BAB I PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU A.

Pengertian Psikologi Agama Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya. B. Objek Kajian Psikologi Agama Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala- gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduannya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologia agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat- akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala- gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya. C. Metode Penelitian Psikologi Agama Diantara metode yang digunakan dalam mengkaji psikologi agama adalah : 1. Dokumen Pribadi Metode ini digunakan untuk mempelajari bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk mengetahui informasi tentang hal ini maka dikumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut dapat berupa autobiorafi, biografi atau catatan- catatan yang dibuatnya. Metode dokumentasi tersebut dalam penerapannya dapat digunakan beberapa teknik, antara lain: a. Teknik Nomotatik Pendekatan ini antara lain digunakan untuk mempelajari perbedaan- perbedaan individu. Sementara dalam psikologi agama, teknik nomotik ini antara lain untuk melihat sejauh mana hubungan sifat dasar manusia dengan sikap keagamaan. b. Teknik Analisis Nilai (value analysis) Teknik ini digunakan dalam kaitannya dengan statistik. Data- data yang telah terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. c. Teknik Ideography Teknik ini hampir sama dengan teknik nomotatik, yaitu pendekatan guna memahami sifat dasar manusia. Bedanya, teknik ini lebih menekankan antara sifat- sifat dasar manusia dengan keadaan tertentu dan aspek- aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing- masing individu dalam rangka memahami seseorang. d. Teknik Penilaian terhadap Sikap (evaluation attitudes technique) Teknik ini digunakan dalam penelitian biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. 2. Angket dan Wawancara Metode angket dan wawancara digunakan untuk meneliti proses jiwa beragama pada orang yang masih hidup. Metode ini misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui prosentase tentang apa yang diyakini orang pada umumnya tentang sikap beragama, ketekunan beragama dan sebagainya a. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (public opinion polls) Cara yang dilakukan melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai

hasil wawancara atau lainnya untuk kasus. Bahkan dalam kitab. h. Survei Metode ini biasanya digunakan untuk penelitian sosial yang bertujuan untuk penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.masalah khusus. Skala Penilaian (ratting scale) Metode ini antara lain digunakan untuk memperoleh data tentang faktor. agama pada anak. Contoh lain adalah proses pencarian Tuhan yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Pada anakanak dimana mungkin dialami oleh orang dewasa. BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA A.anak tidak beada dengan agama pada orang dewasa. Dalam kisah tersebut dilukiskan bagaimana proses konversi terjadi. e. c. Disamping itu juga terdapat ayat. tingkah laku dan doa.doa. sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap jiwa. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama.usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianut. seperti yang terjadi dalam diri tokoh agama Budha.ayat yang berbicara tentang kesehatan mental. Sidharta Gautama atau dalam agama Shinto yang memitoskan kaisar jepang sebagai keturunan matahari yang membuat penganutnya sedemikian mendalam ketaatannya kepada kaisar.kitab suci lain pun kita dapati proses dan peristiwa keagamaan. Metode Klinis dan Proyektivitas Metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Pendekatan terhadap Perkembangan Pendekatan ini digunakan guna meneliti asal.faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.orang yang beriman atau sebaliknya. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama. Dalam Al Qur’an misalnya. catatan.kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Eksperimen Eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat. adanya kebaikan yang tak terlihat. Menurut Binet. psikologi agama tidak hanya mengkaji kehidupan secara umum tapi juga masalah. sehinga mereka rela mengorbankan nyawanya dalam Perang Dunia II demi kaisar. g.b. Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan. Studi Kasus Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen. i. Psilkologi Agama Dalam Lintasan Sejarah Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak sulit. kepercayaan akan kesalahan .kasus tertentu. penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa. seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini. Tes Metode tes digunakan untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu d.ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang. terdapat ayat. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi.sifat manusiawi orang perorang atau kelompok f. sedangkan Rudolf Otto membahas sembahyang. dikupas oleh B. sikap. yaitu dengan mempelajari sifat. Pratt dalam bukunya the Religious Consciousness.orang kafir. Pendekatan Ilmiah Dalam Psikologi Agama Dalam perkembangannya. Dalam kitab. orang. B.

