Hukum Islam dan Tradisi Masyarakat

Ansori *)
*)

Penulis adalah Magister Agama (M.Ag.), Ketua Jurusan Hukum Islam (Syari’ah) STAIN Purwokerto.

Abstract: Islamic law conceptually perceived as a universal law, that dynamic, elastic, and flexible so that Islam called as rahmatan lil’alamin (blessing to the universe). One implementation of this concept proved by the ability of Islamic law to adapt, to interact, and can accommodate various form of growth and life of society, wherever and whenever. Keywords: Islamic law and tradition.

Pendahuluan
Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah ibn Mas’ud disebutkan, “Apa yang dipandang baik oleh umat Islam, maka di sisi Allah pun baik”. Hadis tersebut oleh para ahli ushul

fiqh dipahami (dijadikan dasar) bahwa tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsipprinsip syari’at Islam dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum Islam (fiqh).
Konsep ini menunjukkan bahwa Islam sebagai agama wahyu yang mempunyai doktrin-doktrin ajaran tertentu yang harus diimani, juga tidak melepaskan perhatiannya terhadap kondisi masyarakat tertentu. Kearifan lokal (hukum) Islam tersebut ditunjukkan dengan beberapa ketentuan hukum dalam al-Qur’an yang merupakan pelestarian terhadap tradisi masyarakat praislam. S. Waqar Ahmed Husaini mengemukakan, Islam sangat memperhatikan tradisi dan konvensi masyarakat untuk dijadikan sumber bagi jurisprudensi hukum Islam dengan penyempurnaan dan batasan-batasan tertentu. Prinsip demikian terus dijalankan oleh Nabi Muhammad. Kebijakankebijakan beliau yang berkaitan dengan hukum yang tertuang dalam sunnahnya banyak mencerminkan kearifan beliau terhadap tradisi-tradisi para sahabat atau masyarakat.1 Persentuhan antara prinsip-prinsip universal hukum Islam dengan tuntutan pranata sosial dan realita masyarakat di berbagai wilayah dalam sejarah perkembangan hukum Islam melahirkan antara lain fiqh Hijaz (fiqh yang terbentuk atas dasar tradisi atau sosiokultural di Hijaz) dan fiqh Irak (fiqh yang terbentuk atas dasar tradisi atau sosiokultural masyarakat Irak). Dalam perkembangan selanjutnya, fenomena tersebut memunculkan istilah—dalam wacana pemikiran hukum Islam— kelompok ahl ul-ra’y dan ahl al-Hadis. Ini semua menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dasar hukum Islam dan ide dasar para Imam mujtahid yang memahami dan menjabarkan prinsip-prinsip dasar tersebut mempunyai kearifan lokal yang sangat tinggi. Sampai sejauh mana konsep kearifan atau perhatian hukum Islam tersebut dalam memahami dan memperhatikan tradisi atau kondisi suatu masyarakat? Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
P3M STAIN Purwokerto | Ansori 1 Ibda` | Vol. 5 | No. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71

Perhatian Hukum Islam terhadap Masyarakat Tradisi Masyarakat Nilai-nilai hukum Islam tidak lepas dari prinsip penerapan yang dianutnya. jenis atau bentuk. hukum Islam dapat dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan tradisi (adat) yang sudah berjalan. ketentuan hukum mengenai kewajiban memberi nafkah bagi suami atau orangtua yang ada dalam berbagai kitab fiqh (dari berbagai macam madzhab) berbeda-beda karena antara lain disebabkan perbedaan tradisi di mana ulama tersebut berada. seperti menetapkan (hukum) dengan dasar nash” 3 . P3M STAIN Purwokerto | Ansori 2 Ibda` | Vol. dan adat (‘urf) masyarakat berbeda antara satu dengan yang lainnya. antara lain. Adat atau ‘urf merupakan kebiasaan dalam masyarakat dan menjadi salah satu kebutuhan sosial yang sulit untuk ditinggalkan dan berat untuk dilepaskan. Syari’at Islam memberikan kesempatan untuk menetapkan ketentuan hukumnya sesuai adat (‘urf) setempat. Lebih jauh. Oleh karena itu. “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’rif” (al-Baqarah: 233). “Kepada wanitawanita yang diceraikan (hendaknya diberi oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf” (al-Baqarah: 241). misalnya mengenai larangan minuman keras (khamr). dan batasan banyak sedikitnya nafkah yang harus diberikan oleh orangtua kepada anaknya dan oleh suami kepada istrinya yang dicerai. Sifat al-Qur’an dan al-Sunnah yang hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan karakter keuniversalan hukum Islam (sebagaimana contoh ayat di atas) dapat dijabarkan kaidah ini dengan melihat kondisi lokal dengan masing-masing daerah. Peluang adat (‘urf) untuk bisa dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum secara implisit diisyaratkan oleh beberapa ayat hukum dalam al-Qur’an. serta tujuan hukum Islam itu sendiri. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 . dalam qa’idah fiqhiyah disebutkan: “Adat kebiasaan dapat dijadikan dasar (pertimbangan) hukum” 2 Qaidah yang lain: “Menetapkan (suatu hukum) dengan dasar (‘urf). dalam pembinaan hukum Islam terlihat dengan jelas bahwa syari’at Islam sangat memperhatikan adat (‘urf) masyarakat setempat. qa’idah fiqhiyah memberikan keluasaan untuk menciptakan berbagai macam bentuk transaksi atau kerja sama. dalam bidang perdagangan (perekonomian). kemampuan. 5 | No. Berkaitan dengan itu. yaitu dengan kaidah: “Sesuatu yang sudah terkenal (menjadi tradisi) di kalangan pedagang. Hal ini karena Islam memahami bahwa tingkat kehidupan. Dengan kaidah tersebut. Oleh karena itu. Dari prinsip-prinsip yang dianut dapat dilihat bahwa hukum Islam dalam prosesnya sangat memperhatikan adat (‘urf) setempat. Dalam ayat tersebut tidak dijelaskan mengenai macam. seperti syarat yang berlaku diantara mereka” 4. dengan kaidah tersebut.

maka hukum tersebut dapat diganti (diubah) dengan hilangnya ‘illat tersebut” 10. Islam memberikan prinsip sebagai berikut: “Ketetapan suatu hukum itu didasarkan atas ada atau tidak adanya ‘illat” 8. Bahkan meneliti dan memperhatikan adat (‘urf) untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan suatu ketentuan hukum merupakan suatu keharusan. Kaidah-kaidah tersebut memberikan prinsip dasar bahwa dalam menerapkan atau menetapkan kebijakan hukum tidak boleh hanya berpegang kepada makna lahiriah atau bunyi lafadz dari suatu P3M STAIN Purwokerto | Ansori 3 Ibda` | Vol. selama kebiasaan masyarakat tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Kondisi Masyarakat Memperhatikan keadaan suatu masyarakat merupakan hal yang mendasar dalam syari’at Islam.6 Adat (‘urf) yang dapat dijadikan hukum adalah al’urf al-shahih. maka dapat dijadikan dasar pertimbangan penetapan hukum. yaitu kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam yang ada dalam. misalnya tidak memberikan zakat kepada mu’alaf dan tidak menerapkan hukum tangan bagi pencuri (yang sepintas melanggar ketentuan nash) karena Umar memandang bahwa hukum agama itu mengandung alasan-alasan tertantu (‘illah.7 Berkaitan dengan masalah ‘illat sebagai motivasi hukum ini. yaitu alasan yang melatarbelakangi suatu ketetapan hukum. Suatu ketentuan hukum dapat dipahami secara utuh dan sempurna adalah terkait dengan kemampuan menggali dan menganalisis ‘illat. (2) al-‘urf al-fasid. Oleh karena itu. “Pada dasarnya suatu ketetapan hukum dapat dihapus (berubah) dengan hilangnya ‘illat” 9. “Apabila suatu hukum ditetapkan berdasarkan ‘illat. sifat akomodatif hukum Islam terhadap tradisi masyarakat dapat terealisir tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya. Oleh karena itu. syari’at Islam dalam menetapkan hukum-hukumnya selalu disertai penjelasan tentang ‘illat (‘illah). apabila tidak ada nash yang menjelaskan ketentuan hukumnya. tetapi kebiasaan tersebut bertentangan dengan nash atau ajaranajaran syari’ah secara umum. 5 | No. Yang dapat dijadikan dasar hukum adalah adat (‘urf) yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dan tujuan-tujuan hukum Islam itu sendiri. Dengan demikian. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 . yaitu (1) al-‘urf al-shahih. Hal ini dimaksudkan agar dalam setiap ketetapan hukum berpijak dari alasan-alasan yang logis.5 Akan tetapi. nash (al-Qur’an dan al-Sunnah). Berkaitan dengan masalah ‘illat ini. rasio logis) yang harus diperhatikan. tidak semua adat (‘urf) manusia dapat dijadikan dasar hukum. Syekh Abdul Fatah mengatakan bahwa semua tindakan kontroversial khalifah Umar bin Khatab. Itulah sebabnya para ulama mengklasifikasikan adat (‘urf) ini menjadi dua macam. sekalipun tidak semua ketentuan hukum dijelaskan ‘illat-nya. yaitu kebiasaan yang telah berlaku di tengah-tengah masyarakat.Kaidah-kaidah tersebut memberikan peluang pada kita untuk menetapkan ketentuan-ketentuan hukum.

