APA DOSA PERTANIAN INDUSTRIAL?

Saat ini, sistem pertanian tradisional sudah banyak ditinggalkan, digantikn dengan sistm pertanian industrial yang ternyata banyak menimbulkan masalah lingkungan. Dr. Peter Goering, 1993, seorang enviromentalis dari Princeton University, secara tajam mengkritik kebijakan pembangunan pertanian industrial yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia. Dalam bukunya yang berjudul From The Ground Up; Rethinking Industrial Agriculture edisi 1993, beliau menuduh ada tiga penyebab "dosa" pembangunan pertanian industrial. 1. Spesialisasi; Berpandangan Sempit Sekarang ini, ahli-ahli pertanian dapat dikatakan bekerja sangat terfokus pada ilmu dan lapangan kerjanya masing-masing. Setiap disiplin ilmu cenderung merasa puas dan bangga dengan objek kajiannya sendiri sehingga tidak mau peduli dengan disiplin ilmu yang lain. Dr. Peter Goering mencontohkan, seorang ahli pembuat pestisida hanya berpikir bagaimana menciptakan racun pembasmi hama yang seampuh mungkin, tanpa mau memikirkan dampaknya terhadap jenis serangga bermanfaat (natural enemy of pest) serta efek residual yang ditimbulkannya terhadap bahan pangan dan air minum. Pakarpakar pertanian cenderung mengejar target-target produktivitas hasil panen, tanpa memikirkan apakah hal itu juga akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani kecil. Spesialisasi juga telah menggiring para petani untuk hanya menguasai salah satu teknologi, padahal dalam realitas kehidupan mereka selalu dihadapkan pada perubahan[erubahan, misalnya harga input atau output yang selalu berfluktasi, perubahan selera atau trend permintaan konsumen, dan sebaigainya. Pada umumnya, para pertani tidak mampu melakukan diversifikasi usaha tani yang dapat menekann risiko akibat perusahaan yang tak terduga. Para petani kurang memiliki keberanian untuk melakukan

Oleh karena itu. dosis puppuk dan obat-obatan yang sama. yaitu bagaimana menggunakan benih unggul yang sama.temuan dari kajian itu sendiri seringkali invalid dan menyimpang atau bias dari kondisi empirirs. Standarisasi memang dipuji sebagai faktor krusial untuk meraih prduktivitas dan efisiensi ekonomi. jika asumsi standar tak terpenuhi. dan investasi keuangan karena kurangnya dukungan pendidikan dan keterampilan yang memadai di bidang pertanian. Sebagai contoh. Standarisasi. dan input kimia yang lain. dan pengangkutan sampai ke outlet supermarket-supermarket di kota-kota besar. dengan cara mengendalikan atau memanipulasi sumber daya alam. kesuburan tanah. Penyeragaman yang Menyesatkan Para ilmuwan modern pada umumnya bertujuan mencari teori-teori dan hukumhukum universal untuk memudahkan kehidupan manusia. Akibatnya. ribuan spesiaes tanaman lokal dan hewan-hewan spesifik mulai punah oleh pola tanam yang serba seragam yang hanya didomiasi oleh sistem produksi pangan.diversifikasi usaha tani alokasi. Para pengusaha pertanian di dunia ini boleh dikatakan memiliki pola pikir yang seragam. tetapi justru menyeragamkan agroekosistem antar daerah atau wilayah yang memang dinkondisikan dan didukung oleh pemerintah dan pengusaha industri pertanian. Tanaman atau hewan pun akan diatur supaya tumbuh dan berkembang secara seragam sehingga memudahkan permanent. Kadang-kadang efisiensi yang dicapai . 2. serta mesin-mesin yang sama. Di dalam perumusan hukum itu tersendiri terdapat distorsi kelimuwan dari model-model empiris ke model-model teoretis dengan cara menyederhanakan (simplifying) dan membakukan (standarizing) sebuah objek kajian. Praktek-praktek manajemen pertanian yang demikian tidak berorientasi jangka panjang dengan memperkaya keanekaragaman hayati. agroklimat. Standarisasi dilakukan oleh para pengusaha agribisnis untuk mendapatkan produk pertanian yang seragam sesuai dengan selera dan tutan pasar. peningkatan pemakaian pupuk nitrogen untuk merangsang pertumbuhan tanaman tidak serts-merta mampu mendongkrak produktivititas hasil panen tanpa totalitas dukungan dari jenis varietas. pengemasan. kecukupan air.

melalui standarisasi dilakukan dengan cara-cara justru tidak efisien. kebanyakan petani kita hanya menjadi penonton. dan tidak kompetitif. Padahal. Pengenaan pajak impor komoditas pertanian tidak mendorong petani untuk berproduksi secara efisien sehingga mampu menerobos pasaran dunia. mulai dari penyuluhan dan pendidikan petani. atau bahkan korban era perdagangan bebas. Sentralisasi. dan sosial. pemasaran. Sebaliknya. Memperdaya Petani Kecil Setiap tahapan proses usaha tani. konsumen. ekologis. Subsidi harga input-input pertanian yang terus berlajut akan tidak mendidik petani untuk mandiri. baik secara ekonomis. . penanganan pascapanen. lebih boros. dan distribusi hasil-hasil pertanian masih banyak yang tersentralisir. Petani menjadi sangat tergantung dan tidak berinisiatif membuat keputusankeputusan secara mandiri untuk kemajuan usaha tani atau usaha di luar usaha tani. proses produksi. 3. dalam ketentuan GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) dipersyaratkan agar para petani semakin mandiri atau tanpa subsidi sehingga mampu berkompetisi dalam pasar dunia. dengan kebijakan intervensi pemerintah yang sangat kuat.

hampir50% tanaman jagung terserang penyakit bule (blight) karena hampir 80% areal kebun ditanami jagung. 4.B. Pertanaman dengan pola monokultur relatif rentan terhadap serangan hama dan penyakit. sehingga mampu bereproduksi lebih tinggi dari benih varietas lokal atau tradisional. Industri pertasnian raksasa berkelas dunia (misalnya . Menciptakan ketergantungan petani untuk selalu membeli benih buatan pabrik setiap musim tanam. Namun demikian. jumlah dan jenis sumber daya benih selalu meningkat serta terkonsentrasi pada industri-industri pertanian yang menguasai pangsa pasar dunia. 2. 1. pestisida. Varietas baru ini hanya responsif bila pemakaian input (misalnya pupuk NPK. karena adanya upaya-upaya monopoli terselubung dengan berkedok hak paten dan persaingan dagang untuk terus mengembangkan rekayasa genetika super canggih. Pengalaman tahun 1970 di Amerika Serikat. Padahal. 1993) sebagai berikut. Benih hibrida pada umumnya tidak mampu beradaptasi secara optimal dengan agroklimat yang sesungguhnya di lapangan. Generasi dari benih hibrida menyebabkan hilangnya vigor untuk persilangan murni. anatara lain (Goering. Benih Unggul. plasma nutfah yang digunakan sebagai bahan baku untuk membentuk benih baru itu kebanyakan berasal dari negara-negara miskin di mana varietas lokal masih sangat melimpah dan kurang dimanfaatkan. Sekarang ini. Praktek Monopoli yang Menjerat Salah satu ciri pertanian industrial adalah penggunaan benih hibrida dengan varietas yang selalu diperbarui oleh produsennya. Dalam benih hibrida hasil rekayasa genetika sering kali juga terbawa ikutan benih-benih hama atau penyakit tertentu. dan ketersediaan air) dalam kondisi yang sempurna. 3. penggunaan benih hibrida memiliki sederet kelemahan. Penggunaan benih unggul secara baru secara terus-menerus juga dapat menurunkan keanekaragaman spesies tanaman dan hewan di sekitar areal pertanaman.

dan Dupont) selalu berkompetisi menghasilkan benih varietas unggul untuk dipasarkan kepada petani-petani miskin di negara-negara terlebakang. Bukankah ini merupakan bentuk baru imperialisme ekonomi dengan memanfaatkan kecanggihan bioteknologi modern. kelompok Greenpeace menuntut para produsen produk transgenik yang tidak bertanggung jawab melalui pengadilan. Departemen Pertanian sedang melakukan uji multi-lokasi terhadap beberapa jenis tanaman transgenik. . ITT. dan mampu bereproduksi lebih tinggi serta ramah lingkungan. Univeler. antara menerima dengan setengah hati atau menolaknya secara tegas. lebih efisien dalam pemakaian pestisida. Ciba. Bayer. Pihak produsen benih mnegklaim benih transgenik hasil rekayasa genetika menghasilkan tanaman yang tahan hama atau penyakit. Di Amerika.SHELL. Adanya kebijakan yang mendua (ambivalen) antardepartemen. menimbulkan kebimbangan di antara masyarakat pertanian. Berita terbaru tentang kontroversi benih dan produk transgenik terus bergulir dengan perdebatan seru antara pro dan kontra. Di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup menolak masuknya tanaman hasil rekayasa genetika ke Indonesia karena belum jelas risikonya. Monsanto. ICI. Geigy.