Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Masalah Kesehatan Sistem Pernafasan

1. 2. 1. 2. 3. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan padanan istilah : Acute Respiratory Infections (ARI). ISPA mengandung 3 unsur, yaitu : Infeksi. Saluran pernafasan. Akut. Batasan-batasan masing-masing unsur : a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak, sehingga menimbulkan gejala penyakit. b. Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ saluran pernafasan. c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari (batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun ISPA dapat lebih 14 hari).

1.Pneumonia
1. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia. 2. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus (bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronchopneumonia) disebut Pneumonia. Pneumonia adalah merupakan infeksi akut yang secara anatomi mengenai lobus paru. Pneumonia Berdasarkan Penyebab : 1. Pneumonia bakteri. 2. Pneumonia virus. 3. Pneumonia Jamur.

4. Pneumonia aspirasi. 5. Pneumonia hipostatik. Pneumonia berdasarkan anatomic : 1. Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru. 2. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate. 3. Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular. Patofisiologi Bronkhopneumonia : 1. Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder. 2. Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis, morbili, penyakit lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas, gizi buruk, paska bedah atau kondisi terminal. Etiologi : 1. Streptokokus. 2. Stapilokokus. 3. Pneumokokus. 4. Hemovirus Influenza. 5. Pseudomonas. 6. Fungus. 7. Basil colli. Sehingga menimbulkan : 1. Reaksi radang pada bronchus dan alveolus dan sekitarnya. 2. Lumen bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak. 3. Dinding bronkhiolus yang rusak mengalami fibrosis dan pelebaran. 4. Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasis/kolaps alveoli, emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan. Gejala Klinis : 1. Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC), dapat disertai kejang (karena demam tinggi).

2. Gejala khas : 1. 2. 3. Sianosis pada mulut dan hidung. Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung. Gelisah, cepat lelah. 3. Batuk mula-mula kering produktif. 4. Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia. 5. Pemeriksaan laboratorium = lekositosis. 6. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus. Komplikasi : Bila tidak ditangani secara tepat 1. Otitis media akut (OMA) terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi. 2. Efusi pleura. 3. Emfisema. 4. Meningitis. 5. Abses otak. 6. Endokarditis. 7. Osteomielitis. Penatalaksanaan : 1. Oksigen. 2. Cairan, kalori dan elektrolit à glukosa 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml cairan infuse. 3. Obat-obatan : 1. 2. Antibiotika berdasarkan etiologi. Kortikosteroid bila banyak lender. Prognosa : dengan pemberian antibiotic yang tepat, mortalitas dapat menurun.

Asuhan Keperawatan Anak dengan Pneumonia
1. 1. Pengkajian Riwayat Kesehatan : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya/batuk, pilek, takhipnea, demam. Anoreksia, sukar menelan, muntah. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas, seperti ; morbili, pertusis, malnutrisi, imunosupresi. Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan. Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernafasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis. 2. Pemeriksaan Fisik : 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. Demam, takhipnea, sianosis, cuping hidung. Auskultasi paru ronchi basah, stridor. Laboratorium lekositosis, AGD abnormal, LED meningkat. Roentgen dada abnormal (bercak konsolidasi yang tersebar pada kedua paru). Usia, tingkat perkembangan. Toleransi/kemampuan memahami tindakan. Koping. Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua. Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya. Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia. Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan. Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya. Koping keluarga. Tingkat kecemasan.

3. Faktor Psikososial/Perkembangan :

4. Pengetahuan Keluarga, Psikososial :

Intervensi a. 3. Lakukan perkusi. Beri therapy oksigen sesuai program. Dx. tanda-tanda sianosis setiap 2 jam. Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang. 5. demam. 7. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan. Tujuan : Jalan nafas efektif. nyeri dada. Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan. dispnea. 3. 8. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus. Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender. 7. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan. vibrasi dan postural drainage setiap 4 – 6 jam. takipnea. penumpukan secret. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah. 4. ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret. Kelolaa pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program. 2. 8. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas. Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi. Dx. Monitor status respiratori setiap 2 jam. Rencana tindakan : 1. 5. Rencana Tindakan : 1. 6. Diagnosa Keperawatan 1. 9. 2. kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit. Beri minum yang cukup. Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat. 6.2. status pernafasan. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus. Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas. 10. Observasi tingkat kesadaran. pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat. . Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam. 3. penumpukan secret. b.

4. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral hindari milk yang kental/minum yang dingin à merangsang batuk. Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program. nyeri dada. Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal. Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien. Dx. Monitor analisa gas darah. tanda-tyanda vital. : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat. takipnea. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah. 3. dispnea. Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi. Cegah terjadinya kelelahan pada pasien. Beri O2 sesuai program. nadi cepat. Beri oksigen sesuai program. 5. 2. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam. c. Catat intake dan out put cairan. kesadaran menurun. Dx. demam. Rencana Tindakan : 1. Beri posisi fowler/semi fowler. 3. Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari. 5. e. Rencana Tindakan : 1. Cek suhu setiap 4 jam. 4. 6. 2. Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program. jika suhu naik beri kompres dingin. Monitor keseimbangan cairan àmembrane mukosa. Kaji toleransi fisik pasien.2. Lakukan oral hygiene. Rencana Tindakan : 1. 3. d. . turgor kulit. Beri pemenuhan kebutuhan energi. Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang. Dx. Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya. 2. 4. Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak sesuaikan aktifitas dengan kondisinya. 3. dapat batuk efektif dan suhu normal.

2. g. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. 2. 5. Tujuan : Kecemasan teratasi. 4. istirahat dan aktifitas yang sesuai. Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal. Beri kompres dingin. 3. 4.4. . Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif. monitor keakuratan tetesan infuse. manfaat. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit. 7. Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan. Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic. Beri minum peroral secara hati-hati. Rencana Tindakan : 1. Kaji tingkat kecemasan anak. 5. Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit. Rencana Tindakan : 1. 6. Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk. 3. keseimbangan diit. f. 4. Rencana Tindakan : 1. Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya. Dx. h. Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya. Dx. Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal. Dx. 2. Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh. 3. Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi. Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam. Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi. Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah . Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.

Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put. Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam. 5. 5. Evaluasi. 1. Ashma Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif. 2. 1. Implementasi 1. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang . reversibel dimana trakheobronkhial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.Genetik Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trachea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangandengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan. 4. Analisa gas darah normal. 2.bagaimana dia merasakannya. Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia. Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS. 6. 5. beri O2 sesuai program. fungsi pernafasan baik. 4. 3. Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien. Hasil evaluasi yang ingin dicapai : Prinsip implementasi : 2. Faktor Predisposisi . Jalan nafas efektif. lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan. Monitor suhu tubuh.

musim bunga. bakteri.juga menderita penyakit alergi. serbuk bunga. yang masuk melalui mulut. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergi yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik. Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya.Stress Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus asma dan memperberat serangan asma yang sudah ada. Contoh: perhiasan. yaitu: a) Inhalan. 2. obat-obatan (antibiotik dan aspirin). b) Ingestan. bulu binatang. dan polusi. Hal ini berhubungan dengan arah angin. logam.Alergen Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. seperti debu. Faktor Presipitasi . 2. bulu binatang. Karena adanya bakat alergi ini. seperti musim hujan. yang masuk melalui kontak dengan kulit. serbuk bunga. yaitu: 1. Contoh: debu. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. dan debu. seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya .Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Kadangkadang serangan berhubungan dengan musim. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap penctus yang tidak spesifik atau tidak diketahui. musim kemarau. . yang masuk melalui saluran pernapasan. Contoh: makanan dan obat-obatan c) Kontaktan.Olah raga/aktivitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita akan mendapat serangan juka melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. .lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe. penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Penderita diberikan motivasi untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. dan spora jamur. spora jamur. serbuk bunga. dan jam tangan. .

. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara: seseorang alergi àmembentuk sejumlah antibodi IgE abnormal àreaksi alergi. duduk dengan menyangga ke depan. gelisah.infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronis dan emfisema. Gejala klasik: sesak nafas. alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat.pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat tetapi hanya sekalikali melakukan ekspirasi. faktor kemotaktik eosinofilik. zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrien). Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi IgE orang tersebut meningkat. tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam. diantaranya histamin. dan bradikinin. Bronkhiolus sudah tersumbat sebagian maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada asma. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Pada asma. Hal in dapat menyebabkan barrel chest. Hal ini menyebabkan dispnea. antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan bronkhiolus dan bronkhus kecil. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Manifestasi Klinis Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis. serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesulitan mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. diameter bronkhiolus berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkhiolus. 3. Efek gabungan dari semua faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkhiolus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara.

batuk.Hipoksemia adalah tubuh kekurangan oksigen 4. 5.Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. Meliputi pengobatan dan perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawat. Pada serangan asma yang lebih berat. dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Serangan asma sering terjadi pada malam hari. hiperinflasi dada. Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronkhial adalah: 1.Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran nafas karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas. gejala yang timbul makin banyak. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera 2. Memberikan penyuluhan b. takikardi. sianosis.Pneumotoraks adalah terdapatnya udara pada rongga pleura yang menyebabkan kolapsnya paru.mengi (wheezing). Memberikan penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit asma. antara lain: silent chest. 3. Fisioterapi . Pemberian cairan d. Penderita harus dirawat dengan terapi yang intensif. Pengobatan Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. gangguan kesadaran. 2. yaitu: 1) Pengobatan non farmakologik a. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. dan pernafasan cepat-dangkal. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah: 1. Menghindari faktor pencetus c.Status asmatikus adalah setiap serangan asma berat atau yang kemudian menjadi berat dan tidak memberikan respon (refrakter) adrenalin dan atau aminofilin suntikan dapat digolongkan pada status asmatikus.

dan makanan yang mengandung zat pewarna.Bronkodilator: obat yang melebarkan saluran nafas. Kegiatan fisik Anak yang menderita asma jangan dilarang bermain atau berolah raga.2) Pengobatan farmakologik . Aminofilin (Euphilin Retard). lebih baik jangan makan coklat. Untuk menghindari pencetus karena debu rumah dianjurkan dengan mengusahakan kamar tidur anak: Sprei. Santin (teofilin) Nama obat: Aminofilin (Amicam supp). . Menghindari pencetus Cara menghindari berbagai pencetus serangan pada asma perlu diketahui dan diajarkan pada keluarganya yang sering menjadi faktor pencetus adalah debu rumah. Pencegahan Serangan Asma pada Anak 1. Sprei dan sarung bantal lebih sering. terbutalin (bricasma). Jangan memelihara binatang. fenoterol (berotec). tirai. Lebih baik tidak menggunakan karpet di kamar tidur atau tempat bermain anak. Hindarkan kontak dengan penderita influenza. misalnya sedang mendung.Kromalin Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Teofilin (Amilex) Penderita dengan penyakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.Ketolifen Mempunya efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Untuk menghindari penyebab dari makanan bila belum tau pasti. kacang tanah atau makanan yang mengandung es. b. Terbagi dalam 2 golongan: a. Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral. Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin) Nama obat: Orsiprenalin (Alupent). 2. . hindarkan anak berada di tempat yang sedang terjadi perubahan cuaca. Biasanya diberikan dosis 2 kali 1 mg/hari. selimut minimal dicuci 2 minggu sekali. namun . Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian 1 bulan.

Adanya peningkatan tekanan darah .Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya .olahraga perlu diatur karena merupakan kebutuhan untuk tumbuh kembang anak.Ansietas . Sirkulasi . istirahatlah sebentar.Adanya batuk berulang d.Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bentuan melakukan aktivitas sehari-hari . . Adakalanya beberapa anak sebelum melakukan kegiatan perlu minum obat atau menghirup aerosol terlebih dahulu. Pernapasan .Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernafas . Integritas ego . Aktivitas . melebarkan hidung.Menggunakan alat bantu pernapasan. misal meninggikan bahu. minum air dan setelah tidak batukbatuk. a.Napas memburuk ketika klien berbaring telentang di tempat tidur .Tidur dalam posisi duduk tinggi c.Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan . Pengaturan dilakukan dengan cara: Menambahkan toleransi secara bertahap. Pengkajian Riwayat kesehatan masa lalu . Asuhan Keperawatan Anak dengan Ashma 1.Adanya bunyi napas mengi .Warna kulit atau membran mukosa normal/abu-abu/sianosis e.Adanya peningkatan frekuensi jantung .Kaji riwayat reksi alergi atau sensitivitas terhadap zat/faktor lingkungan b. menghindarkan percepatan gerak yang mendadak Bila mulai batuk-batuk. kegiatan diteruskan.

c. pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock .Peka rangsangan . Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal.Bila disertai dengan bronkhitis. serta diafragma yang menurun.Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan .Perubahan aksis jantung.Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal . pneutoraks. Asupan nutrisi .Keterbatasan mobilitas fisik . . maka terdapat gambaran infiltrat pada paru . yaitu: . dan pneumoperikardium. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah ..Gelisah f. Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. Hubungan sosial . Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru.Bila terdapat komplikasi.Ketakutan .Susah bicara atau bicara terbata-bata .Adanya ketergantungan pada orang lain Pemeriksaan Penunjang a. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.Bila terjadi pneumonia mediastinum. b.Penurunan berat badan karena anoreksia g. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: . Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Akan tetapi bila terdapat komplikasi.Bila terdapat komplikasi empisema (COPD).

ex: mengi . ansietas. 2. yakni terdapatnya RBB (Right Bundle branch Block) . distress pernafasan. asap. .Awasi tanda vital dan irama jantung . Diagnosa Keperawatan 1) Bersihan jalan napas tidak efektif b. d. Pemeriksaan spirometri tdak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan.d gangguan suplai oksigen Tujuan: perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan adekuat Intervensi: . duduk pada sandaran TT .Catat adanya derajat dispnea. e.wise rotation .Auskultasi bunyi nafas. catat adanya bunyi nafas.d bronkospasme Tujuan: mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi bersih dan jelas Intervensi: .Pertahankan polusi lingkungan minimum.Tanda-tanda hipoksemia. Contoh: debu. memberikan air hangat. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversibel.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi. Contoh: meninggikan kepala TT.Tempatkan klie pada posisi yang nyaman. 2) Gangguan pertukaran gas b.Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. Scanning Paru Dapat diketahui bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. SVES.Kaji/awasi secara rutin keadaan kulit klien dan membran mukosa . yaitu terdapatnya sinus takikardia.Kaji/pantau frekuensi pernafasan.berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan . penggunaan obat . catat rasio inspirasi/ekspirasi .dll .Terdapat tanda-tanda hipertropi otot jantung.Kolaborasi: . dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negatif.

Takikardi.Berikan bimbingan antisipasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan .Informasikan kepada orang tua tentang pelayanan yang tersedia di masyarakat.Anjurkan orang tua untuk menyediakan waktu sesuai kebutuhan .d tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial orang tua Tujuan: koping keluarga kembali efektif Intervensi: .Buat hubungan dengan orang tua yang mendorong mereka mengungkapkan kesulitan . 4) Risiko tinggi kopong keluarga tidak efektif b.Mengurangi perpisahan dengan orang tuanya . 3.toleransi klien .Mendorong untuk mengekspresikan perasaannya . TBC Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru . misal: pprosedur tindakan . 1989). disritmia.Berikan informasi pada orang tua tentang perkembangan anak . 3) Cemas pada orang tua dan anak b. dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik.Tekankan pentingnya sistem pendukung .Bantu orang tua untuk merujuk pada ahli penyakit .Bina hubungan saling percaya .Penurunan getaran vibrasi diduga adanya penggumpalan cairan/udara .Mendorong keluarga dengan memberikan pengertian informasi (Waley & Wong.Sianosis mungkin perifer atau sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia .Memberikan rasa nyaman .Melibatkan anak dalam bermain .Siapkan anak untuk menghadapi pengalaman baru.d penyakit yang dialami anak Tujuan: menurunkan kecemasan pada orang tua dan anak Intervensi untuk anak: .

Kehilangan napsu makan. . iritable. Batuk (kering. Demam/kerungat malam. . 2. M. Negro. 3. jika infiltrasi sudah setengah bagian paru. Demam (subfebris.41 C. Imigran dari Asia Tenggara. nyeri dan kaku. Gejala Klinis 1. . Makanan/Cairan : . sakit kepala. 4.Mimpi buruk. keringat malam.. 3. .disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis (Amin.Perasaan tak berdaya/putus asa.1999). .Denial. Pengerahan tenaga. 5. . Sesak napas. kadang-kadang hemoptoe (pecahnya pembuluh darah). Bayi dan anak di bawah 5 tahun. Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip. Asuhan Keperawatan Anak dengan Ashma Pengkajian (Doegoes. seperti demam influenza). Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan. Nyeri dada. Integritas Ego : . jika infiltrasi sudah ke pleura. takipnea/dispnea.. meriang.Sulit tidur dgn. 2. Malaise . terapi steroid & kemoterapi kanker.Kelemahan umum dan kelelahan.Kelemahan otot.Cemas. badan kurus.Faktor stress : baru/lama.Takikardia. nyeri otot. produktif. . Aktivitas /Istirahat . 1999) 1. . Eskimo. kadang-kadang 40 . anoreksia. . Faktor Resiko • • • • Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika.Napas pendek dgn.Perasaan butuh pertolongan .

7.Riwayat tuberkulosis . penurunan fremitus pleura terisi cairan). . .Gerakan pernapasan asimetri. HIV positip. 5.Memegang area yang sakit. penurunan geraan silia. lemak subkutan tipis. . 6. AIDS. stasis dari sekresi. Kurang pengetahuan tentang kondisi.Peningkatan jumlah pernapasan.Napas pendek.Perkusi : Dullness. dyspnea atau anoreksia 4. .Turgor kulit buruk.. Interaksi Sosial : .Spuntum : hijau/purulen.Demam pada kondisi akut. . 4.Perasaan terisolasi/ditolak.Batuk (produktif/non produktif) . 5. Kemanan/Keselamatan : . kering. .Adanya kondisi imunosupresi : kanker. Pernapasan : . Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk. kekuningan. terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat.Kehilangan BB. . . Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.Nyeri dada saat batuk.Ketidaksanggupan mencerna.Suara napas : Ronkhi .Perilaku distraksi. Nyaman/nyeri : . . 3. . Diagnosa Keperawatan 1. 2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler. pink. kelemahan otot. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer.

R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus. Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi. meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif. Mendemontrasikan batuk efektif.Intervensi Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah. Tahan napas selama 3 . Kriteria hasil : • • • Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara. Rencana Tindakan : 1. keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. 4. . Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. 8. 7.5 detik kemudian secara perlahan-lahan. 3. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. 5. 2. menyebabkan frustasi. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. pernapasan. yang mengarah pada atelektasis. R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. Lakukan pernapasan diafragma. 6. R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif. Lakukan napas ke dua . Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

4. 5. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. 2. − Pemberian expectoran. Tujuan : Pertukaran gas efektif. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal. Berikan posisi yang nyaman. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Kriteria hasil : • • • Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. 3. Pertahankan perilaku tenang. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. − Konsul photo toraks. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. . Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab. radiologi dan fisioterapi. Observasi fungsi pernapasan. Diagnosa Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolarkapiler.9. R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. − Pemberian antibiotika. Balik ke sisi yang sakit. dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. Rencana tindakan : 1. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. catat frekuensi pernapasan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : − Dengan dokter.

R/ cairan dapat lebih pada lambung. Tawarkan makan sedikit tapi sering (enam kali sehari plus tambahan). 4. R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. Jelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan tinggi elemen berikut a. dispnea dan mual. − Pemberian antibiotika. menurunkan napsu makan dan masukan. Atur makanan dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa paling suka untuk memakannya. Pembatasan cairan pada makanan dan menghindari cairan 1 jam sebelum dan sesudah makan. radiologi dan fisioterapi. − Konsul photo toraks. dyspnea atau anoreksia Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat Kriteria hasil : • • • Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori Menu makanan yang disajikan habis Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema Rencana tindakan 1. 5. Vitamin B12 (telur. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan. 6. . Diskusikan penyebab anoreksia. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. R/ Dengan membantu klien memahami kondisi dapat menurunkan ansietas dan dapat membantu memperbaiki kepatuhan teraupetik.R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. R/ Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : − Dengan dokter. 2. − Pemeriksaan sputum dan kultur sputum. 6. daging ayam. R/ Peningkatan tekanan intra abdomen dapat menurunkan/menekan saluran GI dan menurunkan kapasitas. 3. kerang). Diagnosa Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk. R/ Ini meningkatkan kemungkinan klien mengkonsumsi jumlah protein dan kalori adekuat.

Thiamine (kacang-kacang. Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup. daging). kacang segar). kacang-kacangan. . kulit dan lesi lain dari orang yang terinfeksi. Patofisiologi  Kuman berkembang biak pada saluran nafas atas(vulva.  Kuman membentuk psudo membrane melepaskan eksotoksin. nutrisi parenteral.  Sumbatan jalan nafas terjadi akibat dari fungsi pseudo membrane pada laring dan trachea dapat menyebabkan kondisi fatal.Difteri Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae yang berasal dari membrane mukosa hidung dan nasofaring. atau makanan per sendok.  Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul paralysis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf. Zat besi (jeroan. kulit. buncis. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Masalah Kesehatan Akibat Penyakit Infeksi 1. R/ Kemungkinan diperlukan suplemen tinggi protein. d. Asam folat (sayur berdaun hijau. oranges).total. buah yang dikeringkan.b. sayuran hijau. 7. c. R/ Masukan vitamin harus ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan metabolisme dan penyimpanan vitamin karena kerusakan jarinagn hepar. mata jarang terjadi).

batuk obstruksi sal. Membrane Berwarna putih atau abu-abu Linfadenitis (bull’s neck) Toxemia. napas. sianosis. ↓ Mengeluarkan toksin (eksotoksin) ↓ Nasal Peradangan mukosa hidung (flu.Corynebacterium diphteriae ↓ Kontak dengan orang atau barang yang terkontaminasi. sesak nafas. Neuritis. ↓ Tonsil/faringeal Tenggorokan sakit demam anorexia. Lihat dari alur atau jaras patofisiologi. Komplikasi • • • • • Miokarditis (minggu ke-2). ↓ Aliran sistemik ↓ Masa inkubasi 2 – 5 hari. Etiologi Corynebacterium diphteriae. syok septic. Nefritis. ↓ Masuk lewat saluran pencernaan atau saluran pernafasan. bakteri berbentuk batang gram negative. lemah. ↓ Laring Demam suara serak. secret Hidung serosa). . Paralisis. Bronkopneumonia. Manifestasi Klinis • • Khas adanya pseudo membrane.

Asuhan Keperawatan Anak dengan Dipteri Pengkajian a. Penyebarluasan infeksi tidak terjadi. Anak akan mempertahankan keseimbangan cairan. 2. • • • Terapi cairan. . Anak akan menunjukkan tanda-tanda jalan nafas efektif. Anak menunjukkan tanda-tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi. b. 2.Penatalaksanaan Terapeutik • Pemberian oksigen. Implementasi 1. Melakukan immunisasi jika immunisasi belum lengkap sesuai dengan prosedur. 3. 4. Perencanaan Pemulangan a. intake cairan menurun). Jelaskan terapi yang diberikan : dosis dan efek samping. 4. tonsil/faring dan laring. Diagnosa Keperawatan 1. riwayat terkena penyakit infeksi. Kekurangan volume cairan tidak terjadi. Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen. Pemberian antibiotic sesuai program. Kaji tanda-tanda yang terjadi pada nasal. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang). Lihat dari manifestasi klinis berdasarkan alur patofisiologi. 4. Menekankan pentingnya control ulang sesuai jadual. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakit (metabolisme meningkat. 2. Meningkatkan jalan nafas efektif. c. Riwayat keperawatan . Intervensi 1. b. Perawatan isolasi. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas. 3. Meningkatkan kebutuhan nutrisi. status immunisasi. Perluasan infeksi tidak terjadi. 3.

3. Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman .DHF Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy. sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat. nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. b.d. Virus dengue berbentuk batang. Virus dengue sejenis arbovirus. Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak. Informasikan jika terdapat tanda-tanda terjadinya kekambuhan.Patrick manson. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II. 2.1995 ). 2. bersifat termoragil. 1990). Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Etiologi a.2001). Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam. Patofisiologi Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan . DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam. (Sir. nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. stabil pada suhu 70 oC. 1996). Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif.

renjatan terjadi secara akut. Pembesaran hati. i. f. kulit lembab dan dingin. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. abdoment. g. trombositopenia dan diathesis hemorrhagic . hematemisis. d. terjadinya hipotensi . tidak ada nafsu makan. Nyeri otot. . Komplikasi Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya : a. b. Tanda-tanda renjatan (sianosis. Penurunan kesadaran. Sakit kepala. Perdarahan luas. e. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. tekanan darah menurun. Mual.dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu. gelisah. Demam tinggi selama 5 – 7 hari b. Pembengkakan sekitar mata. limpa. melena. hematuri. terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Effuse pleura d. Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah . menurunnya volume plasma . Shock atau renjatan. c. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit. c. 4. konstipasi. diare. muntah. dan ulu hati. Terjadinya trobositopenia. Epistaksis. capillary refill lebih dari dua detik. menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat . hematoma. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen.kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. acidosis metabolic dan kematian. Tanda dan gejala a. ptechie. nadi cepat dan lemah). Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a. tulang sendi. echymosis. dan kelenjar getah bening. h. 5.

Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat. 7. Serology : HI (hemaglutination inhibition test). trombositopeni dan hemokonsentrasi. Penatalaksanaan a. Pemberian makanan lunak .6. hipotensi dengan kulit yang lembab. Pemberian cairan melalui infus. 1) Rontgen thorax : Efusi pleura. Klasifikasi a. Darah 1) Trombosit menurun. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan. c. dingin dan penderita gelisah. Tirah baring b. Derajat IV : Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba. 2) HB meningkat lebih 20 % 3) HT meningkat lebih 20 % 4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3 5) Protein darah rendah 6) Ureum PH bisa meningkat 7) NA dan CL rendah b. Derajat II : Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki. Derajat III : Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah. hematoma dan perdarahan dari lain tempat. 2) Uji test tourniket (+) 8. d. uji turniket positi. Pemeriksaan penunjang a. b. c. nacl) ringer lactate merupakan .

Monitor tanda-tanda vital ( T. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue. tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah. rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya). b. a. Kaji riwayat keperawatan. c. Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan . Monitor adanya tanda-tanda renjatan h. K+ 4 mEq/liter. muntah.N. Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter. c. mual. g. tidak ada nafsu makan. Mengkaji data dasar. f. Pengkajian a.S. d. 2. mengandung Na + 130 mEq/liter . perdarahan. d. kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari berbagai sumber (pasien. keluarga. nyeri ulu hati. antipiretik.HT.RR). gelisah. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh . Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut i. penurunan kesadaran). d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Anti konvulsi jika terjadi kejang f. muntah dan demam. e. muntah. Diagnosa keperawatan . Asuhan Keperawatan Anak dengan DHF 1. nyeri otot dan sendi. b.cairan intra vena yang paling sering digunakan . Pemberian obat-obatan : antibiotic. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien. tidak nafsu makan. Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi e. hipotensi. kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas. dan Trombosit setiap hari. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia. korekter basa 28 mEq/liter .tanda-tanda perdarahan. Periksa HB. sianosis.

Untuk itu penulis akan memaparkan prinsip rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan : a. Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler. perdarahan . Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.RR ) 3) Observasi tanda-tanda dehidrasi 4) Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus 5) Balance cairan (input dan out put cairan) 6) Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak 7) Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh keringat. Tujuan : Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi Kriteria hasil : Volume cairan tubuh kembali normal Intervensi : 1) Kaji KU dan kondisi pasien 2) Observasi tanda-tanda vital ( S. Tujuan Hipertermi dapat teratasi Kriteria hasil Suhu tubuh kembali normal Intervensi 1) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh 2) Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak 3) Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat 4) Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat . Intervensi Perumusan rencana perawatan pada kasus DHF hendaknya mengacu pada masalah diagnosa keperawatan yang dibuat. b. Perlu diketahui bahwa tindakan yang bisa diberikan menurut tindakan yang bersifat mandiri dan kolaborasi.3. muntah dan demam.N.

5) Libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien . 2) Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit DHF 3) Jelaskan pada keluarga klien tentang proses penyakit DHF melalui Penkes. 5) Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari 6) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi. d. 6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik. c. Tujuan Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi Kriteria hasil Intake nutrisi klien meningkat Intervensi 1) Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi 2) Timbang berat badan klien tiap hari 3) Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering 4) Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual 5) Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi. 4) beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya yang belum dimengerti atau diketahuinya. obat penurun panas. 7) Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.seperti terbuat dari katun. muntah. dan palpasi). perkusi. Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan Pengetahuan keluarga tentang proses penyakit meningkat Kriteria hasil Klien mengerti tentang proses penyakit DHF 1) Kaji tingkat pendidikan klien. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. tidak ada nafsu makan.

Trombosit 6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi . 4. RR).pemberian cairan intra vena. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trobositopenia. Intervensi 1) Observasi tingkat kesadaran klien 2) Observasi tanda-tanda vital (S.N. Intake dan out put kembali normal / seimbang. Shock hopovolemik teratasi . d. e. Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan Tujuan Shock hipovolemik dapat teratasi Kriteria hasil Volume cairan tubuh kembali normal. f.e. Perdarahan tidak terjadi / teratasi. Pengetahuan keluarga bertambah. c. Evaluasi a. Suhu tubuh dalam batas normal. kesadaran compos mentis. 3) Observasi out put dan input cairan (balance cairan) 4) Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi 5) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan. Pemenuhan nutrisi yang adekuat. 4) Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien 5) Monitor hasil darah. f. Tujuan Perdarahan tidak terjadi Kriteria hasil Trombosit dalam batas normal Intervensi 1) Kaji adanya perdarahan 2) Observasi tanda-tanda vital (S.RR) 3) Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan. b. N.

tetapi terdapat perubahan-perubahan pada selaput lender trakea. Cara penularan melalui kontak dengan pasien pertusis. leher. Komplikasi Komplikasi dari pertusis adalahsebagai berikut : 1. Penyakit ini terbanyak mengenai anak umur 1-5 tahun dan lebih banyak anak laki-laki daripada anak wanita. bronkopneumonia. terutama komplikasi paru dan susunan saraf yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil. dan IV. laring. atelektasis yang disebabkan sumbatan mucus. Alat pernafasan Dapat terjadi otitis media (sering pada bayi). dan nasofaring.PERTUSSIS Pertusis disebut juga sebagai tussis quinta. bronchitis. disertai infiltrate neurotrofil dan makrofag. Di tempat yang padat penduduknya dapat berupa epidemi pada anak. Patologi Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus. gram negative. Lesi berupa nekrosis bagian basal dan tengah sel epitel torak. Pertusis dapat mengenai semua golongan umur. batuk rejan. whooping cough. Penyebab pertusis adalah Bordetella pertussis alau Haemophilus pertussis. Lender yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil hingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis. Pemberian imunisasi dapat mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan pertusis. Basil pertusis yang didapatkan secara langsung adalah tipe antigenetik fase I. emfisema (dapat terjadi emfisema mediastinum. sedangkan yang diperoleh melalui pembiakan dalam bentuk lain ialah fase II. Prognosis Prognosis pertusis bergantung ada tidaknya komplikasi. dan didapatkan dengan cara melakukan pengambilan usapan pada daerah nasofaring pasien pertusis kemudian ditanam pada agar media Bordet-Gangou. Bordetella pertussis adalah suatu kuman tidak bergerak. . Infeksi yang terjadi pad a satu keluanga akan cepat menjalar pada keluarga lainnya. III. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. tidak ada kekebalan pasif dari ibu.

Sebaiknya di negara dimana pertusis terdapat secara endemic dipertimbangkan pemberian vaksin pertusis pada neonatus. Pencegahan dapat dilakukan dengan secara aktif dan pasif. reaksi local atau umum yang gawat setelah mendapat vaksinasi pertusis yang lalu. Pencegahan Tidak ada imunitas terhadap pertusis. epilepsi dalam keluarga atau penyakit susunan saraf pusat. epilepsi. hemoptitis dan perdarahan subkonjungtiva. Hemiparesis. 4. Alat pencernaan Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi (anak menjadi kurus sekali). meningismus dan didapatkannya gejala sisa setelah kejang pascavaksinasi pertusis seperti terjadinya retardasi mental. 3. prolaps rectum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intraabdominal. juga stomatitis. bronkiektasis. Secara aktif dengan memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit di bagi dalam dosis dengan interval 8 minggu. Sedangkan tuberculosis yang sebelumnya telah ada dapat menjadi bertambah berat. Lain-lain Dapat juga terjadi perdarahan lain seperti epistaksis. Kadang-kadang terdapat kongesti dan edema pada otak. mungkin pula terjadi perdarahan otak. 2. adanya defek neurologis atau anak sedang menderita sakit khususnya penyakit traktus respiratorius yang disertai demam. iritasi serebral selama masa neonates. . Tetapi didapatkannya komplikasi seperti kejang.kulit pada kasus yang berat). ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk. Menurut penyelidikan imunologis membuktikan bahwa bayi umur 115 hari telah dapat membentuk antibody. renjatan. Susunan saraf Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah-muntah. maka dianjurkan untuk tidak memberikan vaksinasi pertusis bila dalam anamnesis didapatkan riwayat kejang.

Bila menjumpai pasien dengan batuk sudah lama dan telah diberi obat tidak ada perbaikan. Stadium ini menyerupai influenza biasa. Sering disertai muntah dan banyak sputum yang kental. penyakit dapat berlangsung sampai 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium. Aktivitas seperti tertawa dan menangis dapat menimbulkan serangan batuk. Secara pasif pencegahan dapal dilakukan dengan memberikan kemoprofilaksis. Ronki difus yang terdapat pada stadium spasmodic mulai menghilang. Batuk-batuk ini makin lama makin bertambah berat dan terjadi siang dan malam. Batuk sedemikian beratrnya hingga pasien tampak gelisah dengan muka merah dan sianotik. tidak ada inspirium diantaranya dan diakhiri dengan whoop (tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking). nafsu makan timbul kembali. Pada minggu keempat jumlah dan beratnya serangan batuk berkurang pula. Gejala lain ialah pilek.Pemberian vaksinasi pertusis hanya sampai anak berumur 6 tahun dengan pertimbangan morbiditas pertusis yang menurun dengan bertambahnya umur. 3. Stadium kataralis Lamanya 1-2 minggu. Serangan batuk panjang. Stadium spasmodik Lamanya 2-4 minggu. Gambarab klinis Masa tunas: 7-14 hari. Pada penyakit yang berat dapat terjadi perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis karena meningkatnya tekanan pada waktu serangan batuk. Pada permulaan hanya berupa batuk-batuk ringan terutama pada malam hari. Pasien tampak berkeringat. Infeksi semacam common cold dapat menimbulkan serangan batuk lagi. Stadium konvalesensi Lamanya kira-kira 2 minggu sampai sembuh. sedangkan kemungkinan komplikasi neurologis pascavaksinasi bertambah. apalagi terdapat keluhan batuk makin panjang . serak dan anoreksia. Anak dapat terberak-berak dan terkencing-kencing. pembuluh darah leher dan muka melebar. Pada akhir minggu batuk makin bertambah berat dan terjadi paroksismal berupa batuk-batuk khas. 2. yaitu: 1.

dapat diduga bahwa pasien menderita pertusis. Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis. b. Obat ini menghilangkan B. tetrasiklin. . diagnosis dapat diperkuat dengan mengisolasi kuman dari sekresi jalan nafas yang dikeluarkan pada waktu batuk. Pemeriksaan diagnostic Pada stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodic jumlah leukosit meninggi kadang sampai 15000-45000 per mm3 dengan limfositosis. 2. 3. Luminal scbagai sedative. pertusis dari nasofaring dalam 2-6 hari (rata-rata 3-6 hari). . Penatalaksanaan Medic 1. Keperawatan Anak yang menderita pertusis tidak dirawat di rumah sakit walaupun anak menjadi sangat kurus (bahaya penularan lebih besar) kecuali ada sebab lain. c. 4. Secara laboratorium diagnosis pertusis dapat ditentukan berdasarkan adanya kuman dalam biakan atau dengan pemeriksaan imunofluoresen. Oleh karena itu. 5. Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis. Imunoglobulin: Belum ada persesuaian faham. Eritromisin juga "menggugurkan" atau menyembuhkan pneumonia.disertai muntah pada akhir batuk dan suara melengking. sangat penting dalam pengobatan pertusis khususnya pada bayi muda. Antibiotic a. dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi. Lain-lain. kloramfenikol. Ekspektoransia dan mukolitik. Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk yang berat. kotrimoksazol dan lainnya.

2. Pada saat batuk anak menderita kesukaran bernapas sehingga sangat gelisah maka harus ada yang menemani dan membantu bila anak muntah. Dengan demikian anak akan sangat kelelahan dan tidak cukup istirahat. Untuk mengurangi hal itu perlu diusahakan agar masukan makanannya tidak terlalu kurang dengan cara setiap habis batuk dan munlah setelah beberapa saat berikan anak makan atau minum susu. Gangguan kebutuhan nutrisi pada pasien batuk rejan terutama karena akibat selalu muntah setiap serangan batuk. Dengan demikian frekuensi minum bayi lebih sering daripada harihari biasa. Keadaan tersebut menyebabkan pasien batuk rejan menjadi sangat kurus (kaheksia). bukalah bajunya dan seka keringatnya dan ganti baju serta celananya yang kotor. Untuk mengurangkan gangguan aman dan nyaman selain menolong kelika sedang serangan batuk. Obat harus diberikan dengan benar dan jika dimuntahkan usahakan agar setelah tenang diberikan lagi. Gangguan kebutuhan nutrisi. Berikan minum serta usahakan agar anak dapat itirahat. Perlu diingat bahwa susu tidak boleh terlalu manis atau makanan yang digoreng atau terlalu asin karena dapat merangsang batuk. Usahakan pada setiap keadaan tenang memberikan makanan apa saja yang bergizi misalnya makanan kecil yang dapat dimasukkan susu. Sebaiknya obat diberikan setelah anak mendapat serangan batuk dan sudah reda agar obat . Setelah serangan reda. setiap habis serangan batuk dan muntah setelah tenang berikan menetek lagi/beri susu lagi. gangguan rasa aman dan nyaman.tawa/bercanda yang berlebihan. risiko terjadi komplikasi dan kurangnya pengetahuan oranggtua mengenai penyakit. setelah tenang bujuklah agar anak mau minum susu atau sari buah. Serangan batuk yang berulang-ulang yang terjadi siang dan rnalam akan sangat rnelelahkan dan menimbulkan anoreksia. Karena anak dalam keadaan anoreksia pemberian susu akan lebih baik di samping sari buahbuahan.Masalah yang perlu diperhatikan adalah gangguan kebutuhan nutrisi. Gangguan rasa aman dan nyaman Pasien yang menderita batuk rejan akan sangat menderita gangguan aman dan nyaman karena adanya serangan batuk yang panjang dan berulang-ulang. yang penting menghindarkan adanya penyebab serangan batuk misalnya agar diperhatikan anak tidak terlalu banyak menangis atau tertawa. siang dan malam serta diakhirinya dengan muntah terutama pada stadium spasmodik. 1. Bila pasien pertusis tersebut bayi.

Cara yang paling mudah ialah dengan pemberian imunisasi bersama dengan vaksin lain yang biasa disebut DPT dan polio.tidak tcrbuang sia-sia (mungkin mula-mula belum terlihat hasilnya tetapi setelah 2-3 hati akan berbcda). perlu dijelaskan kepada orangtua pasien bahwa penyakit ini mudah menular sehingga anak-anak di sekitarnya dapat ketularan. 4. Risiko terjadi komplikasi Penyakit batuk rejan menyebabkan daya tahan tubuh pasien sangat menurun sehingga mudah terjadi komplikasi yang kadang-kadang bahayanya lebih besar daripada penyakit batuk rejan sendiri misalnya penyakit tuberkulosis yang telah ada akan menjadi makin parah. Oleh karena itu. Jika anak muntah di lantai . Karena pasien setiap habis batuk selalu muntah maka harus disediakan tempat muntahan dan muntahan tersebut dibuang di wc disiram air sebanyak-banyaknya. Untuk menghidarkan penularan. dan jika terjadi perdarahan pada otak setelah sembuh akan meninggalkan gejala sisa berupa kelumpuhan atau bahkan retardasi mental. penyakit ini juga berlangsung lama dan dapat menyebabkan anak menjadi kurus sekali sebagai akibat selalu muntah setelah batuk dan dapat menimbulkan luka pada lidahnya karena tergigit. Jika diagnosis telah ditentukan oleh dokter. . Selain vaksinasi juga jika anak sakit batuk segera dibawa berobat agar dapat diidiagnosis dini. penyakit batuk rejan perlu dicegah. Pada pasien sendiri supaya diberi tahu agar tidak bermain-main dengan tcmannya dahulu. Mereka hanya mengira batuk yang lama dan berat (pada waktu sebelum pengobatan dengan antibiotika batuk ini sering disebut "batuk seratus hari" karena batuk ini memang berlangsung lama). Bila terjadi anak sampai terberak-berak/terkencing-kencing hindarkan sikap yang menunjukkan kekesalan karena anak akan sangat ketakutan. Keadaan ini akan menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan. Kurang pengetahuan orangtua mengenai penyakit Pada umumnya orang awam tidak mengerti bahwa anaknya menderita penyakit batuk rejan yang dapat mcnyebabkan penderitaan lama bagi anaknya jika tidak segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Untuk yang terakhir berikan sebelum tidur agar anak tidak terbangun dan mendapat serangan batuk. jika dirumah masih ada anak lain sebaiknya dipisahkan dahulu misalnya dititipkan ke tempat lain (kalau mungkin) dan anak dimintakan imunisasi. 3.

Untuk mencegah anak menjadi kurus sekali karena selalu muntah dan tak adanya nafsu makan orangtua harus dengan telaten memberikan makanan yang bergizi. Jadi pasien hanya diberi DT saja.hendaknya bekas muntahan dibersihkan dengan desinfektan karena itu merupakan sumber penularan. Hal yang penting dalam penyuluhan ini ialah manfaat imunisasi dan imunisasi baru berdayaguna jika diambil lengkap (jelaskan mengenai imunisasi sesuai dengan program). atau ada saudaranya yang pernah kejang/menderita penyakit saraf agar memberitahukan kepada petugas imunisasi karena pada anak tersebut tidak boleh diberikan suntikan pertusis (P). Untuk menghindarkan anak muntah dimana-mana maka setiap batuk sebaiknya selalu ada yang mendampinginya. bercaj koplik (bercaj merah kecil. Penting menghindarkan penyebab serangan batuk. Jika serangan batuk sering sekali boleh diberi ekstra obat penenang/obat batuknya (tetapi sebaiknya minta petunjuk dokter dahulu sampai berapa kali boleh diberikan).  Ruam : muncul 3-4 hr. Setelah awitan prodromal. setelah itu gejala berkurang. konjungtivitis. darah. Selain hal tersebut jelaskan kepada orang tua jika anak pernah kejang. Anjurkan agar selelah reda serangan batuknya anak diberikan makan/susu. mulai dengan erupsi makulopapular eritematosus pada wajah dan bertahap menyebar ke bawah. dan urine dari orang yang terinfeksi  Penularan : biasanya melalui kontak langsung dengan droplet individu terinfeksi  Periode inkubasi : 10-20 hari  Periode penularan : dari 4 hari sebelum sampai 5 hari setelah ruam muncul tetapi terutama selama tahap prodromal (kataral) MANIFESTASI KLINIK  Tahap prodromal (kataral) Demam dan malaise dalam 24 jam diikiti koriza. CAMPAK (RUBEOLA )  Agen :virus  Sumber : sekresi saluran pernapasan. tidak teratu dan bagia tenga kecil putih kebiruan yang terlihat pertama pada mukosa bykal disebrang molar 2 hr sebelum rau muncul). tampak lebih parah di tempat awal muncuknya ruam ( tampak konfluen) dan kurang intens pada area ruam berikitnya . gejala meningkat bertahap sampai hari ke-2 setelah muncul ruam. batuk.

baik epidemik dan endemik tipe 2: jarang berhubungn dengan paralisis tipe 3: paling sering kedua yang berkaitan dengan paralisis  Sumber : feses dan sekresi orofaring dari orang terinfeksi. pertahankan tirah barinf selama prodromal.(tampak diskret). berikan aktivitas tenang. ensefalitis. limfadenopati umum. bronkiolitis. antipiretik antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri sekunder pada anak beresiko tinggi Komplikasi: otitis media. laringitis obstruktif dan laringotrakeitis. anjurkan untuk mengkonsumsi cairan dan makanan yang halus dan leebut. lindungi kulit sekitar hidung dengan lapisan petroleum. jaga anak tidak menggoaok mata. • Koriza/batuk: gunakan vaporizer embun dingin. • Perawatan kulit: jaga agar kulit tetap bersuh.  Tanda dan gejala dasar : anoreksia. khususnya anak kecil . hindari menggigil. PERTIMBANGAN KEPERAWATAN  Isolasi sampai ruam hari ke-5. malaise. lakukan kewaspadaan pernapasan. bersihkan kelopak mata dengan larutan selain hangat untuk menghilangkan sekresi/krusta. bila dihospitalisasi. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK / KOMPLIKASI  Suplementasi vitamin A • • Suportif : tirah baring selama periode demam. gunakan mandi air hangat bila perlu. pneumonia. dan terjadi deskuamasi halus diatas area yang sakit.tiga tipe: • • • tipe 1: paling sering menyebabkan paralisis. lakukan kewaspadaan yang tepat (puncak demam dapat mencapai 40 derajat celcius hr ke-4 dan ke-5) • Perawatan mata: beri cahaya redup bila terjadi fotofobia. POLIOMELITIS  Agens : enterovirus . bila cenderung kejang. • Demam: anjurkan orang tua memberikan antipiretik. setelah 3-4 hr tampak kecoklatan. periksa kornea untuk tanda ulserasi.

virus ada dalam tenggorokan dan feses segera setelah infeksi dan menetap dalam kira-kira 1 minggu dalam tenggorokan dan 4-6 minngu dalam feses. Penularan : koontakmlangsung dengan individu dengan infeksi aktif yang tampak atau tidak tampak. Terapi fisik oto setelah tahap akut • Komplikasi: o Paralisis permanen o Henti napas o Hipertensi o Batu ginjal karena demineralisasi tulang selama imobilisasi yang blama. Nonparalitik: manifestasi masa dengan abortis tetapi lebih hebat. Dorong anak untuk bergerak. sakit kepala. Berpartisifasi dalam prosedur fisioterapi (penggunaan kompres panas lembab dan latihan rentan gerak) . diikuti dengan pemulihan dan kemudian tanda-tanda paralisis sistem saraf pusat. ketidak amapuan menahan napas. batuk tak efektif. gunakan footboard.gelisah. PERTIMBANGN KEPERAWATAN Pertahankan tirah baring total. berakhir beberapa jam sampai beberapa hari. pentilasi pernapasan yang dibantu dengan alat pada kasus paralisis pernapasan. Paralitik: perjalanan penyakit sama dengan tipe nonparalitik. posisikan anak untuk kesejajaran tubuh dan mencegah kontraktu atau dekubitus. dengan nyeri dan kekakuan pada leher. penyebarab melalui rute fekal-oral dan faring-orofaring  Perode inkubasi : biasanya 7-14 hari. Obserpasi adanya paralisis pernapasan ( kesulitan bicara. punggung dan kaki. berikan analgetik untuk kenyamaman maksimum selama aktivitas fisik. pernapasan cepat dan . Tirah baring total selama fase akut. PENATA LAKSANAAN Pemgobatan tidak spesifik. meliputi anti mikroba atai gamma globilin. dengan rentan 5-35  Peride penularan : tidak doketahui dengan pasti. muntah. anoreksia. Berikan sedatif ringan bila perlu untuk menghilangkan ansietas dan meningkatkan istirahat. sakit tenggorokan. nyeri abdomen. MANIFESTASI KLINIS Dapat dimanipestasikan dalam tiga bentuk yang berbeda: • • • Abortif atau tidak tampak: demam.

dangkal). sediakan trili trakeastomi di samping tempat tidur. laporkan tanda dan gejala pada praktisi. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful