupakan suatu unit pengolahan dan penyulingan minyak yang berada dibawah Kontrol Direktur Refinery Pertamina Pusat. Pada Pertamina Refenery Unit II Dumai. 10 . Bentuk struktur organisasi Pertamina RU II Dumai dan Sei.crude oil diolah untuk menjadi bahan bakar minyak dan gas yang memiliki nilai guna seperti bensin. Struktur organisasi yang ada di Pertamina RU II Dumai berbentuk staf lini yang dipimpin oleh seorang Genderal Manager dan bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Pengolahan Pertamina Pusat Jakarta. kerosin.

Struktur Organisasi Refinery Unit II Dumai 11 .

efektif. Health Safety Enviromental Manager 6. Engineering & Development Manager 2.General Manager Refenery Unit II Dumai selaku pimpinan dalam tugasnya di bantu oleh : 1. Khusus untuk Reliability Manager maka membawahi Equipment Reliability Section Head dan Plant Reliability Section Head. II.6.6. 12 . Eselon ini membawahi bidang-bidang sesuai dengan fungsi masing-masing. dan efisien. II. Procurement Manager 3. Operational Performance Manager Masing-masing Manager tersebut membawahi beberapa bagian yang dipimpin oleh seorang Kepala Bagian (Section Head). General Affair Manager 5.1 Senior Manager Operation & Manufacturing Eselon ini dipimpin oleh seorang Senior Manager Opertion & Manufacturing yang bertugas dan bertanggung jawab atas kegiatan pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk kilang dan pemeliharaan peralatan-peralatan produksi dan engineering.2 Bidang Production Dumai Bidang ini berfungsi sebagai pelaksana kegiatan operasi pengolahan minyak mentah menjadi produk-produk BBM dan Non BBM. sesuai dengan rencana kerja secara optimal. Reliability Manager 4.

Bidang production Dumai dalam melaksanakan tugasnya di pimpin oleh seorang Manager Production Dumai yang bertanggung jawab atas kelancaran pengoperasian kilang Pertamina RU II Dumai. Utilities dalam penyediaan tenaga uap. penimbunan (tangki). LPG Recovery. pengaturan pengapalan BBM maupun Non BBM ke tanker. Hydrobon Platforming Unit. 2. ini bertugas menyelenggarakan kegiatan operasi dan pencampuran (blending). penyaluranminyak bumi (crude oil). Heavy Oil Complex (HOC) HOC bertanggung jawab mengoperasikan kilang unit proses seperti : . Platforming CCR. air industri. 5. Naptha Rerun Unit. Naptha Hydro Cracker. Anime. bidang kilang dibagi atas 5 bagian masing-masing dikepalai oleh seorang kepala bagian dengan tugas dan tanggung jawab secara khusus.Calciner Unit 170 . 3. dan Nitrogen Plant. udara 13 .Delayed Coke Unit 140 . Hydro Cracking Complex (HCC) HCC bertanggung jawab untuk mengoperasikan kilang-kilang unit proses seperti : Hydro Cracker Unibon. Hydro Skimming Complex (HSC) HSC bertugas sebagai penyelenggara kegiatan operasi pengolahan BBM dan Non BBm untuk mendapatkan hasil yang optimum dan On Spec sesuai dengan rencana kerja pengolahan. Utilities Utilities bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan operasi. Dalam melaksanakan tugasnya. yang meliputi area : Crude Distilation Unit. Oil Movement Bidang penerimaan.Distilled Hydro Treater Unit 220 4. serta mengelola buangan minyak (slop) dan sarana limbah. Hydrogen Plant.High Vacum unit 100 . air minum. yaitu : 1. air pendingin. produk dan barang-barang setengah jadi. Sour Water Stripper.

II. listrik. penguji peralatan stationary. dan efisien sesuai dengan standar dan ketentuanketentuan perusahaan yang berlaku. dan pengawasan kegiatan evaluasi pemeriksaan.6. pengorganisasian. 2. dan modifikasi seluruh peralatan stationary mechanical untuk menunjang operasi kilang yang handal. ekonomis. Laboratory Bertanggung jawab atas kualitas minyak yang dihasilkan dari proses dan memberikan saran-saran agar operasi berjalan optimum. Bagian ini mengendalikan seluruh kegiatan bagian inspeksi Unit Reliabilitas yang meliputi perencanaan. Pertamina (Persero) RU II Dumai sesuai dengan standar/code dan peraturan pemerintah yang berlaku. Maintenance Area 1 Bagian ini berfungsi dalam perencanaan koordinasi dan pengawasan dari pelaksanaan pemeliharaan.6. 6. serta melaksanakan pengendalian kualitas dan kuantitas bahan-bahan dan produk utilities. perbaikan. memberikan saran / rekomendasi dalam rangka meyakinkan kondisi layak operasi peralatan kilang dan peralatan penunjang lainnya di PT. pelaksanaan.3 Manager Reliability Bidang ini bertanggung jawab terhadap kehandalan kilang. peralatan mekanikan non rotatong (stationary) equipment 14 .4 Manager Maintenance Execution Bidang ini dibagi menjadi 5 bagian yang masing-masing dikepalai oleh seorang kepala bagian : 1.bertekanan. Maintenance Area 2 Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan pruduksi dari unit-unit proses. control spesifikasi produk dan kualitas unit proses II.

6.5 Manager Engineering & Development Tugas dan tanggung jawab utama bidang engineering adalah mengkoordinir rencana kerja/anggaran.6 Manager Keuangan Pengolahan Region -I Bertanggung jawab terhadap pengolaan tata usaha keuangan dalam rangka menunjang kelancaran kegiatan operasional perusahaan.6.dan rotating equipment. Disamping itu juga 15 . serta peralatan sipil pada unit-unit proses HSC dan HCC.7 Manager HR Area / Business Partner RU-II Eselon ini bertanggung jawab terhadap penggajian karyawan. antara lain berupa neraca rugi/laba dan laporan keuangan / managemen lainnya. II.Mengevaluasi. II. serta mengkoordinasi pembinaan pegawai di lingkungan eselon operasi. dan kesejahteraan karyawan. hubungan industri. II. .Laporan keuangan perusahaan.6. Workshop Workshop merupakan sarana penunjang untuk melaksanakan perencanaan. utilities excisting. menganalisis dan mengkonsolidasi seluruh rencana kerja . koordinasi dan pengawasan atas kegiatan perbaikan suatu peralatan mechanical yang mengalami kerusakan. 3. memberi saran/rekomendasi dalam upaya mengatasi masalah operasi dan pengembangan guna tercapainya target-target pengolahan secara efektif dan efisien. yang meliputi : .Pelaksanaan kebijakan keuangan perusahaan yang telah ditetapkan direksi sesuai ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Maintenance Area 3 Bertanggung jawab atas pemeliharaan peralatan produksi dari untiunit proses meliputi peralatan sipil pada unit proses power utilities HDC. melakukan audit dan administrasi kontrak. 4. sebagian oil movement serta penyediaan air bersih dari sungai rokan sampai dengan kilang.

7 Kilang Minyak Puteri Tujuh Dumai Kilang PT. II. Kilang ini terdiri dari Crude 16 .6. kesehatan. Pertamina (Persero) RU II Dumai yang pertama mulai dibangun pada tahun 1969 dan diresmikan pada tanggal 8 September 1971 dengan nama ³Kilang Puteri Tujuh´.6. Selain itu juga bertanggung jawab terhadap kontrak-kontrak.12 IT RU Dumai Area Manager Eselon ini bertugas dan bertanggung jawab atas kelancaran komunikasi dan sistem komputer serta pengawasan peralatan-peralatan komunikasi. II. Tugas pokoknya yaitu mencegah dan menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja dan pencemaran lingkungan.bertanggung jawab terhadap kesehatan karyawan dan organisasi serta prosedur-prosedurnya. serta layanan jasa manajemen yang meliputi.6.6. fungsi organisasi dan tata laksana. II. masyarakat dan sekuriti. hukum.6. operasi perkapalan tanker-tanker. hubungan kepemerintahan.9 Manager Refinery Planning & Optimization Eselon ini bertanggung jawab terhadap perencanaan crude untuk di produksi dan penjadwalan pemakaian crude untuk diproduksi. II. transportasi produk kilang dan peralatan telekomunikasi. personalia.11 Manager Health Safety Enviromental Eselon ini bertanggung jawab atas ditaatinya Undang-Undang Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. II. II.8 Manager General Affairs Eselon ini dipimpin oleh seorang manager umum yang berfungsi dan bertanggung jawab atas pembinaan sumber daya manusia dan fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawannya.10 Manager Procurement Eselon ini bertugas dan bertanggung jawab atas kelancaran operasi pelabuhan khususnya minyak.

Dari proses pengolahan tersebut dihasilkan beberapa jenis produk BBM. Proyek kilang kedua Dumai ini merupakan perluasan kilang lama yang dinaikkan kapasitanya menjadi 120. Kilang kedua ini mulai dibangun pada tahun 1981 dan diresmikan oleh Presiden R. Pertamina (Persero) RU II Dumai menjadi penuh dan mengakibatkan kilang tidak beroperasi.Distilation Unit (CDU) yang mengolah minyak mentah jenis Sumatera Light Crude (SLC) dengan kapasitas 10. 17 . diantaranya : y Naphta y Avtur (bahan bakar pesawat jet) y Kerosene (minyak tanah) y Solar (ADO/Automotif Diesel Oil) y Bottom Product berupa 55% volume Low Sulphur Wax Residue (LSWR) untuk di eksport ke Jepang dan Amerika Serikat guna pengolahan kembali.I Soeharto pada tanggal 16 Februari 1984 dengan mengolah LSWR yang dihasilkan oleh kilang lama Dumai dan kilang Sungai Pakning.000 barrel per hari. Pada tahun 1972 dilakukan proses perluasan kilang puteri tujuh untuk mendapatkan produk lainnya berupa bensin premium dan migas komponen dengan mendirikan plant atau unit proses : y Platforming Unit y Naphta Rerun Unit (NRU) y Hydrobon Unit y Mogas Component Blending Plant LSWR yang diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat akhirnya mengalami kesulitan pemasaran disebabkan komponen di Jepang tidak mengolah lagi LSWR sehingga tangki-tangki penimbun LSWR yang berada di kilang PT.000 barrel per hari. Sejalan dengan pemakaian dan kebutuhan BBM di dalam negeri dan masalah pengoperasian kilang tersebut. maka Pertamina memutuskan untuk membangun proyek Hydrocracker yang bertujuan untuk mengolah LSWR.

18 .8 Kilang Minyak Sungai Pakning Kilang minyak Sungai Pakning dibangun pada November 1968 oleh Refining Associates (Canada) Ltd atu Refican dan mulai berproduksi pada Desember 1969. Pertamina (Persero) RU II Dumai meliputi unit operasi fraksinasi yaitu memisahkan fraksi-fraksi minyak mentah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Proses pengolahan di kilang PT. Kilang ini mengolah 50. kerosene. Automotive Diesel Oil (solar) dan long residu yang dihasilkan CDU Sungai Pakning dikirim ke Kilang Puteri Tujuh untuk di olah lebih lanjut. pemurnian (treating). Kilang ini selain memiliki unit distilasi minyak mentah juga dilengkapi dengan unit proses Hydrocracking dan Thermal Cracking.000 barrel minyak mentah perhari dari beberapa crude yaitu Sumateran Light Crude. II. naphta. Selat Panjang Crude. dan Lirik Crude. Kilang Sungai Pakning hanya memiliki satu unit distilasi inyak mentah (Crude Distilation Unit) yang menghasilkan produk gas.Produk BBM yang telah dihasilkan oleh kilang Pertamina RU II sampai saat ini antara lain : y Premium (bensin) y Jet-petroleum Grade y Aviation turbine y Kerosene y Solar (ADO) Sedangkan produk Non-BBM nya berupa : y LPG (Liquied Petroleum Gas) y Caleined coke (Carbon) Kilang minyak Puteri Tujuh Dumai memiliki fasiliki pengolahan yang lebih banyak dan kompleks dibandingkan Kilang Minyak Sungai Pakning. proses konversi (catalytic dan thermal cracking) serta unit pencampuran sesuai spesifikasi produk yang diinginkan.