para imam mujtahid atau para imam madzhab dalam menetapkan suatu hukum selalu memperhatikan kondisi sosial masyarakat. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 . Dalam perkembangan hukum Islam selanjutnya. Perbedaan ketetapan hukum yang dikeluarkan oleh imam Syafi’i yang memunculkan qaul qadim (pada waktu berada di Bagdad. faktor kondisi lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi terhadap keputusan-keputusan hukum. harus dengan sungguh-sungguh menggunakan pemikiran dan penalaran intelektual. sebenarnya telah tampak sejak awal proses pembentukan hukum Islam itu sendiri. Penetapan hukum yang didasarkan atas analisis ‘illat sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Khatab. antara lain bukanlah semata-mata sebagai lembaga hukum yang menekankan aspek spiritual. Adanya asbab al-nuzul dari suatu ayat hukum dan asbab al-wurud dari suatu Hadis hukum merupakan contoh kongkrit bahwa ketetapan hukum dalam Islam merupakan refleksi sosial masyarakat yang mengelilinginya. P3M STAIN Purwokerto | Ansori 4 Ibda` | Vol. Mempertimbangkan faktor sosiologis sangat penting bila melihat hukum Islam dengan segala dinamikanya. Dalam keadaan yang demikian. tetapi juga merupakan sistem sosial yang utuh bagi masyarakat yang didatanginya. Oleh karenanya. yaitu dengan menggali dan mencermati ‘illat yang terkandung dalam suatu ketentuan hukum sehingga benar-benar rasional dan relevan.teks nash. 5 | No. Dari sudut pandang inilah nilai prinsip ‘illat (penalaran ta’lili) sangat penting untuk dijadikan dasar dalam menetapkan hukum Islam sesuai dengan kondisi masyarakat tertentu. Ketidakterlepasan perhatian hukum Islam terhadap kondisi sosial masyarakat. Irak) dan qaul jadid (pada waktu ia berada di Kairo. Perbedaan di seputar aspek normatif hukum Islam dan aspek sosiologis manusia (masyarakat) akan selalu dijumpai dalam realitas keseharian. sangatlah penting untuk dipahami bahwa suatu sistem kepercayaan (agama) dalam suatu komunitas sosial jangan sampai ajaran-ajarannya. tidak selalu dianggap sebagai tindakan yang menyimpang dari syari’at. Akan tetapi. Akan tetapi. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Pergumulan dan perbenturan dengan nilai-nilai sosial selalu terjadi dan dapat mempengaruhi intensitas pengamalan keagamaan. suatu ketentuan hukum yang berbeda dan perubahan-perubahan hukum yang terjadi dari waktu ke waktu. Mesir) adalah contoh konkret bahwa ketentuan hukum yang dihasilkan melalui ijtihad. budaya. sebaliknya hal itu harus dipandang sebagai dinamika dan nilai kontekstualitas hukum Islam itu sendiri. yang terformulasikan dalam 3 (tiga) kaidah di atas merupakan tahapan yang penting dalam pengembangan analisis sosiologi hukum. termasuk dalam bidang hukum. terjadi kehampaan nilai. hukum Islam harus tetap eksis dalam masyarakat sesuai dengan kondisi sosial. dan ekonomi dalam waktu dan ruang tertentu. tentunya Islam harus arif terhadap kondisi suatu masyarakat agar kehadirannya dapat bermakna dan diterima. khalifah Umar menjatuhkan pilihannya pada faktor sosiologis dengan pertimbangan rasionalistik kemaslahatan untuk memaknakan (hukum) Islam dalam realita kehidupan tanpa meninggalkan semangat yang dipesankan dalam teks-teks al-Qur’an dan al-Sunnah. Di saat terjadi tarik menarik antara pendekatan normatif dan sosiologis.

