P. 1
SKIPSI AMIRUL BAHRI

SKIPSI AMIRUL BAHRI

|Views: 774|Likes:
Published by Bahri El-amirul
masalah hutang piutang dalam islam
masalah hutang piutang dalam islam

More info:

Published by: Bahri El-amirul on Oct 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

1

HADIS TENTANG AKIBAT MENINGGALKAN HUTANG DI DUNIA (Analisis atas Sanad dan Matan)

SKRIPSI

SKRIPSI Diajukan kepada Jurusan Ushuluddin untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud) dalam Ilmu Ushuluddin

Oleh: Amirul Bakhri NIM 30.07.4.5.002

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS JURUSAN USHULUDDIN SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA 2010 M. / 1431 H.

2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang berpedoman kepada al-Qur'an dan hadis. Agama Islam merupakan agama yang mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan manusia termasuk juga dalam bermuamalah. Agama Islam tidak hanya mengatur hubungan muamalah dengan Allah semata, akan tetapi juga mengatur hubungan muamalah sesama manusia. Di antara muamalah sesama manusia tersebut adalah pinjammeminjam. Dalam bahasa Arab penggunaan kosa kata “pinjam-meminjam“ mempunyai banyak kata di antaranya yaitu: al-dain, al-`âriyah, dan al-qardh. Kata al-dain berasal dari kata adâna-yudînu yang berarti: menghutangi, memberi pinjaman, kemudian kata al-`âriyah yang berasal dari kata a`ârayu`îru yang berarti: meminjamkan, meminjami. Sedangkan al-qardh berasal dari kata aqradha-yuqridhu yang berarti: meminjam (uang), mengutangi.1 Al-Qurthubî mengatakan dalam kitab Tafsîr al-Qurthubî bahwa pengertian al-dain secara istilah merupakan semua transaksi di mana salah satu pihak membayar (memberikan) dengan tunai dan pihak yang lainnya

‫ : أداْ : ألشض‬menghutangi, memberi pinjaman (lihat Munawir A. Fattah dan Adib Bishri, Kamus Indonesia- Arab, Arab-Indonesia al-Bishri, cet. 1, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), h. [Arab] 214). ‫ : ألشض : أعبس‬meminjam (uang), mengutangi (lihat Ibid., h. [Arab] 592). ‫: أعبس : ألشض‬ meminjamkan, meminjami (lihat Ibid., h. [Arab] 528).

1

3

(mengembalikan) dalam tempo (tenggang waktu).2 Sedangkan pengertian al`âriyah secara istilah menurut Ibnu Rasyîd merupakan bentuk pinjaman baik itu berupa tanah, hewan ternak atau apapun yang jelas wujudnya dan bermanfaat dan juga tidak terlarang. 3 Menurut Imam Ahmad, al-`âriyah merupakan suatu pemberian (pinjaman) yang bermanfaat.4 Adapun menurut Imam al-Syâfi‟î, al-`âriyah merupakan pinjaman yang mempunyai akad perjanjian untuk dipertanggung-jawabkan agar diambil manfaatnya dan pinjaman ini berupa barang yang jelas dan nanti dikemudian hari agar dikembalikan kepada peminjam apabila telah dipergunakan barang yang dipinjam tadi. 5 Helmi Karim juga mengatakan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pinjam-meminjam di zaman sekarang, al-`âriyah diartikan sebagai perbuatan pemberian milik untuk sementara waktu oleh seseorang kepada pihak lain, pihak yang menerima pemilikan itu diperbolehkan memanfaatkan serta mengambil manfaat dari harta yang diberikan itu tanpa harus membayar imbalan dan pada waktu tertentu penerima harta itu wajib mengembalikan harta yang diterimanya itu kepada pihak pemberi. 6 Adapun pengertian alqardh merupakan pemberian modal untuk berdagang dengan memperoleh

Al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, terj. Fathurrahman, dkk., cet. 1, j. 3, (Jakarta: Pustaka Azzam, April 2008), h. 837. 3 Ahmad ibn Rasyîd al-Qurthubî al-Andalusî atau yang terkenal dengan nama Ibnu Rasyîd, Bidâyat al-Mujtahid fî Nihâyat al-Muqtashid, j. 2, (Bairut: Dâr al-Fikr, t.th.), h. 235. 4 Muwaffiq al-Dîn `Abdullâh ibn Qudâmah al-Maqdîsî, Al-Kâfî fî Fiqhi al-Imâm Ahmad, j. 2, cet. 1, (Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1994), h. 213. 5 Abû al-`Abbâs Ahmad ibn Hamzah ibn Syihâb al-Dîn al-Ramlî yang terkenal dengan nama al-Syâfi`î al-Shaghîr, Nihâyat al-Muhtâj ilâ Syarh al-Minhâj, j. 5, (Bairut: Dâr al-Kutub al`Ilmiyah, 1993), h. 117. 6 Helmi Karim, Fiqih Muamalah, cet. 3, (Jakarta: Raja Grafindo, Mei 2002), h. 37.

2

4

bagian laba.7 Menurut al-Naisâburî, al-qardh bukanlah bentuk dari (al-dain), karena al-dain ada batas waktu peminjamannya, sedangkan al-qardh tidak boleh ada batas waktunya. Dengan demikian dari ketiga kata yakni al-dain, al-`âriyah, dan al-qardh, yang termasuk dalam kategori pinjam-meminjam secara istilah hanya al-dain dan al-`âriyah, sedangkan al-qardh bukan merupakan istilah pinjam-meminjam. Dalam kehidupan sekarang, penggunaan kata al-dain atau hutangpiutang dengan al-`âriyah atau pinjaman berbeda. Hal ini terjadi karena kedua istilah kata tersebut berbeda dalam pelaksanaannya. Hutang (al-dain) mengacu kepada pemberian izin untuk menggunakan suatu harta dengan ketentuan akan dikembalikan pada waktu yang telah disepakati misalnya berhutang uang. Adapun pinjaman (al-`âriyah) mengacu kepada pemberian izin untuk memanfaatkan suatu barang dan akan dikembalikan lagi sesuai kesepakatan.8 Dalam realita kehidupan sekarang, hubungan antara harta dan hutang sudah merupakan masalah yang universal dalam kehidupan manusia. Dalam rangka memenuhi kebutuhannya termasuk pengembangan harta yang dimilikinya, manusia selalu terlibat dalam hubungan hutang-piutang. Hubungan transaksi hutang-piutang selalu saja terjadi di setiap masyarakat,

Munawir A. Fattah dan Adib Bishri, Kamus Indonesia- Arab, Arab-Indonesia al-Bishri, h. (Arab) 592. 8 Ade Armando, dkk., Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar, j. 6, cet. 4 (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), h. 41.

7

5

tanpa membedakan tempat atau masa, dalam keadaan senang atau susah. 9 Masyarakat yang melakukan transaksi hutang-piutang merupakan bentuk ikhtiar atau usaha mereka dalam mengembangkan atau meningkatkan pendapatan usaha keluarga mereka atau bisa juga untuk pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan mereka. Dalam kehidupan zaman sekarang banyak sekali fasilitas bagi masyarakat agar bisa memperoleh hutang, salah satu di antaranya adalah melalui bank, baik itu bank konvensional atau bank yang menggunakan sistem syari`ah. Jauh sebelum kegiatan hutang-pitutang yang terjadi dalam masyarakat sekarang terjadi, agama Islam yang merupakan agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam telah mengatur tentang hutang-piutang. Dalam alQur‟an surat al-Baqarah ayat 282 dijelaskan tentang bagaimana mekanisme atau cara melakukan transaksi hutang-piutang, diantaranya adalah kewajiban bagi kita apabila bermuamalah tidak secara tunai,10 hendaklah menuliskannya dengan secara benar oleh si penulis. Begitu juga dengan si penulis hutang kita, agar mematuhi hukum Allah dan tidak mengurangi hutangnya dengan bantuan orang yang berhutang. Dibutuhkan juga saksi-saksi dalam melakukan transaksi hutang-piutang kita yakni dua orang saksi dari orang-orang lelaki. Jika tak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan yang diridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang

Lahmuddin Nasution, Pembaharuan Hukum Islam Dalam Madzhab Syafi’i, cet. 1, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, November 2001), h. 203. Muamalah tidak tunai ialah seperti berjual-beli, hutang-piutang, atau sewa-menyewa dan sebagainya. Lihat Yayasan Penterjemah al-Qur‟an, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: PT Tanjung Emas Inti Semarang, 1992), h. 70-71.
10

9

6

mengingatkannya. 11 Menurut al-Qurthubî dalam kitab Tafsîr al-Qurthubî yang mengutip pendapat Ibnu `Abbâs mengatakan bahwa ayat ini (QS. AlBaqarah: ayat 282) khusus untuk masalah transaksi Salam (pembeliaan barang yang diserahkan kemudian hari [pemesanan], sementara

pembayarannya diberikan dimuka) dan diturunkan pada kisah transaksi Salam dalam masyarakat kota Madinah. Itulah asbâb al-nuzûl (sebab turunnya ayat) ini yang kemudian oleh para ulama dicakupkan untuk seluruh transaksi yang berbentuk hutang. Selanjutnya, dia (al-Qurthubî) juga mengatakan bahwa dari ayat inilah beberapa ulama mengambil dalil untuk pembolehan penundaan pembayaran dalam pinjam-meminjam seperti pendapat yang disampaikan oleh Imam Mâlik.12 Sebab turun ayat yakni ayat 282 dalam surat al-Baqarah tersebut tidak hanya tentang kegiatan Salam saja, menurut Hasbie al-

Shiddieqi yang mengutip pendapat al-Râbi‟ mengatakan bahwa ayat ini diturunkan ketika seorang lelaki meminta kepada suatu golongan masyarakat untuk menjadi saksi atas suatu peristiwa, namun tidak seorangpun yang bersedia.13 Selain mekanisme hutang-piutang yang tertera dalam al-Qur`an, Islam juga berbicara mengenai hal-hal lain dalam masalah hutang-piutang atau pada kasus-kasus tertentu yang berkaitan dengan hutang-piutang yakni mengenai akibat bagi seseorang yang meninggal dunia akan tetapi masih meninggalkan

Ibid., h. 70-71. Al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, terj. Fathurrahman, h. 836. 13 Muhammad Hasbi al-Shiddieqi, Tafsir al-Qur`anul Majid al-Nur, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), h. 498.
12

11

7

tanggungan hutangnya di dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadis Nabi yang berbunyi sebagai berikut:

ِ ْ َ ٍ َ ِ ِ ْ َ ٍ َ ْ َ ُ ْ ‫َ د َْ َ ِ َ ٍْ َ د‬ ‫ح َّثَنَا َيَي بْن بُكْي ح َّثَنَا الَّليث عن عُقْيل عن ابْن شياب عن أَِب‬ ِ ‫سلَمةَ عن أَِب ىريْرة رضى اهللُ عْنوُ: أَن رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ َ ْ ُ َ َّ َ َ ِ َ ََ َ ُ ِ ْ َ َ َ َ َ ََ َ ‫كان يُؤتى بِالرجل الْمتَ وىف علَْيو َّيْن , فَسأَل: ىل تَرك لِديْنِو فَضالً؟‬ ْ ِ َ َ َ ْ َ َ َ ُ ‫َ َ ْ َ َّ ُ ِ ُ َ َّ َ ِ الد‬ ِ ِ َ ِ ‫فَاِن ح ِّث أَنَّوُ تَرك لِديْنِو وفَاءً صلَّى, واَِّل قَال لِلْمسلِمْي: ((صلُّوا‬ َ ‫ْ ُد‬ َ ْ ْ ُ َ َّ َ َ َ َْ َ ِ ‫علَى صا حبِكم)) فَلَما فَتَح اهللُ علَْيو الْفتُوح قَال: ((أَنَا أَوَل بِاْملُؤمنِْي‬ َ َ ْ ُ ِ َ َ َّ ْ ُ ِ َ َ َْ ْ َْ ِ ِ ِ ِ ِ ‫من أَنْفسيم, فَمن تُوىف من الْمؤمنِْي فََتك ديْناً فَعلَى قَضاؤهُ, ومن‬ ْ َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ ْ ْ ُ َ َ ُ ْ َ ْ ِ ُ ْ 14 ِ ِ ‫تَرك ماَّلً فَلِورثَتِو)) رواه البخارى‬ َ ََ
Artinya: “Menceritakan kepada kami Yahya ibn Bukair, menceritakan kepada kami al-Laits dari `Uqail dari Ibnu Syihâb dari Abû Salamah dari Abû Hurairah ra.: sesungguhnya didatangkan kepada Rasulullah laki-laki yang meninggal dan mempunyai tanggungan hutang. Maka Rasulullah bertanya: apakah dia meninggalkan sesuatu (kelebihan harta) untuk hutangnya? jika dikatakan bahwa dia meninggalkan harta yang bisa menutupi hutangnya, Nabi pun akan menshalatkannya. Kalau seandainya tidak ada yang menanggung hutangnya, Nabi berkata kepada kaum muslimin: shalatkanlah kalian semua saudara kalian ini (jenazah yang mempunyai hutang). Maka ketika Allah memberikan kemenangan dengan berbagai penaklukan, maka Nabi bersabda: saya lebih berhak terhadap kaum mukmin dari diri mereka. Maka barang siapa yang meninggal dunia dari kaum mukmin terus dia meninggalkan hutang, maka saya yang akan menjadi penanggung hutangnya, kalau seandainya dia meninggalkan harta benda maka untuk ahli warisnya". (HR. al-Bukhârî).

Abû `Abdullâh Muhammad ibn Ismâ`îl al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî, j. 3, cet. 1, (Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1992), h. 84.

14

8

Hadis Nabi di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî dalam kitab Shahîh al-Bukhârî dalam bab nafaqah 15 dan bab hutang.16 Di samping itu penulis juga melakukan pelacakan hadis tersebut dalam kitab Mu`jam Mufahras melalui kata al-dain, yang mana penulis mencari hadisnya dengan melalui kata asal dari al-dain yakni dâna-yadînu, 17 maka penulis pun mendapati bahwa hadis ini tidak hanya diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî, akan tetapi diriwayatkan oleh banyak mukharrij
18

yang lain di antaranya

Imam Muslim dalam kitab Shahîh Muslim dalam bab barang siapa yang meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya, 19 Imam al-Tirmidzî dalam kitab Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al- Shahîh) dalam bab apa yang terjadi pada orang yang berhutang, 20 dan Imam Ibnu Mâjah dalam kitab Sunan Ibnu Mâjah dalam bab barang siapa yang meninggalkan hutang atau barang maka atas Allah dan Rasul-Nya.21 Menurut Imam al-Nawâwî dalam kitab Syarh Shahîh Muslim ibn alHajjâj mengatakan bahwa alasan Nabi Muhammad melarang shalat jenazah merupakan sebagai peringatan agar tidak menganggap kecil perkara hutang dan juga bahwa hutang merupakan suatu hal yang dibenci Nabi karena bisa

Ibid., j. 5, h. 536. Ibid., j. 3, h. 84. 17 Arent Jan Wensinck, Mu’jam Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawi, j. 2, (Leiden: Breil, 1943), h. 164. 18 Mukharrij adalah tiap-tiap orang yang mengeluarkan hadis atau mencatat hadis. Lihat Abdul Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadis, cet. 2, (Bandung: CV. Diponegoro, 1987), h.23. 19 Lihat Muslim ibn al-Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî, Shahîh Muslim, j. 2, (Bairut: Dâr al-Fikr, 1992), h. 58. 20 Lihat Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al-Shahîh), j. 2, (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 266. 21 Lihat Abû Muhammad ibn Yazîd al-Qazwinî, Sunan Ibnu Mâjah, j. 2, (Indonesia: Dahlan, t.th.), h. 807.
16

15

9

menyebabkan tidak diijabahnya doa orang yang berhutang tersebut. 22 Begitu juga menurut Ibnu `Arâbi dalam kitab al-`Âridhah yang dikutip oleh Imam alMubârakfûrî dalam kitab Tuhfat al-Ahwadzî mengatakan bahwa larangan Nabi Muhammad untuk menshalati jenazah atas orang yang meninggal dalam keadaan berhutang merupakan sebuah peringatan agar tidak membuat susah payah hidupnya dengan berhutang dengan demikian tidak akan

menghilangkan harta orang lain, sebagaimana adanya larangan meninggalkan shalat yang merupakan sebuah kemaksiatan dengan demikian akan membuat orang menjauhi pinjam-meminjam.23 Berangkat dari fenomena di atas, dirasa perlu untuk dikaji lebih jauh mengenai hadis Nabi tentang akibat meninggalkan hutang di dunia untuk menyelaraskan Islam sebagai agama yang membawa rahmat dengan kehidupan masyarakat sekarang yang hidup mereka selalu bersinggungan dengan masalah hutang-piutang. Hadis di atas menyebutkan bahwa Nabi melarang menshalatkan jenazah yang masih mempunyai tanggungan hutangpiutang. Sedangkan dalam realita kehidupan sekarang hutang-piutang merupakan bentuk dari ikhtiar atau usaha masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan penghasilan mereka. Dengan demikian, penelitian yang akan kami lakukan sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pemaknaan hadis Nabi tentang akibat meninggalkan hutang di dunia untuk zaman sekarang yang mana dalam hadis itu disebutkan

Muhyî al-Dîn al-Nawâwî, Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj, j. 11-12, (Bairut: Dâr alMa‟rifah, 1995), h. 17. 23 Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman al-Mubârakfûrî, Tuhfat al-Ahwadzî, j. 4, (Bairut: Dâr al-Fikr, 1995), h.128.

22

10

bahwa Nabi Muhammad tidak mau menshalati jenazah yang masih berhutang dan belum ada yang menanggungnya. Dalam penelitian ini, kami akan melakukan penelitian hadis Nabi tentang akibat meninggalkan hutang di dunia dalam kitab Shahîh al-Bukhârî dan juga kitab Shahîh Muslim serta kitab Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` alShahîh). Hadis dalam kedua kitab yang terakhir (kitab Shahîh Muslim dan kitab Sunan al-Tirmidzî [Jâmi` al- Shahîh]) kami gunakan sebagai pembanding. Walaupun kitab Shahîh al-Bukhârî ini selalu dijadikan rujukan dalam mencari hadis Nabi karena menurut banyak ulama merupakan salah satu kitab hadis yang paling shahih, namun menurut Imam al-Tirmidzî dalam kitab Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al- Shahîh) dalam bab apa yang terjadi pada orang yang berhutang, hadis tersebut merupakan hadis yang hasan.24 Dalam sanadnya juga terdapat sanad yang bernama al-Zuhrî. Menurut Ibnu Hajar yang mengutip pendapat al-Âjirî dari Abû Dâwud bahwa hadis al-Zuhrî semuanya 1200 hadis, semua hadisnya merupakan hadis yang bersanad, 200 sanad di antaranya merupakan diriwayatkan oleh orang yang tidak tsiqah.25 Begitu juga Yahya ibn Bukair, al-Bukhârî dalam kitab al-Târîkh al-Kabîr tidak memberikan keterangan yang jelas tentang pribadi Yahya ibn Bukair selain bahwa beliau (Yahya ibn Bukair) pernah mendengar riwayat al-Laits.26 Begitu juga dengan matan hadis ini, menurut logika akal matan hadis ini terdapat kejanggalan. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad yang merupakan
Ibid., j. 3, h. 133. Ahmad ibn `Alî ibn Hajar al-`Ashqolani, Tahdzîb al-Tahdzîb, j. 9, cet. 1, (Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1994), h. 445. 26 Abû `Abdullâh Ismâ`îl ibn Ibrâhîm al-Ja`fi al-Bukhârî, Al-Târîkh al-Kabîr, j. 8, (Bairut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, t.th.), h. 284.
25 24

11

seorang utusan Allah yang mempunyai tugas menyempurnakan akhlak umat Islam ketika melihat jenazah umatnya yang terkena hutang-piutang beliau tidak mau ikut menshalatinya, pada hal salah satu kewajiban orang hidup terhadap orang yang meninggal dunia adalah menshalatkan jenazahnya. Dalam matan hadis ini juga terdapat perbedaan lafazh matan hadis, hal ini dimungkinkan telah terjadi periwayatan secara makna. Di antara perbedaan lafazh tersebut yaitu dalam riwayat al-Bukhârî dengan lafazh hal taraka lidanihi fadhlan?,27 dalam riwayat Muslim dengan lafazh hal taraka lidanihi min qadhâin?,28 dalam riwayat al-Tirmidzî dengan lafazh hal taraka lidanihi min fadhlin?,29 dalam riwayat Ibnu Mâjah dengan lafazh hal taraka lidanihi min qadhâin?.30 Dengan demikian, jika dalam penelitian hadis ini terdapat kejanggalan, maka hadis di kitab lain pun akan mengikuti atau sebaliknya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini antara lain: 1. Apakah kualitas sanad dan matan hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia dalam kitab Shahîh al-Bukhârî, Shahîh Muslim dan Sunan al-Tirmidzî [Jâmi` al- Shahîh] ?

27 28

Lihat Abû `Abdullâh Muhammad ibn Ismâ`îl al-Bukhâri, Shahîh al-Bukhârî, h. 84. Lihat Muslim ibn al-Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî, Shahîh Muslim, h. 58. 29 Lihat Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al-Shahîh), h. 226.
30

Lihat Abû Muhammad ibn Yazîd al-Qazwinî, Sunan Ibnu Mâjah, h. 807.

12

2. Bagaimana memaknai kembali hadis tersebut sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang?

C. Tujuan Penelitian Mengacu pada rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menjelaskan secara komprehensif kualitas sanad dan matan hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia dalam kitab Shahîh Bukhârî. 2. Untuk mengkontektualisasikan pemaknaan hadis tersebut sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang. al-

D. Manfaat dan Kegunaan Penelitian Melihat dari rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini mempunyai manfaat dan kegunaan sebagai berikut: 1. Memberikan kontribusi ilmu pengetahuan mengenai kualitas hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia kepada masyarakat. 2. Memberikan pemahaman kembali tentang makna hadis tersebut sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang.

13

E. Tinjauan Pustaka Sejauh pengetahuan penulis baru sedikit buku yang membahas masalah hutang-piutang terutama yang berkaitan dengan kualitas hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia dan tentang pemahaman hadis tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari. Di antara buku yang membahas masalah tersebut adalah buku yang berjudul Halal dan Haram dalam Islam, karya Yûsuf al-Qardhâwî yang diterjemahkan oleh Muammal Hamidy. 31 Dalam buku tersebut Yûsuf alQardhâwî menyuruh umat Islam seyogyanya hidup sederhana dan tidak perlu berhutang. Karena menurutnya, Rasulullah membenci hal tersebut dan dia juga mengungkapkan bahwa Nabi sampai tidak mau menshalati jenazah yang ketahuan masih berhutang dan belum ada yang menanggung hutang tersebut. Selain buku karya Yûsuf al-Qardhâwî di atas, ada juga buku yang berjudul Mausu’atul Ijma’ karya Sa‟di Abû Habîb yang diterjemahkan oleh Ahmad Sahal Mahfud dan Mushthafa Bishri. Buku ini menjelaskan tentang wajibnya pembayaran hak-hak berupa harta yang wajib atas orang mati dan tidak ada perbedaan apakah hak itu akan dibayar oleh ahli warisnya atau bukan. Bila hutangnya sudah dilunasi, ia terbebas dari tanggungan. 32 Dalam buku ini juga disebutkan bahwa orang yang meninggal tetapi masih mempunyai tanggungan hutang dan belum dilunasi, kelak di akhirat akan diambil kebaikannya, apabila telah habis maka amal-amal buruk yang
Lihat Yûsuf al-Qardhâwî, Halal dan Haram dalam Islam, terj. Muammal Hamidy, edisi revisi, (Surabaya: Bina Ilmu, 2003), h. 371-373. 32 Lihat Sa‟di Abû Habîb, Mausu’atul Ijma’, terj. Ahmad Sahal Machfudz dan Mushthafa Bishri, cet. 2, (Jakarta: Pustaka Firdaus, Oktober 1997), h. 469.
31

14

memberi hutang akan dilimpahkan kepadanya sampai hutangnya lunas dan dia (yang berhutang) akan dihukum di neraka.33 Ada juga sebuah buku yang berjudul Problematika dan Penerapan Syariat Islam dalam Undang-Undang karya Muhammad Sa‟di al-Asmâwî yang diterjemahkan oleh Saiful Ibad.
34

Dalam buku ini al-Asmâwî

mengungkapkan bahwa saksi dalam hutang-piutang yang terdapat dalam alQur'an yakni dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan itu bukan aturan yang tidak dapat diubah-ubah, karena menurutnya kondisi sekarang sudah berbeda dengan kondisi zaman dahulu. Oleh karena itu harus ada kreasi manusia dalam membahas masalah-masalah muamalah sesama manusia. Selain itu, ada juga buku Indahnya Syariat Islam karya `Alî Ahmad al-Jarjâwî yang diterjemahkan oleh Faishal Shaleh dan kawan-kawan. 35 Dalam buku tersebut disebutkan tentang hikmah menjamin hutang seseorang apabila seseorang yang berhutang itu tidak mampu membayar hutangnya. Hikmah tersebut antara lain: 1) memberikan ketenangan kepada orang yang mengutanginya, 2) menghindari perlakuan buruk saat penarikan hutang dari orang yang ditagihnya, dan 3) akan terciptanya sikap saling mencintai dan saling menyanyangi di antara sesama manusia.

Ibid., h. 534. Lihat Muhammad Sa‟di al-Asmâwî, Problematika dan Penerapan Syariat Islam dalam Undang-Undang, terj. Saiful Ibad, cet. 1, (Jakarta: Gaung Persada Press, September 2005), h. 161167. 35 Lihat `Alî Ahmad al-Jarjâwî, Indahnya Syariat Islam, terj. Faishal Shaleh, cet. 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), h. 446.
34

33

15

Semua buku tersebut memang membahas perihal hutang-piutang, akan tetapi belum mengungkap kualitas hadis baik dari segi sanad ataupun matan tentang hadis akibat meninggalkan hutang di dunia beserta pemahaman interpretasi hadis tersebut agar masyarakat memahami konteks hadis tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh ulama di atas, karena dalam penelitian ini akan diungkapkan tentang penelitian dari segi sanad dan matan beserta pemahaman hadis tersebut dalam realitas konteks sekarang. Dengan demikian masih perlu dilakukan penelitian tentang hadis yang membahas masalah tersebut.

F. Metode Penelitian 1. Sumber data Dalam melakukan penelitian ini, penulis akan melakukan penelitian dengan menggunakan bahan kepustakaan (library research). Maka teknik yang akan digunakan adalah pengumpulan data secara literatur, yaitu penggalian bahan pustaka yang sesuai dan berhubungan dengan objek pembahasan. Adapun sifat penelitian ini adalah deskriptifanalitik yaitu dengan mengumpulkan data-data yang ada, kemudian mengadakan analisa yang interpretatif. Oleh karena itu, sumber data dalam penelitian ini dipilah menjadi dua bagian: pertama, data primer yaitu hadis-hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia yang terdapat dalam berbagai kitab antara lain: kitab Shahîh al-Bukhârî, kitab Shahîh Muslim, kitab Sunan al-Tirmidzî, dan kitab Sunan Ibnu Mâjah beserta

16

kitab syarah dari kitab-kitab tersebut yakni kitab Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, kitab `Umdat al-Qâri’, kitab Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj, serta kitab Tuhfat al-Ahwadzî, dan juga kitab-kitab periwayat hadis yang digunakan untuk meneliti kredibilitas para perawi seperti kitab Al-Istî`âb fî Ma`rifat al-Ashhâb, kitab Dzikr Asmâ’ al-Tabi`în wa Man Ba`dahu, kitab Tahdzîb al-Tahdzîb, dan kitab Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl. Kedua, data sekunder yaitu kitab-kitab tafsir al-Qur'an dan juga buku-buku yang membahas tentang masalah yang berkaitan dengan hadis tersebut.

2. Teknik Pengumpulan Data Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengumpulkan data-data penelitian dengan cara sebagai berikut: a. Mula-mula penulis mencari hadis dengan menggunakan metode takhrij hadis yakni mencari hadis melalui kata-kata dalam matan hadis yaitu kata al-dain dalam kitab Mu’jam Mufahras karya A.J. Wensinck. Kemudian dikumpulkan hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia yang terdapat dalam berbagai kitab hadis yakni: kitab Shahîh alBukhârî dalam bab nafaqah dan bab hutang, kitab Shahîh Muslim dalam bab barang siapa yang meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya, kitab Sunan al-Tirmidzî dalam bab apa yang terjadi pada orang yang berhutang, dan kitab Sunan Ibnu Mâjah dalam bab barang siapa yang meninggalkan hutang atau barang maka atas Allah dan Rasul-Nya.

17

Setelah dikumpulkan hadis tentang masalah tersebut kemudian dikumpulkan juga syarah-syarah dari kitab-kitab hadis tersebut dan juga dikumpulkan kitab-kitab periwayat hadis tersebut yang digunakan untuk mengetahui kredibilitas para perawi hadis tersebut. b. Berikutnya, dikumpulkan data-data sekunder yakni kitab-kitab tafsir alQur'an yang membahas masalah yang berkaitan dengan hadis yang diteliti tersebut dan juga buku pendukung untuk mendalami masalah yang berkaitan dengan hadis tersebut.

3. Analisis Data Dalam menganalisis data-data yang telah didapatkan untuk membahas masalah tentang hadis akibat meninggalkan hutang di dunia dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Setelah data-data primer telah dikumpulkan, maka penulis melakukan penelitian terhadap hadis tersebut dalam kitab Shahîh al-Bukhârî, kitab Shahîh Muslim dan kitab Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al- Shahîh). Dalam melakukan penelitian hadis tersebut, penulis membagi penelitian hadisnya menjadi dua bagian yaitu: penelitian sanad dan penelitian matan. Dalam penelitian sanad, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Meneliti pribadi para periwayat dan metode periwayatannya (shîghat al-tahammul wa al-ada'). 2) Mengaplikasikan teori al-jarh wa al-ta'dil.

18

3) Meneliti tentang „llat dan Syadz. 4) Mengambil kesimpulan. Adapun dalam penelitian matan, penulis menggunakan cara-cara sebagai berikut: 1) Meneliti matan setelah melihat kualitas sanad. 2) Meneliti susunan lafazh berbagai matan semakna. 3) Meneliti kandungan hadis dihubungkan dengan konteks zaman sekarang. 4) Mengambil kesimpulan.

b. Data-data sekunder seperti kitab-kitab tafsir al-Qur'an dan buku-buku pendukung lainnya digunakan untuk membantu dalam pemaknaan kembali hadis tersebut dalam konteks sekarang. Dengan data-data seperti kitab-kitab tafsir al-Qur'an akan dapat diketahui apakah hadis yang diteliti bertentangan dengan ayat al-Qur'an ataukah sebaliknya memperkuat kandungan hadis tersebut. Dalam memahami hadis, penulis juga menggunakan buku-buku pendukung lainnya dalam memahami kandungan hadis tersebut agar makna kandungan hadis tersebut menjadi lebih valid.

G. Sistematika Pembahasan Dalam menulis penelitian ini, penulis menyusunnya dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

19

1. Bab pertama: pendahuluan. Dalam bab ini, penulis mengawali penelitian ini dengan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, serta sistematika pembahasan. 2. Bab kedua: metode penelitian hadis. Di bab ini terdiri dari beberapa hal yaitu: takhrîj al-hadîts sebagai langkah awal penelitian hadis, langkah konkret penelitian sanad dan matan hadis. 3. Bab ketiga: deskripsi hadis dan biografi rawi. Dalam bab ini penulis berusaha mengkaji dan menganalisa hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia yang diawali dengan melakukan al-i`tibar. Dilanjutkan dengan pengenalan biografi para perawi hadis. 4. Bab keempat: kualitas sanad dan matan. Dalam bab ini penulis melakukan analisa hadis melalui kaedah keshahihan hadis baik dari segi sanad dan matan hadis. Dilanjutkan dengan pemaknaan kontestualisasi hadis dalam kehidupan masyarakat sekarang. 5. Bab kelima: penutup. Dalam bab ini berisi kesimpulan tentang penelitian dari permasalahan di atas serta saran-saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penelitian ini.

20

BAB II METODE PENELITIAN HADIS

A. Takhrîj al-Hadîts Langkah Awal Penelitian Hadis 1. Pengertian Takhrîj al-Hadîts Menurut bahasa, kata takhrîj adalah bentuk mashdar dari kata kharajayukhriju yang berarti al-istinbath (mengeluarkan), al-tadrîb (meneliti, melatih) dan al-taujih (menerangkan, memperhadapkan). 36 Menurut Arifuddin yang mengutip pendapat dari Mahmûd Thahhan mengatakan bahwa kata takhrîj mempunyai beberapa arti antara lain: a. Menjelaskan hadis pada orang lain dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad hadis dengan metode periwayatan yang mereka tempuh. b. Mengeluarkan dan meriwayatkan hadis dari beberapa kitab. c. Menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para mukharrij-nya dan menisbatkannya dengan cara menyebutkan metode periwayatan dan sanadsanadnya masing-masing. d. Menunjukkan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, di dalamnya dikemukakan secara lengkap dengan sanad-sanadnya masing-masing, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.37 Dari berbagai pengertian tentang takhîj di atas, pengertian yang terakhir lebih dapat dikatakan sebagai takhrîj al-hadîts karena dalam pelaksanaannya kegiatan takhrîj merupakan kegiatan yang menunjukkan letak sumber sebuah
Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Mamahami Hadis Nabi, cet. 1, (Jakarta Timur: Insan Cemerlang dan PT. Inti Media Cipta Nusantara, t.th.), h. 84. 37 Ibid., h. 84-85.
36

21

hadis yang di dalamnya dikemukakan tentang sanad-sanadnya sampai kepada penjelasan tentang derajat sebuah hadis.

2. Metode Takhrîj al-Hadîts Jumlah kitab hadis yang disusun oleh para ulama periwayat hadis cukup banyak. Jumlahnya sangat sulit untuk dipastikan angkanya, sebab mukharrij alhadîts (ulama yang meriwayatkan hadis dan sekaligus melakukan

penghimpunan hadis) tidak terhitung banyaknya. Apalagi sebagian dari para penghimpun itu ada yang menghasilkan karya himpunan hadis lebih dari satu kitab. Metode penyusunan kitab-kitab hadis tersebut ternyata tidak seragam. Hal tersebut sangatlah logis karena yang lebih ditekankan dalam kegiatan penulisan itu bukanlah metode penyusunannya, melainkan penghimpunan hadisnya. Masing-masing mukharrij memiliki metode sendiri-sendiri baik dalam penyusunan sistematikanya dan topik yang dikemukakannya oleh hadis yang dihimpunnya, maupun kriteria kualitas hadisnya.38 Walaupun demikian, para ulama telah merumuskan metode takhrîj al-hadîts dengan lima metode takhrîj untuk membantu melacak hadis Nabi dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para mukharrij hadis. Lima metode takhrîj tersebut antara lain yaitu: a. Takhrîj menurut lafazh pertama hadis Penggunaan metode ini tergantung dari lafazh pertama matan hadis. Bagi yang akan menggunakan metode ini diharuskan untuk mengetahui dengan pasti awal hadis yang ingin di-takhrîj. Kemudian melihat awal dari

38

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 18-19.

22

huruf pertama hadis tersebut. Misalnya ingin men-takhrîj hadis ‫ِٓ غشٕب فٍ١ش‬ ‫ , ِٕب‬maka yang pertama dilihat adalah huruf mim dengan huruf nun kemudian ghin, syin, dan nun ( ‫93.) ِٓ غشٕب‬ Kitab-kitab yang ditulis dengan metode pertama ini antara lain: kitab al-Jâmi` al-Kabîr karya al-Suyûthî, kitab al-Jâmi` al-Azhar karya alManâwâ dan lain sebagainya.40

b. Takhrîj menurut lafazh dari bagian sebuah hadis Penggunaan metode ini dengan cara mengambil satu kata dari banyak kata yang terdapat dalam sebuah hadis, dan harus merupakan kata kerja atau kata benda. Banyak para pengarang yang menulis kitabnya dengan metode ini melalui kata-kata yang asing (gharîb). Dengan demikian jika kata yang ingin dicari merupakan kata yang asing, maka semakin mudah dan cepat untuk mendapatkan hadis tersebut.41 Misalnya ingin melakukan takhrîj hadis ْ‫اْ إٌجٝ ٔٙٝ عٓ طعبَ اٌّزجبس٠١ٓ ا‬ ً‫ , ٠ؤو‬maka yang pertama cicari adalah kata ٓ١٠‫ اٌّزجبس‬karena kata ini paling asing di antara kata-kata yang terdapat dalam hadis tersebut. Kitab yang menggunakan metode ini antara lain: kitab al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadîts al-Nabawî karya Arent Jan Wensinck.42

Abu Muhammad `Abd al-Mahdî ibn `Abd al-Qâdir ibn `Abd al-Hâdî, Thuruq Takhrîj Hadîts, (Mesir: Dâr al-I`tishâm, t.th.), h. 27. 40 Ibid., h. 27-28. Lihat Mahmûd al-Thahhân, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim, cet. 1, (Semarang: Dina Utama, 1995), h. 55-73. 41 Ibid., h. 83. 42 Ibid., h. 83-84. Lihat Mahmûd al-Thahhân, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim, h. 74-86.

39

23

c. Takhrîj menurut periwayat pertama Penggunaan metode ini dengan mengetahui periwayat yang pertama. Periwayat pertama dalam hadis merupakan sahabat Nabi apabila hadisnya muttashil al-isnâd. Akan tetapi bisa juga seorang tabi`in apabila hadisnya mursal. Pengarang kitab yang menggunakan metode ini menyusun kitabnya dengan menyusunnya melalui periwayat pertama yakni sahabat atau tabi`in. Para pengarang tersebut meletakkan hadis-hadis Nabi setelah nama-nama para periwayat pertama tersebut.43 Kitab-kitab yang menggunakan metode ini sangat banyak sekali, akan tetapi kitab-kitab tersebut dapat digolongkan menjadi dua bagian kitab yakni: Kutub al-Athrâf, di antaranya yaitu kitab Tuhfat al-Asyrâf bi Ma`rifat al-Athrâf karya Jamâl al-Dîn al-Syâfi`î, kitab al-Nukat al-Zharâf `ala alAthrâf karya Ibnu Hajar dan Kutub al-Masânîd, di antaranya yaitu Musnad Ahmad ibn Hanbal karya Ahmad ibn Hanbal.44

d. Takhrîj menurut tema hadis Penggunaan metode ini dengan mengetahui tema dari sebuah hadis. Dalam sebuah hadis dimungkinkan memiliki banyak tema. Dengan demikian haruslah dicari disetiap tema tersebut. Misalnya hadis ‫ثٕٝ االصالَ عٍٝ خّش : شٙبدح اْ ال اٌٗ اال هللا ٚ اْ ِذّذا سصٛي هللا , ٚ البَ اٌصالح , ٚ ا٠زبء‬ .‫اٌزوبح , ٚ صَٛ سِضبْ , ٚ دج اٌج١ذ ٌّٓ اصزطبع اٌ١ٗ صج١ال‬

Ibid., h. 105. Ibid., h. 106. Lihat Mahmûd al-Thahhân, Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim, h. 40-54.
44

43

24

Untuk mencari hadis di atas, maka kita mencarinya dalam bab iman, bab tauhid, bab shalat, bab zakat, bab puasa, dan bab haji.45 Kitab-kitab yang menggunakan metode ini sangat banyak sekali, di antaranya yaitu: kitab Kunuz al-`Amal fî Sunan al-Aqwâl wa al-Af`âl karya Muttaqî al-Hindî, kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb karya al-Mundzirî, kitab Tafsîr al-Qur'ân al-`Azhîm karya Ibnu Katsîr dan lain sebagainya.46

e. Takhrîj menurut keadaan sifat yang muncul dalam hadis Penggunaan metode ini adalah dengan melihat keadaan sifat yang jelas dalam sebuah hadis. Para ulama telah mengumpulkan berbagai macam hadis dalam satu sifat yang terdapat dalam hadis. Misalnya hadis mutawatir, hadis qudsi, hadis masyhûr, hadis mursal. Kitab-kitab yang menggunakan metode ini antara lain: kitab al-Azhâr al-Mutanâtsirah fî al-Akhbâr alMutawâtirah karya al-Suyûthî, kitab al-Ittihâfât al-Sunnat fî al-Ahâdîts alQudsiyyah karya al-Madanî, kitab al-Marâsîl karya Abû Dâwûd dan lain sebagainya.47 Kelima metode takhrîj al-hadîts di atas membantu kita dalam mencari hadis Nabi yang terdapat dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para mukharrij hadis. Dilihat dari keefektifan dalam mencari hadis, kami menggunakan metode yang kedua yaitu metode takhrîj al-hadîts dengan melalui lafazh dari hadis yakni melalui kitab al-Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadîts alNabawî karya Arent Jan Wensinck.
45 46

Ibid., h. 151. Ibid., h. 152. 47 Ibid., h. 243-244.

25

B. Langkah-Langkah Konkret Penelitian Hadis Menurut Syuhudi Ismail yang mengutip pendapat Ibnu Shalah, bahwa hadis shahih adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh (periwayat) yang `âdil dan dhâbith sampai akhir sanad, (di dalam hadis itu) tidak terdapat kejanggalan (syudzudz) dan cacat (`illat).48 Oleh karena itu, agar dapat diketahui hadis Nabi itu shahih atau tidak, maka perlu dilakukan penelitian hadis. Dalam melakukan penelitian hadis, langkah-langkah penelitiannya diarahkan kepada dua segi yaitu penelitian sanad dan penelitian matan.

1. Langkah-langkah penelitian sanad hadis Sanad secara bahasa adalah apa yang disandarkan kepadanya baik itu seperti dinding atau yang lainnya. Secara istilah ahli hadis, sanad adalah silsilah sanad yang meriwayatkan hadis.49 Di antara langkah-langkah dalam melakukan penelitian sanad hadis yaitu:

a. Al-I`tibar Kata al-i`tibar merupakan (isim) masdar dari kata i`tabara. Secara bahasa, arti al-i`tibar adalah peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis.50 Menurut istilah hadis, al-i`tibar berarti menyertakan sanad yang lain untuk suatu hadis
M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya, h. 76. Badrân al-`Ainain Badrân, Al-Hadîts al-Nabawi al-Syarîf (Tarîkhuhu Wa Mushthalâhuhu), h. 9. Lihat Ahmad `Umar Hâsyim, Qawâ`id Ushûl al-Hadîts, h. 22. Lihat A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadis, h. 22. 50 M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya, h. 76.
49 48

26

tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja, dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari sanad yang dimaksud.51 Adapun kegunaan al-i`tibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidaknya pendukung (corroboration) berupa periwayat yang berstatus tâbi` atau syâhid. Pengertian tâbi` (jamaknya adalah tawabi`) ialah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi. Adapun pengertian syâhid (jamaknya adalah syawâhid) ialah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai dan untuk sahabat Nabi.52 Untuk memperjelas dan mempermudah proses kegiatan al-i`tibar, diperlukan pembuatan skema untuk seluruh sanad bagi hadis yang akan diteliti. Dalam pembuatan skema, ada tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian yaitu 1) jalur seluruh sanad, 2) nama-nama periwayat seluruh sanad dan 3) metode periwayat yang digunakan oleh masingmasing periwayat.53 Dalam melukiskan jalur-jalur sanad periwayatan hadis, garisgarisnya harus jelas sehingga dapat dibedakan antara jalur sanad yang satu dengan yang lainnya. Nama-nama periwayat yang dicantumkan dalam

Ibid., h. 76. M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 52. Lihat Erfan Soebahar, Menguak Fakta Keabsahan al-Sunnah (Kritik Mushthafa al-Siba`i Terhadap Pemikiran Ahmad Amin Mengenai Hadis dalam Fajr al-Islam), cet. 1, (Jakarta Timur: Prenata Media, Agustus 2003), h. 231-232. 53 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 52.
52

51

27

skema sanad harus cermat sehingga tidak mengalami kesulitan tatkala dilakukan penelitian melalui kitab-kitab Rijal al-Hadîts (kitab-kitab yang menerangkan keadaan para periwayat hadis). Terkadang pribadi periwayat yang sama dalam sanad berbeda tertulis dengan nama yang berbeda, begitu juga sebaliknya. Terkadang nama periwayat memiliki kesamaan atau kemiripan, tetapi pribadi orangnya berlainan. Tanpa kecermatan penulis, penelitian tentang nama-nama periwayat dapat menyebabkan kesalahan dalam menilai sanad yang bersangkutan.54 Nama-nama periwayat yang ditulis dalam skema sanad meliputi seluruh nama, mulai dari periwayat pertama yakni sahabat Nabi yang mengemukakan hadis sampai mukharijnya seperti al-Bukhârî, Muslim dan sebagainya. Terkadang seorang mukharrij memiliki lebih dari satu sanad untuk matan hadis yang sama ataupun yang semakna. Bila itu terjadi, maka masing-masing sanad harus jelas tampak dalam skema.55 Adapun lambang-lambang periwayatan masing-masing periwayat dalam sanad, penulisannya harus sesuai dengan apa yang tercantum dalam sanad yang bersangkutan. Pembuat skema sanad sering tidak

mencantumkan lambang-lambang sanad.56 Pada hal, lambang-lambang itu merupakan merupakan bentuk-bentuk metode periwayatan yang sedang

Ibid., h. 52-53. Ibid., h. 53. 56 Lambang-lambang sanad adalah lafadz-lafadz yang ada dalam sanad yang digunakan oleh rawi-rawi waktu menyampaikan hadis atau riwayat. Lihat A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadis, h. 351.
55

54

28

ditempuh oleh periwayat hadis yang bersangkutan. Sering kali cacat sebuah sanad berlindung di bawah lambang-lambang itu.57

b. Meneliti pribadi periwayat hadis Dalam meneliti periwayat hadis beberapa yang lazim dilakukan oleh seorang peneliti hadis yakni:58

1) Kaedah keshahihan hadis sebagai acuan. Untuk meneliti hadis diperlukan acuan. Acuan yang

dipergunakan adalah kaedah keshahihan hadis bila ternyata hadis yang diteliti bukanlah hadis mutawatir.
59

Rumusan-rumusan tentang

keshahihan sebuah hadis sebenarnya telah muncul pada zaman Nabi dan sahabat. Imam al-Syâfi`î, Imam al-Bukhârî, Imam Muslim dan yang lainnya telah memperjelas rumusan-rumusan kaedah tersebut dan menerapkannya pada hadis-hadis yang mereka teliti dan yang mereka riwayatkan. Kemudian ulama pada zaman berikutnya menyempurnakan rumusan-rumusan kaedah keshahihan tersebut menjadi sebuah rumusan yang berlangsung hingga sekarang.60 Salah seorang ulama hadis yang berhasil menyusun rumusan kaedah keshahihan hadis tersebut adalah Abû `Amr `Utsmân ibn `Abd al-

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h.53. Lihat Ibid., h. 63-97. Lihat Erfan Soebahar, Menguak Fakta Keabsahan al-Sunnah (Kritik Mushthafa al-Siba`i Terhadap Pemikiran Ahmad Amin Mengenai Hadis Dalam Fajr alIslam), h. 231-232. 59 Ibid., h. 64. 60 Ibid., h. 64-65.
58

57

29

Rahman ibn Shalah al-Syahrâzurî yang biasa disebut Ibnu Shalah (w. 577 H. / 1245 M.). Rumusan tersebut antara lain menyatakan bahwa hadis shahih adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh periwayat yang `âdil dan dhâbith sampai akhir sanad, (di dalam hadis itu) tidak terdapat kejanggalan (syudzudz) dan cacat (`illat).61 Dari pengertian hadis shahih yang dikemukakan Ibnu Shalah tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur kaedah keshahihan hadis antara lain: - Ketersambungan sanad sampai kepada Nabi. - Ke-`âdil-an atau kualitas pribadi para perawi. - Ke-dhâbith-an atau kapasitas intelektual para perawi. - Tidak terdapat kejanggalan (syudzudz). - Tidak terdapat cacat (`illat).

2) Segi-segi periwayat yang diteliti Ulama hadis sepakat bahwa ada dua hal yang harus diteliti para pribadi periwayat hadis untuk dapat diketahui apakah riwayat hadis

Ibid., h. 64. Lihat M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Hadis (Telaah Kritis dan Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah), h. 124. Lihat Ahmad `Umar Hâsyim, Qawâ`id Ushûl al-Hadîts, (Bairut: Dâr al-Fikr, t.th.), h. 39. Lihat M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya, h. 76.

61

30

yang dikemukakannya dapat diterima sebagai hujjah atau alasan ataukah ditolak.62 Kedua hal tersebut antara lain:

a) Ke-`âdil-an atau kualitas pribadi para perawi Kata `âdil berasal dari bahasa Arab yaitu `adl. `Adl secara bahasa berarti pertengahan, lurus atau condong kepada

kebenaran. 63 Adapun `adl secara istilah terdapat berbagai macam perbedaan. Menurut Ahmad `Umar Hâsyim, ke-`adil-an rawi adalah suatu rawi yang harus terpercaya di dalam agamanya yakni harus seorang muslim yang baligh, berakal, selamat dari sebab kefasikan, mempunyai kepribadian yang baik.64 Menurut Mahmûd al-Thahhan, diantara kriteria `âdil yakni: muslim, baligh, berakal, bebas dari sebab kefasikan, bebas dari sebab yang menjatuhkan martabat.65 Adapun Syuhudi Ismail mengungkapkan empat kriteria `âdil yang merupakan hasil dari penghimpunan pendapat berbagai macam ulama. Keempat kriteria untuk sifat `âdil tersebut antara lain: Beragama Islam. Mukallaf yakni baligh dan berakal sehat.

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 66. Lihat Mahmûd alThahhan, Mushthalah al-Hadîts, h. 121. Lihat Ahmâd `Umar Hâsyim, Qawâ`id Ushûl al-Hadîts, h. 184. Lihat Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadits wa Mushthalâhuhu, h. 126. 63 Ibid., h. 67. Lihat Ibnu Mandzûr, Lisân al-`Arab, j. 13, (Mesir: al-Dâr al-Mishriyyah, t.th.) h. 456-463. Lihat Munawir A. Fattah dan Adib Bishri, Kamus Indonesia- Arab, ArabIndonesia al-Bishri, h. 483. 64 Ahmad `Umar Hâsyim, Qawâ`id Ushûl al-Hadîts, h. 40. 65 Mahmûd al-Thahhan, Mushthalâh al-Hadîts, h. 121.

62

31

-

Melaksanakan ketentuan agama Islam atau teguh dalam beragama Islam.

-

Memelihara muru`ah (adab kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia kepada tegaknya kebijakan moral dan kebiasaan-kebiasaan).66 Di samping kriteria yang harus dimiliki para periwayat `âdil

tersebut, menurut Syuhudi Ismail yang mengutip pendapat Ibnu Hajar al-`Asqolânî mengatakan bahwa perilaku atau keadaan yang merusak sifat `âdil para periwayat hadis yang termasuk berat yaitu: Suka berdusta. Tertuduh telah berdusta. Berbuat atau berkata fasik tetapi belum menjadikannya kafir. Tidak dikenal jelas pribadi dan keadaan diri orang itu sebagai periwayat hadis. Berbuat bid`ah yang mengarah kepada fasik, tetapi belum menjadikannya kafir.67

b) Ke-dhâbith-an atau kapasitas intelektual para periwayat Dhâbith secara bahasa ada beberapa macam makna yakni yang kokoh, yang kuat, yang tepat, dan yang halal dengan sempurna.68 Adapun dhâbith secara istilah terdapat berbagai macam

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 67. Ibid., h. 69. 68 Ibid., h. 70. Lihat Munawir A. Fattah dan Adib Bishri, Kamus Indonesia- Arab, ArabIndonesia al-Bishri, h. 429.
67

66

32

pendapat. Menurut Syuhudi Ismail yang mengutip pendapat Ibnu Hajar al-`Asqolânî dan al-Sakhâwî, seseorang yang dinyatakan dhâbith adalah orang yang kuat hafalannya kapan saja dia menghendaki. 69 Menurut Ahmad `Umar Hâsyim, ke-dhâbith-an seorang rawi adalah suatu rawi yang harus terpercaya di dalam riwayatnya yakni harus mempunyai hafalan yang meyakinkan setiap meriwayatkan hadis.
70

Menurut Mahmûd al-Thahhan,

diantara kriteria dhâbith antara lain tidak betentangan dengan hadis yang diriwayatkan perawi-perawi tsiqah, tidak susah dalam hafalan, tidak jahat, tidak pelupa, bukan orang yang suka raguragu. 71 Adapun Syuhudi Ismail, dia mengungkap makna dhâbith dengan mempertemukan berbagai pendapat para ulama, dan dia juga memberikan rumusan mengenai maksud dari dhâbith secara istilah sebagai berikut: Periwayat yang dhâbith adalah periwayat yang mempunyai ciri-ciri yaitu: hafal dengan sempurna hadis yang diterimanya, dan mampu menyampaikan dengan baik hadis yang dihafalnya itu kepada orang lain.

M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Hadis (Telaah Kritis dan Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah), h. 135. 70 Ahmad `Umar Hâsyim, Qawâ`id Ushûl al-Hadîts, h. 41. 71 Mahmûd al-Thahhan, Mushthalâh al-Hadîts, h. 121.

69

33

-

Periwayat yang bersifat dhâbith adalah periwayat yang memiliki ciri seperti yang tertera di atas, dan mampu memahami dengan baik hadis yang dihafalnya.72 Sebagaimana sifat `âdil yang mempunyai kriteria yang

dapat merusak sifat `âdil bagi para periwayat hadis, dhâbith juga mempunyai beberapa hal yang dapat merusak ke-dhâbith-an para periwayat hadis seperti yang diungkapkan Syuhudi Ismail yang mengutip pendapat Ibnu Hajar al-`Asqolânî dan `Alî al-Qâri‟ yaitu: Dalam meriwayatkan hadis, lebih banyak salahnya dari pada benarnya. Lebih menonjolkan sifat lupanya dari pada hafalnya. Riwayat yang disampaikan diduga keras mengandung

kekeliruan (al-wahm). Riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang disampaikan oleh orang-orang yang tsiqah. Jelek hafalannya, walaupun ada juga sebagian riwayatnya itu yang benar.73 Dari berbagai penilaian tentang sifat `âdil dan dhâbith di atas, penilaian tentang sifat `âdil dan dhâbith yang disampaikan Syuhudi Ismail lebih akomodatif, karena dia memberikan penilaian tersebut dari hasil rangkuman berbagai macam ulama. Di samping itu dia (Syuhudi Ismail) juga memberikan beberapa pendapat
72 73

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 70. Ibid., h. 71.

34

tentang perilaku dan keadaan yang bisa merusak kecacatan dari sifat `âdil dan dhâbith para periwayat hadis yang merupakan rangkuman dari berbagai ulama. Dalam melakukan penilaian tentang kriteria `âdil dan dhâbith tersebut diperlukan kitab-kitab yang berkenaan dengan biografi periwayat yaitu kitab al-Istî`âb fî Ma`rifat al-Ashhâb,

kitab Dzikr Asmâ’ al-Tabi`în wa Man Ba`dahu, kitab Tahdzîb alTahdzîb, dan kitab Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl. Kitab-kitab biografi periwayat tersebut merupakan kitab yang banyak menerangkan tentang biografi periwayat terutama dari segi jarh dan ta`dil. Dengan demikian penulis menggunakan kitab-kitab tersebut untuk menilai kriteria para periwayat sesuai dengan penilaian sifat `âdil dan dhâbith di atas.

c) Seputar al-Jarh wa al-Ta’dil Kaedah keshahihan sanad hadis tidaklah sempurna bila tidak dibantu dengan ilmu jarh wa ta`dil, karena ilmu ini yang membahas kritik yang berisi celaan dan pujian terhadap para periwayat hadis. Sehingga pengetahuan tentang ilmu ini

mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penelitian hadis.

35

(1) Pengertian Jarh wa Ta’dil Secara bahasa kata al-jarh merupakan isim mashdar dari kata jaraha-yajrahu yang berarti melukai atau cacat. Baik luka yang berkenaan dengan fisik atau non-fisik. 74 Adapun secara istilah, al-jarh berarti tampak jelas sifat dalam diri perawi yang menodai sifat adilnya atau mencacatkan hafalan dan kekuatan ingatannya, yang mengakibatkan gugur

riwayatnya atau lemah atau bahkan tertolak riwayatnya.75 Adapun kata al-ta`dil, merupakan isim mashdar dari kata kerja `addala yang artinya mengemukakan sifat `âdil yang dimiliki seseorang. Menurut istilah, kata al-ta`dil berarti mengungkapkan sifa-sifat bersih yang ada pada diri periwayat sehingga dengan demikian tampak jelas keadilan pribadi periwayat itu dan karenanya riwayat yang disampaikannya dapat diterima.76

(2) Ulama kritikus hadis Ulama yang ahli di bidang kritik para periwayat hadis yang disebut al-jârih wa al-mu`addil, jumlah mereka relatif tidak banyak, hal ini disebabkan syarat-syarat untuk menjadi

Ibid., h. 72. Lihat Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadis, cet.1, (Yogyakarta: Madani Pustaka Hikmah, 2003), h. 27. Lihat Muh. Zuhri, Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis, h. 120-121. 75 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 72. Lihat Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadis, h. 27-28. 76 Ibid., h. 73. Lihat Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadis, h. 28-29.

74

36

dan diakui sebagai kritikus hadis memang tidak ringan. Menurut Syuhudi Ismail, syarat-syarat bagi seseorang yang dapat dikatakan al-jârih wa al-mu`addil yaitu sebagai berikut: - Syarat-syarat yang berkenaan dengan sikap pribadi yakni a) bersifat `âdil, b) tidak bersikap fanatik terhadap aliran atau madzhab yang dianutnya, dan c) tidak bersikap bermusuhan dengan periwayat yang dinilainya, termasuk terhadap periwayat yang berbeda aliran dengannya. - Syarat yang berkenaan dengan penguasaan pengetahuan yang luas dan mendalam, terutama yang berkenaan dengan: a) ajaran Islam, b) bahasa Arab, c) hadis dan ilmu hadis, d) pribadi periwayat yang dikritiknya, e) adat istiadat yang berlaku, dan f) sebab-sebab yang melatar belakangi sifatsifat utama dan tercela yang dimiliki oleh periwayat.77 Adapun menurut Said Agil Munawar, dia

mengungkapkan metode atau cara menilai `âdil atau tidaknya dan juga dapat dipercaya atau tidaknya seorang perawi. Di antara metode yang digunakan adalah: - Objektif dalam melakukan penilaian terhadap perawi. - Cermat dan teliti dalam penelitiannya. - Tetap memegang etika meskipun dalam menilai cacat rawi.

77

Ibid., h.74.

37

- Ta`dil dilakukan secara global, sedangkan dalam tajrih harus diperinci sebab-sebab cacatnya perawi yang bersangkutan.78 Dalam mengemukakan kritikan, sikap ulama ahli kritik hadis ada yang ketat (tasyaddud), ada yang longgar (tasahul), dan ada yang berada dalam kedua sikap itu, yakni moderat (tawasuth).79 Ulama yang dikenal mutasyaddid dalam menilai ke-tsiqah-an periwayat, yang berarti menilai keshahihan hadis yakni al-Nasâ‟i (w. 234 H. / 915 M.), `Alî ibn `Abdullâh ibn Ja`far al-Sa`di al-Madînî atau yang dikenal dengan Ibnu alMadînî (w. 234 H. / 849 M.). Ulama yang dikenal mutasahhil dalam menilai keshahihan suatu hadis yakni al-Hâkim alNaisabûrî (w. 405 H. / 1014 M.) dan Jalâl al-Dîn al-Suyûthî (w. 911 H. / 1505 M.), sedangkan yang dikenal sebagai mutasahhil dalam menyatakan kepalsuan hadis yakni Ibnu al-Jauzî (w. 597 H. / 1201 M.). Ulama yang dikenal sebagai mutawashith dalam menilai periwayat dan kualitas hadis yakni al-Dzahabî (w. 748 H. / 1348 M.).80 Dengan adanya perbedaan sikap para kritikus dalam menilai periwayat dan kualitas hadis, berarti dalam penelitian hadis yang dinilai tidak hanya para periwayat hadis saja, tetapi juga para ktitikusnya.
Said Agil Husain Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Keshalehan Hakiki, cet. 2, (Jakarta Selatan: Ciputat Press, 2002), h.159-160. 79 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 74. Lihat Mahmûd `Alî Fayyâd, Metodologi Penetapan Keshahihan Hadis, h. 59. 80 Ibid., h. 75.
78

38

(3) Lafazh-lafazh jarh dan ta`dil Dalam menentukan kapasitas potensi dan kualitas rawi dengan al-jarh dan al-ta`dil, banyak lafazh yang digunakan para kritikus. Lafazh-lafazh tersebut mengandung pengertian khusus dan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi rawi dalam penilaian kritikus.81 Di kalangan ulama hadis tidak ada kesepakatan tentang jumlah tingkatan al-jarh dan al-ta`dil tehadap para periwayat hadis. Ibnu al-Râzî, Ibnu al-Shalah, dan al-Nawâwî membagi menjadi empat peringkatan untuk penilaian al-jarh dan alta`dil. Sedangkan al-Dzahabî, al-`Irâqî, dan Abû Faidh alHarawî membagi membagi menjadi lima tingkatan. Adapun Ibnu Hajar al-`Asqolânî, dan Jalâl al-Dîn al-Suyûthî membagi menjadi enam tingkatan.82 Di antara tingkatan-tingkatan lafazh ta`dil yang dirumuskan oleh para ulama tersebut yaitu: (a) Ibnu Abû Hâtim al-Râzî - Ta`dil tingkatan pertama, mempergunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang tsiqah ‫ , صمخ‬orang yang teliti ٓ‫, ِزم‬ orang kokoh ingatannya ‫ , صجذ‬orang yang menjadi hujjah ‫٠ذزج‬

81 82

Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadis, h. 43. Ibid., h. 43.

39

- Ta`dil tingkatan kedua menggunakan lafadz-lafazh seperti: orang yang jujur ‫ , صذٚق‬orang yang dipandang jujur ‫ , ِذٍٗ اٌصذٚق‬tidak ada cacat padanya ٗ‫ال ثأس ث‬ - Ta`dil tingkatan yang ketiga menggunakan lafazh seperti: seorang syekh ‫ش١خ‬ - Ta`dil tingkatan yang keempat menggunakan lafazh seperti: orang yang shalih hadisnya ‫صبٌخ اٌذذ٠ش‬ (b) Ibnu al-Shalah - Ta`dil tingkatan yang pertama memakai lafazh-lafazh seperti: orang yang tsiqah ‫ , صمخ‬orang yang teliti ٓ‫, ِزم‬ orang kokoh ingatannya ‫ , صجذ‬orang yang menjadi hujjah ‫ , دجخ‬orang kuat hafalannya ‫ضبثظ‬ - Ta`dil tingkatan kedua menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang jujur ‫ , صذٚق‬orang yang dipandang jujur ‫ , ِذٍٗ اٌصذٚق‬tidak ada cacat padanya ٗ‫ال ثأس ث‬ - Ta`dil yang ketiga menggunakan lafazh seperti: seorang syekh ‫ش١خ‬ - Ta`dil yang keempat menggunakan lafazh seperti: orang yang shalih hadisnya ‫صبٌخ اٌذذ٠ش‬ (c) Al-Nawâwî - Ta`dil tingkatan yang pertama memakai lafazh-lafazh seperti: orang yang tsiqah ‫ , صمخ‬orang yang teliti ٓ‫, ِزم‬ orang kokoh ingatannya ‫ , صجذ‬orang yang menjadi hujjah

40

‫ , دجخ‬orang yang `âdil ‫ , عذي‬orang yang hafal ‫ , دبفظ‬orang kuat hafalannya ‫ضبثظ‬ - Ta`dil tingkatan kedua menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang jujur ‫ , صذٚق‬orang yang dipandang jujur ‫ , ِذٍٗ اٌصذٚق‬tidak ada cacat padanya ٗ‫ال ثأس ث‬ - Ta`dil tingkatan yang ketiga menggunakan lafazh-lafazh seperti: seorang syekh ‫ , ش١خ‬orang yang tengah-tengah ‫ , ٚصظ‬orang banyak meriwayatkan darinya ‫, سٜٚ عٕٗ إٌبس‬ orang yang hadisnya didekati ‫ِمبسة اٌذذ٠ش‬ - Ta`dil tingkatan yang keempat menggunakan lafazh seperti: orang yang shalih hadisnya ‫صبٌخ اٌذذ٠ش‬ (d) Al-Dzahabî - Ta`dil tingkatan yang pertama memakai lafazh-lafazh seperti: orang kokoh ingatannya dan menjadi hujjah ‫دجخ‬ ‫ , صجذ‬orang yang sangat tsiqah ‫ , صمخ صمخ‬orang kokoh

ingatannya dan yang teliti ٓ‫ , صجذ ِزم‬orang kokoh ingatannya dan yang hafal ‫صجذ دبفظ‬ - Ta`dil tingkatan kedua menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang tsiqah ‫ , صمخ‬orang kokoh ingatannya ‫ , صجذ‬orang yang teliti ٓ‫ِزم‬ - Ta`dil tingkatan yang ketiga menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang jujur ‫ , صذٚق‬tidak ada cacat padanya ٗ‫ال ثأس ث‬

41

- Ta`dil tingkatan yang keempat menggunakan lafazh seperti: orang yang shalih hadisnya ‫ , صبٌخ اٌذذ٠ش‬orang yang dipandang jujur ‫ , ِذٍٗ اٌصذٚق‬orang yang baik

hadisnya ‫ , ج١ذ اٌذذ٠ش‬seorang syekh ‫ , ش١خ‬orang yang tengah-tengah ‫ , ٚصظ‬seorang syekh yang tengah-tengah ‫ , ش١خ ٚصظ‬orang yang bagus hadisnya ‫دضٓ اٌذذ٠ش‬ - Ta`dil tingkatan yang kelima menggunakan lafazh seperti: orang yang jujur insya Allah ‫, صذٚق اْ شبء هللا‬ aku berharap ia tidak cacat ٗ‫أسجٛا أْ ال ثأس ث‬ (e) Al-`Irâqî - Ta`dil tingkatan yang pertama memakai lafazh-lafazh seperti: orang yang sangat tsiqah ‫ , صمخ صمخ‬orang yang tsiqah yang kokoh ingatannya ‫ , صمخ صجذ‬orang yang sangat kokoh ingatannya ‫ , صجذ صجذ‬orang yang tsiqah dan menjadi hujjah ‫ , صمخ دجخ‬orang yang tsiqah dan yang

dapat dipercaya ِْٛ‫صمخ ِأ‬ - Ta`dil tingkatan kedua menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang tsiqah ‫ , صمخ‬orang kokoh ingatannya ‫ , صجذ‬orang yang teliti ٓ‫ , ِزم‬orang yang menjadi hujjah ‫ , دجخ‬orang yang hafal ‫دبفظ‬ - Ta`dil tingkatan yang ketiga menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang shalih hadisnya ‫ , صبٌخ اٌذذ٠ش‬orang

42

yang bagus hadisnya ‫ , دضٓ اٌذذ٠ش‬orang yang hadisnya didekati ‫ِمبسة اٌذذ٠ش‬ - Ta`dil tingkatan yang keempat menggunakan lafazhlafazh yaitu: orang yang dipandang jujur ‫, ِذً اٌصذق‬ seorang syekh yang tengah-tengah ‫ , ش١خ ٚصظ‬seorang syekh ‫ , ش١خ‬orang yang tengah-tengah ‫ٚصظ‬ - Ta`dil tingkatan yang kelima menggunakan lafazh seperti: orang yang jujur ‫ , صذٚق‬orang yang dipercaya

ِْٛ‫ , ِأ‬tidak ada cacat padanya ٗ‫ , ال ثأس ث‬orang pilihan ‫خ١بس‬ (f) Ibnu Hajar al-`Asqolânî dan al-Suyûthî - Ta`dil tingkatan yang pertama memakai lafazh-lafazh seperti: setsiqah-tsiqahnya orang ‫ , أٚصك إٌبس‬sekokohkokohnya orang ‫ , أصجذ إٌبس‬padanya puncak ketsiqahan ‫ , اٌ١ٗ إٌّزٙٝ فٝ اٌضمخ‬padanya puncak kekokohan ‫اٌ١ٗ اٌضجذ‬ ٝ‫ , إٌّزٙٝ ف‬tidak ada seorangpun yang lebih kokoh darinya ِٕٗ ‫ , ال أصجذ‬siapakah orang yang seperti fulan ِٓ ْ‫ , ِضً فال‬fulan ditanyakan keadaannya ٕٗ‫فالْ ٠ضأي ع‬ - Ta`dil tingkatan kedua menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang sangat tsiqah ‫ , صمخ صمخ‬orang yang

sangat kokoh ingatannya ‫ , صجذ صجذ‬orang yang sangat menjadi hujjah ‫ , دجخ دجخ‬orang yang kokoh ingatannya, yang tsiqah ‫ , صجذ صمخ‬orang kokoh ingatannya dan menjadi

43

hujjah ‫ , صجذ دجخ‬orang hafal, yang menjadi hujjah ‫دبفظ‬ ‫ , دجخ‬orang yang tsiqah, yang terpercaya ِْٛ‫صمخ ِأ‬ - Ta`dil tingkatan ketiga menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang tsiqah ‫ , صمخ‬orang yang kokoh ingatannya ‫ , صجذ‬orang yang kuat hafalannya orang yang sangat menjadi hujjah ‫دجخ‬ Ta`dil tingkatan keempat menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang jujur ‫ , صذٚق‬orang yang dipercaya ِْٛ‫ , ِأ‬tidak ada cacat padanya ٗ‫ , ال ثأس ث‬orang pilihan ‫خ١بس‬ - Ta`dil tingkatan kelima menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang dipandang jujur ‫ , ِذً اٌصذق‬banyak orang yang meriwayatkan darinya ٕٗ‫ , سٚٚا ع‬orang yang tengah-tengah ‫ , ٚصظ‬seorang syekh ‫ , ش١خ‬seorang syekh yang tengah-tengah ‫ , ش١خ ٚصظ‬orang yang baik hadisnya ‫ , ج١ذ اٌذذ٠ش‬orang bagus hadisnya ‫ , دضٓ اٌذذ٠ش‬orang yang didekati ‫ , ِمبسة‬orang yang buruk hafalannya ‫ص١ئ‬ ‫ , اٌذفظ‬orang yang jujur tetapi sering keliru ‫, صذٚق ٠خطئ‬ orang yang jujur tetapi berubah diakhir umurnya ‫صذٚق‬ ٖ‫ , رغ١ش ثبخش‬dituduh melakukan bid`ah ‫٠شِٝ ثجذع‬ - Ta`dil tingkatan keenam menggunakan lafazh-lafazh seperti: orang yang jujur insya Allah ‫, صذٚق اْ شبء هللا‬ ‫, ضبثظ‬

44

Aku berharap ia tidak cacat ٗ‫ , أسجٛا أْ ال ثأس ث‬orang yang sedikit shalih ‫ , صٛ٠ٍخ‬diterima hadisnya ‫38. ِمجٛي‬ Dari berbagai macam pendapat ulama tentang tingkatan ta`dil para periwayat, pendapat Ibnu Hajar dan al-Suyûthî menurut kami lebih tepat, karena mempunyai banyak tingkatan yakni enam tingkatan dan juga dalam tingkatan pertama disebutkan tingkatan yang paling tertinggi menggunakan kata tafdhil (kata paling). Adapun lafazh-lafazh jarh yang telah dirumuskan para ulama yaitu: (a) Ibnu Abû Hâtim al-Râzî, Ibnu Shalah dan al-Nawâwî - Tajrih pada tingkatan yang pertama: seorang yang pendusta ‫ , وزاة‬orang yang ditinggalkan hadisnya ‫ِزشٚن‬ ‫ , اٌذذ٠ش‬orang yang hilang hadisnya ‫را٘ت اٌذذ٠ش‬ - Tajrih pada tingkatan yang kedua: orang yang lemah hadisnya ‫ضع١ف اٌذذ٠ش‬ - Tajrih pada tingkatan yang ketiga: bukan orang yang kuat ٜٛ‫ٌ١ش ثم‬ - Tajrih pada tingkatan yang keempat: orang yang lunak hadisnya ‫ٌ١ٓ اٌذذ٠ش‬

83

Lihat Ibid., h. 45-56.

45

(b) Al-Dzahabî - Tajrih pada tingkatan yang pertama: seorang yang pendusta ‫ , وزاة‬seorang pemalsu hadis ‫ , ٚضبع‬seorang penipu ‫ , دجبي‬ia memalsu hadis ‫٠ضع اٌذذ٠ش‬ - Tajrih pada tingkatan yang kedua: orang yang tertuduh berdusta ‫ , ِزُٙ ثبٌىزة‬orang yang disepakati untuk ditinggalkan hadisnya ٗ‫ِزفك عٍٝ رشو‬ - Tajrih pada tingkatan yang ketiga: orang yang ‫را٘ت‬

ditinggalkan ‫ , ِزشٚن‬orang yang hilang hadisnya

‫ , اٌذذ٠ش‬bukan orang yang tsiqah ‫ , ٌ١ش ثضمخ‬didiamkan para ulama ٕٗ‫ , صىزٛا ع‬orang yang ibnasa ‫ , ٘بٌه‬orang yang gugur ‫صبلظ‬ - Tajrih pada tingkatan yang keempat: orang yang lemah sekali ‫ , ضع١ف جذا‬orang yang lemah ٖ‫ , ٚا‬dilemahkan para ulama ٖٛ‫ , ضعف‬bukan apa-apa sangat lemah ٖ‫ضع١ف ٚ ٚا‬ - Tajrih pada tingkatan yang kelima: orang yang lunak ٓ١ٌ , di dalamnya ada kelemahan ‫ , ف١ٗ ضع١ف‬padanya ada cacat yang menjadi pembicaraan ‫ , ف١ٗ ِمبي‬bukan orang yang kuat ٜٛ‫ , ٌ١ش ثم‬bukan orang yang menjadi hujjah ‫ٌ١ش‬ ‫ , ثذجخ‬orang yang dikenal dan diingkari ‫, رعشف ٚ رٕىش‬ orang yang diperbincangkan para ulama ٗ١‫ ,رىٍُ ف‬orang yang buruk hafalannya ‫ ,صٟء اٌذفظ‬orang yang dilemahkan ‫ , ٌ١ش ثشٟء‬orang yang

46

hadisnya

ٗ١‫ف‬

‫,٠ضعف‬

orang

yang

diperselisihkan

hadisnya ٗ١‫ ,اخزٍف ف‬tidak seberapa ‫ , ٌ١ش ثزاٌه‬orang yang tidak menjadi hujjah ‫ ,ال ٠ذزج‬orang yang jujur, tetapi melakukan bid`ah ‫48. صذٚق ٌىٕٗ ِجزذع‬ Dilihat dari pendapat tingkatan tajrih di atas, pendapat al-Dzahabî dirasa cocok dalam penilaian jarh para periwayat hadis. Hal ini dikarenakan banyaknya tingkatan jarh yang dia sampaikan dan juga banyaknya macam kategori jarh dalam tiap tingkatan. Dengan adanya perbedaan dalam menempatkan lafazh untuk jarh dan ta`dil, memberi petunjuk bahwa untuk memahami tingkat kualitas yang dimaksudkan oleh lafazh aljarh dan al-ta`dil diperlukan penelitian, misalnya dengan menghubungkan penggunaan lafazh itu kepada ulama yang memakainya.

(4) Beberapa teori jarh dan ta`dil Para kritikus hadis adakalanya sependapat dalam menilai pendapat periwayat hadis tertentu, ada juga yang berbeda pendapat. Selain itu adakalanya seorang kritikus dalam menilai periwayat tertentu berbeda, misalnya pada suatu saat

84

Lihat Ibid., h. 56-62

47

dia menyatakan laisa bihi ba`s dan pada saat yang lain dia menyatakan dha`if terhadap periwayat tertentu tersebut.85 Menurut Syuhudi Ismail, ada bebepa teori-teori yang telah dikemukakan oleh ulama ahli jarh dan ta`dil yang perlu dijadikan bahan oleh para peneliti hadis tatkala melakukan kegiatan penelitian, khususnya yang berkaitan dengan

penelitian para periwayat hadis:86 (a) Al-ta`dil didahulukan atas al-jarh Bila ada seorang periwayat dinilai terpuji oleh seorang kritikus dan dinilai tercela oleh kritikus lainnya, maka yang didahulukan adalah kritikan yang berisi pujian. (b) Al-jarh didahulukan atas al-ta`dil. Bila ada seorang kritikus dinilai tercela oleh seorang kritikus dan dinilai terpuji oleh kritikus lainnya, maka yang didahulukan adalah kritikan yang berisi celaan. (c) Apabila terjadi pertentangan antara kritikan yang memuji dan yang mencela, maka yang harus dimenangkan adalah kritikan yang memuji kecuali apabila kritikan yang mencela disertai dengan sebab-sebabnya. (d) Apabila kritikus yang mengemukakan ketercelaan adalah orang yang tergolong dha`if, maka kritikannya tidak dapat diterima.
85 86

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 77. Lihat Ibid., h. 77-81.

48

(e) Al-jarh tidak diterima kecuali setelah ditetapkan (diteliti secara cermat) dengan adanya kekhawatiran terjadinya kesamaan tentang orang-orang yang dicelanya. (f) Al-jarh yang dikemukakan oleh orang yang mengalami permusuhan diperhatikan. Adapun menurut Mahmûd `Alî Fayyâd, ada beberapa pendapat tentang kontradiksi antara jarh dan ta`dil yang dikemukakan para ulama hadis, di antaranya yaitu: (a) Al-Râzî, al-Amidî, Ibnu Shalah mengatakan bahwa secara mutlak jarh didahulukan dari ta`dil. (b) Al-Khathîb al-Baghdâdî mengatakan jika yang paling banyak mengungkapkan pendapatnya adalah dari para penta`dil, maka menjadi kuat ta`dilnya sedangkan pendapat yang men-jarh-kan menjadi lemah karena sedikit dalam masalah keduniaan tidak perlu

jumlahnya begitu juga sebaliknya. (c) Al-Suyûthî mengatakan jika faktor penyebab jarh itu mencederakan ke-ta`dil-an, maka pendapat yang men-jarhkan didahulukan dari pada pendapat yang men-ta`dil-kan sekalipun yang men-ta`dil-kan banyak.87 Dilihat dari dari faktor penyebab tentang kontradiksi antara ta`dil dan jarh, maka pendapat al-Suyûthî lebih dapat

87

Mahmûd `Alî Fayyâd, Metodologi Penetapan Keshahihan Hadis, h. 79.

49

diterima, karena dinyatakan bahwa jarh didahulukan dari ta`dil apabila jarh tersebut dapat mencederakan ta`dil dari para periwayat tersebut. Untuk dapat dikategorikan jarh mana yang dapat mencederakan para periwayat, dapatlah dilihat dari penilaian tentang tingkatan jarh dari para ulama.

(5) Persambungan sanad yang diteliti (a) Lambang-lambang metode periwayatan Dalam penerimaan dan penyampaian suatu hadis diperlukan lambang-lambang periwayatan hadis. Di antara lambang-lambang periwayatan hadis antara lain yaitu: - Al-sima` sendiri merupakan cara penerimaan hadis dengan mendengarkan dari lafazh syekh, yaitu

mendengarkan syekh mengucapkan hadis dari kitab yang dibacakannya atau dari hafalannya walaupun yang mendengar sendiri menulisnya ataupun tidak. 88 Lafazhlafazh al-sima` antara lain: ,‫أخجشٔب, صّعذ, لبي ٌٕب, روش دذصٕب‬ ,ْ‫98 ٌٕب فال‬ - Al-qira`ah merupakan pembacaan murid kepada syekh dengan cara menghafalnya dari lubuk hatinya atau dari kitab hadis yang dibaca olehnya. Apabila murid tersebut tidak membaca lewat hafalannya atau dari kitab yang
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 88. Ibid., h. 90. Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37.
89 88

50

berada di tangannya akan tetapi mendengarkan dari orang lain yang membacakan kepada syekh, maka sesungguhnya disyaratkan kepada syekhnya agar benarbenar hafal apa yang dibacakan olehnya atau

dimungkinkan bagi syekh tersebut agar merujuk kepada kitab yang shahih yang dipegang oleh muridnya yang lain yang tsiqah.90 Lafazh al-qira`ah yakni ‫. لشأ‬ - Al-ijazah merupakan sebuah perizinan syekh kepada muridnya untuk meriwayatkan hadis yang didengarnya atau dalam kitab hadis yang ditulisnya walaupun murid tersebut tidak pernah mendengar dari syekh tersebut dan belum pernah membacakan hadis tersebut kepada syekhnya. Lafazh dari al-ijazah: ٕٝ‫اجزد ٌه اْ رشٚٞ ع‬
91

.

Adapun al-ijazah yang sebenarnya merupakan suatu ucapan syekh secara lisan dengan suara yaang jelas kepada muridnya, adapun ketika syekh tersebut

memberikan sebuah kitab dengan tanpa ucapan tidak sah menurut golongan yang keras.92 - Al-munawalah merupakan pemberian syekh kepada muridnya sebuah kitab atau sebuah hadis yang tertulis

Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 93. Ibid., h. 95. Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 200. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 41. 92 Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 96.
91

90

51

untuk diriwayatkan dari pemberian syekhnya tersebut.93 Lafazh paling tinggi dan paling kuat dari al-munawalah ini adalah pemberian syekh kepada muridnya sebuah kitab atau hadis yang tertulis yaitu dengan

mengucapkan: kamu telah memiliki kitab ini dan saya (syekh) mengizinkan kamu untuk meriwayatkan hadis ini, maka ambillah dan riwayatkan hadis ini dari saya (syekh), hal seperti ini dinamakan munawalah dengan ijazah. Lafazh-lafazh al-munawalah lainnya yaitu , ‫أٔجأٔب‬ ٝٔ‫49 أٔجأ‬ - Al-mukatabah merupakan sebuah tulisan syekh atau tulisan orang atas perintah syekh untuk menulisakan dari syekh sebagian hadisnya kepada seseorang yang berada di hadapannya yang menginginkan ilmu dari syekh tersebut atau kepada seseorang yang tidak ada di hadapannya untuk dikirimkan kepadanya tulisan

tersebut. Lafazh al-mukatabah yaitu saya izinkan kamu untuk riwayatkan kepada orang lain.95 - Al-i`lam merupakan pemberian sebuah kabar dari syekh kepada muridnya bahwa sesungguhnya kitab ini atau hadis ini dari riwayat-riwayat syekh tersebut atau dari
Ibid., h. 97. Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 97. Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 202. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 42. 95 Ibid., h. 97-98. Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 203. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 42.
94 93

52

hasih pendengaran (sima`) syekh tersebut dengan tanpa memberikan ijazah secara langsung untuk memberikan ijin meriwayatkan hadis tersebut. Lafazh dari al-I`lam yaitu ْ‫69. أعٍّٕٝ فال‬ - Al-washiyat merupakan sebuah penjelasan syekh kepada muridnya ketika sedang bepergian atau menjelang ajal kematiannya seseorang dengan jelas mewasiatkan atau yang kitab dikenal kepada untuk

yang

meriwayatkan hadis yang ada di kitab tersebut. Lafazh al-washiyah yaitu ‫79. دذصٕٝ فالْ ثىزا‬ - Al-wijadah merupakan penemuan murid akan sebuah hadis yang ditulis oleh syekh yang telah dia jumpai dan dia mengetahui bahwa hadis tersebut dari syekhnya atau belum berjumpa dengan syekh akan tetapi murid tersebut berkeyakinan kalau hadis yang tertulis merupakan hadis yang shahih seperti menemukan sebagian hadis dalam kitab yang terkenal yang ditulis oleh orang yang terkenal.98 Lafazh al-wijadah yakni ‫. ٚجذد‬ Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat

Ibid., h. 99. Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 203. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 42. 97 Ibid., h. 100. Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 204. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 42. 98 Ibid., h. 101-102. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 43.

96

53

dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.99 Menurut Syuhudi Ismail khusus lambang yang berupa huruf `an dan `anna, ulama telah banyak mempersoalkannya. Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis mu`an`an yakni hadis yang sanadnya mengandung lambang `an dan hadis mu`annan yakni hadis yang sanadnya mengandung lambang `anna memiliki sanad yang putus. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa hadis mu`an`an dapat dinilai sanadnya bersambung bila terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut: - Pada sanad hadis yang bersangkutan tidak terdapat tadlis (penyembunyian cacat). - Para periwayat yang namanya beriring dan diantarai oleh lambang `an atau `anna telah terjadi pertemuan. - Para periwayat yang menggunakan lambang `an atau `anna adalah periwayat yang tsiqah.100

(b) Hubungan periwayat dengan metode periwayatannya Keadaan periwayat dapat dibagi kepada tsiqah dan tidak tsiqah atau dha`if. Dalam menyampaikan riwayat hadis, periwayat yang tsiqah memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan karenanya dapat dipercaya riwayatnya.

Sedangkan riwayat yang tidak tsiqah dari segi akurasinya
Ibid., h. 88. M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 83. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, cet. 1, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), h. 129.
100 99

54

berada di bawah riwayat yang disampaikan oleh orang yang tsiqah. Dalam hubungannya dengan persambungan sanad, kualitas periwayat sangat menentukan. Periwayat yang tidak tsiqah yang menyatakan telah menerima riwayat dengan metode sami`na misalnya, walaupun metode itu diakui oleh ulama hadis memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tetapi karena yang meyatakan lambang itu adalah orang yang tidak tsiqah, maka informasi yang

dikemukakannya tetap tidak dapat dipercaya.101 Dengan uraian tersebut dapatlah dinyatakan bahwa untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, maka hubungan antara periwayat dan metode periwayatan yang digunakan perlu diteliti karena tadlis
102

masih

mungkin terjadi pada sanad yang dikemukakan oleh periwayat yang tsiqah.

Ibid., h. 84. Periwayat hadis yang menyatakan telah menerima hadis dari priwayat tertentu yang sezaman dengannya, pada hal mereka tidak pernah bertemu. Boleh jadi mereka pernah bertemu, tetapi antar mereka tidak pernah atau diragukan pernah terjadi penyampaian dan penerimaan riwayat hadis (lihat M. Syuhudi Ismail, Kaedah keshahihah Hadis, h. 177).
102

101

55

(c) Meneliti syudzudz dan `illat Meneliti syudzudz Makna syadz secara bahasa adalah seseorang yang memisahkan diri dari jamaah. 103 Adapun secara istilah, ulama berbeda pendapat tentang pengertian syudzudz sebagai hadis. Akan tetapi ada tiga pendapat yang menonjol tentang hadis syudzudz ini, yakni bahwa yang dimaksud dengan hadis syudzudz adalah: - Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah, tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak periwayat tsiqah yang lainnya. Pendapat ini adalah pendapatnya Imam alSyâfi`î (w. 204 H. / 820 M.). - Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah, tetapi orang-orang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis tersebut. Pendapat ini dikemukakan oleh alHâkim al-Naisâbûrî (w. 405 H. / 1014 M.). - Hadis yang sanadnya hanya satu buah saja, baik periwayatannya bersifat tsiqah maupun tidak.

Pendapat ini dikemukakan oleh Abû Ya`la al-Khalîlî (w. 446 H.).104

Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, h. 228. M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 85-86. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, h. 228. Lihat Fathur Rahman, Ikhtishar Mushthalah Hadis, cet. 1, (Bandung: Al-Ma`arif, 1974), h. 199.
104

103

56

Menurut Syuhudi Ismail, dari ketiga pendapat di atas, maka pendapat Imam al-Syâfi`î merupakan pendapat yang banyak diikuti oleh ulama ahli hadis sampai saat sekarang. Salah satu langkah penelitian yang sangat penting untuk meneliti kemungkinan adanya syudzudz suatu sanad adalah dengan

membanding-bandingkan semua sanad yang ada untuk matan yang topik pembahasannya sama atau memiliki segi kesamaan.105

-

Meneliti illat Kata illat berasal dari kata `a`alla berarti menjadikan cacat. `Illat adalah faktor abstrak yang menodai hadis sehingga merusak keshahihannya. 106 `Illat yang disebutkan dalam salah satu unsur kaedah keshahihan sanad hadis adalah `illat yang untuk mengetahuinya dilakukan penelitian yang lebih cermat. Menurut Syuhudi Ismail yang mengutip pendapat Ibnu al-Madînî dan al-Khathîb al-Baghdâdî bahwa untuk meneliti `illat hadis, langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah:

105 106

Ibid., h. 86. Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, h. 254.

57

- Seluruh sanad hadis untuk matan yang semakna dihimpun dan diteliti, bila hadis yang bersangkutan memang memiliki mutabi` atau syahid. - Seluruh periwayat dalam berbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang telah dilakukan oleh para ahli kritik hadis.107

(d) Menyimpulkan hasil penelitian sanad Kegiatan menyimpulkan sanad merupakan kegiatan akhir dari penelitian sanad hadis. Hasil penelitian berupa natijah (konklusi). Dalam mengemukakan natijah harus disertai argumen-argumen yang jelas. Isi natijah untuk hadis yang dilihat dari segi jumlah periwayatnya mungkin berupa pernyataan bahwa hadis yang bersangkutan berstatus mutawatir, dan bila tidak demikian maka hadis tersebut berstatus ahad. Untuk hasil penelitian hadis ahad, maka natijah-nya mungkin berisi pernyataan bahwa hadis yang bersangkutan berkualitas shahîh atau hasan atau dha`îf sesuai dengan apa yang telah diteliti.

Ibid., h. 88. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, h. 258. Lihat Fathur Rahman, Ikhtishar Mushthalah Hadis, h. 187.

107

58

2. Langkah-langkah penelitian matan Matan secara bahasa adalah apa yang tampak, dan apa yang tertancap dari bumi dan meninggi ke atas. Dalam ilmu hadis, matan adalah suatu perkataan berakhir dari sanad sebuah hadis. 108 Di antara langkah-langkah dalam penelitian matan suatu hadis yaitu:

a. Meneliti matan hadis dengan melihat kualitas sanadnya. Dalam kegiatan penelitian hadis, ulama hadis mendahulukan penelitian sanad atas penelitian matan. Langkah penelitian yang dilakukan oleh ulama hadis tersebut tidaklah berarti bahwa sanad lebih penting dari pada matan. Bagi ulama hadis, sanad dan matan merupakan bagian yang penting dalam penelitian hadis, hanya saja penelitian matan akan mempunyai arti apabila sanad bagi matan hadis yang bersangkutan telah jelas-jelas memenuhi syarat sebagai sanad yang shahih. Tanpa adanya sanad, maka suatu matan hadis tidak dapat dinyatakan sebagai hadis yang berasal dari Nabi.109

1) Kualitas matan tidak selalu sejalan dengan kualitas sanad Menurut ulama hadis, suatu hadis barulah dinyatakan berkualitas shahih apabila sanad dan matan hadisnya sama-sama berkualitas shahih. 110 Kualitas sanad dan matan hadis Nabi cukup

Badrân al-`Ainain Badrân, Al-Hadîts al-Nabawî al-Syarîf (Tarikhuhu Wa Mushthalâhuhu), h. 10. 109 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 122. 110 Ibid., h. 123.

108

59

bervariasi, ada suatu hadis yang sanad shahih tetapi matannya dha`if atau sebaliknya yakni sanadnya dha`if tetapi matannya shahih. Dengan demikian, hadis yang sanadnya shahih dan matannya tidak shahih atau sebaliknya yakni sanadnya dha`if dan matannya shahih tidak dinyatakan sebagai hadis shahih. Apabila terjadi di dalam penelitian hadis, sanadnya shahih tetapi matannya dha`if mungkin terjadi beberapa faktor yang telah terjadi. Karena kaedah keshahihan sanad hadis mempunyai tingkat akurasi yang tinggi terhadap shahih tidaknya sebuah hadis. Di antara faktor yang menyebabkan kejadian penelitian yang demikian yaitu: - Karena telah terjadi kesalahan dalam melaksanakan penelitian matan hadis, misalnya kesalahan dalam menggunakan pendekatan ketika melakukan penelitian matan. - Karena telah terjadi kesalahan dalam melakukan penelitian sanad hadis. - Karena matan yang bersangkutan telah mengalami periwayatan secara makna yang ternyata mengalami kesalahpahaman.111 Dengan kemungkinan adanya kesalahan yang terjadi, maka penelitian ulang terhadap sanad dan matan hadis tidak hanya bersifat konfirmatif semata, akan tetapi memang sebuah keharusan dan sangat penting.

111

Ibid., h. 124.

60

2) Kaedah keshahihan matan sebagai acuan Menurut Syuhudi Ismail, unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh suatu matan yang berkualitas shahih ada dua macam yaitu: terhindar dari syudzudz (kejanggalan) dan terhindar dari `illat (cacat). 112 Akan tetapi para ulama yang lain dalam menentukan keshahihan hadis menggunakan tolok ukur yang bermacam-macam. Di antaranya alKhathîb al-Baghdâdî (w. 463 H. / 1072 M.), menurutnya seperti yang dikutip Syuhudi Ismail bahwa suatu matan hadis dinyatakan maqbul atau diterima apabila: - Tidak bertentangan dengan hukum al-Qur'an yang telah muhkam (ketentuan hukum yang telah tetap). - Tidak bertentangan dengan hadis mutawatir. - Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama salaf (masa lalu). - Tidak bertentangan dengan hadis ahad yang kualitas keshahihannya lebih kuat.113 Di samping itu, Ibnu al-Jauzî (w. 597 H. / 1210 M.) seperti yang dikutip Syuhudi Ismail mengatakan bahwa setiap hadis yang bertentangan dengan akal ataupun berlawanan dengan ketentuan pokok agama, maka ketahuilah bahwa hadis itu adalah hadis yang palsu.114 Selanjutnya Shalâh al-Dîn al-Dhâbî menyimpulkan bahwa tolok ukur untuk penelitian matan ada empat macam yaitu:
112 113

Ibid., h. 124. Ibid., h. 127. 114 Ibid., h. 128.

61

- Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur'an. - Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat. - Tidak bertentangan dengan akal, indera, dan sejarah. - Susunan periwayatannya menunjukkan ciri-ciri sabda Nabi.115 Begitu juga menurut al-Zuhrî, ada beberapa ciri yang bisa dijadikan patokan tentang palsunya suatu matan hadis yaitu: - Kelemahan lafazh yang terdapat dalam matan. Artinya orang yang mengetahui betul makna ungkapan bahasa Arab ketika menjumpai kata tertentu maka akan mengatakan bahwa kalimat seperti ini mustahil keluar dari orang fasih, terlebih-lebih Nabi. - Kelemahan kandungan hadis. Artinya kandungan hadis

bertentangan temuan rasional, tanpa ada kemungkinan takwil. Misalnya, sebuah hadis “sesungguhnya kapal Nabi Nuh itu melakukan thawaf di Ka`bah tujuh kali dan shalat di Maqam Ibrahim dua raka`at". - Bertentangan dengan nash al-Qur'an atau hadis mutawatir. Hadis yang mengatakan “anak hasil zina tidak akan masuk syurga hingga tujuh turunan" bertentangan dengan ayat “seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain". - Hadis yang menggambarkan bahwa para sahabat sepakat

menyembunyikan ajaran Nabi. - Hadis yang isinya bertentangan dengan bukti-bukti sejarah.

115

Ibid., h. 128-129.

62

- Hadis yang isinya sesuai dengan pendapat madzhab periwayatnya, sedangkan periwayat tersebut dikenal sangat fanatik terhadap madzhabnya. - Hadis yang mengandung informasi tentang pahala yang amat berlebihan atas perbuatan kecil atau siksa yang amat berlebihan pula atas dosa yang kecil.116 Dengan uraian di atas, dapatlah dinyatakan bahwa walaupun unsur-unsur kaedah keshahihan matan hadis hanya dua macam yakni terhindar dari syudzudz (kejanggalan) dan terhindar dari illat (cacat), tetapi aplikasinya dapat berkembang dan menuntut adanya pendekatan dengan tolok ukur sesuai dengan keadaan matan yang diteliti. Akan tetapi jika dilihat dari proses penilaian keshahihan matan, maka pendapat al-Khathîb al-Baghdâdî dan Shalâh al-Dîn al-Dhâbî lebih akomodatif untuk digunakan dalam penilaian sebuah matan hadis. Hal ini karena di dalam pernyataan mereka menggunakan pendekatan dengan al-Qur'an dan hadis mutawatir atau yang lebih shahih dalam menilai hadis serta dengan pendekatan akal, indera dan sejarah sehingga penilaian matan hadis akan menjadi relevan.

116

Muh. Zuhri, Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis, h. 74-77.

63

3) Meneliti susunan matan yang semakna a) Terjadinya perbedaan lafazh Salah satu sebab terjadinya perbedaan lafazh pada matan hadis yang semakna ialah karena dalam periwayat hadis telah terjadi periwayatan secara makna. Menurut ulama hadis, perbedaan lafazh yang tidak mengakibatkan perbedaan makna asalkan sanadnya sama-sama shahih, maka hal itu masih ditolerir.117 Akibat terjadinya perbedaan lafazh, maka metode

muqaranah (perbandingan) menjadi sangat penting. Dengan melakukan metode muqaranah, maka akan dapat diketahui apakah terjadinya perbedaan lafazh pada matan masih dapat ditoleransi atau tidak.118

b) Ziyadah, Idraj dan lain-lain Dengan metode muqaranah juga, akan dapat diketahui kemungkinan adanya ziyadah, idraj dan lain-lain yang dapat berpengaruh terhadap kehujahan suatu matan hadis. Dalam penelitian matan hadis, ziyadah, idraj dan lain-lain sangat penting. Secara bahasa, ziyadah adalah tambahan. Menurut ilmu hadis, ziyadah pada matan ialah tambahan lafazh atau kalimat (pernyataan) yang terdapat pada matan, tambahan tersebut dikemukakan oleh periwayat tertentu sedangkan periwayat tertentu
117 118

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 131. Ibid., h. 134.

64

lainnya tidak mengemukakannya. 119 Menurut Ibnu Shalâh yang dikutip oleh Syuhudi Ismail, bahwa ziyadah itu ada tiga macam yaitu: - Ziyadah yang berasal dari periwayat yang tsiqah yang isinya bertentangan dengan yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang tsiqah juga. Ziyadah seperti ini ditolak. - Ziyadah yang berasal dari periwayat yang tsiqah yang isinya tidak bertentangan dengan yang dikemukakan oleh banyak

periwayat yang tsiqah juga. Ziyadah seperti ini diterima. - Ziyadah yang berasal dari periwayat yang tsiqah berupa sebuah lafazh yang mengandung arti tertentu, sedang para periwayat lainnya yang bersifat tsiqah juga tidak mengemukakannya.120 Adapun idraj, secara bahasa merupakan isim mashdar dari kata adraja yang artinya: memasukkan atau menghimpunkan. Menurut pengertian secara istilah ilmu hadis, idraj berarti memasukkan pernyataan yang berasal dari periwayat ke dalam suatu matan hadis. 121 Perbedaan antara ziyadah dan idraj yaitu idraj berasal dari diri periwayat, sedangkan ziyadah (yang sesuai syarat) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari matan hadis.

119 120

Ibid, h. 135. Ibid., h. 137. 121 Ibid., h. 138.

65

c) Meneliti kandungan matan (1) Membandingkan kandungan matan yang sejalan Setelah susunan lafazh diteliti, maka langkah berikutnya adalah meneliti kandungan matan. Dalam meneliti kandungan matan, perlu diperhatikan matan-matan dan dalil-dalil yang mempunyai topik masalah yang sama. Apabila ada matan lain yang topiknya sama, maka perlu diteliti sanadnya. Apabila sanadnya memenuhi syarat, maka kegiatan muqaranah dilakukan. Apabila kandungan matan yang diperbandingkan ternyata sama, maka dapatlah dikatakan bahwa kegiatan penelitian berakhir. Dalam prakteknya, kegiatan penelitian biasanya masih perlu dilakukan yaitu dengan memeriksa penjelasan masing-masing matan di berbagai kitab syarah hadis untuk diketahui lebih jauh tentang matan yang diteliti dan hubungannya dengan dalil-dalil lain.122

(2) Membandingkan kandungan matan yang tidak sejalan atau tampak bertentangan Sesungguhnya tidak mungkin hadis Nabi bertentangan dengan hadis Nabi yang lain ataupun dengan dalil-dalil dari alQur'an. Sebab apa yang dikemukakan Nabi, baik berupa hadis maupun ayat al-Qur'an sama-sama dari Allah. Namun pada

122

Ibid., h. 141.

66

kenyataannya, ada sejumlah hadis Nabi yang tampak tidak sejalan dengan atau tampak bertentangan dengan hadis yang lain ataupun dengan ayat al-Qur'an. Dalam menyelesaikan matan hadis tentang hadis-hadis yang tampak bertentangan, ulama berbeda pandangan: - Ibnu Hazm mengatakan bahwa matan-matan hadis harus diamalkan, karena dia menekankan perlunya penggunaan metode istisna` (pengecualian) dalam penyelesaian itu. - Menurut al-Syâfi`î, kemungkinan hadis-hadis yang tampak bertentangan itu mengandung petunjuk bahwa matan yang satu bersifat global (mujmal) sedang yang satunya lagi bersifat rinci (mufassar), mungkin yang satu bersifat umum (`amm) sedang yang satunya lagi bersifat khusus (khas), mungkin yang satu bersifat penghapus (nasikh) sedang yang satunya lagi yang dihapus (mansukh). - Shihâb al-Dîn menempuh dengan cara tajrih (mencari argumen yang lebih kuat). - Al-Thahâwanî menempuh cara al-nasikh dan al-mansukh. - Shalâh al-Dîn ibn Ahmad al-Dhâbî menempuh cara aljam`u, kemudian al-tajrih. - Ibnu Hajar al-`Asqolânî menempuh empat tahap yakni aljam`u, al-nasikh dan al-mansukh, al-tajrih, al-tauqif

67

(menunggu sampai ada petunjuk atau dalil yang dapat menyelesaikan atau menjernihkannya).123 Dalam menyelesaikan masalah hadis yang tampak bertentangan, pendapat dari Ibnu Hajar al-`Asqolânî lebih akomodatif. Hal ini karena dalam praktek penelitian matan, keempat tahap atau cara itu memang dapat memberikan alternatif yang lebih hati-hati dan relevan dalam menyelesaikan hadis yang tampak bertentangan.

123

Ibid., h. 138.

68

BAB III DESKRIPSI HADIS DAN BIOGRAFI RAWI

A. Teks seluruh hadis Hadis Nabi tentang akibat meninggalkan hutang di dunia diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam kitab Shahîh al-Bukhârî dalam bab nafaqah124 dan bab hutang.125 Di samping itu penulis juga melakukan pelacakan hadis tersebut dalam kitab Mu`jam Mufahras melalui metode takhrij dengan melalui kata-kata dalam matan hadis tersebut yaitu kata al-dain, yang mana penulis mencari hadisnya dengan melalui kata asal dari al-dain yakni dânayadînu,
126

maka penulis pun mendapati bahwa hadis ini tidak hanya

diriwayatkan oleh Imam al-Bukhârî, akan tetapi diriwayatkan oleh banyak mukharrij. Berikut ini adalah seluruh teks hadis tersebut:

1. Hadis Riwayat al-Bukhârî

ِ ْ َ ٍ َ ِ ِ ْ َ ٍ َ ْ َ ُ ْ ‫َ د َْ َ ِ َ ٍْ َ د‬ ‫ح َّثَنَا َيَي بْن بُكْي ح َّثَنَا الَّليث عن عُقْيل عن ابْن شياب عن أَِب‬ ِ ِ ِ َْ َ َ ‫سلَمةَ عن أَِب ىريْرة رضى اهللُ عْنوُ: أَن رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ َ ْ ُ َ َّ َ َ َ ََ َ َ َ ََ َ ُ ‫كان يُؤتى بِالرجل الْمتَ وىف علَْيو َّيْن, فَسأَل: ىل تَرك لِديْنِو فَضال؟‬ ً ْ ِ َ َ َ ْ َ َ َ ُ ‫َ َ ْ َ َّ ُ ِ ُ َ َّ َ ِ الد‬ ِ ِ َ ِ ‫فَاِن ح ِّث أَنَّوُ تَرك لِديْنِو وفَاءً صلَّى, واَِّل قَال لِْلمسلِمْي: ((صلُّوا علَى‬ َ ‫ْ ُد‬ َ َْ َ ْ ْ ُ َ َّ َ َ َ َ ِ ِ ِ ‫صا حبِكم)) فَلَما فَتَح اهللُ علَْيو الْفتُوح قَال: ((أَنَا أَوَل بِاْملُؤمنِْي من‬ َ َْ ُ ِ َ َ ْ َْ ْ َ ْ َ َّ ُْ
124

Lihat Abû `Abdullâh Muhammad ibn Ismâ`îl al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî, j. 5, h. Ibid., j. 3, h. 84. Arent Jan Wensinck, Mu’jam Mufahras li al-Alfazh al-Ahadîts al-Nabawî, h. 164.

536.
125 126

69

ِ ِ ِ ً‫أَنْفسيم, فَمن تُوىف من الْمؤمنِْي فََتك ديْناً فَعلَى قَضاؤهُ, ومن تَرك ماَّل‬ َ َ َ ْ َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ ْ ْ ُ َ َ ِ ُ ْ َ ْ ِ ُ 127 ِ ‫فل ِ ت‬ .‫َِورثَِو)) رواه البخارى‬
Artinya: “Menceritakan kepada kami Yahya ibn Bukair, menceritakan kepada kami al-Laits dari `Uqail dari Ibnu Syihâb dari Abû Salamah dari Abû Hurairah ra.: sesungguhnya didatangkan kepada Rasulullah. laki-laki yang meninggal dan mempunyai tanggungan hutang. Maka Rasulullah. bertanya: apakah dia meninggalkan sesuatu (kelebihan harta) untuk hutangnya? jika dikatakan bahwa dia meninggalkan harta yang bisa menutupi hutangnya, Nabi pun akan menshalatkannya. Kalau seandainya tidak ada yang menanggung hutangnya, Nabi berkata kepada kaum muslimin: shalatkanlah kalian semua saudara kalian ini (jenazah yang mempunyai hutang). Maka ketika Allah memberikan kemenangan dengan berbagai penaklukan, maka Nabi bersabda: saya lebih berhak terhadap kaum mukmin dari diri mereka. Maka barang siapa yang meninggal dunia dari kaum mukmin terus dia meninggalkan hutang, maka saya yang akan menjadi penanggung hutangnya, kalau seandainya dia meninggalkan harta benda maka untuk ahli warisnya". (HR. al-Bukhârî). Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhârî di Shahîh al-Bukhârî dalam kitab al-kafalah bab hutang juz 3 pada no hadis 2298 dan di dalam kitab alnafaqah juz 5 pada hadis no 5371.

2. Hadis Riwayat Muslim

ٍ ْ ْ َ ِّ ِ َ ٍ َ ْ َ ‫ح َّثَنَا زىْي ر ابْن حْرب ح َّثَنَا أَبُو صفوان اْألُموي عن يُونُس اْألَيْلِي ح و‬ ‫َد َُ ُ ُ َ ٍ َد‬ َ ِّ ٍْ ِ ‫حدثَِن حْرملَةُ بْن َيَي-و للَّفظ لَوُ-, قَال: أَخبَ رنَا عْبد اهللِ بْن وىب‬ ُ ْ َ َ َْ ُ َ َ ِ َّ َ َُ َْ َ َ ِ ْ َ ِ ْ َّ ِ َ ِ َ َ ِ ْ َ ٍ َ ِ ِ ْ َ ْ َ ْ ‫أَخبَ رِِن يُونُس عن ابْن شياب عن أَِب سلَمةَ بْن عْبد الرْحَن عن أَِب‬ ُ ِ ‫ىري رة رضى اهلل عْنو: أَن رسول اهللِ صلَّى اهلل علَي‬ ‫ُ َ ْو وسلَّم كان يُؤتى‬ َ ْ ُ َ َّ ُ َ ُ َ ِ َ ََ َْ ُ َ َ ْ َ َ َ ََ
Lihat Abû `Abdullâh Muhammad ibn Ismâ`îl al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî, j. 3, h. 84 dan j. 5, h. 536.
127

70

‫بِالرجل الْميِّت علَْيو َّيْن, فَيَسأَل: ىل تَرك لِديْنِو من قَضاء؟ فَاِن‬ ْ ٍ َ ْ ِ ِ َ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ‫َّ ُ ِ َ ِ َ ِ الد‬ ِ ))‫حدث أَنَّوُ تَرك وفَاءً صلَّى علَْيو, واَِّل قَال: ((صلُّوا علَى صا حبِكم‬ َ َّ َ ِ َ َ َ َ َ َ ِّ ُ ُْ َ َ ْ َ ِ ِ ِ ‫فَلَما فَتَح اهللُ علَْيو الْفتُوح قَال: ((أَنَا أَوَل بِاْملُؤمنِْي من أَنْفسيم, فَمن‬ َ َْ ُ ِ َ ْ َ ْ ِ ُ ْ َْ ْ َ ْ َ َّ ِ ِ ِ ِ ))‫تُوىف من الْمؤمنِْي فَتَ رك ديْناً فَعلَى قَضاؤهُ, ومن تَرك ماَّلً فَيو لِورثَتِو‬ َ ُ َ َ َ ْ َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ ْ ْ ُ َ َِّ ُ 128 .‫رواه مسلم‬
Artinya: "Menceritakan kepada kami Zuhair ibn Harb menceritakan kepada kami Abû Shafwân al-Umawiyyi dari Yûnus al-`Ailî, dan juga telah menceritakan kepada kami Harmalah ibn Yahya adapun lafazh dari dia, berkata: mengkhabarkan kepada kami `Abdullâh ibn Wahab, mengkhabarkan kepada kami Yûnus ibn Syihâb dari Abû Salamah ibn `Abd al-Rahman dari Abû Hurairah ra.: sesungguhnya didatangkan kepada Rasulullah laki-laki yang meninggal dan mempunyai tanggungan hutang. Maka Rasulullah bertanya: apakah dia meninggalkan sesuatu (tanggungan) untuk hutangnya? jika dikatakan bahwa dia meninggalkan tanggungan yang bisa menutupi hutangnya, Nabi pun akan menshalatkannya. Kalau seandainya tidak ada yang menanggung hutangnya, Nabi berkata kepada kaum muslimin: shalatkanlah kalian semua saudara kalian ini (jenazah yang mempunyai hutang). Maka ketika Allah memberikan kemenangan dengan berbagai penaklukan, maka Nabi bersabda: saya lebih berhak terhadap kaum mukmin dari diri mereka. Maka barang siapa yang meninggal dunia dari kaum mukmin terus dia meninggalkan hutang, maka saya yang akan menjadi penanggung hutangnya, kalau seandainya dia meninggalkan harta benda maka untuk ahli warisnya". (HR. Muslim).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahîh Muslim dalam kitab al-farâidh bab barang siapa yang meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya juz 2 pada hadis no 4242.

128

Lihat Muslim ibn al-Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî, Shahîh Muslim, j. 2, h. 58.

71

3. Hadis Riwayat al-Tirmidzî

ِ َّ َ ‫حدثَِن أَبُو اْلفضل مكتُوم بْن اْلعبَّاس قَال حدثَِن عْبد اهللِ ابْن صالِح‬ ٍ َ ُ ُ َ ِ َّ َ َ ِ َ ُ ُ ْ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ْ ٍ َ ِ ِ ْ َ ٌ َ ِ َّ َ ُ ْ ِ َّ َ ‫حدثَِن الَّليث حدثَِن عُقْيل, عن ابْن شياب أَخبَ رِِن أَبُو سلَمةَ عن أَِب‬ ِ َّ ِ ‫ىريْرة: أَن رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم كان يُؤتى بِالرجل الْمتَوىف علَْيو‬ َ ْ ُ َ َّ ََ َ ُ َ َ ُ ِ ُ َّ َ ْ َ َ َ َ َ َ َ ِ ِ َ ‫الديْن, فَيَ قول: ىل تَرك لِديْنِو من فَضل؟ فَاِن ح ِّث أَنَّوُ تَرك لِديْنِو وفَاء‬ َ ‫َّ ُ ُ ْ ُ َ ْ َ َ َ ِ ِ ْ ْ ٍ ْ ُ د‬ َ ً َ ِ ِ ِ ‫صلَّى علَْيو, واَِّل قَال لِلْمسلِمْي: ((صلُّوا علَى صا حبِكم)) فَلَما فَتَح‬ َ ْ ْ ُ َ َّ َ َ َ َ َّ ُْ َ َ ْ َ ِ ِ ِ ِ ِِ ‫اهللُ علَْيو الْفتُوح قَال: ((أَنَا أَوَل بِاْملُؤمنِْي من أَنْفسيم, فَمن تُوىف من‬ َ َْ ُ ِ َ َ َّ ُ ْ َ ْ ُ ْ َ ْ ْ َ ْ ِ ِ ِ ‫الْمؤمنِْي و تَرك ديْناً فَعلَى قَضاؤهُ, ومن تَرك ماَّلً فَلِورثَتِو)) رواه‬ َ َ َ ْ َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ َ ْ ْ ُ 129 .‫الَتمذى‬
Artinya: "Menceritakan kepada saya Abû al-Fadhal Maktûm ibn `Abbâs berkata: menceritakan kepada saya `Abdullâh ibn Shâlih, menceritakan kepada saya al-Laits, menceritakan kepada saya `Uqail dari Ibnu Syihâb, telah mengkhabarkan kepada saya Abû Salamah dari Abû Hurairah ra.: sesungguhnya didatangkan kepada Rasulullah laki-laki yang meninggal dan mempunyai tanggungan hutang. Maka Rasulullah bertanya: apakah dia meninggalkan sesuatu (kelebihan harta) untuk hutangnya? jika dikatakan bahwa dia meninggalkan harta yang bisa menutupi hutangnya, Nabi pun akan menshalatkannya. Kalau seandainya tidak ada yang menanggung hutangnya, Nabi berkata kepada kaum muslimin: shalatkanlah kalian semua saudara kalian ini (jenazah yang mempunyai hutang). Maka ketika Allah memberikan kemenangan dengan berbagai penaklukan, maka Nabi bersabda: saya lebih berhak terhadap kaum mukmin dari diri mereka. Maka barang siapa yang meninggal dunia dari kaum mukmin terus dia meninggalkan hutang, maka saya yang akan menjadi penanggung hutangnya, kalau seandainya dia meninggalkan harta benda maka untuk ahli warisnya". (HR. al-Tirmidzî).

Lihat Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` alShahîh), j. 2, h. 266.

129

72

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzî di Sunan al-Tirmidzî dalam kitab jenazah bab apa yang ada di balik shalat (jenazah) atas orang yang berhutang juz 4 hadis no 1091.

4. Hadis Riwayat Ibnu Mâjah

ٍ ْ ِ ‫ح َّثَنَا أَْحَد بْن عُمر و بْن السْح الْمصرى ح َّثَنَا عْبد اهللِ بْن وىب‬ ُ َ ‫َ د ْ ُ ُ َ ٍ َ ُ َّ رِ ِ ْ ِ ِّ َ د‬ َ ِ ِ َ ُ ِ َْ َ َ ِ َْ ٍ َ ِ َْ ُ ْ َ ْ ُ‫أَخبَ رِِن يُونُس عن ابْن شياب عن أَِب سلَمةَ عن أَِب ىريْرة رضى اهلل‬ َ َ ََ ِ ِ ِ ‫عْنوُ: أَن رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم كان يَقول: اِذا تُوىف اْملُؤمن ِف‬ َ ْ ُ َ َّ َ َ ْ َ ْ َِّ ُ َ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ َ ِ ِ َ ‫عيد رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم و علَْيو َّيْن, فَيَسأَل: ىل تَرك‬ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ‫َ ِ َ َ َ َ َ ِ الد‬ َ ُْ َ ْ ‫لِديْنِو من قَضاء؟ فَاِن قَالوا: نَعم. صلَّى علَْيو واِن قَالُوا: َّلَ. قَال: ((صلُّوا‬ َ ْ َ ِ َ َ َْ ُ ْ ٍ َ ْ ِ ِ َ َْ ِ ‫علَى صا حبِكم)) فَلَما فَتَح اهللُ علَْيو الْفتُوح قَال: ((أَنَا أَوَل بِاْملُؤمنِْي‬ ُ ِ َ َ َ َْ ُ ِ َ َّ َْ ْ َ ْ َ ْ ‫من أَنْفسيم, فَمن تُوىف من الْمؤمنِْي فََتك ديْناً فَعلَى قَضاؤهُ, ومن تَرك‬ َ َ ْ َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ ْ ِ ْ ُ َ ِ َ ِ ُ ْ َ ْ ِ ِ ُ ْ ِ 130 ِ‫ل ِ ت‬ . ‫ماَّلً فَِورثَِو)) رواه ابن ماجو‬ َ
Artinya: "Menceritakan kepada kami Ahmad ibn`Umar dan Ibnu al-Sarh al-Mishri, menceritakan kepada `Abdullâh ibn Wahab, mengkhabarkan kepada saya Yûnus dari Ibnu Syihâb dari Abû Salamah dari Abû Hurairah ra.: sesungguhnya Rasulullah berkata: apabila seorang mukmin yang meninggal pada zaman Rasulullah dan dia mempunyai tanggungan hutang. Maka Rasulullah bertanya: apakah dia meninggalkan sesuatu (tanggungan) untuk hutangnya? jika dikatakan bahwa dia meninggalkan harta yang bisa menutupi hutangnya, Nabi pun akan menshalatkannya. Kalau seandainya tidak ada yang menanggung hutangnya, Nabi berkata kepada kaum muslimin: shalatkanlah kalian semua saudara kalian ini (jenazah yang mempunyai hutang). Maka ketika Allah memberikan kemenangan dengan berbagai penaklukan, maka Nabi bersabda: saya lebih berhak terhadap kaum mukmin dari diri mereka. Maka barang siapa yang meninggal dunia dari kaum mukmin terus dia meninggalkan hutang, maka saya yang akan
130

Lihat Abû Muhammad ibn Yazîd al-Qazwinî, Sunan Ibnu Mâjah, j. 2, h. 807.

73

menjadi penanggung hutangnya, kalau seandainya dia meninggalkan harta benda maka untuk ahli warisnya". (HR. Ibnu Mâjah) Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dalam Sunan Ibnu Mâjah di kitab jenazah bab barang siapa yang meninggalkan hutang atau tanggungan maka atas kepunyaan Allah juz 2 hadis no 2508. Dari seluruh matan tentang hadis akibat meninggalkan hutang di dunia yang ada di atas, terdapat perbedaan lafazh matan hadis. Hal ini dimungkinkan telah terjadi periwayatan secara makna. Di antara perbedaan lafazh tersebut yaitu dalam riwayat al-Bukhârî dengan lafazh ‫ا‬ ‫ ,ًَْ٘ رَشَنَ ٌِذ٠ِٕٗ فَضْ ال ؟‬dalam riwayat Muslim dengan lafazh ‫ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ لَضبء‬ ٍ َ ْ ِ ِ َْ َ َ ِ َْ ْ ِ ِ َْ َ َ ‫ ؟‬dalam riwayat al-Tirmidzî dengan lafazh ‫ , ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ فَضْ ً ؟‬dalam ٍ riwayat Ibnu Mâjah dengan lafazh ‫. ًَْ٘ رَشَنَ ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ لَضبء ؟‬ ٍ َ ْ ِ ِ َْ

‫47‬

‫‪B. I`tibar sanad‬‬ ‫‪1. Sanad di kitab Shahîh al-Bukhârî dalam kitab al-kafalah dan al‬‬‫‪nafaqah‬‬

‫ِ‬ ‫رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ ‫َ ُْ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ََ َ‬
‫قال‬

‫أَبُو ىريْرة‬ ‫ُ َ ََ‬
‫عن‬

‫أَبُو سلَمةَ‬ ‫ََ‬
‫عن‬

‫ُ ِ َ ٍ ُّ ْ ِ‬ ‫ابْن شياب الزىرى‬
‫عن‬

‫عُقْيل‬ ‫َ ٌ‬
‫عن‬

‫حدثنا‬

‫ٍ‬ ‫الَّليث بْن سعد‬ ‫ْ ُ ُ ََ‬ ‫َ ٍْ‬ ‫َيَي بْن بُكْي‬ ‫َْ َ ُ‬

‫حدثنا‬

‫َِ‬ ‫اْلبُخارى‬

‫57‬

‫‪2. Sanad di kitab Shahîh Muslim dalam kitab al-farâidh‬‬

‫ِ‬ ‫رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ ‫َ ُْ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ََ َ‬
‫لبي‬

‫عٓ‬

‫أَبُو ىريْرة‬ ‫ُ َ ََ‬

‫َ َ ِ َ ِ َّ ْ ِ‬ ‫أَبُو سلَمةَ بْن عْبد الرْحَن‬
‫عٓ‬

‫ُ ِ َ ٍ ُّ ْ ِ‬ ‫ابْن شياب الزىرى‬
‫عٓ‬

‫ْ ٍ‬ ‫يُونُس اْألَيْلِي‬ ‫ِّ‬
‫اخجشٔٝ‬ ‫عٓ‬

‫ٍَ‬ ‫عْبد اهللِ ابْن وىب‬ ‫َُ‬ ‫َُ‬
‫دذصٕٝ‬

‫أَبُو صفوان اْألُموي‬ ‫َ ْ َ ٍ َ ِ ِّ‬
‫دذصٕب‬

‫ح ْرملَةُ بْن َيَي‬ ‫َ َ ُ َْ َ‬
‫دذصٕب‬

‫ٍ‬ ‫زىْي ر ابْن ح ْرب‬ ‫َُ ُ ُ َ‬
‫دذصٕب‬

‫مسلِم‬ ‫ُْ ُ‬

‫67‬

‫‪3. Di Kitab Sunan al-Tirmidzî‬‬

‫‪4. Di Kitab Sunan Ibnu Mâjah‬‬

‫ِ‬ ‫رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ ‫َ ُْ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ََ َ‬
‫لبي‬

‫ِ‬ ‫رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ ‫َ ُْ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ََ َ‬
‫لبي‬

‫عٓ‬

‫أَبُو ىريْرة‬ ‫ُ َ ََ‬

‫أَبُو ىريْرة‬ ‫ُ َ ََ‬

‫عٓ‬

‫اخجشٔٝ‬

‫أَبُو سلَمةَ‬ ‫ََ‬

‫أَبُو سلَمةَ‬ ‫ََ‬

‫عٓ‬

‫ُ ِ َ ٍ ُّ ْ ِ‬ ‫ابْن شياب الزىرى‬
‫عٓ‬

‫ُ ِ َ ٍ ُّ ْ ِ‬ ‫ابْن شياب الزىرى‬
‫عٓ‬

‫دذصٕٝ‬

‫عُقْيل‬ ‫َ ٌ‬

‫ْ ٍ‬ ‫يُونُس‬
‫اخجشٔٝ‬

‫ٍ‬ ‫الَّليث بْن سعد‬ ‫ْ ُ ُ ََ‬
‫دذصٕٝ‬

‫ٍَ‬ ‫عْبد اهللِ ابْن وىب‬ ‫َُ‬ ‫َُ‬
‫دذصٕب‬ ‫دذصٕب‬

‫عْبد اهللِ ابْن صالِح‬ ‫ُ َ ٍ‬ ‫َُ‬
‫دذصٕٝ‬

‫َ ْ ِ َك ْ ُ ُ َ ِ‬ ‫أَبُو اْلفضل م ْتُوم بْن اْلعبَّاس‬
‫دذصٕٝ‬

‫ابْن الس ْح الْمصرى‬ ‫ُ َّ رِ ِ ْ ِ ِّ‬
‫دذصٕب‬

‫ْ ُ ُ ٍَ‬ ‫أَْحَد بْن عُمر‬

‫ِِ‬ ‫التِّرمذى‬ ‫ْ‬

‫ابْن ماجو‬ ‫ُ َ َْ‬

‫77‬

‫‪C. Skema Seluruh Sanad Hadis Tentang Akibat Meninggalkan Hutang Di‬‬ ‫‪Dunia‬‬

‫ِ‬ ‫رسول اهللِ صلَّى اهللُ علَْيو وسلَّم‬ ‫َ ُْ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ََ َ‬
‫لبي‬

‫أَبُو ىريْرة‬ ‫ُ َ ََ‬
‫عٓ‬

‫َ َ ِ َ ِ َّ ْ ِ‬ ‫أَبُو سلَمةَ بْن عْبد الرْحَن‬
‫عٓ‬ ‫اخجشٔٝ‬

‫ُ ِ َ ٍ ُّ ْ ِ‬ ‫ابْن شياب الزىرى‬
‫عٓ‬ ‫عٓ‬

‫عٓ‬

‫عُقْيل‬ ‫َ ٌ‬

‫ْ ٍ‬ ‫يُونُس اْألَيْلِي‬ ‫ِّ‬
‫دذصٕٝ‬ ‫اخجشٔٝ‬ ‫عٓ‬

‫ٍ‬ ‫الَّليث بْن سعد‬ ‫ْ ُ ُ ََ‬
‫دذصٕب‬

‫دذصٕٝ‬

‫ٍَ‬ ‫عْبد اهللِ ابْن وىب‬ ‫َُ‬ ‫َُ‬ ‫ٍَ‬ ‫ابْن وىب‬ ‫َُ‬
‫دذصٕب‬ ‫دذصٕب‬ ‫دذصٕٝ‬

‫أَبُو صفوان اْألُموي‬ ‫َ ْ َ ٍ َ ِ ِّ‬
‫دذصٕب‬

‫َ ٍْ‬ ‫َيَي بْن بُكْي‬ ‫َْ َ ُ‬
‫دذصٕب‬

‫عْبد اهللِ ابْن صالِح‬ ‫ُ َ ٍ‬ ‫َُ‬
‫دذصٕٝ‬

‫ٍ‬ ‫زىْي ر ابْن ح ْرب‬ ‫َُ ُ ُ َ‬
‫دذصٕب‬

‫َك ْ ُ ُ َ ِ‬ ‫م ْتُوم بْن اْلعبَّاس‬
‫دذصٕٝ‬

‫ابْن الس ْح الْمصرى‬ ‫ُ َّ رِ ِ ْ ِ ِّ‬
‫دذصٕب‬

‫ح ْرملَةُ بْن َيَي‬ ‫َ َ ُ َْ َ‬ ‫ْ ُ ُ ٍَ‬ ‫أَْحَد بْن عُمر‬
‫دذصٕب‬ ‫دذصٕب‬

‫َِ‬ ‫اْلبُخارى‬

‫ِِ‬ ‫التِّرمذى‬ ‫ْ‬

‫ابْن ماجو‬ ‫ُ َ َْ‬

‫مسلِم‬ ‫ُْ ُ‬

78

Penjelasan tentang skema: Dalam mengemukakan riwayat, al-Bukhârî menyandarkan

riwayatnya kepada Yahya ibn Bukair. Nama periwayat yang disandarkan al-Bukhârî yaitu Yahya ibn Bukair, dalam ilmu hadis disebut sebagai sanad pertama. Dengan demikian sanad terakhir dalam riwayat al-Bukhârî adalah Abû Hurairah yang berposisi sebagai periwayat pertama karena dia adalah sahabat Nabi yang berstatus sebagai pihak pertama riwayat hadis tersebut. Dengan demikan, periwayat terakhir adalah al-Bukhârî. Berikut ini adalah seluruh urutan sanad dan urutan periwayat dari hadis riwayat alBukhârî: Nama Periwayat Abû Hurairah Abû Salamah Ibnu Syihâb al-Zuhrî `Uqail Al-Laits ibn Sa`ad Yahya ibn Bukair Al-Bukhârî Urutan Sebagai Periwayat Periwayat 1 Periwayat 2 Periwayat 3 Periwayat 4 Periwayat 5 Periwayat 6 Periwayat 7 Urutan Sebagai Sanad Sanad 6 Sanad 5 Sanad 4 Sanad 3 Sanad 2 Sanad 1 Mukharrij

Selanjutnya dalam riwayat Muslim, terdapat huruf ‫ ح‬dalam riwayat sanadnya yang berarti adalah ‫ اٌزذٛ٠ً ِٓ االصٕبد اٌٝ االصٕبد‬yang artinya

79

perpindahan dari sanad yang satu ke sanad yang lain.131 Dengan demikian, dalam riwayat Muslim terdapat dua sanad yakni dari riwayat Zuhair ibn Harb dan Harmalah ibn Yahya. Kedua nama periwayat tersebut dalam ilmu hadis disebut sebagai sanad pertama. Dengan demikian, sanad terakhir dalam riwayat Muslim adalah Abû Hurairah yang berposisi sebagai periwayat pertama, karena dia adalah sahabat Nabi yang berstatus sebagai pihak pertama riwayat hadis tersebut. Adapun periwayat terakhir adalah Muslim. Berikut ini adalah seluruh urutan sanad dan urutan periwayat dari hadis riwayat Muslim: Nama Periwayat Abû Hurairah Abû Salamah Ibnu Syihâb al-Zuhrî Yûnus al-Ailî Abû Shafwân Urutan Sebagai Periwayat Periwayat 1 Periwayat 2 Periwayat 3 Periwayat 4 al- Periwayat 5 Urutan Sebagai Sanad Sanad 6 Sanad 5 Sanad 4 Sanad 3 Sanad 2

Umawiyyi `Abdullâh ibn Wahab Zuhair ibn Harb Harmalah ibn Yahya Muslim Periwayat 5 Periwayat 6 Periwayat 6 Periwayat 7 Sanad 2 Sanad 1 Sanad 1 Mukharrij

131

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 57.

80

Demikian juga dalam al-Tirmidzî, dia menyandarkan riwayatnya kepada Maktûm ibn `Abbâs yang dalam ilmu hadis disebut sebagai sanad pertama. Dengan demikian sanad terakhir dalam riwayat al-Tirmidzî adalah Abû Hurairah yang berposisi sebagai periwayat pertama, karena dia adalah sahabat Nabi yang berstatus sebagai pihak pertama riwayat hadis tersebut. Sedangkan periwayat terakhir adalah al-Tirmidzî. Berikut ini adalah seluruh urutan sanad dan urutan periwayat dari hadis riwayat alTirmidzî: Nama Periwayat Abû Hurairah Abû Salamah Ibnu Syihâb al-Zuhrî `Uqail Al-Laits ibn Sa`ad `Abdullâh ibn Shâlih Maktûm ibn `Abbâs Al-Tirmidzî Urutan Sebagai Periwayat Periwayat 1 Periwayat 2 Periwayat 3 Periwayat 4 Periwayat 5 Periwayat 6 Periwayat 7 Periwayat 8 Urutan Sebagai Sanad Sanad 7 Sanad 6 Sanad 5 Sanad 4 Sanad 3 Sanad 2 Sanad 1 Mukharrij

Begitu juga dalam riwayat Ibnu Mâjah, dia menyandarkan riwayatnya kepada Ahmad ibn`Umar dan Ibnu al-Sarh al-Mishrî. Kedua nama periwayat tersebut dalam ilmu hadis disebut sebagai sanad pertama.

81

Dengan demikian, sanad terakhir dalam riwayat Ibnu Mâjah adalah Abû Hurairah yang berposisi sebagai periwayat pertama, karena dia adalah sahabat Nabi yang berstatus sebagai pihak pertama riwayat hadis tersebut. Sedangkan periwayat terakhir adalah Ibnu Mâjah. Berikut ini adalah seluruh urutan sanad dan urutan periwayat dari hadis riwayat Ibnu Mâjah: Nama Periwayat Abû Hurairah Abû Salamah Ibnu Syihâb al-Zuhrî Yûnus `Abdullâh ibn Wahab Ahmad ibn `Umair Ibnu al-Sarh al-Mishrî Ibnu Mâjah Urutan Sebagai Periwayat Periwayat 1 Periwayat 2 Periwayat 3 Periwayat 4 Periwayat 5 Periwayat 6 Periwayat 6 Periwayat 7 Urutan Sebagai Sanad Sanad 6 Sanad 5 Sanad 4 Sanad 3 Sanad 2 Sanad 1 Sanad 1 Mukharrij

Dari skema di atas, dapat diketahui bahwa periwayat yang berstatus syahid tidak ada. Hal ini disebabkan karena Abû Hurairah (periwayat pertama) merupakan satu-satunya sahabat Nabi yang

meriwayatkan hadis ini. Adapun posisi periwayat kedua dan ketiga pun tidak ada muttabi` (pendukung), karena kedua periwayat ini masingmasing hanya sendiri. Pada posisi periwayat keempat bercabang menjadi

82

dua periwayat yaitu `Uqail, dan Yûnus al-Ailî. Dengan demikian, periwayat keempat yakni `Uqail terdapat muttabi` (pendukung) yaitu Yûnus al-Ailî. Pada posisi periwayat kelima terdapat tiga periwayat yaitu al-Laits ibn Sa`ad, `Abdullâh ibn Wahab dan Abû Shafwân al-Umawiyyi. Dengan demikian, periwayat kelima yakni al-Laits ibn Sa`ad terdapat muttabi` (pendukung) yaitu `Abdullâh ibn Wahab dan Abû Shafwân alUmawiyyi. Pada posisi periwayat yang keenam terdapat enam periwayat yaitu Yahya ibn Bukair, Zuhair ibn Harb, Harmalah ibn Yahya, `Abdullâh ibn Shâlih, Ahmad ibn `Umair dan Ibnu al-Sarh al-Mishri. Dengan demikian, periwayat keenam yakni Yahya ibn Bukair terdapat muttabi` (pendukung) yaitu Zuhair ibn Harb, Harmalah ibn Yahya, `Abdullâh ibn Shâlih, Ahmad ibn `Umair dan Ibnu al-Sarh al-Mishrî. Adapun periwayat yang ketujuh yakni Maktûm ibn `Abbâs, merupakan periwayat yang tidak ada muttabi` (pendukung) karena dia satu-satunya yang meriwayatkan dalam periwayat ketujuh. Mengenai lambang-lambang metode periwayatan yang digunakan para periwayat hadis ini antara lain: ‫ , اخجشٔٝ , اخجشٔب , دذصٕٝ , دذصٕب‬dan ٓ‫. ع‬ Dengan demikian, terdapat perbedaan metode periwayatan yang digunakan oleh para periwayat dalam sanad-sanad hadis tersebut.

83

D. Biografi Periwayat Hadis 1. Biografi periwayat dalam hadis riwayat al-Bukhârî a) Abû Hurairah Nama lengkap beliau adalah Abû Hurairah al-Dausî al-Yamâni seorang sahabat Nabi dan juga merupakan seorang yang hâfidz. Terdapat berbagai macam perbedaan tentang nama Abû Hurairah dan juga tentang nama ayahnya dalam perbedaan yang banyak. Ada yang berkata bahwa nama Abû Hurairah adalah `Abd al-Rahman ibn Shakhr, Ibnu Ghanam, `Aidz, Ibnu `Âmir, Ibnu `Amrû, Sikkîn ibn Razmah ibn Hâni‟, Ibnu Tsarmal, Ibnu Shakhr, `Âmir ibn `Abd alSyams, Ibnu `Umair, Yazîd ibn `Asyraqah, `Abd al-Nahm, `Abd alSyams, `Ubaid ibn Ghanam, `Amrû ibn Ghanam, Sa`îd ibn al-Hârits. Hisyâm ibn al-Kalbî berkata: bahwa nama sebenarnya dari Abû Hurairah adalah `Umair ibn `Âmir ibn Dzi al-Syâri ibn Thârif ibn `Iyân ibn Abû Sha`b ibn Hunaid ibn Sa`ad ibn Tsa`labah ibn Sâlim ibn Fahm ibn Ghanam ibn Daus. Dikatakan bahwa nama Abû Hurairrah pada masa Jahiliyah adalah `Abd al-Syams dengan nama julukannya adalah Abû al-Aswad, maka Nabi memberikan nama kepadanya yakni Abû Hurairah karena kesukaannya terhadap kucing kecil. Dikatakan juga bahwa nama ibunya adalah Maimûnah ibnti Shakhr.132 Abû Hurairah

Ahmad ibn `Alî ibn Hajar al-`Ashqolânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, j. 12, (Bairut: Dâr alShâdir, t.th.), h. 262-263. Lihat Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 22, (Bairut: Dâr al-Fikr, 1994), h. 90-91. Abû `Umar Yûsuf ibn `Abdullâh ibn Muhammad ibn `Abd al-Barr al-Qurthubî, Al-Istî`âb fî Ma`rifat al-Ashhâb, j. 4, (Bairut: Dâr alKutub al-`Ilmiyah, 2002), h. 332.

132

84

lahir pada tahun 600 M. (20 tahun sebelum Hijrah) di Yaman dan wafat 45 tahun kemudian setelah Nabi yakni pada tahun 675 M. / 58 H. dalam usia 78 tahun.133 Adapun rahasia Abû Hurairah dapat memperoleh banyak hadis ialah: Abû Hurairah selalu menghadiri majelis Nabi dan beliau memperoleh doa dari Nabi untuk tidak lupa akan hadis-hadis yang didengarnya dari Nabi. Abû Hurairah gigih sekali dalam usaha mencari ilmu sehingga beliau memperoleh doa dari Nabi supaya tidak akan lupa apa yang telah diketahuinya. Abû Hurairah berjumpa dengan sahabat-sahabat besar dan menerima hadis dari sahabat-sahabat itu. Abû Hurairah hidup lebih lama lagi sesudah Nabi wafat dalam mengembangkan hadis sesudah beliau menjauhkan diri dari pemerintahan.134 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis adalah Nabi (beliau sangat banyak sekali meriwayatkan hadis dari Nabi), Abû Bakar, `Umar, al-Fadhal ibn `Abbâs ibn `Abd al-Muthallib, Ubai ibn

Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, cet. 2, (Jakarta: Djambatan, 2002), h. 407. 134 Hasbi al-Shiddieqi, Sejarah Perkembangan Hadis, cet. 2, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 145.

133

85

Ka`ab, Usâmah ibn Zaid, `Âisyah, Nadhrah ibn Abû Nadhrah alGhafârî, Ka`ab al-Ahbar.135 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: anaknya sendiri yakni al-Muharrar, Ibnu `Abbâs, Ibnu `Umar, Anas, Jâbir, Marwân ibn Hikam, Qabîshah ibn Dzuwaib, Sa`îd ibn Musayyab, Salmân ibn al-Aghar, Qais ibn Abû Hâzim, Mâlik ibn Abû `Âmir al-Ashbahî, Abû Usâmah ibn Sahal ibn Hânif, Abû Durais alKhulânî, Abû `Utsmân al-Nahdî, Abû Sufyân yang merupakan budak dari Ibnu Abû Ahmad, Abû Râfi` al-Shâ`igh, Abû Zar`ah ibn `Amrû ibn Jarîr, al-Aghar Abû Muslim, Ibnu Farîdh, Basar ibn Sa`îd, Basyîr ibn Luhaik, Ba`jah al-Juhnî, Tsâbit ibn `Iyâdh al-Ahnaf, Hafsh ibn `Âshim ibn `Umar ibn al-Khaththâb, Humaid dan Abû Salamah (keduanya) merupakan ibn `Abd al-Rahman ibn `Auf, Humaid ibn `Abd al-Rahman al-Humairî, Handlalah ibn `Alî al-Asalî, Khubâb seorang sahabat dari al-Maqshurah, dan lain sebagainya dari golongan sahabat dan tabi`in.136 Pendapat para kritikus tentang ta`dil dari Abû Hurairah: Al-Bukhâri berkata: bahwa gurunya dalam periwayatan hadis mencapai 800 orang laki-laki atau bisa juga lebih dari itu baik dari golongan ahli ilmu dari sahabat, tabi`in atau sebagainya.

Ahmad ibn `Alî ibn Hajar al-`Ashqolânî, Tahdzîb al-Tahdzîb, j. 12, h. 263. Jamâl alDîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 91. 136 Ibid., h. 263-264. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 91-97.

135

86

-

`Amrû ibn `Alî berkata: bahwa Abû Hurairah masuk Islam pada tahun Khaibar pada bulan Ramadhan tahun 7 H.

-

Al-A`raj berkata: bahwa Abû Hurairah seorang yang paling hafal setiap hadis yang diriwayatkan dari Nabi yang berada di zamannya, dan tidak ada satupun dari sahabat yang seperti dia.

-

Ibnu `Uyaynah dari Hisyâm ibn `Urwah berkata: bahwa Abû Hurairah dan `Aisyah meninggal dunia tahun 57 H.

-

Dhamrah ibn Rabi`ah, Haitsam ibn `Adî dan Abû Ma`syar berkata: bahwa Abû Hurairah meninggal dunia tahun 8 H.

-

Al-Waqidî, Abû `Ubaid dan selain dari keduanya berkata: bahwa Abû Hurairah meninggal dunia pada tahun 9 H., al-Waqidî menambahkan bahwa Abû Hurairah ketika meninggalnya berumur 78 tahun dan dia (Abû Hurairah) sempat menshalati `Âisyah dan Ummu Salamah.137 Pendapat yang dikemukakan oleh Dhamrah ibn Rabi`ah,

Haitsam ibn `Adî, Abû Ma`syar, al-Waqidî, Abû `Ubaid dan lainnya yang mengatakan bahwa Abû Hurairah meninggal pada tahun 8 H. merupakan kekeliruan, begitu juga dengan pendapat bahwa Abû Hurairah sempat menshalati `Âisyah dan Ummu Salamah. Karena Abû Hurairah meninggal pada tahun yang sama dengan `Âisyah yakni

Ibid., h. 264-267. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 97-99. Lihat Muhammad ibn Sa`ad ibn Manî` al-Hâsyimî al-Bashrî atau yang terkenal dengan nama Ibnu Sa`ad, Al-Thabaqat al-Kubra, j. 4, (Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1990), h. 325. Abû `Umar Yûsuf ibn `Abdullâh ibn Muhammad ibn `Abd al-Barr al-Qurthubî, AlIstî`âb fî Ma`rifat al-Ashhâb, h. 332.

137

87

tahun 57 H., sedangkan Ummu Salamahlah yang sempat menshalati `Âisyah karena meninggal pada tahun 61 H. Pendapat para kritikus tentang jarh dari Abû Hurairah: Tidak ada di antara para kritikus yang mengkritik tentang pribadi Abû Hurairah.

b) Abû Salamah Nama lengkap beliau adalah Abû Salamah ibn `Abd al-Rahman ibn `Auf ibn `Auf al-Zuhrî al-Madanî. Ada yang berkata nama beliau adalah `Abdullâh, ada juga yang berkata `Ismâ`îl.138 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: ayahnya sendiri, `Utsmân ibn `Affân, Thalhah, `Ubâdah ibn al-Shâmit (akan tetapi ada yang berkata tidak pernah didengar nama `Ubâdah ibn al-Shâmit sebagai guru beliau), Abû Qatadah, Abû al-Dardâ‟, Ibnu Abû Usaid, Usâmah ibn Zaid, Hasan ibn Tsâbit, Râfi` ibn Khâdij, Tsaubân, Nâfi‟ ibn `Abd al-Hârits, `Abdullâh ibn Salam, Abû Hurairah, `Âisyah, Ummu Salamah, Fathîmah ibn Qais, Rabî`ah ibn Ka`ab al-Aslamî, Mu`âwiyah, Mu`aiqib al-Dusî, `Abdullâh ibn `Adî ibn al-Hamrâ‟, Mu`âwiyah ibn Hikam al-Salamî, al-Mughîrah, Ibnu

Ibid., j. 12, h. 115. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 21, h. 269. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ al-Tab`în wa Man Ba`dahu, j. 1, (Bairut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqâfiyah, 1985), h. 425.

138

88

`Amrû, Ibnu al-`Âshî, Ibnu `Abbâs, dan banyak sekali yang lainnya baik dari golongan sahabat ataupun dari golongan tabi`in.139 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: `Umar, anak dari saudara perempuan beliau yakni Sa`ad ibn Ibrâhîm ibn `Abd al-Rahman, `Abd al-Majîd ibn Suhail ibn `Abd al-Rahman, Zararah ibn Mush`ab ibn `Abd al-Rahman, al-A`raj, `Amrû ibn alHikam ibn Tsaubân, `Urwah ibn al-Zubair, al-Zuhrî, Muhammad ibn Ibrâhîm al-Taimî, Yahya ibn Abû Katsîr, Bukair ibn `Abdullâh ibn alAsyaj, al-Aswad ibn al-`Ala‟ ibn Jarîyah, Abû Shakhra Humaid ibn Ziyâd, Salîm Abû al-Nadhar, Sa`îd al-Maqburî, Abû Hâzim ibn Dînâr, Salamah ibn Kuhail, Sulaimân al-Ahwal, al-Sya`bi, `Abdullâh ibn Abû Lubaid, `Abdullâh ibn Yazîd yang merupakan budak dari al-Aswâd ibn Sufyân, Yahya ibn Sa`îd al-Anshârî, `Abd al-Mâlik ibn `Umair, Abû al-Zinâd, `Abdullâh ibn Fairuz al-Danâj, `Irâq ibn Mâlik, `Amrû ibn Dînâr, dan banyak sekali yang lainnya baik dari golongan sahabat ataupun dari golongan tabi`in.140 Pendapat para kritikus tentang ke-`adil-an Abû Salamah: Disebutkan oleh Ibnu Sa`ad dalam kitab “Thabaqah al-Tsaniyah" dari golongan orang-orang Madinah bahwa Abû Salamah adalah orang yang tsiqah, faqih, banyak hadis yang diriwayatkannya, ibunya adalah Tamadhar binti al-Ashbagh al-Kalbiyah yang

Ibid., h. 115. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 269-270. 140 Ibid., h. 115-116. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 270-271.

139

89

dikatakan bahwa ibunya pernah berjumpa dengan Nabi. Ada yang berkata bahwa Abû Salamah meninggal tahun 94 H. Al-Waqidî berkata: bahwa beliau meninggal pada tahun 104 H. dalam usia 72 tahun. Berkata Mâlik ibn Anas bahwa sesungguhnya kita memiliki seorang ahli ilmu yang nama julukannya adalah Abû Salamah ibn `Abd al-Rahman. Ma`mar dari al-Zuhrî berkata: ada empat orang dari suku Quraisy yang saya dapatkan di antaranya al-Haura‟ ibn al-Musayyab, `Urwah, `Ubaidillâh ibn `Abdullâh ibn `Utbah, Abû Salamah ibn `Abd al-Rahman. `Uqail dari al-Zuhrî berkata: berkata kepada saya Ibrâhîm ibn `Abdullâh ibn Qâridz ketika itu saya berada di Mesir, kamu telah meninggalkan dua orang laki-laki dari kaum kamu yang tidak ada yang lebih alim tentang hadis Nabi dari mereka berdua yakni `Urwah ibn al-Zubair dan Abû Salamah. Auza`î berkata: bahwa Abû Salamah adalah seorang imam yang tsiqah. Ibnu Hibbân berkata: dalam kitab al-Tsiqât bahwa Abû Salamah adalah salah satu dari pemuka kaum Quraisy yang meninggal pada tahun 94 H., akan tetapi ada yang berkata bahwa beliau meninggal pada tahun 104 H.

90

-

Ibnu `Abd al-Birr berkata: bahwa Abû Salamah adalah seorang yang paling shahih dari golongan ahli nasab.

-

`Alî ibn al-Madînî, Ahmad Ibnu Ma`în, Abû Hâtim, Ya`qûb ibn Syaibah, Abû Dâwud berkata: bahwa hadis Abû Salamah yang diriwayatkan dari ayahnya adalah hadis yang mursal.

-

Abû Zar`ah berkata: bahwa riwayat Abû Salamah dari Abû Bakar adalah riwayat yang mursal.

-

Ibnu Hajar al-`Asqolânî berkata: bahwa ketika ada yang mengatakan bahwa Abû Salamah tidak pernah mendengar dari Thalhah dan juga `Ubadah ibn al-Shâmit, maka ketika Abû Salamah tidak pernah mendengar dari Thalhah tidaklah benar karena diriwayatkan oleh Ibnu Abû Khaitsamah dan al-Duri dari Ibnu Ma`in. Pendapat para kritikus tentang jarh Abû Salamah:

-

Ahmad berkata: bahwa Abû Salamah meninggal dunia dalam keadaan masih kecil.

-

Abû Hâtim berkata: bahwa tidak shahih untuk kita (dalam periwayatan hadis), begitu juga kebanyakan yang lain yang belum pernah mendengarkan dia meriwayatkan hadis.

-

Ibnu `Abd al-Birr berkata: bahwa Abû Salamah tidak pernah meriwayatkan hadis dengan sima`ah dari ayahnya, adapun hadis yang diriwayatkan al-Nadhar ibn Syaibân yang meriwayatkan

91

hadis dari Abû Salamah yang meriwayatkan dari ayahnya tidak shahih menurut kebanyakan orang. Ahmad berkata: bahwa Abû Salamah tidak pernah meriwayatkan dengan sima`ah dari Abû Musa al-Asy`ari. Abû Hâtim berkata: bahwa beliau tidak pernah mendengar dari Ummu Habîbah. Al-Azdî berkata: bahwa beliau belum begitu kuat pendengarannya ketika meriwayatkan dari Salamah ibn Shakhr al-Bayâdh. Al-Bukhârî berkata: bahwa riwayat Abû Salamah dari `Umar adalah riwayat yang munqathi`. Ibnu Bathal berkata: bahwa Abû Salamah tidak pernah mendengar riwayat dari `Amrû ibn Umayyah.141

c) Ibnu Syihâb al-Zuhrî Nama lengkap beliau adalah Muslim ibn `Ubaidillâh ibn `Abdullâh ibn Syihâb ibn `Abdullâh ibn al-Hârits ibn Zahrah ibn Kilâb ibn Marrah al-Qurasyiyyi al-Zuhrî. Beliau merupakan seorang yang faqih. Julukannya adalah Abû Bakar al-Hâfizh al-Madanî. Beliau juga merupakan salah satu imam yang alim yang berada di Hijaz dan Syam. Ibunya berasal dari Bani al-Dîl. Nama ibunya adalah Binti Ahbân ibn Afdhâ ibn `Urwah ibn Shakhr ibn Ya`mar ibn Nafâtsah ibn `Adî ibn al-

Ibid., h. 116-118. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 271-273. Lihat Muhammad ibn Sa`ad ibn Manî` al-Hasyimî al-Bashrî atau yang terkenal dengan nama Ibnu Sa`ad, Al-Thabaqat al-Kubra, j. 5, h. 155. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ al-Tabi`în wa Man Ba`dahu, h. 425.

141

92

Dîl ibn Bakar. Al-Zuhrî Bertempat tinggal di Syam. Dalam kitab-kitab hadis beliau ini sering disebut al-Zuhrî dan sering pula ia disebut Ibnu Syihâb. Al-Zuhrî tergolong sebagai tabi`in kecil.142 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: `Abdullâh ibn `Umar ibn al-Khaththâb, `Abdullâh ibn Ja`far, Rabî`ah ibn `Ibâd, al-Maswar ibn Makhramah, `Abd al-Rahmân ibn Azhar, `Abdullâh ibn `Âmir ibn Rabî`ah, Sahal ibn Sa`ad, Anas, Jâbir, Abû alThufail, al-Sâib ibn Yazîd, Mahmûd ibn al-Rabî`, Muhammad ibn Lubaid, Tsa`labah ibn Abû Mâlik, Sinîn ibn Abû Jamîlah, Abû Amâmah ibn Sahal ibn Hanîf, Qabîshah ibn Dzuwaib, Mâlik ibn Aus ibn al-Hadatsân, Abû Idris al-Khûlâni, `Abdullâh ibn al-Hârits ibn Naufal, Ibrâhîm ibn `Abdullâh ibn Hunain, `Âmir ibn Sa`ad ibn Abû Waqâsh, Isma`îl ibn Muhammad ibn Sa`ad, Ja`far ibn `Amrû ibn Umayyah al-Hasan, `Abdullâh ibn Muhammad ibn al-Hanafiyah, Hashîn ibn Muhammad al-Sâlamî, Harmalah budak dari Usâmah, Hamzah, `Abdullâh, `Ubaidillâh, Sâlim ibn `Abdullâh ibn `Amrû, Khârijah ibn Zaid ibn Tsâbit, dan lain sebagainya.143 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: `Atha‟ ibn Abû Rabbâh, Abû al-Zubair al-Makki, `Umar ibn `Abd al`Azîz, `Amrû ibn Dînâr, Shâlih ibn Kaisân, Abân ibn Shâlih, Yahya ibn Sa`îd al-Anshârî, Ibrâhîm ibn Abû `Ablah, Yazîd ibn Abû Habîb,

Ibid., j. 9, h. 445. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 17, h. 220. Lihat Hasbi al-Shiddieqi, Sejarah Perkembangan Hadis, h. 158. 143 Ibid., h. 446. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 220-223.

142

93

Ja`far ibn Rabî`ah, Muhammad ibn `Alî ibn al-Husain, Yazîd ibn alHâd, Muhammad ibn al-Munkadar, Manshûr ibn al-Mu`tamar, Mûsa ibn `Uqbah Hisyâm ibn `Urwah, Mâlik, Ma`mar al-Zubaidî, `Uqail, Syu`aib ibn Abû Hamzah, Ibnu Abû Dzi‟bi, Yûnus ibn Yazîd, Abû Uwais, Ishâq ibn Rasyîd, al-Laits, Ishâq ibn Yahya al-Kalbî, Bakar ibn Wâil, Ziyâd ibn Sa`ad, Rabî`ah ibn Shâlih, dan lain sebagainya.144 Pendapat para kritikus tentang ta`dil tentang `Ibnu Syihâb: Al-Bukhârî dari `Alî ibn al-Madînî berkata: bahwa Ibnu Syihâb mempunyai lebih dari 1000 hadis Nabi. Al-Dzahalî dari `Abd al-Razâq berkata: saya berkata kepada Ma`mar: apakah al-Zuhrî mendengar (hadis) dari Ibnu `Umar ? jawabnya: ya dia (al-Zuhrî) mendengar darinya dua hadis. Al-`Ajalî berkata: al-Zuhrî meriwayatkan dari Ibnu `Umar sekitar 3 hadis. Ibnu Sa`ad berkata: al-Zuhrî merupakan orang yang tsiqah, banyak meriwayatkan hadis, seorang yang alim, faqih dalam agama. Abû al-Zinâd berkata: kita semua menulis sesuatu tentang halal dan haram, adapun Ibnu Syihâb menulis sesuai yang dia dengar, maka ketika dia (Ibnu Syihâb) diminta memberikan dalil, saya melihat bahwa dia merupakan orang yang paling alim. Al-Nasâ‟i berkata: sebaik-baik sanad yang diriwayatkan dari Nabi sebanyak 4 buah yakni:
Ibid., h. 447. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 223-225.
144

94

   

Al-Zuhrî dari `Alî ibn al-Husain dari ayahnya dari kakeknya. Al-Zuhrî dari `Ubaidillâh dari Ibnu `Abbâs. Al-Zuhrî dari Ayyûb dari Muhammad dari `Ubaidah dari `Alî. Al-Zuhrî dari Manshûr dari Ibrâhîm dari `Alqamah dari `Abdullâh.

-

Ibnu `Uyaynah berkata: saya tidak pernah melihat seseorang yang meriwayatkan hadis lebih sesuai dengan nash hadis selain al-Zuhrî.

-

`Umar dan Abû Salamah dari Sa`îd ibn `Abd al-`Azîz dari Makhûl berkata: tidak ada yang tertinggal di zaman sekarang yang paling mengetahui tentang sunnah yang terdahulu selain al-Zuhrî.

-

Abû Shalih dari al-Laits berkata: saya tidak pernah melihat orang yang lebih sempurna ilmunya selain Ibnu Syihâb dan tidak ada yang lebih banyak ilmunya dari dia (Ibnu Syihâb). Kalau saya mendengar dia meriwayatkan hadis saya mengatakan tidak ada yang lebih bagus dari ini, kalau saya mendengar dia meriwayatkan hadis kepada yang lain, saya mengatakan bahwa tidak saya ketahui selain hadisnya, kalau saya mendengar dia meriwayatkan hadis yang berhubungan dengan al-Qur'an dan sunnah maka hadisnya merupakan salah satu hadis yang sempurna.

-

Abû Dâwud dari Ahmad ibn Shâlih berkata: orang-orang mengatakan bahwa dia lahir pada tahun 50 H.

-

Khalîfah berkata: dia lahir pada tahun 51 H. Yahya ibn Bukair berkata: lahir pada tahun ke 6 H.

95

-

Al-Wâqidî berkata: lahir pada tahun 8 H. Menurut Dhamrah: adapun wafatnya beliau pada tahun 23 H. Al-Zubair ibn Bakar berkata: meninggal pada bulan Ramadhan dalam usia 72 tahun.

-

Ibnu Yûnus dan yang lainnya berkata: beliau wafat pada bulan Ramadhan tahun 125 H.

-

Ahmad ibn Shâlih berkata: al-Zuhrî belum pernah mendengar hadis dari `Abd al-Rahman ibn Ka`ab ibn Mâlik, akan tetapi beliau meriwayatkan hadis dari `Abd al-Rahman ibn `Abdullâh ibn Ka`ab. Pendapat para kritikus tentang jarh `Ibnu Syihâb:

-

Ahmad berkata: al-Zuhrî belum pernah mendengar dari `Abdullâh ibn `Umar.

-

Ibnu Ma`în berkata: bukanlah kepunyaan al-Zuhrî riwayat apapun dari Ibnu `Umar.

-

Al-Dzahilî berkata: beliau tidak pernah mendengar dari Mas`ûd ibn al-Hakam.

-

Abû Hâtim berkata: beliau belum pernah mendengar dari Hashîn ibn Muhammad al-Sâlimî.

-

Al-Dâruquthnî berkata: tidak shahih pendengaran riwayat beliau dari Ummu `Abdullâh al-Dausiyah.

-

Ibnu al-Madînî berkata: hadis beliau dari Abû Rahm menurut saya tidak sampai kepada Nabi.

96

-

Ahmad ibn Sinân berkata: Yahya ibn Sa`îd tidak meriwayatkan hadis secara mursal dari al-Zuhrî dan Qatadah apapun.

-

Al-Âjirî dari Abû Dâwud berkata: hadis al-Zuhrî semuanya 1200 hadis, semuanya merupakan hadis yang bersanad, 200 di antaranya merupakan diriwayatkan oleh orang yang tidak tsiqah.145

d) `Uqail Nama lengkap beliau adalah `Uqail ibn Khâlid ibn `Uqail alAilî, nama julukannya Abû Khâlid al-Umawî yang merupakan seorang budak dari `Utsmân.146 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: bapaknya, pamannya, Ziyâd, Nafi` budak dari Ibnu `Umar, `Ikrimah, al-Hasan, Sa`îd ibn Sa`îd al-Khudrî, Sa`îd ibn Sulaimân ibn Zaid ibn Tsâbit, Salamah ibn Kuhail, al-Zuhrî dan lain sebagainya.147 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: anak beliu yakni Ibrâhîm, anak saudara beliau Salamah ibn Rûh, alMufadhal ibn Fadhalah, al-Laits ibn Sa`ad, Ibnu Luhai`ah, Jâbir ibn Sulaimân, Abd al-Rahman ibn Salman al-Hajarî, Sa`îd ibn Abû Ayyûb,

Ibid., h. 447-451. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 225-232. Lihat Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 382. Lihat Hasbi al-Shiddieqi, Sejarah Perkembangan Hadis, h. 159. 146 Ibid., j. 7, (Dâr al-Kutub al-Ilmiyah), h. 221. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf alMazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 13, h. 150. 147 Ibid., h. 221. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 150.

145

97

Nâfi` ibn Yazîd, Yahya ibn Ayyûb, al-Hajjâj ibn Farâfashah dan lain sebagainya.148 Pendapat para kritikus tentang ta`dil tentang `Uqail: Ahmad, Muhammad ibn Sa`ad dan al-Nasâ'i berkata:`Uqail tsiqah. Ibnu Ma`în berkata: atsbat dari riwayat al-Zuhrî, Malik, Ma`mar, `Uqail. Dan dari riwayat Ibnu Ma`în dalam riwayat al-Daurî atsbat dalam riwayat al-Zuhrî, Mâlik, Ma`mar, Yûnus, `Uqail, Syu`aib dan Sufyân. Abû Zar`ah dari al-Laits berkata: shaduq, tsiqah. Ibnu Abû Hâtim berkata: saya bertanya kepada ayah saya: apakah `Uqail termasuk yang ayah paling suka (dalam periwayatan hadis) atau Yûnus? jawab beliau: `Uqail lebih saya suka dan dia termasuk tidak ada cacat padanya (lâ ba’sa bihi). Kemudian saya bertanya (lagi) kepada ayah saya: manakah yang lebih kokoh ingatannya (atsbat), `Uqail atau Ma`mar? jawab beliau: `Uqail atsbat. Ibnu Hâtim berkata: `Uqail meninggal dunia di Mesir pada tahun 141 H. Muhammad ibn `Aziz al-Ailî berkata: `Uqail meninggal dunia pada tahun 2 H. Ibnu al-Sirah dari Khalah berkata: `Uqail meninggal dunia pada tahun 44 H. Ibnu Hajar berkata: nama kakek `Uqail adalah `Aqil. Dalam riwayat Ibnu Abû Maryam dari Ibnu Ma`în: `Uqail adalah orang yang tsiqah, hujjah.
Ibid., h. 222. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 150.
148

98

-

`Abdullâh ibn Ahmad berkata: disebutkan oleh ayah saya bahwa sesungguhnya Yahya ibn Sa`îd berkata: `Uqail dan Ibrahim ibn Sa`ad sepertinya mendha`ifkan keduanya.

-

Al-`Ajalî berkata: tsiqah. Al-Bukhârî berkata: berkata `Alî dari Ibnu `Uyaynah dari Ziyâd ibn Sa`ad: `Uqail merupakan orang yang hafal (hâfizh).

-

Disebutkan oleh Ibnu Hibbân dalam kitab al-Tsiqât. Pendapat para kritikus tentang jarh tentang `Uqail:

-

Al-`Aqilî: `Uqail shaduq, beliau meriwayatkan secara sendirian dari al-Zuhrî hadis-hadis Nabi. Ada yang mengatakan bahwa beliau (`Uqail) belum mendengar dari al-Sirrî apapun, akan tetapi beliau (`Uqail) mendapatkan hadis dengan munawalah.149

e) Al-Laits ibn Sa`ad Nama lengkap beliau adalah al-Laits ibn Sa`ad ibn `Abd alRahman al-Fahmi atau yang biasa dikenal sebagai Abû al-Harits alIma‟ al-Mishrî. Yahya ibn Bukair berkata: bahwa Sa`ad Abû al-Laits merupakan budak dari Quraisy. Al-Laits ibn Sa`ad merupakan salah seorang dari Imam besar dan hafidz hadis dari golongan tabiuttabi`in.150

Ibid., h. 222. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 151-152. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ alTab`în wa Man Ba`dahu, h. 288. 150 Ibid., j. 8, h. 401. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 15, h. 436. Lihat Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 392393. Lihat Hasbi al-Shiddieqi, Sejarah Perkembangan Hadis, h. 180.

149

99

Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Nâfi`, Ibnu Abû Malikah, Yazîd ibn Abû Habîb, Yahya ibn Sa`îd alAnshârî, saudara beliau sendiri `Abd Rabbâh ibn Sa`îd, Ibnu `Ijlân, alZuhrî, Hisyâm ibn `Urwah, `Atha‟ ibn Abû Rabbâh, Bukair ibn alAsyaj atau Abû `Uqail Zahrah ibn Ma`bad, Sa`îd al-Maqburi, Abû alZinâd, `Abd al-Rahman ibn al-Qâshim, Qatadah, Khâlid ibn Abû `Imrân, Khair ibn Na`îm, Abû Suja` Sa`îd ibn Yazîd, Katsîr ibn Farqad, Yahya ibn `Abd al-Rahman ibn Ghanam, Mu`âwiyah ibn Shâlih, Shafwân ibn Sâlim, Yahya ibn Ayyûb, `Uqail, Yûnus ibn Yazîd, Yazîd ibn Muhammad al-Qurasyiyyi, `Amirah ibn Najiyah, `Abû al-`Azîz al-Majisyûn, dan lain sebagainya.151 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Syu`aib, Muhammad ibn `Ajlan dan Hisyâm ibn Sa`ad (keduanya merupakan dari orang tua al-Laits), Luhai`ah, Hâsyim ibn Basyir dan Qais ibn al-Râbi`, `Athaf ibn Khâlid (mereka bertiga ini merupakan sahabat dekat al-Laits), Ibnu al-Mubarak, Ibnu Wahab, `Alî ibn Nashar al-Jahdhami al-Kabîr, Abû Salamah al-Khazâ`i, Adâm ibn Abû `Ibâs, Sa`îd ibn Abû Maryam, Sa`îd ibn Syarhabil, Sa`îd ibn Katsîr ibn `Ufair, sekretarisnya Abû Shâlih `Abdullâh ibn Shâlih, `Abdullâh ibn Yusuf al-Tanisi, `Abdûllâh ibn Yazîd al-Maqburi, `Alî ibn `Iyasy alHamshi, `Amrû ibn Khâlid al-Harâni, `Amrû ibn al-Râbi` ibn Thâriq, Abû al-Walîd al-Thayâlisî, Yahya ibn `Abdullâh ibn Bukair, Qâsim
Ibid., h. 401. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 437-438.
151

100

ibn Katsîr al-Iskandaranî, Ahmad ibn `Abdullâh ibn Yûnus, Qutaibah ibn Sa`îd, Muhammad ibn Ramh ibn al-Muhâjir, Muhammad ibn alHârits ibn Rasyîd al-Mishrî, Abû al-Jahm al-`Ala‟ ibn Mûsa, `Îsa ibn Hamad ibn Zaghbah dan lain sebagainya.152 Pendapat para kritikus tentang ta`dil dari al-Laits ibn Sa`ad: Ibnu Sa`ad berkata: bahwa al-Laits ibn Sa`ad telah bekerja dengan sungguh-sungguh dalam bidang fatwa pada zamannya, beliau termasuk orang yang terpercaya atau tsiqah juga orang yang banyak meriwayatkan hadis yang shahih, dan beliau juga orang yang sering begadang malam hari (untuk menuntut ilmu), orang yang mulia lagi baik hati. Ahmad ibn Sa`ad berkata: al-Zuhrî dari al-Laits tsiqah, tsabat. Hanbal dari Ahmad berkata: bahwa al-Laits lebih saya cintai tentang apa yang diriwayatkan dari al-Maqburi. `Abdullâh ibn Ahmad dari Anas berkata: bahwa orang paling

shahih hadisnya dari riwayat al-Maqburi adalah al-Laits yang menyambung sampai riwayat Abû Hurairah dan apa yang diriwayatkan ayahnya dari Abû Hurairah. Abû Dawud berkata: saya mendengar Ahmad mengatakan: bukanlah mereka yakni ahli Mesir yang lebih shahih hadisnya dari al-Laits dan `Amrû ibn al-Harits yang didekati.

Ibid., h. 401-402. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 438-439.

152

101

-

Al-Atsra‟ dari Ahmad berkata: tidak ada dalam golongan kaum Mesir atsbat dari al-Laits begitu juga `Amrû ibn al-Hârits, adapun `Amrû menurut saya tsiqah akan tetapi kemudian saya melihat bahwa dia banyak kemungkaran-kemungkarannya, kemudian alLaits ibn Sa`ad berkata: tidak ada seorangpun yang lebih shahih hadisnya (`Amrû ibn al-Harits) maka dengan ini menjadikan orang memuji dia (`Amrû ibn al-Harits).

-

Abû Thâlib dari Ahmad berkata: al-Laits merupakan seorang yang banyak ilmunya, dan meriwayatkan banyak hadis shahih.

-

Ibnu Abû Khaitsamah dan Ishâq ibn Manshûr dari Ibnu Ma`în berkata: tsiqah.

-

Al-Daurî berkata: saya bertanya kepada Ibnu Ma`în: manakah yang atsbat al-Laits atau Ibnu Abû Dzi‟bî dari Sa`îd al-Maqbûrî? Ibnu Ma`în berkata: keduanya. Kemudian dia juga berkata: al-Laits atsbat dalam (riwayat) Yazîd ibn Abû Habîb dari Muhammad ibn Ishâq.

-

`Utsmân al-Dârimî berkata: saya berkata kepada Ibnu Ma`în: apakah al-Laits lebih kamu suka dari Yahya ibn Ayyûb? Ibnu Ma`în berkata: al-Laits lebih saya suka akan tetapi Yahya juga orang yang tsiqah. Kemudian saya (`Utsmân al-Dârimî) bertanya (kembali): kalau Ibrâhîm ibn Sa`ad dengan al-Laits? dia (Yahya ibn Ayyûb) berkata: keduanya tsiqah. Saya (`Utsmân al-Dârimî)

102

bertanya lagi: bagaimana hadis riwayat al-Laits dari Nâfi`? dia (`Utsmân al-Dârimî) berkata: shâlih, tsiqah. Ibnu al-Madînî berkata: al-Laits tsiqah, tsabat. Al-`Ajalî berkata: al-Laits merupakan orang Mesir tsiqah. Al-Nasâ‟i berkata: al-Laits tsiqah. Abû Zar`ah berkata: al-Laits shadûq. Ibnu Kharasy berkata: al-Laits shadûq juga meriwayatkan hadis yang shahih. Yahya ibn Bukair dari Ibnu Wahab berkata: saya ditanya Mâlik tentang al-Laits, bagaimana kejujurannya? Maka saya menjawab: sesungguhnya al-Laits sangat jujur sekali. `Amrû ibn `Alî berkata: al-Laits ibn Sa`ad shadûq, saya pernah mendengar Ibnu al-Mahdî mengucapkan hadis dari Ibnu alMubârak dari al-Laits dan al-Laits (sendiri) mendengarkan dengan qira`ah dari al-Zuhrî. Ibnu Bukair berkata: saya tidak pernah melihat orang yang sempurna seperti al-Laits, dia (al-Laits) merupakan orang yang faqih, mempunyai logat Arab, baik dalam bacaan al-Qur'an dan ilmu Nahwu, seorang hafidz hadis Nabi dan syair, baik dalam mengingat hafalan dan saya tidak pernah melihat seperti dia (alLaits).

103

-

Ya`qûb ibn Sufyân dari Ibnu Bukair berkata: al-Laits lahir pada tahun 94 H. dan meninggal pada hari jum`at pertengahan bulan Sya`ban pada tahun 175 H. Pendapat para kritikus tentang jarh dari al-Laits ibn Sa`ad:

-

Abû Dâwud dari Muhammad ibn al-Husain berkata: bahwa saya mendengar Ahmad berkata: bahwa al-Laits tsiqah akan tetapi beliau dalam mengambil hadis sangat mudah.153

f) Yahya ibn Bukair Nama lengkap beliau adalah Yahya ibn `Abdullâh ibn Bukair al-Qurasyiyyi al-Makhzumiyyi seorang budak dari Abû Zakariyyâ alMishriyyi. Nama beliau dinisbahkan kepada nama kakeknya.154 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Mâlik, al-Laits, Bakar ibn Madhar, Hammâd ibn Zaid, `Abdullâh ibn Suwaid al-Mishrî, `Abdullâh ibn Luhai`ah, Mughîrah ibn `Abd alRahman ibn al-Hazamî, Ya`qûb ibn `Abd al-Rahman al-Qâri', `Abd al`Azîz al-Darawardî, `Auf ibn Sulaimân al-Qâdhî, Mufdhal ibn Fadhâlah, Dhamrah ibn Rabî`ah dan lain sebagainya.155

Ibid., h. 402-405. Lihat Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, 439-449. Lihat Hasbi al-Shiddieqi, Sejarah Perkembangan Hadis, h. 181. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ al-Tab`în wa Man Ba`dahu, h. 307. 154 Ibid., j. 11, h. 207. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 20, h. 136. 155 Ibid., h. 207. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 136.

153

104

Nama-nama muridnya dalam periwayatan hadis antara lain: alBukhârî, Muslim dan Ibnu Mâjah dengan perantaraan Muhammad ibn `Abdullâh atau yang dikenal dengan nama al-Dzahilî, Muhammad ibn `Abdullâh ibn Namîr, Muhammad ibn Ishâq al-Shaghânî, Sahal ibn Zanjalah Harmalah ibn Yahya, Abû Zar`ah al-Râzî, Abû `Ubaid alQâsim ibn Salam yang meninggal sebelum Yahya ibn Bukair, anaknya sendiri yakni `Abd al-Mâlik ibn Yahya ibn Bukair, Yahya ibn Ma`în, Dahîm, Yûnus ibn `Abd al-A`la al-Shadafî, Baqâ‟ ibn Makhlad, Ismâ`îl Samawaih, Yahya ibn Ayyûb ibn Badî` al-`Alaf, Muhammad ibn Ibrâhîm al-Busyanjî, Abû `Alî al-Busyanjî, Abû `Alî al-Hasan ibn al-Faraj al-Ghâzî dan lain sebagainya.156 Pendapat kritikus tentang ta`dil dari Yahya ibn Bukair: Bahwa beliau disebutkan oleh Ibnu Hibbân dalam kitab al-Tsiqât. Berkata Abû Dâwud bahwa saya mendengar Yahya ibn Ma`în mengatakan Abû Shâlih mempunyai banyak sekali kitab, akan tetapi Yahya ibn Bukair lebih hafal atau ahfadz dari Abû Shâlih. Al-Sâji berkata: bahwa Yahya ibn Bukair adalah shadûq yang meriwayatkan hadis dari al-Laits sangat banyak sekali. Ibnu `Adî berkata: bahwa Yahya ibn Bukair adalah murid al-Laits ibn Sa`ad dan beliau adalah atsbat al-nâs. Al-Khalîlî berkata: bahwa Yahya ibn Bukair adalah tsiqah dan beliau sendiri meriwayatkan banyak hadis dari Mâlik.
Ibid., h. 207. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 136-137.
156

105

-

Ibnu Hibbân berkata: bahwa Yahya ibn Bukair meninggal dunia pada pertengahan bulan Shafar tahun 231 H.

-

Ibnu Yûnus berkata: bahwa Yahya ibn Bukair lahir tahun 154 H. Pendapat kritikus tentang jarh dari Yahya ibn Bukair:

-

Abû Hâtim berkata: bahwa tidak mengapa hadis dari Yahya ibn Bukair ditulis, akan tetapi tidak boleh dijadikan hujjah karena keadaan ini sudah dapat kita pahami.

-

Al-Nasâ‟i berkata: bahwa Yahya ibn Bukair adalah dho‟if. AlNasâ‟i juga berkata: dalam kesempatan lain bahwa Yahya ibn Bukair adalah laisa bi tsiqah.157

g) Al-Bukhârî Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm ibn al-Mughîrah ibn Bardizabah. Ada juga yang mengatakan Bandizabah. Ada juga yang mengatakan Ibnu al-Ahnaf al-Ju‟afi, Abû `Abdullâh al-Bukhârî.158 Nama-nama gurunya dalam periwayatan hadis antara lain : `Ubaidillâh ibn Mûsa, Muhammad ibn `Abdullâh al-Anshârî, „Affân, Abû „Âshim al-Nabîl, Makkî ibn Ibrâhîm, Abû al-Mughîrah, Abû Mashar, `Abdullâh ibn Yûsuf, Ahmad ibn Khâlid al-Wahabî, dan lain sebagainya selain mereka dari golongan tabi‟in yang mendapatkan
Ibid., h. 207-208. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 137-138. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ al-Tab`în wa Man Ba`dahu, h. 406. 158 Ibid., j. 9, (Dâr al-Shâdir), h. 47. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 16, h. 84.
157

106

hadis secara sima’ dari Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm dan juga generasi sesudah tabi‟in yang meriwayatkan hadis secara kitabah.159 Nama-nama muridnya dalam periwayatan hadis: al-Tirmidzî dalam kitab al-Jâmi’ yang banyak sekali, Muslim dalam kitab selain al-Jâmi’, al-Nasâ‟i dalam bab puasa dari Muhammad ibn Ismâ`îl dari Hafsh ibn „Umar ibn al-Hârits dari Hammâd sebuah hadis, al-Nasâ‟i, Abû Zar‟ah, Abû Hâtim, Ibrâhîm al-Harbî, Ibnu Abû al-Dunyâ, Shâlih ibn Muhammad al-Asadi, Abû Basyar al-Daulabî, Muhammad ibn „Abdullâh al-Hadhramî, al-Qâsim ibn Zakariyâ, Ibnu Abû „Âshim, Ibnu Huzaimah, „Umair ibn Muhammad ibn Bujair, Husain ibn Muhammad al-Qabbânî, Abû „Amrû al-Khaffâf al-Naisâbûrî, dan banyak sekali yang lainnya.160 Pendapat para ulama tentang ta`dil dari Imam al-Bukhârî: Bukair ibn Numair berkata: saya mendengar al-Hasan ibn alHusain al-Bazar di negeri Bukhara : saya melihat Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm sebagai seorang syekh sedang badannya tidak tinggi dan juga tidak pendek. Lahirnya pada bulan Syawwal tahun 194 H. Meninggalnya pada hari sabtu pada bulan Syawwal tahun 256 H. Hidup selama 62 tahun kurang 13 hari. Ahmad ibn Yasar al-Marûzî berkata: Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm adalah seorang pencari ilmu, orang yang pandai bergaul

Ibid., j. 9, h. 47. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 84-85. 160 Ibid., j. 9, h. 47-48. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 86-87.

159

107

bepergian dalam mencari hadis dan pandai dalam hadis serta lebih teliti dalam hadis, dan dia merupakan orang yang baik dalam brpikir dan baik juga dalam menghafal hadis serta paham betul hadis tersebut. Abû al-`Abbas ibn Sa`îd berkata: kalau ada seorang laki-laki yang menulis sebanyak 30.000 hadis belum cukup dari pada kitab Târîkh-nya Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm. Al-Kisymihânî berkata: saya mendengar al-Farbarî mengatakan : Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm berkata kepada saya: saya tidak pernah menulis dalam kitab saya sebuah hadis kecuali saya bersuci sebelumnya dan kemudian shalat sunnah dua rakaat (baru saya menuliskannya). Ja‟far ibn Muhammad al-Qathan (imam masjid Jâmi' di Karmenia) berkata: saya pernah mendengar Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm berkata: saya telah menulis dari 1000 syekh dan saya yang lebih dari itu adalah hadis-hadis saya yang saya tuliskan bersama sanad-sanadnya. Hâsyid ibn Ismâ`îl berkata: saya pernah di Bashrah maka datang Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm berkata Muhammad ibn Basyar: telah datang hari ini pemimpin orang-orang yang faqih. Al-Busyanjî berkata: saya pernah mendengar Bundar berkata: tidak ada seorang yang seperti Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm.

108

-

Yusuf ibn Raihan berkata: saya mendengar Muhammad ibn Ismâ`îl mengatakan: suatu ketika `Alî ibn al-Madînî bertanya kepada saya tentang syekh yang berasal dari Khurasan, saya berkata: setiap orang yang saya puji kepadanya dia adalah al-Râdhî.

-

Al-Farbarî berkata: saya pernah mendengar Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm mengatakan: saya tidak pernah merendahkan diri saya kepada seseorang kecuali kepada `Alî kemungkinan saya yang tidak akrab atau asing sekali bagi dia.

-

Abû Quraisy Muhammad ibn Jum`ah berkata: saya mendengar Bundar Muhammad ibn Basyar berkata: orang-orang yang hafal di dunia ini ada empat orang. Maka dia menyebutkan Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm sebagai salah satunya.

-

Abû Mush`ab berkata: Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm adalah orang yang paling faqih diantara kita dan lebih teliti daripada Ibnu Hanbal.

-

`Âmir ibn al-Mutaji‟ dari Ahmad ibn al-Dhau‟ berkata:

saya

mendengar Abû Bakar ibn Abû Syaibah dan Muhammad ibn `Abdullâh ibn Numair mereka berdua mengatakan: kami tidak pernah melihat orang seperti Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm. Mahmûd ibn al-Nadhar al-Syâfi`î berkata: saya masuk ke kota Bashrah, Syam, Hijaz, Kufah dan saya melihat ulama-ulama yang berada di daerah tersebut, maka setiap saya berada di suatu daerah

109

disebutkan Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm merekapun memuliakannya dari diri mereka sendiri. `Abdullâh ibn Ahmad ibn Hanbal berkata: saya mendengar ayah saya mengatakan: habislah sudah para penghafal kecuali tinggal empat dari ahli Khurasan, maka disebutkanlah nama Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm diantaranya. `Abdullâh ibn Ahmad ibn Hanbal berkata: saya mendengar ayah saya mengatakan: tidak ada seorangpun dari Khurasan selain Muhammad ibn Ismâ`îl. Shâlih ibn Muhammad al-Asadî berkata: Muhammad ibn Ismâ`îl merupakan orang yang paling mengetahui tentang hadis. Ya`qûb ibn Ibrâhîm ad-Dauruqî berkata: Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm adalah seorang yang faqih di umat ini. Al-Fadhâl ibn `Abbâs al-Râzî berkata: saya pulang bersama Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm dalam satu perjalanan, maka saya bersungguh-sungguh mengajukan suatu hadis yang mana tidak diketahuinya maka saya tidak bisa untuk memungkinkannya. Ishâq ibn Ahmad ibn Zairâk berkata: saya mendengar Muhammad ibn Idrîs al-Râzî Abû Hâtim mengatakan: Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm lebih mengetahui orang yang masuk ke kota `Irâq. `Abdân ibn `Utsmân berkata: saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang laki-laki yang lebih tajam penglihatannya dari Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm.

110

-

Shâlih ibn Yasar berkata: Muhammad ibn Ismâ`îl ibn Ibrâhîm merupakan seorang yang faqih di zaman ini.

-

Yahya ibn Ja`far berkata: kalau seandainya saya mampu untuk menambah umurnya niscaya saya akan lakukan.

-

Al-Hâkim berkata: saya mendengar Abû Thayiib mengatakan: saya mendengar Ibnu Khuzaimah mengatakan: saya tidak pernah melihat di bawah penghuni langit yang lebih mengetahui hadis dari Rasulullah dan yang lebih hafal dari hadis Rasul tersebut kecuali al-Bukhârî.

-

Ada yang menanyakan kepada Abû `Abdullâh yakni Ibnu alAkhram tentang suatu hadis, maka diapun berkata: sesungguhnya al-Bukhârî tidak mengemukakan hadis tersebut. Maka dikatakan kepada Ibnu al-Akhram hadis tersebut telah disebutkan oleh Muslim. Kemudian berkatalah Abû `Abdullâh: sesungguhnya alBukhârî adalah orang yang lebih mengetahui dari Muslim dan dari kamu (Ibnu al-Akhram) dan dari saya.

-

`Abdullâh ibn `Abd al-Rahman al-Dârimî berkata: saya telah melihat ulama-ulama diantara negeri Haram dan Iraq, maka saya tidak melihat ulama di mereka yang lebih kompeten dari dia (alBukhârî).

-

Ghanjar dalam kitab Târikh karya al-Bukhârî berkata: Abû `Îsa alTirmidzî berkata kepadanya: Allah telah menjadikanmu sebagai penghias dalam umat ini wahai Abû `Abdullâh. Abû `Îsa al-

111

Tirmidzî berkata dalam Jâmi’: saya tidak melihat di dalam makna kecacatan dan perawi-perawi dari orang selain al-Bukhârî. Ishâq ibn Rahwiyah berkata: wahai orang-orang sahabat hadis tulislah dari pemuda ini. Maka sesungguhnya kalau seandainya dia hidup di zaman al-Hasan ibn Abû al-Hasan maka orang-orang akan meminta darinya untuk dijadikan hujjah untuk mengetahui darinya hadis dan fiqih yang dimilikinya. Muhammad ibn Nashar al-Marûsyî berkata: saya mendengar Muhammad ibn Ismâ`îl mengatakan: barang siapa yang

mengatakan dari saya yang mengatakan secara perkataan bahwa alQur'an itu makhluk, maka dia telah berbohong dan sesungguhnya saya mengatakan bahwa perbuatan manusia adalah tercipta atau makhluk. Pendapat kritikus tentang jarh Imam al-Bukhârî: Abû Bakar Muhammad ibn Harb berkata: saya bertanya kepada Abû Zar`ah tentang Muhammad ibn Humaid, maka dia menjawab: ditinggalkan oleh Abû `Abdullâh yakni al-Bukhârî. Muhammad ibn al-`Abbâs al-Dhâbî berkata: saya mendengar Abû Bakar ibn Abû `Amrû al-Hâfizh mengatakan: adapun sebab yang memisahkan Abû `Abdullâh Muhammad ibn Ismâ`îl al-Balad yaitu al-Bukhârî yaitu sesungguhnya Khâlid ibn Ahmad al-Amîr memintanya untuk menghadiri atau datang ke tempatnya untuk membacakan kitab al-Jâmi’ dan al-Târikh kepada anak-anaknya

112

maka tidak dibolehkan. Kemudian memintanya kembali untuk mengadakan sebuah majelis ilmu yang tidak dihadiri oleh yang lain kecuali anak-anaknya dilarangnya juga. Maka kemudian meminta bantuan kepada Hârits ibn Abû al-Warqâ‟ dan yang lainnya sehingga para ulama tersebut berkata kepadanya dan memintanya keluar dari negaranya, maka dia memenuhi panggilan dari para ulama tersebut. Maslamah dalam kitab al-Shilâh berkata: adapun al-Bukhârî adalah orang yang terpercaya, tinggi kemampuannya, seorang yang `Alîm tentang hadis dan dia mengatakan bahwa al-Qur'an itu makhluk maka diingkarilah pendapat tersebut dari ulama-ulama Khurasan, maka diapun kAbûr dan meninggal dalam keadaan ketakutan. 161

2. Biografi periwayat dalam hadis riwayat Muslim a. Abû Hurairah b. Abû Salamah c. Ibnu Syihâb d. Yûnus al-Ailî Nama lengkap beliau adalah Yûnus ibn Yazîd ibn Abû alNajâd, ada juga yang berkata Yûnus ibn Yazîd ibn Misykân ibn Abû al-Najâd al-Ailî Abû Yazîd al-Qurasyiyyi seorang budak dari

Ibid., j. 9, h. 55. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 87-108.

161

113

Mu`âwiyah ibn Abû Sufyân. Beliau merupakan saudara dari Abû `Alî ibn Yazîd dan paman dari `Anbasah ibn Khâlid ibn Yazîd.162 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Ibrâhîm ibn Abû `Ablah al-Muqaddasî, Hakam ibn `Abdullâh ibn Sa`ad al-Ailî, `Ikrimah budak dari Ibnu `Abbâs, Imârah ibn Ghazyah, `Amrû ibn `Abdullâh budak dari Ghafrah, `Imrân ibn Abû Anas, alQâsim ibn Muhammad ibn Abû Bakar al-Shiddîq, Muhammad ibn Muslim ibn Syihâb al-Zuhrî, Nâfi` budak dari `Umar, Hisyâm ibn `Urwah dan saudaranya Abû `Alî ibn Yazîd al-Ailî.163 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Abû Dhamrah Anas ibn `Iyâdh al-Laitsi, Ayyub ibn Suwaid al-Ramlî, Baqiyah ibn al-Walîd, Bahlûl ibn Râsyid, Jarîr ibn Hâzim, Hisân ibn Ibrâhîm al-Kirmânî, Hafsh ibn `Umar al-Damsyiqî, Rasyidîn ibn Sa`ad Sulaimân ibn Bilâl Syabîb ibn Sa`îd al-Habthi, Abû Syu`bah Shadaqah ibn al-Muntashar al-Sya`banî, Thalhah ibn Yahya al-Zarqî, `Abdullâh ibn al-Hârits al-Makhzûmî, `Abdullâh ibn Rajâ‟ al-Makkî, Abû Shafwân `Abdullâh ibn Sa`îd al-Umawiyyi, `Abdullâh ibn al-Mubârak, `Abdullâh ibn Wahab, `Abd al-Rahman ibn Amru al-Auza`î, `Utsmân ibn al-Hakam, `Utsmân ibn `Umar ibn Fâris, `Alî ibn `Urwah alDimasyqî, dan lain sebagainya.164

Ibid., j. 11, h. 450. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 20, h. 565. 163 Ibid., h. 450. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 565. 164 Ibid., h. 450. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 565-566.

162

114

Pendapat ulama tentang ta`dil Yûnus al-Ailî: Berteman dengan al-Zuhrî selama 12 tahun, ada juga yang berkata 14 tahun. Disebutkan oleh Khalîfah ibn Khiyâth seorang ahli Mesir dalam Thabaqat ketiga. `Alî ibn al-Madînî berkata: saya bertanya kepada `Abd al-Rahman ibn al-Mahdî dari Yûnus ibn Yazîd berkata: Ibnu al-Mubârak pernah berkata bahwa kitabnya shahîh, Ibnu Mahdî dan saya berkata kitabnya shahîh. `Abd al-Râzaq dari Ibnu al-Mubârak berkata: saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih periwayatannya untuk al-Zuhrî dari Ma`mar kecuali Yûnus yang sangat hafal untuk Musnad, dan dalam riwayat lain karena sesungguhnya Yûnus menuliskan banyak kitab dalam satu bentuk. Ahmad berkata: Wakî` mendengar hadis secara sima` dari Yûnus sebanyak tiga hadis. Hanbal ibn Ishâq berkata: saya tidak mendengar Abû `Abdullâh alZuhrî dari Ma`mar kecuali Yûnus al-Ailî, karena dia menuliskan semua hadisnya. Abû Bakar al-Atsrâm, Abû `Abdullâh, dan `Abd al-Razâq dari Ibnu al-Mubârak berkata: saya tidak pernah melihat seorang yang lebih periwayatannya dari al-Zuhrî dari Ma`mar kecuali Yûnus, karena sesungguhnya dia menulis semua hadisnya.

115

-

Al-Fadhâl ibn Ziyâd Ahmad berkata: Yûnus meriwayatkan banyak hadis dari al-Zuhrî dari `Uqail, dan mereka berdua adalah orang yang tsiqah.

-

`Abbâs al-Daurî dari Yahya ibn Ma`în berkata: orang-orang yang atsbat dari riwayat al-Zuhrî yaitu Mâlik, Ma`mar, Yûnus, `Uqail, Syu`aib ibn Abû Hamzah dari Ibnu `Uyaynah.

-

`Utsmân Ibnu Sa`îd al-Dârimî berkata: saya berkata kepada Yahya ibn Ma`în apakah Yûnus atau `Uqail yang kamu sukai, dia berkata: Yûnus tsiqah, `Uqail tsiqah. Keduanya mendapatkan hadis dari alZuhrî.

-

Ya`qûb ibn Syaibah dari Ahmad ibn al-`Abbâs berkata: saya berkata kepada Yahya ibn Ma`în: siapakah yang lebih atsbat, Ma`mar atau Yûnus, dia berkata: Yûnus lebih ketat sanadnya dari keduanya, mereka berdua adalah orang yang tsiqah, adapun Ma`mar adalah lebih mudah sanadnya.

-

Abû Bakar ibn Abû Khaitsamah dari Yahya ibn Ma`în berkata: Ma`mar dan Yûnus merupakan orang yang `Alîm dengan riwayat al-Zuhrî.

-

Al-`Ajalî dan al-Nasâ'i berkata: tsiqah. Ya`qûb ibn Syaibah berkata: shâlih al-hadits, `Alîm dengan hadis al-Zuhrî.

-

Abû Zar`ah berkata: lâ ba’sa bihi. Berkata Ibn Kharâsy: shadûq.

116

-

Abû Sa`îd ibn Yûnus berkata: orang-orang menasabkan dia kepada Bani Umayyah.

-

Al-Qâsim ibn Muhammad dan Sâlim ibn `Abdullâh berkata: orangorang memperkirakan bahwa Yûnus meninggal di Sha`îd Mesir tahun 152 H.

-

Yahya ibn Bukair berkata: meninggal tahun 150-an. Al-Bukhârî dan al-Mufdhal ibn Ghassân al-Ghalâbî dan Ibnu Hibbân berkata: meninggal pada tahun 159 H.

-

Muhammad ibn `Azîz al-Ailî berkata: meninggal pada tahun 160 H. Pendapat ulama tentang jarh dari Yûnus ibn Yazîd:

-

Abû Zar`ah al-Dimasyqî berkata: saya mendengar Abû `Abdullâh Ahmad ibn Hanbal mengatakan: di dalam hadis Yûnus ibn Yazîd banyak yang mungkar berasal dari al-Zuhrî di antaranya dari Sâlim dari bapaknya dari Rasulullah tentang hadis pengairan air dari air hujan maka zakatnya 10 %.

-

Muhammad ibn Sa`ad berkata: dia mempermudah dalam hadis, tidak dijadikan hujjah hadisnya apabila ada hadisnya yang mungkar.

-

Abû al-Hasan al-Maimûni ditanyakan kepada Ahmad berkata: siapakah yang atsbat di dalam riwayat al-Zuhrî, dia berkata: Ma`mar, kemudian ditanyakan kepadanya: bagaimana dengan Yûnus, dia berkata: dia meriwayatkan banyak hadis yang mungkar.

117

-

Muhammad ibn `Auf dari `Ahmad ibn Hanbal berkata: Wakî` berkata: saya melihat Yûnus ibn Yazîd al-Ailî hafalannya tidak begitu bagus.165

e. `Abdullâh Ibn Wahab Nama lengkap beliau adalah `Abdullâh ibn Wahab ibn Muslim al-Qurasyiyi al-Fihrî Abû Muhammad al-Mishrî. Seorang yang faqih budak dari Yazîd ibn Zamânah yang merupakan budak dari Yazîd ibn Unais Abû `Abd al-Rahman al-Fihrî.166 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis: Ibrâhîm ibn Sa`ad al-Zuhrî, Ibrâhîm ibn Nasyîd al-Wa`lânî, Usâmah ibn Zaid ibn Aslam, Usâmah ibn Zaid al-Laitsî, Aflah, ibn Humaid, Abû Dhamrah Anas ibn Iyâdh, Bakar ibn Mudhar, Tsawâbah ibn Mas`ûd alTannaukhî, Jâbir ibn Ismâ`îl al-Hadhramî, Jarîr ibn Hazim al-Bashrî, Harmalah ibn `Imrân al-Tujîbî, Hafsh ibn Maisarah al-Shan`ânî, Abû Sakhr Humaid ibn Ziyâd al-Madanî, Abû Hâni` Humaid ibn Hâni` alKhaulânî, Wâqid ibn Salamah, Wâlid ibn al-Mughîrah, Yahya ibn Ayyûb al-Mishrî, Ya`qûb ibn `Abd al-Rahman al-Qâri‟, Yûnus ibn Yazîd al-Ailî dan lain sebagainya.167

Ibid., h. 450-452. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 566-568. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ al-Tab`în wa Man Ba`dahu, h. 411. 166 Ibid., j. 6, h. 71. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 10, h. 619. 167 Ibid., h. 71. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 619-620.

165

118

Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Ibrâhîm ibn Mundzir al-Hisyâmî, Ahmad ibn Sa`îd al-Hamdânî, Ahmad ibn Shâlih al-Mishrî, anak saudaranya Ahmad ibn `Abd alRahman ibn Wahab, Abû al-Thâhir Ahmad ibn `Amrû ibn al-Sarh, Ahmad ibn `Îsa al-Mishrî, Ahmad ibn Yahya ibn al-Wazîr ibn Sulaimân, Ishâq ibn Mûsa al-Anshârî, Ashbagh ibn al-Faraj, Bahri ibn Nashar ibn Sâbiq al-Khaulânî, al-Hârits ibn Miskîn, Abû Humaid Habrah ibn Lakhm ibn al-Muhâjir al-Iskandarânî, Hajâj ibn Ibrâhîm alAzraq, Harmalah ibn Yahya, Zakaria ibn Yahya, Suraij ibn Nu`mân alJauharî dan lain sebagainya.168 Pendapat ulama tentang ta`dil `Abdullâh ibn Wahab: Abû al-Hasan al-Maimunî berkata: saya mendengar Abû `Abdullâh kemudian menyebutkan Ibnu Wahab maka berkata: dia (Ibnu Wahab) merupakan seorang pemuda yang berakal, beragama bagus dan mempunyai badan yang sehat. Abû Thâlib dari Ahmad ibn Hanbal berkata: `Abdullâh ibn Wahab meriwayatkan hadis yang shahih yang melebihkan metode sima` dari pada bertentangan, dan dari berbagai hadis lebih banyak yang shahih dan diriwayatkan oleh yang atsbat. Dikatakan kepadanya (Ahmad ibn Hanbal): bukankah dia (`Abdullâh ibn Wahab) berbuat tidak baik dalam mengambil hadis? akan tetapi apabila kamu

Ibid., h. 71-72. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 621-622.

168

119

melihat hadisnya dan dari guru-gurunya, maka kamu akan mendapati bahwa hadisnya adalah shahih. Abû Bakar ibn Abû Khaitsamah dari Yahya ibn Ma`în berkata: tsiqah. Ahmad ibn Shâlih al-Mishrî berkata: Ibnu Wahab meriwayatkan hadis sebanyak 100.000 hadis, saya tidak pernah melihat orang Hijaz, Syam, dan Mesir lebih banyak hadisnya dari dia (`Abdullâh ibn Wahab) dan yang sampai kepada kami sebanyak 70.000 hadis. Ahmad ibn Mûsa al-Hadhramî berkata: hadis `Abdullâh ibn Wahab semuanya diriwayatkan oleh Harmalah kecuali 2 hadis. Yûnus `Abd al-A`la dari Hârun ibn `Abdullâh al-Zuhrî berkata: orang-orang berbeda pendapat tentang hadisnya Mâlik, maka mereka mendahulukan untuk melihat kepada `Abdullâh ibn Wahab sampai mereka bertanya kepadanya. Abû Zar`ah berkata: saya mendengar Ibnu Bukair berkata: `Abdullâh ibn Wahab lebih faqih dari Ibnu al-Qâsim. Abû Hâtim ibn Hibbân berkata: Ibnu Wahab mengumpulkan dan membukukan hadis. Dia (Ibnu Wahab) merupakan orang yang hafizh di antara ahli Hijaz dan Mesir dari hadis mereka dan hadis saya, apa yang mereka telah meriwayatkan dari kitab-kitab Musnad. Abû Sa`îd ibn Yûnus berkata: menceritakan kepada saya bapak saya dari kakek saya: saya mendengar `Abdullâh ibn Wahab

120

berkata: saya lahir pada tahun 125 H dan pada umur 17 tahun saya menuntut ilmu. Abû al-Zanbagh dari Yahya ibn Bukair berkata: berkata kepada saya `Abdullâh ibn Wahab: saya lahir pada bulan Dzulqa`dah pada tahun 125 H. Abû Sa`îd ibn Yûnus berkata: beliau meninggal pada hari Ahad akhir minggu ke-4 dari bulan Sya`ban tahun 197 H. Abû Bakar al-Khathîb berkata: meriwayatkan darinya al-Laits ibn Sa`ad al-Fahmî dan Rabî` ibn Sulaimân al-Marâd dan di antara wafat keduanya 95 tahun dan meriwayatkan darinya `Abd alRahman ibn Mahdî dan di antara wafatnya dan wafat alRabî`berselisih 72 tahun.169 Pendapat ulama tentang jarh `Abdullâh ibn Wahab: Tidak ada di antara para kritikus yang mengkritik tentang pribadi`Abdullâh ibn Wahab.

f. Abû Sufwân Al-Umawiyyi Nama lengkap beliau adalah `Abdullâh ibn Sa`îd ibn `Abd alMâlik ibn Marwân ibn al-Hakam ibn Abû al-`Âsh ibn Umayyah alQurasyiyyi Abû Sufwân al-Dimasyqî. Ibunya bernama Ummu Jamîl binti `Amrû ibn `Abdullâh ibn Sufwan ibn Umayyah, ibunya pergi bersama dia ke Mekkah ketika ayahnya terbunuh di sungai Abû
Ibid., h. 72-74. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 622-625. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ al-Tab`în wa Man Ba`dahu, h. 202.
169

121

Fathras ketika itu terjadi pada tahun 132 H. beliau meninggal dalam usia sekitar 200 tahun.170 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: `Utsmân ibn Zaid al-Laitsî, Tsaur ibn Yazîd al-Rahbî, bapaknya Sa`îd ibn `Abd al-Mâlik ibn Marwân, Salîm ibn Naufal ibn Masâhiq, `Abd al-Mâlik ibn Juraij, Mâlik ibn Anas, Majâlid ibn Sa`îd, Muhammad ibn `Abd al-Rahman ibn Abû Dzi‟bî, Mûsa ibn Yasar al-Ardânî guru dari Makhûl, Yûnus ibn Yazîd al-Ailî.171 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Ahmad ibn Hanbal, Abû Haitsamah, Zuhair ibn Harb, Sulaimân ibn Dâwud al-Syâdzahûnî, `Abdullâh Rajâ‟ al-Ghadâni, `Abdullâh alZubair al-Humaidî, Abû Muslim `Abd al-Rahman ibn Yûnus alMustamlî, `Alî ibn al-Madînî, Qutaibah ibn Sa`îd, Muhammad ibn Idrîs al-Syâfi`î, Abû Ya`la Muhammad ibn al-Shilat, Muhammad `Ibâd al-Makkî, Nu`aim ibn Hamâd al-Marûzî.172 Pendapat ulama tentang ta`dil Abû Sufwân al-Umawiyyi: Al-Mufadhal ibn Ghasâh al-Ghalâbî dari Yahya ibn Ma`în: tsiqah. Hal ini seperti perkataan Ismâ`îl ibn Ishâq al-Qâdhî dari `Alî ibn alMadîni dan Abû Muslim al-Mustamlî. Abû Za`ah berkata: la ba’sa bihi, shadûq.

Ibid., j. 5, h. 238. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 10, h. 183. 171 Ibid., h. 238. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 183. 172 Ibid., h. 238. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 183.

170

122

-

Disebutkan oleh Ibnu Hibbân dalam kitab al-Tsiqât. `Alî ibn al-Madîni `Alî ibn al-Madîni berkata: berkata kepada saya Abû Sufwân: yang menjadi teladan saya adalah Yahya ibn Yahya al-Ghasâni.173 Pendapat ulama tentang jarh Abû Sufwân al-Umawiyyi:

-

Tidak ada di antara para kritikus yang mengkritik tentang pribadi Abû Sufwân al-Umawiyyi.

g. Harmalah Ibn Yahya Nama lengkap beliau adalah Harmalah ibn Yahya ibn `Abdullâh ibn Harmalah ibn `Imrân ibn Qirâd al-Tujîbî Abû Hafsh alMishrî, seorang murid dari Imam al-Syâfi`î.174 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Idrîs ibn Yahya al-Khûlânî, Ayyûb ibn Suwaid al-Ramlî, Basyar ibn Bakar al-Tanîsî, Sa`î ibn Hakam ibn Abû Maryam, Abû Shâlih `Abdullâh ibn Shâlih yang merupakan sekretarisnya, al-Laits ibn Sa`ad, `Abdullâh ibn Muhammad ibn Ishaq al-Fahmî yang dikenal dengan al-Baithârî, `Abdullâh ibn Wahab, `Abdullâh ibn Yûsuf alTânisî, `Abd al-Rahman ibn Ibrâhîm al-Dimasyqî yang merupakan

Ibid., h. 238. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 183-184. 174 Ibid., j. 2, h. 229. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 4, h. 220.

173

123

tetangganya, Yahya ibn `Abdullâh ibn Bukair, bapaknya Yahya ibn `Abdullâh ibn Harmalah ibn `Imrân al-Tujîbî, dan lain sebagainya.175 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Muslim, Ibnu Mâjah, Ibrâhîm ibn Ahmad ibn Yahya ibn al-Aslam alMishri, Ibrâhîm ibn `Abdullâh ibn al-Junaid al-Khatlî, Abû Dajânah Ahmad ibn Ibrâhîm ibn al-Hakam ibn Shâlih al-Mishrî, Ahmad ibn Dâwud ibn Abû Shâlih `Abd al-Ghaffâr ibn Dâwud al-Kharânî, anak dari anak-anaknya Ahmad ibn Thâhir ibn Harmalah ibn Yahya, Abû `Abd al-Rahman Ahmad ibn `Utsmân al-Nasâ'i al-Kabîr Rafîq Abû Hatim al-Râzî dalam perjalanan ke Mesir, Ahmad ibn Muhammad ibn al-Hajâj ibn Rasyidîn ibn Sa`ad, Ahmad ibn al-Haitsam ibn Hafsh alTsaghrî Qâdhî Tharsûs, Ahmad ibn Yahya ibn Zakîr al-Mishrî, dan lain sebagainya.176 Pendapat ulama tentang ta`dil dari Harmalah ibn Yahya: Abû Ahmad ibn `Adî berkata: menceritakan kepada kami Ibnu Hamâd yakni Abû Basyar al-Daulabî berkata: saya mendengar Yahya berkata: dia (Harmalah) merupakan seorang syekh di Mesir. Dikatakan kepada (Harmalah) bahwa beliau orang yang paling mengetahui hadis dari Ibnu Wahab. Ibnu `Adî berkata: saya mendengar Muhammad ibn Mûsa alHadhramî menyebutkan nama-nama dari sebagian guru-gurunya,

Ibid., j. 2, h. 229. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h.220-221. 176 Ibid., h. 229-230. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 220-221.

175

124

kemudian berkata: saya mendengar `Ahmad ibn Shâlih berkata: Ibnu Wahab menuliskan hadis sebanyak 100.000 hadis. 20.000 hadis ditulis oleh sebagian orang akan tetapi cuma setengahnya, dan sebagian lagi ditulis dengan sempurna oleh Harmalah. Ibnu `Adî berkata: berkata kepada kami Muhammad ibn Mûsa alHadhramî: hadis Ibnu Wahab semuanya ada pada Harmalah kecuali 2 hadis yang disendirikan olehnya. Ibnu `Adî berkata: sesungguhnya Ahmad ibn Shâlih mendengar hadis dari kitab Harmalah dari Ibnu Wahab, maka di ambillah setengahnya, kemudian mencegah yang setengahnya lagi. Maka muncullah permusuhan antara mereka berdua. Ketika Harmalah memasuki Mesir, Ibnu Shâlih tidak mau meriwayatkan hadis dari Harmalah. Harmalah meninggal pada tahun 244 H., sedangkan Ibnu Shâlih meninggal pada tahun 248 H. Abû Sa`îd ibn Yunus berkata: Harmalah lahir pada tahun 156 H., dan meninggal pada malam kamis malam ke-9 bulan Syawal tahun 243 H. seperti yang diriwayatkan al-Nasâ'i. Pendapat ulama tentang jarh dari Harmalah: Abû Hâtim berkata: hadis dari Harmalah boleh ditulis akan tetapi tidak boleh dijadikan hujjah. Ibnu `Adi berkata: saya bertanya kepada Abdullâh ibn Muhammad ibn Ibrâhîm al-Farhâdzânî untuk menuliskan kepada saya suatu hadis dari Harmalah, maka beliau berkata: wahai anakku, apa yang

125

kamu perbuat dengan hadis Harmalah? Harmalah itu dho`if, maka kemudian beliau menuliskan hadis dari Harmalah kepada saya 3 buah hadis tidak lebih.177

h. Zuhair Ibn Harb (Abû Khaitsamah) Nama lengkap beliau adalah Zuhair ibn Harb ibn Syadâd alHarsyi Abû Khaitsamah al-Nasâ'i Nazîl Baghdâd budak dari Bani al-Harîsy ibn Ka`ab ibn `Âmir ibn Sha`sha`ah.178 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Ahmad ibn Ishâq al-Hadrâmi, Abû al-Jawâb al-Ahwash ibn Jawâb, Ishâq ibn `Îsa ibn al-Thabâ‟, Ishâq ibn Yûsuf al-Azraq, Ismâ`îl ibn Abû Uwaisy, Ismâ`îl ibn `Alîyah, Basyar ibn al-Sari, Jarîr ibn `Abd al-Humaid, Hibbân ibn Hilâl, Hajâj ibn Muhammad al-Mishrî, Hajîn al-Matsanî, al-Hasan ibn Mûsa al-`Asyîb, alHusain ibn Muhammad al-Mahrûdzî, Hafsh ibn Ghiyâts, Humaidî `Abd al-Rahman al-Ruâsi, Rûh ibn `Ubadah, Zaid ibn al-Hubâb, Sufyân ibn `Uyaynah, Syabâbah ibn Suwâr, Abû `Ashîm al-Dhahâk ibn Makhlad, `Abdullâh ibn Sa`îd al-Umawiyyi, `Abdullâh ibn Yazîd al-Maqrâ'i, dan lain sebagainya.179

Ibid., h. 230-231. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 221-222. 178 Ibid., j. 3, h. 342-343. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 6, h. 335. 179 Ibid., h. 343. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 335-336.

177

126

Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: al-Bukhârî, Muslim, Abû Dawud, Ibnu Mâjah, Ibrâhîm ibn Ishâq al-Harbî, anaknya Abû Bakar Ahmad ibn Abû Khaitsamah, Abû Ibrâhîm Ahmad ibn Sa`ad al-Zuhrî, Abû Bakar Ahmad ibn `Alî ibn Sa`îd al-Marûzî al-Qâdhî, Abû Ya`la Ahmad ibn `Alî ibn al-Matsnâ al-Muwashalî, Baqi‟ ibn Makhlad al-Andalûsî, Ja`far ibn Abû `Utsmân al-Thayâlisî, Hârits ibn Muhammad ibn Abû Usâmah al-Tamîmî, `Abbâs ibn Muhammad al-Daurî, Abû Bakar `Abdullâh ibn Muhammad ibn Abû al-Dunyâ, Abû Zar`ah, `Ubaidillâh ibn `Abd al-Karîm al-Râzî, `Utsmân ibn Khardzâdz al-Anthâki, Abû Hâtim Muhammad ibn Idrîs al-Râzî.180 Pendapat ulama tentang ta`dil Zuhair ibn Harb: Hâtim berkata: shadûq. Ya`qub ibn Syaibah berkata: Zuhair atsbat dari `Abdullâh ibn Muhammad ibn Abû Syaibah. `Abdullâh itu orang yang mempermudah dalam hadis. Ja`far ibn Muhammad al-Faryâbi berkata: saya bertanya kepada Muhammad ibn `Abdullâh ibn Namîr: manakah yang lebih kamu sukai (dalam periwayatan hadis) antara Abû Khaitsamah atau Abû Bakar ibn Syaibah? beliau menjawab: Abû Khaitsamah.

Ibid., h. 343. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 336.

180

127

-

Abû `Ubaid al-Âjiri berkata: saya bertanya kepada Abû Dâwud: apakah Abû Khaitsamah hujjah dalam periwayatan hadis? beliau berkata: begitu indah pengetahuan ilmunya (Abû Khaitsamah).

-

Al-Nasâ'i berkata: tsiqah, ma’mûn. Al-Husain ibn Fahm berkata: tsiqah, tsabat. Abû Bakar al-Khathîb berkata: dia orang yang tsiqah, tsabat, hâfidz, dan mutqîn.

-

Muhammad ibn `Abdullâh al-Hadhramî dan `Ubaid ibn Muhammad ibn Khalaf al-Bazzâr dan Husain ibn Fahm berkata: beliau meninggal pada tahun 234 H. Ibnu Fahm menambahkan bahwa beliau meninggal di Baghdâd dan dihadiri oleh banyak orang.

-

Anaknya Abû Bakar ibn Abû Khaitsamah berkata: beliau lahir pada tahun 160 H., dan meninggal pada malam kamis tanggal 7 Sya`bân tahun 234 pada masa Khalifah Ja`far dan umur beliau adalah 74 tahun.181 Pendapat ulama tentang jarh Zuhair ibn Harb:

-

Tidak ada di antara para kritikus yang mengkritik tentang pribadi Zuhair ibn Harb.

Ibid., h. 343-344. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, 336-337. Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad al-Dâruquthnî, Dzikr Asmâ’ alTab`în wa Man Ba`dahu, h. 143.

181

128

i. Muslim ibn al-Hajjâj Nama lengkapnya adalah Muslim ibn al-Hajjâj ibn Muslim al-Qusyairî. Julukannya adalah Abû al-Hasan al-Naisâbûrî, pengarang kitab Shahîh Muslim.182 Nama gurunya dalam periwayatan hadis antara lain: Ibrâhîm ibn Khâlid al-Yasykurî, Ibrâhîm ibn Dînâr al-Tamar, Ibrâhîm ibn Ziyâd Sabalan, Ibrâhîm ibn Sa‟ad al-Jauharî, Ibrâhîm ibn Muhammad ibn `Ar`arah, Ismâ`îl ibn Abû Uwais, Ismâ`îl ibn al-Khalîl al-Khazzaz, Ismâ`îl ibn Sâlim al-Shâigh, Umayyah ibn Bistham, Bisyri ibn al-Hakam al-`Abdî, Bisyri ibn Khâlid al`Askarî, Bisyri ibn Hilâl al-Shawaf, Ja`far ibn Humaid al-Kûfî, Hâjib ibn al-Walîd al-Manbijî, Hamîd ibn `Umar al-Bakrawî, Hibbân Mûsa al-Marwazî, Hajjâj ibn al-Syâ`ir, Harmalah ibn Yahya al-Tujîbî, al-Hasan ibn Ahmad ibn Abû Syu`aib al-Harranî, al-Hasan ibn al-Râbi` al-Buranî, Khalaf ibn Hisyâm al-Basysyar, Dâwud ibn Rusyaid, Dâwud ibn `Amrû al-Dhâbî, dan lain sebagainya.183 Nama muridnya dalam periwayatan hadis: al-Tirmidzî satu hadis, Ibrâhîm ibn Ishâq al-Shairafî, Ibrâhîm ibn Abû Thâlib, Ibrâhîm ibn Muhammad ibn Hamzah, Ibrâhîm ibn Muhammad Sufyân al-Faqîh, Abû Hâmid Ahmad ibn Hamdun ibn Rustûm al-

Ibid., j. 10, h. 126. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 18, h. 68. 183 Ibid., h. 126. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h.69-71.

182

129

A`masyî, Abû al-Fadhal Ahmad ibn Salamah al-Hâfizh, Abû Hâmid Ahmad ibn `Alî al-Hasan ibn Hasnuwiyah al-Maqbûrî, Abû `Amrû Ahmad ibn al-Mubârak al-Mustamilî, Abû Hâmid Ahmad ibn Muhammad al-Husain Ibn al-Syarqî, dan lain sebagainya.184 Pendapat ulama tentang ta`dil Imam Muslim: Al-Hâkim Abû `Abdullâh al-Hâfizh berkata: telah diceritakan kepada kami Abû al-Fadhal Muhammad ibn Ibrâhîm berkata : saya mendengar Ahmad ibn Salamah mengatakan: saya telah melihat Abû Zar`ah dan Abû Hâtim menghadap kepada Muslim ibn al-Hajjâj untuk mengetahui orang-orang yang sahih atas imam-imam pada zaman mereka berdua. Berkata juga alHâkim: saya mendengar `Umar ibn Ahmad al-Zâhid

mengatakan: saya mendengar bahwa dia adalah orang yang tsiqah dari sahabat-sahabat kami dan kebanyakan orangpun sama pendapatnya dengan saya. Abû Sa‟îd ibn Ya`qûb mengatakan: `Abdullâh Muhammad ibn Ya`qûb saya mendengar Abû mengatakan: saya

mendengar Ahmad ibn Salamah mengatakan: dilaksanakan untuk Abû al-Husain Muslim ibn al-Hajjâj sebuah majelis untuk belajar, maka disebutkan kepadanya sebuah hadis yang dia belum mengetahuinya, maka diapun meninggalkan

rumahnya menuju ke rumah al-Sirâj, kemudian berkata:
Ibid., h. 126. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 72.
184

130

siapakah yang ada di rumah. Tidak boleh satu orangpun yang memasuki rumah ini. Maka dikatakan kepadanya: dihadiahkan kepada kita satu keranjang yang berisi buah kurma. Berkatalah dia: berikanlah kurma itu kepada saya, maka dikasihkanlah kurma itu kepadanya, maka diapun meminta hadis sambil mengambil kurma itu satu per satu sampai kenyang, setelah kurma itu habis dia juga mendapatkan hadisnya. Al-Hâkim berkata: saya mendapatkan kabar bahwa Muslim adalah orang yang tsiqah dari sahabat-sahabat kami sampai dia meninggal. Al-Hâkim berkata: saya mendengar Muhammad ibn Ya`qûb dari Abû `Abdullâh al-Hâfizh mengatakan: meninggalnya Muslim pada waktu malam hari pada hari ahad, dan dimakamkan pada hari senin tanggal 5 bulan Rajab tahun 261 H. Berkata yang lainnya: dia dilahirkan pada tahun 204 H. 185 Pendapat para ulama tentang jarh Imam Muslim: Tidak seorangpun dari para ulama yang mengkritik tentang pribadi Muslim ibn al-Hajjaj.

A. Biografi periwayat dalam hadis riwayat al-Tirmidzî a. Abû Hurairah b. Abû Salamah
Ibid., h. 127-128. Jamâluddin Abu al-Hajjaj Yusuf al-Mazzi, Tahdzibul Kamal fi Asma’ ar-Rijal, J. 18, h. 72-73.
185

131

c. Ibnu Syihâb d. `Uqail e. Al-Laits ibn Sa`ad f. `Abdullâh ibn Shâlih Nama lengkap beliau adalah `Abdullâh ibn Shâlih ibn Muhammad ibn Muslim al-Jahnî budak dari Abû Shâlih al-Mishrî. Beliau adalah sekretaris al-Laits.186 Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Mu`âwiyah ibn Shâlih al-Hadhramî Mûsa ibn `Alî ibn Rabbah, Harmalah ibn `Imrân al-Tujîbî, Sa`îd ibn `Abd al-`Azîz alTanûkhî, al-Laits ibn Sa`ad, al-Mufadhal ibn Fadhâlah, Ibnu Luhai`ah, Ibnu Wahab, Basyar ibn al-Sarî, Yahya ibn Ayyûb, Abû Syarîh, `Abd al-`Azîz ibn `Abdullâh ibn Abû Salamah al-Majisûn dan lain sebagainya.187 Nama-nama murid beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Abû Dâwud, al-Tirmidzî, Ibnu Mâjah dengan perantara alHasan ibn `Alî al-Khilâl, `Abdullâh al-Dârimi, Muhammad ibn Yahya al-Dzahalî, `Alî ibn Dâwud al-Qanthârî, Maktûm ibn al`Abbâs al-Marûzi, Muhammad ibn Abû al-Hasan al-Samnâni, Abû

Ibid., j. 5, h. 256. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 10, h. 218. 187 Ibid., h. 256. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 218-219.

186

132

Hatim al-Râzî, Abû al-Azhar al-Naisabûrî, Abû `Ubaid al-Qâsim ibn Salam dan lain sebagainya.188 Pendapat ulama tentang ta`dil dari `Abdullâh ibn Shâlih: Abû Hatim al-Râzî berkata: saya mendengar Abû al-Aswad alNadhar ibn `Abd al-Jabbâr, Sa`îd ibn `Ufair memuji kepada sekretaris al-Laits. Abû Hâtim berkata: saya mendengar `Abd al-Mâlik ibn Syu`aib ibn al-Laits berkata: Abû Shâlih tsiqah, ma’mun. Beliau (Abû Shâlih) telah mendengar dari kakek saya hadisnya, ayah saya juga mengkhususkannya dalam periwayatan hadis, dan beliau pula meriwayatkan hadis di depan ayah saya. Ahmad berkata: saya tidak pernah mengetahui orang yang lebih mengetahui hadis riwayat al-Laits kecuali Abû Shâlih. Sa`ad ibn Manshûr dari Abû Shâlih berkata: saya tidak pernah mendengar riwayat al-Laits dari segi lafazhnya kecuali dari kitab Yahya ibn Sa`îd. Sa`îd al-Burdaî berkata: saya berkata kepada Abû Zar`ah: Abû Shâlih adalah sekretaris al-Laits, maka beliau tersenyum dan berkata: beliau merupakan orang yang baik hadisnya. Ismâ`îl al-Samawaih dari Abû Shâlih berkata: saya berteman dengan al-Laits selama 20 tahun.

Ibid., h. 256. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 219-220.

188

133

-

Abû Hatim berkata: hadis-hadis yang diriwayatkan Abû Shâlih di akhir hidupnya banyak yang mengatakan mungkar. Saya melihat ini adalah perbuatan dari Khâlid ibn Najîh, bahwa Abû Shâlih bersahabat dengan Najîh. Abû Shâlih merupakan orang terbebas dari celaan dan Khâlid pembohong dan dianggap dho`if oleh orang-orang. Abû Shâlih bukanlah orang yang berbuat bohong melainkan beliau adalah orang yang shalih.

-

Ya`qûb ibn Sufyân berkata: Abû Shâlih adalah orang yang shalih.

-

`Alî ibn `Abd al-Rahman ibn al-Mughîrah dari Abû Shâlih berkata: saya lahir pada tahun 173 H., begitu juga Ya`qûb ibn Sufyân dari Abû Shâlih menambahkan bahwa beliau (Abû Shâlih) meninggal pada tahun 222 H.

-

Abû Hârûn al-Khanîbî berkata: saya pernah melihat yang lebih atsbat dari Abû Shâlih. Pendapat ulama tentang jarh dari `Abdullâh ibn Shâlih:

-

Ibnu Hibbân berkata: beliau adalah orang yang mungkar dalam hadisyang begitu sangat. Beliau meriwayatkan dari orang-orang yang tsabat, akan tetapi bukan hadis yang shahih. Pribadi beliau adalah orang yang shadûq, akan tetapi hadisnya banyak yang mungkar.

134

-

Al-Burdaî berkata: saya berkata Abû Zar`ah: saya melihat di Mesir banyak hadis dari `Utsmân ibn Shâlih dari Ibnu Luhai`ah adalah hadis-hadis yang mungkar.

-

Shâlih ibn Muhammad berkata: bahwa Ibnu Ma`în men-tsiqahkan beliau (Abû Shâlih). Adapun menurut saya, Abû Shâlih berbohong dalam hadis.

-

Ibnu al-Madînî berkata: saya meninggalkan hadisnya (Abû Shâlih) dan tidak meriwayatkan hadis darinya satupun.

-

Ahmad ibn Shâlih berkata: Abû Shâlih orang yang diragukan dan dia bukanlah siapa-siapa.

-

Al-Nasâ'i berkata: bukan orang yang tsiqah. `Abdullâh ibn Ahmad berkata: saya bertanya kepada ayah saya tentang Abû Shâlih, beliau menjawab: pada mulanya

merupakan orang yang biasa dijadikan pegangan dalam hadis, akan tetapi pada masa tuanya beliau telah banyak kesalahan dan dia bukanlah apa-apa dalam hadis (laisa bi syai’).189

g. Maktûm Ibn al-`Abbâs Nama lengkap beliau adalah Maktûm ibn `Abbâs Abû alFadhal al-Marûzî yang dikenal dengan nama al-Tirmidzî.190

Ibid., h. 257-261. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 220-224. 190 Ibid., j. 10, h. 289. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 18, h. 356.

189

135

Nama-nama guru beliau dalam periwayatan hadis antara lain: Abû Shâlih `Abdullâh ibn Shâlih al-Mishrî dan Muhammad ibn Yûsuf al-Faryabî.191 Nama murid beliau dalam periwayatan hadis yaitu: alTirmidzî. Beliau (Maktûm ibn `Abbâs) merupakan orang yang tidak dikenal dalam periwayatan hadis.192

h. Al-Tirmidzî Nama lengkap beliau adalah Muhammad ibn `Îsa ibn Sûrah ibn Mûsa ibn al-Dhahak. Ada yang berkata Ibnu al-Sakan al-Salmî Abû `Îsa al-Tirmidzî.193 Beliau mengelilingi beberapa daerah dan mendengar banyak hadis dari orang-orang Khurasân, `Irâq dan Hijaz.194 Nama-nama murid beliau antara lain: Abû Hamîd Ahmad ibn `Abdullâh ibn Dâwud al-Marûzî al-Tâjir, al-Haitsam ibn Kalîb al-Syâmî, Muhammad ibn Mahbûb Abû al-`Abbas al-Mahbûbi al-

Ibid., h. 289. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 356. 192 Ibid., h. 289. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 356. 193 Ibid., j. 9, h. 387. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, j. 17, h. 133. 194 Ibid., j. 9, h. 387. Jamâl alî-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 134.

191

136

Marûzî, Ahmad ibn Yûsuf al-Nafsî, Abû al-Hârits Asad ibn Handawiyah dan lain sebagainya.195 Pendapat ulama tentang ta`dil al-Tirmidzî: Al-Mustaghfirî berkata: beliau meninggal pada bulan Rajab tahun 279 H. Al-Khalîlî berkata: tsiqah, muttafaq `alaih. Al-Idrîsî berkata: al-Tirmidzî adalah salah satu dari para imam yang meletakkan dasar ilmu hadis dalam penulisan kitab alJâmi’, al-Târîkh, dan `ilâl yang ditulis oleh seorang yang `alim dan mutqin. Disebutkan oleh Ibnu Hibbân dalam kitab al-Tsiqât. Al-Khâlidi berkata: Abû `Îsa berkata: saya menulis kitab alMusnad al-Shahîh, maka saya memperlihatkannya kepada para ulama di Hijâz, `Irâq dan Khurasân, maka mereka pun meridhoinya. Yûsuf ibn Ahmad al-Baghdâdî berkata: Abû `Îsa adalah seorang hafizh yang lebih berbahaya di akhir hidupnya. Abû al-Fadhal al-Bilmânî berkata: saya mendengar Nashar ibn Muhammad al-Syirkûhî berkata: saya mendengar Abû `Îsa berkata: saya tidak lebih banyak bermanfaat kepada kamu, akan tetapi kamu lebih bermanfaat bagi saya.196

Ibid., j. 9, h. 387. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, 134. 196 Ibid., j. 9, h. 388-389. Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf al-Mazzî, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl, h. 134-135.

195

137

Pendapat para ulama tentang jarh al-Tirmidzî: Tidak seorangpun dari para ulama yang mengkritik tentang pribadi al-Tirmidzî.

138

BAB IV KUALITAS SANAD DAN MATAN HADIS

A. Kualitas Sanad dan Matan Hadis Setelah kita mengetahui seluruh sanad melalui al-i`tibar sanad, kemudian perbedaan yang terdapat dalam matan dengan dan juga mengetahui biografi dari para periwayat, maka langkah selanjutnya dalam penelitian hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia adalah dengan menganalisa kualitas sanad dan matan beserta pemaknaan hadis tersebut dalam kehidupan sekarang.

1. Kualitas Keshahihan Sanad Hadis a. Sanad hadis dalam riwayat al-Bukhârî Untuk mempermudah dalam menganalisa kualitas

keshahihan sanad hadis yang terdapat dalam hadis riwayat alBukhârî sesuai dengan kaedah keshahihan sebuah sanad hadis, maka kami membuat sebuah tabel seluruh periwayat al-Bukhâri sebagai berikut: Nama Periwayat Ada atau tidaknya Syâhid dan Tâbi` Tahun kelahiran atau meninggal Hubung Lamba-an guru dan murid ng periwayatan hadis Lafadz jarh dan ta`dil

139

Abû Hurairah

Tidak ada syâhid

Lahir

pada Ada

‫ لَبي‬Lafazh َ ahfazh hafal). Lafazh tidak ada

ta`dil: (paling

tahun 600 M. hubung (20 sebelum Hijrah) Yaman tahun an guru dan di murid dan antara

jarh:

wafat 45 tahun Abû kemudian setelah yakni HuraiNabi rah pada dengan

tahun 675 M. / Nabi 58 H. dalam usia 78 tahun. Abû Salamah Tidak ada tâbi` Meninggal di Ada ْ َٓ‫ ع‬Lafazh ta`dil:

Madinah pada hubung tahun 94 yaitu waktu kekhalifahan Walîd Mâlik H. an guru pada dan murid antara

tsiqah 2X, faqih, banyak hadis

yang diriwayatkannya, lebih tentang (a`lam hadîts). Lafazh jarh: dan alim hadis al-

ibn Abû dalam Salamah dengan Abû Hurairah

usai 72 tahun

meninggal dunia dalam masih tidak untuk (dalam periwayatan keadaan kecil, shahih kita

140

hadis) Ibnu Syihâb alZuhrî Tidak ada tâbi` Lahir pada Ada ْ َٓ‫ ع‬Lafazh ِٝٔ‫اَخجَش‬ َ ْ tsiqah, ta`dil: banyak

tahun 50 H. hubung ada juga yang an guru berkata tahun dan

meriwayatkan hadis, yang seorang `âlim,

51 H. dalam murid usia 72 tahun. antara Meninggal pada Ibnu

faqih dan orang yang alim. Lafazh hadis jarh: al-Zuhrî paling

bulan Syihâb alZuhrî dengan Abû Salamah

Ramadhan tahun 125 H.

semuanya 1200 hadis, semuanya merupakan hadis yang

bersanad, 200 di antaranya merupakan diriwayatkan oleh orang yang tidak tsiqah. `Uqail Ada satu tâbi` yakni Yûnus al-Ailî Meninggal Ada ْ َٓ‫ ع‬Lafazh atsbat shadûq, 4X, lâ ta`dil: 3X, tsiqah ba’sa

pada tahun 141 hubung H. an guru dan murid antara `Uqail dengan

bihi, hujjah dan hâfizh. Lafazh Ada jarh: yang

141

Ibnu Syihâb alZuhrî

mengatakan bahwa (`Uqail) beliau belum

mendengar dari al-Sirî akan beliau apapun, tetapi (`Uqail)

mendapatkan hadis dengan

munawalah AlLaits ibn Sa`ad Ada dua tâbi` yaitu `Abdull âh Lahir pada Ada ْ َٓ‫ ع‬Lafazh َّ َ َِٕٝ‫دذص‬ tsiqah tsabat atsbat shâlih, ta`dil: 8X, 2X, 2X, shadûq

tahun 94 H. hubung dan meninggal an guru pada jum`at hari dan murid antara

ibn pertengah-an

3X, faqih, dan hafidz. Lafazh jarh: alLaits akan beliau tsiqah tetapi dalam

Wahab dan Abû Shafwâ n al-

bulan Sya`ban al-Laits tahun 175 H. ibn Sa`ad dengan `Uqail

Umawi yyi

mengambil hadis mudah sangat

Yahya ibn Bukair

Ada lima tâbi` yaitu Zuhair

Meninggal pada Shafar

Ada

َّ َ ‫ دذصََٕب‬Lafazh atsbat ahfadz,

ta`dil: al-nâs, tsiqah,

bulan hubung pada an guru dan murid

tahun 231 H.

dan shadûq. Lafazh jarh:

142

ibn Harb, Harmal ah ibn

antara Yahya ibn Bukair dengan al-Laits ibn Sa`ad

dho’if, laisa bi tsiqah.

Yahya, `Abdull âh ibn

Shâlih, Ahmad ibn `Umair dan Ibnu alSarh alMishrî AlTidak Lahir bulan

pada Ada Syawal hubung

َّ َ ‫ دذصََٕب‬Lafazh pandai

ta`dil: dalam

Bukhârî ada tâbi` karena seorang mukhar rij

tahun 194 H. an guru meninggal pada Sabtu bulan dan hari murid pada antara Syawal alBukhârî dengan Yahya ibn Bukair

hadis serta lebih teliti hadis, dalam menghafal hadis serta betul tersebut, ada yang paham hadis tidak seorang seperti dalam baik

tahun 256 H.

Muhammad bin Ismâ`îl bin

Ibrâhîm, hâfizh,

143

orang paling orang paling mengetahui

yang faqih, yang

tentang hadis. Lafazh jarh: alBukhârî mengatakan bahwa al-Qur'an itu maka diingkarilah pendapat tersebut ulama-ulama Khurasan, maka diapun dan dalam kabur dari makhluk

meninggal keadaan

ketakutan.

Dari tabel di atas, ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat pertama yakni Abû Hurairah dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kepada Abû Hurairah yaitu lafazh "paling hafal" (ahfazh) yang merupakan kata "paling" (tafdhîl). Dalam tingkatan ta`dil, kata ini merupakan tingkatan yang pertama. Pujian yang diberikan para kritikus hadis bersifat mutawasith (pertengahan) karena mereka

144

memberikan pujian tidak terlalu keras dengan keterangan yang jelas. Di samping itu, tidak ada para kritikus yang memberikan jarh kepada beliau. Dengan demikian Abû Hurairah merupakan seorang yang `âdil dan dhâbit karena telah memenuhi syarat sebagai periwayat `âdil dan dhâbith. Adapun mengenai ketersambungan sanad periwayat Abû Hurairah dengan Nabi dapat dilihat dari selisih tahun kelahiran dan meninggal antara Abû Hurairah dengan Nabi. Dalam tabel di atas disebutkan bahwa Abû Hurairah lahir pada tahun 600 M. (20 tahun sebelum Hijrah) di Yaman dan wafat 45 tahun kemudian setelah Nabi yakni pada tahun 675 M. / 58 H. dalam usia 78 tahun. Sedangkan Nabi lahir pada tahun 570 M. dan meninggal pada tahun 12 Rabi`ul Awal tahun 11 H. Antara umur kelahiran Nabi dengan Abû Hurairah selisih 30 tahun, kemudian selisih antara wafat Abû Hurairah dengan Nabi 47 tahun. Dengan demikian terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis antara Abû Hurairah dengan Nabi. Di samping itu, dalam lambang periwayatan sanad hadis yang digunakan Abû Hurairah menunjukkan adanya

ketersambungan sanad dengan Nabi adalah lafazh ‫ ,لبي‬lafazh ini merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`. 197 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37.
197

145

hadis Nabi.198 Dilihat pribadi Abû Hurairah yang `âdil dan dhâbith, kemudian adanya hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis, serta lambang periwayatan juga menunjukkan

ketersambungan sanad antara Abû Hurairah dengan Nabi. Dengan demikian, Abû Hurairah benar-benar mendapat hadis tersebut dari Nabi dan ketersambungan sanad antara Abû Hurairah dengan Nabi benar-benar telah terjadi dalam sanad hadis tersebut. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat kedua yakni Abû Salamah dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu tsiqah 2X, faqih, banyak hadis yang diriwayatkannya, dan lebih alim tentang hadis (a`lam al-hadîts). Lafazh ta`dil dengan lafazh tsiqah, dan faqih merupakan ta`dil yang berperingkat di tingkatan ketiga. Adapun ta`dil dengan lafazh a`lam al-hadîts merupakan ta`dil yang berperingkat pertama karena merupakan kata "paling" (tafdhîl). Dari pendapat ta`dil di atas, ulama kritikus hadis sangatlah moderat (mutawasith) dalam menilai pribadi Abû Salamah karena diiringi keterangan yang jelas. Walaupun demikian, dalam tabel di atas ada dari para kritikus yang menilai tentang jarh Abû Salamah yakni meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, tidak shahih untuk kita (dalam periwayatan hadis). Pendapat Ahmad yang mengatakan bahwa

198

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.

146

beliau meninggal dunia dalam keadaan masih kecil sangat keliru, karena Abû Salamah meninggal dalam usia 72 tahun. Sedangkan jarh yang dikatakan Abû Hâtim yakni tidak shahih untuk kita merupakan tajrih yang berperingkat terakhir atau peringkat kelima. Oleh karena itu, tajrih dari para kritikus hadis tersebut tidak bisa membawa dirinya (Abû Salamah) termasuk orang yang tidak bisa dipercaya ataupun ditolak periwayatannya. Ulama kritikus hadis yang memberikan jarh kepada Abû Salamah sangatlah mudah (mutasahhil) tanpa diiringi dengan keterangan yang jelas. Dengan demikian dilihat dari ta`dil Abû Salamah yang berperingkat tinggi yakni pertama dan ketiga serta jarh yang berperingkat terakhir atau kelima, maka Abû Salamah merupakan periwayat yang memenuhi kriteria sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Abû Salamah dengan Abû Hurairah, dalam tabel di atas disebutkan bahwa Abû Salamah meninggal di Madinah pada tahun 94 H. yaitu pada waktu kekhalifahan Walîd ibn Mâlik dalam usai 72 tahun. Itu berarti Abû Salamah lahir sekitar tahun 22 H. Sedangkan Abû Hurairah lahir pada tahun 600 M. (20 tahun sebelum Hijrah) di Yaman dan wafat pada tahun 675 M. / 58 H. dalam usia 78 tahun. Hal ini berarti selisih antara tahun kelahiran mereka berdua adalah 42 tahun, sedangkan selisih antara tahun meninggal mereka adalah 44 tahun. Dengan demikian terjadi hubungan guru dan murid dalam

147

periwayatan hadis antara Abû Salamah dengan Abû Hurairah. Adapun mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini menggunakan ٓ‫ ع‬yang menurut banyak ulama bisa menyebabkan adanya tadlis dalam sanad.199 Akan tetapi karena Abû Salamah merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbith serta terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis, maka sanad Abû Salamah dapat dikatakan bersambung dan memenuhi syarat bersambungnya sanad dengan lambang periwayatan `an `an. 200 Dengan demikian sanad antara Abû Salamah dengan Abû Hurairah merupakan sanad yang bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat kedua yakni Ibnu Syihâb al-Zuhrî dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu tsiqah, banyak meriwayatkan hadis, seorang yang `âlim, faqih dan orang yang paling alim. Lafazh tsiqah, banyak meriwayatkan hadis, seorang yang `âlim, faqih merupakan lafazh tingkatan ketiga dalam tingkatan ta`dil. Sedangkan lafazh orang yang paling alim merupakan tingkatan yang pertama karena mengandung kata “paling” (tafdhîl). Ta`dil dari para kritikus hadis di atas bersifat mutawasith (pertengahan) karena tidak begitu ketat dan dengan keterangan yang jelas.

199 200

Ibid., h. 88. Ibid., h. 83. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, h. 129.

148

Walaupun demikian, dalam tabel di atas ada sebagian para kritikus yang memberikan jarh kepada Ibnu Syihâb al-Zuhrî di antaranya yaitu hadis al-Zuhrî semuanya 1200 hadis, semuanya merupakan hadis yang bersanad, 200 di antaranya merupakan diriwayatkan oleh orang yang tidak tsiqah. Pendapat tajrih dari para kritikus hadis tersebut mempunyai peringkat kelima dan bersifat mutasahhil (mempermudah) dalam menilai jarh dari Ibnu Syihâb alZuhrî karena tanpa keterangan yang jelas mengenai jarh beliau. Sehingga tidak bisa membawa beliau termasuk orang yang tidak bisa dipercaya ataupun ditolak periwayatannya. Dengan demikian dilihat dari ta`dil yang berperingkat tinggi yakni pertama dan ketiga dan jarh yang berperingkat kelima, maka Ibnu Syihâb al-Zuhrî merupakan periwayat yang memenuhi kriteria sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Ibnu Syihâb al-Zuhrî dengan Abû Salamah, dalam tabel di atas disebutkan bahwa Ibnu Syihâb lahir pada tahun 50 H., ada juga yang berkata tahun 51 H. dan meninggal pada bulan Ramadhan tahun 125 H. dalam usia 72 tahun. Adapun Abû Salamah meninggal di Madinah pada tahun 94 H. yaitu pada waktu kekhalifahan Walîd ibn Mâlik dalam usai 72 tahun. Hal itu berarti Abû Salamah lahir sekitar tahun 22 H., maka selisih antara kelahiran Ibnu Syihâb al-Zuhrî dengan Abû Salamah yakni 28 atau 29 tahun. Dengan demikian antara mereka berdua

149

(Ibnu Syihâb al-Zuhrî dengan Abû Salamah) terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis. Mengenai lambang periwayatan beliau dalam hadis yang kami teliti, ada dua keterangan yang berbeda. Imam al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa beliau

menggunakan lambang periwayatan dengan ٝٔ‫ ,اخجش‬sedangkan alBukhârî, Muslim dan Ibnu Mâjah meriwayatkan bahwa beliau menggunakan lambang periwayatan ٓ‫ ع‬yang menurut kebanyakan ulama lambang ini bisa menyebabkan tidak bersambungnya suatu sanad.201 Akan tetapi lambang periwayatan dengan lafazh ٓ‫ ع‬dapat didukung oleh lambang periwayatan dengan menggunakan lafazh ٝٔ‫ اخجش‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`.202 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.203 Dilihat dari pribadi Ibnu Syihâb al-Zuhrî yang merupakan pribadi yang `âdil dan dhâbith, terjadi hubungan guru dan murid serta lambang periwayatan ٝٔ‫,اخجش‬ maka

ketersambungan sanad antara Ibnu Syihâb al-Zuhrî dengan Abû Salamah merupakan sanad yang bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat ketiga yakni `Uqail dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu lafazh atsbat 3X,

Ibid., h. 83. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, h. 129. Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 203 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
202

201

150

shadûq, tsiqah 4X, lâ ba’sa bihi, hujjah dan hâfizh. Lafazh ta`dil yang mengatakan bahwa `Uqail adalah hâfizh merupakan tingkatan kedua. Kemudian pendapat tentang tsiqah dan hujjah merupakan tingkatan ketiga. Sedangkan pendapat tentang shadûq dan lâ ba’sa bihi merupakan tingkatan keempat. Para kritikus hadis yang menilai ta`dil di atas merupakan orang yang mutasyaddid, karena di antara mereka ada salah seorang yang sudah dikenal sebagai orang yang mutasyaddid dalam menilai keshahihan periwayat yakni al-Nasâ‟i. Walaupun demikian, ada sebagian para kritikus yang memberikan jarh kepada `Uqail di antaranya yaitu: beliau (`Uqail) belum mendengar dari al-Sirî apapun, akan tetapi beliau (`Uqail) mendapatkan hadis dengan munawalah. Kecatatan (Jarh) ini dalam tingkatan jarh merupakan tingkatan yang terakhir yakni tingkatan kelima. Ketercelaan ini tidak merusak syarat sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith karena jarh atau kecacatannya berada di tingkat kelima bukan yang pertama. Kriteria sifat kritikus dalam memberikan jarh kepada `Uqail bersifat mutasahhil karena tanpa ada keterangan yang jelas tentang kecacatannya. Dilihat dari ta`dil `Uqail yang berperingkat kedua, ketiga dan keempat serta jarh yang berperingkat terakhir atau kelima, maka dapat dikatakan bahwa beliau (`Uqail) adalah orang yang `âdil dan dhâbith dalam periwayatan hadis.

151

Adapun mengenai ketersambungan sanad antara `Uqail dengan Ibnu Syihâb al-Zuhrî, dalam tabel di atas disebutkan bahwa `Uqail meninggal di Mesir pada tahun 141 H., sedangkan Ibnu Syihâb lahir pada tahun 50 H., ada juga yang berkata tahun 51 H. dan meninggal pada bulan Ramadhan tahun 125 H. dalam usia 72 tahun. Perbedaan antara meninggalnya Ibnu Syihâb dan `Uqail sekitar 16 tahun. Dengan ini dapat dikatakan bahwa mereka berdua sezaman dan ada hubungan guru dan murid. Adapun mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ٓ‫ ع‬yang menurut banyak ulama bisa menyebabkan adanya tadlis dalam sanad.204 Dikarenakan `Uqail merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbith, serta ada hubungan guru dan murid antara `Uqail dan Ibnu Syihâb, maka sanad `Uqail dapat dikatakan bersambung dan memenuhi syarat bersambungnya sanad dengan lambang periwayatan `an `an. 205 Dengan demikian sanad antara `Uqail dengan Ibnu Syihâb al-Zuhrî merupakan sanad yang bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat keempat yakni al-Laits dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu tsiqah 8X, tsabat 2X, atsbat 2X, shâlih, shadûq 3X, faqih, dan hafidz. Tingkatan lafazh atsbat merupakan tingkatan yang pertama karena
204 205

Ibid., h. 88. Ibid., h. 83. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, h. 129.

152

merupakan lafazh tafdhil (kata “paling”). Lafazh hafidz merupakan tingkatan yang kedua, kemudian lafazh faqih, tsiqah, dan tsabat merupakan tingkatan yang ketiga. Yang terakhir yakni lafazh shadûq merupakan tingkatan yang keempat. Dalam memberikan ta`dil dari para kritikus hadis kepada al-Laits, mereka bersifat mutasyadid. Hal ini dikarenakan ada salah satu di antara mereka yakni al-Nasâ‟i yang merupakan mu`addil yang mutasyadid ada dalam kritikus hadis tersebut. Walaupun demikian, dalam tabel di atas ada sebagian para kritikus yang memberikan jarh kepada al-Laits di antaranya yaitu alLaits tsiqah akan tetapi beliau dalam mengambil hadis sangat mudah. Jarh atau ketercelaan dari Abû Dâwud dari Muhammad ibn al-Husain ini tidak merusak syarat sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith karena di samping dia (Abû Dâwud dari Muhammad ibn alHusain) memberikan ta`dil, dia juga memberikan keterangan tentang mudahnya al-Laits dalam mengambil hadis. Hal ini sebenarnya dia menyetujui akan terpujinya pribadi al-laits, akan tetapi ada hal yang membuatnya memberikan jarh yang tanpa keterangan. Dilihat dari ta`dil al-Laits yang berperingkat tinggi yaitu pertama, kedua, ketiga dan keempat serta jarh yang tidak merusak syarat sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith, maka dapat dikatakan bahwa al-Laits adalah orang yang `âdil dan dhâbith dalam periwayatan hadis.

153

Adapun mengenai ketersambungan sanad antara al-Laits dengan `Uqail, dalam tabel di atas disebutkan bahwa al-Laits lahir pada tahun 94 H., dan meninggal pada hari jum`at pertengahan bulan Sya`ban tahun 175 H. Sedangkan `Uqail meninggal di Mesir pada tahun 141 H. Hal itu berarti selisih meninggal antara mereka berdua adalah 34 tahun. Dengan demikian antara al-Laits dan `Uqail hidup sezaman dan telah terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu al-Bukhârî meriwayatkan dengan lambang ٓ‫ ,ع‬sedangkan al-Tirmidzî meriwayatkan dengan lambang ٕٝ‫ دذص‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`.206 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.
207

Dilihat dari pribadi al-Laits yang

merupakan orang yang `âdil dan dhâbith, terjadi hubungan sanad antara al-Laits dan `Uqail, dan juga lambang periwayatan yang

menggunakan lafazh ٕٝ‫ دذص‬dan ٓ‫ ,ع‬maka sanad al-Laits dapat dikatakan bersambung dan memenuhi syarat bersambungnya sanad dengan lambang periwayatan `an `an.208 Dengan demikian hubungan antara sanad al-Laits dengan `Uqail merupakan sanad yang bersambung.

Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 207 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88. 208 Ibid., h. 83. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, h. 129.

206

154

Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat kelima yakni Yahya ibn Bukair dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu atsbat al-nâs, ahfadz, tsiqah, dan shadûq. Tingkatan lafazh atsbat al-nâs dan ahfadz merupakan tingkatan yang pertama karena merupakan lafazh tafdhil (kata “paling”). Kemudian lafazh tsiqah merupakan tingkatan yang ketiga. Yang terakhir yakni lafazh shadûq merupakan tingkatan yang keempat. Pada ulama kritikus hadis dalam memberikan ta`dil kepada Yahya ibn Bukair sangat moderat (mutawasith), karena ta`dil para kritikus tersebut disertakan dengan keterangan yang jelas. Walaupun demikian, dalam tabel ada sebagian para kritikus yang memberikan ketercelaan kepada Yahya ibn Bukair, di antaranya yaitu dho’if, dan laisa bi tsiqah. Dalam jarh tersebut, alNasâ‟i yang merupakan ulama mutasyaddid untuk menilai ke-tsiqahan hadis mengatakan dha`if, akan tetapi di kesempatan lain mengatakan laisa bi tsiqah. Namun demikian, lafazh dha`if yang diberikan kepada Yahya ibn Bukair berada di tingkat terakhir yakni tingkat kelima, sedang lafazh laisa bi tsiqah berada di tingkat ketiga. Oleh karena itu, jarh ini tidak mencederakan ta`dil yang berperingkat tinggi yakni peringkat pertama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Yahya ibn Bukair termasuk periwayat `âdil dan dhâbith.

155

Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Yahya ibn Bukair dengan al-Laits ibn Sa`ad, dalam tabel disebutkan bahwa Yahya ibn Bukair meninggal pada bulan Shafar pada tahun 231 H., sedangkan al-Laits lahir pada tahun 94 H., dan meninggal pada hari jum`at pertengahan bulan Sya`ban tahun 175 H. Selisih antara meninggal Yahya dengan al-Laits yakni 56 tahun. Dengan demikian antara Yahya dengan al-Laits merupakan hidup dalam waktu sezaman dan terjadi hubungan guru dan murid antara mereka berdua (Yahya dengan al-Laits). Adapun mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ‫ دذصٕب‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`. 209 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.210 Dilihat dari pribadi Yahya ibn Bukair yang merupakan pribadi yang `âdil dan dhâbith, terjadi hubungan guru dan murid serta lambang periwayatan ‫,دذصٕب‬ maka ketersambungan sanad antara Yahya ibn Bukair dengan alLaits merupakan sanad yang bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat kelima yakni al-Bukhârî dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu pandai dalam hadis serta lebih teliti dalam hadis, baik dalam menghafal
Shubhi Shalih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 210 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
209

156

hadis serta paham betul hadis tersebut, tidak ada seorang yang seperti Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm, hâfizh, orang yang paling faqih, orang yang paling mengetahui tentang hadis. Lafazh ta`dil orang yang paling mengetahui tentang hadis dan lafazh ta`dil tidak ada seorang yang seperti Muhammad bin Ismâ`îl bin Ibrâhîm merupakan tingkatan pertama dalam tingkatan ta`dil, lafazh hâfizh merupakan tingkatan kedua, lafazh ta`dil baik dalam menghafal hadis serta paham betul hadis tersebut merupakan tingkatan yang ketiga, sedangkan lafazh ta`dil pandai dalam hadis serta lebih teliti dalam hadis merupakan tingkatan yang keempat. Pendapat para kritikus tersebut bersifat mutawasith, karena tidak terlalu

memudahkan dan tidak terlalu ketat serta dengan keteranganketerangan yang jelas. Walaupun demikian, dalam tabel di atas ada sebagian para kritikus yang memberikan ketercelaan kepada al-Bukhârî, di antaranya yaitu al-Bukhârî mengatakan bahwa al-Qur'an itu makhluk maka diingkarilah pendapat tersebut dari ulama-ulama Khurasan, maka diapun kabur dan meninggal dalam keadaan ketakutan. Jarh atau ketercelaan ini tidak termasuk dalam tingkatan-tingkatan jarh yang dapat merusak syarat sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith. Pendapat para kritikus tersebut bersifat mutasahhil, karena memberikan jarh tanpa keterangan-keterangan yang jelas. Dilihat dari ta`dil al-Bukhârî yang berperingkat tinggi yakni pertama, kedua,

157

ketiga dan keempat serta jarh yang tidak disertai dengan keterangan yang jelas (tidak mufassar), maka dapat dikatakan bahwa al-Bukhârî termasuk orang yang periwayat yang `âdil dan dhâbith dalam periwayatan hadis. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara al-Bukhârî dengan Yahya ibn Bukair, dalam tabel telah disebutkan bahwa alBukhârî lahir pada bulan Syawal tahun 194 H., dan meninggal pada hari Sabtu pada bulan Syawal tahun 256 H. Sedangkan Yahya ibn Bukair meninggal pada bulan Shafar pada tahun 231 H. Selisih antara kematian al-Bukhârî dengan Yahya ibn Bukair yaitu 25 tahun. Dengan demikian, antara al-Bukhârî dengan Yahya ibn Bukair merupakan sezaman dan terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang

periwayatan ‫ دذصٕب‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`.211 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara alsima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.212 Dilihat dari pribadi al-Bukhârî yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbith, kemudian adanya hubungan guru dan murid antara al-Bukhârî dengan Yahya ibn Bukair, serta lambang periwayatan ‫ ,دذصٕب‬maka dapat dikatakan

Shubhi Shalih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalahuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa Azami, Memahami Hadis, h. 37. 212 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.

211

158

bahwa hubungan sanad antara al-Bukhâri dengan Yahya ibn `Abdullâh ibn Bukair merupakan sanad yang bersambung. Setelah dilakukan penelitian sanad dari periwayat pertama Abû Hurairah sampai dengan periwayat keenam al-Bukhârî di atas, dapat disimpulkan bahwa rangkaian sanad riwayat al-Bukhârî merupakan sanad-sanad yang bersambung dengan adanya hubungan guru dan murid serta dari pribadi para periwayat dari periwayat pertama yakni Abû Hurairah hingga periwayat terakhir yakni alBukhârî merupakan para periwayat yang `âdil dan dhâbith. Selanjutnya, setelah penulis melakukan proses al-i`tibar seluruh sanad tentang hadis akibat meninggalkan hutang di atas dan juga dengan adanya ketersambungan rangkaian sanad riwayat alBukhârî, sanad-sanad hadis tersebut juga merupakan rangkaian sanad yang terbebas dari syâdz dan `illat. Hal ini dapat dibuktikan dengan hal-hal berikut: a) Para periwayat tersebut merupakan para periwayat yang `âdil dan dhâbith dan memiliki ketersambungan sanad dari periwayat pertama yaitu Abû Hurairah sampai dengan periwayat yang keenam yakni al-Bukhârî. b) Seluruh rangkaian sanad di atas merupakan rangkaian sanad yang memiliki muttabi`, walaupun tanpa syâhid. Dilihat dari penelitian sanad periwayat pertama sampai dengan periwayat keenam di atas, sanad riwayat al-Bukhârî

159

merupakan rangkaian sanad yang bersambung dengan adanya hubungan guru dan murid kemudian dari pribadi para periwayat dari periwayat pertama yakni Abû Hurairah hingga periwayat terakhir yakni al-Bukhârî merupakan para periwayat yang `âdil dan dhâbith serta tidak ada `illat dan syâdz dalam rangkaian sanad tersebut, maka rangkaian sanad dalam riwayat al-Bukhârî merupakan rangkaian sanad yang memenuhi kaedah keshahihan sebuah sanad hadis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rangkaian sanad riwayat al-Bukhârî merupakan rangkaian sanad yang berkualitas shahih.

b. Sanad Hadis Dalam Riwayat Muslim Untuk mempermudah dalam menganalisa kualitas

keshahihan sanad hadis yang terdapat dalam hadis riwayat Muslim sesuai dengan kaedah keshahihan sebuah sanad hadis, maka kami membuat sebuah tabel seluruh periwayat Muslim sebagai berikut: Nama Periwayat Ada atau tidaknya Syâhid dan Tâbi` Abû Hurairah Abû Salamah sda` sda sda sda sda sda Tahun kelahiran atau meninggal sda sda Hubungan guru dan murid Lambang periwayatan hadis sda sda Lambang periwayatan hadis

160

Ibnu Syihâb alZuhrî

sda

sda

sda

sda

sda

Yûnus al- Ada satu MeningAilî tâbi` yakni `Uqail

Tidak ada

ْ َٓ‫ ع‬Lafazh ta`dil: atsbat tsiqah shâlih hadits, 2X, 3X, al`alim,

gal pada hubungan tahun 159 H. guru murid antara Yûnus alAilî dengan Ibnu Syihâb alZuhrî dan

lâ ba’sa bihi, dan shadûq. Lafazh jarh: di dalam Yûnus hadis ibn

Yazîd banyak yang mungkar berasal dari alZuhrî, mempermudah dalam hadis,

dan hafalannya tidak bagus. `Abdullâh Ada dua Lahir pada Ada hubungan guru murid antara `Abdullâh H. ibn Wahab dan ِٝٔ‫ اَخجَش‬Lafazh ta`dil: َ ْ tsiqah, atsbat, hafizh, lebih faqih. Lafazh tidak ada. jarh: dan begitu

ibn Wahab tâbi`

yakni al- bulan Laits ibn Dzulqa`Sa`ad dah

dan Abû tahun Shafwân 125

161

al-

dan

dengan Yûnus al-

Umawiy- meningyi

gal pada Ailî hari Ahad minggu ke-4 bulan Sya`ban tahun 197 H.

Abû Shafwân alUmawiyyi

Ada dua Pergi tâbi` bersama

Ada hubungan guru murid antara Abû Shafwân alUmawiyyi dengan Yûnus alAilî H. dan

ْ َٓ‫ ع‬Lafazh ta`dil: tsiqah, la ba’sa bihi, dan shadûq. Lafazh tidak ada. jarh:

yakni al- ibunya Laits ibn ke Sa`ad dan `Abdullâ h Mekkah ketika ayahnya

ibn terbunuh yaitu pada tahun 132 dan meninggal dalam usia sekitar 200

Wahab

162

tahun. Harmalah ibn Yahya Ada lima Lahir tâbi` yakni Yahya ibn Bukair, Zuhair pada tahun 156 dan meningAda hubungan guru H. murid antara Harmalah dan َّ َ َِٕٝ‫ دذص‬Lafazh ta`dil: orang paling mengetahui hadis dari Ibnu Wahab (a`lam al-nâs), menulis banyak hadis. Lafazh boleh akan tidak dijadikan hujjah, dho`if. َّ َ ‫ دذصََٕب‬Lafazh dan (tsiqah, tsabat), (tsiqah, ma’mûn), tsiqah, tsabat, hâfidz, mutqîn. Lafazh tidak ada. jarh: dan jarh: ditulis tetapi boleh yang

gal pada ibn Yahya dengan `Abdullâh ibn Wahab

ibn Harb, malam Ahmad ibn `Umair kamis yaitu malam

dan Ibnu ke-9 al-Sarh al-Mishrî bulan Syawal tahun 243 H. Zuhair ibn Ada lima Lahir Harb tâbi` yakni Yahya ibn Bukair, Harmala h pada tahun 160 dan meningAda hubungan guru H. murid antara Zuhair ibn

jarh:

shadûq, atsbat,

gal pada Harb dengan Abû

ibn malam kamis

Yahya, Ahmad ibn `Umair

tanggal 7 Shafwân Sya`ban tahun H. alUmawiyyi

dan Ibnu 234

163

al-Sarh al-Mishrî

pada masa khalifah Ja`far

Muslim ibn Hajjâj

Tidak

Lahir

Ada hubungan guru H. murid antara Muslim aldan

َّ َ ‫ دذصََٕب‬Lafazh ta`dil: orang yang tsiqah, sampaisampai Zar`ah Abû Abû dan Hâtim

al- ada tâbi` pada karena seorang mukharrij tahun 204 dan mening-

gal pada ibn tanggal 5 Hajjâj Rajab tahun 261 H. dengan

menghadap kepada Muslim ibn alHajjâj untuk

Harmalah ibn Yahya dan Zuhair ibn Harb

mengetahui orang-orang yang sahih atas imam-imam pada zaman

mereka berdua. Lafazh tidak ada. jarh:

Dari tabel di atas, penelitian tentang ketersambungan sanad dari sanad pertama yakni Abû Hurairah hingga sanad ketiga yakni Ibnu Syihâb al-Zuhrî telah dilakukan dalam penelitian sanad di riwayat al-Bukhârî di atas. Hal ini karena sanad riwayat Muslim

164

dengan riwayat al-Bukhârî dari periwayat pertama hingga ketiga sama dan tidak ada syâhid dan muttabi`. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat keempat yakni Yûnus al-Ailî dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu atsbat 2X, tsiqah 3X, shâlih al-hadits, `alim, lâ ba’sa bihi, dan shadûq. Lafadz atsbat merupakan lafazh tingkatan pertama dalam tingkatan ta`dil karena merupakan huruf tafdhil (kata “paling”). Lafazh tsiqah merupakan lafazh tingkatan ketiga. Kemudian lafazh lâ ba’sa bihi, dan shadûq merupakan lafazh tingkatan keempat. Sedangkan lafazh shâlih al-hadits, `alim merupakan tingkatan yang kelima. Dalam menilai pribadi para kritikus hadis bersifat mutasyaddid, karena ada salah satu kritikus hadis yakni al-Nasâ`i yang dikenal sebagai kritikus yang mutasyaddid dalam menilai ketsiqah-an periwayat. Walaupun demikian, dalam tabel di atas ada beberapa kritikus yang memberi ketercelaan yang diberikan kepada beliau di antaranya yaitu lafazh di dalam hadis Yûnus ibn Yazîd banyak yang mungkar berasal dari al-Zuhrî, mempermudah dalam hadis, dan hafalannya tidak begitu bagus. Lafazh jarh yakni “hadis Yûnus ibn Yazîd banyak yang mungkar berasal dari al-Zuhrî” dan “meriwayatkan banyak hadis yang mungkar” merupakan tingkatan yang pertama dalam tingkatan jarh karena lafazh ini sama dengan

165

lafazh seorang pemalsu hadis ‫ ٚضبع‬yang berada di tingkatan pertama. Sedangkan lafazh “hafalannya tidak begitu bagus” merupakan jarh yang berada dalam tingkatan kelima. Dalam menilai jarh kepada Yûnus al-Ailî, para kritikus hadis sangat keras (mutasyaddid), karena keterangan yang diberikan dengan alasan yang jelas. Walaupun banyak ta`dil yang diberikan para kritikus kepada Yûnus ibn Yazîd berperingkat tinggi yakni pertama, ketiga, keempat dan kelima dalam tingkatan ta`dil, akan tetapi jarh yang diberikan kepada beliau bersifat mencederakan periwayat yaitu tingkatan pertama dalam tingkatan jarh dengan keterangan yang jelas akan jarh tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Yûnus ibn Yazîd bukan termasuk sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Yûnus ibn Yazîd dengan Ibnu Syihâb al-Zuhrî, dalam tabel di atas disebutkan bahwa Yûnus ibn Yazîd meninggal pada tahun 159 H., sedangkan Ibnu Syihâb lahir pada tahun 50 H., ada juga yang berkata tahun 51 H. dan meninggal pada bulan Ramadhan tahun 125 H. dalam usia 72 tahun. Selisih tahun kematian antara Yûnus ibn Yazîd dengan Ibnu Syihâb al-Zuhrî yaitu 34 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keduanya merupakan hidup dalam satu zaman dan telah terjadi hubungan guru dan murid. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu

166

menggunakan lambang periwayatan ٓ‫ ع‬yang menurut banyak ulama bisa menyebabkan adanya tadlis dalam sanad atau bisa menjadi terputusnya suatu sanad hadis.213 Lambang periwayatan ini bisa menjadikan sanad sebuah hadis bersambung kalau periwayat hadisnya merupakan orang yang tsiqah.214 Walaupun telah terjadi hubungan guru dan murid antara Yûnus ibn Yazîd dengan Ibnu Syihâb al-Zuhrî, akan tetapi dikarenakan Yûnus ibn Yazîd bukan termasuk sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith, maka dapat dikatakan hubungan sanad antara Yûnus al-Ailî dengan Ibnu Syihâb al-Zuhrî merupakan sanad yang terputus atau tidak bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat kelima yakni `Abdullâh ibn Wahab dan Abû Shafwân alUmawiyyi. Dalam sanad riwayat Muslim, sanad periwayat kelima bercabang menjadi dua. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam melakukan penilaian kedua sanad tersebut (`Abdullâh ibn Wahab dan Abû Shafwân al-Umawiyyi), maka dilakukan satu-persatu. Dalam menilai ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat dapat `Abdullâh ibn Wahab dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu tsiqah, atsbat, hafizh, dan lebih faqih. lafazh
213 214

Lafazh atsbat, lebih faqih merupakan dalam tingkatan ta`dil karena

tingkatan

pertama

Ibid., h. 88. Ibid., h. 83. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, h. 129.

167

menggunakan kata “paling” (tafdhil). Sedangkan lafazh tsiqah merupakan lafazh dalam tingkatan ketiga. Pendapat para kritikus tetang ta`dil beliau bersifat mutawasith karena tidak terlalu memudahkan dan juga disertai dengan keterangan yang jelas. Tidak ada di antara para kritikus yang memberikan jarh kepada `Abdullâh ibn Wahab. Dilihat dari ta`dil yang berperingat tinggi yakni tingkatan pertama dan ketiga serta tidak ada jarh beliau, maka dapat dikatakan bahwa `Abdullâh ibn Wahab merupakan seorang periwayat yang `âdil dan dhâbit. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara `Abdullâh ibn Wahab dengan Yûnus al-Ailî, disebutkan dalam tabel bahwa `Abdullâh ibn Wahab lahir pada bulan Dzulqa`dah tahun 125 H. dan meninggal pada hari Ahad minggu ke-4 bulan Sya`ban tahun 197 H., sedangkan Yûnus ibn Yazîd meninggal pada tahun 159 H. Selisih tahun meninggal keduanya yaitu 38 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keduanya merupakan hidup dalam satu zaman dan telah terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis. Mengenai lambang periwayatan yang

digunakan dalam periwayatan sanad hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ٝٔ‫ اخجش‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`. 215 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37.
215

168

kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi. 216 Dilihat dari pribadi`Abdullâh ibn Wahab yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbit, adanya hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis serta lambang periwayatan dengan ٝٔ‫ ,اخجش‬maka dapat dikatakan bahwa hubungan sanad antara `Abdullâh ibn Wahab dengan Yûnus al-Ailî merupakan sanad yang bersambung. Setelah meneliti sanad periwayat `Abdullâh ibn Wahab selanjutnya sanad periwayat Abû Sufwân al-Umawiyyi. Dalam menilai ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat dapat Abû Sufwân al-Umawiyyi dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu tsiqah, la ba’sa bihi, dan shadûq. Lafazh tsiqah merupakan lafazh tingkatan ketiga. Kemudian lafazh lâ ba’sa bihi, dan shadûq merupakan lafazh tingkatan keempat. Penilaian para kritikus tentang ta`dil kepada beliau bersifat mutasyaddid karena ada di antara para kritikus tersebut yakni`Alî ibn al-Madînî yang merupakan salah satu ulama yang dinilai mutasyaddid dalam menilai ke-tsiqah-an perawi. Tidak ada di antara para kritikus yang memberikan celaan kepada Abû Sufwân al-Umawiyyi. Dilihat dari tingginya tingkatan ta`dil yang diberikan para kritikus tentang beliau dan juga dengan tidak ada jarh kepada beliau, maka dapat dikatakan bahwa Abû

216

M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.

169

Sufwân al-Umawiyyi merupakan seorang periwayat yang `âdil dan dhâbit dalam periwayatan hadis. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Abû Sufwân al-Umawiyyi dengan Yûnus ibn Yazîd, dalam tabel disebutkan bahwa Abû Sufwân al-Umawiyyi pergi bersama ibunya ke Mekkah ketika ayahnya terbunuh yaitu pada tahun 132 H. dan meninggal dalam usia sekitar 200 tahun. Sedangkan Yûnus ibn Yazîd meninggal pada tahun 159 H. Dilihat dari data yang demikian, dapat dikatakan bahwa keduanya hidup sezaman dan telah terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam

periwayatan sanad hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ٓ‫ ع‬yang menurut banyak ulama bisa menyebabkan adanya tadlis dalam sanad.217 Dengan demikian, dilihat dari pribadi Abû Sufwân al-Umawiyyi yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbit dalam periwayatan hadis serta ada hubungan guru dan murid antara beliau dengan Yûnus ibn Yazîd, maka dapat dikatakan hubungan sanad antara Abû Sufwân al-Umawiyyi dengan Yûnus ibn Yazîd al-Ailî merupakan sanad yang bersambung. Dalam rangkaian sanad riwayat Muslim, sanad periwayat keenam bercabang menjadi dua yaitu Harmalah ibn Yahya dan Zuhair ibn Harb. Dalam melakukan penilaian ke-`âdil-an dan ke-

217

Ibid., h. 88.

170

dhâbith-an pribadi Harmalah ibn Yahya dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu orang yang paling mengetahui hadis dari Ibnu Wahab (a`lam alnâs), menulis banyak hadis. Lafazh “orang yang paling mengetahui hadis dari Ibnu Wahab (a`lam al-nâs)” merupakan lafazh yang menggunakan kata “paling” (tafdhil), dengan demikian lafazh ini merupakan tingkatan yang pertama dalam tingkatan ta`dil. Sedangkan lafazh “menulis banyak hadis” merupakan tingkatan ta`dil yang kelima. Para kritikus dalam menilai ta`dil Harmalah bersifat mutawasith karena tidak begitu keras dan disertai dengan keterangan yang jelas. Walaupun demikian, dalam tabel di atas disebutkan ada sebagian para kritikus yang memberikan jarh kepada beliau di antaranya yaitu boleh ditulis akan tetapi tidak boleh dijadikan hujjah, dho`if. Kedua lafazh jarh tersebut merupakan jarh tingkatan kelima, sehingga tidak dapat mencederakan ta`dil tentang Harmalah. Pendapat kritikus hadis tentang jarh Harmalah bersifat mutasahhil karena tanpa disertai dengan keterangan yang jelas. Dilihat dari ta`dil para kritikus yang berperingkat tinggi yakni tingkat pertama dan kelima serta jarh yang berperingkat kelima dan tanpa keterangan yang jelas, maka dapat dikatakan bahwa Harmalah merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbit.

171

Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Harmalah ibn Yahya dengan `Abdullâh ibn Wahab, dalam tabel di atas disebutkan bahwa Harmalah ibn Yahya lahir pada tahun 156 H. dan meninggal pada malam kamis yaitu malam ke-9 bulan Syawal tahun 243 H., sedangkan `Abdullâh ibn Wahab lahir pada bulan Dzulqa`dah tahun 125 H. dan meninggal pada hari Ahad minggu ke-4 bulan Sya`ban tahun 197 H. Selisih tahun meninggal antar keduanya yaitu 46 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keduanya hidup sezaman dan terjadi hubungan guru dan murid. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam

periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ٕٝ‫ دذص‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan alsima`.218 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara alsima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.219 Dilihat dari pribadi Harmalah ibn Yahya yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbit, kemudian ada hubungan guru dan murid serta lambang periwayatan ٕٝ‫ ,دذص‬maka dapat dikatakan bahwa hubungan sanad antara Harmalah ibn Yahya dengan `Abdullâh ibn Wahab merupakan sanad yang bersambung. Selanjutnya penilaian sanad periwayat yang keenam lainnya yakni Zuhair ibn Harb. Dalam menilai ke-`âdil-an dan ke-dhâbithShubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 219 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
218

172

an pribadi periwayat Zuhair ibn Harb dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu shadûq, atsbat, (tsiqah, tsabat), (tsiqah, ma’mûn), tsiqah, tsabat, hâfidz, dan mutqîn. Lafazh atsbat merupakan lafazh tingkat pertama dalam tingkatan ta`dil karena menggunakan kata “paling” (tafdhil). Lafazh (tsiqah, tsabat), dan (tsiqah, ma’mûn) merupakan lafazh kedua dalam tingkatan ta`dil karena dalam tingkatan kedua ini menggunakan kata-kata yang diulang-ulang (ta`kîd). Lafazh tsiqah, hâfidz, dan tsabat merupakan lafazh tingkat ketiga. Sedangkan lafazh shadûq dan mutqîn merupakan tingkatan yang keempat dalam tingkatan ta`dil. Para kritikus tidak ada yang memberikan jarh kepada Zuhair ibn Harb. Dilihat dari ta`dil para kritikus kepada Zuhair ibn Harb yang berperingkat tinggi yakni pertama, kedua, ketiga dan keempat serta dengan tidak ada jarh dari para kritikus, Dengan demikian Zuhair ibn Harb dapat dikatakan sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbit. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Zuhair ibn Harb dengan `Abdullâh ibn Wahab, dalam tabel di atas telah disebutkan bahwa Zuhair ibn Harb lahir pada tahun 156 H. dan meninggal pada malam kamis yaitu malam ke-9 bulan Syawal tahun 243 H. Sedangkan Abû Sufwân al-Umawiyyi pergi bersama ibunya ke Mekkah ketika ayahnya terbunuh yaitu pada tahun 132

173

H. dan meninggal dalam usia sekitar 200 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keduanya hidup sezaman dan keduanya terjadi hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam

periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ‫ دذصٕب‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`.220 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi. 221 Dilihat dari pribadi Zuhair ibn Harb yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbit, kemudian ada hubungan guru dan murid serta lambang periwayatan dengan lafazh ‫ ,دذصٕب‬maka dapat dikatakan bahwa hubungan sanad antara Zuhair ibn Harb dengan Abû Sufwân al-Umawiyyi merupakan sanad yang bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat ketujuh yakni Muslim ibn al-Hajjâj dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu orang yang tsiqah, sampai-sampai Abû Zar`ah dan Abû Hâtim menghadap kepada Muslim ibn al-Hajjâj untuk mengetahui orang-orang yang sahih atas imam-imam pada zaman mereka berdua. Lafazh tsiqah merupakan tingkatan ketiga dalam tingkatan ta`dil, sedangkan lafazh-lafazh ta`dil lainnya walaupun kebanyakan
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 221 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
220

174

tidak memakai lafazh-lafazh yang terdapat dalam tingkatan ta`dil, namun dilihat dari keterangan para kritikus tersebut tingkatan ta`dil para kritikus mempunyai tingkatan yang pertama. Pendapat para kritikus tentang ta`dil Muslim ibn al-Hajjâj bersifat mutawasith dengan keterangan yang sangat jelas. Tidak ada di antara para ulama yang memberikan jarh kepada Muslim ibn al-Hajjâj. Dilihat dari ta`dil para kritikus yang berperingkat tinggi yakni pertama serta dengan tidak adanya jarh yang diberikan, maka dapat dikatakan bahwa Muslim ibn al-Hajjâj merupakan seorang periwayat yang `âdil dan dhâbit. Mengenai ketersambungan sanad antara Muslim ibn alHajjâj dengan Zuhair ibn Harb dan Harmalah ibn Yahya, dalam tabel di atas disebutkan bahwa Muslim ibn al-Hajjâj lahir pada tahun 204 H. dan meninggal pada tanggal 5 Rajab tahun 261 H. Adapun Zuhair ibn Harb lahir pada tahun 160 H. dan meninggal pada malam kamis tanggal 7 Sya`ban tahun 234 H. pada masa khalifah Ja`far, sedangkan Harmalah ibn Yahya lahir pada tahun 156 H. dan meninggal pada malam kamis yaitu malam ke-9 bulan Syawal tahun 243 H. Selisih tahun meninggal antara Muslim dengan Zuhair yakni 27 tahun, sedangkan Muslin dengan Harmalah yakni 18 tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antara Muslim dengan Zuhair dan Harmalah hidup sezaman dan telah terjadi hubungan guru dan murid. Mengenai lambang periwayatan

175

yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ‫ دذصٕب‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`. 222 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.223 Dilihat dari pribadi Muslim yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbit, kemudian ada hubungan guru dan murid serta lambang periwayatan dengan ‫ ,دذصٕب‬maka dapat dikatakan bahwa hubungan sanad antara Muslim dengan Zuhair ibn Harb dan merupakan sanad yang bersambung. Dari hasil penelitian rangkaian sanad riwayat Muslim dari periwayat pertama yakni Abû Hurairah sampai periwayat ketujuh yakni Muslim ibn al-Hajjâj di atas, terdapat sanad yang riwayatnya tidak bersambung yaitu Yûnus ibn Yazîd al-Ailî dengan jarh yang diberikan kepada beliau yaitu “meriwayatkan banyak hadis yang mungkar”. Jarh ini merupakan tingkatan yang pertama dalam tingkatan jarh karena lafazh ini sama dengan lafazh seorang pemalsu hadis ‫ ٚضبع‬yang berada di tingkatan pertama. Dengan demikian sanad hadis riwayat Muslim ibn al-Hajjâj merupakan sanad yang terputus. Dengan adanya sanad yang terputus, maka dapat dikatakan bahwa rangkaian sanad riwayat Muslim ibn al-Hajjâj merupakan
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa Azami, Memahami Hadis, h. 37. 223 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
222

Harmalah ibn Yahya

176

rangkaian sanad yang terdapat `illat yakni terputusnya sanad Yûnus ibn Yazîd al-Ailî dalam rangkaian sanad tersebut. Walaupun dari segi syâdz, rangkaian sanad hadis Muslim ini merupakan rangkaian yang terbebas dari syâdz karena terdapat muttabi` di dalam jalur rangkaian sanadnya. Dengan demikian dilihat dari rangkaian sanad periwayat pertama hingga ketujuh terdapat sanad yang terputus, kemudian terdapat `illat di dalam rangkaian sanadnya, maka dapat dikatakan bahwa rangkaian sanad riwayat Muslim merupakan rangkaian sanad yang dho`if.

c. Sanad Hadis Dalam Riwayat al-Tirmidzî Untuk mempermudah dalam menganalisa kualitas

keshahihan sanad hadis yang terdapat dalam hadis riwayat alTirmidzî sesuai dengan kaedah keshahihan sebuah sanad hadis, maka kami membuat tabel seluruh periwayat al-Tirmidzî sebagai berikut: Nama Periwayat Ada atau tidaknya Syâhid dan Tâbi` Abû Hurairah Abû sda` sda sda sda sda sda sda sda Tahun kelahiran atau meninggal Hubunga n guru dan murid Lamba ng periway atan hadis sda sda Lafazh jarh dan ta`dil

177

Salamah Ibnu Syihâb alZuhrî `Uqail sda sda sda sda sda sda sda sda sda sda

Al-Laits ibn Sa`ad `Abdullâh ibn Shâlih

sda

sda

sda

sda

sda

Ada lima Ayahnya tâbi` yakni Yahya ibn Bukair, Zuhair ibn Harb, Harmala h ibn meninggal

Ada hubunga guru

َّ َ َِٕٝ‫ دذص‬Lafazh tidak

ta`dil: pernah

pada tahun n 132 H. dan

diketahui orang yang mengetahui hadis riwayat alLaits Abû (tsiqah, ma’mun), orang yang baik kecuali Shâlih, lebih

murid antara Abû Shafwân alUmawiy yi dengan Yûnus al-Ailî

Yahya, Ahmad ibn `Umair dan Ibnu al-Sarh al-Mishrî

hadisnya, tidak pernah diketahui orang yang lebih mengetahui hadis riwayat alLaits Abû orang shalih, kecuali Shâlih, yang hadis-

178

hadis

yang

diriwayatkan Abû Shâlih di akhir hidupnya banyak mengatakan mungkar. Lafazh pribadi adalah yang akan jarh: beliau orang shadûq tetapi yang

hadisnya banyak yang mungkar,

berbohong dalam orang diragukan dia hadis, yang dan

bukanlah

siapa-siapa, bukan orang

yang tsiqah. Maktûm ibn `Abbâs Tidak Tidak ada Tidak ada hubunga n dan murid antara Maktûm guru َّ َ َِٕٝ‫ دذص‬Tidak jelas ada

al- ada tâbi`

keterangan

keterangan yang tentang

ta`dil dan jarh dari pribadi

Maktûm ibn al`Abbâs

179

ibn

al-

`Abbâs dengan `Abdullâ h ibn

Shâlih AlTirmidzî Tidak Meninggal Ada َّ َ َِٕٝ‫ دذص‬Lafazh seorang alim, tsiqah, guru ta`dil: yang mutqin, dan

ada tâbi` pada bulan hubunga karena seorang mukharri j Rajab tahun n 279 H. dan murid antara alTirmidzî dengan Maktûm ibn al-

seorang hafizh. Lafazh tidak ada. jarh:

`Abbâs

Dari tabel di atas, penelitian tentang ketersambungan sanad dari sanad pertama yakni Abû Hurairah hingga sanad kelima yakni al-Laits ibn Sa`ad telah dilakukan dalam penelitian sanad di riwayat al-Bukhârî di atas. Hal ini karena rangkaian sanad riwayat al-Tirmidzî dari periwayat pertama hingga kelima sama dengan rangkaian sanad riwayat al-Bukhârî. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat keenam yakni `Abdullâh ibn Shâlih dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas

180

yaitu tidak pernah diketahui orang yang lebih mengetahui hadis riwayat al-Laits kecuali Abû Shâlih, (tsiqah, ma’mun), orang yang baik hadisnya, tidak pernah diketahui orang yang lebih mengetahui hadis riwayat al-Laits kecuali Abû Shâlih, hadis-hadis yang diriwayatkan Abû Shâlih di akhir hidupnya banyak yang mengatakan mungkar. Lafazh ta`dil “tidak pernah diketahui orang yang lebih mengetahui hadis riwayat al-Laits kecuali Abû Shâlih” merupakan tingkatan pertama dalam ta`dil karena mengandung kata paling yaitu “paling mengetahui”. Lafazh (tsiqah, ma’mun) merupakan tingkatan kedua dalam tingkatan ta`dil. Lafazh ta`dil “orang yang baik hadisnya” merupakan tingkatan kelima dalam tingkatan ta`dil. Lafazh ta`dil “hadis-hadis yang diriwayatkan Abû Shâlih di akhir hidupnya banyak yang mengatakan mungkar” merupakan tingkatan kelima dalam tingkatan ta`dil. Penilaian para kritikus hadis tentang ta`dil Abû Shâlih bersifat mutawasith dalam menilai ta`dil-nya karena disertai dengan keterangan yang jelas. Walaupun demikian, dalam tabel di atas disebutkan sebagian para kritikus yang memberikan jarh kepada Abû Shâlih di antaranya yaitu pribadi beliau adalah orang yang shadûq akan tetapi hadisnya banyak yang mungkar, orang yang diragukan dan dia bukanlah siapa-siapa, bukan orang yang tsiqah. Lafazh jarh yakni “pribadi beliau adalah orang yang shadûq akan tetapi hadisnya banyak yang mungkar” merupakan jarh yang kurang

181

penjelasan kapan terjadi kemungkaran hadisnya, karena Abû Hatim berkata bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan Abû Shâlih di akhir hidupnya banyak yang mengatakan mungkar, sedangkan lafazh “orang yang diragukan” dan “dia bukanlah siapa-siapa” merupakan tingkatan jarh yang keempat. Adapun lafazh “bukan orang yang tsiqah” merupakan tingkatan ketiga dalam tingkatan tajrih. Pendapat kritikus tentang tajrih Abû Shâlih bersifat mutasahhil karena tanpa disertai keterangan yang jelas, walaupun ada kritikus hadis yang dianggap mutasyaddid dalam menilai ketsiqahan yakni al-Nasâ‟i. Dilihat tajrih tentang pribadi Abû Shâlih yang kurang disertai keterangan yang jelas, akan tetapi hanya pada tingkatan tiga dan empat. Dengan demikian jarh tersebut tidak mencederakan ta`dil yang berperingkat pertama dan kedua. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa `Abdullâh ibn Shâlih merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbith. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara `Abdullâh ibn Shâlih dengan al-Laits, disebutkan dalam tabel bahwa `Abdullâh ibn Shâlih dinyatakan ayahnya meninggal pada tahun 132 H., sedangkan al-Laits lahir pada tahun 94 H., dan meninggal pada hari jum`at pertengahan bulan Sya`ban tahun 175 H. Dari keterangan tersebut dapat kita katakan bahwa ada hubungan guru dan murid antara `Abdullâh ibn Shâlih dengan al-Laits. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini

182

yaitu ٕٝ‫ دذص‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan alsima`.224 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara alsima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi.225 Dilihat dari pribadi `Abdullâh ibn Shâlih yang merupakan periwayat yang `âdil dan dhâbith, kemudian ada hubungan guru dan murid, serta lambang periwayatan ٕٝ‫ ,دذص‬maka dapat dikatakan bahwa hubungan sanad antara `Abdullâh ibn Shâlih dengan al-Laits dapat dikatakan bersambung. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat ketujuh yakni Maktûm ibn `Abbâs. Dari tabel di atas, tidak ada keterangan yang jelas tentang pribadi Maktûm ibn `Abbâs dari segi ta`dil dan jarh. Hal ini dimungkinkan beliau merupakan bukan orang yang tidak dikenal. Dalam syarat `âdil dan dhâbith, orang yang tidak dikenal dalam periwayatan hadis menjadikan seorang periwayat tersebut menjadi cacat. Dengan demikian Maktûm ibn `Abbâs merupakan periwayat yang tidak mempunyai kriteria sebagai periwayat yang `âdil dan dhâbith, sehingga Maktûm ibn `Abbâs merupakan bukan periwayat yang `âdil dan dhâbith. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara Maktûm ibn `Abbâs dengan `Abdullâh ibn Shâlih disebutkan dalam tabel
Shubhi Shalih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalahuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa Azami, Memahami Hadis, h. 37. 225 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
224

183

bahwa tidak ada keterangan yang jelas tentang tanggal kelahiran dan kematian beliau, sehingga dapat dikatakan tidak ada hubungan guru dan murid antara Maktûm ibn `Abbâs dengan `Abdullâh ibn Shâlih. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ٕٝ‫ دذص‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan alsima`.226 Menurut Ibnu Shalah, penerimaan hadis dengan cara alsima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi. 227 Walaupun metode itu diakui oleh ulama hadis memiliki tingkat akurasi yang tinggi, akan tetapi karena dilihat dari pribadi beliau yang merupakan bukan periwayat yang `âdil dan dhâbith, serta tidak ada hubungan guru dan murid, maka dapat dikatakan bahwa ketersambungan sanad antara Maktûm ibn `Abbâs dengan `Abdullâh ibn Shâlih merupakan sanad yang terputus. Selanjutnya penilaian ke-`âdil-an dan ke-dhâbith-an pribadi periwayat kedelapan yakni al-Tirmidzî dapat dilihat dari ta`dil yang diberikan kritikus kepada beliau dalam tabel di atas yaitu seorang yang alim, mutqin, tsiqah, seorang hafizh. Lafazh ta`dil seorang hafizh merupakan tingkatan yang kedua dalam tingkatan ta`dil. Lafazh ta`dil yakni mutqin, dan tsiqah merupakan tingkatan yang ketiga. Sedangkan lafazh seorang yang `alim merupakan tingkatan
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 227 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
226

184

kelima dalam tingkatan ta`dil. Pendapat kritikus tentang ta`dil alTirmidzî bersifat mutawassith dengan keterangan yang jelas. Tidak ada di antara para ulama yang memberikan jarh kepada al-Tirmidzî. Dilihat dari ta`dil para kritikus yang berperingkat tinggi yakni kedua, ketiga dan kelima serta tidak jarh yang diberikan kepada beliau, maka dapat dikatakan bahwa alTirmidzî merupakan seorang periwayat yang `âdil dan dhâbit. Adapun mengenai ketersambungan sanad antara alTirmidzî dengan Maktûm ibn `Abbâs, dapat dilihat dari nama guru dan murid. Walaupun ketika dilihat dari tahun kelahiran dan meninggal tidak ada keterangan yang jelas. Mengenai lambang periwayatan yang digunakan dalam periwayatan hadis ini yaitu menggunakan lambang periwayatan ٕٝ‫ دذص‬yang merupakan bagian dari lambang periwayatan al-sima`.
228

Menurut Ibnu Shalah,

penerimaan hadis dengan cara al-sima` merupakan yang paling tinggi dan juga paling kuat dalam cara-cara penerimaan hadis Nabi. 229 Dengan demikian hubungan sanad antara al-Tirmidzî dengan Harmalah ibn Yahya dan Maktûm ibn `Abbâs merupakan sanad yang bersambung. Setelah dilakukan penelitian kashahihan sanad dalam rangkaian sanad riwayat al-Tirmidzî di atas, terdapat sanad yang riwayatnya tidak bersambung yaitu Maktûm ibn `Abbâs. Hal ini
Shubhi Shâlih, `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu, h. 90. Lihat Mundzier Suparta, Ilmu Hadis, h. 198-199. Lihat Mushthafa `Azamî, Memahami Hadis, h. 37. 229 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 88.
228

185

karena merupakan periwayat yang tidak dikenal dalam periwayatan hadis. Dengan demikian rangkaian sanad dalam riwayat al-Tirmidzî merupakan sanad yang terputus. Dengan adanya sanad yang terputus, maka dapat dikatakan bahwa rangkaian sanad riwayat al-Tirmidzî merupakan rangkaian sanad yang terdapat `illat yakni terputusnya sanad Maktûm ibn `Abbâs dalam rangkaian sanad tersebut. Walaupun dari segi syâdz, rangkaian sanad hadis al-Tirmidzî ini merupakan rangkaian yang terbebas dari syâdz karena terdapat muttabi` di dalam jalur rangkaian sanadnya. Dengan demikian dilihat dari rangkaian sanad periwayat pertama hingga kedelapan terdapat sanad yang terputus, kemudian terdapat `illat di dalam rangkaian sanadnya, maka dapat dikatakan bahwa rangkaian sanad riwayat al-Tirmidzî merupakan rangkaian sanad yang dho`if.

2. Kualitas Keshahihan Matan Hadis Hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia ini diriwayatkan oleh banyak mukharrarij yaitu: al-Bukhârî dalam kitab Shahîh al-Bukhârî dalam bab nafaqah
230

dan bab hutang, 231 Muslim

dalam kitab Shahîh Muslim dalam bab barang siapa yang meninggalkan

230

Lihat Abû Abdullâh Muhammad ibn Ismâ`îl al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî, j. 5, h. Ibid., j. 3, h. 84.

536.
231

186

harta maka untuk ahli warisnya,232 Imam al-Tirmidzî dalam kitab Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al- Shahîh) dalam bab apa yang terjadi pada orang yang berhutang, 233 dan Imam Ibnu Mâjah dalam kitab Sunan Ibnu Mâjah dalam bab barang siapa yang meninggalkan hutang atau barang maka atas Allah dan Rasul-Nya.234 Dari seluruh matan tentang hadis akibat meninggalkan hutang di dunia, terdapat perbedaan lafazh matan hadis. Di antara perbedaan lafazh tersebut yaitu dalam riwayat al-Bukhârî dengan lafazh ِٕٗ٠‫ًَْ٘ رَشن ٌِذ‬ ِ َْ َ َ ‫ا‬ ْ ِ ِ َْ َ َ ‫ ,فَضْ ال ؟‬dalam riwayat Muslim dengan lafazh ‫,ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ لَضبء ؟‬ ٍ َ ْ ِ ِ َْ َ َ dalam riwayat al-Tirmidzî dengan lafazh ‫ .ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ فَضْ ً ؟‬Untuk ٍ meneliti perbedaan lafazh matan tersebut, maka kami menggunakan metode perbandingan (muqaranah) antar lafazh matan yang berbeda tersebut. Perbedaan lafazh matan hadis tersebut terjadi dalam sanad periwayat `Uqail dan Yûnus al-Ailî, karena kedua periwayat ini merupakan periwayat yang meriwayatkan hadis dari Ibnu Syihâb alZuhrî. Adapun dari periwayatan Ibnu Syihâb al-Zuhrî sampai kepada Abû Hurairah sangat kecil kemungkinan terjadi perbedaan lafazh, karena merupakan satu jalur periwayatan. Bukti bahwa perbedaan lafazh matan hadis tersebut terjadi dalam kedua periwayat (`Uqail dan Yûnus al-Ailî) yaitu apabila jika

Lihat Muslim ibn Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî, Shahîh Muslim, j. 2 (Beirut: Dâr alFikr, 1992), h. 58. 233 Lihat Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` alShahîh), j. 2, (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 266. 234 Lihat Abû Muhammad ibn Yazîd al-Qazwinî, Sunan Ibnu Mâjah, j. 2, (Indonesia: Dahlan, t.th.), h. 807.

232

187

diamati dengan seksama, bahwa periwayat `Uqail merupakan periwayat yang terdapat dalam sanad al-Bukhârî dan al-Tirmidzî, sedangkan periwayat Yûnus al-Ailî merupakan periwayat yang terdapat dalam riwayat Muslim. Dalam riwayat al-Bukhârî, lafazh matan yang terjadi ‫ا‬ perbedaan yaitu ‫ ,ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ فَضْ ال‬begitu juga dalam riwayat al-Tirmidzî ِ َْ َ َ ْ ِ ِ َْ َ َ yaitu ً ْ‫ .ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ فَض‬Kedua lafazh tersebut secara spesifik ٍ merupakan lafazh yang sama mirip. Sedangkan dalam riwayat Muslim, ْ ِ ِ َْ َ َ lafazh yang terjadi perbedaan yaitu ‫ .ًَْ٘ رَشن ٌِذ٠ِٕٗ ِٓ لَضبء‬Antara lafazh ٍ َ dalam riwayat Muslim dengan lafazh riwayat al-Bukhârî dan alTirmidzî jelas berbeda, karena Muslim menggunakan lafazh ‫لَضبء‬ ٍ َ sedangkan al-Bukhârî dan al-Tirmidzî menggunakan lafazh ً ْ‫.فَض‬ ٍ Dengan demikian, perbedaan lafazh matan tersebut terjadi dalam periwayat `Uqail dan Yûnus al-Ailî. Walaupun terjadi perbedaan lafazh matan hadis, akan tetapi perbedaan ini tidak menimbulkan ziyadah atau idraj dan juga matan hadis tersebut bukanlah matan yang bersifat

ta`abbudi (berupa bacaan ibadah). Dengan demikian perbedaan lafazh dalam matan hadis tersebut dapatlah ditoleransi, karena hadis ini memang diriwayatkan dengan makna. Selain hadis ini diriwayatkan dengan makna yang dapat ditoleransi, matan hadis ini adalah matan hadis yang terbebas dari syadz dan `illat. Di antara bukti bahwa hadis ini terbebas dari syadz antara lain:

188

- Hadis ini diriwayatkan oleh orang yang tsiqah, tetapi riwayatnya tidak bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak periwayat tsiqah yang lainnya. - Hadis ini diriwayatkan oleh orang yang tsiqah, tetapi orang-orang tsiqah lainnya juga ikut meriwayatkan hadis tersebut. - Hadis ini sanadnya lebih satu buah sanad.235 Di samping terbebas dari syadz, hadis tersebut juga terbebas dari `illat. Di antara buktinya yaitu: - Hadis ini memiliki muttabi`, sehingga bukan merupakan hadis yang gharîb. - Hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah.236 Selain terbebas dari syâd dan `illat, matan hadis ini tidak bertentangan dengan kandungan dari ayat al-Qur‟an. Dalam ayat alQur‟an disebutkan tentang mekanisme hutang-piutang seperti dalam ayat 282 dari surat al-Baqarah. Dalam ayat ini (al-Baqarah ayat 282), dijelaskan tentang bagaimana tata cara melakukan hutang-piutang dalam kehidupan masyarakat. Begitu juga ayat 280 dari surat alBaqarah, ayat ini menganjurkan kepada orang yang memberikan hutang agar memberikan tenggang waktu kepada orang yang berhutang apabila mengalami kesusahan dalam melunasi hutangnya, atau yang lebih baik lagi adalah menyedekahkan hutang tersebut kepada orang yang
Lihat M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, h. 85-86. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, h. 228. Lihat Fathur Rahman, Ikhtishar Mushthalah Hadis, cet. 1, (Bandung: Al-Ma`arif, 1974), h. 199. 236 Ibid., h. 88. Lihat Nuruddin `Itr, `Ulûm al-Hadîts 2, terj. Mujiyo, h. 258. Lihat Fathur Rahman, Ikhtishar Mushthalah Hadis, h. 187.
235

189

berhutang dan memang tidak mampu untuk melunasi hutangnya. Selanjutnya dalam surat al-Taubah ayat 60 juga menyinggung tentang orang yang berhutang yaitu agar orang yang berhutang (ghârim) diberi zakat dari orang yang berzakat agar bisa digunakan dalam melunasi hutang yang melilitnya. Dengan demikian hadis ini tidaklah bertentangan dengan hukum al-Qur‟an yang merupakan sumber pegangan bagi orang Islam. Dikarenakan hadis ini merupakan hadis yang terbebas dari syâd dan `illat dan juga tidak bertentangan dengan hukum al-Qur‟an, maka matan hadis ini memiliki persyaratan tolak ukur sebagai matan hadis yang shahih. Dengan melihat tolak ukur tentang keshahihan matan yang ada, matan hadis ini merupakan matan hadis yang shahih.

B. Makna Kontekstualisasi Hadis Dalam Kehidupan Hadis Nabi tentang akibat meninggalkan hutang di dunia ini diriwayatkan oleh beberapa mukharrij, di antaranya yaitu al-Bukhârî dalam kitab Shahih al-Bukhâri dalam bab nafaqah 237 dan bab hutang,238 Muslim dalam kitab Shahîh Muslim dalam bab barang siapa yang meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya,239 Imam al-Tirmidzî dalam kitab Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` al- Shahîh) dalam bab apa yang terjadi

237

Lihat Abû Abdullâh Muhammad bin `Ismail al-Bukhâri, Shahih al-Bukhari, j. 5, h.

536. Ibid., j. 3, h. 84. Lihat Muslim ibn Hajjâj al-Qusyairî al-Naisâbûrî, Shahîh Muslim, j. 2 (Beirut: Dâr alFikr, 1992), h. 58.
239 238

190

pada orang yang berhutang,240 dan Imam Ibnu Mâjah dalam kitab Sunan Ibnu Mâjah dalam bab barang siapa yang meninggalkan hutang atau barang maka atas Allah dan Rasul-Nya.241 Menurut al-Qurthubî, kata ٓ٠‫ ثذ‬dalam firman Allah dalam surat alBaqarah ayat 282 yaitu ّٝ‫ ارا رذا٠ٕزُ ثذ٠ٓ اٌٝ اجً ِض‬adalah untuk penekanan seperti pada firman Allah Swt ٗ١‫“ ٚال طبئش ٠ط١ش ثجٕبد‬Dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya” (QS. Al-An‟am [6] ayat 38) dan juga dalam firman Allah Swt ْٛ‫فضجذ اٌٍّئىخ وٍُٙ أجّع‬ “Lalu seluruh

malaikat itu bersujud semuanya” (QS. Shaad [38] ayat 73) 242 . Hakikat makna dari kata ٓ٠‫ ثذ‬adalah keterangan dari semua transaksi di mana salah satu pihak membayar dengan tunai dan pihak yang lainnya dalam tempo. Kata ٓ١‫ اٌع‬menurut bahasa Arab adalah semua harta yang ada dalam genggaman, sedangkan kata ٓ٠‫ اٌذ‬adalah semua harta yang tidak ada dalam genggaman. Lalu Allah menjelaskan makna tersebut dengan firman-Nya yaitu ّٝ‫“ اٌٝ اجً ِض‬untuk waktu yang ditentukan”. Penentuan waktu hutang-piutang hendaklah diatur, karena penentuan waktu tersebut dapat menghindari perselisihan antara yang berhutang dengan yang memberi hutang. 243

Lihat Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah al-Tirmidzî, Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` alShahîh), j. 2, (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 266. 241 Lihat Abû Muhammad ibn Yazîd al-Qazwinî, Sunan Ibnu Mâjah, j. 2, (Indonesia: Dahlan, t.th.), h. 807.
242 243

240

Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, terj. Fathurrahman, dkk., 837.

Ibid., h. 837. Lihat Muhammad ibn `Ali ibn Muhammad al-Syaukâni, Fath al-Qadîr, j. 1, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1993), h. 452-453.

191

Dalam hadis riwayat al-Bukhârî dan al-Tirmidzî, kata ‫ فضال‬berarti suatu kemampuan yang lebih atas seorang muslim sebagai persiapan dia dalam menepati janjinya untuk melunasi hutangnya. Sementara dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafazh ‫( لضبء‬melunasi) sebagai ganti lafazh ‫فضال‬ (kelebihan). Lafazh terakhir ini ( ‫ ) فضال‬lebih tepat

َ ُ berdasarkan lafazh hadis selanjutnya yakni ‫( دذِّس أََُّٔٗ رَشنَ ٌِذ٠ِٕٗ ٚفَبء‬jika ‫ِْ ِ َ ا‬ َ dikatakan bahwa dia meninggalkan harta yang bisa menutupi hutangnya). Kata ‫ ٚفبء‬berarti apa yang telah dijanjikan dalam melunasi hutangnya, jika dia tidak bisa menetapkan pembayaran hutangnya maka Nabi yang akan membayarnya.244 Dalam hadis ini Nabi tidak mau menshalatkan jenazah yang masih mempunyai hutang dan tidak ada yang menanggungnya. Nabi melakukan hal yang demikian karena dimungkinkan agar para umatnya berhari-hati dalam melakukan transaksi hutang-piutang. Menurut Ibnu `Arabî dalam kitab al-`Âridhah yang dikutip oleh Imam al-Mubârakfûrî dalam kitab Tuhfat al-Ahwadzî mengatakan bahwa larangan Nabi Muhammad untuk menshalati jenazah atas orang yang meninggal dalam keadaan berhutang merupakan sebuah peringatan agar tidak membuat susah payah hidupnya dengan berhutang dengan demikian tidak akan menghilangkan harta orang lain. 245 Al-Mubârakfûrî menambahkan bahwa larangan shalat terhadap jenazah yang masih menanggung hutang adalah untuk menjelaskan cara

Badar al-Dîn Abû Muhammad Mahmûd ibn Ahmad al-`Aini, `Umdat al-Qâri’ (Syarh Shahîh al-Bukhârî), j. 11, ( Bairut: Dar al-Fikr, t.th), h. 126. 245 Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman al-Mubârakfûrî, Tuhfat al-Ahwadzî, j. 4, h.128.

244

192

bagi kita semua dalam membayar hutang kita, kalau seandainya dia tidak mampu maka harus ada yang menanggungnya.246 Selain itu, terdapat berbagai macam perbedaan dalam

melaksanakan shalat jenazah bagi jenazah yang masih mempunyai hutang. Menurut al-Nawâwî: yang pasti benar adalah bolehnya menshalati jenazah tersebut selama ada yang menanggung hutangnya. Ibnu Bathal berkata: ِٓ ٍٝ‫رشن د٠ٕب فع‬merupakan penghapus untuk larangan shalat bagi jenazah yang mempunyai hutang, adapun sabda Nabi ٖ‫ فعٍٝ لضبء‬merupakan keterangan bahwa Allah yang akan menanggung hutangnya dari harta-harta rampasan dan juga dari sedekah-sedekah.247 Menurut al-Hazimî bahwa tidak apa-apa apabila menshalati jenazah tersebut, karena Nabi bersabda: ٍٝ‫,ِٓ رشن د٠ٕب فع‬ shalatnya Nabi atas jenazah yang masih berhutang disebabkan Allah memberikan kemenangan dari berbagai peperangan. Oleh karena adanya banyak harta rampasan perang, maka Nabi mau menanggung hutangnya dari harta orang-orang yang shaleh, ada juga yang berkata bahwa Nabi menanggungnya dari keikhlasan diri beliau. 248 Ibnu Hajar al-Ashqolânî mengatakan bahwa keharusan bagi seorang muslim untuk menanggung hutang saudaranya apabila meninggal dalam keadaan berhutang, apabila tidak ada yang menanggungnya maka bagi yang berhutang itu akan mendapatkan dosa. Apabila ada hak yang meninggal dunia di suatu badan

Ibid., h.128. Ahmad ibn `Alî ibn Hajar al-`Ashqolânî, Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, j. 5, (Bairut: Dâr al-Fikr, 1991), h. 244. 248 Ibid., h. 244.
247

246

193

keuangan, maka dilunaskan hutangnya sesuai kadar hutang yang terdapat dalam dirinya. Apabila tidak ada, maka diuruslah dengan cara yang adil.249 Dalam hadis tersebut Nabi tidak mau menshalati jenazah yang masih menanggung hutang agar tidak menganggap kecil perkara hutang, dan juga agar tidak membuat susah payah hidupnya dengan berhutang dengan demikian tidak akan menghilangkan harta orang lain sebagai pelajaran bagi umatnya dalam muamalah hutang-piutang. Akan tetapi ketika umat Islam diberikan kemenangan yang besar dan memperoleh banyak harta rampasan perang, Nabi meminta kepada umatnya untuk memberitahukan kepada beliau apabila ada yang meninggal dan masih mempunyai hutang agar beliau dapat melunasinya lewat harta rampasan yang didapat oleh umat Islam.250 Dalam fakta yang terjadi di kehidupan sekarang, hubungan antara harta dan hutang sudah merupakan masalah yang universal dalam kehidupan manusia. Dalam rangka memenuhi kebutuhannya termasuk pengembangan harta yang dimilikinya, manusia selalu terlibat dalam hubungan hutang-piutang. Hubungan transaksi hutang-piutang ini selalu saja terjadi di setiap masyarakat, tanpa membedakan tempat atau masa, dalam keadaan senang atau susah.
251

Masyarakat yang melakukan

transaksi hutang-piutang merupakan bentuk ikhtiar atau usaha mereka dalam mengembangkan atau meningkatkan pendapatan usaha keluarga
249 250 251

Ibid., h. 244. Ibid., h. 244. Lahmuddin Nasution, Pembaharuan Hukum Islam Dalam Madzhab Syafi’i, h. 203.

194

mereka atau bisa juga untuk pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan mereka. Akan tetapi jika yang berhutang itu pada suatu saat tidak bisa melunasi hutangnya, maka seseorang haruslah menjadi penanggungnya. Banyak orang yang berada dalam kesulitan tidak punya harta dan tidak mampu membayar hutangnya saat ditagih oleh orang yang

menghutanginya. Ketika ia memohon penundaan hutang kepada orang yang memberinya pinjaman, orang yang menghutanginya sering menolak permohonan itu. Dalam keadaan seperti itu ia memerlukan seseorang yang mau membantu dan menjaminnya. Bantuan yang diberikan kepada orang yang dalam keadaan terjepit ini memiliki tiga faedah di antaranya sebagai berikut: a. Memberikan ketenangan kepada orang yang mengutanginya. b. Menghindari perlakuan buruk saat penarikan hutang dari orang yang ditagihnya. c. Dengan bantuan ini akan terciptanya sikap saling mencintai dan saling menyanyangi di antara sesama manusia.252 Pembayaran hutang oleh yang berhutang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Hal ini disebabkan karena dia (yang berhutang) meminjam yang bukan hak dia. Akan tetapi ketika yang meminjam tidak mempunyai apa-apa untuk melunasi hutangnya timbul permasalahan, apakah dia masih tetap melunasi hutangnya atau tidak. Berkata al-Thîbî yang pendapatnya sesuai dengan pendapat para ulama di antaranya: Abû

252

`Alî Ahmad al-Jarjâwî, Indahnya Syariat Islam, terj. Faishal Shaleh, h. 446.

195

Yûsuf, Mâlik, al-Syâfi`î dan Ahmad bahwa sesungguhnya sah bagi seseorang yang mau menanggung hutang bagi jenazah yang meninggal dunia tetapi tidak meninggalkan harta benda, kalau seandainya tidak ada yang menanggungnya Nabi tidak akan menshalati jenazah tersebut. Berkata Abû Hanîfah: tidak sah penanggungan hutang bagi mayit yang tidak punya apa-apa, karena penanggungan hutang terhadap orang yang tidak punya apa-apa adalah penanggungan hutang yang telah jatuh, dan penanggungan hutang seperti ini adalah batil.253 Dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 280 diatur permasalahan tentang seseorang yang tidak kuasa untuk melunasi hutangnya. Ayat ini (al-Baqarah ayat 280) diturunkan kepada masyarakat Tsaqif, ketika mereka meminta harta mereka yang dipinjamkan kepada Bani Mughirah, lalu ketika Bani Mughirah mengeluh bahwa keadaan mereka pada saat itu sedang kesusahan, dan mereka juga mengatakan pada saat itu mereka tidak memiliki apa-apa untuk dibayarkan. Kemudian mereka meminta waktu hingga saat panen tiba. 254 Al-Nuhas mengatakan bahwa pendapat yang paling baik mengenai ayat ini (al-Baqarah ayat 280) adalah pendapat `Atha‟, al-Dhahâk, Râbi` dan Khaitsam yaitu setiap orang yang merasakan kesulitan berhak untuk ditangguhkan dalam hal riba ataupun utang. 255 Menurut M. Quraish Shihab, apabila seseorang yang berada dalam situasi sulit atau akan terjerumus dalam kesulitan bila membayar hutang, maka

Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman al-Mubârakfûrî, Tuhfat al-Ahwadzî, h.128. 254 Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, terj. Fathurrahman, dkk., h. 821. 255 Ibid., h. 823.

253

196

tangguhkanlah penagihan sampai dia lapang. Jangan menagihnya jika kamu mengetahui dia sempit, apalagi memaksa membayar dengan sesuatu yang amat dia butuhkan. Yang lebih baik dari orang yang meminjamkan adalah mensedekahkan hutangnya sebagian atau semua hutang itu.256 Di samping itu, dalam surat al-Taubah ayat 60 dijelaskan bahwa orang yang berhutang (ghârim) merupakan orang yang berhak menerima zakat, karena dia (ghârim) adalah salah satu dari delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat. Kata al-ghârimîn merupakan jamak dari kata ghârim yakni yang berhutang atau yang dililit hutang sehingga tidak mampu membayarnya walaupun yang bersangkutan memiliki kecukupan untuk kebutuhan hidupnya dan keluarganya. 257 Menurut Imam Hanafî, kategori orang yang berhutang yang berhak mendapatkan zakat ada tiga. Ketiga kategori tersebut yaitu: a. Qawî yakni hutang pinjaman atau hutang dalam hal perdagangan yang jelas (bukan maksiat). b. Mutawasith yakni selain Qawî misalnya hutang tagihan rumah, pakaian, makanan atau minuman. c. Dha`îf yakni hutang yang bukan dari segi materi, misalnya hutang mahar pernikahan, hutang wasiat.258 Dari ketiga kategori di atas, hanya hutang Qawî yang bisa mendapatkan zakat, dan harus memenuhi nisab yang ada dalam syarat dan

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, volume 1, h. 560. Ibid., volume 5, h. 634. 258 `Abd al-Rahman al-Jazîrî, Al-Fiqh `ala Madzhab al-Arba`ah, j. 1, (Bairut: Dâr al-Fikr, 1990), h. 602.
257

256

197

ketentuan zakat. 259 Menurut al-Syâfi`î, hutang yang mendapatkan zakat adalah hutang yang tetap dan berbentuk dirham atau dinar atau hutang dari perdagangan. 260 Dengan pemberian zakat kepada orang yang berhutang (ghârim), maka akan dapat meringankan bebannya dalam melunasi hutang yang melilitnya. Dalam hadis tentang akibat meninggalkan hutang di dunia, Nabi tidak mau menshalati jenazah yang masih berhutang dan tidak ada yang menanggungnya. Hal ini tidak berarti hadis tersebut bertentangan dengan ayat al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 280 yang menerangkan tentang

seseorang yang tidak kuasa untuk melunasi hutangnya. Nabi melakukan hal tersebut agar umatnya tidak menganggap kecil perkara hutang, dan juga agar tidak membuat susah payah hidupnya dengan berhutang dengan demikian tidak akan menghilangkan harta orang lain sebagai pelajaran bagi umatnya dalam muamalah hutang-piutang. Ayat 280 dari surat alBaqarah tersebut merupakan bentuk rasa kasih sayang kepada yang berhutang apabila ia (ghârim) merupakan orang yang benar-benar tidak mampu melunasi hutangnya agar diberi penangguhan atas hutangnya. Apalagi dalam surat al-Taubah ayat 60, orang yang berhutang (ghârim) merupakan salah satu golongan yang berhak mendapatkan zakat agar dapat melunasi hutang yang melilitnya. Dengan demikian, apabila zakat tersebut diberikan dengan sebaik-baiknya kepada para ghârimîn (orang-orang yang

259 260

Ibid., h. 603. Ibid., h. 604.

198

berhutang), niscaya tidak ada jenazah seorang muslim yang masih mempunyai tanggungan hutang-piutang. Dalam hadis Nabi tersebut bukanlah hadis yang cenderung bertentangan dengan al-Qur‟an, akan tetapi merupakan penjelasan dari alQur‟an yaitu apabila melakukan transaksi hutang-piutang agar menjadi pelajaran bagi umatnya untuk melunasi hutangnya sebelum kematian menjelang. Apabila orang yang berhutang tersebut meninggal sebelum hutangnya terlunaskan, agar yang lainnya menjadi penanggung dari hutangnya tersebut. Akan tetapi jika orang yang berhutang tersebut merupakan orang yang benar-benar tidak mampu dan tidak mempunyai kuasa dalam melunasi hutangnya, maka hendaklah orang yang berhutang (ghârim) tersebut diberikan zakat agar dapat melunasi hutangnya. Hal tersebut agar hutang dapat dilunasi sebelum kematian menjelang seperti yang dilakukan Nabi ketika kaum muslimin telah memperoleh banyak kemenangan dalam perang dan memperoleh banyak harta rampasan perang, Nabi mengumumkan bahwa orang-orang yang berhutang (ghârimîn) merupakan tanggungan baliau. Selain itu, bagi yang memberikan hutang tersebut agar memberikan kelapangan waktu bagi orang yang berhutang (ghârim) sampai yang berhutang tersebut bisa melunasinya, atau dengan ketulusan hati untuk menyedekahkan hutang yang diberikannya tersebut sehingga yang berhutang tersebut terbebas dari hutangnya.

199

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari pembahasan hadis tentang akibat meninggalkan di dunia melalui tahap-tahap penelitian sanad dan matan hadis pada bab-bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan penelitian tentang sanad hadis tersebut, sanad riwayat alBukhâri merupakan sanad yang dari jalur periwayat pertama sampai yang terakhir bersambung dan para periwayatnya memiliki kriteria `âdil dan dhâbith. Dengan demikian kualitas sanad hadis riwayat alBukhârî merupakan sanad yang shahîh. Akan tetapi dalam sanad hadis riwayat Muslim, ada sanad yang tidak tsiqah yakni Yûnus al-Ailî yang bukan termasuk sebagai periwayat `âdil dan dhâbith. Hal ini disebabkan Yûnus al-Aili menurut kritikus hadis telah meriwayatkan hadis yang mungkar dan hafalannya tidak bagus. Kedua jarh tersebut merupakan jarh yang mencederakan ta`dil periwayat. Dengan demikian terputuslah jalur periwayatan riwayat Muslim. Begitu juga dengan riwayat al-Tirmidzî, ada sanad yang tidak tsiqah yakni Maktûm ibn `Abbâs yang bukan termasuk sebagai periwayat `âdil. Maktûm ibn `Abbâs merupakan orang yang tidak dikenal dalam periwayatan hadis. Jarh ini merupakan jarh yang merusak pribadi

200

perawi dari segi ke-`âdil-an. Dengan demikian jalur periwayatan riwayat al-Tirmidzî merupakan jalur yang terputus. 2. Berdasarkan penelitian tentang matan hadis tersebut, walaupun terdapat perbedaan lafazh di antara para periwayat, namun karena perbedaan tersebut dapat ditoleransi dan memenuhi kaedah keshahihan matan sebuah hadis yakni terbebas dari syadz dan `illat serta tidak bertentangan dengan ayat al-Qur'an, maka matan hadis tersebut yakni dalam riwayat al-Bukhârî merupakan matan hadis ahad yang berkualitas shahîh lidzâtihi. Adapun dalam riwayat Muslim dan alTirmidzî yang di dalam sanad mereka berdua ada yang tidak bersambung, maka matan hadis riwayat mereka berdua merupakan hadis ahad yang berkualitas dho`îf. Dengan demikian, walaupun jalur periwayatan hadis yang shahîh lidhâtihi adalah riwayat dari jalur alBukhârî, akan tetapi riwayat Muslim dan al-Tirmidzî menjadi terangkat statusnya menjadi hasan li ghairihi karena mendapat dukungan dari riwayat al-Bukhârî yang merupakan riwayat hadis ahad yang bekualitas shahîh lidzatihi. 3. Dalam realita zaman sekarang, masyarakat dalam melakukan transaksi hutang-piutang merupakan sebuah ikhtiar atau usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Adapun dalam hadis Nabi ini, Nabi memberikan anjuran agar masyarakat berhati-hati dalam berhutang dan tidak meremehkan hutang dengan menunda-nunda melunasinya. Hal ini dikarenakan agar orang yang berhutang (ghârim) tersebut agar tidak

201

membuat susah payah hidupnya dengan berhutang agar tidak menghilangkan harta orang lain. Dalam agama Islam, orang yang berhutang (ghârim) merupakan orang yang berhak mendapatkan zakat karena dia merupakan salah satu bagian dari delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat sesuai dengan ayat ke-60 dari surat alTaubah. Dengan adanya zakat kepada ghârim (orang yang berhutang) tersebut, akan membantu dia dalam melunasi hutang yang melilitnya. Akan tetapi jika ada jenazah yang masih meninggalkan hutang, maka bagi ahli keluarganya agar melunasi hutang tersebut. Apabila keluarga tersebut tidak mempunyai kemampuan dalam melunasi hutangnya, maka bagi orang yang menghutangi jenazah tersebut untuk memberikan tenggang waktu sampai ada kemampuan untuk

melunasinya atau yang lebih baik lagi adalah menyedekahkan hutangnya tersebut. Dengan demikian akan membuat ghârim (orang yang berhutang) tersebut terbebaskan dari hutangnya seperti anjuran surat al-Baqarah ayat 280.

B. Saran-Saran 1. Penulis telah berusaha secara maksimal dalam menyelesaikan penelitian hadis Nabi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian hadis ini masih terdapat banyak kekurangan karena keterbatasan kemampuan penulis dan juga penulis hanya meneliti hadis tentang hutang-piutang dalam satu tema yakni akibat meninggalkan hutang di

202

dunia yang terdapat dalam kitab Shahîh al-Bukhârî, Shahîh Muslim dan Sunan al-Tirmidzî. Hadis Nabi yang berkenaan tentang hutangpiutang terdapat banyak sekali dalam berbagai kitab hadis misalnya di kutub al-sittah (enam buah kitab hadis yang terpopuler) dan kutub altis`ah (sembilan buah kitab yang terpopuler). Oleh karena itu hendaklah para pembaca merujuk dan meneliti kembali hadis Nabi tentang hutang-piutang di berbagai kitab hadis tersebut, sehingga dapat menyempurnakan penelitian ini dan juga menambah hazanah pengetahuan hadis Nabi terutama dalam hal hutang-piutang di kehidupan masyarakat. 2. Kepada Jurusan Ushuluddin terutama program Tafsir Hadis yang merupakan jurusan yang mengkaji keislaman, penelitian hadis Nabi ini merupakan sebuah upaya penyelesaian solusi dari pemaknaan terhadap hadis Nabi dalam kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat. Semoga dengan penelitian ini akan menjadi sebuah wacana baru di Jurusan Ushuluddin dalam penyelesaian problematika kehidupan di masyarakat dengan melalui kajian keislaman yang telah di bangun oleh Jurusan Ushuluddin di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta.

203

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Arifuddin. Paradigma Baru Mamahami Hadis Nabi. Cetakan 1. Jakarta Timur: Insan Cemerlang dan PT. Inti Media Cipta Nusantara, t.th. Ali, Nizar. Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan). Cetakan 1. Yogyakarta: Alfath Offset, 2001. Al-Andalusi, Ahmad ibn Rasyîd al-Qurthubi, atau yang terkenal dengan nama Ibnu Rasyîd. Bidâyat al-Mujtahid fî Nihayat al-Muqtashid. Juz 2. Bairut: Dâr al-Fikr, t.th. Anwar, Muh. Ilmu Mushthalah Hadis. Surabaya: Usana Offset Printing, 1981. Armando, Ade dkk. Ensiklopedi Islam Untuk Pelajar. Jilid 6, cetakan 4. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005. Al-`Ashqolânî, Ahmad ibn `Alî ibn Hajar. Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh alBukhârî. Jilid 5. Bairut: Dâr al-Fikr, 1991. ________________. Tahdzîb al-Tahdzîb. Jilid 6, 7, 8, 9, 11, dan 12, cetakan 1. Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1994. ________________. Tahdzîb al-Tahdzîb. Jilid 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 12, cetakan 1. Bairut: Dâr al-Shâdir, t.th. Al-Asmâwî, Muhammad Sa`dî. Problematika dan Penerapan Syariat Islam dalam Undang-Undang. Terj. Saiful Ibad. Cetakan 1. Jakarta: Gaung Persada Press, September 2005. Al-`Aini, Badâr al-Dîn Abû Muhammad Mahmûd ibn Ahmad. `Umdat al-Qâri’: Syarh Shahîh al-Bukhârî. Jilid 11. Bairut: Dar al-Fikr, t.th. `Azamî, Muhammad Mushthafa. Metodologi Kritik hadis. Terj. A. Yamin. Cetakan 2. Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. _______________. Memahami Ilmu Hadis. Terj. Meth Kieraha. Cetakan 2. Jakarta: Lentera, 1995. Badrân, Badrân al-`Ainain. Al-Hadîts al-Nabawî al-Syarîf (Tarîkhuhu Wa Mushthalâhuhu). Iskandaria: Muassasah Syabâb al-Jâmi`ah, 1983. Al-Bashri, Muhammad ibn Sa`ad ibn Manî` al-Hasyimî, atau yang terkenal dengan nama Ibnu Sa`ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Jilid 4. Bairut: Dâr alKutub al-`Ilmiyah, 1990.

204

Al-Bukhârî, Abû Abdullâh Muhammad ibn `Ismâ`îl. Shahîh al-Bukhârî. Juz 3, juz 5, cetakan 1 Kitab al-Kafalah, hadis nomor: 2298. Bairut: Dâr al-Kutub al`Ilmiyah, 1992. _______________. Al-Târîkh al-Kabîr. Jilid 8. Bairut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, t.th. Al-Dâruquthnî, Abû al-Hasan `Alî ibn `Umar ibn Ahmad. Dzikr Asmâ’ al-Tab`în wa Man Ba`dahu. Jilid 1. Bairut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqâfiyah, 1985. Fattah, Munawir A. dan Bishri, Adib. Kamus Indonesia- Arab, Arab-Indonesia al-Bishri. Cetakan 1. Surabaya: Pustaka Progressif, 1999. Fayyâd, Mahmûd `Alî. Metodologi Penetapan Keshahihan Hadis. Terj. Zarkasyi Chumaidi. Cetakan 1. Bandung: Pustaka Setia, September 1998. Habîb, Abû Sa`di. Mausu’atul Ijma’. Terj. Ahmad Sahal Machfudz dan Mushthafa Bishri. Cetakan 2. Jakarta: Pustaka Firdaus, Oktober 1997. Al-Hâdî, Abu Muhammad `Abd al-Mahdî ibn `Abd al-Qâdir ibn `Abd. Thuruq Takhrîj Hadîts. Mesir: Dâr al-I`tishâm, t.th. Hasan, Abdul Qadir. Ilmu Mushthalah Hadis. Cetakan 2. Bandung: CV. Diponegoro, 1987. Hâsyim, Ahmad `Umar. Qawâ`id Ushûl al-Hadîts. Bairut: Dâr al-Fikr, t.th. Ismail, M. Syuhudi. Hadis Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya. Cetakan 1. Jakarta: Gema Insani Press, Mei 1995. ______________. Kaedah Keshahihan Hadis (Telaah Kritis dan Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah). Cetakan 2. Jakarta: Bulan Bintang, 1995. _______________, Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Cetakan 1. Jakarta: Bulan Bintang, Agustus 1992. `Itr, Nuruddin. `Ulûm al-Hadîts 2. Terj. Mujiyo. Cetakan 1. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994. Al-Jarjâwî, `Alî Ahmad. Indahnya Syariat Islam. Terj. Faishal Shaleh. Cetakan 1. Jakarta: Gema Insani Press, 2006. Al-Jazîrî, `Abd al-Rahman. Al-Fiqh `ala Madzhab al-Arba`ah. Juz 1. Bairut: Dâr al-Fikr, 1990.

205

Karim, Helmi. Fiqih Muamalah. cetakan 3. Jakarta: Raja Grafindo, Mei 2002. Al-Khathîb, M. `Ajâj. Hadis Nabi Sebelum Dibukukan. Terj. Akrom Fahmi. Cetakan 1. Jakarta: Gema Insani Press, Juni 1999. Mandzûr, Ibnu. Lisân al-`Arab. Jilid 13. Mesir: al-Dâr al-Mishriyyah, t.th. Al-Maqdîsî, Muwaffiq al-Dîn `Abdullâh ibn Qudâmah. Al-Kâfî fî Fiqhi al-Imâm Ahmad. Juz 2, cetakan 1. Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1994. Al-Mazzî, Jamâl al-Dîn Abû al-Hajjâj Yûsuf. Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’ al-Rijâl. Jilid 4, 6, 9, 10, 13, 15, 16, 17, 18, 20, 21, dan 22. Bairut: Dâr al-Fikr, 1994. Al-Mubârakfûrî, Abû al-Ula Muhammad `Abd al-Rahman ibn `Abd al-Rahman. Tuhfat al-Ahwadzi. Juz 4. Bairut: Dâr al-Fikr, 1995. Munawar, Said Agil Husain. Al-Qur'an Membangun Tradisi Keshalehan Hakiki. Cetakan 2. Jakarta Selatan: Ciputat Press, 2002. Al-Naisâbûrî, Muslim ibn Hajjâj al-Qusyairî. Shahîh Muslim. Jilid 2 Kitab alFarâidh hadis nomor: 4242. Bairut: Dâr al-Fikr, 1992. Nasution, Lahmuddin. Pembaharuan Hukum Islam Dalam Madzhab Syafi’i. cetakan 1. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, November 2001. Al-Nawâwî, Muhyî al-Dîn. Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj. Bairut: Dâr al-Ma‟rifah, 1995. Jilid 11-12.

Penyusun, Tim IAIN Syarif Hidayatullah. Ensiklopedi Islam Indonesia. Cetakan 2. Jakarta: Djambatan, 2002. Al-Qardhâwî, Yûsuf. Halal dan Haram dalam Islam. Terj. Muammal Hamidy. Edisi revisi. Surabaya: Bina Ilmu, 2003. Al-Qazwinî, Abû Muhammad ibn Yazîd. Sunan Ibnu Mâjah. Jilid 2 Kitab alJanâiz hadis nomor: 2508. Indonesia: Dahlan, t.th. Al-Qur'an, Yayasan Penterjemah. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Semarang: PT Tanjung Emas Inti Semarang, 1992. Al-Qurthubî, Abû `Umar Yûsuf ibn `Abdullâh ibn Muhammad ibn `Abd al-Barr. Tafsîr al-Qurthubî. Terj. Fathurrahman dkk. Juz 3, cetakan 1. Jakarta: Pustaka Azzam, April 2008.

206

____________. Al-Istî`âb fî Ma`rifat al-Ashhâb. Jilid 4. Bairut: Dâr al-Kutub al`Ilmiyah, 2002. Rahman, Fathur. Ikhtishar Mushthalah Hadis. Cetakan 1. Bandung: Al-Ma`arif, 1974. Al-Ramlî, Abû al-`Abbâs Ahmad ibn Hamzah ibn Syihâb al-Dîn, yang terkenal dengan nama al-Syâfi`i al-Shaghîr. Nihâyat al-Muhtâj ilâ Syarh al-Minhâj. juz 5. Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1993. Al-Sa`idî, Sa`dullâh. Hadis-Hadis Sekte. Cetakan 1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996. Shâlih, Shubhi. `Ulûm al-Hadîts wa Mushthalâhuhu. cetakan 17. Bairut: Dâr al`Ilm li al-Malâyîn, t.th. Al-Shiddieqi, Muhammad Hasbi. Sejarah Perkembangan Hadis. Cetakan 2. Jakarta: Bulan Ibntang, 1988. ______________. Tafsir al-Qur`anul Majid al-Nur. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000. Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah. Cetakan 1. Jakarta: Lentera hati, 2006. Suparta, Munzier. Ilmu Hadis. Cetakan 3. Raja Grafindo Persada, 2002. Suryadi. Metodologi Ilmu Rijalil Hadis. Cetakan 1. Yogyakarta: Madani Pustaka Hikmah, 2003. Soebahar, Erfan. Menguak Fakta Keabsahan al-Sunnah (Kritik Mushthafa AlSiba`i Terhadap Pemikiran Ahmad Amin Mengenai Hadis dalam Fajr alIslam). Cetakan 1. Jakarta Timur: Prenata Media, Agustus 2003. Al-Syaukâni, Muhammad ibn `Ali ibn Muhammad. Fath al-Qadîr. Juz 1. Beirut: Dâr al-Fikr, 1993. Al-Thahhan, Mahmûd. Taisîr Mushthalah al-Hadîts. Bairut: Dâr al-Fikr, t.th. _______________. Dasar-Dasar Ilmu Takhrij dan Studi Sanad, terj. Agil Husin Munawar dan Masykur Hakim. Cetakan 1. Semarang: Dina Utama, 1995. Al-Tirmidzî, Abû `Îsa Muhammad ibn Sûrah. Sunan al-Tirmidzî (Jâmi` alShahîh). Jilid 2 Kitab al-Janâiz hadis nomor: 1091. Semarang: Toha Putra, t.th.

207

Wensinck, Arent Jan. Mu’jam Mufahras li al-Alfâdz al-Ahadîts al-Nabawi. Jilid 2. Leiden: Breil, 1943. Zuhri, Muh. Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Cetakan 2. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003.

208

BIODATA PENULIS

Nama Lengkap Tempat / Tanggal Lahir Nama Orang tua

: Amirul Bakhri. : Pemalang / 16 Mei 1986. : Bpk H. Achmad Basyari. : Ibu Hj. Maemunah.

Alamat

: Jln. Bandaran Rt. 02 Rw. 03 Ds. Rowosari Kec. Ulujami Kab. Pemalang. Kode pos 52371.

Jurusan / Prodi / Angkatan Jenjang Pendidikan SD SLTP SLTA

: Ushuluddin / Tafsir Hadis / 2007. : : SD N 03 Rowosari : SLTP N 01 Ulujami : Pondok Modern Gontor 1 Lulus tahun 1998. Lulus tahun 2001. Lulus tahun 2005.

Pengabdian di ISID Gontor Lulus tahun 2006. Perguruan Tinggi Pengalaman Organisasi : STAIN Surakarta : Lulus tahun 2010.

1. Pengurus Rayon Bagian Keamanan Darul Hijroh di Pondok Modern Gontor 1 periode 2004. 2. Pengurus Putra Bandaran (PURBA) di Dukuh Bandaran periode 2006. 3. Ketua Bidang Syiar di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) STAIN periode 2009. 4. Pengurus BEM J Ushuluddin bagian Kajian Tafsir Hadis periode 2009 / 2010. 5. Bidang Kaderisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) STAIN periode 2009.

Surakarta, 25 Februari 2010 Penulis,

AMIRUL BAKHRI NIM. 30.07.4.5.002

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->