P. 1
Problematika Seputar Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti

Problematika Seputar Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti

|Views: 654|Likes:
Published by Nur Kholiq

More info:

Published by: Nur Kholiq on Oct 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

PROBLEMATIKA SEPUTAR PENDIDIKAN MORAL DAN BUDI PEKERTI 1.

Pendahuluan Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No 2/89 Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas merumuskan tujuannya pada Bab II, Pasal 4, yaitu: mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Maksud manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berbudi Pekerti luhur. Di samping itu, juga memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani , kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Sebenarnya tujuan yang terdapat dalam sistem pendidikan nasional kita sudah sangat lengkap untuk membentuk anak didik menjadi pribadi utuh yang dilandasi akhlak dan budi pekerti luhur. Namun, pada kenyataannya, tujuan yang mulia tersebut tidak diimbangi pada tataran kebijakan pemerintah yang mendukung tujuan tersebut. Hal ini terbukti pada kurikulum sekolah tahun 1984 yang secara eksplisit telah menghapuskan mata pelajaran budi pekerti dari daftar mata pelajaran sekolah. Oleh karena itu, aspekaspek yang berkaitan dengan budi pekerti menjadi kurang disentuh bahkan ada kecenderungan tidak ada sama sekali. Jika penghapusan mata pelajaran budi pekerti tersebut karena dianggap telah cukup tercakup dalam mata pelajaran agama, tentu hal itu tidak demikian adanya. Walaupun budi pekerti merupakan bagian dari mata pelajaran agama yang salah satu bahasannya adalah akhlak/budi pekerti, pembahasan mengenai hal tersebut pasti memperoleh porsi yang amat sangat kecil. Hal ini mengingat cukup banyak aspek yang dibahas dalam mata pelajaran agama dengan alokasi waktu yang amat minim yaitu dua jam dalam seminggu. Oleh karena itu, sentuhan aspek moral/akhlak/budi pekerti menjadi amat tipis dan tandus. Padahal zaman terus berjalan, budaya terus berkembang, teknologi berlari pesat. Arus informasi manca negara bagai tak terbatas. Hasilnya, budaya luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang cukup kuat. Gaya hidup modern yang tidak didasari akhlak/budi pekerti cepat ditiru. Perilaku negatif seperti tawuran menjadi budaya baru yang dianggap dapat mengangkat jati diri mereka. Premanisme ada dimana-mana, emosi meluap-luap, cepat marah dan tersinggung, ingin menang sendiri menjadi bagian hidup yang akrab dalam pandangan sebagian dari diri masyarakat kita sendiri.

menodong bahkan membajak bus umum semua pelakunya adalah pelajar sekolah. Jika generasi kini rusak. Ingin mendeskripsikan peran masyarakat dalam menyikapi budi pekerti anak. Khususnya dalam kurikulum sekolah sebagai benteng penangkal hal-hal negative. Jika tidak dapat dicarikan jalan keluarnya. Pendidikan Budi Pekerti di Rumah Semenjak empat tahun terakhir Indonesia tergolek lemah bahkan dapat dikatakan sekarat akibat krisis panjang yang tak kunjung usai. Bahkan perilaku seks bebas dan lunturnya tradisi. bagaimana dengan pemimpin bangsa di masa mendatang. Ingin mendeskripsikan peran orang tua dalam pembentukan budi pekerti yang baik bagi anak. budaya. Fenomena-fenomena seperti dipaparkan di atas tentu tidak boleh dibiarkan. Perilaku buruk sebagian siswa berseragam sekolah dapat dikatakan ada di kota mana saja di Indonesia. Tawuran pelajar tidak hanya ada di kota-kota besar. Kondisi ini diperburuk oleh krisis moral dan budi pekerti para pemimpin bangsa yang juga berimbas pada generasi muda. khususnya anak sekolah 2. Tindak kejahatan mencuri. Oleh karena itulah. 2. akan terbentuk generasi yang bermoral/berbudi pekerti rusak. Realitas di Lapangan 1. Tujuan yang ingin dicapai melalui tulisan ini adalah: 1. tata nilai . tetapi merambah juga sampai ke pelosok-pelosok. Termasuk juga usaha yang dapat dilakukan untuk menjawab permasalahan di seputar penanaman budi pekerti tersebut.Hal lain yang juga menunjukkan adanya indikator budi pekerti/moral yang gersang adalah banyaknya terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak sekolah di bawah umur. penulis merasa tertarik untuk membahas akibat-akibat yang ditimbulkan dari kurang/minimnya penanaman moral/budi pekerti/akhlak. Dalam hal ini. 3. Ingin mendeskripsikan lebih jauh tentang peran pemerintah dalam menangani permasalahan budi pekerti anak. Anak menjadi generasi seperti apa kelak anak-anak jika dibiarkan dalam kondisi tersebut. bisa saja terjadi pelaku dan korban pelecehan tersebut adalah anak-anak.

Sekolah dan Masyarakat mengatakan tentang pentingnya ketiga lembaga tersebut menanamkan nilai-nilai tata karma budi pekerti luhur. Dapat dibayangkan jumlah yang tersisa masih sekitar 88 persen justru menjadi pekerja anak untuk membantu ekonomi keluarga. nonformal maupun informal. orang tua justru kadang melanggar HAM anak dengan menyiksa anak kandung sendiri jika bekerja tidak mencapai target. Aris Muthohar dalam bukunya Tata Krama di Rumah. Orang tua tidak peduli jika anaknya dieksploitasi dengan upah yang sangat murah. . norma etika dan budi pekerti luhur merambah ke desa-desa. bahkan yang sangat parah. Orang tua bekerja dengan waktu yang cukup panjang meninggalkan anaknya di rumah di bawah asuhan para pembantu rumah tangga yang juga sering kali sangat rendah tingkat pendidikannya (RCTI. masalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi anak pun menjadi hal yang diabaikan orang tua. sekitar 2 juta anak bekerja dalam kondisi yang sangat membahayakan baik fisik maupun mental. Jika dilihat dari prosentase jumlah anak yang ada di Indonesia. khususnya belajar penanaman nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Krisis yang terjadi ini salah satu indikator penyebab terbesarnya adalah kegagalan dari dunia pendidikan baik pendidikan formal. Selebihnya tidak memperoleh kesempatan belajar yang selayaknya. jangankan memberi pendidikan bagi anak. Jika ketiga lembaga ini saling mengisi. harus dilihat dahulu kenyataan bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 11 juta anak putus sekolah dan 6 juta di antaranya menjadi pekerja anak. berikut ini akan disajikan realita pendidikan budi pekerti di rumah sebagai lembaga pendidikan informal. Sebagai tempat awal seorang anak memperoleh pendidikan.kemasyarakatan. Untuk memaparkan pendidikan budi pekerti di rumah/keluarga. diharapkan akan dapat membentuk anak yang berbudi pekerti luhur. November 2002). Umumnya orang tua yang sanggup membiayai pendidikan anaknya adalah para orang tua yang bekerja. Padahal ketiga sektor tersebut memegang peranan yang sangat penting dalam rangka membentuk anak berbudi pekerti luhur. Dari 6 juta pekerja anak. berikut ini akan dijelaskan satu persatu. Untuk memaparkan ketiga lembaga yang berkaitan dengan pembentukan budi pekerti luhur ini. Jika mereka membantu orang tua berarti mereka sendiri tidak mempunyai kesempatan belajar di rumah. baru sekitar 12 persen yang dapat mengikuti program wajib belajar. Akibat tuntutan kebutuhan hidup keluarga yang sangat mendesak.

Sudah barang tentu problematika yang muncul dari danaulah yang mencuat. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Sementara itu. Anak didik sering kali berperilaku tidak sopan terhadap guru. Keluarga yang anaknya terbebas/tak terpengaruh sisi negatif lunturnya nilai-nilai budi pekerti seperti narkoba. Kalaupun ada keluarga yang memiliki kesadaran yang cukup tinggi dengan menanamkan nilai-nilai positif. Akibatnya. tawuran. para orang tua sudah sangat lelah. khususnya nilai-nilai agama sejak dini yang notebene sudah termasuk nilai akhlak/budi pekerti di dalamnya. khususnya nilai budi pekerti yang luhur. . bahkan tidak ada. orang tua/keluarga semacam ini pun tak pernah sempat menanamkan nilai-nilai positif. bahkan ada sekolah yang tidak berani mengeluarkan anak didik yang sudah jelas-jelas menggunakan narkoba. yang terpenting keluarga sendiri terlebih dahulu. dapat dikatakan jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. untuk saat ini memang sudah mengalami kemunduran. Pendidikan Budi Pekerti di Masyarakat Penanaman nilai-nilai budi pekerti di masyarakat pun menjadi sangat kurang sebagai akibat dari himpitan ekonomi. Kontrol sesama masyarakat menjadi kurang. Anak-anak yang berbahagia memperoleh kesempatan seperti ini di keluarganya dibandingkan dengan yang tidak memperolehnya bagai segelas air di danau. dan lain-lain tidak peduli pada tetangga/keluarga lain yang secara kebetulan mengalaminya. Kondisi kacau di masyarakat seperti ini justru yang amat berpengaruh pada penanaman nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Anak-anak pun sudah tertidur ditemani pembantu rumah tangga. Padahal sudah seharusnya ataupun merupakan hak anak untuk memperoleh itu semua? 2. Data empiris membuktikan bahwa para guru pun sudah merasa enggan menegur anak didik yang berlaku tidak sopan di sekolah. penanaman nilai-nilai budi pekerti di sekolah. melecehkan sesama teman.Saat pulang dari bekerja. 3. Semua serba individualistis. Semua sibuk memikirkan pemenuhan kebutuhan hidup. seks bebas.

Bagaimana peran masyarakat dalam membangun generasi yang bermoral dan berbudi pekerti yang baik? 5. pembahasan akan lebih dikonsentrasikan pada permasalahan nomor 2. Bagaimana peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti yang baik ? 2. IPS. IPA. Bagaimana peran sekolah dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan moral dan budi pekerti bagi anak didik? 4. yaitu PPKn dan agama. 3. Materi tersebut diintegrasikan ke dalam dua mata pelajaran. Bagaimana peran sekolah dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan moral dan budi pekerti bagi anak didik ? 3. Kesenian. Bagaimana peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti yang baik? 3. Permasalahan Berdasarkan realitas di lapangan. Apa saja usaha pemerintah untuk mengatasi permasalahan merosotnya moral dan budi pekerti yang baik pada anak? Dari sejumlah identifikasi masalah di atas. yaitu matematika. Mengapa pada masa sekarang ini moral dan budi pekerti anak demikian merosot? 2. Bagaimana peran masyarakat dalam membangun generasi yang bermoral dan berbudi pekerti yang baik ? .Belum lagi posisi materi budi pekerti yang sejajar dengan kurikulum mulok sampai saat ini memang tidak berdiri sendiri. dan 4 sebagai berikut: 1. rasanya masih kurang mengingat tingkat budi pekerti yang telah amat mahal dan langka di masa kini. penulis merumuskan identifikasi masalah sebagai berikut: 1. 3. Kalaupun pada akhirnya diintegrasikan pula ke dalam enam mata pelajaran lainnya. Bahasa Indonesia. dan Olahraga.

UU No. dan kedudukan agama sebagai landasan moral. Meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga mampu berfungsi secara optimal terutama dalam meningkatkan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan negara. Analisa SWOT a.IV/MPR/1999. yaitu: di samping telah dituangkan dalam Sistem Pendidikan Nasioanal UU No.2/1989 Penjelasan Pasal 39 ayat (2): menyatakan bahwa pendidikan pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan ke dalam kehidupan sehari-hari. kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Menetapkan fungsi. spiritual dan etika dalam penyelenggaraan negara. b. Perundang-undangan tidak bertentangan dengan moral agama. Kelemahan Implementasi: Krisis di Segala Bidang . 2. yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. ditengarai budi pekerti sebagai salah satu dimensi substansi pendidikan nasional yang perlu diintegrasikan ke mata pelajaran yang relevan. 4. keseharan jasmani dan rohani. Juga terdapat pada perundang-undangan yang lain yaitu: 1. TAP MPR No. Komitmen masyarakat dalam berbagai lapisan terhadap etika bermasyarakat berbangsa. peran. TAP MPR No. Bab II Pasal 4 yaitu untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Butir 2 H: Meningkatkan pembangunan akhlak mulia dan moral luhur masyarakat melalui pendidikan agama untuk mencegah/menangkal tumbuhnya akhlak tidak terpuji. tentang GBHN Bab IV Huruf D mengenai agama butir 1: 1. 2.X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi pembangunan pada Bab IV huruf D 1. 3. dan bernegara. Butir 1 F: Peningkatan akhlak mulia dan budi pekerti luhur dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti di sekolah 2. Kekuatan Pendukung: Tersedianya Kebijakan Makro Upaya mengatasi kemerosotan moral dan budi pekerti anak dapat dilakukan atas dasar adanya kekuatan yang mendukung.4. memiliki pengetahuan dan keterampilan.2/89.

kejadian di belahan dunia yang satu akan dapat langsung diikuti dan diketahui oleh belahan dunia lainnya. Pada era ini. Anak menjadi demikian kritis akan nilai-nilai moral yang diajarkan oleh keluarga atau yang diperlihatkan oleh para elit birokrat atau pemerintahnya. Nilai-nilai moral yang mereka pertunjukan di depan mata anak-anak bangsa sedemikian riskan dan vulgar diketahui oleh para anak tersebut. Peluang: Munculnya Kesadaran Kolektif Peluang yang diharapkan dapat digunakan dalam rangka mengatasi kemerosotan moral dan budi pekerti anak di Indonesia. kurang dapat menerapkan pada anak. d. Dunia menjadi tanpa pembatas ruang atau waktu. belum sampai pada upaya optimal dalam menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak. Dia menjadi tahu segala. Batas-batas moral menjadi demikian tipis. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia juga memberi dampak yang cukup signifikan dalam tuntutan ekonomi keluarga sehingga para orang tua walaupun mengerti tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti pada anak. c. demikian kurang. Penanaman pendidikan agama sejak usia dini akan secara otomatis tertanam nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur . Kondisi ekonomi di Indonesia yang terpuruk menimbulkan krisis di segala bidang termasuk bidang pendidikan. c. Hal ini diiringi oleh tingkat kemajuan teknologi informatika yang bergerak maju dalam hitungan detik.Kelemahan yang muncul dalam rangka upaya memecahkan atau menanggulangi masalah kemerosotan moral dan budi pekerti anak diantaranya adalah sebagai berikut: a. Kondisi inimenjadi titik lemah yang cukup fatal bagi usaha para pendidik baik di sekolah maupun di rumah untuk menanamkan nilai-nilai moral atau budi pekerti yang agung. Para orang tua pada umumnya berlomba-lomba menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur melalui pendidikan agama sejak usia dini. Pada kondisi inilah anak globalisasi hidup. Era globalisasi sangat berpengaruh pada pergeseran nilai-nilai moral dan budi pekerti anak. baru hanya sebatas membuat peraturan. b. e. Pada tataran pemerintah. diantaranya adalah: pada dasarnya tingkat kesadaran masyarakat sudah cukup tinggi untuk menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak. Teladan para birokrat atau elit politik terasa.

Hal ini sejalan dengan pendapat pemikir Islam sekaligus pendidik Al-Ghazali yang dalam salah satu bukunya menyoroti sistem pendidikan Islam. artinya mengena di hati masyarakat. Dalam agama Islam ada beberapa kata mutiara yang dapat dijadikan pegangan setiap orang untuk memulai suatu kebaikan. Janganlah menunda-nunda berbuat kebaikan Usaha yang dilakukan oleh para penentu kebijakan (decision maker) pun sangat populis. d. Diantaranya ialah pembentukan karakter yang berbudi pekerti. Ia mengatakan bahwa budi pekerti itu akan kuat jika banyak dipraktikkan. dengan menyingkirkan jauh-jauh rasa pesimistis dalam menghadapi tantangan dari luar. Tanpa adanya bekal yang kuat dalam penanaman agama (yang . Jika saja kesadaran menanamkan nilai-nilai agam muncul pada setiap orang tua di masyarakat.yang akan berdampak sangat positif bagi perkembangan jiwa anak hingga dewasa. Tantangan Pendidikan Budi Pekerti Tantangan yang akan menghadang dalam upaya menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak antara lain sebagai berikut: 1) Arus globalisasi dengan teknologinya yang berkembang pesat merupakan tantangan tersendiri di mana informasi baik positif maupun negatif dapat langsung diakses dalam kamar/rumah. dipatuhi. Mulailah dari dirimu sendiri terlebih dahulu (Ibda’ binafsika) 2. 3. diantaranya: 1. Ini terjadi karena moral dan budi pekerti merupakan bagian dari pendidikan agama yang disebut pendidikan akhlak. diharapkan kemerosotan moral dan budi pekerti akan dapat diatasi sedikit demi sedikit namun serempak. Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan (fastabiqul khairat). Diantaranya ialah pembentukan karakter yang berbudi pekerti luhur sejak tingkat sekolah dasar (SD). Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu Yahya Muhaimin mengatakan bahwa selama ini pihaknya sudah berupaya melakukan antisipasi teknis dalam rangka pembentukan karakter dan daya nalar anak didik yang diyakini dapat menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti. dan diyakini sebagai suatu yang baik dan direstui.

setiap ada kebijakan pasti memerlukan dana yang tidak sedikit. dijumpai beberapa temuan sebagai berikut: a. Temuan: Kondisi Objektif Berdasarkan pada masalah yang timbul akibat dari merosotnya nilai-nilai moral dan budi pekerti anak dan setelah dianalisis berdasarkan realitas di lapangan. . yaitu manusia yang agamis dan mandiri sebagaimana termaktub dalam Tap MPR/1999 dan didukung oleh peraturan dan ketetapan yang lainnya. 3) Moral para pejabat/birokrat yang memang sudah amat melekat seperti “koruptor”. curang/tidak jujur. tidak peduli pada kesusahan orang lain. 2) Pola hidup dan perilaku yang telah bergeser sedimikian serempaknya di tengahtengah masyarakat juga merupakan tantangan yang tidak dapat diabaikan. agama. pelaksanaan tidak semudah perencanaannya. 5) Kondisi ekonomi Indonesia juga menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. diragukan ketulusan dan keseriusannya diimplementasikan secara benar. Arus globalisasi yang hampir menjangkau seluruh dunia juga ikut berpengaruh pada perilaku anak yang sering bertentangan dengan nilai-nilai atau norma-norma adat istiadat. b. Ini terjadi karena ternyata tidak semua guru dapat mengaplikasikan model integrated learning tersebut ke dalam mata pelajaran lain yang sdang diajarkannya atau yang diampunya. terutama bagi pembentukan manusia yang utuh. dan lain-lain ikut menjadi tantangan tersendiri karena bila mengeluarkan kebijakan. Kondisi ekonomi di Indonesia di Indonesia yang sedang terpuruk saat ini sangat berpengaruh dalam menanggulangi kemerosotan nilai-nilai moral dan budi pekerti bangsa Indonesia. dan nilai-nilai ketimuran anak di Indonesia. Namun. Karena bagaimanapun. 5. 4) Kurikulum sekolah mengenai dimasukkannya materi moral dan budi pekerti ke dalam setiap mata pelajaran juga cukup sulit. khususnya anak.telah tercakup di dalamnya nilai moral dan budi pekerti) hal itu akan berdampak negatif jika tidak disaring dengan benar. Perhatian pemerintah dapat dikatakan cukup serius.

c. tetapi diharapkan. c. tentu saja hal ini masih belum efektif dan belum maksimal. bagi orang tua yang kurang mampu diharapkan tidak terlalu membebani anak dengan tuntutan bekerja. Era globalisasi dengan ciri teknologi yang terus berkembang pesat turut memberi andil terjadinya kemerosotan moral dan budi pekerti anak. 7. Namun. e. d. Peran masyarakat masih sangat kurang bahkan tidak ada usaha sama sekali untuk turut menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak. b. terutama dalam bentuk control. yaitu dengan cara memberikan penanaman nilai-nilai agama sejak dini. Sementara itu. Saran dan Rekomendasi a. Hal ini diakibatkan oleh kondisi/ekonomi negara saat ini. terpadu (integrated) ke dalam setiap mata pelajaran. tidak hanya sebatas menetapkan kebijakan. Kepada organisasi keagamaan diharapkan turut peduli dengan upaya penanggulangan kemerosotan moral dan budi pekerti anak. sementara mengabaikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. (b) memasukan kembali materi moral dan budi pekerti menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Namun. Pemerintah diharapkan lebih serius menangani kemerosotan moral dan budi pekerti anak. . mengingat tidak semua guru mampu mengaplikasikannya. Peran aktif orang tua atau keluarga sangat dituntut dalam upaya Sekolah telah mencoba memasukkan materi moral dan budi pekerti ini secara menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti anak. Seluruh lapisan masyarakat melakukan kontrak sosial agar kemerosotan moral dan budi pekerti tidak semakin bertambah. upaya penanaman agama sejak usia dini telah disiapkan oleh masing-masing keluarga. Kesimpulan Kesimpulan makalah ini adalah sebagai berikut: a.6. b. Bagi orang tua yang berkecukupan diharapkan tidak hanya mengejar materi dan karier. Pemerintah belum maksimal menangani dan menanggulangi kemerosotan moral dan budi luhur pekerti anak. d. Hal ini dapat dilakukan dengan (a) mengalokasikan anggaran pelatihan bagi para guru dalam melakukan integrasi materi moral dan budi pekerti ke dalam setiap mata pelajaran. lebih memberikan perhatian kepada anak-anak mereka. khususnya pendidikan moral dan budi pekerti.

Jakarta: Rineka Cipta. “Membawa Pendidikan Budi Pekerti ke Sekolah”. Jakarta: SIC. Makalah Seminar Kelas Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta. Tarwiyah.A. 1997. Gunawan. Ary H. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Models. Sistem Pendidikan menurut Al-Ghazali: Solusi Menghadapi Tantangan Zaman. Dunn. Jakarta: Dea Pers. Puskur. “Reaktualisasi Pendidikan Budi Pekerti”. Salam. Jakarta: Rineka Cipta. “Masalah Hak Azasi Anak dalam Pendidikan”.R. and Aprroaches. 1991. Jakarta: Balitbang Deodiknas.Daftar Pustaka Budiarjo. Analisa Kebijaksanaan Publik (Disadur oleh Muhadjir Darwin). Syukur. Sulaiman. Lanerjan. …………. Pengembangan Silabus Kurikulum Berbasis Kompetensi. London: Sage Publication. 2000.. 1998. Sekolah dan Masyarakat. . H. SosiologiPendidikan: Suatu Analisis Sosiologi TentangPelbagai Problem Pendidikan. The Publik Sector: Concepts. 2000. Muthohor. Fathiyah Hasan. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Eric. “Kurikulum” dan “Manusia di Balik Senjata”. Tilaar. Tata Krama di Rumah. Harsono. 24 Mei 2002. Suara Pembaharuan. Kompas. Jogjakarta: Hanindita. William N. Eko B. Widodo. Jakarta: Rineka Cipta. dkk.. 2 Mei 2002. April 2002. Mei 2002. 2001. Jakarta: Rineka Cipta. Suara Pembaharuan. Tuti. Jumat. M. Barhanuddin. Pengantar Pedagogik (Dasar-dasar Ilmu Mendidik). Juni 2002. 2 Mei 2001. Aris.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->