Dalam pengukuran aliran (flow) : y Orifice Plate Orifice plate digunakan untuk mengukur kecepatan aliran didalam pipa.BAB III CONTROL VALVE 1. Konsep Dasar Dalam sistem kontrol jaringan tertutup (closed loop control system) terdapat 4 (empat) peralatan pokok. yaitu : a) Sensor Sensor (primary element) digunakan sebagai elemen yang akan mengadakan kontak langsung dengan besaran yang diukur. Dapat dilihat pda gambar di bawah ini : Gambar 1. contohnya : . Orifice merupakan sebuah plat tipis dengan lubang yang berada pada tengahnya. dengan lubang kecil di tengahnya maka terjadi perbedaan tekanan dan percepatan antara aliran sebelum masuk orifice dengan aliran setelah melewati orifice. Ketika cairan menuju orifice. Orifice Plate 19 .

Dalam keadaan pengukuran seperti ini.Dengan mengukur perbedaan tekanan cairan antara D1 (diameter pipa pertama) dengan Dvc (vena contracta diameter). Pitot Tube 20 . Kecepatan Aliran fluida pada suatu saluran pipa kemudian bisa diperoleh nilai dari: Laju alir Volume = area saluran pipa × percepatan Gambar 2. Penggunaan tube di dalam industry : percepatan yang sering di ukur terdapat di dalam saluran pipa. y Pitot Tube Pitot tube adalah sebuah alat mengukur tekanan yang berbentuk seperti tabung (tube). Jika pengukuran menggunakan anemometer akan sulit untuk memperoleh data. alat yang paling praktis menggunakannya adalah pitot tube. maka nilai volumetrik dan mass flow rates dapat di peroleh dengan hukum bernoulli.

Perbedaan metal pada penghubung akan menghasilkan tegangan elektrik apabila di panaskan sehingga thermocouple bisa juga sebagai alat untuk mengubah energi panas menjadi tegangan (voltage) dan sebagai sensor suhu. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 3. Thermocouple 21 .Dalam pengukuran temperature : y Thermocouple Thermocuple adalah penghubung dua metal berbeda yang menghasilkan tegangan pada temperatur tertentu..

Bourdon Tube 22 . Apabila terdapat tekanan maka pointer atau jarum pada bourdon tube akan bergerak sesuai dengan besarnya tekanan yang di berikan..Dalam pengukuran tekanan (pressure) : y Bourdon tube Bourdon tube adalah alat untuk mengukur tekanan. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.

b) Transmitter Transmitter merupakan alat yang berfungsi untuk merubah besaran fisis yang diukur menjadi besaran fisis lainnya yang pada umumnya sudah standard besarnya. recorder ataupun pada closed loop system adalah controler.. Biasanya displacer digunakan untuk sensor. Penerima (receiver) dari sinyal keluaran transmitter ini dapat berupa indicator.Dalam pengukuran tinggi permukaan cairan (level) : y Displacer Displacer adalah alat untuk mengukur tinggi permukaan sebuah cairan. Displacer Dari gambar diatas. dapat dilihat bahwa displacer bergerak naik turun sesuai dengan tinggi permukaan air. 23 . Dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 5. Transmitter terbagi menjadi : 1) Pressure Transmittter Transmitter yang berfungsi untuk mengubah tekanan menjadi energi listrik (voltage).

Controler akan memeanfaatkan error tersebut di dalam perhitungan yang ditunjukkan untuk koreksi terhadap error itu sendiri. Untuk melakukan tugasnya elemen ini mendapatkan perintah langsung maupun secara tidak langsung dari keluaran controller. Keluaran kontroller sebagai keluaran koreksi. C) Controler Controler ini menerima sinyal dari keluaran transmitter untuk kemudian membandingkannya dengan besaran yang diinginkan (set point). Karena itu peralatan ini haruslah mempunyai kemampuan untuk menggerakkan beban ke suatu nilai atau posisi yang diinginkan.2) Flow Transmitter Transmitter yang berfungsi untuk mengubah laju alir menjadi energi listrik (voltage). 24 . Perbedaan yang terjadi antara kedua sinyal ini disebut dengan error (deviasi). D) Final Control Element Final control element ini berfungsi untuk mengontrol aliran energi ke sistem yang akan dikontrol. Didalam industri perminyakan final control element yang digunakan adalah Control Valve. 3) Temperature Transmitter Transmitter yang berfungsi untuk mengubah energi panas menjadi energi listrik (voltage). Inipun biasanya juga sudah staandard besarnya dan akan dikirimkan keperalatan selanjutnya di dalam control loop system.

hanya ada resistansi variable yang dikontrol.2. Control valve bertugas melakukan langkah koreksi terhadap suatu variabel. sedangkan resistansi berubah-ubah karena perubahan aliran pada sistem atau karena lapisan pipa dan permukaan dinding peralatan. 25 . Pada suatu loop proses. control valve diinginkan berubah secara kontinyu berdasarkan sinyal kontrol untuk mempertahankan suatu kondisi yang diinginkan dari variable proses. Gambar 6. sebagai hasil akhir sistem pengendalian. Variasi resistansi ini tidak diinginkan dan digunakanlah control valve. Blok Diagram Pada sebagian besar kasus. Bagian ± Bagian Control Valve Control valve adalah elemen kontrol akhir yang paling umum digunakan untuk mengatur aliran bahan dalam sebuah proses. Secara blok diagram kedudukan control valve di dalam suatu closed loop system adalah seperti pada gambar berikut ini.

2. yang paling banyak dipakai adalah diaphragm actuator. Macam-macam actuator : 1) Diaphragm Actuator 2) Piston Actuator 3) Electro Hydralic Actuator 4) Manual Actuator Diantara keempat macam actuator diatas.1 Bagian-bagian Diaphragm actuator Suatu diaphragm actuator mempunyai bagian-bagian sebagai berikut : Gambar 7. Oleh karena itu penulis hanya akan membahas diaphragm actuator. yaitu : a) Actuator Actuator adalah merupakan bagian dari control valve yang paling langsung berhubungan dengan sinyal keluaran suatu controller. Bagian-bagian Diaphragm Actuator 26 . Sinyal keluaran tersebut akan menggerakkan bagian actuator untuk kemudian diteruskan menjadi gerakan membuka atau menutup valve.Elemen dasar sebuah control valve dapat dikelompokkan kedalam dua bagian.

maka diaphragma dan stem akan tertekan ke bawah.Ukuran actuat r biasanya bervariasi besarnya untuk mendapatkan luasan diaphragma yang efektif agar dapat menggerakkan stem sepanjang stroke (langkah) yang telah ditetapkan. 2. Direct acting dan Reverse acting 27 . Reverse acting (Air To Open) actuator Yaitu jika tekanan angin yang masuk ke actuator naik (bertambah). maka diaphragma dan stem akan bergerak ke atas. Direct acting (Air To Close) actuator Yaitu jika tekanan angin yang masuk ke actuator naik (bertambah).2 Jenis-jenis Actuator Ada dua jenis (type) actuator yang umum dipakai yaitu : a. b. Gambar 8.

spring barrel dan spring adjustor. Tekanan angin (instrument air) tersebut biasanya mempunyai range 3-15 Psi (0. maka stem akan mulai bergerak jika tekanan angin yang bekerja pada diaphragma telah mencapai 3 Psi dan stroke (langkah) penuh akan di hasilkan jika tekanan tersebut menjadi 15 Psi. Kedua jenis actuator. Selisih kedua gaya tersebut menentukan bagian stem yang terdorong ke bawah. 2.3 Maintenance bagian actuator Berikut ini adalah beberapa petunjuk dalam pemeliharaan actuator : 28 .2-1 kg/cm2) atau 6-30 Psi (0. Actuator ini adalah actuator yang dapat bertindak sebagai direct action atau Reverse action. Jika suatu control valve mempunyai range 3-15 Psi. Gerak inilah yang akan menentukan bukaan valve. Perlu diperhatikan dalam bekerja dengan control valve agar ketentuan tersebut tidak dilanggar. Angin bertekanan rendah yang dipakai untuk menggerakkan actuator ini berasal langsung dari controler. ataupun melalui suatu unit penguat seperti valve positioner. Sedangkan diaphragma serta diaphragm plate peletakannya saling berbalikan antara kedua jenis actuator ini.4-2 kg/cm2). Membuka dan menutup control valve dengan menggunakan angin ini disebut juga dengan sistem pneumatik. Adapun sistem kerja dari actuator ini adalah : Bagian upper diaphragm case dan diaphragma dari control valve berfungsi seperti balon karet yang kuat. Namun biasanya actuator ini hanya dipakai untuk control valve dengan ukuran yang kecil.Ada satu jenis actuator yang disebut dengan Reversible Actuator. direct action dan reverse action diatas berbeda pada bagian spring. Tekanan sinyal pneumatik yang terakumulasi pada ruang tersebut menimbulkan gaya yang melawan gaya pegas. Besarnya tekanan angin tersebut dapat kita lihat pada name plate yang ada pada setiap control valve. pada reverse acting actuator terletak dibagian atas.

supply angin agar dilengkapi dengan indikator dan regulator untuk kemudian dihubungkan pada upper diaphragm case. terutama untuk actuator yang setting awal springnya tinggi. tutuplah terlebih dahulu angin yang menuju diaphragma. Atur tekanan spring sehingga stem actuator mulai bergerak jika angin bertekanan terendah dari range yang tertera pada name plate ( misalnya 3 Psi atau 6 Psi). Gerakan ini akan dapat diamati/dirasakan dengan jalan merasakan gerakan stem (dengan dipegang tangan) pada saat tekanan angin diubah-ubah disekitar tekanan terendah tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari tekanan atau dorongan keatas oleh spring jika cap screw dilepaskan. Penambahan dan pelepasan packing dapat dilaksanakan tanpa melepas bagian lain dari actuator.1) Tekanan yang berlebihan dari yang telah ditetapkan pada diaphragm actuator akan dapat merusak diaphragm tersebut. 6) Masalah lain yang sering terjadi pada actuator adalah kebocoran pada diaphragma. 2) Bila hendak melepaskan actuator. 29 . Hanya saja dalam mengencangkan (mengikat) packing nut jangan terlalu keras. 5) Packing box yang ada dibagian actuator ini tidak ada kesulitan dalam pemeliharaannya. 3) Sebelum melepaskan actuator hendaknya kurangi terlebih dahulu tekanan spring adjustor kearah yang sesuai. 4) Spring adjustment untuk direct acting ( air to close ). Untuk reverse acting actuator.apalagi kalau sudah ada tekanan dari fluida yang akan dikontrol. karena akan dapat mempengaruhi gerakan stem yang diakibatkan gesekan antara stem dengan packing yang berlebihan. Kalau hal ini terjadi. pada prinsipnya sama persis dengan yang dilakukan dalam mengatur spring ( spring adjustment ) direct acting actuator. maka stem control valve tidak dapat diatur sesuai dengan posisi terkalibrasi.

‡ Stem bergerak linier (naik ± turun) untuk mengubahposisi plug ‡ Posisi plug yang berubah menyebabkan luas area antara seat dan plug berubah Gambar 9. 30 .b) Bodi Control Valve b.1 Jenis-jenis Body Control Valve Ada beberapa jenis body control valve yang sering digunakan. diantanya adalah seperti berikut ini : ‡ Globe Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Bentuk eksternal valve seperti globe. yang mempunyai bagian yang dihilangkan untuk mengatur luasan area aliran. Globe Valve ‡ Ball Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Pembatas valve berupa bola solid. ‡ Bola akan berputar untuk mengatur jumlah aliran.

‡ Jumlah aliran yang dapat dialirkan rata-rata lebih besar 50% dibandingkan dengan Globe Valve Gambar 12. Bentuk Fisik Ball Valve Gambar 11. Bentuk Fisik Butterfly Valve 31 .Gambar 10. yaitu sebuah damper yang berotasi untuk mengatur hambatan aliran. Ball Valve ‡ Butterfly Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Cara kerjanya mirip sayap kupu-kupu.

Butterfly Valve ‡ Gate Valve Ciri-cirinya adalah : ‡ Mempunyai sebuah plat yang mengatur luas bukaan aliran ‡ Biasanya digunakan untuk dioperasikan secara manual dan dapat juga secara otomatis untuk emergensi. Gate Valve 32 . Gambar 14.Gambar 13.

yaitu: (1).3 Bagian-bagian Body Control Valve Untuk memberikan gambaran atas bagian-bagian yang terdapat pada sebuah control valve. Trim (2).b. 33 .2 Keuntungan dan Kerugian dari tiap -tiap jenis valve body b. Bagian ini berhubungan langsung dengan aliran fluida yang dikontrol. Ada dua bagian besar yang membentuk body control valve. maka akan dibahas contoh body control valve yang bentuknya sederhana. yaitu single/double ported reversible globe style. Body Trim adalah bagian dalam dari control valve yang dibentuk oleh beberapa komponen yang dapat dilepas-lepas.

Komponen-komponen trim diantaranya adalah : a) Stem b) Packing gland/flange c) Pipe plug d) Packing box ring e) Guide bushing f) Bottom guide bushin g) Valve plug h) Seat ring i) Packing follower j) Packing k) Packing flange nut Sedangkan body control valve terdiri pula atas beberapa komponen. Yang menggambarkan single dan double seat (port) dari jenis port guide dan top and bottom guided valve body. 34 . seperti : 1) Valve body 2) Bonnet 3) Bottom flange nut 4) Bottom flange 5) Yoke lock nut Keseluruhan komponen body dan trim suatu control valve dapat dilihat pada gambar 15.

Dari gambar diatas terdapat tiga jenis stem connector yaitu : - Stem locknuts Stem lock Split stem clamp Jenis yang terakhir diatas. yaitu split stem clamp biasanya dipakai untuk control valve yang ukurannya besar. actuator stem dengan valve plug stem dapat dilakukan dengan beberapa cara. Bagian ini berfungsi sebagai tempat menyambungkan actuator ke body. Bagian lain yang terdapat pada body control valve adalah bonnet. seperti contohnya pada gambar 16 berikut ini. 35 . Body Control Valve Hubungan antara kedua stem.Gambar 15. Koneksi kedua bagian ini sering disebut dengan istilah stem connector.

Misalnya apabila fluida yang dikontrol mengandung racun. Extension column bonnet Di pakai untuk temperature yang berfariasi cukup besar ( 200F . Packing berfungsi sebagai pencegah terjadinya kebocoran fluida yang akan dialirkan melalui valve. Diantara berbagai macam bonnet dikenal. Ballows seal bonnet Dipakai apabila diinginkan tidak boleh ada kebocoran sama sekali dari bonnet ini. Ada tiga macam karakteristik aliran yang dapat dipilih yaitu : 36 . mudah menguap.4500F ) dan panjangnya extention ini tergantung dari kondisi temperature.dengan menempatkan packing kedalamnya. ada 4 jenis yang sering dipakai. namun kebanyakan didisain untuk direct acting atau reverse acting. b. c).4 Valve Plug Valve plug adalah merupakan bagian yang bergerak dari suatu control valve yang melakukan perubahan hambatan terhadap aliran fluida. Radiating fin bonnet Dipakai untuk temperatur diatas 450 F d). atau mahal nilainya. yaitu : a). Valve plug yang di disain baik untuk pemakaian on-off (dua posisi) atau sebagai pengontrol di semua titik (throttling control). Walaupun ada diantara plug ini yang reversible (dapat dibalik aksinya). Standart service bonnet Dipakai untuk temperatur fluida antara 320F ± 450 0F b). Valve plug ini akan menentukan karakteristik aliran fluida yang akan melalui control valve. Pemilihan kedua aksi valve plug ini biasanya dikaitkan pula dengan aksi actuator yang dipakai.

Cara kerja plug ini berlawanan dengan plug jenis equal percentage. Jadi ketika valve plug posisinya 50% maka aliran yang terjadi juga akan 50% dari aliran maksimum. 3). ketika posisi plug hampir tertutup maka aliran akan relatif kecil. 2).Karakteristik aliran yang presentasi sama (equal percentage) Dengan memakai plug jenis ini.1). Gambar 16. dan apabila plug hampir membuka penuh maka aliran akan relatif besar jumlahnya. Ketiga karakteristik aliran ini dapat dilihat pada kurva berikut ini. Karakteristik aliran pembukaan cepat (quick opening) Pada daerah bukaan valve yang kecil dapat membuat perubahan aliran yang besar. Kurva Karakteristik aliran 37 .Karakteristik aliran yang liniear Disini jumlah aliran (flow rate) yang dapat dialirkan akan proporsional (sebanding) dengan besarnya langkah (stroke) valve plug.

2). 38 . karena valve tidak akan dapat dibuka begitu saja tanpa melepas beberapa bagian pipanya. Konstruksi ini sering dipakai untuk tekanan rendah. Flat face Flensan yang dipasang akan mengadakan kontak sepenuhnya dengan gasket. Ada tiga metoda pemasangan control valve pada pipelines (pipa). valve-valve dari bahan cast iron dan kuningan. Screwed Pipe Threads Screwed end connection ini banyak dipakai untuk control yang kecil-kecil. Penyambungan seperti ini biasanya dilakukan untuk valve yang berukuran lebih kecil daripada 2 inchi. yaitu : 1). Sambungan flensan yang banyak dipakai adalah : a. Sambungan flensan juga dapat dipakai dalam range temperature dari nol absolute sampai 15000 F. Bolted Gasketed Flanges Valve dengan sambungan flensan (flange) mempunyai kemudahan dalam memasang/membongkarnya dari pipeline dan cocok dipakai untuk berbagai tekanan kerja yang diisyaratkan bagi setiap control valve. Kesulitan dengan cara ini adalah jika valve tersebut memerlukan frekuensi membuka/memasangnya pada pipa.c) Control Valve End Connection Yang dimaksud dengan control valve end connection diatas adalah cara penyambungan body control valve ke proses line (pipa). Sambungan ini juga dapat dipakai untuk semua ukuran control valve. dan juga cara ini lebih ekonomis dibandingkan juga dipakai flensan (flange end).

39 . Raised face ini dipakai untuk berbagai jenis gasket dan material flensan untuk tekanan sampai dengan 6000 Psi dan temperature sampai 15000 F. Flate Flace b. Gasket yang dipakai adalah cincin logam yang penampangnya dapat berbentuk oval.Gambar 17. Gambar 18. Sambungan ini digunakan untuk tekanan yang tinggi (sampai 15000 Psi). hanya saja terdapat lekukan berbentuk huruf U. Ring type join Hampir sama dengan raised face. Raised face Mempunyai permukaan yang menonjol pada lingkaran tertentu dengan diameter dalam sama dengan bukaan valve dan diameter luar sedikit lebih kecil dari diameter lingkaran untuk baut. Raised Face c.

Welding End Connection 40 .Gambar 19. Sedangkan socket welding digunakan untuk valve yang berukuran maksimal 2 inchi. Ada dua cara penyambungan las yang dikenal yaitu butt dan socket. Ring Type Join 3). Butt welding dipakai untuk control valve berukuran 2. Gambar 20. Welding End Connection Penyambungan control valve ke pipelines dengan cara pengelasan ini mempunyai keuntungan dari segi pencegahan terhadap kebocoran pada berbagai tekanan dan temperatur. seperti pada gambar. Namun cara penyambungan ini akan kesulitan dalam melepaskan control valve dari pipa.5 inchi atau lebih.

Positioner merupakan pengendali proporsional yang digunakan untuk menggerakkan actuator atau stem sebuah control valve dengan tenaga angin (Pneumatik) sesuai dengan sinyal control. Biasanya nilai dari sensor tersebut sangat kecil. sinyal dari sensor akan masuk ke transmitter. Control Valve Asesories (Positioner) Valve merupakan peralatan untuk menggerakkan stem dan plug pada posisi yang diinginkan. maka sebuah positioner dapat digunakan.Pada PT. range nilai yang digunakan adalah 4 mA ± 20 mA.Pertamina (Persero) RU II Dumai. sinyal tersebut akan diubah ke dalam ampere (I). Blog Diagram Dari gambar diatas. Peletakan positioner pada control valve dapat dilihat pada gambar (22) berikut ini : 41 . Di dalam transmitter. Setelah itu controler akan memberi perintah untuk membuka atau menutup control valve melalui positioner tersebut. Namun valve tidak dapat secara tepat dispesifikasikan dengan sinyal control. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat secara blok diagram kedudukan control valve di dalam suatu closed loop system adalah seperti pada gambar berikut ini. Tetapi jika kekurangan ini dianggap cukup penting. Kemudian akan di terima oleh controler (DCS). Gambar 21. sehingga nilai tersebut harus dinaikkan.3.

yakinkanlah terlebih dahulu bahwa semua tekanan pada pipping telah tertutup rapat dan dikeluarkan dari body valve. 4. Berikut ini akan diuraikan secara ringkas prosedur pemeliharaan yang perlu dilakukan dalam pemeriksaan atau pemeliharaan control valve. Demikian juga tekanan pada actuatornya.1 Mengganti Packing Packing yang ada dibagian dalam bonnet akan membuat tekanan disekitar stem (untuk body valve jenis globe). Peletakan Positioner 4.Gambar 22. Pemeli control valve Sebelum segala prosedur pemeliharaan dilaksanakan. Beberapa jenis packing control valve yang banyak digunakan. Kesalahan dalam langkah awal pemeliharaan akan dapat menimbulkan situasi yang berakibat rusaknya peralatan dan bahkan mencederakan operator. diantaranya adalah : 42 . Packing ini membutuhkan penggantian jika telah mulai adanya kebocoran disekeliling stem.

Terbuat dari bahan plastik yang mempunyai daya melekat .Untuk mengurangi gesekan. TFE V-ring . 43 .Dapat digunakan pada temperature antara 400F s/d 4500F. sebaiknya menggunakan extension bonnet.Dapat dipakai untuk distilat minyak.Cocok untuk temperature mencapai 9000 F .Dapat diatur-atur untuk mencega kebocoran. steam. . dapat menggunakan pelumas. . dan udara dengan temperature sampai 4500 F. flake graphite.Cincin packing mempunyai inti asbestos yang dililit dengan alumunium foil .Dapat dipakai untuk temperature dan tekanan tinggi serta permukaan stem yang tidak begitu baik .Bentuknya berupa cincin yang menyerupai huruf-V dan tidak membutuhkan pelumas . oil. Semi Metallic .Jika temperature sudah mencapai 8000 F.1). 2). partikel logam. 3). Graphited Asbestos . lead wool.Terbuat dari fiber-asbes.Tahan terhadap beberapa bahan kimia . akan tetapi akan terjadi gesekan yang lebih besar daripada dengan packing TFE. dan sejumlah kecil neoprene .

lalu dorong dengan memutar baut lubricator. Kalau sudah selesai. 44 . Pelumas yang digunakan untuk temperature sampai 4500F adalah jenis Dowcorning X-2. tutup isolating terlebih dahulu. Lubricator ini dipasangkan pada pipe plug yang terdapat di bagian bonnet. kemudian putar balik baut lubricator sampai terlepas.Berikut adalah bentuk-bentuk dari packing : Gambar 23.2 Pelumasan Packing Control Valve Suatu lubricator/isolating valve dibutuhkkan untuk packing yang semi metallic dan disarankan pula packing jenis graphite asbestos. Sedangkan jika temperature dibawah 3000F. Pada saat memasukkan pelumas. gunakan pelumas Hooker Chemical Corporation Fluorolube. Buka isolating valve dan teruskan memutar baut lubricator sampai pelumas masuk kedalam packing box. tutuplah kembali isolating valve. Masukkan pelumas. Jenis-jenis packing 4.

Berikut adalah gambar peletakan packing pada control valve : Gambar 24. Packing PTFE 45 .

Sisakan ulir diatas disc tersebut secukupnya untuk tempat melekatnya stem connector. Agar mendapatkan 46 . maka pengaturan langkah ( travel adjustment ) dan menghubungkan kedua stem ( actuator stem dengan plug stem ) adalah sebagai berikut : 1) Pasang body valve dan actuator. Double packing (PTFE dan Graphite) 4.3 Pengaturan valve travel dan menghubungkan stem Untuk control yang banyak dipakai. 2) Pastikan agar actuator stem berada pada posisi sama dengan saat plug menutup ke seat (untuk body dengan jenis direct). yang dipakai istilah sliding stem control valve. Ulirkan stem lock nut pada plug stem dan atur agar travel indicator disc pada bagian melengkung tajamnya mengarah kebawah.Gambar 25.

Pasangkan stem connector.posisi yang diinginkan maka dapat digunakan angin yang bertekanan tinggi pada actuator. ikat baut ( stem locknut satu dengan yang lain ) dan putar stem kearah yang diinginkan. 7) Untuk melihat hasil pengaturan travel lebih teliti maka pasangkan gauge indikator untuk mengukur tekanan yang bekerja pada actuator. kendorkan stem connector. Dan ikat pula stem connector. 5) Gerak-gerakkan actuator untuk memeriksa kemampuannya bergerak sepanjang travel (stroke) yang ditetapkan pada setiap control valve (mulai full open sampai full close). Atur posisi indicator plate pada yoke agar sesuai dengan hasil pengaturan travel tadi. 8) Lakukan final adjustment. sehingga actuator stem bergerak kira-kira 1/8 inchi. mulai saat valve mulai bergerak sampai diperoleh langkah penuh. 47 . 3) Gerakkan plug keposisi menutup 4) Ubah tekanan angin yang bekerja pada actuator. Pengaturan yang dapat dilakukan maksimum 1/8 inchi. 6) Jika pengaturan travel telah selesai dilakukan maka kencangkan ikatan pada stem lock nut untuk menjepit indicator disc. klemkan kedua stem (actuator stem dengan plug stem). Apabila memerlukan pengaturan kembali untuk perubahanyang tidak begitu besar.

- L.P Steam ( Medium Pressure Steam ) Dengan tekanan kerja 11. L. Prinsip kerja dari PLTU ini adalah merubah tenaga panas menjadi tenaga mekanis dengan menggunakan High Pressure Steam dimana steam masuk kedalam turbine pada sudu -sudunya dan melalui sudu-sudu ini tenaga mekanis yang terjadi dirubah menjadi tenaga putar yang mengakibatkan poros/rotor turbine berputar.P Header melalui suatu Drain Boot ( Pembuang Condensate Steam ) masuk ke steam stop valve terus ke steam strainer kemudian diteruskan ke steam control valve. Untuk pengoperasian turbine generator ini digunakan tiga macam steam yang berbeda yaitu : - H.2 Kg/Cm2 dan temperature 1600C. - M.P Steam ini digunakan untuk menggerakkan Turbine Pump seperti Auxilary Oil Pump. Pertamina (Persero) RU II Dumai Penggerak pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah ³Steam Turbine´ dan turbine yang digunakan di PLTU adalah type ³Condensing Induction´ yang merupakan produksi dari Fuji Electric.P Steam dengan perbandingan 5 Ton H. sehingga generator berputar dan menghasilkan tenaga listrik.P Steam ( High Pressure Steam ) Dengan tekanan kerja untuk turbine 40.P Steam ini digunakan untuk menggerakkan turbine dimana steam dari H. H. M.P Steam sama dengan 12 Ton L. digunakan pada turbine generator sebagai pembantu penggerak turbine dan hal ini dapat mengurangi pemakaian H.0 Kg/Cm2 dan temperature 1950C.8 Kg/Cm2 dan temperature 3710C. Condensate Pump dan Ejector.P Steam ini didapat dari 48 . melalui reducer gear rotor ini dihubungkan dengan generator.P Steam ( Low Pressure Steam ) Dengan tekanan kerja sebesar 3.BAB IV Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT.P Steam.

Secara singkat ketiga cara perpindahan kalor dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Perpindahan kalor secara radiasi Perpindahan kalor secara radiasi adalah proses perpindahan kalor yang dipancarkan dari benda bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah yang terpisah satu sama lain tanpa media penghantar kalor. Pada ketel uap. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Pada kesempatan kali ini penulis mengambil boiler 1 yang ada di PLTU PT.P Steam. Untuk mendapatkan Steam (uap) sebagai fluida penggerak turbine dihasilkan dari boiler (ketel uap). Panas diserap oleh ketel uap dapat berlangsung secara radiasi. Energi dalam dari air didalam ketel uap akan meningkat sehingga temperatur dan tekanannya akan meningkat pula yang mana air tersebut dapat menjadi uap pada suatu tingkat keadaan tertentu.P Stop Valve dari sini terus ke L. atau gabungan dari ketiga cara tersebut dengan presentasi tertentu sesuai dengan yang dikehendaki.1Ketel Uap ( Boiler ) Ketel uap adalah suatu bejana tertutup yang berisi uap atau air dimana kalor dalam bentuk panas dipindahkan melalui ruang bakar dan bidangbidang pemanas lain. konveks. proses radiasi terjadi pada ruang bakar yaitu dari badan api kepermukaan luar pipa dan kedinding ruang bakar sedang pada waste heat boiler tidak terjadi pembakaran didalam ketel. Dimana dari uap yang dihasilkan tersebut yang diserap adalah tekanan dan temperaturnya.L. 49 . Maka untuk dapat menggerakkan generator dibutuhkan steam yang menggerakkan turbine. IV.P Control Valve untuk diatur besarnya penggunaan L.P Header dan diteruskan ke L. Ketel uap direncanakan untuk dapat menyerap panas secara maksimum didalam proses pembakaran. konduksi.

Pada ketel uap. Pada ketel uap.b) Perpindahan kalor secara konduksi Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor dari suatu bagian ke bagian lain dalam suatu material ke material lain yang saling bersinggungan ( kontak ).2Perlengkapan / Alat-alat Boiler Ada 3 syarat agar dapat terjadi pembakaran yaitu : 1) Bahan bakar 2) O2 (oksigen) 3) Api (panas) Boiler memiliki alat perlengkapan sebagai berikut : a) Stoek Stoek adalah alat untuk mengalirkan atau membuang gas buang setelah panasnya dipakai untuk keperluan pemanasan mula atau preheater. Sumber kalor untuk ketel uap ( boiler ) dapat berupa bahan bakar dalam bentuk padat. IV. konveksi merupakan perpindahan kalor diantara permukaan pipa dan fluida yaitu terjadi antara gas asap kedinding pipa dan dari dinding pipa ke air/uap. atau gas. proses konduksi terjadi pada dinding ruang bakar. dinding pipa gas asap atau pipa air dan dinding silinder/drum ketel uap. cair. Bahkan dewasa ini sumber kalor dengan menggunakan energi listrik atau energi nuklir mulai dikembangkan. 50 . Hal ini bermaksud untuk memanfaatkan gas buang. c) Perpindahan kalor secara konveksi Perpindahan kalor secara konveksi adalah proses perpindahan kalor dari benda yang bertemperature tinggi kebenda yang bertemperatur rendah oleh pergerakan dari molekulnya atau dengan perkataan lain konveksi adalah konduksi yang berlangsung bersamaan dengan gerakan fluida.

e) Shoot flower Alat ini berfungsi untuk membersihkan dinding sebelah kiri dari tube yang terdapat kerak-kerak akibat pembakaran yang dapat mengurangi hambatan panas f) Fresh air van Alat untuk mensupply udara keburner sebagai syarat terjadinya pembakaran. Tarikan secara alam tersebut terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara. b) Explosive door Adalah alat yang diletakkan di ruang bakar dan dihubungkan keluar dimaksudkan untuk membuang apabila terdapat ledakan-ledakan kecil yang timbul di ruang bakar oleh adanya akumulasi gas/penimbunan gas yang terjadi diruang bakar. d) Inspection door Ini adalah alat yang dipasang pada dinding boiler yang berfungsi untuk melihat nyala api apakah sudah sesuai dengan yang ditentukan. maka diharapkan safety value pada boiler drum dapat menurunkan tekanan uap yang berlebih.Tujuan untuk membuat tarikan secara alam sehingga mempercepat aliran gas buang. Safety value ini akan membuka secara otomatis dan akan menutup kembali secara otomatis apabila tekanan di boiler drum sudah turun. g) Ignation air van 51 . c) Safety value Pada boiler terdapat 2 buah safety value yaitu : 1) Pada super heater 2) Pada boiler drum Safety value ini bekerja apabila tekanan didalam boiler drum diatas 42 Kg/Cm2. Alasan dipasang dua buah safety value dikarenakan apabila safety value pada super heater tidak bekerja.

maka dibutuhkan pengaturan aliran air yang akan di rebus pada ketel (boiler).sehingga dapat mengimbangi level/temperatur air dalam boiler drum. Pengaturan ini dapat menggunakan control valve karena control valve 52 . Fud water pump digerakkan oleh motor listrik dan turbin uap yang berukuran kecil. Pertamina (Persero) RU II Dumai Untuk menghasilkan uap yang baik dan aman. Apabila sudah beroperasi.Alat ini juga berfungsi untuk mensupply udara. h) Burner Burner adalah tempat pencampuran antara bahan bakar. angin yang akan digunakan untuk mengatur besarnya api. l) Water colom Adalah alat untuk melihat tinggi air didalam boiler secara visual. IV. dan bahan bakar untuk api.3Data Pemakaian Control Valve Pada Boiler 1 di PLTU PT. m) Reduser gas Adalah alat untuk menurunkan tekanan gas pembakaran n) Tree way value Adalah alat yang dipasag di bagian drum yang bertujuan untuk membagi air. o) Alarm Adalah alat untuk mengingatkan operator apabila ada kenaikan level air didalam boiler. tetapi hanya di gunakan untuk membantu penyalaan mula pada burner. maka ignation air van dimatikan secara manual. j) Drum Drum boiler adalah tempat untuk memisahkan uap jenuh dengan air k) Blow down value Terdapat 14 buah yang dipasang pada heater. Tujuannya adalah untuk membuang skil-skil/deposede dalam boiler yang tidak diinginkan. udara untuk pembakaran. i) Fud water pump Adalah pompa untuk mengisi air pada boiler.

Berikut ini adalah tabel data control valve yang di gunakan di boiler 1 (940 B1) : Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type FV-178 3³ Globe C.8 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body PV-35A 4³ Globe C.S Close (air to open) 35 Psi Spring Diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type PXV-1026 6³ Globe C.S 53 . sebagai hasil akhir sistem pengendalian.S Open (air to close) 2.bertugas untuk melakukan langkah koreksi terhadap suatu variabel.

Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type Open (air to close) 1.S Close (air to open) 2.4 Psi Spring diaph LV-71 2³ Globe C.4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type PV-3741 8³ Globe C.4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type TV-33A 7³ Globe C.S Open (air to close) 1.S Close (air to open) 3.85 Psi Spring diaph 54 .

S Close (air to open) 2.Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type XV-1069 6³ Globe C.S Open (air to close) 1.4 Psi Spring diaph 55 .4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type FV 66 7³ Globe C.S Close (air to open) 2.4 Psi Spring diaph Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type XV-1048A/B 2³ Globe C.

Tag No Body Size Form Material Body Action On Minimum Signal Air Supply Pressure Actuator Type PV-219 3³ Globe C. Digunakan jenis body Globe karena kapasitas yang digunakan besar dan pada saat open 100% dapat mengaliri air (fluida) dengan jumlah yang besar.4 Psi Spring diaph Dari data diatas maka dapat disimpulkan bahwa boiler 1 pada PLTU PT.S Close (air to open) 2. 56 .Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak memakai control valve dengan jenis body yaitu globe dengan actuator type Spring diaph.

Simulasi boiler 1 di PLTU pengoperasian otomatis untuk control valve di boiler 1 pada PLTU PT.Berikut ini adalah simulasi dari boiler 1 yang dapat dikendalikan oleh operator : Gambar 26. 57 .Pertamina (Persero) RU II Dumai dengan menggunakan DCS (Distributed Control System) dan untuk shutdown seluruh sistem pada PLTU secara otomatis menggunakan PLC (Programmable Logic Control).

4) Syarat pembakaran pada boiler ada 3 : a) Bahan bakar b) O2 (oksigen) c) api (pematik) 5) Sistem pengaturan otomatis di boiler1 pada PLTU PT.BAB V PENUTUP V. 3) Apabila ada yang belum di mengerti.Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah spring diaphragm.2 Saran 1) Waktu selama 1 bulan masih belum cukup bagi penulis untuk mempelajari control valve di boiler 1 pada PLTU PT. 6) Sistem shutdown di boiler 1 pada PLTU PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai. 58 . 3) Jenis actuator yang digunakan di boiler 1 pada PLTU PT. 2) Harus bisa memahami konsep keilmuan dan aplikasi di lapangan.1 Kesimpulan 1) Control Valve merupakan final element yang sangat penting dalam suatu proses loop tertutup di bidang industri perminyakan. banyaklah bertanya kepada pembimbing kerja praktek.Pertamina (Persero) RU II Dumai menggunakan PLC (Triconex) V.Pertamina (Persero) RU II Dumai menggunakan DCS (Distributed Control System). 2) Jenis body control valve yang digunakan di boiler 1 pada PLTU PT.Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah globe.

DAFTAR PUSTAKA Buyung.Dasar ± Dasar Control Valve.U.A http//www.Bandung 59 .2005.Control Valve Handbook Fourth Edition.Teknik Mesin Lapangan.1990.1983.S.Amrial.ns.omega.Pangkalan Brandan Fisher Control International LLC.Syafaruddin.com drs.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->