Hal ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari ketentuan hukum yang ada menjadi prinsip umum yang berlaku untuk setiap jaman (waktu) dan tempat. budaya. sosial.11 Hal yang sama juga dikatakan oleh Muhammad Rasyid Ridla. sains.12 Perubahan kondisi sosial adalah suatu perubahan di sekitar institusi kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya. 5 | No. dan siatuasi (kondisi)” 13.Berdasarkan fakta perkembangan hukum Islam itu. Perbedaan pendapat tentang wali mujbir di kalangan ulama Hanafiyah dan ulama Syafi’iyah adalah contoh bahwa suatu ketetapan hukum (yang dihasilkan melalui ijtihad) tidak lepas dari kondisi sosial masyarakat. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 . Masyarakat muslim adalah sekelompok masyarakat yang hidup dalam sistem dengan memegang al-Qur’an sebagai sumber ajarannya yang diyakini benar dan kekal. Sebaliknya. Oleh karena kekekalannya itulah. bahwa suatu ketetapan hukum dapat berubah-ubah karena perubahan tempat. al-Qur’an justru harus dipahami sesuai perkembangan dan perubahan manusia di berbagai bidang. Lingkungan masyarakat Hanafiah wanita-wanitanya sudah terbiasa ikut serta dalam pergaulan kemasyarakatan dalam berbagai bidang sehingga ia dianggap mengetahui terhadap laki-laki yang cocok bagi dirinya. Tempat dan Waktu Keharusan untuk memperhatikan tempat dan waktu dalam menetapkan hukum karena Islam memberikan prinsip sebagai berikut: “Suatu ketetapan hukum (fatwa) dapat berubah disebabkan berubahnya waktu. Apabila suatu ketentuan hukum dirasakan sudah tidak maslahat dikarenakan terjadi perubahan kondisi sosial. dan situasi sosial masyarakat. orangtua (wali) lebih mengetahui laki-laki yang baik dan maslahat bagi anaknya. kondisi. kaidah di atas sangat berperan dalam mewujudkan konsep perubahan sosial yang selalu terkait dengan perubahan hukum. Dengan berpegang pada prinsip yang demikian. tetapi juga operatif sehingga hukum Islam benar-benar dirasakan sebagai rahmat. lingkungan masyarakat Syafi’iyah kaum wanitanya tidak terbiasa keluar rumah sehingga dalam menentukan calon suami. hukum Islam tidak hanya sebagai aturan normatif. dan teknologi. waktu. bukan sebagai ancaman. tempat. Dengan demikian. dapat digantikan dengan ketentuan hukum baru yang sesuai dengan waktu dan situasi terakhir. Ahmad Mustafa al-Maraghi menyatakan bahwa suatu kebijakan hukum dapat saja berubah sesuai dengan kondisi sosial masyarakat. Prinsip ini mengharuskan seseorang mempunyai kemampuan dalam melihat fenomena sosial yang mungkin berubah dan berbeda karena perubahan jaman (waktu) dan perbedaan tempat. Jika suatu ketentuan hukum itu tidak dibutuhkan lagi. Berlakunya suatu prinsip untuk segala jaman (waktu) dan tempat berarti keharusan memberi peluang pada prinsip itu P3M STAIN Purwokerto | Ansori 5 Ibda` | Vol. maka dapat diganti dengan ketetapan baru yang lebih sesuai dengan kemaslahatan dan kondisi sosial yang ada.

