P. 1
Tekstil

Tekstil

|Views: 3,687|Likes:
Published by reza1312

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: reza1312 on Oct 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

Tekstil Tekstil adalah material fleksibel yang terbuat dari tenunan benang.

Tekstil dibentuk dengan cara penyulaman, penjahitan, pengikatan, dan cara pressing. Istilah tekstil dalam pemakaiannya sehari-hari sering disamakan dengan istilah kain. Namun ada sedikit perbedaan antara dua istilah ini, tekstil dapat digunakan untuk menyebut bahan apapun yang terbuat dari tenunan benang, sedangkan kain merupakan hasil jadinya, yang sudah bisa digunakan.

Bahan pewarna Bahan pewarna secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu benda berwarna yang memiliki afinitas kimia terhadap benda yang diwarnainya. Bahan pewarna pada umumnya memiliki bentuk cair dan larut di air. Pada berbagai situasi, proses pewarnaan menggunakanmordant untuk meningkatkan kemampuan menempel bahan pewarna. Bahan pewarna dan pigmen terlihat berwarna karena mereka menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya. Berlawanan dengan bahan pewarna, pigmen pada umumnya tidak dapat larut, dan tidak memiliki afinitas terhadap substrat. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa, khususnya di India dan Timur Tengah, pewarna telah digunakan selama lebih dari 5000 tahun. Bahan pewarna dapat diperoleh dari hewan, tumbuhan, atau mineral. Pewarna yang diperoleh dari bahan-bahan ini tidak memerlukan proses pengolahan yang rumit. Sampai sejauh ini, sumber utama bahan pewarna adalah tumbuhan, khususnya akar-akaran, beri-berian, kulit kayu,daun, dan kayu. Sebagian dari pewarna ini digunakan dalam skala komersil. Pewarna organik Pewarna organik pertama yang dibuat oleh manusia adalah mauveine. Pewarna sintetik ini ditemukan oleh William Henry Perkin pada tahun 1856. Sejak itu, berbagai jenis pewarna sintetik berhasil disintesis. Pewarna sintetik secara cepat menggantikan peran dari pewarna alami sebagai bahan pewarna. Hal ini disebabkan karena biaya produksinya yang lebih murah, jenis warna yang lebih banyak, dan kemampuan pewarnaan yang lebih baik. [1] Pewarna sintetik diklasifikasikan berdasarkan cara penggunaan di proses pewarnaan. Secara umum, pewarna sintetik digolongkan sebagai pewarna asam, pewarna basa,pewarna direct, pewarna mordant, pewarna vat, pewarna reaktif, pewarna disperse, pewarna azo, dan pewarna sulfur. Pewarna makanan Jenis lain penggunaan bahan pewarna adalah sebagai bahan pewarna makanan. Pewarna makanan digolongkan sebagai aditif makanansehingga diproduksi dengan standar tinggi-tidak seperti pewarna untuk industri. Pewarna makanan dapat berupa pewarna jenis direct,mordant dan vat, dan penggunaannya secara ketat dikontrol hukum. Pewarna makanan dapat juga berasal dari alam.

Bahan pewarna penting lainnya Selain penggolongan yang disebutkan di atas, terdapat pula penggolongan bahan pewarna sebagai berikut:  Oksidasi basa, terutama untuk rambut dan bulu
 

Pewarna kulit, untuk bahan kulit Pencerah floresens, untuk serat tekstil dan kertas

 Pewarna solven, untuk kayu, solven tinta  Pewarna karbin, metode pewarnaan yang baru dikembangkan untuk mewarnai berbagai jenis substrat. Klasifikasi secara kimia Berdasarkan kromofornya, pewarna dibagi menjadi:[2]
 

Kategori:pewarna akridin, senyawa turunan akridin Kategori:pewarna antrakuinon, senyawa turunan antrakuinon

 Pewarna arylmetan
        

Kategori:pewarna diarilmetan, berdasarkan difenil metan Kategori:pewarna triarilmetan, senyawa turunan trifenil metan

Kategori:pewarna azo, berdasarkan struktur -N=N- azo Pewarna sianin, senyawa turunan ptalosianin Pewarna Diazonium, berdasarkan garam diazonium Pewarna nitro, berdasarkan gugus fungsional nitro -NO2 Pewarna nitroso, berdasarkan gugus fungsional nitroso -N=O Pewarna ptalosianin, senyawa turunan ptalosianin Pewarna kuinon-imin, senyawa turunan kuinon

Kategori:pewarna azin
 

Kategori:pewarna eurodin Kategori:pewarna safranin, senyawa turunan safranin

 Indamin

Kategori:pewarna indofenol, senyawa turunan indofenol

    

Kategori:pewarna oksazin, senyawa turunan oksazin Pewarna Oksazon, senyawa turunan oksazon Kategori:pewarna tiazin, senyawa turunan tiazin

Kategori:pewarna tiazol, senyawa turunan tiazol Pewarna Xantene, senyawa turunan xantene

Pewarna fluorin, senyawa turunan fluorin

Pewarna pironin

Kategori:pewarna fluoron, berdasarkan fluoron

Kategori:pewarna rodamin, senyawa turunan rodamin

Batik Print Batik print merupakan salah satu jenis batik yang baru muncul. Tidak diketahui pasti kapan mulai dikenal, tetapi kini menjadi produksi batik dengan jumlah paling banyak jika dibanding batik cap apalagi batik tulis. Teknik pembuatan batik print relatif sama dengan produksi sablon, yaitu menggunakan klise(kassa) untuk mencetak motif batik di atas kain. proses pewarnaannya sama dengan proses pembuatan tekstil biasa yaitu dengan menggunakan pasta yang telah dicampur pewarna sesuai keinginan, kemudian diprintkan sesuai motif yang telah dibuat. Jenis batik ini dapat diproduksi dalam jumlah besar karena tidak melalui proses penempelan lilin dan pencelupan seperti batik pada umumnya, hanya saja motif yang dibuat adalah motif batik. oleh karena itu batik print merupakan salah satu jenis batik yang fenomenal, kemunculannya dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik karena dianggap merusak tatanan dalam seni batik, sehingga mereka lebih suka menyebutnya kain bermotif batik. Secara kasat mata kita dapat membedakan batik print dan batik tulis/cap dengan melihat permukaan di balik kain, biasanya kain batik print warnanya tidak meresap ke seluruh serat kain, dan hanya menempel pada permukaan kain, sehingga di balik kain masih terlihat sedikit berwarna putih. Belakangan muncul perkembangan baru pada batik print, dengan adanya metode print malam.Metode ini dapat dikatakan perpaduan antara sablon dan batik. pada print malam, materi yang di printkan pada kain adalah malam (lilin) dan bukan pasta seperti batik print konvensional. setelah malam menempel, kemudian kain tersebut melalui proses pencelupan seperti pembuatan batik pada umumnya. PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH TEKSTIL APAKAH LIMBAH TEKSTIL ITU ?

Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasil kan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sistesis. Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan. PROSES PEMBUATAN TEKSTIL Serat buatan dan serat alam (kapas) diubah menjadi barang jadi tekstil dengan menggunakan serangkaian proses. Serat kapas dibersihkan sebelum disatukan menjadi benang. Pemintalan mengubah serat menjadi benang. Sebelum proses penenunan atau perajutan, benang buatan maupun kapas dikanji agar serat menjadi kuat dan kaku. Zat kanji yang lazim digunakan adalah pati, perekat gelatin, getah, polivinil alkohol (PVA) dan karboksimetil selulosa (CMC). Penenunan, perajutan, pengikatan dan laminasi merupakan proses kering. Sesudah penenunan serat dihilangkan kanjinya dengan asam (untuk pati) atau hanya air (untuk PVA atau CMC). Penghilangan kanji pada kapas dapat memakai enzim. Sering pada waktu yang sama dengan pengkanjian, digunakan pengikisan (pemasakan) dengan larutan alkali panas untuk menghilangkan kotoran dari kain kapas. Kapas juga dapat dimerserisasi dengan perendaman dalam natrium hidroksida, dilanjutkan pembilasan dengan air atau asam untuk meningkatkan kekuatannya. Penggelantangan dengan natrium hipoklorit, peroksida atau asam perasetat dan asam borat akan memutihkan kain yang dipersiapkan untuk pewarnaan. Kapas memerlukan pengelantangan yang lebih ekstensif daripada kain buatan (seperti pendidihan dengan soda abu dan peroksida). Pewarnaan serat, benang dan kain dapat dilakukan dalam tong atau dengan memakai proses kontinyu, tetapi kebanyakan pewarnaan tekstil sesudah ditenun. Di Indonesia denim biru (kapas) dicat dengan zat warna. Kain dibilas diantara kegiatan pemberian warna. Pencetakan memberikan warna dengan pola tertentu pada kain diatas rol atau kasa. SUMBER LIMBAH Larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam. Penghilangan kanji biasanya memberi kan BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Proses-proses ini menghasilkan limbah cair dengan volume besar, pH yang sangat bervariasi dan beban pencemaran yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan. Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam. Di Indonesia zat warna berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai. Proses pencetakan menghasilkan limbah yang lebih sedikit daripada pewarnaan. JENIS LIMBAH 1. Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn. 2. Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)

3. Pigmen, zat warna dan pelarut organic 4. Tensioactive (surfactant) PENANGANAN LIMBAH 1. Langkah pertama untuk memperkecil beban pencemaran dari operasi tekstil adalah program pengelolaan air yang efektif dalam pabrik, menggunakan : ○ Pengukur dan pengatur laju alir ○ Pengendalian permukaan cairan untuk mengurangi tumpahan ○ Pemeliharaan alat dan pengendalian kebocoran ○ Pengurangan pemakaian air masing-masing proses ○ Otomatisasi proses atau pengendalian proses operasi secara cermat ○ Penggunaan kembali alir limbah proses yang satu untuk penambahan (makeup) dalam proses lain (misalnya limbah merserisasi untuk membuat penangas pemasakan atau penggelantangan) ○ Proses kontinyu lebih baik dari pada proses batch (tidak kontinyu) ○ Pembilasan dengan aliran berlawanan 2. Penggantian dan pengurangan pemakaian zat kimia dalam proses harus diperiksa pula : ○ Penggantian kanji dengan kanji buatan untuk mengurangi BOD ○ Penggelantangan dengan peroksi da menghasilkan limbah yang kadarnya kurang kuat daripada penggelantangan pemasakan hipoklorit ○ Penggantian zat-zat pendispersi, pengemulsi dan perata yang menghasilkan BOD tinggi dengan yang BOD-nya lebih rendah. 3. Zat pewarna yang sedang dipakai akan menentukan sifat dan kadar limbah proses pewarnaan. Pewarna dengan dasar pelarut harus diganti pewarna dengan dasar air untuk mengurangi banyaknya fenol dalam limbah. Bila digunakan pewarna yang mengandung logam seperti krom, mungkin diperlukan reduksi kimia dan pengendapan dalam pengolahan limbahnya. Proses penghilangan logam menghasilkan lumpur yang sukar diolah dan sukar dibuang. Pewarnaan dengan permukaan kain yang terbuka dapat mengurangi jumlah kehilangan pewarna yang tidak berarti. 4. Pengolahan limbah cair dilakukan apabila limbah pabrik mengandung zat warna, maka aliran limbah dari proses pencelupan harus dipisahkan dan diolah tersendiri. Limbah operasi pencelupan dapat diolah dengan efektif untuk menghilangkan logam dan warna, jika menggunakan flokulasi kimia, koagulasi dan penjernihan (dengan tawas, garam feri atau poli-elektrolit). Limbah dari pengolahan kimia dapat dicampur dengan semua aliran limbah yang lain untuk dilanjutkan ke pengolahan biologi. Jika pabrik menggunakan pewarnaan secara terbatas dan menggunakan pewarna tanpa krom atau logam lain, maka gabungan limbah sering diolah dengan pengolahan biologi saja, sesudah penetralan dan ekualisasi. Cara-cara biologi yang telah terbukti efektif ialah laguna aerob, parit oksidasi dan lumpur aktif. Sistem dengan laju alir rendah dan penggunaan energi yang rendah lebih disukai karena biaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah. Kolom percik adalah cara yang murah akan tetapi efisiensi untuk menghilangkan BOD dan COD sangat rendah, diperlukan lagi pengolahan kimia atau pengolahan fisik untuk memperbaiki daya kerjanya.

Untuk memperoleh BOD, COD, padatan tersuspensi, warna dan parameter lain dengan kadar yang sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih unggul yaitu dengan menggunakan karbon aktif, saringan pasir, penukar ion dan penjernihan kimia. PEMANFAATAN LIMBAH Industri tekstil tidak banyak menghasilkan banyak limbah padat. Lumpur yang dihasilkan pengolahan limbah secara kimia adalah sumber utama limbah pada pabrik tekstil. Limbah lain yang mungkin perlu ditangani adalah sisa kain, sisa minyak dan lateks. Alternatif pemanfaatan sisa kain adalah dapat digunakan sebagai bahan tas kain yang terdiri dari potongan kain-kain yang tidak terpakai, dapat juga digunakan sebagai isi bantal dan boneka sebagai pengganti dakron. Lumpur dari pengolahan fisik atau kimia harus dihilangkan airnya dengan saringan plat atau saringan sabuk (belt filter). Jika pewarna yang dipakai tidak mengandung krom atau logam lain, lumpur dapat ditebarkan diatas tanah. Jika lumpur mengandung logam, maka ia harus disimpan ditempat yang aman, sampai ada suatu tempat pengolahan limbah berbahaya yang dikembangkan di Indonesia, dan yang ada pada saat ini adalah Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B-3) di Cilengsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Daur Ulang Malam Pada umumnya para pembatik dapat mendaur ulang sisa malam yang telah digunakan menjadi malam baru yang dapat dipakai kembali. Setelah batik dilorod (direbus), maka malam akan terlepas dari kain dan terdapat di permukaan air. Hal ini terjadi karena malam (lilin) yang merupakan lemak memiliki massa jenis lebih kecil dari air. Jika air telah dingin maka malampun akan beku dan dapat diambil. Diusahakan air yang terbawa seminimal mungkin, kemudian malam bekas tersebut dicampur dengan BPM (Paraffin/kendal) yang merupakan sisa/ampas dari pembuatan minyak goreng. Bahan lainnya adalah Gondorukem yaitu getah pohon pinus. Jika ingin membuat batik dengan motif garis yang sangat tipis dan halus (ngawat) maka dapat dicampur dengan damar yaitu getah dari pohon meranti. Semua bahan tersebut direbus hingga larut semua yaitu sekitar 5-7 jam. Setelah itu malam yang telah jadi dicetak dan siap digunakan. Jenis kain seragam berdasarkan proses pembuatannya Pada bahasan kemarin saya memberikan tips untuk mengenali jenis kain berdasarkan asal bahan, Kali ini saya akan mencoba membahas sedikit mengenai jenis kain berdasarkan proses pembuatannya secara sederhana, yang sering di pakai dalam pembuatan seragam kerja supaya kita dapat dan sesuai dalam menggunakan jenis kain baik untuk kebutuhan seragam ataupun kebutuhan lainnya. A. Kain dengan proses di Tenun. 1. Kain Polos / Plat / Plain -Kain dengan anyaman ini paling sering di pakai karena memiliki permukaan kain yang rata karena anyamannya berpola naik turun antar benangnya, bagian depan dan belakangnya terlihat sama, kain dengan tenunan jenis ini mempunyai daya mengkeret lebih tinggi di banding dengan tenunan lainnya dan kekuatan sobeknya rendah. Kalau untuk seragam kerja kain ini lebih sering di pakai untuk membuat kemeja kantor, kemeja formal, kemeja PDH, blazer, Jas dan lainnya.

2. Kain Drill / Twill - Kain drill memiliki permukaan kain terlihat garis garis diagonal, permukaan kain antara bagian depan dan belakang berbeda, tenunannya lebih rapat dan kuat. Kain drill ini lebih lembut dan tahan kusut. Dalam pembuatan seragam kerja kain drill ini lebih banyak di gunakan untuk kemeja lapangan, kemeja mekanik, kemeja sales, berbagai jenis celana, jacket dan lainnya. 3. Kain Satin - Kain satin ini permukaannya rata dan licin, berkilau karena sifatnya yang bisa memantulkan cahaya, tenunan rapat namun kurang kuat karena floatnya panjang sehingga mudah putus jika di tarik, ketahan gosoknya rendah. Kain jenis ini lebih sering di gunakan untuk pembuatan gaun- gaun, kain pelapis / puring, kain penghias rumah dan lainnya. B. Kain dengan proses di Rajut. 1. Kain Rajut Polos / Single Knit - Memiliki permukaan kain yang rata, untuk bagian atas dan bawah kain ini berbeda, memiliki sifat strech ke arah panjang dan lebar, pada permukaan kain atas terlihat jeratan kanan dan pada bagian bawah terlihat jeratan kiri,bila di potong bagisan pinggir kain cenderung meluntung dan jeratan kain mudah lepas apabila benang rajut putus. Kain jenis ini sering di pakai untuk kaos oblong, kaos promosi, kaos santai, poloshirt dan lainnya. 2. Kain Rajut Rib - Kain ini memiliki double muka bagian atas dan bawah terlihat sama, memiliki daya elastisitas yang tinggi, memiliki strech kearah lebar dan panjang. Kain Rib ini sering di gunakan untuk Rib leher, manset tangan, hem bawah pada bahan rajut, pembuatan sweater dan lainnya. 3. Kain Rajut Rangkap / Double knit / DK - Kain ini permukaan atas dan bawah sama, kokoh struktur kain rapat, ketahanan dan stabilitasnya baik, tidak mudah melentur, tidak bergelombang pada awal rajutan ataupun potongan kain. Kain ini biasanya sering di pakai untuk pembuatan seragam olahraga, pakaian bayi, kaos oblong fashion dan lainnya. Mungkin itu saja yang bisa saya bahas pada kesempatan ini, karena masih ada beberapa jenis kain lagi yang belum saya bahas berdasarkan proses pembuatannya dan akan saya bahas pada kesempatan lainnya. DAUR ULANG LIMBAH GARMEN 1. PENDAHULUAN Di wilayah Bandung terdapat lebih dari 300 perusahaan tekstil yang tersebar di tiga wilayah, yaitu di Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kota Cimahi. Di Kabupaten Bandung industri tekstil terkonsentrasi di tiga wilayah, yaitu wilayah timur (sepanjang Jalan CileunyiCicalengka-Majalaya), wilayah tengah (sepanjang Jalan Mohammad Toha–Dayeuhkolot–

Majalaya), dan wilayah barat (sekitar Nanjung dan Padalarang). Di Kota Cimahi, lokasi industri tekstil terkonsentrasi di sekitar Leuwigajah. Untuk wilayah Kota Bandung penyebaran industri tekstil berbeda dengan penyebaran dengan Kabupaten Bandung maupun Kota Cimahi. Di Kota Bandung, penyebarannya cenderung tidak terkonsentrasi dalam satu sentra. Daerah Majalaya selama ini sudah dikenal sebagai sentra penghasil tekstil sejak tahun 1950an yang mampu menghasilkan aneka ragam produk tekstil seperti sarung, kain untuk bahan pakaian, handuk, benang, kain kasur dan lain-lain. Saat itu betul-betul merupakan masa keemasan bagi Majalaya. Bahkan saking makmur dan terkenalnya tekstil Majalaya, kota ini pun mendapat julukan baru sebagai Kota Dollar. Kemajuan dan ketenaran Majalaya sebagai kota kecil penghasil industri tekstil membuat kepincut Wakil Presiden RI saat itu, Bung Hatta, untuk meninjau secara langsung keberadaan industri tekstil di Majalaya. Saat ini, peralatan produksi yang digunakan para pengusaha umumnya bervariasi mulai dari aplikasi teknologi alat tenun bukan mesin (ATBM) hingga mesin tenun modern. Dan dari data Persatuan Pengusaha Tekstil Majalaya (PPTM), anggota PPTM yang tercatat adalah 220 perusahaan namun yang aktif hanya 52 perusahaan dengan tingkat utilisasi mesin sekitar 60%.. Kegaiatan proses produksi yang berlangsung didaerah Majalaya dan sekitarnya tersebut menghasilkan sampah yang mayoritas berupa sampah anroganik yakni sampah dari sisa-sisa produksi seperti sisa benang, kain potongan, kones bekas gulungan benang, kardus bekas pengepak benang, dan masih banyak jenisnya lagi. Barang-barang sisa tersebut apabila dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar melalui upaya daur ulang menjadi produk yang memiliki nilai jual maka akan dapat memberi keuntungan dan mengatasi beragai masalah ekonomi setempat. 2. DAUR ULANG LIMBAH INDUSTRI GARMEN Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai menjadi produk baru. Produk baru tersebut pada umumnya memiliki kualitas yang lebih rendah karena sudah kehilangan sebagian karakteristik bahannya. Secara garis besar, kegiatan daur ulang digambarkan seperti terlihat pada Gambar 1. Untuk masyarakat Majalaya dan sekitarnya dimana daerah mereka dipenuhi oleh industri garmen, kegiatan pendaur-ulangan dapat berada pada tingkat pengolahan yang menghasilkan produk antara untuk disuply ke industri pengolah atau produk jadi dengan menggunakan proses dan peralatan sederhana. Kegiatan pada tingkat ini diperkirakan dapat menyerap 40 hingga 50 orang per lokasi kegiatan, tergantung ketersediaan modal yang ada dan jenis limbah garmen yang diprosesnya

2.1. Produk Daur Ulang: Keset Keset berbahan baku limbah garmen memiliki kekuatan dan penampilan yang tidak kalah bersaing dengan yang berbahan baku non-limbah. Bahan bakunya berupa pinggiran kain yang sudah dibauang oleh industri garmen dan disebut tali. Tali yang sudah terkumpul dan dipisah menurut jenis warna dan jenis kainnya kemudian diproses/tenun dengan menggunakan alat tenun yang disebut Tustel. Untuk memberi ikatannya digunakan bahan yang disebut Lusi. Untuk pekerja yang sudah mahir dapat menghasilkan produk keset sebanyak 1,5 kodi atau sejumlah 30 keset per hari atau sekitar 40 kodi per bulan. Pemasaran produk keset tidaklah sulit karena disamping harganya murah juga sudah banyak Bandar/pengepul yang siap menampung hasil keset terseut untuk selanjutnya didistribusikan.dipasarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Diagram proses pembuatannya dapat digambarkan sebagai berikut:

2.2. Produk Daur Ulang: Celana Pendek/ Kolor Celana pendek/kolor menggunakan bahan baku kain sisa produksi pabrik dengan berbagai ukuran antara lain: 0.5 meter atau kurang, 1.0 m, dan 2 meter keatas, Bahan-bahan tersebut

dapat dijadikan produk dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil, sedang, besar, dan jumbo. Proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

2.3. Produk Daur Ulang: Lap dari Benang Sisa Terdapat berbagai jenis dan warna benang dari sisa produksi yang masih menempel pada kones. Benang-benang tersebut dikelompokkan menurut jenis dan warnanya kemudian disambung dan digulung ulang melalui mesin Reel hingga didapat gulungan besar hasil gabungan dari sisa-sisa benang. Gulungan besar benang sisa ini selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pada alat tustel. Produk setengah jadi yang keluar dari alat ini kemudian diberi perlakuan akhir dengan cara merapikan bagian pinggirnya dengan mesin obras dan mesin jahit. Dan setelah diberi label serta kemasan maka produk ini sudah dapat dilempar ke pasar. Rangkaian prosesnya adalah sebagai berikut:

Lampiran Photo:

Gambar 5: Limbah majun tali dari industri garmen

Gambar 6: Limbah majun tali yang sudah disambung-sambung dan digulung

Gambar 7: Majun tali gulungan yang sudah dimasukkan ke Coban

Gambar 8: Proses pembentukan keset dari limbah majun tali

Gambar 9: Produk keset dari limbah majun tali yang siap dijual Urgensi Pengetahuan Evaluasi Tekstil Teknologi finishing (Penyempurnaan tekstil) yang semakin maju memungkinkan para produsen tekstil/industri tekstil membuat kain yang seperti sutera padahal bukan sutera, memproses kain dalam larutan kimia tertentu sehingga sifatnya baik, memberi efek kilau, warna kilap dan langsai namun hanya bersifat sementara (ketika masih di produsen/toko) sehingga setelah sekali dicuci (di tangan konsumen) sifatnya berubah. Didukung berkembangnya teknologi serat sintetis yang semakin pesat sehingga sangat memungkinkan melakukan teknik mixing (pencampuran serat) pada komposisi struktur benang (serat alam dan sintetis) yang akan dibuat kain sehingga memiliki sifat sifat khusus. Ditambah lagi ketersediaan beragam obat bantu tekstil (zat-zat kimia), macam macamproses penyempurnaan tekstil, teknologi permesinan serta teknologi proses kimia tekstil sangatmemungkinkan rekayasa sifat sifat kain, baik bersifat sementara (hilang setelah satu kali pencucian) maupun bersifat permanent (tidak hilang walaupun dicuci berkali kali). Untuk itu konsumen tekstil perlu memiliki pengetahuan tentang kualitas bahan tekstil sehingga mampu memilih bahan tekstil yang tepat dan sesuai syarat-syarat penggunaan dan keinginannya. Pengetahuan tersebut antara lain pengetahuan sifat dan jenis serat tekstil, pegangannya, ketahanan luntur warna, tekstur, kenampakannya dan labelisasi

tekstil. Berbagai pengetahuan tersebut akan sangat membantu konsumen tekstil untuk memilih bahan tekstil yang tersedia dalam beragam kualitas dari yang paling murah hingga yang sangat mahal dengan tepat dan terhindar dari penipuan serta kekeliruan pembelian baik dari aspek harga maupun kualitas. Pengetahuan tentang kualitas dan pemilihan bahan tekstil ini tidak hanya penting bagi konsumen tekstil tetapi juga sangat diperlukan bagi para produsen, pedagang, pelajar, maupun akademisi. Bagi produsen pengetahuan kualitas bahan tekstil sangat penting untuk pedoman, pelaksaanaan dan pengambilan keputusan produksi. Bagi pedagang sangat berguna untuk memudahkan proses pemesanan dan pembelian dari produsen, pengenalan jenis mutu dan kualitas. Bagi pelajar dan akademisi pengetahuan kualitas bahan tekstil sangat penting untuk pengembangan keilmuan seperti kegiatan eksperimen dan penelitian. Pemilihan kualitas bahan tekstil pada umumnya dilakukan dengan metode: 1. Metode uji sensoris Metode ini biasanya dilakukan oleh konsumen tekstil (masyarakat umum) ketika membeli bahan tekstil dari toko, pasar, pedagang atau lainnya. Dalam memilih bahan tekstil biasanya konsumen melakukan dengan cara dilihat, dipegang, diraba, diremas, diterawang, dibentang dan lainya yang hanya mengandalkan kemampuan panca indera manusia. Disamping itu biasanya konsumen juga melihat berdasar struktur harga (semakin mahal semakin baik), merk yang telah dikenal dan lainnya. Validitas metode uji sensoris ini sangat tergantung pada pengalaman si konsumen 2. Metode uji teknis/ laboratories Metode ini dilakukan oleh para produsen (industri), pedagang, akademisi dan pelajar untuk menentukan kualitas bahan tekstil. Metode uji teknis/laboratories ini memerlukan peralatan pengujian, standar pengujian, ruang pengujian di samping kemampuan panca indera. Untuk pengujian teknis ini dibedakan menjadi pengujian secara fisika dan pengujian secara kimia. Hasil pengujian teknis ini dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki tingkat validitas yang tinggi serta memenuhi standar-standar kualitas (SII/SNI, ISO, JIS, ASTM, AATCC dll) yang berlaku pada tingkat lokal, nasional dan internasional Proses Penyempurnaan Tekstil. Proses penyempurnaan tekstil ini pada umumnya terbagi menjadi 3 tahapan yaitu: 1. Proses Persiapan penyempurnaan (Pre Treatment) Dalam proses persiapan penyempurnaan ini bahan tekstil yang masih mentah (kain grey) diolah menjadi kain putih sehingga dapat diproses lanjut celup, cap ataupun finishing agar memenuhi standar kualitas yang diharapkan. 2. Proses Pencelupan dan Pencapan

Pada proses ini dilakukan proses pemberian warna dan motif pada bahan tekstil sehingga bahan memiliki warna dan motif tertentu. 3. Proses Finishing (penyempurnaan khusus) Pada proses ini dilakukan pengolahan bahan tekstil agar memiliki sifat-sifat khusus sehingga memenuhi syarat-syarat penggunaan tertentu seperti anti kusust, anti air, anti susut, anti api, anti bakteri, efek creep, efek kilap dan lainnya. PENGETAHUAN TEKSTIL Tekstil adalah bahan yang berasal dari serat yang diolah menjadi benang atau kain sebagai bahan untuk pembuatan busana dan berbagai produk kerajinan lainnya. Dari pengertian tekstil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa bahan/produk tekstil meliputi produk serat, benang, kain, pakaian dan berbagai jenis benda yang terbuat dari serat. Pada umumnya bahan tekstil dikelompokkanmenurut jenisnya sebagai berikut: 1. Berdasar jenis produk/bentuknya: serat staple, serat filamen, benang, kain, produk jadi (pakaian / produk kerajinan dll) 2. Berdasar jenis bahannya: serat alam, serat sintetis, serat campuran 3. Berdasarkan jenis warna/motifnya: putih, berwarna, bermotif/bergambar 4. Berdasarkan jenis kontruksinya: tenun, rajut, renda, kempa. benang tunggal, benang gintir Pengetahuan tentang jenis dan sifat serat tekstil merupakan modal dasar bagi mereka yang akan terjun di Industri tekstil dan fashion Pengetahuan tentang jenis dan sifat serat tekstil sangat diperlukan untuk mengenali, memilih, memproduksi,menggunakan dan merawat berbagai produk tekstil seperti serat, benang, kain, pakaian dan tekstil lenan rumah tangga lainnya. Karakteristik dan sifat bahan tekstil sangat ditentukan oleh karakteristik dan sifat serat penyusunnya. Disamping itu sifat-sifat bahan tekstil juga dipengaruhi oleh proses pengolahannya sperti dari serat dipintal menjadi benang, dari benang ditenun menjadi kain kemudian dilakukan proses penyempurnaan hingga menjadi produk jadi. Oleh karena itu untuk memahami lebih jauh tentang bahan tekstil diperlukan pengetahuan tentang karakteristik dan sifat berbagai jenis serat dan teknik pengolahannya menjadi bahan tekstil. Untuk lebih jelasnya proses pengolahan mekanik dan kimia dari serat menjadi produk tekstil dapat dilihat pada tabel berikut. Teknologi Proses Produksi Mekanik Serat Alam Pertanian (kapas, yute,linen) Kimia Pupuk Organik Nonorganik Serat alam seperti sutera, kapas, wool, yute, linen, Hasil

Peternakan (sutera, wool) Pemintalan leleh Serat Sintetis Pemintalan kering Pemintalan basah Pemintalan Benang Bahan dari serat alam dan serat campuran dalam bentuk serat pendek(staple) Mesin Blowing, Carding Drawing, ring spinning/sistem rotor. Mesin Penganjian Mesin warping, mesin cucuk, Mesin tenun, Mesin rajut, Mein tenun jacquard, dobby dsb Proses penganjian dengan kanji sintetis dan kanji alam Tidak membutuhkan zat kimia secara signifikan Polymerisasi

sisal dll Filamen/staple serat polyester , nilon, rayon, Benang nylon, polyester Benang kapas, benang sutera, benanhg wool, benang campuran (alam dan sintetis)

Kain tenun/rajut

Kain grey tenun Kain rajut

Kain non woven

Mesin kempa (mesin pres)

Resin, kimia analisis, kimia organic, polimer.Proses kimia, Teknologi zat warna, Kimia Tekstil, obat Bantu, kimia fisika, kimia analisis Kimia Tekstil, Resin, bioteknologi, kimia organic,

Kain non woven Seperti kulit sintetis dsb

Pewarnanaan (Pencelupan dan Pencapan)

Mesin Cap (screen printing dll), Mesin celup (padding, Jigger Box, Jet dyeing dll ), Mesin penyempurnaaan, bakar bulu, desizing, bleaching,

Kain berwarna Kain bermotif

Finishing (penyempurnaan) sebagain proses dilakukan sebelum proses pewarnaan ( Proses bakar bulu,

Kain halus, berkilau , langsai, kain dengan tujuan khusus

desizing,bleaching,scouring)

scouring, pemasakan, mesrcerisasi , mesin sanforis, spreading, heat setting, anti air, anti susut Pembuatan disain, pola, Mesin jahit, pasang kancing, mesin potong, mesin prres

kimia fisika,kimia analisis

anti api, anti air, kain dengan sifat sifat khusus.dsb

Pakaian (Garmen)

Tidak ada proses kimia secara signifikan

Pakaian , kemeja , celana

Karakteristik dan sifat serat juga sangat menentukan proses pengolahannya baik dari sisi penmilihan peralatan , prosedur pengerjaan maupun jenis zat-zat kimia yang digunakan. Selama proses pengolahan tekstil sifat-sifat dasar serat tidak akan hilang. Proses pengolahan tekstil hanya ditujukan untuk memperbaiki, meningkatkan, menambah dan mengoptimalkan sifat dasar serat tersebut sehingga menjadi bahan tekstil berkualitas sesuai tujuan pemakaiannya. Tidak semua jenis serat dapat diproses menjadi produk tekstil. Untuk dapat diolah menjadi produk tekstil maka serat harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut 1. Perbandingan panjang dan lebar yang besar 2. Kekuatan yang cukup 3. Fleksibilitas tinggi 4. Kemampuan Mulur dan elastis 5. Cukup keriting agar memiliki daya kohesi antar serat 6. Memiliki daya serap terhadap air 7. Tahan terhadap sinar dan panas 8. Tidak rusak dalam pencucian 9. Tersedia dalam jumlah besar 10. Tahan terhadap zat kimia tertentu

Klasifikasi Serat Tekstil

Textile Manufacturing

Tabel disamping merupakan alur produlsi tekstil dari serat hingga menjadi pakaian Pemilihan Zat Warna dan Serat Tabel berikut dapat dijadkan panduan untuk memilih zat warna tekstil dengan serat

RI Pasok Bahan Tekstil untuk Tentara NATO
Bahan baku tekstil tersebut berjenis anti infrared.

VIVAnews - Indonesia ternyata juga memasok bahan baku tekstil untuk pakaian tentara NATO. Bahan baku tekstil tersebut berjenis anti infrared, yang dapat digunakan untuk menyamarkan panas tubuh di jarak tertentu. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudradjat menjelaskan, untuk jenis tekstil tersebut, Indonesia telah mengimpor ke Jerman senilai US$ 10 hingga 20 juta per tahun. "Tekstil anti infrared kita sudah digunakan tentara Jerman di NATO. Saat ini Perancis lagi tender," kata Ade ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Kamis, 25 Februari 2010. Meski demikian, tekstil jenis ini belum memiliki standar nasional Indonesia (SNI) wajib, dan masih menggunakan standar negara pengimpor. Itu karena, kata Ade, tekstil anti infrared belum banyak digunakan di Indonesia sehingga urgensi untuk menotifikasikan SNI ke WTO belum ada. Padahal, kata dia, SNI sangat penting bagi tekstil terutama di tekstil teknik dan militer. Dari seluruh SNI tekstil di Indonesia yang berjumlah 1.038 standar, yang sudah wajib SNI baru 60 persen. Di Indonesia, kata dia, kesadaran masyarakat atas pentingnya SNI masih sangat rendah karena hanya mempertimbangkan aspek harga murah ketimbang kualitas. "Dikuatirkan dengan ACFTA ini, tekstil China akan mengancam untuk kalangan menengah ke bawah," ujarnya. Tak hanya di Indonesia, kain tekstil Indonesia dipercaya internasional untuk menjadi perlengkapan militer. Selain tekstil anti infrared, juga diekspor kain tekstil loreng dengan spesifikasi untuk hutan dan padang pasir.

Selintas Sejarah Serat Tekstil

* Awal pembuatan tekstil dari serat telah di mulai sejak sekitar 4.000 tahun sebelum masehi. * Penanaman tumbuhan Flax (salah satu jenis serat alam) di Eropa. * Sekitar tahun 3000 sebelum masehi ditemukan tenunan kapas pada suatu vas perak di Pakistan * Alat pemintalan tangan dan tenun meja digunakan. * Material serat seperti wol, flax, kapas dan sutera di proses dengan alat-alat manual. * Tahun 1665 seorang Inggris bernama Robert Hooke datang dengan suatu pemikiran untuk membuat suatu benang buatan dari suatu zat yang kental. Kemudian dicari berbagai alternatif pengembangan teknologi untuk menghasilkan benang tersebut. * Mulai tahun 1850 terjadi perkembangan kimia selulosa. * Pada tahun 1884, Graf Chardonnet untuk pertama kalinya membuat sutera buatan dari selulosa. Sutera buatan ini dibuat dengan proses pemintalan menggunakan nitroselulosa (larut dalam larutan organik). Akan tetapi sayang sekali sutera buatan ini mudah terbakar dan karenanya tidak dapat digunakan untuk pakaian.

* Pada tahun 1927 seorang ahli kimia Jerman bernama Hermann Staudinger menyatakan bahwa serat alam sebenarnya tersusun dari suatu rantai molekul yang besar. Penemuan ini menjadi dasar pengembangan kimia serat dan menempatkan Hermann Staudinger sebagai peraih penghargaan Nobel untuk bidang kimia. Staudinger mengetahui bahwa selulosa adalah suatu rantai Molekul!!! * Tahun 1931 terjadi pengembangan serat PVC (polyvinyl chloride). * Tahun 1935 Lahirnya serat yang kemudian diberi nama Nylon atau nilon. 5 tahun kemudian orang dapat membeli kaus kaki pertama yang terbuat dari bahan serat Nilon. * Tahun 1938 pengembangan Nylon 6 (Perlon) oleh P. Schlack. * Tahun 1941 penemuan polyethylene terephthalate (PET) oleh Winfield dan Dickson melalui polikondensasi dari etil glikol dan asam tereftalat. * Tahun 1948 pengembangan lebih lanjut serat poliamida (PA 11) oleh J. Zeltner dan M. Genas. * Tahun 1959 produksi pertama serat polypropylene oleh G. Natta, P. Pinni. dan G. Mazzanti. * 1962 pengembangan serat Aramid oleh Du Pont. * 1985 penemuan Lyocell oleh seorang Amerika bernama Enka. * Serat-serat kimia atau serat buatan (polyamide, polyester, polyacrylonitrile) dalam kurun waktu 20 tahun selanjutnya terus berkembang.

Revolusi Tekstil:TEKSTIL SEKUAT BETON Salah satu revolusi atau inovasi baru dalam perkembangan sains dan teknologi tekstil kini benar-benar telah lahir. Produk inovasi itu bernama textilbewehrter beton atau tekstil beton. Pada awalnya ia lahir sebagai suatu jawaban atas tantangan yang kian nyata bahwa biaya untuk pembelian baja kian lama kian bertambah mahal ditambah dengan semakin berkurangnya persediaan. Di Jerman sendiri , setiap tahunnya lebih dari 6 juta ton baja dipergunakan sebagai material penguat untuk membangun suatu bangunan atau yang biasa disebut beton.

Jawaban terhadap tantangan itu datang dari para ilmuwan tekstil. Para peneliti di Sächsischen Textilforschungsinsitutes (STFI) di tahun 1982 mulai merintis ke arah itu. Mereka mengembangkan suatu metoda dengan cara menggunakan limbah tekstil berbahan baku serat sintetik untuk digunakan sebagai material penguat beton. Penelitian ini rupanya menyisakan banyak ruang-ruang kosong dan juga belum begitu optimal.

Di awal tahun 1990 para peneliti yang juga adalah dosen di Technische Universität Dresden lebih lanjut mulai mengembangkan tekstil beton yang ringan tetapi sangat kuat dengan menggabungkan sekumpulan serat dalam bentuk roving lalu dirajut dengan menggunakan benang dari serat gelas atau karbon pada mesin perajutan multiaxial sehingga terbentuk suatu struktur material tekstil multiaxial yang memiliki kekuatan tinggi. Penelitian terus berlanjut, dan sampai saat ini umumnya material textile multiaxial yang digunakan sudah tidak lagi memerlukan tambahan roving, tetapi cukup dengan benang karena penelitian di bidang pembuatan serat dan benang telah semakin maju dan mampu menghasilkan benang dengan kekuatan sangat tinggi. Kini dengan bahan penguat tekstil multiaxial ini telah dihasilkan beton yang kuat dengan berbagai keunggulan tambahan yaitu tidak berkarat, lebih tipis dan bisa lebih mudah dibentuk ke arah manapun dengan daya tekan jauh lebih baik dibanding beton baja. Dalam suatu acara di televisi Jerman diperlihatkan suatu uji coba antara beton yang menggunakan baja dengan beton yang menggunakan tekstil yang hasilnya ternyata lebih baik. Cuplikannya bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Sementara itu, suatu pengujian tekanan pada beton yang dilakukan di laboratorium teknik sipil TU Dresden menunjukkan pola pecahan tekstil beton yang ternyata jauh lebih baik, yaitu tidak serta merta pecah berkeping-keping dibanding beton yang tidak menggunakan material tekstil seperti terlihat pada gambar di bawah ini (kiri: beton baja, kanan: beton tekstil):

Aplikasi nyata dari tekstil beton ini sudah mulai dilakukan. Pada tahun 2005 misalnya, telah dibuat jembatan pertama di dunia yang seluruh bahannya terbuat dari tekstil beton di Chemnitz, Jerman oleh para ilmuwan TU Dresden seperti terlihat pada urut-urutan proses pembuatannya pada gambar di bawah ini.

Sementara itu beberapa bangunan yang rusak pun mulai diperbaiki dengan menggunakan material teksil beton ini karena dengan ketebalan 3 mm saja bisa menghasilkan bangunan atau tembokan yang kuat, gambar di bawah ini menunjukkan bangunan rusak sebelum dan sesudah perbaikan menggunakan tekstil beton.

Kini aplikasi tekstil beton ternyata makin dilirik oleh banyak kalangan terutama para arsitek yang biasa bergelut dengan dunia bangunan dan juga karena sifat tekstil beton yang bisa dibentuk secara fleksibel dan juga tipis tidak seperti beton baja. Sifat-sifat unggul tersebut juga menarik minat para seniman dan desainer. Beberapa foto di bawah ini menunjukan pada kita aplikasi lain dari tekstil beton untuk desain struktur bangunan, kursi dan lukisan dengan media tekstil beton.

Pemerintah Jerman sendiri lewat Bundesministerium für Wirtschaft und Technologie (BMWi) atau Kementrian Perekonomian dan Teknologi rupanya sangat serius dan terus membiayai proyek penelitian potensial ini hingga mencapai tingkat optimal dari sisi teknologi, ekonomi, keselamatan untuk selanjutnya ditransfer ke dunia industri. Suatu contoh revolusi atau inovasi teknologi yang juga menarik untuk diamati (dan ditiru) tentang bagaimana para ilmuwan tekstil mengembangkan sains dan teknologi tanpa kenal henti, berkolaborasi dengan sesama peneliti dari berbagai disiplin ilmu, pemerintah dan industri sehingga menghasilkan karya revolusioner ini.

Nanotekstil, Pakaian Masa Depan Berserat Fiber

Indonesia, kini telah cukup siap untuk mengembangkan industri tekstil (nanotekstil) dan keramik (nanokeramik) yang berbasis teknologi nano sehingga sangat memungkinkan bagi industri tekstil dan keramik di Indonesia menjadi lebih unggul. Ketua Umum Masyarakat Nanoteknologi Indonesia, Dr. Nurul Taufiqu Rohman, mengungkapkan bahwa bahan tekstil berkarakter nanotekstil merupakan bahan pakaian yang unggul, sedangkan bahan keramik berkarakter nanokeramik tidak bisa kotor dan penampilannya lebih baik. Menurut Nurul, material nano dalam bentuk bubuk, seperti ZnO yang berukuran nano atau satu per miliar meter, yang kemudian ditorehkan serat-serat fiber tekstil. Nanotekstil dan nanokeramik merupakan generasi pertama dalam nanoteknologi, yang lebih mengarah kepada pembuatan partikel nano, seperti pada kandungan kosmetik atau bedak anti sinar matahari atau minuman suplemen. Sedangkan untuk teknologi assembling dari partikel nano merupakan generasi kedua dari nanoteknologi, seperti pada pembuatan monitor sehingga layar monitor menjadi lebih terang, kemudian pada chip computer, atau memori pada ponsel. Untuk generasi ketiga, nanoteknologi memiliki material nano dengan presisi yang sangat tinggi, seperti ketika membuat sistem yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia untuk membunuh sel kanker. Beberapa negara maju kini mulai mengembangkan nanoteknologi generasi ketiga ini dalam taraf riset dan pengembangan prototipe. Sementara untuk generasi keempat, merupakan nanomolekuler atau rekayasa molekul yang dapat mengubah suatu benda ke bentuk lain, seperti mengubah kayu menjadi roti atau arang menjadi intan. Bahan kayu dan roti pada dasarnya sama, ada hydrogen, karbon, hydrogen dan sebagainya, sehingga tinggal memecah unsure dalam kayu dan disusun kembali sesuai dengan komposisi ketika membuat roti. Nurul mengemukakan, bahwa pihaknya akan melakukan survey ke 30 industri dan membuat mapping roadshow-nya, berkaitan dengan prospek material dan teknologi nano di masa depan kelak.

Linen

Linen merupakan bahan yang terbuat dari serat tumbuhan rami (Linum usitatissimum). Biasanya diguakan untuk membuat pakaian. Linen sering digunakan dalam membuat pakaian ringan dan taplak meja.

Sejarah Rami merupakan salah satu tumbuhan yang sudah dibudidayakan dan digunakan oleh manusia.
Pakaian dari linen sudah dibuat setidaknya 6.000 tahun yang lalu di Mesir Kuno dan Mesopotamia. Hal ini menjadikan linen sebagai salah satu serat dan pakaian tertua yang digunakan oleh manusia, di samping wol dan rami. Linen dan rami merupakan tanaman serat penting di Eropa selama beberapa waktu. Di Mesir Kuno, linen populer sebagai bahan pembalut mumi.

Rayon

Rayon atau kain rayon adalah kain yang dibuat dari serat hasil regenerasi selulosa. Serat yang dijadikan benang rayon berasal dari polimer organik, sehingga disebut serat semisintesis karena tidak bisa digolongkan sebagai serat sintetis atau serat alami yang sesungguhnya.[1] Dalam industri tekstil, kain rayon

dikenal dengan nama rayon viskosa atau sutra buatan. Kain ini biasanya terlihat berkilau dan tidak mudah kusut. Serat rayon memiliki unsur kimia karbon,hidrogen, dan oksigen.

Penggunaan
Kain rayon digunakan secara luas dalam industri garmen untuk bahan pakaian dan perlengkapan busana, seperti daster, jaket, jas, pakaian dalam, syal, topi, dasi, kaus kaki, dan kain pelapis sepatu. Kain jenis ini juga dipakai sebagai kain alas dan pelengkap perabot rumah tangga (seprai, selimut, tirai) dan alat-alat kebutuhan industri (kain untuk perabot rumah sakit, benang ban), serta barang kesehatan pribadi (pembalut wanita dan popok). Di Indonesia, kain rayon merupakan bahan baku untuk industri kain dan baju batik.

Tekstur

Sampel kain rayon dari sebuah rok. Rok lain dengan tekstur berbeda. Blus dengan tekstur serupa dengan gambar nomor dua.

Serat
Serat (Inggris: fiber) adalah suatu jenis bahan berupa potongan-potongan komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuh. Contoh serat yang paling sering dijumpai adalah serat pada kain. Material ini sangat penting dalam ilmu Biologi baik hewan maupuntumbuhan sebagai pengikat dalam tubuh. Manusia menggunakan serat dalam banyak hal: untuk membuat tali, kain, atau kertas. Serat dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu serat alami dan serat sintetis (serat buatan manusia). Serat sintetis dapat diproduksi secara murah dalam jumlah yang besar. Namun demikian, serat alami memiliki berbagai kelebihan khususnya dalam hal kenyamanan.

Serat alami
Serat alami meliputi serat yang diproduksi oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, dan proses geologis. Serat jenis ini bersifat dapat mengalami pelapukan. Serat alami dapat digolongkan ke dalam:

Serat tumbuhan/serat pangan; biasanya tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan kadang-kadang mengandung pula lignin. Contoh dari serat jenis ini yaitu katun dan kain ramie. Serat tumbuhan digunakan sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil. Serat tumbuhan juga penting bagi nutrisi manusia.

 

Serat kayu, berasal dari tumbuhan berkayu. Serat hewan, umumnya tersusun atas protein tertentu. Contoh dari serat hewan yang dimanfaatkan oleh manusia adalah serat laba-laba(sutra) dan bulu domba (wol).

Serat mineral, umumnya dibuat dari asbestos. Saat ini asbestos adalah satu-satunya mineral yang secara alami terdapat dalam bentuk serat panjang.

Serat sintetis
Serat sintetis atau serat buatan manusia umumnya berasal dari bahan petrokimia. Namun demikian, ada pula serat sintetis yang dibuat dari selulosa alami seperti rayon.

Serat mineral
  
Kaca serat/Fiberglass, dibuat dari kuarsa, Serat logam dapat dibuat dari logam yang duktil seperti [[tembaga], emas, atau perak. Serat karbon

Serat polimer

Serat polimer adalah bagian dari serat sintetis. Serat jenis ini dibuat melalui proses kimia. Bahan yang umum digunakan untuk membuat serat polimer:

 
   

polyamida nilon, PET atau PBT poliester, digunakan untuk membuat botol plastik, fenol-formaldehid (PF) serat polivinyl alkohol (PVOH) serat polivinyl khlorida (PVC) poliolefin (PP dan PE) polyethylene (PE), Elastomer, digunakan untuk membuat spandex, poliuretan.

  

Songket
Songket adalah jenis kain tenunan tradisional Melayu. Songket biasanya ditenun dengan tangan dengan benang emas dan perak dan pada umumnya dikenakan pada acara-acara resmi. Asal-usul kain songket adalah dari perdagangan zaman dahulu di antara Tiongkok dan India. Orang Tionghoa menyediakan sutera sedangkan orang India menyumbang benang emas dan perak. Akibatnya, jadilah songket.

Kain songket ditenun pada mesin tenun bingkai Melayu. Pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper. Songket harus melalui delapan peringkat sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Karena penenun biasanya dari desa, tidak mengherankan bahwa motif-motifnya pun dipolakan dengan flora dan fauna lokal. Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti seri kaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan favorit raja. Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia baik diukur dari segi kwalitasnya,yang berjuluk The queenn of Clothes. Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk menyelesaikannya, sedangkan songket biasa hanya membutuhkan sekitar 3 hari. Mulanya laki-laki menggunakan songket sebagai destar atau ikat kepala. Kemudian barulah wanita Melayu mulai memakai songket sarung dengan baju kurung. Di masa kini songket adalah pilihan populer untuk pakaian perkawinan Melayu dan sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hadiah perkawinan. Ditilik dari harganya, songket tidak dimaksudkan hanya untuk masyarakat berada saja karena harganya yang bervariasi dari yang biasa dan terbilang murah, hingga yang eksklusif dengan harga yang sangat tinggi.

Tenun ikat
Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaianbenang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Alat tenun yang dipakai adalah alat tenun bukan mesin. Kain ikat dapat dijahit untuk dijadikan pakaian dan perlengkapan busana, kain pelapis mebel, atau penghias interior rumah. Sebelum ditenun, helai-helai benang dibungkus (diikat) dengan tali plastik sesuai dengan corak atau pola hias yang diingini. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat dengan tali plastik tidak akan terwarnai. Tenun ikat ganda dibuat dari menenun benang pakan dan benang lungsin yang keduanya sudah diberi motif melalui teknik pengikatan sebelum dicelup ke dalam pewarna. Teknik tenun ikat terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia yang terkenal dengan kain ikat di antaranya: Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba,Flores, dan Timor. Kain gringsing dari Tenganan, Karangasem, Bali adalah satu-satunya kain di Indonesia yang dibuat dari teknik tenun ikat ganda (dobel ikat).[1] Kain ikat dapat dibedakan dari kain songket berdasarkan jenis benang. Songket umumnya memakai benang emas atau perak. Motif kain songket hanya terlihat pada salah satu sisi kain, sedangkan motif kain ikat terlihat pada kedua sisi kain.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->