dan sebagian dari pengalaman itu merupakan fakta. Agama dan Kesehatan Jiwa oleh prof. dapat menyusun drama kehidupannya. Fitrah berarti suci Menurut Al Auza’i. perpaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang. Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister. tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. yaitu: 1. Dalam buku yang disebut terakhir misalnya.anak dan remaja. C. Dengan kata lain. B. Berdasarkan Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 30: ???? ???? ????? ????? ???? ???? ???? ??? ????? ????? ?? ????? ???? ???? ??? ????? ????? ???? ???? ????? ?? ?????? “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Sementara didaratan anak benua Asia dan India juga terbit buku. sekitar tahun 1970-an tulisan tentang psikologi agama baru muncul. Berangkat dari pemahaman hadits tersebut diatas. Bab III SUMBER JIWA KEBERAGAMAAN A.S. Fitrah Sebagai Potensi Beragama Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan “suci” yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. secara naluri manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan menyakini adanya Tuhan. masyarakat macam apa pun ia dilahirkan. Abdul Mun’in Abdul Aziz al Malighy misalnya. Pendapat ini berdasar pada hadits Nabi: ??? ??? ?????? ????? ???? ?? ????? ?? ???? ??? ??? ? ???? ????? ?????? “Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang allah menceritakan kepadaku dalam kitabNya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang. Dr. Fitrah berarti Islam Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pengertian Fitrah Sedikitnya terdapat 9 (sembilan) makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama. Itulah agama yang lurus. Djami’an. akan tetapi membahas pula aspek. Sedang di Indonesia.aspek agama atau spiritual dalam kaitannya dengan jiwa seseorang. Bila dikaitkan dengan potensi beragama.orang muslim”. maka anak kecil yang meninggal ia akan masuk surga. Karya yang patut dikedepankan adalah: Ilmu Jiwa Agama oleh Prof. kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal. walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim. Aulia (1961). 2. Dr. Kajian Psikologi Agama Di Kawasan Timur Dalam Dunia Timur tidak mau ketinggalan. tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Islam dan Psikosomatik oleh S. fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Zakiah Daradjat. tidak peduli dengan lingkungan keluarga. . Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa oleh Dadang Hawari dan sebagainya. bersih. Fitrah manusia mempunyai sifat suci. Jelaslah. juga menulis kajian perkembangan jiwa beragama pada anak. yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci. pengetahuan dan pengakuan terhadap tuhan sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia.kadang terlengahkan. Namun.fakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan. bahkan ada yang berbalik mengabaikan. sebagaimana pendapat Ismail Raji Al Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci. Karena ia dilahirkan dengan din al islam.buku yang berkaitan dengan psikologi agama. meskipun yang menjadi pembahasan mengenai kedokteran jiwa. Jalaluddin menyebut judul buku berikut pengarangnya antara lain: The Song of God: Baghavad Gita.

4. Masa remaja akhir 17 . Masa Pranatal. Elizabeth B. 2. 8. akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua. umur 11 . Masa Kanak. 5. 6.Kanak awal. anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir. Umur 21 tahun keatas. apakah nanti ia akan menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sesat. yaitu: 1. Manusia lahir dengan ketetapannya.21 tahun. Bab IV AGAMA PADA MASA ANAK A. Masa Dewasa Awal. Fitrah Al Gharizah Fitrah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia. Fitrah Al Munazalah Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. periode social atau masa pemuda. Masa Remaja Awal. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma’rifatullah.40 tahun.3. 8. periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.10 atau 11 tahun. Makna demikian didasarkan pada hadits nabi saw: “Tiga perkara yang menjadikan selamat. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al qur’an dan sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi Fitrah Al Gharizahah b. Sebelum usia baligh. 5. karena wujud fitrah terdapat dalam qalb yang dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apa pun.13 tahun 7. Fitrah dalam arti Insting (Gharizah) dan wahyu dari Allah (Al Munazalah) Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam: a. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran 6. Umur 0 – 3 tahun. Masa Setengah Baya. umur 21 . yaitu ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dariNya. periode intelektual (masa sekolah) 4. umur 13 . shalat berupa agama dan taat berupa benteng penjagaan”.Kanak akhir. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. 4. saat terjadinya konsepsi sampai lahir. periode vital atau menyusuli. atau paling tidak berkecenderungan untuk meng-Esakan tuhannya dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut.17 tahun. umur 2 . . 2. Umur 3 – 6 tahun. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia. 3. 3. Fitrah dalam arti murni (Al Ikhlas) Manusia lahir dengan membawa berbagai sifat. Masa Kanak. Umur 6 – 12 tahun.beda. saat kelahiran sampai akhir minggu kedua. Umur 12 – 21 tahun. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya. Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (Tauhid) Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid. 5. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia Manusia lahir dengan membawa tabi’at (perwatakan) yang berbeda. 9. tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode. Masa Neonatus. Masa Bayi. periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1.6 tahun. Perkembangan Jiwa Beragama Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm. Masa Pubertas (pra adolesence). Sebagaimana firman Allah surat yasin ayat 22: ? ?? ?? ?? ???? ???? ????? ? ???? ?????? “Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku” 7. umur 6 . 9. umur 40 – 60 tahun. salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas.

C.anak adalah sebelum berumur 12 tahun. yang pada awalnya diterima secara acuh. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. Namun. yang dimaksud dengan masa anak. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik.orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas. emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.masuk akal. sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.10. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak Sejalan dengan kecerdasannya.kata orang yang ada dalam lingkungannya. 3. tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman. 2.kanakannya. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya.dongeng yang kurang . Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongengdongeng. 2 – 6 tahun (masa kanak. setelah ia menyaksikan reaksi orang. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. 6 – 12 tahun (masa sekolah) Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata. The Individual Stage (Tingkat Individu) Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak.macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana. akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian: 1. umur 60 tahun keatas. B. butuh. dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan: 1. pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual. sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya.Anak Sebagaimana dijelaskan diatas. bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga.kanak) 3. Pada usia ini. Hurlock. tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya. sejalan dengan perkembangan usia mereka. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis. Ia merupakan campuran dari bermacam. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi . Agama Pada Masa Anak. baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. takut dan cinta padanya sekaligus. Menurut Zakiah Daradjat. sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya. Masa Tua. 0 – 2 tahun (masa vital) 2. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun.

Egosentris Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Masa anak sekolah Seiring dengan perkembangan aspek.kanak Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Berkaitan dengan masalah ini. Pada usia 7 – 9 tahun. apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. b. dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.aspek jiwa lainnya. Menurut penelitian. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi. Sifat agama pada anak Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian: a. Dikala ia berhubungan dengan orang lain. akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan. tetapi amat konkret dan pribadi. Fase bayi Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun. Anak pada usia kanak. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik) kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam. yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis. b. Konsep ketuhanan yang lebih murni. pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis. doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerakgerik tertentu.ucapan orang disekelilingnya. Dalam hal ini. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. b.kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam. Mereka menghafal secara verbal kalimat. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Fase dalam kandungan untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit.kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang . berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. yaitu: a. c. Fase kanak. c. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. cukup sekedarnya saja. 4. d. c.menjadi tiga golongan: a. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan. d. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). sejalan dengan perkembangan moral. tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.kadang kurang masuk akal. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.

Bab V AGAMA PADA MASA REMAJA A. yang ditandai oleh sikap raguragu. Early Adolescence : 13-15 tahun (perempuan) dan 15-17 tahun (laki. baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam. Kebutuhan akan allah misalnya.laki) 2. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa. 2. murung. Keyakinan agama pada remaja merupakan interaksi antara dia dengan lingkungannya. suka melamun dan sebagainya. karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam ketika ia takut gagal atau merasa berdosa. Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja Dalam peta psikologi remaja terdapat tiga bagian: 1. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran. Fase Negative Fase kedua ini hanya berlangsung beberapa bulan saja. Rasa heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada dalam kehidupan.laki) 4. Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan gelisah. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. kepercayaan remaja akan kekuasaan tuhan menyebabkannya pelimpahan tanggung jawab atas segala persoalan kepada tuhan. penyelewengan dan sebagainya yang terdapat dalam masyarakat akan menyebabkan mereka kecewa pada tuhan. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan dan . Fase Pubertas Masa ini yang dinamakan dengan Masa Adolesen Dalam pembahasan ini . Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting. persengkataan. seperti kekacauan. Pada fase pertama ini merasa tidak tenang. C. Late Adolescence : 18-21 tahun (perempuan) dan 19-21 tahun (laki. bahkan kekecewaan tersebut dapat menyebabkan memungkiri kekuasaan tuhan sama sekali. termasuk persoalan masyarakat yang tidak menyenangkan. tentram dan tenang. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. frustasi social. ketidak adilan. kezaliman.sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. membagi peta remaja menjadi empat bagian: 1. Luella Cole sebagaimana disitir kembali oleh Hanna Jumhanna Bastaman. Motivasi Beragama Pada Remaja Menurut Nico Syukur Dister Ofm. Middle Adolescence : 15-18 tahun (perempuan) dan 17-19 tahun (laki.anak. Fase Pueral Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak. 2. tetapi juga tidak bersedia dikatakan dewasa. motifasi beragama dibagi menjadi empat motivasi. frustasi moral maupun frustasi karena kematian.perubahan emosi yang sangat cepat. yaitu: 1. akan tetapi adalah perasaan yang yang tergantung pada perubahan.mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. e. 3. akan tetapi berupa teladan f. terutama pada masa remaja pertama. Perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap dan stabil. Misalnya. kadang. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya). Imitatif Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Perasaan Beragama Pada Remaja Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat.kadang tidak terasa jika jiwa mereka dalam keadaan aman. penderitaan.laki) 3. rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Sebaliknya. Preadolescence : 11-13 tahun (perempuan) dan 13-15 tahun (laki.laki) B.

Mereka ingin menjalankan agama sebagaio suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya. 4. yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis. selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun. sehingga mengakibatkan terasa adanya kebutuhan akan kepuasan agama.tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan. Faktor. kebutuhan akan cinta. yaitu: ? Pengaruh.masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat. yaitu: 1. khurafat dan kepercayaankepercayaan lainnya.tradisi sosial dan tekanan. 3. E. antara lain kebutuhan akan keselamatan. Dalam bentuk negatif Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi. dari kekakuan dan kekolotan. Tidak percaya atau cenderung ateis Perkembangan kearah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. D. b.pengaruh sosial ? Berbagai pengalaman ? Kebutuhan ? Proses pemikiran Factor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keberagamaan. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya. tetapi agak ragu.kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan dalam empat bagian. Dalam bentuk positif semangat agama yang positif.hal yang tidak masuk akal. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan. yaitu: pendidikan orang tua. Sikap Remaja Dalam Beragama Terdapat empat sikap remaja dalam beragama. 3. 4. Thouless mengemukakan empat faktor keberagamaan yang dimasukkan dalam kelompok utama. atau dengan pengetahuan yang dimiliki. tradisi. b. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk: a. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua.Faktor Keberagamaan Robert H. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia. karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut. Kebutuhan. Percaya ikut. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Percaya dengan kesadaran Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah. seperti bid’ah.ikutan Percaya ikut. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Faktor lain yang dianggap sebagai sumber keyakinan agama adalah kebutuhankebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna. Faktor terakhir adalah pemikiran yang agaknya relevan untuk masa remaja.ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. 2. Hal ini merupakan kewajaran. maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua. kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian. Percaya.ragu Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua: a. yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar kedalam masalah.ikutan saja.tata tertib masyarakat.masalah keagamaan. karena . tidak mau lagi menerima hal. Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya. termasuk kekuasaan Tuhan.

BAB VI AGAMA PADA MASA DEWASA DAN USIA LANJUT A.jaringan dan sel. seperti faktor berbagai pengalaman.Ciri Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa Sejalan dengan tingkatperkembanagan usianya. Usia lanjut ini. sebagian regenerasi dan sebagian yang lain akan mati. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia . Masa dewasa awal (masa dewasa dini/ young adult) b. Agama Pada Usia Lanjut Proses perkembangan manusia setelah dilahirkan secara fisiologis semakin lama menjadi lebih tua. Mereka akan mengkritik guru agama mereka yang tidak rasional dalam menjelaskan ajaran.ciri keberagamaan di usia lanjut adalah: 1.norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku. D. Pada usia lanjut ini. Masa dewasa madya (middle adulthood) c. 3. Pada masa dewasa awal. Dengan bertambahnya usia. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan. • Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe.sel menjadi tua. sehingga norma.ajaran agama islam. ciri utamanya adalah “pasrah”. • Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup. • Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas. 3. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat. biasanya akan mengahadapi berbagai persoalan.tipe kepribadian masingmasing. Pengaruh dari semua itu. Masa usia lanjut (masa tua/ older adult) Pembagian senada juga diungkap oleh beberapa ahli psikologi.Ciri Keagamaan Pada Usia Lanjut Secara garis besar ciri. sikap kritis remaja juga tidak menafikkan faktor. • Cenderung bersifat realis. terutama bagi mereka yang mempunyai keyakinan secara sadar dan bersikap terbuka. Lewiss Sherril misalnya. khususnya bagi remaja yang selalu ingin tahu dengan pertanyaan. masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.sifat luhur.pertanyaan kritisnya. bukan sekedar ikut. sikap keberagamaan pada orang dewasa mempunyai ciri. sudah mulai menghadapi tantangan hidup sambil memantapkan tempat dan mengembangkan filsafat untuk mengolah kenyataan yang tidak disangkasangka.disadari bahwa masa remaja mulai kritis dalam menyikapi soal. Ciri. Mulai muncul pengakuan terhadap relitas tentang kehidupan akherat secara lebih sungguh. Pada masa ini. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian: a.ciri sebagai berikut: • Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang. B. aktivitas menurun. • Bersikap positif terhadap ajaran dan norma. minat dan kegiatan kurang beragama. 2.norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan. biasanya dimulai pada usia 65 tahun. Persoalan pertama adalah penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang.ikutan. Meski demikian. Ciri. 5. Masa dewasa tengah. mereka yang berada dalam usia lanjut merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebebkan mereka kehilangan semangat. C. Masa dewasa akhir. 2. Agama Pada Masa Dewasa Elizabeth B. 4.sungguh. • Terlihat adanya hubungan antara sikap dan keberagamaan dengan kehidupan sosial.soal keagamaan. • Bersikap lebih kritis tehadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran dan hati nurani.faktor lainnya. membagi masa dewasa sebagai berikut : 1. maka jaringan. Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.

akan menghayati dan kemudian mengemalkan ajaran.ajaran agama tersebut dengan baik. seperti taat. E. Bagi mereka yang mampu menerima dengan rasionya. Faktor diri sendiri faktor dari dalam diri sendiri terbagi menjadi dua: kapasitas diri dan pengalaman. bagi mereeka yang mempunyai pengalaman sedikit dan sempit. Kejahatan Mereka yang hidup dalam lembah hitam umumnya mengalami guncangan batin dan rasa berdosa. d. Berkaitan dengan sikap keberagamaan. 2. Perasaan tersebut mereka tutupi dengan perbuatan yang bersifat kompensatif. mengemukakan dua buah faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang.faktor tersebut antara lain tradisi agama atau pendidikan yang diterima. William Starbuck sebagaimana dipaparkan kembali oleh William James. Pada dasarnya terdapat dua factor yang menyebabkan adanya hambatan: 1. c. faktor luar Yang dimaksud dengan faktor luar. Kematangan Beragama Kematangan atau kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. yaitu: 1. 3. Kapasitas ini berupa kemampuan ilmiah (rasio) dalam menerima ajaran. ia akan mengalami berbagai macam kesulitan dan akan selalu dihadapkan pada hambatanhambatan untuk dapat mengerjakan ajaran agama secara mantap. 2. Namun. Musibah Seringkali musibah yang sangat serius dapat mengguncangkan seseorang. Gangguan jiwa Orang yang menderita gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya. penuh keyakinan dan argumentatif. agnotis maupun ateis. . b. Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal. Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akherat). Konflik dan keraguan Konflik dan keraguan ini dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama. terdiri dari: a. 2. Tidak jarang pula melakukan pelampiasan dengan tindakan brutal. Mereka merasa mendapatkan peringatan dari tuhan. Faktor ekstern yang mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak adalah: a. semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan. Jauh dari tuhan Orang yang hidupnya jauh dari tuhan akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan hidup. fanatic. Faktor intern.lanjutnya. 6. pemarah dan sebagainya.ajaran itu telihat perbedaanya antara seseorang yang berkemampuan dan kurang berkemampuan.ciri orang yang sehat jiwanya dalam menjalankan agama antara lain: 1. Adapun ciri. terutama saat menghadapi musibah. Sedangkan faktor pengalaman.foya dan sebagainya. Faktor. yaitu beberapa kondisi dan situasi lingkungan yang tidak banyak memberikan kesempatan untuk berkembang. walaupun apa yang harus ia lakukan itu berbeda dengan tradisi yang mungkin sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. maka akan semakin mantap dan stabil dalam melakukan aktivitas keagamaan. Temperamen Tingkah laku yang didasarkan pada temperamen tertentu memegang peranan penting dalam sikap beragama seseorang. Optimisme dan gembira. dan kegoncangan tersebut seringkali memunculkan kesadaran keberagamaannya. b. Ekstrovert dan tidak mendalam. seperti melupakan sejenak dengan berfoya.

petunjuk Tuhan E. b. (religius experience) adalah unsur dari perasaan dalam kesadaran beragama. pindah. Type volitional (perubahan secara bertahap) Yaitu konversi yang terjadi secara berproses. C. yaitu: a. f. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur lama. Macam. Proses Konversi Proses konversi menurut H. Sehingga convertion berarti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state.tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. b. Carrier yaitu: 1.orang yang dekat . Anjuran atau propaganda dari orang. Pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi. . Perubahan tersebut dapat terjadi dari kondisi tidak taat menjadi taat. Pengaruh kekuasaan pemimpin D. sahabat dan sebagainya. Terjadi disintegrasi kognitif dan motivasi sebagai akibat krisis yang dialami. 3. dari tidak kuat keimanannya menjadi kuat keimanannya. pengaruh. berubah. Pengaruh pemimpin agama e. yaitu perasaan yang membawa keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah). Faktor. Pengalaman beragama ini cenderung mengungkapkan diri (mengekspresikan diri). Dijelaskan oleh Clark. Seseorang tanpa mengalami proses tertentu tiba. Tumbuh sikap menerima konsep agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya. seperti keluarga. d.pengaruh tersebut antara lain: a. c.Macam Konversi Starbuck sebagaimana diungkap kembali oleh Bernard Splika membagi konversi menjadi dua macam. 2. Pengertian Konversi Agama Konversi berasal dari kata conversion yang berarti tobat. 4. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konsepsi yang baru. baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat non agama. sedikit demi sedikit hingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan ruhaniah yang baru. Type self surrender (perubahan secara drastis) Yaitu konversi yang terjadi secara mendadak. B. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan yang suci. dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya dan sebagainya. Pengalaman Beragama Pengalaman beragama.faktor yang menyebabkan konversi Para ahli sosiologi berpendapat bahwa terjadinya konversi agama disebabkan oleh pengaruh sosial. or from one religius to another). Kebiasaan yang rutin.Bab VII KONVERSI AGAMA A. Hubungan antar pribadi.