Meskipun keduanya diambil dari sumber yang sama (al-Qur’an dan al-Sunnah). perekonomian. diberi kebebasan yang luas untuk melakukan kreativitas dan inovasi untuk mencari yang paling relevan dengan kondisi yang ada. Dari prinsip ini. 5 | No. seseorang dapat menetapkan hukum atau melakukan perubahan sesuai dengan perubahan waktu (zaman). Keleluasaan yang diberikan Islam untuk mengembangkan dan menerapkan berbagai kebijakan hukum dengan segala teknisnya sesuai dengan konteks yang ada juga terdapat dalam prinsip: “Segala sesuatu (selain ibadah) pada dasarnya adalah boleh. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 .untuk dilaksanakan secara teknis dan konkret menurut tuntutan ruang dan waktu. tempat keadaan. patut diperhatikan ungkapan Ahmad Zaki Yamani. dalam urusan ibadah tidak diperbolehkan ada “kreativitas”. Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa suatu ketentuan hukum yang ditetapkan oleh seorang mujtahid mungkin saja mengalami perubahan karena perubahan waktu. Sementara itu. “Banyak orang keliru memahami syari’ah. dan adat.14 Dengan demikian.” 18 Ungkapan di atas memberikan pengertian tentang perlunya dibedakan (tetapi tidak terpisahkan karena berasal dari sumber yang sama) antara yang bersifat agama murni dan yang bersifat keduniaan. Urusan mu’amalah boleh melakukan kreativitas dengan tetap mempertimbangkan kepentingan dan kebaikan umum (maslahah ‘ammah). Prinsip yang sama dikemukakan dalam kaidah sebagai berikut: “Tidak dapat diingkari adanya perubahan karena berubahnya waktu (zaman)” 15. kenegaraan. Oleh karena ruang dan waktu berubah. yaitu tidak dapat membedakan antara yang murni agama dan yang merupakan prinsip-prinsip transaksi keduniaan. tentu spesifikasinya pun berubah dan ini membawa pada perubahan hukum. kecuali akan dalil yang melarangnya” 17 . Berkaitan dengan prinsip ini. yaitu lingkungan tempat (zharf al-makan) dan lingkungan waktu (zahrf alzaman). ketentuan hukum sangat mungkin berubah karena pertimbangan lingkungan. Sebagaimana melakukan kreativitas terhadap ibadah adalah dilarang maka menghalangi melakukan kreativitas terhadap sesuatu yang dibolehkan (dalam urusan mu’amalah) juga dilarang.16 Oleh karena itu. memperhatikan waktu dan tempat masyarakat yang akan diberi beban hukum sangat penting. Tiga kaidah di atas dipertegas lagi oleh kaidah sebagai berikut: P3M STAIN Purwokerto | Ansori 6 Ibda` | Vol. Sistem ibadah dan tata caranya adalah hak mutlak Tuhan dan para Rasul. tetapi prinsip-prinsip yang kedua didasarkan kepada kepentingan dan manfaat umum dan karenanya dapat berubah-ubah (sesuai dengan konteksnya) menuju yang terbaik dan ideal. Dari prinsip tersebut dapat dipahami bahwa umat Islam dalam aktivitas kultural (selain masalah ibadah) seperti politik.

Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyah. Bandingkan dengan Rafiq al-A’jam.. Tafsir al-Manar. Syarh. 239. 5 | No. al-Asybah. hal. 1986) hal. Ali Ahmad Al-Nadawi. 93. Waqar Ahmad Husaini. Muhammad Rasyid Ridla. al-Asybah wa al-Naqza’ir (Beirut: Dar al Kutb al-Alamiah. I (Jakarta: Logos. Juz I (Beirut: Dar al-Fikr). P3M STAIN Purwokerto | Ansori 7 Ibda` | Vol. I. hal.) Cet. Al-Qawa’id al-Fiqhiyah. dan tempat masyarakat sebagai objek (khitab). kondisi (sosiokultural). I (Beirut: Dar al-Ilmi. Kesimpulan Karakteristik hukum Islam adalah syumul (universal) dan waqiyah (kontekstual) karena dalam sejarah perkembangan (penetapan)nya sangat memperhatikan tradisi.. hal. Tujuan utama syari’at Islam (termasuk di dalamnya aspek hukum) untuk kemaslahatan manusia – sebagaimana di kemukakan as-Syatibi– akan teralisir dengan konsep tersebut. Cet. dan kultural setempat. Sistem Pembinaan Masyarakat Islam (Terj. 2 3 4 5 6 7 8 9 Ahmad al-Zarqa’. 241. Ushul al-Madzahib al-Imam Ahmad. 1983). Pada gilirannya syari’at (hukum) Islam dapat akrab. dan sekaligus subjek (pelaku. hal. hal. hal. 338. 1990). 1983). Endnote S. 1985). hal. Ibid. hal. 175. para Imam Mujtahid dalam menerapkan atau menetapkan suatu ketentuan hukum (fiqh) juga tidak mengesampingkan perhatiannya terhadap tradisi. pelaksana) hukum. Ahmad Mustafa al-Maraghi. Cet. dan diterima di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang plural. Tafsir al-Maraghi. 164. 13 Abdullah bin Abdul Muhsin. Oleh karenanya. 63. Ali Ahmad al-Nadawi. hal. Amir Syarifuddin. 1988). hal. Jilid II. Juz I (Bairut: Dar al-Fikr). Viii (Beirut: al-Qalam. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 . hal. kondisi (kultur sosial). hal. dan tempat merupakan faktor-faktor yang tidak dapat dipisahkan dari manusia (masyarakat). membumi. 1990). 49. I (Damaskus: Dar al-Qalam. Al-Suyuthi. 414. (Bandung: Pustaka. Ushul Fiqh. 227. 10 11 12 Ibid. TT. Tarikh al-Tasyri al-Islam (Kairo: Dar al-Ittihad al’Arabi. Syaihabuddin Ahmad ibd Idris al-Qarrafi. Cet. 47. Cet. 187. perhatian dan respon terhadap tiga unsur tersebut merupakan keniscayaan. kondisi. lihat juga Zainal Abidin bin Ibrahim bin Nujaim (Ibnu Nujaim). 368. 219.). 73 – 74. Perjalanan selanjutnya. Syekh Abdul Fatah. hal. Ushul Islamiyah Manhajuha wa Ab’aduha. al-Furuq fi Anwa’il Buruq (Beirut: ‘Alam al-Kutb.“Pada dasarnya dalam segala bentuk transaksi dan mu’amalah adalah diperbolehkan (sah) sampai ada dalil yang melarang dan mengharamkan” 19. tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya. 1 Ahmad bin Muhammad al-Zarqa’. Tradisi. hal. Ibid.

13-14. I’lam al-Muwaqi’in. Ushul Islamiyah Manhajuha wa Ab’aduha. dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. al-Fara’id al-Bahiyyah (Semarang: al-Munawar. Jakarta: Logos. Adib Bisri. TT). Tarikh al-Tasyri al-Islam. 221. Al-Jawaziyah. Nurcholish. 1983. Beirut: Dal al-Jil. Beirut: Maktabah al-Nahdhah. Daftar Pustaka Al-A’jam. Beirut: al-Qalam. Islamic Law and Contemporary Issues. Kudus: Menara Kudus. Risalah Qawa’id Fiqh (Kudus: Menara Kudus. Syekh Abdul. Yamanni. lihat juga M.Nurcholish Madjid. Adib.). 1388 H. dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina. TT. TTP: TP. Haidar. 43. Beirut: Dar al-Ilmi. al-Furuq fi Anwa’il Buruq. Tafsir al-Maraghi. hal. Darru al-Hukkam Syarhu Majallah al-Ahkam. Ibnu Nujaim. Ahmad Mustafa. Syarifuddin. TT. 6. Kairo: Dar al-Ittihad al’Arabi. hal. 1977. Abu Bakar al-Ahdal al-Yamani. 1980. Abu Bakar al-Ahdal. Muhammad Rasyid. 1986. Sistem Pembinaan Masyarakat Islam (Terj. hal. Ahmad bin Muhammad. al-Fara’id al-Bahiyyah. Bandung: Pustaka. Ali. 1995). 5 | No. TT. Husaini. 3. Al-Qarrafi. Ali Ahmad. 1990. jilid III (Beirut: Dal al-Jil. Al-Zarqa’. Abdullah bin Abdul. hal. Damaskus: Dar al-Qalam. Muhsin. hal. 161. 1983. Islamic Law and Contemporary Issues. S. Syaihabuddin Ahmad ibd Idris. Ushul al-Madzahib al-Imam Ahmad. M. Waqar Ahmad. Jeddah: The Saudi Publishing House. Bairut: Dar al-Fikr. 1990. Al-Yamani. TT. Fatah. Rasyid Ridha. Ibnu Qayyim. Ahmad Zaki. 1388 H). 1995. Rafiq. 1985. Jakarta: Paramadina. 1988. Ushul Fiqh. Juz I. hal. Beirut: ‘Alam al-Kutb. 1 | Jan-Jun 2007 | 59-71 . Bisri. Juz I. Madjid. hal. Al-Qawa’id al-Fiqhiyah. Al-Maraghi. TT). Ibnu Qayyim al-Jawziyah. 1977). Beirut: Dar al Kutb alAlamiah. TT). Al-Nadawi. “Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadis: Implikasinya dalam Pengembangan Syari’ah”. TT. “Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadis: Implikasinya dalam Pengembangan Syari’ah”. Zainal Abidin bin Ibrahim bin Nujaim. Tafsir. Semarang: al-Munawar. I’lam al-Muwaqi’in. Ridla. P3M STAIN Purwokerto | Ansori 8 Ibda` | Vol. 14 15 16 17 Ali Haidar. Amir. Tafsir al-Manar. Beirut: Dar al-Fikr. Risalah Qawa’id Fiqh. Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyah. TT. Darru al-Hukkam Syarhu Majallah al-Ahkam (Beirut: Maktabah al-Nahdhah. Ahmad Zaki Yamanni. al-Asybah wa al-Naqza’ir. 18 19 M. 11. (Jeddah: The Saudi Publishing House.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful